Putusan Hak Uji Materiil MA 2003
Putusan Hak Uji Materiil MA 2003
MILIK
Perpustakaan
MAHKAMAH AGUNG - RI
MAHKAMAH AGUNG RI
2003
KATA PENGANTAR
iii
DAFTAR ISI
MAHKAMAH AGUNG
memeriksa dan mengadili perkara gugatan Hak Uji Materiil terhadap Surat
Keputusan Menteri Tenaga Kerja R.I. No. Kep.342/Men/86. pada
keputusan tingkat pertama dan terakhir, telah mengambil putusan
sebagai berikut dalam perkara gugatan antara :
1. SDR. SUWARTO
Alamat Poris Gaga Rt. 12/04, Batu Ceper,
Tangerang.
Pekerjaan Mantan buruh PT. Ciquita Talonpas Zipper.
Jalan Jururnudl 86 Kebon Besar, Tangerang.
2. SDR. HARIYANTO
Alamat Desa Jurumudi Rt. 04/01, Batu Ceper,
Tangerang.
Pekerjaan Mantan buruh PT. Ciquita Talonpas Zipper.
Jalan Jurumudi 86 Kebon Besar, Tangerang.
3. SDR. NALI
Alamat : Kebun Duren Rt . 08/04, Batu Ceper,
Tangerang.
4. SDR. TIYONO
Alamat Kp. Mumunggang Rt. 04/05, Pabuaran,
Tangerang.
Pekerjaan Mantan buruh PT. Gajah Tunggal Group, Unit
PT. Sando Indonesia di Tangerang.
1
1
dalam hal ini diwakili oleh kuasanya :
1. ABDUL HAKIM G. NUSANTARA, SH., LLM.
2. APONG HERLINA, SH.
3. RAMBUN TJOJO, SH.
4. PARDOMUAN SIMANJUNTAK, SH.
M e l a w a n
2
TENTANG DUDUK PERKARANYA :
I. Pendahuluan:
Terlebih dahulu Penggugat perlu mengemukakan hal-hal sebagai
berikut :
1.1 Bahwa menurut Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat
Republik Indonesia No. III/MPR/1978 tentang kedudukan dan
Hubungan Tata Kerja Lembaga Tertinggi Negara dengan atau
antar Lembaga-lembaga Tinggi Negara Pasal 11 ayat (4)
menyatakan : Mahkamah Agung mempunyai wewenang
menguji secara materiil hanya peraturan-peraturan
perundangan di bawah Undang-Undang;
1.2 Bahwa pasal 26 ayat (1) UU No. 14 tahun 1970 tentang
ketentuan-ketentuan pokok kekuasaan kehakiman
menyatakan : Mahkamah Agung berwenang menyatakan
tidak sah semua peraturan perundang-undangan dari tingkat
yang lebih rendah dart Undang-Undang atas alasan
bertentangan dengan peraturan perundang-undangan lebih
tinggi;
1.3 Bahwa pasal 31 UU No. 14 tahun 1985 tentang Mahkamah
Agung menyatakan :
Ayat (1 ), Mahkamah Agung mempunyai wewenang menguji
secara materiil hanya terhadap peraturan
perundang-undangan di bawah Undang-Undang.
Ayat (2), Mahkamah Agung berwenang menyatakan tidak sah semua peraturan
perundang-undangan dari tingkat yang lebih rendah daripada Undang• Undang
atas alasan bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi
3
1.4 Bahwa pasal 1 ayat (1) Peraturan Mahkamah Agung Nomor
: 1 tahun 1993 tentang Hak Uji Materiil memberikan
kesempatan kepada penggugat untuk mengajukan gugatan
Hak Uji Materiil langsung kepada Mahkamah Agung;
1.5 Bahwa atas dasar hal-hal tersehut diatas penggugat dalam
hal ini mengajukan gugatan langsung kepada Mahkamah
Agung;
4
11.4 Bahwa ketentuan tersebut diatas membuka peluang bagi
pihak ABRI (Angkatan Bersenjata Republik Indonesia)
khususnya KODIM (Komando Distrik Militer) dan POLRES
(Kepolisian Resort) untuk mencampuri pemerantaraan
perselisihan perburuhan yang berjalan secara damai tanpa
ada kekerasan fisik;
11.5 Bahwa kalaupun terjadi kekerasan fisik dalam proses
penyelesaian perselisihan perburuhan seharusnya
diselesaikan menurut ketentuan yang diatur dalam KUHAP
(Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana) bukan
mengundang campur tangan KODIM dan POLRES dalam
proses pemerantaraan penyelesaian perselisihan perburuhan;
11.6 Bahwa Surat Keputusan No. Kep.342/Men/86, khususnya
Bab 11.2 (3) jelas-jelas telah merubah fungsi dan peran
pegawai Kantor Departemen Tenaga Kerja yang seharusnya
berfungsi dan berperan sebagai perantara (mediator)
penyelesaian perselisihan perburuhan, dan karena itu harus
bersikap netral dan objektif menjadi pegawai Kantor
Departemen Tenaga Kerja yang semata-mata memihak
kepentingan perusahaan (majikan);
11.7 Bahwa Surat Keputusan No. Kep.342/Men/86 Bab 11.2 (2)
jelas-jelas melibatkan unsur-unsur di luar hubungan industrial,
yaitu PEMDA, KODIM dan POLRES untuk mencampuri
proses pemerantaraan penyelesaian perselisihan perburuhan;
11.8 Bahwa dengan demikian Surat Keputusan No. 342/Men/86
yang dikeluarkan oleh Tergugat, khususnya Bab.11.2 (2) dan
3 (3) jelas-jelas bertentangan dengan pasal 3 ayat 1 dan
pasal 4 ayat 1 Undang-Undang No. 22 tahun 1957 tentang
Penyelesaian Perselisihan Perburuhan. Lebih jelasnya pasal
3 ayat 1 dan ayat 2 Undang-Undang No. 22 tahun 1957
menyatakan :
Ayat (1 ), Jika dalam perundingan itu oleh pihak-pihak yang
berselisih sendiri tidak dapat diperoleh
penyelesaian, serta mereka tidak bermaksud untuk
menyerahkan perselisihan mereka untuk
diselesaikan dengan arbitrage oleh juru/dewan
pemisah, seperti dimaksud pada pasal 19 dan
5
seterusnya, maka hal demikian oleh pihak-pihak
tersebut atau oleh salah satu dari mereka,
diberitahukan dengan surat kepada pegawai.
Ayat (2), Pemberitahuan termaksud pada ayat diatas berarti
permintaan kepada pegawai tersebut untuk
memberikan perantaraan guna mencari penyele-
saian dalam perselisihan tersebut, perantaraan
mana harus diberikan.
11.9 Bahwa atas dasar ketentuan pasal 3 ayat 1 dan pasal 4 ayat
1 Undang-Undang Nomor : 22 tahun 1957 dapat disimpulkan
bahwa pertama peran perantara (mediator), yakni pegawai
Departemen Tenaga Kerja baru berfungsi bila dikehendaki
dan diminta oleh pihak-pihak yang berselisihan. Kedua
sebagai perantara (mediator) yang diharapkan dapat menye-
lesaikan sengketa secara adil pegawai kantor Departemen
Tenaga Kerja harus bersikap netral dan objektif. la tidak
boleh memihak kepentingan salah satu pihak yang berselisih;
6
11.10 Bahwa istilah pemogokan liar yang disebutkan didalam Surat
Keputusan No. Kep.342/Men/86 itu tidak dikenal di dalam
Perundang-undangan yang berlaku di Republik Indonesia.
Bahkan di dalam Undang-Undang No. 22 tahun 1957 tidak
dikenal istilah pemogokan liar.
Hal yang demikian dapat dimengerti karena mogok
merupakan hak buruh yang diakui dalam negara hukum
Indonesia;
11.11 Bahwa Surat Keputusan yang dikeluarkan oleh tergugat
juga bertentangan dengan ketentuan Pasal 2 dan Pasal 3
dari Undang-Undang No. 12 tahun 1964 tentang Pemutusan
Hubungan Kerja di Perusahaan Swasta. Lebih jelas bunyi
pasal 2 Undang-Undang No. 12 tahun 1964 sebagai
berikut :
Pasal 2, bila setelah diadakan segala usaha pemutusan
hubungan kerja tidak dapat dihindarkan,
pengusaha harus merundingkan maksudnya untuk
memutuskan hubungan-kerja dengan organisasi
buruh yang bersangkutan atau dengan buruhnya
sendiri dalam hal buruh itu tidak menjadi anggota
dari salah satu organisasi buruh.
Pasal 3 ayat (1), bila perundingan tersebut dalam pasal 2
nyata-nyata tidak menghasilkan persesuaian
paham, pengusaha hanya dapat memutuskan
hubungan-kerja dengan buruh setelah memperoleh
ijin Panitia Penyelesaian Perselisihan Daerah
(Panitia Daerah) termaksud pada pasal 5 Undang-
Undang No. 22 tahun 1957 tentang Penyelesaian
Perselisihan Perburuhan (Lembaran Negara tahun
1957 nr 42) bagi pemutusan hubungan-kerja
perseorangan dan dari Panitia Penyelesaian
Perselisihan Perburuhan Pusat (Panitia Pusat)
termaksud dalam Pasal 12 Undang-Undang
tersebut diatas bagi pemutusan hubungan kerja
secara besar-besaran.
11.12 Bahwa sebagai akibat dikeluarkannya Surat Keputusan No.
Kep.342/Men/86 oleh tergugat, penggugat mengalami
7
kerugian berupa hilangnya hak-hak sebagai berikut : hak
untuk berunding dalam penyelesaian perselisihan
perburuhan; hak atas pekerjaan karena tindakan pemutusan
hubungan kerja yang sewenang-wenang oleh pihak majikan,
hak mogok; dan timbulnya rasa takut yang luar biasa
sebagai akibat campur-tangan KODIM dan POLRES berupa
intimidasi dalam proses pemerantaraan perselisihan
perburuhan;
8
2. Bahwa ketentuan yang dipermasalahkan oleh penggugat dalam
Keputusan Menteri Tenaga Kerja No. Kep-342/Men/1986 adalah
Bab II bagian 2 (1) dan (3) yang berbunyi sebagai berikut :
(2) Pemogokan
Langkah-langkah penyelesaian pemogokan liar :
(1) Mendatangi lokasi pemogokan dan menganjurkan
kepada pekerja yang mogok agar dapat segera bekerja
kembali dengan memberikan pengarahan/pembinaan
sebagai berikut :
Usaha penyelesaian perselisihan mengenai tuntutan
pekerja akan diselesaikan melalui Kandep Tenaga
Kerja.
Mengemukakan kerugian yang akan diderita oleh
pekerja yang melakukan tindakan moqok liar bila
tidak mau bekerja lagi, misalnya upah selama
mogok tidak dibayarkan dan kemungkinan akan
mengarah ke PHK dan sebagainya.
Mengadakan koordinasi dengan Pemda, Polres,
Kodim dalam rangka menanggulangi tindakan
fisik.
(2) Mengambil langkah-langkah untuk menghentikan
pemogokan melalui :
Pengumuman dari pengusaha agar pekerja bekerja
kembali dengan batas waktu tertentu dan kepada
pekerja diharapkan untuk mengisi formulir
kesediaan untuk bekerja kembali.
Menetapkan sanksi selama mogok, tanpa pemba-
yaran upah.
Tindakan tidak mau bekerja kembali menunjukan
sebagai sikap tidak bersedia melanjutkan hubungan
kerja dan tidak membutuhkan pekerjaan.
9
(1) Jika dalam suatu perselisihan satu pihak hendak melakukan
tindakan terhadap pihak lainnya, maka maksud mengadakan
tindakan itu harus diberitahukan dengan surat kepada pihak
lainnya dan kepada Ketua Panitia Daerah. Dalam surat
tersebut harus diterangkan pula bahwa benar-benar telah
diadakan perundingan yang mendalam mengenai pokok -
pokok perselisihan antara buruh dan majikan, yang diketuai
atau diperantarai oleh Pegawai, atau bahwa benar-benar
permintaan untuk berunding telah ditolak oleh pihak lainnya,
atau telah dua kali dalam jangka waktu 2 minggu tidak
berhasil mengajak pihak lainnya untuk berunding mengenai
hal-hal yang menjadi perselisihan.
(2) Penerimaan pemberitahuan tersebut pada ayat (1) serta
tanggal hari penerimaan itu dicatat oleh Ketua Panitia Daerah
dan diberitahukan dengan surat kepada pihak-pihak yang
berselisih.
(3) Tindakan tersebut pada ayat (1) hanya boleh dilakukan
sesudah pihak yang bersangkutan menerima surat tanda
penerimaan dari Ketua Panitia Daerah.
(4) Surat tanda penerimaan pemberitahuan tersebut pada ayat
(3) hanya diberikan oleh Ketua Panitia Daerah segera dalam
waktu selambat-lambatnya 7 hari, setelah ia menerima surat
pemberitahuan tersebut pada ayat (1 ), terhitung mulai tanggal
penerimaan surat tersebut.
10
yang akan dilakukan oleh pekerja bukan dalam perundingan
penyelesaian masalah.
Dalam pengalaman sebelum ini apabila pekerja melakukan
pemogokan/unjuk rasa para pekerja tersebut tidak dapat Mengen-
dalikan emosinya sehingga sering melakukan pengrusakan secara
phisik misalnya merusak tempat kerja, membakar mobil, dsb.
