Putusan Uji Materiil Mahkamah Agung
Putusan Uji Materiil Mahkamah Agung
u b
Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia
ep
[Link]
hk
a
PUTUSAN
R
Nomor 13 P/HUM/2018
si
DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA
ne
ng
MAHKAMAH AGUNG
Memeriksa dan mengadili perkara permohonan keberatan hak uji
materiil terhadap Peraturan Daerah Provinsi Riau Nomor 10 Tahun 2015
do
gu tentang Tanah Ulayat dan Pemanfaatannya, pada tingkat pertama dan
terakhir telah memutuskan sebagai berikut, dalam perkara:
In
A
I. HIMYUL WAHYUDI, kewarganegaraan Indonesia,
tempat tinggal di Dusun III Batu Sanggan RT/RW
ah
lik
002/002, Kelurahan Desa Batu Sanggan, Kecamatan
Kampar Kiri Hulu;
II. SUPRIADI, kewarganegaraan Indonesia, tempat tinggal
am
ub
di Anak Talang RT/RW 011/003, Kelurahan Anak
Talang, Kecamatan Batang Cenaku;
ep
k
si
Selanjutnya memberi kuasa kepada:
ne
ng
do
3. Samuel Sandi Giardo Purba, S.H.;
gu
lik
ub
Lawan
ah
es
M
on
gu
d
In
A
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N
h
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
ik
Email : kepaniteraan@[Link]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 1
am
u b
Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia
ep
[Link]
hk
a
I. GUBERNUR PROVINSI RIAU, tempat kedudukan di
si
Jalan Jenderal Sudirman Nomor 460, Jadirejo, Sukajadi,
Kota Pekanbaru, Provinsi Riau, Kode Pos 28121;
ne
ng
Selanjutnya memberi kuasa kepada:
1. Elly Wardhani, S.H., M.H., jabatan Kepala Biro
do
gu Hukum;
2. Ardis Handayani MZ., S.H., M.H., jabatan Kepala
Bagian Bantuan Hukum;
In
A
3. Yan Dharmadi, S.H., M.H., jabatan Kepala Sub
Bagian Litigasi;
ah
lik
4. Hermanto, S.H., jabatan Staf Sub Bagian Litigasi;
5. Edy Yudarianto, S.H., jabatan Staf Sub Bagian
am
ub
Litigasi;
Kesemuanya berkewarganegaraan Indonesia,
berdasarkan Surat Kuasa Khusus Nomor
ep
k
si
Jalan Jenderal Sudirman Nomor 719, Tangkerang
Selatan, Bukit Raya, Kota Pekanbaru, Provinsi Riau,
ne
ng
do
gu
Hukum;
2. Muhammad Rais Hasan, S.H., M.H., CLA.,
ah
lik
ub
es
M
on
gu
d
In
A
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N
h
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
ik
Email : kepaniteraan@[Link]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 2
am
u b
Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia
ep
[Link]
hk
a
jabatan Kepala Sub Bagian Produk Hukum Sekretariat
si
Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi Riau,
berdasarkan Surat Kuasa Khusus Nomor 180/340/UM,
ne
ng
tanggal 7 Maret 2018;
Selanjutnya disebut sebagai Termohon I , II;
do
gu Mahkamah Agung tersebut;
Membaca permohonan Pemohon;
Membaca Jawaban Termohon;
In
A
Memeriksa bukti-bukti Pemohon dan Termohon;
Membaca surat-surat yang bersangkutan yang merupakan bagian
ah
lik
tidak terpisahkan dari putusan ini;
DUDUK PERKARA
am
ub
Menimbang, bahwa Pemohon I, II, dan III dengan surat
permohonannya tanggal 20 Februari 2018 yang diterima di Kepaniteraan
Mahkamah Agung pada tanggal 22 Februari 2018 dan di register dengan
ep
k
si
tentang Tanah Ulayat dan Pemanfaatannya, dengan dalil-dalil yang pada
pokoknya sebagai berikut:
ne
ng
do
gu
lik
ub
ep
es
M
on
gu
d
In
A
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N
h
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
ik
Email : kepaniteraan@[Link]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 3
am
u b
Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia
ep
[Link]
hk
a
3. Bahwa berdasarkan ketentuan Pasal 24 ayat (2) Undang-Undang
si
Dasar Tahun 1945, yang berbunyi:
“Kekuasaan kehakiman dilakukan oleh sebuah Mahkamah Agung dan
ne
ng
badan peradilan yang dibawahnya dalam lingkungan peradilan umum,
lingkungan peradilan agama, lingkungan peradilan militer, lingkungan
do
gu peradilan tata usaha negara, dan oleh sebuah Mahkamah Konstitusi";
4. Bahwa ketentuan UUD 1945 selanjutnya secara detail diatur lebih
lanjut dalam ketentuan Pasal 20 ayat (2) huruf b Undang-Undang
In
A
Nomor 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman, yang
menegaskan bahwa Makamah Agung berwenang:
ah
lik
“Menguji peraturan perundang-undangan di bawah undang-undang
terhadap undang-undang”;
am
ub
Selanjutnya ayat (3) menyebutkan bahwa:
“Putusan mengenai tidak sahnya peraturan perundang-undangan
sebagai hasil pengujian sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf b
ep
k
si
Agung”;
5. Bahwa diketahui berdasarkan penjelasan pada Undang-Undang
ne
ng
do
“Ketentuan ini mengatur mengenai hak uji Makamah Agung terhadap
gu
lik
ub
menyebutkan:
ep
ah
es
M
on
gu
d
In
A
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N
h
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
ik
Email : kepaniteraan@[Link]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 4
am
u b
Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia
ep
[Link]
hk
a
“Dalam hal suatu Peraturan Perundang-Undangan di bawah
si
Undang-Undang diduga bertentangan dengan Undang-Undang,
pengujiannya dilakukan oleh Makamah Agung.”;
ne
ng
7. Bahwa Pasal 8 Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang
Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan menyebutkan:
do
gu “Jenis dan hierarki peraturan perundang-undangan terdiri atas:
a. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;
b. Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat;
In
A
c. Undang-Undang/Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang;
d. Peraturan Pemerintah;
ah
lik
e. Peraturan Presiden;
f. Peraturan Daerah Provinsi; dan
am
ub
g. Peraturan Daerah Kabupaten/Kota;
8. Bahwa berdasarkan Peraturan Makamah Agung (Perma) Nomor 1
Tahun 2011 tentang Hak Uji Materiil dalam ketentuan Pasal 1 angka 1
ep
k
si
Undang-Undang terhadap Peraturan Perundang-Undangan tingkat
lebih tinggi”;
ne
ng
do
“Permohonan keberatan adalah suatu permohonan yang berisi
gu
lik
ub
ep
ah
es
M
on
gu
d
In
A
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N
h
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
ik
Email : kepaniteraan@[Link]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 5
am
u b
Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia
ep
[Link]
hk
a
B. Kedudukan Hukum (legal standing) Para Pemohon;
si
1. Bahwa berdasarkan ketentuan Pasal 31 A Undang-Undang RI Nomor
3 Tahun 2009 tentang Perubahan Kedua atas Undang-Undang
ne
ng
Nomor 14 Tahun 1985 tentang Mahkamah Agung yang berbunyi:
"Permohonan pengujian peraturan perundang-undangan di bawah
do
gu undang-undang dilakukan langsung oleh Pemohon atau kuasanya
kepada Mahkamah Agung dan dibuat secara tertulis dalam bahasa
Indonesia.”;
In
A
1) Permohonan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) hanya dapat
dilakukan oleh pihak yang menganggap haknya dirugikan oleh
ah
lik
berlakunya peraturan perundang-undangan dibawah
undang-undang, yaitu:
am
ub
a. Perorangan warga negara Indonesia;
b. Kesatuan masyarakat hukum adat sepanjang masih hidup dan
sesuai dengan perkembangan masyarakat dan prinsip Negara
ep
k
si
1) Permohonan sekurang-kurangnya harus memuat:
a. Nama dan alamat Pemohon;
ne
ng
do
i. Materi muatan ayat, pasal dan/atau bagian peraturan
gu
lik
ub
es
M
on
gu
d
In
A
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N
h
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
ik
Email : kepaniteraan@[Link]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 6
am
u b
Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia
ep
[Link]
hk
a
2) Dalam hal Mahkamah Agung berpendapat bahwa Pemohon atau
si
permohonan tidak memenuhi syarat, amar putusan menyatakan
permohonan tidak diterima;
ne
ng
3) Dalam hal Mahkamah Agung berpendapat bahwa Permohonan
beralasan, amar putusan menyatakan permohonan dikabulkan;
do
gu 4) Dalam hal Pemohonan dikabulkan sebagaimana dimaksud pada
ayat (5), amar putusan menyatakan dengan tegas materi muatan
ayat, pasal, dan atau bagian dari peraturan perundang-undangan
In
A
di bawah undang-undang yang bertentangan dengan peraturan
perundang-undangan yang lebih tinggi;
ah
lik
5) Putusan Mahkamah Agung yang mengabulkan Pemohonan
sebagaimana dimaksud pada ayat (6) harus dimuat dalam Berita
am
ub
Negara atau Berita Daerah paling lama 30 (tiga puluh) hari kerja
terhitung sejak tanggal putusan diucapkan;
6) Dalam hal peraturan perundang-undangan di bawah
ep
k
si
bertentangan dalam pembentukannya, amar putusan menyatakan
permohonan ditolak;
ne
ng
do
1. Bahwa Pemohon I merupakan masyarakat hukum adat Kenegerian
gu
lik
ub
es
M
on
gu
d
In
A
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N
h
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
ik
Email : kepaniteraan@[Link]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 7
am
u b
Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia
ep
[Link]
hk
a
1) Hak Uji Materiil adalah hak Mahkamah Agung untuk menilai materi
si
muatan peraturan perundang-undangan di bawah undang-undang
terhadap peraturan perundang-undangan tingkat lebih tinggi;
ne
ng
2) Peraturan Perundang-undangan adalah kaidah hukum tertulis
yang mengikat umum di bawah undang-undang;
do
gu 3) Permohonan keberatan adalah suatu permohonan yang berisi
keberatan terhadap berlakunya suatu peraturan
perundang-undangan yang diduga bertentangan dengan suatu
In
A
peraturan perundang-undangan tingkat lebih tinggi yang diajukan
ke Mahkamah Agung untuk mendapatkan putusan.
ah
lik
4) Pemohon keberatan adalah kelompok masyarakat atau
perorangan yang mengajukan permohonan keberatan kepada
am
ub
Mahkamah Agung atas berlakunya suatu peraturan
perundang-undangan tingkat lebih rendah dari Undang-Undang;
5) Termohon adalah Badan atau Pejabat Tata Usaha Negara yang
ep
k
5. Bahwa tata cara pengujian diatur pada Pasal 2 ayat (1) dan (2)
R
si
Peraturan Mahkamah Agung RI Nomor 01 Tahun 2011 tentang Hak
Uji Materiil yang berbunyi:
ne
ng
do
a. Langsung ke Mahkamah Agung; atau
gu
lik
ub
es
M
on
gu
d
In
A
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N
h
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
ik
Email : kepaniteraan@[Link]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 8
am
u b
Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia
ep
[Link]
hk
a
a. Bahwa tanah ulayat adalah tanah yang dimiliki oleh masyarakat
si
adat berdasarkan kesukuannya. Eksistensi hak atas tanah ini jauh
ada sebelum zaman Belanda. Bahwa pemanfaatan tanah ulayat
ne
ng
dilakukan sesuai dengan hasil musyawarah kesukuan yang
dilakukan atas persetujuan kedatuan dan tanah ulayat tidak dapat
do
gu serta tidak untuk diperjualbelikan, proses peralihan hak hanya bisa
dilakukan melalui proses kontrak dan atas persetujuan masyarakat
adat;
In
A
b. Bahwa dengan berlakunya Pasal 1 angka 11 dan angka 13
Peraturan Daerah Provinsi Riau Nomor 10 Tahun 2015 tentang
ah
lik
Tanah Ulayat dan Pemanfaatannya mengenai frasa pengertian
“tanah ulayat adalah bidang tanah.............” kemudian pada angka
am
ub
13 menyebutkan “tanah adat adalah tanah milik persukuan..........”
