0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
33 tayangan18 halaman

Supervisi Pendidikan dalam Diklat

Makalah ini membahas tentang supervisi pendidikan dalam diklat. Supervisi pendidikan bertujuan untuk meningkatkan kualitas proses pembelajaran dan kinerja guru melalui berbagai kegiatan seperti pelatihan, bimbingan, dan evaluasi. Supervisor berperan sebagai fasilitator untuk meningkatkan kompetensi guru dalam mengajar.

Diunggah oleh

Za
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
33 tayangan18 halaman

Supervisi Pendidikan dalam Diklat

Makalah ini membahas tentang supervisi pendidikan dalam diklat. Supervisi pendidikan bertujuan untuk meningkatkan kualitas proses pembelajaran dan kinerja guru melalui berbagai kegiatan seperti pelatihan, bimbingan, dan evaluasi. Supervisor berperan sebagai fasilitator untuk meningkatkan kompetensi guru dalam mengajar.

Diunggah oleh

Za
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

MAKALAH

MANAJEMEN DIKLAT
(Supervisi Pendidikan Dalam Diklat)
Dosen Pengampu: Muhammad Zaril Gapari, [Link]

Disusun Oleh:
Kelompok 3
Zohratul Aini (202111520005)
Sri Rahmawati (202111520029)
Odi Andrian (202111520053)
Ahmad Rizki (202111520056)

PROGRAM STUDI MANAJEMEN PENDIDIKAN ISLAM


SEKOLAH TINGGI ILMU TARBIAH PALAPA NUSANTARA LOMBOK-NTB
TAHUN AKADEMIK 2022/2023
KATA PENGANTAR
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh
Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang,
penulis panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah
melimpahkan rahmat, hidayah, dan inayah-Nya sehingga penulis dapat
menyelesaikan makalah yang berjudul Supervisi Pendidikan Dalam Diklat ini
tepat pada waktunya.
Penulisan makalah ini diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah
Manajemen Diklat. Dalam makalah ini hendak diuraikan perihal tentang
pengertian supervisi pendidikan, jenis-jenis supervisi pendidikan, tujuan supervisi
pendidikan, prinsip-prinsip dalam supervisi pendidikan, serta fungsi supervisi
pendidikan
Terlepas dari semua itu, penulis menyadari sepenuhnya bahwa makalah ini
masih jauh dari kata sempurna, baik dari segi susunan maupun tata bahasanya.
Oleh karena itu dengan tangan terbuka penulis menerima segala bentuk saran dan
kritik yang bersifat membangun dari pembaca agar penulis dapat membuat
makalah yang lebih baik lagi pada kesempatan berikutnya.
Akhir kata penulis berharap semoga makalah ini dapat memberikan
manfaat dan bisa dijadikan sebagai bahan referensi khususnya untuk penulis
pribadi dan umumnya untuk para pembaca.
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh

Rumbuk, 26 Maret 2023

Penulis

ii
DAFTAR ISI
COVER
KATA PENGANTAR ........................................................................................... ii
DAFTAR ISI ......................................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN .......................................................................................1
A. Latar Belakang ...........................................................................................1
B. Rumusan Masalah ......................................................................................5
C. Tujuan ........................................................................................................5
BAB II PEMBAHASAN ........................................................................................6
A. Pengertian Supervisi Pendidikan ...............................................................6
B. Jenis-Jenis supervisi pendidikan ................................................................7
C. Tujuan Supervisi Pendidikan .....................................................................7
D. Prinsip-Prinsip Supervisi Pendidikan ........................................................8
E. Fungsi-Fungsi Supervisi Pendidikan .......................................................10
BAB III PENUTUP ..............................................................................................12
A. Kesimpulan ..............................................................................................12
B. Saran ........................................................................................................14
DAFTAR PUSTAKA

