PENERAPAN LAYANAN BIMBINGAN KELOMPOK UNTUK
MENGATASI RASA RENDAH DIRI SISWA KELAS VIII
DI SMP SWASTA AZIZI MEDAN
TAHUN AJARAN 2020/2021
SKRIPSI
Diajukan Guna Melengkapi Tugas-Tugas dan Memenuhi Syarat-
Syarat Mencapai Gelar Sarjana Pendidikan ([Link])
Program Studi Bimbingan dan Konseling
Oleh :
SARI ELIDA LESTARI
NPM. 1702080032
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS
MUHAMMADIYAH SUMATERA UTARA
MEDAN
2021
1
2
3
ABSTRAK
Sari Elida Lestari (1702080032), Penerapan Layanan Bimbingan Kelompok
Untuk Mengatasi Rasa Rendah Diri Siswa Kelas VIII Di SMP Swasta Azizi
Medan Tahun Ajaran 2020/2021
Bimbingan Kelompok adalah proses pemberian bantuan kepada individu melalui
suasana kelompok (dinamika kelompok) yang memungkinkan setiap anggota
untuk berpartisipasi aktif dan berbagai pengalaman dalam upaya pengembangan
wawasan, sikap dan keterampilan yang diperlukan dalam upaya pengembangan
pribadi, Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana bimbingan
kelompok mengatasi rasa rendah diri siswa kelas VIII Di SMP Swasta Azizi
Medan Tahun Ajaran 2020/2021. Objek dalam penelitian ini adalah siswa kelas
VIII berjumlah 6 orang siswa. 3 orang siswa laki-laki dan 3 orang siswa
perempuan. Instrumen yang digunakan adalah non-tes berupa wawancara dan
observasi yang sesuai dengan penerapan layanan bimbingan kelompok untuk
mengatasi rasa rendah diri siswa. Adapun teknik analisis data yang digunakan
dalam penelitian ini yaitu mengguankaan reduksi data, penyajian data, dan
mengambil kesimpulan. Hasil penelitian menunjukan bahwa penerapan layanan
bimbingan kelompok yang pertama pada siswa kelas VIII Di SMP Swasta Azizi
Medan Tahun Ajaran 2020/2021 berjalan dengan baik dan siswa mulai memiliki
kemauan dan kemampuan untuk menunjukan potensi diri, Penerapan layanan
bimbingan kelompok kelompok yang kedua menunjukan hasil yang lebih baik
lagi siswa semakin memiliki kemauan dan kemampuan dalam menunjukan
potensi dirinya, siswa juga mengakui bahwa perilaku mereka yang awalnya
kurang baik semakin membaik dari sebelumnya. Setelah dilakukannya bimbingan
kelompok sebanyak dua kali pada siswa kelas VIII Di SMP Swasta Azizi Medan
Tahun Ajaran 2020/2021 dan berdasarkan menurunya rasa rendah diri siswa
maka dapat disimpulkan Layanan Bimbingan Kelompok Mampu Untuk
Mengatasi Rasa Rendah Diri Siswa Kelas VIII Di SMP Swasta Azizi Medan
Tahun Ajaran 2020/2021.
Kata Kunci : Layanan Bimbingan Kelompok, Rendah Diri Siswa SMP Swasta
Azizi Medan
i
KATA PENGANTAR
Alhamdulillah puji syukur penulis ucapkan kepada Allah SWT, karena
berkahrahmat dan karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan skripsi ini untuk
melengkapi tugas-tugas serta memenuhi salah satu syarat untuk memperoleh gelar
Sarjana Pendidikan Program Studi Bimbingan dan Konseling Universitas
Muhammadiyah Sumatera Utara. Shalawat berangkaikan salam penulis hadiahkan
kepada junjungan Nabi Besar Muhammad SAW dengan kepemimpinan Beliau
kita bisa seperti sekarang ini.
Dalam penyusunan skripsi ini penulis menyadari banyak mengalami
kesulitan, terutama kurangnya pengetahuan penulis, serta buku literatur yang
mendukung skripsi ini. Namun berkat bantuan dari berbagai pihak sehingga
penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.
Selanjutnya penulis ucapkan terima kasih kepada pihak-pihak yang telah
membantu penulis dalam menyelesaikan skripsi ini, untuk itu penulis
mengucapkan terima kasih kepada:
1. Kedua Orang Tua tercinta yang sangat saya cintai Ibunda Siswati Ningsih
dan Ayahanda Selamet. Yang tiada pernah letih untuk mendo‟akan,
mendidik, dan memotivasi saya sehingga saya seperti ini. Juga untuk adik
saya Dwi Ananda dan Tri Novianti terima kasih karena telah menjadi
semangat tersendiri kepada saya.
ii
2. Bapak Prof. Dr. Agusani [Link] selaku Rektor Universitas Muhammadiyah
Sumatera Utara.
3. Bapak Prof. Dr. H. Elfrianto Nasution [Link]., [Link] selaku Dekan Fakultas
Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Sumatera
Utara.
4. Ibu Deliati, [Link]., [Link]., [Link] selaku dosen pembimbing skripsi penulis.
5. Bapak Fauzi Hasibuan, [Link]., [Link] selaku Ketua Program Studi
Pendidikan Bimbingan dan Konseling Universitas Muhammadiyah
Sumatera Utara.
6. Ibunda Sri Ngayomi Yudha Wastuti, [Link]., [Link] selaku Sekretaris
Program Studi Bimbingan dan Konseling Universitas Muhammadiyah
Sumatera Utara.
7. Seluruh Bapak dan Ibu Dosen beserta staf pegawai Biro Fakultas yang
telah memberikan bimbingan dan ilmunya kepada saya dan kelancaran
administrasi selama perkuliahan.
8. Bapak Drs Riswan Nasution selaku Kepala Sekolah SMP Swasta Azizi
Medan.
9. Teman-teman seperjuangan yang selalu bersama, yang saling memberi
motivasi dari awal kuliah hingga sampai akhir Sri Lungguh Dewi Lubis,
Cindika Wirahusada, Siti Aisah, Novi Indah Pratiwi.
10. Teman-teman stambuk 2017 jurusan Bimbingan dan Konseling terkhusus
kelas B Pagi Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara.
iii
11. Terima kasih kepada teman-teman kos tercinta kepada Alma Alqarana
Lubis, Putri Ningsih Siregar, Muhrina Aini, dan Rifda Prima Andriani
yang selalu terus mendukung penulis.
12. Terima kasih kepada sahabat tersayang sedari sekolah Dewi Darma, Mega
Afrilia, Rena Febriani, Siti Zubaidah yang selalu memberikan motivasi
dan dukungan kepada penulis.
Akhirnya penulis berharap dengan segala kerendahan hati semoga
skripsi ini bermanfaat bagi pembaca serta menambah pengetahuan bagi
penulis. Penulos mengucapkan terima kasih yang sebesar besarnya kepada
semua pihak yang telah memberikan semangat terhadap penulis sehingga
skripsi ini dapat terselesaikan. Apabila skripsi ini terdapat kata-kata yang
kurang kerkenan, penulis harapkan maaf sebesar-besarnya, Semoga Allah
SWT senantiasa meridhoi kita semua.
Medan, Oktober 2021
SARI ELIDA LESTARI
NPM : 1702080032
iv
DAFTAR ISI
ABSTRAK ...................................................................................................... i
KATA PENGANTAR .................................................................................... ii
DAFTAR ISI ................................................................................................... v
DAFTAR TABEL .......................................................................................... viii
DAFTAR GAMBAR ..................................................................................... ix
DAFTAR LAMPIRAN ................................................................................. x
BAB 1PENDAHULUAN ............................................................................... 1
A. Latar Belakang Masalah ............................................................................. 1
B. Identifikasi Masalah .................................................................................... 5
C. Batasan Masalah .......................................................................................... 5
D. Rumusan Masalah ....................................................................................... 5
E. Tujuan Penelitian......................................................................................... 6
F. Manfaat Penelitian ....................................................................................... 6
BAB II LANDASAN TEORITIS .................................................................. 9
A. Kerangka Teoritis ........................................................................................ 9
1. Layanan Bimbingan Kelompok................................................................... 9
1.1. Pengertian Layanan Bimbingan Kelompok ......................................... 9
1.2. Tujuan Layanan Bimbingan Kelompok ............................................... 10
1.3. Asas Asas Bimbingan Kelompok ........................................................ 12
1.4. Kegunaan Bimbingan Kelompok ........................................................ 13
1.5. Jenis Jenis Layanan Bimbingan dan Konseling ................................... 14
v
2. Rendah Diri ................................................................................................. 18
2.1. Pengertian Rendah Diri ...................................................................... 18
2.2. Faktor Yang Mempengaruhi Rendah Diri .......................................... 18
2.3. Ciri Ciri Rendah Diri ............................................................................ 20
2.4. Upaya Mengurangi Rendah Diri………………………………….. ... 23
B. Kerangka Konseptual ................................................................................. 24
BAB III METODE PENELITIAN .............................................................. 26
A. Lokasi Dan Waktu Penelitian ..................................................................... 26
1. Lokasi Penelitian ................................................................................... 26
2. Waktu Penelitian .................................................................................... 26
B. Subjek dan Objek Penelitian ...................................................................... 27
1. Subjek Penelitian ................................................................................... 27
2. Objek Penelitian .................................................................................... 27
C. Teknik Pengumpulan Data ......................................................................... 28
1. Observasi ............................................................................................... 28
2. Wawancara ............................................................................................ 29
3. Dokumentasi .......................................................................................... 30
D. Teknik Analisis Data .................................................................................. 31
1. Pengumpulan Data ................................................................................. 31
2. Reduksi Data .......................................................................................... 32
3. Penyajuan Data ...................................................................................... 32
4. Pengambilan Kesimpulan ....................................................................... 32
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN........................................................ 34
vi
A. Deskripsi Lokasi Penelitian ......................................................................... 34
B. Deskripsi Hasil Penelitian ........................................................................... 36
C. Diskusi Hasil Penelitian .............................................................................. 59
D. Keterbatasan Penelitian ............................................................................... 60
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ......................................................... 61
A. Kesimpulan ................................................................................................ 61
B. Saran........................................................................................................... 62
DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................... 64
LAMPIRAN-LAMPIRA
vii
DAFTAR TABEL
Tabel 3.1 Rencana Waktu Pelaksanaan .......................................................... 26
Tabel 3.2 Subjek Penelitian.............................................................................. 27
Tabel 3.3 Objek Penelitian ............................................................................... 28
Tabel 3.4Kisi-Kisi Observasi Kepada Siswa ................................................... 29
Tabel 3.5 Kisi-Kisi Pedoman Wawancara siswa ............................................. 29
Tabel 3.6 Kisi Pedoman Wawancara Guru BK ............................................... 30
Tabel 4.1 Deskripsi Rasa Rendah Diri Siswa Kelas VIII
Di SMP Swasta Azizi ....................................................................................... 52
viii
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1. Kerangka Konseptual ..................................................................... 24
ix
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1. Kegiatan Layanan Bimbingan Kelompok
Lampiran 2. RPL Layanan Bimbingan Kelompok
Lampiran 3. From K-1,K-2,K-3
Lampiran 4. Berita Acara Bimbingan Proposal
Lampiran 5. Berita Acara Seminar Proposal
Lampiran 6. Lembar Pengesahan Hasil Seminar
Lampiran 7. Surat Keterangan Seminar
Lampiran 8. Surat Keterangan Plagiat
Lampiran 9. Surat Izin Riset
Lampiran 10. Surat Balasan Riset
Lampiran 11. Berita Acara Bimbingan Skripsi
Lampiran 12. Lemabar Pengesahan Skripsi
Lampiran 13. Lembar Riwayat Hidup
x
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Pendidikan merupakan kegiatan dinamis dalam kehidupan setiap individu
yang yang memengaruhi perkembangan fisiknya, mentalnya, emosinya, sosialnya,
dan etikanya. Dengan perkataan lain, pendidikan merupakan suatu kegiatan
dinamis yang memengaruhi seluruh aspek kepribadian dan kehidupan individu.
Jadi pendidikan bertujuan untuk mencapai kepribadian secara terpadu, antara nilai
kognitif, afektif, dan psikomotorik. (Hidayanto, 2020 : 2)
Undang undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang sistem Pendidikan
Nasional mendefinisikan pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk
mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara
aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual
keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta
keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat bangsa dan negara dalam
bahasa yang berbeda “Bapak Pendidikan Nasional” Dewantara menyatakan
bahwa pendiidkan merupakan daya upaya untuk memajukan bertumbuhnya budi
pekerti (kekuatan batin, karakter) pikiran dan tubuh anak. (warli dan Yuliana
2011: 208)
Untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, diri kepribadian,
kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlakukan dirinya,
masyarakat bangsa dan Negara, Perlu adanya tindakan baik dari membentuk
1
2
kepribadian yang mulia dan bermanfaat bagi lingkungan individu itu sendiri.
Untuk mencapai tujuan pendidikan tersebut banyak rintangan yang harus dilewati
oleh pendidik maupun siswa itu sendiri, salah satunya adalah adanya tidak
percaya diri atau kurangnya rasa rendah diri siswa. Masa remaja merupakan masa
yang penuh dengan tantangan, gejolak emosi, dan perubahan yang menyankut
perubahan jasmani, psikologis dan sosial. Pada masa ini ditandai dengan adanya
perkembangan yang pesat pada individu dari segi fisik, psikis dan sosialnya.
Dalam tahapan perkembangan individu terdapat berbagai tugas
perkembangan yang harus diselesaikan, berhasil tidaknya individu dalam
menyelesaikan tugas tugas tersebut akan berpengaruh bagi perkembangan
selanjutnya, terutama dalam berinteraksi pada lingkungan dan masyarakat.
Menurut tugas perkembangan ialah suatau tugas yang timbul pada periode tertentu
dalam kehidupan individu, Jika tugas itu berhasil akan menimbulkan kebahagiaan
individu, sebaliknya jika tugas itu gagal akan menimbulkan kesulitan baginya
pada mendatang. (Willis, 2012:4)
Siswa SMP adalah individu yang sedang berada pada masa remaja dan
mengalami perkembangan yang sangat pesat. Remaja telah meninggalkan masa
anak anak, tapi ia belum menjadi orang dewasa. Remaja berada dalam masa
peralihan atau transisi pada masa remaja inilah seorang individu akan merasakan
masa sulit dalam diri, karena individu berada dalam masa peralihan dari masa
kanak kanak ke masa dewasa. Kesulitan kesulitan inilah mengakibatkan
tumbuhnya rasa rendah diri individu dalam kehidupan sosialnya.
3
Rasa rendah diri merupakan masalah yang sangat memerlukan upaya
penanganan secara menyeluruh bahwa kita ketahui seseornag lebih dibanding
ornag lain dalam satu lain hal, perasaan demikian dapat muncul sebagai akibat
sesuatu yang nyata atau hasil imajinasinya saja, Rasa rendah diri sering terjadi
tanpa dan bisa membuat orang yang merasakannya melakukan kompetensi yang
berlebihan untuk mengimbanginya, berupa prestasi yang spektakuler, atau
perilaku antisosial yang ekstrim, atau keduanya sekaligus.
Tidak seperti Rasa rendah diri yang normal, yang dapat mendorong
pencapaian prestasi, komplek rasa rendah diri adalah berupa keadaan putus asa
parah, yang mengakibatkan orang yang mengalaminya melarikan diri saat
mengalami kesulitan.
Menurut Adler (Surabaya, 2005:187) rendah diri merupakan rasa
kurangberharga yang timbul kerana ketidak mampuan psikologis atau sosial yang
dirasa secara subjektif, ataupun karena keadaan jasmani yang kurang sempurna.
