0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
73 tayangan30 halaman

Pengaman Pantai Jeumpa Bireuen 2023

Ringkasan dokumen tersebut adalah sebagai berikut: 1. Dokumen tersebut berisi spesifikasi teknis pembangunan prasarana pengaman pantai Jeumpa di Kabupaten Bireuen dengan panjang 0,15 km dan nilai pagu Rp. 9,45 miliar. 2. Lokasi pekerjaan berada di dua desa di Kecamatan Jeumpa yang mengalami abrasi pantai. 3. Ruang lingkup pekerjaan mencakup persiapan dan konstruksi revetment.

Diunggah oleh

rizal jalil
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
73 tayangan30 halaman

Pengaman Pantai Jeumpa Bireuen 2023

Ringkasan dokumen tersebut adalah sebagai berikut: 1. Dokumen tersebut berisi spesifikasi teknis pembangunan prasarana pengaman pantai Jeumpa di Kabupaten Bireuen dengan panjang 0,15 km dan nilai pagu Rp. 9,45 miliar. 2. Lokasi pekerjaan berada di dua desa di Kecamatan Jeumpa yang mengalami abrasi pantai. 3. Ruang lingkup pekerjaan mencakup persiapan dan konstruksi revetment.

Diunggah oleh

rizal jalil
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

SPESIFIKASI TEKNIS

PAKET PEKERJAAN :

PEMBANGUNAN PRASARANA PENGAMAN PANTAI JEUMPA


DI KABUPATEN BIREUEN

PPK SUNGAI DAN PANTAI II


SATUAN NON VERTIKAL TERTENTU
PELAKSANAAN JARINGAN SUMBER AIR SUMATERA I
BALAI WILAYAH SUNGAI SUMATERA I

SUMBER DANA APBN TAHUN ANGGARAN 2023


URAIAN KEGIATAN

Kementerian Negara/Lembaga : Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat


Unit Eselon I : Direktorat Jenderal Sumber Daya Air.
Program : Pengelolaan Sumber Daya Air
Kegiatan : Pengendalian Banjir, Lahar,Pengelolaan Drainase
Utama Perkotaan, dan Pengamanan Pantai
Indikator Kinerja Kegiatan : Pengamanan Garis Pantai Jeumpa Kabupaten Bireuen “
Jenis Keluaran(Output) : Panjang Bangunan Pengaman Pantai
Volume : 0,15 Km
Nama Paket : Pembangunan Prasarana Pengaman Pantai Jeumpa di
Kabupaten Bireuen
Sumber Dana : APBN
Nilai Pagu : RP. [Link].,-
(Sembilan Milyar Empat Ratus Lima Puluh Juta Rupiah)
Nilai HPS : RP [Link].,-
(Sembilan Milyar Empat Ratus Lima Puluh Juta Rupiah)
Tahun Anggaran : 2023
Lokasi Pekerjaan : Kabupaten Bireuen

A. PENDAHULUAN

1. DASAR HUKUM
Acuan pedoman pelaksanaan pekerjaan meliputi semua aturan perundang-undangan yang
berlaku seperti :
a. UU No. 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara;
b. UU No. 01 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara;
c. UU No. 32 Tahun 2010 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup;
d. UU No. 02 Tahun 2017 tentang Jasa Konstruksi;
e. UU No. 17 Tahun 2019 tentang Sumber Daya Air;
f. Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 2020 tentang Penyelenggaraan Jasa
Konstruksi;
g. Peraturan Presiden Nomor 12 Tahun 2021 tentang Perubahan atas Peraturan Presiden
Nomor 16 Tahun 2018 tentang Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah;
h. Peraturan Lembaga Pengadaan Barang / Jasa Pemerintah Republik Indonesia Nomor
12 Tahun 2021 tentang Pedoman Pelaksanaan Pengadaan Barang / Jasa Melalui
Penyedia;
i. Permen PU No. 09/PRT/M/2010 tentang Pedoman Pengamanan Pantai;
j. Permen PUPR No. 04/PRT/M/2015 tentang Kriteria dan Penetapan Wilayah Sungai;
k. Permen PUPR No. 10/PRT/M/2021 tentang Pedoman Sistem Manajemen Keselamatan
Konstruksi;
l. Permen PUPR No. 01/PRT/M/2022 tentang Penyusunan Perkiraan Biaya Pekerjaan
Konstruksi Bidang Pekerjaan Umum;
m. Surat Edaran Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat No. 18/SE/M/2021
tentang Pedoman Operasional tertib penyelenggaraan Persiapan Pemilihan Untuk
Pengadaan Jasa Konstruksi di Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat;
n. Surat Edaran Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat No. 19/SE/M/2021
tentang Pedoman Pelaksanaan Tertib Evaluasi Kewajaran Harga Pada Tender
Pekerjaan Konstruksi di Kementerian Pekerjaan Umum Dan Perumahan.

2. LATAR BELAKANG
Pengelolaan dan pengembangan sumber daya air dilaksanakan sebagai upaya dalam terus
meningkatkan kesejahteraan rakyat dan peningkatan kegiatan ekonomi produktif,
Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat melalui Direktorat Jenderal Sumber
Daya Air terus berupaya dalam mendorong dan memajukan infrastruktur sumber daya air
untuk seluruh rakyat Indonesia melalui salah satu kegiatannya adalah Pengamanan Pantai
yang bertujuan untuk mengamankan wilayah pantai yang ada di Indonesia.

3. GAMBARAN UMUM
Secara geografis Kabupaten Bireuen terletak diantara 04° 54' 00" - 05° 21' 00" LU dan 96° 20'
00" - 97° 21' 00" BT yang merupakan pemekaran dari Kabupaten Aceh Utara pada tanggal 12
Oktober 1999 (berdasarkan Undang-undang No. 48 Tahun 1999). Luas Wilayah Kabupaten
Bireuen adalah 1.796,32 Km² (179.632 Ha), dengan ketinggian 0 - 2.637 mdpl (meter di atas
permukaan laut). Terbagi dalam 17 Kecamatan, dimana Kecamatan Peudada merupakan
Kecamatan terluas dengan luas wilayah 312,84 km2 atau sebesar 17,42 persen dari luas
Kabupaten Bireuen. Sedangkan Kecamatan terkecil adalah Kecamatan Kota Juang dengan
luas hanya 16,91 km². Terjangan ombak telah mengabrasi tepi Pantai di dua Desa.
Kecamatan Jeumpa Kabupaten Bireuen yaitu Desa Mon Jambee dan Desa Batee Timoh yang
terancam terendam, jarak abrasi Pantai sekitar ± 4 meter dari kemukiman masyarakat.
Kejadian itu telah terjadi bertahun-tahun tanpa pelindung seperti hutan bakau atau pelindung
buatan, sebagian daratan sudah menjadi lautan akibatnya, abrasi pantai yang setiap harinya
terus-menerus semakin meluas.

B. LOKASI PEKERJAAN

Lokasi pekerjaan berada di Desa Mon Jambee dan Desa Batee Timoh yang berada di
Kecamatan Jeumpa Kabupaten Bireuen, dua Desa tersebut yang mengalami kerusakan yang
cukup parah. Terletak pada koordinate (5.22° N ,96.66°E), seperti dilihat pada gambar
dibawah ini :

PETA LOKASI KEGIATAN PEKERJAAN

LOKASI PEKERJAAN

Untuk mencapai lokasi pekerjaan dapat ditempuh menggunakan kendaraan roda empat
dengan jarak tempuh melalui jalur darat ± 211 km selama ±3 jam 45 Menit perjalanan dari Kota
Banda Aceh ke Kecamatan Jeumpa.
C. PENERIMA MANFAAT

Terlaksananya kegiatan Pembangunan Prasarana Pengaman Pantai Jeumpa di


Kabupaten Bireuen ini guna untuk melindungi fasilitas, aset, sarana dan prasarana yang
terdapat di sekitar permukiman penduduk serta memberikan rasa aman dan nyaman
terhadap masyarakat khususnya yang bertempat tinggal disepanjang garis Pantai Jeumpa di
Kabupaten Bireuen dengan cara melakukan Pembangunan Prasarana Pengaman Pantai
yang sudah sangat kritis.

D. STRATEGI PENCAPAIAN KELUARAN (OUTPUT)

Kegiatan ini dilaksanakan sesuai dengan situasi dan kondisi lapangan dengan tetap
memperhatikan aspek efisiensi sehingga bermanfaat langsung untuk Pengamanan Garis
Pantai Jeumpa di Kabupaten Bireuen Provinsi Aceh. Panjang konstruksi yang akan dibangun
adalah 0,15 Km.

