Manajemen Perubahan dalam Organisasi
Manajemen Perubahan dalam Organisasi
Disusun Oleh:
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Organisasi diciptakan untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Sesuai dengan perjalanan
waktu, organisasi tumbuh dan berkembang. Untuk itu organisasi harus berkembang sebagai
organisasi pembelajaran.
Dalam lingkungan yang semakin kompetitif, organisasi perlu melakukan perubahan sesuai
dengan tuntutan lingkungan. Untuk itu, organisasi perlu selalu melakukan inovasi untuk mencapai
standar keunggulan.
Dari penelitian yang pernah dilakukan dapat ditarik kesimpulan berikut untuk
implikasinya.
2) Program perubahan akan lebih berhasil jika dikaitkan langsung baik dengan hasil jangka
pendek maupun jangka panjang. Manajer tidak boleh terikat dalam perubahan
organisasional hanya sekadar untuk berubah. Usaha perubahan harus mencapai hasil
positif.
2) Crossed transactions terjadi jika pesan dari komunikasi yang tidak cocok atau
kompatibel antara adult dan child.
3) Ulterior transactions terjadi jika dua pihak saling menyatakan tentang sesuatu
dengan menggunakan kalimat yang tidak langsung, namun dipahami pihak
lainnya.
f. Process Consultation (Konsultasi Proses)
Memahami proses yang berlangsung di dalam organisasi merupakan hal yang
penting bagi efektivitas organisasi. Banyak masalah timbul karena tidak cukup
perhatian terhadap proses. Aspek struktural dan prosedural sangat penting bagi
organisasi untuk berjalan mulus. Process consultation memerlukan kombinasi
keterampilan dalam menumbuhkan hubungan saling membantu, mengetahui
macam proses yang dicari dalam organisasi, dan dalam cara memperbaiki proses
organisasi.
g. Third Party Peacemaking (Perdamaian Pihak Ketiga)
Third Party Peacemaking memfokuskan pada intervensi pihak ketiga untuk
mengatasi situasi konflik. Aspek fundamentalnya adalah seperti pada konsultan
membuat dua pihak yang saling tidak setuju dikonfrontasi atau dihadapkan
kenyataan bahwa konflik terjadi dan hal tersebut mengganggu efektivitas
keduanya.
h. Organizational Mirroring (Umpan Balik Organisasional)
Organizational Mirroring merupakan teknik intervensi dalam mengukur dan
memperbaiki efektivitas organisasi dengan mengusahakan umpan balik dari
beberapa kelompok lain. Jika suatu organisasi kesulitan dalam bekerja dengan
organisasi eksternal, dapat mencari bantuan pada unit tersebut untuk memahami
dan menyesuaikan apa yang berjalan salah dalam hubungan tersebut.
i. GRID Organizational Development (Jaringan Pengembangan Organisasional)
Manajer mulai belajar grid concept atau konsep jaringan, mengukur gaya
kepemimpinannya sendiri, dan belajar menggunakan beberapa instrumen untuk
mengukur berbagai dimensi efektivitas. Manajer dilatih menjadi instruktur bagi
orang lain yang menghadiri grid seminar
j. Open Systems Planning (Perencanaan Sistem Terbuka)
Gagasan umumnya adalah bahwa kelompok inti dari semua fungsi bekerja atas
dasar penuh waktu untuk mempertimbangkan misi, strategi, dan perencanaan
untuk organisasi. Dengan kata lain, mereka memutuskan arah tujuan mereka,
kemudian menentukan jalan setapak yang akan menuju tujuan yang diinginkan.
orang
k. Alternative Work Pattern (Pola Kerja Alternatif)
Dengan berkembangnya peran wanita, tumbuh pola kerja baru seperti flextime,
flexiplace, part-time, dan job sharing. Flextime merupakan fleksibilitas bagi
pekerja untuk menyesuaikan jam kerjanya yang sesuai dengan kepentingannya.
