Skenario Kasus status Epileptikus
Seorang anak umur 2 tahun, dengan BB 12 kg menderita kejang berulang dibawa ke RS.
Sesampainya di IGD pasienkejang [Link] dilakukan pemeriksaan yang teliti meliputi
anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang, pasien didiagnosa menderita
epileptikus.
Kepada pasien diberikan diazepam secara bolus IV dengan target terapi 0,60 µg/m selang 5
menit dengan kecepatan pemberian 2,5 mg/menit.
Karena setelah 10 menit kejang masih terus berlanjut, maka diberikan fenitoin bolus IV
dengan target terapi 15 µg/ml yang diencerkan dengan 50 ml NaCl 0,9% , dengan kecepatan
pemberian 2 mg/menit.
Setelah 30 menit pemberian fenitoin kejang berhenti. Kepada pasien kemudian diberikan
dosis pemeliharaan fenitoin oral dengan target terapi 15 µg/ml (interval tiap 8 jam)
Step 1
Istilah Asing
Penanya Pertanyaan Penjawab Jawaban
Dita Epilepsy Isro Penyakit pada system saraf
pusat ditandai dengan kejang
Awallia Iv bolus Adinda Suatu obat yang dimasukan
lansung dalam obat
Khairunisa Volume distribusi Awallia Pemberian obat secara terus
menerus dengan infus
Salma Kejang Hamzah Kondisi otot tubuh
berkontraksi dan relaksasi dan
berulang
Widia Epilepticus Salma Serangan kejang pada
epilepsy yang terjadi terus
menerus tanpa adanya periode
pemeliharaan
Hamzah Anamnesis Hildan Pemeriksaan yang melalui
wawancara anatara dokter
dengan pasien
Ilham Dosis pemeliharaan Hildan Dosis yang diberikan pada
pasien untuk memelihara agar
pasien tidak kambuh, yang
diberikan ketika target terapi
tercapai
Denis Pemeriksaan Ihsan Pemeriksaan yang dilakukan
dokter untuk mendiagnosis
penyakit
Nisa Fenitoin Dita Obat golongan antikonfulsan
untuk obat kejang
Gina Pemeriksaan fisik Widia Proses untuk mendiagnosis
penyakit
Nisrina Diagnosa Hildan Penentuan jenis penyakit
dengan cara memeriksa
gejalanya
Nisa Target terapi Dita Target pengobatan dengan 1
kali penyembuhan terhadap
pasien
Awallia Dosis terapi Anggia Cara pemberian obat dengan
beberapa kali minum per hari
selama beberapa hari
Step 2
Penanya Pertanyaan Penjawab Jawaban
Adinda Penyebab terjadinya epilepsy? Salma -sekunder : dapat diketahui
karena adanya faktor seperti
luka berat dikepala stroke
atau tumor
-primer: penyebab tidak
diketahui namun terdapat
dugaan disebabkan genetic
Ihsan Apa yang dimaksud epilepticus? Hildan Kejang yang berlangsung
lama yang membuat penderita
mengalami kehilangan
kesadaran
Nisa Dosis maximal penggunaan Widia Diazepam : 10 mg
diazepam dan fenitoin? Fenitoin : 15 mg
Irun Mekanisme kerja dari diazepam Dita Meningkatkan efektivitas
untuk epilepsy? GABA
Widia Berapa rentang terapi target Denis Rentang terapinya 10 – 20
terapi dari fenitoin mg/L
Denis Apa saja anamnesis pemeriksaan Hildan EEG (electro
fisik dan penunjang yang ensoflourografi), MRI, CT-
dilakukan untuk status Scan, test darah lengkap, test
epilepticus analisa tetes darah
Awallia Efek samping dari fenitoin dan Khairun -diazepam: menyebabkan
diazepam withdrawl syndrome. E.s:
panik, palpitasi, insomnia
-fenitoin: tremor, sakit kepala,
neuropati perifer, insomnia
Hildan Parameter farmakokinetik dari Widia Teraputic Range: 10-20 mg/L
fenitoin Bioavaibilitas (F): 1
S: 1
Vd: 0,6 – 0,7 L/Kg
Salma Penyebab epilepsy terjadi Gina -menurunnya kepatuhan
berulang dalam konsumsi obat epilepsy
-adanya penentuan dosis obat
yang kurang sesuai
-kurangnya penerapan gaya
hidup sehat
Nisrina Penyebab status epilepticus Awallia Genetik, riwayat penyakit,
lingkungan, riwayat keluarga,
gangguan metabolic, riwayat
kehamilan & persalinan
Isro Perbedaan epilepsy dan Anggia -Epilepsi: gangguan otak
epileptikus dengan berbagai gejala klinis
yang disebabkan oleh
lepasnya muatan listrik dari
neuron otak secara ber;ebihan
& berskala
-Epileptikus: serangan
kerjang pada epilepsy yang
terjadi terus menerus tanpa
adanya pemulihan / kesatuan
pada periode kejang
Step 4
Anak umur 2 tahun
BB 12 kg
Kejang berulang
Dibawa ke
RS
Awal masuk diberi 10 menit masih
30 menit kejang
diazepam secara IV kejang diberi IV
berhenti
bolus setiap 5 menit fenitoin
Fenitoin IV diganti
dengan fenitoin oral
Parameter Farmakokinetik
Diazepam & Fenitoin
- Dosis awal Diazepam
- Dosis awal Fenitoin
- Dosis pemeliharaan Fenitoin oral
Step 5
1. Mahasiswa mampu mengetahui definisi, etiologi, factor resiko, patofisiologi, manisfestasi klinis,
status epilepticus.
