0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
76 tayangan54 halaman

Uji Pemadatan Tanah: Proctor & Sand Cone

Praktikum ini bertujuan untuk menentukan nilai kerapatan maksimum tanah pada kadar air optimum menggunakan uji pemadatan laboratorium Modified Proctor dan Sand Cone Test. Dilakukan percobaan pemadatan tanah dengan variasi kadar air dan dihitung kerapatannya untuk membuat kurva hubungan antara kerapatan dan kadar air tanah, sehingga didapat nilai kerapatan maksimum dan kadar air optimum.

Diunggah oleh

yohanes karuniawan
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
76 tayangan54 halaman

Uji Pemadatan Tanah: Proctor & Sand Cone

Praktikum ini bertujuan untuk menentukan nilai kerapatan maksimum tanah pada kadar air optimum menggunakan uji pemadatan laboratorium Modified Proctor dan Sand Cone Test. Dilakukan percobaan pemadatan tanah dengan variasi kadar air dan dihitung kerapatannya untuk membuat kurva hubungan antara kerapatan dan kadar air tanah, sehingga didapat nilai kerapatan maksimum dan kadar air optimum.

Diunggah oleh

yohanes karuniawan
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Laboratorium Mekanika Tanah

Departmen Teknik Sipil – Fakultas Teknik


Universitas Indonesia

NAMA PRAKTIKAN : Darryl Raditya Aribowo 2006573563


Muhammad Aliffito Rizki R. 2006535306
Nathally Febiola Kohar 2006578873
Tharissa Amallia Azzahra 2006471391
Yohanes Karuniawan 2006573733
KELOMPOK :6
TANGGAL PRAKTIKUM : Rabu, 15 Maret 2023 
JUDUL PRAKTIKUM : Compaction Proctor Modified dan Sand Cone Test

Compaction – Proctor Modified


I. PENDAHULUAN
A. Standar Acuan dan Referensi
ASTM D 698 "Standard Test Methods forLaboratory Compaction
Characteristics of Soil UsingStandard Effort"
ASTM D 1557 "Standard Test Methods forLaboratory Compaction
Characteristics of Soil UsingModified Effort"
AASHTO T 99 "The Moisture-Density Relations of Soils Using a
2.5-kg (5.5- lb) Rammer and a 305-mm (12-in) Drop"
AASHTO T 180 "The Moisture-Density Relations of Soils Using a
4.54-kg (10- lb) Rammer and 457-mm (18-in) Drop"
SNI 03-2832-1992 "Metode pengujian untuk mendapatkan kepadatan
tanah maksimum dengan kadar air optimum"
B. Maksud dan Tujuan Percobaan
Untuk mencari nilai kerapatan kering ( γdry) maksimum
pada kadar air optimum (Wopt) dari sebuah sampel tanah yang
dipadatkan. Dalam pengaplikasiannya, uji pemadatan laboratorium
dipakai sebagai dasar dalam mebentukan persentase pemadatan dan
kadar air yang dibutuhkan untuk mencapai kondisi pemadatan yang
sesuai dilapangan. Uji ini penting dilakukan agar seorang Teknik sipil
mengetahui seberapa kuat tekan yang dapat diterima tanah yang mana
datanya dipakai sebagai penentu bahan serta metode yang dipakai
dalam membuat suatu infrastruktur.

1
Compaction-Modified & Sand Cone Test
Laboratorium Mekanika Tanah
Departmen Teknik Sipil – Fakultas Teknik
Universitas Indonesia

C. Alat – alat dan Bahan


a. Alat
 Mould, lengkap dengan collar dan base plate
 Hammer seberat 10 lbs, dengan tinggi jatuh 1,5 ft
 Hydraulic extruder
 Pelat baja pemotong
 Gelas ukur
 Wadah untuk mencampur tanah dengan air
 Pelat besi/penggaris untuk mengukur tinggi tanah
 Timbangan
 Paper
 Knife
 Spoon
 Oven
 Jangka sorong
b. Bahan
 Sampel tanah lolos saringan No. 4 ASTM sebanyak
minimal 5 kantong @2.5kg.

g
a

f
b

h
c

e
d

2
Compaction-Modified & Sand Cone Test
Laboratorium Mekanika Tanah
Departmen Teknik Sipil – Fakultas Teknik
Universitas Indonesia

Gambar 1 Peralatan praktikum compaction : a) Mould, b) Paper, c)


Mould Collar, d) Knife, e) Ruller, f) Spoon, g) Steel Plate Cutter, h)
Hammer 10 lb
Sumber : dokumentasi prakikum, 2023

D. Teori dan Rumus yang Digunakan


Compaction (pemadatan tanah) adalah suatu proses dimana pori-pori
tanah diperkecil dan kandungan udara dikeluarkan secara mekanis.
Suatu pemadatan tanah adalah juga merupakan usaha (energi) yang
dilakukan padamassa tanah. Suatu pemadatan (Compactive Effort =
CE) yang dilakukan tersebut adalah fungsi dari variabel-variabel
berikut:
W . H. L.B 1.1
CE=
V
dengan keterangan:
CE = Compactive Effort (lb/ft2 )
W = berat hammer (lb)
H = tinggi jatuh (inch)
L = jumlah layer
B = jumlah pukulan per-layer
V = volume tanah (ft3)

Pada percobaan pemadatan tanah yang dilakukan di laboratorium


pada umumnya mengacu pada 2 metode serta standarnya, yaitu
1. Standar Proctot – AASHTO T 99 (ASTM D 698)
2. Modified Proctor – AASHTO T 180 (ASTM D 1557)

Terdapat perbedaan dari dua metode tersebut yang mana telah


dirangkum dalam bentuk tabel dibawah ini:

3
Compaction-Modified & Sand Cone Test
Laboratorium Mekanika Tanah
Departmen Teknik Sipil – Fakultas Teknik
Universitas Indonesia

Gambar 2 Perbedaan Modified Proctor dan Standard Proctor pada uji


pemadatan
Sumber: modul praktikum tanah, 2023
Kepadatan tanah bergantung pada kadar airnya. Untuk
membuat suatu hubungan tersebut dibuat beberapa sampel tanah
minimal empat contoh dengan kadar air yang berbeda-beda, dengan
perbedaan kurang lebih 2,5 % antara setiap sampel.
Dari percobaan tersebut kemudian dibuat grafik yang
menggambarkan hubungan antara kepadatan dan kadar air, sehingga
dari grafik tersebut diperoleh γ dry maksimum pada kadar air
optimumnya. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa suatu tanah
yang dipadatkan dengan kadar air tanah lebih dari Wopt akan
diperoleh nilai kepadatan yang lebih kecil dari γdry maksimum.

Gambar 3. Perbedaan grafik pemadatan Modified Proctor dan Standard


Proctor
Sumber: modul praktikum tanah, 2023

4
Compaction-Modified & Sand Cone Test
Laboratorium Mekanika Tanah
Departmen Teknik Sipil – Fakultas Teknik
Universitas Indonesia

Gambar 3. menunjukkan perbedaan dari energi pemadatan antara


metode standard proctor dan juga menggunakan modified proctor.
Penggunaan modified proctor yang memiliki energi pemadatan yang
hampir 5 kali lebih besar dari standard proctor menghasilkan γdry
maksimum yang lebih tinggi dibanding standard proctor namun
menghasilkan kadar air optimum (wopt) yang lebih rendah
dibandingkan standard proctor.
Penentuan kadar air
W wet
W dry = 1.2
(1+W )

W wet =W dry (1+ W ) 1.3

W water 1.4
W= × 100 %
W dry

dengan keterangan :
W = kadar air
W water = berat air (gram)
W dry = berat tanah kering (gram)
W wet = berat tanah basah (gram)

Penentuan penambahan volume air


W x −W o 1.5
V add = ×W
1+ W o

dengan keterangan :
W wet = volume air yang akan ditambahkan
W wet = kadar air yang akan dibuat
W wet = kadar air awal
W = berat sampe tanah (gram)

5
Compaction-Modified & Sand Cone Test
Laboratorium Mekanika Tanah
Departmen Teknik Sipil – Fakultas Teknik
Universitas Indonesia

Penentuan penambahan volume air

wwet 1.6
γ dry =
v

wwet wwet γ wet 1.7


γ dry = = =
V (1+W )V (1+W )
dengan keterangan :
γ wet = berat isi tanah dalam keadaan basah (gr/cm3)
γ wet = berat tanah basah (gr)
V = volume sampel tanah yang telah diapadatkan (cm3)
γ dry = berat isi tanah dalam keadaan keting (gr/cm3)
Wdry = berat tanah kering (gr)
W = kadar air (%)

Perhitungan nilai Zero Void Line (ZAV-line)


ZAV-line adalah garis yang menggambarkan hubungan antara berat
isi kering dengan kadar air dalam kondisi derajat kejenuhan (Sr)100%
Gs . γ w
ZAV = 1.8
1+(W . G¿¿ s)/ Sr ¿
dengan keterangan :
Gs = nilai specific gravity
γw = berat jenis air (gr/cm3)
W = kadar air (%)
Sr = derajat kejenuhan

E. Teori Tambahan
Kadar air pada berat volume kering maksimum tanah yang
dicapai disebut kadar air optimum. Jika semua udara di dalam tanah
dapat dikeluarkan dengan cara pemadatan, maka tanah tersebut
berada pada kondisi jenuh sempurna atau derajat kejenuhan tanah
sama dengan 100% serta akan menghasilkan berat volume kering

6
Compaction-Modified & Sand Cone Test
Laboratorium Mekanika Tanah
Departmen Teknik Sipil – Fakultas Teknik
Universitas Indonesia

maksimum untuk kadar air tertentu. Meskipun begitu, dalam


pelaksanannya tingkat pemadatan ini tidak akan tercapai. Hasil
perhitungan yang menghubungkan berat volume kering dengan ruang
pori tanpa udara dan kadar air disebut kurva atau garis kejenuhan
(ZAV curve). Kurva berat volume kering dan kadar air untuk usaha
pemadatan tentu harus terletak disebelah kiri garis ruang pori tanpa
udara dan tidak mungkin memotong menjadi disebelah kanan kurva /
garis kejenuhan. Oleh karena, itu jika kita lihat besama pada contoh
grafik berikut, garis ZAV dan berat volume kering tidak akan saling
berpotongan dan akan selalu berjarak satu sama lain.

