`
PROPOSAL
ANALISIS SISTEM DRAINASE DI LINGKUNGAN LAWA,
KELURAHAN JAYA BAKTI, KECAMATAN SAMPOLAWA
Diajukan Untuk Memenuhi Persyaratan Pelaksanaan Tugas Akhir
Di Fakultas Teknik Program Studi Teknik Sipil
Universitas Muhammadiyah Buton
Disusun Oleh:
Wa Ode Nursintha
NIM. 111901117
PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH BUTON
2023
1
`
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Drainase (drainage) yang berasal dari kata kerja ‘to drain’ yang berarti
mengeringkan atau mengalirkan air, adalah terminologi yang digunakan
untuk menyatakan sistem – sistem yang berkaitan dengan penanganan
masalah kelebihan air, baik diatas maupun dibawah permukaan tanah.
Kelebihan air dapat disebabkan intensitas hujan yang tinggi atau akibat durasi
hujan yang lama. Secara umum drainase didefinisikan sebagai ilmu
pengetahuan yang mempelajari usaha untuk mengalirkan air yang berlebihan
dalam suatu konteks pemanfaat tertentu. (Azwaruddin,25 Maret 2016).
Dalam bidang teknik sispil, drainase secara umum dapat didefinisikan
sebagai salah satu tindakan teknis untuk mengurangi kelebihan air, baik yang
berasal dari air hujan, rembesan, maupun kelebihan air irigasi dari suatu
kawasan atau lahan. Jika penanganan drainase kurang baik , maka akan
mengakibatkan tergenangnya daerah sekitar saluran drainase.
Di sepanjang jaringan drainase di Lingkungan Lawa, Kelurahan Jaya
Bakti terdapat beberapa kali mati yang arah alirannya melintang menuju
saluran drainase dan jalan raya. Kali mati ini akan terairi apabila terjadi
hujan lebat. Terhitung ada dua buah rumah warga yang rusak akibat terjangan
air bah. Air bah ini juga merusak drainase dan jalan raya. Beberapa tahun
belakangan sejak tahun 2016, terjadi penebangan pohon jati secara liar di
sekitaran hutan Kelurahan Jaya Bakti dan Kelurahan Todombulu yang
2
`
merupakan wilayah terbesar penebangan jati secara liar. Sebaran titik
penebangan secara liar ini hampir mengahabisi seluruh kawasan pohon jati.
Akibatnya, sumber resapan air berkurang sehingga apabila terjadi hujan
dengan intensitas yang tinggi maka akan terjadi banjir.
Topografi Kelurahan Jaya Bakti khususnya Lingkungan Lawa cenderung
miring ke timur laut dan terletak di bawah bukit. Akibatnya, ketika air
pasang dan hujan lebat terjadi, di beberapa titik kali mati yang terairi akan
terjadi banjir rob. Fenomena banjir rob ini tentu menjadi perhatian yang
serius bagi masyarakat setempat. Adanya tanggul laut atau Seawall juga
merupakan salah satu penyebab tergenangnya air karena diameter gorong –
gorong Seawall yang tersambung dengan drainase sangat kecil. Keadaan ini
semakin diperparah dengan menumpuknya sedimentasi dan sampah yang
terbawa melalui aliran drainase. Sistem drainase yang buruk mengakibatkan
saluran drainase meluap.
Oleh karena itu, perbaikan sistem drainase dan pembuatan sumur resapan
di sekitar titik kali mati atau di setiap rumah warga yang terdampak banjir
sangat dibutuhkan. Pembuatan sumur resapan merupakan solusi yang tepat
bagi daerah yang memiliki resapan air sedikit. Perbaikan sistem drainase juga
meliputi pelebaran kembali diameter gorong-gorong yang ada serta
pengangkatan sedimentasi dan sampah yang menumpuk. Perencanaan sistem
drainase yang terpadu dan ramah lingkungan memiliki peran yang penting
dalam menangani banjir yang terjadi setiap tahun di Lingkungan Lawa sejak
tahun 2016. Penghijauan kembali di kawasan hutan yang sudah gundul juga
3
`
merupakan solusi yang penting untuk mengembalikan sumber resapan air
yang sudah berkurang.
Berdasarkan pemaparan tersebut, maka saya selaku penulis mengangkat
judul “Analisis Sistem Drainase di Lingkungan Lawa, Kelurahan Jaya
Bakti, Kecamatan Sampolawa.”
1.2. Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah yang akan dibahas, yakni;
1. Berapakah besarnya debit banjir yang terjadi di Lingkungan Lawa?
2. Apakah saluran drainase mampu menampung debit air ketika terjadi
luapan?
3. Bagaimana desain dan jumlah sumur resapan yang dibutuhkan di titik-
titik kali mati di Lingkungan Lawa sehingga dapat membantu kinerja
drainase untuk mengatasi limpasan air yang ada?
1.3. Tujuan Penelitian
1. Mengetahui besarnya debit banjir di Lingkungan Lawa.
2. Untuk mengetahui limpasan air yang tidak mampu ditampung saluran.
3. Untuk mengetahui desain dan jumlah sumur resapan yang dibutuhkan
untuk mengatasi banjir.
1.4. Manfaat Penelitian
1. Sebagai bahan pengetahuan evaluasi jaringan drainase dengan sumur
resapan di lingkup wilayah Kelurahan Jaya Bakti.
2. Memberikan nasihat masukan dalam penggunaan limpasan air berdasarkan
Best Management Practice (BMP) yaitu sumur resapan.
4
`
3. Menjadi referensi untuk riset-riset selanjutnya terutama dalam bidang
perencanaan drainase dengan metode sumur resapan.
1.5. Batasan Masalah
Ruang lingkup dalam pembahasan ini adalah:
1. Debit banjir kala ulang 10 tahun dianalisa dengan 2 metode yaitu metode
Gumbel dan Log Pearson III.
2. Menentukan curah hujan dengan mengggunakan data curah hujan didapat
dari stasiun BMKG untuk daerah Kecamatan Sampolawa.
3. Studi dilakukan pada wilayah yang ditinjau adalah Kecamatan
Sampolawa, khususnya sekitaran Lingkungan Lawa.
4. Menentukan kebutuhan sumur resapan.
5. Desain sumur resap
5
`
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Drainase
Drainase merupakan salah satu fasilitas dasar yang dirancang
sebagai sistem guna memenuhi kebutuhan masyarakat dan merupakan
komponen penting dalam perencanaan infrstruktur. Menurut Departemen
Pekerjaan Umum(2006) drainase merupakan prasarana yang berfungsi
mengalirkan air permukaan ke badan air atau kebangun resapan buatan.
menguras, membuang, atau mengalirkan air. Menurut Suripin (2004)
drainase mempunyai arti mengalirkan, menguras membuang, atau
mengalihkan air. Secara umum drainase didefinisikan sebagai
serangkaian bangunan air yang berfungsi untuk mengurangi dan atau
membuang kelebihan air dari suatu kawasan atau lahan, sehingga lahan
dapat difungsikan secara optimal. Drainase juga diartikan sebagai usaha
untuk mengontrol kualitas air tanah dalam kaitannya dengan sanitasi.
Jadi, drainase menyangkut tidak hanya air permukaan tapi juga air tanah.
Jenis drainase ditinjau berdasarkan dari sistem pengalirannya, dapat
dikelompokkan menjadi:
1. Drainase dengan sistem jaringan adalah suatu sistem pengeringan
atau pengaliran air pada suatu kawasan yang dilakukan dengan
mengalirkan air melalui sistem tata saluran dengan bangunan-
bangunan pelengkapnya.
2. Drainase dengan sistem resapan adalah sistem pengeringan atau
6
`
pengaliran air yang dilakukan dengan meresapkan air ke dalam
tanah. Cara resapan ini dapat dilakukan langsung terhadap genangan
air di permukaan ke dalam tanah atau melalui sumuran/saluran
resapan ( Wesli, 2008).
2.1.1. Sistem Drainase
Serangkaian bangunan air yang berfungsi untuk mengurangi dan
atau membuang kelebihan air dari suatu kawasan ke badan air atau tempat
peresapan buatan. Bangunan sistem drainase dapat terdiri atas saluran
penerima, saluran pembawa air berlebih, saluran pengumpul dan badan air
penerima. Bangunan sistem drainase terdiri dari saluran penerima
(interseptor drain), saluran pengumpul (colector drain), saluran pembawa
(conveyor drain), saluran induk (main drain) dan badan air penerima
(receiving waters). Di sepanjang sistem sering dijumpai bangunan lainnya,
seperti gorong-gorong, siphon, jembatan air (aquaduct), pelimpah, pintu-
pintu air, bangunan terjun, kolam tando dan stasiun pompa. Pada sistem
drainase yang lengkap, sebelum masuk ke badan air penerima air diolah
dahulu pada instalasi pengolah air limbah (IPAL), khususnya untuk sistem
tercampur. Hanya air yang telah memiliki baku mutu tertentu yang
dimasukkan ke dalam badan air penerima biasanya sungai, sehingga tidak
merusak lingkungan (Suripin, 2004).
Dengan semakin kompleksnya permasalahan drainase maka di
dalam perencanaan dan pembangunannya tergantung pada kemampuan
masing-masing perencana. Ada beberapa sarana penunjang bangunan
7
`
drainase, yaitu:
1. Lubang air pada dinding saluran (wheep hole)
Lubang air pada dinding saluran yaitu lubang yang berfungsi untuk
mengalirkan air resapan (penirisan) yang berasal dari tanah sekitar
saluran drainase sehingga tanah tidak menjadi lumpur atau becek.
2. Lubang air pada trotoar (street inlet)
Lubang air pada trotoar yaitu lubang yang berfungsi untuk mengalirkan
air dari jalan (aspal) sekitar saluran drainase sehingga jalan (aspal) tidak
terjadi genangan.
3. Saringan sampah kasar (bar screen)
Saringan sampah kasar yaitu saringan sampah yang diletakkan sebelum
terdapatnya kantung lumpur/pasir sehingga sampah yang mempunyai
ukuran besar tidak dapat masuk ke kantung lumpur/pasir.
4. Saringan sampah halus (fine screen)
Saringan sampah halus yaitu saringan sampah mempunyai ukuran lebih
kecil daripada ukuran saringan sampah kasar dan diletakkan sesudah
terdapatnya kantung lumpur/pasir tepatnya pada pangkal gorong-gorong
(box culver) sehingga sampah mempunyi ukuran kecil tidak dapat masuk
kedalam gorong-gorong.
5. Penutup atas parit (cover slab)
Penutup atas parit yaitu beton struktur bertulang yang diletakkan diatas
bangunan drainase. Umumya penutup parit ini digunakan pada daerah
perkotaan. Hal ini disebabkan keterbatasan laha untuk pembuatan trotoar.
8
`
6. Lubang kontrol (cover grill)
Lubang kontrol yaitu lubang yang terbuat dari besi yang menggunakan
pintu dan berengsel sehingga dapat dibuka dan ditutup untuk mengontrol
keadaan drainase.
7. Kantong lumpur/pasir (sand trap)
Kantong lumpur yaitu suatu dasar drainase dimana kontruksinya lebih
dari pada dasr drainase lainnya. Hal ini bertujuan sebagai tangkapan
pasir/lumpur pada drainase agar pasir/lumpur tidak masuk kedalam
gorong-gorong (box culver).
Selain untuk pengeringan tanah atau menghambat terjadinya banjir,
drainase dapat juga berfungsi untuk:
1. Pertanian
Tanah yang terlalu basah seperti rawa misalnya tidak dapat ditanam.
Untuk dapat digunakan bagai lahan pertanian, tanah rawa yang selalu
basah perlu dikeringkan.
