0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
82 tayangan189 halaman

Efektivitas Daun Bidara untuk DFU

Skripsi ini membahas efektivitas wound cleansing menggunakan daun bidara arab (Ziziphus spina-christi L.) terhadap penyembuhan diabetic foot ulcer. Penelitian ini menggunakan desain kuasi eksperimental dengan pendekatan pre-post control group design terhadap 40 pasien DFU yang dibagi menjadi 2 kelompok. Hasil penelitian menunjukkan tidak ada perbedaan rata-rata skor penilaian luka antara kelompok intervensi dan kontrol setelah dilakukan

Diunggah oleh

Putrii
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
82 tayangan189 halaman

Efektivitas Daun Bidara untuk DFU

Skripsi ini membahas efektivitas wound cleansing menggunakan daun bidara arab (Ziziphus spina-christi L.) terhadap penyembuhan diabetic foot ulcer. Penelitian ini menggunakan desain kuasi eksperimental dengan pendekatan pre-post control group design terhadap 40 pasien DFU yang dibagi menjadi 2 kelompok. Hasil penelitian menunjukkan tidak ada perbedaan rata-rata skor penilaian luka antara kelompok intervensi dan kontrol setelah dilakukan

Diunggah oleh

Putrii
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

SKRIPSI

EFEKTIVITAS WOUND CLEANSING DAUN BIDARA


ARAB (ZIZIPHUS SPINA-CHRISTI L.) TERHADAP
PENYEMBUHAN DIABETIC FOOT
ULCER DI RUMAH LUKA
SURABAYA

Oleh:

VITA SABELA
NIM. 181.0106

PROGRAM STUDI S-1 KEPERAWATAN


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN HANG TUAH
SURABAYA
2022
SKRIPSI

EFEKTIVITAS WOUND CLEANSING DAUN BIDARA


ARAB (ZIZIPHUS SPINA-CHRISTI L.) TERHADAP
PENYEMBUHAN DIABETIC FOOT
ULCER DI RUMAH LUKA
SURABAYA

Diajukan untuk memperoleh gelar Sarjana Keperawatan ([Link].)


di Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Hang Tuah Surabaya

Oleh:

VITA SABELA
NIM. 181.0106

PROGRAM STUDI S-1 KEPERAWATAN


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN HANG TUAH
SURABAYA
2022

i
HALAMAN PERNYATAAN

Saya bertanda tangan dibawah ini:

Nama : Vita Sabela

NIM : 181.0106

Tanggal Lahir : 04 Februari 2000

Program Studi : S1 Keperawatan

Menyatakan bahwa Skripsi yang berjudul “Efektivitas Wound Cleansing Daun

Bidara Arab (Ziziphus Spina Christi-L.) Terhadap Penyembuhan Diabetic Foot

Ulcer di Rumah Luka Surabaya”, saya susun tanpa melakukan plagiat sesuai

dengan peraturan yang berlaku di Stikes Hang Tuah Surabaya.

Jika kemudian hari ternyata saya melakukan tindakan plagiat saya akan

bertanggung jawab sepenuhnya dan menerima sanksi yang dijatuhkan oleh Stikes

Hang Tuah Surabaya.

Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenar-benarnya agar dapat digunakan

semestinya.

Surabaya, 22 Juli 2022

Vita Sabela
NIM. 181.0106

ii
HALAMAN PERSETUJUAN

Setelah kami periksa dan amati, selaku pembimbing mahasiswa:

Nama : Vita Sabela

NIM : 181.0106

Program Studi : S1 Keperawatan

Judul : Efektivitas Wound cleansing Daun Bidara Arab

(Ziziphus Spina Christi-L.) Terhadap Penyembuhan

Diabetic Foot Ulcer di Rumah Luka Surabaya

Serta perbaikan-perbaikan sepenuhnya, maka kami menganggap dan dapat

menyetujui bahwa skripsi ini diajukan dalam sidang guna memenuhi sebagian

persyaratan untuk mendapatkan gelar :

SARJANA KEPERAWATAN ([Link])

Surabaya, 22 Juli 2022

Pembimbing I Pembimbing II

Christina Yuliastuti, [Link]., Ns., [Link]. Imroatul Farida, [Link]., Ns., [Link].
NIP. 03017 NIP. 03028

Ditetapkan di : Surabaya
Tanggal : 22 Juli 2022

iii
HALAMAN PENGESAHAN

Skripsi dari:

Nama : Vita Sabela

NIM : 181.0106

Program Studi : S1 Keperawatan

Judul : Efektivitas Wound cleansing Daun Bidara Arab

(Ziziphus Spina Christi-L.) Terhadap Penyembuhan

Diabetic Foot Ulcer di Rumah Luka Surabaya

Telah dipertahankan dihadapan dewan penguji Skripsi di Stikes Hang Tuah

Surabaya, dan dinyatakan dapat diterima sebagai salah satu syarat untuk

memperoleh gelar “SARJANA KEPERAWATAN” pada Prodi S-1 Keperawatan

Stikes Hang Tuah Surabaya

Penguji Ketua : Dwi Priyantini, [Link]., Ns., [Link].


NIP. 03006

Penguji 1 : Christina Yuliastuti, [Link]., Ns., [Link].


NIP. 03017

Penguji 2 : Imroatul Farida, [Link]., Ns., [Link]


NIP. 03028

Mengetahui,
STIKES HANG TUAH SURABAYA
KAPRODI S1 KEPERAWATAN

PUJI HASTUTI., [Link].,Ns.,[Link]


NIP. 03010

Ditetapkan di : Surabaya
Tanggal :

iv
Judul : Efektivitas Wound Cleansing Daun Bidara Arab (Ziziphus Spina- Christi
L.) Terhadap Penyembuhan Diabetic Foot Ulcer di Rumah Luka Surabaya

ABSTRAK
DM Tipe 2 merupakan penyakit gangguan metabolik yang di tandai oleh kenaikan
gula darah akibat resistensi insulin. Salah satu komplikasinya adalah Diabetic Foot
Ulcer (DFU) yang dapat disembuhkan dengan melakukan perawatan luka salah
satunya wound cleansing. Tujuan penelitian ini mengidentifikasi efektivitas wound
cleansing daun bidara arab (ziziphus spina-christi l.) terhadap penyembuhan
diabetic foot ulcer di Rumah Luka Surabaya.
Desain penelitian menggunakan Quasy experimental design dengan pendekatan
Pre-Post control group design dengan waktu pengukuran selama 14 hari. Metode
analisis menggunakan uji wilcoxon dan mann-whitney. Sampel penelitian diambil
secara Simple random sampling, didapatkan 40 penderita DFU di Rumah Luka
Surabaya yang terbagi menjadi 2 kelompok. Instrumen menggunakan SOP wound
cleansing menggunakan daun bidara arab dan lembar pengkajian luka BWAT.
Hasil skor penilaian menggunakan BWAT sesudah dilakukan wound cleansing
pada kelompok intervensi dan sesudah dilakukan wound cleansing pada kelompok
kontrol (p= 0,586) menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan rata-rata antara
sesudah wound cleansing pada kelompok intervensi dan sesudah wound cleansing
pada kelompok kontrol.
Bidara arab memiliki kandungan flavonoid sebagai anti inflamasi dan antioksidan
serta kandungan alkaloid, tannin, dan christinin sebagai antibakteri. Penelitian ini
dapat digunakan sebagai evidence based practice untuk perawatan luka DFU.
Kata kunci : Diabetic Foot Ulcer, Wound cleansing, Ziziphus Spina- Christi L.

v
Title : The Effectiveness of Wound Cleansing Leaves of Arabic Bidara (Ziziphus
Spina- Christi L.) Against Diabetic Foot Ulcer Healing at Rumah Luka
Surabaya

ABSTRACT

Type 2 DM is a metabolic disorder disease characterized by an increase in blood


sugar due to insulin resistance. One of the complications is Diabetic Foot Ulcer
(DFU) which can be cured by performing wound care, one of which is wound
cleansing. The purpose of this study was to identify the effectiveness of wound
cleansing of arabic bidara leaves (ziziphus spina-christi l.) on the healing of diabetic
foot ulcers at Rumah Luka Surabaya.

The research design used a Quasy experimental design with a Pre-Post control
group design with a measurement time of 14 days. The method of analysis used
Wilcoxon and Mann-Whitney test. The research sample was taken by simple random
sampling, obtained 40 patients with DFU at Rumah Luka Surabaya which were
divided into 2 groups. The instrument uses a wound cleansing using Arabic bidara
leaves and a BWAT wound assessment sheet.

The results of the assessment score using BWAT after wound cleansing in the
intervention group and after wound cleansing in the control group (p= 0.586)
showed that there was no difference in average between after wound cleansing in
the intervention group and after wound cleansing in the control group.

Arabic bidara contains flavonoids as anti-inflammatory and antioxidants as well as


alkaloids, tannins, and christinin as antibacterial. This research can be used as
evidence based practice for the treatment of diabetic foot ulcer.

Keywords : Diabetic Foot Ulcer, Wound Cleansing, Ziziphus Spina-Christi L.

vi
KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur kehadirat Allah SWT atas berkah, rahmat dan

hidayah-Nya yang senantiasa dilimpahkan kepada penulis, sehingga penulis dapat

menyelesaikan skripsi dengan judul “Efektivitas Wound Cleansing Daun Bidara

Arab (Ziziphus Spina Christi-L.) Terhadap Penyembuhan Diabetic Foot Ulcer di

Rumah Luka Surabaya”. Tujuan penulisan skripsi ini adalah untuk memenuhi salah

satu syarat memperoleh gelar Sarjana Keperawatan ([Link]) bagi mahasiswa

program studi S-1 keperawatan Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Hang Tuah

Surabaya.

Penulis menyadari dalam penulisan skripsi ini masih jauh dari sempurna,

dan masih banyak kekurangan, Oleh sebab itu penulis mengharapkan kritik dan

saran yang bersifat membangun dari semua pihak demi kesempurnaan skripsi ini.

Terselesaikannya skripsi ini tidak terlepas dari bantuan berbagai pihak, sehingga

pada kesempatan kali ini dengan segala kerendahan hati perkenankanlah penulis

untuk mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada:

1. Laksamana Pertama (Purn) Dr. A.V. Sri Suhardiningsih., [Link].,[Link].

selaku Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Hang Tuah Surabaya atas

kesempatan dan fasilitas yang telah diberikan kepada peneliti untuk menjadi

mahasiswa S-1 Keperawatan.

2. Bapak Didik Dwi Winarno, [Link].,Ns.,[Link]. Dan seluruh staff Rumah

Luka Surabaya yang telah membantu kelancaran proses pengambilan data

skripsi saya.

vii
3. Puket 1, Puket 2 Sekolah Tingi Ilmu Kesehatan Hang Tuah Surabaya yang

telah memberikan kesempatan dan fasilitas kepada peneliti untuk mengikuti

dan menyelesaikan program studi S-1 Keperawatan.

4. Ibu Puji Hastuti, [Link].,Ns.,[Link]. selaku Kepala Program Studi

Pendidikan S-1 Keperawatan Stikes Hang Tuah Surabaya yang telah

memberikan kesempatan untuk mengikuti dan menyelesaikan Program

Pendidikan S-1 Keperawatan.

5. Ibu Dwi Priyantini, [Link].,Ns.,[Link]. selaku penguji ketua yang telah

memberikan bimbingan, saran, masukan, kritik, dan pengarahan dalam

penyusunan skripsi ini.

6. Ibu Christina Yuliastuti, [Link].,Ns.,[Link]. selaku penguji dan

pembimbing 1 yang telah memberikan bimbingan, saran, masukan, dan

kritik dalam penyusunan skripsi ini.

7. Ibu Imroatul Farida, [Link].,Ns.,[Link]. selaku penguji dan pembimbing 2

yang telah memberikan bimbingan, saran, masukan, kritik, dan pengarahan

dalam penyusunan skripsi ini.

8. Ka perpustakaan dan seluruh staff perpustakaan Sekolah Tinggi Ilmu

Kesehatan Hang Tuah Surabaya yang telah menyediakan sumber pustaka

dalam penyusunan penelitian ini.

9. Seluruh staf dan karyawan Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Hang Tuah

Surabaya yang telah membantu kelancaran proses belajar mengajar selama

masa perkuliahan.

viii
10. Rekan-rekan sekelas, seangkatan, dan sealmamater yang telah membantu

kelancaran dalam penyusunan skripsi ini terimakasih telah bekerja sama

dengan baik.

Semoga budi baik yang telah diberikan kepada peneliti mendapatkan

balasan rahmat dari Allah SWT. Akhirnya peneliti berharap bahwa skripsi ini

dapat bermanfaat bagi kita semua.

ix
DAFTAR ISI

COVER LUAR
COVER DALAM ................................................................................................... i
HALAMAN PERNYATAAN ............................................................................... ii
HALAMAN PERSETUJUAN ............................................................................ iii
HALAMAN PENGESAHAN .............................................................................. iv
ABSTRAK ............................................................................................................. v
ABSTRACT .......................................................................................................... vi
KATA PENGANTAR ......................................................................................... vii
DAFTAR ISI .......................................................................................................... x
DAFTAR LAMPIRAN ....................................................................................... xv
DAFTAR SINGKATAN .................................................................................... xvi
BAB 1 PENDAHLUAN ......................................................................................... 1
1.1 Latar Belakang ............................................................................................ 1
1.2 Rumusan Masalah ....................................................................................... 4
1.3 Tujuan.......................................................................................................... 4
1.3.1 Tujuan Umum ............................................................................................. 4
1.3.2 Tujuan Khusus............................................................................................. 5
1.4 Manfaat ........................................................................................................ 5
1.4.1 Manfaat Teoritis .......................................................................................... 5
1.4.2 Manfaat Praktis ........................................................................................... 5
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA ............................................................................ 7
2.1 Konsep Diabetes Melitus ............................................................................ 7
2.1.1 Definisi Diabetes Melitus ............................................................................ 7
2.1.2 Klasifikasi Diabetes Melitus ....................................................................... 8
2.1.3 Etiologi Diabetes Melitus .......................................................................... 10
2.1.4 Patofisiologi Diabetes Melitus .................................................................. 11
2.1.5 Maninfestasi Klinis Diabetes Melitus ....................................................... 12
2.1.6 Komplikasi Diabetes Melitus .................................................................... 13
2.2 Konsep Diabetic Foot Ulcer ..................................................................... 14
2.2.1 Definisi Diabetic Foot Ulcer..................................................................... 14
2.2.2 Klasifikasi Diabetic Foot Ulcer ................................................................. 14
2.2.3 Etiologi Diabetic Foot Ulcer ..................................................................... 15

x
2.2.3 Patofisiologi Diabetic Foot Ulcer .............................................................. 16
2.2.4 Maninfestasi Klinis Diabetic Foot Ulcer .................................................. 18
2.3 Konsep Manajemen Perawatan Luka ........................................................ 20
2.3.1 Proses Penyembuhan Luka........................................................................ 20
2.3.2 Faktor yang Mempengaruhi Penyembuhan Luka ..................................... 22
2.3.3 Manajemen Perawatan Luka ..................................................................... 24
2.4 Konsep Daun Bidara Arab ........................................................................ 42
2.4.1 Definisi Daun Bidara Arab ........................................................................ 42
2.4.2 Kandungan Daun Bidara Arab .................................................................. 42
2.4.3 Manfaat Daun Bidara Arab ....................................................................... 43
2.5 Comfort Theory Kolcaba ........................................................................... 46
2.6 Hubungan Antar Konsep ........................................................................... 50
BAB 3 KERANGKA KONSEP DAN HIPOTESIS .......................................... 52
3.1 Kerangka Konseptual ................................................................................ 52
3.2 Hipotesis .................................................................................................... 53
BAB 4 METODE PENELITIAN ....................................................................... 54
4.1 Desain Penelitian ....................................................................................... 54
4.2 Kerangka Kerja ......................................................................................... 56
4.3 Waktu dan Tempat Penelitian ................................................................... 57
4.4 Populasi, Sampel, dan Sampling Desain ................................................... 57
4.4.1 Populasi ..................................................................................................... 57
4.4.2 Sampel ....................................................................................................... 57
4.4.3 Besar Sampel ............................................................................................. 58
4.4.4 Teknik Sampling ....................................................................................... 58
4.5 Identifikasi Variabel .................................................................................. 59
4.5.1 Variabel Bebas (Independent Variable) .................................................... 59
4.5.2 Variabel Tergantung (Dependent Variable) .............................................. 59
4.6 Definisi Operasional .................................................................................. 60
4.7 Pengumpulan, Pengolahan, dan Analisa Data ........................................... 61
4.7.1 Pengumpulan Data .................................................................................... 61
4.7.2 Analisa Data .............................................................................................. 63
4.8 Etika Penelitian ......................................................................................... 65
BAB 5 HASIL DAN PEMBAHASAN ............................................................... 66
5.1 Hasil Penelitian ......................................................................................... 66
5.1.1 Gambaran Umum Lokasi Penelitian ......................................................... 66
5.1.2 Gambaran Umum Subyek Penelitian ........................................................ 68

xi
5.1.3 Data Umum Hasil Penelitian ..................................................................... 68
5.1.4 Data Khusus .............................................................................................. 70
5.2 Pembahasan ............................................................................................... 73
5.2.1 Analisa Penyembuhan DFU Sebelum dan Sesudah Wound Cleansing
Pada Kelompok Intervensi Menggunakan Daun Bidara Arab .................. 73
5.2.2 Analisa Penyembuhan DFU Sebelum dan Sesudah Wound Cleansing
Pada Kelompok Kontrol Menggunakan NaCl........................................... 81
5.2.3 Analisa Penyembuhan DFU Sesudah Wound Cleansing pada
Kelompok Intervensi Menggunakan Rebusan Daun Bidara Arab
dan Kelompok Kontrol Menggunakan NaCl............................................. 85
5.3 Keterbatasan .............................................................................................. 91
BAB 6 PENUTUP................................................................................................ 92
6.1 Kesimpulan................................................................................................ 92
6.1 Saran .......................................................................................................... 93
DAFTAR PUSTAKA .......................................................................................... 94
LAMPIRAN ....................................................................................................... 100

AFTAR TABEL

xii
DAFTAR TABEL

Tabel 4.1 Desain Penelitian Quasy Experimen Efektivitas Wound Cleansing


Daun Bidara Arab Terhadap Penyembuhan Diabetic Foot Ulcer
Di Rumah Luka Surabaya...................................................................... 52
Tabel 4.2 Definisi Operasional Efektivitas Wound Cleansing Daun Bidara
Arab (Ziziphus Spina-Christi L.) Terhadap Penyembuhan Diabetic
Foot Ulcer di Rumah Luka Surabaya ....................................................58
Tabel 5.1 Karakteristik Responden Diabetic Foot Ulcer di Klinik Rumah Luka
Surabaya Pada Tanggal 3 Juni – 16 Juni 2022 .................................69
Tabel 5.2 Karakteristik Penyembuhan DFU Pada Responden Sebelum dan
Sesudah Wound Cleansing Pada Kelompok Intervensi Menggunakan
Rebusan Daun Bidara Arab (Ziziphus Spina- Christi L.) di Rumah
Luka Surabaya Tanggal 3 Juni-16 Juni 2022 .........................................70
Tabel 5.3 Karakteristik Penyembuhan DFU Pada Responden Sebelum dan
Sesudah Wound Cleansing Pada Kelompok Kontrol Menggunakan
NaCl di Rumah Luka Surabaya Tanggal 3 Juni-16 Juni 2022 ...............71
Tabel 5.4 Karakteristik Penyembuhan DFU Pada Responden Sesudah Wound
Cleansing Pada Kelompok Kontrol Menggunakan NaCl dan
Kelompok Intervensi Menggunakan Rebusan Daun Bidara Arab di
Rumah Luka Surabaya Tanggal 3 Juni-16 Juni 2022 .............................73

xiii
DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Modern Dressing Hidrogel .................................................................37


Gambar 2.2 Modern Dressing Film Dressing ........................................................37
Gambar 2.3 Modern Dressing Foam ......................................................................38
Gambar 2.4 Modern Dressing Antimikrobial ........................................................38
Gambar 2.5 Modern Dressing Hidrokoloid ...........................................................39
Gambar 2.6 Modern Dressing Calcium Alginate ...................................................40
Gambar 2.7 Modern Dressing Antimikrobial Hydrofobik .....................................40
Gambar 2.8 Modern Dressing Collagen Sponge ...................................................41
Gambar 2.9 Kerangka Konseptual Comfort Theory Kolcaba ................................47
Gambar 3.1 Kerangka Konsep Penelitian Efektivitas Wound Cleansing
Daun Bidara Arab (Ziziphus Spina - Christi L.) Terhadap
Penyembuhan Diabetic Foot Ulcer di Rumah Luka
Surabaya…..........................................................................................52
Gambar 4.1 Kerangka Kerja Penilaian Efektivitas Wound Cleansing Daun
Bidara Arab (Ziziphus Spina - Christi L.) terhadap
Penyembuhan Diabetic Foot Ulcer Di Rumah Luka
Surabaya ..............................................................................................54

xiv
DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Curriculum Vitae ................................................................................98


Lampiran 2 Motto dan Persembahan .....................................................................99
Lampiran 3 Surat Ijin Studi Pendahuluan ............................................................100
Lampiran 4 Surat Pengambilan Data ...................................................................101
Lampiran 5 Surat Persetujuan Etik ......................................................................102
Lampiran 6 Lembar Information of Consent .......................................................103
Lampiran 7 Lembar Informed Consent ................................................................105
Lampiran 8 Lembar Kuesioner ............................................................................106
Lampiran 9 Instrumen Pengkajian Luka BWAT .................................................108
Lampiran 10 SOP Pembuatan Air Rebusan Daun Bidara Arab ...........................113
Lampiran 11 SOP Perawatan Luka Menggunakan Rebusan Daun Bidara Arab .114
Lampiran 12 SOP Perawatan Luka Menggunakan NaCl .....................................118
Lampiran 13 Lembar Konsul Bimbingan Proposal .............................................122
Lampiran 14 Lembar Tabulasi Data Demografi ..................................................126
Lampiran 15 Lembar Tabulasi Bates Jensen Wound Assessment Tool ...............129
Lampiran 16 Output Hasil Analisis Data Umum .................................................133
Lampiran 17 Output Hasil Analisis Data Khusus ................................................137
Lampiran 18 Output Crosstab ..............................................................................150
Lampiran 19 Output Uji Homogenitas .................................................................156
Lampiran 20 Output Uji Normalitas Kolmogorov Smirnov .................................157
Lampiran 21 Output Uji Wilcoxon .......................................................................158
Lampiran 22 Output Uji Mann Whitney...............................................................159
Lampiran 23 Dokumentasi Penelitian ..................................................................160

xv
DAFTAR SINGKATAN

BWAT : Bates Jensen Wound Assessment Tool

CN : Charcot Neurophaty

DFU : Diabetic Foot Ulcer

DM : Diabetes Mellitus

GDM : Gestational Diabetes Mellitus

IDF : International Diabetic Federation

MODY : Maturity Onset DM of the Young

MRSA : Methicilin Resistant Staphylococcus Aureus

Riskesdas Jatim : Riset Kesehatan Dasar Jawa Timur

T1DM : Type 1 Diabetes Mellitus

T2DM : Type 2 Diabetes Mellitus

xvi
BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Diabetes Mellitus Tipe 2 merupakan penyakit gangguan metabolik yang di

tandai oleh kenaikan gula darah akibat penurunan sekresi insulin oleh sel beta

pankreas dan atau ganguan fungsi insulin (resistensi insulin) (Fatimah, 2015).

Komplikasi DM yang sering terjadi salah satunya adalah Diabetic Foot Ulcer

(DFU). DFU merupakan salah satu komplikasi utama dari diabetes dan menjadi

masalah kesehatan masyarakat secara global (Lopes et al., 2018). DFU di Indonesia

merupakan masalah kesehatan yang belum dapat terkelola dengan baik dan sering

kali berakhir dengan infeksi, kecacatan, atau bahkan kematian (Purwanti &

Maghfirah, 2016). DFU dapat diobati dengan cara melakukan perawatan luka kaki

diabetes.

Praktik keperawatan mandiri di Surabaya dan Sidoarjo menggunakan

wound cleansing menggunakan produk yang dipasarkan oleh produsen seperti

normal saline atau NaCl. Di Rumah Luka Surabaya, perawatan DFU dilakukan

dengan menggunakan cairan pencuci luka NaCl. Bahan-bahan sejenis itu menjadi

kurang ekonomis bagi penderita dengan tingkat ekonomi menegah kebawah.

Wound cleansing dengan menggunakan bahan herbal juga masih jarang dilakukan,

maka perlu dikembangkannya obat dari bahan herbal untuk perawatan luka yang

mudah didapat dan ekonomis bagi penderita DFU. Berdasarkan pengetahuan

peneliti, penggunaan daun bidara arab sebagai produk wound cleansing DFU belum

1
2

pernah diteliti dan dilakukan di Rumah Luka Surabaya yang berada di Wonoayu,

Sidoarjo.

International Diabetes Federation (IDF) mengemukakan bahwa jumlah

penderita diabetes di seluruh dunia meningkat pada usia dewasa per-tahun 2013,

2015, 2017 tidak kurang dari 382 juta orang (8,3%), 415 juta orang (8,8%), 425 juta

orang (8,8%) dan di prediksikan pada tahun 2045 prevalensi diabetes mellitus akan

menjadi 531,6 juta penderita diabetes. Di wilayah Asia Tenggara mencapai angka

82 juta orang pada tahun 2017, sedangkan di Indonesia memiliki penderita DM

sebanyak 10,3 juta (International Diabetes Federation, 2017). Prevalensi diabetes

Melitus berdasarkan diagnosis dokter pada penduduk semua umur menurut

Kabupaten/Kota Provinsi Jawa Timur mencapai 98.566 orang (2,02%) dari jumlah

penduduk. Di Surabaya dan Sidoarjo, penderita DM mencapai angka 7.203 orang

(3,48%) dan 5.518 orang (3,47%) (Riskesdas Jatim, 2018). Berdasarkan studi

pendahuluan di Rumah Luka Surabaya didapatkan penderita DFU grade 1-4

sebanyak 240 pasien dalam 3 bulan terakhir, yaitu pada bulan Desember 2021-

Februari 2022 (Winarno, 2021). Berdasarkan hasil wawancara peneliti terhadap 5

orang pasien DM di Rumah Luka Surabaya pada tanggal 1 April 2022, didapatkan

bahwa mayoritas pasien melakukan perawatan luka yang rutin yaitu sebanyak 2 kali

dalam 1 minggu dan membaik dalam waktu kurang lebih 1 bulan sejak perawatan

luka pertama kali dilakukan dengan 4 pasien kadar gula darah terkontrol kurang

dari 200 mg/ dL dan 1 pasien kadar gula darah lebih dari 200 mg/ dL.

DFU merupakan luka pada area kaki penderita DM dengan kondisi luka dari

luka yang dangkal, nekrotik (jaringan mati), sampai luka full thickness (hilangnya

kulit keseluruhan tetapi tidak mengenai otot), yang dapat meluas kejaringan lain
3

seperti ligament, tulang dan persendian. DFU disebabkan oleh adanya 3 faktor yaitu

neuropati perifer, luka iskemik, dan infeksi (Aini & Aridiana, 2016). DFU diawali

oleh iskemik, neuropati (kerusakan saraf), dan infeksi. Neuropati menyebabkan

gangguan sensorik yang menghilangkan atau mengurangi sensasi nyeri pada kaki,

sehingga dapat timbul luka tanpa rasa. Iskemia yaitu kekurangan aliran darah ke

kaki dan jaringan lainya, sehingga pasien akan mengalami nyeri kaki setelah

berjalan jarak tertentu (Kartika, 2017). Penderita DFU rata-rata mengalami

peningkatan leukosit, hal ini merupakan respon tubuh terhadap infeksi dan

inflamasi akibat dari luka kaki diabetes (Cervantes-García & Salazar-Schettino,

2017). Dampak yang terjadi apabila tidak dilakukan manajemen perawatan luka

DFU adalah proses penyembuhan luka yang semakin lama dan terjadinya sepsis

(peradangan ekstrem akibat infeksi) yang akan menyebar ke bagian anggota tubuh

yang lain, bahkan dapat menyebabkan amputasi hingga dapat menurunkan kualitas

hidup pasien (Farida et al., 2018). Luka DFU dapat dirawat secara optimal jika

manajemen luka dilakukan secara tepat dan efektif.

Perawat memegang peranan yang sangat penting dalam perawatan luka

pasien. Seorang perawat bertanggung jawab membantu klien memperoleh

kenyamanan, memperoleh kembali kesehatan dan kehidupan mandiri yang optimal

melalui proses pemulihan dengan biaya, waktu dan tenaga yang seminimal

mungkin. Wound cleansing DFU menggunakan air rebusan daun bidara arab dapat

menjadi alternatif baru, karena memiliki banyak manfaat serta keuntungan. Daun

bidara arab mengandung senyawa flavonoid (anti-oksidan dan anti-inflamasi), alkaloid

(anti-bakteri), tannin (anti-inflamasi) dan christinin (anti bakteri) yang dapat

diformulasikan sebagai antiseptik alami (Asgarpanah, 2012; Darusman & Fakih, 2020;
4

Karliana & Wikanta, 2019; Niamat et al., 2012). Penelitian ([Link], 2015) yang

dilakukan dengan menggunakan esktrak bidara arab untuk mengobati luka sayat

pada kelinci membuahkan hasil. Pada minggu ke 3 kulit sembuh dari ulserasi,

muncul folikel rambut dan epitelisasi lengkap. Keuntungan menggunakan daun

bidara arab antara lain mudah didapat, ekonomis, dapat dibudidayakan sendiri dan

dapat digunakan oleh kalangan menengah kebawah. Berdasarkan uraian latar

belakang diatas peneliti tertarik untuk meneliti tentang efektivitas wound cleansing

daun bidara arab (ziziphus spina-christi l.) terhadap penyembuhan DFU di Rumah

Luka Surabaya.

1.2 Rumusan Masalah

Apakah wound cleansing daun bidara arab (ziziphus spina-christi l.) efektif

terhadap penyembuhan diabetic foot ulcer di Rumah Luka Surabaya?

1.3 Tujuan

1.3.1 Tujuan Umum

Mengidentifikasi efektivitas wound cleansing daun bidara arab (ziziphus

spina-christi l.) terhadap penyembuhan diabetic foot ulcer di Rumah Luka

Surabaya.
5

1.3.2 Tujuan Khusus

1. Mengidentifikasi penyembuhan diabetic foot ulcer dengan wound cleansing

menggunakan daun bidara arab (ziziphus spina-christi l.) pada kelompok

Intervensi.

2. Mengidentifikasi penyembuhan diabetic foot ulcer dengan wound cleansing

menggunakan NaCl pada kelompok kontrol.

3. Menganalisis efektivitas wound cleansing daun bidara arab (ziziphus spina-

christi l.) terhadap penyembuhan diabetic foot ulcer.

1.4 Manfaat

1.4.1 Manfaat Teoritis

Manfaat penelitian ini mengetahui efektivitas wound cleansing daun bidara

arab (ziziphus spina-christi l.) terhadap penyembuhan diabetic foot ulcer di Rumah

Luka Surabaya.

1.4.2 Manfaat Praktis

1. Bagi Institusi

Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi rujukan dan sumber ilmu

pengetahuan tentang perawatan luka khususnya wound cleansing diabetic foot

ulcer.

2. Bagi Profesi Keperawatan


6

Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi alternatif wound cleansing

diabetic foot ulcer dengan menggunakan air rebusan daun bidara arab terhadap

penyembuhan diabetic foot ulcer.

3. Bagi Responden

Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan alternatif untuk wound

cleansing diabetic foot ulcer yang mudah didapat, ekonomis, dan dapat dikelola

sendiri.

4. Bagi Rumah Luka Surabaya

Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi SOP saat melakukan

perawatan luka diabetic foot ulcer, sehingga dapat mempercepat penyembuhan

luka pada pasien dan dapat lebih meningkatkan kualitas kerja pada perawat juga

dapat meminimalisirkan waktu perawatan.

5. Bagi Peneliti Lain

Hasil penelitian ini dapat memberikan gambaran atau informasi data awal

untuk bisa dilanjutkan penelitian selanjutnya.


BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

Pada bab ini menjelaskan landasan teoritis yang mendasari masalah yang

akan diteliti, meliputi: 1) Konsep Diabetes Mellitus, 2) Konsep DFU, 3) Konsep

Manajemen Perawatan Luka, 4) Konsep Daun Bidara Arab, 5) Comfort theory

Kolcaba, 6) Hubungan antar Konsep.

