0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
209 tayangan4 halaman

Kebencian Aceh terhadap Suku Jawa

Dokumen tersebut membahas tentang konflik antara etnis Aceh dan Jawa sejak masa kerajaan hingga munculnya Gerakan Aceh Merdeka. Konflik dimulai dari serangan kerajaan Majapahit ke kerajaan Samudera Pasai pada abad ke-8. Ketegangan meningkat setelah Aceh kehilangan status provinsi pada 1951 dan eksploitasi sumber daya alam oleh pemerintah pusat yang didominasi etnis Jawa. Hal ini memicu lahirnya GAM

Diunggah oleh

Fiorennica
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
209 tayangan4 halaman

Kebencian Aceh terhadap Suku Jawa

Dokumen tersebut membahas tentang konflik antara etnis Aceh dan Jawa sejak masa kerajaan hingga munculnya Gerakan Aceh Merdeka. Konflik dimulai dari serangan kerajaan Majapahit ke kerajaan Samudera Pasai pada abad ke-8. Ketegangan meningkat setelah Aceh kehilangan status provinsi pada 1951 dan eksploitasi sumber daya alam oleh pemerintah pusat yang didominasi etnis Jawa. Hal ini memicu lahirnya GAM

Diunggah oleh

Fiorennica
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

KONFLIK ACEH DAN JAWA

1. SUKU ACEH

Suku bangsa Aceh adalah yang dominan mendiami propinsi Aceh. Terdiri dari 17
kabupaten dan 4 kotamadya (1999). Wilayah asli yang dominan diduduki oleh suku
bangsa Aceh adalah Kotamadya Banda Aceh, Sabang, Kabupaten Aceh Besar, Pidie,
Aceh Utara, sebagaian kabupaten Aceh Barat, Aceh Selatan dan sebagaian kabupaten
Aceh Timur. Suku bangsa Aceh memiliki bahasa sendiri, yaitu Bahasa Aceh yang terdiri
dari bebrapa Dialek, dianataranya dialek peusangan, Banda, Bueng, Daya, Pase. Tunong,
Matang, Seunagan dan Meulaboh. Dari keseluruhan pada umumnya masyarakat Aceh
dapat memahami kata-kata dari kalimat yang diucapkan dari perbedaan dialek tersebut.
Disamping itu pula, Aceh terdapat beberapa suku bangsa yang berdomisi dan tersebar
dibeberapa wilayah. Suku tersebut adalah suku Aneuk Jame’e, suku Gayo, Suku Alas,
Suku Kluet,suku singkil, suku Taming, dan Suku Simeulue. Yang memiliki corak bahasa
yang berbeda satu sama lain.

