LAPORAN PRAKTIKUM
PERLINDUNGAN DAN KESEHATAN HUTAN
ACARA VI
KEBAKARAN HUTAN
Disusun oleh :
Nama : Wahyu Dwi Arifiyani
NIM : 20/462068/KT/09451
Shift : Jumat, 15.00 WIB
Co-Ass : Geraldy Kianta
LABORATORIUM PERLINDUNGAN DAN KESEHATAN HUTAN
DEPARTEMEN SILVIKUKTUR
FAKULTAS KEHUTANAN
UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2021
ACARA VI
KEBAKARAN HUTAN
I. TUJUAN
Tujuan dari praktikum ini adalah
1. Memahami peranan oksigen dalam proses pembakaran
2. Menentukan macam-macam jenis perpindahan panas dalam proses pembakaran
3. Memahami komponen segitiga api kebakaran hutan
II. ALAT DAN BAHAN
Alat dan bahan yang digunakan pada praktikum kali ini diuraikan sebagai berikut.
a. Alat
1. Lilin
2. Korek api
3. Gelas berukuran 200 ml, 300 ml, 500 ml, dan 1000 ml
4. Alat tulis dan penggaris
5. Stopwatch atau jam
6. Lampu semprong
7. Pinset atau penjepit
8. Kertas
9. Gunting
10. Laptop
11. Piring alumunium
b. Bahan
1. Seresah tanaman dengan berbagai kondisikelembaban
2. Software microsoft excel
III. CARA KERJA
Cara kerja pada praktikum ini dibedakan menjadi 3 (tiga), yaitu
1. Percobaan perpindahan panas
Diamati
perpindahan panas
radiasi (bagian Ditulis hasil uji
Dinyalakan lampu
bawah), konduksi pada
semprong
(bagian tengah), kertas/tallysheet
dan konveksi
(bagian atas)
Untuk pelaksanaan kerja dalam memahami pemindahan panas, dipersiapkan
lampu semprong, korek api, dan stopwatch. Lalu, lampu semprong dinyalakan hingga
nyala apinya stabil. Jika sudah stabil, maka diamati perpindahan panas pada titik A
(di ujung bawah), titik B (di tengah), dan titik C (di ujung atas). Kemudian, dicatat
waktu yang diperlukan dalam proses pemindahan panas yang terjadi.
2. Percobaan peranan oksigen dalam konsep segitiga api
Ditutup lilin dengan
Dinyalakan lilin lebih
gelas untuk masing-
kurang 1 menit
masing ukuran gelas
Dibuat tabel dan grafik
hubungan antara
Dicatat hasil percobaan
penyalaan lilin dengan
yang diperoleh
volume udara yang
tersedia
Untuk pelaksanaan kerja dalam memahami peranan oksigen dalam konsep
segitiga api, dipersiapkan lilin, korek, stopwatch, dan gelas berbagai ukuran (200 ml,
300 ml, dan 500 ml). Kemudian, lilin dinyalakan dan ditutup dengan gelas. Untuk
masing-masing ukuran gelas dilakukan 3 kali pengulangan. Lalu, dicatat rata-rata
waktu yang diperlukan dari waktu lilin menyala sampai lilin mati ketika dilakuan
perlakuan penutupan dengangelas. Lalu, dibuat tabel dan grafik hubungan antara
penyalaan lilin dengan volume udara yang tersedia
3. Percobaan komponen segitiga api (pembakaran seresah)
Disiapkan daun dengan
Dipotong daun dengan
3 kondisi yang berbeda
ukuran 1 x 1 cm masing-
(daun segar, daun
masing sebanyak 3
kering, daun direndam 1
sampel
hari)
Dibakar sampel dengan
Dicatat lama waktu, ada
api di atas piring
tidaknya asap, dan
almunium, diamati
kadar abu
waktu terbakarnya
Untuk pelaksanaan kerja dalam memahami salah satu komponen segitiga api
yaitu bahan bakar, disiapkan serasah daun dengan 3 kondisi yang berbeda (segar,
kering, dan kering basah (serasah kering yang sudah direndam selama 24 jam)),
piring aluminium, lilin, korek api, stopwatch, dan pinset. Lalu, tiap-tiap serasah
dipotong dengan ukuran 2 × 2 cm dan jumlah sampel yang diperlukan pada masing-
masing kondisi daun adalah sebanyak 3 sampel untuk 3 kali ulangan. Lilin
dinyalakan di atas piringan aluminium, dan kemudian sampel dibakar hingga menjadi
abu. Selanjutnya, dicatat waktu yang diperlukan tiap sampel hingga terbakarnya daun
dan dideskripsikan proses pembakaran yang timbul.
