Home Pharmacy Care
Home Pharmacy Care
Pelayanan Kefarmasian yang bersifat kunjungan rumah,
khususnya untuk kelompok lansia dan pasien dengan
pengobatan penyakit kronis lainnya
Permenkes no 73/2016
*Memberikan edukasi dan pemahaman tentang obat
*Memastikan pasien dapat menggunakan obat
dengan benar
Pharmaceutical Care
Pharmacist Provided Care
“Bentuk pelayanan langsung apoteker dan
bertanggung jawab kepada pasien dalam
pekerjaan kefarmasian yang dilaksanakan
untuk meningkatkan kualitas hidup pasien”
reelalitha NEV, Narayana G, Padmanabha Y, Reddy RM. 2012 Review of Pharmaceutical Care Services Provided by The Pharmacist.
Definisi HPC
Pelayanan kefarmasian di rumah oleh apoteker
adalah pendampingan pasien oleh apoteker
dalam pelayanan kefarmasian di rumah dengan
persetujuan pasien atau keluarganya.
Jenis Layanan HPC
* Penilaian/pencarian (assessment) masalah yang
berhubungan dengan pengobatan
* Identifikasi kepatuhan pasien
* Pendampingan pengelolaan Obat dan/atau alat
kesehatan di rumah, misalnya cara pemakaian Obat
asma, penyimpanan insulin
* Konsultasi masalah Obat atau kesehatan secara umum
* Monitoring pelaksanaan, efektifitas dan keamanan
penggunaan Obat berdasarkan catatan pengobatan
pasien
* Dokumentasi pelaksanaan Pelayanan Kefarmasian di
rumah dengan menggunakan Formulir 8
Permenkes no 73/2016
Formulir 8
DOKUMENT
ASI
PELAYANAN
Nama Pasien : KEFARMASI
Jenis Kelamin : AN DI
Umur RUMAH
:
Alamat (HOME
:
No. Telepon PHARMACY
: CARE)
No Tanggal Kunjungan Catatan Pelayanan
Apoteker
................... 20....
Apoteker
Sasaran HPC?
Ditujukan untuk pasien yang tidak
atau belum dapat menggunakan
obat dan atau alat kesehatan
secara mandiri, yaitu pasien yang
memiliki kemungkinan
mendapatkan risiko masalah terkait
obat
American Society of Health-System Pharmacist. 2000
Pasien yang beresiko mendapatkan
masalah terkait obat
1. Kelompok pasien lanjut usia, pasien yang
menggunakan obat dalam jangka waktu lama seperti
penggunaan obat-obat kardiovascular, diabetes, TB,
asma, HIV/AIDS, dan penyakit kronis lainnya.
2. Pasien yang menderita penyakit kronis dan
memerlukan perhatian khusus tentang penggunaan
obat, interaksi obat dan efek samping obat
Pasien yang beresiko mendapatkan
masalah terkait obat
3. Pasien Geriatri, dengan kriteria:
-> 6 macam obat/hari
->12 dosis/hari
-> 6 diagnosa
- menggunakan salah satu obat berikut:
diazepam, flurazepam, pentobarbital, amitriptilin,
isoxsuprime, cyclobenzaprine, orphenadrine, chlordoazepoxide,
meprobamate, secobarbital, indimetachin, cyclandelate,
methocarbamol, trimethobenzamide, phenylbutazone,
chlorpropamide, propoxyphene, pentazocine,
dipyridamole,carisoprodol
Tujuan utama HPC
diharapkan dapat memberikan
pemahaman tentang pengobatan dan
memastikan bahwa pasien yang telah
berada di rumah dapat menggunakan
obat dengan benar
Tercapainya keberhasilan terapi
obat !!!
Tujuan lain HPC
1. Terlaksananya pendampingan pasien oleh apoteker untuk
mendukung efektifitas, keamanan dan kesinambungan
pengobatan
Tujuan lain HPC
2. Terwujudnya komitmen, keterlibatan dan kemandirian
pasien dan keluarga dalam penggunaan obat dan atau alat
kesehatan yang tepat
Tujuan lain HPC
3. Terwujudnya kerjasama profesi kesehatan, pasien dan
keluarga
Manfaat bagi Pasien
1. Terjaminnya keamanan, efektifitas dan keterjangkauan
biaya pengobatan
2. Meningkatkan pemahaman dalam pengelolaan dan
penggunaan obat dan/atau alat kesehatan
3. Terhindarnya reaksi obat yang tidak diinginkan
4. Terselesaikannya masalah penggunaan obat
dan/atau alat kesehatan dalam situasi tertentu
Manfaat bagi Apoteker
1. Pengembangan kompetensi apoteker dalam pelayanan
kefarmasian di rumah
Manfaat bagi Apoteker
2. Pengakuan profesi farmasi oleh masyarakat kesehatan,
masyarakat umum dan pemerintah
3. Terwujudnya kerjasama antar profesi kesehatan
1. Penilaian sebelum dilakukan pelayanan kefarmasian
di rumah (Pre- admission Assessment ).
