[Link] [Link].
id
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN TGfU (TEACHING GAMES FOR UNDERSTANDING)
UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR BERMAIN SEPAKBOLA
PADA PESERTA DIDIK KELAS X TKR D SMK NEGERI 2 SUKOHARJO
TAHUN AJARAN 2015/2016
Muhammad Yusuf Alfian1*, Sunardi2,Tri Winarti Rahayu2
1
Mahasiswa Prodi Penjaskesrek FKIP UNS,Surakarta, Indonesia
2
Dosen Prodi Penjaskesrek FKIP UNS,Surakarta, Indonesia
*Keperluan Korespondensi, HP: 085641300744, email:
muhammad.my582@[Link]
ABSTRAK
Muhammad Yusuf Alfian k4612108. PENERAPAN MODEL
PEMBELAJARAN TEACHING GAMES FOR UNDERSTANDING (TGfU)
UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR BERMAIN SEPAKBOLA
PADA PESERTA DDIK KELAS X TKR D SMK NEGERI 2 SUKOHARJO
TAHUN AJARAN 2015/2016. Skripsi, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan.
Universitas Sebelas Maret Surakarta. Maret 2016.
Tujuan Penelitian ini adalah untuk meningkatkan hasil belajar bermain
sepakbola dengan model pembelajaran Teaching Games For Understanding
(TGfU) pada peserta didik kelas X TKR D SMK Negeri 2 Sukoharjo tahun ajaran
2015 / 2016.
Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (PTK) yang
dilaksanakan dalam dua siklus dimana setiap siklus terdiri atas dua pertemuan
dengan rincian tiap siklus terdiri atas perencanaan, pelaksanaan tindakan,
observasi, dan refleksi. Subjek penelitian adalah peserta didik kelas X TKR D
yang berjumlah 36 peserta didik yang terdiri dari peserta didik putra. Sumber data
berasal dari siswa, guru, dan kolaborator. Teknik pengumpulan data adalah tes
dan observasi. Validitas data menggunakan teknik triangulasi data. Analisis data
menggunakan teknik deskriptif yang didasarkan pada analisis kualitatif dengan
presentase.
Hasil belajar bermain sepakbola pada siklus I pertemuan kesatu yang
tergolong dalam kategori tuntas adalah 58.33% dengan jumlah peserta didik yang
tuntas adalah 21 peserta didik sedangkan hasil belajar bermain sepakbola siklus I
pertemuan kedua yang tergolong dalam kategori tuntas adalah 69.44% dengan
jumlah peserta didik yang tuntas 25 orang. Pada siklus II pertemuan kesatu terjadi
peningkatan presentase hasil belajar bermain sepakbola peserta didik dalam
kategori tuntas sebesar 77.78% dengan jumlah peserta didik yang tuntas adalah 28
peserta didik sedangkan hasil belajar bermain sepakbola pada siklus II pertemuan
kedua adalah sebesar 88.89% dengan jumlah peserta didik yang tuntas adalah 32
peserta didik.
Berdasarkan hasil analisis penelitian diatas diperoleh kesimpulan bahwa
penerapan model pembelajaran Teaching Games For Understanding (TGfU)
dapat meningkatkan hasil belajar bermain sepakbola dibuktikan dengan
tercapainya target sebesar 80% oleh peserta didik kelas X TKR D SMK Negeri 2
Sukoharjo tahun ajaran 2015/2016.
commit to user
Kata Kunci: Hasil Belajar, Bermain Sepakbola, Model Pembelajaran Teaching
Games For Understanding (TGfU)
[Link] [Link]
PENDAHULUAN bermain sepakbola merupakan faktor yang
fundamental agar peserta didik memiliki
Pendidikan mempunyai fungsi untuk keterampilan bermain sepakbola. Macam-macam
meningkatkan kualitas masyarakat. Salah satu teknik dasar sepak bola harus dikuasai diantaranya
upaya itu adalah mewujudkan manusia yang kuat, : menggiring (drible), menendang (passing),
terampil dan bermoral melalui pendidikan mengontrol (control). Dengan menguasai teknik
jasmani. Pembinaan pendidikan jasmani diarahkan dasar bermain sepak bola, maka akan
guna membentuk jasmani yang sehat dan mental meningkatkan kualitas penampilannya baik secara
yang baik agar dihasilkan manusia yang produktif. individu maupun kolektif (tim).
