0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
15 tayangan23 halaman

Kaidah dan Contoh Kalimat Bahasa Indonesia

Makalah ini membahas tentang hakikat, pembentukan, ciri-ciri fungsi, dan keselarasan unsur-unsur kalimat. Kalimat adalah satuan bahasa terkecil yang dapat mengungkapkan pikiran secara utuh baik lisan maupun tulisan.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
15 tayangan23 halaman

Kaidah dan Contoh Kalimat Bahasa Indonesia

Makalah ini membahas tentang hakikat, pembentukan, ciri-ciri fungsi, dan keselarasan unsur-unsur kalimat. Kalimat adalah satuan bahasa terkecil yang dapat mengungkapkan pikiran secara utuh baik lisan maupun tulisan.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

KALIMAT

DIAJUKAN UNTUK MEMENUHI TUGAS MATA KULIAH SINTAKSIS

DISUSUN OLEH :

NAMA : PUTRI HUSNUL KHOTIMAH HARAHAP

NIM : 0314212018

DOSEN PENGAMPU MATA KULIAH :

BUDIMAN, [Link]

PROGRAM STUDY TADRIS BAHASA INDONESIA

FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUMATERA UTARA MEDAN

T.A 2022-2023
KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,

Puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan kita nikmat
kesehatan jasmani dan rohani, sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini dengan
baik dan tepat pada waktunya. Dan tidak lupa shalawat dan salam kita hadiahkan ke roh
junjungan nabi besar Muhammad SAW yang telah membawa kita dari alam ke bodohan
menuju alam yang berpendidikan hingga saat ini.

Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah sintaksis yang berjudul “kalimat”
yang diampu oleh Bapak dosen Budiman, [Link]. Makalah ini menyajikan berbagai materi
yang berkaitan dengan hakikat kalimat, pembentukan kalimat, ciri-ciri fungsi kalimat,
kalimat efektif dan unsur-unsur keselarasan kalimat.

Penulis mengucapkan terima kasih kepada Bapak dosen Budiman, [Link] yang telah
membimbing dalam proses penyusunan makalah, dan kepada pihak-pihak yang membantu
mempermudah penulis dalam penyusunan makalah.

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Sabtu, 17 Desember 2022

Penulis

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR...............................................................................................................i

DAFTAR ISI.............................................................................................................................ii

BAB I : PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah.................................................................................................1


B. Rumusan Masalah..........................................................................................................2
C. Manfaat Masalah............................................................................................................2

BAB II : PEMBAHASAN

A. Hakikat Kalimat.............................................................................................................3
B. Pembentukan Kalimat....................................................................................................4
C. Ciri-ciri Fungsi Kalimat.................................................................................................8
D. Kalimat Efektif.............................................................................................................10
E. Keselarasan Unsur-Unsur Kalimat...............................................................................15
F. Soal Latihan..................................................................................................................16

BAB III : PENUTUP

A. Kesimpulan...................................................................................................................17
B. Saran ............................................................................................................................17

DAFTAR PUSTAKA.............................................................................................................18

ii
iii
BAB I

PENDAHULUAN

[Link] Belakang

Bahasa digunakan sebagai alat komunikasi baik secara lisan, maupun secara tulisan.1
Bahasa adalah berupa salah satu bentuk dari perilaku manusia yang memilki karakteristik
tersendirinya. Bahasa itu berperan dalam sistem komunikasi manusia baik itu komunikasi
lisan maupun komunikasi yang dilakukan dengan cara tulisan. Menurut Finegan bahasa
merupakan sebuah sarana dalam pikiran, yang merupakan suatu sistem pengekspresian yang
menegahi pengiriman pikiran dari seseorang kepada orang lain. 2

Dalam buku Sintaksis Bahasa Indonesia bahasa adalah fenomena yang menghubungkan
dunia makna dengan dunia bunyi. Lalu, sebagai penghubung di antara kedua dunia tersebut,
adapun bahasa dibangun dengan tiga komponen, antara lain komponen leksikon, komponen
gramatika dan komponen fonologi.

Kalau bahasa itu merupakan satu sistem (Chaer, 2007), maka sistem bahasa memiliki tiga
buah subsistem, yaitu subsistem leksikon, subsistem gramatika dan subsistem fonologi.
Ketiga subsistem itu terikat dengan dunia pragmatik atau dunia konteks. 3

Bahasa merupakan alat alat komunikasi yang berupa sistem lambang bunyi yang
dihasilkan oleh alat ucap manusia. Bahasa terdiri dari kata-kata atau kumpulan kata. Masing-
masing mempunyai makna, yaitu hubungan abstrak antara kata sebagai lambang dengan
objek atau konsep yang mewakili kumpulan kata- kata atau kosakata itu oleh ahli bahasa
disusun secara alfabetis, atau menurut urutan abjad, disertai penjelasan artinya dan kemudian
dibukukan menjadi sebuah kamus. 4

Bahasa Indonesia merupakan bahasa yang berasal dari bahasa Melayu-Riau, salah satu
bahasa daerah yang berada di wilayah Nusantara dulunya. Namun, perkembangan bahasa
Indonesia sudah berkembang dengan pesatnya sehingga bahasa Indonesia sudah berbeda
dengan bahasa Melayu-Riau sekarang ini. Dalam perjalanan sejarahnya, bahasa Indonesia
dikenal secara meluas sejak “Sumpah Pemuda, 28 Oktober 1928”, yang menjadikan bahasa

1
Reza Febiantika & Mulyanto Widodo. Keefektifan Kalimat pada Tajuk Rencana Surat Kabar Lampung Post
Maret 2015. Jurna kata ( Bahasa, Sastra dan Pembelajarannya). 2016. Hal 1
2
Edward Finegan. Language is stucture and use. United State Of America : Tomshon Wardsworth. 2008. hal. 6
3
Abdul Chaer. Sintaksis Bahasa Indonesia (Pendekatan Proses). 2015. Jakarta:Rineka Cipta .hal.1
4
Rina [Link] Indonesia Untuk Perguruan [Link] 1

1
Indonesia sebagai bahasa persatuan disertai sebagai bahasa kesatuan. Pada mulanya kala itu
pemuda kita sepakat untuk mengangkat bahasa Melayu menjadi bahasa Indonesia. Para
pemuda kita melihat bahwa bahasa Indonesia itu dapat mempersatukan kita yang terdidik dari
beratus-ratus suku kata.