2. Bangunan
Untuk mendirikan bangunan (gedung dan jalan lapangan terbang) diatas
tanah yang basah perlu drainase agar tanah menjadi kering dan daya
dukung tanah menjadi bertambah sehingga dapat mendukung beban
diatasnya.
3. Kesehatan
Tanah yang digenangi air dapat menjadi tempat berkembang biaknya
nyamuk, sehingga perlu dikeringkan dengan sistem jaringan drainase.
9
`
Pada tanah kering telur dan larva nyamuk tidak hidup. Sedangkan dari
ilmu kesehatan gas-gas yang terdapat dirawa seperti gas methan tidak
baik untuk kesehatan, sehingga tanah sekitar pemukiman perlu
dikeringkan.
4. Lansekap
Untuk pemandangan yang baik, tanah basah/berair harus dikeringkan
sehingga dapat ditanami rumput atau tanaman-tanaman hias lainnya.
2.1.2. Konsep Drainase Berwawasan Lingkungan
1. Drainase Pengatusan
Konsep drainase yang dulu dipakai di Indonesia (paradigma lama)
adalah drainase pengatusan yaitu mengatuskan air kelebihan (utamanya air
hujan) ke badan air terdekat. Air kelebihan secepatnya dialirkan ke saluran
drainase, kemudian ke sungai dan akhirnya ke laut, sehinggga tidak
menimbulkan genangan atau banjir. Konsep pengatusan ini masih
dipraktekkan masyarakat sampai sekarang. Pada setiap proyek drainase,
dilakukan upaya untuk membuat alur-alur saluran pembuang dari titik
genangan ke arah sungai dengan kemiringan yang cukup membuang
sesegera mungkin air genangan tersebut. Drainase pengatusan semacam ini
adalah drainase yang lahir sebelum pola pikir komprehensif berkembang,
dimana masalah genangan, banjir, kekeringan dan kerusakan lingkungan
masih dipandang sebagai masalah lokal dan sektoral yang bisa
diselesaikan tanpa melihat kondisi sumber daya air
10
`
2. Drainase Ramah Lingkungan (Ekodrainase)
Dengan perkembangan berfikir komprehensif serta didorong oleh
semangat antisipasi perubahan iklim yang dewasa ini terjadi, maka
diperlukan perubahan konsep drainase menuju ke drainase ramah
lingkungan atau ekodrainase (paradigma baru). Drainase ramah
lingkungan didefinisikan sebagai upaya untuk mengelola air kelebihan (air
hujan) dengan berbagai metode diantaranya dengan menampung melalui
bak tandon air untuk langsung bisa digunakan, menampung dalam
tampungan buatan atau badan air alamiah, meresapkan dan mengalirkan ke
sungai terdekat tanpa menambah beban pada sungai yang bersangkutan
serta senantiasa memelihara sistem tersebut sehingga berdaya guna secara
berkelanjutan.
Dengan konsep drainase ramah lingkungan tersebut, maka
kelebihan air hujan tidak secepatnya dibuang ke sungai terdekat. Namun
air hujan tersebut dapat disimpan di berbagai lokasi di wilayah yang
bersangkutan dengan berbagai macam cara, sehingga dapat langsung
dimanfaatkan atau dimanfaatkan pada musim berikutnya, dapat digunakan
untuk mengisi/konservasi air tanah, dapat digunakan untuk meningkatkan
kualitas ekosistem dan lingkungan, dan dapat digunakan sebagai sarana
untuk mengurangi genangan dan banjir yang ada. Dengan drainase ramah
lingkungan, maka kemungkinan banjir di lokasi yang bersangkutan, banjir
di hilir serta kekeringan di hulu dapat dikurangi. Hal ini karena sebagian
besar kelebihan air hujan ditahan atau diresapkan baik bagian hulu, tengah
11
`
maupun hilir. Demikian juga Longsor dibagian hulu akan berkurang
karena fluktuasi lengas tanah tidak ekstrim dan perubahan iklim yang ada
di daerah tengah dan hulu dan beberapa daerah hilir tidak terjadi.
3. Drainase Ramah Lingkungan dan Perubahan Iklim
Konsep drainase ramah lingkungan ini merupakan suatu konsep
yang ke depan sangat diperlukan dan erat kaitannya dengan perubahan
iklim. Perubahan iklim ditandai dengan kenaikan muka air laut, kenaikan
temperatur udara, perubahan durasi dan intensitas hujan, perubahan arah
angin dan perubahan kelembaban udara. Dampak perubahan iklim bisa
diantisipasi dengan pembangunan drainase yang berwawasan lingkungan.
Jadi dapat disimpulkan bahwa reformasi drainase yang diperlukan adalah
membalikkan pola pikir masyarakat dan pengambil keputusan serta
akademisi, bahwa apa yang dilakukan masyarakat, pemerintah termasuk
para akademisi yang mengembangkan drainase pengatusan, justru
sebenarnya bersifat destruktif, yaitu: meningkatkan banjir di hilir,
kekeringan di hulu dan tengah dan penurunan muka air tanah serta dampak
ikutan lainnya.
2.2. Hidrologi Umum
Hidrologi adalah ilmu yang berkaitan dengan air bumi, terjadinya
peredaran, sifat-sifat kimia dan fisiknya, dan reaksi dengan lingkungannya,
termasuk hubungannya dengan makhluk-makhluk hidup (Seyhan, 1990).
Karena perkembangan yang ada maka ilmu hidrologi telah berkembang
menjadi ilmu yang mempelajari sirkulasi air. Jadi dapat dikatakan,
12
`
hidrologi adalah ilmu untuk mempelajari: presipitasi (precipitation),
evaporasi dan transpirasi (evaporation), aliran permukaan (surface stream
flow), dan air tanah (ground water).Hidrologi merupakan ilmu yang
mempelajari seluk beluk, kejadian, dan distribusinya, sifat alami dan sifat
kimianya, serta reaksinya terhadap kebutuhan manusia (Sri,1993).
2.3. Siklus Hidrologi
Menurut Hisbulloh (1995), siklus hidrologi dimulai dengan
penguapan air dari laut. Uap yang dihasilkan dibawa oleh udara yang
bergerak. Dalam kondisi yang memungkinkan, uap air tersebut
terkondensasi membentuk awan, dan pada akhirnya dapat menghasilkan
presipitasi. Presipitasi yang jatuh ke bumi menyebar dengan arah yang
berbeda-beda dalam beberapa cara. Sebagian besar dari presipitasi tersebut
untuk sementara tertahan pada tanah di dekat tempat ia jatuh, dan akhirnya
dikembalikan lagi ke atmosfer oleh penguapan (evaporasi) dan pemeluhan
(transpirasi) oleh tanaman.
Sebagian air mencari jalannya sendiri melalui permukaan dan
bagian atas tanah menuju sungai, sementara lainnya menembus masuk
lebih jauh ke dalam tanah menjadi bagian dari air-tanah (groundwater).
Dibawah pengaruh gaya gravitasi, baik aliran air-permukaan (surface
streamflow) maupun air dalam tanah bergerak menuju tempat yang lebih
rendah yang akhirnya dapat mengalir ke laut. Namun, sebagian besar air
permukaan dan air bawah tanah dikembalikan ke atmosfer oleh penguapan
dan pemeluhan (transpirasi) sebelum sampai ke laut (JR dan
13
`
Paulhus,1986). Siklus hidrologi memegang peran penting bagi
kelangsungan hidup organisme bumi. Melalui siklus ini, ketersediaan air di
daratan bumi dapat terjaga.
2.4. Analisa Hidrologi
Analisa hidrologi tidak hanya diperlukan dalam perencanaan
berbagai macam bangunan air seperti bendungan, bangunan pengendali
banjir dan irigasi. Tetapi juga bangunan jalan raya, lapangan terbang dan
bangunan lainnya. Analisa hidrologi diperlukan untuk perencanaan
drainase, culvert, maupun jembatan yang melintasi sungai atau
[Link] yang direncanakan dalam hal ini untuk dapat menampung
air hujan atau air limpahan daerah sekitar dan mengalirkannya ke sungai
atau ke tempat-tempat pembuangan lainnya.
2.5. Hujan
Menurut Seomarto (1995), terjadinya hujan diawali oleh suatu
peristiwa penguapan air dari seluruh permukaan bumi, baik dari muka
tanah, permukaan pohon-pohonan dan permukaan air. Penguapan yang
terjadi dari permukaan air dikenal dengan penguapan (free water
evaporation) sedangkan penguapan yang terjadi dari permukaan pohon-
pohonan dikenal dengan transpirasi (transpiration). Sebagai akibat
terjadinya penguapan maka akan dapat terbentuk awan. Karenanya adanya
perbedaan temperatur. Awan tersebut akan bergerak oleh tiupan angin
kedaerah-daerah tersebut. Hujan baru akan terjadi apabila berat butir-butir
hujan air tersebut telah lebih besar dari gaya tekan udara keatas. Dalam
14
`
keadaan klimatologis tertentu, maka air hujan yang masih melayang
tersebut dapat berubah kembali menjadi awan.
2.5.1. Tipe-Tipe Hujan
Berdasarkan sumber dari Departemen Pekerjaan Umum (1989),
hujan yang sering dibedakan menurut faktor penyebab pengangkatan udara
yang menyebabkan terjadinya hujan, antara lain.
1. Hujan Konfektif
Hujan ini disebabkan oleh pergerakan naiknya udara yang lebih panas
dari keadaan sekitarnya.
2. Hujan Siklon
Hujan ini bila gerakan udara keatas terjadi akibat adanya udara panas
yang bergeraknya diatas lapisan udara yang lebih padat dan dingin.
3. Hujan Orografik
Hujan ini terjadi bila udara dipaksa naik diatas sebuah hambatan berupa
gunung. Oleh sebab itu maka lereng gunung yang berada pada arah
angin biasa menjadi daerah yang berhujan lebat.
2.6. Analisa Frekuensi Hujan
Distribusi frekuensi digunakan untuk memperoses probabilitas
besaran curah hujan rencana dalam berbagai periode ulang. Frekuensi
hujan adalah besarnya kemungkinan suatu besaran hujan disamai atau
dilampaui. Sebaliknya kala-ulang (return period) adalah waktu hipotetik
dimana hujan dengan suatu besaran tertentuakan disamai atau dilampaui.
Dalam hal ini tidak terkandung pengertian bahwa kejadian tersebut akan
15
`
berulang secara teratur setiap kala ulang tersebut. Dasar perhitungan
distribusi frekuensi adalah parameter yang berkaitan dengan analisis data
yang meliputi rata-rata, simpangan baku, koefisien variasi dan koefisien
skewness (kecondongan atau kemencengan).
2.6.1. Distribusi Gumbel
Perhitungan curah hujan rencana menurut Metode Gumbel,
mempunyai perumusan sebagai berikut dengan Pers. 2.1.
X =x+ S K (2.1)
Dimana:
x = harga rata-rata sampel.
S = standar deviasi (simpangan baku) sampel.
Faktor probabilitas K untuk harga-harga ekstrim Gumbel dapat
dinyatakan dalam Pers. 2.2.
YT (2.2)
K=
r −Y n
Sn
Dimana:
Yn = reduced mean yang tergantung jumlah sampel/data n.
Sn = reduced standard deviation yang juga tergantung pada jumlah
sampel n
Y Tr = reduced variate yang dapat dihitung dengan Pers. 2.3.
T r −1 (2.3)
Y = - In {- In }
Tr
16
`
Tabel 2.1: Standar deviasi (Yn) untuk Distribusi Gumbel (Syifa, 2015).
