0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
8 tayangan22 halaman

Kinerja Kepala Sekolah SMKN 2 Depok

Dokumen membahas latar belakang SMKN 2 Depok sebagai sekolah rintisan internasional dan upaya peningkatan kualitas pendidikan melalui profesionalisme guru dan pengelolaan sarana prasarana. Dibahas pula pencapaian lulusan dan peran kepala sekolah dalam mengelola sumber daya. Berdasarkan hal tersebut, rumusan masalah meliputi penilaian kinerja kepala sekolah dari berbagai aspek berdasarkan pandangan guru dan sis

Diunggah oleh

Asril Chaidir
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
8 tayangan22 halaman

Kinerja Kepala Sekolah SMKN 2 Depok

Dokumen membahas latar belakang SMKN 2 Depok sebagai sekolah rintisan internasional dan upaya peningkatan kualitas pendidikan melalui profesionalisme guru dan pengelolaan sarana prasarana. Dibahas pula pencapaian lulusan dan peran kepala sekolah dalam mengelola sumber daya. Berdasarkan hal tersebut, rumusan masalah meliputi penilaian kinerja kepala sekolah dari berbagai aspek berdasarkan pandangan guru dan sis

Diunggah oleh

Asril Chaidir
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Sekolah Menengah Kejuruan Negeri (SMKN) 2 Depok merupakan salah

satu SMK yang pada tahun 2009 telah ditetapkan oleh pemerintah melalui

Keputusan Direktur Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan Direktorat Jenderal

Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah Departemen Pendidikan Nasional

No. 4294/C5.3/KEP/KU/2009 sebagai Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional

(RSBI). Visi SMKN 2 Depok adalah terwujudnya sekolah bertaraf internasional

penghasil sumberdaya manusia yang kompeten. Sedangkan misi yang ingin

diwujudkan SMKN 2 Depok adalah: 1) Melaksanakan dan mengembangkan

manajemen mutu yang mengacu pada sistem manajemen mutu ISO 9001:2008; 2)

Mengembangkan dan melaksakan proses pendidikan dan pelatihan dengan

pendekatan kurikulum SMKN 2 Depok; 3) Menyediakan dan mengembangkan

sarana dan prasarana sesuai dengan tuntutan kurikulum; 4) Melaksanakan proses

pendidikan dan pelatihan untuk menghasilkan sumberdaya manusia yang

berkompetensi internasional dan memiliki jiwa kewirausahaan; 5)

Menyelenggarakan dan mengembangkan berbagai program unggulan; 6)

Melaksanakan dan meningkatkan bimbingan konseling dan karier peserta didik; 7)

Melaksanakan dan mengembangkan kegiatan ekstrakurikuler sebagai sarana

pengembangan bakat, minat, prestasi dan budi pekerti peserta didik; 8)

Melaksanakan dan meningkatkan ketertiban peserta didik; 9) Membangun dan

mengembangkan jaringan komunikasi dan kerja sama dengan pihak-pihak terkait


(stakeholder) baik nasional maupun internasional; dan 10) Melaksanakan dan

meningkatkan kualitas pendidik dan tenaga kependidikan yang professional.

Tentunya dalam usaha mewujudkan visi dan misi SMKN 2 Depok tidak

terlepas dari bagaimana kepala sekolah mengelola sekolah tersebut serta

bagaimana proses belajar mengajar berlangsung. Dalam upaya peningkatan

kualitas pendidikan di SMKN 2 Depok tentunya kualitas dan profesionalisme

tenaga pendidik dan tenaga kependidikan merupakan komponen penentu. SMKN

2 Depok memiliki total 164 orang tenaga pendidik dan 49 orang tenaga

kependidikan. Dari 164 orang guru yang dimiliki SMKN 2 Depok, 124 orang

diantaranya telah lolos sertifikasi dan 40 orang sisanya masih dalam daftar tunggu

uji kompetensi awal. Guru yang belum lolos sertifikasi tersebut mayoritas adalah

guru muda yang pengalaman mengajarnya masih kurang dan guru yang masih

belum memenuhi syarat administrasi maupun syarat-syarat lainnya. Adanya guru

yang belum lulus sertifikasi ini mengindikasikan kurangnya profesionalisme guru

dalam menjalankan perannya sebagai pengajar.

Pada era globalisasi dan teknologi seperti sekarang seorang guru dituntut

untuk lebih professional dan dapat menggunakan teknologi sebagai media

pembelajaran. Penguasaan guru dalam materi dan teknologi juga berpengaruh

dengan kualitas lulusan yang dihasilkan sekolah. Dengan pemanfaatan teknologi

sebagai media pembelajaran berarti guru juga mengajarkan pada siswa untuk lebih

mengenal dan mampu memanfaatkan teknologi dengan baik dalam rangka

meningkatkan pengetahuan.
Pencapaian keberhasilan pendidikan di SMK tentunya dilihat dari seberapa

besar lulusan SMK yang diterima di perusahaan dan memenuhi kualifikasi

perusahaan. Siswa SMKN 2 Depok menempuh jenjang pendidikan selama empat

tahun dan pada tahun keempat para siswa melaksanakan Praktik Kerja Lapangan

(PKL) di perusahaan-perusahaan rekanan yang bekerja sama dengan SMKN 2

Depok. Dari data yang diperoleh dari Balai Kerja Khusus (BKK) SMKN 2 Depok

dapat dilihat jumlah lulusan yang telah bekerja maupun yang melanjutkan ke

jenjang pendidikan yang lebih tinggi sebagai berikut:

Tabel 1. Penelusuran Lulusan SMKN 2 Depok


TAHUN JUMLAH JUMLAH LULUSAN
PELAJARAN LULUSAN BEKERJA MELANJUTKAN LAIN-LAIN
2008/2009 370 332 31 7
2009/2010 369 320 27 22
2010/2011 370 353 17 -
Sumber: BKK SMK Negeri 2 Depok.

