Perencanaan Pembangunan Puskesmas Sukamanah
Perencanaan Pembangunan Puskesmas Sukamanah
SUKAMANAH
LATAR BELAKANG
Tingkat kepakaran dan kemampuan personal yang terlibat dalam proses ini
beragam, maka diharapkan kepakaran yang tersedia dapat bersifat sinergis
dan saling melengkapi.
Komunikasi dan koordinasi yang harmonis antara pihak penyedia jasa
dengan pihak pemberi kerja c.q Tim Teknis Supervisi.
Sinergisasi dengan pekerjaan lain yang terkait yang dilaksanakan secara
bersamaan pada tahun anggaran yang sama.
Maksud dari kerangka acuan ini adalah agar Konsultan Perencana Pembangunan
Puskesmas Sukamanah - Dinas Kesehatan dapat membuat suatu dokumen
perencanaan teknis yang lengkap sehingga ada satu dokumen Kegiatan
Perencanaan Pembangunan Puskesmas Sukamanah yang refresentatif berdasarkan
aturan teknis yang berlaku.
Dengan tujuan pembuatan dokumen tersebut adalah sebagai acuan dalam
melaksanakan kegiatan fisik di lapangan berupa Drawing Engenering Detail dan
Rencana Anggaran Biaya sehingga diperoleh efesiensi dan efektifitas bangunan
yang handal.
Menurut konsultan, maksud dan tujuan yang dijabarkan dalam KAK Jasa Konsultansi
Perencanaan Pembangunan Puskesmas Sukamanah sudah menjelaskan arah dari
pekerjaannya ini. Di dalam KAK dijelaskan mengenai maksudnya adalah membuat
suatu dokumen perencanaan teknis yang lengkap sehingga ada satu dokumen
Kegiatan Perencanaan Pembangunan Puskesmas Sukamanah sedangkan tujuannya
sebagai acuan dalam melaksanakan kegiatan fisik di lapangan berupa Detail
Engineering Desain dan Rencana Anggaran Biaya sehingga diperoleh efesiensi dan
efektifitas bangunan yang handal.
Maksud Tujuan
SASARAN
LINGKUP PEKERJAAN
✓ Pekerjaan Arsitektur
✓ Pekerjaan Mekanikal/Elektrikal
✓ Pekerjaan Utilitas
3. Tahap-tahapan yang akan dilaksanakan adalah;
✓ Persiapan perencanaan termasuk survey
✓ Pelaksanaan pelelangan
✓ Pengawasan berkala
Penyusunan pra-rencana
Persiapan pelelangan
LOKASI KEGIATAN
Lokasi kegiatan yang tercantum pada KAK yaitu Puskesmas Sukamanah direlokasi
ke lokasi baru yang berada di Depan SD 1 Pangalengan (Pintu) Desa Sukamanah
Jalan Raya Pintu Pangalengan Kabupaten Bandung. Berikut titik lokasi kegiatannya.
Lokasi Pembangunan
Puskesmas Sukamanah
SUMBER PENDANAAN
Kegiatan ini dibiayai dari sumber pendanaan: dari Anggaran Pendapatan dan
Belanja Daerah (DAU APBD) Kabupaten Bandung Tahun 2022 dengan Pagu
Anggaran Rp. 322.335.000 (Terbilang : Tiga Ratus Dua Puluh Dua Juta Tiga
Ratus Tiga Puluh Lima Ribu Rupiah)
Sumber dana yang tercantum pada KAK yaitu bersumber dari Anggaran Pendapatan
dan Belanja Daerah (DAU APBD) Kabupaten Bandung Tahun Anggaran 2022
sebesar Rp. 322.335.000 (Tiga Ratus Dua Puluh Dua Juta Tiga Ratus Tiga Puluh
Lima Ribu Rupiah)
Nama dan Organisasi Pejabat Pembuat Komitmen di dalam KAK sudah jelas yaitu
Dinas Kesehatan Kabupaten Bandung.
DATA DASAR
Data dasar yang ada di dalam KAK sudah cukup rinci mulai dari persyaratan-
persyaratan yang berlaku pada bangunan sipil maupun arsitektur. Namun karena
lingkup kegiatannya Perencanaan Pembangunan Puskesmas maka ada beberapa
persyaratan tambahan mengenai kesehatan seperti :
STANDAR TEKNIS
• Peraturan muatan Indonesia NI.8 dan Indonesia Loading code 1987 (SKB-
1.2.53.1987)
• Standar Nasional Indoenesia Nomor 2837 Tahun 2008 tentang Tata cara
Perhitungan Harga Satuan Pekerjaan Plesteran untuk Konstruksi Bangunan
Gedung dan Perumahan;
• Standar Nasional Indonesia Nomor 6897 Tahun 2008 tentang Tata Cara
Perhitungan Haraga Satuan Pekerjaan Dinding untuk Konstruksi Bangunan
Gedung dan Perumahan;
• Standar Nasional Indonesia Nomor 2835 Tahun 2008 tentang Tata Cara
Perhitungan Haraga Satuan Pekerjaan Tanah untuk Konstruksi Bangunan
Gedung dan Perumahan
• Standar Nasional Indonesia Nomor 2836 Tahun 2008 tentang Tata Cara
Perhitungan Haraga Satuan Pekerjaan Pondasi untuk Konstruksi Bangunan
Gedung dan Perumahan
• Standar Nasional Indonesia Nomor 2839 Tahun 2008 tentang Tata Cara
Perhitungan Haraga Satuan Pekerjaan Langit-langit untuk Konstruksi
Bangunan Gedung dan Perumahan
• Standar Nasional Indonesia Nomor 7393 Tahun 2008 tentang Tata Cara
Perhitungan Harga Satuan Pekerjaan Besi dan Alumunium untuk Konstruksi
Bangunan Gedung dan Perumahan
• Standar Nasional Indonesia Nomor 7394 Tahun 2008 tentang Tata Cara
Perhitungan Haraga Satuan Pekerjaan Beton untuk Konstruksi Bangunan
Gedung dan Perumahan
• Standar Nasional Indonesia Nomor 7395 Tahun 2008 tentang Tata Cara
Perhitungan Haraga Satuan Pekerjaan Penutup Lantai untuk Konstruksi
Bangunan Gedung dan Perumahan
• Permen PUPR Nomor 14 Tahun 2020 tentang Standar dan pedoman pengadaan
jasa kontruksi melalui penyedia;
• Tata cara pengecatan kayu untuk rumah dan gedung SNI 03-2407-1991
• Tata cara pengecatan dinding tembok dengan cat emulsi SNI 03-2407-1991
Konsultan memahami standar teknis yang ada di dalam KAK sudah cukup rinci.
Namun karena pekerjaan ini berkaitan dengan Perencanaan Pembangunan
Puskesmas maka perlu adanya beberapa tambahan sebagai pedoman
pembangunan yaitu :
Konsultan memahami studi-studi terdahulu yang ada di dalam KAK sudah cukup
rinci, seperti Perusahaan dalam bidang pembangunan bangunan kesehatan, gedung
perkantoran dan bangunan gudang pemerintahan akan berpengaruh kinerja suatu
perusahaan dalam mengembangkan suatu karya.
REFERENSI HUKUM
Referensi Hukum yang tercantum pada KAK menjadi dasar dalam perencanaan
Pembangunan Puskesmas Sukamanah, dan sudah jelas sedikit banyaknya
tercantum pada sub bagian standar teknis.
LINGKUP KEGIATAN
Lingkup tugas yang harus dilaksanakan oleh Konsultan Perencana adalah meliputi
tugas-tugas perencanaan lingkungan, site/tapak bangunan dan perencanaan fisik
bangunan gedung Negara yang terdiri dari;
1. Persiapan Perencanaan yaitu kegiatan yang meliputi seluruh pekerjaan awal
sebelum pekerjaan dimulai; penyusunan jadwal, mobilisasi dan pengerahan
tenaga ahli, tenaga pendukung, rencana dan metode pengumpulan data dan
informasi lapangan, membuat interpretasi secara besar terhadap KAK;
2. Mengidentifikasi kebutuhan perencanaan gedung, ruang pertemuan dan gedung
gudang pemerintahan;
3. Membuat analisa harga satuan untuk setiap item pekerjaan yang ada pada
kegiatan tersebut;
Konsultan memahami apa yang disampaikan dalam KAK berkaitan dengan tahapan
kegiatan yang sudah cukup jelas dalam studi ini sesuai dengan Peraturan Menteri
Pekerjaan Umum Nomor 22/PRT/M/2018 Tentang Pedoman teknis pembangunan
bangunan Gedung Negara, sebagai landasan dan acuan dalam melakukan kegiatan
ini, dimana lingkup kegiatan yang terdiri atas persiapan perencanaan, sampai
pengawasan berkala.
Adapun tanggapan terhadap lingkup kegiatan dalam KAK, merupakan penetapan
yang telah disusun oleh tim pemberi Kerja, dimana terdapat beberapa kegiatan
teknis yang harus dilakukan, kegiatan diskusi baik yang umum sampai pada diskusi
internal dengan tim pemberi tugas agar dapat mengarahkan dan memudahkan
dalam menyelesaikan kegiatan tersebut seusai dengan batas waktu yang telah
ditetapkan dalam KAK tersebut.
KELUARAN
Keluaran yang dihasilkan dari seleksi sederhana ini menghasilkan perusahaan jasa
- Kode RE 102 [Jasa Desain Rekayasa untuk Kontruksi pondasi serat struktur
perencana, dan
2. Tahap Pra-rencana (konsep desain arsitektur, struktur, serta utilitas (ME dan
Kabupaten Bandung
Ruang Pertemuan dan Gudang Dinas Kesehatan Kabupaten Bandung, hasil akhir
penyedia jasa konsultan perencana (produk akhir) berupa Dokumen RAB, Gambar
Rencana Teknis, Daftar Harga Satuan Upah, Bahan, Analisa Harga Satuan,
Rencana Kerja dan Syarat-syarat (RKS) sejumlah 5 (lima) buku, 1 (satu) asli, 4
(gambar dalam bentuk autocad dan pdf) dan kelengkapan lainnya (dalam bentuk
Data dan fasilitas yang disediakan oleh pengguna anggaran yang dapat
dipergunakan dan harus dipelihara oleh penyedia jasa;
1. Laporan dan Data
2. Staf pendamping dan perencana
3. Konsultansi unsur teknis
• Biaya perjalanan
• Pajak-pajak
Konsultan memahami peralatan, material, personil dan fasilitas dari jasa konsultansi
untuk kegiatan Jasa Konsultansi Perencanaan Pembangunan Puskesmas
Sukamanah sudah cukup jelas berupa Kendaraan survey milik sendiri/sewa,
Peralatan survey dan perencanaan milik sendiri/sewa, Kantor milik sendiri/sewa,
Honorarium tenaga ahli dan tenaga penunjang, Materi dan penggandaan laporan,
Biaya – Biaya rapat termasuk konsultansi dan koordinasi, Biaya perjalanan, Jasa dan
ovehead perencanaan dan Pajak-pajak.
Nasional Indonesia dan aturan teknis yang ada sebagai bentuk pengembangan
sumber daya manusia, Mendapat informasi dan konsultasi teknis dari pengguna jasa
dan Mendapatkan kontrak yang jelas sesuai dengan aturan konsultansi Indonesia
Pekerjaan perencanaan ini harus diselesaikan dalam waktu paling lama 45 (empat
puluh lima) hari kalender terhitung sejak dilakukannya SPMK dikeluarkan;
PERSONEL
Ketentuan dalam Kerangka Acuan Kerja tentang kebutuhan tenaga ahli dalam
menangani Jasa Konsultansi Perencanaan Pembangunan Puskesmas Sukamanah
dirasakan cukup memadai, baik untuk pelaksanaan kegiatan maupun kapabilitas
untuk penyelesaian pekerjaan.
Kami merupakan Konsultan yang memiliki spesialisasi dalam pekerjaan yang terkait,
maka tenaga ahli yang dapat kami siapkan dalam memenuhi ketentuan dalam
Kerangka Acuan Kerja tersebut rata-rata telah memenuhi syarat yang ditentukan
dan memiliki keahlian yang tinggi dalam penanganan pekerjaan.
Disamping itu, dalam rangka penyelesaian pekerjaan konsultan berkewajiban untuk
menyusun time and manning schedule dalam pelaksanaan kegiatan agar tahapan
demi tahapan dapat terstruktur dan terkoordinasi secara sistematis. Selain itu, juga
konsultan akan memberikan suatu struktur organisasi kerja dalam pelaksanaannya.
Sebagaimana telah ditetapkan dalam kerangka acuan pekerjaan, waktu
pelaksanaan pekerjaan adalah selama 1 bulan. Mengingat waktu yang relatif
‘singkat’, konsultan mengharapkan dukungan sepenuhnya dari pihak pemberi kerja
dalam rangka lebih mengefektifkan pelaksanaan pekerjaan dalam rangka mencapai
Sesuai dengan yang tercantum pada KAK sudah cukup jelas bahwa konsultan harus
memenuhi laporan sesuai dengan yang tercantum berupa laporan dan softcopy.
Laporan yang harus dipenuhi yaitu laporan pendahuluan, antara dan akhir. Serta
gambar kerja, rencana anggaran biaya, rencana kerja dan syarat – syarat dan
dokumentasi foto.
Jadwal Tahapan Pelaksanaan Pekerjaan
Bulan 1 Bulan 2
No Kegiatan
M1 M2 M3 M4 M1 M2
Bulan 1 Bulan 2
No Kegiatan
M1 M2 M3 M4 M1 M2
LAPORAN PENDAHULUAN
✓ Konsep desain, temasuk program ruang, organisasi hubungan ruang, tata ruang,
sirkulasi, tampilan bangunan.
✓ Laporan data dan informasi awal lapangan, keterangan rencana kota, dll
Sesuai dengan yang tercantum pada KAK sudah cukup jelas bahwa konsultan harus
memenuhi laporan sesuai dengan yang tercantum berupa laporan dan softcopy.
Laporan yang harus dipenuhi berisi Konsep penyiapan rencana teknis, metoda
pelaksanaan, dan tanggung jawab waktu perencanaan, Konsep desain, temasuk
program ruang, organisasi hubungan ruang, tata ruang, sirkulasi, tampilan
bangunan dan Laporan data dan informasi awal lapangan, keterangan rencana kota,
dll
LAPORAN ANTARA
✓ Penyelidikan tanah
✓ Perkiraan biaya bangunan.
✓ Gambar perspektif.
Tahap Pengembangan Rencana
✓ Gambar pengembangan rencana arsitektur, struktur utilitas.
Sesuai dengan yang tercantum pada KAK sudah cukup jelas bahwa konsultan harus
memenuhi laporan sesuai dengan yang tercantum berupa laporan dan softcopy.
Laporan yang harus dipenuhi berisi Gambar-gambar rencana denah, Penyelidikan
tanah, Gambar perspektif, Gambar pengembangan rencana arsitektur, struktur
utilitas, Uraian konsep rencana dan perhitungan-perhitungan yang diperlukan, Draft
rencana anggaran biaya dan Draft rencana kerja dan syarat-syarat (RKS).
LAPORAN AKHIR
Muatan laporan antara di dalam KAK sudah cukup jelas, sehingga sistematikanya
adalah:
1. Pendahuluan
2. Profil Lokasi Pekerjaan
3. Hasil Survei Lapangan (Penyelidikan Tanah dan Topografi)
4. Konsep Arsitektur (Beserta Gambar Detail)
5. Konsep Struktur (Beserta Gambar Detail)
6. Konsep Utilitas (Beserta Gambar Detail)
7. Rencana Anggaran Biaya (RAB) (Memuat rencana kegiatan dan volume
pekerjaan)
8. Rencana Kerja dan Syarat-syarat (RKS)
Sesuai dengan yang tercantum pada KAK sudah cukup jelas bahwa konsultan harus
memenuhi laporan sesuai dengan yang tercantum berupa laporan dan softcopy.