menimbulkan keraguan yang mengakibatkan kerugian Para
Pemohon disebabkan Para Pemohon dalam hal ini berpendapat
ep
k
si
angka 11 dan angka 13 ini diberlakukan maka Para Pemohon
akan mengalami lunturnya adat yang sebenarnya;
ne
ng
do
Pemanfaatannya Para Pemohon dirugikan tidak diberikannya
gu
masyarakat adat;
d. Bahwa dengan berlakunya Pasal 16 Peraturan Daerah Provinsi
ah
lik
ub
pembangunan di daerah.”;
ep
ah
es
M
on
gu
d
In
A
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N
h
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
ik
Email : kepaniteraan@[Link]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 9
am
u b
Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia
ep
[Link]
hk
a
e. Bahwa dengan berlakunya Pasal 19 Peraturan Daerah Provinsi
si
Riau Nomor 10 Tahun 2015 tentang Tanah Ulayat dan
Pemanfaatannya, Para Pemohon mengalami kerugian nyata
ne
ng
dengan terbukanya pintu kriminalisasi pada ayat (1) yang merujuk
pada Pasal 11 Peraturan Daerah Provinsi Riau Nomor 10 Tahun
do
gu 2015 tentang Tanah Ulayat dan Pemanfaatannya;
f. Bahwa dengan berlakunya Pasal 20 ayat (2) Peraturan Daerah
Provinsi Riau Nomor 10 Tahun 2015 tentang Tanah Ulayat dan
In
A
Pemanfaatannya, Para Pemohon dirugikan dengan ketidakjelasan
frasa “dan/atau pemutihan kepemilikan tanah ulayat” yang secara
ah
lik
tidak langsung memiliki peluang dalam penghapusan hak
kepemilikan Para Pemohon terhadap tanah ulayat;
am
ub
7. Bahwa Para Pemohon adalah perorangan yang telah memenuhi
kualifikasi kedudukan hukum (legal standing) dan memiliki kepentingan
untuk menyampaikan permohonan keberatan hak uji materiil (judicial
ep
k
si
Atas UU Nomor 14 Tahun 1985 Tentang Mahkamah Agung, yang
berbunyi:
ne
ng
do
berlakunya peraturan perundang-undang di bawah undang-undang
gu
yaitu:
a. Perorangan warga Negara Indonesia;
In
A
lik
ub
es
M
on
gu
d
In
A
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N
h
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
ik
Email : kepaniteraan@[Link]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 10
am
u b
Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia
ep
[Link]
hk
a
karena bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang
si
lebih tinggi, yaitu:
a. Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan
ne
ng
Peraturan Perundang-Undangan;
b. Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan
do
gu Mineral dan Batubara;
c. Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas
Bumi;
In
A
d. Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2012 tentang Pengadaan Tanah
Bagi Pembangunan Untuk Kepentingan Umum;
ah
lik
e. Peraturan Presiden Nomor 71 Tahun 2012 tentang
Penyelenggaraan Pengadaan Tanah Bagi Pembangunan Untuk
am
ub
Kepentingan Umum; dan
f. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar
Pokok-Pokok Agraria;
ep
k
si
kebebasan memilih tindakan atau kebutuhan atau tujuan tertentu,
tetapi harus bersesuaian dengan prinsip supremasi hukum, sehingga
ne
ng
do
harus secara materiil dan formal memenuhi ketentuan Peraturan
gu
lik
ub
dalam Pasal 24C ayat (1) UUD 1945 maka berdasarkan ketentuan
ah
es
M
on
gu
d
In
A
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N
h
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
ik
Email : kepaniteraan@[Link]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 11
am
u b
Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia
ep
[Link]
hk
a
Pasal 24A ayat (1) UUD 1945 Mahkamah Agung berwewenang
si
melakukan ”constitusional review of regulations”
dan/atau ”constitutional review of executive acts”;
ne
ng
11. Bahwa kewajiban seluruh masyarakat untuk berperan serta
mengadakan kontrol sosial terhadap peraturan perundang-undangan
do
gu yang tidak berpihak kepada rasa keadilan dan tidak membawa manfaat
bagi masyarakat luas serta menghambat terciptanya kepastian hukum;
12. Bahwa sebagai warga negara berhak berpartisipasi dalam
In
A
perlindungan, penegakan dan memajukan hak asasi manusia
termasuk mengajukan permohonan, pengaduan dan gugatan, dalam
ah
lik
perkara pidana, perdata maupun administrasi, hak uji materiil atas
Undang-undang yang bertentangan dengan Undang Undang Dasar
am
ub
(konstitusi) dan Peraturan Perundang-undangan dibawah
Undang-undang yang bertentangan dengan Undang-Undang serta
memperoleh keadilan melalui proses peradilan yang bebas, jujur,
ep
k
menjamin pemeriksaan yang objektif, oleh hakim yang jujur dan adil
R
si
untuk memperoleh putusan yang adil dan benar;
C. Dalam Pokok Perkara;
ne
ng
do
Pemohon merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan dari
gu
lik
Peraturan Perundang-Undangan;
a. Bahwa Pembentukan Peraturan Daerah Provinsi Riau Nomor 10
m
ub
es
M
on
gu
d
In
A
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N
h
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
ik
Email : kepaniteraan@[Link]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 12
am
u b
Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia
ep
[Link]
hk
a
bertentangan dengan kaidah hukum yang berlaku sebagaimana
si
pada Pasal 7 Ayat (1) dan (2) Undang-Undang Nomor 12 Tahun
2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan;
ne
ng
(Bukti P-5)
b. Bahwa dalam pembentukannya suatu Peraturan haruslah
do
gu bersesuaian dengan asas-asas pembentukan peraturan
perundang-undangan, antara lain:
1) Kejelasan tujuan;
In
A
2) Kelembagaan atau pejabat pembentuk yang tepat;
3) Kesesuaian antara jenis, hierarki, dan materi muatan;
ah
lik
4) Dapat dilaksanakan;
5) Kedayagunaan dan kehasilgunaan;
am
ub
6) Kejelasaan rumusan; dan
7) Keterbukaan;
Sebagaimana Pasal 5 Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011
ep
k
si
Tahun 2015 tentang Tanah Ulayat dan Pemanfaatannya terbukti
telah melanggar asas kejelasan rumusan, karena senyatanya:
ne
ng
do
1 Angka (11) Peraturan Daerah Provinsi Riau Nomor 10 Tahun
gu
lik
ub
ep
ah
es
M
on
gu
d
In
A
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N
h
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
ik
Email : kepaniteraan@[Link]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 13
am
u b
Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia
ep
[Link]
hk
a
2) Adanya pertentangan antara Pasal 1 Angka (10) dengan Pasal
si
10 Ayat (1) Peraturan Daerah Provinsi Riau Nomor 10 Tahun
2015 tentang Tanah Ulayat dan Pemanfaatannya, sehingga
ne
ng
menimbulkan ketidakjelasan tentang definisi hak ulayat dan
objek tanah ulayat. Adapun pertentangan tersebut terdapat
do
gu pada Pasal 1 angka 10 Peraturan Daerah Provinsi Riau Nomor
10 Tahun 2015 tentang Tanah Ulayat dan Pemanfaatannya
telah menegaskan yang pada pokoknya menyatakan hak
In
A
Masyarakat adat atas sebidang tanah/lahan/wilayah/daerah,
kawasan tertentu dan apa yang terkandung di dalam dan
ah
lik
diatasnya yang kepemilikan, tata cara pengelolaan dan
pemanfaatannya diatur berdasarkan Hukum Adat, sedangkan
am
ub
pada Pasal 10 ayat (1) Peraturan Daerah Provinsi Riau Nomor
10 Tahun 2015 tentang Tanah Ulayat dan Pemanfaatannya
secara tegas menyatakan objek Tanah Ulayat meliputi tanah,
ep
k
si
sungai, danau, tasik, telaga, yang dikuasai oleh persukuan
dan/atau masyarakat hukum adat setempat, termasuk
ne
ng
do
3) Bahwa Pasal 10 ayat (1) Peraturan Daerah Provinsi Riau
gu
lik
ub
es
M
on
gu
d
In
A
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N
h
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
ik
Email : kepaniteraan@[Link]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 14
am
u b
Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia
ep
[Link]
hk
a
dalam Peraturan Daerah Provinsi Riau Nomor 10 Tahun 2015
si
tentang Tanah Ulayat dan Pemanfaatannya. Sehingga, secara
jelas tidak diketahui definisi yang menjadi rujukan pengertian
ne
ng
bahan tambang berat tersebut;
4) Bahwa selain itu, Pasal 11 Ayat (4) Peraturan Daerah Provinsi
do
gu Riau Nomor 10 Tahun 2015 tentang Tanah Ulayat dan
Pemanfaatannya yang berbunyi sebagai berikut:
“Apabila perjanjian kerjasama sebagaimana dimaksud pada
In
A
ayat (3) sudah berakhir, tanah ulayat wajib dikembalikan oleh
pihak pemakai atau pengelola kepada pemilik tanah ulayat
ah
lik
melalui pemegang kuasa tanah ulayat atau pemangku adat”;
Peraturan Daerah a quo tersebut diatas, tidak menjelaskan
am
ub
maksud dari siapa itu Pihak Pemakai atau Pengelola yang
merujuk pada ayat (3)nya, padahal senyatanya pada Ayat (3)
tidak menyebutkan siapa itu Pihak Pemakai atau Pengelola
ep
k
si
pemegang kuasa tanah ulayat atas dasar kesepakatan
anggota pesukuan atau masyarakat hukum adat, perjanjian
ne
ng
do
Tanah Ulayat itu Berada.”;
gu
lik
ub
pembangunan di daerah.
ah
es
M
on
gu
d
In
A
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N
h
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
ik
Email : kepaniteraan@[Link]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 15
am
u b
Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia
ep
[Link]
hk
a
6) Bahwa Pasal 20 Ayat (2) Huruf (b) Peraturan Daerah Provinsi
si
Riau Nomor 10 Tahun 2015 tentang Tanah Ulayat dan
Pemanfaatannya terdapat istilah Pemutihan Kepemilikan
ne
ng
Tanah Ulayat. Definisi dari Pemutihan Kepemilikan Tanah
Ulayat senyatanya juga tidak dijelaskan secara terang, baik
do
gu dalam pasal ini maupun pada pasal-pasal sebelumnya,
padahal pengertian tersebut sangat diperlukan agar tidak
terjadi kesalahpahaman atau multitafsir serta berpotensi
In
A
menimbulkan kerugian terhadap hak masyarakat adat terkait
dengan pemutihan kepemilikan tanah ulayat yang dimaksud
ah
lik
dalam pasal ini;
d. Bahwa selanjutnya, materi muatan Peraturan
am
ub
Perundang-undangan harus mencerminkan asas:
a. Pengayoman;
b. Kemanusiaan;
ep
k
c. Kebangsaan;
ah
d. Kekeluargaan;
R
si
e. Kenusantaraan;
f. Bhinneka tunggal ika;
ne
ng
g. Keadilan;
h. Kesamaan kedudukan dalam hukum dan pemerintahan;
do
i. Ketertiban dan kepastian hukum; dan/ atau
gu
lik
ub
menyebutkan:
ah
es
M
on
gu
d
In
A
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N
h
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
ik
Email : kepaniteraan@[Link]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 16
am
u b
Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia
ep
[Link]
hk
a
“Asas kepemilikan bersama yaitu kepemilikan, pengelolaan
si
dan pemanfaatan tanah ulayat adalah untuk kepentingan
bersama persukuan/masyarakat adatnya”;
ne
ng
Pasal di atas menggambarkan bahwa kepemilikan,
pengelolaan dan pemanfaatan tanah ulayat dilakukan demi
do
gu dan untuk kepentingan bersama persukuan/masyarakat
adatnya dan bukan untuk kepentingan nasional ataupun
pembangunan daerah yang disebutkan pada Pasal 16 ayat
In
A
(1) tanpa ada penjelasan terkait kepentingan nasional
ataupun pembangunan daerah, selain itu objek tanah ulayat
ah
lik
dalam Pasal 10 ayat (1) disebutkan bahwa:
“Objek tanah ulayat meliputi tanah, bukit, hutan, rimba dan
am
ub
perairan dan/atau pesisir pantai, sungai, anak sungai, suak,