Jumlah lulusan dalam tabel di atas merupakan jumlah siswa yang lulus

ujian nasional. Dari data yang diperoleh pada tahun pelajaran 2008/2009,

2009/2010 dan 2010/2011 siswa SMKN 2 Depok lulus 100 % dengan nilai rata-

rata untuk mata pelajaran Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris dan Matematika

diatas 7,50. Meskipun SMKN 2 Depok memiliki lahan yang luas dan memiliki

kelas untuk pelajaran teori sebanyak 30 kelas selain bengkel dan laboratorium,

tetapi di beberapa jurusan proses belajar mengajar teori mata pelajaran produktif

dilaksanakan di bengkel dengan membuat bangunan tambahan di atas gudang

penyimpanan peralatan dan bahan yang diubah menjadi kelas. Selain adanya kelas

tambahan yang kurang layak belum adanya e-library atau perpustakaan elektronik

juga mempengaruhi minat baca siswa. Untuk mengatasi masalah inilah


pengelolaan sarana dan prasarana sekolah dibutuhkan, bagaimana caranya

memanfaatkan lahan yang ada dengan maksimal dan melengkapinya dengan

sarana-sarana penunjang sehingga proses belajar mengajar bisa lebih maksimal.

Keberhasilan sebuah sekolah tentunya tidak lepas dari adanya peran kepala

sekolah dalam upaya memajukan dan mencapai keberhasilan sebuah sekolah,

maka bagaimana kinerja kepala sekolah dalam mengelola sumber daya yang

dimiliki juga menarik untuk diteliti. Untuk itu penelitian ini dilakukan dan diberi

judul: “Kinerja Kepala Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 2 Depok Sleman

Yogyakarta”.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan pada latar belakang masalah di atas, maka penulis

merumuskan permasalahan dalam penelitian ini sebagai berikut:

1. Bagaimana kinerja kepalasekolah dilihat dari aspek kepribadian berdasarkan

pendapat guru dan siswa SMKN 2 Depok?

2. Bagaimana kinerja kepalasekolah dilihat dari aspek sosial berdasarkan

pendapat guru dan siswa SMKN 2 Depok?

3. Bagaimana kinerja kepala sekolah dalam pemberdayaan guru sebagai upaya

meningkatkan kualitas pendidikan berdasarkan pendapat guru dan siswa

SMKN 2 Depok?

4. Bagaimana kinerja kepala sekolah dalam pemberdayaan siswa sebagai upaya

meningkatkan kualitas lulusan berdasarkan pendapat guru dan siswa SMKN 2

Depok?
5. Bagaimana kinerja kepala sekolah dalam pengelolaan sarana dan prasarana

penunjang proses pembelajaran sebagai upaya meningkatkan kualitas

pendidikan berdasarkan pendapat guru dan siswa SMKN 2 Depok?

6. Bagaimana kinerja kepala sekolah dalam melaksanakan supervisi berdasarkan

pendapat guru dan siswa SMKN 2 Depok?


BAB II
KAJIAN PUSTAKA

A. Kajian Pustaka
1. Pengertian Kinerja

Bastian (2001:329) menyatakan bahwa, kinerja adalah gambaran

mengenai tingkat pencapaian pelaksanaan suatu kegiatan/ program/ kebijaksanaan

dalam mewujudkan sasaran, tujuan, misi, dan visi organisasi yang tertuang dalam

perumusan skema strategis suatu organisasi. Anwar Prabu Mangkunegara (2000 :

67) berpendapat bahwa, kinerja (prestasi kerja) adalah hasil kerja secara kualitas

dan kuantitas yang dicapai oleh seseorang dalam melaksanakan tugasnya sesuai

dengan tanggung jawab yang diberikan kepadanya.

2. Indikator Kinerja

Indikator kinerja mengacu pada penilaian kinerja secara tidak lansung

yaitu hal-hal yang sifatnya hanya merupakan indikasi-indikasi kinerja. Ukuran

kinerja mengacu pada penilaian kinerja secara langsung. Indikator kinerja dan

ukuran kinerja ini sangat dibutuhkan untuk menilai tingkat ketercapaian tujuan

sasaran dan strategi. Indikator Kinerja adalah ukuran kuantitatif dan kualitatif

yang menggambarkan tingkat pencapaian suatu kegiatan yang telah ditetapkan.