Laporan yang harus dipenuhi berisi Pendahuluan, Profil Lokasi Pekerjaan, Hasil
Survei Lapangan (Penyelidikan Tanah dan Topografi), Konsep Arsitektur (Beserta
Gambar Detail), Konsep Struktur (Beserta Gambar Detail), Konsep Utilitas (Beserta
Gambar Detail), Rencana Anggaran Biaya (RAB) (Memuat rencana kegiatan dan
volume pekerjaan), dan Rencana Kerja dan Syarat-syarat (RKS).
Semua kegiatan jasa konsultansi berdasarkan KAK ini harus dilakukan di dalam
wilayah Negara Republik Indonesia kecuali ditetapkan lain dalam angka 4 KAK
dengan pertimbangan keterbatasan kompetensi dalam negeri.
Konsultan memahami bahwa semua kegiatan Jasa Konsultansi berdasarkan KAK ini
harus dilakukan di dalam wilayah Negara Republik Indonesia kecuali ditetapkan lain
dalam angka 4 KAK dengan pertimbangan keterbatasan kompetensi dalam negeri.
PERSYARATAN KERJASAMA
Jika kerjasama dengan penyedia jasa konsultansi lain diperlukan untuk pelaksanaan
kegiatan jasa konsultansi ini maka persyaratan berikut harus dipatuhi.
PEDEKATAN
PENDEKATAN NORMATIF
Sesuai tuntutan dalam Kerangka Acuan Kerja, selain Peraturan Menteri Pekerjaan Umum
Dan Perumahan Rakyat Republik Indonesia Nomor 22/PRT/M/2018 Tentang Pembangunan
Bangunan Gedung Negara, maka beberapa pedoman teknis yang lain yang akan digunakan
sebagai literatur adalah :
1. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 14/PRT/M/2013 Tentang Perubahan
Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 07/PRT/M/2011 tentang Standar dan
Pedoman Pengadaan Barang dan Jasa Konstruksi.
2. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Nomor 28/PRT/M/2016
Tahun 2016 tentang Pedoman Analisis Harga Satuan Pekerjaan Bidang Pekerjaan
Umum
3. PPIUG 1987 : Peraturan Pembebanan Indonesia untuk Gedung 1987
4. SNI O3-3985-2000 : Tata Cara Perancanaan Pemasangan Dan Pengujian Sistem
Deteksi Dan Alarm untuk Pencagahan Bahaya Kebakaran pada Bangunan Rumah
dan Gedung;
5. SNI O3-6481-2000 : Sistem Plambing;
6. SNI O3-1735-2000 : Tata Cara Perencanaan Akses Bangunan dan Akses Lingkungan
Untuk Pencegahan Bahaya Kebakaran Pada Bangunan Rumah dan Gedung;
7. SNI 03-1736-2000 : Tata Cara Perencanaan Struktur Bangunan untuk Pencegahan
Bahaya Kebakaran pada Bangunan Rumah dan Gedung.
8. SNI O3-1745-2000 : Tata Cara Pemasangan Sistem Hidran Untuk Pencegahan
Bahaya Kebakaran pada Bangunan Rumah Dan Gedung;
9. SNI O3-1746-2000 : Tata Cara Perencanaan Dan Pemasangan Sarana Jalan Keluar
Untuk Penyelamatan Terhadap Bahaya Kebakaran Pada Bangunan Gedung;
10. SNI O3-6572-2001 : Tata Cara Perancangan Sistem Ventilasi dan Pengkondisian
Udara pada Bangunan Gedung;
11. SNI O3-6573-2001 ; Tata Cara Perancangan Sistem Transportasi Vertikal dalam
Gedung (lift);
12. SNI 03-1726-2002: Tata Cara Perencanaan Ketahanan Gempa untuk Bangunan
Gedung
13. SNI 03–1729–2002 : Tata Cara Perhitungan Struktur Baja Untuk Bangunan Gedung
14. SNI 03-2847-2002: Tata Cara Perhitungan Struktur Beton untuk Bangunan Gedung
15. SNI 03-6652-2002 : Tata Cara Perancanaan Proteksi Bangunan dan Peralatan
terhadap Sambaran Petir;
16. SNI 03-6759-2002 : Tata Cara Perencanaan Teknis Konservasi Energi Pada
Bangunan Rumah dan Gedung;
17. SNI O3-7015-2004 : Sistem proteksi petir pada bangunan
18. SNI O3-7065-2005 : Tata Cara Perencanaan Sistem Plambing;
Pendekatan perancangan ini dilakukan dengan melakukan kajian pada beberapa aspek
sebagai berikut :
1. Produk Rencana dan Pedoman Pelaksanaan Pembangunan
Dalam menyusun rencana rinci di kawasan yang direncanakan, harus pula
memperhatikan produk - produk rencana yang telah ada di atasnya (RTRW / RDTR),
maka diperlukan kajian terhadap produk rencana tersebut dan juga mengkaji
peraturan perundangan untuk dijadikan acuan / dasar perumusan rencana
selanjutnya. Produk-produk yang perlu dicermati selain rencana yang telah disusun
adalah:
Kebijakan pembangunan Kota yang menjadi konstelasi makro bagi
pengembangan kawasan, karena upaya penataan kawasan Perencanaan
melalui penyusunan Rencana kawasan tentunya tidak terlepas dari berbagai
arahan pengembangan kawasan yang menaunginya.
Program-program pembangunan dan penataan kawasan yang diarahkan
secara spesifik bagi wilayah perencanaan, yang perlu dikoordinasikan dan
disinkronkan dengan arahan perencanaan penataan kawasan nantinya.
Pendekatan perancangan fisik yang hanya berfokus pada penciptaan ruang saja sejatinya
tidak cukup dalam menghidupkan sebuah kawasan. Perancangan kota diharapkan mampu
menciptakan sebuah place karena sebuah kehidupan kawasan kota terbentuk oleh tempat-
tempat yang menciptakan beragam aktivitas. Sebuah ruang akan menjadi sebuah place jika
memiliki karakter/jatidiri/sense of place. Hal tersebut menunjukkan bahwa penciptaan
tempat (placemaking) menjadi penting untuk dijadikan pendekatan dalam revitalisasi
kawasan cagar budaya.
Placemaking merupakan metode yang digunakan dalam membentuk suatu place dengan
produknya yaitu sense of place. Placemaking adalah proses mengubah ruang menjadi place
Terdapat 3 (tiga) hal utama yang menjadi pembentuk sense of place, yaitu activity, physical
setting, dan meaning. Penjelasan unsur-unsur tersebut adalah sebagai berikut :
a. Activity (aktivitas). Aktivitas yang merupakan indikasi akan keberlangsungan suatu
tempat. Memungkinkan terjadinya suatu interaksi antara manusia dengan sebuah
tempat, bangunan dengan lingkungan, serta pengaruh budaya dan penggunaan
bangunan serta lansekap. Di dalamnya terdapat komponen-komponen antara lain
tata guna lahan, pedestrian, dan sirkulasi kendaraan.
b. Form/Physical Setting. Form yang dimaksud disini adalah wujud dari daya tarik suatu
places, yang tidak sekedar disediakan tapi disusun dengan menyesuaikan kebutuhan
pengguna dalam melakukan aktivitasnya. Komponen di dalamnya antara lain adalah
townscape, tata massa bangunan, permeabilitas lansekap dan furnitur
c. Image/Meaning. Definisi image mencakup 3 hal, yaitu cognition, perception dan
information. Image atau citra akan memberikan makna pada pengunjung atau pada
place yang memberikan pembeda atau keunikan antara satu dan lainnya.
Pembentuk Place dalam konteks perkotaan dapat didefinisikan dalam 4 komponen yaitu
dari aspek tipologi, skala, hubungan dan identitas (Krier dalam Zahnd, 1999)
Dalam pembentukan place terdapat beberapa strategi desain yang harus dilakukan,
diantaranya adalah (Meiss, 1990) :
a. Menciptakan ruang dan lingkungan yang responsif dan berdasarkan kepada
pendalaman nilai serta perilaku orang tertentu atau grup yang dituju, serta keunikan
lingkungan yang turut membangun identitas masyarakatnya;
b. Partisipasi dari calon pengguna dalam perancangan lingkungan, dapat dicapai
dengan menghilangkan pemisah antara perancang dan pengguna;
c. Menciptakan lingkungan yang bisa dengan mudah diadaptasi oleh pengguna.
Dengan dasar teori bahwa penciptaan place memerlukan penguatan identitas tempat
sebagai ruang yang menarik, maka dibutuhkan strategi placemaking. Tanpa adanya strategi
placemaking yang baik, banyak ruang publik yang gagal dalam menjadi sebuah ruang publik
dalam artian gagal menjadi sebuah ruang yang menarik, menyenangkan rekreatif dan
responsif. Hasil Hasil akhir dari strategi placemaking adalah terciptanya pengembangan
ruang publik yang berkualitas baik dan bermanfaat bagi masyarakat dan lingkungannya
(Tiesdell, 1996), yang dapat diukur dengan kriteria sebagai berikut:
a. Sebuah kawasan kota yang baik adalah mampu mewadahi kebutuhan fisik warganya,
tempat untuk tinggal dan tempat untuk bekerja, membuka peluang untuk
mendapatkan penghasilan, serta akses terhadap berbagai jasa pelayanan dan fasilitas
yang ada
b. Sebuah kawsan kota yang baik harus mampu memberikan dan menciptakan suatu
lingkungan sosial yang kondusif. Menjadi sebuah tempat tumbuh berkembangnya
manusia, memungkinkan individu-individu untuk menjadi bangunan dari sebuah
komunitas, serta menyuguhkan perasaan keterkaitan kepada sebuah tempat dan
kawasan
c. Sebuah kawasan yang baik harus menjamin kenyamanan, keamanan dan
perlindungan, pengaturan secara visual, dan fungsional serta kontrol terhadap
lingkungan yang aman dan nyaman
d. Kawasan kota yang baik harus memiliki citra yang baik, reputasi yang bagis dan
prestige. Hal ini memberikan warganya rasa percaya diri, kekuatan, status dan
kejayaan
e. Dalam tingkatan yang lebih tinggi lagi, sebuah kawasan kota yang baik
memungkinkan warganya untuk menjadi kreatif, membentuk lingkungan pribadinya
dan mengeksprasikan diri serta mengembangkan lingkungan komunitas sesuai
dengan kebutuhan dan aspirasinya.
b. Strategi placemaking adalah prinsip mendasar yang dibutuhkan dalam setiap
perancangan kawasan seperti yang dikemukakan Montgomery (1998) bahwa :. Urban
design is essentially about placemaking, where places are not just a specific space,
but all the activities and events which made it possible”.
METODOLOGI
Yang dimaksud dengan metodologi adalah hal-hal yang terkait dengan prosedur
pelaksanaan kegiatan serta metode yang digunakan dalam setiap tahapan prosedur
tersebut lengkap dengan uraian mengenai target keluaran serta pemberdayaan tenaga dan
alat bantu yang dibutuhkan. Terdapat prinsip dasar dalam perencanaan yaitu :
▪ Tata letak, struktur, dan layanan yang mudah untuk dikembangkan sesuai dengan
perkembangan teknologi maupun informasi . Fleksibel maksudnya adalah bentuk ruang
dan peralatan dapat dirubah dan dipindahkan sewaktu-waktu. Khususnya pada ruang
kerja, ruang petugas, dan ruang pengolahan. Semua dinding-dinding tersebut sebaiknya
dinding yang semi-permanent atau dapat dibongkar, namun hal ini tidak termasuk pada
toilet, tangga, dan lift. Selain itu perkantoran yang fleksibel juga harus menyediakan
ventilasi dan pencahayaan yang cukup
▪ Terintegrasi untuk mempermudah gerakan pengguna dan pengelola. Gedung yang
terintegrasi adalah adanya kemudahan pergerakan karyawan perkantoran, maupun
pengelola. Dimana, adanya pola sirkulasi yang baik, yaitu pengguna dapat berpindah
dari satu tempat ke tempat yang lain tanpa adanya gangguan. Gedung perkantoran yang
terintegrasi dapat menyediakan ruang-ruang yang banyak namun ruang gerak pengguna
masih tetap luas. Mudah diakses/ dapat dijangkau dari luar tapak dengan mudah, dan
dari pintu masuk ke semua bagian ruang kelas Accessible (mudah dijangkau) merupakan
faktor penting. Baik akses ke seluruh ruang kelas yang ada maupun akses ruang non-
kelas seperti mushola, toilet yang ada di perkantoran, keduanya harus mudah diakses.
Posisi yang paling mudah dicapai adalah di posisi tengah, karena pada posisi tengah
pemustaka dari berbagai arah dapat menjangkaunya dengan cepat. Lokasi harus
diperhitungkan dengan cermat, yaitu perkantoran dan administrasi harus ditempatkan
dekat dengan jalur sirkulasi utama atau aksesibilitas utama.
▪ Ruang-ruang formal dan non-formal yang bervariasi sesuai dengan kebutuhan pengguna
Gedung Variasi suasana perkantoran penelitian dan akademik perkantoran sangat
penting. Harus ada berbagai suasana untuk mengatasi kebutuhan pengguna yang
memiliki motif yang berbeda dan tujuan datang menggunakan. Misalnya, mereka datang
ke gedung penelitian dan akademik untuk belajar, menulis makalah, membaca koran,
bertemu teman-teman, browsing dan sebagainya.
▪ Nyaman dan efisien untuk pengguna Gedung. Kenyamanan sebuah
perkantoranperguruan tinggi, dalam beberapa kasus, lebih penting daripada jenis lain
dari penelitian dan akademik.
Berikut ini adalah uraian prosedur pelaksanaan tahapan kegiatan, metode pelaksanaan,
pelibatan tenaga dan alat bantu serta target keluaran atau outputnya. Secara umum uraian
ini berangkat dari pemahaman konsultan tentang lingkup pekerjaan, kegiatan, keluaran
serta indikasi kebutuhan tenaga dan jadwal yang dipersyaratkan dalam KAK.
Berdasarkan diagram tersebut di atas, setidaknya terdapat beberapa hal pokok pelaksanaan
kegiatan, yaitu standard-standard yang digunakan dalan perencanaan teknis, Kriteria
Umum dan Khusus, Kegiatan Persiapan dan Survei, Identifikasi Data Lapangan, Analisis,
Konsep, Pembuatan Perencanaan Teknis dan Pembuatan Laporan.
PERSIAPAN
Pada bagian ini akan diuraikan beberapa metode pelaksanaan kegiatan yang dilakukan
untuk mencapai tujuan akhir pekerjaan, antara lain:
1. Persiapan
Pekerjaan pada tahapan ini bersifat non lapangan/desk study, dapat dijelaskan sebagai
berikut:
a. Persiapan administrasi dan personil yang terlibat dalam pekerjaan;
b. Mobilisasi personil yang terlibat dalam pekerjaan
c. Pemantapan kembali metodologi pendekatan studi, rencana kerja dan rencana
survey;
2. Survey Lapangan Langsung
Survey menjadi hal yang sangat penting dalam kajian ini sehingga dalam pelaksanaan
survey harus dilakukan dengan tahapan yang sangat matang, sistematis dan
terstruktur khusunya pada survey primer. Data-data akan mempengaruhi hasil analisis
yang di dapat oleh sebab itu dilakukan beberapa kententuan dalam melaksanakan
survey.