iii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Di dunia pendidikan Indonesia, diterapkannya secara formal konsep
supervisi diperkirakan sejak diberlakukannya Keputusan Menteri P dan K, RI.
Nomor: 0134/1977, yang menyebutkan siapa saja yang berhak disebut
supervisor di sekolah, yaitu kepala sekolah, penilik sekolah untuk tingkat
kecamatan, dan para pengawas di tingkat kabupaten/kotamadya serta staf
kantor bidang yang ada di setiap provinsi. Di dalam PP Nomor 38 Tahun
1992, terdapat perubahan penggunaan istilah pengawas dan penilik. Istilah
pengawas dikhususkan untuk supervisor pendidikan di sekolah sedangkan
penilik khusus untuk pendidikan luar sekolah.
Standar mutu pengawas yang telah ditetapkan oleh Direktorat Jenderal
Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan Direktorat Tenaga
Kependidikan Departemen Pendidikan Nasional (Sudjana, Nana, 2006)
bahwa pengawas sekolah berfungsi sebagai supervisor baik supervisor
akademik maupun supervisor manajerial. Sebagai supervisor akademik,
pengawas sekolah berkewajiban untuk membantu kemampuan profesional
guru agar guru dapat meningkatkan mutu proses pembelajaran. Sedangkan
sebagai supervisor manajerial, pengawas berkewajiban membantu kepala
sekolah agar mencapai sekolah yang efektif. Pembinaan dan pengawasan
kedua aspek tersebut hendaknya menjadi tugas pokok pengawas sekolah.
Semua produk hukum itu mengarahkan bahwa kedudukan pengawas bukan
hanya sebagai jabatan buangan dan pajangan di kantor dinas pendidikan,
tetapi mempunyai fungsi penggerak kemajuan pendidikan di sekolah.
Sebagaimana guru, pengawas juga harus memulai pekerjaan dengan
perencanaan, pelaksanaan dan diakhir dengan pelaporan (Aripin. 2011; Imam
Gazali, 2011).
Tugas supervisor adalah menstimulir guru-guru agar mempunyai
keinginan menyelesaikan problema pengajaran dan mengembangkan
kurikulum. Mengidentifikasikan kebutuhan guru-guru sebagai bahan in-
service dan survei sebagai permintaan dan observasi. Merencanakan langkah-

1
langkah pelaksanaan dan mengevaluasi in-service program, dengan
mengembangkan rencana pengajaran untuk pengembangan staf membuat
komponen-komponen pengetahuan, fasilitas yang digunakan. Kemudian
mencatat partisipasi guru-guru dan sukses keberhasilan in-service. Oleh
karena itu tugas besar bagi pemimpin pengajaran adalah merubah guru- guru
dari ‘apatis menjadi dinamis”, dari tidak mampu menjadi berkemampuan, dari
tidak peduli menjadi peduli, dari yang sembrono menjadi cermat, kritis, dan
mengerti tugas-tugasnya sebagai guru (Sagala, 2000).
Roland Barth menyatakan bahwa kebutuhan interaksi dengan guru lebih
mendorong pertumbuhan, ia mengidentifikasikan guru dalam tiga kelompok,
yaitu:
1. Guru-guru yang tidak mampu mempelajari secara kritis praktek
mengajar, orang tua murid, dan lainnya tidak peduli terhadap apa dan
bagaimana mereka mengajar.
2. Guru-guru yang memiliki kemampuan meneliti secara berkesinambungan
menunjukkan apa yang mereka kerjakan dengan menggunakannya untuk
melakukan perubahan.
3. Sedikit guru yang mau dan mampu meneliti secara cermat dan kritis
praktek mereka sendiri dan orang lain mengenai kemampuan mereka dan
memberikan penilaian baik terhadap apa yang mereka kerjakan
(Mintarsih Danumihardja, 2009).
Program supervisi biasanya berisikan kegiatan yang akan dijalankan
untuk memperbaiki kinerja guru dalam meningkatkan situasi pembelajaran
yang menjadi tanggung jawabnya. Di dalam program supervisi tertuang
berbagai usaha dan tindakan yang perlu dijalankan supaya pembelajaran
menjadi lebih baik, sehingga akselerasi belajar peserta didik makin cepat
dalam mengembangkan potensi dirinya, karena guru lebih mampu mengajar.
Program supervisi akademik menurut Djam’an Satori (1997) “…
dimaksudkan untuk memperbaiki dan meningkatkan proses dan hasil belajar
mengajar … supaya kegiatan pembinaan relevan dengan peningkatan
kemampuan profesional guru.”

