0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
120 tayangan192 halaman

Perencanaan Pembangunan Puskesmas Sukamanah

Kerangka Acuan Kerja (KAK) ini membahas rencana Jasa Konsultansi Perencanaan Pembangunan Puskesmas Sukamanah untuk menciptakan perencanaan yang komprehensif dan menghasilkan dokumen teknis lengkap sebagai acuan pelaksanaan pembangunan."

Diunggah oleh

Ega Iqbal R
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
120 tayangan192 halaman

Perencanaan Pembangunan Puskesmas Sukamanah

Kerangka Acuan Kerja (KAK) ini membahas rencana Jasa Konsultansi Perencanaan Pembangunan Puskesmas Sukamanah untuk menciptakan perencanaan yang komprehensif dan menghasilkan dokumen teknis lengkap sebagai acuan pelaksanaan pembangunan."

Diunggah oleh

Ega Iqbal R
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

JASA KONSULTANSI PERENCANAAN PEMBANGUNAN PUSKESMAS

SUKAMANAH

LATAR BELAKANG

Perubahan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945 Pasal 28


Bagian H ayat (1) telah menegaskan bahwa setiap orang berhak memperoleh
pelayanan kesehatan, kemudian dalam Pasal 34 ayat (3) dinyatakan negara
bertanggung jawab atas penyediaan fasilitas pelayanan kesehatan dan fasilitas
pelayanan umum yang layak. Undang Undang nomor 36 tahun 2009 3 tentang
Kesehatan pada pasal 19 menyebutkan bahwa Pemerintah bertanggung jawab atas
ketersediaan segala bentuk upaya kesehatan yang bermutu, aman, efisien dan
terjangkau.

Puskesmas merupakan salah satu fasilitas pelayanan kesehatan yang merupakan


pelaksana fungsional, berfungsi sebagai pusat pembangunan kesehatan, pusat
pembinaan peran serta masyarakat dalam bidang kesehatan serta pusat pelayanan
kesehatan tingkat pertama yang menyelenggarakan kegiatannya secara
menyeluruh, terpadu yang berkesinambungan pada suatu masyarakat yang
bertempat tinggal dalam suatu wilayah tertentu (Azrul Azwar, 1996).

PT. ALOCITA MANDIRI 4-1


JASA KONSULTANSI PERENCANAAN PEMBANGUNAN PUSKESMAS
SUKAMANAH

Puskesmas mempunyai peran penting bagi masyarakat luas, untuk itu


perencanaannya perlu diperhatikan. Berdasarkan Peraturan Menteri Pekerjaan
Umum Nomor: 45/PRT/M/2007 tentang Pedoman Teknis Pembangunan Bangunan
Gedung Negara, puskesmas termasuk pada Bangunan Gedung Negara dengan
klasifikasi Bangunan Sederhana. Namun, peraturan tersebut dicabut dan diganti
dengan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Nomor
22/PRT/M/2018 Tentang Pedoman Pembangunan Bangunan Gedung Negara,
sehingga klasifikasi puskesmas berada pada Bangunan Gedung Negara Lainnya.

Penyedia jasa perencanaan untuk Bangunan Negara dan Prasarana lingkungannya


perlu diarahkan secara baik dan meyeluruh sehingga mampu menghasilkan karya
pernacanaan teknis bangunan yang memadai dan layak diterima menurut kaidah,
norma serta tata laku profesional. Kerangka Acuan Kerja (KAK) untuk pekerjaan
perenacanaan perlu disiapkan secara matang, sehingga mampu mendorong
perwujudan karya perencanaan yang sesuai dengan kepentingan kegiatan.

Dinas Kesehatan Kabupaten Bandung sebagai fasilitasi dan coordinator bidang


kesehatan dari Pemerintahan Kabupaten Bandung, selain harus ditunjang oleh SDM
yang mempuni dan kompeten juga memerlukan sarana prasarana yang memadai.
Dinas kesehatan kabupaten Bandung memiliki wilayah binaan 62 Puskesmas
dengan jejaringnya, sehingga memerlukan pemenuhan ruangan pendukung untuk
menunjang pelaksanaan program kegiatannya; salah satunya tempat penyimpanan
barang dan dokumen atau gudang penyimpanan yang sesuai standar perkantoran
pemerintah dan aula pertemuan untuk pelaksanaan kegiatan pertemuan tingkat
dinas.

Untuk mewujudkan upaya dimaksud tentu harus direncanakan pembangunan model


sarana pelayanan kesehatan yang disesuaikan dengan kriteria dan kebutuhan
wilayah, maka dengan KAK ini diharapkan konsultasn perencana dapat membuat
protype dari sebuah gedung fasiltas pelayanan kesehatan dasar sebagai rujukan
atau acuan kegiatan pembangunan selanjutnya.

PT. ALOCITA MANDIRI 4-2


JASA KONSULTANSI PERENCANAAN PEMBANGUNAN PUSKESMAS
SUKAMANAH

TANGGAPAN TERHADAP LATAR BELAKANG

Untuk melaksanakan kegiatan Jasa Konsultansi Perencanaan Pembangunan


Puskesmas Sukamanah, diperlukan keterlibatan tenaga ahli profesional yang
bersifat multidisiplin disesuaikan dengan lingkup kegiatan yang akan ditangani.
Kegiatan Jasa Konsultansi Perencanaan Pembangunan Puskesmas Sukamanah
merupakan upaya untuk menciptakan pembangunan yang bersifat komprehensif.
Dengan tujuan utamanya yaitu tercapainya kajian kelayakan pembangunan baik
dari aspek teknis, arsitektur, kebijakan tata ruang, keuangan, ekonomi dan
lingkungan yang didukung oleh semua stakeholders terkait.
Dalam proses penyusunannya sudah tentu tidak dapat sepihak, sehingga produk
akhir pekerjaan ini bukanlah merupakan hasil konsultan semata, konsultan harus
mampu berfungsi sebagai pengatur dan pengelola dengan sumber bahan baku dari
berbagai pihak terkait atas dasar supervisi dari pihak pemberi kerja. Kunci
keberhasilan kegiatan Jasa Konsultansi Perencanaan Pembangunan Puskesmas
Sukamanah ini tergantung pada banyak faktor, diantaranya :
 Akses terhadap data dan informasi. Untuk menyusun suatu produk pedoman
dalam perencanaan dan pembangunan sarana prasarana khususnya pada
Perencanaan Pembangunan Puskesmas Sukamanah yang cukup baik, maka
kebutuhan data dalam arti yang luas merupakan salah satu prasyarat mutlak.
Oleh karena itu, akses tim pelaksana pekerjaan terhadap data dan informasi
yang diperlukan perlu dibuka seluas-luasnya.
 Kualitas data dan informasi yang dapat diperoleh. Mengingat bahwa hal
tersebut masih relatif kurang memadai, maka kelangkaan informasi dan data
merupakan problema tersendiri dalam kegiatan Jasa Konsultansi
Perencanaan Pembangunan Puskesmas Sukamanah.
 Proses pengolahan, mulai dari masukan yang berasal dari berbagai sumber,
pemilihan metoda dan model analisa guna menganalisis informasi dan
akhirnya menjadi rumusan materi rencana dan pembangunan.

PT. ALOCITA MANDIRI 4-3


JASA KONSULTANSI PERENCANAAN PEMBANGUNAN PUSKESMAS
SUKAMANAH

 Tingkat kepakaran dan kemampuan personal yang terlibat dalam proses ini
beragam, maka diharapkan kepakaran yang tersedia dapat bersifat sinergis
dan saling melengkapi.
 Komunikasi dan koordinasi yang harmonis antara pihak penyedia jasa
dengan pihak pemberi kerja c.q Tim Teknis Supervisi.
 Sinergisasi dengan pekerjaan lain yang terkait yang dilaksanakan secara
bersamaan pada tahun anggaran yang sama.

MAKSUD DAN TUJUAN

Maksud dari kerangka acuan ini adalah agar Konsultan Perencana Pembangunan
Puskesmas Sukamanah - Dinas Kesehatan dapat membuat suatu dokumen
perencanaan teknis yang lengkap sehingga ada satu dokumen Kegiatan
Perencanaan Pembangunan Puskesmas Sukamanah yang refresentatif berdasarkan
aturan teknis yang berlaku.
Dengan tujuan pembuatan dokumen tersebut adalah sebagai acuan dalam
melaksanakan kegiatan fisik di lapangan berupa Drawing Engenering Detail dan
Rencana Anggaran Biaya sehingga diperoleh efesiensi dan efektifitas bangunan
yang handal.

TANGGAPAN TERHADAP MAKSUD DAN TUJUAN

Menurut konsultan, maksud dan tujuan yang dijabarkan dalam KAK Jasa Konsultansi
Perencanaan Pembangunan Puskesmas Sukamanah sudah menjelaskan arah dari
pekerjaannya ini. Di dalam KAK dijelaskan mengenai maksudnya adalah membuat
suatu dokumen perencanaan teknis yang lengkap sehingga ada satu dokumen
Kegiatan Perencanaan Pembangunan Puskesmas Sukamanah sedangkan tujuannya
sebagai acuan dalam melaksanakan kegiatan fisik di lapangan berupa Detail
Engineering Desain dan Rencana Anggaran Biaya sehingga diperoleh efesiensi dan
efektifitas bangunan yang handal.

PT. ALOCITA MANDIRI 4-4


JASA KONSULTANSI PERENCANAAN PEMBANGUNAN PUSKESMAS
SUKAMANAH

Maksud Tujuan

Membuat suatu Sebagai acuan dalam


dokumen melaksanakan
perencanaan teknis kegiatan fisik di
yang lengkap lapangan berupa
sehingga ada satu Detail Engineering
dokumen Kegiatan Desain dan Rencana
Perencanaan Anggaran Biaya
Pembangunan sehingga diperoleh
Puskesmas efesiensi dan
Sukamanah efektifitas bangunan
yang handal

Hubungan Antara Maksud dan Tujuan

SASARAN

Sasaran Perencanaan Teknis Pembangunan Pembangunan Puskesmas Sukamanah


Dinas Kesehatan adalah terwujudnya suatu perencanaan yang komprehensif baik
ditinjau dari aspek arsitektur dan struktural, maupun dari aspek ekonomis serta
tahapan-tahapan pelaksanaan kegiatan pembangunan Pembangunan Puskesmas
Sukamanah dan bisa menerjemahkan secara fisik berdasarkan teknis yang berlaku.

TANGGAPAN TERHADAP SASARAN

Konsultan memahami bahwa sasaran di dalam KAK Jasa Konsultansi Perencanaan


Pembangunan Puskesmas Sukamanah yaitu terwujudnya suatu perencanaan yang
komprehensif baik ditinjau dari aspek arsitektur dan struktural, maupun dari aspek

PT. ALOCITA MANDIRI 4-5


JASA KONSULTANSI PERENCANAAN PEMBANGUNAN PUSKESMAS
SUKAMANAH

ekonomis serta tahapan-tahapan pelaksanaan kegiatan pembangunan


Pembangunan Puskesmas Sukamanah dan bisa menerjemahkan secara fisik
berdasarkan teknis yang berlaku.

LINGKUP PEKERJAAN

1. Lingkup kajian Pekerjaan Perencanaan Pembangunan Puskesmas Sukamanah


meliputi :
a. Lingkup tugas adalah Pekerjaan Perencanaan Pembangunan Puskesmas
Sukamanah Kabupaten Bandung Tahun Anggaran 2022.
b. Tahap Persiapan atau Konsepsi Perencanaan, Seperti : mengumpulkan data
dan informasi lapangan membuat interpretasi secara garis besar terhadap
Kerangka acuan kerja, Program kerja perencanaan, Konsep perencanaan,
Sketsa gagasan, dan konsultasi dengan Pemerintah Daerah setempat
mengenai peraturan daerah/perijnan bangunan.
c. Penyusunan pra-rencana seperti membuat rencana tapak, pra-rencana
bangunan.
d. Penyusunan Pegembangan rencana, antara lain membuat:
✓ Rencana arsitektur, beserta Uraian Konsep dan Visualisasi dua dan
trimatra bila diperlukan.
✓ Rencana struktur, beserta uraian konsep dan perhitungannya.
✓ Rencana utilitas, beserta uraian konsep dan perhitungannya.

✓ Garis besar Spesifikasi teknis (Outline Specifications).


✓ Perkiraan Biaya.
✓ Penyusunan rencana detail, seperti membuat gambar-gambar detail,
Rencana Kerja dan Syarat-Syarat (RKS), rincian Volume Pelaksanaan
Pekerjaan, rencana anggaran biaya Pekerjaan Konstruksi dan Menyusun
laporan akhir perencanaan.
e. Persiapan pelelangan, seperti membantu Pejabat Pembuat Komitmen di dalam
Menyusun dokumen pelelangan.
f. Penyusunan Surat Pernyataan Kesanggupan Pengelolaan dan Pemantauan

PT. ALOCITA MANDIRI 4-6


JASA KONSULTANSI PERENCANAAN PEMBANGUNAN PUSKESMAS
SUKAMANAH

Lingkungan Hidup (SPPL).


2. Lingkup Pekerjaan Perencanaan Pembangunan, yang terdiri dari komponen
kegiatan;
✓ Pekerjaan Persiapan
✓ Pekerjaan Sipil/Struktur

✓ Pekerjaan Arsitektur
✓ Pekerjaan Mekanikal/Elektrikal

✓ Pekerjaan Utilitas
3. Tahap-tahapan yang akan dilaksanakan adalah;
✓ Persiapan perencanaan termasuk survey

✓ Penyusunan Pra Rencana Lanjutan


✓ Pengembangan Rencana Lanjutan

✓ Penyusunan Rencana Anggaran Biaya lanjutan


✓ Penyusunan Rencana Pelaksanaan lanjutan

✓ Penyusunan Rencana Detail (Gambar kerja, RKS, BQ dll)


✓ Persiapan pelelangan

✓ Pelaksanaan pelelangan
✓ Pengawasan berkala

TANGGAPAN TERHADAP LINGKUP PEKERJAAN

Konsultan memahami bahwa lingkup pekerjaan di dalam KAK Pekerjaan


Perencanaan Pembangunan Puskesmas Sukamanah sudah cukup jelas. Lingkup
pekerjaan terdapat beberapa tahap berikut ilustrasinya :

PT. ALOCITA MANDIRI 4-7


JASA KONSULTANSI PERENCANAAN PEMBANGUNAN PUSKESMAS
SUKAMANAH

Tahap Persiapan atau Konsepsi Perencanaan

Penyusunan pra-rencana

Penyusunan Pegembangan rencana

Persiapan pelelangan

Penyusunan Surat Pernyataan Kesanggupan Pengelolaan


dan Pemantauan Lingkungan Hidup (SPPL).

Tahapan Lingkup Kegiatan

LOKASI KEGIATAN

Rencana Pembangunan Pembangunan Puskesmas Sukamanah, relokasi ke lokasi


baru yang berada di Depan SD 1 Pangalengan (Pintu) Desa Sukamanah Jalan Raya
Pintu Pangalengan Kabupaten Bandung, di area Kebun Malabar Pangalengan.

TANGGAPAN TERHADAP LOKASI KEGIATAN

Lokasi kegiatan yang tercantum pada KAK yaitu Puskesmas Sukamanah direlokasi
ke lokasi baru yang berada di Depan SD 1 Pangalengan (Pintu) Desa Sukamanah
Jalan Raya Pintu Pangalengan Kabupaten Bandung. Berikut titik lokasi kegiatannya.

PT. ALOCITA MANDIRI 4-8


JASA KONSULTANSI PERENCANAAN PEMBANGUNAN PUSKESMAS
SUKAMANAH

Lokasi Pembangunan
Puskesmas Sukamanah

Lokasi Kegiatan Jasa Konsultansi Perencanaan Pembangunan


Puskesmas Sukamanah

SUMBER PENDANAAN

Kegiatan ini dibiayai dari sumber pendanaan: dari Anggaran Pendapatan dan
Belanja Daerah (DAU APBD) Kabupaten Bandung Tahun 2022 dengan Pagu
Anggaran Rp. 322.335.000 (Terbilang : Tiga Ratus Dua Puluh Dua Juta Tiga
Ratus Tiga Puluh Lima Ribu Rupiah)

TANGGAPAN TERHADAP SUMBER PENDANAAN

Sumber dana yang tercantum pada KAK yaitu bersumber dari Anggaran Pendapatan
dan Belanja Daerah (DAU APBD) Kabupaten Bandung Tahun Anggaran 2022
sebesar Rp. 322.335.000 (Tiga Ratus Dua Puluh Dua Juta Tiga Ratus Tiga Puluh
Lima Ribu Rupiah)

PT. ALOCITA MANDIRI 4-9


JASA KONSULTANSI PERENCANAAN PEMBANGUNAN PUSKESMAS
SUKAMANAH

NAMA DAN ORGANISASI PEJABAT PEMBUAT KOMITMEN

Pejabat Pembuat Komitmen : Dinas Kesehatan Kabupaten Bandung

Program : 1.02.02 Program Pemenuhan Upaya Kesehatan


Perorangan dan Upaya Kesehatan Masyarakat

Kegiatan : [Link].01 Penyediaan Fasilitas Pelayanan


Kesehatan Untuk UKM dan UKP Kewenangan Daerah
Kabupaten/Kota

Sub Kegiatan : [Link].01.02 Pembangunan Puskesmas

Kode Rekening : [Link].01.0001 Belanja Modal Bangunan Gedung


Kantor – Perencanaan Pembangunan Puskesmas
Sukamanah

TANGGAPAN TERHADAP NAMA DAN ORGANISASI PEJABAT PEMBUAT


KOMITMEN

Nama dan Organisasi Pejabat Pembuat Komitmen di dalam KAK sudah jelas yaitu
Dinas Kesehatan Kabupaten Bandung.

DATA DASAR

Untuk penyusunan Kegiatan Perencanaan Pembangunan Ruang Pertemuan dan


Gudang Dinas Kesehatan adalah dilokasi tersebut harus mengikuti / berpedoman
pada batas-batas tanahnya yang sah serta mengikuti persyaratan-persyaratan yang
berlaku pada bangunan sipil maupun arsitektur antara lain:
• Persyaratan peruntukan dan intensitas
• Persyaratan arsitektur dan lingkungan
• Persyaratan struktur bangunan
• Persyaratan ketahanan terhadap kebakaran
• Persyaratan pencahayaan darurat, tanda arah keluar dan sistem peringatan
bahaya
• Persyaratan instalasi listrik, penangkal petir dan komunikasi
• Persyaratan sanitasi dalam bangunan
• Persyaratan ventilasi dan pengkondisian udara
• Persyaratan pencahayaan

PT. ALOCITA MANDIRI 4-10


JASA KONSULTANSI PERENCANAAN PEMBANGUNAN PUSKESMAS
SUKAMANAH

• Persyaratan kebisingan dan getaran


• Persyaratan keamdalan bangunan gedung
• Persyaratan kemudahaan / aksebilitas
• Persyaratan kenyamanan / keamanan dalam bangunan
• Persyaratan kesesuaian dengan standar bangunan gudang/gudang arsip
pemerintahan
• Persyaratan kesesuaian tata graha pertemuan dengan standar bangunan
pemerintahan
Informasi untuk melaksanakan tugasnya Penyedia jasa konsultan perencanaan
harus mencari informasi yang dibutuhkan selain dari informasi yang diberikan
Pemberi tugas dalam pengarahan penugasan ini, memeriksa kebenaran informasi
dan sebagai kesalahan perencanaan sebagai akibat dari kesalahan informasi
menjadi tanggung jawab konsultan perencana.
Pembangunan Ruang Pertemuan dan Gudang Dinas Kesehatan, berada diatas
tanah/lahan siap bangun dan berada dalam kompleks perkantoran lain, bangunan
berlantai 2 (dua) yang harus dikoneksikan dengan bangunan eksisting bangunan
Dinas Kesehatan dan harus disesuaikan dengan tata graha/tata ruang bangunan
komplek perkantoran Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung yang representasi.

TANGGAPAN TERHADAP DATA DASAR

Data dasar yang ada di dalam KAK sudah cukup rinci mulai dari persyaratan-
persyaratan yang berlaku pada bangunan sipil maupun arsitektur. Namun karena
lingkup kegiatannya Perencanaan Pembangunan Puskesmas maka ada beberapa
persyaratan tambahan mengenai kesehatan seperti :

 Persyaratan peralatan puskesmas

 Persyaratan Aksesibilitas Penyandang Disabilitas dan Lansia

 Persyaratan prasarana puskesmas

PT. ALOCITA MANDIRI 4-11


JASA KONSULTANSI PERENCANAAN PEMBANGUNAN PUSKESMAS
SUKAMANAH

STANDAR TEKNIS

Dalam penyusunan Kegiatan Perencanaan Teknis Pembangunan Ruang Pertemuan


dan Gudang Dinas Kesehatan tersebut mengacu pada standar teknis antara lain :

• Peraturan beton bertulang Indonesia (PBI 1991), SKNI T-15.1919.03.

• Tata cara pengadukan dan pengecoran beton SNI 03-3976-1995

• Peraturan muatan Indonesia NI.8 dan Indonesia Loading code 1987 (SKB-
1.2.53.1987)

• Standar Nasional Indoenesia Nomor 2837 Tahun 2008 tentang Tata cara
Perhitungan Harga Satuan Pekerjaan Plesteran untuk Konstruksi Bangunan
Gedung dan Perumahan;

• Ubin lantai keramik, mutu dan cara uji SNI 03-3976-1995

• Peraturan konstruksi kayu di Indonesia (PKKI) NI.5

• Mutu kayu bangunan SNI 03-3527-1984

• Peraturan umum instalasi listrik (PUIL) SNI 04-0225-1987

• Peraturan Porland Cement Indonesia 1972/NI-8

• Peraturan bata merah sebagai bahan bangunan NI-10

• Peraturan Plumbing Indonesia

• Standar Nasional Indonesia Nomor 6897 Tahun 2008 tentang Tata Cara
Perhitungan Haraga Satuan Pekerjaan Dinding untuk Konstruksi Bangunan
Gedung dan Perumahan;

• Standar Nasional Indonesia Nomor 2835 Tahun 2008 tentang Tata Cara
Perhitungan Haraga Satuan Pekerjaan Tanah untuk Konstruksi Bangunan
Gedung dan Perumahan

PT. ALOCITA MANDIRI 4-12


JASA KONSULTANSI PERENCANAAN PEMBANGUNAN PUSKESMAS
SUKAMANAH

• Standar Nasional Indonesia Nomor 2836 Tahun 2008 tentang Tata Cara
Perhitungan Haraga Satuan Pekerjaan Pondasi untuk Konstruksi Bangunan
Gedung dan Perumahan

• Standar Nasional Indonesia Nomor 2839 Tahun 2008 tentang Tata Cara
Perhitungan Haraga Satuan Pekerjaan Langit-langit untuk Konstruksi
Bangunan Gedung dan Perumahan

• Standar Nasional Indonesia Nomor 7393 Tahun 2008 tentang Tata Cara
Perhitungan Harga Satuan Pekerjaan Besi dan Alumunium untuk Konstruksi
Bangunan Gedung dan Perumahan

• Standar Nasional Indonesia Nomor 7394 Tahun 2008 tentang Tata Cara
Perhitungan Haraga Satuan Pekerjaan Beton untuk Konstruksi Bangunan
Gedung dan Perumahan

• Standar Nasional Indonesia Nomor 7395 Tahun 2008 tentang Tata Cara
Perhitungan Haraga Satuan Pekerjaan Penutup Lantai untuk Konstruksi
Bangunan Gedung dan Perumahan

• Permen PU Nomor 24/PRT/M/2007 tentang Pedoman Teknis Izin Mendirikan


Bangunan Gedung

• Permendagri Nomor 1 Tahun 2007 Tentang Penataan Ruang Terbuka Hijau


Kawasan Perkotaan

• Permen PU Nomor 24/PRT/M/2008 tentang Pedoman Pemeliharaan dan


Perawatan Bangunan/Gedung; Teknis Izin Mendirikan Bangunan Gedung;

• Permen PU Nomor 30/PRT/M/2006 tentang Pedoman Teknis Fasilitas dan


eksebilitas pada Bangunan Gedung dan Lingkungan;

• Permen PUPR Nomor 27/PRT/M/2018 tentang Sertifikasi Laik Fungsi Bangunan


Gedung;

PT. ALOCITA MANDIRI 4-13


JASA KONSULTANSI PERENCANAAN PEMBANGUNAN PUSKESMAS
SUKAMANAH

• Permen PUPR Nomor 22/PRT/M/2018 tentang Pembanguan Bangunan Gedung


Negara;

• Permen PUPR Nomor 14 Tahun 2020 tentang Standar dan pedoman pengadaan
jasa kontruksi melalui penyedia;

• Tata cara pengecatan kayu untuk rumah dan gedung SNI 03-2407-1991

• Tata cara pengecatan dinding tembok dengan cat emulsi SNI 03-2407-1991

• Pedoman Teknis Bangunan dan Prasarana Fasilitas Pelayanan Kesehatan


Tingkat Pertama untuk Mencegah Infeksi yang ditransmisikan melalui udara
(airborne infection)

• Peraturan dan ketentuan yang dikeluarkan Pemerintah Daerah setempat yang


bersangkutan dengan permasalahan bangunan

• Peraturan lain yang berlaku di Indonesia yang berkaitan dengan pekerjaan


bangunan yang direncanakan

TANGGAPAN TERHADAP STANDAR TEKNIS

Konsultan memahami standar teknis yang ada di dalam KAK sudah cukup rinci.
Namun karena pekerjaan ini berkaitan dengan Perencanaan Pembangunan
Puskesmas maka perlu adanya beberapa tambahan sebagai pedoman
pembangunan yaitu :

 SNI O3-3985-2000 : Tata Cara Perancanaan Pemasangan Dan Pengujian


Sistem Deteksi Dan Alarm untuk Pencagahan Bahaya Kebakaran pada
Bangunan Rumah dan Gedung;

 SNI O3-1735-2000 : Tata Cara Perencanaan Akses Bangunan dan Akses


Lingkungan Untuk Pencegahan Bahaya Kebakaran Pada Bangunan Rumah
dan Gedung;

PT. ALOCITA MANDIRI 4-14


JASA KONSULTANSI PERENCANAAN PEMBANGUNAN PUSKESMAS
SUKAMANAH

 SNI 03-1736-2000 : Tata Cara Perencanaan Struktur Bangunan untuk


Pencegahan Bahaya Kebakaran pada Bangunan Rumah dan Gedung.

 SNI O3-1745-2000 : Tata Cara Pemasangan Sistem Hidran Untuk


Pencegahan Bahaya Kebakaran pada Bangunan Rumah Dan Gedung;

 SNI O3-1746-2000 : Tata Cara Perencanaan Dan Pemasangan Sarana Jalan


Keluar Untuk Penyelamatan Terhadap Bahaya Kebakaran Pada Bangunan
Gedung;

 SNI O3-6572-2001 : Tata Cara Perancangan Sistem Ventilasi dan


Pengkondisian Udara pada Bangunan Gedung;

 SNI 03-1726-2002: Tata Cara Perencanaan Ketahanan Gempa untuk


Bangunan Gedung

 SNI 03–1729–2002 : Tata Cara Perhitungan Struktur Baja Untuk Bangunan


Gedung

 SNI 03-2847-2002: Tata Cara Perhitungan Struktur Beton untuk Bangunan


Gedung

 SNI O3-7015-2004 : Sistem proteksi petir pada bangunan

 Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 43 Tahun 2019


Tentang Pusat Kesehatan Masyarakat

 Pedoman Pembangunan & Peningkatan Fungsi Bangunan Puskesmas


Kemenkes RI

STUDI – STUDI TERDAHULU

Pengalaman kerja suatu Perusahaan dalam bidang yang sama (pernah


melaksanakan pembangunan bangunan kesehatan, gedung perkantoran dan
bangunan gudang pemerintahan) akan berpengaruh kinerja suatu perusahaan

PT. ALOCITA MANDIRI 4-15


JASA KONSULTANSI PERENCANAAN PEMBANGUNAN PUSKESMAS
SUKAMANAH

dalam mengembangkan suatu karya, sehingga menghasilkan karya perencanaan


yang optimal dan dapat dipertanggungjawabkan secara teknis profesional.

TANGGAPAN TERHADAP STUDI – STUDI TERDAHULU

Konsultan memahami studi-studi terdahulu yang ada di dalam KAK sudah cukup
rinci, seperti Perusahaan dalam bidang pembangunan bangunan kesehatan, gedung
perkantoran dan bangunan gudang pemerintahan akan berpengaruh kinerja suatu
perusahaan dalam mengembangkan suatu karya.

REFERENSI HUKUM

Dalam melaksanakan pekerjaan, penyedia jasa berdasar pada referensi hukum:


Pedoman, kriteria, referensi hukum dan standar yang digunakan dalam
menyelesaikan pekerjaan ini adalah yang berlaku di Indonesia secara umum dan
khusus.
TANGGAPAN TERHADAP REFERENSI HUKUM

Referensi Hukum yang tercantum pada KAK menjadi dasar dalam perencanaan
Pembangunan Puskesmas Sukamanah, dan sudah jelas sedikit banyaknya
tercantum pada sub bagian standar teknis.

LINGKUP KEGIATAN

Lingkup tugas yang harus dilaksanakan oleh Konsultan Perencana adalah meliputi
tugas-tugas perencanaan lingkungan, site/tapak bangunan dan perencanaan fisik
bangunan gedung Negara yang terdiri dari;
1. Persiapan Perencanaan yaitu kegiatan yang meliputi seluruh pekerjaan awal
sebelum pekerjaan dimulai; penyusunan jadwal, mobilisasi dan pengerahan
tenaga ahli, tenaga pendukung, rencana dan metode pengumpulan data dan
informasi lapangan, membuat interpretasi secara besar terhadap KAK;
2. Mengidentifikasi kebutuhan perencanaan gedung, ruang pertemuan dan gedung
gudang pemerintahan;
3. Membuat analisa harga satuan untuk setiap item pekerjaan yang ada pada
kegiatan tersebut;

PT. ALOCITA MANDIRI 4-16


JASA KONSULTANSI PERENCANAAN PEMBANGUNAN PUSKESMAS
SUKAMANAH

4. Menyusun konsep pendekatan program dan program standar gedung ruang


pertemuan dan gedung gudang pemerintahan;
5. Menyusun Pra Rencana, antara lain berupa gambar-gambar pra-rencana
(rencana siteplan; bangunan yang terdiri dari denah, tampak dan potongan;
jaringan prasarana; konsep struktur mekanikal dan elektrikal), perkiraan biaya
pembangunan dan garis besar rencana kerja dan syarat-syarat (RKS)
6. Melakukan koordinasi dan konsultasi dengan pengguna jasa untuk menampung
saran masukan dan aspirasi sebagai bahan pertimbangan dalam proses
perencanaan teknis.
7. Penyusunan pengembangan rencana, antara lain :
- Rencana struktur, beserta uraian konsep dan perhitungannya
- Rencana arsitektur dan uraian konsep yang mudah dimengerti
- Rencana system mekanikal/elektrikal
- Rencana utilitas
- Perkiraan biaya
8. Penyusunan rencana detail antara membuat :
- Gambar-gambar detail arsitektur, struktur, utilitas dan M/E yang sesuai
dengan gambar rencana yang telah disetujui,
- Rencana kerja dan syarat-syarat (RKS),
- Rincian volume pelaksanaan pekerjaan (Bill of Quantity), rencana anggaran
biaya pekerjaan (RAB)
- Laporan akhir perencanaan
- Membantu Pengguna Anggaran/Kuasa Pengguna Anggaran (PA/KPA) dan
Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) di dalam menyusun dokumen pelelangan
dan pelaksanaan pelelangan.
9. Membantu Panitia Pengadaan/ULP pada waktu penjelasan pekerjaan, termasuk
menyusun kembali dokumen pelelangan dan melaksanakan tugas-tugas yang
sama apabila terjadi lelang ulang;
10. Mendampingi konsultan pengawasan selama pelaksanaan konstruksi fisik dan
melaksanakan kegiatan seperti :

PT. ALOCITA MANDIRI 4-17


JASA KONSULTANSI PERENCANAAN PEMBANGUNAN PUSKESMAS
SUKAMANAH

- Melakukan penyesuian gambar dan spesisfikasi teknis pelaksanaan bila ada


perubahan
- Memberikan penjelasan terhadap persoalan-persoalan yang timbul selama
masa pelaksanaan kontruksi terutama mengenai detail gambar perencanaan.
- Memberikan saran-saran
11. Pelaksanaan Rencana Keselamatan Kontrusi (RKK) dan Rencana Kesehatan
Keselamatan Kerja (RK3)
- Menyipakan dokumen rencana pelaksanaan RKK/ RK3 sesuai standar dan
peraturan perundangan-undangan,
- Membuat usulan pelaksanaan K3, SOP dan manajemen pelaksanaannya,
- Membuat daftar ceklist resiko yang akan ditimbulkan dari pekerjaan beserta
penanganannya sesuai standar Sistem Manajemen K3 – SMK3;
- Contoh Analisa pelaksanaan K3;
Uraian
No. Identifikasi Resiko Upaya Penanggulangan
Pekerjaan
Memakai APD (Helm Proyek,
Pengukuran Terpeleset; Tersengat
1 kacamata gogle, Sepatu Boots,
Lapangan binatang;
Rompi)
Dll…..

TANGGAPAN TERHADAP LINGKUP KEGIATAN

Konsultan memahami apa yang disampaikan dalam KAK berkaitan dengan tahapan
kegiatan yang sudah cukup jelas dalam studi ini sesuai dengan Peraturan Menteri
Pekerjaan Umum Nomor 22/PRT/M/2018 Tentang Pedoman teknis pembangunan
bangunan Gedung Negara, sebagai landasan dan acuan dalam melakukan kegiatan
ini, dimana lingkup kegiatan yang terdiri atas persiapan perencanaan, sampai
pengawasan berkala.
Adapun tanggapan terhadap lingkup kegiatan dalam KAK, merupakan penetapan
yang telah disusun oleh tim pemberi Kerja, dimana terdapat beberapa kegiatan
teknis yang harus dilakukan, kegiatan diskusi baik yang umum sampai pada diskusi
internal dengan tim pemberi tugas agar dapat mengarahkan dan memudahkan

PT. ALOCITA MANDIRI 4-18


JASA KONSULTANSI PERENCANAAN PEMBANGUNAN PUSKESMAS
SUKAMANAH

dalam menyelesaikan kegiatan tersebut seusai dengan batas waktu yang telah
ditetapkan dalam KAK tersebut.

KELUARAN

Keluaran yang dihasilkan dari seleksi sederhana ini menghasilkan perusahaan jasa

konsultan perencana dengan;

- Kualifikasi Kecil, mempunyai SIUJK/ Jasa Konsultasi Bangunan Gedung,

- SBU Perancanaan penataan Ruang, Sub Kelas Jasa Desain Arsitektur

- Kode RE 102 [Jasa Desain Rekayasa untuk Kontruksi pondasi serat struktur

bangunan]/ KBLI 71101,

- Pengalaman sejenis untuk perencanaan pembangunan banguan gedung

Kesehatan dan khususnya Puskesmas/ Rumah Sakit,

Dengan pelaksanaan kegiatan oleh penyedia jasa konsultan perencana

berdasarkan KAK, minimal meliputi :

1. Tahap konsep Rencana Teknis;

- Konsep penyiapan rencana teknis dan uraian rencana kerja konsultan

perencana, dan

- Laporan data dan informasi lapangan, pengukuran, keterangan rencana

Kabupaten dan konsep skematik rencana teknis.

2. Tahap Pra-rencana (konsep desain arsitektur, struktur, serta utilitas (ME dan

Plumbing); rencana skematik (pra-rencana), diantaranya;

- Gambar-gambar rencana tapak

- Gambar-gambar pra rencana bangunan

- Perkiraan biaya pembangunan

- Garis besar rencana kerja dan syarat-syarat (RKS)

PT. ALOCITA MANDIRI 4-19


JASA KONSULTANSI PERENCANAAN PEMBANGUNAN PUSKESMAS
SUKAMANAH

3. Tahap Pengembangan Rencana

- Gambar pengembangan rencana arsitektur, struktur, ME dan utilitas

- Uraian konsep rencana dan perhitungan-perhitungan yang diperlukan

- Draft rencana anggaran biaya

- Draft rencana kerja dan syarat-syarat (RKS)

4. Tahap Rencana Detail

- Gambar-gambar teknis bangunan lengkap

- Rencana kerja dan syarat-syarat (RKS)

- Bill of Quantity (BQ)

- Rencana anggaran biaya (RBA)

- Rencana maket design denah tata ruang/siteplann kantor Dinas Kesehatan

Kabupaten Bandung

5. Tahap Pelelangan/ Pengadaan

- Dokumen hasil pekerjaan

- Dokumen tambahan hasil penjelasan pekerjaan, dan laporan teknis dan

administratif pada waktu pelelangan kontraktor

Semua Dokumen Perencanaan untuk Pekerjaan Perencanaan Pembangunan

Ruang Pertemuan dan Gudang Dinas Kesehatan Kabupaten Bandung, hasil akhir

penyedia jasa konsultan perencana (produk akhir) berupa Dokumen RAB, Gambar

Rencana Teknis, Daftar Harga Satuan Upah, Bahan, Analisa Harga Satuan,

Rencana Kerja dan Syarat-syarat (RKS) sejumlah 5 (lima) buku, 1 (satu) asli, 4

(empat) copy; dimana seluruh file Dokumen Perencanaan tersebut softcopy

(gambar dalam bentuk autocad dan pdf) dan kelengkapan lainnya (dalam bentuk

[Link]/excel dan pdf) dimasukkan kedalam Flasdisk.

PT. ALOCITA MANDIRI 4-20


JASA KONSULTANSI PERENCANAAN PEMBANGUNAN PUSKESMAS
SUKAMANAH

TANGGAPAN TERHADAP KELUARAN

Produk yang harus dihasilkan dalam Jasa Konsultansi Perencanaan Pembangunan


Puskesmas Sukamanah, bahwa keluaran yang ingin dihasilkan dalam kegiatan ini
adalah laporan perencanaan berupa tahap konsepsi rancangan, tahap pra
rancangan, tahap pengembangan rancangan, tahap rancangan detail, tahap
pemilihan penyedia dan tahap pengawasan secara berkala.

PERALATAN, MATERIAL, PERSONIL DAN FASILITAS DARI PEJABAT


PEMBUAT KOMITMEN

Data dan fasilitas yang disediakan oleh pengguna anggaran yang dapat
dipergunakan dan harus dipelihara oleh penyedia jasa;
1. Laporan dan Data
2. Staf pendamping dan perencana
3. Konsultansi unsur teknis

TANGGAPAN TERHADAP PERALATAN, MATERIAL, PERSONIL DAN


FASILITAS DARI PEJABAT PEMBUAT KOMITMEN

Konsultan memahami peralatan, material, personil dan fasilitas dari pejabat


pembuat komitmen untuk kegiatan Jasa Konsultansi Perencanaan Pembangunan
Puskesmas Sukamanah sudah cukup jelas berupa laporan dan data, staf
pendamping dan perencana serta konsultasi unsur teknis.

PERALATAN, MATERIAL, PERSONIL DAN FASILITAS DARI PENYEDIA


JASA KONSULTASI

Peralatan yang disediakan penyedia jasa antara lain :

• Kendaraan survey milik sendiri/sewa

• Peralatan survey dan perencanaan milik sendiri/sewa

• Kantor milik sendiri/sewa

PT. ALOCITA MANDIRI 4-21


JASA KONSULTANSI PERENCANAAN PEMBANGUNAN PUSKESMAS
SUKAMANAH

• Honorarium tenaga ahli dan tenaga peunjang

• Materi dan penggandaan laporan

• Biaya – Biaya rapat termasuk konsultansi dan koordinasi

• Biaya perjalanan

• Jasa dan ovehead perencanaan

• Pajak-pajak

TANGGAPAN TERHADAP PERALATAN, MATERIAL, PERSONIL DAN


FASILITAS DARI PENYEDIA JASA KONSULTASI

Konsultan memahami peralatan, material, personil dan fasilitas dari jasa konsultansi
untuk kegiatan Jasa Konsultansi Perencanaan Pembangunan Puskesmas
Sukamanah sudah cukup jelas berupa Kendaraan survey milik sendiri/sewa,
Peralatan survey dan perencanaan milik sendiri/sewa, Kantor milik sendiri/sewa,
Honorarium tenaga ahli dan tenaga penunjang, Materi dan penggandaan laporan,
Biaya – Biaya rapat termasuk konsultansi dan koordinasi, Biaya perjalanan, Jasa dan
ovehead perencanaan dan Pajak-pajak.

LINGKUP KEWENANGAN PENYEDIA JASA

Penyedia jasa mempunyai hak dan kewenangan yang meliputi :


• Membuat design perencanaan yang sesuai dengan Standart Nasional Indonesia
dan aturan teknis yang ada sebagai bentuk pengembangan sumber daya manusia;
• Mendapat informasi dan konsultasi teknis dari pengguna jasa
• Mendapatkan kontrak yang jelas sesuai dengan aturan konsultansi Indonesia

TANGGAPAN TERHADAP LINGKUP KEWENANGAN PENYEDIA JASA

Konsultan memahami lingkup kewenangan penyedia jasa untuk kegiatan Jasa


Konsultansi Perencanaan Pembangunan Puskesmas Sukamanah sudah cukup jelas
dengan wewenang Membuat design perencanaan yang sesuai dengan Standar

PT. ALOCITA MANDIRI 4-22


JASA KONSULTANSI PERENCANAAN PEMBANGUNAN PUSKESMAS
SUKAMANAH

Nasional Indonesia dan aturan teknis yang ada sebagai bentuk pengembangan
sumber daya manusia, Mendapat informasi dan konsultasi teknis dari pengguna jasa
dan Mendapatkan kontrak yang jelas sesuai dengan aturan konsultansi Indonesia

JANGKA WAKTU PENYELESAIAN PEKERJAAN

Pekerjaan perencanaan ini harus diselesaikan dalam waktu paling lama 45 (empat
puluh lima) hari kalender terhitung sejak dilakukannya SPMK dikeluarkan;

TANGGAPAN TERHADAP JANGKA WAKTU PENYELESAIAN PEKERJAAN

Konsultan memahami jangka waktu pelaksanaan Jasa Konsultansi Perencanaan


Pembangunan Puskesmas Sukamanah dalam pelaksanaan perencanaan jangka
waktunya 45 (empat puluh lima) hari kalender.

