0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
7 tayangan24 halaman

Penanganan Sitostatika Ca Mamae

Laporan ini membahas tutorial penanganan sitostatika dan iv admixture untuk pengobatan kanker payudara. Terdapat diskusi mengenai definisi, etiologi, patofisiologi, faktor risiko, dan terapi kanker payudara serta penjelasan mengenai obat doxorubicin dan cyclophosphamide beserta mekanisme kerja dan efek sampingnya."

Diunggah oleh

Adinda Nur Oktavia
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
7 tayangan24 halaman

Penanganan Sitostatika Ca Mamae

Laporan ini membahas tutorial penanganan sitostatika dan iv admixture untuk pengobatan kanker payudara. Terdapat diskusi mengenai definisi, etiologi, patofisiologi, faktor risiko, dan terapi kanker payudara serta penjelasan mengenai obat doxorubicin dan cyclophosphamide beserta mekanisme kerja dan efek sampingnya."

Diunggah oleh

Adinda Nur Oktavia
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

LAPORAN TUTORIAL PENANGANAN SITOSTATIKA DAN IV ADMIXTURE

CA MAMAE ( KANKER PAYUDARA)

Dosen Pengampu : Drs. apt. H. Muharam Priatna, [Link]

Untuk memenuhi tugas matakuliah tutorial sitostatika dan iv admixture

Disusun oleh :
Rombel 1

Awallia Zaura Rahmadina 10027122041


Ilham Taufik 10027122042
Nisa Oktaeni 10027122043
Isrovanigoro 10027122044
Adinda Nur Octavia 10027122045
Khairunnisa Dwi Rachmawati 10027122046
Dita Dani Oktaviani 10027122047
Hildan Akhrija Jakriyana 10027122048

ROGRAM STUDI PENDIDIKAN PROFESI APOTEKER

UNIVERSITAS BAKTI TUNAS HUSADA

TASIKMALAYA

2023
SKENARIO KASUS

TUTOR SITOSTATIKA

Ny. T umur 32 tahun dengan berat badan 60 kg dan tinggi badan 163 cm
menderita ca mamae dengan HR2 negatif. Datang ke RS pada tanggal 10 januari
2022 jam 10.00

R/ Doxorubisin 60 mg/m2

R/ Cyclofosfamid 600 mg/m2.

di in 250 ml NaCl 0,9 %.


STEP 1 ISTILAH ASING

Penanya Istilah Asing Penjawab Jawaban


Dita Ca Mamae Isrovanigoro Kanker pada jaringan
payudara
Adinda HR 2 Negatif Khairunnisa Merupakan human
epidermal growth
factor, yaitu sejenis
gen penghasil protein
yang jika ada dalam
jumlah tinggi, dapat
mendorong kanker
untuk tumbuh dan
bermetastasis lebih
cepat.
Hildan Doxorubisin Ilham Antibiotik golongan
antrasiklin yang
banyak digunakan
untuk terapi berbagai
macam jenis kanker
Nisa Cyclofosfamid Awallia Cyclophosphamide
termasuk ke dalam
golongan obat
kemoterapi yang
bekerja dengan
memperlambat atau
menghentikan
pertumbuhan sel
kanker

STEP 2 & 3 PERTANYAAN DAN JAWABAN

Pertanyaan
1. Definisi, etiologi dari ca mamae?
2. Apa saja faktor resiko terjadinya ca mamae?
3. Manisfestasi dan patofisologi ca mamae?
4. Terapi Farmakologi ca mamae?
5. Mekanisme kerja obat doxurubin dan cyclopospamide?
6. Efek samping dari obat doxurubin dan cyclopospamide?
7. Pelarut yang digunakan untuk obat cylospospamide dan doxurubin?
8. Bagaimana pemeriksaan penunjang ca mamae?

