0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
27 tayangan142 halaman

Redesign Katup Gas Lift Bravo-011

Dokumen tersebut merangkum redesign katup gas lift pada sumur Bravo-011 untuk meningkatkan produksi minyak. Redesign dilakukan dengan melakukan analisis nodal dan simulasi untuk menentukan jumlah dan kedalaman katup gas lift optimal. Hasil simulasi menunjukkan desain 3 katup pada kedalaman 1337,8 ft, 1757,2 ft dan 2018,1 ft dapat meningkatkan produksi minyak hingga 45,2 BOPD.

Diunggah oleh

donat simpang4
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
27 tayangan142 halaman

Redesign Katup Gas Lift Bravo-011

Dokumen tersebut merangkum redesign katup gas lift pada sumur Bravo-011 untuk meningkatkan produksi minyak. Redesign dilakukan dengan melakukan analisis nodal dan simulasi untuk menentukan jumlah dan kedalaman katup gas lift optimal. Hasil simulasi menunjukkan desain 3 katup pada kedalaman 1337,8 ft, 1757,2 ft dan 2018,1 ft dapat meningkatkan produksi minyak hingga 45,2 BOPD.

Diunggah oleh

donat simpang4
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

REDESIGN KATUP GAS LIFT

(CONTINUOUS)
MENGGUNAKAN METODE ANALISIS NODAL
UNTUK OPTIMASI PRODUKSI SUMUR BRAVO-
011

TUGAS AKHIR

Dibuat Untuk Memenuhi Syarat


Mendapatkan Gelar Ahli Madya Teknik ([Link].T) Pada
Program Studi Teknik Eksplorasi Produksi Migas
Jurusan Teknik Perminyakan
Politeknik Akamigas Palembang

Oleh :
BAGAS JUNIAR KUSUMA NEGARA NPM 1803011

PROGRAM STUDI TEKNIK EKSPLORASI PRODUKSI MIGAS


JURUSAN TEKNIK PERMINYAKAN
POLITEKNIK AKAMIGAS PALEMBANG
2021
REDESIGN KATUP GAS LIFT
(CONTINUOUS)
MENGGUNAKAN METODE ANALISIS NODAL
UNTUK OPTIMASI PRODUKSI SUMUR BRAVO-
011

TUGAS AKHIR
BAGAS JUNIAR KUSUMA NEGARA
NPM. 1803011

Disetujui Untuk Program Studi,


Teknik Eksplorasi Produksi Migas
Pembimbing I

Ir. H. Ekariza, M.M

Pembimbing II

Hendra Budiman, [Link]., [Link].

ii
LEMBAR
TUGAS AKHIR

REDESIGN KATUP GAS LIFT (CONTINUOUS)


MENGGUNAKAN METODE ANALISIS NODAL
UNTUK OPTIMASI PRODUKSI SUMUR BRAVO-011
DI PT PERTAMINA HULU ROKAN REGION 1 ZONA 4

Dibuat Untuk Memenuhi Syarat


Mendapatkan Gelar Ahli Madya Teknik ([Link].T) Pada
Program Studi Teknik Eksplorasi Produksi Migas
Jurusan Teknik Perminyakan
Politeknik Akamigas Palembang

Oleh :

BAGAS JUNIAR KUSUMA NEGARA NPM. 1803011

Palembang, 21 Agustus 2021


Pembimbing I Pembimbing II

Ir. H. Ekariza, M.M Hendra Budiman, [Link]., [Link].

Direktur Ketua Program Studi


Politeknik Akamigas Palembang Teknik Eksplorasi Produksi Migas

Hj. Amiliza Miarti S.T., [Link]. Roni Alida, S.T.

iii
HALAMAN PERSETUJUAN

Judul Tugas Akhir : Redesign Katup Gas Lift


(Continuous) Menggunakan Metode Analisis Nodal
untuk Optimasi Produksi Sumur Bravo-011 di PT
Pertamina Hulu Rokan Region 1 Zona 4
Nama Mahasiswa : Bagas Juniar Kusuma Negara
NPM : 1803011
Program Studi : Teknik Eksplorasi Produksi Migas

Telah diuji dan lulus pada :


Hari : Sabtu
Tanggal : 21 Agustus 2021

Tim Penguji :
Nama Jabatan Tanda Tangan

1. Ir. H. Ekariza, M.M Pembimbing I ( )


2. Hendra Budiman, [Link]., [Link]. Pembimbing II ( )
3. Zulkarnaen Yusuf, S.T., M.T. Penguji I ( )
4. Aldo Setiawan, S.T. Penguji II ( )
5. Roni Alida, S.T. Penguji III ( )

Palembang, 21 Agustus 2021


Ketua Program Studi,
Teknik Eksplorasi Produksi Migas

Roni Alida, S.T.

iv
SURAT PERNYATAAN BEBAS PLAGIAT

Saya yang bertanda tangan dibawah


ini
Nama : Bagas Juniar Kusuma Negara
NPM : 1803011
Program Studi : Teknik Eksplorasi Produksi Migas
Judul Tugas Akhir : Redesign Katup Gas Lift
(Continuous) Menggunakan Metode Analisis Nodal
untuk Optimasi Produksi Sumur Bravo-011 di PT
Pertamina Hulu Rokan Region 1 Zona 4

Dengan ini menyatakan bahwa Laporan Tugas Akhir (TA) ini bebas
plagiat.

Apabila dikemudian hari terbukti plagiat, maka saya bersedia menerima sanksi
sesuai dengan peraturan Mendiknas RI No.17 Tahun 2010 dan peraturan
perundang-undangan yang berlaku.

Palembang, 21 Agustus 2021


Saya membuat pernyataan,

Bagas Juniar Kusuma Negara


NPM. 1803011

Mengetahui :

Pembimbing I, Pembimbing II

Ir. H. Ekariza, M.M. Hendra Budiman, [Link].,


[Link].

v
ABSTRAK
REDESIGN KATUP GAS LIFT (CONTINUOUS)
MENGGUNAKAN METODE ANALISIS NODAL
UNTUK OPTIMASI PRODUKSI SUMUR BRAVO-011
DI PT PERTAMINA HULU ROKAN REGION 1 ZONA 4
(Bagas Juniar Kusuma Negara NPM.1803011)

Sumur Bravo-011 merupakan salah satu sumur minyak di Lapangan


Limau yang berproduksi menggunakan gas lift. Produktivitas Sumur Bravo-011
tergolong rendah, karena pengaruh penurunan tekanan reservoir dan diikuti
peningkatan nilai watercut mencapai 95%. Dari data profil sumur dan struktur
diketahui nilai tekanan reservoir sebesar 1500 Psi, tekanan dasar sumur
sebesar
900 Psi, kedalaman sumur mencapai 4950,787 ft dan laju produksi 843 BPD.
Berdasarkan analisis kurva IPR, Sumur Bravo-011 memiliki laju alir maksimum
mencapai 1460,115 BPD, artinya sumur ini masih memiliki potensi untuk
berproduksi lebih besar. Setelah dilakukan analisis nodal diketahui bahwa laju
alir optimum yang dapat dicapai yaitu sebesar 980 BPD. Adanya potensial
produksi tersebut, membuat perusahaan berusaha meningkatkan produksi
sumur dengan melakukan redesign katup gas lift pada sumur tersebut. Redesign
katup gas lift Sumur Bravo-011 dilakukan melalui tiga tahapan, yaitu tahap
desain secara manual, kemudian dilanjutkan tahap desain secara simulasi serta
tahap uji sensitivitas terhadap hasil desain yang diperoleh. Berdasarkan hasil
desain secara manual, diketahui jumlah katup yang dibutuhkan sebanyak 4 unit
dengan kedalaman setiap katup yaitu 1550 ft, 2500 ft, 3125 ft dan 3700 ft.
Kemudian hasil tersebut dilanjutkan ke tahap desain menggunakan simulator
Prosper dan didapatkan desain jumlah katup sebanyak 3 unit dengan kedalaman
setiap katup yaitu 1337,8 ft, 1757,2 ft dan 2018,1 ft serta perkiraan laju produksi
liquid sebesar
904,3 BPD dengan laju produksi minyak 45,2 BOPD. Selanjutnya dilakukan
uji
sensitivitas pada hasil desain tersebut dengan delapan opsi berbeda,
dan didapatkan persentase oil gain dari masing-masing opsi yaitu 7,2%, 8,9%,
7,2%,
8,8%, 9,6%, 10,8%, 8,9% dan 9,8%. Dari 8 opsi uji sensitivitas tersebut,
terdapat
oil gain tertinggi yaitu opsi uji sensitivitas 6 dengan persentase sebesar
10,8%.

Kata Kunci : Analisis Nodal, Redesign Gas Lift, Prosper, Oil


Gain
vi
vii
MOTTO DAN PERSEMBAHAN

Motto:
 “Dan sungguh, kami benar-benar akan menguji kamu sehingga
kami mengetahui orang-orang yang benar-benar berjihad dan bersabar di
antara kamu, dan akan kami uji perihal kamu.” (-Q.S. Muhammad: Ayat
31-)
 Jika kamu tidak sanggup menahan lelahnya belajar, maka kamu
harus sanggup menahan pahitnya kebodohan. (-Imam Syafi’i-)
 Setiap orang memiliki jatah kegagalan, maka habiskanlah jatah
gagalmu sewaktu masih muda. (-Dahlan Iskan-)
 Jadikanlah orang tuamu sebagai motivasi bagimu, karena meraih
kebahagiaan mampu berbakti kepada mereka adalah kesuksesan sejati
untukmu.

Persembahan kepada:
 Pertama dari segalanya, rasa syukurku kepada Allah SWT atas
seluruh rahmat, nikmat dan kesempatan yang telah dianugerahkan
kepadaku.
 Ayah dan Ibu ku tercinta yang telah berusaha sekuat tenaga
dan mendoakan yang terbaik untukku.
 Saudara-saudaraku (Sultan F. Hasanain & Faris Irba A.) yang
telah mendukung, memberi semangat dan mendoakan yang terbaik
untukku.
 Bapak/Ibu dosen yang telah mengajarkan dan berbagi ilmu yang
sangat bermanfaat kepada mahasiswanya.
 Dosen Pembimbing I Bapak Ir. H. Ekariza, M.M dan Dosen Pembimbing
II Bapak Hendra Budiman, [Link]., [Link]. yang telah membimbing saya
dengan tulus, ikhlas dan optimal.
 Teman-teman seperjuangan Mahasiswa Program Studi Teknik Eksplorasi
Produksi Migas Politeknik Akamigas Palembang tahun angkatan 2018.
 Almamaterku yang kubanggakan.
viii
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur atas kehadirat Allah SWT dan segala limpahan rahmat,
karunia serta hidayah-Nya sehingga Penulis dapat menyelesaikan penyusunan
Laporan Tugas Akhir ini dengan waktu tepat waktu dan tanpa kendala
yang berarti. Tugas Akhir ini Penulis laksanakan di PT Pertamina Hulu Rokan
Region
1 Zona 4 pada tanggal 01 Mei sampai 31 Mei 2021.
Dalam penyusunan Laporan Tugas Akhir ini, Penulis menyadari
sepenuhnya bahwa masih banyak kekurangan dan ketidaksempurnaan. Laporan
Tugas Akhir ini disusun sebagai salah satu syarat untuk mendapatkan gelar Ahli
Madya Teknik ([Link].T). Pada kesempatan ini, Penulis menyampaikan ucapan
terima kasih sebesar-besarnya kepada seluruh pihak dan personal yang telah
banyak membantu Penulis secara langsung maupun tidak langsung dalam
penyusunan Laporan Tugas Akhir, diantaranya yaitu:
1. Ibu Hj. Amiliza Miarti S.T., [Link] selaku Direktur Politeknik Akamigas
Palembang.
2. Bapak-bapak Wakil Direktur di lingkungan Politeknik Akamigas
Palembang.
3. Bapak Roni Alida, S.T selaku Ketua Program Studi Teknik Eksplorasi
Produksi Migas Politeknik Akamigas Palembang.
4. Bapak Ir. H. Ekariza, M.M selaku Dosen Pembimbing I yang telah
membimbing di lapangan dan memberikan data serta informasi yang
dibutuhkan Penulis dalam penyusunan Laporan Tugas Akhir ini.
5. Bapak Hendra Budiman, [Link]., [Link] selaku Sekretaris Program
Studi Teknik Eksplorasi Produksi Migas dan Dosen Pembimbing II yang
telah membimbing dan memberikan arahan kepada Penulis dalam
penyusunan Laporan Tugas Akhir ini.
6. Bang Aldo Setiawan, S.T. selaku pembimbing lapangan di PT
Pertamina Hulu Rokan Region 1 Zona 4 Lapangan Limau yang telah
membimbing, berbagi ilmu dan pengalaman serta memberikan data dan
informasi yang
Penulis butuhkan dalam penyusunan Laporan Tugas Akhir ini.
ix
7. Seluruh dosen, staf dan pegawai Program Studi Teknik Eksplorasi
Produksi Migas Politeknik Akamigas Palembang.
8. Kedua Orang Tua dan Keluarga yang telah memberikan dukungan
dan mendoakan yang terbaik untuk Penulis selama melaksanakan
penelitian Tugas Akhir ini.
9. Teman-teman seperjuangan, terkhusus kepada Muhammad Sarif,
Ikhsan Abdul Fattah, Muhammad Rafi, Wenky Wirawan First Son, Bagus
Agung Satria, M. Fahrul Rais dan seluruh anak bimbingan dari Bang Aldo
Setiawan, S.T.
10. Seluruh mahasiswa Program Studi Teknik Eksplorasi Produksi Migas
Politeknik Akamigas Palembang tahun angkatan 2018 serta seluruh
pihak- pihak terkait lainnya yang turut memberikan kontribusi yang cukup
berarti kepada Penulis.

Banyaknya kekurangan dan ketidaksempurnaan dalam Laporan Tugas


Akhir ini membuat Penulis mengharapkan kritik, saran serta masukan yang
konstruktif demi tercapainya kesempurnaan dalam penyelesaian laporan
Tugas
Akhir.
Akhir kata semoga Laporan Tugas Akhir ini dapat bermanfaat
khususnya bagi Penulis serta mahasiswa dan masyarakat pada umumnya.

Palembang, 21 Agustus 2021

Penulis

x
DAFTAR ISI

Halaman
Halaman Judul i
Halaman Persetujuan Pembimbing ii
Lembar Pengesahan iii
Halaman Persetujuan Laporan Tugas Akhir iv
Surat Pernyataan Bebas Plagiat v
Abstrak vi
Abstract vii
Motto Dan Persembahan viii
Kata Pengantar ix
Daftar Isi xi
Daftar Gambar xiv
Daftar Tabel xvii
Daftar Lampiran xviii

BAB I PENDAHULUAN 1
1.1 Latar Belakang 1
1.2 Batasan Masalah 2
1.3 Tujuan 2
1.4 Manfaat 3
1.5 Sistematika Penulisan 3

BAB II DASAR TEORI 5


2.1 Productivity Index (PI) 5
2.2 Inflow performance relationship (IPR) 6
2.2.1 IPR Satu Fasa 6
2.2.2 IPR Dua Fasa 7
2.2.3 IPR Tiga Fasa 8
2.2.4 Metode Vogel 8
2.3 Artificial Lift 9
2.4 Gas Lift 11
2.4.1 Komponen Gas Lift 12
2.4.2 Jenis Gas Lift Berdasarkan Cara Injeksi Gas 14
2.4.3 Jenis Instalasi Umum Gas Lift 16
2.4.4 Gas Lift Valve (GLV) 17
2.5 Analisis Sistem Nodal pada Sumur Gas Lift 18
2.5.1 Aliran Masuk Node (Inflow) 20

xi
2.5.2 Aliran Keluar Node (Outflow) 20
2.6 Simulator Prosper untuk Metode Gas Lift 20
2.6.1 Simulator Prosper Main Menu 21
2.6.2 Data Input 21

BAB III METODE PENELITIAN 25


3.1 Waktu dan Tempat Penelitian 25
3.2 Metode Penelitian 25
3.2.1 Studi Literatur 25
3.2.2 Diskusi dan Wawancara 25
3.2.3 Observasi Lapangan 25
3.3 Data Penelitian 25
3.4 Tahap Analisis dan Pengolahan Data 27
3.4.1 Analisis Sistem Nodal 27
3.4.2 Redesign Katup Gas Lift (Manual) 31
3.4.3 Redesign Katup Gas Lift (Simulator Prosper) 37
3.4.4 Uji Sensitivitas Produksi 44
3.5 Bagan Alir Penelitian 45