kuala sungai sampai muara sungai, danau............”;
Bahwa hutan yang merupakan bagian dari objek tanah
ep
k
si
masyarakat adat bukan hutan negara. Sehingga terdapat
pertentangan yang tidak mencerminkan asas keseimbangan,
ne
ng
do
Nomor 10 Tahun 2015 tentang Tanah Ulayat dan
gu
Pemanfaatannya;
2) Bahwa penerapan sanksi pidana sebagaimana pada
In
A
lik
yang berbunyi:
“(1) Setiap orang atau badan hukum yang melanggar
m
ub
rupiah);
ah
es
M
on
gu
d
In
A
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N
h
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
ik
Email : kepaniteraan@[Link]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 17
am
u b
Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia
ep
[Link]
hk
a
(2) Setiap Pihak ketiga yang diberi kuasa pengelolaan
si
tanah ulayat dengan sengaja mengakibatkan kerugian
pada ekosistem yang berada pada tanah ulayat
ne
ng
sebagaimana ketentuan yang mengatur tentang Konservasi
Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, dihukum
do
gu dengan hukuman kurungan paling lama 6 (enam) bulan
dan denda sebanyak-banyaknya Rp50.000.000,00 (lima
puluh juta rupiah).”;
In
A
Penerapan sanksi pidana tersebut tidak memiliki
argumentasi yang kuat untuk apa sanksi pidana diterapkan
ah
lik
dalam Peraturan Daerah Provinsi Riau Nomor 10 Tahun
2015 tentang Tanah Ulayat dan Pemanfaatannya. Terlebih
am
ub
lagi, sanksi pidana yang diterapkan merujuk pada Pasal 11
BAB VII tentang Tata Cara Pemanfaatan Tanah Ulayat
dalam Peraturan Daerah Provinsi Riau Nomor 10 Tahun
ep
k
si
menjerat orang-orang yang melanggar ketentuan pada Pasal
11 tersebut, yang mana apabila dicari unsur “orang” dan
ne
ng
do
dalamnya serta perbuatannya pun berbagai macam dan
gu
lik
ub
es
M
on
gu
d
In
A
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N
h
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
ik
Email : kepaniteraan@[Link]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 18
am
u b
Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia
ep
[Link]
hk
a
Peraturan Daerah Provinsi Riau Nomor 10 Tahun 2015
si
tentang Tanah Ulayat dan Pemanfaatannya tidak
memberikan keterangan yang lebih spesifik tentang bagian
ne
ng
mana dari Pasal 11 Peraturan Daerah Provinsi Riau Nomor
10 Tahun 2015 tentang Tanah Ulayat dan Pemanfaatannya
do
gu yang dapat diterapkan sanksi pidana;
Menurut hukum pidana untuk menentukan suatu
perbuatan pidana atau pemidanaan, maka harus dapat
In
A
merincikan secara terang dan kolektif tentang unsur-unsur
pidananya. Namun, pada Pasal 11 Peraturan Daerah
ah
lik
Provinsi Riau Nomor 10 Tahun 2015 tentang Tanah Ulayat
dan Pemanfaatannya tidak jelas mengatur tentang siapa
am
ub
yang dapat dipidana serta perbuatan apa yang dapat
dipidana sebagaimana yang Para Pemohon uraikan di
bawah ini:
ep
k
si
Pemanfaatannya;
a) Unsur Orang/Pelaku:
ne
ng
do
Dilakukan tanpa sepengetahuan dan seizin
gu
penguasa ulayat;
Dilakukan tidak sesuai dengan ketentuan tata cara
In
A
lik
ub
a) Unsur Orang/Pelaku:
Pemerintah/Pemerintah Daerah;
ka
Pemilik Ulayat;
ep
es
M
on
gu
d
In
A
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N
h
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
ik
Email : kepaniteraan@[Link]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 19
am
u b
Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia
ep
[Link]
hk
a
Anggota Masyarakat Adat yang bersangkutan;
si
b) Unsur Perbuatan:
Pemanfaatan tanah ulayat untuk kepentingan
ne
ng
umum;
Dapat dilakukan dengan cara penyerahan tanah
do
gu oleh pemilik ulayat dan/atau pemegang kuasa tanah
ulayat;
Dilakukan berdasarkan kesepakatan anggota
In
A
masyarakat adat yang bersangkutan;
Dilakukan sesuai dengan ketentuan yang berlaku;
ah
lik
Uraian penjelasan unsur-unsur pidana dari Pasal 11 ayat (1)
dan Pasal 11 ayat (2) Peraturan Daerah Provinsi Riau Nomor
am
ub
10 Tahun 2015 tentang Tanah Ulayat dan Pemanfaatannya
tersebut diatas sebagai berikut:
Bahwa Pemerintah/Pemerintah Daerah merupakan
ep
k
si
Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2012 tentang
Pengadaan Tanah Bagi Pembangunan Untuk
ne
ng
do
pidana;
gu
lik
ub
es
M
on
gu
d
In
A
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N
h
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
ik
Email : kepaniteraan@[Link]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 20
am
u b
Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia
ep
[Link]
hk
a
Pasal 19 juncto Pasal 11 ayat (2) juga membuka
si
peluang kriminalisasi bagi seluruh Anggota Masyarakat
Adat jika tidak menyepakati untuk menyerahkan tanah
ne
ng
ulayat untuk dimanfaatkan bagi kepentingan umum;
3) Pasal 11 ayat (3) Peraturan Daerah Provinsi Riau
do
gu Nomor 10 Tahun 2015 tentang Tanah Ulayat dan
Pemanfaatannya;
a) Unsur Orang/Pelaku:
In
A
Pihak lain yang memanfaatkan tanah ulayat;
Pemegang kuasa tanah ulayat;
ah
lik
Anggota persukuan atau masyarakat hukum adat;
Notaris;
am
ub
Penghulu Kampung;
Camat;
b) Unsur Perbuatan:
ep
k
si
persukuan atau masyarakat hukum adat;
Perjanjian kerjasamanya dibuat di hadapan
ne
ng
do
Tanah Ulayat itu berada.
gu
lik
ub
es
M
on
gu
d
In
A
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N
h
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
ik
Email : kepaniteraan@[Link]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 21
am
u b
Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia
ep
[Link]
hk
a
Selain itu, Notaris juga dapat dipidana jika membuat
si
perjanjian kerjasama dengan tidak disaksikan oleh
Kepala Desa atau Penghulu Kampung dan/atau Camat
ne
ng
dimana tanah ulayat itu berada; dan
Penghulu kampung serta camat juga dapat dipidana jika
do
gu tidak menyaksikan perjanjian kerja sama penggunaan
tanah ulayat oleh pihak ketiga pada tanah ulayat di
daerahnya;
In
A
1) Pasal 11 Ayat (4) Peraturan Daerah Provinsi Riau
Nomor 10 Tahun 2015 tentang Tanah Ulayat dan
ah
lik
Pemanfaatannya;
a) Unsur Orang/Pelaku;
am
ub
Pihak Pemakai atau Pengelola;
Pemilik tanah ulayat;
Pemegang kuasa tanah ulayat atau pemangku adat.
ep
k
b) Unsur Perbuatan:
ah
si
kerjasama sebagaimana pada Ayat (3) sudah
berakhir;
ne
ng
do
Dikembalikan melalui pemegang kuasa tanah ulayat
gu
lik
sebagai berikut:
Bahwa Pihak pemakai atau pengelola dapat dipidana
m
ub
ep
ah
es
M
on
gu
d
In
A
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N
h
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
ik
Email : kepaniteraan@[Link]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 22
am
u b
Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia
ep
[Link]
hk
a
Selanjutnya, Pihak pemakai atau pengelola dapat
si
dipidana jika pengembalian tanah ulayat tidak melalui
pemegang kuasa tanah ulayat atau pemangku adat;
ne
ng
Pemilik tanah ulayat dapat dipidana jika
dikembalikannya tanah ulayat tidak oleh pihak pemakai
do
gu atau pengelola;
Pemilik tanah ulayat dapat dipidana jika
dikembalikannya tanah ulayat tidak melalui pemegang
In
A
kuasa tanah ulayat atau pemangku adat; dan
Pemegang kuasa tanah ulayat atau pemangku adat
ah
lik
dapat dipidana jika tanah ulayat yang dikembalikan
melalui dirinya bukan dikembalikan oleh pihak pemakai
am
ub
atau pengelola;
2) Pasal 11 ayat (6) Peraturan Daerah Provinsi Riau
Nomor 10 Tahun 2015 tentang Tanah Ulayat dan
ep
k
si
dimaksud pada Ayat (3) diatur lebih lanjut dengan
Peraturan Gubernur.”;
ne
ng
do
dan Pemanfaatannya tersebut diatas, yaitu memberikan
gu
lik
ub
es
M
on
gu
d
In
A
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N
h
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
ik
Email : kepaniteraan@[Link]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 23
am
u b
Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia
ep
[Link]
hk
a
tentang Tanah Ulayat dan Pemanfaatannya perlu dipertanyakan
si
karena perujukan pasal yang tidak mencerminkan asas
keserasian dan keselarasan, sebagaimana dalam jurnal yang
ne
ng
diterbitkan oleh Mahkamah Konstitusi dengan judul
Konstitusionalitas Norma Sanksi Pidana Sebagai Ultimum
do
gu Remedium Dalam Pembentukan Peraturan Peraturan
Perundang-Undangan ditegaskan bahwa penerapan sanksi
pidana juga tidak selalu menyelesaikan masalah karena ternyata
In
A
dengan sanksi pidana tidak terjadi pemulihan keadilan yang
rusak oleh suatu perbuatan pidana (Bukti P-6), yang dalam hal
ah
lik
ini keadilan ekologi bagi tanah ulayat yang dimiliki oleh
masyarakat hukum adat, terlebih penjabaran terkait “pihak lain”
am
ub
dalam Pasal 11 tidak memiliki kejelasan yang menyebabkan
perluasan makna dan ketidakseimbangan mengenai persepsi
antara “pihak lain” dengan masyarakat adat yang dimaksud
ep
k
si
Selanjutnya, pada Penelitian yang diterbitkan oleh
Mahkamah Konstitusi tersebut disebutkan bahwa berdasarkan
ne
ng
do
sebagai suatu Primum Remedium, yaitu:
gu
lik
ub
es
M
on
gu
d
In
A
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N
h
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
ik
Email : kepaniteraan@[Link]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 24
am
u b
Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia
ep
[Link]
hk
a
yang diterbitkan Makamah Konstitusi tersebut, mengingat
si
konsepsi hukum pidana menempatkan hukum pidana sebagai
ultimum remedium terdapat dalam Putusan Mahkamah
ne
ng
Konstitusi Republik Indonesia register Perkara Nomor
4/PUU-V/2007, Mahkamah Konstitusi menyebutkan:
do
gu “(i) Ancaman pidana tidak boleh dipakai untuk mencapai suatu
tujuan yang pada dasarnya dapat dicapai dengan cara lain
yang mana sama efektifnya dengan penderitaan dan kerugian
In
A
yang lebih sedikit, (ii) ancaman pidana tidak boleh digunakan
apabila hasil sampingan (side effect) yang ditimbulkan lebih
ah
lik
merugikan dibanding dengan perbuatan yang akan
dikriminalisasi, (iii) ancaman pidana harus rasional, (iv)
am
ub
ancaman pidana harus menjaga keserasian antara ketertiban,
sesuai dengan hukum dan kompetensi (order, legitimation,
and competence), dan (v) ancaman pidana harus menjaga
ep
k
si
procedural and substantive justice)” (Bukti P-7);
Berdasarkan uraian-uraian tersebut diatas, maka sangat tidak
ne
ng
do
dan Pemanfaatannya;
gu
lik
Perundang-Undangan;
1. Bahwa Pasal 10 Peraturan Daerah Provinsi Riau Nomor 10 Tahun
m
ub
es
M
on
gu
d
In
A
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N
h
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
ik
Email : kepaniteraan@[Link]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 25
am
u b
Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia
ep
[Link]
hk
a
Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2001 Tentang Minyak Dan Gas
si
Bumi;
Bahwa senyatanya pada Pasal 10 ayat (2) Peraturan Daerah
ne
ng
Provinsi Nomor 10 Tahun 2015 tentang Tanah Ulayat dan
Pemanfaatannya terdapat frasa yang berbunyi:
do
gu “………pengelolaan bahan tambang berat yang ada di dalam
wilayah tanah ulayat dilakukan ………………….”