2.1 Konsep Diabetes Melitus

2.1.1 Definisi Diabetes Melitus

Diabetes Mellitus (DM) adalah gangguan metabolisme yang ditandai dengan

adanya hiperglikemia kronis (tingginya kadar gula dalam darah) yang disertai

dengan gejala yang besar atau kecil akibat ketidakmampuan metabolisme oleh

tubuh dari karbohidrat, lemak, dan protein (Baynest, 2015). Diabetes Mellitus

adalah suatu kompleks gangguan metabolisme yang ditandai dengan hiperglikemia

kronis akibat kelainan sekresi insulin, kerja insulin, atau keduanya (Craig et al.,

2014). Diabetes mellitus (DM) merupakan kelainan yang ditandai dengan

meningkatnya kadar glukosa dalam darah (hiperglikemia). DM merupakan salah

satu penyakit metabolic kronik, dan jika tidak dilakukan pengobatan dan perawatan

yang tepat dapat mengakibatkan kondisi yang membahayakan bahkan dapat

menyebabkan komplikasi (Aris, 2019).

7
8

2.1.2 Klasifikasi Diabetes Melitus

Diabetes Mellitus diklasifikasikan atas DM tipe 1, DM tipe 2, tipe spesifik

lain, dan DM gestasional (Craig et al., 2014). Klasifikasi diabetes mellitus secara

umum terbagi menjadi 4 (Burke & LeMone, 2016), antara lain :

1. Diabetes Mellitus tipe 1, terbagi menjadi 2 penyebab antara lain :

a. Diperantarai imun

Sel beta yang rusak menyebabkan kekurangan insulin absolut. Kerusakan sel

beta berbeda-beda. Biasanya lebih cepat pada bayi dan anak-anak dan lebih

lambat pada dewasa. Kerusakan sel beta memiliki predisposisi genetika dan

juga dikaitkan dengan faktor lingkungan yang belum jelas.

b. Idiopatik

Tidak memiliki penyebab etiologik, sebagian besar pasien adalah keturunan

Afrika atau Asia dan diwariskan dengan kuat. Memerlukan insulin

intermitten.

2. Diabetes Mellitus tipe 2 :

Karakteristik DM tipe ini berbeda-beda, mulai dari resistensi insulin mayor

dengan kekurangan insulin relatif hingga kelainan sekretorik mayor dengan

resistensi insulin. Tidak ada kerusakan imun pada sel beta. Penyandang DM

tipe ini biasanya gemuk atau mengalami peningkatan jumlah lemak abdomen.

Risiko perkembangan penyakit mencakup pertambahan usia, kegemukan, dan

gaya hidup tidak bergerak. Terjadi lebih sering pada wanita yang pernah

mengalami DM gestasional dan pada orang yang mengalami gangguan lipid

atau hipertensi. Terdapat predisposisi genetika yang kuat.


9

3. Tipe spesifik lain, terbagi menjadi 6 penyebab :

a. Kelainan genetika pada sel beta

Hiperglikemia terjadi pada usia muda (<25 tahun). Tipe ini disebut sebagai

DM dengan awitan maturitas pada anak-anak (Maturity- Onset DM of the

Young, MODY).

b. Kelainan genetika pada kinerja insulin

Ditentukan secara genetika. Disfungsi dapat berkisar dari hiperinsulinemia

hingga DM berat.

c. Penyakit pankreas eksokrin

Proses dapatan yang menyebabkan DM mencakup pankreatitis, trauma,

infeksi, pankreaektomi, dan kanker pankreas. Bentuk parah dari fibriosis

kistik dan hemokromatosis juga dapat merusak sel beta dan merusak sekresi

insulin.

d. Gangguan endokrin

Kelebihan jumlah hormon (hormon pertumbuhan, kortisol, glukagon, dan

epinefrin) merusak sekresi insulin yang mengakibatkan DM pada orang yang

mengalami sindrom cushing, akromegali, dan feokromositoma.

e. Diinduksi obat atau bahan kimia

Banyak obat-obatan yang merusak sekresi insulin, yang memicu DM pada

orang-orang dengan predisposisi resistensi insulin. Contoh obat anatara lain

asam nikotinat, glukortikoid, hormon tiroid, tiazid, dan fenitoin.


10

f. Infeksi

Adanya virus tertentu yang dapat merusak sel beta. Termasuk campak

kongenital, sitomegalovirus, adenovirus, dan gondong.

4. DM Gestasional (GDM)

Intoleransi glukosa yang diketahui pertama kali pada saat hamil.

2.1.3 Etiologi Diabetes Melitus

Penyebab DM menurut tipenya (Regina et al., 2018) :

1. DM Tipe 1

Kombinasi kerentanan genetik dan faktor lingkungan seperti infeksi virus,

toksin, atau beberapa faktor makanan dapat terlibat sebagai pemicu

autoimunitas. T1DM paling sering terlihat pada anak-anak dan remaja

meskipun dapat berkembang pada usia berapa pun.

2. DM Tipe 2

T2DM paling sering terlihat pada orang yang lebih tua dari 45 tahun. Namun,

semakin terlihat pada anak-anak, remaja, dan dewasa muda karena

meningkatnya tingkat obesitas, kurang aktivitas fisik, dan diet padat energi.

3. DM Gestasional

GDM umumnya menyerang ibu hamil pada trimester kedua dan ketiga.

Kehamilan di usia tua, obesitas, penambahan berat badan saat kehamilan yang

berlebihan, riwayat anomali kongenital pada anak sebelumnya, atau lahir

mati, atau riwayat keluarga diabetes.

4. Monogenic Diabetes
11

Riwayat keturunan keluarga yang muncul dibawah usia 25 tahun.

2.1.4 Patofisiologi Diabetes Melitus

Sebagian besar, patologi diabetes mellitus dapat dihubungkan dengan efek

utama kekurangan insulin (Aini & Aridiana, 2016), yaitu :

1. Pengurangan penggunaan glukosa oleh sel-sel tubuh, yang mengakibatkan

peningkatan kosentrasi glukosa darah hingga 300-1.200 mg/100ml. Insulin

berfungsi membawa glukosa ke sel dan disimpan sebagai glikogen. Sekreksi

insulin normalnya terjadi dalam 2 fase, yaitu : fase 1 terjadi dalam beberapa

menit setelah suplai glukosa dan kemudian melepaskan cadangan insulin

yang disimpan dalam sel beta. Fase 2 merupakan pelepasan insulin yang baru

disintesis dalam beberapa jam setelah makan. Pada DM tipe 2, pelepasan

insulin fase 2 sangat terganggu.

2. Peningkatan mobilisasi lemak dan daerah penyimpanan lemak sehingga

menyebabkan kelainan metabolisme lemak maupun pengendapan lemak pada

dinding vaskular.

3. Pengurangan protein pada jaringan tubuh.

Keadaan patologi tersebut akan mengakibatkan beberapa kondisi, seperti :

a. Hiperglikemia

Kelebihan kadar gula dalam darah.

b. Hiperosmolaritas

Kelebihan tekanan osmotik pada plasma sel karena adanya peningkatan

konsentrasi zat (glukosa dalam darah) yang notabene komposisi

terbanyaknya adalah zat cair.


12

c. Starvasi selular

Kondisi kelaparan yang dialami oleh sel karena glukosa sulit masuk padahal

di sekeliling sel banyak sekali glukosa.

2.1.5 Maninfestasi Klinis Diabetes Melitus

Gejala umum diabetes seperti poliuria, polidipsia dan polifagia sering terjadi

pada diabetes tipe 1 yang memiliki perkembangan cepat menjadi hiperglikemia

berat dan juga pada diabetes tipe 2 dengan tingkat hiperglikemia yang sangat tinggi.

Penurunan berat badan yang parah hanya umum pada diabetes tipe 1 atau jika

diabetes tipe 2 tidak terdeteksi untuk waktu yang lama. Penurunan berat badan yang

tidak dapat dijelaskan, kelelahan dan kegelisahan dan nyeri tubuh juga merupakan

tanda-tanda umum dari diabetes yang tidak terdeteksi (Ramachandran, 2014).

Tanda dan Gejala DM menurut (Lestari et al., 2021) :

1. Poliuri

Buang air kecil lebih sering dari biasanya terutama pada malam hari

(poliuria), hal ini dikarenakan kadar gula darah melebihi ambang ginjal

(>180mg/dl), sehingga gula akan dikeluarkan melalui urin guna menurunkan

konsentrasi urine yang dikeluarkan, tubuh akan menyerap air sebanyak

mungkin ke dalam urine sehingga urine dalam jumlah besar dapat dikeluarkan

dan sering buang air kecil.

2. Polidipsi

Keluaran urine harian secara normal adalah sekitar 1,5 liter, tetapi pada pasien

DM yang tidak terkontrol, keluaran urine lima kali lipat dari jumlah ini.

Dengan adanya ekskresi urine, tubuh akan mengalami dehidrasi atau


13

dehidrasi. Untuk mengatasi masalah tersebut maka tubuh akan menghasilkan

rasa haus sehingga penderita selalu ingin minum air terutama air dingin,

manis, segar dan air dalam jumlah banyak.

3. Polifagi

Nafsu makan meningkat (polifagi) dan merasa kurang tenaga. Insulin menjadi

bermasalah pada penderita DM sehingga pemasukan gula ke dalam sel-sel

tubuh kurang dan energi yang dibentuk pun menjadi kurang.

4. Penurunan Berat Badan

Ketika tubuh tidak mampu mendapatkan energi yang cukup dari gula karena

kekurangan insulin, tubuh akan bergegas mengolah lemak dan protein yang

ada di dalam tubuh untuk diubah menjadi energi. Penderita DM yang tidak

terkendali bisa kehilangan sebanyak 500 gr glukosa dalam urine per 24 jam

(setara dengan 2000 kalori perhari hilang dari tubuh).

2.1.6 Komplikasi Diabetes Melitus

Pasien diabetes berisiko tinggi mengalami komplikasi mikrovaskular

pembuluh darah kecil atau komplikasi makrovaskular yang mempengaruhi

pembuluh darah besar (Alaboud et al., 2016). Komplikasi dari diabetes dapat

diklasifikasikan sebagai mikrovaskuler dan makrovaskuler menurut (Rosyada,

2013) :

1. Kerusakan Mikrovaskular

Kerusakan sistem saraf (neuropati), kerusakan sistem ginjal (nefropati) dan

kerusakan mata (retinopati).


14

2. Kerusakan Makrovaskular

Penyakit jantung, stroke, dan penyakit pembuluh darah perifer. Penyakit

pembuluh darah perifer dapat menyebabkan cedera yang sulit tidak sembuh,

gangren, bahkan amputasi.

3. Komplikasi Lain

Kerusakan gigi, penurunan resistensi infeksi seperti influenza dan

pneumonia, makrosomia dan komplikasi saat melahirkan.

2.2 Konsep Diabetic Foot Ulcer

2.2.1 Definisi Diabetic Foot Ulcer

DFU adalah peningkatan risiko infeksi dan penyembuhan luka yang buruk

karena serangkaian mekanisme yang meliputi penurunan sel dan respon faktor

pertumbuhan, penurunan aliran darah perifer dan penurunan angiogenesis lokal.

Dengan demikian, kaki rentan terhadap penyakit pembuluh darah perifer, kerusakan

saraf perifer, deformitas, ulserasi dan gangren (Dinker R Pai, 2013). DFU adalah

kerusakan sebagian atau keseluruhan pada kulit yang dapat meluas ke jaringan

bawah kulit, tendon, otot, tulang atau persendian yang terjadi pada seseorang yang

menderita penyakit diabetes mellitus (Nurhanifah, 2017). DFU merupakan

komplikasi umum dari diabetes mellitus yang dapat disebabkan oleh kadar glukosa

darah yang tidak terkendali (Veranita, 2016).

2.2.2 Klasifikasi Diabetic Foot Ulcer

Derajat ulkus kaki diabetik adalah suatu tingkatan yang mendeskripsikan luka

pada kaki penderita diabetes mellitus (Veranita, 2016). Klasifikasi ulkus


15

diabetikum berdasarkan Wagner Classification of Foot Ulcers (Ningsih et al., 2019)

1. Grade 0 : Terdapat selulitis dengan tidak tampak lesi terbuka, nyeri.

2. Grade 1 : Ulkus pada daerah superficial.

3. Grade 2 : Ulkus dalam mencapai tendon, tulang atau sendi (joint capsule)

4. Grade 3 : Terdapat infeksi (abses atau osteomyelitis).

5. Grade 4 : Terdapat gangrene pada punggung kaki/telapak kaki.

6. Grade 5 : Gangren menyeluruh pada permukaan kaki.

2.2.3 Etiologi Diabetic Foot Ulcer

Ada beberapa komponen yang menyebabkan munculnya dari ulkus kaki

diabetik pada pasien diabetes, dapat dibagi menjadi dua faktor utama, yaitu

(Rosyid, 2017) :

1. Causative Factors :

a. Neuropati Perifer (sensorik, motorik, autonomik)

Tidak hanya sensasinya rasa sakit dan tekanan hilang, tetapi juga sensasi

posisi kaki juga hilang. Motor neuropati mempengaruhi semua otot di kaki,

mengakibatkan penonjolan tulang abnormal, arsitektur normal dari kaki

berubah, kelainan bentuk khas seperti hammer toe dan hallux rigidus.

b. High foot plantar pressure

High foot plantar pressure merupakan faktor penyebab terpenting kedua.

Situasi ini terkait dengan dua hal yaitu keterbatasan sendi mobilitas

(pergelangan kaki, subtalar dan metatarsophalangeal) dan deformitas kaki.

Pada pasien dengan perifer neuropati, 28% dengan tekanan plantar tinggi,
16

dalam 2,5 tahun akan ada ulkus kaki dibandingkan dengan pasien tanpa

tekanan plantar yang tinggi.

c. Trauma

Trauma berulang, 21% trauma akibat gesekan dari alas kaki, 11% karena

cedera kaki (kebanyakan karena jatuh), 4% selulitis karena komplikasi tinea

pedis dan 4% karena kesalahan potong kuku.

2. Contributive Factors :

a. Ateroklerosis

Aterosklerosis akibat penyakit pembuluh darah perifer, terutama mengenai

pembuluh darah femoroplitea dan pembuluh darah kecil di bawah lutut,

adalah yang paling faktor kontribusi penting. Resiko luka dua kali lipat tinggi

pada pasien diabetes dibandingkan dengan non-diabetes pasien.

b. Diabetes

Penderita diabetes memiliki tingkat infeksi onikomikosis dan tinea yang lebih

tinggi, sehingga kulit mudah terkelupas dan infeksi.

2.2.3 Patofisiologi Diabetic Foot Ulcer

DFU disebabkan tiga faktor yang sering disebut trias, yaitu: iskemi,

neuropati, dan infeksi (Kartika, 2017). Adanya mekanisme gangguan metabolisme

pada DM, maka terjadi peningkatan risiko infeksi dan penyembuhan luka yang

buruk akibat respons sel dan faktor pertumbuhan menurun, berkurangnya aliran

darah perifer, dan penurunan engiogenesis lokal. Dengan demikian, kaki cenderung

mengalami penyakit vaskular perifer, kerusakan nervus perifer, ulserasi, dan

gangren (Aini & Aridiana, 2016). Terjadinya DFU adalah multifaktoral, dapat

dijelaskan sebagai berikut (Aini & Aridiana, 2016; Pai & Singh, 2013) :
17

1. Neuropati

Neuropati diabetik cenderung terjadi 10 tahun setelah menderita diabetes,

sehingga kelainan kaki diabetik dan ulkus diabetes dapat terjadi setelah waktu

itu. Peningkatan kadar glukosa darah menyebabkan peningkatan produksi

enzim seperti reduktase aldosa dan sorbitol dehidrogenase. Enzim ini

mengubah glukosa menjadi sorbitol dan fruktosa. Peningkatan produk gula

mengakibatkan sintesis sel darah menurun dan memengaruhi konduksi saraf.

Selanjutnya hiperglikemia yang diinduksi mikroangiopati menyebabkan

metabolisme reversibel, cedera iunologi serta iskemik saraf otonom, motor,

dan sensorik. Kondisi tersebut akan menyebabkan penurunan sensasi perifer

dan kerusakan inervasi saraf pada otot kaki dan kontrol vasomotor kaki.

Ketika saraf terluka, pasien berisiko tinggi mendapat cedera ringan tanpa

disadari, sampai akhirnya menjadi ulkus (ulcer).

2. Vaskulopati

Adanya hiperglikemia, akan ada gangguan sifat fisiologis nitrat oksida yang

biasanya mengatur homeostatis endotel, antikoagulan, adhesi leukosit,

proliferasi sel otot, dan kapasitas antioksidan. Kerusakan sel endotel akan

memicu terjadinya konstriksi pembuluh darah dan ateroklerosis dan akhirnya

menyebabkan iskemik. Iskemik dapat terjadi walaupun pulsasi arteri (denyut

nadi) daerah kaki dapat teraba dengan palpasi.

3. Imunopati

Sistem imun pasien diabetes lebih lemah daripada orang sehat. Oleh karena

itu, infeksi pada kaki pasien diabetes merupakan kondisi yang mengancam.

Mikroorganisme yang dominan oada diabetic foot ulcer adalah S. Aureus dan
18

β–hemolitik streptokokus. Kondisi hiperglikemia menyebabkan peningkatan

sitokin pro-inflamasi dan kerusakan sel polimorfonuklear seperti kemotaksis,

fagositosis, dan intracellular killing. Tingginya kadar glukosa darah juga

media yang baik bagi pertumbuhan bakteri. Jaringan lunak kaki seperti

plantar aponeurosis, tendon, otot, dan fasia tidak dapat menahan infeksi.

Infeksi yang berada pada jaringan lunak dapat dengan cepat menyebar ke

tulang. Sehingga dapat menyebabkan komplikasi seperti osteitis atau

osteomielitis dan gangren jika tidak dilakukan perawatan yang baik.

4. Stress mekanik

Kerusakan inervasi pada otot kaki akan memengaruhi gerakan fleksi dan

ekstensi. Secara bertahap, hal ini akan menyebabkan perubahan anatomi kaki

dan deformitas kaki. Deformitas menyebabkan pembentukan tonjolan tulang

yang abnormal dan titik tekan merupas faktor predisposisi terbantuknya

ulkus. Biasanya terjadi pada ibu jari dan tumit.

5. Neuroartropati

Charcot neurophaty (CN) adalah kondisi muskuloskeletal progresif yang

ditandai dengan dislokasi sendi, fraktur patologis, dan deformitas. Hal ini

akan menyebabkan kerusakan tulang dan jaringan lunak. CN dapat terjadi

pada semua sendi, terutama ekstremitas bawah, kaki, dan pergelangan kaki.

CN disebabkan oleh trauma yang tidak disadari atau luka pada kaki yang telah

mati rasa.

2.2.4 Maninfestasi Klinis Diabetic Foot Ulcer

Tanda dan gejala DFU antara lain (Roza et al., 2015); (Sunaryo & Sudiro,

2014) :
19

1. Eksudat

Adanya eksudat atau cairan pada luka sebagai tempat berkembangnya bakteri.

2. Tepi ulkus

Kulit di sekitar ulkus diabetikum sebagian besar edema kurang dari 2 cm,

berwarna merah muda, dan inflamasi minimal.

3. Edema

Meningkatnya volume cairan di luar sel (ekstraseluler) dan di luar pembuluh

darah (ekstravaskular) disertai dengan penimbunan di jaringan serosa. Edema

pada ulkus diabetikum terdiri dari edema minimal 2 cm, sedang (semua kaki),

berat (kaki dan tungkai).

4. Warna

Merah muda, eritema, pucat, gelap.

5. Inflamasi

Inflamasi yang terjadi dapat berupa inflamasi minimal atau tanpa inflamasi,

sedang, berat.

6. Nyeri

Kepekaan atau nyeri sebagian besar tidak lagi terasa atau kadang-kadang dan

tanpa maserasi atau kurang dari 25%.

7. Maserasi

Tanpa maserasi atau 25 %, 26 – 50 %, > 50 %.

8. Dermopati

Dermopati adalah masalah kulit yang muncul pada kaki bagian bawah atau

disebut juga dengan pigmented pretibial patches atau shin spots (bintik tulang

kering).
20

9. Selulitis

Selulitis adalah infeksi bakteri pada kulit dan jaringan di bawah kulit.

10. Osteomyelitis

Osteomyelitis adalah radang tulang yang disebabkan oleh infeksi yang berada

di kaki.

2.3 Konsep Manajemen Perawatan Luka

2.3.1 Proses Penyembuhan Luka

Luka merupakan suatu bentuk kerusakan jaringan pada kulit yang disebabkan

oleh kontak fisik (dengan sumber panas), hasil dari tindakan medis, maupun

perubahan kondisi fisiologis. Ketika terjadi luka, tubuh secara alami melakukan

proses penyembuhan luka (Purnama et al., 2017). Proses penyembuhan luka

menurut (Primadina et al., 2019) antara lain :

1. Fase Inflamasi Awal (Homeostatis)

Fase inflamasi terbagi dua, yaitu fase inflamasi awal atau fase haemostasis

dan fase inflamasi akhir. Pada saat jaringan terluka, pembuluh darah yang

terputus pada luka akan menyebabkan pendarahan, reaksi tubuh pertama

sekali adalah berusaha menghentikan pendarahan. Reaksi haemostasis akan

terjadi karena darah yang keluar dari kulit yang terluka akan mengalami

kontak dengan kolagen dan matriks ekstraseluler, hal ini akan memicu

pengeluaran platelet atau dikenal juga dengan trombosit mengekspresi

glikoprotein pada membran sel sehingga trombosit tersebut dapat beragregasi


21

menempel satu sama lain dan membentuk massa (clotting). Massa ini akan

mengisi cekungan luka.

2. Fase Inflamasi Akhir (Lag Phase)

Fase inflamasi dimulai segera setelah terjadinya trauma sampai hari ke-5

pasca trauma. Tujuan utama fase ini adalah menyingkirkan jaringan yang

mati, dan pencegahan kolonisasi maupun infeksi oleh agen mikrobial

patogen. Setelah hemostasis tercapai, sel radang akut serta neutrofil akan

menginvasi daerah radang dan menghancurkan semua debris dan bakteri.

Dengan adanya neutrofil maka dimulai respon keradangan yang ditandai

dengan cardinal symptoms, yaitu tumor, kalor, rubor, dolor dan functio laesa.

3. Fase Proliferasi

Berlangsung mulai hari ke-3 hingga 14 pasca trauma, Tujuan fase proliferasi

ini adalah untuk membentuk keseimbangan antara pembentukan jaringan

parut dan regenerasi jaringan. Terdapat 3 proses utama dalam fase profilferasi

yaitu angiogenesis (pembentukan pembuluh darah), fibroblast (pembentukan

keratinosit), re-epitelisasi (sel-sel basal pada epitelium bergerak dari daerah

tepi luka menuju daerah luka dan menutupi daerah luka).

4. Fase Maturasi

Berlangsung mulai hari ke-21 hingga sekitar 1 tahun yang bertujuan untuk

memaksimalkan kekuatan dan integritas struktural jaringan baru pengisi luka,

pertumbuhan epitel dan pembentukan jaringan parut. Fase remodelling

jaringan parut adalah fase terlama dari proses penyembuhan. Pada umumnya

tensile strength pada kulit dan fascia tidak akan pernah mencapai 100%

namun hanya sekitar 80% dari normal, karena serat-serat kolagen hanya bisa
22

pulih sebanyak 80% dari kekuatan serat kolagen normal sebelum terjadinya

luka. Total waktu yang dibutuhkan untuk regenerasi sel pada luka hingga

mencapai permukaan adalah membutuhkan waktu 20-30 hari (Kalangi,

2014).

2.3.2 Faktor yang Mempengaruhi Penyembuhan Luka

Penyembuhan luka meliputi berbagai faktor, yaitu faktor internal dan

eksternal (Kartika, 2015); (Lede et al., 2018) :

1. Faktor internal :

a. Status imunologi atau kekebalan tubuh

Penyembuhan luka adalah proses biologis yang kompleks, terdiri dari

serangkaian peristiwa berurutan yang bertujuan untuk memperbaiki jaringan

yang terluka. Peran sistem kekebalan tubuh dalam proses ini tidak hanya

untuk mengenali dan memerangi antigen baru dari luka, tetapi juga untuk

proses regenerasi sel.

b. Usia

Manusia mengalami perubahan fisiologis yang secara drastis menurun

dengan cepat setelah usia 45 tahun. Adapun faktor-faktor yang dapat

menghambat proses penyembuhan luka seperti peningkatan usia. Saat usia

lanjut, sel kulit pun berkurang keelastisitasannya diakibatkan dari

menurunnya cairan vaskularisasi di kulit dan berkurangnya kelenjar lemak

yang semakin mengurangi elastisitas kulit. Kulit yang tidak elastis akan

mengurangi kemampuan regenerasi sel ketika luka akan dan mulai menutup

sehingga dapat memperlambat penyembuhan luka (Yunus, 2015).

c. Kadar gula darah


23

Peningkatan gula darah akibat hambatan sekresi insulin, seperti pada

penderita diebetes melitus, juga menyebabkan nutrisi tidak dapat masuk ke

dalam sel, akibatnya terjadi penurunan protein dan kalori tubuh.

d. Nutrisi

Nutrisi memainkan peran tertentu dalam penyembuhan luka. Misalnya,

vitamin C sangat penting untuk sintesis kolagen, vitamin A meningkatkan

epitelisasi, dan seng (zinc) diperlukan untuk mitosis sel dan proliferasi sel.

Semua nutrisi, termasuk protein, karbohidrat, lemak, vitamin, dan mineral,

baik melalui dukungan parenteral maupun enteral, sangat dibutuhkan.

Malnutrisi menyebabkan berbagai perubahan metabolik yang mempengaruhi

penyembuhan luka

e. Suplai oksigen berlebih

Suplai oksigen yang terlalu banyak akibat aktivitas berlebih akan memicu

timbulnya radikal bebas dalam tubuh. Radikal bebas dapat berdampak buruk

pada kulit, sehingga terjadi kerusakan pada kulit.

2. Faktor eksternal :

a. Rehidrasi dan wound cleansing

Rehidrasi dan wound cleansing dapat menurunkan jumlah bakteri di dalam

luka, sehingga jumlah eksudat yang dihasilkan bakteri juga akan berkurang.

b. Latihan Fisik

Latihan fisik merupakan faktor penting dalam penyembuhan luka karena

dapat membantu memperlancar peredaran darah, sehingga dapat

memperbaiki jaringan pada DFU (Nugroho & Puspitasari, 2018).

c. Perawatan Luka
24

Perawatan luka dilakukan sesuai kondisi luka agar proses penyembuhan luka

dapat berjalan sesuai yang diharapkan.

2.3.3 Manajemen Perawatan Luka

Prinsip utama dalam manajemen perawatan luka adalah pengkajian luka yang

komprehensif agar dapat menentukan keputusan klinis yang sesuai dengan

kebutuhan pasien, mempersiapkan warna dasar luka, dan pemilihan dressing yang

tepat.

1. Pengkajian Luka

Salah satu penilaian/ pengkajian terhadap luka kaki diabetes dapat dilakukan

dengan menggunakan instrumen pengkajian luka untuk prediksi

penyembuhan luka seperti Bates Jensen Wound Assessment Tool (BWAT).

BWAT merupakan alat ukur luka ulkus diabetikum yang terdiri dari 13 item

didalamnya menurut (Khoerunisa, 2019) yaitu:

a. Ukuran luka

Ukuran luka adalah luas permukaan luka pasien yang dapat dihitung dengan

mengukur menggunakan penggaris panjang dengan lebar luka. Skor

pengkajian untuk ukuran luka, antara lain :

1= P X L <4 cm

2= P X L <16 cm

3= P X L <36 cm

4= P X L <80 cm
25

5= P X L >80 cm.

b. Kedalaman

Kedalaman luka merupakan ukuran dasar luka ke permukaan luka. Mengukur

kedalaman luka dapat dilakukan dengan menggunakan aplikator yang

berujung seperti katun/kapas. Masukkan aplikator di bagian terdalam dari

luka dan tandai aplikator dengan pulpen, dan ukur jarak dari ujung yang

ditandai. Skor pengkajian untuk kedalaman luka, antara lain :

1= stage 1 (lapisan epidermis utuh, namun terdapat erithema atau perubahan

warna)

2= stage 2 (kehilangan kulit superfisial dengan kerusakan lapisan epidermis

dan dermis. Erithema dijaringan sekitar yang nyeri, panas dan edema)

3= stage 3 (kehilangan sampai dengan jaringan subcutan, dengan

terbentuknya rongga (cavity).

4= stage 4 (hilangnya jaringan subcutan dengan terbentuknya (cavity), yang

melibatkan otot, tendon dan/atau tulang).

5= luka nekrosis

c. Tepi luka

Tepi luka merupakan daerah dimana jaringan normal menyatu dengan dasar

luka. Tepi luka menunjukkan beberapa karakteristik luka yang paling penting.

Saat menilai tepi luka, lihat bagaimana penampakan dari luka tersebut. Skor

pengkajian untuk tepi luka, antara lain :


26

1= samar, tidak jelas terlihat

2= batas tepi terlihat, menyatu dengan dasar luka

3= jelas, tidak menyatu dengan dasar luka

4= jelas, tidak menyatu dengan dasar luka, tebal

5= jelas, fibrotic, parut tebal/ hiperkeratonic.

d. Terowongan/Goa

Terowongan merupakan hilangnya jaringan dibawah permukaan kulit yang

utuh dan biasanya melibatkan jaringan subkutan dan mengikuti jalur bidang

disamping luka. Skor pengkajian terowongan/ goa luka, antara lain :

1= tidak ada

2= goa <2 cm di area manapun

3= goa 2-4 cm <50% pinggir luka

4= goa 2-4 cm >50% pinggir luka

5= goa >4 cm di area manapun.

e. Tipe jaringan nekrotik

Tipe jaringan nekrosis didefinisikan sebagai jaringan yang mati. Dapat

berwarna hitam, coklat, abu-abu, atau kuning. Tekstur bisa kering dan kasar,

lembut, lembab, atau berserabut. Karakteristik jaringan nekrotik meliputi

tampilan, warna, konsistensi. Bau bisa ada atau tidak ada. Skor pengkajian

untuk tipe jaringan nekrotik antara lain :


27

1= tidak ada

2= putih atau abu-abu, jaringan mati dan atau slough yang tidak lengket

(mudah dihilangkan)

3= slough mudah dihilangkan

4= lengket, lembut, dan ada jaringan parut palsu berwarna hitam (black

aschar)

5= lengket berbatas tegas, keras, dan ada black eschar.

f. Jumlah jaringan nekrotik

Jaringan nekrotik dapat diukur menggunakan panduan dengan menggunakan

matrik transparan menggunakan lingkaran yang berpusat dibagi menjadi 4

(25%) kuadran yang berbentuk lingkaran untuk membantu menentukan

presentasi luka yang terlibat. Skor pengkajian untuk jumlah jaringan nekrotik

antara lain :

1= tidak tampak

2= <25% dari dasar luka

3= 25% hingga 50% dari dasar luka

4= >50% hingga >75% dari dasar luka

5= 75% hingga 100% dari dasar luka.

g. Tipe eksudat

Skor pengkajian untuk tipe eksudat dibagi menjadi 5, antara lain :


28

1= Tidak ada eksudat

2= berdarah (tipis, berwarna merah terang)

3= serosasanguineous (tipis, berair, berwarna merah pucat)

4= serosa (tipis, berair, jelas)

5= purulen (tipis atau tebal, buram, dan bening).

h. Jumlah eksudat

Jumlah eksudat dapat diukur menggunakan panduan pengukuran matrik

transparan lingkaran konsentrasi dibagi menjadi 4 (25%) kuadran, berbentuk

lingkaran untuk menentukan presentasi pembalut yang dapat menyerap

eksudat. Skor pengkajian untuk jumlah eksudat pada luka, antara lain :

1= kering

2= moist

3= sedikit

4= sedang

5= banyak.

i. Warna kulit di sekitar luka

Warna kulit di sekitar luka dapat mengindikasikan luka lebih lanjut dari

tekanan, gesekan, atau gunting. Karakteristik kulit di sekitar luka sering

merupakan indikasi pertama yang menyebabkan kerusakan jaringan lebih

lanjut. Skor pengkajian untuk warna kulit di sekitar luka, antara lain :
29

1= pink atau normal

2= merah terang bila ditekan

3= putih atau pucat atau hipopigmentasi

4= merah gelap/ abu-abu

5= hitam atau hiperpigmentasi.

j. Jaringan edema

Edema merupakan pembengkakakan yang terjadi pada luka dan sekitarnya.