Flexiplace merupakan fleksibilitas bagi pekerja untuk menjalankan pekerjaannya,
misalnya pekerjaan dapat dilakukan dari rumahnya. Part-time merupakan peluang
untuk kerja paruh waktu, artinya pekerja tidak bekerja sepanjang jam kerja yang
berlaku di dalam organisasi. Sementara itu, job-sharing merupakan pengaturan
kerja di mana satu pekerjaan dikerjakan oleh lebih dari satu orang, masing-masing
berbagi pekerjaan.
3. Strategi Inovasi
Inovasi adalah gagasan baru yang diaplikasikan untuk memulai atau memperbaiki
produk, proses, atau jasa. Sebagai sumber untuk inovasi adalah variabel struktural.
Pertama, struktur organik secara positif memengaruhi inovasi. Struktur organik
memiliki diferensiasi vertikal, formalisasi, dan sentralisasi lebih rendah. Di sisi lain,
struktur organik memfasilitasi fleksibilitas, adaptasi, dan saling menyuburkan yang
membuat pengambilan inovasi lebih mudah. Kedua, lama jabatan dalam manajemen
dikaitkan dengan inovasi. Jabatan manajerial mengusahakan legitimasi dan
pengetahuan tentang bagaimana menyelesaikan tugas dan mencapai hasil yang
diharapkan. Ketiga, inovasi dipelihara apabila terdapat kekurangan sumber daya.
Keempat, komunikasi antarunit sangat tinggi dalam organisasi yang inovatif,
menggunakan banyak komite, task forces, tim lintas fungsi, dan mekanisme lain yang
memfasilitasi interaksi antardepartemen.
Developmental change dapat diterapkan untuk individu, kelompok atau seluruh organisasi
dan tidak dapat dipisahkan dengan proses perbaikan dalam: (1) pelatihan teknis dan personal,
seperti komunikasi, hubungan antarpersonal dan keterampilan pengawasan; (2) aplikasi
proses perbaikan atau kualitas; (3) intervensi untuk meningkatkan cycle time; (4) team
building; (5) problem solving; (6) memperbaiki komunikasi; (7) penyelesaian konflik; (8)
meningkatkan penjualan atau produksi; (9) manajemen rapat; (10) negosiasi peran; (11)
usaha survai umpan balik; (12) job enrichment; dan (13) memperluas jangkauan pasar yang
telah ada (Anderson and Anderson, 2001: 35).
2. Transitional Change
Transitional Change lebih kompleks daripada developmental change dan merupakan respons
pada pergeseran signifikan pada kekuatan lingkungan atau kebutuhan pasar untuk sukses.
Transitional change dimulai ketika pemimpin mengetahui bahwa suatu masalah terjadi dan
bahwa sesuatu dalam operasi perlu berubah atau diciptakan untuk melayani lebih baik
permintaan sekarang atau yang akan datang. Proses transitional change dapat digambarkan
sebagai berikut:
3. Transformational Change
Transformational Change paling sulit dipahami dan kan tipe perubahan yang paling
kompleks dihadapi organisasi saat ini. Transformasi adalah pergeseran secara radikal dari
satu keadaan ke keadaan lainnya sehingga signifikan apabila memerlukan pergeseran budaya,
perilaku dan pola pikir untuk melaksanakan dengan sukses dan berlanjut sepanjang waktu.
Merupa Dengan kata lain, transformasi memerlukan pergeseran dalam kepedulian manusia
yang secara lengkap mengubah cara organisasi dan orangnya melihat dunia, pelanggan,
pekerjaannya, dan dirinya. Keadaan baru sebagai hasil transformasi, umumnya tidak pasti
pada awal proses perubahan dan timbul sebagai produk usaha perubahan. Proses
transformational change dapat digambarkan sebagai berikut:
Sementara itu, Kreitner dan Kinicki (2001: 676) mendefinisikan learning organization sebagai
organisasi yang secara proaktif menciptakan, mendapatkan, dan mentransfer pengetahuan dan
yang mengubah perilakunya atas dasar pengetahuan dan wawasan baru.
