100% menganggap dokumen ini bermanfaat (1 suara)
162 tayangan101 halaman

Spesifikasi Pekerjaan Mekanikal Elektrikal

Dokumen tersebut berisi persyaratan teknis untuk pekerjaan mekanikal dan elektrikal pada pembangunan sarana dan prasarana Mesjid Al-jihad. Termasuk standar dan peraturan yang berlaku untuk sistem instalasi plambing, listrik, HVAC, pemadam kebakaran, dan transportasi vertikal. Pelaksana pekerjaan harus mengacu pada standar nasional dan internasional terkait serta menyusun gambar kerja rinci untuk disetujui sebelum pelaks

Diunggah oleh

aritapen
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
100% menganggap dokumen ini bermanfaat (1 suara)
162 tayangan101 halaman

Spesifikasi Pekerjaan Mekanikal Elektrikal

Dokumen tersebut berisi persyaratan teknis untuk pekerjaan mekanikal dan elektrikal pada pembangunan sarana dan prasarana Mesjid Al-jihad. Termasuk standar dan peraturan yang berlaku untuk sistem instalasi plambing, listrik, HVAC, pemadam kebakaran, dan transportasi vertikal. Pelaksana pekerjaan harus mengacu pada standar nasional dan internasional terkait serta menyusun gambar kerja rinci untuk disetujui sebelum pelaks

Diunggah oleh

aritapen
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Pembangunan Sarana Dan Prasaran Mesjid Al-jihad

PERSYARATAN TEKNIS
PEKERJAAN MEKANIKAL ELEKTRIKAL

SPESIFIKASI TEKNIS
PEKERJAAN MEKANIKAL ELEKTRIKAL

NO URAIAN HAL

3.1 SYARAT-SYARAT UMUM 3-8

SISTEM INSTALASI PLAMBING

3.2 PEKERJAAN PLAMBING 3-15

3.3 PEKERJAAN PERPIPAAN 3-16

3-25
3.4 PEKERJAAN SISTEM AIR BERSIH

3.5 PEKERJAAN SISTEM AIR LIMBAH 3-32

3.6 PEKERJAAN SISTEM TATA UDARA 3-36

3.7 PEKERJAAN SISTEM PEMADAMAN KEBAKARAN 3-53

SISTEM INSTALASI ELEKTRIKAL

4.1 PEKERJAAN LISTRIK ARUS KUAT 3-61

4.2 PEKERJAAN PENANGKAL PETIR 3-37

4.3 PEKERJAAN DIESEL GENERATING SET 3-74

4.4 PEKERJAAN FIRE ALARM 3-82

PEKERJAAN TATA SUARA 3-87


4.5
3-89
4.6 PEKERJAAN TELEPON
3-92
4.7 PEKERJAAN MASTER ANTENE
3-93
4.8 PEKERJAAN CCTV
3-96
4.9 PEKERJAAN LAN

PEKERJAAN TRANPORTASI VERTIKAL

5.1 PERATURAN UMUM 3-104

5.1 PEKERJAAN ELEVATOR/LIFT 3-108


Pembangunan Sarana Dan Prasaran Mesjid Al-jihad

PERSYARATAN TEKNIS
PEKERJAAN MEKANIKAL ELEKTRIKAL

PERSYARATAN TEKNIS UMUM

1.1. UMUM
Persyaratan ini merupakan bagian dari persyaratan teknis ini. Apabila ada klausul dari
persyaratan ini yang dituliskan kembali dalam persyaratan teknis ini, berarti menuntut
perhatian khusus pada klausul-klausul tersebut dan bukan berarti menghilangkan
klausul- klausul lainnya dari syarat-syarat umum.

1.2. PERATURAN DAN ACUAN


Pemasangan instalasi ini pada dasarnya harus memenuhi atau mengacu kepada
Peraturan Daerah maupun Nasional, Keputusan Menteri, Assosiasi Profesi
Internasional, Standar Nasional maupun Internasional yang terkait. Pelaksana
Pekerjaan dianggap sudah mengenal dengan baik standard dan acuan nasional
maupun internasional dari Amerika dan Australia dalam spesifikasi ini. Adapun
standart atau acuan yang dipakai,tetapi tidak terbatas,antara lain seperti dibawah ini :

1.2.1. Listrik Arus Kuat (L.A.K)


 SNI-04-0227-1994 tentang Tegangan Standar.
 SNI-04-0255-2000 tentang Persyaratan Umum Instalasi Listrik.
 SNI-03-7015-2004 tentang Sistem Proteksi Petir pada Bangunan.
 SNI-03-6197-2000 tentang Konversi Energi Sistem Pencahayaan.
 SNI-03-6574-2001 tentang Tata Cara Perancangan PencahayaanDarurat,
Tanda Arah dan Sistem Peringatan Bahaya pada Bangunan.
 SNI-03-6575-2001 tentang Tata Cara Perancangan Sistem Pencahayaan
Buatan pada Bangunan.
 SNI-03-7018-2004 tentang Sistem Pasokan Daya darurat

1.2.2. Listrik Arus Lemah (L.A.L)


 SNI-03-3985-2000 tentang Sistem Deteksi dan Alarm Kebakaran.
 KepMen PU 10/KPTS/2000 tg. 1-03-2000 tentang Ketentuan Teknis
Pengaman Terhadap Bahaya Kebakaran pada Bangunan Gedung dan
Lingkungan.
 UU No. 32/1999 tentang Telekomunikasi dgn PP No. 52/2000 tentang
Telekomunikasi Indonesia.
 Wolsey, Planning for TV Distribution System
 Wisi, CATV System Refference
 Sony, CATV Equipment
 National, Cable Master Antenna System
 AVE, VOE, PI, UIL

1.2.3. Plambing
 Peraturan Daerah (PERDA) setempat
 Peraturan-peraturan Cipta Karya, Departemen Pekerjaan Umum
 Perencanaan & Pemeliharaan Sistem Plambing, Soufyan Nurbambang &
Morimura.
 Pedoman Umum Instalasi Listrik (PUIL) 2000 atau edisi terakhir.
 SNI 8153-2015 Sistem plambing pada bangunan gedung atau edisi
terakhir.

1.2.4. Pemadam Kebakaran


 SNI-03-1745-2000 tentang Pipa tegak dan Slang.
 SNI-03-3989-2000 tentang Sprinkler Otomatik.
 Perda Pemda setempat.
 Penanggulangan Bahaya Kebakaran Dalam Wilayah Setempat.
 Departemen Pekerjaan Umum, Skep Menteri Pekerjaan Umum No.
10/KPTS/2000 tentang Ketentuan Teknis Pengamanan terhadap Bahaya
Kebakaran Pada Bangunan Gedung dan Lingkungan.
 LITERATURE DAN / ATAU REFERENCE
Pembangunan Sarana Dan Prasaran Mesjid Al-jihad

PERSYARATAN TEKNIS
PEKERJAAN MEKANIKAL ELEKTRIKAL
 National Fire Codes :
- NFPA-10, Standard for Portable Fire Extinguisher.
- NFPA-13, Standard for The Installation Sprinkler Systems.
- NFPA-14, Standard for The Installation Standpipe and Hose Systems.
- NFPA-20, Standard for The Installation Centrifugal Fire Pumps.
- Mc. Guiness, Stein & Reynolds.
- Mechanical & Electrical for Buildings.

1.2.5. Tata Udara Gedung (T.U.G)


 SNI-03-6390-2000 tentang Konservasi Energi Sistem Tata Udara.
 SNI-03-6572-2001 tentang Tata Cara Perancangan Sistem Ventilasi dan
Pengkondisian Udara pada Bangunan Gedung.
 SNI-03-6571-2001 tentang Sistem Pengendalian Asap pada Bagunan Gedung.
 SNI-03-7012-2004 tentang Sistem Manajemen Asap di dalam MAL, Atrium
dan Ruangan Bervolume Besar.
 ASHRAE 62-2001 Standard of Ventilation for Acceptable IAQ.
 CARRIER, Hand Book of Air Conditioning System Design.
 ASHRAE HVAC Design Manual for Hospital and Clinics.
 ASHRAE Handbook Series.

1.2.6. Transportasi Dalam Gedung (T.D.G)


 SNI-03-2190-1999 Kostruksi Lift Penumpang dengan Motor Traksi.
 SNI-03-6248-2000 Konstrusi Eskalator.
 Peraturan Depnaker tentang Lift Listrik, Pesawat Angkat dan Pesawat Angkut.
 Strakosch, Vertical Transfortation.
 Gina Barney, Elevator Traffic.
 Luonir Janovsky, Elevator Mechanical Design.

1.3. GAMBAR-GAMBAR
a. Gambar-gambar rencana dan persyaratan-persyaratan ini merupakan suatu
kesatuan yang saling melengkapi dan sama mengikatnya.
b. Gambar-gambar sistem ini menunjukkan secara umum tata letak dari peralatan,
sedangkan pemasangannya harus dikerjakan dengan memperhatikan kondisi dari
bangunan yang ada, petunjuk instalasi dari pabrik pembuat dan
mempertimbangkan juga kemudahan pengoperasian serta pemeliharaannya jika
peralatan-peralatan sudah dioperasikan.
c. Gambar-gambar Arsitek, Struktur dan Interior serta Specialis lainnya (bila ada)
harus dipakai sebagai referensi untuk pelaksanaan dan detail finishing instalasi.
d. Sebelum pekerjaan dimulai, Pelaksana Pekerjaan harus mengajukan gambar kerja
dan detail, “Shop Drawing” kepada Konsultan Pengawas untuk dapat diperiksa dan
disetujui terlebih dahulu sebanyak 3 (tiga) set. Dengan mengajukan gambar-
gambar tersebut, Pelaksana Pekerjaan dianggap telah mempelajari situasi dari
instalasi lain yang berhubungan dengan instalasi ini. Persetujuan tersebut tidak
berarti membebaskan Pelaksana Pekerjaan dari kesalahan yang mungkin terjadi dan
dari tanggung jawab atas pemenuhan kontrak.
e. Pelaksana Pekerjaan instalasi ini harus membuat gambar-gambar terinstalasi, “As-
built Drawings” disertai dengan Operating Instruction, Technical and Maintenance
Manual, harus diserahkan kepada Konsultan Pengawas pada saat penyerahan
pertama pekerjaan dalam rangkap 5 (lima) terdiri dari atas 1 (satu) asli kalkir
berikut diskettenya dan 4 (empat) cetak biru dan dijilid serta dilengkapi dengan
daftar isi, notasi dan penjelasan lainnya, dalam ukuran A0 atau A1 atau disebutkan
lain dalam proyek ini. As-built Drawing ini harus benar-benar menunjukkan secara
detail seluruh instalasi M & E yang ada termasuk dimensi perletakan dan lokasi
peralatan, gambar kerja bengkel, nomor seri, tipe peralatan dan informasi lainnya
sehingga jelas.
f. Operating Instruction, Technical and Maintenance Manuals harus cetakan asli
(original) berikut terjemahannya dalam bahasa Indonesia sebanyak 5 (lima) set dan
dijilid dan dilengkapi dengan daftar isi, notasi dan penjelasan lainnya, dalam ukuran
A4.
Pembangunan Sarana Dan Prasaran Mesjid Al-jihad

PERSYARATAN TEKNIS
PEKERJAAN MEKANIKAL ELEKTRIKAL
1.4. KOORDINASI
Pelaksana Pekerjaan instalasi ini hendaknya bekerja sama dengan Pelaksana
Pekerjaan lainnya, agar pekerjaan dapat berjalan dengan lancar sesuai dengan
waktu yang telah ditetapkan
a. Koordinasi yang baik perlu ada agar instalasi yang satu tidak menghalangi
kemajuan instalasi lain.
b. Apabila dalam pelaksanaan instalasi ini tidak mengindahkan koordinasi dari
Konsultan Pengawas, sehingga menghalangi instalasi yang lain, maka semua akibat
menjadi tanggung jawab Pelaksana Pekerjaan ini.

1.5. RAPAT KOORDINASI LAPANGAN


Wakil Pelaksana Pekerjaan harus selalu hadir dalam setiap rapat koordinasi proyek
yang diatur oleh Konsultan Pengawas.
Peserta rapat koordinasi harus mengetahui situasi dan kondisi lapangan serta bisa
memberi keputusan terhadap sebagian masalah.

1.6. PERALATAN DAN MATERiAL


Semua peralatan dan bahan harus baru dan sesuai dengan brosur yang dipublikasikan,
sesuai dengan spesifikasi yang diuraikan, maupun pada gambar-gambar rencana dan
merupakan produk yang masih beredar dan diproduksi secara teratur.

1.6.1. Persetujuan Peralatan dan Material


1 . Dalam jangka waktu 2 (dua) minggu setelah menerima Surat Perintah Kerja
(SPK), dan sebelum memulai pekerjaan instalasi peralatan maupun material,
Pelaksana Pekerjaan diharuskan menyerahkan daftar dari material-material
yang akan digunakan. Daftar ini harus dibuat rangkap 4 (empat) yang
didalamnya tercantum nama-nama dan alamat manufacture, catalog dan
keterangan-keterangan lain yang dianggap perlu oleh Konsultan Pengawas
dan Konsultan Perencana antara lain :
- Manufacturer Data
Meliputi brosur-brosur, spesifikasi dan informasi-informasi yang tercetak
jelas cukup detail sehubungan dengan pemenuhan spesifikasi.
- Performance Data
Data-data kemampuan dari unit yang terbaca dari suatu table atau kurva
yang meliputi informasi yang diperlukan dalam menyeleksi peralatan-
peralatan lain yang ada kaitannya dengan unit tersebut.
- Quality Assurance
Suatu pembuktian dari pabrik pembuat atau distributor utama terhadap
kualitas dari unit berupa produk dari unit ini sudah diproduksi beberapa
tahun, telah dipasang di beberapa lokasi dan telah beroperasi dalam
jangka waktu tertentu dengan baik.
2 . Persetujuan oleh Konsultan Perencana dan Konsultan Pengawas akan
diberikan atas dasar atau sesuai dengan ketentuan diatas.

1.6.2. Contoh Peralatan dan Material


1 . Pelaksana Pekerjaan harus menyerahkan contoh bahan-bahan yang akan
dipasang kepada Konsultan Pengawas paling lama 2 (dua) minggu setelah
daftar material disetujui. Semua biaya yang berkenaan dengan penyerahan
dan pengembalian contoh-contoh ini adalah menjadi tanggungan Pelaksana
Pekerjaan.
2 . Konsultan Pengawas tidak bertanggung jawab atas contoh bahan yang akan
dipakai dan semua biaya yang tidak berkenaan dengan penyerahan dan
pengambilan contoh / dokumen ini.

1.6.3. Peralatan dan Bahan Sejenis


Untuk peralatan dan bahan sejenis yang fungsi penggunaannya sama harus
diproduksi pabrik (bermerk), sehingga memberikan kemungkinan saling dapat
dipertukarkan.
Pembangunan Sarana Dan Prasaran Mesjid Al-jihad

PERSYARATAN TEKNIS
PEKERJAAN MEKANIKAL ELEKTRIKAL
1.6.4. Penggantian Peralatan dan Material
1 . Semua peralatan dan bahan yang diajukan dalam tender sudah memenuhi
spesifikasi, walaupun dalam pengajuan saat tender kemungkinan ada
peralatan dan bahan belum memenuhi spesifikasi, tetapi tetap harus
dipenuhi sesuai spesifikasi bila sudah ditunjuk sebagai Pelaksana Pekerjaan
pelaksana pekerjaan.
2 . Untuk peralatan dan bahan yang sudah memenuhi spesifikasi, karena suatu
hal yang tidak bisa dihindari terpaksa harus diganti, maka sebagai
penggantinya harus dari jenis setaraf atau lebih baik ( equal or better )
yang disetujui.
3 . Bila Konsultan Pengawas membuktikan bahwa penggantinya itu betul setaraf
atau lebih baik, maka biaya yang menyangkut pembuktian tersebut harus
ditanggung oleh Pelaksana Pekerjaan.

1.6.5. Pengujian dan Penerimaan


1 . Khusus peralatan utama, harus ditest dahulu oleh Pemilik dan didampingi
Konsultan Perencana di pabrik masing-masing yang sebelumnya sudah
ditest oleh pabrik yang bersangkutan dan disetujui untuk dikirim ke
lapangan.
2 . Semua peralatan-peralatan yang sesuai dengan spesifikasi ini dikirim dan
dipasang dan telah memenuhi ketentuan-ketentuan pengetesan dengan
baik, Pelaksana Pekerjaan harus melaksanakan pengujian secara
keseluruhan dari peralatan - peralatan yang terpasang, dan jika sudah
ditest dan memenuhi fungsi-fungsinya sesuai dengan ketentuan-ketentuan
dari kontrak, maka seluruh unit lengkap dengan peralatannya dapat
diserahkan berdasarkan Berita Acara oleh Konsultan Pengawas.

1.6.6. Perlindungan Pemilik


Atas penggunaan bahan / material, sistem dan lain-lain oleh Pelaksana
Pekerjaan, Pemilik dijamin dan dibebaskan dari segala claim ataupun tuntutan
yuridis lainnya.

1.7. IJIN-IJIN
Pengurusan ijin-ijin yang diperlukan untuk pelaksanaan instalasi ini serta seluruh biaya
yang diperlukannya menjadi tanggung jawab Pelaksana Pekerjaan.

1.7.1. Pelaksanaan pemasangan


a. Sebelum pelaksanaan pemasangan instalasi ini dimulai, Pelaksana Pekerjaan harus
menyerahkan gambar kerja dan detailnya kepada Konsultan Pengawas dalam
rangkap 3 (tiga) untuk disetujui. Yang dimaksud gambar kerja disini adalah gambar
yang menjadi pedoman dalam pelaksanaan, lengkap dengan dimensi peralatan,
jarak peralatan satu dengan lainnya, jarak terhadap dinding, jarak pipa terhadap
lantai, dinding dan peralatan, dimensi aksesoris yang dipakai. Konsultan Pengawas
berhak menolak gambar kerja yang tidak mengikuti ketentuan tersebut diatas.
b. Pelaksana Pekerjaan diwajibkan untuk mengecek kembali atas segala ukuran /
kapasitas peralatan (equipment) yang akan dipasang. Apabila terdapat keraguan-
keraguan, Pelaksana Pekerjaan harus segera menghubungi Konsultan Pengawas
untuk berkonsultasi.
c. Pengambilan ukuran atau pemilihan kapasitas peralatan yang sebelumnya tidak
dikonsultasikan dengan Konsultan Pengawas, apabila terjadi kekeliruan maka hal
tersebut menjadi tanggung jawab Pelaksana Pekerjaan. Untuk itu pemilihan
peralatan dan material harus mendapatkan persetujuan dari Konsultan Pengawas
atas rekomendasi Konsultan Perencana.
d. Pada beberapa peralatan tertentu ada asumsi yang digunakan konsultan dalam
menentukan performnya, asumsi-asumsi ini harus diganti oleh Pelaksana Pekerjaan
sesuai actual dari peralatan yang dipilih maupun kondisi lapangan yang tidak
memungkinkan. Untuk itu Pelaksana Pekerjaan wajib menghitung kembali
performanya dari peralatan tersebut dan memintakan persetujuan kepada
Konsultan Pengawas.
Pembangunan Sarana Dan Prasaran Mesjid Al-jihad

PERSYARATAN TEKNIS
PEKERJAAN MEKANIKAL ELEKTRIKAL
1.7.2. Penambahan / Pengurangan / Perubahan Instalasi
1 . Pelaksanaan instalasi yang menyimpang dari rencana karena penyesuaian
dengan kondisi lapangan, harus mendapat persetujuan tertulis dahulu dari
pihak Konsultan Perencana dan Konsultan Pengawas.
2 . Pelaksana Pekerjaan instalasi ini harus menyerahkan setiap gambar
perubahan yang ada kepada Konsultan Pengawas sebanyak rangkap 3 (tiga)
set yang akan dikirim oleh Konsultan Pengawas kepada Konsultan Perencana.
3 . Perubahan material dan lain-lainnya, harus diajukan oleh Pelaksana
Pekerjaan kepada Konsultan Pengawas secara tertulis dan jika terjadi
pekerjaan tambah / kurang / perubahan yang ada harus disetujui oleh
Konsultan Perencana dan Konsultan Pengawas secara tertulis.

1.7.3. Sleeves dan inserts


Semua sleeves menembus lantai beton untuk instalasi sistem elektrikal harus
dipasang oleh Pelaksana Pekerjaan. Semua inserts beton yang diperlukan untuk
memasang peralatan, termasuk inserts untuk penggantung ( hangers ) dan
penyangga lainnya harus dipasang oleh Pelaksana Pekerjaan.

1.7.4. Pembobokan, Pengelasan dan Pengeboran


1 . Pembobokan tembok, lantai, dinding dan sebagainya yang diperlukan dalam
pelaksanaan instalasi ini serta mengembalikannya ke kondisi semula,
menjadi lingkup pekerjaan Pelaksana Pekerjaan instalasi ini.
2 . Pembobokan / pengelasan / pengeboran hanya dapat dilaksanakan apabila
ada persetujuan dari pihak Konsultan Pengawas secara tertulis.

1.7.5. Pengecatan
Semua peralatan dan bahan yang dicat, kemudian lecet karena pengangkutan
atau pemasangan harus segera ditutup dengan dempul dan dicat dengan
warna yang sama, sehingga nampak seperti baru kembali.

1.7.6. Penanggung Jawab Pelaksanaan


a. Pelaksana Pekerjaan instalasi ini harus menempatkan seorang penanggung jawab
pelaksanaan yang ahli dan berpengalaman yang harus selalu ada di lapangan, yang
bertindak sebagai wakil dari Pelaksana Pekerjaan dan mempunyai kemampuan
untuk memberikan keputusan teknis dan bertanggung jawab penuh dalam
menerima segala instruksi yang akan diberikan oleh Konsultan Pengawas.
b. Penanggung jawab tersebut diatas juga harus berada ditempat pekerjaan pada saat
diperlukan / dikehendaki oleh Konsultan Pengawas.

1.8. PENGAWASAN
a. Pengawasan setiap hari terhadap pelaksanaan pekerjaan adalah dilakukan oleh
Konsultan Pengawas.
b. Konsultan Pengawas harus dapat mengawasi, memeriksa dan menguji setiap bagian
pekerjaan, bahan dan peralatan. Pelaksana Pekerjaan harus mengadakan fasilitas-
fasilitas yang diperlukan.
c. Bagian-bagian pekerjaan yang telah dilaksanakan tetapi luput dari pengamatan
Konsultan Pengawas adalah tetap menjadi tanggung jawab Pelaksana Pekerjaan.
d. Jika diperlukan pengawasan oleh Pengawas harian diluar jam-jam kerja ( 08.00
sampai dengan 16.00 ), dan hari libur maka segala biaya yang diperlukan untuk hal
tersebut menjadi beban Pelaksana Pekerjaan yang perhitungannya disesuaikan
dengan peraturan pemerintah. Permohonan untuk mengadakan pengawasan
tersebut harus dengan surat yang disampaikan kepada Konsultan Pengawas.
e. Ditempat pekerjaan, Konsultan Pengawas menempatkan petugas-petugas
pengawas yang bertugas setiap saat untuk mengawasi pekerjaan Pelaksana
Pekerjaan, agar pekerjaan dapat dilaksanakan atau dilakukan sesuai dengan isi
surat perjanjian Pelaksanaaan Pekerjaan serta dengan cara-cara yang benar dan
tepat serta cermat.
Pembangunan Sarana Dan Prasaran Mesjid Al-jihad

PERSYARATAN TEKNIS
1.9. MEKANIKAL
PEKERJAAN LAPORAN-LAPORAN
ELEKTRIKAL

1.9.1. Laporan Harian dan Mingguan


1 . Pelaksana Pekerjaan wajib membuat laporan harian dan mingguan yang
memberikan gambaran mengenai:
 Kegiatan fisik
 Catatan dan perintah Konsultan Pengawas yang disampaikan secara
lisan maupun tertulis.
 Jumlah material masuk / ditolak.
 Jumlah tenaga kerja dan keahliannya
 Keadaan cuaca
 Pekerjaan tambah / kurang
 Prestasi rencana dan yang terpasang
2 . Laporan mingguan merupakan ringkasan dari laporan harian dan setelah
ditandatangani oleh manajer proyek harus diserahkan kepada Konsultan
Pengawas untuk diketahui / disetujui.

1.9.2. Laporan Pengetesan


1 . Pelaksana Pekerjaan instalasi ini harus menyerahkan kepada Konsultan
Pengawas dalam rangkap 3 ( tiga ) mengenai hal-hal sebagai berikut :
 Hasil pengetesan semua persyaratan operasi instalasi.
 Hasil pengetesan mesin atau peralatan
 Hasil pengetesan kabel
 Hasil pengetesan kapasitas aliran udara, kuat arus, tegangan, tekanan,
dll.
2 . Semua pengetesan dan pengukuran yang akan dilaksanakan harus
disaksikan oleh Konsultan Pengawas.

1.10. PEMERIKSAAN RUTIN DAN KHUSUS


a. Pemeriksaan rutin dalam masa pemeliharaan harus dilaksanakan oleh Pelaksana
Pekerjaan instalasi ini secara periodik dan tidak kurang dari tiap 2 (dua) minggu,
atau ditentukan lain oleh Konsultan Pengawas.
b. Pemeriksaan khusus dalam masa pemeliharaan harus dilaksanakan oleh Pelaksana
Pekerjaan instalasi ini, apabila ada permintaan dari pihak Konsultan Pengawas dan
atau bila ada gangguan dalam instalasi ini.

1.11. KANTOR PELAKSANA PEKERJAAN, LOS KERJA DAN GUDANG


a. Pelaksana Pekerjaan diharuskan untuk membuat kantor, gudang dan los kerja di
halaman tempat pekerjaan, untuk keperluan pelaksanaan tugas administrasi
lapangan, penyimpanan barang/bahan serta peralatan kerja dan sebagai
area/tempat kerja (peralatan pekerjaan kasar), dimana pelaksanaan tugas instalasi
berlangsung.
b. Pembuatan kantor, gudang dan los kerja ini dapat dilaksanakan bila terlebih dahulu
mendapatkan ijin dari pemberi tugas/Konsultan Pengawas.
1.11.1. Penjagaan
a. Pelaksana Pekerjaan wajib mengadakan penjagaan dengan baik serta terus
menerus selama berlangsungnya pekerjaan atas bahan, peralatan, mesin dan alat-
alat kerja yang disimpan di tempat kerja ( gudang lapangan ).
b. Kehilangan yang diakibatkan oleh kelalaian penjagaan atas barang-barang tersebut
diatas, menjadi tanggung jawab Pelaksana Pekerjaan.

1.11.2. Air kerja


a. Semua kebutuhan air yang diperlukan dalam setiap bagian pekerjaan dan
sebagainya harus disediakan oleh pihak Pelaksana Pekerjaan.
b. Apabila menggunakan sumber air yang sudah ada (eksisting) harus dilengkapi
dengan meter air, dan berkoordinasi dengan Konsultan Pengawas terlebih dahulu.
Pembangunan Sarana Dan Prasaran Mesjid Al-jihad

PERSYARATAN TEKNIS
1.11.3. MEKANIKAL
PEKERJAAN Penerangan dan Sumber
ELEKTRIKAL Daya / listrik kerja
a. Pada kantor, los kerja, gudang dan tempat-tempat pelaksanaan pekerjaan yang
dianggap perlu, harus diberi penerangan yang cukup.
b. Daya listrik baik untuk keperluan penerangan maupun untuk sumber tenaga /daya
kerja harus diusahakan oleh Pelaksana Pekerjaan. Bila menggunakan daya listrik
dari bangunan existing, harus dilengkapi dengan KWh meter dan berkoordinasi
dengan Konsultan Pengawas terlebih dahulu.

1.11.4. Kebersihan dan Ketertiban


a. Selama pelaksanaan pekerjaan berlangsung, kantor, gudang, los kerja dan tempat
pekerjaan dilaksanakan dalam bangunan, harus selalu dalam keadaan bersih.
b. Penimbunan / penyimpanan barang, bahan dan peralatan baik dalam gudang
maupun diluar (halaman), harus diatur sedemikian rupa agar memudahkan jalannya
pemeriksaan dan tidak mengganggu pekerjaan dari bagian lain.
c. Peraturan-peraturan yang lain tentang ketertiban akan dikeluarkan oleh Konsultan
Pengawas pada waktu pelaksanaan.

1.12. KECELAKAAN DAN PETI PPPK


a. Jika terjadi kecelakaan yang berhubungan dengan pelaksanaan pekerjaan ini, maka
Pelaksana Pekerjaan diwajibkan segera mengambil segala tindakan guna
kepentingan si korban atau para korban, serta melaporkan kejadian tersebut
kepada instansi dan departement yang bersangkutan / berwenang (dalam hal ini
Polisi dan Department Tenaga Kerja) dan mempertanggung jawabkan sesuai
dengan peraturan yang berlaku.
b. Peti PPPK dengan isinya yang selalu lengkap, guna keperluan pertolongan pertama
pada kecelakaan harus selalu ada di tempat pekerjaan.

1.13. TESTING DAN COMMISSIONING


a. Pelaksana Pekerjaan instalasi ini harus melakukan semua testing dan commissioning
yang dianggap perlu untuk mengetahui apakah keseluruhan instalasi dapat
berfungsi dengan baik dan dapat memenuhi semua persyaratan yang diminta,
sesuai dengan prosedur testing dan commissioning dari pabrik pembuat dan
instansi yang berwenang.
b. Semua bahan dan perlengkapan yang diperlukan untuk mengadakan testing
tersebut merupakan tanggung jawab Pelaksana Pekerjaan termasuk daya listrik
untuk testing.

1.14. MASA PEMELIHARAAN DAN SERAH TERIMA PEKERJAAN


a. Peralatan dan sistem instalasi ini harus digaransi selama 1 (satu) tahun terhitung
sejak saat penyerahan pertama.
b. Masa pemeliharaan untuk instalasi ini adalah selama 90 (sembilan puluh) hari
kalender sejak saat penyerahan pertama, bila Konsultan Pengawas / Pemberi Tugas
menentukan lain, maka yang terakhir ini yang akan berlaku.
c. Selama masa pemeliharaan, seluruh instalasi yang telah selesai dilaksanakan masih
merupakan tanggung jawab Pelaksana Pekerjaan sepenuhnya.
d. Selama masa pemeliharaan ini, untuk seluruh instalasi ini Pelaksana Pekerjaan
diwajibkan mengatasi segala kerusakan yang akan terjadi tanpa adanya tambahan
biaya.
e. Selama masa pemeliharaan ini, apabila Pelaksana Pekerjaan instalasi tidak
melaksanakan teguran dari Konsultan Pengawas atas
perbaikan/penggantian/penyetelan yang diperlukan, maka Konsultan Pengawas
berhak menyerahkan perbaikan/penggantian/ penyetelan tersebut kepada pihak lain
atas biaya Pelaksana Pekerjaan instalasi ini.
f. Selama masa pemeliharaan ini, Pelaksana Pekerjaan instalasi harus melatih
petugas- petugas yang ditunjuk oleh Pemilik dalam teori dan praktek sehingga
dapat mengenali sistem instalasi dan dapat melaksanakan pengoperasian dan
pemeliharaannya.
Pembangunan Sarana Dan Prasaran Mesjid Al-jihad

PERSYARATAN TEKNIS
g. SerahELEKTRIKAL
PEKERJAAN MEKANIKAL terima pertama dari instalasi ini baru dapat dilaksanakan setelah ada bukti
pemeriksaan dengan hasil yang baik yang ditandatangani bersama oleh Pelaksana
Pekerjaan dan Konsultan Pengawas.
h. Pada waktu unit-unit mesin tiba di lokasi, maka Pelaksana Pekerjaan harus
menyerahkan daftar komponen / part list seluruh komponen yang akan dipasang
dan dilengkapi dengan gambar detail / photo dari masing-masing komponen
tersebut, lengkap dengan manualnya. Daftar komponen tersebut diserahkan kepada
Konsultan Pengawas dan Pemberi Tugas masing-masing 1 (satu) set.
i. Serah terima setelah masa pemeliharaan instalasi ini baru dapat dilaksanakan setelah :
 Berita acara serah terima kedua yang menyatakan bahwa instalasi ini dalam
keadaan baik, ditandatangani bersama oleh Pelaksana Pekerjaan dan
Konsultan Pengawas.
 Semua gambar instalasi terpasang (As Built Drawing) beserta Operating
Instruction, Technical dan Maintenance Manuals rangkap 5 (lima) terdiri atas 1
(satu) set asli dan 4 (empat) copy telah diserahkan kepada Konsultan
Pengawas.

1.15. GARANSI
Setiap sertifikat pengetesan harus diserahkan oleh pabrik pembuatnya. Bila peralatan
mengalami kegagalan dalam pengetesan-pengetesan yang disyaratkan didalam spesifikasi
teknis ini, maka pabrik pembuat bertanggung jawab terhadap peralatan yang diserahkan,
sampai peralatan tersebut memenuhi syarat-syarat, setelah mengalami pengetesan ulang
dan sertifikat pengetesan telah diterima dan disetujui oleh Konsultan Pengawas.

1.16. TRAINING
Sebelum penyerahan pertama pekerjaan, Pelaksana Pekerjaan harus menyelenggarakan
semacam pendidikan dan latihan serta petunjuk praktis operasi kepada orang yang
ditunjuk oleh Pemberi Tugas tentang operasi dan perawatan lengkap dengan 3 copies
buku Operating Maintenance, Repair Manual dan As-built drawing, segala sesuatunya
atas biaya Pelaksana Pekerjaan.
Pembangunan Sarana Dan Prasaran Mesjid Al-jihad

PERSYARATAN TEKNIS
PEKERJAAN MEKANIKAL ELEKTRIKAL

SPESIFIKASI TEKNIS INSTALASI


MEKANIKAL

1. PEKERJAAN PLAMBING
1.1. Umum
Yang dimaksud disini dengan pekerjaan instalasi mekanikal plambing secara keseluruhan
adalah pengadaan, transportasi, pembuatan, pemasangan, peralatan- peralatan bahan-
bahan utama dan pembantu serta pengujian, sehingga diperoleh instalasi yang lengkap dan
baik sesuai dengan spesifikasi, gambar dan bill of quantity.

1.2. Uraian Pekerjaan


Lingkup pekerjaan secara garis besar sebagai berikut :
1. Instalasi Sistem Air Bersih
2. Instalasi Sistem Air Limbah
3. Instalasi Sistem Pengolahan Air Limbah

1.3. Gambar Kerja


Sebelum kontraktor melaksanakan suatu bagian pekerjaan lapangan, akan menyerahkan
gambar kerja antara lain sebagai berikut:
- Denah tata ruang dan detail pemasangan dari peralatan utama,
perlengkapan dan fixtures.
- Detail denah perpipaan
- Detail denah perkabelan
- Detail penempatan sparing, sleeve yang menembus lantai, atap, tembok dll.
- Detail lain yang diminta oleh Pemberi Tugas.

1.4. Gambar Instalasi Terpasang


Setiap tahapan penyelesaian pekerjaan, kontraktor akan memberi tanda sesuai jalur
terpasang pada Re-Kalkir gambar tender maupun gambar kerja, sehingga pada akhir
penyelesaian pemasangan sudah tersedia gambar terpasang yang mendekati keadaan
sebenarnya.

