0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
56 tayangan5 halaman

Dr. Feby Juwita: Pemanfaatan Teknologi ASN

Artikel tersebut membahas dua topik utama. Pertama, pemanfaatan teknologi informasi oleh ASN selama pandemi covid-19 yang memberikan dampak positif seperti memungkinkan kerja jarak jauh dan pelayanan publik secara online. Kedua, penyalahgunaan media sosial oleh beberapa ASN yang mendapat sanksi seperti penurunan pangkat karena tidak memahami etika bermedia sosial.

Diunggah oleh

Feby Juwita
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
56 tayangan5 halaman

Dr. Feby Juwita: Pemanfaatan Teknologi ASN

Artikel tersebut membahas dua topik utama. Pertama, pemanfaatan teknologi informasi oleh ASN selama pandemi covid-19 yang memberikan dampak positif seperti memungkinkan kerja jarak jauh dan pelayanan publik secara online. Kedua, penyalahgunaan media sosial oleh beberapa ASN yang mendapat sanksi seperti penurunan pangkat karena tidak memahami etika bermedia sosial.

Diunggah oleh

Feby Juwita
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

Nama : dr. Feby Juwita Rachmawati Rahadian, Sp.

A
Instansi : RSUD Singaparna Medika Citra Utama
NIP : 198812092022032001
Angkatan : XXXIV/Kelompok 4

TUGAS SELF LEARNING AGENDA III

ANALISA ARTIKEL TERKAIT PEMANFAATAN DAN PENYIMPANGAN


TEKNOLOGI/ INTERNET/ SOSIAL MEDIA OLEH ASN

1. Artikel Pemanfaatan Teknologi/ Internet/ Sosial Media Oleh ASN

Judul artikel : Penggunaan Teknologi Informasi Dalam Mendukung Kinerja ASN di


Masa Pandemi COVID 19

Link artikel : [Link]


informasi-dalam-mendukung-kinerja-asn-di-masa-pandemi-covid-19

Analisa artikel:

• Penyebab :

Corona Virus Disease 2019 (Covid 19) hampir melanda seluruh negara di
berbagai belahan dunia. Virus ini pertama kali ditemukan di Negara China pada 11
Februari 2020 lalu, WHO menetapkannya sebagai pandemi karena seluruh warga
dunia berpotensi terinfeksi. Dengan ditetapkannya status pandemi tersebut, WHO
juga mengkonfirmasi bahwa COVID-19 merupakan darurat internasional. Negara
Indonesia pun tak lepas dari penularan Covid-19. Kasus positif COVID-19 di Indonesia
pertama kali dideteksi pada 2 Maret 2020 dengan anngka penularan yang terus
meningkat dan hingga pada tanggal 15 Maret 2020, Presiden Joko Widodo
menetapkan Covid-19 sebagai bencana nasional.

Dengan ditetapkannya Covid-19 sebagai bencana nasional, maka Pemerintah


mengambil langkah-langkah pencegahan dan pemutusan mata rantai penularan
Covid-19 antara lain dengan menerapkan Protokol Kesehatan seperti menjaga jarak
(physical distancing), menggunakan masker, rajin mencuci tangan dan pembatasan
aktivitas di luar rumah. Pandemi Covid-19 tentu saja memberikan dampak yang besar
di segala sektor baik sektor swasta maupun pemerintah. Berbagai aktivitas yang biasa
dilakukan diluar rumah dibatasi. Bahkan sistem kerja Pegawai pun harus dilakukan
dirumah yang dikenal dengan istilah Work From Home (WFH). Di sektor
pemerintahan, Kementerian PAN RB selaku lembaga yang mempunyai tugas
menyelenggarakan urusan di bidang pendayagunaan aparatur negara dan RB untuk
membantu Presiden dalam menyelenggarakan pemerintahan negara segera
menindaklanjuti dengan mengeluarkan Surat Edaran Nomor 19 Tahun 2020 tentang
Penyesuaian Sistem Kerja Aparatur Sipil Negara dalam upaya pencegahan
penyebaran Covid-19 di lingkungan Instansi Pemerintah. Hal ini dilakukan untuk
mencegah dan meminimalisir penyebaran, serta mengurangi resiko Covid-19, untuk
memastikan pelaksanaan tugas dan fungsi masing-masing Instansi Pemerintah dapat
berjalan efektif untuk mencapai kinerja masing-masing unit organisasi pada instansi
pemerintah serta memastikan pelaksanaan pelayanan publik di instansi Pemerintah
dapat tetap berjalan efektif.