Bahasa Indonesia memiliki fungsi sebagai pemersatu bangsa Indonesia sangat menonjol
dan sangat jelas. Bahasa Indonesialah yang dapat menimbulkan kesatuan dan persatuan
Bangsa Indonesia seperti apa yang kita saksikan sekarang ini. Salah satu unsur penting dalam
bahasa Indonesia adalah kalimat. Karena setiap bahasa yang keluar dari alat ucap manusia
mengandung kata maupun kalimat.

Oleh karena itu kalimat merupakan satuan bahasa terkecil yang dapat mengungkapkan
pikiran yang utuh baik secara lisan maupun secara tulisan. Dalam wujud lisan, kalimat
diungkapkan dengan suara naik turun dan keras lembut. Sedangkan dalam bentuk tulisan
kalimat diawali dengan huruf kapital dan di akhiri dengan tanda titik. 5 Oleh karena itu
penulis mengangkat judul “kalimat” dan akan dibahas lebih mendalam pada bab pembahasan.

[Link] Masalah

A. Apa Hakikat Kalimat ?


B. Bagaimana Pembentukan Kalimat?
C. Apa Saja Ciri-Ciri Fungsi Kalimat?
D. Apa Pengertian Kalimat Efektif?
E. Bagaimana Keselarasan Unsur-Unsur Kalimat?

C. Manfaat Masalah

A. Untuk Mengetahui Hakikat Kalimat


B. Untuk mengetahui Pembetukan Kalimat
C. Untuk Mengetahui Ciri-Ciri Fungsi Kalimat
D. Untuk Mengetahui Pengertian Kalimat Efektif
E. Untuk Mengetahui Keselarasan Unsur-Unsur Kalimat

5
Dewi Retno Oktafianikoling .Konstruksi Kalimat Pasif dalam Bahasa Muna . Vol 1 no 2 . Jurnal BASTRA. (
Bahasa dan Sastra) 2016 .

2
BAB II

PEMBAHASAN

[Link] Kalimat

Abdul Chaer menyatakan bahwa “ kata merupakan satuan bahasa terkecil yang
memiliki makna. Kata dapat digunakan manusia untuk menyampaikan suatu maksud atau
tujuan”.6 Tetapi untuk menyatakan suatu maksud atau tujuan yang lebih kompleks manusia
harus merangkai kata-kata menjadi kalimat agar dapat dipahami.

Masih menurut Abdul Chaer , kalimat merupakan satuan bahasa yang langsung
digunakan dalam berbahasa, oleh karena itu para linguistik tradisional membuat pengertian
kalimat dengan mengaitkan peranan kalimat itu sebagai alat interaksi dan kelengkapan pesan
atau isi yang akan disampaikan. Oleh karena itu, banyak ditemukan definisi seperti “kalimat
adalah susunan kata-kata yang teratur yang berisi pikiran yang lengkap” yang dijadikan
definisi umum yang sering ditemukan di berbagai buku tata bahasa. 7 Dengan adanya kalimat
maka ide pikiran disampaikan dengan susunan kata yang teratur dan dapat dimengerti dengan
tepat oleh penerima pesan yaitu pembaca dan pendengar.

Kalimat adalah kata atau kelompok kata (frasa dan klausa ) ditulis dimulai dengan huruf
besar, di akhiri dengan tanda baca (tanda titik atau tanda tanya atau tanda seru), dan
mengandung arti. Frasa adalah satuan sintaksis terdiri dua kata atau lebih yang tidak
mengandung unsur predikat sedangkan klausa adalah satuan si taksis yang terdiri atas dua
kata atau lebih yang mengandung unsur predikat. 8 Kalimat adalah satuan bahasa yang relatif
dapat berdiri sendiri, mempunyai pola intonasi akhir dan yang terdiri dari klausa.9

Dipandang dari sudut logika, kalimat di definisikan sebagai ujaran yang berisikan pikiran
secara lengkap yang tersusun dari subjek dan predikat. Subjek adalah tentang apa sesuatu
dikatakan dan predikat adalah apa yang dikatakan tentang subjek. Yang perlu diperhatikan
adalah bahwa istilah subjek dan predikat mengacu kepada fungsi, tidak kepada jenis kata.

6
Abdul Chaer,Linguistik [Link] : [Link] Cipta. 2007 . hal 219
7
[Link] 240
8
Tri Indah Kusumawati. Bahasa indonesia .Medan : Perdana Publishing .2019 . hal 169
9
Henry Guntur Tarigan . Menulis Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa . Bandung : Aksara . 1993 . hal. 8

3
Berdasarkan kenyataan bah2a dalam kegiatan berbahasa tidak semua unsur sistem bahasa
direalisasikan. Sebagai unsur dasar penetapan untuk kebahasaan yang mana dapat dianggap
sebagai kalimat, samakan struktur bahasa atau sistem batin bahasa. Sehubungan dengan itu,
kalimat pada hakikatnya berupa proposisi sehingga dalam kalimat dasar, mestinya
mempunyai kata atau frasa yang berfungsi sebagai predikat.

