0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
36 tayangan66 halaman

Putusan Uji Materiil Mahkamah Agung

Putusan Mahkamah Agung menolak keberatan hak uji materiil terhadap Peraturan Daerah Provinsi Riau Nomor 10 Tahun 2015 tentang Tanah Ulayat dan Pemanfaatannya yang diajukan oleh tiga orang warga. Putusan menyebutkan nama ketiga warga tersebut beserta tempat tinggal mereka dan memberikan kuasa hukum kepada lima orang advokat untuk mewakili ketiga warga tersebut.

Diunggah oleh

anggaperwira
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
36 tayangan66 halaman

Putusan Uji Materiil Mahkamah Agung

Putusan Mahkamah Agung menolak keberatan hak uji materiil terhadap Peraturan Daerah Provinsi Riau Nomor 10 Tahun 2015 tentang Tanah Ulayat dan Pemanfaatannya yang diajukan oleh tiga orang warga. Putusan menyebutkan nama ketiga warga tersebut beserta tempat tinggal mereka dan memberikan kuasa hukum kepada lima orang advokat untuk mewakili ketiga warga tersebut.

Diunggah oleh

anggaperwira
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

am

u b
Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia

ep
[Link]
hk

a
PUTUSAN

R
Nomor 13 P/HUM/2018

si
DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA

ne
ng
MAHKAMAH AGUNG
Memeriksa dan mengadili perkara permohonan keberatan hak uji
materiil terhadap Peraturan Daerah Provinsi Riau Nomor 10 Tahun 2015

do
gu tentang Tanah Ulayat dan Pemanfaatannya, pada tingkat pertama dan
terakhir telah memutuskan sebagai berikut, dalam perkara:

In
A
I. HIMYUL WAHYUDI, kewarganegaraan Indonesia,
tempat tinggal di Dusun III Batu Sanggan RT/RW
ah

lik
002/002, Kelurahan Desa Batu Sanggan, Kecamatan
Kampar Kiri Hulu;
II. SUPRIADI, kewarganegaraan Indonesia, tempat tinggal
am

ub
di Anak Talang RT/RW 011/003, Kelurahan Anak
Talang, Kecamatan Batang Cenaku;
ep
k

III. DARWIN, kewarganegaraan Indonesia, tempat tinggal di


ah

Atur Cina, Kelurahan/Desa Aur Cina, Kecamatan Batang


R
Cenaku;

si
Selanjutnya memberi kuasa kepada:

ne
ng

1. Aditya Bagus Santoso, S.H.;


2. Andi Wijaya, S.H.;

do
3. Samuel Sandi Giardo Purba, S.H.;
gu

4. Ronald Siahaan, S.H., M.H.;


5. Boy Jerry Even Sembiring, S.H., M.H.;
In
A

Kesemuanya berkewarganegaraan Indonesia, pekerjaan


para Advokat pada Tim Advokasi Lingkungan Hidup,
ah

lik

beralamat di Jalan Ahmad Yani II Nomor 7, Kelurahan


Pulau Karam, Kecamatan Sukajadi, Kota Pekanbaru,
m

ub

berdasarkan Surat Kuasa Khusus tanggal 15 Februari


2018;
ka

Selanjutnya disebut sebagai Pemohon I, II, III;


ep

Lawan
ah

es
M

Halaman 1 dari 66 halaman. Putusan Nomor 13 P/HUM/2018


ng

on
gu

d
In
A

Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N
h

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
ik

Email : kepaniteraan@[Link]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 1
am

u b
Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia

ep
[Link]
hk

a
I. GUBERNUR PROVINSI RIAU, tempat kedudukan di

si
Jalan Jenderal Sudirman Nomor 460, Jadirejo, Sukajadi,
Kota Pekanbaru, Provinsi Riau, Kode Pos 28121;

ne
ng
Selanjutnya memberi kuasa kepada:
1. Elly Wardhani, S.H., M.H., jabatan Kepala Biro

do
gu Hukum;
2. Ardis Handayani MZ., S.H., M.H., jabatan Kepala
Bagian Bantuan Hukum;

In
A
3. Yan Dharmadi, S.H., M.H., jabatan Kepala Sub
Bagian Litigasi;
ah

lik
4. Hermanto, S.H., jabatan Staf Sub Bagian Litigasi;
5. Edy Yudarianto, S.H., jabatan Staf Sub Bagian
am

ub
Litigasi;
Kesemuanya berkewarganegaraan Indonesia,
berdasarkan Surat Kuasa Khusus Nomor
ep
k

93/SKA/III/2018, tanggal 13 Maret 2018;


ah

II. KETUA DPRD PROVINSI RIAU, tempat kedudukan di


R

si
Jalan Jenderal Sudirman Nomor 719, Tangkerang
Selatan, Bukit Raya, Kota Pekanbaru, Provinsi Riau,

ne
ng

Kode Pos 28128;


Selanjutnya memberi kuasa kepada:

do
gu

1. Gusti Randa, S.H., M.H., berkewarganegaraan


Indonesia, beralamat di Jalan Ronggowarsito Nomor
59, Pekanbaru, pekerjaan Advokat dan Konsultan
In
A

Hukum;
2. Muhammad Rais Hasan, S.H., M.H., CLA.,
ah

lik

berkewarganegaraan Indonesia, beralamat di Komplek


Hotel Ratu Mayang Garden, Jalan Sudirman,
m

ub

Pekanbaru, pekerjaan Advokat, Konsultan Hukum dan


Auditor Hukum;
ka

3. Khairul Anhar, S.H., kewarganegaraan Indonesia,


ep

beralamat di Jalan Sudirman Nomor 719, Pekanbaru,


ah

es
M

Halaman 2 dari 66 halaman. Putusan Nomor 13 P/HUM/2018


ng

on
gu

d
In
A

Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N
h

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
ik

Email : kepaniteraan@[Link]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 2
am

u b
Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia

ep
[Link]
hk

a
jabatan Kepala Sub Bagian Produk Hukum Sekretariat

si
Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi Riau,
berdasarkan Surat Kuasa Khusus Nomor 180/340/UM,

ne
ng
tanggal 7 Maret 2018;
Selanjutnya disebut sebagai Termohon I , II;

do
gu Mahkamah Agung tersebut;
Membaca permohonan Pemohon;
Membaca Jawaban Termohon;

In
A
Memeriksa bukti-bukti Pemohon dan Termohon;
Membaca surat-surat yang bersangkutan yang merupakan bagian
ah

lik
tidak terpisahkan dari putusan ini;
DUDUK PERKARA
am

ub
Menimbang, bahwa Pemohon I, II, dan III dengan surat
permohonannya tanggal 20 Februari 2018 yang diterima di Kepaniteraan
Mahkamah Agung pada tanggal 22 Februari 2018 dan di register dengan
ep
k

Nomor 13 P/HUM/2018 telah mengajukan permohonan keberatan hak uji


ah

materiil terhadap Peraturan Daerah Provinsi Riau Nomor 10 Tahun 2015


R

si
tentang Tanah Ulayat dan Pemanfaatannya, dengan dalil-dalil yang pada
pokoknya sebagai berikut:

ne
ng

A. Kewenangan Mahkamah Agung Republik Indonesia;


1. Bahwa berdasarkan ketentuan Pasal 24 ayat (1) Undang-Undang

do
gu

Dasar Tahun 1945 (selanjutnya disebut UUD Tahun 1945), yang


berbunyi:
"Kekuasaan Kehakiman merupakan kekuasaan yang merdeka untuk
In
A

menyelenggarakan peradilan guna menegakkan hukum dan


keadilan;”
ah

lik

2. Bahwa berdasarkan ketentuan Pasal 24A ayat (1) Undang-Undang


Dasar 1945 (UUD 1945) menyebutkan:
m

ub

“Mahkamah Agung berwenang mengadili pada tingkat kasasi, menguji


peraturan perundang-undangan di bawah undang-undang terhadap
ka

ep

undang-undang, dan mempunyai wewenang lainnya yang diberikan


oleh undang-undang”;
ah

es
M

Halaman 3 dari 66 halaman. Putusan Nomor 13 P/HUM/2018


ng

on
gu

d
In
A

Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N
h

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
ik

Email : kepaniteraan@[Link]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 3
am

u b
Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia

ep
[Link]
hk

a
3. Bahwa berdasarkan ketentuan Pasal 24 ayat (2) Undang-Undang

si
Dasar Tahun 1945, yang berbunyi:
“Kekuasaan kehakiman dilakukan oleh sebuah Mahkamah Agung dan

ne
ng
badan peradilan yang dibawahnya dalam lingkungan peradilan umum,
lingkungan peradilan agama, lingkungan peradilan militer, lingkungan

do
gu peradilan tata usaha negara, dan oleh sebuah Mahkamah Konstitusi";
4. Bahwa ketentuan UUD 1945 selanjutnya secara detail diatur lebih
lanjut dalam ketentuan Pasal 20 ayat (2) huruf b Undang-Undang

In
A
Nomor 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman, yang
menegaskan bahwa Makamah Agung berwenang:
ah

lik
“Menguji peraturan perundang-undangan di bawah undang-undang
terhadap undang-undang”;
am

ub
Selanjutnya ayat (3) menyebutkan bahwa:
“Putusan mengenai tidak sahnya peraturan perundang-undangan
sebagai hasil pengujian sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf b
ep
k

dapat diambil baik berhubungan dengan pemeriksaan pada tingkat


ah

kasasi maupun berdasarkan permohonan langsung pada Mahkamah


R

si
Agung”;
5. Bahwa diketahui berdasarkan penjelasan pada Undang-Undang

ne
ng

Nomor 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman, ayat (2) huruf


b menyebutkan:

do
“Ketentuan ini mengatur mengenai hak uji Makamah Agung terhadap
gu

peraturan perundang-undangan yang lebih rendah dari


undang-undang. Hak uji dapat dilakukan baik terhadap materi muatan
In
A

ayat, pasal, dan/atau bagian dari peraturan perundang-undangan


yang bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang lebih
ah

lik

tinggi maupun terhadap pembentukan peraturan


perundang-undangan”;
m

ub

6. Bahwa berdasarkan Pasal 7 ayat (2) Undang-Undang Nomor 12


Tahun 2011 tentang Pembentukan Perundang-Undangan
ka

menyebutkan:
ep
ah

es
M

Halaman 4 dari 66 halaman. Putusan Nomor 13 P/HUM/2018


ng

on
gu

d
In
A

Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N
h

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
ik

Email : kepaniteraan@[Link]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 4
am

u b
Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia

ep
[Link]
hk

a
“Dalam hal suatu Peraturan Perundang-Undangan di bawah

si
Undang-Undang diduga bertentangan dengan Undang-Undang,
pengujiannya dilakukan oleh Makamah Agung.”;

ne
ng
7. Bahwa Pasal 8 Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang
Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan menyebutkan:

do
gu “Jenis dan hierarki peraturan perundang-undangan terdiri atas:
a. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;
b. Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat;

In
A
c. Undang-Undang/Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang;
d. Peraturan Pemerintah;
ah

lik
e. Peraturan Presiden;
f. Peraturan Daerah Provinsi; dan
am

ub
g. Peraturan Daerah Kabupaten/Kota;
8. Bahwa berdasarkan Peraturan Makamah Agung (Perma) Nomor 1
Tahun 2011 tentang Hak Uji Materiil dalam ketentuan Pasal 1 angka 1
ep
k

menyebutkan: “Hak Uji Materiil adalah hak Makamah Agung untuk


ah

menilai materi muatan Peraturan Perundang-undangan di bawah


R

si
Undang-Undang terhadap Peraturan Perundang-Undangan tingkat
lebih tinggi”;

ne
ng

9. Bahwa selanjutnya dalam ketentuan Pasal 1 angka 3 Perma Nomor 1


Tahun 2011 tentang Hak Uji Materiil menyebutkan:

do
“Permohonan keberatan adalah suatu permohonan yang berisi
gu

keberatan terhadap berlakunya suatu peraturan perundang-undangan


yang bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang lebih
In
A

tinggi yang diajukan ke Makamah Agung untuk mendapatkan


putusan.”;
ah

lik

Oleh karena itu, Mahkamah Agung Republik Indonesia berwenang untuk


memeriksa, mengadili dan menguji Permohonan Keberatan hak uji materiil
m

ub

terhadap Peraturan Daerah Provinsi Riau Nomor 10 Tahun 2015 tentang


Tanah Ulayat dan Pemanfaatannya;
ka

ep
ah

es
M

Halaman 5 dari 66 halaman. Putusan Nomor 13 P/HUM/2018


ng

on
gu

d
In
A

Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N
h

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
ik

Email : kepaniteraan@[Link]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 5
am

u b
Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia

ep
[Link]
hk

a
B. Kedudukan Hukum (legal standing) Para Pemohon;

si
1. Bahwa berdasarkan ketentuan Pasal 31 A Undang-Undang RI Nomor
3 Tahun 2009 tentang Perubahan Kedua atas Undang-Undang

ne
ng
Nomor 14 Tahun 1985 tentang Mahkamah Agung yang berbunyi:
"Permohonan pengujian peraturan perundang-undangan di bawah

do
gu undang-undang dilakukan langsung oleh Pemohon atau kuasanya
kepada Mahkamah Agung dan dibuat secara tertulis dalam bahasa
Indonesia.”;

In
A
1) Permohonan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) hanya dapat
dilakukan oleh pihak yang menganggap haknya dirugikan oleh
ah

lik
berlakunya peraturan perundang-undangan dibawah
undang-undang, yaitu:
am

ub
a. Perorangan warga negara Indonesia;
b. Kesatuan masyarakat hukum adat sepanjang masih hidup dan
sesuai dengan perkembangan masyarakat dan prinsip Negara
ep
k

Kesatuan RI yang diatur dalam undang-undang;


ah

c. Badan hukum publik atau badan privat;


R

si
1) Permohonan sekurang-kurangnya harus memuat:
a. Nama dan alamat Pemohon;

ne
ng

b. Uraian mengenai perihal yang menjadi dasar permohonan dan


menguraikan dengan jelas bahwa:

do
i. Materi muatan ayat, pasal dan/atau bagian peraturan
gu

perundang-undangan di bawah undang-undang dianggap


bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang
In
A

lebih tinggi dan/atau;


ii. Pembentukan peraturan perundang-undangan tidak
ah

lik

memenuhi ketentuan yang berlaku dan;


c. Hal-hal yang diminta untuk diputus;
m

ub

1) Pemohonan pengujian sebagaimana dimaksud pada ayat (1)


dilakukan Mahkamah Agung paling lama 14 (empat belas) hari
ka

kerja terhitung sejak tanggal diterimanya permohonan;


ep
ah

es
M

Halaman 6 dari 66 halaman. Putusan Nomor 13 P/HUM/2018


ng

on
gu

d
In
A

Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N
h

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
ik

Email : kepaniteraan@[Link]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 6
am

u b
Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia

ep
[Link]
hk

a
2) Dalam hal Mahkamah Agung berpendapat bahwa Pemohon atau

si
permohonan tidak memenuhi syarat, amar putusan menyatakan
permohonan tidak diterima;

ne
ng
3) Dalam hal Mahkamah Agung berpendapat bahwa Permohonan
beralasan, amar putusan menyatakan permohonan dikabulkan;

do
gu 4) Dalam hal Pemohonan dikabulkan sebagaimana dimaksud pada
ayat (5), amar putusan menyatakan dengan tegas materi muatan
ayat, pasal, dan atau bagian dari peraturan perundang-undangan

In
A
di bawah undang-undang yang bertentangan dengan peraturan
perundang-undangan yang lebih tinggi;
ah

lik
5) Putusan Mahkamah Agung yang mengabulkan Pemohonan
sebagaimana dimaksud pada ayat (6) harus dimuat dalam Berita
am

ub
Negara atau Berita Daerah paling lama 30 (tiga puluh) hari kerja
terhitung sejak tanggal putusan diucapkan;
6) Dalam hal peraturan perundang-undangan di bawah
ep
k

undang-undang tidak bertentangan dengan peraturan


ah

perundang-undangan yang lebih tinggi dan atau tidak


R

si
bertentangan dalam pembentukannya, amar putusan menyatakan
permohonan ditolak;

ne
ng

7) Ketentuan mengenai tata cara pengujian peraturan


perundang-undangan diatur dengan Peraturan Mahkamah Agung;

do
1. Bahwa Pemohon I merupakan masyarakat hukum adat Kenegerian
gu

Batu Sanggan yang keberadaannya diakui melalui Peraturan Daerah


Kabupaten Kampar Nomor 12 Tahun 1999 tentang Hak Tanah Ulayat
In
A

(Bukti P-3), yang mana Peraturan Daerah tersebut juga dijadikan


sebagai landasan dalam uji materiil di Mahkamah Konstitusi dan
ah

lik

melahirkan putusan Nomor 35/PUU-X/2012 (Bukti P-4);


2. Bahwa berdasarkan putusan Mahkamah Konstitusi Nomor
m

ub

35/PUU-X/2012 tersebut Mahkamah mengakui kedudukan hukum


(legal standing) Masyarakat Hukum Adat sebagai pemohon;
ka

4. Bahwa selanjutnya, pada Pasal 1 Peraturan Mahkamah Agung RI


ep

Nomor 01 Tahun 2011 tentang Hak Uji Materiil yang berbunyi:


ah

es
M

Halaman 7 dari 66 halaman. Putusan Nomor 13 P/HUM/2018


ng

on
gu

d
In
A

Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N
h

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
ik

Email : kepaniteraan@[Link]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 7
am

u b
Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia

ep
[Link]
hk

a
1) Hak Uji Materiil adalah hak Mahkamah Agung untuk menilai materi

si
muatan peraturan perundang-undangan di bawah undang-undang
terhadap peraturan perundang-undangan tingkat lebih tinggi;

ne
ng
2) Peraturan Perundang-undangan adalah kaidah hukum tertulis
yang mengikat umum di bawah undang-undang;

do
gu 3) Permohonan keberatan adalah suatu permohonan yang berisi
keberatan terhadap berlakunya suatu peraturan
perundang-undangan yang diduga bertentangan dengan suatu

In
A
peraturan perundang-undangan tingkat lebih tinggi yang diajukan
ke Mahkamah Agung untuk mendapatkan putusan.
ah

lik
4) Pemohon keberatan adalah kelompok masyarakat atau
perorangan yang mengajukan permohonan keberatan kepada
am

ub
Mahkamah Agung atas berlakunya suatu peraturan
perundang-undangan tingkat lebih rendah dari Undang-Undang;
5) Termohon adalah Badan atau Pejabat Tata Usaha Negara yang
ep
k

mengeluarkan peraturan perundang-undangan;


ah

5. Bahwa tata cara pengujian diatur pada Pasal 2 ayat (1) dan (2)
R

si
Peraturan Mahkamah Agung RI Nomor 01 Tahun 2011 tentang Hak
Uji Materiil yang berbunyi:

ne
ng

1) Permohonan keberatan diajukan kepada Mahkamah Agung


dengan cara:

do
a. Langsung ke Mahkamah Agung; atau
gu

b. Melalui Pengadilan Negeri yang membawahi wilayah hukum


tempat kedudukan Pemohon;
In
A

2) Permohonan keberatan diajukan terhadap suatu peraturan


perundang-undangan yang diduga bertentangan dengan suatu
ah

lik

peraturan perundang-undangan tingkat lebih tinggi;


6. Bahwa Para Pemohon adalah pihak yang kepentingannya dirugikan
m

ub

dengan diberlakukannya Peraturan Daerah Provinsi Riau Nomor 10


Tahun 2015 tentang Tanah Ulayat dan Pemanfaatannya, adapun
ka

kepentingan Para Pemohon yang dirugikan sebagai berikut:


ep
ah

es
M

Halaman 8 dari 66 halaman. Putusan Nomor 13 P/HUM/2018


ng

on
gu

d
In
A

Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N
h

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
ik

Email : kepaniteraan@[Link]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 8
am

u b
Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia

ep
[Link]
hk

a
a. Bahwa tanah ulayat adalah tanah yang dimiliki oleh masyarakat

si
adat berdasarkan kesukuannya. Eksistensi hak atas tanah ini jauh
ada sebelum zaman Belanda. Bahwa pemanfaatan tanah ulayat

ne
ng
dilakukan sesuai dengan hasil musyawarah kesukuan yang
dilakukan atas persetujuan kedatuan dan tanah ulayat tidak dapat

do
gu serta tidak untuk diperjualbelikan, proses peralihan hak hanya bisa
dilakukan melalui proses kontrak dan atas persetujuan masyarakat
adat;