E. RUANG LINGKUP PEKERJAAN

1. Adapun lingkup pekerjaan “Pembangunan Prasarana Pengaman Pantai Jeumpa di


Kabupaten Bireuen” Tahun Anggaran 2023” adalah sebagai berikut:

1. Pekerjaan Persiapan :
1. Mobilisasi dan Demobilisasi.
2. Biaya SMKK (Sistem Manajemen Keselamatan Konstruksi).

2. Mata Pembayaran Pekerjaan Utama :


 Pekerjaan Revetment
1. Galian Tanah Berpasir dengan Alat Berat.
2. Pengadaan dan Pemasangan Geotextile.
3. Pembuatan dan Penyusunan Tetrapod 1,0 Ton.
4. Pembuatan dan Penyusunan Kubus Beton 0,8 M¹ x 0,8 M¹ x 0,8 M¹.

F. ITEM PEKERJAAN UTAMA

Item Pekerjaan Utama pada Pekerjaan Pembangunan Prasarana Pengaman Pantai Jeumpa
di Kabupaten Bireuen Tahun Anggaran 2023, adalah sebagai berikut :
URAIAN PEKERJAAN

Pekerjaan Utama pada Paket ini yaitu Pekerjaan Konstruksi Revetment, dengan Item
Pekerjaan :

1. Galian Tanah Berpasir dengan Alat Berat


2. Pengadaan dan Pemasangan Geotextile
3. Pembuatan dan Penyusunan Tetrapod 1,0 Ton
4. Pembuatan dan Penyusunan Kubus Beton 0,8 M' x 0,8 M' x 0,8 M'

G. MATA PEMBAYARAN UTAMA

Mata Pembayaran Utama pada Pekerjaan Pembangunan Prasarana Pengaman Pantai


Jeumpa di Kabupaten Bireuen Tahun Anggaran 2023, adalah sebagai berikut :

1. Pembuatan dan Penyusunan Kubus Beton 0,8 M´x 0,8 M' x 0,8 M'
2. Pembuatan dan Penyusunan Tetrapod 1,0 Ton

H. PERALATAN UTAMA

Peralatan yang dibutuhkan pada saat pelaksanaan pekerjaan Pembangunan Prasarana


Pengaman Pantai Jeumpa di Kabupaten Bireuen Tahun Anggaran 2023 adalah sebagai
berikut :

No Jenis Kapasitas Minimal Jumlah (Unit)

1. Excavator 0,8 M³ (Kapasitas Bucket) 3

2. Flat Bed Truck 8 ton 1


3. Generator Set 200 Ampere` 1
4. Concrete Vibrator - 2
5. Pompa Air 10 L/detik 2
I. DAFTAR PERSONIL MANAJERIAL

Personil yang dibutuhkan pada Pekerjaan Pembangunan Prasarana Pengaman Pantai


Jeumpa di Kabupaten Bireuen Tahun Anggaran 2023, adalah sebagai berikut :

Jabatan Dalam
Sertifikat Kompetensi
No Pekerjaan Yang Pengalaman Kerja
Kerja
Akan Dilaksanakan

SKT Pelaksana Bangunan


1. Pelaksana 2 Tahun
Irigasi
Ahli Keselamatan 3 Tahun Ahli Muda/ 0 Ahli Keselamatan
2.
Konstruksi Tahun Ahli Madya Konstruksi

J. PENETAPAN RENCANA KESELAMATAN KONSTRUKSI


Penjelasan Manajemen Resiko Serta Penjelasan Rencana Tindakan Diuraikan Sesuai
Dengan Tabel Identifikasi Bahaya Di Bawah Ini :

No Uraian Pekerjaan Identifikasi Bahaya Tingkat Resiko

Pembuatan dan Penyusunan


1. Terjepit Tetrapod 6
Tetrapod 1,0 Ton
Pembuatan dan Penyusunan
2. Kubus Beton 0.8 M¹ x 0.8 M¹ x Terjepit Kubus Beton 6
0.8 M¹

Berdasarkan uraian diatas maka ditetapkan tingkat resiko adalah SEDANG dan memilih item
Pekerjaan “Pembuatan dan Penyusunan Tetrapod 1,0 Ton” untuk di masukkan kedalam
dokumen pemilihan.

No Item Pekerjaan Identifikasi Bahaya


Pembuatan dan Penyusunan
1. Terjepit Tetrapod
Tetrapod 1,0 Ton
K. RENCANA WAKTU PELAKSANAAN

NO PEKERJAAN I II III IV V VI VII

1. PEKERJAAN PERSIAPAN
2. PEKERJAAN UTAMA

- Pekerjaan Revetment

Pelaksanaan Pekerjaan Pembangunan Prasarana Pengaman Pantai Jeumpa di Kabupaten


Bireuen Tahun Anggaran 2023 direncanakan selama 210 (Dua Ratus Sepuluh) hari
kalender. Masa Pemeliharaan pada Pekerjaan Pembangunan Prasarana Pengaman Pantai
Jeumpa di Kabupaten Bireuen Tahun Anggaran 2023 selama 180 (Seratus delapan puluh)
hari kalender.

L. PENDAYAGUNAAN TENAGA KERJA DAN PRODUKSI DALAM NEGERI

Peserta berkewajiban untuk menyampaikan penawaran yang mengutamakan Tenaga Kerja


Dalam Negeri dengan melampirkan Kartu Identitas sebagai Warga Negara Indonesia.
Semaksimal mungkin menggunakan Produksi Dalam Negeri (PDN) untuk Material, Bahan dan
Jasa pelayanan yang ada di Dalam Negeri seperti Jasa Asuransi, Angkutan, Ekpedisi,
Perbankan dan Pemeliharaan serta tidak menghitung nilai TKDN.
dibebankan pada DIPA Tahun Anggaran 2023 Satuan Kerja Non Vertikal Tertentu
Pelaksanaan Jaringan Sumber Air Sumatera I, Balai Wilayah Sungai Sumatera I, Direktorat
Jenderal Sumber Daya Air, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat dengan
total
M. RENCANA PEMBIAYAAN DAN SUMBER DANA

Pembiayaan kegiatan ini biaya sebesar Rp.[Link],- (Sembilan Milyar Empat Ratus
Lima Puluh Juta Rupiah) dengan sumber dana dari APBN
SPESIFIKASI UMUM

A. PENDAHULUAN

1. Penyedia Jasa harus bertanggung jawab atas hak paten, lisensi, serta hak cipta yang melekat
pada barang, bahan, dan jasa yang digunakan atau yang disediakan Penyedia Jasa untuk
Pelaksanaan Pekerjaan.

2. Apabila ada perbedaan antara standar yang disyaratkan dengan standar yang diajukan oleh
Penyedia Jasa, Penyedia Jasa harus menjelaskan secara tertulis kepada Direksi Pekerjaan,
sekurang-kurangnya 28 (dua puluh delapan) hari sebelum Direksi Pekerjaan menetapkan
setuju atau tidak.

3. Dalam hal Direksi Pekerjaan menetapkan bahwa standar yang diajukan Penyedia Jasa tidak
menjamin secara substansial sama atau lebih tinggi dari standar yang disyaratkan, maka
Penyedia Jasa harus tetap memenuhi ketentuan standar yang disyaratkan dalam dokumen
lelang.

4. Satu perangkat Spesifikasi yang tepat dan jelas merupakan kebutuhan awal bagi para calon
Penyedia Jasa untuk dapat menyusun penawaran yang realistis dan kompetitif, sesuai dengan
kebutuhan Pejabat Pembuat Komitmen tanpa catatan atau persyaratan lain dalam penawaran
mereka.

5. Kecuali ditentukan lain dalam Kontrak, Spesifikasi harus mensyaratkan bahwa semua barang
dan bahan yang akan digunakan dalam pekerjaan adalah baru, belum dipergunakan, dari
type/model yang terakhir diproduksi/dikeluarkan, dan termasuk semua penyempurnaan yang
berlaku terhadap Desain dan bahan yang digunakan.

6. Dalam Spesifikasi agar menggunakan sebanyak mungkin Standar Nasional (SNI, SII, SKSNI,
dsb.) untuk barang, bahan dan jasa/pengerjaan/pabrikasi dari edisi atau revisi terakhir, atau
Standar Internasional (ISO, dsb)/Standar Negara Asing (ASTM, dsb) padanannya
(equivalennya) yang secara substantif sama atau lebih tinggi dari Standar Nasional yang
disyaratkan. Apabila Standar Nasional untuk barang, bahan, dan pengerjaan/jasa/pabrikasi
tertentu belum ada, dapat digunakan Standar Internasional atau Standar Negara Asing.