Bahwa sesungguhnya frasa bahan tambang berat tidak dikenal
In
A
dalam Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan
Mineral dan Batubara ataupun Undang-Undang Nomor 22 Tahun
ah
lik
2001 tentang Minyak dan Gas Bumi sehingga tidak dapat diketahui
rujukan dalam penerapan pasal tersebut. Selain itu, penafsiran pasal
am
ub
ini mengakibatkan terbukanya kesempatan kepada siapapun, baik itu
badan usaha, koperasi maupun perorangan yang telah memperoleh
izin dari instansi Pemerintah untuk membuka kegiatan pertambangan
ep
k
si
pertambangan minyak dan gas bumi tidak dapat dilakukan di atas
tanah ulayat sebagaimana Pasal 134 Undang-Undang Nomor 4
ne
ng
do
“Kegiatan usaha pertambangan tidak dapat dilaksanakan pada
gu
perundang-undangan”;
Selanjutnya, memang di dalam Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009
ah
lik
ub
es
M
on
gu
d
In
A
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N
h
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
ik
Email : kepaniteraan@[Link]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 26
am
u b
Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia
ep
[Link]
hk
a
Bumi yang telah secara terang memberikan pengertian secara
si
spesifik, yang berbunyi:
“3) Kegiatan usaha Minyak dan Gas Bumi tidak dapat dilaksanakan
ne
ng
pada:
a. Tempat pemakaman, tempat yang dianggap suci, tempat
do
gu umum, sarana dan prasarana umum, cagar alam, cagar
budaya, serta tanah milik masyarakat adat;
Oleh karena itu, terbukti ketentuan Pasal 10 ayat (2)
In
A
bertentangan dengan Pasal 134 Undang-Undang Nomor 4 Tahun
2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara (Bukti P-8) dan
ah
lik
Pasal 33 ayat (3) Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2001 tentang
Minyak dan Gas Bumi. (Bukti P-9);
am
ub
2. Bahwa Pasal 12 ayat (2) Peraturan Daerah Provinsi Riau Nomor 10
Tahun 2015 tentang Tanah Ulayat Dan Pemanfaatannya
bertentangan dengan Pasal 38 ayat (1) Undang-Undang Nomor 2
ep
k
Kepentingan Umum;
R
si
Bahwa Pasal 12 Ayat (2) Peraturan Daerah Provinsi Riau
Nomor 10 Tahun 2015 tentang Tanah Ulayat dan Pemanfaatannya
ne
ng
yang berbunyi:
“Pemegang hak tanah ulayat berkewajiban melepaskan tanah
do
tersebut yang diperlukan Pemerintah/Pemerintah Daerah untuk
gu
lik
ub
es
M
on
gu
d
In
A
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N
h
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
ik
Email : kepaniteraan@[Link]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 27
am
u b
Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia
ep
[Link]
hk
a
Daerah Provinsi Riau Nomor 10 Tahun 2015 tentang Tanah Ulayat
si
dan Pemanfaatannya;
Selain itu, dalam Pasal 12 ayat (2) Peraturan Daerah Provinsi
ne
ng
Riau Nomor 10 Tahun 2015 tentang Tanah Ulayat dan
Pemanfaatannya, juga tidak memberikan ruang bagi masyarakat adat
do
gu untuk menolak melepaskan tanahnya untuk “kepentingan umum”,
termasuk menolak besaran ganti kerugian. Padahal, menurut
ketentuan di dalam Pasal 38 ayat (1) Undang-Undang Nomor 2
In
A
Tahun 2012 tentang Pengadaan Tanah Bagi Pembangunan Untuk
Kepentingan Umum, yang berbunyi:
ah
lik
“Dalam hal tidak terjadi kesepakatan mengenai bentuk dan/atau
besarnya Ganti Kerugian, Pihak yang Berhak dapat mengajukan
am
ub
keberatan kepada pengadilan negeri setempat dalam waktu paling
lama 14 (empat belas) hari kerja setelah musyawarah penetapan
Ganti Kerugian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 37 ayat (1).”;
ep
k
si
apabila tidak terjadi kesepakatan mengenai bentuk dan/atau
besarannya ganti kerugian;
ne
ng
do
Pemanfaatannya bertentangan dengan Pasal 38 Ayat (1)
gu
lik
ub
Kepentingan Umum;
ep
ah
es
M
on
gu
d
In
A
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N
h
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
ik
Email : kepaniteraan@[Link]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 28
am
u b
Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia
ep
[Link]
hk
a
Bahwa Pasal 16 ayat (1) Peraturan Daerah Provinsi Riau
si
Nomor 10 Tahun 2015 Tentang Tanah Ulayat dan Pemanfaatannya,
yang berbunyi:
ne
ng
“Dilarang memindahkan hak Kepemilikan Tanah Ulayat kecuali
untuk kepentingan:
do
gu a. Kepentingan Nasional;
b. Pembangunan di Daerah; dan/atau
c. Kehendak bersama seluruh anggota pesukuan dan atau
In
A
Masyarakat adat berdasarkan ketentuan hukum adat yang
berlaku.”;
ah
lik
Bahwa Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2012 tentang
Pengadaan Tanah Bagi Pembangunan Untuk Kepentingan Umum
am
ub
dan Peraturan Presiden Nomor 71 Tahun 2012 tentang
Penyelenggaraan Pengadaan Tanah Bagi Pembangunan Untuk
Kepentingan Umum tidak menjelaskan secara terang dan rinci definisi
ep
k
si
ketentuan pada Pasal 1 angka (6) Undang-Undang Nomor 2 Tahun
2012 tentang Pengadaan Tanah Bagi Pembangunan Untuk
ne
ng
do
masyarakat yang harus diwujudkan oleh pemerintah dan
gu
lik
ub
es
M
on
gu
d
In
A
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N
h
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
ik
Email : kepaniteraan@[Link]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 29
am
u b
Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia
ep
[Link]
hk
a
Pembangunan di daerah” karena peraturan perundang-undangan
si
yang lebih tinggi hanya menjelaskan pengertian “kepentingan umum”
agar tidak terjadi kesalahpahaman ataupun multitafsir;
ne
ng
Selain itu, apabila pengertian “pembangunan di daerah”
diartikan secara luas, maka mencakup juga pembangunan (untuk
do
gu kepentingan) swasta di daerah, yang seharusnya tidak termasuk pada
kategori “kepentingan umum” sebagaimana ketentuan Pasal 10
Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2012 tentang Pengadaan Tanah
In
A
Bagi Pembangunan Untuk Kepentingan Umum yang berbunyi:
“Tanah untuk Kepentingan Umum sebagaimana dimaksud dalam
ah
lik
Pasal 4 ayat (1) digunakan untuk pembangunan:
a. Pertahanan dan keamanan nasional;
am
ub
b. Jalan umum, jalan tol, terowongan, jalur kereta api, stasiun
kereta api, dan fasilitas operasi kereta api;
c. Waduk, bendungan, bendung, irigasi, saluran air minum,
ep
k
pengairan lainnya;
R
si
d. Pelabuhan, bandar udara, dan terminal;
e. Infrastruktur minyak, gas, dan panas bumi;
ne
ng
do
g. Jaringan telekomunikasi dan informatika pemerintah;
gu
lik
ub
ep
ah
es
M
on
gu
d
In
A
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N
h
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
ik
Email : kepaniteraan@[Link]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 30
am
u b
Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia
ep
[Link]
hk
a
o. Penataan permukiman kumuh perkotaan dan/atau konsolidasi
si
tanah, serta perumahan untuk masyarakat berpenghasilan
rendah dengan status sewa;
ne
ng
p. Prasarana pendidikan atau sekolah pemerintah/ pemerintah
daerah;
do
gu q. Prasarana olahraga pemerintah/pemerintah daerah; dan
r. Pasar umum dan lapangan parkir umum;
Oleh karena itu, terbukti ketentuan Pasal 16 ayat (1)
In
A
Peraturan Daerah Provinsi Riau Nomor 10 Tahun 2015 tentang
Tanah Ulayat Dan Pemanfaatannya bertentangan dengan
ah
lik
Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2012 tentang Pengadaan Tanah
Bagi Pembangunan Untuk Kepentingan Umum dan Peraturan
am
ub
Presiden Nomor 71 Tahun 2012 Tentang Penyelenggaraan
Pengadaan Tanah Bagi Pembangunan Untuk Kepentingan Umum.
(Bukti P-11)
ep
k
si
Dengan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 Tentang Peraturan
Dasar Pokok-Pokok Agraria;
ne
ng
do
berbunyi:
gu
lik
ub
ada dipermukaan bumi saja tetapi juga yang ada di dalam bumi
ep
es
M
on
gu
d
In
A
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N
h
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
ik
Email : kepaniteraan@[Link]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 31
am
u b
Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia
ep
[Link]
hk
a
Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi Riau bersama
si
Pemerintah Daerah Provinsi Riau seharusnya memahami bahwa apa
yang telah dirinci berkenaan objek tanah ulayat itu telah bertentangan
ne
ng
dengan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan
Dasar Pokok-Pokok Agraria, karena apabila melihat dan memahami
do
gu definisi Bumi yang terdapat di dalam Pasal 1 angka (4)
Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar
Pokok-Pokok Agraria, yang berbunyi:
In
A
“Dalam pengertian bumi, selain permukaan bumi, termasuk pula
tubuh bumi di bawahnya serta yang berada di bawah air”
ah
lik
adanya “Pengecualian” terhadap objek tanah ulayat merupakan
kekeliruan yang nyata yang terdapat pada Peraturan Daerah Provinsi
am
ub
a quo;
Selain itu, Peraturan Daerah Provinsi Riau Nomor 10 Tahun
2015 tentang Tanah Ulayat Dan Pemanfaatannya terlihat
ep
k
si
memfokuskan pada manfaaat dan tujuan pengaturan tanah ulayat
dan pemanfaatannya, yaitu untuk tetap melindungi keberadaan tanah
ne
ng
do
ulayat sebagaimana ketentuan Pasal 3 dan 4 Peraturan Daerah
gu
Pasal 3
1) Manfaat Sosial, menjadi prasarana/sarana sosial untuk
ah
lik
ub
es
M
on
gu
d
In
A
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N
h
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
ik
Email : kepaniteraan@[Link]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 32
am
u b
Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia
ep
[Link]
hk
a
4) Manfaat ekologis, sebagai cagar alam pelestarian dan
si
Lingkungan Hidup;
Pasal 4
ne
ng
“Tujuan pengaturan tanah ulayat dan pemanfaatannya adalah untuk
tetap melindungi keberadaan tanah ulayat menurut hukum adat di
do
gu Provinsi Riau serta memberikan perlindungan Hukum, menjamin
pelestarian dan pemanfaatan tanah ulayat.”;
Oleh karena itu, terbukti Pasal 10 Peraturan Daerah Provinsi
In
A
Riau Nomor 10 Tahun 2015 tentang Tanah Ulayat Dan
Pemanfaatannya bertentangan dengan Undang-Undang Nomor 5
ah
lik
Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria. (Bukti
P-12);
am
ub
Selanjutnya diketahui bahwa dalam perkara Putusan Nomor:
15 P/HUM/2009 Makamah Agung secara jelas menyebutkan dalam
putusannya “Memerintahkan Komisi Pemilihan Umum untuk
ep
k
si
mohon kepada Ketua Mahkamah Agung berkenan memeriksa permohonan
dan memutuskan:
ne
ng
do
gu
2. Menyatakan Pasal 1 angka 11 dan 13; Pasal 10 ayat (1); Pasal 11;
Pasal 16 ayat (1); Pasal 19; Pasal 20 ayat (2) Peraturan Daerah
Provinsi Riau Nomor 10 Tahun 2015 tentang Tanah Ulayat dan
In
A
lik
ub
Pasal 1 angka 11 dan 13; Pasal 10 ayat (1); Pasal 11; Pasal 16 ayat
(1); Pasal 19; Pasal 20 ayat (2) Peraturan Daerah Provinsi Riau Nomor
ka
es
M
on
gu
d
In
A
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N
h
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
ik
Email : kepaniteraan@[Link]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 33
am
u b
Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia
ep
[Link]
hk
a
4. Memerintahkan Gubernur Provinsi Riau dan DPRD Provinsi Riau untuk
si
melakukan revisi terhadap Peraturan Daerah Provinsi Riau Nomor 10
Tahun 2015 tentang Tanah Ulayat dan Pemanfaatannya dalam Pasal
ne
ng
sebagai berikut:
Dalam Pasal 1 angka 11 terkait dengan pendefinisian tanah ulayat;
do
gu Dalam Pasal 10 ayat (1) sepanjang frasa kecuali bahan tambang
berat yang berada di dalam bumi;
Dalam Pasal 11 sepanjang frasa ayat (2) hingga ayat (5);
In
A
Pasal 16 ayat (1) sepanjang frasa pada huruf a dan b;
Pasal 19 terkait dengan penerapan sanksi pidana;
ah
lik
Pasal 20 ayat (2) sepanjang frasa dan/atau pemutihan kepemilikan
tanah ulayat;
am
ub
5. Memerintahkan Gubernur Provinsi Riau untuk memuat putusan ini
dalam Lembaran Daerah Provinsi Riau;
Apabila Majelis Hakim Mahkamah Agung berpendapat lain, mohon
ep
k
si
Pemohon telah mengajukan surat-surat bukti berupa:
1. Fotokopi identitas Para Pemohon.
ne
ng
(Bukti P-1);
2. Fotokopi Peraturan Daerah Provinsi Riau Nomor 10 Tahun 2015 tentang
do
Tanah Ulayat dan Pemanfaatannya. (Bukti P-2);
gu
lik
ub
es
M
on
gu
d
In
A
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N
h
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
ik
Email : kepaniteraan@[Link]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 34
am
u b
Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia
ep
[Link]
hk
a
7. Fotokopi Risalah Sidang Perkara Nomor 4/PUU-V/2007, perihal:
si
Pengujian Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2004 tentang Praktik
Kedokteran terhadap Undang-Undang Dasar 1945. (Bukti P-7);
ne
ng
8. Fotokopi Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan
Mineral dan Batubara. (Bukti P-8);
do
gu 9. Fotokopi Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2001 tentang Minyak dan
Gas Bumi. (Bukti P-9);
10. Fotokopi Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2012 tentang Pengadaan
In
A
Tanah Bagi Pembangunan Untuk Kepentingan Umum. (Bukti P-10);
11. Fotokopi Peraturan Presiden Nomor 71 Tahun 2012 tentang
ah
lik
Penyelenggaraan Pengadaan Tanah Bagi Pembangunan Untuk
Kepentingan Umum. (Bukti P-11);
am
ub
12. Fotokopi Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan
Dasar Pokok-Pokok Agraria. (Bukti P-12);
13. Fotokopi Putusan Makamah Agung Republik Indonesia Nomor 15
ep
k
si
telah disampaikan kepada Termohon I, II masing-masing pada tanggal 26
Februari 2018 berdasarkan Surat Panitera Muda Tata Usaha Negara
ne
ng
do
gu
lik
ub
ep
es
M
on
gu
d
In
A
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N
h
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
ik
Email : kepaniteraan@[Link]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 35
am
u b
Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia
ep
[Link]
hk
a
sejak diterima salinan permohonan tersebut”, maka penyampaian
si
jawaban Termohon I terhadap Permohonan Keberatan Hak Uji Materiil
Pemohon masih dalam tenggang waktu yang diberikan oleh Peraturan
ne
ng
Mahkamah Agung Nomor 01 Tahun 2011 tentang Hak Uji Materiil;
2. Bahwa dalam gugatan a quo, Para Pemohon telah menguasakan kepada
do
gu d.a:
1) Aditia Bagus Santoso, S.H.;
2) Andi Wijaya, S.H.;
In
A
3) Samuel Sandy Giardo Purba, S.H.;
4) Ronald Siahaan, S.H., M.H.;
ah
lik
5) Boy Jerry Sembiring, S.H., M.H.;
3. Bahwa permohonan keberatan hak uji materiil terhadap Peraturan Daerah
am
ub
Provinsi Riau Nomor 10 Tahun 2015 tentang Tanah Ulayat dan
Pemanfaatannya terhadap peraturan diatasnya, antara lain:
1) Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan
ep
k
Peraturan Perundang-undangan;
ah
si
dan Batubara;
3) Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2011 tentang Minyak, Gas dan
ne
ng
Bumi;
4) Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2012 tentang Pengadaan Tanah
do
untuk Kepentingan Umum;
gu
lik
ub
es
M
on
gu
d
In
A
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N
h
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
ik
Email : kepaniteraan@[Link]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 36
am
u b
Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia
ep
[Link]
hk
a
Pemerintah Daerah (bukti-1) juncto Peraturan Menteri Dalam Negeri
si
Nomor 1 Tahun 2014 tentang Pembentukan Produk Hukum Daerah
(bukti-2), sebagai manifestasi pembinaan dan pengawasan terhadap
ne
ng
pelaksanaan otonomi daerah. Bahwa dalam aturan tersebut Kementerian
Dalam Negeri melakukan klarifikasi terhadap rancangan peraturan daerah
do
gu dan sepantasnya Pemohon harus juga melibatkan Menteri Dalam Negeri
RI sebagai Para Pihak dalam gugatan a quo, yang berakibat gugatan a
quo dianggap kurang pihak atau Error in Persona dan tidak memenuhi
In
A
syarat formil karena gugatan a quo dikualifikasi mengadung cacat formil
dan selayaknya gugatan a quo dinyatakan tidak dapat diterima (niet
ah
lik
ontvankelijk verklaard);
2. Bahwa Termohon I membantah semua dalil Pemohon terkait telah
am
ub
terpenuhinya ketentuan Pasal 31 A Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2009
tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1985
tentang Mahkamah Agung, perlu Termohon I sampaikan mengenai
ep
k
si
2009 tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 14
Tahun 1985 tentang Mahkamah Agung menyebutkan: “Permohonan
ne
ng
do
gu
lik
ub
es
M
on
gu
d
In
A
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N
h
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
ik
Email : kepaniteraan@[Link]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 37
am
u b
Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia
ep
[Link]
hk
a
b. Bahwa di dalam gugatan a quo Pemohon I atas nama Himyul
si
Wahyudi mendalilkan sebagai masyarakat hukum adat Kenegerian
Batu Sanggan, Kabupaten Kampar, Pemohon II atas nama Supriadi
ne
ng
mendalilkan sebagai masyarakat hukum adat Talang Mamak yang
berada di Kabupaten Indragiri Hulu, Pemohon III atas nama Darwin
do
gu mendalilkan sebagai Penghubung Masyarakat Adat Talang Mamak,
Kabupaten Indragiri Hulu, tidak mencantumkan identitas secara jelas,
yaitu tentang domisili atau alamat berdasarkan Kartu Tanda
In
A
Penduduk secara jelas, yaitu tentang domisili atau alamat
berdasarkan Kartu Tanda Penduduk Para Pemohon sesuai KTP
ah
lik
berdasarkan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2013 tentang
Administrasi Kependudukan. Bahwa berdasarkan ketentuan Pasal 31
am
ub
A ayat (3) huruf a Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2009 tentang
Perubahan Kedua atas Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1985
tentang Mahkamah Agung, menyebutkan: Permohonan
ep
k
si
menjadi kabur (obscuur libel) dan selayaknya gugatan a quo
dinyatakan tidak dapat diterima. (niet ontvankelijk verklaard);
ne
ng
do
bagian dari Masyarakat Hukum Adat Kenegerian Batu Sanggan
gu
lik
Pemohon III, yang juga tidak secara terang menjelaskan benar secara
hukum merupak Batin Penghubung Masyarakat Hukum Adat Talang
m
ub
es
M
on
gu
d
In
A
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N
h
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
ik
Email : kepaniteraan@[Link]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 38
am
u b
Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia
ep
[Link]
hk
a
dilanggar ketika Peraturan Daerah Provinsi Riau Nomor 10 Tahun
si
2015 tentang Tanah Ulayat dan Pemanfaatannya diterapkan, yang
berakibat gugatan a quo menjadi kabur (obscuur libel) dan selayaknya
ne
ng
gugatan a quo dinyatakan tidak dapat diterima.(niet ontvankelijk
verklaard);
do
gu d. Bahwa berdasarkan poin-poin di atas perlu kiranya diragukan status
Para Pemohon sebagai masyarakat hukum adat yang berakibat
gugatan a quo menjadi kabur (obscuur libel) dan selayaknya gugatan
In
A
a quo tidak dapat diterima.(niet ontvankelijk verklaard);
Dalam Pokok Perkara;
ah
lik
Jawaban Termohon I Terhadap Dalil Para Pemohon Mengenai
Peraturan Daerah Provinsi Riau Nomor 10 Tahun 2015 Tentang Tanah
am
ub
Ulayat Dan Pemanfaatannya Bertentangan Dengan Undang-Undang Nomor
12 Tahun 2011 Tentang Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan;
1. Bahwa Termohon I membantah semua dalil Pemohon terkait tentang
ep
k
Pasal 1 angka (11) dan Pasal 1 angka (13) Peraturan Daerah Nomor 10
ah
si
menimbulkan banyak kebingungan atau multitafsir adalah keliru dan
sangat menyesatkan. Adapun pada Pasal 1 angka (11) dan Pasal 1
ne
ng
do
a. Pasal 1 angka (11) Peraturan Daerah Nomor 10 Tahun 2015 tentang
gu
lik
ub
es
M
on
gu
d
In
A
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N
h
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
ik
Email : kepaniteraan@[Link]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 39
am
u b
Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia
ep
[Link]
hk
a
dalam lingkup hak ulayat, yaitu masyarakat adat yang terdiri dari berbagai
si
suku/persukuan. Sehingga dengan demikian jika dipahami secara
seksama maka penjelasan Tanah Ulayat dan Tanah Adat sudah sangat
ne
ng
terang dan jelas, yang berakibat gugatan a quo menjadi kabur (obscuur
libel) dan selayaknya gugatan a quo dinyatakan tidak dapat diterima (niet
do
gu ontvenkelijk verklaard);
Bahwa dalil gugatan a quo halaman 14 poin 3) tentang pendefinisian
bahan tambang berat yang dicantumkan pada Pasal 10 ayat (1) Peraturan
In
A
Daerah Provinsi Riau Nomor 10 Tahun 2015 tentang Tanah Ulayat dan
Pemanfaatannya, halaman 15 poin 4) tentang pendefinisian pihak
ah
lik
pemakai atau pengelola yang tercantum pada Pasal 11 ayat (4) Peraturan
Daerah Provinsi Riau Nomor 10 Tahun 2015 tentang Tanah Ulayat dan
am
ub
Pemanfaatannya, halaman 15 poin 5) tentang pendefinisian kepentindan
nasional dan pembangunan di daerah yang tercantum pada Pasal 16 ayat
(1) Peraturan Daerah Provinsi Riau Nomor 10 Tahun 2015 tentang Tanah
ep
k
si
(2) huruf (b) Peraturan Daerah Provinsi Riau Nomor 10 Tahun 2015
tentang Tanah Ulayat dan Pemanfaatannya. Pihak Pemohon menyatakan
ne
ng
do
disampaikan Para Pemohon tentang pendefinisian, dengan alasan di
gu
lik
istilah yang dimuat dalam ketentuan umum hanyalah kata atau istilah
yang digunakan berulang-ulang di dalam pasal atau beberapa pasal
m
ub
2015, yang berakibat gugatan a quo menjadi kabur (obscuur libel) dan
ah
es
M
on
gu
d
In
A
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N
h
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
ik
Email : kepaniteraan@[Link]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 40
am
u b
Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia
ep
[Link]
hk
a
selayaknya gugatan a quo dinyatakan tidak dapat diterima.(niet
si
ontvankelijk verklaard);
2. Bahwa Termohon I menolak dalil Para Pemohon yang disampaikan pada
ne
ng
halaman 15 poin 4) dalam gugatan a quo menyatakan bahwa Pasal 11
ayat (4), perlu menjelaskan siapa pihak pemakai atau pengelola.
do
gu Termohon I berpendapat bahwa Para Pemohon harus memahami
Peraturan Daerah Nomor 10 Tahun 2015 tentang Tanah Ulayat dan
Pemanfaatannya secara menyeluruh, pasal demi pasal secara utuh dan
In
A
tidak parsial agar dapat untuk dipahami, karena pasal demi pasal dalam
Peraturan Daerah Nomor 10 Tahun 2015 tentang Tanah Ulayat dan
ah
lik
Pemanfaatannya memiliki kaitan satu sama lain;
Bahwa yang dimaksud pemakai atau pengelola dalam Pasal 11 ayat (4)
am
ub
dalam Peraturan Daerah a quo adalah pihak lain yang disebutkan dalam
Pasal 11 ayat (3), kemudian pihak lain itu dijelaskan dalam Pasal 11 ayat
(5), yaitu:
ep
k
si
lokasi guna kesesuaian penggunaan tanah dengan rencana tata ruang
wilayah dari pemerintah setempat sesuai kewenangannya.”;
ne
ng
do
atau Perorangan” yang tercantum dalam Pasal 11 ayat (5) Peraturan
gu
Daerah a quo. Oleh karena itu Termohon I berpendapat tidak perlu ada
penjelasan khusus tekait pihak pengelola atau pemakai seperti yang
In
A
lik
verklaard);
3. Bahwa Termohon I menolak dalil yang disampaikan Para Pemohon pada
m
ub
pada Pasal 11 ayat (1), (2), (3), (4), dan (6) Peraturan Daerah Nomor 5
ep
es
M
on
gu
d
In
A
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N
h
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
ik
Email : kepaniteraan@[Link]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 41
am
u b
Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia
ep
[Link]
hk
a
dari rumusan pasalnya, maka pasal tersebut menjerat orang-orang yang
si
melanggar ketentuan pada Pasal 11 tersebut, adapun unsur “orang”
dalam “deliknya” tersebut sebenarnya tertuang di dalam Pasal 11 ayat (5)
ne
ng
Peraturan Daerah Nomor 5 Tahun 2015 tentang Tanah Ulayat dan
Pemanfaatannya yang berbunyi: “pelaksanaan ketentuan pada ayat (3)
do
gu dapat dilakukan setelah badan hukum atau perorangan yang memerlukan
tanah ulayat, memperoleh izin lokasi guna kesesuaian penggunaan tanah
dengan rencana tata ruang wilayah dari pemerintah setempat sesuai
In
A
kewenangannya.” Sehingga subjek hukum yang dimaksud adalah badan
hukum atau perorangan yang memperoleh izin lokasi dari pemerintah
ah
lik
setempat. Dalam dalil gugatan a quo tampak jelas bawha Para Pemohon
hanya membaca sebagian dari pasal-pasal yang ada dalam peraturan
am
ub
daerah a quo;
Penerapan sanksi pidana sebagaimana pada ketentuan Pasal 19
Peraturan Daerah a quo dalam proses pembentukannya telah melalui
ep
k
kajian panjang baik yuridis maupun empiris, dan telah sesuai dengan
ah
maksud dari Pasal 238 ayat (1), ayat (2), dan ayat (3) Undang-Undang
R
si
Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintah Daerah yang menyebutkan:
(1) Perda dapat memuat ketentuan tentang pembebanan biaya paksaan
ne
ng
do
gu
(2) Perda dapat memuat ancaman pidana kurungan paling lama 6 (enam)
bulan atau denda paling banyak Rp50.000.000,00 (lima puluh juta
In
A
rupiah);
(3) Perda dapat memuat ancaman pidana kurungan atau pidana denda
ah
lik
ub
es
M
on
gu
d
In
A
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N
h
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
ik
Email : kepaniteraan@[Link]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 42
am
u b
Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia
ep
[Link]
hk
a
Daerah, di samping untuk menegakkan efektifitas Peraturan Daerah yang
si
dibuat, juga disesuaikan dengan keselarasan dan proposionalitas bahwa
pelanggar Peraturan Daerah dapat/layak diberi sanksi pidana;
ne
ng
Bahwa pembentukan Peraturan Daerah a quo didalamnya juga
mengatur tentang sanksi pidana, adapun dalam Negara Hukum yang
do
gu demokratis sesungguhnya pencantuman sanksi merupakan faktor
penengah (detterent factor) agar warga masyarakat dapat lebih mengerti
bahwa pelanggaran terhadap Peraturan Daerah pun, dapat dipidana.
