0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
9 tayangan32 halaman

Kertas Konsep Reformasi Sektor Keamanan Yang Berwajah Perempuan

Diunggah oleh

salsabilaeka81
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
9 tayangan32 halaman

Kertas Konsep Reformasi Sektor Keamanan Yang Berwajah Perempuan

Diunggah oleh

salsabilaeka81
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

Kertas Konsep

Reformasi Sektor
Keamanan yang
Berwajah Perempuan

1
KERTAS KONSEP
REFORMASI SEKTOR KEAMANAN BERWAJAH PEREMPUAN
© Komisi Nasional Anti Kekerasan Terhadap Perempuan (Komnas Perempuan), 2014

Penulis:
Desti Murdidjana
Nengdara Affiah
Justina Rostiawati
Saherman
Shanti Ayu
Siti Nurwati Hodijah
Yuniyati Chuzaifah

Desain cover: Tim Referensia


Tata letak: Tim Referensia
Foto sampul dari: [Link] dan [Link]

Kertas Konsep ini ditulis dalam bahasa Indonesia. Komnas Perempuan adalah pemegang tunggal hak cipta atas
dokumen ini. Meskipun demikian, silakan menggandakan sebagian atau seluruh isi dokumen untuk kepentingan
pendidikan publik atau advokasi kebijakan untuk memajukan pemenuhan hak perempuan korban kekerasan dan
demi terlembagakannya pengetahuan dari perempuan.

ISBN 978-979-26-7598-6

Komisi Nasional Anti Kekerasan Terhadap Perempuan


Jl. Latuharhari No. 4B, Jakarta 10310
Tel. +62 21 390 3963
Fax. +62 21 390 3911
mail@[Link]
[Link]
Kata Pengantar

Gagasan konsep reformasi sektor keamanan (security sector reform – SSR) sudah dibahas sejak akhir
tahun 1990-an. Meskipun demikian, sampai sekarang masih ditemukan banyak pihak menerjemahkan
dan mendefinikan SSR dengan beragam. Salah satu definisi yang dikeluarkan oleh Geneva Centre for the
Democratic Control of Armed Forces (DCAF) bekerja sama dengn UN INSTRAW menyatakan bahwa:

“Reformasi Sektor Keamanan berarti transformasi sektor/sistem keamanan, ‘yang mencakup semua aktor
dan peran, tanggung jawab serta tindakan mereka – yang bekerjasama mengelola dan menjalankan sistem
tersebut dengan cara yang lebih sesuai dengan norma-norma demokrasi dan prinsip-prinsip tata pemerin-
tahan yang baik, dan dengan demikian berperan menghasilkan kerangka keamanan yang berjalan dengan
baik’. Sektor/sistem keamanan meliputi angkatan bersenjata, kepolisian, badan-badan intelijen dan pen-
gelola perbatasan, badan-badan pengawas seperti parlemen dan pemerintah, sistem-sistem peradilan dan
pemasyarakatan, pasukan keamanan non-reguler dan kelompok-kelompok masyarakat sipil”.

Reformasi sektor atau sistem keamanan merupakan proses yang bertujuan untuk menjamin terjadinya
demokratisasi dan kontrol dari pihak sipil terhadap sektor keamanan; dan mengembangkan sektor
keamanan yang efektif, bisa dilaksanakan dan efisien. Kedua tujuan ini mencakup penguatan terhadap
manajemen, kapasitas pemerintah dan kementrian, parlemen dan organisasi-organisasi masyarakat sipil.
Dalam proses reformasi ini penting diperhatikan aspek/isu gender. Dalam manual yang dikembangkan
oleh DCAF&INSTRAW disebutkan bahwa integrasi isu gender ke dalam reformasi sektor keamanan
dapat dilakukan dengan 2 strategi, yaitu: pengarusutamaan gender (gender mainstreaming), dan mem-
promosikan partisipasi perempuan dalam sektor keamanan. Banyak cara melakukan gender mainstream-
ing, di antaranya disebutkan contoh seperti memasukkan isu gender ke dalam pelatihan-pelatihan inti
bagi APH (aparat penegak hukum) – termasuk pengacara, hakim, dan staf administrasi; gender budget-
ing dalam anggaran sektor keamanan publik; dan mengadakan ahli gender dalam tim asesmen.

Komnas Perempuan sebagai salah satu mekanisme HAM nasional (NHRI – National Human Rights
Institution) menemukan dan mendokumentasikan kasus-kasus kekerasan terhadap perempuan, yang
secara khusus terjadi di ranah yang menjadi tanggung jawab negara dan secara spesifik yang dilakukan
oleh aparat pertahanan dan keamanan. Sebagian besar kasus kekerasan terhadap perempuan ini terjadi
di wilayah konflik, atau wilayah-wilayah paska-konflik, pengungsian dan kebencanaan, yang masih
meninggalkan sejumlah masalah, misalnya konflik di Poso-Sulawesi Tengah, Aceh, Papua, dan Ambon-
Maluku. Demikian pula dengan wilayah-wilayah terluar atau wilayah perbatasan, misalnya di Pontianak-
Kalimantan Barat, Kupang dan Atambua-Nusa Tenggara Timur.

Tidak berhenti hanya dalam wilayah tersebut, diskriminasi serta kekerasan terhadap perempuan dan
anak juga terjadi dalam konteks kebebasan beragama seperti yang terjadi pada penyegelan gereja pada
Jemaat GKI Yasmin di Bogor, penyegelan dan pelarangan pada Jemaat HKBP Filadelfia di Bekasi, peny-
erangan Jemaat Syiah di wilayah Sampang, serta penyerangan Jemaat Ahmadiyah Indonesia. Intimidasi,

Kata Pengantar iii


pelecehan seksual hingga ancaman perkosaan menimpa jemaat perempuan dalam kelompok-kelompok
tersebut, dimana dilakukan oleh aparat, yang sejogyanya menjaga pertahanan dan keamanan.

Pemantauan dan dokumentasi Komnas Perempuan juga menunjukkan kerentanan terjadinya kekerasan
terhadap perempuan di wilayah-wilayah konflik sumber daya alam (SDA). Penahanan sewenang-
wenang, penembakan, penelanjangan, pemukulan membabi buta dan bentuk lain yang tercatat sepan-
jang 10 tahun belakangan ini menunjukkan bahwa kekerasan terhadap perempuan terjadi di wilayah
konflik SDA dan belum ada penyelesaian yang memadai.

Dalam semua catatan kekerasan terhadap perempuan, yang memprihatinkan adalah peran aparat
pertahanan dan keamanan yang seharusnya menjadi pengayom /pelindung/pemberi keamanan kepada
masyarakat, justru menjadi pelaku kekerasan terhadap perempuan. Oleh karena itu, Komnas Perem-
puan merasa penting melakukan kajian dan memberikan rekomendasi berkaitan dengan reformasi
sektor keamanan dalam rangka mengembangkan upaya-upaya terkait pencegahan, penanganan dan
perlindungan kekerasan terhadap perempuan.

Jakarta, Desember 2014


Komnas Perempuan
Daftar Isi

Kata Pengantar iii


Daftar Isi v
Pendahuluan 1
Komnas Perempuan sebagai Lembaga HAM Nasional 1
Prinsip Kerja Komnas Perempuan 1
Sistematika Penulisan 2
Temuan Pemantauan Kekerasan terhadap Perempuan Terkait SSR 3
Kekerasan terhadap Perempuan di Wilayah Konflik, Pengungsian, dan Kebencanaan 3
• Poso 3
• Papua 5
• Ambon 6
• Aceh 7
Kekerasan terhatap Perempuan di Wilayah Perbatasan 8
• Wilayah Perbatasan Kalimantan - Pontianak dan Nunukan 9
Kekerasan terhadap Perempuan dalam Konteks Kebebasan Beragama 10
• Jemaat Gereja Kristen Indonesia Yasmin - Bogor 10
• Penyegelan dan Pelarangan Ibadah Gereja Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) Filadelfia - Bekasi 11
• Penyerangan Syiah - Sampang 11
• Penyerangan Ahmadiyah 12
Kekerasan terharap Perempuan dalam konflik Sumber Daya Alam 14
• Kecamatan Sape, Kabupaten Bima – Nusa Tenggara Barat dan Wilayah Konflik SDA Lainnya 14
Reformasi Sektor Keamanan 16
Kebijakan Berkaitan dengan Sektor Keamanan pada Masa Orde Baru 16
Kebijakan Berkaitan dengan Sektor Keamanan pada Masa Reformasi 17
• Pemisahan TNI dan Polri 17
• Potensi Konflik Horisontal dan Terjadinya Kekerasan terhadap Perempuan 17
• Potensi Konflik Sumber Daya Alam dan Kekerasan terhadap Perempuan 19
• Pemulihan (Korban) Pasca Konflik 19
Reformasi Sektor Keamanan Berperspektif HAM dan Gender 20
Rekomendasi 23
Daftar Pustaka 25

Daftar Isi v
6 Reformasi Sektor Keamanan yang Berwajah Perempuan
Pendahuluan

[Link]

Komnas Perempuan sebagai Prinsip Kerja Komnas Perempuan


Lembaga HAM Nasional
Korban pelanggaran HAM cenderung rentan dan
Konstitusi negara Indonesia mencantumkan direntankan, antara lain karena belum terciptanya
penghormatan terhadap hak asasi manusia sebagai sistem perlindungan saksi dan korban, tuntutan aturan
pijakan berbangsa dan bernegara. Oleh karena itu pembuktian yang sulit dipenuhi korban (terutama
dalam tata kelola negara yang menghormati hak asasi korban kekerasan seksual), viktimisasi, stigmatisasi dan
manusia, keberadaan lembaga HAM nasional atau kriminalisasi korban, ketimpangan relasi (kuasa) antara
National Human Rights Institution (NHRI) sangat korban dan pelaku—terutama jika pelaku dari institusi
penting. Peran utama NHRI adalah memantau pertahanan dan keamanan. Sebagai lembaga HAM
– karena negara tidak dapat memantau dirinya nasional, Komnas Perempuan mempunyai mandat
sendiri, dan sebagai sistem koreksi yang memberikan untuk merespons kekerasan terhadap perempuan
rekomendasi, masukan kebijakan berbasis temuan (korban pelanggaran HAM) dan salah satu prinsip
(hasil pemantauan) maupun prinsip-prinsip hak asasi kerja Komnas Perempuan adalah keberpihakan kepada
manusia dan keadilan gender. korban yang diwujudkan dengan cara, antara lain
mendengarkan suara korban. Hingga saat ini, Komnas
Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan
Perempuan telah berpengalaman dan bekerja sama
(Komnas Perempuan) merupakan salah satu lembaga
dengan korban selama lebih dari 15 tahun. Pemantauan
HAM nasional, selain Komnas HAM dan Komisi
HAM berbasis gender yang mendengarkan suara
Nasional Perlindungan Anak Indonesia (KPAI).
korban ini dapat memberikan kedalaman informasi
Komnas Perempuan lahir atas desakan Masyarakat
mengenai bentuk kekerasan yang dialami oleh korban
Anti Kekerasan, khususnya gerakan perempuan,
(perempuan).
kepada negara untuk menghentikan kekerasan
terhadap perempuan, yang pada waktu itu konteksnya Komnas Perempuan juga mengembangkan sistem
adalah Tragedi Mei ’98 saat terjadi kerusuhan massal pemulihan bagi korban. Dengan terobosan metodologi
dan kekerasan seksual (perkosaan massal). Presiden ‘pantau-pulih’, Komnas Perempuan melakukan
Habibie merespons dengan mengeluarkan Perpres pemulihan korban berbasis komunitas sehingga korban
Nomor 65 Tahun 1998 tentang Pendirian Komnas tidak merasa ditinggalkan setelah menceritakan
Perempuan. pengalaman kekerasan yang kerap kali meninggalkan
trauma. Sebagai contoh adalah Program Anyam Noken
yang dikembangkan bersama perempuan di Papua—
program ini membuka ruang bagi perempuan korban
untuk saling memulihkan dengan

