FOGGING
A. Pengentian Fogging
Fogging memiliki arti yaitu pengasapan dengan menyemburkan racun pembunuh
nyamuk dewasa atau biasa disebut Insektisida. Fogging sering dilakukan di beberapa
pemukiman dengan alasan untuk membunuh nyamuk Aedes Aegypti.
Fogging merupakan salah satu cara pengendalian vektor penyebab kasus DBD
secara kimiawi yang menggunakan bahan insektisida untuk membunuh nyamuk dewasa.
Insektisida adalah bahan kimia yang bersifat racun maka penggunaanya harus
mempertimbangkan dampaknya pada lingkungan dan organisme bukan sasaran termasuk
mamalia. Penggunaan insektisida tanpa memperhatikan konsentrasi yang tepat dan
penggunaan yang berulang dalam jangka waktu lama di satuan ekosistem akan
menimbulkan kekebalan pada nyamuk.
B. Tujuan dan manfaat Fogging
Tujuan fogging adalah untuk membunuh sebagian besar nyamuk yang efektif
dengan cepat. Di samping memutus rantai penularan, juga menekan jumlah nyamuk agar
risiko penyakit DBD juga menurun.
C. Macam-macam Obat Fogging
1. Obat Fogging Jolt 25ec 200ml Nyamuk Lalat Kecoa Semut
2. Obat Fogging Cynof 50 Ec Pembasmi Khusus Nyamuk DBD
3. Obat Fogging Indo Pest Biochem Cides 50 Ec – Sipermetrin
4. Obat Fogging Lashio 25ec Formulator Indo Pest Biochem
5. Obat Fogging Smash 100 Ec 200 Ml Bahan Aktif Cypermethrin
D. Tata Cara Melakukan Fogging
Prosedur Tetap Fogging Mandiri
1. Tahapan kegiatan fogging mandiri adalah sebagai berikut:
a. Desa yang akan melaksanakan fogging harus berkoordinasi dengan Camat dan
Kepala Puskesmas setempat, yang dibuktikan dengan adanya surat
pemberitahuan fogging mandiri.
b. Selanjutnya pemerintahan Desa bisa bekerja sama dengan Puskesmas
mengadakan siaran keliling/ledang di wilayah yang akan diadakan fogging.
c. Isi atau pesan dari siaran keliling adalah mengenai penyakit DBD dan cara
pencegahannya serta hal-hal yang harus dilakukan oleh masyarakat sebelum
pelaksanaan, pelaksanaan dan setelah pelaksanaan fogging.
d. Minimal 1 (satu) hari sebelum dilaksanakan fogging, desa atau wilayah yang
akan di fogging harus dilakukan kegiatan PSN
e. Kemudian diadakan pelaksanaan fogging mandiri, pada waktu pelaksanaan
dimohon juga perangkat desa untuk mendampingi petugas.
f. Kegiatan fogging mandiri harus mendapat pengawasan dari Camat dan Kepala
Puskesmas.
g. Segera setelah pelaksanaan fogging mandiri, desa dimohon melaporkan
kegiatannya ke Puskesmas dan Dinas Kesehatan.
2. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pengasapan/fogging mandiri
a. Syarat dilakukan pengasapan
Apabila ada penderita DBD dan disertai :
1) Ada penderita DBD lain di lokasi penderita (20 rumah sekitar penderita)
2) Ada penderita panas tanpa sebab jelas sebanyak >= 3 orang dan ada jentik
b. Persiapan sebelum pengasapan
1) Satu hari sebelum pelaksanaan fogging diharapkan ada kegiatan PSN dan
penyuluhan keliling/ledang di wilayah yang akan difogging.
2) Pada hari pelaksanaan sebelum fogging dilaksanakan, hendaknya semua
tempat penampungan air dikosongkan.
3) Tenaga fogging adalah tenaga terlatih dan memakai APD saat pelaksanaan
fogging dan ada Surat Perintah Kerja/Surat Tugas dari Kepala Puskesmas
setempat.
4) Mesin yang dipakai berstandar SNI atau WHO.
5) Insektisida yang digunakan terdaftar di Kemenkes atau Kementerian
Pertanian
6) Buat larutan insektisida sesuai dengan dosis atau takaran yang benar.
7) Koordinasi dengan pihak desa/Kepala Desa agar warga juga ikut
berpartisipasi dalam kegiatan fogging dengan menunjuk salah satu
pamong/perangkat atau warga sebagai pendamping petugas fogging.