IV. PEMBAHASAN
Pada praktikum kali ini membahas tentang kebakaran hutan yang berkaitan dengan
segitiga api dan perpindahan panas. Kebakaran hutan merupakan pembakaran yang
penjalaran apinya bebas serta mengonsumsi bahan bakar alam seperti seresah, rumput,
ranting/cabang pohon mati yang tetap berdiri, log, tunggak pohon, gulma, semak belukar,
dedaunan, dan pohon-pohon (Saharjo, 2003). Dalam ilmu kebakaran ada ketiga
komponen yang dikenal dengan segitiga api, yaitu sebuah bangun dua dimensi berbentuk
segitiga sama sisi. Di mana masing-masing sisi mewakili satu komponen kebakaran/api,
yaitu oksigen, panas dan bahan bakar. Pada sisi pertama dari segitiga api adalah oksigen.
Oksigen adalah gas yang tidak dapat terbakar, untuk terjadinya pembakaran/api oksigen
dibutuhkan minimal 16%, oksigen itu sendiri tidak terbakar melainkan untuk mendukung
proses pembakaran. Sisi kedua adalah panas. Panas adalah suatu bentuk energi yang
dibutuhkan untuk meningkatkan temperatur suatu benda/ bahan bakar sampai ketitik
dimana jumlah uap bahan bakar tersebut tersedia dalam jumlah cukup untuk dapat terjadi
penyalaan. Bahan bakar dalam ilmu kebakaran adalah setiap benda, bahan atau material
yang dapat terbakar dianggap sebagai bahan bakar (Jati, 2018).
Tipe kebakaran hutan dapat digolongkan ke dalam tiga kelompok besar yakni
kebakaran bawah (ground fire), kebakaran permukaan (surface fire) serta kebakaran tajuk
(crown fire) (Kimmins, 2004). Pada konteks pengaruh tipe kebakaran hutan tersebut
terhadap vegetasi dapat dijelaskan sebagai berikut : kebakaran bawah (ground fire) dapat
membakar serasah dan akar tanaman, walaupun tergantung pada karakteristik serasah dan
akar, membakar bahan organik serta mengurangi benih-benih (Oliver & Larson, 1990;
Kimmins, 2004). Vegetasi rawa biasanya beregenerasi dengan stolon atau , namun organ
ini sangat sensitif terhadap panas yang dihasilkan oleh kebakaran. Chandler (dalam
Darwiati dan Tuheteru, 2010) meneliti bahwa jenis-jenis rawa mati saat musim kering,
karena akar yang berada di dekat permukaan tanah mati. Lain halnya pada kejadian
kebakaran permukaan (surface fire) dapat mematikan vegetasi pada berbagai intensitas
kebakaran yang berbeda dan tergantung pada jenis vegetasi (Oliver & Larson, 1990).
Kebakaran tajuk (crown fire) secara umum membakar atau merusak tajuk, daun dan
cabang/ranting pohon di atas lantai hutan. Kadang-kadang vegetasi di lantai hutan dan
serasah tidak dapat terbakar pada saat terjadinya kebakaran tajuk (Oliver & Larson, 1990;
Kimmins, 2004).