Menurut Adler (dalam Darminto, 2007:48) perasaan rendah diri
(Inferiority) merupkan satu dimensi dari tahuntahun awal kehidupan yang diyakini
oleh Adler menjadi faktor yang memainkan peran penting dalam mempengaruhi
perkembangan manusia. Rasa rendah diri muncul karena ketidakmampuan
psikologis atau sosial maupun karena keadaan jasmani yang kurang sempurna,
Akibat dari munculnya rasa rendah diri adalah munculnysa rasa tidak aman,
cemas, takut untuk bertindak, ragu ragu dan akhirnya akan menghamabat
perkembangan psikologis maupun sosial anak. Oleh karena itu rasa rendah diri
harus dihilangkan pada anak agar anak mencapai perkembangan nya, adapun
4
dampak dari rendah diri adalah yaitu kurangnya kepercayaan diri, menurunnya
prestasi belajar, depresi, dan perilaku beresiko. hal ini dapat memicu terjadinya
permasalahan pada remaja baik internal maupun eksternal dan dapat mengganggu
proses perkembangan remaja serta mengganggu proses pembelajaran.
Berdasarkan hasil observasi dan wawancara yang peneliti lakukan
disekolah SMP Swasta Azizi Medan, menyatakan bahwa terdapat siswa yang
memilki rasa rendah diri hal tersebut dibuktikan siswa yang sulit berkomunikasi
dengan orang lain, tidak percaya diri, dan suka menyendiri atau pemalu, terdapat
siswa yang ragu ragu dalam menyampikan pendapat, mudah merasa cemas, dan
merasa orang lain tidak sportif. hal ini menyebabkan siswa tidak mampu
menyesuaikan diri karena kurang mengenal keyakinan dan kemampuan yang
dimiliki dirinya sendiri.
Upaya yang dapat dilakuikan dalam mengatasi masalah rendah diri yaitu
dengan melaksanakan kegiatan bimbingan kelompok agar lebih efektif dalam
membantu mengatasi rasa rendah diri siswa. Layanan bimbingan kelompok
merupakan suatu proses pemberian bantuan kepada individu atau konseli yang
dilakukan secara berkelompok agar masing masing individu tersebut dapat
mengentaskan permasalahan yang dialami dari setiap anggota kelompok secara
bersama sama dan dilakukan dengan mengguanakan dinamika kelompok. (Annas,
2019 : 24).
Berdasarkan uraian diatas, maka penliti tertarik melakukan penelitian
bimbingan konseling dengan menggunakan layanan bimbingan kelompok dalam
mengatasi masalah rasa rendah diri siswa. Adapun judul skripsi ini yaitu
5
“Penerapan Layanan Bimbingan Kelompok Untuk Mengatasi Rasa Rendah
Diri Siswa Kelas VIII Di SMP Swasta Azizi Medan Tahun Ajaran 2020/2021
B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang yang dikemukakan di atas yang berhubungan
dengan judul penelitian, masalah yang teridentifikasi oleh penulis yaitu :
1. Terdapat siswa yang cenderung menyendiri pada saat belajar
2. Terdapat siswa yang sulit berkomunikasi dengan yang lain
3. Terdapat siswa yang ragu ragu dalam menyampikan pendapat saat
proses belajar mengajar dilakukan
4. Layanan bimbingan kelompok belum pernah diterapkan sebagai
sarana pengentasan masalah terkait rasa rendah diri siswa disekolah
C. Batasan Masalah
Suatu masalah yang diteliti perlu dibatasi agar rinci dengan jelas serta
mengarahkan pandangan pada pembahasan penulis akan membatasi masalah ini
dengan hanya mengkaji “Layanan Bimbingan Kelompok dan Rendah diri siswa
Kelas VIII-1 dan VIII-2 SMP Swasta Azizi Medan Tahun Ajaran 2020/2021”
D. Rumusan Masalah
Berdasarkan fokus masalah yang telah dirumuskan di atas maka yang
menjadi pertanyaan peneliti adalah :
“Bagaimana penerapan layanna bimbingan kelompok untuk mengatasi rasa
rendah diri siswa kelas VIII Di SMP Swasta Azizi Medan Tahun Ajaran
2020/2021?”
6
E. Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan yang telah dikemukakan diatas maka tujuan yang
akan diadakan penelitian ini adalah:
“Untuk mengetahui penerapan layanan bimbingan kelompok untuk
mengatasi rasa rendah diri siswa kelas VIII Di SMP Swasta Azizi Medan T.A
2020/2021
F. Manfaat Penelitian
Hasil peneltian ini diharapkan dapat memberikan manfaat, antara lain
sebagai berikut
1. Manfaat Teoritis
a. Penelitian ini dapat berguna dalam memberikan masukan untuk
pengembangan ilmu layanan bimbingan dan konseling, pada
khususnya layanan bimbingan kelompok dan memperkaya
pengetahuan mengenai rasa rendah diri pada siswa.
b. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan serta tambahan
wawasan bagi pihak yang terkait atau siswa yang memiliki rasa rendah
diri.
1. Manfaat Praktis
a. Bagi penelitian ini memberikan kesempatan kepada peneliti untuk
terjun kelapanagn secara langsung untuk meningkatkan rasa rendah
diri pada siswa dengan melalui bimbingan kelompok.
b. Bagi jurusan Pendidikan Bimbingan dan Konseling, dapat digunakan
sebagai bahan referensi dan menambah ilmu pengetahuan khususnya
7
mahasiswa jurusan Pendidikan Bimbingan dan Konseling di
Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara.
c. Bagi kepala sekolah, dapat digunakan sebagai bahan masukan dan
acuan dalam pelaksanaan konseling kelompok yang lebih baik dan
efektif.
d. Bagi siswa, dapat digunakan sebagai bahan intropeksi diri siswa kelas
VIII Di SMP Swasta Azizi Medan selesai mengikuti kegiatan
bimbingan kelompok.
BAB II
LANDASAN TEORITIS
A. Kerangka Teori
1. Layanan Bimbingan Kelompok
1.1 Pengertian Layanan Bimbingan Kelompok
Seorang guru bimbingan konseling wajib memberikan layanan bimbingan
kelompok kepada siswanya Hal ini terkait dengan kebutuhan siswa disekolah.
Layanan bimbingan kelompok merupakan salh satu bantuan dalam situasi
kelompok yang diberikan oleh guru bimbingan konseling kepada siswa untuk
membahas masalah masalah atau kebutuhan yang dihadapi siswa. Berikut
beberapa pengertian bimbingan kelompok menurut para ahli.
Secara harifah kata bimbingan berasal dari kata bahasa inggris yaitu
“guidance” dengan kata dasar guide yang berarti menunjukan, menuntun, atau
mengemudikan (Shertzer dan Stone dalam Rusman N, 2009 : 12)Bimbingan
kelompok adalah layanan bimbingan yang diberikan dalam suasana kelompok.
Gazda (1978) mengemukakan bahwa bimbingan kelompok disekolah merupakan
kegiatan informasi kepada sekelompok siswa untuk membnatu mereka menyusun
rencana rencana dan keputusan yang tepat, Gasza juga menyebutkan bahwa
bimbingan kelompok diselenggarakan untuk memberikan informasi yang bersifat
personal, vokasional, dan sosial. (Prayitno, Erman Amnti, 2016 : 309)
Umam Suherman (2008) menyatakan bahwa dasar pemikiran
penyelenggaraan bimbingan dan konseling disekolah atau madrasah bukan semata
mata terletak pada ada atau tidak adanya landasan hukum (perundang undangan)
9
10
atau ketentuan dari atas, namun yang lebih penting adalah menyangkut upaya
memfasilitasi peserta didik, yang selanjutnya disebut konseli, agar mampu
mengembangkan potensi dirinya atau mencapai tugas tuga perkembangan nya
(menyangkut aspek fisik, emosi, intelektual, sosial dan moral spiritual. (Anas
Salahudin 2019 : 24)
Jadi dengan adanya pendapat dari para ahli dapat kita pahami bahwa
bimbingan kelompok adalah suatu proses pemberian bantuan kepada individu atau
konseli yang dilakukan secara berkelompok agar masing-masing individu tersebut
dapat mengentaskan permasalahan yang dialami dari setiap anggota kelompok
secara bersama-sama dan dilakukan dengan menggunakan dinamika kelompok.
1.2. Tujuan Layanan Bimbingan Kelompok
Tujuan konseling pada dasar nya dibedakan menjadi dua yaitu tujuan
teoritis dan tujuan operasional. tujuan teoritis berkaitan dengan tujuan yang secara
umum dicapai melalui proses konseling, sedangkan tujuan operasional
disesuaikan dengan harapan anggota dan masalah yang dihadapi anggota, Hulse-
Killacky, Killacky & Donigin, (2001) menyatakan bahwa tujuan dari kelompok
berfungsi sebagai peta bagi pemimpin. Anggota dan pemimpin harus jelas tentang
kedua tujuan umum dan tujuan spesifik setiap sesi kelompok, tujuan yang
dimaksud seperti menurunkan berat badan, berhenti merokok, mengatasi fobia,
atau belajar keterampilan belajar. (Rasimin & Muhamad Hamdi, 2018: 9)
Kesuksesan bimbingan kelompok sangat dipengaruhi sejauh mana tujuan
yang akan dicapai dalam layanan kelompok yang diselenggarakan. tujuan dari
kegiatan bimbingan kelompok secara umum yaitu bertujuan untuk membantu
11
siswa yang mengalami masalah melalui prosedur kelompok. Suasana kelompok
yang berkembang dapat merupakan tempat bagi siswa untuk memanfaatkan
semua informasi, tanggapan dan berbagai reaksi teman-temannya untuk
kepentingan pemecahan masalah. (Prayitno 2004: 108),.
Tujuan bimbingan kelompok agar individu mampu memberikan informasi
seluas-luasnya kepada anggota kelompok supaya mereka dapat membuat rencana
yang tepat serta membuat keputusan yang memadai mengenai hal-hal yang
berkaitan dengan masa depan serta cenderung bersifat pencegahan bimbingan
kelompok bertujuan untuk membantu para siswa yang mengalami masalah
melalui prosedur kelompok. Selain itu bimbingan kelompok juga bertujuan untuk
mengembangkan pribadi masing-masing anggota kelompok melalui berbagai
suasana yang muncul dalam kegiatan ini, baik suasana yang menyenangkan
maupun yang menyedihkan.(Mungin 2005:39)
Menurut (Mc Connel, 1974) adanya rasa percaya setiap anggota kelompok
terhadap anggota lain merupakan salah satu ciri kelompok yang efektif, didalam
kelompok terdapat empat bentuk rasa percaya yaitu: ( Siti Hartinah 2017: 51)
1. Rasa anggota kelompok kepada pemimpin nya
2. Rasa percaya terhadap anggota kelompok
3. Rasa percaya antar sesama anggota kelompok secara individual
4. Rasa percaya setiap anggota kelompok terhadap kelompok sebagai satu
kesatuan.
Tujuan dari kegiatan bimbingan kelompok menurut Prayitno (2004:310) secara
umum yaitu, bertujuan untuk membantu siswa yang mengalami melalui prosedur
12
kelompok. Suasana kelompok dapat berkembang merupakan tempat bagi siswa
untuk memanfaatkan semua informasi, tanggapan dan berbagai reaksi teman-
temannya untuk kepentingan pemecahan masalah antara lain :
1. Mampu berbicara didepan banyak orang.
2. Mampu mengeluarkan pendapat, ide, saran, tanggapan, perasaan dan lain
sebagainya kepada orang banyak.
3. Belajar menghargai pendapat orang lain.
4. Bertanggung jawab atas pendapat yang dikemukakannya.
5. Mampu mengendalikan diri dan menahan emosi (gejolak kejiwaan yang
bersifat negatif).
6. Menjadi akrab satu sama lain.
Membahas masalah atau topik-topik umum yang dirasakan menjadi kepentingan
bersama dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa tujuan dari bimbingan
kelompok adalah untuk melatih individu bersikap terbuka, mampu berbicara
dihadapan orang banyak, melatih siswa agar dapat mengambil sikap, bertanggung
jawab, mengambil keputusan, siswa mampu mengembangkan perasaan, pikiran,
serta memunculkan tingkah laku baru yang lebih efektif sebagai fungsi
pencegahan agar siswa tidak mengalami permasalahan yang menjadi topik dalam
bahasan bimbingan kelompok.
1.3. Asas-Asas Bimbingan Kelompok
Adapun asas asas yang ada didalam bimbingan kelompok antara lain : (1).
Asas Kerahasiaan, semua yang hadir harus menyimpan dan merahasiakan apa
saja, data dan informasi yang didengar dan dibicarakan dalam kelompok, terutama
13
hal-hal yang tidak boleh dan tidak layak diketahui oleh orang lain. Para peserta
berjanji tidak akan membicarakan hal-hal yang bersifat rahasia di luar kelompok.
(2). Asas keterbukaan, yaitu semua peserta bebas dan terbuka mengelarkan
pendapat, ide, saran, dan apa saja yang dirasakannya dan dipikirkannya, tidak
merasa takut, malu ataupun ragu-ragu, dan bebas berbicara tentang apa saja, baik
tentang dirinya, sekolah, pergaulan, keluarga dan sebagainya. (3). Asas
kesukarelaan, yaitu semua peserta dapat menampilkan dirinya secara spontan
tanpa disuruh-suruh ataupun maliu-malu atau dipaksa oleh teman yang lain atau
oleh pembimbing kelompok. (4). Asas Kenormatifan, yaitu semua yang
dibicarakan dan yang dilakukan dalam kelompok tidak boleh bertentangan dengan
norma-norma dan peraturan yang berlaku, semua yang dilakukan dan dibicarakan
dalam bimbingan kelompok harus sesuai dengan norma adat, norma agama,
norma hukum, norma ilmu, dan kebiasaan-kebiasaan yang berlaku
Keempat asas dari bimbingan kelompok harus benar-benar dilaksanakan
pada saat bimbingan kelompok dilaksankan agar layanan bimbingan kelompok
terlaksanakan secara optimal.
1.4. Kegunaan Bimbingan Kelompok
Kegunaan bimbingan kelompok memang sangat besar dan dapat
dikemukakan antara lain :
1. Tenaga Pembimbing masih sangat terbatas dan jumlah murid yang perlu
dibimbing begitu banyak sehingga pelayanan bimbingan secara
perseorangan tidak akan merata.
14
2. Melalui bimbingan kelompok murid dilatih menghadapi suatu tugas
bersama atau memecahkan suatu masalah bersama. Hal tersebut akan
diperlukan atau dibutuhkan selama hidupnya.
3. Dalam mendiskusikan sesuatu bersama, murid didorong untuk berani
mengemukakan pendapatnya dan menghargai pendapat orang lain.: (Siti
Hartinah 2017: 8)
1.5. Jenis-jenis layanan bimbingan dan konseling
Bimbingan konseling terdapat 9 layanan yaitu sebagai beriku:
1. Layanan Orientasi
Layanan orientasi merupakan layanan yang membantu peserta didik memahami
lingkungan yang baru, seperti lingkungan sekolah yang baru, dan obyek-obyek
yang perlu dipelajari untuk menyesuaikan diri serta mempermudah dan
memperlancar peran dilingkungan yang baru yang efektif dan berkarakter
2. Layanan Informasi
Layanan informasi merupakan layanan yang membantu peserta didik menerima
dan memahami berbagai informasi diri, sosial, belajar, dan pendidikan lanjutan
secara terarah, obyektif, dan bijak.