7. Standar Satuan Ukuran yang digunakan pada dasarnya adalah MKS (meter, kilogram,
second), sedangkan penggunaan Standar Satuan Ukuran lain, dapat digunakan sepanjang
hal tersebut tidak dapat dielakkan.
8. Spesifikasi dapat terdiri dari tetapi tidak terbatas pada :
a. Lingkup Pekerjaan
b. Pekerjaan-pekerjaan yang tidak termasuk Kontrak.
c. Spesifikasi Umum :
1) Peraturan Perundang-undangan terkait, misalnya:
- UU tentang Lingkungan;
- UU tentang Keselamatan Kerja;
- UU/PP/SK Bersama/KPTS tentang Tenaga Kerja;
- UU/PP tentang Galian “C“;
- Perda terkait; dsb.
2) Dokumen Acuan (berupa standar-standar);
3) Alingnment dan Survey;
4) Hari Kerja dan Jam Kerja;
5) Gangguan dan Keadaan Darurat;
6) Penyingkiran material berlebih.
d. Spesifikasi Khusus:
1) Lapangan;
2) Bangunan/Desain/Pengerjaan Spesifik;
3) Bangunan-bangunan Umum dan fasilitas-fasilitas Publik;
4) Perancah;
5) Pengaturan Lalu-lintas;
6) Pengendalian Lingkungan.
e. Spesifikasi untuk Masing-masing Jenis Pekerjaan.
a) Apabila ketentuan untuk salah satu bagian Pekerjaan menggunakan dasar standar
pengerjaan atau standar fabrikasi tertentu, dengan beberapa perubahan, maka pertama-
tama harus dicantumkan ketentuan berikut:
PERUBAHAN :
Ketentuan ini didasarkan pada standar ……………………………………
(satu atau lebih standar pengerjaan atau standar fabrikasi).
Perubahan-perubahan dari ketentuan dasar tersebut dilakukan dengan cara sebagai
berikut :
1. Kata-kata yang merupakan tambahan dari Standar dan merupakan bagian dari
Spesifikasi, akan ditampilkan dalam huruf kursif/Italic.
2. Kata-kata yang akan dihapus dari Standar dan bukan merupakan bagian dari
Spesifikasi, akan ditampilkan dengan huruf yang dicoret (strike out) sehingga kata-
kata/kalimat asli dari Standar yang digunakan masih dapat dibaca.
b) Lingkup Pekerjaan.
c) Dokumen Acuan (Standar-standar) yang digunakan.
d) Uraian ketentuan-ketentuan untuk jenis Pekerjaan yang bersangkutan, apabila tidak
digunakan Standar tertentu.

B. PENJELASAN TENTANG SUB PEKERJAAN


1. Lokasi dan Uraian Singkat
Lokasi Pekerjaan Proyek terletak di Kecamatan Jeumpa, Kabupaten Bireuen, Provinsi Aceh.
Pembangunan Prasarana Pengaman Pantai Jeumpa di Kabupaten Bireuen Tahun
Anggaran 2023. Uraian Singkat dari Pekerjaan diberikan di Spesifikasi Khusus.
2. Akses ke Lokasi
Jalan keluar masuk menuju lokasi kerja adalah menggunakan jalan-jalan setempat yang ada,
dimana Penyedia Jasa bertanggung jawab terhadap kerusakan akibat penggunaan jalan
tersebut.
Apabila Penyedia Jasa membutuhkan jalan lain yang tidak ditentukan oleh Direksi Pekerjaan,
jalan tersebut dikerjakan oleh Penyedia Jasa atas bebannya sendiri, dan harga semua
pekerjaan tersebut sudah termasuk dalam Harga Kontrak.
3. Lingkup Pekerjaan
Lingkup Pekerjaan yang akan dilaksanakan dalam Kontrak Pembangunan Prasarana
Pengaman Pantai Jeumpa di Kabupaten Bireuen Tahun Anggaran 2023 ini meliputi :
a. Umum
Semua gambar yang disiapkan oleh Penyedia Jasa seperti yang tersebut di bawah ini
harus merupakan gambar yang telah disetujui oleh Konsultan Supervisi dan diketahui
oleh Direksi Lapangan. Apabila ada perubahan pada gambar tersebut maka perubahan
yang telah dilakukan, kembali harus diperiksa dan mendapat persetujuan dari Konsultan
Supervisi dan diketahui oleh Direksi Lapangan.
b. Gambar-gambar pelaksanaan
Penyedia Jasa harus menggunakan Gambar Kontrak sebagai dasar mempersiapkan
Gambar Pelaksanaan. Gambar dibuat secara lebih detail dan dapat memperlihatkan
Penampang Melintang dan Memanjang dari Pekerjaan.
c. Gambar-gambar Pekerjaan Sementara
Semua Gambar yang disiapkan oleh Penyedia Jasa harus terinci. Gambar-gambar yang
harus disiapkan antara lain adalah letak dan detail yang diusulkan Penyedia Jasa untuk
dilaksanakan di lapangan. Gambar-gambar yang telah dilaksanakan selama pelaksanaan
Penyedia Jasa harus mengarsipkan satu set gambar yang dilaksanakan paling akhir untuk
tiap-tiap pekerjaan. Gambar tersebut memperlihatkan perubahan yang sudah dikerjakan
sesuai dengan Kontrak.
3.1. Pekerjaan Persiapan dan Pekerjaan Penunjang
Yang dimaksud dengan Pekerjaan Persiapan kecuali ditunjukkan lain oleh Direksi
adalah : Pembuatan, pemeliharaan dan pengoperasian basecamp, Pengukuran survei
dan Investigasi, penandatanganan bahan-bahan, tenaga kerja, peralatan dan
pembuatan sarana penunjang untuk pekerjaan permanen seperti pembuatan dan
perawatan jalan kerja. Semua kegiatan yang disebutkan di atas harus mendapat
persetujuan dari Direksi dan biaya sudah dimasukan dalam biaya overhead.
Pekerjaan-pekerjaan penunjang atau Pekerjaan sementara dapat meliputi pembersihan
semak, pembongkaran, pendongkelan dan pembuangan sisa bongkaran ke tempat
yang ditunjuk oleh Direksi.
3.2. Pekerjaan Sementara / Pendukung
Pekerjaan-pekerjaan pendukung dapat meliputi, antara lain : Sistem penyediaan air,
sistem pelistrikan, sistem komunikasi, gedung-gedung, jalan sementara, sistem
pengeringan air dan fasilitas lain yang dipasang, dioperasikan, dipelihara dan dibongkar
kembali oleh Penyedia Jasa, kecuali disebut lain dalam Kontrak.
Kecuali ditentukan lain, 30 (tiga puluh) hari setelah pengumuman pemenang, Penyedia
Jasa harus menyerahkan kepada Direksi tentang rencana tata letak, pemasangan,
kapasitas pekerjaan pendukung secara rinci untuk dikoreksi dan disetujui oleh Direksi.
Bila Penyedia Jasa bermaksud meletakkan pekerjaan pendukung ini diluar lokasi
pekerjaan, maka semua biaya dan keterlambatan yang timbul akibat itu menjadi resiko
Penyedia Jasa dan tidak dapat dijadikan alasan untuk minta perpanjangan Waktu
Pelaksanaan.
3.3. Mobilisasi dan Demobilisasi
Mobilisasi dan demobilisasi tenaga kerja, alat berat, bahan dan alat-alat lain yang
digunakan untuk pelaksanaan menjadi tugas Penyedia Jasa. Semua ongkos bongkar
muat, restribusi, asuransi dan ongkos-ongkos lain yang berkaitan dengan ini menjadi
beban Penyedia Jasa dan sudah diperhitungkan dalam analisa biaya.
3.4. Pembangunan Jalan Masuk dan Jalan Sementara
Kecuali ditentukan lain dalam Kontrak Pekerjaan, Penyedia Jasa harus mengusahakan
sendiri jalan masuk/jalan kerja ke tempat pekerjaan, dengan perhatian khususnya
mengenai batas muatan jalan dan jembatan untuk pengangkutan maupun data-data
yang diperlukan. Biaya perbaikan/pemeliharaan ditanggung oleh Penyedia Jasa.
3.5. Kantor Lapangan dan Fasilitas Lainnya
Penyedia Jasa harus membangun, menyediakan, memelihara dan membongkar
kembali bangunan-bangunan sementara, seperti: kantor lapangan, tempat tinggal,
barak tenaga kerja, gudang, stock pile atau sejenisnya yang diperlukan dalam
pelaksanaan. Bangunan-bangunan ini harus sudah diperhitungkan dalam biaya
overhead. Lokasi penempatan bangunan-bangunan ini harus mendapat persetujuan
Direksi sebelumnya. Sedangkan fasilitas lainnnya seperti kendaraan roda 4 wajib
disiapkan sesuai kebutuhan untuk menunjang Pelaksanaan Monitoring dan Evaluasi
Kegiatan Pelaksanaan oleh Penyedia Jasa dan Pemilik Pekerjaan. Pengadaan
kendaraan roda 4 ini sudah termasuk dalam biaya kompensasi overhead.
Lokasi penempatan harus menjamin kemudahan untuk operasi dan pemeliharaan
selama dalam pelaksanaan. Semua perabot, meja, kursi, papan tulis dan lain-lainnya
yang menjadi perlengkapan bangunan ini harus sudah diperhitungkan dalam biaya
overhead. Penyedia Jasa harus memelihara dan membangun kembali atas kerusakan
yang ditimbulkan, baik olehnya atau oleh Sub Penyedia Jasa.
3.6. Pekerjaan Permanen
Penyedia Jasa harus mengerjakan pekerjaan permanen ini secara komplit dan betul
sebagaimana disebutkan dalam Kontrak.

