0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
85 tayangan12 halaman

Laporan Abses Gluteus: Definisi dan Penanganan

Abses gluteus adalah penumpukan nanah yang terjadi akibat infeksi bakteri pada otot gluteus. Manifestasi klinisnya berupa nyeri, bengkak, dan demam. Penatalaksanaannya meliputi drainase abses secara kirurgi disertai pemberian antibiotik.

Diunggah oleh

Thamrin
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
85 tayangan12 halaman

Laporan Abses Gluteus: Definisi dan Penanganan

Abses gluteus adalah penumpukan nanah yang terjadi akibat infeksi bakteri pada otot gluteus. Manifestasi klinisnya berupa nyeri, bengkak, dan demam. Penatalaksanaannya meliputi drainase abses secara kirurgi disertai pemberian antibiotik.

Diunggah oleh

Thamrin
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

LAPORAN PENDAHULUAN ABSES GLUTEUS

Di susun oleh:
Aflul Dian Malita Thamrin
NIM : 111200020046

Mengetahui, Polewali Mandar, Maret 2023

Pembimbing Klinik Pembimbing Institusi

(…………………..) (……………………..)

PROGRAM STUDI S-1 KEPERAWATAN

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN (STIKES)

ANDINI PERSADA MAMUJU

2023
A. DEFINISI

Abses adalah penimbunan nanah yang terjadi akibat infeksi bakteri. Abses dapat terjadi
dimana saja pada bagian tubuh kita. Abses dapat terlihat karena berada di bagian luar tubuh
(pada lapisan kulit) atau teradi pada organ dalam tubuh yang terjadi disebuah kavitas jaringan
karena adanya proses infeksi oleh bakter, karena adanya benda asing misalnya; serpihan, lika
peluru atau jarum suntik (Smaltzer, 2013).

Abses adalah pengumpulan nanah yang terlokalisir sebagai akibat dari infeksi yang
melibatkan organisme progenik, nanah merupakan suatu campuran dari jaringan nekrotik,
bakteri dan sel darah putih yang sudah mati dan dicairkan oleh enzim autolik (Mansjoes, A,
2007).

Abses merupakan suatu infeksi kulit yang disebabkan oleh bakteri atau parasit karena
adanya benda asing dan mengandung nanah yang merupakan campuran dari jaringan
nefrotik, bakteri dan sel darah putih yang sudah mati (Siregar, 2007).

B. ETIOLOGI

Suatu infeksi bakteri bisa menyebabkan abses ketika bakteri masuk kedalam jaringan
yang sehat, maka akan terjadi infeksi. Sebagian sel mati jaringan yang sehat itu mati, dan
hancur meninggalkan rongga yang berisi jaringan dan sel-sel yang terinfeksi. Suatu infeksi
bakteri bisa menyebabkan abses beberapa cara : bakteri masuk kebawah kulit akibat bakteri
yang berasal dari tusukan jarum yang tidak steril dan bakteri dapat menyebar dari suati
infeksi di bagian tubuh yang lain. Kondisi ini memicu sel-sel darah putuh yang berfungsi
melawan infeksi masuk kedalam rongga tersebut, memerangi bakteri dan kemudian mati. Sel
darah putih yang mati itulah yang membentuk cairan nanah, yang mengisi rongga tersebut.
Peluang terbentuknya suatu abses akan meningkat ika terdapat kotoran atau benda asing
didaerah atau tempat terjadinya infeksi, daerah yang terinfeksi mendapatkan aliran darah
yang kurang terdapat terjadi gangguan sistem kekebalan (Siregar, 2007).