2
Program supervisi harus realistik dan dapat dilaksanakan sehingga
benar-benar membantu mempertinggi kinerja guru. Program supervisi yang
baik menurut Oteng Sutisna (1983) mencakup keseluruhan proses
pembelajaran yang membangun lingkungan belajar mengajar yang kondusif,
di dalamnya mencakup maksud dan tujuan, pengembangan kurikulum,
metode mengajar, evaluasi, pengembangan pengalaman belajar murid yang
direncanakan baik dalam intra maupun extra kurikuler (Bang Mohtar, 2012).
Program supervisi berprinsip kepada proses pembinaan guru yang
menyediakan motivasi yang kaya bagi pertumbuhan kemampuan
profesionalnya dalam mengajar. Ia menjadi bagian integral dalam upaya
peningkatan mutu sekolah, mendapat dukungan semua pihak disertai dana
dan fasilitasnya. Bukan sebuah kegiatan suplemen atau tambahan (Suhardan,
2010; Ruzi Rahmawati, 2012).
Setiap bidang kegiatan memerlukan perencanaan yang sistemik dan
prospektif untuk mencapai tujuan secara efektif. Supervisi merupakan usaha
untuk mendorong para guru mengembangkan kemampuannya agar dapat
mencapai tujuan pendidikan secara efektif. Oleh karena itu, dalam supervisi,
perencanaan merupakan kegiatan yang perlu dilakukan sebaik-baiknya.
Tanpa perencanaan yang baik supervisi hanya memberikan kekecewaan
kepada pihak-pihak yang terlibat di dalamnya, yaitu guru, kepala sekolah,
supervisor dan terutama murid-murid yang mengharapkan pembelajaran
dapat berlangsung secara aktif, efektif, kreatif, dan menyenangkan (Masaong,
2013).
Sebagai gurunya guru, pengawas harus menyusun rencana untuk
memperkuat implementasi keempat kompetensi guru, yaitu kompetensi
pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial dan kompetensi
profesional. Oleh karena itu, pengawas dituntut memiliki visi dan misi
kepengawasan yang mampu dituangkan ke dalam tujuan dan strategi
pencapaiannya. Kekurangefektifan pelaksanaan supervisi selama ini
disebabkan karena kurang jelasnya visi dan misi kepengawasan yang
dilakukan oleh pengawas. Pelaksanaan supervisi pun terkesan asal
dilaksanakan dan tidak mengacu pada kebutuhan guru sehingga menimbulkan

3
kurangnya kepercayaan guru terhadap pengawas untuk menyelesaikan
problematika pembelajaran. Program supervisi harus mengacu pada visi, misi,
tujuan dan strategi pembinaan ditetapkan oleh pengawas. Keterlibatan guru
dan kepala sekolah dalam penyusunan rencana kerja pengawas sangat efektif
dalam meningkatkan kompetensi profesional guru dan kemampuan
manajerial kepala sekolah (Masaong, 2013).
Rencana kerja pengawas yang berkaitan dengan supervisi manajerial
dituntut mengacu pada aspek fungsi dan substansi manajemen sekolah. Aspek
fungsi manajemen mencakup perencanaan, pengorganisasian,
pengkoordinasian, pengendalian, monitoring dan evaluasi serta pelaporan.
Sedangkan aspek substansi manajerial sekolah mencakup pengelolaan
kurikulum dan pembelajaran, pengelolaan ketenagaan, pengelolaan
kesiswaan, pengelolaan keuangan dan pembiayaan sekolah, pengelolaan
sarana dan prasarana sekolah serta pengelolaan hubungan sekolah dengan
masyarakat. Pengawas dituntut memiliki pengetahuan yang mumpuni dalam
memandang manajemen sekolah sebagai satu kesatuan sistem yang di
dalamnya berpadu antara aspek fungsi dan substansi manajerial. Keefektifan
pelaksanaan substansi manajemen di sekolah tergantung pada kemampuan
kepala sekolah menerapkan fungsi-fungsi manajemen mulai dari perencanaan
sampai pada pelaporan sebagaimana terlihat pada figur di halaman berikut.
Tugas pengawas untuk membantu kepala sekolah dalam menyusun visi dan
misi sekolah binaan sampai dituangkan dalam rencana kerja sekolah sangat
dibutuhkan.
Pada dasarnya supervisi adalah program yang berencana untuk
memperbaiki pengajaran. Program itu pada hakikatnya adalah perbaikan hal
belajar mengajar. Dalam melaksanakan supervisi, pengawas sekolah pasti
menghadapi kendala-kendala. Hal ini sesuai dengan yang telah disampaikan
oleh Direktorat Tenaga Kependidikan Dirjen Peningkatan Mutu Pendidik dan
Tenaga Kependidikan Departemen Pendidikan Nasional (2007), ”Para kepala
sekolah dan atau pengawas baik suka maupun tidak suka harus siap
menghadapi problema dan kendala dalam melaksanakan supervisi
pendidikan”. Kendala supervisi pendidikan yang sangat umum terjadi di