Indikator kinerja kegiatan yang akan ditetapkan dikategorikan ke dalam

kelompok:

a. Masukan (inputs), adalah segala sesuatu yang dibutuhkan agar pelaksanaan

kegiatan dan proram dapat berjalan atau dalam rangka menghasilkan output,

misalnya sumber daya manusia, dana, material, waktu, teknologi dan

sebagainya.
b. Keluaran (outputs), adalah segala sesuatu berupa produk /jasa (fisik dan/atau

non fisik) sebagai hasil langsung dari pelaksanaan suatu kegiatan dan program

berdasarkan masukan yang digunakan.

c. Hasil (outcomes), adalah segala sesuatu yang mencerminkan berfungsinya

keluaran kegiatan pada jangka menengah. Outcomes merupakan ukuran

seberapa jauh setiap produk/jasa dapat memenuhi keutuhan dan harapan

masyarakat

d. Manfaat (benefits) adalah kegunaan suatu keluaran (outputs) yang dirasakan

langsung oleh masyarakat. Dapat berupa tersedianya fasilitas yang dapat

diakses oleh publik.;

e. Dampak (impacts), adalah ukuran tingkat pengaruh sosial, ekonomi,

lingkungan atau kepentingan umum lainnya yang dimulai oleh capaian kinerja

setiap indikator dalam suatu kegiatan. Indikator-indikator tersebut secara

langsung atau tidak langsung dapat mengindikasikan sejauh mana

keberhasilan pencapaian sasaran.

3. Kompetensi kepala sekolah

Seorang kepala sekolah harus memiliki beberapa kompetensi yang terdiri

dari kompetensi kepribadian, kompetensi manajerial, kompetensi kewirausahaan,

kompetensi supervisi dan kompetensi social, kompetensi-kompetensi tersebut

adalah sebagai berikut:

Tabel 2. Kompetensi Kepala Sekolah


NO Kompetensi Indikator
1. Kepribadian a. Berakhlak mulia, mengembangkan budaya dan tradisi akhlak
mulia, dan menjadi teladan akhlak mulia bagi komunitas sekolah.
b. Memiliki integritas kepribadian sebagai pemimpin.
c. Memiliki keinginan yang kuat dalam pengembangan diri sebagai
NO Kompetensi Indikator
kepala sekolah.
d. Bersikap terbuka dalam melaksanakan tugas pokok dan
fungsinya.
e. Mengendalikan diri dalam menghadapi masalah dalam pekerjaan
sebagai kepala sekolah/ madrasah.
f. Memiliki bakat dan minat jabatan sebagai pemimpin pendidikan.
2. Sosial a. Bekerja sama dengan pihak lain untuk kepentingan sekolah/
madrasah.
b. Berpartisipasi dalam kegiatan sosial kemasyarakatan.
c. Memiliki kepekaan sosial terhadap orang atau kelompok lain.
3. Manajerial a. Menyusun perencanaan sekolah/ madrasah untuk berbagai
tingkatan perencanaan.
b. Mengembangkan organisasi sekolah/ madrasah sesuai dengan
kebutuhan.
c. Memimpin sekolah/ madrasah dalam rangka pendayagunaan
sumber daya sekolah/ madrasah secara optimal.
d. Mengelola perubahan dan pengembangan sekolah/ madrasah
menuju organisasi pembelajar yang efektif.
e. Menciptakan budaya dan iklim sekolah/ madrasah yang kondusif
dan inovatif bagi pembelajaran peserta didik.
f. Mengelola guru dan staff dalam rangka pendayagunaan sumber
daya manusia secara optimal.
g. Mengelola sarana dan prasarana sekolah/ madrasah dalam rangka
pendayagunaan secara optimal.
h. Mengelola hubungan sekolah/ madrasah dan masyarakat dalam
rangka pencarian dukungan ide, sumber belajar, dan pembiayaan
sekolah/ madrasah.
i. Mengelola peserta didik dalam rangka penerimaan peserta didik
baru dan penempatan dan pengembangan kapasitas peserta didik.
j. Mengelola pengembangan kurikulum dan kegiatan pembelajaran
sesuai dengan arah dan tujuan pendidikan nasional.
k. Mengelola sistem informasi sekolah/ madrasah dalam
mendukung penyusunan program dan pengambilan keputusan.
l. Memanfaatkan kemajuan teknologi informasi bagi peningkatan
pembelajaran dan manajemen sekolah/ madrasah.
m. Melakukan monitoring, evaluasi, dan pelaporan pelaksanaan
program kegiatan sekolah/ madrasah dengan prosedur yang tepat,
serta merencanakan tindak lanjutnya.
4. Supervisi a. Merencanakan program supervisi akademik dalam rangka
peningkatan profesionalisme guru.
b. Melaksanakan supervisi akademik terhadap guru dengan
menggunakan pendekatan dan teknik supervisi yang tepat.
c. Menindaklanjuti hasil supervisi akademik terhadap guru dalam
rangka peningkatan profesionalisme guru.
. Sumber: PERMENDIKNAS tahun 2007.
B. Kerangka Berfikir