C. PATOFISIOLOGI
Kuman yang masuk kedalam tuhuh akan merusak jaringan dengan cara mengeluarkan
toksin. Bakteri melepaskan eksotoksin yang spesifik (sintesis), kimiawi yang secara spesifik
mengawali proses peradangan atau melepaskan endotoksin yang ada hubunganya dengan
dinding sel. Reaksi hipersensitivitas terjadi apabila ada perubahan kondisi respon imunologi
mengakibatkan perubahan reaksi imun yang merusak jaringan. Agen fisik dan bahan kimia
oksidan korosif menyebabkan kerusakan jaringan, kerusakan jaringan menstimulus untuk
terjadi infeksi. Infeksi merupakan salah satu penyebab dari peradangan, kemerahan
merupakan tanda awal yang terlihat akibat dilatasi arteriol dan meningkatkan aliran darah ke
mikro sirkulasi kalor terjadi bersamaan dengan kemerahan bersifat lokal. Peningkatan suhu
dapat terjadi secara sistemik. Akibat endogen pirogem yang dihasilkan makrofaq
mempengaruhi termoregulasi pada suhu lebih tinggi sehingga produksi panas meningkat dan
terjadi hipertermi. Peradangan terjadi perubahan diameter pembuluh darah mengalir
keseluruh kapiler, kemudian aliran darah kembali pelan. Sel-sel darah mendekati pembuluh
darah di daerah zona plasmatik. Leukosit menempel pada epitel sehingga langkah awal
terjadi emigrasi kedalam ruang ekstravaskuler lambatnya aliran darah yang mengikuti fase
hipertermia meningkat permiabilitas vaskuler mengakibatkan keluarnya plasma kedalam
jaringan, sedangkan sel darah tertinggal didalam pembuluh darah akibat tekanan hidrostatik
meningkat dan tekanan osmotik menurun hingga terjadi akumulasi cairan didalam rongga
ekstravaskuler yang merupakan bagian dari cairan eksudat yaitu edema. Regangan dan
distorsi jaringan akibat edema dan tekanan pus dalam rongga abses menyebabkan rasa nyeri.
Mediator kimiawi, termasuk bradiknin, prostaglanin, dan serotonin merusak ujung saraf
sehingga menurunkan ambang stimulus terhadap reseptor mekanosensitif yang menimbulkan
nyeri. Adanya edema akan mengganggu gerak jaringan sehinggan mengalami penurunan
fungsi tubuh yang menyebabkan terganggunya mobilitas. Inflamasi terus terjadi selama
masih ada pengurasan jaringan bila penyebab kerusakan bisa diatasi, maka debris akan
difagosit dan dibuang tubuh sampai terjadi resolusi dan kesembuhan (Smatzer, 2013)
Pathway

Faktor predisposisi  Bakteri multiplikasi merusak  Tubuh bereaksi untuk


1. Perkembangan
jaringan yaitu benda asing perlindungan terhadap
sosial kultural
2. Biokimia menyebabkan luka dan agen penyebaran infeksi
3. Psikologis
fisik
4. Genetik

Abses terlokasi dari matinya jaringan Terjadi proses peradangan


nekrotik, bakteri dan sel darh putih
(Nyeri)

Operasi Lepasnya zat progen leukosit pada jaringan

Kurang informasi
Peradangan

Defisiensi Demam
pengetahuan

Panas

Cemas

Hipertermi
D. MANIFESTASI KLINIK

Gejala dari abses tergantung lokasi dan pengaruhnya terhadap fungsi atau organ syaraf, yaitu
bisa berupa :
1. Nyeri Tekan
2. Nyeri Lokal
3. Bengkak
4. Kenaikan Suhu
5. Rubor (Kemerahan)
6. Kalor (Panas) menggigil atau demam (>37,7oC)
7. Dolor (Nyeri)
8. Tumor (Bengkak) terdapat pus (rebas) bau membusuk
(Smatzer, 2013)

E. KOMPLIKASI

Komplikasi mayor dari abses adalah penyebaran abses kejaringan sekitar atau jaringan
yang jauh dan kematian jaringan setempat yang ekstensif (ganggren). Pada sebagian besar
bagian tubuh, abses jarang dapat sembuh dengan sendirinya, sehingga tindakan medis
secepatnya diindikasikan ketika terdapat kecurigaan akan adanya abses. Suatu abses dapat
menimbulkan konsekuesi yang fatal. Meskipun jarang, apabila abses tersebut mendesak
struktur yang vital, misalnya abses leher dalam yang dapat menekan trakea (Siregar, 2013).