No 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9
10 0,495 0,500 0,504 0,507 0,510 0,513 0,516 0,518 0,520 0,522
20 0,524 0,525 0,527 0,528 0,530 0,531 0,532 0,533 0,534 0,535
30 0,536 0,537 0,538 0,539 0,540 0,540 0,541 0,542 0,542 0,535
40 0,544 0,544 0,545 0,545 0,546 0,546 0,547 0,473 0,548 0,548
50 0,549 0,549 0,549 0,550 0,550 0,550 0,551 0,551 0,552 0,552
60 0,552 0,552 0,553 0,553 0,553 0,554 0,554 0,554 0,554 0,555
70 0,555 0,555 0,555 0,556 0,556 0,556 0,556 0,556 0,557 0,557
80 0,557 0,557 0,557 0,557 0,558 0,558 0,558 0,558 0,558 0,559
90 0,559 0,559 0,559 0,559 0,559 0,559 0,560 0,560 0,560 0,560
100 0,560 0,560 0,560 0,560 0,561 0,561 0,561 0,561 0,551 0,561
Tabel 2.2: Reduksi standar deviasi (Sn) untuk Distribusi Gumbel (Syifa, 2015).
No 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9
10 0,94 0,96 0,99 0,99 0,99 1,020 1,03 1,04 1,049 1,056
20 1,06 1,06 1,07 1,08 1,08 1,091 1,09 1,10 1,104 1,108
30 1,11 1,11 1,11 1,12 1,12 1,128 1,13 1,13 1,136 1,138
40 1,14 1,14 1,14 1,14 1,14 1,151 1,15 1,15 1,157 1,159
50 1,10 1,16 1,16 1,16 1,16 1,168 1,16 1,17 1,172 1,173
60 1,17 1,17 1,17 1,17 1,17 1,180 1,18 1,18 1,183 1,184
70 1,18 1,18 1,18 1,18 1,18 1,189 1,19 1,19 1,192 1,193
80 1,90 1,19 1,19 1,19 1,19 1,197 1,19 1,19 1,199 1,200
90 1,20 1,20 1,20 1,20 1,20 1,203 1,20 1,20 1,205 1,206
100 1,20 1,20 1,20 1,20 1,20 1,208 1,20 1,20 1,209 1,209
Tabel 2.3: Reduced variate, Y Tr sebagai fungsi periode ulang (Suripin, 2004).
Periode ulang Tr Reduced variate, Periode ulang, Tr Reduced variate,
(tahun) (tahun)
2 0,3668 100 4,6012
5 1,5004 200 5,2969
10 2,2510 250 5,5206
20 2,9790 500 6,2149
25 3,1993 1000 6,9087
50 3,9028 5000 8,5188
75 4,3117 10000 9,2121
17
`
2.6.2. Distribusi Log Pearson Tipe III
Pada situasi tertentu, walaupun data yang diperkirakan mengikuti
distribusi sudah dikonversi kedalam bentuk logaritmis, ternyata kedekatan
antara data dan teori tidak cukup kuat untuk menjustifikasi pemkaian
distribusi Log Normal.
Pearson telah mengembangkan serangkaian fungsi probabilitas
yang dapat dipakai untuk hampir semua distribusi probabilitas empiris.
Tidak seperti konsep yang melatar belakangi distribusi Log Normal untuk
banjir puncak, maka distribusi probabilitas ini hampir tidak berbasis teori.
Distribusi ini masih tetap dipakai karena fleksibilitasnya. Salah satu
distribusi dari serangkaian distribusi yang dikembangkan pearson yang
menjadi perhatian ahli sumberdaya air adalah Log Pearson. Tiga parameter
penting dalam Log Pearson Tipe III yaitu:
i = harga rata-rata.
ii = simpangan baku.
iii = koefisien kemencengan.
Berikut ini langkah-langkah penggunaan distribusi Log Pearson
Tipe III.
i = Ubah data dalam bentuk logaritma, X = Log X
ii = Hitung harga rata-rata:
n
(2.4)
∑ logxi
i=1
log X =
n
18
`
iii. Hitung harga simpangan baku:
n
(2.5)
S = ∑ ¿¿ ¿
i=1
iv. Hitung koefisien kemencengan:
n
(2.6)
G = n∑ ¿¿¿
i=1
v. Hitung logaritma hujan atau banjir dengan periode kala ulang T dengan
Pers 2.7
Log X T = log X + K.s (2.7)
Dimana:
K = Variabel standar (standardized variabel).
X = Harga rata-rata.
S = Simpangan baku.
G = Koefisien Kemencengan.
Log X = Nilai rata-rata hitung variat
XT = Perkiraan nilai yang diharapkan terjadi dengan periode ulang T
K adalah variabel standar (standardized variable) untuk X yang
besarnya tergantung koefesien kemencengan G (Tabel 2.4).
19
`
Tabel 2.4: Nilai K untuk distribusi Log Pearson Tipe III (Suripin, 2004).
Interval kejadian (Recurrence interval), tahun (periode ulang)
1,0101 1,2500 2 5 10 25 50 100
Koef G Persentase peluang terlampaui (percent change of being exceeded)
99 80 50 20 10 4 2 1
3,0 -0,667 -0,636 -0,396 0,420 1,180 2,278 3,152 4,051
2,8 -0,714 -0,666 -0,384 0,460 1,210 2,275 3,114 3,973
2,6 -0,769 -0,696 -0,368 0,499 1,238 2,267 3,071 2,889
2,4 -0,832 -0,725 -0,351 0,537 1,262 2,256 3,023 3,800
2,2 -0,905 -0,752 -0,330 0,574 1,284 2,240 2,970 3,705
2,0 -0,990 -0,777 -0,307 0,609 1,302 2,219 2,192 3,605
1,8 -1,087 -0,799 -0,282 0,643 1,318 2,193 2,848 3,399
1,6 -1,197 -0,817 -0,254 0,675 1,329 2,163 2,780 3,388
1,4 -1,318 -0,832 -0,225 0,705 1,337 2,128 2,706 3,271
1,2 -1,449 -0,844 -0,195 0,732 1,340 2,087 2,626 3,149
1,0 -1,588 -0,852 -0,164 0,758 1,340 2,043 2,542 3,022
0,8 -1,733 -0,856 -0,132 0,780 1,336 2,998 2,453 2,891
0,7 -1,880 -0,857 -0,116 0,790 1,333 2,967 2,407 2,824
0,4 -2,029 -0,855 -0,066 0,816 1,371 1,880 2,261 2,615
0,2 -2,178 -0,850 -0,033 0,830 1,301 1,818 2,159 2,472
0,0 -2,326 -0,842 0,000 0,842 1,282 1,751 2,051 2,326
-0,2 -2,472 -0,830 0,033 0,850 1,258 1,680 1,945 2,178
-0,4 -2,615 -0,816 0,066 0,855 1,231 1,606 1,834 2,029
-0,6 -2,755 -0,800 0,099 0,857 1,200 1,528 1,720 1,880
-0,8 -2,891 -0,780 0,122 0,856 1,166 1,448 1,606 1,733
-1,0 -3,022 -0,758 0,164 0,852 1,128 1,366 1,492 1,588
-1,2 -2,149 -0,732 0,195 0,844 1,086 1,282 1,379 1,449
20
`
-1,4 -2,271 -0,705 0,225 0,832 1,041 1,198 1,270 1,318
-1,6 -2,388 -0,675 0,254 0,817 0,994 1,116 1,166 1,197
Tabel 2.4: Lanjutan
Interval kejadian (Recurrence interval), tahun (periode ulang)
1,0101 1,2500 2 5 10 25 50 100
Koef G Persentase peluang terlampaui (percent change of being exceeded)
99 80 50 20 10 4 2 1
-1,8 -3,499 -0,643 -0,282 0,799 0,945 1,035 1,069 1,087
-2,0 -3,605 -0,609 0,307 0,777 0,895 0,959 0,980 0,990
-2,2 -3,705 -0,574 0,330 0,752 0,844 0,888 0,900 0,905
-2,4 -3,800 -0,537 0,351 0,725 0,795 0,823 0,830 0,832
-2,6 -3,889 -0,490 0,368 0,696 0,747 0,764 0,768 0,769
-2,8 -3,973 -0,469 0,384 0,666 0,702 0,712 0,714 0,714
-3,0 -7,051 -0,420 0,396 0,636 0,660 0,666 0,666 0,669
2.7. Uji Kecocokan Distribusi
Pengujian parameter untuk menguji kecocokan distribusi frekuensi
sampel data terhadap fungsi distribusi peluang yang diperkirakan dapat
menggambarkan atau mewakili distribusi frekuensi tersebut. Uji
kecocokan distribusi ini dimaksudkan untuk mengetahui kebenaran
analisis curah hujan terhadap simpangan data vertikal maupun simpangan
data horizontal. Untuk mengetahui pengujian distribusi terlebih dahulu
harus dilakukan ploting data. Jika pengujian telah memenuhi syarat
tersebut perlu diuji kecocokan distribusi dengan beberapa frekuensi yang
digunakan dalam perhitungan curah hujan dapat diterima atau ditolak.
Pengujian parameter yang dipakai adalah uji Chi-Square dan uji Smirnov
21
`
metode. Maka diketahui apakah pemilihan metode distribusi -
Kolmogorov.
2.7.1. Uji Chi-Square
Uji Chi-Square adalah salah satu uji statistik paramatik yang cukup
sering digunakan dalam penelitian. Uji Chi-Square ini biasa diterapkan
untuk pengujian kenormalan data, pengujian data yang berlevel nominal
atau untuk menguji perbedaan dua atau lebih proposi sampel. Uji Chi-
Square diterapkan pada kasus dimana akan uji diamati (data observasi)
berbeda secara nyata ataukah tidak dengan frekuensi yang diterapkan. Uji
Chi-Square dimaksudkan untuk menentukan apakah persamaan distribusi
peluang yang telah dipilih dapat mewakili dari distribusi statistik sampel
data yang dianalisis. Pengambilan keputusan uji ini menggunakan
parameter , oleh karena itu disebut dengan Uji chi-square.
Uji Chi-Square digunakan untuk menguji distribusi pengamatan,
apakah sampel memenuhi syarat distribusi yang di uji atau tidak. Adapun
prosedur perhitungan Uji Chi-Square adalah sebagai berikut:
1. Menghitung jumlah kelas dengan Pers. 2.8
K = 1 + 3,322 log n (2.8)
Dimana:
K = Jumlah kelas
n = Banyaknya data
2. Membust kelompok-kelompok kelas sesuai dengan jumlah kelas.
3. Menghitung frekuensi pengamatan Oj = n/jumlah kelas.
4. Mencari besarnya curah hujan yang masuk dalam batas kelas (Ej).
22
`
5. Menghitung dengan menggunakan Pers. 2.9.
k
(Oj−Ej )² (2.9)
X² = ∑
i−1 Ej
X² = Parameter chi-kuadrat terhitung
K = Jumlah kelas
Oj = Frekuensi pengamatan kelas
Ej = Frekuensi teoritis kelas
6. Menentukan X² cr dengan menetukan taraf signifikan (α ¿ dan derajat
kebebasan (Dk) dengan menggunakan Pers. 2.10
Dk = K – ( p + 1) (2.10)
Dimana:
Dk = Derajat kebebasan
K = Jumlah kelas
P = Banyaknya parameter untuk Uji Chi-Square adalah 2
Menyimpulkan hasil dari tabel perhitungan X² hitung ¿ X² cr maka
distribusi dan apabila nilai hitung ¿ cr maka distribusi tidak terpenuhi.
Untuk melihat nilai distribusi yang tertera pada Tabel 2.5.