Arifin dan Tasai mengemukakan bahwa, “ kalimat ialah satuan bahasa terkecil dalam
wujud lisan atau tulisan, yang mengungkapkan pikiran yang utuh. Dalam wujud lisa. Kalimat
diucapkan dengan suara naik turun dan keras lembut, di sela jeda, dan di akhiri dengan
intonasi akhir.10

Dalam kaitannya dengan satuan sintaksis yang lebih kecil, seperti kata, frase, dan klausa
maka akan di uat definisi kalimat yang mengikuti konsep tersebut. Oleh karena itu dalam hal
ini, Chaer mendefinisikan “ kalimat adalah satuan sintaksis yang tersusun dari konsistensi
dasar yang biasanya dapat berupa klausa, kemudian dilengkapi dengan konjungsi bila
diperlukan, dan disertai dengan intonasi final.11

Berdasarkan pernyataan di atas, dapat ditelaah bahwa kalimat terdiri dari dua aspek yaitu
berdasarkan jumlah klausanya dan berdasarkan kelengkapan unsur-unsurnya. Kalimat yang
baik dan benar harus memenuhi persyaratan gramatikal. Artinya, kalimat itu harus tersusun
berdasarkan kaidah-kaidah yang berlaku, seperti unsur-unsur terpenting yang harus dimilki
setiap kalimat ( subjek dan predikat), memperhatikan ejaan yang disempurnakan, serta cara
memilih kata atau diksi yang tepat dalam kalimat. Kalimat yang memenuhi kaidah – kaidah
tersebut akan lebih jelas sehingga mudah dipahami oleh pembaca atau pendengar.12

Berdasarkan penjelasan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa kalimat merupakan


susunan. Kata yang memilki struktur untuk mengungkapkan pikiran yang utuh, yang tersusun
dari konstituen dasar yang biasanya berupa klausa dan tanda koma (,) sebagai intonasi final.

[Link] Kalimat

Proses pembentukan kalimat dapat dipilih menjadi empat hal, yaitu proses pembentukan
kalimat berdasarkan bentuk sintaksis, jumlah klausa, cara pengungkapan, dan keefektifannya.
Ditinjau dari susunannya jenis kalimat dapat di kelompokkan menjadi beberapa macam yaitu:

10
Zaenal Arifin dan S. Amran Tasai . Cermat Berbahasa Indonesia untuk Perguruan Tingga . 1991 . Jakarta :
PT . Mediyatama Sarana Perkasa . hal 78
11
Abdul Chaer . Op cit . hal 240
12
Ida Bagus Putrayasa . Kalimat Efektif (Diksi, Struktur dan lokasi) . 2010 .Bandung : PT . Redika Aditama .
hal 1

4
1. Jenis Kalimat Berdasarkan Bentuk Sintaksisnya
Berdasarkan bentuk atau kategori Sintaksisnya, kalimat dapat dibagi atas kalimat
deklaratif atau kalimat berita, kalimat imperatif atau kalimat perintah, kalimat
interogatif atau kalimat tanya dan kalimat eksklamaratif atau kalimat seruan.
a. Kalimat deklaratif
Kalimat deklaratif atau biasanya disebut dengan kalimat berita pada
umumnya digunakan oleh pembicara atau penulis untuk membuat pernyataan
sehingga isinya merupakan berita bagi pendengar atau pembacanya.13
Kalimat deklaratif ini dibangun oleh sebuah klausa, dua buah klausa, tiga
buah klausa, atau juga lebih atau dalam wujud kalimat sederhana, kalimat
rapatan, kalimat luas setara, kalimat luas bertingkat, maupun kalimat luas
kompleks, sesuai dengan besarnya atau luasnya isi pernyataan yang ingin
disampaikan. Begitu juga bisa digunakan dalam bentuk kalimat positif
maupun kalimat negatif, kalimat aktif maupun kalimat pasif. Kalimat
deklaratif diucapkan oleh seseorang kepada orang lain untuk menyatakan
sesuatu. Contoh :
- KPK akan memeriksa anggota DPR itu yang diduga kuat menerima aliran
dana BLBI.
- Tindak kekerasan tidak akan menyelesaikan masalah, malah akan
memunculkan masalah -masalah baru.
- Ternyata proyek pelebaran jalan dan pembangunan jalan layang belum
bisa menyelesaikan masalah kemacetan lalu lintas
b. Kalimat Imperatif
Kalimat Imperatif atau kalimat perintah merupakan kalimat suruhan atau
permintaan yang di ungkapkan. Kalimat perintah mengharapkan adanya reaksi
berupa tindakan fisik. Menurut sifatnya dapat di rasakan adanya kalimat
perintah yang tegas, yang biasa, dan yang halus.
1. Kalimat perintah yang tegas dibentuk dari sebuah klausa yang tidak
lengkap, biasanya hanya berupa verba dasar, disertai dengan intonasi
kalimat perintah, dalam bentuk tulisan intonasi diganti dengan tanda seru.
Contohnya :
- Bersihkan!
- Tembak!
13
Hasan Alwi dkk . Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Edisi Ketiga . Jakarta : Balai Pustaka . 2003 . hal 353

5
- Tulis!
2. Kalimat perintah yang biasa dibentuk dari sebuah klausa berpredikat berba
yang diberi partikel lah, serta dengan menanggalkan subjeknya.
Contohnya:
- Jagalah kebersihan!
- Bayarlah dengan uang pas!
3. Kalimat perintah yang halus, sopan, dibentuk dengan menggunakan kata-
kata tertentu menunjukkan tingkat kesopanannya. Contohnya :
- Mohon agar surat-surat itu bapak tanda tangani dulu
- Kami harap anda bisa memberi bantuan sekadarnya
- Tolong sampaikan salam kami kepadanya
c. Kalimat Interogatif
Kalimat Interogatif atau kalimat tanya merupakan kalimat yang
mengharapkan adanya jawaban secara verbal. Jawaban ini dapat berupa
pengakuan, keterangan alasan atau pendapat dari pihak pendengar atau
pembaca. Contohnya :
- Siapa namamu?
- Bagaimana kalau kita makan di kedai itu?
- Berapa harga minyak goreng sekarang?
d. Kalimat Eksklamatif

Kalimat eksklamatif atau kalimat seru secara formal ditandai oleh kata
seru yaitu alangkah, betapa, atau bukan main. Contohnya:

- Betapa senangnya hati kakek dan nenek!