Tipe kebakaran dan kerusakan yang terjadi sangat tergantung dari jumlah, kondisi
dan penyebaran bahan bakar, kondisi cuaca, topografi, dan lain-lain. menurut FWI (dalam
Pramesti dkk, 2017) Kebakaran hutan dan lahan merupakan salah satu peristiwa
yang menjadi perhatian masyarakat nasional maupun internasional. Berdasarkan
Peraturan Menteri Kehutanan Nomor : P.12/Menhut - II/2009, Kebakaran hutan dan
lahan adalah salah satu masalah lingkungan utama yang menyebabkan permasalahan
pada perekonomian, ekologi dan sosial. Kebakaran hutan/lahan sering terjadi akibat
penggunaan api dalam pembukaan hutan/lahan untuk difungsikan sebagai
Hutan Tanaman Industri (HTI), perkebunan kelapa sawit, pertanian serta pembalakan
liar. Namun, kebakaran hutan juga bisa terjadi karena faktor alam misalnya karena
aktivitas gunung berapi dan petir. Ada juga faktor lain yaitu sebab-sebab yang tidak atau
belum diketahui secara pasti.
Pada praktikum kali ini dilakukan percobaan mengenai perpindahan panas, peranan
oksigen dalam segitiga api, dan komponen segitiga api. Percobaan pertama mengenai
perpindahan panas. Panas atau kalor adalah energi yang berpindah akibat perbedaan suhu.
Satuan SI untuk panas adalah juole. Panas bergerak dari daerah bersuhu tinggi ke daerah
bersuhu rendah. Setiap benda memiliki energi dalam yang berhubungan dengan gerak
acak dari atom-atom atau molekul penyusunnya. Energi dalam ini berbanding lurus
terhadap suhu benda. Ketika dua benda dengan suhu berbeda bergandengan, mereka akan
bertukar energi internal sampai suhu kedua benda tersebut seimbang. Jumlah energi yang
disalurkan adalah jumlah energi yang tertukar (Purwadi, 2001).
Menurut Yunus (dalam Supu dkk, 2016) perpindahan panas dapat di definisikan
sebagai berpindahnya energi dari satu daerah ke daerah lainnya sebagai akibat dari beda
suhu antara daerah-daerah tersebut dari temperatur fluida yang lebih tinggi ke fluida lain
yang memiliki temperatur lebih rendah. Perpindahan panas pada umumnya dibedakan
menjadi tiga cara perpindahan panas yang berbeda yaitu konduksi (conduction; juga
dikenal dengan istilah hantaran), radiasi (radiation; juga dikenal dengan istilah pancaran),
dan konveksi (convection; juga dikenal dengan istilah aliran). Konduksi adalah
perpindahan panas melalui zat padat yang tidak ikut mengalami perpindahan. Artinya,
perpindahan kalor pada suatu zat tersebut tidak disertai dengan perpindahan partikel-
partikelnya. Konveksi adalah perpindahan panas melalui aliran yang zat perantaranya ikut
berpindah. Jika partikel berpindah dan mengakibatkan kalor merambat, terjadilah
konveksi. Konveksi terjadi pada zat cair dan gas (udara/angin). Perpindahan kalor tanpa
zat perantara disebut radiasi. Radiasi adalah perpindahan panas tanpa zat
perantara. Radiasi biasanya disertai cahaya.
Untuk uji pemindahan panas dilakukan dengan cara menyalakan lampu semprong
dan mengamati atau merasakan perpindahan panas pada titik A (di ujung bawah), titik B
(pada batang tengah kaca), dan titik C (di ujung atas). Untuk data hasil pengamatan dan
pengujian dapat dilihat pada tabel di bawah ini:
Tabel 1. Hasil Pengamatan Perpindahan Panas
No. Titik pengamatan Jenis perpindahan panas Keterangan waktu (detik)
1 Ujung bawah Radiasi 36
2 Tengah Konduksi 8
3 Ujung atas Konveksi 5
Berdasarkan data yang terdapat pada tabel 1. Dapat diketahui bahwa perpindahan
panas tercepat adalah secara konveksi, yaitu 5 detik diikuti oleh perpindahan panas
secara konduksi, yaitu 8 detik, dan terkhir secara radiasi, yaitu 36 detik. Dari data
tersebut dapat diketahui bahwa perpindahan panas paling cepat terjadi secara konveksi,
yaitu perpindahan panas pada zat gas atau cair disertai perpindahan partikel zatnya.