4
lapangan adalah kurangnya motivasi dari para guru ketika mendapat
supervisi. Hal tersebut terjadi dikarenakan adanya anggapan yang telah
melekat dalam diri guru bahwa supervisi hanyalah kegiatan yang semata-mata
untuk mencari-cari kesalahan.

B. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan supervisi pendidikan ?
2. Apa saja jenis-jenis supervisi pendidikan ?
3. Mengapa supervisi pendidikan perlu diadakan ?
4. Bagaimana prinsip-prinsip dalam supervisi pendidikan ?
5. Apa saja fungsi supervisi pendidikan ?

C. Tujuan
1. Untuk memahami pengertian supervisi pendidikan.
2. Untuk mengetahui jenis-jenis supervisi pendidikan.
3. Untuk memahami tujuan diadakannya supervisi pendidikan.
4. Untuk mengetahui prinsip-prinsip dalam supervisi pendidikan.
5. Untuk mengetahui fungsi-fungsi supervisi pendidikan.

5
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Supervisi Pendidikan


Supervisi pendidikan adalah upaya teknis pelayanan profesional dengan
tujuan utama untuk mempelajari dan memperbaiki bersama-sama para
pendidik dalam membimbing dan mempengaruhi perkembangan peserta
didiknya (Azis, 2016, hlm. 32). Dengan kata lain, supervisi ialah suatu
kegiatan yang disediakan dan dilaksanakan untuk membantu para guru agar
menjalankan pekerjaan mereka dengan lebih baik.
Lebih lanjut Purwanto (2010, hlm. 76) menjelaskan bahwa supervisi
pendidikan adalah segala bantuan dari para pemimpin sekolah, yang tertuju
kepada perkembangan kepemimpinan guru-guru dan personel sekolah lainnya
dalam mencapai tujuan-tujuan pendidikan yang berupa dorongan, bimbingan,
dan kesempatan bagi pertumbuhan keahlian serta kecakapan guru-guru
seperti bimbingan dalam usaha dan pelaksanaan pembaharuan-pembaharuan
dalam pendidikan dan pengajaran, pemilihan alat-alat pelajaran, dan metode-
metode mengajar yang lebih baik, cara-cara penliaian yang sistematis
terhadap fase seluruh proses pengajaran, dsb.
Artinya, supervisi pendidikan adalah aktivitas pembinaan sistematis dan
terencana dari pemimpin lembaga pendidikan kepada tenaga teknis sekolah
agar melakukan pekerjaan mereka secara lebih efektif dan efisien. Tujuannya
sendiri tidaklah terbatas pada pelaksanaan pengajaran pendidik menjadi lebih
baik, akan tetapi secara keseluruhan dari segala aspek kegiatan
penyelenggaraan pendidikan dan pembelajaran.
Sementara itu menurut Priansa (2021, hlm. 84) supervisi pendidikan
adalah usaha memberi pelayanan agar guru atau tenaga pengajar menjadi
lebih profesional dalam menjalankan tugas melayani peserta didik (Priansa,
2021, hlm. 84). Hal tersebut senada dengan pengertian supervisi pendidikan
dari sudut pandang manajemen pendidikan yang berarti usaha untuk
menstimulus, mengoordinir, dan membimbing guru secara terus-menerus
baik individu maupun kolektif agar memahami secara efektif pelaksanaan

6
aktivitas mengajar dalam rangka pertumbuhan murid secara berkelanjutan
(Sagala, 2018, hlm. 230).
Dapat disimpulkan bahwa supervisi pendidikan adalah pelayanan
profesional berupa pembinaan sistematis dan terencana kepada seluruh tenaga
pendidik dan teknis sekolah agar mampu menjalankan tugas melayani peserta
didik dalam segala aspek penyelenggaraan pendidikan seperti kegiatan
belajar-mengajar yang lebih baik dan fasilitas yang lebih kondusif untuk
mencapai tujuan-tujuan pendidikan dengan lebih efektif dan efisien.