Tabel 2.5: Nilai kritis untuk distribusi Chi-Square (Montarcih, 2009).
d
k
α derajat kepercayaan
t 0,995 t 0,99 t 0,975 t 0,95 t 0,05 t 0,025 t 0,01 t 0,005
1 0,39 0,16 0, 098 0,393 3,841 5, 024 6,635 7,879
2 0,100 0,201 0,506 0,103 5,991 6,783 9,210 10,597
3 0,717 0,115 0,216 0,352 7,815 9,348 11,345 12,838
4 0,207 0,297 0,484 0,711 9,488 11,143 13,277 14,860
5 0,412 0,554 0,831 1,145 11, 070 12,832 15, 086 16,750
6 0,676 0,872 1,237 1,635 12,592 14,449 16,812 18,548
7 0,989 1,239 1,690 2,167 14, 067 16, 013 18,475 20,278
8 1,344 1,646 2,180 2,733 15,507 17,535 20, 090 24,995
23
`
9 1,735 2, 088 2,700 3,325 16,919 19, 023 21,666 23,598
10 2,156 2,558 3,247 3,940 18,307 20,483 23,209 25,188
11 2,603 3, 053 3,816 4,575 19,675 21,920 24,725 26,757
12 3, 074 3,571 4,404 5,226 21, 026 23,337 26,217 28,300
13 3,565 4,107 5, 009 5,892 22,362 24,736 27,688 29,819
14 4, 075 4.660 5,629 6,571 23,685 26,119 29,141 31,319
15 4,601 5,229 6,262 7,261 24,996 27,488 30,578 32,801
16 5,142 5,812 6,908 7,962 26,296 28,845 32, 000 34,267
17 5,697 6,408 7,564 8,672 27,587 30,191 33,409 35,718
18 6,265 7, 015 8,231 9,390 28,869 31,526 34,805 37,156
19 6,884 7,633 8,907 10,117 30,144 32,852 36,191 38,852
20 7,434 8,260 9,591 10,851 34,410 34,170 37,566 39,997
21 8, 034 8,897 10,283 11,591 32,671 35,497 38,982 41,401
22 8,643 9,542 10,982 12,338 33,924 36,781 40,298 42,796
2.7.2. Uji Smirnov-Kolmogrov
Uji kecocokan Smirnov-Kolmogorov sering disebut juga uji
kecocokan non parametrik, karena pengujiannya tidak menggunakan
fungsi distribusi tertentu. Hal itu dikarenakan nilai uji yang terdapat pada
Tabel 2.6.
Tabel 2.6: Nilai kritis D0 untuk uji Smirnov-Kolmogorov (Suripin, 2004).
Jumlah data Derajat kepercayaan
N 0,20 0,10 0.05 0,01
5 0,45 0,51 0,56 0,67
10 0,32 0,37 0,41 0,49
15 0,27 0,30 0,34 0,40
20 0,23 0,26 0,29 0,36
24
`
25 0,21 0,24 0,27 0,32
30 0,19 0,22 0,24 0,29
35 0,18 0,20 0,23 0,27
40 0,17 0,19 0,21 0,25
45 0,16 0,18 0,20 0,24
50 0,15 0,17 0,19 0,23
N > 50 1,07 1,22 1,36 1,63
0,5 0,5 0,5 0,5
N N N N
Prosedur dasarnya mencakup perbandingan antara probabilitas
kumulatif lapangan dan distribusi kumulatif fungsi yang ditinjau. Sampel
yang berukuran n, diatur dengan urutan yang meningkat. Dari data yang
diatur akan membentuk suatu fungsi frekuensi kumulatif tangga. Prosedur
pengujian ini adalah sebagai berikut:
1. Urutan data (dari besar ke kecil atau sebaliknya) dan tentukan
besarnya peluangg dari masing-masing data tersebut: X 1 = P( X 1 ), X 2 =
P( X 2 ), X 3 = P( X 3 ), dan seterusnya.
2. Urutkan nilai masing-masing peluang teoritis dari hasil penggambaran
data (persamaan distribusinya). X 1 = P’( X 1 ), X 2 = P’( X 2 ), X 3 = P’( X 3 ),
dan seterusnya.
3. Dari kedua nilai ini peluang tersebut, tentukan selisih terbesarnya
antar peluang pengamatan dengan peluang teoritis.
4. Berdasarkan tabel nilai kritis (smirnov-kolomogorov test) tentukan
nilai kritis ( D0 ).
Apabila nilai D lebih kecil dari nilai Do maka distribusi teoritis
25
`
yang digunakan untuk menentukan persamaan distribusi dapat diterima,
tetapi apabila nilai D lebih besar dari nilai Do maka distribusi teoritis yang
digunakan untuk menentukan distribusi tidak dapat diterima.
2.8. Koefisien Pengaliran (C)
Koefisien pengaliran (run off coefficient) adalah perbandingan
antara jumlah air hujan yang mengalir atau melimpas di atas permukaan
tanah (surface run-off) dengan jumlah air hujan yang jatuh dari atmosfir
(hujan total yang terjadi). Besaran ini dipengaruhi oleh tata guna lahan,
kemiringan lahan, jenis dan kondisi tanah. Pemilihan koefisien pengaliran
harus memperhitungkan kemungkinan adanya perubahan tata guna lahan
dikemudian hari. Koefisien pengaliran mempunyai nilai antara dan
sebaliknya nilai pengaliran untuk analisis dipergunakan nilai terbesar atau
nilai maksimum. Koefisien pengaliran secara umum diperlihatkan pada
Tabel 2.7.
Tabel 2.7: Koefisien pengaliran secara umum (Suripin, 2004).
Deskripsi lahan / karakter permukaan Koefisien Aliran (c)
Business
Perkotaan 0,70 – 0,95
Pinggiran 0,50 – 0,70
Perumahan
rumah tunggal 0,30 – 0,50
Multi unit, terpisah 0,40 – 0,60
multi unit, tergabung 0,60 – 0,75
Perkampungan 0,25 – 0,40
Apartemen 0,50 – 0,70
Industri
Ringan 0,50 – 0,80
Berat 0,60 – 0,90
Perkerasan
aspal dan beton 0,70 – 0,65
batu bata, paving 0,50 – 0,70
26
`
2.9. Debit Rencana
Debit rencana adalah debit maksimum yang akan dialirkan oleh
saluran drainase untuk mencegah terjadinya genangan. Untuk drainase
perkotaan dan jalan raya sebagai debit rencana debit banjir maksimum
periode ulang 5 tahun yang mempunyai makna kemungkinan banjir
maksimum tersebut disamai atau dilampaui 1 kali dalam 5 tahun atau 2
kali dalam 10 tahun atau 25 kali dalam 100 tahun.
Penetapan debit banjir maksimum periode 100 tahun ini
berdasarkan pertimbangan:
a. Resiko akibat genangan yang ditimbulkan oleh hujan relatif kecil
dibandingkan dengan banjir yang ditimbulkan meluapnya sebuah
sungai.
b. Luas lahan diperkotaan relatif terbatas apabila ingin direncanakan
saluran yang melayani debit banjir maksimum periode ulang lebih
besar dari 100 tahun.
c. Daerah perkotaan mengalami perubahan dalam periode tertentu
sehingga mengakibatkan perubahan pada saluran drainase.
Dalam perencanaan saluran drainase dapat dipakai standar yang
telah ditetapkan, baik debit rencana (periode ulang) dan cara analisis yang
dipakai, tinggi jagaan, struktur saluran, dan lain-lain. Pada tabel 2.8
menyajikan kriteria desain desain saluran drainase berdasar “Pedoman
27
`
Drainase Perkotaan dan Standar Desain Teknis”.
Tabel 2.8: Kriteria desain hidrologi sistem drainase perkotaan (Suripin, 2004).
Luas DAS (ha) Periode ulang (tahun) Metode perhitungan debit banjir
< 10 2 Rasional
10 – 100 2–5 Rasional
101 – 500 5 – 20 Rasional
> 500 10 – 25 Hidrograf satuan
2.9.1. Metode Rasional
Untuk menghitung debit rencana pada studi ini dipakai perhitungan
dengan metode rasional. Metode rasional adalah salah satu metode untuk
menentukan debit aliran permukaan yang diakibatkan oleh curah hujan
yang umumnya merupakan suatu dasar untuk merancang debit saluran
drainase.
Adapun asumsi dari metode rasional adalah pengaliran maksimum
terjadi kalau lama waktu curah hujan sama dengan lama waktu konsentrasi
daerah alirannya. Secara matematis dapat ditulis dalam Pers. 2.11.
Q = 0,00278 C.I.A (2.11)
Dimana:
Q = debit (m3/det).
C = koefisien aliran permukaan.
I = intensitas curah hujan (mm/jam).
A = luas daerah aliran (Ha).
Rumus diatas berlaku untuk daerah yang luas pengalirannya tidak
28
`
lebih dari 80 Ha, sedangkan untuk daerah yang luas pengalirannya lebih
besar dari 80 Ha maka rumus rasional diatas harus dirubah menjadi Pers.
2.12.
Q = 0,00278 C.C s.I.A (2.12)
Dimana:
Q = debit (m3/det).
C = koefisien aliran permukaan.
I = intensitas curah hujan (mm/jam).
A = luas daerah aliran (Ha).
Cs = koefisien tampungan.
2Tc (2.13)
Cs =
2T c + T d
Dimana:
Cs = koefisien tampungan.
Tc = waktu konsentrasi (jam).
Td = waktu aliran air mengalir di dalam saluran dari hulu hingga ke
tempat pengukuran (jam).
2.10. Intensitas Hujan
Intensitas hujan adalah jumlah hujan yang dinyatakan dalam tinggi
hujan atau volume hujan tiap satuan waktu. Besarnya intensitas hujan
berbeda-beda, tergantung dari lamanya curah hujan dan frekuensi
kejadiannya. Intensitas hujan diperoleh dengan cara melakukan analisis
data hujan baik secara statistik maupun secara empiris. Intensitas hujan (I)
29
`
ialah laju rata-rata dari hujan yang lamanya sama dengan waktu
konsentrasi Tc dengan masa ulang tertentu sesuai kebutuhan.
Intensitas hujan adalah termasuk dari karakteristik hujan yang juga
terdapat durasi hujan yaitu lama kejadian (menitan, jam-jaman, harian)
diperoleh dari hasil pencatatan alat pengukur hujan otomatis. Dalam
perencanaan drainase durasi hujan ini sering dikaitkan dengan waktu
konsentrasi, khususnya pada drainase perkotaan diperlukan durasi yang
relatif pendek mengingat akan toleransi terhadap lamanya genangan.
Selanjutnya lengkung intensitas hujan adalah grafik yang menyatakan
hubungan antara intensitas hujan dengan durasi hujan, hubungan tersebut
dinyatakan dalam bentuk lengkungan intensitas hujan kala ulang hujan
tertentu.
2.10.1. Analisa Curah Hujan
Hujan merupakan komponen yang sangat penting dalam analisis
hidrologi. Pengukuran hujan dilakukan selama 24 jam baik secara manual
maupun otomatis, dengan cara ini berarti hujan yang diketahui adalah
hujan total yang terjadi selama satu hari. Dalam analisa digunakan curah
hujan rencana, hujan rencana yang dimaksud adalah hujan harian
maksimum yang akan digunakan untuk menghitung intensitas hujan,
kemudian intensitas ini digunakan untuk mengestimasi debit rencana.
Untuk berbagai kepentingan perancangan drainase tertentu data hujan yang
diperlukan tidak hanya data hujan harian, tetapi juga distribusi jam atau
menit. Hal ini akan membawa konsekuen dalam pemilihan data, dan
30
`
dianjurkan untuk menggunakan data hujan hasil pengukuran dengan alat
ukur otomatis. Dalam perencanaan saluran drainase periode ulang (return
periode) yang dipergunakan tergantung dari fungsi saluran serta daerah
tangkapan hujan yang akan dikeringkan. Menurut pengalaman,
penggunaan periode ulang untuk perencanaan:
Saluran kuarter : Periode ulang 1 tahun
Saluran tersier : Periode ulang 2 tahun
Saluran sekunder : Periode ulang 5 tahun
Saluran primer : Periode ulang 10 tahun
Dalam pemilihan suatu teknik analisis penentuan banjir rencana
tergantung dari data-data yang tersedia dan macam dari bangunan air yang
akan dibangun(Soewarno,1995).