— Pasien, keluarga atau pendamping pasien setuju
— Pasien, keluarga atau pendamping pasien adalah orang yang akan diberikan
pendidikan tentang cara pemberian pengobatan yang benar
— Apoteker pemberi layanan memiliki akses ke rumah pasien
— Adanya keterlibatan dokter dalam penilaian dan pengobatan pasien secara
terus menerus
— Obat yang diberikan tepat indikasi, dosis, rute dan cara pemberian obat
— Adanya uji laboratorium yang sesuai untuk dilakukan monitoring selama
pelayanan kefarmasian di rumah
— Depkes RI 2008
[Link] sebelum dilakukan pelayanan
kefarmasian di rumah (Pre- admission Assessment
).
— Adanya dukungan finansial dari keluarga untuk pelaksanaan
pelaksanaan pelayanan kefarmasian di rumah:
Jasa pelayanan kefarmasian mencakup pemberian
bantuan, tindakan intervensi langsung maupun
konsultasi
Penggantian biaya pemakaian obat dan alat kesehatan
yang digunakan langsung oleh pasien
2. Penilaian dan pencatatan data
awal pasien
— ama pasien, alamat, nomor telepon dan tanggal
N
lahir pasien
Nama, alamat, nomor telepon yang bisa dihubungi
—
dalam keadaan emergensi
Tinggi, berat badan dan jenis kelamin pasien
—
Pendidikan terakhir pasien
—
Hasil diagnosa
—
Hasil uji laboratorium
—
Riwayat penyakit pasien
—
Riwayat alergi
—
Profil pengobatan pasien yang lengkap (obat keras
—
dan otc), imunisasi, obat tradisional
2. Penilaian dan pencatatan data
awal pasien
— Nama dokter, alamat, nomor telepon dll
— Institusi atau tenaga kesehatan lain yang terlibat
dalam pelayanan kesehatan di rumah dan nomor
telepon
— Rencana pelayanan dan daftar masalah yang
terkait obat, jika ada
— Tujuan pengobatan dan perkiraan lama
pengobatan
— Indikator keberhasilan pelayanan kefarmasian di
rumah
3. Menyusun rencana pelayanan kefarmasian di rumah,
yang dikomunikasikan dan didokumentasikan
Dengan bekerjasama dengan pasien, keluarga dan
berkoordinasi dengan tenaga kesehatan lain, apoteker
menyusun rencana pelayanan kefarmasian di rumah
Rencana pelayanan kefarmasian di rumah
—Gambaran masalah aktual dan masalah terkait obat dan
cara mengatasinya
—Gambaran dari hasil terapi yang dilakukan
—Usulan pendidikan dan konseling untuk pasien
—Rencana khusus pelaksanaan monitoring dan frekwensi
monitoring yang akan dilakukan
[Link] koordinasi penyediaan
pelayanan
— Memberikan informasi kepada pasien dan keluarga tentang
berbagai pelayanan kesehatan yang tersedia di masyarakat
yang dapat digunakan pasien sesuai dengan kebutuhan
mereka
— Membuat perjanjian (kesepakatan) dengan pasien dan
keluarga tentang pelayanan kesehatan yang diberikan
[Link] koordinasi penyediaan
pelayanan
— Mengkoordinasikan rencana pelayanan kefarmasian kepada
tenaga kesehatan yang terlibat dalam pelayanan kefarmasian di
rumah kepada pasien berdasarkan jadwal kunjungan yang telah
dibuat
— Bekerjasama dengan tenaga kesehatan lain dalam memberikan
pelayanan kesehatan kepada pasien sepanjang rentang
perawatan yang dibutuhkan pasien
[Link] koordinasi penyediaan
pelayanan
* Melaksanakan pelayanan kefarmasian
berfokus dengan tujuan akhir
meningkatkan kemandirian dan kualitas
hidup pasien
* Melakukan rujukan dan keputusan
penghentian pelayanan kefarmasian di
rumah
[Link] edukasi pasien dan
konseling
Apoteker bertanggung jawab memastikan bahwa pasien
menerima edukasi dan konseling tentang terapi
pasien, baik secara lisan atau tulisan.