2. SISTEM PERPIPAAN
2.1. SPESIFIKASI PERPIPAAN
2.1.1. Umum
Lingkup pekerjaan sistem perpipaan meliputi :
1. Pipa
2. Sambungan
3. Katup
4. Strainer
5. Sambungan fleksibel
6. Penggantung dan penumpu
7. Sleeve
8. Lubang pembersihan
9. Galian
10. Pengecatan
11. Pengakhiran
12. Pengujian
13. Peralatan Bantu

2.1.2. Spesifikasi dan gambar menunjukkan diameter minimal dari pipa dan letak serta arah dari
masing- masing sistem pipa.

2.1.3. Seluruh pekerjaan, terlihat pada gambar dan atau spesifikasi dipasang terintegrasi
dengan kondisi bangunan dan menghindari gangguan dengan bagian lainnya.
2.1.4. Bahan pipa maupun perlengkapan harus terlindung dari kotoran, air karat dan stress
sebelum, selama dan sesudah pemasangan. Untuk pipa baja dibawah tanah diberi lapisan
anti karat densotape dengan ketebalan 2-3 mm.
2.1.5. Khusus pipa dan perlengkapan dari bahan plastik, selain disebut diatas harus juga
terlindung dari cahaya matahari.
2.1.6. Semua barang yang dipergunakan harus jelas menunjukkan identitas pabrik pembuat.

2.2. SPESIFIKASI BAHAN PERPIPAAN

2.2.1. Daftar Spesifikasi Bahan Perpipaan


Kode Tek. Tek. Std. Tek. Spesifikasi Spesifikasi
SISTEM Sistem Kerja Bahan Uji Pipa Isolasi

Air dingin
AB 10 12.50 15 PN.10 IA
Dalam gedung
Air dingin
AB 10 12.50 15 PN.10 IA
Diluar gedung
Hidran di luar
IH/OH 10 15 20 B.40 IA
gedung
Air limbah
pengaliran ABK 5 10 15 PV-10 IA
gravitasi
Air hujan AH 5 10 15 PV-10 IA
Air limbah
AK 5 10 15 PV-10 IA
gravitasi toilet

Vent VT - - Rendam PV-5 IA


Pipa Header HD/
Pompa dan pipa ABK 10 10 15 GIP IA
Air Limbah Luar /AK
Catatan
IA = tidak diisolasi
IB = diisolasi
GRV = GRAVITASI
Tekanan uji tidak terbatas pada table ini namun juga harus mengacu pada tekanan actual
pompa

2.2.2. Spesifikasi PN 10
Penggunaan : Air dingin didalam gedung
Tekanan standard 12,5 bar.
Uraian Keterangan

Pipa : Polypropelene Random Copolymer


Type : 3 DIN 16928, ONORM B. 5174
Temp : 95 - 100 L-PN.10
Sambungan/Fitting : Electric Welding
Polypropelene Random Copolymer
Type : 3 DIN 16928, ONORM B.5174
PN : PN.10
Flange : Dia 40 mm kebawah black malleable cast iron RF class
150lb,screwed.
Dia 50 mm keatas Forged steel RF class 150 lb, welding
joint.
Valve & Strainer : Dia 40 mm kebawah, bronze atau strainer A- metal body
class 150 lb dengan sambungan ulir,BS 21/ ANSI B 2.1.
Dia 50 mm keatas,cast iron body class 150 lb dengan
sambungan flanges.
2.2.3. Spesifikasi PN 10
Penggunaan : Air dingin diluar gedung
Tekanan standard 12,5 bar.
Uraian Keterangan

Pipa : Polypropelene Random Copolymer


Type : 3 DIN 16928, ONORM B. 5174
Temp : 95 - 100 L-PN.10
Sambungan/Fitting : Electric Welding
Polypropelene Random Copolymer
Type : 3 DIN 16928, ONORM B.5174
PN : PN.10
Flange : Dia 40 mm kebawah black malleable cast iron RF class
150lb,screwed.
Dia 50 mm keatas Forged steel RF class 150 lb, welding
joint.
Valve & Strainer : Dia 40 mm kebawah, bronze atau strainer A- metal body
class 150 lb dengan sambungan ulir,BS 21/ ANSI B 2.1.
Dia 50 mm keatas,cast iron body class 150 lb dengan
sambungan flanges.

2.2.4. Spesifikasi B 40
Penggunaan : Hydrant
Tekanan Standard 15 bar
Uraian Keterangan

Pipa : Black steel pipe ERW, sch 40, ASTM A 53.


Dia 40 mm kebawah screwed end Dia 50 mm keatas plain
end.
Sambungan/Fitting : Dia 40 mm kebawah malleable iron ANSI B 16.3 class 300
lb,screwed end.
Dia 50 mm keatas, wrought steel Butt weld fitting ANSI B
16.9, sch 40.
Flange : Dia 40 mm kebawah black malleable cast iron RF class 300
lb,screwed.
Dia 50 mm keatas Forged steel RF class 300 lb, welding
joint.
Valve & Strainer : Dia 40 mm kebawah,malleable cast Strainer iron body class
300 lb dengan sambungan ulir,BS 21/ ANSI B 2.1
Dia 50 mm keatas,cast iron body class 300 lb dengan
sambungan flanges.

2.2.5. Spesifikasi PV 10.


Penggunaan : Air Limbah pengaliran gravitasi.
Tekanan standard 10 bar.

Uraian Keterangan
Pipa : Polyvinyl chloride (PVC) klas 10 bar.
Elbow & Junction PVC Injection Moulded Sanitary fitting large radius, Solvent
: Cement joint type.
PVC injection moulded sanitary fitting concentric, Solvent
Reducer : Cement Joint Type.
Sesuai rekomendasi pabrik pembuat.
Solvent Cement :
2.2.6. Spesifikasi PV 10.
Penggunaan : Air hujan
Tekanan Standard 10 bar.

Uraian Keterangan
Pipa : Polyvinyl chloride (PVC) klas 10 bar.
Elbow & Junction PVC Injection Moulded Sanitary fitting large radius, Solvent
: Cement joint type.
PVC injection moulded sanitary fitting concentric, Solvent
Reducer : Cement Joint Type.
Sesuai rekomendasi pabrik pembuat.
Solvent Cement :

2.2.7. Specifikasi PV 10
Penggunaan: - Air Limbah Grafitasi Toilet
Tekanan Standard 10 bar.
Uraian Keterangan
Pipa : Polyvinyl chloride (PVC) klas 10 bar.
Elbow & Junction PVC Injection Moulded Sanitary fitting large radius, Solvent
: Cement joint type.
PVC injection moulded sanitary fitting concentric, Solvent
Reducer : Cement Joint Type.
Sesuai rekomendasi pabrik pembuat.
Solvent Cement :

2.2.8. Spesifikasi PV
Penggunaan : Pipa Venting Tekanan standard 5 bar (klas AW).
Uraian Keterangan
Pipa : Polyvinyl chloride (PVC) klas 5 bar.
Elbow & Junction PVC Injection Moulded Sanitary fitting, Solvent joint type.
: Seperti diatas, model concentric.
Reducer : Sesuai rekomendasi pabrik pembuat.
Solvent Cement :

2.2.9. Spesifikasi GIP


Penggunaan : Header pada Pompa dan Pipa Air limbah
Tekanan standard 10 Bar

Uraian Keterangan

Pipa : Galvanized Steel pipe BS 1387/1967 class medium.


Fitting & sambungan : Dia 40 mm kebawah malleable iron ANSI B 16,3 class 150
lb, screwed end.
Dia 50 mm keatas, wrought steel butt weld fitting ANSI B
16.9, sch 40.
Flange : Dia 40 mm kebawah Galvanized malleable cast iron RF class
150 lb.
Screwed Dia 50 mm keatas forged steel RF class 150 lb.
Welding Joint.
Valve&strainer : Dia 40 mm ke bawah, bronze atau A-metal body class
150 lb dengan sambungan ulir BS 21/ANSI B 2.1.
Dia 50 mm keatas, cast iron body class 150 lb dengan
sambungan flanges.
2.2.10. Skedule katup

PEMAKAIAN Katup Isolasi Katup Pengatur Katup Searah


< 400 50 mm < 400 50 mm < 400 50 mm
mm dia keatas mm dia keatas mm dia keatas
Air Bersih dialama Guided
Gate Butterfly Globe Butterfly Swing
gedung membrane
Air Bersih diluar Guided
Gate Butterfly Globe Butterfly Swing
gedung membrane
Air Panas di dalam Guided
Gate Butterfly Globe Butterfly Swing
gedung membrane
Guided
Hydrant Gate Butterfly Globe Gate Swing
membrane
Double
Drain Gate Butterfly Globe Butterfly Swing
disc

2.2.11. Persyaratan jenis peralatan


Fungsi peralatan Ukuran & Joint W.O & G Steam
Ball Globe
s/d 40 mm Butterfly
screwed Gate
Katup penutup
Diaphargm
(stop valve)
Butterfly
50 mm ke atas
Gate Globe
flanged
Katup pengatur s/d 40 mm Globe Globe
(Regulating valve) screwed Butterfly
Diaphargm
50 mm ke atas Butterfly Globe
flanged Gate

Non return valve s/d 40 mm double swing Swing check


screwed

50 mm ke atas disk check Swing check


flanged

Strainer “Y” type


“Bucket” type

Pressure Reducer Die and flow type

Pressure Indicator Dial


Dial dia 100 mm
Jenis peralatan yang boleh di pergunakan disini adalah sebagai berikut :

2.3. PERSYARATAN PEMASANGAN


2.3.1. Umum
1. Perpipaan harus dikerjakan dengan cara yang benar untuk menjamin kebersihan,
kerapihan, ketinggian yang benar minimum 250 mm dari lantai, serta memperkecil
banyaknya penyilangan.
2. Pekerjaan harus ditunjang dengan suatu ruang yang longgar, tidak kurang dari 50 mm
di antara pipa-pipa atau dengan bangunan & peralatan.
3. Semua pipa dan fitting harus dibersihkan dengan cermat dan teliti sebelum dipasang,
membersihkan semua kotoran, benda-benda tajam/ runcing serta penghalang lainnya.
4. Pekerjaan perpipaan harus dilengkapi dengan semua katup-katup yang diperlukan antara
lain katup penutup, pengatur, katup balik dan sebagainya, sesuai dengan fungsi sistem
dan yang diperlihatkan dalam gambar.
5. Semua perpipaan yang akan disambung dengan peralatan, harus dilengkapi dengan water
mur atau flens.
6. Sambungan lengkung, reducer dan expander dan sambungan-sambungan cabang
pada pekerjaan perpipaan harus mempergunakan fitting buatan pabrik.
7. Kemiringan menurun dari pekerjaan perpipaan air limbah harus seperti berikut, kecuali
seperti diperlihatkan dalam gambar.
a. Di bagian dalam toilet
Garis tengah 50 mm2 - 100 mm2 atau lebih kecil :
1% - 2%
b. Di bagian dalam bangunan
Garis tengah 150 mm atau lebih kecil : 1%
c. Di bagian luar bangunan
Garis tengah 150 mm atau lebih kecil : 1% Garis tengah 200 mm atau lebih besar: 1%
8. Semua pekerjaan perpipaan harus dipasang secara menurun ke arah titik buangan.
Pipa pembuangan dan ven harus disediakan guna mempermudah pengisian maupun
pengurasan. Untuk pembuatan vent pembuangan hendaknya dicari titik terendah dan
dibuat cekung.
9. Katup (valves) dan saringan (strainers) harus mudah dicapai untuk pemeliharaan dan
penggantian. Pegangan katup (valve handled) tidak boleh menukik.
10. Sambungan-sambungan fleksibel pada sistem pemipaan harus dipasang sedemikian
rupa dan angkur pipa secukupnya harus disediakan guna mencegah tegangan pada
pipa atau alat-alat yang dihubungkan oleh gaya yang bekerja ke arah memanjang.
11. Pekerjaan perpipaan ukuran jalur penuh harus diambil lurus tepat ke arah pompa dengan
proporsi yang tepat pada bagian-bagian penyempitan. Katup-katup dan fittings pada
pemipaan demikian harus ukuran jalur penuh.
12. Pada pemasangan alat-alat pemuaian, angkur-angkur pipa dan pengarah-pengarah pipa
harus secukupnya disediakan agar pemuaian serta perenggangan terjadi pada alat-alat
tersebut, sesuai dengan permintaan & persyaratan pabrik.
13. Selubung pipa harus disediakan di mana pipa-pipa menembus dinding, lantai, balok,
kolom atau langit-langit. Di mana pipa-pipa melalui dinding tahan api, celah kosong di
antara selubung dan pipa-pipa harus dipakai dengan bahan rock-wool atau bahan tahan
api yang lain, kemudian harus ditambahkan sealant agar kedap air.
Selama pemasangan, bila terdapat ujung-ujung pipa yang terbuka dalam pekerjaan
perpipaan yang tersisa pada setiap tahap pekerjaan, harus ditutup dengan menggunakan
caps atau plugs untuk mencegah masuknya benda-benda lain.
14. Untuk setiap pipa yang menembus dinding harus menggunakan pipa flexible untuk
melindungi dari vibrasi akibat terjadinya penurunan struktur gedung.
15. Semua galian, harus juga termasuk pengurugan serta pemadatan kembali sehingga
kembali seperti kondisi semula.
 Kedalaman pipa air minum minimum 60 cm di bawah permukaan tanah.
 Semua pipa diberi lapisan pasir yang telah dipadatkan setebal 15-30 cm untuk bagian
atas dan bagian bawah pipa dan baru diurug dengan tanah tanpa batu-batuan atau
benda keras yang lain.
 Untuk pipa di dalam tanah pada tanah yang labil, harus dibuat dudukan beton pada
jarak 2 - 2,5 m dan pada belokan-belokan atau fitting-fitting.
16. Instalasi pekerjaan pipa jaringan luar diletakkan pada struktur bangunan.
17. Pekerjaan perpipaan tidak boleh digunakan untuk pentanahan listrik .

18. Setiap perubahan arah aliran untuk perpipaan air kotor yang membentuk sudut 90°,
harus digunakan 2 buah elbow 45 ° dan dilengkapi dengan clean out serta arah dan jalur
aliran agar diberi tanda.

2.3.2. Penggantung dan Penumpu Pipa


1. Pemipaan harus ditumpu atau digantung dengan hanger, brackets atau sadel dengan
tepat dan sempurna agar memungkinkan gerakan-gerakan pemuaian atau perenggangan
pada jarak yang tidak boleh melebihi jarak yang diberikan dalam tabel berikut ini :

Jenis Pipa Ukuran Pipa Batas Maximum Ruang


(mm) -----------------------------
Interval Interval
Mendatar Tegak
(m) (m)

Sampai 20 1.8 2

25 s/d 40 2.0 3

Pipa GIP 50 s/d 80 3.0 4

100 s/d 150 4.0 4

200 atau lebih 5.0 4

50 0.6 0.9
80 0.9 1.2
Pipa PVC 100 1.2 1.5
150 1.8 2.1

Catatan :
Bila dalam suatu kelompok pipa yang terdiri dari bermacam-macam ukuran, maka
jarak interval yang dipergunakan harus berdasarkan jarak interval pipa ukuran terkecil
yang ada.

2. Penunjang atau Penggantung tambahan harus disediakan pada pipa berikut ini :
a. Perubahan perubahan arah Titik percabangan.
b. Beban-beban terpusat karena katup, saringan dan hal-hal lain yang sejenis.

3. Ukuran baja bulat untuk penggantung pipa datar adalah sebagai berikut :
a. Diameter Batang

Ukuran Pipa Batang

Sampai 20 mm 6 mm
25 mm s/d 50 mm 9 mm
65 mm s/d 150 mm 13 mm
200 mm s/d 300 mm 15 mm
300 mm atau lebih besar dihitung dengan faktor keamanan 5.
Gantungan ganda 1 ukuran lebih kecil dari tabel diatas
Penunjang pipa lebih dihitung dengan faktor keamanan 5
terhadap dari 2 kekuatan puncak.
Pembangunan Sarana Dan Prasaran Mesjid Al-jihad

PERSYARATAN TEKNIS
PEKERJAAN MEKANIKAL ELEKTRIKAL

b. Bentuk gantungan.
 Untuk air dingin : Split ring type atau Clevis type.

4. Penggapit pipa baja yang digalvanis harus disediakan untuk pipa tegak.
5. Semua pipa dan gantungan, penumpu sebelum dicat, harus memakai dasar zinchromat
dan pengecatan sesuai dengan peraturan-peraturan yang berlaku.

NO. JENIS CAIRAN WARNA PIPA


1. Air Bersih Biru
2. Air Kotor Hitam
3. Air Bekas Coklat
4. Air Pemadam Kebakaran Merah
5. Pipa Gas Kuning

2.3.3. Cara pemasangan pipa dalam tanah.


1. Penggalian untuk mendapatkan lebar dan kedalaman yang cukup.
2. Pemadatan dasar galian sekaligus membuang benda- benda keras/ tajam.
3. Membuat tanda letak dasar pipa setiap interval 2 meter pada dasar galian dengan
adukan semen.
4. Urugan pasir sekeliling dasar pipa dan dipadatkan.
5. Pipa yang telah tersambung diletakkan di atas dasar pipa.
6. Dibuat blok beton setiap interval 2 meter.
7. Pipa yang melintasi jalan kendaraan, pada urugan pipa bagian atas harus dilindungi plat
beton bertulang setebal 10 cm yang dipasang sedemikian rupa sehingga plat beton tidak
bertumpu pada pipa dan tidak mengganggu konstruksi jalan, kemudian baru ditimbun
dengan baik sampai padat.

2.3.4. Pemasangan Katup-katup.


Katup-katup harus disediakan sesuai yang diminta dalam gambar, spesifikasi dan untuk
bagian- bagian berikut ini :
a. Sambungan masuk dan keluar peralatan.
b. Sambungan ke saluran pembuangan pada titik- titik rendah.

 Di ruang Mesin
UKURAN PIPA UKURAN KATUP
Sampai 75 mm 20 mm
100 mm s/d 200 mm 40 mm
250 mm atau lebih besar 50 mm
 Lain-lain, ukuran katup 20 mm
c. Katup by-pass.

2.3.5. Pemasangan Katup-katup Pengaman.


 Katup - katup Pengaman harus disediakan di tempat-tempat yang dekat dengan
sumber tekanan.

2.3.6. Pemasangan sambungan fleksibel.


 Sambungan fleksibel harus disediakan untuk menghilangkan getaran dan menghindari
terjadinya retak/patah pipa akibat penurunan tanah dan struktur bangunan.

2.3.7. Pemasangan Pengukur Tekanan.


Pengukur tekanan harus disediakan dan di tempatkan pada lokasi dimana tekanan yang
ada perlu diketahui :
a. Katup-katup pengurang tekanan. Katup-katup pengontrol.
b. Setiap pompa
c. Setiap bejana tekan
Diameter pengukur tekanan minimum Dia. 75 dengan pembagian skala ukur
maksimum 2 kali tekanan kerja.
Pembangunan Sarana Dan Prasaran Mesjid Al-jihad

PERSYARATAN TEKNIS
PEKERJAAN MEKANIKAL ELEKTRIKAL

2.3.8. Sambungan ulir


1. Penyambungan antara pipa dan fitting mempergunakan sambungan ulir berlaku untuk
ukuran sampai dengan 40 mm.
2. Kedalaman ulir pada pipa harus dibuat sehingga fitting dapat masuk pada pipa dengan
diputar tangan sebanyak 3 ulir.
3. Semua sambungan ulir harus menggunakan perapat Henep dan zink white
dengan campuran minyak.
4. Semua pemotongan pipa harus memakai pipe cutter dengan pisau roda.
5. Tiap ujung pipa bagian dalam harus dibersihkan dari bekas cutter dengan reamer.
6. Semua pipa harus bersih dari bekas bahan perapat sambungan.

2.3.9. Sambungan Las


1. Sistem sambungan las hanya berlaku untuk saluran bukan air minum.
2. Sambungan las ini berlaku antara pipa baja dan fittinglas. Kawat las atau elektrode
yang dipakai harus sesuai dengan jenis pipa yang dilas.
3. Sebelum pekerjaan las di mulai Pemborong harus mengajukan kepada Direksi
contoh hasil las untuk mendapat persetujuan tertulis.
4. Tukang las harus mempunyai sertifikat dan hanya boleh bekerja sesudah mempunyai
surat ijin tertulis dari Direksi.
5. Setiap bekas sambungan las harus segera dicat dengan cat khusus untuk itu.
6. Alat las yang boleh dipergunakan adalah alat las listrik yang berkondisi baik menurut
penilaian Direksi.

2.3.10. Sambungan lem


1. Penyambungan antara pipa dan fitting PVC, mempergunakan lem yang sesuai
dengan jenis pipa, sesuai rekomendasi dari pabrik pipa.
2. Pipa harus masuk sepenuhnya pada fitting, maka untuk ini harus dipergunakan alat
press khusus. Selain itu pemotongan pipa harus menggunakan alat pemotong khusus
agar pemotongan pipa dapat tegak lurus terhadap batang pipa.
3. Cara penyambungan lebih lanjut dan terinci harus mengikuti spesifikasi dari pabrik pipa.

2.3.11. Sambungan yang mudah dibuka


Sambungan ini dipergunakan pada alat- alat saniter sebagai berikut :
 Antara Lavatory Faucet dan Supply Valve
 Pada waste fitting dan Siphon.
Pada sambungan ini kerapatan diperoleh dengan adanya paking dan bukan seal threat.

2.3.12. Pemasangan katup-katup Pelepasan Tekanan.


Katup-katup Pelepasan Tekanan harus disediakan di tempat-tempat yang mungkin
timbul kelebihan tekanan.

2.3.13. Pemasangan Ven Udara Otomatis.


Ven udara otomatis harus disediakan di tempat- tempat tertinggi dan kantong udara, serta
ditempatkan yang bebas untuk melepaskan udara dari dalam.

2.3.14. Pemasangan sambungan expansi.


 Sambungan expansi harus disediakan pada penyambungan antara pipa dari luar
bangunan dengan pipa dari dalam bangunan untuk menghindari terjadinya patah
ataupun bengkok akibat terjadinya penurunan tanah ataupun struktur bangunan.
2.3.15. Pemasangan Ven Udara Otomatis.
 Ven udara otomatis harus disediakan ditempat- tempat tertinggi dan kantong udara.

2.3.16. Selubung Pipa.


1. Selubung untuk pipa-pipa harus dipasang dengan baik setiap kali pipa tersebut
menembus konstruksi beton.
2. Selubung harus mempunyai ukuran yang cukup untuk memberikan kelonggaran di luar
pipa ataupun isolasi.
3. Selubung untuk dinding dibuat dari pipa besi tuang ataupun baja. Untuk yang
mempunyai kedap air harus digunakan sayap.
4. Untuk pipa-pipa yang akan menembus konstruksi bangunan yang mempunyai lapisan
kedap air ( water proofing ) harus dari jenis "Flushing Sleeves".
Pembangunan Sarana Dan Prasaran Mesjid Al-jihad

PERSYARATAN TEKNIS
PEKERJAAN MEKANIKAL ELEKTRIKAL

5. Rongga antara pipa dan selubung harus dibuat kedap air dengan rubber sealed atau
"Caulk"

2.3.17. Katup Label (Valve Tag)


1. Tags untuk katup harus disediakan di tempat-tempat penting guna operasi
dan pemeliharaan.
2. Fungsi-fungsi seperti "Normally Open" atau "Normally Close" harus ditunjukkan di tags
katup.
3. Tags untuk katup harus terbuat dari plat metal dan diikat dengan rantai atau kawat.

2.3.18. Pembersihan
Setelah pemasangan dan sebelum uji coba pengoperasian dilaksanakan, pemipaan di setiap
service harus dibersihkan dengan seksama, menggunakan cara- cara/ metoda-metoda yang
disetujui sampai semua benda- benda asing disingkirkan.
Desinfeksi :
Dari 50 mg/l chlor selama 24 jam setelah itu dibilas atau dari 200 mg/l chlor selama 1 jam
setelah itu dibilas.
Untuk bak air dipoles dengan cairan 200 mg/l chlor selama 1 jam dan setelah itu dibilas.

2.4. PENGUJIAN
1. Sebelum dilakukan testing dilakukan dahulu :
a. Pemeriksaan sebagian- sebagian.
b. Pemeriksaan setelah pemasangan.

2. Tujuannya untuk mengetahui apa konstruksi dan fungsinya serta sistem sudah
memenuhi dan sesuai dengan rencana.
a. Pemborong harus melakukan pengujian terhadap setiap jenis alat.
b. Pipa yang akan ditanam atau dipasang di luar harus dites terlebih dahulu sebelum
diurug, dengan bagian perbagian, dengan tekanan 1 1/2 x tekanan kerja selama 1
jam tanpa ada penurunan tekanan (antara 10 kg/cm2) dan dilanjutkan pengujian per
sistem.
c. Setelah alat plambing dipasang, dites selama ± 2 menit tanpa penurunan tekanan,
berlaku untuk umum kecuali untuk monoblock dan faucet dan ditentukan oleh
pengawas.
d. Tangki air setelah dibersihkan harus diuji selama 24 jam tanpa ada penurunan tinggi
air.
e. Setelah pipa dan tangki diuji, dibersihkan dan dilakukan desinfeksi sesuai PPI dengan
sisa kadar chloor 0,2 ppm atau lebih, baik yang di pipa atau di tangki.
f. Setelah itu dibersihkan ( dibilas ) dengan air bersih.
g. Pengisian pipa dengan air dilakukan sedikit demi sedikit dengan pompa khusus untuk
pengetesan.
h. Untuk mengetahui setiap alat berfungsi sesuai perencanaan, dilakukan pengujian
sistem aliran sampai tercapai pengukuran yang diminta dalam perencanaan seperti
kapasitas pompa, kebisingan pompa ( ± 60 dB ), tekanan air keluar kran dia.0,3 kg/
cm2 ) dan lain-lain.
i. Semua pengetesan disaksikan oleh Pemberi Tugas dan akan dikeluarkan sertifikat oleh
Pemberi Tugas.

2.5. PENGECATAN
2.5.1. Umum
Barang-barang yang harus dicat adalah sebagai berikut:
 Pipa servis
 Support pipa dan peralatan Konstruksi besi
 Flens
 Peralatan yang belum dicat dari pabrik
 Peralatan yang catnya harus diperbarui
 Pengecatan pada pipa air bersih dan air panas hanya di beri tanda arah panah jalur pipa
tersebut.
 Untuk pipa pemadam pengecatan harus berwarna merah dan harus dapat memberi
indikasi adanya Instalasi Peadam Kebakaran.
Pembangunan Sarana Dan Prasaran Mesjid Al-jihad

PERSYARATAN TEKNIS
PEKERJAAN MEKANIKAL ELEKTRIKAL
2.6. TESTING DAN COMMISSIONING
1. Pemborong pekerjaan instalasi akan melakukan semua testing pengukuran secara
partial dan secara system, untuk mengetahui apakah seluruh instalasi yang sudah
dilaksanakaan berfungsi dengan baik dan memenuhi persyaratan yang ditentukan.
2. Semua tenaga, bahan, perlengkapan yang perlu untuk testing merupakan tanggung
jawab pemborong, sehingga semua persyaratan test yang dianjurkan oleh pabrik
hingga dapat dilakukan dan diketahui hasil test sesuai persyaratan yang ditentukan.
d.
Pembangunan Sarana Dan Prasaran Mesjid Al-jihad

PERSYARATAN TEKNIS
PEKERJAAN MEKANIKAL ELEKTRIKAL
a. Bentuk gantungan.
 Untuk air dingin : Split ring type atau Clevis type.

2. Penggapit pipa baja yang digalvanis harus disediakan untuk pipa tegak.
3. Semua pipa dan gantungan, penumpu sebelum dicat, harus memakai dasar zinchromat dan
pengecatan sesuai dengan peraturan-peraturan yang berlaku.

NO. JENIS CAIRAN WARNA PIPA


1. Air Bersih Biru
2. Air Kotor Hitam
3. Air Bekas Coklat
4. Air Pemadam Kebakaran Merah
5. Pipa Gas Kuning

2.3.19. Cara pemasangan pipa dalam tanah.


1. Penggalian untuk mendapatkan lebar dan kedalaman yang cukup.
2. Pemadatan dasar galian sekaligus membuang benda- benda keras/ tajam.
3. Membuat tanda letak dasar pipa setiap interval 2 meter pada dasar galian dengan adukan
semen.
4. Urugan pasir sekeliling dasar pipa dan dipadatkan.
5. Pipa yang telah tersambung diletakkan di atas dasar pipa.
6. Dibuat blok beton setiap interval 2 meter.
7. Pipa yang melintasi jalan kendaraan, pada urugan pipa bagian atas harus dilindungi plat
beton bertulang setebal 10 cm yang dipasang sedemikian rupa sehingga plat beton tidak
bertumpu pada pipa dan tidak mengganggu konstruksi jalan, kemudian baru ditimbun
dengan baik sampai padat.

2.3.20. Pemasangan Katup-katup.


Katup-katup harus disediakan sesuai yang diminta dalam gambar, spesifikasi dan untuk bagian-
bagian berikut ini :
d. Sambungan masuk dan keluar peralatan.
e. Sambungan ke saluran pembuangan pada titik- titik rendah.

 Di ruang Mesin
UKURAN PIPA UKURAN KATUP
Sampai 75 mm 20 mm
100 mm s/d 200 mm 40 mm
250 mm atau lebih besar 50 mm
 Lain-lain, ukuran katup 20 mm
f. Katup by-pass.

2.3.21. Pemasangan Katup-katup Pengaman.


 Katup - katup Pengaman harus disediakan di tempat-tempat yang dekat dengan
sumber tekanan.

2.3.22. Pemasangan sambungan fleksibel.


 Sambungan fleksibel harus disediakan untuk menghilangkan getaran dan menghindari
terjadinya retak/patah pipa akibat penurunan tanah dan struktur bangunan.

2.3.23. Pemasangan Pengukur Tekanan.


Pengukur tekanan harus disediakan dan di tempatkan pada lokasi dimana tekanan yang ada
perlu diketahui :
e. Katup-katup pengurang tekanan.
f. Katup-katup pengontrol.
g. Setiap pompa
h. Setiap bejana tekan
Diameter pengukur tekanan minimum Dia. 75 dengan pembagian skala ukur maksimum 2
kali tekanan kerja.

2.3.24. Sambungan ulir


1. Penyambungan antara pipa dan fitting mempergunakan sambungan ulir berlaku untuk
ukuran sampai dengan 40 mm.
2. Kedalaman ulir pada pipa harus dibuat sehingga fitting dapat masuk pada pipa dengan
diputar tangan sebanyak 3 ulir.
3. Semua sambungan ulir harus menggunakan perapat Henep dan zink white dengan
campuran minyak.
4. Semua pemotongan pipa harus memakai pipe cutter dengan pisau roda.
5. Tiap ujung pipa bagian dalam harus dibersihkan dari bekas cutter dengan reamer.
6. Semua pipa harus bersih dari bekas bahan perapat sambungan.

2.3.25. Sambungan Las


1. Sistem sambungan las hanya berlaku untuk saluran bukan air minum.
2. Sambungan las ini berlaku antara pipa baja dan fittinglas. Kawat las atau elektrode
yang dipakai harus sesuai dengan jenis pipa yang dilas.
3. Sebelum pekerjaan las di mulai Pemborong harus mengajukan kepada Direksi contoh
hasil las untuk mendapat persetujuan tertulis.
4. Tukang las harus mempunyai sertifikat dan hanya boleh bekerja sesudah mempunyai surat
ijin tertulis dari Direksi.
5. Setiap bekas sambungan las harus segera dicat dengan cat khusus untuk itu.
6. Alat las yang boleh dipergunakan adalah alat las listrik yang berkondisi baik menurut
penilaian Direksi.

2.3.26. Sambungan lem


1. Penyambungan antara pipa dan fitting PVC, mempergunakan lem yang sesuai
dengan jenis pipa, sesuai rekomendasi dari pabrik pipa.
2. Pipa harus masuk sepenuhnya pada fitting, maka untuk ini harus dipergunakan alat press
khusus. Selain itu pemotongan pipa harus menggunakan alat pemotong khusus agar
pemotongan pipa dapat tegak lurus terhadap batang pipa.
3. Cara penyambungan lebih lanjut dan terinci harus mengikuti spesifikasi dari pabrik pipa.

2.3.27. Sambungan yang mudah dibuka


Sambungan ini dipergunakan pada alat- alat saniter sebagai berikut :
 Antara Lavatory Faucet dan Supply Valve
 Pada waste fitting dan Siphon.
Pada sambungan ini kerapatan diperoleh dengan adanya paking dan bukan seal threat.

2.3.28. Pemasangan katup-katup Pelepasan Tekanan.


Katup-katup Pelepasan Tekanan harus disediakan di tempat-tempat yang mungkin timbul
kelebihan tekanan.

2.3.29. Pemasangan Ven Udara Otomatis.


Ven udara otomatis harus disediakan di tempat- tempat tertinggi dan kantong udara, serta
ditempatkan yang bebas untuk melepaskan udara dari dalam.

2.3.30. Pemasangan sambungan expansi.


 Sambungan expansi harus disediakan pada penyambungan antara pipa dari luar bangunan
dengan pipa dari dalam bangunan untuk menghindari terjadinya patah ataupun bengkok
akibat terjadinya penurunan tanah ataupun struktur bangunan.
2.3.31. Pemasangan Ven Udara Otomatis.
 Ven udara otomatis harus disediakan ditempat- tempat tertinggi dan kantong udara.

2.3.32. Selubung Pipa.


1. Selubung untuk pipa-pipa harus dipasang dengan baik setiap kali pipa tersebut menembus
konstruksi beton.
2. Selubung harus mempunyai ukuran yang cukup untuk memberikan kelonggaran di luar
pipa ataupun isolasi.
3. Selubung untuk dinding dibuat dari pipa besi tuang ataupun baja. Untuk yang mempunyai
kedap air harus digunakan sayap.
4. Untuk pipa-pipa yang akan menembus konstruksi bangunan yang mempunyai lapisan kedap
air ( water proofing ) harus dari jenis "Flushing Sleeves".
5. Rongga antara pipa dan selubung harus dibuat kedap air dengan rubber sealed atau "Caulk"

2.3.33. Katup Label (Valve Tag)


1. Tags untuk katup harus disediakan di tempat-tempat penting guna operasi dan
pemeliharaan.
2. Fungsi-fungsi seperti "Normally Open" atau "Normally Close" harus ditunjukkan di tags
katup.
3. Tags untuk katup harus terbuat dari plat metal dan diikat dengan rantai atau kawat.

2.3.34. Pembersihan
Setelah pemasangan dan sebelum uji coba pengoperasian dilaksanakan, pemipaan di setiap
service harus dibersihkan dengan seksama, menggunakan cara- cara/ metoda-metoda yang
disetujui sampai semua benda- benda asing disingkirkan.
Desinfeksi :
Dari 50 mg/l chlor selama 24 jam setelah itu dibilas atau dari 200 mg/l chlor selama 1 jam
setelah itu dibilas.
Untuk bak air dipoles dengan cairan 200 mg/l chlor selama 1 jam dan setelah itu dibilas.