2.10.2. Analisis Intensitas Curah Hujan
Langkah terakhir untuk menghitung intensitas curah hujan adalah
memilih metode perhitungan intensitas curah hujan yang akan digunakan.
Pemilihan ini dimaksudkan untuk menentukan persamaan intensitas curah
hujan untuk daerah penelitian.
a) Metode Mononobe
[ ]
R 24 24 ⅔
(2.14)
I=
24 tc
Dimana:
I = intensitas hujan (mm/jam).
t = lamanya hujan (jam).
R24 = curah hujan maksimum harian (selama 24 jam) (mm).
b) Metode Van Breen
31
`
Metode ini menggunakan persamaan sebagai berikut:
I 54 R T +0,007 RT ² (2.15)
T=
t +0,31 RT
Dimana:
IT = Intensitas hujan (mm/jam) pada Periode Ulang Hujan(PUH)
selama waktu hujan (t),
t = durasi waktu hujan (menit), dan
RT = Curah hujan harian maksimum PUH tahunan (mm/24 jam).
c) Metode Hasper Der Weduwen
Untuk mengetahui intensitas curah hujan menggunakan metode ini maka
digunakan persamaan:
RT = X T
[ 1218t +54
X T ( 1−t )+ 1272t ] (2.16)
R=
√ 11300 Rt
t +3,12 100 [ ] (2.17)
Setelah mendapatkan nilai dari persamaan diatas kemudian dihitung
intensitas curah hujan dengan persamaan berikut ini:
R (2.18)
I=
t
Dimana:
I = Intensitas Hujan (mm/jam)
R = Curah Hujan (mm).
d) Metode Sherman (1953)
a (2.19)
I= b
t
e) Metode Ishiguro (1905)
32
`
a (2.20)
I=
√t +b
f) Metode Talbot (1881)
a (2.21)
I=
(t +b)
Dimana I = Intensitas curah hujan (mm/jam), t = Lamanya curah
hujan (menit), a dan b = Konstanta yang tergantung pada lama curah hujan
yang terjadi di daerah aliran, dan n = Banyaknya pasangan data i dan t.
2.11. Koefisien Pengaliran (C)
Koefisien pengaliran (C) adalah perbandingan antara jumlah aliran
(run off) dengan jumlah curah hujan. Sehingga disingkat dengan:
Jumla h aliran (2.22)
C=
jumla h cura h hujan
Untuk daerah tangkapan beraneka ragam, bentuk permukaan dapat dicari
koefisien pengalirannya dengan rumus:
C= (2.23)
A 1C 1+ A 2C 2+ …+ An Cn¿ ¿
jumla h cura h hujan
Dimana:
C = koefisien pengaliran , A = luas daerah tangkapan (m²)
Persentase angka pengaliran berangsur-angsur bertambah selama
hujan berlangsung, juga harga koefisien pengaliran tersebut berbeda-beda,
yang mana hal ini dapat disebabkan antara lain:
1. Faktor Meteorologi, yang mencakup:
a. Curah hujan
33
`
b. Intersepsi
c. Evaporasi
d. Transpirasi
2. Faktor daerah, yang mencakup:
a. Karakteristik daerah pengaliran.
b. Faktor fisik, yaitu antara lain:
Penggunaan tanah (land use)
Jenis tanah
Kondisi topografi
Koefisien pengaliran secara umum diperlihatkan pada Tabel 2.9.
Tabel 2.9: Koefisien aliran (C) secara umum (Wesli, 2008).
Tipe Daerah Aliran Kondisi Koefisien Aliran
(C)
Rerumputan Tanah Pasir, datar, 2% 0,05 – 0,10
Tanah Pasir, rata-rata, 2-7% 0,10 – 0,15
Tanah Pasir, curam, 7% 0,15 – 0,20
Tanah gemuk, datar, 2% 0,13 – 0,17
Tanah gemuk, rata-rata, 2-7% 0,18 – 0,22
Tanah gemuk, curam, 2% 0,25 – 0,35
Businees Daerah kota lama 0,75 – 0,95
Daerah pinggiran 0,50 – 0,70
Perumahan Daerah “Single Family’’ 0,30 – 0,50
“Multi units” terpisah-pisah 0,40 – 0,60
“Multi units” tertutup 0,60 – 0,75
“Suburban” 0,25 – 0,40
Daerah rumah apartemen 0,50 – 0,70
Industri Daerah ringan 0,50 – 0,80
Daerah berat 0,60 – 0,90
Pertamanan, kuburan - 0,10 – 0,25
Tempat beribadah - 0,20 – 0,35
Halaman kereta api - 0,20 – 0,40
Taman bermain - 0,20 – 0,35
Jalan Beraspal 0,70 – 0,95
Beton 0,80 – 0,95
Batu bata, paving 0,70 – 0,85
34
`
Untuk berjalan dan naik - 0,70 – 0,85
Atap bangunan - 0,75 – 0,95
Pada perencanaan sumur resapan di kawasan Lingkungan Lawa,
digunakan koefisien pengaliran pada Tabel 2.9: Koefisien aliran (C) secara
umum (Wesli, 2008) dengan alasan-alasan sebagai berikut:
1. Harga – harga koefisien pada Tabel 2.9 tidak tergantung pada lamanya
hujan.
2. Harga-harga koefisien pengaliran pada Tabel 2.9 sangat sesuai untuk
studi kasus ini, karena persentase daerah resapan pada perumahan
dapat disurvei di lapangan.
3. Harga-Harga koefisien run off (koefisien pengaliran pada Tabel 2.9)
merupakan hasil yang disurvei (diselidiki) pada sebagian besar di
Amerika Serikat.
Koefisien pengaliran dengan waktu seperti yang terlihat pada Tabel
2.10.
Tabel 2.10: Koefisien pengaliran berdasarkan persentase permukaan yang kedap
dengan waktu konsentrasi (Wesli, 2008).
tc Persentase permukaan yang kedap
0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100
10 0,15 0,19 0,23 0,27 0,31 0,35 0,39 0,43 0,47 0,51 0,55
20 0,24 0,23 0,32 0,36 0,40 0,44 0,48 0,52 0,57 0,60 0,65
30 0,29 0,33 0,37 0,41 0,46 0,50 0,54 0,58 0,63 0,67 0,71
45 0,33 0,38 0,42 0,46 0,51 0,55 0,59 0,64 0,68 0,73 0,77
60 0,37 0,42 0,46 0,50 0,55 0,59 0,63 0,68 0,72 0,76 0,81
75 0,40 0,44 0,49 0,53 0,57 0,62 0,66 0,70 0,75 0,79 0,84
90 0,42 0,47 0,51 0,55 0,60 0,64 0,68 0,74 0,77 0,81 0,86
105 0,45 0,49 0,53 0,57 0,62 0,66 0,70 0,74 0,78 0,83 0,87
120 0,46 0,51 0,55 0,59 0,63 0,67 0,71 0,75 0,80 0,84 0,88
35
`
2.12. Kecepatan Aliran
Kecepatan aliran adalah kecepatan rata-rata suatu aliran dalam
waktu tertentu. Rumus kecepatan aliran metode Manning antara lain
adalah:
1 (2.24)
V= x R ⅔ x S½
n
Dimana:
V = kecepatan aliran air (m/detik)
n = Koefisien manning
R = jari-jari hidraulis (m)
S = kemiringan saluran
Kecepatan aliran metode Manning dalam waktu tertentu juga dapat
dilihat pada Tabel 2.11.
Tabel 2.11: Nilai koefisien Manning (Triatmodjo, 1993).
Bahan Koefisien Manning (n)
Besi tuang lapis 0,014
Kaca 0,010
Saluran beton 0,013
Beton dilapis mortar 0,015
Pasangan batu disemen 0,025
Saluran tanah bersih 0,022
Saluran tanah 0,030
Saluran dengan dasar batu dan tebing rumput 0,040
Saluran pada galian batu padas 0,040
2.13. Waktu Konsentrasi
Waktu konsentrasi pada daerah pengaliran adalah waktu yang
dibutuhankan air untuk mengalir dari daerah yang terjauh ke suatu
pembuang (outlet) tertentu, yang diasumsikan bahwa lamanya hujan sama
dengan waktu konsentrasi pada semua bagian daerah pengaliran dimana
36
`
air hujan berkumpul bersama-sama untuk mendapatkan suatu debit yang
maksimum pada outlet,
Waktu konsentrasi terdiri dari 2 (dua) bagian:
a. Waktu pemasukan (inlet time) atau time of entry yaitu waktu
yang dibutuhkan oleh aliran permukaan untuk masuk ke saluran.
b. Waktu pengaliran (Conduit Time) yaitu waktu yang diperlukan
oleh air untuk mengalir disepanjang saluran sampai titik kontrol
yang ditentukan seperti Gambar 2.1.
B
30
25
20
A
Gambar 2.1: Contoh saluran a-b pada suatu daerah pengaliran.
Dari gambaran ini dapat dijelaskan adalah waktu pemasukan
adalah waktu yang dibutuhkan air hujan dari titik terjauh masuk ke titik
pengaliran misalnya titik A, sedangkan waktu pengaliran adalah waktu
yang dibutuhkan oleh air dalam perjalanan dari titik A ke B.
Waktu pemasukkan (inlet time) dipengaruhi oleh:
1. Kekasaran permukaan daerah pengaliran.
2. Kejenuhan daerah pengaliran.
3. Kemiringan daerah pengaliran.
4. Sisi dari bagian daerah atau jarak areal pembagi ke saluran.
5. Susunan atap yang ada pada daerah tersebut.
Dalam hal ini untuk curah hujan yang berasal dari atap, waktu
37
`
pemasukannya tidak lebih dari 5 menit. Pada daerah komersial yang relatif
datar, waktu pemasukan yang dibutuhkan sekitar 10 - 15 menit, dan pada
daerah permukiman penduduk yang relatif datar waktu yang dibutuhkan
sekitar 20 – 30 menit. Waktu pengaliran (time of flow) tergantung pada
perbandingan panjang saluran dan kecepatan aliran. Menurut rumus
empiris dari Kirpich yang diasumsikan dari rumus Manning untuk
koefisien kekasaran rata-rata dan jari-jari hidraulis yang berlaku umum.
Waktu konsentrasi juga dapat dihitung dengan rumus:
tc = (0,87 x L2 1000 x S)0,385 (2.25)
Dimana:
tc = Waktu konsentrasi
t = Panjang maksimum aliran (meter).
S = Kemiringan saluran.
2.14. Sumur Resapan
Konsep dasar sumur resapan adalah memberi kesempatan dan jalan
pada air hujan yang jatuh di atap atau lahan yang kedap air untuk meresap
kedalam tanah dengan jalan menampung air tersebut pada suatu sistem
sumur resapan (Suripin, 2004). Metode yang digunakan dalam
menentukan sumur resapan adalah metode yang dikemukakan oleh
Sunjoto (1988), dimana secara teoritis, volume dan efisiensi sumur resapan
dapat dihitung berdasarkan keseimbangan air yang masuk ke dalam sumur
dan air yang meresap ke dalam tanah. Konstruksi sumur resapan dengan
tampang lingkaran, dimensinya dapat dihitung dengan Persamaan 2.26,
dimana faktor geometrik F dapat dilihat pada Tabel 2.12
38
`
Q FKT (2.26)
H= [ 1 – e−( π R ) ]
2
FK
Dimana:
H : tinggi muka air dalam sumur (m),
Q : debit air masuk (m3/det),
F : faktor geometrik (m),
K : koefisien permeabilitas tanah (m/det),
T : waktu pengaliran (detik),
R : jari-jari sumur (m).