3. Karakteristik Organisasi Pembelajaran
Organisasi pembelajaran atau learning organization memiliki tiga karakteristik. Pertama,
gagasan baru merupakan persyaratan bagi learning organization. Learning organization secara
aktif berusaha menginfus organisasi dengan gagasan dan informasi baru. Kedua, pengetahuan
baru harus ditransfer ke seluruh organisasi. Learning organization keras mengurangi struktur,
proses, dan hambatan interpersonal terhadap berbagai informasi, gagasan, dan pengetahuan di
antara anggota organisasi. Ketiga, perilaku harus berubah sebagai hasil pengetahuan baru.
Learning organization berorientasi pada hasil. Lingkungan diperkuat di mana pekerja
didorong menggunakan perilaku dan proses operasional baru untuk mencapai tujuan
korporasi.
4. Kapabilitas Pembelajaran
Learning organization mengembangkan learning capability, yaitu serangkaian kompetensi inti
yang didefinisikan sebagai pengetahuan, keterampilan, dan pengetahuan teknis khusus yang
membedakan organisasi dari pesaingnya dan proses internal yang memungkinkan organisasi
diterima di lingkungannya.
Sebagai kontributor, learning capability adalah faciliting factors dan learning mode. Faciliting
factor merupakan struktur dan proses internal yang memengaruhi seberapa mudah atau sulit
untuk terjadinya pembelajaran dan jumlah pembelajaran efektif terjadi. Sementara itu,
learning mode merupakan berbagai cara di mana organisasi berusaha menciptakan dan
memaksimalkan pembelajaran.
5. Cara Pembelajaran
Terdapat enam learning mode atau cara pembelajaran yang dominan, yaitu sebagai berikut.
a. Analytic Learning (Pembelajaran Analitis)
Pembelajaran terjadi melalui penyatuan secara sistematis informasi internal dan eksternal.
Informasi cenderung kuantitatif dan dianalisis melalui sistem formal. Tekanannya pada
penggunaan logika deduktif untuk secara numerik menganalisis data objektif.
b. Synthetic Learning (Pembelajaran Sintesis)
Di dalamnya mengandung sejumlah besar informasi yang kompleks dengan
menggunakan pemikiran sistem. Dengan demikian, pekerja berusaha mengidentifikasi
hubungan antara isu, masalah, dan peluang.
c. Experimental Learning (Pembelajaran Eksperimental)
Cara ini menggunakan pendekatan metodologi rasional yang didasarkan pada
menjalankan eksperimen dan memonitor hasilnya. Peserta pembelajaran melakukan
eksperimen untuk melakukan pengujian.
d. Interactive Learning (Pembelajaran Interaktif)
Cara ini menyangkut learning by doing atau pembelajaran dengan cara melakukan.
Daripada menggunakan prosedur metodologi sistematik, pembelajaran terjadi terutama
melalui pertukaran informasi. Pembelajaran lebih bersifat intuitif dan induktif.
e. Structural Learning (Pembelajaran Struktural)
Cara ini menggunakan pendekatan metodologis yang di dasarkan pada penggunaan
rutinitas organisasional. Rutinitas organisasional merupakan proses dan prosedur standar
yang memerinci bagaimana menjalankan tugas dan peran. Orang belajar dari rutinitas
sebab hal tersebut mengarahkan perhatian, melembagakan standar, dan menciptakan
perbendaharaan kata secara konsisten.
f. Institutional Learning (Pembelajaran Institusional)
Cara ini mencerminkan proses induktif dengan mana organisasi menyumbangkan dan
memodelkan nilai-nilai, kepercayaan, dan praktik baik dari lingkungan eksternal atau dari
eksekutif senior. Sosialisasi dan mentoring memainkan peran penting dalam institutional
learning.