3. Layanan Penempatan Dan Penyaluran
Layanan penempatan dan penyaluran merupakan layanan yaang membantu
peserta didik memperoleh penempatan dan penyaluran yang tepat didalam kelas.
4. Layanan Konseling Perseorangan
Layanana konseling perseorangan merupakan layanan yang membantu peserta
didik dalam mengentaskan masalah pribadinya melalui prosedor perseorangan.
15
5. Layanan Penguasaan Konten
Layanan penguasaan konten merupakan layanan yang membantu peserta didik
menguasai konten tertentu, terutama kompetensi dan atau kebiasaan dalam
melakukan, berbuat atau mengerjakan sesuatu yang berguna dalam kehidupan
disekolah, keluarga, ataupun masyarakat sesuai dengan potensi dan peminatan
dirinya.
6. Layanan Konseling Kelompok
Layanan konseling kelompok merupakan layanan yang membantu peserta didik
dalam pembahasan dan pengentasan masalah yang dialami sesuai dengan tuntutan
karakter-cerdas yang terpuji melalui dinamika kelompok.
7. Layanan Konsultasi
Layanan konsultasi merupakan layanan yang membantu peserta didik atau pihak
lain dalam memperoleh wawasan, pemahaman, dan cara-cara dan atau perlakuan
yang perlu dilaksanakan kepada pihak ketiga sesuai dengan tuntutan karakter-
cerdas yang terpuji.
8. Layanan Bimbingan Kelompok
Layanan bimbingan kelompok merupakan layanan yang membantu peseta didik
dalam mengembangkan pribadi, kemampuan hubungan sosial, kegiatan belajar,
dan pengambilan keputusan, serta melakukan kegiatan tertentu sesuai dengan
tuntutan karakter yang terpuji melalui dinamika kelompok.
16
9. Layanan Mediasi
Layanan mediasi merupakan layanan yang membantu peserta didik dalam
menyelesaikan permasalahan dan memperbaiki hubungan dengan pihak lain
sesuai dengan tuntutan karakter cerdas yang terpuji.
2. Rendah Diri
1.1 Pengertian Rendah diri
Menurut Adler rasa rendah diri adalah: perasaan seseorang lebih rendah
dibandingkan orang lain dalam satu atau lain hal (orang yang merasa rendah diri
cendrung bersikap egosentris, memposisikan diri sebagai korban, merasa tidak
puas dengan dirinya, mengasihani diri sendiri dan mudah menyerah). Perasaan
lebih rendah dapat muncul sebagai akibat sesuatu yang nyata atau hasil imajinasi
saja. Tidak seperti rasa rendah diri yang normal (keinginan dihormati, dihargai,
keinginan dipuji) yang dapat mendorong pencapaian prestasi, sedangkan rendah
diri yang abnormal (rasa tinggi hati yang berlebihan, menganggap dirinya sangat
tinggi, egois dan punya kecendrungan untuk menolak orang lain) yang akan
merusak dirinya sendiri (Alwisol, 2005: 97).
Adler berpendapat bahwa rasa rendah diri itu bukanlah suatu pertanda ketidak
normalan justru merupakan pendorong bagi segala perbaikan dalam kehidupan
manusia. Tentu saja rasa rendah diri itu berlebih lebih sehingga manifestasinya
juga tidak normal, misalnya timbulnya kompleks rendah diri atau kompleks untuk
superior, Tetapi keadaan normal rasa rendah diri itu merupakan pendorong ke
arah kemajuan atau kesempurnaan (superior). Adler (Suryabrata, 2019:188)
17
Dari segi perkembangan rendah diri adalah perasaan menganggap terlalu
rendah pada diri sendiri orang yang rendah diri berarti menganggap diri sendiri
tidak mempunyai kemampuan yang [Link], (2014:16)Sedangkan
menurut James [Link] rasa rendah diri (inferiority complex) adalah “bentuk kritik
diri pribadi yang biasanya merasa takut terhadap celaan masyarakat, orang-orang
yang dibebani dengan perasaan-perasaan tidak mampu, memperlihatkan perbuatan
dan reaksi-reaksi mental yang bermacam-macam”. Suhartin, (2010:30)
Rendah diri adalah kualitas keperibadian yang buruk. Sifat ini
menyebabkan berbagai hambatan dalam pergaulan, dalam bidang akademis,
berbagai perilaku menyimpang, dan mungkin juga menyebabkan depresi dan
kecenderungan untuk bunuh diri. Karena itu perasaan rendah diri harus
dikendalikan. Menurut Rosenberg dan Owen) orang yang rendah diri cenderung
lebih banyak menghadapi kegagalan dan cenderung untuk memperkuat peristiwa
peristiwa yang bersifat negatif. (Darsono, 2014: 18)
Rasa rendah diri adalah perasaan yang timbul oleh sifat-sifat negatif yang
dimiliki seseorang sehingga mempersepsikan bahwa dirinya lebih rendah
dibanding orang lain dan merasa kurang berharga yang timbul akibat
ketidakmampuan psikologis dan sosial ataupun karena keadaan jasmani yang
kurang sempurna.
Menurut Bradshaw dalam (Ghufron & Rini) proses pembentukan harga
diri telah dimulai saat bayi merasakan tepukan pertama kali yang diterima orang
mengenai kelahirannya. Darajat dalam (Ghufron & Rini) menyebutkan bahwa
harga diri sudah terbentuk pada masa kanak kanak sehingga seornag anak sangat
18
perlu mendapatkan rasa penghargaan diri orang tuanya. Proses selanjutnya harga
diri dibentuk melalui perlakuan yang diterima individu dari orang lingkungannya.
Seperti dimanja dan diperhatikan orang tua dan orang lain. Dengan demikian
harga diri bukan merupakan faktor sifat bawaan, melainkan faktor yang dapat
dipelajari dari terbentuknya sepanjang pengalaman individu.(Ghufron, Rini 2020:
40)
1.2 Faktor yang Mempengaruhi Rendah Diri
Rasa rendah diri bila terus dibiarkan akan memiliki dampak yang buruk bagi
remaja, mungkin ia akan mengalami kesulitan dalam berprestasi disekolahnya,
terjebak kebiasaan diet yang tidak sehat, melakukan tindakan beresiko seperti
mengkonsumsi minuman keras dan narkoba, seks tidak aman, tenggelam dalam
depresi, dan nekat bunuh diri (Darsono, 2014:3). Didalam proses tersebut ada
beberapa faktor yang mempengaruhi rasa rendah diri pada diri seseorangsecara
garis besar munculnya perasaan rendah diri bisa disebabkan dua faktor yaitu
Darsono (2014, 34)yaitu:
a. Faktor Eksternal
1. Lingkungan sekitar
2. Faktor ekonomi keluarga yang lemah
3. Perceraian orang tua
4. Lingkungan keluarga yang tidak harmonis
b. Faktor Internal
1. Kelemahan dalam menguasai materi belajar
2. Adanya cacat tubuh
19
3. Susah berkomunikasi
Anthony (1992) mendefinisikan percaya diri diperoleh pengalaman hidup,
kepercayaan diri merupakan salah satu aspek kepribadian yang berupa keyakinan
akan kemampuan diri seseorang sehingga tidak terpengaruh oleh orang lain dan
dapat bertindak sesuai kehendak, gembira, optimis, cukup toleran, dan
bertanggung jawab. (Gufron & Rini, 2020: 34)
Menurut Lautser dalam (Ghufron & Rini) orang yang memiliki kepercayaan diri
yang positif adalah yang disebutkan dibawah ini. (Ghufron & Rini 2020: 36)
1. Keyakinan Kemampuan Diri
Keyakinan kemampuan diri adalah sikap positif seseorang tentang dirinya,
ia mampu secara sungguh sungguh akan apa yang dilakukannya.
2. Optimis
Optimis adalah sikap positif yang memiliki seseorang yang selalu
berpandangan baik dalam menghadapi segala hal tentang diri dan
kemampuannya.
3. Objektif
Orang yang memandang permasalhan atau sesuatu sesuai dengan
kebenaran yang semestinya, bukan menurut kebenaran pribadi atau
menurut dirinya sendiri.
4. Bertanggung Jawab
Bertanggung Jawab adalah kesedihan orang untuk menanggung segala
yang semestinya, bukan menurut kebenaran pribadi atau menurut dirinya
sendiri.
20
5. Rasional dan Realistis
Rasional dan Realistis adalah analisis terhadap suatu masalah, sesuatu hal,
dan suatu kejadian dengan menggunakan pemikiran yang dapat diterima
oleh akal dan sesuai dengan kenyataan.
1.3 Ciri Ciri Rendah Diri
Berkebalikan dengan orang yang rendah diri, orang yang memiliki percaya
diri dan harga diri tinggi akan memiliki ciri-ciri perilaku yakin kepada diri sendiri,
tidak ragu-ragu, tidak bergantung pada orang lain, merasa dirinya berharga, tidak
menyombongkan diri, Saul McLeod mengungkapkan sejumlah ciri yang biasa
terdapat pada orang-orang dengan perasaan rendah diri yaitu : (Darsono, 2014:19)
1. Menarik diri/malu/pendiam,
2. Merasa tidak aman,
3. Kebutuhan berprestasi yang kurang
4. Sikap negatif
5. Tidak bahagia,
6. Canggung,
7. Suka Marah/benci
8. Motivasi rendah,
9. Tertekan,
10. Suka bergantung pada orang lain
11. Citra diri yang buruk
12. Tidak berani ambil resiko
13. Kurangnnya percaya diri
21
14. Komunikasi yang buruk
15. Tindakan yang berlebihan (acts out).
Richard D. Lavoie, M.A., [Link] dalam tulisannya yang berjudul Self
Esteem: The Cause and Effect of Succes for The Child with Learning Differencec
mengungkapkan ciri-ciri para pelajar yang memiliki harga diri rendah yaitu:
(Darsono, 2014: 24-25)
1. Secara konsisten mengkomunikasikan pertanyaan pertanyaan yang
merendahkan orang lain menunjukan keidakberdayaan.
2. Tidak ikhlas
3. Mempraktekan perfeksionisme
4. Menjadi sangat tergantung
5. Menunjukan kebutuhan akan penerimaan yang berlebihan: hasrat yang
besar untuk menyenangkan figur-figur berkuasa
6. Kesulitan membuat keputusan
7. Menunjukan toleransi yang rendah terhadap kekecewaan
8. Menjadi sangat defensif
9. Memiliki sedikit kepercayaan pada penilaian mereka sendiri dan sangat
rentan terhadap tekanan teman sebaya.
Sementara [Link] ciri ciri orang yang minder biasanya mereka
menunjukan gejala seperti berikut :(Darsono, 2014: 20-21)
1. Merasa diri rendah, bodoh, tidak mampu, tidak pantas
2. Kesulitan dalam bergaul, susah mendapatkan teman baru
3. Merasa kurang nyaman apabila ada seseorang yang mendekatinya
22
4. Tidak berani memulai percakapan dan perkenalan dengan orang lain
5. Malu mengungkapkan ide atau pendapatnya kepada orang lain
6. Demam panggung, takut berbicara didepan umum (public speaking
phobia)
7. Ketika masuk ke lingkungan baru, merasa cemas dan takut kalau orang-
orang dilingkungan baru tersebut menolak atau tidak menyukainya
8. Suka menyendiri karena merasa tidak ada yang mau berteman
9. Tegang atau gerogi ketika berhadapan dengan orang yang baru dikenal
sehingga tingkah lakunya terlihat kaku
10. Menganggap orang lain lebih hebat daripada dirinya
11. Membandingkan kelemahan dirinya dengan kelemahan orang lain
12. Sensitif terhadap perkataan orang lain, meskipun hanya bercanda
13. Fokus pada kelemahan diri. Orang yang rendah diri selalu punya alasan
untuk menyalahkan atau meremehkan dirinya sndiri
14. Sering menolak apabila diajak ketempat yang banyak orang
15. Tidak berani menerima tanggung jawab yang besar karena takut gagal
16. Kecewa pada diri sendiri karena tidak percaya diri, dan marah kepada
orang lain yang tidak memperhatikan dan menghargainya.
17. Sering murung, mudah merasa sedih, dan lelah
18. Kurang semangat dalam menjalani aktifitas dan mudah menyerah
19. Sering melamun
Inferioritas ini menimbulakn gejala gejala sikap dan perilaku sebagai
berikut:(Syamsu Yusuf & Juntika Nurihsan, 2016: 213)
23
1. Peka ( merasa tidak senang) terhadap kritikan orang lain.
2. Sangat senang terhadap pujian atau penghargaan.
3. Senang mengkritik atau mencela orang lain.
4. Kurang senang untuk berkompetisi.
5. Cenderung senang menyendiri, pemalu, dan penakut.
1.4 Upaya Mengurangi Rasa Rendah Diri
Penyebab rasa rendah diri menurut Adler tahun 1989: (1) Saat lahir – setiap
orang lahir dengan perasaan rendah diri dirinya dapat menimbulkan perasaan
rendah diri, Adler menyebutkan beberapa cara untuk mengatasi merasa diri tidak
berharga, atau rendah diri yaitu :
1. berhentilah berhubungan dengan orang yang membuat dirimu merasa kecil,
tidak berharga, tidak nyaman dengan kondisi posisimu.
2. Ketahui keterbatasanmu. Tolak keinginan untuk terlibat dalam apapun
hanya karena itu akan menempatkanmu sebagi pusat perhatian untuk
sementara waktu tapi tidak bisa kamu jalani dengan baik.
3. berhubunganlah dengan orang-orang yang mendekati standardmu dan
mereka yang membuatmu merasa nyaman.
4. Tolak keinginan untuk menjadi batu pijakan bagi oranglain,
5. Mencari sesuatu yang lebih tinggi itu adalah hal yang patut dilakukan, tapi
lakukan itu hanya setelah kamu mempersiapkan diri, dan tidak dengan cara
mengurangi rasa percaya diri dan keyakinanmu.
24
6. tetaplah berada dalam batas-batasan dan jangan terlalu memaksakan diri,
cari tahu apa yang kamu lakukan dengan sangat baik, kerjakan hal itu
dengan tekun kemudian kembangkan dengan setinggitingginya.
7. Ketahuilah bahwa faktanya, kamu juga sebaik, semampu, dan sepenting
atau bahkan lebih baik (tanpa harus merendahkan oranglain)
8. Jangan berasumsi bahwa orang orang akan memikirkanmu dengan
membicarakanmu , itu tidak benar, singkirkan pemikiran pemikiran seperti
ini dan kebiasaanmu untuk selalu mengkritik diri sendiri akan lenyap.
Berdasarkan pendapat diatas, penulis dapat menyimpulkan bahwa "jika ada
sesuatu yang ingin dilakukan, tetapi entah kenapa tidak berani melakukan,
lakukan sekarang, Kerjakan sekarang, itu mungkin tidak mudah, begitu juga
dengan memendamnya. Dengan mencoba dan terus mencoba, rasa ketidak
mampuan akan lenyap dan rasa rendah diri akan hilang.
B. Kerangka Konseptual
Sesuai rumusan masalah yang telah diperoleh pada bab sebelumnya,
adapun ketangka konseptual pada penelitian ini seperti gambar berikut
Mengatasi Rasa
Rendah Diri Siswa
Rendah Diri Siswa Kelas VIII SMP
Layanan
Kelas VIII SMP Swasta Azizi
Bimbingan
Swasta Azizi Medan Tahun
Kelompok
Medan Ajaran 2020/2021
Gambar 1. Kerangka Konseptual
25
Berdasarkan gambar 1 dapat dilihat bahwa pada penelitian ini akan
diterapkan pelayanan bimbingan kelompok yang diharapkan akan
mengatasirendah dirisiswa sebagai tujuan khusus, sehingga siswa dapat
mengembangkan diri secara optimal baik dalam perkembangan emosi maupun
dalam proses belajar.
