0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
15 tayangan17 halaman

Pupuk Kompos POENIK: Solusi Ramah Lingkungan

Dokumen tersebut membahas tentang produksi pupuk organik oleh Himpunan Petani Organik Cianjur Indonesia (HIPOCI). HIPOCI berencana membangun pabrik kompos untuk memenuhi kebutuhan pupuk petani secara berkelanjutan dengan harga terjangkau dan ramah lingkungan. Dokumen ini menjelaskan proses produksi, kapasitas, peralatan, dan bahan baku yang dibutuhkan pabrik kompos tersebut.

Diunggah oleh

Indomusik Hits
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
15 tayangan17 halaman

Pupuk Kompos POENIK: Solusi Ramah Lingkungan

Dokumen tersebut membahas tentang produksi pupuk organik oleh Himpunan Petani Organik Cianjur Indonesia (HIPOCI). HIPOCI berencana membangun pabrik kompos untuk memenuhi kebutuhan pupuk petani secara berkelanjutan dengan harga terjangkau dan ramah lingkungan. Dokumen ini menjelaskan proses produksi, kapasitas, peralatan, dan bahan baku yang dibutuhkan pabrik kompos tersebut.

Diunggah oleh

Indomusik Hits
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

I.

  PENDAHULUAN
Latar Belakang
Pemakaian pupuk kimia menimbulkan ketergantungan petani yang semakin lama terasa
membebani, karena harga pupuk kimia terus melambung sementara harga gabah/beras cenderung
tetap. Selain mahal, tak jarang keberadaan pupuk kimia seperti ”siluman” yang tiba-tiba hilang
disaat petani sangat membutuhkan.  Pupuk sudah menjadi kebutuhan dasar tanaman padi,
sehingga semahal apapun petani harus tetap membeli.
Pupuk kimia berperan untuk memperkaya mineral (hara) yang diperlukan tanaman namun
pemakaiannya yang tidak bijaksana menimbulkan efek buruk terhadap lahan pertanian seperti
penurunan kesuburan, tanah kehilangan daya ikat alamiahnya, tandus, dan miskin bahan organik.
Dibanding pupuk kimia, pupuk kompos mempunyai beberapa kelebihan.  Kompos sebagai
pupuk organik jelas berbeda dengan pupuk non-organik (pupuk kimia).  Kompos lebih banyak
berperan pada perbaikan sifat-sifat fisik tanah seperti memperbaiki struktur tanah, memperbaiki
daya serap tanah terhadap air, dan menaikan daya ikat tanah terhadap unsur hara.   Bahkan bisa
juga mengurangi penyakit-penyakit yang biasa menyerang akar tanaman, yang berarti dapat
mengurangi penggunaan obat untuk penyakit akar.
Dulu pengomposan dilakukan secara alamiah dimana sedikit sekali intervensi manusia sehingga
proses dekomposisi berlangsung cukup lama, dapat memakan waktu 2 – 3 bulan.  Dengan
waktu  pengomposan yang cukup lama tersebut, ketersediaannya tidak segera terjamin . Total
kebutuhan pupuk kompos atau pupuk organik secara nasional mencapai 11 juta ton/tahun,
sementara produksinya baru mencapai 10% dari total kebutuhan.
Dengan menggunakan teknologi pengomposan seperti yang telah dilakukan Himpunan Petani
Organik Cianjur Indonesia (HIPOCI) selama ini, maka proses pengomposan menjadi lebih cepat
dan kestabilan kandungan haranya dapat dijaga.   Lahan pertanian di Desa Kebon Peteuy
Kabupaten Cianjur merupakan salah satu contoh areal yang sudah menggunakan  penggunaan
pupuk organik produksi HIPOCI selama beberapa kali tanam. Jika pada pertama kali penerapan
pupuk kompos baru menghasilkan sekitar 3 ton/ha, maka setelah tiga kali tanam produksinya
meningkat menjadi 4 - 5 ton/ha. Bahkan untuk penggunaan jangka panjang produksi
padi  cenderung akan meningkat baik kuantitas dan kualitasnya karena kesuburan tanah juga
meningkat.
Pendirian pabrik kompos POENIK HIPOCI diharapkan mampu memenuhi harapan petani akan
harga pupuk yang relatif murah dan ramah lingkungan. Usaha ini sangat menjanjikan karena
harganya relatif murah dan berbahan baku alami yang dapat menjaga kelestarian lingkungan. Hal
Ini juga bentuk kepeduliaan HIPOCI terhadap petani yang selama ini terabaikan oleh program
pembangunan. Jika menggunakan pupuk kompos yang dibuat dengan teknologi ramah
lingkungan dan biaya yang lebih murah (dan tentu harga jualnya lebih murah), maka petani pasti
akan terbantu.

II.  ORGANISASI DAN MANAJEMEN


2.1  Umum

                        : Pabrik POENIK


2.  Nama Pemilik                                 : HIPOCI
3.  Alamat Kantor & Tempat Usaha  : Bangkuong, Kebon Peteuy, Cianjur
4.  Bagan
Struktur

Organisasi             : 
 
5.  Jabatan dan Uraian Tugas
Pimpinan (Manajemen HIPOCI) bertugas mengkoordinir kegiatan perusahaan secara
keseluruhan dan mempunyai wewenang mengambil kebijakan yang diperlukan untuk
keberlangsungan perusahaan.  Kepala Produksi bertugas mengelola kegiatan produksi mulai dari
perencanaan, pengorganisasian, pengkoordinasian, pengarahan dan pengendalian produksi dan
hasil produksi. Staf/teknisi produksi bertindak sebagai pelaksana lapang kegiatan produksi
dibawah pengawasan langsung kepala produksi. Staf  Administrasi  dan keuangan bertugas untuk
mengelola kegiatan-kegiatan administrasi dan segala hal yang berkaitan dengan keuangan.  Staf
Pemasaran dan Distribusi bertugas untuk merencanakan, menentukan harga, mempromosikan
produk dan mendistribusikannya baik kepada pelanggan maupun calon pelanggan potensial.