Kaji jaringan dalam 4 cm tepi luka. Kenali edema dengan menekan jari ke

dalam jaringan dan tunggu selama 5 detik. Saat melepaskan tekanan, jaringan

gagal untuk kembali ke posisi normal, dan lekukan muncul. Ukur seberapa

jauh edema melampaui tepi luka. Skor pengkajian untuk jaringan edema,

antara lain :

1= no swelling atau edema

2= non pitting edema <4mm disekitar luka

3= non pitting edema >4mm disekitar luka

4= pitting edema <4mm disekitar luka

5= krepitasi atau pitting edema >4mm.

k. Pengerasan jaringan tepi

Pengerasan jaringan tepi merupakan ketegasan jaringan yang abnormal

dengan margin. Seiring dengan perubahan warna kulit, pengerasan jaringan


30

tepi merupakan pertanda trauma jaringan akibat tekanan lebih lanjut. Skor

pengkajian untuk pengerasan jaringan tepi, antara lain :

1= tidak ada

2= pengerasan >2 cm di sebagian kecil sekitar luka

3= pengerasan 2-4 cm menyebar <50% di tepi luka

4= pengerasan 2-4 cm menyebar >50% di tepi luka

5= pengerasan >4 cm di seluruh tepi luka.

l. Jaringan granulasi

Jaringan granulasi adalah penanda dari kesehatan luka. Itu adalah tanda fase

proliferasi dari penyembuhan luka dan biasanya akhir dari penutupan luka.

Jaringan granulasi berkembang dari pembuluh darah kecil dan jaringan ikat

ke rongga luka. Skor pengkajian untuk jaringan granulasi pada luka, antara

lain :

1= kulit utuh atau stage 1

2= terang 100% jaringan granulasi

3= terang 50% jaringan granulasi

4= granulasi 25%

5= tidak ada granulasi.

m. Epitelisasi
31

Epitelisasi adalah proses pelepasan epidermal dan muncul sebagai kulit

merah muda atau merah. Epitelisasi pertama diperhatikan selama fase

peradangan atau fase proliferasi dari penyembuhan sebagai jaringan merah

muda yang berpigmen ringan. Skor pengkajian untuk kondisi epitelisasi pada

luka, antara lain :

1= 100% epitelisasi

2= 75%-1005 epitelisasi

3= 50%-75% epitelisasi

4= 25%-50% epitelisasi

5= <25% epitelisasi.

Total skor status luka dengan lembar observasi luka BWAT, antara lain :

1) 1-13 = jaringan sehat

2) 13-60 = luka regenerasi

3) >60 = luka degenerasi.

2. Mempersiapkan Warna Dasar Luka

a. Wound cleansing

Wound cleansing adalah bagian penting dari persiapan luka untuk

menciptakan lingkungan luka yang optimal dengan cara melepaskan benda

asing, mengurangi jumlah bakteri dan mencegah aktivitas biofilm pada

permukaan luka (Wolcott & Fletcher, 2014). Wound cleansing merupakan

komponen penting dan merupakan tujuan standar selama perawatan luka akut

dan kronis, wound cleansing melibatkan penggunaan cairan pembersih yang


32

pemilihannya harus didasarkan pada efektivitas dan kurangnya sitotoksitas

dari larutan pembersih tersebut (Klasinc et al., 2017; Nurbaya et al., 2018).

Adapun beberapa teknik wound cleansing antara lain (Aminuddin et al.,

2020) :

1) Swabbing dan scrubing

Teknik swabbing (usap) dan scrubing (gosok) sering dilakukan pada

luka akut atau kronis. Teknik swabing dan scrubing memungkinkan

untuk melepaskan kotoran yang menempel pada luka dengan mudah.

Namun teknik ini tidak di anjurkan pada luka yang granulasi karena

dapat merusak proses proliferasi jaringan. Alat yang digunakan untuk

mencuci luka dengan teknik swabbing dan scrubing adalah kassa steril

dari daerah yang terkontaminasi sedikit ke terkontaminasi banyak.

2) Penyiraman, irigasi

Teknik penyiraman (showering) adalah teknik pencucian yang paling

sering digunakan. Tekanan yang tepat pada penyiraman, dapat

mengangkat bakteri yang terdapat pada luka, dapat mengurangi

kejadian trauma, dan dapat juga mencegah terjadinya infeksi silang.

Sedangkan teknik irigasi dilakukan pada luka yang memiliki rongga

atau luka yang terdapat pada rongga tubuh misalnya, mulut, hidung,

servix dan lain-lain. Alat yang digunakan untuk mencuci luka dengan

metode irigasi adalah irigasi menggunakan spuit 12 cc dan jarum nomer

22 G dapat menghasilkan tekanan sebesar 13 psi yang dapat digunakan

untuk mengangkat kotoran atau debris pada wound cleansing.

3) Rendam
33

Teknik perendaman biasanya dilakukan pada luka dengan balutan yang

melekat. Teknik ini dapat mengurangi nyeri saat pelepasan balutan.

Teknik ini juga dilakukan pada daerah-daerah yang sukar di jangkau

dengan pinset.

b. Cairan Pencuci Luka NaCl 0,9%

NaCl 0,9% merupakan salah satu cairan isotonis yang bersifat fisiologis, non

toksik dan tidak menimbulkan hipersensitivitas sehingga aman digunakan

untuk tubuh dalam kondisi apapun. Cairan isotonis ini aman untuk tubuh,

tidak iritan, melindungi granulasi jaringan dari kondisi kering, menjaga

kelembaban sekitar luka dan membantu luka menjalani proses penyembuhan,

Selain itu NaCl 0,9% memiliki respon anti inflamasi sehingga dapat

menurunkan gejala nyeri dan eritema yang timbul pada luka, serta

meningkatkan aliran darah menuju area luka, sehingga mempercepat proses

penyembuhan luka (Evangeline et al., 2015). Bahan larutan seperti NaCl

dapat digunakan untuk wound cleansing pada luka, namun tidak semua bahan

pencuci luka memiliki efektivitas bakterisida yang kuat (Nurbaya et al.,

2018). Larutan NaCl ini hanya digunakan untuk mencuci dan merendam luka,

sterilisasi ini sangat penting karena cairan tersebut langsung berhubungan

dengan cairan dan jaringan tubuh yang merupakan tempat infeksi dapat

terjadi dengan mudah (Nurman, 2015). Hal ini sejalan dengan penelitian lain

yang menunjukkan bahwa hasil asuhan keperawatan yang telah dilaksanakan

selama 3 hari pada pasien dengan DFU menggunakan cairan NaCl 0,9 % di

dapatkan hasil yang baik, dimana luka klien mengalami kesembuhan

mencapai 70 persen apabila dilakukan secara komprehensif. Saat dilakukan


34

asuhan keperawatan selama 3 hari, luka DFU pada kaki klien tampak mulai

membaik ditandai dengan luka yang mulai mengering (Hendri, 2019). Wound

cleansing untuk penyembuhan luka perineum pada ibu post partum yang

diberikan 2 kali sehari memiliki efek penyembuhan yang signifikan dan dapat

membantu mempercepat penyebuhan luka (Felina et al., 2020). Hasil analisis

lain didapatkan ada perubahan yang signifikan dengan dilakukannya kompres

NaCl 0,9% dengan intensitas waktu 3 kali sehari selama 2 hari dalam 1 kali

kompres selama 30 menit terhadap phlebitis (Putri et al., 2017). Penelitian

lain menyebutkan bahwa perawatan DFU grade 2-3 yang menggunakan

balutan NaCl 0,9% dilakukan setiap hari selama 3 hari menunjukkan adanya

rata-rata penurunan tiap indikator BWAT 3-4 poin dalam 9 hari (Purnomo et

al., 2014). Berdasarkan pengelolaan yang dilakukan pada pasien perawatan

luka post eksisi abses glutea pada pasien dengan perawatan menggunakan

kompres NaCl 0,9% selama 5 kali perawatan didapatkan warna dasar luka

merah, kondisi luka bersih, panjang luka 2,6 cm dengan kedalaman 1,5 cm,

bersih tidak ada eksudat dan tidak ada bau, kulit disekitar luka tidak tampak

kemerahan, tidak mengeras, tidak berwarna kebiruan, tepi luka halus, tipis,

bersih dan lunak (Yusra & Sofa, 2016).

c. Debridemen

Debridemen adalah menghilangkan jaringan mati juga membersihkan luka

dari kotoran yang berasal dari luar yang termasuk benda asing bagi tubuh.

Caranya yaitu dengan mengompres luka menggunakan cairan atau beberapa

material perawatan luka yang fungsinya utuk menyerap dan mengangkat


35

bagian-bagian luka yang nekrotik (Wesnawa, 2014). Terdapat 4 metode

debridement (Wesnawa, 2014), yaitu :

1) Autolitik

Dilakukan dengan menggunakan balutan oklusif atau semioklusif yang

mempertahankan cairan luka kontak dengan jaringan nekrotik.

Debridement otolitik dapat dilakukan dengan hidrokoloid, hidrogel.

2) Mekanikal

Dilakukan dengan menggunakan balutan seperti anyaman yang melekat

pada luka. Lapisan luar dari luka mengering dan melekat pada balutan

anyaman. Selama proses pengangkatan, jaringan yang melekat pada

anyaman akan diangkat.

3) Enzimatik

Debridement enzimatik meliputi penggunaan salep topikal untuk

merangsang debridement. Debridement dilakukan setelah debridement

surgical atau debridement otolitik dan mekanikal. Debridement

enzimatik direkomendasikan untuk luka kronis.

4) Surgikal

Debridement surgikal adalah pengangkatan jaringan avital dengan

menggunakan skalpel, gunting atau instrumen tajam lain. Keuntungan

debridement surgikal adalah karena bersifat selektif, hanya bagian

avital yang dibuang dan dilakukan di ruang operasi.

Metode debridement yang dipilih tergantung pada jumlah jaringan

nekrotik, luasnya luka, riwayat medis pasien, lokasi luka dan penyakit

sistemik.
36

5) Pemilihan Dressing

Metode perawatan luka yang berkembang saat ini adalah menggunakan

prinsip moisture balance, yang disebutkan lebih efektif dibandingkan

metode konvensional. Perawatan luka menggunakan prinsip moisture

balance ini dikenal sebagai metode modern dressing. Selama ini,

anggapan bahwa suatu luka akan cepat sembuh jika luka tersebut telah

mengering. Namun faktanya, lingkungan luka yang kelembapannya

seimbang memfasilitasi pertumbuhan sel dan proliferasi kolagen dalam

matriks nonseluler yang sehat. Lingkungan yang terlalu lembap dapat

menyebabkan maserasi tepi luka, sedangkan kondisi kurang lembap

menyebabkan kematian sel, tidak terjadi perpindahan epitel dan

jaringan matriks. Perawatan luka modern harus tetap memperhatikan

tiga tahap, yakni mencuci luka, membuang jaringan mati, dan memilih

balutan. Mencuci luka bertujuan menurunkan jumlah bakteri dan

membersihkan sisa balutan lama, debridement jaringan nekrotik atau

membuang jaringan dan sel mati dari permukaan luka. Perawatan luka

konvensional harus sering mengganti kain kasa pembalut luka,

sedangkan perawatan luka modern memiliki prinsip menjaga

kelembapan luka dengan menggunakan bahan seperti hydrogel.

Hydrogel berfungsi menciptakan lingkungan luka tetap lembap,

melunakkan serta menghancurkan jaringan nekrotik tanpa merusak

jaringan sehat, yang kemudian terserap ke dalam struktur gel dan

terbuang bersama pembalut (debridemen autolitik alami). Balutan dapat

diaplikasikan selama tiga sampai lima hari, sehingga tidak sering


37

menimbulkan trauma dan nyeri pada saat penggantian balutan. Jenis

modern dressing lain, antara lain (Kartika, 2015):

a) Hydrogel

Gambar 2.1 Modern Dressing Hidrogel

Hydrogel dapat membantu proses peluruhan jaringan nekrotik.

Berbahan dasar gliserin/air yang dapat memberikan kelembapan,

digunakan sebagai dressing primer dan memerlukan balutan

sekunder (pad/kasa dan transparent film). Dressing ini tepat

digunakan untuk luka nekrotik/berwarna hitam/kuning dengan

eksudat minimal atau tidak ada.

b) Film Dressing

Gambar 2.2 Modern Dressing Film Dressing


38

Jenis balutan ini lebih sering digunakan sebagai secondary

dressing dan untuk luka- luka superfisial dan non-eksudat atau

untuk luka post-operasi. Terbuat dari polyurethane film yang

disertai perekat adhesif; tidak menyerap eksudat. Indikasi: luka

dengan epitelisasi, low exudate, luka insisi. Kontraindikasi: luka

terinfeksi, eksudat banyak.

c) Foam

Gambar 2.3 Modern Dressing Foam

Balutan ini berfungsi untuk menyerap cairan luka yang

jumlahnya sangat banyak (absorbant dressing), sebagai dressing

primer atau sekunder. Terbuat dari polyurethane; non-adherent

wound contact layer, highly absorptive. Indikasi: eksudat sedang

sampai berat. Kontraindikasi: luka dengan eksudat minimal,

jaringan nekrotik hitam.

d) Dressing Antimikrobial
39

Gambar 2.4 Modern Dressing Antimikrobial

Balutan mengandung silver 1,2% dan hydrofiber dengan

spektrum luas termasuk bakteri MRSA (methicillin-resistant

Staphylococcus aureus). Balutan ini digunakan untuk luka kronis

dan akut yang terinfeksi atau berisiko infeksi. Balutan

antimikrobial tidak disarankan di- gunakan dalam jangka waktu

lama dan tidak direkomendasikan bersama cairan NaCl 0,9%.

e) Hydrocolloid

Gambar 2.5 Modern Dressing Hidrokoloid

Balutan ini berfungsi mempertahankan luka dalam suasana

lembap, melindungi luka dari trauma dan menghindarkan luka

dari risiko infeksi, mampu menyerap eksudat tetapi minimal.


40

Digunakan sebagai dressing primer atau sekunder, support

autolisis untuk mengangkat jaringan nekrotik atau slough.

Terbuat dari pektin, gelatin, carboxy- methylcellulose, dan

elastomers. Indikasi: luka berwarna kemerahan dengan

epitelisasi, eksudat minimal. Kontraindikasi: luka terinfeksi atau

luka grade 3-4.

f) Calcium Alginate

Gambar 2.6 Modern Dressing Calcium Alginate

Digunakan untuk dressing primer dan masih memerlukan balutan

sekunder. Membentuk gel di atas permukaan luka; berfungsi

menyerap cairan luka yang berlebihan dan menstimulasi proses

pembekuan darah. Terbuat dari rumput laut yang berubah

menjadi gel jika bercampur dengan cairan luka. Indikasi: luka

dengan eksudat sedang sampai berat. Kontraindikasi: luka dengan

jaringan nekrotik dan kering. Tersedia dalam bentuk lembaran

dan pita, mudah diangkat dan dibersihkan.

g) Antimikrobial Hydrofobik
41

Gambar 2.7 Modern Dressing Antimikrobial Hydrofobik

Antimikrobial Hydrophobic Terbuat dari diakylcarbamoil

chloride, non- absorben, non-adhesif. Digunakan untuk luka

bereksudat sedang – banyak, luka terinfeksi, dan memerlukan

balutan sekunder.

h) Collagen Sponge

Gambar 2.8 Modern Dressing Collagen Sponge

Terbuat dari bahan collagen dan sponge. Digunakan untuk

merangsang percepatan pertumbuhan jaringan luka dengan

eksudat minimal dan memerlukan balutan sekunder.

Penggunaan jenis modern dressing disesuaikan dengan jenis luka. Untuk luka

yang banyak eksudatnya dipilih bahan balutan yang menyerap cairan seperti foam,

sedangkan pada luka yang sudah mulai tumbuh granulasi, diberi gel untuk membuat

suasana lembap yang akan membantu mempercepat penyembuhan luka (Kartika,

2015).
42

2.4 Konsep Daun Bidara Arab

2.4.1 Definisi Daun Bidara Arab

Daun bidara arab atau yang dikenal dengan nama ilmiah ziziphus spina-christi

l. merupakan tanaman yang telah umum digunakan pada traditional chinese

medicine untuk mengobati infeksi kulit hal ini dikarenakan daun bidara arab

memiliki kandungan alkaloid, flavonoid dan tanin yang berfungsi sebagai

antibakteri (Savira & Suharsono, 2013). Ziziphus spina-christi yang dikenal sebagai

christ's thorn jujube, merupakan tanaman asli yang tumbuh di daerah tropis dan

subtropis terutama di Timur Tengah. Ekstraknya penting dalam pengembangan

obat dengan aktivitas farmakologis di Timur Tengah dan Asia Selatan dan Timur

termasuk Iran. Sejak lama tumbuhan ini telah digunakan dalam pengobatan

alternatif untuk pengobatan demam, nyeri, ketombe, luka dan bisul, kondisi

peradangan, asma dan untuk menyembuhkan penyakit mata. Tumbuhan ini terbukti

memiliki aktivitas antibakteri, antijamur, antioksidan, antihiperglikemik, dan

antinosiseptif. Flavonoid dan alkaloid adalah fitokimia utama yang ada dari

tanaman ini (Asgarpanah, 2012). Karena bahan tanamannya yang mudah

dikumpulkan, harganya yang murah dan tersebar luas di banyak negara serta

aktivitas biologis yang luar biasa, tanaman ini telah menjadi obat dan makanan di

beberapa bagian dunia, terutama di seluruh Timur Tengah termasuk Iran.

2.4.2 Kandungan Daun Bidara Arab

Tanaman obat tradisional mampu membuktikan pentingnya bahan alam

untuk berbagai proses pengobatan manusia. Dalam beberapa tahun terakhir, telah
43

terjadi peningkatan minat peneliti terhadap penggunaan bahan alam sebagai

senyawa biologis alam dalam pembuatan obat. Salah satu tumbuhan yang

digunakan sebagai obat oleh masyarakat adalah tanaman bidara (Hasanah et al.,

2019). Survei literatur mengungkapkan bahwa sejumlah alkaloid dan flavonoid

telah ditemukan dan dimiliki oleh sebagian besar spesies ziziphus. Daun tumbuhan

bidara arab ini ini mengandung flavonoid sebagai anti oksidan serta anti inflamasi.

Flavonoid juga memiliki zat efek anti mikroba dan bertanggungjawab dalam

kontraksi luka serta peningkatan kecepatan epitelisasi (Karliana & Wikanta, 2019).

Daun bidara arab juga memiliki kandungan alkaloid sebagai anti bakteri

(Glombitza et al., 1994; Niamat et al., 2012). Kandungan cardiac glycoside

polyphenols (tannin) yang juga sebagai anti bakteri juga ada pada daunnya

(Abalaka et al., 2010; Asgarpanah, 2012). Senyawa christinin yang ada pada

daunnya juga memiliki manfaat sebagai anti bakteri dan dapat diformulasikan

sebagai antiseptik alami (Darusman & Fakih, 2020). Adanya senyawa flavonoid

pada daun bidara arab ditunjukkan dengan adanya endapan berwarna merah arau

jingga, senyawa tanin ditunjukkan dengan adanya endapan berwarna biru

kehitaman atau hijau kehitaman, dan senyawa alkaloid ditunjukan dengan adanya

endapan warna merah bata, merah, jingga dan kuning (Jannah, 2018).

2.4.3 Manfaat Daun Bidara Arab

Penelitian menggunakan metode survey, sebanyak 174 peserta lokal dengan

162 laki-laki (93%) dan 12 perempuan (7%) dengan beragam usia (35 hingga diatas

65 tahun) yang diwawancarai untuk menyebutkan tanaman liar yang pernah

digunakan sebagai obat kepada pewawancara dan kemudian membawa

pewawancara ke tempat-tempat dari mana mereka mengumpulkan tanaman. Hasil


44

survey yang diperoleh bahwa ziziphus spina-christi dan satu tanaman lainnya

memiliki tingkat relative importance (RI) tertinggi (2,0) ditemukan memiliki

khasiat penggunaan terapeutik tertinggi yang dapat digunakan untuk menangani 18

kategori penyakit yang berbeda salah satu kategori penyakit tersebut adalah

masalah kesehatan umum seperti nyeri, sakit kepala, alergi, demam, terbakar

matahari, flu, pilek, astringen, hidangan pembuka, analgesik, penguat tubuh, obat

penenang, dan pencahar (Rambe, 2020). Daun tumbuhan ini aktif melawan bakteri

salmonella typhi, proteus mirabilis, shigella dysenteriae, escherichia coli, K.

pneumonia, B. melitensis, bordetella bronchiseptica dan P. Aeruginosa. Ekstrak

alkohol dari daun juga menunjukkan aktivitas antibakteri yang baik terhadap

staphylococcus aureus (Asgarpanah, 2012). Senyawa christinin yang berasal dari

daun bidara arab (Ziziphus Sphina-Christi L.) telah terbukti mampu menghambat

ketiga makromolekul target pada escherichia coli, dan staphylococcus epidermidis.

Hal ini sejalan dengan bakteri yang paling banyak ditemukan pada DFU berturut-

turut yaitu staphylococcus sp., klebsiela sp., proteus sp., shigella sp., escherichia

coli, dan pseudomonas sp. (Nur & Marissa, 2016). Penelitian yang pernah

dilakukan (Naeem, 2015) dengan menggunakan ekstrak bidara arab yang dioleskan

pada luka sayat kelinci sangat berpengaruh terhadap penyembuhan lukanya, pada

minggu ke-3 kulit kelinci telah muncul folikel rambut dan epitelisasi lengkap.

Penelitian lain mengungkapkan bahwa ekstrak pada daun bidara yang dioleskan

pada luka iris tikus jantan juga berpengaruh, kemerahan luka hilang pada hari ke 4.

Pertemuan antara kedua tepi luka mulai terjadi pada hari ke 6 dan tidak terlihat

adanya infeksi. Penyembuhan luka iris pada tikus ini terjadi selama kurang lebih 8

hari (Karliana & Wikanta, 2019). Daun bidara arab juga dapat dimanfaatkan
45

sebagai bahan tambahan pada sediaan masker gel peel off karena adanya kandungan

flavonoid yang berguna sebagai antioksidan yang bermanfaat untuk pencegahan

penuaan kulit wajah dan mencegah adanya iritasi (Solin, 2019). Percobaan yang

dilakukan 5 orang sukarelawan wanita dengan usia 18-25 tahun dengan pemberian

sediaan sabun cair daun bidara arab yang dioleskan pada telinga bagian belakang

sukarelawan yang dibiarkan selama 24 jam, tidak terlihat adanya perubahan yang

terjadi seperti iritasi pada kulit, gatal, dan perkasaran (Sari, 2018). Simplisia daun

bidara arab yang diektraksi dengan pelarut air lebih banyak menghasilkan

rendemen (kandungan zat yang tertarik pada suatu bahan baku) daripada ekstrak

etanol (Mauludiyah et al., 2020). Penelitian lain menunjukkan bahwa penggunaan

pelarut etanol 95% dalam pembuatan ekstrak bidara arab yang diberikan secara oral

dengan dosis yang digunakan adalah 500 mg/BB mencit, menunjukkan efek

antipiretik yang signifikan. Temuan ini mendukung penggunaan daun tanaman ini

sebagai zat antiinflamasi dan antipiretik (Rambe, 2020; Tanira et al., 1988). Serbuk

daun bidara yang dimaserasi dengan etanol 96%, kemudian ekstrak kental daun

bidara diformulasikan menjadi sediaan tablet dengan metode granulasi basah yang

diberikan secara oral kepada hewan coba tikus putih, hasil penelitian menunjukkan

bahwa formulasi tablet ekstrak daun bidara dengan variasi dosis (75 mg, 100 mg

dan 150 mg) terbukti mampu menurunkan kadar glukosa darah setelah 14 hari masa

Intervensi (Anwar, 2020). Berdasarkan penelitian di atas, penggunaan ekstrak daun

bidara arab untuk berbagai sediaan produk tidak menimbulkan efek samping

kepada hewan coba maupun manusia.


46

2.5 Comfort Theory Kolcaba

Model konsep keperawatan yang terkait dengan pemberian kenyamanan pada

pasien didasarkan pada teori comfort oleh Kolcaba. Comfort atau kenyamanan

adalah pengalaman langsung yang diperkuat dengan adanya kebutuhan akan relief

(kelegaan/ kepuasan), ease (kemudahan), dan trenscendence (trensedensi) (George,

2011; Wirastri et al., 2017). Konsep kenyamanan dibagi menjadi 3 (George, 2011;

Kolcaba, 1991; Wirastri et al., 2017) yaitu :

1. Relief

Didefinisikan sebagai kondisi pasien yang membutuhkan penanganan yang

spesifik dan segera terkait dengan kenyamanan pasien meliputi 4 konteks

kenyamanan (fisik, psikospiritual, lingkungan, dan sosial).

2. Ease

Didefinisikan sebagai keadaan tenang atau kepuasan pasien yang berkaitan

dengan kenyamanan, meliputi 4 konteks kenyamanan (fisik, psikospiritual,

lingkungan, dan sosial).

3. Transcendence

Didefinisikan sebagai bagaimana kondisi/keadaan pasien mampu dalam

mengatasi masalah yang terkait dengan ketidaknyamanan, meliputi 4 konteks

kenyamanan (fisik, psikososial, lingkungan, dan sosial).

4 konteks kenyamanan manusia menurut Kolcaba (George, 2011; Wirastri et

al., 2017) :

1. Physical Comfort (kenyamanan fisik)

Kolcaba menyatakan bahwa kenyamanan fisik adalah yang paling utama.

Berhubungan dengan penyakit seperti rasa nyeri, adanya luka,


47

ketidaknyamanan fisik lainnya. Sehingga diperlukan tindakan untuk

memulihkan kondisi fisik.

2. Psychospiritual Comfort (kenyamanan psikospiritual)

Kenyamanan psikospiritual berhubungan dengan nyaman secara spiritual dan

psikologis yang dipandang secara holistik. Terdapat hubungan antara

pengalaman pikiran, spieitual dan emosi. Maka, dibutuhkan kondisi nyaman

untuk mengatasi stress, rasa khawatir, cemas saat menjalani pengobatan atau

perawatan.

3. Environmental Comfort (kenyamanan lingkungan)

Kenyamanan lingkungan didefinisikan sebagai suatu hal yang berkaitan

dengan pengaruh eskternal. Seperti cahaya, suhu, warna, keramaian, atau

yang lainnya yang akan mempengaruhi proses penyembuhan pasien.

4. Sociocultural Comfort

Kenyamanan sosiokultural berhubungan dengan hubungan interpersonal

dengan keluarga dan hubungan sosial yang akan berdampak terhadap

kenyamanan pasien dalam menjalani perawatan atau pengobatan.

Gambar 2.9 Kerangka Konseptual Comfort Theory Kolcaba (Herlina, 2012).


48

Kerangka konsep comfot theory Kolcaba menjelaskan bahwa (Herlina, 2012) :

1. Healthcare need of patient and family

Perawat mengidentifikasi kebutuhan akan kenyamanan pasien dan anggota

keluarga. Khususnya kebutuhan yang tidak dapat dipenuhi oleh support

system eksternal.

2. Comforting interventions

Perawat menyusun rencana keperawatan untuk memenuhi kebutuhan akan

kenyamanan pasien.

3. Interventing variables

Perawat merancang intervensi dan menentukan keberhasilan intervensi.

4. Enchanced comfort

Bila intervensi kenyamanan dilakukan secara terus menerus, maka secara

teori akan berpengaruh pada peningkatan level kenyamanan. Pasien dan

anggota keluarga akan memiliki keinginan untuk perilaku pencarian

kesehatan (HSBs). HSBs dapat mencakup internal seperti penyembuhan,

fungsi kekebalan tubuh, dll. Dan eksternal seperti kegiatan yang

berhubungan dengan kesehatan hingga kematian yang penuh kedamaian.

Bila pasien dan keluarga telag memiliki HSBs yang kuat sebagai hasil dari

comfort care, perawat dan keluarga akan lebih puas dengan pelayanan

kesehatan.

Kolcaba menyatakan bahwa kenyamanan adalah suatu keadaan telah

terpenuhinya kebutuhan dasar manusia (Immawati et al., 2019). Teori kenyamanan


49

Kolcaba yang berkaitan dengan kebutuhan pasien akan kenyamanan dapat

diaplikasikan pada asuhan keperawatan pasien yang mengalami kerusakan

integritas kulit (Mahayati, 2020). Intervensi yang dilakukan mengacu pada 3

kategori (George, 2011); (Herlina, 2012), antara lain :

1. Technical comfort measures

Suatu intervensi keperawatan yang menangani keadaan homeostatis

(mekanisme yang dilakukan makhluk hidup untuk mempertahankan kondisi

konstan agar tubuhnya dapat berfungsi secara normal, meskipun terjadi

perubahan pada dalam atau di luar tubuh). Tindakan ini digunakan untuk

mempertahankan atau memulihkan fungsi fisik dan kenyamanan hingga

mencegah terjadinya komplikasi.

2. Coaching

Intervensi yang dilakukan untuk mengurangi rasa ansietas/ kecemasan dan

memberikan kepastian akan informasi, menanamkan harapan,

mendengarkan, dan membantu rencana realistik dari pasien yang diharapkan

di masa yang akan datang.

3. Comfort food for the soul

Memberikan intervensi keperawatan yang tidak terduga tetapi diapresiasi

oleh pasien atau tindakan yang dapat menenangkan jiwa. Saran untuk jenis

intervensi ini adalah pijat, adaptasi lingkungan, imajinasi terbimbing, terapi

musik, sentuhan terapeutik, dan kehadiran.


50

2.6 Hubungan Antar Konsep

Penderita DM tipe 2 selain memiliki kadar gula darah yang tinggi dan tidak

terkendali juga berisiko mengalami komplikasi, salah satunya adalah DFU.

Penderita yang berisiko mengalami DFU adalah penderita yang memiliki 3 faktor

yaitu adanya neuropati perifer, iskemik, dan infeksi. Munculnya DFU ditandai

dengan adanya kerusakan pada jaringan kulit. Kondisi ini menyebabkan pasien

mengalami ketidaknyamanan dalam konteks fisik karena keutuhan jaringan kulit

telah mengalami kerusakan. Dibutuhkan tindakan untuk meningkatkan

kenyamanan sesuai dengan comfort theory Kolcaba. Comfort theory Kolcaba

mencakup physical comfort, psychospiritual comfort, environmental comfort, dan

sociocultural comfort. Pasien yang memiliki luka DFU membutuhkan kenyamanan

fisik (physical comfort) akibat rasa ketidaknyamanan pada fisiknya melalui

intervensi keperawatan. Tidak hanya intervensi yang dilakukan untuk kenyamanan

secara fisik seperti manajemen luka (technical comfort measures), tetapi juga

diimbangi dengan intervensi yang lain seperti sentuhan terapeutik hingga

menurunkan kecemasan pada pasien. Salah satu intervensi keperawatan yang

memberikan kenyamanan fisik yaitu dengan dilakukannya manajemen perawatan

luka diabetes, salah satu manajemen perawatan luka diabetes adalah dengan

memberikan intervensi wound celansing. Pemberian tindakan perawatan luka

dengan wound cleansing menggunakan bahan herbal merupakan salah satu aspek

dalam usaha memberikan kenyamanan fisik kepada pasien. Daun bidara arab

memiliki banyak sekali kandungan yang bermanfaat bagi luka DFU, seperti

kandungan alkaloid sebagai anti mikroba, flavonoid sebagai anti oksidan dan anti

inflamasi, tannin sebagai anti bakteri, dan christinin sebagai anti bakteri yang dapat
51

menjadi antiseptik alami bagi luka. Dibutuhkan wound cleansing menggunakan air

rebusan daun bidara arab yang dapat menurunkan jumlah bakteri, menurunkan

peradangan pada luka, memperbaiki jaringan yang rusak, serta meningkatkan

kenyamanan pasien saat dilakukan perawatan luka dan setelah dilakukan perawatan

luka dari fase penyembuhan luka inflamasi hingga proliferasi. Wound cleansing

menggunakan daun bidara arab akan berpengaruh tehadap proses penyembuhan

luka karena dengan menggunakan air rebusan daun bidara arab dapat

memaksimalkan penyembuhan luka yang akan berpengaruh terhadap kondisi

kenyamanan fisik, sehingga meningkatkan kualitas hidup penderita DFU dan

seorang perawat memberi asuhan keperawatan serta memberikan intervensi untuk

meningkatkan kenyamanan. Karena kenyamanan pasien merupakan perhatian

pertama dan terakhir seorang perawat.