Kegiatan manajerial kepala sekolah meliputi pengelolaan guru,

pengelolaan siswa, dan pengelolaan sarana-prasarana sekolah. Ketiga hal tersebut

merupakan faktor penting keberlangsungan sebuah sekolah. Apabila terdapat

salah satu dari faktor tersebut tidak dikelola dengan baik maka akan

mempengaruhi kinerja sekolah. Untuk itu seorang kepala sekolah dituntut untuk

bisa mengatur dan mengelola faktor-faktor tersebut sehingga kualitas pendidikan

di sekolah tersebut menjadi lebih baik. Selain dari aspek manajerial yang meliputi

pengelolaan guru, pengelolaan siswa, serta pengelolaan sarana dan prasarana,

kepala sekolah juga dituntut untuk memiliki aspek kepribadian dan aspek sosial

yang baik dalam melaksanakan tugasnya, sehingga kinerja kepala sekolah menjadi

lebih baik. Dari penjelasan di atas dapat digambarkan kerangka berfikirnya

sebagai berikut:

Kepribadian

Sosial

Pemberdayaan
Guru Kinerja Kepala Sekolah

Pembinaan
Siswa

Pengelolaan
Sarpras

Gambar 1. Kerangka Berfikir


BAB III
METODE PENELITIAN

A. Populasi dan Sampel Penelitian

Populasi penelitian ini adalah kelas produktif di SMKN 2 [Link]

penelitian diambil dari siswa dan guru mata pelajaran produktif di SMKN 2

Depok. Penentuan jumlah sampel guru dilakukan secara proporsional di mana

populasi dianggap homogen dan sampel diambil secara proporsional. Pemilihan

sampel dalam penelitian ini diambil secara random sampling dengan cara diundi.

Dari perhitungan dengan bantuan tabel Isaac dan Michael sampel guru di peroleh

sebanyak 61 orang. Untuk siswa populasi diambil dari siswa kelas 11 sebanyak

448 siswa, kemudian dengan penentuan jumlah sampel secara proporsional

diambil sampel sejumlah 162 berdasarkan perhitungan penentuan jumlah sampel

dengan tabel Isaac dan Michael. Pemilihan sampel tiap kelas dilakukan dengan

random sampling, pemilihan subjek sampel pada masing-masing kelas dilakukan

dengan diundi.

B. Variabel Penelitian

Untuk mendapatkan informasi tentang kinerja Kepala SMKN 2 Depok

dalam melaksankan tugasnya mengelola sumber daya sekolah dalam usaha

meningkatkan kualitas pendidikan ditinjau dari aspek kepribadian kepala sekolah,

aspek sosial kepala sekolah, pemberdayaan guru, pemberdayaan siswa dan

pengelolaan sarana dan prasarana sekolah, maka variabel dalam penelitian ini

adalah kinerja Kepala SMKN 2 Depokdengan indikator penilaian diambil dari

aspek kepribadian, aspek sosial, aspek pemberdayaan guru, aspek pemberdayaan

siswa , aspek pengelolaan sarana dan prasaran, serta aspek supervisi. Tingkat
kinerja Kepala SMKN 2 Depok adalah skor kinerja yang diperoleh dari pendapat

guru mata pelajaran produktif dan siswa kelas 11 SMKN2 Depok.

C. Uji Instrumen

1. Uji Validitas

Uji validitas pada penelitian ini dilakukan dengan memeinta pendapat para

ahli dalam dan juga dengan program komputer SPSS versi 17. Berdasarkan

penilaian dari ahli dalam hal ini dosen jurusan Pendidikan Teknik Sipil dan

Perencanaan Universitas Negeri Yogyakarta angket yang telah disusun sudah

memiliki substansi yang cukup. Berdasarkan hasil uji validitas yang telah

dilakukan dengan menggunakan program SPSS dengan jumlah N guru = 61 dan

Nsiswa = 162; α = 0,05; rguru = 0,244 dan rsiswa = 0,148 maka untuk kedua instrumen

penelitian yang digunakan didapatkan hasil rhitung > rtabeluntuk seluruh butir soal,

sehingga seluruh butir instrumen dianggap valid dan dapat digunakan dalam

penelitian.

2. Uji Reliabilitas

Pada penelitian ini uji reliabilitas dilakukan dengan menggunakan program

komputer SPSS versi 17. Dari hasil pengujian dengan SPSS didapatkan hasil

sebagai berikut: untuk istrumen guru hasil perhitungan dengan program SPSS

didapatkan hasil sebesar 0,963 dan untuk instrument siswa didapat hasil sebesar

0,899 keduanya lebih besar dari standar minimal uji reliabilitas sebesar 0,7 dengan

demikian kedua instrumen inyatakan memiliki validitas dan reliabilitas sesuai

dengan kriteria yang telah ditentukan dan layak digunakan untuk penelitian

tentang kinerja Kepala SMKN 2 Depok.


BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian
1. Kinerja kepala sekolah berdasarkan pendapat guru
Kinerja Kepala Sekolah Berdasarkan Pendapat Guru

78.00
76.00
74.00 76.00 76.02 76.43
72.00 73.98
70.00
68.00
66.00 68.37
64.00 65.57
62.00
60.00
Kepribadian Sosial [Link] [Link] [Link] Supervisi

Gambar 1. Diagram Batang Kinerja Kepala SMKN 2 Depok Berdasarkan Pendapat Guru

2. Kinerja kepala sekolah berdasarkan pendapat siswa


Kinerja Kepala Sekolah Berdasarkan Pendapat Siswa
100.00

80.00 82.15
60.00 65.12 68.06 66.91 70.01
61.50

40.00

20.00

0.00 kepribadiansosial [Link] [Link] supervisi


Gambar 2. Diagram Batang Kinerja Kepala SMKN 2 Depok Berdasarkan Pendapat Guru

B. Pembahasan
1. Kinerja Kepala Sekolah dari Aspek Kepribadian.

Guru berpendapat bahwa dari aspek kepribadian, Kepala SMKN 2 Depok

mendapat persentase sebesar 76,00 % dengan adanya pencapaian tersebut, maka


kinerja kepala sekolah dari aspek kepribadian dinilai baik. Aspek kepribadian

yang dinilai meliputi: keterbukaan kepala sekolah terhadap guru baik dalam

pelaporan kegiatan sekolah; kemantapan kepala sekolah dalam berkata, bersikap

dan bertindak; keaktifan kepala sekolah dalam diklat maupun pelatihan

kepemimpinan, keberanian menentukan pilihan dan sikap dalam menghadapi

permasalahan; serta kedisiplinan kepala sekolah baik secara pribadi maupun

penerapan dilingkungan kerja. Kepribadian kepala sekolah berkaitan dengan cara

kepala sekolah dalam bersikap dan bertindak dilingkungan sekolah, sehingga

tercipta lingkungan kerja yang nyaman bagi para staff dan guru.

Siswa berpendapat bahwa dari aspek kepribadian, Kepala SMKN 2 Depok

mendapat persentase sebesar 65,12 %, hal ini berarti siswa berpendapat bahwa

Kepala SMKN 2 Depok memiliki kepribadian yang baik. Aspek kepribadian di

sini, meliputi: kesempatan siswa dalam mengajukan saran, kritik dan pertanyaan

kepada kepala sekolah; kemampuan kepala sekolah dalam mengendalikan diri;

kemantapan kepala sekolah dalam berkata, bersikap dan bertindak; serta

kedisiplinan kepala sekolah baik pribadi maupun di lingkungan sekolah.

2. Kinerja Kepala Sekolah dari Aspek Sosial.

Guru berpendapat bahwa dari aspek sosial, Kepala SMKN 2 Depok

mendapat persentase penilaian sebesar 76,02 %, hal ini menunjukkan bahwa dari

segi sosial Kepala SMKN 2 Depok memiliki jiwa sosial yang baik serta mampu

berkomunikasi dan menjalin kerjasama dengan pihak luar. Aspek sosial meliputi:

pemberian kesempatan bagi guru untuk menyampaikan kritik dan saran;

komunikasi kepala sekolah dengan guru; keaktifan kepala sekolah dalam kegiatan
kemasyarakatan; serta kerjasama dengan perguruan tinggi dan DU/ DI.

Komunikasi merupakan alat penghubung yang sangat penting bagi sebuah

komunitas.

Siswa berpendapat bahwa dari aspek kepribadian,Kepala SMKN 2 Depok

mendapat persentase penilaian sebesar 68,06 %, hal ini berarti siswa berpendapat

bahwa Kepala SMKN 2 Depok, memiliki aspek sosial yang baik. Aspek sosial

meliputi: pemberian kesempatan bagi guru untuk menyampaikan kritik dan saran;

komunikasi kepala sekolah dengan siswa; komunikasi guru dengan siswa; serta

kunjungan kepala sekolah disetiap kelas. dalam aspek sosial ini komunikasi antara

kepala sekolah dengan guru, kepala sekolah dengan siswa maupun komunikasi

guru dengan siswa sangat berperan penting dalam pembentukan kepribadian

siswa.

Kepala sekolah sebagai seorang pemimpin harus mampu mengenali

staffnya, sehingga dalam penentuan pejabat sekolah maupun penyusunan

organisasi sekolah dapat sesuai dengan minat, bakat dan kemampuan personal

yang ditunjuk. Adanya keterbukaan yang diterapkan di lingkungan sekolah serta

komunikasi yang baik antar penghuni sekolah dapat mewujudkan suasana sekolah

yang lebih nyaman tanpa mengurangi nilai-nilai kesopanan.

3. Kinerja Kepala Sekolah dari Aspek Pemberdayaan Guru

Guru berpendapat bahwa dari aspek pemberdayaan guru, Kepala SMKN 2

Depok mendapat persentase penilaian sebesar 68,37 %, hal ini dapat diartikan

bahwa Kepala SMKN 2 Depok dalam aspek pemberdayaan guru telah melakukan

tugasnya dengan baik. Aspek pemberdayaan guru, meliputi: bimbingan dalam


penyusunan RPP untuk guru; pemberian reward dan punishment terhadap guru;

bimbingan untuk peningkatan profesionalisme guru; pemberian pelatihan untuk

peningkatan profesionalisme guru; kejelasan struktur Sekolah dan kesesuaian

penempatan personal sesuai bidang keahlian; serta dorongan dan bimbingan

dalam penulisan karya tulis ilmiah. Salah satu upaya peningkatan profesionalisme

guru adalah dengan pemberian pelatihan dan bimbingan.