2.2  Produk dan Produksi


Produk sebagai komoditas yang akan dijual dan dikembangkan menjadi faktor yang penting
untuk selalu dikaji dan dicermati.  Kondisi prima dari produk akan menentukan keberhasilan
pemasaran dan penciptaan brand image.

Nama Produk
Produk kompos yang akan diproduksi bernama POENIK  sinonim dari Pupuk Organik

Kemasan
POENIK dikemas dengan menggunakan karung plastik untuk ukuran 20 kg dan kantung plastik
untuk ukuran 2 kg. (Terlampir desain dan ukuran).
Jenis Produk
Tahun 2011 HIPOCI hanya memproduksi jenis Kompos POENIK orisinal untuk kebutuhan
petani HIPOCI. Namun untuk pengembangan produk  Himpunan Petani Organik Cianjur
Indonesia akan mengeluarkan juga jenis Kompos POENIK Plus dan lain-lain untuk pasar bebas.
Pengembangan produk POENIK berbasis Teknologi Himpunan Petani Organik Cianjur
Indonesia juga akan melakukan kajian terhadap bentuk fisik produk seperti kompos mix
(campur) ataupun cair. Hal ini mengingat keinginan pasar dan kebutuhan masing-masing
pengguna.
Kualitas Produk
Peningkatan kualitas produk terus menerus akan dilakukan dengan beberapa metode pengawalan
uji coba pengembangan, kontrol produksi, uji terap, demplot, dan lain-lain.
Keunggulan kualitas akan dijaga melalui kapasitas QC dan komparasi dengan produk lain
dilapangan.  Informasi uji petik di beberapa titik pemasaran juga akan dipakai
sebagai benchmarking.  Masukan dan respon dari pedagang dan konsumen akan dijadikan tolok
ukur penjagaan kualitas produk sehingga mempunyai daya saing produk.
Formula & Dosis Anjuran
Pencermatan formulasi dan dosis anjuran secara terus menerus dilakukan pada saat memproduksi
POENIK.  Penggunaan bahan baku dan proses produksi tidak luput dari pengawasan yang
ketat.  Standarisasi produk dilakukan dengan menerbitkan SOP (Standart Operation
Procedure).  Himpunan Petani Organik Cianjur Indonesia memiliki tenaga ahli yang secara terus
menerus melakukan kajian, pencermatan dan monitoring produk POENIK termasuk melakukan
fungsi QC (Quality Control).
Keunggulan Produk
Dihasilkan melalui proses dekomposisi bahan-bahan organik dan limbah ternak (sapi) dengan
teknologi fermentasi oleh mikroorganisme yang menguntungkan bagi tanah dan tanaman.
Mampu memperbaiki struktur tanah, meningkatkan sumber hara tanah, dan meningkatkan
aktivitas mikroba yang bermanfaat untuk lingkungan tumbuh tanaman.
Dapat dipergunakan untuk tanaman pangan, hortikultur, tanaman hias, serta tanaman buah-
buahan.
Memiliki komposisi hara yang relatif stabil dan lengkap yang dibutuhkan tanaman, yang terdiri
dari N, P, K, Ca, Mg, C-organik, dan beberapa asam humic.

Manfaat
Memperbaiki sifat fisik, kimia, dan biologi tanah.
Menyediakan unsur hara makro dan mikro yang lebih banyak di dalam tanah.
Memecah akumulasi senyawa kimia yang teresidu dalam tanah.
Memperbanyak mikroorganisme yang menguntungkan dalam tanah.
Menjaga kesuburan dan melestarikan keanekaragaman hayati dalam tanah.

III.      ASPEK PRODUKSI
3.1    Proses Produksi

 
3.2  Kapasitas Produksi
Pemenuhan kapasitas produksi secara bertahap akan dipenuhi pada tahun ke dua. Perubahan
jumlah produksi juga akan terpengaruh oleh penjualan dan kondisi pasar.
Tahun Produksi Rencana Produksi (Kg)
1 280.800
2 360.000
3 360.000

3.3    Lahan Untuk Kegiatan Usaha


1.          Beli                              :           Rp.  40.000.000, luas 500 m2
2.         Sewa per tahun         :           Rp.    2.000.000

3.4   Bangunan
1.          Biaya membangun    :           Rp.  40.000.000, luas 370 m2

3.5   Instalasi/Sarana Utilitas Produksi


No Biaya Utilitas Total Biaya (Rp)
1 Pemasangan Instalasi Listrik 1.500.000
2 Pemasangan jaringan air 1.000.000
3 Pemasangan Instalasi Telepon 550.000
Total Biaya Sarana 3.050.000

