Nama : Fiorennica Agustin
Kelas : 7C
Nim : 1902101085
Seni Pertunjukan Topeng Tradisional Di Surakarta Dan Yogyakarta
Setelah saya membaca jurnal/artikel yang berjudul “Seni Pertunjukan Topeng
Tradisional Di Surakarta Dan Yogyakarta”, saya mendapatkan informasi mengenai wilayah
pusat budaya tari besar itu dalam konteks persebaran Dramatari Topeng ditandai dengan istilah
wilayah gaya seni Topeng. Kemudian penelitian gaya seni itu direntang dari wilayah Jawa
Tengah sebagai pusatnya adalah dua bekas kerajaan Mataram Islam yakni Surakarta dan
Yogyakarta beserta wilayah periferinya. Sementara itu di daerah Jawa Tengah seni pertunjukan
Topeng tidak dapat dilepaskan dari peran salah seorang wali agama Islam yakni Sunan Kalijaga.
Tesis dari Toto Sudarto juga menguraikan keterangan kemunculan seni Topeng Dalang yang
menjadi awal perkembangan seni pertunjukan Topeng di Jawa Tengah. Konon sunan kalijaga
menciptakan sembilan karakter topeng untuk dimainkan dalam kaitannya dengan persebaran
agama Islam.
Drama tari topeng tradisional di jawa erat kaitannya dengan cerita Panji yang
menegaskan/membuktikan bahwa dasar penempatan nilai aset kultural yang melekat dalam
bentuk kreasi orang Jawa dan sudah mendarah daging dalam suatu fakta mental secara turun
temurun. Atas dasar itu pemaknaan terhadap aset kultural dalam penelitian ini menekankan gaya
penampilan Dramatari Topeng Panji yang hidup dan berkembang pada masyarakat dua wilayah
gaya seni. Lakon-lakon yang dipentaskan di dalam pertunjukan Wayang Topeng atau Topeng
Dalang di wilayah Klaten dan sekitarnya, termasuk di Surakarta, bersumber pada siklus
Panji/cerita Panji. Adapun lakon-lakon yang ditampilkan adalah perseteruan antara Prabu Klana
Sewandana dengan Raden Panji yang berkisar pada percintaan antara Panji dengan Sekartaji, dan
kegandrungan Prabu Klana Sewandana dengan Dewi Sekartaji.
Kemudian untuk seni pertunjukan Topeng mbarang di wilayah Kabupaten Klaten, pada
umumnya jumlah penari tidaklah menentu, yakni sekitar 10 orang. Para penari disini harus
berkelamin laki-laki, mereka pada mulanya terdiri dari para Dalang. Dari jumlah sekian itu,
mereka berperan sebagai penari dan penabuh, akan tetapi biasanya ada tiga orang sebagai
penabuh inti. Di dalam urutan sajian pertunjukan Topeng mbarang biasanya diawali dari
pertemuan atau berkumpul dimana tempat mbarang dilakukan, atau gamelan diinapkan. Pada
kesempatan ini para pemain melakukan dialog dan mempersiapkan segala perlengkapan untuk
pertunjukan, seperti gamelan ditata pada ongkek (tempat untuk meletakan gamelan yang terbuat
dari bambu) yang akan dipikul. Kecuali itu juga mempersiapkan pakaian (busana tari) dan
topeng yang akan digunakan untuk menari. Setelah persiapan selesai, maka mereka mulai
melakukan perjalanan untuk me-mbarang, biasanya para pemain berangkat pagi sekitar pukul
10.00 pagi, mereka berjalan menyusuri desa ke desa dan dari rumah ke rumah.
Salah satu ciri khas dari tari Jawa tradisional Keraton ialah bahwa setiap bentuk tari
adalah menggambarkan karakter atau tipe karakter tertentu. Apakah karakter itu pria, wanita,
pria halus, pria gagah, pria kasar dan sebagainya. Sudah barang tentu para seniman masa lalu
dalam menciptakan gerak dalam tari tradisional untuk menggambarkan atau mengekspresikan
karakter tertentu beserta tingkah lakunya tak lepas dari tingkah laku manusia masa itu serta nilai-
nilai budaya yang berlaku pada waktu itu pula. Contoh yang sederhana adalah wanita Jawa
tradisi yang sopan adalah wanita tidak banyak tingkah, jika berjalan cukup dengan langkah-
langkah kecil, tungkai tertutup, lengan tak boleh terangkat tinggi, dan beberapa tingkah laku
yang lain. Berikut ini pembagian tipe karakter secara fisionomi :
Karakter atau Watak Putri
Putri Luruh Putri Mbranyak
Arah pandangan mata diagonal ke Mengarahkan pandangan mata sedikit
bawah lurus ke depan
Berbicara dengan nada suara tengah Berbicara dengan nada tengah sedikit
(nada 2) serta monotonal agak tinggi (nada 3) serta agak melodis
Gerak yang halus, lembut, mengalir, Gerak tegas, agresif, cekatan (tregel)
lemah gemulai.