Penelitian ini ditujukan kepada siswa kelas VIII SMP Swasta Azizi Medan
Tahun Ajaran 2020/2021 guru BK atau konselor sekolah akan berperan sebagai
pemberi perlakuan atau sebagai pemberi layanan bimbingan kelompok, sedangkan
peneliti akan menjadi observasi terhadap perilaku siswa sebelum dan selama
perlakuan diberikan. Peneliti juga akan melakukan wawancara terhadap beberapa
sumber guna memperkuat data yang didapatkan dari observasi.
Adapun manfaat dari penelitian ini, diharapkan dapat membantu siswa
kelas VIII SMP Swasta Azizi Medan, khususnya siswa yang menjadi sampel
penelitian. Dan hasil penelitian ini juga dapat menjadi salah satu referensi guru
BK atau konselor sekolah tersebut dalam menangani permasalahan terkait Rendah
diri siswa.
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Lokasi dan Waktu Penelitian
1. Lokasi Penelitian
Lokasi penelitian ini dilakukan di SMP Swasta Azizi Medan yang
beralamat di Jl. Kesatria No. 70 . Medan, Pahlawan, Kec, Medan
Perjuangan, Kota Medan Prov. Sumatera Utara .
2. Waktu Penelitian
Waktu yang digunakan peneliti dalam menyelesaikan penelitian ini
adalah dimulai sejak Agustus 2021 dan berakhir pada bulan Oktober 2021
. jadwal penelitian dapat dilihat pada tabel dibawah ini.
Tabel 3.1
Jadwal Rencana Kegiatan
No Jenis Kegiatan Bulan/Waktu
Maret April Mei Juni Juli Agustus Sep Okt
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
1. Pengajuan Judul
2. Persetujuan Judul
3. Penulisan Proposal
4. Bimbingan Proposal
5. Pengesahan Proposal
6. Seminar Proposal
7. Perbaikan Proposal
8. Penelitian
9. Penulisanan Skripsi
10. Bimbingan Skripsi
11. Persetujuan Skripsi
12 Sisang Meja Hijau
26
27
B. Subjek dan Objek Penelitian
1. Subjek Penelitian
Subjek penelitian menurut Suharsimi Arikonto tahun (2016: 26) memberi
batasan subjek penelitian sebagai benda, hal atau orang tempat data untuk variabel
penelitian melekat, dan yang di permasalahkan. Dalam sebuah penelitian, subjek
penelitian disebut dengan istilah informan, yaitu orang memberi informasi tentang
data yang diinginkan peneliti berkaitan dengan penelitian yang sedang
dilaksanakan.
Adapun yang menjadi subjek di dalam penelitian ini adalah peneliti
sendiri, guru bk dan siswa kelas VIII.
Tabel 3.2
Subjek Penelitian
NO Kelas Jumlah Siswa
1 VIII-1 30
2 VIII-2 30
Jumlah 60
2. Objek Penelitian
Menurut Sugiyono (2017:41) menjelaskan pengertian objek penelitian
adalah sasaran ilmiah untuk mendapatkan data dengan tujuan dan kegunaan
tertentu tentang sesuatu hal objektif, valid dan reliable tentang suatu hal (variabel
tertentu).
Penelitian ini merupakan penlitian kualitatif, yaitu prosedur penelitian
yang menghasilkan data deskriptif berupa data tertulis atau lisa dari orang orang
28
yang diamati. Penelitian kualitatif juga merupakan penelitian yang diajukan untuk
menganalisis fenomena atau kejadian dan pengambilan sampelnya tidak
ditentukan seperti penelitian kuantitatif.
Objek dalam penelitian ini adalah siswa kelas VIII SMP Swasta Azizi
Medan Tahun Ajaran 2020/2021.
Tabel 3.3
Objek Penelitian
Objek Penelitian
Jumlah
No Kelas Jumlah Siswa
Laki-laki Perempuan Objek
1 VIII 60 3 3 6
Objek penelitian ini adalah siswa kelas VIII yang berjumlah 6 siswa terdiri dari 3
orang siswa laki-laki dan 3 orang siswa perempuan. Objek diambil dari jumlah
subjek 60 siswa.
C. Teknik Pengumpulan Data
Penelitian ini mengumpulkan data menggunakan teknik non tes, yaitu:
observasi wawancara. Sesuai dengan teknik pengumpulan data yang akan
dilakukan maka instrumen penelitian atau alat yang digunakan untuk
mengumpulkan data dalam penlitian ini adalah lembaran observasi dan panduan
wawancara. Berikut teknis pengumpulan data dan juga kisi kisi instrumen yang
akan digunakan.
29
1. Observasi
Menurut Sugiyono mengemukakan bahwa “Observasi sebagai teknik
pengumpulan data yang mempunyai ciri spesifik bila dibandingkan dengan teknik
yang lain, yaitu wawancara dan sejumlah pertanyaan khusus secara tertulis.”
Sebelum melakukan perlakuan yaitu layanan informasi, peneliti akan
mengobservasi siswa yang merupakan objek penelitian untuk melihat konformitas
siswa yang akan digunakan pada penelitian ini.(Sugiyono,2017:203)
Tabel 3.4
Kisi-Kisi Observasi Kepada Siswa
No Indikator Hasil
1 Suka menyendiri
2 Sulit berkomunikasi dengan orang lain
3 Pemalu
4 Mudah merasa cemas
5 Tidak percaya diri
6 Berfikir negatif
7 Merasa orang lain tidak sportif
2. Wawancara
Wawancara merupakan alat recheking atau pembuktian terhadap informasi
atau keterangan yang diperoleh sebelumnya, teknik wawancara yang
digunakan dalam penelitian kualitatif adalah wawancara mendalam adalah
proses memperoleh keterangan untuk tujuan penelitian dengan cara tanya
jawab sambil bertatap muka antara pewawancara dengan dengan informan
atau orang yang diwawancarai, dengan atau tanpa menggunakan pedoman
(guide) wawancara.
30
Tabel 3.5
Kisi-Kisi Pedoman Wawancara Siswa
No Indikator Hasil
1 Suka menyendiri
2 Sulit berkomunikasi dengan orang lain
3 Pemalu
4 Mudah merasa cemas
5 Tidak percaya diri
6 Berfikir negatif
7 Merasa orang lain tidak sportif
Tabel 3.6
Kisi Pedoman Wawancara Guru BK
Pertanyaan Hasil
1 Bagaimana pelaksanaan layanan bk disekolah
ini pak?
2 Aapakah layanan bimbingan kelompok
berjalan dengan lancar pak?
3 Apakah disekolah ini sudah pernah
melaksanakan layanan bimbingan kelompok
terhadap rendah diri pak?
4 Bagaimana cara bapak menyikapi siswa yang
memiliki rendah diri?
3. Dokumentasi
Dalam menggunakan metode dokumentasi peneliti memegang chek-list
untuk mencari variabel yang sudah ditentukan, apabila tedapat atau muncul
variabel yang dicari, maka peneliti tinggal membubuhkan bendaa tanda chek atau
tally di tempat yang sesuai untuk mencari hal hal yang bersifat bebas atau belum
31
ditentukan dalam daftar variabel peneliti dapat menggunakan kalimat bebas,
sebagian besar data yang tersedia adalah surat surat, cacatan harian, cendermata,
foto dan sebaginya.
Menurut (Suharsimi Arikunto, 2018: 274) dokumentasi yaitu mencari data
mengenai hal hal atau variabel yang berupa catatan, transkip, buku, surat kabar,
majalah, prasasti, notulen rapat, dan sebagainya.
D. Teknik Analisis Data
Menurut Sugiyono (2017: 335), yang dimaksud dengan teknik analisis
data adalah proses mencari data, menyusun secara sistematis data yang diperoleh
dari hasil wawancara, catatan lapangan, dan dokumentasi, dengan cara
mengorganisasikan data ke dalam kategori, menjabarkan ke dalam unit-unit,
melakukan sintesis, menyusun ke dalam pola memilih mana yang penting dan
yang akan dipelajari, dan membuat kesimpulan sehingga mudah dipahami oleh
diri sendiri maupun orang lain.
Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis
data induktif. Analisis data induktif adalah penarikan kesimpulan yang berangkat
dari fakta-fakta khusus, untuk kemudian ditarik kesimpulan secara umum.
Adapun langkah-langkah untuk menganalisis data dalam penelitian ini
adalah sebagai berikut:
1. Pengumpulan Data
Pengumpulan data adalah mencari, mencatat, dan mengumpulkan semua
secara objektif dan apa adanya sesuai dengan hasil observasi dan wawancara di
lapangan yaitu pencatatan data dan berbagai bentuk data yang ada di lapangan.
32
2. Reduksi Data
Reduksi Data adalah Menurut Sugiyono (2017: 338). Mereduksi data
berarti merangkum, memilih hal-hal yang pokok, memfokuskan pada hal-hal yang
penting, dicari tema dan polanya dan membuang hal yang tidak perlu. Dengan
demikian data yang telah direduksi akan memberikan gambaran yang lebih jelas,
dan mempermudah peneliti untuk melakukan pengumpulan data selanjutnya, dan
mencarinya bila diperlukan.
3. Penyajian Data
Data yang disajikan dapat berupa uraian singkat, bagan, hubungan antar
kategori, flow chart dan sejenisnya. Adapun dalam penelitian ini data disajikan
dalam bentuk teks deskriptif atau naratif yang berisikan data data terkait masalah
penlitian untuk selanjutnya dianalisis demi kepentingan pengambilan kesimpulan.
4. Pengambilan Kesimpulan
Pengambilan Kesimpulan adalah Langkah ketiga dalam analisis data
kualitatif menurut Miles dan Huberman yang dikutip oleh Sugiyono (2017: 345)
adalah penarikan kesimpulan dan verifikasi. Kesimpulan awal yang dikemukakan
masih bersifat sementara, dan akan berubah bila tidak ditemukan bukti-bukti yang
kuat yang mendukung pada tahap pengumpulan data berikutnya. Kesimpulan
dalam penelitian kualitatif mungkin dapat menjawab rumusan masalah yang
dirumuskan sejak awal, tetapi mungkin juga tidak, karena masalah dan rumusan
masalah dalam penelitian kualitatif masih bersifat sementara dan akan
berkembang setelah penelitian di [Link] penelitian ini data yang telah
diproses dengan langkah-langkah seperti di atas, kemudian ditarik kesimpulan
33
secara kritis dengan menggunakan metode induktif yang berangkat dari hal-hal
yang bersifat khusus untuk memperoleh kesimpulan umum yang objektif.
Kesimpulan tersebut kemudian diverifikasi dengan cara melihat kembali pada
hasil reduksi dan display data sehingga kesimpulan yang diambil tidak
menyimpang dari permasalahan penelitian.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN PENELITIAN
A. Deskripsi Lokasi Penelitian
1. Identitas Sekolah
Nama Sekolah : SMP SWASTA AZIZI
Alamat : Jl. Kesatria No. 70 Medan
Kecamatan : Medan Perjuangan
Kelurahan : Pahlawan
Kota : Medan
Provinsi : Sumatera Utara
NPSN : 10210037
Kode Sekolah : 277
Pembukaan : 15/07/1970
NO & TGL SK Izin Operasional
Izin Operasional : 420-19104. PPD/ 2010
Akreditasi : B (Baik) 30 April 2007
Sekolah Swasta : 420/306-PPD/2015
NO. NSS : 204076002062
NO. NDS : 200712005
34
35
NO. NPSN : 102100037
Berdiri Tahun : 1970/1971
Nama Sekolah : Perguruan Islam Azizi
2. Visi dan Misi Sekolah
Visi Sekolah :
AKRAB : Aktif, Kreatif, Relegius, Amanah, dan Bersahaja
Misi Sekolah :
1. Mendorong aktifitas dan kreatifitas secara optimal kepada seluruh
komponen sekolah terutama siswa
2. Mengoptimalkan pembelajaran dalam rangka meningkatkan
keterampilan siswa
3. Melaksanakan pembelajaran dan bimbingan secara efektif sehingga
kecerdasan siswa agar tercapai kecerdasan intelektual dan emosional
yang mantap
4. Aktif terhadap perkembangan dan keinginan teknologi
5. Amanah dan menambah cinta kebersihan dan keindahan kepada semua
komponen sekolah
6. Menumbuhkan penghayatan yang dalam dan pengalaman yang tinggi
terhadap ajaran agama ( Religi) sehinga tercipta kematangan dalam
berfikir, bertindak/ beramal ibadah
7. Bersahaja, Ramah dan rendah hati
36
3. Struktur Sekolah
STRUKTUR SMP SWASTA AZIZI
1. Ka SMP : Drs. Riswan Nasution
2. Wakil Kepala Sekolah : Ade Abdullah Hud, SS
3. KTU : Hasno
4. TU : Nurbaiti Harahap, [Link]
5. Perpustakaan : Safni Patnita, SP.d
6. Laboratorium : Drs. Muhd Yunus
7. Wali Kelas :
Kelas VII-1 Darwanti Hrp, [Link]
Kelas VIII-2 Ade Dumasari, [Link]
Kelas VIII-1 Mhd Supriadi, [Link]
Kelas VIII-2 Safni Fatmita, [Link]
Kelas IX-1 Suaidah Parinduri, [Link]
Kelas IX-2 Sukarni, [Link]
Kelas XI-3 Mursidah, [Link]
B. Deskripsi Hasil Penelitian
1. Pelaksanaan Layanan Bimbingan Kelompok pada Siswa Kelas VIII di
SMP Swasta Azizi Medan
Layanan Bimbingan Kelompok sangat dibutuhkan untuk membantu
siswa dalam mengembangkan potensi yang dimiliki siswa yang merupakan
salah satu penyebab rendah diri pada siswa. Sebelum penelitian dilakukan,
peneliti telah berbincang-bincang dengan Bapak Riswan Nasution selaku
37
kepala sekolah di SMP Swasta Azizi Medan,Adapun dari informasi yang
didapat bahwa pelaksanaan bimbingan dan konseling berjalan dengan lancar
dan baik khususnya layanan bimbingan kelompok.
Hal ini didukung dengan observasi dengan penelitian yang dilakukan
pada tanggal 26 Agustus 2021 mengenai sarana pendukung untuk
memaksimalkan kinerja guru bimbingan dan konseling serta memajukan
bimbingan konseling di sekolah SMP Swasta Azizi Medan. Adapun sarana
pendukung yang disediakan oleh kepala sekolah yaitu: fasilitas dan ruangan
bimbingan konseling. Dan selanjutnya wawancara dengan Bapak Ade
Abdullah Hud, SS pada tanggal 26 Agustus 2021 selaku guru bimbingan dan
konseling.
Bagaimana Pelaksanaan Layanan Bimbingan Konseling disekolah ini pak?
Alhamdulillah sampai saat ini pelaksanaan layanan bimbingan konseling
berjalan dengan lancar
Apakah layanan bimbingan kelompok berjalan dengan lancar pak? Iya
alhamdulillah layanan bimbingan kelompok masi berjalan dengan lancar
Apakah disekolah ini sudah pernah melaksanakan layanan bimbingan
kelompok terhadap rendah diri siswa pak? Sejauh ini belum pernah
melaksanakan bimbingan kelompok terhadap rendah diri
Bagimana cara bapak menyikapi siswa yang mengalami rendah diri?