3.6   Mesin Produksi
Nama Mesin Merk Jumlah Harga (Rp) Jumlah Harga
(Rp)
Hummer mil +penggerak Yanmar 1 unit 32.000.000 32.000.000
Pengayak Bahagia Jaya 1 unit 8.500.000 8.500.000
Mesin jahit karung 1 unit 1.500.000 1.500.000
KODE 336x320 atau in artikel
Total
42.000.000
3.7    Bahan Baku dan Bahan Pembantu Produksi
Bahan baku utama dan bahan pembantu yang diperlukan sesuai dengan Rencana Produksi untuk tahun pertama
dengan kapasitas produksi sekitar 280 ton/tahun.
Bahan baku & Fungsi Jumlah Harga Jumlah
Pembantu (Rp) Harga (Rp)
Pupuk kandang Sumber hara N, P, K yang sangat di 11.700 krg 3.000 35.100.000
butuhkan oleh tanaman sebagai nutrisi
Jerami/hijauan Sumber hara N, P dan K serta Ca. 1.170 krg 4.000 4.680.000
Arang sekam Mengandung unsur K aktif yang 2340 krg 4.000 9.360.000
dibutuhkan pada proses  pembu- ngaan
dan pembuah -an tanaman.
Dedak Sumber    karbohidrat dan  protein yang 11.700 kg 1.000 11.700.000
dibutuhkan tanaman maupun bakteri
mesofilis dalam proses fermentasi pupuk.
Dolomit Sebagai suplemen kandungan hara Ca dan 1.170 kg 400 468.000
Mg dalam media pupuk yang akan
dibutuhkan oleh tanaman
Fermentator Untuk mempercepat perombakan bahan- 234 1.000 234.000
bahan organik
Molase Sumber bahan organik yang mengandung 234 2000 468.000
protein, gula,  dan asam amino yang
dibutuhkan oleh mikroba/bakteri sebagai
sumber makanan dan energi dalam proses
fermentasi
Keterangan : krg anonim karung (bukan satuan berat) Total 62.010.000
3.8    Peta Bahan Baku
Bahan baku & Sumber Jumlah Perkiraan
Pembantu Kesediaan
1.  Pupuk kandang PT. Kariyana, Cicurug, Sukabumi ± 20 ton per hari
PT. Taurus, Cicurug, Sukabumi ± 20 ton per hari
Peternak-peternak lokal ± 3 ton per hari
2.  Jerami/hijauan Sawah-sawah di sekitar lingkungan ± 400 krg per bulan
HIPOCI  dan juga di daerah petani-
petani binaan
3.  Arang sekam CV. Family, Cicurug, Sukabumi 2500 karung per bulan
Penggilingan-penggilingan padi 1000 karung per bulan
mitra HIPOCI
4.  Dedak Penggilingan-penggilingan padi 1.500 kg per bulan
mitra HIPOCI
CV. Inayyah, Cicurug, Sukabumi 2.000 kg per bulan
5.  Dolomit CV. Batu Wangi - Padalarang 25 ton per hari
Toko-toko Saprotan di Bogor
6.  Fermentator Toko-toko Saprotan di Bogor dan Perbanyakan sendiri
telah bisa dilakukan perbanyakan
sendiri
7.  Molase PT. Kariyana, Cicurug, Sukabumi Tergantung permintaan
Toko Tani Jaya
3.9   Tenaga Kerja
Tenaga kerja yang disiapkan adalah tenaga kerja yang langsung ditempatkan dan didayagunakan dalam
menangani proses-proses produksi. Sedangkan tenaga kerja tetap masih mempergunakan holding (Himpunan
Petani Organik Cianjur Indonesia) sebagai pelaksana, hingga pada tahapan pengembangan dengan kapasitas
produksi tertentu apabila sudah harus ditangani langsung. Tenaga kerja langsung dimasukan dalam kategori
biaya variabel. Biaya variabel lain dalam usaha ini adalah biaya bahan baku dan biaya umum pabrik. Tenaga
kerja langsung yang didayagunakan dalam memproduksi pupuk kompos POENIK ini merupakan tenaga lepas
atau harian.  Tenaga kerja lepas dapat memanfaatkan tenaga petani atau tenaga pemuda desa yang masih
menganggur. Petani tentunya akan terbantu karena mendapat penghasilan tambahan sehabis bekerja di sawah.
Sedangkan bagi pemuda desa, hal ini akan membuka lapangan pekerjaan bagi mereka sehingga tenaganya bisa
diberdayakan.  Biaya tenaga kerja langsung yang akan dikeluarkan pada tahun pertama produksi adalah
sebagai berikut :
Jenis Kegiatan Tarif (Rp)/unit Jumlah Jumlah hari Jumlah Biaya
TK kerja/tahun (Rp)
Penyiapan jerami 17.500/HOK 1 168.5 HOK 2.948.750
Pembuatan adonan 17.500/HOK 1 224.5 HOK 3.928.750
Pembalikan adonan 17.500/HOK 1 224.5 HOK 3.928.750
Pengayakan 17.500/HOK 2 252.5 HOK 4.418.750
Pengemasan 17.500/HOK 6 1549.5 HOK 27.116.250
Total 42.341.250

3.10 Biaya Umum Pabrik


Biaya umum untuk menunjang kegiatan pabrik untuk setiap tahun
No Jenis Biaya Umum Pabrik Jumlah Biaya (Rp)
1 Pemeliharaan mesin dan peralatan 1.200.000
2 Suku cadang, BBM, Oli, dll 20.400.000
3 Listrik , air dll 1.200.000
4 Pemeliharaan bangunan 1.200.000
Total 24.000.000

3.11   Kendaraan Untuk Usaha


Dalam perhitungan efisiensi transportasi diputuskan untuk pengadaan mobil sendiri. Pertimbangan disajikan
dalam perhitungan dalam tabel lampiran.
Jenis Kendaraan Merk Jumlah Harga (Rp) Jumlah Harga
(Rp)
Truk PS 120 Mitsubishi 1 unit 120.000.000 120.000.000
Total 120.000.000
3.12  Sistem Produksi Outsourching
Selain produksi dan pengembangan sendiri, Himpunan Petani Organik Cianjur Indonesia juga melakukan
produksi dengan sistem kemitraan (plasma). Mitra (plasma) yang dimaksud adalah petani-petani binaan P3S,
Lumbung Tani Sehat, Gapoktan, Kelompok Tani Sehat dan lain-lain dengan menerapkan standarisasi produk.
Hal ini sangat dimungkinkan dan mensiasati permintaan kebutuhan POENIK untuk luar daerah yang relatif
sulit dipenuhi jika harus dikirim dari Bogor.  