Pendahuluan 1
berbagi pengetahuan dan pengalaman keberdayaan. Sistematika Penulisan
Dengan metode seperti ini, Komnas Perempuan Dokumen ini memaparkan sejumlah temuan
mengembangkan sistem yang mentransformasi korban pemantauan kekerasan terhadap situasi perempuan
menjadi penyintas (survivor) atau pembela (defender) terkait isu reformasi sektor keamanan (security sector
HAM. reform – SSR) di berbagai konteks, yaitu wilayah
Komnas Perempuan juga mengupayakan pemenuhan konflik bersenjata, pengungsian dan kebencanaan,
hak dan perlindungan korban dengan membangun konflik kebebasan beragama, dan konflik sumber
mekanisme perlindungan bagi korban, yang dibangun daya alam. Pemaparan temuan ini dilengkapi
bekerjasama dengan Komnas HAM, Mahkamah dengan identifikasi pihak-pihak yang terlibat dalam
Agung, Kejaksaan Agung, Kementerian Pemberdayaan konteks konflik tersebut, bentuk kekerasan terhadap
Perempuan dan Perlindungan Anak Kepolisian, perempuan, keberulangan atau lapisan-lapisan
Kementerian Hukum dan HAM, dan Kementerian kekerasan yang dialami, serta sejumlah upaya (proses)
Koordinasi Politik, Hukum dan Keamanan. Kerja penyelesaian. Bagian kedua mempresentasikan analisis
sama ini melahirkan Lembaga Perlindungan Saksi dan kebijakan sektor keamanan (dan pertahanan negara)
Korban (LPSK), mewujudkan reformasi pendidikan dari masa Orde Baru sampai masa Reformasi berkaitan
HAM dan Gender di Kepolisian melalui Kesepakatan dengan kekerasan terhadap perempuan. Dalam analisis
Bersama (MOU) guna membangun sistem peradilan kebijakan ini ditunjukkan sejumlah negara yang telah
pidana terpadu dalam penanganan kasus-kasus berhasil mengimplementasikan reformasi sektor
kekerasan terhadap perempuan (SPPT PKKTP), keamanan yang berperspektif HAM dan gender. Dan
serta pelaksanaan monitoring dan evaluasi tentang bagian terakhir mengidentifikasi sejumlah kesimpulan
penanganan kasus kekerasan terhadap perempuan. dan rekomendasi berkaitan dengan reformasi sektor
keamanan yang berperspektif HAM dan gender.

2 Reformasi Sektor Keamanan yang Berwajah Perempuan


Temuan Pemantauan
Kekerasan terhadap
Perempuan Terkait SSR

[Link]

Kekerasan terhadap Perempuan


S ejak kelahirannya hingga saat ini, Komnas
Perempuan telah melakukan sejumlah pemantauan
kekerasan terhadap perempuan dalam berbagai
di Wilayah Konflik, Pengungsian,
Kebencanaan
konteks, di antaranya di wilayah konflik, konteks
Poso
kebebasan beragama, tempat pengungsian, wilayah
perbatasan, dan wilayah bencana. Temuan pemantauan Pola operasi keamanan di wilayah Poso ketika konflik
menemukenali pola-pola kekerasan yang dialami oleh adalah dengan membangun pos-pos Brimob dan TNI
perempuan, yang berkait erat dengan kebijakan sektor di sepanjang jalan utama (Trans Sulawesi), pada setiap
keamanan termasuk tindakan aparat yang bernuansa pintu masuk desa di wilayah kabupaten Poso, dan
kekerasan berbasis gender (terutama kekerasan menempatkan pos jaga sejenis di tengah pemukiman
seksual). masyarakat di setiap desa. Rata-rata masa bertugas
pasukan keamanan/TNI di Poso sekitar 2-6 bulan.
Penjelasan berikut memberikan gambaran temuan
Selain kebijakan operasi di atas, tahun 2005 Mabes
pemantauan Komnas Perempuan terhadap kekerasan
Polri memberlakukan program Polisi Masyarakat
terhadap perempuan di sejumlah konteks.
(Polmas). Ada sejumlah kebijakan pemerintah dalam
operasi keamanan di Poso, yaitu: 1) Instruksi Presiden
Nomor 14 tahun 2005 tentang Langkah-Langkah
Komprehensif Penanganan Masalah Poso, yang

Temuan Pemantauan Kekerasan terhadap Perempuan 3


Dalam beberapa menekankan sikap mereka yang sering dinilai sewenang-wenang dan
pertemuan KP upaya arogan telah menimbulkan rasa takut dan tidak aman
dengan petinggi pengungkapan di kalangan penduduk setempat.
institusi keamanan/
dan perusakan jaringan
militer setempat, Interaksi sosial antara aparat pertahanan dan keamanan
terungkap bahwa
pelaku teror termasuk
dengan masyarakat sipil bermula dari hubungan
atasan cenderung pelaku kerusuhan,
personal yang berlanjut hingga terjadinya eksploitasi
melihat masalah 2) SATGAS Poso
seksual, terutama terjadi pada perempuan mudanya.
eksploitasi seksual yang mengusung
Modus yang umum terjadi adalah awalnya ’dipacari’
sebagai masalah pemulihan keamanan
oleh anggota aparat keamanan hingga perempuan
asmara dua pribadi secara holisitik, dan 3)
yang salah satunya
tersebut hamil dan melahirkan anak, diberi janji akan
KOOPSKAM.
mengingkari dinikahi, namun akhirnya ditinggalkan begitu saja
janjinya. Dalam operasi tanpa ada pertanggungjawaban setelah masa tugas
keamanan untuk aparat yang bersangkutan berakhir. Sebenarnya,
pemulihan keamanan Komandan atau Atasan langsung para prajurit tersebut
paska konflik Poso di mengetahui yang dilakukan bawahannya, akan tetapi
bawah tanggung jawab POLRI dengan bantuan dari mereka justru membantu dengan menggunakan
TNI. Hal ini terlihat dalam setiap operasi dan satgas penyelesaian adat dan kekeluargaan.
langsung dipimpin oleh POLRI. Meski demikian,
Dalam beberapa pertemuan Komnas Perempuan
operasi keamanan ini masih meninggalkan catatan
dengan petinggi institusi keamanan/militer setempat,
terkait dengan 1) tidak transparan dan akuntabelnya
terungkap bahwa Atasan cenderung melihat masalah
jumlah pasukan yang dikerahkan, 2) tidak adanya
eksploitasi seksual (yang sering disebut ingkar janji)
evaluasi dari pemerintah terkait pelaksanaan operasi
sebagai masalah asmara dua pribadi di mana salah
sebelumnya, 3) lemahnya mekanisme pengawasan
satu pihak mengingkari janjinya. Jika diteliti lebih
operasi di lapangan, 4) kehadiran aparat keamanan
lanjut, hubungan antara perempuan (muda) dan
dalam jumlah besar yang masih belum memberikan
aparat diwarnai dengan kekuatan (relasi) kuasa, yang
jaminan rasa aman bagi masyarakat, dan 5) adanya
dengan sengaja melakukan tindakan untuk tujuan
keterlibatan aparat keamanan baik Polri maupun TNI
mendapatkan keuntungan, baik sosial, politik,
dalam berbagai kasus kekerasan terhadap masyarakat.
maupun seksual dengan menjalin relasi dengan
Dalam pemantauan di Poso Komnas Perempuan masyarakat. Ketika terjadi permasalahan, penelusuran
dengan jelas menemukan adanya kebijakan keberadaan para pelaku sulit dilakukan, selain karena
menempatkan pos keamanan/militer di tengah-tengah mereka meninggalkan alamat palsu kepada korban
masyarakat. Di satu sisi, kebijakan ini merupakan dan keluarga, tetapi juga mekanisme pemindahan
strategi untuk memastikan keberadaan dan kesigapan tugas (rolling) pasukan tidak transparan. Bahkan
aparat keamanan dalam mengantisipasi kejadian yang kepolisian atau Komando Distrik Militer (Kodim)
mengarah atau memperluas konflik. Namun di sisi lain, setempat tidak dapat memberikan informasi yang jelas
strategi penempatan aparat pertahanan dan keamanan tentang keberadaan pasukan Bawah Kendali Operasi
demikian tanpa disertai dengan mekanisme kontrol (BKO) karena semua sistem operasi ditentukan dari
dan pengawasan yang ketat, menguatkan intensitas pusat. Meskipun atasan mengetahui prajurit pernah
interaksi sosial antara aparat pertahanan dan keamanan melakukan kesalahan tapi tetap saja yang bersangkutan
dengan penduduk setempat. Aparat pertahanan dan dipindahtugaskan ke wilayah konflik lain, dan tidak
keamanan dengan mudah terlibat dalam acara-acara heran jika di wilayah tugas yang baru juga melakukan
sosial masyarakat seperti pesta pernikahan, pesta kekerasan yang sama. Selain itu, tidak ada hukuman
adat dan kegiatan budaya lainnya. Kehadiran aparat atau sanksi yang memberikan efek jera terhadap pelaku.
keamanan dalam jumlah banyak di kampung dan

4 Reformasi Sektor Keamanan yang Berwajah Perempuan


[Link]

Papua Intelijen, dan d) operasi teritorial. Kebijakan ini


Persoalan mendasar pada konflik di Papua berkaitan merupakan operasi manunggal TNI bersama rakyat
dengan pengerahan dan penempatan pasukan dalam bentuk pengabdian pada masyarakat di desa
keamanan bahwa tidak adanya keputusan politik atau kampung, melalui pembangunan fisik maupun
Presiden sebagaimana yang disyaratkan dalam Undang- non-fisik.
Undang No 34 Tahun 2004 tentang Tentara Nasional Laporan Stop Sudah menunjukkan bahwa pada saat
Indonesia. operasi keamanan di wilayah Kabupaten Puncak Jaya
Dalam Pasal 17 menegaskan bahwa pengerahan Papua, dalam rangka pengejaran terhadap kelompok
pasukan TNI merupakan kewenangan dan tanggung Tentara Pembebasan Nasional Organisasi Papua
jawab Presiden (ayat 1) dan selanjutnya pengerahan Merdeka (TPNOPM), penyerangan menyasar
pasukan TNI harus dengan persetujuan DPR (ayat ke pemukiman masyarakat sipil di Tingginambut,
2). Proses pengiriman pasukan keamanan seharusnya Kabupaten Puncak Jaya karena dianggap wilayah
disertai dengan mekanisme pengawasan yang ketat. OPM. Aparat TNI membakar kampung termasuk
Gelar kekuatan militer dalam tugas-tugas perbantuan rumah dan ternak. Masyarakat, terutama perempuan
kepolisian harus berdasarkan permintaan dari POLRI dan anak kemudian mengungsi keluar dari kampung.
dan TNI tidak bisa membuat penugasan sendiri, Komnas Perempuan menerima kesaksian dari
kecuali dalam rangka pengamanan perbatasan wilayah sejumlah perempuan di Tingginambut bahwa mereka
terluar Indonesia. mengalami kekerasan seksual dan perkosaan oleh
aparat TNI. Di salah satu operasi keamanan di daerah
Kebijakan keamanan di Papua, terdapat berbagai jenis Kabupaten Jayapura, pasca tahun 1980-an, bahkan
operasi keamanan, antara lain: a) operasi perbatasan perempuan mengalami kekerasan seksual di pos
untuk penjagaan kawasan perbatasan di pulau-pulau tentara dan dipakai sebagai umpan oleh tentara, agar
paling luar wilayah Negara Indonesia, b) Operasi suami/ayah yang dituduh Organisasi Papua Merdeka
Pengamanan Daerah Rawan dan Pengamanan Objek (OPM) mau keluar dari persembunyian di hutan dan
Vital Nasional yang bersifat strategis, c) operasi menyerah.