Informasi yang diberikan meliputi:
— Gambaran pengobatan, mencakup obat, dosis, rute
pemberian, interval dosis, dan lama pengobatan
— Tujuan pengobatan dan indikator tujuan pengobatan
— Teknik penilaian untuk monitoring efektivitas terapi
— American Society of Health-System Pharmacist. 2000
[Link] edukasi pasien dan
konseling
— Pentingnya mengikuti rencana perawatan
— Teknik aseptis
— Perawatan peralatan untuk pembuluh darah, jika ada
— Petunjuk cara pemberian obat
— Pemeriksaan obat dan peralatan yang digunakan
— Peralatan yang digunakan dan cara perawatannya
[Link] edukasi pasien dan konseling
* Manajemen inventarisasi di rumah dan prosedur
penyelamatan peralatan
* Potensi munculnya efek samping obat, interaksi
obat, interaksi obat – makanan, kontra indikasi,
reaksi yang tidak diharapkan dan cara
mengatasinya
* Petunjuk penyiapan, penanganan dan
pembuangan obat, peralatan dan pembuangan
biomedis
[Link] edukasi pasien dan konseling
* Informasi cara menghubungi tenaga
kesehatan yang terlibat dalam pengobatan
pasien
* Prosedur emergensi
6. Pemantauan Terapi Obat
Apoteker secara terus menerus bertanggung jawab
melakukan pemantauan terapi obat dan evaluasi
penggunaan obat pasien sesuai rencana pelayanan
kefarmasian dan disampaikan semua hasilnya kepada
tenaga kesehatan yang terlibat dalam pengobatan
pasien.
Hasil pemantauan ini didokumentasikan dalam catatan
penggunaan obat pasien.
7. Melakukan pengaturan dalam penyiapan
pengiriman, penyimpanan dan cara
pemberian
obat
Apoteker menjamin bahwa obat yang akan diberikan
sudah sisiapkan dengan benar.
P Apoteker menjamin bahwa pengobatan dan
peralatan yang dibutuhkan pasien diberikan secara
benar, tepat waktu untuk mencegah terhentinya
terapi obat.
P Apoteker menjamin kondisi penyimpanan obat dan
peralatan harus konsisten sesuai dengan petunjuk
pemakaian baik selama pengiriman obat dan saat
8. Pelaporan Efek Samping Obat dan cara
mengatasinya
Apoteker melakukan pemantauan dan melaporkan
hasil monitoring efek samping obat dan kesalahan
pengobatan.
Reaksi efek samping yang serius dan masalah terkait
obat harus dilaporkan ke Badan POM RI
9. Berpartisipasi dalam penelitian klinis obat di
HPC
Dalam melakukan penelitian klinis obat di rumah,
apoteker sebaiknya telah memperoleh dan memiliki
informasi yang cukup tentang protokol penelitian
obat.
[Link] penghentian pelayanan kefarmasian di
rumah
HPC dapat dihentikan diantaranya dalam beberapa
kondisi berikut:
— asil pelayanan tercapai sesuai tujuan
H
Kondisi pasien stabil
—
Keluarga sudah mampu melakukan pelayanan
—
di rumah Pasien dirawat kembali di rumah
sakit
Pasien menolak pelayanan lebih lanjut
—
Pasien pindah tempat ke lokasi lain
—
Pasien meninggal dunia
—
Pentingnya dokumentasi dalam HPC
1. Memberikan bukti dan kepastian hukum bagi
apoteker dan pasien
2. Dapat digunakan sebagai pedoman untuk
pelaksanaan pelayanan kefarmasian di rumah bagi
apoteker dengan standar kualitas yang sama
3. Data yang terdapat dalam dokumen dapat
digunakan untuk penelitian
4. Mengetahui riwayat penyakit pasien
Yg harus didokumentasikan dalam
HPC
1. Prosedur tetap pelayanan kefarmasian di rumah
2. Catatan penggunaan obat pasien
3. Lembar Persetujuan ( informed consent) untuk
apoteker dan pasien
4. Kartu Kunjungan
Prosedur pelayanan kefarmasian di rumah
P Melakukan penilaian awal terhadap pasien untuk
mengindentifikasi adanya masalah kefarmasian yang
perlu ditindaklanjuti dengan pelayanan kefarmasian di
rumah.
P Menjelaskan permasalahan kefarmasian kepada
pasien dan manfaat pelayanan kefarmasian di rumah
bagi pasien
Prosedur pelayanan kefarmasian di rumah
PMenawarkan pelayanan kefarmasian di rumah kepada
pasien.