2. SEJARAH SINGKAT AWAL MULA KONFLIK ACEH DAN JAWA


Etnisitis merupakan salah satu unsur yang menjadi objek utama kajian ilmu-ilmu
sosial. Dalam sejarah relasai antar etnik di berbagai belahan bumi, selalu diwarnai oleh
konflik etnik itu sendiri. Konflik anatar etnik selalu saja mencari akarnya pada persoalan
sosial ekonomi dan budaya seperti halnya konflik Aceh. Studi yang dilakukan oleh
peneliti menunjukkan bahwa akar dari semua konflik yang terjadi di Aceh merupakan
persoalan ketidakadilan sosial ekonomi dalam proses pemabangunan serta serangkaian
tuntutan janji atas hak-hak istimewa yang tidak teralisasi.
Beberapa unsur besar diatas merupakan alasan yang paling logis dibalik catatan
perjalanan konflik di Aceh, Namun disamping hal itu pula, terdapat salah satu bagaian
terpenting yang menggoreskan fakta sejarah dibalik konflik serta pergolakan yang terjadi
dikemudian hari di Aceh. Yakni kebencian suku bangsa Aceh terhadap suatu etnik
tertentu, yakni suku Jawa. Memang hal ini sangat jarang dikaitkan sebagai faktor pemicu
munculnya konflik Aceh, dan orang cenderung mengabaikan fakta ini. akan tetapi sejarah
telah membuktikannya.
Sejarah awal kebencian orang Aceh terhadap suku Jawa pertama kali terjadi pada
masa kerajaan Aceh dulu. ketika kerjaan Samudera Pasai diserang oleh kerjaan Majapahit
yang notabene merupakan kerjaan terbesar dipulau Jawa sekitar tahun 750-796 H yang
dipimpin oleh panglima Patih Nala Ketika Sultan Zainul Abidin Malik Al Zhahir
memimpin. Sejak saat itu genderang perang dinyatakan oleh rakyat Aceh terhadap
kerjaan Jawa tersebut. Hal diatas merupakan bagian kecil dari catatan sejarah menegenai
hubungan awal antara Aceh dengan Jawa yang ditandai dengan konflik. Meskipun pada
periode tahun-tahun berikutnya kedua etnis ini nyaris tidak pernah melakukan kontak
fisik berupa perang dan mulai membangun hubungan melalui bidang penyebaran agama
dan perdagangan.
Ketika Belanda melakukan penjajahan di Nusantara, kurang lebih 350 tahun
lamanya, Aceh juga berjuang melakukan perlawanan terhadap penjajah belanda. Bahkan
Aceh memiliki andil besar terhadap perjuangan kemerdekaan Indonesia di Kemudian
Hari. Aceh pula lah yang banyak membantu Indonesia dalam upaya mempertahankan
kemerdekaan dari datangnya kembali gangguan Belanda yang ingin menjajah Indonesia.
Pada Tahun 1945 setelah Proklamasi Kemeerdekaan Indoensia dikumandangkan
Soekarno dan Hatta di Jakarta, tak lama setelah itu pada 15 Oktober 1945 atas nama
seluruh masyarakat, Aceh menyatakan diri dengan patuh berdiri dibawah payaung NKRI.
Meskipun sebenarnya Aceh dapat berdiri sebagai sebuah negara merdeka dan berdaulat,
tetapi, karena rakyat Aceh pada saat itu diliputi oleh semangat Nasionalisme yang tinggi
$maka Aceh menyatakan diri menjadi bagaian dari Indonesia. Kemudian pemerintah
Darurat Indonesia langsung mengeluarkan ketetapan mengenai posisi Aceh didalam
Republik. Ketetapan itu diberlakukan pad 17 Desember No. 8 / Des/ W.K.P.H yang
menetapkan Aceh sebagai sebuah propinsi.

