0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan5 halaman

Arsitektur Nusantara dan Iklim

Dokumen tersebut merupakan resume seminar yang membahas tentang tantangan perubahan iklim dan adaptasi arsitektur tradisional dan modern. Seminar ini membahas perbedaan iklim antara Indonesia dengan Eropa, adaptasi arsitektur Nusantara sebelum abad ke-19 untuk menghadapi iklim tropis, serta pentingnya komunitas dalam menghadapi dampak perubahan iklim.

Diunggah oleh

Supriyanto h Rahman
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan5 halaman

Arsitektur Nusantara dan Iklim

Dokumen tersebut merupakan resume seminar yang membahas tentang tantangan perubahan iklim dan adaptasi arsitektur tradisional dan modern. Seminar ini membahas perbedaan iklim antara Indonesia dengan Eropa, adaptasi arsitektur Nusantara sebelum abad ke-19 untuk menghadapi iklim tropis, serta pentingnya komunitas dalam menghadapi dampak perubahan iklim.

Diunggah oleh

Supriyanto h Rahman
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

RESUME

Seminar tradisional dan modern dalam menjawab tantangan perubahan iklim

DOSEN: [Link] asriyani ST MT

DISUSUN OLEH:

NAMA: SUPRIYANTO H. RAHMAN

NPM: 07262111060

FAKULTAS TEKNIK

PROGRAM STUDI ARSITEKTUR

UNIVERSITAS KHAIRUN TERNATE 2022


Bermukiman di dua musim

Pembawa materi yang bernama Prof. Dr. josef prijotomo

Seberapa besar nusantara itu? Tentunya semua orang pasti tau dimanakah nusantara itu saya
mengatakan nusantara itu karena yang mau saya ceritakan itu bukan Indonesia tetapi sebelum
Indonesia tempatnya tidak berubah dari dulu sampai sekarang, diujung asia tenggara ini,
semenjak 1945 di namakan Indonesia sebelum 1945 namanya hindia belanda.

Kalau kita menyaksikan Indonesia hari ini diujung tengara ini, ternyata Indonesia kita itu
longer than the mainland of USA. Bahkan dengan benuah eropa dikurangi rusia kita itu lebih
besar daripada benuah eropa.

dua peta ini semenjak 2016 membuat saya berbalik pikiran, alam. Kita tidak terblakan, kita
tidak lebih rendah, kita tidak lebih bodoh daripada amerika dan eropa. Kita ini bangsa besar
dan karena itu suda tidak pada tempatnya kalau mau merendahkan diri lagi kita bukan bangsa
tempe.

Hari ini kita suda di 20 presidensinya berada di kita, nah kebesaran kita ini menunjukan kita
juga hal yang lain, kita memang lebih besar dan sekaligus tidak sama dengan eropa dan tidak
sama denga amerika. Ini sederetan indikator yang membedakan Indonesia dari eropa kalua
sebelum 1800-san yang membedakan nusantara dari eropa.

Kita memang beda sampai dengan 15 pun kita belum kontak dengan amerika, jadi Indonesia
itu negara eropa itu benuah, Indonesia 2 musim sedangkan eropa 4 musim. Indonesia lautan
dan mereka daratan, kita rawan gempa, mereka tanpa gempa,kita berkolom mereka tanpa
kolom dan konstruksi, kita kontruksi goyang, mereka konstruksi statik. Memang berbeda dan
arsitektur juga berbeda. Tetapi perbedaan itu jangan kemudian di perberat lagi denga
perbedaan yang lain, yang selama ini masih banyak kita punya yakni arsitektur tradisional
dan arsitektur nusantara.

Di manasih perbedaan tradisional dan nusantara ini,? gampang!