2.14.1. Fungsi Sumur Resapan
Penerapan sumur resapan sangat dianjurkan dalam kehidupan
sehari-hari. Beberapa fungsi sumur resapan bagi kehidupan manusia
adalah sebagai pengendali banjir, melindungi dan memperbaiki
(konservasi) air tanah, serta menekan laju erosi.
1. Pengendalian banjir
Banjir sering kali menggenangi kawasan pemukiman ketika musim
hujan tiba. Terjadinya banjir dapat disebabkan oleh beberapa faktor
diantaranya:
a. Pengembangan rumah yang melewati batas garis sempadan
bangunan (GSB).
b. Sistem drainase yang tidak terencana dengan baik.
c. Masih kurangnya kesadaran para penghuni kawasan
permukiman terhadap pengelolaan sampah.
Pada dasarnya pengembangan rumah merupakan suatu kebutuhan
dari setiap penghuni kawasan pemukiman sejalan dengan penambahan
jumlah anggota keluarga atau untuk kebutuhan lain. Proses
39
`
pengembangan rumah- rumah pada suatu kawasan pemukiman
biasanya berkisar 5-15 tahun atau dapat lebih cepat, tergantung dari
lokasi perumahan serta fasilitas umum dan fasilitas sosial yang
dimiliki perumahan tersebut.
Pengembangan rumah atau penambahan jumlah ruangan terjadi
hampir pada semua lokasi pemukiman. Rumah-rumah cenderung
dikembangkan ke arah horisontal dengan pertimbangan biaya
konstruksi akan lebih murah jika dibandingkan dengan pengembangan
ke arah vertikal. Namun, hal tersebut justru sering mengakibatkan
pengembangan rumah yang melewati batas garis sempadan bangunan
(antara 3-4 m dari tepi jalan). Dengan demikian pada musim hujan,
volume aliran air permukaan menjadi besar dan volume air yang
meresap ke dalam tanah sangat sedikit sehingga mengakibatkan
genangan banjir.
2. Konservasi air tanah
Fungsi lain dari sumur resapan ini adalah memperbaiki kondisi air
tanah atau mendangkalkan permukaan air sumur. Di sini diharapkan
air hujan lebih banyak yang diresapkan ke dalam tanah menjadi air
cadangan dalam tanah. Air yang tersimpan dalam tanah tersebut akan
dapat dimanfaatkan melalui sumur- sumur atau mata air. Peresapan air
melalui sumur resapan ke dalam tanah sangat penting mengingat
adanya perubahan tata guna tanah di permukaan bumi sebagai
konsekuensi dari perkembangan penduduk dan perekonomian
40
`
masyarakat.
3. Menekan laju erosi
Dengan adanya penurunan aliran permukaan maka laju erosi pun
akan menurun. Bila aliran permukaan menurun, tanah-tanah yang
tergerus dan terhanyut pun akan berkurang. Dampaknya, aliran
permukaan air hujan kecil dan erosi pun akan kecil.
2.14.2. Prinsip Kerja Sumur Resapan
Prinsip kerja sumur resapan adalah menyalurkan dan menampung
air hujan ke dalam lubang atau sumur agar air dapat memiliki waktu
tinggal di permukaan tanah lebih lama Sehingga sedikit demi sedikit air
dapat meresap ke dalam tanah. Air hujan yang masuk kedalam tanah akan
masuk ke dalam tanah atau meresap kedalam tanah (Infiltrasi) dengan
demikian air akan lebih banyak masuk ke dalam tanah dan sedikit yang
mengalir sebagai aliran permukaan (run off).
Semakin banyak air yang mengalir ke dalam tanah berarti akan
banyak tersimpan air tanah di bawah permukaan bumi. Air tersebut dapat
dimanfaatkan kembali melalui sumur-sumur atau mata air yang dapat
diekploitasi setiap saat.
Jumlah aliran akan menurun karena adanya sumur resapan.
Pengaruh positifnya bahaya banjir dapat dihindari karena terkumpulnya air
permukaan yang berlebihan disuatu tempat yang dihindarkan. Menurunnya
aliran permukaaan ini juga akan menurunkan tingkat erosi tanah. Prinsip
kerja sumur resapan dapat dilihat pada Gambar 2.2.
41
`
Keterangan :
1 = Air hujan
2 = Air Infiltrasi
1 3 = Air permukaan (run off) 4
T = Air dalam sumur resapan 5
= Air meresap dari sumur 6 =
3 Muka air tanah
2 T = Permukaan tanah SR =
SR Sumur resapan LK Lapisan
kedap air
4
6
5
LK
Gambar 2.2: Prinsip kerja sumur resapan (Yassir Arafat, 2008)
Gambar 2.3: Proses masuknya air kedalam akuifer bebas (Desmawan, 2022)
Gambar 2.4: Proses masuknya air kedalam akuifer Tertekan (Desmawan, 2012)
Dari gambar 2.3 diatas berlaku persamaan sbb:
42
`
2
π . K (h w −h o )
2
(2.27)
Q=
ln (ro/rw)
Sedangkan untuk gambar 2.4 berlaku persamaan:
π . K (hw−ho) (2.28)
Q=
ln (ro/ rw)
Dimana :
Q = Debit Aliran
K = Koefisien Permeabilitas Tanah
rw = Jari-jari sumuran
ro = Jari-jari pengaruh aliran
ho = Tinggi muka air tanah
hw = Tinggi muka air setelah imbuhan
2.14.3. Faktor-faktor dalam pembuatan sumur resapan.
Dalam perencanaan pembuatan sumur resapan perlu
dipertimbangkan faktor iklim, kondisi air tanah, kondisi tanah, tata guna
lahan, dan kondisi sosial ekonomi masyarakat.
1. Faktor Iklim
Iklim merupakan faktor yang perlu dipertimbangkan dalam
perencanaan sumur resapan. Faktor yang perlu mendapat perhatian adalah
besarnya curah hujan. Semakin besar curah hujan disuatu wilayah berarti
semakin besar atau banyak sumur resapan yang diperlukan. Besarnya
43
`
curah hujan dapat dibedakan menjadi tiga kelas, yaitu curah hujan rendah
(<1.500 mm/tahun), curah hujan sedang (1.500-2.500 mm/tahun), dan
curah hujan tinggi (>2.500 mm/tahun) (Kusnaedi, Sumur Resapan,
Penebar Swadaya: 2011. Hal 21).
2. Kondisi air tanah
Pada kondisi permukaan air tanah yang dalam, sumur resapan perlu
dibuat secara besar-besaran karena tanah benar-benar memerlukan suplai
air melalui sumur resapan. Sebaliknya, pada lahan yang muka airnya
dangkal, sumur resapan ini kurang efektif dan tidak akan berfungsi dengan
baik terutama pada daerah rawa dan pasang surut.
Tabel 2.12: Jumlah sumur resapan yang harus dibuat berdasarkan kondisi
permeabilitas dan luas bidang tanah (Kusnaedi, Sumur Resapan, Penebar
Swadaya: 2011. Hal 21).
Jumlah Sumur (buah)
Luas Bidang Permeabilitas Permeabilitas Permeabilitas
No sedang agak sedang cepat
Tadah (m2)
80 cm 140 cm 80 cm 140 cm 80 cm 140 cm
1 20 1 - - - - -
2 30 1 - 1 - - -
3 40 2 - 1 - - -
4 50 2 1 1 - 1 -
5 60 2 1 1 - 1 -
6 70 3 1 2 1 1 -
7 80 3 2 2 1 1 -
8 90 3 2 2 1 2 1
9 100 4 2 2 1 2 1
10 200 8 3 4 2 3 2
11 300 12 5 7 3 5 2
12 400 15 6 9 4 6 3
44
`
13 500 19 8 11 5 7 4
Untuk kondisi air tanah di wilayah Jaya Bakti termasuk kedalam
kategori sedang dikarnakan bukan merupakan daerah rawa dan juga tidak
memiliki permukaan air tanah yang dalam.
3. Kondisi Tanah
Kondisi tanah berpengaruh terhadap daya resap tanah terhadap air
hujan. Oleh karenanya konstruksi sumur resapan harus
mempertimbangkan sifat fisik tanah.
Tabel 2.13: Hubungan kecepatan infiltrasi dan tekstur tanah (Sitanala Arsyad:
1976).
Tekstur tanah Kecepatan infiltrasi Kriteria
(mm/Jam)
Pasir berlempung 25 – 50 Sangat cepat
Lempung 12,5 – 25 Cepat
Lempung berdebu 7,5 – 15 Sedang
Lempung berliat 0,5 – 2,5 Lambat
Liat < 0,5 Sangat lambat
4. Tata guna lahan
Wilayah dengan kategori sedang dalam hal padat huni, namun
memiliki potensi pertambahan wilayah padat huni yang cukup tinggi. Hal
ini mempengaruhi persentase air yang meresap ke dalam tanha dengan
aliran permukaan. Karena pada tanah yang banyak tertutup beton
bangunan, air hujan yang mengalir pada permukaan tanah akan lebih besar
dibandingkan dengan air yang meresap kedalam tanah.
Dengan demikian semakin tinggi persentase wilayah huni maka
45
`
semakin banyak jumlah sumur resapan yang diperlukan.
Tabel 2.14: Perbedaan daya resap tanah pada berbagai kondisi permukaan tanah
(Fajar Hadi: 1979)
No Tata guna tanah (Land Use) Daya resap tanah terhadap
air hujan (%)
1 Daerah hutan, pekarangan lebat, kebun, 80-100
ladang, berumput
2 Daerah taman kota 75-95
3 Jalan tanah 40-85
5 Daerah dengan bangunan terpencar 30-70
6 Daerah pemukiman agak padat 5-30
7 Daerah pemukiman padat 0-5
5. Kondisi sosial ekonomi masyarakat
Perencanaan sumur resapan harus memperhatikan kondisi sosial
perekonomian masyarakat. Misalnya, pada kondisi perekonomian yang
baik, biaya untuk sumur resapan dapat dibebnkan kepada masyarakat dan
kontruksinya dapat dibuat dari bahan yang benar-benar kuat. Sebaliknya
pada kondisi sosial ekonomi masyarakat yang rendah, sumur resapan harus
terbuat dari bahan-bahan yang murah dan mudah didapat serta
kontruksinya sederhana. Selain itu, pendanaan sumur resapan pada daerah
minim sebaiknya beruapa bantuan dari pemerintah melalui proyek APBD
dan APBN.
6. Lokasi drainase yang tepat untuk sumur Resapan
Drainase yang dipilih sebagai lokasi pembuatan sumur resapan
hendaknya memenuhi kriteria sebagai berikut:
1. Terletak di wilayah yang memiliki hunian penduduk terpadat
diwilayah tersebut, hal ini disebabkan agar manfaat sumur resapan
46
`
dapat langsung dirasakan oleh masyarakat;
2. Konstruksi drainase disekitarnya dalam kondisi baik, hal ini agar
anggaran dana dapat lebih efisien dikarnakan tidak perlu merenovasi
drainase lagi;
3. Memiliki elevasi yang rendah, sehingga memungkinkan air
terkumpul pada lokasi tersebut.
4. Keadaan muka air tanah sumur resapan dibuat pada awal daerah
aliran yang dapat ditentukan mengukur kedalaman dari permukaan
air tanah ke permukaan tanah di sumur sekitarnya pada musim
hujan.