Perpindahan panas secara konveksi memerlukan waktu yang paling cepat karena uji coba
dilakukan pada ujung atas lampu semprong yang bagian atasnya terbuka. Gas dari hasil
pembakaran (api) naik ke atas, bergerak bersamaan dengan panas tanpa ada halangan dari
lampu semprong. Sedangkan perpindahan panas yang membutuhkan waktu paling lama
adalah perpindahan panas secara radiasi. Pada percobaan ini dilakukan pada bagian
bawah lampu semprong. Tangan hanya didekatkan di sekitar lampu semprong dan
terhalang oleh kaca sebagai pembatas antara api dengan udara luar. Penghalang itulah
yang menyebabkan perpindahan panas lambat dirasakan oleh indera. Sedangkan secara
konduksi, perpindahan panas tidak terjadi secara cepat atau pun lambat. Percobaan
dilakukan dengan menyalakan api pada saat kaca pembatas dalam keadaan suhu netral
(tidak panas). Kemudian tangan diletakkan pada bagian tengah lampu semprong dan
dibiarkan panas berpindah secara konduksi atau melalui perantara benda padat.
Percobaan kedua adalah peranan oksigen dalam konsep segitiga api (percobaan
lamanya nyala api). Alat dah bahan yang digunakan berupa gelas dengan berbagai ukuran,
lilin, korek api, dan stopwatch. Berikut data yang diperoleh berdasarkan percobaan yang
telah dilakukan.
Tabel 2. Hasil Pengamatan Ukuran Gelas dengan Lamanya Penyalaan Lilin
Lamanya penyalaan lilin (detik)
No. Ukuran gelas (ml)
Ulangan 1 Ulangan 2 Ulangan 3 Rata-rata
1 200 2,24 2,73 2,70 2,56
2 300 10,92 9,99 8,45 9,79
3 500 12,06 10,24 11,74 11,35
Grafik 1. Hubungan antara Ukuran Gelas dengan Lamanya Penyalaan Lilin
Berdasarkan hasil percobaan yang telah dilakukan, dapat diketahui pada
perlakuan gelas berukuran 200 ml diperoleh rerata nyala api pada 3 kali pengulangan
api yaitu 2,56 detik, pada gelas berukuran 300 ml diperoleh rerata nyala api pada 3 kali
pengulangan yaitu 9,79 detik, dan pada gelas berukuran 500 ml diperoleh rerata nyala
api pada 3 kali pengulangan yaitu 11,35 [Link] dilihat bahwa grafik hubungan
antara ukuran gelas dengan lamanya penyalaan lilin berbanding lurus. Di mana, waktu
yang dibutuhkan lilin untuk padam semakin lama dengan semakin besarnya ruang pada
gelas. Hal ini berhubungan dengan kadar oksigen yang terdapat di ruang masing-masing
ukuran gelas. Seperti yang telah diketahui, oksigen merupakan komponen segitiga api
pemicu timbulnya api. Bila salah satu saja komponen tidak terpenuhi, maka tidak akan
dijumpai nyala api. Oksigen merupakan salah satu unsur yang ada di dalam udara. Api
membutuhkan oksigen untuk tetap menyala. Udara ambien terbentuk dari sekitar 21%
oksigen. Sedangkan terjadinya kebakaran membutuhkan setidaknya 16% kadar
oksigen. Peran oksigen dalam peristwa timbulnya api adalah sebagai agen
pengoksidasi dalam reaksi kimia. Ketika bahan bakar terbakar, bahan bakar tersebut
kemudian bereaksi dengan oksigen untuk melepaskan panas dan menghasilkan
pembakaran. Oleh sebab itulah, semakin besar ruang yang melingkupi api, semakin lama
pula api tersebut menyala karena kandungan oksigen yang menempati runag semakin
banyak jumlahnya dan proses oksidasi terus berjalan yang menyebabkan api sulit padam.
