Volume Galian Irigasi Suka Makmur
Volume Galian Irigasi Suka Makmur
TUGAS AKHIR
Diajukan oleh :
Kepada :
LAMPUNG SELATAN
2023
TUGAS AKHIR
Analisis Perhitungan Volume Galian dan Timbunan untuk Kegiatan
Rehabilitasi Saluran Irigasi (Studi Kasus : Daerah Irigasi Desa Suka
Makmur, Kecamatan Penawar Aji, Tulang Bawang)
Tanggal XX-XX-2023
XXXX
NIP. XXXX
i
PERNYATAAN ORISINALITAS
Menyatakan bahwa dalam dokumen ilmiah tugas akhir ini tidak terdapat bagian
dari karya ilmiah lain yang telah diajukan untuk memeperoleh gelar akademik di
suatu Lembaga Pendidikan Tinggi, dan juga tidak terdapat karya atau pendapat
yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang/lembaga lain, kecuali secara
tertulis disitasi dalam dokumen ini dan disebutkan sumbernya secara lengkap
dalam daftar pustaka.
Dengan demikian saya menyatakan bahwa dokumen ilmiah ini bebas dari unsur-
unsur plagiasi dan apabila dokumen ilmiah tugas akhir ini dikemudian hari
terbukti merupakan plagiasi dari karya penulis lain dan/atau dengan senagaja
mengajukan karya atau pendapat yang merupakan hasil karya penulis lain, maka
penulis bersedia menerima sanksi hukum yang berlaku.
Meterai
10.000
ii
HALAMAN PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI TUGAS
AKHIR UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS
beserta perangkat yang ada (jika diperlukan). Dengan Hak Bebas Royalti
Noneksklusif ini Institut Teknologi Sumatera berhak menyimpan,
mengalihmedia/formatkan, mengelola dalam bentuk pangkalan data (database),
merawat, dan memublikasikan tugas akhir saya selamaa tetap mencantumkan
nama saya sebagai penulis/pencipta dan sebagai pemilik Hak Cipta.
Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya.
Meterai
10.000
iii
INTISARI
XXXXXXXXX
iv
ABSTRACT
XXXXXXXXX
v
RIWAYAT HIDUP
vi
MOTTO
vii
PERSEMBAHAN
viii
KATA PENGANTAR
ix
DAFTAR ISI
JUDUL XXXXXXXXXXXXXXX........................................................................1
TUGAS AKHIR......................................................................................................i
PERNYATAAN ORISINALITAS.......................................................................ii
INTISARI..............................................................................................................iv
ABSTRACT............................................................................................................v
RIWAYAT HIDUP...............................................................................................vi
MOTTO................................................................................................................vii
PERSEMBAHAN...............................................................................................viii
KATA PENGANTAR...........................................................................................ix
DAFTAR ISI...........................................................................................................x
DAFTAR TABEL................................................................................................xii
DAFTAR GAMBAR..........................................................................................xiii
DAFTAR LAMPIRAN.......................................................................................xiv
BAB I PENDAHULUAN.......................................................................................1
2.1 Mahasiswa......................................................................................................3
2.1.1 Indikator...................................................................................................3
2.2 Mahasiswa......................................................................................................3
x
2.2.1 Komponen...............................................................................................4
2.2.2 Analisis....................................................................................................4
5.1 Kesimpulan.....................................................................................................7
5.2 Saran...............................................................................................................7
DAFTAR PUSTAKA.............................................................................................8
LAMPIRAN............................................................................................................9
xi
DAFTAR TABEL
xii
DAFTAR GAMBAR
xiii
DAFTAR LAMPIRAN
xiv
BAB I
PENDAHULUAN
1
menggunakan bantuan Microsoft Excel, dengan menghitung hasil dari jarak atau
interval terhadap rata-rata luasan area hasil potongan penampang melintang.