2.7. PENGUJIAN

1. Sebelum dilakukan testing dilakukan dahulu :


a. Pemeriksaan sebagian- sebagian.
b. Pemeriksaan setelah pemasangan.

2. Tujuannya untuk mengetahui apa konstruksi dan fungsinya serta sistem sudah
memenuhi dan sesuai dengan rencana.
a. Pemborong harus melakukan pengujian terhadap setiap jenis alat.
b. Pipa yang akan ditanam atau dipasang di luar harus dites terlebih dahulu sebelum
diurug, dengan bagian perbagian, dengan tekanan 1 1/2 x tekanan kerja selama 1
jam tanpa ada penurunan tekanan (antara 10 kg/cm2) dan dilanjutkan pengujian per
sistem.
c. Setelah alat plambing dipasang, dites selama ± 2 menit tanpa penurunan tekanan,
berlaku untuk umum kecuali untuk monoblock dan faucet dan ditentukan oleh
pengawas.
d. Tangki air setelah dibersihkan harus diuji selama 24 jam tanpa ada penurunan tinggi
air.
e. Setelah pipa dan tangki diuji, dibersihkan dan dilakukan desinfeksi sesuai PPI dengan
sisa kadar chloor 0,2 ppm atau lebih, baik yang di pipa atau di tangki.
f. Setelah itu dibersihkan ( dibilas ) dengan air bersih.
g. Pengisian pipa dengan air dilakukan sedikit demi sedikit dengan pompa khusus untuk
pengetesan.
h. Untuk mengetahui setiap alat berfungsi sesuai perencanaan, dilakukan pengujian
sistem aliran sampai tercapai pengukuran yang diminta dalam perencanaan seperti
kapasitas pompa, kebisingan pompa ( ± 60 dB ), tekanan air keluar kran dia.0,3 kg/
cm2 ) dan lain-lain.
i. Semua pengetesan disaksikan oleh Pemberi Tugas dan akan dikeluarkan
sertifikat oleh Pemberi Tugas.

2.8. PENGECATAN

2.5.2. Umum
Barang-barang yang harus dicat adalah sebagai berikut:
 Pipa servis
 Support pipa dan peralatan Konstruksi besi
 Flens
 Peralatan yang belum dicat dari pabrik
 Peralatan yang catnya harus diperbarui
 Pengecatan pada pipa air bersih dan air panas hanya di beri tanda arah panah jalur pipa
tersebut.
 Untuk pipa pemadam pengecatan harus berwarna merah dan harus dapat memberi indikasi
adanya Instalasi Peadam Kebakaran.

2.9. TESTING DAN COMMISSIONING


1. Pemborong pekerjaan instalasi akan melakukan semua testing pengukuran secara partial
dan secara system, untuk mengetahui apakah seluruh instalasi yang sudah dilaksanakaan
berfungsi dengan baik dan memenuhi persyaratan yang ditentukan.
2. Semua tenaga, bahan, perlengkapan yang perlu untuk testing merupakan tanggung jawab
pemborong, sehingga semua persyaratan test yang dianjurkan oleh pabrik hingga dapat
dilakukan dan diketahui hasil test sesuai persyaratan yang ditentukan.
2. SISTEM AIR BERSIH

2.1. LINGKUP PEKERJAAN


Uraian singkat lingkup pekerjaan adalah sebagai berikut :
a. Tangki Persediaan Air Bersih
b. Pompa Suplai
c. Pemipaan
d. Pengkabelan
e. Panel Listrik
f. Peralatan Instrument dan pengendalian
g. Penyambungan ke peralatan penunjang
h. Penyambungan ke peralatan plambing.

2.2. PERATURAN DAN REFERENSI


Peraturan & Referensi yang dipergunakan dalam melaksanakan pekerjaan ini antara lain
adalah:
a. Pedoman Plambing Indonesia tahun 1975
b. Perancangan dan Pemeliharaan Sistem Plambing (Soufyan & Moimura)
c. National Plumbing Code Handbook ,1975.
d. PU
e. Depnaker.
f. Depkes.

4.3 PERALATAN UTAMA

4.3.1 Tangki Persediaan Air Bersih


a. Tangki persediaan air bersih terletak di area service Basement (Ground Water Tank). Tangki
air bawah berfungsi untuk menyediakan air untuk kebutuhan cadangan selama 2 (dua) hari,
dengan kualitas sesuai standart Depkes RI tahun 1990.
b. Tangki air harus dibuat dari konstruksi higenis dengan ketentuan sebagai berikut :
a. Membuat kemiringan pada lantai, sehingga terjadi aliran air minimum selama 20
menit.
b. Tanpa sudut tajam
c. Mempunyai bak pengurasan pada dasar tangki
d. Mencegah air tanah dan air hujan masuk ke dalam tangki
e. Permukaan dinding licin dan bersih
c. Sumur Hisap. Untuk memperkecil volume air mati pada pipa isap pompa, maka harus dibuat
sumur hisap pada tangki air.
d. Tangki air bawah dapat dibuat dari beton berlapis fiberglass reinforced plastic, atau dengan
konstruksi beton yang kedap air.
e. Tangki air harus mempunyai perlengkapan sebagai berikut :
 Manhole
 Tangga
 Pipa Vent penghubung maupun vent ke udara luar
 Pipa peluap dan pipa penguras
 Indicator muka air
 Selubung untuk laluan pipa masuk, pipa isap, pipa penguras, kabel dsb.
f. Sistem Pengendalian
 Muka air dalam tangki air atas mengendalikan pompa pemindah.
 Pompa akan hidup pada saat air turun mencapai muka air
tertentu  Pompa akan mati bila muka air sudah mendekati tepi
pipa peluap

4.3.2. Pompa Transfer


a. Pompa pemindah berfungsi untuk memindahkan air dari tangki air bawah ke tangki air
atas.
b. Sistem pompa pemindah sekurang-kurangnya terdiri dari 2 ( dua ) pompa.
c. Pompa pemindah akan bekerja otomatis oleh level switch yang dipasang di tangki bawah
maupun tangki atas.
d. Setiap pompa pemindah antara lain terdiri dari :
 Pompa Centrifugal End Suction lengkap dengan motor
 Inlet dan Outlet headers.
 Katup – katup inlet dan outlet
 Check valve anti pukulan air 
Inlet Strainers.
 Panel daya dan Pengendalian
 Level switch untuk ON / OFF.
 Level switch untuk proteksi pompa
 Pengkabelan
 Penunjuk tekanan pada inlet dan outlet pompa
 Dudukan pompa.
e. Pengaturan pompa adalah sebagai berikut :
 Pompa bekerja apabila muka air di tangki atas turun mencapai level L dan akan stop
apabila muka air naik sampai level H.
 Semua pompa akan tiba-tiba berhenti apabila muka air di tangki bawah turun sampai
level LL.

4.3.3 Pompa Booster/Distribusi


a. Pompa Booster berfungsi untuk mengalirkan air ke alat- alat plambing pada lantai-lantai
yang membutuhkan, dan harus mampu menjaga tekanan air didalam pipa pada setiap
lantai merata.
b. Pompa Booster harus mampu memasok kebutuhan air kepada pemakai setiap variasi laju
aliran pada setiap saat secara otomatis.
c. Setiap boster pump harus mempunyai sekurang-kurangnya terdiri dari 2 pompa dan paling
banyak 4 pompa yang bekerja pararel sedangkan laju aliran masing-masing pompa dalam
berdasarkan standard pabrik perakit booster pump.
d. Peralatan kendali, untuk laju aliran sampai dengan 40 m 3/jam boleh mempergunakan
Pressure Control System.
e. Setiap booster pump antara lain terdiri dari peralatan sbb :
Pompa Centrifugal End Suction lengkap dengan motor
Tangki tekan dengan tipe membrane
Inlet dan Outlet header
Katup-katup inlet dan outlet
Check valve anti pukulan air
Inlet strainers per pompa
Panel daya dan pengendalian
Pressure switch / flow monitor switch
Pressure gauges pada inlet dan outlet pompa
Pengkabelan
Dudukan pompa
f. Pengaturan pompa pada sistem pressure control
- Pompa pertama bekerja apabila tekanan air dijaringan turun sampai ambang
batas L pada pressure switch ( PS 1 ).
- Pompa kedua bekerja apabila tekanan air di jaringan masih turun sampai
ambang batas L pada pressure switch ( PS 2 ) dan seterusnya.
- Pompa pertama, kedua dan seterusnya berhenti apabila tekanan air di jaringan
pemakai naik sampai ambang batas H di PS1, PS2dan seterusnya.
- Penentuan daerah kerja pompa juga ditentukan oleh kurva pemilihan pompa
yang akan dipakai.
- Pompa yang sedang bekerja dapat tiba-tiba berhenti apabila muka air di tangki
hisap turun sampai batas LL, dan akan kembali normal apabila muka air naik
sampai batas “ L ”.

4.3.4. Pompa Suplai (Deep Well)


Uraian singkat lingkup pekerjaan adalah sebagai berikut :
- Mengurus semua izin terkait yang diperlukan.
- Pembuatan sumur dalam dan pengujiannya.
- Pengadaan, pemasangan dan pengujian Pompa sumur dalam
- Pengadaan, pemasangan dan pengujian Pengkabelan.
- Pengadaan, pemasangan dan pengujian Panel listrik.
- Pengadaan, pemasangan dan pengujian peralatan instrumen dan control.
- Penyambungan ke semua peralatan penunjang.
- Penyambungan ke semua peralatan pemakai.
- Pembuatan shops drawings
- Pembuatan As Built Drawings

a. Peraturan dan Refrensi.


Peraturan yang digunakan dalam melaksanakan pekerjaan ini antara lain:
- Peraturan dan persyaratan yang dikeluarkan oleh PAM maupun Direktorat Geologi.
- Peraturan dan persyaratan yang dikeluarkan oleh Dinas Keselamatan Kerja.
- Peraturan dan persyaratan teknis yang terkait sebagaimana ditentukan di RKS untuk
Pekerjaan Sistem Plambing.
b. Perijinan.
1. Izin Usaha.
pemborong sumur bor harus mempunyai surat izin perusahaan Pengeboran air
tanah yang dikeluarkan oleh Direktorat Geologi Tata Lingkungan Departemen
Pertambangan dan Energi, SIPP di wilayah setempat dan izin-izin lainnya yang
diwajibkan.
2. Izin Pengeboran.
Pemborong harus mengurus semua perizinan pengeboran air tanah. Biaya
pengurusan dan biaya perizinan dibebankan kepada Pemborong.

c. Peralatan Utama
1. Peralatan pengeboran.
Peralatan pengeboran yang dipergunakan untuk melaksanakan pekerjaan
pengeboran harus mempergunakan mesin bor yang memadahi dan sesuai dengan
rekayasa, konstruksi dan keadaan tanah.
2. Sumur dalam.
a. Sebelum memulai pengeboran, pemborong harus menyampaikan
gambar kerja kepada pengawas untuk mendapat persetujuan yang
menunjukkan letak sumur maupun konstruksi pengeboran.
b. Setiap sumur harus mampu mengeluarkan air sebanyak 12 m³/jam dan 240
m³/hari.
c. Kedalaman sumur diperkirakan 150 meter.
d. Konstruksi sumur dibuat sekurang - kurangnya sebagai berikut :
* Pipa jambang 150 mm sedalam 60 meter, 10 meter bagian luar atas di cor
beton, agar air pada kedalaman ini tidak masuk ke sumur.
* Pipa naik 100 mm sedalam 90 meter dari ujung jambang, disebelah luarnya
diisi koral / pasir cuci.
e Bahan pipa dan saringan sebagai berikut :
* Pipa jambang dan pipa naik menggunakan Galvanized Steel Pipe ( GSP )
BS 1387 class medium.
* Jumlah pipa saringan yang menggunakan Stainless steel 304, ukuran pipa
100 mm, ditetapkan oleh Direktorat Geologi Tata Lingkungan ( minimal 3
buah ).
f. Batu karang
* Bila pengeboran menembus batu karang didaerah pipa naik maka diluar pipa
naik setebal batu karang harus dicor beton agar sumber air yang melalui
batu karang tidak diambil.
* Bila pengeboran menembus batu karang pada bagian ujung sumur, maka
lubang pada batu karang harus ditutup kembali dengan beton cor, dan ujung
sumur akan berhenti diatas batu karang.
d. Testing dan Commissioning
1 Pemborong harus melakukan pengujian lengkap antara lain :
* Pengujian debit dan penurunan muka air ( Drawdown Test ).
* Pengujian pemulihan kedalaman muka air ( Recovery Test ).
* Pengujian terus menerus 3 kali 24 jam.
* Pengujian kwalitas air oleh laboratorium.
* Pengujian yang diwajibkan oleh instansi Pemerintah yang berwenang.
- Selain pengujian diatas, Pemborong harus melakukan pengujian yang diwajibkan
oleh Instansi Pemerintah yang berwenang.
- semua peralatan uji, sumber daya dan biaya uji dibebankan kepada Pemborong.

2. Peralatan uji.
Peralatan uji yang digunakan harus dapat diandalkan, sudah ditera dan mudah
dibaca secara terus menerus, peralatan uji tersebut antara lain :
- Pengukur debit, dengan meter air putar atau meter air Venturi.
- Penduga permukaan air, dengan membran tekan atau sistem electroda lampu
listrik arus lemah.

3 Rekayasa
Serah terima pekerjaan harus disertai rekayasa sebagai berikut :
- Gambar sumur terpasang secara detail.
- Seluruh laporan hasil pengujian.

4. Perlengkapan sumur dalam.


Sumur dalam harus mempunyai kelengkapan antara lain :
- Vent sumur
- Katup pengatur
- Katup penahan aliran balik.
- Manometer.
- Katup pelepas udara otomatis.

4.3.5 SPESIFIKASI PERPIPAAN


Lihat “Spesifikasi
Perpipaan”

4.3.6 SAND FILTER


1. Sand filter berfungsi meningkatkan mutu air.
2. Backwash ( Pencucian filter ) harus dilakukan setiap hari selama 5 menit sampai 10 menit,
pada saat beban pemakaian air surut.
3. Filter yang dipergunakan adalah dari jenis pressure type, multi media automatic / manual
backwash.
4. Laju aliran maksimum adalah 10 m2 / m2 / jam.
5. Bahan tangki terbuat dari Wound polyester sedangkan screen terbuat dari bronze atau
stainless stell.
6. Filter terdiri dari :
 Tangki termasuk screen
 Filter Media
 Valves
 Interconnecting piping
 Instruments
 Life Indicator
7. Kapasitas Sand Filter 0,3 m3 / menit
8. Perpipaan

4.3.7 CARBON FILTER


1. Carbon filter berfungsi menghilangkan bau yang terdapat didalam air.
2. Backwash ( Pencucian filter ) harus dilakukan setiap hari selama 5 menit sampai 10 menit,
pada saat beban pemakaian air surut.
3. Filter yang dipergunakan adalah dari jenis pressure type, multi media automatic / manual
backwash.
4. Laju aliran maksimum adalah 10 m2 / m2 / jam.
5. Bahan tangki terbuat dari Wound polyester sedangkan screen terbuat dari bronze atau
stainless stell.
6. Filter terdiri dari :
 Tangki termasuk screen
 Filter Media
 Valves
 Interconnecting piping
 Instruments
 Life Indicator
7. Kapasitas Sand Filter 0,3 m3 / menit
8. Perpipaan

4.3.8 SKEDUL PERALATAN AIR BERSIH

1. Pompa Deep Well


 Type : Submersible Pump Direct Coupled with Electro Motor
 Kapasitas : 0,3 m3/ menit
 Tekanan : 160 m.
 Motor Rated : 15 kw ; 380 V/III Phase/50 Hz
 Shaft Seal : Mechanical
 Casing : Cast Iron/Standard Manufacturer
 Speed : 3000 rpm.
 Base Frame : Cast Iron or Steel
 Efisiensi : Minimum 80%
 Impeler : Bronze / Stainless Stell

2. Pompa Transfer
 Type : Centrifugal End Suction Pump Direct Coupled with Electro Motor
 Kapasitas : 0,35 m3/ menit
 Tekanan : 35 m.
 Motor Rated : 3,7 kw ; 380 V/III Phase/50 Hz
 Shaft Seal : Mechanical
 Casing : Cast Iron/Standard Manufacturer
 Speed : 3000 rpm.
 Base Frame : Cast Iron or Steel
 Efisiensi : Minimum 80%
 Impeler : Bronze / Stainless Stell

3. Pompa Distribusi
 Type : Packaged Booster Pump Standard Manufacturer ( Out Door Type ),
Lengkap dengan tangki tekan, Variable Speed System
 Kapasitas : 0,22 m3/menit
 Tekanan : 35 m AQ
 Motor Rated : 2,2 kw ; 380/III Phase/ 50 Hz
 Shaft Seal : Mechanical
 Casing : Cast Iron/Standard Manufacturer
 Speed : 2900 rpm
 Base Frame : Cast Iron or Steel
 Efisiensi : Minimum 80%

4. Sand Filter ( SF )
 Type : Vertical Cylinder Tank
 Kapasitas : 0,4 m3/menit
 Tekanan : 37 m
 Material : FRP
5. Carbon Filter ( CF )
 Type : Vertical Cylinder Tank
 Kapasitas : 0,4 m3/menit
 Tekanan : 37 m
 Material : FRP

6. Roof Tank ( RT ) Gedung Utama


 Type : Cubical Fiber Tank
 Kapasitas : 8 m3
 Tekanan :-m
 Material : FRP

5. SISTEM AIR LIMBAH

5.0. LINGKUP PEKERJAAN


Uraian singkat lingkup pekerjaan dalam sistem air limbah disini antara lain adalah sbb :
1. Perpipaan
2. Penyambungan dengan peralatan Plambing
3. Floor Drain
4. Clean Out
5. Roof Drain

5.1. PERPIPAAN
1. Umum
 Macam perpipaan air limbah adalah, Air Hujan, Air Limbah Saniter, Limbah Dapur.
 Jenis pipa lihat "SPESIFIKASI PERPIPAAN".
2. Limbah Saniter
Perpipaan Limbah Saniter mulai dari Alat Saniter antara lain Kloset, Urinal, Lavatory, dan
Floor Drain, sampai saluran halaman melalui septik tank.
3. Limbah Air Hujan
Perpipaan air hujan mulai dari roof drain dan kanopy drain diatap dialirkan kedalam
sumur resapan sebelum dialirkan kesaluran kota. Khusus fitting air hujan mempergunakan
cast iron.

5.2. BAK SEWAGE / SUMP PIT


1. Apabila ditentukan dalam gambar perencanaan, maka harus dibuat bak Sump Pit seperti
diuraikan disini.
2. Bak Sump Pit harus dibuat dari konstruksi beton bertulang, badan rapat air sedangkan
tutup harus rapat udara.
3. Setiap bagian Sum Pit harus dapat dipompa, maka dasar bak harus miring 1 : 10
kearah pompa sedangkan semua ujung sudut dibuat 135 °.
4. Bak Sump Pit harus dilengkapi sbb :
 Sleeve untuk pipa sewage masuk dan keluar
 Sleeve untuk pipa ven
 Sleeve untuk kabel-kabel.
 Level switches untuk kendali pompa.
 Level switch untuk alarm banjir.
 Tangga monyet
 Manhole untuk laluan pompa (2 buah)
5.3. POMPA SUMP PIT
1. Setiap bak Sump Pit minimum harus dipasang dua buah pompa Submersible.
2. Tipe pompa harus Submersible Sewage dengan komponen sbb :
 Cast Iron Casing
 Cast iron vortex type Impeller with knife.
 Stainless steel shaft
 Silicon Carbide
 Heavy duty grease lubricated bearing
 Stainless steel casing guide rail support
 Quick discharge coupling
3. Spesifikasi motor sbb :
 Squirrel cage induction type ( IP 68 )
 Winding insulation class F
 Water tight
 Vertically mounted
4. Sistem kendali motor pompa
 Start dan stop diatur secara otomatis oleh level switches yang berada di bak sewage.
 Pompa bekerja secara bergantian dan bersamaan.
 Apabila beban aliran kecil, maka satu pompa bekerja secara bergantian.
 Apabila beban aliran besar, maka pompa bekerja bersamaan.
 Pengaturan kerja pompa dilakukan dari panel kontrol pompa.

5.4. SUMUR PERIKSA (CONTROL BOX).


1. Sumur periksa harus dipasang pada setiap perubahan arah maupun setiap jarak
maksimum 20 meter pada pipa air limbah utama dalam tanah.
2. Sumur periksa harus dibuat dari konstruksi beton.
3. Dasar sumur bagian dalam berukuran minimal 500 x 1000 mm serta harus dibuat beralur
sesuai fungsi saluran yaitu, lurus, cabang atau belokan.
4. Sumur periksa harus dilengkapi dengan tangga monyet, manhole dan pipa vent.
5. Tutup sumur periksa dapat terbuat dari Stainless steel atau baja yang dilapisi anti karat.

5.5. MANHOLE
1. Manhole terdiri dari rangka dan tutup dibuat dari besi tuang serta dilapis cat bitumen.
2. Rangka dan tutup harus membentuk perangkap, sehingga setelah diisi grease akan
terbentuk penahan bau.
3. Diameter lubang untuk laluan orang sebesar minimum 500 mm sedangkan untuk
laluan peralatan harus sesuai dengan besaran peralatan tersebut.
4. Finishing permukaan manhole harus disesuaikan dengan peruntukan lokasi.
5. Tutup untuk manhole terbuat dari baja tahan karat atau stainless steel.

5.6. SUMUR RESAPAN


1. Rembesan yang dimaksud disini adalah untuk memasukkan air hujan yang berasal dari
pipa riser sebelum dialirkan over flow nya ke selokan kota.
2. Air yang akan dimasukkan dalam rembesan adalah air hujan.
3. Jenis rembesan yang dimaksud disini adalah sumur rembesan, pekerjaan sumur rembesan
akan merupakan pekerjaan divisi sipil/ konstruksi.
4. Konstruksi sumur rembesan antara lain sbb :
 Dasar sumur berupa batu kerikil
 Dinding sumur berupa dinding berlubang yang dibuat dari beton atau beton blok
berlubang.
 Tutup dibuat dari plat beton/ plat baja
 Diantara tanah dan dinding luar harus diisi koral dan ijuk sesuai gambar.
5. Rembesan hanya dapat berfungsi dengan baik didaerah yang mempunyai lapisan pasir
kasar, maka bidang rembesan harus berada dilapisan pasir kasar.
5.7. PERANGKAP LEMAK (GREASE INTERCEPTOR)
1. Grease Interceptor harus berfungsi untuk mengumpulkan serta mengeluarkan
kandungan padat dan lemak maupun kandungan ringan yang terbawa dalam limbah
dapur.
2. Endapan padat harus dapat berkumpul dalam basket, selanjutnya secara berkala akan
diangkat oleh petugas pembersihan.
3. Lemak harus dapat berkumpul dalam bak lemak dan selanjutnya secara berkala akan
dikeluarkan oleh petugas pembersihan.
4. Grease Interceptor dapat dibuat dari stainless steel atau fiber glass dengan kapasitas 15
liter.
5. Grease Interceptor harus dibuat dengan konstruksi higenis sesuai dengan standard DIN
4040 jenis kombinasi.

5.8. FLOOR DRAIN


1. Floor drain yang dipergunakan disini harus jenis Bucket Trap, Water Prooved type dengan
50mm Water Seal dan dilengkapi dengan U trap.
2. Floor Drain terdiri dari:
 Chromium plated bronze cover and ring.
 PVC neck
 Bitumen coated cast iron body screw outlet connection and with flange for water
prooving.
3. Floor Drain harus mempunyai ukuran utama
sbb.: Outlet diameter Cover diameter
2" 4"
3" 6"
4" 8"

5.9. FLOOR CLEAN OUT


1. Floor Clean Out yang dipergunakan disini adalah Surface Opening Waterprooved Type
2. Floor Clean Out terdiri dari:
 Chromium plated bronze cover and ring heavy duty type
 PVC neck
 Bitumen coated cast iron body, screw outlet connection with flange for waterprooving.
3. Cover and ring harus dengan sambungan ulir dilengkapi perapat karet sehingga mudah
dibuka dan ditutup.

5.10. ROOF DRAIN


1. Roof Drain yang dipergunakan harus dibuat dari Cast Iron dengan konstruksi waterproove.
2. Luas laluan air pada tutup roof drain ialah sebesar dua kali luas penampang pipa
bangunan.
3. Roof Drain harus terdiri atas 3 bagian sebagai berikut :
 Bitumen Coated Cast Iron Body dengan water prooved flange.
 Bitumen Coated Neck for adjustable fixing.
 Bitumen Coated cover dome type

5.11. CANOPY DRAIN


Canopy Drain yang dipergunakan adalah Floor Drain Bucket Trap Type (lihat skematik Floor
Drain).

5.12. P" TRAP


P" TRAP yang digunakan disini harus jenis single inlet.
Tinggi Air minimum pada Trap 8 cm.
P" TRAP yang digunakan disini harus dibuat dari PVC class 5 kg/cm2.
Pemasangan P” TRAP pada setiap FD kamar mandi dan pada jalur utama pipa buangan air
limbah yang menuju bak sewage.
5.13. SEWAGE TREATMENT PLANT
1. Septik tank menggunakan system pengolahan dengan menggunakan bakteri
pengurai.
2. Bahan septic tank dapat terbuat dari fiber glass ataupun beton concrete.
3. Sistem kerja septik tank yaitu air limbah yang masuk harus dapat diurai dengan
menggunakan bakteri pengurai sehingga air yang dihasilkan dari dalam septic
tank tersebut layak untuk untuk dibuang ke saluran kota (tidak berbau)

PRODUK INSTALASI PLAMBING

NO. URAIAN MERK

Pompa Centrifugal dan pompa


1. Equal, Teral, Paragon, Ebara
booster (paket)
2. Pompa Submersible Equal, Teral, Paragon, Ebara
CV. Mitra Utama Sentosa, PT. Dwi Prima
3. Filter Air Bersih
Engineering
PT. Bestindo Aquatek Sejahtera, PT. Bio
4. Sewage Treatment Plant Master
5. Pipa Galvanized GIP Bakrie, Spindo (PT. Sigma)
6. Fitting Class 10 K FKK, Benka, HE/ TG, Bohemi
7. Pipa PVC Class AW 12,5 Kg/ Cm Wavin, Rucika, Pralon
8. Fitting Pipa PVC Rucika, Pralon
9. Safety Valve Yoshitake, Fushiman, Socla
10. Flow Switch PENN, Potter
11. Gate Valve Class 20 K & Class 10 K Toyo, Kitz (PT. Sinar Mas Andhika),
Honeywell
12. Globe Valve Class 20 K & Class 10 K Toyo, Kitz (PT. Sinar Mas Andhika),
Honeywell
13. Air Vent Valve Yoshitake, Fushiman, Sam Yang
14. Flexible Joint Class 10 K Proco, Tosen
15. Level Switch Fanal
16. Pressure Gauge Nagano
17. Roof Drain Antasan
18. “P” Trap Rucika, Austindo
19. Water meter Kimco, Slumberger, Weistinghouse
20. Roof tank Enduro, Whale Tank
6. SISTEM INSTALASI TATA UDARA

6.1. KETENTUAN UMUM YANG BERHUBUNGAN DENGAN SISTEM TATA UDARA

6.1.1. Umum
Pasal-pasal di bawah ini menjelaskan secara umum ketentuan- ketentuan yang perlu diikuti
untuk semua bagian- bagian yang dalam pelaksanaannya berhubungan dengan instalasi tata
udara. Gambar-gambar dan spesifikasi adalah ketentuan spesifik yang saling melengkapi
dan sama mengikatnya.

6.1.2. Publikasi code dan Standard


Publikasi, code dan standard yang berlaku di Indonesia wajib dijadikan pedoman untuk
instalasi maupun peralatan. Untuk Publikasi, Code atau Standard yang belum ada di
Indonesia, Pemborong wajib mengikuti Standard codes atau Publikasi International yang
berlaku dan merupakan edisi terakhir antara lain seperti :
- SMACNA - 85
- ASHRAE - Guide and Data Book
- NFPA - 90A
- ARI
- AMCA
- CTI
- Dan lain- lain standard yang berlaku untuk bagian-bagian peralatan yang
belum tercantum diatas.

6.1.3. Kondisi Perancangan


1. Kondisi udara luar
 Temperatur 35 ° C
 Relative Humidity 65 %

2. Kondisi dalam ruangan yang di kondisikan


 Temperatur 20 ° C ± 2 ° C
 Relative Humidity 55 % ± 5 % RH

3. Noise Criteria
 Ruang Rapat 30 - 40 NC
 Ruang Kerja 35 - 45 NC

7.1.4. Perlindungan Kebakaran.


Semua peralatan maupun instalasi yang mengharuskan diperlukan tahan terhadap api dalam
jangka waktu tertentu, maupun terhadap penyebaran api disebabkan adanya celah-celah
antara pipa atau duct dengan dinding atau lantai harus menggunakan material yang sesuai
untuk tujuan tersebut.

7.1.5. Instalasi
1. Umum.
Semua peralatan dan alat-alat bantu harus dipasang sesuai dengan cara-cara
pemasangan yang secara teknis praktis, baik dan dapat dipertanggung jawabkan serta
sesuai dengan petunjuk dan instruksi pada brosur atau publikasi yang dikeluarkan pabrik
dari peralatan ataupun alat- alat bantu tersebut.

2. Landasan Peralatan.
Semua landasan untuk peralatan dan motor, ukurannya sedemikian rupa sehingga
tidak ada bagian- bagian peralatan maupun motor yang berada diluar landasan. Berat
peralatan diartikan berat dalam operasinya.
3. Platforms.
Untuk peralatan seperti fan dan sejenis yang menggantung dan duduk pada suatu
platform, maka platform harus diperkuat dengan suatu frame besi kanal (siku) yang dilas
atau dibautkan, atau dikeling ke frame sehingga cukup kuat, kaku dan tidak bergetar
dalam operasinya.

7.1.6. Penetrasi Atap


semua bagian instalasi yang menembus atap seperti duct, pipa, venting harus dilengkapi dengan
pinggiran beton ( curb ) sekeliling bagian – bagian instalasi tersebut sehingga konstruksinya
betul – betul kedap air.

7.1.7. Pencapaian Peralatan Untuk Service.


Semua peralatan ataupun peralatan bantu dalam prinsip pemasangannya harus mudah
untuk bisa diamati, di service dan mudah dicapai dalam perbaikan, termasuk juga
accessories duct seperti damper, filter dll. Untuk itu kontraktor dalam pemasangannya wajib
memperhatikan posisi yang terbaik dari peralatan dan accessories tsb, sehingga tujuan yang
dimaksud tercapai.
Disamping itu kontraktor harus mengusulkan kepada Direksi (bila belum ditunjukkan pada
gambar) pintu-pintu service (acces panel), untuk setiap peralatan dan accessories yang
berada dalam shaft atau ceiling yang memerlukannya, beserta ukuran dan lokasi yang tepat.
Bila dalam gambar rencana sudah ditunjukkan ada acces panel yang diperlukan, maka
penggeseran untuk posisi yang tepat dari acces panel tsb sehubungan dengan letak peralatan
/ accessories dan kaitannya dengan arsitek/interior perlu dibicarakan dengan Direksi untuk
disetujui.

7.1.8. Perlindungan Peralatan, Bahan.


Menjadi tanggung jawab dan keharusan bagi kontraktor untuk melindungi peralatan-peralatan,
bahan-bahan baik yang sudah, maupun belum terpasang bila diperkirakan bisa rusak,
cacat ataupun mengganggu situasi sekitarnya ataupun oleh alam (hujan, debu, pasir, lembab)
ataupun oleh bahan-bahan kimia sekitarnya.
Sebelum penyerahan, instalasi dibersihkan atau ditest dan diajust kembali untuk membuktikan
bahwa peralatan dan bahan beroperasi dengn baik. Peralatan dan bahan yang rusak atau cacat
karena tidak dilakukan perlindungan yang benar adalah merupakan bagian instalasi yang
tidak bisa diterima (serah terima belum 100%).

7.1.9. Anti Karat


 Semua peralatan bantu instalasi, yang berasal dari besi dan sebelumnya tidak diperlakukan
untuk anti karat ( semacam penggantung, dudukan, landasan, flens dan lain sebagainya)
harus dicat dengan cat anti karat, yaitu zinchromate dan selanjutnya cat finish dengan
warna yang ditentukan.
 Semua baut, mur dan washer haruslah zinc electroplated.
 Landasan penyangga peralatan (steel bases), seluruhnya harus bersih dari bebas las-
lasan, dicat dasar dengan zinchromate dan cat akhir (finish) 2 lapis.

7.1.10. Sleeve, peralatan yang tertanam didinding.


Peralatan bantu, sleeve dan lain-lain yang diperlukan tertanam atau menembus
concrete atau tembok harus dipasang dan dilengkapi sesuai petunjuk dagang. Untuk itu
ukuran, posisi yang disiapkan untuk keperluan tsb harus dikonsultasikan dengan Direksi dan
disertai gambar detail.
Semua ducting atau pipa tembus dinding harus menggunakan sleeve dengan clereance 20
mm jika duct atau pipa berisolasi, clereance tetap dibutuhkan 20 mm antara isolasi dan
sleeve menembus atap harus diperpanjang ± 200 mm diatas atap lantai.
7.1.11. Penomoran, Nama Peralatan/Accessories
Semua peralatan terpasang dan accessoriesnya harus diberi code nama peralatan dan nomor,
sesuai seperti yang dicantumkan pada daftar peralatan atau data sheet atau sabagai
tercantum pada gambar rencana. Bila ada peralatan atau accessories yang belum
mempunyai kode nama dan nomor, kontraktor wajib mengusulkan kepada Direksi dan
semua ini sudah harus tercantum dalam as built drawing.

7.2. PERSYARATAN TEKNIS PERALATAN DAN INSTALASI.

7.2.1. Lingkup Pekerjaan


Pekerjaan instalasi ini meliputi seluruh pekerjaan pengadaan dan pemasangan Instalasi Tata
Udara (Air Conditioning), Ventilasi Mekanis (Mechanical Ventilation) secara lengkap
termasuk semua perlengkapan dan sarana penunjangnya, sehingga diperoleh suatu
instalasi yang lengkap dan baik serta diuji dengan seksama dan siap untuk
dipergunakan. Lingkup pekerjaan instalasi ini secara garis besarnya adalah sebagai berikut :

7.2.2. Pengadaan dan Pemasangan


1. Pengadaan, pemasangan, pengaturan dan pengujian semua peralatan tata udara (air
conditioning).
2. Pengadaan, pemasangan, pengaturan dan pengujian peralatan ventilasi mekanikal
( Mechanical ventilation ) seperti : Centrifugal fan, Axial fan, Propeller fan, Filter, Attenuator
dll.
3. Pengadaan, pemasangan, pengaturan dan pengujian seluruh instalasi ducting lengkap
dengan fire damper, volume control damper, spliter damper, back drap damper ( non
return damper ) supply air diffuser/register/grille/slot/integrated, return air grille, access
panel, filter, gauge, Isolasi panas/suara dll.
4. Pengadaan, pemasangan, pengaturan dan pengujian seluruh instalasi pemipaan air
pengembunan ( drainage ) sampai kesaluran air terdekat lengkap dengan fitting, isolasi
panas dll.
5. Pengadaan, pemasangan, pengaturan dan pengujian seluruh instalasi kontrol sistem Indoor
Unit dan Outdoor Unit dan kontrol komponen seperti katup, damper, sensor, thermostat
ruangan, humidistat dll.
6. Pengadaan , pemasangan, pengaturan dan pengujian interlock sistim instalasi tata udara
dan ventilasi dengan sistim fire alarm yang ada.
7. Pengadaan, pemasangan, pengaturan dan pengujian sumber daya listrik bagi instalasi ini
seperti kabel dan panel tata udara.
8. Pengadaan dan pemasangan semua pekerjaan sipil yang terjadi akibat instalasi ini seperti
tercantum dalam dokumen ini.
9. Perbaikan kembali semua kerusakan dan finishing yang diakibatkan oleh pekerjaan instalasi
ini.
10. Mendidik petugas dari pemilik gedung, yang ditunjuk mengenai cara – cara menjalankan
dan memelihara instalasi ini.
11. Menyerahkan gembar-gambar, buku petunjuk cara menjalankan dan memelihara serta data
teknis lengkap peralatan instalasi yang terpasang.
12. Mengadakan pemeliharaan instalasi ini secara berkala selama masa pemeliharaan.
13. Memberikan garansi terhadap mesin / peralatan yang terpasang.
14. Melakukan pekerjaan atau ketentuan lain yang tercantum dalam dokumen ini beserta
addendumnya.