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 46


4.1 Sumur Bravo-011 46
4.1.1 Penampang Sumur 46
4.1.2 Data Perhitungan 48
4.2 Analisis Sistem Nodal Sumur Bravo-011 50
4.2.1 Perhitungan Productivity Index (PI) 50
4.2.2 Penentuan Laju Alir Maksimum (Qmax) 50
4.2.3 Analisis Kurva IPR 52
4.2.4 Penentuan Laju Alir Optimum (Qopt) 53
4.3 Redesign Katup Gas Lift Bravo-011 (Manual) 56
4.3.1 Penentuan Titik Injeksi Gas 57
4.3.2 Penentuan Jumlah Gas Injeksi 61
4.3.3 Penentuan Kedalaman Katup-Katup Gas Lift 62
4.4 Redesign Katup Gas Lift Bravo-011 (Simulator Prosper) 68
4.4.1 Pengisian Data Summary 68
4.4.2 Pengisian Data PVT 69
4.4.3 Pengisian Data Gas Lift 70
4.4.4 Pengisian Data IPR 72
4.4.5 Pengisian Data Equipment 73
4.4.6 Plot Kurva Qinj vs IPR dan Kurva Qo vs Qinj 76
4.4.7 Pengisian Data Desain Gas Lift 79

xii
4.5 Uji Sensitivitas Produksi Sumur Bravo-011 82
4.6 Pembahasan 83

BAB V PENUTUP 85

DAFTAR PUSTAKA 86
LAMPIRAN 88

xiii
DAFTAR GAMBAR

Gambar Halaman
2.1 Grafik IPR Aliran Satu Fasa 7
2.2 Grafik IPR Aliran Dua Fasa 7
2.3 Grafik IPR Aliran Tiga Fasa 8
2.4 Jenis-Jenis Artificial Lift 10
2.5 Gas Lift Surface Component 12
2.6 Gas Lift Mandrel (GLM) 13
2.7 Gas Lift Subsurface Component 13
2.8 Continuous Gas Lift 14
2.9 Intermittent Gas Lift 15
2.10 Jenis-jenis Instalasi Umum Gas Lift 16
2.11 Injection Pressure Operated Valve (IPO) 17
2.12 Production Pressure Operated Valve (PPO) 18
2.13 Skema Analisis Sistem Nodal 19
2.14 Grafik Analisis Nodal 20
2.15 Prosper Main Menu 21
2.16 Summary Data Input 22
2.17 PVT-Black Oil Data Input 22
2.18 IPR-Vogel Data Input 23
2.19 Equipment Data Input 24
3.1 Grafik IPR Aliran Dua Fasa 29
3.2 Grafik Analisis Nodal dengan Titik Nodal di Wellhead 30
3.3 Grafik Gradien Tekanan Gas 32
3.4 Grafik Penentuan Titik Injeksi 33
3.5 Grafik Penentuan Gas Lift Valve Depth 35
3.6 Grafik Penentuan Bracketing Envelope 37
3.7 Summary Data Input (Continuous Gas Lift) 38
3.8 Gas Lift Data Input 38
3.9 IPR Data Input 39
3.10 Kurva IPR Metode Vogel 40
3.11 Kolom Deviation Survey 40
3.12 Kolom Downhole Equipment 41
3.13 Kolom Geothermal Gradient 41
3.14 Kolom Average Heat Capacities 41
3.15 Gas Lift Design-New Well 42
3.16 Grafik Gas Injection Rate vs Production Rate 43
3.17 Grafik Hasil Desain Gas Lift 43

xiv
3.18 Bagan Alir Penelitian 45
4.1 Wellhead Schematic Sumur Bravo-011 46
4.2 Downhole Equipment Diagram Sumur Bravo-011 47
4.3 Plot Kurva IPR Sumur Bravo-011 53
4.4 Plot Kurva Tubing Performance 54
4.5 Plot Kurva Flowline Performance 55
4.6 Kurva Inflow vs Outflow Sumur Bravo-011 56
4.7 Plot Kurva Pwf, Well Depth dan GLR 57
4.8 Plot Garis Gradien Tekanan Gas 58
4.9 Plot Garis Point of Balance (Pob) 60
4.10 Plot Garis Point of Injection (Poi) 61
4.11 Plot Garis Poi dan Garis P2 63
4.12 Plot Garis Gradien Tekanan Gas 2 64
4.13 Plot Kedalaman Katup Gas Lift Pertama 65
4.14 Plot Kedalaman Katup Gas Lift Lainnya 66
4.15 Plot Kedalaman Katup Gas Lift (Bracketing Envelope) 67
4.16 Display Menu Options 68
4.17 Display Input Artificial Lift Method 68
4.18 Display Summary Data Input 69
4.19 Display Menu PVT 69
4.20 Input Data PVT 70
4.21 Menu System (Gas Lift) 70
4.22 Display Input Data Gas Lift (FDOI) 71
4.23 Display Input Data Gas Lift (VDS) 71
4.24 Display Menu System (IPR) 72
4.25 Display IPR Data Input 72
4.26 Kurva IPR Sumur Bravo-011 73
4.27 Display Menu System (Equipment) 73
4.28 Display Input Data Deviation Survey 74
4.29 Display Input Data Surface Equipment 74
4.30 Display Input Data Downhole Equipment 75
4.31 Display Input Data Geothermal Gradient 75
4.32 Display Input Data Average Heat Capacities 76
4.33 Display Menu Calculation 76
4.34 Display Input Data System 3 Variables 77
4.35 Display Input Data Select Variables 77
4.36 Plot Kurva Sensitivitas Qinj vs IPR 78
4.37 Kurva Qinj vs Qo 78
4.38 Display Menu Design (Gas Lift) 79
4.39 Display Input Gas Lift Design 79

xv
4.40 Display Gas Lift Design (Calculated Rate) 80
4.41 Performance Curve Plot 80
4.42 Display Gas Lift Design Bravo-011 81

xvi
DAFTAR TABEL

Tabel Halaman
2.1 Kriteria Pemilihan Artificial Lift 11
3.1 Data Perhitungan 26
3.2 Koefisien Korelasi Vazquez-Beggs untuk Persamaan Rs 28
3.3 Koefisien Korelasi Vazquez-Beggs untuk Persamaan Pb 28
3.4 Skenario Uji Sensitivitas Produksi 44
4.1 Data Profil Sumur Bravo-011 48
4.2 Data Produksi Sumur Bravo-011 49
4.3 Data Karakteristik Struktur Alpha 49
4.4 Koefisien Korelasi Vazquez-Beggs untuk Persamaan Rs 50
4.5 Koefisien Korelasi Vazquez-Beggs untuk Persamaan Pb 51
4.6 Nilai QL dan Qo untuk Setiap Nilai Pwf asumsi 52
4.7 Data Hasil Inflow Performance 54
4.8 Data Hasil Outflow Performance 55
4.9 Data Hasil Analisis Nodal 56
4.10 Kedalaman Katup Hasil Desain Manual 67
4.11 Tabulasi Hasil Uji Sensitivitas Basecase 81
4.12 Perbandingan Hasil Desain Katup Manual dan Simulasi 82
4.13 Data Hasil Uji Sensitivitas 82
4.14 Perbandingan Data Lapangan dan Hasil Redesign 84

xvii
DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran Halaman
Lampiran A Wellhead Schematic Sumur Bravo-011 88
Lampiran B Downhole Equipment Diagram Sumur Bravo-011 89
Lampiran C Data Profil Sumur Bravo-011 90
Lampiran D Data Produksi Sumur Bravo-011 91
Lampiran E Data Karakteristik Struktur Alpha 92
Lampiran F Daily Production Report 93
Lampiran G Analisis Nodal P wf - Pwh 94
Lampiran H Analisis Nodal P sep - Pwh 105
Lampiran I Forecast Produksi SP Delta Struktur Alpha 116
Lampiran J Grafik Pressure Traverse (All water/Dtub 2,5”/1000 BPD) 117
Lampiran K Grafik Gradien Tekanan Gas 118

xviii
BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Artificial lift merupakan salah satu jenis metode yang diterapkan dalam
memproduksikan minyak bumi apabila sumur produksi tidak dapat lagi
diproduksikan secara natural flow. Sebagian sumur produksi di seluruh dunia
membutuhkan sistem pengangkatan buatan, hal ini dikarenakan selama produksi,
tekanan reservoir yang berperan sebagai pendorong minyak bumi mengalami
penurunan tekanan secara terus-menerus sehingga tidak mampu mendorong
minyak dari reservoir menuju ke permukaan. Umumnya terdapat beberapa jenis
metode pengangkatan buatan (artificial lift) yang digunakan, salah satunya
adalah gas lift.
Gas lift merupakan teknologi artificial lift yang dapat meningkatkan laju
produksi minyak dengan cara menginjeksikan gas terkompresi ke dalam sumur
produksi melalui annulus (Guo, 2007). Berdasarkan cara penginjeksiannya,
metode gas lift terbagi dua jenis yaitu metode continuous gas lift dan intermittent
gas lift. Terdapat tiga faktor utama dalam penerapan gas lift sebelum digunakan
pada suatu sumur produksi, yaitu adanya gas untuk injeksi, adanya kompresor gas
dan gas lift screening criteria. Continuous gas lift merupakan jenis metode gas
lift dimana gas diinjeksikan secara terus-menerus ke dalam sumur guna
meringankan kolom fluida produksi. Saat gas injeksi bercampur dengan
fluida produksi di dalam sumur, terjadi proses aerasi yang menyebabkan
penurunan densitas kolom fluida produksi sehingga dapat diangkat sampai ke
permukaan (Nguyen, 2020).
Lapangan Limau merupakan salah satu lapangan migas yang dioperasikan
oleh PT Pertamina Hulu Rokan Region 1 Zona 4. Sebagian sumur produksi di
Lapangan Limau menerapkan continuous gas lift sebagai metode artificial lift.
Sumur-sumur gas lift di Lapangan Limau ini telah mengalami penurunan
produksi dengan rata-rata watercut diatas 90%, salah satu sumur gas lift tersebut
yaitu Sumur Bravo-011 di wilayah Stasiun Pengumpul Delta. Sumur
Bravo-011
memiliki laju produksi harian sebesar 843 BLPD dengan laju produksi minyak
1
2

42,15 BOPD, diperkirakan bahwa rendahnya produksi minyak Sumur Bravo-011


ini disebabkan karena kinerja gas lift yang belum optimal, sehingga diperlukan
langkah optimasi produksi pada sumur gas lift tersebut dengan tujuan untuk
mengoptimalkan kemampuan produktivitasnya. Berdasarkan uraian tersebut,
pentingnya langkah optimasi produksi pada sumur produksi membuat penulis
tertarik untuk membahas penelitian Tugas Akhir dengan judul “Redesign Katup
Gas Lift (Continuous) Menggunakan Metode Analisis Nodal untuk Optimasi
Produksi Sumur Bravo-011 di PT Pertamina Hulu Rokan Region 1 Zona 4”.

1.2 Tujuan
Berikut tujuan yang ingin dicapai dari penelitian Tugas Akhir
ini, diantaranya yaitu:
1. Mengetahui hasil evaluasi laju produksi optimum dengan
melakukan analisis sistem nodal pada Sumur Bravo-011.
2. Mengetahui hasil redesign katup gas lift Sumur Bravo-011 dengan
melakukan perbandingan perhitungan redesign secara manual dan secara
simulasi menggunakan simulator Prosper.
3. Melakukan uji sensitivitas yaitu tekanan operasional (Pso dan Pko), laju
gas injeksi (Qinj) dan minimum valve spacing (ΔDv) terhadap nilai laju alir
minyak pada Sumur Bravo-011.
4. Menentukan opsi terbaik dari optimasi produksi pada Sumur Bravo-
011 berdasarkan hasil uji sensitivitas yang dilakukan.

1.3 Manfaat
Berikut manfaat yang diperoleh dari penelitian Tugas Akhir
ini, diantaranya yaitu:
1. Memahami konsep dan dapat melakukan analisis sistem nodal dalam
mengoptimalkan produksi minyak pada sumur gas lift.
2. Memahami prosedur dan dapat melakukan redesign katup sumur gas lift
secara manual dan secara simulasi menggunakan simulator Prosper.
3

3. Dapat memberikan rekomendasi kepada perusahaan sebagai


referensi dalam optimasi produksi gas lift pada Sumur Bravo-011.
4. Dapat memberikan wawasan bagi mahasiswa, perguruan tinggi
serta lembaga pendidikan mengenai redesign sumur gas lift.

1.4 Batasan Masalah


Supaya penyusunan Laporan Tugas Akhir ini lebih terarah, penulis hanya
memfokuskan bahasan Tugas Akhir mengenai analisis sistem nodal dalam
redesign katup gas lift untuk optimasi produksi Sumur Bravo-011, data
penelitian ini berasal dari data di PT Pertamina Hulu Rokan Region 1 Zona 4
Lapangan Limau. Batasan masalah Tugas Akhir ini diantaranya yaitu:
1. Evaluasi laju produksi optimum (Qopt) Sumur Bravo-011
menggunakan analisis sistem nodal.
2. Redesign katup gas lift pada Sumur Bravo-011 secara manual dan secara
simulasi menggunakan simulator Prosper.
3. Uji sensitivitas terhadap produksi Sumur Bravo-011 dengan 8
opsi berbeda menggunakan simulator Prosper.

1.5 Sistematika Penulisan


Untuk memudahkan dalam memahami Laporan Tugas Akhir ini, maka
penulis membuat sistematika penulisan Laporan Tugas Akhir menjadi lima BAB
dengan rincian sebagai berikut:
1. BAB I PENDAHULUAN
Merupakan BAB yang berisikan latar belakang, tujuan, manfaat, batasan
masalah serta sistematika penulisan.
2. BAB II DASAR TEORI
Merupakan BAB yang berisikan teori dasar mengenai karakteristik
reservoir, produktivitas sumur, metode artificial lift, gas lift, analisis
sistem nodal pada sumur gas lift serta simulator untuk pendesainan
artificial lift yaitu Prosper.
4

3. BAB III METODOLOGI PENELITIAN


Merupakan BAB yang berisikan mengenai waktu dan tempat pelaksanaan
penelitian Tugas Akhir, tahap pengumpulan data, tahap analisis dan
pengolahan data serta bagan alir penelitian.
4. BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
Merupakan BAB yang berisikan pembahasan mengenai tahapan dan hasil
analisis sistem nodal pada Sumur Bravo-011, redesign katup gas lift
secara manual, redesign katup gas lift menggunakan simulator Prosper
serta uji sensitivitas produksi terhadap Sumur Bravo-011.
5. BAB V PENUTUP
Merupakan BAB penutup yang berisikan tentang kesimpulan dari hasil
pembahasan yang merupakan bagian terakhir dari laporan Tugas Akhir.
BAB II DASAR
TEORI

2.1 Productivity Index (PI)


Productivity Index (PI) suatu sumur adalah angka penunjuk (indeks) yang
digunakan untuk menyatakan kemampuan produksi suatu sumur pada
kondisi tertentu. Secara definitif, PI adalah perbandingan antara laju produksi
yang dihasilkan suatu sumur, terhadap perbedaan tekanan (drawdown) antara
tekanan statik (Ps) dengan tekanan aliran (Pwf) di dasar sumur. Berikut persamaan
PI:

�𝐼 = , satuan bbl/psi/day
(2.1) �
� −�
��

Dengan menggunakan persamaan aliran dari Darcy, harga PI dapat pula


ditentukan berdasarkan sifat fisik batuan dan fluida reservoir, serta
geometri
sumur dan reservoirnya, khusus untuk aliran radial maka :
0 ,007 08 2 � 𝐾 � ℎ
�𝐼 � (2.2)
��� ���� � ��( )

Dimana:
PI = Productivity index (BPD/psi)
Q = Laju alir (BPD)
Pr = Tekanan reservoir (psi)
Pwf = Tekanan dasar sumur (psi)
K = Permeabilitas (mD)
h = Ketebalan formasi (ft)
��� = Viskositas minyak (cP)
Bo = Faktor volume formasi minyak (bbl/STB)
Kedua persamaan di atas tidak selalu dapat digunakan, karena dalam
praktek sering dijumpai adanya gas dalam aliran, sehingga fluida menjadi dapat
dimampatkan (compressible), hal ini dapat terjadi bila tekanan reservoir di bawah
tekanan bubble point. Pada kondisi ini PI tidak dapat ditentukan dengan
persamaan 2.1 maupun persamaan 2.2, karena harga PI akan berubah untuk setiap
harga Pwf.
2.2 Inflow Performance Relationship (IPR)
Inflow performance relationship (IPR) suatu sumur adalah gambaran
tentang kemampuan sumur yang bersangkutan untuk memproduksikan atau
menghasilkan fluida. Kemampuan sumur untuk menghasilkan fluida tergantung
pada faktor-faktor berikut :
1. Sifat fisik batuan
2. Geometri sumur dan daerah pengurasan
3. Sifat fisik fluida yang mengalir
4. Perbedaan tekanan antara formasi produktif dengan lubang sumur
pada saat terjadi aliran.
Harga PI yang diperoleh dari tes atau dari prediksi, merupakan gambaran
kualitatif mengenai kemampuan suatu sumur untuk berproduksi. Dalam kaitan
dengan perencanaan produksi suatu sumur, harga PI dapat dinyatakan
secara grafis, yang disebut grafik IPR (inflow performance relationship). Sesuai
dengan definisi PI, maka untuk membuat grafik IPR perlu mengetahui laju
produksi, tekanan aliran dasar-sumur dan tekanan statik sumur.
Ketiga data tersebut diperoleh dari tes produksi dan tes tekanan
yang dilakukan pada sumur yang bersangkutan. Berdasarkan ketiga data tersebut
grafik IPR dapat dibuat sesuai dengan kondisi aliran fluida satu fasa atau dua
fasa.