3.13  Tata Letak/Layout Pabrik


 
Gambar 1.  Denah tata letak Pabrik Kompos POENIK

IV.  ASPEK PEMASARAN
4.1    Pembagian Pasar
Disesuaikan dengan kebutuhan terhadap produk ini, penggunanya adalah petani kecil hingga petani besar,
petani tanaman pangan hingga petani hortikultura, hobiis.  Dan jalur pemasaran tentunya berkaitan dengan
toko, kios, agen, dan bazar.
4.2   Potensi Pasar Lokal
Lingkup pasar lokal adalah wilayah Jabodetabek dan jawa barat.  Pasar lokal sangat menjanjikan untuk produk
kompos POENIK.  Di wilayah Jabodetabek tidak kurang dari 1.000 kios tanaman hias, 100 toko pertanian, dan
ratusan petani sebagai pengguna potensial pupuk kompos.
4.3   Kebutuhan Pupuk Organik di Pasaran
Berdasarkan hasil survey pasar yang telah dilakukan terhadap para penjual tanaman  hias yang berjumlah  50
pedagang yang tersebar di sepanjang Jalan Pajajaran dan Warung Jambu di wilayah Bogor, pupuk kompos
yang mereka jual dipasok dari Sukabumi, Sentul, Jakarta dan Bogor sendiri.  Para pedagang tanaman hias yang
berjualan di sepanjang jalan raya jumlahnya cukup banyak dibandingkan toko-toko saprotan sehingga
mendapatkan pasokan pupuk kompos yang cukup banyak pula. Jumlah pasokan pupuk kompos ke setiap
pedagang rata-rata sebesar 1.500 kg/bulan yang dipasok dari beberapa produsen kompos.  Dengan demikian
jumlah pasokan per bulan untuk 50 pedagang adalah sekitar 75.000 kg (diasumsikan jumlah pasokan adalah
jumlah kebutuhan). Diperkirakan jumlah kebutuhan sesungguhnya lebih besar dari 75.000 kg karena yang
disurvey baru 2 lokasi di Bogor (anggap jumlah sesungguhnya 100.000 kg).
Dengan mengasumsikan jumlah kebutuhan di kelompok pedagang lainnya yaitu di Sukabumi, Depok, dan
Jakarta masing-masing 100.000 kg, maka jumlah total kebutuhan pupuk kompos di wilayah Bogor, Sukabumi,
Depok, dan Jakarta adalah 400.000 kg.
4.4   Ceruk Pasar  / Niche Market
Dengan mengambil ceruk pasar 5-10 % saja dari total kebutuhan keempat wilayah tadi, maka ceruk pasar yang
bisa diisi Pupuk Kompos POENIK sekitar 20.000-40.000 kg/bulan (20-40 ton/bulan).
4.5   Kondisi Pesaing / Benchmark Market
Dari  hasil  survey  diketahui  ada  beberapa pupuk kompos pesaing yang beredar dengan merk antara lain :
Agro Lestari, Agro Raya, Agro Perkasa, EM-Bokhasi-TW 99, Geet Leuha Kompos, Kariyana dan Media
Tanam Plus.
Karakter persaingan di produk ini adalah model terbuka dan bebas. Artinya bahwa pasar akan saling mengisi
jika produk kosong. Sistem harga yang terjadi juga masih dikendalikan oleh pasar. Keunggulan diantara
produk pupuk organik ini belum terlihat nyata. Sehingga proses diterimanya produk ini dipasaran lebih
disebabkan oleh strategi pemasar (marketer).
4.6   Pertimbangan Pengembangan
Pemasaran Pupuk Kompos POENIK selama ini hanya mencakup wilayah Bogor dengan kapasitas penjualan 2-
3 ton/bulan. Berdasarkan analisa keuangan sederhana yang dibuat untuk Bulan Mei 2006, usaha Pupuk
Kompos POENIK layak untuk dikembangkan karena mempunyai nilai B/C ratio 1,24. Bulan-bulan lain
penjualan relatif sama karena kapasitas produksi maksimum saat ini 3 ton/bulan. BEP Harga akan tercapai
pada tingkat harga Rp. 583/kg dengan BEP Produksi 2019 kg. Sedangkan nilai ROE  24 %, yang berarti
penggunaan modal untuk usaha ini cukup efisien.
Kesimpulannya, penggunaan modal untuk usaha ini cukup efisien sehingga keuntungan bersih perlu terus
ditingkatkan agar efesiensinya meningkat.
Dengan melihat nilai B/C ratio dan ROI/ROE di atas, maka dapat dikatakan usaha Pupuk Kompos POENIK
yang dijalankan HIPOCI selama ini layak untuk dikembangkan pada skala yang lebih besar yaitu pendirian
Pabrik Pupuk Kompos ”POENIK”. Wilayah pemasaran nantinya tidak hanya untuk kota/kab. Bogor, tapi akan
diperluas hingga ke Sukabumi, Depok, dan Jakarta.
4.5   Strategi Pemasaran
Strategi yang akan diterapkan dan dijalankan oleh Himpunan Petani Organik Cianjur Indonesia menggunakan
aspek Segmentasi Pasar, Target, Positioning, Analisa Kendala dan Problem Solving
4.5.1 Segmentasi
Untuk lebih mendukung usaha pemasaran Pupuk Kompos POENIK, perlu kiranya mengetahui segmentasi
pasar yang sesuai untuk konsumen pupuk organik ini. Segmentasi berhubungan dengan pengelompokan
masyarakat yang potensial menjadi pembeli/pelanggan Pupuk Kompos POENIK.  Melihat karakteritik
masyarakat yang menjadi pelanggan Pupuk Kompos POENIK selama ini, ditetapkan segmentasi
berdasarkan wilayah tempat tinggal, berdasarkan jenis usaha, dan berdasarkan pekerjaan/profesi.
4.5.2 Target Pasar
Target pemasaran atau targetting Pupuk Kompos POENIK meliputi toko-toko  sarana produksi pertanian, para
pedagang tanaman hias/pupuk pinggir jalan, agen-agen pupuk untuk rumah tangga/gedung-gedung yang peduli
penghijauan di Jabodetabek, petani-petani sistem organik dan non-organik, balai/lembaga penelitian pertanian,
dan kebun-kebun percobaan.
4.5.3 Positioning
Positioning berhubungan dengan image produk kita di benak pelanggan yang memberi daya dorong untuk
membeli. Image yang ditanamkan ke benak pelanggan lebih bersifat perspektif, sehingga unsur subyektifitas
tentang kelebihan produk POENIK perlu ditonjolkan.
Umumnya orang membeli pupuk bukan dengan melihat detail karekteristik/kandungan produk yang
ditawarkan. Orang membeli lebih kepada manfaat apa yang diperoleh pada tanamannya dengan memakai
Pupuk Kompos POENIK.  Oleh karena itu perlu ditanamkan nilai-nilai plus Pupuk Kompos POENIK baik
lewat pengalaman para pengguna, cerita orang lain tentang kelebihan produk, membuat daftar keunggulan
produk di kemasan, ataupun cara lain mengkomunikasikan produk kita dengan menggunakan segenap sumber
daya HIPOCI.
Dukungan pembangunan brand image dari pemilik toko atau kios juga sangat perlu, sehingga perlu disiapkan
reward, diskon, dukungan lainnya. Pemilik toko atau kios merupakan jaringan terakhir yang bertemu end user.

