• Selamat datang di Kuliah Online Teknik Formulasi Ransum.
• Pada kesempaan ini saya akan menyampaikan tentang latar belakang formulasi ransum
1
• Pakan merupakan kebutuhan dasar yang harus dipenuhi oleh setiap mahluk hidup
termasuk ternak.
• Untuk menghasilkan produksi yang tinggi, ternak membutuhkan asupan nutrien
yang cukup. Jika pakan yang diberikan tidak sesuai dengan kebutuhan ternak, baik
kekurangan atau kelebihan nutrien, maka ternak tidak akan dapat menghasilkan
produksi yang maksimal.
• Dalam industri peternakan, pakan memiliki peran yang sangat penting serta
berkontribusi terhadap keberhasilan peternakan. Kontribusi biaya pakan adalah 60-
89% dari total biaya produksi.
• Oleh karena itu untuk mencapai keuntungan yang tinggi maka kita harus
memberikan pakan yang seimbang, yaitu pakan dengan kandungan nutrien yang
cukup, sesuai dengan kebutuhan ternak, serta dengan harga yang rendah, atau
disebut juga dengan ransum murah dan seimbang atau balance least cost ration.
2
• Di Indonesia produksi pakan komersial yang dihasilkan indutri pakan sangat tinggi,
pada tahun 2015 saja produksi pakan mencapai 16.8 juta ton. Sekitar 90% jenis
pakan yang diproduksi adalah pakan unggas, dan 50% dari komponen ransum
adalah jagung.
• Namun demikian sebagian besar bahan pakan unggas masih diimport dari luar
negeri, antara lain jagung (sebagian), bungkil kedelai, tepung ikan, MBM, CGM,
CGF, canola, bahan premix dan lain sebagainya.
• Bahan pakan lokal umumnya digunakan untuk pakan ternak ruminansia, seperti
sapi potong dan sapi perah. Bahan pakan lokal yang tersedia antara lain: sebagian
jagung, dedak padi, tapioka, onggok, bungkil kelapa, bungkil sawit, CPO, pollar
(walapun gandumnya diimpor dari luar negeri), serta bahan-bahan lainnya.
• Kenapa kita masih banyak mengimpor bahan pakan dari luar negeri? karena
produksi dan kualitas bahan pakan lokal belum memenuhi standar bahan pakan
untuk industri pakan.
3
• Ini adalah grafik yang memperlihatkan peningkatan prduksi pakan dari tahun 2005
sampai 2015. Nampak bahwa peningkatannya cukup tajam, dengan peningkatan
pertumbuhan mencapai 12% per tahun, serta dengan nilai sekitar 50 trilun rupiah.
• Dengan demikian bisnis pakan merupakan bisnis yang sangat besar dalam suatu
bisnis peternakan secara keseluruhan. Karena pakan merupakan bahan baku untuk
memproduksi pangan asal hewan.
4
• Kalau kita lihat pada grafik proporsi bahan pakan ransum unggas, sekitar 50%
ransum unggas terdiri dari jagung, 18-20% bungkil kedelai, 15% dedak padi,
sisanya sumber protein lain seperti MBM, CGM, CPO serta premix.
• Dengan demikian komponen utama ransum unggas adalah jagung dan bungkil
kedelai. Jagung sebagai sumber energi utam dan bungki kedelai sebagai sumber
protein. Sehingga disebut dengan Corn-Soybean Based Ration.
• Ketergantungan terhadap bahan pakan impor ini sangat tinggi, sehingga harga
ransum sangat dipengaruhi oleh perubahan harga bahan baku impor, sementara
itu harga bahan baku impor sangat tergantung pada pasar global serta fluktuatif
kurs mata uang.
• Sebagai contoh pada table di sebelah kanan terlihat bahwa harga kedelai dan
jagung dunia yang sangat berfluktuatif.
• Ketika masa pandemic covid saat ini, harga ransum juga sangat dipengaruhi oleh
harga dunia yg juga dipengaruhi oleh masalah keterbatasan logistic. Harga ransum
meningkat, menyebabkan biaya produksi ternak meningkat, namun disisi lain daya
beli masyarakat turun. Hal inilah yang menyebabkan terjadinya masalah pada
peternakan unggas terutama pada saat awal terjadinya pandemic covid.
5
• Di Indonesia indutri pakan terbesar adalah Charoen Pokphand, diikuti oleh Japfa
Comfeed, Chield Jedang, dan indutri pakan lainnya. Kapasitas pabrik secara keseluruhan
mencapai 27.6 juta ton, namun saat ini produksi sekitar 16 juta ton.
• Untuk lebih mengetahui proses produksi di masing-masing pabrik, saya mohon kepada
mahasiswa untuk melihat video profil masing-masing industri pakan yang linknya
tersedia di LMS.
6
• Sekarang saya akan menjelaskan tentang ransum.
• Apa itu ransum?
