0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
15 tayangan4 halaman

Tujuan dan Bahaya Fogging Nyamuk DBD

Fogging adalah metode penyemprotan asap insektisida untuk membunuh nyamuk Aedes sebagai vektor penyakit demam berdarah dengan tujuan memutus rantai penularan. Fogging dilakukan dengan memperhatikan kondisi cuaca, lokasi, dan konsentrasi bahan kimia. Meskipun efektif mengendalikan nyamuk, fogging juga dapat mencemari lingkungan dan membahayakan kesehatan jika tidak dijalankan dengan ben

Diunggah oleh

Slamet Evvendi
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
15 tayangan4 halaman

Tujuan dan Bahaya Fogging Nyamuk DBD

Fogging adalah metode penyemprotan asap insektisida untuk membunuh nyamuk Aedes sebagai vektor penyakit demam berdarah dengan tujuan memutus rantai penularan. Fogging dilakukan dengan memperhatikan kondisi cuaca, lokasi, dan konsentrasi bahan kimia. Meskipun efektif mengendalikan nyamuk, fogging juga dapat mencemari lingkungan dan membahayakan kesehatan jika tidak dijalankan dengan ben

Diunggah oleh

Slamet Evvendi
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

FOGGING

A. Pengertian
Fogging adalah metode penyemprotan udara yang berbentuk asap (pengasapan / Fogging
yang dilakukan untuk mencegah / mengendalikan DBD di rumah penderita /tersangka DBD
dan lokasi sekitarnya serta tempat –tempat umum yang diperkirakan dapat menjadi sumber
penularan penyakit DBD), Kemenkes, 2017.
Fogging merupakan salah satu kegiatan penanggulangan DBD yang
dilaksanakan melalui pengasapan insektisida (Thermal Fog) pada daerah sekitar
dengan kasus DBD. Tujuan fogging untuk memutus rantai penularan penyakit dengan
memberantas nyamuk dewasa yang merupakan vektor penyakit DBD (Ambarwati &
Darnoto, 2006). Selain memutus rantai penularan, fogging juga dapat menekan
kepadatan vektor (Iskandar et al, 2005).

B. Syarat Pelaksanaan Syarat untuk melakukan fogging


1. Adanya pasien yang meninggal disuatu daerah akibat DBD
2. Tercatat dua orang yang positif terkena DBD di daerah tersebut
3. Adanya jentik-jentik nyamuk Aedes aegypti dan terdapat lebih dari tiga orang di
daerah yang sama mengalami demam. Apabila ada laporan baru mengenai DBD
di rumah sakit atau puskesmas di suatu daerah, pihak rumah sakit atau puskemas
segera melaporkan hal tesebut dalam waktu 24 jam, selanjutnya diadakan
penyelidikan epidemiologi dan dilanjutkan dengan pelaksanaan fogging. (Dinkes
Kabupaten Fakfak Barat, 2016).
C. Waktu Pelaksanaan Menurut WHO
Waktu pelaksanaan fogging harus memperhatikan waktu, kecepatan angin,
hujan, dan suhu udara. Kondisi yang paling baik yaitu, pada waktu pagi hari (06.00-
08.30), kecepatan angin tetap, tidak ada hujan, dan suhu udara dingin. Kondisi rata-
rata yaitu, pada waktu pagi sampai tengah hari atau sore hari atau awal malam hari
dengan kecapatan angin 0-3 km/jam, keadaan gerimis kecil dan suhu udara sedang.
Kondisi yang tidak baik yaitu, pada waktu pertengahan pagi sampai pertengahan sore
hari dengan kecepatan angin yang medium sampai kuat diatas 13 km/jam, saat hujan
lebat, dan pada suhu udara panas.

D. Peralatan dan Bahan Fogging


Adapun alat dan bahan yang digunakan dalam kegiatan fogging, yaitu :
1. Alat yang dipakai swing fog SN 1 untuk bangunan dan mesin ULV (Ultra Low
Volume) untuk perumahan.
2. Malathion dalam campuran solar dosis 438 g/ha. (500 ml malathion 96% technical
grade/ha). Malathion adalah bahan teknis pestisida yang dapat diemulsikan untuk
mengendalikan nyamuk Aedes Aegypti, culex, dan anopheles di dalam dan diluar
ruangan. Malathion termasuk golongan organofosfat parasimpatometik, yang
berkaitan irreversibel dengan enzim kolinesterase pada sistem saraf serangga.
Akibatnya otot tubuh serangga mengalami kejang, kemudian lumpuh dan akhirnya
mati. Malathion digunakan dengan cara pengasapan (Kasumbogo, 2004).
3. Untuk pemakaian di rumah tangga dipergunakan berbagai jenis insektisida yang
disemprotkan kedalam kamar atau ruangan misalnya, golongan Organofosfat
adalah insektisida yang paling toksik diantara jenis pestisida lainnya dan sering
menyebabkan keracunan pada orang. Termakan hanya dalamjumlah sedikit saja
dapat menyebabkan kematian, tetapi diperlukan beberapa milligram untuk dapat
menyebabkan kematian pada orang dewasa. Organofosfat menghambat aksi
pseudokholinesterase dalam plasma dan sel darah merah dan pada sinapsisnya
(Darmono, 2003).

E. Hal yang perlu dipertimbangkan dalam melakukan Fogging


1. Konsentrasi bahan fogging Konsentasi bahan yang digunakan harus mengacu
pada label, karena bila dosis yang digunakan tidak tepat akan menimbulkan
kerugian, tidak hanya dari segi biaya dan efikasi pengendalian tetapi juga
berpengaruh terhadap keamanan manusia itu sendiri serta lingkungannya
(Magallona, 1980).
2. Insektisida Insektisida yang digunakan untuk Thermal Fogging berbentuk cair.
Golongan insektisida yang digunakan ialah golongan organoposfat. Golongan
organoposfat yang dapat dimanfaatkan untuk pengendalian vektor nyamuk Aedes
sp. dewasa dengan cara pengasapan atau fogging ialah Malathion. Malation efektif
digunakan untuk membunuh nyamuk Aedes aegypti (Boesri & Boewono, 2009).

F. Dampak Pelaksanaan Fogging


Bahan yang digunakan dalam fogging merupakan jenis insektisida untuk
membunuh serangga dalam hal ini adalah nyamuk. Insektisida tersebut merupakan
racun yang dapat mematikan jasad hidup, maka dalam penggunaannya harus lebih
bersikap hati-hati. Fogging tidak hanya memberikan dampak positif dalam
pengandalian nyamuk Aedes aegypti namun disisi lain juga menghasilkan dampak
negatif terhadap lingkungan dan kesehatan masyarakat, misalnya pencemaran air,
tanah, udara, terbunuhnya organisme non target, dan resiko bagi orang, hewan dan
tumbuhan (Djojosumarto, 2008).

Anda mungkin juga menyukai