PERSONEL

Posisi Kualifikasi Jumlah Orang Bulan


TENAGA AHLI :
Ketua Tim Minimal Sarjana (S1 Arsitektur) lulusan 1 (satu) orang
(Team Leader) perguruan tinggi negeri/swasta; dengan
pengalaman kerja minimal 7 (tujuh) tahun,
komptensi Ahli Utama bersertifikat SKA 101
dan/atau memiliki Surat Tanda Registrasi
Arsitektur [STRA] Kualifikasi Utama, dan
diutamakan mempunyai pengalaman
profesional terkait pekerjaan sejenis dalam
perencanaan gedung bangunan gedung
Kesehatan/ gedung pemerintahan.
Tenaga Ahli; Sarjana (S1 Lingkungan) lulusan perguruan 1 (satu) orang
Lingkungan tinggi negeri/swasta; dengan pengalaman
kerja sekurang-kurangnya 5 (lima) tahun,
memiliki sertifikat keahlian SKA Ahli Madya
[SKA 501], berpengalaman mempunyai
pengalaman profesional terkait pekerjaan
sejenis dalam perencanaan gedung
bangunan gedung Kesehatan/ gedung
pemerintahan.
Tenaga Ahli: Sarjana (Jurusan Teknis Sipil) lulusan 1 (satu) orang
Sipil Struktur perguruan tinggi negeri/swasta; dengan
pengalaman kerja sekurang-kurangnya 5
(lima) tahun, memiliki sertifikat keahlian

PT. ALOCITA MANDIRI 4-23


JASA KONSULTANSI PERENCANAAN PEMBANGUNAN PUSKESMAS
SUKAMANAH

Posisi Kualifikasi Jumlah Orang Bulan


(SKA Ahli Madya Teknik Bangunan Gedung
- Kode 201), mempunyai pengalaman
profesional terkait pekerjaan sejenis dalam
perencanaan gedung bangunan gedung
Kesehatan/ gedung pemerintahan..
Tenaga Ahli Sarjana Teknik Elektro lulusan perguruan 1 (satu) orang
ME tinggi negeri/swasta; dengan pengalaman
kerja sekurang-kurangnya 5 (lima) tahun,
SKA Ahli Madya, Ahli Teknik Transmisi
Tenaga Listrik (Kode 402) mempunyai
pengalaman profesional terkait pekerjaan
sejenis dalam perencanaan gedung
bangunan gedung Kesehatan/ gedung
pemerintahan.
Tenaga Ahli: Sarjana, S1 Teknis Sipil lulusan perguruan 1 (satu) orang
K3 Kontruksi tinggi negeri/swasta; dengan pengalaman
kerja sekurang-kurangnya 5 (lima) tahun,
memiliki SKA Ahli Madya K3 Konstruksi
(Kode 603)), mempunyai pengalaman
profesional terkait pekerjaan sejenis dalam
perencanaan gedung bangunan gedung
Kesehatan/ gedung pemerintahan..
Tenaga Ahli: Sarjana Kesehatan,(S1 bidang Kesehatan/ 1 (satu) orang
Konsultan dokter/ perawat) lulusan perguruan tinggi
Manajemen negeri/swasta; dengan pengalaman kerja
Kesehatan sekurang-kurangnya 5 (lima) tahun, memiliki
sertifikat keahlian; sebagai Konsultan
Manajemen Kesehatan (Sertifikat Konsultan
Manajemen Kesehatan), KKNI Level 7, dan
berpengalaman dalam perencanaan gedung
bangunan Kesehatan
TENAGA PENDUKUNG :
Asisten Tenaga Sarjana (Jurusan Teknis Sipil) lulusan 2 (dua) orang
Ahli perguruan tinggi negeri/swasta; dengan
pengalaman kerja sekurang-kurangnya 3
(tiga) tahun; di utamakan dalam bidang
Bangungan gedung non perumahan, gedung
banguanan Kesehatan
Tenaga Pendidikan min. SMA/SMK menguasai 1 (satu) orang
Administrasi bidang administrasi dan keuangan proyek.
Pengalaman sekurang-kurangnya 3 (tiga)
tahun.
Tenaga Pendidikan min. SMA/SMK menguasai 1 (satu) orang
Operator bahasa pemograman bidang pekerjaan

PT. ALOCITA MANDIRI 4-24


JASA KONSULTANSI PERENCANAAN PEMBANGUNAN PUSKESMAS
SUKAMANAH

Posisi Kualifikasi Jumlah Orang Bulan


Komputer project/ Arsitektur/Sipil, Pengalaman
sekurang-kurangnya 3 (tiga) tahun.
Tenaga Juru Pendidikan Min. SMA/SMK , berpengalaman 1 (satu) orang
gambar Draffter dalam bidang gambar-gambar teknik sipil
CAD dan arsitek, dan menguasai penggambaran
digital dengan metode Computer Aided
Design (CAD). Dapat bekerja dengan cepat
dengan tingkat ketelitian yang tinggi dan
Pengalaman sekurang-kurangnya 3 (tiga)
tahun
Tenaga Juru Pendidikan Min. SMA/SMK , berpengalaman 1 (satu) orang
gambar Draffter dalam bidang gambar-gambar teknik sipil
3D dan arsitek, dan menguasai penggambaran
digital. Dapat bekerja dengan cepat dengan
tingkat ketelitian yang tinggi dan
Pengalaman sekurang-kurangnya 3 (tiga)
tahun

TANGGAPAN TERHADAP KEBUTUHAN PERSONEL

Ketentuan dalam Kerangka Acuan Kerja tentang kebutuhan tenaga ahli dalam
menangani Jasa Konsultansi Perencanaan Pembangunan Puskesmas Sukamanah
dirasakan cukup memadai, baik untuk pelaksanaan kegiatan maupun kapabilitas
untuk penyelesaian pekerjaan.
Kami merupakan Konsultan yang memiliki spesialisasi dalam pekerjaan yang terkait,
maka tenaga ahli yang dapat kami siapkan dalam memenuhi ketentuan dalam
Kerangka Acuan Kerja tersebut rata-rata telah memenuhi syarat yang ditentukan
dan memiliki keahlian yang tinggi dalam penanganan pekerjaan.
Disamping itu, dalam rangka penyelesaian pekerjaan konsultan berkewajiban untuk
menyusun time and manning schedule dalam pelaksanaan kegiatan agar tahapan
demi tahapan dapat terstruktur dan terkoordinasi secara sistematis. Selain itu, juga
konsultan akan memberikan suatu struktur organisasi kerja dalam pelaksanaannya.
Sebagaimana telah ditetapkan dalam kerangka acuan pekerjaan, waktu
pelaksanaan pekerjaan adalah selama 1 bulan. Mengingat waktu yang relatif
‘singkat’, konsultan mengharapkan dukungan sepenuhnya dari pihak pemberi kerja
dalam rangka lebih mengefektifkan pelaksanaan pekerjaan dalam rangka mencapai

PT. ALOCITA MANDIRI 4-25


JASA KONSULTANSI PERENCANAAN PEMBANGUNAN PUSKESMAS
SUKAMANAH

target yang telah ditetapkan dalam rencana kerja.


Dalam era perencanaan yang partisipatif yang melibatkan banyak stakeholders
tentu membutuhkan waktu yang panjang untuk mencapai suatu kesepakatan, disini
diperlukan kemampuan organisasi agar konsultasi dan asistensi dapat berjalan
lancar dan efisien.
Pada prinsipnya rencana yang akan disusun oleh konsultan akan sangat bergantung
pada setiap proses yang dilakukan. Untuk itu konsultan memandang bahwa
mekanisme kemitraan perlu dikedepankan dalam setiap proses pekerjaan. “Quality
Control” dari Tim Teknis, seoptimal mungkin harus dijaga kesinambungannya pada
setiap tahapan pekerjaan. Untuk itu, konsultan merencanakan intensivitas diskusi
dan asistensi dengan tim teknis pada setiap tahapan pekerjaan.

JADWAL TAHAPAN PELAKSANAAN PEKERJAAN

Lingkup tugas yang harus dilaksanakan oleh konsultan perencana adalah


berpedoman pada ketentuan yang berlaku yaitu standar nasional indonesia (SNI)
Konstruksi dan Bangunan Sipil yang terdiri :
• Tahap Konsep rencana dan pra rencana teknis :
o Konsep penyiapan rencana teknis, termasuk konsep organisasi, jumlah dan
kualitas tim perencana, metode pelaksanaan, dan tanggung jawab waktu
perencanaan;
o Laporan data dan informasi lapangan
o Gambar-gambar pra rencana bangunan/konstruksi;
o Garis besar rencana kerja dan syarat-syarat;
o Hasil sondir tanah beserta data hasil-hasilnya.
• Tahap pengembangan rencana teknis :
o Uraian konsep rencana teknis
o Draft rencana anggaran biaya
o Draft rencana kerja dan syarat-syarat (RKS)
o Draft rencana siteplan maket tataruang
• Tahap Rencana Detail

PT. ALOCITA MANDIRI 4-26


JASA KONSULTANSI PERENCANAAN PEMBANGUNAN PUSKESMAS
SUKAMANAH

o Gambar rencana teknis bangunan lengkap


o Rencana Kerja dan syarat-syarat (RKS)
o Rencana Kerja Volume Pekerjaan(BQ)
o Laporan Perencanaan
• Tahap Pelelangan
o Dokumen tambahan hasil penjelasan pekerjaan
o Laporan bantuan teknis dan administrasi pada waktu pelelangan

TANGGAPAN TERHADAP JADWAL TAHAPAN PELAKSANAAN PEKERJAAN

Sesuai dengan yang tercantum pada KAK sudah cukup jelas bahwa konsultan harus
memenuhi laporan sesuai dengan yang tercantum berupa laporan dan softcopy.
Laporan yang harus dipenuhi yaitu laporan pendahuluan, antara dan akhir. Serta
gambar kerja, rencana anggaran biaya, rencana kerja dan syarat – syarat dan
dokumentasi foto.
Jadwal Tahapan Pelaksanaan Pekerjaan
Bulan 1 Bulan 2
No Kegiatan
M1 M2 M3 M4 M1 M2

1  Tahap Konsepsi Perencanaan

 Mengumpulkan data dan informasi lapangan


 Membuat interpretasi secara garis besar terhadap
Kerangka acuan kerja
 Menyusun Program kerja perencanaan

 Menyusun Konsep perencanaan

 Membuat Sketsa gagasan

 Penyusunan Laporan Pendahuluan

 Diskusi Pembahasan Laporan Pendahuluan

 Perbaikan Laporan Pendahuluan

2  Tahap Penyusunan Pra Rencana

 Pelaksanaan survei topografi

 Pelaksanaan survei penyelidikan tanah

 Penyusunan rencana tapak

 Penyusunan pra-rencana bangunan

PT. ALOCITA MANDIRI 4-27


JASA KONSULTANSI PERENCANAAN PEMBANGUNAN PUSKESMAS
SUKAMANAH

Bulan 1 Bulan 2
No Kegiatan
M1 M2 M3 M4 M1 M2

 Penyusunan uraian konsep rencana arsitektur

 Pembentukan visualisasi dua dan trimantra

 Penyusunan uraian konsep rencana struktur

 Perhitungan analisis perhitungan struktur

 Penyusunan uraian konsep rencana utilitas

 Perhitungan analisis perhitungan utilitas

 Draft rencana anggaran biaya

 Draft rencana kerja dan syarat-syarat (RKS)

 Penyusunan Laporan Antara

 Diskusi Pembahasan Laporan Antara

 Perbaikan Laporan Antara

3  Tahap Pengembangan Rencana dan Detail

 Penyusunan Gambar Detail Arsitektur

 Penyusunan Gambar Animasi 3D Arsitektur

 Penyusunan Gambar Detail Struktur

 Penyusunan Gambar Detail Utilitas

 Penyusunan Rencana Kerja dan Syarat – syarat (RKS)

 Perhitungan Bill of Quantity (BQ)


 Perhitungan Rencana Anggaran Biaya (RAB) Pekerjaan
Konstruksi
 Rencana Maket Design Denah Tata Ruang/ Siteplan

 Penyusunan Laporan Akhir

 Diskusi Pembahasan Laporan Akhir

 Evaluasi dan Pelaporan Hasil

LAPORAN PENDAHULUAN

Laporan Pendahuluan harus diserahkan selambat-lambatnyanya 10 (Sepuluh) hari


setelah SPMK dan diserahkan sebanyak 4 (Empat) copy ,1 (Satu) asli. Berisikan
Tahap Konsep Rencana Teknis :
✓ Konsep penyiapan rencana teknis, metoda pelaksanaan, dan tanggung jawab
waktu perencanaan.

PT. ALOCITA MANDIRI 4-28


JASA KONSULTANSI PERENCANAAN PEMBANGUNAN PUSKESMAS
SUKAMANAH

✓ Konsep desain, temasuk program ruang, organisasi hubungan ruang, tata ruang,
sirkulasi, tampilan bangunan.
✓ Laporan data dan informasi awal lapangan, keterangan rencana kota, dll

TANGGAPAN TERHADAP LAPORAN PENDAHULUAN

Sesuai dengan yang tercantum pada KAK sudah cukup jelas bahwa konsultan harus
memenuhi laporan sesuai dengan yang tercantum berupa laporan dan softcopy.
Laporan yang harus dipenuhi berisi Konsep penyiapan rencana teknis, metoda
pelaksanaan, dan tanggung jawab waktu perencanaan, Konsep desain, temasuk
program ruang, organisasi hubungan ruang, tata ruang, sirkulasi, tampilan
bangunan dan Laporan data dan informasi awal lapangan, keterangan rencana kota,
dll

LAPORAN ANTARA

Laporan Antara harus diserahkan selambat-lambatnyanya 30 (Empat Puluh Lima)


hari setelah SPMK dan diserahkan sebanyak 4 (Empat) copy ,1 (Satu) asli. Berisikan
Tahap Konsep Pra-Rencana Teknis :
✓ Gambar-gambar rencana denah.

✓ Penyelidikan tanah
✓ Perkiraan biaya bangunan.

✓ Garis besar rencana kerja dan syarat-syarat (RKS).


✓ Hasil konsultasi rencana dengan Pemda setempat.

✓ Gambar perspektif.
Tahap Pengembangan Rencana
✓ Gambar pengembangan rencana arsitektur, struktur utilitas.

✓ Uraian konsep rencana dan perhitungan-perhitungan yang diperlukan.


✓ Draft rencana anggaran biaya.

✓ Draft rencana kerja dan syarat-syarat (RKS)

PT. ALOCITA MANDIRI 4-29


JASA KONSULTANSI PERENCANAAN PEMBANGUNAN PUSKESMAS
SUKAMANAH

TANGGAPAN TERHADAP LAPORAN ANTARA

Sesuai dengan yang tercantum pada KAK sudah cukup jelas bahwa konsultan harus
memenuhi laporan sesuai dengan yang tercantum berupa laporan dan softcopy.
Laporan yang harus dipenuhi berisi Gambar-gambar rencana denah, Penyelidikan
tanah, Gambar perspektif, Gambar pengembangan rencana arsitektur, struktur
utilitas, Uraian konsep rencana dan perhitungan-perhitungan yang diperlukan, Draft
rencana anggaran biaya dan Draft rencana kerja dan syarat-syarat (RKS).

LAPORAN AKHIR

Muatan laporan antara di dalam KAK sudah cukup jelas, sehingga sistematikanya
adalah:
1. Pendahuluan
2. Profil Lokasi Pekerjaan
3. Hasil Survei Lapangan (Penyelidikan Tanah dan Topografi)
4. Konsep Arsitektur (Beserta Gambar Detail)
5. Konsep Struktur (Beserta Gambar Detail)
6. Konsep Utilitas (Beserta Gambar Detail)
7. Rencana Anggaran Biaya (RAB) (Memuat rencana kegiatan dan volume
pekerjaan)
8. Rencana Kerja dan Syarat-syarat (RKS)

TANGGAPAN TERHADAP LAPORAN AKHIR

Sesuai dengan yang tercantum pada KAK sudah cukup jelas bahwa konsultan harus
memenuhi laporan sesuai dengan yang tercantum berupa laporan dan softcopy.
Laporan yang harus dipenuhi berisi Pendahuluan, Profil Lokasi Pekerjaan, Hasil
Survei Lapangan (Penyelidikan Tanah dan Topografi), Konsep Arsitektur (Beserta
Gambar Detail), Konsep Struktur (Beserta Gambar Detail), Konsep Utilitas (Beserta
Gambar Detail), Rencana Anggaran Biaya (RAB) (Memuat rencana kegiatan dan
volume pekerjaan), dan Rencana Kerja dan Syarat-syarat (RKS).

PT. ALOCITA MANDIRI 4-30


JASA KONSULTANSI PERENCANAAN PEMBANGUNAN PUSKESMAS
SUKAMANAH

PRODUKSI DALAM NEGERI

Semua kegiatan jasa konsultansi berdasarkan KAK ini harus dilakukan di dalam
wilayah Negara Republik Indonesia kecuali ditetapkan lain dalam angka 4 KAK
dengan pertimbangan keterbatasan kompetensi dalam negeri.

TANGGAPAN TERHADAP PRODUKSI DALAM NEGERI

Konsultan memahami bahwa semua kegiatan Jasa Konsultansi berdasarkan KAK ini
harus dilakukan di dalam wilayah Negara Republik Indonesia kecuali ditetapkan lain
dalam angka 4 KAK dengan pertimbangan keterbatasan kompetensi dalam negeri.

PERSYARATAN KERJASAMA

Jika kerjasama dengan penyedia jasa konsultansi lain diperlukan untuk pelaksanaan
kegiatan jasa konsultansi ini maka persyaratan berikut harus dipatuhi.

TANGGAPAN TERHADAP PERSYARATAN KERJASAMA

Konsultan memahami apabila diperlukan kerjasama dengan penyedia jasa


konsultansi lain untuk pelaksanaan kegiatan jasa konsultansi ini maka persyaratan
berikut harus dipatuhi.

PT. ALOCITA MANDIRI 4-31


JASA KONSULTANSI PERENCANAAN PEMBANGUNAN PUSKESMAS
SUKAMANAH

PEDEKATAN

PENDEKATAN NORMATIF

Sesuai tuntutan dalam Kerangka Acuan Kerja, selain Peraturan Menteri Pekerjaan Umum
Dan Perumahan Rakyat Republik Indonesia Nomor 22/PRT/M/2018 Tentang Pembangunan
Bangunan Gedung Negara, maka beberapa pedoman teknis yang lain yang akan digunakan
sebagai literatur adalah :
1. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 14/PRT/M/2013 Tentang Perubahan
Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 07/PRT/M/2011 tentang Standar dan
Pedoman Pengadaan Barang dan Jasa Konstruksi.
2. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Nomor 28/PRT/M/2016
Tahun 2016 tentang Pedoman Analisis Harga Satuan Pekerjaan Bidang Pekerjaan
Umum
3. PPIUG 1987 : Peraturan Pembebanan Indonesia untuk Gedung 1987
4. SNI O3-3985-2000 : Tata Cara Perancanaan Pemasangan Dan Pengujian Sistem
Deteksi Dan Alarm untuk Pencagahan Bahaya Kebakaran pada Bangunan Rumah

PT. ALOCITA MANDIRI 5-1


JASA KONSULTANSI PERENCANAAN PEMBANGUNAN PUSKESMAS
SUKAMANAH

dan Gedung;
5. SNI O3-6481-2000 : Sistem Plambing;
6. SNI O3-1735-2000 : Tata Cara Perencanaan Akses Bangunan dan Akses Lingkungan
Untuk Pencegahan Bahaya Kebakaran Pada Bangunan Rumah dan Gedung;
7. SNI 03-1736-2000 : Tata Cara Perencanaan Struktur Bangunan untuk Pencegahan
Bahaya Kebakaran pada Bangunan Rumah dan Gedung.
8. SNI O3-1745-2000 : Tata Cara Pemasangan Sistem Hidran Untuk Pencegahan
Bahaya Kebakaran pada Bangunan Rumah Dan Gedung;
9. SNI O3-1746-2000 : Tata Cara Perencanaan Dan Pemasangan Sarana Jalan Keluar
Untuk Penyelamatan Terhadap Bahaya Kebakaran Pada Bangunan Gedung;
10. SNI O3-6572-2001 : Tata Cara Perancangan Sistem Ventilasi dan Pengkondisian
Udara pada Bangunan Gedung;
11. SNI O3-6573-2001 ; Tata Cara Perancangan Sistem Transportasi Vertikal dalam
Gedung (lift);
12. SNI 03-1726-2002: Tata Cara Perencanaan Ketahanan Gempa untuk Bangunan
Gedung
13. SNI 03–1729–2002 : Tata Cara Perhitungan Struktur Baja Untuk Bangunan Gedung
14. SNI 03-2847-2002: Tata Cara Perhitungan Struktur Beton untuk Bangunan Gedung
15. SNI 03-6652-2002 : Tata Cara Perancanaan Proteksi Bangunan dan Peralatan
terhadap Sambaran Petir;
16. SNI 03-6759-2002 : Tata Cara Perencanaan Teknis Konservasi Energi Pada
Bangunan Rumah dan Gedung;
17. SNI O3-7015-2004 : Sistem proteksi petir pada bangunan
18. SNI O3-7065-2005 : Tata Cara Perencanaan Sistem Plambing;

PENDEKATAN PERENCANAAN PARTISIPATIF

Pelibatan masyarakat dalam penyusunan rencana ini, dilaksanakan melalui pendekatan


perencanaan partisipatif. Pendekatan perencanaan partisipatif ini diatur dalam Peraturan
Pemerintah No.69 tahun 1996 tentang “Pelaksanaan Hak dan Kewajiban serta Bentuk dan
Tata Cara Peran Serta Masyarakat dalam Penataan Ruang”.
Pengertian partisipasi menurut peraturan tersebut, lebih diarahkan untuk peran serta
bebas, belum pada peran serta spontan yang penekanannya pada berbagai kegiatan
masyarakat, yang timbul atas kehendak dan keinginan sendiri di tengah masyarakat, untuk

PT. ALOCITA MANDIRI 5-2


JASA KONSULTANSI PERENCANAAN PEMBANGUNAN PUSKESMAS
SUKAMANAH

berminat dan bergerak dalam penyelenggaraan penataan ruang. Konsekuensinya,


Pemerintah berkewajiban menyediakan forum dan atau wadah formal untuk menampung
kehendak dan keinginan berperanserta masyarakat tersebut sejak tata ruang sedang
disusun, dan dari dasar hukum yang ada, forum dan wadah formal ini belum secara khusus
dimunculkan. Sebagian besar isi pasal yang terlihat adalah lebih merupakan proses
pembantuan masyarakat kepada penata ruang dan penyuluhan penataan ruang kepada
masyarakat.
Bentuk peranserta masyarakat yang diindikasikan dalam Peraturan Pemerintah No.69
tahun 1996 adalah :
Pemberian masukan dalam penentuan arah pengembangan;
Pengidentifikasian berbagai potensi dan masalah bangunan;
Pemberian masukan dallam perumusan rencana tata ruang;
Pemberian informasi, saran, pertimbangan, atau pendapat dalam penyusunan
strategi dan arahan kebijaksanaan pemanfaatan ruang;
Pengajuan keberatan terhadap rancangan rencana;
Kerjasama dalam penelitian dan pengembangan;
Bantuan tenaga ahli;
Bantuan dana.
Peran serta masyarakat tersebut terkait erat dengan hirarki serta tahapan dari penataan
ruang yang dilakukan. Matriks berikut ini mengemukakan perbandingan kemungkinan serta
potensi kontribusi peranserta masyarakat di dalam proses penataan ruang yang dapat
diterapkan dalam penanganan kawasan dan lingkungan.

Potensi Kontribusi Masyarakat dalam Penataan Ruang


Tahap HIRARKI RENCANA
Penataan Kegiatan
Nas. Prop. Kab/Kota Kawasan
Ruang
Perencanaan Proses Teknis merencana   + +
Penetapan rencana -  + +
Pengesahan rencana - - - 
Pemanfaatan Penyuluhan dan sosialisasi -  + +
rencana
Penyusunan program   + +
Penyusunan peraturan -  + +
pelaksanaan rencana dan
perangkat insentif &

PT. ALOCITA MANDIRI 5-3


JASA KONSULTANSI PERENCANAAN PEMBANGUNAN PUSKESMAS
SUKAMANAH

Tahap HIRARKI RENCANA


Penataan Kegiatan
Nas. Prop. Kab/Kota Kawasan
Ruang
disinsentif

Penyusunan dan pengusulan  + + +


proyek
Pelaksanaan program dan  + + +
proyek
Pengendalian Perijinan rencana - -  +
pembangunan
Pengawasan -  + +
Penertiban - - - 
Peninjauan kembali rencana   + +

Keterangan potensi kontribusi masyarakat :


 = sedang
+ = tinggi
- = rendah

PENDEKATAN PERENCANAAN TEKNIS KAWASAN

Pendekatan perancangan ini dilakukan dengan melakukan kajian pada beberapa aspek
sebagai berikut :
1. Produk Rencana dan Pedoman Pelaksanaan Pembangunan
Dalam menyusun rencana rinci di kawasan yang direncanakan, harus pula
memperhatikan produk - produk rencana yang telah ada di atasnya (RTRW / RDTR),
maka diperlukan kajian terhadap produk rencana tersebut dan juga mengkaji
peraturan perundangan untuk dijadikan acuan / dasar perumusan rencana
selanjutnya. Produk-produk yang perlu dicermati selain rencana yang telah disusun
adalah:
Kebijakan pembangunan Kota yang menjadi konstelasi makro bagi
pengembangan kawasan, karena upaya penataan kawasan Perencanaan
melalui penyusunan Rencana kawasan tentunya tidak terlepas dari berbagai
arahan pengembangan kawasan yang menaunginya.
Program-program pembangunan dan penataan kawasan yang diarahkan
secara spesifik bagi wilayah perencanaan, yang perlu dikoordinasikan dan
disinkronkan dengan arahan perencanaan penataan kawasan nantinya.

PT. ALOCITA MANDIRI 5-4


JASA KONSULTANSI PERENCANAAN PEMBANGUNAN PUSKESMAS
SUKAMANAH

Produk-produk hukum & perundangan yang berlaku, terkait dengan upaya


perumusan dan perancangan kawasan.
2. Fungsi dan Aktivitas Kawasan
Pemahaman terhadap fungsi dan aktivitas yang akan dikembangkan perlu menjadi
dasar dalam penyusunan rencana. Untuk itu, pendekatan fungsi dan aktivitas
kawasan ini akan memperhatikan dua unsur utama, yaitu hubungan antara manusia
dan lingkungan, yang merupakan sumber pembangkit aktivitas kawasan.
Hubungan antara manusia dan lingkungan dalam pendekatan fungsi dan aktivitas
kawasan dapat didekati dengan sudut pandang berikut:
Karakter individu, mencakup bagaimana manusia membentuk lingkungannya
Pengaruh lingkungan fisik terhadap manusia, mencakup seberapa penting
perancangan lingkungan secara spesifik serta dalam konteks apa saja suatu
komponen fisik lingkungan dapat mempengaruhi pola perilaku dan aktivitas
manusia di kawasan tersebut
Mekanisme interaksi, memperhatikan mekanisme apa yang dapat
menumbuhkan interaksi 2 arah antara manusia dengan lingkungannya.
3. Prasarana dan Sarana Pendukung Pengembangan Fungsi Kawasan
Analisa terhadap prasarana dan sarana pendukung fungsional kawasan yang akan
dikembangkan menjadi faktor penting yang perlu diperhatikan menyangkut
rumusan komponen penunjang kawasan dan elemen-elemen pembentuk kawasan.
Kebutuhan komponen prasarana dan sarana penunjang kegiatan pariwisata perlu
dipadukan dengan komponen penunjang kegiatan fungsional lainnya yang
berhubungan dengan kegiatan fungsional di kawasan perencanaan.
Keterkaitan antar komponen perlu dilihat melalui pendekatan berikut:
a. Standar kebutuhan komponen kegiatan, dengan pendekatan yang bersifat:
Deduktif atau top-down, berdasarkan pedoman mengenai standar
kebutuhan suatu jenis komponen prasarana & sarana),
Induktif atau bottom-up, berdasarkan masukan dari stakeholder lokal
mengenai kebutuhan-kebutuhan berkegiatan yang disesuaikan dengan
karakteristik masyarakat dan kegiatan fungsional yang akan
dikembangkan, dengan pertimbangan aspek sosial (perilaku
masyarakat), budaya (kebutuhan / keinginan warga), maupun ekonomi
(kemampuan).

PT. ALOCITA MANDIRI 5-5


JASA KONSULTANSI PERENCANAAN PEMBANGUNAN PUSKESMAS
SUKAMANAH

b. Hubungan fungsional antar komponen kegiatan, mencakup kegiatan analisa


dengan pertimbangan-pertimbangan keterkaitan antar komponen dari aspek:
Karakteristik kegiatan
Perilaku pengguna komponen
Teknologi yang tersedia dan dapat diserap
Peraturan / standar desain komponen.
4. Carrying Capacity (Daya Dukung)
Daya dukung dapat diartikan sebagai kondisi maksimum suatu ekosistem untuk
menampung komponen biotik (makhluk hidup) yang terkandung di dalamnya,
dengan juga memperhitungkan faktor lingkungan dan faktor lainnya yang berperan
di alam. Tidak ada satu angka mutlak yang dapat menunjukkan daya dukung
ekosistem dalam menampung semua kegiatan manusia karena berbagai variabel
yang menentukan besarnya daya dukung ekosistem tersebut sangat bervariasi dan
selalu bergantung pada tingkat pemanfaatan yang dilakukan oleh manusia.
Kemampuan daya dukung setiap kawasan berbeda-beda sehingga perencanaan
pariwisata secara spatial akan bermakna dan menjadi penting.
Secara umum ragam daya dukung bagi pengembangan suatu kegiatan, khususnya
fungsi kegiatan wisata, dapat meliputi:
Daya dukung ekologis; yang merupakan tingkat maksimal penggunaan suatu
wilayah.
Daya dukung fisik; yang merupakan jumlah maksimum penggunaan atau
kegiatan yang diakomodasikan tanpa menyebabkan kerusakan atau
penurunan kualitas.
Daya dukung sosial; yang merupakan batas tingkat maksimum dalam jumlah
dan tingkat penggunaan yang akan menimbulkan penurunan dalam tingkat
kualitas pengalaman atau kepuasan pengunjung.
Daya dukung rekreasi; merupakan suatu konsep pengelolaan yang
menempatkan kegiatan rekreasi dalam berbagai objek yang terkait dengan
kemampuan kawasan.
5. Kesesuaian Ekologi dan SDA
Pada pendekatan ini akan diperhatikan hal-hal sebagai berikut:
Potensi Angin
Potensi angin dalam perencanaan meliputi arah dan kekuatan angin untuk

PT. ALOCITA MANDIRI 5-6


JASA KONSULTANSI PERENCANAAN PEMBANGUNAN PUSKESMAS
SUKAMANAH

mendapatkan udara yang sejuk dan mengurangi kelembaban.


Binatang/Habitat
Mengidentifikasi adanya habitat liar yang membahayakan pengembangan area
permukiman.
Daerah Banjir
Perencanaan dan pengolahan daerah-daerah yang rendah pemanfaatan
saluran-saluran alam secara optimal diharapkan mampu mencegah
kemungkinan bahaya banjir. Saluran drainase direncanakan mengikuti arah
kemiringan kontur pada titik terendah dalam kawasan menuju saluran
drainase induk.
Unit visual dan kapasitas visual
Daerah yang berpotensi memiliki arah view yang bagus antara lain adalah
daerah hijau hutan, daerah sepanjang aliran sungai, dan tepi pantai.
Pemanfaatan daerah-aerah yang berpotensi ini diperuntukkan untuk
pariwisata, permukiman menengah ke atas.
Area dengan visibilitas tinggi
Kawasan yang memiliki visibilitas tinggi adalah kawasan yang memungkinkan
untuk terlihat dari berbagai sudut (landmark kawasan) dapat difungsikan
untuk zona magnet pusat kota.
Topografi
Dalam suatu perencanaan perlu diperhatikan bagaimana kondisi topografi
eksisting wilayah tersebut, juga guna lahan dan karakter wilayahnya.

PENDEKATAN PLACEMAKING DAN ELEMEN RANCANG KOTA

Pendekatan perancangan fisik yang hanya berfokus pada penciptaan ruang saja sejatinya
tidak cukup dalam menghidupkan sebuah kawasan. Perancangan kota diharapkan mampu
menciptakan sebuah place karena sebuah kehidupan kawasan kota terbentuk oleh tempat-
tempat yang menciptakan beragam aktivitas. Sebuah ruang akan menjadi sebuah place jika
memiliki karakter/jatidiri/sense of place. Hal tersebut menunjukkan bahwa penciptaan
tempat (placemaking) menjadi penting untuk dijadikan pendekatan dalam revitalisasi
kawasan cagar budaya.
Placemaking merupakan metode yang digunakan dalam membentuk suatu place dengan
produknya yaitu sense of place. Placemaking adalah proses mengubah ruang menjadi place

PT. ALOCITA MANDIRI 5-7


JASA KONSULTANSI PERENCANAAN PEMBANGUNAN PUSKESMAS
SUKAMANAH

sehingga akan menarik pengunjung karena bersifat menyenangkan, menarik, dan


menawarkan kesempatan untuk bertemu dan berinteraksi. Pendekatan placemaking
berfokus terhadap aktivitas, komunitas, dan sosiabilitas, yang diwujudkan dari rancangan
arsitektural, lansekap dan elemen rancang kota pada kawasan tersebut. Berikut ini diagram
yang menunjukkan hubungan antara sense of place dan unsur pembentuknya.

Teori place menurut Krier dalam Zahnd, 1999

Terdapat 3 (tiga) hal utama yang menjadi pembentuk sense of place, yaitu activity, physical
setting, dan meaning. Penjelasan unsur-unsur tersebut adalah sebagai berikut :
a. Activity (aktivitas). Aktivitas yang merupakan indikasi akan keberlangsungan suatu
tempat. Memungkinkan terjadinya suatu interaksi antara manusia dengan sebuah
tempat, bangunan dengan lingkungan, serta pengaruh budaya dan penggunaan
bangunan serta lansekap. Di dalamnya terdapat komponen-komponen antara lain
tata guna lahan, pedestrian, dan sirkulasi kendaraan.
b. Form/Physical Setting. Form yang dimaksud disini adalah wujud dari daya tarik suatu
places, yang tidak sekedar disediakan tapi disusun dengan menyesuaikan kebutuhan
pengguna dalam melakukan aktivitasnya. Komponen di dalamnya antara lain adalah
townscape, tata massa bangunan, permeabilitas lansekap dan furnitur
c. Image/Meaning. Definisi image mencakup 3 hal, yaitu cognition, perception dan
information. Image atau citra akan memberikan makna pada pengunjung atau pada
place yang memberikan pembeda atau keunikan antara satu dan lainnya.
Pembentuk Place dalam konteks perkotaan dapat didefinisikan dalam 4 komponen yaitu
dari aspek tipologi, skala, hubungan dan identitas (Krier dalam Zahnd, 1999)

PT. ALOCITA MANDIRI 5-8


JASA KONSULTANSI PERENCANAAN PEMBANGUNAN PUSKESMAS
SUKAMANAH

a. Tipologi - Terkait dengan bagaimana bentuk kawasan, perbandingan elemen secara


spasial, bagaimana enclosure di tempat tersebut, berapa persen lingkungan yang
dibatasi oleh massa, dan dimanakah elemen tersebut dibatasi dan dibuka secara
spasial.
b. Skala - Pertanyaan yang muncul adalah mengenai suatu tempat adalah seberapa
besar ukurannya, bagaimana perbandingan apasial antara tinggi dan lebarnya, serta
bagaimana hubungan spasial dengan objek dan lingkungan di dalamnya.
c. Morfologi - Elemen place tertentu tidak hanya boleh diperhatikan dari tempatnya
saja, melainkan juga dari segi arti hubungan antara sebuah tempat dengan tempat
yang lain.
d. Identitas - Identitas terkait dengan ciri khas suatu tempat, apakah yang
menyebabkan munculnya suatu perasaan di tempat tertentu, bahan-bahan apakah
yang dipakai, pol dan warna dan apa yang dilakukan di tempat tersebut. Itu semua
merupakan gambaran suatu identitas dalam konteks kawasan.

Dalam pembentukan place terdapat beberapa strategi desain yang harus dilakukan,
diantaranya adalah (Meiss, 1990) :
a. Menciptakan ruang dan lingkungan yang responsif dan berdasarkan kepada
pendalaman nilai serta perilaku orang tertentu atau grup yang dituju, serta keunikan
lingkungan yang turut membangun identitas masyarakatnya;
b. Partisipasi dari calon pengguna dalam perancangan lingkungan, dapat dicapai
dengan menghilangkan pemisah antara perancang dan pengguna;
c. Menciptakan lingkungan yang bisa dengan mudah diadaptasi oleh pengguna.
Dengan dasar teori bahwa penciptaan place memerlukan penguatan identitas tempat
sebagai ruang yang menarik, maka dibutuhkan strategi placemaking. Tanpa adanya strategi
placemaking yang baik, banyak ruang publik yang gagal dalam menjadi sebuah ruang publik
dalam artian gagal menjadi sebuah ruang yang menarik, menyenangkan rekreatif dan
responsif. Hasil Hasil akhir dari strategi placemaking adalah terciptanya pengembangan
ruang publik yang berkualitas baik dan bermanfaat bagi masyarakat dan lingkungannya
(Tiesdell, 1996), yang dapat diukur dengan kriteria sebagai berikut:
a. Sebuah kawasan kota yang baik adalah mampu mewadahi kebutuhan fisik warganya,
tempat untuk tinggal dan tempat untuk bekerja, membuka peluang untuk

PT. ALOCITA MANDIRI 5-9


JASA KONSULTANSI PERENCANAAN PEMBANGUNAN PUSKESMAS
SUKAMANAH

mendapatkan penghasilan, serta akses terhadap berbagai jasa pelayanan dan fasilitas
yang ada
b. Sebuah kawsan kota yang baik harus mampu memberikan dan menciptakan suatu
lingkungan sosial yang kondusif. Menjadi sebuah tempat tumbuh berkembangnya
manusia, memungkinkan individu-individu untuk menjadi bangunan dari sebuah
komunitas, serta menyuguhkan perasaan keterkaitan kepada sebuah tempat dan
kawasan
c. Sebuah kawasan yang baik harus menjamin kenyamanan, keamanan dan
perlindungan, pengaturan secara visual, dan fungsional serta kontrol terhadap
lingkungan yang aman dan nyaman
d. Kawasan kota yang baik harus memiliki citra yang baik, reputasi yang bagis dan
prestige. Hal ini memberikan warganya rasa percaya diri, kekuatan, status dan
kejayaan
e. Dalam tingkatan yang lebih tinggi lagi, sebuah kawasan kota yang baik
memungkinkan warganya untuk menjadi kreatif, membentuk lingkungan pribadinya
dan mengeksprasikan diri serta mengembangkan lingkungan komunitas sesuai
dengan kebutuhan dan aspirasinya.
b. Strategi placemaking adalah prinsip mendasar yang dibutuhkan dalam setiap
perancangan kawasan seperti yang dikemukakan Montgomery (1998) bahwa :. Urban
design is essentially about placemaking, where places are not just a specific space,
but all the activities and events which made it possible”.