11
Menimbang, bahwa setelah mempelajari berkas perkara tersebut,
Majelis berpendapat bahwa masih perlu diadakan pemeriksaan
tambahan karena tidak jelas identitas dari para penggugat dan tidak
jelas pula apa keterkaitan atau kepentingan para penggugat tersebut
dengan Keputusan Mennaker RI. No. Kep-342/Men/1986 yang digugat.
Menimbang, bahwa berdasarkan Penetapan Ketua Mahkamah
Agung RI. Nomor 01 /PEN/HUM/1994 tanggal 8 September 1994 telah
dilakukan pemeriksaan tambahan, pada tanggal 23 September 1994
digedung Mahkamah Agung RI., yang dihadiri oleh penggugat beserta
kuasanya dan kuasa tergugat;
Menimbang, bahwa untuk lebih jelasnya kuasa para penggugat
memohon agar dapat diberi kesempatan untuk menjelaskan secara
tertulis.
Menimbang, bahwa dalam penjelasan tambahan tertulis tersebut
yang oleh kuasa para penggugat disebut sebagai replik, para
penggugat menyampaikan hal-hal sebagai berikut :
1. Bahwa para penggugat dalam gugatan Hak Uji Materiil terhadap
Surat Keputusan Mennaker No. Kep.342/MEN/1986 adalah buruh
yang dipecat dan atau mengundurkan dari tempat pekerjaannya,
setelah mereka menjalankan aksi mogok kerja. Penggugat
pertama dan kedua, yaitu SDR. SUWARTO dan SDR.
HARIYANTO adalah mantan buruh PT. CIQUITA TALONPAS
ZIPPER yang beralamat di Jalan Jurumudi 86 Kebon Besar
Tangerang. Keduanya pada tanggal 24 Met 1993 bersama-sama
dengan buruh yang lain melakukan aksi unjuk rasa di tempat
kerjanya dengan mengajukan tuntutan, antara lain: meminta agar
segera dibentuk Unit Kerja SPSI, agar perusahaan
· memberlakukan Jamsostek dan sebagainya.
Bahwa keduanya pada tanggal 2 Juni 1994 mendapat surat
panggilan dari Polres Tangerang untuk menghadap lntelpampol
untuk diminta keterangannya mengenai terjadinya unjuk rasa di
PT. CIQUITA.
Pada tanggal 9 Juni 1993, SDR . HARIYANTO dan SUWARTO
dikenai sanksi berupa skorsing dan larangan memasuki
lingkungan pabrik oleh perusahaan. Pertimbangann dalam
menjatuhkan sanksi tersebut adalah untuk memperlancar proses
12
pemeriksaan yang dilakukan petugas Polres. Pada tanggal 15
Juni 1993, SOR. HARIYANTO dipecat secara sepihak oleh
perusahaan dan pada tanggal 1 Juli 1994, menyusul SOR.
SUWARTO dipecat secara sepihak oleh perusahaan. Salah satu
alasannya adalah yang bersangkutan terlibat unjuk rasa tanpa
prosedur yang benar.
Bahwa penggugat ketiga yang bernama TIYONO adalah mantan
buruh PT. GAJAH TUNGGAL GROUP, unit PT. SANDO
INDONESIA di Tangerang, yang kemudian mengundurkan diri
dari tempat kerjanya setelah melakukan mogok kerja pada tanggal
1-2 Agustus 1991. TIYONO adalah salah satu perwakilan buruh
yang diminta perusahaan untuk merundingkan masalah tuntutan
pemogokan para buruh ketika pemogokan berlangsung. la
mengundurkan diri dari perusahaan oleh rasa ketakutan setelah
yang bersangkutan diperiksa oleh aparat KODIM dan KODAM
JAVA, sehubungan dengan aksi mogok di PT. GAJAH TUNGGAL
tersebut.
2. Ketiga penggugat tersebut dalam kesempatan ini ingin
menggunakan peluang yang diberikan oleh Mahkamah Agung
melalui Peraturan Mahkamah Agung No. 01 /1993 untuk
melakukan Hak Uji Materiil terhadap Surat Keputusan Mennaker
[Link]-342/MEN/1986 yang dinilai bertentangan dengan Undang-
Undang No.22 tahun 1957, dimana akibat dari padanya para
penggugat mengalami kerugian berupa hilangnya hak-hak sebagai
berikut : hak untuk berunding dalam penyelesaian perselisihan
perburuhan; hak atas pekerjaan karena tindakan pemutusan
hubungan kerja sepihak, hak mogok, dan timbulnya rasa takut
sebagai akibat campur tangan KODIM dan POLRES berupa
intimidasi dalam proses pemerantaraan perselisihan perburuhan.
Bahwa kerugian yang dialami para penggugat tersebut adalah
segelintir dari buruh di Indonesia yang sadar bahwa mereka
adalah pihak yang dirugikan oleh adanya Surat Keputusan
Mennaker No.342/MEN/1986 yang berlaku untuk semua buruh
perusahaan swasta di Indonesia.
13
ditangan Mahkamah Agung. Mengutip pasal 31 ayat (2) UU No.14
tahun 1985 tentang Mahkamah Agung menyatakan bahwa
Mahkamah Agung berwenang menyatakan tidak sah semua
peraturan perundang-undangan dari tingkat yang lebih rendah
daripada Undang-Undang atas alasan bertentangan dengan
peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi.
4. Bahwa Surat Keputusan No. Kep-342/MEN/I 986, khususnya Bab
11.2 (3) jelas-jelas telah merubah fungsi dan peran sebagai
pegawai Kantor Departemen Tenaga Kerja yang seharusnya
berfungsi dan berperan sebagai perantara (mediator) penyelesaian
perselisihan perburuhan, dan karena itu harus bersikap netral
dan obyektif menjadi pegawai Kantor Departemen Tenaga Kerja
yang semata-mata memihak kepentingan perusahaan.
Pasal 4 ayat (1) dan ayat (2) Undang-Undang No. 22 tahun 1957
menyatakan : -
Ayat (1 ), segera sesudah menerima pemberitahuan tersebut pada
pasal 3 ayat ( 1) pegawai ini mengadakan penyelidikan
14
tentang duduknya perkara perselisihan dan tentang
sebabnya dan selambat-lambatnya dalam waktu tujuh
hari terhitung mulai tanggal penerimaan surat
pemberitahuan di atas sudah mengadakan perantaraan
menurut cara dan ketentuan yang berlaku buat
perantaraan oleh Panitia Daerah sebagaimana tersebut
pada pasal 7 ayat (2).
Ayat (2), jika pegawai berpendapat bahwa suatu perselisihan
tidak dapat diselesaikan dengan perantaraan olehnya,
maka hal itu oleh pegawai segera diserahkan kepada
Panitia Daerah dengan memberitahukan hal itu kepada
pihak-pihak yang bersangkutan.
15
hubungan kerja dengan organisasi buruh yang
bersangkutan atau dengan buruhnya sendiri dalam hal
buruh itu tidak menjadi anggota dari salah satu
organisasi buruh.
Pasal 3 ayat (1), bila perundingan tersebut dalam pasal 2 nyata-
nyata tidak menghasilkan persesuaian paham,
pengusaha hanya dapat memutuskan hubungan kerja
dengan buruh setelah memperoleh ijin Panitia
Penyelesaian Perselisihan Daerah (Panitia Daerah)
termaksud pada pasal 5 Undang-Undang No. 22 tahun
1957 tentang penyelesaian perselisihan perburuhan
(Lembaran Negara tahun 1957 No.42) bagi pemutusan
hubungan kerja perseorangan dan dari Panitia
Penyelesaian Perselisihan Perburuhan Pusat (Panitia
Pusat termaksud dalam pasal 12 Undang-Undang
tersebut diatas bagi pemutusan hubungan kerja secara
besar-besaran.
Maka atas dasar hal-hal tersebut, para penggugat tetap pada tuntutan
semula agar Mahkamah Agung berkenan memutuskan :
1. Menerima seluruh gugatan penggugat;
2. Menyatakan bahwa bab II bagian 2.1 dan bagian 2 (3) Surat
Keputusan No. Kep-342/MEN/t986 yang dikeluarkan tergugat tidak
sah, bertentangan dengan Undang-Undang No. 22 tahun 1957
dan Undang-Undang No. 12 tahun 1964;
3. Menghukum tergugat untuk mencabut Surat Keputusan No. Kep-
342/MEN/1986;
4. Menghukum tergugat untuk membayar biaya perkara;
TENTANG HUKUMNYA
16
Menghadapi Kasus-Kasus mengenai upah Lembur,· Pemogokan,
Pekerja Kontrak, PHK dan Perubahan Status atau Pemilikan
Perusahaan tanggal 24 April 1986, yang dianggap bertentangan
dengan Undang-Undang No. 22 tahun 1957 tentang Penyelesaian
Perselisihan Perburuhan.
Menimbang, bahwa menurut Ketetapan Majelis Permusyawaratan
Rakyat Republik Indonesia No. III/MPR/1978 tentang Kedudukan dan
Hubungan Tata Kerja Lembaga Tertinggi Negara dengan/atau antar
Lembaga-lembaga Tinggi Negara pasal 11 ayat (4), menyatakan :
Mahkamah Agung mempunyai wewenang menguji secara materiil
hanya terhadap peraturan-peraturan perundangan di bawah Undang-
Undanq:
Menimbang, bahwa pasal 26 ayat (1) Undang-Undang No. 14
tahun 1970 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Kekuasaan Kehakiman
uadi bukan pasal 28 ataupun pasal 20 Undang-Undang No. 14 tahun
1970 sebagaimana dikemukakan Pemohon didalam surat
permohonannya), menyatakan : Mahkamah Agung berwenang untuk
menyatakan tidak sah semua peraturan perundang-undangan dari
tingkat yang lebih rendah dari Undang-Undang atas alasan
bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi;
17
Menimbang, bahwa dari Ketetapan Majelis Permusyawaratan
Rakyat dan kedua Undang-Undang tersebut Mahkamah Agung
diberikan wewenang untuk melakukan hak uji materiil (HUM) terhadap
peraturan perundang-undangan yang lebih rendah dari pada Undang-
Undatig, maka terhadap Keputusan Menteri Tenaga Kerja No. Kep.342/
MEN/1986 yang merupakan produk perundang-undangan di bawah
Undang-Undang dapat di ajukan hak uji materiil kepada Mahkamah
Agung, mengingat Negara Republik Indonesia menurut penjelasan
Undang-Undang Dasar 1945 adalah suatu negara hukum dimana
berlaku asas legalitas dan asas konstitusional yang tidak dapat
membenarkan adanya produk perundang-undangan yang lebih rendah
bertentangan dengan perundang-undangan yang lebih tinggi yakni
Undang-Undang, Ketetapan MPR, Undang-Undang Dasar 1945 dan
Pancasila sebagai sumber dari segala sumber hukum;
Menimbang, bahwa Hak Uji Materiil yang dapat diajukan kepada
Sadan Peradilan harus merupakan sengketa hukum antara dua pihak
dimana ada pihak yang merasa dirugikan karena hak-haknya dilanggar,
dengan dikeluarkannya penetapan perundang-undangan yang
bertentangan dengan Undang-Undang yang lebih tinggi, dikarenakan
Sadan Peradilan khususnya Mahkamah Agung dalam hal ini hanya
menjalankan fungsi "judicial review" atau "rechlerlijke toetsing" tidak
melaksanakan "administrative review'' atau "legislative review" karena
Mahkamah Agung bukan merupakan Sadan Penguji Perundang-
undangan yang melakukan pengujian perundang-undangan (wettelijke
toetsing) secara umum, yang menurut hukum ketatanegaraan di
Indonesia merupakan wewenang Badan Pembuat Perundang-
undangan y.i. Pemerintah bersama Dewan Perwakilan Rakyat atau
Pemerintah Daerah bersama Dewan Perwakilan Rakyat Daer ah;
mengingat pula bahwa dalam Undang-Undang Dasar 1945 tidak
ditentukan bahwa Mahkamah Agung merupakan Mahkamah Konstitusi
(Constitutional Court), berbeda halnya dengan ketentuan dalam
Konstitusi Republik Indonesia Serikat yang mengatur hal tersebut
dalam pasal 156 sampai dengan pasal 158.
Menimbang, bahwa berdasarkan pasal 79 Undang-Undang No.14
tahun 1985 tentang Mahkamah Agung, Mahkamah Agung telah
mengatur lebih lanjut mengenai prosedure untuk mengajukan Hak Uji
Materiil tersebut dengan Peraturan Mahkamah Agung.
18
Menimbang, bahwa berdasarkan kewenangan tersebut diatas,
Mahkamah Agung telah mengeluarkan Peraturan mengenai Hak Uji
Materiil yakni PERMA No. 1 tahun 1993 tentang Hak Uji Materiil
tanggal 15 Juni 1993;
Menimbang, bahwa gugatan Hak Uji Materiil yang telah diajukan
oleh para penggugat ternyata telah mengikuti semua persyaratan yang
disebut dalam PERMA tersebut dan dengan demikian maka gugatan
para penggugat secara formil dapat diterima;
Menimbang, bahwa mengenai materi gugatan, ternyata surat-
keputusan No. Kep. 342/MEN/86 yang digugat tersebut sudah dicabut
oleh Menteri Tenaga Kerja dan telah diganti dengan peraturan yang
baru yakni Keputusan Menteri [Link].1 SA/MEN/1994 tanggal 4
Januari 1994 sehingga peraturan Menteri tersebut tidak dapat diuji
lagi keabsahannya, sehingga gugatan Hak Uji Materiil ini harus
dinyatakan tidak dapat diterima.