6. Resistensi Pembelajaran
Organisasi tidak secara sadar menolak pembelajaran. Mereka melakukan hal tersebut karena
tiga masalah fundamental (Kreitner dan Kinicki, 2001: 681). Untuk mengatasi masalah
tersebut, diperlukan pergeseran fundamental tentang bagaimana kita memandang dunia.
a. Pada Fragmentasi daripada Sistem
Di dalam organisasi, fragmentasi menciptakan tembok fungsional yang memisahkan
orang menjadi kelompok independen. Pada gilirannya menghasilkan spesialis yang
bekerja dalam daerah fungsional tertentu. Hal tersebut juga membangkitkan kebanggaan
internal yang memerangi kekuasaan, sumber-sumber, dan pengawasan. Pembelajaran,
sharing, kerja sama, dan kolaborasi menjadi hilang.
b. Menekankan Kompetisi di atas Kerja Sama
Kompetisi merupakan paradigma dominan di bidang sosial dan manajemen. Meskipun
tidak ada yang salah dengan kompetisi, paradigma ini berakibat pada pekerja dalam
bersaing dengan berbagai orang dengan siapa mereka perlu berkolaborasi untuk
mendapatkan [Link] itu, persaingan menciptakan tekanan berlebihan untuk melihat
kebaikan daripada menjadi baik, yang menghambat pembelajaran karena orang menjadi
enggan untuk mengakui ketika mereka tidak mengetahui [Link], kompetisi
menghasilkan pendapat atas hasil terukur jangka pendek daripada solusi jangka panjang
atas akar masalah.
c. Jadilah Reaktif daripada Kreatif dan Proaktif
Orang hanya terbiasa dengan perubahan jika merasa perlu sebab hidup kurang
menimbulkan stress dan frustasi jika kita berada di dalam zona yang nyaman. Dorongan
untuk belajar didorong oleh kepentingan pribadi, keyakinan, aspirasi, imajinasi,
eksperimentasi, dan pengambilan risiko. Persoalannya adalah bahwa kita semua telah
dikondisikan untuk merespons dan bereaksi terhadap arah dan persetujuan orang lain. Hal
ini merusak dorongan intrinsik untuk belajar. Kecenderungan ini akan menjadi dua kali
lipat dengan management by fear, intimidasi,dan krisis, orang tidak hanya menolak
belajar, mereka akan menjadi takut untuk mengambil risiko.
7. Kepemimpinan Efektif sebagai Solusi
Pemimpin dapat membangun budaya organisasi yang mendorong pemikiran berdasar sistem,
terhadap fragmentasi, kolaborasi dan kerja sama atas kompetisi, dan inovasi dan proaksi atas
reaktivitas. Pemimpin harus mengambil peran baru dan aktivitas yang bersangkutan untuk
membangun learning organization.
APAKAH Pemimpin perlu mewujudkan tiga macam fungsi kunci dalam membangun learning
organization (Kreitner dan Kinicki, 2001: 682), yaitu sebagai berikut.
a. Membangun Komitmen pada Pembelajaran
Pemimpin perlu menanamkan komitmen intelektual dan emosional terhadap
pembelajaran. Pemimpin dapat mempromosikan nilai pembelajaran dengan
membangun model sikap dan perilaku yang diinginkan. Untuk itu, dapat dilakukan
aktivitas: (1) membuat pembelajaran sebagai komponen visi dan tujuan strategis; (2)
investasi dalam pembelajaran; (3) mempromosikan secara luas tentang nilai
pembelajaran; (4) mengukur, tolok ukur, dan menelusuri pembelajaran; dan (5)
menciptakan penghargaan dan simbol pembelajaran.