8) Pendamping tersebut mempunyai tugas memastikan bahwa rumah yang akan
difogging:
a) Semua makanan dan minuman harus disimpan di tempat yang tertutup
rapat (misal : almari dll)
b) Kompor dan lampu (berbahan bakar minyak) yang menyala harus
dimatikan.
c) Bahan yang mudah terbakar (premium dan lain-lain) hendaknya
diamankan
d) Binatang piaraan seperti : burung, ayam, kucing, anjing hendaknya
dikeluarkan dari rumah. Untuk ikan/aquarium bisa ditutup rapat.
e) Mainan anak-anak hendaknya disimpan di tempat yang aman dari
percikan/semprotan pengasapan.
f) Kasur, bantal, sprei hendaknya dilipat.
g) Piring, gelas, sendok dll. hendaknya ditutup dengan koran atau penutup
lain.
h) Semua jendela ditutup, sedangkan pintu dibuka.
c. Selama pengasapan / fogging
1) Semua penghuni hendaknya di luar rumah.
2) Semua penghuni tidak diperkenankan mengikuti petugas pengasap atau keluar
masuk rumah.
3) Operasional pengasapan/fogging:
a) Sasaran fogging; rumah/bangunan dan halaman/ perkarangan sekitarnya
b) Waktu operasional; pagi hari atau sore (Ae Aegypti) dan malam hari
(Anopheles atau culex)
c) Kecepatan gerak fogging; seperti orang berjalan biasa (2-3 km /jam)
d) Temperatur/suhu udara ideal; 18°C, Maksimal 28°C
e) Fogging di dalam rumah; dimulai dari ruangan yang paling belakang,
jendela dan pintu ditutup kecuali pintu depan untuk keluar masuk petugas.
f) Untuk rumah dua lantai atau lebih, fogging dimulai dari lantai atas.
g) Fogging diluar rumah; tabung pengasap harus searah dengan arah angin,
dan petugas berjalan mundur
3. Selesai pengasapan / fogging
a. Menutup pintu depan setelah selesai pengasapan (bila petugas pengasapan belum
sempat menutup)
b. Menunggu sampai +/- 1 jam setelah penyemprotan selesai atau asap fogging
sudah habis, penghuni rumah diperbolehkan masuk rumah.
c. Menyapu/membersihkan lantai terutama apabila ada binatang kecil/serangga
yang mati agar dikubur di tanah atau dibuang di tempat sampah yang aman dari
jangkauan binatang piaraan.
d. Membersihkan/mengepel lantai dan kotoran bekas penyemprotan agar penghuni
rumah terhindar dari keracunan.
e. Bila ada makanan/minuman, air minum yang terkena semprot harus dibuang di
tempat yang aman dari jangkauan binatang piaraan.
f. Air di kamar mandi bila terkena obat semprot hendaknya dibuang/dikuras.
E. Kerugian Fogging
Kabut fogging dibentuk dengan mengubah campuran insektisida dan air menjadi
asap melalui mesin. Takaran insektisida yang terdapat dalam asap fogging sangat kecil,
tetapi cukup untuk membunuh nyamuk.
Dalam jumlah kecil, asap yang terhirup tidak menimbulkan efek samping pada
manusia. Akan tetapi, jika terhirup dalam jumlah besar, asap fogging bisa mengganggu
kesehatan manusia. Berikut ini adalah beberapa efek samping yang mungkin muncul jika
seseorang terpapar asap fogging dalam jumlah besar:
1. Mata perih dan berair
2. Batuk-batuk
3. Sulit bernapas, mengi
4. Sakit kepala
5. Iritasi kulit
6. Lemas
Selain itu, dampak negatif fogging juga bisa dialami jika cairan racun mengenai
kulit atau tidak sengaja tertelan. Tak hanya beberapa gejala di atas, paparan insektisida
dalam jumlah besar juga dapat menyebabkan keracunan insektisida yang ditandai dengan
munculnya beberapa gejala, yaitu: Gangguan penglihatan, Keringat berlebih, Produksi air
liur berlebih, Muntah, Sesak napas, Sakit perut, Detak jantung dan tekanan darah
menurun. Untuk kondisi yang cukup parah, keracunan insektisida dapat menyebabkan
penderitanya kejang hingga kehilangan kesadaran. Kondisi ini tergolong berbahaya dan
harus segera ditangani oleh dokter.