4.6   Kendala Pemasaran
Memperkirakan kendala yang akan muncul dalam sistem pemasaran adalah suatu kaidah yang perlu
dipersiapkan. Kaidah amanah, profesional, proporsional, dan peduli merupakan suatu solusi. Hambatan-
hambatan/kendala-kendala harus menjadi pemicu meningkatkan daya juang semua pihak.
Berdasarkan pengalaman, beberapa kendala pemasaran yang mungkin dihadapi nanti adalah : persediaan bahan
baku yang tidak selalu cukup untuk mengejar target produksi, pengiriman yang tidak tepat waktu untuk
keempat wilayah pemasaran yang berbeda, sistem pembayaran konsinyasi dari customer yang bisa mundur
hingga dua bulan, permintaan dari konsumen agen yang bersifat pasif, dan persaingan dari kompetitor yang
lebih dahulu memasuki pasar.
4.6.1 Cara Mengatasi Kendala
Untuk mengatasi beberapa kendala di atas, perlu dilakukan langkah antisipasi agar tidak menjadi penghalang
dalam mencapai target yang telah ditetapkan.
Kendala persediaan bahan baku yang tidak selalu cukup untuk mengejar target produksi. Untuk mengatasi
masalah ini perlu dilakukan penyetokan bahan baku setiap periode tertentu untuk kelangsungan produksi.
Bahan baku yang dibutuhkan adalah pupuk kandang, jerami/hijauan, arang sekam, dedak, dolomit,
fermentator, dan molase. Setiap hari harus dicek ketersediaan bahan-bahan ini digudang. Dalam sehari tidak
boleh  ada bahan yang kosong digudang.
Kendala pengiriman yang tidak tepat waktu untuk keempat wilayah pemasaran yang berbeda. Untuk
mengatasinya perlu diberlakukan time management bagian pemasaran dan distribusi. Pembagian zona wilayah
pengiriman dibuat sesuai dengan kapasitas dan kondisi pemasaran.
Kendala sistem pembayaran konsinyasi dari customer yang bisa mundur hingga dua bulan. Idealnya
pembayaran konsinyasi dari customer untuk produk yang lain paling lama 1 bulan. Karena kalau terlalu lama
akan mengganggu arus kas piutang yang tidak lancar. Namun untuk pupuk, pengalaman pemasaran POENIK
selama ini memang lebih banyak yang bayar konsinyasi sekitar 1 bulan (sekitar 70-80 % customer masuk
kategori ini). Untuk mengatasi pembayaran konsinyasi yang terlalu lama (hingga 2 bulan), perlu
dipilih customer yang potensial cepat perputaran penjualannya. Bagi customer yang lama perputaran
penjualannya, maka sistem konsinyasi bisa dilakukan dengan kuantitas yang relatif sedikit.
Kendala permintaan dari konsumen atau agen yang bersifat pasif. Tidak jarang konsumen agen yang
menjadi customer bersifat pasif dalam menjalin hubungan dagang. Terkadang barang kita sudah habis terjual,
tapi mereka lupa atau tidak sempat menghubungi kita kembali untuk melakukan pemesanan. Untuk kasus
demikian, maka dituntut adanya tim pemasaran yang bersifat aktif, peka, dan memiliki mobilitas tinggi untuk
“menjemput bola” ke customer. Customer perlu disapa, diperhatikan perkembangannya, dan digali
informasinya sampai sejauh mana kebutuhannya. Pemberian reward kepada agen atau konsumen yang paling
cepat repeat order dalam kurun waktu tertentu merupakan solusi berikutnya.
Kendala persaingan dari kompetitor yang lebih dahulu memasuki pasar. Untuk memasuki pasar yang telah
lebih dahulu ada kompetitornya, maka perlu kejelian tim pemasaran untuk mencari titik kelemahan produk
sang kompetitor. Lalu kita tonjolkan kekuatan produk POENIK yang bisa mensubstitusi kelemahan produk
kompetitior, sehingga kehadiran POENIK sebagai pendatang baru akan lebih mudah diterima oleh
calon customer.
Jika dalam praktek pemasaran nanti terdapat kendala lain di luar lima kendala yang disebutkan di atas, maka
tinggal kreasi tim pemasaran untuk mengatasinya. Di sini dituntut sense of investigating tim pemasaran agar
kendala yang muncul bisa ditelusuri akar penyebabnya, lalu dilakukan langkah-langkah spesifik yang
mengarah pada pemecahan kendala.