2. Mahasiswa mampu mengetahui penatalaksanaan Farmakologi dan Non Farmakologi epilepsi
3. Mahasiswa mampu mengetahui efek samping obat-obatan epilepsi
4. Mahasiswa mampu mengetahui cara perhitungan dosis obat dari kasus tersebut
Step 6
1) Definisi Epilepsi
a) Epilepsi menurut World Health Organization (WHO) merupakan gangguan kronik otak
yang menunjukkan gejala-gejala berupa serangan-serangan yang berulang-ulang yang
terjadi akibat adanya ketidaknormalan kerja sementara sebagian atau seluruh jaringan
otak karena cetusan listrik pada neuron (sel saraf) peka rangsang yang berlebihan, yang
dapat menimbulkan kelainan motorik, sensorik, otonom, atau psikis yang timbul tiba-tiba
dan sesaat disebabkan lepasnya muatan listrik abnormal sel-sel otak (Gofir dan Wibowo,
2006)
b) Etiologi
Epilepsi secara medis merupakan manifestasi gangguan otak dengan berbagai etiologi
(penyebab) namun dengan gejala tunggal yang khas yaitu serangan berkala yang
disebabkan oleh lepas muatan listrik neuron kortikal secara berlebihan.( Mardjono
&Sidharta 2006).
c) Faktor resiko
Faktor resiko dan patofisiologi epilepsi
Faktor resiko
Epilepsi adalah ekspresi dari disfungsi otak dan ditegakkannya diagnosa ini
mengharuskan dicarinya penyebab. Adapun faktor-faktor penyebab epilepsi adalah
- Riwayat keluarga
Adanya riwayat keluarga yang jelas menunjukkan adanya kerentanan genetik
khususnya pada kejang petit mal (Absen kejang).
- Riwayat Kehamilan dan persalinan
- Termasuk diantaranya pasien dengan riwayat gangguan intrauterin, Perinatal atau
neonatal.
- GangguanSerebral
Gangguan serebral diantaranya Tumor otak, cedera kepala, Infeksi dan degeneratif.
- GangguanMetabolik
Gangguan Metabolik yang menyebabkan epilepsi yaitu Hipoglikemia, Hipokalsemia,
Gagal ginjal atau gagal hati dan Hiponatremia.
d) Obat-obatan (khususnya setelah kejadian over dosis).
Alkohol : Intoksikasi berat, Penghentian mendadak pada peminum berat atau
cedera kepala dalam keadaan intoksikasi.
Amfetamin, antidepresan trisiklik, fenotiazin (Rubenstein,dkk.2007).
e) Patofisologi
Patofisiologi Kejang dipicu oleh perangsangan sebagian besar neuron secara berlebihan,
spontan, dan sinkron sehingga mengakibatkan aktivasi fungsi motorik (kejang), sensorik,
otonom atau fungsi kompleks (kognitif, emosional) secara lokal atau umum. Mekanisme
terjadinya kejang ada beberapa teori :
- Gangguan pembentukan ATP dengan akibat kegagalan pompa Na-K, misalnya pada
hipoksemia, iskemia, dan hipoglikemia. Sedangkan pada kejang sendiri dapat terjadi
pengurangan ATP dan terjadi hipoksemia.
- Perubahan permeabilitas membran sel syaraf, misalnya hipokalsemia dan
hipomagnesemia.
- Perubahan relatif neurotransmiter yang bersifat eksitasi dibandingkan dengan
neurotransmiter inhibisi dapat menyebabkan depolarisasi yang berlebihan. Misalnya
ketidakseimbangan antara GABA atau glutamat akan menimbulkan kejang.