In
A
b. Bahwa dengan berlakunya Pasal 1 angka 11 dan angka 13
Peraturan Daerah Provinsi Riau Nomor 10 Tahun 2015 tentang
ah

lik
Tanah Ulayat dan Pemanfaatannya mengenai frasa pengertian
“tanah ulayat adalah bidang tanah.............” kemudian pada angka
am

ub
13 menyebutkan “tanah adat adalah tanah milik persukuan..........”
menimbulkan keraguan yang mengakibatkan kerugian Para
Pemohon disebabkan Para Pemohon dalam hal ini berpendapat
ep
k

sesuai dengan adatnya bahwa tanah ulayat merupakan


ah

pembagian dari Tanah Adat (satu kesatuan), yang apabila Pasal 1


R

si
angka 11 dan angka 13 ini diberlakukan maka Para Pemohon
akan mengalami lunturnya adat yang sebenarnya;

ne
ng

c. Bahwa dengan berlakunya Pasal 12 ayat (2) Peraturan Daerah


Provinsi Riau Nomor 10 Tahun 2015 tentang Tanah Ulayat dan

do
Pemanfaatannya Para Pemohon dirugikan tidak diberikannya
gu

kesempatan dalam hal tidak terjadi kesepakatan ganti rugi, yang


secara tidak langsung menekan hak dan upaya hukum
In
A

masyarakat adat;
d. Bahwa dengan berlakunya Pasal 16 Peraturan Daerah Provinsi
ah

lik

Riau Nomor 10 Tahun 2015 tentang Tanah Ulayat dan


Pemanfaatannya, Para Pemohon mengalami kerugian sepanjang
m

ub

eksploitasi dan ekspansi sumber daya alam di tanah ulayat Para


Pemohon dimaknai frasa ”kepentingan nasional dan
ka

pembangunan di daerah.”;
ep
ah

es
M

Halaman 9 dari 66 halaman. Putusan Nomor 13 P/HUM/2018


ng

on
gu

d
In
A

Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N
h

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
ik

Email : kepaniteraan@[Link]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 9
am

u b
Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia

ep
[Link]
hk

a
e. Bahwa dengan berlakunya Pasal 19 Peraturan Daerah Provinsi

si
Riau Nomor 10 Tahun 2015 tentang Tanah Ulayat dan
Pemanfaatannya, Para Pemohon mengalami kerugian nyata

ne
ng
dengan terbukanya pintu kriminalisasi pada ayat (1) yang merujuk
pada Pasal 11 Peraturan Daerah Provinsi Riau Nomor 10 Tahun

do
gu 2015 tentang Tanah Ulayat dan Pemanfaatannya;
f. Bahwa dengan berlakunya Pasal 20 ayat (2) Peraturan Daerah
Provinsi Riau Nomor 10 Tahun 2015 tentang Tanah Ulayat dan

In
A
Pemanfaatannya, Para Pemohon dirugikan dengan ketidakjelasan
frasa “dan/atau pemutihan kepemilikan tanah ulayat” yang secara
ah

lik
tidak langsung memiliki peluang dalam penghapusan hak
kepemilikan Para Pemohon terhadap tanah ulayat;
am

ub
7. Bahwa Para Pemohon adalah perorangan yang telah memenuhi
kualifikasi kedudukan hukum (legal standing) dan memiliki kepentingan
untuk menyampaikan permohonan keberatan hak uji materiil (judicial
ep
k

review) sebagaimana dimaksud dalam ketentuan Pasal 31 A ayat (2)


ah

Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2009 Tentang Perubahan Kedua


R

si
Atas UU Nomor 14 Tahun 1985 Tentang Mahkamah Agung, yang
berbunyi:

ne
ng

"Permohonan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) hanya dapat


dilakukan oleh pihak yang menganggap haknya dirugikan oleh

do
berlakunya peraturan perundang-undang di bawah undang-undang
gu

yaitu:
a. Perorangan warga Negara Indonesia;
In
A

b. Kesatuan masyarakat hukum adat sepanjang masih hidup dan


sesuai dengan perkembangan masyarakat dan prinsip Negara
ah

lik

Kesatuan RI yang diatur dalam undang-undang; atau


c. Badan hukum publik atau badan hukum privat;
m

ub

8. Bahwa Para Pemohon ini menuntut agar Peraturan Daerah Provinsi


Riau Nomor 10 Tahun 2015 tentang Tanah Ulayat dan
ka

Pemanfaatannya dinyatakan tidak berlaku dan batal demi hukum


ep
ah

es
M

Halaman 10 dari 66 halaman. Putusan Nomor 13 P/HUM/2018


ng

on
gu

d
In
A

Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N
h

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
ik

Email : kepaniteraan@[Link]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 10
am

u b
Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia

ep
[Link]
hk

a
karena bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang

si
lebih tinggi, yaitu:
a. Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan

ne
ng
Peraturan Perundang-Undangan;
b. Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan

do
gu Mineral dan Batubara;
c. Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas
Bumi;

In
A
d. Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2012 tentang Pengadaan Tanah
Bagi Pembangunan Untuk Kepentingan Umum;
ah

lik
e. Peraturan Presiden Nomor 71 Tahun 2012 tentang
Penyelenggaraan Pengadaan Tanah Bagi Pembangunan Untuk
am

ub
Kepentingan Umum; dan
f. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar
Pokok-Pokok Agraria;
ep
k

9. Bahwa dalam menerbitkan suatu peraturan tidak cukup sekedar


ah

mendasarkan kepada atas kemanfaatan, kebebasan menilai suatu dan


R

si
kebebasan memilih tindakan atau kebutuhan atau tujuan tertentu,
tetapi harus bersesuaian dengan prinsip supremasi hukum, sehingga

ne
ng

dalam pembuatan peraturan harus pula memperhatikan serta


mempertimbangkan asas legalitas hukum, yaitu peraturan yang dibuat

do
harus secara materiil dan formal memenuhi ketentuan Peraturan
gu

Perundang-undangan, serta substansial tidak melanggar asas-asas


kaidah hukum yang mendasar dan tidak bertentangan serta
In
A

melampaui/melebihi peraturan dasarnya (primary delegation) dan


Undang-undang sebagai ”primary delegation” dari peraturan yang akan
ah

lik

dibuat telah mendelegasikan dan atau mensub-delegasikan


kewenangan tersebut kepada si pembuat peraturan yang lebih rendah;
m

ub

10. Bahwa Peraturan adalah merupakan undang-undang secara materiil


(wet in materiele zin), meskipun bentuk formalnya bukan
ka

undang-undang namun memenuhi kriteria sebagaimana ditentukan


ep

dalam Pasal 24C ayat (1) UUD 1945 maka berdasarkan ketentuan
ah

es
M

Halaman 11 dari 66 halaman. Putusan Nomor 13 P/HUM/2018


ng

on
gu

d
In
A

Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N
h

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
ik

Email : kepaniteraan@[Link]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 11
am

u b
Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia

ep
[Link]
hk

a
Pasal 24A ayat (1) UUD 1945 Mahkamah Agung berwewenang

si
melakukan ”constitusional review of regulations”
dan/atau ”constitutional review of executive acts”;

ne
ng
11. Bahwa kewajiban seluruh masyarakat untuk berperan serta
mengadakan kontrol sosial terhadap peraturan perundang-undangan

do
gu yang tidak berpihak kepada rasa keadilan dan tidak membawa manfaat
bagi masyarakat luas serta menghambat terciptanya kepastian hukum;
12. Bahwa sebagai warga negara berhak berpartisipasi dalam

In
A
perlindungan, penegakan dan memajukan hak asasi manusia
termasuk mengajukan permohonan, pengaduan dan gugatan, dalam
ah

lik
perkara pidana, perdata maupun administrasi, hak uji materiil atas
Undang-undang yang bertentangan dengan Undang Undang Dasar
am

ub
(konstitusi) dan Peraturan Perundang-undangan dibawah
Undang-undang yang bertentangan dengan Undang-Undang serta
memperoleh keadilan melalui proses peradilan yang bebas, jujur,
ep
k

murah, dan tidak memihak sesuai dengan hukum acara yang


ah

menjamin pemeriksaan yang objektif, oleh hakim yang jujur dan adil
R

si
untuk memperoleh putusan yang adil dan benar;
C. Dalam Pokok Perkara;

ne
ng

1. Bahwa hal-hal yang telah dikemukakan di atas, tentang kewenangan


Mahkamah Agung dan kedudukan Hukum (legal standing) Para

do
Pemohon merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan dari
gu

Pokok Permohonan ini;


2. Peraturan Daerah Provinsi Riau Nomor 10 Tahun 2015 Tentang
In
A

Tanah Ulayat Dan Pemanfaatannya Bertentangan Dengan


Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 Tentang Pembentukan
ah

lik

Peraturan Perundang-Undangan;
a. Bahwa Pembentukan Peraturan Daerah Provinsi Riau Nomor 10
m

ub

Tahun 2015 tentang Tanah Ulayat dan Pemanfaatannya


merupakan bagian dalam suatu hierarki perundang-undangan
ka

dan materi muatannya yang terkandung di dalam peraturan


ep

daerah a quo haruslah mengacu atau mengikuti dan tidak


ah

es
M

Halaman 12 dari 66 halaman. Putusan Nomor 13 P/HUM/2018


ng

on
gu

d
In
A

Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N
h

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
ik

Email : kepaniteraan@[Link]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 12
am

u b
Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia

ep
[Link]
hk

a
bertentangan dengan kaidah hukum yang berlaku sebagaimana

si
pada Pasal 7 Ayat (1) dan (2) Undang-Undang Nomor 12 Tahun
2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan;

ne
ng
(Bukti P-5)
b. Bahwa dalam pembentukannya suatu Peraturan haruslah

do
gu bersesuaian dengan asas-asas pembentukan peraturan
perundang-undangan, antara lain:
1) Kejelasan tujuan;

In
A
2) Kelembagaan atau pejabat pembentuk yang tepat;
3) Kesesuaian antara jenis, hierarki, dan materi muatan;
ah

lik
4) Dapat dilaksanakan;
5) Kedayagunaan dan kehasilgunaan;
am

ub
6) Kejelasaan rumusan; dan
7) Keterbukaan;
Sebagaimana Pasal 5 Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011
ep
k

tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan;


ah

c. Bahwa terbitnya Peraturan Daerah Provinsi Riau Nomor 10


R

si
Tahun 2015 tentang Tanah Ulayat dan Pemanfaatannya terbukti
telah melanggar asas kejelasan rumusan, karena senyatanya:

ne
ng

1) Bahwa Ketentuan Umum pada Pasal 1 menimbulkan banyak


kebingungan atau multitafsir, salah satunya adalah pada Pasal

do
1 Angka (11) Peraturan Daerah Provinsi Riau Nomor 10 Tahun
gu

2015 tentang Tanah Ulayat dan Pemanfaatannya tentang


Tanah Ulayat yang tidak secara terang membedakan definisi
In
A

antara Tanah Ulayat dengan Tanah Adat sebagaimana dalam


Pasal 1 Angka (13) Peraturan Daerah Provinsi Riau Nomor 10
ah

lik

Tahun 2015 tentang Tanah Ulayat dan Pemanfaatannya.


Sehingga, penggunaan definisi Tanah Adat pada Pasal 1
m

ub

Angka (13) Peraturan Daerah Provinsi Riau Nomor 10 Tahun


2015 tentang Tanah Ulayat dan Pemanfaatannya itu nirfaedah;
ka

ep
ah

es
M

Halaman 13 dari 66 halaman. Putusan Nomor 13 P/HUM/2018


ng

on
gu

d
In
A

Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N
h

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
ik

Email : kepaniteraan@[Link]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 13
am

u b
Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia

ep
[Link]
hk

a
2) Adanya pertentangan antara Pasal 1 Angka (10) dengan Pasal

si
10 Ayat (1) Peraturan Daerah Provinsi Riau Nomor 10 Tahun
2015 tentang Tanah Ulayat dan Pemanfaatannya, sehingga

ne
ng
menimbulkan ketidakjelasan tentang definisi hak ulayat dan
objek tanah ulayat. Adapun pertentangan tersebut terdapat

do
gu pada Pasal 1 angka 10 Peraturan Daerah Provinsi Riau Nomor
10 Tahun 2015 tentang Tanah Ulayat dan Pemanfaatannya
telah menegaskan yang pada pokoknya menyatakan hak

In
A
Masyarakat adat atas sebidang tanah/lahan/wilayah/daerah,
kawasan tertentu dan apa yang terkandung di dalam dan
ah

lik
diatasnya yang kepemilikan, tata cara pengelolaan dan
pemanfaatannya diatur berdasarkan Hukum Adat, sedangkan
am

ub
pada Pasal 10 ayat (1) Peraturan Daerah Provinsi Riau Nomor
10 Tahun 2015 tentang Tanah Ulayat dan Pemanfaatannya
secara tegas menyatakan objek Tanah Ulayat meliputi tanah,
ep
k

bukit, hutan, rimba dan perairan dan/atau pesisir pantai,


ah

sungai, anak sungai, suak, Kuala Sungai sampai Muara


R

si
sungai, danau, tasik, telaga, yang dikuasai oleh persukuan
dan/atau masyarakat hukum adat setempat, termasuk

ne
ng

benda-benda yang ada diatasnya kecuali bahan tambang berat


yang ada di dalam Bumi;

do
3) Bahwa Pasal 10 ayat (1) Peraturan Daerah Provinsi Riau
gu

Nomor 10 Tahun 2015 tentang Tanah Ulayat dan


Pemanfaatannya menyebutkan:
In
A

“..............termasuk benda-benda yang ada diatasnya kecuali


bahan tambang berat yang ada di dalam bumi”;
ah

lik

Bahan tambang berat sebagaimana yang dimaksud pada


Pasal 10 ayat (1) di atas senyatanya tidak memiliki definisi
m

ub

yang menyebutkan apa saja yang merupakan bahan tambang


berat tersebut. Bahkan dalam Undang-Undang Nomor 4 Tahun
ka

2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara tidak


ep

memiliki definisi terkait bahan tambang berat yang dimaksud


ah

es
M

Halaman 14 dari 66 halaman. Putusan Nomor 13 P/HUM/2018


ng

on
gu

d
In
A

Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N
h

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
ik

Email : kepaniteraan@[Link]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 14
am

u b
Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia

ep
[Link]
hk

a
dalam Peraturan Daerah Provinsi Riau Nomor 10 Tahun 2015

si
tentang Tanah Ulayat dan Pemanfaatannya. Sehingga, secara
jelas tidak diketahui definisi yang menjadi rujukan pengertian

ne
ng
bahan tambang berat tersebut;
4) Bahwa selain itu, Pasal 11 Ayat (4) Peraturan Daerah Provinsi

do
gu Riau Nomor 10 Tahun 2015 tentang Tanah Ulayat dan
Pemanfaatannya yang berbunyi sebagai berikut:
“Apabila perjanjian kerjasama sebagaimana dimaksud pada

In
A
ayat (3) sudah berakhir, tanah ulayat wajib dikembalikan oleh
pihak pemakai atau pengelola kepada pemilik tanah ulayat
ah

lik
melalui pemegang kuasa tanah ulayat atau pemangku adat”;
Peraturan Daerah a quo tersebut diatas, tidak menjelaskan
am

ub
maksud dari siapa itu Pihak Pemakai atau Pengelola yang
merujuk pada ayat (3)nya, padahal senyatanya pada Ayat (3)
tidak menyebutkan siapa itu Pihak Pemakai atau Pengelola
ep
k

sebagaimana yang berbunyi:


ah

“Pemanfaatan tanah ulayat oleh pihak lain dilakukan oleh


R

si
pemegang kuasa tanah ulayat atas dasar kesepakatan
anggota pesukuan atau masyarakat hukum adat, perjanjian

ne
ng

kerjasama dibuat dihadapan Notaris dan disaksikan oleh


kepala Desa atau Penghulu Kampung dan/atau camat dimana

do
Tanah Ulayat itu Berada.”;
gu

5) Bahwa selanjutnya, pada Pasal 16 Ayat (1) Peraturan Daerah


Provinsi Riau Nomor 10 Tahun 2015 tentang Tanah Ulayat dan
In
A

Kemanfaatannya senyatanya terdapat ketentuan tentang


pengecualian untuk dapat dilakukannya pemindahan hak
ah

lik

kepemilikan terhadap tanah ulayat, yaitu untuk kepentingan


nasional, pembangunan di daerah; dan/atau kehendak
m

ub

bersama seluruh anggota pesukuan dan/atau masyarakat adat


berdasarkan ketentuan hukum adat yang berlaku. Akan tetapi,
ka

tidak disebutkan definisi tentang kepentingan nasional dan


ep

pembangunan di daerah.
ah

es
M

Halaman 15 dari 66 halaman. Putusan Nomor 13 P/HUM/2018


ng

on
gu

d
In
A

Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N
h

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
ik

Email : kepaniteraan@[Link]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 15
am

u b
Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia

ep
[Link]
hk

a
6) Bahwa Pasal 20 Ayat (2) Huruf (b) Peraturan Daerah Provinsi

si
Riau Nomor 10 Tahun 2015 tentang Tanah Ulayat dan
Pemanfaatannya terdapat istilah Pemutihan Kepemilikan

ne
ng
Tanah Ulayat. Definisi dari Pemutihan Kepemilikan Tanah
Ulayat senyatanya juga tidak dijelaskan secara terang, baik

do
gu dalam pasal ini maupun pada pasal-pasal sebelumnya,
padahal pengertian tersebut sangat diperlukan agar tidak
terjadi kesalahpahaman atau multitafsir serta berpotensi

In
A
menimbulkan kerugian terhadap hak masyarakat adat terkait
dengan pemutihan kepemilikan tanah ulayat yang dimaksud
ah

lik
dalam pasal ini;
d. Bahwa selanjutnya, materi muatan Peraturan
am

ub
Perundang-undangan harus mencerminkan asas:
a. Pengayoman;
b. Kemanusiaan;
ep
k

c. Kebangsaan;
ah

d. Kekeluargaan;
R

si
e. Kenusantaraan;
f. Bhinneka tunggal ika;

ne
ng

g. Keadilan;
h. Kesamaan kedudukan dalam hukum dan pemerintahan;

do
i. Ketertiban dan kepastian hukum; dan/ atau
gu

j. Keseimbangan, keserasian dan keselarasan;


Sebagaimana Pasal 6 Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011
In
A

tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan;


a. Bahwa terbitnya Peraturan Daerah Provinsi Riau Nomor 10
ah

lik

Tahun 2015 tentang Tanah Ulayat dan Pemanfaatannya terbukti


tidak mencerminkan asas keseimbangan, keserasian dan
m

ub

keselarasan, karena senyatanya:


1) Bahwa pada Pasal 2 ayat (4) Peraturan Daerah Nomor 10
ka

Tahun 2015 tentang Tanah Ulayat dan Pemanfaatannya


ep

menyebutkan:
ah

es
M

Halaman 16 dari 66 halaman. Putusan Nomor 13 P/HUM/2018


ng

on
gu

d
In
A

Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N
h

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
ik

Email : kepaniteraan@[Link]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 16
am

u b
Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia

ep
[Link]
hk

a
“Asas kepemilikan bersama yaitu kepemilikan, pengelolaan

si
dan pemanfaatan tanah ulayat adalah untuk kepentingan
bersama persukuan/masyarakat adatnya”;

ne
ng
Pasal di atas menggambarkan bahwa kepemilikan,
pengelolaan dan pemanfaatan tanah ulayat dilakukan demi

do
gu dan untuk kepentingan bersama persukuan/masyarakat
adatnya dan bukan untuk kepentingan nasional ataupun
pembangunan daerah yang disebutkan pada Pasal 16 ayat