Temuan Pemantauan Kekerasan terhadap Perempuan 5


Ambon Sipil dan hadirnya aparat keamanan
di wilayah Ambon, ditemukan adanya
Kota Ambon, Maluku, menjadi
Penderitaan kekerasan yang dilakukan oleh aparat
salah satu konsentrasi wilayah
yang ditimbulkan kepada perempuan warga sipil yang
konflik pada tahun 1999.
karena pecahnya saat itu menjadi pengungsi. Prostitusi
Konflik tersebut bermula dari
konflik tersebut yang semakin merebak, perkosaan yang
pertikaian dua pemuda di daerah
dirasakan hampir dilakukan oleh aparat kepada perempuan
tersebut. Konflik pun meluas
seluruh warga pengungsi, kasus hamil diluar nikah
menjadi konflik antar warga,
yang mendiami antara aparat keamanan dan perempuan
yang diperparah dengan nuansa
wilayah Ambon pengungsi setempat, hingga penelantaran
antar agama didalamnya. Awalnya
dan pada lingkup yang dilakukan oleh aparat keamanan
pada tingkat kota, namun konflik
yang besar dan perempuan pengungsi setempat2,
meluas ke tingkat wilayah hingga
adalah wilayah menjadi permasalahan tersendiri ditengah
ke beberapa pulau di sekitarnya.
Maluku. kondisi konflik sosial dan pengungsian.
Warga sendiri tidak mengetahui
Salah satu penyebab hadirnya kekerasan
dengan jelas sebab mereka bertikai,
terhadap perempuan pada saat itu adalah
namun kuat dugaan bahwa konflik
warga sipil memiliki pengharapan yang besar kepada
Ambon merupakan rekayasa dari kelompok yang
aparat keamanan yang pada saat itu ditugaskan untuk
berkuasa saat itu untuk perebutan kekuasaan1.
bisa menjaga perdamaian di wilayah mereka. Selain
Penderitaan yang ditimbulkan karena pecahnya itu, bagi perempuan setempat terdapat kebanggaan
konflik tersebut dirasakan hampir seluruh warga yang tersendiri jika dapat memiliki pasangan (pacar) seorang
mendiami wilayah Ambon dan pada lingkup yang aparat militer. Hal ini tidak terlepas dari sejarah
besar adalah wilayah Maluku. Perempuan, menjadi Bangsa Indonesia yang telah puluhan tahun dipimpin
kelompok yang direkayasa untuk menjadi kelompok oleh kalangan militer, sehingga menempatkan aparat
yang lebih rentan dibandingkan dengan kelompok sebagai figure yang super power. Hal ini juga berdampak
lainnya di dalam masyarakat. Berdasarkan pada laporan pada terbatasnya akses keadilan bagi perempuan
yang diterima oleh Komnas Perempuan, terdapat korban. Hal ini terlihat pada kasus perkosaan yang
perempuan yang menjadi korban sunat alat repoduksi dilakukan oleh aparat dimana kasus tersebut dibawa ke
genitalnya. Pelakunya adalah warga sipil yang Pengadilan Militer sehingga korban dan keluarganya
merupakan pelaku penyerangan pada suatu desa. Antar tidak dapat memantau dan menjangkau sejauh mana
warga tidak lagi memiliki rasa saling percaya, karenanya proses peradilan berjalan.
besar harapan mereka ketika Pemerintah pada saat
itu mengirimkan pasukan keamanan yang berperan
sebagai penjaga perdamaian di wilayah Maluku. 2 Bahkan terdapat istilah sendiri yang ada di masyarakat
Tugas sebagai penjaga perdamaian bukanlah hal pada saat itu untuk perempuan korban penelantaran,
mudah. Berdasarkan pada kajian dan pemantauan yang yaitu Koramil (yang merupakan singkatan dari Korban
Rayuan Militer) dan juga Kopassus (Korban Pasukan
dilakukan Komnas Perempuan bersama dengan mitra
Pegang Susu). Kedua istilah tersebut dibentuk warga
lokal setempat, pasca ditetapkannya status Darurat karena pelaku kekerasan berasal dari aparat militer,
sehingga istilah yang digunakan juga dilekatkan pada
1 Laporan Komnas Perempuan, Kita Bersikap: Empat Da- identitas korps mereka. Dalam dunia militer, Koramil
sawarsa Kekerasan terhadap Perempuan dalam Perjalanan adalah kepanjangan dari Komando Rayon Militer,
Bangsa, 2009. sedangka Kopassus adalah Korps Pasukan Khusus.

6 Reformasi Sektor Keamanan yang Berwajah Perempuan


[Link]

Aceh penggusuran paksa dilakukan untuk aktivitas yang


Komnas Perempuan melakukan pemantauan lebih strategis dan produktif, seperti pembangunan
terhadap kondisi perempuan di pengungsian akibat pusat pelelangan ikan (PPI) dan pembangunan
bencana alam dan gempa Tsunami di Aceh, pada 19 kembali lapangan sepak bola, juga karena alasan
Oktober 2005 sampai dengan 28 Februari 2006, di 15 estetika.
Kabupaten/Kota Nanggroe Aceh Darussalam yaitu Pelibatan militer dalam penggusuran merupakan
Sabang, Banda Aceh, Aceh Besar, Aceh Jaya, Aceh wujud pendekatan represif terhadap masyarakat Aceh
Barat, Nagan Raya, Aceh Barat Daya, Aceh Selatan, selama konflik bersenjata berlangsung di wilayah ini.
Simeuleu, Singkil dan Pidi. Pemantauan ini dilakukan Kehadiran aparat bagi pengungsi adalah sinyal bahwa
di tempat-tempat pengungsian, seperti tenda-tenda kebijakan untuk memindahkan para pengungsi bersifat
darurat, barak, rumah-rumah darurat yang didirikan sangat mendesak dan tidak ada lagi ruang untuk
oleh pengungsi sendiri, fasilitas publik yang dijadikan mendiskusikannya. Pengungsi tidak berani menolak
rumah sementara maupun di rumah keluarga. karena harus berhadapan dengan militer. Kondisi
Dari pendokumentasian ini ditemukan 191 kasus dan situasi ini menyebabkan ketakutan luar biasa
dengan: 146 kasus kekerasan, 38 kasus diskriminasi bagi pengungsi. Kasus penggusuran paksa, baik atas
dan 7 kasus penggusuran paksa terhadap perempuan tempat tinggal maupun ruang usaha, tidak dilaporkan
pengungsi. Dari 146 tindak kekerasan, 108 kasus atau ke pihak yang berwajib, karena warga tidak tahu harus
sekitar 74% adalah kekerasan seksual. Penggusuran melaporkan ke mana—seluruh tindak penggusuran
paksa dilakukan oleh aparatur negara terhadap tempat dilakukan oleh aparat pemerintah, khususnya dari
tinggal pengungsi dan ruang usaha perempuan. Alasan tingkat kecamatan, termasuk oleh aparat keamanan.

Temuan Pemantauan Kekerasan terhadap Perempuan 7


Kekerasan terhadap Perempuan di Wilayah Perbatasan
Untuk memperoleh gambaran umum mengenai kondisi sektor keamanan dan implementasi reformasi sektor
keamanan (SSR) di wilayah perbatasan, dipilih dua daerah perbatasan, yaitu wilayah perbatasan Indonesia
dengan Malaysia di Kalimantan Barat dan wilayah perbatasan Indonesia dengan Timor Leste di Nusa Tenggara
Timur – Kupang dan Atambua. Diskusi Kelompok Terfokus dengan sejumlah pakar yang selama ini bekerja di
wilayah-wilayah perbatasan tersebut dilaksanakan tanggal 14 November 2011 di Pontianak dan 25 Oktober
2011 di Kupang dan 28 Oktober 2011 di Atambua. Hasil Diskusi Kelompok Terfokus menemukan sejumlah isu
berkaitan dengan SSR di wilayah perbatasan berikut.
Wilayah Perbatasan Nusa Tenggara Timur – Kupang dan Atambua
Reformasi sektor keamanan belum mendapat perhatian serius para aktivis meskipun ada advokasi terhadap kasus
kekerasan yang dilakukan oleh aparat keamanan kepada masyarakat sipil atau penolakan masyarakat untuk
pembangunan Komando Resor Militer (Korem) dan/atau Komando Distrik Militer (Kodim) di sejumlah
wilayah di NTT. Pihak pemerintah provinsi dan kabupaten pun sepertinya tidak terlibat dalam proses reformasi
sektor keamanan, demikian pula dengan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) yang ditengarai tidak
pernah secara spesifik menyoal masalah kebijakan perbatasan.
Kebijakan pertahanan wilayah perbatasan diputuskan oleh pemerintah pusat, tetapi penambahan jumlah pasukan
dilakukan seijin kepala daerah – ada satu kasus dimana Bupati Kabupaten Belu menolak penambahan karena
dianggap sudah terlalu banyak. Masyarakat sipil bersama Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) lokal dapat
berperan sebagai pressure group. Misalnya di sejumlah kabupaten, masyarakat berhasil menolak dibangunnya
Markas Komando Resor Militer (Korem) yang kemudian mendapat dukungan dari pemerintah setempat.

Berdasarkan FGD yang dilakukan bersama berbagai pihak di Kupang, telah diidentifikasi sejumlah isu
berkaitan dengan kebijakan pertahanan dan keamanan di wilayah perbatasan di NTT, yaitu:
1. Jumlah pasukan (militer) yang ditempatkan di wilayah perbatasan dengan Timor Leste dirasakan terlalu
besar dibandingkan dengan pihak Timor Leste yang hanya menempatkan 2 brigade militer di Maliana.
Jumlah pasukan militer yang besar ini tidak disertai dengan tugas yang memadai mengakibatkan terjadinya
tindakan-tindakan yang mengganggu masyarakat sipil, di antaranya adalah pelecehan seksual, perkosaan,
pembunuhan, perampasan/penyitaan barang tanpa aturan yang jelas
2. Penempatan pos dan asrama militer di dekat tempat tinggal masyarakat mengancam penduduk setempat
karena dengan ‘kekuasaan’nya anggota TNI leluasa masuk wilayah penduduk dan melakukan tindakan apa
saja, seperti merampas hasil bumi, mengganggu anak perempuan dan istri penduduk setempat, serta tidak
jarang terjadi hubungan personal antara oknum aparat dengan perempuan setempat yang mengakibatkan
banyak kasus ingkar janji – ditinggal karena dipindahtugaskan dalam keadaan sudah hamil atau melahirkan
anak atau terlanjur menjalin hubungan suami-istri.
3. Pembangunan markas TNI seringkali tidak mematuhi kebijakan dan prosedur pemerintah daerah
setempat. Di banyak kasus, TNI membeli tanah penduduk dengan cara apa pun untuk mendapatkannya –
termasuk memaksa dan mengadu domba penduduk yang menolak menjual tanah. Setelah berhasil membeli
tanah baru kemudian TNI meminta ijin pendirian bangunan kepada pemerintah daerah.
4. Program ‘ABRI Masuk Desa’ masih dilakukan di sejumlah wilayah di NTT. Program seperti ini biasanya
mengundang partisipasi masyarakat untuk melaksanakan pembangunan di daerah setempat, misalnya
pembangunan jembatan atau jalan. Dalam prosesnya, penduduk laki-laki diharuskan membantu pekerjaan
tersebut sepanjang hari selama kurun waktu tertentu dan selama itu pula para istri/perempuan mengerjakan
semua pekerjaan rumah beserta ladang sendiri. TNI juga menerapkan hukuman disiplin bagi penduduk yang
datang terlambat untuk membantu pekerjaan—dimulai dari menegur hingga merendam mereka di sungai.
5. Kasus Charles Mali yang meninggal di pos penjagaan Yonif 744 paska disiksa oleh 23 anggota TNI
menunjukkan bahwa kehadiran TNI menjadi ancaman bagi warga setempat. Setelah sidang kasus ini (di
pengadilan militer) perilaku TNI berubah menjadi lebih ramah kepada penduduk setempat, misalnya
dengan cara mengadakan berbagai kegiatan rekreatif dan sosial untuk masyarakat. Namun persepsi penduduk
setempat masih melekat bahwa TNI mengganggu kehidupan masyarakat.

8 Reformasi Sektor Keamanan yang Berwajah Perempuan


6. Khusus di wilayah perbatasan, banyak perempuan mengalami pelecehan seksual, perkosaan hingga
pembunuhan. Kasus kekerasan yang dilakukan oleh aparat seperti ini sulit diungkap, dan jika terungkap
biasanya akan diselesaikan secara adat yang selalu merugikan pihak perempuan penduduk setempat.

Wilayah Perbatasan Kalimantan — Pontianak dan Nunukan


Seperti di Nusa Tenggara Timur, Komnas Perempuan juga melakukan diskusi kelompok terfokus dengan
sejumlah aktivis dan pakar di wilayah perbatasan Kalimantan Barat dan Timur yang berbatasan dengan Malaysia.
Berikut sejumlah catatan hasil diskusi kelompok terfokus berkaitan dengan sektor keamanan dan kekerasan
terhadap perempuan.