Iya begitulah cukup saya nasehati dan beri dia motivasi dan bantu dia
agar kemampuan belajar nya meningkat
38
Berdasarkan hasil wawancara terlampir yang peneliti lakukan dengan guru BK
tentang pelaksanaan bimbingan dan konseling disekolah yaitu guru bimbingan
dan konseling melaksanakan layanan bimbingan kelompok agar seluruh siswa
mendaptkan pelayanan bimbingan dan konseling, dan selalu menyusun
rencana didalam pelaksanaan layanan terutama layanan bimbingan kelompok,
tetapi guru BK belum pernah melakukan bimbingan kelompok terhadap
rendah diri siswa. Adapun permasalahan seperti itu maka peneliti menerapkan
layanan bimbingan kelompok Dibawah ini akan dijelaskan langkah-
langkahnya.
a) Tahap Permbentukan
Langkah dari bimbingan kelompok yang dilakukan adalah sebagai berikut:
Tahap pembentukan adalah tahap dimana peneliti mengucapkan salam dan
mengajak anak anak berdoa, kemudian mengucapkan terimaksih kepada anak-
anak atas kehadirannya untuk mengikuti kegiatan bimbingan kelompok ini
selanjutnya pemimpin kelompok mengecek kehadiran anak-anak, lalu anggota
kelompok memperkenalkan diri terlebih dahulu dan cita cita serta kegemaran
mereka, setelah itu pemimpin kelompok menjelaskan pengertian bimbingan
kelompok, asas bimbingan kelompok yang terdiri dari 4 asas diantara nya
yaitu: kerahasiaan, kenormatifan, keterbukaan, dan kesukarelaan, kemudan
menjelaskan tujuan dari bimbingan kelompok kepada anak-anak, setelah
selesai menjelaskan tentang bimbingan kelompok pemimpin kelompok
mengajak anggota kelompok untuk belajar sambil bermain agar meningkatkan
kekompakan serta dinamika kelompok.
39
Pimpinan : Assalamualikum..
Anggota : waalaikumsalam bu..
Pimpinan : Untuk memulai kegiatan dipagi hari ini kita berdoa
menurut kepercayaan masing masing terlebih dahulu ya,
berdoa dimulai (doa selesai)
Pimpinan : Sebelumnya ibu mengucapkan terimaksih kepada siswa
kelas VIII yang sudah berkenan hadir dipagi hari ini untuk
mengikuti kegiatan layanan bimbingan kelompok. Sebelum
lanjut ibu ingin mengecek kehadiran anak-anak ibu dulu ya,
oke semua sudah lengkap, sebelumnya ada yang sudah
kenal dengan ibu belum.
Anggota : Belum ada bu.
Pimpinan : Baiklah ibu akan memperkenalkan diri terlebih dahulu ya,
jadi nama ibu Sari Elida Lestari panggil saja ibu Sari.
Anggota : Haii ibu Sari..
Pimpinan : Nah ibu kan sudah memperkenalkan diri jadi giliran
kalian ya yang memperkenalkan diri biar kita saling kenal
semuanya, oke sebutkan nama, cita cita dan hobby oke
dimulai dari sebelah kanan ibu ya.
Anggota 1 : Nama saya AM , cita cita saya ingin menjadi polisi, dan
saya suka menggambar
40
Anggota 2 : Nama saya CA , cita cita saya ingin menjadi guru, dan
saya suka membaca
Anggota 3 : Nama saya AA , cita cita saya ingin menjadi polisi, dan
saya suka bermain futsal
Anggota 4 : Nama saya DA , cita cita saya ingin menjadi dokter, dan
saya suka membaca
Anggota 5 : Nama saya YS , cita cita saya ingin menjadi jurnalis dan
saya suka jalan jalan
Anggota 6 : Nama saya AZ , cita cita saya ingin menjadi ingin menjadi
pemain bola, dan saya suka bermain bola.
Pemimpin : Oke baiklah ibu sudah tau nama nama kalian semua
sehinga ibu lebih mudah untuk mengenal kalian.
Selanjutnya ibu akan menjelaskan kegiatan hari ini pasti
kalian pada bingung kenapa kita ada diruangan ini.
Anggota : Hehe iya bu (salah satu anggota menjawab)
Pemimpin : Disini sudah yang pernah melakukan kegiatan layanan
bimbingan kelompok ? Dan ada yang bisa jelasin apa itu
bimbingan kelompok?
Anggota : Kalau dikelas lain seperti nya sudah pernah bu saya
pernah dengar tapi kalau dikelas ini belum pernah jadi tidak
tau apa itu layanan bimbingan kelompok.
41
Pemimpin : `Baikalah untuk mempersingkat waktu ibu beritahu
kepada kalian semua ya jadi bimbingan kelompok adalah
suatu kegiatan yang diadakan oleh pemimpin kelompok
dengan sekelompok orang dengan memanfaatkan dinamika
kelompok untuk memberikan informasi kepada anggota
kelompok. Dan bimbingan kelompok memiliki asas yaitu:
asas kerahasiaan, asas keterbukaan, asas kenormatifan, dan
asas kesukarelaan. Dan tujuan dari kegiatan ini adalah
untuk memberikan informasi dan membantu masalah-
masalah yang dialami oleh satu kelompok. Yang menjadi
pemimpin kelompok itu ibu sendiri dan anggota kelompok
adalah kalian semua. Gimana sudsh paham semua ?
Anggota : ohh begitu bu sudah paham bu.
Pemimpin : Ibu harap kegiatan kita ini bisa berjalan dengan lancar dan
kondusif semua harus aktif dalam memberikan tanggapan
ya.
b) Tahap Peralihan
Ditahap kedua atau tahap peralihan ini pemimpin menjelaskan kembali
sedikit mengenai bimbingan kelompok, serta pemimpin kelompok
memberikan kesempatan kepada anggota kelompok untuk bertanya mengenai
bimbingan kelompok , kemudaian pimpinan kelompok mengajak anggota
42
kelompok untuk menciptakan suasana akrab serta menyiapkan kesiapan
anggota kelompok untuk melanjutkan ketahap selanjutnya.
Pemimpin : Baiklah, apakah kalian sudah siap untuk melakukan
ketahap selanjutnya ?
Anggota : Kami sudah siap bu..
c) Tahap Kegiatan
Tahap yang ketiga ini adalah tahap inti atau tahap kegiatan bahwa
pemimpin kelompok menjelaskan kemabali mengenai bimbingan kelompok
yang terbagi menjadi dua yaitu topik bebas dan topik tugas. Karna pemimpin
kelompok memilih topik tugas maka topik permasalahannya adalah “Rendah
diri‟. Pertama pemimpin kelompok menanyakan kepada anggota kelompok
mengenai rendah diri. Anggota kelompok memberikan tanggapannya dan
masukan masukan kepada anggota kelompok lainnya.
Pemimpin : Siapa yang tau apa itu rendah diri ?
Anggota 2 : Tidak tau bu..
Pemimpin : Yang lain ada yang tau tidak?
Anggota 1 : tidak percaya diri ya bu..
Anggota 3 : insecure bu..
Pemimpin : Iya benar rendah diri merupakan bentuk sikap yang timbul
dari perasaan seseorang yang merasa dirinaya serba kurang
43
dari orang lain, dan perasaan ini ditimbulkan oleh sifat sifat
negatif yang dimiliki seseorang dan bisa juga terjadi karena
perasaan terlalu kejam maksud nya terlalu meghakimi diri
sendiri.
Anggota 5 : Jadi rendah diri itu tidak boleh insecure ya bu..
Pemimpin : Iya benar sekali, Ada yang bisa memberikan contoh
rendah diri ?
Anggota 4 : Hm bingung bu mau jawab apa
Anggota 6 : tidak tau bu..
Pemimpin : Oke baiklah, semua belum terlalu paham ya apa itu rendah
diri.
Anggota 2 : iya bu.
Anggota 4 : Saya juga belum paham bu.
Pemimpin : Siapa disini yang tidak berani menyampaikan pendapat
didepan kelas ?
Anggota 3 : Saya bu.
Anggota 1 : Saya juga bu,
Pemimpin : Terus siapa disini yang masi insecure dalam berteman ?
Anggota 6 : Saya bu,
Pemimpin : Lalu apa alasan kalian sampai seperti itu?
44
Anggota 3 : Ya karna malu bu takut salah kalau menyampikan
pendapat itu.
Anggota 1 : takut salah bu.
Anggota 6 : Malu bu kalau ingin bergabung dengan yang, lebih enak
sendiri aja gitu.
Anggota 4 : Saya juga tidak percaya diri bu dengan kemampuan yang
saya punya hehe.
Pemimpin : Nah jadi itulah yang disebut bahwa kalian itu rendah diri.
Kalian tidak boleh rendah diri kalian harus percaya diri
apapun itu masalahnya Baikalah anak anak ibu, ini
merupakan satu jenis permasalahan yang harus diselesaikan
dengan layanan bimbingan kelompok ini.
Berdasarkan kegiatan yang dilakukan oleh pemimpin kelompok dengan
anggota kelompok diatas adalah beberapa pendapat yang bermunculan ketika
kegiatan berlangsung setelah meraka melakukan kegiatan bimbingan kelompok
sehingga lebih memahami secara luas mengenai rendah diri. Masalah yang sering
muncul disekitaran mereka adalah adanya rendah diri pada siswa terssebut.
d) Tahap Pengakhiran
Tahap ini adalah tahap pengakhiran atau tahap penutupan didalam layanan
bimbingan kelompok, Pemimpin kelompok menanyakan kembali mengenai
penyesuaian diri. Kemudian pemimpin kelompok menanyakan hal hal apa saja
45
yang masih menjangkal seputar permasalahan rendah diri siswa yang akan dibahas
Dipertemuan selanjutnya. Kemudian pemimpin kelompok memberikan keyakinan
kepada anggota kelompok untuk menerapkan hal hal yang telah
[Link] pemimpin kelompok akan menanyakan rencana kedepannya
serta anggota kelompok mengemukan pesan dan kesannya setelah mengikuti
kegiatan bimbingan kelompok dan menanyakan waktu untuk melakukan kegiatan
selanjutnya.
Pimpinan : Oke sebelum berakhir nya kegiatan kita hari ini, ibu ingin
bertanya kembali mengenai apa itu rendah diri ?
Anggota 6 : Rendah diri itu insecure bu malu-malu
Pemimpin : Bagus, berarti sudah paham apa itu rendah diri ya, ,Masih ada lagi
yang ingin ditanyakan kepada ibu ?
Anggota 1 : Tidak ada lagi bu (semua anggota menjawab)
Pemimpin : Oke baiklah kalau sudah tidak ada lagi, di lain waktu kita akan
membahas kembali ya dan berjumpa kembali ya anak-anak
Anggota 4 : iya bu (semua anggota menjawab)
Pemimpin : Nah jadi apa pesan dan kesan dan aoa harapan selama kegiatan
kita ini berlangsung ?
Anggota 3 : Kesannya seru bu bisa berbagi pikiran sama teman teman dan
nambah ilmu juga.
46
Pimpinan : Alhamdulillah senneg ibu dengarnya, sudah kita bahas semua
materi hari ini kesan ibu yaitu ibu senang bisa kenal kalian semua,
dan ibu juga bersyukur kalian sangat antusias dalam memberikan
tanggapan. Baikalah cukup sekian kegiatan kita hari ini ya.
Assalamualaikum..
Anggita : Waalaikumsalam bu..
Setelah selesai dilakuakan BKP yang pertama, kemudian dipersiapakan
pelaksanaan layanan BKP yang kedua, pertama mengatur pertemuan dengan
peserta layanan bimbingan kelompok untuk melakukan kegiatan BKP yang kedua
adapun tanggal yang disepakati dengan peserta untuk melaksanakan BKP adalah 7
september 2021 kemudian dilanjutkan dengan menysusn RPL dengan topik
“Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Rendah Diri”.
Selanjutnya mempersiapakn kegiatan layanan bimbingan kelompok yang
kedua yaitu mempersiapkan daftar hadir, topik pembahasan yang digunakan.
Adapun pelaksanaan layanan bimbingan bimbingan kelompok ini dilaksanakan
dengan prosedur sebagai berikut:
a) Tahap Pembentukan
Ditahap pembentukan untuk pertemuan yang kedua ini peneliti mengucapkan
salam dan mengajak anggota kelompok berdoa kemudian peneliti mengecek
kehadiran anggota kelompok dan peneliti mengucapkan terimaksih kepada
anggota kelompok yang telah hadir kembali dengan mengikuti kegiatan layanan
bimbingan kelompok ini, dan menyapa kabar anggota kelompok.
47
Pemimpin : Assalamualikum anak-anak ibu..
Anggota : Waalaikumsalam bu (semua anggota kelompok menjawab)
Pemimpin : Oke anak-anak, semuanya sudah hadirkan ?
Anggota : Hadir bu..
Pemimpin : Alhamdulillah semuanya hadir, terimaksih ya anak-anak ibu
semua sudah ingin mengikuti kegiatan kita ini, nah bagaimana
kabarnya kalian semua? Sehatkan?
Anggota : iya bu, Alhamdullilah skami semua sehat bu, ibu sendiri gimana
kabarnya?
Pemimpin : Alhamdulillah kalau semuanya sehat, iya ibu juga Alhamdulillah
sehat juga.
Anggota : Alhamdulillah bu..
b) Tahap Peralihan
Tahap Peralihan adalah tahap dimana peneliti menanyakan kembali mengenai
bimbingan kelompok dan memberikan kesempatan anggota kelompok untuk
menanyakan kembali mengenai materi yang sudah dibahas sebelumnya,
kemuadian pemimpin kelompok menanyakan kembali tentang kesiapan kelompok
untuk memasuki tahap yang selanjutnya.
Pemimpin : Oke baiklah anak-anak kita memasuki kegiatan yang kedua, ada
yang ingin ditanyakan mengenai materi yang kemarin ?
48
Anggota : Sudah tidak ada lagi bu (semua anggota kelompok menjawab)
Pemimpin : Baiklah anak-anak ibu apakah kalian sudah siap untuk memasuki
kegiatan selanjutnya ?
Anggota :Kami sudah siap bu (semua anggota kelompok menjawab).
c) Tahap Kegiatan
Tahap kegiatan ini pertemuan yang kedua peneliti menanyakan masalah-
masalah yang dialami anggota kelompok. Kemudian masing-masing anggota
kelompok menacri solusi untuk memecahkan suatu masalah, dan anggota
kelompok diharuskan untuk mengungkapkan masalah-masalah yang dialami nya
saat ini.
Pemimpin : Oke anak-anak apakah kalian masih rendah diri?
Anggota 4 : Saya sudah mulai berani sekarang bu..
Pemimpin : Bagus, yang lain gimana ni masih rendah diri?
Anggota 5 : Saya bu masih sedikit ragu ragu bu tapi sudah lebih baik dari
sebelumnya.
Pemimpin : Ada lagi yang mau menanggapi nya ?
Anggota 1 : Saya bu sekarang sudah mulai tidak insecure lagi
Anggota 6 : iya saya juga bu, sekarang sudah mulai bergabung dengan teman
teman lainnya tidak hanya dengan teman akrab saja bu, dan tidak
menyendiri lagi dikelas.
49
Pemimpin : Iya bagus itu jadi rendah diri harus kita lawan tidak boleh
insecure karna rendah diri itu kepribadian yang buruk sifat ini
menyebabkan berbagai hambatan dalam pergaulan, dalam bidang
akademis, dan berbagi perilaku yang menyimpang dan mungkin
juga menyebabkan depresi dan bisa juga untuk bunuh diri, nah
kalian tidak mau seperti itu kan jadi kita haru percaya diri apapun
keadaan nya tidak boleh rendah diri ya.
Anggota 3 : Iya bu benar juga ya.
Anggota 5 : Iya bu benar sekali itu.