P Menyiapkan lembar persetujuan dan meminta pasien untuk
memberikan tanda tangan, apabila pasien menyetujui
pelayanan tersebut.
P Mengkomunikasikan layanan tersebut pada tenaga
kesehatan lain yang terkait, apabila diperlukan. Pelayanan
kefarmasian di rumah juga dapat berasal dari rujukan dokter
kepada apoteker apotek yang dipilih oleh pasien.
Prosedur pelayanan kefarmasian di rumah
P Membuat rencana pelayanan kefarmasian di rumah dan
menyampaikan kepada pasien dengan mendiskusikan
waktu dan jadwal yang cocok dengan pasien dan
keluarganya.
PMelakukan pelayanan sesuai dengan jadwal dan rencana
yang telah disepakati. Mengkoordinasikan pelayanan
kefarmasian kepada dokter (bila rujukan)
P Mendokumentasikan semua tindakan profesi tersebut
pada Catatan Penggunaan Obat Pasien.
Lembar Persetujuan ( informed consent) untuk
apoteker dan pasien
Lembar Persetujuan merupakan bukti tertulis kesepakatan
bersama antara pasien dan apoteker untuk pelayanan
kefarmasian di rumah.
P Memberikan gambaran hak dan kewajiban pasien
P Memberikan gambaran hak dan kewajiban apoteker
Contoh Inform Consent:
Lembar persetujuan sekurang-kurangnya memuat :
P Nama Pasien
P Alamat Pasien
P Umur Pasien
P Permasalahan yang dihadapi oleh pasien
P Bentuk pelayanan kefarmasian yang direncanakan apoteker
P Hak dan kewajiban apoteker
P Hak dan kewajiban pasien
P Tanda tangan pasien dan tanda tangan apoteker
Kartu Kunjungan
Kartu Kunjungan merupakan bukti kehadiran apoteker dalam
melakukan pelayanan HPC tentang perkembangan kondisi
pasien yang ditulis oleh apoteker.
Kartu Kunjungan sekurang-kurangnya berisi :
P Nama Pasien
P Nama Apoteker
P Tanggal dan jam kunjungan
P Catatan apoteker
MONITORING DAN EVALUASI HPC
Monitoring dan evaluasi pelayanan HPC akan
menyediakan informasi yang akurat tentang pasien
dan pengobatannya untuk meningkatkan kualitas
pelayanan HPC
Tujuan dari monitoring dan evaluasi HPC
adalah:
1. Melakukan monitoring tindakan pelayanan kefarmasian di
rumah yang dilakukan dengan melihat perkembangan
kondisi pasien terkait perubahan status atau
perkembangan kesehatan pasien sebagai akibat
penggunaan obat.
2. Menilai respon atau hasil akhir pelayanan kefarmasian
untuk membuat keputusan penghentian pelayanan
kefarmasian di rumah.
Tujuan dari monitoring dan evaluasi HPC
adalah:
3. Mengevaluasi kualitas proses dan hasil pelayanan
kefarmasian di rumah
Menilai keakuratan dan kelengkapan pengkajian awal
Menilai kesesuaian perencanaan dan ketepatan dalam
melakukan pelayanan kefarmasian
Menilai efektifitas dan efisiensi pelaksanaan pelayanan
kefarmasian yang dilakukan
Kesimpulan
HPC adalah pendampingan pasien oleh apoteker
dalam pelayanan kefarmasian di rumah dengan
persetujuan pasien atau keluarganya.
ALUR PELAYANAN HPC
Kemenkes RI 2008
1. Melakukan penilaian awal terhadap pasien untuk
mengindentifikasi adanya masalah kefarmasian yang
perlu ditindaklanjuti dengan pelayanan kefarmasin di
rumah
2. Menjelaskan permasalahan kefarmasian kepada pasien
dan manfaat pelayanan kefarmasian di rumah bagi
pasien
3. Menawarkan pelayanan kefarmasian di rumah
kepada pasien
4. Menyiapkan lembar persetujuan (informed consent) dan
meminta pasien untuk memberikan tanda tangan, apabila
pasien menyetujui pelayanan tersebut
5. Mengkomunikasikan layanan tersebut pada tenaga
kesehatan lain yang terkait, apabila diperlukan. Pelayanan
kefarmasian di rumah juga dapat berasal dari rujukan
dokter kepada apoteker apotek yang dipilih oleh pasien.