1. Perbatasan berpotensi menjadi jalur perdagangan manusia (trafficking). Pemalsuan identitas dan usia
anak perempuan dalam pembuatan passport atau ijin Pos Lintas Batas (PLB) menjadi lazim dilakukan untuk
menyelundupkan anak perempuan bekerja di Serawak, Malaysia.
2. Kalimantan Barat merupakan daerah dengan angka perdagangan manusia (trafficking) yang tinggi
– merupakan daerah transit dan pemasok dalam perdangangan manusia. Perhatian pemerintah daerah
difokuskan pada pencegahan pedagangan perempuan dan anak, serta perlindungan buruh migran. Kondisi
ini ditengarai terjadi karena perubahan drastis dengan banyaknya lahan rakyat yang dikonversi menjadi kebun
kelapa sawit oleh perusahaan besar sehingga rakyat tidak mempunyai lahan untuk diolah sendiri.
3. Kalimantan Timur (Nunukan) berbatasan langsung dengan Malaysia, yang memudahkan banyak
penduduk ‘pindah’ ke Malaysia karena merasa perlu mendapatkan hak untuk hidup layak. Pembangunan di
wilayah perbatasan yang terlantar, menyebabkan penduduk merasa lebih baik melintas batas ke Malaysia yang
dianggap lebih maju dan dalam kondisi ini ancaman memindahkan patok batas negara menjadi serius.
4. Pemekaran wilayah di Kalimantan dianggap lebih berdampak negatif, karena dengan dibangunnya
jalan Trans Kalimantan yang tujuan utamanya membuka akses tetapi kemudian banyak tempat karaoke di
tepi-tepi jalan yang merekrut anak perempuan putus sekolah jadi penari ‘jogan’ – ditengarai banyak anak
perempuan lulus SD langsung bekerja sebagai buruh migran, atau pekerja di tempat karaoke. Keadaan yang
sama terjadi juga di daerah-daerah perkebunan kelapa sawit.
5. Pembukaan wilayah perkebunan sawit skala besar dipakai untuk melindungi daerah-daerah
perbatasan, padahal industri skala besar ini mematikan ekonomi rakyat. Hutan rotan yang dikelola rakyat
sebelum ada perkebunan sawit memberikan pekerjaan kepada ibu-ibu – dulu dengan mudah memperoleh
uang 1 juta dengan hasil rotan. Sekarang untuk memperoleh 500 ribu saja sulit. (Salah seorang sumber pada
DiskusiKelompok Terpadu). Ada penggusuran sumber daya masyarakat – dari rotan ke sawit yang menjadi milik
perusahaan besar, serta ada kolusi antara kekuasaan negara dengan pengusaha, yang tidak memihak kepada
rakyat.
6. Wilayah pedalaman yang masih terisolasi justru menyembunyikan akses langsung ilegal di daerah
perbatasan. Contohnya, di salah satu daerah pegunungan ada Pendeta Malaysia membuka Lembaga Pendidikan
dan membangun vila. Daerah ini sulit dijangkau dari wilayah Indonesia tetapi penduduk dari Malaysia dengan
mudah bisa masuk ke wilayah Indonesia, bahkan membangun vila dengan penjagaan keamanan.
7. Ditengarai ada militer yang melakukan ‘bisnis’ kebun sawit di daerah perbatasan dan cenderung
melakukan kriminalisasi masyarakat dan aktivis yang menolak sawit—mempertahankan lahan sebagai bagian
dari hak rakyat tetapi dianggap pemerintah sebagai anti pembangunan dan tidak nasionalis. Lebih lanjut,
warga negara di wilayah perbatasan ini dianggap melawan pemerintah sehingga patut mendapat kekerasan
oleh aparat keamanan. Selain itu, ditengarai pula perusahaan perkebunan menggunakan ‘buruh turunan’ –
Jika orang tua (ayah) tidak sanggup lagi bekerja maka anaknya akan diminta (paksa) menggantikan sang ayah
bekerja di perusahaan tersebut.
8. Perusakan lingkungan besar-besaran di Kalimantan, khususnya wilayah perbatasan, terjadi selain
karena konversi lahan untuk perkebunan sawit, juga karena penambangan emas (di hulu Sungai Kapuas
yang menyebabkan pencemaran merkuri). Padahal air sungai yang sudah tercemar digunakan warga untuk
memenuhi kebutuhan air dalam kehidupan sehari-hari.

Temuan Pemantauan Kekerasan terhadap Perempuan 9


[Link]

Kekerasan terhadap Perempuan dalam Konteks Kebebasan Beragama

Jemaat Gereja Kristen Indonesia Yasmin – Bogor


Kekerasan terhadap jemaat Geraja Kristen Indonesia alat pengaman. Namun demikian, pengawasan ketat
(GKI) Yasmin bermula dari sengketa izin mendirikan dari Polisi ini tidak menghentikan kelompok massa
bangunan (IMB). GKI Yasmin telah memperoleh yang mengganggu jalannya ibadat dengan berteriak-
(IMB) Gereja di Taman Yasmin Bogor melalui Surat teriak (intimidasi), dan memasang spanduk berisi
Keputusan Walikota Bogor Nomor 645.8-372 Tahun penolakan pendirian gereja Yasmin.
2006 tertanggal 13 Juli 2006. Namun Kepala Dinas
Dalam keadaan demikian, para perempuan
Tata Kota dan Pertamanan Kota Bogor melakukan
menghadapi situasi dimana anak-anak mereka
Pembekuan Izin atas bangunan gereja tersebut melalui
mengalami trauma karena sering menyaksikan
surat Nomor 03/208 - OTKP tertanggal 14 Februari
kekerasan dan tekanan terhadap jemaat yang sedang
2008. Sejak peristiwa ini GKI Yasmin dan Pemkot
beribadat, yang dilakukan oleh massa intoleran. Anak-
Bogor saling melayangkan gugatan yang sampai
anak juga tidak dapat beribadat bersama orang tuanya
sekarang belum menemukan penyelesaian.
karena alasan keamanan, sehingga mereka beribadat
Sejak penyegelan Gereja oleh Pemkot Bogor hingga di gereja lain. Pemantauan Komnas Perempuan juga
sekarang jemaat GKI Yasmin menjalankan ibadat menemukan adanya diskriminasi terhadap perempuan
di trotoar. Pemkot Bogor melarang aktivitas ibadat jemaat GKI Yasmin – mereka tidak dapat/semakin
di trotoar ini dan mengeluarkan kebijakan untuk berkurang mengikuti ibadat yang dilakukan di depan
pemindahan lokasi sebagai tempat ibadat para jemaat. Istana Merdeka setiap 2 minggu sekali karena dilarang
Sejak itu pula, setiap kali melaksanakan ibadat jemaat oleh Sinode dengan alasan ibadat tersebut merupakan
GKI Yasmin mendapat pengawasan ketat dengan penghinaan terhadap simbol negara.
pengerahan ratusan aparat polisi yang membawa alat-

10 Reformasi Sektor Keamanan yang Berwajah Perempuan


Penyegelan dan Pelarangan Ibadah Gereja Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) Filadelfia – Bekasi
Lokasi Gereja Filadelfia berada di RT 01 RW 09 Kekerasan juga dialami oleh masyarakat yang turut
Dusun III Kelurahan Jejalen Jaya, Kecamatan Tambun menyatakan dukungan terhadap negara untuk
Utara, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat. Sejak bulan menegakkan hak beragama dan beribadat, serta kepada
Desember 1999 hingga 2012, para jemaat anggota polisi yang melakukan perlindungan bagi masyarakat
gereja ini mengalami kesulitan untuk menjalankan sipil. Komnas Perempuan mencatat adanya intimidasi/
ibadah karena gangguan massa intoleran. Kasus pelecehan seksual dan ancaman perkosaan yang
HKBP Filadelfia bermula dari munculnya Surat diarahkan kepada perempuan.
Keputusan Bupati Bekasi Nomor 300/675/
Penyerangan terhadap Jemaat HKBP Filadelfia
Kesbangpol Linmas/09, tanggal 31 Desember 2009
mengalami puncaknya pada tanggal 20 Mei 2012. Pada
yang berisi pelarangan pendirian gereja. Namun
ibadah mingguan tersebut jemaat mendapat kekerasan
surat tersebut digugat dan Pengadilan Tata Usaha
secara fisik meliputi pelemparan batu, kotoran, balok
Negara (PTUN) mengabulkan seluruh gugatan.
es, ban bekas, jerigen air, gelas air mineral, air kencing
Kemudian Bupati melayangkan kasasi yang ditolak
dan kayu. Massa (sebanyak 400-500 orang) melakukan
pengadilan. Bulan Maret 2011 seharusnya HKBP
penghadangan terhadap Jemaat HKBP Filadelfia.
Filadelfia dapat melanjutkan pembangunan gereja
Mereka melakukan teror secara psikologis berupa
dan melakukan ibadah karena telah mendapatkan
ancaman-ancaman terhadap jemaat, menganjurkan
kepastian status hukum, namun pada praktiknya SK
kekerasan dan kebencian terhadap Jemaat HKBP
bupati tidak dicabut. Bahkan pembubaran paksa
Filadelfia. Dalam situasi seperti ini polisi tidak
kegiatan ibadah terus-menerus terjadi disertai dengan
melakukan pencegahan dan pengamanan di lapangan
kekerasan dan intimidasi terhadap jemaat HKBP
terhadap massa intoleran, malah menghalau Jemaat
termasuk perempuan dan anak-anak. Gangguan
HKBP untuk membubarkan diri dan tidak melakukan
ibadah mingguan HKBP Filadelfia terus berlangsung,
ibadah mingguan. Hingga saat ini Jemaat HKBP
termasuk pemasangan pengeras suara di lokasi ibadah
Filadelfia tidak dapat melakukan ibadah di dalam
oleh massa intoleran yang tujuannya mengganggu
gereja serta di lingkungan gereja karena ancaman dan
jemaat HKBP Filadelfia.
intimidasi yang diterima. Dua minggu sekali HKBP
Hasil pemantauan Komnas Perempuan menunjukkan Filadelfia melakukan ibadah di depan Istana bersama
bahwa intimidasi dan kekerasan yang diarahkan jemaat GKI Yasmin, Bogor. Komnas Perempuan juga
untuk menghalangi ibadah jemaat HKBP Filadelfia menemukan adanya viktimisasi serta kriminalisasi
terus meningkat. Salah satu pemantauan Komnas terhadap korban yang, juga merupakan tokoh agama
Perempuan yang dilakukan pada ibadah hari Minggu, setempat—pendeta, sebagai salah satu bentuk
6 Mei 2012, menemukan bahwa kehadiran pihak intimidasi kepada seluruh Jemaat HKBP Filadelfia.
kepolisian tidak memberikan jaminan rasa aman.