B. Jenis-Jenis supervisi pendidikan


Telah dijelaskan sebelumnya bahwa supervisi pendidikan menyangkut
seluruh kegiatan penyelenggaraan pendidikan, tidak terbatas pada
penyelenggaraan pembelajaran saja. Oleh karena itu, supervisi pendidikan
dapat dibagi menjadi beberapa jenis yang di antaranya adalah sebagai berikut.
1. Supervisi Akademik
Yaitu yang menitik beratkan pengamatan supervisor pada masalah-
masalah akademik, yakni hal-hal yang langsung berada dalam lingkungan
kegiatan pembelajaran pada waktu siswa sedang dalam proses
pembelajaran.
2. Supervisi Administrasi
Yakni supervisi yang menitik beratkan pengamatan supervisor pada aspek-
aspek administrasi yang berfungsi sebagai pendukung dengan pelancar
terlaksananya pembelajaran.
3. Supervisi Lembaga
Merupakan supervisi pendidikan dengan fokus pada pengamatan
supervisor pada aspek-aspek yang berada di lembaga pendidikan. Jika
supervisi akademik dimaksudkan untuk meningkatkan pembelajaran, maka
supervisi lembaga dimaksudkan untuk meningkatkan kinerja dan nama
baik atau kredibilitas lembaga pendidikan (Suhardan, 2014, hlm. 47).

C. Tujuan Supervisi Pendidikan


Tujuan supervisi pendidikan harus sama dengan tujuan Pendidikan
Nasional yang disampaikan pada Undang-Undang Sistem Pendidikan
Nasional Nomor 2003 melalui perbaikan serta peningkatan kegiatan belajar

7
mengajar. Selain itu, menurut Gunawan (dalam Azis, 2016, hlm. 37)
beberapa tujuan dari supervisi pendidikan di antaranya adalah sebagai
berikut.
1. Membina guru-guru untuk lebih memahami tujuan umum pendidikan.
Dengan demikian agar menghilangkan anggapan tentang adanya mata
pelajaran/bidang studi penting/tidak penting, sehingga setiap guru mata
pelajaran dapat mengajar dan mencapai prestasi maksimal bagi siswa-
siswinya.
2. Membina guru-guru mengatasi problem-problem siswa demi kemajuan
prestasi belajarnya.
3. Membina guru-guru dalam mempersiapkan siswa-siswa untuk menjadi
anggota masyarakat yang produktif, kreatif, etis, serta strategis.
4. Membina guru-guru dalam meningkatkan kemampuan mengevaluasi,
mendiagnosa kesulitan belajar, dan seterusnya.
5. Membina guru-guru dalam memperbesar kesadaran tentang tata kerja
yang demokratis, kooperatif serta kegotongroyongan.
6. Memperbesar ambisi guru-guru dan karyawan dalam meningkatkan mutu
profesinya,
7. Membina guru-guru dan karyawan dalam meningkatkan popularitas
sekolahnya.
8. Melindungi guru-guru dan karyawan meningkatkan popularitas
sekolahnya.
9. Melindungi guru-guru dan karyawan pendidikan terhadap tuntutan serta
kritik-kritik tak wajar dari masyarakat.
10. Mengembangkan sikap kesetiakawanan dan kesejawatan dari seluruh
tenaga pendidikan.