(Silbernagl S, Lang F. 2006)
- Patofisiologi Epilepsi adalah pelepasan muatan listrik yang berlebihan dan tidak
teratur di otak. Aktivitas listrik normal jika terdapat keseimbangan antara faktor yang
menyebabkan inhibisi dan eksitasi dari aktivitas listrik. Epilepsi timbul karena adanya
ketidakseimbangan faktor inhibisi dan eksitasi aktivitas listrik otak.25 Terdapat
beberapa teori patofisiologi epilepsi, adalah sebagai berikut: 1. Ketidakseimbangan
antara eksitasi dan inhibisi di otak Eksitasi berlebihan mengakibatkan letupan
neuronal yang cepat saat kejang. Sinyal yang dikeluarkan dari neuron yang meletup
cepat merekrut sistem neuronal yang berhubungan melalui sinap, sehingga terjadi
pelepasan yang berlebihan. Sistem inhibisi juga diaktifkan saat kejang, tetapi tidak
dapat untu mengontrol eksitasi yang berlebihan, sehingga tejadi kejang.
f) Manifestasi Klinis
a) Manifestasi klinis epilepsi dapat berupa kejang fokal, kejang umum, atau kejang
campuran, kejang spasme mioklonik, atonik atau absan, otomatisasi, dan disertai atau
tanpa disertai penurunan kesadaran
b) Manifestasi klinis dari bangkitan serupa yang berlebihan dan abnormal, berlangsung
secara mendadak dan sementara, dengan atau tanpa perubahan kesadaran, disebabkan
oleh hiperaktifitas listrik sekelompok sel saraf di otak yang bukan disebabkan oleh suatu
penyakit otak akut. Lepasnya muatan listrik yang berlebihan ini dapat terjadi di berbagai
bagian pada otak dan menimbulkan gejala seperti berkurangnya perhatian dan kehilangan
ingatan jangka pendek, halusinasi sensoris, atau kejangnya seluruh tubuh
2. Terapi Farmakologi
Tata laksana kejang lama dan berulang sama saja. Diazepam rektal efektif untuk memberantas
kejang lama/berulang, tetapi mempunyai hambatan dalam pemberian di rumah maupun di luar
rumah/Rumah Sakit. Hambatan tersebut berupa kesulitan jika pasien memakai kursi roda dan
absorbsi usus yang kurang baik. Diazepam rektal juga kurang dapat diterima oleh pasien yang
sudah besar atau keluarganya (peringkat bukti 1, derajat rekomendasi A).
Midazolam bukal atau intranasal sama efektifnya dengan diazepam rektal untuk penanganan
kejang lama efektif (peringkat bukti 1, derajat rekomendasi A). Orangtua dan pengasuh lebih
memilih sediaan ini dibandingkan diazepam rektal untuk penggunaan di luar RS. Untuk sebagian
kecil anak, paraldehid rektal juga efektif (peringkat bukti 3, derajat rekomendasi C). Sekitar 80%
anak akan berespons dengan obat emergensi benzodiazepin. Anak yang tidak berespons dengan
obat emergensi awal harus ditata laksana sesuai rekomendasi tata laksana status epileptikus.
Tidak perlu menunggu sampai aktivitas kejang berlangsung terus sampai 30 menit (peringkat
bukti 3, derajat rekomendasi C).
Tatalaksana epilepsi adalah dengan pemberian obat anti epilepsy. Obat antiepilepsi dimulai
sebagai monoterapi (1 jenis obat saja) sesuai dengan jenis bangkitan epilepsy. Pemberian obat
dimulai dari dosis yang rendah dan dinaikkan secara bertahap hingga mencapai dosis efektif.
Bila obat-obatan tidak adapat mengontrol epilepsy, maka bisa ditambahkan obat jenis kedua.
Bila obat kedua sudah bisa mengontrol epilepsy, maka obat pertama diturunkan dosisnya. Obat
antiepilepsy yang ketiga diberikan bila dua obat antiepilepsi tidak mampu mengontrol kejang.
(PERDOSSI, 2011)
Diazepam IV: 0,2 - 0,5 mg/kg IV (maksimum 10 mg) dalam spuit, kecepatan 2 mg/menit. Bila
kejang berhenti sebelum obat habis, tidak perlu dihabiskan. Bila pasien terdapat riwayat status
epileptikus: namun saat datang dalam keadaan tidak kejang, maka dapat diberikan fenitoin 10
mg/kg IV dilanjutkan dengan pemberian rumatan bila diperlukan.
Terapi Non Farmakologi
- Diet ketogenik
Diet ketogenik yang dikenakan oleh Wilder pada tahun 1921 merupakan diet ketogenik yang
paling sering digunakan untuk epilepsi, yaitu dengan pemberian lemak jenuh rantai panjang,
serta presentase protein dan karbohidrat yang rendah. Protokol ini terdiri dari lemak dan rasio 4:1
dengan gabungan protein dan karbohidrat. Pada diet tipe ini, pasien harus dirawat inap di rumah
sakit dan dipuasakan selama 24 jam sebelum memulai diet.