• Ransum adalah campuran sejumlah bahan pakan yang diberikan kepada ternak untuk
dikonsumsi selama 24 jam. Artinya kebutuhan ransum biasanya dihitung untuk
kebutuhan sehari-semalam atau 24 jam.
• Nah untuk menghasilkan produksi yang tinggi, ternak harus diberikan ransum yang
seimbang atau Balance Ration. Yaitu ransum yang mengandung nutrient yang cukup
dan seimbang untuk kebutuhan produksi, misalnya untuk pertambahan berat badan
pada ayam broiler, untuk produksi telur pada ayam petelur, untuk produksi susu pada
sapi perah, atau untuk penggemukan pada sapi potong.
• Lalu apa bedanya Ransum dengan Bahan Pakan ? Ransum adalah campuran dua atau
lebih dari bahan pakan, sedangkan bahan pakan adalah bahan yang digunakan
penyusun ransum. Misalnya kalua kita memberikan seekor sapi rumput gajah dan
jagung, maka ransum sapi tersebut adalah campuran rumput dan jagung.
7
• Berikut ini contoh ransum untuk ternak unggas.
• Untuk ayam broiler ada beberpa jenis ransum komplit, yaitu ransum untuk ayam fase
starter, yaitu untuk ayam umur 0-2 minggu, ransum ayam grower (3-4 minggu) dan
ransum ayam finisher (5-6 minggu), namun karena pemeliharaan ayam saat ini lebih
cepat, hanya sekitar 5 minggu maka penggunaan ransum grower jarang dilakukan,
umumnya peternak hanya menggunakan dua jenis ransum yaitu starter dan finisher.
• Berikutnya adalah ransum untuk ayam petelur atau layer, yang teridiri dari ransum
starter, grower, dan layer. Ransum fase layer biasanya terdiri dari dua jenis, yaitu ransum
layer periode awal, dan ransum layer periode puncak produksi.
• Untuk ransum ayam petelur juga tersedia dalam bentuk konsentrat petelur. Yaitu ransum
konsentrat yang mengandung protein tinggi. Oleh peternakan kemudian konsentrat ini
dicampus dengan jagung, dedak serta bahan lain sehinga menjadi ransum komplit. Ini
biasanya dilakukan di daerah-daerah sentra produksi jaging seperti di Jawa Timur.
• Selain ayam broiler dan layer, industri pakan juga memproduksi ransum untuk ternak itik
dan ayam kampung. Untuk ransum ayam kampung dan itik, para peternak juga biasanya
membuat pakan sendiri dengan tujuan untuk lebih murah lagi.
8
• Berikut ini adalah contoh jenis-jenis ransum sapi potong.
• Ransum sapi potong dibedakan atas fase hidupnya
• Pertama adalah untuk sapi pedet, yaitu sapi yang baru lahir hingga umur 6 bulan. Pada
sapi pedet yang baru lahir hingga 3 bulan diberikan susu atau susu pengganti (milk
replacer), sedangkan pedet umur 3 bulan sudah bisa diberikan pakan konsentrat dengan
kandungan energi dan protein yang tinggi atau yang disebut calf starter.
• Pada sapi umur 6 sampai 1 tahun disebut dengan sapi pertumbuhan atau sapi muda.
Ransum yang diberikan adalah ransum pertumbuhan atau growing ration.
• Setelah sapi dewasa, maka sapi jantan akan digemukan dan mendapat ransum
penggemukan, sedangkan sapi betina dipelihara sebagai sapi induk agar dapat
bereproduksi dan menghasilkan anak.
9
• Jenis ransum sapi perah hampir sama dengan sapi potong, yang membedakan adalah
kandungan nutriennya.
• Jenis ransum sapi perah yang pertama adalah ransum sapi pedet, terdiri dari milk
replacer dan calf starter
• Untuk sapi pertumbuhan atau sapi muda. Khusus sapi dara atau sapi betina muda yang
membutuhkan jenis ransum berbeda, karena sapi dara betina harus dipelihara dengan
baik sebagai calon induk yang menghasilkan susu.
• Pada sapi betina yang menghasilkan susu atau disebut dengan sapi perah laktasi
diberikan ransum yang khusus sapi laktasi. Pada sapi laktasi, biasanya peternak akan
memberikan pakan yang khusus, karena tingkat produksi susu sangat tergantung pada
jumlah dan kualitas ransum yang diberikan.
• Ransum berikutnya adalah ransum sapi pejantan. Pejantan adalah sapi yang digunakan
untuk mengawini sapi betina. Pada peternakan yang memiliki pejantan atau di Balai
Inseminasi Buatan, ransum pejantan ini penting, agar sapi pejantan memiliki
kemampuan reproduksi yang baik sehingga dapat mengawini sapi-sapi betina.