PT. ALOCITA MANDIRI 5-10


JASA KONSULTANSI PERENCANAAN PEMBANGUNAN PUSKESMAS
SUKAMANAH

PENDEKATAN SMARTH GROWTH PLANNING


Pendekatan smart growth planning
merupakan sebuah pendekatan yang
mempertimbangkan perencanaan kinerja
sebuah perencanaan lahan agar dapat
menghasilkan dampak bekelanjutan bagi
lingkup mikro/ tapak, meso/ lansekap/
kawasan dan wilayah perkotaan, beberapa
prinsip smart growth planning antara lain :
Meningkatkan penggunaan energi
terbarukan dan sumber daya
Mengurangi limbah padat dan
menghemat energi dan sumber daya
alam
Mencegah pencemaran dan
meningkatkan kesehatan pribadi dan
masyarakat
Tujuan smart growth planning antara lain :
Mempertahankan ciri khas , masyarakat
menarik dengan rasa yang kuat dari
tempat
Melestarikan ruang terbuka , lahan
pertanian , keindahan alam , dan
daerah lingkungan yang kritis
Memperkuat dan pengembangan
langsung menuju masyarakat yang ada
Pengembangan penggunaan lahan Campuran/ mixuse
Pengembangan desain bangunan kompak
Menciptakan berbagai peluang perumahan dan pilihan
Buat lingkungan walkable
Menyediakan berbagai pilihan transportasi

PT. ALOCITA MANDIRI 5-11


JASA KONSULTANSI PERENCANAAN PEMBANGUNAN PUSKESMAS
SUKAMANAH

PENDEKATAN PROSES PERANCANGAN TAPAK SITE-PLANNING PROCESS (KEVIN


LYNCH)
Perencanaan tapak adalah proses perancangan
yang melalui banyak tahap perumusan Kevin
Lynch (1971) dengan definisi sebagai berikut :
‘Site planning is the art of arranging the
external physical environment to support
human behavior. It lies along the boundaries of
architecture, engineering, land- scape
architecture, and city planning, and it is
practiced by members of all these professions.
Site plans locate structures and activities in
three-dimensional space and, when
appropriate, in time’
Perencanaan tapak adalah seni mengatur
lingkungan fisik eksternal untuk mendukung perilaku manusia . Itu terletak di sepanjang
batas arsitektur, rekayasa, arsitektur lanskap, dan perencanaan kota.
Proses Desain Perencanaan tapak

METODOLOGI

Yang dimaksud dengan metodologi adalah hal-hal yang terkait dengan prosedur
pelaksanaan kegiatan serta metode yang digunakan dalam setiap tahapan prosedur
tersebut lengkap dengan uraian mengenai target keluaran serta pemberdayaan tenaga dan
alat bantu yang dibutuhkan. Terdapat prinsip dasar dalam perencanaan yaitu :
▪ Tata letak, struktur, dan layanan yang mudah untuk dikembangkan sesuai dengan
perkembangan teknologi maupun informasi . Fleksibel maksudnya adalah bentuk ruang
dan peralatan dapat dirubah dan dipindahkan sewaktu-waktu. Khususnya pada ruang
kerja, ruang petugas, dan ruang pengolahan. Semua dinding-dinding tersebut sebaiknya

PT. ALOCITA MANDIRI 5-12


JASA KONSULTANSI PERENCANAAN PEMBANGUNAN PUSKESMAS
SUKAMANAH

dinding yang semi-permanent atau dapat dibongkar, namun hal ini tidak termasuk pada
toilet, tangga, dan lift. Selain itu perkantoran yang fleksibel juga harus menyediakan
ventilasi dan pencahayaan yang cukup
▪ Terintegrasi untuk mempermudah gerakan pengguna dan pengelola. Gedung yang
terintegrasi adalah adanya kemudahan pergerakan karyawan perkantoran, maupun
pengelola. Dimana, adanya pola sirkulasi yang baik, yaitu pengguna dapat berpindah
dari satu tempat ke tempat yang lain tanpa adanya gangguan. Gedung perkantoran yang
terintegrasi dapat menyediakan ruang-ruang yang banyak namun ruang gerak pengguna
masih tetap luas. Mudah diakses/ dapat dijangkau dari luar tapak dengan mudah, dan
dari pintu masuk ke semua bagian ruang kelas Accessible (mudah dijangkau) merupakan
faktor penting. Baik akses ke seluruh ruang kelas yang ada maupun akses ruang non-
kelas seperti mushola, toilet yang ada di perkantoran, keduanya harus mudah diakses.
Posisi yang paling mudah dicapai adalah di posisi tengah, karena pada posisi tengah
pemustaka dari berbagai arah dapat menjangkaunya dengan cepat. Lokasi harus
diperhitungkan dengan cermat, yaitu perkantoran dan administrasi harus ditempatkan
dekat dengan jalur sirkulasi utama atau aksesibilitas utama.
▪ Ruang-ruang formal dan non-formal yang bervariasi sesuai dengan kebutuhan pengguna
Gedung Variasi suasana perkantoran penelitian dan akademik perkantoran sangat
penting. Harus ada berbagai suasana untuk mengatasi kebutuhan pengguna yang
memiliki motif yang berbeda dan tujuan datang menggunakan. Misalnya, mereka datang
ke gedung penelitian dan akademik untuk belajar, menulis makalah, membaca koran,
bertemu teman-teman, browsing dan sebagainya.
▪ Nyaman dan efisien untuk pengguna Gedung. Kenyamanan sebuah
perkantoranperguruan tinggi, dalam beberapa kasus, lebih penting daripada jenis lain
dari penelitian dan akademik.

Berikut ini adalah uraian prosedur pelaksanaan tahapan kegiatan, metode pelaksanaan,
pelibatan tenaga dan alat bantu serta target keluaran atau outputnya. Secara umum uraian
ini berangkat dari pemahaman konsultan tentang lingkup pekerjaan, kegiatan, keluaran
serta indikasi kebutuhan tenaga dan jadwal yang dipersyaratkan dalam KAK.

PT. ALOCITA MANDIRI 5-13


JASA KONSULTANSI PERENCANAAN PEMBANGUNAN PUSKESMAS
SUKAMANAH

E.1 Metodologi Pekerjaan

PT. ALOCITA MANDIRI 5-14


JASA KONSULTANSI PERENCANAAN PEMBANGUNAN PUSKESMAS
SUKAMANAH

Berdasarkan diagram tersebut di atas, setidaknya terdapat beberapa hal pokok pelaksanaan
kegiatan, yaitu standard-standard yang digunakan dalan perencanaan teknis, Kriteria
Umum dan Khusus, Kegiatan Persiapan dan Survei, Identifikasi Data Lapangan, Analisis,
Konsep, Pembuatan Perencanaan Teknis dan Pembuatan Laporan.

PERSIAPAN

Pada bagian ini akan diuraikan beberapa metode pelaksanaan kegiatan yang dilakukan
untuk mencapai tujuan akhir pekerjaan, antara lain:
1. Persiapan
Pekerjaan pada tahapan ini bersifat non lapangan/desk study, dapat dijelaskan sebagai
berikut:
a. Persiapan administrasi dan personil yang terlibat dalam pekerjaan;
b. Mobilisasi personil yang terlibat dalam pekerjaan
c. Pemantapan kembali metodologi pendekatan studi, rencana kerja dan rencana
survey;
2. Survey Lapangan Langsung
Survey menjadi hal yang sangat penting dalam kajian ini sehingga dalam pelaksanaan
survey harus dilakukan dengan tahapan yang sangat matang, sistematis dan
terstruktur khusunya pada survey primer. Data-data akan mempengaruhi hasil analisis
yang di dapat oleh sebab itu dilakukan beberapa kententuan dalam melaksanakan
survey.
Survei lapangan langsung dilakukan untuk mengumpulkan data-data yang diperlukan
guna mengidentifikasi item pekerjaan maupun perbaikan yang akan dilakukan,
penyelidikan tanah (bila ada), perolehan data-data meterial yang tersedia pada masing-
masing lokasi, serta inventarisasi data-data yang dibutuhkan untuk perencanaan teknis
secara keseluruhan di masing-masing lokasi kegiatan. Berdasarkan data dan informasi
hasil survei lapangan, kemudian dilakukan identifikasi permasalahan serta
pembentukan konsep sebagai alat masukan bagi pembuatan perencanaan.

PENGUMPULAN DATA PRIMER

A. Observasi Lapangan
Pengamatan langsung (observasi) yaitu pengamatan secara visual untuk mengetahui dan
mencatat secara rinci mengenai keadaan yang sebenarnya di lapangan. Semua data dan

PT. ALOCITA MANDIRI 5-15


JASA KONSULTANSI PERENCANAAN PEMBANGUNAN PUSKESMAS
SUKAMANAH

informasi hasil survey visual dicatat dalam peta-peta sederhana disertai dengan sketsa,
photo, dan catatan-catatan ringkas lainnya yang diangap perlu. Peta-peta dapat berupa
peta dasar dari kota pada skala survey. Sketsa-sketsa, photo, dan catatan-catatan dapat
ditempelkan pada peta dan seluruh hasil studi.

B. Survey Blok
Dalam mendapatkan akurasi data secara tepat mengenai sejumlah kegiatan di lapangan
diperlukan metode survey blok. Metode ini diharapkan mampu menyesuaikan data antara
data sekunder dengan data pengamatan langsung di lapangan. Metode ini juga berguna
dalam penzoningan dan membuat blok plan. Dalam metode survey blok data penggunaan
ruang yang menggambarkan karakteristik penebaran bentuk-bentuk fisik buatan manusia,
dapat dirinci sebagai berikut :
1. Rincian jenis penggunaan lahan
2. Struktur dan kualitas bangunan untuk masing masing jenis penggunaan lahan.
3. Kepadatan bangunan pada setiap jenis penggunaan lahan.
4. Kedudukan/peran/estetika bangunanpada lingkungan/ wilayah perencanaan yang
bersangkutan.
5. Data tersebut disajikan dalam bentuk peta dengan skala 1 : 2.500 dan menggunakan
perbedaan warna/kode serta dilengkapi tabel-tabel data.

C. Wawancara Semi Terstruktur


Wawancara dilakukan untuk mengetahui tanggapan dan menelusuri responden untuk
informasi yang lebih lanjut. Alat yang digunakan adalah lembar wawancara. Responden
wawancara adalah stakeholder terkait.

D. Pengukuran / Pemetaan
Pemetaan geometris, titik lokasi maupun polygon dapat dilakukan dengan bantuan alat
GPS dan atau theodolit. Global Positioning System (GPS) adalah sistem satelit navigasi dan
penentuan posisi yang didesain untuk memberikan posisi (Iintang, bujur, dan ketinggian).

E. Survei Topografi
1) Umum
Survai Pengukuran Topografi dilakukan sepanjang trase rencana jalan kereta api

PT. ALOCITA MANDIRI 5-16


JASA KONSULTANSI PERENCANAAN PEMBANGUNAN PUSKESMAS
SUKAMANAH

termasuk perpotongan-perpotongan atau persimpangan-persimpangan yang ada,


daerah-daerah sekitar trase rencana jalan kereta api yang diperlukan untuk rencana
detail yang meliputi antara lain : lebar Daerah Milik Jalan (Damija) Rencana, meliputi
daerah kanan dan kiri garis sumbu jalan selebar kurang lebih 50 m,
Survai ini meliputi pekerjaan-pekerjaan sebagai berikut :
- Pengukuran titik-titik kontrol horizontal.

- Pengukuran titik-titik kontrol vertikal.

- Pengukuran situasi.

- Pengukuran profil memanjang.

- Pengukuran profil melintang.

- Pemasangan patok-patok titik ikat dengan tanda.

- Perhitungan dan pengambaran peta topografi.

- Pengukuran khusus

Gambar 1 Survei Topografi

2) Pengukuran Titik-Titik Kontrol Horizontal.


1. Pengukuran ini berupa rangkaian poligon dengan jarak titik-titik poligon tidak
lebih dari 100 m.
2. Titik-titik poligon ini dibuat sedapat mungkin sejajar dengan sumbu jalan yang
direncanakan.
3. Pengukuran jarak sisi poligon dikerjakan dengan alat ukur yang memenuhi
syarat (elektrolis/optis).

PT. ALOCITA MANDIRI 5-17


JASA KONSULTANSI PERENCANAAN PEMBANGUNAN PUSKESMAS
SUKAMANAH

4. Pengukuran sudut dilakukan dengan alat ukur sudut ketelitian bacaan 1 detik
(Theodolit T2).
5. Pengukuran poligon ini akan diikatkan pada titik tetap yang sudah diketahui
koordinatnya atau koordinat lokal.
6. Pengukuran poligon yang dikerjakan harus memenuhi syarat-syarat ketelitian
pengukuran poligon orde ke II yaitu :
 Kesalahan sudut 10 detik n , n = jumlah titik poligon.
 Kesalahan azimuth pengontrol tidak lebih 5 detik.
 Pada jarak  5 – 6 km poligon utama harus dilakukan azimuth pengontrol
dengan pengamatan azimuth matahari.
 Kesalahan penutup jarak setelah azimuth dikoreksi tidak lebih dari 1/10.000
dari jarak yang diukur.
1. Khusus untuk daerah persilangan jalan dengan sungai, perlu penambahan 4
(empat) titik ikat baru yang diikatkan pada titik poligon utama.
2. Referensi Pengukuran Nasional
- Untuk menentukan koordinat X dan Y, sedapatnya dilakukan pengikatan
kepada Titik GPS (orde 2 atau 3 dari Badan lnformasi Geospasial) orde 4
(BPN) atau titik referensi (BM) yang berada paling dekat ke lokasi kegiatan
yang terintegrasi dengan koordinat BIG.
- Untuk ketinggian (elevasi), sedapatnya dilakukan pengikatan kepada Titik
Tinggi (TTG) dari Badan lnformasi Geospasial (BIG) atau titik referensi hasil
pekerjaan desain sebelumnya yang berada paling dekat ke lokasi kegiatan.

3) Pengukuran Titik-titik Kontrol Vertikal


1. Pengukuran beda tinggi akan dilakukan dengan pengukuran pergi pulang.
2. Titik-titik tinggi dibuat setiap jarak 100 meter, dan setiap jarak 500 meter
dibuat patok permanen. Titik-titik tinggi tersebut akan diikatkan dengan titik
tinggi yang ada secara sempurna (titik awal dan titik akhir akan diikatkan
dengan tinggi yang ada). Kalau tidak ada titik tinggi di sekitarnya, pengukuran
akan dilakukan dengan cara tertutup.
3. Ketinggian titik tinggi geodesi dapat digunakan sebagai ketinggian permulaan.
4. Kesalahan menengah dari sifat datar yang diperoleh tidak boleh lebih besar dari
4 D mm - 6 D mm, dimana D (km) adalah panjang satu seksi pengukuran

PT. ALOCITA MANDIRI 5-18


JASA KONSULTANSI PERENCANAAN PEMBANGUNAN PUSKESMAS
SUKAMANAH

sipat datar.

4) Pengukuran Situasi
1. Pengukuran situasi akan dilakukan secara cermat, semua data lapangan yang
permanen akan diukur misalnya : jalan raya, jalan kampung, bangunan-
bangunan gedung, rumah-rumah permanen, pinggir bahu jalan, pinggir
selokan, letak gorong-gorong serta dimensinya, tiang-tiang listrik, tiang-tiang
telepon serta bangunan-bangunan lain yang dianggap permanen. Pengukuran
tersebut dapat dilakukan dengan cara tachymetric.
2. Patok-patok KM dan HM jika ada, serta patok-patok tanda-tanda permanen
lainnya yang ada di tepi jalan akan diambil dan dihitung koordinatnya
(tujuannya adalah untuk memperbanyak titik-titik referensi sehingga
memudahkan penemuan kembali sumbu jalan yang direncanakan).
Untuk daerah penyeberangan sungai/jembatan, daerah lingkup pengukuran
akan lebih luas dan perlu dicantumkan di dalam pengukuran ini data-data
mengenai :
 Tinggi muka air normal.
 Tinggi muka air terendah.
3. Pengukuran situasi ini meliputi :
 Pengukuran kedudukan horizontal titik-titik detail.
 Pengukuran kedudukan vertikal titik-titik detail.
 Untuk itu pengukuran dapat dilakukan dengan cara tachymetric.
 Ketelitian alat yang dipakai adalah 10” (sejenis dengan Theodolit-To)
 Pengukuran situasi dilakukan pada titik pengukuran penampang
melintang
 Pengukuran situasi daerah sepanjang rencana jalan akan mencakup
semua keterangan yang ada di daerah sepanjang rencana jalan
tersebut.
 Pada awal proyek dilakukan pengukuran situasi kebelakang arah
pengukuran sepanjang 50 meter
 Pada akhir proyek dilakukan pengukuran situasi sekitarnya yang meliputi
geometrik jalan yang sudah ada
 Lebar pengukuran 50 m ke kiri dan 50 m ke kanan dari rencana as jalan

PT. ALOCITA MANDIRI 5-19


JASA KONSULTANSI PERENCANAAN PEMBANGUNAN PUSKESMAS
SUKAMANAH

 Untuk tempat-tempat jembatan atau perpotongan dengan jalan lain


pengukuran akan diperluas (lihat pengukuran khusus)

5) Pengukuran Profil Memanjang


1. Pengukuran profil memanjang diambil pada sumbu dari lintasan yang diusulkan.
2. Titik-titik profil diambil setiap 25 meter, titik tersebut supaya diberi tanda patok
di lapangan.
3. Untuk profil memanjang ini peralatan yang dipergunakan adalah alat ukur sudut
satu titik (T2 atau yang sederajat).

6) Pengukuran Profil Melintang


1. Pengukuran profil melintang diambil setiap 50 meter dengan lebar profil
melintang selebar dengan jalur-jalur yang dipetakan.
2. Peralatan yang dipergunakan untuk pengukuran penampang melintang ini
adalah alat ukur sudut satu detik (T2 atau yang sederajat).
3. Titik-titik yang juga perlu diperhatikan adalah tepi perkerasan, dasar dan
permukaan selokan.
4. Lebar pengukuran penampang melintang 50 m ke kiri dan 50 m ke kanan as
jalan.
5. Pada daerah yang menikung, dari as jalan kearah luar 50 m dan kearah dalam
50 m.
6. Khusus untuk perpotongan dengan sungai dilakukan dengan ketentuan khusus
(lihat pengukuran khusus)
7. Peralatan yang dipergunakan untuk pengukuran penampang melintang sama
dengan yang dipakai pengukuran situasi (TO).

7) Pemasangan Patok-Patok, Titik Ikat Dan Tanda-Tanda


1. Patok poligon untuk profil memanjang dan melintang dibuat dari kayu dengan
ukuran 5x7x60 cm. Patok tersebut akan ditanam sedemikian rupa sehingga
tidak mudah dicabut maupun diganggu orang.
2. Patok tanda beton (BM) dibuat dari beton dengan ukuran 20x20x125 cm. Patok
tersebut akan ditanam sedemikian rupa sehingga bagian patok yang muncul
diatas tanah  50 cm.

PT. ALOCITA MANDIRI 5-20


JASA KONSULTANSI PERENCANAAN PEMBANGUNAN PUSKESMAS
SUKAMANAH

3. Patok-patok beton dilengkapi dengan logo BPTJ/ Kementrian Perhubungan


dengan bahan Marmer Putih ukuran 12 x 15 cm
4. Untuk memudahkan kembali dibuat deskripsi BM yang dilengkapi sketsa lokasi
dan foto.
5. Khusus untuk titik-titik yang terletak pada jalan lama, diberi paku dengan
dilingkari cat kuning sebagai tanda.
6. Khusus untuk daerah persilangan jalan, sungai dan kereta api, dipasang
minimal 2 buah patok beton seperti patok poligon.

8) Perhitungan Dan Penggambaran Peta


1. Titik-titik poligon utama akan dihitung koordinatnya berdasarkan titik-titik ikat
yang dipergunakan. Sedangkan perhitungannya akan didasarkan pada Model
Hitung Perataan.
2. Penggambaran titik-titik poligon akan didasarkan pada hasil perhitungan
koordinat dan tidak diperkenankan sama sekali secara grafis.
3. Gambar ukur berupa gambar situasi akan digambar pada kertas milimeter
dengan skala 1:500.
4. Garis kontur diperlihatkan dengan interval 50 cm dan elevasi dapat
dicantumkan dalam peta.
5. Semua detail yang diperlukan sebagai keterangan dalam merencanakan jalan
baru, akan dicantumkan dengan gambar ukur tersebut termasuk titik-titik
lengkap dengan ketinggian.
6. Penampang memanjang dibuat dengan skala 1:500 horizontal dan 1:100
vertikal dan digambar diatas kertas standard.
7. Penampang melintang dibuat dengan skala 1:200 horizontal dan 1:100 vertikal
dan digambar diatas kertas milimeter dengan mencantumkan semua
keterangan yang penting.
8. Khusus daerah sungai, tempat persilangan jalan, dibuat juga penampang
melintang sungai yang sejajar dengan sumbu lintasan jalan, untuk setiap jarak
25 meter, serta dibuat sampai selebar daerah pemetaan situasi. Keterangan
yang penting akan dicantumkan dalam gambar ini.
9. Buku ukur, hasil perhitungan koordinat poligon, ketinggian akan dilampirkan
pada penyerahan hasil pekerjaan.

PT. ALOCITA MANDIRI 5-21


JASA KONSULTANSI PERENCANAAN PEMBANGUNAN PUSKESMAS
SUKAMANAH

9) Pengukuran Khusus
1. Pengukuran khusus disekitar perpotongan dengan sungai : 100 m sebelum dan
sesudah perpotongan dengan sungai dibuat potongan melintang jalan dengan
interval 25 m. 100 m ke arah hulu dan hilir sungai dari as jalan dibuat potongan
melintang sungai dengan interval 25 m.
2. Pengukuran khusus disekitar persimpangan jalan : Daerah pengukuran adalah di
daerah persimpangan jalan sejauh 50 m kiri kanan jalan yang akan direncanakan.
- Pengukuran titik kontrol horizontal berupa poligon tertutup/terbuka yang terikat
sempurna.
- Pengukuran titik kontrol vertikal dengan alat waterpass.
- Pengukuran penampang memanjang dibuat pada sumbu jalan
- Pengukuran melintang dibuat sepanjang 50 meter ke arah kiri kanan jalan untuk
setiap interval 15 meter
- Pengukuran situasi dilakukan dengan lengkap terutama bangunan-bangunan
permanen yang ada disekitar persimpangan.

F. Survei Geoteknik
1. Pekerjaan Lapangan

a. Mengadakan peninjauan kembali terhadap semua data-data tanah dan


material. Selanjutnya mengadakan penyelidikan tanah dan material
sepanjang proyek jembatan tersebut, yang akan dilakukan berdasarkan
Survai langsung di lapangan maupun dengan pemeriksaan di laboratorium.

b. Pada lokasi-lokasi dari rencana pondasi jembatan dan bangunan lain yang
besar-besar akan diadakan penyelidikan kondisi dari sub surfacenya.
c. Menyelidiki lokasi sumber material yang ada di sekitar lokasi proyek beserta
perkiraan jumlahnya untuk pekerjaan-pekerjaan struktur jembatan dan
bangunan pelengkap lainya termasuk pembuatan jalan pendekat atau oprit
semuanya akan dibuat petanya.

PT. ALOCITA MANDIRI 5-22


JASA KONSULTANSI PERENCANAAN PEMBANGUNAN PUSKESMAS
SUKAMANAH

Gambar. Diagram Alur Pelaksanaan


2. Pemboran Dan Pengambilan Sampel

Pemboran dan pengambilan sample dimaksudkan untuk mendapatkan informasi


lebih teliti :

- Jenis Tanah.
- Struktur Lapisan Tanah,
- Index dan Engineering Properties Sub Surface

Pemboran akan dikerjakan sampai kedalaman yang ditentukan atau setelah


didapat informasi yang cukup mengenai letak lapisan tanah keras, jenis batuan
dan tebalnya. Jika sebelum mencapai kedalaman yang ditentukan telah ditemukan
lapisan tanah keras/batu, pemboran akan diteruskan menembus lapisan tanah
tersebut sedalam kurang lebih 3 meter, tergantung jenis batuannya dan beban
bangunan sub strukturnya.

Cara klarififasi jenis tanah hendaknya dilakukan menurut ASTM/AASHTO atau


Manual Pemeriksaan Bahan Jalan (MPBJ). Pada tiap lubang bor yang dikerjakan

PT. ALOCITA MANDIRI 5-23


JASA KONSULTANSI PERENCANAAN PEMBANGUNAN PUSKESMAS
SUKAMANAH

akan dilakukan pencatatan : lokasi, elevasi permukaan pemboran, tanggal


dimulainya pemboran, tanggal selesai dan alat yang digunakan.

a. Test Sondir

Pemboran dilakukan dengan alat test sondir, yaitu test yang dilakukan untuk
menilai daya dukung tanah, daya hambatan lekat dan perkiraan lokasi adanya
tanah keras.

Percobaan ini digunakan untuk menentukan daya dukung (end bearing) dan
perlawanan keliling (friction/adhesion resistance) dari tanah untuk perencanaan
pondasi dan struktur geoteknik. Selain itu percobaan ini sangat praktis untuk
mengetahui dengan cepat letak kedalaman lapisan tanah keras, bahkan dengan
mengevaluasi nilai rasio gesekan (friction ratio), dapat pula dilakukan deskripsi
jenis lapisan tanah. Pada penggunaan friction sleeve atau adhesion jacket type
(bikonus), nilai konus dan hambatan lekat keduanya dapat diukur. Hasil
penyelidikan ini dinyatakan dalam bentuk grafis, nilai konus digambar dalam
kg/cm2 dan hambatan lekat (skin friction) digambar sebagai jumlah untuk
kedalaman yang bersangkutan per cm keliling, yaitu dalam kg/cm.

Perlawanan penetrasi konus adalah perlawanan tanah terhadap ujung konus


yang dinyatakan dalam gaya persatuan luas. Hambatan lekat adalah perlawanan
geser tanah terhadap selubung bikonus dalam gaya persatuan panjang.

Skema alat sondir secara mekanik dan metode pelaksanaan survey sondir dapat
dilihat pada gambar dibawah ini.

PT. ALOCITA MANDIRI 5-24


JASA KONSULTANSI PERENCANAAN PEMBANGUNAN PUSKESMAS
SUKAMANAH

Gambar Skema alat sondir

Gambar metode pelaksanaan survey sondir

PT. ALOCITA MANDIRI 5-25


JASA KONSULTANSI PERENCANAAN PEMBANGUNAN PUSKESMAS
SUKAMANAH

Alat sondir yang dipakai boleh dari type lain selain type gouda yaitu type Dutch
Cone Penetrometre asalkan masih menggunakan metrik system dan dalam
penelitian yang sama. Alat tersebut akan dilengkapi dengan friction jacket cone
kapasitas minimum 2 ton (pembacaan conus maksimum 250 kg/cm2).

Pembacaan harga tegangan konus dan geser dilakukan pada setiap interval
kedalaman 20 cm.

Jika dipakai alat sondir dengan kapasitas 2 ton, penyondiran akan dikerjakan
sampai mencapai lapisan tanah dengan tegangan konus yang kebih besar dari 200
kg/cm2. Atau sampai kedalaman 30 m apabila dijumpai lapisan dengan tegangan
konus kurang dari 200 kg/cm2.

Hasil penyondiran dibuat dalam diagram sondir yang memperlihatkan harga


tegangan konus, serta jumlah hambatan pelekat pada berbagai keadaan lapisan
tanah.

Gambar 2 Tes Sondir

Hasil pengujian sondir disajikan dalam bentuk grafik dengan persamaan empiris
untuk memperhitungkan pengaruh berat konus sebagai berikut:

PT. ALOCITA MANDIRI 5-26


JASA KONSULTANSI PERENCANAAN PEMBANGUNAN PUSKESMAS
SUKAMANAH

Tahanan Konus (qc)

C w Apl  Wcr
qc 
Ac
qc : Tahanan konus;
Cw : bacaan manometer untuk tahanan konus;
Apl : luas penampang piston;
Wcr : berat konus dan batang untuk bacaan tersebut;
Ac : luas penampang konus.

Hambatan Lekat (fs)


(Tw  C w ) A pl  Wcr
fs 
As
dengan:
ƒs : Hambatan lekat;
Tw : bacaan manometer untuk tahanan konus dan selubung;
Apl : luas penampang piston;
Wcr : berat konus dan batang untuk bacaan tersebut;
As : luas penampang selubung.

Friction Ratio (Rf)


fs
Rf  x100%
qc

Hasil percobaan sondir dapat diinterpretasikan nilai friksi dengan jenis lapisan
tanah dapat dilihat pada Tabel dibawah.

Tabel 1 Hubungan Nilai Friksi Rasio dengan Perkiraan Jenis Lapisan Tanah

FR (%) PERKIRAAN JENIS TANAH

< 0,5 Kerikil

PT. ALOCITA MANDIRI 5-27


JASA KONSULTANSI PERENCANAAN PEMBANGUNAN PUSKESMAS
SUKAMANAH

0,5 – 2 Pasir
2–5 Lanau / Lempung Pasiran
>5 Lempung

Tabel 2 Hubungan Nilai qc dengan Perkiraan Konsistensi Tanah

(Tahanan konus)
Konsistensi Tanah
qc ( kg/cm2)
<6 Sangat Lunak
6 - 12 Lunak
12 - 24 Sedang
24 – 45 Kaku
45 – 75 Sangat Kaku
75 - 150 Agak Keras
150 < Keras

b. Bor Mesin

Boring akan dikerjakan dengan alat Bor yang digerakkan dengan mesin yang
mampu mencapai kedalaman yang ditentukan. Mata bor akan mempunyai
diameter cukup besar sehingga undisturbed sample yang diinginkan dapat diambil
dengan baik, dengan diameter core 54,70 mm.

Pengujian tanah dengan cara pengeboran tanah dalam, mengacu


pada ASTM D 1587-67 (Standard practice for Thin Walled Tube sampling
soils for geotechnical purpose), yaitu pengambilan contoh tanah
dengan silinder baja tipis dengan diameter 73 mm dan panjang 60 cm.
Pengambilan contoh tanah asli undisturbed sample (UDS) atau
disturbed sample (DS) dilakukan secara vertikal dengan cara ditekan
dengan hammer otomatis seberat 63,5 kg dan ditutup dengan
cairan lilin (paraffin) agar terlindung dari panas dan benturan.
Skema alat pengujian bor, mata bor dan tabung silinder baja dapat
dilihat pada gambar di bawah ini.

PT. ALOCITA MANDIRI 5-28


JASA KONSULTANSI PERENCANAAN PEMBANGUNAN PUSKESMAS
SUKAMANAH

Gambar Skema Alat Pengujian Bor Dalam

PT. ALOCITA MANDIRI 5-29


JASA KONSULTANSI PERENCANAAN PEMBANGUNAN PUSKESMAS
SUKAMANAH

Gambar Mata Bor Tipe Tungsten

Gambar Tabung Silinder Baja Untuk Mengambil Contoh Tanah Asli

Untuk tanah clay, slit atau tanah lainnya yang tidak terlalu padat, dapat dipakai
steelbit sebagai mata bor, bor intan (diamond bit) atau mata bor tungsten
sehingga juga dapat diambil undisturbed samplenya dari lapisan tanah tersebut.

Pada setiap interval kedalaman 3,0 meter akan dilakukan Standard Penetration
Test (SPT) dan contoh tanahnya (tidak perlu undisturbed) disimpan dalam tempat
yang dapat menjaga kadar air aslinya.

PT. ALOCITA MANDIRI 5-30


JASA KONSULTANSI PERENCANAAN PEMBANGUNAN PUSKESMAS
SUKAMANAH

Standard Penetration Test dilakukan sesuai ketentuan sebagai berikut :

- Berat palu 63,50 kg


- Tinggi jatuh 75,00 cm

Pengujian dilakukan hingga alat masuk 30 cm ke dalam tanah yang jumlah


pukulannya mencapai 50 kali/30 cm. Pelaksanaan dilakukan N/15, N/15, N/15 nilai
yang diperhitungkan adalah dua kali nilai pengujian terakhir.

Contoh tanah tersebut diperlukan untuk menyusun lithologie description lapisan


tanah.

Pada setiap kedalaman yang ditentukan (bila tidak ditentukan lain, maka rata-rata
kedalaman diambil kurang lebih 3,0 meter) pada tanah lunak akan diambil
undisturbed sample untuk test di laboratorium guna mendapatkan harga index dan
engineering properties lapisan tanah.

Undisturbed sample akan dengan cara sebagai berikut :

Tabung sample (yang dibuat dari baja tipis tetapi keras dan berbentuk silinder
dengan diameter rata-rata 7,0 cm, panjang minimal 50 cm) dimasukkan ke dalam
tanah pada kedalaman dimana undisturbed sample akan diambil kemudian ditekan
perlahan-lahan sehingga tabung tersebut dapat penuh terisi tanah.

Tanah tersebut akan tetap berada dalam tabung sample tersebut samapi saatnya
untuk ditest di laboratorium.

Tabung yang berisi contoh tanah tersebut akan segera ditutup dengan paraffin
setelah dikeluarkan dari dalam lubang bor.

Sebagai hasil boring, akan dibuat bor log yang paling sedikit dilengkapi dengan
lithologi (geological description) harga SPT, letak muka air tanah dan sebagainya
beserta letak kedalaman lapisan tanah yang bersangkutan.

Penamaan dari masing-masing tanah akan dilakukan pada saat itu juga sesuai
dengan kedalaman maupun sifat-sifat tanah tersebut yang dapat dilihat secara
visual.

PT. ALOCITA MANDIRI 5-31


JASA KONSULTANSI PERENCANAAN PEMBANGUNAN PUSKESMAS
SUKAMANAH

Apabila tanah yang dibor dalam hal ini cenderung untuk mudah runtuh, maka
persiapan untuk itu (casing) akan segera dilakukan.

Pekerjaan pengambilan tanah dimaksud sebagai pekerjaan mengambil tanah


dengan tujuan penyelidikan lebih lanjut di laboratorium.

Test-test di atas hendaknya dikerjakan berdasarkan Spesifikasi ASTM/ AASHTO.

Ketentuan lain :

 Penyelidikan tanah dengan membor lubang bor akan diatur sedemikian rupa
sehingga dapat memberikan data maksimal pada tanah dasar penampang
sungai.
 Sebagai hasil penelitian lapangan yang memerlukan pemboran, letak lubang
bor, jumlah dan kedalamannya akan sesuai dengan keperluannya.
 Yang dimaksud dengan 1 (satu) pasang lubang bor adalah terdiri dari 1
sondir dan 1 boring.
 Lokasi titik bor diusahakan sedekat mungkin dengan lokasi titik sondir.
 Jumlah Titik Penyelidikan Sondir dan Bor Mesin.
 Untuk setiap jembatan dilakukan 2 pasang lubang bor, masing-masing pada
kedua tepi abutment.

c. Bor Tangan

Dilakukan di lokasi rencana stasiun dengan tata cara melakukan bor tangan sesuai
dengan SNI 4153 tahun 2008 tentang Tata Cara Uji Penetrasi Lapangan dengan
SPT. Pekerjaan bor tangan dengan ketentuan sebagai berikut:

 Dilakukan dengen memakai mata bor (iwan auger atau sejenisnya)samai


kedalaman 10 meter atau sampai tidak dapat ditembus lagi.
 Pengambilan contoh tanah tak terganggu, dilakukan minimal 2 buah tabung
per titik bor.
 Dilakukan disripsi jenis tanah untuk setiap lokasi bor dan dibuat dalam suatu
bor log.
 Semua perhitungan-perhitungan (analisis/Interpretasi/ Grafik) harus dibuat
dan dilampirkan pada laporan

PT. ALOCITA MANDIRI 5-32


JASA KONSULTANSI PERENCANAAN PEMBANGUNAN PUSKESMAS
SUKAMANAH

d. Pengujian Laboratorium

Dilaksanakan masing-masing 2 sempel untuk setiap titik bor, dengan


ketentuan/kesetaraan standar pengujian sebagai berikut:

Semua perhitungan-perhitungan (Analisis/lnterpretasi/Grafik) harus dibuat dan


dilampirkan pada laporan.

PENGUMPULAN DATA SEKUNDER

Survey sekunder adalah teknik pengumpulan data dengan melakukan usaha pengumpulan
data dari instansi – instansi yang terkait, baik Pemerintah maupun swasta juga usaha
pengumpulan data dari literature terkait.
Studi literatur
Yaitu suatu metode untuk mendapatkan data dengan cara mengumpulkan,
mengidentifikasi serta mengolah data tertulis dan metode kerja yang dapat
dipergunakan sebagai input dalam pembahasan materi. Pengambilan data dapat
melalui dokumen tertulis maupun elektronik dari lembaga/institusi terkait.

KOMPILASI DATA
Tahap kompilasi data ini merupakan tahap inventarisasi data sebagai bahan masukan pada
tahap analisis, tahap kompilasi data yang akan mencakup, hal-hal berikut:
Tinjauan internal meliputi:
1. Aspek Fisik dasar, yang meliputi keadaan:
 Keadaan tanah, air dan iklim;

PT. ALOCITA MANDIRI 5-33


JASA KONSULTANSI PERENCANAAN PEMBANGUNAN PUSKESMAS
SUKAMANAH

 Keadaan vegetasi dan fauna, dan lain-lain.


2. Aspek tata guna tanah, yang secara umum dirinci menurut jenis-jenis
penggunaan; perumahan, pemerintahan dan bangunan umum, perdagangan,
jasa, fasilitas sosial, jalur hijau, ruang terbuka, transportasi, penggunaan khusus
seperti pariwisata, industri, dan pergudangan.
3. Aspek kependudukan, sosial dan kebudayaan, antara lain:
 Jumlah dan penyebaran penduduk untuk tiap kampung/kelurahan;
 Komposisi penduduk menurut kelompok umur, jenis kelamin;
 Tingkat pendidikan, agama, lapangan kerja, pendapatan dan lain sebagainya;
 Perkembangan penduduk dalam hal jumlah penyebaran dan komposisi;
 Adat istiadat, kebiasan-kebiasan dan sebagianya.
4. Aspek perekonomian, yang meliputi keadaan:
 Keadaan besarnya sektor-sektor kegiatan perekonomian dan penyebarannya
di kawasan perencanaan;
 Sistem hubungan antar sektor kegiatan ekonomi;
 Perkembangan keadaan dan tingkat pertumbuhannya.
5. Aspek Transportasi, yang meliputi keadaan:
 Jaringan transportasi;
 Moda transportasi.
6. Aspek fasilitas pelayanan dan prasarana, yang meliputi keadaan:
 Jenis-jenis fasilitas, jumlah dan penyebarannya di Kawasan perencanaan baik
untuk melayani kegiatan sosial maupun kegiatan ekonomi;
 Jenis-jenis prasarana dan sarana perhubungan dan prasarana lingkungan
seperti jalan, listrik, drainase, air minum, baik dalam kualitas maupun
kuantitasnya;
 Perkembangan mengenai pengadaan fasilitas dan prasarana/sarana, baik
dalam hal kualitas, kuantitasnya, maupun sumber dana yang digunakan bagi
pelayanan pembangunannya;
7. Aspek Administrasi / pengelolaan pembangunan Kawasan perencanaan, antara
lain:
 Keadaan organisasi aparatur pelaksana pembangunan kawasan
perencanaan, struktur organisasi, tata kerja, khususnya yang

PT. ALOCITA MANDIRI 5-34


JASA KONSULTANSI PERENCANAAN PEMBANGUNAN PUSKESMAS
SUKAMANAH

menggambarkan mekanisme dan tata kerja dinas atau unit pelaksana teknis
daerah yang berfungsi dalam pengendalian pelaksanaan rencana tata ruang;
 Keadaan keuangan daerah, mengenai volume pajak dan retribusi ditinjau
menurut sumbernya beserta perkembangannya;
 Keadaan status pemilikan tanah secara umum;
 Peraturan-peraturan daerah atau kebijakan pemerintah daerah lainnya
tentang pelaksanaan pembangunan Kawasan perencanaan;
 Selain data kuantatif (angka-angka), seyogyanya diuraikan juga secara
kualitatif mengenai kondisi eksisting (sekarang) mengenai potensinya dan
mengenai permasalahan yang dihadapi.

STANDAR GEDUNG

A. Spesifikasi Teknis Bangunan Gedung


Perencanaan Renovasi Rumah Negara Di Wilayah DKI Jakarta Paket B yang dapat dikatakan
bahwa bangunan tersebut adalah ‘Bangunan Gedung Negara’ yang berdasarkan tingkat
kompleksitasnya termasuk ke dalam klarifikasi ‘Bangunan Tidak Sederhana’.

B. Bentuk Massa Bangunan

PT. ALOCITA MANDIRI 5-35


JASA KONSULTANSI PERENCANAAN PEMBANGUNAN PUSKESMAS
SUKAMANAH

Bentuk massa bangunan c, akan terkait erat dan berpedoman pada kondisi tapak lokasi
yang disediakan. Massa bangunan akan menjelaskan pada kondisi eksisting tofografi tapak,
yang tentunya akan dipengaruhi juga oleh peraturan tata kota yang baku seperti sempadan
bangunan, persyaratan tinggi bangunan, koefisien dasar bangunan, area penghijauan dan
lain-lain.
Secara prinsip pemilihan dan penentuan massa bangunan berpedoman pada persyaratan
berikut ini (Neufert – Achitects Data) :

Bentuk massa bangunan berdasarkan penempatan area/zona service (tangga, lift &
sanitasi) :
a. Penempatan di satu sisi bangunan (di luar massa bangunan) : nomor 1, 2 dan 7.
b. Penempatan di satu sisi bangunan (di dalam massa bangunan) : nomor 3, 4 dan 5.
c. Penempatan pada sudut di dalam massa bangunan : nomor 6, 10, 12 dan 15.
d. Penempatan pada ujung ruangan di dalam massa bangunan : nomor 8, 9, 11, 12, dan
14.
e. Penempatan di tengah-tengah (core) massa bangunan : nomor 17, 18, 19, 20 dan 21.

Bentuk massa bangunan berdasarkan penerapan sirkulasi di dalam bangunan (koridor) :


a. Sistem ‘single loaded’: nomor 7, 8, 9 dan 11. Kelemahan dari system ini, satu sisi dari
ruang efektif (ruang kerja) tidak mendapatkan cahaya alami secara optimal karena
terhalang oleh koridor. Ukuran lebar dari ruang efektif menjadi terbatas.
b. Sistem ‘double loaded’: nomor 9, 10, 12, 13, 14, 15, 16, 17, 18, 19 dan 20. Kelemahan
system ini, koridor bangunan sebagai sarana sirkulasi utama tidak mendapatkan cahaya
alami sehingga sepanjang waktu kerja harus mengandalkan cahaya buatan.

Bentuk massa bangunan berdasarkan lokasi.