C. GAMBAR YANG HARUS DISIAPKAN OLEH PENYEDIA


1. Gambar Kerja (Shop Drawing)
Gambar kerja yang dimaksud terdiri dari Gambar Desain dan Gambar Pelaksanaan untuk
Pekerjaan yang akan/selesai dibangun oleh Penyedia Jasa maupun oleh Sub Penyedia (apabila
ada). Gambar kerja harus disiapkan berdasarkan Gambar Kontrak, Syarat-syarat dan
Spesifikasi dalam Kontrak dan memuat/menunjukkan hal-hal sebagai berikut:
a. Data Topografi dan Elevasi muka tanah hasil Pengukuran Lapangan yang dilakukan
sesuai dengan ketentuan atau atas perintah Konsultan Supervisi dan Direksi Lapangan;
b. Rencana setiap bagian Pekerjaan termasuk ukuran/dimensinya;
c. Situasi, denah, potongan, detail bangunan dan semua perhitungan yang diperlukan.
Penyedia Jasa harus menyerahkan minimal 3 (tiga) set gambar ukuran A3 (Hardcopy) dan 1
(satu) softcopy yang telah ditandatangani kepada Konsultan Supervisi untuk diperiksa dan
disetujui serta ditandatangani dengan diketahui oleh Direksi Lapangan.
Gambar kerja yang telah mendapat persetujuan harus diserahkan 1 (satu) set kepada
Konsultan Supervisi dan Direksi Lapangan.
Penyedia harus menugaskan Seorang Staf yang bertanggung jawab melakukan koordinasi
dengan pihak yang terkait dalam mempersiapkan gambar kerja. Penyedia Jasa harus
memberitahukan kepada PPK ataupun wakilnya tentang staf/ penanggung jawab urusan
penyiapan gambar kerja. dan bila ada pergantian penanggung jawab gambar, Penyedia Jasa
harus melaporkan hal tersebut dalam waktu 2 (dua) hari sebelum staf yang lain diganti.
Proses penyiapan, penyerahan, pemeriksaan dan persetujuan gambar kerja tersebut tidak
dapat dipakai sebagai alasan bagi Penyedia Jasa untuk terlambat dari jadwal pelaksanaan
sebagaimana yang ditetapkan dalam Dokumen Kontrak dan Rencana Kerja.
Selain digunakan untuk Pelaksanaan Pekerjaan. Gambar-gambar Pelaksanaan akan digunakan
sebagai dasar untuk pengukuran kuantitas (mutual check) dan pembayaran.
Semua biaya yang diperlukan untuk penyiapan gambar kerja ini menjadi tanggung jawab
Penyedia dan dianggap sudah termasuk dalam harga satuan pekerjaan yang terkait.
2. Perhitungan Awal Pekerjaan (Mutual Check-0)
Perhitungan Awal Pekerjaan (Mutual Check/MC-0) adalah hasil Perhitungan Kuantitas
Pekerjaan yang dihitung oleh Penyedia Jasa dan dibahas bersama dengan Tim Peneliti Kontrak
berdasarkan Gambar Kerja yang sudah disetujui oleh Konsultan Supervisi dan diketahui Direksi
Lapangan. Perhitungan Kuantitas Pekerjaan tersebut harus disampaikan oleh Penyedia Jasa
paling lambat 14 (empat belas) hari sebelum pekerjaan tersebut dilaksanakan.
3. Gambar Purna Laksana (As-built drawing)
Sebelum Serah-Terima Pertama Pekerjaan Selesai, Penyedia Jasa wajib terlebih dahulu
menyerahkan Gambar Bangunan lengkap yang telah dibuat berdasarkan hasil pengukuran dan
hasil mutual check yang telah diperiksa dan disetujui Konsultan Supervisi, dengan mengetahui
Direksi Lapangan selama periode Pelaksanaan Pekerjaan. Gambar As-built drawing diserahkan
sebanyak minimal 3 (tiga) set gambar cetak ukuran A-3 dan 1 (satu) soft copy.
Seluruh pekerjaan tidak dapat dinyatakan selesai dan diserah-terimakan bila gambar As-built
drawing belum diserahkan dan belum disetujui Konsultan Supervisi.
D. PENGUKURAN YANG HARUS DILAKSANAKAN OLEH PENYEDIA
1. Pengukuran dan Pematokan pada garis Pantai rencana Revetment
Dari data ketinggian yang tercantum pada uraian di atas, Penyedia Jasa harus memeriksa
semua titik tetap lainnya yang akan dipakai dalam pengukuran pekerjaan dan harus membuat
titik tetap tambahan lainnya sehingga jarak antara 2 titik tetap tidak boleh lebih dari 1 km. Titik
tetap di atas dibangun pada tanah milik Proyek atas persetujuan Direksi Lapangan. Penyedia
Jasa harus memberikan kepada Direksi Lapangan, dalam rangkap dua dalam form usulan yang
memberi Detail Lokasi dan Elevasi tiap-tiap titik tetap yang dipakai atau dibangun oleh Penyedia
Jasa. Ketinggian harus dicocokkan kembali pada titik tetap dengan ketelitian 10 VL, dengan
penjelasan L adalah jarak dari titik-titik (circuit) yang diambil ketinggiannya (dalam km).
Ketelitian pengukuran harus selalu dalam batas-batas toleransi sebagai berikut:
a. Titik-titik untuk tampang lintang, boleh terletak kurang dari 20 mm dari posisi yang
ditentukan, baik dalam arah vertikal maupun horizontal;
b. Pengukuran titik tinggi harus diselesaikan pada sebuah titik tetap atau dibawa kembali ke
titik pertama. Kesalahan penutupan harus kurang dari 10 VL mm, dimana L adalah
Panjang atau jarak circuit pengukuran (dalam Km);
c. Patok-patok yang menunjukkan tinggi akhir dari pekerjaan tanah harus dipasang dengan
tidak melewati 2,5 mm dari titik tinggi yang benar;
1). Garis singgung dan lengkung, perbedaannya dengan yang benar harus kurang 20 mm
terhadap posisi yang benar. Titik untuk bangunan harus terletak tidak lebih 2,5 mm
dari kedudukan yang sebenarnya kecuali pada pemasangan pekerjaan baja dan
peralatannya memerlukan ketelitian yang lebih tinggi.
d. Semua alat pengukuran sebelum digunakan harus sudah dikalibrasi yang telah mendapat
persetujuan dari Konsultan Supervisi dan diketahui oleh Direksi Lapangan/PPK.
2. Pengukuran Akhir (Mutual Check Akhir)
Sebelum Pekerjaan dinyatakan selesai, Penyedia Jasa wajib melaksanakan pengukuran purna
bangun bersama Konsultan Supervisi dan Direksi Lapangan yang meliputi pengukuran:
a) Ketinggian/elevasi bagian utama dengan jarak maksimum 25 m;
b) Gambar situasi/denah seluruh pekerjaan secara rinci, termasuk koordinatnya;
c) Penampang melintang revetment dengan jarak maksimum 25 m atau sesuai patok profil
memanjang (long profile);
d) Elevasi puncak dan elevasi lainnya pada bangunan lainnya;
e) Biaya yang dikeluarkan oleh Penyedia untuk pelaksanaan pekerjaan ini, dianggap sudah
termasuk dalam harga kontrak dan menjadi tanggung jawab sepenuhnya Penyedia.
E. PERUBAHAN DESAIN DAN GAMBAR
Penyedia Jasa bertanggungjawab untuk menyiapkan Gambar dan mengajukan gambar
tersebut kepada Direksi sedini mungkin untuk menghindari Penundaan Pekerjaan Lapangan,
karena tidak tersedianya gambar-gambar yang telah diperiksa dan disetujui/disahkan oleh
Konsultan Supervisi dan diketahui oleh Direksi Lapangan.
Konsultan Supervisi dan Direksi Lapangan berhak untuk meminta detail-detail tambahan dan
meminta Penyedia Jasa untuk membuat perubahan-perubahan yang diperlukan pada Gambar
Pelaksanaan/Gambar kerja untuk disesuaikan dengan syarat-syarat dan maksud dari
Spesifikasi tanpa biaya tambahan.
Sesuai dengan kemajuan Pelaksanaan Pekerjaan, khususnya Pekerjaan Struktur yang
mengalami kendala di lapangan, Konsultan Supervisi dan Direksi Lapangan dapat melakukan
perubahan gambar, dimensi dan alur (trase) disesuaikan dengan kondisi lapangan, hal
tersebut perlu dilakukan dan didiskusikan kepada Tim Peneliti Kontrak dan Tim PPK.
Penyedia Jasa wajib mempelajari dan melaksanakan pekerjaan sesuai dengan modifikasi/
perubahan gambar disertai usulan perubahan metode pelaksanaan (bila diperlukan). Setiap
Pekerjaan yang telah dilaksanakan sebelum gambar-gambar Pelaksanaannya disetujui oleh
Konsultan Supervisi dan diketahui oleh Direksi Lapangan akan menjadi resiko Penyedia Jasa.
Persetujuan Konsultan Supervisi dan Direksi Lapangan terhadap gambar Penyedia Jasa tidak
akan melepaskan/membebaskan Penyedia Jasa dari kewajibannya dalam mentaati
Spesifikasi Teknis dan tanggung jawab untuk memenuhi Metode Pelaksanaan dan lain-lain.