Menimbang, bahwa berdasarkan segala pertimbangan tersebut
diatas, maka gugatan Hak Uji Materiil tersebut haruslah dinyatakan
tidak dapat diterima.
Menimbang, bahwa oleh karena para penggugat berada di pihak
yang dikalahkan maka harus membayar biaya perkara.
Memperhatikan pasal 24 Undang-Undang Dasar 1945 beserta
penjelasannya, pasal 11 ayat (4) Ketetapan Majelis Permusyawaratan
Rakyat A.I. No. 111/MPR/1978, pasal 2 dan pasal 26 Undang-Undang
No. 14 tahun 1970. tentang kekuasaan kehakiman pasal 31 Undang-
Undang No. 14 tahun 1985 tentang Mahkamah Agung dan pasal 1
ayat (1) dan (2) Peraturan Mahkamah Agung Nomor 1 tahun 1993
tentang Hak Uji Materiil dan peraturan-peraturan lain yang berkaitan
dengan perkara ini;
MENGADILI
19
Demikianlah diputuskan dalam rapat permusyawaratan Mahkamah
Agung Republik Indonesia pada hari Jum'at, tanggal 21 Oktober 1994
dengan H.R. PURWOTO S. GANDASUBRATA, SH., Ketua Mahkamah
Agung Republik Indonesia sebagai Ketua, OLDEN BIDARA, SH., dan
H. SAMSUDDIN ABOEBAKAR, SH., sebagai Hakim-Hakim dan
diucapkan dalam sidang yang terbuka untuk urnurn pada hari Selasa
tanggal 31 Oktober 1994 oleh Ketua tersebut dengan dihadiri oleh
OLDEN BIDARA, SH, dan H. SAMSUDDIN ABOEBAKAR, SH., Hakim-
Hakim Anggota, dan NY. CHAIRANI A. WANI, SH., Panitera Pengganti
dengan tidak dihadiri oleh para pihak atau kuasanya;
ttd. ttd.
Olden Bidara, SH. H.R. Purwoto S. Gandasubrata, SH.
ttd.
H. Samsuddln Aboebakar, SH. Panitera Pengganti
ttd.
Biaya-biaya perkara :
1. M a t e r a i ………………….…….. Rp. 1.000,-
2. R e d a k s i ………………………..Rp. 1.000,-
3. Administrasi …………………………...Rp. 73.000,-
Jumlah Rp. 75.000,-
20
PUTUSAN
[Link]. 02 G/TN/1993
MAHKAMAH AGUNG
2. SDR. SUKARSIH.
Alamat Tambak Grinsing Baru II Gg. VII No. 5,
Kelurahan Perak Timur, Kecamatan Pabean
Cantian Surabaya.
Pekerjaan : buruh pada PT. HM. Sampoerna.
3. SDR. NIWAH.
Alamat : Jalan Sedayu Gang No. 28, Surabaya.
Pekerjaan : buruh pada PT. HM. Sampoerna.
4. SDR. NASIKAH.
Alamat Jalan Sikalan Gang VI No. 16, Manukan•
Wetan, Surabaya.
Pekerjaan buruh PT. HM. Sampoerna.
21
dalam hal ini diwakili oleh kuasa khususnya :
1. ABDUL HAKIM G. NUSANTARA, SH., LLM.
2. TRIMOELJA D. SOERJADI, SH.
3. BAMBANG WIDJAJANTO, SH.
4. INDRO SUGIANTO, SH.
5. EKO NURYANTO, SH.
6. M U N I R, SH.
M e l a w a n
22
I
beralamat di Jalan Departemen Tenaga Kerja Jalan Jenderal Gatot
Subroto Kav. 51 Jakarta Selatan, berdasarkan Surat Kuasa Khusus
No. 502/M/Xl/1993 tanggal 24 Nopember 1993.
Selanjutnya disebut Tergugat.
23
⎯ Apabila dalam 14 hari setelah pengajuan keinginan untuk
pembentukan serikat pekerja di perusahaan belum mendapat
jawaban dari pengusaha maka perangkat setingkat cabang
berhak untuk mempersiapkan dan melaksanakan pemben•
tukan;
24
itu, atau karena sifat pekerjaannya yang sangat khusus,
sehingga tidak dapat diorganisir berdasarkan tempat
kerja, tetapi mempunyai anggota sekurang-kurangnya
10.000 (sepuluh ribu) orang yang tersebar di seluruh
wilayah kerja;
25
Pekerja Seluruh Indonesia) sebagai satu-satunya organisasi
Pekerja yang ada di Indonesia, dan sudah terdaftar pada tergugat;
26
Penjelasan Undang-Undang terhadap ketentuan pasal 8 Undang-
Undang tentang Organisasi Kemasyarakatan menyatakan sebagai
berikut :
"Dengan tidak mengurangi kebebasannya ·untuk lebih
berperan dalam melaksanakan fungsinya, organisasi
kemasyarakatan berhimpun dalam suatu wadah pembinaan
dan pengembangan yang sejenis sesuai dengan kesamaan
kegiatan, profesi, fungsi, agama, dan kepercayaan terhadap
Tuhan Yang Maha Esa".
27
pekerja yang ada, yang direstui tergugat, yaitu SPSI, Surat
Keputusan Menteri Tenaga Kerja No.438/MEN/1992 dan Peraturan
Menteri Tenaga Kerja jelas mensyaratkan buruh atau pekerja
atau serikat buruh tidak boleh bergabung dengan atau mendirikan
serikat pekerja selain SPSI. Karena itu jelas dan terang Surat
Keputusan Menteri Tenaga Kerja No.438/MEN/1992 dan Peraturan
Menteri Tenaga Kerja No.03/MEN/1993 bertentangan dengan pasal
1 dan pasal 2 Undang-Undang No.18 tahun 1956 tersebut diatas;
28
diluar SPSI menyebabkan hilangnya kesempatan untuk
berperan serta mengawasi pelaksanaan manajemen
perusahaan;
29
Dari ketentuan tersebut tidak secara tegas menetapkan bahwa
yang dapat didaftar di Depnaker adalah SPSI oleh karena itu
tidak dapat dibenarkan apabila dalam ketentuan tersebut
ditafsirkan Serikat Pekerja tingkat cabang adalah Serikat Pekerja
Seluruh Indonesia;
30
⎯ Bahwa Undang-Undang No. 21 tahun 1954 yang berdasarkan
ketentuan pasal 18 Undang-Undang No. 14 tahun 1969 masih
dinyatakan berlaku;
Bahwa pendaftaran Serikat Pekerja pada dasarnya untuk
memenuhi ketentuan Undang-Undang No. 21 tahun 1954
tentang Perjanjian Perburuhan antara Serikat Buruh dan
Majikan. Pasal 1 ayat (1) Undang-Undang No. 21 tahun 1954
berbunyi :
"Perjanjian tentang syarat-syarat perburuhan antara serikat
buruh dengan majikan (disingkat Perjanjian Perburuhan) ialah
perjanjian yang diselenggarakan oleh serikat atau serikat-serikat
buruh yang telah didaftarkan pada Kementrian Perburuhan
dengan majikan, majikan-majikan, perkumpulan atau
perkumpulan-perkumpulan majikan yang berbadan hukum, yang
pada umumnya atau semata-mata memuat syarat-syarat yang
harus diperhatikan di dalam Perjanjian Kerja".;
a. Dari ketentuan pasal 1 ayat (1) Undang-Undang No. 21
tahun 1954, secara jelas dikemukakan bahwa Serikat
Pekerja yang telah terdaftar pada Depnaker yang dapat
membuat Perjanjian Perburuhan. Perjanjian Perburuhan
yang dibuat oleh Serikat Pekerja dan majikan mengikat
para anggota Serikat Pekerja dan Majikan yang membuat
perjanjian (pasal 6 Undang-Undang No.21 tahun 1954).
b. Dalam pasal 9 Permennaker [Link]-03/MEN/1993 yang
berbunyi :
"Serikat Pekerja dan gabungan serikat-serikat pekerja
yang telah terdaftar dan mendapat nomor pendaftaran
sesuai peraturan ini berhak mewakili pekerja yang
menjadi anggotanya dalam kegiatan hubungan industrial
dan bidang ketenagakerjaan lainnya".
31
⎯ Bahwa pasal 8 Undang-Undang No. 8 tahun 1985 berbunyi : "Untuk
lebih berperan dalam melaksanakan fungsinya, organisasi
kemasyarakatan berhimpun dalam satu wadah pembinaan dan
pengembangan yang sejenis".
32
MEN/1992 dan Peraturan. Menteri [Link]-03/MEN/1993
adalah dalam kaitannya dalam upaya memperlancar
pembinaan serikat pekerja melalui wadah pembinaan dan
pengembangan yang sejenis;
c. Bahwa berdasarkan dalil-dalil tersebut diatas, mengenai apa
yang dikemukakannya oleh penggugat dalam surat
gugatannya yang tercantum dalam angka 11, 12, 13 dan 14
adalah tidak benar;
33
d. Bahwa dimuka telah dikemukakan bahwa Permennaker No.
PER-03/MEN/1993 adalah merupakan peraturan untuk
memenuhi Undang-Undang No.21 tahun 1954 khususnya
pasal 1 ayat (1) dimana Serikat Pekerja yang dapat membuat
Perjanjian Perburuhan dengan majikan harus sudah terdaftar
pada Departemen Tenaga Kerja;
e. Bahwa pasal 1 ayat (1) dan pasal 2 ayat (2) Undang-Undang
No. 18 tahun 1958 telah dilaksanakan dengan adanya
ketentuan yang dikeluarkan oleh Pemerintah yang
menyatakan bahwa pengusaha tidak dapat mengadakan
pemutusan hubungan kerja terhadap pekerja dengan alasan
yang berkaitan dengan pembentukan/masalah-masalah
keserikatan pekerjaan sesuai dengan Surat Edaran Menteri
Tenaga Kerja No.113/BW/1990 (terlampir). Dengan demikian
para pekerja bebas untuk mendirikan organisasi pekerja atau
tidak menjadi anggota organisasi pekerja sebagaimana jiwa
dari Undang-Undang No.18 tahun 1958 tersebut sebagai-
mana dalil yang diajukan penggugat dalam angka 15, 16
dan 17.
34
Menimbang, bahwa setelah mempelajari berkas perkara tersebut,
Majelis berpendapat bahwa masih perlu diadakan [Link]
tambahan karena tidak jelas identitas dari para penggugat dan tidak
jelas pula apa keterkaitan atau kepentingan para penggugat tersebut
dengan Keputusan Menaker RI. No. Kep-438/MEN/1993 yang digugat.
Menimbang, bahwa berdasarkan Penetapan Ketua Mahkamah
Agung RI. Nomor 02/PEN/HUM/1994 tanggal 8 September 1994 telah
dilakukan pemeriksaan tambahan pada tanggal 23 September 1994
digedung Mahkamah Agung RI., yang dihadiri oleh penggugat dan
kuasa tergugat;
Menimbang, bahwa untuk lebih jelasnya kuasa para penggugat
memohon agar dapat diberi kesempatan untuk menjelaskan secara
tertulis.
Menimbang, bahwa dalam penjelasan tambahan tertulis tersebut
yang oleh kuasa para penggugat disebut sebagai replik, para
penggugat menyampaikan hal-hal sebagai berikut :
Bahwa para penggugat asli pertama dan para buruh yang lainnya
mendirikan organisasi buruh SPSI (Serikat Pekerja Seluruh Indonesia)
yaitu organisasi Vici Club. Tetapi oleh aparat, organisasi Vici tersebut
dibubarkan dan para pemrakarsanya ditahan oleh Korem Bh jaya 084
Waru, Sidoarjo selama tiga hari sejak 31 Desember 1992 sampai
dengan 2 Januari 1993;
35
Pekerja atau Organisasi Buruh yang mandiri dan bebas diluar SPSI
(Serikat Pekerja Seluruh Indonesia);
36
-~
aspirasinya dalam pembangunan nasional, yang sekaligus
merupakan penjabaran pasal 28 Undang-Undang Dasar 1945.
37
Bahwa Surat Keputusan Menteri Tenaga Kerja [Link]-438/MEN/1992
dan Peraturan Menteri Tenaga Kerja [Link]-03/MEN/1993
bertentangan juga dengan pasal 11 Undang-Undang No.14 tahun
1969 yang menyatakan sebagai berikut :
Ayat (1) : "Tlap tenaga kerja berhak mendirikan dan menjadi anggota
perserikatan tenaga kerja".
Ayat (2) : "Pembentukan perserikatan tenaga kerja dilakukan secara
demokratis".