4.7   Sistem Pemasaran
Pelaksanaan sistem pemasaran POENIK menggunakan sistem Konvensional dan Langsung (Direct).
Pemasaran sistem Konvensional (Distributor – Agen) mampu meminimalisasi biaya distribusi, sosialisasi, dan
efisien waktu. Pemberian dan peningkatan dukungan terus-menerus tetap dilakukan secara maksimal dan
proporsional.  Diharapkan Distributor/Agen mampu memacu kinerja untuk mengembangkan pasar lebih bagus.
Kinerja yang baik akan menjadikan kesan bahwa usaha penjualan POENIK memang layak dari sisi bisnis.
Pemasaran sistem Langsung akan dilaksanakan dalam rangka rutinitas penetrasi pasar dan dalam rangka
mengakomodir ketidakpuasan pelanggan atas kinerja Distributor/Agen dalam memasarkan POENIK. Sehingga
dengan adanya tambahan dari sistem ini diharapkan mampu mencapai target pemasaran.
Pada kegiatan Proyek-proyek (pengadaan, pembinaan, dan lain-lain), Himpunan Petani Organik Cianjur
Indonesia akan membentuk tim khusus by project dengan tetap menggunakan kaidah dan jaringan produk.
Sistem pelaksana bisa Lembaga atau pihak lain yang bersepakat mengadakan kerjasama dengan HIPOCI-DD.
4.8   Peluang Pasar Diversifikasi
Peluang pasar ditinjau dari diversifikasi produk masih sangat terbuka dan menjanjikan.
Dalam bentuk Granul dan Pellet lebih disukai oleh Perkebunan-perkebunan Besar baik Pemerintah ataupun
Swasta. Demikian juga konsumen untuk tanaman Tahunan, baik tanaman buah ataupun kehutanan.
Bentuk Cair lebih disukai oleh Hobies dan tanaman indoor (green house, hidroponic, aeropinic) atau yang
sifatnya fast growing.
Dalam Inovasi penambahan agen hayati atau campuran bahan lain (giocladium, beauveria, NPS, dll) lebih
dikhususkan untuk order terbatas. Biasanya dipesan untuk kegiatan penelitian atau proyek.
4.9   Promosi
Brosur adalah media informasi utama yang dikeluarkan sebagai pendamping produk. Brosur sebagai standar
minimal pengenalan terhadap produk POENIK dan menjadi penting apabila tepat sasaran dan tersebar luas.
Pameran merupakan ajang pengenal POENIK sebagai pupuk kompos yang diproduksi dengan teknologi yang
unggul. Pameran juga merupakan ajang transaksi yang ideal dan strategis.
Presentasi adalah metode promosi sekaligus penyampaian product knowledge yang lebih spesifik dan
mendalam. Sehingga tidak menutup kemungkinan akan muncul masukan-masukan untuk penyempurnaan
produk.
Advertorial melalui media merupakan teknik promosi yang efektif sekaligus mahal. Namun teknik promosi ini
juga perlu dilakukan dengan pertimbangan skala ekonomi dan target pasar.
Keempat cara promosi tersebut akan dilaksanakan melalui seleksi prioritas sesuai dengan kebijakan anggaran.
Namun perlu disadari bahwa tidak mungkin pelaksaan pemasaran tanpa dukungan promosi, karena hal ini
berkaitan dengan eksistensi, sosialisasi, dan positioning produk.
V.  ASPEK KEUANGAN
Aspek keuangan didalam usaha ibarat kekuatan nadi dalam sistem tubuh manusia.  Alokasi pendanaan dan
strategi penggunaan akan sangat menentukan kekuatan pelaksanaan usaha. Perhitungan pembiayaan,
pelaksanaan kegiatan, hingga pendapatn hasil merupakan kinerja aspek keuangan.
5.1       Pembiayaan Pengembangan Usaha Kompos
            Total Biaya Keseluruhan terdiri dari :
1 Investasi Rp.  266.212.500
2 Modal Kerja Rp.    88.696.000
3 Total Biaya Proyek Rp. 354.908.500 
5.2      Proyeksi Laba Rugi
         Keuntungan yang direncanakan didapat selama 3 tahun mendatang :
Tahun 1 Rp.    (5.147.615)     
Tahun 2 Rp.  20.695.675
Tahun 3 Rp.  30.114.245

5.3   Proyeksi Arus Kas


         Penghitungan Saldo Kas selama 3 tahun mendatang
Pra-Operasi Rp.                     0
Tahun 1 Rp.    70.116.510
Tahun 2 Rp.  102.462.810
Tahun 3 Rp.    143.959.555

5.4   Analisa Keuangan
1.       Titik Impas Penjualan (BEP)
Tahun 1 Rp.  244.461.389
Tahun 2 Rp.  272.929.260
Tahun 3 Rp.  294.511.451

2.      Kemampuan Investasi dalam menghasilkan keuntungan (Return On Investment/ROI)


Tahun 1 - 1.58
Tahun 2 5.98
Tahun 3 8.01

VI.  KESIMPULAN
ROI merupakan indikator pengukur efisiensi penggunaan modal (invetasi) dalam mencapai keuntungan. Untuk
tahun 1, ROI bernilai -1.58  %. Ini berarti dari Rp. 100,- modal yang dikeluarkan, belum menghasilkan
keuntungan, karena penggunaan modal masih lebih besar dari penjualan.
Pada tahun 2, ROI mulai meningkat menjadi 5,98 %. Ini berarti dari Rp. 100,- modal yang dikeluarkan, akan
dihasilkan keuntungan Rp. 5,98,-. Atau dari Rp. 10.000,- modal yang dikeluarkan, akan dihasilkan keuntungan
Rp. 598,-. Begitu seterusnya hingga tahun 3.
Dari 3 tahun analisa ROI di atas, terlihat bahwa modal yang digunakan dalam usaha Pupuk POENIK  cukup
efesien dan keuntungan bersihnya perlu ditingkatkan agar efisiensinya meningkat. Nilai ROI terendah ada pada
tahun pertama dan ROI tertinggi terjadi pada tahun ketiga.