F. PERALATAN
Peralatan yang akan dipergunakan oleh Penyedia Jasa untuk melaksanakan/menyelesaikan
pekerjaan, harus dimintakan persetujuan terlebih dahulu oleh Penyedia Jasa kepada
Konsultan Supervisi dan diketahui oleh Direksi Lapangan sebelum peralatan tersebut
didatangkan ke lokasi pekerjaan dalam kondisi siap pakai.
Biaya yang dikeluarkan oleh Penyedia Jasa untuk pengadaan, pengangkutan, penyimpanan,
penanganan dan pemeliharaan harus sudah termasuk dalam harga satuan pekerjaan yang
membutuhkan peralatan tersebut.

G. PENGUJIAN DAN PEMERIKSAAN


Pengujian dan Pemeriksaan Pekerjaan dilakukan oleh Konsultan Supervisi dan Direksi
Lapangan pada Waktu Pelaksanaan, pemasangan dan penyelesaiannya di lapangan sesuai
dengan ketentuan dalam Syarat-syarat dan Spesifikasi Kontrak.
Penyedia Jasa harus memberitahukan kepada Konsultan Supervisi dan Direksi Lapangan
tentang Pelaksanaan Uji yang akan dilakukan agar pengujian tersebut disaksikan oleh
Konsultan Supervisi dan Direksi Lapangan. Penyedia Jasa harus menyampaikan Hasil Uji
tersebut kepada Konsultan Supervisi dan Direksi Lapangan.

H. RENCANA PELAKSAAAN PEKERJAAN


Metode dan Jadwal Pelaksanaan
Metode dan Jadwal Pelaksanaan Pekerjaan yang ditawarkan Penyedia Jasa dalam dokumen
penawaran dianggap sebagai satu kesatuan dengan dokumen kontrak dan disebut sebagai
Rencana Pelaksanaan Kontrak.
Paling lambat 14 (empat belas) hari sesudah Rapat Persiapan Pelaksanaan Kontrak,
Penyedia Jasa harus menyerahkan kepada PPK rincian dan perbaikan dari Rencana
Pelaksanaan Kontrak guna mendapat persetujuan yang untuk selanjutnya disebut Rencana
Pelaksanaan Pekerjaan.
Rencana Pelaksanaan Pekerjaan berisi uraian/rincian Metode Pelaksanaan, Jadwal
Pelaksanaan, Metode Kerja dan Jadwal Kerja setiap Jenis Pekerjaan, Jadwal Pengadaan
bahan, Mobilisasi Personil dan Peralatan, Sosialisasi dan Konsultasi kepada Masyarakat dan
Pemerintah Daerah.
Rencana Pelaksanaan Pekerjaan yang sudah disetujui Konsultan Supervisi tidak boleh
dirubah atau dimodifikasi oleh Penyedia Jasa, tanpa persetujuan Konsultan Supervisi dan
diketahui Direksi Lapangan. Perubahan dan modifikasi Rencana Pelaksanaan Pekerjaan
dapat dipertimbangkan dengan alasan dan sebab yang dapat dipertanggung jawabkan, antara
lain karena timbulnya perubahan kegiatan pekerjaan dan Syarat-Syarat Umum Kontrak.
Penyedia Jasa harus menyediakan Rencana Pelaksanaan Pekerjaan yang telah disepakati
dalam bentuk soft copy dan hard copy serta menyerahkannya kepada Konsultan Supervisi
dan Direksi Lapangan untuk keperluan Monitoring Dan Evaluasi.

I. PENGENDALIAN KUALITAS
Penyedia Jasa harus melaksanakan sistem pengendalian dan kepastian kualitas yang
menjamin ketentuan-ketentuan dalam Kontrak, khususnya kualitas pekerjaan dipenuhi/diikuti
dengan baik sesuai dengan ketentuan dalam Syarat-syarat Umum Kontrak.
Penyedia Jasa wajib menyerahkan rincian Rencana Mutu Pekerjaan Konstruksi kepada
Konsultan Supervisi dan Direksi Lapangan. Rincian Rencana Mutu Pekerjaan Konstruksi ini
menguraikan tentang organisasi, prosedur Pelaksanaan Pekerjaan, prosedur instruksi kerja,
sumber daya dan mekanisme yang direncanakan untuk menjamin kualitas pekerjaan sesuai
dengan ketentuan dalam Kontrak termasuk format kerja dan prosedur pengendalian kualitas
dalam Pelaksanaan Pekerjaan sehari-hari di lapangan.
Penyedia Jasa harus menyerahkan metode kerja kepada Konsultan Supervisi dan Direksi
Lapangan guna mendapat persetujuan sebelum pekerjaan dilaksanakan. Metode kerja
tersebut harus secara rinci menguraikan Pekerjaan Utama, Penunjang, bahan dan peralatan
yang digunakan, tahapan dan urutan pekerjaan, pengendalian kualitas dan prosedur
pengujian serta langkah-langkah untuk keselamatan kerja.

J. SOSIALISASI DAN KONSULTASI


Setelah SPMK diterbitkan, Penyedia harus melakukan sosialisasi dengan masyarakat
setempat dengan tujuan;
- Memberikan informasi awal tentang rencana Pekerjaan Pembangunan Prasarana
Pengaman Pantai Jeumpa di Kabupaten Bireuen;
- Mengumpulkan informasi dan data termasuk masalah yang mungkin ada di lapangan.
Penyedia Jasa wajib melakukan sosialisasi dan berkoordinasi dengan Pemerintah Daerah,
Camat dan Lurah/Kepala Desa sebelum pekerjaan dimulai, untuk menghindari salah
paham/masalah yang mungkin akan muncul.
Biaya yang dikeluarkan oleh Penyedia Jasa terhadap Pelaksanaan Sosialisasi dan
Konsultansi sudah termasuk dalam harga satuan pekerjaan dan menjadi tanggung jawab
Penyedia.