2.2.1 IPR Satu Fasa


Untuk penggunaan metode IPR satu fasa ini, hanya dapat dilakukan bila
fluida yang mengalir hanya satu fasa saja. Untuk aliran minyak saja, dapat
digunakan rumus sebagai berikut:

Pwf = Pr - (2.3)

𝐼
Keterangan :
Pwf = tekanan dasar sumur (psi)
Pr = tekanan reservoir (psi)
Q = laju alir (BPD)
PI = productivity index (BPD/psi)
(Sumber : Guo, 2007)
Gambar 2.1 Grafik IPR Aliran Satu Fasa
2.2.2 IPR Dua Fasa
Pada tipe IPR dua fasa ini, biasanya sudah terdapat gas. Tekanan reservoir
(Pr) dan tekanan alir dasar sumur (Pwf) yang dimiliki sudah berada di bawah
tekanan bubble point (Pb). bentuk kurva IPR dua fasa ini adalah melengkung.
Dalam pembuatan kurva IPR dua fasa, menggunakan Rumus Vogel yaitu:
� ��� 2
��� = 1 − 0,2 ( ) − 0,8 ( (2.4)
����
) �� ��

Keterangan:
Q = laju alir (BPD)
Qmax = laju alir maksimum (BPD)
Pwf = tekanan dasar sumur (psi)
Pr = tekanan reservoir (psi)

(Sumber : Guo, 2007)


Gambar 2.2 Grafik IPR Aliran Dua Fasa
8

2.2.3 IPR Tiga Fasa


Untuk aliran fluida tiga fasa, disini menggunakan Metode Wiggins yang
merupakan pengembangan dari Metode Vogel dimana dalam pengembangannya,
Wiggins menyetarakan metode IPR dua fasa dari Vogel dengan metode tiga fasa,
sehingga mendapatkan persamaan metode IPR tiga fasa yang lebih sederhana.
Dalam Metode Wiggins (penyetaraan IPR tiga fasa) mengasumsikan bahwa
setiap fasa dapat dilakukan secara terpisah, sehingga antara rate minyak (Qo) dan
rate air terproduksi (Qw) dapat di hitung masing-masing.

(Sumber : Torabi, 2012)


Gambar 2.3 Grafik IPR Aliran Tiga Fasa

2.2.4 Metode Vogel


A. Metode Vogel untuk Saturated Reservoir
Pembuatan IPR untuk saturated reservoir dengan metode ini tidak
memperhatikan faktor kerusakan formasi, dengan demikian flow efficiency (FE)
dianggap 1.0 (satu). Secara matematis, persamaan untuk membuat IPR
ditulis
sebagai berikut:
Qo Pwf 2
Pwf
= 1 − 0.2 ( ) − 0.8 ( (2.5)
)
Qomax Pr Pr

B. Metode Vogel untuk Undersaturated Reservoir (Kondisi Pwf test > Pb)
Pada kondisi ini, IPR yang linier dapat dibuat dengan menggunakan
productivity index konstan yang diperoleh dari data tes dan dapat dicari dengan
persamaan:
9

Qo t est Q
PI = = (2.6)

P� −��� P� −��
����

Sehingga laju alir pada kondisi bubble point dapat dicari dengan persamaan:
�� = PI (�� − �� )
(2.7) Sedangkan untuk IPR yang melengkung dapat dicari dengan
menggunakan
persamaan:
PI x Pb 2
�� = Qb 1.8
[1 − 0.2 (Pwf
Pr
) − 0.8 (Pwf
Pr
)] (2.8)
+
C. Metode Vogel untuk Undersaturated Reservoir (Kondisi Pwf test < Pb)
Kurva IPR 2 Fasa dimana Pr > Pb dan Pwf < Pb disebut juga dengan IPR
kombinasi, ketika kita menghitung laju alir dasar sumur dengan nilai P wf >
Pb maka kita menghitungnya dengan menggunakan persamaan untuk membuat
kurva IPR 1 fasa, sedangkan ketika nilai Pwf < Pb maka kita akan menghitung
laju alir
dasar sumur dengan Persamaan Vogel yang telah dimodifikasi:
Qo
PI = 2
(2.9)
Pb P wf Pwf
Pr−Pb+1.8 [1−0.2(
Pr )−0.8(
Pr ) ]

Kemudian menentukan nilai Q b (Q saat Pwf = Pb)


Qb = PI x (Pr - Pb) (2.10)

2.3 Artificial Lift


Artificial lift merupakan metode yang digunakan pada sumur minyak
dengan memasangkan pompa atau gas lift pada sumur. Metode artificial lift
diterapkan dengan maksud untuk mempertahankan tingkat produksi sumur agar
tetap tinggi, karena kemampuan produksi suatu sumur akan terus berkurang
dengan bertambahnya waktu. Atau kemampuan sumur yang bersangkutan untuk
berproduksi sejak awal ditemukan sangat kecil, sehingga perlu dilakukan metode
artificial lift. Umumnya, ada beberapa jenis artificial lift yang digunakan pada
sumur-sumur minyak di dunia diantaranya yaitu:
1. Sucker rod pump (SRP)
2. Electric submersible pump (ESP)
3. Hydraulic pumping unit (HPU)
4. Progressive cavity pump (PCP)
1

5. Hydraulic jet pump (HJP)


6. Gas lift

(Sumber : Heriot-Watt University)


Gambar 2.4 Jenis-Jenis Artificial Lift
Selain itu, penentuan dalam pemilihan jenis artificial lift yang akan
diaplikasikan pada suatu sumur produksi tentunya tidak sembarangan dan harus
dilakukan pertimbangan yang tepat berdasarkan kondisi reservoir dan
kondisi sumur tersebut. Berikut merupakan tabel pedoman kriteria dalam
pemilihan artificial lift yang digunakan oleh Pertamina yaitu:
1

Tabel 2.1 Kriteria Pemilihan Artificial Lift


(Sumber : Pertamina)

Berdasarkan tabel di atas, penerapan gas lift pada suatu sumur dapat
dilakukan apabila kondisi sumur tersebut cocok untuk digunakan gas lift. Hal ini
ditandai dengan banyaknya faktor yang sesuai dengan kriteria gas lift
dengan parameter antara kategori sangat baik - kategori baik.

2.4 Gas Lift


Gas lift adalah salah satu jenis metode pengangkatan fluida dari sumur
menggunakan gas yang diinjeksikan ke dalam sumur. Sumur-sumur minyak yang
laju produksinya sudah rendah atau bahkan sudah tidak mampu mengalirkan
minyak ke permukaan dapat ditingkatkan lagi dengan menggunakan gas (gas lift)
ataupun pompa. Pemakaian pompa dan gas lift pada suatu lapangan perlu
memperhatikan karakteristik fluida yang akan diproduksikan, kemiringan sumur,
laju produksi yang diinginkan, kekompakan formasi, dan lain-lain. Mekanisme
kerja gas lift ini berlangsung karena:
1. Adanya penurunan gradien fluida dalam tubing
2. Adanya pengembangan gas yang diinjeksikan
3. Terjadinya pendorongan minyak oleh gas injeksi bertekanan tinggi
1

2.4.1 Komponen Gas Lift


Menurut (Nguyen, 2020), komponen suatu sistem gas lift terbagi atas 2
kelompok, yaitu komponen di permukaan dan komponen di bawah permukaan.
Berikut penjelasan masing-masing komponen yaitu:
A. Komponen Gas Lift di Permukaan
Peralatan permukaan utama sistem gas lift adalah pengontrol injeksi gas.
Pengontrol injeksi gas permukaan dirancang untuk mengontrol jumlah gas yang
dibutuhkan untuk diinjeksikan ke dalam casing sumur dalam berbagai kondisi.
Untuk sistem continuous gas lift, pengontrol injeksi gas biasanya berupa katup
kontrol pneumatik, yang menggunakan udara untuk mengontrol pembukaan
katup dan juga untuk mengontrol laju injeksi gas. Untuk sistem intermittent gas
lift, pengontrol injeksi gas biasanya berupa katup yang digunakan untuk
mengatur siklus gas injeksi hidup dan mati. Perangkat ini terkadang disebut
intermitted. Ada mekanisme “clock-driven” di katup ini yang menyebabkan katup
motor terbuka secara berkala.

(Sumber : Hernandez, 2016)


Gambar 2.5 Gas Lift Surface Component
B. Komponen Gas Lift di Bawah Permukaan
Komponen bawah permukaan dari gas lift diantaranya yaitu gas lift
mandrel (GLM), gas lift valve (GLV), valve latch, dan kick-over tools. Komponen
pertama yaitu GLM, gas lift mandrel adalah komponen di bawah
permukaan tempat katup gas lift dipasang dan dioperasikan. GLM biasanya
berdiameter
1

pocket profile 1 atau 1 ½ inci. Setiap mandrel dapat diproduksikan menjadi


tubing flow, annular flow, bypass, dan sistem injeksi chemical treating.

(Sumber : Hernandez, 2016)


Gambar 2.6 Gas Lift Mandrel (GLM)
Lalu komponen katup gas lift atau GLV adalah perangkat yang terletak di
dalam mandrel dan membuat komunikasi antara tubing produksi dan annulus.
Fungsi utama dari gas lift valve adalah untuk mengontrol aliran gas yang
diinjeksikan dari permukaan ke dalam tubing produksi. Kemudian komponen ke-
3 yaitu valve latch dirancang untuk mengunci atau mengambil katup di/dari side
pocket mandrel profile yang sesuai. Biasanya, valve latch tersedia untuk GLV
dengan diameter luar 1 inci dan 1 ½ inci. Terakhir komponen ke-4 kick-over
tools adalah perangkat kabel yang digunakan untuk memasang dan mengambil
katup secara selektif dari side pocket mandrel dengan selongsong orientasi.

(Sumber : Hernandez, 2016)


Gambar 2.7 Gas Lift Subsurface Component
1

2.4.2 Jenis Gas Lift Berdasarkan Cara Injeksi Gas


A. Continuous Gas Lift
Continuous gas lift merupakan jenis metode gas lift di mana gas
diinjeksikan secara terus menerus ke bagian bawah pipa produksi untuk
meningkatkan potensi aliran sumur. Saat gas bercampur dengan fluida reservoir,
tekanan hidrostatik fluida dan tekanan gesekan di dalam pipa produksi menurun
yang menyebabkan penurunan flowing bottomhole pressure sehingga fluida
reservoir dapat diproduksikan. Continuous gas lift ini sering digunakan pada
sumur-sumur yang mempunyai kondisi seperti berikut:
1. Produktivitas tinggi dan tekanan statik tinggi (permukaan fluida
dalam sumur pada saat statik dapat mencapai 70% dari kedalaman
sumur).
2. Productivity index (PI) rendah, tetapi tekanan dasar sumur tinggi.

(Sumber : Guo, 2007)


Gambar 2.8 Continuous Gas Lift
B. Intermittent Gas Lift
Intermittent gas lift merupakan jenis metode gas lift dimana gas
diinjeksikan secara terputus yaitu gas diinjeksikan selama beberapa
saat, kemudian injeksi dihentikan selama selang waktu tertentu, dan kemudian
diinjeksikan lagi, dan seterusnya. Pengaturan frekuensi atau siklus injeksi tesebut
dapat dilakukan dengan menggunakan:
1

1. Surface controller dengan menggunakan jam


2. Choke yang bekerja atas perubahan tekanan casing atau tubing
Penghentian injeksi gas diperlukan untuk memberi kesempatan terhadap
cairan masuk dan terkumpul di dalam tubing di atas titik injeksi. Setelah
terkumpul baru diinjeksikan gas dan gas akan mendorong fluida ke permukaan
dalam bentuk kolom cairan (slug). Lamanya penghentian tergantung pada
produktivitas formasi. Jika produktivitas formasi besar, maka lamanya
penghentian injeksi kecil (singkat). Sedangkan bila produktivitas sumur
kecil,
maka penghentian injeksi memerlukan waktu yang
lama.

(Sumber :Pamungkas,
2004)
Gambar 2.9 Intermittent Gas Lift
Dalam metode intermittent gas lift, sebelum gas dinjeksikan minyak
dibiarkan dulu membentuk kolom (slug) di atas katup (gas lift) di dalam tubing.
Karena gas diinjeksikan dan tekanan naik di dalam annulus, maka katup
membuka pada tekanan buka-nya yang diikuti oleh aliran gas ke dalam
tubing. Gas ini akan mendorong kolom minyak ke atas. Selama pendorongan ini
sebagian cairan akan mengalir kembali ke bawah. Pada waktu kolom tadi
mencapai permukaan, kolom berikutnya telah terbentuk karena aliran dari
formasi. Gas
1

diinjeksikan, valve terbuka sehingga gas akan mendorong kolom minyak


dan demikian seterusnya kolom demi kolom diangkat ke permukaan.

2.4.3 Jenis Instalasi Umum Gas Lift


Berdasarkan jenis instalasinya, gas lift dapat dibedakan menjadi tiga jenis
yaitu open installation, semi-closed installation dan closed installation.

(Sumber : Pamungkas, 2004)


Gambar 2.10 Jenis-jenis Instalasi Umum Gas Lift
A. Open Installation Gas Lift
Open installation adalah jenis instalasi sumur gas lift dimana instalasi
tersebut tidak dilengkapi dengan packer dan standing valve, sehingga tekanan
injeksi akan berpengaruh langsung terhadap formasi. Instalasi jenis ini umumnya
digunakan pada sumur gas lift dengan sistem injeksi yang continuous flow.
B. Semi-closed Installation Gas Lift
Semi-closed Installation adalah instalasi sumur gas lift yang instalasinya
telah dilengkapi dengan packer, tetapi tanpa standing valve, instalasi ini
umumnya digunakan untuk sumur gas lift dengan sistem gas injeksi yang
continuous gas lift maupun yang intermittent gas lift.
C. Closed Installation Gas Lift
Closed Installation merupakan jenis instalasi sumur gas lift yang telah
dilengkapi packer dan standing valve pada rangkaian tubing, tepatnya
dibawah
1

operating gas lift valve. Instalasi ini akan efektif bila digunakan untuk sumur gas
lift dengan sistem injeksi jenis intermittent. Adapun fungsi standing valve adalah
untuk menahan tekanan balik dari kolom fluida apabila tekanan tersebut
lebih besar dari tekanan dasar sumur.

2.4.4 Gas Lift Valve (GLV)


Ada beberapa jenis gas lift valve yang sering digunakan untuk instalasi
metode gas lift ini. Beberapa jenis valve tersebut dibedakan berdasarkan
pengaruh tekanan (tekanan casing atau tubing) yang paling dominan untuk
membuka dan menutup valve tersebut. Berdasarkan tekanan buka-tutup nya, gas
lift valve terdiri atas dua jenis yaitu injection pressure operated dan production
pressure operated.
A. Injection Pressure Operated Valve (IPO)
Injection pressure operated valve (IPO) merupakan jenis katup gas
lift yang paling umum digunakan dalam sistem gas lift. Gas diinjeksikan ke
dalam annulus dan masuk ke katup gas lift melalui pintu masuk gas. Karena area
bellow jauh lebih besar daripada port, dan karena bellow terkena gas bertekanan
tinggi di dalam casing, sehingga katup menjadi lebih sensitif terhadap tekanan
casing daripada fluida produksi di dalam tubing. Jika tekanan casing lebih tinggi
dari tekanan pembukaan katup, batang katup bergerak ke atas
memungkinkan gas melewati port dan masuk ke tubing produksi. Jika tekanan
casing pada kedalaman katup lebih kecil dari tekanan penutupan katup, batang
katup bergerak ke bawah mencegah gas melewati port.

(Sumber : Nguyen, 2020)


Gambar 2.11 Injection Pressure Operated Valve (IPO)
1

B. Production Pressure Operated Valve (PPO)


Production pressure operated valve (PPO) merupakan jenis katup gas lift
yang dioperasikan terutama dengan mengubah tekanan fluida produksi. Untuk
katup PPO, port terkena injeksi gas bertekanan tinggi dan bellow terkena tekanan
produksi dari tubing. Karena area bellow jauh lebih besar daripada port, katup ini
jauh lebih sensitif terhadap tekanan produksi daripada gas bertekanan tinggi di
annulus. Oleh karena itu, tekanan produksi lah yang mengontrol pembukaan atau
penutupan katup. Jika tekanan produksi pada kedalaman katup lebih tinggi dari
tekanan pembukaan katup PPO, maka batang katup bergerak ke atas
memungkinkan gas melewati port dan masuk ke tubing. Jika tekanan produksi
pada kedalaman katup lebih kecil dari tekanan penutupan katup, maka
batang katup bergerak ke bawah mencegah gas melewati port.