Gambar 4. Kurva volume kering – kadar air untuk pemadatan tanah


dan ZAVD (Zero air void density)

II. PRAKTIKUM
A. Persiapan Praktikum
1. Menyiapkan 5 kantong sampel tanah masing-masing 2.5 kg, lolos
saringan No. 4 ASTM.
2. Mengambil sebagian sampel yang dianggap mewakili nilai kadar
air seluruhnya, dan cari nilai kadar air sampel tersebut.
3. Mengembalikan sampel tanah ke kantongnya masing-masing.

7
Compaction-Modified & Sand Cone Test
Laboratorium Mekanika Tanah
Departmen Teknik Sipil – Fakultas Teknik
Universitas Indonesia

4. Menghitung kadar air pada keesokan harinya, lalu tambahkan air


pada masing - masing kantong agar mencapai kadar air yang
berbeda-beda.
5. Memasukan sampel tanah ke dalam kantong plastik dan diamkan
selama 18- 24 jam (diperam) agar kadar airnya merata

B. Jalannya Praktikum
1. Menyiapkan mould, collar, dan base plate
2. Menimbang mould dan mengukur dimensinya untuk mngetahui
volume tanah hasil pemadatan.
3. Memasukan sampel tanah ke dalam mould, perkirakan jumlahnya
sedemikian rupa sehingga setelah dipadatkan tingginya mencapai
1/5 tinggi mould (karena total lapisan pemadatan sebanyak 5
lapis)

Gambar 5. Proses pemadatan tanah dengan hammer


Sumber : dokumentasi praktikum kelompok 6, 2023
4. Menumbuk setiap lapisan secara merata sebanyak 25 kali dengan
hammer seberat 10 lb dan tinggi jatuh 1.5 ft (Modified Proctor
ASTM)
5. Pada lapisan kelima, memasang collar dan menambahan tanah
hingga melebihi batas mould
6. Setelah memadatan lapis kelima selesai dilakukan, membuka
collar dan meratakan kelebihan tanah pada mould dengan pelat
pemotong
7. Menimbang berat tanah beserta mould

8
Compaction-Modified & Sand Cone Test
Laboratorium Mekanika Tanah
Departmen Teknik Sipil – Fakultas Teknik
Universitas Indonesia

8. Mengeluarkan sampel tanah dari mould dengan bantuan extruder

Gambar 6. Proses mengeluarkan tanah dari mould dengan extruder manual


Sumber: Hasil Praktikum, 2023
9. Mengambil sebagian dari bagian atas, tengah bawah sampel tanah
tersebut untuk diperiksa kadar airnya, dengan demikian akan
diperoleh kadar air rata-rata dari sampel tanah setelah dipadatkan.
III. PENGOLAHAN DATA
A. Data Hasil Praktikum
Sample
Parameter Satuan
1 2 3 4 5
Water Content (%) 34.656 37.569 40.980 47.850 45.674
Wt. of Soil + Mold (gram) 3394.000 3395.000 3370.000 3310.000 3302.000
Wt, of Mold (gram) 1663.000 1663.000 1663.000 1663.000 1663.000
Wt. of Soil in Mold (gram) 1731.000 1732.000 1707.000 1647.000 1639.000

Tabel 1. Nilai Water content, berat tanah + mold, dan berat mold
Sumber: Hasil Praktikum, 2023

Mold Diameter (cm) 10.17


Height (cm) 11.67
Blow/Layer 25
Layer 5
Specific Gravity 2.78
Sr (%) 100
γ Water (gr/cm3) 1
Percepatan Gravitasi (m/s2) 9.81
Hammer (lb) 10
Tinggi Jatuh (ft) 1.5 9
Compaction-Modified & Sand Cone Test
Laboratorium Mekanika Tanah
Departmen Teknik Sipil – Fakultas Teknik
Universitas Indonesia

Tabel 2. Ukuran dan Ketentuan data Praktikum


Sumber: Hasil praktikum, 2023

B. Perhitungan
Penentuan kerapatan kering
Nilai berat tanah didapatkan dengan mengurangkan berat tanah
+ mould dikurangkan dengan berat mould, dengan perhitungan:
Sampel 1
W (%) = 34,65 %
Wsoil + mould = 3394 gr
Wmould= 1663 gr
Wsoil = Wsoil + mould – Wmould
= 3394 gr – 1663 gr
= 1731 gr
Sampel 2
W (%) = 37,56 %
Wsoil + mould = 3395 gr
Wmould= 1663 gr
Wsoil = Wsoil + mould – Wmould
= 3395 gr – 1663 gr
= 1732 gr
Sampel 3
W (%) = 40,98 %
Wsoil + mould = 3370 gr
Wmould= 1663 gr
Wsoil = Wsoil + mould – Wmould
= 3370 gr – 1663 gr
= 1707 gr
Sampel 4
W (%) = 47,85 %

10
Compaction-Modified & Sand Cone Test
Laboratorium Mekanika Tanah
Departmen Teknik Sipil – Fakultas Teknik
Universitas Indonesia

Wsoil + mould = 3310 gr


Wmould= 1663 gr
Wsoil = Wsoil + mould – Wmould
= 3310 gr – 1663 gr
= 1647 gr

Sampel 5
W (%) = 45,67 %
Wsoil + mould = 3302 gr
Wmould= 1663 gr
Wsoil = Wsoil + mould – Wmould
= 3302 gr – 1663 gr
= 1639 gr

Setelah itu mencari volume tanah yang merupakan volume


mould yang didapatkan dengan phi dikali dengan kuadrat diameter
dikali tinggi mould, dengan perhitungan:
Sampel 1 sampai 5
Vsoil = Vmould
= π × D2 × Tinggi mould
= π × 10,172 ×11,67
= 947,988 cm3
Selanjutnya mencari nilai kerapatan jenuh yang didapatkan dengan
membagi berat tanah dengan volume tanah, dengan perhitungan :
Sampel 1
W soil
γwet =
V soil
1731 gr
=
947,988 cm3
= 1,826 gr/cm3
Sampel 2
W soil
γwet =
V soil

11
Compaction-Modified & Sand Cone Test
Laboratorium Mekanika Tanah
Departmen Teknik Sipil – Fakultas Teknik
Universitas Indonesia

1732 gr
=
947,988 cm3
= 1,827 gr/cm3

Sampel 3
W soil
γwet =
V soil
1707 gr
= 3
947,988 cm
= 1,801 gr/cm3

Sampel 4
W soil
γwet =
V soil
1647 gr
=
947,988 cm3
= 1,737 gr/cm3

Sampel 5
W soil
γwet =
V soil
1639 gr
=
947,988 cm3
= 1,729 gr/cm3

Pada tahap akhir, dihitung nilai kerapatan kering yang


didapatkan dengan perbandingan kerapatan jenuh dibagi dengan satu
ditambah persentase kadar air, dengan perhitungan :
Sampel 1
γ wet
γdry =
1+ w
1,826
=
1+ 0,3465
= 1,356 gr/cm3
Sampel 2

12
Compaction-Modified & Sand Cone Test
Laboratorium Mekanika Tanah
Departmen Teknik Sipil – Fakultas Teknik
Universitas Indonesia

γ wet
γdry =
1+ w
1,827
=
1+ 0,3756
= 1,328 gr/cm3
Sampel 3
γ wet
γdry =
1+ w
1,801
=
1+ 0,4097
= 1,277 gr/cm3
Sampel 4
γ wet
γdry =
1+ w
1,737
=
1+ 0,4784
= 1,175 gr/cm3
Sampel 5
γ wet
γdry =
1+ w
1,729
=
1+ 0,4567
= 1,187 gr/cm3

Maka, setelah dilakukan perhitungan untuk keempat sampel lainnya


maka didapatkan nilai nilai perhitungan yang dirangkum dalam tabel
sebagai berikut :
Sample
Parameter Satuan
1 2 3 4 5
Water Content (%) 34,65 37,56 40,98 47,85 45,674
Wt. of Soil +
Mold (gram) 3394 3395 3370 3310 3302
Wt, of Mold (gram) 1663 1663 1663 1663 1663

13
Compaction-Modified & Sand Cone Test
Laboratorium Mekanika Tanah
Departmen Teknik Sipil – Fakultas Teknik
Universitas Indonesia

Wt. of Soil in
Mold (gram) 1731 1732 1707 1647 1639
Wet Density
(γwet) (gr/cm3) 1,826 1,827 1,801 1,737 1,729
Dry Density (gr/cm3) 1,356 1,328 1,277 1,175 1,187
(γdry) (kN/m3) 13,303 13,029 12,530 11,528 11,643
Tabel 3. Perhitungan kerapatan kering
Sumber: Hasil Pengolahan Data, 2023

Grafik 1. Hubungan Kerapatan kering dengan Kadar Air


Sumber : Hasil Pengolahan Data, 2023

Perhitungan Garis ZAV


Menghitung Gasris “Zero Air Void” didapatkan dengan menggunakan
perhitungan rumus sebagai berikut :
Gs . γ w
ZAV =
1+(W . G¿¿ s)/ Sr ¿
Diketahui:
Gs = 2,78

14
Compaction-Modified & Sand Cone Test
Laboratorium Mekanika Tanah
Departmen Teknik Sipil – Fakultas Teknik
Universitas Indonesia