In
A
(1) tanpa ada penjelasan terkait kepentingan nasional
ataupun pembangunan daerah, selain itu objek tanah ulayat
ah

lik
dalam Pasal 10 ayat (1) disebutkan bahwa:
“Objek tanah ulayat meliputi tanah, bukit, hutan, rimba dan
am

ub
perairan dan/atau pesisir pantai, sungai, anak sungai, suak,
kuala sungai sampai muara sungai, danau............”;
Bahwa hutan yang merupakan bagian dari objek tanah
ep
k

ulayat dikuatkan dengan putusan Makamah Konstitusi


ah

Nomor 35/PUU-X/2012 yang menekankan bahwa hutan


R

si
masyarakat adat bukan hutan negara. Sehingga terdapat
pertentangan yang tidak mencerminkan asas keseimbangan,

ne
ng

keserasian dan keselarasan antara Pasal 2 ayat (4) dengan


Pasal 16 ayat (1) dan Pasal 10 ayat (1) Peraturan Daerah

do
Nomor 10 Tahun 2015 tentang Tanah Ulayat dan
gu

Pemanfaatannya;
2) Bahwa penerapan sanksi pidana sebagaimana pada
In
A

ketentuan Pasal 19 Peraturan Daerah Provinsi Riau Nomor


10 Tahun 2015 tentang Tanah Ulayat dan Pemanfaatannya
ah

lik

yang berbunyi:
“(1) Setiap orang atau badan hukum yang melanggar
m

ub

ketentuan Pasal 11 dihukum dengan hukuman kurungan


paling lama 6 (enam) bulan dan/atau denda
ka

sebanyak-banyaknya Rp. 50.000.000,00 (lima puluh juta


ep

rupiah);
ah

es
M

Halaman 17 dari 66 halaman. Putusan Nomor 13 P/HUM/2018


ng

on
gu

d
In
A

Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N
h

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
ik

Email : kepaniteraan@[Link]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 17
am

u b
Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia

ep
[Link]
hk

a
(2) Setiap Pihak ketiga yang diberi kuasa pengelolaan

si
tanah ulayat dengan sengaja mengakibatkan kerugian
pada ekosistem yang berada pada tanah ulayat

ne
ng
sebagaimana ketentuan yang mengatur tentang Konservasi
Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, dihukum

do
gu dengan hukuman kurungan paling lama 6 (enam) bulan
dan denda sebanyak-banyaknya Rp50.000.000,00 (lima
puluh juta rupiah).”;

In
A
Penerapan sanksi pidana tersebut tidak memiliki
argumentasi yang kuat untuk apa sanksi pidana diterapkan
ah

lik
dalam Peraturan Daerah Provinsi Riau Nomor 10 Tahun
2015 tentang Tanah Ulayat dan Pemanfaatannya. Terlebih
am

ub
lagi, sanksi pidana yang diterapkan merujuk pada Pasal 11
BAB VII tentang Tata Cara Pemanfaatan Tanah Ulayat
dalam Peraturan Daerah Provinsi Riau Nomor 10 Tahun
ep
k

2015 tentang Tanah Ulayat dan Pemanfaatannya, yang


ah

apabila dilihat dari rumusan pasalnya, maka Pasal tersebut


R

si
menjerat orang-orang yang melanggar ketentuan pada Pasal
11 tersebut, yang mana apabila dicari unsur “orang” dan

ne
ng

“deliknya” (perbuatan) akan menambah ketidakpahaman


atau multitafsir mengingat terdapat banyak subjek hukum di

do
dalamnya serta perbuatannya pun berbagai macam dan
gu

ketidaksesuaian penggunaan pasal yang menjadi rujukan


sanksi pidana;
In
A

Selain itu, apabila dipandang dari isi dan substansinya,


maka Pasal 11 Peraturan Daerah Provinsi Riau Nomor 10
ah

lik

Tahun 2015 tentang Tanah Ulayat dan Pemanfaatannya


justru lebih mengarah kepada mekanisme pemanfaatan
m

ub

tanah ulayat mengingat pasal tersebut terletak pada bab


mengenai tata cara pemanfaatan tanah ulayat. Sehingga,
ka

dalam menentukan unsur dari suatu perbuatan pidana akan


ep

menjadi sangat sulit. Hal ini disebabkan Pasal 19 Ayat (1)


ah

es
M

Halaman 18 dari 66 halaman. Putusan Nomor 13 P/HUM/2018


ng

on
gu

d
In
A

Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N
h

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
ik

Email : kepaniteraan@[Link]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 18
am

u b
Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia

ep
[Link]
hk

a
Peraturan Daerah Provinsi Riau Nomor 10 Tahun 2015

si
tentang Tanah Ulayat dan Pemanfaatannya tidak
memberikan keterangan yang lebih spesifik tentang bagian

ne
ng
mana dari Pasal 11 Peraturan Daerah Provinsi Riau Nomor
10 Tahun 2015 tentang Tanah Ulayat dan Pemanfaatannya

do
gu yang dapat diterapkan sanksi pidana;
Menurut hukum pidana untuk menentukan suatu
perbuatan pidana atau pemidanaan, maka harus dapat

In
A
merincikan secara terang dan kolektif tentang unsur-unsur
pidananya. Namun, pada Pasal 11 Peraturan Daerah
ah

lik
Provinsi Riau Nomor 10 Tahun 2015 tentang Tanah Ulayat
dan Pemanfaatannya tidak jelas mengatur tentang siapa
am

ub
yang dapat dipidana serta perbuatan apa yang dapat
dipidana sebagaimana yang Para Pemohon uraikan di
bawah ini:
ep
k

1) Pasal 11 Ayat (1) Peraturan Daerah Provinsi Riau


ah

Nomor 10 Tahun 2015 tentang Tanah Ulayat dan


R

si
Pemanfaatannya;
a) Unsur Orang/Pelaku:

ne
ng

Anggota masyarakat yang memanfaatkan tanah ulayat;


b) Unsur Perbuatan:

do
 Dilakukan tanpa sepengetahuan dan seizin
gu

penguasa ulayat;
 Dilakukan tidak sesuai dengan ketentuan tata cara
In
A

hukum adat yang berlaku;


2) Pasal 11 Ayat (2) Peraturan Daerah Provinsi Riau
ah

lik

Nomor 10 Tahun 2015 tentang Tanah Ulayat dan


Pemanfaatannya;
m

ub

a) Unsur Orang/Pelaku:
 Pemerintah/Pemerintah Daerah;
ka

 Pemilik Ulayat;
ep

 Pemegang Kuasa Tanah Ulayat;


ah

es
M

Halaman 19 dari 66 halaman. Putusan Nomor 13 P/HUM/2018


ng

on
gu

d
In
A

Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N
h

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
ik

Email : kepaniteraan@[Link]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 19
am

u b
Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia

ep
[Link]
hk

a
 Anggota Masyarakat Adat yang bersangkutan;

si
b) Unsur Perbuatan:
 Pemanfaatan tanah ulayat untuk kepentingan

ne
ng
umum;
 Dapat dilakukan dengan cara penyerahan tanah

do
gu oleh pemilik ulayat dan/atau pemegang kuasa tanah
ulayat;
 Dilakukan berdasarkan kesepakatan anggota

In
A
masyarakat adat yang bersangkutan;
 Dilakukan sesuai dengan ketentuan yang berlaku;
ah

lik
Uraian penjelasan unsur-unsur pidana dari Pasal 11 ayat (1)
dan Pasal 11 ayat (2) Peraturan Daerah Provinsi Riau Nomor
am

ub
10 Tahun 2015 tentang Tanah Ulayat dan Pemanfaatannya
tersebut diatas sebagai berikut:
 Bahwa Pemerintah/Pemerintah Daerah merupakan
ep
k

pihak yang melaksanakan pelepasan tanah demi


ah

kepentingan umum sebagaimana ketentuan Pasal 4


R

si
Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2012 tentang
Pengadaan Tanah Bagi Pembangunan Untuk

ne
ng

Kepentingan Umum. Sehingga, Pemerintah/Pemerintah


Daerahlah yang berpotensi untuk dapat dikenakan

do
pidana;
gu

 Bahwa selanjutnya, dibedakan unsur pelaku Pemilik


Ulayat dan Pemegang Kuasa Tanah Ulayat, karena
In
A

dalam Pasal 11 ayat (2) Peraturan Daerah Provinsi Riau


Nomor 10 Tahun 2015 tentang Tanah Ulayat dan
ah

lik

Pemanfaatannya terdapat kata dan/atau, yang


bermakna dilakukan bersama-sama atau sendiri-sendiri.
m

ub

Sehingga, Pemilik Tanah Ulayat dan Pemegang Kuasa


Tanah Ulayat dapat dikenakan sanksi pidana jika
ka

memenuhi unsur perbuatan tersebut;


ep
ah

es
M

Halaman 20 dari 66 halaman. Putusan Nomor 13 P/HUM/2018


ng

on
gu

d
In
A

Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N
h

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
ik

Email : kepaniteraan@[Link]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 20
am

u b
Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia

ep
[Link]
hk

a
 Pasal 19 juncto Pasal 11 ayat (2) juga membuka

si
peluang kriminalisasi bagi seluruh Anggota Masyarakat
Adat jika tidak menyepakati untuk menyerahkan tanah

ne
ng
ulayat untuk dimanfaatkan bagi kepentingan umum;
3) Pasal 11 ayat (3) Peraturan Daerah Provinsi Riau

do
gu Nomor 10 Tahun 2015 tentang Tanah Ulayat dan
Pemanfaatannya;
a) Unsur Orang/Pelaku:

In
A
 Pihak lain yang memanfaatkan tanah ulayat;
 Pemegang kuasa tanah ulayat;
ah

lik
 Anggota persukuan atau masyarakat hukum adat;
 Notaris;
am

ub
 Penghulu Kampung;
 Camat;
b) Unsur Perbuatan:
ep
k

 Dilakukan oleh pemegang kuasa tanah ulayat;


ah

 Dilakukan atas dasar kesepakatan anggota


R

si
persukuan atau masyarakat hukum adat;
 Perjanjian kerjasamanya dibuat di hadapan

ne
ng

Notaris dan disaksikan oleh Kepala Desa atau


Penghulu Kampung dan/atau Camat dimana

do
Tanah Ulayat itu berada.
gu

Uraian penjelasan unsur-unsur pidana dari Pasal 11 ayat (3)


Peraturan Daerah Provinsi Riau Nomor 10 Tahun 2015
In
A

tentang Tanah Ulayat dan Pemanfaatannya tersebut di atas


sebagai berikut:
ah

lik

 Pasal 11 ayat (3) Peraturan Daerah Provinsi Riau


Nomor 10 Tahun 2015 tentang Tanah Ulayat dan
m

ub

Pemanfaatannya ini membuka peluang untuk


dipidananya anggota persukuan atau masyarakat
ka

hukum adat yang tidak menyepakati untuk


ep

dimanfaatkannya tanah ulayat oleh pihak ketiga;


ah

es
M

Halaman 21 dari 66 halaman. Putusan Nomor 13 P/HUM/2018


ng

on
gu

d
In
A

Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N
h

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
ik

Email : kepaniteraan@[Link]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 21
am

u b
Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia

ep
[Link]
hk

a
 Selain itu, Notaris juga dapat dipidana jika membuat

si
perjanjian kerjasama dengan tidak disaksikan oleh
Kepala Desa atau Penghulu Kampung dan/atau Camat

ne
ng
dimana tanah ulayat itu berada; dan
 Penghulu kampung serta camat juga dapat dipidana jika

do
gu tidak menyaksikan perjanjian kerja sama penggunaan
tanah ulayat oleh pihak ketiga pada tanah ulayat di
daerahnya;

In
A
1) Pasal 11 Ayat (4) Peraturan Daerah Provinsi Riau
Nomor 10 Tahun 2015 tentang Tanah Ulayat dan
ah

lik
Pemanfaatannya;
a) Unsur Orang/Pelaku;
am

ub
 Pihak Pemakai atau Pengelola;
 Pemilik tanah ulayat;
 Pemegang kuasa tanah ulayat atau pemangku adat.
ep
k

b) Unsur Perbuatan:
ah

 Mengembalikan tanah ulayat apabila perjanjian


R

si
kerjasama sebagaimana pada Ayat (3) sudah
berakhir;

ne
ng

 Dikembalikan oleh pihak pemakai atau pengelola;


 Dikembalikan kepada pemilik tanah ulayat;

do
 Dikembalikan melalui pemegang kuasa tanah ulayat
gu

atau pemangku adat;


Uraian penjelasan unsur-unsur pidana dari Pasal 11 ayat (4)
In
A

Peraturan Daerah Provinsi Riau Nomor 10 Tahun 2015


tentang Tanah Ulayat dan Pemanfaatannya tersebut di atas
ah

lik

sebagai berikut:
 Bahwa Pihak pemakai atau pengelola dapat dipidana
m

ub

jika mengembalikan tanah ulayat tidak kepada pemilik


tanah ulayat ketika perjanjian kerjasama berakhir;
ka

ep
ah

es
M

Halaman 22 dari 66 halaman. Putusan Nomor 13 P/HUM/2018


ng

on
gu

d
In
A

Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N
h

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
ik

Email : kepaniteraan@[Link]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 22
am

u b
Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia

ep
[Link]
hk

a
 Selanjutnya, Pihak pemakai atau pengelola dapat

si
dipidana jika pengembalian tanah ulayat tidak melalui
pemegang kuasa tanah ulayat atau pemangku adat;

ne
ng
 Pemilik tanah ulayat dapat dipidana jika
dikembalikannya tanah ulayat tidak oleh pihak pemakai

do
gu atau pengelola;
 Pemilik tanah ulayat dapat dipidana jika
dikembalikannya tanah ulayat tidak melalui pemegang

In
A
kuasa tanah ulayat atau pemangku adat; dan
 Pemegang kuasa tanah ulayat atau pemangku adat
ah

lik
dapat dipidana jika tanah ulayat yang dikembalikan
melalui dirinya bukan dikembalikan oleh pihak pemakai
am

ub
atau pengelola;
2) Pasal 11 ayat (6) Peraturan Daerah Provinsi Riau
Nomor 10 Tahun 2015 tentang Tanah Ulayat dan
ep
k

Pemanfaatannya, yang berbunyi:


ah

“Ketentuan dan tata cara untuk proses sebagaimana


R

si
dimaksud pada Ayat (3) diatur lebih lanjut dengan
Peraturan Gubernur.”;

ne
ng

Uraian penjelasan dari Pasal 11 ayat (6) Peraturan Daerah


Provinsi Riau Nomor 10 Tahun 2015 tentang Tanah Ulayat

do
dan Pemanfaatannya tersebut diatas, yaitu memberikan
gu

peluang untuk dapat mempidana Gubernur ketika tiada


peraturan gubernur yang diamanatkan Peraturan Daerah
In
A

Provinsi Riau Nomor 10 Tahun 2015 tentang Tanah Ulayat


dan Pemanfaatannya kunjung diterbitkan atau juga dapat
ah

lik

mempidana pihak-pihak yang melakukan perbuatan


sebagaimana disebutkan di dalam Pasal 11 Peraturan
m

ub

Daerah Provinsi Riau Nomor 10 Tahun 2015 tentang Tanah


Ulayat dan Pemanfaatannya;
ka

Secara keseluruhan, urgensi penerapan sanksi pidana


ep

dalam Peraturan Daerah Provinsi Riau Nomor 10 Tahun 2015


ah

es
M

Halaman 23 dari 66 halaman. Putusan Nomor 13 P/HUM/2018


ng

on
gu

d
In
A

Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N
h

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
ik

Email : kepaniteraan@[Link]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 23
am

u b
Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia

ep
[Link]
hk

a
tentang Tanah Ulayat dan Pemanfaatannya perlu dipertanyakan

si
karena perujukan pasal yang tidak mencerminkan asas
keserasian dan keselarasan, sebagaimana dalam jurnal yang

ne
ng
diterbitkan oleh Mahkamah Konstitusi dengan judul
Konstitusionalitas Norma Sanksi Pidana Sebagai Ultimum

do
gu Remedium Dalam Pembentukan Peraturan Peraturan
Perundang-Undangan ditegaskan bahwa penerapan sanksi
pidana juga tidak selalu menyelesaikan masalah karena ternyata

In
A
dengan sanksi pidana tidak terjadi pemulihan keadilan yang
rusak oleh suatu perbuatan pidana (Bukti P-6), yang dalam hal
ah

lik
ini keadilan ekologi bagi tanah ulayat yang dimiliki oleh
masyarakat hukum adat, terlebih penjabaran terkait “pihak lain”
am

ub
dalam Pasal 11 tidak memiliki kejelasan yang menyebabkan
perluasan makna dan ketidakseimbangan mengenai persepsi
antara “pihak lain” dengan masyarakat adat yang dimaksud
ep
k

dalam Peraturan Daerah Provinsi Riau Nomor 10 Tahun 2015


ah

tentang Tanah Ulayat dan Pemanfaatannya;


R

si
Selanjutnya, pada Penelitian yang diterbitkan oleh
Mahkamah Konstitusi tersebut disebutkan bahwa berdasarkan

ne
ng

pendapat beberapa ahli mengenai penggunaan hukum pidana,


maka syarat Hukum Pidana/sanksi pidana dapat dijadikan

do
sebagai suatu Primum Remedium, yaitu:
gu

1) Apabila sangat dibutuhkan dan hukum yang lain tidak


dapat digunakan (mercenary);
In
A

2) Menimbulkan korban yang sangat banyak;


3) Tersangka/terdakwa merupakan residivis ;
ah

lik

4) Kerugiannya tidak dapat dipulihkan (irreparable);


5) Apabila mekanisme penegakkan hukum lainnya yang
m

ub

lebih ringan telah tiada berdaya guna atau tidak


dipandang;
ka

Dalam hal ini, pelaksanaan tata cara pemanfaatan tanah


ep

ulayat tidak seharusnya diterapkan sanksi pidana, selain jurnal


ah

es
M

Halaman 24 dari 66 halaman. Putusan Nomor 13 P/HUM/2018


ng

on
gu

d
In
A

Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N
h

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
ik

Email : kepaniteraan@[Link]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 24
am

u b
Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia

ep
[Link]
hk

a
yang diterbitkan Makamah Konstitusi tersebut, mengingat

si
konsepsi hukum pidana menempatkan hukum pidana sebagai
ultimum remedium terdapat dalam Putusan Mahkamah

ne
ng
Konstitusi Republik Indonesia register Perkara Nomor
4/PUU-V/2007, Mahkamah Konstitusi menyebutkan:

do
gu “(i) Ancaman pidana tidak boleh dipakai untuk mencapai suatu
tujuan yang pada dasarnya dapat dicapai dengan cara lain
yang mana sama efektifnya dengan penderitaan dan kerugian

In
A
yang lebih sedikit, (ii) ancaman pidana tidak boleh digunakan
apabila hasil sampingan (side effect) yang ditimbulkan lebih
ah

lik
merugikan dibanding dengan perbuatan yang akan
dikriminalisasi, (iii) ancaman pidana harus rasional, (iv)
am

ub
ancaman pidana harus menjaga keserasian antara ketertiban,
sesuai dengan hukum dan kompetensi (order, legitimation,
and competence), dan (v) ancaman pidana harus menjaga
ep
k

kesetaraan antara perlindungan masyarakat, kejujuran,


ah

keadilan prosedural dan substantif (social defence, fairness,


R

si
procedural and substantive justice)” (Bukti P-7);
Berdasarkan uraian-uraian tersebut diatas, maka sangat tidak

ne
ng

beralasan untuk dapat menerapkan sanksi pidana dalam Peraturan


Daerah Provinsi Riau Nomor 10 Tahun 2015 tentang Tanah Ulayat

do
dan Pemanfaatannya;
gu

Oleh karena itu, secara keseluruhan Peraturan Daerah Provinsi


Riau Nomor 10 Tahun 2015 tentang Tanah Ulayat dan
In
A

Pemanfaatannya terbukti bertentangan dengan Undang-Undang


Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan
ah

lik

Perundang-Undangan;
1. Bahwa Pasal 10 Peraturan Daerah Provinsi Riau Nomor 10 Tahun
m

ub

2015 Tentang Tanah Ulayat Dan Pemanfaatannya Bertentangan


dengan Pasal 134 Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 Tentang
ka

Pertambangan Mineral Dan Batubara Dan Pasal 33 Ayat (3)


ep
ah

es
M

Halaman 25 dari 66 halaman. Putusan Nomor 13 P/HUM/2018


ng

on
gu

d
In
A

Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N
h

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
ik

Email : kepaniteraan@[Link]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 25
am

u b
Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia

ep
[Link]
hk

a
Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2001 Tentang Minyak Dan Gas

si
Bumi;
Bahwa senyatanya pada Pasal 10 ayat (2) Peraturan Daerah

ne
ng
Provinsi Nomor 10 Tahun 2015 tentang Tanah Ulayat dan
Pemanfaatannya terdapat frasa yang berbunyi:

do
gu “………pengelolaan bahan tambang berat yang ada di dalam
wilayah tanah ulayat dilakukan ………………….”
Bahwa sesungguhnya frasa bahan tambang berat tidak dikenal