Survei lapangan langsung dilakukan untuk mengumpulkan data-data yang diperlukan
guna mengidentifikasi item pekerjaan maupun perbaikan yang akan dilakukan,
penyelidikan tanah (bila ada), perolehan data-data meterial yang tersedia pada masing-
masing lokasi, serta inventarisasi data-data yang dibutuhkan untuk perencanaan teknis
secara keseluruhan di masing-masing lokasi kegiatan. Berdasarkan data dan informasi
hasil survei lapangan, kemudian dilakukan identifikasi permasalahan serta
pembentukan konsep sebagai alat masukan bagi pembuatan perencanaan.
A. Observasi Lapangan
Pengamatan langsung (observasi) yaitu pengamatan secara visual untuk mengetahui dan
mencatat secara rinci mengenai keadaan yang sebenarnya di lapangan. Semua data dan
informasi hasil survey visual dicatat dalam peta-peta sederhana disertai dengan sketsa,
photo, dan catatan-catatan ringkas lainnya yang diangap perlu. Peta-peta dapat berupa
peta dasar dari kota pada skala survey. Sketsa-sketsa, photo, dan catatan-catatan dapat
ditempelkan pada peta dan seluruh hasil studi.
B. Survey Blok
Dalam mendapatkan akurasi data secara tepat mengenai sejumlah kegiatan di lapangan
diperlukan metode survey blok. Metode ini diharapkan mampu menyesuaikan data antara
data sekunder dengan data pengamatan langsung di lapangan. Metode ini juga berguna
dalam penzoningan dan membuat blok plan. Dalam metode survey blok data penggunaan
ruang yang menggambarkan karakteristik penebaran bentuk-bentuk fisik buatan manusia,
dapat dirinci sebagai berikut :
1. Rincian jenis penggunaan lahan
2. Struktur dan kualitas bangunan untuk masing masing jenis penggunaan lahan.
3. Kepadatan bangunan pada setiap jenis penggunaan lahan.
4. Kedudukan/peran/estetika bangunanpada lingkungan/ wilayah perencanaan yang
bersangkutan.
5. Data tersebut disajikan dalam bentuk peta dengan skala 1 : 2.500 dan menggunakan
perbedaan warna/kode serta dilengkapi tabel-tabel data.
D. Pengukuran / Pemetaan
Pemetaan geometris, titik lokasi maupun polygon dapat dilakukan dengan bantuan alat
GPS dan atau theodolit. Global Positioning System (GPS) adalah sistem satelit navigasi dan
penentuan posisi yang didesain untuk memberikan posisi (Iintang, bujur, dan ketinggian).
E. Survei Topografi
1) Umum
Survai Pengukuran Topografi dilakukan sepanjang trase rencana jalan kereta api
- Pengukuran situasi.
- Pengukuran khusus
4. Pengukuran sudut dilakukan dengan alat ukur sudut ketelitian bacaan 1 detik
(Theodolit T2).
5. Pengukuran poligon ini akan diikatkan pada titik tetap yang sudah diketahui
koordinatnya atau koordinat lokal.
6. Pengukuran poligon yang dikerjakan harus memenuhi syarat-syarat ketelitian
pengukuran poligon orde ke II yaitu :
Kesalahan sudut 10 detik n , n = jumlah titik poligon.
Kesalahan azimuth pengontrol tidak lebih 5 detik.
Pada jarak 5 – 6 km poligon utama harus dilakukan azimuth pengontrol
dengan pengamatan azimuth matahari.
Kesalahan penutup jarak setelah azimuth dikoreksi tidak lebih dari 1/10.000
dari jarak yang diukur.
1. Khusus untuk daerah persilangan jalan dengan sungai, perlu penambahan 4
(empat) titik ikat baru yang diikatkan pada titik poligon utama.
2. Referensi Pengukuran Nasional
- Untuk menentukan koordinat X dan Y, sedapatnya dilakukan pengikatan
kepada Titik GPS (orde 2 atau 3 dari Badan lnformasi Geospasial) orde 4
(BPN) atau titik referensi (BM) yang berada paling dekat ke lokasi kegiatan
yang terintegrasi dengan koordinat BIG.
- Untuk ketinggian (elevasi), sedapatnya dilakukan pengikatan kepada Titik
Tinggi (TTG) dari Badan lnformasi Geospasial (BIG) atau titik referensi hasil
pekerjaan desain sebelumnya yang berada paling dekat ke lokasi kegiatan.
sipat datar.
4) Pengukuran Situasi
1. Pengukuran situasi akan dilakukan secara cermat, semua data lapangan yang
permanen akan diukur misalnya : jalan raya, jalan kampung, bangunan-
bangunan gedung, rumah-rumah permanen, pinggir bahu jalan, pinggir
selokan, letak gorong-gorong serta dimensinya, tiang-tiang listrik, tiang-tiang
telepon serta bangunan-bangunan lain yang dianggap permanen. Pengukuran
tersebut dapat dilakukan dengan cara tachymetric.
2. Patok-patok KM dan HM jika ada, serta patok-patok tanda-tanda permanen
lainnya yang ada di tepi jalan akan diambil dan dihitung koordinatnya
(tujuannya adalah untuk memperbanyak titik-titik referensi sehingga
memudahkan penemuan kembali sumbu jalan yang direncanakan).
Untuk daerah penyeberangan sungai/jembatan, daerah lingkup pengukuran
akan lebih luas dan perlu dicantumkan di dalam pengukuran ini data-data
mengenai :
Tinggi muka air normal.
Tinggi muka air terendah.
3. Pengukuran situasi ini meliputi :
Pengukuran kedudukan horizontal titik-titik detail.
Pengukuran kedudukan vertikal titik-titik detail.
Untuk itu pengukuran dapat dilakukan dengan cara tachymetric.
Ketelitian alat yang dipakai adalah 10” (sejenis dengan Theodolit-To)
Pengukuran situasi dilakukan pada titik pengukuran penampang
melintang
Pengukuran situasi daerah sepanjang rencana jalan akan mencakup
semua keterangan yang ada di daerah sepanjang rencana jalan
tersebut.
Pada awal proyek dilakukan pengukuran situasi kebelakang arah
pengukuran sepanjang 50 meter
Pada akhir proyek dilakukan pengukuran situasi sekitarnya yang meliputi
geometrik jalan yang sudah ada
Lebar pengukuran 50 m ke kiri dan 50 m ke kanan dari rencana as jalan
9) Pengukuran Khusus
1. Pengukuran khusus disekitar perpotongan dengan sungai : 100 m sebelum dan
sesudah perpotongan dengan sungai dibuat potongan melintang jalan dengan
interval 25 m. 100 m ke arah hulu dan hilir sungai dari as jalan dibuat potongan
melintang sungai dengan interval 25 m.
2. Pengukuran khusus disekitar persimpangan jalan : Daerah pengukuran adalah di
daerah persimpangan jalan sejauh 50 m kiri kanan jalan yang akan direncanakan.
- Pengukuran titik kontrol horizontal berupa poligon tertutup/terbuka yang terikat
sempurna.
- Pengukuran titik kontrol vertikal dengan alat waterpass.
- Pengukuran penampang memanjang dibuat pada sumbu jalan
- Pengukuran melintang dibuat sepanjang 50 meter ke arah kiri kanan jalan untuk
setiap interval 15 meter
- Pengukuran situasi dilakukan dengan lengkap terutama bangunan-bangunan
permanen yang ada disekitar persimpangan.
F. Survei Geoteknik
1. Pekerjaan Lapangan
b. Pada lokasi-lokasi dari rencana pondasi jembatan dan bangunan lain yang
besar-besar akan diadakan penyelidikan kondisi dari sub surfacenya.
c. Menyelidiki lokasi sumber material yang ada di sekitar lokasi proyek beserta
perkiraan jumlahnya untuk pekerjaan-pekerjaan struktur jembatan dan
bangunan pelengkap lainya termasuk pembuatan jalan pendekat atau oprit
semuanya akan dibuat petanya.
- Jenis Tanah.
- Struktur Lapisan Tanah,
- Index dan Engineering Properties Sub Surface
a. Test Sondir
Pemboran dilakukan dengan alat test sondir, yaitu test yang dilakukan untuk
menilai daya dukung tanah, daya hambatan lekat dan perkiraan lokasi adanya
tanah keras.
Percobaan ini digunakan untuk menentukan daya dukung (end bearing) dan
perlawanan keliling (friction/adhesion resistance) dari tanah untuk perencanaan
pondasi dan struktur geoteknik. Selain itu percobaan ini sangat praktis untuk
mengetahui dengan cepat letak kedalaman lapisan tanah keras, bahkan dengan
mengevaluasi nilai rasio gesekan (friction ratio), dapat pula dilakukan deskripsi
jenis lapisan tanah. Pada penggunaan friction sleeve atau adhesion jacket type
(bikonus), nilai konus dan hambatan lekat keduanya dapat diukur. Hasil
penyelidikan ini dinyatakan dalam bentuk grafis, nilai konus digambar dalam
kg/cm2 dan hambatan lekat (skin friction) digambar sebagai jumlah untuk
kedalaman yang bersangkutan per cm keliling, yaitu dalam kg/cm.
Skema alat sondir secara mekanik dan metode pelaksanaan survey sondir dapat
dilihat pada gambar dibawah ini.
Alat sondir yang dipakai boleh dari type lain selain type gouda yaitu type Dutch
Cone Penetrometre asalkan masih menggunakan metrik system dan dalam
penelitian yang sama. Alat tersebut akan dilengkapi dengan friction jacket cone
kapasitas minimum 2 ton (pembacaan conus maksimum 250 kg/cm2).
Pembacaan harga tegangan konus dan geser dilakukan pada setiap interval
kedalaman 20 cm.
Jika dipakai alat sondir dengan kapasitas 2 ton, penyondiran akan dikerjakan
sampai mencapai lapisan tanah dengan tegangan konus yang kebih besar dari 200
kg/cm2. Atau sampai kedalaman 30 m apabila dijumpai lapisan dengan tegangan
konus kurang dari 200 kg/cm2.
Hasil pengujian sondir disajikan dalam bentuk grafik dengan persamaan empiris
untuk memperhitungkan pengaruh berat konus sebagai berikut:
C w Apl Wcr
qc
Ac
qc : Tahanan konus;
Cw : bacaan manometer untuk tahanan konus;
Apl : luas penampang piston;
Wcr : berat konus dan batang untuk bacaan tersebut;
Ac : luas penampang konus.
Hasil percobaan sondir dapat diinterpretasikan nilai friksi dengan jenis lapisan
tanah dapat dilihat pada Tabel dibawah.
Tabel 1 Hubungan Nilai Friksi Rasio dengan Perkiraan Jenis Lapisan Tanah
0,5 – 2 Pasir
2–5 Lanau / Lempung Pasiran
>5 Lempung
(Tahanan konus)
Konsistensi Tanah
qc ( kg/cm2)
<6 Sangat Lunak
6 - 12 Lunak
12 - 24 Sedang
24 – 45 Kaku
45 – 75 Sangat Kaku
75 - 150 Agak Keras
150 < Keras
b. Bor Mesin
Boring akan dikerjakan dengan alat Bor yang digerakkan dengan mesin yang
mampu mencapai kedalaman yang ditentukan. Mata bor akan mempunyai
diameter cukup besar sehingga undisturbed sample yang diinginkan dapat diambil
dengan baik, dengan diameter core 54,70 mm.
Untuk tanah clay, slit atau tanah lainnya yang tidak terlalu padat, dapat dipakai
steelbit sebagai mata bor, bor intan (diamond bit) atau mata bor tungsten
sehingga juga dapat diambil undisturbed samplenya dari lapisan tanah tersebut.
Pada setiap interval kedalaman 3,0 meter akan dilakukan Standard Penetration
Test (SPT) dan contoh tanahnya (tidak perlu undisturbed) disimpan dalam tempat
yang dapat menjaga kadar air aslinya.
Pada setiap kedalaman yang ditentukan (bila tidak ditentukan lain, maka rata-rata
kedalaman diambil kurang lebih 3,0 meter) pada tanah lunak akan diambil
undisturbed sample untuk test di laboratorium guna mendapatkan harga index dan
engineering properties lapisan tanah.
Tabung sample (yang dibuat dari baja tipis tetapi keras dan berbentuk silinder
dengan diameter rata-rata 7,0 cm, panjang minimal 50 cm) dimasukkan ke dalam
tanah pada kedalaman dimana undisturbed sample akan diambil kemudian ditekan
perlahan-lahan sehingga tabung tersebut dapat penuh terisi tanah.
Tanah tersebut akan tetap berada dalam tabung sample tersebut samapi saatnya
untuk ditest di laboratorium.
Tabung yang berisi contoh tanah tersebut akan segera ditutup dengan paraffin
setelah dikeluarkan dari dalam lubang bor.
Sebagai hasil boring, akan dibuat bor log yang paling sedikit dilengkapi dengan
lithologi (geological description) harga SPT, letak muka air tanah dan sebagainya
beserta letak kedalaman lapisan tanah yang bersangkutan.
Penamaan dari masing-masing tanah akan dilakukan pada saat itu juga sesuai
dengan kedalaman maupun sifat-sifat tanah tersebut yang dapat dilihat secara
visual.
Apabila tanah yang dibor dalam hal ini cenderung untuk mudah runtuh, maka
persiapan untuk itu (casing) akan segera dilakukan.
Ketentuan lain :
Penyelidikan tanah dengan membor lubang bor akan diatur sedemikian rupa
sehingga dapat memberikan data maksimal pada tanah dasar penampang
sungai.
Sebagai hasil penelitian lapangan yang memerlukan pemboran, letak lubang
bor, jumlah dan kedalamannya akan sesuai dengan keperluannya.
Yang dimaksud dengan 1 (satu) pasang lubang bor adalah terdiri dari 1
sondir dan 1 boring.
Lokasi titik bor diusahakan sedekat mungkin dengan lokasi titik sondir.
Jumlah Titik Penyelidikan Sondir dan Bor Mesin.
Untuk setiap jembatan dilakukan 2 pasang lubang bor, masing-masing pada
kedua tepi abutment.
c. Bor Tangan
Dilakukan di lokasi rencana stasiun dengan tata cara melakukan bor tangan sesuai
dengan SNI 4153 tahun 2008 tentang Tata Cara Uji Penetrasi Lapangan dengan
SPT. Pekerjaan bor tangan dengan ketentuan sebagai berikut:
d. Pengujian Laboratorium
Survey sekunder adalah teknik pengumpulan data dengan melakukan usaha pengumpulan
data dari instansi – instansi yang terkait, baik Pemerintah maupun swasta juga usaha
pengumpulan data dari literature terkait.
Studi literatur
Yaitu suatu metode untuk mendapatkan data dengan cara mengumpulkan,
mengidentifikasi serta mengolah data tertulis dan metode kerja yang dapat
dipergunakan sebagai input dalam pembahasan materi. Pengambilan data dapat
melalui dokumen tertulis maupun elektronik dari lembaga/institusi terkait.
KOMPILASI DATA
Tahap kompilasi data ini merupakan tahap inventarisasi data sebagai bahan masukan pada
tahap analisis, tahap kompilasi data yang akan mencakup, hal-hal berikut:
Tinjauan internal meliputi:
1. Aspek Fisik dasar, yang meliputi keadaan:
Keadaan tanah, air dan iklim;
menggambarkan mekanisme dan tata kerja dinas atau unit pelaksana teknis
daerah yang berfungsi dalam pengendalian pelaksanaan rencana tata ruang;
Keadaan keuangan daerah, mengenai volume pajak dan retribusi ditinjau
menurut sumbernya beserta perkembangannya;
Keadaan status pemilikan tanah secara umum;
Peraturan-peraturan daerah atau kebijakan pemerintah daerah lainnya
tentang pelaksanaan pembangunan Kawasan perencanaan;
Selain data kuantatif (angka-angka), seyogyanya diuraikan juga secara
kualitatif mengenai kondisi eksisting (sekarang) mengenai potensinya dan
mengenai permasalahan yang dihadapi.