Hasil identifikasi kekuatan (S), kelemahan (W), peluang (O) dan tantangan (T) dalam pengembangan
pupuk organik di 4 kabupaten ini adalah : 1. Faktor-faktor Internal Faktor-faktor internal adalah faktor-
faktor yang berasal dari dalam lingkungan petani sendiri terdiri dari kekuatan (S) dan kelemahan (W). a.
Kekuatan (S) 1. Adanya hewan ternak dan bahan baku lainnya Pemberian UPPO umumnya disertai
dengan pemberian bantuan ternak yang diserahkan ke kelompok. Hal ini bertujuan untuk mencukupi
ketersediaan bahan baku pembuatan pupuk organik. Jumlah kotoran ternak yang dihasilkan bisa
mencapai 10 kg/ekor/hari dan urine sapi15-20 liter/ekor/hari. Kotoran dan Urin sapi menjadi bahan
baku pembuatan pupuk organik padat dan cair. Selain itu, komoditas yang ditanam petani menghasilkan
limbah pertanian seusai panen seperti jerami padi, serasah jagung, serasah kedelai, tandan kosong
kelapa sawit, yang juga merupakan sumber bahan baku untuk pembuatan pupuk organik. 2. Petani
memiliki pengetahuan tentang pupuk organik dan pembuatannya Berdasarkan hasil wawancara dengan
respoden, mayoritas (83,33%) pernah mengikuti pelatihan mengenai pupuk organik. Hal ini merupakan
kekuatan karena setidaknya petani telah paham mengenai pentingnya penggunaan pupuk organik bagi
tanaman, cara pembuatan pupuk organik dan manfaatnya untuk kesehatan di jangka panjang. 3.
Aktifnya kelompok tani Kelompok tani penerima UPPO umumnya aktif dilihat dari jumlah anggota serta
diadakannya pertemuan rutin untuk saling berdiskusi dan tukar ilmu pengetahuan. Umumnya ketua
kelompok tani aktif membina anggotanya dalam pertemuan tersebut dengan memberikan ilmu yang
baru diperolehnya karena ketua sering mengikuti pelatihan pertanian. 4. Motivasi dan kesadaran petani
dalam menggunakan pupuk organik Dari wawancara dengan petani di beberapa lokasi, mereka telah
menyadari dan termotivasi untuk menggunakan pupuk organik. Hal ini dilihat dari hasil yang diperoleh
dan pentingnya bagi kesehatan untuk jangka panjang. Beberapa dari mereka juga mengetahui buruknya
penggunaan pupuk anorganik secara terus menerus bagi kesuburan tanah. 5. Pemanfaatan pupuk
organik untuk digunakan sendiri, sebagian dijual Pupuk organik yang telah dibuat digunakan sendiri oleh
petani dan dijual juga. Hal ini berarti pupuk organik dibutuhkan secara kontinue sehingga pembuatan
pupuk organik juga akan berlangsung secara terus menerus karena sudah menjadi kebutuhan para
responden. 915 6. Peningkatan produksi setelah menggunakan pupuk organik Dari hasil wawancara,
59% responden menyatakan bahwa produksi hasil usahataninya meningkat setelah menggunakan pupuk
organik dan sisanya menyatakan produksi hasilnya tetap. Hal ini merupakan kekuatan karena dengan
meningkatnya produksi hasil, petani akan terus menggunakan pupuk organik. 7. Harga pupuk organik
terjangkau Harga pupuk organik asal kotoran hewan berkisar Rp.250– Rp.1000/Kg dan kompos berkisar
Rp.500– Rp.1.100per kilogram. Harga ini dirasakan terjangkau bagi para konsumen sehingga diharapkan
pupuk organik dapat terus berkembang dan penggunaannya lebih meluas. 8. Adanya komitmen
penggunaan pupuk organik Dari hasil wawancara, 72% responden menyatakan bahwa terdapat
komitmen dalam kelompok tani untuk menggunakan pupuk organik, walaupun masih tetap ada
penggunaan pupuk anorganik. Ini merupakan kekuatan karena dengan adanya komitmen ini, maka
anggota kelompok tani akan terus berupaya menggunakan pupuk organik bahkan untuk membuat
pupuk organik untuk dipakai sendiri. 9. Pupuk organik yang dihasilkan memenuhi selera pasar Pupuk
organik yang dijual oleh responden jarang mendapat keluhan/komplain dari konsumen. Hanya 22%
responden yang menyatakan pernah mendapat keluhan, misalnya terlalu basah atau keterlambatan
ketersediaan. Hal ini berarti pupuk organik yang dihasilkan dapat memenuhi selera pasar dan akan terus
mengalami permintaan dari pasar. b. Kelemahan (W) 1. Masih kurangnya ketersediaan bahan baku
walaupun ada ternak dan limbah pertanian Walaupun telah mendapat bantuan ternak dan sudah
berproduksi dan adanya limbah pertanian lainnya, akan tetapi dirasakan ketersediaan bahan baku untuk
membuat pupuk organik ini masih kurang. Hal ini terjadi karena penggunaan pupuk organik
membutuhkan takaran yang tinggi. Selain itu ada kelompok tani yang sudah melayani
penjualan/permintaan dari dinas terkait dengan program pemerintah. 2. Penggunaan pupuk organik
dinilai merepotkan Penggunaan pupuk organik yang harus dalam takaran tinggi dinilai merepotkan bagi
81% responden. Hal ini juga terkait pengangkutan pupuk organik ke lahan pertanian karena harus dalam
jumlah banyak. 3. Harga produk organik sama dengan harga produk anorganik Harga produk pertanian
yang menggunakan pupuk organik masih sama dengan harga produk pertanian yang menggunakan
pupuk anorganik. Hal ini masih terjadi di daerah-daerah bukan di perkotaan besar. Hal ini merupakan
kelemahan karena sudah dinilai merepotkan, tetapi harga jual produknya masih tetap sama dan tidak
ada nilai tambahnya. 4. Pupuk anorganik masih digunakan dalam berusaha tani Pupuk anorganik masih
tetap digunakan dalam berusaha tani, terutama untuk tanaman perkebunan karena produksi hasil
tanaman perkebunan tersebut kurang baik jika hanya menggunakan pupuk organik. Hal ini diduga
karena dosis pupuk organik masih kurang tepat dan kualitas pupuk organik kurang baik, 5. Pendidikan
rendah Tingkat pendidikan petani sangat berpengaruh terhadap penerimaan teknologi yang diberikan,
makin tinggi tingkat pendidikan seseorang semakin cepat dalam proses alih teknologi(Ningsih,
2013).Dalam karakteristik responden di atas terlihat bahwamayoritas tingkat pendidikan petani