6. Membuat rencana pelayanan kefarmasian di rumah dan
menyampaikan kepada pasien dengan mendiskusikan
waktu dan jadwal yang cocok dengan pasien dan
keluarganya.
7. Melakukan pelayanan sesuai dengan jadwal dan rencana
yang telah disepakati.
8. Mendokumentasikan semua tindakan profesi tersebut pada
Catatan Penggunaan Obat Pasien
“People don’t care how
much you know, until
they know how much you
care...”
John C. Maxwell.
Terima Kasih
55
Pengelolaan Resep, Apotek dan
Praktek Apoteker
Apt. Elvina Triana Putri, [Link]
Knowledge
Skill
Health
Community Recipe
service
Pharmacy Management
facility
model
Pharmacy
Regulated - Drug Related
behaviour
Problem
- Medication
Error
- Prescription form
Therapeutic Efectiveness
Pengelolaan
Apoteker berkewajiban menyediakan, menyimpan
dan menyerahkan sediaan farmasi yang bermutu baik
dan yang keabsahannya terjamin. (Kepmenkes
1332/Menkes/SK/X/2002)
Pengelolaan Apotek
Pengelolaan Apotek meliputi :
[Link], pengolahan, peracikan, pengubahan
bentuk pencampuran, penyimpanan dan penyerahan
obat atau bahan obat.
b. Pengadaan, penyimpanan, penyaluran dan penyerahan
perbekalan farmasi lainnya.
c. Pelayanan informasi mengenai perbekalan farmasi.
Pelayanan informasi meliputi:
Pelayanan informasi tentang obat dan perbekalan
farmasi lainnya yang diberikan baik kepada dokter dan
tenaga kesehatan Iainnya maupun kepada masyarakat.
Pengamatan dan pelaporan informasi mengenai khasiat
keamanan, bahaya dan atau mutu obat dan
perbekaian farmasi Iainnya.
Kepmenkes 1332/2002
Apoteker berkewajiban menyediakan, menyimpan
danmenyerahkan Sediaan Farmasi yang bermutu
baik dan yang keabsahannya terjamin
Sediaan Farmasi yang karena sesuatu hal tidak dapat
diigunakan lagi atau dilarang digunakan, harus
dimusnahkan den gan cara dibakar atau ditanam
atau dengan cara lain yang ditetapkan oleh Menteri
Resep
Permintaan tertulis dari dokter, dokter gigi, dokter
hewan kepada apoteker pengelola apotik untuk
menyediakan dan menyerahkan obat bagi penderita
sesuai peraturan perundang-undangan yang
berlaku
Resep mrp perwujudan hubungan
dokter, farmasi, pasien
Dokumentasi
Penerimaan dan
setiap alur
Skrining
pelayanan, record
Pemeriksaan PIO, Konseling,
ketersediaan KIE
Pemeriksaan dan
Dispensing
Penyerahan
Ketentuan Umum Resep :
Permenkes 922/1993
1. Apoteker wajib melayani resep sesuai dengan tanggung
jawab dan keahlian profesinya yang dilandasi pada
kepentingan masyarakat.
2. Apoteker tidak diizinkan untuk mengganti obat generik yang
ditulis didalam resep dengan obat paten.
3. Dalam hal pasien tidak mampu menebus obat yang tertulis di
dalam resep Apoteker wajib berkonsultasi dengan dokter
untuk pemilihan obat yang lebih tepat.
4. Apoteker wajib memberikan informasi:
a. Yang berkaitan dengan penggunaan obat yang diserahkan
kepada pasien.
b. Penggunaan obat secara tepat, aman, rasional atas
permintaan masyarakat.
Permenkes 922/1993
1. Apabila Apt menganggap bahwa dlm R/ terdapat kekeliruan
atau penulisan R/ yang tdk tepat, Apt harus memberitahukan
kepada dr penulis R/.
2. Apabila karena pertimbangan tertentu dr penulis R/ tetap
pada pendiriannya, dr wajib menyatakannya secara tertulis
atau membubuhkan tanda tangan yang lazim di atas R/.
Permenkes 922/1993
1. Salinan R/ harus ditandatangani oleh Apt.
2. R/ harus dirahasiakan dan disimpan di Apotek dengan baik
dalam jangka waktu 3 (tiga) tahun.
3. R/ atau salinan R/ hanya boleh diperlihatkan kpd dr penulis
R/ atau yang merawat penderita, penderita yang
[Link] kesehatan atau petugas lain yang
berwenang menurut perUU yang berlaku
Apoteker Pengelola Apotek, Apoteker Pendamping atau
Apoteker Pengganti diizinkan untuk menjual obat keras
yang dinyatakan sebagai
Daftar Obat Wajib Apotik tanpa resep.