(Sumber : Nguyen, 2020)


Gambar 2.12 Production Pressure Operated Valve (PPO)

2.5 Analisis Sistem Nodal pada Sumur Gas Lift


Analisis sistem nodal adalah suatu cara yang digunakan untuk
menganalisa sumur-sumur minyak bumi dalam hal menentukan laju alir fluida
sumur yang optimum. Penggunaan metode ini dilakukan dengan menentukan
sebuah titik (node) untuk diamati pada sumur. Beberapa titik pada sumur yang
bisa digunakan sebagai Pnode dapat dilihat pada gambar berikut:
1

(Sumber : Heriot-Watt University)


Gambar 2.13 Skema Analisis Sistem Nodal
Gambar tersebut menunjukkan pressure losses pada media berpori sampai
ke separator yang dapat digunakan sebagai titik (node) dalam menganalisa
sumur.
Beberapa titik ini dapat diuraikan sebagai berikut:
1. ∆P1 = Pr - Pwfs, adalah kehilangan tekanan sepanjang media berpori.
2. ∆P2 = Pwfs - Pwf, adalah kehilangan tekanan pada komplesi.
3. ΔP3 = PUR - PDR, adalah kehilangan tekanan melalui restriksi.
4. ∆P4 = PUSV- PDSV, adalah kehilangan tekanan melalui safety valve.
5. ΔP5 = Pwh - PDSC, adalah kehilangan tekanan melalui surface choke.
6. ∆P6 = PDSC - Psep, adalah kehilangan tekanan pada flowline.
7. ΔP7 = Pwf - Pwh, adalah total kehilangan tekanan melalui tubing.
8. ΔP8 = Pwh - Psep, adalah total kehilangan tekanan melalui flowline.
Pada umumnya, analisis sistem nodal untuk sumur-sumur gas lift dilakukan
dengan cara memilih wellhead sebagai Pnode. Dengan demikian, akan ada aliran
masuk node (inflow) dan aliran keluar node (outflow) sebagai berikut:
2

2.5.1 Aliran Masuk Node (Inflow)


Aliran masuk node menggambarkan kehilangan tekanan mulai dari dalam
reservoir sampai pada wellhead (Pnode). Dengan demikian, maka kehilangan
tekanan ini dapat ditulis dengan persamaan sebagai berikut:
Inflow > Pr - ∆P1 - ∆P2 - ∆P7 = Pwh (2.11)

2.5.2 Aliran Keluar Node (Outflow)


Aliran keluar node menggambarkan jumlah dari setiap kehilangan
tekanan pada bagian downstream dari Pnode. Dengan demikian, maka jumlah
kehilangan tekanan ini dapat ditulis dengan persamaan sebagai berikut:
Outflow > Psep + ∆P6 + ∆P5 = Pwh (2.12)

(Sumber : Heriot-Watt University)


Gambar 2.14 Grafik Analisis Nodal

2.6 Simulator Prosper untuk Metode Gas Lift


Simulator Prosper merupakan salah satu simulator bagian dari software
IPM yang digunakan untuk membuat model sumur, guna menganalisa dari aspek
PVT (karakteristik fluida), korelasi yang digunakan untuk menghitung pressure
loss di tubing dan merupakan perhitungan terhadap vertical lift performance serta
dapat digunakan untuk menentukan kurva IPR (Melysa, R. dkk, 2017). Berikut
bagian-bagian simulator Prosper untuk mendesain gas lift:
2

2.6.1 Simulator Prosper Main Menu


Prosper merupakan salah satu software yang dikembangkan oleh
perusahaan Petroleum Expert Ltd (Petex Ltd). Simulator Prosper juga merupakan
salah satu bagian dari software integrated production modelling (IPM) yang mana
dibuat untuk keperluan merencanakan atau mendesain peralatan-peralatan pada
kegiatan industri hulu migas. Salah satu fungsi dari Prosper adalah untuk
mendesain metode pengangkatan buatan (artificial lift), dan pada sub-bab
ini
hanya akan di bahas mengenai pendesainan artificial lift jenis metode gas lift.

(Sumber : Simulator
Prosper)
Gambar 2.15 Prosper Main Menu
Main menu ini terdiri dari 2 baris dan tiga kolom data yang meliputi
option summary, PVT data, IPR data, equipment data dan analysis summary yang
harus diisi dengan data-data yang sesuai.

2.6.2 Data Input


Data input terdiri atas beberapa kolom data, diantaranya yaitu:
1. Summary Data Input
Jenis fluida yang akan dipilih dapat berupa black oil model atau
equation of state model. Black oil model merupakan input model fluida yang
sangat sederhana karena tidak membutuhkan data PVT properties. Sedangkan
equation of state model adalah model yang lebih kompleks karena membutuhkan
data PVT properties.
2

(Sumber : Simulator
Prosper)
Gambar 2.16 Summary Data Input
2. PVT Data Input
Kolom PVT data input yang harus di isi yaitu bergantung pada
fluid description yang dipilih sebelumnya pada summary data input. Sebagai
contoh, bila fluid description yang digunakan adalah black oil, maka data PVT
yang perlu
di isi akan muncul seperti gambar berikut:

(Sumber : Simulator
Prosper)
Gambar 2.17 PVT-Black Oil Data Input
2

3. IPR Data Input


IPR data input merupakan kolom data yang diperlukan untuk membuat
grafik inflow performance relationship (IPR). Hal yang perlu diperhatikan disini
adalah metode pembuatan IPR serta input data seperti tekanan reservoir,
permeabilitas dan data-data lain yang dibutuhkan sesuai model reservoir (metode
pembuatan IPR) yang dipilih. Pemilihan metode pembuatan IPR disini tentunya
didasarkan atas asumsi masing-masing model IPR. Sebagai contoh, model IPR
yang dipilih adalah IPR-Vogel, maka berarti tidak memperhitungkan nilai
skin
factor (s).

(Sumber : Simulator
Prosper)
Gambar 2.18 IPR-Vogel Data Input
4. Equipment Data Input
Equipment data input merupakan kolom yang perlu di isi dengan data-
data seperti deviation survey, surface equipment, downhole equipment,
geothermal gradient dan average heat capacity. Deviation survey merupakan data
kedalaman sumur yang dilihat berdasarkan kedalaman true vertical depth (TVD)
dan measurement depth (MD). Surface equipment merupakan peralatan diatas
permukaan yang digunakan. Downhole equipment merupakan data peralatan
dibawah permukaan seperti panjang tubing, diameter tubing, dll. Geothermal
gradient data input mencakup input data kedalaman sumur dan temperature serta
heat transfer coefficient.
2

(Sumber : Simulator
Prosper)
Gambar 2.19 Equipment Data Input
BAB III METODOLOGI
PENELITIAN

3.1 Waktu dan Tempat Penelitian


Penelitian Tugas Akhir dengan bahasan Redesign Katup Gas Lift
(Continuous) Menggunakan Metode Analisis Nodal untuk Optimasi Produksi
Sumur Bravo-011 yang dilaksanakan kurang lebih 1 bulan pada tanggal 01 s.d
31
Mei 2021 dibawah Production Department di PT Pertamina Hulu Rokan Region 1
Zona 4.

3.2 Metode Penelitian


Metode penelitian yang digunakan pada penelitian Tugas Akhir ini
dilakukan dengan beberapa tahapan sebagai berikut:
3.2.1 Studi Literatur
Merupakan kegiatan mengumpulkan data dan informasi dengan cara
melakukan kajian data dan referensi dari dokumen yang ada di
perusahaan serta mengutip dari beberapa sumber referensi buku
perminyakan, skripsi, jurnal serta paper yang berguna dalam penyusunan
laporan Tugas Akhir.
3.2.2 Diskusi dan Wawancara
Merupakan kegiatan pengambilan data dengan melakukan konsultasi dan
diskusi secara langsung dengan pembimbing lapangan dan pihak lainnya
seperti operator dan engineer terkait dengan materi Tugas Akhir.
3.2.3 Observasi Lapangan
Merupakan kegiatan pengamatan dan pengambilan data berupa profil
sumur, data produksi sumur serta data karakteristik struktur yang
diproduksikan dengan cara mengunjungi lokasi Sumur Bravo-011 di
Lapangan Limau.

3.3 Data Penelitian


Dalam penyusunan Laporan Tugas Akhir dengan judul “Redesign
Katup
Gas Lift (Continuous) Menggunakan Metode Analisis Nodal untuk Optimasi
25
Produksi Sumur Bravo-011 di PT Pertamina Hulu Rokan Region 1 Zona 4”, ada
dua jenis data yang digunakan diantaranya data utama yaitu data profil sumur
dan data produksi sumur gas lift Bravo-011 serta data pendukung yaitu data
karakteristik Struktur Alpha. Kemudian dilakukan analisis nodal, desain ulang
katup gas lift serta optimasi produksi oleh Penulis. Berikut merupakan data
utama dan data pendukung yang dibutuhkan dalam perhitungan, data-data
tersebut diperlukan dalam perhitungan penelitian Tugas Akhir.
Tabel 3.1 Data Perhitungan
Parameter Simbol Satuan
Kedalaman total sumur MD Ft
Kedalaman vertikal sumur TVD Ft
Tekanan reservoir Pres Psig
Tekanan dasar sumur Pwf Psig
Tekanan kepala sumur Pwh Psig
Tekanan separator Psep Psig
Gradien statik - Psi/ft
Laju produksi cairan QL BLPD
Laju produksi minyak Qo BOPD
Laju produksi air Qw BWPD
Laju produksi gas Qg mmscfd
Gas-liquid ratio GLR cuft/bbl
Gas-oil ratio GOR cuft/bbl
Impurities content - Fraksi
Ketebalan formasi h Ft
Temperatur reservoir Tres °F
Panjang tubing Ltub Ft
Panjang casing produksi Lcsg Ft
Diameter casing produksi ODcsg Inch
Diameter tubing ODtub Inch
Permeabilitas efektif K mD
2

Porosity φ %
Temperatur permukaan Tsurf °F
Watercut WC %
Tekanan casing head PCH psig
Tekanan tubing head PTH psig

3.4 Tahap Analisis dan Pengolahan Data


Tahap analisis dan pengolahan data ini dilakukan untuk menentukan hasil
perhitungan dan kesimpulan dari penelitian yang dilakukan. Berikut tahap
analisis dan pengolahan data yang terdiri atas empat tahapan, yaitu:
3.4.1 Analisis Sistem Nodal
Merupakan tahap pertama yang bertujuan untuk menentukan laju alir
fluida dari Sumur Bravo-011 yang optimum (Qopt) dengan cara melakukan
analisis sistem nodal sumur tersebut guna mengetahui kombinasi ukuran
diameter tubing dan flowline yang tepat sehingga mampu menghasilkan laju alir
yang optimum. Berikut tahapan analisis nodal pada sumur Bravo-011:
A. Penentuan Nilai Qmax dan Plot Kurva IPR
Sebelum dilakukan analisis nodal dilakukan, laju alir maksimum (Q max)
harus diketahui dahulu. Karena untuk menentukan kurva IPR dan perhitungan
analisis nodal. Perhitungan kurva IPR ini dilakukan dengan menggunakan
Metode Vogel untuk aliran dua fasa dengan kondisi yaitu Pr > P wf dan Pwf <
Pb. Berikut merupakan langkah perhitungan dalam menentukan kurva IPR:
1. Perhitungan harga Rs, γgc dan Pb menggunakan Korelasi Vazquez-Beggs.
- Menentukan harga kelarutan gas (Rs), yaitu:
Sebelum menentukan nilai Qmax, perlu diketahui harga Rs terlebih
dahulu dengan menggunakan Persamaan Vazquez-Beggs berikut:
Rs = C1 . γg . ��2 . exp γ � 𝑃𝐼
)) .............................................. (3.1)
(��+4
(�3 ( 60)
2

Dimana:
Tabel 3.2 Koefisien Korelasi Vazquez-Beggs untuk Persamaan Rs
SGoil ≤
Koefisien SGoil > 30°API
30°API
C1 0,0362 0,0178
C2 1,0937 1,1870
C3 25,7240 23,9310

- Menentukan Harga SGgas terkoreksi (γgc), yaitu:


Setelah harga Rs diketahui, kemudian menentukan harga γ gc
untuk menghitung nilai bubblepoint pressure (Pb).

γgc = γg . [1 + (0,5912��10−4 ). γ��𝐼 . ���)] ...................... (3.2)


��� . ����𝑔 (
114,7
- Menentukan harga bubblepoint pressure (Pb):
� . γ� �
Pb = ��
𝑃𝐼
)
(3.3)
[��. ( ) . 10 (��+460
]
γgc
Dimana:
Tabel 3.3 Koefisien Korelasi Vazquez-Beggs untuk Persamaan Pb
SGoil ≤
Koefisien SGoil ˃ 30°API
30°API
A 27,64 56,06
B -11,172 -10,393
C 0,9143 0,8425
2. Perhitungan harga Qmax berdasarkan prosedur Metode Vogel untuk aliran
dua fasa dengan kondisi yaitu Pr > Pwf dan Pwf < Pb.
- Menentukan harga A, yaitu:
��� 2
A = 1 − 0,2 ( ) − 0,8 ( (3.4)
���
) �� ��

- Menentukan harga productivity index (PI), yaitu:



PI = (Pr − ��)+ (��⁄ (3.5)
1,8).�

- Menentukan laju produksi saat tekanan bubblepoint (Qb),


yaitu:
Qb = PI x (Pr - Pb) (3.6)
2

- Menentukan laju produksi saat kondisi x (Qx) dengan


persamaan:
��� � Pb (3.7)
Q x= 1,8

- Menghitung laju produksi maksimum (Qmax) dengan persamaan:


Qmax = Qb + Qx (3.8)
3. Penentuan kurva IPR.
- Menentukan beberapa harga P wf asumsi, kemudian menghitung harga Q
untuk setiap harga Pwf asumsi tersebut dengan persamaan berikut:
���
Qx = Qb + ((Qmax − Qb) x (1 − 0,2 (��
� ) − 0,8 ( )) (3.9)
2
� )��

- Kemudian lakukan plot antara harga Pwf asumsi (sumbu Y) dengan harga
Q yang diperoleh (sumbu X) pada grafik kartesian seperti grafik
berikut.

(Sumber : Guo, 2007)


Gambar 3.1 Grafik IPR Aliran Dua Fasa
B. Penentuan Titik Nodal
Analisis nodal pada Sumur bravo-011 dilakukan pada kepala sumur
sebagai titik node (Pnode). Hal ini karena secara umum kepala sumur
dipilih sebagai titik node dalam analisis nodal pada suatu sumur gas lift.
Dengan titik node pada kepala sumur, maka kita dapat mencari nilai laju alir
optimum pada Sumur Bravo-011 dengan cara melakukan perhitungan dan
menentukan ukuran diameter tubing dan flowline yang paling optimal
menggunakan grafik pressure traverse untuk aliran vertikal (pressure
differential dari Pwf ke Pwh) dan grafik pressure traverse untuk aliran horizontal
(total pressure dari Psep ke Pwh).
C. Plot Grafik Inflow vs Outflow
3

Dengan memasukkan harga pressure differential Pwf ke Pwh dari beberapa


jenis ukuran diameter tubing sebagai kurva inflow. Dan memasukkan harga total
pressure Psep ke Pwh dari beberapa jenis ukuran diameter flowline sebagai
kurva tubing intake/outflow pada grafik kartesian. Kemudian dapat dilihat pada
grafik tersebut dimana titik perpotongan dari kombinasi kurva yang mampu
memberikan harga laju alir paling optimum (Qopt).