BAB 3

KERANGKA KONSEPTUAL DAN HIPOTESIS

3.1 Kerangka Konseptual


Diabetes Mellitus Tipe 2

Neuropati Perifer Iskemik Infeksi

DFU Comfort Theory


Kolcaba : Physical
comfort.
Manajemen Perawatan Luka

1. Pengkajian Luka Intervensi


Kolcaba: Technical
Bates Jensen 2. Wound Bed Preparation : comfort measures
Wound Assessment
1. Wound
a. Woundcleansing
cleansing: Daun bidara arab
Tool
b. Debridement
3. Wound dressing selection

Alkaloid Flavonoid Tannin Christinin

Anti Bakteri Anti Anti Bakteri/


Bakteri Antiseptik
Anti Anti Alami
Oksidan Inflamasi

Penangkal
Radikal Bebas

Proses Penyembuhan Luka

Sumber : (Aini & Aridiana, 2016; Arisanty, 2013; Darusman & Fakih, 2020;
Khoerunisa, 2019; Savira & Suharsono, 2013)
Keterangan :
: Diteliti : Tidak Diteliti : Berhubungan : Berpengaruh
Gambar 3.1 Kerangka Konsep Penelitian Efektivitas Wound cleansing Daun
Bidara Arab (Ziziphus Spina-Christi L.) Terhadap Penyembuhan
Diabetic Foot Ulcer di Rumah Luka Surabaya.

52
53

3.2 Hipotesis

Hipotesis dalam penelitian ini adalah wound cleansing menggunakan daun

bidara arab efektif terhadap penyembuhan diabetic foot ulcer di Rumah Luka

Surabaya.
BAB 4

METODE PENELITIAN

Bab metode penelitian ini menjelaskan : 1) Desain Penelitian, 2) Kerangka

Kerja, 3) Waktu dan Tempat Penelitian, 4) Populasi, Sampel dan Desain Sampling,

5) Identifikasi Variabel, 6) Definisi Operasional, 7) Pengumpulan Data, Pengolahan

dan Analisis Data, 8) Etika Penelitian.

4.1 Desain Penelitian

Desain penelitian untuk mengetahui efektivitas wound cleansing daun

bidara arab terhadap penyembuhan diabetic foot ulcer di Rumah Luka Surabaya

adalah dengan menggunakan desain penelitian Quasy experimental design dengan

pendekatan Pre-Post control group design dimana dalam penelitian ini, waktu

pengukuran efektifitas wound cleansing dengan rebusan daun bidara arab terhadap

penyembuhan diabetic foot ulcer dinilai dari waktu ke waktu.

Tabel 4.1 Desain Penelitian Quasy Experimen Efektivitas Wound cleansing Daun
Bidara Arab Terhadap Penyembuhan Diabetic Foot Ulcer Di Rumah
Luka Surabaya
Subjek Pre-Test Intervensi Post-Test

K-A O I-A O1-A

K-B O - O1-B

Time 1 Time 2 Time 3

54
55

Keterangan:
K-A : Subjek kelompok intervensi.
K-B : Subjek kelompok kontrol.
O : Observasi luka diabetik menggunakan Bates-Jensen Wound
Assessment Tool.
I-A : Intervensi (kelompok Intervensi) wound cleansing menggunakan
air rebusan daun bidara arab.
I-B : Intervensi (kelompok kontrol) wound cleansing menggunakan
NaCl.
O1-A : Observasi setelah perawatan luka pada kelompok Intervensi.
O1-B : Observasi setelah perawatan luka pada kelompok kontrol.
- : Tidak ada Intervensi.
56

4.2 Kerangka Kerja

Populasi
Semua pasien penderita DFU sebanyak 80 orang di Rumah Luka Surabaya

Teknik Sampling
Menggunakan Penelitian dengan pendekatan Simple Random Sampling

Sampel
Sebagian pasien DFU yang berjumlah 40 orang yang memenuhi kriteria
inklusi dan eksklusi

Pengumpulan Data

Hari ke-1 Pre Test


Bates Jensen Wound Assesment Tool (BWAT)

Kelompok Intervensi Kelompok Kontrol


Hari ke
1,4,7, Diberikan wound Diberikan wound
10,13,16. cleansing daun bidara cleansing NaCl
arab

Hari ke Post Test


7 & 16.
Bates Jansen Assesment Tool (BWAT)

Pengolahan Data
Editing, Coding, Processing, Cleaning

Analisa Data
Uji Wilcoxon dan Mann-Whitney

Hasil dan Kesimpulan

Gambar 4.1 Kerangka Kerja Penilaian Efektivitas Wound cleansing Daun Bidara
Arab (Ziziphus Spina- Christi L.) terhadap Penyembuhan Diabetic
Foot Ulcer Di Rumah Luka Surabaya.
57

4.3 Waktu dan Tempat Penelitian

Penelitian ini dilakukan pada 3 Juni - 16 Juni 2022 di Rumah Luka Surabaya

karena di tempat tersebut memiliki banyak pasien penderita diabetic foot ulcer tipe

2-3.

4.4 Populasi, Sampel, dan Sampling Desain

4.4.1 Populasi
Populasi target dalam penelitian ini adalah pasien dengan Diabetic Foot

Ulcer di Rumah Luka Surabaya dengan jumlah 80 orang.

4.4.2 Sampel

Sampel dalam penelitian ini adalah pasien dengan Diabetic Foot Ulcer di

Rumah Luka Surabaya berjumlah 40 orang yang memenuhi syarat sampel. Kriteria

dalam penelitian ini adalah:

1. Kriteria Inklusi :

a. Pasien dengan DFU derajat 2-3

b. Gula darah sewaktu < 200 mg/dL

c. Pasien yang teratur suntik insulin atau konsumsi obat oral

d. Pasien dengan berat badan normal (IMT= 18,5-22,9).

2. Kriteria Eksklusi :

a. Pasien yang mengundurkan diri saat pengambilan data

b. Pasien yang tidak bersedia dilakukan wound cleansing menggunakan air

rebusan daun bidara arab

c. Pasien yang memiliki komplikasi (luka terinfeksi yang bertambah berat,

sepsis).
58

4.4.3 Besar Sampel

Perhitungan besar sampel menggunakan rumus Federer:

(𝑛 − 1)(𝑡 − 1) ≥ 15

Keterangan :

𝑛 : Jumlah sampel

𝑡 : Jumlah kelompok

Jadi besar sampel adalah :

(𝑛 − 1)(2 − 1) ≥ 15

(𝑛 − 1). 1 ≥ 15

1𝑛 − 1 ≥ 15

1𝑛 ≥ 15 + 1

1𝑛 ≥ 16

16
𝑛≥
1

𝑛 ≥ 16

Jadi, sampel yang digunakan dalam penelitian ini sebanyak 20 orang per kelompok.

4.4.4 Teknik Sampling

Teknik sampling dalam penelitian ini yaitu probability sampling dengan

pendekatan simple random sampling. Pemilihan sampel dengan simple random

sampling adalah teknik penetapan sampel dengan cara acak tanpa memperhatikan

strata yang ada dalam anggota populasi tersebut.


59

4.5 Identifikasi Variabel

4.5.1 Variabel Bebas (Independent Variable)

Variabel bebas (Independent) pada penelitian ini adalah wound cleansing

daun bidara arab (ziziphus spina- christi l.).

4.5.2 Variabel Tergantung (Dependent Variable)

Variabel tergantung (Dependent) pada penelitian ini adalah penyembuhan

diabetic foot ulcer.


60

4.6 Definisi Operasional

Perumusan definisi operasional pada penelitian ini diuraikan dalam tabel

sebagai berikut :

Tabel 4.2 Definisi Operasional Efektifitas Wound cleansing Daun Bidara Arab
(Ziziphus Spina-Christi L.) Terhadap Penyembuhan Diabetic Foot Ulcer
Di Rumah Luka Surabaya.
Variabel Definisi Indikator Alat Ukur Skala Skor
Operasional
Variabel Wound Pembuatan cairan [Link] - -
Independent: cleansing wound cleansing perawatan luka
wound diabetic foot menggunakan daun dengan
cleansing ulcer derajat 2 bidara arab rebusan daun
daun bidara & 3 dilakukan dilakukan dengan bidara arab
arab setiap 3 hari menyiapkan air pada kelompok
sekali selama 2 sebanyak 1 L dan Intervensi
minggu daun bidara arab
dengan sebanyak 20 [Link]
menggunakan lembar daun perawatan luka
air rebusan ukuran sedang, lalu pada kelompok
daun bidara direbus selama 10- kontrol
arab 15 menit hingga air
surut menjadi 500
ml. Wound
cleansing
dilakukan 3 hari
sekali selama 2
minggu.
Variabel Perubahan Bates Jensen Lembar Rasio 1-60
Dependent: kondisi luka Wound Assesment observasi Bates
penyembuhan diabetik mulai Tool yang meliputi Jensen Wound
diabetic foot dari proses : Assesment
ulcer inflamasi, Ukuran, Tool (BWAT)
sampai kedalaman, tepi
proliferasi luka, terowongan,
ditandai tipe jaringan
dengan nekrotik, jumlah
penurunan skor jaringan nekrotik,
pada tipe eksudat,
Bates Jensen jumlah eksudat,
Wound warna kulit sekitar
Assessment luka, edema
Tool (BWAT) perifer, pengerasan
jaringan tepi,
jaringan granulasi,
epitelisasi.
61

4.7 Pengumpulan, Pengolahan, dan Analisa Data

4.7.1 Pengumpulan Data

1. Instrumen Penelitian

a. Instrumen data demografi menggunakan kuesioner yang berisi usia, jenis

kelamin, pekerjaan, lama menderita DM, riwayat keturunan/ keluarga

penderita DM, rutinitas olahraga/ latihan fisik, konsumsi obat oral dan

injeksi insulin, pola makan, dan gula darah sewaktu.

b. Instrumen wound cleansing dengan rebusan daun bidara arab menggunakan

SOP perawatan luka dengan rebusan daun bidara arab (20 lembar daun

bidara arab ukuran sedang atau setara dengan 4 gram dan 1 liter air).

c. Instrumen penyembuhan Diabetic Foot Ulcer menggunakan lembar

pengkajian luka Bates-Jensen Wound Assessment Tools. Item yang dinilai

antara lain : ukuran, kedalaman, tepi luka, terowongan, tipe jaringan

nekrotik, jumlah jaringan nekrotik, tipe eksudat, jumlah eksudat, warna kulit

sekitar luka, edema perifer/ tepi jaringan, pengerasan jaringan tepi, jaringan

granulasi, dan epitelisasi.

2. Prosedur Pengumpulan dan Pengolahan Data

a. Peneliti mendapatkan surat pernyataan laik etik penelitian kesehatan (ethical

approval) dari komite etik penelitian (KEP) STIKES Hang Tuah Surabaya

dengan nomor sertifikat PE/21/VI/2022/KEP/SHT

b. Peneliti mengajukan surat izin pengambilan data kepada STIKES Hang Tuah

Surabaya.
62

c. Surat izin diserahkan ke Rumah Luka Surabaya untuk mendapatkan perizinan

melakukan pengambilan data di Rumah Luka Surabaya.

d. Langkah awal, peneliti melakukan pendekatan kepada calon responden. Calon

responden diberikan penjelasan tentang penelitian dengan membaca lembar

information for consent dan diberikan waktu untuk para calon responden

bertanya jika ada yang kurang dipahami atau kurang dimengerti. Jika calon

responden sudah paham dan mengerti responden diminta untuk menandatangani

lembar informed consent. Apabila calon responden setuju untuk menjadi

responden, calon responden diminta untuk menandatangani lembar persetujuan.

Peneliti tidak memaksa responden untuk bersedia mengikuti penelitian.

e. Bagi calon responden yang setuju untuk menjadi responden dibagi menjadi dua

kelompok, yakni kelompok kontrol dan kelompok intervensi.

f. Pembagian kelompok sampel diambil secara Simple Random Sampling,

dilakukan dengan pengundian, dengan cara: responden yang datang diberikan

nomor secara berurutan 1 sampai 40. Kemudian setelah mendapatkan sampel

yang berjumlah 40, sampel dibagi kembali menjadi 2 kelompok yaitu kelompok

kontrol dan kelompok intervensi/ Intervensi yang masing-masing terdiri dari 20

responden, bagi responden yang mendapatkan nomer ganjil dimasukkan ke

dalam kelompok kontrol dan responden yang mendapatkan nomer genap

dimasukkan kedalam kelompok Intervensi.

g. Sebelum diberi Intervensi terlebih dahulu dilakukan pre-test pengukuran luka

menggunakan Bates-Jensen Wound Assessment Tool (BWAT) pada kelompok

Intervensi dan kelompok kontrol.


63

h. Saat intervensi, kelompok Intervensi diberi wound cleansing menggunakan air

rebusan daun bidara arab dan kelompok kontrol wound cleansing menggunakan

NaCl dilakukan setiap 3 hari sekali selama 2 minggu.

i. Sesudah diberi Intervensi, dilakukan post-test dengan observasi penyembuhan

luka menggunakan Bates-Jensen Wound Assessment Tool (BWAT) pada

kelompok Intervensi dan kelompok kontrol. Selanjutnya peneliti menganalisa

efektivitas penggunaan air rebusan daun bidara arab dan NaCl terhadap

peningkatan penyembuhan pada pasien dengan DFU di Rumah Luka Surabaya.

j. Setelah semua selesai peneliti mengucapkan terima kasih dan memberikan

reward kepada responden atas kesediaanya terlibat dalam penelitian.

4.7.2 Analisa Data

1. Pengolahan Data

a. Setelah peneliti mendapatkan lembar data demografi yang telah diisi oleh

responden, peneliti akan memeriksa ulang kelengkapan jawaban yang telah

diisi. Lalu peneliti akan mengukur jumlah atau frekuensi tiap kategori

(kelompok intervensi dan kelompok kontrol) dan presentase tiap kategori

yang telah diberi kode lalu disajikan dalam bentuk tabel.

b. Pada uji ke 1 dan 2 setelah lembar observasi BWAT terisi hingga hari ke-

10, peneliti memberi kode angka yang terdiri atas 13 item (ukuran luka,

kedalaman, tepi luka, terowongan, tipe jaringan nekrotik, jumlah jaringan

nekrotik, tipe eksudat, jumlah eksudat, warna kulit sekitar luka, jaringan

edema, pengerasan jaringan tepi, jaringan granulasi, dan epitelisasi) dan tiap

item diisi menggunakan skor 1-5 sesuai kondisi luka. Setelah pengkodean

telah dilakukan dan skor telah diisi, peneliti menghitung jumlah skor tiap
64

responden dengan angka 1-60. Pengolahan selanjutnya adalah melakukan

uji normalitas menggunakan uji kolmogorof smirnov dengan hasil kelompok

pre intervensi p= 0,093 dan post intervensi p=0,018 . sedangkan pada

kelompok pre kontrol p=0,000 dan post kontrol p=0,016. Lalu peneliti akan

melanjutkan ke uji willcoxon untuk mengukur pre dan post pada masing-

masing kelompok dengan hasil p = 0,000 pada kelompok intervensi maupun

kelompok kontrol.

c. Pada uji ke 3, peneliti melakukan uji pada kelompok post intervensi dan

kelompok post kontrol untuk menentukan apakah ada perbedaan yang

signifikan antara kelompok intervensi dan kelompok kontrol. Peneliti

menggunakan uji mann-whitney untuk mengetahui perbedaan antara

kelompok intervensi dan kelompok kontrol dengan hasil p=0,614.

2. Analisis Statistik

a. Analisa Univariat

Hasil penelitian ini akan dianalisa secara univariat dengan menggunakan

perangkat lunak (software) statistik. Analisa univariat dilakukan untuk

memperoleh gambaran distribusi frekuensi masing-masing variabel yang

diteliti, analisa univariat dilakukan untuk menggambarkan jumlah atau

frekuensi tiap kategori (n) dan presentase tiap kategorik (%) yang disajikan

dalam bentuk tabel.

b. Analisa Bivariat

Penelitian ini menggunakan uji normalitas kolmogrof smirnov dengan hasil

p=0,000 yang artinya data tersebut tidak berdistribusi normal. Untuk

mengetahui perbedaan sebelum dan sesudah diberi Intervensi menggunakan


65

uji wilcoxon karnea distribusi tidak normal dengan skala data rasio. Untuk

mengetahui efektivitas kelompok kontrol dan perlakukan menggunakan uji

mann whitney karena distribusi tidak normal.

4.8 Etika Penelitian

Penelitian dilakukan dengan menggunakan beberapa prosedur etika

penelitian keperawatan, meliputi :

1. Informed Consent (Lembar Persetujuan Responden)

Sebelum lembar persetujuan diberikan kepada responden, terlebih dahulu

peneliti menjelaskan maksud dan tujuan riset yang akan dilakukan serta

dampak yang mungkin terjadi selama dan sesudah pengumpulan data, calon

responden yang bersedia diteliti, maka harus menandatangani lembar

persetujuan tersebut, tetapi jika menolak untuk diteliti maka peneliti tidak

akan memaksa dan tetap menghormati hak-haknya.

2. Anonimity (Tanpa Nama)

Menjaga kerahasiaan identitas responden, peneliti tidak mencantumkan nama

responden pada lembar pengumpulan data atau kuesioner yang diisi oleh

responden. Lembar tersebut hanya diberi kode tertentu.

3. Confidentially (Kerahasiaan)

Kerahasiaan informasi yang diberikan oleh responden dijamin oleh peneliti.


BAB 5

HASIL DAN PEMBAHASAN

Pada bab ini akan diuraikan tentang hasil penelitian dan pembahasan sesuai

dengan tujuan penelitian tentang Efektivitas Wound cleansing Daun Bidara Arab

(Ziziphus Spina- Christi L.) Terhadap Penyembuhan Diabetic Foot Ulcer yang

dilaksanakan di Rumah luka Surabaya pada tanggal 3 Juni – 16 Juni 2022.

5.1 Hasil Penelitian

Pengambilan data dilakukan pada tanggal 3 Juni – 16 Juni 2022 dengan

jumlah 40 responden pasien DFU di Rumah Luka Surabaya. Pengumpulan data

dalam penelitian ini diperoleh dengan cara melakukan perawatan luka modern

dressing dengan wound cleansing menggunakan rebusan daun bidara arab (Ziziphus

Spina- Christi L.) pada pasien DFU yang sebelumnya telah disetujui oleh

responden. Penyajian data meliputi gambaran umum lokasi penelitian, data umum

(karakteristik responden), dan data khusus (variabel penelitian). Hasil penelitian

kemudian dibahas dengan mengacu pada tujuan dan landasan teori pada bab 2.

5.1.1 Gambaran Umum Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilakukan di Rumah Luka Surabaya yang berada di Jalan

Nyamplung Lor RT 05 RW 03, Wonokalang, Kecamatan Wonoayu, Kabupaten

Sidoarjo. Rumah Luka Surabaya di Sidoarjo didukung oleh perawat professional

dan berpengalaman. Jam pelayanan Di Rumah Luka Surabaya adalah Hari Senin

sampai Minggu (Pukul : 18.00 - 22.00).

66
67

Rumah Luka Surabaya memiliki tenaga profesional, antara lain :

1. 1 Perawat lulusan S1

2. 1 Perawat lulusan D3

3. 1 Dokter umum

4. 1 Apoteker

5. 1 Asisten perawat.

Rumah Luka Surabaya ini memiliki 2 lantai. Lantai 1 digunakan sebagai

tempat pelayanan perawatan luka di Rumah Luka Surabaya terdapat 2 bed, 2 meja

kecil disamping tiap bed sebagai tempat alat dan bahan untuk perawatan luka, 1

meja panjang sebagai tempat konsultasi dengan perawat, dan laci obat serta tersedia

1 kamar mandi dan 1 ruang penyimpanan barang. Lantai 2 digunakan sebagai

tempat istirahat dan gudang. Terdapat teras dengan 2 kursi panjang sebagai tempat

tunggu pelayanan rawat luka, dan 1 kursi roda. Pasien di Rumah Luka Surabaya

cabang Sidoarjo memiliki pasien rata – rata 80 orang per hari

Alasan peneliti memilih mengambil data penelitian di Rumah Luka Surabaya

cabang Sidoarjo adalah karena rata – rata pengunjung lebih banyak dibandingkan

Rumah Luka Surabaya cabang yang lain, sehingga dapat memenuhi kriteria inklusi

penelitian. Pelayanan Di Rumah Luka Surabaya yaitu :

1. Pelayanan pasien periksa umum

2. Perawatan luka modern, seperti :

a. Luka Diabetes

b. Luka Post Operasi

c. Luka Khitan

d. Luka Kanker
68

e. Luka Bakar

f. Luka Dekubitus

g. Luka Lainnya

3. Pelayanan Khitan

5.1.2 Gambaran Umum Subyek Penelitian

Subyek penelitian ini adalah penderita DFU derajat 2-3 yang berada di

Rumah Luka Surabaya Cabang Sidoarjo dengan subyek penelitian pada kelompok

intervensi 20 orang dan kelompok kontrol 20 orang. Data demografi diperoleh

melalui lembar observasi BWAT yang diisi melalui pengkajian pada penderita DFU

derajat 2-3.

5.1.3 Data Umum Hasil Penelitian

Data umum dalam penelitian ini berisi karakteristik responden yang meliputi

jenis kelamin, pekerjaan, lama menderita diabetes, riwayat keturunan keluarga

penderita DM, latihan fisik, konsumsi obat diabetes atau suntik insulin, pola makan,

gula darah saat pengambilan data. Responden pada penelitian ini yaitu penderita

DFU derajat 2-3 yang berada di Rumah Luka Surabaya cabang Sidoarjo yang

berjumlah 40 responden yang kemudian dibagi menjadi 2 yaitu 20 responden pada

kelompok Intervensi dan 20 responden kelompok kontrol. Data disajikan secara

lengkap dalam bentuk tabel berikut :


69

Tabel 5.1 Karakteristik Responden diabetic foot ulcer di Klinik Rumah Luka
Surabaya Pada Tanggal 3 Juni – 16 Juni 2022.
Frekuensi
Kelompok Kelompok
Karakteristik Intervensi Kontrol
No. Responden n % n %
1 Usia 30-40 Tahun 0 0% 0 0%
40-50 Tahun 4 20% 4 20%
50-60 Tahun 9 45% 10 50%
>60 Tahun 7 35% 6 30%
2 Jenis Kelamin Perempuan 6 30% 4 20%
Laki-Laki 14 70% 16 80%
3 Pekerjaan IRT 5 25% 4 20%
Petani 0 0% 0 0%
Wiraswasta 1 5% 0 0%
Swasta 2 10% 0 0%
PNS/TNI/POLRI 0 0% 1 5%
Pensiunan 7 35% 6 30%
Lainnya 5 25% 9 45%
4 Lama < 12 Bulan 0 0% 1 5%
Menderita 1-2 Tahun 6 30% 7 35%
DM
2-3 Tahun 4 20% 7 35%
> 3 Tahun 10 10% 5 45%
5 Riwayat Ada 20 100% 19 95%
Keturunan
Keluarga Tidak 0 0% 1 5%
6 Rutin Ya 0 0% 0 0%
Olahraga/
Latihan Fisik Tidak 20 100% 20 100%
7 Teratur Ya 20 100% 20 100%
Konsumsi
Obat
Diabetes/
Suntik Insulin Tidak 0 0% 0 0%
8 Menjaga Pola Ya 20 100% 20 100%
Makan Tidak 0 0% 0 0%
9 Gula Darah <200 mg/dL 20 100% 20 100%
Acak >200 mg/dL 0 0% 0 0%

Tabel 5.1 menunjukkan bahwa, mayoritas responden berusia 50-60 tahun,

berjenis kelamin laki-laki dengan jenis pekerjaan lainnya (buruh). Lama menderita

DM lebih dari 3 tahun dan memiliki riwayat keturunan keluarga penderita DM.

Mayoritas responden tidak rutin melakukan olahraga atau latihan fisik, teratur
70

konsumsi obat minum diabetes atau suntik insulin, menjaga pola makan, dan

memiliki gula darah acak <200mg/dL.

5.1.4 Data Khusus


1. Penyembuhan DFU Sebelum dan Sesudah Wound cleansing Pada
Kelompok Intervensi Menggunakan Rebusan Daun Bidara Arab

Tabel 5.2 Karakteristik Penyembuhan DFU Sebelum dan Sesudah Wound


cleansing Pada Kelompok Intervensi Menggunakan Rebusan Daun
Bidara Arab (Ziziphus Spina-Christi L.) di Rumah Luka Surabaya
Tanggal 3 Juni-16 Juni 2022 (n = 20).
Indikator Modus Modus Δ
No.
BWAT Pre- Intervensi Post- Intervensi (Penurunan Skor)
1 Ukuran 2 2 0
2 Kedalaman 3 3 0
3 Tepi Luka 3 2 1
4 Terowongan 2 2 0
5 Tipe Jaringan
3 2 1
Nekrotik
6 Jumlah
Jaringan 3 2 1
Nekrotik
7 Tipe Eksudat 3 2 1
8 Jumlah
4 3 1
Eksudat
9 Warna Kulit
3 2 1
Sekitar Luka
10 Edema
2 1 1
Perifer
11 Pengerasan
2 1 1
Jaringan Tepi
12 Jaringan
5 5 0
Granulasi
13 Epitelisasi 5 5 0
Jumlah Responden 20 20
Uji Wilcoxon p= 0,000

Berdasarkan tabel 5.2 menunjukkan bahwa modus (skor yang paling sering

muncul) pada hasil observasi tiap indikator menggunakan BWAT sesudah

dilakukan wound cleansing menggunakan rebusan daun bidara arab menunjukkan

adanya penurunan skor pada indikator tepi luka pada hari ke- 16. Penurunan skor
71

pada tipe jaringan nekrotik, jumlah jaringan nekrotik, tipe eksudat, jumlah eksudat,

dan pengerasan jaringan tepi terjadi pada hari ke- 4. Sedangkan penurunan skor

pada indikator warna kulit sekitar luka dan edema perifer terjadi pada hari ke- 7.

Berdasarkan uji statistik dengan uji Wilcoxon menunjukkan bahwa p = 0,000 ≤ α =

0,05 yang artinya terdapat perbaikan penyembuhan DFU pada kelompok intervensi

yang menggunakan wound cleansing rebusan daun bidara arab.

2. Penyembuhan DFU Sebelum dan Sesudah Wound cleansing Pada


Kelompok Kontrol Menggunakan NaCl
Tabel 5.3 Karakteristik Penyembuhan DFU Sebelum dan Sesudah Wound
cleansing Pada Kelompok Kontrol Menggunakan NaCl di Rumah
Luka Surabaya Tanggal 3 Juni-16 Juni 2022 (n = 20).
Indikator Modus Modus Δ
BWAT Pre- Kontrol Post- Kontrol (Penurunan Skor)
1 Ukuran 2 2 0
2 Kedalaman 3 3 0
3 Tepi Luka 4 4 0
4 Terowongan 1 1 0
5 Tipe Jaringan
3 2 1
Nekrotik
6 Jumlah Jaringan
3 2 1
Nekrotik
7 Tipe Eksudat 2 2 0
8 Jumlah Eksudat 4 3 1
9 Warna Kulit
4 3 1
Sekitar Luka
10 Edema Perifer 2 1 1
11 Pengerasan
3 2 1
Jaringan Tepi
12 Jaringan
5 5 0
Granulasi
13 Epitelisasi 5 5 0
Jumlah Responden 20 20
Uji Wilcoxon p= 0,000

Berdasarkan tabel 5.3 menunjukkan bahwa modus (skor yang paling sering

muncul) pada hasil observasi tiap indikator menggunakan BWAT sesudah

dilakukan wound cleansing menggunakan NaCl menunjukkan adanya penurunan

skor pada indikator tipe jaringan nekrotik, jumlah jaringan nekrotik terjadi pada hari
72

ke- 7. Sedangkan penurunan skor pada indikator jumlah eksudat, warna kulit sekitar

luka, edema perifer terjadi pada hari ke- 4. Berdasarkan uji statistik dengan uji

Wilcoxon menunjukkan bahwa p = 0,000 ≤ α = 0,05 yang artinya terdapat perbaikan

penyembuhan DFU pada kelompok intervensi yang menggunakan wound cleansing

NaCl.

3. Penyembuhan DFU Pada Kelompok Intervensi Menggunakan Daun


Bidara Arab dan Kelompok Kontrol Menggunakan NaCl.
Tabel 5.4 Karakteristik Penyembuhan DFU Pada Kelompok Intervensi
Menggunakan Daun Bidara Arab dan Kelompok Kontrol
Menggunakan NaCl di Rumah Luka Surabaya Tanggal 3 Juni-16 Juni
2022 (n = 40).
Indikator Modus Modus
No.
BWAT Post- Intervensi Post- Kontrol
1 Ukuran 2 2
2 Kedalaman 3 3
3 Tepi Luka 2 4
4 Terowongan 2 1
Tipe Jaringan
5 2 2
Nekrotik
Jumlah Jaringan
6 2 2
Nekrotik
7 Tipe Eksudat 2 2
8 Jumlah Eksudat 3 3
Warna Kulit
9 2 3
Sekitar Luka
10 Edema Perifer 1 1
Pengerasan
11 1 2
Jaringan Tepi
Jaringan
12 5 5
Granulasi
13 Epitelisasi 5 5
Jumlah Responden 20 20
Uji Mann Whitney p= 0,586

Berdasarkan tabel 5.4 menunjukkan bahwa adanya perbedaan penurunan

modus (skor yang paling sering muncul) pada hasil observasi tiap indikator

menggunakan BWAT sesudah dilakukan wound cleansing menggunakan daun


73

bidara arab dan NaCl. Penurunan skor pada intervensi daun bidara arab terdapat

pada indikator tepi luka, warna kulit sekitar luka, dan pengerasan jaringan tepi.

Sedangkan penurunan skor pada wound cleansing NaCl terdapat pada indikator

terowongan. Berdasarkan uji statistik dengan uji Mann Whitney menunjukkan

bahwa p = 0,586 ≥ α = 0,05 yang artinya tidak ada perbedaan efektivitas

penyembuhan DFU pada kelompok intervensi yang menggunakan wound cleansing

NaCl dan kelompok kontrol yang menggunakan NaCl.

5.2 Pembahasan

Sub pembahasan dibahas mengenai interpretasi hasil penelitian dengan

tinjauan pustaka hasil-hasil yang relevan. Penelitian ini dirancang untuk

memberikan gambaran interpretasi dan mengungkapkan efektivitas wound

cleansing daun bidara arab (ziziphus spina- christi l.) terhadap penyembuhan

diabetic foot ulcer di Rumah Luka Surabaya.

5.2.1 Analisa Penyembuhan DFU Sebelum dan Sesudah Wound cleansing

Pada Kelompok Intervensi Menggunakan Daun Bidara Arab

Berdasarkan tabel 5.2 menunjukkan bahwa modus (skor yang paling sering

muncul) pada hasil observasi tiap indikator menggunakan BWAT sesudah

dilakukan wound cleansing menggunakan rebusan daun bidara arab menunjukkan

adanya penurunan skor pada indikator tepi luka pada hari ke- 16. Penurunan skor

pada tipe jaringan nekrotik, jumlah jaringan nekrotik, tipe eksudat, jumlah eksudat,

dan pengerasan jaringan tepi terjadi pada hari ke- 4. Sedangkan penurunan skor

pada indikator warna kulit sekitar luka dan edema perifer terjadi pada hari ke- 7.

Berdasarkan uji statistik dengan uji Wilcoxon menunjukkan bahwa p = 0,000 ≤ α =


74

0,05 yang artinya terdapat perbaikan penyembuhan DFU pada kelompok intervensi

yang menggunakan wound cleansing rebusan daun bidara arab.

Daun bidara arab memiliki 4 komposisi utama, yaitu alkaloid sebagai anti-

bakteri, flavonoid sebagai antioksidan dan anti-inflamasi, tannin sebagai anti

bakteri, dan christinin sebagai anti bakteri/ antiseptik alami. Faktor- faktor yang

mempengaruhi penyembuhan diabetic foot ulcer antara lain usia, kerutinan

olahraga/ aktivitas fisik, keteraturan konsumsi obat/ suntik insulin, menjaga pola

makan, dan gula darah yang terkontrol. Metode perawatan luka yang dilakukan

untuk membantu penyembuhan luka adalah dilakukannya wound cleansing

menggunakan rebusan daun bidara arab selama 3 hari sekali.

Wound cleansing merupakan komponen penting dan merupakan tujuan

standar selama perawatan luka akut dan kronis, wound cleansing melibatkan

penggunaan cairan pembersih yang pemilihannya harus didasarkan pada efektivitas

dan kurangnya sitotoksitas dari larutan pembersih tersebut (Nurbaya et al., 2018).