3. AWAL KEMBALI MUNCULNYA KEBENCIAN ORANG ACEH TERHADAP


JAWA
Namun pada 8 Agustus 1950 Dewan menteri Republik indonesia Serikat (RIS)
menetapakan Kalau wilayah RIS dibagi kedalam 10 propinsi dan Aceh tidak lagi
termasuk ke dalam salah satu propinsi. Keputusan itu menggugurkan janji Sjarifuddin
Prawiranegara tentang pembentukan Propinsi Aceh. Keputusan pembubaran propinsi
Aceh kemudian di umumkan oleh Perdana Menteri M Natsir yang disiarkan oleh RRI di
Koetaradja, Aceh pada 23 Januari 1951. Keputusan tersebut telah melukai perasaan
seluruh masyarak Aceh dan menumbuhkan dendam serta frustasi para pimpinan Ulama
yang tergabung didalam PUSA. Setelah pengkhianatan yang dilakukan oleh jawa
(demikian orang Aceh menyatakan identitas pemerintah Indonesia) tersebut, maka
terbesitlah dibenak Daud Beuereueh untuk melakukan perlawanan dengan membentuk
sebuah gerakan yang bernama DI/TI (sebelumnya NII). Namun pada bulan April 1957,
tunutuan masyarakat Aceh tentang hak menerapkan syariat Islam serta daerah otonomi
khusus ditidaklanjuti oleh pemerintah Soekarno. Kemudian ditanda tangani perjanjian
atau ikrar Lam Teh. Sehingga mengakhiri pemberontakan Muhammad Daud Beureueh.
Pada tanggal 30 September tahun 1965, tak lama setelah Aceh kembali bergabung
kedalam NKRI dengan pemeberian status Daerah Istimewa, terjadi kudeta politik yang
dilakukan oleh Soeharto terhadap Soekarno dengan tuduhan ia terlibat dalam PKI dan
memanfaatkan momentum krisis ekonomi dan politik. Setelah Soeharto berkuasa ternyata
ia membuat kebijakan yang sangat sentralistik. Daerah istimewa yang dijnjikan dulu tidak
pernah ditepati dan bahakan dilupakan. Kekecewaan rakyat Aceh terhadap orang jawa
diperkuat oleh penemuan sumber cadanagan minyak dan gas alam terbesar pada tahun
1971 di Lhokseumawe. Empat tahun kemudian Mobil Oil Indonesia perusahaan raksasa
yang bermarkas di Amerika serikat diberikan hak untuk mengeksploitasinya. Sehingga
kemudian disusul oleh beridirinya perusahaan-perusahaan industri besar seperti PT. PIM,
PT AAF, PT KKA dan sejumlah industri hilir lainnya. Meskipun Aceh telah ditetapkan
sebagai kawasan ZIL (zona industri Lhoseumawe) namun keuntungan tidak pernah
dirasakan oleh rakyat Aceh. Aceh tetap miskin dan masyarakatya tetap hidup dalam
kemelaratan. Seluruh keuntungan mengalir ke pusat. Ekspansi besar-besaran tenaga kerja
asing terjadi. Sebagian besar birokrat serta posisi-posisi penting didalam pemerintahan di
Aceh dikuasai dan didominasi oleh orang Jawa maka semakin menumbuhkan kebencian
orang-orang Aceh terhadap orang jawa.
Kekecewaan demi kekecewaan dirasakan oleh orang Aceh akibat pengkhianatan
dan kezaliman yang dilakukan oleh Jakarta (Jawa-red) membuat orang Aceh menyimpan
dendam teramat dalam terhadap orang-orang jawa. Puncaknya adalah, lahirnya kembali
sebuah gerakan perlawanan yang diberi nama ASLNF (Aceh Sumatera Liberation Front)
atau yang sering disebut Gerakan Aceh Merdeka (GAM) yanh diproklamirkan oleh
Hasan Tiro pada tanggal 4 Desember 1976. sebuah gerakan perlawanan terhadap
pemerintah Indonesia yang oleh orang Aceh menyebutnya pemerintahan Jawa. Gerakan
ini dibentuk atas inisiatif Hasan Tiro yang juga merupakan cicit dari pahlawan Aceh
yakni tengku Chik Di Tiro. Secara diam-diam ia mencoba kembali membuka ruang
perlawanan terhadap pemerintah yang didominasi oleh orang-orang yang berasal dari
etnis jawa. Doktrin perlawanan yang disuarakan adalah tentang ketidakadilan,
pengkhianatan, kekecewaan yang diselimuti dengan kebangkitan Nasionalisme orang
Aceh.
Meskipun perlawanan ini dilatarbelakangi oleh aspek politik, Agama dan