Karakter atau Watak Putra
Putra Alus Putra Lanyap Putra Gagah Yang Rendah
Hati
Karakter tersebut Mengarahkan pandangan Menggunakan garis
mengarahkan pandangannya ke depan, dalam lengan yang hampir
diagonal ke bawah pembicaraan umumnya seluruhnya simetris
Dalam pembicaraannya menggunakan nada suara Mengarahkan
menggunakan nada suara tinggi (nada 5 atau 6) dan pandangan mata dan
rendah (nada 6) serta agak melodis, wajahnya diagonal ke
monotonal, menggunakan Gerak bertenaga, diberi bawah,
gerak halus, lemah gemulai, penekanan. Gaya bicaranya dengan
mengalir, tenang. warna suara rendah
(nada 6 atau 1) secara
monotonal,
Gerak tarinya gagah,
tegas tapi tenang
(anteb).
Putra Gagah Yang Brangasan Putra Gagah Tipe Bapang
Menggerakkan lengannya dengan pola- Menggunakan pola lengan asemetris serta
pola asimetris, garis-garis lengan yang garis lengan yang kontras;
kontras; Menggerakan kepalanya keberbagai arah;
Mengarahkan pandangan mata dan Berbicara dengan suara sedang (nada 2 atau
wajahnya lurus ke depan; 3) agak melodis dan cenderung keras;
Gaya bicaranya dengan warna suara sedang Gerak tari rongeh, sereng, gagah, sombong.
(nada 2 dan 3) yang bersifat monotonal;
gerak tarinya gagah, kasar, anteb.
Putra Gagah Tipe Bapang untuk Raja dan Putra Gagah Tipe Bapang untuk Raksasa
Pangeran Raksasa Gagah, Kasar, dan Sombong
Garis-garis lengan asemetris dan kontras; Garis lengan lurus dan kontras;
Mengarahkan pandangan wajah dan mata Gerak tungkai sering dilakukan dengan
ke depan; tekanan pada waktu menekuk lutut;
Menggunakan gerak manaikan dan Mengarahkan pandangan mata lurus ke
menurunkan badan dengan tekukan tungkai depan; Menggerakkan kepala ke berbagai
kuat; penjuru;
Berbicara dengan nada suara sedang yang Geraknya rongeh, ngglece, kemaki, cakrak,
keras (nada 2 atau 3) bersifat agak melodis; mbranyak.
Gerak kasar, gagah, anteb, sereng, rongeh.
Di dalam Jurnal juga dijelaskan mengenai Bentuk Pertunjukan Wayang Topeng di
Wilayah Yogyakarta. Gaya Wayang Topeng Yogyakarta dapat digolongkan menjadi dua yaitu
Wayang Topeng gaya pedalangan atau kerakyatan dan gaya klasik atau istana Yogyakarta.
Elemen-elemen seni pertunjukan Wayang Topeng meliputi tata busana, bahasa yang digunakan,
dan atribut lain yang dikenakan. Bahasa yang digunakan dalam pertunjukan Wayang Topeng
atau Wayang purwa, baik yang dilakukan oleh para penari dan diucapkan oleh dalang,
merupakan gambaran strata sosial masyarakat Jawa. Pada umumnya bentuk pertunjukan Wayang
Topeng gaya Yogyakarta dapat di kelompokkan menjadi tiga jenis yaitu:
1. Bentuk Dramatari Topeng atau fragmen,
2. Bentuk tari tunggal dan
3. Bentuk beksan atau tari pasangan
Bentuk tari tunggal Wayang Topeng yang sering dipertunjukkan adalah, Klana Topeng
Gunungsari, Topeng Kenakawulan (putri), Klana Topeng Gagah Sewandana. Dalam bentuk
pasangan ada Regol-Gunungsari, Klana Surawasesa – Sembung langu dan beksan perangan
Gunungsari dengan Surawasesa. Bentuk tari topeng tunggal dan pasangan ini kerap kali tampil di
berbagai acara di wilayah Yogyakarta dan sekitarnya. Bahkan tarian topeng gagah selalu di
tampilkan dalam setiap misi kesenian ke luar negeri.
Setelah saya membaca secara keseluruhan jurnal “Seni Pertunjukan Topeng Tradisional
Di Surakarta Dan Yogyakarta” , dapat saya simpulkan bahwa Seni pertunjukan topeng di Jawa
merupakan jenis kesenian yang masih dirawat dengan baik oleh sebagian masyarakatnya. Dari
wilayah gaya tari Jawa, yakni Surakarta dan Yogyakarta, maka dapat kita diketahui identifikasi
gaya penampilan yang spesifik. Nilai spesifikasi itu dapat dicermati dari bentuk penyajian,
urutan penyajian, tipologi karakter, visualisasi gerak tari dan gaya busana maupun aksesoris yang
melingkupinya. Gaya penampilan pada seni pertunjukan topeng di Surakarta dan Yogyakarta
memiliki akar yang hampir sama. Pada kedua wilayah gaya tari tersebut sumber kesenian topeng
dapat dirunut dari wilayah Klaten.
Salah satu cara mengukur kadar kemiripan di antara gaya penampilan tari topeng
Surakarta dengan Yogyakarta dilakukan dengan mencari padanan sumber genre tarian itu sendiri.
Sumber genre tarian itu di Yogyakarta dapat dilihat dalam genre topeng pedalangan Dusun
Ngajeg, Kalasan, Sleman. Bentuk sekaran pada gaya penampilan Topeng Ngajeg memiliki
perbendaharaan gerak yang juga ada dalam gaya penampilan Topeng Klaten. Selain itu sumber
cerita Panji yang digunakan dalam tradisi Topeng Surakarta maupun Yogyakarta juga memiliki
kemiripan historis maupun kultural dalam Topeng Pedalangan Klaten serta Topeng Pedalangan
Kalasan, Sleman.