2. Jenis Kalimat Berdasarkan Jumlah Klausanaya
Berdasarkan jumlah klausanya, kalimat dibagi atas kalimat tunggal dan kalimat
majemuk. 14
a. Kalimat Tunggal
Kalimat tunggal adalah kalimat yang mengandung hanya satu makna atau
satu arti. Contohnya:
- Ani memasak nasi
- Ibu menjahit baju di kamar
- Ayah memotong kayu di kebun kemarin
14
Ibid hal . 311

6
b. Kalimat Majemuk
Kalimat majemuk merupakan kalimat yang mengandung dua klausa atau
frasa atau lebih dan masing-masing klausa atau frasa memiliki arti tersendiri.
Kalimat majemuk dapat dibagi menjadi 3 macam yaitu:

1. Kalimat Majemuk Setara


Kalimat majemuk setara adalah kalimat majemuk yang klausa-klausanya
mempunyai kedudukan setara atau sederajat. Contohnya:
- Ayah membaca dan ibu menulis
- Ani menari dan Budi bermain
- Bidu tersenyum dan Ani tertawa

2. Kalimat Majemuk Rapatan


Kalimat majemuk Rapatan merupakan kalimat majemuk setara bagian
yang sama ( subjek dan predikat) dihilangkan. Contohnya :
- Indah dan Budi bernyanyi
- Ayu membaca dan menulis
- Shellah tersenyum dan menulis

3. Kalimat Majemuk Bertingkat


Kalimat majemuk bertingkat (beranak) merupakan kalimat majemuk
yang klausa-klausanya mempunyai hubungan dan kedudukan yang
bertingkat atau tidak setara titik salah satu dari klausa tersebut
berkedudukan sebagai klausa utama atau induk kalimat dan yang lain
berkedudukan sebagai klausa subordinatif atau anak kalimat. Bila anak
kalimat mendahului induk kalimat harus dipisahkan dengan tanda koma (,)
dan bila induk kalimat mendahului anak kalimat tidak perlu diberi tanda
koma (,). Contohnya:
- Kalau hari ini hujan saya tidak akan datang.
- Saya tidak akan datang kalau hari ini hujan
- Jika ia senyum, saya tidak akan marah.
- Saya tidak akan marah jika ia senyum.

3. Jenis Kalimat Berdasarkan Pengungkapannya

7
Ditinjau dari cara pengungkapannya, kalimat dapat dibedakan ke dalam dua jenis,
yakni kalimat langsung dan kalimat tidak langsung.

1. Kalimat langsung
Kalimat langsung merupakan kalimat yang langsung diucapkan oleh seorang
pembicara. Misalnya:
- Presiden berkata, “ korupsi harus diberantaskan sampai tuntas”
Ujaran “korupsi harus diberantas sampai tuntas” adalah ucapan langsung
presiden
- Ayah berkata, “Besok saya akan pergi ke Surabaya”.
Dalam kalimat langsung Ayah menyebut dirinya saya, tetapi dalam
kalimat tak langsung yang diucapkan orang lain kata ayah diganti menjadi
kata dia, sebagai orang ketiga yang dibicarakan.
2. Kalimat tidak Langsung
Kalimat tidak langsung lazim dikotomikan dengan kalimat langsung, karena
kalimat langsung ini merupakan ubahan dari kalimat langsung masalah ini lazim
dibicarakan dalam pendidikan formal dan dalam praktek berbahasa maupun lazim
digunakan. Contohnya :
- Presiden berkata, bahwa korupsi harus diberantas sampai tuntas.
- Ayah berkata, bahwa besok dia akan pergi ke Surabaya.

[Link]-Ciri Fungsi Kalimat

Kalimat terdiri dari unsur-unsur pembentuk kalimat yang saling berangkat dan
membentuk satu kesatuan makna. Unsur pembentuk kalimat tersebut diantaranya subjek (S),
Predikat (P), Objek (O), Pelengkap (Pel), Keterangan (K). Unsur-unsur fungsi tersebut bukan
semata-mata untuk menganalisis atau menguraikan kalimat berdasarkan unsur-unsurnya,
tetapi juga untuk mengecek kalimat yang dihasilkan apakah memenuhi syarat atau kaidah
tatabahasa karena kalimat yang benar harus memiliki kelengkapan unsur kalimat. Unsur-
unsur tersebut memilki tugas dan fungsinya masing-masing di dalam kalimat, dan untuk
membentuk sebuah kalimat, minimal harus terdiri dari unsur Subjek (S), dan Predikat (P) di
dalamnya.

1. Subjek (S)
Unsur yang pertama adalah subjek yang berfungsi sebagai penunjuk pelaku
yang melakukan atau terlibat di dalam kalimat tersebut. Biasanya subjek di

8
dalam kalimat berupa sebuah objek atau benda, seperti manusia, barang,
binatang, tumbuhan, maupun kata benda abstrak, seperti asap, gas, dan lain-
lain. Contohnya: Budi, aku, saya, kaca, keledai, mawar dan lain sebagainya.
Ciri-ciri subjek adalah sebagai beriku :
1) Jawaban apa atau siapa yang P
2) Disertai kata itu
3) Dapat didahului kata bahwa
4) Mempunyai keterangan pewatus yang
5) Tidak dapat didahului oleh preposisi (dari, dalam, di, ke, kepada, pada)
6) Berupa nomina atau frasa nomina.