In
A
dalam Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan
Mineral dan Batubara ataupun Undang-Undang Nomor 22 Tahun
ah

lik
2001 tentang Minyak dan Gas Bumi sehingga tidak dapat diketahui
rujukan dalam penerapan pasal tersebut. Selain itu, penafsiran pasal
am

ub
ini mengakibatkan terbukanya kesempatan kepada siapapun, baik itu
badan usaha, koperasi maupun perorangan yang telah memperoleh
izin dari instansi Pemerintah untuk membuka kegiatan pertambangan
ep
k

diatas tanah milik masyarakat adat, –quad non- Kegiatan usaha


ah

pertambangan, baik itu pertambangan mineral dan batubara maupun


R

si
pertambangan minyak dan gas bumi tidak dapat dilakukan di atas
tanah ulayat sebagaimana Pasal 134 Undang-Undang Nomor 4

ne
ng

Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara yang


berbunyi:

do
“Kegiatan usaha pertambangan tidak dapat dilaksanakan pada
gu

tempat yang dilarang untuk melakukan kegiatan usaha


pertambangan sesuai dengan ketentuan peraturan
In
A

perundang-undangan”;
Selanjutnya, memang di dalam Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009
ah

lik

tentang Pertambangan Mineral dan Batubara tidak merinci maksud


dari “tempat yang dilarang untuk melakukan kegiatan usaha
m

ub

pertambangan sesuai dengan peraturan perundang-undangan”, akan


tetapi pengertian tersebut dapat dilihat pada Pasal 33 Ayat (3) huruf
ka

(a) Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas


ep
ah

es
M

Halaman 26 dari 66 halaman. Putusan Nomor 13 P/HUM/2018


ng

on
gu

d
In
A

Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N
h

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
ik

Email : kepaniteraan@[Link]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 26
am

u b
Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia

ep
[Link]
hk

a
Bumi yang telah secara terang memberikan pengertian secara

si
spesifik, yang berbunyi:
“3) Kegiatan usaha Minyak dan Gas Bumi tidak dapat dilaksanakan

ne
ng
pada:
a. Tempat pemakaman, tempat yang dianggap suci, tempat

do
gu umum, sarana dan prasarana umum, cagar alam, cagar
budaya, serta tanah milik masyarakat adat;
Oleh karena itu, terbukti ketentuan Pasal 10 ayat (2)

In
A
bertentangan dengan Pasal 134 Undang-Undang Nomor 4 Tahun
2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara (Bukti P-8) dan
ah

lik
Pasal 33 ayat (3) Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2001 tentang
Minyak dan Gas Bumi. (Bukti P-9);
am

ub
2. Bahwa Pasal 12 ayat (2) Peraturan Daerah Provinsi Riau Nomor 10
Tahun 2015 tentang Tanah Ulayat Dan Pemanfaatannya
bertentangan dengan Pasal 38 ayat (1) Undang-Undang Nomor 2
ep
k

Tahun 2012 tentang Pengadaan Tanah Bagi Pembangunan Untuk


ah

Kepentingan Umum;
R

si
Bahwa Pasal 12 Ayat (2) Peraturan Daerah Provinsi Riau
Nomor 10 Tahun 2015 tentang Tanah Ulayat dan Pemanfaatannya

ne
ng

yang berbunyi:
“Pemegang hak tanah ulayat berkewajiban melepaskan tanah

do
tersebut yang diperlukan Pemerintah/Pemerintah Daerah untuk
gu

kepentingan umum dengan pemberian ganti kerugian atas


faktor fisik dan ganti kerugian atas faktor nonfisik berdasarkan
In
A

hasil musyawarah dari peraturan perundang-undangan.”;


Berdasarkan dari isi Pasal tersebut di atas, pemegang hak tanah
ah

lik

ulayat (masyarakat adat) senyatanya diwajibkan untuk melepaskan


tanahnya yang akan dipergunakan untuk kepentingan umum. -quad
m

ub

non- pemegang hak ulayat seharusnya dapat menolak untuk


melepaskan hak tanah ulayat, karena tidak ada penjelasan secara
ka

terperinci mengenai maksud “kepentingan umum” dalam Peraturan


ep
ah

es
M

Halaman 27 dari 66 halaman. Putusan Nomor 13 P/HUM/2018


ng

on
gu

d
In
A

Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N
h

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
ik

Email : kepaniteraan@[Link]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 27
am

u b
Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia

ep
[Link]
hk

a
Daerah Provinsi Riau Nomor 10 Tahun 2015 tentang Tanah Ulayat

si
dan Pemanfaatannya;
Selain itu, dalam Pasal 12 ayat (2) Peraturan Daerah Provinsi

ne
ng
Riau Nomor 10 Tahun 2015 tentang Tanah Ulayat dan
Pemanfaatannya, juga tidak memberikan ruang bagi masyarakat adat

do
gu untuk menolak melepaskan tanahnya untuk “kepentingan umum”,
termasuk menolak besaran ganti kerugian. Padahal, menurut
ketentuan di dalam Pasal 38 ayat (1) Undang-Undang Nomor 2

In
A
Tahun 2012 tentang Pengadaan Tanah Bagi Pembangunan Untuk
Kepentingan Umum, yang berbunyi:
ah

lik
“Dalam hal tidak terjadi kesepakatan mengenai bentuk dan/atau
besarnya Ganti Kerugian, Pihak yang Berhak dapat mengajukan
am

ub
keberatan kepada pengadilan negeri setempat dalam waktu paling
lama 14 (empat belas) hari kerja setelah musyawarah penetapan
Ganti Kerugian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 37 ayat (1).”;
ep
k

Mendasarkan pada Pasal tersebut diatas, maka secara nyata


ah

masyarakat adat mempunyai hak untuk mengajukan keberatan


R

si
apabila tidak terjadi kesepakatan mengenai bentuk dan/atau
besarannya ganti kerugian;

ne
ng

Oleh karena itu, terbukti Pasal 12 ayat (2) Peraturan Daerah


Provinsi Riau Nomor 10 Tahun 2015 tentang Tanah Ulayat dan

do
Pemanfaatannya bertentangan dengan Pasal 38 Ayat (1)
gu

Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2012 Tentang Pengadaan Tanah


Bagi Pembangunan Untuk Kepentingan Umum. (Bukti P-10);
In
A

3. Bahwa Pasal 16 Ayat (1) Peraturan Daerah Provinsi Riau Nomor 10


Tahun 2015 tentang Tanah Ulayat Dan Pemanfaatannya
ah

lik

Bertentangan Dengan Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2012 tentang


Pengadaan Tanah Bagi Pembangunan Untuk Kepentingan Umum
m

ub

Dan Peraturan Presiden Nomor 71 Tahun 2012 tentang


Penyelenggaraan Pengadaan Tanah Bagi Pembangunan Untuk
ka

Kepentingan Umum;
ep
ah

es
M

Halaman 28 dari 66 halaman. Putusan Nomor 13 P/HUM/2018


ng

on
gu

d
In
A

Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N
h

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
ik

Email : kepaniteraan@[Link]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 28
am

u b
Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia

ep
[Link]
hk

a
Bahwa Pasal 16 ayat (1) Peraturan Daerah Provinsi Riau

si
Nomor 10 Tahun 2015 Tentang Tanah Ulayat dan Pemanfaatannya,
yang berbunyi:

ne
ng
“Dilarang memindahkan hak Kepemilikan Tanah Ulayat kecuali
untuk kepentingan:

do
gu a. Kepentingan Nasional;
b. Pembangunan di Daerah; dan/atau
c. Kehendak bersama seluruh anggota pesukuan dan atau

In
A
Masyarakat adat berdasarkan ketentuan hukum adat yang
berlaku.”;
ah

lik
Bahwa Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2012 tentang
Pengadaan Tanah Bagi Pembangunan Untuk Kepentingan Umum
am

ub
dan Peraturan Presiden Nomor 71 Tahun 2012 tentang
Penyelenggaraan Pengadaan Tanah Bagi Pembangunan Untuk
Kepentingan Umum tidak menjelaskan secara terang dan rinci definisi
ep
k

tentang Kepentingan Nasional dan Pembangunan di Daerah, namun


ah

hanya menjelaskan tentang “Kepentingan Umum” saja sebagaimana


R

si
ketentuan pada Pasal 1 angka (6) Undang-Undang Nomor 2 Tahun
2012 tentang Pengadaan Tanah Bagi Pembangunan Untuk

ne
ng

Kepentingan Umum yang berbunyi:


“6) Kepentingan umum adalah kepentingan bangsa, Negara, dan

do
masyarakat yang harus diwujudkan oleh pemerintah dan
gu

digunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat.”;


dan Pasal 1 angka (6) Peraturan Presiden Nomor 71 Tahun 2012
In
A

tentang Penyelenggaraan Pengadaan Tanah Bagi Pembangunan


Untuk Kepentingan Umum yang berbunyi:
ah

lik

“6) Kepentingan Umum adalah kepentingan bangsa, negara, dan


masyarakat yang harus diwujudkan oleh pemerintah dan
m

ub

digunakan sebesar-besarnya suatu kemakmuran rakyat.”;


Seharusnya Peraturan Daerah Provinsi Riau Nomor 10 Tahun
ka

2015 tentang Tanah Ulayat dan Pemanfaatannya harus memberikan


ep

definisi yang jelas terhadap “Kepentingan Nasional dan


ah

es
M

Halaman 29 dari 66 halaman. Putusan Nomor 13 P/HUM/2018


ng

on
gu

d
In
A

Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N
h

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
ik

Email : kepaniteraan@[Link]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 29
am

u b
Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia

ep
[Link]
hk

a
Pembangunan di daerah” karena peraturan perundang-undangan

si
yang lebih tinggi hanya menjelaskan pengertian “kepentingan umum”
agar tidak terjadi kesalahpahaman ataupun multitafsir;

ne
ng
Selain itu, apabila pengertian “pembangunan di daerah”
diartikan secara luas, maka mencakup juga pembangunan (untuk

do
gu kepentingan) swasta di daerah, yang seharusnya tidak termasuk pada
kategori “kepentingan umum” sebagaimana ketentuan Pasal 10
Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2012 tentang Pengadaan Tanah

In
A
Bagi Pembangunan Untuk Kepentingan Umum yang berbunyi:
“Tanah untuk Kepentingan Umum sebagaimana dimaksud dalam
ah

lik
Pasal 4 ayat (1) digunakan untuk pembangunan:
a. Pertahanan dan keamanan nasional;
am

ub
b. Jalan umum, jalan tol, terowongan, jalur kereta api, stasiun
kereta api, dan fasilitas operasi kereta api;
c. Waduk, bendungan, bendung, irigasi, saluran air minum,
ep
k

saluran pembuangan air dan sanitasi, dan bangunan


ah

pengairan lainnya;
R

si
d. Pelabuhan, bandar udara, dan terminal;
e. Infrastruktur minyak, gas, dan panas bumi;

ne
ng

f. Pembangkit, transmisi, gardu, jaringan, dan distribusi tenaga


listrik;

do
g. Jaringan telekomunikasi dan informatika pemerintah;
gu

h. Tempat pembuangan dan pengolahan sampah;


i. Rumah sakit pemerintah/pemerintah daerah;
In
A

j. Fasilitas keselamatan umum;


k. Tempat pemakaman umum pemerintah/pemerintah daerah;
ah

lik

l. Fasilitas sosial, fasilitas umum, dan ruang terbuka hijau


publik;
m

ub

[Link] alam dan cagar budaya;


n. Kantor pemerintah/pemerintah daerah/desa;
ka

ep
ah

es
M

Halaman 30 dari 66 halaman. Putusan Nomor 13 P/HUM/2018


ng

on
gu

d
In
A

Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N
h

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
ik

Email : kepaniteraan@[Link]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 30
am

u b
Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia

ep
[Link]
hk

a
o. Penataan permukiman kumuh perkotaan dan/atau konsolidasi

si
tanah, serta perumahan untuk masyarakat berpenghasilan
rendah dengan status sewa;

ne
ng
p. Prasarana pendidikan atau sekolah pemerintah/ pemerintah
daerah;

do
gu q. Prasarana olahraga pemerintah/pemerintah daerah; dan
r. Pasar umum dan lapangan parkir umum;
Oleh karena itu, terbukti ketentuan Pasal 16 ayat (1)

In
A
Peraturan Daerah Provinsi Riau Nomor 10 Tahun 2015 tentang
Tanah Ulayat Dan Pemanfaatannya bertentangan dengan
ah

lik
Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2012 tentang Pengadaan Tanah
Bagi Pembangunan Untuk Kepentingan Umum dan Peraturan
am

ub
Presiden Nomor 71 Tahun 2012 Tentang Penyelenggaraan
Pengadaan Tanah Bagi Pembangunan Untuk Kepentingan Umum.
(Bukti P-11)
ep
k

4. Bahwa Pasal 10 Peraturan Daerah Provinsi Riau Nomor 10 Tahun


ah

2015 Tentang Tanah Ulayat Dan Pemanfaatannya Bertentangan


R

si
Dengan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 Tentang Peraturan
Dasar Pokok-Pokok Agraria;

ne
ng

Bahwa Pasal 10 Peraturan Daerah Provinsi Riau Nomor 10


Tahun 2015 Tentang Tanah Ulayat Dan Pemanfaatannya, yang

do
berbunyi:
gu

“Objek Tanah Ulayat meliputi tanah, bukit, hutan, rimba dan


perairan dan/atau pesisir pantai, sungai, anak sungai, suak,
In
A

Kuala Sungai sampai Muara sungai, danau, tasik, telaga, yang


dikuasai oleh persukuan dan/atau masyarakat hukum adat
ah

lik

setempat, termasuk benda-benda yang ada diatasnya, kecuali


bahan tambang berat yang ada di dalam Bumi.”;
m

ub

Bahwa objek tanah ulayat yang dirinci di dalam Peraturan Daerah


Provinsi Riau tersebut di atas, seharusnya tidak sebatas hanya yang
ka

ada dipermukaan bumi saja tetapi juga yang ada di dalam bumi
ep

sepanjang tidak bertentangan dengan kepentingan negara;


ah

es
M

Halaman 31 dari 66 halaman. Putusan Nomor 13 P/HUM/2018


ng

on
gu

d
In
A

Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N
h

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
ik

Email : kepaniteraan@[Link]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 31
am

u b
Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia

ep
[Link]
hk

a
Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi Riau bersama

si
Pemerintah Daerah Provinsi Riau seharusnya memahami bahwa apa
yang telah dirinci berkenaan objek tanah ulayat itu telah bertentangan

ne
ng
dengan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan
Dasar Pokok-Pokok Agraria, karena apabila melihat dan memahami

do
gu definisi Bumi yang terdapat di dalam Pasal 1 angka (4)
Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar
Pokok-Pokok Agraria, yang berbunyi:

In
A
“Dalam pengertian bumi, selain permukaan bumi, termasuk pula
tubuh bumi di bawahnya serta yang berada di bawah air”
ah

lik
adanya “Pengecualian” terhadap objek tanah ulayat merupakan
kekeliruan yang nyata yang terdapat pada Peraturan Daerah Provinsi
am

ub
a quo;
Selain itu, Peraturan Daerah Provinsi Riau Nomor 10 Tahun
2015 tentang Tanah Ulayat Dan Pemanfaatannya terlihat
ep
k

menitikberatkan pada adanya bahan tambang yang ada di dalam


ah

bumi, padahal seharusnya terbitnya Peraturan Daerah a quo lebih


R

si
memfokuskan pada manfaaat dan tujuan pengaturan tanah ulayat
dan pemanfaatannya, yaitu untuk tetap melindungi keberadaan tanah

ne
ng

ulayat menurut hukum adat di Provinsi Riau serta memberikan


perlindungan Hukum, menjamin pelestarian dan pemanfaatan tanah

do
ulayat sebagaimana ketentuan Pasal 3 dan 4 Peraturan Daerah
gu

Provinsi Riau Nomor 10 Tahun 2015 tentang Tanah Ulayat Dan


Pemanfaatannya, yang berbunyi:
In
A

Pasal 3
1) Manfaat Sosial, menjadi prasarana/sarana sosial untuk
ah

lik

kepentingan anggota pesukuan;


2) Manfaat ekonomis menjadi modal utama dalam kegiatan
m

ub

ekonomi persukuan, daerah dan negara;


3) Budaya, sebagai sarana Pengembangan Kebudayaan
ka

Tradisional masyarakat hukum adat;


ep
ah

es
M

Halaman 32 dari 66 halaman. Putusan Nomor 13 P/HUM/2018


ng

on
gu

d
In
A

Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N
h

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
ik

Email : kepaniteraan@[Link]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 32
am

u b
Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia

ep
[Link]
hk

a
4) Manfaat ekologis, sebagai cagar alam pelestarian dan

si
Lingkungan Hidup;
Pasal 4

ne
ng
“Tujuan pengaturan tanah ulayat dan pemanfaatannya adalah untuk
tetap melindungi keberadaan tanah ulayat menurut hukum adat di

do
gu Provinsi Riau serta memberikan perlindungan Hukum, menjamin
pelestarian dan pemanfaatan tanah ulayat.”;
Oleh karena itu, terbukti Pasal 10 Peraturan Daerah Provinsi

In
A
Riau Nomor 10 Tahun 2015 tentang Tanah Ulayat Dan
Pemanfaatannya bertentangan dengan Undang-Undang Nomor 5
ah

lik
Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria. (Bukti
P-12);
am

ub
Selanjutnya diketahui bahwa dalam perkara Putusan Nomor:
15 P/HUM/2009 Makamah Agung secara jelas menyebutkan dalam
putusannya “Memerintahkan Komisi Pemilihan Umum untuk
ep
k

melakukan revisi Keputusan KPU Nomor.....................” (Bukti P-13);


ah

Bahwa berdasarkan hal tersebut di atas, selanjutnya Pemohon


R

si
mohon kepada Ketua Mahkamah Agung berkenan memeriksa permohonan
dan memutuskan:

ne
ng

1. Menerima dan mengabulkan permohonan Para Pemohon untuk


seluruhnya;

do
gu

2. Menyatakan Pasal 1 angka 11 dan 13; Pasal 10 ayat (1); Pasal 11;
Pasal 16 ayat (1); Pasal 19; Pasal 20 ayat (2) Peraturan Daerah
Provinsi Riau Nomor 10 Tahun 2015 tentang Tanah Ulayat dan
In
A

Pemanfaatannya tidak sah dan bertentangan dengan peraturan


perundang-undangan yang lebih tinggi dan tidak mempunyai kekuatan
ah

lik

hukum mengikat serta tidak berlaku untuk umum;


3. Memerintahkan Gubernur Provinsi Riau untuk mencabut ketentuan
m

ub

Pasal 1 angka 11 dan 13; Pasal 10 ayat (1); Pasal 11; Pasal 16 ayat
(1); Pasal 19; Pasal 20 ayat (2) Peraturan Daerah Provinsi Riau Nomor
ka

10 Tahun 2015 tentang Tanah Ulayat dan Pemanfaatannya;


ep
ah

es
M

Halaman 33 dari 66 halaman. Putusan Nomor 13 P/HUM/2018


ng

on
gu

d
In
A

Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N
h

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
ik

Email : kepaniteraan@[Link]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 33
am

u b
Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia

ep
[Link]
hk

a
4. Memerintahkan Gubernur Provinsi Riau dan DPRD Provinsi Riau untuk

si
melakukan revisi terhadap Peraturan Daerah Provinsi Riau Nomor 10
Tahun 2015 tentang Tanah Ulayat dan Pemanfaatannya dalam Pasal

ne
ng
sebagai berikut:
 Dalam Pasal 1 angka 11 terkait dengan pendefinisian tanah ulayat;

do
gu  Dalam Pasal 10 ayat (1) sepanjang frasa kecuali bahan tambang
berat yang berada di dalam bumi;
 Dalam Pasal 11 sepanjang frasa ayat (2) hingga ayat (5);

In
A
 Pasal 16 ayat (1) sepanjang frasa pada huruf a dan b;
 Pasal 19 terkait dengan penerapan sanksi pidana;
ah

lik
 Pasal 20 ayat (2) sepanjang frasa dan/atau pemutihan kepemilikan
tanah ulayat;
am

ub
5. Memerintahkan Gubernur Provinsi Riau untuk memuat putusan ini
dalam Lembaran Daerah Provinsi Riau;
Apabila Majelis Hakim Mahkamah Agung berpendapat lain, mohon
ep
k

putusan yang seadil-adilnya (ex aequo et bono);


ah

Menimbang, bahwa untuk menguatkan dalil-dalil permohonannya,


R

si
Pemohon telah mengajukan surat-surat bukti berupa:
1. Fotokopi identitas Para Pemohon.