Jawaban
1. Carcinoma mammae (ca. mammae) adalah tumor mengganas yang tumbuh
di jaringan payudara seseorang. Carcinoma / kanker dapat mulai tumbuh
dalam kelenjar payudara, bisa juga di saluran payudara, jaringan lemak
maupun jaringan yang mengikat pada payudara
Tidak ada satupun penyebab spesifik dari kanker payudara, sebaliknya
serangkaian factor genetic, hormonal dan kemungkinan kejadian lingkungan
dapat menunjang terjadinya kanker ini. Kanker membutuhkan waktu 7 tahun
untuk tumbuh dari satu sel menjadi massa.
2. - Menarche atau menstruasi pertama pada usia relatif muda (kurang dari 12
tahun)
- Menopause atau mati haid pada usia relatif lebih tua (lebih dari 50 tahun)
- Riwayat Keluarga
- Riwayat Adanya Penyakit Tumor Jinak
3. Tanda dan gejala ca. mammae menurut Suyatno (2011) adalah:
a. Benjolan yang keras di payudara dengan atau tanpa rasas akit.
b. Putting susu berubah (retraksi nipple) atau putting mengeluarkan
cairan/darah (nippledischarge)
c. Kulit payudara berkerut seperti kulit jeruk (peau’ud’orange), melekuk
kedalam (dimpling) dan ulkus
d. Adanya benjolan-benjolan kecil didalam atau kulit payudara (nodul
satelit)
e. Putting payudara luka, dan sulit sembuh
f. Payudara terasa panas, memerah dan bengkak
g. Payudara terasa sakit/nyeri
h. Benjolan yang keras itu tidak bergerak dan biasanya pada awal-awalnya
tidak terasa sakit
i. Benjolan pada awalnya hanya pada satu payudara
j. Terdapat benjolan di aksila dengan atau tanpa masa di payudara
4. Modalitas terapi kanker payudara ada 5 yaitu:
a. Operasi: Breast Conserving Surgery (BCS) atau mastektomi baik simple
maupun radikal.
b. Radiasi
c. Kemoterapi
d. Hormonal
e. Terapi biologik (target therapy)
5. Mekanisme kerja dari doxorubicin menghambat enzim topoisomerase II
sehingga menghambat proses pembelahan sel kanker dan pembentukan
DNA.
Mekanisme kerja dari Cyclophosphamide bekerja dengan cara merusak
DNA sel kanker, sehingga menghentikan pertumbuhan sel kanker.
6. Efek samping doxurubin:

- Mual dan muntah.


- Diare.
- Kehilangan selera makan.
- Rambut rontok selama pengobatan.
- Infeksi jamur pada kuku.
- Sariawan atau luka di mulut.
- Urine, air mata, dan keringat berwarna kemerahan hingga beberapa hari
setelah pengobatan.
Efek samping cyclosposphamide yaitu mual muntah, diare, sakit perut.
7. WFI dan NaCl 0,9% sebagai pelarut untuk Cyclophospamide, doxurubin
pelarutnya nacl 0.9% dan D5
8. a. Ultrasonografi (USG) Payudara
b. Mamografi
c. MRI (Magnetic Resonance Imaging)
d. Biopsi
e. Bone scan, foto toraks, USG abdomen
f. Pemeriksaan laboratorium dan marker

STEP 4 POHON MASALAH


Ca Mamae

klasifikasi kemoterapi
definisi patofisiolog dan faktor
efidemiologi y
dan etiologi resiko Handling
Obat yang
digunakan Sitotastika
doxorubicin,
cyclopospamide Penyiapan

Penanganan

STEP 5 TUJUAN

1. Mahasiswa mampu mengetahui tentang kanker Payudara meliputi : Definis


Etiologi, Patofisiologi, Faktor Resiko
2. Mahasiswa mampu mengetahui klasifikasi kanker payudara
3. Mahasiswa mampu mengetahui tentang arti dari siklus dan interval
4. Mahasiswa mampu mengetahui standar pemberian obat
5. Mahasiswa mampu mengetahui cara penyiapan dan penanganan obat sesuai
resep

STEP 6 SELF STUDY

A. Definisi Kanker payudara

Kanker payudara (KPD) merupakan keganasan pada jaringan


payudara yang dapat berasal dari epitel ductus maupun lobulusnya.

B. Etiologi

Kanker payudara berasal dari unit sekretorius payudara, yaitu unit duktus-
lobulus terminal. Beberapa faktor risiko kanker payudara telah diketahui saat ini
antara lain faktor genetik (5 - 7%), riwayat keluarga menderita kanker payudara,
riwayat pernah menderita kanker payudara sebelumnya, faktor menstruasi dan
reproduksi, paparan radiasi, penggunaan terapi sulih hormon, alkohol dan diet
tinggi lemak.

C. Epidemiology

Kanker payudara merupakan salah satu jenis kanker terbanyak di Indonesia.


Berdasarkan Pathological Based Registration di Indonesia, KPD menempati
urutan pertama dengan frekuensi relatif sebesar 18,6%. (Data Kanker di Indonesia
Tahun 2010, menurut data Histopatologik; Badan Registrasi Kanker Perhimpunan
Dokter Spesialis Patologi Indonesia (IAPI) dan Yayasan Kanker Indonesia (YKI)).
Diperkirakan angka kejadiannya di Indonesia adalah 12/100.000 wanita, sedangkan
di Amerika adalah sekitar 92/100.000 wanita dengan mortalitas yang cukup tinggi
yaitu 27/100.000 atau 18% dari kematian yang dijumpai pada wanita. Penyakit ini
juga dapat diderita pada laki-laki dengan frekuensi sekitar 1%. Di Indonesia, lebih
dari 80% kasus ditemukan berada pada stadium yang lanjut, dimana upaya
pengobatan sulit dilakukan. Oleh karena itu, perlu pemahaman tentang upaya
pencegahan, diagnosis dini, pengobatan kuratif maupun paliatif serta upaya
rehabilitasi yang baik, agar pelayanan pada penderita dapat dilakukan secara
optimal.