(Foto)

Living house itu arsitektur tradisional, analyzing architecture itu arsitektur nusantara nyaris
nggak ngomong kebudayaan karena arsitektur tradisional itu ilmu kebudayaan atau
antropologi/humaniora dan arsitektur nusantara itu ilmunya arsitektur.
Jadi menurut Prof. Dr. josef prijotomo. “beliau tidak bisa menerima kedaton jogja dan
kedaton solo itu dikatakan vernacular dan tradisional. Sebab di dalam ilmu arsitektur yang
namanya bangunan-bangunan kayu itu bukan arsitektur lihatlah Nicolaus pester hanya
bangunan batu itu yang di sebut arsitektur,yang bangunan kayu itu building.”

Kita di rendahkan arsitektur kita, ingat kita itu di rendahkan. Nah untuk itu mari kita coba
memahami iklim dan arsitektur nusantara

(Foto)

Arsitektur sebelum 1800 arsitektur belum kontak dengan eropa

Arsitektur yang setara dengan arsitektur eropa haruskah disebut arsitektur Vitruvian?

Menggenapi dan mengoreksi arsitektur tradisional tentang iklim

Iklim 2 musim dan 4 musim yang berbeda, fauna-flora dan geografinya juga berbeda.

Dengan kemajuan teknologi, perbedaan itu suda menjadi ditiadakan.

(Foto)

Ini gambar luar biasa karena di gambar bukan oleh arsitek, tapi satu hal yang sangat tidak
bisa dan tidak boleh kita sampingkan adalah sebelum 1800 arsitektur kita itu adalah
bangunan berkolong,

Beginilah eropa abad 18-19 memahami daera tropic:

 Tak punya musim dingin tak perlu berlindung terhadap cuaca/iklim


 Tidak berpakaiaan dan beralas kaki yang beda
 Tidak memakai piring,sendok,garpu (piring adalah daun pisang/jati; makan dengan
tangan)
 Memiliki kegiatan beburu untuk makanan, (dari flora dapat dihasilkan makanan
harian dan obat/jamu).
 Kurang memahami matahari utara selatan,
 Terlalu vokus pada matahari timur barat
Empat musim tak soal dengan matahari utara selatan karena tak perna ada matahari
utara; karena itu focus adalah pada matahari timur,selatan,barat.
 Tidak mengetahui potensi bayangan dan ruang bayang bayang.
Arsitektur nusantara: pernaungan sebelum 1800

Tantangan iklim/ cuaca di atasi cukup dengan paying/daun pisang/daunt alas

 Ditingkatkan ke dalam bangunan, cukup dengan atap penaung/peneduh


 Ditingkatkan menjadi bangunan berjejer, mengarah utara selatan.
 Menghadapi kelembaban dan beceknya tanah,maka di buat bangunan panggung.
Disini kita bisa menantang teori semper tentang asal usul arsitektur.
 Terang matahari dan bayangan matahari dioptimalkan pemanfaatanya dengan
kegiatan siang di luar bangunan: hindari yang silau dan nikmati yang temaram
 Dapur di luar, tempat menenun dan berkerajinan di kolong/emper
 Didalam bangunan tempat menyimpan (tidur malam)
 Naluri sosialisasi tinggi karena setiap saat bias saling bertandang, gotong royong,
seragam dalam sosok umum bangunan.
 Penghargaan pada pribadi dengan tektonika dan ornamentasi
 Merancang tidak dari denah ruangan melaikan dari luasan atap atau luasan kolong
(penaung dan ternaung).
Hunian dan lingkungan :

Adaptasi berbasis komunitas terhadap perubahan iklim

[Link]. samsu Hendra siwi, M. Hum

Kita sering di paparkan berita berita tv, media kompas dan lain sebagainya tentang cairnya
lapisan es terakhir kutuk utara karena perubahan iklim bahkan berita terahir ini ada gunung es
yang runtuh,

Sepertinya posisi kita yang ada di Indonesia ini sangat jauh dari kutuk utara yang danpak
yang di rasakan langsung itu sepertinya tidak terasa bahkan berita ini seakan di abaikan

Namun sesunggunya pristiwa ini itu akan akan berdampak pada seluruh kehidupan di dunia

Anda mungkin juga menyukai