Daun bidara arab ini telah digunakan dalam pengobatan alternatif untuk pengobatan

luka dan telah terbukti memiliki aktivitas antibakteri, antijamur, antioksidan,

antihiperglikemik, dan antinosiseptif (Asgarpanah, 2012). Daun bidara arab

merupakan tanaman yang mudah dikumpulkan, harganya yang murah dan tersebar

luas di banyak negara serta aktivitas biologis yang luar biasa. Daun bidara arab telah

menjadi obat dan makanan di beberapa bagian dunia, terutama di seluruh Timur

Tengah termasuk Iran. Daun bidara arab memiliki kandungan alkaloid, flavonoid

dan tanin yang berfungsi sebagai antibakteri (Savira & Suharsono, 2013).
75

Daun bidara arab ini ini mengandung flavonoid sebagai anti oksidan serta anti

inflamasi. Flavonoid juga memiliki zat efek anti mikroba dan bertanggungjawab

dalam kontraksi luka serta peningkatan kecepatan epitelisasi (Karliana & Wikanta,

2019). Daun bidara arab juga memiliki kandungan alkaloid sebagai anti bakteri

(Glombitza et al., 1994; Niamat et al., 2012). Kandungan cardiac glycoside

polyphenols (tannin) yang juga sebagai anti bakteri juga ada pada daun bidara arab

(Abalaka et al., 2010; Asgarpanah, 2012). Senyawa christinin yang ada pada

daunnya juga memiliki manfaat sebagai anti bakteri dan dapat diformulasikan

sebagai antiseptik alami (Darusman & Fakih, 2020). Daun tumbuhan ini aktif

melawan bakteri salmonella typhi, proteus mirabilis, shigella dysenteriae,

escherichia coli, K. pneumonia, B. melitensis, bordetella bronchiseptica dan P.

Aeruginosa. Ekstrak alkohol dari daun juga menunjukkan aktivitas antibakteri yang

baik terhadap staphylococcus aureus (Asgarpanah, 2012). Senyawa christinin yang

berasal dari daun bidara arab (Ziziphus Sphina-Christi L.) telah terbukti mampu

menghambat 2 makromolekul target pada escherichia coli, dan staphylococcus

epidermidis. Hal ini sejalan dengan bakteri yang paling banyak ditemukan pada

DFU berturut-turut yaitu staphylococcus sp., klebsiela sp., proteus sp., shigella sp.,

escherichia coli, dan pseudomonas sp. (Nur & Marissa, 2016).

Teori ini sejalan dengan penelitian (Naeem, 2015) dengan menggunakan

ekstrak bidara arab yang dioleskan pada luka sayat kelinci sangat berpengaruh

terhadap penyembuhan lukanya, pada minggu ke-3 kulit kelinci telah muncul

folikel rambut dan epitelisasi lengkap. Penelitian lain mengungkapkan bahwa

ekstrak pada daun bidara yang dioleskan pada luka iris tikus jantan juga

berpengaruh, kemerahan luka hilang pada hari ke 4. Pertemuan antara kedua tepi
76

luka mulai terjadi pada hari ke 6 dan tidak terlihat adanya infeksi. Penyembuhan

luka iris pada tikus ini terjadi selama kurang lebih 8 hari (Karliana & Wikanta,

2019). Daun bidara arab juga dapat dimanfaatkan sebagai bahan tambahan pada

sediaan masker gel peel off karena adanya kandungan flavonoid yang berguna

sebagai antioksidan yang bermanfaat untuk pencegahan penuaan kulit wajah dan

mencegah adanya iritasi (Solin, 2019). Percobaan yang dilakukan 5 orang

sukarelawan wanita dengan usia 18-25 tahun dengan pemberian sediaan sabun cair

daun bidara arab yang dioleskan pada telinga bagian belakang sukarelawan yang

dibiarkan selama 24 jam, tidak terlihat adanya perubahan yang terjadi seperti iritasi

pada kulit, gatal, dan perkasaran (Sari, 2018). Simplisia daun bidara arab yang

diektraksi dengan pelarut air lebih banyak menghasilkan rendemen (kandungan zat

yang tertarik pada suatu bahan baku) daripada ekstrak etanol (Mauludiyah et al.,

2020). Penelitian lain menunjukkan bahwa penggunaan pelarut etanol 95% dalam

pembuatan ekstrak bidara arab yang diberikan secara oral dengan dosis yang

digunakan adalah 500 mg/BB mencit, menunjukkan efek antipiretik yang

signifikan. Temuan ini mendukung penggunaan daun tanaman ini sebagai zat

antiinflamasi dan antipiretik (Rambe, 2020; Tanira et al., 1988). Serbuk daun bidara

yang dimaserasi dengan etanol 96%, kemudian ekstrak kental daun bidara

diformulasikan menjadi sediaan tablet dengan metode granulasi basah yang

diberikan secara oral kepada hewan coba tikus putih, hasil penelitian menunjukkan

bahwa formulasi tablet ekstrak daun bidara dengan variasi dosis (75 mg, 100 mg

dan 150 mg) terbukti mampu menurunkan kadar glukosa darah setelah 14 hari masa

Intervensi (Anwar, 2020). Bukti hasil penelitian diatas menunjukkan bahwa daun

bidaa arab dapat membantu mempercepat penyembuhan DFU.


77

Eksudat yang disebabkan oleh infeksi bakteri memiliki kaitan yang erat

terhadap kegagalan penyembuhan luka. Bila pada luka terdapat kelebihan beban

bakteri yang menyebabkan infeksi, maka tubuh akan bereaksi dengan

meningkatkan produksi limfosit. Produksi limfosit yang berlebihan ditambah

dengan adanya tumpukan bakteri dan jaringan mati akan membentuk lapisan yang

menutupi area luka sehingga menghambat regenerasi sel dibawahnya (Abidin et al.,

2012). Peneliti berasumsi bahwa penyembuhan DFU dengan wound cleansing

menggunakan daun bidara arab berpengaruh pada indikator tipe eksudat dan jumlah

eksudat dipengaruhi oleh kandungan alkaloid, tannin, dan christinin yang

bermanfaat sebagai antibakteri dan antiseptik alami. Sehingga dapat membantu

menurunkan infeksi penyebab eksudat.

Respon inflamasi ditandai dengan adanya warna merah pada permukaan kulit

karena adanya aliran darah yang berlebihan pada daerah cedera, panas yang

merupakan respon inflamasi pada permukaan tubuh dan rasa nyeri karena adanya

penekanan jaringan akibat edema. Selain itu juga menimbulkan edema karena

pengiriman cairan dan selsel dari sirkulasi darah ke daerah interstitial (Dawud et

al., 2014). Peneliti berasumsi bahwa penurunan skor pada warna kulit sekitar luka

dan edema perifer disebabkan oleh kandungan flavonoid pada daun bidara arab

yang berfungsi sebagai anti-inflamasi. Anti-inflamasi akan membantu mengurangi

peradangan, sehingga mampu membantu menurunkan skor pada indikator tersebut.

Penurunan skor pada tepi luka tidak hanya membutuhkan penanganan faktor

lokal tetapi juga faktor sistemik. Reepitelisasi membutuhkan vaskularisasi yang

baik, suplai oksigen dan nutrisi yang cukup (Wintoko et al., 2020). Peneliti
78

berasumsi bahwa menjaga pola makan serta diit merupakan salah satu upaya untuk

membantu menyatukan tepi luka.

Penurunan skor pada tipe jaringan nekrotik, jumlah jaringan nekrotik, dan

pengerasan jaringan tepi disebabkan oleh penggunaan dressing. Perawatan luka

modern memiliki prinsip menjaga kelembapan luka dengan menggunakan bahan

seperti hydrogel. Menciptakan lingkungan luka tetap lembap, melunakkan serta

menghancurkan jaringan nekrotik tanpa merusak jaringan sehat, yang kemudian

terserap ke dalam struktur gel dan terbuang bersama pembalut (Kartika, 2015).

Peneliti berasumsi bahwa melakukan perawatan luka saja tidak dapat menjamin

dapat menyembuhkan luka, namun juga harus menggunakan dressing yang tepat

untuk membantu penyembuhan luka.

Penyembuhan luka atau penurunan skor pada tiap indikator juga dapat

dipengaruhi oleh faktor eksternal lain yang berpengaruh dalam mempercepat

penyembuhan luka selain perawatan luka. Faktor- faktor yang mempengaruhi

perbaikan penyembuhan DFU berdasarkan hasil crosstabulation yaitu salah

satunya usia. Berdasarkan hasil crosstabulation antara usia dengan skor

penyembuhan DFU didapatkan sebagian besar responden berusia 50-60 tahun

sebanyak 9 orang (45%). Manusia mengalami perubahan fisiologis yang secara

drastis menurun dengan cepat setelah usia 45 tahun. Saat usia lanjut, sel kulit pun

berkurang keelastisitasannya diakibatkan dari menurunnya cairan vaskularisasi di

kulit dan berkurangnya kelenjar lemak yang semakin mengurangi elastisitas kulit.

(Yunus, 2015). Hal ini sejalan dengan penelitian (Damayanti, 2014) yang

menyatakan bahwa terdapat hubungan antara usia dengan penyembuhan luka sectio

caesarea. Peneliti berasumsi bahwa kulit yang sudah tidak elastis akan mengurangi
79

kemampuan regenerasi sel, luka akan sulit menutup sehingga dapat memperlambat

penyembuhan luka.

Faktor- faktor lain yang mempengaruhi perbaikan penyembuhan DFU

berdasarkan hasil crosstabulation yaitu kerutinan dalam olahraga/ latihan fisik.

Berdasarkan hasil crosstabulation antara kerutinan latihan fisik dengan skor

penyembuhan DFU didapatkan sebagian besar responden cenderung tidak

melakukan latihan fisik sebanyak 20 orang (100%). Latihan fisik merupakan faktor

penting dalam penyembuhan luka karena dapat membantu memperlancar peredaran

darah, sehingga dapat memperbaiki jaringan pada DFU. Latihan fisik yang

dilakukan secara kontinyu dan serius akan bermanfaat bagi penderita DFU, seperti

menurunkan kadar glukosa darah dan memperbaiki sirkulasi darah. Pada saat

latihan, maka otot berkontraksi terus menerus dan mengaktifkan sistem pembuluh

darah serta pompa vena sehingga sirkulasi darah akan mengalami peningkatan.

Fungsi saraf dan pemompaan darah kejantung menjadi lebih aktif sehingga

mengaktifkan suplai oksigen dan nutrisi dengan baik. (Nugroho & Puspitasari,

2018). Hal ini sejalan dengan penelitian (Suryani et al., 2015) yang menunjukkan

bahwa terjadi penurunan glukosa darah sebesar 8,1% pada 9 wanita penderita DM

setelah mengikuti program olahraga selama 4 minggu dan meningkat menjadi

12,5% selama 16 minggu. Peneliti berasumsi bahwa olahraga teratur dalam jangka

waktu lama berpengaruh besar untuk menurunkan kadar glukosa darah lebih besar.

Faktor- faktor lain yang mempengaruhi perbaikan penyembuhan DFU

berdasarkan hasil crosstabulation yaitu keteraturan obat, pola makan, dan gula

darah yang terkontrol. Berdasarkan hasil crosstabulation antara keteraturan

konsumsi obat/ injeksi insulin dengan skor penyembuhan DFU menunjukkan


80

bahwa semua responden teratur minum obat/ injeksi insulin sebanyak 20 orang

(100%), antara pola makan dengan skor penyembuhan DFU menunjukkan bahwa

semua responden menjaga pola makan sebanyak 20 orang (100%), dan antara gula

darah acak dan penyembuhan DFU menunjukkan bahwa semua responden

memiliki gula darah acak <200 mg/dL sebanyak 20 orang (100%).

Salah satu upaya yang bisa dilakukan untuk menjaga gula darah tetap normal

adalah dengan menggunakan obat diabetes atau sering disebut Obat Hipoglikemik

Oral (OHO) dan insulin (Atmaja et al., 2017). Kepatuhan terhadap pengobatan

menjadi tantangan pada pasien DM dikarenakan DM merupakan penyakit kronis

yang dikaitkan dengan risiko komordibitas dan membutuhkan perubahan gaya

hidup, terutama setelah dimulainya terapi insulin (Sutawardana et al., 2020).

Peneliti berasumsi bahwa injeksi insulin menjadi keharusan karena hormon insulin

pada tubuh penderita DM tidak bisa dihasilkan atau tidak dapat digunakan dengan

baik. Hormon insulin diperlukan untuk mengangkut glukosa dari darah masuk ke

sel. Bila tidak mampu melakukan pengangkutan glukosa ke sel, maka pasien DM

mempunyai kadar glukosa tinggi dalam darahnya. Namun, juga harus diimbangi

dengan menjaga pola makan yang dilakukan dengan pengaturan pola makan pada

penderita DM yang harus memperhatikan pedoman 3J yaitu tepat jumlah kebutuhan

kalori, tepat jenis indeks glikemik, dan tepat jadwal makan yaitu 3 kali makan

utama, 2-3 kali makan selingan dengan interval lebih sering dalam porsi ukuran

sedang. Selain itu juga melakukan diet yang dianjurkan dan konsumsi obat diabetes.

Hal-hal diatas merupakan tujuan untuk mencapai dan mempertahankan kadar

glukosa darah tetap normal. Darah penderita DM yang sebelumnya pekat akan
81

menjadi lebih encer sehingga dapat meningkatkan aliran darah menuju area luka

untuk membantu memperbaiki penyembuhan luka DFU.

5.2.2 Analisa Penyembuhan DFU Sebelum dan Sesudah Wound cleansing

Pada Kelompok Kontrol Menggunakan NaCl

Berdasarkan tabel 5.3 menunjukkan bahwa modus (skor yang paling sering

muncul) pada hasil observasi tiap indikator menggunakan BWAT sesudah

dilakukan wound cleansing menggunakan NaCl menunjukkan adanya penurunan

skor pada indikator tipe jaringan nekrotik, jumlah jaringan nekrotik terjadi pada hari

ke- 7. Sedangkan penurunan skor pada indikator jumlah eksudat, warna kulit sekitar

luka, edema perifer terjadi pada hari ke- 4. Berdasarkan uji statistik dengan uji

Wilcoxon menunjukkan bahwa p = 0,000 ≤ α = 0,05 yang artinya terdapat perbaikan

penyembuhan DFU pada kelompok intervensi yang menggunakan wound cleansing

NaCl.

NaCl memiliki 4 komposisi utama yang dapat membantu melembapkan

lingkungan sekitar luka, anti-inflamasi, menurunkan gejala nyeri dan eritema, serta

membantu meningkatkan aliran daerah menuju area luka. Faktor- faktor yang

mempengaruhi penyembuhan diabetic foot ulcer antara lain usia, kerutinan

olahraga/ aktivitas fisik, keteraturan konsumsi obat/ suntik insulin, menjaga pola

makan, dan gula darah yang terkontrol. Metode perawatan luka yang dilakukan

untuk membantu penyembuhan luka adalah dilakukannya wound cleansing

menggunakan NaCl selama 3 hari sekali

Wound cleansing merupakan komponen penting dan merupakan tujuan

perawatan luka akut dan kronis, wound cleansing melibatkan penggunaan cairan
82

pembersih yang pemilihannya harus didasarkan pada efektivitas dan kurangnya

sitotoksitas dari larutan pembersih tersebut (Nurbaya et al., 2018). NaCl 0,9%

merupakan larutan isotonis aman untuk tubuh, tidak iritan, melindungi granulasi

jaringan dari kondisi kering, menjaga kelembaban sekitar luka (Evangeline et al.,

2015). NaCl 0,9% memiliki respon anti inflamasi sehingga dapat menurunkan

gejala nyeri dan eritema yang timbul pada luka, serta meningkatkan aliran darah

menuju area luka. NaCl 0,9% merupakan salah satu cairan isotonis yang bersifat

fisiologis, non toksik dan tidak menimbulkan hipersensitivitas sehingga aman

digunakan untuk tubuh dalam kondisi apapun. Cairan isotonis ini aman untuk

tubuh, tidak iritan, melindungi granulasi jaringan dari kondisi kering, menjaga

kelembaban sekitar luka dan membantu luka menjalani proses penyembuhan,

Selain itu NaCl 0,9% memiliki respon anti inflamasi sehingga dapat menurunkan

gejala nyeri dan eritema yang timbul pada luka, serta meningkatkan aliran darah

menuju area luka, sehingga mempercepat proses penyembuhan luka (Evangeline et

al., 2015).

Bahan larutan seperti NaCl dapat digunakan untuk wound cleansing pada

luka, namun tidak semua bahan pencuci luka memiliki efektivitas bakterisida yang

kuat (Nurbaya et al., 2018). Larutan NaCl ini hanya digunakan untuk mencuci dan

merendam luka, sterilisasi ini sangat penting karena cairan tersebut langsung

berhubungan dengan cairan dan jaringan tubuh yang merupakan tempat infeksi

dapat terjadi dengan mudah (Nurman, 2015). Pemberian kompres NaCl 0,9% pada

luka dapat menurunkan gejala edema karena cairan normal salin dapat menarik

cairan dari luka melalui proses osmosis (Evangeline et al., 2015). Hal ini sejalan

dengan penelitian lain yang menunjukkan bahwa hasil asuhan keperawatan yang
83

telah dilaksanakan selama 3 hari pada pasien dengan DFU menggunakan cairan

NaCl 0,9 % di dapatkan hasil yang baik, dimana luka klien mengalami kesembuhan

mencapai 70 persen apabila dilakukan secara komprehensif. Saat dilakukan asuhan

keperawatan selama 3 hari, luka DFU pada kaki klien tampak mulai membaik

ditandai dengan luka yang mulai mengering (Hendri, 2019).

Hasil analisis lain didapatkan ada perubahan yang signifikan dengan

dilakukannya kompres NaCl 0,9% dengan intensitas waktu 3 kali sehari selama 2

hari dalam 1 kali kompres selama 30 menit terhadap phlebitis (Putri et al., 2017).

Penelitian lain menyebutkan bahwa perawatan DFU grade 2-3 yang menggunakan

balutan NaCl 0,9% dilakukan setiap hari selama 3 hari menunjukkan adanya rata-

rata penurunan tiap indikator BWAT 3-4 poin dalam 9 hari (Purnomo et al., 2014).

Berdasarkan pengelolaan yang dilakukan pada pasien perawatan luka post eksisi

abses glutea pada pasien dengan perawatan menggunakan kompres NaCl 0,9%

selama 5 kali perawatan didapatkan warna dasar luka merah, kondisi luka bersih,

panjang luka 2,6 cm dengan kedalaman 1,5 cm, bersih tidak ada eksudat dan tidak

ada bau, kulit disekitar luka tidak tampak kemerahan, tidak mengeras, tidak

berwarna kebiruan, tepi luka halus, tipis, bersih dan lunak (Yusra & Sofa, 2016).

Peneliti berasumsi bahwa, penyembuhan luka atau penurunan skor pada tiap

indikator tipe jaringan nekrotik, jumlah jaringan nekrotik, dan pengerasan jaringan

disebabkan oleh kandungan NaCl yang dapat mempertahankan area luka untuk

tetap lembap. Sedangkan penurunan skor pada indikator warna kulit sekitar luka

dan edema perifer disebabkan oleh kandungan NaCl sebagai anti-inflamasi yang

dapat membantu menurunkan peradangan dan edema melalui cara osmosis. Serta
84

penurunan skor pada indikator jumlah eskudat disebabkan dressing yang dipakai

pada pasien DFU sebagai antibakteri seperti iodsorb, sufratule, ataupun isorbat.

Penyembuhan luka atau penurunan skor pada tiap indikator luka juga dapat

dipengaruhi oleh faktor eksternal lain yang berpengaruh dalam mempercepat

penyembuhan luka selain perawatan luka. Faktor- faktor yang mempengaruhi

perbaikan penyembuhan DFU berdasarkan tabel 5.1 karakteristik data demografi

responden yaitu teratur konsumsi obat diabetes/ suntik insulin, menjaga pola

makan, dan gula darah yang terkontrol. Injeksi insulin menjadi keharusan karena

hormon insulin pada tubuh penderita DM tidak bisa dihasilkan atau tidak dapat

digunakan dengan baik. Hormon insulin diperlukan untuk mengangkut glukosa dari

darah masuk ke sel. Bila tidak mampu melakukan pengangkutan glukosa ke sel,

maka pasien DM mempunyai kadar glukosa tinggi dalam darahnya.

Upaya untuk menurunkan kadar gula darah juga harus diimbangi dengan

menjaga pola makan yang dilakukan dengan pengaturan pola makan pada penderita

DM yang harus memperhatikan pedoman 3J yaitu tepat jumlah kebutuhan kalori,

tepat jenis indeks glikemik, dan tepat jadwal makan yaitu 3 kali makan utama, 2-3

kali makan selingan dengan interval lebih sering dalam porsi ukuran sedang. Selain

itu juga melakukan diet yang dianjurkan dan konsumsi obat diabetes. Hal-hal diatas

merupakan tujuan untuk mencapai dan mempertahankan kadar glukosa darah tetap

normal. Darah penderita DM yang sebelumnya pekat akan menjadi lebih encer

sehingga dapat meningkatkan aliran darah menuju area luka untuk membantu

memperbaiki penyembuhan luka DFU.


85

Bukti hasil penelitian diatas didapatkan bahwa selain perawatan luka, ada

faktor lain yang mempengaruhi penyembuhan luka yaitu semua responden 20 orang

(100%) teratur konsumsi obat diabetes ataupun suntik insulin, 20 orang (100%)

menjaga pola makan, dan 20 orang (100%) mengontrol gula darah. Namun, terdapat

indikator BWAT yang tidak mengalami penurunan skor akibat 20 orang (100%)

tidak melakukan aktivitas fisik.

5.2.3 Analisa Penyembuhan DFU Sesudah Wound cleansing pada Kelompok

Intervensi dan Kelompok Kontrol.

Berdasarkan tabel 5.4 menunjukkan bahwa adanya perbedaan penurunan

modus (skor yang paling sering muncul) pada hasil observasi tiap indikator

menggunakan BWAT sesudah dilakukan wound cleansing menggunakan daun

bidara arab dan NaCl. Penurunan skor pada kelompok intervensi menggunakan

wound cleansing daun bidara arab terdapat indikator tepi luka, warna kulit sekitar

luka, dan pengerasan jaringan tepi. Sedangkan penurunan skor pada kelompok

kontrol menggunakan wound cleansing NaCl terdapat pada indikator terowongan.

Berdasarkan uji statistik dengan uji Mann Whitney menunjukkan bahwa p = 0,586

≥ α = 0,05 yang artinya tidak ada perbedaan efektivitas penyembuhan DFU pada

kelompok intervensi yang menggunakan wound cleansing NaCl dan kelompok

kontrol yang menggunakan NaCl.

Daun bidara arab memiliki 4 komposisi utama, yaitu alkaloid sebagai anti-

bakteri, flavonoid sebagai antioksidan dan anti-inflamasi, tannin sebagai anti

bakteri, dan christinin sebagai anti bakteri/ antiseptik alami. Sedangkan NaCl

memiliki 4 komposisi utama yang dapat membantu melembapkan lingkungan

sekitar luka, anti-inflamasi, menurunkan gejala nyeri dan eritema, serta membantu
86

meningkatkan aliran daerah menuju area luka. Faktor- faktor yang mempengaruhi

penyembuhan diabetic foot ulcer antara lain usia, kerutinan olahraga/ aktivitas fisik,

keteraturan konsumsi obat/ suntik insulin, menjaga pola makan, dan gula darah

yang terkontrol. Metode perawatan luka yang dilakukan untuk membantu

penyembuhan luka adalah dilakukannya wound cleansing menggunakan rebusan

daun bidara arab dan NaCl selama 3 hari sekali.

Daun tumbuhan bidara arab memiliki kandungan flavonoid sebagai anti

oksidan serta anti inflamasi. Flavonoid juga memiliki zat efek anti mikroba dan

bertanggungjawab dalam kontraksi luka serta peningkatan kecepatan epitelisasi

(Karliana & Wikanta, 2019). Kandungan lain yang dimiliki oleh daun bidara arab

adalah alkaloid sebagai anti bakteri (Glombitza et al., 1994; Niamat et al., 2012).

Kandungan cardiac glycoside polyphenols (tannin) yang juga sebagai anti bakteri

juga ada pada daunnya (Abalaka et al., 2010; Asgarpanah, 2012). Senyawa

christinin yang ada pada daun bidara arab juga memiliki manfaat sebagai anti

bakteri dan dapat diformulasikan sebagai antiseptik alami (Darusman & Fakih,

2020).

NaCl 0,9% merupakan salah satu cairan isotonis yang bersifat fisiologis, non

toksik dan tidak menimbulkan hipersensitivitas sehingga aman digunakan untuk

tubuh dalam kondisi apapun. Cairan isotonis ini aman untuk tubuh, tidak iritan,

melindungi granulasi jaringan dari kondisi kering, menjaga kelembaban sekitar

luka dan membantu luka menjalani proses penyembuhan, Selain itu NaCl 0,9%

memiliki respon anti inflamasi sehingga dapat menurunkan gejala nyeri dan eritema

yang timbul pada luka, serta meningkatkan aliran darah menuju area luka, sehingga

mempercepat proses penyembuhan luka (Evangeline et al., 2015).


87

Kedua cairan tersebut memiliki kesamaan yaitu memiliki kandungan sebagai

anti-inflamasi. Saat terluka, proses terjadinya inflamasi dimulai dengan adanya

eritema (kemerahan) yang ditandai dengan berkumpulnya darah pada daerah cidera

jaringan akibat pelepasan mediator kimia tubuh. Lalu terjadi edema

(pembengkakan) ditandai dengan merembesnya plasma ke dalam jaringan intestinal

pada tempat cidera dan adanya kalor (panas) disebabkan oleh bertambahnya

pengumpulan darah atau karena pirogen yang menimbulkan demam. Lalu dolor

(nyeri) disebabkan oleh pelepasan mediator-mediator inflamasi. Obat-obat yang

memiliki kandungan anti-inflamasi memiliki aktivitas menekan atau mengurangi

peradangan. Aktivitas ini dapat dicapai melalui berbagai cara yaitu menghambat

pembentukan mediator radang prostaglandin, menghambat migrasi sel–sel leukosit

ke daerah radang, menghambat pelepasan prostaglandin dari sel–sel tempat

pembentukannya (Praja & Oktarlina, 2017).

Keunggulan daun bidara arab adalah memiliki kandungan alkaloid dan

christinin sebagai anti bakteri dan anti septik. Sifat anti bakteri pada daun bidara

arab ini telah terbukti dapat menghambat dua bakteri pada DFU yaitu escherichia

coli, dan staphylococcus epidermidis (Nur & Marissa, 2016). Daun bidara arab juga

memiliki keunggulan memiliki kandungan flavonoid sebagai anti oksidan dan anti-

inflamasi. Suplementasi luka dengan antioksidan akan membantu dalam

pencegahan kerusakan akibat oksidasi sel, sehingga meningkatkan penyembuhan

luka. Hal ini dibuktikan bahwa pemberian suplemen antioksidan pada luka diabetes

dapat melindungi sel-sel tersebut dari stres oksidatif (jumlah radikal bebas di dalam

tubuh melebihi kapasitas tubuh) yang dihasilkan akibat kadar glukosa yang tinggi

(Arief & Widodo, 2018).


88

Keunggulan cairan NaCl adalah sebagai cairan fisiologis atau cairan isotonis

yaitu memiliki konsentrasi zat terlarut yang sama dengan tubuh manusia. NaCl juga

memiliki kandungan yang dapat menjaga luka tetap lembap. Lingkungan luka yang

kelembapannya seimbang akan memfasilitasi pertumbuhan sel dan proliferasi

kolagen, sedangkan lingkungan yang terlalu lembap dapat menyebabkan maserasi

tepi luka dan kondisi kurang lembap menyebabkan kematian sel. Menciptakan

lingkungan luka tetap lembap dapat membantu melunakkan serta menghancurkan

jaringan nekrotik tanpa merusak jaringan sehat (Kartika, 2015).

Faktor-faktor yang dapat menghambat proses penyembuhan luka ada

berbagai macam. Manusia mengalami perubahan fisiologis yang secara drastis

menurun dengan cepat setelah usia 45 tahun. Saat usia lanjut, sel kulit pun

berkurang keelastisitasannya diakibatkan dari menurunnya cairan vaskularisasi di

kulit dan berkurangnya kelenjar lemak yang semakin mengurangi elastisitas kulit.

Kulit yang tidak elastis akan mengurangi kemampuan regenerasi sel ketika luka

akan dan mulai menutup sehingga dapat memperlambat penyembuhan luka (Yunus,

2015). Faktor lainnya adalah kurang latihan fisik seperti latihan ROM Ankle.

Latihan fisik merupakan faktor penting dalam penyembuhan luka karena dapat

membantu memperlancar peredaran darah, sehingga dapat memperbaiki jaringan

pada DFU. Latihan fisik yang dilakukan secara kontinyu dan serius akan

bermanfaat bagi penderita DFU, seperti menurunkan kadar glukosa darah dan

memperbaiki sirkulasi darah. Pada saat latihan fisik, otot berkontraksi terus

menerus dan mengaktifkan sistem pembuluh darah serta pompa vena sehingga

sirkulasi darah akan mengalami peningkatan. Fungsi saraf dan pemompaan darah

ke jantung menjadi lebih aktif sehingga mengaktifkan suplai oksigen dan nutrisi
89

dengan baik. Latihan fisik merupakan tatalaksana utama dalam penyembuhan DFU

(Nugroho & Puspitasari, 2018).

Faktor lainnya seperti nutrisi dibutuhkan untuk membantu sintesis kolagen,

meningkatkan kecepatan epitelisasi dalam proliferasi sel dan kadar gula darah yang

terkontrol agar nutrisi dapat masuk ke dalam sel. Adapun faktor lama perawatan

luka, Waktu yang dibutuhkan selama perawatan dalam penyembuhan DFU adalah

2-3 minggu untuk stadium I, 3 minggu-2 bulan untuk stadium II, ≥2 bulan untuk

stadium III, dan 3-7 bulan untuk stadium IV. Meskipun ada taksiran waktu dalam

proses penyembuhan luka hal tersebut masih bersifat relatif karena masih ada hal

lain yang mempengaruhi, seperti keadaan hygiene luka, terdapat infeksi luka atau

tidak, penggantian balutan (Yunus, 2015).

Berdasarkan pengamatan peneliti, penyembuhan DFU dengan wound

cleansing menggunakan daun bidara arab dan NaCl yang diukur menggunakan

pengkajian luka BWAT menunjukkan adanya perbaikan luka pada beberapa

indikator. Pada kelompok intervensi yang mengalami penurunan skor lebih baik

terdapat pada indikator tepi luka pada hari ke- 16, warna kulit sekitar luka pada hari

ke- 7, dan pengerasan jaringan tepi pada hari ke-4. Penurunan skor pada tiap

indikator yaitu tepi luka dengan nilai modus 2, warna kulit sekitar luka dengan nilai

modus 2 dan pengerasan jaringan tepi dengan nilai modus 1. Sedangkan pada

kelompok kontrol tidak mengalami penurunan skor lebih baik. Namun, pada tabel

5.4 terdapat perbedaan modus pada indikator terowongan tetapi tidak ada yang

lebih baik dikarenakan oleh skor BWAT yang tidak mengalami penurunan saat

diberikan daun bidara arab maupun NaCl.


90

Peneliti berasumsi bahwa, perbedaan penurunan skor pada tiap indikator

kedua kelompok dipengaruhi oleh perbedaan kandungan pada daun bidara arab dan

NaCl. Daun bidara arab memiliki kandungan dengan sifat anti-bakteri dan anti-

septik yang kuat yang bermanfaat untuk melawan bakteri penyebab infeksi pada

DFU. Sedangkan NaCl memiliki kandungan yang dapat menjaga kelembapan luka,

sehingga dapat membantu melunakkan serta menghancurkan jaringan nekrotik

tanpa merusak jaringan sehat. Namun, keduanya memiliki kandungan yang sama

yaitu sebagai anti-inflamasi yang dapat menekan atau mengurangi peradangan pada

luka serta menurunkan edema, sehingga aliran darah menuju luka akan menjadi

lancar dan membantu menyembuhkan luka.