7.3. VAC SYSTEM VRV


Jenis AC adalah VRV system, air cooled type, memakai inverter, terdiri dari satu outdoor unit
dengan sejumlah indoor unit , dimana setiap indoor unit mempunya kemampuan untuk
mendinginkan ruangan secara independent.
Outdoor dan indoor harus mempunyai fleksibilitas design dan sampai ke 64 unit indoor bisa
tersambung kepada 1 refrigeration sirkuit dan dikontrol secara independent
Condensing unit harus dilengkapi dengan inverter, dan system bisa beroperasi pada minimum
koneksi beban pendinginan 2.2 Kw dan mempunyai kemampuan untuk merubah putaran motor
compressor sesuai dengan beban pendinginan.

Outdoor unit harus bisa terkoneksi dengan berbagai model indoor sebagai berikut :
 Ceiling Mounted Cassette Type (Double Flow)
 Ceiling Mounted Cassette Type (Multi Flow)
 Ceiling Mounted Cassette Corner Type
 Slim Ceiling Mounted Duct Type
 Ceiling Mounted Built-In Type
 Ceiling Mounted Duct Type
 Ceiling Suspended Type
 Wall Mounted Type
 Floor Standing Type
 Concealed Floor Standing Type
 Ceiling Suspended Cassette Type (Connection Unit Series)

Nilai COP system pada beban 50% harus = 4.0* atau lebih

tinggi

*- Pada saat temperature outdoor 35 C dan suhu indoor 27 C DB/19 C WB

System yang ditawarkan harus bisa melakukan automatic test operation system, Untuk
melakukan pengecekan system secara otomatis yang meliputi pengecekan : control wirings,
shutoff valves, sensors dan refrigerant volume.

7.3.1. CONDENSING UNIT


System ini harus bisa terkoneksi dengan pipa refrigerant harus bisa sepanjang 165 meter dengan
beda ketinggian 90 m tanpa oil trap
Baik indoor maupun outdoor harus dirakit dan ditest di pabrik. Outdoor unit harus terisi R410A
dari pabrik, instalasi harus sesuai dengan standard BS EN378: 2999 bagian 1 – 4.
Casing outdoor haruslah wheatherproof terbuat dari baja anti karat dilapisi dengan Baked
Enamel.

 Outdoor unit harus memiliki 2 atau 3 compressor SCROLL dan tetap bisa beroperasi jika 1
compressor rusak
 Outdoor dengan ukuran 5 HP dan 8 HP memiliki 1 kompressor SCROLL
 Indoor yang terkoneksi ke outdoor mempunyai kapasitas dari 0.8 HP sampai 10 HP.
 Noise level outdoor tidak boleh melebihi 68 DB(A) pada saat operasi normal, terukur 1
meter secara horizontal dan 1.5 meter diatas pondasi, Outdoor harusnya model modular dan
bisa dipasang secara berderet di setiap sisinya

Compressor
Compressor haruslah type hermetic dengan effisiensi tinggi dan dilengkapi dengan inverter
control yang berfungsi untuk merubah kecepatan putaran yang menyesuaikan dengan cooling
load yang dibutuhkan.
Magnet Neodymium harus dipakai di rotor compressor untuk menambah torsi compressor
Pada konfigurasi system dengan outdoor lebih dari 1 unit, secara otomatis compressor inverter
dengan jam operasi terendah yang akan start lebih dulu pada setiap kali operasi, System ini
haruslah dipasang dipabrik.

Heat Exchanger
Heat exchanger harus terbuat dari tube tembaga yang terpasang secara mekanis ke Fin
alumunium yang dilapisi resin film anti korosi dengan ketebalan antara 2 sampai 3 micron
Refrigerant Circuit
Terdiri atas Liquid dan Gas shut off valve dan solenoid Valve dan komponen lain untuk
keperluan safety

Fan Motor
Motor Outdoor unit harus memiliki multispeed operation dengan inverter DC, dengan
kemampuan maximum static pressure = 78 Ps
Condensing unit harus mempunyai kemampuan untuk beroperasi dengan noise lebih rendah
pada saat malam hari baik secara otomatis maupun dengan manual setting

Safety Devices
Outdoor unit haruslah mempunyai peralatan safety sebagai berikut : high pressure switch,
control circuit fuses, crank case heaters, fusible plug, thermal protectors for compressor dan fan
motors, over current protection for the inverter and anti-recycling timers.
Untuk memastikan liquid refrigerant tidak menguap saat menuju indoor unit, unit harus
dilengkapi dengan Sub cooling.
Oil recovery cycle akan secara otomatis beroperasi setelah 1 jam sejak startup dan seterusnya
setiap 6 jam operasi.

7.3.2. PRESSURE TESTING


Setelah pekerjaan pemipaan dilakukan, sebelum disambungkan ke outdoor unit, Sebelum
pembungkusan pipa dengan insulasi dan sebelum VRV system dinyalakan, Pekerjaan pemipaan
harus di test tekanan dengan memakai dry nitrogen sesuai table di bawah ini dan dicek ulang
untuk mendeteksi kebocoran yang mungkin terjadi :

Step1 Pressurize to 10.3 Bar 3 minutes or longer Allows discovery of major


(149 Psi) leaks
Step2 Pressurize to 21.5 Bar 5 minutes or longer
(312 Psi)
Step3 Pressurize to 38 Bar Approx 24 HOURS Allows discovery of minor
(551 Psi) minimum leaks

Outdoor unit haruslah dipasangkan ke pemipaan system dengan memakai torque wrench
dengan torsi pemasangan yang sesuai dengan table dibawah ini.

Flare Standard Tightening Torque


Nut [Link] [Link]
Size
¼ 144~176 1420~1720
3/8 333~407 3270~3990
½ 504~616 4950~6030
5/8 630~770 6180~7540
3/4 990~1210 9270~11860
System pemipaan kemudian harus divacuumed sampai 0.2 torr (-755mmHg) Dan ditahan pada
kondisi ini selama 1 jam minimal sampai pada 4 jam tergantung dari panjang pipa dengan
memakai 2 stage Vacuum Pump. Pengerjaan ini harus dilakukan sebelum indoor unit
disambungkan pada koneksi listrik.
Jumlah tambahan refrigerant (HFC R410A) harus dihitung berdasarkan standard dari pabrik dan
ditimbang dengan mempertimbangkan panjang pipa actual yang terpasang dengan merefer ke
installation manual dari pabrik.
Pengisian refrigerant ini harus dilakukan dengan peralatan yang sesuai dan dibawah
pengawasan dari perwakilan pabrik.
Jumlah tambahan dari refrigerant ini harus disupply oleh kontraktor pemasang dan diawasi oleh
perwakilan dari pabrik Pressure test harus dilakukan oleh kontraktor pemasang dan diawasi oleh
perwakilan pabrik Proses vacuum system pemipaan harus dilakukan oleh kontraktor pemasang
dan diawasi oleh perwakilan pabrik.

7.3.3. PIPE MATERIAL


Pipa refrigerant haruslah de-oxidized phosphorous seamless copper pipe sesuai dengan
standard JIS H300 - C1220T. Baik bagian suction maupun gas haruslah diinsulasi dengan
insulasi yang sesuai dengan rekomendasi pabrik sehingga tidak terjadi kondensasi
Seluruh koneksi shut off valve di dalam outdoor unit haruslah di brazed untuk mencegah
kebocoran refrigerant
Peralatan kerja untuk instalasi refrigerasi system haruslah dipakai. Dry Nitrogen (OFN) harus
dialirkan kedalam system pemipaan selama dilakukan brazing sehingga tidak terbentuk karbon
didalam pipa yang nantinya bisa merusak compressor.
Insulasi pipa refrigerant yang dipakai adalah type close cell XLPE dengan fire rated Class “O”
dengan ketebalan minimal 10 mm untuk Suction lines dan 10 mm untuk Liquid lines dan mesti
dilindungi dengan penutup pada bagian yang terexpose dengan sinar matahari, lebih disukai
insulation yang 1 merk dengan pipa refrigerant yang disupply Pekerjaan brazing harus dilakukan
oleh kontraktor pemasang dengan diawasi oleh perwakilan dari pabrik.

7.3.4. FAN COIL UNITS


Indoor unit haruslah dari jenis dan kapasitas yang sesuai dengan yang ada didalam BQ sesuai
dengan design condition
Terdiri dari komponen dasar : Fan, Evaporator koil dan electronic proportional expansion valve.
Electronic proportional expansion valve harus bisa mengontrol aliran refrigerant kedalam unit
indoor sesuai dengan beban pendinginan yang dibutuhkan oleh ruangan. Control response harus
memakai tipe Proportional Integral Derivative (PID)
Fan haruslah direct drive centrifugal. Dengan tegangan operasi 220 – 240 volt AC , 1 phase dan
50 Hz.
Indoor type ducted haruslah mempunyai static pressure external yang sesuai dengan spesifikasi
di gambar dan di BQ
Filter udara untuk type Ducted haruslah disupply oleh kontraktor pemasang. Filter udara untuk
model ductless harus disupply dari pabrik
Koil evaporator haruslah type DX yang terbuat dari icopper tubes yang dipasangkan ke
alumunium fin secara mekanis.
Fasilitas Auto swing untuk tipe wall, cassette dan under ceiling haruslah standard dari pabrik
Pipa 25 mm yang terinsulasi haruslah dipasangkan sebagai pipa drain dari setiap indoor unit
menuju ke daerah pembuangan air drain.

7.3.5. CONTROL
Sistem control harus memakai 2 kabel dengan diameter inti 0.75mm 2 - 1.25mm2 tipe PVC non
screened CY flexible control cabling dari indoor unit ke outdoor unit. Sistem control juga harus
dilengkapi dengan automatic address setting function yang merupakan standard
Remote control untuk indoor unit haruslah bisa melakukan fungsi : on/off switching, fan speed
selector, thermostat setting dan merupakan tipe liquid crystal display yang menampilkan
temperature setting, operational mode, malfunction code and filter cleaning timing.
Juga bisa menampilkan malfunction code untuk keperluan maintenance Kontraktor pemasang
haruslah sudah pernah mengikuti training pemasangan yang dilakukan oleh perwakilan pabrik
dan mendapatkan sertifikat tanda keberhasilan dalam training yang diikutinya.

7.3.6. EQUIPMENT COMPLIANT WITH RoHS DIRECTIVE


Material yand dipakai untuk membuat unit outdoor dan indoor haruslah memenuhi the RoHS
Directive (Restriction of Harzardous Substances) pada komponen electrical dan electronicnya.

7.3.7. EQUIPMENT MAINTENANCE & WARRANTY


Supplier harus memberikan garansi 12 months warranty unit ( tidak termasuk consumable
materials seperti : Refrigerant, Oil, air filter, fuses ) and labour dari tanggal startup atau 18
months setelah unit dikapalkan dari pabrik terhitung yang mana yang lebih dahulu
3 kali warranty visit harus dilakukan selama masa warranty untuk memeriksa kondisi unit ( tidak
termasuk pekerjaan pembersihan ), Laporan tertulis harus diberikan kepada pemilik paling
lambat 1 minggu setelah setiap visit dilakukan
Kontraktor pemasang harus memberikan garansi pemasangan selama 12 bulan terhitung dari
tanggal hand over

7.3.8. BUILDING CENTRALIZED CONTROL SYSTEM – (Optional)


Sebuah Screen Touch operated system centralized controller dengan merk yang sama dengan
unit AC haruslah mempunyai fungsi sebagai berikut :
 Monitoring operasional dari system AC
 Start/Stop untuk semua indoor unit
 Kontrol setting: temperature, operation mode, fan speed dari seluruh indoor unit
 1 tahun schedule dari operational system
 Bisa menggunakan fire alarm signal untuk mematikan seluruh AC

7.3.9. CALL CENTER


Supplier AC haruslah memiliki sebuah call center yang beroperasi selama 24 hours sehari, 7 hari
seminggu dan 365 hari setahun untuk mensupport pelayanan purna jual dan memberikan
jaminan sepenuhnya kepada kontraktor pemasang

7.3.10 MERK YANG DISETUJUI


a. AC VRV = Daikin
b. Pipa refrigerant : INABA DENKO
c. Insulation : Armaflex, INABA DENKO
d. Refrigerant : Dupont, Honeywell

7.3.11. KONTRAKTOR PEMASANG


Haruslah sudah berpengalaman dalam melakukan pemasangan AC VRV minimal selama 5 tahun
dengan melakukan minimal 10 proyek dengan hasil yang memuaskan.
Kontraktor dapat memperlihatkan proyek – proyek yang sudah menggunakan VRV atau siap
melakukan survey ke proyek – proyek tersebut bisa dilakukan jika diperlukan

7.4. FAN

7.4.1. Lingkup Pekerjaan


Pengadaan dan pemasangan peralatan ventilasi (fan) untuk proyek ini seperti yang ditunjukkan
dalam gambar rencana yang melengkapi dokumen ini.

7.4.2. Umum
Spesifikasi teknis yang diuraikan dibawah ini, adalah sebagai kebutuhan dasar yang harus
diikuti. Sedangkan ketentuan ketentuan spesifik terhadap type, kemampuan (performance)
peralatan, kelengkapan dan lainnya dapat dilihat pada lembar gambar rencana "Daftar
Peralatan" ataupun data sheet bila dilampirkan.
 Fan harus sudah mendapatkan sertifikat, sesuai standard yang berlaku dinegara
dimana fan tersebut dibuat untuk testing dan rating (performance) seperti sebagai
contoh AMCA standard 210 - 74 di Amerika.
 Sound pressure level harus dilengkapi dalam DB dengan Re - 10 E 12 watt pada
octave band mid freq. 60 - 4000 hz.
 Dasarnya semua fan harus mempunyai noise level yang rendah dalam operasinya,
dan dalam batas- batas yang normal. Bilamana ternyata noise levelnya tinggi harus
diberi tambahan noise silencer (sound Attenuator) tanpa adanya tambahan biaya
sehingga sound pressure level (SPL) yang dihasilkan tidak lebih dari 60 dba dari jarak 3
m.
 Pemasangan fan termasuk instalasi kabel dari panel, remote, on off switch dan pilot
lamp.
 Bagian fan yang berhubungan dengan udara luar, didaerah outletnya harus diberi kawat
nyamuk Stainless Steel yang bisa dibuka untuk dibersihkan.

7.4.3. Spesifikasi

Teknis Axial Fan


 Impeller fan dari type airfoil blade, adjustable pitch dan harus digerakan langsung.
 Material fan :
- casing - mild steel hot dipped galvanized
- impeller - alluminium die- cast
- shaft - carbon steel
- pelumasan - grease ball bearing

 Bisa dilakukan speed kontrol motor fan.


 Motor dari jenis TEFC, IP 54, isolasi kelas F.
 Untuk fan diameter 500 ke atas, Casing fan harus dilengkapi dengan acces panel.
 Fan lengkap dengan counter flens untuk peyambungan ke ducting.
 Dilengkapi dengan accessories bell mouth (inlet cone) bila inlet suction tidak
disambungkan ke duct (seperti ditunjukkan dalam gambar atau data sheet).

Propeller Fan (wall atau ceiling fan)


 Fan dari tipe propeller untuk dinding maupun ceiling, kecuali bila dinyatakan ceiling fan
dari type centrifugal seperti ditunjukkan dalam gambar atau data sheet.
 Fan harus digerakan langsung.
 Untuk fan dinding yang berhubungan dengan luar lengkap dengan automatic shutter
dari jenis alluminium (bila ditunjukkan dalam gambar rencana atau data sheet).
 Untuk fan dinding dengan kapasitas besar dan static pressure tinggi (high pressure
fan), rangka fan dari baja yang dicat anti karat dengan impeller dari alluminium die-
cast.

Inl- line centrifugal Fan


 Blade fan harus dirancang aerodinamis, bacward curve dari plate allumunium dan
digerakan langsung.
 Casing terbuat dari heavy gauge (1,4 mm minimum) mild steel lengkap dengan flange di
kedua sisinya untuk menyambung ke ducting dan dicat akhir dengan epoxy powder.
 Fan harus statis dan dinamis balance dari pabriknya.
 Motor harus tahan beroperasi sampai temperatur 40 C dan 95 % RH.
 Fan harus dilengkapi dengan speed kontrol.

7.5. FILTER / SARINGAN UDARA

7.5.1. Lingkup Pekerjaan


Lingkup pekerjaan butir ini adalah pengadaan dan pemasangan Filter/saringan udara yang
masuk/inlet ke Fan, Indoor Unit dan Fan Coil Unit seperti yang ditunjukkan dalam spesifikasi
teknik ini.

7.5.2. Umum
Spesifikasi teknis yang diuraikan berikut ini adalah sebagai kebutuhan dasar yang harus dipenuhi
7.5.3. Spesifikasi Teknis
a) Pre filter untuk Indoor Unit, fresh air fan harus dari bahan tipe metallic, harus fire
resistance dan washable tebal 50 mm dengan effisiensi 30-35 % dan arrestance 94-96
% dalam keadaan low velocity (ASHARAE teest std. 52-76).
b) Filter harus dipasang rapat satu sama lainnya dan begitu juga terhadap frame. Tidak
dibolehkan adanya celah yang ditutup dengan plat disebabkan kurangnya ukuran filter.
c) Filter yang akan dipasang harus dapat dibuktikan dari brosur merk filter tersebut
terhadap type dan effisiensinya.
d) Tahanan aliran udara mula-mula pada kecepatan 1,52 m/s (300 fpm) tidak boleh lebih
dari 20 Pa (0,08” WG) dan tahanan udara pada akhirnya maksimum 125 Pa (0,5” WG).
Filter harus dapat dioperasikan pada kecepatan aliran udara sampai 500 fpm tanpa
mengalami kerusakan. Semua filter harus underwriter laboratory class 1 atau setara.
Instalasi filter harus sesuai dengan rekomendasi pabrik pembuat. Acces harus
disediakan untuk tujuan inspeksi atau pembersihan.

7.6. PEREDAM GETARAN

7.6.1. Lingkup Pekerjaan


Lingkup pekerjaan butir ini adalah pengadaan dan pemasangan alat peredam getaran
(Vibration Isolation/ Eliminator) untuk semua mesin yang bergetar seperti Indoor Unit, Out
Door Unit, Split System Unit, Fan dan kalau dirasa perlu juga untuk duct dll.

7.6.2. Spesifikasi Teknis


Alat peredam getaran (Vibration Isolator) ini harus dapat meredam getaran mesin dengan
effisiensi 90 %. Jenis peredam getaran yang dipilih harus sesuai dengan kebutuhan mesin/unit
yang akan diredam getarannya. Peredam getaran yang terpasang haruslah sesuai dengan
persyaratan/ rekomindasi pabrik pembuat alat/mesin. Peredam getaran dapat berupa
Neoprene Pad, Neoprene Mounts, Spring Isolators, Restrain Isolators, Pipe Hanger dll.

7.7. PEKERJAAN DUCTING

7.7.1. Lingkup Pekerjaan


Lingkup pekerjaan untuk butir ini adalah pengadaan dan pemasangan (termasuk fabrikasi) duct
lengkap dengan isolasi/tanpa isolasi, spliter damper, volume damper, diffuser, grilles,
register,dan attenuator berikut alat-alat bantu yang menunjang pekerjaan tersebut seperti
ditunjukkan dalam gambar rencana yang melengkapi dokumen ini.

7.7.2. Publikasi, standard yang digunakan.


 ASHRAE, the Guide and Data Book.
 SMACNA (Sheet Metal and Air ConditioningContractors National Association).
 Carrier Air Conditioning Hand Book.

7.7.3. Umum
a. Jika tidak diterangkan secara khusus istilah ducting secara umum berarti pekerjaan
duct, fitting, damper, support dan lain-lain komponen/ accessories yang diperlukan untuk
melengkapi instalasi ini.
b. Jalur-jalur ducting yang terlihat pada gambar rencana adalah gambar dasar yang
menunjukkan route dan ukuran ducting. Pemborong wajib menyesuaikan dengan
keadaan setempat (shop drawing) dan dengan jalur-jalur instalasi lainnya, berikut
detail atau potongan-potongan yang diperlukan dan mendapatkan persetujuan dari
Direksi/ Konsultan sebelum dilaksanakan.
c. Ukuran seperti yang ditunjukkan pada gambar adalah ukuran bersih dan penampang
laluan udara. Jika diperlukan internal lining untuk ukuran duct tersebut, berarti
penampang harus diperbesar sesuai ketebalan lining.
d. Bahan duct dari pipa PVC.
7.7.4. Konstruksi Duct.
 Bahan isolasi = Polyurethane dilapis sandwich dengan alumunium
foil yang dicoating lapisan anti bakteri
 Ketebalan panel = 20 mm
 Ketebalan alumunium = 75 mikron, 80 micron setelah coating
 Density dari polyurethane = 52 ± 2 Kg/m3
 Tahanan tekanan = 200 N/mm2
 Konduktivitas panas = 0,021 W/m.°C
 Ketahanan api = B1 (terbakar tapi tidak merambatkan api)
 Koefisien gesek = 0,0135
 Berat = 1,4 Kg/m2
 Suhu optimal penggunaan = -50 – +80 °C
 Kelembaban = 0 – 100 %
 Tekanan max. dalam duct = 2000 Pa
 Air flow max. = 12 m/s

7.7.5. Instalasi Ducting


1. Ducting panel tebal 20 mm, density: 52 Kg/ M3
2. Instalasi :
 Sambungan antar ducting menggunakan PVC invisible flange
 Sambungan antar ducting dengan grille menggunakan PVC invisible flange
 Sambungan antar ducting dengan volume damper menggunakan profil “F”
section bar aluminium
 Sambungan antar ducting dengan FCU menggunakan profil chair section bar
aluminium dan terpal
3. Noise yang timbul dalam ducting tergantung pada desain serta ukuran dalam
ducting. Untuk kondisi tertentu yang memerlukan isolasi suara dengan pemakaian
isolasi dalam.
4. Alat kerja :
Cutting : Pemotongan materian TD lembaran menggunakan 4 buah macam
pisau: Left jack plane, Right jack plane, Straight jack plane, V
jack plane.
Bending : Pembentukan elbow & branch menggunakan alat khusus
yaitu manual bending tool
5. Gluing : Penyambungan antar bagian TD duct dan pemasangan invisible
flange menggunakan lem khusus dengan ditambahkan
aluminium tape untuk Vapour Barrier dan kerapihan
6. Sealant : Sealant diberikan pada setiap sudut bagian dalam ducting
untuk menambahkan kemampuan menahan kebocoran
7. Support / hanger : besi siku 30x30x3 (galvanized) dan As Drat putih Ø8mm
(galvanized)

Bentangan Bahan hanger / suport Jarak maksimum


< 0,6 m besi siku 30x30x3 dan As Drat putih Ø8mm 4m
0,6 m-1m besi siku 30x30x3 dan As Drat putih Ø8mm 2m

8. Reinforcement : Reinforcement (penguat) ducting tambahan akan diberikan sesuai


dengan ukuran ducting dan tekanan udara dalam ducting. Penguat menggunakan
profil Sharped disk aluminium dan reinforcement bar aluminium.
9. Run Test : akan dilakukan beberapa test, antara lain:
- Leaking test : test kebocoran dengan menggunakan lampu dari dalam
ducting kemudian diamati dari luar apakah ada cahaya yang
tembus, apabila tidak ada cahaya maka ducting ok.
- Noise test : test kebisingan suara (DB meter disiapkan pihak owner)
- Vibration test : test vibrasi yang ditimbulkan oleh getaran FCU (by others)
- Pemeriksaan kekuatan support
a. Konstruksi duct adalah untuk low velocity (low pressure duct) dengan static pressure
didalam duct sampai 2” WG (500 pa) dengan kecepatan maksimum 2.000 Fpm (10 m/s).
b. Konstruksi duct harus mengikuti standard SMACNA, kecuali kalau ditentukan hal-hal yang
harus dipenuhi diluar standard tersebut.
c. Percabangan (take off) harus memakai splitter damper yang dapat diatur dan dikunci
pada kedudukannya.
d. Reducer (transition), kemiringan duct dibuat tidak lebih dari 14 0.
e. Lubang pengetesan. Pada main supply dan return duct harus dibuat lobang pengetesan
untuk mengukur temperatur, kelembaban serta static dan velocity pressure. Setelah
selesai ditutup kembali dengan plastik probe yang diisolasi.
f. Penguatan duct, semua duct yang berukuran lebih besar 500 mm permukaannya harus
dibuat cross broken ( patah silang ).
g. Penggantung duct, cara penggantungan duct harus sedemikian rupa sehingga praktis
tidak terjadi lendutan-lendutan getaran-getaran dan deformasi.
h. Elbow, dibuat sesuai gambar spesifikasi atau gambar detail, semua elboww harus dari
type full radius elbouw, jari—jari (R t) sama dengan lebar duct. Untuk keadaan dimana
harus menggunakan short radius elbouw ( R t lebih kecil dari lebar duct ) harus memakai
turning vanes.
i. Turning vanes jumlah dan posisinya ditentukan dengan chart logaritma atas dasar
(RT)/(RH). Untuk elbow tegak lurus harus memakai guide vanes double thickness, sesuai
gambar detail. Untuk mengikat konstruksi penggantung ke beton dipergunakan ramset /
dynabolt.
j. Sambungan flexible, pemborong harus memasang sambungan flexible connection dari
bahan double sheet glass cloth tebal 0,65 mm atau lebih, fire resistant ke duct yang
masuk keluar dari fan atau AHU/FCU.
k. Panjang flexible connection tak lebih dari 2 m, dan tidak menimbulkan kebocoran pada
sambungan, cara pemasangan harus dalam satu garis lurus sedemikian rupa, sehingga
tidak menyebabkan pengecilan luas penampang.
l. Alumunium Flexible Round Duct, alumunium flexible round duct dari type 2 lapis
alumunium laminate incapsulating dengan steel spring helix dan wire spacing 2 mm jenis
fire resistance. Tekanan kerja max. 5 inch H20. Flexible duct ke peralatan memakai klem
khusus ( quick klem ) dari bahan plastic.

7.8. GRILLE, REGISTER & DIFFUSER


a) Pada setiap main duct harus disiapkan volume damper untuk pengaturan udara
b) Diffuser, grille dan register harus terbuat dari bahan alumunium anodized profile.
Pemasangan diffuser/ grille ke plafond harus memakai rubber sponge tebal 6 mm.
c) Untuk diffuser yang supply udaranya berasal dari VAV, maka type diffuser harus khusus
untuk pemakain dengan VAV.
d) Warna untuk diffuser, grille dan register di anodized dengan warna akan ditentukan
kemudian oleh Arsitek / Direksi.
e) Supply register harus mempunyai vertical dan horizontal blade yang dapat diatur
defleksinya dan memakai volume damper.
f) Grille sama seperti supply register dalam konsstruksinya, tanpa memakai volume
damper.
g) Damper dari diffuser adalah galvanized iron sheet BJLS 80 type : “Opposed blade
damper”.
Finishing : di cat hitam
h) Konstruksi hendaknya cukup kaku dan tidak bergetar karena aliran udara, serta dapat
dikunci pada kedudukan yang dikehendaki.
i) Tidak dibenarkan memakai baut pada permukaan dari diffuser / grille / register.
j) Slot diffuser dari tipe 1,2, atau 3 slot, material adalah alumunium anodized dengan
warna yang akan ditentukan oleh arsitek.
Slot harus mempunyai pengarah aliran ( deflector ) yang baik dalam konstruksinya
sehingga fungsi deflector betul-betul membentuk pola aliran yang memenuhi
standartnya dan tidak berubah posisi karena aliran udara.
Bila slot diffuser adalah menerus (continous) maka sambungan antara harus memakai
alignment strip.
7.9. PLENUM
a) Pleneum sesuai dengan dimensinya harus menggunakan material sesuai dengan
ketentuan yang tersebut terdahulu.
b) Seluruh sisi plenum harus diperkuat dengan besi siku 40 x 40 x 3 dan kalau perlu
memakai bracing pada sisi yang paling panjang.

7.10. PEKERJAAN PEMIPAAN

7.10.1. Lingkup Pekerjaan


Lingkup pekerjaan pada butir ini adalah pengadaan dan pemasangan instalasi pemipaan
lengkap dengan fitting-fitting, alat-alat bantu, acessories dengan isolasi atau tanpa isolasi
sesuai seperti yang ditunjukkan pada gambar rencana yang melengkapi dokumen ini.
7.10.2. Umum
Seperti apa yang ditunjukkan dalam gambar rencana, jalur-jalur pipa yang tercantum adalah
gambar dasar yang menunjukkan route dan ukuran pipa. Pemborong wajib menyesuaikan
dengan keadaan setempat (shop drawing) dan dengan jalur-jalur instalasi lainnya, berikut
detail atau potongan-potongan yang diperlukan dan mendapat persetujuan dari Pihak Pemberi
Tugas dan MK sebelum dilaksanakan.

7.10.3. M a t e r i a l
1. Pipa Condensate : Pipa PVC klas AW.
2. Pipa Refrigerant : Pipa Tembaga (Copper) ASTM B280 type L/M

7.10.4. Konstruksi Pemipaan Refrigerant & Drain untuk Split System.


1. Menyediakan dan memasang instalasi pemipaan untuk seluruh system AC, (refrigerant
dan drain/kondensasi) termasuk fitting-fitting dan alat-alat bantu).
2. Hendaknya semua pipa refrigerant harus dikerjakan secara hati-hati dan sebaik
mungkin, sebelum dipasang semua bagian harus sudah bersih, kering dan bebas dari
debu dan kotoran dan hendaknya dipasang sependek mungkin.
3. Kontraktor sudah harus memperhitungkan adanya perbedaan tinggi antara Kondensing
dan Evaporator terhadap adanya panjang pipa yang melebihi dari standard.
4. Sambungan pipa jenis "hard drawn tubing” harus disambung dengan perantaraan
wrought copper fitting atau non porbus brass fittings, dan dianjurkan dipakai solder
perak dengan meniupkan gas mulia seperti nitrogrn kering ke dalam pipa yang sedang
disambung untuk menghindarkan terbentuknya kerak oksida di dalam pipa.
5. Solder lunak "tintead 50-50" tidak boleh dipergunakan, solder tintead 95-5" dapat
dipergunakan kecuali pada pipa discharge gas panas.
6. Pipa jenis "soft drawn tubing" dapat disambung dengan solder, nyala api atau lainnya
yang sesuai untuk pipa refrigerant. Pada pipa "precharged refrigerant lines" yang
disediakan oleh pabriknya maka harus dipasang sesuai dengan persyaratan pabrik.
7. Pipa refrigerant harus disangga dan digantung dengan baik untuk mencegah melentur
dan meneruskan getaran mesin kepada bangunan.
8. Pipa refrigerant harus dipasang sesuai dengan persyaratan "Ashrae Guide Book" dan
atau persyaratan pabrik.
9. Fitting untuk flare points hendaknya jenis standard SAE forged brass flare menurut
ARI standard 720 dengan unit short shank flare.
10. Strainer hendaknya dipasang dalam jaringan refrigerant sebelum masuk ke
thermostatic expansion valve.

7.11. ALAT – ALAT BANTU.


Thermometer
 Dipasang seperti ditunjukkna dalam gambar.
 Thermometer yang dipasang cocok untuk batas-batas temperatus yang diperlukan dari
media ini.
 Mempunyai dua bacaan dalam F dan C
 Type thermometer adalah Industrial type dengan posisi sudut pembacaan yang dapat
dirubah-rubah kedudukannya.
 Sumur dari thermometer harus betul-betul tercelup kedalam media yang diukur
terutama bila ada isolasi pipa.
 Thermometer harus dikalibrasi dulu sebelum dipasang.

7.12. PEKERJAAN LISTRIK/ KONTROL

7.12.1. Lingkup Pekerjaan.


Lingkup pekerjaan untuk elektrikal/ kontrol ini adalah pengadaan dan pemasangan seluruh
instalasi listrik (termasuk motor listrik) pengkabelan, panel-panel dan instrumentasi kontrol
seperti yang ditunjukkan pada gambar-gambar rencana/ diagram yang melengkapi dokumen ini.
7.12.2. Umum
Seperti yang ditunjukkan dalam gambar rencana, jalur- jalur kabel dan perletakan panel
dan motor seperti yang tercantum adalah gambar dasar yang menunjukkan route, lokasi
panel dan perletakan instrument kontrol.
Pemborong AC harus menyiapkan kabel control dari thermostat menuju Outdoor Unit dan
Indoor Unit dan melakukan penyambungan kabel power dari panel ke Outdoor/Indoor Unit.
Pemborong wajib menyesuaikan dengan keadaan setempat (shop drawing) dan dengan jalur-
jalur instalasi lainnya berikut detail- detail yang diperlukan untuk mendapatkan persetujuan
Direksi. Pemborong wajib mengikuti peraturan- peraturan yang berlaku yang dikeluarkan oleh :

 Perusahaan Listrik Negara (PLN)


 Lembaga Masalah Ketenagaan (LMK)
 Dinas Pemadam Kebakaran
 Lembaga Pengujian Bahan
 Dinas Keselamatan Kerja
 Dinas Pekerjaan Umum dan Cipta Karya

7.13.3. Spesifikasi Teknis


1. Peralatan Listrik
Motor Listrik
Motor untuk FCU (IU) : - Jenis induction motor, (motor satu permanent
split capacitor packaged dengan dengan thermal
overload FCU) protector.
- 1 ph/220 V/50 Hz
- 3 tingkat kecepatan
- Insulation class E
Motor Fan : - Motor yang menjadi satu dengan fan, jumlah phasa tergantung
kapasitas fan.

Semua motor listrik yang digunakan untuk proyek ini mempunyai power faktor minimum
0,8. Putaran motor maximum 1450 rpm (untuk motor-motor tsb. diatas).
Motor-motor yang digunakan disini harus sudah memenuhi standard NEMA (Amerika),
B.S (Inggris), DIN (Jerman), dan JIS (Jepang).