Anggota 4 : benar juga ya bu yang ada rugi sama diri kita sendiri.
Pemimpin : Syukurlah kalau kalian semua sudah memahaminya, baiklah ada
lagi yang memiliki masalah yang berkaitan dengan materi kita
yang kemarin ? Masih ada lagi yang mau mengungkapkan
masalahnya mengenai pembahsan kita kemarin anak-anak?
Anggota 1 : Sekarang saya mencoba untuk berani bu kalau ingin
menyampaikan pendapat apapun itu.
Anggota 2 : Saya juga mencoba agar tidak pemalu bu..
Pemimpin : Iya bagus sekali kamu, ingat jangan rendah diri lagi ya tetap harus
percaya diri jangan insecure dengan yang lain tetap berusaha
menjadi diri sendiri..
50
Anggota 5 : Saya berusaha tenang bu tidak merasa cemas yang berlebihan
kalau disuruh guru unttuk menjawab pertanyaan didepan kelas,
karana saya rasa kalau gugup semakin tidak bisa.
Pemimpin : Oke sanagat baik semuanaya sekarang sudah mulai dapat
memahami dirinya masing-masing, Ibu jadi senang melaksanakan
kegiatan ini karena kalian sanagt antusias. Oke sampai sini adakah
yang ingin disampaikan atau ditanyakan lagi sama ibu?
Anggota : Tidak ada lagi bu ( semua anggota kelompok menjawab).
d) Tahap Pengakhiran
Tahapa pengalhiran iniatau tahap penutupan dalam kegiatan bimbingan
kelompok, pemimpin kelompok mengemukakan bahwa kegiatan layanan
bimbingan kelompok ini akan segera berakhir, kemudian pemimpin kelompok
menyimpulkan materi yang telah dibahas.
Pemimpin : Baiklah anak-anak kegiatan hari ini akan segera berakhir, jika ada
yang ingin bertanya ibu persilahkan.
Anggota : Sudah tidak ada lagi bu (semua anggota kelompok menjawab)
Pemimpin : Alhamdulillah anak-anak kita sudah membahs semua
permasalahannya. Nah jadi kesimpulan dari kegiatan ini adalah jika
ada sesuatu yang ingin dilakukan, tetapi entah kenapa tidak berani
melakukan, lakukan sekarang dan kerjakan sekarang itu mungkin
tidak mudah begitu juga dengan memendamnya dengan mencoba
51
dan terus mencoba rasa ketidak mampuan akan lenyap dan rasa
rendah diri akan hilang. Dengan diadakan layanan bimbingan
kelompok ini ibu harap kalian tidak merasa rendah diri lagi dan
harus tetap percaya diri dalam kegiatan belajar maupun
dilingkungan sekitar.
Baiklah anak-anak apakah kalian semua sudah mengerti ?
Anggota : Kami sudah mengerti bu (semua anggota kelompok menjawab)
Pemimpin : Biklah ibu akhiri kegiatan hari ini ya Assalamualaikum..
Anggota : Waalaikumsalam [Link]..
2. Rendah Diri Siswa Kelas VIII di SMP Swasta Azizi Medan
Data Rendah diri siswa kelas VIII di SMP Swasta Azizi Medan di ukur
dengan mengguanakan dua asesmen teknik non-tes, Pertama, observasi, dimana
peneliti melakukan observasi kepada siswa pada saat proses layanan bimbingan
kelompok pertama dan kedua, Kemudian asesmen yang kedua, adalah wawancara,
dimana wawancara dilakukan kepada siswa anggota bimbingan kelompok dan juga
guru BK, yang dilakukan sebelum dan sesudah perlakuan layanan bimbingan
kelompok.
Rendah diri siswa berdasarkan hasil observasi dan wawncara sebelum
dilakukan layanan bimbingan kelompok cenderung kurang baik. Adapun gambaran
rendah diri siswa pada saat sebelum perlakuan pertama dan pada saat perlakuan
kedua, dideskripsikan pada tabel berikut:
52
Tabel. 4.1
Deskripsi Rendah Diri Siswa Kelas VIII di SMP Swasta Azizi Medan
No Sebelum Perlakuan BKP Pertama BKP Kedua
Suka menyendiri
Siswa cenderung diam dan Siswa mulai mau Siswa sudah mau dan
menyendiri tidak ingin bergabung dengan yang tidak menyendiri siswa
bergabung dengan yang lainnya dan berinteraksi yang menunjukan
lainnya, selalu menarik diri dengan teman yang perubahan karena meraka
dari pergaulan karena siswa belum akrab dengan yang tau bagaimana cara
merasa tidak tau cara lainnya. Mereka juga memulai bermain dengan
memulai bermain dengan mulai sadar tidak ada yang lainnya walaupun
1 orang lain yang belum yang perlu ditakutkan bukan teman akrab nya,
akrab dengannya. jika berteman dengan siswa berfikir bahwa
siswa berfikir bergabung yang lainnya atau teman banyak teman itu seru
dengan yang lainya tidak yang belum akrab dan bukan cuma teman
ada yang ingin merespon akrab nya saja tetapi
dan juga ada rasa takut jika kesemua teman yang
akan dimusuhi teman. lainnya. Dan siswa juga
percaya bahwa tidak ada
yang ingin memusui nya.
Sulit berkomunikasi dengan yang lain
Siswa cenderung susah Siswa mulai mau Di tahap kedua Siswa
berkomunikasi baik itu berkomunikasi dengan sudah mampu saling
disekolah maupun yang lainnya jika berkomunikasi baik
dilingkungan sekitar karena bertemu orang lain atau dengan guru maupun
2 siswa tidak berani untuk guru saling menyapa dan dilingkungan sekitar
menyapa atau menanyakan berani menyanyakan tidak ada rasa acuh tak
sesuatu dengan guru sesuatu apa yang ingin acuh.
maupun orang lain. ditanyakan dan berbicara
tidak terlalau singkat.
53
Pemalu
Siswa cenderung malu Beberapa siswa mulai Ditahap kedua ini siswa
untuk menyampaikan tebuka dalam semakin yakin bahwa
pendapat nya didepan kelas menyampikan tidak ada yang perlu di
dan tidak berani menjawab pendapatnya dan sudah malu kan, siswa semakin
pertanyaan dari guru mulai berani menjawab berani untuk memberikan
dikarenakan malu takut pertanyaan dari guru, dan pendapat atau pun
3 salah jawaban yang mencoba menjawab menjawab pertanyaan
diajukan meraka berfikir pertanyaan dari guru dari guru, mereka
bahwa pendapat yang tidak malu siswa yakin percaya bahwa pendapat
mereka ajukan itu salah bahwa pendapat mereka yang diberikan adalah
dan akan ditertawakan oleh itu baik tidak perlu malu pendapat yang baik.
teman teman nya. dengan yang lainnya.
Mudah merasa cemas
Siswa mengakui bahwa Siswa mulai merasa Siswa semakin tidak
meraka merasa cemas jika tenang dan tidak gugup cemas dan bisa percaya
tiba tiba disuruh menjawab jika disuruh menjawab diri saat ingin menjawab
pertanyaan dari guru selalu pertanyaan oleh guru. pertanyaan walaupun
gugup jika ingin menjawab Dan mulai menunjukan diperhatikan oleh guru.
4 pertanyaan dari guru. potensi diri nya tidak Rasa cemas yang
Mereka takut jika terlalu gugup walaupun awalnya sangat takut
menjawab pertanyaan itu diperhatikan oleh guru menjadi terbiasa dan
salah dan dimarahi oleh dan teman temannya. mulai santai saat
guru. menjawab pertanyaan
tersebut.
Tidak percaya diri
Siswa mengakui bahwa Siswa mulai mau dan Siswa semakin percaya
5 mereka tidak percaya diri mampu memunjukan diri dengan adanya
dalam kemampuan yang kemampuan yang kemampuan yang
54
meraka punya, siswa dimilikinya, mau dimilikinya, tidak ada
merasa orang lain lebih menunjukan potensi nya lagi yang membanding
mempunyai kemampuan didepan kelas mulai bandingkan dirinya
yang lebih begus. percaya diri tanpa dengan yang lainnya.
membanding bandingkan Meraka berfikir bahwa
dengan yang lainnya. setiap potensi yang
dimiliki orang itu
berbeda beda tidak bisa
disamkan.
Berfikir negatif
Beberapa siswa mengakui Siswa mulai sadar bahwa Siswa semakin yakin
bahwa kadang adanya perilaku itu tidak baik, tidak ada siswa yang
berfikir negatif dan kemampuan setiap bodoh jika kita mau
dikarenakan dirinya merasa orang itu berbeda beda, berusaha belajar akan
bodoh dan tidak seperti jika ingin berusaha akan mendapat juara.
teman lainnya yang bisa mendapatkan hasil yang Siswa juga tidak berfikir
6 mendapatkan juara dikelas. kita mau. negatif lagi dalam hal
belajar dan tidak
membanding bandingkan
dengan yang lainnya dan
bisa menjadi motivasi
untuk kedepannya agar
bisa mendapat juara.
Merasa orang lain tidak seportif
Beberapa siswa mearasa Siswa mulai mengerti Siswa sadar dan
bahawa temanya tidak tidak boleh berfikir yang memahami bahwa
sportif dalam belajar yang negatif yang merasa perasaan nya itu salah
7 membuat dirinya berfikir orang lain tidak sportif yang menganggap orang
negatif. yang sekedar perasaan lain tidak sportif.
negatif nya saja. Siswa tidak lagi
55
menganggap orang lain
seperti yang ada
diperasaan nya yang
menganggap tidak
sportif.
3. Pelaksanaan Layanan Bimbingan Kelompok Untuk Mengatasi Rasa
Rendah Diri Siswa Kelas VIII Di SMP Swasta Azizi Medan.
Pelaksanaan layanna BKP untuk mengatasi rendah diri siswa kelas VIII Di
SMP Swasta Azizi Medan dilakukan sesuai dengan tahapan yang seharusnya.
Adapun deskripsi dari setiap tahapan sudah dideskripsikan pada sub sub
sebelumnya. Peneliti melakukan observasi pada setiap tahapan pelaksanaan layanan
BKP. Kegiatan observasi dilakukan terhadap proses pelaksanaan bimbingan
kelompok dengan menganalisis keaktifan siswa dalam mengikuti kegiatan layanan
bimbingan kelompok dan rendah diri siswa dalam kegiatan layanan bimbingan
kelompok. Observasi dilaksankan selama proses pemberian layanan berlangsung
dibantu oleh seorang guru kelas/pembimbing. Dengan mengamati sejauh mana
tindakan layanan BKP memberikan perubahan terhadap reendah diri siswa.
Pada awal awal kegiatan siswa tcenderung canggung dan terdapat siswa
yang seperti salah tingkah, hal ini kemungkinan didasari rasa gugup dan malu malu
padahal ketika tahap pembentukan dilakukan untuk memperkenalkan diri didapati
fakta bahwa mereka satu kelas. Ketika selesai perkenalan guru BK menjelaskan
tahapan pada layanan BK dan alur pelaksanaannya. Siswa terlihat cukup mengerti
dengan tujuan dan bagaimana layanna ini akan dilakukan. Namun memang terlihat
56
bahwa adanaya rendah diri siswa. beberapa siswa terlihat ragu ketika guru bk
menyampikan bahwa mereka akan berdiskusi tanpa ada sproses menilai salah dan
benar. Setiap orang diperkenalkan untuk berpendapat dan berargumen. Guru juga
menjelaskan bahwa tujuan kegiatan ini adalah untuk membantu mereka mengatasi
rendah diri mereka dan tidak terkait dengan nilai apapun sehingga mereka tidak
perlu takut untuk mengungkapkan oemikiran mereka.
Seiring berjalannya layanan BKP siswa semakin mampu untuk
menyampaikan pendapat dan menjawab pertanyaan dari guru, Begitu pula pada
proses layanan bkp yang kedua mereka bahkan semakin terlihat nyaman saat
menyampaikan pendapat, tidak gugup untuk menanggapi pertanyaan semakin aktif
bertanya daan menikmati setiap kegitan dan dinamika /hubungan antar anggota
semakin terjalin baik.
Terdapat bebrapa hambatan terjadi selama proses kegitan layanan
bimbingan kelompok berlangsung namun dapat diatasi dengan baik, seperti yang
diketaui bahwa pada sat ini tengah terjadi pandemi Covid-19 sehingga pelaksanaan
BKP harus dilaksankan dengan jarak 1 m antar siswa, kendala yang terjadi siswa
tidak mampu mendengar dengan baik lawan bicaranya dikarenakan jarak yang
cukup jauh dan ditambah dengan menggunakan masker seluruhnya sehingga suara
siswa terkadang tidak terdengar dengan jelas, namun hal ini dapat diatasi dengan
meminta siswa untuk mengulang pertanyaan kembali dengan volume yang lebih
kuat dari sebelumnya.
57
Wawancara dengan siswa juga dilakukan guna memperdalam analisi
dalam penelitian ini, Wawancara yang dilakukan terkait rendah diri siswa, Berikut
rincian hasil wawancara pada setiap siswa.
Siswa pertama dengan inisial AB, mengatakn bahwa “saya memang
sering bingung jika ingin menjawab pertanyaan dari guru didepan
kelas rasanya gugup dan malu takut jawaban saya salah sedangkan
jawaban teman teman benar, tetapi sekarang saya tidak rendah diri lagi
tidak memperdulikan jawaban teman saya, saya yakin jawaban saya
benar dan selalu berfikir positif saja”
Siswa kedua dengan inisial AK, mengatakn bahwa “saya memng
cenderung menyendiri tidak ingin bergabung dengan yang lainnya
karna saya menganggap mereka tidak ingin bergabung dengan saya,
tapi setelah saya mengikuti kegitan BKP ini saya sadar bahwa
perlakuan saya tidak baik dan saya sekarang sudah bisa bagaimana
cara memulai pertemanan yang baik.
Sswa ketiga dengan inisial DA, mengaku bahwa “saya sering merasa
cemas yang berlebihan jika tiba tiba disuruh menjawab pertanyaan dari
guru, tetapi ternyata di BKP ini saya rasakan bahwa jika ingin
menjawab pertanyaan dari guru itu tidak perlu cemas dan takut salah
dan saya akan lebih santai jika tiba tiba disuruh guru menjawab
pertanyaan dan yang saya sampaiakn juga itu adalah hal yang baik.
Hasil wawancara yang dilakukan oleh penliti dengan CA, siswa
keempat menatakan bahwa “Saya memang tidak percaya diri dalam
58
kemampuan yang saya miliki karena menurut saya kemampuan yang
lain lebih unggul dibanding saya, tetapi seteleh saya mengikuti
kegiatan BKP ini saya sadar bahwa tidak boleh membanding
bandingkan diri sendiri dengan kemampuan orang lain dan saya sudah
percaya diri.
IS siswa kelima mengatakan bahwa “saya mengakui bahwa kadang
saya berfikir negatif karena saya merasa bodoh dan tidak seperti teman
lainnya yang bisa mendapatkan juara dikelas, tapi ternyata di BKP ini
saya merasakan bahwa tidak ada siswa yang bodoh jika ingin berusaha
terus belajar pasti akan ada kemajuan untuk kedepan nya dan saya
yakin itu.
AZ siswa keenam mengatakan bahwa “saya mearasa bahawa teman-
teman tidak sportif dalam belajar yang selalu mendapat nilai bagus
tetapi setelah saya mengikuti kegiatan BKP ini saya sadar bahwa tidak
ada yang tidak sportif hanya saja saya malas mngerjakan tugas sekolah
yang membuat nilai saya rendah dan saya sekarang sudah merubah
pola pikir saya yang menganggap teman saya tidak sportif dalam
belajar.