Sr = 100%

Sampel 1
Gs . γ w
ZAV =
1+(W . G¿¿ s)/ Sr ¿
2,78 . 1
ZAV =
1+(0,3465 . 2,78)/1
ZAV =1,415
Sampel 2
Gs . γ w
ZAV =
1+(W . G¿¿ s)/ Sr ¿
2,78 . 1
ZAV =
1+(0,3756 . 2,78)/1
ZAV =1,360
Sampel 3
Gs . γ w
ZAV =
1+(W . G¿¿ s)/ Sr ¿
2,78 . 1
ZAV =
1+(0,4098 . 2,78) /1
ZAV =1 ,299
Sampel 4
Gs . γ w
ZAV =
1+(W . G¿¿ s)/ Sr ¿
2,78 . 1
ZAV =
1+(0,4785. 2,78)/1
ZAV =1,193
Sampel 5
Gs . γ w
ZAV =
1+(W . G¿¿ s)/ Sr ¿
2,78 . 1
ZAV =
1+(0,4567 . 2,78)/1
ZAV =1,225
Berdasarkan hasil perhitungan sebelumnya, maka dapat dibaut suatu
tabel kerapatan kering dan nilai ZAV dari masih masing persentase kadar air:

15
Compaction-Modified & Sand Cone Test
Laboratorium Mekanika Tanah
Departmen Teknik Sipil – Fakultas Teknik
Universitas Indonesia

Tabel 4. Hubungan W (%) terhadap kerapatan kering dan nilai ZAV


Sampl
W (%)
e γ Dry ZAV
1 34,65 1,356 1,415
2 37,56 1,328 1,359
3 40,979 1,277 1,299
4 47,84 1,175 1,19
5 45,67 1,186 1,224

Sumber : Hasil Pengolahan Data, 2023

Berdasarkan tabel yang dibuat maka dapat dibuat grafik hubungan


antara persentase kadar air terhadap kerapatan kering dan nilai ZAV.

Grafik 2. Hubungan antara γ dry dan ZAV dengan Kadar Air


Sumber : Hasil Pengolahan Data, 2023

16
Compaction-Modified & Sand Cone Test
Laboratorium Mekanika Tanah
Departmen Teknik Sipil – Fakultas Teknik
Universitas Indonesia

Perhitungan Compactive Effort


Nilai compactive effort di dapatkan melalui perhitungan rumus :
W . H. L.B
CE=
V
Diketahui:
H = 1,5 ft
W = 10 lbs
L =5
B = 25
V = 0,0316 ft3
Untuk sampel 1 sampai dengan 5 memiliki nilai parameter yang sama
sehingga hanya perlu dilakukan satu kali perhitungan saja :
W . H. L.B
CE=
V
10 .1,5 . 5 .25
CE=
0,0316
CE=59336,221

IV. ANALISIS
A. Analisis Percobaan
Pada tahap awal praktikum, praktikan perlu untuk
mempersiapkan alat alat yang dipersiapkan, seperti mould, lengkap
dengan collar dan base plate, hammer seberat 10 lbs, hydraulic
extruder, pelat baja pemotong, gelas ukur, wadah untuk mencampur
tanah dengan air, pelat besi/penggaris, timbangan, paper, knife,
spoon, oven, jangka sorong. Mould dipakai sebagai tempat untuk
tanah dilakukan pemadatan yang berbentuk seperti tabung, yang
mana nantinya akan dipasangkan collar untuk menambah kapasitas
dari mould untuk dilakukan pemdatan sampai lapisan 5/5. Hammer,
digunakan untuk memberikan tekanan pada tanah serta meratakan
permukaan tanah. Hydraulic extruder, dipakai untuk mengeluarkan
sampel tanah yang sudah di padatkan dari dalam mould. Kemudian
Pelat baja pemotong untuk meratakan permukaan tanah. Gelas ukur,

17
Compaction-Modified & Sand Cone Test
Laboratorium Mekanika Tanah
Departmen Teknik Sipil – Fakultas Teknik
Universitas Indonesia

untuk menentukan jumlah air yang akan dimasukan pada tanah untuk
dicampur. Penggaris, diapakai untuk mengukur seberapa bagian tanah
yang sudah diisikan pada mould. Timbangan, untuk menghitung
berapa berat setiap sampel yang dipakai dalam percobaan. Paper,
untuk melapisi bagian bawah mould agar tanah tidak menempel pada
lantai dan knife yang digunakan untuk membagi setiap layer tanah
untuk dijadikan sampel. Selain itu, spoon digunakan untuk mengaduk
campruan tanah dengan air, oven untuk mengeringkan sampel yang
akan dipakai pada percobaan, dan jangka sorong yang digunakan
untuk menghitung ukuran diameter serta tinggi mould yang diapakai.
Selanjutnya mempersiapkan bahan yang terdiri dari 5 sampel tanah
dengan ukuran berbeda beda.
Selanjutnya adalah mempersiapkan sampel tanah yang
digunakan, dengan cara menyaring sampel tanah dengan no saringan
4 dengan ukuran 4,75 mm sesuai dengan standar ASTM dengan
perkiraan total sampel yang diapakai mencapai 12,5 kg. Kemudian
tanah yang sudah disaring, dimasukan kedalam masing masing
plastik dengan total sebanyak 5 buah, yang memiliki jumlah tertentu
yang kurang lebih sama. Kemudian menimbang masih masing sampel
tanah dan dicatat. Kemudian menentukan kadar air berdasarkan salah
satu contoh sampel tanah dengan menggunakan can serta ditimbang,
lalu dimasukan ke dalam oven selama kurang lebih 24 jam. Setelah
itu mengeluarkan sampel dari dalam oven dan timbang beratnya
untuk mengetahui beratnya. Kemudian menentukan kadar air untuk
nantinya dicampurkan pada tanah dengan tabung ukur agar dapat
diketahui jumlah air. Menentukan kadar air untuk setiap sampel tanah
yang dipakai. Kemudian untuk setiap sampel uji yang dipakai
diberikan label agar tidak salah dalam mengidentifikasi sampel.
Setelah itu mencampurkan sampel tanah dengan air pada suatu wadah
sesuai dengan takaran kadar air tertentu pada setiap sampel yang ada.
Cara mencampurkannya adalah memasukan sampel tanah ke dalam
wadah dan kemudian memasukan kadar air sesuai dengan takaran
yang sudah ditentukan sebelumnya. Setelah itu mengaduk sampel

18
Compaction-Modified & Sand Cone Test
Laboratorium Mekanika Tanah
Departmen Teknik Sipil – Fakultas Teknik
Universitas Indonesia

tanah hingga merata dan tidak ada tanah yang terlalu basah atau
terlalu kering. Melalui pencampuran inilah nantinya akan
menghasilkan karakteristik tanah yang tidak saling terpisah antar
butiran, tetapi memiliki daya ikat satu sama lain oleh adanya
kandungan air pada tanah tersebut. Kemudian memasukan kembali
campuran tersebut ke dalam plastik bening dan diberikan label
persentase kadar air kembali agar tidak salah identifikasi. Setelah itu,
sampe uji didiamkan selama kurang lebih 24 jam dengan tujuan air
benar benar dapat menyerap pada tanah sehingga tanah berada dalam
kondisi jenuh optimum. Hal yang dimaksud jenuh optiumum adalah
kondisi dimana tanah sudah dapat menyerap air dengan baik yang
ditandai dengan daya ikat antar bulir partikel tanah yang lebih kuat
dari sebelumnya sehingga ketika dilakukan pemadatan tanah dapat
terkompresi secara lebih menyeluruh dan terpadatkan.
Setelah sampel uji siap, maka tahap berikutnya adalah
mengukur ukuran mould yang diapakai untuk kemudian dihitung
besar volume mould yang dipakai dan berat mould yang diapakai.
Kemudian melapisi bagian dalam dinding mould dengan oli yang
bertujuan agar tanah tidak menempel pada bagian dinding dalam
mould. Selain itu pada bagian base plate juga dipakai paper/kertas
sebagai pelapis bagian bawah, yang mana juga bertujuan agar tanah
tidak menempel pada bagian bawah. Langkah selanjutnya adalah
memasukan tanah kedalam mould secara bertahap setiap 1/5 layer.
Pada langkah ini, pastikan tanah yang diisikan ke dalam mould lebih
sedikit dari 1/5 layer agar ketika diratakan mendapatkan pemadatan
sesuai perbandingan layer yang didapatkan. Setelah itu, meratakan
terlebih dahulu dengan alat compact dan kemudian diberikan tekanan
dengan hammer dengan jarak jatuh 1,5 ft sebanyak 25 kali setiap
lapisan secara merata. Untuk layer 2/5, 3/5, 4/5, dan 5/5 dilakukan hal
yang sama seperti pada layer 1/5. Namun, terdapat perbedaaan pada
layer 5/5 dimana untuk mengisi pada layer tersebut diperlukan
pemasangan collar yang bertujuan untuk menambah kapasitas dari
mould sehingga pemadatan dapat dilakukan sampai lapisan ke-5. Jika