Bedasarkan permasalahan yang telah diuraikan di atas maka dilakukan
penelitian dengan judul Analisis Perhitungan Volume Galian dan Timbunan
untuk Kegiatan Rehabilitasi Saluran Irigasi (Studi Kasus : Daerah Irigasi
Desa Suka Makmur, Kecamatan Penawar Aji, Tulang Bawang). Hasil dari
penelitan ini diharapkan dapat digunakan dalam acuan perencanaan pelaksaaan
rehabilitasi saluran irigasi yang berikutnya.
2
I.5 Ruang Lingkup
Ruang lingkup dari penelitian Tugas Akhir ini adalah:
1. XXXXX
2. XXXXX
3. XXXXX
4. XXXXX
5. XXXXX
3
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
II.1 Irigasi
Menurut UU No. 7 tahun 2004 Pasal 41 ayat 1 tentang Sumber Daya Air,
irigasi adalah usaha penyediaan, pengaturan, dan pembuangan air untuk
menunjang
pertanian yang jenisnya meliputi irigasi permukaan, irigasi rawa, irigasi air bawah
tanah, irigasi pompa, dan irigasi tambak.
Secara umum pengertian irigasi adalah penggunaan air pada tanah untuk
keperluan penyediaan cairan yang dibutuhkan untuk pertumbuhan tanamtanaman.
(Hansen,1990)
4
Jaringan irigasi semi teknis memiliki bangunan sadap yang permanen
ataupun
semi permanen. Bangunan sadap pada umumnya sudah dilengkapi dengan
bangunan pengambil dan pengukur. Jaringan saluran sudah terdapat beberapa
bangunan permanen, namun sistem pembagiannya belum sepenuhnya mampu
mengatur dan mengukur. Karena belum mampu mengatur dan mengukur dengan
baik, sistem pengorganisasian biasanya lebih rumit. Sistem pembagian airnya
sama dengan jaringan sederhana, bahwa pengambilan dipakai untuk mengairi
daerah yang lebih luas daripada daerah layanan jaringan sederhana.
c) Irigasi Teknis
Jaringan irigasi teknis mempunyai bangunan sadap yang permanen.
Bangunan sadap serta bangunan bagi mampu mengatur dan mengukur. Disamping
itu terdapat pemisahan antara saluran pemberi dan pembuang. Pengaturan dan
pengukuran dilakukan dari bangunan penyadap sampai ke petak tersier. Petak
tersier menduduki fungsi sentral dalam jaringan irigasi teknis. Sebuah petak
tersier terdiri dari sejumlah sawah dengan luas keseluruhan yang umumnya
berkisar antara 50 – 100 ha, kadang-kadang sampai 150 ha.
Petak tersier menerima air di suatu tempat dalam jumlah yang sudah diukur
dari suatu jaringan pembawa yang diatur oleh Dinas Pengairan. Untuk
memudahkan sistem pelayanan irigasi kepada lahan pertanian, disusun suatu
organisasi petak yang terdiri dari petak primer, petak sekunder, petak tersier,
petak kuarter dan petak sawah sebagai satuan terkecil.
1) Petak Tersier
Petak tersier menerima air irigasi yang dialirkan dan diukur pada bangunan
sadap (offtake) tersier yang menjadi tanggung jawab Dinas Pengairan. Bangunan
sadap tersier mengalirkan airnya ke saluran tersier. Petak tersier yang kelewat
besar akan mengakibatkan pembagian air menjadi tidak efisien. Faktor-faktor
lainnya adalah jumlah petani dalam satu petak, jenis tanaman dan topografi. Di
daerahdaerah yang ditanami padi, luas petak yang ideal antara 50-100 ha, hingga
sampai 150 ha.(Standar Perencanaan Irigasi, 2013).