2. Predikat ( P)
Bersama dengan subjek, predikat merupakan unsur terpenting dalam sebuah
kalimat. Predikat biasanya menggunakan kata kerja ataupun menggunakan
kata sifatm akan tetapi predikat juga dapat diisi dengan kata sifat dan kata
benda. Letak predikat berada di antara subjek dan objek.
Ciri-ciri predikat secara terperinci yaitu sebagai beriku :
1) Merupakan jawaban atas pernyataan mengapa dan bagaimana S
2) Berupa kata adalah atau ialah.
3) Berupa kata frasa verba
4) Berupa kata frasa nomina
5) Berupa kata numeralia
6) Berupa frasa preposisi
7) Dapat disertai kata-kata aspek atau modalitas
8) Dapat diingkarkan
3. Objek (O)
Objek biasanya terletak setelah predikat, dapat dikatakan objek
merupakan suatu keterangan yang berkaitan dengan predikat atau sesuatu yang
menderita. Tetapi dalam kalimat pasif objek menjadi subjek. Posisi objek
harus selalu berada di belakang predikat dengan posisinya yang berada di
belakang predikat, maka objek itu di isi oleh kelas nomina, frasa nominal
maupun klausa. Ciri-cirinya adalah sebagai berikut :
1) Penyerta predikat, berada langsung dibelakang predikat
2) Dapat menjadi subjek dalam kalimat pasif.

9
3) Tidak didahului preposisi
4. Pelengkap (P)
Meskipun hanya berfungsi untuk melengkapi kalimat, pelengkap
merupakan unsur yang melengkapi predikat. Hal inilah yang menunjukkan
bahwa pelengkap posisinya berada dibelakang predikat, terkadang seperti
menyulitkan untuk membedakan pelengkap dengan objek. Ciri-ciri pelengkap
adalah sebagai berikut :
1) Penyerta predikat
2) Tidak didahului preposisi
5. Keterangan (K)
Keterangan pada suatu kalimat terletak di bagian akhir. Unsur keterangan
biasanya dijadikan sebagai pelengkap kalimat. Keterangan bisa diisi oleh
frasa, kata, atau anak kalimat. Adapun keterangan yang berupa frasa akan
ditandai dengan preposisi ke, di, dari, pada, dalam, kepada, terhadap, untuk,
oleh, dan tenang. Sedangkan keterangan yang berupa anak kalimat ditandai
dengan preposisi karena, ketika, jika, meskipun, supaya dan sehingga. Ciri-ciri
keterangan adalah sebagai berikut :
1) Bukan unsur utama
2) Tidak terikat posisi15

[Link] Efektif

Kalimat efektif merupakan kalimat yang sesuai dengan kaidah bahasa baik ejaan
maupun tanda bacanya sehingga mudah dipahami oleh pembaca atau pendengarnya. Dengan
kata lain, kalimat efektif mampu menimbulkan kembali gagasan-gagasan pada pendengar
atau pembacanya seperti apa yang dimaksudkan oleh penulis. Untuk mencapai hal tersebut
diperlukan penggunaan kata baku (standar) dan diksi (pilihan kata) serta dalam bahasa lisan
diperlukan nada, tekanan, dan intonasi sedangkan dalam bahasa tulis diperlukan pedoman
penulisan ( EyD dan pedoman pembentukan istilah).

Menurut Syafi’ie kalimat yang efektif harus memenuhi persyaratan gramatikal, artinya
kalimat tersebut disusun berdasarkan kaidah-kaidah yang berlaku, yaitu unsur-unsur penting
yang harus ada dalam suatu kalimat, aturan tentang ejaan (Ejaan Bahasa Indonesia) dan
pendiksian atau pilihan kata. 16
Sementara menurut Sugomo, “ kalimat efektif adalah kalimat
15
Supriyadi . Sintaksis Bahasa Indonesia . Gorontalo : UNG Press . 2014 . hal 67-72
16
Imam Syafii’e . Bahasa Indonesia Profesi . Malang : IKIP Malang . 1990 . hal 116

10
yang dapat mengungkapkan gagasan pemakainya secara tepat dan dapat dipahami secara
cepat pula.17

Sedangkan Sasangka menjelaskan bahwa kalimat efektif merupakan kalimat yang dapat
mengungkapkan gagasan sesuai dengan yang di harapkan oleh si pembicara. Artinya, kalimat
yang dipilih oleh si penulis atau pembicara harus dapat digunakan untuk mengungkapkan
gagasan, makna, atau informasi kepada orang lain secara lugas sehingga gagasan itu
dipahami secara sama oleh pembaca dan pendengar. 18

Dari beberapa pendapat diatas, maka dapat penulis simpulkan bahwa kalimat efektif
dikatakan efektif apabila kalimat tersebut dapat menimbulkan gagasan yang sama tepatnya
dalam pikiran pendengar atau pembaca seperti yang dipikirkan penulis atau pembicara. Diksi
atau pilihan kata yang tepat akan membantu membentuk kalimat yang efektif. Kalimat
dikatakan efektif apabila mampu membuat proses penyampaian dengan penerimaan pesan
berlangsung dengan sempurna.

Sebuah kalimat yang efektif mempersoalkan bagaimana ia dapat mewakili secara tepat
perasaan atau isi pikiran penulis atau pembicara. Bagaimana ia dapat mengungkapkan pikiran
penulis atau pembicara secara segar dan sanggup menarik perhatian pembaca atau pendengar
tentang apa yang dibicarakan. Kalimat yang efektif memiliki kemampuan atau tenaga
menimbulkan kembali gagasan-gagasan pada pikiran pendengar atau pembaca identik dengan
apa yang dipikirkan oleh penulis atau pembicara.