D. Prinsip-Prinsip Supervisi Pendidikan


Melihat dari tujuannya yang ditujukan untuk perbaikan serta
peningkatan kegiatan belajar-mengajar, supervisi pendidikan haruslah
dilaksanakan berdasarkan prinsip-prinsip sebagai berikut.
1. Supervisi bersifat ilmiah (scientific) yaitu bahwa supervisi memenuhi 3
kriteria sebagai prosedur ilmiah yakni: a) Sistematis karena dilakukan

8
dengan cara teratur, melalui dengan perencanaan yang matang dan
dilakukan secara kontinu; b) Objektif karena dilakukan bukan atas
prasangka individu, tetapi didasarkan atas informasi dan data yang nyata;
c) Menggunakan instrumen yang baik untuk mengumpulkan data
sehingga data yang diperoleh benar-benar data yang terandalkan.
2. Supervisi dilakukan dengan prinsip demokratis, bukan karena perintah
atau takut atasan tetapi dilakukan dalam situasi kekeluargaan, melalui
musyawarah, saling memberi dan menerima.
3. Supervisi dilakukan dengan cara kerja sama, kooperatif dan selalu
mengarahkan kegiatannya untuk mencapai tujuan bersama dengan
menciptakan situasi belajar mengajar yang lebih baik.
4. Supervisi bukan dilakukan dengan instruktif tetapi atas dasar kreativitas
dan inisiatif guru sendiri, di mana supervisior hanya memberikan
dorongan agar terciptanya situasi belajar mengajar dengan baik.
5. Supervisi dilakukan dengan suasana terbuka, tidak sembunyi-sembunyi,
tetapi dengan cara terus terang melalui pemberitahuan baik resmi
maupun tidak resmi sehingga guru yang akan disupervisi sudah
mengetahui terlebih dahulu bahwa akan di supervisi.
6. Supervisi bukan hanya tertuju kepada suatu atau lebih unsur yang ada di
sekolah tetapi meliputi guru, kepala sekolah, pegawai tata usaha, dan
obyeknya meliputi kurikulum, sarana, pembiayaan, kesiswaan, kegiatan
humas, dan tata laksana (Arikunto dalam Azis, 2016, hlm. 34).
Sementara itu menurut Purwanto (2017, hlm. 117) beberapa prinsip
supervisi adalah sebagai berikut.
1. Supervisi hendaknya bersifat konstruktif dan kreatif, yaitu pada yang
dibimbing dan diawasi harus dapat menimbulkan dorongan untuk
bekerja.
2. Supervisi harus didasarkan atas keadaan dan kenyataan yang sebenar-
benarnya ( reslistis, mudah dilaksanakan).
3. Supervisi harus sederhana dan informal dalam melaksanakannya.
4. Supervisi harus dapat memberikan perasaan aman kepada guru-guru dan
pegawai-pegawai sekolah yang disupervisi.

9
5. Supervisi harus didasarkan atas hubungan professional, bukan atas dasar
hubungan pribadi.
6. Supervisi harus selalu memperhitungkan kesanggupan, sikap, dan
mungkin prasangka guru-guru dan pegawai.
7. Supervisi tidak bersifat mendesak (otoriter) karena dapat menimbulkan
perasaaan gelisah atau bahkan antipati dari guru-guru.
8. Supervisi tidak boleh didasarkan atas kekuasaaan pangkat, kedudukan
atau kekuasaan pribadi.
9. Supervisi tidak boleh bersifat mencari-cari kesalahan dan kekurangan.
10. Supervisi tidak dapat terlalu cepat mengharapkan hasil, dan tidak boleh
lekas merasa kecewa.
11. Supervisi hendaknya juga bersifat preventif, korektif, dan kooperatif.
Preventif berarti berusaha mencegah jangan sampai timbul hal-hal yang
negatif. Sedangkan korektif yaitu memperbaiki kesalahan-kesalahan yang
telah di perbuat. Dan kooperatif berarti bahwa mencari kesalahan-kesalah
atau kekurangan-kekurangan dan usaha memperbaikinya dilakukan
bersama-sama oleh supervisor dan orang-orang yang diawasi.

E. Fungsi-Fungsi Supervisi Pendidikan


Menurut Sweringan (dalam Azis, 2016, hlm. 37) terdapat delapan
fungsi utama dari supervisi pendidikan yang di antaranya adalah sebagai
berikut.
1. Mengkoordinasi semua usaha sekolah.
2. Memperlengkapi kepemimpinan sekolah.
3. Memperluas pengalaman guru.
4. Menstimulus usaha-usaha yang kreatif.
5. Memberikan fasilitas dan penilaian yang terus menerus.
6. Menganalisis situasi belajar mengajar.
7. Memberikan pengetahuan dan keterampilan kepada setiap anggota staf.
8. Mengintegrasikan tujuan pendidikan dan membantu meningkatkan
kemampuan mengajar guru-guru.