Bukti hasil penelitian diatas yaitu semua responden 40 orang (100%) teratur

dalam minum obat diabetes ataupun suntik insulin, 40 orang (100%) menjaga pola

makan, dan 40 orang (100%) mengontrol gula darah. Namun, ada beberapa

indikator yang tidak mengalami penurunan skor. Hal ini dapat disebabkan oleh usia

yang rata-rata diatas 45 tahun sebanyak 40 orang (100%) dan tidak rutin untuk

olahraga atau latihan fisik sebanyak 40 orang (100%). Sehingga penyembuhan luka

pada indikator ukuran, kedalaman, terowongan, jaringan granulasi dan epitelisasi

tidak mengalami penurunan skor. Adapun faktor lain yang berpengaruh dalam

penyembuhan luka DFU yaitu waktu intervensi yang hanya dilakukan selama 2

minggu yang seharusnya dilakukan minimal 3 minggu hingga 2 bulan untuk

perawatan luka.
91

5.3 Keterbatasan

Penelitian ini memiliki kelemahan dan keterbatasan yang dihadapi oleh

peneliti yaitu :

1. Keterbatasan waktu perawatan per-hari dikarenakan oleh banyaknya pasien,

sehingga peneliti tidak melakukan dokumentasi berupa foto kondisi sebelum

dan sesudah perawatan DFU pada tiap responden. Peneliti hanya menilai

kondisi luka menggunakan BWAT.

2. Adanya variabel perancu. Peneliti tidak dapat memonitor latihan fisik, pola

makan dan jenis dressing yang digunakan pada setiap responden karena

perbedaan kondisi luka tiap responden.


92

BAB 6

PENUTUP

Pada bab ini berisi kesimpulan dan saran berdasarkan dari hasil pembahasan

penelitian.

6.1 Simpulan

Berdasarkan hasil temuan penelitian dan hasil pengujian pada pembahasan

yang dilaksanakan, maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut :

1. Wound cleansing menggunakan daun bidara arab (ziziphus spina- christi l.)

efektif untuk mempercepat penyembuhan diabetic foot ulcer dibuktikan

dengan penurunan skor indikator BWAT yaitu tepi luka, tipe jaringan nekrotik,

jumlah jaringan nekrotik, tipe eksudat, jumlah eksudat, warna kulit sekitar

luka, edema perifer, dan pengerasan jaringan tepi.

2. Wound cleansing menggunakan NaCl efektif untuk mempercepat

penyembuhan diabetic foot ulcer dibuktikan dengan adanya penurunan skor

pada indikator BWAT yaitu tipe jaringan nekrotik, jumlah jaringan nekrotik,

jumlah eksudat, warna kulit sekitar luka, edema perifer, dan pengerasan

jaringan tepi.

3. Tidak ada perbedaan efektifitas penyembuhan diabetic foot ulcer dengan

wound cleansing pada kelompok intervensi menggunakan daun bidara arab dan

kelompok kontrol menggunakan NaCl. Namun, wound cleansing

menggunakan daun bidara arab mampu membantu menurunkan skor 8

indikator BWAT daripada NaCl yang hanya mampu menurunkan skor 6


93

indikator BWAT. Sehingga peneliti menyarankan tindakan wound cleansing

menggunakan rebusan daun bidara ini dapat diteliti lebih lanjut terutama pada

faktor – faktor perancu yang dapat mempengaruhi penyembuhan luka.

6.2 Saran

Berdasarkan temuan hasil penelitian, beberapa saran yang disampaikan pada

pihak terkait adalah sebagai berikut :

1. Penderita DFU mendapatkan informasi baru dalam wound cleansing

menggunakan daun bidara arab sebagai salah satu upaya perawatan luka DFU

untuk mempercepat penyembuhan luka.

2. Perawat Rumah Luka Surabaya dapat menguji coba tindakan keperawatan

dengan wound cleansing menggunakan daun bidara arab yang dilakukan 3

hari sekali selama 1 bulan sebagai upaya mempercepat penyembuhan DFU.

3. Rumah Luka Surabaya dapat membuat standar operasional prosedur (SOP)

wound cleansing menggunakan rebusan daun bidara arab.

4. Institusi menyediakan laboratorium riset untuk meneliti kandungan pada

tumbuhan daun bidara arab.

5. Peneliti selanjutnya dapat melakukan penelitian mikro, mengevaluasi faktor-

faktor lain yang berpengaruh terhadap perawatan luka, menambah jumlah

responden, waktu penelitian dan menggunakan intervensi pembanding

lainnya.
94

DAFTAR PUSTAKA

[Link], L. (2015). Comparative Study Between Nigella Sativa and Ziziphus


Spina-Christi Efectiveness on Skin a Superficial Burn Healing in Rabbits.
Basrah Journal of Veterinary Research, 14(1), 311–319.
[Link]
Abalaka, M. E., Daniyan, S. Y., & Mann, A. (2010). Evaluation of the antimicrobial
activities of two Ziziphus species (Ziziphus mauritiana L. and Ziziphus
spinachristi L.) on some microbial pathogens. African Journal of Pharmacy
and Pharmacology, 4(4), 135–139.
Aini, N., & Aridiana, L. M. (2016). Asuhan Keperawatan pada Sistem Endokrin
dengan Pendekatan NANDA NIC NOC. Jakarta : Salemba Medika.
Alaboud, A. F., Tourkmani, A. M., Alharbi, T. J., Alobikan, A. H., Abdelhay, O.,
Al Batal, S. M., Alkhashan, H. I., & Mohammed, U. Y. (2016). Microvascular
and macrovascular complications of type 2 diabetic mellitus in
Central,Kingdom of Saudi Arabia. Saudi Medical Journal, 37(12), 1399–
1403. [Link]
Aminuddin, M., Sholichin, Sukmana, M., & Dwi Nopriyanto. (2020). Modul
Perawatan luka (1 ed.). Samarinda : CV. Gunawana Lestari.
Anwar, R. M. (2020). Formulasi Sediaan Tablet Ekstrak Daun Bidara (Ziziphus
Mauritiana L.) Ssebagai Antidiabetes Pada Tikus (Sprague Dawley) Yang
Diinduksi Aloksan - Repository UMY. Skripsi.
[Link]
Aris, F. (2019). Penerapan Data Mining untuk Identifikasi Penyakit Diabetes
Melitus dengan Menggunakan Metode Klasifikasi. Jurnal Sistem Komputer
dan Sistem Informasi, 1(1), 1–6.
[Link]
Arisanty, I. P. (2013). Konsep Dasar Manajemen Perawatan Luka. Jakarta : EGC.
Asgarpanah, J. (2012). Phytochemistry and pharmacologic properties of Ziziphus
spina christi (L.) Willd. African Journal of Pharmacy and Pharmacology,
6(31), 2332–2339. [Link]
Baynest, H. W. (2015). Classification, Pathophysiology, Diagnosis and
Management of Diabetes Mellitus. Journal of Diabetes & Metabolism, 06(05).
[Link]
95

Burke, K. M., & LeMone, G. B. P. (2016). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah
Vol. 2 Ed. 5. Jakarta : EGC.
Cervantes-García, E., & Salazar-Schettino, P. M. (2017). Clinical and surgical
characteristics of infected diabetic foot ulcers in a tertiary hospital of Mexico.
Diabetic Foot and Ankle Journal, 8(1), 1367210.
[Link]
Craig, M. E., Jefferies, C., Dabelea, D., Balde, N., Seth, A., Donaghue, K. C., &
International Society for Pediatric and Adolescent Diabetes. (2014). ISPAD
Clinical Practice Consensus Guidelines 2014. Definition, epidemiology, and
classification of diabetes in children and adolescents. Pediatric diabetes, 15
Suppl 2(S20), 4–17. [Link]
Darusman, F., & Fakih, T. M. (2020). Studi Interaksi Senyawa Turunan Saponin
dari Daun Bidara Arab (Ziziphus spina-christi L.) sebagai Antiseptik Alami
secara In Silico. Jurnal Sains Farmasi & Klinis, 7(3), 233.
[Link]
Dinker R Pai, S. S. (2013). Diabetic Foot Ulcer – Diagnosis and Management.
Clinical Research on Foot & Ankle Journal, 01(03), 1–10.
[Link]
Evangeline, Supriadi, D., & Sunarya, W. (2015). Perbedaan Kompres Nacl 0 , 9 %
dengan Kompres Alkohol 70 % Terhadap Penurunan Intensitas Nyeri Pada
Pasien Flebitis rekomendasi dari The Infusion Nursing Standards of Practice
dapat dipertahankan Sedangkan rekomendasi dari The Center yang terjadi
akibat b. Jurnal Kedokteran dan Kesehatan, 2(3), 245–251.
Farida, I., Arini, D., & Mardayati, R. P. (2018). Efektifitas Perawatan Luka Modern
Kombinasi Mendengarkan Musik Klasik Terhadap Penyembuhan Ulkus
Diabetik Di Rumah Luka Surabaya. Jurnal Ilmiah Keperawatan, 13(1).
[Link]
Fatimah, R. N. (2015). Diabetes Melitus Tipe 2 [ Artikel Review ] Diabetes Melitus
Tipe 2. Jurnal majority, 2(5), 93–101.
George, J. B. (2011). Nursing Theories : The Base for Professional Nursing
Practice (6 ed.). Department of Nursing California State University.
Glombitza, K. W., Mahran, G. H., Mirhom, Y. W., Michel, K. G., & Motawi, T. K.
(1994). Hypoglycemic and antihyperglycemic effects of Zizyphus spina-
christi in rats. Planta Medica, 60(3), 244–247. [Link]
959468
Hasanah, A. M., Marfu’ah, N., & Ramadhani, C. A. (2019). Uji Efektivitas Ekstrak
96

Etanol Daun Bidara (Ziziphus spina- christi L.) Terhadap Pertumbuhan


Propionibacterium acne. Pharmaceutical Journal of Islamic Pharmacy, 3(1),
31. [Link]
Herlina. (2012). Aplikasi Teori Kenyamanan Pada Asuhan keperawatan Anak. Bina
Widya Journal, 23, 191–197.
Immawati, Nurhaeni, N., & Wanda, D. (2019). Case Study : the Application of the
Colcaba Theory on Measurement of. Jurnal Wacana Kesehatan, 4(2).
International Diabetes Federation. (2017). IDF Diabetes Atlas 8th Edition.
Available from: [Link] (accessed
February, 2018).
Jannah, M. (2018). Uji aktivitas antikanker ekstrak dan fraksi daun bidara laut.
Skripsi, 21–22.
Kalangi, S. J. R. (2014). Histofisiologi Kulit. Jurnal Biomedik (Jbm), 5(3), 12–20.
[Link]
Karliana, L., & Wikanta, W. (2019). Efektivitas Ekstrak Daun Bidara (Ziziphus
Mauritiana) Dalam Penyembuhan Luka Iris Pada Mencit Jantan (Mus
Musculus). Pedago Biologi, 50–59. [Link]
[Link]/[Link]/Biologi/article/view/3922
Kartika, R. W. (2015). Perawatan Luka Kronis dengan Modern Dressing. Jurnal
Cermin Dunia Kedokteran, 42(7), 546–550.
Kartika, R. W. (2017). Pengelolaan gangren kaki Diabetik. Jurnal Cermin Dunia
Kedokteran, 44(1), 18–22.
Khoerunisa, M. (2019). Validitas Format Pengkajian Luka “Time” Modifikasi
Bates-Jensen Metode Checklist Pada Perawat Di Puskesmas 1 Sokaraja,
Puskesmas 1 Cilongok Dan Puskesmas 1 Wangon [Skripsi]. 19–24.
Klasinc, R., Ann Augustin, L., Below, H., Baguhl, R., Assadian, O., Presterl, E., &
Kramer, A. (2017). Evaluation of three experimental in vitro models for the
assessment of the mechanical cleansing efficacy of wound irrigation solutions.
International Wound Journal. [Link]
Kolcaba, K. Y. (1991). A Taxonomic Structure for the Concept Comfort. Image:
the Journal of Nursing Scholarship, 23(4), 237–240.
[Link]
Lede, M. J., Hariyanto, T., & Ardiyani, V. M. (2018). Pengaruh Kadar Gula Darah
Terhadap Penyembuhan Luka Diabetes Mellitus di Puskesmas Dinoyo
Malang. Nursing News, 3(1), 547.
97

Lestari, L., Zulkarnain, Z., & Sijid, S. A. (2021). Diabetes Melitus: Review etiologi,
patofisiologi, gejala, penyebab, cara pemeriksaan, cara pengobatan dan cara
pencegahan. Prosiding Seminar Nasional Biologi, 7(1), 237–241.
[Link]
Lopes, L., Setia, O., Aurshina, A., Liu, S., Hu, H., Isaji, T., Liu, H., Wang, T., Ono,
S., Guo, X., Yatsula, B., Guo, J., Gu, Y., Navarro, T., & Dardik, A. (2018).
Stem cell therapy for diabetic foot ulcers: A review of preclinical and clinical
research. In Stem Cell Research and Therapy (Vol. 9).
[Link]
Mahayati, L. (2020). Aplikasi Model Keperawatan Comfort Kolcaba dalam Asuhan
Keperawatan Pada Anak Dengan Kerusakan Intergritas Kulit. Jurnal
Keperawatan, 9(2), 11–20. [Link]
Mauludiyah, E. N., Darusman, F., Cahya, G., & Darma, E. (2020). Skrining
Fitokimia Senyawa Metabolit Sekunder dari Simplisia dan Ekstrak Air Daun
Bidara Arab ( Ziziphus spina-christi L .). Spesia.
Niamat, R., Khan, M. A., Khan, K. Y., Ahmed, M., Mazari, P., Ali, B., Mustafa,
M., & Zafar, M. (2012). A review on zizyphus as antidiabetic. Journal of
Applied Pharmaceutical Science, 2(3), 177–179.
Ningsih, A., Darwis, I., Graharti, R., Kedokteran, F., & Lampung, U. (2019). Terapi
Madu Pada Penderita Ulkus Diabetikum Honey Therapy In Diabetic Ulcus
Patients. Medical Profession Journal of Lampung, 9(12), 192–197.
[Link]
Nur, A., & Marissa, N. (2016). Gambaran Bakteri Ulkus Diabetikum di Rumah
Sakit Zainal Abidin dan Meuraxa Tahun 2015. Buletin Penelitian Kesehatan,
44(3), 187–196. [Link]
Nurbaya, N., Tahir, T., & Yusuf, S. (2018). Peranan Pencucian Luka Terhadap
Penurunan Kolonisasi Bakteri Pada Luka Kaki Diabetes. Jurnal Keperawatan
Muhammadiyah, 3(2), 110–115. [Link]
Nurhanifah, D. (2017). Faktor- Faktor yang Berhubungan dengan Ulkus Kaki
Diabetik di Poliklinik Kaki Diabetik. Healthy-Mu Journal, 1(1), 32.
[Link]
Pai, D. R., & Singh, S. (2013). Diabetic Foot Ulcer – Diagnosis and Management.
Clinical Research on Foot & Ankle Journal, 01(03), 1–9.
[Link]
Pashar, I. (2018). Efektivitas Pencucian Luka Menggunakan Larutan NaCl 0,9%
Dan Kombinasi Larutan NaCl 0,9% Dengan Infusa Daun Sirih Merah 40%
98

Terhadap Proses Penyembuhan Ulkus Diabetik. Universitas Muhammadiyah


Semarang.
Primadina, N., Basori, A., & Perdanakusuma, D. S. (2019). Proses Penyembuhan
Luka Ditinjau dari Aspek Mekanisme Seluler dan Molekuler. Qanun Medika
- Medical Journal Faculty of Medicine Muhammadiyah Surabaya, 3(1), 31.
[Link]
Purnama, H., Sriwidodo, & Ratnawulan, S. (2017). Review Sistematik: Proses
Penyembuhan dan Perawatan Luka. Jurnal Farmaka, 15(2), 255–256.
Purwanti, L. E., & Maghfirah, S. (2016). Faktor Risiko Komplikasi Kronis (Kaki
Diabetik) dalam Diabetik Melitus Tipe 2. The Indonesian Journal of Health
Science, 7(1), 26–29.
[Link]
Ramachandran, A. (2014). Know the signs and symptoms of diabetes. The Indian
Journal of Medical Research, 140(5), 579. /pmc/articles/PMC4311308/
Rambe, A. P. A. (2020). Studi Literatur Efek Antipiretik Ekstrak Etanol Daun
Bidara Arab (Ziziphus Spina Christi L) Terhadap Hewan Percobaan (Vol.
2507, Nomor February). [Link]
[Link]/jspui/handle/123456789/3313
Regina, C. C., Mu’ti, A., & Fitriany, E. (2018). Diabetes Mellitus Type 2. Verdure:
Health Science Journal, 3(1), 8–17. [Link]
Riskesdas Jatim. (2018). Laporan Provinsi Jawa Timur RISKESDAS 2018. In
Kementerian Kesehatan RI.
[Link]
gqzI-l%0A
Rosyada, A. dkk. (2013). Determinan Komplikasi Kronik Diabetes Melitus pada
Lanjut Usia Determinan of Diabetes Mellitus Chronic Complications on
Elderly. Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional, 7, 395–401.
Rosyid, F. N. (2017). Etiology, pathophysiology, diagnosis and management of
diabetics’ foot ulcer. International Journal of Research in Medical Sciences,
5(10), 4206. [Link]
Roza, R. L., Afriant, R., & Edward, Z. (2015). Faktor Risiko Terjadinya Ulkus
Diabetikum pada Pasien Diabetes Mellitus yang Dirawat Jalan dan Inap di
RSUP Dr. M. Djamil dan RSI Ibnu Sina Padang. Jurnal Kesehatan Andalas,
4(1), 243–248. [Link]
Sari, S. Y. (2018). Formulasi Sediaan Sabun Cair dari Ekstrak Daun Bidara
(Ziziphus mauritiana). Karya Tulis Ilmiah, 1–68.
99

Savira, F., & Suharsono, Y. (2013). Formulasi Sediaan Sabun Cair Dari Ekstrak
Daun Bidara Arab (Ziziphus spina-christ L.). Journal of Chemical Information
and Modeling, 01(01), 1689–1699.
Solin, H. (2019). Formulas Sediaan Masker Gel Peel Off Dari Ekstrak Daun Bidara
(Ziziphus spina - christi L.). Karya Tulis Ilmiah.
[Link] SOLIN%2C
[Link]
Sunaryo, T., & Sudiro, S. (2014). Pengaruh Senam Diabetik Terhadap Penurunan
Resiko Ulkus Kaki Diabetik Pada Pasien Dm Tipe 2 Di Perkumpulan Diabetik.
Jurnal Terpadu Ilmu Kesehatan, 3(1), 99–105. [Link]
[Link]/[Link]/Int/article/view/81
Tanira, M. O. M., Ageel, A. M., Tariq, M., Mohsin, A., & Shah, A. H. (1988).
Evaluation of some pharmacological, microbiological and physical properties
of zizyphus spina-christi. Pharmaceutical Biology, 26(1), 56–60.
[Link]
Veranita, V. (2016). Hubungan antara Kadar Glukosa Darah dengan Derajat Ulkus
Kaki Diabetik. Jurnal Keperawatan Sriwijaya, 3(2), 44–50.
Wesnawa, M. A. D. (2014). Debridement Sebagai Tatalaksana Ulkus Kaki
Diabetik. e-Jurnal Medika Udayana, 3(1), 51–58.
Winarno, D. D. (2021). Buku Registrasi Pasien Rumah Luka Surabaya, Wonoayu-
Sidoarjo.
Wintoko, R., Dwi, A., & Yadika, N. (2020). Manajemen Terkini Perawatan Luka
Update Wound Care Management. JK Unila, 4, 183–189.
Wirastri, U., Nurhaeni, N., & Syahreni, E. (2017). Aplikasi Teori Comfort Kolcaba
Dalam Asuhan Keperawatan Pada Anak Dengan Demam di Ruang Infeksi
Anak. Jurnal Kesehatan, 6, 25–29.
Wolcott, R. D., & Fletcher, J. (2014). Technology update: Role of wound cleansing
in the management of wounds. Wounds UK Journal, 10(2), 58–63.
100

LAMPIRAN

Lampiran 1

CURRICULUM VITAE

Nama : Vita Sabela

Tempat, tanggal lahir : Sidoarjo, 4 Februari 2000

NIM : 181.0106

Program Studi : S-1 Keperawatan

Alamat : Perumahan Bluru Permai M-05, Sidoarjo

Agama : Islam

No. Hp : 082234777435

Email : Vitasabelaaa@[Link]

Riwayat Pendidikan

1. SD Negeri Pucang 1 Sidoarjo Lulus Tahun 2012


2. SMP Negeri 1 Buduran Sidoarjo Lulus Tahun 2015
3. SMA Muhammadiyah 2 Sidoarjo Lulus Tahun 2018
101

Lampiran 2

MOTTO DAN PERSEMBAHAN

MOTTO

“The best way to get started is to quit talking and begin doing”

PERSEMBAHAN

1. Allah SWT atas semua keridhoan-Nya dan izin-Nya sehingga saya mampu

meyelesaikan kuliah dan skripsi saya di program studi S1 keperawatan

STIKES Hang Tuah Surabaya.

2. Penguji ketua, penguji dan pembimbing 1, penguji dan pembimbing 2 yang

telah memberikan bimbingan, saran, masukan, kritik, dan pengarahan dalam

penyusunan skripsi ini.

3. Orang tua saya tercinta yang selalu saya sayangi dan saya hormati, bapak Agus

Maryoto dan ibu Chomsa Hidajati terimakasih telah selalu mendoakan saya,

menyayangi saya, mendukung saya mencapai cita-cita saya dan selalu percaya

bahwa saya dapat melalui semua ini dengan baik.

4. Kakak kandung saya Vania Delicia, adik kandung saya Arvin Aryaguna serta

keponakan saya Zeline Celmira terimakasih telah menjadi penyemangat saya

dan sekaligus role model terbaik saya sampai sekarang.

5. Teman-teman seperjuangan saya Nurul, Mey Lita, Alesya, Putri, Mila, Shafira,

Sangrila, Vedia, Rika, Niken, Shania, Shavira dan Febri terima kasih telah

berjuang bersama dan saling memberi semangat dalam menyelesaikan skripsi

ini.
102

Lampiran 3

6. Rekan-rekan sekelas, seangkatan, dan sealmamater yang telah membantu

kelancaran dalam penyusunan skripsi ini terimakasih telah bekerja sama

dengan baik.
103

Lampiran 4
104

Lampiran 5
105

Lampiran 6

LEMBAR INFORMATION FOR CONSENT

Saya yang bertanda tangan di bawah ini:

Nama : Vita Sabela


NIM : 1810106
Program Studi : Mahasiswa S1 Keperawatan STIKES Hang Tuah
No Hp : 082234777435

Saat ini sedang melakukan penelitian dengan judul “Efektivitas Wound


cleansing Daun Bidara Arab (Ziziphus Spina Christi-L.) Terhadap Penyembuhan
Diabetic Foot Ulcer di Rumah Luka Surabaya”.
Berikut adalah beberapa hal yang perlu saya informasikan terkait dengan
keikutsertaan Bapak/Ibu sebagai responden dalam penelitian ini:
1. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui Efektivitas Wound cleansing
Daun Bidara Arab (Ziziphus Spina Christi-L.) Terhadap Penyembuhan
Diabetic Foot Ulcer di Rumah Luka Surabaya. Manfaat penelitian ini adalah
untuk memberikan informasi tentang wound cleansing dengan rebusan daun
bidara arab yang alami, ekonomis, mudah didapat, dan mudah diolah.
2. Responden diminta mengisi kuesioner data demografi satu jam sebelum
tindakan dilakukan, dan dilakukan pengukuran gula darah 15 menit sebelum
tindakan.
3. Peneliti mengkaji keadaan ulkus kaki diabetik klien menggunakan pengkajian
luka Bates-Jensen Wound Assessment Tools (BWAT) sesudah membuka
balutan luka.
4. Peneliti memberikan tindakan wound cleansing menggunakan rebusan daun
bidara arab kepada klien kelompok Intervensi sesuai SOP selama 3 hari sekali
dalam 2 minggu
5. Peneliti memberikan tindakan wound cleansing menggunakan cairan wound
cleansing NaCl kepada klien kelompok kontrol sesuai SOP selama 3 hari sekali
dalam 2 minggu.
6. Tidak ada bahaya potensial yang diakibatkan oleh keikutsertaan subyek dalam
penelitian ini, oleh karena rebusan daun bidara arab yang digunakan dalam
penelitian ini tidak memiliki efek samping yang berbahaya, bahkan memiliki
banyak manfaat bagi subyek terutama dalam proses penyembuhan luka.
106

7. Keikutsertaan responden pada penelitian ini bukan merupakan suatu paksaan,


melainkan atas dasar sukarela, oleh karena itu, Bapak/ibu/Saudara berhak
untuk melanjutkan atau menghentikan keikutsertaan karena alasan tertentu
yang dikomunikasikan kepada peneliti.
8. Semua data yang dikumpulkan akan dirahasiakan dan tanpa nama. Data hanya
disajikan untuk pengembangan ilmu keperawatan.
9. Semua responden akan mendapat perlindungan dan Intervensi yang sama.
Demikian penjelasan ini disampaikan. Saya berharap Bapak/Ibu/Saudara
bersedia menjadi responden dalam penelitian ini. Atas kesediaannya saya ucapkan
terima kasih.

Surabaya, 2022

Yang Menerima Penjelasan Peneliti

……………………………. Vita Sabela

Saksi

………………………
107

Lampiran 7

LEMBAR INFORMED CONSENT

Saya yang bertanda tangan dibawah ini bersedia untuk ikut berpartisipasi
sebagai responden penelitian yang dilakukan oleh mahasiswa Prodi S1 keperawatan
STIKES Hang Tuah Surabaya atas nama:

Nama : Vita Sabela


NIM : 181.0106

Yang mengetahui “Efektivitas Wound cleansing Daun Bidara Arab (Ziziphus Spina
Christi-L.) Terhadap Penyembuhan Diabetic Foot Ulcer di Rumah Luka
Surabaya”.

Tanda tangan saya menunjukkan bahwa:

1. Saya telah diberi informasi atau penjelasan tentang penelitian ini dan informasi
peran saya.
2. Saya mengerti bahwa catatan tentang penelitian ini dijamin kerahasiaanya.
Semua berkas yang mencantumkan identitas dan jawaban yang saya berikan
hanya diperlukan untuk mengolah data.
3. Saya mengerti bahwa penelitian ini akan mendorong pengembangan tentang
mengetahui “Efektivitas Wound cleansing Daun Bidara Arab (Ziziphus Spina-
Christi L.) Terhadap Penyembuhan Diabetic Foot Ulcer di Rumah Luka
Surabaya”.

Oleh karena itu saya secara sukarela menyatakan ikut berperan serta dalam
penelitian ini.

Peneliti Responden

Vita Sabela …………………..

Saksi Peneliti Saksi Responden

………………. …………………
108

Lampiran 8
*Kode Responden

KUESIONER DATA DEMOGRAFI


EFEKTIVITAS WOUND CLEANSING DAUN BIDARA ARAB (ZIZIPHUS
SPINA CHRISTI-L.) TERHADAP PENYEMBUHAN DIABETIC FOOT
ULCER DI RUMAH LUKA SURABAYA

*Petunjuk pengisian kuesioner*


1) Bacalah pertanyaan nomor 1-7 dengan baik dan teliti
2) Pilih salah satu jawaban yang menurut Bapak/Ibu anggap paling tepat sesuai
kondisi kesehatan dengan cara memberi centang (√) pada kotak yang
disediakan
3) Dalam pengisian angket mohon diisi secara jujur. Karena penulis menjamin
bahwa jawaban yang diterima hanya digunakan untuk kepentingan penelitian.

USIA : ........... Tahun

1. Jenis Kelamin
Perempuan
Laki-laki

2. Pekerjaan
Ibu rumah tangga Swasta
Petani PNS/TNI/POLRI (*coret salah satu)
Wiraswasta Pensiunan
Lainnya, sebutkan...

3. Berapa lama anda menderita diabetes mellitus?….... bulan/tahun(*coret salah satu)

4. Apakah ada riwayat keturunan/keluarga penderita diabetes mellitus?


Ada, siapa? sebutkan...
Tidak Ada
109

5. Apakah anda rutin melakukan olahraga/ latihan fisik seperti senam, jalan sehat,
berlari?
Ya, frekuensi?......x/minggu
Tidak

6. Apakah anda teratur mengkonsumsi obat minum diabetes atau suntik insulin?
Ya
Tidak

7. Apakah anda menjaga pola makan anda?


Ya
Tidak

8. Gula darah Saat ini…......mg/dL (*diisi oleh peneliti)


110

Lampiran 9

INSTRUMEN PENGKAJIAN LUKA


BATES-JENSEN WOUND ASSESMENT TOOL

Kode Pasien :
Usia :
Jenis kelamin :

Item Skor Pengkajian Tgl/ Tgl/ Tgl/ Tgl/ Tgl/


Skor Skor Skor Skor skor
1. Ukuran 1 Panjang x lebar < 4 cm2

2 Panjang x lebar 4 s.d <16


cm2

3 Panjang x lebar 16 s.d <36


cm2

4 Panjang x lebar 36 s.d <80


cm2

5 Panjang x lebar >80 cm2


2. Kedalaman 1 Tidak ada eritema pda kulit
yang utuh.

2 Hilangnya sebagian kulit


termasuk epidermis dan
atau dermis.

3 Hilangnya seluruh bagian


kulit terjadi kerusakan atau
nekrosis pad subkutan;
dapat menembus kedalam
tapi tidak melampaui fasia;
dan atau campuran
sebagian dan seluruh kulit
hilang dan atau lapisan
jaringan tidak dapat
dibedakan dengan jaringan
granulasi

4 Dikaburkan dengan
Nekrosis

5 Kehilangan seluruh kulit


dengan kerusakan yang
luas, jaringan nekrosis atau
111

otot yang rusak, tulang


atau struktur
Penyokong.

3. Tepi Luka 1 Dapat dibedakan dengan


jelas, fibrotik, berskar atau
hyperkeratosis.

2 Dapat dibedakan, batas


luka dapat di lihat degan
jelas, berdekatan dengan
dasar luka.

3 Dapat dibedakan dengan


jelas, tidak berdekatan
dengan dasar luka.