ne
ng

(Bukti P-1);
2. Fotokopi Peraturan Daerah Provinsi Riau Nomor 10 Tahun 2015 tentang

do
Tanah Ulayat dan Pemanfaatannya. (Bukti P-2);
gu

3. Fotokopi Peraturan Daerah Kabupaten Kampar Nomor 12 Tahun 1999


tentang Hak Tanah Ulayat. (Bukti P-3);
In
A

4. Fotokopi Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 35/PUU-X/2012, tanggal


16 Mei 2013 (Bukti P-4);
ah

lik

5. Fotokopi Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan


Peraturan Perundang-Undangan. (Bukti P-5);
m

ub

6. Fotokopi Jurnal Mahkamah Konstitusi dengan judul Konstitusionalitas


Norma Sanksi Pidana Sebagai Ultimum Remedium Dalam Pembentukan
ka

Perundang-Undangan. (Bukti P-6);


ep
ah

es
M

Halaman 34 dari 66 halaman. Putusan Nomor 13 P/HUM/2018


ng

on
gu

d
In
A

Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N
h

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
ik

Email : kepaniteraan@[Link]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 34
am

u b
Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia

ep
[Link]
hk

a
7. Fotokopi Risalah Sidang Perkara Nomor 4/PUU-V/2007, perihal:

si
Pengujian Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2004 tentang Praktik
Kedokteran terhadap Undang-Undang Dasar 1945. (Bukti P-7);

ne
ng
8. Fotokopi Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan
Mineral dan Batubara. (Bukti P-8);

do
gu 9. Fotokopi Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2001 tentang Minyak dan
Gas Bumi. (Bukti P-9);
10. Fotokopi Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2012 tentang Pengadaan

In
A
Tanah Bagi Pembangunan Untuk Kepentingan Umum. (Bukti P-10);
11. Fotokopi Peraturan Presiden Nomor 71 Tahun 2012 tentang
ah

lik
Penyelenggaraan Pengadaan Tanah Bagi Pembangunan Untuk
Kepentingan Umum. (Bukti P-11);
am

ub
12. Fotokopi Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan
Dasar Pokok-Pokok Agraria. (Bukti P-12);
13. Fotokopi Putusan Makamah Agung Republik Indonesia Nomor 15
ep
k

P/HUM/2009, tanggal 18 Juni 2009. (Bukti P-13);


ah

Menimbang, bahwa permohonan keberatan hak uji materiil tersebut


R

si
telah disampaikan kepada Termohon I, II masing-masing pada tanggal 26
Februari 2018 berdasarkan Surat Panitera Muda Tata Usaha Negara

ne
ng

Mahkamah Agung Nomor 13/PER-PSG/II/13 P/HUM/2018, tanggal 26


Februari 2018;

do
gu

Menimbang, bahwa terhadap permohonan Pemohon tersebut,


Termohon I telah mengajukan jawaban tertulis pada tanggal 13 Maret 2018,
yang pada pokoknya atas dalil-dalil tersebut sebagai berikut:
In
A

1. Bahwa salinan permohonan Keberatan Hak Uji Materiil oleh Pemohon


terhadap Peraturan Daerah Provinsi Riau Nomor 10 Tahun 2015, tanggal
ah

lik

23 Desember 2015 tentang Hak Ulayat dan Pemanfaatannya, secara


resmi baru diterima oleh Termohon I/Gubernur Riau pada tanggal 2 Maret
m

ub

2018. Berdasarkan ketentuan Pasal 3 ayat (4) Peraturan Mahkamah


Agung Republik Indonesia Nomor 01 Tahun 2011 tentang Hak Uji Materiil
ka

ep

yang berbunyi: “Termohon wajib mengirim atau menyerahkan jawabannya


kepada Panitera Mahkamah Agung dalam waktu 14 (empat belas) hari
ah

es
M

Halaman 35 dari 66 halaman. Putusan Nomor 13 P/HUM/2018


ng

on
gu

d
In
A

Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N
h

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
ik

Email : kepaniteraan@[Link]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 35
am

u b
Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia

ep
[Link]
hk

a
sejak diterima salinan permohonan tersebut”, maka penyampaian

si
jawaban Termohon I terhadap Permohonan Keberatan Hak Uji Materiil
Pemohon masih dalam tenggang waktu yang diberikan oleh Peraturan

ne
ng
Mahkamah Agung Nomor 01 Tahun 2011 tentang Hak Uji Materiil;
2. Bahwa dalam gugatan a quo, Para Pemohon telah menguasakan kepada

do
gu d.a:
1) Aditia Bagus Santoso, S.H.;
2) Andi Wijaya, S.H.;

In
A
3) Samuel Sandy Giardo Purba, S.H.;
4) Ronald Siahaan, S.H., M.H.;
ah

lik
5) Boy Jerry Sembiring, S.H., M.H.;
3. Bahwa permohonan keberatan hak uji materiil terhadap Peraturan Daerah
am

ub
Provinsi Riau Nomor 10 Tahun 2015 tentang Tanah Ulayat dan
Pemanfaatannya terhadap peraturan diatasnya, antara lain:
1) Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan
ep
k

Peraturan Perundang-undangan;
ah

2) Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral


R

si
dan Batubara;
3) Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2011 tentang Minyak, Gas dan

ne
ng

Bumi;
4) Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2012 tentang Pengadaan Tanah

do
untuk Kepentingan Umum;
gu

5) Peraturan Presiden Nomor 71 Tahun 2012 tentang Penyelenggaraan


Pengadaan Tanah Bagi Pembangunan untuk Kepentingan Umum;
In
A

6) Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar


Pokok-Pokok Agraria;
ah

lik

1. Bahwa Termohon I telah berupaya optimal dalam menyelenggarakan tata


kelola pemerintahan yang baik dalam bingkai Clean Government dan
m

ub

Good Governance sesuai dengan Asas-Asas Umum Pemerintahan Yang


Baik (algemene beginselen van behoorlijk bestuur) dan mengedepankan
ka

ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku, sebagaimana


ep

dimaksud Pasal 242 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang


ah

es
M

Halaman 36 dari 66 halaman. Putusan Nomor 13 P/HUM/2018


ng

on
gu

d
In
A

Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N
h

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
ik

Email : kepaniteraan@[Link]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 36
am

u b
Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia

ep
[Link]
hk

a
Pemerintah Daerah (bukti-1) juncto Peraturan Menteri Dalam Negeri

si
Nomor 1 Tahun 2014 tentang Pembentukan Produk Hukum Daerah
(bukti-2), sebagai manifestasi pembinaan dan pengawasan terhadap

ne
ng
pelaksanaan otonomi daerah. Bahwa dalam aturan tersebut Kementerian
Dalam Negeri melakukan klarifikasi terhadap rancangan peraturan daerah

do
gu dan sepantasnya Pemohon harus juga melibatkan Menteri Dalam Negeri
RI sebagai Para Pihak dalam gugatan a quo, yang berakibat gugatan a
quo dianggap kurang pihak atau Error in Persona dan tidak memenuhi

In
A
syarat formil karena gugatan a quo dikualifikasi mengadung cacat formil
dan selayaknya gugatan a quo dinyatakan tidak dapat diterima (niet
ah

lik
ontvankelijk verklaard);
2. Bahwa Termohon I membantah semua dalil Pemohon terkait telah
am

ub
terpenuhinya ketentuan Pasal 31 A Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2009
tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1985
tentang Mahkamah Agung, perlu Termohon I sampaikan mengenai
ep
k

kedudukan hukum (legal standing) dari Para Pemohon:


ah

a. Bahwa Pasal 31 A ayat (2) huruf b Undang-Undang Nomor 3 Tahun


R

si
2009 tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 14
Tahun 1985 tentang Mahkamah Agung menyebutkan: “Permohonan

ne
ng

sebagaimana dimaksud pada ayat (1) hanya dapat dilakukan oleh


pihak yang menganggap haknya dirugikan adalah Kesatuan

do
gu

Masyarakat Hukum Adat sepanjang masih hidup dan sesuai


perkembangan masyarakat dan prinsip Negara Kesatuan Republik
Indonesia yang diatur dalam Undang-Undang, senyatanya Para
In
A

Pemohon tidak menyampaikan secara jelas dan terperinci di dalam


gugatan a quo, dalam hal kerugian apa saja yang secara langsung
ah

lik

dirasakan oleh Para Pemohon terkait dengan berlakunya Peraturan


Daerah Nomor 10 Tahun 2015 tentang Tanah Ulayat dan
m

ub

Pemanfaatannya, yang berakibat gugatan a quo menjadi kabur


(obscuur libel) dan selayaknya gugatan a quo tidak dapat
ka

diterima.(niet ontvankelijk verklaard);


ep
ah

es
M

Halaman 37 dari 66 halaman. Putusan Nomor 13 P/HUM/2018


ng

on
gu

d
In
A

Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N
h

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
ik

Email : kepaniteraan@[Link]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 37
am

u b
Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia

ep
[Link]
hk

a
b. Bahwa di dalam gugatan a quo Pemohon I atas nama Himyul

si
Wahyudi mendalilkan sebagai masyarakat hukum adat Kenegerian
Batu Sanggan, Kabupaten Kampar, Pemohon II atas nama Supriadi

ne
ng
mendalilkan sebagai masyarakat hukum adat Talang Mamak yang
berada di Kabupaten Indragiri Hulu, Pemohon III atas nama Darwin

do
gu mendalilkan sebagai Penghubung Masyarakat Adat Talang Mamak,
Kabupaten Indragiri Hulu, tidak mencantumkan identitas secara jelas,
yaitu tentang domisili atau alamat berdasarkan Kartu Tanda

In
A
Penduduk secara jelas, yaitu tentang domisili atau alamat
berdasarkan Kartu Tanda Penduduk Para Pemohon sesuai KTP
ah

lik
berdasarkan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2013 tentang
Administrasi Kependudukan. Bahwa berdasarkan ketentuan Pasal 31
am

ub
A ayat (3) huruf a Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2009 tentang
Perubahan Kedua atas Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1985
tentang Mahkamah Agung, menyebutkan: Permohonan
ep
k

sekurang-kurangnya harus memuat nama dan alamat Para Pemohon,


ah

yang berakibat gugatan a quo tidak memenuhi syarat formiil sehingga


R

si
menjadi kabur (obscuur libel) dan selayaknya gugatan a quo
dinyatakan tidak dapat diterima. (niet ontvankelijk verklaard);

ne
ng

c. Bahwa di dalam gugatan a quo Himyul Wahyudi sebagai Pemohon I,


tidak secara terang menjelaskan benar secara hukum merupakan

do
bagian dari Masyarakat Hukum Adat Kenegerian Batu Sanggan
gu

Kabupaten Kampar, begitu juga halnya dengan Supriadi sebagai


Pemohon II, yang tidak secara terang menjelaskan benar secara
In
A

hukum merupakan bagian dari Masyarakat Hukum Adat Talang


Mamak yang berada di Kabupaten Indragiri Hulu, Darwin sebagai
ah

lik

Pemohon III, yang juga tidak secara terang menjelaskan benar secara
hukum merupak Batin Penghubung Masyarakat Hukum Adat Talang
m

ub

Mamak, Kabupaten Indragiri Hulu, dimana dalam gugatan a quo


kapasitas Para Pemohon tidak memenuhi unsur sebagai subjek
ka

hukum karena seharusnya mendapatkan kuasa dari anggota


ep

Persukuan yang haknya secara komunal (tidak secara personal) akan


ah

es
M

Halaman 38 dari 66 halaman. Putusan Nomor 13 P/HUM/2018


ng

on
gu

d
In
A

Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N
h

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
ik

Email : kepaniteraan@[Link]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 38
am

u b
Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia

ep
[Link]
hk

a
dilanggar ketika Peraturan Daerah Provinsi Riau Nomor 10 Tahun

si
2015 tentang Tanah Ulayat dan Pemanfaatannya diterapkan, yang
berakibat gugatan a quo menjadi kabur (obscuur libel) dan selayaknya

ne
ng
gugatan a quo dinyatakan tidak dapat diterima.(niet ontvankelijk
verklaard);

do
gu d. Bahwa berdasarkan poin-poin di atas perlu kiranya diragukan status
Para Pemohon sebagai masyarakat hukum adat yang berakibat
gugatan a quo menjadi kabur (obscuur libel) dan selayaknya gugatan

In
A
a quo tidak dapat diterima.(niet ontvankelijk verklaard);
Dalam Pokok Perkara;
ah

lik
Jawaban Termohon I Terhadap Dalil Para Pemohon Mengenai
Peraturan Daerah Provinsi Riau Nomor 10 Tahun 2015 Tentang Tanah
am

ub
Ulayat Dan Pemanfaatannya Bertentangan Dengan Undang-Undang Nomor
12 Tahun 2011 Tentang Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan;
1. Bahwa Termohon I membantah semua dalil Pemohon terkait tentang
ep
k

Pasal 1 angka (11) dan Pasal 1 angka (13) Peraturan Daerah Nomor 10
ah

Tahun 2015 tentang Tanah Ulayat dan Pemanfaatannya, yang


R

si
menimbulkan banyak kebingungan atau multitafsir adalah keliru dan
sangat menyesatkan. Adapun pada Pasal 1 angka (11) dan Pasal 1

ne
ng

angka (13) Peraturan Daerah Nomor 10 Tahun 2015 tentang Tanah


Ulayat dan Pemanfaatannya, telah mendefinisikan secara jelas, yaitu:

do
a. Pasal 1 angka (11) Peraturan Daerah Nomor 10 Tahun 2015 tentang
gu

Tanah Ulayat dan Pemanfaatannya yang menyatakan bahwa “Tanah


Ulayat adalah bidang tanah yang berada dalam lingkup hak ulayat
In
A

suatu masyarakat hukum adat tertentu.”;


b. Pasal 1 angka (13) Peraturan Daerah Nomor 10 Tahun 2015 tentang
ah

lik

Tanah Ulayat dan Pemanfaatannya yang menyatakan bahwa “Tanah


adat adalah tanah milik persukuan yang penguasaannya diatur
m

ub

menurut hukum adat.”;


Dalam pendefinisian pasal-pasal tersebut di atas secara jelas tidak
ka

bertentangan, Tanah Adat adalah tanah yang telah dimiliki oleh


ep

persukuan tertentu sedangkan Tanah Ulayat adalah tanah yang berada


ah

es
M

Halaman 39 dari 66 halaman. Putusan Nomor 13 P/HUM/2018


ng

on
gu

d
In
A

Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N
h

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
ik

Email : kepaniteraan@[Link]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 39
am

u b
Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia

ep
[Link]
hk

a
dalam lingkup hak ulayat, yaitu masyarakat adat yang terdiri dari berbagai

si
suku/persukuan. Sehingga dengan demikian jika dipahami secara
seksama maka penjelasan Tanah Ulayat dan Tanah Adat sudah sangat

ne
ng
terang dan jelas, yang berakibat gugatan a quo menjadi kabur (obscuur
libel) dan selayaknya gugatan a quo dinyatakan tidak dapat diterima (niet

do
gu ontvenkelijk verklaard);
Bahwa dalil gugatan a quo halaman 14 poin 3) tentang pendefinisian
bahan tambang berat yang dicantumkan pada Pasal 10 ayat (1) Peraturan

In
A
Daerah Provinsi Riau Nomor 10 Tahun 2015 tentang Tanah Ulayat dan
Pemanfaatannya, halaman 15 poin 4) tentang pendefinisian pihak
ah

lik
pemakai atau pengelola yang tercantum pada Pasal 11 ayat (4) Peraturan
Daerah Provinsi Riau Nomor 10 Tahun 2015 tentang Tanah Ulayat dan
am

ub
Pemanfaatannya, halaman 15 poin 5) tentang pendefinisian kepentindan
nasional dan pembangunan di daerah yang tercantum pada Pasal 16 ayat
(1) Peraturan Daerah Provinsi Riau Nomor 10 Tahun 2015 tentang Tanah
ep
k

Ulayat dan Pemanfaatannya, halaman 15 poin 6) tentang pendefinisian


ah

pemutihan kepemilikan tanah ulayat yang tercantum pada Pasal 20 ayat


R

si
(2) huruf (b) Peraturan Daerah Provinsi Riau Nomor 10 Tahun 2015
tentang Tanah Ulayat dan Pemanfaatannya. Pihak Pemohon menyatakan

ne
ng

bahwa definisi yang terkandung dari pasal di atas senyatanya tidak


memiliki definisi yang jelas. Termohon I menolak dalil-dalil yang

do
disampaikan Para Pemohon tentang pendefinisian, dengan alasan di
gu

dalam Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 (bukti-3) tentang


Pembentukan Peraturan Perundang-undangan lampiran II angka 98 huruf
In
A

(a) yang menyatakan bahwa “ketentuan umum berisi batasan pengertian


atau definisi dan di dalam angka 102 yang menyatakan bahwa “kata atau
ah

lik

istilah yang dimuat dalam ketentuan umum hanyalah kata atau istilah
yang digunakan berulang-ulang di dalam pasal atau beberapa pasal
m

ub

selanjutnya”, sementara poin-poin di atas merupakan bukan kata atau


istilah yang digunakan berulang-ulang, sehingga tidak perlu dijelaskan
ka

dan didefinisikan dalam Peraturan Daerah Provinsi Riau Nomor 10 Tahun


ep

2015, yang berakibat gugatan a quo menjadi kabur (obscuur libel) dan
ah

es
M

Halaman 40 dari 66 halaman. Putusan Nomor 13 P/HUM/2018


ng

on
gu

d
In
A

Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N
h

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
ik

Email : kepaniteraan@[Link]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 40
am

u b
Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia

ep
[Link]
hk

a
selayaknya gugatan a quo dinyatakan tidak dapat diterima.(niet

si
ontvankelijk verklaard);
2. Bahwa Termohon I menolak dalil Para Pemohon yang disampaikan pada

ne
ng
halaman 15 poin 4) dalam gugatan a quo menyatakan bahwa Pasal 11
ayat (4), perlu menjelaskan siapa pihak pemakai atau pengelola.

do
gu Termohon I berpendapat bahwa Para Pemohon harus memahami
Peraturan Daerah Nomor 10 Tahun 2015 tentang Tanah Ulayat dan
Pemanfaatannya secara menyeluruh, pasal demi pasal secara utuh dan

In
A
tidak parsial agar dapat untuk dipahami, karena pasal demi pasal dalam
Peraturan Daerah Nomor 10 Tahun 2015 tentang Tanah Ulayat dan
ah

lik
Pemanfaatannya memiliki kaitan satu sama lain;
Bahwa yang dimaksud pemakai atau pengelola dalam Pasal 11 ayat (4)
am

ub
dalam Peraturan Daerah a quo adalah pihak lain yang disebutkan dalam
Pasal 11 ayat (3), kemudian pihak lain itu dijelaskan dalam Pasal 11 ayat
(5), yaitu:
ep
k

“pelaksanaan ketentuan pada ayat (3) dapat dilakukan setelah badan


ah

hukum atau perorangan yang memerlukan tanah ulayat, memperoleh izin


R

si
lokasi guna kesesuaian penggunaan tanah dengan rencana tata ruang
wilayah dari pemerintah setempat sesuai kewenangannya.”;

ne
ng

Adapun yang dimaksud pihak pemakai atau pengelola yang disebutkan


dalam Pasal 11 ayat (4) Peraturan Daerah a quo adalah “Badan Hukum

do
atau Perorangan” yang tercantum dalam Pasal 11 ayat (5) Peraturan
gu

Daerah a quo. Oleh karena itu Termohon I berpendapat tidak perlu ada
penjelasan khusus tekait pihak pengelola atau pemakai seperti yang
In
A

disampaikan dalam gugatan a quo menjadi kabur (obscuur libel) dan


selayaknya gugata a quo dinyatakan tidak dapat diterima (niet ontvankelijk
ah

lik

verklaard);
3. Bahwa Termohon I menolak dalil yang disampaikan Para Pemohon pada
m

ub

halaman 17 poin 2 dalam gugatan a quo, pemohon mendalilkan bahwa


Pasal 19 Peraturan Daerah a quo sanksi pidana yang diterapkan merujuk
ka

pada Pasal 11 ayat (1), (2), (3), (4), dan (6) Peraturan Daerah Nomor 5
ep

Tahun 2015 tentang Tanah Ulayat dan Pemanfaatannya, dimana di lihat


ah

es
M

Halaman 41 dari 66 halaman. Putusan Nomor 13 P/HUM/2018


ng

on
gu

d
In
A

Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N
h

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
ik

Email : kepaniteraan@[Link]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 41
am

u b
Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia

ep
[Link]
hk

a
dari rumusan pasalnya, maka pasal tersebut menjerat orang-orang yang

si
melanggar ketentuan pada Pasal 11 tersebut, adapun unsur “orang”
dalam “deliknya” tersebut sebenarnya tertuang di dalam Pasal 11 ayat (5)

ne
ng
Peraturan Daerah Nomor 5 Tahun 2015 tentang Tanah Ulayat dan
Pemanfaatannya yang berbunyi: “pelaksanaan ketentuan pada ayat (3)

do
gu dapat dilakukan setelah badan hukum atau perorangan yang memerlukan
tanah ulayat, memperoleh izin lokasi guna kesesuaian penggunaan tanah
dengan rencana tata ruang wilayah dari pemerintah setempat sesuai

In
A
kewenangannya.” Sehingga subjek hukum yang dimaksud adalah badan
hukum atau perorangan yang memperoleh izin lokasi dari pemerintah
ah

lik
setempat. Dalam dalil gugatan a quo tampak jelas bawha Para Pemohon
hanya membaca sebagian dari pasal-pasal yang ada dalam peraturan
am

ub
daerah a quo;
Penerapan sanksi pidana sebagaimana pada ketentuan Pasal 19
Peraturan Daerah a quo dalam proses pembentukannya telah melalui
ep
k

kajian panjang baik yuridis maupun empiris, dan telah sesuai dengan
ah

maksud dari Pasal 238 ayat (1), ayat (2), dan ayat (3) Undang-Undang
R

si
Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintah Daerah yang menyebutkan:
(1) Perda dapat memuat ketentuan tentang pembebanan biaya paksaan

ne
ng

penegakan/pelaksanaan Perda seluruhnya atau sebagian kepada


pelanggar sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan;

do
gu

(2) Perda dapat memuat ancaman pidana kurungan paling lama 6 (enam)
bulan atau denda paling banyak Rp50.000.000,00 (lima puluh juta
In
A

rupiah);
(3) Perda dapat memuat ancaman pidana kurungan atau pidana denda
ah

lik

selain sebagaimana dimaksud pada ayat (2) sesuai dengan ketentuan


peraturan perundang-undangan;
m

ub

Bahwa Pasal 238 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 dalam


produk Peraturan Daerah, ancaman pidana kurungan atau sanksi denda,
ka

sanksi yang bersifat mengembalikan pada keadaan semula, dan sanksi


ep

administratif. Fenomena pencantuman sanksi pidana pada Peraturan


ah

es
M

Halaman 42 dari 66 halaman. Putusan Nomor 13 P/HUM/2018


ng

on
gu

d
In
A

Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N
h

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
ik

Email : kepaniteraan@[Link]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 42
am

u b
Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia

ep
[Link]
hk

a
Daerah, di samping untuk menegakkan efektifitas Peraturan Daerah yang

si
dibuat, juga disesuaikan dengan keselarasan dan proposionalitas bahwa
pelanggar Peraturan Daerah dapat/layak diberi sanksi pidana;

ne
ng
Bahwa pembentukan Peraturan Daerah a quo didalamnya juga
mengatur tentang sanksi pidana, adapun dalam Negara Hukum yang

do
gu demokratis sesungguhnya pencantuman sanksi merupakan faktor
penengah (detterent factor) agar warga masyarakat dapat lebih mengerti
bahwa pelanggaran terhadap Peraturan Daerah pun, dapat dipidana.