Penyerangan Syiah – Sampang


Sebagai suatu komunitas etnik, masyarakat Madura agama merupakan pelecehan terhadap harga diri orang
memiliki komitmen keagamaan Islam yang tinggi. Madura.
Dalam hal penghayatan terhadap ajaran agama dan
Pada 2004, salah seorang warga Sampang merintis
semangat penyebaran agama, orang Madura sering
pesantren Misbahul Huda yang mengajarkan Islam
disamakan dengan orang Aceh. Sifat keislaman
ala Syiah dan pengaruhnya cepat meluas. Kondisi
penduduk diaktualisasikan dalam institusi keagamaan,
ini menimbulkan kecemburuan dari sejumlah tokoh
prilaku sosial, dan institusi kekerabatan. Agama
masyarakat Nangkernang, terutama kiai yang beraliran
menjadi sumber konflik sosial karena kedudukannya
Ahlu Sunnah wal Jamaah atau Sunni. Gesekan mulai
yang penting sebagai salah satu unsur pembentuk
terjadi pada tahun 2006, ketika Syiah disebut ajaran
identitas etnis Madura. Sebagai unsur identitas etnik,
sesat. Protes itu reda dengan sendirinya, dan warga pun
agama merupakan bagian integral dari harga diri
melupakan soal Syiah tersebut. Namun, konflik terjadi
orang Madura. Oleh karena itu, pelecehan terhadap
lagi ketika acara Maulid Nabi yang digelar di Misbahul
ajaran agama atau prilaku yang tidak sesuai dengan
Huda pada April 2007, komunitas Syiah dihadang oleh

Temuan Pemantauan Kekerasan terhadap Perempuan 11


ribuan warga yang protes. massa (diperkirakan 500 orang) membawa senjata
Pelaku terus Sejak itu komunitas tajam berupa celurit, pedang, dan pentungan
menyerang Syiah sering mengalami serta bom molotov telah berkumpul di kampung
dengan intimidasi dan ancaman Nangkernang. Pihak kepolisian yang mendapat laporan
lemparan batu, dari komunitas anti Syiah. menanggapinya dengan mengirimkan lima personil
bom molotov Pengajian muslimatan ke lokasi. Pada pukul 11.00 WIB, pelaku yang telah
dan menikam yang diadakan warga non- berkumpul mulai menghadang anak-anak Muslim
dengan senjata Syiah selalu memojokkan Syiah yang akan kembali ke pesantren mereka di luar
tajam. Akibat komunitas Syiah dengan kota Sampang. Para laki-laki dewasa Muslim Syiah
penyerangan mengatakan bahwa Syiah berusaha melindungi anak-anak dan istri mereka.
tersebut, satu itu sesat, kafir. Akibatnya
Pelaku terus menyerang dengan lemparan batu, bom
orang bernama banyak komunitas Syiah
molotov dan menikam dengan senjata tajam. Akibat
tewas, 10 orang yang biasa mengikuti
penyerangan tersebut, satu orang tewas, sepuluh orang
menderita luka pengajian muslimatan ini
menderita luka kritis, serta puluhan lainnya mengalami
kritis, serta pada keluar. Meskipun
luka-luka. Pelaku juga merusak dan membakar rumah
puluhan orang demikian warga non-
warga muslim Syiah. Tercatat 40 rumah warga dibakar
mengalami luka- Syiah tetap menjemput
dan dirusak. Sebanyak 276 orang penganut Syiah yang
luka. dan memaksa agar warga
terdiri dari anak-anak, perempuan dan lak-laki dewasa
Syiah mengikuti pengajian
serta lansia mengungsi ke Gelanggang Olah Raga
muslimatan ini, karena
(GOR) Sampang. Kemudian beredar isu berkaitan
jika tidak mengikuti
dengan pemaksaan relokasi bagi penganut Syiah ke
mereka diancam rumahnya akan dibakar. Kekerasan
Sidoarjo, Jawa Timur oleh Pemerintah Kabupaten
terhadap muslim Syiah di Dusun Nangkrenang Desa
Sampang dan Pemprov Jawa Timur. Usulan relokasi ini
Karang Gayam Kabupaten Sampang Madura Jawa
ditolak oleh penganut Syiah yang tetap ingin kembali
Timur kembali terjadi pada tanggal 26 Agustus
ke Karang Gayam.
2012. Pada sekitar pukul 08.00 WIB ratusan

Penyerangan Jemaat Ahmadiyah


Penyerangan terhadap Jemaat Ahmadiyah terjadi di MUI/15/2005 yang menetapkan bahwa Ahmadiyah
sejumlah tempat, di antaranya: Cianjur (19 September berada di luar Islam dan dipandang sebagai aliran sesat.
2005); Kampus al-Mubarok, Parung, Bogor (15 Juli
Pemantauan Komnas Perempuan menemukan
2005); Singaparna, Tasikmalaya (19 Juni 2007); Mesjid
sejumlah bentuk kekerasan yang dialami perempuan
Istiqomah, Desa Sadasari, Kecamatan Argapura,
Ahmadiyah yang mencakup di antaranya:
Majalengka (28 Januari 2008); di Parakansalak,
Sukabumi (25 April 2008) dan di Cisalada, Ciampea, Kekerasan Seksual: pada saat penyerangan
Bogor. (1 Oktober 2010). Pelaku penyerangan terhadap komunitas Ahmadiyah, para
ditengarai para milisi sipil yang tidak kurang berjumlah penyerang kerap kali mengeluarkan teriakan
200 orang dengan menggunakan kostum/atribut: yang mengandung ancaman kekerasan seksual/
FPI, LPI, GERAK, BRIGADE TALIBAN, FORUM perkosaan
PENYELAMAT UMAT, FPUI, GIROH dan Pengucilan dari Komunitas: Komunitas
AMANAH (Aliansi Masyarakat Anti Ahmadiyah). Ahmadiyah dilarang kembali ke desanya (oleh
Legitimasi yang menjadi pemicu penyerangan adalah Ketua RT) dan jika memaksa diancam bahwa
isi maupun dampak dari 23 produk kebijakan yang warga kampung akan bertindak. Selama lima
dikeluarkan oleh Lembaga-lembaga Negara dan tahun terakhir komunitas Ahmadiyah mendiami
Pemerintahan, 8 di tingkat nasional dan 15 di tingkat Asrama Transito Transmigrasi dengan nasib yang
lokal. Kebijakan di tingkat nasional, misalnya, tidak jelas dan sulit kembali ke daerah asal mereka
Surat Dirjen Sospol No. 05/IS/IX/1994 tanggal karena ditolak masyarakat di sana. Dan sekitar 22
16 September 1994 tentang pelarangan Ahmadiyah keluarga di Nusa Tenggara Barat (NTB) merasa
secara nasional dan Keputusan Fatwa Majelis tidak aman lagi tinggal di kampung halaman.
Ulama Indonesia (MUI) No. 11/MUNAS VII/

12 Reformasi Sektor Keamanan yang Berwajah Perempuan


Gangguan Reproduksi dan Gangguan Jiwa: Gugatan ini dilakukan oleh pihak Kantor Urusan
sejumlah warga mengalami stres atau gangguan Agama (KUA) yang telah menikahkan mereka.
jiwa karena rumahnya dibakar. Komnas Perempuan
Kehilangan Status Kependudukan: sebagian besar
juga menemukan adanya seorang ibu yang sedang
warga Ahmadiyah di Kabupaten Lombok Barat,
hamil 4 bulan mengalami keguguran karena harus
Nusa Tenggara Barat, tak terkecuali perempuan,
menggendong anaknya yang mengalami ketakutan
hingga kini mengalami kesulitan mendapatkan
akibat penyerangan. Para perempuan yang sudah
status kependudukan baik di daerah asal maupun
berkeluarga mengalami gangguan reproduksi,
di tempat relokasi
termasuk mengabaikan alat kontrasepsi, gangguan
menstruasi setelah penyerangan terjadi, sebagian Kekerasan Terhadap Anak – diskriminasi di bidang
tidak teratur dan sebagian lagi mengalami pendidikan: diperkirakan sepuluh siswa sebuah
pendarahan. SD Negeri di Mataram mendapat rapor sementara
dengan tulisan “Rapor Anak Ahmadiyah”. Pada
Kehilangan Akses Ekonomi: setelah penyerangan
saat ujian pun mereka mendapatkan jadwal
terjadi, sejumlah perempuan yang berjualan di
yang berbeda dengan siswa lain yang berakibat
pasar menyatakan bahwa para pembeli mereka
pada pengucilan oleh guru dan teman-teman di
berkurang dan sering keluar pernyataan: “Mereka
sekolahnya.
adalah Ahmadiyah”. Seorang ibu yang bekerja
sebagai guru di sebuah SD Negeri diminta berhenti Kebencian Sesama Anak: “Hampir setiap hari
mengajar oleh pihak sekolah setelah diketahui kalau saya lewat jalan itu, saya diledek karena
dirinya bagian dari Jemaat Ahmadiyah. saya Ahmadiyah”, pengakuan seorang siswa kelas
II SMP Negeri di Jawa Barat itu yang setiap kali
Kehilangan Hak untuk Berkeluarga: anak
menerima ejekan dari teman sebaya setiap kali
perempuan yang menikah dengan Muslim yang
pergi atau pulang sekolah. Mereka mengejek
bukan Ahmadiyah dianggap tidak sah, dipandang
dengan menyebut Ahmadiyah sesat dan kafir, yang
zinah dan anaknya dipandang sebagai anak haram.
kadang disertai dengan pengeroyokan.

Temuan Pemantauan Kekerasan terhadap Perempuan 13


Kekerasan terhadap Perempuan dalam Konflik Sumber Daya Alam

Kecamatan Sape, Kabupaten Bima – Nusa Tenggara Barat dan Wilayah Konflik SDA Lainnya
Kasus berawal dari diterbitkannya SK Bupati Bima penolakan terhadap kehadiran perusahaan. Aksi
No. 188.45/ 357/004/2010 tertanggal 28 April penolakan terjadi berulang kali sejak Oktober 2010
2010 tentang Persetujuan Penyesuaian Izin Usaha – Februari 2011, dengan membawa korban luka dan
Pertambangan (IUP) Explorasi kepada perusahaan kerugian material. Kerusuhan berlanjut dan terjadi
tambang. Secara administrasi pemerintahan lokasi berulang kali, dan kerusahan terakhir terjadi pada
Izin Usaha Pertambangan (IUP) tersebut termasuk bulan Februari 2012.
dalam wilayah Kecamatan Sape, Kecamatan Lambu,
Kasus kerusuhan yang terjadi di Sape Bima ini
dan Kecamatan Langgudu seluas 24.980 Ha., yang
melibatkan aparat keamanan, perusahaan tambang,
status fungsi lokasi perusahaan di tiga kecamatan
dan masyarakat yang menolak kehadiran perusahaan
tersebut adalah Hutan Lindung (HL), Hutan Produksi
tambang di daerah mereka. Dalam posisi konflik SDA
Terbatas (HPT), Hutan Produksi Tetap (HP), dan
ini, pendekatan kekerasan menjadi umum diambil
Areal Penggunaan Lain (APL). Penerbitan SK No.
oleh aparat keamanan. Hal ini menjadi kecenderungan
188.45/357/004/2010 tersebut bukanlah pemberian
bahwa aparat menjadi alat pemerintah daerah,
ijin baru, melainkan penyesuaian terhadap ijin yang
dan mungkin juga diminta oleh perusahaan untuk
lama yaitu Kuasa Pertambangan No. 621 Tahun 2008,
melindungi kepentingan perusahaan. Ketika tuntutan
sebagaimana diamanatkan Peraturan Pemerintah
warga tidak terpenuhi, dialog tidak menghasilkan
No, 23 Tahun 2010. Ijin Usaha Pertambangan (IUP)
kepuasan pada warga karena tidak memenuhi inti
adalah ijin untuk melakukan eksplorasi dengan jenis
keinginan warga. Aparat keamanan pun diminta untuk
kegiatan penyelidikan umum, kegiatan eksplorasi yang
menghadapi mereka. Bagi perempuan, selain ditangkap
meliputi : pengambilan sampel, pengambilan contoh
dan ditahan, mereka juga mengalami trauma ketika
air dan membuat peta geologi. Pada tahun 2010 ini,
melihat warga lain, bahkan suami atau saudara mereka
Bupati mengeluarkan surat ijin kepada perusahaan lain
mengalami kekerasan. Trauma kekerasan itu dialami
juga.
cukup panjang setelah kerusuhan. Pada kasus Sape,
Untuk melakukan sosialisasi tahapan kegiatan perempuan ikut merasakan bagaimana kehadiran
perusahaan sesuai dengan ijin yang diberikan, perusahaan tambang telah mengganggu aktivitas
pemerintah daerah membantuk Tim Sosialisasi. pertanian/perkebunan mereka. Sumber penghidupan
Pada implementasinya, sosialisasi dilakukan hanya yang ada di daerah mereka harus hilang karena
kepada tokoh masyarakat dan aparat di ketiga dijadikan lokasi pertambangan.
kecamatan, sehingga banyak warga masyarakat tidak
Penegakan hukum terhadap aparat yang melakukan
mengetahui rencana eksplorasi yang akan dilakukan
kekerasan ternyata disimpulkan sebagai tindakan
oleh perusahaan. Dengan kesenjangan komunikasi
individu aparat. Padahal mereka ditempatkan oleh
demikian, komunitas mahasiswa dan aktivis
institusi keamanan untuk menghadapi warga. Jika
lingkungan memberikan informasi tentang dampak
memang ada kecenderungan terjadi kekerasan oleh
negatif dari berbagai perusahaan pertambangan di
aparat, tentu anggotanya perlu diantisipasi dengan
wilayah-wilayah yang akan dilakukan eksplorasi.
tidak dibekali persenjataan yang “mematikan” warga.
Berangkat dari informasi ini, warga mulai melakukan

14 Reformasi Sektor Keamanan yang Berwajah Perempuan


Konflik Sumber Daya Alam (SDA) seperti di Sape Ketajek Jawa Timur, Petani Kopi Hutan Colol Mang-
Bima, sebenarnya juga terjadi di beberapa wilayah di garai Nusat Tenggara Timur, yang berkonflik dengan
Indonesia, dengan kecenderungan penyebab dan akibat perusahaan perkebunan; Hutan Tanaman Industti
sama, yakni menggunakan pendekatan keamanan (HTI) di Suluk Bongkal Bengkalis Riau; serta Kasus
untuk penyelesaian konflik sumber daya alam. Adapun Konflik Sumber Daya Alam lainnya, seperti Alas Tlogo
wilayah-wilayah lainnya adalah Gunung Mutis, Mollo Jawa Timur, Rumpin Bogor Jawa barat, Bojong Jawa
Nusa Tenggara Timur dengan perusahaan pertamban- Barat, dan Pegunungan Kendeng Pati Jawa Tengah.3
gan, Kebon Kopi Manggarai Nusa Tenggara Timur,
Petani Gendang Mahima Manggarai Nusa Tenggara 3. Lihat Khalisa Khalid dan Arimbi Heroepoetri dalam
Timur, Halimun Jawa Barat yang berkonflik untuk Background Paper Komnas Perempuan No. 01/2011 tentang
kepentingan konservasi Hutan (Taman Nasional); Pemetaan Awal Keterlibatan Militer dalam Konflik Sumber
PT Lonsum Bulukumba, Sulawesi Selatan, Perhutani Daya Alam di Indonesia.