Ciri-Ciri Kalimat Efektif

Kalimat efektif bukan berarti wujudnya harus pendek-pendek akan tetapi yang
dipentingkan adalah kesamaan informasinya. Bila kalimatnya pendek, tetapi membingungkan
orang dan bisa jadi kalimatnya panjang namun informasinya mudah dipahami. 19 Untuk itulah
kalimat efektif harus bercirikan kelugasan, ketepatan, kejelasan, kehematan, dan kesejajaran.

1. Kelugasan
Kelugasan dalam kalimat efektif mensyaratkan bahwa informasi yang akan
disampaikan dalam kalimat itu ialah yang pokok-pokok saja, tidak boleh berbelot-
belit namun disampaikan secara sederhana. 20

17
Dendy Sugomo . Buku Praktis Bahasa Indonesia 1 . Jakarta : Pusat Bahasa . hal . 91
18
Sry Satriya Tjatur Wisnu Sasangka . Jendela Bahasa Indonesia . Yogyakarta : Elmatera Publishing . 2012 .
hal 187
19
Trismanto . Peranan Kalimat Efektif dalam Komunimasi . Vol 6 no . 2 : Bangun Rekaprima . 2020 . hal . 61
20
Op Cit hal 188

11
2. Ketepatan
Ketepatan dalam kalimat efektif mensyaratkan bahwa informasi yang akan
disampaikan dalam kalimat itu harus jitu atau tepat sasaran sehingga dibutuhkan
ketelitian. Kalimat yang tepat tidak akan menimbulkan multitafsir karena kalimat
yang multitafsir pasti akan menimbulkan keambiguan, yaitu maknanya lebih dari satu,
menjadi kabur, atau bahkan meragukan.
3. Kejelasan
Kejelasan dalam kalimat efektif mensyaratkan bahwa kalimat itu harus jelas
strukturnya dan lengkap unsur-unsurnya. Kalimat yang jelas strukturnya memudahkan
orang memahami makna yang terkandung di dalamnya. Adapun ketidakjelasan
struktur dapat menimbulkan kebingungan orang memahami makna yang terkandung
di dalamnya.
4. Kehematan
Kalimat efektif perlu menghindari penggunaan kata-kata yang mubazir. Apabila
kata-kata dalam sebuah kalimat dapat dihilangkan tanpa mengubah makna kalimat
maka berarti kalimat tersebut menggunakan kata-kata mubazir. Kehematan dalam
kalimat efektif mensyaratkan bahwa informasi yang akan disampaikan dalam kalimat
itu harus cermat, tidak boros, dan perlu kehati-hatian. Untuk itu perlu dihindari
bentuk-bentuk yang bersinonim.21
5. Kesejajaran
Menurut Keraf, variasi struktur kalimat merupakan suatu alat yang baik untuk
menonjolkan gagasan sentral, maka paralelisme atau kesejajaran menempatkan
gagasan-gagasan yang sama penting dan sama fungsinya ke dalam suatu struktur
gramatikal yang sama. Kesejajaran dalam kalimat efektif mensyaratkan bahwa bentuk
dan struktur yang digunakan dalam kalimat efektif harus paralel, sama, atau sederajat.
Dalam hal bentuknya, kesejajaran terutama terletak pada penggunaan imbuhan,
sedangkan dalam hal struktur, kesejajaran terletak pada klausa-klausa yang menjadi
pengisi dalam kalimat majemuk setara. 22

Kemudia menurut Soedjito dan Saryono ada 9 ciri-ciri kalimat efektif, seperti sebagai
berikut:

1. Kalimat lengkap

21
Mukhlis Doyin . Bahasa Indonesia dalam Karya Ilmiah . Semarang : Bandungan Instituti . 2012 . hal 75
22
Gorys Keraf . Komposisi : Sebuah Pengantar Kemahiran Berbahasa . Flores : Nusa Indah . 1980 . hal 47

12
Kalimat lengkap adalah kalimat yang memiliki subjek dan predikat. Seperti berikut
ini ;
a. Ali membaca
b. Pendapat saudara dapat diterima
c. Hadirin mohon perhatian
2. Kalimat logis
Kalimat logis merupakan kalimat yang unsur-unsurnya mempunyai hubungan
yang bernalar ( masuk akal). Seperti berikut ini :
a. Bapak Gubernur kami persilahkan!
b. PSMS harus mengatasi ketinggalannya.
3. Kalimat sejajar
Kalimat sejajar merupakan kalimat yang unsur-unsurnya baik bentuk maupun
artinya memiliki kesejajaran atau kesesuaian. Seperti berikut ini :
a. Langkah-langkah yang harus dilakukan adalah memahami, menghayati, dan
mengamalkan.
b. Langkah-langkah yang harus dilakukan adalah pemahaman, penghayatan, dan
pengamalan.
4. Kalimat padu
Kalimat padu merupakan kalimat yang berfungsi unsur-unsurnya bertautan secara
utuh dan jelas. Seperti berikut ini:
a. Menurut dokter Shella, merokok dapat menyebabkan serangan jantung.
b. Setelah meninggal suaminya, Ani hidupnya susah
5. Kalimat Hemat
Kalimat Hemat adalah kalimat yang unsur-unsurnya tidak ada yang mubazir
( berlebih). Seperti berikut ini :
a. Para dosen dan mahasiswa mengikuti upacara setiap 17 Agustus.
6. Kalimat cermat
Kalimat cermat merupakan kalimat yang strukturnya teratur dan sesuai dengan
kaidah tata kalimat, yaitu urutan, bentuk kata, kata tugas, dan intonasi. Ciri-ciri lain
kalimat cermat, antara lain tidak lebih, tidak kurang, tidak rancu, dan tidak bersifat
idiomatis. Seperti berikut ini :
a. Untuk meningkatkan kesehatan diperlukan dana besar.
b. Demi peningkatan kesehatan diperlukan dana besar
c. Peningkatan kesehatan masyarakat memerlukan dana besar.