Percobaan terakhir yang dilakukan adalah percobaan komponen segitiga api
dengan pembakaran seresah. Telah disebutkan sebelumnya bahwa komponen segituga
api adalah oksigen, bahan bakar, dan panas. Menurut Groqvist, Jurvelis (dalam
Valmando dkk, 2019) ukuran sumber bahan bakar api dibagi menjadi dua yaitu bahan
bakar halus dan kasar. Bahan bakar halus terdiri dari ranting, daun, seresah dan
cabang-cabang kecil. Bahan bakar kasar terdiri dari poho-npohon hidup, log kayu,
batang-batang pohon yang sudah mati. Seresah menjadi bahan bakar utama hutan
karena jumlahnya yang banyakdan merupakan produk langsung dari pohon. Percobaan
pembakaran seresah dilakukan pada beberapa keadaan seresah, yaitu segar, basah, dan
kering. Pada masing-masing jenis dilakukan tiga kali pengulangan. Hasil pengamatan
yang telah dilakukan kemudian disajikan pada tabel sebagai berikut.
Tabel 3. Pengujian pembakaran beberapa jenis bahan serasah.
Durasi pengujian ke- Ukuran
(detik) Rata-rata Keterangan
No. Jenis serasah sampel
(detik) asap
(cm)
1 2 3
1 Segar 13,02 17,41 16,02 15,48 2x2 +++
2 Kering 6,87 6,97 6,87 6,90 2x2 ++
3 Kering basah 33,66 22,75 24,12 26,84 2x2 ++
Dari pengujian tersebut didapatkan hasil bahwa sampel daun segar lebih cepat
terbakar dengan rata-rata waktu terbakar 15,48 detik, lalu dilanjutkan dengan sampel
daun kering dengan rata-rata waktu terbakar 6,90 detik, kemudian sampel daun basah
dengan rata-rata waktu terbakar 26,84 detik. Hasil tersebut jelas memperlihatkan bahwa
pada keadaan kering seresah akan lebih cepat terbakar, sedangkan pada keadaan basah
yang sudah direndam air sebelumnya membutuhkan waktu paling lama untuk terbakar.
Dalam hal ini, kandungan air sangat mempengaruhi hasil yang diperoleh. Secara teori,
semakin tinggi kadar air bahan bakar, maka semakin banyak energi panas yang
diperlukan untuk dapat menguapkan air didalam bahan bakar untuk mencapai titik
bakar. Oleh karena itu, bahan bakar dengan dengan kadar air rendah akan lebih cepat
terbakar dibandingkan dengan kadar air yang tinggi (Adinugroho dkk, 2015). Pada
setiap percobaan dihasilkan asap yang menjadi hasil dari proses pembakaran. Asap
merupakan suspensi partikel kecil yang ada di udara dan berasal dari pembakaran yang
tidak sempurna dari sebuah bahan bakar. Ketika kandungan oksigen pada bahan bakar
terpenuhi, maka Ketika bahan bakar tersebutdibakar tidak akan menimbulkan asap.
V. KESIMPULAN
Berdasarkan praktikum kali ini dapat disimpulkan bahwa
1. Oksigen merupakan salah satu komponen dari segitiga api. Kadar oksigen yang
dibutuhkan untuk terbentuknya api adalah sebesar 16%. Oksigen tidak ikut terbakar
melainkan berperan sebagai agen pengoksidasi. Semakin besar jumlah oksigen maka
api akan semakin sulit dipadamkan.