5. Permeabilitas Tanah Permeabilitas tanah yang dapat dipergunakan
untuk sumur resapan dibagi 3 kelas yaitu
1. Permeabilitas tanah sedang (geluh/lanau, 2- 6,5 cm/jam)
2. Permeabilitas tanah agak cepat (pasir halus ,6,5 - 12,5 cm/jam)
3. Permeabilitas tanah cepat (pasir kasar, > 12,5 cm/jam)
Tabel 2.15: Jarak minimum sumur resapan dengan bangunan (Yassir Arafat,
2008)
JARAK DARI SUMUR
NO JENIS BANGUNAN RESAPAN
(m)
1 Tangki septik 2
2 Resapan tangki septik, cubluk, saluran 5
air limbah, pembuangan sampah
3 Sumur resapan air hujan/sumur air bersih 2
4 Bangunan/ rumah 3
5 Batas pemilikan lahan/kapling 1.5
6 Aliran air (sungai) 30
7 Jalan Umum 1.5
8 Pohon besar 3
2.14.4. Perencanaan Sumur Resapan
47
`
Langkah - langkah yang perlu diperhatikan dalam pembuatan sumur
resapan air hujan adalah sebagai berikut:
Gambar 2.5 : Langkah pembuatan sumur resapan
Metode-metode yang digunakan dalam perencanaan dimensi sumur
resapan antara lain sebagai berikut:
a. Metode Sunjoto (2011)
Sunjoto membangun suatu formula dengan asas:
1. Debit air masuk kedalam sumur diasumsikan konstan sama dengan Q.
Hal ini sesuai dengan keadaan fisik yaitu dalam suatu durasi hujan
akan ada debit dari atap yang masuk ke dalam sumur.
2. Debit keluar (meresap) adalah sama dengan faktor geometrik kali
koefisien permeabilitas fungsi ketinggian air dalam sumur,
2π LK H (2.29)
Qo =
ln (
L
2R √
+ 1+(
L
2R
)²)
Dengan:
Qo = debit banjir yang ditampung oleh sumur resapan (m3/det),
L = tinggi sumur resapan yang masuk kedalam tanah (m),
K = koefisien permeabilitas tanah (m/det),
H = tinggi muka air (m),
48
`
R = jari-jari sumur rencana (m).
3. Formula unsteady flow condition ini menjadi sama dengan formula
Forchheimer (1930) bedanya adalah yang terakhir ini adalah steady
flow condition. Bila waktu tak terhingga, maka formula sunjoto akan
sama menjadi steady flow condition dan formulanya akan sama persis
dengan formula Forchheimer (1930).
Qs=Q
dt dh H
dh
t2 h2
t Y
h
Gambar 2.6: Skema h2 (Sunjoto, 2011)
t1 Aliran dalam Sumur
X
Secara teoritis, volume dan efisiensi sumur resapan dapat dihutung
Qo =FKh
berdasarkan keseimbangan air yang masuk ke dalam sumur dan air yang
meresap ke dalam tanah dan dapat diilustrasikan sebagai berikut:
a) Sumur kosong tampang lingkaran
Untuk konstruksi sumur resapan biasanya dengan dinding samping dan
ruang tetap kosong maka dimensinya dihitung dengan:
Q FKT (2.30)
H= ( 1 - e πR )
2
FK
Dimana:
H = Tinggi muka air dalam sumur (m),
F = Fakta geometrik (m),
49
`
F = Faktor geometrik tampang rectangular (m),
Q = Debit air masuk (m³/det)
T = Waktu pengliran (detik),
K = Koefisien permeabilitas tanah (m/det),
R = Jari – jari sumur (m).
Untuk menentukan nilai faktor geometric dapat dilihat pada Tabel 2.12
Tabel 2.16: Nilai Faktor geometric (Sunjoto, 1994)
b. Metode PU
Pusat penelitian dan pengembangan pemukiman Departemen
Pekerjaan Umum (2002) telah menyusun standar tata cara
perencanaan teknik umur resapan air hujan untuk pekarangan yang
dituangkan dalam SNI 03-2453-2002.
Metode PU menyatakan bahwa dimensi atau jumlah sumur
resapan air hujan yang diperlukan pada suatu lahan pekarangan
ditentukan oleh curah hujan maksimum. Permeabilitas tanah dan luas
bidang tanah, yang dapat dirumuskan sebagai berikut:
50
`
a) Volume andil banjir digunakan rumus:
V ab = 0,885 C tadah Atadah R (2.32)
Dimana:
V ab = Volume andil banjir yang akan ditampung sumur resapan
(m³)
C tadah = Koefisien limpasan dari bidang tadah (tanpa satuan)
Atadah = Luas bidang tadah (m²)
R = Tinggi hujan rata-rata (L/m²/hari)
b) Volume air hujan yang meresap digunakan rumus:
te (2.33)
V rsp = . Atotal . K
24
Dimana:
V rsp = Volume air hujan yang meresap (m³)
te = durasi efektif (jam)
te = 0,9. R0,92/60 (jam)
R = Tinggi hujan rata-rata (L/m2/hari)
Atotal = Luas dinding sumur + luas alas sumur (m² )
K = Koefisiensi permeabilitas tanah (m/hari).
c) Volume penampungan (storasi) air hujan:
V storasi = V ab - V rsp (2.34)
d) Penentuan jumlah sumur resapan (n):
V ab−¿V H total (2.35)
H total = rsp
¿ n=
Ah H rencana
51
`
Dimana:
n = jumlah sumur resapan air hujan (buah)
H total = kedalaman total sumur resapan air hujan (m)
H rencana = kedalaman yang direncanakan ¿ kedalaman muka air
tanah (m)
2.14.5. Analisis Infiltrasi
Analisis infiltrasi bertujuan untuk mengetahui laju infiltrasi air
daerah penelitian dan untuk itu dibutuhkan data hasil pengukuran laju
infiltrasi di lapangan dengan menggunakan alat single ring infiltrometer.
Analisis data laju infiltrasi pada penelitian ini menggunakan metode
Horton. Model Horton dapat dinyatakan secara matematis mengikuti
persamaan sebagai berikut:
f = fc + (fo-fc)e-kt ; i¿ = fc dan (2.36)
k = konstan
Dimana:
f = laju infiltrasi nyata (cm/jam),
fc = laju infiltrasi tetap (cm/jam),
fo = laju infiltrasi awal (cm/jam),
k = konstan geofisik.
Tabel 2.17: Harga koefisien rembesan (Infiltrasi) pada umumnya (Yassir Arafat,
2008)
Jenis tanah k
(cm/detik) (ft/menit)
Kerikil bersih 1,00 – 100 2,0 - 200
52
`
Pasir kasar 1,0 - 0,01 2,0 – 0,002
Pasir halus 0,01 – 0,001 0,02 – 0,002
Lanau 0,001 – 0,00001 0,002 – 0,00002
Lempung Kurang dari 0,000001 Kurang dari 0,000002
2.14.6. Uji Permeabilitas
Penentuan harga koefisien permeabilitas (k) suatu sampel tanah
pada penelitian ini didapat dari pengujian falling head permeability.
Sampel tanah yang di uji diambil dari lokasi permukiman pada kedalaman
1,5 meter yang sudah dianggap mewakili kondisi tanah pada lokasi studi.
Untuk pengujian falling head permeability, rumus perhitungan koefisien
permeabilitas tanah adalah:
a .( Ls) h1 (2.37)
K = 2,303 log
As(t ) h2
Dimana:
K = Koefisien permeabilitas tanah (cm/detik),
a = Luas penampang pipa (cm2),
Ls = Panjang sampel tanah (cm),
As = Luas penampang sampel (cm2),
t = Interval penurunan h1 ke h2 (detik),
h1 = Ketinggian mula-mula air pada interval waktu tertentu (cm), dan
h2 = Ketinggian akhir air pada interval waktu tertentu (cm).
Permeabilitas tanah yang dapat dipergunakan untuk sumur resapan
dibagi 3 kelas yaitu:
a) Permeabilitas tanah sedang (geluh/lanau 2- 6,5 cm/jam)
b) Permeabilitas tanah agak cepat (pasir halus 6,5 - 12,5 cm/jam)
53
`
c) Permeabilitas tanah cepat (pasir kasar > 12,5 cm/jam)
2.14.7. Persyaratan Umum Sumur Resapan
Sumur resapan yang dibuat harus memenuhi syarat- syarat agar
daya kerjanya dapat dipertanggung jawabkan serta tidak menimbulkan
dampak baru terhadap lingkungan diantaranya (Kusnaedi,2000) :
1) Sumur resapan air hujan dibuat pada lahan yang lulus air dan tahan
longsor.
2) Sumur resapan air hujan harus bebas dari kontaminasi/pencemaran
limbah.
3) Air yang masuk kedalam sumur resapan adalah air hujan.
4) Untuk daerah sanitasi lingkungan buruk, sumur resapan air hujan
hanya menampung dari atap dan disalurkan melalui talang.
5) Mempertimbangkan aspek hidrogeologi, geologi dan hidrologi.
6) Model dan ukuran sumur resapan harus memperhatikan faktor
lingkungan dan ketersediaan lahan di kawasan tersebut.
7) Bahan- bahan yang dipakai harus murah dan mudah didapat di lokasi
sehingga mudah diterima dan diterapkan oleh masyarakat.
8) Harus memperhatikan jarak minimum sesuai Tabel 2.16.
9) Pada lahan yang tertutupi bangunan, volume sumur resapan dibuat
lebih besar dibandingkan lahan yang terbuka luas.
10) Untuk lahan dengan permukaan air dalam tinggi sumur resapan 2 m,
lebar 1 m dan panjang 1m.
11) Untuk lahan dengan permukaan air dangkal dibuat memanjang dengan
54
`
kedalaman 1 m
12) Untuk lokasi terendah pada suatu kawasan dapat dibuat sumur resapan
kolektif agar supaya air dengan mudah mengalir dari semua tempat
dalam kawasan tersebut. Alternatif model sumur resapan kolektif
sesuai dengan kondisi lingkungan. : (a) Kolam resapan dangkal
dengan kedalaman muka air tanah ( < 5 m) dan ketersediaan lahan
luas, (b) Sumur dalam dengan kedalaman muka air tanah ( > 5 m)
untuk lahan sempit, (c) Parit berorak dengan kedalaman muka air
tanah dangkal ( < 5 m) dengan ketersediaan lahan sempit.
2.14.8. Bentuk dan Ukuran
1) Bentuk sumur resapan dapat dibuat persegi empat atau lingkaran.
2) Ukuran sisi penampang bujur sangkar atau ukuran lingkaran minimum
0,8 meter dan maksimum 1,4 meter.
3) Ukuran pipa air hujan masuk minimum diameter 110 mm atau 3 inchi.
4) Ukuran kedalaman sumur dapat dilihat pada tabel 2.18
Tabel 2.18: Ukuran kedalaman dan Tipe konstruksi Sumur Resapan air hujan.
KEDALAMAN TIPE KONSTRUKSI
Maksimum 1,5 m I
Maksimum 3 m II
Maksimum muka air tanah ≥ 5 m IIIa, IIIb
Untuk sumur resapan tipe konstruksi I dengan kedalaman maksimal 1,5 meter
dapat dilihat seperti pada Gambar 2.7
55
`
Gambar 2.7: Tipe I sumur resapan air hujan.
Untuk sumur resapan tipe konstruksi II dengan kedalaman maksimal 3 meter
dapat dilihat seperti pada Gambar 2.8
56
`
Gambar 2.8: Tipe II sumur resapan air hujan.
Untuk sumur resapan tipe konstruksi tipe III a dengan kedalaman maksimal diatas
5 meter dapat dilihat seperti pada Gambar 2.9
57
`
Gambar 2.9: Tipe III a sumur resapan air hujan.
Untuk sumur resapan tipe konstruksi tipe III b dengan kedalaman maksimal diatas
5 meter dapat dilihat seperti pada Gambar 2.10
58
`
Gambar 2.10: Tipe III b sumur resapan air hujan.