K. PROSES KEGIATAN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA (K3)


1. Petugas K3 yang dimiliki oleh Penyedia Jasa harus mengidentifikasi bahaya dari setiap
jenis proses atau tahapan kegiatan Pekerjaan Konstruksi dan menetapkan Spesifikasi
proses/kegiatan yang harus dilakukan oleh Penyedia Jasa;
2. Setiap jenis proses/kegiatan sedapat mungkin dipilih yang paling kecil bahaya dan
resikonya, dan diberi penjelasan prosedur kerja yang lebih aman dan selamat;
3. Setiap jenis proses/kegiatan harus dilengkapi dengan prosedur kerja, sistem perlindungan
terhadap pekerja, perlengkapan pengaman dan rambu-rambu peringatan dan kewajiban
pekerja menggunakan Alat Pelindung Diri (APD) yang sesuai dengan potensi bahaya pada
proses tersebut;
4. Setiap jenis proses/kegiatan pekerjaan baru, atau keadaan yang berbeda, harus terlebih
dahulu dilakukan analisis bahaya dan resikonya (Job Safety Analysis) dan harus dilakukan
tindakan pengendaliannya;
5. Setiap proses/kegiatan yang berbahaya harus melalui proses izin kerja terlebih dahulu dari
penanggung jawab proses dan Ahli K3;
6. Setiap proses dan pekerjaan hanya boleh dilakukan oleh tenaga kerja dan/atau operator
yang telah terlatih dan telah mempunyai kompetensi untuk melaksanakan jenis
pekerjaan/tugasnya, termasuk kompetensi melaksanakan prosedur keselamatan dan
kesehatan kerja yang sesuai pada jenis pekerjaan/tugasnya tersebut.

L. PROGRAM PELAKSANAAN DAN LAPORAN


1. Program Pelaksanaan
Penyedia Jasa harus melaksanakan program dan jadwal pelaksanaan sesuai dengan syarat-
syarat dokumen lelang dengan menggunakan bar chart dan Kurva S. Aktifitas yang terlihat
pada program harus sudah termasuk pelaksanaan pekerjaan sementara dan tetap.
2. Laporan Bulanan Kemajuan Pelaksanaan
Program Pelaksanaan
Penyedia Jasa harus melaksanakan program dan jadwal pelaksanaan sesuai dengan syarat-
syarat dokumen lelang dengan menggunakan bar chart dan kurva S. Aktifitas yang terlihat
pada program harus sudah termasuk pelaksanaan pekerjaan sementara dan tetap.
Setiap bulannya penyedia harus membuat dua kali laporan yaitu pada pertengahan bulan dan
akhir bulan, yang menggambarkan secara detail kemajuan pekerjaan. Laporan sekurang-
kurangnya harus berisi hal-hal sebagai berikut:
a. Persentase kemajuan pekerjaan berdasarkan realisasi yang dicapai pada bulan laporan
dan persentase rencana yang diprogramkan pada bulan berikutnya;
b. Persentase dari tiap pekerjaan pokok yang diselesaikan maupun persentase rencana
pekerjaan harus sesuai dengan yang dicapai pada laporan;
c. Rencana kegiatan untuk bulan berikutnya.
3. Laporan Harian
Penyedia harus membuat laporan harian atas setiap kegiatan yang dilaksanakan, persiapan
pekerjaan dan peralatan serta data-data lain yang berkaitan dengan pelaksanaan pekerjaan.
4. Foto Kemajuan Pekerjaan
Penyedia Jasa harus menyerahkan Foto kemajuan pekerjaan kepada Direksi Lapangan
mengenai kemajuan pekerjaan pada lokasi pekerjaan selama masa kontrak.
Foto diambil pada waktu:
- Sebelum pekerjaan dimulai pada kondisi 0%;
- Kemajuan pekerjaan mencapai 50 % (sedang dilaksanakan);
- Kemajuan pelaksanaan 100 %;
- Selesai masa pemeliharaan.

M. JALAN UMUM, AIR, LISTRIK DAN TELEPON


Pada jalan-jalan umum, air untuk kepentingan umum, tiang-tiang listrik dan telepon yang
memotong atau berhubungan dengan tempat pekerjaan, Penyedia Jasa harus mendapat
persetujuan secara tertulis dari instansi yang berwenang, terhadap usulan pekerjaan
sementara atau pekerjaan tetap yang akan mempengaruhi pekerjaan untuk kepentingan
umum tersebut.
Bangunan kepentingan umum tersebut, baik terlihat atau tidak terlihat di dalam gambar, tetapi
Penyedia Jasa harus bertanggung jawab demi keamanan dan kelangsungan fungsi dari jalan,
tiang listrik dan telepon diatas selama pelaksanaan pekerjaan.

N. PAPAN NAMA PROYEK


1. Penyedia wajib membuat dan memasang papan nama proyek minimal 2 (dua) buah dan
ditempatkan pada lokasi pekerjaan dan ditentukan oleh Direksi.
2. Papan nama proyek tersebut dengan ketentuan :
a. Ukuran papan nama proyek 150 x 100 cm;
b. Tiang penyangga dan penyokong dengan ukuran 5 x 7 cm;
c. Pemasangan papan nama sedemikian rupa sehingga tepi bawah papan terletak
setinggi 2 m dari permukaan tanah, bagian bawah tiang penyangga dan penyokong
kemudian dicor beton tumbuk, sedalam 40 cm didalam tanah dan 10 cm diatas tanah;
d. Tulisan-tulisan dan ketentuan lain harus dilaksanakan sesuai petunjuk Direksi
Lapangan.
3. Penyedia Jasa wajib memelihara dan merawat papan nama serta menjaga agar tetap
dalam keadaan baik sampai pada masa serah terima pertama pekerjaan.
4. Segala biaya yang timbul akibat pekerjaan tersebut sudah larut dalam harga satuan dan
menjadi tanggung jawab Penyedia Jasa.
SPESIFIKASI KHUSUS

I. PEKERJAAN PERSIAPAN

I.1. Mobilisasi dan Demobilisasi

1. Lingkup Pekerjaan Sesuai persyaratan dalam Kontrak, maka Penyedia Jasa harus
mengadakan Mobilisasi dan Demobilisasi peralatan yang akan dipakai untuk
melaksanakan pekerjaan tersebut, Biaya Mobilisasi Dan Demobilisasi tersebut adalah
biaya yang dibutuhkan untuk mendatangkan alat berat ke dan dari lokasi pekerjaan.
2. Dalam waktu 15 hari setelah Rapat Persiapan Pelaksanaan Pekerjaan, Penyedia Jasa
harus meyerahkan Program Mobilisasi dan Jadwal Kemajuan Pelaksanaan kepada PPK
untuk dimintakan persetujuannya.
Peralatan pada Pekerjaan Pembangunan Prasarana Pengaman Pantai Jeumpa di
Kabupaten Bireuen Tahun Anggaran 2023 adalah sebagai berikut :

No Jenis Kapasitas Minimal Jumlah (Unit)

1. Excavator 0,8 M³ (Kapasitas Bucket) 3

2. Flat Bed Truck 8 ton 1

3. Theodolite - 1

4. Waterpass - 1

5. Generator Set 200 Ampere 1

6. Concrete Vibrator - 2

7. Pompa Air 10 L/detik 2

3. Pengukuran dan Pembayaran Semua biaya yang dikeluarkan Penyedia Jasa dalam
Mobilisasi dan Demobilisasi harus dibebankan pada item pekerjaan tersebut dalam Daftar
Kuantitas dan Harga dengan pembayaran secara lump-sum dalam 2 tahap yaitu :
• Tahap pertama sebesar 50% (lima puluh persen) pada tahap akhir mobilisasi
(mendatangkan alat) dan alat siap dioperasikan.
• Tahap kedua sebesar 50% (lima puluh persen) pada saat Pekerjaan Konstruksi siap
100% (seratus persen) dan alat sudah dipulangkan.

A. Mobilisasi Tenaga Kerja


1. Personel Manajerial
Merencanakan setiap tahapan pelaksanaan pekerjaan yang dikerjakan dengan
mempertimbangkan segala aspek (cuaca, medan/lokasi) dan dampak (termasuk keselamatan
dan kesehatan pekerja) dari pekerjaan yang dilaksanakan agar tepat waktu dan mutu serta
bertanggung jawab penuh dalam pelaksanaan pekerjaan, membuat segala macam laporan
baik yang ditetapkan maupun hal-hal lain mengenai pelaksanaan pekerjaan.
2. Surveyor (juru ukur)
Mengukur dan memperhitungkan volume secara detail pada setiap elevasi dari Konstruksi
Pekerjaan baik sebelum dan sesudah dilaksanakan.
3. Mandor, Tukang dan Pekerja
Mengerjakan pembersihan area pada lokasi pekerjaan dan akses jalan masuk serta
pembuatan fasilitas kerja seperti direksi keet, gudang/bengkel untuk material dan peralatan.
Untuk mengantisipasi kemungkinan terjadinya kecelakaan serat terpenuhinya keselamatan
dan kesehatan kerja (K3) maka Penyedia Jasa wajib mendaftarkan para Pekerja pada BPJS
Ketenagakerjaan (Jamsostek) yang telah disahkan oleh Pemerintah, memberikan fasilitas
atribut/peralatan berupa Helm Pelindung (Safety Helmet), Pelindung Mata (Goggles,
Spectacles), Pelindung Pernafasan dan Mulut (Masker), Sarung Tangan (Safety Gloves),
Sepatu Keselamatan (Rubber Safety Shoes), Rompi Keselamatan (Safety Vest) serta
peralatan keselamatan kerja lainnya termasuk Kotak P3K Tipe C.