19
Compaction-Modified & Sand Cone Test
Laboratorium Mekanika Tanah
Departmen Teknik Sipil – Fakultas Teknik
Universitas Indonesia

tidak memakai collar maka pada saat pemadatan tanah yang


dipadatkan tidak keluar dari mould yang ada sehingga pemadatan
dapat dilakukan lebih optimum. Setelah sampai lapisan 5 diratakan,
maka collar dilepas serta pemukaan tanah yang berlebih dari mould
diratakan dengan penggaris. Hal ini bertujuan agar volume tanah
tidak melebih volume mould yang ada sehingga perhitungan
kerapatan jenuh akan lebih tepat hasilnya.
Selanjutnya sampel uji tanah yang sudah dipadatkan ditimbang
beserta dengan mouldnya. Kemudian tanah tersbeut dibawa ke alat
hydraulic extruder yang bertujuan untuk mengeluarkan sampel tanah
dari mould. Cara kerja hydraulic extruder adalah, praktikan pertama
tama meletakan mould yang berisi sampel tanah yang sudah
dipadatkan pada alat serta dikunci agar ketika diberikan dorongan
tidak jatuh, lalu praktikan menginjak-injak tuas hydraulic yang
berada dibawah alat yang bertujuan untuk memberikan dorongan
pada tanah agar tanah secara perlahan lahan dapat keluar dari mould
dalam kondisi utuh. Tahap berikutnya adalah membagi sampel tanah
menjadi 5 bagian, yaitu bawah tengah atas. Hal ini bertujuan untuk
mengetahui bagaiaman kondisi dari setiap lapisan tanah untuk
nantinya diambil sampel dari setiap sampel tanah. Berdasarkan hasil
pemadatan tersebut maka dapat dicari nilai compaction effort dari
masing masing sampel tanah. Setelah itu, menimbang berat sampe uji
yang sudah diambil dari setiap lapisan. Selanjutnya dilakukan
pengolahan data atas data yang didapat dari hasil pengamatan
praktikum

B. Analisis Data dan Hasil


Pada pengolahan data, perlu diketahui nilai kerapatan kering
tanah (γdry) yang didapatkan dengan membagi berat jenuh tanah
dengan satu ditambah persentase kadar air. Namun sebelum itu, perlu
diketahui berat tanah yang didapat dengan mengurangi berat mould +
tanah dengan berat mould sehingga hanya didapatkan berat tanahnya
saja. Kemudian mencari berapa volume dari tanah atau mould yang

20
Compaction-Modified & Sand Cone Test
Laboratorium Mekanika Tanah
Departmen Teknik Sipil – Fakultas Teknik
Universitas Indonesia

dipakai dengan rumus phi dikali kaudrat diameter lalu dibagi empat
dengan dan hasilnya dalam satuan cm 3. Setelah itu, menentukan berat
jenuh tanah yang didapatkan dengan membagi berat tanah dengan
volume tanah/mould. Selanjutnya, dapatlah dihitung nilai kerapatan
kering dengan data yang sudah didapat sebelumnya. Nialai kerapatan
kering sama dengan berat tanah jenuh dibagi dengan satu ditambah
kadar air dalam desimal. Perhitungan data ini dilakukan pada 5
sampel tersedia, sehinngga dapatlah dibuat grafik antara persentase
kadar air terhadap kerapatan kering setiap sampel tanah sebagai
berikut:

Grafik 3. Hubungan Kerapatan kering dengan Kadar Air


Sumber : Hasil Pengolahan Data, 2023
Berdasarkan grafik tidak dapat dilihat kadar air optimum, sebab tidak
terbentuk kurva sehingga tidak terbentuk puncak. Hal ini membuat
kadar air optimum tidak dapat ditentukan sehingga berat isi kering
tanah tidak dapat ditentukan pula. Umumnya kurva yang seharusnya
terbentuk dapat dilihat dari titik puncak grafik hubungan kerapatan
kering dengan kadar air. Sebelum mencapai titik optimum, grafik
mengalami kenaikan besar kerapatan kering. Namun, setelah
mencapai titik optimum, maka tanah akan mengalami penurunan
besar kerapatan kering seiring dengan penambahan kadar air. Dalam
hal ini besar kerapatan kering tanah dapat dianggap sebagai besar
kekuatan tanah. Ketika suatu tanah mengalami penurunan kerapatan
kering, maka secara tidak langsung kekuatan tanah tersebut juga
menurun. Hal ini disebabkan oleh oleh adanya pengaruh penambahan

21
Compaction-Modified & Sand Cone Test
Laboratorium Mekanika Tanah
Departmen Teknik Sipil – Fakultas Teknik
Universitas Indonesia

kadar air setelah titik optimum. Saat tanah tersebut masih dalam
kondisi kering lempung dan belum mendapatkan jumlah kadar air
optimum maka tanah sulit untuk dipadatkan dan masih membutuhkan
kadar air tertentu untuk mencapai titik optimum. Setelah itu, ketika
tanah mendapatkan kadar air optimum maka tanah mendapatkan
pemadatan yang optimal dengan kadar air tertentu. Kemudian saat
ditambahkan lagi kadar air, maka tanah akan menjadi lunak dan
lengket sehingga menjadi sulit untuk diapadatkan. Penambahan kadar
air membuat kuat tekan geser tanah berkurang sehingga stabilitas
tanah akan menurun, yang mana dapat diartikan tanah memiliki kuat
tekan yang menurun sehingga kerapatan kering tanah juga akan
menurun. (Das, 1993)
Setelah mengetahui kerapatan kering, perlu untuk mencari nilai
ZAV yang merupakan titik dimana tidak adanya rongga udara di
dalam tanah. Nilai ZAV didapatkan melalui rumus perbandingan
antara specific gravity dikali kerapatan jenuh dengan satu ditambah
perbandingan perkalian kadar air dalam desimal dan = specific
gravity dengan derajat kejenuhan, dimana dalam perhitungan ini
menggunakan nilai derajat kejenuhan sebesar 100 %. Setelah dihitung
nilai ZAV untu ksetiap sampel maka dapat dibuat hubunagn
persentase kadar air terhadap kerapatan kering dan nilai ZAV.

Grafik 4. Hubungan antara γ dry dan ZAV dengan Kadar Air

22
Compaction-Modified & Sand Cone Test
Laboratorium Mekanika Tanah
Departmen Teknik Sipil – Fakultas Teknik
Universitas Indonesia

Sumber : Hasil Pengolahan Data, 2023


Berdasarkan hasil pengoalahan data yang dilakukan, semakin
besar persentase kadar air maka nilai ZAV akan semakin kecil pula.
Hal ini menandakan rongga rongga yang ada dalam tanah akan
semakin kecil seiring bertambahnya kadar air. Nilai ZAV pada
kondisi ini sebagai parameter yang menunjukkan seberapa besar
rongga udara dalam tanah, sehingga semakin kecil nilai ZAV maka
semakin sedikit rongga udara dan berlaku sebaliknya. Hal ini
dibuktikan melalui rumus, bahwa nilai desimal kadar air berbanding
terbaik dengan nilai ZAV sehingga factor pembagi akan semakin
besar ketika kadar air bertambah besar.
Pada grafik terlihat bahwa kurva kerapatan kering dengan ZAV
tidak saling berpotongan satu sama lain dan saling berdampingan
dengan jarak sekitar 0,0159. Jika nilai tersebut semakin besar maka
tanah semakin mudah untuk dilakukan pemadatan. Grafik ini juga
sebagai pembuktian pada teori bahwa kurva garis yang dihasilkan
kerapatan kering terhadap kadar air terhadap nilai ZAV terhadap
kadar air tidak boleh saling berpotongan, tetapi berada dalam posisi
bersebelahan serta memiliki jarak satu sama lain. Perlu diketahui
Bersama bahwa Zero Air Void Line ini berfungsi sebagai petunjuk
pada waktu digambarkan grafik hasil percobaan pemadatan. Garis
pemadatan atau kerapatan kering ini tidak boleh memotong Zero Air
Voids Line. Apabila berpotongan maka tanah yang akan dipadatkan
sudah menjadi jenuh dan akan sulit untuk diapadatkan, yang berarti
praktikum yang telah dilakukan salah. (Craig, 1989)
Pada tahap akhir perhitungan diperlukan untuk mencari
compaction effort yang berarti sebagai seberapa besar tekanan yang
diperlukan untuk setiap sampel tanah yang diapakai. Pada percobaan
yang dilakukan bahawa setiap sampel tanah memiliki nilai
compaction effort yang sama satu sama lain. Hal ini dikarenakan nilai
parameter lainnay dalam rumus memiliki besar yang sama sehingga
didapatkan nilai compaction effort sebesar 59336,21 lb/ft2. Hal ini
menandakan bahwa besar pemadatan yang diberikan pada praktikum

23
Compaction-Modified & Sand Cone Test
Laboratorium Mekanika Tanah
Departmen Teknik Sipil – Fakultas Teknik
Universitas Indonesia

sama semua dan konstan untuk setiap sampel. Jika nilai Compaction
Effort jauh dari nilai standar maka terdapat adanya kesalahan dalam
melakukan pemadatan yang mana dapat dikatakan kurang efektif,
yang mana perlu dilakukan tekanan lebih pada tanah untuk mencapai
pemadatan yang optimum. Jika diabndingkan dengan standar bahwa
nilai compaction effort, yaitu 56.000 lb/ft2. Semakin mendekati angka
tersebut maka, pemadatan semakin efektif dan jika semakin jauh
dengan angka tersebut usaha pemadatan kurang efektif. Dalam
perhitungan ini, volume yang dipakai dalam satuan ft3 dan nilai jatuh
sebesar 1,5 ft, sehingga diperlukan kalibrasi terlebih dahulu agar
menghindari kesalahan nilai perhitungan akibat dimensi yang salah.
C. Analisis Kesalahan
Dalam praktikum, tentu terdapat empat kesalahan baik dalam
melakukan langkah langkah praktikum yang mengakibatkan
ketidaktepatan data yang didapat sehingga perhitungan yang dilakukan
menjadi kurang optimal hasil yang didapat, antara lain:
1. Saat proses Compaction pada tanah terdapat layer yang lebih
tercompact ataupun besar energi yang berbeda beda di pinggi
mould dengan tengah mould. Hal ini dapat diatasi dengan cara
melakukan pemadatan tanah dengan hammer secara merata ke
seluruh permukaan tanah agar setiap sisi mendapatkan tekanan
yang cukup dan merata.
2. Saat jumlah pukulan sudah 25 kali, lapisan tanah tang terbentuk
tidak tepat pada 1/5, 2/5, 3/5, 4/5, 5/5 sehingga ketika dilanjutkan
pada layer berikutnya energi pemadatan setiap layer menjadi
berbeda beda. Hal ini dapat diatasi dengan cara memberikan
jumlah tekanan pada hammer secara merata pada setiap layer
agar jumalah tekanan yang diberikan merata setiap layer.
3. Bagian dalam mould kurang terlapisi oleh oli yang mana tanah
menempel pada dinding mould sehingga ketika di lakuakan
extrude, sebagian tanah masih terdapat dalam mould. Hal ini
membuat perhitungan massa tanah menjadi berkurang dari
seharusnya. Hal ini dapat diatasi dengan cara melapisi mould

24
Compaction-Modified & Sand Cone Test
Laboratorium Mekanika Tanah
Departmen Teknik Sipil – Fakultas Teknik
Universitas Indonesia

dengan oli secara menyeluruh dengan jumlah yang cukup agar


tanah tidak menempel pada dinding mould.
4. Waktu untuk air dan tanah bisa homogen untuk sampel 1 sampai
3 (1 jam) yang lebih singkat dibandingkan sampel 4 dan 5 (1
hari). Kondisi ini ditunjukan dengan rongga udara pada tanah
berbeda beda sehingga kandungan air yang didapat setelah
extrude tanah dan oven serta dihitung kadar airnya, menjadi
meningkat drastis pada sampel ke 4 dan menurun di 5. Hal ini
dapat di tanggulangi dengan memastikan agar sampel tanah
didiamkan dengan waktu yang cukup selama 24 jam agar tanah
dapat menyerap kandungan air secara optimal.