D. Patofisology

Kanker disebabkan oleh senyawa karsinogenik. Benzo(a)pyrene adalah salah


satu senyawa prekarsinogenik yang dikonversi menjadi karsinogen aktif oleh
sitokrom P450. Karsinogen aktif sangat reaktif dan mudah menyerang kelompok
nukleofilik dalam DNA, RNA, dan protein, yang menyebabkan mutasi. Gen P53
mengkode protein p53 yang berfungsi sebagai protein penekan tumor.
Karsinogenesis dimulai dengan kerusakan atau mutasi gen p53. Gen p53 bermutasi
mensintesis protein p53 mutan. Pada pasien kanker, protein p53 mutan
terakumulasi dalam jaringan tumor dan serum darah. Protein p53 mutan dalam
serum pasien tumor meningkat dengan tingkat bahaya penyakit, sehingga dapat
digunakan sebagai biomarker awal tumor. Fase awal kanker payudara adalah
asimptomatik (tanpa ada gejala dan tanda). Adanya benjolan atau penebalan pada
payudara merupakan tanda dan gejala yang paling umum, sedangkan tanda dan
gejala tingkat lanjut kanker payudara meliputi kulit cekung, retraksi atau deviasi
puting susu dan nyeri, nyeri tekan atau rabas khususnya berdarah dari puting. Kulit
tebal dengan pori-pori menonjol sama dengan kulit jeruk dan atau ulserasi pada
payudara merupakan tanda lanjut dari penyakit. Jika ada keterlibatan nodul,
mungkin menjadi keras, pembesaran nodul limfa aksilaris membesar dan atau
nodus supraklavikula teraba pada daerah leher. Metastasis yang luas meliputi
gejala dan tanda seperti anoreksia atau berat badan menurun; nyeri pada bahu,
pinggang, punggung bagian bawah atau pelvis; batu menetap; gangguan
pencernaan; pusing; penglihatan kabur dan sakit kepala. Proses terjadinya
metastasis karsinoma belum dapat ditentukan secara pasti, namun para ahli
membuktikan bahwa ukuran tumor berkaitan dengan kejadian metastatis, yaitu
semakin kecil tumor maka semakin kecil juga kejadian metastatisnya. Apabila
penyakit kanker payudara dapat dideteksi lebih awal, maka pengobatan akan lebih
mudah dilakukan, biaya pengobatan yang dikeluarkan lebih murah serta peluang
untuk sembuh lebih besar dibandingkan kanker payudara yang ditemukan pada
stadium lanjut.

E. Klasifikasi dan Faktor Resiko

- Klasifikasi Kanker Payudara


1. Berdasarkan WHO Histological Classification of Breast Tumor
a. Kanker Payudara Non Invasif
a) Karsinoma Intraduktus In Situ Karsinoma yang mengenai duktus dengan

infiltrasi jaringan stroma sekitar. Pada jenis ini dapat terjadi perluasan ke
duktus eksetorius utama, menginfiltrasi papilla dan areola, kemudian
menimbulkan penyakit Paget pada payudara. Tipe kanker payudara ini
adalah jenis non invasif yang paling sering terjadi, terdeteksi pada
mammogram sebagai mikrokalsifikasi atau penimbunan kalsium jumlah
rendah. Apabila terdeteksi dini, pasien yang terdiagnosa ini dapat
bertahan hidup hampir mencapai 100% dengan catatan kanker belum
menyebar dari saluran susu ke jaringan lemak payudara dan bagian
tubuh yang lain (Sukowati, 2011).
b) Karsinoma Lobular In Situ Dengan adanya pelebaran satu atau lebih

duktus terminal dan atau duktulus tanpa infiltrasi ke dalam stroma.