In
A
Sanksi pidana dalam Peraturan Daerah merupakan sanksi ringan, dan
secara implisit hakim dapat bahkan wajib memilih bentuk sanksi yang
ah

lik
memenuhi rasa keadilan masyarakat;
Berdasarkan penjelasan di atas, Termohon memohon kepada Yang
am

ub
Mulia Ketua/Majelis Hakim Mahkamah Agung yang memeriksa, memutus
dan mengadili permohonan Pemohon, dapat memberikan putusan sebagai
berikut:
ep
k

1. Menyatakan gugatan a quo kurang pihak (Plurium Litis Consortium) atau


ah

Error In Persona;
R

si
2. Menyatakan bahwa Pemohon tidak mempunyai kedudukan hukum (legal
standing) atau;

ne
ng

3. Menolak permohonan pengujian Uji Materil Pemohon untuk seluruhnya


atau setidak-tidaknya menyatakan permohonan pengujian uji materiil

do
Pemohon tidak dapat diterima (niet ontvankelijk verklaard);
gu

4. Menerima jawaban Termohon secara keseluruhan;


5. Menyatakan ketentuan Pasal 1 angka 11 dan angka 13, Pasal 10, Pasal
In
A

16 ayat (1), Pasal 19, Pasal 20 ayat (2) Peraturan Daerah Provinsi Riau
Nomor 10 Tahun 2015 tidak bertentangan dengan Peraturan
ah

lik

Perundang-undangan diatasnya;
6. Menyatakan sah dan tetap berlaku Peraturan Daerah Provinsi Riau
m

ub

Nomor 10 Tahun 2015 tentang Tanah Ulayat dan Pemanfaatannya


(Lembaran Daerah Provinsi Riau Nomor 1 Tahun 2013);
ka

ep
ah

es
M

Halaman 43 dari 66 halaman. Putusan Nomor 13 P/HUM/2018


ng

on
gu

d
In
A

Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N
h

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
ik

Email : kepaniteraan@[Link]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 43
am

u b
Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia

ep
[Link]
hk

a
Namun demikian, apabila Yang Mulia Ketua/Majelis Hakim

si
Mahkamah Agung berpendapat lain, mohon putusan yang bijaksana dan
seadil-adilnya (ex aquo et bono);

ne
ng
Menimbang, bahwa untuk mendukung dalil-dalil jawabannya,
Termohon I telah mengajukan bukti berupa:

do
gu 1. Fotokopi Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2014
tentang Pemerintahan Daerah. (Bukti T1.1);
2. Fotokopi Peraturan Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia Nomor 1

In
A
Tahun 2014 tentang Pembentukan Produk Hukum Daerah. (Bukti T1.2);
3. Fotokopi Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2011
ah

lik
tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan. (Bukti T1.3);
am

ub
Menimbang, bahwa terhadap permohonan Pemohon tersebut,
Termohon II telah mengajukan jawaban tertulis yang diterima oleh Panitera
Muda Perkara Tata Usaha Negara pada tanggal 12 Maret 2018, yang pada
ep
k

pokoknya atas dalil-dalil tersebut sebagai berikut:


ah

I. Dalam Eksepsi;
R

si
(3)1. Kedudukan Hukum (Legal Standing) Para Pemohon Tidak
Berkapasitas/Cacat Hukum;

ne
ng

Dalam surat permohonan disebutkan beberapa Pemohon, yaitu:


1. Himyul Wahyudi, Pemohon I;

do
2. Supriadi, Pemohon II;
gu

3. Darwin, Pemohon III;


Bahwa sesuai ketentuan Pasal 31 A Undang-Undang RI Nomor 3
In
A

Tahun 2009 tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang


Nomor 14 Tahun 1985 tentang Mahkamah Agung menyebutkan
ah

lik

bahwa Pemohon adalah pihak yang menganggap haknya dirugikan


oleh berlakunya peraturan perundang-undangan di bawah
m

ub

undang-undang, yaitu:
a. Perorangan warga negara Indonesia;
ka

ep
ah

es
M

Halaman 44 dari 66 halaman. Putusan Nomor 13 P/HUM/2018


ng

on
gu

d
In
A

Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N
h

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
ik

Email : kepaniteraan@[Link]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 44
am

u b
Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia

ep
[Link]
hk

a
b. Kesatuan masyarakat hukum adat sepanjang masih hidup

si
dan sesuai dengan perkembangan masyarakat dan prinsip
Negara Kesatuan RI yang diatur dalam undang-undang;

ne
ng
c. Badan Hukum publik dan badan privat;
Bahwa Para Pemohon:

do
gu 1. Himyul Wahyudi, Pemohon I merupakan masyarakat hukum
adat Kenegerian Batu Sanggan, Kabupaten Kampar merasa
haknya dirugikan;

In
A
2. Supriadi, Pemohon II merupakan masyarakat hukum adat
Talang Mamak yang berada di Kabupaten Indragiri Hulu.
ah

lik
Pemohon II merupakan Ketua Barisan Pemuda Adat
Nusantara Kabupaten Indragiri Hulu yang merasa haknya
am

ub
terlanggar;
3. Darwin, Pemohon III merupakan Batin Penghubung
masyarakat hukum adat Talang Mamak, Kabupaten Indragiri
ep
k

Hulu yang merasa haknya terlanggar;


ah

Berdasarkan Pasal 31 A Undang-Undang RI Nomor 3 Tahun


R

si
2009 tentang Perubahan Kedua atas Undang-Undang Nomor 14
Tahun 1985 tentang Mahkamah Agung, keberadaan Pemohon

ne
ng

tidak jelas, karena subjek hukum yang menjadi Pemohon dalam


permasalahan tanah ulayat adalah Kesatuan Masyarakat Hukum

do
Adat sepanjang masih hidup dan sesuai dengan perkembangan
gu

masyarakat dan prinsip Negara Kesatuan RI yang diatur dalam


Undang-Undang, masyarakat adat dalah mereka yang terhimpum
In
A

dalam persukuan dalam wilayah masyarakat adat tertentu,


kapasitas Para Pemohon tidak memenuhi unsur subjek hukum
ah

lik

karena seharusnya mendapatkan kuasa dari anggota Persukuan


yang haknya secara komunal (tidak secara personal) akan
m

ub

dilanggar ketika Perda dimaksud diterapkan. Seharusnya kapasitas


Para Pemohon adalah sebagai kepala suku atau penentu di dalam
ka

suku yang telah mendapatkan persetujuan anggota persukuannya,


ep

sehingga jelas jika terjadi pelanggaran hak dan kerugian yang


ah

es
M

Halaman 45 dari 66 halaman. Putusan Nomor 13 P/HUM/2018


ng

on
gu

d
In
A

Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N
h

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
ik

Email : kepaniteraan@[Link]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 45
am

u b
Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia

ep
[Link]
hk

a
berdampak kepada kesatuan masyarakat hukum adat (secara

si
bersama) dan tidak ada kerugian secara pribadi. Tanah ulayat
bukanlah pembagian dari tanah adat seperti yang dipahami oleh

ne
ng
Pemohon karena tanah adat adalah milik masyarakat adat dalam
persukuan sedangkan tanah ulayat milik masyarakat adat yang

do
gu terdiri dari beberapa persukuan dalam wilayah masyarakat adat
tertentu. Termohon berpendapat bahwa Para Pemohon tidak
dalam kapasitas sebagai Kesatuan Masyarakat Hukum Adat.

In
A
Dengan demikian Para Pemohon Uji Materiil Perda Nomor 10
Tahun 2015 tentang Tanah Ulayat dan Pemanfaatannya yang
ah

lik
diajukan oleh Para Pemohon, mengandung cacat yuridis karena
tidak memenuhi ketentuan Pasal 31 A Undang-Undang RI Nomor 3
am

ub
Tahun 2009 tentang Perubahan Kedua atas Undang-Undang
Nomor 14 Tahun 1985 tentang Mahkamah Agung;
Berdasarkan keterangan tersebut di atas, kedudukan hukum (legal
ep
k

standing) Pemohon Uji Materil Peraturan Daerah Nomor 10 Tahun


ah

2015 tentang Tanah Ulayat dan Pemanfaatannya cacat hukum dan


R

si
tidak dapat dipertanggungjawabkan secara hukum;
(3)2. Permohonan Pemohon Tidak Sesuai Dengan Kaidah

ne
ng

Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 (Permohonan Error In


Persona);

do
1. Bahwa berdasarkan Pasal 1 angka 2 Undang-Undang Nomor 23
gu

Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah, Undang-Undang


Nomor 2 Tahun 2015 tentang Perubahan Undang-Undang Nomor
In
A

23 Tahun 2014 dan Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2015


tentang Perubahan Kedua Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014
ah

lik

(bukti T-1) yang menyebutkan: “Pemerintahan Daerah adalah


penyelenggaraan urusan pemerintahan oleh pemerintah daerah
m

ub

dan dewan perwakilan rakyat daerah menurut Asas Otonomi dan


Tugas Pembantuan dengan prinsip otonomi seluas-luasnya dalam
ka

sistem dan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia


ep
ah

es
M

Halaman 46 dari 66 halaman. Putusan Nomor 13 P/HUM/2018


ng

on
gu

d
In
A

Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N
h

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
ik

Email : kepaniteraan@[Link]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 46
am

u b
Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia

ep
[Link]
hk

a
sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Dasar Negara

si
Republik Indonesia Tahun 1945;
2. Bahwa semenjak lahirnya Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014

ne
ng
tentang Pemerintahan Daerah, Undang-Undang Nomor 2 Tahun
2015 tentang Perubahan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014

do
gu dan Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2015 tentang Perubahan
Kedua Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014, telah memberikan
petunjuk yang jelas bahwa Gubernur dan DPRD sebagai

In
A
Penyelenggara Pemerintahan Daerah di tingkat Provinsi menjadi
sebuah kesatuan yang tidak dapat dipisahkan dalam proses
ah

lik
pembentukan produk hukum daerah khususnya Peraturan Daerah
Provinsi;
am

ub
3. Bahwa berdasarkan ketentuan tersebut langkah Pemohon yang
masih melakukan dikotomi kelembagaan unsur pelaksana
Pemerintahan Daerah yang menyebutkan Gubernur sebagai
ep
k

Termohon I dan Ketua DPRD sebagai Termohon II dalam


ah

permohon Pemohon merupakan tindakan keliru sehingga


R

si
membuat permohonan Pemohon kabur atau Error In Persona;
4. Bahwa apa yang dimohonkan Pemohon hanya bersifat asumsi

ne
ng

yang belum dapat dibuktikan dengan peristiwa konkrit sehingga


melanggar hak-hak individu Pemohon secara langsung;

do
5. Bahwa terhadap Perda a quo belum bisa diimplementasikan
gu

secara konkrit karena terbenturnya dengan Peraturan Gubernur


sesuai dengan ketentuan Pasal 11 Perda Nomor 10 Tahun 2015
In
A

tentang Tanah Ulayat dan Pemanfaatannya belum terbentuk;


6. Bahwa terhadap implementasi Perda a quo, Pemerintah Provinsi
ah

lik

Riau sedang melakukan pembahasan dan pengkajian tentang


Peraturan Gubernur yang berkaitan pemetaan dan inventarisasi
m

ub

Tanah Ulayat di Provinsi Riau;


7. Bahwa bagaimana mungkin terjadi kerugian yang dialami
ka

Pemohon, Perda a quo belum dilaksanakan, meskipun telah


ep

menjadi produk Peraturan Perundang-undangan Daerah;


ah

es
M

Halaman 47 dari 66 halaman. Putusan Nomor 13 P/HUM/2018


ng

on
gu

d
In
A

Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N
h

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
ik

Email : kepaniteraan@[Link]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 47
am

u b
Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia

ep
[Link]
hk

a
I. Dalam Pokok Perkara;

si
Jawaban Termohon Terhadap Dalil Para Pemohon Mengenai Peraturan
Daerah Provinsi Riau Nomor 10 Tahun 2015 tentang Tanah Ulayat dan

ne
ng
Pemanfaatannya bertentangan dengan Undang-Undang Nomor 12 Tahun
2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan;

do
gu Para Pemohon berpendapat bahwa Peraturan Daerah Provinsi Riau
Nomor 10 Tahun 2015 tentang Tanah Ulayat dan Pemanfaatannya
terbukti telah melanggar Asas Kejelasan Rumusan, karena senyatanya:

In
A
1. Bahwa Ketentuan Umum pada Pasal 1 menimbulkan banyak
kebingungan dan multitafsir, salah satunya adalah pada Pasal 1
ah

lik
angka (11) Peraturan Daerah Provinsi Riau Nomor 10 Tahun 2015
tentang Tanah Ulayat dan Pemanfaatannya yang tidak secara terang
am

ub
membedakan definisi antara Tanah Ulayat dengan Tanah Adat;

2. Bahwa Termohon menolak dalil Pemohon dengan alasan bahwa


ep
k

Tanah Ulayat adalah bidang tanah yang berada dilingkup hak ulayat
ah

suatu masyarakat adat tertentu sedangkan Tanah Adat adalah tanah


R

si
milik persukuan yang penguasannya diatur menurut hukum adat.
Tanah Adat adalah tanah yang telah dimiliki oleh persukuan tertentu

ne
ng

sedangkan Tanah Ulayat adalah tanah yang berada dalam lingkup


hak ulayat, yaitu masyarakat adat yang terdiri dari berbagai

do
suku/persukuan. Sehingga dengan demikian jika dipahami secara
gu

komprehensif dan holistik maka penjelasan Tanah Ulayat dan Tanah


Adat sudah sangat terang dan jelas;
In
A

3. Adanya pertentangan antara Pasal 1 angka 10 dengan Pasal 10 ayat


(1) Peraturan Daerah Provinsi Nomor 10 Tahun 2015 tentang Hak
ah

lik

Ulayat dan Pemanfaatannya, sehingga menimbulkan ketidakjelasan


tentang definisi hak ulayat dan objek tanah ulayat. Adapun
m

ub

pertentangan tersebut terdapat pada Pasal 1 angka 10 Peraturan


Daerah Provinsi Nomor 10 Tahun 2015 tentang Hak Ulayat dan
ka

Pemanfaatannya telah menegaskan yang pada pokoknya


ep

menyatakan hak masyarakat adat atas sebidang


ah

es
M

Halaman 48 dari 66 halaman. Putusan Nomor 13 P/HUM/2018


ng

on
gu

d
In
A

Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N
h

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
ik

Email : kepaniteraan@[Link]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 48
am

u b
Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia

ep
[Link]
hk

a
tanah/lahan/wilayah/daerah, kawasan tertentu dan apa yang

si
terkandung di dalam dan diatasnya yang kepemilikan, tata cara
pengelolaan dan pemanfaatannya diatur berdasarkan Hukum Adat,

ne
ng
sedangkan pada Pasal 10 ayat (1) Peraturan Daerah Provinsi Riau
Nomor 10 Tahun 2015 tentang Hak Ulayat dan Pemanfaatannya

do
gu secara tegas menyatakan objek tanah ulayat meliputi tanah, bukit,
hutan, rimba dan perairan dan/atau pesisir pantai, sungai, anak
sungai, suak, kuala sungai sampai muara sungai, danau, tasik, telaga,

In
A
yang dikuasai oleh persukuan dan/atau masyarakat hukum adat
setempat, termasuk benda-benda yang ada diatasnya kecuali bahan
ah

lik
tambang berat yang ada di dalam Bumi;
4. Bahwa Termohon tidak sependapat dengan para Pemohon dimana
am

ub
menurut Termohon Pasal 1 angka 10 adalah bagian dari ketentuan
umum Perda Nomor 10 Tahun 2015 yang memberikan penjelasan
makna secara umum sedangkan Pasal 10 ayat (1) adalah batang
ep
k

butuh yang menjelaskan secara khusus dimana ada pengecualian


ah

terhadap apa yang terkandung di dalam sebidang


R

si
tanah/lahan/wilayah/daerah, kawasan tertentu yang dimaksud dalam
Pasal 1 angka 10 ketentuan umum Perda Nomor 10 Tahun 2015;

ne
ng

5. Bahwa Pasal 10 ayat (1) Peraturan Daerah Provinsi Riau Nomor 10


Tahun 2015 tentang Tanah Ulayat dan Pemanfaatannya

do
menyebutkan:
gu

“………..termasuk benda-benda yang ada diatasnya kecuali bahan


tambang berat yang ada di dalam bumi”;
In
A

Bahan tambang berat sebagaimana yang dimaksud pada Pasal 10


ayat (1) di atas senyatanya tidak memiliki definisi yang menyebutkan
ah

lik

apa saja yang merupakan bahan tambang berat tersebut;


6. Bahwa Termohon menolak pendapat dengan Para Pemohon yang
m

ub

berpendapat bahwa kalimat “tambang berat yang ada di dalam bumi”


dalam Pasal 10 ayat (1) membutuhkan penjelasan, karena tanpa
ka

disebut bahwa semua jenis tambang yang terdapat di dalam perut


ep

bumi dalam ketentuan peraturan perundang-undangan adalah jenis


ah

es
M

Halaman 49 dari 66 halaman. Putusan Nomor 13 P/HUM/2018


ng

on
gu

d
In
A

Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N
h

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
ik

Email : kepaniteraan@[Link]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 49
am

u b
Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia

ep
[Link]
hk

a
tambang berat, dengan demikian kalimat dimaksud tidak perlu

si
diperinci dan diberikan definisi. Sehingga Pasal 10 ayat (1) tidak
bertentangan dengan Undang-Undang Mineral dan Batubara;

ne
ng
7. Bahwa dengan berlakunya Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014
tentang Pemerintahan Daerah, dan sesuai dengan Peraturan Menteri

do
gu Agraria/Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 9 Tahun 2015
tentang Tata Cara Penetapan Hak Komunal Atas Tanah Masyarakat
Hukum Adat dan Masyarakat yang Berada dalam Kawasan Tertentu,

In
A
dengan maksud menyediakan pedoman dalam pengaturan dan
pengambilan kebijakan operasional di bidang pertanahan serta
ah

lik
langkah-langkah penyelesaian masalah yang menyangkut tanah
ulayat dalam kerangka pelaksanaan hukum tanah nasional yang
am

ub
diberikan kewenangan kepada daerah dan diharapkan akan dapat
lebih mampu menyerap aspirasi masyarakat setempat khususnya
Provinsi Riau;
ep
k