V. APLIKASI
Dalam dunia konstruksi tentu pemadatan tanah sangat diperlukan
mengidentifikasi kondisi tanah yang dipakai dalam kosntruksi, berikut
beberapa aplikasi pemakaian dengan melakukan pemadatan tanah:
a. Mengetahui seberapa besar kuat tekan maksimum yang dapat
diterima oleh sautu tanah dalam kosntruksi
b. Bagaimana metode pengaplikasian pemasangan pondasi bawah tanah
untuk infrastruktur yang akan dibangun.
c. Pemadatan ini ditujukan agar tanah memiliki kaut tekan geser yang
baik serta dapat menahan gaya geser yang mungkin terjadi selama
pembangunan maupun saat suatu infrastruktur sudah beroperasi
d. Dapat mengetahui bagaimana stabilitas dari tanah yang dipakai dalam
konstruksi
e. Secara khusus pada pengujian proctor modifikasi umumnya tanah
yang diuji akan digunakan dalam pembuatan timbunan pada jalan.
Dimana pemadatan tanah ini bertujuan untuk mengetahui kadar air
yang opimal sehingga penggunaan timbunan yang dipakai dilapangan
mendapat kekuatan tanah yang digunakan sesuai dengan rencana
desain. Pada kondisi di lapangan, pengujian ini harus dilakukan di
beberapa titik agar hasil pengujian proctor modifikasi dapat
menggamabrkan kondisi tanah di lapangan secara menyeluruh.

25
Compaction-Modified & Sand Cone Test
Laboratorium Mekanika Tanah
Departmen Teknik Sipil – Fakultas Teknik
Universitas Indonesia

Terdapat kondisi di lapangan proyek konstruksi, dimana


diketahui persiapan tanah bahwa kadar air tanah belum dapat
mencapai kadar air optimum. Hal yang perlu dilakukan adalah
dengan menambah jumlah kadar air serta dilakukan pemerataan tanah
serta pemadatan tanah ulang sampai mencapai kadar air optimum
yang mana ditunjukkan juga dengan nilai pemadatan maksimal. Lalu
jika telah melampaui kadar air optimum, maka dapat dilakukan
pengambilan tanah yan gada dan digantikan dengan tanah yang
memiliki kandungan air yang lebih rendah serta dilakukan
pemerataan ulang secara terus menerus sampai mencapai nilai
pemadatan yang dinginkan. Hal ini akan membuat tanah memiliki
kandungan air yang ada berkurang dari sebelumnya sehingga dapat
mendapai kadar air optimum.

VI. KESIMPULAN
Berdasarkan hasil pengoalahan data dan analisis yang dilakukan,
diperolah 5 kesimpulan, antara lain:
1. Tidak dapat ditentukan kerapatan kering maksimum sebab tidak
terbentuk kurva dan tidak terbentuk puncak kurva.
2. Semakin kecil persentase jumlah air maka nilai kerapatan kering
tanah semakin tinggi.
3. Besar nilai ZAV yang didapat berkisar antara 1,224 gr/cm3 sampai
dengan 1,415 gr/cm3
4. Besar nilai ZAV berbandingan lurus dengan kerapatan kering tanah,
tetapi berbanding terbalik dengan jumlah kadar air.
5. Nilai Compaction Effort yang didapat pada setiap sampel tanah
bernilai sama, yaitu 59.336,221 lb/ft2

26
Compaction-Modified & Sand Cone Test
Laboratorium Mekanika Tanah
Departmen Teknik Sipil – Fakultas Teknik
Universitas Indonesia

VII. REFERENSI
Craig, F. (1991). Mekanika tanah. Jakarta: Erlangga.

Lecturer, D. (2021). Buku Panduan Mekanika Tanah. Depok: Departemen Teknik Sipil dan
Lingkungan UI.

Syafrudin. (2007). Hubungan Teorittis Antara Berat Isi Kering dan Kadar Air untuk
Menenukan Kepadatan Relatif. Info Teknik, 143-144.

Tipo Putra Situmeang, I. A. (2018). Study Perbandingan Antara Uji Proctor Modified dengan
Alat TekanPemadat Modifikasi Berdasarkan Tekanan Kontak pada Alat Berat
Pemadat Tanah. JRSDD, 20-46.

VIII. LAMPIRAN

Gambar 7. Proses pengayakan tanah dengan saringan ASTM No 4


sumber: dokumentasi praktikum kelompok 6, 2023

27
Compaction-Modified & Sand Cone Test
Laboratorium Mekanika Tanah
Departmen Teknik Sipil – Fakultas Teknik
Universitas Indonesia

Gambar 8. Tanah yang telah disaring dengan saringan No 4


sumber: dokumentasi praktikum kelompok 6, 2023

28
Compaction-Modified & Sand Cone Test
Laboratorium Mekanika Tanah
Departmen Teknik Sipil – Fakultas Teknik
Universitas Indonesia

Gambar 9. Sampel tanah awal yang akan dihitung persentase kadar air

sumber: dokumentasi praktikum kelompok 6, 2023

Gambar 10. Proses mencampur tanah yang terlah diayak agar grading tanah beragam

sumber: dokumentasi praktikum kelompok 6, 2023

Gambar 11. Proses mencampur tanah dengan air untuk rekayasa Water Content

sumber: dokumentasi praktikum kelompok 6, 2023

29
Compaction-Modified & Sand Cone Test
Laboratorium Mekanika Tanah
Departmen Teknik Sipil – Fakultas Teknik
Universitas Indonesia

Gambar 12. Proses pemadatan sampel tanah dengan compactor hammer 10 lb

sumber: dokumentasi praktikum kelompok 6, 2023

30
Compaction-Modified & Sand Cone Test
Laboratorium Mekanika Tanah
Departmen Teknik Sipil – Fakultas Teknik
Universitas Indonesia

Gambar 13. Mengukur Lapisan pemadatan tanah setiap 1/5 lapis

sumber: dokumentasi praktikum kelompok 6, 2023

Gambar 14. Menimbang Mould + Tanah yang telah dipadatkan

sumber: dokumentasi praktikum kelompok 6, 2023

31
Compaction-Modified & Sand Cone Test
Laboratorium Mekanika Tanah
Departmen Teknik Sipil – Fakultas Teknik
Universitas Indonesia

Gambar 15. Proses memotong sampel tanah menjadi 5 bagian untuk dioven

sumber: dokumentasi praktikum kelompok 6, 2023

Gambar 16. Proses memasukan sampel tanah kedalam oven untuk mencari kadar air

sumber: dokumentasi praktikum kelompok 6, 2023

947,98
Rabu, 15 Maret 2023

32
Compaction-Modified & Sand Cone Test
Laboratorium Mekanika Tanah
Departmen Teknik Sipil – Fakultas Teknik
Universitas Indonesia

20% 22,5% 25% 27,5%


34,656 37,56 40,98 47,85 45,674

1731 1732 1707 1647 1639


1,826 1,827 1,801 1,737 1,729
1,356 1,328 1,277 1,175 1,187

Gambar 17. Proses memasukan sampel tanah kedalam oven untuk mencari kadar air

sumber: dokumentasi praktikum kelompok 6, 2023

Sand Cone Test

I. PENDAHULUAN
A. Standar dan Acuan Referensi
 ASTM D 1556 “Standard Test Method for Density and Unit Weight
of Soil in Place by the Sand-Cone Method”
 SNI 03-2828-1992 “Metode Pengujian Kepadatan Lapangan dengan
Alat Konus Pasir”
B. Maksud dan Tujuan Percobaan
Tujuan dari pengujian lapangan berupa sand cone ini adalah:
 Untuk menentukan kepadatan (density) dari tanah yang sudah
dipadatkan (compacted soil). Biasanya dilakukan pada saat
konstruksi timbunan tanah, pekerjaan jalan, dan pada tanggul. Dari

33
Compaction-Modified & Sand Cone Test
Laboratorium Mekanika Tanah
Departmen Teknik Sipil – Fakultas Teknik
Universitas Indonesia

pengujian ini didapatkan nilai γ dry lapangan yang akan


dibandingkan dengan γ dry dari laboratorium.
 Untuk menentukan massa jenis in-situ dan berat jenis dari deposit
tanah alami, agregat, dan campuran tanah menggunakan alat sand
cone.
C. Alat – Alat dan bahan
a. Alat
 Satu set alat sand cone
 Timbangan neraca Ohaus
 Botol kaca dengan volume ± 4000 cm3
 Cone / corong besar
 Katup dan pipa orifice yang dihubungkan dengan botol kaca
melalui corong kecil
 Sendok tanah
 Pengeruk / alat penggali
 Pelat metal

Gambar 18. Peralatan pengujian sand cone


Sumber: modul praktikum tanah, 2021

34
Compaction-Modified & Sand Cone Test
Laboratorium Mekanika Tanah
Departmen Teknik Sipil – Fakultas Teknik
Universitas Indonesia

b. Bahan
 Pasir kuarsa dengan diameter seragam dan kering

Gambar 19. Pasir Kuarsa untuk pengujian sand cone

sumber: dokumentasi praktikum kelompok 6, 2023

D. Teori dan Rumus yang Digunakan

Percobaan sand cone merupakan salah satu jenis pengujian yang


dilakukan di lapangan untuk menentukan berat isi kering (kepadatan
tanah) asli ataupun hasil suatu pekerjaan pemadatan (timbunan) pada
tanah kohesif maupun non kohesif. Percobaan ini biasanya dilakukan
untuk mengevaluasi hasil pekerjaan pemadatan di lapangan yang
dinyatakan dalam derajat pemadatan, yaitu perbandingan antara γ dry
lapangan (sand cone) dengan γ dry hasil percobaan pemadatan di
laboratorium.