Dari hasil wawancara yang dilakukan oleh peneliti datas, sebelum
dilakukan layanan bimbingan kelompok untuk mengatasi rendah diri siswa,
terlihat bahwa siswa memang memiliki rendah diri yang tinggi namun mereka
juga mengakui bahwa setelah mendapatkan layanna bimbingan kelompok ini
mereka menjadi lebih termotivasi dan percaya diri tidak membanding bandinkan
59
dengan orang lain, Hal ini juga didukung oleh data hasil wawncara dengan guru
BK selaku pemimpin kelompok BKP. Guru BK mengatakan “Saya dapat melihat
perubahan lebih termotivasi dan percaya diri pada siswa selama kegiatan BKP ini
dilakukan, siswa menjadi lebih ceria dan tidak malu malu selama kegiatan BKP
dan keseharian mereka, saya senang mereka menjadi lebih baik setelah mendapat
layanan BKP dari saya
C. Diskusi Hasil Penelitian
Dari segi perkembangan rendah diri adalah perasaan menganggap terlalu
rendah pada diri sendiri orang yang rendah diri berarti menganggap diri sendiri
tidak mempunyai kemampuan yang berarti. Sarastika, (2014:16) Pelaksanaan
layanan bimbingan kelompok untuk mengatasi Rasa Rendah Diri Siswa Kelas
VIII Di SMP Swasta Azizi Medan. Layanan bimbingan kelompok yang
merupakan tindakan bimbingan dan konseling pada penelitian ini dilaksanakan
dengan baik. Sesuai dengan teori BKP artinya mengikuti prosedur, tahapan dan
juga semua azas dan prinsip BK pada layanan BKP serta tidak diselenggarakan
secara acak atau seadanya saja. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui
pengaruh pelaksanaan layanan bimbingan kelompok mampu mengatasai Rasa
Rendah Diri Siswa. wawancara dan juga observasi yang dilakukan pada siswa
menunjukan rasa Rendah Diri siswa sangat tinggi pada saat sebelum dilakukan
tindakan BK yaitu layanan BKP. Seluruh siswa yang menjadi objek penelitian
mengalami menurunnya Rasa Rendah Diri setelah diberikan layanan bimbingan
kelompok.
60
D. Keterbatasan Penelitian
Sebagai manusia biasa peneliti tidak terlepas dari kekhilafan dan kesalahan
yang berakibat dari berbagai faktor yang yang ada pada peneliti: kendala kendala
yang dihadapi sejak dari perbuatan, penelitian, pelaksanaan penelitian hingga
pengolahan data.
1. Keterbatasan kemampuan yang dimiliki oleh peneliti baik moral maupun
materi dari awal proses pembuatan skripsi, pelaksanaan penelitian
sehingga pengolahan data
2. Sulit mengukur pengaruh tindakan layanan bimbingan kelompok untuk
peningkatan Remdah Diri siswa secara akurat karena alat yang digunakan
adalah wawancara dan observasi yang dimilki keterbatasan, dimana
terdapat kemungkinan individu yang memberikan jawaban yang tidak
sesuai dengan apa yang mereka rasakan atau alami sesungguhnya dan
menunjukan perilaku yang berbeda dengan apa yang sebenarnya mereka
rasakan.
3. Terbatasnya waktu yang peneliti untuk melakukan riset lebih lanjut pada
Siswa Kelas VIII di SMP Swasta Azizi Medan.
Selain keterbatasan diatas, penulis juga menyadari bahwa
kekurangan wawasan penulisan melakukan wawancara secara baik, dan
juga kemampuan melakukan observasi dengan lebih mendetail, yang
merupakan keterbatasan peneliti yang tidak dapat dihindari oleh karena itu
dengan tangan terbuka, peneliti mengharpkan saran dan kritik yang
bersifat membangun demi kesempurnaan tulisan dimasa mendatang.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil laporan penelitian di atas, maka pada bab ini penulis
dapat menyampaikan bahwa:
Penerapan layanan bimbingan kelompok yang pertama pada Siswa Kelas
VIII di SMP Swasta Azizi Medan. Tahun Ajaran 2020/2021 berjalaan dengan
baik dan siswa mulai memiliki kemauan dan kemampuan untuk menunjukan
potensi diri, tidak pemalu dan percaya diri. Beberapa siswa mulai berani
menjawab pertanyaan atau menyampikan pendapat dari guru pada proses
pembelajaran berjalan
Penerapan layanan bimbingan kelompok yang kedua menujukan hasil
yang lebih baik lagi, siswa semakin memilki kemauan dan kemampuan siswa
dalam menunjukan potensi diri, tidak terlalu cemas dalam menjawab pertanyaan
didepan kelas, siswa juga mengakui bahwa perilaku mereka yang awalnya kurang
baik semakin membaik dari sebelumnya.
Setelah dilakukannya bimbingan kelompok sebanyak dua kali pada siswa
kelas VIII di SMP Swasta Azizi Medan Tahun Ajaran 2020/2021 dan berdasarkan
berkurangnya rendah diri siswa maka dapat disimpulkan Layanan Bimbingan
Kelompok Efektif Untuk Mengatasi Rasa Rendah Diri Siswa Kelas VIII di SMP
Swasta Azizi Medan Tahun Ajaran 2020/2021.
61
62
B. SARAN
Dari penelitian ini saran yang dapat peneliti berikan adalah:
1. Bagi guru pembimbing diharapkan lebih meningkatkan
keterampilannya dalam upaya mengatasi Rasa Rendah Diri Siswa
melalui kegiatan layanan bimbingan konseling seperti layanan
bimbingan kelompok.
2. Bagi siswa yang mempunyai masalah khususnya Rendah Diri
sebaiknya lebih meningkatkan kegiatan-kegiatan yang positif seperti
mengikuti kegiatan ekstrakurikuler dan kegiatan masyarakat lainnya.
3. Berdasarkan haisl penelitian ini yang telah teruji bahwa BKP dapat
mengatasi Rendah Diri Siswa. Maka kepala sekolah dapat mendukung
BK untuk mengembangkan layanan bimbingan kelompok dan layanan-
layanan konseling lainnya secara kontiniu dalam ranagka pembinaan
pribadi siswa.
4. Bagi orang tua, dari beberapa data hasil penelitian sang peneliti yang
mengatakan bahwa orang tua adalah pendidik yang paling utama bagi
anak, maka orang tua dapat mempertimbangkan beberapa hasil
penelitian ini untuk membantu anaknya dalam mengembangkan potensi
diri, khususnya terkait Rendah Diri anak.
5. Bagi peneliti selanjutnya untuk peneliti disarankan untuk
mengguanakan metode yang berbeda dan lebih intensif dalam
melakukan penelitian dan lebih dispesifikasikan dalam melakukan
63
penelitian agar pembahasannya tidak terlalu lebar dan terkesan tidak
menjuurs pada permasalahannya.
DAFTAR PUSTAKA
Arikunto, Suharsimi. 2018. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik.
Jakarta: Rineka Cipta.
Ahmad, Hariadi. (2017). Pengaruh Biblo Edukasi Terhadap Rasa Rendah Diri
Pada Kelas XI Di SMA Negeri 8 Mataram. Jurnal Bimbingan dan
Konseling FIF IKIP Mataram.
Agustina, Ida, (2014). Penerapan Strategi Reframing Untuk Mengurangi Perasaan
Rendah Diri Kelas VIII-H SMP Negeri 1Jogorogo Ngawi Jurnal BK
Erlangga, Erwin. (2017). Bimbingan Kelompok Meningkatkan Keterampilan
Berkomunikasi Siswajurnal Ilmiah Psikologi
Ghufron N & Rini Risnawita. 2020. Teori Teori Psikologi. Jogjakarta: AR-Ruzz
Media
Hartinah, Siti. 2017. Konsep Dasar Bimbingan Kelompok. Bandung: Refika
Aditama
MS, Darsono. 2014. Kenapa Harus Rendah Diri. Surabaya: Liris
Prayito, Erman Amnti. 2016. Dasar Dasar Bimbingan Dan Konseling Jakarta:
Rineka Cipta
Pranoto, Hadi. (2016). Upaya Meningkatkan Percaya Diri Siswa Melalui Layanan
Bimbingan Kelompok Di SMA Negeri Sungkai Utara Lampung Utara.
Jurnal Lentera Pendidikan
Pupu Saiful Rhmat.(2009). Penelitian Kualitatif. Jurnal Equilibrium, 5 (9)
Rasimin, & M Hamdi. 2018. Bimbingan Dan Konseling Kelompok. Jakarta: Bumi
Aksara
Salahudin, Anas. 2019. Bimbingan & konseling. Bandung: Pustaka Setia.
Suryabrata, Sumadi. 2019. Psikologi Kepribadian. Jakarta: Raja Grafindo Persada
Syamsu & Juntika N. 2016. Landasan Bimbingan Dan Konseling. Bandung:
Remaja Rosdakarya Offset
Sugiyono, 2017. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D. Bandung:
Alfabeta
64
65
Supardi. Arah Pendidikan Di Indonesia Dalam Tataran Kebijakan Dan
Implementasi. Jurnal Formatif 2 (2): 111-12
66
Lampiran : Kegiatan Layanan Bimbingan Kelompok
67
Lampiran : RPL Layanan Bimbingan Kelompok
RENCANA PELAKSANAAN LAYANAN BIMBINGAN DAN
KONSELING FORMAT KELOMPOK
I. IDENTITAS RPL
A. Satuan pendidikan : SMP SWASTA AZIZI MEDAN
B. Tahun ajaran : 2020 / 2021
C. Sasaran pelayanan : Kelas VIII
D. Pelaksana : Sari Elida Lestari
E. Pihak terkait : Siswa
II. WAKTU DAN TEMPAT
A. Tanggal : 26 Agustus 2021
B. Jam pembelajaran / layanan : Sesuai Jadwal
C. Volume waktu (JP) : 1 x 30 menit
D. Spesikasi tempat belajar : Ruang yang tersedia
III. MATERI PEMBELAJARAN
A. Materi / subtema : 1. Tema : Rendah Diri
2. Subtema : Cara Mengatasi Rendah Diri
B. Sumber materi : Internet, Buku
C. TUJUAN / ARAH PENGEMBANGAN
A. Pengembangan KES : Agar siswa memahami bagaimana
cara mengatasi rendah diri
B. PENANGANAN KES-T : Untuk mmencegah siswa agar
terhindah dari sifat yang negatif
68
IV. METODE DAN TEKNIK
A. Jenis Layanan : Layanan Bimbingan Kelompok
B. Kegiatan pendukung :-
V. SARANA
A. Media : Slide Power Point
B. Perlengkapan : Laptop
VI. SASARAN PENILAIAN HASIL PELAYANAN
Diperolehnya hal-hal baru oleh siswa terkait KES (Kehidupan Efektif
Sehari RPL RENCANA PELAKSANAAN LAYANAN) dengan unsur-unsur
AKURS (Acuan, Kompetensi, Usaha, Rasa, Sungguh-sungguh).
A. KES
1. Acuan (A) : Perlunya siswa untuk mengetahui cara mengatasi rendah diri
2. Kompetensi (K) : siswa menguasai pemahaman dalam materi
3. Usaha (U) : siswa mampu meningkatkan rendah diri
4. Rasa (R) : Bagaimana siswa merasa berkenaan tentang materiyang disampaikan
5. Sungguh-sungguh : Bersungguh sungguh dalam meningkatkan rendah diri
B. KES-T : Yaitu terhindarkannya siswa yang tidak memahami tips menjadikan
siswa yang belajar sesuai aturan.
C. Ridho Tuhan, Bersyukur, Ikhlas dan Tabah : Memohon ridho Tuhan untuk
suksesnya siswa mempraktekkan berkenaan dengan tips menjadikan siswa
yang lebih giat belajar lagi
69
VII. LANGKAH KEGIATAN
A. LANGKAH PENGANTARAN : TAHAP PEMBENTUKAN
1. Mengucapkan salam dan mengajak siswa berdo‟a, kemudian mengecek
kehadiran siswa sebelum memulai kegiatan lanjutan.
2. Mengecek kehadiran siswa dan merespon terhadap kondisi yang
berkembang dari kegiatan tersebut.
3. Mengajak dan membimbing siswa untuk memulai kegiatan pembelajaran
dengan penuh perhatian, semangat dan penampilan mereka dengan
melakukan kegiatan ber BMB3 berkenaan dengan materi yang dibahas
yaitu Pembelajaran yang akan dibahas tentang gaya belajar kinestetik.
4. Menyampaikan tujuan pembahasan yaitu memahami tentang „‟ Bagaimana
cara menngatasi rasa rendah diri „‟
5. Menyampaikan tujuan dari sub topik yang dibahas;
a) Dipahaminya oleh peserta didik mengenai pentingknya bertanya
dalam proses pembelajaran.
b) Siswa dapat mempraktikkan keterampilan bertanya dalam proses
pembelajaran berkenaan dengan hakekat penyesuain diri, sehingga
memungkinkan siswa memperoleh beragam informasi baru yang
penting bagi mereka
B. LANGKAH PENJAJAKAN : TAHAP PERALIHAN
1. Menanyakan kepada siswa apalah ada penjelasan yang disampaikan
kurang dipahami.
70
2. Meminta siswa mengemukakan pengetahuan tentang materi yang
disampaikan.
C. LANGKAH PENAFSIRAN : TAHAP KEGIATAN AWAL
1. Membahas kondisi yang dikemukakan siswa pada langkah penjajakan.
2. Siswa diberi kesempatan untuk menanyakan atau merespon materi terkait
3. Perlunya siswa bertanya tentang hal-hal yang tidak dipahami dengan cara
yang baik.
D. LANGKAH PEMBINAAN : TAHAP KEGIATAN UTAMA
1. Memperlihatkan power point yang telah disediakan.
2. Meminta siswa membaca bahan yang diberikan itu (2-5 menit).
3. Mendorongsiswa bertanya tentang materi bacaan tersebut.
4. Meminta respon siswa berkenaan dengan kegiatan mereka pada no. 1, 2,
dan 3 di atas.
5. Menyampaikan dan menjelaskan kepada seluruh siswa secara berturut-
turut tahapan bertanya dalam proses pembelajaran, yang meliputi
:Menyusun apa yang akan ditanyakan dalam bentuk pertanyaan (dalam
bentuk kalimat tanya).
a. “Menghafal” dan memantapkan apa yang akan ditanyakan dengan
kalimat tanya tersebut.
b. Mengangkat tangan ke atas sebagai tanda untuk mengajukan
pertanyaan kepada guru.
71
c. Apabila ditunjuk, siswa menyampaikan pertanyaan kepada guru
berdasarkan apa yang akan ditanyakan (yang ditulis itu) secara
sopan dan jelas.
d. Selanjutnya, secara tertib dan tenang :
e. Menunggu jawaban terhadap untuk pertanyaan yang diajukan.
f. Memperhatikan (dan kalau perlu mencatat) dengan sebaik-baiknya
jawaban yang diberikan.
g. Menunggu kesempatan dari guru untuk bertanya lagi. Catatan :
Kelima tahapan di atas dilakukan berkali-kali dengan
menggunakan materi bacaan yang berbeda-beda, baik pada
lembaran tertulis yang dibagikan ataupun ditayangkan secara
elektronik.