4 Dapat dibedakan dengan


jelas, tidak berekatan
dengan batas luka,
bergelombang ke bawah,
menebal.
5 Tidak dapat dibedakan,
bercampur, tidak dapat
dilihat dengan jelas
4. Terowongan/ 1 Tidak ada terowongan
Gua
2 Terowongan <2 cm
dimana saja

3 Terowongan 2-4 cm seluas


< 50 % area luka

Terowongan 2-4 seluas >


4 50
% area luka

Terowongan >4 cm
5 dimana saja
5. Tipe Jaringan 1 Tidak ada jaringan
Nekrotik nekrotik

2 Putih / abu abu jaringan


dapat teramati dan atau
jaringan nekrotik
kekuningn yang mudah
lepas

3 Jaringan nekrotik
kekuningn yang melekat
tapi mudah dilepas
112

4 Melekat, lembut, eskar


hitam

5 Melekat kuat, keras, ekar


hitam
6. Jumlah 1 Tidak ada jaringan
Jaringan Nekrotik nekrotik

2 < 25% permukaan luka


tertutup

3 25% permukaan luka


tertutup

4 >50% dan <75% luka


tertutup

5 75 % s.d 100% jaringan


luka tertutup
7. Tipe Eksudat 1 Tidak ada eksudat

2 Berdarah

3 Serosangueneous, encer,
berair, merah pucat atau
pink

4 Serosa, encer, berair,


jernih

5 Purulen, encer atau kental,


keruh,kecoklatan/kekunin
gan dengan atau tanpa bau
8. Jumlah 1 Tidak ada, luka kering
Eksudat
2 Sangat sedikit, luka
tampak lembab tapi
eksudat tidak teramati

3 Sedikit

4 Moderat

5 Banyak
9. Warna Kulit 1 Pink atau warna kulit
Sekitar Luka normal setiap etnis

2 Merah terang dan atau


keputihan bila
disentuh
113

3 Putih atau abu-abu


pucat atau
hipopigmentasi

4 Merah gelap atau ungu dan


atau tidak pucat

5 Hitam atau
Hiperpegmentasi
10. Edema 1 Tidak ada pembekakan
Perifer/ Tepi atau edema
Jaringan
2 Tidak ada pitting edema
sepanjang < 4 cm sekitar
luka

Tidak ada pitting edema


3
sepanjang ≥ 4 cm sekitar
luka

4 Pitting edema sepanjang <


4 cm sekitar luka

5 Krepitasi dan atau pitting


edema sepanjang > 4 cm
sekitar luka
11. Pengerasan 1 Tidak ada
Jaringan Tepi
2 Pengerasan < 2 cm di
sebagian kecil sekitar
luka

3 Pengerasan 2-4 cm
menyebar < 50% di tepi
luka

4 Pengerasan 2-4 cm
menyebar ≥ 50% di tepi
luka

5 Pengerasan > 4 cm di
seluruh tepi luka
12. Jaringan 1 Kulit utuh atau luka
Granulasi mnebal pada sebagian
kulit

2 Terang, merah seperti


daging, 75 % s.d 100%
luka terisi granulasi dan
atau jaringan tumbuh
berlebih
114

3 Terang, merah seperti


daging; <75% dan > 25%
luka terisi granulasi

4 Pink, dan atau pucat,


merah
kehitaman dan atau luka
≤25% terisi granulasi

5 Tidak ada jaringan


granulasi
13. Epitelisasi 1 100% epitelisasi

2 75%-100% epitelisasi

3 50%-75% epitelisasi

4 25%-50% epitelisasi

5 < 25% epitelisasi


Total

STATUS KONDISI LUKA

1 5 10 13 15 20 25 30 35 40 45 50 55 60
Tissue Wound Wound
Health Regeneration Degeneration
115

Lampiran 10

STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR PEMBUATAN AIR


REBUSAN DAUN BIDARA ARAB

1 Pengertian Daun bidara arab adalah suatu jenis


tumbuhan yang dapat digunakan untuk
wound cleansing diabetic foot ulcer dengan
cara direbus.
2 Tujuan a. Peneliti dapat membuat rebusan daun
bidara arab dengan benar
b. Mempercepat penyembuhan luka
3 Alat dan Bahan 1. 20 lembar daun bidara arab berukuran
sedang (4 gram)
2. Air 1 Liter
3. Panci
4. Saringan
5. Kompor gas
6. Gelas atau botol

4 Prosedur pelaksanaan 1. Cuci daun bidara arab menggunakan air


yang mengalir

2. Rebus daun bidara arab dengan 1 liter air


atau selama 15-20 menit
3. Tunggu sampai mendidih sampai tersisa
air 500 ml.
116

4. Setelah mendidih matikan kompor lalu


diamkan air rebusan 15 menit hingga
dingin
5. Setelah dingin saring air rebusan dan
masukkan ke dalam botol

6. Gunakan untuk wound cleansing

Sumber : (Arisanty, 2013)


117

Lampiran 11

STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR


PERAWATAN LUKA WOUND CLEANSING MENGGUNAKAN
REBUSAN DAUN BIDARA ARAB
No. TAHAPAN LANGKAH-LANGKAH
1. Tahap Pra-Interaksi 1. Persiapan Perawat
a. Managemen emosi
b. Managemen penampilan
2. Persiapan Pasien
Cek identitas & tindakan yang akan diberikan
ke pasien
3. Persiapan alat Pengkajian:
a. Bates Jensen Wound Assessment Tool
b. Penggaris untuk mengukur luka
c. Kamera: foto luka
d. Alat kultur
[Link] & stetoskop:
Mengukur ABI
Cleansing & debridement
a. Sarung tangan bersih 1
b. Perlak 1
c. Bengkok
d. Rebusan daun bidara arab
e. Instrument bak steril 1 : tepat alat steril
f. Gunting jaringan steril 1
g. Pinset anatomi steril 1
h. Pinset sirusi steril
Dressing
a. Sarung tangan steril 1
b. Dressing: Hidrogel, hidrokoloid, calcium
alginate dll
c. Kasa steril secukupnya
d. Hipafik atau transparan film secukupnya
e. Gunting verban 1
f. Tempat sampah 1
2. Tahap Orientasi 1. Mengucapkan salam terapeutik. Ex.
Asalamualaikum [Link]./selamat
pagi/siang/malam
2. Memperkenalkan diri bila bertemu pasien
pertama kali. Ex: Ibu perkenalkan nama saya
Vita saya yang merawat ibu pada shift pagi
hari ini, mohon maaf apakah benar nama ibu
..., biasa dipanggil siapa bu?
118

3. Menanyakan persetujuan / inform consent.


Ex: apakah ibu berkenan kami lakukan rawat
luka?
4. Klien/keluarga diberi kesempatan bertanya
untuk klarifikasi (Privacy pasien selama
komunikasi dihargai & memperlihatkan
kesabaran, penuh empati, sopan, dan
perhatian serta respek selama berkomunikasi
dan melakukan tindakan). Ex:
sebelum saya mulai rawat luka, barangkali
ada yang mau ditanyakan ibu.
5. Membuat kontrak (waktu, tempat dan
tindakan yang akan dilakukan). Ex: saat kami
merawat luka, kurang lebih waktunya 30
menit.
3. Tahap Kerja 1. Cuci tangan
2. Mendekatkan alat-alat ke dekat pasien
3. Pasang sarung tangan bersih
4. Pengkajian luka menggunakan Bates
Jensen Wound Assesment Tool
1) Ukuran luka
2) Kedalaman luka
3) Tepi luka
4) Undermining
5) Tipe jaringan nekrotik
6) Jumlah jaringan nekrotik
7) Tipe eksudat
8) Jumlah eksudat
9) Warna kulit sekitar luka
10) Jaringan edema perifer
11) Pengerasan jaringan tepi
12) Jaringan granulasi
13) Jaringan epitelisasi
Cleansing (Membersihkan Luka)
a. Masih menggunakan sarung tangan bersih
b. Bersihkan dengan tehnik salah satu atau
kombinasi:
a. Irigasi: memberikan tekanan atau
menyemprotkan rebusan daun bidara
arab yang digunakan untuk
membersihkan luka.
b. Swabbing: mengusap atau
menggosok dengan menggunakan
rebusan daun bidara arab.
c. Luka dikeringkan dengan kasa
steril
Debridement (luka kronis)
119

a. Chemical debridemen: menggunakan


enzim pepaya), magot (belatung)
b. Mechanical debridemen: menggunakan
kasa (digosok/diusap), pinset, irigasi
tekanan tinggi
c. Autolisis debridemen :pengangkatan
jaringan mati sendiri. Balutannya : gel,
koloid, cream, salf.
d. Conservative sharp wound debridement
(CSWD) : pengangkatan jaringan mati dg
menggunakan gunting, pinset bisturi
hanya pd jaringan mati
Pemilihan Dressing
a. Ganti sarung tangan steril
b. Gunakan balutan sesuai hasil pengkajian:
1. Hidrogel atau hidrokoloid untuk
mencegah infeksi & membuat moist luka
serta membantu kenyamanan pasien
[Link] alginate, bila terdapat
perdarahan, dll.
3. Kemudian tutup kasa steril Sekundari
dressing:
c. Tutup luka dengan hipafik dengan cara
occlusive dressing. (luka jangan sampai
tampak keliatan dari luar. Ukur ketebalan
kasa atau bahan topikal yang ditempelkan ke
luka harus mampu membuat
suasana optimal (moisture balance) dan
mensuport luka kearah perbaikan atau segera
sembuh).
d. Rapikan seluruh alat-alat dan perhatikan
pembuangan sampah medis
4. Tahap Terminasi 1. Akhiri kegiatan dengan memberikan
reward. Ex: terimakasih ibu atas
kerjasamanya
2. Mengingatkan kepada pasien kalau
membutuhkan perawat, perawat ada di ruang
keperawatan. Ex: jika ibu membutuhkan
kami silahkan pencet bel atau datang di
ruang keperawatan
3. Mengucapkan salam terapiutik. Ex:
wassalamualaikum/selamat
pagi/siang/malam
4. Catat tindakan yang dilakukan dan hasil
serta respon klien pada lembar catatan
perkembangan klien
5. Catat tanggal dan jam melakukan tindakan
dan nama perawat yang melakukan dan
120

tanda tangan/paraf pada lembar catatan


klien.
121

Lampiran 12

STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR


PERAWATAN LUKA WOUND CLEANSING MENGGUNAKAN NaCl

No. TAHAPAN LANGKAH-LANGKAH


1. Tahap Pra-Interaksi 1. Persiapan Perawat
a. Managemen emosi
b. Managemen penampilan
2. Persiapan Pasien
Cek identitas & tindakan yang akan diberikan
ke pasien
3. Persiapan alat Pengkajian:
a. Bates Jensen Wound Assessment Tool
b. Penggaris untuk mengukur luka
c. Kamera: foto luka
d. Alat kultur
[Link] & stetoskop:
Mengukur ABI
Cleansing & debridement
a. Sarung tangan bersih 1
b. Perlak 1
c. Bengkok
d. NaCl
e. Instrument bak steril 1 : tepat alat steril
f. Gunting jaringan steril 1
g. Pinset anatomi steril 1
h. Pinset sirusi steril
Dressing
a. Sarung tangan steril 1
b. Dressing: Hidrogel, hidrokoloid, calcium
alginate dll
c. Kasa steril secukupnya
d. Hipafik atau transparan film secukupnya
e. Gunting verban 1
f. Tempat sampah 1
2. Tahap Orientasi 1. Mengucapkan salam terapeutik. Ex.
asalamualaikum [Link]./selamat
pagi/siang/malam
2. Memperkenalkan diri bila bertemu pasien
pertama kali. Ex: Ibu perkenalkan nama saya
Vita saya yang merawat ibu pada shift pagi
hari ini, mohon maaf apakah benar nama ibu
..., biasa dipanggil siapa bu?
122

3. Menanyakan persetujuan / inform consent.


ex: apakah ibu berkenan kami lakukan rawat
luka?
4. Klien/keluarga diberi kesempatan bertanya
untuk klarifikasi (Privacy pasien selama
komunikasi dihargai & memperlihatkan
kesabaran, penuh empati, sopan, dan
perhatian serta respek selama berkomunikasi
dan melakukan tindakan). Ex:
sebelum saya mulai rawat luka, barangkali
ada yang mau ditanyakan ibu.
5. Membuat kontrak (waktu, tempat dan
tindakan yang akan dilakukan). Ex: saat kami
merawat luka, kurang lebih waktunya 30
menit.
3. Tahap Kerja 1. Cuci tangan
2. Mendekatkan alat-alat ke dekat pasien
3. Pasang sarung tangan bersih
4. Pengkajian luka menggunakan Bates
Jensen Wound Assesment Tool
1) Ukuran luka
2) Kedalaman luka
3) Tepi luka
4) Undermining
5) Tipe jaringan nekrotik
6) Jumlah jaringan nekrotik
7) Tipe eksudat
8) Jumlah eksudat
9) Warna kulit sekitar luka
10) Jaringan edema perifer
11) Pengerasan jaringan tepi
12) Jaringan granulasi
13) Jaringan epitelisasi
Cleansing (Membersihkan Luka)
a. Masih menggunakan sarung tangan bersih
b. Bersihkan dengan tehnik salah satu atau
kombinasi:
a. Irigasi: memberikan tekanan atau
menyemprotkan NaCl
yang digunakan untuk
membersihkan luka
b. Swabbing: mengusap atau
menggosok dengan menggunakan
NaCl
c. Luka dikeringkan dengan kasa
steril
Debridement (luka kronis)
123

a. Chemical debridemen: menggunakan


enzim pepaya), magot (belatung)
b. Mechanical debridemen: menggunakan
kasa (digosok/diusap), pinset, irigasi
tekanan tinggi
c. Autolisis debridemen :pengangkatan
jaringan mati sendiri. Balutannya : gel,
koloid, cream, salf.
d. Conservative sharp wound debridement
(CSWD) : pengangkatan jaringan mati dg
menggunakan gunting, pinset bisturi
hanya pd jaringan mati
Pemilihan Dressing
a. Ganti sarung tangan steril
b. Gunakan balutan sesuai hasil pengkajian:
1. Hidrogel atau hidrokoloid untuk
mencegah infeksi & membuat moist luka
serta membantu kenyamanan pasien
[Link] alginate, bila terdapat
perdarahan, dll.
3. Kemudian tutup kasa steril Sekundari
dressing:
c. Tutup luka dengan hipafik dengan cara
occlusive dressing. (luka jangan sampai
tampak keliatan dari luar. Ukur ketebalan
kasa atau bahan topikal yang ditempelkan ke
luka harus mampu membuat
suasana optimal (moisture balance) dan
mensuport luka kearah perbaikan atau segera
sembuh).
d. Rapikan seluruh alat-alat dan perhatikan
pembuangan sampah medis
4. Tahap Terminasi 1. Akhiri kegiatan dengan memberikan
reward. Ex: terimakasih ibu atas
kerjasamanya
2. Mengingatkan kepada pasien kalau
membutuhkan perawat, perawat ada di ruang
keperawatan. Ex: jika ibu membutuhkan
kami silahkan pencet bel atau datang di
ruang keperawatan
3. Mengucapkan salam terapiutik. Ex:
wassalamualaikum/selamat
pagi/siang/malam
4. Catat tindakan yang dilakukan dan hasil
serta respon klien pada lembar catatan
perkembangan klien
5. Catat tanggal dan jam melakukan tindakan
dan nama perawat yang melakukan dan
124

tanda tangan/paraf pada lembar catatan


klien.
125

Lampiran 13
126
127
128
129

Lampiran 14

LEMBAR TABULASI DATA DEMOGRAFI

Kelompok Intervensi Wound cleansing Daun Bidara Arab


Kode P1 P2 P3 P4 P5 P6 P7 P8 P9

Responden

2 2 7 4 1 2 1 1 2 2

4 2 7 4 1 2 1 1 2 2

6 2 6 4 1 2 1 1 2 2

8 1 6 2 1 2 1 1 2 1

10 1 1 2 1 2 1 1 2 1

12 1 1 3 1 2 1 1 2 1

14 1 1 4 1 2 1 1 2 1

16 2 6 4 1 2 1 1 2 2

18 1 1 2 1 2 1 1 2 1

20 2 6 2 1 2 1 1 2 2

22 2 6 2 1 2 1 1 2 2

24 2 6 3 1 2 1 1 2 2

26 2 7 3 1 2 1 1 2 2

28 2 7 3 1 2 1 1 2 2

30 2 7 2 1 2 1 1 2 2

32 2 3 4 1 2 1 1 2 2

34 2 6 4 1 2 1 1 2 2

36 2 4 4 1 2 1 1 2 2
130

38 2 4 4 1 2 1 1 2 2

40 1 1 4 1 2 1 1 2 1

Kelompok Kontrol Wound cleansing NaCl


Kode P1 P2 P3 P4 P5 P6 P7 P8 P9

Responden

1 2 2 5 2 1 2 1 1 2

3 4 2 6 3 1 2 1 1 2

5 3 2 7 3 1 2 1 1 2

7 3 2 7 3 1 2 1 1 2

11 4 2 6 4 1 2 1 1 2

13 2 2 7 4 1 2 1 1 2

15 3 2 7 2 1 2 1 1 2

17 2 1 1 3 1 2 1 1 2

19 2 1 1 3 1 2 1 1 2

21 4 2 6 2 1 2 1 1 2

23 4 2 6 4 1 2 1 1 2

25 4 2 6 4 1 2 1 1 2

27 4 2 6 2 1 2 1 1 2

29 3 2 7 2 1 2 1 1 2

31 3 2 7 4 1 2 1 1 2

33 3 1 1 3 1 2 1 1 2

35 3 2 7 1 2 2 1 1 2
131

37 3 1 1 2 1 2 1 1 2

39 3 2 7 3 1 2 1 1 2

41 3 2 7 2 1 2 1 1 2
132

Lampiran 15

LEMBAR TABULASI BATES JENSEN WOUND ASSESSMENT TOOL

KELOMPOK INTERVENSI

Kode Skor Pengkajian BWAT Intervensi (Hari Ke- 1) N


Responden Item/
Skor
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13
2 2 2 3 1 3 3 2 4 5 2 3 4 5 39
4 3 3 3 1 3 3 3 4 4 2 2 5 5 41
6 3 3 2 1 3 3 3 3 4 2 2 5 5 39
8 3 3 2 2 3 3 3 4 4 2 2 5 5 41
10 2 2 3 2 2 2 3 4 4 2 2 5 5 38
12 2 2 3 2 3 3 3 4 3 2 2 5 5 39
14 2 2 3 2 2 3 2 4 2 2 2 4 5 35
16 2 3 2 1 2 3 2 3 3 2 3 5 5 36
18 2 2 3 2 3 2 2 3 3 2 3 4 5 36
20 3 3 4 1 3 2 3 3 2 2 2 4 5 37
22 3 3 2 1 3 3 3 4 4 2 2 5 5 40
24 3 3 3 2 3 3 3 4 4 2 2 5 5 42
26 2 3 3 2 3 2 3 4 2 2 2 5 5 38
28 2 3 2 2 2 3 2 4 2 2 2 4 5 35
30 2 3 3 2 2 3 2 3 3 2 2 5 5 37
32 3 2 2 2 2 3 2 3 3 2 2 4 5 35
34 2 3 3 2 2 2 3 2 3 2 2 5 5 36
36 2 2 4 2 3 3 3 2 3 2 2 4 5 37
38 2 3 3 2 3 3 2 2 3 2 2 5 5 37
40 2 2 3 2 3 3 2 2 3 2 2 5 5 36
MODUS 2 3 3 2 3 3 3 4 3 2 2 5 5 36
133

Kode Skor Pengkajian BWAT Intervensi (Hari Ke- 4) N


Responden Item/
Skor
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13
2 2 2 3 1 2 2 2 3 5 2 2 4 5 35
4 3 3 3 1 2 2 2 3 4 2 1 5 5 36
6 3 3 2 1 2 2 2 2 4 2 1 5 5 34
8 3 3 2 2 3 2 2 3 4 2 1 5 5 37
10 2 2 3 2 2 2 2 3 4 2 1 5 5 35
12 2 2 3 2 2 2 2 3 3 2 1 5 5 34
14 2 2 3 2 2 2 2 3 2 2 1 4 5 32
16 2 3 2 1 2 2 2 2 3 2 2 5 5 33
18 2 2 3 2 2 2 2 2 3 2 2 4 5 33
20 3 3 4 1 2 2 2 2 2 2 1 4 5 33
22 3 3 2 1 2 2 2 3 4 2 1 5 5 35
24 3 3 3 2 3 2 2 3 4 2 1 5 5 38
26 2 3 3 2 2 2 2 3 2 2 1 5 5 34
28 2 3 2 2 2 3 2 3 2 2 1 4 5 33
30 2 3 3 2 2 2 2 2 3 2 1 5 5 34
32 3 2 2 2 2 2 2 2 3 2 1 4 5 32
34 2 3 3 2 2 2 2 2 3 2 1 5 5 34
36 2 2 4 2 3 3 2 2 3 2 1 4 5 35
38 2 3 3 2 2 2 2 2 3 2 1 5 5 34
40 2 2 3 2 3 2 2 2 3 2 2 5 5 35
MODUS 2 3 3 2 2 2 2 3 3 2 1 5 5 34
134

Kode Skor Pengkajian BWAT Intervensi (Hari Ke- 7) N


Responden Item/
Skor
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13
2 2 2 3 1 2 2 2 3 4 1 2 4 5 33
4 3 3 3 1 2 2 2 3 3 1 1 5 5 34
6 3 3 2 1 2 2 2 2 3 1 1 5 5 32
8 3 3 2 2 3 2 2 3 3 1 1 5 5 35
10 2 2 3 2 2 2 2 3 3 1 1 5 5 33
12 2 2 3 2 2 2 2 3 2 1 1 5 5 32
14 2 2 3 2 2 2 2 3 2 1 1 4 5 31
16 2 3 2 1 2 2 2 2 2 1 2 5 5 31
18 2 2 3 2 2 2 2 2 2 1 2 4 5 31
20 3 3 4 1 2 2 2 2 2 1 1 4 5 32
22 3 3 2 1 2 2 2 3 3 1 1 5 5 33
24 3 3 3 2 3 2 2 3 3 1 1 5 5 36
26 2 3 3 2 2 2 2 3 2 1 1 5 5 33
28 2 3 2 2 2 3 2 3 2 1 1 4 5 32
30 2 3 3 2 2 2 2 2 2 1 1 5 5 32
32 3 2 2 2 2 2 2 2 2 1 1 4 5 30
34 2 3 3 2 2 2 2 2 2 1 1 5 5 32
36 2 2 4 2 3 3 2 2 2 1 1 4 5 33
38 2 3 3 2 2 2 2 2 2 1 1 5 5 32
40 2 2 3 2 3 2 2 2 2 1 2 5 5 33
MODUS 2 3 3 2 2 2 2 3 2 1 1 5 5 32
135

Kode Skor Pengkajian BWAT Intervensi (Hari Ke- 10) N


Responden Item/
Skor
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13
2 2 2 3 1 2 2 2 3 4 1 2 4 5 33
4 3 3 3 1 2 2 2 3 3 1 1 5 5 34
6 3 3 2 1 2 2 2 2 3 1 1 5 5 32
8 3 3 2 2 3 2 2 3 3 1 1 5 5 35
10 2 2 3 2 2 2 2 3 3 1 1 5 5 33
12 2 2 3 2 2 2 2 3 2 1 1 5 5 32
14 2 2 3 2 2 2 2 3 2 1 1 4 5 31
16 2 3 2 1 2 2 2 2 2 1 2 5 5 31
18 2 2 3 2 2 2 2 2 2 1 2 4 5 31
20 3 3 4 1 2 2 2 2 2 1 1 4 5 32
22 3 3 2 1 2 2 2 3 3 1 1 5 5 33
24 3 3 3 2 3 2 2 3 3 1 1 5 5 36
26 2 3 3 2 2 2 2 3 2 1 1 5 5 33
28 2 3 2 2 2 3 2 3 2 1 1 4 5 32
30 2 3 3 2 2 2 2 2 2 1 1 5 5 32
32 3 2 2 2 2 2 2 2 2 1 1 4 5 30
34 2 3 3 2 2 2 2 2 2 1 1 5 5 32
36 2 2 4 2 3 3 2 2 2 1 1 4 5 33
38 2 3 3 2 2 2 2 2 2 1 1 5 5 32
40 2 2 3 2 3 2 2 2 2 1 2 5 5 33
MODUS 2 3 3 2 2 2 2 3 2 1 1 5 5 32
136

Kode Skor Pengkajian BWAT Intervensi (Hari Ke- 13) N


Responden Item/
Skor
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13
2 2 2 2 1 2 2 2 3 4 1 2 4 5 32
4 3 3 2 1 2 2 2 3 3 1 1 5 5 33
6 3 3 1 1 2 2 2 2 3 1 1 5 5 31
8 3 3 1 2 3 2 2 3 3 1 1 5 5 34
10 2 2 2 2 2 2 2 3 3 1 1 5 5 32
12 2 2 2 2 2 2 2 3 2 1 1 5 5 31
14 2 2 2 2 2 2 2 3 2 1 1 4 5 30
16 2 3 2 1 2 2 2 2 2 1 2 5 5 31
18 2 2 2 2 2 2 2 2 2 1 2 4 5 30
20 3 3 3 1 2 2 2 2 2 1 1 4 5 31
22 3 3 2 1 2 2 2 3 3 1 1 5 5 33
24 3 3 2 2 3 2 2 3 3 1 1 5 5 35
26 2 3 2 2 2 2 2 3 2 1 1 5 5 32
28 2 3 1 2 2 3 2 3 2 1 1 4 5 31
30 2 3 2 2 2 2 2 2 2 1 1 5 5 31
32 3 2 2 2 2 2 2 2 2 1 1 4 5 30
34 2 3 3 2 2 2 2 2 2 1 1 5 5 32
36 2 2 3 2 3 3 2 2 2 1 1 4 5 32
38 2 3 2 2 2 2 2 2 2 1 1 5 5 31
40 2 2 3 2 3 2 2 2 2 1 2 5 5 33
MODUS 2 3 2 2 2 2 2 3 2 1 1 5 5 31
137

Kode Skor Pengkajian BWAT Intervensi (Hari Ke- 16) N


Responden Item/
Skor
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13
2 2 2 2 1 2 2 2 3 4 1 2 4 5 32
4 3 3 2 1 2 2 2 3 3 1 1 5 5 33
6 3 3 1 1 2 2 2 2 3 1 1 5 5 31
8 3 3 1 2 3 2 2 3 3 1 1 5 5 34
10 2 2 2 2 2 2 2 3 3 1 1 5 5 32
12 2 2 2 2 2 2 2 3 2 1 1 5 5 31
14 2 2 2 2 2 2 2 3 2 1 1 4 5 30
16 2 3 2 1 2 2 2 2 2 1 2 5 5 31
18 2 2 2 2 2 2 2 2 2 1 2 4 5 30
20 3 3 3 1 2 2 2 2 2 1 1 4 5 31
22 3 3 2 1 2 2 2 3 3 1 1 5 5 33
24 3 3 2 2 3 2 2 3 3 1 1 5 5 35
26 2 3 2 2 2 2 2 3 2 1 1 5 5 32
28 2 3 1 2 2 3 2 3 2 1 1 4 5 31
30 2 3 2 2 2 2 2 2 2 1 1 5 5 31
32 3 2 2 2 2 2 2 2 2 1 1 4 5 30
34 2 3 3 2 2 2 2 2 2 1 1 5 5 32
36 2 2 3 2 3 3 2 2 2 1 1 4 5 32
38 2 3 2 2 2 2 2 2 2 1 1 5 5 31
40 2 2 3 2 3 2 2 2 2 1 2 5 5 33
MODUS 2 3 2 2 2 2 2 3 2 1 1 5 5 31
138

LEMBAR TABULASI BATES JENSEN WOUND ASSESSMENT TOOL

KELOMPOK KONTROL

Kode Skor Pengkajian BWAT Kontrol (Hari ke- 1) N


Responden Item/
Skor
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13
1 3 4 4 1 4 5 4 3 5 2 3 5 5 43
3 2 4 3 1 3 4 5 4 4 1 2 5 5 39
5 2 4 4 1 3 5 5 4 4 2 2 4 5 39
7 2 3 3 1 3 4 3 4 4 1 2 3 5 35
9 2 4 4 1 3 5 4 3 3 1 2 4 5 37
11 2 4 4 2 3 5 5 3 4 1 2 5 5 40
13 2 4 3 1 3 5 4 4 4 1 2 4 5 38
15 4 3 3 1 3 5 3 4 3 1 3 5 5 39
17 3 4 4 1 4 4 5 4 5 3 3 5 5 40
19 3 4 4 1 4 3 4 4 3 3 3 5 5 40
21 2 2 3 1 3 2 3 2 3 1 1 3 5 31
23 3 4 4 1 3 3 3 3 3 2 3 5 5 39
25 3 4 4 1 4 4 4 4 3 3 3 5 5 39
27 3 4 4 1 3 4 4 4 4 3 3 5 5 40
29 3 4 4 1 4 4 3 4 3 3 3 5 5 39
31 3 4 4 2 3 3 4 3 4 3 3 5 5 41
33 1 2 2 1 2 1 2 3 2 2 1 4 5 29
35 2 2 2 1 2 1 3 3 2 2 2 4 5 31
37 2 2 2 2 2 1 3 4 2 1 2 5 5 34
39 2 2 2 2 2 1 2 3 2 2 2 4 5 32
MODUS 2 3 4 1 3 3 2 4 4 2 3 5 5 39
139

Kode Skor Pengkajian BWAT Kontrol (Hari ke- 4) N


Responden Item/
Skor
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13
1 3 3 4 1 2 2 2 4 5 2 2 5 5 40
3 2 3 3 1 2 2 2 4 4 2 1 5 5 36
5 2 3 4 1 2 2 2 4 4 2 1 4 5 36
7 2 2 3 1 2 1 2 4 4 2 1 3 5 32
9 2 3 4 1 2 2 2 3 3 2 1 4 5 34
11 2 3 4 2 2 2 2 3 4 2 1 5 5 37
13 2 3 3 1 2 2 2 4 4 2 2 4 5 36
15 2 3 3 1 2 2 2 4 3 2 2 5 5 36
17 2 2 4 1 2 1 2 4 5 2 2 5 5 37
19 3 2 4 1 2 2 2 4 3 2 1 5 5 36
21 2 2 3 1 2 1 2 2 3 2 2 3 5 30
23 2 3 4 1 2 1 2 3 3 2 2 5 5 35
25 2 3 4 1 2 2 2 4 3 2 2 5 5 37
27 2 2 4 1 2 2 2 4 4 2 2 5 5 37
29 2 2 4 1 2 2 2 4 3 2 2 5 5 36
31 2 3 4 2 2 2 2 3 4 2 2 5 5 38
33 1 2 2 1 1 1 2 3 2 2 1 4 5 27
35 2 2 2 1 1 1 2 3 2 2 1 4 5 28
37 2 2 2 2 1 1 2 4 2 2 1 5 5 31
39 2 2 2 2 1 1 2 3 2 2 1 4 5 29
MODUS 2 3 4 1 2 2 2 4 4 2 2 5 5 36
140

Kode Skor Pengkajian BWAT Kontrol (Hari ke- 7) N


Responden Item/
Skor
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13
1 3 3 4 1 2 2 2 3 4 1 2 5 5 37
3 2 3 3 1 2 2 2 3 3 1 1 5 5 33
5 2 3 4 1 2 2 2 3 3 1 1 4 5 33
7 2 2 3 1 2 1 2 3 3 1 1 3 5 29
9 2 3 4 1 2 2 2 2 2 1 1 4 5 31
11 2 3 4 2 2 2 2 2 3 1 1 5 5 34
13 2 3 3 1 2 2 2 3 3 1 2 4 5 33
15 2 3 3 1 2 2 2 3 2 1 2 5 5 33
17 2 2 4 1 2 1 2 3 4 1 2 5 5 34
19 3 2 4 1 2 2 2 3 3 1 1 5 5 34
21 2 2 3 1 2 1 2 2 2 1 2 3 5 28
23 2 3 4 1 2 1 2 2 2 1 2 5 5 32
25 2 3 4 1 2 2 2 3 2 1 2 5 5 34
27 2 2 4 1 2 2 2 3 3 1 2 5 5 34
29 2 2 4 1 2 2 2 3 3 1 2 5 5 34
31 2 3 4 2 2 2 2 2 3 1 2 5 5 35
33 1 2 2 1 1 1 2 2 2 1 1 4 5 25
35 2 2 2 1 1 1 2 2 2 1 1 4 5 26
37 2 2 2 2 1 1 2 3 2 1 1 5 5 29
39 2 2 2 2 1 1 2 2 2 1 1 4 5 27
MODUS 2 3 4 1 2 2 2 3 3 1 2 5 5 34
141

Kode Skor Pengkajian BWAT Kontrol (Hari ke- 10) N


Responden Item/
Skor
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13
1 3 3 4 1 2 2 2 3 4 1 2 5 5 37
3 2 3 3 1 2 2 2 3 3 1 1 5 5 33
5 2 3 4 1 2 2 2 3 3 1 1 4 5 33
7 2 2 3 1 2 1 2 3 3 1 1 3 5 29
9 2 3 4 1 2 2 2 2 2 1 1 4 5 31
11 2 3 4 2 2 2 2 2 3 1 1 5 5 34
13 2 3 3 1 2 2 2 3 3 1 2 4 5 33
15 2 3 3 1 2 2 2 3 2 1 2 5 5 33
17 2 2 4 1 2 1 2 3 4 1 2 5 5 34
19 3 2 4 1 2 2 2 3 3 1 1 5 5 34
21 2 2 3 1 2 1 2 2 2 1 2 3 5 28
23 2 3 4 1 2 1 2 2 2 1 2 5 5 32
25 2 3 4 1 2 2 2 3 2 1 2 5 5 34
27 2 2 4 1 2 2 2 3 3 1 2 5 5 34
29 2 2 4 1 2 2 2 3 3 1 2 5 5 34
31 2 3 4 2 2 2 2 2 3 1 2 5 5 35
33 1 2 2 1 1 1 2 2 2 1 1 4 5 25
35 2 2 2 1 1 1 2 2 2 1 1 4 5 26
37 2 2 2 2 1 1 2 3 2 1 1 5 5 29
39 2 2 2 2 1 1 2 2 2 1 1 4 5 27
MODUS 2 3 4 1 2 2 2 3 3 1 2 5 5 34
142
143

Kode Skor Pengkajian BWAT Kontrol (Hari ke- 13) N


Responden Item/
Skor
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13
1 3 3 4 1 2 2 2 3 4 1 2 5 5 37
3 2 3 3 1 2 2 2 3 3 1 1 5 5 33
5 2 3 4 1 2 2 2 3 3 1 1 4 5 33
7 2 2 3 1 2 1 2 3 3 1 1 3 5 29
9 2 3 4 1 2 2 2 2 2 1 1 4 5 31
11 2 3 4 2 2 2 2 2 3 1 1 5 5 34
13 2 3 3 1 2 2 2 3 3 1 2 4 5 33
15 2 3 3 1 2 2 2 3 2 1 2 5 5 33
17 2 2 4 1 2 1 2 3 4 1 2 5 5 34
19 3 2 4 1 2 2 2 3 3 1 1 5 5 34
21 2 2 3 1 2 1 2 2 2 1 2 3 5 28
23 2 3 4 1 2 1 2 2 2 1 2 5 5 32
25 2 3 4 1 2 2 2 3 2 1 2 5 5 34
27 2 2 4 1 2 2 2 3 3 1 2 5 5 34
29 2 2 4 1 2 2 2 3 3 1 2 5 5 34
31 2 3 4 2 2 2 2 2 3 1 2 5 5 35
33 1 2 2 1 1 1 2 2 2 1 1 4 5 25
35 2 2 2 1 1 1 2 2 2 1 1 4 5 26
37 2 2 2 2 1 1 2 3 2 1 1 5 5 29
39 2 2 2 2 1 1 2 2 2 1 1 4 5 27
MODUS 2 3 4 1 2 2 2 3 3 1 2 5 5 34
144