Maka atas dasar hal-hal tersebut, para penggugat tetap pada tuntutan
semula agar Mahkamah Agung berkenan memutuskan :
1. Menerima seluruh gugatan para penggugat;
2. Menyatakan bahwa bab Ill butir (1) dan butir (2) Surat Keputusan
Menteri Tenaga Kerja RI. No. Kep-438/MEN/1992 tanggal 1
Oktober 1992 dan Pasal 2 dan Pasal 9 Peraturan Menteri Tenaga
Kerja RI. [Link]-03/MEN/1993 tidak sah karena bertentangan
dengan Undang-Undang No.18 tahun 1956, Undang-Undang
No.14 tahun 1969 dan Undang-Undang No.a tahun 1985;
3. Menghukum tergugat untuk segera mencabut Surat Keputusan
Menteri Tenaga Kerja [Link]-438/MEN/1993 dan Peraturan
Menteri Tenaga Kerja [Link]-03/MEN/1993 tersebut di atas;
4. Menghukum tergugat untuk membayar biaya perkara;
TENTANG HUKUMNVA
38
Menimbang, bahwa menurut Ketetapan Majelis Permusyawaran
Rakyat Republik Indonesia No. III/MPR/1978 tentang Kedudukan dan
Hubungan Tata Kerja Lembaga Tertinggi Negara dengan/atau antar
Lembaga-lembaga Tinggi Negara pasal 11 ayat (4), menyatakan :
Mahkamah Agung mempunyai wewenang menguji secara materiil
hanya terhadap peraturan-peraturan perundangan di bawah Undang-
Undang;
39
maka terhadap Keputusan Menteri Tenaga Kerja No. Kep.438/MEN/
1992 dan Peraturan Menteri Tenaga Kerja RI. Nomor: PER-03/MEN/
1993 yang merupakan produk perundang-undangan di bawah Undang-
Undang dapat diajukan hak uji Mahkamah Agung, mengingat Negara
Republik Indonesia menurut penjelasan Undang-Undang Dasar 1945 adalah
suatu negara hukum dimana berlaku asas legalitas dan asas konstitusional
yang tidak dapat membenarkan adanya produk perundang-undangan
yang lebih rendah bertentangan dengan perundang-undangan yang
lebih tinggi yakni Undang-Undang, Ketetapan MPR, Undang-Undang
Dasar 1945 dan Pancasila sebagai sumber dari segala sumber hukum;
40
Menimbang, bahwa berdasarkan pasal tersebut diatas, Mahkamah
Agung telah mengeluarkan Peraturan mengenai Hak uji Materi tersebut
yakni PERMA No. 1 tahun 1993 tentang Hak uji Materi tanggal 15
Juni 1993.
Menimbang, bahwa berdasarkan pertimbangan tersebut diatas,
Majelis Mahkamah Agung berpendapat bahwa Mahkamah Agung
berwenang untuk mengadili sengketa mengenai hak uji materiil tersebut.
Menimbang, bahwa prosedur untuk mengajukan gugatan Hak Uji
Materiil telah dilakukan sesuai peraturan yang berlaku (PERMA nomor
1 tahun 1993), maka gugatan Hak Uji Materiil tersebut formal dapat
diterima.
Menimbang, bahwa mengenai materi gugatan yang dianggap
bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi,
para penggugat/kuasanya/mendalilkan dalam gugatannya bahwa
dengan dikeluarkannya SK Menteri Tenaga Kerja [Link]-438/MEN/
1992 dan Peraturan Menteri No. Per-03/MEN/1993 tidak dimungkinkan
untuk mendirikan Serikat Pekerja diluar SPSI atau secara implisit
berdasarkan kedua keputusan dan peraturan Menteri tersebut
memaksa Serikat Pekerja ditingkat perusahaan untuk bergabung
dengan SPSI, sehingga bertentangan dengan :
1. Undang-Undang No.a tahun 1985;
2. Undang-Undang No.18 tahun 1956 tentang persetujuan konvensi
ILO No.98 tahun 1949;
3. Undang-Undang No.14 tahun 1969;
41
Jadi yang diwajibkan adalah untuk memasuki Serikat Pekerja yang
sejenis dan bukan dipaksa masuk SPSI. Hal ini gunanya untuk
kepentingan pembinaan dan pengembangan Serikat Pekerja itu
sendiri
;
Menimbang, bahwa setelah membaca replik dari para penggugat
tentang gugatannya yang menerangkan bahwa putusan Menteri
. Tenaga Kerja [Link]-03/MEN/1993 tentang pendaftaran organisasi
pekerja dan keputusan Menteri Tenaga Kerja No.438/MEN/1992
tentang pedoman pembentukan dan pembinaan serikat pekerja
diperusahaan, dapat dikatakan bahwa baik peraturan maupun
keputusan itu tidaklah bertentangan dengan pasal 1 , 2, 3 dan 4
konpensi ILO yang mengatur hak-hak buruh, karena yang diatur dalam
Permen maupun Kepmen adalah cara pendaftaran dan pedoman
pembentukan organisasi pekerja dan tidak menerangkan harus masuk
organisasi tertentu, melainkan disebut bahwa organisasi pekerja
dibentuk secara sukarela oleh dan untuk pekerja (pasal 1 a); dan
dihubungkan dengan pasal 8 Undang-Undang No.8/1985 yang
menginginkan agar organisasi lebih berperan dalam melaksanakan
fungsinya, organisasi kemasyarakatan berkumpul dalam satu wadah
pembinaan dan pengembangan yang sejenis, maka pasal 1 b, telah
memperkuat apa yang terkandung dalam pasal 8 tersebut. Demikian
juga Permen dan Kepmen itu untuk melengkapi apa yang diatur dalam
pasal 11 Undang-Undang No.14/1969 tentang mendirikan dan menjadi
anggota perserikatan tenaga kerja dan pembentukan perserikatan
tenaga kerja (pasal 2,3,4 dan 5);
Menimbang, bahwa dengan demikian gugatan para penggugat
haruslah ditolak, dengan menghukum mereka membayar biaya
perkara;
Memperhatikan pasal 24 Undang-Undang Dasar 1945 beserta
penjelasannya, pasal 11 ayat (4) Ketetapan Majelis Permusyawaratan
Rakyat R.I. No. 111/MPR/1978, pasal 2 dan pasal 26 Undang-Undang No.
14 tahun 1970. tentang kekuasaan kehakiman pasal 31 Undang- Undang
No. 14 tahun 1985 tentang Mahkamah Agung dan pasal 1 ayat (1) dan
(2) Peraturan Mahkamah Agung Nomor 1 tahun 1993 tentang Hak Uji
Materiil.
42
MENGADILI
Biaya-biaya perkara :
1. Materai
····················· Rp. 1.000,-
2. Redaksi
···················· Rp. 1.000,-
3. Administrasi
······················ Rp. 73.000,-
43
, •• . ,,,- •"•' ' · ... M. ~--· - -•· .. ,·~ · -- ..... --- .- ..
PUTUSAN
[Link]. 03 G/TN/1995
MAHKAMAH AGUNG
Melawan
45
Nomor : 03 G/TN/1995 telah mengajukan gugatan dengan alas an-
alasan sebagai berikut :
1. Bahwa Jaksa Agung R.I. berdasarkan Surat Keputusan Nomor :
KEP-129/JA/12/1976, tanggal 7 Desember 1976, telah melarang
kegiatan Siswa-Siswa Alkitab/Saksi Yehova di seluruh Wilayah
Indonesia.
Larangan kegiatan Siswa-Siswa Alkitab/Saksi Yehova tersebut
diperjelas dengan surat Jaksa Agung R.I. kepada Distribusi "W'
Kejaksaan di seluruh Indonesia Nomor : B-031/A-2/21/1978/
tanggal 7 Februari 1978 tentang Pelarangan Kegiatan Siswa-
Siswa Alkitab/Saksi Yehova di Indonesia.
Landasan hukum dari Surat Keputusan Jaksa Agung R.I.
adalah :
a. Pasal 2 ayat (3) Undang-Undang Nomor 15 Tahun 1961
tentang Tugas Kejaksaan Agung untuk "mengawasi aliran-
aliran kepercayaan yang dapat membahayakan masyarakat
dan negara".
b. Pasal 1 Undang-Undang Nomor I/PNPS/1965 (maksudnya
adalah Penetapan Presiden Nomor 1 tahun 1965 tentang
Pencegahan dan/atau Penodaan Agama, yang berdasarkan
Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1969 mempunyai
kedudukan dan kekuatan sebagai Undang-Undang);
2. Bahwa para Penggugat menganggap Surat Keputusan Jaksa
Agung A. I. Nomor : KEP-129/JA/12/1976 bertentangan dengan
pasal 29 UUD 1945 dan Ketetapan MPR Nomor 11/MPR/1978
(vide Penjelasan Bab II angka I);
46
b. Ketetapan MPR Nomor II/MPR/1978 mengenai penegasan
kemerdekaan beragama merupakan hak yang paling asasi
yang berasal dari Tuhan, bukan pemberian negara atau
golongan;
c. Ketentuan dalam peraturan perundang-undangan baik yang
bersifat prosedural formal maupun yang bersifat substansial/
materiil (vide penjelasan otentik UUD 1945);
d. Asas kepastian hukum;
e. Asas persamaan perlakuan dan keadilan yang hakiki;
5. Bahwa oleh karena Surat Keputusan Jaksa Agung R.I. Nomor : KEP-
129/JA/12/1976 bertentangan dengan Falsafah Pancasila, Pasal
29 ayat (1) dan (2) UUD 1945, Ketetapan MPR No. II/
MPR/1978/ dan prinsip asasi bahwa kebebasan beragama bukan
pemberian negara dan oleh karena itu negara tidak berwenang
mencabutnya, maka Penggugat dalam perkara ini mohon
Mahkamah Agung menguji secara materiil dan menyatakan Surat
Keputusan Jaksa Agung R. I. Nomor : KEP-129/JA/12/1976 adalah
tidak sah;
6. Bahwa dengan mengingat pasal 29 UUD 1945 jo. Ketetapan
MPR Nomor: II/MPR/1978 dan pasal 31 Undang-Undang Nomor
14 Tahun 1985 tentang mahkamah Agung, jo. Peraturan
Mahkamah Agung R.I. Nomor 1 tahun 1993 tentang Hak Uji
Materiil, maka para Penggugat mohon Mahkamah Agung
menjatuhkan putusan sebagai berikut :
1. Mengabulkan permohonan gugatan Hak Uji Materiil ini;
2. Menyatakan sebagai hukum bahwa Surat Keputusan Jaksa
Agung A.I. Nomor : KEP-129/JA/12/1976, tanggal 7
Desember 1976, sebagai tidak sah karena bertentangan
dengan Undang-Undang dan peraturan perundang-undangan
yang lebih tinggi;
47
telah pula mengajukan jawabannya yang diterima di kepaniteraan
Mahkamah Agung pada tanggal 5 Mei 1995, dengan alasan-alasan
sebagai berikut :
1. Bahwa Surat Keputusan Jaksa Agung Nomor : KEP-129/JA/12/
1976 dikeluarkan atas dasar pertimbangan-pertimbangan bahwa
ajaran saksi Yehova/Siswa-Siswa Alkitab menurut hal-hal yang
bertentangan dengan ketentuan yang berlaku ("vide pasal 1 ayat
1 Undang-undang Nomor : 1 /PNPS/1965);
2. Bahwa berdasarkan Surat Menteri Agama R.I. nomor A/531/1975,
Rahasia, tanggal 27 Desember 1975 menyatakan :
⎯ Ajaran/doktrin Siswa-Siswa Alkitab/Saksi-Saksi Yehova
berbeda dan bertentangan dengan ajaran agama Kristen
baik dari segi dogmatis, theologis maupun pastoral
(pelayanan);
⎯ Sikap dan ajaran Siswa-Siswa Alkitab/Saksi-Saksi Yehova
menentang kepada kekuasaan dan/atau pemerintah yang
ada, termasuk kepada pegawai negeri dan pejabat
pemerintah;
⎯ Kegiatan Siswa-Siswa Alkitab/Saksi-Saksi Yehova menyimpang
dari ketentuan pemerintah R. I., dan bertentangan dengan
ajaran agama Kristen (vide pasal 2 Undang-Undang No.
1./PNPS/1965).;
3. Bahwa atas dasar alasan tersebut, Menteri Agama R. I.
menyarankan kepada Jaksa Agung R. I. agar kegiatan
perhimpunan Alkitab yang didalamnya termasuk Saksi-Saksi
Yehova supaya dibekukan diseluruh Indonesia;
48
demikian merupakan keputusan Badan/Pejabat Tata Usaha
Negara, oleh karena itu tidak merupakan objek Hak Uji
Materiil;
6. Bahwa Keputusan Badan/Pejabat Tata Usaha Negara (in casu =
Surat Keputusan Jaksa Agung R.I. Nomor: KEP-129/JA/12/1976)
berdasarkan Undang-Undang No. 5 Tahun 1986 hanya dapat
dijaukan gugatannya melalui Pengadilan Tata Usaha Negara;
7. Bahwa para Penggugat tidak berkapasitas/berkwalitas Sebagai
Penggugat karena sejak dikeluarkan Surat Keputusan Jaksa
Agung RI Nomor : KEP-129/JA/12/1976, Perkumpulan Saksi
Yehova/Siswa-Siswa Alkitab menurut hukum telah dibubarkan,
sedangkan Surat Keterangan tanggal 2 Januari 1995 tentang
Dewan Pengurus Perkumpulan Siswa-Siswa. Alkitab yang
ditandatangani oleh para Penggugat sama sekali tidak mempunyai
nilai bukti dan tidak mendukung keberadaannya secara hukum
dengan mengatasnamakan pengurus perkumpulan;
8. Bahwa Jaksa Agung R. I. didalam menerbitkan Surat Keputusan
berdasarkan wewenang yang diberikan oleh Undang-Undang.