ekonomi, yaitu penentuan hak otonomi serta eksploitasi hasil Alam yang timpang
sehingga membuat orang-orang Aceh tetap berada dibawah garis kemiskinan meskipun
kaya akan sumberdaya Alam, serta janji pemerintah atas penerapan syariat Islam di Aceh
yang urung terealisasi. namun disamping itu pula, perjuangan ini didasarkan atas
kebencian terhadap etnis jawa. Bagi orang Aceh, NKRI adalah milik bangsa Jawa.
Karena fakta politik dimasa orde baru etnis jawa mendominasi struktur pemerintahan.4
GAM membangun rasa benci dengan memanfaatkan sentimen entis tersebut. 5 Orang
jawa merupakan musuh Historis bagi rakyat Aceh. Dalam hal ini, Hasan Tiro
membangkitkan kembali sejarah penajajahan Majapahit terhadap Kerajaan Samudera
Pasai sehingga permusuhan dengan pihak jawa merupakan garis merah atas apa yang
terjadi pada masa lalu pada bangsa Aceh. Seiring perjalanan waktu, intensitas perang
semakin meningkat.
Namun disisi lain, pemerintah penguasa Orde baru sedang giat-giatnya
merealisasikan program pembangunan serta penyebaran Transmigrasi terutama yang
berasal dari pulau jawa yang kemudian ditempatkan didaerah-daerah. Tak sedikit
Transmigaran yang berasal dari pulau jawa membangun pemukiman-pemukiman baru di
Aceh. Hal ini semakin menambah kemarahan orang Aceh terhadap Jawa dan tak jarang
selama kurun waktu tahun 80-90-an para Transmigran menjadi sasaran amarah
masyarakat Aceh terutama sekali GAM. Para transmigran banyak yang mendapat
perlakuan tidak manusiawai mulai dari penganiayaan, penculikan terhadap etnis Jawa
pembakaran rumah hingga kehilangan nyawa. Hal ini yang kemudian membuat orang-
orang Jawa transmigran merasa terancam hidupnya dan bahkan kebanyakan dari mereka
memilih keluar dari Aceh.
Ketika itu orang Aceh sanagat membenci orang Jawa. Bagi orang Aceh, jawa
adalah bangsa pengkhianat, meskipun sebenarnya yang patut dibenci adalah oknum
pemerintah Indonesia, yang dominan di tempati oleh orang-orang yang ber etnis Jawa,
namun para transmigran pula tak luput dari teror serta ancaman dan intimidasi. Karena
orang Aceh beranggapan, semua orang jawa adalah penipu, sehingga orang-orang Aceh
terutama GAM, telah mempersepsikan atau memaknai negatif secara umum terhadap
etnis Jawa. Setelah melakukan perlawanan selama kurang lebih 30 tahun lamanya yang
mengorbankan ribuan nyawa baik dikedua belah pihak dan terutama sekali rakyat sipil
akhirnya pihak-pihka berkonflik yakni GAM dan RI bersepakat melakukan genjatan
senjata dan menempuh jalur damai untuk menyelesaikan konflik. Untuk menghindari
jatuhnya kembali korban dari rakyat sipil. Terlebih ketika itu tanggal 26 Desember tahun
2004 Aceh dilanda musibah Gempa dan Tsunami sehingga pihak-pihak berkonflik
didesak untuk mengakhiri perang.
Pada Agustus 2005 pihak pemerintah Indonesia dan GAM bersepakat
menandatangani perjanjian damai di Helsinki Finlandia, yang kemudian melahirkan nota
kesepahaman bersama atau yang biasa dikenal MoU Helsinki. Bahkan setelah damai pun,
sikap sentimen terhadap etnis Jawa pun tetap ditunujukan oleh orang Aceh. Bukti
nyatanya adalah, masih terjadinya tindak kekerasan dan pembunuhan terhadap etnis Jawa
yang dilakukan oleh oknum-oknum tertentu meskipun bukan dilatarbelakangi oleh faktor
etnisitas, namun tetap orang Jawa yang menjadi sasarannya. Meskipun kini, eskalasi
kebencian telah menurun drastis, namun tak menuntut kemungkinan, apabila Jakarta
(Jawa) kembali mengkhianati orang Aceh, akan timbul kembali konflik-konflik baru
antar kedua etnis tersebut atau lebih.

Anda mungkin juga menyukai