Seberapapun luasan lokasi perencanaan, tetap ada batasan yaitu sisi-sisi dari lokasi. Bentuk
topografi lokasi/tapak perencanaan tidak mesti rapih dan beraturan seperti persil atau
kavling pada komplek perumahan, adakalanya tidak beraturan karena kondisi lingkungan.
Untuk mengatasi kendala bentuk lokasi ini, maka harus diadakan pemililhan dan penentuan
bentuk massa bangunan yang menyesuaikan terhadap eksisting dari lokasi, yang tentunya
melalui koordinasi dengan Pemberi Tugas. Beberapa alternative bentuk massa bangunan

PT. ALOCITA MANDIRI 5-36


JASA KONSULTANSI PERENCANAAN PEMBANGUNAN PUSKESMAS
SUKAMANAH

adalah seperti berikut :

C. ANTROPOMETRI RUANG KERJA

1. Ruang Kerja Pimpinan.

Ruang kerja pimpinan merupakan ‘private office’ atau ruang kerja yang bersifat pribadi,
yang secara fisik ruang terisolir oleh 4 (empat) sisi dinding massif (pasangan bata atau
partisi). Di dalam ruang kerja yang dilengkapi kursi tamu dan ruang rapat terbatas yang
dapat beralih fungsi untuk menerima tamu:

1.1. Dimensi Ruang Kerja Pimpinan

Untuk dimensi persyaratan perencanaan ruang kerja pimpinan dapat digunakan


persyaratan berikut ini :

PT. ALOCITA MANDIRI 5-37


JASA KONSULTANSI PERENCANAAN PEMBANGUNAN PUSKESMAS
SUKAMANAH

Apabila area kerja pimpinan ditempatkan credenza atau lemari arsip, maka dipergunakan
persyaratan sebagai berikut :

1.2. Dimensi Ruang Rapat Terbatas

Di dalam ruang kerja pimpinan lazimnya diperlukan area/space untuk ruang rapat
terbatas yang dapat berfungsi juga sebagai ‘lounge’, dengan persyaratan dimensi ruang
sebagai berikut :

PT. ALOCITA MANDIRI 5-38


JASA KONSULTANSI PERENCANAAN PEMBANGUNAN PUSKESMAS
SUKAMANAH

2. Ruang Kerja Staff

Ruang kerja staff dapat dikelompokkan melalui zona/area yang sejenis/bidang


pekerjaannya, sehingga ‘space’ kerja pegawai yang sejenis pekerjaannya di tempatkan
bersama pada satu ruang. Untuk modern pemisahan ‘space’ kerja pegawai diselesaikan
melalui penggunaan/pemakaian perangkat ‘work station’ yang tata ruang letaknya diatur
melalui ‘cubical’.

2.1. Dimensi Ruang Kerja Staff

Untuk 1 (satu) orang pegawai/staff, dapat digunakan dimensi persyaratan perencanaan


ruang kerja berikut ini :

PT. ALOCITA MANDIRI 5-39


JASA KONSULTANSI PERENCANAAN PEMBANGUNAN PUSKESMAS
SUKAMANAH

Apabila area kerja staff ditempatkan credenza atau lemari arsip, maka dipergunakan
persyaratan sebagai berikut :

PT. ALOCITA MANDIRI 5-40


JASA KONSULTANSI PERENCANAAN PEMBANGUNAN PUSKESMAS
SUKAMANAH

3. Ruang Rapat
3.1. Standar

PT. ALOCITA MANDIRI 5-41


JASA KONSULTANSI PERENCANAAN PEMBANGUNAN PUSKESMAS
SUKAMANAH

Pada perencanaan Renovasi Rumah Negara Di Wilayah DKI Jakarta Paket B yang modern,
selain dikenal menggunakan rak, filling cabinet, lockers juga dapat digunakan ‘mobile file’
yang memang memerlukan biaya pengadaan yang lebih mahal, untuk penyimpanan
dokumen dan peralatan perkantoran. Berikut ini adalah spesifikasi standar dari sebuah
‘mobile file’ :
a. Ukuran :
Tinggi : 222 cm.
Panjang : 332 cm.
Lebar : 200 cm.
b. Setiap Unit terdiri :
1 bh Lemari Tunggal Dinamis, 2 Bay
2 bh Lemari Ganda Dinamis, 2 Bay
1 bh Lemari Tunggal Statis, 2 Bay
c. Bahan :
Pelat baja, tebal minimal 0,8 mm (untuk seluruh dingding dan papan baja). Untuk rangka
(chasis) tebal 2,3 mm.
d. Lemari :
- Dilengkapi dengan papan baja 4 buah per lemari.
- Papan baja berbentuk profil tertutup (box section) dengan Daya beban 100 kg,
ketinggian dapat di atur pada setiap jarak 2,5 cm.
- Papan baja dapat diganti dengan penggantung-T yang terbuat dari alumunium
profill.
- Papa baja / Penggantung-T dilengkapi 4 (empat) buah kaitan yang terbuat dari baja
per CK 67.
- Mengguanakan panel tembahan untuk menambah estetika.
e. Penguncian :
Pada lemari tunggal dinamis di lengkapi dengan kunci yang merupakan penguncian sentral
dengan 2 buah anak kunci.
f. Pencatatan :
Bagian-bagian yang terbuat dari pelat baja diproses pretreatment 5 tahap sebagai
perawatan anti karat :

PT. ALOCITA MANDIRI 5-42


JASA KONSULTANSI PERENCANAAN PEMBANGUNAN PUSKESMAS
SUKAMANAH

1. Degreasing
Proses pembersuhan minyak, lemak, kotoran dan mineral pada permukaan logam
sebelum dicat. Aplikasi yang di gunakan adalah Hot Spray & Dosing Pump yaitu proses
penyemprotan dengan tekanan 1,2 bar dan menggunakan bahan kimia pada suhu yang
panas (500C).
2. Rinsing
Proses pembilasan setelah tahap degreasing. Aplikasi yang digunankan adalah normal
Spray yaitu proses pembersihan / pembilasan dengan melakukan penyemprotan yang
menggunakan air (treated water) pada 350C.
3. Phospating
Setelah proses rinsing dimana logam telah benar-benar bersih dari segala macam
kotoran, maka proses selanjutnya adalah phospating yaitu pelapisan permukaan logam
dengan phospat sebagai anti karat dan meningkatkan daya lekat. Aplikasi yang
digunakan adalah Hot Spray & Dosing Pump
4. Rinsing
Proses pembilasan kembali setelah tahap degreasing. Aplikasi yang di gunakan sama
seperti tahap rinsing sebelumnya.
5. Demineralisasi
Adalah tahap akhir pada pada proses pre-treatment yaitu proses Pembilasan dengan
menggunakan air bebas mineral untuk Memastikan komponen / logam benar-benar
bersih dan bebas dari mineral dan kotoran lainnya. Yang kemudian dicat Powder Coating
secara elektro statis.
g. Tempat Etiket :
- Tempat etiket terbuat dari plastik transparan dengan kertas Etiket ukuran A6, yaitu
10,5(T) x 14,8(L) cm.
- Lemari tunggal dilengkapi 1 (satu) buah etiket dan lemari Ganda dilengkapi dengan
2(dua) buah etiket.
h. Roda :
- Roda penghantar (berbentuk cekung), ukuran diameter luar 122 mm, diameter
dalam 20 mm.
- Jumlah roda bagi setiap Lemari Dinas, dengan lebar (L) = 200 cm :
- Roda penghantar = 4 buah
-

PT. ALOCITA MANDIRI 5-43


JASA KONSULTANSI PERENCANAAN PEMBANGUNAN PUSKESMAS
SUKAMANAH

i. Rel
- Rel penghantar bagi Roda Penghantar, terbuat dari baja pejal 21 (T) X 60 (L) mm
berbentuk cembung
- Jumlah rel bagi ROLL-O-PACT dengan ukuran lebar (L) = 200cm
- Rel Penghantar= 2 buah
j. Landasan :
Landasan menggunakan Multipleks lapis karpet Adalah tahap akhir pada pada proses pre-
treatment yaitu proses Pembilasan dengan menggunakan air bebas mineral untuk
Memastikan komponen / logam benar-benar bersih dan bebas dari mineral dan kotoran
lainnya. Yang kemudian dicat Powder Coating secara elektro statis.
k. Penggerak:
Sistim mekanis, dengan bantuan rantai. Perlengkapan pada sistem rangka (chasis) :
• Handle putar dari polyrutehane diameter O 405 mm.
• Box rantai
• As.
• Roda gigi O 118 mm
Perlengkapan pada lantai :
• Rantai.
• Profil pengamanan rantai, terbuat dari alumunium.

SARANA UNTUK DIFABLE / DISABILITAS.


Perencanaan Renovasi Rumah Negara Di Wilayah DKI Jakarta Paket B hendaknya
memperhatikan dan mengakommodir sarana untuk difabel/ disabilitas, terlebih fungsi dari
gedung ini selain sebagai area kerja pegawai, juga sebagai area pelayanan pegawai kepada
mahasiswa, yang tentunya tidak dapat melarang apabila mahasiswa penyandang cacat
bermaksud memasuki bangunan ini.
Sarana utama bagi difabel/disabilitas pada bangunan ini adalah sirkulasi dan toilet. Berikut
ini adalah beberapa persyaratan terkait sirkulasi dan toilet difabel/disabilitas (American
National Standard Specifications For Making Building and Facilities Accessible to and Usable
by Physically Handicapped People) :

PT. ALOCITA MANDIRI 5-44


JASA KONSULTANSI PERENCANAAN PEMBANGUNAN PUSKESMAS
SUKAMANAH

DINDING NON PERMANEN.


Yang dimaksud dengan dinding non permanen adalah dinding atau penyekat ruangan yang
konstruksi/rangka dan penutupnya tidak dilaksanakan menggunakan material/bahan yang
massif atau solid (pas. Bata atau pas. Beton).
Dinding non permanen lazimnya diistilahkan sebagai ‘partisi’. Ada 2 (dua) jenis partisi yang
biasa diterapkan pada bangunan yaitu :

PT. ALOCITA MANDIRI 5-45


JASA KONSULTANSI PERENCANAAN PEMBANGUNAN PUSKESMAS
SUKAMANAH

• Partisi ‘open view’, yaitu partisi terbuka dengan rangka dari profil alumunium dan penutup
partisi menggunakan kaca.
• Partisi ‘close view’, yaitu partisi tertutup dengan rangka dari besi hollow galvanis dan
penutup partisi dari panel (multiplek atau gypsumboard).
Kelebihan dari penggunaan partisi pada bangunan adalah kecepatan dalam pelaksanaan
fisiknya dan kemudahan dirubah bila terjadi ‘relayout’ pada ruangan.
Konstruksi partisi adalah seperti gambar-gambar di bawah ini :

ANALISIS FISIK DASAR

A. Topografi
Kawasan berkontur dalam pengembangannya menyangkut tentang lay out massa
bangunan. Pada dasarnya lay out massa bangunan pada topografi lereng ada 3, yaitu :
1. Above-ground (bangunan diatas permukaan tanah)
2. Semi bellow-ground (bangunan sebagian di bawah permukaan tanah)
3. Bellow-ground (bangunan di bawah permukaan tanah)
Terdapat 4 pendekatan dalam pengolahan kawasan pada bentuk massa bangunan yang
dibangun pada kawasan berkontur, diantaranya adalah:
a. Pengurugan ( Land Fill )
Pembentukan permukaan dibuat sedemikian rupa sehingga terbentuk permukaan yang
datar. Beberapa masalah yang ada, antara lain :
a) bahan untuk urugan biasanya mahal,
b) kemiringan permukaan yang di ubah menjadi datar menghabiskan lahan,

PT. ALOCITA MANDIRI 5-46


JASA KONSULTANSI PERENCANAAN PEMBANGUNAN PUSKESMAS
SUKAMANAH

c) kemungkinan erosi lebih besar,


d) pengurugan dapat menimbulkan masalah struktur seperti penurunan bangunan.
b. Mengiris ( Cut )
Pengirisan merupakan kebalikan dari pengurugan, dibentuk oleh penggalian daerah datar
yang stabil, kemungkinan erosi dikurangi, dan kemiringan dapat menjadi lebih miring lagi.
Masalah yang ada hanya bagaimana membuang tanah yang dipindahkan.
c. Mengiris dan mengurug ( Cut and Fill )
Mengiris dan mengurug ini merupakan pemecahan yang seimbang. Jika struktur didirikan
pada daerah yang diiris, dan parkir, jalan, atau aktivitas lain dipindahkan pada daerah yang
diurug, maka suatu rencana penjenjangan ( grading ) yang seimbang dapat dibuat.
d. Pondasi bertahap-tahap ( Stepped )
Peletakan masa bangunan diatas sebuah kemiringan dengan pondasi beton yang dibuat
bertahap-tahap dapat dilakukan untuk menciptakan kesan kemiringan mengikuti kondisi
lahan.

B Iklim
Bangunan dan konstruksinya dibutuhkan manusia antara lain untuk menghadapi pengaruh
iklim. Faktor penting untuk membangun perlindungan terhadap cuaca dan iklim tersebut
ialah penyinaran, suhu, kelembaban udara, ventilasi dan sebagainya. Rancangan untuk
mengendalikan iklim dan menghematkan energi secara serempak memberikan suatu
lingkungan yang menarik dan berbagai pengalaman bagi pemakai yang dapat diselesaikan
jika perancang memahami elemen-elemen yang diperlukan dalam hal pengendalian
Ke dua tingkatan utama dimana rancangan bagi iklim terjadi adalah iklim makro (zona iklim
wilayah yang luas) dan iklim mikro (variasi-variasi iklim spesifik topografi berskala kecil
pada zona-zona yang lebih luas tersebut). Suatu tingkatan ketiga, iklim meso berlaku pada
suatu daerah yang lebih kecil daripada sebuah wilayah tetapi lebih luas daripada sebuah
topografi tunggal. Masing-masing oleh karena itu mempunyai iklim mesonya sendiri-sendiri
dan dalam masing-masing kota topografi-topografi spesifik mempunyai iklim mikro yang
berbeda-beda.
Pada skala besar, topografi, radiasi matahari, dan angin bergabung untuk menghasilkan
iklim mikro yang menekankan karakteristik-karakteristik tertentu dari iklim makro daerah
tersebut, iklim mikro ini membuat beberapa lokasi di dalam topografi lebih dikehendaki
daripada lainnya, tergantung kepada iklim makro. Iklim mikro yang menyenangkan yang

PT. ALOCITA MANDIRI 5-47


JASA KONSULTANSI PERENCANAAN PEMBANGUNAN PUSKESMAS
SUKAMANAH

tercipta oleh topografi dapat dipergunakan untuk menentukan letak grup bangunan.
Pertimbangan ini adalah jauh lebih penting untuk ruang-ruang eksterior atau bangunan
yang didominasi beban kulit, dimana beban pemanasan dan penyejukan dipengaruhi
terutama oleh iklim, daripada untuk bangunan yang didominasi beban internal dimana
kebutuhan-kebutuhan pemanasan dan penyejukan dipengaruhi terutama oleh berapa
banyak panas ditimbulkan pada bangunan dan yang mempunyai suatu kebutuhan
penyejukan di sebagian besar waktu.

Tujuan perancangan umum untuk tiap wilayah iklim adalah :


• Dingin – Memaksimumkan efek-efek penghangatan dari radiasi matahari dan
mengurangi dampak angin musim dingin.
• Sedang – Memaksimumkan efek-efek penghangatan dari matahari di musim dingin.
Memaksimumkan keteduhan di musim panas. Mengurangi dampak musim dingin tetapi
memungkinkan sirkulasi udara di musim panas.
• Panas kering – Memaksimumkan keteduhan dan meminimumkan angin.
• Panas lembab – Memaksimumkan keteduhan dan angin.

Iklim pada semua tingkatan zona adalah tercipta oleh interaksi dari empat faktor utama.
Ke empat faktor utama tersebut adalah pola-pola angin, radiasi matahari, suhu, dan hujan.
Perhubungan timbal balik dari topografi, adalah sebuah faktor berpengaruh yang kelima.
Memahami bagaimana iklim mempengaruhi kondisi-kondisi topografi dan pada akhirnya
rancangan memerlukan diskusi pendahuluan dari masing-masing faktor-faktor iklim secara
sendiri-sendiri, diikuti oleh diskusi dari interaksi di antara mereka. Aspek lingkungan yang
dapat mempengaruhi kenyamanan di dalam bangunan, antara lain aspek penghawaan,
aspek terang alami, aspek thermal (panas), gangguan suara (noise) dan penggunaan
material lokal.

ANALISIS TAUTAN TAPAK (CONTEXT ANALYSIS)

Metode analisis tapak penyusuan perencanaan gedung ini menggunakan teknik


superimpose atau overlay diagram informasi. meliputi (1) tautan lokasi dalam tata wilayah,
(2) ketinggian tempat, (3) kemiringan, (4) litologi, (5) jenis tanah, (6) hidrologi, (7) iklim,
(8) vegetasi (9) zona rawan bencana dan kontektual terhadap komponen-komponen

PT. ALOCITA MANDIRI 5-48


JASA KONSULTANSI PERENCANAAN PEMBANGUNAN PUSKESMAS
SUKAMANAH

perancangan Hamid Sirvani.


A. ANALISIS TOPOGRAFI
Analisis bentuk dasar permukaan tanah atau struktur topografi suatu tapak merupakan
sumber daya yang sangat mempengaruhi lokasi. Pemahaman lengkap terhadap struktur
topografi tidak hanya memberi petunjuk terhadap pemilihan rute lintasan tetapi juga
menyatakan susunan keruangan dari tapak dan kestabilan pondasi.

Kriteria Tingkat Kesesuaian Tapak Menurut Klasifikasi Kemiringan Lahan


KEMIRINGAN TINGKAT KESESUIAN
KLASIFIKASI
LAHAN PENGEMBANGAN TAPAK
0 - 8% Datar Sangat baik
9 – 15% Landai Baik
15 - 25% Agak curam Terbatas
26 – 40% Curam Sangat terbatas
> 40% Sangat curam Mutlak konservasi
Sumber : Pedoman Perencanaan Teknis, 1990.

Kriteria Kesesuaian Peruntukan Tapak Menurut Daftar Kemiringan Lahan


Mabbery
KESESUIAN PERUNTUKAN KEMIRINGAN (%)
LAHAN 10- 15- 30-
0-3 3-5 5-10 >40
PERKOTAAN 15 30 14
RTH dan Rekreasi umum       
Bangunan Terstruktur    
Perkotaan Umum    
Perumahan    
Pusat perdagangan/ Jasa  

PT. ALOCITA MANDIRI 5-49


JASA KONSULTANSI PERENCANAAN PEMBANGUNAN PUSKESMAS
SUKAMANAH

Industri  
Sistem Septik  
Jalan Umum  
Jalan Raya  
Jalan Kereta Api 
Lapangan Terbang 
Sumber : Diolah berdasarkan daftar Mabbery.

3 Kriteria Penggunan Komponen Tapak Berdasarkan Kemiringan Lahan


Slope in
Area Function percent
Max Min
Streets and 1%
drives 5%

8%
.05%

Ramps 15%
10%

1%
NA
Walkways 4%
approaches 1%
and entrances
5%
0.5%

Services area 8%
and 0.5%
Collector walks
0.5%
10%

Terrace and 2%
sitting area 1%

2% 0.5%
Lawn area and 2%

PT. ALOCITA MANDIRI 5-50


JASA KONSULTANSI PERENCANAAN PEMBANGUNAN PUSKESMAS
SUKAMANAH

Slope in
Area Function percent
Max Min
playground 3%

4% 0.5%
Swales
10% 1%

Grassed banks 33% NA


(3:1)

25% NA
(4:1)
Planted banks
(unmoved 50% NA
vines or ground 2:1
cover)s NA

B. ANALISIS KONDISI JENIS TANAH


Pemahaman terhadap kondisi tanah, yang tergantung pada (1) bahan induk, (2) topografi,
(3) iklim, (4) gaya biotik, dan (5) waktu, akan memberi gambaran terhadap kemampuan
tapak bagi konstruksi. Pemahaman yang ekstensif terhadap kondisi tanah pada sebuah
tapak akan membantu untuk menentukan kesesuaian tapak dalam menunjang bangunan.
Kriteria Tingkat Kesesuaian Tapak Menurut Jenis Dan Sifat Tanah
TINGKAT
JENIS TANAH SIFAT
KESESUIAN
Alluvial Geysol, Planosol, Hidromorf Kelabu,
Tidak peka Sangat baik
Laterik air tanah
Latosol Agak peka Baik
Brown Forests Oil, Non Calcic Kurang Peka Kurang baik
Brown,Mediteran
Andosol, Laterite, Grumusol, Spodosol,
Peka Tidak baik
Podsolic
Sangat Tidak
Regosol, Litosol, Organosol, Renzina Sangat Peka
baik
Sumber : Pedoman Perencanaan Teknis, 1990.

PT. ALOCITA MANDIRI 5-51


JASA KONSULTANSI PERENCANAAN PEMBANGUNAN PUSKESMAS
SUKAMANAH

100% liat

90 10

80 20

70 30

Liat

Pe
iat

nin
nl
60 40

rs e

g
ka
pe

ta n
tan

pe
50

gka
50

rse
Liat
Kedalaman
nin

nd
Liat Debuan

Pe

eb
Pasiran
Efektif

u
40 60
Lempung
Lempung Lempung
> 90 Cm 30 Lempung
Liat Liat Debuan
70
Liat
Pasiran
20 80
Lempung
Tanah Debu
Gemuk Lempung
10 90
Pasir
Pasir Debu
Pasir Lempung
0
90 80 70 60 50 40 30 20 10 0
100% pasir
100% debu
Peningkatan persen pasir

C. ANALISIS KONDISI HIDROLOGI


Jenis dan kualitas air pada suatu tapak merupakan sumber daya yang penting. Akan tetapi
yang lebih penting adalah pertimbangan sistem hidrologis atau tata air yang saling
berkaitan. Air permukaan dan pola drainase akan sangat mempengaruhi site plan dan
konstruksi. Aspek yang perlu diperhatikan adalah kawasan tepian air (water front) meliputi
pantai dan sempadan sungai, penanganan banjir dan genangan. Kemampuan tata air yang
perlu diperhatikan :
Pola drainase.
Kuantitas dan kualitas air tanah (sumur) dengan parameter-parameter sesuai
Permenkes Nomor 416 Tahun 1990.

D. ANALISIS KONDISI KLIMATOLOGI


Kondisi klimatologi yang perlu diteliti dalam rancang tapak adalah curah hujan dan pola
aliran angin. Curah hujan mempengaruhi kesesuaian lokasi terhadap jenis peruntukan
tapak. Pola aliran angin mempengaruhi sikap bangunan terhadap pola aliran angin.

PT. ALOCITA MANDIRI 5-52


JASA KONSULTANSI PERENCANAAN PEMBANGUNAN PUSKESMAS
SUKAMANAH

Kriteria Tingkat Kesesuaian Tapak Menurut Curah Hujan


CURAH HUJAN DAYA DUKUNG TAPAK
KLASIFIKASI
(mm/hari) PERKOTAAN
< 13,6 Sangat rendah Sangat baik
13,6 – 20,7 Rendah Baik
20,7 – 27,7 Sedang Kurang baik
27,7 – 34,8 Tinggi Tidak baik
> 34,8 Sangat tinggi Sangat tidak baik
Sumber : Berdasarkan kriteria Kepres. NO.32/ 1990

E. KONDISI VEGETASI DAN BUFFER KEBISINGAN


Sumber daya estetika sangat berperan dalam penentuan tapak. Sumberdaya ini ditentukan
oleh keragaman bentuk permukaan tanah, pola vegetasi dan air permukaan. Demikian pula
definisi keruangan, vista pemandangan maupun citra yang timbul dari ciri tersebut.
Kriteria Penentuan Satuan Lahan Berdasarkan Kondisi Vegetasi
Jenis dan Besarnya Kestabilan
Erosivitas Daya Serap Air
Penutup Tanah Lahan
1. Tanaman Penutup :
- > 50 % Stabil Rendah Besar
- 20 – 50 % Agak Stabil Sedang Sedang
- < 10 % Tidak Stabil Tinggi Kecil
2. Tanaman Keras :
- > 50 % Stabil Rendah Besar
- 20 – 50 % Agak Stabil Sedang Sedang
- < 10 % Tidak Stabil Tinggi Kecil

ANALISIS KOMPONEN TATA BANGUNAN


A. Analisis Figure/Ground
Metode analisis figure-ground adalah alat yang baik untuk meng-identifikasikan hubungan
pola, tekstural, dan tipologi massa bangunan dan ruang. Metode ini termasuk dalam metode
analisis visual ; mencoba menganalisis gambar hitam-putih. Langkah-langkah dalam
menganalisis figure-ground sangat sederhana yaitu :

PT. ALOCITA MANDIRI 5-53


JASA KONSULTANSI PERENCANAAN PEMBANGUNAN PUSKESMAS
SUKAMANAH

Tahap membuat figure (gambar) yang dinamakan dengan elemen solid.


Blok Tunggal Blok sebagi Tepi Blok Medan

Tipologi masa bangunan (Blok).

a. Tahap membuat ground (latar) yang dinamakan dengan elemen void.

Tipologi elemen ruang (urban void).


Sistem tertutup Sistem terbuka Sistem terbuka
Sistem tertutup
sentral linier
sentral
b. Tahap pengamatan terhadap objek hitam-putih atau figure/ground. Dalam tahapan
ini berlaku teknik Gestalt yaitu cara memandang yang berbeda untuk satu gambar.
Artinya pengamatan bisa dilakukan hanya tertuju hanya pada bagian hitam saja
(figure) atau hanya bagian putih (ground) saja dan atau objek hitam-putih secara
bersamaan.
c. Tahap identifikasi karakteristik pola, tekstur dan tipologi. Dengan cara melihat
hubungan solid dan void secara bersamaan dapat diidentifikasi-kan pola dan tekstur
kawasan. Secara teoritik pola yang dapat di-identifikasikan berupa (1) pola anguler
(menyiku), aksial (sumbu), grid (bersilang tegak lurus), kurva linier (linier), radial
konsentrik (memusat) dan organis (fleksibel).

PT. ALOCITA MANDIRI 5-54


JASA KONSULTANSI PERENCANAAN PEMBANGUNAN PUSKESMAS
SUKAMANAH

Anguler Aksial
Grid

Kurva Linier Radial Konsentris Organis

Pola konfigurasi massa bangunan (solid) dan ruang terbuka (void).

d. Tekstur yang diidentifikasikan dapat meliputi tekstur kepadatan tinggi, kepadatan


sedang dan kepadatan rendah.

Homogen Heterogen Tidak Jelas

Tekstur homogen Tekstur heterogen Tekstur tidak jelas

Tekstur konfigurasi massa bangunan dan lingkungan.

Hasil analisis figure/ground dapat digunakan untuk kegiatan merancang dengan cara
merekayasa secara kreatif bentuk-bentuk dasar berikut.

PT. ALOCITA MANDIRI 5-55


JASA KONSULTANSI PERENCANAAN PEMBANGUNAN PUSKESMAS
SUKAMANAH

B. Analisis Linkage
Metode ini merupakan kelanjutan dari analisis figure-ground yang memberikan tekanan
analisisnya pada karakteristik kesatuan ruang berdasarkan sudut pandang visual,
struktural dan bentuk kolektif. Tahap-tahap analisis visual ini sangat sederhana yaitu :
a) Tahap pertama, mengidentifikasikan elemen-elemen penghubung suatu kawasan.

PT. ALOCITA MANDIRI 5-56


JASA KONSULTANSI PERENCANAAN PEMBANGUNAN PUSKESMAS
SUKAMANAH

b) Tahap kedua, menganalisis pola hubungan yang dibentuk oleh elemen-elemen


tersebut secara visual apakah membentuk hubungan garis atau koridor atau sisi
atau sumbu atau ritme ? Secara struktural apakah merupakan elemen tambahan
atau sambungan atau tembusan ? Secara kolektif apakah membentuk komposisi
atau megaform atau kelompok ?

Tambahan Sambungan Tembusan

Elemen-elemen linkage struktural.

Bentuk Bentuk Mega Bentuk kelompok


Komposisi
Elemen-elemen linkage kolektif.
c) Tahap ketiga, menganalisis lebih lanjut pola hubungan tersebut apakah hubungan
menghubungkan zona netral atau mengutamakan suatu zona ?
d) Hasil analisis linkage ini berupa karakteristik dasar konfigurasi massa bangunan dan
lingkungan dalam perspektif hubungan visual, struktural dan kolektif. Karakteristik
ini dapat dikembangkan menjadi konsep perancangan.

PT. ALOCITA MANDIRI 5-57


JASA KONSULTANSI PERENCANAAN PEMBANGUNAN PUSKESMAS
SUKAMANAH

C. Analisis Place (Makna tempat)


Analisis place merupakan kelanjutan analisis figure-ground dan linkage. Analisis ini
menemukenali karakteristik konfigurasi massa bangunan dan lingkungan dari sudut
pandang makna tempat dalam persepsi manusia dan kebudayaannya melalui tahap sebagai
berikut :
a) Tahap pertama, mengidenifikasikan elemen-eleman kawasan yang mudah dikenali.
b) Tahap kedua, analisis sense of place elemen-elemen tersebut sebagai path (lorong)
atau edges (pembatas) atau nodes (simpul) atau district (kawasan) atau landmark
(tenggaran). Tahap analisis ini sangat bergantung dari pemahaman perancang
terhadap sejarah, fisolofi perancangan, kebudayaan, estetika, kontekstual elemen
dan lingkungan fisik dan sosialnya.
c) Tahap ketiga, hasil analisis ini berupa karakteristik dasar yang dapat dikembangkan
menjadi konsep perancangan.

D. Analisis kepadatan bangunan (KDB)


Koefisien Dasar Bangunan (KDB) adalah angka prosentase berdasarkan perbandingan luas
lantai dasar bangunan terhadap luas tanah perpetakan. Koefisien dasar bangunan
diperlukan untuk membatasi luas lahan yang tertutup perkerasan, sebagai upaya untuk
melestarikan ekosistem, sehingga dalam lingkungan yang bersangkutan sisa tanah sebagai
ruang terbuka masih menyerap atau mengalirkan air hujan ke dalam tanah. Batasan
Koefisien Dasar Bangunan adalah

KDB maks = 100% x FPs x FJl x FLk x FFb x FKl x FTb

Keterangan:
 KDB maks : Koefisien Dasar Bangunan yang diperkenankan untuk
suatu lokasi
 FPs : Faktor penyesuaian lokasi lahan terhadap sistem pusat pelayanan
 FJl : Faktor penyesuaian lokasi lahan terhadap hirarki jalan
 FLk : Faktor penyesuaian luas kapling
 FFb : Faktor penyesuaian fungsi bangunan
 FKl : Faktor penyesuaian kelerengan lahan

PT. ALOCITA MANDIRI 5-58


JASA KONSULTANSI PERENCANAAN PEMBANGUNAN PUSKESMAS
SUKAMANAH

 FTb : Faktor penyesuaian tinggi bangunan


Analisis ini digunakan menilai tingkat intensitas penggunaan lahan dari setiap kegiatan
permukiman pada seluruh kawasan perencanaan. Model yang digunakan adalah sebagai
berikut :

1,903  Log KLB


PL 
0,381
Dimana :
PL = Intensitas kepadatan bangunan
KLB = Koefisien Lantai Bangunan

D. Analisis Ketinggian Bangunan (KLB)


Secara sederhana analisis Koefisien Lantai Bangunan dapat diperoleh dengan metode
perhitungan sebagai berikut :

KLB = Jumlah lantai x KDB

Adapun standar yang digunakan untuk mengatur ketinggian bangunan adalah sebagai
berikut :

PT. ALOCITA MANDIRI 5-59


JASA KONSULTANSI PERENCANAAN PEMBANGUNAN PUSKESMAS
SUKAMANAH

 Blok peruntukan ketinggian bangunan sangat rendah adalah blok dengan


bangunan tidak bertingkat dan bertingkat

 maksimum 2 lantai (KLB maksimum = 2 x KDB) dengan tinggi puncak


bangunan maksimum 12 m dari lantai dasar:

 Blok peruntukan ketinggian bangunan rendah adalah blok dengan bangunan


bertingkat maksimum 4 lantai (KLB max = 4 x KDB) dengan tinggi puncak
bangunan maksimum 20 m dan minimum 12 m dari lantai dasar.

 Blok peruntukan ketinggian bangunan sedang dengan bangunan tingkat


maksimum 8 lantai (KLB maksimum = 8 x KDB) dengan tinggi puncak
bangunan maksimum 36 m dan minimum 24 m dari lantai dasar.

 Blok peruntukan ketinggian bangunan tinggi dengan bangunan bertingkat


minimum 9 lantai (KLB = 9 x KDB) dengan tinggi puncak bangunan minimum
40 m dari lantai dasar.

 Blok peruntukan bangunan sangat tinggi dengan bangunan bertingkat


minimum 20 lantai (KLB = 9 x KDB) dengan tinggi puncak bangunan minimum
84 m dari lantai dasar.

D.1 Perhitungan sudut pandang 450 atau ½ ROW jalan .


Pencahayaan dan angle-Sudut pandang, Tinggi maksimum bangunan pada
umumnya ditentukan berdasarkan ketentuan .

PT. ALOCITA MANDIRI 5-60


JASA KONSULTANSI PERENCANAAN PEMBANGUNAN PUSKESMAS
SUKAMANAH

Analisis Ketinggian Bangunan Berdasarkan sudut kemiringan 45o


Keterangan :
- H1 = Ketinggian bangunan maksimum pada garis sempadan bangunan yang ditentukan
- Bila akan dibangun suatu bangunan dengan ketinggian H2 atau H3, maka jarak minimum
dari sumbu jalan adalah sebesar H2 atau H3
- “X” = Batas ketinggian bangunan yang diperbolehkan (“X” = H3)
- “Y” = Batas ketinggian bangunan yang diperbolehkan (“Y” = H2)

D.2 Perhitungan Keselamatan Penerbangan


Berdasarkan peraturan Kawasan Keselamatan Operasi Penerbangan yang
dikeluarkan oleh Departemen Perhubungan-Direktorat Perhubungan Udara berdasarkan
Kepmen Perhubungan [Link] 49 Tahun 2000, ketinggian bangunan perlu diatur. yaitu:
1. Permukaan Pendekatan dan Lepas Landas
Yaitu permukaan di bawah lintasan pesawat udara setelah lepas landas atau akan
mendarat, yaitu sejauh 15 Km dari ujung landasan dengan kimiringan 2 %. Sebagian
dari kawasan pendekatan dan lepas landas tersebut yang berbatasan langsung dengan
ujung-ujung landasan merupakan Kawasan Kemungkinan Bahaya Kecelakaan, yaitu
sejauh 3 Km dari ujung landasan.
2. Permukaan Horizontal Dalam
Bidang datar di atas dan di sekitar bandara dengan radius 4 Km dari ujung
landasan/permukaan utama dengan ketinggian + 51 m di atas ketinggian ambang
landasan (737,5 dpml), yaitu 788,5 dpml.

PT. ALOCITA MANDIRI 5-61


JASA KONSULTANSI PERENCANAAN PEMBANGUNAN PUSKESMAS
SUKAMANAH

3. Permukaan Kerucut
Bidang miring antara jarak 4 Km sampai 6 Km dari ujung landasan/permukaan utama,
dengan kemiringan 5 % yang menghubungkan tepi luar permukaan horizontal dalam
dengan tepi dalam permukaan horizontal luar.
4. Permukaan Horizontal Luar
Bidang datar di sekitar bandara dengan radius mulai 6 Km sampai 15 Km dari ujung
landasan, dengan ketinggian + 156 meter di atas ketinggian ambang landasan, atau
dengan ketinggian 893,5 dpml.

D.3 Pertimbangan Skyline Kota/Kawasan


SKY LINE, garis yang terbentuk dari pola bangunan diatas tanah sehingga dapat
menimbulkan image lanscaping yang baik/ teratur.

PT. ALOCITA MANDIRI 5-62


JASA KONSULTANSI PERENCANAAN PEMBANGUNAN PUSKESMAS
SUKAMANAH

E. Jarak Bangunan
Yang dimaksud dengan jarak bebas ialah jarak minimum yang diperkenankan dari
bidang terluar suatu massa bangunan ke :
Garis sempadan jalan
Antar massa-massa bangunan
Pagar/batas lahan yang dikuasai dan atau
Rencana saluran, jaringan tegangan listrik , telepon dan sebagainya.

Konsep Jarak Bebas Bangunan

Bangunan Rapat Bangunan Renggang

 Perumahan padat  Konsep rumah kebun


 Urban Renewal  Perumahan terstruktur lama
 Koridor pertokoan dan baru
 Bangunan terstruktur tipe
tunggal (mega struktur)
 Kompleks militer

Bagan Analisis Jarak Bebas Bangunan

Standar Hubungan Antara Tinggi Bangunan, Jarak Bebas, KDB Dan KLB Bagi
Bangunan Renggang (Type Tunggal)
K D B (%) K L B (%)
Ketinggian Jarak
Kurang Tidak Kurang Tidak
Bangunan Bebas Padat Padat
Padat Padat Padat Padat
I 4.00 60.00 60 50 0.6 0.5 0.4
II 4.50 60.00 50 40 1.2 1.0 0.8
III 5.00 60.00 50 40 1.8 1.5 1.2
IV 5.50 60.00 50 40 2.4 2.0 1.6
V 6.00 50.00 50 40 3.0 2.5 2.0
VI 6.50 50.00 45 40 3.6 3.0 2.4
VII 7.00 50.00 45 40 4.0 3.5 2.8
VIII 7.50 50.00 45 40 4.0 3.5 3.0
IX 8.00 45.00 45 40 4.0 3.5 3.0
X 8.50 45.00 45 40 4.0 3.5 3.0

PT. ALOCITA MANDIRI 5-63


JASA KONSULTANSI PERENCANAAN PEMBANGUNAN PUSKESMAS
SUKAMANAH

K D B (%) K L B (%)
Ketinggian Jarak
Kurang Tidak Kurang Tidak
Bangunan Bebas Padat Padat
Padat Padat Padat Padat
XI 9.00 45.00 45 40 4.0 3.5 3.0
XII 9.50 45.00 45 40 4.0 3.5 3.0
XIII 10.00 45.00 45 40 4.0 3.5 3.0
XIV 10.50 45.00 45 40 4.0 3.5 3.0
XV 11.00 45.00 45 40 4.0 3.5 3.0
XVI 11.50 45.00 45 40 4.0 3.5 3.0
Catatan : Ketentuan jarak bebas bangunan renggang diberlakukan pada kondisi perumahan
padat.

Standar Hubungan Antara Tinggi Bangunan, Jarak Bebas, KDB Dan KLB Bagi
Bangunan Rapat
Jarak Bebas K D B (%) K L B (%)
Ketinggian
Kurang Tidak Kurang Tidak
Bangunan Samping Belakang Padat Padat
Padat Padat Padat Padat
I 0.00 4.00 75 60 50 0.75 0.6 0.5
II 0.00 4.50 75 60 50 1.5 1.2 1.0
III 0.00 5.00 75 60 50 2.25 1.8 1.5
IV 0.00 5.50 75 60 50 3.0 2.4 2.0
V 6.00 6.00 60 50 40 3.5 3.0 2.5
VI 6.50 6.50 60 50 40 3.5 3.0 2.5
VII 7.00 7.00 60 50 40 3.5 3.0 2.5
VIII 7.50 7.50 60 50 40 3.5 3.0 2.5
IX 8.00 8.00 50 45 40 4.0 3.5 3.0
X 8.50 8.50 50 45 40 4.0 3.5 3.0
XI 9.00 9.00 50 45 40 4.0 3.5 3.0
XII 9.50 9.50 50 45 40 4.0 3.5 3.0
XIII 10.00 10.00 50 45 40 4.0 3.5 3.0
XIV 10.50 10.50 50 45 40 4.0 3.5 3.0
XV 11.00 11.00 50 45 40 4.0 3.5 3.0
XVI 11.50 11.50 50 45 40 4.0 3.5 3.0
Catatan : Ketentuan jarak bebas bangunan renggang diberlakukan pada kondisi perumahan
padat.

Untuk memproteksi bangunan terhadap bahaya kebakaran dan memudahkan operasi


pemadaman, maka perlu adanya penentuan terhadap jarak antar bangunan yang
ditentukan berdasarkan tinggi bangunan tersebut. Penentuan jarak antar bangunan (garis
sempadan bangunan) antara lain :

PT. ALOCITA MANDIRI 5-64


JASA KONSULTANSI PERENCANAAN PEMBANGUNAN PUSKESMAS
SUKAMANAH

o Tinggi bangunan kurang dari 8 meter, maka jarak minimum antar


bangunan berjarak 3 meter.
o Tinggi bangunan antara 8-14 meter, maka jarak minimum antar bangunan
berjarak 3 s/d 6 meter.
o Tinggi bangunan antara 14-40 meter, maka jarak minimum antar
bangunan berjarak 6 s/d 8 meter.
o Tinggi bangunan lebih dari 40 meter, maka jarak minimum antar bangunan
berjarak 8 meter.
F. Analisis Perpetakan Bangunan
Analisis standar untuk perpetakan bangunan yang terdapat pada setiap blok adalah:
1. Blok peruntukan dan penggal jalan dengan petak klasifikasi I (di atas 2.500 m2)
2. Blok peruntukan dan penggal jalan dengan petak klasifikasi II (1.000-2.500 m2)
3. Blok peruntukan dan penggal jalan dengan petak klasifikasi III (600-1.000 m2)
4. Blok peruntukan dan penggal jalan dengan petak klasifikasi IV (250-600 m2)
5. Blok peruntukan dan penggal jalan dengan petak klasifikasi V (100-250 m2)
6. Blok peruntukan dan penggal jalan dengan petak klasifikasi VI (50-100 m2)
7. Blok peruntukan dan penggal jalan dengan petak klasifikasi VII (di bawah 50 m2)
8. Blok peruntukan dan penggal jalan dengan petak klasifikasi VIII (rumah susun/flat).
F. Analisis Orientasi Bangunan
Analisis orientasi bangunan terhadap best view, penyinaran maahari dan angin sangat
penting dalam rangka menciptakan kualitas lingkungan. Visual dan fungsional dari massa
bangunan tersebut. Terlebih lagi kawasan perencanaan berapa di sekitar pantai dan sungai
yang berpotensi memberikan best view panorama alam yang baik. Dam berada pada zona
rawan bencana angin Gusthi. Sikap bangunan perlu di atur untuk memanfaatkan potensi
maupun meminimalisasi masalah bangunan dan lingkungan.