2. Perpindahan panas adalah berpindahnya energi dari satu daerah ke daerah lainnya
karena perbedaan suhu antara daerah-daerah tersebut dari temperatur fluida lebih
tinggi ke fluida lain yang memiliki temperatur lebih rendah. Perpindahan panas dapat
terjadi secara konduksi (hantaran) tanpa disertai perpindahan partikel zat, konveksi
(aliran) terjadi pada zat gas dan air disertai perpindahan partikel zat, dan radiasi
(pancaran) tanpa perantara.
3. Segitiga api adalah bangun dua dimensi yang pada setiap sisinya mengandung
komponen terjadinya api. Komponen tersebut adalah oksigen, bahan bakar, dan
panas. Apabila salah satu komponen tidak terpenuhi, maka api tidak akan terjadi.
Sumber oksigen adalah dari udara, dan merupakan komponen yang selalu tersedia.
Sumber panas diperlukan untuk mencapai suhu penyalaan sehingga dapat
mendukung terjadinya kebakaran. Sumber panas bisa berasal dari panas matahari,
petir, gesekan, dan lainnya. Bahan bakar merupakan semua benda yang dapat
mendukung terjadinya pembakaran. Bahan bakar bisa berasal dari seresah, bahan
organik, semak belukar, humus, dan lainnya. Ketiga komponen tersebut saling
melengkapi untuk dapat menciptakan rantai segitiga api. Jika salah satunya tidak
ada, maka tidak akan ada kejadian kebakaran di suatu wilayah.
VI. DAFTAR PUSTAKA
Adinugroho, W. C., I N. N. Suryadiputra, B. H Saharjo dan L. Sibor. 2005. Panduan
Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan Gambut. Wetland International-IP
Katalog dalam Terbitan (KDT). Bogor.
Darwiati, W., & Tuheteru, F. D. 2010. Dampak kebakaran hutan terhadap pertumbuhan
vegetasi. Tekno Hutan Tanaman, 3(1), 27-32.
Jati, S. W. K. 2018. Hubungan Pengetahuan dengan Perilaku Penggunaan Alat
Pemadam Api Ringan (APAR) pada Karyawan di PT. Dwisembada
Karya (Doctoral dissertation, Universitas Binawan).
Kimmins, J.P. 2004. Forest Ecology, a Foundation for Sustainable Forest Management
and Environmental Ethics Forestry. New Jersey. Prentice Hall.
Oliver, CD and Larson, B.C. 1990. Forest Stand Dynamics. New York. McGraw-Hill,
Inc.
Pramesti, D. F., Furqon, M. T., & Dewi, C. 2017. Implementasi Metode K-Medoids
Clustering Untuk Pengelompokan Data Potensi Kebakaran Hutan/Lahan
Berdasarkan Persebaran Titik Panas (Hotspot). Jurnal Pengembangan Teknologi
Informasi dan Ilmu Komputer e-ISSN, 2548, 964.
Purwadi, P K. 2001. Metode ADI dalam Penyelesaian Persoalan Perpindahan Panas
Konduksi Benda Padat Tiga Dimensi Keadaan Tunak. Yogyakarta. Universitas
Sananta Dharma
Saharjo BH. 2003. Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan yang Lestari Perlukah
Dilakukan. Bogor (ID). Institut Pertanian Bogor.
Supu, I., Usman, B., Basri, S., & Sunarmi, S. 2016. Pengaruh Suhu Terhadap
Perpindahan Panas Pada Material Yang Berbeda. Dinamika, 7(1), 62-73.
Valmando, V. R., Hardiansyah, G., & Manurung, T. F. 2019. Studi Keselamatan dan
Kesehatan Kerja dalam Menggunakan Teknologi Nyapar untuk Penanggulangan
Kebakaran Hutan dan Lahan. Jurnal Hutan Lestari, 7(1).
VII. LAMPIRAN
Gambar 2. Mindmap kebakaran hutan