Ada fogging ada DBD (Demam Berdarah Dengue). Fogging menjadi pilihan utama
masyarakat sebagai salah satu cara mengatasi masalah DBD, walaupun sebenarnya cara ini
tidak efektif. Jika fogging dilakukan sebelum adanya kegiatan PSN (Pemberantasan Sarang
Nyamuk) di lingkungan tempat kejadian kasus DBD, maka pengendalian vektor penyebab
kasus DBD akan tidak maksimal.
PSN atau Pemberantasan Sarang Nyamuk sama seperti Fogging, sama-sama
merupakan salah satu cara pengendalian vektor penyebab kasus DBD, namun dilakukan
secara fisik. Kegiatannya dilaksanakan tidak membutuhkan bahan kimia/insektisida, cukup
melakukan 3 M Plus (Menguras bak-bak penampungan air, Menutup tempat penampungan
air, dan mendaur ulang barang-barang bekas yang dapat menampung air). Sedangkan plus
lainnya dengan melakukan pemantauan jentik dengan mengganti rutin air pada pas
bunga/tempat minum burung atau binatang peliharaan lainnya/menutup lubang-lubang pda
potongan bamboo, dll. PSN 3 M plus akan memberikan hasil yang maksimal jika dilakukan
serentak, luas, terus menerus dan secara berkesinambungan. PSN Sebaiknya dilakukan
minimal seminggu sekali, untuk memutus rantai pertumbuhan nyamuk pra dewasa menjadi
nyamuk dewasa.
Jika membandingkan sisi efektif dan efisien dalam pengendalian vektor nyamuk
penyebab DBD antara Fogging dan PSN, tentunya akan merujuk pada PSN, karena PSN
tidak membutuhkan persyaratan harus ada DBD dalam pelaksanaannya. Justru melaksanakan
PSN secara rutin, merata dan berkesinambungan, akan menyebabkan lingkungan aman dari
vektor penyebab DBD. Sedangkan Fogging dalam pelaksanaannya butuh persyaratan harus
ada 3 kasus DBD dalam radius 100 m2 dan proporsi jentik nyamuk hasil PE (Pemeriksaan
Epidemiologi) adalah 20%. Fogging butuh biaya besar dalam pengadaan baik alat maupun
bahan insetisidanya, sedangkan PSN hanya membutuhkan menggerakkan masyarakat dalam
pelaksanaannya. Disamping efek samping dari bahan kimia insektisida, dalam pemakaian
fogging harus dilakukan oleh tenaga teknis yang sudah terlatih, sedangkan kegiatan PSN bisa
dilaksankan oleh siapapun tanpa membutuhkan keahlian tertentu .
Kementrian Kesehatan RI telah meluncurkan salah satu kegiatan PSN yang
dilaksanakan di tingkat rumah tangga. Kegiatan tersebut disebut Gerakan Satu Rumah Satu
Jumantik (G1R1J). Sebagai pelaksana G1R1J di tingkat rumah tangga adalah Jumantik
Rumah. Jumantik Rumah adalah salah satu anggota keluarga rumah tangga yang di tunjuk
melaksanakan pemantauan jentik di rumah dan lingkunga sekitar rumahnya sendiri minimal
seminggu sekali. Sedangkan untuk G1R1J pada fasilitas umum (Fasum) pelaksananya disebut
Jumantik Lingkungan, bertugas untuk memantau jentik di fasilitas umum yang di tempatnya
bertugas (misalnya: Penjaga sekolah menjadi jumantik lingkungan di sekolah, dst). Kegiatan
G1R1J di Kota Mataram sudah dilaksanakan pada tahun 2019 dengan melatih sebanyak 325
kader sebagai kader Jumantik di masing-masing lingkungannya.
Pengendalian DBD di Kota Mataram menggunakan pengendalian vektor terpadu,
dimana PSN tetap menjadi acuan kegiatan rutin dalam bentuk kegiatan Gerakan 1 R 1 J. Jika
ada kasus DBD, akan dilakukan Pemeriksaan Epidemiologi (PE) oleh Puskesmas. PE di sini
dimaksudkan untuk mengetahui titik risiko penularan kasus DBD di sekitar lingkungan
tersebut dan penemuan kasus DBD lainnya yang belum terlaporkan dan mengetahui proporsi
jentik sebagai acuan bahwa perlu dilaksanakan Fogging. Sebelum fogging dilakukan
masyarakat wajib melaksanakan PSN untuk membunuh jentik, karena fogging hanya mampu
membunuh nyamuk dewasa, sedangkan jentiknya tidak bisa. Jika fogging dilakukan tanpa
melaksanakan PSN, maka akan menyebabkan jentik yang tidak terbunuh karena insektisida
akan berubah menjadi nyamuk dewasa dengan kemampuan hidup lebih kuat terhadap
insektisida yang biasa digunakan. Sehingga terkadang pada suatu wilayah walaupun telah
dilakukan fogging berkali-kali selalu timbul kasus DBD lainnya (oleh : Ni Ketut Lisa
Sutiyasih,SKM,[Link]).