responden masih rendah yaitu 44,44 % berpendidikan SD. Hal ini mengakibatkan adopsi teknologi
pertanian berjalan lambat sehingga petani harus diberikan pendidikan secara terus menerus melalui
penyuluhan [Link] pendidikan yang masih rendah tersebut, maka keterampilan anggota
kelompok tani dalam pembuatan pupuk organik menjadi rendah pula. Umumnya petani yang banyak
mengikuti pelatihan pertanian memiliki kemampuan yang lebih baik dari petani lainnya. 916 6. Umur
petani relatif tua Umur berpengaruh terhadap kemampuan fisik petani dalam mengelola usahataninya,
semakin tua umur petani maka kemampuan kerjanya relatif menurun (Ningsih, 2013). Berdasarkan hasil
wawancara dengan responden seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, dominan umur petani
responden 48–54 tahun. Hal ini menunjukkan tingginya presentase umur petani responden tergolong
tua sehingga berpengaruh terhadap penerimaan materi penyuluhan tentang teknologi pertanian,
khususnya dalam pembuatan pupuk organik, selain itu kondisi fisik yang dimiliki semakin menurun. 7.
Lahan terbatas Luas lahan garapan dapat memberikan pengaruh terhadap tingkat pendapatan dan
penerapan teknologi, semakin luas lahan garapan semakin mampu memberikan jaminan hidup sebagai
sumber pendapatan keluarga (Ningsih, 2013). Berdasarkan hasil wawancara dengan petani responden
menunjukkan petani responden yang memiliki luas lahan garapan 0 – 2 Ha mencapai 58,33%. Hal ini
menunjukkan bahwa luas lahan garapan yang dikelola oleh petani sangat sempit dan hanya mampu
memenuhi kebutuhan pangan keluarga, sehingga untuk mengembangkan pupuk organik menjadi
terbatas. 2. Faktor-faktor Eksternal Faktor eksternal adalah faktor-faktor yang berasal dari luar
lingkungan petani, terdiri dari peluang (O) dan ancaman (T). a. Peluang (O) 1. Adanya bantuan dari
pemerintah Adanya bantuan dari pemerintah selain bantuan UPPO ini merupakan peluang untuk
meningkatkan pengembangan pupuk organik. Bantuan dari pemerintah berupa sarana produksi lainnya
yang terkait dengan pembuatan pupuk organik misalnya terpal dan karung yang sudah dilabel. Bantuan
lain seperti traktor, thesher juga dirasakan bermanfaat bagi petani/kelompok tani. 2. Adanya binaan dari
pemerintah/PPL berupa pelatihan Adanya binaan dari pemerintah melalui penyuluh pertanian berupa
pelatihan, informasi dan motivasi merupakan peluang untuk meningkatkan kesadaran dan motivasi
petani dalam penggunaan pupuk organik. Pelatihan-pelatihan ini dilaksanakan di tingkat kabupaten
maupun langsung di kelompok taninya. Transfer ilmu dari peserta pelatihan tingkat kabupaten kepada
anggota kelompok tani juga dibutuhkan dalam rangka peningkatan pengetahuan dan keterampilan
petani 3. Adanya program pemerintah untuk mengggunakan pupuk organik Pembangunan tidak akan
terlepas dari adanya suatu program pemerintah dan kebijakan baik kebijakan dari pemerintah daerah,
provinsi, pusat dan lembaga internasional. Program yang mendukung penggunaan pupuk organik
diantaranya adalah program SL-PTT (Sekolah Lapang Pengelolaan Tanaman Terpadu), FEATI (Farmer
Empowerment Through Agricultural Technology & Information/Pemberdayaan Petani melalui Teknologi
dan Informasi Pertanian) yang memberikan pelatihan dan percontohan kepada petani. Program PUAP
(Pengembangan Usaha Agribisnis Pedesaan) sebagai bantuan modal agar petani dapat mengembangkan
usaha tani ke arah agribisnis serta PPL. Salah satu paket dalam program SLPTT adalah penggunaan
pupuk organik sehingga mau tidak mau petani harus menggunakan pupuk organik dalam pengelolaan
tanaman terpadu padi, jagung dan kedelai. 4. Tenaga kerja yang cukup Dari hasil analisis regresi terlihat
bahwa tenaga kerja merupakan salah satu faktor yang berpengaruh dalam produksi pupuk organik. Hal
ini berarti tenaga kerja merupakan salah satu kekuatan dalam mendukung pengembangan pupuk
organik. Tenaga kerja berpengaruh karena selain menggunakan tenaga kerja di luar, petani 917 juga
menggunakan tenaga kerja keluarga yang tidak dikeluarkan upahnya, sehingga dapat memperbesar
pendapatan. b. Tantangan (T) 1. Tidak adanya tempat khusus untuk menampung penjualan pupuk
organik Tempat khusus untuk menampung penjualan pupuk organik masih belum ada. Umumnya
konsumen langsung ke pembuat pupuk organik baik itu konsumen dari instansi terkait maupun
konsumen biasa. Oleh karena itu agar sulit bagi konsumen perkotaan untuk mendapatkan pupuk organik
hasil UPPO ini. 2. Tidak adanya kelompok tani lain yang membuat pupuk organik Tidak adanya kelompok
tani lain merupakan peluang karena bisa menimbulkan kerjasama antar kelompok tani dalam
pengembangan pupuk organik . Keterbatasan ketersediaan bahan baku dan permintaannya yang
terkadang melonjak membutuhkan kerjasama dengan kelompok tani lain sehingga pupuk organik dapat
mencukupikebutuhan. 3. Pupuk anorganik mudah diperoleh dengan harga subsidi Pupuk anorganik yang
banyak tersedia di pasaran dengan harga subsidi menyebabkan penggunaan pupuk organik menjadi
terbatas, karena penggunaan pupuk anorganik dirasakan lebih mudah. 4. Tidak adanya penghargaan
dari pemerintah untuk pemakaian pupuk organik Petani yang telah menggunakan dan membuat pupuk
organik belum pernah mendapat penghargaan terkait dengan pertanian organik ini. Hal ini merupakan
tantangan yang perlu dipertimbangkan dalam pengembangan pupuk organik. 5. Kurang pengetahuan
mengenai standar SNI pupuk organik Dari hasil wawancara dengan responden sekitar 68,75 %
responden belum mengetahui standar pupuk organik sehingga diduga produksi pupuk organiknya masih
di bawah standar. Informasi mengenai standar SNI ini dapat meningkatkan motivasi petani dalam
pembuatan pupuk organik.

Anda mungkin juga menyukai