(Sumber : Modul Teknik Produksi II)


Gambar 3.2 Grafik Analisis Nodal dengan Titik Nodal di Wellhead
D. Menentukan Laju Produksi Optimum (Qopt)
Nilai laju alir optimum Sumur Bravo-011 dapat dicapai dengan cara
melihat titik perpotongan garis antara kurva inflow dan kurva outflow pada
grafik kartesian yang mampu memberikan nilai rate produksi paling optimum.
E. Tabulasi Data Hasil Analisis Nodal
Data yang diperoleh seperti ukuran diameter tubing dan flowline serta
nilai laju alir optimum (Qopt) dimasukkan ke dalam tabel data hasil analisis.
Berikut data hasil analisis sistem nodal yang harus dicatat yaitu data diameter
tubing dan casing, tekanan wellhead (Pwh) serta laju alir optimum (Qopt).
3

3.4.2 Redesign Katup Gas Lift (Manual)


Merupakan tahap untuk mendesain ulang katup gas lift secara
manual dengan tujuan untuk mengetahui desain gas lift baru pada Sumur
Bravo-011 dengan berdasarkan data yang dimiliki dan hasil analisis nodal yang
telah dilakukan sebelumnya. Tahap desain ulang katup gas lift Sumur Bravo-011
secara manual dijabarkan sebagai berikut:
A. Penentuan Titik Injeksi
1. Siapkan data-data penunjang berikut :
- Kedalaman sumur (Depth) - Tekanan kepala sumur (Pwh)
- Diameter tubing (Dtub) - Tekanan injeksi gas (Pso)
- Diameter casing (Dcsg) - Temperatur dasar sumur (Twf)
- Laju produksi cairan (QL) - Temperatur di permukaan (Tsurf)
- Kadar air (WC) - Gradien geothermal (GT)
- Gas-oil ratio (GLR) - API minyak
- Tekanan Statik (Ps) - Specific gravity air (SGwater)
- Harga PI untuk aliran satu fasa - Specific gravity gas (SGgas)
- Kurva IPR untuk aliran dua fasa - Specific gravity gas injeksi (SGinj)
2. Siapkan kertas transparan
Buat grafik kartesian yang berskala sesuai dengan skala pressure
traverse, lalu gambarkan tekanan pada sumbu datar dan kedalaman pada
sumbu tegak dengan titik asal (nol) disudut kiri kertas.
3. Berdasarkan laju alir yang diinginkan (QL), hitung tekanan alir dasar sumur
(Pwf) dengan menggunakan persamaan
berikut:

Pwf = 0,125 x Ps {−1 + √81 − 80 ( �
)} (3.10)
���
4. Plot titik (Pwf,D) ke grafik kartesian. �

5. Pilih pressure traverse yang sesuai berdasarkan harga QL, kadar air
(watercut), dan diameter tubing yang digunakan.
6. Pilih garis gradien aliran yang sesuai dengan GLR, seringkali harga GLR
tidak terdapat pada pressure traverse, sehingga perlu dilakukan interpolasi.
7. Tentukan kedalaman ekuivalen Pwf pada kurva langkah 6.
3

8. Letakkan kertas transparan di atas kertas pressure traverse yang


dipilih dengan titik (Pwf,D) tepat di atas Pwf langkah 7.
9. Jiplak kurva pilihan di langkah 6 pada kertas transparan.
10. Tentukan gradien tekanan gas (Ggi) menggunakan grafik gradien tekanan
gas (gambar 3.3), berdasarkan specific gravity gas injeksi (SGinj) dan tekanan
operasional (Pso).

(Sumber : Brown, 1980)


Gambar 3.3 Grafik Gradien Tekanan Gas
11. Plot Pso di kedalaman 0 pada kertas transparan.
12. Hitung tekanan gas pada kedalaman X ft, (P x) menurut persamaan:
Px = Pso + X Ggi (3.11)
13. Plot titik (Px,X).
14. Hubungkan titik (Pso,O) dan titik (Px,X) sampai memotong kurva langkah 9.
3

15. Titik injeksi ditentukan dengan menelusuri kurva pada langkah 9 ke


atas dimulai dari titik potong langkah 14 sejarak 50-100 psi. Titik injeksi
berkoordinat (Pi,Di).

(Sumber : API, 1994)


Gambar 3.4 Grafik Penentuan Titik Injeksi
B. Penentuan Jumlah Gas Injeksi
1. Plot titik (Pwh,0).
2. Letakkan kertas transparan di atas pressure traverse terpilih sehingga ordinat
berhimpit. Geser sumbu datar pada kertas transparan ke atas atau ke bawah
sampai diperoleh kurva pada pressure traverse yang melalui (Pwh,0) dan titik
injeksi (Pi,Di). Bila perlu lakukan interpolasi kurva.
3. Jiplak kurva terpilih di langkah 2 dan catat nilai GLR nya.
4. Hitung jumlah gas injeksi dengan persamaan : (Jika data Q gi belum ada)
Qgi = QL x (GLR1 - GLR2) (3.12)
5. Koreksi harga Qgi pada temperatur titik injeksi adalah:
3

- Temperatur di titik injeksi : Tpoi = (Ts + GtDi) + 460 (3.13)


- Faktor koreksi : Corr = 0,0544 x √�𝐺��� . ����
(3.14)
- Volume gas injeksi terkoreksi : [Link] = Qgi x Corr (3.15)
C. Penentuan Kedalaman Katup Gas Lift
1. Siapkan data-data penunjang berikut:
- Kertas transparan
- Tekanan diferensial (ΔPd)
- Tekanan kick-off (Pko)
- Gradien statik fluida dalam sumur
- Kesalahan korelasi pressure traverse terhadap hasil pembuatan
pressure traverse di lapangan setempat besarnya antara 10-20 %.
2. Hitung jarak katup maksimum di sekitar titik injeksi menurut persamaan:
𝛥�
ΔDv = �
(3.16)


3. Gambarkan garis perencanaan tekanan tubing “design tubing line” sebagai


berikut:
- Hitung P1 = Pwh + (0,20 x Pso) dan P2 = Pwh + 200
- Pilih harga terbesar dari P1 dan P2, misalkan P1>P2 maka pilih P1
- plot (P1, 0) pada kertas transparan, kemudian hubungkan titik (P 1,0)
dengan titik injeksi (Pi,Di). garis ini disebut garis perencanaan tubing.
4. Berdasarkan harga Pko dan specific gravity gas injeksi, tentukan
gradien tekanan gas dengan menggunakan grafik gradien tekanan gas.
5. Plot titik (Pko,0) di kertas transparan dan buat garis gradien tekanan gas,
mulai dari Pko menggunakan gradien tekanan gas yang diperoleh dari langkah
4.
6. Plot titik (P so, 0) pada kertas transparan. Mulai dari (P so, 0) buat garis
gradien tekanan yang sejajar dengan garis gradien tekanan di langkah 5.
7. Dari titik (Pwh, 0) buat garis gradien statik dalam sumur berdasarkan
harga gradien statik yang diketahui.
8. Penentuan letak katup gas lift pertama:
- Perpanjang garis gradien statik dalam sumur sampai memotong
garis gradien tekanan gas yang melewati titik (Pko,0) langkah 5.
3

- Letak katup injeksi pertama ditentukan dengan menelusuri garis gradien


statik di atas mulai dari titik potong langkah 8.1 sejauh 50 psi. Titik katup
injeksi pertama berkoordinat (P1,D1).
9. Penentuan letak katup gas lift berikutnya:
- Buat garis horizontal ke kiri dan titik (P1,D1) sampai memotong
garis perencanaan tekanan tubing di langkah 3.
- Dari perpotongan tersebut buat garis gradien tekanan statik yaitu garis
yang sejajar dengan garis gradien statik di langkah 7.
- Perpanjang garis dari langkah 9.2 sampai memotong garis gradien tekanan
gas yang dibuat melalui titik (Pso,0).
- Titik potong tersebut adalah letak katup berikut dengan koordinat
(P2,D2).
- Kembali ke langkah 9.1 dan ulangi sampai langkah 9.4 untuk memperoleh
letak katup-katup berikutnya. Pengulangan pekerjaan ini dihentikan setelah
diperoleh letak katup gas lift lebih dalam dari titik injeksi (P1,D1).

(Sumber : API, 1994)


Gambar 3.5 Grafik Penentuan Gas Lift Valve Depth
3

10. Penentuan letak katup gas lift di daerah bracketing envelope:


- Plot titik [(Pso - ΔPd),0].
- Dari titik tersebut, buat garis yang sejajar dengan garis gradien tekanan
gas yang melalui (P so,0) dari langkah 6.
- Perpanjang garis tersebut sampai memotong kurva terpilih di langkah 3 pada
titik (Pbe,Y).
- Hitung nilai-nilai berikut:
Paa = (l + BE) x Pbe (3.17)
Pbb = (1 - BE) x Pbe (3.18)
BE = % bracketing envelope (3.19)
= 10-20 %
- Berdasarkan harga Pwh, hitung:
Pa = (1 + BE) x Pwh (3.20)
Pb = (1 - BE) x Pwh (3.21)
- Hubungkan titik (Paa,Y) dengan titik(Pa,0). Titik potong antara garis ini
dengan garis gradien gas dari langkah 10.6 adalah batas atas dari
bracketing envelope.
- Hubungkan titik (Pbb,Y) dengan titik (Pb,0). Perpanjang garis ini sampai
memotong garis gradien gas dari langkah 10.2. Titik potong ini adalah
batas bawah dari bracketing envelope.
- Dari langkah 2 telah dihitung jarak maksimum antar katup gas lift (ΔDv).
Berdasarkan harga ini, mulai dari batas atas bracketing envelope katup-
katup gas lift dapat dipasang dengan jarak antar katup senilai ΔDv sampai
batas bawah bracketing envelope.
3

(Sumber : Brown, 1980)


Gambar 3.6 Grafik Penentuan Bracketing Envelope

3.4.3 Redesign Katup Gas Lift (Simulator Prosper)


Merupakan tahap lanjutan yang bertujuan untuk mendesain ulang jumlah
dan kedalaman katup gas lift dengan menggunakan simulator Prosper sehingga
dapat diperoleh desain gas lift baru dengan laju produksi minyak yang
lebih tinggi. Tahap ini bertujuan untuk membandingkan antara hasil desain gas
lift baru secara manual dan hasil desain gas lift baru dengan menggunakan
simulator Prosper. Tahap desain ulang desain katup Sumur Bravo-011
menggunakan simulator Prosper dijabarkan sebagai berikut:
1. Lengkapi summary data input dengan cara:
Running simulator Prosper >>> select options >>> options >>> buat
perubahan (artificial lift method) >>> gas lift >>> select done.
3

(Sumber : Prosper Guide)


Gambar 3.7 Summary Data Input (Continuous Gas Lift)
2. Lengkapi PVT data dengan cara:
select >>> system >>> gas lift data >>> masukkan data >>> select done.

(Sumber : Prosper Guide)


Gambar 3.8 Gas Lift Data Input
3

3. Lengkapi IPR data input dengan cara:


select >>> system >>> inflow performance >>> pilih metode (misal:
Vogel) >>> masukkan data lain >>> select >>> validate >>> OK >>>
select >>> input data >>> masukkan test rate dan test BHP >>>
select
>>> validate >>> OK.

(Sumber : Prosper Guide)


Gambar 3.9 IPR Data Input
Setelah mengikuti langkah-langkah di atas, maka kurva IPR dapat
dilihat seperti berikut dengan cara klik calculate >>> select >>> main.
4

(Sumber : Prosper Guide)


Gambar 3.10 Kurva IPR Metode Vogel
4. Lengkapi equipment data input dengan cara:
select >>> system >>> equipment (tubing etc.) >>> select >>>
deviation survey (masukkan data parameter) >>> select >>> done.

(Sumber : Prosper Guide)


Gambar 3.11 Kolom Deviation Survey
Lengkapi downhole equipment data dengan cara select >>>
downhole equipment >>> masukkan data tubing dan casing >>> select
>>> done.
4

(Sumber : Prosper
Guide)
Gambar 3.12 Kolom Downhole Equipment
Lengkapi geothermal gradient data dengan cara klik select >>>
gradient geothermal >>> masukkan parameter >>> select >>> done.

(Sumber : Prosper Guide)


Gambar 3.13 Kolom Geothermal Gradient
Lengkapi average heat capacity dengan cara klik select >>> average
heat capacity >>> masukkan data >>> select >>> done.

(Sumber : Prosper Guide)


Gambar 3.14 Kolom Average Heat Capacities
4

5. Mendesain gas lift, lengkapi data gas lift dengan cara:


select >>> design >>> gas lift >>> new well (untuk desain sumur gas lift
baru) >>> masukkan data parameter seperti gambar berikut.

(Sumber : Prosper Guide)


Gambar 3.15 Gas Lift Design-New Well
Kemudian, select >>> continue >>> get rate >>> plot >>> select >>>
finish. Dari langkah-langkah tersebut maka akan menghasilkan grafik
kurva hubungan berikut:
4

(Sumber : Prosper Guide)


Gambar 3.16 Grafik Gas Injection Rate vs Production Rate
Kemudian, select >>> design >>> plot. Setelah langkah-langkah
desain spasi gas lift valve dilakukan, maka hasilnya seperti berikut.

(Sumber : Prosper Guide)


Gambar 3.17 Grafik Hasil Desain Gas Lift
Kemudian, select >>> finish >>> result >>> calculate >>> report.
Maka akan menampilkan laporan hasil desain tersebut.
4

3.4.4 Uji Sensitivitas Produksi


Merupakan tahapan akhir dalam pengolahan data, dengan tujuan untuk
menguji sensitivitas beberapa parameter terhadap hasil desain gas lift baru
dengan menggunakan simulator Prosper. dalam tahapan ini, terdapat tiga
parameter yang di uji diantaranya yaitu laju injeksi gas (Qinj), tekanan
operasional (P so) & tekanan kick-off (Pko) serta jarak minimum antar katup (ΔDv).
Berdasarkan data lapangan yang diperoleh serta hasil perhitungan dan diskusi
bersama pembimbing lapangan, maka penulis membuat 8 skenario optimasi
produksi yang direncanakan untuk meningkatkan kembali produktivitas Sumur
Bravo-011. Berikut 8 skenario uji sensitivitas yang akan dilakukan:
Tabel 3.4 Skenario Uji Sensitivitas Produksi
Parameter
No Uji Sensitivitas Qinj Pko & Pso ΔDv
(mmscfd) (psi) (ft)
1 Basecase - - -
2 Opsi 2 √ - -
3 Opsi 3 - √ -
4 Opsi 4 - - √
5 Opsi 5 √ √ -
6 Opsi 6 - √ √
7 Opsi 7 √ - √
8 Opsi 8 √ √ √

Keterangan :
- = Nilai tetap
√ = Nilai diubah
4

3.5 Bagan Alir Penelitian


Berikut kerangka bagan alir penelitian Tugas Akhir oleh Penulis:

Redesign Gas Lift (Continuous)


Menggunakan Metode Analisis Nodal
Untuk Optimasi Produksi Sumur Bravo-011
Di PT Pertamina Hulu Rokan Region 1 Zona

Pengumpulan Data:
1. Studi literatur
2. Diskusi dan wawancara
3. Observasi lapangan

Data Utama: Data Pendukung:


Data profil dan data produksi Data karakteristik sifat fisik
sumur Bravo-011 Struktur Alpha

Analisis dan Pengolahan Data:


1. Analisis nodal pada wellhead
2. Desain ulang GLV secara manual
3. Desain ulang GLV secara simulasi
menggunakan simulator Prosper
4. Uji sensitivitas produksi Sumur Bravo-011

Evaluasi data hasil perhitungan

Laju produksi Tidak


meningkat?

Ya
Kesimpulan

Selesai
Gambar 3.18 Bagan Alir Penelitian
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Sumur Bravo-011


Sumur Bravo-011 merupakan sumur produksi minyak di Lapangan Limau
yang dikelola oleh PT Pertamina Hulu Rokan Region 1 Zona 4, saat ini sumur
berproduksi menggunakan metode gas lift. Berdasarkan data well history, Sumur
Bravo-011 pertama kali diproduksikan menggunakan artificial lift jenis gas lift
pada tahun 2016. Kemudian di akhir tahun 2016 artificial lift yang digunakan
dikonversi menjadi sucker rod pump (SRP), penggunaan pompa SRP ini
berlangsung hingga awal 2017 dan kemudian pada pertengahan tahun 2017
sumur kembali berproduksi menggunakan gas lift.
Saat ini laju produksi Sumur Bravo-011 adalah sebesar 843 BLPD
dengan watercut mencapai 95%, berdasarkan hasil analisis kurva IPR dan analisis
nodal yang dilakukan, diketahui bahwa Sumur Bravo-011 masih memiliki
potensi laju produksi yang lebih tinggi dari laju produksi saat ini. Berikut adalah
rincian data Sumur Bravo-011 yang ada di wilayah Stasiun Pengumpul Delta di
PT Pertamina Hulu Rokan Region 1 Zona 4.
4.1.1 Penampang Sumur
Berikut gambar penampang installed wellhead yang terpasang pada Sumur
Bravo-011 saat ini.