Gambar 18 mengilustrasikan prinsip dari pengujian sand cone.


Pada pengujian sand cone, tanah sample digali secara manual dan
beratnya ditimbang (W). Volume V dari penggalian tanah dientukan dari
volume pasir yang dibutuhkan untuk menimbun lubang galian tersebut.
Berat jenis γ dan berat jenis kering γdry ditentukan dari:

w
γ=
v

γ
γ dry =
1+ w/100

35
Compaction-Modified & Sand Cone Test
Laboratorium Mekanika Tanah
Departmen Teknik Sipil – Fakultas Teknik
Universitas Indonesia

Dimana w adalah kadar air (%) yang biasanya ditentukan dari


laboratorium. Volume dari pasir ditentukan dengan mengukur beratnya,
dengan mengasumsikan bahwa pasir tersebut telah diketahui berat
jenisnya.

Gambar 20. Prinsip Pengujian Sand Cone


Sumber: modul praktikum tanah, 2021
E. Teori Tambahan
Analisis kepadatan lapangan menggunakan metode sand cone
biasanya dilakukan untuk mengevaluasi hasil pekerjaan pemadatan di
lapangan apakah sudah memenuhi standar yang disyaratkan
berdasarkan spesifikasi SNI 03 -2828- 1992 sebesar 95%.
Menurut spesifikasi persyaratan SNI 03-2828-1992 nilai derajat
kepadatan lapangan yang dianjurkan sebesar 95%. Dari hasil pengujian
yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa kepadatan lapangan
belum mencapai persyaratan kepadatan lapangan yang telah ditentukan
karena rata-rata derajat kepadatan lapangan pada perkerasan jalan
sebesar 77,94%. Dengan demikian maka kondisi lapangan perlu
dilakukan penambahan pemadatan kembali, sampai memenuhi
persyaratan spesifikasi kepadatan lapangan sebesar 95%.

36
Compaction-Modified & Sand Cone Test
Laboratorium Mekanika Tanah
Departmen Teknik Sipil – Fakultas Teknik
Universitas Indonesia

Gambar 21. Tabel Spesifikasi Pemadatan Tanah


Sumber: Mekanika Tanah (Prinsipprinsip Rekayasa Geoteknis), Edisi I, 1994

II. PRAKTIKUM
A. Persiapan Praktikum
Mengacu pada standar Prosedur Kerja ASTM D1556 - 07
 Menimbang dan mencatat berat dari toples kaca + cone + pasir
kuarsa penuh di dalam toples kaca.
 Menimbang dan mencatat berat dari sand cone.

B. Jalannya Praktikum
Terdapat 8 langkah prosedur yang harus dilakukan dalam pengujian sand
cone, antara lain
1. Meletakkan base plate di atas tanah pada posisi tanah yang akan
diuji.
2. Menggali tanah di lubang base plate sedalam 10 cm.
3. Memasukkan tanah hasil galian tersebut ke dalam plastik, lalu
timbang beratnya dan mencari kadar airnya.
4. Meletakkan sand cone + toples kaca yang berisi pasir kuarsa di atas
base plate, dan membuka katup sedemikian rupa sehingga pasir
keluar dari toples kaca melalui cone dan mengisi lubang hasil
galian.

37
Compaction-Modified & Sand Cone Test
Laboratorium Mekanika Tanah
Departmen Teknik Sipil – Fakultas Teknik
Universitas Indonesia

5. Menutup katup ketika pasir sudah berhenti mengalir keluar.


6. Menimbang berat toples kaca + cone + sisa pasir di dalam toples
kaca.
7. Memasukkan kembali pasir kuarsa yang telah keluar dari toples
kaca ke dalam toples beling.
8. Mengulangi langkah 1 s/d 7 pada percobaan ini untuk sampel tanah
2 pada lokasi yang berbeda
III. PENGOLAHAN DATA
A. Data Hasil Perhitungan

Mencari kadar air (%) setiap sampel tanah

 Sampel 1
Wcan = 14,2 gr
WWet Soil + Can = 207 gr
WDry Soil + Can =149,3 gr
W Wet soil+ can−W Dry Soil +can 207−149,3
w= W Dry Soil +can −W can
=
149,3−14,2
× 100 %=42,71 %

 Sampel 2

Wcan = 14,6 gr

WWet Soil + Can = 190,7 gr

WDry Soil + Can =135,1 gr

W Wet soil+ can−W Dry Soil +can 190,7−135,1


w= W Dry Soil +can −W can
=
135,1−14,6
× 100 %=46,14 %

 Sampel 3

Wcan = 15,8 gr

WWet Soil + Can = 221,5 gr

WDry Soil + Can =155,8 gr

W Wet soil+ can−W Dry Soil +can 221,5−155,8


w= W Dry Soil +can −W can
=
155,8−15,8
×100 %=46,93 %

38
Compaction-Modified & Sand Cone Test
Laboratorium Mekanika Tanah
Departmen Teknik Sipil – Fakultas Teknik
Universitas Indonesia

Tabel 5. Tabulasi Berat Sampel tanah uji untuk mencari kadar air

sumber: pengolahan data praktikum kelompok 6, 2023

B. Perhitungan
a. Dilakukan perhitungan volume tanah dan kepadatan kering tanah
lapangan

Sampel Dry Soil + Can


Wet soil + Wet soil Dry Soil
(Hole) No. Can (gr) (oven dry) w (%)
Can (gr) (gr) (gr)
(gr)
1 207 14.2 192.8 149.3 135.1 42.7091
2 190.7 14.6 176.1 135.1 120.5 46.14108
3 221.5 15.8 205.7 155.8 140 46.92857

Tabel 6. Data hasil penimbangan pasir, alat sand cone, dan tanah

sumber: pengolahan data praktikum kelompok 6, 2023

Keterangan:

W1 = Berat toples kaca + berat cone + berat pasir (saat toples kaca masih
penuh dengan pasir

W2 = Berat toples + berat cone + berat pasir yang tersisa dalam toples

W3 = Berat Sand Cone

W4 = Berat tanah hasil galian

W = persentase kadar air sampel tanah

39
Compaction-Modified & Sand Cone Test
Laboratorium Mekanika Tanah
Departmen Teknik Sipil – Fakultas Teknik
Universitas Indonesia

 Sampel 1:
W 1 −W 3 7188−2126
Berat isi pasir = = = 1,265 gr/cm3
V . Toples 4000
W 1−(W 2 +W 3 ) 7188−(3751+2126)
Volume tanah = = =1035,95
γ sand 1,265
cm3

W4 2485
Gamma Dry field = V 1035,95 gr/cm3
= =1,680
1+ W 1+(0,4271)

 Sampel 2:

W 1 −W 3 7645−2126
Berat isi pasir = = = 1,379 gr/cm3
V . Toples 4000

W 1−(W 2 +W 3 ) 7645−( 4395+ 2126)


Volume tanah = = =814,64
γ sand 1,379
cm3

W4 2295
Gamma Dry field = V 814,64 gr/cm3
= =1,927
1+ W 1+(0,4614)

 Sampel 3:
W 1 −W 3 7185−2126
Berat isi pasir = = = 1,264 gr/cm3
V . Toples 4000

W 1−(W 2 +W 3 ) 7185−(3865+2126)
Volume tanah = = =944,06
γ sand 1,264
cm3

W4 2450
Gamma Dry field = V 944,06 gr/cm3
= =1,766
1+ W 1+(0,4693)

Tabel 7. Tabulasi hasil perhitungan volume Tanah dan kepadatan


kering tanah lapangan

40
Compaction-Modified & Sand Cone Test
Laboratorium Mekanika Tanah
Departmen Teknik Sipil – Fakultas Teknik
Universitas Indonesia

Sample Berat Isi Pasir Gamma dry -


V(cm3)
(Hole) No. (gr/cm3) field (gr/cm3)
1 1.265 1035.95 1.680
2 1.379 814.64 1.927
3 1.264 944.06 1.766

sumber: pengolahan data praktikum kelompok 6, 2023

b. Dilakukan perhitungan kepadatan kering tanah laboratorium dengan


cara interpolasi kadar air serta gamma dry perobaan compaction. Hal
ini bertujuan untuk mencari berapa kepadatan kering tanah sesuai
dengan kadar air pada percobaan sand cone. Dalam hal ini, tanah
yang diujikan pada compaction proctor modified dengan sand cone
diasumsikan sama sehingga dapat dilakukan interpolasi data.
 Mencari gamma dry lab pada kadar air 42,71%