b. Bekerja untuk Membangkitkan Gagasan dengan Dampak
Gagasan dengan dampak menambah nilai kepada satu atau lebih stakeholder organisasi,
yaitu pekerja, pelanggan, dan pemegang saham. Kegiatan kepemimpinan meliputi: (1)
implementasi program perbaikan terus-menerus; (2) meningkatkan kompetensi pekerja
melalui training atau membeli keahlian dari luar organisasi; (3) eksperimen dengan
gagasan, proses, dan pengaturan struktural baru; (4) pergi keluar organisasi
mengidentifikasi gagasan dan proses kelas dunia; (5) identitikasi mental models proses
organisasi; dan (6) menanamkan system of thinking ke seluruh organisasi.
c. Bekerja Menggeneralisasi Gagasan dengan Dampak
Pemimpin harus membuat usaha yang disetujui bersama untuk mengurangi hambatan
interpersonal, kelompok, dan organisasional terhadap pembelajaran.
Hal ini dapat dilakukan dengan: (1) menciptakan prasarana yang menggerakkan gagasan
sepanjang batas-batas organisasi; dan (2) memutar pekerja dari batasan fungsional dan
divisional.
a. People Excellence
Hanya orang berkualitas yang dapat membawa organisasi menjadi excellence. Oleh
karena itu, peran pemimpin adalah memilih orang yang benar.
People excellence adalah tentang kompetensi dan komitmen (Victor Tan, 2002: 79). Di
era digital di mana perubahan berlangsung dengan cepat, maka pengetahuan,
keterampilan dan pengalaman dapat susut dengan sangat cepat. Untuk mendorong
pengetahuan dan keterampilan, pemimpin harus mengembangkan learning organization
di tempat kerja. Mengembangkan learning organization tidak hanya sekadar
menjalankan program pelatihan dan kursus untuk staf. Akan tetapi, tentang memperkuat
lingkungan kerja yang memberikan kesempatan pekerja belajar sambil bekerja, belajar
satu sama lainnya, membagikan pengetahuan dan pengalamannya dan belajar dari
praktik terbaik di dalam industri. Namun, kenyataannya tidak ada organisasi yang dapat
memberikan semua pembelajaran yang diperlukan orangnya.
Dalam hal ini self-learning dan self-education secara berkelanjutan cara terbaik menjaga
tingkat kompetensi seseorang tetap relevan dengan lingkungan yang berubah dengan
cepat.
People excellence adalah tentang komitmen. Tanpa komitmen, semua pengetahuan,
keterampilan dan pengalaman tidak melakukan sesuatu yang baik bagi organisasi. Satu
alasan terpenting mengapa banyak pekerja gagal berprestasi seperti diharapkan adalah
karena mereka tidak ingin melakukan apa yang diharapkan untuk dilakukan.
Oleh karena itu, menjadi ironis karena sebenarnya pekerja mempunyai kualifikasi dan
kompetensi untuk melakukan pekerjaannya dengan baik, tetapi gagal mewujudkannya.
Komitmen terhadap pekerjaan sudah pasti ditentukan oleh sikap, motivasi dan pola pikir
seseorang. Karenanya untuk mengembangkan people excellence seharusnya tidak hanya
dengan meningkatkan kompetensi, tetapi juga tentang mengubah pola pikir untuk
membangun komitmen terhadap tugas, liburan, organisasi, industri, komunitas, dan
bangsa secara keseluruhan.
b. Policy Excellence
Policy excellence adalah tentang pemikiran strategis dan menetapkan arah yang tepat
untuk organisasi, tidak hanya sekadar menguntungkan dan berhasil, tetapi juga mampu
melanjutkan kinerjanya dan survive dalam jangka panjang (Victor Tan, 2002: 80). Dalam
hal ini, menyediakan produk dan jasa
dengan benar yang dibutuhkan pelanggan merupakan hal yang penting sekali. Menuju
pada pasar yang tepat dan datang dengan strategi pemasaran yang efektif pada produk
dan jasa yang berbeda adalah tentang policy excellence. Kenyataannya, strategi
pemasaran yang efektif akan memberikan hasil yang lebih baik daripada strategi
pengurangan biaya murni.