Siswa berpendapat bahwa dari aspek pemberdayaan guru, Kepala SMKN

2 Depok mendapat persentase penilaian sebesar 82,15 %, hal ini menunjukkan

bahwa pemberdayaan guru berjalan dengan sangat baik. Aspek pemberdayaan

guru berdasarkan pendapat siswa, meliputi: penguasaan materi ajar oleh guru,

penguasaan guru dalam pemanfaatan media pembelajaran, dan kemampuan guru

dalam pemanfaatan teknologi sebagai sarana pembelajaran. Penguasaan materi

ajar oleh guru tentunya sangat berperan penting bagi perkembangan pengetahuan

siswa. Apabila guru benar-benar menguasai materi yang diajarkan, ini

memungkinkan untuk siswa bertanya lebih jauh dan guru dapat mengetahui pola

pikir siswa, sehingga guru dapat memilih metode mengajar yang sesuai dengan

kebutuhan siswa. Kepala SMKN 2 Depok dinilai memiliki kinerja yang baik

dalam pemberdayaan guru berdasarkan pendapat guru dan siswa. Pemberdayaan

guru yang baik berpengaruh kepada peningkatan profesionalisme guru sehingga

dengan semakin profesionalnya seorang guru diharapkan nantinya lulusan dari

sekolah tersebut juga lebih berkualitas.


4. Kinerja Kepala Sekolah dari Aspek Pemberdayaan Siswa

Guru berpendapat bahwa dari aspek pemberdayaan siswa, Kepala SMKN

2 Depok mendapat persentase penilaian sebesar 73,89 %, hal ini menunjukkan

bahwa dari segi pemberdayaan siswa Kepala SMKN 2 Depok telah melaksanakan

tugasnya dengan baik. Aspek pemberdayaan siswa di sini meliputi: pembinaan

terhadap ekstra kurikuler; serta dorongan dan bimbingan dalam peningkatan

aktivitas, kreativitas dan pemahaman materi ajar siswa. Pada pelaksanaannya

pembinaan kegiatan ekstrakurikuler tidak langsung dilaksanakan oleh kepala

sekolah melainkan didelegasikan kepada guru yang memiliki minat, bakat dan

kemampuan pada bidang ekstrakurikuler tersebut, sehingga secara tidak kepala

sekolah memberikan kesempatan pada guru yang bersangkutan untuk

mengembangkan minat, bakat dan ketrampilannya sesuai dengan ekstrakurikuler

yang diampu.

Siswa berpendapat bahwa dari aspek pemberdayaan siswa, Kepala SMKN

2 Depok mendapat persentase penilaian sebesar 66,91 %, hal ini menunjukkan

bahwa dalam upaya pemberdayaan siswa berjalan dengan baik. Aspek

pemberdayaan siswa ini meliputi: pembinaan terhadap Organisasi Intra Sekolah

(OSIS); dorongan dan bimbingan dalam peningkatan prestasi dan kreativitas

siswa dalam penyusunan karya tulis ilmiah; pemberian kesempatan beasiswa bagi

siswa yang kurang mampu dan siswa yang berprestasi; kesesuaian mata pelajaran

yang diajarkan dengan kebutuhan industri; keterbukaan dalam penilaian hasil

belajar; pembinaan dan pengawasan kegiatan ekstrakurikuler; serta pemanfaatan

e-learning sebagai media pembelajaran.


5. Kinerja Kepala Sekolah dari Aspek Pengelolaan Sarana Dan Prasana

Guru berpendapat bahwa dari aspek pengelolaan sarana dan prasarana,

Kepala SMKN 2 Depok mendapat persentase penilaian sebesar 65,57 %, hal ini

berarti dalam pengelolaan sarana dan prasarana Kepala SMKN 2 Depok, telah

melakukan tugasnya dengan baik. Pengelolaan sarana dan prasarana meliputi:

keterbukaan dalam pengelolaan sarana dan prasarana; serta ketersediaan ruang

khusus untuk pembinaan profesionalisme guru (laboratorium pengajaran).

Keterbukaan dalam pengelolaan sarana dan prasarana sekolah dibutuhkan agar

guru dapat segera melaporkan ataupun meminta kepada kepala sekolah apabila

terdapat kekurangan atau kerusakan sarana atau prasarana yang sekiranya

mengganggu proses belajar mengajar.

Siswa berpendapat bahwa dari aspek managemen pengelolaan sarana dan

prasarana Kepala SMKN 2 Depok mendapat persentase penilaian sebesar 61,50

%, pada aspek ini siswa berpendapat bahwa kepala sekolah sudah cukup baik

dalam mengelola sarana dan prasarana sekolah. Hal ini dikarenakan siswa sebagai

pengguna langsung sarana dan prasarana sekolah merasa masih belum puas

dengan fasilitas yang sudah ada, sehingga mereka memberikan penilaian yang

rendah. Upaya pengelolaan sarana dan prasarana ini meliputi: kelengkapan sarana

dan prasaran sekolah; kesesuaian sarana dan prasarana dengan perkembangan

teknologi; kenyamanan lingkungan sekolah; ketersediaan e-library; fasilitas

internet dan e-learning; ketersediaan buku paket dan buku pelengkap untuk setiap

mata pelajaran di perpustakaan; kenyamanan ruang pembelajaran; serta

kelengkapan sarana belajar mengajar didalam kelas.