Panel Starter
- Star Delta Starter : Bila motor kapasitas 7,5 HP keatas.
- Direct on Line : Bila motor kapasitas dibawah 7,5 HP.
- Panelstarter harus dilengkapi dengan pilot lamp (green,red,white), voltmeter serta
ampermeter dengan selector switch untuk 3 phase,plat nama
untuk peralatan yang dilayani serta push button ON, OFF dan disconneting switch
bila memakai remote starstop.

2. Peralatan Kontrol

a. Temperatur Controller (TC)


- Fungsi control : PI
- [Link] point scale :  C pada range  C to 32  C
- Supply voltage/ current : 16 V DC/10 mA
- Ambient temp/RH : max. 50  C 90 % RH
- Control output (Output voltage ) : 2 - 10 V
- Control input : 0-16 V DC/max. 0,1 mA
Input voltage/current

b. Temperatur Sensor (TS)


- Temperatur detector dari type thermistar.
- max. temp. 100  C.
Catatan : Temperatur Controller (TC) dan Temperatur Sensor (TS) atau
gabungan dari TC dan TS (Thermostat) adalah dari merek yang
sama dan dari jenis yang sesuai untuk kebutuhannya.

3. Wiring
 Wiring untuk instalasi listrik dan control harus dipasang dalam PVC conduit JIS
standard.
 Wiring diagram hendaknya disesuaikan dengan kebutuhan peralatan AC yang
bersangkutan.
 Kabel yang dipasang didalam tanah, jenis NYFGbY harus dipasang sekurang-
kurangnya sedalam 75 cm dengan pasir sebagai alas dan pelindung, kemudian
dilindungi dengan batu pelindung sebelum diurug kembali.
 Pada route kabel, tiap-tiap 50 m dan setiap belokan supaya diberi tanda adanya
galian kabel dan tanda arah kabel.
 Untuk kabel yang menyeberangi selokan, jalan raya atau instalasi lainnya, harus
dilindungi dengan pipa galvanis kelas medium.
 Ditiap tarikan kabel tidak boleh ada sambungan.
 Jari- jari pembelokan kabel, hendaknya minimum 15 kali diameter kabel.
 Menghubungkan kabel pada terminal harus menggunakan "kabel schoen"
harus kabel 25 mm keatas pemasangan "kabel schoen" harus menggunakan
timah pateri lalu dipres hydraulis.
 Ukuran-ukuran lebih kecil cukup dengan tang press tangan.
 Setiap kabel yang menuju terminal peralatan harus dilindungi memakai metal
flexible conduit.
 Kabel yang dipasang pada dinding luar harus memakai metal conduit dan
diklem rapi ke dinding memakai klem pipa.
 Kabel- kabel yang digantung pada plat beton harus memakai klem penggantung
dan wire rod yang diramset ke beton.
 Kabel yang dapat digunakan adalah buatan Kabel metal atau Kabelindo.
 Semua panel star delta dilengkapi dengan :
 Pilot lamp - red, green, white.
 Ampere meter - untuk 3 ph dengan selector phase witch.
 Voltmeter - untuk 3 ph dengan selector phase switch
 Disconnecting switch untuk remote star stop.
 Pilot lamp. -R-S-T
 Centralized Remote Star Stop Remote star stop untuk peralatan-peralatan yang
ditunjukkan pada panel diagram ditempatkan diruang control.
Panel remote harus dilengkapi untuk masing- masing Peralatan dengan pilot
lamp ( red, green, white )dan plat nama masing-masing Peralatan dll. sesuai
dengan detail drawing.

7.14. PEKERJAAN LAIN-LAIN

7.14.1. P o n d a s i
 Semua pondasi beton yang diperlukan untuk mesin-mesin Condensing Unit (Outdoor
Unit ) tidak termasuk dalam pekerjaan pemborong AC.
 Pemborong AC harus menyerahkan gambar layout beserta ukuran pondasi untuk masing-
masing peralatan sebelum dilaksanakan oleh pihak lain kepada Direksi untuk diperiksa dan
disetujui.
 Pondasi peralatan- peralatan lainnya harus mengikuti petunjuk-petunjuk/ pedoman
pabrik pembuat peralatan-peralatan tersebut.
 Pemborong AC harus menyediakan dan memasang peredam getaran (vibration
eliminators) untuk melindungi, bangunan dari suara berisik dan getaran yang
ditimbulkan oleh mesin- mesin.
 Pemborong AC harus menyediakan dan memasang (sesuai dengan gambar rencana,
atau gambar kerja yang disetujui) semua dudukan (support) atau penggantung
(hanger) untuk mesin- mesin, alat- alat, pipa yang diperlukan.
 Untuk menyesuaikan dengan kondisi- kondisi setempat, dudukan-dudukan atau
penggantung- penggantung tersebut harus dibuat dari konstruksi pipa, profil, batang (rod)
atau strip sesuai dengan gambar rencana atau kerja yang disetujui. Semua dudukan
harus mempunyai pelat-pelat (flanges) yang cukup dan dibuat pada lantai.
 Semua penggantung harus dipasang pada balok atau pada rangka baja dan harus
berkonsultasi dengan Direksi dan Pemborong Sipil.
 Pembebanan pada balok atau pelat struktur yang ditimbulkan oleh dudukan-
dudukan atau penggantung-penggantung tersebut hendaknya dijaga agar dapat terbagi
cukup merata sehingga tidak menimbulkan tegangan- tegangan yang tidak wajar.
 Pemborong AC harus menjamin bahwa instalasi yang dipasangnya tidak akan menyebabkan
penerusan suara dan getaran (vibration & noise transmission) kedalam ruangan-
ruangan yang dihuni.
 Dalam hal ini dilakukan oleh ahli atau tenaga ahli yang ditunjuk.
 Pemborong harus bertanggung jawab atas modifikasi- modifikasi yang perlu untuk
memenuhi syarat tersebut.

7.15. TESTING ADJUSTING DAN BALANCING

7.15.1. Lingkup Pekerjaan


Lingkup pekerjaan ini adalah pelaksanaan testing, adjusting dan balancing untuk seluruh
sistem tata udara dan ventilasi mekanis sehingga didapatkan besaran- besaran pengukuran
yang sesuai seperti yang terlihat dalam gambar-gambar rencana sehingga sistem betul- betul
dapat berfungsi dengan baik dan sesuai dengan rencana.

7.15.2. Umum
Pelaksanaan TAB (testing adjusting dan balancing) secara mendasar maksimal harus
mengikuti standard/ atau petunjuk yang berlaku secara umum seperti tandard NEBB,
ASHRAE dan SMACNA dengan menggunakan peralatan- peralatan ukur yang memenuhi untuk
pelaksanaan TAB tsb.

7.15.3. Peralatan Ukur.


Minimal peralatan ukur sperti dibawah ini harus dimiliki oleh kontraktor ybs. antara lain :
1. Pengukuran laju aliran udara
- Pitot tube dengan inclined manometer Anemometer dan sejenisnya.
- Hood untuk mengukur udara didiffuser.
2. Pengukuran temperatur udara
- Sling psychrometric
- Thermometer
3. Pengukuran putaran (rpm)
- Tachometer atau sejenisnya
4. Pengukuran listrik
- Voltmeter
- Ampermeter / ampertang
5. Pengukuran tekanan - Barometer / pressure gauge
6. Tool (alat-alat kerja) yang diperlukan dalam merubah setting/ kedudukan dari
peralatan balancing.

7.15.4. Pelaksanaan TAB


 Sacara detail TAB harus dilaksanakan terhadap seluruh sistim dan bagian- bagiannya,
sehingga didapatkan besaran- besaran pengukuran yang sesuai atau mendekati besaran
besaran yang ditentukan dalam rencana.
 Dalam pelaksanaan TAB, disamping pengukuran yang dilakukan terhadap besaran-besaran
yang ditentukan dalam design, juga diwajibkan melaksanakan pengukuran terhadap
besaran- besaran yang tidak tercantum dalam gambar rencana, tapi besaran ini sangat
diperlukan dalam penentuan kondisi dan kemampuan peralatan dan juga sebagai data
data yang diperlukan bagi pihak maintenance dan operation.
 Semua pelaksanaan TAB maupun pengukuran- pengukuran terhadap besaran-besaran
lainnya yang tidak tercantum dalam gambar rencana harus dituangkan dalam suatu
laporan yang bentuknya (formnya) sudah disetujui oleh pengawas.
 Pelaksanaan TAB dilakukan oleh tenaga engineer yang betul-betul sudah
berpengalaman dalam pelaksanaan TAB ini.
 Dalam pelaksanaan TAB, harus selalu didampingi oleh tenaga pengawas, dimana
hasil- hasil pengukuran dan pengamatan yang dilakukan juga disaksikan oleh pengawas
tsb dan dalam laporannya ikut menanda tangani.
 Sebelum melaksanakan TAB, Kontrator harus membuat suatu rencana kerja, mengenai
prosedure pelaksanaan TAB untuk masing-masing bagian pekerjaan, dan prosedure
ini agar dibicarakan dengan pihak Pengawas untuk mendapatkan persetujuannya.
 Sebelum melaksanakan TAB, Kontraktor sudah harus menyiapkan suatu bentuk formulir
yang berisi item- item yang akan dilakukan untuk masing-masing system yang akan
dilakukan pengetesan.

7.15.5. Balancing System Distribusi


Udara. Prosedure Testing and
Adjusting.

1. Test dan sesuaikan putaran blower sesuai kebutuhan design.


2. Test dan catat motor full load amper.
3. Lakukan pengukuran dengan pitot tube (tube traverse) untuk mendapatkan cfm
dan fan sesuai design.
4. Test dan catat static pressure pada inlet dan outlet dari fan.
5. Test dan sesuaikan cfm atau l/s untuk sirkulasi udara.
6. Test dan sesuaikan kebutuhan udara luar untuk masing- masing FCU/ FAN.
7. Test dan catat temp. d b dan w b dari udara masuk dan keluar dari coil.
8. Sesuaikan cfm yang dibutuhkan pada semua cabang-cabang utama
9. Sesuaikan kebutuhan cfm untuk masing-masing zone
10. Test dan sesuaikan masing-masing diffuser/grille terhadap kapasitas dalam batas %
yang dibolehkan.
11. Indentifikasi ukuran, type, masing-masing diffuser dan lakukan recheck terhadap
performance dari jenis diffuser.

PRODUK INSTALASI TATA UDARA

Bahan dan peralatan harus memenuhi spesifikasi pemborong dimungkinkan untuk


mengajukan alternatif lain yang setaraf dengan yang dispesifikasi ke MK/Direksi.
Pemborong baru bisa mengganti bila ada persetujuan resmi dan tertulis dari MK/Direksi.

Produk bahan dan peralatan pada dasarnya adalah sebagai berikut :

NO. URAIAN MERK

1. AC Sistem VRV Daikin, Mitsubitshi

2. Motor AEG (GAE), NUG, Siemens

3. Fan National, KDK, Kruger


4. Isolasi Ducting Paramount, Parawoll, Infoil, ACI
TD Pre-Insulated Alumunium Duct,
5. Ducting
ALP Active, TDI Duct
6. Komponen Panel Listrik MG, ABB

7. Isolasi Pipa Armaflex, Thermaflex, Insulflex

8. Pipa Tembaga Kembla, Crane

9. Pipa PVC Pralon, Rucika, Wavin

10. Kabel Listrik Voksel, Kabel Metal, Supreme


Sigma Cool, Prima Wangi,
11. Grille
Confordaire
Sigma Cool, Prima Wangi,
12. Diffuser
Confordaire
13. Aluminium Foil Sisalation 436, Thermofoil 731

14. Flexible Duct DEC Insulated, Insflex

15. Filter AAF atau setara

16. Isolasi Ducting Paramount, Parawoll, ACI

17. Peredam Getaran Kinetek, Mason, National


8. SISTEM PEMADAM KEBAKARAN

8.1. LINGKUP PEKERJAAN

Uraian singkat lingkup pekerjaan sistem Pemadam Kebakaran antara lain adalah sbb :
1. Pompa kebakaran dengan penggerak listrik
2. Pompa kebakaran dengan penggerak Diesel
3. Valved Connection to main Water supply source
4. Perlengkapan Fire Water Tank
5. Springkler Control Valve Set
6. Spingkler Head
7. Hydrant Box
8. Pillar hydrant dan Kotak Hydrant Halaman
9. Sambungan dengan pemadam Kebakaran Kota ( Siamese Connection )
10. Pemadam api Ringan ( PAR / PEE )
11. Pekerjaan listrik yang berhubungan ( contoh : Panel )
12. Pekerjaan lain yang berhubungan ( contoh : Pondasi, pengecatan, concrete blok )
13. Panel listrik, control system dan Fire Resistence Cable
14. Fire Pump test ventui flow tube.

8.2. TANGKI AIR PEMADAM KEBAKARAN ( TANGKI BAWAH )


1. Tangki Air Pemadam Kebakaran berfungsi untuk menyediakan air dengan volume tertentu
setiap saat. Tangki Air unutk cadangan pemadam kebakaran merupakan tangki existing,
yang telah dibuat sebelumnya.
2. Fire Water Tank harus mempunyai perlengkapan sebagai berikut :
 Manhole
 Tangga monyet
 Pipa vent penghubung maupun vent ke udara luar
 Pipa peluap
 Water level indicator
 Sleeve untuk laluan pipa masuk, pipa isap, pipa penguras, kabel listrik dan
sebagainya
 Exhaust fan
3. Air pengisi Fire Water Tank
Apabila terjadi kebakaran, maka fire water tank harus dapat diisi secara cepat dari beberapa
macam sumber air maupun persediaan air yang ada termasuk dari kolam renang.
4. Pengaturan pada sambungan ke sumber air yang dipasang secara permanent adalah
sebagai berikut :
Apabila permukaan air dalam fire water tank telah naik mencapai ambang batas H, masukan
air harus berhenti, sebaliknya apabila turun mencapai L, maka fire water tank harus diisi.

8.3. POMPA PEMADAM KEBAKARAN


1. System pemadam kebakaran yang digunakan merupakan system terpisah, dimana
akan menggunakan 1 (satu) set pompa pemadam kebakaran standart NFPA 20, untuk
masing-masing system hydrant dan springkler
2. Pompa pemadam kebakaran harus mampu memasok kebutuhan air pemadam
kebakaran sampai batas maksimum kemampuan pompa pada setiap saat secara
otomatis.
3. Pompa pemadam kebakaran harus terdiri dari satu atau lebih pompa utama dan satu
pompa joki.
4. Untuk pompa utama jenisnya dapat Horizontal Split Case atau centrifugal End Suction
dan vertical multi stages untuk pompa jockey dengan flanged connection dan
komponen sebagai berikut :
 Cast iron casing
 Bronze impeller
 Heavy duty steel shaft
 Mechanical seal
 Heavy duty grease lubricated bearings
5. Motor Pompa
 Motor pompa harus mendapat sumber daya dari PLN dan Genset
secara otomatis
 Sumber daya dari PLN harus diambil dari switch khusus sebelum
main switch.
6. Pompa pemadam kebakaran antara lain harus terdiri dari perlatan sbb :
 Jockey pump dengan motor
 Main pump dengan motor
 Diesel fire pump dengan menggunakan diesel engine
 Inlet dan Outlet header
 Inlet dan Outlet valves
 Check valve against water hammer
 Inlet strainers
 Power and control panels
 Flow regulator
 Pressure switches
 Pressure gauges
 Hydraulic
connections  Electric
connections  Best
frame
 Announciating pump status :
 Jockey pump On, indicating lamp
 Main pump On, alarm horn & indicating lamp
 Water level drop, alarm horn & indicating lamp
 Water level too low, alarm horn, indicating lamp
7. Pengaturan pompa pemadam kebakaran adalah sbb :
 Apabila tekanan air dalam jaringan turun disebabkan adanya kebocoran,
uji coba springkler maupun springkler flushing, sampai ambang
batas yang telah ditentukan maka pompa joki akan start dan akan
stop otomatis diambang batas tekanan yang juga telah ditentukan.
 Apabila tekanan air dalam jaringan terus turun karena dibukanya satu
atau lebih katup hidran atau bekerjanya beberapa kepala springkler,
maka satu atau dua main pump start sampai stop secara manual
oleh operator apabila uji coba atau pemadam telah selesai.
8. Standard pompa dan kontrol panel harus NFPA 20 Approve
9. Engine Driven Fire Pump
Engine driven fire pump berfungsi untuk memasok kebutuhan air pemadam kebakaran
pada saat pompa listrik gagal atau diperlukan lebih banyak air untuk pemadam.
Engine driven fire pump harus diuji coba minimal sekali seminggu selama satu jam
Engine driven fire pump harus merupakan satu paket yang dirancang khusus untuk
keperluan pemadam kebakaran yang antara lain terdiri dari :
 Centrifugal fire pump
 Gasoline or diesel engine
 Starting device with pully or motor starter
 Battery starter and outside battery charger
 Engine speed control devixe
 Fuel oil tank
 Hydraulic connections
 Electric connections
 Control board
 Instrumentations

8.4. SPRINGKLER CONTROL VALVE SET


1. Springkler control valve set terdiri dari dua keperluan yaitu main control valve set dan
branch control valve set.
2. Main Control Valve Set
 Main Control Valve Set harus dipasang setiap maksimum 500 kepala
springkler untuk bahaya kebakaran ringan dan 1000 kepala
springkler untuk bahaya kebakaran sedang.
 Main Control Valve set harus mampu memberikan signal listrik kepada
control alarm system maupun dengan mechanical alarm gong
apabila terjadi suatu aliran air sebesar satu kepala springkler
 Main Control Valve set antara lain harus terdiri dar peralatan sbb :
 Main stop valve lockable
 Wet alarm valve
 Alarm gong set
 Flow switch
 Pressure indicators
 Test valve set
3. Brance Control Valve Set
 Branch control valve set harus dipasang seperti tertera dalam gambar
perencanaan.
 Branch control valve set harus mampu memberikan signal listrik kepada
control alarm systrm apabila terjadi aliran air sebesar satu kepala
sprinkler.
 Branch control valve sat antara lain harus terdiri dari peralatan sbb :
 Branch stop valve lockable
 Flow switch, calibrated
 Test valve lockable
 Drain valve lockable
4. Sprinkler Flushing
 Sprinkler flushing harus dipasang diibagian ujung dari branch main pipe
atau branch sub main pipe.
 Springkler flushing dimaksud untuk membuang air mati dalam jaringan
pipa springkler.
 Springkler flushing terdiri dari pipa drain diameter 25 mm yang ditap dari
ujung branch main atau submain ke springkler drain riser melalui valve.

8.5. SPRINKLER HEAD


Sprinkler head yang dipergunakan disini dari jenis glass bulb dengan temperatur pecah 68 0C,
dibuat dari Chromium plated brass yang dilengkapi dengan flushing flange, kecuali daerah
gudang dan parkir boleh mempergunakan bronze finish.
Sprinkler Test Valve & Drain ( STV & D )
 STV & D harus dipasang seperti tertera dalam gambar perencanaan
 Test valve harus diset pada laju aliran sebesar satu kepala sprinkler terkaiit
 Drain Valve harus dapat mengalairkan alir mati dalam jaringan pipa
sprinkler  STV & D terdiri dari lockable Test Valve dan Lockable Drain
Valve.

8.6. BOX HIDRAN


1. Indoor Hydrant Box (class III NFPA) harus terdiri dari peralatan sbb :
 Steel box recessed type, ukuran 750 mm, 1500 mm T & 250 mm D dicat duco
warna merah dengan tulisan warna putih HIDRAN pada tutup yang dapat
dibuka 180 dan dilengkapi stopper.
Box harus dilengkapi Alarm Push Button, Alarm Lamp dan Alarm Horn.
Merek untuk referensi adalah ITACHIBORI No.B- 8 dengan modifikasi.
 Hose rack untuk slang 40 mm, chronium plated bronze dengan jumlah gigi
disesuaikan dengan lebar box.
 Hydrant valve, chronium plated 40 mm dan 65 mm sambungan dan
bentuk valve disesuaikan dengan posisi pipa.
 "JET" Firehose A- one type size 40 mm x 30 meter including couplings.
(Jenis kopling disesuaikan dengan jenis Dinas Pemadam Kebakaraan DKI).
 Hydrant nozzle variable spray type size 40 mm

2. Outdoor hydrant box (class III NFPA) harus terdiri dari peralatan sbb :
 Steel box outdoor type, ukuran 750 mm L, 1500 mm T & 270 mm D dicat
powder coating warna merah dengan tulisan warna putih HIDRAN pada tutup
yang dapat dibuka 180 dan dilengkapi stopper.
 Merek untuk referensi adalah ITACHIBORI No. B- 8.
 Hose rack untuk slang 40 mm, chronium plated bronze dengan jumlah gigi
disesuaikan dengan lebar box.
 Hydrant valve, chromium plated 40 mm dan 65 mm sambungan dan
bentuk valve disesuaikan dengan posisi pipa.
 "JET" Firehose A-one type size 40 mm x 30 meter including couplings.
 Hydrant nozzle variable spray type size 40 mm

8.7. PILLAR HIDRAN


 Pillar hydrant yang dipergunakan disini adalah jenis short type two way
dengan main valve dan branch valves ukuran 100 x 65 x 65 mm. Jenis
coupling harus disesuaikan dengan model yang dipergunakan oleh Mobil
Dinas Kebakaran Kota. Setiap pillar hydrant harus dilengkapi dengan gate
valve untuk memudahkan maintenance.

8.8. FIRE BRIGADE CONNECTION


1. Fire brigade connection yang dipergunakan disini adalah two way siamese
connection untuk pemasangan free standing dengan ukuran 100 x 65 x 65 mm.
2. Siamese connection dibuat dari bronze lengkap dengan built-in check valve dan outlet
coupling yang sesuai dengan standard yang dipergunakan oleh Dinas Pemadam Kota.

8.9. PEMADAM API RINGAN (PAR/PFE)


1. PAR disediakan sebagai sarana pemadaman awal yang dapat dilakukan oleh setiap
penghuni bangunan.
2. Untuk daerah umum dalam bangunan disediakan 1 bh PAR jenis bubuk kering kapasitas
minimal 3 kg setiap luas 100 m2.
3. Untuk ruangan mesin disediakan 1 bh PAR jenis CO2 kapasitas 5 kg untuk setiap luas
100 m2.

8.11. SKEDUL PERALATAN PEMADAM KEBAKARAN

POMPA PEMADAM KEBAKARAN

1. POMPA KEBAKARAN DENGAN PENGGERAK LISTRIK ( PU 2101


) Kapasitas : 750 GPM
Head : 9 bar
Type : Centrifugal End Suction
Impeller : Bronze
Packing : Mechanical Seal
Shaft : Steel ( SAE 1045 )
Bearing : Steel ball bearing self lubricated
Couple : Direct Couple
Sincronous speed : 2900 rpm
Feed voltage : 220 / 380 V / 3 phase / 50
Hz Standard motor : NEMA Standard
Rotor : Squiirel cage
Protection class : IP 44
Insulation class :F
Daya pompa : 72 kw
Sistem operasi : Automatic start dengan pressure switch. Manual stop
Oleh operator
Jumlah : 1 unit
Standard pompa : NFPA Standard
Perlengkapan pompa :
 Pipa isap dan pipa tekan dengan sambungan kaku dan lentur dengan Victaulic
coupling sesuai standard UL / Fm
 Manometer tekan dan isap
 Pressure switch
 Panel control pompa ( UL / FM standar )
 Automatic aiir relief valve

2. POMPA PACU ( UP – 01 )
Kapasitas : 25 GPM
Head : 10 bar
Type : Vertical Multi Stage Centrifugal pump
Housing : Cast iron
Impeller : Cast Bronze
Packing / Seal : Mechanical Seal
Shaft : SS 304
Bearing : Sealled ball bearing
Couple : Direct Couple
Sincronous speed : 2900 rpm
Feed voltage : 220 / 380 V / 3 phase / 50
Hz Rotor : Squiirel cage
Protection class : IP 44
Insulation class :F
Daya pompa : 3 kw
Sistem operasi : Automatic start stop dengan pressure
switch. Jumlah : 1 unit
Standard pompa : NFPA Standard
Perlengkapan Pompa :
 Unit panel daya, kabel dan kontrol
 Pemipaan isap dan tekan dengan sambungan kaku dan lentur dari Victaulic.
 Manometer isap dan tekan.

3. POMPA KEBAKARAN DENGAN PENGGERAK DIESEL ( PU 2103


) Kapasitas : 750 GPM
Head : 8 bar
Type : Horozontal Split Casing
Housing : Cast Iron
Impeller : Cast Iron
Packing : Mechanical Seal
Shaft : SS 304
Bearing : Sealed Ball Bearing
Couple : Direct Couple
Sincronous speed : 2900 rpm
Sistem operasi : Automatic start dengan pressure switch. Manual stop
Oleh operator
Jumlah : 1 unit
Standard pompa : NFPA Standard
DIESEL PENGGERAK POMPA
KEBAKARAN
Type : Watercoled Diesel
Kapasitas Prime : 150 KVA ( maksimum
) Putaran : 1500 RPM / 50 Hz
Aspiration : Turbocharged Air To Air Aftercooled
Cycle : Four Stroke
Cyclinder : 6.
Starting : Battery 24 V.
Governor : Hydrant Mechanical
Fuel System : Direct Injection without glow
plug Fuel Consumption : - 63,9 l / hr ( 100 % )
- 47 l / hr ( 75 % )
Perlengkapan :
 2 set of lead acid battery dengan standar pabrik
 Maintenance standar tool steel
 Battery charger yang terintegrasi dengan unit diesel penggerak pompa
 Tangki bahan bakar harian dengan kapasitas cukup untuk operasi 6 jam terus
menerus yang dilengkapi dengan bracket, pipa
 Engine control drive terdiri dari :
 Manual / automatic starter
 High and low water temperatur
 High and low oil temperatur
 Indicator tekanan minyak pelumas
 Perlengkapan standar lain sesuai dengan standar pabrik pembuat.

4. HYDRANT PILLAR DENGAN KATUP UTAMA


Ukuran : 65 X 65 X 100
mm Tipe sambungan : Machino coupling

5. KOTAK HYDRANT KEBAKARAN LUAR GEDUNG


Ukuran : 950 X 660 X 200 mm
Bahan : Mild steel ukuran 1,8 mm
Perlengkapan : - Linen Hose dia. 65 mm X 30
mm
- Machino coupling dia. 65 mm
- Variable jet & spray nozzle dia. 65 mm
- Hose rack

6. KOTAK HYDRANT KEBAKARAN DALAM


GEDUNG Ukuran : 1300 X 750 X 200 mm
Bahan : Mild steel ukuran 1,8 mm
Perlengkapan : - Linen Hose dia. 40 mm X 30
m
- Machino coupling dia. 40 mm
- Variable jet & spray nozzle dia. 40 mm
- Hose rack

7. SAMBUNGAN KEMBAR SIAM / SIAMESSE


CONNECTION Ukuran : 100 X 65 X 65 mm
Type : Free standing type dengan chromium plated finish atau
cast Iron free standing type dengan lapisan anti karat.
Sambungan : Jenis coupling harus disesuaikan dengan dinas kebakaran
Setempat.
Perlengkapan :- Stop valve
- Bak kontrol dan tutup.
8. PEMADAM API RINGAN ( PAR / PEE
) Type : Portable
Kapasitas : 3 kg
Jenis : Dry powder multi purpose

9. PEMADAM API RINGAN ( PAR / PEE )


Type : Portable
Kapasitas : 5 dan 7 kg
Jenis : CO2

10. PEMADAM API RINGAN ( PAR / PEE


) Type : Portable
Kapasitas : 25 kg
Jenis : CO2

11. SPRINKLER
Type : Up right & Pendent

12. HYDRANT VALVE


Size : 1 ½” & 2 ½”

13. MAIN CONTROL VALVE


Size : 4”, 6” & 8”

14. SPRAY NOZZLE


Size : 1 1 / 2 “ & 2 1 / 2”

15. HOSE

16. PRESSURE SWITCH

17. PRESSURE GAUGE


3-
PT. Ciptanusa Buana
Sentosa
PRODUK PEMADAM KEBAKARAN

NO. URAIAN MERK

1. Fire pump Ideal Pump, Patterson

2. Jockey Pump Equal, Teral, Lowara

3. Fire Suppession Sistem Notifier, Siemens, Du Pont

4. Springkler Head Viking, Vitaulic, Grinel, Central


5. Black Steel pipe SCH, 40 Bakrie, Nippon Steel, Spindo (PT. Sigma)
Safety Valve / Relieve Valve /
6. Grinel, Viking, Central
Release Valve
7. Flowswicth Potter, nagano, Notifier
8. Buttefly Class 16 K Toyo, Central, Keystone
9. Gate Valve Class 20 NBC, Toyo, Kitz
10. Globe Valve Class 20 NBC, TA, Toyo, Kitz
11. Indoor Hydrant Box Ozeki, Appron, Yamato
12. Fire Extinguisher Yamato, Wormald, Chubb
13. Pillar Hydrant Ozeki, Appron, Alpindo
14. Siammesse Connection Ozeki, Appron, Alpindo
15. Branch Control Valve Central, Viking, Grinnel
16. Main Control Valve Central, viking, Grinnel
17. Joint Coupling Vitaulic, Grinnel, Sanwell.

3-
PT. Ciptanusa Buana
Sentosa
Pembangunan Sarana Dan Prasaran Mesjid Al-jihad

PERSYARATAN TEKNIS
PEKERJAAN MEKANIKAL ELEKTRIKAL

18. Landing Valve Ozeki, Grinnel, Central


19. Hose Reel Ozeki, Appron
20. Kabel FRC Radox, Welson, Fuji
21. Control Valve Danfos,Belimo
22. Automatic Air Vent Toyo, Central, Dwier
Pembangunan Sarana Dan Prasaran Mesjid Al-jihad

PERSYARATAN TEKNIS
PEKERJAAN MEKANIKAL ELEKTRIKAL
Pembangunan Sarana Dan Prasaran Mesjid Al-jihad

PERSYARATAN TEKNIS
PEKERJAAN MEKANIKAL ELEKTRIKAL

SPESIFIKASI TEKNIS INSTALASI


ELEKTRIKAL

1. PEKERJAAN LISTRIK ARUS KUAT

1.1. UMUM
a. Setiap Pelaksana Pekerjaan yang menangani pekerjaan ini, haruslah mempelajari seluruh
Dokumen Kontrak dengan teliti untuk mengetahui kondisi yang berpengaruh pada
pekerjaan ini.
b. Pelaksana Pekerjaan harus menawarkan seluruh lingkup pekerjaan yang dijelaskan baik
dalam spesifikasi ataupun yang tertera dalam gambar-gambar, dimana bahan-bahan
dan peralatan yang digunakan harus sesuai dengan ketentuan-ketentuan pada
spesifikasi ini.
c. Pelaksana Pekerjaan harus menawarkan seluruh lingkup pekerjaan yang dijelaskan baik
dalam spesifikasi ataupun yang tertera dalam gambar-gambar, dimana bahan-bahan
dan peralatan yang digunakan harus sesuai dengan ketentuan-ketentuan pada
spesifikasi ini.
d. Bila ternyata ada perbedaan antara spesifikasi bahan atau peralatan yang dipasang
dengan spesifikasi yang dipersyaratkan pada pasal ini, merupakan kewajiban Pelaksana
Pekerjaan untuk mengganti bahan atau peralatan tersebut, sehingga sesuai dengan
ketentuan pada RKS ini tanpa adanya ketentuan tambahan biaya.

1.2. LINGKUP PEKERJAAN


a. Pengadaan, pemasangan dan pengaturan dari perlengkapan dan bahan yang disebutkan
dalam gambar atau Rencana Kerja dan Syarat-syarat ini, antara lain :
 Sistim penerangan secara lengkap termasuk di dalamnya pengkawatan dan
konduit, titik nyala lampu, armature, saklar dan seluruh stop-kontak.
 Kabel feeder untuk panel penerangan dan panel-panel tenaga
 Panel-panel penerangan, Panel-panel tenaga, Panel Distribusi Utama (PDTR)
secara lengkap.
 Pengadaan dan pemasangan peralatan kontrol berikut panelnya.
 Pekerjaan pentanahan / grounding
b. Pengadaan, pemasangan dan mengecek ulang atas design, baik yang telah disebutkan
dalam gambar / Rencana Kerja dan Syarat-syarat maupun yang tidak disebutkan namun
secara umum / teknis diperlukan untuk memperoleh suatu sistim yang sempurna, aman,
siap pakai dan handal.
c. Menyelenggarakan pemeriksaan, pengujian, dan pengesahan seluruh instalasi listrik yang
terpasang.
d. Menyerahkan gambar instalasi yang terpasang (As-built drawings).

1.3. KETENTUAN BAHAN dan PERALATAN


1.3.1. Panel Tegangan Rendah
a. Panel-panel daya dan penerangan lengkap dengan semua komponen yang harus
ada seperti yang ditunjukkan pada gambar. Panel-panel yang dimaksud untuk
beroperasi pada 220/380V, 3 phasa, 4 kawat, 50 Hz dan solidly grounded dan
harus dibuat mengikuti standard PUIL, IEC, VDE/DIN, BS, NEMA dan sebagainya.
b. Panel-panel harus dibuat dari plat besi setebal 2 mm dengan rangka besi dan
seluruhnya harus di zinchromate dan di duco 2 kali dan harus di cat dengan cat
bakar, warna dan cat akan ditentukan kemudian oleh pihak Owner. Pintu panel-
panel harus dilengkapi dengan master key.
c. Konstruksi dalam panel-panel serta letak dari komponen-komponen dan
sebagainya harus diatur sedemikian rupa sehingga perbaikan-perbaikan,
penyambungan-penyambungan pada komponen dapat mudah dilaksanakan
tanpa mengganggu komponen-komponen lainnya.
d. Ukuran dari tiap-tiap unit panel harus disesuaikan dengan keadaan dan
keperluannya dan telah disetujui oleh Konsultan Pengawas. Spare space harus
disediakan seusai gambar.
e. Body / badan panel harus ditanahkan secara sempurna.
f. Komponen panel :
Pembangunan Sarana Dan Prasaran Mesjid Al-jihad

PERSYARATAN TEKNIS
PEKERJAAN MEKANIKAL ELEKTRIKAL

Accessories
Bus bar, terminal terminal, isolator switch dan perlengkapan lainnya harus buatan
pabrik dan berkualitas dan dipasang di dalam panel dengan kuat dan tidak boleh ada
bagian yang bergetar.

Busbar
 Setiap panel harus mempunyai 5 busbar copper terdiri dari 3 busbar phase R-S-T,
1 busbar netral dan 1 busbar untuk grounding. Besarnya busbar harus
diperhitungkan dengan besar arus yang mengalir dalam busbar tersebut tanpa
menyebabkan kenaikkan suhu lebih besar dari 65° C. Untuk itu penampang
busbar harus sesuai ketentuan dalam PUIL.
 Setiap busbar copper harus diberi warna sesuai peraturan PLN, dimana lapisan
warna busbar tersebut harus tahan terhadap panas yang timbul.
 Bus bar adalah batang tembaga murni dengan minimum conduktivitas 98%,
rating amper sesuai gambar.
 Bus bar harus dicat sesuai dengan kode warna dalam PUIL sebagai berikut :
- Phasa : Merah, Kuning dan Hitam
- Netral : Biru
- Ground : Hijau / Kuning

Circuit breaker
 Penggunaan MCCB untuk :
- Outgoing pada PDTR.
- Incoming pada panel beban sampai dengan minimal 20A 1 phase.
- Breaking capasity sesuai dengan gambar perencanaan.
 Penggunaan MCB :
- Outgoing Pada
 Circiuit breaker harus dari tipe automatic trip dengan kombinasi thermal dan
instantaneouse magnetic unit.
 Main Circuit Breaker dari setiap panel emergensi harus dilengkapi shunt trip
terminal.