Policy excellence memerlukan pemimpin bergerak di luar pemikiran operasional normal.
Mereka harus membentangkan dirinya dan mengikat pada pemikiran strategis tentang
issue yang signifikan, mempunyai dampak organisasi luas dan implikasi jangka panjang
bagi ketahanan organisasi.
c. Process Excellence
Business Process Re-engineering di awal tahun 1990-an sangat populer. Akan tetapi,
banyak penulis yang mengemukakan kegagalannya. Sebenarnya tidak ada yang salah
dalam konsep Business Process Re-engineering sebagai alat untuk memperbaiki
keunggulan bisnis. Kesalahannya terletak pada advokasinya yang menggunakan sebagai
alat yang terisolasi untuk men- capai keunggulan bisnis (Victor Tan, 2002: 81).
Pertama, Business Process Re-engineering tidak dapat memperbaiki masalah jika
perusahaan menghasilkan dan memasarkan produk yang salah. Kedua, Business Process
Re-engineering juga tidak dapat memberikan kontribusi pada keunggulan bisnis jika
orang dalam organisasi tidak kompeten atau jika pekerja tidak memiliki komitmen dalam
melakukan inisiatif perbaikan. Ketiga, Business Process Re-engineering dapat menjadi
alat yang sangat efektif untuk menurunkan biaya dan meningkatkan daya saing
organisasi apabila digunakan dengan benar sebagai pelengkap dari alat lainnya untuk
mencapai keunggulan bisnis.
d. Product Excellence
Product excellence adalah tentang menghasilkan produk yang benar atau menyampaikan
jasa dengan benar, yang menawarkan baik kualitas maupun nilai uang bagi konsumen.
Product excellence dapat dicapai melalui riset dan pengembangan dan komitmen untuk
menghasilkan produk berkualitas (Victor Tan, 2002: 81).
Terdapat delapan dimensi yang perlu diperhatikan organisasi untuk mencapai kualitas
produk, yaitu sebagai berikut.
1) Performance, yaitu karakteristik operasi utama produk. Kinerja suatu personal
computer termasuk kecepatan, memori dan kapasitas hard disk.
2) Features, yaitu aspek kedua kinerja, misalnya kemungkinan dapat di-upgradenya
personal computer tersebut.
3) Reliability, yaitu kemungkinan keberhasilan mewujudkan fungsi khusus untuk
periode waktu spesifik dalam kondisi tertentu.
4) Conformance, yaitu tingkat kemampuan produk memenuhi standar tertentu yang
telah ditetapkan.
5) Durability, yaitu jangka waktu hidup produk sebelum memburuk dalam kinerja dan
perlu diganti.
6) Serviveability, yaitu kecepatan dan kemudahan memperBaiki atau kemampuan
mengatasi persoalan.
7) Aesthetics, yaitu bagaimana tampak, terasakan, sounds, selera atau bau suatu
produk.
8) Perceived quality, yaitu persepsi yang dimiliki pelanggan atau pelanggan potensial
tentang produk atau penghargaan terhadapnya.
Suatu organisasi yang berkomitmen untuk memperbaiki dengan setiap cara yang
mungkin, dengan penghargaan pada delapan karakteristik produk tersebut, akan dapat
mengembangkan keuntungan kompetitif di pasar.
e. Practice Excellence
Practice excellence adalah tentang cara mengerjakan, cara orang memperlakukan satu
sama lain dan tentang cara orang dalam organisasi melayani pelanggan mereka. Struktur
unggul, sistem atau proses bukanlah pengganti untuk kurangnya practice excellence
(Victor Tan, 2002: 82).