6. Kinerja Kepala Sekolah dari Aspek Supervisi

Guru berpendapat bahwa dari aspek supervisi, Kepala SMKN 2 Depok

mendapat persentase penilaian sebesar 76,43 %, hal ini berarti dalam pelaksanaan

supervisi KepalaSMKN 2 Depok telah melakukan tugasnya dengan baik.

Penilaian aspek supervisi meliputi: pelaksanaan evaluasi kerja guru dan

pelaksanaan evaluasi belajar siswa (UH, UTS, UKK, US dan UN). Pelaksanaan

evaluasi guru setiap tahunnya sangat membantu untuk mengetahui tingkat prestasi

kerja guru, serta mengetahui kekurangan dan kelebihan guru, sehingga

kedepannya dari hasil evaluasi yang secara rutin dilaksanakan guru mampu

mengetasi kekurangannya dan meningkatkan prestasi kerjanya dari tahun ke

tahun.

Siswa berpendapat dari aspek supervisi, Kepala SMKN 2 Depok mendapat

persentase penilaian sebesar 70,01 %, hal ini menunjukkan bahwa supervisi yang

dilakukanberjalan dengan baik. Kegiatan supervisi ini meliputi: penetapan nilai

kriteria ketuntasan minimum (KKM), pengawasan kegiatan UH, UTS, UKK, US

dan UN dan pelaksanaan program remedial dan pengayaan. Penentuan nilai KKM

yang tinggi mendorong siswa untuk saling bersaing memenuhi nilai KKM yang

berlaku. Keenam aspek penilaian kinerja kepala sekolah tersebut dapat memberi

gambaran bagaimana kinerja kepala sekolah. Berdasarkan pendapat guru, secara

keseluruhan kinerja Kepala SMKN 2 Depok dinilai baik dengan perolehan

persentase sebesar 72,73 %,sedangkan berdasarkan pendapat siswa, secara

keseluruhan kinerja Kepala SMK Negeri 2 Depok juga dinilai baik dengan

perolehan persentase sebesar 68,96 %.


BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang dilakukan peneliti

terhadap “KINERJA KEPALA SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN NEGERI

2 DEPOK SLEMANYOGYAKARTA” dapat disimpulkan sebagai berikut:

1. Kinerja kepala sekolah dilihat dari aspek kepribadian, berdasarkan pendapat

guru Kepala SMKN 2 Depok memperoleh penilaian sebesar 76,00 % (baik),

sedangkan berdasarkan pendapat siswa Kepala SMKN 2 Depok memperoleh

penilaian sebesar 65,12 % (baik).

2. Kinerja kepala sekolah dilihat dari aspek sosial, berdasarkan pendapat guru

Kepala SMKN 2 Depok memperoleh penilaian sebesar 76,02 % (baik),

sedangkan berdasarkan pendapat siswa Kepala SMKN 2 Depok memperoleh

penilaian sebesar 68,06 % (baik).

3. Kinerja kepala sekolah dilihat dari aspek pemberdayaan guru, berdasarkan

pendapat guru Kepala SMKN 2 Depok memperoleh penilaian sebesar 68,37 %

(baik), sedangkan berdasarkan pendapat siswa Kepala SMKN 2 Depok

memperoleh penilaian sebesar 82,15 % (sangat baik).

4. Kinerja kepala sekolah dilihat dari aspek pemberdayaan siswa, berdasarkan

pendapat guru Kepala SMKN 2 Depok memperoleh penilaian sebesar 73,89 %

(baik), sedangkan berdasarkan pendapat siswa Kepala SMKN 2 Depok

memperoleh penilaian sebesar 66,91 % (baik).


5. Kinerja kepala sekolah dilihat dari aspek pengelolaan sarana dan prasarana,

berdasarkan pendapat guru Kepala SMKN 2 Depok memperoleh penilaian

sebesar 65,57 % (baik), sedangkan berdasarkan pendapat siswa Kepala SMKN

2 Depok memperoleh penilaian sebesar 61,50 % (cukup baik).

6. Kinerja kepala sekolah dilihat dari aspek supervisi, berdasarkan pendapat guru

Kepala SMKN 2 Depok memperoleh penilaian sebesar 76,43 % (baik).

Sedangkan berdasarkan pendapat siswa Kepala SMKN 2 Depok memperoleh

penilaian sebesar 70,01 % (baik).

B. KeterbatasanPenelitian

1. Dikarenakan penelitian ini menilai bagaimana kinerja kepala sekolah, dalam

pelaksanaan penelitian terdapat beberapa permasalahan diantaranya adanya

beberapa guru yang tidak berkenan untuk mengisi instrument penelitian.

2. Subjek penilitian dirasa kurang sesuai untuk mengukur kinerja kepala sekolah

karena pada dasarnya yang menilai kinerja kepala sekolah adalah pengawas

sekolah bukan guru ataupun siswa.