In
A
Sanksi pidana dalam Peraturan Daerah merupakan sanksi ringan, dan
secara implisit hakim dapat bahkan wajib memilih bentuk sanksi yang
ah
lik
memenuhi rasa keadilan masyarakat;
Berdasarkan penjelasan di atas, Termohon memohon kepada Yang
am
ub
Mulia Ketua/Majelis Hakim Mahkamah Agung yang memeriksa, memutus
dan mengadili permohonan Pemohon, dapat memberikan putusan sebagai
berikut:
ep
k
Error In Persona;
R
si
2. Menyatakan bahwa Pemohon tidak mempunyai kedudukan hukum (legal
standing) atau;
ne
ng
do
Pemohon tidak dapat diterima (niet ontvankelijk verklaard);
gu
16 ayat (1), Pasal 19, Pasal 20 ayat (2) Peraturan Daerah Provinsi Riau
Nomor 10 Tahun 2015 tidak bertentangan dengan Peraturan
ah
lik
Perundang-undangan diatasnya;
6. Menyatakan sah dan tetap berlaku Peraturan Daerah Provinsi Riau
m
ub
ep
ah
es
M
on
gu
d
In
A
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N
h
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
ik
Email : kepaniteraan@[Link]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 43
am
u b
Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia
ep
[Link]
hk
a
Namun demikian, apabila Yang Mulia Ketua/Majelis Hakim
si
Mahkamah Agung berpendapat lain, mohon putusan yang bijaksana dan
seadil-adilnya (ex aquo et bono);
ne
ng
Menimbang, bahwa untuk mendukung dalil-dalil jawabannya,
Termohon I telah mengajukan bukti berupa:
do
gu 1. Fotokopi Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2014
tentang Pemerintahan Daerah. (Bukti T1.1);
2. Fotokopi Peraturan Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia Nomor 1
In
A
Tahun 2014 tentang Pembentukan Produk Hukum Daerah. (Bukti T1.2);
3. Fotokopi Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2011
ah
lik
tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan. (Bukti T1.3);
am
ub
Menimbang, bahwa terhadap permohonan Pemohon tersebut,
Termohon II telah mengajukan jawaban tertulis yang diterima oleh Panitera
Muda Perkara Tata Usaha Negara pada tanggal 12 Maret 2018, yang pada
ep
k
I. Dalam Eksepsi;
R
si
(3)1. Kedudukan Hukum (Legal Standing) Para Pemohon Tidak
Berkapasitas/Cacat Hukum;
ne
ng
do
2. Supriadi, Pemohon II;
gu
lik
ub
undang-undang, yaitu:
a. Perorangan warga negara Indonesia;
ka
ep
ah
es
M
on
gu
d
In
A
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N
h
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
ik
Email : kepaniteraan@[Link]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 44
am
u b
Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia
ep
[Link]
hk
a
b. Kesatuan masyarakat hukum adat sepanjang masih hidup
si
dan sesuai dengan perkembangan masyarakat dan prinsip
Negara Kesatuan RI yang diatur dalam undang-undang;
ne
ng
c. Badan Hukum publik dan badan privat;
Bahwa Para Pemohon:
do
gu 1. Himyul Wahyudi, Pemohon I merupakan masyarakat hukum
adat Kenegerian Batu Sanggan, Kabupaten Kampar merasa
haknya dirugikan;
In
A
2. Supriadi, Pemohon II merupakan masyarakat hukum adat
Talang Mamak yang berada di Kabupaten Indragiri Hulu.
ah
lik
Pemohon II merupakan Ketua Barisan Pemuda Adat
Nusantara Kabupaten Indragiri Hulu yang merasa haknya
am
ub
terlanggar;
3. Darwin, Pemohon III merupakan Batin Penghubung
masyarakat hukum adat Talang Mamak, Kabupaten Indragiri
ep
k
si
2009 tentang Perubahan Kedua atas Undang-Undang Nomor 14
Tahun 1985 tentang Mahkamah Agung, keberadaan Pemohon
ne
ng
do
Adat sepanjang masih hidup dan sesuai dengan perkembangan
gu
lik
ub
es
M
on
gu
d
In
A
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N
h
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
ik
Email : kepaniteraan@[Link]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 45
am
u b
Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia
ep
[Link]
hk
a
berdampak kepada kesatuan masyarakat hukum adat (secara
si
bersama) dan tidak ada kerugian secara pribadi. Tanah ulayat
bukanlah pembagian dari tanah adat seperti yang dipahami oleh
ne
ng
Pemohon karena tanah adat adalah milik masyarakat adat dalam
persukuan sedangkan tanah ulayat milik masyarakat adat yang
do
gu terdiri dari beberapa persukuan dalam wilayah masyarakat adat
tertentu. Termohon berpendapat bahwa Para Pemohon tidak
dalam kapasitas sebagai Kesatuan Masyarakat Hukum Adat.
In
A
Dengan demikian Para Pemohon Uji Materiil Perda Nomor 10
Tahun 2015 tentang Tanah Ulayat dan Pemanfaatannya yang
ah
lik
diajukan oleh Para Pemohon, mengandung cacat yuridis karena
tidak memenuhi ketentuan Pasal 31 A Undang-Undang RI Nomor 3
am
ub
Tahun 2009 tentang Perubahan Kedua atas Undang-Undang
Nomor 14 Tahun 1985 tentang Mahkamah Agung;
Berdasarkan keterangan tersebut di atas, kedudukan hukum (legal
ep
k
si
tidak dapat dipertanggungjawabkan secara hukum;
(3)2. Permohonan Pemohon Tidak Sesuai Dengan Kaidah
ne
ng
do
1. Bahwa berdasarkan Pasal 1 angka 2 Undang-Undang Nomor 23
gu
lik
ub
es
M
on
gu
d
In
A
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N
h
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
ik
Email : kepaniteraan@[Link]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 46
am
u b
Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia
ep
[Link]
hk
a
sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Dasar Negara
si
Republik Indonesia Tahun 1945;
2. Bahwa semenjak lahirnya Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014
ne
ng
tentang Pemerintahan Daerah, Undang-Undang Nomor 2 Tahun
2015 tentang Perubahan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014
do
gu dan Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2015 tentang Perubahan
Kedua Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014, telah memberikan
petunjuk yang jelas bahwa Gubernur dan DPRD sebagai
In
A
Penyelenggara Pemerintahan Daerah di tingkat Provinsi menjadi
sebuah kesatuan yang tidak dapat dipisahkan dalam proses
ah
lik
pembentukan produk hukum daerah khususnya Peraturan Daerah
Provinsi;
am
ub
3. Bahwa berdasarkan ketentuan tersebut langkah Pemohon yang
masih melakukan dikotomi kelembagaan unsur pelaksana
Pemerintahan Daerah yang menyebutkan Gubernur sebagai
ep
k
si
membuat permohonan Pemohon kabur atau Error In Persona;
4. Bahwa apa yang dimohonkan Pemohon hanya bersifat asumsi
ne
ng
do
5. Bahwa terhadap Perda a quo belum bisa diimplementasikan
gu
lik
ub
es
M
on
gu
d
In
A
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N
h
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
ik
Email : kepaniteraan@[Link]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 47
am
u b
Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia
ep
[Link]
hk
a
I. Dalam Pokok Perkara;
si
Jawaban Termohon Terhadap Dalil Para Pemohon Mengenai Peraturan
Daerah Provinsi Riau Nomor 10 Tahun 2015 tentang Tanah Ulayat dan
ne
ng
Pemanfaatannya bertentangan dengan Undang-Undang Nomor 12 Tahun
2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan;
do
gu Para Pemohon berpendapat bahwa Peraturan Daerah Provinsi Riau
Nomor 10 Tahun 2015 tentang Tanah Ulayat dan Pemanfaatannya
terbukti telah melanggar Asas Kejelasan Rumusan, karena senyatanya:
In
A
1. Bahwa Ketentuan Umum pada Pasal 1 menimbulkan banyak
kebingungan dan multitafsir, salah satunya adalah pada Pasal 1
ah
lik
angka (11) Peraturan Daerah Provinsi Riau Nomor 10 Tahun 2015
tentang Tanah Ulayat dan Pemanfaatannya yang tidak secara terang
am
ub
membedakan definisi antara Tanah Ulayat dengan Tanah Adat;
Tanah Ulayat adalah bidang tanah yang berada dilingkup hak ulayat
ah
si
milik persukuan yang penguasannya diatur menurut hukum adat.