ANALISIS KOMPONEN RUANG TERBUKA HIJAU


Perhitungan dilakukan untuk memperoleh hasil kebutuhan ruang terbuka hijau di masa
yang akan datang :
a. Kebutuhan RTH Taman Lingkungan / Taman Kota
Mengacu pada standar penyediaan ruang di dalam Inmendagri No. 14 tahun 1988
ditentukan sebagai berikut :
- Taman 250 penduduk dibutuhkan 1 m2 / orang

PT. ALOCITA MANDIRI 5-65


JASA KONSULTANSI PERENCANAAN PEMBANGUNAN PUSKESMAS
SUKAMANAH

- Taman 2.500 penduduk dibutuhkan 0,5 m2 / orang


- Taman 30.000 penduduk dibutuhkan 0,3 m2 / orang
- Taman 120.000 penduduk dibutuhkan 0,2 m2 / orang
- Taman 480.000 penduduk dibutuhkan 0,3 m2 / orang
Standar kebutuhan RTH / orang 2,3 m2 / orang
b. RTH Jalur Hijau Jalan
Kualitas dan kuantitas RTH jalur hijau jalan ditentukan oleh luas jalan, jalur hijau
serta tingkat kerapatan vegetasinya. Model kebutuhan vegetasi ideal adalah sebagai
berikut :

Vo
----- x 100 = Xo
Lj

Dimana : Lj = Luas Jalan


Vo = Luas Jalur Hijau
Xo = Koefisien Liputan Vegetasi

ANALISIS KOMPONEN SIRKULASI DAN PARKIR


Menganalisis seluruh pola-pola pergerakan kendaraan dan pejalan kaki di atas dan disekitar
tapak. Data meliputi lamanya dan beban-beban puncak bagi lalu-lintas kendaraan
lingkungan dan pergerakan pejalan kaki, perhentian bis, tepi-tepi pencapaian tapak,
pembangkit-pembangkit lalu lintas, pencapaian truk servis, dan lalu lintas yang terjadi
sewaktu-waktu (seperti parade agustusan, jalur truk kebakaran, penyelenggaraan konser
pada auditorium yang berdekatan).
Analisis lalu-lintas harus meliputi proyeksi masa depan sejauh yang dapat dibuat.
Perhitungan Kapasitas Ruas jalan dilakukan dengan menggunakan metode Indonesian
Highway Capacity Manual (IHCM 1997 : III-12) untuk daerah perkotaan, dengan formulasi
sebagai berikut :
C = Co x FCw x FCsp x FCsf x FCcs (smp/jam)
Keterangan :
C : Kapasitas ( smp / jam )
Co : Kapasitas Dasar ( smp /jam)
FCw : Faktor koreksi kapasitas untuk lebar jalan
FCsp : Faktor koreksi kapasitas akibat pembagian arah

PT. ALOCITA MANDIRI 5-66


JASA KONSULTANSI PERENCANAAN PEMBANGUNAN PUSKESMAS
SUKAMANAH

(tidak berlaku untuk jalan satu arah )


FCsf : Faktor koreksi kapasitas akibat gangguan samping
FCcs : Faktor koreksi kapasitas akibat ukuran kota
(jumlah penduduk)

Kapasitas Dasar (Co)


Kapasitas dasar Co ditentukan berdasarkan tipe jalan sesuai dengan nilai yang tertera pada
Tabel di bawah ini.
Kapasitas Dasar (Co)
KAPASITAS DASAR
TIPE JALAN KETERANGAN
(SMP/JAM)
Jalan 4 lajur berpembatas median 1,650 per lajur
atau
jalan satu arah
Jalan 4 lajur tanpa pembatas 1,500 per lajur
median
Jalan 2 jalur tanpa pembatas 2,900 total dua arah
median
Sumber : IHCM 1997

Sistem Perparkiran
Tempat parkir yang baik harus berdasarkan standar terkait dengan pola kontruksi,
lokasi dan tingkat pelayanan.
1. Tidak mengurangi daya tarik area sekitarnya. Melainkan senantiasa menciptakan
keseimbangan dengan perkembangan lahan yang berbatasan.
2. Harus memiliki utilitas atau “kemungkinan dilaksanakannya aktivitas” dan
mampu menarik pembeli. Jika tempat parkir dilayani oleh tukang parkir,
pengendara harus sopan sehingga pelayanan menjadi efisien. Jika tempat parkir
melebihi parkir perorangan, maka tempat parkir harus dirancang dengan ukuran
yang lebih besar dan nyaman, sederhana, dengan akses yang baik.
3. Harus dirancang dengan koordinasi menggunakan pendekatan pergerakan lalu
lintas pintu masuk dan keluar untuk jalan kecil atau gang.

PT. ALOCITA MANDIRI 5-67


JASA KONSULTANSI PERENCANAAN PEMBANGUNAN PUSKESMAS
SUKAMANAH

Kapasitas Tempat Parkir


Kapasitas
Lebar area Rencana Jumlah dan
kendaraan/100 kaki dari
parkir (feet) Parkir lebar gang
panjang tempat parkir
o
40 1 baris dari 90 1-22 12
o
50 2 baris dari 45 1-12 14
60 2 baris dari 90o 1-24 24
o
70 1 baris dari 90 1-24 23
o
2 baris dari 30 1-12
o
80 1 baris dari 60 2-12 24
o
2 baris dari 45 2-12
o
90 1 baris dari 45
2 baris dari 45o 2-12 28
o
1 baris dari 45
100 2 baris dari 90o 1-24 38
o
2 baris dari 45 1-12
o
1 baris dari 60 36
o
110 2 baris dari 60 2-14.5 36
o
1 baris dari 60
120 4 baris dari 90o 2-24 48
Sumber : IHCM 1997

Kebutuhan Lahan Diluar Parkir Untuk Perdagangan Atau Komersil


TIPE BANGUNAN
Respara
Kenyama
Bank Bisnis Restoran si
Fasilitas Permain Toko n
dan dan Pelayanan dan
Rekreasi an Pedagang
Perkanto Pelayanan dan Resparasi pelayana
Komersil Bowling Eceran Pedagang
ran Profesional pribadi n
Eceran
pribadi
Ruang Ruang Ruang Ruang Ruang Ruang
Ruang Ruang
Per 100 per Ruang per 100 per 100 Per Per 100
per 100 Per 100
Syarat Sq ft 100 Sq ft Per Sq ft Sq ft tempa Sq ft
Sq ft Sq ft areal
areal areal Gang areal areal t areal
areal lantai lantai
lantai lantai lantai lantai duduk lantai
Minimu
0.08 0.08 0.16 0.33 0.06 0.10 0.06 0.08 0.08
m
Maksimu
1.33 1.33 2.00 10.00 3.00 1.33 2.00 0.50 1.00
m
Barang 0.25 0.33 1.00 5.00 0.50 0.50 1.00 0.25 0.50
Rata- 0.33 0.37 0.79 4.50 0.44 0.44 0.75 0.28 0.40

PT. ALOCITA MANDIRI 5-68


JASA KONSULTANSI PERENCANAAN PEMBANGUNAN PUSKESMAS
SUKAMANAH

TIPE BANGUNAN
rata
Sumber : IHCM 1997

Permukaan Jalan Yang Dibutuhkan Untuk Parkir Dalam Berbagai Kedudukan


Lebar Jalan
yang Panjang
Banyaknya
Kedudukan Lebar Jalan Dibutuhkn Sisi Jalan
Lebar Kendaraan
Kendaraan Yang Untuk Parkir per
Petak Yang Bisa
Terhadap Sisi Digunakan plus Gerak Kendaraa
M Dipakai per
Jalan Untuk Parkir (Manuevering n
30,5 M
) M
M
2,13 Sejajar 2,13 5,18 6,70 4,5
o
45 5,60 9,26 3,44 8,2
o
2,43 60 5,97 11,76 2,80 9,5
o
90 5,48 14,02 2,43 12,5
o
45 5,69 9,05 3,65 7,8
o
2,59 60 6,03 11,52 2,98 9,5
o
90 5,97 13,10 2,59 11,5
o
45 5,82 9,17 3,87 7,37
o
2,74 60 6,69 11,27 3,16 9,0
o
90 5,97 12,49 2,74 11,1

Karakteristik Kendaraan :
Lebar 1,98
Panjang 5,48
Jarak Roda 3,20
Radius putaran 7,08

Ukuran Perparkiran
Ukuran perparkiran disesuaikan dengan ukuran kendaraan, yang pada umumnya
memiliki ukuran 25 sampai 500 atau lebih. Tempat parkir disesuaikan dari 100 sampai
200 kendaraan secara efisien dan praktis. Tempat parkir yang kecil dibuat secara
strategis, biasanya melayani lebih dari satu ukuran tempat parkir.
Kemudahan ruang parkir adalah :
1. Mempunyai jalan masuk sedikitnya lebar 0,1524 m dan panjang yang
berbatasan 6 m, pararel dan mempunyai ruang untuk berdiri.

PT. ALOCITA MANDIRI 5-69


JASA KONSULTANSI PERENCANAAN PEMBANGUNAN PUSKESMAS
SUKAMANAH

2. Mempunyai ruangan untuk berdiri dan jalan masuk dengan permukaan lantai
tidak melebihi 1:48 disemua arah.

Kapasitas Tempat Parkir


Parkir Satu Garis Lebih Dari Satu Garis
Panjan
Lebar
g Lebar Lebar
Lebar Luas temp Luas
pinggi unit Jumlah unit Jumlah
Sud tempa Lebar daerah/ at daerah/
r parki kendara parki kendara
ut t jalan/ga kendara parki kendara
o
jalan/ r an/ r an/
() parkir ng (feet) an (sq r an
kendar (feet acre (feet acre
(feet) feet) (feet (sq feet)
aan ) )
)
(feet)
0 22 8 12 308 28 141 8 308 28 141
20 24.9 14.2 12 502.9 40.4 87 10.1 400.9 32.2 109
25 20.1 15.4 12 430.1 42.8 101 11.4 349.7 34.8 125
30 17.0 16.4 12 380.8 44.8 114 12.7 309.8 37.4 141
35 14.8 17.3 12 344.8 47.6 126 13.7 291.6 39.4 149
40 13.2 18.1 12 318.8 48.2 137 14.8 274.6 41.6 159
45 12.0 18.7 12 296.4 49.4 147 15.8 261.6 43.6 167
50 11.1 19.2 12 279.7 50.4 156 16.6 250.9 45.2 174
55 10.4 19.6 12 266.2 51.2 164 17.2 241.3 46.4 181
60 9.8 19.8 14.5 265.1 54.1 164 17.8 245.5 49.6 177
65 9.4 19.9 17 267.0 56.8 163 18.2 250.9 53.4 174
70 9.0 19.8 20 268.2 59.6 162 18.4 255.6 56.8 170
75 8.8 19.6 23 273.7 62.2 159 18.6 264.9 60.2 164
80 8.6 19.2 24 268.3 62.4 162 18.4 261.4 60.8 167
85 8.6 18.7 24 260.9 61.4 167 18.3 257.6 60.6 169
90 8.5 18.0 24 255.0 60.0 171 18.0 255.0 60.0 171
Keterangan : 1 feet = 0,3048 m

Rencana Pengaturan Fasilitas Parkir Tiap Jenis Kegiatan


PENGGUNAAN STANDAR KEBUTUHAN SATUAN

Wisma
Bangunan flat/apartemen Luas Lantai 90 m2 ke atas 1 unit / 1 mobil
Luas Lantai 90 – 70 m2 2 unit/1 mobil
Luas Lantai 70 m2 ke bawah 5 unit / 1mobil
Bangunan wisma bukan flat Harus menyediakan tempat parkir 1 bgn/ 1 mobil
Karya

PT. ALOCITA MANDIRI 5-70


JASA KONSULTANSI PERENCANAAN PEMBANGUNAN PUSKESMAS
SUKAMANAH

PENGGUNAAN STANDAR KEBUTUHAN SATUAN


Industri & Pergudangan Ruang pabrik/gudang
luas 2000 m2 setiap 200 m2 lantai 1 parkir truk
luas 2000 - 5000 m2 setiap 300 m2 lantai Minimal 10 parkir
luas 5000 m2 ke atas Minimal 17 parkir
Bangunan kantor Ruang kantor setiap 100 m2 1 mobil
Perkantoran setiap 100 m2 lantai 1 mobil
Bangunan toko/perdagangan setiap 100 m2 lantai 1 mobil
Bangunan apotik setiap 100 m2 lantai 1 mobil
Bangunan praktek dokter setiap 20 – 60m2 lantai 1 mobil
Suka
Bangunan Hotel Hotel bintang 4 dan 5 setiap 5 kamar 1 mobil
Hotel bintang 3 dan 2 setiap 7 kamar 1 mobil
Hotel bintang ke bawah setiap 10 kmr 1 mobil
Bioskop Kelas A-1, setiap 7 kursi 1 mobil
Kelas A-2, setiap 10 kursi 1 mobil
Kelas A-3 setiap 15 kursi 1 mobil
Restoran/nite-club Kelas I, setiap 7 kursi 1 mobil
Amusement Kelas II, setiap 15 kursi 1 mobil
Bangunan Pasar Pasar tingkat kota, setiap 100 m2 lantai 1 mobil
Pasar tingkat wilayah setiap 200m2 lantai 1 mobil
Pasar tingkat lingk. Setiap 400 m2 lantai 1 mobil
Bangunan Rumah Sakit VIP, setiap 1 tempat tidur 1 mobil
Kelas I, setiap 5 tempat tidur 1 mobil
Kelas II, setiap 10 tempat tidur 1 mobil
Bangunan Pertemuan Padat, setiap 4 m2 lantai 1 mobil
Non padat, setiap 10 m2 lantai 1 mobil
Bangunan Olahraga Setiap 15 penonton 1 mobil
Bangunan Perguruan Tinggi Setiap 200 m2 lantai 1 mobil
Setiap 100 m2 lantai/kecuali sekolah
Sekolah 1 mobil
Inpres
Sumber : Pedoman Perencanaan Tata Bangunan DTK DKI

ANALISIS KOMPONEN PEDESTRIAN


Penilaian kinerja pada dasarnya untuk mengetahui sejauh mana fasilitas pejalan
mengakomodasi penggunanya. Tingkat pelayanan jalur pedestrian atau level of service
(LOS) merupakan salah satu ukuran penilaian sediaan. Konsep pengukuran yang menjadi
dasar penilaian tingkat pelayanan jalur pedestrian adalah sebagai berikut ;

PT. ALOCITA MANDIRI 5-71


JASA KONSULTANSI PERENCANAAN PEMBANGUNAN PUSKESMAS
SUKAMANAH

Konsep Pengukuran Los Jalur Pedestrian


Dasar
1 Definisi Satuan Rumus
pengukuran
1. Ruang Luas ruang rata-rata yang (m2/ped) 2 Luas trotoar
pejalan tersedia untuk setiap Rata-rata arus pejalan per-menit
pejalan pada jam puncak
2. Jarak yang ditempuh (m/menit) 3 Jarak berjalan yang
Kecepatan pejalan setiap satuan waktu ditempuh
Pejalan 4 Waktu yang dibutuhkan
3. Arus Jumlah pejalan yang Orang/menit 5 (Rata-rata jumlah pejalan
pejalan melewati satu titik tertentu pada jam puncak)
dalam satu unit waktu. Titik 6 (Interval waktu
yang dilalui adalah titik penghitungan arus pejalan)
yang tegak lurus terhadap
lebar trotoar
4. Volume Jumlah pejalan yang Orang/menit/m S
P=
pejalan melewati suatu titik dalam M
satuan waktu dan dalam P = volume (orang/m/menit)
satuan panjang S = kecepatan rata-rata (m/menit)
M = ruang yang tersedia per-orang
(m2/orang)
Sumber : Pignataro (1976)

Kriteria Tingkat Pelayanan Jalur Pedestrian (Los)


Ruang pejalan : > 3,25 m2/orang.
Tingkat Arus : ≤ 23 orang/m/menit
A Pejalan bergerak dalam jalur yang diinginkan tanpa
merubah pergerakannya dalam bereaksi dengan pejalan
lain. Kecepatan berjalan dapat dipilih dan tidak ada
konflik dengan pejalan lain.

Ruang pejalan : >2,3 – 3,25 m2/orang


Tingkat arus : < 23-33 orang/m/menit
B Tersedia ruang yang cukup bagi pejalan untuk memilih
kecepatan berjalannya untuk mendahului dan untuk
menghindari konflik dengan pejalan lain. Pada tingkat ini
pejalan harus mulai memilih jalur berjalannya.

Ruang pejalan : 1,4 – 2,3 m2/orang


C
Tingkat arus : 33 - 50 orang/m/menit
Tersedia ruang yang cukup untuk memilih kecepatan
berjalan yang normal dan mendahului pejalan lain dalam

PT. ALOCITA MANDIRI 5-72


JASA KONSULTANSI PERENCANAAN PEMBANGUNAN PUSKESMAS
SUKAMANAH

arus pergerakan satu arah. Namun bila berjalan


berlawanan arus atau memotong arus pergerakan yang
ada, akan muncul sedikit konflik dan kecepatan akan
semakin berkurang
Ruang pejalan : 0,90 – 1,40 m2/orang
Tingkat arus : 50 - 66 orang/m/menit
Kebebasan untuk memilih kecepatan berjalan dan
D
mendahului pejalan lain terbatasi. Pada saat memotong
atau bergerak melawan arus, kemungkinan konflik akan
tinggi. Untuk menghindari konflik harus merubah
kecepatan dan posisi berjalan. Konflik antara pejalan
sering terjadi
Ruang pejalan 0,45 – 0,90 m2/orang
Tingkat arus : 66 - 82 orang/m/menit
Secara otomatis kecepatan berjalan dibatasi. Pada
E
rentang paling rendah tingkat pelayanan ini, pergerakan
hanya mungkin dengan menyeret kaki. Tidak ada ruang
untuk mendahului pejalan yang bergerak lambat. Arus
pergerakan memotong/membalik masih mungkin terjadi
namun sangat sulit.
Ruang pejalan : ≤ 0,45 m2/orang
Tingkat arus ≥ 82 orang/m/menit
F Semua kecepatan berjalan terhambat. Pergerakan hanya
dapat dilakukan dengan menyeret kaki. Sering terjadi
kontak yang tidak bisa dihindari dengan pejalan lain.
Arus memotong/membalik tidak mungkin terjadi, tampak
seperti antrian.
Sumber : Highway Capacity Manual, 1985, Rubenstein, Harris & Dines (1988), dan
[Link] (1990)

Penentuan Dimensi Jalur Pedestrian


Dalam buku Petunjuk Perencanaan Trotoar (Dep. PU, 1990) kebutuhan lebar trotoar
dihitung berdasarkan volume pejalan rencana. Volume pejalan rencana (V) adalah
volume rata-rata per menit pada interval puncak, interval waktu yang dilkaukan
adalah setiap 15 menit pada jam sibuk. Lebar trotoar dapat dihitung dengan rumus
sebagai berikut :

V
Dimana : W= + N
W = lebar trotoar 35

PT. ALOCITA MANDIRI 5-73


JASA KONSULTANSI PERENCANAAN PEMBANGUNAN PUSKESMAS
SUKAMANAH

V = volume pejalan rencana/dua arah (orang/meter/menit)


N = lebar tambahan sesuai dengan keadaan setempat

Lebar Tambahan Dalam Penentuan Dimensi Trotoar


Lokasi N (meter)
Jalan di daerah pasar 1,5
Jalan di daerah perbelanjaan bukan pasar 1,0
Jalan di daerah lain 0,5
Sumber : Dep. PU, 1990

Lebar Efektif Trotoar


Pedestrian tidak selalu tetap berjalan pada jalur pedestrian yang terencana, zakibat perilaku
ini. Untuk itu perlu direncanakan lebar efektif trotoar yang akan termanfaatkan. Menurut
Buku Petunjuk Trotoar (Dep. PU, 1990), lebar trotoar disarankan tidak kurang dari 2 m.

ELEMEN-ELEMEN ARSITEKTUR

A. Sirkulasi
Manusia dan Pergerakan
Dalam hal sirkulasi adalah penting utuk mengetahui faktor – faktor apa saja yang
mempengaruhi dalam pergerakan manusia. Meliputi faktor-faktor:
1. Faktor yang merancang manusia cenderung bergerak :
a. Bila ada sesuatu yang menyenangkan
b. Bila ada benda yang disukainya
c. Adanya tanda dan petunjuk yang jelas dan mengarah
d. Bila sesuatu mempunyai daya tarik
e. Bila sesuatu yang berbeda
2. Faktor yang merangsang manusia menolak bergerak :
a. Adanya rintangan
b. Ada sesuatu yang tidak menyenangkan
c. Ada sesuatu yang monoton (membosankan)
d. Ada sesuatu yang tidak serasi
e. Adanya bahaya
3. Faktor yang membimbing manusia melakukan gerakan :
a. Adanya pembagi ruang

PT. ALOCITA MANDIRI 5-74


JASA KONSULTANSI PERENCANAAN PEMBANGUNAN PUSKESMAS
SUKAMANAH

b. Adanya tanda – tanda atau simbol


c. Adanya dinding pengarah dan penahan
d. Adanya pola sirkulasi
4. Faktor yang merangsang manusia beristirahat :
a. Kondisi kenikmatan
b. Adanya halangan
c. Kesempatan untuk menangkap view atau detail yang jelas

Untuk penanganan permasalahan sirkulasi, diuraikan tiga azas perancangan sirkulasi


tersebut, diantaranya:
a. Ruang jalan perlu dijadikan sebagai unsur ruang terbuka visual positif dengan cara
:
 Menutupi dan mencari solusi lansekap terhadap tampilan yang kurang
sedap diapndang mata.
 Memberi persyaratan tinggi dan sempadan bagi bangunan yang ada di
pinggir jalan.
 Membangun median jalan bertaman.
 Meningkatkan kualitas lingkungan alam yang terlihat dari jalan.
b. Jalan dapat memberi orientasi kepada para pengemudi kendaraan dan membuat
lingkungan menjadi jelas, dengan cara :
 Memberikan batas yang jelas pada kawasan atau lingkungan yang terlihat
dari jalan.
 Membuat perlengkapan jalan dan pencahayaan sehingga jalan terlihat jelas
di siang maupun malam hari.
 Mangkaitkan unsur jalan dengan obyek pandang penting (vistas) dan
referensi visual (memudahkan untuk mengingat–ingat suatu tempat atau
jalan) ke lahan terdekat atau landmark.
 Membedakan tingkatan jalan dengan pembedaan sempadan, tampilan
ruang jalan dan sebagainya.

B. Kenyamanan Ruang
Pengolahan facade dan atap diperlukan untuk mendapatkan kondisi terang yang
maksimal dengan penghematan energi yang optimal. Sedangkan untuk mengurangi

PT. ALOCITA MANDIRI 5-75


JASA KONSULTANSI PERENCANAAN PEMBANGUNAN PUSKESMAS
SUKAMANAH

dampak panas di dalam ruang, diperlukan pengolahan bukaan untuk mendapatkan


sistem penghawaan yang baik dan berdampak mengurangi panas secara alami.
Dengan memperhatikan pola panas dan terang alami yang diinginkan, perencanaan
bentuk bangunan akan memperhatikan olah facade bangunan melalu olah bukaan,
bentuk atap, warna bangunan yang terang dan tidak silau, serta tata hijau kawasan.

C. Pencahayaan
Pencahayaan pada umumnya menggunakan sumber cahaya alam (pencahayaan alami)
dan juga sumber energi listrik (pencahayaan buatan). Sistem pencahayaan yang dipilih
haruslah yang mudah penggunaannya, efektif, nyaman untuk penglihatan, tidak
menghambat kelancaran kegiatan, tidak mengganggu kesehatan terutama dalam
ruang-ruang tertentu dan menggunakan energi yang seminimal mungkin (Akmal,
2006). Untuk dapat merencanakan sistem pencahayaan yang baik dan tepat, harus
diperhatikan hal-hal berikut ini:
 Kebutuhan dan fungsi ruang, aktivitas dari pengguna (Practical Needs).
 Membantu penampilan (Easy of Performance).
 Kenyamanan (Comfort).
 Keamanan dan keselamatan (Safety).
 Ekonomis (Economy).
 Keperluan dekorasi (Decorative Needs).
 Persyaratan bangunan (Architectural Consideration).
 Kondisi dan udara dalam ruang.
 Letak penempatan lampu.
 Warna-warna dinding (gelap atau terang).

Pencahayaan mempunyai 3 (tiga) fungsi utama, yaitu sebagai sumber cahaya untuk
kegiatan sehari-hari, untuk memberi keindahan dalam desain suatu ruang, untuk
menciptakan kondisi tertentu sesuai dengan karakter dan fungsi ruang. Selain fungsi
utamanya tersebut, pencahayaan juga dapat memberikan nilai lebih dalam suatu
ruang.
Pertama adalah pencahayaan dapat membangun suasana. Dalam sebuah desain, efek
fisik dan psikologis adalah satu kesatuan yang saling mempengaruhi, begitu pula dalam
pencahayaan. Pencahayaan yang terlalu terang akan membuat kita merasa terbangun
dan sangat aktif. Sedangkan pencahayaan yang temaram dan redup menciptakan rasa

PT. ALOCITA MANDIRI 5-76


JASA KONSULTANSI PERENCANAAN PEMBANGUNAN PUSKESMAS
SUKAMANAH

rileks bahkan mungkin mengantuk. Hal tersebut merupakan efek psikologis dalam
bentuk fisik pencahayaan. Suasana ruang dapat diciptakan dari warna dan intensitas
cahayanya.
Kedua adalah pencahayaan dapat membentuk indeks efek warna. Pencahayaan harus
dapat memberi efek warna yang tetap pada benda dan sudut ruang yang ingin
ditonjolkan. Dalam perancangan suatu interior, hubungan antara unsur dinding, lantai,
langit-langit dan unsur lighting mempunyai peranan yang cukup dominan, karena akan
menimbulkan kesan-kesan gembira, ceria, seram, formil, dan sebagainya. (Suptandar,
1999:217)

ASPEK STRUKTUR DAN KONSTRUKSI BANGUNAN

Yang dimaksudkan dengan struktur suatu bangunan adalah bentuk dasar bangunan yang
dipergunakan untuk menampilkan karakter bangunan secara keseluruhan. Kita mengenal
beberapa sistem struktur bangunan seperti grid yang dibentuk dari kolom-kolom
pendukung, shell yang dibentuk dari dinding selubung, tenda yang dibentuk dari sistem
kabel dan tenda penutup, dan lain-lain jenis struktur. Sistem struktur ini dapat dipilih salah
satu atau dikombinasikan untuk mendapatkan karakter tampilan yang diinginkan sesuai
konsep yang disepakati. Selain sistem struktur yang dipilih, faktor konstruksi juga
mempengaruhi penampilan bangunan.

A. Pemilihan Sistem Struktur


Gempa sebagai fenomena alam dapat menyebabkan bencana dan kerusakan. Dengan
demikian perilaku bangunan akibat gempa harus dapat diidentifikasi dan dikuantifikasi
secara teruktur. Identifikasi dan kuantifikasi hanya dapat dilakukan dengan
memahami prosedur desain bangunan tahan gempa. Perkembangan teknologi desain
bangunan gedung tahan gempa terus mengalami perkembangan, terutama setelah
pengalaman kegagalan struktur akibat beberapa gempa kuat di Indonesia.
Perkembangan ini akan mempunyai efek signifikan pada desain dan detailing
bangunan tahan gempa. Berada di daerah gempa beresiko tinggi, maka semua
bangunan di Indonesia idealnya mengikuti persyaratan gempa yang ketat dari
peraturan yang berlaku. Saat ini standard peraturan perencanaan tahan gempa yang
berlaku adalah SNI-03-1726-2002 dan SNI-03-2847-2002.

PT. ALOCITA MANDIRI 5-77


JASA KONSULTANSI PERENCANAAN PEMBANGUNAN PUSKESMAS
SUKAMANAH

Menurut SNI 2847-2002, Pasal [Link]. untuk daerah-daerah dengan resiko gempa
biasa yaitu wilayah gempa 1 dan 2 (seperti Kabupaten Pamekasan), harus digunakan
sistem rangka pemikul momen biasa (SRPMB) dan atau sistem rangka pemikul
momen menengah (SRPMM).

B. Kriteria Desain
B.1. Upper Structure
 Perencanaan upper structure secara garis besar terdiri dari:
1. Perencanaan pelat lantai
2. Perencanaan balok Struktur
3. Perencanaan Balok Anak
4. Perencanaan kolom Struktur
5. Perencanaan Sloof Struktur
6. Perencanaan Ring Balk
7. Perencanaan Struktur Atap

 Perencanaan upper structure terdiri dari:


• Desain awal : estimasi dimensi awal pelat, balok dan kolom
• Beban struktur : perhitungan beban mati, hidup dan gempa
• Analisa struktur : menghitung gaya-gaya dalam, deformasi dan reaksi
• Desain skematik : penentuan dimensi akhir pelat, balok dan kolom
• Desain struktur : mencari jumlah tulangan dan pemeriksaan daktilitas

 Perencanaan harus memenuhi prinsip dasar desain, yaitu:


• Desain kapasitas : Rn > 1S1 + 2S2 + …
“ Gaya-gaya dalam nominal > gaya-gaya dalam ultimit atau Kekuatan >
Beban”. Berlaku untuk semua gaya dalam, yaitu momen lentur, gaya geser, dan
gaya aksial  adalah faktor reduksi kekuatan, i adalah faktor beban 
bervariasi sesuai dengan sifat gaya: Lentur,  = 0.80, Geser dan torsi,  =
0.70, Aksial tarik  = 0.80, Aksial tekan- Lentur dengan spiral  = 0.75, aksial
tekan-Lentur dengan tulangan lain  = 0.70,  bervariasi sesuai dengan sifat
beban dan peraturan

 Beban-beban luar yang akan diperhitungkan adalah: beban mati atau


berat sendiri (D), Beban hidup (L) dan Beban gempa (E).

PT. ALOCITA MANDIRI 5-78


JASA KONSULTANSI PERENCANAAN PEMBANGUNAN PUSKESMAS
SUKAMANAH

Beban mati dan beban hidup ditentukan berdasarkan peraturan yang berlaku dan
memperhatikan fungsi setiap lantai.

Beban gempa ditentukan dengan cara statik ekivalen atau cara dinamis (respon
spektrum) dengan memperhatikan jumlah lantai, DOF, periode getaran, rasio
redaman, mode getaran, drift ratio, sifat tanah dasar dan zone gempa.

 Kombinasi beban yang akan dipakai adalah:


• U = 1.4D

• U = 1.2D + 1.6 L

• U = 1.2D + 1.0 L + 1.0Ex + 0.3 Ez

• U = 1.2D + 1.0 L + 1.0Ez + 0.3 Ex

• U = 0.9D + + 1.0Ex + 0.3 Ez

• U = 0.9D + + 1.0Ez + 0.3 Ex

 Dimensi Penampang
Pendimensian penampang pelat, balok dilakukan secara bertahap yaitu tahap
pertama dengan menentukan dimensi awal berdasarkan pendekatan (ACI 2002:
Concrete Detailing Guide) yaitu:

Balok : L/10 – l/12 (konvensional)

Kolom: Area kolom + P total (gravity load) / (0,33 f’c)

Pelat : L/33 (konvensional) dan L/30 (flat Slab)

Tahap kedua dimensi awal penampang akan dievaluasi lagi berdasarkan prosedur
minimal setelah analisa struktur yaitu dengan pemeriksaan:
 Kewajaran gaya-gaya dalam dan reaksi tumpuan

 Kewajaran ukuran pelat, balok dan kolom

 Defleksi balok dan kolom

 Keabsahan hasil analisa gempa

 Metode Analisis dan Desain

PT. ALOCITA MANDIRI 5-79


JASA KONSULTANSI PERENCANAAN PEMBANGUNAN PUSKESMAS
SUKAMANAH

Analisis struktur menggunakan STAADPRO/SAP2000 dengan analisa 3 dimensi


sedangkan untuk perencanan elemen struktur menggunakan peraturan SNI-03-
2847-2002, SNI 03-1729-2002 dan SNI-03-1726-2002.

 Alat Perencanaan
Pada perencanaan ini digunakan alat bantu komputer dengan beberapa paket
program untuk mempercepat proses hitungan. Paket program yang digunakan
meliputi hitungan untuk menganalisa gaya dalam yang dihasilkan dan program
penulangan balok dan kolom.

1). Program STAADPRO/SAP2000


Program ini dipakai pada analisa struktur untuk menghitung :
 Momen, gaya aksial dan gaya geser yang terjadi pada batang-batang
frame 3 dimensi
 besarnya deformasi horisontal dan vertikal batang/struktur
 penulangan balok dan kolom
 Struktur Atap

2). Desain Penampang Beton dikontrol secara manual :


Menggunakan program excel, yang terdiri dari :
a) Program “PELAT” digunakan untuk menghitung tulangan tarik dan tulangan
bagi pelat lantai dan pelat atap.
b) Program “BALOK” digunakan untuk menghitung tulangan memanjang
balok dan tulangan geser balok.
c) Program “KOLOM” digunakan untuk menghitung tulangan memanjang
kolom, tulangan pengekang dan tulangan geser kolom.
d) Program “PONDASI” digunakan untuk menghitung dimensi pondasi, daya
dukung dan penulangan pondasi.
3). Diagram interaksi M-N kolom
Diagram interaksi kolom digunakan untuk menentukan jumlah tulangan
longitudinal kolom yang harus dipasang pada kolom

B.2. Bottom Structure


Perencanaan dan perhitungan pondasi yang terdiri dari:

PT. ALOCITA MANDIRI 5-80


JASA KONSULTANSI PERENCANAAN PEMBANGUNAN PUSKESMAS
SUKAMANAH

1. Resume Gaya-gaya ekstrim pada pondasi dari 10 kombinasi beban

2. Daya dukung ijin 1 tiang tunggal (qa)

- Diambil dari hasil penyelidikan tanah SPT

- Daya dukung pondasi tiang dihitung dengan persamaan Meyerhoff:

qa = q end / SF1 + q friction/SF2

qa = (40 Nb*Ap) / SF1 + (0,1*N*As)/SF2

di mana:

Nb = harga N-SPT pada elevasi dasar tiang (N<=40)

N1 = harga N-SPT pada 8D di atas ujung tiang

N2 = harga N-SPT pada 2,0D di bawah ujung tiang (0,7D-4D)

N = harga N-SPT rata-rata N1, Nb, N2

As = luas selimut tiang ; Ap = luas penampang tiang

SF = factor keamanan yang ditentukan berdasarkan jenis bangunan dan


pengendalian saat pelaksanaan (Tabel)

Tabel. Faktor Keamanan untuk Pondasi Tiang

Bangunan Bangunan Bangunan


Klasifikasi Struktur
Monumental Permanen Sementara
Probabilitas
10-5 10-4 10-3
kegagalan dapat diterima
FK (pengendalian baik) 2.3 2.0 1.4
FK (pengendalian normal) 3.0 2.5 2.0
FK (pengendalian kurang) 3.5 2.8 2.3
FK (pengendalian buruk) 4.0 3.4 2.8
(Sumber: Reese R O'Neill. 1989 & Pugsley 1966)
3. Diameter dan Konfigurasi tiang
4. Daya dukung ijin 1 tiang dalam kelompok (qu), Ditentukan dengan
persamaan: qu = n x qa. (n adalah efisiensi tiang dalam kelompok
tergantung pada konfigurasi tiang)
5. Kapasitas maksimun 1 tiang dalam kelompok
6. Pile Displacement

PT. ALOCITA MANDIRI 5-81


JASA KONSULTANSI PERENCANAAN PEMBANGUNAN PUSKESMAS
SUKAMANAH

7. Tebal pile cap (geser satu arah dan 2 arah)


8. Gaya-gaya dan momen pada pile cap serta pembesian pile cap
9. Pembesian tiang

C. Spesifikasi Desain
1. Beban Mati + Berat Sendiri (D)
 Beton bertulang : 2400 kg/m3
 Baja : 7850 kg/m3
 Leveling pasir (lantai) : 85 kg/m2
 Penutup lantai + spesi : 87 kg/m2
 Plumbing : 20 kg/m2
 Ducting AC : 30 kg/m2
 Plafon + hanger : 18 kg/m2
 Dinding bata Ringan : 120 kg/m2
 Dinding bata Merah : 250 kg/m2
 Dinding partisi : 25 kg/m2

2. Beban Hidup (L)


 Lantai kuliah : 250 kg/m2

 Pelat Atap : 150 kg/m2

3. Beban Gempa (E)


Perhitungan beban gempa dilakukan dengan ketentuan:
1) Zone gempa : zone 2 berdasarkan peta gempa SNI 03-1726-2002.
2) Analisis Beban Gempa menggunakan analisa dinamis Respon Spektrum
sesuai SNI 03-1726-2002.

3) Model Beban Gempa Dinamis menggunakan Respons Spectrum sebagai


berikut antara lain :

 Arah pembebanan Gempa Orthogonal (100% arah X dan 30% arah Z,


100% arah Z dan 30% arah X))

 Damping = 0,05 (SNI 03-1726-2002)

PT. ALOCITA MANDIRI 5-82


JASA KONSULTANSI PERENCANAAN PEMBANGUNAN PUSKESMAS
SUKAMANAH

 Menurut SNI 03-1726-2002 Pasal 7.2.1 : nilai Ordinatnya harus dikalikan


dengan faktor I/R (I = 1,0 ; R = 5,5). Nilai C antara 0,38 – 0,50 (Wilayah
gempa 2). Percepatan puncak batuan dasar = 0,1

4. Metode Desain
Desain elemen struktur beton menggunakan Capacity Design berdasarkan SNI
03-2847-2002

5. Peraturan
 PPIUG 1987 : Peraturan Pembebanan Indonesia untuk Gedung 1987

 SNI 03-1726-2002: Tata Cara Perencanaan Ketahanan Gempa untuk


Bangunan Gedung

 SNI 03-2847-2002: Tata Cara Perhitungan Struktur Beton untuk Bangunan


Gedung

 SNI 03–1729–2002 : Tata Cara Perhitungan Struktur Baja Untuk Bangunan


Gedung

 ACI Commite 318, 2005, Building Code Requirements for Structural Concrete
and Commentary (ACI 318-05), New York : American Concrete Institute

ASPEK MEKANIKAL, ELEKTRIKAL, DAN PLUMBING


A. Jaringan Drainase.
Jaringan drainase ini berupa saluran-saluran pembuangan air hujan dimana dimensi saluran
dihitung berdasarkan metoda rasional sebagai berikut :
Q = 0.278 C.I.A
Dimana
Q = debit air hujan, m3/detik
C = koefisien aliran
I = curah hujan maksimum tahunan, mm/m2/jam
A = luas area, km2
Koefisien aliran (run off coefficient) untuk berbagai area adalah sebagai berikut:
Padang rumput / taman 0,05 – 0,10
Pedesaan 0,10 – 0,25
Permukiman 0,25 – 0,50

PT. ALOCITA MANDIRI 5-83


JASA KONSULTANSI PERENCANAAN PEMBANGUNAN PUSKESMAS
SUKAMANAH

Daerah sedang 0,50 – 0,70


Daerah padat 0,70 – 0,90
Jalan aspal 0,25 – 0,60
Atap 0,70 – 0,95

Selanjutnya dimensi saluran dihitung berdasarkan hubungan sebagai berikut :


Dimana
A = luas basah saluran, m2
V = kecepatan aliran, m/detik
R = jari-jari hidrolis, m
S = kemiringan saluran, %
n = koefisien manning b = lebar saluran, m
h = tinggi saluran, m

Sebelum dialirkan ke saluran-saluran, sebaiknya dibuatkan sumur- sumur resapan sehingga


air hujan dapat meresap terlebih dahulu ke dalam tanah, baru limpasannya disalurkan.

Contoh sketsa sistem Drainase seperti disajikan pada Gambar.