Dengan demikian Keputusan Jaksa Agung dalam kasus a quo
tidak bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang
berlaku;
TENTANG HUKUMNYA :
49
⎯ Pada saat mulai berlakunya Peraturan Mahkamah Agung ini,
peraturan yang telah ada mengenai Hak Uji Materiil dinyatakan
tetap berlaku bagi gugatan yang telah diterima oleh Mahkamah
Agung;
50
Menimbang, bahwa dengan demikian Surat Keputusan Jaksa
Agung R.I. Nomor : KEP-129/JA/12/1976 dari segi formal prosedural
maupun dari segi kewenangan untuk menerbitkan Surat Keputusan
tersebut sudah sesuai dengan ketentuan perundangan yang lebih tinggi;
Menimbang, bahwa sesuai dengan jawaban Kejaksaan Agung,
Surat Keputusan a quo dikeluarkan setelah memperoleh pendapat
dari Departemen Agama dan lnstansi terkait, sehingga secara materiil
sudah cukup obyektif;
Menimbang, bahwa sesuai ketentuan yang diatur dalam pasal 26
Undang-Undang No. 14 Tahun 1970 dan pasal 31 Undang-undang
No. 14 Tahun 1985, dalam melaksanakan Hak Uji Materiil Mahkamah
Agung berlandaskan asas : Lex Superior derogat legi inferior, maka
dengan demikian Mahkamah Agung hanya akan mempertimbangkan
apakah Surat Keputusan Jaksa Agung R.I. dalam kasus a quo
bertentangan dengan peraturan yang lebih tinggi atau tidak;
Menimbang, bahwa didasari oleh pertimbangan diatas maka dalil-
dalil yang dikemukakan Penggugat yang menyatakan Surat Keputusan
Jaksa Agung R.I. Nomor: KEP-129/JA/12/1976 bertentangan dengan
pasal 29 UUD 1945 dan Ketetapan MPR Nomor: II/MPR/1978 haruslah
dikesampingkan;
Menimbang, bahwa berdasarkan apa yang dipertimbangkan
diatas, lagipula dari sebab tidak ternyata bahwa Surat Keputusan
Jaksa Agung R. I. Nomor : KEP-129/JA/12/1976, tanggal 7 Desember
1976, tentang Pelarangan Terhadap Ajaran/Perkumpulan Siswa-Siswa
Alkitab/Saksi-saksi Yehova bertentangan dengan pasal 29 UUD 1945
dan ketetapan MPR Nomor II/MPR./1978, maka permohonan gugatan
Hak Uji Materiil yang diajukan oleh Para Penggugat tersebut harus
ditolak;
Menimbang, bahwa oleh karena para Penggugat adalah Pihak
yang dikalahkan, maka harus membayar biaya dalam perkara ini.;
Memperhatikan pasal 24 UUD 1945 beserta penjelasannya, pasal
11 ayat (4) Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat R.I. Nomor : Ill/
MPR/1978, pasal 2 dan 26 Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1970
tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Kekuasaan Kehakiman, pasal 31
Undang-Undang Nomor : 14 Tahun 1985 tentang Mahkamah Agung dan
peraturan MahkamahAgung Nomor 1 Tahun 1993 tentang Hak Uji Materiil;
51
MENGADILI
52
PENETAPAN
No. 01 G/TN/1998
Melawan
1. WALIKOTAMADYA DAERAH TINGKAT II SEMARANG, ber-
kedudukan di Kantor Pemerintah Kotamadya Daerah Tingkat
II Semarang, Jalan Pemuda No. 146-148 Semarang.
53
2. GUBERNUR KEPALA DAERAH TINGKAT I JAWA
TENGAH. berkedudukan di Kantor Pemerintah Daerah
Tingkat I Propinsi Jawa Tengah, Jalan Pahlawan No. 9
Semarang.
Tergugat I dan I I
MENETA PKAN
54
Menghukum Penggugat LUNARDI PRANOWO (d/h T JAN HWAN
LOEN) untuk membayar biaya perkara sejumlah Rp. 150.000, (Seratus
lima puluh ribu rupiah);
Demikianlah ditetapkan pada hari Senin tanggal 24 Januari 2000
oleh Ketua Mahkamah Agung R. I. tersebut.;
ttd.
SARWATA. SH,
Biaya-biaya perkara :
1. M a t e r a i ……………………………………..Rp. 2.000,-
2. R e d a k s i……………………………………Rp. 1.000,-
3. Administrasi…………………………………………Rp. 147.000,-
55
PUTUSAN
No. 02 G/HUM/Th. 1999
DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA
MAHKAMAH AGUNG
57
pada tanggal 6 September 1999 dan didaftarkan dibawah register No.
02 P/HUM/Th. 1999 tanggal 20 September 1999, telah menqalukan
permohonan keberatan berdasarkan alasan-alasan pada pokoknya
sebagai berikut :
A. PROSEDURAL
1. Pasal 11 ayat (4) ketetapan MPR RI No. III/MPR/1978.
2. Pasal 26 ayat (1) Undang-Undang No. 14 tahun 1970.
3. Peraturan Mahkamah Agung RI No. 1 tahun 1999, pasal 1 ayat
(4).
4. Peraturan Mahkamah Agung RI. No. 1 tahun 1999, pasal 1 ayat
(5).
5. Oleh karena pemohonan ini diajukan dalam waktu 14 hari sejak
peraturan tersebut diberlakukan pada tanggal 24 Agustus 1999,
maka permohonan ini telah memenuhi tengang waktu yang
ditentukan dalam peraturan Mahakamah Agung RI. No. 1 tahun
1999 pasal 5 ayat (4).
B. SUBTANSI
1. Keputusan Presiden No. 99 tahun 1999 bertentangan dengan
ketetapan MPR RI. No. X/MPR/1998
1.1. Bahwa dalam diktum memutuskan : "Kepada Ketua, Wakil
Ketua dan Anggota DPR RI Periode 1997 - 2002 diberikan
uang penghargaan atas prestasi kerja sebesar 150 juta rupiah
perorang".
1.2. Bahwa dalam ketetapan MPR RI. No. X/MPR/1998, BAB I,
Pendahuluan, Huruf A, dinyatakan : " ....... krisis ini kemudian
berkembang meliputi semua aspek kehidupan politik,
ekonomi, dan sosial, yang ditandai dengan rusaknya tatanan
ekonomi dan keuangan, pengangguran yang meluas dan
kemiskinan yang menjurus pada ketidakberdayaan
masyarakat ..... ".
1.3. Bahwa berdasarkan statistik, jumlah pengangguran mencapai
16,26 juta orang. Sedangkan kemiskinan 79,4 juta orang,
jumlah pinjaman luar negeri dan bunganya saja yang harus
58
dibayar tahun 2000 mencapai 100 triliun rupiah. Selain itu
korban PHK meningkat drastis.
1.4. Bahwa sebaliknya anggota DPR yang telah mendapat hasil
yang layak, yaitu lebih dari 8 juta rupiah. sebulan dan diberi
hak pensiun yang besar, justru malah mendapat uang
penghargaan yang sangat besar.
Berdasarkan hal-hal tersebut jelas Keputusan Presiden
a quo bertentangan dengan kondisi bangsa Indonesia dan
tidak sesuai dengan makna serta ketentuan pokok-pokok
reformasi pembangunan dalam rangka penyelamatan dan
normalisasi kehidupan nasional sebagaimana terdapat pada
Ketetapan MPR RI No. X/MPR/1998 diatas.
59
a. Keputusan Presiden a quo menyimpang dari nalar yang
sehat/bersifat sewenang-wenang/bersifat willekeurig.
Karena tidak didasarkan pada pertimbangan, alasan dan
tujuan kepentingan publik dan telah mengabaikan
anggota Dewan sendiri karena merupakan kebijakan
penggunaan anggaran, dan dapat mendorong rasa balas
budi sehingga potensial menjadi money politics.
b. Asas persamaan.
Karena tidak diberikan kepada mantan Menteri Kabinet
pembangunan VI yang berakhir sebelum masa
waktunya.
c. Asas pertimbangan.
Karena walaupun disertai pertimbangan tetapi tidak
memadai seperti pertimbanqan ekonomi dan sosial
dimana uang 75 milyar rupiah dapat digunakan untuk
menangulangi krisis ekonomi.
d. Asas kepastian, kepatutan dan kewajaran.
Karena bukan hal yang wajar, patut, pantas apabila
Presiden memberikan penghargaan uang yang sangat
besar kepada anggota DPR dan situasi anggaran masih
berasal dari hutang luar negeri.
e. Asas pertanggungjawaban.
Asas ini menghendaki setiap tidakan Badan/Pejabat
Administrasi harus dapat dipertanggungjawabkan, baik
dari segi hukum tertulis maupun hukum tidak tertulis.
TENTANG HUKUMNVA :
61
Menimbang, bahwa selanjutnya yang perlu dipertimbangkan
terlebih dahulu adalah, apakah Mahkamah Agung berwenang atau tidak
untuk memeriksa permohonan keberatan Hak Uji Materiil terhadap Keputusan
Presiden RI. No. 99 tahun 1999 tentang Pemberian Uang Penghargaan
Atas Prestasi Kerja Ketua, Wakil Ketua, dan Anggota Dewan Perwakilan
Rakyat RI. Periode 1997-2002, yang dianggap bertentangan dengan
Ketetapan MPR RI. Nomor X/MPR/1998 dan Pancasila serta hukum
dasar yang tidak tertulis;
Menimbang, bahwa menurut ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat
RI. No. III/MPR/1978 tentang Kedudukan Dan Hubungan Tata Kerja Lembaga
Tertinggi Negara Dengan I Atau Antar Lembaga• Lembaga Tinggi Negara,
Pasal 11 ayat (4), menyatakan : Mahkamah Agung mempunyai wewenang
menguji secara materiil hanya terhadap Peraturan-peraturan Perundangan
dibawah undang-undang;
Menimbang, bahwa pasal 26 ayat (1) undang-undang No. 14 tahun
1970 tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Kekuasaan Kehakiman,
menyatakan : Mahkamah Agung Berwenang Untuk Menyatakan tidak
sah semua peraturan perundang-undangan dari tingkat yang lebih
rendah dari undang-undang atas alasan bertentangan dengan
peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi;
Menimbang, bahwa pasal 31 ayat (1) undang-undang Nomor 14 tahun
1985 tentang Mahkamah Agung, menyatakan : Mahkamah Agung
mempunyai wewenang menguji secara materiil hanya terhadap peraturan
perundang-undangan dibawah undang-undang;
Menimbang, bahwa dari ketentuan-ketentuan tersebut Mahkamah Agung
diberi wewenang untuk melakukan Hak Uji Materiil terhadap peraturan
perundang-undangan yang lebih rendah dari pada undang• undang, maka
terhadap Keputusan Presiden RI. No. 99 tahun 1999 secara formal dapat
diajukan Hak Uji Materiil kepada Mahkamah Agung;
Menimbang, bahwa berkaitan dengan itu untuk kelancaran
penyelenggaraan peradilan mengenai Hak Uji Materiil dimaksud, maka
menurut Perma No. 1 tahun 1999 tentang Hak Uji Materiil, Mahkamah Agung
berwenang menerima Permohonan Keberatan Hak Uji Materiil yang
diajukan secara langsung ke Mahkamah Agung seperti yang dilakukan
oleh Pemohon dalam kasus a quo (vide pasal 5 ayat 1 a);
62
Menimbang, bahwa dengan demikian secara teknis pelaksanaan
pengujian Permohonan Keberatan Hak Uji Materiil terhadap Keputusan
Presiden RI. No. 99 tahun 1999 tentang Pemberian Uang Penghargaan
Atas Prestasi Kerja Ketua, Wakil Ketua dan Anggota Dewan Perwakilan
Rakyat RI. Periode 1997-2002 dapat dilakukan oleh Mahkamah Agung
dengan mempergunakan Perma No. 1 tahun 1999;
Menimbang, bahwa sebelum melakukan pengujian terhadap
Keputusan Presiden a quo dari segi subtansi/materinya, yaitu apakah
peraturan perundang-undangan tersebut bertentangan dengan undang-
undang atau peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi (vide
pasal 1 ayat 4 Perma No. 1 tahun 1999), Majelis Hakim Agung yang
memeriksa dan memutus permohonan keberatan Hak Uji Materiil
terlebih dulu akan melakukan penelitian terhadap Keputusan Presiden
No. 99 tahun 1999 tersebut, apakah termasuk peraturan perundang-
undangan yang mengikat umum dibawah undang-undang atau tidak
dalam arti berlaku dan diterapkan bagi setiap orang. Sebagaimana
ditentukan oleh Perma No. 1 tahun 1999 Hak Mahkamah Agung untuk
menguji secara materiil terhadap peraturan Perundang-undangan
dibawah undang-undang hanyalah terhadap suatu peraturan
perundang-undangan yang mengikat umum dibawah undang-undang
(vide BAB I , Ketentuan Umum, pasal 1 ayat 1 dan 2, Perma No.