Ukuran sel lebih besar dari normal, inti berbentuk bulat kecil dan sel
jarang disertai mitosis (Sukowati, 2011).
b. Kanker Payudara Invasif
a) Karsinoma Duktus Invasif Bentuk paling umum kanker payudara yang

secara histologis terdiri dari jaringan ikat padat tersebar berbentuk sarang
atau beralur. Bentuk sel bulat sampai poligonal, inti kecil dengan sedikit
gambaran mitosis. Di tepi tumor, sel kanker menginfiltrasi ke jaringan
sekitar seperti sarang, kawat, atau kelenjar. Jenis ini biasa disebut
infiltrating ductus carcinoma not otherwise specified (NOS), scirrhous
carcinoma, infiltrating carcinoma, atau carcinoma simplerx (Sukowati,
2011).
b) Karsinoma Lobular Invasif Bentuk kanker payudara yang memiliki

tingkat mitosis rendah. Sel tumor dapat berbentuk signet-ring, tubule-


alveolar, atau solid. Jenis ini tersusun atas sel berukuran kecil dan
seragam dengan sedikit pleimorfisme (Sukowati, 2011).
c) Karsinoma Musinosum Bentuk kanker payudara yang memiliki mukus

intra dan ekstraselular serta dapat dilihat secara makros maupun


mikroskopis. Secara histologis, terdapat 3 bentuk sel kanker. Bentuk
pertama, sel tampak seperti pulau kecil mengambang dalam cairan musin
basofilik. Bentuk kedua, sel tumbuh dalam susunan kelenjar dengan
batas jelas dan lumennya mengandung musin. Bentuk ketiga, terdiri dari
susunan jaringan tidak teratur berisi sel tumor tanpa diferensiasi dan
sebagian besar bebentuk signet-ring (Sukowati, 2011).
d) Karsinoma Meduler Bentuk kanker payudara yang memiliki sel ukuran

besar berbentuk poligonal/lonjong dengan batas sitoplasma tidak jelas.


Biasanya terdapat infiltrasi limfosit dalam jumlah sedang diantara sel
kanker, terutama dibagian tepi jaringan kanker. Memiliki diferensiasi
yang buruk, tapi prognosisnya lebih baik daripada karsinoma duktus
infiltratif (Sukowati, 2011).
e) Karsinoma Papiler Invasif Komponen invasif dari jenis karsinoma ini

bebentuk papiler (Sukowati, 2011).


f) Karsinoma Tubuler Bentuk kanker payudara dengan sel teratur dan

tersusun secara tubuler selapis, dikelilingi oleh stroma fibrous. Jenis ini
adalah karsinoma dengan diferensiasi tinggi (Sukowati, 2011).
g) Karsinoma Adenokistik Karsinoma invasif dengan sel yang berbentuk

kribriformis. Sangat jarang ditemukan pada payudara (Sukowati, 2011).


h) Karsinoma Apokrin Bentuk kanker payudara yang didominasi sel

bersitoplasma eosinofilik, sehingga menyerupai sel apokrin


bermetaplasia. Dapat ditemukan juga pada jenis kanker payudara yang
merupakan hasil dari mutasi gen (Sukowati, 2011).
2. Klasifikasi menurut UICC (International Union Against Cancer)
Kanker payudara memiliki tingkat keparahan menurut beberapa sumber.
Tujuan adanya stadium dan mengidentifikasi stadium kanker adalah agar
memudahkan apabila dilakukan penelitian multisenter, untuk menentukan jenis
terapi yang akan diberikan, menentukan prognosis, dan untuk melakukan
pemeriksaan sesuai dengan standar di stadium tersebut (PERABOI, 2010).
Stadium klinis kanker payudara yang banyak digunakan adalah
klasifikasi menurut International Union Against Cancer (UICC). Penilaian ini
dilihat berdasarkan besar tumor, kelenjar aksila dan metastasesis yang disebut
dengan TNM.
Berdasarkan gejala klinik, klasifisikasi TNM menurut UICC adalah
(Sukowati, 2011):