Practice excellence adalah lebih dalam melakukan daripada dalam mengajarkan atau
merencanakan. Practice excellence berada di luar pengetahuan dan keterampilan, dan
memerlukan disiplin dan komitmen untuk melakukan sesuatu dengan cara yang
diperlukan keunggulan.
f. Performance Excellence
Performance excellence adalah tentang menetapkan track record dan melanjutkan
dalam jangka panjang. Performance excellence harus didasarkan pada nilai nyata
organisasi. Setiap organisasi harus mempunyai produk dan jasa riil dan pelanggan.
Mereka harus mempunyai strategi pemasaran yang efektif. Mereka perlu
mengembangkan orang yang kompeten dan berkomitmen. Mereka perlu mengelola dan
memanfaatkan sumber daya secara efisien dan secara efektif agar dapat memberikan
hasil yang menarik. Mereka perlu menetapkan benchmark terhadap praktik terbaik dan
tetap efektif didalam industri yang dihormati. Mereka harus menjalankan bisnis seperti
biasa berkaitan dengan perspektif jangka panjang dan visi (Victor Tan, 2002: 83).
Performance excellence hanya dapat dicapai jika perusahaan mempunyai kombinasi
terbaik dari people excellence, process excellence, policy excellence, process excellence
dan practice excellence.
2. Menciptakan Keunggulan
Cara terbaik untuk menggali sarana untuk menciptakan excellence atau keunggulan adalah
dengan menanyakan tiga pertanyaan dasar berikut ini :
a. Dengan cara bagaimana kita ingin kelihatan berbeda ?
b. Dalam bidang spesifik apa akita ingin menjadi yang pertama ?
c. Dalam bisnis ap akita ingin menjadi yang terbaik?
a. Model keunggulan
1). Being different (Menjadi berbeda)
Sikap untuk menuju keunggulan adalah berusaha sekuat tenanga untuk menjadi
berbeda dari lainnya di mata pelanggan. Perbedaan ini harus menarik dan cukup
memaksa sehingga pelanggan akan memilih produk atau jasa anda di atas
lainnya.
Dalam lingkungan yang baru dan kompetitif, market leader perlu membedakan
dirinya dengan mencapai nilai tertinggi dari prespektif pelanggan.
a. pelanggan yang berbeda memilih tipe yang berbeda
b. Begitu nilai standar naik, demikian pula harapan pelanggan.
c. untuk menghasilkan tingkat yang tidak sebanding dari nilai tertentu, di perluan
model operasi yang superior dan jasa organsasi dalam bentuk mengusahakan
nilai tertinggi di mata pelanggan
2). Being the first ( menjadi yang pertama )
Sikap pada keunggulan untuk menjadi yang pertama harus memberikan
keuntungan nyata dan peluang dalam eksploitasi posisi tersebut. Karena itu,
apabila organisasi merupakan yang pertama dalam mengembangkan produk atau
jasa baru, tetapi tetapi tidak memberikan keuntungan atau manfaat darinya,
starteginya perlu di pertanyakan. Apakah perusahaan mengembangkan produk
atau
jasa yang benar yang menjadi pertama? Apakah manajer mengekspolitasi posisi
kepemimpinan secara efektif?
Menurut Rosabeth Mos Kanter (2003;4) mengelola perubahan terjadi pada tiga
tingkatan:
1. Change Projects, merupakan Tindakan spesifik yang dirancang untuk menghadapi
masalah ata kebutuhan tertentu.
2. Change Programs, merupakan proyek yang saling berhubungan dirancang
mempunyai dampak kumulatif organisasional.
3. Change-adept organizations, merupakan investasi yang mnciptakan kapabilitas
untuk inovasi dan perbaikan berkelanjutan, untuk merangkul perubahan sebagai
peluang yang diharapkan secara internal sebelum menadi ancaman eksternal, dengan
memobilisasi banyak orang berkontribusi dalam organisasi.
Change adept organization merupakan system yang dinamik, system terbuka dengan
banyak jalan aktif untuk partisipasi dan pengaruh, dengan banyak orang terlibat
dalam mencari gagasan lebih baik dan dengan umpan balik cepat didalam dan luar
organisasi.