Petak tersier terdiri dari beberapa petak kuarter masing-masing seluas
kurang lebih 8-15 hektar. Petak tersier sebaiknya mempunyai batas-batas yang
5
jelas, misalnya jalan, parit, batas desa dan batas-batas lainnya. Ukuran petaktersier
berpengaruh terhadap efisiensi pemberian air. Apabila kondisi topografi
memungkinkan, petak tersier sebaiknya berbentuk bujur sangkar atau segi empat.
Hal ini akan memudahkan dalam pengaturantata letak dan perabagian air yang
efisien.
2) Petak Sekunder
Petak sekunder terdiri dari beberapa petak tersier yang kesemuanya dilayani
oleh satu saluran sekunder. Biasanya petak sekunder menerima air dari bangunan
bagi yang terletak di saluran primer atau sekunder. Batas-batas petak sekunder
pada urnumnya berupa tanda topografi yang jelas misalnya saluran drainase. Luas
petak sekunder dapat berbeda-beda tergantung pada kondisi topografi daerah yang
bersangkutan.
Saluran sekunder pada umumnya terletak pada punggung mengairi daerah di
sisi kanan dan kiri saluran tersebut sampai saluran drainase yang membatasinya.
Saluran sekunder juga dapat direncanakan sebagai saluran garis tinggi yang
mengairi lereng-lereng medan yang lebih rendah.
3) Petak Primer
Petak primer terdiri dari beberapa petak sekunder yang mengambil langsung
air dari saluran primer. Petak primer dilayani oleh satu saluran primer yang
mengambil airnya langsung dari sumber air biasanya sungai.
Daerah di sepanjang saluran primer sering tidak dapat dilayani dengan
mudah dengan cara menyadap air dari saluran sekunder. Apabila saluran primer
melewati sepanjang garis tinggi daerah saluran primer yang berdekatan harus
dilayani langsung dari saluran primer.
6
yang diakibatkan oleh manusia itu sendiri, maka perlu dilakukannya rehabilitasi
jaringan irigasi guna mengembalikan fungsi jaringan irigasi.
Daerah irigasi sendiri bisa diartikan sebagai suatu kesatuan lahan yang diairi
oleh suatu jaringan irigasi. Sedangkan irigasi adalah suatu usaha penyediaan dan
pengaturan air untuk menunjang sistem pertanian, namun selain sebagai
penyediaan dan pengatur air untuk menunjang sistem pertanian, irigasi juga dapat
diperuntukan untuk penyediaan air bagi budidaya ikan maupun udang didalam
tambak, penataan jaringan irigasi yang baik dapat menunjang kapasitas dan
kualitas air yang baik bagi suatu budidaya, semakin berkembangnya suatu usaha
budidaya maka membutuhkan persyaratan kualitas dan kapasitas air yang baik,
oleh sebab itu perlu adanya rehabilitasi sistem irigasi berdasarkan sistem tata
airnya.(Arul, 2013)
7
disebabkan topografi daerah yang berbeda-beda. Kedua proses galian dan
timbunan (cut and fill) dilakukan di satu lokasi yang menjadi target pengerjaan.
Pekerjaan galian dan timbunan (cut and fill) memerlukan perencanaansehingga
jumlah tanah yang dibuang atau diambil di tempat lain tidak kurang atau lebih
sehingga mengurangi biaya transportasi. Perencanaan pekerjaan galian dan
timbunan (cut and fill) biasanya dilakukan setelah dilakukan pengukuran pada
lahan sehingga diperoleh peta situasi yang dilengkapi dengan garis-garis kontur
atau diperoleh langsung dari
lapangan melalui pengukuran sipat datar profil melintang sepanjang koridor jalur
proyek atau bangunan. (Baskara, 2018)
8
b
tanah asli dengan sisi Galian w= +mh
2
AC = 2w = b+2mh
b+b+ mh
Luas Penampang = ( )
2
A = H (b+ mh)
9
b k
w 2=( +mh)( )
2 k −m
Luas tampang galian adalah bidang ACFDA yang dapat dihitung dengan
menggunakan persamaan rumus sebagai berikut:
Luas = Luas BCG + Luas ABG – Luas DFG
= ( ) ( )
1 b
2 2m
1
+h + 2 w
2
b
2m
1
+h − b .