Temuan Pemantauan Kekerasan terhadap Perempuan 15


Reformasi Sektor
Keamanan

[Link]

Kebijakan Berkaitan dengan Sektor Keamanan pada Masa Orde Baru


Pada masa sebelum reformasi, konsep sektor keamanan di Indonesia ditujukan untuk menjamin stabilitas
dan keamanan negara, sentralistik serta otoriter menjadi metode dalam menjalankan konsep tersebut. Hal
ini berdampak mudahnya militerisme merambah ke dalam semua aspek kehidupan berbangsa dan bernegara,
yaitu dalam aspek sosial, politik, ekonomi, serta lingkungan. Salah satu pelaksanaan konsep tersebut terlihat
pada program Dwi Fungsi ABRI, yang melibatkan militer (dan polisi) dalam kegiatan sehari-hari masyarakat
seperti kerja bakti, pembangunan sarana publik, termasuk penjagaan keamanan wilayah/lingkungan. Peran
Dwi Fungsi ABRI ini kemudian mengakibatkan oknum militer masuk ke wilayah bisnis. Paradigma pertahanan
negara juga bersifat semesta, yang berarti melibatkan seluruh warga negara (sebagai hak dan kewajiban) untuk
mempertahankan kelangsungan hidup bangsa dan negara Indonesia yang merdeka dan berdaulat. Kesemestaan
mengandung makna pelibatan seluruh rakyat dan segenap sumber daya nasional, sarana dan prasarana nasional,
serta seluruh wilayah negara sebagai satu kesatuan pertahanan yang utuh dan menyeluruh. Model pertahanan
negara ini menempatkan warga negara sebagai subjek sesuai dengan perannya masing-masing, dan dengan
mempertimbangkan sistem pertahanan strategis melihat kondisi geografis Indonesia.
Dalam pemahaman tersebut, dikembangkan juga program kemanunggalan ABRI. Dengan program ini aparat
keamanan (TNI dan POLRI) dapat ditempatkan bersama atau di lingkungan hunian masyarakat yang prinsipnya
‘menyatukan TNI – masyarakat’ dalam menjalankan peran warga negara untuk pertahanan negara. Pada
perkembangannya, kehidupan dalam lingkungan sama ini mengakibatkan hubungan personal atau perkawinan
antara penduduk (anak perempuan) dengan anggota TNI/ABRI yang menimbulkan banyak permasalahan di
kemudian hari – ingkar janji, atau ditinggal karena pindah tugas.

16 Reformasi Sektor Keamanan yang Berwajah Perempuan


Kebijakan berkaitan dengan Sektor keamanan pada Masa Reformasi
Paska Orde Baru dan memasuki masa Reformasi, sektor keamanan di Indonesia mengalami perubahan paradigma
dan konsep pertahanan dan keamanan. Demokratisasi mensyaratkan perubahan pola pikir pemerintahan yang
sentralistik dan otoriter menjadi lebih terbuka, adil dan menganut prinsip-prinsip demokrasi dengan mengadopsi
konsep Human Security sebagaimana dinyatakan oleh Dewan Keamanan PBB. Dengan perubahan paradigma ini,
maka definisi keamanan nasional merujuk pada kebutuhan untuk memelihara dan mempertahankan eksistensi
negara dengan memperhatikan dan membangun kekuatan ekonomi, militer dan politik serta diplomasi. Pelaku
keamanan nasional pun mencakup TNI (militer), kepolisian, badan intelejen, legislatif dan eksekutif.

Pemisahan TNI dan POLRI


Pada perkembangannya, terjadi pemisahan tugas UU TNI no. 34 Tahun 2004 mengatur
pokok dan fungsi (tupoksi) antara TNI dan independensi TNI yang antara lain mengatur
POLRI, yang diperkuat oleh TAP MPR No. VI tentang ketidakmandirian TNI dan tersentralisasi,
Tahun 2000 dan TAP MPR No. VII Tahun 2000 TNI tidak melakukan bisnis dan tidak berpolitik
tentang pemisahan peran POLRI dan TNI. Fungsi praktis. TNI harus tunduk kepada Kementerian
Kepolisian, sebagaimana diatur dalam UU No. 2 Pertahanan yang berwenang membantu presiden
tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik dalam mengembangkan kebijakan pertahanan
Indonesia difokuskan pada pemeliharaan keamanan negara secara umum dan dalam rangka mengambil
dan ketertiban masyarakat, penegakan hukum, keputusan politik dalam kaitannya dengan fungsi
perlindungan, pengayoman, dan pelayanan kepada pertahanan negara untuk menegakkan kedaulatan
masyarakat. Sementara, TNI (UU TNI No. 34 Tahun dan keutuhan NKRI serta keselamatan segenap
2004) berfungsi menegakkan kedaulatan negara, warna negara dari ancaman bersenjata.
mempertahankan keutuhan wilayah Negara Kesatuan
Pemisahan peran dan fungsi ini berpotensi
Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan
menimbulkan masalah, diantaranya kebingungan
Undang-Undang Dasar 1945.
dalam menangani kejahatan transnasional
UU Nomor 34 Tahun 2004 tentang Tentara dan potensi konflik antara POLRI dan TNI
Nasional Indonesia serta UU No. 2 tahun 2002 di lapangan. UU No. 2 tahun 2002 tentang
tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia Kepolisian Negara Republik Indonesia mengatur
ini juga mengatur kebijakan strategis Sistem secara normatif bahwa polisi bertanggungjawab
Pertahanan Negara, termasuk pola hubungan dan kepada legislatif dan eksekutif, pasal 8 ayat 2
kewewenangan Presiden, Menteri Pertahanan dan menyatakan bahwa Kepolisian Negara Republik
Panglima TNI. Sedangkan sebagai tambahan, Indonesia dipimpin oleh Kapolri, yang dalam
dibentuk UU No. 2 Tahun 2003 yang memberikan pelaksanaan tugasnya bertanggungjawab kepada
mandat kepada presiden tuntuk membentuk Presiden sesuai dengan peraturan perundangan.
Dewan Pertahanan Nasional (DPN) yang Ketentuan tersebut memberikan dua implikasi:
fungsinya merumuskan kebijakan-kebijakan 1) menempatkan Kapolri sebagai pejabat politik
strategis bidang pertahanan. setingkat Menteri, dan 2) tidak ada pemisahan
pertanggungjawaban politik dan operasional.

Potensi Konflik Horizontal dan Terjadinya Kekerasan Terhadap Perempuan


Prinsip human security dijalankan dengan setengah tetap menyatakan bahwa hakikat pertahanan negara
hati, karena prinsip-prinsip lama masih dipertahankan. adalah segala upaya pertahanan bersifat semesta yang
Sebagai contoh, UU No.2 tahun 2003 pasal 3 penyelenggaraannya didasarkan pada kesadaran atas
menyatakan pertahanan negara disusun berdasarkan hak dan kewajiban warga negara serta keyakinan pada
prinsip demokrasi, hak asasi manusia, kesejahteraan kekuatan sendiri. Artinya, ciri kerakyatan, kesemestaan
umum, lingkungan hidup, ketentuan hukum nasional, (sishankamrata) dan kewilayahan masih melekat dalam
hukum internasional dan kebiasaan internasional, serta sistem pertahanan negara, yang dipertegas dalam
prinsip hidup berdampingan secara damai, tapi pasal 2 pasal 8 dan 9 pelibatan seluruh rakyat dan segenap

Reformasi Sektor Keamanan 17


sumber daya nasional, sarana dan prasarana nasional, cara menghentikan konflik dengan cara menghentikan
serta seluruh wilayah negara sebagai satu kesatuan kekerasan fisik (tidak termasuk di dalamnya adalah
pertahanan yang utuh dan menyeluruh. kekerasan seksual dan sejenisnya). Sementara itu,
temuan pemantauan Komnas Perempuan di wilayah
Salah satu dampak dari penerapan Prinsip Semesta
konflik bersenjata menunjukkan bahwa perempuan
adalah kekerasan terhadap perempuan serta sumber
rentan mengalami kekerasan seksual dan kekerasan
daya alam (SDA). Pemantauan Komnas Perempuan
yang diarahkan pada ketubuhan perempuan yang
menemukan kasus-kasus perkosaan, pelecehan
dijadikan alat melumpuhkan pihak lawan. Sebagai
seksual serta kekerasan dalam pacaran (KDP)/
contoh, konflik Ahmadiyah di wilayah di Jawa
hubungan personal, dan perempuan dijadikan
Barat dan Nusa Tenggara Barat tahun
komponen pendukung untuk
2008, perempuan dan anak perempuan
dipekerjakan di dapur oleh aparat
Prinsip Semesta mendapatkan ancaman perkosaan
TNI selama bertugas di wilayah
ini berdampak dan pelecehan seksual dari kelompok
tersebut. Temuan lain, menunjukkan
pada kekerasan intoleran tetapi aparat keamanan
‘penggunaan’ perempuan
terhadap cenderung melakukan pembiaran.
sebagai umpan atau alat untuk
mengintimidasi/memancing para perempuan dan Kebijakan lain yang berpotensi
suami keluar dari persembunyian, sumber daya menimbulkan kekerasan terhadap
seperti terjadi di Aceh dan Poso alam (SDA). perempuan adalah Peraturan
terhadap para istri yang dianggap Pemantauan Kepala Kepolisian Negara Republik
kelompok separatis – banyak kasus Komnas Indonesia Nomor 8 Tahun 2009
perkosaan, penelanjangan paksa dan Perempuan tentang Implementasi Prinsip dan
pelecehan yang dialami oleh para menemukan kasus- Standar Hak Asasi Manusia dalam
perempuan tersebut. kasus perkosaan, Penyelenggaraan Tugas Kepolisian
pelecehan Negara Republik Indonesia, pasal
Selain itu, hasil pemantauan di seksual. 4 menyatakan bahwa Polri berhak
Poso Komnas Perempuan juga
mengurangi/ membatasi hak seseorang
menemukan perempuan yang
dalam keadaan darurat, kerusuhan
diajak berkencan oleh aparat TNI
massal, maupun dalam keadaan yang berbahaya.
untuk memenuhi kebutuhan seksualnya. Demikian
Kewenangan ini diindikasikan dapat berdampak pada
pula dalam kasus Ahmadiyah, perempuan mengalami
kekerasan terhadap perempuan, meskipun pasal 20
ancaman perkosaan yang dilakukan oleh kelompok
menyatakan bahwa dalam hal yang ditangkap adalah
massa intoleran (dan tidak ada jaminan keamanan
seorang perempuan, maka wajib diperhatikan perlakuan
dari aparat). Pada banyak kasus, aparat keamanan
khusus antara lain: a) sedapat mungkin diperiksa oleh
memandang korban sebagai pelaku. Jemaat Ahmadiyah
petugas perempuan atau petugas yang berperspektif
dianggap tidak menghormati norma dan adat istiadat
gender; b) diperiksa di ruang pelayanan khusus; c)
masyarakat setempat. Dengan alasan keamanan serta
perlindungan hak privasi untuk tidak dipublikasikan;
ketertiban masyarakat, Jemaat Ahmadiyah diminta
d) hal mendapat perlakuan khusus; e) dipisahkan
untuk pergi dari lingkungan setempat, sementara massa
penempatannya dari ruang tersangka laki-laki; dan f )
intoleran yang merusak rumah dan aset milik Jemaat
penerapan prosedur khusus untuk perlindungan bagi
Ahmadiyah tidak dicegah atau diabaikan oleh aparat
perempuan.
keamanan. Ahmadiyah dianggap sebagai sumber yang
mengundang datangnya komunitas perusak, bukan Pelaksanaan pasal ini mensyaratkan sejumlah kriteria
sebagai warga negara yang harus dilindungi. Kasus dipenuhi oleh institusi POLRI, di antaranya personil
serupa terjadi juga pada Jemaah Syiah di Sampang, perempuan yang cukup, tersedianya ruangan khusus,
Madura tahun 2012. dan ada SOP khusus untuk menjamin pelaksanaan
dengan benar. Pada praktiknya, dalam pemantauan
Lebih lanjut, Pasal 36 dalam UU No. 7 tahun 2012
Komnas Perempuan menemukan bahwa proses
menunjukkan bahwa pelibatan masyarakat dalam
penyidikan sering dilakukan oleh petugas laki-laki
penyelenggaraan keamanan nasional rawan digunakan
karena keterbatasan jumlah penyidik perempuan.
oleh kelompok-kelompok intoleran untuk menetuskan
Sebagai dampaknya adalah banyak tahanan perempuan
konflik horizontal. UU No. 7 tahun 2012 tentang
harus diperiksa dan mendapat perlakuan kekerasan
Penanganan Konflik, pasal 12 menyatakan salah satu