Kepmenkes 1332/2002
1. Apabila APA berhalangan melakukan tugasnya pada
jam buka Apotek, APA harus menunjuk APING
pendamping;
2. Apabila APA dan APING karena hal-hal tertentu
berhalangan melakukan tugasnya, APA menunjuk
Apoteker Pengganti
3. harus dilaporkan Kepada Kepala Dinas Kesehatan
Kabupaten /Kota dengan tembusan Kepada Kepala
Dinas Kesehatan Propinsi setempat dengan
menggunakan contoh Formulir Model APT-9;
Pengkajian dan Pelayanan
Resep
O Kegiatan pengkajian Resep meliputi administrasi,
kesesuaian farmasetik dan pertimbangan klinis.
Permenkes 72/2016
Administratif Farmasetik Klinis
•Nama pasien, •Bentuk dan •Ketepatan
umur, jenis kekuatan indikasi dan
kelamin, BB sediaan, dosis
•Nama dr, SIP, •Stabilitas •Aturan, cara
telp, paraf •kompatibilitas dan lama
•Kop dan tgl pemakaian
penulisan •Dupilikasi dan
resep polifarmasi
•ROTD
•Kontraindikasi
•Interaksi
Kepmenkes 1332/2002
1. Pembinaan terhadap apotik dilaksanakan secara
berjenjang dari tingkat Pusat sampai dengan
Daerah, atas petunjuk teknis Menteri.
2. Dalam pelaksanaan pem binaan dan pengawasan
Apotek dilaksanakan oleh Depkes, Dinkes dan
Badan POM;
3. Tata cara pemeriksaan menggunakan contoh
Formulir Model APT-
Penyimpanan Resep
O Disimpan selama 3 tahun berdasarkan nomor
urut dan tanggal pembuatan
O Pemusnahan resep hanya boleh dengan jalan
pembakaran
O Pemusnahan dengan membuat BAP
Pengelolaan Khusus
O Narkotika dan Psikotropika
O Resep, Salinan Resep Narkotika
O Tempat Penyimpanan Narkotika
O Pemusnahan Narkotika
O Pelaporan
Salinan Resep Narkotika
1. Apotek dilarang melayani salinan resep
Narkotika walaupun resep itu baru
dilayani sebagian atau belum dilayani
samasekali
2. Resep Narkotika yg baru dilayani sebagian
atau belum dilayani samasekali,
apotek boleh membuat salinan
resep, tetapi salinan resep tsb hanya boleh
dilayani di apotek yang menyimpan
resep aslinya
Salinan resep narkotika ITER tidak boleh
dilayani sama sekali
Apotek melanggar peraturan
salinan resep Narkotika
Diberikan PERINGATAN KERAS,
Jika masih melanggar lagi
dihentikan kegiatannya
sementara waktu
PERMENKES 3/2015
Tentang penyimpanan Narkotika
Tempat penyimpanan Narkotika, Psikotropika, dan
Prekursor Farmasi dapat berupa gudang, ruangan,
atau lemari khusus.
Lemari khusus :
1. terbuat dari bahan yang kuat;
2. tidak mudah dipindahkan dan mempunyai 2 (dua) buah kunci
yang berbeda;
3. harus diletakkan dalam ruang khusus di sudut gudang, untuk
Instalasi Farmasi Pemerintah;
4. diletakkan di tempat yang aman dan tidak terlihat oleh umum,
untuk Apotek, Instalasi Farmasi Rumah Sakit, Puskesmas,
Instalasi Farmasi Klinik, dan Lembaga Ilmu Pengetahuan
5. kunci lemari khusus dikuasai oleh Apoteker penanggung
jawab/Apoteker yang ditunjuk dan pegawai lain yang
dikuasakan
Pemusnahan Resep
O Resep yang telah disimpan melebihi jangka
waktu 5 (lima) tahun
O dilakukan oleh Apoteker disaksikan oleh
sekurang-kurangnya petugas lain
O cara dibakar atau cara pemusnahan lain yang
dibuktikan dengan Berita Acara Pemusnahan
Resep
O dilaporkan kepada dinas kesehatan
kabupaten/kota.
Pembinaan dan Pengawasan
(Kepmenkes 1332/Menkes/SK/X/2002)
Pembinaan terhadap apotek dilaksanakan secara
berjenjang dari tingkat Pusat sampai dengan
Daerah, atas petunjuk teknis Menteri.