BAB III
METODE PENILITIAN
3.1. Lokasi Penelitian dan Waktu Penelitian
3.1.1 Lokasi Penelitian
Pengumpulan data dilakukan untuk mendapatkan semua informasi
penelitian yang berguna dalam menganalisis hidrologi dan hidrolika pada lokasi
Dalam penelitian tugas akhir ini, lokasi wilayah studi dilakukan langsung di
daerah perumahan lingkungan Lawa. Untuk itu dilakukan pengambilan data baik
secara langsung maupun tidak langsung. Sistem drainase di Lingkungan Lawa
dinilai masih buruk karena genangan banjir terus terjadi akibat dari limpasan air
59
`
drainase. Data mengenai daerah kawasan bermasalah diambil dari Stasiun
Klimatologi Buton Selatan dan peta program Google Earth pada Gambar 3.1.
Gambar 3.1 Lokasi penelitian dilakukan langsung di daerah kawasan
Perumahan Lingkungan Lawa. (Google earth)
3.1.2. Waktu Penelitian
Waktu penelitian merupakan batasan waktu yang digunakan dalam
melakukan penelitian. Adapun waktu yang dibutuhkan mulai dari April sampai
dengan Mei 2023.
3.2. Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang diajuakan dalam penelitian ini adalah banyaknya debit
banjir, kapasitas tampungan jaringan drainase untuk menentukan kualitas sistem
drainase terutama di sepanjang sistem drainase Kelurahan Jaya Bakti yaitu
Lingkungan Lawa Kecamatan Sampolawa.
3.3. Tipe dan Dasar Penelitian
Tipe penelitian yang digunakan oleh penulis ini adalah deskriptif analisis,
yaitu penelitian yang di gunakan untuk menggambarkan secara rinci mengenai
objek penelitian serta menganalisa kinerja sistem drainase. Penelitian deskriptif
bertujuan menggambarkan kondisi, situasi atau berbagai fenomena realitas yang
60
`
ada pada drainase sebagai objek penelitian. Dasar penelitiannya adalah kualitatif
untuk mendapatkan data yang lebih akurat mengenai keadaan drainase pada
Lingkungan Lawa. Penelitian kualitatif mengacu kepada berbagai cara
pengumpulan data yang berbeda, yang meliputi penelitian lapangan dan observasi.
3.4. Data Penelitian
Adapun data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan
data sekunder. Data primer adalah data yang diperoleh langsung dari sumbernya
melalui pengamatan kemudian dicatat. Data sekunder adalah perolehan data yang
dilakukan dengan meminta data dan informasi yang diperlukan pada instansi dan
lembaga yang terkait.
3.4.1. Data Primer
Data primer terdiri atas:
1. Catchmen area (luas genangan banjir) Daerah Tangkapan Air (DTA)
kawasan
perumahan warga di sekitar titik kali mati di Lingkungan Lawa dapat
dilihat pada gambar 3.1.
2. Gambar keadaan Daerah Tangkapan Air (DTA) drainase primer, drainase
sekunder dan gorong-gorong seawall kawasan perumahan Lingkungan
Lawa dapat dilihat pada gambar 3.4 sampai dengan gambar 3.6.
61
`
Gambar 3.4. Drainase Primer pada Jln. Poros Mambulu
Gambar 3.5. Drainase Sekunder pada perumahan Lingkungan Lawa
Gambar 3.6. Gorong-gorong pada Seawall tertutup sedimentasi dan
sampah
62
`
3. Peta denah dan pola aliran air Daerah Tangkapan Air (DTA) dari survei
drainase pada kawasan perumahan Lingkungan Lawa.
Gambar 3.7. Peta denah dan pola aliran air
3.4.2. Data Sekunder
Data sekunder hujan bulanan dan harian maksimum tahun 2008
hingga 2017 yang diperoleh dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan
Geofisika (BMKG) stasiun Sampali Kota [Link] data sekunder
yang digunakan dapat dilihat pada Tabel 3.2.
3.5. Teknik Pengumpulan Data
Pengambilan sampel penelitian dilakukan pada saat hujan terjadi
baik hujan sedang maupun hujan dengan intensitas tinggi sesuai dengan
durasi hujan yang terjadi pada satu waktu. Adapun peralatan dan hal-hal
yang perlu dipersiapkan dalam penelitian ini meliputi:
1. Perangkat keras (hardware) terdiri dari: (a) alat tulis, (b) komputer,
(c) printer, (d) meteran, (e) jam/arloji
63
`
2. Perangkat lunak (software) terdiri dari: (a) Microsoft Office 2007,
(b) Auto Cad 2007
3.6. Pelaksanaan Pengamatan
Untuk pengamatan di lapangan terlebih dahulu dilakukan
pengumpulan data dasar mengenai kondisi dari drainase dan kawasan
perumahan warga yang terdampak banjir yang akan di teliti untuk
menentukan kebutuhan perbaikan atau pemeliharaan yang diperlukan.
Pengamatan dilaksanakan ketika hujan terjadi, baik hujan sedang maupun
hujan dengan intensitas tinggi sesuai dengan durasi hujan yang terjadi
pada satu waktu, dimana diperkirakan pada saat hujan debit air dapat
dihitung dan dilakukan pengukuran. Penelitian dilakukan dalam kala
ulang waktu satu hari yang memiliki karakteristik peluang banjir atau
limpasan air akan terjadi.
Pengamatan langsung di lapangan berupa perhitungan curah hujan
kala ulang satu hari yang menyebabkan terjadinya genangan air, baik
disebabkan oleh limpasan air dari drainase ataupun air hujan yang
langsung menggenangi kawasan pemukiman warga atau bahkan karena
fenomena banjir rob, dimana untuk mempermudah proses perhitungan
curah hujan digunakan pendekatan yang lebih empiris dan rasional
berupa metode Gumbel dan Log Pearson III .
3.7. Metode Analisis Data
Untuk menganalisa tinggi muka air banjir diperlukan beberapa
langkah yang harus dilakukan sebagai berikut:
64
`
1. Menentukan curah hujan harian maksimum tahunan dari BMKG
2. Menganalisa frekuensi curah hujan maksimum dengan 2 metode:
a. Menganalisis curah hujan dengan Disribusi Log Pearson Tipe III
dengan menetukan mean (x), Standard Deviation (Sd), Koefisien
Skewness (Cs), Pengukuran kurtosis (Ck) dan Koefisien Variasi
(Cv).
b. Menganalisis curah hujan dengan Distribusi Gumbell dengan
menentukan Standard Deviation (Sd), Koefisien Skewness (Cs),
Pengukuran kurtosis (Ck) dan Koefisien Variasi (Cv).
3. Melakukan pengujian distribusi frekusensi dengan Uji Kecocokan
Chi- Square dan Uji Smirnov Kolmogrov untuk mengetahui apakah
jenis distribusi yang dipilih sudah tepat.
4. Menganalisa debit banjir rancangan dengan Metode Rasional
3.8. Alur Penelitian
Metodologi penelitian bertujuan untuk menyelesaikan masalah
yang ada secara terstruktur. Berikut pembagian dari flow chart penelitian
ditunjukkan dalam Gambar 3.7 dibawah ini.
Mulai
Identifikasi Masalah
Studi Pustaka
Pengambilan
Pengambilan
Data Primer 65 Data Sekunder
4. Catchment
1.
Catchment Area
Area 1. Data
Data Curah
Curah Hujan
Hujan Harian
Harian
5. Data
2.
Data Kapasitas
Kapasitas Drainase
Drainase maksimum
maksimum daridari
BMKGBMKG Buton
Buton
6. Peta
3.
Peta Denah
Denah dandan Pola
Pola Aliran
Aliran Air Selatan
Selatan
Air
` Pengolahan Data
Analisa Hidrologi
Analisa Dimensi
Data Primer Sumur resapan
Data Sekunder
7. Catchment Area 2. Data Curah Hujan Harian
8. Data Kapasitas Drainase maksimum dari BMKG Buton
Kesimpulan dan Saran
9. Peta Denah dan Pola Aliran Selatan
Air
Selesai
Pengolahan Data
Analisa Hidrologi Analisa Hidrolika
Gambar 3.7. Flow chart metodologi penelitian
DAFTAR PUSTAKA
Arafat, Yassir. 2008. Reduksi Beban Aliran Drainase Permukaan dengan
Menggunakan Sumur Resapan. Jurnal SMARTek, Vol. 6, No. 3: 144–153.
Ardiana, Suci Emi. (2017). Analisa Drainase Sebagai Pengendalian Banjir Di
Kecamatan medan Timur. Tugas Akhir, Universitas Muhammadyah
Sumatera Utara.
Direktorat Jenderal Cipta Karya. 2012. Buku Jilid IA Tata Cara Penyusunan
Rencana Induk Sistem Drainase [Link]
Departemen Pekerjaan Umum. 1989. Metode Perhitungan Debit Banjir Edisi
Pertama. Bandung: Yayasan Lembaga Penyelidikan Bangunan
66
`
Hisbulloh (1995) Hidrologi untuk pengairan, Jakarta: Pradnya Paramita.
JR dan Paulhus. (1986) Mengenal dasar-dasar hidrologi, Bandung : Nova.
Kurnia, Nanda Alif (2017). Studi Pemanfaatan Air Hujan Dari Atap Bangunan
Sebagai Solusi Menghemat Pemakaian Air Pdam Pada Gedung
Perkantoran Di Kecamatan Medan Belawan. Tugas Akhir Prodi S1 Teknik
Sipil UMSU.
Kusnaedi. 2011. Sumur Resapan untuk Pemukiman Perkotaan dan Pedesaan.
Jakarta: Penebar Swadaya.
Montarcih (2009) Hidrologi teknik sumber daya air jilid 1, Malang: Citra.
Prasetyo, Bayu (2018). Evaluasi Saluran Drainase Pada Jalan Seroja Di Kelurahan
Tanjung Rejo Kecamatan Medan Sunggal. Tugas Akhir Prodi S1 Teknik
Sipil UMSU.
Republik Indonesia. 2014. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No. 12 Tahun
2004 Tentang Penyelenggaraan Sistem Drainase Perkotaan. Jakarta
Seyhan (1990) Dasar-dasar hidrologi, Yogyakarta: Gajah Mada University Press.
Siahaan, Firis Adilla (2018). Analisis Banjir Rancangan Dengan Metode
Hidrograf Satuan Sintetik Snyder Dan Scs (Soil Conservation Services)
Das Deli. Tugas Akhir Prodi S1 Teknik Sipil UMSU
Soedibyo. (2003) Teknik bendungan, Jakarta: Pradya Paramita. Soemarto, C.D.
(1995) Hidrologi Teknik. Jakarta: Erlangga.
Sri. (1993) Analisis hidrologi, Jakarta: Mediatama Saptakarya.
Sunjoto, Sistem Peresapan Air Hujan di Kawasan Pesisir, Prosiding Seminar
Pengelolaan dan Pemanfaatan Airtanah Berwawasan Lingkungan di
67
`
Daerah Pesisir, BPPT, Jakarta, 1995, 157 - 170.
Suroso. 2015. “MENGATASI BANJIR DENGAN SUMUR RESAPAN” (online),
([Link]
Suripin (2004) Sistem Drainase Perkotaan yang Berkelanjutan. Jakarta: Andi.
Syifa, I. H. (2015) Kajian Metode Hidrograf Satuan Sintetik Pada Sungai Deli,
Laporan Tugas Akhir, Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara,
Medan.
Triatmodjo, B. (1993) Hidraulika Terapan. Yogyakarta: Beta Offset.
Wesli (2008) Drainase Perkotaan. Yogyakarta: Graha Ilmu.
Zevri, A. (2014). Analisis Potensi Resiko Banjir pada DAS yang Mencakup Kota
Medan dengan Sistem Informasi Geografis. Tesis Master Prodi S2 Teknik
Sipil UMSU.
68