PT. ALOCITA MANDIRI 5-84


JASA KONSULTANSI PERENCANAAN PEMBANGUNAN PUSKESMAS
SUKAMANAH

B. Jaringan Air Bersih.

Jaringan air bersih ini berupa jaringan pipa-pipa, dimana pipa yang digunakan nantinya dari
jenis Polyprophilyn PPr (PN 10), pipa jenis ini selain live time nya yang bisa mencapai 50
tahun juga higenis. Untuk menyalurkan air bersih dari sumbernya ke tempat-tempat
yang membutuhkan. Kebutuhan air bersih ini bervariasi, dan untuk kebutuhan per orang
perhari dari berbagai jenis hunian/bangunan adalah sebagai berikut (contoh) :

Rumah Sakit Umum 425 liter/ Tempat Tidur/ hari


Laboratorium 150 liter/ Jumlah Staf/ hari Gedung Kantor 150 Liter/ pegawai/ hari (dasar :
SNI 03-7065-2005)

Dimensi pipa dihitung berdasarkan hubungan sebagai berikut :


A. V. Q
Dimana
Q = debit aliran, m3/detik
A = Luas penampang pipa, m2
V = kecepatan aliran, antara 1-3 m/detik

Hambatan akibat gesekan sepanjang pipa dihitung sebagai berikut :


g. V. DL. f. h. f. 2 2
Dimana
hf = kerugian gesekan, m f = faktor gesekan pipa
L = panjang pipa, m
D = diameter pipa, m
g = gravitasi, 9,81 m/detik2

Sedangkan hambatan akibat katub dan fitting dihitung sebagai berikut :


gVKhf22
Dimana K = koefisien hambatan katub/ fitting

Jika sistem pemompaan digunakan, daya pompa dihitung sebagai berikut :


HQP

PT. ALOCITA MANDIRI 5-85


JASA KONSULTANSI PERENCANAAN PEMBANGUNAN PUSKESMAS
SUKAMANAH

Dimana
P = daya pompa, Watt
y = berat jenis air, 9810 N/m3 ・
Q = debit aliran, m3/detik
H = head total, m

Contoh sketsa sistem Air Bersih dapat dilihat pada gambar di bawah

C. Jaringan Air Kotor/ Air Bekas/ Air Limbah.

Dengan jumlah peturasan (daerah basah) yang memenuhi kebutuhan gedung dengan
kapasitas cukup banyak, kapasitas air limbah/ air kotor yang dihasilkan dengan perkiraan
80% dari kebutuhan air bersih. Langkah-langkah yang direncanakan sampai dengan akhir
penggunaan adalah sebagai berikut :

PT. ALOCITA MANDIRI 5-86


JASA KONSULTANSI PERENCANAAN PEMBANGUNAN PUSKESMAS
SUKAMANAH

Limbah cair sebagai salah satu produk limbah yang dihasilkan dari kegiatan setiap
peturasan. Maka perlu dipertimbangkan suatu upaya pengelolaan tertentu dalam mengatasi
persoalan limbahnya. Salah satu cara adalah dengan melakukan pengolahan (minimisasi)
terhadap kandungan parameter limbah cair yang berpotensi mencemari lingkungan sampai
pada batas yang disyaratkan oleh Pemerintah.

Konsep perancangan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) didasarkan atas


pertimbangan-pertimbangan dan tujuan-tujuan sebagai berikut:
・Penyelesaian terhadap permasalahan limbah cair buangan dari setiap peturasan
diselesaikan dengan memperhatikan parameter yang ada.
・Mempertimbangkan kemampuan sumberdaya manusia yang bertindak sebagai pengelola
limbah balai kesehatan. Dengan demikian IPAL akan dirancang untuk memberikan
kemudahan bagi tenaga pelaksananya.
・Hasil olahan/efluen dapat memenuhi persyaratan Baku Mutu Lingkungan
setempat/daerah terutama sesuai untuk kualitas badan air penerimanya.

Berdasarkan perbandingan kesamaan kualitas limbah cair dari berbagai banguanan gedung
di Indonesia, dapat ditarik kesimpulan bahwa parameter kualitas limbah cair terutama
berupa: BOD, COD, NH3 bebas, NO2, Lemak, SS dan pH.

Definisi Air Kotor : Air limpasan yang berasal dari buangan WC/ kamar mandi
Definisi Air Bekas : Air buangan dari washtafel, tempat wudlu atau tempat tempat lain selain
kamar mandi
Pada dasarnya air kotor dan air bekas dapat disalurkan langsung ke Instalasi Pengolahan
Air Limbah (IPAL).
Contoh sketsa sistem Air Kotor dapat dilihat pada gambar di bawah

PT. ALOCITA MANDIRI 5-87


JASA KONSULTANSI PERENCANAAN PEMBANGUNAN PUSKESMAS
SUKAMANAH

D. Sistem Penanggulangan Bahaya Kebakaran

Perencanaan sistem perlawanan kebakaran (Hydrandt) harus mampu melindungi


bangunan, peralatan dan penghuninya dari ancaman kebakaran. Beberapa kriteria yang
harus diperhatikan diantaranya :
・Sistem pemadam kebakaran harus dapat melayani seluruh bagian bangunan
・Pompa pemadam kebakaran (Pompa Diesel, Pompa Listrik dan Pompa Jocky) dan
reservoir
・Hydrant pillars, hydrant box harus ditempatkan dilokasi-lokasi yang mudah dicapai
・Hydrant box harus ditempatkan di dalam bangunan di setiap lantai dengan jumlah
hydrant box yang sesuai dengan perhitungan konsep arsitektur dan luas bangunan
・Volume reservoir air pemadam kebakaran dihitung berdasarkan standar yang berlaku.
・Portable Fire Extinguisher di tempat-tempat yang ditentukan

Beberapa kriteria yang harus diperhatikan dalam perencanaan pemadam kebakaran


diantaranya adalah sebagai berikut :
Sistem pemadam kebakaran tersebut harus dapat melayani seluruh bagian bangunan.
Perlu adanya pompa-pompa khusus pemadam kebakaran dan reservoir. Hidrant pillars,
hydrant box dan Siamise harus ditempatkan di lokasi- lokasi yang mudah dicapai. Jarak
antara dua hydrant pillar tidak melebihi 60 meter.
Hydrant box harus ditempatkan di dalam bangunan di setiap lantai. Jumlah hydrant box
harus dihitung berdasarkan konsep arsitektur dan luas bangunan yang harus dilayani.
Volume reservoar air pemadam kebakaran dihitung/ bisa memback up selama 45 menit
dihitung dari pusat PMK (berdasarkan standar yang berlaku) Portable Fire Extinguisher di
tempat-tempat yang ditentukan.

PT. ALOCITA MANDIRI 5-88


JASA KONSULTANSI PERENCANAAN PEMBANGUNAN PUSKESMAS
SUKAMANAH

Contoh sketsa sistem pemadam kebakaran dapat dilihat pada gambar di bawah

D. Sistem Tata Udara dan Ventilasi

Peralatan Tata Udara dan ventilasi termasuk jaringan instalasinya yang besar peranannya
dalam secara umum terdiri dari :
• Tata Udara dengan penyaringan udara efisiensi tinggi (Hepa Filter)
• untuk pengadilan terpadu dan dilengkapi dengan ventilasi untuk kebutuhan “full fresh
air”.
• Air Coolled Chiller,Air Hndling Unit & Fan Coil Unit
• Unit AC dengan Split System (Wall and Duct Type)
• Ventilasi mekanis (exhaust fan) untuk ruangan-ruangan , dapur,
gudang obat dsb.
• Ventilasi mekanis untuk toilet (exhaust fan).

Pada dasarnya Sistem Air Conditioning dibagi menjadi 2 kelompok yaitu:


a. Pendinginan dengan Air atau disebut juga Water Cooller.
b. Pendinginan langsung dengan freon atau disebut juga Air Coolled

PT. ALOCITA MANDIRI 5-89


JASA KONSULTANSI PERENCANAAN PEMBANGUNAN PUSKESMAS
SUKAMANAH

Peralatan Air Conditioning dan ventilasi termasuk jaringan instalasinya yang besar
peranannya dalam fungsi suatu gedung auditorium secara umum terdiri dari :
 Sistem Air Conditioning dengan Colling Tower,Air coolled.
 Sistem Air Conditioning dengan Split System
 Ventilasi mekanis (exhaust fan dan Intake Fan) untuk ruangan- ruangan, dapur,
gudang,area parkir basemant dsb.
 Ventilasi mekanis untuk toilet (exhaust fan).
Adapun syarat-syarat perencanaan yang harus dipenuhi adalah sebagai berikut :
- Sistem Air Conditioning ruangan disesuaikan dengan penggunaan ruangan
bervariasi diantara 180C-240C.
- Kuantitas ventilasi udara sebesar 15-30 cfm per orang.
- Kelembaban relatif (RH) antara 50-55%.

Sistem dan peralatan Air Conditioning tersebut antara lain adalah :


1. Water Cooller unit/ Chiller Unit:
Untuk memenuhi kebutuhan Air Conditioning di desain menggunakan sistem Air Coolled
atau Water Chiller dengan Load total kapasitas estimasi awal 790 TR (Ton Refrigerant),
agar seluruh ruang bisa terkondisikan dengan maksimal.
Sementara sistem ini untuk mengkondisikan seluruh ruang diperlukan Air Handling Unit
(AHU) terdiri dari condenser dan fan coil. Udara dingin dihembuskan dari fan coil melalui
saluran udara (ducting) untuk disebarkan keseluruh ruang auditorium melalui diffuser atau
linear grill.

PT. ALOCITA MANDIRI 5-90


JASA KONSULTANSI PERENCANAAN PEMBANGUNAN PUSKESMAS
SUKAMANAH

Air Handling Unit

Fan Coil Unit

2. Ducting
Saluran udara (Ducting) direncanakan menggunakan jenis Polyueratan dan Kain (skin)
yang nantinya bisa dimanfaatkan,berikut gambar-gambar ducting:

PT. ALOCITA MANDIRI 5-91


JASA KONSULTANSI PERENCANAAN PEMBANGUNAN PUSKESMAS
SUKAMANAH

PolyUerratan Duct

Area yang tidak dikondisikan dengan AC dilengkapi dengan ventilasi mekanis yang
memasukkan dan mengeluarkan udara, diantaranya untuk :
• Gudang
• Ruang Panel
• Power House
• Ruang Genset
• Toilet
Peralatan yang dipakai dalam sistem ini adalah in take fan dan exhaust fan.
Mengingat besarnya biaya operasi dan pemeliharaan dari penggunaan Air Conditioning,
tidak semua ruang dapat dilengkapi dengan sarana ini. Referensi penggunaan ducting AC
dengan menggunakan bahan poly Uerathan Gambar diagram sistem tata udara dan
Ventilasi dapat dilihat pada gambar berikut

PT. ALOCITA MANDIRI 5-92


JASA KONSULTANSI PERENCANAAN PEMBANGUNAN PUSKESMAS
SUKAMANAH

E. Sistem Elektrikal

Kualitas dan kontinuitas dalam penyediaan daya listrik merupakan kriteria penting dalam
Perencanaan Sistem Kelistrikan. Dengan melihat kebutuhan Daya Listrik ini cukup besar
untuk itu direncanakan mempunyai Power House tersendiri (mulai HVMDP,Transformator
berikut LVMDP dan Capasitor Bank).
Dari Panel Tegangan Rendah (LVMDP) didisteribusikan ke panel-panel induk bangunan
(MDP) dan selanjutnya didistribusikan ke panel-panel Penerangan dan Daya.
Gambar contoh sistem distribusi daya dapat dilihat pada gambar berikut.

PT. ALOCITA MANDIRI 5-93


JASA KONSULTANSI PERENCANAAN PEMBANGUNAN PUSKESMAS
SUKAMANAH

Kriteria penting yang harus dipenuhi di dalam perencanaan sistem kelistrikan diantaranya
adalah kualitas dan kontinuitas dalam penyediaan daya listrik. Selain itu sistem kelistrikan
tersebut harus memenuhi berbagai persyaratan dan kriteria sebagai berikut :
• Kendala Sistem
Tata cara pengoperasian pelayanan pada gedung auditorium menghendaki keandalan yang
tinggi dalam penyediaan daya listrik, aman dari kegagalan dan sesedikit mungkin gangguan
terhadap sistem secara keseluruhan.
• Kemudahan dalam Operasional dan Pemeliharaan
Sistem kelistrikan harus direncanakan sesederhana mungkin untuk memudahkan dalam
operasi dan pemeliharaan.
• Pengaturan Tegangan
Mengingat banyaknya peralatan dengan batas toleransi tegangan tertentu, maka tegangan
sumber listrik harus dapat dipertahankan pada berbagai macam beban.

PT. ALOCITA MANDIRI 5-94


JASA KONSULTANSI PERENCANAAN PEMBANGUNAN PUSKESMAS
SUKAMANAH

• Pemeliharaan
Sistem distribusi kelistrikan harus direncanakan dengan berbagai kemudahan bagi
pemeriksaan dan perbaikan jika terjadi gangguan atau kerusakan.
• Fleksibilitas
Sistem kelistrikan harus direncanakan dengan cukup fleksibel, yang berarti tanggap
terhadap kemungkinan terjadinya penambahan dan perluasan bangunan serta peralatan.
Harus diperhatikan perubahan tegangan listrik, rating peralatan, penambahan ruang
peralatan baru bahkan kemungkinan penambahan beban kelistrikan.
• Biaya Investasi dan Operasional
Sistem kelistrikan harus direncanakan dengan menekan serendah mungkin biaya investasi
dan biaya pengoperasiannya.

Klasifikasi Beban Listrik


Perencanaan sistem kelistrikan harus diawali dengan memperhatikan besaran dan sifat-sifat
beban yang dilayani, termasuk kemungkinan pertumbuhan beban akibat perluasan
bangunan serta jenis peralatan yang ada.

• Beban Penerangan
Standar VA/m2 untuk penerangan tergantung pada tingkat iluminasi dan efisiensi dari
perangkat pelengkapnya. Berdasarkan pada IEEE No. 241, standar tersebut berkisar antara
10 VA/m2 sampai dengan 120 VA/m2. Harga ini terlalu tinggi dan berdasarkan perkiraan
rata-rata penerangan di Indonesia, diambil standar antar 10 VA/m2 sampai 50 VA/m2, atau
rata rata 25 VA/m2 untuk seluruh bangunan.

• Beban Biaya Peralatan


Yang termasuk beban peralatan diantaranya adalah :
- stop kontak
- air conditioning (AC) dan ventilasi
- pompa-pompa
- lemari pendingin
- elevator atau eskalator
- peralatan komunikasi

PT. ALOCITA MANDIRI 5-95


JASA KONSULTANSI PERENCANAAN PEMBANGUNAN PUSKESMAS
SUKAMANAH

Beban ini berkisar antara 30 VA/m3 sampai dengan 130 VA/m2, dan beban keseluruhan
berkisar antara 30% sampai dengan 50% dari seluruh luas bangunan yang ada.
• Perhitungan Beban Listrik
Berdasar rencana luasan bangunan beban keseluruhan tersambung diperkirakan minimum
750 VA-1.500 VA.
• Kategori Pembebanan
Beban listrik untuk bangunan auditorium dibedakan atas tiga katagori sebagai berikut :
• Prioritas Utama (kategori A); beban yang harus disuplai secara kontinu tanpa boleh
terputus sama sekali, baik oleh sumber listrik PLN maupun sumber cadangannya.
• Prioritas Sedang (katagori B); beban yang dilayani secara kontinu oleh sumber listrik
PLN dengan sumber cadangan Diesel- Generator.
• Beban Umum (katagori C); beban yang hanya dilayani oleh sumber listrik PLN saja.
• Jaringan Distribusi dan Sumber Daya Cadangan
Faktor penting yang mempengaruhi perencanaan sistem kelistrikan dan pengaturan
jaringan adalah : karakteristik beban, kualitas pelayanan, ukuran dan konfigurasi bangunan
serta pertimbangan biaya.

• Sedangkan cadangan sumber daya listrik adalah sebagai berikut :


• Diesel-Generator Set
• Sebagai sumber tenaga cadangan (khususnya untuk melayani Peralatan Utama :
Sistem Telephone,Tata Suara dan Tata Cahaya dan sistem air conditioning), digunakan
diesel-generator Set dengan perkiraan kapasitas antara 30% sampai dengan 70% dari
total beban puncak.
• Uninterruptible Power Suplly (UPS)
• UPS sangat penting untuk mensuplai daya listrik cadangan peralatan peralatan serta
peralatan lain seperti alarm kebakaran, PABX serta peralatan komunikasi dan
komputer.

F. Sistem Pencahayaan.

Untuk menghasilkan suatu pencahayaan yang optimal pada bangunan, maka sistem
pencahayaan bangunan tersebut direncanakan dengan baik. Adapun kriteria-kriteria yang
suatu harus harus diperhatikan dalam perencanaan sistem pencahayaan antara lain :

PT. ALOCITA MANDIRI 5-96


JASA KONSULTANSI PERENCANAAN PEMBANGUNAN PUSKESMAS
SUKAMANAH

• Pencahayaan harus disesuaikan dengan fungsi dari ruangan.


• Harus diperhatikan juga dimensi dan detail ruangan untuk memastikan keadaan dan jenis
atap yang akan digunakan, termasuk juga posisi pintu dan jendela, konstruksi atap dan
dinding, serta posisi ducting pendingin udara, yang akan berpengaruh pada posisi
penempatan titik lampu.
• Untuk dapat menentukan tipe dari sistem pencahayaan yang sesuai, perlu juga diketahui
beberapa hal mengenai penyelesaian (finishing) dan lay-out ruangan tersebut. Hal ini
berlaku untuk area kerja maupun area non-kerja. Dalam beberapa kasus, sangatlah
penting untuk mengetahui posisi stasiun kerja (meja, lemari, kursi) secara akurat. Begitu
juga apabila posisi stasiun kerja tersebut harus dapat diubah- ubah.
• Pemilihan sistem pencahayaan, dalam hal ini pemilihan tipe luminaire dan lampu (desain,
warna, dll) pada suatu ruangan/bangunan adalah dipengaruhi juga oleh gaya arsitektural
secara keseluruhan pada ruangan/bangunan tersebut.
• Dalam menentukan jumlah titik lampu yang diperlukan untuk mencapai tingkat
pencahayaan tertentu, perhitungan pencahayaan yang lebih detil akan menjadi sangat
penting, hal ini terkait dengan suasana dekoratif yang diinginkan dalam suatu ruangan
sehingga melibatkan faktor reflektansi dari dinding, atap, lantai serta furniture sesuai
dengan material yang digunakan.
• Anggaran biaya untuk pencahayaan yang telah direncanakan juga penting pengaruhnya
dalam menentukan sejauh mana perencanaan sistem pencahayaan dapat dilakukan.
Untuk memperoleh desain pencahayaan yang terbaik, detail biaya juga menjadi bahan
pertimbangan.
• Pencahayaan di dalam maupun di luar ruangan dihitung dengan menggunakan bantuan
perangkat lunak DiaLux versi 4.4 sehingga didapat hasil yang cepat dan akurat.
Perhitungan didasarkan pada petunjuk yang tercantum dalam standarisasi internasional
CIE mengenai penggolongan kualitas untuk pembatasan tingkat kesilauan dan secara
praktikal mengacu juga pada panduan.
• Kualitas dari fixture luminaire adalah hal yang sangat penting dalam menghasilkan
pencahayaan yang optimal. Kualitas luminaire mencakup kualitas dari segi bahan, proses
pembuatan dan kelengkapan yang menjamin standar proteksi (IP) luminaire tersebut.
Khususnya pada luminaire-luminaire untuk aplikasi diluar ruangan, misalnya luminaire
lampu sorot dan lampu penerangan jalan.

PT. ALOCITA MANDIRI 5-97


JASA KONSULTANSI PERENCANAAN PEMBANGUNAN PUSKESMAS
SUKAMANAH

• Bahan pembuat luminaire harus terbuat dari bahan anti karat dengan proses pembuatan
(penekukan, pengelasan,dll) dilakukan secara teliti. Standar proteksi luminaire adalah
standar internasional yang mengklasifikasian luminaire untuk proteksi terhadap cairan dan
debu/kotoran.

G. Sistem Pengindra Kebakaran.

Bangunan ini juga dilengkapi dengan sistem pengindra kebakaran (Fire Alarm),pada setiap
ruangan nantinya dilegkapi sistem pengindra kebakaran guna untuk mendekteksi dini jika
terjadi kebakaran,adapun detector yang harus ada adalah : Heat detector, ROR
detector,Smoke ditector dan Gas ditector,sistem pengindra kebakaran yang akan
direncanakan adalah sistem semi addressible. Contoh gambar sistem pengindra kebakaran
dapat dilihat pada gambar berikut.

G. Sistem Telekomunikasi

Sistem telekomunikasi yang akan direncanakan yaitu Sistem Telepon (PABX), Sistem Tata
Suara dan Public Adres, dan Sistem Radio Komunikasi. Berikut ini adalah perencanaan
masing-masing sistem yang dapat dikembangkan sebagai berikut :
• Sistem Telepon PABX

PT. ALOCITA MANDIRI 5-98


JASA KONSULTANSI PERENCANAAN PEMBANGUNAN PUSKESMAS
SUKAMANAH

Untuk kelengkapan gedung dan kelancaran komunikasi termasuk untuk menejemen


gedung nantinya,diperlukan sistem telephone yang handal oleh karena itu harus ada
kapasitas line Telkom dengan jumlah yang memadai,sistem telephone PABX seperti pada
gambar.

H. Sistem Penunjang

a. Sistem Komputer.
• Sistem komputer berupa “Local Area Network” diperlukan guna menunjang seluruh
kegiatan informasi dan data gedung. Sistem ini berupa jaringan komputer personal
(PC) sebagai user dengan satu server sebagai bank data diharapkan dapat
meningkatkan manejemen secara keseluruhan.
• Gambar sistem Informasi dapat dilihat pada gambar berikut

PT. ALOCITA MANDIRI 5-99


JASA KONSULTANSI PERENCANAAN PEMBANGUNAN PUSKESMAS
SUKAMANAH

b. Sistem Pentanahan (Grounding System).


Berbagai area di dalam gedung memerlukan sistem pentanahan yang baik, guna
menghindarkan bahaya sengatan listrik (electrical hazard). Untuk itu, berbagai persyaratan
yang harus diperhatikan adalah sebagai berikut :
• Tiap-tiap panel Listrik,peralatan kesehatan ,motor mesin-mesin pendingin ruang harus
mempunyai sistem pentanahan yang baik.
• Tidak lebih dari dua group stop kontak dalam satu sirkuit cabang.
• Transformer, saklar-saklar, circuit breaker harus ditempatkan di lokasi aman.

c. Building Automation System (BAS) & EMS.


Guna menuju balai kesehatan modern di masa mendatang, direkomendasikan menerapkan
sistem “gedung pintar” (smart building) atau lebih dikenal dengan Building Automation
System.
BAS merupakan perangkat sentral yang dapat memonitor dan mengendalikan operasi :
a. Air Conditioning
b. Sistem Penerangan
c. Sistem lainnya diseluruh bangunan.

PT. ALOCITA MANDIRI 5-100


JASA KONSULTANSI PERENCANAAN PEMBANGUNAN PUSKESMAS
SUKAMANAH

ASPEK SISTEM UTILITAS

Kebutuhan terhadap fasilitas standar dan utilitas di lokasi ini berupa fasilitas standart sudah
tersedia namun perlu perencanaan ulang, seperti drainase, air bersih, listrik dan telepon.
Namun di kawasan sekitar lokasi telah ada beberapa fasilitas seperti persampahan, air
bersih dan listrik / telepon.

A Drainase

Sistem drainase di lokasi rencana dipersiapkan dan direncanakan dengan baik untuk dapat
dikembangkan dalam site development yang memungkinkan untuk penataan kawasan yang
mampu menangani permasalahan hujan dan saluran air.

B Penyediaan Air Bersih

Sistem penyediaan air bersih merupakan sistem plumbing yang dibutuhkan dalam setiap
kegiatan. Karena itu, untuk fasilitas di kawasan ini diperlukan perencanaan yang tepat
terhadap sistem plumbing air bersih pada perencanaan dan pengembangan. Tujuan dari
penataan sistem plumbing air bersih ini adalah untuk memudahkan kebutuhan operasional
kawasan yang terdiri dari :

1. Air untuk kebutuhan penggguna gedung

2. Air untuk kebutuhan KM/ WC

3. Air untuk kebutuhan penanggulangan kebakaran

4. Air untuk kebutuhan penghijauan

5. Air untuk kebutuhan fasum/ kafetaria/ service

C Listrik dan Telepon

Kebutuhan listrik dan telepon merupakan kebutuhan standart yang harus ada dalam
operasional kantor. Kondisi listrik di sekitar lokasi dan fasilitas telepon telah tersedia hingga
di batas tepi jalan Raya, atau kawasan kampus, sehingga perencanaanya adalah dalam
kaitan distribusi di dalam tapak bangunan.

PT. ALOCITA MANDIRI 5-101


JASA KONSULTANSI PERENCANAAN PEMBANGUNAN PUSKESMAS
SUKAMANAH

D Instalasi Penangkal Petir

• Bangunan bertingkat  bahaya sambaran petir  maka memerlukan Penangkal


petir

• Penangkal petir : dipasang pada bangunan min. 2 lantai (paling tinggi diantara
sekitarnya, konstruksi bangunan yang menonjol : cerobong asap, antena TV, tiang bendera)

• Instalasi terdiri dari :

o Alat penerima logam tembaga (logam bulat panjang yang runcing ) atau penerima
kawat mendatar.
o Kawat penyalur dari tembaga
o Pentanahan kawat penyalur sampai dengan pada bagian tanah yang basah, ukuran
dari instalasi ditentukan berdasarkan daerah/bangunan yang dilindungi.

TAHAPAN PERENCANAAN TEKNIS

Pra-Rencana
Membuat gambar-gambar pra-rencana arsitektur, yang merupakan pengembangan dari
konsep gambar yang sudah dibuat terlebih dahulu dalam tahapan pra-rancangan. Dalam
tahap ini konsultan perencana akan selalu mengadakan konsultasi dan koordinasi dengan
Pemberi Tugas, sehingga akan didapat produk gambar yang terkoordinasi. Selain itu
konsultan juga akan berpedoman pada standar dan peraturan yang ada.
Gambar-gambar pra-rencana yang akan dibuat antara lain :
Site Plan, Denah, Tampak, Potongan Bangunan

Pengembangan Rencana
Pada tahap ini konsultan membuat gambar-gambar pengembangan arsitektur, sistem
struktur dan sistem instalasi dan elektrikal, yang merupakan pengembangan dari gambar-
gambar pra-rencana.
Dalam tahap ini konsultan perencana akan selalu mengadakan konsultasi dan koordinasi
dengan pihak Pemberi Tugas, sehingga akan didapat produk gambar yang selaras, terpadu
dan terorganisasi. Gambar - gambar perencanaan yang dihasilkan konsultan ini sudah

PT. ALOCITA MANDIRI 5-102


JASA KONSULTANSI PERENCANAAN PEMBANGUNAN PUSKESMAS
SUKAMANAH

berdasarkan hasil analisa, sistem dan perhitungan yang berpedoman pada standar dan
peraturan yang ada.
Gambar-gambar pengembangan rencana yang akan dibuat konsultan pada tahap ini antara
lain :
a) Gambar-gambar perencanaan detail arsitektur, meliputi :
· Denah, tampak, potongan bangunan
· Rencana pola lantai, plafond
· Detail tangga, toilet, kusen
· Detail Arsitektur lainnya.
b) Gambar-gambar perencanaan detail sistem struktur, meliputi :
· Rencana pondasi dan kolom
· Rencana plat lantai, balok, kolom
· Rencana ring balok, portal
· Rencana tangga
· Detail struktur lainnya
· Detail penjelasan struktur yang terkait dengan gambar arsitektur
Arahan yang digunakan dalam perencanaan detail ini antara lain :
· Perencanaan struktur akan diperhitungkan terhadap keamanan, daya tahan serta
kemudahan memperoleh material yang disesuaikan dengan kondisi keuangan.
· Semua perhitungan struktur akan dibuat analisanya berdasarkan analisis yang lazim
digunakan.
· Konstruksi permanen dengan batas umur konstruksi minimal 10 tahun.
· Efisiensi biaya dengan memperhitungkan sistem konstruksi yang paling mudah, aman
dan kemampuan teknis kontraktor.
· Keamanan dalam pelaksanaan
c) Gambar perencanaan detail mekanikal dan elektrikal bangunan dengan skala besar,
meliputi :
 Mekanikal :
1· Jaringan Air Bersih
2· Jaringan Air Kotor dan Air Hujan
3· Jaringan Air Kotor
4· Rencana Septic Tank
5· Isometri (sesuai kebutuhan)

PT. ALOCITA MANDIRI 5-103


JASA KONSULTANSI PERENCANAAN PEMBANGUNAN PUSKESMAS
SUKAMANAH

6· Detail-detail Mekanikal
 Elektrikal :
7· Jaringan Instalasi Listrik
8· Wiring Diagram
9· Jaringan Penangkal Petir
10· Detail-detail Elektrikal

Spesifikasi Teknis
Spesifikasi teknis mencakup ketentuan-ketentuan lengkap tentang Arsitektur, Sipil &
Struktur dan ME yang ada dalam gambar perencanaan detail bangunan pasar beserta
batasan-batasan yang kelak akan dikerjakan oleh kontraktor yaitu :
1· Penjelasan mengenai lingkup pekerjaan
2· Peralatan dan bahan-bahan yang akan digunakan
3· Kode dan standar yang dipergunakan
· Hal-hal yang berkaitan dengan pemeriksaan, uji coba (testing & comisioning) dan
pengawasan.

Bill Of Quantity
Konsultan Perencanaan akan membuat daftar lengkap mengenai peralatan dan bahan yang
terdapat dalam gambar rancangan terinci yang mencakup baik jumlah satuannya maupun
nama, jenis serta ukurannya.
Daftar tersebut harus dibuat sejelas-jelasnya dengan demikian kontraktor dapat memakai
untuk mengajukan penawaran.

Perkiraan Biaya (Cost Estimate)


Konsultan Perencanaan harus membuat perkiraan biaya tentang seluruh pekerjaan
Perencanaan Revitalisasi Pasar Baleendah Blok A (Pendamping Bantuan Keuangan Provinsi
Jawa Barat) yang mencakup dalam gambar rancangan terinci dengan berpedoman pula
pada daftar peralatan dan bahan (Bill of Quantity).
Perkiraan biaya ini harus cukup berbobot sehingga oleh Pemberi Tugas dapat
dipakai sebagai nilai pembanding dalam mengevaluasi biaya yang diajukan oleh Kontraktor
pada waktu pelelangan.

PT. ALOCITA MANDIRI 5-104


JASA KONSULTANSI PERENCANAAN PEMBANGUNAN PUSKESMAS
SUKAMANAH

METODE PENYUSUNAN RENCANA


Merupakan suatu tahap sebelum mencapai penyusunan rencana final, yang merupakan
suatu alternatif rancangan rencana sebagai bahan yang nantinya dibahas dalam forum
seminar.
Pokok pekerjaan dan hasilnya adalah sebagai berikut:
1. Perumusan kebijakan dasar, konsep dan strategi pengembangan kawasan,
2. Rancangan substansi perencanaan kawasan yang meliputi:
a. Rencana peruntukan lahan mikro
Rencana perpetakan harus mempertimbangan perpetakan yang telah ada,
pola penanganan kawasan yang dipilih, mengantisipasi besarnya kebutuhan
sarana/prasarana dan fasilitas pada lahan tersebut, dan akomodatif terhadap
aspirasi masyarakat.
b. Rencana Penataan Sempadan Bangunan
Merupakan jarak bangunan yang mempertimbangkan privacy kegiatan, serta
kebutuhan akan keamanan terhadap gangguan kegiatan lain atau terhadap
bencana – bencana yang mungkin timbul.
c. Rencana Penataan Estetika Lingkungan
 Bentang alam yang dibentuk oleh pola skyline bangunan – bangunan;
 Vista atau pemandangan yang dapat diperoleh untuk meningkatkan
perbendaharaan amenity kota;
 Citra atau kesan yang ditimbulkan sesuai dengan aktivitas & fungsi kota.
d. Rencana Penataan Jenis Kegiatan
Hal yang dipertimbangkan adalah perwujudan suasana yang tercipta dari
panduan kegiatan untuk memperoleh hubungan fungsi yang serasi antara
elemen – elemen yang ada.
e. Rencana Penataan Intensitas Bangunan
 Koefisien Dasar Bangunan (KDB), yaitu faktor tutupan lahan/permukaan
tanah oleh elemen bangunan dimana kemampuhan resapan air oleh tanah
menjadi berkurang;
 Koefisien Lantai Bangunan (KLB), yaitu perbandingan luas lantai bangunan
terhadap luas lahan yang disebabkan oleh volume kebutuhan ruang sesuai
dengan faktor nilai ekonomis lahan.
f. Rencana Penataan Arsitektur Bangunan

PT. ALOCITA MANDIRI 5-105


JASA KONSULTANSI PERENCANAAN PEMBANGUNAN PUSKESMAS
SUKAMANAH

Mempertimbangkan hal - hal berikut:


 Skala ruang yang sesuai dalam ukurannya;
 Sikap terhadap kondisi iklim lingkungan, yaitu arah angin, arah pergerakan
pencahayaan matahari.
g. Rencana Penataan Lansekap
Adalah penataan ruang di luar bangunan. Rencana ruang terbuka yang
mempertimbangkan:
 Kebutuhan akan ruang terbuka dan pertamanan sebagai penampung masa
dan kebutuhan sirkulasi unsur – unsur alami;
 Suasana lingkungan yang dapat memberikan pelayanan sikap mental
peradaban sosial yang lebih baik;
 Sebagai pemecahan masalah lingkungan misalnya konflik aktivitas
pergerakan dan sebagainya.
h. Rencana Penataan Sirkulasi
Dimana hal yang dipertimbangkan adalah hubungan fungsional antar
kegiatan dan modus pergerakkannya.
i. Rencana Penataan Elemen Lingkungan
Dalam perencanaan kota sering disebut sebagai furniture/signage,
merupakan pertimbangan untuk:
 Kebutuhan fungsional; tiang lampu penerangan, papan nama, rambu –
rambu, iklan dan sebagainya;
 Rancangan bentuk dan tata letak yang dapat memberikan pelayanan
peradaban sosial yang lebih baik.
j. Pedoman Desain
Pedoman desain dari elemen – elemen bangunan dan lingkungan yang
bersifat spesifik untuk masing – masing lingkungan merupakan detail dari
rencana umum wujud bangunan, ruang terbuka, dan rencana lainnya,
seperti desain fasade, signage, perabot jalan/lingkungan dan pedestrian.
k. Program Investasi
Program investasi bersifat jangka menengah, minimal untuk kurun waktu
lima tahun, disusun berdasarkan program bangunan dan lingkungan,
meliputi program investasi bangunan, kegiatan volume, biaya serta faktor
pembangunan yang terlibat.

PT. ALOCITA MANDIRI 5-106


JASA KONSULTANSI PERENCANAAN PEMBANGUNAN PUSKESMAS
SUKAMANAH

l. Pelaksanaan dan Pengendalian Pemanfaatan Rencana


Pedoman Pengendalian Program Rencana, berupa perangkat administratif
untuk mengendalikan pelaksanaan rencana dan program tersebut yang
bersifat mengantisipasi terjadinya perubahan pada tahap pelaksanaan
karena berbagai hal, tetapi masih dapat memenuhi persyaratan daya dukung
dan daya tampung lahan, kapasitas prasarana lingkungan, dan masih sejalan
dengan rencana dan program penataan kotanya.

PERUMUSAN KONSEP UMUM PERANCANGAN

Konsep umum perancangan tata bangunan dan lingkungan merupakan gambaran umum
desain penataan pada kawasan perencanaan yang ditindaklanjuti dengan penjabaran
konsep desain masing-masing elemen desainnya. Pada prinsipnya suatu proses
pembangunan sekecil apapun adalah merupakan suatu intervensi desain urban, sehingga
dibutuhkan suatu konsep umum yang menjelaskan rancangan struktur tata bangunan dan
lingkungan yang dikendaki.

PERUMUSAN KONSEP DETAIL PERANCANGAN

Panduan detail perancangan tata bangunan dan lingkungan merupakan penjelasan lebih
rinci atas konsep umum perancangan tata bangunan dan lingkungan yang telah ditetapkan
pada bab sebelumnya, dalam bentuk penjabaran perancangan kawasan sampai
pengembangan kavling. Manfaat kajian panduan detail perancangan adalah;
1. Untuk mengarahkan secara ringkas dan sistematis implementasi ketentuan dasar
serta ketentuan detail dari penduan perencanaan tiap bangunan, kavling, subblok
dan blok pengembangan dalam dimensi yang terukur.
2. Untuk menggambarkan simulasi bangunan secara keruangan (3 dimensional)
sebagai contoh penerapan seluruh rencana tata bangunan dan lingkungan dalam
tiap kavling, subblok dan bloknya.
3. Untuk memudahkan pengembangan desain pada tiap kavling/subblok sesuai
dengan visi dan arahan karakter lingkungan yang telah ditetapkan.
4. Untuk memudahkan pengelolaan, pengendalian dan pengoperasian kawasan sesuai
dengan visi dan arahan karakter lingkungan yang telah ditetapkan.

PT. ALOCITA MANDIRI 5-107


JASA KONSULTANSI PERENCANAAN PEMBANGUNAN PUSKESMAS
SUKAMANAH

5. Untuk mencapai intervensi desain kawasan yang berdampak baik, terarah dan
terukur pada suatu kawasan yang direncanakan.
6. Untuk mencapai integrasi elemen-elemen desain yang berpengaruh pada suatu
perencanaan Kawasan.

PERUMUSAN PEMBIAYAAN

Program pembiayaan disusun sesuai dengan kebutuhan nyata pemerintah daerah dalam
proses pengendalian investasi dan pembiayaan dalam pembangunan/penataan lingkungan.
Program ini merupakan rujukan bagi pelaku pembangunan untuk menghitung kelayakan
investasi dan pembiayaan suatu penataan ataupun menghitung tolak ukur keberhasilan
investasi, sehingga tercapai kesinambungan pentahapan pelaksanaan pembangunan.
Program ini mengatur upaya percepatan penyediaan dan peningkatan kualitas pelayanan
prasarana/sarana lingkungan. Selain itu, program ini menjadi alat mobilisasi dana investasi
masingmasing stakeholders dalam pengendalian pelaksanaan sesuai dengan kapasitas dan
perannya dalam suatu sistem kota yang disepakati bersama, sehingga dapat tercapai kerja
sama untuk mengurangi berbagai konflik kepentingan dalam investasi/pembiayaan. Dalam
perumusan program pembiayaan, aspek-aspek pengendalian yang harus diperhatikan
adalah:
a) Program bersifat jangka menengah, minimal untuk kurun waktu 5 (lima) tahun serta
mengindikasikan investasi untuk berbagai macam kegiatan yang konsisten meliputi
tolak ukur/kuantitas pekerjaan, besaran rencana pembiayaan, perkiraan waktu
pelaksanaan dan usulan sumber pendanaannya.
b) Meliputi investasi pembangunan yang dibiayai oleh pemerintah daerah/pusat (dari
berbagai sektor), dunia usaha/swasta maupun masyarakat.
c) Menjelaskan pola-pla penggalangan pendanaan, kegiatan yang perlu dilakukan
khususnya oleh pemda setempat, sekaligus saran/alternatif waktu pelaksanaan
kegiatan-kegiatan tersebut.
d) Menjelaskan tata cara penyiapan dan penyepakatan investasi dan pembiayaan,
termasuk menjelaskan langkah, pelaku, dan perhitungan teknisnya.
e) Menuntut stakeholder dalam memperoleh justifikasi kelayakan ekonomi dan
usulan perencanaan lingkungan dengan memisahkan jenis paket berjenis cost
recovery, non-cost recovery, dan pelayanan publik.

PT. ALOCITA MANDIRI 5-108


JASA KONSULTANSI PERENCANAAN PEMBANGUNAN PUSKESMAS
SUKAMANAH

PROGRAM KERJA

JADWAL PELAKSANAAN PEKERJAAN

Jangka waktu pelaksanaan kegiatan untuk menyelesaikan pekerjaan ini maksimal 45


(empat puluh lima) hari, terhitung sejak ditandatangani Surat Perjanjian/Kontrak. Dapat
dilihat pada tabel berikut.

PT. ALOCITA MANDIRI 5-109


JASA KONSULTANSI PERENCANAAN PEMBANGUNAN PUSKESMAS SUKAMANAH

JADWAL PELAKSANAAN PEKERJAAN JASA KONSULTANSI PERENCANAAN PEMBANGUNAN PUSKESMAS SUKAMANAH

Bulan 1 Bulan 2
No Kegiatan
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15

1  Tahap Konsepsi Perencanaan

 Mengumpulkan data dan informasi lapangan


 Membuat interpretasi secara garis besar terhadap
Kerangka acuan kerja
 Menyusun Program kerja perencanaan

 Menyusun Konsep perencanaan

 Membuat Sketsa gagasan

 Penyusunan Laporan Pendahuluan

 Diskusi Pembahasan Laporan Pendahuluan

 Perbaikan Laporan Pendahuluan

2  Tahap Penyusunan Pra Rencana

 Pelaksanaan survei topografi

 Pelaksanaan survei penyelidikan tanah

 Penyusunan rencana tapak

 Penyusunan pra-rencana bangunan

 Penyusunan uraian konsep rencana arsitektur

 Pembentukan visualisasi dua dan trimantra

 Penyusunan uraian konsep rencana struktur

 Perhitungan analisis perhitungan struktur

 Penyusunan uraian konsep rencana utilitas

 Perhitungan analisis perhitungan utilitas

 Draft rencana anggaran biaya

 Draft rencana kerja dan syarat-syarat (RKS)

 Penyusunan Laporan Antara

 Diskusi Pembahasan Laporan Antara

 Perbaikan Laporan Antara

3  Tahap Pengembangan Rencana dan Detail

 Penyusunan Gambar Detail Arsitektur

 Penyusunan Gambar Animasi 3D Arsitektur

 Penyusunan Gambar Detail Struktur

 Penyusunan Gambar Detail Utilitas


 Penyusunan Rencana Kerja dan Syarat – syarat
(RKS)

PT. ALOCITA MANDIRI 5-110


JASA KONSULTANSI PERENCANAAN PEMBANGUNAN PUSKESMAS SUKAMANAH

Bulan 1 Bulan 2
No Kegiatan
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15

 Perhitungan Bill of Quantity (BQ)


 Perhitungan Rencana Anggaran Biaya (RAB)
Pekerjaan Konstruksi
 Rencana Maket Design Denah Tata Ruang/ Siteplan

 Penyusunan Laporan Akhir

 Diskusi Pembahasan Laporan Akhir

 Evaluasi dan Pelaporan Hasil

PT. ALOCITA MANDIRI 5-111


JASA KONSULTANSI PERENCANAAN PEMBANGUNAN PUSKESMAS
SUKAMANAH

PELAPORAN
Laporan yang harus dibuat oleh penyedia jasa meliputi:
1. Buku Laporan Pendahuluan, terdiri atas:
a. Laporan pendahuluan sekurangnya memuat:
1) Pendahuluan
2) (Latar belakang, maksud, tujuan, sasaran, keluaran, referensi hukum, dan
sistematika laporan)
3) Profil Lokasi Pekerjaan
4) Pendekatan dan Metodologi
5) Rencana Kerja
6) Survei Awal dan Identifikasi Pekerjaan (Konsep Desain dan Informasi
Lapangan)
b. Laporan diserahkan selambat-lambatnya 10 (Sepuluh) hari kerja sejak SPMK
diterbitkan.
c. Laporan ini dibuat sebanyak 4 (Empat) copy ,1 (Satu) asli.