Pendidikan jasmani itu sendiri merupakan suatu Kita menyadari bahwa dalam pembelajaran
proses pembelajaran melalui aktifitas jasmani PJOK banyak permasalahan yang muncul pada
yang dirancang dan disusun secara sistematis saat berlangsungnya proses belajar mengajar yaitu
untuk meningkatkan kebugaran jasmani, seperti anak didik timbul sifat bemalas-malasan
pengembangan keterampilan motorik, perilaku untuk melakukan aktivitas jasmani, saat kegiatan
hidup sehat, keterampilan sosial, sikap sportifitas, belajar anak didik pura-pura sakit, ijin, tidak
serta kecerdasan emosional dalam rangka mengikuti pelajaran dengan berbagai alasan dan
mencapai tujuan pendidikan nasional. Pendidikan sebagainya.
jasmani diajarkan dari tingkat Sekolah Dasar Dalam pembelajaran pendidikan jasmani
(SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), olahraga dan kesehatan khususnya pada materi
Madrasah Tsanawiyah (MTS), Sekolah Menengah bola besar yaitu sepakbola, masih banyaknya
Atas (SMA), Sekolah Menengah Kejuruan peserta didik yang kurang sungguh-sungguh
(SMK), Madrasah Aliyah (MA), bahkan di dalam belajar teknik dasar sepakbola. Hal tersebut
Perguruan Tinggi. ditunjukkan bahwa peserta didik lebih suka
Pendidikan jasmani, olahraga dan kesehatan pembelajaran langsung pada bermain sepakbola
yang diajarkan di sekolah khususnya di Sekolah daripada belajar teknik dasar terlebih dahulu.
Menengah Kejuruan (SMK) sederajat memiliki Padahal teknik dasar sangatlah penting untuk
peranan sangat penting, yaitu memberikan bermain sepakbola. Teknik dasar bermain
kesempatan kepada peserta didik untuk terlibat sepakbola merupakan komponen yang harus
langsung dalam berbagai pengalaman belajar dikuasai peserta didik agar dapat bermain dengan
melalui aktifitas jasmani, olahraga dan kesehatan baik. Teknik dasar merupakan yang memiliki
yang telah dipilih serta dilakukan secara gerakan yang mudah tetapi sering kali teknik
sistematis. Pembekalan pengalaman belajar itu dasar sepakbola yang dilakukan gagal seperti,
diarahkan untuk membina pertumbuhan fisik dan kesulitan pada arah tujuan sasaran dalam
pengembangan psikis yang lebih baik, sekaligus menendang bola, waktu yang tepat untuk
membentuk pola hidup yang sehat dan bugar menggiring bola dan ketepatan dalam mengontrol
sepanjang hayat. Aktifitas jasmani itu dapat bola.
berupa permainan atau olahraga terpilih yang Begitu pula yang dirasakan oleh peserta
dapat dimanfaatkan untuk mengembangkan didik kelas X TKR D SMK Negeri Sukoharjo.
kepribadian anak secara menyeluruh, seperti Mereka merasa kesulitan dalam pelajaran
sepak bola, bolavoli, basket, bola tangan, permainan ini yaitu pada bermain sepakbola,
bulutangkis dan tenis meja. setelah mendapatkan pelajaran olahraga materinya
Sepakbola adalah cabang olahraga yang bermain sepakbola mengatakan bahwa mereka
menggunakan bola yang umumnya terbuat dari merasa kesulitan dalam melakukan bermain
bahan kulit dan dimainkan oleh dua tim yang sepakbola. Padahal dalam permainan sepakbola
masing-masing beranggotakan 11 (sebelas) orang peserta didik dituntut untuk bermain sepakbola
pemain inti dan beberapa pemain cadangan. denagn baik dan benar dalam suatu permainan.
Sepakbola bertujuan untuk mencetak gol SMK Negeri 2 Sukoharjo adalah salah satu
sebanyak-banyaknya dengan menggunakan bola SMK negeri yang tepatnya berada di Jl. Solo-
ke gawang lawan. Sepakbola dimainkan dalam Wonogiri, Begajah, Sukoharjo. Berdasarkan
lapangan terbuka yang berbentuk persegi panjang,commit to user
observasi yang dilakukan saat program
di atas rumput atau rumput sintetis. pengalaman lapangan (PPL) di SMK Negeri 2
Di dunia pendidikan sepakbola merupakan Sukoharjo bahwa pembelajaran bermain
salah satu materi yang diajarkan dalam aspek sepakbola pada kelas X TKR D belum
permainan dan olahraga. Menguasai teknik dasar dilaksanakan secara maksimal. Semua itu dapat
dilihat dari jumlah peserta didik yang memenuhi
[Link] memiliki kemampuan [Link]
untuk melakukan
kriteria ketuntasan minimal (KKM) yang modifikasi keterampilan yang hendak diajarkan
ditetapkan yaitu 2,66, hanya 14 peserta didik agar sesuai dengan tingkat perkembangan anak.