T = Tumor Primer
Tx = Tumor primer tidak dapat diperiksa
T0 = Tidak terdapat tumor primer
Tis = Karsinoma in situ
Tis (DCIS) Ductal Carcinoma In Situ
Tis (LCIS) Lobular Carcinoma In Situ
Tis (Paget) Paget disease
T1 = Ukuran tumor 2 cm atau kurang
T1a = Ukuran tumor > 0,1 cm dan tidak lebih dari 0,5 cm
T1b = Ukuran tumor > 0,5 cm dan tidak lebih dari 1 cm
T1c = Ukuran tumor > 1 cm dan tidak lebih dari 2 cm
T2 = Ukuran tumor > 2 cm dan tidak lebih dari 5 cm
T3 = Ukuran tumor > 5 cm
T4 = Semua ukuran tumor dengan ekstensi ke dinding dada atau kulit.
T4a = Ekstensi ke dinding dada
T4b = Edem(termasuk peau d’orange), atau ulserasi kulit payudara, atau satelit
nodul pada payudara ipsilateral.
T4c = T4a dan T4b
T4d = Inflamatory carcinoma
N = Limfonodi Regional
Nx = Limfonodi regional tidak dapat diperiksa
N0 = Tidak ada metastasis di limfonodi regional
N1 = Metastasis di limfonodi aksila ipsilateral mobile
N2 = Metastasis di limfonodi aksila ipsilateral fixed
N2a = Metastasis di limfonodi aksila ipsilateral fixed antar limfonodi atau fixed
ke struktur jaringan sekitarnya.
N2b = Metastasis di limfonodi mamaria interna
N3a = Metastasis di limfonodi infrakavikular ipsilateral
N3b = Metastasis di limfonodi mamaria interna dan aksila ipsilateral
N3c = Metastasis di limfonodi supraklavikular
M = Metastasis jauh
Mx = Metastasis jauh tak dapat diperiksa
M0 = Tidak ada metastasis jauh
M1 = Metastasis jauh
F. Factor Resiko
a. Faktor genetik.
Setiap kanker bisa dipandang sebagai proses genetik karena kanker terjadi
dari perubahan genetik atau mutasi. Hanya sebagian kecil kanker herediter,
sisanya adalah sporadik dan berhubungan dengan mutasi somatik yang
didapatkan selama hidup. Individu yang membawa mutasi genetik, lahir
satu langkah lebih dekat dengan timbulnya tumor dan mempunyai
kecenderungan menderita kanker pada usia muda. Pada kanker payudara,
proses ini bisa berlangsung mulai dari mutasi genetik, hiperplasia,
karsinoma in situ, kemudian kanker metastatik. Pada kanker payudara
herediter, terjadi pertama kali adalah mutasi yang berhubungan dengan
repair DNA dan apoptosis.

b. Faktor hormonal.

Hormon estrogen merupakan hormon utama pemicu timbulnya kanker


payudara. Pada wanita dengan kadar estrogen yang tinggi seperti
nuliparitas, menarche awal, usia paparan estrogen lama, tidak laktasi dan
terapi sulih hormone pada menopause akan mempunyai risiko lebih tinggi
terkena kanker payudara. Estrogen dan progesteron mempengaruhi
perkembangan dan perubahan dari kelenjar payudara yang memiliki
berbagai macam reseptor hormon. Paparan estrogen akan meningkatkan
faktor-faktor proliferasi sel dan bila tidak terkendali secara biologis akan
berkembang menjadi kanker mengikuti tahapan-tahapannya.
c. Faktor lingkungan
Paparan agen karsinogenesis dari lingkungan dapat berupa zat kimia, zat makanan,
infeksi dan faktor fisik seperti radiasi radioaktif, dan trauma. Beberapa faktor
lingkungan seperti bahan kimia organoklorin, lapangan elektromagnetik, merokok
aktif dan pasif dan penggunaan implan silikon sampai saat ini belum terbukti
menaikkan risiko terjadinya kanker payudara.
Faktor risiko yang berkaitan dengan peningkatan insiden kanker payudara
antara lain jenis kelamin wanita, usia > 50 tahun, riwayat keluarga dan genetik
(Pembawa mutasi gen BRCA1, BRCA2, ATM atau TP53 (p53)), riwayat penyakit
payudara sebelumnya (DCIS pada payudara yang sama, LCIS, densitas tinggi pada
mamografi), riwayat menarche dini (< 12 tahun) atau menarche lambat (>55
tahun), riwayat reproduksi (tidak memiliki anak dan tidak menyusui), hormonal,
obesitas, konsumsi alkohol, riwayat paparan radiasi dinding dada, faktor
lingkungan (Sukardja, 2000; Keen, 2011).
1. Hormon Estrogen dan Reseptor Estrogen (ER)