Kode Skor Pengkajian BWAT Kontrol (Hari ke- 16) N


Responden Item/
Skor
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13
1 3 4 4 1 3 4 4 3 4 2 3 5 5 37
3 2 4 3 1 3 4 4 3 4 1 2 5 5 33
5 2 4 4 1 3 4 5 3 4 2 2 4 5 32
7 2 3 3 1 3 3 3 4 3 1 2 3 5 28
9 2 4 3 1 3 4 4 3 3 1 2 4 5 30
11 2 4 4 2 3 4 5 3 4 1 2 5 5 34
13 2 4 3 1 3 4 4 3 4 1 3 4 5 33
15 4 3 3 1 3 4 3 3 3 1 2 5 5 33
17 3 4 4 1 4 4 4 4 5 3 2 5 5 34
19 3 4 4 1 4 3 4 4 3 3 1 5 5 34
21 2 2 3 1 2 2 3 2 2 1 2 3 5 27
23 3 4 4 1 3 3 3 3 3 2 2 5 5 32
25 3 4 4 1 4 4 4 4 3 3 2 5 5 34
27 3 4 4 1 3 4 4 4 4 3 2 5 5 34
29 3 4 4 1 4 4 3 4 3 3 2 5 5 34
31 3 4 4 2 3 3 4 3 4 3 1 5 5 35
33 1 2 2 1 2 1 2 3 2 2 1 4 5 25
35 2 2 2 1 2 1 3 3 2 2 2 4 5 26
37 2 2 2 2 2 1 3 4 2 1 2 5 5 29
39 2 2 2 2 2 1 2 3 2 2 2 4 5 27
MODUS 2 3 4 1 2 2 2 3 3 1 2 5 5 34
145

Lampiran 16

OUTPUT HASIL ANALISA DATA UMUM

Data Umum Kelompok Intervensi Wound Cleansing Daun Bidara Arab


Tabel Frekuensi

Usia
Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid 40-50 Tahun 4 20,0 20,0 20,0
50-60 Tahun 9 45,0 45,0 65,0
>60 Tahun 7 35,0 35,0 100,0
Total 20 100,0 100,0

Jenis Kelamin
Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid Perempuan 6 30,0 30,0 30,0
Laki-Laki 14 70,0 70,0 100,0
Total 20 100,0 100,0

Pekerjaan
Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid Ibu Rumah Tangga 5 25,0 25,0 25,0
Wiraswasta 1 5,0 5,0 30,0
Swasta 2 10,0 10,0 40,0
Pensiunan 7 35,0 35,0 75,0
Lainnya 5 25,0 25,0 100,0
Total 20 100,0 100,0

Lama Menderita DM
Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid 1-2 Tahun 6 30,0 30,0 30,0

2-3 Tahun 4 20,0 20,0 50,0


146

>3 Tahun 10 50,0 50,0 100,0

Total 20 100,0 100,0

Riwayat Keturunan DM
Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid Ada 20 100,0 100,0 100,0

Rutin Latihan Fisik


Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid Tidak 20 100,0 100,0 100,0

Konsumsi Obat Diabetes Atau Suntik Insulin


Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid Ya 20 100,0 100,0 100,0

Menjaga Pola Makan


Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid Ya 20 100,0 100,0 100,0

Gula Darah Acak


Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid <200 mg/dL 20 100,0 100,0 100,0
147

Data Umum Kelompok Intervensi Wound cleansing NaCl


Tabel Frekuensi

Usia
Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid 40-50 Tahun 4 20,0 20,0 20,0
50-60 Tahun 10 50,0 50,0 70,0
>60 Tahun 6 30,0 30,0 100,0
Total 20 100,0 100,0

Jenis Kelamin
Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid Perempuan 4 20,0 20,0 20,0
Laki-Laki 16 80,0 80,0 100,0
Total 20 100,0 100,0

Pekerjaan
Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid Ibu Rumah Tangga 4 20,0 20,0 20,0
PNS/TNI/POLRI 1 5,0 5,0 25,0
Pensiunan 6 30,0 30,0 55,0
Lainnya 9 45,0 45,0 100,0
Total 20 100,0 100,0

Lama Menderita DM
Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid <12 Bulan 1 5,0 5,0 5,0
1-2 Tahun 7 35,0 35,0 40,0
2-3 Tahun 7 35,0 35,0 75,0
>3 Tahun 5 25,0 25,0 100,0
Total 20 100,0 100,0
148

Riwayat Keturunan DM
Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid Ada 19 95,0 95,0 95,0
Tidak Ada 1 5,0 5,0 100,0
Total 20 100,0 100,0

Rutin Latihan Fisik


Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid Tidak 20 100,0 100,0 100,0

Konsumsi Obat Diabetes Atau Suntik Insulin


Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid Ya 20 100,0 100,0 100,0

Menjaga Pola Makan

Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent


Valid Ya 20 100,0 100,0 100,0

Gula Darah Acak


Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid >200 mg/dL 20 100,0 100,0 100,0
149

Lampiran 17

OUTPUT HASIL ANALISA DATA KHUSUS

Data Khusus Kelompok Intervensi Wound cleansing Daun Bidara Arab


Tabel Frekuensi

Descriptive Statistics
N Minimum Maximum Mean Std. Deviation
Pre_Intervensi 20 35,00 42,00 37,7000 2,12999
Post_Intervensi 20 30,00 35,00 31,7500 1,33278
Valid N (listwise) 20

Pre- Kelompok Intervensi (Ukuran)


Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid 2 13 65,0 65,0 65,0
3 7 35,0 35,0 100,0
Total 20 100,0 100,0

Post Kelompok Intervensi (Ukuran)


Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid 2 13 65,0 65,0 65,0
3 7 35,0 35,0 100,0
Total 20 100,0 100,0

Pre- Kelompok Intervensi (Kedalaman)


Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid 2 8 40,0 40,0 40,0
3 12 60,0 60,0 100,0
Total 20 100,0 100,0
150

Post Kelompok Intervensi (Kedalaman)

Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent


Valid 2 8 40,0 40,0 40,0
3 12 60,0 60,0 100,0
Total 20 100,0 100,0

Pre Kelompok Intervensi (Tepi Luka)


Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid 2 6 30,0 30,0 30,0
3 12 60,0 60,0 90,0
4 2 10,0 10,0 100,0
Total 20 100,0 100,0

Post Kelompok Intervensi (Tepi Luka)


Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid 1 3 15,0 15,0 15,0
2 13 65,0 65,0 80,0
3 4 20,0 20,0 100,0
Total 20 100,0 100,0

Pre- Kelompok Intervensi (Terowongan)


Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid 1 6 30,0 30,0 30,0
2 14 70,0 70,0 100,0
Total 20 100,0 100,0

Post Kelompok Intervensi (Terowongan)


Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid 1 6 30,0 30,0 30,0
2 14 70,0 70,0 100,0
Total 20 100,0 100,0
151

Pre- Kelompok Intervensi (Tipe Jaringan Nekrotik)


Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid 2 7 35,0 35,0 35,0
3 13 65,0 65,0 100,0
Total 20 100,0 100,0

Post Kelompok Intervensi (Tipe Jaringan Nekrotik)


Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid 2 16 80,0 80,0 80,0
3 4 20,0 20,0 100,0
Total 20 100,0 100,0

Pre Kelompok Intervensi (Jumlah Jaringan Nekrotik)


Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid 2 5 25,0 25,0 25,0
3 15 75,0 75,0 100,0
Total 20 100,0 100,0

Post Kelompok Intervensi (Jumlah Jaringan Nekrotik)


Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid 2 18 90,0 90,0 90,0
3 2 10,0 10,0 100,0
Total 20 100,0 100,0

Pre- Kelompok Intervensi (Tipe Eksudat)


Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid 2 9 45,0 45,0 45,0
3 11 55,0 55,0 100,0
Total 20 100,0 100,0
152

Post Kelompok Intervensi (Tipe Eksudat)


Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent
Valid 2 20 100,0 100,0 100,0

Pre- Kelompok Intervensi (Jumlah Eksudat)


Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid 2 4 20,0 20,0 20,0
3 6 30,0 30,0 50,0
4 10 50,0 50,0 100,0
Total 20 100,0 100,0

Post Kelompok Intervensi (Jumlah Eksudat)


Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid 2 10 50,0 50,0 50,0
3 10 50,0 50,0 100,0
Total 20 100,0 100,0

Pre- Kelompok Intervensi (Warna Kulit Sekitar Luka)


Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid 2 4 20,0 20,0 20,0
3 9 45,0 45,0 65,0
4 6 30,0 30,0 95,0
5 1 5,0 5,0 100,0
Total 20 100,0 100,0

Post Kelompok Intervensi (Warna Kulit Sekitar Luka)


Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid 2 13 65,0 65,0 65,0
3 6 30,0 30,0 95,0
4 1 5,0 5,0 100,0
Total 20 100,0 100,0
153

Pre- Kelompok Intervensi (Edema Perifer)


Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid 2 20 100,0 100,0 100,0

Post Kelompok Intervensi (Edema Perifer)


Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid 1 20 100,0 100,0 100,0

Pre- Kelompok Intervensi (Pengerasan Jaringan Tepi)


Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid 2 17 85,0 85,0 85,0
3 3 15,0 15,0 100,0
Total 20 100,0 100,0

Post Kelompok Intervensi (Pengerasan Jaringan Tepi)


Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid 1 16 80,0 80,0 80,0
2 4 20,0 20,0 100,0
Total 20 100,0 100,0

Pre- Kelompok Intervensi (Jaringan Granulasi)


Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid 4 7 35,0 35,0 35,0
5 13 65,0 65,0 100,0
Total 20 100,0 100,0
154

Post Kelompok Intervensi (Jaringan Granulasi)


Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid 4 7 35,0 35,0 35,0
5 13 65,0 65,0 100,0
Total 20 100,0 100,0

Pre- Kelompok Intervensi (Epitelisasi)


Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid 5 20 100,0 100,0 100,0

Post Kelompok Intervensi (Epitelisasi)


Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid 5 20 100,0 100,0 100,0
155

Data Khusus Kelompok Kontrol Wound Cleansing NaCl


Tabel Frekuensi

Descriptive Statistics
N Minimum Maximum Mean Std. Deviation
Pre_Kontrol 20 29,00 43,00 37,2500 3,87808
Post_Kontrol 20 25,00 37,00 31,5500 3,41012
Valid N (listwise) 20

Pre- Kelompok Kontrol (Ukuran)


Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid 1,00 1 5,0 5,0 5,0
2,00 10 50,0 50,0 55,0
3,00 8 40,0 40,0 95,0
4,00 1 5,0 5,0 100,0
Total 20 100,0 100,0

Post Kelompok Kontrol (Ukuran)


Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid 1,00 1 5,0 5,0 5,0
2,00 10 50,0 50,0 55,0
3,00 8 40,0 40,0 95,0
4,00 1 5,0 5,0 100,0
Total 20 100,0 100,0

Pre- Kelompok Kontrol (Kedalaman)


Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid 2,00 5 25,0 25,0 25,0
3,00 2 10,0 10,0 35,0
4,00 13 65,0 65,0 100,0
Total 20 100,0 100,0
156

Post Kelompok Kontrol (Kedalaman)


Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid 2,00 5 25,0 25,0 25,0
3,00 2 10,0 10,0 35,0
4,00 13 65,0 65,0 100,0
Total 20 100,0 100,0

Pre- Kelompok Kontrol (Tepi Luka)


Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid 2,00 4 20,0 20,0 20,0
3,00 5 25,0 25,0 45,0
4,00 11 55,0 55,0 100,0
Total 20 100,0 100,0

Post Kelompok Kontrol (Tepi Luka)


Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid 2,00 4 20,0 20,0 20,0
3,00 6 30,0 30,0 50,0
4,00 10 50,0 50,0 100,0
Total 20 100,0 100,0

Pre- Kelompok Kontrol (Terowongan)


Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid 1,00 16 80,0 80,0 80,0
2,00 4 20,0 20,0 100,0
Total 20 100,0 100,0

Post Kelompok Kontrol (Terowongan)


Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid 1,00 16 80,0 80,0 80,0
157

2,00 4 20,0 20,0 100,0


Total 20 100,0 100,0

Pre- Kelompok Kontrol (Tipe Jaringan Nekrotik)

Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent


Valid 2,00 4 20,0 20,0 20,0
3,00 11 55,0 55,0 75,0
4,00 5 25,0 25,0 100,0
Total 20 100,0 100,0

Post Kelompok Kontrol (Tipe Jaringan Nekrotik)


Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid 2,00 5 25,0 25,0 25,0
3,00 11 55,0 55,0 80,0
4,00 4 20,0 20,0 100,0

Total 20 100,0 100,0

Pre Kelompok Kontrol (Jumlah Jaringan Nekrotik)


Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid 1,00 4 20,0 20,0 20,0
2,00 1 5,0 5,0 25,0
3,00 3 15,0 15,0 40,0
4,00 6 30,0 30,0 70,0
5,00 6 30,0 30,0 100,0
Total 20 100,0 100,0

Post Kelompok Kontrol (Jumlah Jaringan Nekrotik)


Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid 1,00 4 20,0 20,0 20,0
2,00 1 5,0 5,0 25,0
3,00 4 20,0 20,0 45,0
158

4,00 11 55,0 55,0 100,0


Total 20 100,0 100,0

Pre- Kelompok Kontrol (Tipe Eksudat)


Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid 2,00 2 10,0 10,0 10,0
3,00 7 35,0 35,0 45,0
4,00 7 35,0 35,0 80,0
5,00 4 20,0 20,0 100,0
Total 20 100,0 100,0

Post Kelompok Kontrol (Tipe Eksudat)


Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid 2,00 2 10,0 10,0 10,0
3,00 7 35,0 35,0 45,0
4,00 9 45,0 45,0 90,0
5,00 2 10,0 10,0 100,0
Total 20 100,0 100,0

Pre- Kelompok Kontrol (Jumlah Eksudat)

Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent


Valid 2,00 1 5,0 5,0 5,0
3,00 8 40,0 40,0 45,0
4,00 11 55,0 55,0 100,0
Total 20 100,0 100,0

Post Kelompok Kontrol (Jumlah Eksudat)

Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent


Valid 2,00 1 5,0 5,0 5,0
3,00 12 60,0 60,0 65,0

4,00 7 35,0 35,0 100,0


159

Total 20 100,0 100,0

Pre- Kelompok Kontrol (Warna Kulit Sekitar Luka)

Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent


Valid 2,00 4 20,0 20,0 20,0
3,00 7 35,0 35,0 55,0
4,00 7 35,0 35,0 90,0
5,00 2 10,0 10,0 100,0
Total 20 100,0 100,0

Post Kelompok Kontrol (Warna Kulit Sekitar Luka)

Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent


Valid 2,00 5 25,0 25,0 25,0
3,00 7 35,0 35,0 60,0
4,00 7 35,0 35,0 95,0
5,00 1 5,0 5,0 100,0
Total 20 100,0 100,0

Pre- Kelompok Kontrol (Edema)

Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent


Valid
2,00 20 100,0 100,0 100,0
Total 20 100,0 100,0

Post Kelompok Kontrol (Edema)

Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent


Valid 1,00 20 100,0 100,0 100,0
Total 20 100,0 100,0
160

Pre- Kelompok Kontrol (Pengerasan Jaringan Tepi)

Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent


Valid 1,00 2 10,0 10,0 10,0
2,00 9 45,0 45,0 55,0
3,00 9 45,0 45,0 100,0

Total 20 100,0 100,0

Post Kelompok Kontrol (Pengerasan Jaringan Tepi)

Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent


Valid 1,00 3 15,0 15,0 15,0
2,00 15 75,0 75,0 90,0
3,00 2 10,0 10,0 100,0
Total 20 100,0 100,0

Pre- Kelompok Kontrol (Jaringan Granulasi)

Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent


Valid 3,00 2 10,0 10,0 10,0
4,00 6 30,0 30,0 40,0
5,00 12 60,0 60,0 100,0

Total 20 100,0 100,0

Post Kelompok Kontrol (Jaringan Granulasi)


Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid 3,00 2 10,0 10,0 10,0
4,00 6 30,0 30,0 40,0
5,00 12 60,0 60,0 100,0
Total 20 100,0 100,0
161

Pre- Kelompok Kontrol (Epitelisasi)


Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid 5,00 20 100,0 100,0 100,0

Post Kelompok Kontrol (Epitelisasi)


Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid 5,00 20 100,0 100,0 100,0
162

Lampiran 18

OUTPUT CROSSTAB
DATA DEMOGRAFI DENGAN KELOMPOK INTERVENSI

Usia * Status Kondisi Luka Pre Intervensi Crosstabulation


Status_Luka_Pre_Intervensi
35 36 37 38 39 40 41 42 Total
Usia 40-50 Count 0 0 2 1 1 0 0 0 4
Tahun % within Usia 0,0% 0,0% 50,0% 25,0% 25,0% 0,0% 0,0% 0,0% 100,0%
% within 0,0% 0,0% 50,0% 50,0% 33,3% 0,0% 0,0% 0,0% 20,0%
Status_Luka_Pre
_Intervensi
% of Total 0,0% 0,0% 10,0% 5,0% 5,0% 0,0% 0,0% 0,0% 20,0%
50-60 Count 3 2 1 1 1 0 1 0 9
Tahun % within Usia 33,3% 22,2% 11,1% 11,1% 11,1% 0,0% 11,1% 0,0% 100,0%
% within 100,0% 50,0% 25,0% 50,0% 33,3% 0,0% 50,0% 0,0% 45,0%
Status_Luka_Pre
_Intervensi
% of Total 15,0% 10,0% 5,0% 5,0% 5,0% 0,0% 5,0% 0,0% 45,0%
>60 Count 0 2 1 0 1 1 1 1 7
tahun % within Usia 0,0% 28,6% 14,3% 0,0% 14,3% 14,3% 14,3% 14,3% 100,0%
% within 0,0% 50,0% 25,0% 0,0% 33,3% 100,0% 50,0% 100,0 35,0%
Status_Luka_Pre %
_Intervensi
% of Total 0,0% 10,0% 5,0% 0,0% 5,0% 5,0% 5,0% 5,0% 35,0%
Total Count 3 4 4 2 3 1 2 1 20
% within Usia 15,0% 20,0% 20,0% 10,0% 15,0% 5,0% 10,0% 5,0% 100,0%
% within 100,0% 100,0 100,0 100,0 100,0 100,0% 100,0 100,0 100,0%
Status_Luka_Pre % % % % % %
_Intervensi
% of Total 15,0% 20,0% 20,0% 10,0% 15,0% 5,0% 10,0% 5,0% 100,0%
163

Usia * Status Kondisi Luka Post Intervensi Crosstabulation


Status_Luka_Post_Intervensi
30 31 32 33 34 35 Total
Usia 40-50 Count 0 3 1 0 0 0 4
Tahun % within Usia 0,0% 75,0% 25,0% 0,0% 0,0% 0,0% 100,0%
% within 0,0% 42,9% 20,0% 0,0% 0,0% 0,0% 20,0%
Status_Luka_Post_
Intervensi
% of Total 0,0% 15,0% 5,0% 0,0% 0,0% 0,0% 20,0%
50-60 Count 3 1 3 2 0 0 9
Tahun % within Usia 33,3% 11,1% 33,3% 22,2% 0,0% 0,0% 100,0%
% within 100,0% 14,3% 60,0% 66,7% 0,0% 0,0% 45,0%
Status_Luka_Post_
Intervensi
% of Total 15,0% 5,0% 15,0% 10,0% 0,0% 0,0% 45,0%
>60 tahun Count 0 3 1 1 1 1 7
% within Usia 0,0% 42,9% 14,3% 14,3% 14,3% 14,3% 100,0%
% within 0,0% 42,9% 20,0% 33,3% 100,0% 100,0 35,0%
Status_Luka_Post_ %
Intervensi
% of Total 0,0% 15,0% 5,0% 5,0% 5,0% 5,0% 35,0%
Total Count 3 7 5 3 1 1 20
% within Usia 15,0% 35,0% 25,0% 15,0% 5,0% 5,0% 100,0%
% within 100,0% 100,0 100,0 100,0 100,0% 100,0 100,0%
Status_Luka_Post_ % % % %
Intervensi
% of Total 15,0% 35,0% 25,0% 15,0% 5,0% 5,0% 100,0%

Latihan Fisik * Status Kondisi Luka Pre Intervensi Crosstabulation


Status_Luka_Pre_Intervensi
35 36 37 38 39 40 41 42 Total
Latihan_ Tidak Count 3 4 4 2 3 1 2 1 20
Fisik % within 15,0% 20,0% 20,0% 10,0% 15,0% 5,0% 10,0% 5,0% 100,0
Latihan_Fisik %
% within 100,0 100,0 100,0 100,0 100,0 100,0 100,0 100,0 100,0
Status_Luka_Pre_Int % % % % % % % % %
ervensi
% of Total 15,0% 20,0% 20,0% 10,0% 15,0% 5,0% 10,0% 5,0% 100,0
%
Total Count 3 4 4 2 3 1 2 1 20
164

% within 15,0% 20,0% 20,0% 10,0% 15,0% 5,0% 10,0% 5,0% 100,0
Latihan_Fisik %
% within 100,0 100,0 100,0 100,0 100,0 100,0 100,0 100,0 100,0
Status_Luka_Pre_Int % % % % % % % % %
ervensi
% of Total 15,0% 20,0% 20,0% 10,0% 15,0% 5,0% 10,0% 5,0% 100,0
%

Latihan Fisik * Status Kondisi Luka Post Intervensi Crosstabulation


Status_Luka_Post_Intervensi
30 31 32 33 34 35 Total
Latihan_ Tidak Count 3 7 5 3 1 1 20
Fisik % within 15,0% 35,0% 25,0% 15,0% 5,0% 5,0% 100,0%
Latihan_Fisik
% within 100,0 100,0 100,0 100,0 100,0 100,0 100,0%
Status_Luka_Post_In % % % % % %
tervensi
% of Total 15,0% 35,0% 25,0% 15,0% 5,0% 5,0% 100,0%
Total Count 3 7 5 3 1 1 20
% within 15,0% 35,0% 25,0% 15,0% 5,0% 5,0% 100,0%
Latihan_Fisik
% within 100,0 100,0 100,0 100,0 100,0 100,0 100,0%
Status_Luka_Post_In % % % % % %
tervensi
% of Total 15,0% 35,0% 25,0% 15,0% 5,0% 5,0% 100,0%

Keteraturan Obat * Status Kondisi Luka Pre Intervensi Crosstabulation


Status_Luka_Pre_Intervensi
35 36 37 38 39 40 41 42 Total
Obat Ya Count 3 4 4 2 3 1 2 1 20
% within Obat 15,0% 20,0% 20,0% 10,0% 15,0% 5,0% 10,0% 5,0% 100,0%
% within 100,0 100,0 100,0 100,0 100,0 100,0 100,0 100,0 100,0%
Status_Luka_ % % % % % % % %
Pre_Intervens
i
% of Total 15,0% 20,0% 20,0% 10,0% 15,0% 5,0% 10,0% 5,0% 100,0%
Total Count 3 4 4 2 3 1 2 1 20
% within Obat 15,0% 20,0% 20,0% 10,0% 15,0% 5,0% 10,0% 5,0% 100,0%
165

% within 100,0 100,0 100,0 100,0 100,0 100,0 100,0 100,0 100,0%
Status_Luka_ % % % % % % % %
Pre_Intervens
i
% of Total 15,0% 20,0% 20,0% 10,0% 15,0% 5,0% 10,0% 5,0% 100,0%

Keteraturan Obat * Status Kondisi Luka Post Intervensi Crosstabulation


Status_Luka_Post_Intervensi
30 31 32 33 34 35 Total
Obat Ya Count 3 7 5 3 1 1 20
% within Obat 15,0% 35,0% 25,0% 15,0% 5,0% 5,0% 100,0%
% within 100,0 100,0 100,0 100,0 100,0 100,0 100,0%
Status_Luka_ % % % % % %
Post_Interven
si
% of Total 15,0% 35,0% 25,0% 15,0% 5,0% 5,0% 100,0%
Total Count 3 7 5 3 1 1 20
% within Obat 15,0% 35,0% 25,0% 15,0% 5,0% 5,0% 100,0%
% within 100,0 100,0 100,0 100,0 100,0 100,0 100,0%
Status_Luka_ % % % % % %
Post_Interven
si
% of Total 15,0% 35,0% 25,0% 15,0% 5,0% 5,0% 100,0%

Pola Makan * Status Kondisi Luka Pre Intervensi Crosstabulation


Status_Luka_Pre_Intervensi
35 36 37 38 39 40 41 42 Total
Pola_Makan Ya Count 3 4 4 2 3 1 2 1 20
% within 15,0% 20,0% 20,0% 10,0% 15,0% 5,0% 10,0% 5,0% 100,0%
Pola_Makan
% within 100,0 100,0 100,0 100,0 100,0 100,0 100,0 100,0 100,0%
Status_Luka_ % % % % % % % %
Pre_Intervens
i
% of Total 15,0% 20,0% 20,0% 10,0% 15,0% 5,0% 10,0% 5,0% 100,0%
Total Count 3 4 4 2 3 1 2 1 20
% within 15,0% 20,0% 20,0% 10,0% 15,0% 5,0% 10,0% 5,0% 100,0%
Pola_Makan
166

% within 100,0 100,0 100,0 100,0 100,0 100,0 100,0 100,0 100,0%
Status_Luka_ % % % % % % % %
Pre_Intervens
i
% of Total 15,0% 20,0% 20,0% 10,0% 15,0% 5,0% 10,0% 5,0% 100,0%

Pola Makan * Status Kondisi Luka Post Intervensi Crosstabulation


Status_Luka_Post_Intervensi
30 31 32 33 34 35 Total
Pola_Makan Ya Count 3 7 5 3 1 1 20
% within 15,0% 35,0% 25,0% 15,0% 5,0% 5,0% 100,0%
Pola_Makan
% within 100,0 100,0 100,0 100,0 100,0 100,0 100,0%
Status_Luka_ % % % % % %
Post_Interven
si
% of Total 15,0% 35,0% 25,0% 15,0% 5,0% 5,0% 100,0%
Total Count 3 7 5 3 1 1 20
% within 15,0% 35,0% 25,0% 15,0% 5,0% 5,0% 100,0%
Pola_Makan
% within 100,0 100,0 100,0 100,0 100,0 100,0 100,0%
Status_Luka_ % % % % % %
Post_Interven
si
% of Total 15,0% 35,0% 25,0% 15,0% 5,0% 5,0% 100,0%

Gula Darah Acak* Status Kondisi Luka Pre Intervensi Crosstabulation


Status_Luka_Pre_Intervensi
35 36 37 38 39 40 41 42 Total
Gula_Darah >200 Count 3 4 4 2 3 1 2 1 20
mg/dL % within 15,0% 20,0% 20,0% 10,0% 15,0% 5,0% 10,0% 5,0% 100,0%
Gula_Darah
% within 100,0 100,0 100,0 100,0 100,0 100,0 100,0 100,0 100,0%
Status_Luka_ % % % % % % % %
Pre_Intervens
i
% of Total 15,0% 20,0% 20,0% 10,0% 15,0% 5,0% 10,0% 5,0% 100,0%
Total Count 3 4 4 2 3 1 2 1 20
% within 15,0% 20,0% 20,0% 10,0% 15,0% 5,0% 10,0% 5,0% 100,0%
Gula_Darah
167

% within 100,0 100,0 100,0 100,0 100,0 100,0 100,0 100,0 100,0%
Status_Luka_ % % % % % % % %
Pre_Intervens
i
% of Total 15,0% 20,0% 20,0% 10,0% 15,0% 5,0% 10,0% 5,0% 100,0%

Gula Darah Acak* Status Kondisi Luka Post Intervensi Crosstabulation


Status_Luka_Post_Intervensi
30 31 32 33 34 35 Total
Gula_Darah >200 Count 3 7 5 3 1 1 20
mg/dL % within 15,0% 35,0% 25,0% 15,0% 5,0% 5,0% 100,0%
Gula_Darah
% within 100,0 100,0 100,0 100,0 100,0 100,0 100,0%
Status_Luka_ % % % % % %
Post_Interven
si
% of Total 15,0% 35,0% 25,0% 15,0% 5,0% 5,0% 100,0%
Total Count 3 7 5 3 1 1 20
% within 15,0% 35,0% 25,0% 15,0% 5,0% 5,0% 100,0%
Gula_Darah
% within 100,0 100,0 100,0 100,0 100,0 100,0 100,0%
Status_Luka_ % % % % % %
Post_Interven
si
% of Total 15,0% 35,0% 25,0% 15,0% 5,0% 5,0% 100,0%
168

Lampiran 19

OUTPUT UJI HOMOGENITAS

Pre-Test Kelompok Intervensi dan Kontrol


Test of Homogeneity of Variance
Levene
Statistic df1 df2 Sig.
Pre_Test Based on Mean 6,966 1 38 ,012
Based on Median 1,791 1 38 ,189
Based on Median and with 1,791 1 26,144 ,192
adjusted df
Based on trimmed mean 6,271 1 38 ,017
169

Lampiran 20

OUTPUT UJI NORMALITAS KOLMOGOROV-SMIRNOV

Kelompok Intervensi Daun Bidara Arab

One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test


Pre_Intervensi Post_Intervensi
N 20 20
Normal Parametersa,b Mean 37,7000 31,7500
Std. Deviation 2,12999 1,33278
Most Extreme Differences Absolute ,179 ,213
Positive ,179 ,213
Negative -,102 -,137
Test Statistic ,179 ,213
Asymp. Sig. (2-tailed) ,093c ,018c
a. Test distribution is Normal.
b. Calculated from data.
c. Lilliefors Significance Correction.

Kelompok Kontrol NaCl

One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test


Pre_Kontrol Post_Kontrol
N 20 20
Normal Parametersa,b Mean 37,25 31,55
Std. Deviation 3,878 3,410

Most Extreme Differences Absolute ,274 ,215


Positive ,139 ,136

Negative -,274 -,215


Test Statistic ,274 ,215
Asymp. Sig. (2-tailed) ,000c ,016c
a. Test distribution is Normal.
b. Calculated from data.
c. Lilliefors Significance Correction.
170

Lampiran 21

OUTPUT UJI WILCOXON

Ranks
N Mean Rank Sum of Ranks
Post_Intervensi - Negative Ranks 20a 10,50 210,00
Pre_Intervensi Positive Ranks 0b ,00 ,00

Ties 0c
Total 20

a. Post_Intervensi < Pre_Intervensi


b. Post_Intervensi > Pre_Intervensi
c. Post_Intervensi = Pre_Intervensi

Test Statisticsa
Post_Intervensi
- Pre_Intervensi
Z -3,941b
Asymp. Sig. (2-tailed) ,000
a. Wilcoxon Signed Ranks Test
b. Based on positive ranks.

Ranks
N Mean Rank Sum of Ranks
Post_Intervensi - Negative Ranks 20a 10,50 210,00
Pre_Intervensi Positive Ranks 0b ,00 ,00
Ties 0c
Total 20
a. Post_Intervensi < Pre_Intervensi
b. Post_Intervensi > Pre_Intervensi
c. Post_Intervensi = Pre_Intervensi

Test Statisticsa
Post_Intervensi
- Pre_Intervensi
Z -3,941b
Asymp. Sig. (2-tailed) ,000
a. Wilcoxon Signed Ranks Test
b. Based on positive ranks.
171

Lampiran 22

OUTPUT MANN WHITNEY

Ranks
Kelompok N Mean Rank Sum of Ranks
POST Intervensi 13 12,73 165,50
Kelompok 13 14,27 185,50
Total 26

Test Statisticsa
POST
Mann-Whitney U 74,500
Wilcoxon W 165,500
Z -,544
Asymp. Sig. (2-tailed) ,586
Exact Sig. [2*(1-tailed Sig.)] ,614b
a. Grouping Variable: Kelompok
b. Not corrected for ties.
172

Lampiran 23

DOKUMENTASI PENELITIAN

Anda mungkin juga menyukai