2. Buku Laporan Antara, terdiri atas:


a. Laporan Antara sekurangnya memuat:
1) Pendahuluan
2) Profil Lokasi Pekerjaan
3) Hasil Survei Lapangan (Penyelidikan Tanah dan Topografi)
4) Konsep Arsitektur (Beserta Gambar Pra-Desain)
5) Konsep Struktur (Beserta Gambar Pra-Desain)
6) Konsep Utilitas (Beserta Gambar Pra-Desain)
7) Draft RAB dan RKS
b. Laporan diserahkan selambat-lambatnya 30 (tiga puluh) hari kerja sejak SPMK
diterbitkan.
c. Laporan ini dibuat sebanyak 4 (Empat) copy ,1 (Satu) asli.

3. Buku Laporan Akhir, terdiri atas:


a. Laporan Akhir sekurangnya memuat:
1) Pendahuluan
2) Profil Lokasi Pekerjaan

PT. ALOCITA MANDIRI 8-112


JASA KONSULTANSI PERENCANAAN PEMBANGUNAN PUSKESMAS
SUKAMANAH

3) Hasil Survei Lapangan (Penyelidikan Tanah dan Topografi)


4) Konsep Arsitektur (Beserta Gambar Detail)
5) Konsep Struktur (Beserta Gambar Detail)
6) Konsep Utilitas (Beserta Gambar Detail)
7) Rencana Anggaran Biaya (RAB) (Memuat rencana kegiatan dan volume
pekerjaan)
8) Rencana Kerja dan Syarat-syarat (RKS)
b. Laporan diserahkan selambat-lambatnya 45 (Empat Puluh Lima) hari kerja sejak
SPMK diterbitkan.
c. Laporan ini dibuat sebanyak 4 (Empat) copy ,1 (Satu) asli, , Album Gambar 5 (Lima)
asli serta file softcopy yang dimasukan ke dalam Flashdisk sebanyak 5 (Lima) Buah.

ORGANISASI DAN RENCANA PENUGASAN TENAGA AHLI

Untuk memudahkan dan memelihara efisiensi kerja, perlu disusun suatu organisasi
pelaksanaan pekerjaan agar dapat berjalan lancar sesuai dengan maksud, tujuan dan
sasaran serta jadwal yang telah ditetapkan. Pada dasarnya dalam penyusunan organisasi
pelaksanaan pekerjaan tersebut menyangkut hubungan kerja antara pemberi tugas dan
penerima/pelaksana pekerjaan.
Dalam melaksanakan pekerjaan yang dimaksud, konsultan akan membentuk satu tim
yang dipimpin oleh Team Leader dengan didukung oleh beberapa tenaga ahli dan juga
beberapa tenaga pendukung yang berkompeten. Untuk mengetahui lebih jelas, struktur
organisasi pelaksanaan pekerjaan JASA KONSULTANSI PERENCANAAN PEMBANGUNAN
PUSKESMAS SUKAMANAH dapat dilihat pada gambar berikut:

PT. ALOCITA MANDIRI 8-113


JASA KONSULTANSI PERENCANAAN PEMBANGUNAN PUSKESMAS
SUKAMANAH

DINAS KESEHATAN
KABUPATEN BANDUNG

PT. ALOCITA MANDIRI

KETUA TIM
Ahli Arsitektur

TENAGA AHLI TENAGA PENDUKUNG

1. Ahli Lingkungan 1. Asisten Tenaga Ahli


2. Ahli Konsultan Kesehatan 2. Administrasi
3. Ahli Sipil Struktur 3. Operator Komputer
4. Ahli K3 4. Drafter CAD
5. Ahli Mekanikal Elektrikal 5. Drafter 3D

STRUKTUR ORGANISASI PELAKSANAAN PEKERJAAN

Sebagaimana telah diuraikan di KAK bahwa Pengadaan Jasa Konsultansi


Perencanaan Pembangunan Puskesmas Sukamanah yang dialokasikan sesuai
Kerangka Acuan Kerja adalah 45 (empat puluh lima) hari adalah merupakan waktu
yang “singkat” untuk memenuhi kebutuhan materi yang harus dicapai dalam
pekerjaan ini.
Untuk mencapai efisiensi dan efektivitas pekerjaan dari keseluruhan rangkaian
pekerjaan, maka perlu disusun suatu komposisi penugasan dalam pelaksanaan
pekerjaan, agar tercipta pelaksanaan yang lancar sesuai dengan jadwal waktu yang
telah ditetapkan.

PT. ALOCITA MANDIRI 8-114


JASA KONSULTANSI PERENCANAAN PEMBANGUNAN PUSKESMAS
SUKAMANAH

NAMA PERSONIL TENAGA AHLI DAN PENDUKUNG

Status
Posisi
No Nama Personil Perusahaan Tenaga Keahlian
Diusulkan
Ahli
TENAGA AHLI
1 Ahmad Sulaiman, PT. Alocita Lokal Arsitektur Ahli Arsitektur
ST Mandiri (Team Leader)
2 Andry Novriandry, PT. Alocita Lokal Lingkungan Ahli Lingkungan
ST Mandiri
3 Nurhadi Jaya, PT. Alocita Lokal Kesehatan Ahli Konsultan
[Link]., MARS Mandiri Kesehatan

4 Rachmat PT. Alocita Lokal Sipil Ahli Sipil Struktur


Suriyanegara, ST Mandiri
5 Cecep Shandi PT. Alocita Lokal Sipil Ahli K3 Konstruksi
Hidayat, ST Mandiri
6 Herdi, ST PT. Alocita Lokal Elektro Ahli Mekanikal
Mandiri Elektrikal

TENAGA PENDUKUNG
1 Eric Seto, ST PT. Alocita Lokal Asisten Asisten Tenaga
2 Cucu Ahmad Mandiri Tenaga Ahli Ahli
Pungkasara, ST
3 Frans Parera, SE PT. Alocita Lokal Administrasi Administrasi
Mandiri
4 Fahri Septian, SPW PT. Alocita Lokal Operator Operator
Mandiri Komputer Komputer
5 Achmad Kurniawan PT. Alocita Lokal Drafter CAD Drafter CAD
Fachreza,[Link].T Mandiri

6 Novi Ayu Mustika PT. Alocita Lokal Drafter 3D Drafter 3D


Ningrum, [Link].T Mandiri

FASILITAS PENUNJANG

Dalam menujang fasilitas pekerjaan tersebut konsultan menyediakan beberapa


perlengkapan yang dibutuhkan selama pekerjaan berlangsung antara lain :

PT. ALOCITA MANDIRI 8-115


JASA KONSULTANSI PERENCANAAN PEMBANGUNAN PUSKESMAS SUKAMANAH

FASILITAS PENUNJANG

KONDISI
JENIS KAPASITAS/OUT TAHUN LOKASI BUKTI
NO JUMLAH MERK / TYPE BAIK /
PERALATAN/PERLENGKAPAN PUT PEMBUATAN SEKARANG KEPEMILIKAN
RUSAK

1 Peralatan Kantor
Drone 1 Phantom 4 Pro DJI 2016 Baik Bandung Milik Sendiri
Laptop 1 Core i 3 Lenovo 2010 Baik Bandung Milik Sendiri
Laptop 1 Core i 3 Dell 2010 Baik Bandung Milik Sendiri
Laptop 1 Core 2 Duo HP 2010 Baik Bandung Milik Sendiri
Internet 1 30 Mbps Indihome 2015 Baik Bandung Milik Sendiri
Komputer 1 Core Duo LG 2009 Baik Bandung Milik Sendiri
Printer 1 A3 Canon 2009 Baik Bandung Milik Sendiri
Printer 1 A4 Canon 2009 Baik Bandung Milik Sendiri
Scanner 1 A4 Canon 2009 Baik Bandung Milik Sendiri
Scanner 1 A4 Epson 2005 Baik Bandung Milik Sendiri
Meja 4 ½ Biro Galaxy 2008 Baik Bandung Milik Sendiri
Meja 4 Biro Axcel 2010 Baik Bandung Milik Sendiri
Kursi 6 6 Fortuner 2010 Baik Bandung Milik Sendiri
Kursi 6 6 Cheetos 2005 Baik Bandung Milik Sendiri
Rak Buku 1 50 Index 2010 Baik Bandung Milik Sendiri
Rak Buku 3 20 Galaxy 2008 Baik Bandung Milik Sendiri
Kamera Digital 2 3.2 M Pix Canon 2005 Baik Bandung Milik Sendiri
Kamera Digital 1 10 M Pix Panasonic 2010 Baik Bandung Milik Sendiri
GPS 2 Optimal Garmin 2012 Baik Bandung Milik Sendiri
Theodolit Digital 1 DT – 5A Sokkisha 83664 2010 Baik Bandung Milik Sendiri
Waterpass 1 B40 Sokkia 2010 Baik Bandung Milik Sendiri
Kantor 1 130m2 Rukan 2015 Baik Bandung Milik Sendiri
2 Kendaraan
Mobil 1 6 Orang Toyota Innova 2015 Baik Bandung Milik Sendiri
Motor 1 2 Orang Honda Karisma 2005 Baik Bandung Milik Sendiri
Motor 1 2 Orang Yamaha Vega 2010 Baik Bandung Milik Sendiri

PT. ALOCITA MANDIRI 5-116


JASA KONSULTANSI PERENCANAAN PEMBANGUNAN PUSKESMAS
SUKAMANAH

HASIL KERJA DAN APRESIASI DAN INOVASI

HASIL KERJA

Berdasarkan hasil kerja yang sudah dilakukan bahwa kegiatan yang berhubungan
dengan perencanaan pembangunan puskesmas yaitu pekerjaan serupa pernah
dilakukan yaitu Masterplan Rumah Sakit yang menghasilkan data sebagai berikut.
a. Outline Pelaporan
1) Laporan Pendahuluan
Bab 1 – Pendahuluan
Bab 2 – Tinjauan Kebijakan
Bab 3 – Gambaran Umum
Bab 4 – Pendekatan dan Metodologi
Bab 5 – Rencana Kerja
2) Laporan Akhir
Bab 1 – Pendahuluan
Bab 2 – Survai Pengukuran dan Topografi
Bab 3 – Analisa Kondisi Umum
Bab 4 – Master Program
Bab 5 – Program Fungsi
Bab 6 – Perencanaan Masterplan
Bab 7 – Rencana Induk/ Master Plan Rumah Sakit

b. Analisis dan Gambar Kerja


Dalam penyusunan pekerjaan Pembangunan Rumah Sakit secara garis besar
terdiri dari beberapa analisis yaitu sebagai berikut.
1) Konsep tata ruang ( Zoning tapak, block plan, sirkulasi tapak dan orientasi)
2) Konsep arsitektur (Konsep bentuk, tata ruang dalam, tampak bangunan,
potongan dan gambar-gambar ilustrasi 3 dimensi)

PT. ALOCITA MANDIRI 5-117


JASA KONSULTANSI PERENCANAAN PEMBANGUNAN PUSKESMAS
SUKAMANAH

3) Konsep Perencanaan Struktur (Kriteria perencanaan struktur, rasio tulangan,


konsep perhitungan tulangan, pembebanan & penulangan pelat lantai &
balok anak dan analisis beban gempa dinamik)
4) Konsep Perencanaan Elektrikal & Mekanikal (Sistem Elektrikal, elektronik,
penangkal petir, mekanikal, elektrikal dan plumbing)
5) Dokumen Pelelangan (Gambar kerja, rencana kerja dan syarat-syarat (RKS),
persyaratan bangunan gedung negara, dan biaya pelaksanaan konstruksi)
6) Gambar kerja (Gambar detail arsitektur, struktur, utilitas)

PETA SITUASI TOPOGRAFI SITE RSUD

PT. ALOCITA MANDIRI 5-118


JASA KONSULTANSI PERENCANAAN PEMBANGUNAN PUSKESMAS
SUKAMANAH

TAMPAK DEPAN RSUD

BIRD EYE RSUD

PT. ALOCITA MANDIRI 5-119


JASA KONSULTANSI PERENCANAAN PEMBANGUNAN PUSKESMAS
SUKAMANAH

APRESIASI INOVASI TERHADAP RUANG LINGKUP

Jasa Konsultan dilaksanakan sejak dikeluarkannya SMPK, masa Konstruksi sampai dengan
masa pelaksanaan pekerjaan selesai sesuai dengan jangka waktu yang ditetapkan. Dalam
pelaksanaan tugas ini konsultan bertanggung jawab terhadap pelaksanaan. Adapu lingkup
Pekerjaan Konsultan terdiri dari :

a) Pelaksanaan Pengawasan Mutu


Konsultan bertindak selaku wakil pemberi tugas dalam pengawasan pelaksanaan kegiatan
dan harus menjamin bahwa semua hasil pekerjaan ini sesuai dan memenuhi syarat
perencanaan Teknik-teknik spesiikasi teknik dari dokumen kontrak.
Pekerjaan ini meliputi :
• Memeriksa semua peralatan yang ditempatkan di lapangan sesuai dengan syarat-syarat
yang ditentukan.
• Memberikan instruksi/ penjelasan secara tertulis kepada kontraktor terhadap pelaksanaan
pekerjaan yang tidak memenuhi persyaratan spesiikasi.
• Memeriksa semua gambar-gambar dan dokumen pelaksanaan pekerjaan.
• Memeriksa bahwa pengukuran volume pekerjaan dilaksanakan dengan benar dan teliti.
• Melakukan pengetesan terhadap material tertentu pengecekan kesesuaian spesiikasi
material, pengetesan fungsi peralatan dan jarinagan
• Menjamin bahwa semua laporan yang diserahkan tepat pada waktunya dan dibuat secara
teratur" benar" teliti dan memuat semua catatan kemajuan serta hal-hal yang berkaitan
dengan pekerjaan.
Pekerjaan ini meliputi :
• Menyiapkan/ menyerahkan laporan bulanan tepat pada waktunya, teliti dan menunjukkan
progres fisik dan keuangan kemajuan pekerjaan.
• Pelaksanakan pemeriksaan sebelum pemeriksaan akhir dan membuat laporan tentang
pekerjaan yang tidak memenuhi persyaratan
• Menyiapkan laporan penyelesaian pekerjaan yang memuat masalah yang dihadapi selama
pekerjaan dan penyelesaiannya serta lampiran-lampirannya.
• Bekerjasama dengan tim teknis dan direksi pengawas lapangan dalam hal-hal yang
menyangkut masalah teknis.
• Mengesahkan progres fisik, laporan harian, mingguan, dan bulanan

PT. ALOCITA MANDIRI 5-120


JASA KONSULTANSI PERENCANAAN PEMBANGUNAN PUSKESMAS
SUKAMANAH

• Mengusulkan pemecahan terhadap kesulitan-kesulitan pelaksanaan dilapangan.


• Membuat usulan atas klaim kontraktor, penyelesaian pertikaian perpanjang waktu kontrak
atau hal-hal lain
• Memeriksa seluruh jenis pekerjaan atau bahan yang telah dilaksanakan oleh kontraktor
sesuai dengan kontrak.
APRESIASI INOVASI TERHADAP TENAGA AHLI

Secara umum tenaga ahli yang diminta dari jenis dan jumlah serta disiplinilmu telah
memenuhi dalam pekerjaan Supervisi namun yang perlu untuk ditingkatkan adalah dari
segi pengalaman tenaga ahli, hal ini perlu karena tenaga ahli yang ada harus mengelola
kegiatan yang cukup banyak dan harus mengkoordinasi jumlah pengawas yang juga cukup
banyak sehingga harus mempunyai cukup kemampuan untuk melakukannya.

BANGUNAN GEDUNG NEGARA

Berdasarkan pemahaman konsultan bahwa dibagi menjadi 2 untuk persyaratan Bangunan


Gedung Negara (BGN) yaitu persyaratan administrasi dan teknis. Untuk Persyaratan
administrasi terdiri dari status hak atas tanah, status kepemilikan bangunan gedung, dan
perizinan IMB. Sedangkan persyaratan teknis terdiri dari tata bangunan dan keandalan
bangunan gedung.

PT. ALOCITA MANDIRI 5-121


JASA KONSULTANSI PERENCANAAN PEMBANGUNAN PUSKESMAS
SUKAMANAH

PERSYARATAN ADMINISTRASI PEMBANGUNAN BANGUNAN GEDUNG NEGARA

Persyaratan Administratif Bangunan Gedung Negara merupakan persyaratan dalam hal


administrasi yang harus diikuti/dimiliki oleh kementerian/lembaga/SKPD dalam
pembangunan bangunan gedung negara sesuai dengan fungsi dan klasifikasinya.
Persyaratan Administratif bangunan gedung negara yang harus dipenuhi adalah kejelasan
status hak atas tanah dan/atau izin pemanfaatan dari pemegang hak atas tanah; status
kepemilikan bangunan gedung; serta perizinan yang berupa izin mendirikan bangunan
gedung, termasuk dokumen analisis dampak lingkungan sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan. Disamping itu, pembangunan Bangunan Gedung Negara
juga harus dilengkapi dengan adanya dokumen pendanaan, dokumen perencanaan,
dokumen pembangunan, dan dokumen pendaftaran.

IZIN MENDIRIKAN BANGUNAN (IMB)


Setiap pembangunan bangunan gedung, termasuk Bangunan Gedung Negara,
sebagaimana diamanatkan oleh Undang-undang Nomor 28 Tahun 2002 tentang Bangunan
Gedung dan peraturan pelaksanaaanmya, harus dilengkapi dengan dokumen perizinan
yang berupa Izin Mendirikan Bangunan Gedung (IMB) dan Sertifikat Laik Fungsi (SLF) atau
keterangan kelaikan fungsi. Izin Mendirikan Bangunan Gedung harus diproses oleh
pengguna anggaran sebelum dilaksanakan kegiatan pelaksanaan konstruksi berdasarkan
dokumen rencana teknis yang telah dihasilkan pada proses perencanaan teknis Bangunan
Gedung Negara. Proses perizinan bangunan gedung juga harus mengikuti ketentuan yang
diatur dalam Peraturan Daerah tentang Bangunan Gedung yang berlaku di kabupaten/kota
lokasi Bangunan Gedung Negara tersebut akan dibangun.
Sesuai dengan Undang-undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak dan Retribusi Daerah,
maka dalam proses mendapatkan Izin Mendirikan Bangunan (IMB), Bangunan Gedung
Negara tidak termasuk objek retribusi sebagaimana diatur dalam Pasal 142 ayat (3), artinya
bebas biaya retribusi IMBnya.
Untuk Sertifikat Laik Fungsi (SLF), tergantung kesiapan dari perangkat pemerintah
daerahnya, baik dalam hal peraturan pelaksanaan dari perdanya, maupun tatalaksana dan
SDMnya.
Dalam hal kegiatan pada bangunan gedung negara dan/atau lingkungan yang mengganggu
dan menimbulkan dampak besar dan penting terhadap lingkungan harus dilengkapi dengan

PT. ALOCITA MANDIRI 5-122


JASA KONSULTANSI PERENCANAAN PEMBANGUNAN PUSKESMAS
SUKAMANAH

AMDAL (Analisis Mengenai Dampak Lingkungan) sesuai ketentuan yang berlaku, dan setiap
kegiatan dalam bangunan gedung negara dan/atau lingkungan yang tidak menimbulkan
dampak besar dan penting terhadap lingkungan atau secara teknologi sudah dapat dikelola
dampak pentingnya, tidak perlu dilengkapi dengan AMDAL, tetapi diharuskan melakukan
Upaya Pengelolaan Lingkungan (UPL) dan Upaya Pemantauan Lingkungan (UPL) sesuai
ketentuan yang berlaku.

KELENGKAPAN DOKUMEN
Setiap pembangunan Bangunan Gedung Negara, harus dilengkapi dengan dokumen-
dokumen admistrasi, sejak persiapan sampai dengan pasca pembangunannya, yang
meliputi dokumen pendanaan, dokumen perencanaan, dokumen, pembangunan, dan
dokumen pendaftaran.

1. Dokumen Pendanaan
Setiap kegiatan pembangunan Bangunan Gedung Negara harus disertai/memiliki bukti
tersedianya anggaran yang diperuntukkan untuk pembiayaan kegiatan tersebut yang
disahkan oleh Pejabat yang berwenang sesuai peraturan perundang- undangan yang
berlaku yang dapat berupa Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA)/Daftar Pelaksanaan
Anggaran (DPA), atau dokumen lainnya yang dipersamakan, termasuk surat
penunjukan/penetapan Kuasa Pengguna Anggaran/ Kepala Satuan Kerja. Dalam dokumen
pendanaan/pembiayaan pembangunan Bangunan Gedung Negara, tersebut sudah
termasuk biaya untuk:
a. perencanaan teknis;

b. pelaksanaan konstruksi fisik;

c. pengawasan konstruksi/ manajemen konstruksi; dan

d. pengelolaan kegiatan, pembangunan Bangunan Gedung Negara yang bersangkutan.

DOKUMEN PERENCANAAN TEKNIS


Setiap bangunan gedung negara harus memiliki dokumen perencanaan teknis, yang terdiri
atas gambar rencana, spesifikasi teknis, bill of quantity (BQ), rencana anggaran biaya (RAB)
dan rencana kerja dan syarat (RKS), yang dihasilkan dari kegiatan perencanaan teknis

PT. ALOCITA MANDIRI 5-123


JASA KONSULTANSI PERENCANAAN PEMBANGUNAN PUSKESMAS
SUKAMANAH

Bangunan Gedung Negara, baik berupa perencanaan baru, perencanaan teknis berulang
atau prototipe oleh Konsultan Perencana atau Tim Swakelola.
DOKUMEN PEMBANGUNAN
Setiap bangunan gedung negara setelah selesai tahap pelaksanaan pembangunan, juga
harus dilengkapi dengan dokumen pembangunan yang terdiri atas:
a. Dokumen Pendanaan,

b. Dokumen Perencanaan Teknis,

c. Izin Mendirikan Bangunan (IMB),

d. Dokumen Pelelangan,

e. Dokumen pelaksanaan konstruksi, termasuk as built drawing, hasil uji coba/commisioning


test, laporan pelaksanaan konstruksi fisik, berita acara terkait pelaksanaan konstruksi,
laporan akhir pekerjaan perencanaan, foto dokumentasi, dokumen Sistem Manajemen
Kesehatan dan Keselamatan Kerja (SMK3), serta manual operasi dan pemeliharaan
bangunan gedung,

f. Surat Penjaminan atas Kegagalan Bangunan (dari pelaksana konstruksi),

g. Dokumen Pelaksanaan Pengawasan/ Manajemen Konstruksi, dan

h. Sertifikat Laik Fungsi (SLF) sesuai ketentuan.

INOVASI PERENCANAAN

Perencanaan pembangunan akan menggunakan green material sehingga sekolah ramah


lingkungan dan disabilitas. Green Building atau bangunan ramah lingkungan mempunyai
kontribusi dalam menahan laju pemanasan global. Green Building adalah salah satu wujud
kepedulian terhadap kelestarian lingkungan dalam bidang konstruksi. Green Building tidak
hanya terkait pada manajemen penghematan energi dan pengolahan limbahnya tetapi juga
bagaimana cara agar material bangunannya tidak membahayakan lingkungan, baik jangka
pendek maupun jangka panjang. Pembahasan mengenai perancangan arsitektur dalam
bidang penerapan 3 konsep yaitu:

1. Green Building, yaitu Green Design (Fasad),


2. Green Material (Material Hijau/Berkelanjutan),
3. Green Technology (Penghematan Energi).

PT. ALOCITA MANDIRI 5-124


JASA KONSULTANSI PERENCANAAN PEMBANGUNAN PUSKESMAS
SUKAMANAH

Desain Green Building memiliki sistem penilaian yang berstandar internasional. Di Indonesia
penilaian tersebut di atur oleh lembaga non-profit, yaitu Green Building Council Indonesia
(GBCI). GBCI mengeluarkan Green Building Rating System bernama Greenship 2013 yang
bersifat khas Indonesia dan mengakomodasi kepentingan lokal

Penggunaan material pada suatu bangunan memegang peranan penting terkait dengan
tujuan hemat energi dan ramah lingkungan. Pemilihan material bangunan yang tepat untuk
Green building adalah Green Material yaitu material yang ramah lingkungan. Penggunaan
Green Material dapat menghasilkan bangunan yang berkualitas sekaligus ramah
lingkungan, khususnya pemanfaat material ekologis.

Aplikasi dari bangunan ramah lingkungan biasanya disebut juga dengan konstruksi hijau
(green construction), yakni pada tahap perencanaan terlihat pada beberapa desain
konstruksi yang memperoleh award sebagai desain bangunan yang hemat energi, yaitu
sistem bangunan yang didesain agar mengurangi pemakaian listrik untuk pencahayaan dan
tata udara. Selain itu berbagai terobosan baru dalam dunia konstruksi juga
memperkenalkan berbagai material struktur yang saat ini menggunakan limbah sebagai
salah satu komponennya, seperti pemakaian flyash, silica fume pada beton siap pakai dan
beton pra cetak. Selain itu terobosan sistem pelaksanaan konstruksi juga memperkenalkan
material yang mengurangi ketergantungan dunia konstruksi pada pemakaian material kayu
sebagai perancah.
Material ramah lingkungan memiliki kriteria sebagai berikut;
 tidak beracun, sebelum maupun sesudah digunakan
 dalam proses pembuatannya tidak memproduksi zat-zat berbahaya bagi lingkungan
 dapat menghubungkan kita dengan alam, dalam arti kita makin dekat dengan alam
karena kesan alami dari material tersebut (misalnya bata mengingatkan kita pada
tanah, kayu pada pepohonan)
 bisa didapatkan dengan mudah dan dekat (tidak memerlukan ongkos atau proses
memindahkan yang besar, karena menghemat energi BBM untuk memindahkan
material tersebut ke lokasi pembangunan)
 bahan material yang dapat terurai dengan mudah secara alami

PT. ALOCITA MANDIRI 5-125


JASA KONSULTANSI PERENCANAAN PEMBANGUNAN PUSKESMAS
SUKAMANAH

Untuk mendukung perencanaan ramah disabilitas maka mengacu pada peraturan Kepmen
PU No 486 tahun 1998 menjelaskan adanya detail toilet akses yang dirancang khusus untuk
anak berkebutuhan khusus, yaitu :

1) Esensi Fasilitas sanitasi yang aksesibel untuk semua orang (tanpa terkecuali
penyandang cacat, orang tua dan ibu-ibu hamil) pada bangunan atau fasilitas umum
lainnya.

2) Persyaratan
a. Toilet atau kamar kecil umum yang aksesibel harus dilengkapi dengan tampilan
rambu/simbol dengan sistem cetak timbul "penyandang cacat" pada bagian luarnya.
b. Toilet atau kamar kecil umum harus memiliki ruang gerak yang cukup untuk masuk
dan keluar pengguna kursi roda.
c. Ketinggian tempat duduk kloset harus sesuai dengan ketinggian pengguna kursi roda
sekitar (45-50 cm)
d. Toilet atau kamar kecil umum harus dilengkapi dengan pegangan rambat (handrail)
yang memiliki posisi dan ketinggian disesuaikan dengan pengguna kursi roda dan
penyandang cacat yang lain. Pegangan disarankan memiliki bentuk siku-siku
mengarah ke atas untuk membantu pergerakan pengguna kursi roda.
e. Letak kertas tissu, air, kran air atau pancuran (shower) dan perlengkapan-
perlengkapan seperti tempat sabun dan pengering tangan harus dipasang
sedemikian hingga mudah digunakan oleh orang yang memiliki
keterbatasanketerbatasan fisik dan bisa dijangkau pengguna kursi roda.
f. Semua kran sebaiknya dengan menggunakan sistem pengungkit dipasang pada
wastafel, dll.
g. Bahan dan penyelesaian lantai harus tidak licin.
h. Pintu harus mudah dibuka dan ditutup untuk memudahkan pengguna kursi roda.
i. Kunci-kunci toilet atau grendel dipilih sedemikian sehingga bisa dibuka dari luar jika
terjadi kondisi darurat.
j. Pada tempat-tempat yang mudah dicapai, seperti pada daerah pintu masuk,
dianjurkan untuk menyediakan tombol bunyi darurat (emergency sound button) bila
sewaktu-waktu terjadi sesuatu yang tidak diharapkan.

PT. ALOCITA MANDIRI 5-126


JASA KONSULTANSI PERENCANAAN PEMBANGUNAN PUSKESMAS
SUKAMANAH

Kamar mandi bagi penyandang cacat khususnya yang menggunakan kursi roda seharusnya
dirancang dengan memperhatikan bagaimana pergerakan kursi roda didalam ruangan.
Memiliki ruang gerak yang leluasa bagi kursi roda selain itu ketinggian tempat duduk kloset
juga harus sesuai dengan ketinggian kursi roda, sekitar 45 ± 50 cm. Perancangan ini
dilakukan guna menghasilkan perancangan yang nyaman bagi penyandang cacat. Hal lain
yang harus diperhatikan pada penempatan kertas tisue, tempat sabun dan sikat gigi serta
peralatan lain yang digunakan oleh penyandang cacat kursi roda harus dapat dijangkau
leluasa dan tidak ditempatkan pada ketinggian yang sulit dijangkau.

DUKUNG DATA

PERSYARATAN TEKNIS PEMBANGUNAN BANGUNAN GEDUNG NEGARA

Persyaratan teknis Bangunan Gedung Negara merupakan persyaratan dalam hal teknis
yang harus dipenuhui oleh kementerian/lembaga/SKPD dalam pembangunan Bangunan
Gedung Negara. Persyaratan teknis Bangunan Gedung Negara yang meliputi persyaratan
tata bangunan, persyaratan keandalan bangunan gedung, serta ketentuan klasifikasi,
standar luas, ketinggian, dan spesifikasi teknis Bangunan Gedung Negara harus
diimplentasikan dalam proses perencanaan teknis Bangunan Gedung Negara, sebagai dasar
memperoleh Izin Mendirikan Bangunan dan proses pelaksanaan konstruksi dalam proses
Pembangunan Bangunan Gedung Negara.
 Persyaratan Tata Bangunan
Persyaratan tata bangunan Bangunan Gedung Negara, meliputi: persyaratan peruntukan
dan intensitas bangunan gedung, persyaratan arsitektur bangunan gedung, dan
persyaratan pengendalian dampak lingkungan.

1. Persyaratan peruntukan dan intensitas bangunan gedung


Persyaratan peruntukan merupakan persyaratan peruntukan lokasi yang bersangkutan
sesuai dengan RTRW kabupaten/kota, RDTRKP, dan/atau RTBL. Persyaratan intensitas
bangunan gedung meliputi persyaratan kepadatan, ketinggian, dan jarak bebas bangunan
gedung yang ditetapkan untuk lokasi yang bersangkutan.
a. Persyaratan peruntukan lokasi Bangunan Gedung Negara harus sesuai dengan:

1) RTRW Kabupaten/Kota;

PT. ALOCITA MANDIRI 5-127


JASA KONSULTANSI PERENCANAAN PEMBANGUNAN PUSKESMAS
SUKAMANAH

2) Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)/Peraturan Zonasi (PZ);

3) RTBL yang bersangkutan; dan/atau

4) persetujuan pemerintah daerah dalam hal belum terdapat ketentuan RTRW


kabupaten/kota dan/atau RDTR/Peraturan Zonasi, dan/atau RTBL pada lokasi yang
bersangkutan.

b. Persyaratan intensitas bangunan gedung meliputi:

1) ketentuan jarak bebas bangunan gedung;

2) koefisien dasar bangunan (KDB);

3) koefisien lantai bangunan (KLB);

4) koefisien dasar hijau (KDH);

5) koefisien tapak besmen (KTB);

6) ketinggian bangunan; dan

7) jarak antar blok/massa bangunan,


yang harus sesuai dengan Keterangan Rencana Kota (KRK) berdasarkan peruntukan
lokasinya.

2. Persyaratan Arsitektur Bangunan Gedung


Persyaratan arsitektur bangunan gedung negara, meliputi: persyaratan penampilan
bangunan gedung, tata ruang-dalam, keseimbangan, keserasian, dan keselarasan
bangunan gedung dengan lingkungannya, serta pertimbangan adanya keseimbangan
antara nilai-nilai sosial budaya setempat terhadap penerapan berbagai perkembangan
arsitektur dan rekayasa.
a. Wujud atau penampilan bangunan gedung harus:

1) mencerminkan fungsi sebagai Bangunan Gedung Negara;

2) seimbang, serasi, dan selaras dengan lingkungannya;

3) indah tetapi tidak berlebihan;

4) efisiensi penggunaan sumber daya baik dalam pemanfaatan maupun dalam


pemeliharaan;

PT. ALOCITA MANDIRI 5-128


JASA KONSULTANSI PERENCANAAN PEMBANGUNAN PUSKESMAS
SUKAMANAH

5) mempertimbangkan nilai sosial budaya setempat dalam menerapkan perkembangan


arsitektur dan rekayasa;
6) mempertimbangkan kaidah pelestarian bangunan baik dari segi sejarah maupun
langgam arsitektur; dan

7) membentuk denah bangunan gedung yang sedapat mungkin simetris dan sederhana.

b. Tata ruang dalam Bangunan Gedung Negara harus memperhatikan:

1) fungsi ruang bangunan gedung;

2) efektivitas dan efisiensi tata ruang dalam;

3) kaidah arsitektur bangunan gedung secara keseluruhan; dan

4) keandalan bangunan gedung yang meliputi persyaratan keselamatan, kesehatan,


kenyamanan, dan kemudahan tata ruang-dalam.

c. Keseimbangan, keserasian, dan keselarasan Bangunan Gedung Negara dengan


lingkungannya diartikan bahwa harus memperhatikan:

1) terciptanya ruang luar bangunan gedung dan ruang terbuka hijau yang seimbang,
serasi, dan selaras dengan lingkungannya;

2) pemenuhan persyaratan daerah resapan, akses penyelamatan, sirkulasi kendaraan


dan manusia; dan

3) pemenuhan kebutuhan sarana dan prasarana di dalam dan di luar bangunan gedung.

3. Persyaratan pengendalian dampak lingkungan


Penerapan persyaratan pengendalian dampak lingkungan pada pembangunan Bangunan
Gedung Negara meliputi:
a. kelengkapan dokumen Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) bagi
Pembangunan Bangunan Gedung Negara yang mengganggu dan menimbulkan dampak
besar dan penting terhadap lingkungan; atau
b. kelengkapan Upaya Pengelolaan Lingkungan (UKL) dan Upaya Pemantauan Lingkungan
(UPL) bagi Pembangunan Bangunan Gedung Negara yang tidak menimbulkan dampak
besar dan penting terhadap lingkungan atau secara teknologi sudah dapat dikelola dampak
pentingnya.

PT. ALOCITA MANDIRI 5-129


JASA KONSULTANSI PERENCANAAN PEMBANGUNAN PUSKESMAS
SUKAMANAH

Penyusunan AMDAL, UKL, atau UPL pada Pembangunan Bangunan Gedung Negara
dilakukan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan tentang pelindungan
dan pengelolaan lingkungan hidup.

• Persyaratan Keandalan Bangunan Gedung


Persyaratan keandalan Bangunan Gedung Negara, sama dengan persyaratan keandalan
bangunan gedung pada umumnya, meliputi persyaratan tentang keselamatan, kesehatan,
kenyamanan, dan kemudahan.

1. Persyaratan Keselamatan
Persyaratan keselamatan Bangunan Gedung Negara meliputi keselamatan struktur,
kemampuan pencegahan dan penanggulangan bahaya kebakaran, dan kemampuan
pencegahan dan penanggulangan bahaya petir.
a. Keselamatan struktur Bangunan Gedung Negara, harus memenuhi:
1) ketentuan kekuatan, kekukuhan, dan kestabilan dalam memikul beban/kombinasi
beban dan memenuhi persyaratan keselamatan (safety), serta memenuhi persyaratan
pelayanan (serviceability) selama umur layanan yang direncanakan dengan
mempertimbangkan fungsi bangunan gedung, lokasi, keawetan, dan kemungkinan
pelaksanaan konstruksinya;

2) kemampuan memikul beban yang diperhitungkan terhadap pengaruh aksi sebagai


akibat dari beban yang mungkin bekerja selama umur layanan struktur, baik beban
muatan tetap maupun beban muatan sementara yang timbul akibat gempa sesuai
dengan zonasi, angin, pengaruh korosi, jamur dan serangga perusak;

3) ketentuan rencana yang detail sehingga pada kondisi pembebanan maksimum yang
direncanakan, apabila terjadi keruntuhan kondisi strukturnya masih memungkinkan
pengguna bangunan gedung menyelamatkan diri; dan

4) kemampuan menahan gaya likuifaksi tanah.

b. Persyaratan kemampuan pencegahan dan penanggulangan bahaya kebakaran Bangunan


Gedung Negara meliputi sistem proteksi kebakaran pasif, dan sistem proteksi kebakaran
aktif, yang harus sesuai dengan:

PT. ALOCITA MANDIRI 5-130


JASA KONSULTANSI PERENCANAAN PEMBANGUNAN PUSKESMAS
SUKAMANAH

1) Ketentuan peraturan perundang-undangan tentang Persyaratan Teknis Sistem


Proteksi Kebakaran pada Bangunan Gedung dan Lingkungan;

2) Peraturan Daerah tentang Bangunan Gedung; dan/atau

3) Peraturan Daerah tentang Pencegahan dan Penanggulangan Bahaya Kebakaran.


Penerapan sistem proteksi kebakaran pasif, dan sistem proteksi kebakaran aktif, pada
Bangunan Gedung Negara, didasarkan pada fungsi/klasifikasi risiko kebakaran, luas
bangunan, ketinggian bangunan, geometri ruang, bahan bangunan terpasang, dan/atau
jumlah dan kondisi penghuni dalam bangunan gedung,
c. Persyaratan kemampuan bangunan gedung dalam mencegah dan menanggulangi
bahaya petir dan/atau listrik.
1) Setiap bangunan gedung yang berdasarkan letak, sifat geografis, bentuk, ketinggian,
dan penggunaannya berisiko terkena sambaran petir harus dilengkapi dengan instalasi
penangkal petir.
2) Sistem penangkal petir yang dirancang dan dipasang harus dapat mengurangi secara
nyata risiko kerusakan yang disebabkan sambaran petir terhadap bangunan gedung dan
peralatan yang diproteksinya, serta melindungi manusia di dalamnya.
3) Instalasi listrik termasuk sumber daya listriknya harus dijamin aman, andal, dan akrab
lingkungan.
d. Persyaratan kemampuan bangunan gedung dalam mencegah terancamnya penghuni dan
harta benda akibat bencana bahan peledak.
Setiap bangunan gedung negara untuk kepentingan umum, bangunan gedung khusus, atau
bangunan gedung fungsi khusus harus dilengkapi dengan sistem pengamanan yang
memadai untuk mencegah terancamnya keselamatan penghuni dan harta benda akibat
bencana bahan peledak.

2. Persyaratan Kesehatan
Persyaratan kesehatan Bangunan Gedung Negara meliputi persyaratan tentang sistem
penghawaan, sistem pencahayaan, sistem air minum dan sanitasi, dan penggunaan bahan
bangunan.
a. Sistem penghawaan berupa ventilasi alami dan/atau ventilasi mekanik/buatan. Dalam
hal ventilasi alami tidak mungkin diterapkan, Bangunan Gedung Negara dapat

PT. ALOCITA MANDIRI 5-131


JASA KONSULTANSI PERENCANAAN PEMBANGUNAN PUSKESMAS
SUKAMANAH

menggunakan sistem penghawaan buatan dan/atau pengondisian udara dengan


mempertimbangkan prinsip konservasi energi.
b. Sistem pencahayaan berupa pencahayaan alami, dan/atau pencahayaan buatan, dan
pencahayaan darurat sesuai dengan fungsinya.
c. Sistem air minum dan sanitasi meliputi:
1) sistem air minum yang direncanakan dengan mempertimbangkan sumber air, kualitas
air, sistem distribusi serta penampungannya;
2) sistem pengolahan dan pembuangan air limbah dan/atau air kotor yang direncanakan
dengan mempertimbangkan jenis dan tingkat bahaya;
3) sistem pengolahan dan pembuangan sampah yang direncanakan dengan
mempertimbangkan prinsip 3R (reduce, reuse, recycle) dan fasilitas penampungan
sampah sesuai dengan jenisnya; dan
4) sistem penyaluran air hujan (drainase) yang direncanakan memperhatikan ketinggian
permukaan air tanah, permeabilitas tanah, dan ketersediaan drainase lingkungan/kota.
d. Penggunaan bahan bangunan pada Bangunan Gedung Negara harus aman bagi
kesehatan pengguna bangunan gedung dan tidak menimbulkan dampak negatif terhadap
lingkungan. Spesifikasi teknis bahan bangunan yang dipakai pada Bangunan Gedung
Negara harus mengikuti standar teknis tentang bahan bangunan pada bangunan gedung.