13
7. Kalimat Taksa ( Ambigu)
Kalimat Taksa ( ambigu) adalah kalimat yang bermakna lebih dari satu. Kalimat
ambigu ini terjadi karena tidak hadirnya konjungsi atau preposisi, urutan unsur-
unsurnya menyimpang dari urutan yang sudah lazim, penggunaan kata yang tidak
tepat, dan intonasi yang berbeda. Seperti berikut ini :
a. Kalimat tanpa konjungsi
Ayu tidak masuk sekolah, ibunya sakit.
Kalimat diatas dapat menimbulkan makna yang tidak jelas karena tidak ada
digunakan kata tunjuk yang tertentu. Apabila kalimat di atas diberikan kata
tunjuk yang berbeda akan menimbulkan makna yang berbeda. Misalnya “Ayu
tidak masuk sekolah karena ibunya sakit”.
b. Unsur-unsur kalimat yang menyimpang
Unsur-unsur kalimat yang menyimpang menyangkut tentang kata, frasa,
klausa, konjungsi. Contohnya : “Para pedagang menyelamatkan barang yang
hangus terbakar”. Terjadi kesalahan pilihan kata hangus harus diganti dengan
kata belum, supaya kalimat itu bernalar titik oleh karena itu kalimat di atas
dapat diperbaiki menjadi kalimat “para pedagang menyelamatkan barang yang
belum terbakar”
c. Penggunaan kata tidak tepat
Panitia sudah menyediakan kamar tempat tukar pakaian
Kalimat tersebut dapat diperbaiki dengan cara mengganti kata tukar dengan
kata ganti maka kalimat di atas menjadi “panitia sudah menyediakan kamar
tempat ganti pakaian”.
d. Penggunaan intonasi tidak sesua
Anjing makan tikus mati, di dapur
Anjing makan tikus, mati di dapur
Kedua kalimat di atas benar namun kedua kalimat tersebut mengandung
arti yang berbeda titik kalimat yang pertama mengandung arti anjing makan
tikus mati dan tempatnya di dapur titik kalimat yang kedua mengandung arti
anjing makan tikus dan anjingnya mati di dapur jadi pembicara ataupun
penulis memilih intonasi sesuai dengan arti yang diinginkan.
8. Kalimat Rancu
Kalimat rancu merupakan kalimat yang terjadi dari penggabungan dua kalimat
menjadi satu sehingga struktur kalimatnya menjadi salah titik struktur yang salah

14
terjadi akibat sebagian diambil dari kalimat pertama dan sebagian lagi diambil dari
kalimat kedua. Contohnya :
Pelajaran ini membahas tentang estetika sastra
Dalam pelajaran ini dibahas tentang estetika sastra
9. Kalimat bervariasi
Kalimat bervariasi adalah Kalimat yang strukturnya berbeda yang menimbulkan
perubahan makna variasi kalimat terjadi karena variasi urutan, variasi aktif pasif,
variasi panjang pendek dan variasi kalimat berita, tanya, dan seru.
a. Variasi urutan
Rumah itu dibeli ayah
b. Variasi aktif-pasif
Ayah membeli rumah itu
c. Variasi Panjang pendek
Ayah beli rumah itu pada tahun 2012
d. Variasi berita, tanya, dan seru atau perintah
Ayah beli rumah itu!23

[Link] Unsur-Unsur Kalimat

Kesepadanan struktur merupakan keseimbangan antara pikiran (gagasan) dengan


struktur bahasa yang dipakai. Kesepadanan kalimat ini diperhatikan oleh kesatuan gagasan
yang kompak dan kepadanya pikiran yang baik. Kesatuan gagasan bertujuan agar informasi
yang disampaikan tidak terpecah-pecah. Kalimat tidak bertele-tele dan harus sistematis.
Kesatuan kalimat ditandai dengan adanya kesepadanan struktur dan makna kalimat.24

Kesatuan kalimat dapat dibentuk jika ada keselarasan unsur-insur kalimat antara lain ada
keselarasan antara subjek dan predikat, predikat dan objek , serta predikat dan keterangan.
Dalam implementasinya seringkali kalimat tampak panjang tetapi tidak memiliki subjek dan
predikat. Ada pula kalimat yang secara gramatikal mempunyai subjek yang disebabkan oleh
adanya partikel. Hal seperti ini hendaknya dihindari dalam pemakaian kalimat agar kesatuan
kalimat dapat ditangkap dengan baik oleh pembaca dan pendengar.

Keselarasan unsur kalimat mengacu kepada hubungan yang serasi antar bagian kalimat.
Oleh karena itu, penataan unsur-unsur kalimat secara tepat menjadi bagian penting.
Contohnya:
23
Tri Indah Kusumawati . Bahasa Indonesia . Medan : Perdana Publishing . 2019 . hal 169-180
24
Dewi Kusaningsih dkk . Terampil Bahasa Indonesia . Yogyakarta : Andi Offset . 2013. Hal 57

15
1. Apakah menurut anda Penataran Ini adalah cara yang terbaik untuk mencapai tujuan
tersebut?
Agar kepaduan itu terjalin, keterangan menurut anda harus dikeluarkan diantara
keduanya. Keterangan tersebut dapat diletakkan pada awal kalimat seperti pada
kalimat berikut :
“menurut anda, apakah Penataran Ini adalah cara yang terbaik untuk mencapai tujuan
tersebut?”
2. Dengan pengetahuan anda sekarang ini mengenai tujuan Penataran apakah menurut
anda metode Penataran ini merupakan cara yang terbaik?
Perbaikan kalimat
“dengan pengetahuan anda sekarang ini mengenai tujuan Penataran, menurut anda
apakah metode Penataran ini merupakan cara terbaik?”.