Alat Ukur
Alat ukur yang dipergunakan adalah jenis semi flush mounting dalam kotak
tahan getaran. Untuk Ampermeter dan Voltmeter dengan ukuran 96 x 96 mm dengan
skala linier dan ketelitian 1% dan bebas pengaruh induksi serta bersertifikat tera dari
LMK / PLN ( minimum 1 buah untuk setiap jenis alat ukur). Komponen-komponen
pengukuran yang dipakai :
- KWH Meter
- Ampermeter
- Voltmeter
- Frequencymeter
- Cosphimeter

1.3.2. Panel Kontrol Genset ( PKG )


1. Umum
Panel tegangan rendah harus mengikuti standard VDE / DIN dan juga harus
mengikuti peraturan IEC dan PUIL 2000.
Panel-panel harus dibuat dari plat besi tebal 2 mm dengan rangka besi dan
seluruhnya harus di Zinchromate dan di duco 2 kali dan harus dipakai cat dengan powder
coating, warna abu – abu Kanzai atau akan ditentukan kemudian oleh pihak Perencana /
Pemberi Tugas.
Pintu dari panel-panel tersebut harus dilengkapi dengan master key. Konstruksi dalam
panel-panel serta letak dari komponen-komponen dan sebagainya harus diatur
sedemikian rupa, sehingga bila perlu dilaksanakan perbaikan-perbaikan,
penyambungan-penyambungan pada komponen- komponen dapat mudah dilaksanakan
tanpa mengganggu komponen - komponen lainnya.
Setiap panel harus mempunyai 5 busbar copper terdiri dari 3 busbar phase R-S- T, 1
Pembangunan Sarana Dan Prasaran Mesjid Al-jihad

PERSYARATAN TEKNIS
busbar netral
PEKERJAAN MEKANIKAL dan
ELEKTRIKAL 1 busbar untuk grounding, besarnya busbar harus diperhitungkan
untuk besar arus yang akan mengalir dalam busbar tersebut tanpa menyebabkan suhu
yang lebih dari 65C. Setiap busbar copper harus diberi warna sesuai peraturan PLN,
lapisan yang dipergunakan untuk memberi warna busbar dan seluruh harus spasi dari
jenis yang tahan terhadap kenaikan suhu yang diperbolehkan.
Alat ukur yang dipergunakan adalah jenis semiflush mounting dalam kotak tahan
getaran, untuk Ampere meter dan Volt meter dengan ukuran 96 x 96 mm dengan skala
linier dan ketelitian 1% dan bebas dari pengaruh induksi serta ada sertifikat tera dari
LMK/PLN (minimum 1 buah untuk setiap jenis alat ukur). Panel control dilengkapi dengan
peralatan proteksi seperti :
- Cshort circuit.
- Over current.
- Under voltage dan Over voltage.
- Ground fault (earth fault current).
- Over load.
- Reverse power relay.
- Gangguan lain sesuai standart pabrik pembuat.
- Emergency shut-down system.

Ukuran dari tiap-tiap unit panel harus disesuaikan dengan keadaan dan
keperluan,sesuai dengan yang telah disetujui oleh Konsultan pengawas/ Perencana.
PKG harus mampu melayani dan mengontrol genset seperti yang dijelaskan pada
spesifikasi teknis diesel genset.
Start Blocking pada saat terjadi kebakaran atau AMF setelah menerima sinyal
general alarm dari sistem MCFA gedung.
Main CB outgoing / beban PKG tidak akan bekerja atau ON pada saat terjadi
kebakaran atau AMF setelah menerima sinyal general alarm dari system MCFA gedung.

2. Fungsi Operasi PKG + AMF


Untuk pengaturan diesel genset secara manual baik untuk keperluan operasi
ataupun pengetesan [Link] pengaturan diesel genset secara otomatik, auto
synchron, auto load sharing, pada waktu PLN padam dan auto stop pada saat PLN sudah
hidup kembali, Untuk fungsi engine shutt-down pada saat terjadi kelainan operasi mesin.

3. Sistem Operasi PKG


PKG harus dapat mengontrol unit genset, seperti dijelaskan dalam lingkup pekerjaan
diesel generating set. PKG terdiri atas beberapa cubicle paling kurang sebagai berikut: 1
Cubicle Incoming G1 1 Cubicle Outgoing G1

4. Instalasi
Panel-panel harus dipasang sesuai dengan petunjuk dari pabrik pembuatnya dan
harus rata (horizontal). Setiap kabel yang masuk / keluar dari panel harus dilengkapi
dengan gland dari karet atau penutup yang rapat tanpa adanya permukaan yang tajam.
Semua panel harus ditanahkan.

5. Ketentuan Teknis Bahan dan peralatan


Panel Kontrol Generator ( PKG ), AMF, Automatic load sharing
Type : Free standing, front operated.
Tegangan : 380 – 415 V.
Protection device : Circuit breaker minimum 24 kA dengan over
current Short circuit, under voltage dan over
voltage relay, earth fault relay dan reserve
power relay.
Protection : IP 23
Measuring Device :
 Ammeter c/w current transformator
 Voltmeter c/w 7 step selector switch
 Frequency meter
 Power factor meter
 KWH meter
 KW meter
 Hours meter
 DC Volt meter
Pembangunan Sarana Dan Prasaran Mesjid Al-jihad

PERSYARATAN TEKNIS
 DC
PEKERJAAN MEKANIKAL ELEKTRIKAL Ampere meter

Signal Lamps :
 Main CB “ON”
 Main Failure
 Genset Running
 Genset on Load
 Alarm Enable
 Battery On
 Low Oil Pressure
 Over Temperatur
 Engine Over Speed
 Start Failure
 Under Voltage
 Charge Failure
 Reverse Power
 Emergency Stop
 CB Tripped

Push Button :
 Signal Lamp Test
 Signal Reset
 Emergency Stop
 CB “ Closed”
 CB “ Open”

1.3.3. Kabel Tegangan Rendah


a. Sebelum dipergunakan, kabel dan peralatan bantu lainnya harus mendapat
persetujuan terlebih dahulu dari Konsultan Pengawas.
b. Pada prinsipnya kabel-kabel yang dipergunakan adalah jenis NYY, NYM, NYA, NYFGbY,
FRC, NYMHY, BCC. Untuk kabel feeder / power dari jenis NYY, kabel penerangan
dipergunakan kabel NYM sedangkan untuk kabel grounding dari jenis BCC.
c. Kabel-kabel yang dipakai harus dapat dipergunakan untuk tegangan min. 0,6 KV dan
0,5 KV untuk kabel NYM.
d. Kabel FRC (kabel tahan api) harus mempunyai karakteristik sebagai berikut :
- Fire Resistance
- Fire Retardant
- Low Smoke
- Halogen Free
- Low toxicity
- Low corrosivity
- Ambient Temperature : 20 – 60ºC
e. Penampang kabel minimum yang dapat dipakai 2,5 mm².

1.3.4. Lighting Fixtures


a. Reccessed Mounted (RM)
 Rumah lampu terbuat dari plat baja/besi tebal minimal 0.5 mm dengan cat
powder coating warna putih.
 Reflector dibuat dari alumunium mirror tebal 0.45 mm.
 Louver dibuat dari alaumunium anodized double mirror (M4).
 Daya yang dipakai adalah sesuai dengan gambar perencanaan.
 Tabung lampu yang dapat dipakai adalah Seri 84 (Natural White) TL-D
atau sesuai dengan persetujuan Pemberi Tugas.

b. Lampu TL Balk
 Rumah lampu terbuat dari plat baja/besi tebal minimal 0.3 mm dengan cat
powder coating warna putih.
 Tabung lampu yang dapat dipakai adalah Seri 84 (Natural White) TL-D
atau sesuai dengan persetujuan Pemberi Tugas dan Konsultan Pengawas.
Pembangunan Sarana Dan Prasaran Mesjid Al-jihad

PERSYARATAN TEKNIS
PEKERJAAN MEKANIKAL ELEKTRIKAL

c. Lampu Baret
 Rumah lampu terbuat dari plat baja/besi tebal minimal 0.7 mm dengan cat
powder coating warna putih
 Cover terbuat dari acrylic tebal 3.0 mm
 Tabung lampu yang dapat dipakai adalah Seri 84 (Natural White) atau
sesuai dengan persetujuan Pemberi Tugas dan Konsultan Pengawas.

d. Lampu Tabung ( Down Light )


 Lighting fixtures harus dilengkapi dengan reflector alluminium tebal
minimal 1.2 mm.
 Braket penggantung terbuat dari plat baja tebal 0.8 mm finishing.
 Lamp holder menggunakan standard E - 27.
 Diameter dari kap lampu minimal 150 mm.
 Lampu yang dipakai dari jenis lampu incandescent dan PLC atau sesuai
gambar. Contoh harus disetujui oleh Pemberi Tugas dan Konsultan
Pengawas.

e. Lampu Exit
 Rumah lampu dari plat baja/besi tebal minimal 0.5 mm dengan cat powder
coating warna putih.
 Frame terbuat dari allumunium extrusion tanpa cat dengan tebal 1.1 mm.
 Cover terbuat dari acrylic dengan tebal 2.0 mm.
 Tabung lampu yang dapat dipakai adalah jenis Cool Daylight / 54 atau
sesuai dengan persetujuan Pemberi Tugas .
 Lampu harus dilengkapi dengan nicad battery.

f. Lampu Emergency
Sesuai dengan gambar perencanaan yang dilengkapi dengan nicad battery
dengan kapasitas mem back-up lampu minimal sampai dengan 2 jam.

1.3.5. Kotak-Kontak dan Saklar


a. Kotak-kontak dan saklar yang akan dipasang pada dinding tembok bata adalah tipe
pemasangan masuk / inbow ( flush mounting ).
b. Kotak-kontak biasa (inbow) yang dipasang mempunyai rating 13 A dan mengikuti
standard VDE, sedangkan kotak-kontak khusus tenaga (outbow) mempunyai rating
15 A dan mengikuti standard BS (3 pin) dengan lubang bulat.
c. Flush-box ( inbow doos ) untuk tempat saklar, kotak-kontak dinding dan push button
harus dipakai dari jenis bahan blakely atau metal.
d. Kotak-kontak dinding yang dipasang 300 mm dari permukaan lantai kecuali
ditentukan lain dan ruang-ruang yang basah / lembab harus jenis water dicht (WD)
sedang untuk saklar dipasang 1,500 mm dari permukaan lantai atau sesuai gambar.
1.3.6. Konduit
Konduit instalasi penerangan yang dipakai adalah dari jenis PVC High Impact. Factor
pengisian konduit harus mengikuti ketentuan pada PUIL.

1.3.7. Rak kabel / cable Tray


a. Rak kabel terbuat dari plat digalvanis dan buatan pabrik, ukurannya disesuaikan
dengan kebutuhan.
b. Penggantung dibuat dari Hanger Rod, jarak antar penggantung maximum 1 meter.
Penggantung harus rapi & kuat sehingga bila ada pembebanan tidak akan berubah
bentuk. Penggantung harus dicat dasar anti karat sebelum dicat akhir dengan warna
abu-abu.
c. Bahan bahan untuk rak kabel dan penggantung harus buatan pabrik.

1.4. PERLENGKAPAN INSTALASI


a. Perlengkapan instalasi yang dimaksud adalah material-material untuk melengkapi
instalasi agar diperoleh hasil yang memenuhi persyaratan, handal dan mudah
perawatan.
Pembangunan Sarana Dan Prasaran Mesjid Al-jihad

PERSYARATAN TEKNIS
b. Seluruh
PEKERJAAN MEKANIKAL klem kabel
ELEKTRIKAL yang digunakan harus buatan pabrik.

c. Semua penyambungan kabel harus dilakukan dalam junction box / doos,warna kabel
harus sama.
d. Juction box / doos yang digunakan harus cukup besar dan dilengkapi tutup
pengaman.

1.5. PERSYARATAN TEKNIS PEMASANGAN


1.5.1. Panel-panel
a. Sebelum pemesanan/pembuatan panel, harus mengajukan gambar kerja untuk
mendapatkan persetujuan perencana dan Konsultan Pengawas.
b. Panel-panel harus dipasang sesuai dengan petunjuk dari pabrik pembuat dan harus
rata ( horizontal ).
c. Letak panel seperti yang ditunjukan dalam gambar, dapat disesuaikan dengan kondisi
setempat.
d. Untuk panel yang dipasang tertanam ( inbow ) kabel - kabel dari / ke terminal panel
harus dilindungi pipa PVC High Impact yang tertanam dalam tembok secara kuat dan
teratur rapi. Sedangkan untuk panel yang dipasang menempel tembok (outbow),
kabel-kabel dari / ke terminal panel harus melalui tangga kabel.
e. Penyambungan kabel ke terminal harus menggunakan sepatu kabel (cable lug) yang
sesuai.
f. Ketinggian panel yang dipasang pada dinding (wall-mounted) = 1,600 mm dari
lantai terhadap as panel.
g. Setiap kabel yang masuk / keluar dari panel harus dilengkapi dengan gland dari karet
atau penutup yang rapat tanpa adanya permukaan yang tajam.
h. Semua panel harus ditanahkan.

1.5.2. Kabel – Kabel


a. Semua kabel di kedua ujungnya harus diberi tanda dengan kabel mark yang jelas
dan tidak mudah lepas untuk mengindentifikasikan arah beban.
b. Setiap kabel daya pada ujungnya harus diberi isolasi berwarna untuk
mengidentifikasikan phasenya sesuai dengan ketentuan PUIL.
c. Kabel daya yang dipasang horizontal / vertical harus dipasang pada tangga kabel,
diklem dan disusun rapi.
d. Setiap tarikan kabel tidak diperkenankan adanya sambungan, kecuali pada T- doos
untuk instalasi penerangan.
e. Untuk kabel dengan diameter 16 mm² atau lebih harus dilengkapi dengan sepatu
kabel untuk terminasinya.
f. Pemasangan sepatu kabel yang berukuran 70 mm² atau lebih harus mempergunakan
alat press hidraulis yang kemudian disolder dengan timah pateri.
g. Kabel yang ditanam dan menyeberangi selokan atau jalan atau instalasi lainnya harus
ditanam lebih dalam dari 50 cm dan diberikan pelindung pipa galvanis dengan
penampang minimum 2 ½ kali penampang kabel.
h. Semua kabel yang akan dipasang menembus dinding atau beton harus dibuatkan
sleeve dari pipa galvanis dengan penampang minimum 2 ½ kali penampang kabel.
i. Semua kabel yang dipasang di atas langit-langit harus diletakkan pada suatu rak
kabel.
j. Kabel penerangan yang terletak di atas rak kabel harus tetap di dalam konduit.
k. Penyambungan kabel untuk penerangan dan kotak-kontak harus di dalam kotak
terminal yang terbuat dari bahan yang sama dengan bahan konduitnya dan
dilengkapi dengan skrup untuk tutupnya dimana tebal kotak terminal tadi minimum 4
cm. Penyambungan kabel menggunakan las doop.
l. Setiap pemasangan kabel daya harus diberikan cadangan kurang lebih 1 m disetiap
ujungnya.
m. Penyusunan konduit di atas rak kabel harus rapih dan tidak saling menyilang.
n. Kabel tegangan rendah yang akan dipasang harus mempunyai serifikat lulus uji dari
PLN yang terutama menjamin bahan isolasi kabel sudah memenuhi persyaratan.
o. Pengujian dengan Megger harus tetap dilaksanakan dengan nilai tahanan isolasi
minimum 500 kilo ohm.
Pembangunan Sarana Dan Prasaran Mesjid Al-jihad

PERSYARATAN TEKNIS
PEKERJAAN MEKANIKAL ELEKTRIKAL

 Instalasi Kabel Bawah Tanah


- Semua kabel yang ditanam harus pada kedalaman 100 cm
minimum, dimana sebelum kabel ditanam ditempatkan lapisan
pasir setebal 15 cm dan di atasnya diamankan dengan batu bata
press sebagai pelindungnya. Lebar galian minimum adalah 40 cm
yang disesuaikan dengan jumlah kabel.
- Kabel yang ditanam dan menyeberangi selokan atau jalan atau
instalasi lainnya harus ditanam lebih dalam dari 50 cm dan
diberikan pelindung pipa galvanis dengan penampang minimum
2 ½ kali penampang kabel.
- Pada route kabel setiap 25 m dan disetiap belokan harus ada
tanda arah jalannya kabel.
- Penanaman kabel harus memenuhi peraturan yang berlaku dan
persyaratan yang ditunjukan dalam gambar / RKS.
- Kabel tidak boleh terpuntir dan diberi label yang menunjukan
arah disetiap jarak 1 meter.
- Tidak diperkenankan melakukan pengurugan sebelum Konsultan
Pengawas memeriksa dan menyetujui perletakan kabel tersebut.
- Setelah pengurugan selesai setiap 15 meter harus dipasang
patok beton 20 x 20 x 60 cm dan bertuliskan “KABEL TANAH”.
Patok-patok ini dicat kuning dan bertulisan merah.
- Kabel-kabel yang menembus dinding atau lantai harus
menggunakan pipa sleeve, pipa ini minimal dari Metal (Pipa GIP).
- Penyambungan kabel feeder tidak diperbolehkan. Kabel harus
utuh menerus tanpa sambungan.
- Kabel tidak boleh dibelokan dengan radius kurang dari 15 x
diameternya. Di atas belokan tersebut diletakan patok beton
bertuliskan “KABEL TANAH” dan arah belok.
- Penanaman tidak boleh dilakukan di malam hari.

 Instalasi Kabel Tenaga


- Letak pasti dari peralatan atau mesin-mesin di sesuaikan dengan
gambar dan kondisi setempat apabila terjadi kesukaran dalam
menentukan letak tersebut dapat meminta petunjuk Konsultan
Pengawas.
- Pelaksana Pekerjaan wajib memasang kabel sampai dengan
peralatan tersebut, kecuali dinyatakan lain dalam gambar.
- Tarikan kabel yang melalui trench harus diatur dengan baik /
rapi sehingga tidak saling tindih dan membelit.
- Tarikan kabel yang menuju peralatan yang tidak melalui trench
atau yang menelusuri dinding ( outbow ) harus dilindungi
dengan pipa pelindung Agar diusahakan pipa pelindung tidak
bergoyang maka harus dilengkapi dengan klem-klem dan
perlengkapan penahan lainnya, sehingga nampak rapi.
- Pada setiap sambungan ke peralatan harus menggunakan pipa
fleksibel. Pada setiap belokan pipa pelindung yang lebih besar
dari 1 inchi harus menggunakan pipa fleksibel, belokan harus
dengan radius min. 15 x diameter kabel.
- Kabel yang ada di atas harus diletakkan pada rak kabel dan
warna kabel harus disesuaikan dengan phasanya.
- Semua kabel di kedua ujungnya harus diberi tanda dengan kabel
mark yang jelas dan tidak mudah lepas untuk
mengindentifikasikan arah beban. Setiap kabel daya pada
ujungnya harus diberi isolasi berwarna untuk
mengidentifikasikan phasenya sesuai dengan PUIL.
- Kabel daya yang dipasang di shaft harus dipasang pada tangga
kabel (cable ladder), diklem dan disusun rapi.
- Setiap tarikan kabel tidak diperkenankan adanya sambungan.
- Untuk kabel dengan diameter 16 mm² atau lebih harus
Pembangunan Sarana Dan Prasaran Mesjid Al-jihad

PERSYARATAN TEKNIS
PEKERJAAN MEKANIKAL ELEKTRIKAL dilengkapi dengan sepatu kabel untuk terminasinya.

- Pemasangan sepatu kabel yang berukuran 70 mm² atau lebih harus


mempergunakan alat press hidraulis yang kemudian disolder dengan
timah pateri.
- Untuk kabel feeder yang dipasang didalam trench harus
mempergunakan kabel support minimum setiap 50 cm.
- Setiap pemasangan kabel daya harus diberikan cadangan kurang
lebih 1 m disetiap ujungnya.

1.5.3. Kotak – Kontak dan Saklar


a. Kotak-kontak dan saklar yang akan dipakai adalah tipe pemasangan masuk dan
dipasang pada ketinggian 300 mm dari level lantai untuk kontak - kontak dan
1.500 mm untuk saklar atau sesuai gambar detail.
b. Kotak-kontak dan saklar yang dipasang pada tempat yang lembab / basah harus
dari tipe water dicht ( bila ada ).
c. Kotak-kontak yang khusus dipasang pada kolom beton harus terlebih dahulu
dipersiapkan sparing untuk pengkabelannya disamping metal doos tang harus
terpasang pada saat pengecoran kolom tersebut.

1.5.4. Pentanahan (Grounding)


a. Sistem pentanahan harus memenuhi peraturan yang berlaku dan persyaratan
yang ditunjukan dalam gambar / RKS.
b. Seluruh panel dan peralatan harus ditanahkan. Penghantar pentanahan pada
panel-panel menggunakan BCC dengan ukuran min. 6 mm² dan max. 95
mm², penyambungan ke panel harus menggunakan sepatu kabel (cable lug).
c. Dalamnya pentanahan minimal 12 meter dan ujung elektroda pentanahan
harus mencapai permukaan air tanah, agar dicapai harga tahanan tanah
(ground resistance) dibawah 2 (dua) ohm, yang diukur setelah tidak hujan
selama 3 (tiga) hari berturut-turut.
d. Pengukuran Pentanahan tanah dilaksanakan oleh Pelaksana Pekerjaan setelah
mendapat persetujuan dari Konsultan Pengawas. Pengukuran ini harus
disaksikan Konsultan Pengawas.

1.6. PENGUJIAN
Sebelum semua peralatan utama dari system dipasang, harus diadakan pengujian
secara individual. Peralatan tersebut baru dapat dipasang setelah dilengkapi dengan
sertifikat pengujian yang baik dari pabrik pembuat dan LMK / PLN serta instansi lainnya
yang berwenang untuk itu. Setelah peralatan tersebut dipasang, harus diadakan pengujian
secara menyeluruh dari system untuk menjamin bahwa system berfungsi dengan baik.
Semua biaya yang timbul dari pelaksanakan pengujian menjadi tanggung
jawab Pelaksana Pekerjaan
Test meliputi :
 Test Beban Kosong ( No Load Test ).
 Test Beban Penuh ( Full Load Test ).

1.7. NO LOAD TEST


Test ini dilakukan tanpa beban artinya peralatan di test satu per satu seperti misal
pengujian Instalasi 0,6/1 KV (Kabel Tegangan Rendah):
 Pengukuran tahanan isolasi dengan megger 1,000 Volt
 Pengukuran tahanan instalasi dengan megger 1,000 Volt
 Pengukuran tahanan pentanahan

Dan harus diberikan hasil test berupa Laporan Pengetesan / hasil pengujian pemeriksaan.
Apabila hasil pengujian dinyatakan baik, maka test berikutnya harus dilaksanakan secara
keseluruhan ( Full Load Test ).
Pembangunan Sarana Dan Prasaran Mesjid Al-jihad

PERSYARATAN TEKNIS
1.8. FULL
PEKERJAAN LOAD TEST
MEKANIKAL (TEST
ELEKTRIKAL BEBAN PENUH)
Test beban penuh ini harus dilaksanakan Pelaksana Pekerjaan sebelum penyerahan
pertama pekerjaan. Test ini meliputi :
 Test nyala lampu-lampu dengan nyala semuanya.
 Test pompa-pompa seluruhnya, yang dilaksanakan bersama-sama sub
pekerjaan pompa pompa.
 Test peralatan (beban) lainnya.

Lamanya test ini harus dilakukan 3 x 24 jam non stop dengan beban penuh, dan semua biaya
dan tanggung jawab teknik sepenuhnya menjadi beban Pelaksana Pekerjaan, dengan schedule /
pengaturan waktu oleh Konsultan Pengawas.
Hasil test harus mendapat pengesahan dari Perencana dan Konsultan Pengawas. Selesai test 3
x 24 jam harus dibuatkan Berita Acara test jam untuk lampiran penyerahan pertama pekerjaan.

PRODUK INSTALASI LISTRIK ARUS KUAT


Bahan dan peralatan harus memenuhi spesifikasi. Pelaksana Pekerjaan dimungkinkan
untuk mengajukan alternatif lain yang setaraf dengan yang dispesifikasikan. Pelaksana
Pekerjaan baru dapat mengganti bila ada persetujuan resmi dan tertulis dari Konsultan
Pengawas.
Produk bahan dan peralatan, pada dasarnya adalah sebagai berikut :
Pembangunan Sarana Dan Prasaran Mesjid Al-jihad

PERSYARATAN TEKNIS
PEKERJAAN MEKANIKAL ELEKTRIKAL
No Uraian Spesifikasi Teknis Merk / Produk
1 Komponen Panel TR MCB MG, GE , ABB
MCCB Fixed
MCCB Adjustable Rating
ACB Adjustable Rating
2 Panel Manufacturer Free standing & wall mounted
Finishing box powder :
* Powder coating
3 Measuring Device Ampermeter SACI, CIC, GAE
Voltmeter
Frequency Meter
Cos phi meter
4 Push Button & Pilot Lamp Standart
5 Relay control
6 Contactor, Stardelta &
Direct On Line
7 Control Fuse 4A
8 Kabel-Kabel NYY, NYA, NYMHY, NYM Supreme, Kabelindo, Kabel Metal
FRC Fuji, Nexans, Radox
9 Konduit PVC Higt Impact Ega, Clipsal
10 Cable Mark 3M, Legrand
11 Lampu TL TKI /Balk Fluorescent TL-D Philips
Starter Philips
Condensor Philips
Fitting Philips, Vossloh
Ballast Philips, Vossloh, Schwabe
Armature Creation, Philips, Interlite
12 Down Light PLC Lampu, ballast, fitting Philips
Armature Creation, Philips, Interlite
13 Recced Mounted Fluorescent TL-D Philips
RM 300 M4 Starter Philips
Condensor Philips
Fitting Philips, Vossloh
Ballast Philips, Vossloh, Schwabe
Armature Creation, Philips, Interlite
14 Lampu Baret Fluorescent TL-D Philips
Starter Philips
Condensor Philips
Fitting Philips, Vossloh
Ballast Philips, Vossloh, Schwabe
Armature Creation, Philips, Interlite
15 Lampu Exit Fluorescent TL-D Philips
Starter Philips
Condensor Philips
Fitting Philips, Vossloh
Ballast Philips, Vossloh, Schwabe
Armature Creation, Philips, Interlite
16 Nicad Battery Minimal 2 jam Manvier, WA, Hits
17 Stop kontak, Saklar Berker, Clipsal, MK, National
18 Kabel Tray atau Galvanized Lion Tray, Tri Abadi, Interack
Kabel Ladder
Pembangunan Sarana Dan Prasaran Mesjid Al-jihad

PERSYARATAN TEKNIS
PEKERJAAN MEKANIKAL ELEKTRIKAL

2. SPESIFIKASI TEKNIS PEKERJAAN PENANGKAL PETIR

2.1. UMUM
a. Yang dimaksud dengan sistem penangkal petir dalam pekerjaan ini ialah semua
penyediaan dan pemasangan sistem penangkal petir, termasuk disini air terminal,
penghantar down conductor, electroda pentanahan dan peralatan lainnya seperti yang
ditunjukan dalam gambar rencana.
b. Setiap Pelaksana Pekerjaan yang menangani pekerjaan ini, haruslah mempelajari
seluruh Dokumen Kontrak dengan teliti, untuk mengetahui kondisi yang berpengaruh
pada pekerjaan ini.
c. Pelaksana Pekerjaan harus menawarkan seluruh lingkup pekerjaan yang dijelaskan baik
dalam spesifikasi ataupun yang tertera dalam gambar-gambar, dimana bahan-bahan
dan peralatan yang digunakan harus sesuai dengan ketentuan-ketentuan pada
spesifikasi ini.
d. Bila ternyata ada perbedaan antara spesifikasi bahan atau peralatan yang dipasang
dengan spesifikasi yang dipersyaratkan pada pasal ini, merupakan kewajiban Pelaksana
Pekerjaan untuk mengganti bahan atau peralatan tersebut, sehingga sesuai dengan
ketentuan pada RKS ini tanpa adanya ketentuan tambahan biaya.

2.2. LINGKUP PEKERJAAN


a. Lingkup pekerjaan yang dimaksud adalah pengadaan dan pemasangan instalasi
penangkal petir jenis non radioaktif, termasuk air terminal (batang penerima), down
conductor pentanahan/grounding dan bak kontrolnya serta peralatan lain yang
berkaitan dengannya sebagai suatu sistem keseluruhan maupun bagian-bagiannya
seperti yang tertera pada gambar-gambar maupun yang dispesifikasikan.
b. Termasuk didalam pekerjaan ini adalah pengadaan barang/material, instalasi dan
esting terhadap seluruh material, serah terima dan pemeliharaan selama 12 bulan.
c. Ketentuan-ketentuan yang tidak tercantum didalam gambar maupun pada
spesifikasi/syarat-syarat teknis tetapi perlu untuk pelaksanaan pekerjaan instalasi
secara keseluruhan harus juga dimasukkan kedalam pekerjaan ini.
d. Secara umum pekerjaan yang harus dilaksanakan pada proyek ini adalah pengadaan
dan pengangkutan ke lokasi proyek, pemasangan bahan, material, peralatan dan
perlengkapan sistem penangkal petir sesuai dengan peraturan/standar yang berlaku
seperti yang ditunjukkan pada syarat-syarat umum untuk menunjang bekerjanya
sistem/peralatan, walaupun tidak tercantum pada syarat-syarat teknis khusus atau
gambar dokumen.

2.3. AIR TERMINAL


a. Air terminal dari jenis non rdioaktif dengan radius minimal 70 meter
b. Air terminal harus tidak mengalami korosi pada atmosfir normal.
c. Secara keseluruhan air terminal harus terisolasikan dari bangunan yang dilindunginya
pada seluruh kondisi.
d. Dilengkapi dengan FRP Support Mast.

2.4. BATANG PENINGGI


Sistem penangkal petir dipasang setinggi 1 (satu) meter dari atap bangunan, sesuai
dengan rekomendasi pabrik pembuatnya, dan harus di sesuaikan dengan gambar
arsitek.

2.5. SALURAN / PENGHANTAR


a. Saluran / penghantar haruslah memenuhi test standard IEC 60 – 1 : 1989 dari kabel
high voltage shielded 50 mm². Saluran penghantar ini mampu mencegah terjadinya
side flashing dan electrification building. Penghantar dari batang peninggi / tiang ke
bak kontrol pentanahan seperti gambar rencana.
b. Seluruh saluran penghantar, harus diusahakan tidak ada sambungan baik yang
horizontal maupun yang vertical / jalur menara, dengan kata lain kabel tersebut
harus menerus dan utuh tanpa sambungan.
Pembangunan Sarana Dan Prasaran Mesjid Al-jihad

PERSYARATAN TEKNIS
PEKERJAAN MEKANIKAL ELEKTRIKAL

2.6. SAMBUNGAN PADA BAK KONTROL


Sambungan pada bak kontrol harus menjamin suatu kontak yang baik antar penghantar
yang disambung dan tidak mudah lepas. Sambungan harus diusahakan agar dapat dibuka
untuk keperluan pemeriksaan atau pengetesan tahanan tanah (ground resistance).

2.7. PENAMBAT / KLEM


Kabel yang turun kebawah vertikal harus diklem agar kuat, lurus dan rapi dan ditambatkan
pada rangka/dinding bangunan.

2.8. PENTANAHAN
Tahanan tanah harus lebih kecil dari 2 Ohm. Ground rod harus terbuat dari tembaga
seperti gambar rencana, ditanamkan kedalam tanah secara vertikal sedalam minimal 12
(dua belas) meter dan harus mencapai air tanah.

2.9. BAK KONTROL


Pada setiap ground road harus dibuatkan bak pemeriksaan (bak kontrol). Sambungan dari
Down Conductor ke elektroda Pentanahan harus dapat dibuka untuk keperluan
pemeriksaan tahanan tanah. Bak kontrol banyaknya sesuai gambar rencana.
Sambungan/klem penyambungan harus dari bahan tembaga.

2.10. PEMASANGAN AIR TERMINAL/PENANGKAL PETIR


Pemasangan air terminal (head) dipasang sesuai gambar rencana.

2.11. SURAT IJIN


a. Pelaksana Pekerjaan harus mempunyai ijin khusus dan berpengalaman dalam
pemasangan penangkal petir dan dibuktikan dengan memberikan daftar proyek-
proyek yang sudah pernah dikerjakan.
b. Pelaksana Pekerjaan berkewajiban dan bertanggung jawab atas pengurusan
perijinan instalasi sistem penangkal petir oleh instalasi Depnaker wilayah setempat
hingga memperoleh sertifikasi / rekomendasi.

2.12. PENGUJIAN / PENGETESAN


Untuk mengetahui baik atau tidaknya sistem penangkal petir yang dipasang, maka harus
diadakan pengetesan terhadap instalasinya maupun terhadap sistem pentanahannya.
Pengetesan yang harus dilakukan :
 Grounding Resistant test :
Ukuran tahanan dari pentanahan dengan mempergunakan metode standard.
 Continuity test :
Pelaksana Pekerjaan harus memberikan laporan hasil testing tersebut.

PRODUK INSTALASI PENANGKAL PETIR


Peralatan, bahan dan material yang dipergunakan harus memenuhi spesifikasi. Pelaksana
Pekerjaan dimungkinkan untuk mengajukan alternatif lain yang setaraf dan Pelaksana
Pekerjaan baru dapat menggantinya bila sudah ada persetujuan resmi dan tertulis dari
Konsultan Pengawas dan Pemberi Tugas.
Referensi produk yang dapat dipakai adalah sebagai berikut :
No Uraian Spesifikasi Teknis Merk / Produk
1 Air Terminal Jenis Non Radio Aktif LPI Guardian, System 300,
Radius Perlindungan minimal Prevectron.
70 meter.
(Batang Penerima) Dilengkapi dengan FRP support
Mast.
2 Conductor HV Shielded Cable 50 mm2 4 Besar
3 Pipa Galvanized Medium Class PPI, Bakrie, Spindo
MCCB Fixed

3
Pembangunan Sarana Dan Prasaran Mesjid Al-jihad

PERSYARATAN TEKNIS
PEKERJAAN MEKANIKAL ELEKTRIKAL

3. SPESIFIKASI TEKNIS PEKERJAAN PENANGKAL PETIR

3.1. UMUM
[Link] Pelaksana Pekerjaan yang menangani pekerjaan ini, haruslah mempelajari
seluruh Dokumen Kontrak dengan teliti, untuk mengetahui kondisi yang
berpengaruh pada pekerjaan.
[Link] Pekerjaan harus menawarkan seluruh lingkup pekerjaan yang dijelaskan
baik dalam spesifikasi ataupun yang tertera dalam gambar-gambar, dimana bahan-
bahan dan peralatan yang digunakan harus sesuai dengan ketentuan-ketentuan
pada spesifikasi ini.
rrr. Bila ternyata ada perbedaan antara spesifikasi bahan atau peralatan yang dipasang
dengan spesifikasi yang dipersyaratkan pada pasal ini, merupakan kewajiban
Pelaksana Pekerjaan untuk mengganti bahan atau peralatan tersebut sehingga
sesuai dengan ketentuan pada pasal ini tanpa adanya ketentuan tambahan biaya.