STANDAR GEDUNG
Bentuk massa bangunan c, akan terkait erat dan berpedoman pada kondisi tapak lokasi
yang disediakan. Massa bangunan akan menjelaskan pada kondisi eksisting tofografi tapak,
yang tentunya akan dipengaruhi juga oleh peraturan tata kota yang baku seperti sempadan
bangunan, persyaratan tinggi bangunan, koefisien dasar bangunan, area penghijauan dan
lain-lain.
Secara prinsip pemilihan dan penentuan massa bangunan berpedoman pada persyaratan
berikut ini (Neufert – Achitects Data) :
Bentuk massa bangunan berdasarkan penempatan area/zona service (tangga, lift &
sanitasi) :
a. Penempatan di satu sisi bangunan (di luar massa bangunan) : nomor 1, 2 dan 7.
b. Penempatan di satu sisi bangunan (di dalam massa bangunan) : nomor 3, 4 dan 5.
c. Penempatan pada sudut di dalam massa bangunan : nomor 6, 10, 12 dan 15.
d. Penempatan pada ujung ruangan di dalam massa bangunan : nomor 8, 9, 11, 12, dan
14.
e. Penempatan di tengah-tengah (core) massa bangunan : nomor 17, 18, 19, 20 dan 21.
Ruang kerja pimpinan merupakan ‘private office’ atau ruang kerja yang bersifat pribadi,
yang secara fisik ruang terisolir oleh 4 (empat) sisi dinding massif (pasangan bata atau
partisi). Di dalam ruang kerja yang dilengkapi kursi tamu dan ruang rapat terbatas yang
dapat beralih fungsi untuk menerima tamu:
Apabila area kerja pimpinan ditempatkan credenza atau lemari arsip, maka dipergunakan
persyaratan sebagai berikut :
Di dalam ruang kerja pimpinan lazimnya diperlukan area/space untuk ruang rapat
terbatas yang dapat berfungsi juga sebagai ‘lounge’, dengan persyaratan dimensi ruang
sebagai berikut :
Apabila area kerja staff ditempatkan credenza atau lemari arsip, maka dipergunakan
persyaratan sebagai berikut :
3. Ruang Rapat
3.1. Standar
Pada perencanaan Renovasi Rumah Negara Di Wilayah DKI Jakarta Paket B yang modern,
selain dikenal menggunakan rak, filling cabinet, lockers juga dapat digunakan ‘mobile file’
yang memang memerlukan biaya pengadaan yang lebih mahal, untuk penyimpanan
dokumen dan peralatan perkantoran. Berikut ini adalah spesifikasi standar dari sebuah
‘mobile file’ :
a. Ukuran :
Tinggi : 222 cm.
Panjang : 332 cm.
Lebar : 200 cm.
b. Setiap Unit terdiri :
1 bh Lemari Tunggal Dinamis, 2 Bay
2 bh Lemari Ganda Dinamis, 2 Bay
1 bh Lemari Tunggal Statis, 2 Bay
c. Bahan :
Pelat baja, tebal minimal 0,8 mm (untuk seluruh dingding dan papan baja). Untuk rangka
(chasis) tebal 2,3 mm.
d. Lemari :
- Dilengkapi dengan papan baja 4 buah per lemari.
- Papan baja berbentuk profil tertutup (box section) dengan Daya beban 100 kg,
ketinggian dapat di atur pada setiap jarak 2,5 cm.
- Papan baja dapat diganti dengan penggantung-T yang terbuat dari alumunium
profill.
- Papa baja / Penggantung-T dilengkapi 4 (empat) buah kaitan yang terbuat dari baja
per CK 67.
- Mengguanakan panel tembahan untuk menambah estetika.
e. Penguncian :
Pada lemari tunggal dinamis di lengkapi dengan kunci yang merupakan penguncian sentral
dengan 2 buah anak kunci.
f. Pencatatan :
Bagian-bagian yang terbuat dari pelat baja diproses pretreatment 5 tahap sebagai
perawatan anti karat :
1. Degreasing
Proses pembersuhan minyak, lemak, kotoran dan mineral pada permukaan logam
sebelum dicat. Aplikasi yang di gunakan adalah Hot Spray & Dosing Pump yaitu proses
penyemprotan dengan tekanan 1,2 bar dan menggunakan bahan kimia pada suhu yang
panas (500C).
2. Rinsing
Proses pembilasan setelah tahap degreasing. Aplikasi yang digunankan adalah normal
Spray yaitu proses pembersihan / pembilasan dengan melakukan penyemprotan yang
menggunakan air (treated water) pada 350C.
3. Phospating
Setelah proses rinsing dimana logam telah benar-benar bersih dari segala macam
kotoran, maka proses selanjutnya adalah phospating yaitu pelapisan permukaan logam
dengan phospat sebagai anti karat dan meningkatkan daya lekat. Aplikasi yang
digunakan adalah Hot Spray & Dosing Pump
4. Rinsing
Proses pembilasan kembali setelah tahap degreasing. Aplikasi yang di gunakan sama
seperti tahap rinsing sebelumnya.
5. Demineralisasi
Adalah tahap akhir pada pada proses pre-treatment yaitu proses Pembilasan dengan
menggunakan air bebas mineral untuk Memastikan komponen / logam benar-benar
bersih dan bebas dari mineral dan kotoran lainnya. Yang kemudian dicat Powder Coating
secara elektro statis.
g. Tempat Etiket :
- Tempat etiket terbuat dari plastik transparan dengan kertas Etiket ukuran A6, yaitu
10,5(T) x 14,8(L) cm.
- Lemari tunggal dilengkapi 1 (satu) buah etiket dan lemari Ganda dilengkapi dengan
2(dua) buah etiket.
h. Roda :
- Roda penghantar (berbentuk cekung), ukuran diameter luar 122 mm, diameter
dalam 20 mm.
- Jumlah roda bagi setiap Lemari Dinas, dengan lebar (L) = 200 cm :
- Roda penghantar = 4 buah
-
i. Rel
- Rel penghantar bagi Roda Penghantar, terbuat dari baja pejal 21 (T) X 60 (L) mm
berbentuk cembung
- Jumlah rel bagi ROLL-O-PACT dengan ukuran lebar (L) = 200cm
- Rel Penghantar= 2 buah
j. Landasan :
Landasan menggunakan Multipleks lapis karpet Adalah tahap akhir pada pada proses pre-
treatment yaitu proses Pembilasan dengan menggunakan air bebas mineral untuk
Memastikan komponen / logam benar-benar bersih dan bebas dari mineral dan kotoran
lainnya. Yang kemudian dicat Powder Coating secara elektro statis.
k. Penggerak:
Sistim mekanis, dengan bantuan rantai. Perlengkapan pada sistem rangka (chasis) :
• Handle putar dari polyrutehane diameter O 405 mm.
• Box rantai
• As.
• Roda gigi O 118 mm
Perlengkapan pada lantai :
• Rantai.
• Profil pengamanan rantai, terbuat dari alumunium.
• Partisi ‘open view’, yaitu partisi terbuka dengan rangka dari profil alumunium dan penutup
partisi menggunakan kaca.
• Partisi ‘close view’, yaitu partisi tertutup dengan rangka dari besi hollow galvanis dan
penutup partisi dari panel (multiplek atau gypsumboard).
Kelebihan dari penggunaan partisi pada bangunan adalah kecepatan dalam pelaksanaan
fisiknya dan kemudahan dirubah bila terjadi ‘relayout’ pada ruangan.
Konstruksi partisi adalah seperti gambar-gambar di bawah ini :
A. Topografi
Kawasan berkontur dalam pengembangannya menyangkut tentang lay out massa
bangunan. Pada dasarnya lay out massa bangunan pada topografi lereng ada 3, yaitu :
1. Above-ground (bangunan diatas permukaan tanah)
2. Semi bellow-ground (bangunan sebagian di bawah permukaan tanah)
3. Bellow-ground (bangunan di bawah permukaan tanah)
Terdapat 4 pendekatan dalam pengolahan kawasan pada bentuk massa bangunan yang
dibangun pada kawasan berkontur, diantaranya adalah:
a. Pengurugan ( Land Fill )
Pembentukan permukaan dibuat sedemikian rupa sehingga terbentuk permukaan yang
datar. Beberapa masalah yang ada, antara lain :
a) bahan untuk urugan biasanya mahal,
b) kemiringan permukaan yang di ubah menjadi datar menghabiskan lahan,
B Iklim
Bangunan dan konstruksinya dibutuhkan manusia antara lain untuk menghadapi pengaruh
iklim. Faktor penting untuk membangun perlindungan terhadap cuaca dan iklim tersebut
ialah penyinaran, suhu, kelembaban udara, ventilasi dan sebagainya. Rancangan untuk
mengendalikan iklim dan menghematkan energi secara serempak memberikan suatu
lingkungan yang menarik dan berbagai pengalaman bagi pemakai yang dapat diselesaikan
jika perancang memahami elemen-elemen yang diperlukan dalam hal pengendalian
Ke dua tingkatan utama dimana rancangan bagi iklim terjadi adalah iklim makro (zona iklim
wilayah yang luas) dan iklim mikro (variasi-variasi iklim spesifik topografi berskala kecil
pada zona-zona yang lebih luas tersebut). Suatu tingkatan ketiga, iklim meso berlaku pada
suatu daerah yang lebih kecil daripada sebuah wilayah tetapi lebih luas daripada sebuah
topografi tunggal. Masing-masing oleh karena itu mempunyai iklim mesonya sendiri-sendiri
dan dalam masing-masing kota topografi-topografi spesifik mempunyai iklim mikro yang
berbeda-beda.
Pada skala besar, topografi, radiasi matahari, dan angin bergabung untuk menghasilkan
iklim mikro yang menekankan karakteristik-karakteristik tertentu dari iklim makro daerah
tersebut, iklim mikro ini membuat beberapa lokasi di dalam topografi lebih dikehendaki
daripada lainnya, tergantung kepada iklim makro. Iklim mikro yang menyenangkan yang
tercipta oleh topografi dapat dipergunakan untuk menentukan letak grup bangunan.
Pertimbangan ini adalah jauh lebih penting untuk ruang-ruang eksterior atau bangunan
yang didominasi beban kulit, dimana beban pemanasan dan penyejukan dipengaruhi
terutama oleh iklim, daripada untuk bangunan yang didominasi beban internal dimana
kebutuhan-kebutuhan pemanasan dan penyejukan dipengaruhi terutama oleh berapa
banyak panas ditimbulkan pada bangunan dan yang mempunyai suatu kebutuhan
penyejukan di sebagian besar waktu.
Iklim pada semua tingkatan zona adalah tercipta oleh interaksi dari empat faktor utama.
Ke empat faktor utama tersebut adalah pola-pola angin, radiasi matahari, suhu, dan hujan.
Perhubungan timbal balik dari topografi, adalah sebuah faktor berpengaruh yang kelima.
Memahami bagaimana iklim mempengaruhi kondisi-kondisi topografi dan pada akhirnya
rancangan memerlukan diskusi pendahuluan dari masing-masing faktor-faktor iklim secara
sendiri-sendiri, diikuti oleh diskusi dari interaksi di antara mereka. Aspek lingkungan yang
dapat mempengaruhi kenyamanan di dalam bangunan, antara lain aspek penghawaan,
aspek terang alami, aspek thermal (panas), gangguan suara (noise) dan penggunaan
material lokal.
Industri
Sistem Septik
Jalan Umum
Jalan Raya
Jalan Kereta Api
Lapangan Terbang
Sumber : Diolah berdasarkan daftar Mabbery.
8%
.05%
Ramps 15%
10%
1%
NA
Walkways 4%
approaches 1%
and entrances
5%
0.5%
Services area 8%
and 0.5%
Collector walks
0.5%
10%
Terrace and 2%
sitting area 1%
2% 0.5%
Lawn area and 2%
Slope in
Area Function percent
Max Min
playground 3%
4% 0.5%
Swales
10% 1%
25% NA
(4:1)
Planted banks
(unmoved 50% NA
vines or ground 2:1
cover)s NA
100% liat
90 10
80 20
70 30
Liat
Pe
iat
nin
nl
60 40
rs e
g
ka
pe
ta n
tan
pe
50
gka
50
rse
Liat
Kedalaman
nin
nd
Liat Debuan
Pe
eb
Pasiran
Efektif
u
40 60
Lempung
Lempung Lempung
> 90 Cm 30 Lempung
Liat Liat Debuan
70
Liat
Pasiran
20 80
Lempung
Tanah Debu
Gemuk Lempung
10 90
Pasir
Pasir Debu
Pasir Lempung
0
90 80 70 60 50 40 30 20 10 0
100% pasir
100% debu
Peningkatan persen pasir
Anguler Aksial
Grid
Hasil analisis figure/ground dapat digunakan untuk kegiatan merancang dengan cara
merekayasa secara kreatif bentuk-bentuk dasar berikut.
B. Analisis Linkage
Metode ini merupakan kelanjutan dari analisis figure-ground yang memberikan tekanan
analisisnya pada karakteristik kesatuan ruang berdasarkan sudut pandang visual,
struktural dan bentuk kolektif. Tahap-tahap analisis visual ini sangat sederhana yaitu :
a) Tahap pertama, mengidentifikasikan elemen-elemen penghubung suatu kawasan.
Keterangan:
KDB maks : Koefisien Dasar Bangunan yang diperkenankan untuk
suatu lokasi
FPs : Faktor penyesuaian lokasi lahan terhadap sistem pusat pelayanan
FJl : Faktor penyesuaian lokasi lahan terhadap hirarki jalan
FLk : Faktor penyesuaian luas kapling
FFb : Faktor penyesuaian fungsi bangunan
FKl : Faktor penyesuaian kelerengan lahan
Adapun standar yang digunakan untuk mengatur ketinggian bangunan adalah sebagai
berikut :
3. Permukaan Kerucut
Bidang miring antara jarak 4 Km sampai 6 Km dari ujung landasan/permukaan utama,
dengan kemiringan 5 % yang menghubungkan tepi luar permukaan horizontal dalam
dengan tepi dalam permukaan horizontal luar.
4. Permukaan Horizontal Luar
Bidang datar di sekitar bandara dengan radius mulai 6 Km sampai 15 Km dari ujung
landasan, dengan ketinggian + 156 meter di atas ketinggian ambang landasan, atau
dengan ketinggian 893,5 dpml.
E. Jarak Bangunan
Yang dimaksud dengan jarak bebas ialah jarak minimum yang diperkenankan dari
bidang terluar suatu massa bangunan ke :
Garis sempadan jalan
Antar massa-massa bangunan
Pagar/batas lahan yang dikuasai dan atau
Rencana saluran, jaringan tegangan listrik , telepon dan sebagainya.