8. Bahwa dasar utama pembentukan Perda a quo adalah memberikan


ah

kepastian hukum dan perlindungan kepada masyarakat Hukum Adat


R

si
di Provinsi Riau yang mengacu pada Peraturan Menteri Agraria dan
Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 9 Tahun

ne
ng

2015 tentang Penetapan Hak Komunal atas Tanah masyarakat


Hukum Adat dan Masyarakat yang Berada Dalam Kawsan Tertentu,

do
sebagaimana telah diubah oleh Peraturan Menteri Agraria dan Tata
gu

Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 10 Tahun 2016


tentang Tata Cara Penetapan Hak Komunal atas Tanah Masyarakat
In
A

Hukum Adat dan Masyarakat yang berada dalam Kawasan Tertentu,


sehingga objek perlindungan dari Perda a quo hanya sebatas sesuatu
ah

lik

yang berada di permukaan Bumi, bukan yang berada dalam perut


Bumi atau yang disebut Bahan Tambang Berat seperti yang dimaksud
m

ub

oleh Pemohon. (Bukti T-2);


9. Bahwa selain itu, Pasal 11 ayat (4) Peraturan Daerah Provinsi Riau
ka

Nomor 10 Tahun 2015 tentang Tanah Ulayat dan Pemanfaatannya


ep

yang berbunyi sebagai berikut:


ah

es
M

Halaman 50 dari 66 halaman. Putusan Nomor 13 P/HUM/2018


ng

on
gu

d
In
A

Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N
h

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
ik

Email : kepaniteraan@[Link]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 50
am

u b
Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia

ep
[Link]
hk

a
“Apabila perjanjian kerjasama sebagaimana dimaksud pada ayat (3)

si
sudah berakhir, tanah ulayat wajib dikembalikan oleh pihak pemakai
atau pengelola kepada pemilik tanah ulayat melalui pemegang tanah

ne
ng
ulayat atau pemangku adat”;
Peraturan Daerah a quo tersebut di atas, tidak menjelaskan maksud

do
gu dari siapa itu pihak pemakai atau pengelola yang merujuk pada ayat
(3) nya, padahal senyatanya pada ayat (3) tidak menyebutkan siapa
itu pihak pemakai atau pengelola sebagaimana yang berbunyi:

In
A
”Pemanfaatan tanah ulayat oleh pihak lain dilakukan oleh pemegang
kuasa tanah ulayat atas dasar kesepakatan anggota persukuan atau
ah

lik
masyarakat hukum adat, perjanjian kerjasama dibuat dihadapan
Notaris dan disaksikan oleh Kepala Desa atau Penghulu Kampung
am

ub
dan/atau Camat dimana Tanah Ulayat itu berada.”;
10. Bahwa dalil Para Pemohon yang berpendapat bahwa Pasal 11 ayat
(4), menurut Para Pemohon, Termohon perlu menjelaskan siapa itu
ep
k

pihak pemakai atau pengelola. Termohon berpendapat bahwa Para


ah

Pemohon harus memahami Perda Nomor 10 Tahun 2015 secara


R

si
komprehensif dan holisitik pasal demi pasal secara utuh dan tidak
parsial, karena pasal demi pasal dalam Perda a quo memiliki kaitan

ne
ng

dan pertautan. Bahwa yang dimaksud Pemakai atau Pengelola dalam


Pasal 11 ayat (4) dalam Perda a quo adalah pihak lain disebutkan

do
dalam ayat (3), kemudian pihak lain itu dijelaskan pada ayat (5), yaitu:
gu

badan hukum atau perorangan. Sehingga dengan memahami dan


membaca secara utuh kita mengerti maksud Perda a quo. Oleh
In
A

karena itu Termohon berpendapat tidak perlu lagi penjelasan khusus


terkait frasa pasal seperti yang dipahami Para Pemohon. Karena
ah

lik

keberadaan pasal a quo memberikan perlindungan secara konkrit


kepada masyarakat hukum adat dari perlakuan yang merugikan
m

ub

pihak-pihak yang hanya mengambil keuntungan dari kekayaan alam


yang dimiliki oleh masyarakat hukum adat;
ka

11. Bahwa selanjutnya, pada Pasal 16 ayat (1) Peraturan Daerah Provinsi
ep

Riau Nomor 10 Tahun 2015 tentang Tanah Ulayat dan


ah

es
M

Halaman 51 dari 66 halaman. Putusan Nomor 13 P/HUM/2018


ng

on
gu

d
In
A

Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N
h

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
ik

Email : kepaniteraan@[Link]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 51
am

u b
Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia

ep
[Link]
hk

a
Kemanfaatannya senyatanya terdapat ketentuan tentang

si
pengecualian untuk dapat dilakukannya pemindahan hak kepemilikan
terhadap tanah ulayat, yaitu untuk kepentingan nasional,

ne
ng
pembangunan di daerah; dan/atau kehendak bersama seluruh
anggota persukuan dan/atau masyarakat adat berdasarkan ketentuan

do
gu hukum adat yang berlaku. Akan tetapi, tidak disebutkan definsi
tentang kepentingan nasional dan pembangungan di daerah;
12. Bahwa Prof. Dr. Nikmatul Huda, S.H., M.H., dalam bukunya

In
A
Problematika Pembatalan Peraturan Daerah, FH UII Press, Juni 2010,
halaman 303, mengatakan:”Pengertian dan lingkup kepentingan
ah

lik
umum banyak ditemukan dalam berbagai peraturan
perundang-undangan yang mengatur tentang pertanahan. Akan
am

ub
tetapi, untuk kepentingan pengawasan produk hukum daerah,
pemerintah tidak memberikan rambu-rambu yang tegas apa yang
dimaksud dengan kepentingan umum;
ep
k

Bahwa terhadap frasa Kepentingan Nasional dan Kepentingan


ah

Pembangunan di Daerah yang menjadi persoalan dari Pemohon


R

si
merupakan frasa yang sudah jelas maksud dan kepentingannya,
sehingga keberatan Pemohon dari maksud frasa tersebut sebuah

ne
ng

argumentasi yang tak bermaksud. Jadi kalimat kepentingan nasional


dan pembangunan daerah sudah jelas dan dapat dipahami tanpa

do
didefinisikan seperti pendapat Para Pemohon;
gu

13. Bahwa Pasal 20 ayat (2) huruf b Peraturan Daerah Provinsi Riau
Nomor 10 Tahun 2015 tentang Tanah Ulayat dan Pemanfaatannya
In
A

terdapat istilah Pemutihan Kepemilikan Tanah Ulayat. Definisi dari


Pemutihan Kepemilikan Tanah Ulayat senyatanaya juga tidak
ah

lik

dijelaskan secara terang, baik dalam pasal ini maupun pada


pasal-pasal sebelumnya, padahal pengertian tersebut sangat
m

ub

diperlukan agar tidak terjadi kesalahpahaman atau multitafsir serta


berpotensi menimbulkan kerugian terhadap hak masyarakat adat
ka

terkait dengan pemutihan kepemilikan tanah ulayat yang dimaksud


ep

dalam pasal ini;


ah

es
M

Halaman 52 dari 66 halaman. Putusan Nomor 13 P/HUM/2018


ng

on
gu

d
In
A

Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N
h

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
ik

Email : kepaniteraan@[Link]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 52
am

u b
Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia

ep
[Link]
hk

a
14. Bahwa maksud pemutihan kepemilikan tanah ulayat dalam ketentuan

si
Pasal 20 ayat (2) huruf b adalah alih fungsi tanah ulayat yang
dilakukan oleh Pemerintah Provinsi Riau dari tanah kelompok

ne
ng
masyarakat hukum adat menjadi tanah individu masyarakat hukum
adat yang perlu ditata berdasarkan regulasi oleh Pemerintah Provinsi

do
gu dengan maksud untuk meminimalisasi konflik kepemilikan dan
tumpang tindih kepemilikan tanah ulayat dari masyarakat hukum adat
itu sendiri, karena terhadap proses tersebut terintegrasi dengan

In
A
Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan,
Peraturan Pemerintah Nomor 104 Tahun 2015, karena masih
ah

lik
banyaknya Tanah Ulayat di Provinsi yang termasuk dalam Kawasan
Hutan;
am

ub
15. Bahwa terbitnya Peraturan Daerah Provinsi Riau Nomor 10 Tahun
2015 tentang Tanah Ulayat dan Pemanfaatannya, terbukti tidak
mencerminkan asas keseimbangan, keserasian dan keselarasan,
ep
k

karena senyatanya: Bahwa pada Pasal 2 ayat (4) Peraturan Daerah


ah

Nomor 10 Tahun 2015 tentang Tanah Ulayat dan Pemanfaatannya


R

si
menyebutkan:
“Asas kepemilikan bersama yaitu kepemilikan, pengelolaan dan

ne
ng

pemanfaatan tanah ulayat adalah untuk kepentingan bersama


persukuan/masyarakat adatnya”;

do
Pasal di atas menggambarkan bahwa kepemilikan, pengelolaan dan
gu

pemanfaatan tanah ulayat dilakukan demi dan untuk kepentingan


bersama persukuan/masyarakat adatnya dan bukan untuk
In
A

kepentingan nasional ataupun pembangunan daerah yang disebutkan


pada Pasal 16 ayat (1) terdapat pertentangan yang tidak
ah

lik

mencerminkan Asas Keseimbangan, Keserasian, dan Keselarasan


antara Pasal 2 ayat (4) dengan Pasal 16 ayat (1) dan Pasal 10 ayat
m

ub

(1) Peraturan Daerah Provinsi Riau Nomor 10 Tahun 2015 tentang


Tanah Ulayat dan Pemanfaatannya;
ka

16. Bahwa Termohon tidak sependapat dengan dalil Para Pemohon yang
ep

berpendapat bahwa terdapat pertentangan yang tidak mencerminkan


ah

es
M

Halaman 53 dari 66 halaman. Putusan Nomor 13 P/HUM/2018


ng

on
gu

d
In
A

Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N
h

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
ik

Email : kepaniteraan@[Link]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 53
am

u b
Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia

ep
[Link]
hk

a
Asas Keseimbangan, Keserasian, dan Keselarasan antara Pasal 2

si
ayat (4) dengan Pasal 16 ayat (1) dan Pasal 10 ayat (1), Termohon II
berpendapat bahwa Para Pemohon tidak memahami Pasal dalam

ne
ng
Perda ini dengan baik, karena Pasal 2 ayat (4) adalah bab yang
menjelaskan tentang Asas daripada Tanah Ulayat yang terdiri dari

do
gu beberapa Pasal, dimana dalam bab yang sama, yaitu Pasal 2 ayat
(5), yaitu Asas Manfaat, yaitu keberadaan tanah ulayat memberikan
manfaat kepada anggota Persukuan, Daerah dan Negara. Dan

In
A
dijelaskan juga pada bab manfaat tanah ulayat, yaitu: Pada Pasal 3
ayat (2), “manfaat ekonomis menjadi modal utama dalam kegiatan
ah

lik
ekonomi persukuan, daerah dan Negara. Kata Negara yang disebut
dalam Pasal 2 ayat (5) dan pada Pasal 3 ayat (2) adalah menunjukan
am

ub
kepentingan nasional. Sehingga menurut Termohon pertentangan
yang tidak mencerminkan Asas Keseimbangan, Keserasian dan
Keselarasan menurut Para Pemohon tidaklah tepat;
ep
k

17. Bahwa penerapan sanksi pidana sebagaimana pada ketentuan Pasal


ah

19 Peraturan Daerah Provinsi Riau Nomor 10 Tahu 2015 tentang


R

si
Tanah Ulayat dan Pemanfaatannya telah melalui kajian panjang baik
yuridis maupun empiris, dan telah sesuai dengan maksud dari Pasal

ne
ng

238 ayat (1), ayat (2), dan ayat (3) yang menyebutkan:
(1) Perda dapat memuat ketentuan tentang Pemberlakuan biaya

do
paksaan penegakan/pelaksanaan Perda seluruhnya atau
gu

sebagian kepada pelanggar sesuai dengan ketentuan peraturan


perundang-undangan;
In
A

(2) Perda dapat memuat ancaman pidana kurungan paling lama 6


(enam) bulan atau pidana denda paling banyak
ah

lik

Rp.50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah);


(3) Perda dapat memuat ancaman pidana kurungan atau pidana
m

ub

denda selain sebagaimana dimaksud pada ayat (2) sesuai


dengan ketentuan peraturan perundang-undangan;
ka

1. Bahwa dalam Pasal 238 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014


ep

dalam produk Perda, ancaman pidana kurungan atau sanksi denda,


ah

es
M

Halaman 54 dari 66 halaman. Putusan Nomor 13 P/HUM/2018


ng

on
gu

d
In
A

Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N
h

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
ik

Email : kepaniteraan@[Link]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 54
am

u b
Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia

ep
[Link]
hk

a
sanksi administratif”. Fenomena pencantuman sanksi pidana pada

si
Perda, disamping untuk menegakkan efektivitas Perda yang dibuat,
juga disesuaikan dengan keselarasan dan proporsionalitas bahwa

ne
ng
pelanggar Perda dapat/layak diberi sanksi pidana;
2. Bahwa menurut Pasal 10 KUHP, Pidana terdiri atas: Pidana Pokok

do
gu yang terdiri dari Pidana Mati, Pidana Penjara, Pidana Kurungan,
Pidana Denda, Pidana Tutupan. Dan Pidana Tambahan, yang terdiri
dari Pencabutan hak-hak tertentu, perampasan barang-barang

In
A
tertentu, pengumuman putusan hakim;
3. Bahwa pembentukan Perda Nomor 10 Tahun 2015, yang
ah

lik
mencantumkan ancaman pidana kurungan atau denda merupakan
kebijakan kriminalisasi. Menurut Barda Nawawi Arief dalam bukunya
am

ub
Bunga Rampai Kebijakan Hukum Pidana (Bandung: PT Citra Aditya
Bakti, 1986), proses kriminalisasi harus memperhatikan berbagai
aspek, yaitu:
ep
k

1. Penggunaan hukum pidana harus mempergunakan tujuan


ah

pembangunan nasional, yaitu mewujudkan masyarakat adil dan


R

si
makmur yang merata material dan spiritual berdasarkan pancasila;
2. Perbuatan yang diusahakan untuk dicegah atau ditanggulangi

ne
ng

dengan hukum pidana harus merupakan nperbuatan yang tidak


dikehendaki, yaitu perbuatan yang mendatangkan kerugian

do
(material dan atau spiritual) atas warga masyarakat;
gu

3. Penggunaan hukum pidana harus pula memperhitungkan prinsip


biaya dan hasil (cost and benefit principles) juga social cost atau
In
A

biaya sosial;
4. Penggunaan hukum pidana harus pula memperhatikan kapasitas
ah

lik

dan kemampuan daya kerja dari badan-badan penegak hukum,


yaitu jangan sampai ada kelampauan beban tugas (overbelasting);
m

ub

4. Bahwa dalam hukum pidana positif di Indonesia, legislator


memberikan peluang dan kebebasan yang relatif kepada hakim untuk
ka

memiliki jenis pidana, berat dan ringannya dan cara bagaimana


ep

pidana tersebut akan dilaksanakan. Dalam hal jenis sanksi pidana,


ah

es
M

Halaman 55 dari 66 halaman. Putusan Nomor 13 P/HUM/2018


ng

on
gu

d
In
A

Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N
h

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
ik

Email : kepaniteraan@[Link]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 55
am

u b
Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia

ep
[Link]
hk

a
peluang dan kebebasan hakim untuk memilih bentuk sanksi pidana

si
yang dikehendakinya, teridentifikasi dari pencantuman sanksi pidana
yang menggunakan baik sistem alternatif maupun kumulatif di dalam

ne
ng
peraturan perundang-undangan pidana positif. Perumusan jenis
sanksi pidana dalam KUHP pada umumnya memakai dua pilihan,

do
gu misalnya “pidana penjara” atau “denda” (sistem alternatif);
5. Bahwa pembentukan Perda Nomor 10 Tahun 2015 tentang Tanah
Ulayat dan Pemanfaatannya yang didalamnya ditetapkan sanksi

In
A
pidana, di dalam Negara hukum yang demokratis sesungguhnya
merupakan faktor pencegah (detterent factor) agar warga masyarakat
ah

lik
dapat lebih mengerti bahwa pelanggaran terhadap Perda pun, dapat
dipidana. Sanksi Pidana dalam Perda merupakan sanksi yang ringan,
am

ub
dan secara implisif hakim dapat bahkan wajib memilih bentuk sanksi
yang memenuhi rasa keadilan masyarakat;
6. Bahwa dengan tujuan pemidanaan dalam perkembangan yang ada,
ep
k

menurut Muladi, tujuan pemidanaan adalah untuk memperbaiki


ah

kerusakan individu dan sosial (individual and social damages) yang


R

si
diakibatkan oleh tindak pidana. Hal ini terdiri dari seperangkat tujuan
pemidanaan yang harus dipenuhi, dengan catatan, bahwa tujuan

ne
ng

manakah yang merupakan titik berat sifatnya kasuistis. Perangkat


tujuan pemidanaan yang dimaksudkan di atas adalah (1) pencegahan

do
(umum dan khusus), (2) perlindungan masyarakat, (3) memelihara
gu

solidaritas masyarakat, (4) pengimbalan/pengimbangan. Istilah ini


digunakan oleh Soedarto yang dalam hal ini mengatakan bahwa
In
A

vergellen bukannya membahas atau membalas dendam, tetapi


pengimbalan atau pengimbangan;
ah

lik

7. Bahwa pada fakta empirisnya di Provinsi Riau banyak


perbuatan-perbuatan oknum dari pemuka adat yang melakukan
m

ub

tindakan-tindakan yang merugikan masyarakat hukum adat (anak


kemenakan) sehingga perlunya sebuah rumusan sanksi pidana bagi
ka

kelalaian setiap oknum pemuka adat;


ep
ah

es
M

Halaman 56 dari 66 halaman. Putusan Nomor 13 P/HUM/2018


ng

on
gu

d
In
A

Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N
h

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
ik

Email : kepaniteraan@[Link]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 56
am

u b
Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia

ep
[Link]
hk

a
Berdasarkan penjelasan di atas, Termohon I memohon kepada Yang

si
Mulia Ketua/Majelis Hakim Mahkamah Agung yang memeriksa, memutus
dan mengadili permohonan Para Pemohon, dapat memberikan putusan

ne
ng
sebagai berikut:
1. Menyatakan bahwa Pemohon tidak mempunyai kedudukan hukum (legal

do
gu standing) atau;
2. Menyatakan bahwa permohonan Pemohon salah tujuan.(Error in
Persona);

In
A
3. Menolak permohonan pengujian Pemohon untuk seluruhnya atau
setidak-tidaknya menyatakan permohonan pengujian Pemohon tidak
ah

lik
dapat diterima.(niet ontvankelijk verklaard);
4. Menerima jawaban Termohon secara keseluruhan;
am

ub
5. Menyatakan ketentuan Pasal 1 angka 11 dan angka 13, Pasal 10, Pasal
16 ayat (1), Pasal 19, Pasal 20 ayat (2) Peraturan Daerah Provinsi Riau
Nomor 10 Tahun 2015 tidak bertentangan dengan Peraturan
ep
k

Perundang-Undangan diatasnya;
ah

Namun demikian, apabila Yang Mulia Ketua/Majelis Haim Mahkamah


R

si
Agung berpendapat lain, mohon putusan yang bijaksana dan seadil-adilnya
(ex aequo et bono);

ne
ng

Menimbang, bahwa untuk mendukung dalil-dalil jawabannya,


Termohon II telah mengajukan bukti berupa:

do
1. Fotokopi Peraturan Menteri Agraria Dan Tata Ruang/Kepala Badan
gu

Pertanahan Nasional Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 2016 tentang


Tata Cara Penetapan Hak Komunal Atas Tanah Masyarakat Hukum Adat
In
A

dan Masyarakat yang Berada Dalam Kawasan Tertentu beserta Peraturan


Menteri Agraria Dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional
ah

lik

Republik Indonesia Nomor 9 Tahun 2015 tentang Tata Cara Penetapan


Hak Komunal Atas Tanah Masyarakat Hukum Adat dan Masyarakat yang
m

ub

Berada Dalam Kawasan Tertentu (Bukti TII.1);