3. Persyaratan Kenyamanan
Persyaratan kenyamanan Bangunan Gedung Negara meliputi kenyamanan ruang gerak dan
hubungan antar-ruang, kondisi udara dalam ruang, pandangan, dan tingkat getaran dan
kebisingan.
a. Kenyamanan ruang gerak pada Bangunan Gedung Negara harus mempertimbangkan
fungsi ruang, jumlah pengguna, perabot/peralatan, aksesibilitas ruang, di dalam bangunan
gedung; dan persyaratan keselamatan dan kesehatan.
b. Kenyamanan hubungan antar-ruang pada Bangunan Gedung Negara harus
mempertimbangkan fungsi ruang, aksesibilitas ruang, dan jumlah pengguna dan
perabot/peralatan di dalam bangunan gedung, sirkulasi antar-ruang horizontal dan vertical,
dan persyaratan keselamatan dan kesehatan.

PT. ALOCITA MANDIRI 5-132


JASA KONSULTANSI PERENCANAAN PEMBANGUNAN PUSKESMAS
SUKAMANAH

c. Kenyamanan kondisi udara dalam pada Bangunan Gedung Negara meliputi pengaturan
temperatur, pergerakan, dan kelembaban udara. Pengaturan temperatur, pergerakan, dan
kelembaban udara harus mempertimbangkan:
1) fungsi bangunan gedung/ruang, jumlah pengguna, letak geografis, orientasi
bangunan, volume ruang, jenis peralatan, dan penggunaan bahan bangunan;
2) kemudahan pemeliharaan dan perawatan; dan
3) prinsip penghematan energi dan ramah lingkungan.
d. Kenyamanan pandangan pada Bangunan Gedung Negara meliputi kenyamanan
pandangan dari dalam bangunan keluar dan dari luar bangunan ke dalam bangunan.
1) Kenyamanan pandangan dari dalam bangunan gedung negara ke luar harus
mempertimbangkan:

a) gubahan massa bangunan, rancangan bukaan, tata ruang dalam dan luar
bangunan, dan rancangan bentuk luar bangunan; dan

b) pemanfaatan potensi ruang luar bangunan gedung dan penyediaan RTH.

2) Kenyamanan pandangan dari luar ke dalam bangunan gedung negara harus


mempertimbangkan:

a) rancangan bukaan, tata ruang dalam dan luar bangunan, dan rancangan bentuk
luar bangunan gedung;

b) keberadaan bangunan gedung yang ada dan/atau yang akan ada di sekitarnya;
dan

c) pencegahan terhadap gangguan silau dan pantulan sinar.


e. Kenyamanan tingkat getaran pada Bangunan Gedung Negara meliputi getaran kejut,
getaran mekanik atau seismik, baik yang berasal dari dalam bangunan maupun dari luar
bangunan, dengan ketentuan bahwa:
1) Kenyamanan tingkat getaran tidak boleh menimbulkan gangguan bagi kesehatan dan
kenyamanan seseorang dalam melakukan kegiatan.

2) Kenyamanan kebisingan tidak boleh menimbulkan gangguan kesehatan dan


kenyamanan bagi seseorang dalam melakukan kegiatan.
3) Kenyamanan tingkat getaran dan kebisingan harus sesuai dengan standar teknis yang
dipersyaratkan pada setiap fungsi ruang dan bangunan.

PT. ALOCITA MANDIRI 5-133


JASA KONSULTANSI PERENCANAAN PEMBANGUNAN PUSKESMAS
SUKAMANAH

4. Persyaratan Kemudahan
Persyaratan kemudahan yang harus dipenuhi pada Bangunan Gedung Negara meliputi
kemudahan ke, dari, dan di dalam bangunan gedung, dan kelengkapan prasarana dan
sarana dalam pemanfaatan bangunan gedung.
a. Kemudahan hubungan ke, dari, dan di dalam bangunan gedung meliputi ketentuan
tentang tersedianya fasilitas dan aksesibilitas yang mudah, aman, dan nyaman bagi semua
orang, termasuk penyandang disabilitas dan lansia. Kemudahan hubungan ke, dari, dan di
dalam Bangunan Gedung Negara terdiri atas:
1) kemudahan hubungan horizontal dalam bangunan; dan

2) kemudahan hubungan vertikal dalam bangunan.

b. Kelengkapan prasarana dan sarana dalam pemanfaatan Bangunan Gedung Negara


meliputi ketentuan tentang ketersediaan ruang ibadah, ruang ganti, ruang bayi, toilet,
tempat parkir, tempat sampah, serta fasilitas komunikasi dan informasi. Bangunan Gedung
Negara juga harus dilengkapi dengan sarana evakuasi berupa tangga darurat, pintu
darurat, pencahayaan darurat dan tanda penunjuk arah EXIT, koridor/selasar, dan sistem
peringatan berbahaya.

PERSYARATAN PRASARANA BANGUNAN

a. Sistem ventilasi.

Sistem ventilasi di puskesmas harus memenuhi persyaratan sebagai berikut :

(a) Bangunan Puskesmas harus mempunyai ventilasi alami dan/atau ventilasi


mekanik / buatan yang optimal apabila diperlukan.

(b) Bangunan Puskesmas harus mempunyai bukaan permanen, kisi-kisi pada


pintu dan jendela dan/atau bukaan permanen yang dapat dibuka untuk
kepentingan ventilasi alami. Bukaan minimal 15% dari luas total lantai.

(c) Ventilasi harus dapat mengatur pertukaran udara (;air change) sehingga
ruangan tidak terasa panas, tidak terjadi kondensasi uap air atau lemak
pada lantai, dinding, atau langit-langit.

(d) Ventilasi mekanik/buatan harus disediakan jika ventilasi alami tidak dapat

PT. ALOCITA MANDIRI 5-134


JASA KONSULTANSI PERENCANAAN PEMBANGUNAN PUSKESMAS
SUKAMANAH

memenuhi syarat.

(e) Ruang pelayanan penyakit menular melalui udara harus mempunyai


pertukaran udara yang baik (minimal 12 ACH), dimana pembuangan
udaranya dapat menggunakan ventilasi mekanik, yang harus diarahkan
ke luar ke tempat yang tidak membahayakan pasien, pengunjung
maupun petugas puskesmas.
b. Sistem Kelistrikan.

Sistem kelistrikan dan penempatannya harus mudah dioperasikan, diamati,


dipelihara, tidak membahayakan, tidak mengganggu dan tidak merugikan
lingkungan, bagian bangunan dan instalasi lain, serta perancangan dan
pelaksanaannya harus memenuhi PUIL/SNI.0225 edisi terakhir tentang
persyaratan umum instalasi listrik.

c. Sumber Daya Listrik

Sumber daya listrik dibagi 2 :

(1) Sumber Daya Listrik Normal

Sumber daya listrik normal bangunan puskesmas diusahakan untuk


menggunakan tenaga listrik dari Perusahaan Listrik Negara atau lainnya.

(2) Sumber Daya Listrik Darurat

Sumber listrik siaga berupa Genset atau UPS .

d. Sistem Distribusi

Sistem distribusi terdiri dari :


1) panel-panel listrik.
2) Instalasi pengkabelan.
3) Instalasi kotak kontak dan sakelar.

PT. ALOCITA MANDIRI 5-135


JASA KONSULTANSI PERENCANAAN PEMBANGUNAN PUSKESMAS
SUKAMANAH

e. Sistem Pembumian

Nilai pembumian (;grounding) bangunan tidak boleh kurang


impedansinya dari 0.5 ohm. Nilai pembumian (;grounding) alat kesehatan
tidak boleh kurang impedansinya dari 0.1 ohm.

f. Proteksi Petir

Suatu instalasi proteksi petir dapat melindungi semua bagian dari


bangunan puskesmas, termasuk manusia yang ada di dalamnya, dan
instalasi serta peralatan lainnya terhadap bahaya sambaran petir.

g. Sistem pencahayaan.

(a) Bangunan Puskesmas harus mempunyai pencahayaan


alami dan/atau pencahayaan buatan.

(b) Pencahayaan harus didistribusikan rata dalam ruangan.

Tingkat pencahayaan rata-rata yang direkomendasikan.


Fungsi ruangan Tingkat pencahayaan
min. (lux)
Ruang administrasi 200

Laboratorium, Ruang Tindakan, Ruang


Gawat Darurat 300
Ruang pantry/dapur, Koridor 100

h. Sistem proteksi kebakaran.

Puskesmas menggunakan Alat Pemadam Api Ringan (APAR) jenis ABC


untuk ruangan-ruangan dan CO2 untuk ruangan genset.

PT. ALOCITA MANDIRI 5-136


JASA KONSULTANSI PERENCANAAN PEMBANGUNAN PUSKESMAS
SUKAMANAH

i. Sistem Komunikasi

Komunikasi telepon diperlukan untuk hubungan/ komunikasi keluar


puskesmas.
j. Gas Medik

Gas medis yang digunakan di puskesmas adalah Oksigen (O2) dan


Vakum Medik.

Sistem gas medik harus direncanakan dan dipasang dengan


mempertimbangkan tingkat keselamatan bagi penggunanya.

Persyaratan Teknis :

(a) Pengelolaan, penggunaan dan penyimpanan gas medis harus


sesuai ketentuan berlaku.

(b) Tabung/silinder yang digunakan harus yang telah dibuat, diuji,


dan dipelihara sesuai spesifikasi dan ketentuan dari pihak
berwenang.

(c) Isi Tabung/silinder harus diidentifikasi dengan suatu


label/cetakan yang ditempelkan yang menyebutkan isi/pemberian
warna pada Tabung/silinder sesuai ketentuan yang berlaku.

(d) Sebelum digunakan harus dipastikan isi Tabung/silinder dengan


memperhatikan warna tabung, keterangan isi Tabung/silinder yg
diemboss pada badan tabung, label.

(e) Label tidak boleh dirusak, diubah atau dilepas, dan fiting
penyambung tidak boleh dimodifikasi.

(f) Larangan penggunaan Tabung/silinder tanpa warna & penandaan


yang disyaratkan.

(g) Hanya Tabung/silinder gas medik dan perlengkapannya yang


boleh disimpan dalam ruangan penyimpanan gas medik.

PT. ALOCITA MANDIRI 5-137


JASA KONSULTANSI PERENCANAAN PEMBANGUNAN PUSKESMAS
SUKAMANAH

(h) Larangan menyimpan bahan mudah terbakar berdekatan dengan


ruang penyimpanan gas medik.

(i) Tabung/silinder Oksigen pada saat digunakan dan dipasang di


samping tempat tidur pasien, harus menggunakan troli dan
pengaman

(j) Tutup pelindung katup harus dipasang erat pada tempatnya bila
Tabung/silinder sedang tidak digunakan.

(k) Apabila diperlukan, disediakan ruangan khusus penyimpanan


silinder gas medik. Tabung/silinder dipasang/diikat erat dengan
pengaman/rantai.

k. Sistem Sanitasi.

Untuk memenuhi persyaratan sistem sanitasi, harus dilengkapi dengan sistem


air bersih, sistem pembuangan air kotor dan/atau air limbah, kotoran dan
sampah, serta penyaluran air hujan.

(i) Sistem air bersih.

(1) Sistem air bersih harus direncanakan dan dipasang dengan


mempertimbangkan sumber air bersih dan sistem
distribusi pada lokasinya serta harus bebas dari
pencemaran fisik, kimia, dan biologis.

(2) Sumber air bersih dapat diperoleh langsung dari sumber


air berlangganan dan/atau sumber air lainnya dengan
baku mutu fisik, kimia, dan biologis yang memenuhi dan
sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

(3) Sistem penyediaan air bersih

 Sistem sambungan langsung

PT. ALOCITA MANDIRI 5-138


JASA KONSULTANSI PERENCANAAN PEMBANGUNAN PUSKESMAS
SUKAMANAH

 pipa distribusi dalam gedung disambung langsung


dengan pipa utama penyediaan air.

 Sistem tangki atap/ tanki grafitasi

 Jika sistem sambungan langsung tidak dapat


diterapkan karena terbatasnya tekanan dalam pipa
utama, air ditampung lebih dahulu dalam tangki
bawah (dipasang pada lantai terendah bangunan
atau di bawah muka tanah), kemudian dipompakan
ke suatu tangki atas yang biasanya dipasang di atas
atap atau di atas lantai tertinggi bangunan. Dari
tangki ini didistribusikan ke seluruh bangunan.

(ii) Sistem pembuangan air kotor dan/atau air limbah.

(1) Tersedia sistem pengolahan air limbah yang memenuhi


persyaratan kesehatan.

(2) Saluran air limbah harus kedap air, bersih dari sampah dan
dilengkapi penutup dengan bak kontrol untuk menjaga
kemiringan saluran minimal 1%.

(3) Di dalam sistem penyaluran /pembuangan air kotor


dan/atau air limbah dari ruang pantri/dapur disediakan
perangkap lemak untuk memisahkan dan/atau menyaring
kotoran/lemak.

(4) Air limbah yang berasal dari laboratorium sebelum


dialirkan ke Instalasi Pengolahan Air Limbah harus
diencerkan terlebih dahulu dengan rasio perbandingan air
bersih dan air limbah adalah 10 : 1.

(5) Limbah cair berkas pencucian film harus ditampung dan


tidak boleh dibuang ke lingkungan serta dikoordinasikan

PT. ALOCITA MANDIRI 5-139


JASA KONSULTANSI PERENCANAAN PEMBANGUNAN PUSKESMAS
SUKAMANAH

dengan dinas kesehatan.


(iii) Sistem pembuangan limbah padat medis dan non medis.

(1) Setiap puskesmas wajib melakukan pengelolaan limbah


padat medis dan non medis yang dihasilkan.

(2) Dalam hal puskesmas tidak mampu melakukan sendiri


pengelolaan limbah padat medis dan no medis,
pengelolaannya dapat diserahkan kepada pihak lain yang
mempunyai ijin.

(3) Limbah padat medis harus dipisahkan dengan limbah padat non
medis.

(4) Benda benda tajam dan jarum suntik harus di tampung


dengan wadah khusus yang terpisah dengan limbah padat
lainnya. Wadah tersebut harus anti bocor, anti tusuk dan
tidak mudah dibuka sehingga orang yang tidak
berkepentingan tidak mudah untuk membukanya

(5) Setiap ruangan harus mempunyai tempat pembuangan


limbah padat padat sesuai dengan limbah padat yang
dihasilkan.

(6) Sistem pembuangan limbah padat medis dan non medis


harus direncanakan dan dipasang dengan
mempertimbangkan fasilitas penampungan dan jenisnya.

(7) Pertimbangan fasilitas penampungan yang terpisah dengan


diwujudkan dalam bentuk penyediaan tempat
penampungan limbah padat medis non medis, yang
diperhitungkan berdasarkan fungsi bangunan, jumlah
penghuni, dan volume kotoran dan sampah.

(8) Penempatan pewadahan limbah padat medis dan non medis

PT. ALOCITA MANDIRI 5-140


JASA KONSULTANSI PERENCANAAN PEMBANGUNAN PUSKESMAS
SUKAMANAH

harus tidak mengganggu kesehatan penghuni, masyarakat


dan lingkungannya serta tidak mengundang datangnya
vektor / binatang penyebar penyakit.

(9) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara perencanaan,


pemasangan, dan pengolahan fasilitas pembuangan limbah
padat sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

l. Sistem Pengendalian Terhadap Kebisingan

(1) Intensitas kebisingan equivalent (Leq) di luar bangunan


puskesmas tidak lebih dari 55 dBA, dan di dalam bangunan
puskesmas tidak lebih dari 45 dBA.

(2) Pengendalian sumber kebisingan disesuaikan dengan sifat


sumber.

(3) Sumber suara genset dikendalikan dengan memasang


peredam dan membuat sekat yang memadai dan sumber
suara dari lalu lintas dikurangi dengan cara penanaman
pohon dan membuat gundukan tanah yang memadai.

m. Sistem Transportasi Vertikal dalam Puskesmas.

Setiap bangunan puskesmas yang bertingkat harus menyediakan sarana


hubungan vertikal antar lantai yang memadai untuk terselenggaranya
fungsi bangunan puskesmas tersebut berupa tersedianya tangga dan
ram.

PT. ALOCITA MANDIRI 5-141


JASA KONSULTANSI PERENCANAAN PEMBANGUNAN PUSKESMAS
SUKAMANAH

n. Tangga.

(1) Umum.

Tangga merupakan fasilitas bagi pergerakan vertikal yang


dirancang dengan mempertimbangkan ukuran dan kemiringan
pijakan dan tanjakan dengan lebar yang memadai.

(2) Persyaratan tangga

(1) Harus memiliki dimensi pijakan dan tanjakan yang


berukuran seragam Tinggi masing-masing
pijakan/tanjakan adalah 15 – 17 cm, lebar masing- masing
pijakan adalah 28 – 30 cm.

(2) Lebar tangga minimal 120 cm untuk membawa usungan


dalam keadaan darurat, untuk mengevakuasi pasien dalam
kasus terjadinya bencana.

(3) Tidak terdapat tanjakan yang berlubang yang dapat


membahayakan pengguna tangga.

(4) Harus dilengkapi dengan rel pegangan tangan (handrail).

(5) Rel pegangan tangan harus mudah dipegang dengan


ketinggian 65 cm ~ 80 cm dari lantai, bebas dari elemen
konstruksi yang mengganggu, dan bagian ujungnya harus
bulat atau dibelokkan dengan baik ke arah lantai, dinding
atau tiang.

(6) Rel pegangan tangan harus ditambah panjangnya pada


bagian ujung- ujungnya (puncak dan bagian bawah)
sepanjang 30 cm.

(7) Untuk tangga yang terletak di luar bangunan, harus


dirancang sehingga tidak ada air hujan yang menggenang

PT. ALOCITA MANDIRI 5-142


JASA KONSULTANSI PERENCANAAN PEMBANGUNAN PUSKESMAS
SUKAMANAH

pada lantainya.

o. Ram.

(1) Umum

Ram adalah jalur sirkulasi yang memiliki bidang dengan


kemiringan tertentu, sebagai alternatif bagi orang yang tidak
dapat menggunakan tangga.

(2) Persyaratan Ram.

(a) Kemiringan suatu ram di dalam bangunan tidak boleh


melebihi 70, perhitungan kemiringan tersebut tidak
termasuk awalan dan akhiran ram (curb ramps/landing).

(b) Panjang mendatar dari satu ram (dengan kemiringan 70)


tidak boleh lebih dari 9 m.

(c) Lebar minimum dari ram adalah 120 cm dengan tepi pengaman.

(d) Muka datar (bordes) pada awalan atau akhiran dari suatu
ram harus bebas dan datar sehingga memungkinkan
sekurang-kurangnya untuk memutar kursi roda dan
stretcher, dengan ukuran minimum 180 cm.

p. Aksesibilitas Disabel dan Lansia.


(i) Umum.

Setiap bangunan Puskesmas, harus menyediakan fasilitas dan


aksesibilitas untuk menjamin terwujudnya kemudahan bagi
difabel dan lanjut usia masuk dan keluar ke dan dari bangunan
Puskesmas serta beraktivitas dalam bangunan Puskesmas secara
mudah, aman, nyaman dan mandiri.

PT. ALOCITA MANDIRI 5-143


JASA KONSULTANSI PERENCANAAN PEMBANGUNAN PUSKESMAS
SUKAMANAH

(ii) Persyaratan Teknis.

(a) Fasilitas dan aksesibilitas meliputi toilet, tempat parkir,


telepon umum, jalur pemandu, rambu dan marka, tangga,
pintu, ram bagi disabel dan lanjut usia.

(b) Penyediaan fasilitas dan aksesibilitas disesuaikan dengan


fungsi, luas, dan ketinggian bangunan Puskesmas.

q. Pusling dan Ambulans

Ketentuan mengenai ambulans, kendaraan puskesmas keliling mengikuti


peraturan/ standar/pedoman teknis yang berlaku.

PT. ALOCITA MANDIRI 5-144


JASA KONSULTANSI PERENCANAAN PEMBANGUNAN PUSKESMAS
SUKAMANAH

PELAKSANAAN PEKERJAAN

Organisasi merupakan hal yang sangat penting dalam suatu kegiatan pekerjaan
penyusunan organisasi yang sesuai dengan komposisi pekerjaan akan memudahkan
penyelesaian dan hasil yang maksimal.

ORGANISASI PELAKSANAAN PEKERJAAN

Dalam pelaksanaan pekerjaan “Jasa Konsultansi Perencanaan Pembangunan Puskesmas


Sukamanah” ini akan melibatkan beberapa pihak yang selanjutnya akan tercipta hubungan
kerja dalam suatu organisasi pelaksanaan pekerjaan. Adapun pihak-pihak yang terlibat
dalam pekerjaan ini antara lain:

1. Pengguna Jasa
Pengguna Jasa adalah Dinas Pendidikan Kabupaten Bandung melalui Tim Teknis yang
ditunjuk.

2. Penyedia Jasa
Penyedia jasa adalah Konsultan Perencana akan membentuk Tim Pelaksana Pekerjaan
(Team Work) yang terdiri atas Tenaga Ahli yang dibantu oleh Tenaga Pendukung.

PT. ALOCITA MANDIRI 6-1


JASA KONSULTANSI PERENCANAAN PEMBANGUNAN PUSKESMAS
SUKAMANAH

KOORDINASI KERJA

Koordinasi kerja perencanaan dikategorikan menjadi dua yaitu:

a. Koordinasi Kerja Ekstern


Adalah koordinasi antara Konsultan dengan unsur-unsur yang terlibat dalam proses
pekerjaan ini antara lain pihak Pengguna Jasa, unsur teknis dan semua pihak (stake
holder) di wilayah perencanaan. Ini dimaksudkan untuk mengatasi permasalahan yang
bersifat teknis maupun administratif, sehingga tidak mengganggu jalannya pekerjaan.
Hal ini disebabkan semua unsur-unsur yang tersebut di atas masing-masing saling terkait
satu sama lain.

b. Koordinasi Kerja Intern


Adalah koordinasi antara bagian-bgian dalam perusahaan yang menangani kegiatan,
dimana semua bagian-bagian atau unsur-unsur perusahaan yang terlibat mempunyai
keterkaitan satu sama lain. Hal ini akan memudahkan dalam mencari jalan keluar apabila
terdapat permasalahan yang sifatnya berupa teknis pelaksanaan pekerjaan tersebut.

STRATEGI MANAJEMEN PEKERJAAN

Keberhasilan Team Work ini tergantung pada strategi manajemen yang dipakai dimana
untuk pekerjaan ini dipergunakan:

1. Strategi Manajemen Komunikasi


Dipakai strategi komunikasi terbuka terbatas artinya segala permasalahan penting
didiskusikan lebih dahulu sebelum diambil keputusan.

2. Strategi Manajemen Organisasi


Dipakai sistem terpusat dalam perwakilan sub bidang pekerjaan artinya di masing-
masing bidang pekerjaan perlu adanya personil-personil ahli yang sesuai bidangnya,
bertugas dan bertanggung jawab pada penanggung jawab proyek.

METODE PELAKSANAAN

Jadwal rencana kerja merupakan bagian terpenting dalam memanajemen waktu sehingga
kegiatan atau pekerjaan dapat selesai tepat pada waktu yang telah disepakati.

PT. ALOCITA MANDIRI 6-2


JASA KONSULTANSI PERENCANAAN PEMBANGUNAN PUSKESMAS
SUKAMANAH

Dalam kegiatan penyusunan Jasa Konsultansi Perencanaan Pembangunan


Puskesmas Sukamanah ini akan dilaksanakan selama 45 (empat puluh lima) hari
kalender atau waktu yang telah ditetapkan sejak penandatanganan kontrak (SPK/SPMK).

PT. ALOCITA MANDIRI 6-3


JASA KONSULTANSI PERENCANAAN PEMBANGUNAN PUSKESMAS SUKAMANAH

JADWAL PELAKSANAAN PEKERJAAN JASA KONSULTANSI PERENCANAAN PEMBANGUNAN PUSKESMAS SUKAMANAH

Bulan 1 Bulan 2
No Kegiatan
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15

1  Tahap Konsepsi Perencanaan

 Mengumpulkan data dan informasi lapangan


 Membuat interpretasi secara garis besar terhadap
Kerangka acuan kerja
 Menyusun Program kerja perencanaan

 Menyusun Konsep perencanaan

 Membuat Sketsa gagasan

 Penyusunan Laporan Pendahuluan

 Diskusi Pembahasan Laporan Pendahuluan

 Perbaikan Laporan Pendahuluan

2  Tahap Penyusunan Pra Rencana

 Pelaksanaan survei topografi

 Pelaksanaan survei penyelidikan tanah

 Penyusunan rencana tapak

 Penyusunan pra-rencana bangunan

 Penyusunan uraian konsep rencana arsitektur

 Pembentukan visualisasi dua dan trimantra

 Penyusunan uraian konsep rencana struktur

 Perhitungan analisis perhitungan struktur

 Penyusunan uraian konsep rencana utilitas

 Perhitungan analisis perhitungan utilitas

 Draft rencana anggaran biaya

 Draft rencana kerja dan syarat-syarat (RKS)

 Penyusunan Laporan Antara

 Diskusi Pembahasan Laporan Antara

 Perbaikan Laporan Antara

3  Tahap Pengembangan Rencana dan Detail

 Penyusunan Gambar Detail Arsitektur

 Penyusunan Gambar Animasi 3D Arsitektur

 Penyusunan Gambar Detail Struktur

 Penyusunan Gambar Detail Utilitas


 Penyusunan Rencana Kerja dan Syarat – syarat
(RKS)

PT. ALOCITA MANDIRI 6-4


JASA KONSULTANSI PERENCANAAN PEMBANGUNAN PUSKESMAS SUKAMANAH

Bulan 1 Bulan 2
No Kegiatan
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15

 Perhitungan Bill of Quantity (BQ)


 Perhitungan Rencana Anggaran Biaya (RAB)
Pekerjaan Konstruksi
 Rencana Maket Design Denah Tata Ruang/ Siteplan

 Penyusunan Laporan Akhir

 Diskusi Pembahasan Laporan Akhir

 Evaluasi dan Pelaporan Hasil

PT. ALOCITA MANDIRI 6-5


JASA KONSULTANSI PERENCANAAN PEMBANGUNAN PUSKESMAS
SUKAMANAH

Penyusunan organisasi pelaksanaan pekerjaan ini menyangkut hubungan antara


pemberi kerja dengan pelaksana kerja (konsultan), yang terdiri dari tenaga-tenaga
ahli dari berbagai bidang.

Pemberi tugas adalah Dinas Kesehatan Kabupaten Bandung sedangkan pelaksana


kerja dalam hal ini adalah Konsultan Perencana. Dalam pelaksanaan pekerjaan,
konsultan akan bertanggung jawab kepada Pimpinan Kegiatan yang telah ditunjuk
dan melakukan konsultasi teknis dengan pemerintah daerah. Tenaga ahli yang
dibutuhkan untuk melaksanakan pekerjaan Jasa Konsultansi Perencanaan
Pembangunan Puskesmas Sukamanah adalah tenaga ahli yang profesional yaitu:

a. Ketua Tim Ahli Arsitektur


Ketua tim merupakan seorang ahli arsitektur dengan kualifikasi S1 dalam
bidang teknik arsitektur, memiliki SKA Ahli Utama Arsitektur, dan pengalaman
bekerja minimal 7 tahun.

b. Tenaga Ahli Lingkungan

PT. ALOCITA MANDIRI 7-1


JASA KONSULTANSI PERENCANAAN PEMBANGUNAN PUSKESMAS
SUKAMANAH

Merupakan seorang ahli lingkungan dengan kualifikasi pendidikan S1 dalam


bidang lingkungan, memiliki SKA Ahli Madya Lingkungan, dan pengalaman
bekerja minimal 5 tahun.

c. Tenaga Ahli Sipil Struktur


Merupakan seorang ahli sipil dengan kualifikasi pendidikan S1 dalam bidang
teknik sipil, memiliki SKA Ahli Madya Teknik Bangunan Gedung, dan
pengalaman bekerja minimal 5 tahun.

d. Tenaga Ahli ME
Merupakan seorang ahli mekanikal elektrikal dengan kualifikasi pendidikan S1
dalam bidang teknik elektro, memiliki SKA Ahli Madya Teknik Transmisi Tenaga
Listrik, dan pengalaman bekerja minimal 5 tahun.

e. Tenaga Ahli K3 Konstruksi


Merupakan seorang ahli K3 Konstruksi dengan kualifikasi S1 dalam bidang
teknik sipil, memiliki SKA Ahli Madya K3 Konstruksi, dan pengalaman bekerja
minimal 5 tahun.

f. Tenaga Ahli K3 Konsultan Manajemen Kesehatan


Merupakan seorang ahli K3 Konstruksi dengan kualifikasi S1 dalam bidang
kesehatan, memiliki Sertifikat Konsultan Manajemen Kesehatan, dan
pengalaman bekerja minimal 5 tahun.

g. Tenaga Pendukung Asisten Tenaga Ahli


Merupakan seorang yang professional yaitu Asisten Tenaga Ahli dengan
kualifikasi S1 dalam bidang teknik sipil dan pengalaman bekerja minimal 3
tahun.

h. Tenaga Pendukung Administrasi


Merupakan seorang yang professional yaitu admisitrasi dengan kualifikasi
SMA/SMK bidang administrasi dan keuangan proyek dan pengalaman bekerja
minimal 3 tahun.

i. Tenaga Pendukung Operator Komputer

PT. ALOCITA MANDIRI 7-2


JASA KONSULTANSI PERENCANAAN PEMBANGUNAN PUSKESMAS
SUKAMANAH

Merupakan seorang yang professional yaitu admisitrasi dengan kualifikasi


SMA/SMK dan pengalaman bekerja minimal 3 tahun.

j. Tenaga Pendukung Juru Gambar Drafter CAD


Merupakan seorang yang professional yaitu Drafter CAD dengan kualifikasi
SMA/SMK dan pengalaman bekerja minimal 3 tahun.

k. Tenaga Pendukung Juru Gambar Drafter 3D


Merupakan seorang yang professional yaitu Drafter 3D dengan kualifikasi
SMA/SMK dan pengalaman bekerja minimal 3 tahun.

PT. ALOCITA MANDIRI 7-3


JASA KONSULTANSI PERENCANAAN PEMBANGUNAN PUSKESMAS SUKAMANAH

TABEL TENAGA AHLI DAN TANGGUNG JAWAB


Status Jumlah
Posisi
No Nama Personil Perusahaan Tenaga Keahlian Uraian Pekerjaan Orang
Diusulkan
Ahli /Bulan
TENAGA AHLI
1 Ahmad PT. Alocita Lokal Arsitektur Ahli  Memimpin dan mengkoordinasikan tim 1/1,5
Sulaiman, ST Mandiri Arsitektur pelaksana pekerjaan.
(Team  Menjabarkan dan mendefinisikan seluruh
Leader) cakupan kegiatan pekerjaan
sebagaimana tercantum dalam kerangka
acuan kerja dan usulan teknis.
 Merencanakan seluruh cakupan kegiatan
pekerjaan agar dapat dilaksanakan
sesuai dengan tujuan dan sasaran
pekerjaan
 Mengarahkan seluruh anggota tim sesuai
bidang keahlian masing-masing untuk
mencapai target pekerjaan.
 Mengarahkan dan memberikan masukan
terkait kebutuhan data yang diperlukan
 Menyusun pelaporan dari hasil
pengumpulan data primer dan sekunder
 Bersama dengan tim ahli menganalisa
dan merumuskan konsep dan
rekomendasi
2 Andry PT. Alocita Lokal Lingkungan Ahli  Melakukan koordinasi pelaksanaan 1/1,5
Novriandry, ST Mandiri Lingkungan pekerjaan secara internal Bersama team
leader dan anggota tim lainnya melalui

PT. ALOCITA MANDIRI 7-4


JASA KONSULTANSI PERENCANAAN PEMBANGUNAN PUSKESMAS SUKAMANAH

Status Jumlah
Posisi
No Nama Personil Perusahaan Tenaga Keahlian Uraian Pekerjaan Orang
Diusulkan
Ahli /Bulan
diskusi dan pembahasan materi yang
dikaji.
 Memberikan masukan dalam
menginventarisir data dan informasi
 Menyusun pelaporan dari hasil
pengumpulan data primer dan sekunder
 Bersama dengan team leader dan tim
ahli menganalisa dan merumuskan
konsep dan rekomendasi
3 Rachmat PT. Alocita Lokal Sipil Ahli Sipil  Melakukan koordinasi pelaksanaan 1/1,5
Suriyanegara, ST Mandiri Struktur pekerjaan secara internal Bersama team
leader dan anggota tim lainnya melalui
diskusi dan pembahasan materi yang
dikaji.
 Memberikan masukan dalam
menginventarisir data dan informasi
 Menyusun pelaporan dari hasil
pengumpulan data primer dan sekunder
 Bersama dengan team leader dan tim ahli
menganalisa dan merumuskan konsep
dan rekomendasi

PT. ALOCITA MANDIRI 7-5


JASA KONSULTANSI PERENCANAAN PEMBANGUNAN PUSKESMAS SUKAMANAH

Status Jumlah
Posisi
No Nama Personil Perusahaan Tenaga Keahlian Uraian Pekerjaan Orang
Diusulkan
Ahli /Bulan

4 Herdi, ST PT. Alocita Lokal Elektro Ahli  Melakukan koordinasi pelaksanaan 1/1,5
Mandiri Mekanikal pekerjaan secara internal Bersama team
Elektrikal leader dan anggota tim lainnya melalui
diskusi dan pembahasan materi yang
dikaji.
 Memberikan masukan dalam
menginventarisir data dan informasi
 Menyusun pelaporan dari hasil
pengumpulan data primer dan sekunder
 Bersama dengan team leader dan tim
ahli menganalisa dan merumuskan
konsep dan rekomendasi

PT. ALOCITA MANDIRI 7-6


JASA KONSULTANSI PERENCANAAN PEMBANGUNAN PUSKESMAS SUKAMANAH

Status Jumlah
Posisi
No Nama Personil Perusahaan Tenaga Keahlian Uraian Pekerjaan Orang
Diusulkan
Ahli /Bulan

5 Cecep Shandi PT. Alocita Lokal Sipil Ahli K3  Melakukan koordinasi pelaksanaan 1/1,5
Hidayat, ST Mandiri Konstruksi pekerjaan secara internal Bersama team
leader dan anggota tim lainnya melalui
diskusi dan pembahasan materi yang
dikaji.
 Memberikan masukan dalam
menginventarisir data dan informasi
 Menyusun pelaporan dari hasil
pengumpulan data primer dan sekunder
 Bersama dengan team leader dan tim
ahli menganalisa dan merumuskan
konsep dan rekomendasi

PT. ALOCITA MANDIRI 7-7


JASA KONSULTANSI PERENCANAAN PEMBANGUNAN PUSKESMAS SUKAMANAH

Status Jumlah
Posisi
No Nama Personil Perusahaan Tenaga Keahlian Uraian Pekerjaan Orang
Diusulkan
Ahli /Bulan

6 Nurhadi Jaya, PT. Alocita Lokal Kesehatan Ahli  Melakukan koordinasi pelaksanaan 1/1,5
[Link]., MARS Mandiri Konsultan pekerjaan secara internal Bersama team
Kesehatan leader dan anggota tim lainnya melalui
diskusi dan pembahasan materi yang
dikaji.
 Memberikan masukan dalam
menginventarisir data dan informasi
 Menyusun pelaporan dari hasil
pengumpulan data primer dan sekunder
 Bersama dengan team leader dan tim
ahli menganalisa dan merumuskan
konsep dan rekomendasi
TENAGA PENDUKUNG
1 Eric Seto, ST Lokal 2/1,5

PT. ALOCITA MANDIRI 7-8


JASA KONSULTANSI PERENCANAAN PEMBANGUNAN PUSKESMAS SUKAMANAH

Status Jumlah
Posisi
No Nama Personil Perusahaan Tenaga Keahlian Uraian Pekerjaan Orang
Diusulkan
Ahli /Bulan
2 Cucu Ahmad PT. Alocita Asisten Asisten Bertugas membantu tenaga ahli dalam
Pungkasara,ST Mandiri Tenaga Ahli Tenaga Ahli pekerjaan teknis pengumpulan data, analisis
dan evaluasi data, serta pelaporan
3 Frans Parera,SE PT. Alocita Lokal Administrasi Administrasi Bertugas sebagai kepengurusan dalam segi 1/1,5
Mandiri hal administrasi pada kegiatan ini tentunya
tetap berkoordinasi dengan team leader dan
anggota tim lainnya selain dengan pemimpin
perusahaan.
4 Fahri Septian, PT. Alocita Lokal Operator Operator Mengumpulkan data dan informasi 1/1,5
SPW Mandiri Komputer Komputer sebagaimana kebutuhan data dan informasi
yang diperlukan hasil rumusan team leader
dan anggota tim lainnya.
5 Achmad PT. Alocita Lokal Drafter CAD Drafter CAD Seorang drafter CAD memiliki tugas untuk 1/1,5
Kurniawan Mandiri membantu arsitek proyek (project architect)
Fachreza,[Link].T dalam membuat detail-detail gambar kerja.
6 Novi Ayu Mustika PT. Alocita Lokal Drafter 3D Drafter 3D Seorang drafter 3D memiliki tugas untuk 1/1,5
Ningrum, [Link].T Mandiri membantu arsitek proyek (project architect)
dalam membuat detail-detail gambar kerja
dan gambar 3D.

PT. ALOCITA MANDIRI 7-9


JASA KONSULTANSI PERENCANAAN PEMBANGUNAN PUSKESMAS
SUKAMANAH

ORGANISASI

Untuk memudahkan dan memelihara efisiensi kerja, perlu disusun suatu organisasi
pelaksanaan pekerjaan agar dapat berjalan lancar sesuai dengan maksud, tujuan
dan sasaran serta jadwal yang telah ditetapkan. Pada dasarnya dalam penyusunan
organisasi pelaksanaan pekerjaan tersebut menyangkut hubungan kerja antara
pemberi tugas dan penerima/pelaksana pekerjaan.
Dalam melaksanakan pekerjaan yang dimaksud, konsultan akan membentuk satu
tim yang dipimpin oleh Team Leader dengan didukung oleh beberapa tenaga ahli
dan juga beberapa tenaga pendukung yang berkompeten. Untuk mengetahui lebih
jelas, struktur organisasi pelaksanaan pekerjaan JASA KONSULTANSI
PERENCANAAN PEMBANGUNAN PUSKESMAS SUKAMANAH dapat dilihat pada
gambar berikut:

PT. ALOCITA MANDIRI 8-1


JASA KONSULTANSI PERENCANAAN PEMBANGUNAN PUSKESMAS
SUKAMANAH

DINAS KESEHATAN
KABUPATEN BANDUNG

PT. ALOCITA MANDIRI

KETUA TIM
Ahli Arsitektur

TENAGA AHLI TENAGA PENDUKUNG

1. Ahli Lingkungan 1. Asisten Tenaga Ahli


2. Ahli Sipil Struktur 2. Administrasi
3. Ahli Mekanikal Elektrikal 3. Operator Komputer
4. Ahli K3 4. Drafter CAD
5. Ahli Konsultan Kesehatan 5. Drafter 3D

Gambar 1 Struktur Organisasi Pelaksanaan Pekerjaan

Sebagaimana telah diuraikan di KAK bahwa Pengadaan Jasa Konsultansi


Perencanaan Pembangunan Puskesmas Sukamanah yang dialokasikan sesuai
Kerangka Acuan Kerja adalah 45 (empat puluh lima) hari adalah merupakan waktu
yang “singkat” untuk memenuhi kebutuhan materi yang harus dicapai dalam
pekerjaan ini.
Untuk mencapai efisiensi dan efektivitas pekerjaan dari keseluruhan rangkaian
pekerjaan, maka perlu disusun suatu komposisi penugasan dalam pelaksanaan
pekerjaan, agar tercipta pelaksanaan yang lancar sesuai dengan jadwal waktu yang
telah ditetapkan.

PT. ALOCITA MANDIRI 8-2


JASA KONSULTANSI PERENCANAAN PEMBANGUNAN PUSKESMAS SUKAMANAH

JADWAL PENUGASAN TENAGA AHLI

Berdasarkan ruang lingkup pekerjaan yang tercantum di dalam Kerangka Acuan Kerja (KAK), maka pihak konsultan mengusulkan Jadwal
Penugasan Tenaga Ahli seperti yang terlihat pada tabel berikut ini :

JADWAL PENUGASAN TENAGA AHLI JASA KONSULTANSI PERENCANAAN PEMBANGUNAN PUSKESMAS SUKAMANAH

Nama Personil Tenaga Ahli Bulan 1 Bulan 2 Orang


No. Posisi
dan Pendukung M1 M2 M3 M4 M1 M2 Bulan
Tenaga Ahli
1 Ahmad Sulaiman, ST Ketua Tim Ahli Arsitektur X X X X X X 1,5
2 Andry Novriandry, ST Ahli Lingkungan X X X X X X 1,5
3 Rachmat Suriyanegara, ST Ahli Sipil Struktur
4 Herdi, ST Ahli Mekanikal Elektrikal
5 Cecep Shandi Hidayat, ST Ahli K3 X X X X X X 1,5
6 Nurhadi Jaya, [Link]., MARS Ahli Konsultan Kesehatan X X X X X X 1,5
Tenaga Pendukung
1 Eric Seto, ST Asisten Tenaga Ahli X X X X X X 1,5
2 Cucu Ahmad Pungkasara,ST Asisten Tenaga Ahli X X X X X X 1,5
3 Frans Parera,SE Administrasi X X X X X X 1,5
4 Fahri Septian, SPW Operator Komputer X X X X X X 1,5
Achmad Kurniawan Fachreza, X X X X X X
5 Drafter CAD 1,5
[Link].T
Novi Ayu Mustika Ningrum, X X X X X X
6 Drafter 3D 1,5
[Link].T

PT. ALOCITA MANDIRI 8-3

Anda mungkin juga menyukai