Tanah Adat adalah tanah yang telah dimiliki oleh persukuan tertentu
ne
ng
do
suku/persukuan. Sehingga dengan demikian jika dipahami secara
gu
lik
ub
es
M
on
gu
d
In
A
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N
h
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
ik
Email : kepaniteraan@[Link]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 48
am
u b
Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia
ep
[Link]
hk
a
tanah/lahan/wilayah/daerah, kawasan tertentu dan apa yang
si
terkandung di dalam dan diatasnya yang kepemilikan, tata cara
pengelolaan dan pemanfaatannya diatur berdasarkan Hukum Adat,
ne
ng
sedangkan pada Pasal 10 ayat (1) Peraturan Daerah Provinsi Riau
Nomor 10 Tahun 2015 tentang Hak Ulayat dan Pemanfaatannya
do
gu secara tegas menyatakan objek tanah ulayat meliputi tanah, bukit,
hutan, rimba dan perairan dan/atau pesisir pantai, sungai, anak
sungai, suak, kuala sungai sampai muara sungai, danau, tasik, telaga,
In
A
yang dikuasai oleh persukuan dan/atau masyarakat hukum adat
setempat, termasuk benda-benda yang ada diatasnya kecuali bahan
ah
lik
tambang berat yang ada di dalam Bumi;
4. Bahwa Termohon tidak sependapat dengan para Pemohon dimana
am
ub
menurut Termohon Pasal 1 angka 10 adalah bagian dari ketentuan
umum Perda Nomor 10 Tahun 2015 yang memberikan penjelasan
makna secara umum sedangkan Pasal 10 ayat (1) adalah batang
ep
k
si
tanah/lahan/wilayah/daerah, kawasan tertentu yang dimaksud dalam
Pasal 1 angka 10 ketentuan umum Perda Nomor 10 Tahun 2015;
ne
ng
do
menyebutkan:
gu
lik
ub
es
M
on
gu
d
In
A
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N
h
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
ik
Email : kepaniteraan@[Link]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 49
am
u b
Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia
ep
[Link]
hk
a
tambang berat, dengan demikian kalimat dimaksud tidak perlu
si
diperinci dan diberikan definisi. Sehingga Pasal 10 ayat (1) tidak
bertentangan dengan Undang-Undang Mineral dan Batubara;
ne
ng
7. Bahwa dengan berlakunya Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014
tentang Pemerintahan Daerah, dan sesuai dengan Peraturan Menteri
do
gu Agraria/Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 9 Tahun 2015
tentang Tata Cara Penetapan Hak Komunal Atas Tanah Masyarakat
Hukum Adat dan Masyarakat yang Berada dalam Kawasan Tertentu,
In
A
dengan maksud menyediakan pedoman dalam pengaturan dan
pengambilan kebijakan operasional di bidang pertanahan serta
ah
lik
langkah-langkah penyelesaian masalah yang menyangkut tanah
ulayat dalam kerangka pelaksanaan hukum tanah nasional yang
am
ub
diberikan kewenangan kepada daerah dan diharapkan akan dapat
lebih mampu menyerap aspirasi masyarakat setempat khususnya
Provinsi Riau;
ep
k
si
di Provinsi Riau yang mengacu pada Peraturan Menteri Agraria dan
Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 9 Tahun
ne
ng
do
sebagaimana telah diubah oleh Peraturan Menteri Agraria dan Tata
gu
lik
ub
es
M
on
gu
d
In
A
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N
h
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
ik
Email : kepaniteraan@[Link]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 50
am
u b
Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia
ep
[Link]
hk
a
“Apabila perjanjian kerjasama sebagaimana dimaksud pada ayat (3)
si
sudah berakhir, tanah ulayat wajib dikembalikan oleh pihak pemakai
atau pengelola kepada pemilik tanah ulayat melalui pemegang tanah
ne
ng
ulayat atau pemangku adat”;
Peraturan Daerah a quo tersebut di atas, tidak menjelaskan maksud
do
gu dari siapa itu pihak pemakai atau pengelola yang merujuk pada ayat
(3) nya, padahal senyatanya pada ayat (3) tidak menyebutkan siapa
itu pihak pemakai atau pengelola sebagaimana yang berbunyi:
In
A
”Pemanfaatan tanah ulayat oleh pihak lain dilakukan oleh pemegang
kuasa tanah ulayat atas dasar kesepakatan anggota persukuan atau
ah
lik
masyarakat hukum adat, perjanjian kerjasama dibuat dihadapan
Notaris dan disaksikan oleh Kepala Desa atau Penghulu Kampung
am
ub
dan/atau Camat dimana Tanah Ulayat itu berada.”;
10. Bahwa dalil Para Pemohon yang berpendapat bahwa Pasal 11 ayat
(4), menurut Para Pemohon, Termohon perlu menjelaskan siapa itu
ep
k
si
komprehensif dan holisitik pasal demi pasal secara utuh dan tidak
parsial, karena pasal demi pasal dalam Perda a quo memiliki kaitan
ne
ng
do
dalam ayat (3), kemudian pihak lain itu dijelaskan pada ayat (5), yaitu:
gu
lik
ub
11. Bahwa selanjutnya, pada Pasal 16 ayat (1) Peraturan Daerah Provinsi
ep
es
M
on
gu
d
In
A
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N
h
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
ik
Email : kepaniteraan@[Link]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 51
am
u b
Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia
ep
[Link]
hk
a
Kemanfaatannya senyatanya terdapat ketentuan tentang
si
pengecualian untuk dapat dilakukannya pemindahan hak kepemilikan
terhadap tanah ulayat, yaitu untuk kepentingan nasional,
ne
ng
pembangunan di daerah; dan/atau kehendak bersama seluruh
anggota persukuan dan/atau masyarakat adat berdasarkan ketentuan
do
gu hukum adat yang berlaku. Akan tetapi, tidak disebutkan definsi
tentang kepentingan nasional dan pembangungan di daerah;
12. Bahwa Prof. Dr. Nikmatul Huda, S.H., M.H., dalam bukunya
In
A
Problematika Pembatalan Peraturan Daerah, FH UII Press, Juni 2010,
halaman 303, mengatakan:”Pengertian dan lingkup kepentingan
ah
lik
umum banyak ditemukan dalam berbagai peraturan
perundang-undangan yang mengatur tentang pertanahan. Akan
am
ub
tetapi, untuk kepentingan pengawasan produk hukum daerah,
pemerintah tidak memberikan rambu-rambu yang tegas apa yang
dimaksud dengan kepentingan umum;
ep
k
si
merupakan frasa yang sudah jelas maksud dan kepentingannya,
sehingga keberatan Pemohon dari maksud frasa tersebut sebuah
ne
ng
do
didefinisikan seperti pendapat Para Pemohon;
gu
13. Bahwa Pasal 20 ayat (2) huruf b Peraturan Daerah Provinsi Riau
Nomor 10 Tahun 2015 tentang Tanah Ulayat dan Pemanfaatannya
In
A
lik
ub
es
M
on
gu
d
In
A
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N
h
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
ik
Email : kepaniteraan@[Link]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 52
am
u b
Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia
ep
[Link]
hk
a
14. Bahwa maksud pemutihan kepemilikan tanah ulayat dalam ketentuan
si
Pasal 20 ayat (2) huruf b adalah alih fungsi tanah ulayat yang
dilakukan oleh Pemerintah Provinsi Riau dari tanah kelompok
ne
ng
masyarakat hukum adat menjadi tanah individu masyarakat hukum
adat yang perlu ditata berdasarkan regulasi oleh Pemerintah Provinsi
do
gu dengan maksud untuk meminimalisasi konflik kepemilikan dan
tumpang tindih kepemilikan tanah ulayat dari masyarakat hukum adat
itu sendiri, karena terhadap proses tersebut terintegrasi dengan
In
A
Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan,
Peraturan Pemerintah Nomor 104 Tahun 2015, karena masih
ah
lik
banyaknya Tanah Ulayat di Provinsi yang termasuk dalam Kawasan
Hutan;
am
ub
15. Bahwa terbitnya Peraturan Daerah Provinsi Riau Nomor 10 Tahun
2015 tentang Tanah Ulayat dan Pemanfaatannya, terbukti tidak
mencerminkan asas keseimbangan, keserasian dan keselarasan,
ep
k
si
menyebutkan:
“Asas kepemilikan bersama yaitu kepemilikan, pengelolaan dan
ne
ng
do
Pasal di atas menggambarkan bahwa kepemilikan, pengelolaan dan
gu
lik
ub
16. Bahwa Termohon tidak sependapat dengan dalil Para Pemohon yang
ep
es
M
on
gu
d
In
A
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N
h
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
ik
Email : kepaniteraan@[Link]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 53
am
u b
Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia
ep
[Link]
hk
a
Asas Keseimbangan, Keserasian, dan Keselarasan antara Pasal 2
si
ayat (4) dengan Pasal 16 ayat (1) dan Pasal 10 ayat (1), Termohon II
berpendapat bahwa Para Pemohon tidak memahami Pasal dalam
ne
ng
Perda ini dengan baik, karena Pasal 2 ayat (4) adalah bab yang
menjelaskan tentang Asas daripada Tanah Ulayat yang terdiri dari
do
gu beberapa Pasal, dimana dalam bab yang sama, yaitu Pasal 2 ayat
(5), yaitu Asas Manfaat, yaitu keberadaan tanah ulayat memberikan
manfaat kepada anggota Persukuan, Daerah dan Negara. Dan
In
A
dijelaskan juga pada bab manfaat tanah ulayat, yaitu: Pada Pasal 3
ayat (2), “manfaat ekonomis menjadi modal utama dalam kegiatan
ah
lik
ekonomi persukuan, daerah dan Negara. Kata Negara yang disebut
dalam Pasal 2 ayat (5) dan pada Pasal 3 ayat (2) adalah menunjukan
am
ub
kepentingan nasional. Sehingga menurut Termohon pertentangan
yang tidak mencerminkan Asas Keseimbangan, Keserasian dan
Keselarasan menurut Para Pemohon tidaklah tepat;
ep
k
si
Tanah Ulayat dan Pemanfaatannya telah melalui kajian panjang baik
yuridis maupun empiris, dan telah sesuai dengan maksud dari Pasal
ne
ng
238 ayat (1), ayat (2), dan ayat (3) yang menyebutkan:
(1) Perda dapat memuat ketentuan tentang Pemberlakuan biaya
do
paksaan penegakan/pelaksanaan Perda seluruhnya atau
gu
lik
ub
es
M
on
gu
d
In
A
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N
h
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
ik
Email : kepaniteraan@[Link]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 54
am
u b
Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia
ep
[Link]
hk
a
sanksi administratif”. Fenomena pencantuman sanksi pidana pada
si
Perda, disamping untuk menegakkan efektivitas Perda yang dibuat,
juga disesuaikan dengan keselarasan dan proporsionalitas bahwa
ne
ng
pelanggar Perda dapat/layak diberi sanksi pidana;
2. Bahwa menurut Pasal 10 KUHP, Pidana terdiri atas: Pidana Pokok
do
gu yang terdiri dari Pidana Mati, Pidana Penjara, Pidana Kurungan,
Pidana Denda, Pidana Tutupan. Dan Pidana Tambahan, yang terdiri
dari Pencabutan hak-hak tertentu, perampasan barang-barang
In
A
tertentu, pengumuman putusan hakim;
3. Bahwa pembentukan Perda Nomor 10 Tahun 2015, yang
ah
lik
mencantumkan ancaman pidana kurungan atau denda merupakan
kebijakan kriminalisasi. Menurut Barda Nawawi Arief dalam bukunya
am
ub
Bunga Rampai Kebijakan Hukum Pidana (Bandung: PT Citra Aditya
Bakti, 1986), proses kriminalisasi harus memperhatikan berbagai
aspek, yaitu:
ep
k
si
makmur yang merata material dan spiritual berdasarkan pancasila;
2. Perbuatan yang diusahakan untuk dicegah atau ditanggulangi
ne
ng
do
(material dan atau spiritual) atas warga masyarakat;
gu
biaya sosial;
4. Penggunaan hukum pidana harus pula memperhatikan kapasitas
ah
lik
ub
es
M
on
gu
d
In
A
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N
h
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
ik
Email : kepaniteraan@[Link]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 55
am
u b
Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia
ep
[Link]
hk
a
peluang dan kebebasan hakim untuk memilih bentuk sanksi pidana
si
yang dikehendakinya, teridentifikasi dari pencantuman sanksi pidana
yang menggunakan baik sistem alternatif maupun kumulatif di dalam
ne
ng
peraturan perundang-undangan pidana positif. Perumusan jenis
sanksi pidana dalam KUHP pada umumnya memakai dua pilihan,
do
gu misalnya “pidana penjara” atau “denda” (sistem alternatif);
5. Bahwa pembentukan Perda Nomor 10 Tahun 2015 tentang Tanah
Ulayat dan Pemanfaatannya yang didalamnya ditetapkan sanksi
In
A
pidana, di dalam Negara hukum yang demokratis sesungguhnya
merupakan faktor pencegah (detterent factor) agar warga masyarakat
ah
lik
dapat lebih mengerti bahwa pelanggaran terhadap Perda pun, dapat
dipidana. Sanksi Pidana dalam Perda merupakan sanksi yang ringan,
am
ub
dan secara implisif hakim dapat bahkan wajib memilih bentuk sanksi
yang memenuhi rasa keadilan masyarakat;
6. Bahwa dengan tujuan pemidanaan dalam perkembangan yang ada,
ep
k
si
diakibatkan oleh tindak pidana. Hal ini terdiri dari seperangkat tujuan
pemidanaan yang harus dipenuhi, dengan catatan, bahwa tujuan
ne
ng
do
(umum dan khusus), (2) perlindungan masyarakat, (3) memelihara
gu
lik
ub
es
M
on
gu
d
In
A
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N
h
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
ik
Email : kepaniteraan@[Link]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 56
am
u b
Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia
ep
[Link]
hk
a
Berdasarkan penjelasan di atas, Termohon I memohon kepada Yang
si
Mulia Ketua/Majelis Hakim Mahkamah Agung yang memeriksa, memutus
dan mengadili permohonan Para Pemohon, dapat memberikan putusan
ne
ng
sebagai berikut:
1. Menyatakan bahwa Pemohon tidak mempunyai kedudukan hukum (legal
do
gu standing) atau;
2. Menyatakan bahwa permohonan Pemohon salah tujuan.(Error in
Persona);
In
A
3. Menolak permohonan pengujian Pemohon untuk seluruhnya atau
setidak-tidaknya menyatakan permohonan pengujian Pemohon tidak
ah
lik
dapat diterima.(niet ontvankelijk verklaard);
4. Menerima jawaban Termohon secara keseluruhan;
am
ub
5. Menyatakan ketentuan Pasal 1 angka 11 dan angka 13, Pasal 10, Pasal