1 tahun 1999);
Menimbang bahwa apakah yang dimaksud dengan peraturan
perundang-undangan yang mengikat umum di bawah undang-undang,
didalam Perma No.1 tahun 1999 tidak dijelaskan. Dengan demikian,
maka Majelis Hakim Agung yang memeriksa dan memutus
permohonan keberatan Hak Uji Materiil dalam kasus a quo, akan
menghubungkan pada ketentuan yang terkait dengan permasalahan
dimaksud;
Menimbang bahwa didalam ketetapan Majelis Permusyawaratan
Rakyat Sementara (MPRS) RI. Nomor XX/MPRS/1966 tentang
Memorandum DPR-GR Mengenai Sumber Tertib Hukum Republik
Indonesia Dan Tata Urutan Peraturan Perundangan RI., menggunakan
istilah peraturan perundang-undangan.
TAP MPRS RI No. XX/MPRS/1966 mengemukakan pelbagai bentuk
peraturan perundang-undangan menurut Undang-Undang Dasar 1945,
sebagai berikut :
63
⎯ UUD 1945;
⎯ Ketetapan MPR;
⎯ Undang-undang dan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-
Undang;
⎯ Peraturan Pemerintah;
⎯ Keputusan Presiden;
⎯ Peraturan-peraturan Pelaksanaan lainnya, seperti : Peraturan
Menteri;
lnstruksi Menteri;
dan lain-lain.
64
-. ·
Menimbang, bahwa uang penghargaan tersebut, dibayarkan pada
masa akhir jabatan Ketua, Wakil Ketua, dan Anggota Dewan
Perwakilan Rakyat RI. periode 1997 - 2002 (vide diktum ketiga
Keppres a quo);
Menimbang, bahwa masa keanggotaan Dewan Perwakilan
Rakyat RI yang dimaksud oleh Keppres a quo, menurut pasal 13
undang-undang no. 4 tahun 1999 tentang Susunan Dan
Kedudukan Majelis Permusyawaratan Rakyat, Dewan Perwakilan
Rakyat, Dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah akan berakhir
bersamaan dengan saat anggota Dewan Perwakilan Rakyat RI
hasil Pemilihan Umum mengucapkan sumpah I janji, dan menurut
peraturan KPU No. 11 tahun 1999 akan dilakukan antara tanggal
1-3 Oktober 1999;
Menimbang bahwa dengan demikian kekuatan berlakunya
Keputusan Presiden No. 99 tahun 1999 terbatas sampai pada
akhir masa jabatan Ketua, Wakil Ketua, dan Anggota Dewan
Perwakilan Rakyat RI. periode 1997 - 2002, yaitu pada saat
anggota Dewan Perwakilan Rakyat RI hasil Pemilu mengucapkan
sumpah I janji;
Menimbang, bahwa dari pertimbangan tersebut diatas Majelis
Hakim Agung berpendapat bahwa jangkauan yang dituju dan daya
berlakunya Keputusan Presiden No. 99 tahun 1999 tidaklah
mengikat dan bersifat umum, melainkan ditujukan terhadap Ketua,
wakil Ketua, dan Anggota Dewan Perwakilan Rakyat RI. Periode
1997 - 2002, sehingga sudah bersifat kongkrit individual, setidak-
tidaknya dapat diindividualisir. Pengertian "dilndlvldualisir" berarti
bahwa keputusan a quo ditujukan bagi individu-individu yang
tertentu, yaitu Ketua, Wakil Ketua, dan Anggota-Anggota DPR
Periode 1997-2002;
Menimbang, bahwa meskipun Keputusan Presiden No. 99
tahun 1999 tersebut dapat digolongkan sebagai bentuk Keplitusan
Tata Usaha Negara tetapi tidak termasuk Keputusan Tata Usaha
Negara hasil dari tindakan Tata Usaha Negara dibidang pembuatan
peraturan. sehingga tidak termasuk jenis peraturan, melainkan
termasuk kedalam Keputusan Tata Usaha Negara dalam arti
"beschikking";
65
Menimbang, bahwa oleh karena itu Keputusan Presiden No. 99
tahun 1999, tidaklah dapat disebut sebagai peraturan yang mengikat
secara umum;
Menimbang, bahwa disamping itu daya berlakunya Keputusan
Presiden dalam kasus a quo bersifat sekali pakai ( eenmalig);
Menimbang, bahwa berdasarkan semua pertimbangan tersebut,
maka Permohonan keberatan Hak Uji Materiil terhadap Keputusan
Presiden No. 99 tahun 1999 yang diajukan oleh Perhimpunan Bantuan
Hukum Dan Hak Asasi Manusia Indonesia (PBHI) tidak beralasan,
maka haruslah dinyatakan ditolak;
Menimbang, bahwa oleh karena permohonan keberatan Hak Uji
Materiil ditolak maka kepada Pemohon (In casu : PBHI) dinyatakan
harus membayar biaya perkara;
Memperhatikan, pasal 24 Undang-Undang Dasar 1945 beserta
penjelasannya, pasal 11 ayat (4) Ketetapan Majelis Permusyawaratan
Rakyat RI. No. III/MPR/1978, pasal 26 Undang-Undang No. 14 tahun
1970 tentang ketentuan-ketentuan Pokok kekuasaan Kehakiman, pasal
31 Undang-Undang No. 14 tahun 1985 tentang Mahkamah Agung,
Perma No. 1 tahun 1999 tentang Hak Uji Materiil, dan Peraturan•
Peraturan lain yang terkait;
MENGADILI :
66
.!.......il
Anggota, serta Zainal Agus, SH, Panitera Muda dengan tidak dihadiri
pemohon atau kuasanya;
ttd. ttd.
ttd.
ttd.
Biaya-biaya perkara :
M a t e r a i ………………………………………………Rp. 2.000,-
R e d a k s i ………………………………………………Rp. 1.000,-
Administrasi ………………………………………………..Rp. 247.000,-
Jumlah Rp. 250.000,-
67
I_ ·~...-·-.:. . ....:....... --·-•-r-.,;•,···- .. ~ .~--- .. ~~ ··-· -"'·- ·- --·~ _. ···~-·----.-.Loo.,Jo~•,. Y_·_. •. --.. ... r" • ~
PUTUSAN
Reg. No. 05 P/HUM/2000
69
I. Kajian Pustaka :
70
C. Dasar Hukum "mengingat"
Dasar hukum sesuatu peraturan perundang-undangan
merupakan suatu landasan yang bersifat yuridis bagi
pembentukan peraturan perundang-undangan.
Dasar hukum suatu peraturan perundang-undangan
dapat terdiri dari atas hal hal sebagai berikut :
1. Peraturan atau norma hukum yang memberikan
kewenangan bagi terbentuknya peraturan perundang-
undangan tersebut, yaitu ketentuan ketentuan dalam
undang-undang dasar 1945;
2. Peraturan perundang-undangan lainnya yang setingkat
dan erat kaitannya dengan peraturan perundang-
undangan yang dibentuk;
3. Ketetapan MPR;
71
c. Tidak pernah terlibat dalam kegiatan yang meng-
khianati Negara Kesatuan Republik Indonesia yang
berdasarkan Pancasila dan Undang-undang 1945 yang
dinyatakan dengan surat keterangan Ketua Pengadilan
Negeri;
d. Berpendidikan sekurang-kurangnya Sekolah
Lanjutan Tingkat Atas dan atau sederajat.
e. Berumur sekurang-kurangnya tiga puluh tahun;
f. Sehat jasmani dan rokhani.
g. Nyata-nyata tidak terganggu jiwa atau ingatannya. h.
Tidak pernah dihukum penjara karena melakukan
tindak pidana.
i. Tidak sedang dicabut hak pilinya berdasarkan
keputusan Pengadilan Negeri.
j. Mengenal daerahnya dan dikenal oleh masyarakat di
daerahnya.
k. Menyerahkan daftar kekayaan pribadi, dan
I. Bersedia dicalonkan menjadi Kepala Daerah.
72
Asasi Manusia yang termuat dalam pasal 28 D ayat 3
Perubahan Kedua Undang-Undang Dasar Negara
Republik Indonesia.
Bunyi pasal 3 ayat 2 dari Keputusan DPRD
Kabupaten Klaten Nomor 23 Tahun 2000 Tentang
peraturan Tata tertib Pencalonan dan Pemilihan Kepala
Daerah dan Wakil Kepala Daerah Masa Jabatan 2000-
2005 adalah :
Bagi seorang yang telah atau pernah mencalonkan
Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah di Kabupaten
atau Kota di luar Kabupaten Klaten pada tahun 1999/
2000 maka yang bersangkutan tidak diperbolehkan
mencalonkan diri di Kabupaten lain.
Menurut pendapat kami dan menjaring aspirasi
masyarakat Klaten penambahan pasal tersebut
sangatlah tidak tepat dengan alasan :
⎯ Bertentangan dengan peraturan di atasnya yaitu
pasal 33 Undang-undang No. 22 Tahun 1999;
⎯ Bertentangan dengan Hak Assasi Manusia yaitu
pasal 28 D ayat 3 perubahan Kedua Undang-
Undang Dasar Negara Republik Indonesia.
B. Dasar Hukum:
Salah satu dasar hukum perbuatan Keputusan DPRD
Kabupaten Klaten Nomor 23 Tahun 2000 adalah :
Mengingat :
Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang
Pemerintah Daerah.
Dengan terbitnya pasal 3 ayat 2 Keputusan DPRD
Kabupaten Klaten Nomor 23 Tahun 2000, Pembuat peraturan
menyalahi landasan hukumnya karena secara tegas dan
limitatif dalam pasal 33 UU No. 22 Tahun 1999 sudah
menentukan syarat-syarat ditetapkan menjadi Kepala Daerah
sehingga pembuat perundang-undangan di bawahnya
73
seharusnya mengikuti yang sudah ditetapkan dalam UU
Nomor 22 Tahun 1999;
74
Paguyuban Partai se-Kabupaten Klaten Jawa Tengah, Ir. Suwodo
[Link] dan diajukan langsung ke Mahkamah Agung;
75
Menimbang, bahwa selanjutnya perlu dipertimbangkan apakah
Keputusan DPRD Kabupaten Klaten No. 23 Tahun 2000 a quo memang dapat
dijadikan objek permohonan Hak Uji Materiil yang menjadi kompetensi atau
wewenang mengadili bagi Mahkamah Agung sebagaimana ditentukan dalam
pasal 26 Undang-undang Pokok Kekuasaan Kehakiman No. 14 Tahun 1970
jo pasal 5 ayat (2) Ketetapan MPR No. III/MPR/2000, dan pasal 31 Undang-
undang No.
14 Tahun 1985 tentang Mahkamah Agung yang dikaitkan dengan
Perma No. 1 Tahun 1999;
Menimbang, bahwa isi dan maksud permohonan Hak Uji Materiil yang
diajukan oleh pemohon adalah sebagaimana yang diuraikan tersebut diatas;
Menimbang, bahwa Undang-undang No. 22 Tahun 1999 tentang
pemerintah Daerah secara limitatif telah menyebutkan secara jelas syarat-
syarat untuk dapat ditetapkan sebagai calon Kepala Daerah dan Wakil
Kepala Daerah dalam pasal 33 huruf a s/d i;
Bahwa keputusan DPRD Kabupaten Klaten No. 23 Tahun 2000 tentang
peraturan Tata Tertib pencalonan dan pemilihan Kepala Daerah dan
Wakil Kepala Daerah Kabupaten Klaten masa jabatan
2000 - 2005, adalah merupakan pelaksanaan dari Undang-Undang No. 22
Tahun 1999 tersebut, tetapi ternyata telah ada tambahan syarat-syarat
calon Kepala Daerah Kabupaten Klaten selain yang diatur dalam pasal
33 huruf a s/d i tersebut yaitu pada pasal 3 ayat 2 yaitu tentang
pembatasan hak seseorang yang mencalonkan diri sebagai Kepala Daerah
dan Wakil Kepala Daerah Kabupaten
Klaten;
Bahwa penambahan syarat-syarat tersebut telah bertentangan dengan
peraturan I undang-undang yang lebih tinggi yaitu Undang- undang No. 22
Tahun 1999 tentang Pemermtahan Daerah dan Tap MPR No. XVII/MPR/2000
Bab X pasal 28 ayat 3 tentang Hak Azazi Manusia (HAM) karena itu harus
dinyatakan tidak sah dan tidak berlaku umum serta harus dicabut oleh DPRD
Kabupaten Klaten;
Menimbang, bahwa sesuai dengan ketentuan pasal 13 peraturan
Mahkamah Agung No. 1 Tahun 1999 Panitera Mahkamah Agung
mencantumkan putusan ini dalam berita Negara. dan dipublikasikan atas
biaya Negara;
76
Menimbang, bahwa berdasarkan pasal 13 ayat 2 peraturan
Mahkamah Agung No. 1 Tahun 1999 ditentukan bahwa jika dalam
waktu 90 hari setelah putusan dikirimkan kepada Badan/Pejabat Tata
Usaha Negara yang mengeluarkan Keputusan DPRD Kabupaten
Klaten No. 23 Tahun 2000 ternyata tidak dilaksanakan pencabutannya,
maka demi hukum Keputusan yang bersangkutan tidak mempunyai
kekuatan hukum:
Mengadili
77
Achadiat, SH Hakim Agung yang ditunjuk oleh Ketua Muda Mahkamah
Agung sebagai Ketua Sidang, Benjamin Mangkoedilaga, SH serta Ny.
Chairani A. Wani, SH sebagai Hakim-Hakim Anggota, dan Ny. Naomi
Manggalatung, SH Panitera Pengganti dengan tidak dihadiri oleh para
pihak;
ttd. ttd.
ttd.
ttd.