18 Reformasi Sektor Keamanan yang Berwajah Perempuan


secara fisik, seksual, ekonomi dan psikis selama dalam korban salah tangkap ketika pulang kerja malam hari.
proses penyidikan, dan tahanan kepolisian. Mereka dianggap melanggar ketertiban umum dan
ketentraman masyarakat karena pulang kerja malam
Kekerasan terhadap perempuan juga terjadi pada
hari, padahal profesi sebagai perawat atau buruh pabrik
penerapan PP No. 6 Tahun 2010 tentang Satuan Polisi
seringkali mendapatkan giliran kerja malam. Selain itu,
Pamong Praja: ketertiban umum dan ketenteraman
Polisi Pamong Praja juga melakukan razia perempuan
masyarakat adalah suatu keadaan dinamis yang
pekerja seks, yang seringkali melakukan pelecehan
memungkinkan pemerintah, pemerintah daerah, dan
seksual terhadap para perempuan tersebut karena
masyarakat dapat melakukan kegiatan dengan tenteram,
dianggap sudah mengganggu ketertiban masyarakat
tertib, dan teratur (pasal 1 ayat 9). Pemantauan
dan pelecehan itu sebagai sanksi menjerakan atas
Komnas Peremuan bersama mitra di sejumlah daerah
perbuatan mereka.
menemukan sejumlah kasus perempuan menjadi

Potensi Konflik Sumber Daya Alam (SDA) dan Kekerasan terhadap Perempuan
Pasal 8 dan 9 UU No. 3 tahun 2003 mengatur kepentingan pertahanan dan keamanan negara.
komponen cadangan dan komponen pendukung Komnas Perempuan menemukan bahwa dalam konflik
yang meliputi sumber daya nasional, termasuk di SDA ini, perempuan dalam kondisi rentan mengalami
dalamnya sumber daya alam. Pemanfaatan SDA kekerasan antara lain kekerasan ekonomi – terpaksa
untuk kepentingan pertahanan dan keamanan negara menjadi pencari nafkah karena suaminya tertembak
berpotensi monopoli untuk kepentingan atas nama mati atau kehilangan mata pencaharian ketika lahan
keamanan dan ketahanan negara atau hanya bagi korp sumber penghidupan mereka diambil alih negara;
TNI. Pada sejumlah kasus konflik sumber daya alam kekerasan seksual berupa ancaman pelecehan seksual
yang terjadi dalam masa reformasi ini, masyarakat ketika perempuan berani melakukan perlawanan;
‘berperang’ melawan TNI dan kepolisian yang disewa kekerasan dalam pacaran yang dilakukan oleh aparat
oleh perusahaan eksplorasi sumber daya alam, atas TNI dan POLRI yang ditempatkan dekat wilayah
nama pendayagunaan sumber daya alam untuk hunian penduduk setempat.

Pemulihan (Korban) Pasca-Konflik


Undang-Undang No. 7 Tahun 2012 tentang ada kemungkinan penyelesaian konflik tidak
Penanganan Konflik Sosial (PKS) dan Inpres No 2 menyeluruh dan tidak tuntas. Di samping itu, peran
tahun 2013 berkaitan dengan pemulihan paska-konflik serta masyarakat dalam UU Penanganan Konflik
menyebutkan rekonsiliasi sebagai salah satu elemen, Sosial (PKS) difokuskan pada pembiayaan, bantuan
yaitu penyelesaian dan perundingan secara damai, teknis, penyediaan kebutuhan dasar minimal bagi
pemberian restitusi dan/atau pemaafan. Dengan korban konflik; dan/atau bantuan tenaga dan
penyelesaian demikian, kedua kebijakan ini ditengarai pikiran. Undanga-undang ini tidak melibatkan
berpihak pada pelaku, sehingga meniadakan kepastian masyarakat dalam penanganan konflik sosial pada
hukum dan keadilan bagi korban maupun keluarga tahap membangun sistem peringatan dan tanggap
korban43. Kondisi ini juga berpotensi melahirkan dini, serta sistem pemulihan yang bertujuan agar
impunitas bagi pelaku. konflik sosial tidak berulang. Meskipun demikian,
Pasal 47 UU PKS tentang Pemantauan kinerja Satuan
UU dan Inpres ini pun tidak memuat penanganan
Tugas Penyelesaian Konflik mencantumkan unsur
dalam hal pencegahan konflik berulang, sehingga
pemerintah dan masyarakat serta memperhatikan
43 Korban yang seringkali menjadi kaum rentan dari berbagai ben-
keterwakilan perempuan sekurang-kurangnya 30%,
tuk konflik baik konflik berbasis agama, berbasis ras/etnis, agama, sebagai implementasi Rencana Aksi Nasional tentang
konflik bersenjata, konflik sumber daya alam serta konflik sosial Pencegahan, Perlindungan dan Pemberdayaan
lainnya, adalah Komunitas yang dikategorikan sebagai penyandang perempuan di Daerah Konflik (RAN P4DK),
cacat, anak, lansia, perempuan dalam konflik bersenjata, komunitas merujuk pada paragraf 5 Resolusi PBB 1325 tentang
miskin.
Perempuan, Perdamaian dan Keamanan.

Reformasi Sektor Keamanan 19


Reformasi Sektor
Keamanan Berperspektif
HAM dan Gender

[Link]

D ewan Keamanan PBB menekankan bahwa reformasi sektor keamanan dilakukan sesuai dengan konteks
(situasi) dan kebutuhan yang berbeda. Dewan Keamanan menyadari adanya keterkaitan yang kuat antara
reformasi sektor keamanan dan faktor-faktor penting lain dalam rangka menjamin stabilitas dan rekonstruksi,
seperti transitional justice, pelucutan senjata, pembubaran wajib militer (wamil), pemulangan, reintegrasi dan
rehabilitasi mantan kombatan, serta kewenangan memegang senjata dimana faktor-faktor tersebut harus mengacu
pada kesetaraan gender, anak-anak dan konflik bersenjata serta isu HAM. Sementara yang disebut sebagai
aktor keamanan menurut Dewan Keamanan PBB adalah kepolisian, tentara nasional, badan intelejen, pasukan
pengawal presiden, penjaga perbatasan dan unit-unit keamanan lokal. Para aktor ini dikategorikan sebagai
aktor keamanan utama. Badan penyelenggara fungsi pengawasan bidang keamanan mencakup di antaranya:
parlemen untuk komisi keamanan, Kementerian Pertahanan, Kementerian Dalam Negeri, Kementerian Luar
Negeri, masyarakat sipil (yang diantaranya terdiri dari media, akademisi dan ormas), Lembaga Peradilan (seperti
Kementerian Kehakiman, Lembaga Pemasyarakatan, Kejaksaan, Pengadilan), Komisi Hak Asasi Manusia
dan Komisi Ombudsman, Non-Statutory Security Force (yakni tentara pembebasan, gerilyawan, penyedia jasa
keamanan swasta, milisi ormas dan partai, dll.). Dalam reformasi sektor keamanan ditegaskan bahwa pengelolaan
dan pelaksanaan sistem keamanan harus sesuai dengan norma-norma demokrasi dan hak-hak asasi manusia.
Contoh negara-negara yang telah berhasil mengintegrasikan Konvensi Penghapusan Segala Bentuk
Diskriminasi terhadap Perempuan (CEDAW) dalam kebijakan reformasi sektor keamanan adalah Nikaragua
dan Afrika Selatan. Nikaragua nememiliki 26% anggota kepolisian perempuan sebagai dampak dari kebijakan
pengarusutamaan gender di lingkungan kepolisian, yang sudah dimulai sejak tahun 1990 atas desakan dari
gerakan perempuan serta para perempuan yang bertugas di kepolisian. Dalam keadaannya sekarang, Kepolisian
Nikaragua digambarkan sebagai negara yang paling ramah terhadap perempuan di kawasan Amerika Tengah dan
dipuji karena keberhasilannya menanggulangi kekerasan seksual.

20 Reformasi Sektor Keamanan yang Berwajah Perempuan


Afrika Selatan berhasil melibatkan partisipasi perempuan dalam proses pengkajian
ulang pertahanan negara pada tahun 1996-1998. Berkat partisipasi perempuan dalam
proses ini, sejumlah permasalahan dapat teridentifikasi sehingga dapat diusulkan serta
diintegrasikan dalam peraturan yang mengatur tentang pelecehan seksual
terhadap para perempuan oleh aparat militer, penderitaan warga negara yang
rumah dan tanahnya dirampas oleh keperluan militer, dampak lingkungan Sepanjang
dari kegiatan militer, dan isu-isu sejenis lainnya. Dan hasilnya, untuk lebih dari 10
merespons isu tersebut, dua sub-komite dibentuk melalui Kementerian tahun Komnas
Pertahanan. Perempuan telah
mendokumentasikan
Selain Nikaragua dan Afrika Selatan, negara lain yang dianggap berhasil kasus-kasus
mengintegrasikan perspektif gender ke dalam reformasi sektor keamanan kekerasan terhadap
adalah Hungaria. Hungaria berhasil meningkatkan partisipasi perempuan perempuan yang
dalam korps angkatan bersenjata dari 4,3% pada tahun 2005 menjadi 17, dilakukan oleh
56% pada tahun 2006. Peningkatan ini merupakan tingkat partisipasi kedua aparat keamanan,
tertinggi dari semua negara NATO (Latvia adalah negara tertinggi dengan baik karena
tingkat partisipasi 18,2%). Perempuan Hungaria saat ini dapat menempati posisinya sebagai
segala jabatan di angkatan bersenjata Hungaria. Pada tahun 2003 dibentuk pejabat negara
Komite Perempuan Angkatan Bersenjata Hungaria yang di antaranya berhasil maupun terkait
mendokumentasikan pengalaman militer perempuan. Dokumentasi ini dengan kebijakan
digunakan untuk membuat analisis kesetaraan gender dalam lingkungan keamanan negara
militer. dan operasi militer.
Sepanjang lebih dari 10 tahun Komnas Perempuan telah
mendokumentasikan kasus-kasus kekerasan terhadap perempuan yang
dilakukan oleh aparat keamanan, baik karena posisinya sebagai pejabat
negara maupun terkait dengan kebijakan keamanan negara dan operasi militer. Seperti telah dijelaskan terdahulu
pendokumentasian ini mencatat kasus kekerasan yang mencakup 1) Perkosaan; 2) Pelecehan seksual; 3)
Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT); 4) Perselingkuhan suami atas istri; 5) Poligami; 6) Penelantaran
ekonomi; 7) pemaksaan aborsi; dan 8) ingkar janji. Berdasarkan pengalaman kerja ini serta mandat Komnas
Perempuan untuk mengembangkan kondisi yang kondusif bagi penghapusan segala bentuk kekerasan terhadap
perempuan dan penegakan hak-hak asasi manusia perempuan Indonesia perlu mendorong pengintegrasian HAM
dan Gender ke dalam SSR, terutama integrasi Deklarasi Penghapusan Kekerasan terhadap Perempuan (diadopsi
oleh Majelis Umum PBB pada tanggal 20 Desember 1993, GA Res 48/104) yang menyatakan bahwa Kekerasan
terhadap Perempuan adalah penghambat bagi pencapaian persamaan, pembangunan dan perdamaian, dan bahwa
KTP melanggar serta menghalangi atau meniadakan kemungkinan perempuan untuk menikmati hak-hak asasi
manusia dan kebebasan pokok, dan bahwa KTP adalah perwujudan dari ketimpangan hubungan kekuasaan antara
laki-laki dan perempuan sepanjang sejarah yang mengakibatkan dominasi dan diskriminasi. Deklarasi ini juga
menyebutkan bahwa beberapa komunitas perempuan, seperti perempuan dalam komunitas minoritas, perempuan
masyarakat adat, perempuan pengungsi, perempuan migran, perempuan yang hidup di pedesaan atau pedalaman,
perempuan miskin, perempuan dalam lembaga-lembaga pemasyarakatan atau tahanan, anak-anak perempuan,
perempuan dengan disabilitas, perempuan lanjut usia dan perempuan dalam situasi konflik bersenjata adalah
komunitas yang paling rentan terhadap kekerasan. Sementara Kekerasan terhadap Perempuan sendiri didefiniskan
sebagai ‘setiap tindakan berdasarkan perbedaan jenis kelamin yang berakibat atau mungkin berakibat kesengsaraan
atau penderitaan perempuan secara fisik, psikis, seksual, termasuk tindakan ancaman tertentu, pemaksaan atau
perampasan kemerdekaan secara sewenang-wenang, baik yang terjadi di ranah publik maupun dalam kehidupan
pribadi’. (Deklarasi Penghapusan Kekerasan terhadap Perempuan pasal 1).
Reformasi sektor keamanan juga perlu mengintegrasikan UU no.7 tahun 1984 tentang Pengesahan mengenai
Konvensi Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan (CEDAW). Dalam Undang-
undang ini dinyatakan bahwa suatu kebijakan harus menghapus diskriminasi terhadap perempuan dalam
bentuk: 1). memasukan asas persamaan antara laki-laki dan perempuan (pasal 2: a), termasuk sanksi-sanksi
yang melarang semua diskriminasi terhadap perempuan (pasal 2: b); 2). menahan diri untuk melakukan suatu