10
• Setiap jenis ternak membutuhkan nutrient yang berbeda. Kebutuhan nutrient ternak
terdiri dari kebutuhan untuk Hidup Pokok atau Maintenance dan Kebutuhan untuk
Produksi.
• Kebutuhan hidup pokok adalah kebutuhan untuk nutrien dasar untuk aktivitas bernapas,
peredaran darah, serta aktivitas dasar dan tidak menyebabkan perubahan bobot badan.
• Sedangkan Kebutuhan Produksi adalah kebutuhan nutrien untuk pertumbuhan atau
pertambahan bobot badan, produksi susu pada sapi perah atau produksi telur atau
daging pada ayam.
• Oleh kerena itu Kebutuhah Nutrien untuk setiap jenis ternak berbeda-beda.
• Kebutuhan nutien tergantung pada banyak faktor, antara lain:
• Jenis ternak, berat badan, jenis kelamin, tingkat pertumbuhan, masa laktasi,
kondisi lingkungan, dsb.
• Salah satu acuan yang dapat digunakan dalam menentukan kebutuhan nutrient ada
ternak dapat menggunakan buku Nutrient Requirement dari National Research Council
atau NRC dari USA.
11
• NRC mengeluarkan berbagai buku standar kebutuhan nutrient untuk berbagai jenis
ternak, seperti untuk ternak Unggas, Sapi Potong, Sapi Perah, Kambing, Domba, Ikan dsb.
• Namun demikian standar NRC sangat ‘jadul’ maksudnya update buku NRC sangat lama
sekali, sehingga untuk standar kebutuhan unggas sering kali mengikuti standar
kebutuhan nutrient yang dikeluarkan oleh masing-masing perusahaan pembibit atau
breeder lebih update terhadap perkembangan ilmu.
12
• Selain Standar Kebutuhan Nutrien, dalam menyusun ransum kita juga dapat
menggunakan SNI atau Sandar Nasional Indonesia. Berbeda halnya dengan Standar
Kebutuhan Nutrien yang dikeluarkan oleh NRC, SNI adalah standar untuk memproduksi
pakan komersial yang dikeluarkan pemerintah Indonesia.
• Untuk dapat menjual produk pakan, kita harus membuat ransum yang mengikuti standar
minimal SNI. Namun demikian dalam SNI tidak seluruh nutrien digunakan sebagai
standar, hanya nutrien tertentu saja, seperti energi, protein, mineral Ca dan P, serta
beberpa AA. Sedangkan dalam NRC seluruh nutrien yang dibutuhkan baik nutrien makro
seperti energi, protein, lemak, serat, dan nutrient mikro seperti mineral, vitamin, asam
amino, asam lemak dsb
• Berikut ini beberapa SNI yang sudah dikeluakan, untuk pakan Broiler, Petelur, Sapi
Potong, Sapi Perah, serta standar untuk bahan pakan.
13
• Untuk memformulasikan ransum ternak, kita harus mengetahui kebutuhan nutrien dan
komposisi nutrisi setiap bahan pakan.
• Komposisi nutrien setiap jenis pakan berbeda-beda, tergantung dari kualitas setiap
bahan pakan.
• Komposisi bahan pakan yang tepat adalah hasil analisis dari laboratorium. Namun kita
juga dapat menggunakan tabel komposisi bahan pakan dari buku-buku standar pakan.
• Salah satu sistem informasi pakan yang menjadi rujukan untuk mengetahui komposisi
bahan pakan adalah Feedipedia yang beralamat di [Link].
• Dalam Feedipedia kita akan mengahui informasi berbagai jenis pakan, kompisisi nutrisi,
anti nutrisi, kecernaan serta penggunaan bahan pakan tersebut pada ternak
14
• Untuk memformulasikan ternak, selain kita harus mengetahui kebutuhan nutrien,
komposisi nutrisi bahan pakan, juga harus mengetahui batasan-batasan penggunaan
bahan pakan serta harga bahan pakan.
• Dengan demikian kita akan mendapatkan ransum yang sesuai dengan kebutuhan ternak.
15
• Formulasi ransum bisa dilakukan dengan cara sederhana atau dengan menggunakan
komputer. Dengan menggunakan komputer kita akan dibantu untuk mendapatkan
ransum dengan harga yang murah.
• Untuk menghasilkan ransum dengan harga murah, maka formulasi ransum harus
menggunakan software, mulai dari software yang sederhana dengan harga yang murah
sampai dengan software yang canggih dengan harga yang sangat mahal.
• Dalam perkuliahan ini akan dibahas berbagai teknik formulasi rnanum baik yang
sederhana maupun dengan menggunakan komputer.
16
• Berikut ini beberapa software yang dapat digunakan untuk formulasi ransum
17
• Program QM
18
• Program Win Feed
19
• Feedsoft
20
• Brill
21
• Demikian penjelasan pendahuluan tentang formulasi ransum, semoga para mahasiswa
dapat memahaminya.
• Terima kasih.
22