Pelaksanaan pembinaan dan pengawasan apotik
dilaksanakan oleh Departemen Kesehatan, Dinas
Kesehatan, dan Badan POM.
APOTEK DAN PRAKTEK APOTEKER
MENURUT UNDANG UNDANG NO. 36
TAHUN 2009 DAN PERATURAN
PEMERINTAH NO 51 TAHUN 2009
APOTEK DAN PRAKTEK APOTEKER
MENURUT UNDANG UNDANG NO. 36 TAHUN 2009 DAN
PERATURAN PEMERINTAH NO 51 TAHUN 2009
PP 51 tahun 2009
Pekerjaan Kefarmasian adalah pembuatan termasuk
pengendalian mutu Sediaan Farmasi, pengamanan, pengadaan,
penyimpanan dan pendistribusi atau penyaluranan obat,
pengelolaan obat, pelayanan obat atas resep dokter, pelayanan
informasi obat, serta pengembangan obat, bahan obat dan obat
tradisional.
Pelayanan Kefarmasian adalah suatu pelayanan langsung dan
bertanggung jawab kepada pasien yang berkaitan dengan Sediaan
Farmasi dengan maksud mencapai hasil yang pasti untuk
meningkatkan mutu kehidupan pasien.
PP51/2009
Tujuan pengaturan Pekerjaan Kefarmasian
untuk:
a. memberikan perlindungan kepada pasien dan masyarakat
dalam memperoleh dan/atau menetapkan sediaan farmasi
dan jasa kefarmasian;
b. mempertahankan dan meningkatkan mutu penyelenggaraan
Pekerjaan Kefarmasian sesuai dengan perkembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi serta peraturan perundangan-
undangan; dan
c. memberikan kepastian hukum bagi pasien, masyarakat dan
Tenaga Kefarmasian.
PP51/2009
Standar Profesi adalah pedoman untuk menjalankan
praktik profesi kefarmasian secara baik.
Standar Prosedur Operasional adalah prosedur tertulis
berupa petunjuk operasional tentang Pekerjaan
Kefarmasian.
Standar Kefarmasian adalah pedoman untuk melakukan
Pekerjaan Kefarmasian pada fasilitas produksi, distribusi
atau penyaluran, dan pelayanan kefarmasian.
PP51/2009
1. Dalam melakukan Pekerjaan Kefarmasian,
Apoteker harus menetapkan Standar Prosedur
Operasional.
2. Standar Prosedur Operasional harus dibuat secara
tertulis dan diperbaharui secara terus menerus
sesuai perkembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi di bidang farmasi dan ketentuan
peraturan perundang-undangan.
Dalam melakukan Pekerjaan Kefarmasian pada Fasilitas Pelayanan
Kefarmasian, Apoteker dapat:
a. mengangkat seorang Apoteker pendamping yang memiliki SIPA;
b. mengganti obat merek dagang dengan obat generik yang sama
komponen aktifnya atau obat merek dagang lain atas persetujuan dokter
dan/atau pasien; dan
c. menyerahkan obat keras, narkotika dan psikotropika kepada
masyarakat atas resep dari dokter sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan.
PP51/2009
1. Setiap Tenaga Kefarmasian dalam menjalankan Pekerjaan
Kefarmasian wajib menyimpan Rahasia Kedokteran dan
Rahasia Kefarmasian.
2. Rahasia Kedokteran dan Rahasia Kefarmasian hanya dapat
dibuka untuk kepentingan pasien, memenuhi permintaan
hakim dalam rangka penegakan hukum, permintaan pasien
sendiri dan/atau berdasarkan ketentuan peraturan
perundang-undangan.
3. Ketentuan lebih lanjut mengenai Rahasia Kedokteran dan
Rahasia Kefarmasian sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
diatur dengan Peraturan Menteri.
PP51/2009
(1) Setiap Tenaga Kefarmasian dalam melaksanakan Pekerjaan
Kefarmasian wajib menyelenggarakan program kendali mutu
dan kendali biaya.
(2) Pelaksanaan kegiatan kendali mutu dan kendali biaya
dilakukan melalui audit kefarmasian.
Pembinaan dan pengawasan terhadap audit kefarmasian dan
upaya lain dalam pengendalian mutu dan pengendalian biaya
dilaksanakan oleh Menteri.
PP51/2009
“kendali mutu” adalah suatu sistem pemberian Pelayanan
Kefarmasian yang efektif, efisien, dan berkualitas dalam
memenuhi kebutuhan Pelayanan Kefarmasian.