3.2. PENJELASAN SISTEM


sss. Fungsi sistem deteksi dan alarm kebakaran adalah sistem deteksi awal apabila
terjadi kebakaran, dimana pada waktu terjadi kebakaran akan memberikan indikasi
secara audio (bell) maupun visual (lampu warna merah) dari mana asal kebakaran
tersebut dimulai, sehingga dapat diambil tindakan pencegahan sedini mungkin.
ttt. Fire alarm system ini menerima signal kebakaran yang diberikan baik secara
otomatis dari detector maupun secara manual dari push button box.

3.3. LINGKUP PEKERJAAN


Pelaksana Pekerjaan yang menangani pekerjaan instalasi ini harus melaksanakan
pengadaan, pemasangan & pengujian serta menyerahkan dalam keadaan beroperasi
dengan baik dan siap untuk dipakai. Bahan-bahan dan peralatan-peralatan pembantu
instalasi fire alarm system harus sesuai dengan persyaratan-persyaratan pekerjaan dan
gambar instalasi fire alarm system.

3.4. KETENTUAN BAHAN DAN PERALATAN


Peralatan utama yang terdapat dalam sistem Fire Alarm ini adalah :
a. Thermal Detector Conventional
b. Smoke Detector Conventional
c. Manual Push Button (Break Glass)
d. Alarm Bell
e. Zone Indicator
f. Indicator Lamp
g. Module
h. Master Control Panel Adresssable

• Thermal Detector Conventional


a. Jenis yang digunakan adalah Rate of Rise detector dan Fixed Temperatur
detector yang memiliki response lamp di base.
b. Sirkit dan sensor mempunyai performa yang tinggi dalam pendeteksian
temperature ditetapkan.
c. Mempunyai stabilitas tinggi terhadap debu, gangguan elektromagnetis,
perubahan suhum kelembaban dan karatan.
d. Data-data teknis lainnya :
• Frequency Test : dapat dipakai berulang kali
• Operating Voltage : 16 – 32 VDC
• Output Voltage : 5 - 13 VDC
• Quescent Current : ± 0.1mA
• Alarm Current : ± 25.0 mA
• EMC : ± 10V/m
• Operating Temperature : -10 ~ +50º C
• Storage Temperature : -30 ~ +75º C
• Relative Humidity : ≤ 95% ( 40 ± 2ºC)
Pembangunan Sarana Dan Prasaran Mesjid Al-jihad

PERSYARATAN TEKNIS
PEKERJAAN MEKANIKAL ELEKTRIKAL

• Smoke Detector Conventional


a. Jenis yang dipakai adalah prinsip photoelectric yang memiliki 2 buah response
lamp dan mempunyai karateristik sensitivitas yang rata (flat response
technology).
b. Memiliki kepekaan homogen untuk membedakan jenis asap.
c. Mempunyai stabilitas tinggi terhadap debu, gangguan elektromagnetis,
perubahan suhum kelembaban dan karatan.
d. Data Teknis lainnya :
 Frequency Test : dapat dipakai berulang kali
 Operating Voltage : 16 – 32 VDC
 Output Voltage : 5 - 13 VDC
 Quescent Current : ± 0.1mA
 Alarm Current : ± 25.0 mA
 EMC : ± 10 V/m
 Activation Temperature : 67ºC
 Operating Temperature : -10 ~ +50º C
 Storage Temperature : -30 ~ +75º C
 Relative Humidity : ≤ 95% ( 40 ± 2ºC)

• Input Module (Mini Module)


a. Alamat / zone dapat diset lewat Dip-Swtich.
b. Input signal harus bebas dari prioritas signal digital . Signal akan dipancarkan
ke pengontrol dan pemicu sesuai dengan pengesetan.
c. Kesalahan / fault akan secara otomatis dimonitor dan ditunjukkan dengan
pengontrol.
d. Input dimonitor untuk sirkuit terbuka.
e. Data teknis lainnya :
 Operating Voltage : 16 – 32 VDC
 Quiescent Current : ± 0.6 mA
 Activation Current : ± 4.0 mA
 Working Temperature : -10 - +50ºC
 Relative Humidity : ≤ 95% ( 40±2ºC)
 EOL : ± 100 KΩ

• Output Module (Control Module)


Output Module adalah alat untuk mengaktifkan peralatan external menurut
ungkapan logika yang telah ditetapkan lebih dulu dan juga diharapkan menerima
konfirmasi aktifasi tersebut.
a. Alamat / zone dapat diset lewat Dip-Swtich.
b. Dapat mengaktifkan peralatan eksternal oleh logika yang telah ditetapkan lebih
dulu, output dapat berupa denyut atau signal menurut set-up Dip-Switch.
c. Input dimonitor untuk sirkuit terbuka.
d. Tidak direkomendasikan penggunaan modul ini untuk memadamkan
kendali/kontrol secara langsung.
e. Kesalahan / fault akan secara otomatis dimonitor dan ditunjukkan dengan
pengontrol.
f. Data teknis lainnya :
 Operating Voltage : ± 16 – 32 VDC
 Quiescent Current : ± 0.7 mA
 Activation Current : ± 2.5 mA
 Relay Rating : 30V/2.0A , 125VAC/1.0A
 Confirmation Led : Steady output ; steady on
: Pulse Output ; flashing
 Working Temperature : -10 - +50ºC
 Relative Humidity : ≤ 95% ( 40±2ºC)
 Wiring Capacity : 1.0 – 1.5 mm²
Pembangunan Sarana Dan Prasaran Mesjid Al-jihad

PERSYARATAN TEKNIS
PEKERJAAN MEKANIKAL ELEKTRIKAL

• Collective Input Module (Monitor Module)


Collective input module (monitor module) ini dapat menghubungkan detector
conventional/collective ke peralatan utama fire alarm.
a. Alamat / zone dapat diset lewat Dip-Swtich.
b. Dapat memancarkan alarm, fault, batas signal bahaya normal kepada unit
MCFA, juga mempunyai indikasi pada modul.
c. Indikator alarm dapat dihubungkan dengan L+, L-
d. Kesalahan / fault akan secara otomatis dimonitor dan ditunjukkan dengan
pengontrol.
e. Data teknis lainnya :
 Operating Voltage : ± 16 – 32 VDC
 Quiescent Current : ± 4.0 mA
 Alarm Current : ± 16.0 mA
 Alarm Voltage : 3.7V – 16.4 VDC
 Fault Voltage (short) : 0V - 3.7 VDC
 Fault voltage (open) : > 22.1 VDC
 Working Temperature : -10 - +50ºC
 Relative Humidity : ≤ 95% ( 40±2ºC)
 Wiring Capacity : 1.0 – 1.5 mm²

• Manual Push Button


Jenis yang dipakai merupakan surface mounted dan dilengkapi dengan reset
switch, jika terjadi penekanan.

• Alarm Bell
Persyaratan teknis harus dipenuhi :
 Konstruksi : Anti karat
 Operating Voltage : 18 s/d 36 V DC
 Curent Consumption : max. 80 mA
 Power Consumption : 1,2 Watt
 Desibel Rating : 85 dB. at 3 m

• Zone Indicator
Zone Indicator ini menunjukan zone mana yang bekerja. Zone Indicator ini
ditutup dengan plastik dan pada tutup ini terdapat tulisan Zone Number (Nomor
Zone) yang disesuaikan dengan letak zone indicator tersebut.

• Indicator Lamp
Indicator Lamp merupakan lampu indikator yang dipasang paralel dengan
group detector. Lampu indicator ini akan menyala hanya jika group detector yang
bersangkutan bekerja.

• Main Control Fire Alarm (MCFA)


MCFA yang digunakan memakai Sistem Addressable 2 loops dengan Detector
Convensional kapasitas 40 zones. Kelengkapan MCFA antara lain Fireman
intercom, Synthetic Sound, Sealed Acid Battery, Power supply charger yang
mempunyai voltmeter DC. MCFA harus mempunyai pintu dengan jendela penglihat
(LCD).

MCFA ini harus mempunyai fasilitas lampu tanda :


 Bell Off
 Reset
 Testing
 Lamp test
 Fault Signal General
 Signal for Alarm Condition
 Signal for “Zone Off”
Pembangunan Sarana Dan Prasaran Mesjid Al-jihad

PERSYARATAN TEKNIS
PEKERJAAN MEKANIKAL ELEKTRIKAL

MCFA ini harus mempunyai output berupa :


 Visible/Audible Alarm
 Visible/Audible Fault Alarm
 Test Signal (Visible)
 Optical Signal “Zone Off”

• Terminal Box (Kotak Sambung)


Terminal Box terbuat dari plat baja dengan tebal minimal 2 mm Ukuran dari
Terminal Box menyesuaikan dengan kebutuhan dan mendapatkan persetujuan
dari Konsultan Pengawas atau Pemberi Tugas.
Pemasangan Terminal Box harus dikoordinasikan dengan Konsultan Pengawas dan
Pember Tugas.

• Pipa Konduit
Semua kabel harus dipasang didalam pipa konduit PVC High impact dia. 20 mm,
baik yang diatas plafond (horizontal) maupun yang di dinding / tembok / beton
(vertikal). Pemasangan pipa konduit vertikal harus inbow.
Seluruh kotak sambungan, persimpangan, dan lain-lain harus dipasang tutup
sehingga tidak akan masuk benda-benda lain kedalam kotak tersebut. Seluruh
saluran ini harus terpisah dengan sistem saluran lainnya yang terdapat pada
bangunan ini.

• Kabel
Kabel untuk main Power Supply dari setiap perlengkapan dalam sistem
menggunakan NYM dengan ukuran minimal 3 x 2,5 mm².
Kabel untuk instalasi circuit antar detector dan break glass digunakan kabel NYA
dengan diameter minimum 2 x 1,5 mm².
Kabel untuk instalasi telepon jack menggunakan kabel ITC 2 x 0,6 mm²
Kabel untuk instalasi Main Bell dan Red Lamp menggunakan kabel NYM 3 x
2,5 mm².

3.5. PERSYARATAN TEKNIS PEMASANGAN


a. Denah setiap lantai menunjukan lokasi perkiraan letak detector dan peralatan-
peralatan lain dari sistem ini, dimana letak yang pasti dijelaskan pada gambar.
b. Untuk manual push button, dipasang pada ketinggian 1,5 m dari lantai. Alarm Bell
dipasang kira-kira 0,5 m di bawah plafond.
c. Disekitar detector harus ada ruangan bebas sekurang kurangnya pada jarak 0,6 m
dari detector tanpa ada timbunan barang atau alat-alat lainnya.
d. Semua kabel harus dipasang didalam conduit, baik yang diatas plafond (horizontal)
maupun yang di dinding / tembok / beton (vertical). Ukuran conduit dan kabel
harus sesuai gambar rencana.

3.6. TESTING / COMMISSIONING


a. Setelah pekerjaan Fire Alarm ini diselesaikan, harus dilakukan testing /
pengetesan, yang disaksikan oleh Konsultan Pengawas.
b. Satu persatu detector ditest, dengan menggunakan alat pemanas dan untuk
smoke detector menggunakan asap.
c. Tiap-tiap zone, ditest satu persatu dan diberi nomor urutan zonenya.

3.7. LAIN-LAIN
Peralatan-peralatan tambahan yang diperlukan, walaupun tidak digambarkan atau
disebutkan dalam spesifikasi ini harus disediakan oleh Pelaksana Pekerjaan sehingga
instalasi dapat bekerja dengan baik dan dapat dipertanggung jawabkan. Ditempat
pekerjaan, pengawas menempatkan petugas pengawas yang bertugas setiap saat untuk
mengawasi pekerjaan Pelaksana Pekerjaan agar pekerjaan dapat dilaksanakan atau
dilakukan sesuai dengan isi Surat Perjanjian serta dengan cara-cara yang benar dan tepat
serta cermat.
Pembangunan Sarana Dan Prasaran Mesjid Al-jihad

PERSYARATAN TEKNIS
PEKERJAAN MEKANIKAL ELEKTRIKAL

PRODUKSI SISTEM FIRE ALARM


Peralatan, bahan dan material yang dipergunakan harus memenuhi spesifikasi teknis.
Pelaksana Pekerjaan dimungkinkan untuk mengajukan alternative lain yang setaraf dan
Pelaksana Pekerjaan baru dapat menggantinya bila sudah ada persetujuan resmi dan
tertulis dari Konsultan Pengawas.
Referensi produk yang dapat dipakai adalah sebagai berikut :

No Uraian Spesifikasi Teknis Produk

1 MCFA, Dilengkapi : Tipe : Konvensional Esser, Edward, Siemens


- Sealed Acid Battery Kap : 2 loops
- Power Supply
- Battery Charger
2 Alarm Bell Sound press level bell  90 dB Esser, Edward, Siemens
3 Manual Break Glass Standard model Esser, Edward, Siemens
4 Local lamp Rating AC/DC 2V, 21mA Esser, Edward, Siemens
Colour : Red
5 Detector Conventional Smoke, ROR, Fixed / Head Esser, Edward, Siemens
6 Jack Telephone Esser, Edward, Siemens
7 Kabel-Kabel NYA, NYM, ITC Supreme, Kabelindo,
STP AWG 18 Kabel metal, Voksel.
8 Conduit PVC High Impact Clipsal, Ega
Pembangunan Sarana Dan Prasaran Mesjid Al-jihad

PERSYARATAN TEKNIS
PEKERJAAN MEKANIKAL ELEKTRIKAL

4. SPESIFIKASI TEKNIS PEKERJAAN TATA SUARA (PUBLIC ADDRESS)

4.1. LINGKUP PEKERJAAN.


Pengadaan, pemasangan instalasi Sound System, sehingga berfungsi dengan baik dan
memuaskan. Pemasangan Sound System sesuai dengan gambar rencana antara lain
sebagai berikut ;
a. Untuk di dalam bangunan dipasang seperti gambar rencana.
b. Untuk di luar (parkir area), dipasang car calling ( pemanggil sopir / pengendara mobil).

4.2. PERSYARATAN TEKNIS.


Setiap Pelaksana Pekerjaan yang menangani pekerjaan ini, haruslah mempelajari seluruh
Dokumen Kontrak dengan teliti, untuk mengetahui kondisi yang berpengaruh pada
pekerjaan. Pengadaan dan pemasangan peralatan utama tata suara seperti yang tertuang
dalam sIstem perencanaan.

4.3. KETENTUAN BAHAN DAN PERALATAN


Power Amplifier.
Power Amplifier haruslah memiliki output total seperti ditunjuk dalam gambar
rencana dan tegangan output 70 V/100 V dan frekwensi response antara 20 Hz
sampai dengan 20 kHz. Distortion kurang dari 1% pada batas frekwensi.
Mixer Pre Amplifier.
Mixer Pre Amplifier harus memiliki 10 input channel dengan modul-modul yang
akan mempunyai input sensitive variable 1 mV - 87 mV.
Ceiling Loud Speaker.
Loud speaker harus mempunyai frekwensi antara 80 Hz sampai dengan 12
kHz. Mempunyai diameter 6 inchi, dengan sensitivitas tidak kurang dari 96 dB.
Loud speaker dilengkapi dengan matching trafo 70 V/ 100 V dan ditap pada 1 watt
dan 3 watt.
Horn Speaker
Horn speaker harus mempunyai frekuensi 350 Hz – 10 kHz, dengan sound
pressure level ± 114 dB. Power input = 15W. Impedance ± 4 ohm.
Microphone.
 Pagging Microphone type Dynamic Microphone dengan Patern Omini Directional.
 Frekwensi respone antara 50 Hz sampai dengan 15 kHz.
 Microphone harus dilengkapi dengan Heavy Duty Press to Talk Switch.

Volume Control/Attenuator.
 Volume Control/Attenuator mempunyai 5 step pembesaran volume.
 Input Range : 0,5 W ~ 60 W atau disesuaikan dengan kebutuhan.

Digital Announcer / Message Manager


Berbasis pada micro - processor yang mampu memprogram
sinyal informasi evakuasi dari perintah panel Fire Alarm serta mampu memutar
ulang pemberitahuan evakuasi dalam bahasa English dan bahasa Indonesia,
memenuhi standard EVAC.
Contact relay : Emergency active relay, call active relay, fault relay.
Power : DC 24 Volt, 220 Volt + 10% - 50/60
Hz
Cassette Player/CD Player.
Frequency Response : 30 –
10.000 Hz Distortion : 1%
S/N Ratio : 50 dB
Capacity player : CD, MP3/MP4, Cassete Recorder
Pembangunan Sarana Dan Prasaran Mesjid Al-jihad

PERSYARATAN TEKNIS
PEKERJAAN MEKANIKAL ELEKTRIKAL

Tuner.
Output level : - 20 dB
Output impedance : 10 K
Ohm Distortion : 1%
S/N Ratio : 65 dB
Receiver Frequency : AM, FM

4.4. GAMBAR KERJA.


Gambar kerja harus mendapat persetujuan Konsultan Pengawas sebelum dilaksanakan.

4.5. PEMASANGAN INSTALASI.


a. Instalasi ke Semua kabel yang terpasang dibawah plat beton adalah out bow
menggunakan pipa High Impact dia.20 mm ; dengan kabel NYMHY 2 x 1,5 mm 2.
Instalasi ini klem setiap jarak 60 cm. Klem yang dipakai ke plat beton, menggunakan
ramset, dynabolt. Jalur seluruh kabel diatur sejajar dan dekat jalur kabel listrik.
b. Semua kabel yang melalui shaft adalah outbow, menggunakan pipa High Impact dia.
20 mm dengan kabel NYMHY 2 x 1,5 mm 2. Instalasi ini diklem ke rak besi siku atau
tangga kabel, dan klem setiap 100 cm.
c. Penyambungan-penyambungan harus dilakukan dalam kotak penyambungan dengan
menggunakan Electrical Spring Connector, Durados atau Cable Connection.
d. Semua kabel yang terpasang dalam tembok adalah inbow, menggunakan pipa high
Impact dia. 20 mm dengan menggunakan kabel NYMHY 2 x 1,5 mm2.
e. Semua ceiling loud speaker di dalam bangunan dihindari dari cacat/ dalam box dan
dilindungi dari cacat dalam box dipasang sedemikian rupa dengan memperhatikan
estetika ruang. Begitu juga pemasangan column speaker harus disesuaikan dengan
sudut pancaran speakernya.
f. Rack Cabinet terpasang free standing diruang monitor, sesuai gambar rencana.
g. Semua equipment harus diketanahkan yang dihubungkan dengan kawat BCC dari
sistem pentanahan.

4.6. PENGUJIAN / TESTING COMISSIONING.


a. Semua instalasi sound system yang dipasang harus ditest secara sempurna sehingga
impedansinya sesuai dengan yang diinginkan.
b. Semua equipment yang dipasang harus ditest sehingga bekerja dengan sempurna.
c. Pengetesan dilakukan bersama-sama Konsultan Pengawas.
d. Semua perlengkapan untuk mengadakan pengetesan harus disediakan oleh Pelaksana
Pekerjaan yang bersangkutan.

4.7. LAIN-LAIN.
Peralatan-peralatan tambahan yang diperlukan, walaupun tidak digambarkan atau
disebutkan dalam spesifikasi ini harus disediakan oleh Pelaksana Pekerjaan sehingga
instalasi dapat bekerja dengan baik dan dapat dipertanggung jawabkan. Ditempat
pekerjaan, pengawas menempatkan petugas pengawas yang bertugas setiap saat untuk
mengawasi pekerjaan Pelaksana Pekerjaan agar pekerjaan dapat dilaksanakan atau
dilakukan sesuai dengan isi cermat.

PRODUK SISTEM TATA SUARA


Peralatan, bahan dan material yang dipergunakan harus memenuhi spesifikasi.
Pelaksana Pekerjaan dimungkinkan untuk mengajukan alternative lain yang setaraf dan
Pelaksana Pekerjaan baru dapat menggantinya bila sudah ada persetujuan resmi dan
tertulis dari Konsultan Pengawas.
Referensi produk yang dapat dipakai adalah sebagai berikut :
Pembangunan Sarana Dan Prasaran Mesjid Al-jihad

PERSYARATAN TEKNIS
PEKERJAAN MEKANIKAL ELEKTRIKAL

No Uraian Spesifikasi Teknis Produk

1 Cassette Tape Player Bosch, Panasonic, TOA


2 Radio Tuner AM/FM Reciever Bosch, Panasonic, TOA
3 Pre Amplifier Bosch, Panasonic, TOA
4 Graphic Equalizer Bosch, Panasonic, TOA
5 Power Amplifier Bosch, Panasonic, TOA
6 Microphone. Bosch, Panasonic, TOA
7 Ceiling Loud Speaker. Bosch, Panasonic, TOA
8 Column Speaker Bosch, Panasonic, TOA
9 Horn Speaker Bosch, Panasonic, TOA
10 Digital Announcer Bosch, Panasonic, TOA
11 Volume Control Bosch, Panasonic, TOA
Kabelindo, Supreme,
12 Kabel NYA, NYMHY,
Kabel Metal, Voksel
13 Conduit PVC High Impact dia 20 mm Ega, Double H, Clipsal
14 Kabel Rack Interack, Tri Abadi
Pembangunan Sarana Dan Prasaran Mesjid Al-jihad

PERSYARATAN TEKNIS
PEKERJAAN MEKANIKAL ELEKTRIKAL

4. SPESIFIKASI TEKNIS PEKERJAAN CCTV

4.1. PENJELASAN UMUM


Sistem Closed Circuit Television System dipergunakan untuk membantu pengawasan
dengan cara mengamati kegiatan operasi suatu gedung melalui video camera. Hasil
gambar dapat diamati melalui TV monitor.
Sistem CCTV ini terdiri dari Camera, Monitor. Sistem CCTV yang direncanakan adalah
berwarna (colour).

4.2. LINGKUP PEKERJAAN


Yang termasuk pekerjaan instalasi ini adalah Pengadaan, Pemasangan, Penyetelan dan
Pengujian serta menyerahkan dalam keadaan beroperasi dengan baik dan siap pakai,
tanpa ada gangguan atau cacat instalasi.
Termasuk didalam peralatan tersebut adalah sebagai berikut :
a. Colour Camera
b. Colour Monitor
c. Digital Video Recorder
Pelaksana Pekerjaan harus melengkapi dan merakit peralatan tersebut dan bila perlu harus
melengkapi dengan peralatan tambahan sesuai persyaratan pabrik pembuatnya.

4.3. KETENTUAN BAHAN DAN PERALATAN


Kamera
Adalah merupakan alat pengamat dari sistem CCTV yang sudah dilengkapi dengan
lensa. Ini hanya berfungsi untuk memberikan gambar dari lokasi yang diamati ke monitor
melalui kabel video. Kamera yang digunakan adalah type fixed colour camera.
Monitor
Adalah merupakan alat yang mentransfer isyarat elektronik yang dikirim oleh camera
menjadi gambar pada sebuah layar televisi.

Switcher
Alat yang dipakai untuk menghubungkan 2 (dua) atau lebih camera ke monitor
tunggal, sehingga pengamat dapat memilih hasil gambar mana yang akan ditampilkan
pada layar monitor.
Posisi camera yang tidak diamati dapat di bypass tanpa merubah urutan pengamatan
maupun waktu interval.

4.4. DATA TEKNIS PERALATAN UTAMA


SPESIFIKASI TEKNIS COLOUR CAMERA

Type Colour Camera : PAL – NTSC


Power Supply : To be Supplied from the specified Camera
Drive Unit
Horizontal Resolution : 470 TVL
Scene Ilumination : 22 lux
Pick-up Device : Interline Transfer CCD with – 512(H) x
582(V) pixels
Scanning System : 2 : 1 interlace
Frame Frequency : 25 Hz
Resolution (at centre) : Horizontal : More than 330 lines
Vertical : More than 400 lines
Recommended Illumination : 150 lux at F 1.4
Minimum Illumination : 10 lux at F 1.4
AGC On
Signal to Noise Ratio : 44 dB, AGC On (Luminance)
Gain Control : AGC On/Off
Switchable ALC Lens Select Switch : DC/Video
Switchable Lens Mount : CS – Mount
Ambient Operating : -10 Derajat Celcius Temperature +50
Derajat
Pembangunan Sarana Dan Prasaran Mesjid Al-jihad

PERSYARATAN TEKNIS
PEKERJAAN MEKANIKAL ELEKTRIKAL Celcius

COLOUR MONITOR ( TV MODULATOR )


Function : Accept baseband video and audio signals and
converts than to any cannel.
Transmission standard : PAL and or
NTSC Spurious standar : Less than - 60 dB.
Output frequency : 47 - 230 MHz.
Output level : + 95 dBuV.
Video input level : 1 Vp-p (3 dB).
Video frequency response : 25 Hz to 5.0 MHz (1 dB).
Audio input level : 300 mV RMS.
Power requirement : + 12 Vdc - 150 mA.

DIGITAL VIDEO RECORDER ( DVR)


Digital Recording.
Built-in 160 GB HDD.
4 way JPEG compression recording modes.
Built-in 16 ch multiplex recording system.
Video Input : 16 terminal, 1V (p-p)/75 ohm, PAL
composite video signal with looping
trough (BNC).
Video Output : 16 terminal, 1V (p-p)/75 ohm, PAL
composite video signal with looping
trough (BNC).
Spot Output : 1 terminal , 1V (p-p) / 75 ohm.
(BNC) Multi screen output : 1 terminal , 1V (p-p) / 75 ohm.
(BNC) Synch Output : 1 VBS, 1 V (p-p) / 75 ohm.
Audio Input/Output : - 10 dB, unbalanced.
External Storage : SCSI Interface.
Copy : SCSI Interface.
4.5. PEMASANGAN
Pemasangan colour camera dipasang sesuai petunjuk gambar, Pelaksana Pekerjaan dapat
mengajukan usulan lain untuk penempatan colour camera ini.
Cara pemasangan colour camera tersebut digantung pada ceiling atau plafond dengan
rangka penguat/ hanger yang diperkuat pada dak beton.
Peralatan utama seperti ; camera drive unit, Sequential switcher, Colour monitor dan Time
lapse VTR, diletakan pada ruang kontrol (ruang administrasi) lantai satu, seperti ditunjuk
dalam gambar rencana.
Kabel instalasi yang digunakan untuk isyarat video dan untuk keperluan control
menggunakan coaxial cable RG 59/U, kabel power menggunakan NYMHY 2 x 1,5 mm²
yang semuanya dalam pelaksanaan harus dimasukkan dalam pipa PVC high impact dia. 20
mm

4.6. TESTING / COMMISSIONING


Setelah pekerjaan CCTV ini diselesaikan, harus dilakukan Testing dan Comissioning yang
disaksikan oleh Konsultan Pengawas.
Biaya Testing menjadi beban Pelaksana Pekerjaan.

PRODUK SISTEM CCTV


Peralatan, bahan dan material yang dipergunakan harus memenuhi spesifikasi. Pelaksana
Pekerjaan dimungkinkan untuk mengajukan alternative lain yang setaraf dan Pelaksana
Pekerjaan baru dapat menggantinya bila sudah ada persetujuan resmi dan tertulis dari
Konsultan Pengawas.
Referensi produk yang dapat dipakai adalah sebagai berikut :
Pembangunan Sarana Dan Prasaran Mesjid Al-jihad

PERSYARATAN TEKNIS
PEKERJAAN MEKANIKAL ELEKTRIKAL

No Uraian Spesifikasi Teknis Produk

1 Peralatan Utama Digital Video Recorder 16 Ch 160 GB Bosch, Sanyo, Honeywell


Monitor LCD 21”

2 Kabel-kabel Coaxial RG59U Belden,Juri


Kabelindo, Supreme, Kabel
NYMHY - multi core untuk motorized
Metal, Tranka

3 Conduit PVC high impact dia. 20 mm Ega, Double H, Clipsal

4 Kabel Rack Three stars, ONI


Metosu
Pembangunan Sarana Dan Prasaran Mesjid Al-jihad

PERSYARATAN TEKNIS
PEKERJAAN MEKANIKAL ELEKTRIKAL

PEKERJAAN TRANSPORTASI VERTIKAL

1. PERATURAN UMUM

1.1. PERATURAN PEMASANGAN


Pemasangan instalasi ini pada dasarnya harus memenuhi peraturan-peraturan sebagai berikut:
1. BRITISH STANDARD
2. ANSI Code A.17.1
3. Pedoman Pengawasan Instalasi Lift No. th. 1978
4. Keputusan Gubernur Kepala Daerah DKI Jakarta No.1173 th. 1978.
5. Peraturan Daerah DKI No.3 th. 1975.
6. Keputusan Menteri Pekerjaan Umum No.378/KPTS/1978 sebagai SKBI – 3.4.53
th 1987.
7. Petunjuk dari Pabrik Pembuat Peralatan
Pekerjaan instalasi ini harus dilaksanakan oleh perusahaan yang
memiliki Surat Ijin Pemasangan Instalasi Elevator dan Escalator dari
Instalasi yang berwenang dan telah biasa mengerjakannya. Suatu daftar
referensi pemasangan harus dilampirkan dalam Surat Penawaran.

1.2. GAMBAR – GAMBAR


1. Gambar-gambar rencana dan persyaratan ini merupakan suatu kesatuan
yang saling melengkapi dan sama mengikatnya.
2. Gambar-gambar sistem ini menunjukkan secara umum tata letak dari
peralatan, sedangkan pemasangan harus dikerjakan dengan
memperhatikan kondisi dari bangunan yang ada.
3. Gambar-gambar Arsitek, Struktur/Sipil maupun Interior harus dipakai
sebagai referensi untuk pelaksanaan.

1.3. KOORDINASI
1. Pemborong instalasi ini hendaknya bekerja sama dengan pemborong instalasi
lainnya, agar seluruh pekerjaan dapat berjalan dengan lancar sesuai dengan
waktu yang telah ditetapkan.
2. Koordinasi yang baik perlu ada, agar instalasi yang satu tidak menghalangi
kemajukan instalasi yang lain.
3. Apabila dalam pelaksanaan instalasi ini menghalangi instalasi yang lain, maka
semua akibatnya menjadi tanggung jawab pemborong.

1.4. PELAKSANAAN PEMASANGAN


1. Sebelum pelaksanaan pemasangan instalasi ini dimulai, Pemborong harus
menyerahkan gambar kerja dan detailnya kepada pemilik dalam rangkap 3 (tiga)
untuk disetujui. Yang dimaksud gambar kerja adalah gambar yang menjadi
pedoman dalam pelaksanaan, lengkap dengan dimensi peralatan, jarak peralatan
satu dengan lainnyya, jarak terhadap dinding dan dimensi accessories yang
dipakai. MK/Direksi Pengawas berhak menolak gambar kerja yang tidak mengikuti
ketentuan tersebut diatas.
2. Pemborong wajib mengadakan pemeriksaan ulang atas segala ukuran dan
kapasitas peralatan yang akan dipasang. Apabila ada sesuatu yang diragukan,
pemborong harus segera menghubungi MK/Direksi Pengawas.

1.5. PERSETUJUAN MATERIAL, PERALATAN DAN DOKUMEN YANG DISERAHKAN


1. Umum
Dalam jangka waktu 90 hari setelah menerima SPK, dan sebelum memulai
pekerjaan instalasi peralatan ataupun material, Pemborong harus menyerahkan
shop drawing, daftar peralatan dan bahan yang akan digunakan pada proyek ini
untuk disetujui oleh MK/Direksi Pengawas.
Pembangunan Sarana Dan Prasaran Mesjid Al-jihad

PERSYARATAN TEKNIS
PEKERJAAN MEKANIKAL ELEKTRIKAL

Pemilik tidak bertanggung jawab atas contoh bahan yang akan dipakai dan semua
biaya yang berkenaan dengan penyerahan dan pengambilan contoh/dokumen ini.

2. Shop Drawings
Pemborong harus mengajukan gambar kerja berikut detail dan potongan yang
diperlukan untuk diperiksa dan disetujui. Dengan mengajukan gambar-gambar
kerja ini berarti pemborong sudah mempelajari dengan seksama gambar-gambar
Struktur, Arsitek maupun gambar-gambar instalasi lainnya serta sudah
menghasilkan kondisi yang sebenarnya di proyek.

3. Daftar Peralatan dan Bahan


Suatu daftar yang lengkap untuk peralatan dan bahan yang akan digunakan pada
proyek ini harus diserahkan untuk mendapat persetujuan MK/Direksi Pengawas
dengan dilampiri brosur-brosur yang lengkap dengan data-data teknis,
performance dari peralatan.
Daftar peralatan dan bahan yang diajukan harus memenuhi spesifikasi.

4. Seleksi Data
Untuk persetujuan bahan dan peralatan, Pemborong harus melengkapi dengan
seleksi data dan menyerahkan dalam rangkap 3 (tiga).
Pemborong harus menunjukkan dalam brosur unit yang dipilih dengan
memberikan tanda.

Data-data pemilihan meliputi :


 Manufacturer Data
Berupa brosur-brosur, spesifikasi dan informasi yang tercetak jelas dan cukup
detail sehubungan dengan persyaratan/ketentuan spesifikasi.
 Performance Data
Data-data kemapuan dari unit yang terbaca dari suatu tabel atau curva yang
meliputi informasi yang diperlukan dalam menseleksi peralatan-peralatan lain
yang ada kaitannya dengan unit tersebut.
 Quality Asurance
Suatu pembuktian dari pabrik atau Supplier setempat terhadap kualitas
produk. Yang menyatakan bahwa produk ini sudah diproduksi beberapa tahun,
telah terpasang di beberapa lokasi, dan telah beroperasi dalam jangka waktu
tertentu dengan baik.

1.6. PERALATAN DAN BAHAN


1. Umum
Semua peralatan dari bahan maupun komponennya harus baru dan sesuai dengan
brosur yang dipublikasikan dan sesuai dengan spesifikasi sebagai yang diuraikan
maupun pada gambar-gambar rencana dan merupakan produk yang masih
beredar dan diproduksi secara teratur.

2. Peralatan dan Bahan Sejenis


Untuk peralatan dan bahan sejenis yang fungsi penggunaannya sama, harus
diproduksi oleh pabrik (merk) yang sama, sehingga memberikan kemungkinan
dapat dipertukarkan.

3. Penggantian Peralatan dan Bahan


Semua peralatan dan bahan yang diajukan dalam tender pada dasarnya harus
sudah memenuhi spesifikasi walaupun dalam pengajuan saat tender kemungkikan
ada peralatan dan bahan yang belum memenuhi spesifikasi, tetapi tetap harus
dipenuhi sesuai spesifikasi bila sudah ditunjuk sebagai Pemborong.
Untuk peralatan dan bahan yang sudah memenuhi spesifikasi, karena sesuatu hal
yang tidak bisa dihindari terpaksa harus diganti, maka sebagai penggantinya harus
dari jenis setaraf atau lebih baik yang disetujui. Bila pihak MK/Direksi Pengawas,
membuktikan bahwa penggantinya itu betul setaraf atau lebih baik, maka biaya
yang menyangkut pembuktian tersebut harus ditanggung oleh Pemborong.
Pembangunan Sarana Dan Prasaran Mesjid Al-jihad

PERSYARATAN TEKNIS
PEKERJAAN MEKANIKAL ELEKTRIKAL
4. As Build Drawing ( Gambar instalasi terpasang )
Pemborong haru menyerahkan 1 (satu) set as built drawings berupa gambar
transparant daln 3 (tiga) set gambar cetak birunya. Gambar as built drawing ini
lengkap untuk seluruh instalasi terpasang pada proyek ini, berikut gambar-gambar
detail dan gambar potongan. As built ini harus menunjukkan lokasi dan posisi yang
tepat dari seluruh bagian-bagian instalasi referensi yang digunakan seperti kolom,
dinding dan lain sebagainya. Pemborong harus menunjukkan pada satu set
gambar cetak biru dari Gambar Kontrak terhadap deviasi-deviasi, pengembangan
dan revisi- revisi yang terjadi semasa pelaksanaan.