(38,88%) yang tuntas dari jumlah peserta didik Kesulitan-kesulitan yang dihadapi peserta didik
keseluruhan yaitu 36 peserta didik. harus dicarikan solusi yang tepat, sehingga tujuan
Hasil belajar yang dicapai oleh peserta didik pembelajaran dapat dicapai.
memanglah belum memuaskan setelah dilihat dari Sejalan dengan pendekatan kontruktivisme
pencapaian yang dibahas sebelumnya, guru sudah dalam pembelajaran, salah satu model
berusaha memberikan materi dengan sebaik- pembelajaran yang akan diterapkan untuk
baiknya dan sesuai kemampuan yang dimiliki menjembatani permasalahan rendahnya hasil
guru. Akan tetapi mengapa hasil yang dicapai belajar bermain sepakbola pada peserta didik
belum memuaskan? Hal itu dikarenakan model kelas X TKR D SMK Negeri 2 Sukoharjo yaitu
pembelajaran pendidikan jasmani yang melalui model pembelajaran TGfU (Teaching
berlangsung memiliki kecenderungan Games for Understanding).
menggunakan cara yang sama untuk mengajar Pembelajaran model TGfU (Teaching
pendidikan jasmani. Pemanasan sebagai awal Games for Understanding) adalah model
membuka kelas yang merupakan kunci sukses pembelajaran pendidikan jasmani yang berpusat
dalam pembelajaran masih diberikan secara pada peserta didik, dengan menekankan pada
konvensional, sehingga peserta didik kurang konsep dasar bermain dengan tujuan memberikan
termotivasi dalam mengikuti proses pembelajaran. rasa antusias, kesenangan sehingga bisa
Pembelajaran yang dilakukan berulang-ulang meningkatkan hasil belajar dan penampilan
membuat peserta didik merasa bosan, selain itu bermain peserta didik. TGfU tidak memfokuskan
pembelajaran mengharuskan peserta didik pembelajaran pada teknik bermain olahraga
menunggu giliran untuk melakukan materi yang sehingga pembelajaran akan lebih dinamis dan
disampaikan, hal tersebut memberikan sesuai dengan tahap perkembangan anak. Model
kesempatan kepada peserta didik untuk pembelajaran TGfU merupakan salah satu
mengobrol dengan teman, bercanda dan bahkan pendekatan yang mengakomodir kebutuhan anak
duduk-duduk sehingga kurang memperhatikan dalam bermain. Guru PJOK sebagai pengelola
materi tanpa teguran dari guru karena guru kelas lebih berperan sebagai fasilitator
terfokus pada peserta didik yang mendapat giliran pembelajaran dan tidak menjadi dominan dengan
untuk melakukan. Ada juga peserta didik yang memberikan contoh-contoh seperti yang terjadi
merasa takut dalam mempraktikkan materi yang pada pembelajaran yang berbasis teknik. Model
diberikan, tetapi kurang mendapat perhatian pembelajaran TGfU juga dapat dijadikan sebagai
khusus karena waktu yang tidak memungkinkan sebuah inovasi yang menuju pada perbaikan
guru untuk fokus pada satu peserta didik saja. pembelajaran PJOK di sekolah.
Model pembelajaran yang masih berpusat pada TGfU (Teaching Games for Understanding)
guru tersebut membuat peserta didik cenderung berkaitan erat dengan model pembelajaran
pasif, sehingga pemahaman peserta didik permainan taktikal dalam pengajaran PJOK. Pada
terhadap materi kurang maksimal. model pembelajaran permaianan taktikal, guru
Kesulitan-kesulitan yang dihadapi peserta merencanakan urutan tugas mengajar dalam
didik dalam belajar bermain sepakbola menuntut konteks pengembangan keterampilan dan taktis
seorang guru PJOK harus memiliki kreatifitas bermain peserta didik, mengarah pada permainan
dalam membelajarkan bermain sepak bola. Pada yang sebenarnya. Tugas-tugas belajar menyerupai
pembelajaran konvensional cenderung permainan dan modifikasi bermain sering disebut
menggunakan pendekatan yang mendasarkan pada sebagai „bentuk-bentuk permainan‟. Di dalam
olahraga prestasi dalam pengajarannya. permainan taktikal maka guru harus mampu
Pendekatan seperti itu menjadikan anak kurang mengundang peserta didik untuk memecahkan
senang atau bahkan merasa frustasi untuk masalah taktis [Link] harus mampu
melakukan program pendidikan jasmani karena menunjukan masalah-masalah taktik yang
mereka tidak mampu dan sering gagal dalam diperlukan dalam situasi bermain. Sedangkan
melaksanakan tugas yang diberikan dalam bentukcommit to user didik sangat penting untuk mengenali
peserta
kompleks. Untuk itu kebutuhan untuk posisi bermain di lapangan secara benar, pilihan-
memodifikasi olahraga sebagai pendekatan pilihan gerak yang mungkin dilakukan, dan
alternatif dalam pengajaran pendidikan mutlak situasi-situasi bermain yang dihadapi peserta
perlu dilakukan. Guru dalam hal ini harus didik.