a. Hormon Estrogen,

Estrogen merupakan salah satu hormon steroid derivat kolesterol yang


mempunyai peranan penting dalam sistem reproduksi wanita. Dalam plasma,
estrogen memiliki tiga bentuk, yaitu β-estradiol, estron, dan estriol. β-
estradiol merupakan estrogen utama yang disekresi oleh ovarium dan
memiliki efek estrogenik terkuat di antara 2 bentuk lainnya (Murray et al.,
2006; Heldring et al., 2007). Estrogen disintesis dalam bentuk aktif dan
setelah disekresikan, estrogen tersebut akan berikatan dengan protein
pengangkut yang disebut Sex Hormone Binding Globulin (SHBG) agar dapat
bersirkulasi dan mencapai target organ (Murray et al., 2006). Di payudara,
estrogen berefek pada perkembangan jaringan stromal, sistem duktus, serta
deposisi lemak payudara (Guyton dan Hall, 2007)
Berdasarkan penelitian Thomas et al (1997), kadar estrogen yang tinggi
serta SHBG yang rendah dalam darah merupakan faktor risiko terjadinya
kanker payudara. Kadar estradiol luteal secara signifikan berhubungan dengan
kanker payudara ER+/PR+, baik untuk wanita premenopause maupun
postmenopause. Kelompok dengan kadar estradiol luteal ≥ 187 pg/ml
memiliki kecenderungan untuk terjadi kanker payudara 1,7 kali dibandingkan
kelompok dengan kadar estradiol luteal < 91 pg/ml (Fortner et al., 2013).
Kadar estradiol rata-rata wanita postmenopause pada kelompok penderita
kanker payudara lebih tinggi, yakni 49,1 pmol l-1 dengan kadar SHGB 52,0
nmol l-1, sedangkan pada kelompok orang normal sebesar 38,2 pmol l -1
dengan kadar SHGB 59,4 nmol l-1 (Thomas et al., 1997).
b. Reseptor Estrogen (ER)
Reseptor estrogen atau Estrogen Receptor (ER), merupakan protein
pengatur gen yang menjadi target hormon steroid, yaitu estrogen. ER terletak
di dalam nukleus bersama dengan DNA sehingga tergolong dalam nuclear
receptor. Estrogen bekerja melalui dua jenis ER, yaitu ER α dan ER β. Kedua
bentuk reseptor estrogen ini dikode oleh gen yang berbeda, yaitu ESR1 dan
ESR2 pada kromosom 6 dan 14 (6q25 dan 14q). Kedua reseptor ini
diekspresikan secara luas pada berbagai jaringan yang berbeda, dengan pola
ekspresi yang berbeda pula (Heldring et al., 2007).
Reseptor estrogen α merupakan subtipe ER yang dominan pada
epitelium mamaria (Heldring et al., 2007). Fungsi ER α berhubungan dengan
stimulasi estrogen pada ekspresi gen dan proliferasi sel. ERα berperan penting
dalam perkembangan kanker payudara, bekerja sebagai ligand-inducible
transcription factor, dan dapat digunakan untuk menentukan pertumbuhan,
survival, serta diferensiasi sel kanker payudara (Devita et al., 2008). ER β
bertindak sebagai modulator negatif pada aksi ER α dan juga memberi efek
supresi pertumbuhan. Efek berlawanan tersebut menghasilkan proses
proliferasi jaringan yang seimbang (Rannie et al., 2005).
Reseptor estrogen memiliki beberapa domain. Bagian tengah dari ER
disebut DNA-binding (DBD), yang terlibat dalam proses pengenalan dan
pengikatan DNA responsive hormon, COOH-terminal multifunctional ligand-
binding domain (LBD) berfungsi untuk berikatan dengan ligan berupa
hormon dan metabolit selektif. Aktivasi transkripsi difasilitasi oleh 2
activation function (AF), yaitu AF1 yang merupakan ligand-independent
transcriptional, berlokasi di NH2-terminal dan AF2 yang merupakan ligand-
dependent transcriptional berada pada COOH- terminal LBD. Kedua domain
AF berfungsi untuk merekrut kompleks protein koregulator ke DNA-bound
receptor (Heldring et al., 2007).
2. Hormon Progesteron dan Reseptor Progesteron

a. Hormon Progesteron

Progesteron merupakan kelompok hormon steroid yang disebut


progestogen. Progesteron disintesis dari pregnenolon, yaitu suatu hormon
prekursor derivat kolesterol oleh korpus luteum ovarium selama priode
separuh akhir siklus ovulasi (Guyton dan Hall, 2007). Progesteron, bersama
estrogen memiliki peranan penting dalam proses terjadinya kanker payudara.
Ikatan progesteron dengan resptornya (Progesteron-PR) dinilai berperan
dalam proliferasi dan penghambat apoptosis pada kelenjar payudara
(Missmer et al., 2004).
Terdapat perbedaan hasil studi mengenai kadar hormon progesteron
dengan insidensi kanker payudara. Ada yang menyatakan bahwa tingginya
kadar progesteron merupakan faktor risiko kanker payudara, namun
beberapa studi menyatakan bahwa kadar progesteron endogen yang tinggi
merupakan faktor proteksi kanker payudara. Fortner et al (2013) menyatakan
bahwa kadar progesteron yang tinggi (≥ 2171 ng/dl) menurunkan risiko
terjadinya kanker payudara sebesar 0,8 kali dibandingkan dengan kadar
progesteron yang rendah (< 743 ng/dl).

b. Reseptor Progesteron (PR)