Standar Hubungan Antara Tinggi Bangunan, Jarak Bebas, KDB Dan KLB Bagi
Bangunan Renggang (Type Tunggal)
K D B (%) K L B (%)
Ketinggian Jarak
Kurang Tidak Kurang Tidak
Bangunan Bebas Padat Padat
Padat Padat Padat Padat
I 4.00 60.00 60 50 0.6 0.5 0.4
II 4.50 60.00 50 40 1.2 1.0 0.8
III 5.00 60.00 50 40 1.8 1.5 1.2
IV 5.50 60.00 50 40 2.4 2.0 1.6
V 6.00 50.00 50 40 3.0 2.5 2.0
VI 6.50 50.00 45 40 3.6 3.0 2.4
VII 7.00 50.00 45 40 4.0 3.5 2.8
VIII 7.50 50.00 45 40 4.0 3.5 3.0
IX 8.00 45.00 45 40 4.0 3.5 3.0
X 8.50 45.00 45 40 4.0 3.5 3.0
K D B (%) K L B (%)
Ketinggian Jarak
Kurang Tidak Kurang Tidak
Bangunan Bebas Padat Padat
Padat Padat Padat Padat
XI 9.00 45.00 45 40 4.0 3.5 3.0
XII 9.50 45.00 45 40 4.0 3.5 3.0
XIII 10.00 45.00 45 40 4.0 3.5 3.0
XIV 10.50 45.00 45 40 4.0 3.5 3.0
XV 11.00 45.00 45 40 4.0 3.5 3.0
XVI 11.50 45.00 45 40 4.0 3.5 3.0
Catatan : Ketentuan jarak bebas bangunan renggang diberlakukan pada kondisi perumahan
padat.
Standar Hubungan Antara Tinggi Bangunan, Jarak Bebas, KDB Dan KLB Bagi
Bangunan Rapat
Jarak Bebas K D B (%) K L B (%)
Ketinggian
Kurang Tidak Kurang Tidak
Bangunan Samping Belakang Padat Padat
Padat Padat Padat Padat
I 0.00 4.00 75 60 50 0.75 0.6 0.5
II 0.00 4.50 75 60 50 1.5 1.2 1.0
III 0.00 5.00 75 60 50 2.25 1.8 1.5
IV 0.00 5.50 75 60 50 3.0 2.4 2.0
V 6.00 6.00 60 50 40 3.5 3.0 2.5
VI 6.50 6.50 60 50 40 3.5 3.0 2.5
VII 7.00 7.00 60 50 40 3.5 3.0 2.5
VIII 7.50 7.50 60 50 40 3.5 3.0 2.5
IX 8.00 8.00 50 45 40 4.0 3.5 3.0
X 8.50 8.50 50 45 40 4.0 3.5 3.0
XI 9.00 9.00 50 45 40 4.0 3.5 3.0
XII 9.50 9.50 50 45 40 4.0 3.5 3.0
XIII 10.00 10.00 50 45 40 4.0 3.5 3.0
XIV 10.50 10.50 50 45 40 4.0 3.5 3.0
XV 11.00 11.00 50 45 40 4.0 3.5 3.0
XVI 11.50 11.50 50 45 40 4.0 3.5 3.0
Catatan : Ketentuan jarak bebas bangunan renggang diberlakukan pada kondisi perumahan
padat.
Vo
----- x 100 = Xo
Lj
Sistem Perparkiran
Tempat parkir yang baik harus berdasarkan standar terkait dengan pola kontruksi,
lokasi dan tingkat pelayanan.
1. Tidak mengurangi daya tarik area sekitarnya. Melainkan senantiasa menciptakan
keseimbangan dengan perkembangan lahan yang berbatasan.
2. Harus memiliki utilitas atau “kemungkinan dilaksanakannya aktivitas” dan
mampu menarik pembeli. Jika tempat parkir dilayani oleh tukang parkir,
pengendara harus sopan sehingga pelayanan menjadi efisien. Jika tempat parkir
melebihi parkir perorangan, maka tempat parkir harus dirancang dengan ukuran
yang lebih besar dan nyaman, sederhana, dengan akses yang baik.
3. Harus dirancang dengan koordinasi menggunakan pendekatan pergerakan lalu
lintas pintu masuk dan keluar untuk jalan kecil atau gang.
TIPE BANGUNAN
rata
Sumber : IHCM 1997
Karakteristik Kendaraan :
Lebar 1,98
Panjang 5,48
Jarak Roda 3,20
Radius putaran 7,08
Ukuran Perparkiran
Ukuran perparkiran disesuaikan dengan ukuran kendaraan, yang pada umumnya
memiliki ukuran 25 sampai 500 atau lebih. Tempat parkir disesuaikan dari 100 sampai
200 kendaraan secara efisien dan praktis. Tempat parkir yang kecil dibuat secara
strategis, biasanya melayani lebih dari satu ukuran tempat parkir.
Kemudahan ruang parkir adalah :
1. Mempunyai jalan masuk sedikitnya lebar 0,1524 m dan panjang yang
berbatasan 6 m, pararel dan mempunyai ruang untuk berdiri.
2. Mempunyai ruangan untuk berdiri dan jalan masuk dengan permukaan lantai
tidak melebihi 1:48 disemua arah.
Wisma
Bangunan flat/apartemen Luas Lantai 90 m2 ke atas 1 unit / 1 mobil
Luas Lantai 90 – 70 m2 2 unit/1 mobil
Luas Lantai 70 m2 ke bawah 5 unit / 1mobil
Bangunan wisma bukan flat Harus menyediakan tempat parkir 1 bgn/ 1 mobil
Karya
V
Dimana : W= + N
W = lebar trotoar 35
ELEMEN-ELEMEN ARSITEKTUR
A. Sirkulasi
Manusia dan Pergerakan
Dalam hal sirkulasi adalah penting utuk mengetahui faktor – faktor apa saja yang
mempengaruhi dalam pergerakan manusia. Meliputi faktor-faktor:
1. Faktor yang merancang manusia cenderung bergerak :
a. Bila ada sesuatu yang menyenangkan
b. Bila ada benda yang disukainya
c. Adanya tanda dan petunjuk yang jelas dan mengarah
d. Bila sesuatu mempunyai daya tarik
e. Bila sesuatu yang berbeda
2. Faktor yang merangsang manusia menolak bergerak :
a. Adanya rintangan
b. Ada sesuatu yang tidak menyenangkan
c. Ada sesuatu yang monoton (membosankan)
d. Ada sesuatu yang tidak serasi
e. Adanya bahaya
3. Faktor yang membimbing manusia melakukan gerakan :
a. Adanya pembagi ruang
B. Kenyamanan Ruang
Pengolahan facade dan atap diperlukan untuk mendapatkan kondisi terang yang
maksimal dengan penghematan energi yang optimal. Sedangkan untuk mengurangi
C. Pencahayaan
Pencahayaan pada umumnya menggunakan sumber cahaya alam (pencahayaan alami)
dan juga sumber energi listrik (pencahayaan buatan). Sistem pencahayaan yang dipilih
haruslah yang mudah penggunaannya, efektif, nyaman untuk penglihatan, tidak
menghambat kelancaran kegiatan, tidak mengganggu kesehatan terutama dalam
ruang-ruang tertentu dan menggunakan energi yang seminimal mungkin (Akmal,
2006). Untuk dapat merencanakan sistem pencahayaan yang baik dan tepat, harus
diperhatikan hal-hal berikut ini:
Kebutuhan dan fungsi ruang, aktivitas dari pengguna (Practical Needs).
Membantu penampilan (Easy of Performance).
Kenyamanan (Comfort).
Keamanan dan keselamatan (Safety).
Ekonomis (Economy).
Keperluan dekorasi (Decorative Needs).
Persyaratan bangunan (Architectural Consideration).
Kondisi dan udara dalam ruang.
Letak penempatan lampu.
Warna-warna dinding (gelap atau terang).
Pencahayaan mempunyai 3 (tiga) fungsi utama, yaitu sebagai sumber cahaya untuk
kegiatan sehari-hari, untuk memberi keindahan dalam desain suatu ruang, untuk
menciptakan kondisi tertentu sesuai dengan karakter dan fungsi ruang. Selain fungsi
utamanya tersebut, pencahayaan juga dapat memberikan nilai lebih dalam suatu
ruang.
Pertama adalah pencahayaan dapat membangun suasana. Dalam sebuah desain, efek
fisik dan psikologis adalah satu kesatuan yang saling mempengaruhi, begitu pula dalam
pencahayaan. Pencahayaan yang terlalu terang akan membuat kita merasa terbangun
dan sangat aktif. Sedangkan pencahayaan yang temaram dan redup menciptakan rasa
rileks bahkan mungkin mengantuk. Hal tersebut merupakan efek psikologis dalam
bentuk fisik pencahayaan. Suasana ruang dapat diciptakan dari warna dan intensitas
cahayanya.
Kedua adalah pencahayaan dapat membentuk indeks efek warna. Pencahayaan harus
dapat memberi efek warna yang tetap pada benda dan sudut ruang yang ingin
ditonjolkan. Dalam perancangan suatu interior, hubungan antara unsur dinding, lantai,
langit-langit dan unsur lighting mempunyai peranan yang cukup dominan, karena akan
menimbulkan kesan-kesan gembira, ceria, seram, formil, dan sebagainya. (Suptandar,
1999:217)
Yang dimaksudkan dengan struktur suatu bangunan adalah bentuk dasar bangunan yang
dipergunakan untuk menampilkan karakter bangunan secara keseluruhan. Kita mengenal
beberapa sistem struktur bangunan seperti grid yang dibentuk dari kolom-kolom
pendukung, shell yang dibentuk dari dinding selubung, tenda yang dibentuk dari sistem
kabel dan tenda penutup, dan lain-lain jenis struktur. Sistem struktur ini dapat dipilih salah
satu atau dikombinasikan untuk mendapatkan karakter tampilan yang diinginkan sesuai
konsep yang disepakati. Selain sistem struktur yang dipilih, faktor konstruksi juga
mempengaruhi penampilan bangunan.
Menurut SNI 2847-2002, Pasal [Link]. untuk daerah-daerah dengan resiko gempa
biasa yaitu wilayah gempa 1 dan 2 (seperti Kabupaten Pamekasan), harus digunakan
sistem rangka pemikul momen biasa (SRPMB) dan atau sistem rangka pemikul
momen menengah (SRPMM).
B. Kriteria Desain
B.1. Upper Structure
Perencanaan upper structure secara garis besar terdiri dari:
1. Perencanaan pelat lantai
2. Perencanaan balok Struktur
3. Perencanaan Balok Anak
4. Perencanaan kolom Struktur
5. Perencanaan Sloof Struktur
6. Perencanaan Ring Balk
7. Perencanaan Struktur Atap
Beban mati dan beban hidup ditentukan berdasarkan peraturan yang berlaku dan
memperhatikan fungsi setiap lantai.
Beban gempa ditentukan dengan cara statik ekivalen atau cara dinamis (respon
spektrum) dengan memperhatikan jumlah lantai, DOF, periode getaran, rasio
redaman, mode getaran, drift ratio, sifat tanah dasar dan zone gempa.
• U = 1.2D + 1.6 L
Dimensi Penampang
Pendimensian penampang pelat, balok dilakukan secara bertahap yaitu tahap
pertama dengan menentukan dimensi awal berdasarkan pendekatan (ACI 2002:
Concrete Detailing Guide) yaitu:
Tahap kedua dimensi awal penampang akan dievaluasi lagi berdasarkan prosedur
minimal setelah analisa struktur yaitu dengan pemeriksaan:
Kewajaran gaya-gaya dalam dan reaksi tumpuan
Alat Perencanaan
Pada perencanaan ini digunakan alat bantu komputer dengan beberapa paket
program untuk mempercepat proses hitungan. Paket program yang digunakan
meliputi hitungan untuk menganalisa gaya dalam yang dihasilkan dan program
penulangan balok dan kolom.
di mana:
C. Spesifikasi Desain
1. Beban Mati + Berat Sendiri (D)
Beton bertulang : 2400 kg/m3
Baja : 7850 kg/m3
Leveling pasir (lantai) : 85 kg/m2
Penutup lantai + spesi : 87 kg/m2
Plumbing : 20 kg/m2
Ducting AC : 30 kg/m2
Plafon + hanger : 18 kg/m2
Dinding bata Ringan : 120 kg/m2
Dinding bata Merah : 250 kg/m2
Dinding partisi : 25 kg/m2
4. Metode Desain
Desain elemen struktur beton menggunakan Capacity Design berdasarkan SNI
03-2847-2002
5. Peraturan
PPIUG 1987 : Peraturan Pembebanan Indonesia untuk Gedung 1987
ACI Commite 318, 2005, Building Code Requirements for Structural Concrete
and Commentary (ACI 318-05), New York : American Concrete Institute
Jaringan air bersih ini berupa jaringan pipa-pipa, dimana pipa yang digunakan nantinya dari
jenis Polyprophilyn PPr (PN 10), pipa jenis ini selain live time nya yang bisa mencapai 50
tahun juga higenis. Untuk menyalurkan air bersih dari sumbernya ke tempat-tempat
yang membutuhkan. Kebutuhan air bersih ini bervariasi, dan untuk kebutuhan per orang
perhari dari berbagai jenis hunian/bangunan adalah sebagai berikut (contoh) :
Dimana
P = daya pompa, Watt
y = berat jenis air, 9810 N/m3 ・
Q = debit aliran, m3/detik
H = head total, m
Contoh sketsa sistem Air Bersih dapat dilihat pada gambar di bawah
Dengan jumlah peturasan (daerah basah) yang memenuhi kebutuhan gedung dengan
kapasitas cukup banyak, kapasitas air limbah/ air kotor yang dihasilkan dengan perkiraan
80% dari kebutuhan air bersih. Langkah-langkah yang direncanakan sampai dengan akhir
penggunaan adalah sebagai berikut :
Limbah cair sebagai salah satu produk limbah yang dihasilkan dari kegiatan setiap
peturasan. Maka perlu dipertimbangkan suatu upaya pengelolaan tertentu dalam mengatasi
persoalan limbahnya. Salah satu cara adalah dengan melakukan pengolahan (minimisasi)
terhadap kandungan parameter limbah cair yang berpotensi mencemari lingkungan sampai
pada batas yang disyaratkan oleh Pemerintah.
Berdasarkan perbandingan kesamaan kualitas limbah cair dari berbagai banguanan gedung
di Indonesia, dapat ditarik kesimpulan bahwa parameter kualitas limbah cair terutama
berupa: BOD, COD, NH3 bebas, NO2, Lemak, SS dan pH.
Definisi Air Kotor : Air limpasan yang berasal dari buangan WC/ kamar mandi
Definisi Air Bekas : Air buangan dari washtafel, tempat wudlu atau tempat tempat lain selain
kamar mandi
Pada dasarnya air kotor dan air bekas dapat disalurkan langsung ke Instalasi Pengolahan
Air Limbah (IPAL).
Contoh sketsa sistem Air Kotor dapat dilihat pada gambar di bawah
Contoh sketsa sistem pemadam kebakaran dapat dilihat pada gambar di bawah
Peralatan Tata Udara dan ventilasi termasuk jaringan instalasinya yang besar peranannya
dalam secara umum terdiri dari :
• Tata Udara dengan penyaringan udara efisiensi tinggi (Hepa Filter)
• untuk pengadilan terpadu dan dilengkapi dengan ventilasi untuk kebutuhan “full fresh
air”.
• Air Coolled Chiller,Air Hndling Unit & Fan Coil Unit
• Unit AC dengan Split System (Wall and Duct Type)
• Ventilasi mekanis (exhaust fan) untuk ruangan-ruangan , dapur,
gudang obat dsb.
• Ventilasi mekanis untuk toilet (exhaust fan).
Peralatan Air Conditioning dan ventilasi termasuk jaringan instalasinya yang besar
peranannya dalam fungsi suatu gedung auditorium secara umum terdiri dari :
Sistem Air Conditioning dengan Colling Tower,Air coolled.
Sistem Air Conditioning dengan Split System
Ventilasi mekanis (exhaust fan dan Intake Fan) untuk ruangan- ruangan, dapur,
gudang,area parkir basemant dsb.
Ventilasi mekanis untuk toilet (exhaust fan).
Adapun syarat-syarat perencanaan yang harus dipenuhi adalah sebagai berikut :
- Sistem Air Conditioning ruangan disesuaikan dengan penggunaan ruangan
bervariasi diantara 180C-240C.