Dalam model pemebelajaran
[Link] TGfU untuk: Meningkatkan hasil belajar bermain
[Link]
(Teaching Games for Understanding) peserta sepakbola melalui penerapan TGfU (Teaching
didik belajar suatu bermain olahraga diarahkan Games for Understanding) pada peserta didik
kepada keaktifan gerak guna menimbulkan kelas X TKR D SMK Negeri 2 Sukoharjo tahun
kegembiraan, kesenangan anak yang melakukan. ajaran 2015/2016.
TGfU (Teaching Games for Understanding) di
desain untuk pengembangan aktivitas gerak Berdasarkan tujuan yang telah
bermain dengan prinsip appropriate game atau dikemukakan, maka diharapkan penelitian ini
bentuk game. mempunyai manfaat bagi SMK Negeri 2
Berdasarkan observasi yang dilakukan dan Sukoharjo, antara lain :
dari masalah umum yang dihadapi guru PJOK 1. Manfaat bagi guru PJOK SMK Negeri 2
dalam menyampaikan materi khususnya bermain Sukoharjo
sepak bola, maka peneliti tertarik untuk a. Untuk meningkatkan kreatifitas guru di
melakukan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) pada sekolah dalam pembelajaran PJOK agar
peserta didik kelas X TKR D SMK Negeri 2 diperoleh hasil belajar yang optimal.
Sukoharjo Tahun Ajaran 2015/2016 dengan judul b. Sebagai bahan masukan guru dalam
“Penerapan Model Pembelajaran TGfU (Teaching memilih alternatif pembelajaran yang
Games for Understanding) Untuk Meningkatkan akan dilakukan, menerapkan strategi
Hasil Belajar Bermain Sepakbola Pada Peserta pembelajaran yang menyenangkan,
didik Kelas X TKR D SMK Negeri 2 Sukoharjo khususnya meningkatkan minat dan
Tahun Ajaran 2015/2016.” partisipasi peserta didik dalam
pembelajaran bermain sepakbola.
Berdasarkan latar belakang yang telah c. Untuk meningkatkan kinerja guru dalam
diuraikan diatas, maka dapat dirumuskan masalah menjalankan tugasnya secara
sebagai berikut : “Apakah penerapan model professional, terutama dalam
pembelajaran dapat meningkatkan hasil belajar pembelajaran PJOK.
bermain sepakbola pada peserta didik kelas X 2. Manfaat bagi peserta didik kelas X TKR D
TKR D SMK Negeri 2 Sukoharjo tahun ajaran SMK Negeri 2 Sukoharjo
2015/2016 ?”. a. Menciptakan suasana pembelajaran yang
lebih menyenangkan dan meningkatkan
Definisi Operasional Variabel : peran aktif peserta didik dalam
1. Model Pembelajaran TGfU (Teaching mengikuti pembelajaran PJOK, sert1a
Games for Understanding) meningkatkan hasil belajar bagi peserta
Model pembelajaran TGfU didik yang bermasalah dalam mengikuti
(Teaching Games for Understanding) pembelajaran bermain sepakbola.
adalah sebuah model pembelajaran yang b. Dapat meningkatkan minat dan
menerapkan model pembelajaran berbasis kemampuan keterampilan bermain
permainan dalam pembelajaran bermain sepakbola.
sepakbola pada peserta didik kelas X TKR 3. Manfaat bagi sekolah SMK Negeri 2
D SMK Negeri 2 Sukoharjo tahun ajaran Sukoharjo
2015/2016. Model permainan yang Penelitian ini memberikan kontribusi bagi
diterapkan dalam penelitian ini adalah sekolah dalam rangka perbaikan
memburu kancil, sepakbola mini, pembelajaran di dalam maupun luar kelas,
terowong bola , bowling bola. sehingga akan ada peningkatan kualitas
2. Hasil Belajar Bermain Sepakbola sekolah yang lebih baik.
Hasil belajar bermain sepakbola 4. Bagi peneliti
merupakan hasil belajar peserta didik Peneliti mendapatkan fakta bahwa melalui
setelah mendapat pembelajaran dengan metode TGfU (Teaching Games for
penerapan model pembelajaran TGfU Understanding) ini dapat meningkatkan
(Teaching Games for Understanding). hasil belajar bermain sepakbola.