1. Fogging Bukan Pencegahan
Fogging bukan merupakan cara mencegah perkembangbiakan nyamuk Aedes Sp. yang
ada disekitar kita. Cara utama dan penting untuk pencegahan nyamuk DBD yaitu dengan
melakukan PSN3M Plus. Selain itu, fogging hanya mematikan nyamuk dewasa saja,
sedangkan telur dan jentik nyamuk, tidak akan mati dengan fogging. Namun akan tetap hidup
dan berkembang menjadi nyamuk dewasa dalam 2-6 hari.
2. Fogging yang Selalu Sering Dapat Mengakibatkan Nyamuk Kebal
Melakukan fogging secara terus menerus bukan membuat nyamuk “K.O”, tapi malah
menjadikan nyamuk kebal terhadap racun serangga yang terdapat di asap fogging tersebut
[resisten]. Nyamuk sudah mengalami resistensi terhadap racun tersebut karena sudah
mengenali jenis racun yang disemprotkan, sehingga bisa menghindari asap. Selain itu,
metabolisme tubuh nyamuk juga sudah mengenali jenis racun sehingga jika terpapar kembali,
tubuh nyamuk sudah kebal alias terbentuknya antibodi nyamuk.
3. Fogging Penting Dilakukan Untuk Pengendalian Kasus
Biasa dinamakan Fogging Fokus, karena tujuannya untuk mengentaskan nyamuk dewasa
penyebab DBD atau memutus penularan kasus di suatu wilayah/area. Syarat
dilakukan Fogging Fokus adalah Penyelidikan Epidemiologi [PE] menunjukkan hasil positif
di wilayah penderita DBD dan ditemukan penderita DBD lainnya atau ada penderita demam
lain. Selain itu, ditemukan jentik di wilayah yang terjangkit DBD.
Fogging akan dilakukan ketika aktifitas puncak nyamuk DBD, seperti pagi hari di 07.00 –
10.00 dan sore hari di jam 16.00 – 18.00. Fogging fokus akan dilakukan saat kondisi cuaca
sedang tidak hujan, berangin kencang atau terik matahari dan dilakukan baik di luar maupun
di dalam rumah dengan radius 100 meter dari rumah penderita DBD sebanyak 2 siklus
dengan interval waktu 1 minggu.
4. Dilakukan Puskesmas dan Menunjuk Tenaga Terlatih
Fogging fokus dilakukan dua siklus interval dalam satu minggu, dan wajib dilakukan oleh
tenaga terlatih. Karena seperti kita ketahui fogging itu menyebarkan racun sehingga harus
hati-hati dalam penggunaanya, tenaga terlatih ini mengetahui jenis kandungan cairan yang
digunakan, alat dan perlindungan diri yang dibutuhkan, serta titik-titik penyemprotan
dilakukan dimana saja.
5. Satu Rumah di Fogging, Semua Rumah Wajib Fogging
Wajib! Karena jika ada satu rumah di wilayah fogging tidak diikutsertakan, maka ada
kemungkinan nyamuk DBD ini akan “lari” ke rumah tersebut dan kembali menyebar setelah
racun fogging hilang. Oleh karena itu, baiknya pihak RT memberitahukan ke warga 1X24
Jam jika ingin melakukan fogging fokus.
Sebelum dilakukan fogging, setiap rumah pun wajib melakukan hal seperti berikut;
> Menyimpan/menutup semua makanan/bahan makanan dan air minum
> Mengamankan hewan peliharaan
> Semua penghuni keluar dari rumah saat pelaksanaan fogging dan boleh masuk kembali
sekurang-kurangnya 30 menit setelah fogging
Intinya semua masyarakat tetap waspada terhadap Demam Berdarah Dengue dan melakukan
Perilaku Hidup Bersih dan Sehat di lingkungan masing-masing. Lakukan PSN 3M Plus
minimal sekali seminggu, di rumah, di sekolah, di tempat kerja, di lingkungan kita, karena
mencegah lebih baik. [prm/humas]
Sumber: Sub Koordinasi Urusan Penyakit Menular Tular Vektor dan Zoonosis [PMTVZ]
bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P), Dinas Kesehatan Provinsi DKI
Jakarta