Pada setiap gambar “as built”, harus tercantum :


 Nama Pemilik
 Judul gambar/dan bagian dari bangunan
 Nomor gambar
 Nomor lembar gambar dan jumlah lembar gambar
 Tanggal

1.7. PENANGGUNG JAWAB PELAKSANAAN


Penanggung jawab instalasi ini harus menempatkan seorang penanggung jawab
pelaksanaan yang ahli dan berpengalaman yang harus selalu berada di lapangan, yang
bertindak sebagai wakil dari pemborong dan mempunyai kemampuan untuk
memberikan keputusan teknis dan bertanggung jawab penuh dalam menerima segala
instruksi yang akan diberikan oleh pihak MK/Direksi Pengawas. Penanggung jawab
tersebut diatas juga harus berada di tempat pekerjaan pada saat
diperlukan/dikehendaki.

1.8. LAPORAN-LAPORAN
1. Laporan Harian dan Mingguan
Pemborong wajib membuat laporan harian dan laporan mingguan yang memberikan
gambaran mengenai :
 Kegiatan fisik
 Catatan dan perintah MK/Direksi Pengawas yang disampaikan secara lisan
maupun secara tertulis.
 Jumlah material masuk/ditolak
 Keadaan cuaca
 Pekerjaan tambah/kurang

Laporan mingguan merupakan ringkasan dari laporan harian dan setelah ditanda
tangani oleh Project Manager harus diserahkan kepada MK/Direksi Pengawas
untuk diketahui/disetujui.

2. Laporan Pengetesan
Pemborong instalasi ini harus menyerahkan kepada MK/Direksi Pengawas
dalam rangkap 3 (tiga) mengenai hal-hal sebagai berikut :
 Hasil pengetesan semua persyaratan operasi instalasi
 Hasil pengetesan peralatan
 Hasil pengetesan kabel, dan lain sebagainya.
Semua pengetesan dan pengukuran yang akan dilaksanakan harus disaksikan oleh
pihak MK/Direksi Pengawas.

1.9. GARANSI
Semua peralatan, bahan dan mutu hasil pekerjaan harus digaransi selama minimum 1
(satu) tahun terhitung sejak tanggal penyerahan pertama.
Sejak penyerahan pertama tersebut sampai masa garansi berakahir, bila terjadi
kerusakan atau kegagalan pekerjaan instalasi, Pemborong wajib mengganti atau
memperbaiki kerusakan atas biaya sendiri.
Bila terdapat kerusakan pada peralatan sehingga perlu diperbaiki atau diganti maka
garansi tetap berlaku semenjak penggantian atau perbaikan tersebut. Bila terjadi
kerusakan pada peralatan utama (mis : motor terbakar ), maka motor tersebut harus
diganti dengan yang baru dan tidak boleh wiringnya digulung baru.
Pembangunan Sarana Dan Prasaran Mesjid Al-jihad

PERSYARATAN TEKNIS
PEKERJAAN MEKANIKAL ELEKTRIKAL
1.10. MASA PEMELIHARAAN DAN SERAH TERIMA PEKERJAAN
1. Masa pemeliharaan untuk instalasi ini adalah selama enam bulan terhitung sejak
saat penyerahan pertama.
2. Selama masa pemeliharaan ini, Pemborong instalasi ini diwajibkan memperbaiki
dan melaksanakan bagian-bagian pekerjaan yang tidak sempurna, baik yang
belum atau yang sudah diperingatkan sebelumnya tanpa adanya tambahan biaya.
3. Selama masa pemeliharaan ini, seluruh instalasi yang telah selesai dilaksanakan
masih merupakan tanggung jawab pemborong sepenuhnya.
4. Pemborong harus menyerahkan dokumen lengkap pada saat serah terima
pekerjaan pertama berupa :
a. As built drawing
b. Brosur-brosur peralatan dan kontrol yang berisi antara lain :
 Brosur Teknis
 Maintenance Manual
 Operator Manual
 Elektrikal wiring/kontrol
c. Nama-nama supplier peralatan dan kontrol yang terlibat dalam proyek ini
lengkap dengan alamat dan nomor telepon.
d. Data test report
e. Sertifikat jaminan peralatan dan instalasi
f. Spare part dan tools.
Semua point a s/d f harus dibundel dalam satu bundel dan diserahkan sebanyak 3 (tiga) sets.

1.11. PENAMBAHAN/PENGURANGAN/PERUBAHAN INSTALASI


1. Pelaksanaan Instalasi yang menyimpang dari rencana yang disesuaikan dengan
kondisi lapangan, harus dikonsultasikan dengan MK/Direksi Pengawas.
2. Pemborong instalasi ini harus menyerahakan setiap gambar perubahan yang ada
kepada pihak MK/Direksi Pengawas dalam rangkap 3 (tiga).
3. Perubahan material, dan lain-lainnya harus mendapat instruksi dari pemilik secara
tertulis sebelum dilaksanakan. Dan pekerjaan tambah/kurang/perubahan yang ada
harus disetujui oleh MK/Direksi Pengawas secara tertulis.

1.12. IJIN – IJIN


Pengurusan ijin-ijin yang diperlukan untuk pelaksanaan instalasi ini serta seluruh biaya
yang diperlukannya menjadi tanggung jawab pemborong.

1.13. PEMBOBOKAN, PENGELASAN DAN PENGEBORAN


1. Pembobokan tembok, lantai dinding dan sebagainya yang diperlukan dalam
pelaksanaan instalasi ini, harus dikembalikan ke kondisi semula dan menjadi
lingkup pekerjaan instalasi ini.
2. Pembobokan/pengelasan/pengeboran tersebut diatas baru dapat dilaksanakan
apabila sudah ada persetujuan dari pihak pemilik secara tertulis.

1.14. PEMERIKSAAN RUTIN DAN KHUSUS


1. Pemeriksaan rutin dalam masa pemeliharaan harus dilaksanakan oleh Pemborong
instalasi secara periodik dan minimum 1 kali tiap minggu.
2. Pemeriksaan khusus dalam waktu pemeliharaan harus dilaksanakan oleh
pemborong instalasi ini, apabila ada permintaan dari pihak MK/Direksi
Pengawas/Pemberi Tugas dan atau bila ada gangguan dalam instalasi ini.
3. Teknisi pelaksanaan pekerjaan ini harus sudah tiba di lapangan dalam waktu 1x24
jam sejak waktu dipanggil. Bila tidak, maka perbaikan dapat diberikan kepada
orang lain dengan beban biaya ditanggung oleh Pemborong.

1.15. PEKERJAAN INSTALASI LISTRIK


1. Pekerjaan Instalasi Listrik yang termasuk pekerjaan ini adalah sistem instalasi
listrik secara lengkap sehingga instalasi ini dapat berjalan dengan baik dan aman,
sehingga pada waktu serah terima pertama instalasi tersebut harus sudah dapat
dipergunakan oleh pemilik.
2. Seluruh peralatan yang direncanakan dalam instalasi ini adalah untuk bekerja
pada frekwensi 50 Hz ± 2 Hz dan tegangan 220/380 Volt ± 10 %.
Pembangunan Sarana Dan Prasaran Mesjid Al-jihad

PERSYARATAN TEKNIS
2. LINGKUP
PEKERJAAN PEKERJAAN
MEKANIKAL ELEKTRIKAL ELEVATOR/LIFT

2.1. UMUM
Pemborong harus menawarkan seluruh lingkup pekerjaan yang dijelaskan baik dalam
spesifikasi ini ataupun yang tertera dalam gambar terlampir.
Pemborong agar menawarkan peralatan yang sesuai untuk digunakan dengan
ketentuan- ketentuan pada spesifikasi ini. Bila ternyata terdapat perbedaan antara
spesifikasi bahan dan atau peralatan yang ditawarkan/dipasang dengan spesifikasi yang
dipersyaratkan maka pemborong wajib memberitahukan hal tersebut merupakan
kewajiban pemborong untuk melengkapi peralatan tersebut sehingga sempurna.

2.2. URAIAN LINGKUP PEKERJAAN


Lingkup pekerjaan Elevator sebagai tertera dalam gambar-gambar rencana dan
spesifikasi, Pemborong pekerjaan instalasi Lift/Elevator harus melakukan pengadaan,
pemasangan, pengaturan dan pengujian serta menyerahkan dalam keadaan baik dan
siap untuk dipergunakan.
Garis besar lingkup pekerjaan instalasi Lift/Elevator yang dimaksud adalah sebgai berikut :
1. Pengadaan, pemasangan, pengaturan dan pengujian Lift/Elevator, lengkap dengan
kontrol dan accessoriesnya.
2. Pengadaan, pemasangan, pengaturan dan pengujian sumber daya listrik, panel-
panel, peralatan control dan lain-lain bagi instalasi ini.
3. Pengadaan, pemasangan semua pekerjaan sipil yang diperlukan dari instalasi
Lift/Elevator ini.
4. Menyerahkan gambar-gambar, buku petunjuk cara menjalankan dan memelihara
serta data teknis lengkap peralatan instalasi yang terpasang.
5. Mengadakan pemeliharaan instalasi ini secara berkala selama masa pemeliharaan.
6. Memberikan garansi terhadap mesin/peralatan, dan instalasinya yang terpasang
selama 1 (satu) tahun sejak serah terima pertama.

3. LINGKUP PEKERJAAN PEMBORONG

Yang menjadi lingkup pekerjaan dari Pemborong Instalasi


Lift/Elevator adalah sebagai berikut:
1. Pengadaaan dan pemasangan semua material, peralatan utama serta
perlengkapan bantu yang diperlukan dalam pemasangan instalasi ini sesuai
dengan jumlah Lift/Elevator yang tergambar ataupun terurai dalam spesifikasi
teknis sehingga didapatkan suatu instalasi yang baik dan sempurna dalam
pemasangannya.
2. Penyediaan dan pemasangan serta penambahan semua profil baja untuk
tumpuan/pengikat guide rail pada sisi kereta, dan profil baja yang diperlukan
untuk dudukan traction machine ( semua profil baja harus dicat anti karat ).
3. Mengadakan testing dan commissioning lengkap dengan pengadaan peralatan
serta perlengkapan lainnya yang diperlukan untuk kebutuhan tersebut.
4. Training meliputi operation, maintenance sampai dengan trouble shooting untuk
tenaga-tenaga yang ditunjuk oleh pemilik.
5. Pengadaan dokumen yang diperlukan sebanyak 3 (tiga) set yang terdiri dari antara
lain :
 Operation manual
 Maintenance manual
 Daftar suku cadang yang perlu disediakan
 Gambar as built drawing
 Semua electronic dan electric wiring dll.
6. Semua pengurusan izin-izin dari pihak yang berwenang sehubungan dengan
pemasangan instalasi ini dan yang menyangkut biaya pengurusannya sudah harus
termasuk dalam penawaran pekerjaan ini .

3.1. DATA KERETA LIFT/ELEVATOR


1. Rangka kereta Elevator
 Terbuat atas profil baja yang dicat anti karat.
Pembangunan Sarana Dan Prasaran Mesjid Al-jihad

PERSYARATAN TEKNIS
 ELEKTRIKAL
PEKERJAAN MEKANIKAL Pada rangka ini terdapat paling sedikit empat buah sliding type guide shoes,
dimana dua buah terletak pada bagian atas kereta dan yang lain pada bagian
bawah kereta tepat di Guide Rail.
 Gide Shoes yang dipakai adalah tipe Roller
 Setiap guide shoes harus dilengkapi dengan sistem pelumas sendiri ( self
lubrication ) untuk mencegah cepatnya ke-ausan.
 Pada rangka bagian bawah yang merupakan tempat tumpuan lantai kereta,
harus terdapat bantalan karet.
2. Lantai Kereta
 Terbuat dari plat baja yang dicat anti karat dan dilapisi dengan heavy duty tile,
warna ditentukan kemudian.
 Bagian bawahnya dilapisi dengan suatu bahan peredam suara.
 Ukuran dan kekuatan dari lantai ini harus sesuai dengan kapasitas angkut
elevator
3. Dinding Kereta Elevator
 Dinding dalam konstruksinya harus sedemikan rupa sehingga mudah dipasang
atau dilepas, sehingga memudahkan dalam perakitan di lapangan.
 Pada bagian luarnya harus dilapisi dengan suatu bahan peredam suara.
4. Langit-langit Kereta Lift/Elevator
 Ketinggian langit-langit kereta ini tidak berkurang dari 2300 mm dimana
terdapat pintu darurat yang hanya bisa dibuka dari atas kereta dan dilengkapi
safety switch sehingga lift tidak beroperasi selama pintu tersebut terbuka.
 Terdapat lampu untuk penerangan normal dan untuk penerangan darurat
dengan sumber daya dari batere tipe NI-CAD dry cell lengkap dengan
automatic chargernya.
 Jenis lampu disesuaikan dengan interior yang dipilih oleh Architect, kecuali
belum ditentukan, maka dapat digunakan sebagai acuan adalah type
Flourescent ligthting circular milky white acrylic cover ( khusus untuk lift
penumpang ), atau 2 buah flourescent (TL) 2x20 watt dengan milky white
acrylic cover.
 Terdapat exhaust Grille dengan Exhaust Fan yang diletakkan diatas kereta.
 Pada bagian atas harus dilapisi dengan suatu bahan peredam suara.
5. Pintu Kereta Lift/Elevator
 Terdiri atas dua panel automatic center opening dengan dimensi seperti
tergambar untuk lift dengan type Single Door.
 Terdiri atas masing-masing dua panel automatic center opening dengan
dimensi seperti pada gambar untuk lift dengan type Through Door.
 Penggerak pintu kereta adalah motor listrik yang dilengkapi alat pengukur
kecepatan.
 Pada bagian dalamnya harus dilapisi dengan suatu bahan peredam suara

6. Indikator Kereta Lift/Elevator


 Terletak diatas pintu kereta yang dilengkapi dengan penunjuk arah perjalanan
kereta, indicator posisi sangkar elevator dengan tipe digital disertai bunyi bel.

7. Car Operating Panel


 Terbuat dari stainless steel plate finish
 Push button yang dipakai merupakan soft touch button yang menyala bila
tersentuh.
 Untuk Lift dengan type Trough Door setiap bagian dari pintu lift dilengkapi
dengan Car Operating Panel.
 Terdiri atas peralatan sebagai berikut :
 Push button untuk setiap lantai
 Push button untuk membuka pintu kereta
 Push button untuk menutup pintu kerete
 Push button untuk emergency stop
 On-Off switch untuk independent operation
 Key switch untuk independet operation
 Lampu tanda kelebihan penumpang yang dilengkapi dengan buzzer
Pembangunan Sarana Dan Prasaran Mesjid Al-jihad

PERSYARATAN TEKNIS
PEKERJAAN MEKANIKAL ELEKTRIKAL
 Plat nama dari pabrik pembuat lift
 Tulisan kapasitas lift penumpang

8. Pintu Lift dan Pintu Shaft


 Lift harus dilengkapi dengan sistem pintu yang bekerja secara otomatis.
 Pintu harus mempunyai mekanisme kerja membuka dan menutup secara
serempak, sesaat setelah kereta lift datang di suatu lantai dan sesaat sebelum
kereta lift bergerak meninggalkan lantai.
 Pintu kereta dan pintu shaft harus membuka dan menutup secara serempak,
sesaat setelah kereta lift datang di suatu lantai dan sesaat sebelum kereta lift
bergerak meninggalkan lantai.
 Pada saat lift bergerak, pintu kereta tidak bolah dapat dibuka dari dalam
kabin, meskipun tombol pembuka pintu ditekan.
 Pada saat lift bergerak, motor listrik penggerak pintu harus memberikan torsi
yang cukup kuat pada daun pintu, untuk mencegah pintu dibuka secara paksa
dari dalam kabin.
 Pada saat tidak ada sumber daya listrik, pintu-pintu harus dapat dibuka secara
paksa dengan tangan dari dalam kabin dan dari luar shaft.
 Setiap pintu shaft harus dilengkapi dengan suatu sistem interlock jenis electro
mechanical, yang mencegah pintu dibuka secara paksa, kecuali dengan kunci
khusus yang disediakan untuk melepas sistem interlock tersebut.
 Sistem interlock electro mechanical pada pintu shaft tersebut harus dapat
dibuka dari kabin, pada saat lift berhenti pada suatu lantai.
 Sistem interlock harus dibuat sedemikian sehinggaa dapat dilepas dari dalam
kabin, pada saat tidak ada sumber daya listrik.
 Semua peralatan interlock dan kunci dari pintu kereta dan pintu shaft harus
dapat diperiksa, ditest dan diganti bagian-bagiannya, apabila rusak.
 Semua pintu lift harus dilengkapi dengan kontak-kontak listrik yang mencegah
lift bergerak kecuali apabila pintu-pintu telah tertutup rapat. Kontak-kontak
ini harus diletakkan sedemikian rupa sehingga tidak dapat dicapai oleh orang-
orang yang tidak berkepentingan.
 Untuk lift tertentu pintu lift dilengkapi dengan kaca.
 Pintu lift harus dilengkapi dengan “safety edge” yang terpasang dari ujung
atas sampai ujung bawah panel pintu.
 Apabila peralatan ini menyentuh orang atau benda pada saat pintu sedang
menutup, maka pintu kereta dan pintu shaft secara otomatis harus kembali
pada posisi membuka penuh.
 Pintu baru akan menutup kembali secara otomatis, setelah melampaui waktu
yang ditentukan.

3.2. DATA PERALATAN DI SHAFT


1. Magnetitic Landing Device
Untuk memberhentikan kereta elevator pada setiap lantai yang dituju dengan
toleransi maksimum sebesar 5 mm dari level lantai yang bersangkutan.
2. Landing Door
 Mempunyai type dan dimensi yang sama dengan pintu keretanya
 Dilengkapi dengan narrow jamb
 Terbuat dari stainless steel
 Harus dilengkapi dengan kunci pembuka secara manual dan interlock secara
electric dan mekanis serta dilengkapi dengan alat penutup otomatis dengan
weight closer.
3. Door Sills dan Toe Guards
Terletak dibawah pintu, terbuat dari Extruded aluminium natural control, yang
didudukkan pada beton yang telah disediakan.
4. Hall Button
 Hanya ada satu buah disetiap lantai
 Untuk lantai yang paling bawah hanya terdapat satu push button untuk
operasi ke arah atas.
Pembangunan Sarana Dan Prasaran Mesjid Al-jihad

PERSYARATAN TEKNIS
PEKERJAAN MEKANIKAL ELEKTRIKAL
 Untuk lantai yang paling atas hanya terdapat satu push button untuk
operasi ke arah bawah.
 Untuk lantai yang lainnya terdapat dua buah push button untuk operasi ke
arah atas bawah.
 Push button merupakan soft touch button yang menyala bila ditekan.

5. Car Position Indicator


 Terdapat diatas pintu setiap lantai dengan tipe Digital.
 Harus dilengkapi dengan Hall Lantern dan gong yang hanya menyala dan
berbunyi pada saat kedatangan kereta.

6. Buffer
 Buffer yang dipakai harus dari jenis oil buffer dimana pada bagian atasnya
diberikan karet setebal 5 mm.
 Untuk setiap elevator minimum dipergunakan empat buah buffer dimana dua
buah untuk car buffer dan yang lain untuk counter weight buffer.
 Buffer ini ditempatkan di atas suatu dudukan beton yang disediakan sendiri
oleh pemborong pekerjaan lift (tidak boleh di angkur langsung ke lantai beton
struktur yang ada).

7. Guide Rail
Pemborong pekerjaan Lift agar memberikan data-data untuk Rail, bracket dan
peralatannya sebagai contohnya adalah sebagai berikut :
 Untuk Kereta Lift/Elevator.
 Rail yang dipakai harus terbuat dari profil baja T dengan lebar flange,
ketinggian dan berat nominal, sesuai standart kapasitas.
 Rail harus dipasang pada bracket pada setiap jarak 2 meter maksimum
dengan memakai besi siku ukuran 80x80x8 mm.
 Rail harus diklem pada bracket dengan memakai sliding slip dan mur baut
¾”.
 Sambungan rail terbuat dari plat baja setebal 1” dan panjangnya 14,5”
yang dipasang dengan mur baut 5/8” sebanyak empat buah di setiap
sisinya.

 Untuk Counter Weight


 Rail yang dipakai harus terbuat dari profil baja T dengan lebar flange,
ketinggian dan berat nominal sesuai standart kapasitas.
 Rail harus dipasang pada bracket pada setiap jarak 2 meter maksimum
dengan memakai besi siku ukuran 80x80x8 mm.
 Rail harus diklem pada bracket dengan memakai sliding slip dan mur baut
5/8”.
 Sambungan rail terbuat dari plat baja setebal ½” dan panjangnya 12”
yang dipasang dengan mur baut 5/8” sebanyak empat buah di setiap
sisinya.

 Rail harus dilapis dengan suatu bahan anti karat dan pemegang rail harus
dicat anti karat.
 Selain ketentuan tersebut diatas, konstruksi dari rail harus memenuhi
persyaratan yang telah ditentukan dari pabrik.

8. Counter Weight
 Rangka counter weight terbuat dari profil baja.
 Isi counter weight adalah sebesar Kereta Elevator ditambah dengan 50 % dari
kapasitas beban (balancing 50%), yang terbuat dari besi cor.
 Rangka counter weight harus dicat anti karat dan isinya dilapis dengan suatu.

9. Campensating
 Terdiri dari rope yang terbuat dari kawat baja dengan inti kawat baja yang
dilengkapi dengan rope tensioning.
 Rope tensioning berupa pulley yang diberikan beban, diletakkan di pit dan
dilengkapi dengan safety switch.
Pembangunan Sarana Dan Prasaran Mesjid Al-jihad

PERSYARATAN TEKNIS
PEKERJAAN MEKANIKAL ELEKTRIKAL
10. Rem
 Rem harus menggunakan sistem arus listrik.
 Semua rem harus dirancangkan untuk dapat bekerja pada kapasitas normal
dan sanggup memegang dan memberhentikan lift pada kondisi yang paling
berat/sukar.
 Sirkuit sistem kontrol rem harus saling mengunci (interlock) secara elektris
dengan sirkuit kontrol motor traksi dan harus direncanakan dan diatur
sehingga rem hanya bekerja untuk memegang kabin lift pada saat lift telah
berhenti di suatu lantai dan rem tidak digunakan untuk memberhentikan lift.
 Sepatu rem harus bekerja tanpa menimbulkan suara keras.
 Kontraktor Lift harus menyediakan satu alat yang gunanya khusus untuk
melepas rem secara manual setelah kereta lift berhenti secara darurat.

11. Sepatu Penuntun ( Guide Shoes )


 Sepatu penuntun harus berbentuk roda atau bentuk lain yang sesuai dengan
standart pabrik dan terikat secara kuat pada bagian atas dan bawah dari
kereta lift dan counter weigth.
 Setiap sepatu penuntun harus bergerak pada permukaan rel penuntun dengan
halus.

3.3. DATA MESIN PENGGERAK


1. Mesin penggerak kereta elevator terdiri dari motor arus bolak balik 3 phase 380 V
dengan toleransi 10 % Volt 50 Hz.
2. Mesin penggerak ini dilengkapi dengan suatu base frame yang duduk diatas
penyangga beton dan ditempatkan di ruang mesin elevator diatas shaft.
3. Antara base frame dan penyangga, harus ditempatkan bantalan karet sebagai
peredam getaran, dimana pada waktu mesin bekerja defleksi dari karet tersebut
tidak boleh lebih besar dari 3 mm.

3.4. KONTROL SISTEM


Setiap elevator harus mempunyai sebuah panel kontrol untuk mengoperasikan kereta
Elevator, yang sekaligus sebagai kontrol induk yang akan mengendalikan elevator di
dalam sistem kontrolnya. Jenis alat kontrol yang harus dipakai adalah CV – GEAR LESS.
Panel kontrol lift ini harus bisa dihubungkan dengan card reader dari system Access
Control.

3.5. ROPE
1. Rope yang dipakai adalah kawat baja dengan inti kawat baja.
2. Diameter minimum dari rope yang dipakai disesuaikan dengan kapasitas lift secara
standart.
3. Sistem pemasangan rope adalah 2 : 1 dimana ujung dari pada rope dipasangkan
pada rope end (detch and Hitch) yang terletak pada suatu profil baja dengan
dilapisi karet setebal 25 mm dan dilengkapi safetay switch dan per.
4. Sertifikat kawat penggantung harus diserahkan kepada pemilik sebelum pelaksanaan.
 Ketinggian langit-langit kereta ini tidak kurang dari 2300 mm dimana terdapat
pintu darurat yang hanya bisa dibuka dari atas kereta dan dilengkapi safety
switch sehingga lift tidak beroperasi selama pintu tersebut terbuka.

3.6. SAFETY DEVICE


1. Pengamanan terhadap kelebihan penumpang, dimana secara otomatis akan
membunyikan buzzer yang diletakkan di car board.
2. Pengaman terhadap kelebihan perjalanan, apabila pengaman ini bekerja maka
panel kontrol akan mematikan mesin penggerak dan baru dapat dijalankan
kembali bila secara manual posisi kereta dikembalikan ke kedudukkan normal.
Pembatasan yang ada yaitu :
 Level 6 cm di bawah level lantai terbawah, dan
 Level 10 cm di atas level lantai teratas.
3. Pengaman terhadap ketegangan rope, apabila pengamanan ini bekerja, maka
panel kontrol akan mematikan mesin penggerak.
Pembangunan Sarana Dan Prasaran Mesjid Al-jihad

PERSYARATAN TEKNIS
PEKERJAAN MEKANIKAL ELEKTRIKAL
4. Pengaman terhadap kelebihan kecepatan, apabila terjadi kelebihan kecepatan maka:
 Centrifugal switch yang ada di speed governor akan menyebabkan panel
kontrol mematikan mesin penggerak.
 Safety gear sebanyak empat buah yang terletak dibagian bawah dari
pengimbang. Berat dan kereta akan mengadakan pengereman di rail dan
micro switch yang ada disana akan menyebabkan panel kontrol mematikan
mesin penggerak.
5. Pengaman pada pintu kereta elevator, berupa :
 Door safety edges sebanyak 2 buah, akan bekerja bila tersentuh.
6. Pengaman lift pada saat Sumber Daya listrik PLN terputus :
 Pada saat sumber daya listrik utama dari PLN terputus, kereta lift secara tiba-
tiba akan berhenti. Pada saat demikian, lampu darurat didalam kereta harus
menyala secara otomatis, sistem intercom dan bel alarm harus tetap
berfungsi, dengan mendapat sumber daya dari batere.
 Secepatnya setelah menerima daya listrik dari Diesel Generating Set
Emergency, semua lift harus dapat bekerja kembali secara normal.
 Pemindahan rangkaian dari jaringan listrik PLN ke Diesel Emergency Set
dilakukan secara otomatis di panel utama dan pekerjaan ini termasuk tugas
Kontraktor Listrik.
 Bila sumber listrik utama dari PLN telah terhubung kembali maka rangkaian
akan dipindahkan ke keadaan semula pada panel utama listrik di lantai
Basement.
 Pada saat pemindahan tersebut, lift akan berhenti sesaat dan secepatnya
setelah mendapatkan aliran listrik, maka lift akan bekerja secara normal
kembali.
 Lengkapi dengan peralatan ALD ( Automatic Landing Device ).

7. Pengaman Bila Terjadi Kebakaran


Di lantai Dasar harus disediakan dan dipasang Sakelar khusus untuk petuga-
petugas pemadam kebakaran dengan tulisan dalam Bahasa Indonesia “SAKELAR
KEBAKARAN”. Untuk mengoperasikan sakelar tersebut tidak boleh menggunakan
kunci dan harus diletakkan didalam kotak besi yang mempunyai panel depan
terbuat dari stainless steel hairline finish dan tutup kaca yang mudah dipecahkan.
Sakelar ini harus diberi tulisan yang jelas untuk kedudukan “ON” atau “OFF”.
Perlu dilengkapi Supervisory panel dengan 3 buah intercom yang diletakkan di
Ruang Mesin. Ruang Maintenance dan Ruang Security.
Dengan mendudukkan sakelar pada posisi Sakelar pada posisi “ON”, maka lift akan
bekerja sebagai berikut :
 Semua panggilan lift dan permintaan lantai akan dibatalkan, dan tidak ada
panggilan atau permintaan baru terdaftar.
 Sistem kerja lift akan berubah dari kontrol secara kolektif menjadi tidak kolektif.
 Tanpa melihat arah geraknya, lift secara otomatis akan bergerak turun ke
lantai dasar, tanpa berhenti di lantai-lantai lain.
 Setelah membuka pintu di lantai dasar dan melepas penumpang-
penumpangnya, lift akan berhenti bekerja.
 Untuk selanjutnya pengoperasian lift tersebut hanya dapat dilakukan dari
dalam kereta dan lift tidak akan melayani panggilan dari luar kereta/lantai.

3.7. PANEL KONTROL LIFT


1. Panel kontrol ini adalah dari jenis free standing close type dengan lubang ventilasi
secukupnya.
2. Semua komponen kontrol harus dapat bekerja dengan baik pada temperatur
maksimum 40 oC dan RH maksimum 95 %.
3. Panel kontrol akan diletakkan di atas suatu dudukan beton ringan yang akan
disediakan oleh pemborong lift dan harus dilapisi karet setebal 5 mm dan hanya
dapat dilayani dari depan.
4. Box panel harus terbuat dari plat baja tebal 2 mm dengan rangka penguat dan
dicat anti karat.
5. Semua kabel yang masuk atau keluar panel ini harus dilengkapi dengan cable gland.
Pembangunan Sarana Dan Prasaran Mesjid Al-jihad

PERSYARATAN TEKNIS
6. AlatELEKTRIKAL
PEKERJAAN MEKANIKAL kontrol harus dilengkapi dengan suatu alat pencegah interferensi dengan
gelombang pemancar yang ada.
7. Earth Quick Protection.

3.8. INSTALASI LISTRIK


Pekerjaan instalasi listrik yang termasuk lingkup kerja dari pemborong instalasi ini adalah:
1. Panel daya (tebal 2 mm ) untuk masing-masing lift beserta kabel feeder dari panel
daya ke panel kontrol elevator.
2. Kabel kontrol dari panel kontrol elevator ke setiap bagian yang memerlukannya.
3. Lampu dan switch di pit elevator, diatas dan dibawah kereta lift.
4. Intercom dengan master station, di masing-masing ruang mesin elevator dan di
ruang Control Engineering, dengan cabang pada masing-masing kereta. Didalam
operasinya setiap cabang dapat memanggil master station dan setiap master
station dapat memanggil master station dan setiap master station dapat
memanggil setiap cabang.
5. Penambahan batere tipe NI – CAD dry cell lengkap dengan Automatik Charger.
6. Penyediaan kabel FRC/MICC untuk fire lift oleh kontraktor listrik.
7. Penarikan kabel untuk paging system yang langsung dikontrol/dihubungkan
dengan paging sentral oleh Kontraktor sound system.
8. Masa jaminan seluruh peralatan adalah 1 tahun.
9. Testing Comissioning, 11% dari kapasitas beban
kereta lift. Continous test : 1 x 24 jam.

4. LAIN - LAIN

4.1. DATA LIFT

DATA LIFT PENUMPANG (LF-PK.1 & LF-PK.2)


Jumlah Lift : 2 Unit Lift Penumpang Type Standard
Fungsi : Passenger
Tipe Lift : Passenger Lift
Kapasitas : 680 Kg ( 10 Orang )
Kecepatan : 60 mpm
Penggerak Kontrol : AC – VVVF (Variable Voltage, Variable Freq) Lantai
yang dilayani : Seperti pada gambar
Tipe Pintu : Center Opening Automatic Doors Sumber Tenaga
(V/Hz) : AC 7,5 Kw, 3 phase, 220/380V, 50 Hz Sumber
Penerangan (V/Hz) : AC 1 phase, 220V, 50 Hz
Application Codes : BS, ANSI code A17.1, JIS
Matrials & Wirings : BS, ANSI code A17.1, JIS
Sistem Penomoran : Ditentukan kemudian

KETENTUAN DIMENSI
Ukuran Kereta Elevator : Disesuaikan dengan masing-masing produk Ukuran
Bukaan Pintu (mm) : 800 mm
Ukuran Hoistway (mm) : Sesuai gambar (tersedia)
Kedalam Pit (mm) : Sesuai gambar (tersedia)
Tinggi Overhead (mm) : Sesuai gambar (tersedia)
Ukuran [Link] Elevator : Sesuai gambar (tersedia)

ENTRANCE DESIGN
Model Entrance : NARROW JAMB with Painted Powder Coating
Landing Doors : Painted
Landing Sills : Extruded hard alumunium

SIGNAL FIXTURES
Dalam Kereta Lift
Face plate of car Hall : Stainless steel hair line position indikator operating
Panel
Car position and direction : Standard type heavy duty
Pembangunan Sarana Dan Prasaran Mesjid Al-jihad

PERSYARATAN TEKNIS
Indicator
PEKERJAAN MEKANIKAL ELEKTRIKAL Dot type/stainless steel hairline finish Faceplate
Car operating Panel : Softtouch
button Pengaman ujung pintu : Doorsafety
edge
Entrance Hall
Car Positioan Indicator: Push Button
Hall Lantern : Vertical circular type setiap lantai
Arrival gong : setiap lantai
Face plate of signal : Stainless steel

4.2. KELENGKAPAN LIFT


 Eemergency car lighting with automatic Charger
 Interphone system and Emergency Paging System
 Overload Protection Divice
 Electric Fan
 ARD (Automatic Rescue Device)
 Arrival gong
 Auxiliary car Operating Panel
 Single phasing protection
 Manhole (car) Switch
 Pit switch
 Maintenance switch (di dalam & di luar car)
 Nuisance Call Cancellation
 (untuk menghapus panggilan semu, berdasarkan proteksi dari beban)
 Non reverse phase sequence protection
 Lampu di atas dan di bawah car lift berikut kawat pengaman & stop kontak
 Emergency alarm
 Rope ditandai untuk tanda di lantai mana car berada

PRODUK INSTALASI TRANSPORTASI DALAM GEDUNG

Bahan dan peralatan harus memenuhi spesifikasi. Pemborong dimungkinkan untuk


mengajukan alternatif lain yang setaraf dengan yang dispesifikasikan.
Pemborong baru bisa mengganti bila ada persetujuan resmi dan
tertulis. Produk bahan dan peralatan pada dasarnya adalah.

NO. PERALATAN MERK / PEMBUAT

1. Elevator / Lift Fuji, Sigma, Mitsubitshi.

Anda mungkin juga menyukai