B. Mobilisasi Peralatan
Jenis dan jumlah peralatan yang dimobilisasi tergantung pada jenis dan volume pekerjaan
yang dilaksanakan. Jenis alat/peralatan yang dikirim untuk ditempatkan pada saat
Pelaksanaan Pekerjaan adalah sesuai dengan yang tercantum dalam dokumen penawaran,
pengiriman peralatan dilakukan secara bertahap menurut tingkat kebutuhan pada proses
Pelaksanaan Pekerjaan di lapangan.
II. MATA PEMBAYARAN PEKERJAAN UTAMA
A. Pekerjaan Revetment
1. Galian Tanah Berpasir dengan Alat Berat
a. Uraian
- Pekerjaan Galian Tanah Berpasir dilaksanakan sesuai dengan volume pekerjaan dengan
kedalaman Galian berdasarkan hasil pengukuran yang dilakukan dan rencana gambar
pelaksanaan. Galian menggunakan alat Excavator Standart dengan kapasitas 0,8 m³.
- Material hasil Galian dibuang setempat sesuai arahan Konsultan Supervisi dan diketahui
oleh Direksi Lapangan.
- Pekerjaan Galian harus diukur untuk pembayaran sebagai pembayaran dalam meter
kubik.
- Dasar Pembayaran Kuantitas Galian yang diukur menurut ketentuan diatas, akan dibayar
menurut satuan pengukuran dengan harga yang dimasukkan dalam Daftar Kuantitas dan
Harga untuk masing-masing Mata Pembayaran yang terdaftar di bawah ini,

Satuan
Nomor Uraian Pekerjaan
Pengukuran

1. Galian Tanah Berpasir dengan Alat Berat Meter Kubik (M3)


H
Harga satuan jenis pekerjaan ini untuk setiap satuan Kuantitas sudah termasuk
peralatan, upah Buruh dan alat bantu lainnya, dibayar per-meter kubik setelah
dihitung/periksa kembali serta disetujui oleh Konsultan Supervisi dan diketahui oleh
Direksi Lapangan.
2. Pengadaan dan Pemasangan Geotextile Non Woven
a. Umum
Geotextile Non Woven adalah sebagai Lapisan Filter dimana penggunaannya harus
memenuhi persyaratan yaitu mencegah kontaminasi dua Lapisan Agregat yang berlainan
jenis tetapi sekaligus harus dapat meloloskan air tanpa terjadi penyumbatan.
b. Sifat-sifat fisik yang disyaratkan :
- Geotextile Non Woven harus memenuhi syarat SNI dari serat monofilamen buatan yang
terbuat dari polimer lembam dengan persetujuan Konsultan Supervisi. Geotextile Non
Woven harus mempunyai sifat isotropis dan benar-benar lembam untuk penggunaan di
bawah air secara terus menerus. Pemakaian Geotextile Non Woven yang ada
kemungkinan terkena sinar matahari harus dipilih yang tahan dan tidak rusak akibat
Sinar Ultra Violet (UV).
- Penyedia Jasa harus menyerahkan usulan rinci yang dilengkapi dengan Sertifikat
Pengujian dan lembaran contoh Geotextile Non Woven yang berukuran 400 x 400 mm
kepada Konsultan Supervisi.
- Geotextile Non Woven harus mempunyai Kualitas Filtrasi yang memadai dan
Permeabilitas yang tinggi, sehingga memungkinkan Drainasi pada tanah berbutir halus
dengan tingkat kejenuhan yang tinggi.
- Setiap roll/gulungan Geotextile Non Woven yang dikirimkan ke Lokasi Pekerjaan, harus
mempunyai tanda produksi dan pernyataan type yang tertera jelas pada pembungkus
luar maupun sepanjang lembaran dengan panjang interval tertentu untuk maksud
pemeriksaan secara visual.
c. Persyaratan Spesifikasi Geotextile Non Woven
Geotextile Non Woven harus sesuai dengan Spesifikasi yang ditetapkan oleh perencana
(berdasarkan kajian teknis), dengan Kualitas Material minimal seperti yang tersebut di
bawah ini :
Geotextile Non Woven
Thickness = 4,5 mm (ISO 9863)
Nominal mass = 600 gr/mm2 (ISO 9864)
Tensile Strength = 30 kN/m (ISO 10319)
Tensile Elongation. = 40 % (ISO 10319)
Grab strength = 2500/1500 N (ASTM D 4632Apperant
Opening Size = 0,07 mm (ASTMD 4751)

d. Pengukuran dan Pembayaran


- Cara Pengukuran Kuantitas yang dihitung untuk pengadaan dan pemasangan harus
berdasarkan pengukuran luasan yang terpasang.