F. PENATALAKSANAAN
1. Abses luka biasanya tidak membutuhkan penanganan menggunakan antibiotik
2. Suatu abses harus diamati dengan teliti untuk mengidentifikasi penyebabnya,
utamanya disebabkan oleh benda asing, karena benda asing tersebut harus segera
diambil.
3. Drainase, abses dengan menggunakan pembedahan biasanya diindikasikan apabila
abses telah berkembang dari peradangan serosa yang keras menjadi lebih lunak
4. Apabila menimbulkan risio tinggi, misalnya pada area-area yang kritis, tindakan
pembedahan dapat ditunda
5. Karewna seringkali abses disebabkan oleh bakteri staphylococcus aureus (Smaltzer,
2013)

G. ASUHAN KEPERAWATAN

1. Pengkajian
a) Pengkajian yang dilakukan pada pola persepsi kesehatan dan pemeliharaan kesehatan
adalah kebiasaan olahraga pada pasien, kemudian diit rendah serat, selain itu juga
perlu dikaji mengenai kebiasaan klien tentang minum kurang dari 2.000 cc/hari. Hal
lain yang perlu dikaji adalah mengenai riwayat kesehatan klien tentang penyakit
sirorcis hepatis.
b) Pengkajian mengenai pola nutrisi metabolik pada klien adalah mengenai berat badan
klien apakah mengalami obesitas atau tidak. Selain itu juga perlu dikaji apakah klien
mengalami anemia atau tidak. Pengkajian mengenai diit rendah serat (kurang makan
sayur dan buah) juga penting untuk dikaji.  Kebiasaan minum air putih kurang dari
2.000 cc/hari.
c) Pengkajian pola eliminasi pada klien adalah mengenai kondisi klien apakah sering
mengalami konstipasi atau tidak. Keluhan mengenai nyeri waktu defekasi, duduk, dan
saat berjalan. Keluhan lain mengenai keluar darah segar dari anus. Tanyakan pula
mengenai jumlah dan warna darah yang keluar. Kebiasaan mengejan hebat waktu
defekasi, konsistensi feces, ada darah/nanah. Prolap varices pada anus gatal atau
tidak.
d) Pengkajian pola aktivitas dan latihan pada klien mengenai kurangnya aktivitas dan
kurangnya olahraga pada klien. Pekerjaan dengan kondisi banyak duduk atau berdiri,
selain itu juga perlu dikaji mengenai kebiasaan mengangkat barang-barang berat.
e) Pengkajian pola persepsi kognitif yang perlu dikaji adalah keluhan nyeri atau gatal
pada anus.
f) Pengkajian pola tidur dan istirahat adalah apakah klien mengalami gangguan pola
tidur karena nyeri atau tidak.
g) Pengkajian pola reproduksi seksual yang perlu dikaji adalah riwayat persalinan dan
kehamilan.
h) Pola mekanisme koping dan toleransi terhadap serat. Koping yang digunakan dan
alternatif pemecahan masalah.

2. Diagnosa Keperawatan

1. Nyeri akut berhubungan dengan agen injuri biologis


2. Hipertermia berhubungan dengan proses penyakit
3. Cemas berhubungan dengan kurang pengetahuan mengenai proses penyakit

3. Intervensi

1. Nyeri berhubungan dengan agen pencedera fisiologi


Dengan kriteria hasil :
- keluhan nyeri menurun
- meringis menurun
- kesulitan tidur menurun
a. mampu mengontrol nyeri (tahu penyebab nyeri, mampu menggunakan teknik
non farmakologi untuk mengurangi nyeri, mencari bantuan)
b. Melaporkan bahwa nyeri berkurang dengan menggunakan manajemen nyeri
c. Mampu mengenali nyeri (skala, intensitas, frekuensi dan tanda nyeri)
d. Menyatakan rasa nyaman setelah nyeri berkurang

Intervensi keperawatan :
- Pain management
a. Lakukan pengkajian nyeri secara komperhensif termasuk lokasi, karakteristik
durasi, frekuensi, kualitas, dan faktor prespitasi
b. Pilih dan lakukan penanganan nyeri (farmakologi, non farmakologi dan
interpersonal)
c. Kolaborasi dengan dokter jika ada keluhan dan tindakan nyeri tidak berhasil

2. Hipertermia berhubungan dengan proses penyakit


Dengan kriteria hasil:
- Thermoregulation
a. Suhu tubuh dalam rentang normal
b. Nadi dan RR dalam rentang normal
c. Tidak ada perubahan warna kulit dan tidak ada pusing