7-1/16" x 3000 psi

[C]

10" x 3000 psi

10" x 3000 psi

[A]

9-5/8"

[A] Wellhead Section A (BF 10” x 3000 psi)


[C] Wellhead Section C (THS 10" x 7-1/16" x 3000 psi)

(Sumber : PT Pertamina Hulu Rokan Region 1 Zona 4)


Gambar 4.1 Wellhead Schematic Sumur Bravo-011

46
4

Dari gambar diatas, terlihat bahwa pada wellhead Sumur Bravo-011


terdiri dari beberapa komponen diantaranya wellhead section A yaitu base
dengan spesifikasi BF 10” x 3000 psi dan wellhead section C yaitu tubing head
spool dengan spesifikasi THS 10” x 7-1/16” x 3000 psi. Adapun rincian
data dari komponen subsurface yang terpasang pada Sumur Bravo-011 adalah
berikut:

(Sumber : PT Pertamina Hulu Rokan Region 1 Zona 4)


Gambar 4.2 Downhole Equipment Diagram Sumur Bravo-011
4

4.1.2 Data Perhitungan


Berikut merupakan data profil dan data produksi Sumur Bravo-011
serta data karakteristik Struktur Alpha yang diperoleh untuk dilakukan
perhitungan.
Tabel 4.1 Data Profil Sumur Bravo-011
No. Parameter Data Satuan
1 Measured Depth ((MD) 4950,787 Ft
2 True Vertical Depth (TVD) 4950,787 Ft
3 Tekanan Well Flowing (Pwf) 900 psi
4 Tekanan Kepala Sumur (Pwh) 140 psi
5 Tekanan Separator (Psep) 69 psi
6 Tekanan Casing Head (PCH) 300 psi
7 Tekanan Tubing Head (PTH) 140 psi
8 Tekanan Flowline (Pfl) 140 psi
9 Tekanan Kick-off (Pko) 610 psi
10 Tekanan Operasional (Pso) 550 psi
11 Dynamic Fluid Level (DFL) 4107,611 Ft
12 Panjang Tubing (Ltub) 4263,255 Ft
13 Panjang Flowline (Lfl) 9842,52 Ft
14 Production Tubing Size (ODtub) 2-7/8 inci
15 Production Casing Size (ODcsg) 7 inci
16 Packer Setting Depth 4228,445 Ft
17 Panjang Casing (Lcsg) 4891,732 Ft
18 Lapisan berproduksi S -
4

Lalu untuk data produksi terakhir pada Juni 2021, yaitu pada tabel 4.2 berikut:
Tabel 4.2 Data Produksi Sumur Bravo-011
No. Parameter Data Satuan
1 Produksi Cairan (QL) 843 BLPD
2 Produksi Minyak (Qo) 42,15 BOPD
3 Produksi Air (Qw) 800,85 BWPD
4 Produksi Gas (Qg) 0,525 mmscfd
5 Watercut (WC) 95 %
6 Own Gas 3,887 mmscfd
7 Gas-Liquid Ratio (GLR) 600 cuft/bbl
8 Gas-Oil Ratio (GOR) 12000 cuft/bbl
9 SG Gas (γg) 0,75 -
10 SG Gas Injeksi (γinj) 0,75 -
11 SG Produced Water (γw) 1,013 -
12 Persen Mol CO2 12,0116 %
13 Persen Mol N2 2,1603 %
14 Kandungan H2S 26,70 ppm
15 Oil Gravity (API) 32 °API

Dan data karakteristik dari Struktur Alpha yang merupakan struktur


yang diproduksikan yaitu pada tabel 4.3 berikut:
Tabel 4.3 Data Karakteristik Struktur Alpha
No. Paramete Data Satuan
r
1 Tekanan Reservoir (Pr) 1500 psig
2 Temperatur Reservoir (T r) 210 °F
3 Temperatur Permukaan (Tsurf) 110 °F
4 Permeabilitas Efektif (Keff) 30 mD
5 Porositas (φ) 20 %
6 Ketebalan Formasi (hnet) 17 ft
7 Gradien Statik (Gs) 0,33 psi/ft
8 Gradien Dinamik (Gd) 0,183 psi/ft
5

4.2 Analisis Sistem Nodal Sumur Bravo-011


Prosedur langkah kerja pada analisis sistem nodal yang dilakukan pada
Sumur Bravo-011 dijabarkan sebagai berikut:
4.2.1 Perhitungan Productivity Index (PI)
Perhitungan PI dilakukan untuk mengetahui kemampuan produksi Sumur
Bravo-011 sebelum plot kurva IPR. Berikut langkah perhitungan PI yaitu:
�𝐿
PI =
(��−�� ) �
�⁄
1,8) . �
+(

843
PI = (1500−1099,350) + (1099,350⁄
1,8)
.0,3

PI = 1,444 BPD/psi

4.2.2 Penentuan Laju Alir Maksimum (Qmax)


Jenis aliran fluida produksi pada Sumur Bravo-011 adalah aliran dua fasa
(two-phase flow) dengan nilai faktor skin diabaikan, sehingga untuk menentukan
nilai Qmax menggunakan Persamaan Vogel untuk aliran dua fasa. Berikut
langkah- langkah penentuan harga Qmax:
1. Perhitungan Harga Rs
Sebelum menentukan nilai Qmax, perlu diketahui harga kelarutan gas (R s)
terlebih dahulu. Harga R s dapat dihitung menggunakan Persamaan
Vazquez-Beggs berikut:
�2 γ � 𝑃𝐼
Rs = C1 . γg . ���� . exp ))
(𝑇���+460)
(�3 (

Rs = 0,0178 . 0,75 . 15001,1870 . exp (23,9310 32


))
(210+460)
(

Rs = 246,541 scf/STB
Dimana:
Tabel 4.4 Koefisien Korelasi Vazquez-Beggs untuk Persamaan Rs
Koefisien SGoil ≤ 30°API SGoil > 30°API
C1 0,0362 0,0178
C2 1,0937 1,1870
C3 25,7240 23,9310
5

2. Perhitungan Harga SGgas Korelasi (γgc)


Setelah harga Rs diketahui, kemudian menentukan harga SG gas
korelasi untuk menghitung nilai bubblepoint pressure (Pb).
���
γgc = γg . [1 + (0,5912��10−4 ). γ��𝐼 . 114,7
)]
��� . ����𝑔 (
1500
γgc = 0,75 . [1 + (0,5912��10−4 ) . 32 . 210 . 114,7
)]
����𝑔 (

γgc = 1,083
3. Perhitungan Harga Pb
Harga Rs dan γgc yang didapatkan kemudian digunakan untuk
menghitung harga bubblepoint pressure sebagai berikut:
� . γ � 𝑃𝐼

(�� )
Pb = �� ���
+460 ]
[��. (
γgc ). − 10, 393 . 0,8425
32
246,541 ( )
Pb = [56,06 . ( ) . 10 210+460 ]
1,083

Pb = 1099,350 psi
Dimana:
Tabel 4.5 Koefisien Korelasi Vazquez-Beggs untuk Persamaan Pb
Koefisien SGoil ≤ 30°API SGoil ˃ 30°API
A 27,64 56,06
B -11,172 -10,393
C 0,9143 0,8425
4. Perhitungan Harga Qmax
Karena nilai Pr > Pb dan Pwf < Pb, maka Qmax ditentukan menggunakan
Persamaan Vogel kondisi ketiga dengan langkah kerja berikut:
- Menghitung harga A:
� �
A = 1 - 0,2 . (�� ) - 0,8 . ( � ��2)



2
900 900
A = 1 - 0,2 . ( ) - 0,8 . ( = 0,3
) 1099,350 1099,350

- Menghitung harga laju produksi @P wf = Pb:


Qb = PI . (Pr - Pb)
Qb = 1,444 . (1500 - 1099,350)
Qb = 578,401 BLPD
5

- Menghitung harga Qx:


�𝐼 . 1 ,444 . 1099 ,
Qx = �� =
350
1,8 1,8

Qx = 881,714 BPD
- Menghitung harga Qmax:
Qmax = Qb + Qx
Qmax = (578,401 + 881,714) BPD
Qmax = 1460,115 BLPD

4.2.3 Analisis Kurva IPR


Pwf asumsi ([Link]) merupakan harga tekanan well flowing yang
diasumsikan besarnya dan akan berpengaruh terhadap besarnya nilai laju alir
yang didapatkan. Berikut tahapan dan tabulasi hasil penentuan laju alir
berdasarkan beberapa harga Pwf asumsi:
� � ��. � ���� 𝑖 2
Q = �� + ((���� − �� ). (1
�� . � ����𝑖
− 0,2 ) − 0,8 ( ��
) ))
(

1200 1200 2
Q = 578,401+((1460,115 − 578,401). (1 − 0,2 (1099,35 ) − 0,8 1099,35
( ) ))

Q = 427,185 BLPD
Tabel 4.6 Nilai QL dan Qo untuk Setiap Nilai Pwf asumsi
No Pwf asumsi (psi) QL (BLPD) Qo (BOPD)
1 1500 0 0
2 1200 427,185 21,359
3 1099,350 578,401 28,920
4 900 843 42,150
5 800 958,260 47,913
6 600 1153,760 57,688
7 400 1302,570 65,128
8 200 1404,688 70,234
9 0 1460,115 73,006

Setelah tabulasi selesai, kemudian nilai laju alir (QL & Qo) diplotkan
pada grafik kartesian sesuai dengan harga Pwf asumsi masing-masing.
5

Gambar 4.3 Plot Kurva IPR Sumur Bravo-011

4.2.4 Penentuan Laju Alir Optimum (Qopt)


Menentukan laju alir produksi paling optimum (Qopt) adalah tujuan dari
analisis sistem nodal dan tahap optimasi produksi yang dilakukan terhadap
Sumur Bravo-011. Laju alir optimum didapatkan melalui langkah berikut:
1. Membuat tabel dengan input kolom harga laju alir asumsi, kolom nilai
P wf, kolom nilai P sep, kolom harga Pwh dari vertical flow serta kolom
harga Pwh dari horizontal flow.
2. Menghitung nilai Pwf untuk masing-masing harga Qasumsi menggunakan
Persamaan berikut:
Pwf = �� −������
𝐼
�𝑖

200
Pwf = 1500 − 1,444

Pwf = 1361,463 psi


3. Menentukan nilai P wh inflow performance menggunakan pressure
traverse aliran vertikal untuk setiap harga Qas dengan sensitivitas ukuran
diameter tubing yaitu 2 inci, 2,5 inci dan 3 inci. Berikut diperoleh tabulasi
hasil perhitungan dan analisis:
Tabel 4.7 Data Hasil Inflow Performance
5

Qasumsi Wellhead Pressure (Pwh)


Pwf (psi)
(BLPD) 2 inci 2,5 inci 3 inci
200 1361,463 500 430 -
400 1222,926 410 410 -
600 1084,389 290 370 -
800 945,852 140 280 -
1000 807,315 - 150 220
1500 460,972 - - -

Selanjutnya, data inflow performance hasil analisis pada grafik pressure


traverse diatas, dimasukkan ke dalam grafik kartesian guna menentukan
diameter tubing yang menghasilkan laju alir produksi paling optimum.

Gambar 4.4 Plot Kurva Tubing Performance


Berdasarkan hasil plot antara kurva IPR dan sensitivitas beberapa ukuran
tubing pada grafik diatas, diketahui bahwa laju alir optimum (Qopt) dapat
tercipta dengan menggunakan tubing berdiameter 2,5 inci.
4. Menentukan nilai P wh outflow performance menggunakan
pressure traverse aliran horizontal untuk setiap harga Qas dengan
sensitivitas ukuran
5

diameter flowline untuk outflow performance yaitu 2,5 inci, 3 inci dan
4 inci. Berikut tabulasi hasil analisis:
Tabel 4.8 Data Hasil Outflow Performance
Qasumsi Psep Wellhead Pressure (Pwh)
(BLPD) (psi) 2,5 inci 3 inci 4 inci
200 69 - - -
400 69 - - -
600 69 190 140 125
800 69 220 167,5 130
1000 69 260 195 135
1500 69 365 252,5 157,5
2000 69 495 310 180

Selanjutnya, data outflow performance hasil analisis pada grafik pressure


traverse diatas, dimasukkan ke dalam grafik kartesian guna menentukan
diameter flowline yang menghasilkan laju alir produksi paling optimum.

Gambar 4.5 Plot Kurva Flowline Performance


Berdasarkan hasil plot antara sensitivitas tubing terpilih dan sensitivitas
beberapa ukuran flowline pada grafik diatas, diketahui bahwa laju
alir optimum (Qopt) dapat tercipta dengan flowline berdiameter 4 inci.
5

5. Memplotkan kurva diameter tubing terpilih 2,5 inci dan kurva


diameter flowline terpilih yaitu 4 inci ke grafik kartesian, kemudian
menentukan harga laju alir optimum (Qopt) dan harga wellhead pressure.

Gambar 4.6 Kurva Inflow vs Outflow Sumur Bravo-011


Berdasarkan hasil analisis grafik inflow vs outflow diatas, diperoleh bahwa
laju alir optimum (Qopt) Sumur Bravo-011 sebesar 980 BLPD dan tekanan
operasional kepala sumur sebesar 135 psig. Qopt tersebut hasil estimasi
dari kombinasi ukuran tubing 2,5 inci dan flowline 4 inci. Berikut tabulasi
hasil analisis grafik inflow vs outflow:
Tabel 4.9 Data Hasil Analisis Nodal
Parameter Data Satuan
Laju alir optimum (Qopt) 980 BLPD
Tekanan kepala sumur (Pwh) 135 psig
Tubing size (ID) 2,5 inci
Flowline size (ID) 4 inci

4.3 Redesign Katup Gas Lift Sumur Bravo-011 (Manual)


Model desain awal gas lift pada Sumur Bravo-011 dibutuhkan untuk
melihat perbandingan data antara desain gas lift lama dan desain gas lift baru dari
hasil optimasi produksi Sumur Bravo-011. Perbandingan data tersebut
seperti letak titik injeksi gas, dan lain-lain. Berikut langkah kerja pemodelan
berdasarkan panduan (Brown, K. 1980) untuk desain continuous gas lift.
5

4.3.1 Penentuan Titik Injeksi Gas


Berikut langkah-langkah dalam menentukan titik injeksi gas lift:
1. Membuat grafik kartesian berskala yang sama dengan grafik
pressure traverse aliran vertikal figure C.110 (untuk kondisi all water,
tubing size =
2,5 inci dan QL = 1000 BPD) pada kertas transparan.
2. Memplotkan harga P wf yaitu 900 psi dan kedalaman sumur (MD) yaitu
4950,787 ft pada grafik, kemudian menarik garis lurus ke samping kiri
dan keatas dari titik pertemuan.
3. Menyalin garis gas-liquid ratio (GLR) dari grafik pressure traverse figure
C.110, salin garis GLR yaitu 600 scf/STB pada kertas transparan.

0 4 8 12 16 20 24 28
0
PRESSURE in 100 psig

5
LENGTH in 1000

7
Gambar 4.7 Plot Kurva Pwf, Well Depth dan GLR

8
5

4. Menentukan gradien tekanan gas


Menentukan gradien tekanan gas (Gp), dengan memplotkan harga SG gas
injeksi (SGinj) yaitu 0,75 dan harga tekanan operasional (P so) Bravo-011
yaitu sebesar 550 psi pada grafik gradien tekanan gas. Berdasarkan hasil
plot diatas, diperoleh nilai gradien tekanan gas yaitu 15 psi/1000ft.

Gambar 4.8 Plot Garis Gradien Tekanan Gas


5. Menentukan temperatur rata-rata (Tavg) dan temperatur gradien (Tgrad):
𝑇 ���� + 𝑇�� �
Tavg = + 460
2
110+ 210
Tavg = + 460
2

Tavg = 620 °R
5

� � � � ���� �
100+ {70 + (1,6 � 100 ) }
Tgrad = +
4602
4950 ,
100+ {70 + (1,6 � )
787
} 100
Tgrad = 2
+ 460

Tgrad = 634,606 °R

6. Menentukan harga gradien tekanan gas terkoreksi ([Link]) :


𝑇 ��� �
[Link] = x Gp
𝑇��

[Link] = 634,606 x 15
620

[Link] = 1,023 x 15
[Link] = 15,353 psi/1000ft

7. Menentukan besar tekanan gas dalam annulus (Pgas) :


��������� � [Link]
Pgas@annulus = Pso + ( 1000
)

Pgas@annulus = 550 + (4950,787 � 15,353


1000
)
76009,433
Pgas@annulus = 550 + ( 1000
)
Pgas@annulus = 627,563 psi

8. Menentukan point of balance (Pob)


Dari titik Pgas@annulus yaitu 627,563 psi, tarik garis vertikal menuju
garis kedalaman sumur (horizontal) = 4950,787 ft. Lalu dari titik
pertemuan tersebut tarik garis vertikal ke atas menuju titik Pso yaitu 550
psi, kemudian lihat titik pertemuan antara garis vertikal P so dengan
GLR untuk 600 scf/bbl, dan diperoleh titik pertemuan pada kedalaman
4100 ft. dengan demikian, diketahui bahwa point of balance (Pob)
berada di kedalaman
4100 ft.
6

0 4 8 12 16 20 24 28
0
PRESSURE in 100 psig

1
Pso

4
4100 Pob

5
LENGTH in 1000

7
Gambar 4.9 Plot Garis Point of Balance (Pob)

9. Me8nentukan point of injection


(Poi)
Point of injection (Poi) dapat diketahui dengan cara menarik garis
vertikal menuju ke bawah dari titik ujung atas garis Pob-Pso yaitu 550
psi hingga
9
menyentuh garis GLR untuk 600 scf/bbl. Kemudian lihat titik pertemuan
tersebut dan tarik garis horizontal ke kiri (sumbu kedalaman).
Dan berdasarkan plot yang dilakukan, diperoleh hasil bahwa titik
injeksi
10
(Poi)
yaitu pada kedalaman 3700 ft.
6

0 4 8 12 16 20 24 28
0
PRESSURE in 100 psig

Ps
o

2
Pso

3700 Poi

4
4100 Pob

5
LENGTH in 1000

Gambar 4.10 Plot Garis Point of Injection


8

(Poi) Penentuan Jumlah Gas Injeksi tahui


jumla dalam
Penentuan terhadap jumlah gas injeksi harus dilakukan guna
mene 9
menge h gas injeksi yang akan digunakan. Berikut langkah-
1.
langkah ntukan jumlah gas injeksi yaitu:
2. Plot titik (135,0), di mana Pwh = 135 psi. udian
10
diperoleh garis gradien
Dengan menggeser aliran
kertas yang mengenai
transparan ke atas titik
atau Pke (135,0) dan titik
wh bawah,

injeksi (550,3700), yaitu GLR* = 2000 scf/bbl.