X −X 1 Y −Y 1
 =
X 2− X 1 Y 2−Y 1
42,7091−40,9799 Y −1,277
 =
47,849−40,9799 1,175−1,277
 Y = 1,215 gr/cm3
 Mencari gamma dry lab pada kadar air 46,141%
X −X 1 Y −Y 1
 =
X 2− X 1 Y 2−Y 1
46,141−45,674 Y −1,186
 =
47,849−45,674 1,175−1,86
 Y = 1,184 gr/cm3

 Mencari gamma dry lab pada kadar air 46,928%


X −X 1 Y −Y 1
 =
X 2− X 1 Y 2−Y 1
46,928−45,674 Y −1,186
 =
47,849−45,674 1,175−1,86

41
Compaction-Modified & Sand Cone Test
Laboratorium Mekanika Tanah
Departmen Teknik Sipil – Fakultas Teknik
Universitas Indonesia

 Y = 1,180 gr/cm3

Setelah mendapatkan gamma dry laboratorium maka dapat dicari


derajat kejenuhan dengan rumus:

γ dry field
×100 %
γ laboratorium

Perhitungan dilakukan untuk ketiga sampel pengujian dan didapatkan


persentase derajat kepadatan tanah yang dilampirkan dalam tabel
sebagai berikut:

Tabel 8. Tabulasi hasil perhitungan derajat kepadatan tanah

Sample (Hole) Derajat


Gamma dry - Gamma dry -
No. Kepadatan
field (gr/cm3) Lab (gr/cm3)
(%)
1 1.680 1.251 134.31
2 1.927 1.184 162.77
3 1.766 1.180 149.67

sumber: pengolahan data praktikum kelompok 6, 2023

IV. ANALISIS
A. Analisis Percobaan
Pada tahap awal praktikum perlu mempersiapkan peralatan
praktikum seperti satu set alat sand cone, timbangan neraca Ohaus,
botol kaca dengan volume + 4000 cm3, cone / corog besar, katup pipa
orifice yang dihubungkan dengan botol kaca melalui corong kecil,
sendok tanah, pengeruk/alat penggali, pelat metal. Alat pertama, yaitu
set alat sand cone adalah alat yang dipakai untuk menjadi tempat
dimasukannya alat alat pengujian sand cone untuk dibawa ke lapangan
uji. Timbangan neraca Ohaus berfungsi untuk menimbang berat
sampel tanah, pasir, dan alat sand cone. Selanjutnya terdapat botol
kaca yang berfungsi sebagai wadah untuk menampung pasir kuarsa
ketika ditimbang maupun saat memasukan pasir kedalam lubang

42
Compaction-Modified & Sand Cone Test
Laboratorium Mekanika Tanah
Departmen Teknik Sipil – Fakultas Teknik
Universitas Indonesia

galian. Kemudian cone/corong besar, berfungsi sebagai tempat untuk


keluarnya pasir kuarsa dari botol kaca dan menutup agar pasir yang
dimasukan tidak keluar dari lubang uji saat pengisian pasir.
Lalu terdapat pipa oriffice atau katup yang berfungsi untuk
membuka/menutup lubang keluaran pasir saat ingin memasukan pasir
dan setelah memasukan pasir. Sendok tanah, berfungsi untuk
mengambil sampel tanah undisturbed yang sudah digali dan
memasukan tanah kedalam plastic sampel. Penggeruk / alat penggali,
berfungsi untuk menggali tanah dan memecahkan bongkahan tanah
yang digali agar ukuran tanah menjadi lebih mudah dimasukan
kedalam plastik. Pelat metal, berfungsi sebagai cetakan dari ukuran
sampel tanah yang akan diambil sehingga jumlah pengambilan sampel
tanah dapat lebih ditentukan.

Langkah pertama yang dilakukan dalam percobaan adalah


dengan menimbang dan mencatat berat alat sand cone, yaitu toples
kaca, cone, dan pasir dengan neraca Ohaus secara bersamaan. Hal ini
bertujuan untuk dapat mengetahui berapa berat keseluruhan dari alat
dan bahan dalam pengujian sand cone yang akan menjadi W1.
Selanjutnya adalah menimbang berat serta mencatat berat sand cone
yang akan menjadi berat W3. Langkah ini akan dilakukan untuk lokasi
pengujian sampel tanah yang berbeda. Selanjutnya adalah menentukan
titik yang akan dilakukan pengujian sand cone test. Penentuan dari titik
pengujian ini didasarkan pada lokasi mana yang ingin diketahui derajat
kepadatan tanah.

Setelah menentukan, maka dapat dilanjutkan dengan memasang


base plate diatas titik lokasi uji. Hal ini bertujuan sebagai penanda serta
memastikan titik pengujian pengambilan sampel tanah tidak bergeser
ke titik lainnya. Berikutnya adalah dengan menggali lubang sesuai
dengan bentuk dari base plate sedalam + 10 cm. Pada tahap ini harus
dipastikan bahwa galian tanah yang terbentuk cukup rapih dan sudah
mencapai kedalaman yang diinginkan. Tanah bekas galian ini, akan
dimasukan kedalam plastic sampel untuk kemudian ditimbang dan

43
Compaction-Modified & Sand Cone Test
Laboratorium Mekanika Tanah
Departmen Teknik Sipil – Fakultas Teknik
Universitas Indonesia

dicari kadar airnya. Setelah itu, meletakkan sand cone + toples kaca
yang berisikan pasir kuarsa diatas base plate dan membuka katup
orifice hingga pasir keluar dari toples serta mengisi lubang galian tanah
yang telah dibuat sebelumnya.

Lalu, setelah dirasa tidak ada pasir yang keluar dari toples, hal
ini menunjukkan bahwa lubang sudah terisi penuh dan harus
dihentikan proses pengisian pasir dengan cara menutup katup orifice
hingga rapat. Ketika sudah ditutup rapat, alat sand cone + toples yang
berisikan pasir dapat diangkat dan ditimbang untuk mengetahui berat
sisa. Sisa dari pasir kuarsa yang tersisa dilubang perlu diambil kembali
dengan sendok untuk dimasukan kedalam toples kaca. Hal ini
bertujuan agar pasir yang belum bersentuhan dengan tanah digunakan
kembali untuk percobaan berikutnya. Langkah selanjutnya adalah
dengan mengulangi langkah praktikum sebelumnya dari meletakan
base plate sampai dengan memasukkan kembali pasir kuarsa kedalam
toples kaca untuk titik uji lainnya.

B. Analisis Data dan Hasil


Berdasarkan hasil pengujian yang dilakukan serta perhitungan
telah didapatkan beberapa data, yaitu berat W1, W2, W3, W4, water
content (w), berat isi pasir, volume tanah, volume corong, berat isi
pasir, γ dry lapangan, γ dry lab, dan derajat kepadatan tanah. Jika
dilihat dari data yang didapatkan bahwa berat isi pasir pada sampel 2
merupakan nilai terbesar dari hasil pengujian titik lainnya. Hal ini
berpengaruh terhadap semakin besarnya γ dry lapangan yang didapat
sehingga dapat dikatakan kedua parameter ini sebanding. Dengan
semakin besarnya γ dry dilapangan menunjukkan hasil derajat
kepadatan yang semakin tinggi pula. Mesikipun begitu, tetap terdapat
peran dari kadar air dalam menentukan besar γ dry lapangan, dimana
semakin besar kadar air maka nilai γ dry lapangan akan semakin kecil.
Sementara itu, dalam perhitungan γ dry lapangan dipengaruhi pula oleh
volume dari tanah, dimana semakin besar volume tanah maka γ dry
lapangan akan semakin kecil. Hal ini menunjukkan hubungan

44
Compaction-Modified & Sand Cone Test
Laboratorium Mekanika Tanah
Departmen Teknik Sipil – Fakultas Teknik
Universitas Indonesia

berbanding terbalik antara γ dry lapangan dengan volume tanah. Pada


perhitunganya, faktor yang mempengaruhi besar dan kecilnya γ dry
lapangan dipengaruhi oleh banyak parameter sehingga kecenderungan
besar kecilnya tidak dapat ditentukan oleh 1 paameter saja.
Berdasarkan hasil perhitungan didapatkan nilai γ dry lapangan secara
berturut turut dari sampel 1 hingga 3, yaitu 1,690 gr/cm 3, 1,927 gr/cm3,
dan 1,766 gr/cm3. Selain itu didapatkan juga γ dry laboratorium secara
berturut turut dari sampel 1 hingga 3, yaitu 1,251 gr/cm 3, 1,184 gr/cm3,
dan 1,180 gr/cm3.
Setelah didapatkan γ dry lapangan serta γ dry laboratorium,
maka dapat ditentukan nilai derajat kepadatan tanah. Derajat kepadatan
tanah ini akan menentukan kualitas tanah tersebut, yang mana secara
tidak langsung dapat menentukan kelompok tanah, jenis tanah, dan
tingkat kepadatannya. Berdasarkan hasil perhitungan didapatkan
derajat kepadatan secara berutur turut dari sampel 1 hingga 3, yaitu
134, 31%, 162,77%, dan 149,67%. Berdasarkan ketiga nilai derajat
kepadatan, dapat diketahui bahwa semua sampel tersebut tergolong
sebagai tanah tidak kedap air atau bebas drainase, bergradasi baik
(GW), dan tergolong padat atau sangat padat. Dengan spesifikasi
derajat kepadatan tanah tersebut, tanah tempat dilakukan pengujian
dapat digunakan untuk timbunan pada lokasi konstruksi bangunan atau
timbunan saat pembuatan jalan. Tingkat kepadatan tanah yang baik
akan membuat struktur dapat lebih sustain mempertahankan posisinay
dan tidak mudah bergeser atau mengalami penurunan pondasi.