Reseptor progesteron atau Progesterone Receptor (PR) tergolong


sebagai super famili dari nuclear receptor. Reseptor progestreron terdiri dari
beberapa jenis, yakni reseptor progesteron A (PR-A), reseptor progesteron B
(PR-B) dan reseptor progesteron C (PR-C). Reseptor progesteron B adalah
regulator positif efek progesteron, sementara PR-A dan C bersifat antagonis
terhadap konsentrasi tinggi PR-B (Cui et al., 2005).
PR tersusun atas DNA – Binding Domain (DBD), Ligand Binding
Domain (LBD) dan dua Activation Function, yakni AF-1 dan AF-2. Antara
DBD dan LBD dipisahkan oleh region engsel (hinge region), yang
menentukan fleksibilitas resptor sehingga formasi DBD dapat berubah -
ubah (Cui et al., 2005).
Dalam menimbulkan efek proliferasi, kompleks progesteron dengan
reseptornya akan berikatan dengan koaktivator untuk selanjutnya berikatan
dengan Progesterone Respons Element (PRE). Ikatan ini kemudian akan
mengaktifkan faktor transkripsi gen, menghasilkan mRNA, dan mengadakan
sintesis protein guna melaksanakan salah satu fungsinya yaitu proliferasi sel
(Brisken, 2013). Ekspresi dari PR sangat kuat bergantung terhadap
keberadaan ER. Tumor dengan ekpresi PR positif tetapi ER negatif sangat
jarang dan hanya berkisar < 1% dari semua kasus kanker payudara (Ellis et
al., 2003).

c. Resseptor HER2

HER2 adalah singkatan dari Human Epidermal Growth Factor


Receptor 2 / reseptor faktor pertumbuhan epidermal manusia. Protein HER2
ditemukan di luar sel payudara dan mendorong pertumbuhan sel kanker. Sel
kanker dengan kadar HER2 yang lebih tinggi dari normal disebut HER2-
positif. Sel-sel kanker ini sering kali menyebar dan tumbuh lebih cepat
dibandingkan jenis kanker payudara lainnya, tetapi juga merespon dengan
baik pengobatan yang secara langsung menargetkan protein HER2. 1 Status
HER2 Anda dapat membantu menentukan seberapa agresif kankernya dan
pengobatan apa yang paling cocok .
Perempuan yang didiagnosis dengan kanker payudara invasif akan
menjalani pemeriksaan HER2. Hal ini dilakukan dengan biopsi untuk
mendapatkan sampel kanker untuk diperiksa. Biopsi adalah prosedur aman
yang biasanya dapat dikerjakan di klinik dokter dengan anestesi lokal. Ada
dua jenis pemeriksaan:
1) Tes imunohistokimia (Immunohistochemistry /IHC)

IHC akan menguji adanya reseptor protein HER2 dengan ekspresi


berlebih. Seorang spesialis patologi akan memeriksa sampel jaringan di
bawah mikroskop. Hasilnya terdiri dari:

 0 adalah negatif

 1+ adalah negatif

 2+ dianggap tidak past

 3+ adalah positif
Jika hasil pemeriksaan 2+ Anda mungkin akan diminta untuk melakukan
pemeriksaan lainnya, seperti hibridisasi in-situ (ISH)

2) Pemeriksaan hibridisasi in situ (In situ hybridisation / ISH)

Tes ini memeriksa genetika sampel kanker untuk memastikan apakah


kanker tersebut HER2 positif atau HER2 negatif. Jika hasilnya tidak
meyakinkan, seringkali akan dilakukan pemeriksaan IHC, dan / atau
pemeriksaan ISH lain, atau mungkin diperlukan sampel baru.
Pemeriksaan ekspresi HER2 berlebih adalah penting agar tim perawatan
Anda dapat menentukan pengobatan terbaik.
Meskipun kanker payudara positif HER2 umumnya merupakan bentuk
kanker agresif, kanker ini merespons dengan baik berbagai jenis obat, seperti
terapi tepat-sasar yang secara khusus menyasar protein HER2 serta beberapa
rejimen kemoterapi standar. Beberapa contoh dari perawatan ini antara lain
2:

 Trastuzumab (Herceptin)

 Pertuzumab (Perjeta)

 TDM-1
 Lapatinib (Tykerb)

 Neratinib (Nerlynx)

 Agen baru lainnya, yaitu trastuzumab deruxtecan


Untuk pasien dengan kanker payudara positif HER2 yang juga estrogen dan
progesteron-positif, terapi hormonal selain terapi tepat-sasar HER2 juga
merupakan pengobatan yang efektif.