Naomi Manggalatung, SH.
Biaya-biaya :
M at e rai .Rp. 6.000,-
R ed a k si Rp. 1.000,-
Administrasi Rp. 243.000,-
Jumlah Rp. 250.000,-
78
PUTUSAN
Nomor : 02.P/HUM/Th. 2001
MAHKAMAH AGUNG
79
15. HENDRIKOUK, SH,
16. BAMBANG SUROSO,
17. Drs. FACHRUDIN HASAN,
18. Drs. SYARKAWI TJES,
19. IM. SUNARKHA,
20. Drs. H. NURSIWAN NOER DATUK,
21. HM. TOHIR MUMAYDL
22. SYAM SYAHRIL,
23. BAMBANG [Link],
24. H. ABDI KUSUMA NEGARA,
.80
dituangkan dalam Serita Acara dan Sertifikat Tabulasi
Hasil Penghitungan Suara yang ditandatangani oleh
sekurang-kurangnya 2/3 (dua pertiga) Anggota KPU";
c. Pasal 66 ayat (2) berbunyi : "Penetapan keseluruhan
hasil penghitungan suara untuk DPR, DPRD I dan DPRD
II secara nasional dilakukan oleh KPU";
d. Pasal 10 butir (e) berbunyi : "menetapkan keseluruhan
hasil pemilihan umum di semua daerah pemilihan untuk
DPR, DPRD I, dan DPRD 11" dan butir (f) berbunyi :
"mengumpulkan dan mensistimatisasikan bahan-bahan
serta data hasil Pemilihan Umum" ;
2. lnstruksi Presiden Nomor 15 tahun 1970 pasal 1 berbunyi :
"Pimpinan Departeman dan Lembaga Non-Departemen yang
bersangkutan, yaitu Menteri yang memimpin Departemen
ataupun Kepala Lembaga Pemerintah Non-Departemen,
dapat mengajukan prakarsa kepada Presiden yang memuat
urgensi, argumentasi, dan pokok-pokok materi suatu masalah
yang akan dituangkan ke dalam Rancangan Peraturan
Pemerintah tersebut";
3. TAP MPR RI Nomor : III/MPR/2000
a. Pasal 3 ayat (5) berbunyi : "Peraturan Pemerintah dibuat
oleh Pemerintah untuk melaksanakan perintah Undang-
undang";
b. Pasal 5 ayat (2) berbunyi : "Mahkamah Agung berwe-
nang menguji peraturan perundang-undangan di bawah
Undang-undang", ayat (3) berbunyi: "Pengajuan dimak-
sud ayat (2) bersifat aktif dan dapat dilaksanakan tanpa
melalui proses peradilan kasasi" dan ayat (4) berbunyi
: "Keputusan Mahkamah Agung mengenai pengujian se-
bagaimana dimaksud ayat (2) dan (3) bersifat mengikat";
4. Pernyataan mantan anggota Komisi Pemilihan Umum
(telampir) yang intinya menyatakan : "Bahwa Peraturan
Pemerintah No. 33 tahun 1999 tentang Pemilu, dalam
proses, akan, terbentuk serta pelaksanaannya tidak pernah
dibicarakan/dibahas baik sebagai Anggota atau secara
kelembagaan Komisi Pemilihan Umum;
81
II. Objek Permohonan
Adapun Peraturan Perundang-undangan yang dimohonkan
keberatan Hak Uji Materiil adalah Peraturan Pemerintah No. 33
tahun 1999 tentang Pelaksanaan Undang-undang No. 3 tahun
1999 tentang Pemilu;
82
Komisi Pemilihan Umum, begitupun terhadap pengesahan
hasil-hasil pemilu;
5. Bahwa salah satu alasan atau pertimbangart Pemerintah
dalam menetapkan Peraturan Pemerintah No. 33 tahun 1999
Tentang Pelaksanaan Undang-undang No. 3 tahun 1999
tentang Pemilu, antara lain :
a. Sebagai terobosan agar proses Pemilihan Umum
berjalan dengan lancar;
b. Salah satu bentuk terobosan agar hasil-hasil Pemilihan
Umum segera disahkan;
c. Dapat menghasilkan pembentukan dan pemilihan MPR/
DPR serta terbentuknya Pemerintahan Baru;
83
b. Menyelenggarakan pengaturan lebih lanjut ketentuan lain dalam
Undang-undang yang mengatur meskipun tidak tegas - tegas
menyebutnya;
84
Umum, sebelumnya tidak pernah dikonsultasikan apalagi
mempertimbangkan masukan dari Komisi Pemilihan Umum,
sebagaimana yang termaktub dalam penjelasan Pasal 84 Undang-
undang No. 3 tahun 1999;
5. Bahwa selain prosedur pembentukannya bertentangan dengan
ketentuan bunyi pasal 84 dan penjelasannya, materi Peraturan
pemerintah No. 33 tahun 1999 Tentang Pelaksanaan Undang•
undang No. 3 tahun 1999 Tentang Pemilihan Umum antara lain
pada pasal 33 juga telah bertentangan dengan ketentuan bunyi
pasal 65 ayat 2 Undang-undang No. 3 tahun 1999 tentang
Pemilihan Umum yang secara tegas mengatur bahwa "Penetapan
keseluruhan hasil perhitungan suara yang dimaksud pada ayat
(1) dituangkan dalam Berita Acara dan Sertifikat Tabulasi Hasil
Penghitungan Suara yang ditanda tangani oleh sekurang•
kurangnya 2/3 (dua pertiga) Anggota Komisi Pemilihan Umum;
6. Bahwa terhadap semua prosedur dan materi perundang-undangan
yang berlaku memerlukan alat kontrol atau pengendali terhadap
kewenangan dari badan atau pejabat lain yang diberi wewenang
untuk menetapkan suatu peraturan perundang-undangan, yang
dalam kepustakaan maupun praktek dikenal adanya dua macam
Hak menguji yaitu :
a. Hak Menguji Formal : yaitu wewenang untuk menilai, apakah suatu
produk legislatif seperti Peraturan Pemerintah misalnya terbentuk
melalui prosedur sebagaimana telah ditentukan/ diatur dalam
peraturan perundang-undangan yang berlaku atau tidak. Tegasnya
hak Uji Formal berkaitan dengan bentuk atau jenis peraturan
perundang-undangan yang dibentuk serta tata cara (prosedur)
pembentukannya;
b. Hak Menguji Materil : yaitu ·suat~ wewenang untuk menyelidiki dan
kemudian menilai, apakah . suatu peraturan perundang• undangan
sesuai atau · bertentangan dengan peraturan yang lebih tinggi
derajatnya, serta apakah suatu kekuasaan tertentu berhak
mengeluarkan suatu peraturan tertentu;
86
Pemerintah harus melewati 2 (dua) tahap yaitu yang menyangkut
prosedur dan materi sebagaimana yang tel ah diuraikan di atas;
8. Bahwa apabila dilihat dari prosedur pembentukan Peraturan
Pemerintah No. 33 tahun 1999 sebagai pelaksana Undang-undang
No.3 tahun 1999, ternyata tidak memenuhi ketentuan
sebagaimana yang diamanatkan Undang-undang oleh sebab itu
Peraturan Pemerintah No. 33 tahun 1999 tersebut cacat hukum
dan harus dicabut;
87
Agung Nomor : 1 tahun 1999, yang merupakan realisasi dan
kewenangan Mahkamah Agung berdasarkan pasal 79 Undang-undang
No. 14 tahun 1985 tentang Mahkamah Agung dalam mengimplemen-
tasikan ketentuan-ketentuan Pasal 26 Undang-undang Nomor : 14
tahun 1970, dan Pasal 11 ayat (4) Ketetapan MPR-RI Nomor : III/
MPR/1978, serta Pasal 31 Undang-undang No. 14 tahun 1985 tentang
Mahkamah Agung;
Menimbang, bahwa permohonan para Pemohon diajukan dalam
tenggang waktu 714 hari sejak ditetapkannya dan diundangkannya
Peraturan Pemerintah No. 33 tahun 1999, serta diajukan oleh para
Pemohon yang dikuasakan kepada Penasehat Hukum pada Kantor
Klinik Hukum Merdeka berdasarkan surat kuasa khusus tanggal 28
Februari 2001 ;
Menimbang, bahwa oleh karenanya permohonan Hak Uji Materiil
yang diajukan oleh para Pemohon telah melampaui tenggang waktu
180 hari, sesuai ketentuan Pasal 5 ayat (4) PERMA No. 1 tahun
1999, yaitu Permohonan Hak Uji Materiil diajukan pada tanggal 2
April 2001, sedangkan Peraturan Pemerintah yang dimintakan
permohonan Hak Uji Materiil mulai berlaku pada tanggal diundangkan
yaitu tanggal 19 Mei 1999, Pasal 4 Peraturan Pemerintah No. 33
tahun 1999, sehingga jika dihitung waktu antara mengajukan
permohonan Hak Uji Materiil dengan waktu Peraturan Pemerintah
aquo diberlakukan berjumlah 714 hari yaitu dari 19 Mei 1999 s/d 2
April 2001;
Menimbang, bahwa oleh karenanya permohonan Hak Uji Materiil
yang diajukan oleh para Pemohon tidak sesuai dengan ketentuan
Pasal 5 ayat (4) PERMA No. 1 tahun 1999 tersebut di atas, maka
secara formal I prosedural permohonan Hak Uji Materiil yang diajukan
oleh para Pemohon tidak dapat diterima, sehingga pemeriksaan tidak
dapat dilanjutkan;
Memperhatikan, Pasal 24 Undang-undang Dasar 1945, beserta
penjelasannya, Pasal 11 ayat ( 4 ) Ketetapan Majelis Permusyawaratan
Rakyat RI No. III/MPR/1978, Pasal 26 Undang-undang No. 14 tahun
1970 tentang ketentuan-ketentuan pokok kekuasaan Kehakiman, Pasal
31 Undang-undang No. 14 tahun 1985 tentang Mahkamah Agung,
PERMA No. 1 tahun 1999 tentang Hak Uji Materiil, Undang-undang
No. 31 tahun 1999, dan Peraturan-peraturan lain yang terkait;
88
MENGADILI:
Biaya-biaya :
1. M a t e r a i…………………………………..Rp. 6.000,-
2. R e d a k s i………………………………..Rp. 1.000,-
3. Administrasi Perkara……….Rp. 243.000,-
Jumlah Rp. 250.000,-
89
I
-=·:.:::· .·""··::..c··:a~-.: ;--~-=...-·_-"._" -·--
.-111-ai··-ii.i.i-.i·.·. .... . --·- . . . . . - . -·--·. -·· -~·-· · _..... ~~-
PUTUSAN
Nomor : 09 P/HUM/2001
MAHKAMAH AGUNG
91
Semuanya praktisi hukum berkantor pada Kantor Pengacara O.C.
Kaligis. di Jalan Majapahit, Kompleks Majapahit Permai Blok B-
123, Jakarta Pusat.