6

3. Salin kurva gradien aliran dengan GLR* = 2000 scf/bbl tersebut ke kertas
transparan.
4. Jumlah gas injeksi yang diperoleh
yaitu: Qgi = QL . (GLR* - GLR)
Qgi = 980 . (2000 - 600)
Qgi = 1.372.000 scf/day = 1,372 mmscfd
5. Jumlah gas injeksi terkoreksi ([Link]) pada temperatur titik injeksi adalah:
a. Menentukan temperatur di titik injeksi (Tpoi):
𝑇�� � − 𝑇
Tpoi = ��� �
����ℎ
𝑥� ) + 460

(����� +

Tpoi = (110 + 210 − 110 𝑥 3700) + 460 = 644,736 °R


4950,78
7

b. Menghitung faktor koreksi (Corr):


Corr = 0.0544 . √𝛾�� . ���𝐼

Corr = 0.0544 . √0,75 . 644,736 = 1,20


c. Menentukan volume gas injeksi terkoreksi
([Link]): [Link] = Qgi x Corr
[Link] = 1.372.000 x 1,20 = 1.641.249 scf

4.3.3 Penentuan Kedalaman Katup-Katup Gas Lift


Kedalaman katup-katup gas lift yang terpasang pada Sumur Bravo-011
harus diketahui apakah berada di kedalaman yang sama dengan fluid level atau
tidak. Langkah kerjanya sebagai berikut:
1. Menghitung jarak katup maksimum di sekitar titik injeksi dengan
persamaan:
( � �� −
ΔDv = ΔP =
� ��� )
� �
� �
� �

(610 − 550)
ΔDv = = 181,818 ft
0,33
0 4 8 12 16 20 24 28
Pwh
0
PRESSURE in 100 psig

2
Pso

Pko
3

3700 Poi

4
4100 Pob

5
LENGTH in 1000

7
Gambar 4.11 Plot Garis Poi dan Garis P2
2. Menentukan gradien tekanan gas 2:
Har8ga gradien tekanan gas diperoleh dari hasil memplotkan harga SG
gas injeksi (SGinj) yaitu 0,75 dan harga tekanan kick-off (Pko) yaitu sebesar
610
psi pada grafik gradien tekanan gas. Lalu berdasarkan hasil plot, diperoleh
9
nilai gradien tekanan gas yaitu 17 psi/1000ft.

10

63
6

Gambar 4.12 Plot Garis Gradien Tekanan Gas 2


3. Menentukan tekanan statik dalam tubing pada kedalaman 1000 ft
([Link]): [Link] = Pwh + (Gs x 1000 ft)
[Link] = 135 + (0,33 x 1000)
[Link] = 465 psi
4. Penentuan kedalaman katup gas lift pertama
Menghubungkan titik Pwh (135,0) dan titik tekanan statik dalam
tubing pada kedalaman 1000 ft (465,1000) dengan sebuah garis.
Kemudian teruskan garis dari langkah sebelumnya sampai memotong
garis gradien tekanan gas dan menyentuh garis Pko. Lalu tarik garis
horizontal dari titik tersebut ke kiri, dan kedalaman yang terbaca itulah
sebagai titik kedalaman
6

katup gas lift pertama. Berdasarkan hasil plot tersebut, diperoleh titik
kedalaman katup gas lift pertama yaitu pada kedalaman 1550 ft.

0 4 8 12 16 20 24 28
Pwh
0
PRESSURE in 100 psig

1
GLV 1 Depth

1550 ft

2
Pso

Pko
3

3700 Poi

4
4100 Pob

5
LENGTH in 1000

7
Gambar 4.13 Plot Kedalaman Katup Gas Lift Pertama
5. Menentukan kedalaman katup gas lift lainnya
Val8ve setting depth untuk katup kedua diketahui dengan cara
membuat
garis dari titik dimana garis horizontal katup pertama memotong
yang
garis GLR. Selanjutnya garis tersebut dibuat sejajar dengan garis miring
9
pad a langkah penentuan titik katup pertama sebelumnya diteruskan
dan
hingga menyentuh garis Pso. Kemudian tarik garis horizontal dari
titik tersebut ke kiri, dan kedalaman yang terbaca itulah sebagai titik
kedalaman
10
6

katup gas lift kedua. Untuk menentukan kedalaman katup gas lift lainnya
hingga ke titik injeksi (Poi) yaitu menggunakan langkah kerja yang sama.
0 4 8 12 16 20 24 28
Pwh
0
PRESSURE in 100 psig

1550 ft

2
Pso

2500 ft
Pko
3
3125 ft

3700 ft
Poi

4
4100 Pob

5
LENGTH in 1000

6. Gambar 4.14 Plot Kedalaman Katup Gas Lift Lainnya


Penentuan
8 letak katup di daerah "bracketing envelope". letak
Berdasarkan langkah-langkah pengerjaan untuk menentukan yang
kedalaman katup-katup gas lift dari buku referensi (Brown, maka
9
1980) berjudul The Technology of Artificial Lift Methods: ngga
Volume 2a, didapatkan hasil kedalaman katup-katup gas lift dari
batas atas hi batas bawah bracketing envelope sebagai berikut:
10
6

0 4 8 12 16 20 24 28
0
PRESSURE in 100 psig

2750

3
(500,3400) Bracketing
envelope

4
4200

Gambar 4.15 Plot Kedalaman Katup Gas Lift (Bracketing Envelope)


Ber5ikut tabulasi data hasil desain ulang katup gas lift secara
LENGTH in 1000

manual:
Tabel 4.10 Kedalaman Katup Hasil Desain Manual
Katup Tipe Katup GLV Depth Tekanan Katup
6
1 Unloading 1550 ft 640 Psi
2 Unloading 2500 ft 600 Psi
3 610 Psi
7 Unloading 3125 ft
4
Operational 3700 ft 550 Psi
7. Perhitungan laju produksi minyak dari desain manual:
8
a. Me nentukan nilai Qliquid:
2
��� ������
QL = �� + ((���� − �� ). (1 ���
) − 0,8 ( ��
) ))
− 0,2 ( �

9
550 550
QL= 578,401 + ((1460,115 − 578,401). (1 − 0,2 (1099,35 ) − 0,8 ( ) ))
1099,35

QL10= 1195,34 BLPD


b. Menentukan nilai Qoil:
Qo = Qliquid - (Qliquid x watercut) = 1195,34 - (1195,34 x 95%)
Qo = 59,767 BOPD
6

4.4 Redesign Katup Gas Lift Sumur Bravo-011 (Simulator


Prosper)
Berdasarkan data optimasi produksi yang diperoleh dari hasil analisis
sistem nodal pada kepala sumur, diketahui bahwa Sumur Bravo-011 memiliki
laju produksi optimum (Qopt) pada 980 BLPD. Artinya secara kalkulatif,
saat ini produksi Sumur Bravo-011 mencapai 86,02% dari Qopt yaitu sebesar 843
BLPD.
Maka untuk mencapai laju produksi yang optimum, desain gas lift pada
Sumur Bravo-011 perlu dilakukan redesign secara teknis yaitu perencanaan ulang
pada katup gas lift saat ini, serta membuat sensitivitas terhadap parameter-
parameter lainnya yang dapat mempengaruhi laju alir yang dihasilkan nantinya.
Berikut langkah pengerjaan redesign katup gas lift menggunakan simulator
Prosper yaitu:
4.4.1 Pengisian Data Summary
Berikut langkah kerja input data di summary data input:
1. Pertama running simulator prosper dari versi software IPM 7.5.
2. Kemudian klik tombol select options dan lanjut klik tombol options.

Gambar 4.16 Display Menu Options


3. Selanjutnya setelah tampilan summary data input muncul, pada bagian
artificial lift method, pilih jenis gas lift (continuous) select done.

Gambar 4.17 Display Input Artificial Lift Method


6

4. Kemudian pada summary data input, ubah opsi desain pada kolom
deskripsi fluida hingga kolom reservoir sesuai dengan desain yang
direncanakan. Kemudian masukkan data analyzer dan klik tombol done.

Gambar 4.18 Display Summary Data Input

4.4.2 Pengisian Data PVT


Berikut langkah kerja dalam input data di PVT data input:
1. Setelah tahap summary selesai, kemudian kembali ke halaman utama
Prosper. tahap berikutnya yaitu input data PVT dengan klik tombol PVT
dan pilih opsi input data.

Gambar 4.19 Display Menu PVT


7

2. Selanjutnya setelah tampilan PVT input data muncul, input data-data


yang diperlukan pada kolom data yang ada seperti Rs, Oil API, SGgas dan
data impurities. Lalu tekan done apabila input data selesai.

Gambar 4.20 Input Data PVT

4.4.3 Pengisian Data Gas Lift


1. Setelah tahap summary selesai lalu kembali ke halaman utama
Prosper, tahap berikutnya yaitu input data PVT dengan klik tombol
system dan pilih opsi gas lift data.

Gambar 4.21 Menu System (Gas Lift)


2. Selanjutnya setelah tampilan gas lift data muncul, input data-data
yang diperlukan pada kolom-kolom data yang ada seperti gas lift gas
gravity (SGinj) = 0,75, namun untuk data impurities, GLR injeksi dan
rate gas
7

injeksi (Qinj) dituliskan 0 serta pilih use injected gas rate pada
kolom terakhir input data.

Gambar 4.22 Display Input Data Gas Lift (FDOI)


3. Kemudian pada kolom data gas lift method, pilih opsi valve
depths specified lalu biarkan data kosong pada kolom gas lift details
seperti tekanan casing (Pc) dan tekanan diferensial (dP) saat melalui katup
dituliskan 0 karena akan nilai tersebut akan diperoleh dari hasil desain,
lalu kolom valve positions dibiarkan kosong juga.

Gambar 4.23 Display Input Data Gas Lift (VDS)


7

4.4.4 Pengisian Data IPR


Berikut langkah kerja tahap input data pada IPR data input yaitu:
1. Setelah tahap PVT selesai lalu kembali ke halaman utama Prosper,
tahap berikutnya yaitu input data IPR dengan klik tombol system dan pilih
opsi inflow performance.

Gambar 4.24 Display Menu System (IPR)


2. Selanjutnya setelah tampilan IPR data muncul, pilih jenis IPR yang
akan dibuat yaitu IPR Vogel, hal ini karena nilai skin factor diabaikan
atau tidak ada. Kemudian, input data-data yang diperlukan pada kolom
data di tampilan select model, diantaranya Pr = 1500 psi, Tr = 210 °F, Wc
= 95% dan GOR = 12.000 scf/STB (jika sudah klik validate). Dan
juga input data-data yang diperlukan di tampilan input data, diantaranya
nilai laju alir (Q) = 843 BLPD dan BHPtest (Pwf) = 900 psig (jika sudah klik
validate).

Gambar 4.25 Display IPR Data Input


7

3. Setelah seluruh data dimasukkan, kemudian klik tombol calculate


dan sistem simulator prosper akan otomatis menghitung dan kurva IPR
muncul seperti berikut dengan hasil yaitu nilai absolute open flow (AOF)
= 1836,9
STB/day dan PI formasi = 1,43 STB/day/psi.

Gambar 4.26 Kurva IPR Sumur Bravo-011

4.4.5 Pengisian Data Equipment


Equipment data input merupakan tahapan dalam mendesain gas lift
dimana data-data yang berkaitan dengan peralatan-peralatan gas lift akan di input
ke dalam tahap ini. berikut langkah kerjanya:
1. Setelah tahap IPR selesai lalu kembali ke halaman utama Prosper,
tahap berikutnya yaitu input data equipment dengan klik tombol system
dan pilih opsi equipment (tubing, etc.).

Gambar 4.27 Display Menu System (Equipment)


7

2. Selanjutnya setelah tampilan equipment data input muncul, kemudian


klik tombol kolom data deviation survey dan masukkan data yang
diperlukan yaitu kedalaman MD1 = 0 ft, TVD1 = 0 ft, MD2 = 4950,787 ft
dan TVD1 =
4950,787 ft. setelah input selesai, klik tombol done.

Gambar 4.28 Display Input Data Deviation Survey


3. Berikutnya setelah input data sebelumnya dilakukan, dilanjutkan
input data di kolom surface equipment. Masukkan data yang diperlukan
seperti panjang flowline = 9842,52 ft, flowline size (ID) = 4 inci, Tsurf
2
= 110°F serta harga overall heat transfer coefficient = 8,5 BTU/h/ft /F.

Gambar 4.29 Display Input Data Surface Equipment


7

4. Bila kolom data surface equipment sudah diisi, kemudian klik


tombol kolom data downhole equipment dan masukkan data yang
diperlukan seperti panjang tubing = 4263,255 ft, tubing size (ID) = 2,5
inci, panjang casing = 4891,732 ft serta casing size (ID) = 6 inci. setelah
input selesai, klik tombol done.

Gambar 4.30 Display Input Data Downhole Equipment


5. Setelah input data pada kolom data downhole equipment, kemudian
klik tombol kolom data geothermal gradient dan masukkan data yang
diperlukan diantaranya kedalaman MD1 = 0 ft, MD2 = 4950,787 ft, Tsurf
=
2
110°F, Tr = 210°F serta overall heat transfer coefficient = 8,5 BTU/h/ft /F.
Setelah input selesai, klik tombol done.

Gambar 4.31 Display Input Data Geothermal Gradient


6. Berikutnya setelah input data pada kolom data geothermal gradient
dilakukan, kemudian klik tombol kolom data average heat capacities dan
lihat data Cp oil, Cp water dan Cp gas. jika selesai, klik tombol done.
7

Gambar 4.32 Display Input Data Average Heat Capacities

4.4.6 Plot Kurva Qinj vs IPR dan Kurva Qo vs Qinj


Merupakan tahapan sebelum tahap akhir dalam mendesain gas lift,
tahapan ini dilakukan untuk menentukan laju injeksi gas yang akan digunakan
melalui plot grafik sensitivitas Qinj terhadap IPR dan laju produksi minyak
terhadap laju injeksi gas melalui plot grafik Qinj terhadap Qo. Berikut langkah
kerjanya yaitu:

1. Membuat grafik sensitivitas laju injeksi gas (Qinj) berikut:


Grafik sensitivitas dibuat melalui klik menu calculation >>>
system
(IPR+VLP) >>> 3 variables.

Gambar 4.33 Display Menu Calculation


Setelah kolom system 3 variables tampil, isi kolom-kolom data yang
kosong dengan data berikut PTN = 150 psig (asumsi), watercut = 95 % dan
GOR = 12000 scf/STB serta pilih opsi pada surface equipment corr.
hingga left-hand intersection seperti pada gambar dibawah.
7

Gambar 4.34 Display Input Data System 3 Variables


Setelah kolom system 3 variables di input data, kemudian klik
continue dan pada tampilan selanjutnya pilih opsi gas lift gas injection
rate pada kolom variable 1 dan isi kolom data kosong dengan
sensitivitas laju injeksi gas seperti berikut:

Gambar 4.35 Display Input Data Select Variables


Langkah selanjutnya klik tombol continue, setelah muncul tampilan baru
klik tombol calculate >>> OK >>> Plot >>> system plot. Kemudian akan
tampil grafik sensitivitas laju injeksi gas (Qinj) vs IPR yang dibuat.
7

Gambar 4.36 Plot Kurva Sensitivitas Qinj vs IPR


2. Membuat grafik oil rate vs gas injection rate:
Setelah grafik Qinj, grafik Qo dapat diketahui melalui klik menu sensitivity
pada kolom system 3 variables >>> variables >>> oil rate pada tampilan
baru, dan muncul grafik oil rate berikut.