Satuan
Nomor Uraian Pekerjaan
Pengukuran

1. Pengadaan dan Pemasangan Geotextile Meter luas (M2)


Harga satuan jenis Pekerjaan ini untuk setiap satuan Kuantitas sudah termasuk
pengadaan bahan (Geotextile/filter cloth)/pemasangan, peralatan, Upah Buruh dan alat
bantu lainnya, dibayar per-meter luas setelah dihitung/periksa kembali serta disetujui
oleh Konsultan Supervisi dan diketahui oleh Direksi Lapangan.
3. Pembuatan dan Penyusunan Tetrapoad 1,0 Ton dan Kubus Beton Beton 0.8 M¹ x 0.8 M¹
x 0.8 M¹
a) Cetakan / Bekisting
Bahan Cetakan / Bekisting harus terbuat dari lempengan plat besi yang diperkuat dengan
rangka pengaku / pengikat secukupnya, sesuai dengan dimensi cetakan / bekisting
seperti tertera pada gambar.
Cetakan / Bekisting Tetrapod 1,0 Ton dan Kubus Beton 0.8 M¹ x 0.8 M¹ x 0.8 M¹
1. Cetakan Tetrapod dan Kubus Beton dari bahan logam (metal), bebas dari lubang-
lubang yang dibentuk sesuai dengan ukuran pada Gambar Desain;
2. Ukuran logam cetakan tebalnya minimal 3 mm;
3. Cetakan Kubus dan Tetrapod dilengkapi dengan permukaan kasar yang memadai
untuk memperoleh rekatan dimana Beton diindikasikan menerima seluruh ketebalan,
dan harus kokoh / kuat serta cukup rapat sehingga dapat mencegah kebocoran, serta
menghasilkan Konstruksi akhir yang mempunyai bentuk Struktur dan dimensi sesuai
dengan Gambar Desain;
4. Cetakan Kubus Beton dan Tetrapod dilengkapi pengaku (klem) dan ikatan secukupnya
sehingga kuat dan mampu mempertahankan kedudukan serta bentuknya. Pengaku
(klem) dan ikatan-ikatan (baut) cetakan harus terbuat dari batang besi/ baja hasil
Produksi Pabrik atau model dapat dilepas menggunakan ulir dengan kapasitas tarik
yang kuat yang ditempatkan sedemikian rupa sehingga dapat menahan semua beban
hidup pada saat pengecoran adukan beton.
5. Cetakan Tetrapod dan Kubus Beton harus rapat dan tidak terdapat rongga yang dapat
menimbulkan kebocoran adukan beton;
6. Setiap satu set Cetakan Tetrapod terdiri dari 4 bagian yaitu 3 bagian pada sisi atas
dan 1 bagian lagi pada sisi bawah yang berfungsi sebagai alas. Pembuatan cetakan
harus sedemikian rupa sehingga pada waktu pembongkaran tidak mengalami
kesulitan dan kerusakan pada permukaan beton.
7. Setiap satu set Cetakan Kubus terdiri dari 5 sisi yaitu 4 bagian pada sisi samping dan
1 bagian lagi pada sisi bawah yang berfungsi sebagai alas. Pembuatan cetakan harus
sedemikian rupa sehingga pada waktu pembongkaran tidak mengalami kesulitan dan
kerusakan pada permukaan beton.
8. Agar pelaksanaan tetap kontinyu dan tidak berhenti (idle), maka Penyedia Jasa
diharuskan mengadakan/menyiapkan tambahan bekisting yang disesuaikan dengan
waktu pelaksanaan dan jumlah yang dibutuhkan.
9. Setiap jumlah bekisting yang digunakan maksimal 10 kali pemakaian untuk pembuatan
tetrapod dan maksimal 10 kali pemakaian untuk pembuatan kubus beton.
b) Pekerjaan Beton Mutu K-350 (Ready Mix)
Pekerjaan beton harus dilaksanakan seperti yang telah disyaratkan didalam Spesifikasi
ini atau sebagaimana ditunjukkan dalam gambar serta telah mendapat persetujuan dari
Konsultan Supervisi dan diketahui oleh Direksi Lapangan.
Beton dengan Spesifikasi mutu K-350 (tanpa tulangan) yang digunakan untuk pekerjaan
pembuatan tetrapod dan kubus beton sebagai bahan primarycover layer mengacu pada
Peraturan Beton 1971-NI.2 (ukuran dan dimensi tetrapod dan kubus beton tertera pada
gambar). Guna untuk memastikan kualitas/mutu beton agar tercapai seperti yang
disyaratkan, terlebih dahulu dilakukan trial mix desain (test laboratorium) independen
sehingga akan diperoleh proporsi campuran beton sesuai dengan kekuatan yang
direncanakan. Penyedia Jasa harus memenuhi ketentuan - ketentuan dibawah ini :
1. Beton K-350
Untuk Beton dengan mutu K-350 sebagai bahan Pembuatan Tetrapod dan Kubus
Beton, Penyedia Wajib mendatangkan Ready mix beton K-350 dari Batching Plant ke
lokasi pekerjaan sudah termasuk biaya angkut (Truck Mixer).
2. Penggetaran dan Pemadatan
Beton harus dipadatkan menggunakan Concrete Vibrator agar Tetrapod dan Kubus
Beton Homogen dan tidak berpori, sehingga beton mencapai mutu yang disyaratkan.
Penyedia Wajib menyediakan Concrete Vibrator selama penuangan Beton.
3. Pencapaian Mutu Beton
Untuk mencapai mutu atau kualitas beton yang disyaratkan maka diperlukan adanya
pengujian Mutu/Kualitas Beton. Pengujian kuat tekan beton dilakukan pada umur 7, 14
dan 28 hari umur beton. Setiap satu mobil mixer, diambil 1 (satu) buah sampel.
Sedangkan untuk pengambilan slump test dilakukan untuk setiap kali pengecoran
atau tiap satu mobil mixer.
Pengujian harus dilakukan untuk memastikan kuat tekan beton sesuai dengan
rencana dan Spesifikasi. Pengujian kuat tekan dilakukan dengan cara Pengujian
Tes Laboratorium sesuai prosedur yang ditentukan dalam PBI 1971.
Bagi Penyedia Jasa yang telah menyediakan peralatan Laboratorium sendiri maka
hasil pengujian oleh Penyedia Jasa perlu dilakukan uji petik kuat tekan beton 1
(satu) kali dalam sebulan di Laboratorium Independen yang telah terakreditasi dan
disaksikan oleh Konsultan Supervisi dan diketahui oleh Direksi Lapangan.
Apabila Penyedia Jasa tidak memiliki peralatan Laboratorium, maka pengujian
tersebut agar dilakukan di Laboratorium Penyedia Jasa Ready Mix dan dilakukan
uji petik kuat tekan beton 1 (satu) kali dalam sebulan di Laboratorium Independen
yang telah terakreditasi dan disaksikan oleh Konsultan Supervisi dan diketahui oleh
Direksi Lapangan.
4. Pembesian
 Besi yang digunakan adalah besi dengan diameter 16 mm;
 Desain/pembentukan pada besi seperti tertera pada gambar;
 Pekerjaan pembesian ini bukan sebagai tulangan pada Tetrapod dan Kubus
Beton, Pembesian ini merupakan tempat untuk mengait guna mempermudah
pengangkatan dan penyusunan yang diperhitungkan pada analisa pembuatan
Tetrapod dan Kubus Beton.
5. Pengujian Beton
Pengujian bahan untuk beton, adukan beton dan kekerasan beton harus sesuai
dengan JIS atau ASTM atau Standar Lainnya yang sesuai.
Tabel Pengujian Beton

Macam Pengujian Petunjuk Nomor

Beton percobaan SNI 03-2428-1991 (SK SNI M-26-1990-F)

Tegangan tekan SNI 03-1974-1990 (SK SNI M-14-1989-F)

Pengujian slump SNI 03-1972-1990 (SK SNI M-12-1989-F)

Berat satuan SNI 03-1973-1990 (SK SNI M-13-1990-F)


Tabel Pengujian Bahan

Macam pengujian Petunjuk No

Bahan lolos saringan 0.074 SK SNI M-02-1994-03)


mm (no.200) SNI 03-1971-1990 (SK SNI M-11-1989-F)
Kadar dari permukaan agregat SNI 03-2816-1992 (SK SNI M-01-1989-03)
Kekotoran bahan organic ASTM C 38
Kekerasan dengan sodium SNI 03-1968-1990 (SK SNI M-08-1989-F)
sulfat ASTM C 29
Gradasi SNI 03-1969-1990 (SK SNI M-09-1989-F)
Berat isi SNI 03-1970-1990 (SK SNI M-10-1989-F)
Berat jenis dan daya serap

c) Perlindungan Beton
Penyedia Jasa harus melindungi semua beton terhadap kerusakan atau akibat buruk
yang disebabkan oleh pengeringan yang mendadak, pembebanan, tumbukan atau
getaran sampai dengan beton tersebut cukup keras untuk menahan kerusakan. Dimana
perlu, terbukanya permukaan beton dari cahaya langsung matahari harus dihindari
sekurang-kurangnya selama 3 hari sesudah pengecoran. Semua permukaan beton harus
disiram dengan air atau ditutupi dengan lembaran basah (karung goni) sesuai keperluan.
d) Pembongkaran Cetakan
- Cetakan dapat dibuka pada saat kuat tekan beton lebih besar dari 70% dari kuat tekan
rencana.
- Perlu ditekankan bahwa tanggung jawab atas keamanan konstruksi beton seluruhnya
terletak pada Penyedia dan mengenai pembongkaran cetakan mengikuti PBI 1971
dalam pasal yang bersangkutan.
- Penyedia Jasa harus memberitahu Konsultan Supervisi dan diketahui oleh Direksi
Lapangan jika Penyedia Jasa bermaksud akan membongkar cetakan pada bagian-
bagian Konstruksi yang utama dan meminta persetujuannya tetapi dengan adanya
persetujuannya itu tidak berarti Penyedia Jasa lepas dari tanggungjawab.
e) Kerusakan/Cacat pada Beton
Walaupun dari hasil pengujian kuat tekan memuaskan, Konsultan Supervisi dan diketahui
oleh Direksi Lapangan mempunyai wewenang untuk menolak konstruksi beton apabila
terjadi hal-hal sebagai berikut:
- Konstruksi beton yang keropos/retak;
- Konstruksi beton tidak sesuai dengan bentuk yang direncanakan atau posisinya tidak
sesuai dengan gambar rencana;
- Konstruksi beton yang berisikan kayu atau benda lainnya.
f) Pengukuran dan Pembayaran
- Cara pengukuran Kuantitas yang dihitung untuk pembuatan dan Penyusunan Tetrapod
1,0 Ton dan Kubus Beton harus berdasarkan jumlah unit yang terpasang.
- Harga satuan jenis pekerjaan ini untuk setiap satuan kuantitas sudah termasuk
cetakan/bekisting, penyediaan Beton mutu K-350 (ready mix), perlindungan Beton,
pembongkaran cetakan/bekisting, pemasangan, peralatan, upah buruh dan alat bantu
lainnya, dibayar per-unit tetrapod/kubus beton setelah dihitung/periksa kembali serta
disetujui oleh Konsultan Supervisi dan diketahui oleh Direksi Lapangan.

Satuan
No. Uraian Pekerjaan Pengukur
an

1. Pembuatan dan Penyusunan Tetrapod 1.0 Ton Unit


2. Pembuatan dan Penyusunan Kubus Beton 0.8 M¹x0.8 M¹x0.8 M¹ Unit

Spesifikasi Teknik ini disusun berdasarkan Pekerjaan Pembangunan Prasarana Pengaman


Pantai Jeumpa di Kabupaten Bireuen Tahun anggaran 2023 yang dilaksanakan selama 210
(dua ratus sepuluh) hari, Demikian kami sampaikan atas perhatiannya kami ucapkan terima
kasih.
Aceh Besar, 17 Januari 2023
SNVT PJSA Sumatera I
Pejabat Pembuat Komitmen
Sungai dan Pantai II,

SUHERMAN,ST
Nip. 19710616 200212 1 003

Anda mungkin juga menyukai