Yang dimaksud dengan “kendali biaya” adalah Pelayanan
Kefarmasian yang benar-benar sesuai dengan kebutuhan dan
didasarkan pada harga yang sesuai dengan ketentuan
perundang-undangan.
“audit kefarmasian” adalah upaya evaluasi secara profesional
terhadap mutu Pelayanan Kefarmasian yang diberikan kepada
masyarakat yang dibuat oleh Organisasi Profesi atau Asosiasi
Institusi Pendidikan Farmas
STANDAR PROSEDUR OPERASIONAL (SPO)
TUJUAN DAN MANFAAT
TUJUAN
1. Merupakan bukti yang dapat dipercaya terhadap
pemenuhan GPP
2. Sebagai dokumentasi catatan mutu terhadap semua
aspek pelayanan, pengawasan mutu dan jaminan mutu.
3. Dokumentasi tertulis yang jelas mencegah terjadinya
kesalahan
4. Menyediakan jaminan bahwa aktivitas yang
berhubungan dengan mutu telah dilaksanakan secara
tepat sesuai dengan prosedur yang telah direncanakan
dan disetujui.
5. Karyawan mengetahui apa yang harus dilakukan
6. Tanggung jawab dan wewenang diidentifikasi
7. Format untuk dasar perbaikan
STANDAR PROSEDUR OPERASIONAL (SPO)
MANFAAT
1. Administrasi
2. Legalitas dari sisi hukum
3. Berkaitan dengan keuangan/ finance
4. Research/ survey/ penelitian
5. Edukasi/ pendidikan
6. Dokumen penting
Apoteker harus menyediakan dokumen yang dibutuhkan, antara
lain :
1. Pedoman Cara Pelayanan Kefarmasian yang Baik,
2. Sumber informasi yang ditetapkan oleh peraturan
perundangan yang berlaku,
3. Patient Medication Record (PMR),
4. Manajemen Efek Samping Obat (MESO).
5. Standar Prosedur Operasional (SPO),
STANDAR PROSEDUR OPERASIONAL (SPO)
Dalam rangka memudahkan pemahaman dan
pelaksanaannya, maka Standar Prosedur
Operasional (SPO) dibagi menjadi 4 (empat)
kelompok yaitu :
1. SPO Pengelolaan Sediaan Farmasi dan Alat
Kesehatan
2. SPO Higiene dan Sanitasi
3. SPO Tata Kelola Administrasi
4. SPO lainnya
Beberapa contoh SPO yang dapat digunakan sebagai acuan
antara lain :
1. SPO Pengelolaan Sediaan Farmasi dan Alat Kesehatan
2. Perencanaan Sediaan Farmasi dan Alat Kesehatan
3. Pengadaan Sediaan Farmasi dan Alat Kesehatan
4. Pengadaan Sediaan Farmasi dan Alat Kesehatan antar Apotek
5. Penerimaan Sediaan Farmasi dan Alat Kesehatan
6. Penyimpanan Sediaan Farmasi dan Alat Kesehatan
7. Pemindahan Sediaan Farmasi dan Alat Kesehatan
8. Pelayanan Sediaan Farmasi dan Alat Kesehatan Tanpa Resep
9. Pelayanan Sediaan Farmasi dan Alat Kesehatan Dengan Resep
10. Penyiapan dan Penyerahan Resep Racikan
11. Penyiapan dan Penyerahan Sirup Kering
Beberapa contoh SPO yang dapat
digunakan :
12. Penyiapan dan Penyerahan Tablet dan Kapsul
13. Penyiapan dan Penyerahan Sediaan Farmasi/ Alat Kesehatan tertentu
14. Pelayanan Resep Narkotika
15. Pelayanan Informasi Obat
16. Konseling
17. Pelayanan Home Care
18. Pemeriksaan Tanggal Kadaluwarsa
19. Pengelolaan Sediaan Farmasi dan Alat Kesehatan yang telah
Kadaluwarsa
20. Pelayanan Obat
21. Penanganan Obat retur dari Pasien
22. Pelayanan Obat retur dr tenaga kesehatan
Beberapa contoh SPO yang dapat
digunakan sebagai acuan antara lain :
1. SPO Higiene dan Sanitasi
2. Pembersihan Ruangan
3. Pembersihan Lemari Es
4. Pembersihan Alat
5. Higiene Perorangan
Beberapa contoh SPO yang dapat
digunakan sebagai acuan antara lain :
1. SPO Tata Kelola Administrasi
2. Pengelolaan Resep
3. Pemusnahan Resep
4. Pembuatan Patient Medication
Record (PMR)
5. Pencatatan Kesalahan Peracikan