SOAL LATIHAN

1. Jelaskan apa saja yang kamu ketahui mengenai hakikat kalimat!


2. Apa yang akan terjadi jika di dalam sebuah tulisan tidak menggunakan atau
memperhatikan syarat-syarat penulisan kalimat efektif. Jelaskan alasan anda!
3. Jelaskan jenis-jenis kalimat berdasarkan jumlah klausanya!
4. Jelaskan ciri-ciri kalimat efektif?
5. Bagaimana cara mengimplementasikan keselarasan unsur kalimat dalam sebuah
tulisan?
6. Jelaskan pengertian kalimat efektif!

16
BAB III
PENUTUP

[Link]

Berdasarkan pemaparan materi diatas maka dapat kita simpulkan bahwa :

1. Kalimat adalah kata atau kelompok kata (frasa dan klausa ) ditulis dimulai dengan
huruf besar, di akhiri dengan tanda baca (tanda titik atau tanda tanya atau tanda seru),
dan mengandung arti.
2. Jenis kalimat berdasarkan bentuk Sintaksisnya yaitu kalimat deklaratif, kalimat
Interogatif, kalimat imperatif dan eksklamatif. Adapun kalimat berdasarkan
pengungkapannya terbagi menjadi dua yaitu kalimat langsung dan tidak langsung.
Selanjutnya jenis kalimat berdasarkan jumlah klausanya ada dua yaitu kalimat tunggal
dan kalimat majemuk.
3. Kalimat terdiri dari unsur-unsur pembentuk kalimat yang saling berangkat dan
membentuk satu kesatuan makna. Unsur pembentuk kalimat tersebut diantaranya
subjek (S), Predikat (P), Objek (O), Pelengkap (Pel), Keterangan (K). Unsur-unsur
fungsi tersebut bukan semata-mata untuk menganalisis atau menguraikan kalimat
berdasarkan unsur-unsurnya, tetapi juga untuk mengecek kalimat yang dihasilkan
apakah memenuhi syarat atau kaidah tatabahasa karena kalimat yang benar harus
memiliki kelengkapan unsur kalimat.
4. Kalimat efektif merupakan kalimat yang sesuai dengan kaidah bahasa baik ejaan
maupun tanda bacanya sehingga mudah dipahami oleh pembaca atau pendengarnya.
17
Dengan kata lain, kalimat efektif mampu menimbulkan kembali gagasan-gagasan
pada pendengar atau pembacanya seperti apa yang dimaksudkan oleh penulis.
5. Kesatuan kalimat dapat dibentuk jika ada keselarasan unsur-insur kalimat antara lain
ada keselarasan antara subjek dan predikat, predikat dan objek , serta predikat dan
keterangan. Dalam implementasinya seringkali kalimat tampak panjang tetapi tidak
memiliki subjek dan predikat.

[Link] dan Saran

Setelah dipaparkannya materi di atas selanjutnya penulis ingin memberikan saran kepada
pembaca agar lebih memperhatikan penggunaan kalimat dan kalimat efektif dalam penulisan
sehingga dapat mengimplementasikan dalam kegiatan tulis menulis.

DAFTAR PUSTAKA

Alwi, Hasan dkk. 2003. Tata Bahasa Baku Indonesia. Edisi ketiga. Jakarta : Balai Pustaka.
Arifin, Zaenal dan S. Amran Tasai. 1991. Cermat Berbahasa Indonesia untuk Perguruan .
Tinggi. Jakarta : Mediyatama Sarana Perkasa
Chaer, Abdul. 2015. Sintaksis Bahasa Indonesia ( Pendekatan Proses). Jakarta : Rineka
Cipta.
Chaer, Abdul. 2007. Linguistik umum. Jakarta : PT. Rineka Cipta.
Devianty, Rina. 2022. Bahasa Indonesia Untuk Perguruan Tinggi.
Doyin, Mukhlis. 2012. Bahasa Indonesia dalam Karya Ilmiah. Semarang : Bandungan
Instituti.
Febiantika, Reza & Mulyanto Widodo. 2016. Keefektifan Kalimat pada Tajuk Rencana Surat
Kabar Lampung Post Maret 2015. Jurna kata ( Bahasa, Sastra dan Pembelajarannya).
Finegan, Edward. 2008. Language is Structure and use. United State Of America : Tomshon
Wardsworth.
Keraf, Gorys. 1980. Komposisi : Sebuah Pengantar Kemahiran Berbahasa. Flores : Nusa
Indah.
Kusaningsih, Dewi. 2013. Terampil Bahasa Indonesia. Yogyakarta :Andi Offset.
Kusumawati, Tri Indah. 2019. Bahasa Indonesia. Medan : Perdana Publishing.
Oktafianikoling, Dewi Retno. Konstruksi Kalimat Pasif dalam Bahasa Muna. Vol 1 no. 2.
Jurnal BASTRA ( Bahasa dan Sastra). 2016.

18
Putrayasa, Ida Bagus. 2010. Kalimat Efektif ( Diksi, Struktur dan Lokasi). Bandung : PT.

Redika Aditama.

Sasangka, Sry Satriya Tjatur Wisnu. 2012. Jendela Bahasa Indonesia. Yogyakarta : Elmatera

Publishing.

Sugomo, Dedy. Buku Praktis Bahasa Indonesia 1. Jakarta : Pusat Bahasa.

Syafii’e, Imam. 1999. Bahasa Indonesia Profesi. Malang : IKIP Malang.

Supriyadi .2014. Sintaksis Bahasa Indonesia . Gorontalo : UNG Press .


Trismanto. 2022. Peranan Kalimat Efektif dalam Komunikasi. Vol. 6 no. 2. Bangun
Rekaprima.
Tarigan, Henry Guntur. 1993. Menulis Sebagai Keterampilan Berbahasa. Bandung : Aksara.

BUKTI CEK PLAGIASI

19

Anda mungkin juga menyukai