- Kuantitas ventilasi udara sebesar 15-30 cfm per orang.
- Kelembaban relatif (RH) antara 50-55%.
2. Ducting
Saluran udara (Ducting) direncanakan menggunakan jenis Polyueratan dan Kain (skin)
yang nantinya bisa dimanfaatkan,berikut gambar-gambar ducting:
PolyUerratan Duct
Area yang tidak dikondisikan dengan AC dilengkapi dengan ventilasi mekanis yang
memasukkan dan mengeluarkan udara, diantaranya untuk :
• Gudang
• Ruang Panel
• Power House
• Ruang Genset
• Toilet
Peralatan yang dipakai dalam sistem ini adalah in take fan dan exhaust fan.
Mengingat besarnya biaya operasi dan pemeliharaan dari penggunaan Air Conditioning,
tidak semua ruang dapat dilengkapi dengan sarana ini. Referensi penggunaan ducting AC
dengan menggunakan bahan poly Uerathan Gambar diagram sistem tata udara dan
Ventilasi dapat dilihat pada gambar berikut
E. Sistem Elektrikal
Kualitas dan kontinuitas dalam penyediaan daya listrik merupakan kriteria penting dalam
Perencanaan Sistem Kelistrikan. Dengan melihat kebutuhan Daya Listrik ini cukup besar
untuk itu direncanakan mempunyai Power House tersendiri (mulai HVMDP,Transformator
berikut LVMDP dan Capasitor Bank).
Dari Panel Tegangan Rendah (LVMDP) didisteribusikan ke panel-panel induk bangunan
(MDP) dan selanjutnya didistribusikan ke panel-panel Penerangan dan Daya.
Gambar contoh sistem distribusi daya dapat dilihat pada gambar berikut.
Kriteria penting yang harus dipenuhi di dalam perencanaan sistem kelistrikan diantaranya
adalah kualitas dan kontinuitas dalam penyediaan daya listrik. Selain itu sistem kelistrikan
tersebut harus memenuhi berbagai persyaratan dan kriteria sebagai berikut :
• Kendala Sistem
Tata cara pengoperasian pelayanan pada gedung auditorium menghendaki keandalan yang
tinggi dalam penyediaan daya listrik, aman dari kegagalan dan sesedikit mungkin gangguan
terhadap sistem secara keseluruhan.
• Kemudahan dalam Operasional dan Pemeliharaan
Sistem kelistrikan harus direncanakan sesederhana mungkin untuk memudahkan dalam
operasi dan pemeliharaan.
• Pengaturan Tegangan
Mengingat banyaknya peralatan dengan batas toleransi tegangan tertentu, maka tegangan
sumber listrik harus dapat dipertahankan pada berbagai macam beban.
• Pemeliharaan
Sistem distribusi kelistrikan harus direncanakan dengan berbagai kemudahan bagi
pemeriksaan dan perbaikan jika terjadi gangguan atau kerusakan.
• Fleksibilitas
Sistem kelistrikan harus direncanakan dengan cukup fleksibel, yang berarti tanggap
terhadap kemungkinan terjadinya penambahan dan perluasan bangunan serta peralatan.
Harus diperhatikan perubahan tegangan listrik, rating peralatan, penambahan ruang
peralatan baru bahkan kemungkinan penambahan beban kelistrikan.
• Biaya Investasi dan Operasional
Sistem kelistrikan harus direncanakan dengan menekan serendah mungkin biaya investasi
dan biaya pengoperasiannya.
• Beban Penerangan
Standar VA/m2 untuk penerangan tergantung pada tingkat iluminasi dan efisiensi dari
perangkat pelengkapnya. Berdasarkan pada IEEE No. 241, standar tersebut berkisar antara
10 VA/m2 sampai dengan 120 VA/m2. Harga ini terlalu tinggi dan berdasarkan perkiraan
rata-rata penerangan di Indonesia, diambil standar antar 10 VA/m2 sampai 50 VA/m2, atau
rata rata 25 VA/m2 untuk seluruh bangunan.
Beban ini berkisar antara 30 VA/m3 sampai dengan 130 VA/m2, dan beban keseluruhan
berkisar antara 30% sampai dengan 50% dari seluruh luas bangunan yang ada.
• Perhitungan Beban Listrik
Berdasar rencana luasan bangunan beban keseluruhan tersambung diperkirakan minimum
750 VA-1.500 VA.
• Kategori Pembebanan
Beban listrik untuk bangunan auditorium dibedakan atas tiga katagori sebagai berikut :
• Prioritas Utama (kategori A); beban yang harus disuplai secara kontinu tanpa boleh
terputus sama sekali, baik oleh sumber listrik PLN maupun sumber cadangannya.
• Prioritas Sedang (katagori B); beban yang dilayani secara kontinu oleh sumber listrik
PLN dengan sumber cadangan Diesel- Generator.
• Beban Umum (katagori C); beban yang hanya dilayani oleh sumber listrik PLN saja.
• Jaringan Distribusi dan Sumber Daya Cadangan
Faktor penting yang mempengaruhi perencanaan sistem kelistrikan dan pengaturan
jaringan adalah : karakteristik beban, kualitas pelayanan, ukuran dan konfigurasi bangunan
serta pertimbangan biaya.
F. Sistem Pencahayaan.
Untuk menghasilkan suatu pencahayaan yang optimal pada bangunan, maka sistem
pencahayaan bangunan tersebut direncanakan dengan baik. Adapun kriteria-kriteria yang
suatu harus harus diperhatikan dalam perencanaan sistem pencahayaan antara lain :
• Bahan pembuat luminaire harus terbuat dari bahan anti karat dengan proses pembuatan
(penekukan, pengelasan,dll) dilakukan secara teliti. Standar proteksi luminaire adalah
standar internasional yang mengklasifikasian luminaire untuk proteksi terhadap cairan dan
debu/kotoran.
Bangunan ini juga dilengkapi dengan sistem pengindra kebakaran (Fire Alarm),pada setiap
ruangan nantinya dilegkapi sistem pengindra kebakaran guna untuk mendekteksi dini jika
terjadi kebakaran,adapun detector yang harus ada adalah : Heat detector, ROR
detector,Smoke ditector dan Gas ditector,sistem pengindra kebakaran yang akan
direncanakan adalah sistem semi addressible. Contoh gambar sistem pengindra kebakaran
dapat dilihat pada gambar berikut.
G. Sistem Telekomunikasi
Sistem telekomunikasi yang akan direncanakan yaitu Sistem Telepon (PABX), Sistem Tata
Suara dan Public Adres, dan Sistem Radio Komunikasi. Berikut ini adalah perencanaan
masing-masing sistem yang dapat dikembangkan sebagai berikut :
• Sistem Telepon PABX
H. Sistem Penunjang
a. Sistem Komputer.
• Sistem komputer berupa “Local Area Network” diperlukan guna menunjang seluruh
kegiatan informasi dan data gedung. Sistem ini berupa jaringan komputer personal
(PC) sebagai user dengan satu server sebagai bank data diharapkan dapat
meningkatkan manejemen secara keseluruhan.
• Gambar sistem Informasi dapat dilihat pada gambar berikut
Kebutuhan terhadap fasilitas standar dan utilitas di lokasi ini berupa fasilitas standart sudah
tersedia namun perlu perencanaan ulang, seperti drainase, air bersih, listrik dan telepon.
Namun di kawasan sekitar lokasi telah ada beberapa fasilitas seperti persampahan, air
bersih dan listrik / telepon.
A Drainase
Sistem drainase di lokasi rencana dipersiapkan dan direncanakan dengan baik untuk dapat
dikembangkan dalam site development yang memungkinkan untuk penataan kawasan yang
mampu menangani permasalahan hujan dan saluran air.
Sistem penyediaan air bersih merupakan sistem plumbing yang dibutuhkan dalam setiap
kegiatan. Karena itu, untuk fasilitas di kawasan ini diperlukan perencanaan yang tepat
terhadap sistem plumbing air bersih pada perencanaan dan pengembangan. Tujuan dari
penataan sistem plumbing air bersih ini adalah untuk memudahkan kebutuhan operasional
kawasan yang terdiri dari :
Kebutuhan listrik dan telepon merupakan kebutuhan standart yang harus ada dalam
operasional kantor. Kondisi listrik di sekitar lokasi dan fasilitas telepon telah tersedia hingga
di batas tepi jalan Raya, atau kawasan kampus, sehingga perencanaanya adalah dalam
kaitan distribusi di dalam tapak bangunan.
• Penangkal petir : dipasang pada bangunan min. 2 lantai (paling tinggi diantara
sekitarnya, konstruksi bangunan yang menonjol : cerobong asap, antena TV, tiang bendera)
o Alat penerima logam tembaga (logam bulat panjang yang runcing ) atau penerima
kawat mendatar.
o Kawat penyalur dari tembaga
o Pentanahan kawat penyalur sampai dengan pada bagian tanah yang basah, ukuran
dari instalasi ditentukan berdasarkan daerah/bangunan yang dilindungi.
Pra-Rencana
Membuat gambar-gambar pra-rencana arsitektur, yang merupakan pengembangan dari
konsep gambar yang sudah dibuat terlebih dahulu dalam tahapan pra-rancangan. Dalam
tahap ini konsultan perencana akan selalu mengadakan konsultasi dan koordinasi dengan
Pemberi Tugas, sehingga akan didapat produk gambar yang terkoordinasi. Selain itu
konsultan juga akan berpedoman pada standar dan peraturan yang ada.
Gambar-gambar pra-rencana yang akan dibuat antara lain :
Site Plan, Denah, Tampak, Potongan Bangunan
Pengembangan Rencana
Pada tahap ini konsultan membuat gambar-gambar pengembangan arsitektur, sistem
struktur dan sistem instalasi dan elektrikal, yang merupakan pengembangan dari gambar-
gambar pra-rencana.
Dalam tahap ini konsultan perencana akan selalu mengadakan konsultasi dan koordinasi
dengan pihak Pemberi Tugas, sehingga akan didapat produk gambar yang selaras, terpadu
dan terorganisasi. Gambar - gambar perencanaan yang dihasilkan konsultan ini sudah
berdasarkan hasil analisa, sistem dan perhitungan yang berpedoman pada standar dan
peraturan yang ada.
Gambar-gambar pengembangan rencana yang akan dibuat konsultan pada tahap ini antara
lain :
a) Gambar-gambar perencanaan detail arsitektur, meliputi :
· Denah, tampak, potongan bangunan
· Rencana pola lantai, plafond
· Detail tangga, toilet, kusen
· Detail Arsitektur lainnya.
b) Gambar-gambar perencanaan detail sistem struktur, meliputi :
· Rencana pondasi dan kolom
· Rencana plat lantai, balok, kolom
· Rencana ring balok, portal
· Rencana tangga
· Detail struktur lainnya
· Detail penjelasan struktur yang terkait dengan gambar arsitektur
Arahan yang digunakan dalam perencanaan detail ini antara lain :
· Perencanaan struktur akan diperhitungkan terhadap keamanan, daya tahan serta
kemudahan memperoleh material yang disesuaikan dengan kondisi keuangan.
· Semua perhitungan struktur akan dibuat analisanya berdasarkan analisis yang lazim
digunakan.
· Konstruksi permanen dengan batas umur konstruksi minimal 10 tahun.
· Efisiensi biaya dengan memperhitungkan sistem konstruksi yang paling mudah, aman
dan kemampuan teknis kontraktor.
· Keamanan dalam pelaksanaan
c) Gambar perencanaan detail mekanikal dan elektrikal bangunan dengan skala besar,
meliputi :
Mekanikal :
1· Jaringan Air Bersih
2· Jaringan Air Kotor dan Air Hujan
3· Jaringan Air Kotor
4· Rencana Septic Tank
5· Isometri (sesuai kebutuhan)
6· Detail-detail Mekanikal
Elektrikal :
7· Jaringan Instalasi Listrik
8· Wiring Diagram
9· Jaringan Penangkal Petir
10· Detail-detail Elektrikal
Spesifikasi Teknis
Spesifikasi teknis mencakup ketentuan-ketentuan lengkap tentang Arsitektur, Sipil &
Struktur dan ME yang ada dalam gambar perencanaan detail bangunan pasar beserta
batasan-batasan yang kelak akan dikerjakan oleh kontraktor yaitu :
1· Penjelasan mengenai lingkup pekerjaan
2· Peralatan dan bahan-bahan yang akan digunakan
3· Kode dan standar yang dipergunakan
· Hal-hal yang berkaitan dengan pemeriksaan, uji coba (testing & comisioning) dan
pengawasan.
Bill Of Quantity
Konsultan Perencanaan akan membuat daftar lengkap mengenai peralatan dan bahan yang
terdapat dalam gambar rancangan terinci yang mencakup baik jumlah satuannya maupun
nama, jenis serta ukurannya.
Daftar tersebut harus dibuat sejelas-jelasnya dengan demikian kontraktor dapat memakai
untuk mengajukan penawaran.
Konsep umum perancangan tata bangunan dan lingkungan merupakan gambaran umum
desain penataan pada kawasan perencanaan yang ditindaklanjuti dengan penjabaran
konsep desain masing-masing elemen desainnya. Pada prinsipnya suatu proses
pembangunan sekecil apapun adalah merupakan suatu intervensi desain urban, sehingga
dibutuhkan suatu konsep umum yang menjelaskan rancangan struktur tata bangunan dan
lingkungan yang dikendaki.
Panduan detail perancangan tata bangunan dan lingkungan merupakan penjelasan lebih
rinci atas konsep umum perancangan tata bangunan dan lingkungan yang telah ditetapkan
pada bab sebelumnya, dalam bentuk penjabaran perancangan kawasan sampai
pengembangan kavling. Manfaat kajian panduan detail perancangan adalah;
1. Untuk mengarahkan secara ringkas dan sistematis implementasi ketentuan dasar
serta ketentuan detail dari penduan perencanaan tiap bangunan, kavling, subblok
dan blok pengembangan dalam dimensi yang terukur.
2. Untuk menggambarkan simulasi bangunan secara keruangan (3 dimensional)
sebagai contoh penerapan seluruh rencana tata bangunan dan lingkungan dalam
tiap kavling, subblok dan bloknya.
3. Untuk memudahkan pengembangan desain pada tiap kavling/subblok sesuai
dengan visi dan arahan karakter lingkungan yang telah ditetapkan.
4. Untuk memudahkan pengelolaan, pengendalian dan pengoperasian kawasan sesuai
dengan visi dan arahan karakter lingkungan yang telah ditetapkan.
5. Untuk mencapai intervensi desain kawasan yang berdampak baik, terarah dan
terukur pada suatu kawasan yang direncanakan.
6. Untuk mencapai integrasi elemen-elemen desain yang berpengaruh pada suatu
perencanaan Kawasan.
PERUMUSAN PEMBIAYAAN
Program pembiayaan disusun sesuai dengan kebutuhan nyata pemerintah daerah dalam
proses pengendalian investasi dan pembiayaan dalam pembangunan/penataan lingkungan.
Program ini merupakan rujukan bagi pelaku pembangunan untuk menghitung kelayakan
investasi dan pembiayaan suatu penataan ataupun menghitung tolak ukur keberhasilan
investasi, sehingga tercapai kesinambungan pentahapan pelaksanaan pembangunan.