2. Fotokopi Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2014
ka

tentang Pemerintahan Daerah. (Bukti TII.2);


ep

PERTIMBANGAN HUKUM
ah

es
M

Halaman 57 dari 66 halaman. Putusan Nomor 13 P/HUM/2018


ng

on
gu

d
In
A

Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N
h

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
ik

Email : kepaniteraan@[Link]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 57
am

u b
Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia

ep
[Link]
hk

a
Menimbang, bahwa maksud dan tujuan permohonan keberatan hak

si
uji materiil dari Pemohon I, II, dan III adalah sebagaimana tersebut di atas;
Menimbang, bahwa yang menjadi objek permohonan keberatan hak

ne
ng
uji materiil Pemohon I, II, dan III adalah Peraturan Daerah Provinsi Riau
Nomor 10 Tahun 2015 tentang Tanah Ulayat dan Pemanfaatannya.(vide

do
gu bukti P-2);
Menimbang, bahwa sebelum Mahkamah Agung mempertimbangkan
tentang substansi permohonan yang diajukan Pemohon I, II, dan III, maka

In
A
terlebih dahulu akan dipertimbangkan mengenai ada atau tidaknya
Kewenangan Mahkamah Agung untuk melakukan pengujian atas
ah

lik
permohonan a quo dan Pemohon I, II, III mempunyai kepentingan untuk
mengajukan permohonan keberatan hak uji materiil;
am

ub
Menimbang, bahwa objek permohonan keberatan hak uji materiil
berupa Peraturan Daerah Provinsi Riau Nomor 10 Tahun 2015 tentang
ep
k

Tanah Ulayat dan Pemanfaatannya merupakan peraturan


ah

perundang-undangan di bawah undang-undang, sehingga Mahkamah Agung


R

si
berwenang untuk mengujinya;
Menimbang, bahwa selanjutnya Mahkamah Agung akan

ne
ng

mempertimbangkan terkait Kedudukan Hukum (Legal Standing) Pemohon I,


II, III dalam mengajukan permohonan a quo, sebagai berikut:

do
Menimbang, bahwa Pemohon I, II, dan III adalah perorangan yang
gu

berkewarganegaraan Indonesia yang merupakan anggota masyarakat


hukum adat di Kabupaten Kampar dan Kabupaten Indragiri Hulu yang
In
A

kepentingannya dirugikan atas penerbitan peraturan a quo berupa:


lunturnya adat karena tanah ulayat merupakan pembagian dari tanah adat;
ah

lik

Pemohon tidak diberikan hak untuk mengajukan keberatan jika tidak terjadi
kesepakatan ganti kerugian;
m

ub

Akan terjadi eksploitasi sumber daya alam di tanah ulayat;


Serta berpotensi dihapuskannya hak kepemilikan kepada anggota
ka

masyarakat adat;
ep
ah

es
M

Halaman 58 dari 66 halaman. Putusan Nomor 13 P/HUM/2018


ng

on
gu

d
In
A

Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N
h

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
ik

Email : kepaniteraan@[Link]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 58
am

u b
Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia

ep
[Link]
hk

a
Sehingga Pemohon I, II, dan III memiliki kedudukan hukum untuk

si
mengajukan permohonan a quo sebagaimana diatur dalam pasal 31 A ayat
(1), ayat (2) Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2009 tentang Perubahan

ne
ng
Kedua atas Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1985 tentang Mahkamah
Agung juncto 1 angka 4 Peraturan Mahkamah Agung Nomor 01 Tahun

do
gu 2011;
Menimbang, bahwa karena Mahkamah Agung berwenang untuk
melakukan pengujian atas permohonan a quo serta permohonan terhadap

In
A
objek hak uji materiil diajukan oleh Pemohon I, II, III yang mempunyai Legal
Standing maka permohonan a quo secara formal dapat diterima;
ah

lik
Menimbang, bahwa selanjutnya Mahkamah Agung
mempertimbangkan substansi objek permohonan keberatan hak uji materiil
am

ub
apakah Pasal 1 angka 11, angka 13, Pasal 10 ayat (1) dan ayat (2), Pasal
11, Pasal 16 ayat (1), Pasal 19 dan Pasal 20 ayat (2) Peraturan Daerah
Provinsi Riau Nomor 10 Tahun 2015 tentang Tanah Ulayat dan
ep
k

Pemanfaatannya bertentangan atau tidak dengan peraturan


ah

perundang-undangan yang lebih tinggi, yaitu:


R

si
 Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan
Perundang-undangan;

ne
ng

 Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral


dan Batubara;

do
 Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi;
gu

 Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2012 tentang Pengadaan Tanah Bagi


Pembangunan Untuk Kepentingan Umum;
In
A

 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar


Pokok-Pokok Agraria; dan
ah

lik

 Peraturan Presiden Nomor 71 Tahun 2012 tentang Penyelenggaraan


Pengadaan Tanah Bagi Pembangunan Untuk Kepentingan Umum;
m

ub

Menimbang, bahwa dari alasan keberatan Pemohon I, II, III yang


kemudian dibantah oleh Termohon I, II dalam jawabannya, dihubungkan
ka

dengan bukti-bukti yang diajukan oleh Pemohon I, II, III dan Termohon I, II,
ep

Mahkamah Agung berpendapat dengan pertimbangan sebagai berikut:


ah

es
M

Halaman 59 dari 66 halaman. Putusan Nomor 13 P/HUM/2018


ng

on
gu

d
In
A

Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N
h

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
ik

Email : kepaniteraan@[Link]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 59
am

u b
Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia

ep
[Link]
hk

a
 Bahwa frasa “berkewajiban melepaskan tanah tersebut” dalam ketentuan

si
Pasal 12 ayat (2) Perda Provinsi Riau Nomor 10 Tahun 2015 tentang
Tanah Ulayat dan Pemanfaatannya, tidaklah dapat ditafsirkan secara

ne
ng
parsial oleh karena dalam Pasal 12 ayat (2) a quo tercantum juga frasa
“berdasarkan hasil musyawarah” sehingga tidak terbukti bertentangan

do
gu dengan Pasal 38 ayat (1) Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2012 tentang
Pengadaan Tanah bagi Pembangunan untuk Kepentingan Umum yang
justru masih memberikan perlindungan hukum kepada masyarakat hukum

In
A
adat untuk dapat mengajukan keberatan ke Pengadilan Negeri dalam hal
tidak terjadi kesepakatan mengenai bentuk/besarnya ganti kerugian
ah

lik
ketika melepaskan tanah ulayat tersebut untuk kepentingan umum;
 Bahwa keberadaan Pasal 11 Perda a quo justru memberikan
am

ub
perlindungan secara konkrit kepada masyarakat hukum adat dari
perlakuan yang merugikan dari pihak hanya mengambil keuntungan dari
kekayaan alam yang dimiliki oleh masyarakat hukum adat. Sedangkan
ep
k

dalam ketentuan Pasal 11 tersebut yang dimaksud pihak pemakai atau


ah

pengelola yang disebutkan dalam Pasal 11 ayat (4) Perda a quo adalah
R

si
subjek hukum yang dimaksud adalah badan hukum atau perorangan yang
memperoleh izin lokasi dari pemerintah setempat sehingga ketentuan

ne
ng

tersebut tidaklah bertentangan dengan ketentuan yang lebih tinggi;


 Bahwa pencantuman sanksi pidana pada ketentuan Pasal 19 Perda a

do
quo disamping untuk menegakkan efektivitas Perda yang dibuat juga
gu

disesuaikan dengan keselarasan dan proporsionalitas bahwa pelanggar


Perda dapat/layak diberi sanksi pidana yang sejalan dengan ketentuan
In
A

Pasal 238 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan


Daerah yang pada pokoknya mengatur bahwa dalam produk Perda dapat
ah

lik

memuat sanksi pidana kurungan, denda, sanksi yang bersifat


mengembalikan pada keadaan semula dan sanksi administratif sehingga
m

ub

ketentuan Pasal 19 objek hak uji materiil a quo tidak bertentangan dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi;
ka

ep
ah

es
M

Halaman 60 dari 66 halaman. Putusan Nomor 13 P/HUM/2018


ng

on
gu

d
In
A

Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N
h

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
ik

Email : kepaniteraan@[Link]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 60
am

u b
Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia

ep
[Link]
hk

a
 Bahwa senyatanya pada Pasal 10 ayat (2) Peraturan Daerah Provinsi

si
Riau Nomor 10 Tahun 2015 tentang Tanah Ulayat dan Pemanfaatannya
terdapat frasa yang berbunyi:

ne
ng
“pengelolaan bahan tambang berat yang ada di dalam wilayah tanah
ulayat dilakukan…..”

do
gu Sesungguhnya frasa bahan tambang berat tidak dikenal dalam
Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral
dan Batu Bara ataupun Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2001 tentang

In
A
Minyak dan Gas Bumi sehingga akan menimbulkan multi tafsir dalam
penerapan pasal tersebut yang dapat mengakibatkan terbukanya
ah

lik
kesempatan kepada siapapun, baik itu badan usaha, koperasi maupun
perorangan yang telah memperoleh izin dari instansi pemerintah untuk
am

ub
membuka pertambangan di atas tanah milik masyarakat adat;
Kegiatan usaha pertambangan, baik itu pertambangan mineral dan batu
bara maupun pertambangan minyak dan gas bumi tidak dapat dilakukan
ep
k

di atas tanah ulayat sebagaimana diatur dalam ketentuan Pasal 134


ah

Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral


R

si
dan Batubara juncto Pasal 33 ayat (3) huruf a Undang-Undang Nomor 22
Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi, oleh karenanya terbukti Pasal

ne
ng

10 ayat (2) Peraturan Daerah Provinsi Riau Nomor 10 Tahun 2015


tentang Tanah Ulayat dan Pemanfaatannya bertentangan dengan

do
peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi;
gu

 Bahwa dalam Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2012 tentang Pengadaan


Tanah Bagi Pembangunan Untuk Kepentingan Umum dan Peraturan
In
A

Presiden Nomor 71 Tahun 2012 tentang Penyelenggaraan Pengadaan


Tanah Bagi Pembangunan untuk Kepentingan Umum, hanya menjelaskan
ah

lik

tentang “kepentingan umum” saja sebagaimana ketentuan pada Pasal 1


angka 6 Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2012 yang juga diadopsi dalam
m

ub

ketentuan Pasal 1 angka 6 Peraturan Presiden Nomor 71 Tahun 2012,


tanpa dimaknai juga dengan “kepentingan pembangunan di Daerah dan
ka

atau kepentingan kehendak bersama seluruh anggota persukuan


ep

dan/atau Masyarakat Adat berdasarkan ketentuan hukum adat yang


ah

es
M

Halaman 61 dari 66 halaman. Putusan Nomor 13 P/HUM/2018


ng

on
gu

d
In
A

Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N
h

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
ik

Email : kepaniteraan@[Link]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 61
am

u b
Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia

ep
[Link]
hk

a
berlaku” sebagaimana termuat dalam Pasal 16 ayat (1) objek hak uji

si
materiil a quo;
Selanjutnya peruntukan tanah untuk kepentingan umum juga telah

ne
ng
dibatasi dalam ketentuan Pasal 10 Undang-Undang Nomor 2 Tahun
2012;

do
gu Dengan demikian agar tidak terjadi multi tafsir dan perluasan batasan
kepentingan umum sebagai akibat berlakunya norma dalam Pasal 16 ayat
(1) Perda a quo yang tidak menjamin kepastian hukum dan menimbulkan

In
A
ketidakadilan terhadap masyarakat hukum adat dalam kaitannya dengan
tanah ulayat sebagai sumber kehidupannya, maka cukup alasan untuk
ah

lik
menyatakan Pasal 16 ayat (1) Perda a quo bertentangan dengan
Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2012 tentang Pengadaan Tanah Bagi
am

ub
Pembangunan Untuk Kepentingan Umum dan Peraturan Presiden Nomor
71 Tahun 2012 tentang Penyelenggaraan Pengadaan Tanah Bagi
Pembangunan untuk Kepentingan Umum;
ep
k

 Bahwa ketentuan Pasal 1 angka 4 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960


ah

tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria telah memberikan definisi


R

si
bumi selain permukaan bumi, termasuk pula tubuh bumi dibawahnya
serta yang berada di bawah air. Sedangkan Pasal 10 ayat (1) Perda objek

ne
ng

hak uji materiil a quo mencantumkan frasa yang mengecualikan bahan


tambang berat yang ada di bumi sebagai bagian dari tanah ulayat serta

do
ketentuan Pasal 10 ayat (2) yang juga mencantumkan frasa
gu

“…pengelolaan bahan tambang berat yang ada di dalam wilayah tanah


ulayat dilakukan…..”;
In
A

Dengan demikian frasa “kecuali bahan tambang berat yang ada di dalam
Bumi” serta frasa “…pengelolaan bahan tambang berat yang ada di dalam
ah

lik

wilayah tanah ulayat dilakukan…..” bertentangan dengan Pasal 1 angka 4


Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar
m

ub

Pokok-Pokok Agraria;
Menimbang, bahwa berdasarkan pertimbangan-pertimbangan
ka

tersebut di atas, terbukti bahwa Pasal 10 ayat (1) dan ayat (2) juncto Pasal
ep

16 ayat (1) Peraturan Daerah Provinsi Riau Nomor 10 Tahun 2015 tentang
ah

es
M

Halaman 62 dari 66 halaman. Putusan Nomor 13 P/HUM/2018


ng

on
gu

d
In
A

Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N
h

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
ik

Email : kepaniteraan@[Link]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 62
am

u b
Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia

ep
[Link]
hk

a
Tanah Ulayat dan Pemanfaatannya bertentangan dengan peraturan yang

si
lebih tinggi yaitu Pasal 1 angka 6 juncto Pasal 10 Undang-Undang Nomor 2
Tahun 2012 tentang Pengadaan Tanah Bagi Pembangunan Untuk

ne
ng
Kepentingan Umum juncto Pasal 134 Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009
tentang Pertambangan Mineral dan Batubara juncto Pasal 33 ayat (3) huruf

do
gu a Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi
juncto Pasal 1 angka 4 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang
Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria juncto Pasal 1 angka 6 Peraturan

In
A
Presiden Nomor 71 Tahun 2012 tentang Penyelenggaraan Pengadaan
Tanah Bagi Pembangunan untuk Kepentingan Umum sehingga harus
ah

lik
dibatalkan, dan oleh karenanya permohonan keberatan hak uji materiil dari
Pemohon I, II, dan III harus dikabulkan untuk sebagian dan peraturan yang
am

ub
menjadi objek dalam perkara uji materiil a quo harus dibatalkan sehingga
Pasal 10 ayat (1) dan ayat (2) juncto Pasal 16 ayat (1) Peraturan Daerah
Provinsi Riau Nomor 10 Tahun 2015 tentang Tanah Ulayat dan
ep
k

Pemanfaatannya tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat dan tidak


ah

berlaku umum;
R

si
Menimbang, bahwa dengan dikabulkannya untuk sebagian
permohonan keberatan hak uji materiil dari Pemohon I, II, dan III, maka

ne
ng

Termohon I, II dihukum untuk membayar biaya perkara;


Menimbang, bahwa berdasarkan ketentuan Pasal 31 A ayat (8)

do
gu

Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2009 dan Pasal 8 ayat (1) Peraturan


Mahkamah Agung RI Nomor 01 Tahun 2011, Panitera Mahkamah Agung
mencantumkan petikan putusan ini dalam Berita Daerah;
In
A

Memperhatikan pasal-pasal dari Undang-Undang Nomor 48 Tahun


2009 tentang Kekuasaan Kehakiman, Undang-Undang Nomor 14 Tahun
ah

lik

1985 tentang Mahkamah Agung sebagaimana telah diubah dengan


Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2004 dan perubahan kedua dengan
m

ub

Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2009, Peraturan Mahkamah Agung


Nomor 01 Tahun 2011 tentang Hak Uji Materiil, serta peraturan
ka

perundang-undangan lain yang terkait;


ep

MENGADILI,
ah

es
M

Halaman 63 dari 66 halaman. Putusan Nomor 13 P/HUM/2018


ng

on
gu

d
In
A

Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N
h

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
ik

Email : kepaniteraan@[Link]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 63
am

u b
Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia

ep
[Link]
hk

a
1. Mengabulkan permohonan keberatan hak uji materiil untuk sebagian dari

si
Pemohon I: HIMYUL WAHYUDI, Pemohon II: SUPRIADI, dan Pemohon
III: DARWIN tersebut;

ne
ng
2. Menyatakan Pasal 10 ayat (1) dan ayat (2) juncto Pasal 16 ayat (1)
Peraturan Daerah Provinsi Riau Nomor 10 Tahun 2015 tentang Tanah

do
gu Ulayat dan Pemanfaatannya bertentangan dengan peraturan
perundang-undangan yang lebih tinggi, yaitu Pasal 1 angka 6 juncto Pasal
10 Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2012 tentang Pengadaan Tanah Bagi

In
A
Pembangunan Untuk Kepentingan Umum juncto Pasal 134
Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral
ah

lik
dan Batubara juncto Pasal 33 ayat (3) huruf a Undang-Undang Nomor 22
Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi juncto Pasal 1 angka 4
am

ub
Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar
Pokok-Pokok Agraria juncto Pasal 1 angka 6 Peraturan Presiden Nomor
71 Tahun 2012 tentang Penyelenggaraan Pengadaan Tanah Bagi
ep
k

Pembangunan untuk Kepentingan Umum, dan karenanya tidak


ah

mempunyai kekuatan hukum mengikat dan tidak berlaku umum;


R

si
3. Memerintahkan kepada Gubernur Provinsi Riau dan Ketua Dewan
Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi Riau untuk mencabut Pasal 10 ayat

ne
ng

(1) dan ayat (2) juncto Pasal 16 ayat (1) Peraturan Daerah Provinsi Riau
Nomor 10 Tahun 2015 tentang Tanah Ulayat dan Pemanfaatannya;

do
gu

4. Memerintahkan kepada Panitera Mahkamah Agung untuk mengirimkan


petikan putusan ini kepada Sekretariat Daerah Provinsi Riau untuk
dicantumkan dalam Berita Daerah;
In
A

5. Menghukum Termohon I, II untuk membayar biaya perkara sebesar


Rp1.000.000,00 (satu juta rupiah);
ah

lik

Demikianlah diputuskan dalam rapat permusyawaratan Majelis Hakim


pada hari Kamis, tanggal 31 Mei 2018, oleh Dr. H. Supandi, S.H., [Link].,
m

ub

Ketua Muda Mahkamah Agung Urusan Lingkungan Peradilan Tata Usaha


Negara yang ditetapkan oleh Ketua Mahkamah Agung sebagai Ketua
ka

Majelis, bersama-sama dengan Is Sudaryono, S.H., M.H., dan Dr. Irfan


ep

Fachruddin, S.H., C.N., Hakim-Hakim Agung sebagai Anggota, dan


ah

es
M

Halaman 64 dari 66 halaman. Putusan Nomor 13 P/HUM/2018


ng

on
gu

d
In
A

Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N
h

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
ik

Email : kepaniteraan@[Link]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 64
am

u b
Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia

ep
[Link]
hk

a
diucapkan dalam sidang terbuka untuk umum pada hari itu juga oleh Ketua

si
Majelis dengan dihadiri Hakim-Hakim Anggota tersebut, dan Michael
Renaldy Zein, S.H., M.H., Panitera Pengganti tanpa dihadiri oleh para pihak;

ne
ng
Anggota Majelis: Ketua Majelis,

do
gu ttd. ttd.

In
A
Is Sudaryono, S.H., M.H. Dr. H. Supandi, S.H., [Link].
ah

lik
ttd.
am

Dr. Irfan Fachruddin, S.H., C.N.

ub
ep
k
ah

si
ne
ng

Panitera Pengganti,

do
ttd.
gu

In
A

Michael Renaldy Zein, S.H.,


M.H.
ah

lik

Biaya-biaya:
1. Meterai Rp 6.000,00
2. Redaksi Rp 5.000,00
m

ub

3. Administrasi Rp 989.000,00
Jumlah Rp 1.000.000,00
ka

ep

Untuk Salinan
Mahkamah Agung – RI
a.n. Panitera
ah

es
M

Halaman 65 dari 66 halaman. Putusan Nomor 13 P/HUM/2018


ng

on
gu

d
In
A

Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N
h

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
ik

Email : kepaniteraan@[Link]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 65
am

u b
Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia

ep
[Link]
hk

a
Panitera Muda Tata Usaha Negara,

si
ne
ng
H. Ashadi, S.H.
NIP. 195409241984031001

do
gu

In
A
ah

lik
am

ub
ep
k
ah

si
ne
ng

do
gu

In
A
ah

lik
m

ub
ka

ep
ah

es
M

Halaman 66 dari 66 halaman. Putusan Nomor 13 P/HUM/2018


ng

on
gu

d
In
A

Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N
h

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
ik

Email : kepaniteraan@[Link]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 66

Anda mungkin juga menyukai