Selanjutnya disebut Para Pemohon
92
II Sekretariat Jenderal
1. Sekretaris Jenderal Pati Bintang-3
2. Wakil Sekretaris Jenderal Pati Bintang-2
dan seterusnya...... (Bukti P - I )
;
93
Agung) dan pasal 1 butir (1) PERMA No. 1 Tahun 1999, kepada
Mahkamah Agung diberi kewenangan Hak Uji Materil (HUM) atau
judicial review power terhadap peraturan perundang-undangan
dibawah undang-undang, sesuai dengan asas lex superior derogat
legi inferiori (lex superior derogat lex inferior), yang dibarengi dengan
kewenangan Mahkamah Agung untuk menyatakan invalid (tidak sah)
dan memerintahkan pencabutan peraturan perundang-undangan yang
bersangkutan;
Bahwa oleh karena itu, sangatlah berdasarkan hukum apabila
Pemohon mohon agar Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor
77 Tahun 2001 tanggal 21 Juni 2001 yang diberlakukan surut sejak
tanggal 1 Juni 2001 dinyatakan tidak sah dan tidak berlaku;
Bahwa berdasarkan hal-hal tersebut diatas, Pemohon mohon
kepada Mahkamah Agung untuk memberikan putusan sebagai
berikut :
1. Mengabulkan permohonan keberatan pemohon seluruhnya;
2. Menyatakan Keputusan Presiden No. 77 Tahun 2001 tanggal 21
Juni 2001 yang diberlakukan surut sejak tanggal 1 Juni 2001
tidak sah dan tidak berlaku;
3. Memerintahkan Presiden untuk segera mencabut Keputusan
Presiden Nomor 77 Tahun 2001 tanggal 21 Juni 2001 dengan
ketentuan apabila dalam tempo 90 (sembilan puluh) hari setelah
putusan dikirimkan (disampaikan) ternyata tidak dilaksanakan
pencabutannya, demi hukum Keputusan Presiden yang
bersangkutan tidak mempunyai kekuatan hukum;
4. Menghukum pihak Pemerintah untuk membayar biaya yang timbul
dalam perkara Permohonan Keberatan ini;
94
Menimbang, bahwa isi dan maksud Permohonan Hak Uji Materiil
yang diajukan oleh Pemohon adalah sebagaimana yang diuraikan
tersebut diatas;
Menimbang, bahwa sebelum memasuki pertimbangan tentang
substansi atau pokok perkara dalam Permohonan Hak Uji Materiil
tersebut, dipandang perlu untuk mengkaji dan mempertimbangkan
terlebih dahulu permasalahan tentang apakah Para Pemohon
mempunyai kwalitas atau "standing" untuk mengajukan Permohonan
Hak Uji Materiil a quo;
Menimbang, bahwa tentang permasalahan kwalitas atau
“Standing” tersebut berkaitan erat dengan pertanyaan tentang apakah
Para Pemohon mempunyai kepentingan (interest) Langsung ataupun
tidak Jangsung dengan obyek Permohonan Hak Uji Materiil yang
diajukan dalam perkara ini, yaitu Keputusan Presiden Nomor 77 tahun
2001 tentang Perubahan atas Keputusan Presiden Nomor 54 Tahun
2001 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kepolisian Negara R.I. Majelis
Hakim Agung berpendapat sebagai berikut;
Menimbang, bahwa Para Pemohon terdiri dari praktisi hukum
yang tergabung sebagai kelompok masyarakat berdasarkan Pasal 1
butir ke-7 PERMA Nomor 1 Tahun 1999, yang akan dinilai oleh
Mahkamah Agung apakah mereka itu mempunyai kepentingan
langsung atau tidak langsung dengan Organisasi dan Tata Kerja
Kepolisian Negara R.I. dengan segala aspeknya yang tercantum dalam
Keputusan Presiden R.I. Nomor 77 Tahun 2001 ;
Menimbang, bahwa pengertian kelompok masyarakat haruslah
selalu diartikan dan dikaitkan dengan ada atau tidaknya kepentingan
untuk mengajukan permohonan, sebab asas universal yang berlaku
dalam hal pengajuan gugatan atau permohonan adalah selalu
terdapatnya kepentingan pada Penggugat atau Pemohon untuk
mengajukan perkara yang bersangkutan, sebagaimana yang
terkandung dalam adagium hukum yang berlaku dalam Hukum Acara,
yaitu "Tiada kepentingan, tiada gugatan/permohonan" (bahasa Perancis
: Pas d'interet, pas d'action) atau "NO interest, no action";
Menimbang, bahwa menurut hemat Majelis, keberadaan atau
eksistensi Keputusan Presiden Nomor 77 Tahun 2001 tidak terkait
langsung atau tidak langsung dengan Para Pemohon, dan dengan
mengatas namakan pengertian "Kelompok Masyarakat" itupun harus
95
terlihat secara nyata adanya relevansi antara Keputusan Presiden a
quo dengan kepentingan Para Pemohon;
Menimbang, bahwa dengan demikian pengertian kelompok
masyarakat tidaklah selalu harus ditinjau dari segi jumlahnya atau
perhitungan matematika tentang jumlah, namun lebih utama lagi
adalah mengenai adanya atau tidaknya kepentingan yang
bersangkutan;
Menimbang, bahwa atas dasar pertimbangan-pertimbangan
tersebut, Majelis berpendapat bahwa Para Pemohon sebagai kelompok
masyarakat tidak mempunyai kepentingan langsung atau tidak
langsung dengan Organisasi dan Tata Kerja Kepolisian Negara
R.I., sehingga oleh karenanya permohonan Para Pemohon harus
ditolak;
Menimbang, bahwa oleh karena Para Pemohon sebagai pihak
yang kalah maka dibebankan membayar biaya perkara;
Memperhatikan pasal-pasal dari Undang-Undang Nomor 14 Tahun
1970 dan Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1985 yang bersangkutan
dan PERMA No. 1 /1999 serta peraturan-peraturan lain yang
bersangkutan;
MENGADILI:
⎯ Menolak permohonan Hak Uji Materiil Para Pemohon terhadap
Keputusan Presiden Nomor 77 Tahun 2001 tertanggal 21 Juni
2001;
⎯ Menghukum Para Pemohon untuk membayar biaya
perkara sebesar Rp. 250.000,- (dua ratus lima puluh ribu
rupiah);
96
Dr. Muhamad Laica Marzuki, SH., Benyamin Mangkoedilaga, SH. dan
lskandar Kami!, SH. Hakim-Hakim Anggota serta R.M. Husni Thamrin,
SH. Panitera Pengganti dengan dihadiri oleh Para Pemohon.
ttd. ttd.
Biaya-biaya :
1. Materai . Rp. 6.000,-
2. Redaksi Rp. 1.000,-
3. Administrasi kasasi
Rp. 243.000,-
97
·- ----~
PUTUSAN
Nomor : 09 P/HUM/2002
Melawan
99
Menimbang, bahwa berdasarkan pasal 15 ayat (1) Peraturan
Mahkamah Agung No. 1 Tahun 1999 jo. pasal 5 ayat (2) Peraturan
Mahkamah Agung No. 1 Tahun 1993, permohonan untuk mencabut
kembali gugatan Hak Uji Materiilnya tersebut dapat dikabulkan;
Menimbang, bahwa oleh karena permohonan pencabutan Hak
Uji Materiil tersebut, diajukan setelah berkas perkaranya diterima dan
didaftar di Mahkamah Agung, Penggugat harus membayar biaya
perkara ini;
Memperhatikan pasal 15 ayat (1) Peraturan Mahkamah Agung
No. 1 Tahun 1999 jo. pasal 5 ayat (2) Peraturan Mahkamah Agung
No. 1 Tahun 1993, dan peraturan perundang-undangan lainnya yang
bersangkutan;
MENETAPKAN
Mengabulkan permohonan Penggugat : PROF. H. ABU DAUD
BUSROH, SH. tersebut, untuk mencabut kembali permohonan Hak
Uji Materiilnya yang diajukan terhadap Rektor Universitas Sriwijaya
Nomor : 5125/PT.H.I.I/ C.6.J/2002 tanggal 2 Desember 2002 tentang
Tata Tertib Pemilihan Calon Rektor Universitas Sriwijaya Masa Tugas
2003 - 2007;
Memerintahkan kepada panitera untuk mencoret permohonan Hak
Uji Materiil tersebut dari Buku Register Perkara;
Menghukum Penggugat PROF. H. ABU DAUD BUSROH, SH.
untuk membayar biaya perkara sejumlah Rp. 250.000,- (dua ratus
lima puluh ribu rupiah);
Demikian ditetapkan pada hari Selasa tanggal 11 Maret 2003
oleh Ketua Muda Mahkamah Agung R.I. Urusan Lingkungan Peradilan
Tata Usaha Negara tersebut;
100
Biaya-biaya Perkara:
1. M at e ra i Rp. 6.000,-
2. R ed a ksi Rp. 1.000,-
3. Administrasi Rp. 243.000,-
Jumlah Rp. 250.000,-
101
'.
I
l
J
I
I I
l
I
--.,-,~~
I
I
• --· -.· ~y_· ·~- _· ... -~ ... -- . -~- -------·-- --~- ...-. -'•··---· -.
Kebijakan ini melangkahi ketentuan internasional, khususnya Konvensi ILO No. 98 tahun 1949 yang diakui oleh Indonesia melalui Undang-Undang No. 18 tahun 1956. Konvensi ini menekankan pentingnya kebebasan pekerja untuk berorganisasi dan hak untuk mengadakan perundingan kolektif. Oleh karena itu, kebijakan yang memaksa pekerja untuk tergabung dalam satu serikat dianggap membatasi hak dasar tersebut, menciptakan pembatasan dan kontrol sistematik oleh pemerintah yang bertentangan dengan prinsip kebebasan berorganisasi .
Mahkamah Agung mempertimbangkan upaya hukum berupa pengajuan hak uji materiil terhadap Keputusan Presiden atau peraturan perundang-undangan di bawah undang-undang. Dalam konteks ini, pengujian materiil dilakukan untuk menentukan apakah peraturan tersebut bertentangan dengan hukum yang lebih tinggi. Mahkamah Agung berwenang melakukan pengujian terhadap kebijakan yang dianggap menyalahi prinsip-prinsip kebebasan dan demokrasi yang diakui undang-undang, sebagaimana tertuang dalam ketentuan Perma No. 1 tahun 1999 .
Kebijakan tenaga kerja yang membatasi kebebasan mendirikan serikat pekerja tidak sejalan dengan prinsip dasar Hak Asasi Manusia (HAM) di Indonesia, sebagaimana diakui dalam Bab X Pasal 28 ayat 3 UUD 1945 yang menjamin kebebasan berserikat. Keputusan ini juga dipandang bertentangan dengan upaya membangun masyarakat mandiri seperti yang diatur dalam Undang-Undang No. 8 tahun 1985 dan menjelaskan perlunya organisasi kemasyarakatan yang mampu berdaya guna dan mandiri dalam berperan serta .
Keputusan Mahkamah Agung dapat secara signifikan memengaruhi penerapan kebijakan pemerintah dengan menilai kesesuaian kebijakan tersebut dengan undang-undang yang lebih tinggi serta prinsip-prinsip dasar konstitusi. Dalam kasus serikat pekerja, jika Mahkamah Agung memutuskan bahwa kebijakan tersebut melanggar hak konstitusional ataupun standar hukum nasional dan internasional, mereka dapat menghentikan penerapan kebijakan tersebut atau memaksakan revisi untuk memastikan keselarasan dengan hukum yang berlaku. Proses ini menunjukkan kekuatan yudisial dalam menjaga keseimbangan dan perlindungan hak warga, termasuk pekerja .
Syarat pendaftaran yang ketat, seperti keharusan memiliki 100 unit organisasi dan pengurus di tingkat cabang dan daerah, serta harus melapor ke Departemen Tenaga Kerja, membatasi kemampuan buruh untuk mendirikan serikat pekerja baru. Ketatnya syarat ini memberi kesan adanya penekanan dari pemerintah agar organisasi yang baru terbentuk harus bergabung atau berafiliasi dengan organisasi yang sudah ada, yaitu SPSI, sehingga menghilangkan opsi bagi buruh untuk berserikat secara bebas sesuai keinginan mereka. Hal ini melanggar kebebasan berserikat yang diakui secara internasional dan nasional .
Surat Keputusan Menteri Tenaga Kerja No. 438/MEN/1992 berdampak signifikan terhadap kebebasan pekerja untuk mendirikan serikat. Kebijakan ini memaksa pekerja untuk bergabung dengan SPSI, menghilangkan kesempatan untuk mendirikan serikat pekerja yang mandiri dan bebas di luar organisasi yang sudah ada. Kebijakan ini juga bertentangan dengan kebebasan dasar untuk berserikat sebagaimana diatur dalam Undang-Undang No. 18 tahun 1956 dan Undang-Undang No. 14 tahun 1969, yang memberikan hak kepada setiap tenaga kerja untuk mendirikan dan menjadi anggota perserikatan secara demokratis .
Implikasi sosial dari monopoli SPSI sebagai satu-satunya organisasi pekerja meliputi hilangnya kebebasan pekerja untuk memilih representasi yang sesuai dengan kepentingan mereka. Hal ini dapat melemahkan semangat demokrasi dalam organisasi pekerja dan menurunkan keterlibatan pekerja dalam pengawasan dan manajemen perusahaan. Keberadaan hanya satu serikat mempengaruhi negosiasi perjanjian kerja secara kolektif, menurunkan kemungkinan terjadinya kesepakatan yang melindungi hak dan kepentingan pekerja secara menyeluruh .
Peraturan Menteri Tenaga Kerja No. 03/MEN/1993 mengharuskan organisasi pekerja untuk mendaftar pada Departemen Tenaga Kerja, dengan syarat yang cukup berat. Ketentuan ini mensyaratkan serikat pekerja memiliki setidaknya 100 unit organisasi di tempat kerja, dan pengurus cabang di 25 wilayah setingkat Kabupaten/Kotamadya, serta pengurus daerah di 5 wilayah setingkat Provinsi. Hal ini menghambat pembentukan serikat pekerja baru karena hanya organisasi yang besar dan terstruktur seperti SPSI yang bisa memenuhi syarat tersebut. Akibatnya, kesempatan bagi pekerja untuk mendirikan serikat yang independen semakin terbatas, memaksa mereka bergabung dengan SPSI sebagai satu-satunya pilihan yang direstui pemerintah .
Keberadaan satu serikat pekerja yang dominan tidak sesuai dengan prinsip organisasi kemasyarakatan yang mandiri dan demokratis karena menghilangkan pilihan dan suara individu dalam menentukan organisasi yang akan mewakili mereka. Prinsip ini menuntut adanya kesempatan yang sama bagi semua organisasi untuk tumbuh dan bersaing secara adil, serta keterlibatan partisipatif dalam pencapaian tujuan bersama. Pemerintah tidak seharusnya menentukan satu organisasi sebagai wadah tunggal, yang dapat menghambat potensi dan kemajemukan aspirasi buruh sebagai bagian dari proses demokrasi .
Dasar hukum penolakan para penggugat adalah ketidaksesuaian Surat Keputusan Menteri Tenaga Kerja No. 438/MEN/1992 dan Peraturan Menteri Tenaga Kerja No. 03/MEN/1993 dengan Pasal 1 dan Pasal 2 Undang-Undang No. 18 tahun 1956 yang meratifikasi Konvensi ILO No. 98 tentang hak untuk berorganisasi dan merunding bersama. Selain itu, kebijakan ini bertentangan dengan Pasal 1 Undang-Undang No. 14 tahun 1969 yang menjamin hak tenaga kerja untuk mendirikan dan menjadi anggota perserikatan tenaga kerja secara demokratis .