Program ini mengatur upaya percepatan penyediaan dan peningkatan kualitas pelayanan
prasarana/sarana lingkungan. Selain itu, program ini menjadi alat mobilisasi dana investasi
masingmasing stakeholders dalam pengendalian pelaksanaan sesuai dengan kapasitas dan
perannya dalam suatu sistem kota yang disepakati bersama, sehingga dapat tercapai kerja
sama untuk mengurangi berbagai konflik kepentingan dalam investasi/pembiayaan. Dalam
perumusan program pembiayaan, aspek-aspek pengendalian yang harus diperhatikan
adalah:
a) Program bersifat jangka menengah, minimal untuk kurun waktu 5 (lima) tahun serta
mengindikasikan investasi untuk berbagai macam kegiatan yang konsisten meliputi
tolak ukur/kuantitas pekerjaan, besaran rencana pembiayaan, perkiraan waktu
pelaksanaan dan usulan sumber pendanaannya.
b) Meliputi investasi pembangunan yang dibiayai oleh pemerintah daerah/pusat (dari
berbagai sektor), dunia usaha/swasta maupun masyarakat.
c) Menjelaskan pola-pla penggalangan pendanaan, kegiatan yang perlu dilakukan
khususnya oleh pemda setempat, sekaligus saran/alternatif waktu pelaksanaan
kegiatan-kegiatan tersebut.
d) Menjelaskan tata cara penyiapan dan penyepakatan investasi dan pembiayaan,
termasuk menjelaskan langkah, pelaku, dan perhitungan teknisnya.
e) Menuntut stakeholder dalam memperoleh justifikasi kelayakan ekonomi dan
usulan perencanaan lingkungan dengan memisahkan jenis paket berjenis cost
recovery, non-cost recovery, dan pelayanan publik.
PROGRAM KERJA
Bulan 1 Bulan 2
No Kegiatan
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15
Bulan 1 Bulan 2
No Kegiatan
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15
PELAPORAN
Laporan yang harus dibuat oleh penyedia jasa meliputi:
1. Buku Laporan Pendahuluan, terdiri atas:
a. Laporan pendahuluan sekurangnya memuat:
1) Pendahuluan
2) (Latar belakang, maksud, tujuan, sasaran, keluaran, referensi hukum, dan
sistematika laporan)
3) Profil Lokasi Pekerjaan
4) Pendekatan dan Metodologi
5) Rencana Kerja
6) Survei Awal dan Identifikasi Pekerjaan (Konsep Desain dan Informasi
Lapangan)
b. Laporan diserahkan selambat-lambatnya 10 (Sepuluh) hari kerja sejak SPMK
diterbitkan.
c. Laporan ini dibuat sebanyak 4 (Empat) copy ,1 (Satu) asli.
Untuk memudahkan dan memelihara efisiensi kerja, perlu disusun suatu organisasi
pelaksanaan pekerjaan agar dapat berjalan lancar sesuai dengan maksud, tujuan dan
sasaran serta jadwal yang telah ditetapkan. Pada dasarnya dalam penyusunan organisasi
pelaksanaan pekerjaan tersebut menyangkut hubungan kerja antara pemberi tugas dan
penerima/pelaksana pekerjaan.
Dalam melaksanakan pekerjaan yang dimaksud, konsultan akan membentuk satu tim
yang dipimpin oleh Team Leader dengan didukung oleh beberapa tenaga ahli dan juga
beberapa tenaga pendukung yang berkompeten. Untuk mengetahui lebih jelas, struktur
organisasi pelaksanaan pekerjaan JASA KONSULTANSI PERENCANAAN PEMBANGUNAN
PUSKESMAS SUKAMANAH dapat dilihat pada gambar berikut:
DINAS KESEHATAN
KABUPATEN BANDUNG
KETUA TIM
Ahli Arsitektur
Status
Posisi
No Nama Personil Perusahaan Tenaga Keahlian
Diusulkan
Ahli
TENAGA AHLI
1 Ahmad Sulaiman, PT. Alocita Lokal Arsitektur Ahli Arsitektur
ST Mandiri (Team Leader)
2 Andry Novriandry, PT. Alocita Lokal Lingkungan Ahli Lingkungan
ST Mandiri
3 Nurhadi Jaya, PT. Alocita Lokal Kesehatan Ahli Konsultan
[Link]., MARS Mandiri Kesehatan
TENAGA PENDUKUNG
1 Eric Seto, ST PT. Alocita Lokal Asisten Asisten Tenaga
2 Cucu Ahmad Mandiri Tenaga Ahli Ahli
Pungkasara, ST
3 Frans Parera, SE PT. Alocita Lokal Administrasi Administrasi
Mandiri
4 Fahri Septian, SPW PT. Alocita Lokal Operator Operator
Mandiri Komputer Komputer
5 Achmad Kurniawan PT. Alocita Lokal Drafter CAD Drafter CAD
Fachreza,[Link].T Mandiri
FASILITAS PENUNJANG
FASILITAS PENUNJANG
KONDISI
JENIS KAPASITAS/OUT TAHUN LOKASI BUKTI
NO JUMLAH MERK / TYPE BAIK /
PERALATAN/PERLENGKAPAN PUT PEMBUATAN SEKARANG KEPEMILIKAN
RUSAK
1 Peralatan Kantor
Drone 1 Phantom 4 Pro DJI 2016 Baik Bandung Milik Sendiri
Laptop 1 Core i 3 Lenovo 2010 Baik Bandung Milik Sendiri
Laptop 1 Core i 3 Dell 2010 Baik Bandung Milik Sendiri
Laptop 1 Core 2 Duo HP 2010 Baik Bandung Milik Sendiri
Internet 1 30 Mbps Indihome 2015 Baik Bandung Milik Sendiri
Komputer 1 Core Duo LG 2009 Baik Bandung Milik Sendiri
Printer 1 A3 Canon 2009 Baik Bandung Milik Sendiri
Printer 1 A4 Canon 2009 Baik Bandung Milik Sendiri
Scanner 1 A4 Canon 2009 Baik Bandung Milik Sendiri
Scanner 1 A4 Epson 2005 Baik Bandung Milik Sendiri
Meja 4 ½ Biro Galaxy 2008 Baik Bandung Milik Sendiri
Meja 4 Biro Axcel 2010 Baik Bandung Milik Sendiri
Kursi 6 6 Fortuner 2010 Baik Bandung Milik Sendiri
Kursi 6 6 Cheetos 2005 Baik Bandung Milik Sendiri
Rak Buku 1 50 Index 2010 Baik Bandung Milik Sendiri
Rak Buku 3 20 Galaxy 2008 Baik Bandung Milik Sendiri
Kamera Digital 2 3.2 M Pix Canon 2005 Baik Bandung Milik Sendiri
Kamera Digital 1 10 M Pix Panasonic 2010 Baik Bandung Milik Sendiri
GPS 2 Optimal Garmin 2012 Baik Bandung Milik Sendiri
Theodolit Digital 1 DT – 5A Sokkisha 83664 2010 Baik Bandung Milik Sendiri
Waterpass 1 B40 Sokkia 2010 Baik Bandung Milik Sendiri
Kantor 1 130m2 Rukan 2015 Baik Bandung Milik Sendiri
2 Kendaraan
Mobil 1 6 Orang Toyota Innova 2015 Baik Bandung Milik Sendiri
Motor 1 2 Orang Honda Karisma 2005 Baik Bandung Milik Sendiri
Motor 1 2 Orang Yamaha Vega 2010 Baik Bandung Milik Sendiri
HASIL KERJA
Berdasarkan hasil kerja yang sudah dilakukan bahwa kegiatan yang berhubungan
dengan perencanaan pembangunan puskesmas yaitu pekerjaan serupa pernah
dilakukan yaitu Masterplan Rumah Sakit yang menghasilkan data sebagai berikut.
a. Outline Pelaporan
1) Laporan Pendahuluan
Bab 1 – Pendahuluan
Bab 2 – Tinjauan Kebijakan
Bab 3 – Gambaran Umum
Bab 4 – Pendekatan dan Metodologi
Bab 5 – Rencana Kerja
2) Laporan Akhir
Bab 1 – Pendahuluan
Bab 2 – Survai Pengukuran dan Topografi
Bab 3 – Analisa Kondisi Umum
Bab 4 – Master Program
Bab 5 – Program Fungsi
Bab 6 – Perencanaan Masterplan
Bab 7 – Rencana Induk/ Master Plan Rumah Sakit
Jasa Konsultan dilaksanakan sejak dikeluarkannya SMPK, masa Konstruksi sampai dengan
masa pelaksanaan pekerjaan selesai sesuai dengan jangka waktu yang ditetapkan. Dalam
pelaksanaan tugas ini konsultan bertanggung jawab terhadap pelaksanaan. Adapu lingkup
Pekerjaan Konsultan terdiri dari :
Secara umum tenaga ahli yang diminta dari jenis dan jumlah serta disiplinilmu telah
memenuhi dalam pekerjaan Supervisi namun yang perlu untuk ditingkatkan adalah dari
segi pengalaman tenaga ahli, hal ini perlu karena tenaga ahli yang ada harus mengelola
kegiatan yang cukup banyak dan harus mengkoordinasi jumlah pengawas yang juga cukup
banyak sehingga harus mempunyai cukup kemampuan untuk melakukannya.
AMDAL (Analisis Mengenai Dampak Lingkungan) sesuai ketentuan yang berlaku, dan setiap
kegiatan dalam bangunan gedung negara dan/atau lingkungan yang tidak menimbulkan
dampak besar dan penting terhadap lingkungan atau secara teknologi sudah dapat dikelola
dampak pentingnya, tidak perlu dilengkapi dengan AMDAL, tetapi diharuskan melakukan
Upaya Pengelolaan Lingkungan (UPL) dan Upaya Pemantauan Lingkungan (UPL) sesuai
ketentuan yang berlaku.
KELENGKAPAN DOKUMEN
Setiap pembangunan Bangunan Gedung Negara, harus dilengkapi dengan dokumen-
dokumen admistrasi, sejak persiapan sampai dengan pasca pembangunannya, yang
meliputi dokumen pendanaan, dokumen perencanaan, dokumen, pembangunan, dan
dokumen pendaftaran.
1. Dokumen Pendanaan
Setiap kegiatan pembangunan Bangunan Gedung Negara harus disertai/memiliki bukti
tersedianya anggaran yang diperuntukkan untuk pembiayaan kegiatan tersebut yang
disahkan oleh Pejabat yang berwenang sesuai peraturan perundang- undangan yang
berlaku yang dapat berupa Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA)/Daftar Pelaksanaan
Anggaran (DPA), atau dokumen lainnya yang dipersamakan, termasuk surat
penunjukan/penetapan Kuasa Pengguna Anggaran/ Kepala Satuan Kerja. Dalam dokumen
pendanaan/pembiayaan pembangunan Bangunan Gedung Negara, tersebut sudah
termasuk biaya untuk:
a. perencanaan teknis;
Bangunan Gedung Negara, baik berupa perencanaan baru, perencanaan teknis berulang
atau prototipe oleh Konsultan Perencana atau Tim Swakelola.
DOKUMEN PEMBANGUNAN
Setiap bangunan gedung negara setelah selesai tahap pelaksanaan pembangunan, juga
harus dilengkapi dengan dokumen pembangunan yang terdiri atas:
a. Dokumen Pendanaan,
d. Dokumen Pelelangan,
INOVASI PERENCANAAN
Desain Green Building memiliki sistem penilaian yang berstandar internasional. Di Indonesia
penilaian tersebut di atur oleh lembaga non-profit, yaitu Green Building Council Indonesia
(GBCI). GBCI mengeluarkan Green Building Rating System bernama Greenship 2013 yang
bersifat khas Indonesia dan mengakomodasi kepentingan lokal
Penggunaan material pada suatu bangunan memegang peranan penting terkait dengan
tujuan hemat energi dan ramah lingkungan. Pemilihan material bangunan yang tepat untuk
Green building adalah Green Material yaitu material yang ramah lingkungan. Penggunaan
Green Material dapat menghasilkan bangunan yang berkualitas sekaligus ramah
lingkungan, khususnya pemanfaat material ekologis.
Aplikasi dari bangunan ramah lingkungan biasanya disebut juga dengan konstruksi hijau
(green construction), yakni pada tahap perencanaan terlihat pada beberapa desain
konstruksi yang memperoleh award sebagai desain bangunan yang hemat energi, yaitu
sistem bangunan yang didesain agar mengurangi pemakaian listrik untuk pencahayaan dan
tata udara. Selain itu berbagai terobosan baru dalam dunia konstruksi juga
memperkenalkan berbagai material struktur yang saat ini menggunakan limbah sebagai
salah satu komponennya, seperti pemakaian flyash, silica fume pada beton siap pakai dan
beton pra cetak. Selain itu terobosan sistem pelaksanaan konstruksi juga memperkenalkan
material yang mengurangi ketergantungan dunia konstruksi pada pemakaian material kayu
sebagai perancah.
Material ramah lingkungan memiliki kriteria sebagai berikut;
tidak beracun, sebelum maupun sesudah digunakan
dalam proses pembuatannya tidak memproduksi zat-zat berbahaya bagi lingkungan
dapat menghubungkan kita dengan alam, dalam arti kita makin dekat dengan alam
karena kesan alami dari material tersebut (misalnya bata mengingatkan kita pada
tanah, kayu pada pepohonan)
bisa didapatkan dengan mudah dan dekat (tidak memerlukan ongkos atau proses
memindahkan yang besar, karena menghemat energi BBM untuk memindahkan
material tersebut ke lokasi pembangunan)
bahan material yang dapat terurai dengan mudah secara alami
Untuk mendukung perencanaan ramah disabilitas maka mengacu pada peraturan Kepmen
PU No 486 tahun 1998 menjelaskan adanya detail toilet akses yang dirancang khusus untuk
anak berkebutuhan khusus, yaitu :
1) Esensi Fasilitas sanitasi yang aksesibel untuk semua orang (tanpa terkecuali
penyandang cacat, orang tua dan ibu-ibu hamil) pada bangunan atau fasilitas umum
lainnya.
2) Persyaratan
a. Toilet atau kamar kecil umum yang aksesibel harus dilengkapi dengan tampilan
rambu/simbol dengan sistem cetak timbul "penyandang cacat" pada bagian luarnya.
b. Toilet atau kamar kecil umum harus memiliki ruang gerak yang cukup untuk masuk
dan keluar pengguna kursi roda.
c. Ketinggian tempat duduk kloset harus sesuai dengan ketinggian pengguna kursi roda
sekitar (45-50 cm)
d. Toilet atau kamar kecil umum harus dilengkapi dengan pegangan rambat (handrail)
yang memiliki posisi dan ketinggian disesuaikan dengan pengguna kursi roda dan
penyandang cacat yang lain. Pegangan disarankan memiliki bentuk siku-siku
mengarah ke atas untuk membantu pergerakan pengguna kursi roda.
e. Letak kertas tissu, air, kran air atau pancuran (shower) dan perlengkapan-
perlengkapan seperti tempat sabun dan pengering tangan harus dipasang
sedemikian hingga mudah digunakan oleh orang yang memiliki
keterbatasanketerbatasan fisik dan bisa dijangkau pengguna kursi roda.
f. Semua kran sebaiknya dengan menggunakan sistem pengungkit dipasang pada
wastafel, dll.
g. Bahan dan penyelesaian lantai harus tidak licin.
h. Pintu harus mudah dibuka dan ditutup untuk memudahkan pengguna kursi roda.
i. Kunci-kunci toilet atau grendel dipilih sedemikian sehingga bisa dibuka dari luar jika
terjadi kondisi darurat.
j. Pada tempat-tempat yang mudah dicapai, seperti pada daerah pintu masuk,
dianjurkan untuk menyediakan tombol bunyi darurat (emergency sound button) bila
sewaktu-waktu terjadi sesuatu yang tidak diharapkan.
Kamar mandi bagi penyandang cacat khususnya yang menggunakan kursi roda seharusnya
dirancang dengan memperhatikan bagaimana pergerakan kursi roda didalam ruangan.