C. Analisis Kesalahan
Dalam proses pelaksanaan praktikum, tentu dimungkinkan
adanya kesalahan yang dilakukan berasal dari praktikan akibat kurang
teliti saat menjalankan prosedur. Kesalahan praktikum yang mungkin
terjadi antara lain:
 Ketika menuangkan pasir kedalam lubang galian, jumlah pasir
yang dituangkan terlalu banyak sehingga volume tanah yang
didapat berubah dari seharusnya sehingga mempengaruhi γ dry

45
Compaction-Modified & Sand Cone Test
Laboratorium Mekanika Tanah
Departmen Teknik Sipil – Fakultas Teknik
Universitas Indonesia

lapangan. Hal ini dapat ditanggulangi dengan memperhatikan


dengan seksama jumlah pasir yang tertuang serta segera untuk
menutup katup corong setelah lubang terisi penuh dengan pasir.
 Saat menimbang dengan neraca Ohaus, titik seimbang dari panah
titik nol tidak terpenuhi sehingga terjadi margin dalam hitungan
gram dengan data yang sebenarnya. Hal ini dapat diantisipasi
dengan melakukan kalibrasi timbangan serta memastikan dengan
betul penimbangan dilakukan sampai pemberat dengan objek uji
benar benar seimbang.
V. APLIKASI

Pada dunia konstruksi teknik sipil, tanah menjadi salah aspek penting
yang harus benar diselidiki mengenai karakterisitik serta kekuatannya agar
segala macam struktur yang tertanam ditanah dapat berdiri secara kokoh.
Dalam penerapannay terdapat 3 aplikasi dari pengujian sand cone test di
dunia konstruksi, antara lain:

 Untuk mengetahui kepadatan kering optimum yang ada dilapangan yang


dikaitkan dengan kadar air tanah. Melalui kedua data yang didapat pada
pengujian ini, maka spesifikasi kadar air tanah yang dipakai serta γ dry
yang sesuai dapat ditentukan lebih mudah sehingga kekuatan tanah yang
direncanakan dapat dilaksanakan.
 Untuk mengetahui tingkat kepadatan suatu tanah dimana, dengan
pengujian ini spesifikasi persetase kejenuhan tertentu akan menentukan
tingkan kepadatan yang direncanakan. Jika setelah dilakukan pengujian
masih kurang dari persentase yang diinginkan maka dapat dilakukan
pemadatan ulang atau treatment tanah lainnya sehingga dapat menjadi
tolak ukur pekerjaan tanah selanjutnya yang akan dilakukan.
 Tanah yang sudah diketahui derajat kepadaannya akan menentukan
kegunaan tanah tersebut didunia konsturksi dan menentukan juga dapat
digunakan untuk tingkatan jalan tertentu. Semakin tinggi derajat
kepadatan, maka semakin banyak pekerjaan sipil yang dapat diakomodir
oleh tanah tersebut.

46
Compaction-Modified & Sand Cone Test
Laboratorium Mekanika Tanah
Departmen Teknik Sipil – Fakultas Teknik
Universitas Indonesia

VI. KESIMPULAN
Berdasarkan pengujian sand cone yang dilakukan didapatkan 4
kesimpulan antara lain:
a. Didapatkan nilai γ dry lapangan pada titik sampel pengujian 1
hingga 3, yaitu 1,690 gr/cm3, 1,927 gr/cm3, dan 1,766 gr/cm3
b. Didapatkan nilai γ dry laboratorium pada titik sampel pengujian 1
hingga 3, yaitu 1,251 gr/cm3, 1,184 gr/cm3, dan 1,180 gr/cm3.
c. Didapatkan nilai derajat kepadatan pada titik sampel pengujian 1
hingga 3, yaitu 134, 31%, 162,77%, dan 149,67%
d. Jenis tanah yang didapatkan dari hasil pengujian tergolong padat
hingga sangat padat sebab melampaui standar spesifikasi derajat
kepadatan, yaitu 95%. Sehingga sekitar wilayah tanah uji dapat
digunakan untuk pekerjaan konstruksi sipil.
[Link]

Craig, F. (1991). Mekanika tanah. Jakarta: Erlangga.


Hadijah, I. (2015). ANALISIS KEPADATAN LAPANGAN DENGAN SAND CONE
PADA KEGIATAN PENINGKATAN STRUKTUR JALAN TEGINENENG –
BATAS KOTA METRO. TAPAK Vol. 4 No. 2 , 87-91.

Lecturer, D. (2021). Buku Panduan Mekanika Tanah. Depok: Departemen Teknik Sipil dan
Lingkungan UI.

Permatasari, S. (2018). ANALISIS KEPADATAN LAPANGAN MENGGUNAKAN


METODE KONUS PASIR (SAND CONE) PADA DESA SEBELIMBINGAN
KABUPATEN KOTA BARU. TAPAK Vol. 8 No. 1, 20-24.

Syafruddin. (2007). Hubungan Teoritis Antara Berat Isi Kering dan Kadar Air untuk
Menentukan Kepadatan Relatif . INFO –TEKNIK, Fakultas Teknik Unlam
Banjarmasin , 142-148.

47
Compaction-Modified & Sand Cone Test
Laboratorium Mekanika Tanah
Departmen Teknik Sipil – Fakultas Teknik
Universitas Indonesia

VIII. LAMPIRAN

Gambar 22. Proses Penggalian tanah pada lokasi titik sampel 1


sumber: dokumentasi praktikum kelompok 6, 2023

Gambar 23. Proses Pengambilan Tanah pada Lokasi Uji sampel 1


sumber: dokumentasi praktikum kelompok 6, 2023

48
Compaction-Modified & Sand Cone Test
Laboratorium Mekanika Tanah
Departmen Teknik Sipil – Fakultas Teknik
Universitas Indonesia

Gambar 24. Proses Pengisian lubang galian dengan pasir


sumber: dokumentasi praktikum kelompok 6, 2023

Gambar 25. Menimbang sand cone + toples + sisa pasir


sumber: dokumentasi praktikum kelompok 6, 2023

49
Compaction-Modified & Sand Cone Test
Laboratorium Mekanika Tanah
Departmen Teknik Sipil – Fakultas Teknik
Universitas Indonesia

Gambar 26. Menimbang sampel tanah yang sudah diambil dari lubang galian
sumber: dokumentasi praktikum kelompok 6, 2023

Gambar 27. Proses mengambil tanah dari lubang galian pada titik uji kedua
sumber: dokumentasi praktikum kelompok 6, 2023

50
Compaction-Modified & Sand Cone Test
Laboratorium Mekanika Tanah
Departmen Teknik Sipil – Fakultas Teknik
Universitas Indonesia

Gambar 28. Proses mengambil tanah dari lubang galian pada titik uji ketiga
sumber: dokumentasi praktikum kelompok 6, 2023

Gambar 29. Tampak kondisi lubang galian yang sudah diisi oleh pasir kuarsa
sumber: dokumentasi praktikum kelompok 6, 2023

51
Compaction-Modified & Sand Cone Test
Laboratorium Mekanika Tanah
Departmen Teknik Sipil – Fakultas Teknik
Universitas Indonesia

Gambar 30. Sampel tanah yang diambil dari plastik tanah sampel 1 (Wet soil +can)
sumber: dokumentasi praktikum kelompok 6, 2023

Gambar 31. Sampel tanah yang telah dioven sampel 1 (Dry Soil + can)
sumber: dokumentasi praktikum kelompok 6, 2023

52
Compaction-Modified & Sand Cone Test
Laboratorium Mekanika Tanah
Departmen Teknik Sipil – Fakultas Teknik
Universitas Indonesia

Rabu, 15 Maret 2023


Lapangan Dekat Parkir Fakultas Teknik
Kelas Investigasi Geoteknik 2023

1035,9 1,680 134,306


5814,64 1,927 162,76
944,06 1,766 149,67

Gambar 32. Form Data Praktikum yang dipakai untuk mencatat data di lapangan
sumber: dokumentasi praktikum kelompok 6, 2023

53
Compaction-Modified & Sand Cone Test
Laboratorium Mekanika Tanah
Departmen Teknik Sipil – Fakultas Teknik
Universitas Indonesia

Korelasi Antara Prakttikum Compaction Proctor Modified dengan Sand Cone Test
Terdapat 6 kaitan antara praktikum compaction proctor modified dengan sand cone
test, antara lain:

1. Pengujian compaction merupakan pengujian yang dilakukan didalam laboratorium


sehingga menghasilkan γ dry laboratorium, sedangkan sand cone test menghasilkan
nilai γ lapangan. Kedua parameter ini dipakai untuk mencari derajat kepadatan tanah,
sehingga kedua parameter ini saling berkaitan untuk menghasilkan parameter derajat
kepadatan tanah.
2. Penentuan dari derajat kepadatan tanah ini, akan menentukan kualitas tanah dan
penentuan penggunaan tanah tersebut di konstruksi, sebab pembuatan jenis jalan
tertentu memerlukan nilai derajat kepadatan tertentu.
3. Semakin besar γ dry lapangan maka nilai derajat kepadatan akan semakin tinggi
sehingga mengingikasikan tanah uji yang semakin padat. Pada kondisi idealnya kedua
parameter ini diusahakan sama besarnya agar mencapai derajat kepadatan yang optimal,
yaitu 95%. Begitupun sebaliknya, semakin kecil γ dry laboratorium maka derajat
kepadatan akan semakin besar.
4. Kedua parameter ini memiliki kesamaan, dimana γ dry yang dihasilkan cukup
dipengaruhi oleh kadar air yang ada pada tanah.
5. Lokasi pengambilan tanah untuk kedua jenis pengujian ini haruslah sama agar dapat
merepresentasikan derajat kepadatan yang sesungguhnya dari tanah yang diuji.
6. Perbaikan suatu tanah dapat dikontrol dengan kedua pengujian ini, ketika suatu hasil uji
tanah kurang baik atau kurang padat, maka perlu segera dilakukan tindakan perbaikan
tanah untuk mencegah swelling pada tanah seperti pemadatan kembali atau
menggunaan metode advanced lainnya.

54
Compaction-Modified & Sand Cone Test

Anda mungkin juga menyukai