2 2m
b
= ( +h ) ( w 1+w 2 ) −
2
1 b b
2 2m 4m
= {( + mh ) ( w 1+w 2 )− }
2
1 b b
2 2 2
Metode-metode perhitungan luas penampang cross section di atas hanya bisa
digunakan untuk penampang dengan bentuk yang beraturan, sedangkan
penampang cross section dengan bentuk yang lebih rumit dapat dihitung luasnya
dengan menggunakan metode koordinat yang akan dijelaskan di bawah ini.
c) Metode Koordinat
10
2𝐴 = X𝑛𝑦𝑛+1 𝑦𝑛𝑥𝑛+1
Persamaan di atas dapat diperbanyak sesuai dengan titik detail penampang cross
section yang ada di lapangan dan jumlahkan semua hasilnya. Pada penampang-
penampang yang hanya terdiri dari galian saja atau timbunan saja maka sumbu
proyek dijadikan sebagai center line untuk perhitungan. Biasanya hasil
perhitungan
akan bernilai positif untuk galian dan negatif untuk timbunan.
11
Metode 2 penampang sering juga disebut metode cross section merupakan
teknik perhitungan yang berbeda dibandingkan dengan metode grid maupun
metode depth area, teknik ini tidak menghitung volume dari atas kebawah
melainkan menghitung volume dengan cara irisan vertikal dipotong secara teratur
dengan interval tertentu, volume merupakan hasil perkalian dari jarak atau interval
terhadap rata-rata luasan area hasil potongan. Irisan melintang diambil tegak lurus
terhadap sumbu proyek dengan interval jarak tertentu dalam metode ini cocok
digunakan untuk pekerjaan yang bersifat memanjang seperti perencanaan jalan
raya, jalan kereta api, saluran, penanggulan sungai, penggalian pipa dan lain-lain.
V =D x ( A 1+2 A 2 )
Dimana:
V = Volume tanah (m³)
D = Jarak atau interval (m)
A = Luas hasil potongan (m²)
12
garis kontur yang berurutan. Penentuan luas dengan metode ini dilakukan dengan
cara planimeter karena bangun atau bidang yang dibatasi oleh sebuah garis kontur
bentuknya tidak teratur.
Metode kontur
Sedangkan perhitungan dengan menggunakan metode kontur prinsipnya
hampir sama dengan metode penampang rata-rata dengan menggunakan
rumus sebagai berikut:
V= ( A 1+ A 2+n …+ A ) x (( n−1 ) x d)
n
Keterangan:
A1, A2, dan An = luas penampang 1,2 dan n
diukur d = interval kontur (umumnya sama).
13
Visualisasi metode Cut and Fill
Dari diatas menunjukan bahwa volume total dari suatu area dihitung dari
penjumlahan volume semua prisma. Volume prisma dihitung dengan mengalikan
permukaan proyeksi (Ai) dengan jarak antara pusat massa dari dua segitiga yaitu
desain surface dan base surface (di). Rumus penghitungan volume dengan prisma
method : V = Ai .
Keterangan :
V : Volume Prisma
Ai : Luas bidang permukaan proyeksi
Di : Jarak antara pusat massa dua segitiga surface desain dan base des.
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
14
Berisi lokasi kajian dari Tugas Akhir, dilengkapi dengan gambar berupa peta
lokasi.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
IV.1 Analisis 1
XXXXXXXXXXXXXXXXX
IV.2 Analisis 2
XXXXXXXXXXXXXXXXX
15
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
V.1 Kesimpulan
1. XXXXX
2. XXXXX
3. XXXXX
4. XXXXX
V.2 Saran
16
XXXXXXXXXX
DAFTAR PUSTAKA
17
LAMPIRAN
18