Hasil belajar tersebut meliputi aspekcommit to user
kognitif, afektif dan psikomotor.
Berdasarkan permasalahan yang telah
diuraikan diatas, maka penelitian ini bertujuan
METODE PENELITIAN
[Link] meningkatkan kualitas [Link]
pembelajaran materi
Teknik pengumpulan data dalam PTK ini bermain sepakbola pada peserta didik kelas X
terdiri dari observasi. Observasi digunakan TKR D SMK Negeri 2 Sukoharjo tahun ajaran
sebagai teknik untuk mengumpulkan data tentang 2014/2015 melalui penerapan pembelajaran
aktivitas peserta didik dalam mengikuti proses Teaching Games For Understanding (TGfU).
belajar mengajar saat penerapan model
pembelajaran Teaching Games For HASIL BELAJAR BERMAIN SEPAKBOLA
Understanding (TGfU). SIKLUS 1
Selama pelaksanaan tindakan I maka peneliti
HASIL DAN PEMBAHASAN dan guru melakukan pengambilan data penelitian.
Sebelum melakukan pelaksanaan tindakan Adapun deskripsi data yang diambil menggunakan
maka peneliti dan guru melakukan pengambilan rumus GPAI (GAMES PERFORMANCE
data awal penelitian. Ini dimaksudkan untuk ASSESSMENT INSTRUMEN) yaitu dengan menilai
mengetahui kondisi awal keadaan kelas pada penampilan peserta didik sesuai dengan lembar
materi bermain sepakbola kelas X TKR D SMK penilaian RPP pada peserta didik kelas X TKR D
Negeri 2 Sukoharjo Tahun Ajaran 2015/2016. DSMK Negeri 2 Sukoharjo tahun ajaran 2015/2016.
Kondisi awal hasil belajar kelas pada Kondisi hasil belajar bermain sepakbola
materi bermain sepakbola kelas X TKR D SMK melalui penerapan model Pembelajaran Teaching
Negeri 2 Sukoharjo Tahun Ajaran 2015/2016 Games For Understanding (TGfU) disajikan dalam
sebelum diberikan tindakan melalui penerapan bentuk tabel sebagai berikut:
model pembelajaran Teaching Games For Tabel 2. Hasil belajar bermain sepakbola
Understanding (TGfU) disajikan dalam bentuk
pertemuan 1, siklus I
tabel dan gambar sebagai berikut:
Tabel 1. Data awal Pratindakan Hasil Belajar Rentang Nilai Ketrangan Kriteria Jumlah Peserta Didik Presentase
Bermain Sepakbola Kelas X TKR D 3.34 - 4.00 Sangat Baik Tuntas 2 5.55%
SMK Negeri 2 Sukoharjo Tahun Ajaran 2.34 - 3.33 Baik Tuntas 19 52.78%
2015/2016. 1.34 - 2.33 Cukup Tidak Tuntas 15 41.67%
Rentang Nilai Ketrangan Kriteria Jumlah Peserta Didik Presentase 0 - 1.33 Kurang Tidak Tuntas 0 0.00%
3.33 - 4.00 Sangat Baik Tuntas 1 2.78% Jumlah 36 100%
2.33 - 3.33 Baik Tuntas 13 36.11%
Kategori Jumlah Peserta didk Presentase
1.33 - 2.33 Cukup Tidak Tuntas 22 61.11%
Tuntas 21 peserta didik 58.34%
0 - 1.33 Kurang Tidak Tuntas 0 0.00%
Jumlah 36 100% Tidak Tuntas 15 peserta didik 41.67%
Kategori Jumlah Peserta didk Presentase Tabel 3. Hasil belajar bermain sepakbola
Tuntas 14 peserta didik 38.89% pertemuan 2, siklus I
Tidak Tuntas 22 peserta didik 61.11%
Rentang Nilai Ketrangan Kriteria Jumlah Peserta Didik Presentase
Berdasarkan hasil deskripsi rekapitulasi data 3.34 - 4.00 Sangat Baik Tuntas 2 5.55%
awal sebelum diberikan tindakan maka dapat 2.34 - 3.33 Baik Tuntas 23 63.89%
dijelaskan bahwa mayoritas peserta didik belum 1.34 - 2.33 Cukup Tidak Tuntas 11 30.56%
menunjukan hasil belajar yang baik, persentase 0 - 1.33 Kurang Tidak Tuntas 0 0.00%
ketuntasan belajar materi bermain sepakbola