E. LANGKAH PENILAIAN DAN TINDAK LANJUT : TAHAP
KESIMPULAN DAN PENUTUP
1. Penilaian
Hasil Diakhir proses pembelajaran siswa diminta merefleksikan apa yang mereka
peroleh dengan pola BMB3 dalam kaitannya dengan AKURS :
a. Berfikir (unsur A) : Apa yang mereka pikirkan tentang pemahaman materi
yang telah disampaikan
b. Merasa (unsur R) : Bagaimana mereka merasa dengan dimilikinya
keterampilan atau pemahaman yang benar tentang tips menjadikan siswa yang
belajar tanpa merasa rendah diri
72
c. (unsur K dan U) : Bagaimana mereka akan mempraktikkan tips menjadikan
siswa yang belajar sesuai dengan aturan pembelajaran
d. Bertindak (unsur K dan U) : Bagaiaman mereka membiasakan diri untuk
melakukan tips menjadikan siswa yang yang belajar tanpa menggunakan gaya
belajar kinestetik
e. Bertanggung jawab (unsur U dan S) : Bagaimana mereka bersungguh-sungguh
berusaha memahami materi pembelajaran dengan sebaik-baiknya, dengan cara
bertanya untuk hal-hal yang belum dipahami.
1. Penilaian proses
Melalui pengamatan yang dilakukan penilaian proses
pembelajaran/pelayanan untuk memperoleh gambaran tentang aktifitas siswa
dan efektifitas pembelajaran/pelayanan yang telah diselenggarakan.
1. LAPELPROG dan tindak lanjut
Setelah kegiatan pembelajaran atau pelayanan selesai, disusun Laporan
Pelaksanaan Program Layanan (LAPELPROG) yang memuat data penilaian
hasil dan proses, dengan disertai arah tindak lanjutnya.
Mengetahui Medan 26 Agustus 2021
Kepala Sekolah Pelaksana,
Drs Riswan Nasution Sari Elida Lestari
73
CARA MENGATASI RASA RENDAH DIRI
A. Pemgertian Rendah Diri
Menurut Adler rasa rendah diri adalah: perasaan seseorang lebih rendah
dibandingkan orang lain dalam satu atau lain hal (orang yang merasa rendah
diri cendrung bersikap egosentris, memposisikan diri sebagai korban, merasa
tidak puas dengan dirinya, mengasihani diri sendiri dan mudah menyerah).
Perasaan lebih rendah dapat muncul sebagai akibat sesuatu yang nyata atau
hasil imajinasi saja. Tidak seperti rasa rendah diri yang normal (keinginan
dihormati, dihargai, keinginan dipuji) yang dapat mendorong pencapaian
prestasi, sedangkan rendah diri yang abnormal (rasa tinggi hati yang
berlebihan, menganggap dirinya sangat tinggi, egois dan punya kecendrungan
untuk menolak orang lain) yang akan merusak dirinya sendiri (Alwisol, 2005:
97). Adler berpendapat bahwa rasa rendah diri itu bukanlah suatu pertanda
ketidak normalan justru merupakan pendorong bagi segala perbaikan dalam
kehidupan manusia. Tentu saja rasa rendah diri itu berlebih lebih sehingga
manifestasinya juga tidak normal, misalnya timbulnya kompleks rendah diri
atau kompleks untuk superior, Tetapi keadaan normal rasa rendah diri itu
merupakan pendorong ke arah kemajuan atau kesempurnaan (superior). Adler
(Suryabrata, 2019:188)
Dari segi perkembangan rendah diri adalah perasaan menganggap terlalu
rendah pada diri sendiri orang yang rendah diri berarti menganggap diri
sendiri tidak mempunyai kemampuan yang berarti. Sarastika, (2014:16)
Sedangkan menurut James [Link] rasa rendah diri (inferiority complex)
74
adalah “bentuk kritik diri pribadi yang biasanya merasa takut terhadap celaan
masyarakat, orang-orang yang dibebani dengan perasaan-perasaan tidak
mampu, memperlihatkan perbuatan dan reaksi-reaksi mental yang bermacam-
macam”. Suhartin, (2010:30).
B. Ciri Ciri Rendah Diri
Berkebalikan dengan orang yang rendah diri, orang yang memiliki percaya
diri dan harga diri tinggi akan memiliki ciri-ciri perilaku yakin kepada diri
sendiri, tidak ragu-ragu, tidak bergantung pada orang lain, merasa dirinya
berharga, tidak menyombongkan diri, Saul McLeod mengungkapkan sejumlah
ciri yang biasa terdapat pada orang-orang dengan perasaan rendah diri yaitu :
(Darsono, 2014:19)
16. Menarik diri/malu/pendiam,
17. Merasa tidak aman,
18. Kebutuhan berprestasi yang kurang
19. Sikap negatif
20. Tidak bahagia,
21. Canggung,
22. Suka Marah/benci
23. Motivasi rendah,
24. Tertekan,
25. Suka bergantung pada orang lain
26. Citra diri yang buruk
27. Tidak berani ambil resiko
75
28. Kurangnnya percaya diri
29. Komunikasi yang buruk
30. Tindakan yang berlebihan (acts out).
Richard D. Lavoie, M.A., [Link] dalam tulisannya yang berjudul Self
Esteem: The Cause and Effect of Succes for The Child with Learning Differencec
mengungkapkan ciri-ciri para pelajar yang memiliki harga diri rendah yaitu:
(Darsono, 2014: 24-25)
10. Secara konsisten mengkomunikasikan pertanyaan pertanyaan yang
merendahkan orang lain menunjukan keidakberdayaan.
11. Tidak ikhlas
12. Mempraktekan perfeksionisme
13. Menjadi sangat tergantung
14. Menunjukan kebutuhan akan penerimaan yang berlebihan: hasrat yang
besar untuk menyenangkan figur-figur berkuasa
15. Kesulitan membuat keputusan
16. Menunjukan toleransi yang rendah terhadap kekecewaan
17. Menjadi sangat defensif
18. Memiliki sedikit kepercayaan pada penilaian mereka sendiri dan sangat
rentan terhadap tekanan teman sebaya.
76
RENCANA PELAKSANAAN LAYANAN BIMBINGAN DAN
KONSELING FORMAT KELOMPOK
I. IDENTITAS RPL
F. Satuan pendidikan : SMP SWASTA AZIZI MEDAN
G. Tahun ajaran : 2020 / 2021
H. Sasaran pelayanan : Kelas VIII
I. Pelaksana : Sari Elida Lestari
J. Pihak terkait : Siswa
II. WAKTU DAN TEMPAT
E. Tanggal : 30 Agustus 2021
F. Jam pembelajaran / layanan : Sesuai Jadwal
G. Volume waktu (JP) : 1 x 30 menit
H. Spesikasi tempat belajar : Ruang yang tersedia
III. MATERI PEMBELAJARAN
D. Materi / subtema : 1. Tema : Rendah Diri
2. Subtema : Faktor Faktor Yang
Mempengaruhi Rendah Diri
E. Sumber materi : Internet, Buku
F. TUJUAN / ARAH PENGEMBANGAN
C. Pengembangan KES : Agar siswa mampu meningkatkan
rendah diri
D. PENANGANAN KES-T : Untuk mmencegah siswa agar
terhindah dari sifat yang negatif
77
IV. METODE DAN TEKNIK
C. Jenis Layanan : Layanan Bimbingan Kelompok
D. Kegiatan pendukung :-
V. SARANA
C. Media : Slide Power Point
D. Perlengkapan : Laptop
VI. SASARAN PENILAIAN HASIL PELAYANAN
Diperolehnya hal-hal baru oleh siswa terkait KES (Kehidupan Efektif
Sehari RPL RENCANA PELAKSANAAN LAYANAN) dengan unsur-unsur
AKURS (Acuan, Kompetensi, Usaha, Rasa, Sungguh-sungguh).
A. KES
1. Acuan (A) : Perlunya siswa untuk mengetahui cara mengatasi rendah diri
2. Kompetensi (K) : siswa menguasai pemahaman dalam materi
3. Usaha (U) : siswa mampu meningkatkan rendah diri
4. Rasa (R) : Bagaimana siswa merasa berkenaan tentang materiyang disampaikan
5. Sungguh-sungguh : Bersungguh sungguh dalam meningkatkan rendah diri
B. KES-T : Yaitu terhindarkannya siswa yang tidak memahami tips menjadikan
siswa yang belajar sesuai aturan.
C. Ridho Tuhan, Bersyukur, Ikhlas dan Tabah : Memohon ridho Tuhan untuk
suksesnya siswa mempraktekkan berkenaan dengan tips menjadikan siswa
yang lebih giat belajar lagi
78
VII. LANGKAH KEGIATAN
A. LANGKAH PENGANTARAN : TAHAP PEMBENTUKAN
6. Mengucapkan salam dan mengajak siswa berdo‟a, kemudian mengecek
kehadiran siswa sebelum memulai kegiatan lanjutan.
7. Mengecek kehadiran siswa dan merespon terhadap kondisi yang
berkembang dari kegiatan tersebut.
8. Mengajak dan membimbing siswa untuk memulai kegiatan pembelajaran
dengan penuh perhatian, semangat dan penampilan mereka dengan
melakukan kegiatan ber BMB3 berkenaan dengan materi yang dibahas
yaitu Pembelajaran yang akan dibahas tentang gaya belajar kinestetik.
9. Menyampaikan tujuan pembahasan yaitu memahami tentang „‟ Bagaimana
cara menngatasi rasa rendah diri „‟
10. Menyampaikan tujuan dari sub topik yang dibahas;
c) Dipahaminya oleh peserta didik mengenai pentingknya bertanya
dalam proses pembelajaran.
d) Siswa dapat mempraktikkan keterampilan bertanya dalam proses
pembelajaran berkenaan dengan hakekat penyesuain diri, sehingga
memungkinkan siswa memperoleh beragam informasi baru yang
penting bagi mereka
B. LANGKAH PENJAJAKAN : TAHAP PERALIHAN
3. Menanyakan kepada siswa apalah ada penjelasan yang disampaikan
kurang dipahami.
79
4. Meminta siswa mengemukakan pengetahuan tentang materi yang
disampaikan.
C. LANGKAH PENAFSIRAN : TAHAP KEGIATAN AWAL
4. Membahas kondisi yang dikemukakan siswa pada langkah penjajakan.
5. Siswa diberi kesempatan untuk menanyakan atau merespon materi terkait
6. Perlunya siswa bertanya tentang hal-hal yang tidak dipahami dengan cara
yang baik.
D. LANGKAH PEMBINAAN : TAHAP KEGIATAN UTAMA
6. Memperlihatkan power point yang telah disediakan.
7. Meminta siswa membaca bahan yang diberikan itu (2-5 menit).
8. Mendorongsiswa bertanya tentang materi bacaan tersebut.
9. Meminta respon siswa berkenaan dengan kegiatan mereka pada no. 1, 2,
dan 3 di atas.
10. Menyampaikan dan menjelaskan kepada seluruh siswa secara berturut-
turut tahapan bertanya dalam proses pembelajaran, yang meliputi
:Menyusun apa yang akan ditanyakan dalam bentuk pertanyaan (dalam
bentuk kalimat tanya).
h. “Menghafal” dan memantapkan apa yang akan ditanyakan dengan
kalimat tanya tersebut.
i. Mengangkat tangan ke atas sebagai tanda untuk mengajukan
pertanyaan kepada guru.
80
j. Apabila ditunjuk, siswa menyampaikan pertanyaan kepada guru
berdasarkan apa yang akan ditanyakan (yang ditulis itu) secara
sopan dan jelas.
k. Selanjutnya, secara tertib dan tenang :
l. Menunggu jawaban terhadap untuk pertanyaan yang diajukan.
m. Memperhatikan (dan kalau perlu mencatat) dengan sebaik-baiknya
jawaban yang diberikan.
n. Menunggu kesempatan dari guru untuk bertanya lagi. Catatan :
Kelima tahapan di atas dilakukan berkali-kali dengan
menggunakan materi bacaan yang berbeda-beda, baik pada
lembaran tertulis yang dibagikan ataupun ditayangkan secara
elektronik.
E. LANGKAH PENILAIAN DAN TINDAK LANJUT : TAHAP
KESIMPULAN DAN PENUTUP
1. Penilaian
Hasil Diakhir proses pembelajaran siswa diminta merefleksikan apa yang mereka
peroleh dengan pola BMB3 dalam kaitannya dengan AKURS :
f. Berfikir (unsur A) : Apa yang mereka pikirkan tentang pemahaman materi
yang telah disampaikan
g. Merasa (unsur R) : Bagaimana mereka merasa dengan dimilikinya
keterampilan atau pemahaman yang benar tentang tips menjadikan siswa yang
belajar tanpa merasa rendah diri
81
h. (unsur K dan U) : Bagaimana mereka akan mempraktikkan tips menjadikan
siswa yang belajar sesuai dengan aturan pembelajaran
i. Bertindak (unsur K dan U) : Bagaiaman mereka membiasakan diri untuk
melakukan tips menjadikan siswa yang yang belajar tanpa menggunakan gaya
belajar kinestetik
j. Bertanggung jawab (unsur U dan S) : Bagaimana mereka bersungguh-sungguh
berusaha memahami materi pembelajaran dengan sebaik-baiknya, dengan cara
bertanya untuk hal-hal yang belum dipahami.
1. Penilaian proses
Melalui pengamatan yang dilakukan penilaian proses
pembelajaran/pelayanan untuk memperoleh gambaran tentang aktifitas siswa
dan efektifitas pembelajaran/pelayanan yang telah diselenggarakan.
2. LAPELPROG dan tindak lanjut
Setelah kegiatan pembelajaran atau pelayanan selesai, disusun Laporan
Pelaksanaan Program Layanan (LAPELPROG) yang memuat data penilaian
hasil dan proses, dengan disertai arah tindak lanjutnya.
Mengetahui Medan 30 Agustus 2021
Kepala Sekolah Pelaksana,
Drs. Riswan Nasution Sari Elida Lestari
82
FAKTOR FAKTOR YANG MEMPENGARUHI RENDAH DIRI
Rasa rendah diri bila terus dibiarkan akan memiliki dampak yang buruk bagi
remaja, mungkin ia akan mengalami kesulitan dalam berprestasi disekolahnya,
terjebak kebiasaan diet yang tidak sehat, melakukan tindakan beresiko seperti
mengkonsumsi minuman keras dan narkoba, seks tidak aman, tenggelam dalam
depresi, dan nekat bunuh diri (Darsono, 2014:3). Didalam proses tersebut ada
beberapa faktor yang mempengaruhi rasa rendah diri pada diri seseorangsecara
garis besar munculnya perasaan rendah diri bisa disebabkan dua faktor yaitu
Darsono (2014, 34) yaitu:
c. Faktor Eksternal
5. Lingkungan sekitar
6. Faktor ekonomi keluarga yang lemah
7. Perceraian orang tua
8. Lingkungan keluarga yang tidak harmonis
d. Faktor Internal
4. Kelemahan dalam menguasai materi belajar
5. Adanya cacat tubuh
6. Susah berkomunikasi
83
84
85
86
87
88
89
90
91
92
93
94
95
DAFTAR RIWAYAT HIDUP
DATA PRIBADI
1. Nama : Sari Elida Lestari
Tempat/ Tanggal Lahir : Kacangan, 27 September 1999
Jenis Kelamin : Perempuan
Agama : Islam
Alamat Rumah : Dusun IV Kacangan
Jurusan : Pendidikan Bimbingan dan Konseling
2. Nama Orang Tua:
Ayah : Selamet
Ibu : Siswati Ningsih
3. Jenjang Pendidikan :
SD Negeri 056617 Parit Pompa Tamat Tahun 2011
MTs Amaliyah Tanjung Tiga Tamat Tahun 2014
SMA Negeri 1 Scanggang Tamat Tahun 2017
Tercatat sebagai Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara
Tahun 2021 sampai sekarang.
Medan, September
2021
Hormat Saya
Sari Elida Lestari