10
Sementara itu menurut Maryono (2011, hlm. 23) fungsi supervisi
pendidikan terdiri atas beberapa fungsi utama yang di antaranya adalah
sebagai berikut.
1. Penelitian
Yaitu fungsi yang harus dapat mencari jalan keluar dari masalah yang
dihadapi.
2. Penilaian
Fungsi penilaian adalah untuk mengukur tingkat kemajuan yang
diinginkan, seberapa besar yang telah dicapai, dan penilaian ini dilakukan
dengan berbagai cara seperti tes, penetapan standar, penilaian kemajuan
belajar siswa, melihat perkembangan hasil penilaian sekolah, serta
prosedur lain yang berorientasi pada peningkatan mutu pendidikan.
3. Perbaikan
Fungsi perbaikan adalah sebagai usaha untuk mendorong guru baik
secara perseorangan maupun kelompok agar mereka mau melakukan
berbagai perbaikan dalam menjalankan tugas mereka. Perbaikan ini dapat
dilakukan dengan bimbingan, yaitu dengan cara membangkitkan
kemauan, memberi semangat, mengarahkan dan merangsang untuk
melakukan percobaan, serta membantu menerapkan sebuah prosedur
mengajar yang baru.
4. Pembinaan
Fungsi pembinaan merupakan salah satu usaha untuk memecahkan
masalah yang sedang dihadapi, yaitu dengan melakukan pembinaan atau
pelatihan kepada guru-guru tentang cara-cara baru dalam melaksanakan
suatu proses pembelajaran, pembinaan ini dapat dilakukan dengan cara
demonstrasi mengajar, workshop, seminar, observasi, konferensi
individual dan kelompok, serta kunjungan supervisi.

11
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Supervisi pendidikan adalah pelayanan profesional berupa pembinaan
sistematis dan terencana kepada seluruh tenaga pendidik dan teknis sekolah
agar mampu menjalankan tugas melayani peserta didik dalam segala aspek
penyelenggaraan pendidikan seperti kegiatan belajar-mengajar yang lebih
baik dan fasilitas yang lebih kondusif untuk mencapai tujuan-tujuan
pendidikan dengan lebih efektif dan efisien.
Supervisi pendidikan dapat dibagi menjadi beberapa jenis yang di
antaranya adalah sebagai berikut.
1. Supervisi Akademik
2. Supervisi Administrasi
3. Supervisi Lembaga
Tujuan dari supervisi pendidikan di antaranya adalah sebagai berikut.
1. Membina guru-guru untuk lebih memahami tujuan umum pendidikan.
2. Membina guru-guru mengatasi problem-problem siswa demi kemajuan
prestasi belajarnya.
3. Membina guru-guru dalam mempersiapkan siswa-siswa untuk menjadi
anggota masyarakat yang produktif, kreatif, etis, serta strategis.
4. Membina guru-guru dalam meningkatkan kemampuan mengevaluasi,
mendiagnosa kesulitan belajar, dan seterusnya.
5. Membina guru-guru dalam memperbesar kesadaran tentang tata kerja
yang demokratis, kooperatif serta kegotongroyongan.
6. Memperbesar ambisi guru-guru dan karyawan dalam meningkatkan mutu
profesinya,
7. Membina guru-guru dan karyawan dalam meningkatkan popularitas
sekolahnya.
8. Melindungi guru-guru dan karyawan meningkatkan popularitas
sekolahnya.
9. Melindungi guru-guru dan karyawan pendidikan terhadap tuntutan serta
kritik-kritik tak wajar dari masyarakat.