Jumlah 36 100%
dengan kriteria sangat baik sebesar 2.78% (1
peserta didik), baik sebesar 36.11% (13 peserta Kategori Jumlah Peserta didk Presentase
didik). Persentase kriteria cukup pada materi Tuntas 25 peserta didik 69.44%
bermain sepakbola sebesar 61.11%. Sehingga Tidak Tuntas 11peserta didik 30.56%
dapat disimpulkan peserta didik tergolong dalam
kategori tuntas adalah 14 Peserta didik (38.89%) Berdasarkan hasil deskripsi siklus I, hasil
dan tergolong dalam kategori belum tuntas 22 belajar bermain sepakbola peserta didik kelas X
peserta didik (61.11%). commit to user
TKR D SKM Negeri 2 Sukoharjo tahun ajaran
Melalui deskripsi data awal yang telah 2015/2016 setelah diberikan Tindakan I adalah
diperoleh menunjukan kriteria keberhasilan sebagai berikut:
pembelajaran yang kurang optimal. Maka akan 1) Hasil belajar peserta didik dalam
dilaksanakan sebuah tindakan untuk pembelajaran bermain sepakbola setelah
pertemuan pertama (pertemuan ke 1)
[Link] Rentang Nilai Ketrangan [Link]
Jumlah Peserta Didik Presentase
Tindakan I dilakukan menunjukkan hasil 3.34 - 4.00 Sangat Baik Tuntas 5 13.89%
bahwa yang mencapai kriteria sangat baik 2.34 - 3.33 Baik Tuntas 27 75.00%
sebesar 5.55%, kriteria baik sebesar 1.34 - 2.33 Cukup Tidak Tuntas 4 11.11%
52.78% dan kriteria cukup sebesar
0 - 1.33 Kurang Tidak Tuntas 0 0.00%
41.67%. Dalam hal ini sejumlah 21
Jumlah 36 100%
peserta didik (58.33%) telah masuk dalam
kriteria tuntas dan 15 peserta didik Kategori Jumlah Peserta didk Presentase
(41.67%) masih masuk dalam kategori Tuntas 32 peserta didik 88.89%
belum tuntas. Tidak Tuntas 4peserta didik 11.11%
2) Hasil belajar peserta didik dalam Berdasarkan data di atas dapat disimpulkan
pembelajaran bermain sepakbola setelah bahwa :
pertemuan kedua (pertemuan ke 2) 1) Hasil belajar peserta didik dalam
Tindakan I dilakukan menunjukan hasil pembelajaran bermain sepakbola setelah
bahwa yang mencapai kriteria sangat baik Tindakan II pertemuan ketiga dilakukan
sebesar 5.55%, kriteria baik sebesar 63.89 menunjukan hasil bahwa yang mencapai
% dan kriteria cukup sebesar 31.56%. kriteria sangat baik sebesar 11.11%, kategori
Dalam hal ini sejumlah 25 peserta didik baik sebesar 66.67% , dan kategori cukup
(69.44%) telah masuk dalam kriteria 22.22%. Dalam hal ini sejumlah 28 peserta
tuntas dan 11 peserta didik (30.56%) didik telah masuk dalam kriteria tuntas dan
masih masuk dalam kategori belum sedangkan 8 peserta didik masih masuk dalam
tuntas. kategori belum tuntas.
2) Hasil belajar peserta didik dalam
HASIL BELAJAR BERMAIN SEPAKBOLA
pembelajaran bermain sepakbola setelah
SIKLUS 1I
Tindakan II pertemuan keempat dilakukan
Pelaksanaan Tindakan II peneliti dan guru
menunjukan hasil bahwa yang mencapai
melakukan pengambilan data penelitian.
kriteria sangat baik sebesar 13.89%, kategori
Adapun Deskripsi data yang diambil terdiri
baik sebesar 75% , dan kategori cukup 11.11%.
dari aspek penampilan bermain sepakbola
Dalam hal ini sejumlah 32 peserta didik telah
sesuai dengan lembar penilaian pada RPP pada
masuk dalam kriteria tuntas dan sedangkan 4
peserta didik kelas TKR D SMK Negeri 2
peserta didik masih masuk dalam kategori
Sukoharjo.
belum tuntas.