3. Penelitian ini hanya menggunakan angket berbentuk cek list, sehingga peneliti

tidak dapat melakukan cross cek secara keseluruhan mengenai kesesuaian

hasil pengisian angket dengan keadaan sebenarnya.

4. Angkat yang digunakan dirasa masih kurang untuk menilai kinerja kepala

sekolah secara keseluruhan.


DAFTAR PUSTAKA

Arif Rahman, Tanjung. (2006). Kepemimpinan Kepala Sekolah dalam Penerapan


Manajemen Berbasis Sekolah Pada SMA Negri I Gunung Sindur Bogor.
Jakarta: Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Negeri
Syarif Hidayatullah.

Ary, Gunawan. (1996). Administrasi Sekolah Administrasi Mikro . Jakarta: Bumi aksara.

Bastian, Indra. (2001). Akutansi Sektor Publik di Indonesia. Yogyakarta: BPFE,


Universitas Gajah Mada.

Budi, Suhardiman. (2011), Studi Kinerja Kepala Sekolah (Analisis Pengaruh Faktor
Rekrutmen, Kompetensi, dan Sistem Kompensasi terhadap Kinerja Kepala
SMP dan Dampaknya terhadap Kinerja Sekolah di Kabupaten Garut).
Bandung: Universitas Pendidikan Indonesia.

Depdikbud. (1998). Petunjuk Kinerja Kepala Sekolah. Jakarta: Dikdasmen.

DEPDIKNAS. (2002) a. Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah.


Jakarta: Direktorat Jendran Pendidikan Dasar dan Menengah.

. (2009). Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia


Nomor 78 Tahun 2009 Tentang Penyelenggaraan Sekolah Bertaraf
Internasional Pada Jenjang Pendidikan Dasar Dan Menengah. Jakarta:
Departemen Pendidikan Nasional.

Eko Putro, Widoyoko. (2012). Teknik Penyusunan Instrument Penelitian. Yogyakarta :


Pustaka Belajar.

Indra, Bastian. (2001). Akuntansi Sektor Publik. Yogyakarta: BPFE, Universitas Gajah
Mada.

Kemendiknas. (2011). Ikhtisar data Pendidikan Nasional tahun 2009/2010. Jakarta:


Kementerian Pendidikan Nasional Pusat Data dan Statistika Pendidikan 2011.

Kusmintarjo & Burhanuddin. (1997). Kepemimpinan Pendidikan Bagi Kepala


Sekolah. Jakarta: Depdikbud.

Lexy J. Moleong. (1990). Metodelogi Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja


Rosdakarya.

M, Mahsun. (2006). Pengukuran Kinerja Sektor Publik. Yogyakarta: BPFE, Universitas


Gajah Mada.

Mangkunegara, Anwar Prabu. (2000). Manajemen Sumber Daya Manusia


Perusahaan, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya,
Mardoyo. (2008). Kinerja Kepala Sekolah SMA Negeri I Klaten dalam
Implementasi Manajemen Berbasis Sekolah. Surakarta: Pascasarjana
Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Muh, Kasiram. (2008). Metodologi Penelitian Kualitatif – Kuantitatif. Malang : UIN


Malang Press.

Nawawi, H. Hadari (1997). Manajemen Sumber Daya Manusia, Yogyakarta:


Gajah Mada University Press.

Peraturan Pemerintah, (1990), Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 28


Tahun 1990 Tentang Pendidikan Dasar.

PERMENDIKNAS. (2007). Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik


Indonesia No.13 Tahun 2007 tentang standar kepala sekolah / madrasah.

Rahman, dkk, (2006), Peran Strategis Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Mutu
Pendidikan, Sumedang: Alqaprint, Jatinangor.

Singarimbun, Masri. (1995). Metode Penelitian Survei. Jakarta : LP3S.

Soebagio, Atmodiwirio. (2000). Manajemen Pendidikan Indonesia. Jakarta: PT.


Ardadizya Jaya.

Sugiyono. (2003). Cetakan Kelima. Statistika untuk Penelitian. Bandung: Alfabeta.

. (2008). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R & D. Bandung:


Alfabeta.

Suharsimi, Arikunto. (1998). Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek.


Jakarta: PT. Rineka Cipta.

Sukardi. (2003). Metodologi Penelitian Pendidikan Kompetensi dan Praktiknya. Jakarta:


PT Bumi Aksara.

Suwar. (2008). Persepsi Terhadap Kepemimpinan Kepala Sekolah dengan


Motivasi Kerja dan Kepuasan Kerja Guru Smk Negeri Di Kota
Samarinda, diakses pada tanggal 28 Mei 2012, dari
[Link]

Suwarni. (2009). Pengaruh Budaya Organisasi, Keterampilan Manajerial Kepala


Sekolah dan Pelaksanaan Fungsi Pengawasan terhadap Kinerja Guru-
guru Ekonomi SLTA di Kota dan Kabupaten Blitar. Malang: Universitas
Negeri Malang.

Wahjosumidjo. (1999). Kepemimpinan Kepala Sekolah. Jakarta: PT Raja


Grafindo Persada.

Anda mungkin juga menyukai