Gambar 4.37 Kurva Qinj vs Qo


4.4.7 Pengisian Data Redesign Gas Lift
Merupakan tahapan terakhir dalam mendesain suatu gas lift. pada tahap
ini akan didapatkan hasil desain gas lift berupa grafik kompleks yang
dilengkapi dengan data-data lainnya. Berikut langkah pengerjaannya sebagai
berikut:
1. Setelah tahap IPR selesai lalu kembali ke halaman utama Prosper,
dan tahap berikutnya yaitu input data desain gas lift baru dengan klik
tombol design lalu pilih opsi gas lift dan pilih opsi new well.
7

Gambar 4.38 Display Menu Design (Gas Lift)


2. Selanjutnya setelah tampilan design new well muncul, pada kolom
design rate method pilih opsi calculated from max production. Kemudian
pada kolom data input parameters, masukkan data-data yang dibutuhkan
sesuai dengan data pada tabel 4.1 dan tabel 4.2 serta hasil
perhitungan yang diperoleh. Setelah input data pada input parameters
selesai, kemudian pilih opsi pada bagian valve type hingga orifice sizing
on. Berikut hasil input data yang dilakukan:

Gambar 4.39 Display Input Gas Lift Design


8

3. Setelah input data lengkap, kemudian klik tombol continue dan


akan muncul tampilan baru. Lalu pada tampilan tersebut klik tombol get
rate guna mengetahui beberapa data seperti GLR injeksi dan lain-lain.

Gambar 4.40 Display Gas Lift Design (Calculated Rate)


Kemudian untuk mengetahui kurva performa dari desain Sumur
Bravo-
011, klik tombol plot dan grafik kurva performa sumur akan
muncul. Berdasarkan kurva performa yang diperoleh, Sumur Bravo-011
diproduksikan dengan Qinj 0,5 mmscfd dan Qo yaitu sebesar 45,2 BOPD.

Gambar 4.41 Performance Curve Plot


4. Selanjutnya, klik tombol design dan sistem akan memproses desain
katup gas lift, Qo, Pinj dan lain-lainnya. Setelah proses desain selesai,
maka hasil desain gas lift baru dapat dilihat dengan klik tombol plot dan
akan tampil desain gas lift barunya. Desain gas lift yang pertama ini
merupakan uji sensitivitas dasar (basecase) karena belum dilakukan
sensitivitas.
8

Gambar 4.42 Display Gas Lift Design Bravo-011


Berdasarkan hasil redesign diatas, diperoleh data-data hasil
perencanaan ulang kedalaman katup gas lift secara simulasi yaitu sebagai
berikut:
Tabel 4.11 Tabulasi Hasil Uji Sensitivitas Basecase
No. Parameter Data Satuan
1 Jumlah Katup Gas Lift 3 -
2 Actual Liquid Rate (QL) 904,3 BLPD
3 Actual Oil Rate (Qo) 45,2 BOPD
4 Gas Injection Rate (Qinj) 0,131 mmscfd
5 Operational Pressure (Pso) 550 psi
6 Kick-off Pressure (Pko) 610 psi
7 Injection Pressure (Pinj) 500 Psig
8 Minimum Spacing (ΔDv) 181,818 ft

Berikut yaitu perbandingan jumlah dan kedalaman katup gas lift


antara hasil desain secara manual dan hasil desain menggunakan Prosper:
8

Tabel 4.12 Perbandingan Hasil Desain Katup Manual dan Simulasi


Katup Data hasil desain manual Data hasil desain Prosper
Gas Lift (Depth) (Depth)
GLV 1 1550 ft 1337,8 ft
GLV 2 2500 ft 1757,2 ft
GLV 3 3125 ft 2018,1 ft
GLV 4 3700 ft -
Jumlah 4 Katup 3 Katup

4.5 Uji Sensitivitas Produksi Sumur Bravo-011


Berdasarkan data lapangan yang didapatkan dan hasil diskusi
bersama pembimbing lapangan, maka penulis membuat 8 opsi uji sensitivitas
yang direncanakan untuk meningkatkan kembali produktivitas Sumur Bravo-011.
Terdapat 3 parameter yang akan dilakukan uji sensitivitas pada setiap opsi, yaitu
gas injection rate (Qinj), tekanan operasional (Pso & Pko) serta minimum valve
spacing (ΔDv). Optimasi produksi berupa uji sensitivitas disimulasikan dengan
menggunakan simulator Prosper, kemudian dari setiap hasil uji tersebut
akan dipilih satu opsi uji sensitivitas dengan persentase perolehan oil gain
tertinggi. Berikut tabulasi hasil uji sensitivitas dengan 8 opsi berbeda yaitu:
Tabel 4.13 Data Hasil Uji Sensitivitas
Parameter Perolehan Minyak
Uji
Qinj Pko, Pso ΔDv Qo Oil Gain
Sensitivitas
(mmscfd) (psi) (ft) (BOPD) (%)
Basecase 0,5 610, 550 181,818 45,2 7,236
Opsi 2 1 610, 550 181,818 45,9 8,897
Opsi 3 0,5 750, 725 181,818 45,2 7,236
Opsi 4 0,5 610, 550 150 45,85 8,778
Opsi 5 1,5 700, 700 181,818 46,2 9,608
Opsi 6 0,5 750, 750 50 46,7 10,795
Opsi 7 3 610, 550 150 45,9 8,897
Opsi 8 1,5 750, 750 200 46,3 9,846
8

4.6 Pembahasan
Langkah dalam mengoptimasikan produksi sumur gas lift seperti Sumur
Bravo-011 terdiri atas beragam cara, salah satunya adalah dengan
melakukan redesign terhadap katup gas lift nya. Penulis melakukan sedikit
improvisasi sebelum redesign katup gas lift dilakukan yaitu analisis nodal pada
Sumur Bravo-
011 guna mengetahui nilai laju alir paling optimum (Qopt) yang mampu dicapai
dengan menentukan kombinasi ukuran tubing dan flowline yang tepat pada sumur
tersebut. Mengacu pada hasil analisis nodal yang telah dilakukan pada wellhead
sumur, didapatkan data bahwa laju alir optimum Sumur Bravo-011 yaitu
sebesar
980 BLPD dengan penggunaan kombinasi diameter tubing 2,5 inci dan
diameter
flowline 4 inci.
Kemudian proses redesign katup gas lift dilakukan dengan 2 tahap, yaitu
redesign katup secara manual kemudian redesign katup menggunakan simulator
Prosper. Dari tabel data perbandingan antara hasil desain secara manual dan hasil
desain secara simulasi, dapat dilihat bahwa jumlah dan kedalaman katup antara
hasil desain manual dan hasil desain simulasi sangat berbeda. Hal ini karena ada
beberapa faktor yang mempengaruhi diantaranya yaitu:
1. Adanya beberapa perbedaan kebutuhan data yang diinputkan antara
redesign secara manual dan simulasi menggunakan Prosper.
2. Adanya perbedaan proses dalam mendesain katup gas lift antara
secara manual dan secara simulasi.
3. Besarnya pengaruh dari nilai GLR pada proses redesign secara
manual terhadap hasil desain katup gas lift.
Setelah tahap redesign selesai dan didapatkan desain katup, selanjutnya
diketahui bahwa peningkatan produksi minyak tertinggi dapat diperoleh apabila
menerapkan opsi uji sensitivitas 6 pada Sumur Bravo-011, dimana laju produksi
minyaknya adalah sebesar 46,7 BOPD. Perolehan oil gain dari opsi uji
sensitivitas
6 ini yaitu sebesar 4,55 BPD atau sekitar 10,795% terhadap Qo
aktual.
8

Tabel 4.14 Perbandingan Data Lapangan dan Hasil Redesign


Data Hasil Data Hasil
Data Kondisi
Parameter Desain Desain
Lapangan
Manual Simulasi
Jumlah Katup Gas Lift 4 4 3
Actual Liquid Rate (QL) 843 BLPD - 904,3 BLPD
Actual Oil Rate (Qo) 42,15 BOPD - 45,2 BOPD
Gas Injection Rate (Qinj) 0,5 mmscfd 1,372 mmscfd 0,5 mmscfd
Tekanan Operasional (Pso) 550 psi 550 psi 550 psi
Tekanan Kick-off (Pko) 610 psi 610 psi 610 psi
Tekanan Injeksi (Pinj) - - 500 psi
Minimum Spacing (ΔDv) 50 ft 181,818 ft 181,818 ft
BAB V
PENUTUP

Berdasarkan hasil penelitian Tugas Akhir mengenai redesign katup gas


lift pada Sumur Bravo-011 di PT Pertamina Hulu Rokan Region 1 Zona 4,
Penulis menarik beberapa kesimpulan sebagai berikut:
1. Dari hasil analisis nodal melalui plot kurva inflow performance vs
outflow performance, diperoleh harga laju alir produksi optimum
(Qopt) Sumur Bravo-011 yaitu sebesar 980 BLPD dengan tekanan kepala
sumur (P wh) yaitu 135 psi.
2. Dari hasil redesign katup gas lift secara manual, didapatkan desain
jumlah katup sebanyak 4 GLV. Dimana masing- masing katup
dikedalaman 1550 ft, 2500 ft, 3125 ft, dan 3700 ft. Kemudian dari hasil
redesign katup gas lift menggunakan simulator Prosper didapatkan desain
jumlah katup sebanyak 3 GLV, dimana masing- masing katup
dikedalaman 1337.8 ft,
1757.2 ft dan 2018.1 ft.
3. Melakukan uji sensitivitas menggunakan simulator Prosper dengan 3
parameter yaitu tekanan operasional (P so dan Pko), laju gas injeksi
(Qinj) dan minimum valve spacing (ΔDv) dengan membuat 8 opsi
sensitivitas yang berbeda-beda terhadap oil rate Sumur Bravo-011.
4. Berdasarkan hasil uji sensitivitas dengan 8 opsi yang berbeda,
didapatkan persentase oil gain dari setiap uji sensitivitas secara berurutan
yaitu opsi basecase sebesar 7,236%, opsi 2 sebesar 8,897%, opsi 3
sebesar 7,236%, opsi 4 sebesar 8,778%, opsi 5 sebesar 9,608%, opsi 6
sebesar 10,795%, opsi 7 sebesar 8,897% serta opsi 8 sebesar 9,846%.
Dari seluruh opsi
tersebut, opsi 6 merupakan opsi dengan oil gain tertinggi.
85
DAFTAR PUSTAKA

Brown, K. 1980. “The Technology of Artificial Lift Methods” Volume 1 & 2A.
Oklahoma: PennWell Publishing Company.
Department of Petroleum Engineering. “Production Technology II”. Edinburgh:
Heriot-Watt University.
Exploration & Production Department. 1994. “Gas Lift Book 6 of The Vocational
Training Series: Third Edition”. Washington D.C: American Petroleum
Institute.
Guo, B. 2007. “Petroleum Production Engineering: A Computer Assisted
Approach”. USA: Elsevier Science & Technology Books.
Hermadi, G. “Analisis Sistem Nodal Dalam Metode Artificial Lift”. Volume 06
No.2. Indonesia: Forum Teknologi.
Hernandez, A. 2016. “Fundamentals of Gas Lift Engineering: Well Design And
Troubleshooting”. USA: Gulf Professional Publishing.
Manajemen Produksi Hulu. 2003. “Analisa Sistem Nodal”. TP.02.02. PT
Pertamina.
Manajemen Produksi Hulu. 2003. “Sistem Pengangkatan Buatan: Perencanaan
Dan Troubleshooting Gas Lift Kontinyu”. TP 03.06.1. PT Pertamina. Meokbun,
S. 2015. “Aplikasi Sistem Nodal Pada Sumur Continuous Gas Lift Di
Lapangan Nilam Vico Indonesia Kalimantan Timur”. Cepu: STEM
Akamigas Cepu.
Musnal, A. et al. 2017.“Optimasi Gas Injeksi Pada Sembur Buatan Gas
Lift Untuk Meningkatkan Besarnya Laju Produksi Minyak Maksimum Dan
Evaluasi penghentian Kegiatan Gas Lift, Pada Lapangan Libo PT.
Chevron Pacific Indonesia Duri”. Pekanbaru: Journal of Earth Energy
Engineering.
Nguyen, T. 2020. “Artificial Lift Methods: Design, Practices and Applications”.
New Mexico: Springer Nature Switzerland.
Pamungkas, J. et al. 2004. “Buku IV: Pengantar Teknik Produksi”.Yogyakarta:
Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Yogyakarta.

86
Prabu, C. 2020. “Desain Gas Lift Untuk Optimasi Produksi Dengan Kalkulasi
Manual Dan Software Pipesim Pada Sumur AC-03 Di PT Pertamina EP
Asset 2 Field Limau”. Palembang: Politeknik Akamigas Palembang.
Sulistyanto, D. 2016. “Optimasi Produksi Sumur-Sumur Gas Lift Di Lapangan
A”. Volume V. Jakarta: Jurnal Petro 2016.
Torabi, F. et al. 2012. “Improving Downhole Pump Efficiency And Well
Productivity In Heavy Oil Reservoirs Utilizing Back Pressure Regulator”.
Springerlink Online Publishing.

87
DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran A Wellhead Schematic Sumur Bravo-011

No. Dok :
BERITA ACARA
Revisi :

SKEMA WELLHEAD
YANG TERPASANG DI SUMUR BRAVO-011

7-1/16" x 3000 psi

[C]

10" x 3000 psi

10" x 3000 psi

[A]

9-5/8"

[A] Wellhead Section A (BF 10” x 3000 psi)


[C] Wellhead Section C (THS 10" x 7-1/16" x 3000 psi)

Please Check Type Of Wellhead

88
Lampiran B Downhole Equipment Diagram Sumur Bravo-

89
Lampiran C Data Profil Sumur Bravo-

No. Parameter Data Satuan


1 Measured Depth ((MD) 4950,787 Ft
2 True Vertical Depth (TVD) 4950,787 Ft
3 Tekanan Well Flowing (Pwf) 900 psi
4 Tekanan Kepala Sumur (Pwh) 140 psi
5 Tekanan Separator (Psep) 69 psi
6 Tekanan Casing Head (PCH) 300 psi
7 Tekanan Tubing Head (PTH) 140 psi
8 Tekanan Flowline (Pfl) 140 psi
9 Tekanan Kick-off (Pko) 610 psi
10 Tekanan Operasional (Pso) 550 psi
11 Dynamic Fluid Level (DFL) 4107,611 Ft
12 Panjang Tubing (Ltub) 4263,255 Ft
13 Panjang Flowline (Lfl) 9842,52 Ft
14 Production Tubing Size (OD) 2 7/8 inci
15 Production Casing Size (OD) 7 inci
16 Packer Setting Depth 4228,445 Ft
17 Panjang Casing (Lcsg) 4891,732 Ft
18 Lapisan berproduksi S -

90
Lampiran D Data Produksi Sumur Bravo-

No. Parameter Data Satuan


1 Produksi Cairan (QL) 843 BLPD
2 Produksi Minyak (Qo) 42,15 BOPD
3 Produksi Air (Qw) 800,85 BWPD
4 Produksi Gas (Qg) 0,525 mmscfd
5 Watercut (Wc) 95 %
6 Own Gas 3,887 mmscfd
7 Gas-Liquid Ratio (GLR) 600 cuft/bbl
8 Gas-Oil Ratio (GOR) 12000 cuft/bbl
9 SG Gas (γg) 0,75 -
10 SG Gas Injeksi (γinj) 0,75 -
11 SG Produced Water (γw) 1,013 -
12 Persen Mol CO2 12,0116 %
13 Persen Mol N2 2,1603 %
14 Kandungan H2S 26,70 ppm
15 Oil Gravity (API) 32 °API

91
Lampiran E Data Karakteristik Struktur

No. Parameter Data Satuan


1 Tekanan Reservoir (Pr) 1500 psig
2 Temperatur Reservoir (Tres) 210 °F
3 Temperatur ambien (Ta) 90 °F
4 Temperatur Permukaan (T surf) 110 °F
5 Permeabilitas Efektif (Keff) 30 mD
6 Porositas 20 %
7 Net Pay (h) 17 ft
9 Gradien Statik (Gs) 0,33 psi/ft
10 Gradien Dinamik (Gd) 0,183 psi/ft

92
Lampiran F Daily Production Report (29 Juni

93
Lampiran G Analisis Nodal (Pwf -

94
95
96
97
98
99
100
101
102
103
104
Lampiran H Analisis Nodal (Psep - Pwh)

105
106
107
108
109
110
111
112
113
114
115
Lampiran Forecast Produksi SP Delta Struktur

116
Lampiran J Grafik Pressure Traverse (All water / Dtub 2,5” / 1000

117
Lampiran K Grafik Gradien Tekanan

118

Anda mungkin juga menyukai