Kondisi hasil bermain melalui penerapan
model pembelajaran Teaching Games For
PERBANDINGAN HASIL TINDKAN ANTAR
Understanding (TGfU) disajikan dalam bentuk
SIKLUS
tabel berikut:
Perbandingan hasil belajar bermain
Tabel 4. Hasil belajar bermain sepakbola
sepakbola kelas X TKR D SMK Negeri 2
pertemuan 1, siklus 2
Sukoharjo tahun ajaran 2015/2016 pada siklus
Rentang Nilai Ketrangan Kriteria Jumlah Peserta Didik Presentase I dan siklus II disajikan dalam bentuk gambar
3.34 - 4.00 Sangat Baik Tuntas 4 11.11% sebagai berikut :
2.34 - 3.33 Baik Tuntas 24 66.67%
1.34 - 2.33 Cukup Tidak Tuntas 8 22.20%
0 - 1.33 Kurang Tidak Tuntas 0 0.00%
Jumlah 36 100%
Kategori Jumlah Peserta didk Presentase
Tuntas 25 peserta didik 77.78%
Tidak Tuntas 11peserta didik 22.22%
Tabel 16. Hasil belajar bermain sepakbola
pertemuan 2, siklus 2 commit to user
[Link] peserta didik dan mengarahkan alur pembelajar
[Link]
kelompok. Terbukti berdasarkan data hasil
tindakan siklus II pertemuan ketiga hasil belajar
bermain sepakbola meningkat menjadi 77.78%
atau 28 Peserta didik tergolong dalam kategori
tuntas sedangkan pada siklus II pertemuan
keempat meningkat menjadi 88.89% atau 32
peserta didik tergolong dalam kategori tuntas.
Berdasarkan tindakan-tindakan yang
sudah di lakukan, peneliti berhasil melaksanakan
model pembelajaran Teaching Games For
Understanding (TGfU) pada siklus II dengan
memperbaiki tindakan dari siklus I. Maka dapat
disimpulkan bahwa dengan menerapkan model
pembelajaran Teaching Games For
Gambar 1. Perbandingan hasil belajar bermain
Understanding (TGfU) dapat meningkatkan hasil
sepakbola kelas X TKR D SMK
belajar bermain sepakbola kelas X TKR D SMK
Negeri 2 Sukoharjo tahun ajaran
Negeri 2 Sukoharjo tahun ajaran 2015/2016.
2015/2016
Tabel 18. Pencapaian Hasil Belajar Bermain
Sepakbola Kelas X TKR D SMK Negeri 2
PEMBAHASAN
Sukoharjo Tahun Ajaran 2015/2016.
Berdasarkan hasil pelaksanaan tindakan
pada siklus I dan siklus II dapat disimpulkan
KESIMPULAN
bahwa terjadi peningkatan hasil belajar bermain
Penelitian Tindakan Kelas pada peserta
sepakbola pada peserta didik kelas X TKR D
didik kelas X TKR D SMK Negeri 2 Sukoharjo
SMK Negeri 2 Sukoharjo tahun ajaran 2015/2016.
dilaksanakan dalam dua siklus. Setiap siklus
Dari data awal atau prasiklus peserta didik yang
terdiri atas empat tahapan yaitu: 1. Perencanaan,
tergolong dalam kategori tuntas berjumlah 14
2. pelaksanaan tindakan, 3. observasi dan
peserta didik atau 38.89%. Pada siklus I
interprestasi, dan 4. analisis dan refleksi. Dari
pertemuan kesatu setelah diberi tindakan melalui
hasil analisis yang diperoleh peningkatan yang
penerapan model pembelajaran Teaching Games
signifikan terjadi pada siklus I dan siklus II yaitu
For Understanding (TGfU) jumlah peserta didik
hasil belajar bermain sepakbola. Hasil belajar
yang tuntas menjadi 21 peserta didik atau 58.33%.
bermain sepakbola pada siklus I pertemuan kesatu
Kemudian siklus 1 pertemuan kedua jumlah
yang tergolong dalam kategori tuntas adalah
peserta didik yang tuntas menjadi 25 peserta didik
58.33% dengan jumlah peserta didik yang tuntas
atau 69.44%. Hasil siklus I pertemuan kesatu dan
adalah 21 peserta didik sedangkan hasil belajar
kedua belum bisa dikatakan berhasil karena sesuai
bermain sepakbola siklus I pertemuan kedua yang
dengan indikator target akhir pencapaian hasil
tergolong dalam kategori tuntas adalah 69.44%
belajar yaitu sebesar 80,00%. Proses pembelajaran
dengan jumlah peserta didik yang tuntas 25 orang.
pada siklus I melalui penerapan model
Pada siklus II pertemuan kesatu terjadi
pembelajaran Teaching Games For
peningkatan presentase hasil belajar bermain
Understanding (TGfU) kurang maksimal dan
sepakbola peserta didik dalam kategori tuntas
masih banyak kekurangan di berbagai tahap.