16 ayat (1), Pasal 19, Pasal 20 ayat (2) Peraturan Daerah Provinsi Riau
Nomor 10 Tahun 2015 tidak bertentangan dengan Peraturan
ep
k
Perundang-Undangan diatasnya;
ah
si
Agung berpendapat lain, mohon putusan yang bijaksana dan seadil-adilnya
(ex aequo et bono);
ne
ng
do
1. Fotokopi Peraturan Menteri Agraria Dan Tata Ruang/Kepala Badan
gu
lik
ub
PERTIMBANGAN HUKUM
ah
es
M
on
gu
d
In
A
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N
h
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
ik
Email : kepaniteraan@[Link]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 57
am
u b
Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia
ep
[Link]
hk
a
Menimbang, bahwa maksud dan tujuan permohonan keberatan hak
si
uji materiil dari Pemohon I, II, dan III adalah sebagaimana tersebut di atas;
Menimbang, bahwa yang menjadi objek permohonan keberatan hak
ne
ng
uji materiil Pemohon I, II, dan III adalah Peraturan Daerah Provinsi Riau
Nomor 10 Tahun 2015 tentang Tanah Ulayat dan Pemanfaatannya.(vide
do
gu bukti P-2);
Menimbang, bahwa sebelum Mahkamah Agung mempertimbangkan
tentang substansi permohonan yang diajukan Pemohon I, II, dan III, maka
In
A
terlebih dahulu akan dipertimbangkan mengenai ada atau tidaknya
Kewenangan Mahkamah Agung untuk melakukan pengujian atas
ah
lik
permohonan a quo dan Pemohon I, II, III mempunyai kepentingan untuk
mengajukan permohonan keberatan hak uji materiil;
am
ub
Menimbang, bahwa objek permohonan keberatan hak uji materiil
berupa Peraturan Daerah Provinsi Riau Nomor 10 Tahun 2015 tentang
ep
k
si
berwenang untuk mengujinya;
Menimbang, bahwa selanjutnya Mahkamah Agung akan
ne
ng
do
Menimbang, bahwa Pemohon I, II, dan III adalah perorangan yang
gu
lik
Pemohon tidak diberikan hak untuk mengajukan keberatan jika tidak terjadi
kesepakatan ganti kerugian;
m
ub
masyarakat adat;
ep
ah
es
M
on
gu
d
In
A
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N
h
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
ik
Email : kepaniteraan@[Link]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 58
am
u b
Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia
ep
[Link]
hk
a
Sehingga Pemohon I, II, dan III memiliki kedudukan hukum untuk
si
mengajukan permohonan a quo sebagaimana diatur dalam pasal 31 A ayat
(1), ayat (2) Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2009 tentang Perubahan
ne
ng
Kedua atas Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1985 tentang Mahkamah
Agung juncto 1 angka 4 Peraturan Mahkamah Agung Nomor 01 Tahun
do
gu 2011;
Menimbang, bahwa karena Mahkamah Agung berwenang untuk
melakukan pengujian atas permohonan a quo serta permohonan terhadap
In
A
objek hak uji materiil diajukan oleh Pemohon I, II, III yang mempunyai Legal
Standing maka permohonan a quo secara formal dapat diterima;
ah
lik
Menimbang, bahwa selanjutnya Mahkamah Agung
mempertimbangkan substansi objek permohonan keberatan hak uji materiil
am
ub
apakah Pasal 1 angka 11, angka 13, Pasal 10 ayat (1) dan ayat (2), Pasal
11, Pasal 16 ayat (1), Pasal 19 dan Pasal 20 ayat (2) Peraturan Daerah
Provinsi Riau Nomor 10 Tahun 2015 tentang Tanah Ulayat dan
ep
k
si
Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan
Perundang-undangan;
ne
ng
do
Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi;
gu
lik
ub
dengan bukti-bukti yang diajukan oleh Pemohon I, II, III dan Termohon I, II,
ep
es
M
on
gu
d
In
A
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N
h
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
ik
Email : kepaniteraan@[Link]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 59
am
u b
Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia
ep
[Link]
hk
a
Bahwa frasa “berkewajiban melepaskan tanah tersebut” dalam ketentuan
si
Pasal 12 ayat (2) Perda Provinsi Riau Nomor 10 Tahun 2015 tentang
Tanah Ulayat dan Pemanfaatannya, tidaklah dapat ditafsirkan secara
ne
ng
parsial oleh karena dalam Pasal 12 ayat (2) a quo tercantum juga frasa
“berdasarkan hasil musyawarah” sehingga tidak terbukti bertentangan
do
gu dengan Pasal 38 ayat (1) Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2012 tentang
Pengadaan Tanah bagi Pembangunan untuk Kepentingan Umum yang
justru masih memberikan perlindungan hukum kepada masyarakat hukum
In
A
adat untuk dapat mengajukan keberatan ke Pengadilan Negeri dalam hal
tidak terjadi kesepakatan mengenai bentuk/besarnya ganti kerugian
ah
lik
ketika melepaskan tanah ulayat tersebut untuk kepentingan umum;
Bahwa keberadaan Pasal 11 Perda a quo justru memberikan
am
ub
perlindungan secara konkrit kepada masyarakat hukum adat dari
perlakuan yang merugikan dari pihak hanya mengambil keuntungan dari
kekayaan alam yang dimiliki oleh masyarakat hukum adat. Sedangkan
ep
k
pengelola yang disebutkan dalam Pasal 11 ayat (4) Perda a quo adalah
R
si
subjek hukum yang dimaksud adalah badan hukum atau perorangan yang
memperoleh izin lokasi dari pemerintah setempat sehingga ketentuan
ne
ng
do
quo disamping untuk menegakkan efektivitas Perda yang dibuat juga
gu
lik
ub
ketentuan Pasal 19 objek hak uji materiil a quo tidak bertentangan dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi;
ka
ep
ah
es
M
on
gu
d
In
A
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N
h
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
ik
Email : kepaniteraan@[Link]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 60
am
u b
Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia
ep
[Link]
hk
a
Bahwa senyatanya pada Pasal 10 ayat (2) Peraturan Daerah Provinsi
si
Riau Nomor 10 Tahun 2015 tentang Tanah Ulayat dan Pemanfaatannya
terdapat frasa yang berbunyi:
ne
ng
“pengelolaan bahan tambang berat yang ada di dalam wilayah tanah
ulayat dilakukan…..”
do
gu Sesungguhnya frasa bahan tambang berat tidak dikenal dalam
Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral
dan Batu Bara ataupun Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2001 tentang
In
A
Minyak dan Gas Bumi sehingga akan menimbulkan multi tafsir dalam
penerapan pasal tersebut yang dapat mengakibatkan terbukanya
ah
lik
kesempatan kepada siapapun, baik itu badan usaha, koperasi maupun
perorangan yang telah memperoleh izin dari instansi pemerintah untuk
am
ub
membuka pertambangan di atas tanah milik masyarakat adat;
Kegiatan usaha pertambangan, baik itu pertambangan mineral dan batu
bara maupun pertambangan minyak dan gas bumi tidak dapat dilakukan
ep
k
si
dan Batubara juncto Pasal 33 ayat (3) huruf a Undang-Undang Nomor 22
Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi, oleh karenanya terbukti Pasal
ne
ng
do
peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi;
gu
lik
ub
es
M
on
gu
d
In
A
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N
h
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
ik
Email : kepaniteraan@[Link]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 61
am
u b
Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia
ep
[Link]
hk
a
berlaku” sebagaimana termuat dalam Pasal 16 ayat (1) objek hak uji
si
materiil a quo;
Selanjutnya peruntukan tanah untuk kepentingan umum juga telah
ne
ng
dibatasi dalam ketentuan Pasal 10 Undang-Undang Nomor 2 Tahun
2012;
do
gu Dengan demikian agar tidak terjadi multi tafsir dan perluasan batasan
kepentingan umum sebagai akibat berlakunya norma dalam Pasal 16 ayat
(1) Perda a quo yang tidak menjamin kepastian hukum dan menimbulkan
In
A
ketidakadilan terhadap masyarakat hukum adat dalam kaitannya dengan
tanah ulayat sebagai sumber kehidupannya, maka cukup alasan untuk
ah
lik
menyatakan Pasal 16 ayat (1) Perda a quo bertentangan dengan
Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2012 tentang Pengadaan Tanah Bagi
am
ub
Pembangunan Untuk Kepentingan Umum dan Peraturan Presiden Nomor
71 Tahun 2012 tentang Penyelenggaraan Pengadaan Tanah Bagi
Pembangunan untuk Kepentingan Umum;
ep
k
si
bumi selain permukaan bumi, termasuk pula tubuh bumi dibawahnya
serta yang berada di bawah air. Sedangkan Pasal 10 ayat (1) Perda objek
ne
ng
do
ketentuan Pasal 10 ayat (2) yang juga mencantumkan frasa
gu
Dengan demikian frasa “kecuali bahan tambang berat yang ada di dalam
Bumi” serta frasa “…pengelolaan bahan tambang berat yang ada di dalam
ah
lik
ub
Pokok-Pokok Agraria;
Menimbang, bahwa berdasarkan pertimbangan-pertimbangan
ka
tersebut di atas, terbukti bahwa Pasal 10 ayat (1) dan ayat (2) juncto Pasal
ep
16 ayat (1) Peraturan Daerah Provinsi Riau Nomor 10 Tahun 2015 tentang
ah
es
M
on
gu
d
In
A
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N
h
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
ik
Email : kepaniteraan@[Link]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 62
am
u b
Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia
ep
[Link]
hk
a
Tanah Ulayat dan Pemanfaatannya bertentangan dengan peraturan yang
si
lebih tinggi yaitu Pasal 1 angka 6 juncto Pasal 10 Undang-Undang Nomor 2
Tahun 2012 tentang Pengadaan Tanah Bagi Pembangunan Untuk
ne
ng
Kepentingan Umum juncto Pasal 134 Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009
tentang Pertambangan Mineral dan Batubara juncto Pasal 33 ayat (3) huruf
do
gu a Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi
juncto Pasal 1 angka 4 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang
Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria juncto Pasal 1 angka 6 Peraturan
In
A
Presiden Nomor 71 Tahun 2012 tentang Penyelenggaraan Pengadaan
Tanah Bagi Pembangunan untuk Kepentingan Umum sehingga harus
ah
lik
dibatalkan, dan oleh karenanya permohonan keberatan hak uji materiil dari
Pemohon I, II, dan III harus dikabulkan untuk sebagian dan peraturan yang
am
ub
menjadi objek dalam perkara uji materiil a quo harus dibatalkan sehingga
Pasal 10 ayat (1) dan ayat (2) juncto Pasal 16 ayat (1) Peraturan Daerah
Provinsi Riau Nomor 10 Tahun 2015 tentang Tanah Ulayat dan
ep
k
berlaku umum;
R
si
Menimbang, bahwa dengan dikabulkannya untuk sebagian
permohonan keberatan hak uji materiil dari Pemohon I, II, dan III, maka
ne
ng
do
gu
lik
ub
MENGADILI,
ah
es
M
on
gu
d
In
A
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N
h
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
ik
Email : kepaniteraan@[Link]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 63
am
u b
Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia
ep
[Link]
hk
a
1. Mengabulkan permohonan keberatan hak uji materiil untuk sebagian dari
si
Pemohon I: HIMYUL WAHYUDI, Pemohon II: SUPRIADI, dan Pemohon
III: DARWIN tersebut;
ne
ng
2. Menyatakan Pasal 10 ayat (1) dan ayat (2) juncto Pasal 16 ayat (1)
Peraturan Daerah Provinsi Riau Nomor 10 Tahun 2015 tentang Tanah
do
gu Ulayat dan Pemanfaatannya bertentangan dengan peraturan
perundang-undangan yang lebih tinggi, yaitu Pasal 1 angka 6 juncto Pasal
10 Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2012 tentang Pengadaan Tanah Bagi
In
A
Pembangunan Untuk Kepentingan Umum juncto Pasal 134
Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral
ah
lik
dan Batubara juncto Pasal 33 ayat (3) huruf a Undang-Undang Nomor 22
Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi juncto Pasal 1 angka 4
am
ub
Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar
Pokok-Pokok Agraria juncto Pasal 1 angka 6 Peraturan Presiden Nomor
71 Tahun 2012 tentang Penyelenggaraan Pengadaan Tanah Bagi
ep
k
si
3. Memerintahkan kepada Gubernur Provinsi Riau dan Ketua Dewan
Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi Riau untuk mencabut Pasal 10 ayat
ne
ng
(1) dan ayat (2) juncto Pasal 16 ayat (1) Peraturan Daerah Provinsi Riau
Nomor 10 Tahun 2015 tentang Tanah Ulayat dan Pemanfaatannya;
do
gu
lik
ub
es
M
on
gu
d
In
A
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N
h
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
ik
Email : kepaniteraan@[Link]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 64
am
u b
Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia
ep
[Link]
hk
a
diucapkan dalam sidang terbuka untuk umum pada hari itu juga oleh Ketua
si
Majelis dengan dihadiri Hakim-Hakim Anggota tersebut, dan Michael
Renaldy Zein, S.H., M.H., Panitera Pengganti tanpa dihadiri oleh para pihak;
ne
ng
Anggota Majelis: Ketua Majelis,
do
gu ttd. ttd.
In
A
Is Sudaryono, S.H., M.H. Dr. H. Supandi, S.H., [Link].
ah
lik
ttd.
am
ub
ep
k
ah
si
ne
ng
Panitera Pengganti,
do
ttd.
gu
In
A
lik
Biaya-biaya:
1. Meterai Rp 6.000,00
2. Redaksi Rp 5.000,00
m
ub
3. Administrasi Rp 989.000,00
Jumlah Rp 1.000.000,00
ka
ep
Untuk Salinan
Mahkamah Agung – RI
a.n. Panitera
ah
es
M
on
gu
d
In
A
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N
h
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
ik
Email : kepaniteraan@[Link]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 65
am
u b
Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia
ep
[Link]
hk
a
Panitera Muda Tata Usaha Negara,
si
ne
ng
H. Ashadi, S.H.
NIP. 195409241984031001
do
gu
In
A
ah
lik
am
ub
ep
k
ah
si
ne
ng
do
gu
In
A
ah
lik
m
ub
ka
ep
ah
es
M
on
gu
d
In
A
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N
h
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
ik
Email : kepaniteraan@[Link]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 66