Reformasi Sektor Keamanan Bersperspektif HAM dan Gender 21


tindak diskriminasi terhadap perempuan dan menjamin agar pejabat-pejabat dan lembaga-lembaga publik akan
melakukan penghapusan diskriminasi terhadap perempuan oleh orang atau organisasi apapun (pasal 2: e); 3).
mengambil langkah-langkah yang tepat, termasuk upaya menghapus, peraturan-peraturan, kebijakan-kebijakan
dan praktek-praktek yang mengandung diskriminasi terhadap perempuan. Undang-undang ini pun mendorong
untuk mengambil tindakan-tindakan khusus yang bersifat sementara (affirmative action) atau sistem kuota
demi meningkatkan integrasi perempuan ke dalam pendidikan, ekonomi, politik dan pekerjaan (pasal 4). Jika
kesetaraan kesempatan dan kesamaan perlakuan ini telah tercapai, maka tindakan khusus ini tidak diperlukan lagi
dan perlu dihentikan.

22 Reformasi Sektor Keamanan yang Berwajah Perempuan


Rekomendasi

Secara umum, rekomendasi diarahkan kepada sejumlah poin berikut


Pembaharuan kebijakan keamanan nasional dalam kaitannya dengan pengerahan kekuatan militer,
pengurangan jumlah aparat keamanan dan operasi di wilayah konflik;
Penetapan status keamanan dan pengerahan kekuatan militer dilakukan secara transparan dan akuntabel
serta diawasi secara ketat baik secara internal maupun eksternal;
Penguatan fungsi dan kapasitas POLRI dalam rangka penegakan keamanan di wilayah rentan konflik
Mengambil tindakan-tindakan khusus untuk melindungi penduduk sipil, khususnya perempuan dan anak
perempuan dari kekerasan berbasis gender, termasuk bentuk-bentuk;
kekerasan seksual;
Mengakhiri impunitas dengan memastikan bahwa semua korban kekerasan khususnya perempuan memiliki
perlindungan yang setara di bawah hukum dan menghukum semua pihak yang bertanggung jawab dalam
melakukan kekerasan seksual baik yang dilakukan oleh negara maupun aktor non negara
Institusi POLRI/Militer bekerja sama dengan NHRI maupun LSM untuk mengembangkan mekanisme
pelaporan dan pengaduan terutama untuk pelaporan kasus-kasus kekerasan dan pelanggaran HAM yang
melibatkan aparat yang bertugas di wilayah-wilayah konflik;
Institusi POLRI/Militer mengembangkan mekanisme untuk pemberian Rehabilitasi, Kompensasi dan
Restitusi bagi Perempuan dan anak korban kekerasan oleh Aparat Keamanan, termasuk menangani
konsekuensi jangka panjang yang akan dihadapi oleh korban kekerasan seksual yang juga mencakup
diskriminasi hukum, stigmatisasi sosial;
Reformasi UU Pengadilan Militer yang menegaskan bahwa proses hukum bagi aparat yang terbukti
melakukan kekerasan terhadap penduduk sipil dan kekerasan terhadap perempuan harus dibawa ke
pengadilan pidana umum.
Berikut sejumlah rekomendasi yang ditujukan bagi sejumlah lembaga
berkaitan dengan reformasi sektor keamanan berperspektif gender dan
HAM

Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI


Mengintegrasikan hak-hak asasi perempuan dalam seluruh kerangka reformasi sektor keamanan;
Memastikan bahwa RUU Peradilan Militer menegaskan bahwa prajurit militer yang melakukan tindak
pidana tunduk pada peradilan umum.

TNI dan POLRI


Menyempurnakan segenap perangkat ketentuan operasional bagi prajurit sesuai standar internasional yang
dikembangkan untuk menjamin hak-hak perempuan, seperti Resolusi Dewan Keamanan PBB tentang
kekerasan seksual dalam konflik, termasuk penjabaran atas Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 1990
tentang Administrasi Prajurit Angkatan Bersenjata yang berisi Wajib Prajurit tentang penghormatan terhadap
hak-hak wanita ke dalam Aturan Pelibatan Prajurit;

Rekomendasi 23
Mengintegrasikan temuan Komnas Perempuan tentang kekerasan terhadap perempuan dalam situasi konflik,
pengungsian, dan kebencanaan serta Hak Asasi Perempuan dan hak asasi perempuan dalam kurikulum di
segala jenjang pendidikan, termasuk pembekalan bagi aparat sebelum menjalankan tugas operasi;
Melibatkan organisasi-organisasi perempuan dalam mengembangkan standar dan perangkat pelaksanaan
serta pengawasan bagi perilaku aparat keamanan guna mencegah pelanggaran HAM, khususnya terhadap
perempuan;
Memperlakukan tindak eksploitasi seksual sebagai salah satu bentuk pelanggaran berat kedisiplinan aparat
keamanan (serious misconduct), sesuai dengan standar PBB (Buletin Sekjen PBB: ST/SGB/2003/13) yang
menuntut pemberian sanksi dan langkah-langkah khusus untuk pencegahan dan penanganannya;
Mengembangkan upaya khusus untuk menjamin hak-hak anak yang lahir dari eksploitasi seksual atau
perkosaan, dan melindungi mereka dari bentuk diskriminasi baru;
Mengintegrasikan HAM berbasis gender dan pengetahuan tentang budaya lokal ke dalam kurikulum
pendidikan TNI/POLRI di semua jenjang pendidikan.

Kementerian Pertahanan
Memastikan RUU Peradilan Militer yang menegaskan bahwa prajurit militer yang melakukan tindak pidana
tunduk pada peradilan umum.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana


Bekerja sama dengan Komnas Perempuan mengembangkan kebijakan khusus berkaitan dengan pemenuhan
hak asasi perempuan dalam seluruh tahapan penanggulangan bencana.

24 Reformasi Sektor Keamanan yang Berwajah Perempuan


Daftar Pustaka

Buku Saku Netralitas TNI. 2008.


Departemen Pertahanan Republik Indonesia. Buku Putih Pertahanan Indonesia. 2008.
Institute for Defense Security and Peace Studies (IDSPS). 2008. Jurnal Rights and Democracy:
Keamanan Nasional.
Komnas Perempuan. 2002. Peta Kekerasan: Pengalaman Perempuan Indonesia.
Komnas Perempuan. 2003. Laporan Investigasi Pelanggaran Hak Asasi Di Timor Timur, Malu-
ku, Tanjung Priok, Dan Papua 1999-2001. Kumpulan Ringkasan Eksekutif. Seri Dokumen
Kunci 4.
Komnas Perempuan. 2004. Kekerasan terhadap perempuan yang dilakukan dan / atau dibiarkan
oleh negara selama berlangsungnya konflik bersenjata (1997 – 2000). Laporan Pelapor
Khusus PBB tentang kekerasan terhadap perempuan. Seri Dokumen Kunci 5.
Komnas Perempuan. 2007. Perempuan pengungsi bertahan dan berjuang dalam keterbatasan:
Kondisi pemenuhan HAM perempuan pengungsi Aceh, Nias, Jogjakarta, Porong, NTT,
Maluku, dan Poso.
Komnas Perempuan. 2007. Mencari dan meniti keadilan: Pengalaman perempuan Aceh dari
masa ke masa.
Komnas Perempuan. 2009. Atas Nama Otonomi Daerah: Pelembagaan Diskriminasi Dalam
Tatanan Negara-Bangsa Indonesia. Laporan Pemantauan Komnas Perempuan Komnas
Perempuan Tentang Kondisi Pemenuhan Hak-Hak Konstitusional Perempuan Di 16 Kabu-
paten/Kota Pada 7 Provinsi.
Komnas Perempuan. 2009. Perempuan dalam Jeratan Impunitas: Pelanggaran dan Penan-
ganan. Dokumentasi Pelanggaraan HAM Perempuan Selama Konflik Bersenjata di Poso,
1998–2005.
Komnas Perempuan. 2009. Perempuan dan Anak Ahmadiyah: Korban Diskriminasi Berlapis.
Komnas Perempuan. 2010. STOP SUDAH! Kekerasan dan Pelanggaran HAM terhadap Perem-
puan Papua 1963-2010.
Komnas Perempuan. 2012. Laporan Tim Quick Response Pemantauan Kasus Sape –Bima Nusa
Tenggara Barat. Disampaikan dalam Sidang Paripurna Komnas Perempuan pada 7 Febru-
ari 2012.
Komnas Perempuan. 2014. Pengalaman dan Perjuangan Perempuan Minoritas Agama Meng-
hadapi Kekerasan dan Diskriminasi Atas Nama Agama. (Laporan Pelapor Khusus Komnas
Perempuan tentang Kekerasan dan Diskriminasi terhadap Perempuan Dalam Konteks
Pelanggaran Hak Konstitusional Kebebasan Beragama/Berkeyakinan. Laporan Peman-
tauan.

Daftar Pustaka 25
Manan, Abdul et al. 2008. Reformasi Sektor Keamanan, Panduan untuk Jurnalis. IDSPS (Insti-
tute for Defense Security and Peace Studies) bekerjasama dengan Friedrich Ebert Stiftung,
dan Aliansi Jurnalis Indonesia.
Organisation For Economic Co-Operation and Development (OECD). 2007. OECD DAC Hand-
book on Security System Reform: Supporting Security and Justice. Dapat diunduh dari:
[Link]
Reformasi Militer Indonesia: 2009-2014.
Rizal, Sukma. 2002. Konsep Keamanan Nasional. Center for Strategic and International Studies,
Jakarta.
The International Security Sector Advisory Team/Geneva Centre for The Democratic Control of
Armed Forces (ISSAT/DCAF). SSR in Brief. 2010. Dapat diunduh dari: [Link]
ISSAT-Public-Home/SSR-Overview/SSR-In-Brief

26 Reformasi Sektor Keamanan yang Berwajah Perempuan

Anda mungkin juga menyukai