sebesar 77.78% dengan jumlah peserta didik yang
Misalnya peserta didik sering lupa dengan
tuntas adalah 28 peserta didik sedangkan hasil
peraturan permainan modifikasi yang diterapkan
belajar bermain sepakbola pada siklus II
karena mereka tidak terbiasa dengan pembelajaran
pertemuan kedua adalah sebesar 88.89% dengan
PJOK dengan bentuk kelompok dan peserta didik
jumlah peserta didik yang tuntas adalah 32 peserta
juga belum memahami betul alur atau skenario
didik.
pembelajaran bermain sepakbola dengan
Berdasarkan analisis diatas diperoleh
penerapan model pembelajaran Teaching Games
kesimpulan bahwa model pembelajaran Teaching
For Understanding (TGfU) maka perlu
diadakannya perbaikan pada siklus II. Padacommit to user
Games For Understanding (TGfU) dapat
meningkatkan hasil belajar bermain sepakbola
Siklus II pembelajaran ditekankan pada perbaikan
pada peserta didik kelas X TKR D SMK Negeri 2
di siklus I dengan pemberian tindakan berupa
Sukoharjo tahun ajaran 2015/2016.
mengoptimalkan proses belajar kelompok dengan
selalu mengontrol kegiatan yang dilakukan oleh
DAFTAR RUJUKAN
[Link] Pembelajaran Yang Berhasil. Bandung:
[Link]
Prospect.
Agus Kristiyanto. (2012) . Penelitian Tindakan
Kelas (PTK) Dalam Pendidikan Jasmani Sa‟dun Akbar. (2013). Instrumen Perangkat
dan Kepelatihan [Link] : Pembelajaran. Bandung : PT. Remaja
UNS Press. Rosda karya Offset.
Clive Gifford. (2007). Keterampilan Sepak Bola. Tarigan. (2001). Pendekatan Ketermpilan Taktis
dalam Pembelajaran Sepak Bola. Jakarta
Klaten : PT Intan Sejati.
: Direktorat Jendral Olahraga,
Depdiknas.
Dimyati & Mudjiono. (2009). Belajar dan
Pembelajaran. Jakarta: PT Rineka Cipta. Soekatamsi. (2000). Teori dan Praktek Sepak
Fleck, T & Ron, Q. (2007). Panduan Latihan Bola [Link] : UNS Press.
Sepak Bola Andal. Jakarta: PT Sunda Pusat Bahasa, Departemen Pendidikan Nasional.
Kelapa Pustaka. (2008). Kamus Besar Bahasa
[Link] : Balai Pustaka.
FKIP (2016). Pedoman Penulisan Skripsi.
Fakultas Keguruan dan Ilmu Penddikan Sardiman. (2012). Interaksi dan Motivasi Belajar
Universitas Sebelas Maret Surakarta. [Link] : Rajawali Press.
Griffin ,L. L. & Butler, J.I.(Eds). (2005). Teaching Yudanto. (2011). Jurnal Health & Sport, Vol. ll,
Game for Understanding. USA : Human
Kinetics. Nomor 1:lmplementasi Pendekatan
Taktik Dalam Pembelajaran lnvasion
Luxbacher, J A. (1998). Sepak Bola : Langkah-
Langkah Menuju Sukses. Jakarta : PT Games. Fakultas Ilmu Keolahragaan:
Raja Grafindo Persada.
UNY. Diperoleh 11 Januari 2016.
Mayke S. Tadjasaputra. (2001). Bermain, Mainan, Pukul20.41, dari
dan Permainan. Jakarta : Grasindo.
[Link]
Mielke, D. (2007). Dasar-DasarSepak Bola.
nelitian/Ahmad%20Rithaudin,%[Link].
Bandung : Pakar Raya.
%20Jas.%[Link]/META%20ANALISI
Muhammad Furqon Hidayatullah. (2006). S%[Link]
Mendidik Anak Dengan Bermain. Buku
Pegangan Guru Penjas di Sekolah Waluyo. 2013. Teknologi Pendidikan dalam
[Link] Sebelas Maret.
Penjas. Surakarta: Cakrawala media.
Nana Sudjana. (2000). Penilaian Hasil Proses
Belajar [Link] : PT Remaja Wina Sanjaya. (2011). Perencanaan dan Desain
Rosda Karya. Sistem Pembelajaran. Jakarta : Kencana Prenada
Media Group.
Rusli Lutan dan adang suherman. (2000).
Pengertian pendekatan bemain.
Diperoleh 11 Januari 2016. Pukul 19.23
dari http:mari berkawan
[Link]/2011/08/pengertian-
[Link].
Sucipto, dkk. (2000). “Sepakbola”. Departemen
commit to user
Pendidikan dan Kebudayaan
Sutikno, M.S. (2009). Belajar dan Pembelajaran
Upaya Kreatif Dalam Mewujudkan