Dalam surat pemberitahuan tersebut, bahwa setiap Perangkat Daerah mengatur


jadwal dan menyesuaikan sistem masuk kerja dengan menugaskan 1 (satu) orang
pejabat Administrator, 1 (satu) orang pejabat Pengawas dan 4 (empat) orang
pelaksana atau disesuaikan dengan ruang lingkup jenis pelayanan, serta beban kerja
masing-masing Perangkat Daerah (maksimal 30% dari jumlah pegawai di lingkungan
Perangkat Daerah masing-masing, 70% bekerja di rumah dan dilakukan bergilir dalam
setiap minggunya). Perubahan pola dan kondisi kerja, sarana dan prasarana kerja
yang semula di kantor berubah menjadi pola bekerja dari rumah dan mengharuskan
semua bentuk tugas dan tanggung jawab dijalankan secara profesional. Dengan pola
bekerja dari rumah (Work From Home), sangat dibutuhkan teknologi informasi yang
memadai. Sehingga pelaksanaan tugas dan fungsi dapat terus berjalan. Salah satu
teknologi yang mulai digunakan pada saat pandemi Covid 19 ini adalah menggunakan
Video Conference. Video Conference adalah teknologi yang memungkinkan
pengguna yang berada pada lokasi yang berbeda untuk mengadakan pertemuan
tatap muka tanpa harus pindah ke satu lokasi bersama. Jenis Video Conference yang
dapat digunakan oleh Pegawai Aparatur Sipil Negara bisa melalui Zoom Cloud,
Google Meet, Skype, Web Seminar (Webinar) dan masih banyak lagi.
Dengan pemberlakuan masuk kerja Normal Baru ini dan tetap memprioritaskan
keselamatan Pegawai Aparatur Sipil Negara, penggunaan tekonologi
informasi semakin meningkat dibandingkan pada saat pola bekerja dari rumah (Work
From Home) mulai diterapkan. Kegiatan-kegiatan, Rapat atau pertemuan koordinasi
dengan Pimpinan dan melibatkan berbagai sektor sertabanyak orang dengan tatap
muka secara langsung diganti dengan penggunaan teknologi informasi melalui Video
[Link] pelaksanaan Diklat secara daring, berbagai pelayanan
Kepegawaian pun mulai dilakukan secara daring, seperti penerbitan Surat Izin Belajar,
Pengajuan usulan Kartu Isteri (Karis) dan Kartu Suami (Karsu) dan pembuatan ID
Card Pegawai.

• Dampak

Terobosan penggunaan media online pada masa pandemi ini memberikan


dampak yang positif, dimana segala bentuk kegiatan, koordinasi baik yang
mencakup penanganan Covid-19 ataupun koordinasi terkait pekerjaan lainnya
bisa terlaksana dengan baik tanpa harus saling bertatap muka. Hal ini juga
mampu meningkatkan kemampuan seorang pegawai termasuk ASN untuk
dituntut mampu mengaplikasikan atau menggunakan teknologi informasi yang
terus berkembang untuk mendukung kelangsungan dalam melaksanakan tugas
atau kegiatan, dengan ini terjadilah peningkatan kualitas SDM pada ASN.
Perubahan kebijakan pengembangan kompetensi ini tidak hanya peningkatan
kompetensi manajerial bagi para peserta, namun juga akan memberikan dampak
positif dari berbagai perubahan dan inovasi yang dikembangkan oleh para peserta
untuk menjawab tantangan dan permasalahan yang dihadapi organisasinya.

2. Artikel Penyimpangan Teknologi/ Internet/ Sosial Media Oleh ASN

Judul artikel: 3 Kasus PNS Kena Sanksi Akibat Kelakuan di Media Sosial
Link artikel : [Link]
sanksi-akibat-kelakuan-di-media-sosial

Analisa artikel:

• Penyebab

Adanya 3 kasus PNS yang dikenakan sanksi karena penyalahgunaan sosial


media.

1. Seorang kepala sekolah SMP di Kalimantan Barat menyebut bahwa


terorisme hanya drama saat adanya ledakan bom di Surabaya.
2. Seorang dosen di Universitas Sumatera Utara dijemput polisi akibat
ujarannya bahwa kasus bom di Surabayat merupakan pengalihan isu
pemilihan presiden
3. Seorang oknum PNS UPTD Pendidikan di Kutai Timur terpaksa berurusan
dengan Panwaslu karena memberikan like pada postingan politik salah
satu pasangan calon, oknum tersebut dikenai sanksi penurunan pangkat.

Dari ketiga kasus oknum PNS yang terkena kasus penyalahgunaan media
sosial tersebut disebabkan tidak memilikinya etika dan etiket bermedia sosial
sehingga ia tidak mampu mengkontrol dirinya untuk tidak melakukan 11 jenis
pelanggaran radikalisme via media sosial. Beberapa di antaranya menyebarkan
konten yang memuat kebencian terhadap Pancasila, UUD 1945, Bhinneka
Tunggal Ika, NKRI, dan Pemerintah; konten bermuatan SARA; serta konten yang
berisi informasi menyesatkan di media sosial. Sebagai seorang ASN seharusnya
ia memiliki empat prinsip etika untuk menjadi ujung tombak self-control individu
mengakses, berinteraksi, berpartisipasi dan berkolaborasi di ruang digital,
sehingga media digital benar-benar bisa dimanfaatkan secara kolektif untuk hal-
hal yang positif.

• Dampak :

Memberikan ujaran negatif dan bermedia sosial tanpa memiliki etika dan
etiket yang baik maka akan merugikan diri sendiri. Seperti kasus yang terjadi pada
artikel diatas, para oknum mendapatkan hukuman, tercoreng nama baik pribadi
bahkan nama baik instansi tempat kerja, selain itu hal yang lebih merugikan lagi
oknum dapat kehilangan pekerjaannya karena mendapat sanksi berat berupa
diberhentikan sebagai PNS.
Dengan adanya mata pelatihan Smart ASN ini diharapkan hal-hal yang
seperti diatas tidak terulang kembali, seorang ASN harus mampu menjadi contoh
publik dalam beretika secara offline maupun dalam online. Melalui pelatihan
Smart ASN ini, ASN dituntut untuk memiliki jiwa yang taat pada aturan,
mempunyai panduan dalam bekerja seperti empat dimensi persiapan dalam
akses internet, cakap dalam menjalankan digital agar mampu menjadi ASN yang
mudah beradaptasi pada era diskrupsi ini.

Anda mungkin juga menyukai