Intervensi akaeperawatan :
- Fever treatment
a. Monitor suhu sesering mungkin
b. Berikan antipiretik
c. Berikan pengobatan untuk mencegah terjadinya menggigil

3. Cemas berhubungan dengan kurang pengetahuan mengenai proses penyakit


Dengan kriteria hasil:
- Anxiety level
- Sosial anxiety level
a. Klien mampu mengidentifikasi dan mengungkapkan gejala cemas
b. Mengidentifikasi, mengungkapkan dan menunjukan teknik untuk mengontrol
cemas
c. Vital sign dalam batas normal

Intervensi Keperawatan :

- Anxiety reduction (penurunan kecemasan)


a. Nyatakan dengan jelas harapan terhadap pelaku pasien
b. Jelaskan semua prosedur dan apa yang dirasakan selama prosedur
c. Temani pasien untuk memberikan keamanan dan mengurangi takut

4. Implementasi

Implementasi keperawatan adalah pengelolaan dan perwujudan dari rencana keperawatan


yang telah disusun pada tahap perencanaa dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan klien
secara optimal. Pada tahap ini perawat menerapkan pengetahuan intelektual, kemampuan
hubungan antar manusia (komunikasi) dan kemampuan teknis keperawatan, penemuan
perubahan sistem tubuh, pencegahan komplikasi penemuan perunahan sistem tubuh,
pemantapan hubungan klien dengan lingkungan , implementasi pesan tim medis serta
mengupayakan rasa nyaman dan keselamatan klien.

5. Evaluasi

Evaluasi merupakan perbandingan yang sistematik dan terencana mengenai kesehatan


klien dengan tujuan yang telah ditetapkan dan dilakukan secara berkesinambungan dengan
melibatkan klien dan tenaga kesehatan lainnya. Penilaiaan dalam keperawatan bertujuan
untuk mengatasi pemenuhan klien secara optimal dan mengukur hasil dari proses
keperawatan.
H. DAFTAR PUSTAKA

Smaltzer (2013) Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah vol.3. Jakarta : EGC

Manjoes, A (2007). Kapita Selekta Kedokteran. Jakarta. EGC

Nanda Internasional. (2012). Nursing Diagnoses Definition and Clasification 2012. Wiley
[Link] Kingdom

Soeparman & Waspadji. (2012). Ilmu Penyakit Dalam. Jilid II. Jakarta. EGC

[Link] [Link] › LP_Ab...(DOC) LP Abses Gluteus FIX | wisri rahayu


– [Link]
[Link]://[Link] › doc › LP-Pre...LP Presus – Abses Gluteus | PDF – Scribd
[Link] › document Laporan Pendahuluan Abses Gluteus Eufrasia | PDF – Scribd
[Link]://[Link] › lp-abses-glu...LP Abses Gluteal Beo – [Link]
[Link]://[Link] › ...PDFKARYA TULIS
ILMIAH ASUHAN KEPERAWATAN PADA TN T ...

Mengetahui, Polewali Mandar, februari 2023


Pembimbing klinik

+ Cap ruangan

(…………………......……) (…………………………….)

Pembimbing pendidikan/Institusi

(………………………………….)
ASUHAN KEPERAWATAN PADA TN. A DENGAN NYERI AKUT BERHUBUNGAN
DENGAN AGEN PENCEDERA FISIOLOGIS DI RUANG KEPERAWATAN BEDAH
MAWAR RSUD POLEWALI MANDAR

DISUSUN OLEH :

AFLUL DIAN MALITA THAMRIN


NIM : 111200020046

PROGRAM STUDI S-1 KEPERAWATAN


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN (STIKES)
ANDINI PERSADA MAMUJU
2023
LEMBARAN PENGESAHAN
Laporan Asuhan Keperawatan Pada Tn. A dengan nyeri akut berhubungan dengan agen pencedera
fisiologis Di Ruangan Keperawatan Bedah MAWAR RSUD Polewali Mandar

Telah di setujui oleh Pembimbing Klinik dan Pembimbing Pendidikan


pada tanggal Maret 2023

Polewali Mandar, Maret 2023


Praktikan

Mengetahui/Menyetujui,

Pembimbing Pendidikan Pembimbing Klinik

Ns. Akbar Nur, [Link].,[Link] (……………………..)

Anda mungkin juga menyukai