Memiliki ruang gerak yang leluasa bagi kursi roda selain itu ketinggian tempat duduk kloset
juga harus sesuai dengan ketinggian kursi roda, sekitar 45 ± 50 cm. Perancangan ini
dilakukan guna menghasilkan perancangan yang nyaman bagi penyandang cacat. Hal lain
yang harus diperhatikan pada penempatan kertas tisue, tempat sabun dan sikat gigi serta
peralatan lain yang digunakan oleh penyandang cacat kursi roda harus dapat dijangkau
leluasa dan tidak ditempatkan pada ketinggian yang sulit dijangkau.
DUKUNG DATA
Persyaratan teknis Bangunan Gedung Negara merupakan persyaratan dalam hal teknis
yang harus dipenuhui oleh kementerian/lembaga/SKPD dalam pembangunan Bangunan
Gedung Negara. Persyaratan teknis Bangunan Gedung Negara yang meliputi persyaratan
tata bangunan, persyaratan keandalan bangunan gedung, serta ketentuan klasifikasi,
standar luas, ketinggian, dan spesifikasi teknis Bangunan Gedung Negara harus
diimplentasikan dalam proses perencanaan teknis Bangunan Gedung Negara, sebagai dasar
memperoleh Izin Mendirikan Bangunan dan proses pelaksanaan konstruksi dalam proses
Pembangunan Bangunan Gedung Negara.
Persyaratan Tata Bangunan
Persyaratan tata bangunan Bangunan Gedung Negara, meliputi: persyaratan peruntukan
dan intensitas bangunan gedung, persyaratan arsitektur bangunan gedung, dan
persyaratan pengendalian dampak lingkungan.
1) RTRW Kabupaten/Kota;
7) membentuk denah bangunan gedung yang sedapat mungkin simetris dan sederhana.
1) terciptanya ruang luar bangunan gedung dan ruang terbuka hijau yang seimbang,
serasi, dan selaras dengan lingkungannya;
3) pemenuhan kebutuhan sarana dan prasarana di dalam dan di luar bangunan gedung.
Penyusunan AMDAL, UKL, atau UPL pada Pembangunan Bangunan Gedung Negara
dilakukan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan tentang pelindungan
dan pengelolaan lingkungan hidup.
1. Persyaratan Keselamatan
Persyaratan keselamatan Bangunan Gedung Negara meliputi keselamatan struktur,
kemampuan pencegahan dan penanggulangan bahaya kebakaran, dan kemampuan
pencegahan dan penanggulangan bahaya petir.
a. Keselamatan struktur Bangunan Gedung Negara, harus memenuhi:
1) ketentuan kekuatan, kekukuhan, dan kestabilan dalam memikul beban/kombinasi
beban dan memenuhi persyaratan keselamatan (safety), serta memenuhi persyaratan
pelayanan (serviceability) selama umur layanan yang direncanakan dengan
mempertimbangkan fungsi bangunan gedung, lokasi, keawetan, dan kemungkinan
pelaksanaan konstruksinya;
3) ketentuan rencana yang detail sehingga pada kondisi pembebanan maksimum yang
direncanakan, apabila terjadi keruntuhan kondisi strukturnya masih memungkinkan
pengguna bangunan gedung menyelamatkan diri; dan
2. Persyaratan Kesehatan
Persyaratan kesehatan Bangunan Gedung Negara meliputi persyaratan tentang sistem
penghawaan, sistem pencahayaan, sistem air minum dan sanitasi, dan penggunaan bahan
bangunan.
a. Sistem penghawaan berupa ventilasi alami dan/atau ventilasi mekanik/buatan. Dalam
hal ventilasi alami tidak mungkin diterapkan, Bangunan Gedung Negara dapat
3. Persyaratan Kenyamanan
Persyaratan kenyamanan Bangunan Gedung Negara meliputi kenyamanan ruang gerak dan
hubungan antar-ruang, kondisi udara dalam ruang, pandangan, dan tingkat getaran dan
kebisingan.
a. Kenyamanan ruang gerak pada Bangunan Gedung Negara harus mempertimbangkan
fungsi ruang, jumlah pengguna, perabot/peralatan, aksesibilitas ruang, di dalam bangunan
gedung; dan persyaratan keselamatan dan kesehatan.
b. Kenyamanan hubungan antar-ruang pada Bangunan Gedung Negara harus
mempertimbangkan fungsi ruang, aksesibilitas ruang, dan jumlah pengguna dan
perabot/peralatan di dalam bangunan gedung, sirkulasi antar-ruang horizontal dan vertical,
dan persyaratan keselamatan dan kesehatan.
c. Kenyamanan kondisi udara dalam pada Bangunan Gedung Negara meliputi pengaturan
temperatur, pergerakan, dan kelembaban udara. Pengaturan temperatur, pergerakan, dan
kelembaban udara harus mempertimbangkan:
1) fungsi bangunan gedung/ruang, jumlah pengguna, letak geografis, orientasi
bangunan, volume ruang, jenis peralatan, dan penggunaan bahan bangunan;
2) kemudahan pemeliharaan dan perawatan; dan
3) prinsip penghematan energi dan ramah lingkungan.
d. Kenyamanan pandangan pada Bangunan Gedung Negara meliputi kenyamanan
pandangan dari dalam bangunan keluar dan dari luar bangunan ke dalam bangunan.
1) Kenyamanan pandangan dari dalam bangunan gedung negara ke luar harus
mempertimbangkan:
a) gubahan massa bangunan, rancangan bukaan, tata ruang dalam dan luar
bangunan, dan rancangan bentuk luar bangunan; dan
a) rancangan bukaan, tata ruang dalam dan luar bangunan, dan rancangan bentuk
luar bangunan gedung;
b) keberadaan bangunan gedung yang ada dan/atau yang akan ada di sekitarnya;
dan
4. Persyaratan Kemudahan
Persyaratan kemudahan yang harus dipenuhi pada Bangunan Gedung Negara meliputi
kemudahan ke, dari, dan di dalam bangunan gedung, dan kelengkapan prasarana dan
sarana dalam pemanfaatan bangunan gedung.
a. Kemudahan hubungan ke, dari, dan di dalam bangunan gedung meliputi ketentuan
tentang tersedianya fasilitas dan aksesibilitas yang mudah, aman, dan nyaman bagi semua
orang, termasuk penyandang disabilitas dan lansia. Kemudahan hubungan ke, dari, dan di
dalam Bangunan Gedung Negara terdiri atas:
1) kemudahan hubungan horizontal dalam bangunan; dan
a. Sistem ventilasi.
(c) Ventilasi harus dapat mengatur pertukaran udara (;air change) sehingga
ruangan tidak terasa panas, tidak terjadi kondensasi uap air atau lemak
pada lantai, dinding, atau langit-langit.
(d) Ventilasi mekanik/buatan harus disediakan jika ventilasi alami tidak dapat
memenuhi syarat.
d. Sistem Distribusi
e. Sistem Pembumian
f. Proteksi Petir
g. Sistem pencahayaan.
i. Sistem Komunikasi
Persyaratan Teknis :
(e) Label tidak boleh dirusak, diubah atau dilepas, dan fiting
penyambung tidak boleh dimodifikasi.
(j) Tutup pelindung katup harus dipasang erat pada tempatnya bila
Tabung/silinder sedang tidak digunakan.
k. Sistem Sanitasi.
(2) Saluran air limbah harus kedap air, bersih dari sampah dan
dilengkapi penutup dengan bak kontrol untuk menjaga
kemiringan saluran minimal 1%.
(3) Limbah padat medis harus dipisahkan dengan limbah padat non
medis.
n. Tangga.
(1) Umum.
pada lantainya.
o. Ram.
(1) Umum
(c) Lebar minimum dari ram adalah 120 cm dengan tepi pengaman.
(d) Muka datar (bordes) pada awalan atau akhiran dari suatu
ram harus bebas dan datar sehingga memungkinkan
sekurang-kurangnya untuk memutar kursi roda dan
stretcher, dengan ukuran minimum 180 cm.
PELAKSANAAN PEKERJAAN
Organisasi merupakan hal yang sangat penting dalam suatu kegiatan pekerjaan
penyusunan organisasi yang sesuai dengan komposisi pekerjaan akan memudahkan
penyelesaian dan hasil yang maksimal.
1. Pengguna Jasa
Pengguna Jasa adalah Dinas Pendidikan Kabupaten Bandung melalui Tim Teknis yang
ditunjuk.
2. Penyedia Jasa
Penyedia jasa adalah Konsultan Perencana akan membentuk Tim Pelaksana Pekerjaan
(Team Work) yang terdiri atas Tenaga Ahli yang dibantu oleh Tenaga Pendukung.
KOORDINASI KERJA
Keberhasilan Team Work ini tergantung pada strategi manajemen yang dipakai dimana
untuk pekerjaan ini dipergunakan:
METODE PELAKSANAAN
Jadwal rencana kerja merupakan bagian terpenting dalam memanajemen waktu sehingga
kegiatan atau pekerjaan dapat selesai tepat pada waktu yang telah disepakati.
Bulan 1 Bulan 2
No Kegiatan
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15
Bulan 1 Bulan 2
No Kegiatan
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15
d. Tenaga Ahli ME
Merupakan seorang ahli mekanikal elektrikal dengan kualifikasi pendidikan S1
dalam bidang teknik elektro, memiliki SKA Ahli Madya Teknik Transmisi Tenaga
Listrik, dan pengalaman bekerja minimal 5 tahun.
Status Jumlah
Posisi
No Nama Personil Perusahaan Tenaga Keahlian Uraian Pekerjaan Orang
Diusulkan
Ahli /Bulan
diskusi dan pembahasan materi yang
dikaji.
Memberikan masukan dalam
menginventarisir data dan informasi
Menyusun pelaporan dari hasil
pengumpulan data primer dan sekunder
Bersama dengan team leader dan tim
ahli menganalisa dan merumuskan
konsep dan rekomendasi
3 Rachmat PT. Alocita Lokal Sipil Ahli Sipil Melakukan koordinasi pelaksanaan 1/1,5
Suriyanegara, ST Mandiri Struktur pekerjaan secara internal Bersama team
leader dan anggota tim lainnya melalui
diskusi dan pembahasan materi yang
dikaji.
Memberikan masukan dalam
menginventarisir data dan informasi
Menyusun pelaporan dari hasil
pengumpulan data primer dan sekunder
Bersama dengan team leader dan tim ahli
menganalisa dan merumuskan konsep
dan rekomendasi
Status Jumlah
Posisi
No Nama Personil Perusahaan Tenaga Keahlian Uraian Pekerjaan Orang
Diusulkan
Ahli /Bulan
4 Herdi, ST PT. Alocita Lokal Elektro Ahli Melakukan koordinasi pelaksanaan 1/1,5
Mandiri Mekanikal pekerjaan secara internal Bersama team
Elektrikal leader dan anggota tim lainnya melalui
diskusi dan pembahasan materi yang
dikaji.
Memberikan masukan dalam
menginventarisir data dan informasi
Menyusun pelaporan dari hasil
pengumpulan data primer dan sekunder
Bersama dengan team leader dan tim
ahli menganalisa dan merumuskan
konsep dan rekomendasi
Status Jumlah
Posisi
No Nama Personil Perusahaan Tenaga Keahlian Uraian Pekerjaan Orang
Diusulkan
Ahli /Bulan
5 Cecep Shandi PT. Alocita Lokal Sipil Ahli K3 Melakukan koordinasi pelaksanaan 1/1,5
Hidayat, ST Mandiri Konstruksi pekerjaan secara internal Bersama team
leader dan anggota tim lainnya melalui
diskusi dan pembahasan materi yang
dikaji.
Memberikan masukan dalam
menginventarisir data dan informasi
Menyusun pelaporan dari hasil
pengumpulan data primer dan sekunder
Bersama dengan team leader dan tim
ahli menganalisa dan merumuskan
konsep dan rekomendasi
Status Jumlah
Posisi
No Nama Personil Perusahaan Tenaga Keahlian Uraian Pekerjaan Orang
Diusulkan
Ahli /Bulan
6 Nurhadi Jaya, PT. Alocita Lokal Kesehatan Ahli Melakukan koordinasi pelaksanaan 1/1,5
[Link]., MARS Mandiri Konsultan pekerjaan secara internal Bersama team
Kesehatan leader dan anggota tim lainnya melalui
diskusi dan pembahasan materi yang
dikaji.
Memberikan masukan dalam
menginventarisir data dan informasi
Menyusun pelaporan dari hasil
pengumpulan data primer dan sekunder
Bersama dengan team leader dan tim
ahli menganalisa dan merumuskan
konsep dan rekomendasi
TENAGA PENDUKUNG
1 Eric Seto, ST Lokal 2/1,5
Status Jumlah
Posisi
No Nama Personil Perusahaan Tenaga Keahlian Uraian Pekerjaan Orang
Diusulkan
Ahli /Bulan
2 Cucu Ahmad PT. Alocita Asisten Asisten Bertugas membantu tenaga ahli dalam
Pungkasara,ST Mandiri Tenaga Ahli Tenaga Ahli pekerjaan teknis pengumpulan data, analisis
dan evaluasi data, serta pelaporan
3 Frans Parera,SE PT. Alocita Lokal Administrasi Administrasi Bertugas sebagai kepengurusan dalam segi 1/1,5
Mandiri hal administrasi pada kegiatan ini tentunya
tetap berkoordinasi dengan team leader dan
anggota tim lainnya selain dengan pemimpin
perusahaan.
4 Fahri Septian, PT. Alocita Lokal Operator Operator Mengumpulkan data dan informasi 1/1,5
SPW Mandiri Komputer Komputer sebagaimana kebutuhan data dan informasi
yang diperlukan hasil rumusan team leader
dan anggota tim lainnya.
5 Achmad PT. Alocita Lokal Drafter CAD Drafter CAD Seorang drafter CAD memiliki tugas untuk 1/1,5
Kurniawan Mandiri membantu arsitek proyek (project architect)
Fachreza,[Link].T dalam membuat detail-detail gambar kerja.
6 Novi Ayu Mustika PT. Alocita Lokal Drafter 3D Drafter 3D Seorang drafter 3D memiliki tugas untuk 1/1,5
Ningrum, [Link].T Mandiri membantu arsitek proyek (project architect)
dalam membuat detail-detail gambar kerja
dan gambar 3D.
ORGANISASI
Untuk memudahkan dan memelihara efisiensi kerja, perlu disusun suatu organisasi
pelaksanaan pekerjaan agar dapat berjalan lancar sesuai dengan maksud, tujuan
dan sasaran serta jadwal yang telah ditetapkan. Pada dasarnya dalam penyusunan
organisasi pelaksanaan pekerjaan tersebut menyangkut hubungan kerja antara
pemberi tugas dan penerima/pelaksana pekerjaan.
Dalam melaksanakan pekerjaan yang dimaksud, konsultan akan membentuk satu
tim yang dipimpin oleh Team Leader dengan didukung oleh beberapa tenaga ahli
dan juga beberapa tenaga pendukung yang berkompeten. Untuk mengetahui lebih
jelas, struktur organisasi pelaksanaan pekerjaan JASA KONSULTANSI
PERENCANAAN PEMBANGUNAN PUSKESMAS SUKAMANAH dapat dilihat pada
gambar berikut:
DINAS KESEHATAN
KABUPATEN BANDUNG
KETUA TIM
Ahli Arsitektur
Berdasarkan ruang lingkup pekerjaan yang tercantum di dalam Kerangka Acuan Kerja (KAK), maka pihak konsultan mengusulkan Jadwal
Penugasan Tenaga Ahli seperti yang terlihat pada tabel berikut ini :
JADWAL PENUGASAN TENAGA AHLI JASA KONSULTANSI PERENCANAAN PEMBANGUNAN PUSKESMAS SUKAMANAH