3. Status Reseptor Hormon Kanker Payudara

Kanker payudara merupakan jenis kanker yang sangat heterogen, dengan


klinikopatologis serta struktur molekuler yang beraneka ragam. American
Society of Clinical Oncology merekomendasikan pemeriksaan status reseptor
hormon, baik ER maupun PR sebagai faktor prediktif dan prognosis kanker
payudara, terutama untuk jenis kanker invasif. Salah satu teknik pemeriksaan
reseptor hormon ini ialah melalui pemeriksaan imunohistokimia (IHC).
Pemeriksaan IHC merupakan teknik pewarnaan pada jaringan kanker
payudara yang bertujuan untuk mendeteksi keberadaan antigen (reseptor
estrogen dan reseptor progesteron) melalui ikatannya dengan antibodi
monoklonal spesifik di permukaan jaringan. Hasil tes IHC dapat berupa
presentase (0 – 100%) ataupun dalam bentuk allred score (0-8) (Parise dan
Caggiano, 2014).
Berdasarkan ekspresi hormon reseptornya, kanker payudara dapat
dikelompokkan menjadi 4, yakni kelompok positif ganda (ER+PR+), positif
tunggal (ER+PR- dan ER-PR+), serta negatif ganda (ER-PR-). Apabila
terdapat salah satu atau kedua reseptor hormon tersebut, maka disebut sebagai
kanker payudara reseptor hormon positif (HR+), sedangkan untuk kanker
payudara negatif ganda (ER- PR-) disebut juga sebagai kanker payudara
reseptor hormon negatif (HR-) (American Cancer Society, 2011)
Kanker positif ganda (55-65% kanker payudara) mempunyai prognosis
dan respon yang lebih baik terhadap hormonal terapi. Kelompok ini juga
dikaitkan dengan umur yang lebih tua, derajat yang lebih rendah, ukuran
tumor lebih kecil, dan mortalitas yang rendah (Ellis et al., 2003). Kanker
negatif ganda merupakan kelompok terbesar kedua (18-25% kanker payudara)
dan sekitar 85%-nya merupakan tumor derajat III, dihubungkan dengan
tingkat rekurensi yang tinggi, ketahanan yang rendah, dan tidak responsif
terhadap terapi ajuvan hormonal (Ellis et al., 2003). Salah satu terapi ajuvan
hormonal ialah tamoxifen. Tamoxifen (4 – hydroxytamoxifen) secara
kompetitif menghambat ikatan antara estradiol dengan ligand binding site
pada ER, yang menyebabkan perubahan konformasi ER menjadi bentuk
inaktif. Ikatan antara ER inaktif dengan DNA tidak dapat memicu terjadinya
transkripsi (Rannie [Link])

G. Penatalaksanaan Kanker Payudara


H.
STEP 7 DISKUSI

Perhitungan Dosis Obat Ca. Mamae


a. Perhitungan LPT

Perhitungan LPT =
√ tinggi ( cm ) × bobot(kg)
3600

=
√163 cm ×60 kg ¿ ¿
3600
= 1,65 m2
b. Perhitungan Dosis dan Konsentrasi Obat
1) Doxorubicin
Dosis Resep = 60 mg/m2
Maka dosisnya 60 mg/m2 × 1,65 m2 = 99 mg
Sediaan injeksi dipasaran = 10 mg/5 mL atau 50 mg/25 mL ([Link] dan MIMS)
99 mg
Maka : × 25 mL = 49,5 mL
50 mg
Maka digunakan 2 vial Doxorubicin
Alat dan Bahan yang digunakan :
- Disposable syringe 50 mL
- Needle 2 untuk 50 mL (untuk mengambil obat dan untuk injeksi)
- Alat pelindung diri (baju, topi, masker, sepatu, dan Hand gloves)
- Safety box atau tempat buang sampah untuk bekas obat sitotastika, bekas benda
yang tajam
2) Cyclophospamid
Dosis Resep = 600 mg/m2
Maka dosisnya 600 mg/m2 × 1,65 m2 = 990 mg
Sediaan injeksi dipasaran (Serbuk) = 200 mg/ 10 mL ([Link] dan MIMS)
990 mg
Maka : × 10 mL = 49,5 mL → 5 vial
200 mg
Alat dan Bahan yang digunakan :
- Disposable Syringe 5 mL
- Needle 2 untuk 5mL (Untuk mengambil obat dan untuk injeksi)
- Alat pelindung diri (baju, topi, masker, sepatu, dan Hand gloves)
- Safety box atau tempat buang sampah untuk bekas obat sitotastika, bekas benda
tajam
- NaCl 0,9% sebagai pelarut untuk Cyclophospamide
- Cyclophospamide yang telah dilarutkan, ditambahkan pada infus 250 mL NaCl 0,9%

Anda mungkin juga menyukai