12
10. Mengembangkan sikap kesetiakawanan dan kesejawatan dari seluruh
tenaga pendidikan.
Prinsip-prinsip supervisi pendidikan antara lain sebagai berikut:
1. Supervisi bersifat ilmiah (scientific) yaitu bahwa supervisi memenuhi 3
kriteria sebagai prosedur ilmiah yakni: sistematis, objektif, dan
enggunakan instrumen yang baik untuk mengumpulkan data
2. Supervisi dilakukan dengan prinsip demokratis
3. Supervisi dilakukan dengan cara kerja sama
4. Supervisi bukan dilakukan dengan instruktif tetapi atas dasar kreativitas
dan inisiatif guru sendiri,
5. Supervisi dilakukan dengan suasana terbuka
6. Supervisi bukan hanya tertuju kepada suatu atau lebih unsur yang ada di
sekolah tetapi meliputi guru, kepala sekolah, pegawai tata usaha, dan
obyeknya meliputi kurikulum, sarana, pembiayaan, kesiswaan, kegiatan
humas, dan tata laksana
Terdapat delapan fungsi utama dari supervisi pendidikan yang di
antaranya adalah sebagai berikut.
1. Mengkoordinasi semua usaha sekolah.
2. Memperlengkapi kepemimpinan sekolah.
3. Memperluas pengalaman guru.
4. Menstimulus usaha-usaha yang kreatif.
5. Memberikan fasilitas dan penilaian yang terus menerus.
6. Menganalisis situasi belajar mengajar.
7. Memberikan pengetahuan dan keterampilan kepada setiap anggota staf.
8. Mengintegrasikan tujuan pendidikan dan membantu meningkatkan
kemampuan mengajar guru-guru.
Sementara itu menurut Maryono (2011, hlm. 23) fungsi supervisi
pendidikan terdiri atas beberapa fungsi utama yang di antaranya adalah
sebagai berikut: penelitian, penilaian, perbaikan dan pembinaan.

13
B. Saran
Dalam melakukan supervisi pendidikan, hendaknya supervisor
memperhatikan beberapa kondisi berikut agar pengawasan yang dilakukan
bersifat efektif. Pengawasan hendaknya dikaitkan dengan tujuan, dan kriteria
yang dipergunakan dalam sistem pendidikan, yaitu relevansi, efektivitas,
efisiensi, dan produktivitas. Tujuan-tujuan pendidikan dalam berbagai
tingkatan, mulai Tujuan Pendidikan Nasional, Tujuan Institusional, Tujuan
Kurikuler, Tujuan-tujuan mata pelajaran (TIU, TIK). Agar standar
pengawasan pendidikan ini berfungsi efektif semua itu harus dipahami dan
diterima oleh setiap anggota organisasi sebagai bagian integral.
Pengawasan hendaknya disesuaikan dengan sifat dan kebutuhan
organisasi. Di sini perlu diperhatikan pola dan tata organisasi, seperti
susunan, peraturan, kewenangan dan tugas-tugas yang telah digariskan dalam
uraian tugas (job description). Banyaknya pengawasan harus dibatasi. Artinya
jika pengawasan terhadap karyawan terlampau sering ada kecenderungan
mereka kehilangan otonominya dan dapat dipersepsi pengawasan itu sebagai
pengekangan. Di beberapa segi dianggap bahwa pengawasan itu.
Pengawasan hendaknya mengacu pada tindakan perbaikan, artinya tidak
hanya mengungkap penyimpangan dari standar, tetapi penyediaan alternatif
perbaikan menentukan tindakan perbaikan. Pengawasan hendaknya mengacu
pada prosedur pemecahan masalah, yaitu: menemukan masalah, menemukan
penyebab, membuat rancangan penanggulangan, melakukan perbaikan,
mengeek hasil perbaikan, mencegah timbulnya masalah yang serupa.

14
DAFTAR PUSTAKA

Azis, R. (2016). Pengantar administrasi pendidikan. Yogyakarta: Penerbit Sibuku.


Maryono. (2011). Dasar-dasar dan teknik menjadi supervisor pendidikan.
Yogyakarta: Arruz Media.
Priansa, D.J. (2021). Manajemen supervisi & kepemimpinan kepala sekolah
(cetakan ke-2). Bandung: Alfabeta.
Purwanto, M.N. (2017). Administrasi dan supervisi pendidikan (Cet. 24).
Bandung: Remaja Rosdakarya.
Sagala, S. (2018). Administrasi pendidikan kontemporer. Bandung: Alfabeta.
Suhardan, D. (2014). Supervisi professional. Bandung: Alfabeta.

Anda mungkin juga menyukai