Total kalori yang diberikan pada diet ketogenik disesuaikan dengan kebutuhan kalori pasien.
Diet ketogenik trigliserida rantai panjang memberikan nutrisi berupa 3-4 gram lemak untuk
setiap 1 gram karbohidrat dan protein. Kelemahan dari diet ini adalah rendahnya tolerabilitas dan
tingginya angka drop out. Drop out terjadi karena diakibatkan timbulnya berbagai efek samping
gastrointestinal dan kesulitan konsumsi diet dikarenakan cita rasa yang kurang menggugah
selera. Efek samping gastrointestinal yang paling sering muncul berupa mual, muntah, konstipasi
dan diare. (Wisnu dkk.., 2017)
Pada diet ketogenik energi otak bukan dari glukosa sebagai hasil glikolisis, namun dari keton
sebagai hasil oksidasi asam lemak. Diet ketogenik dapat diberikan sebagai terapi adjuvan pada
epilepsi intraktabel. Diet ketogenik pada anak usia 6-12 tahun dapat mengakibatkan batu ginjal,
pertumbuhan lambat, dan fraktur (IDAI, 2016).
- Tindakan bedah
Pembedahan dapat dipertimbangkan pada sebagian kecil penderita epilepsi yang masih
mengalami bangkitan epilepsi meskipun telah mendapat terapi kombinasi OAE, terdapat
kontraindikasi atau gagal dengan diet ketogenik. Pembedahan merupakan pilihan untuk pasien
yang tetap mengalami bangkitan epilepsi meskipun sudah mendapat lebih dari 3 jenis
antikonvulsan, adanya abnormalitas fokal, lesi epileptik yang menjadi pusat abnormalitas
epilepsi (Ikawati, 2011)
Tindakan bedah yang dianjurkan yaitu pada lobus temporalis, karena epilepsi yang disebabkan
oleh adanya lesi pada lobus temporalis paling sering terjadi dan seringkali tidak peka terhadap
penggunaan terapi anti epilepsi (Niantiarno, 2012). Tindakan bedah dapat berupa pengangkatan
area tempat bangkitan epilepsi bermula atau pengangkatan lesi yang menjadi fokus epileptik
(IDAI, 2016).
3. Efek samping obat :
Reaksi idiosinkrasi OAE biasanya timbul pada awal terapi, tetapi dapat juga timbul kapanpun
dan cukup serius. Rash/ruam adalah efek samping yang sering terjadi pada anak dan berkaitan
dengan karbamazepin, fenitoin dan lamotrigin. Sindrom hipersensitivitas berat yang mengancam
jiwa dapat terjadi, meskipun jarang (peringkat bukti 3, derajat rekomendasi C).
Efek Samping Kronik :
a) Peningkatan berat badan
Valproat berkaitan dengan penambahan berat badan pada anak dan remaja. Kelebihan
berat badan pada awal terapi merupakan prediktor yang bermakna untuk peningkatan
berat badan selanjutnya selama pemakaian obat tersebut (peringkat bukti 2, derajat
rekomendasi B).
b) Gangguan kognitif
Orangtua kerap melaporkan perubahan fungsi kognitif akibat efek samping OAE, namun
beberapa studi berkualitas tinggi menunjukkan bahwa tidak terdapat gangguan kognitif
pada pemberian klobazam, valproat, karbamazepin, atau fenitoin (peringkat bukti 2,
derajat rekomendasi B). Fenobarbital dapat menyebabkan gangguan kognitif pada anak
(peringkat bukti 2, derajat rekomendasi B).
c) Hipertorfi gusH
Hipertrofi atau pembesaran gusi sering berkaitan dengan fenitoin, namun jarang terjadi
pada natrium valproat dan vigabatrin. Hal ini dapat dicegah dengan higiene oral yang
baik, pada beberapa anak cukup sulit, terutama pada anak dengan kesulitan fisik dan
belajar (peringkat bukti 3, derajat rekomendasi C).
d) Gangguan fungsi hati
Asam valproat berhubungan dengan peningkatan enzim transaminase hati dan kadar
amonia darah namun biasanya asimtomatik. Peningkatan enzim transaminase kurang dari
tiga kali nilai normal dan asimtomatik tidak memerlukan penghentian OAE. Bila kadar
enzim transaminase meningkat lebih dari tiga kali, maka kadarnya perlu diulang beberapa
minggu kemudian dan OAE dihentikan bila kadarnya meningkat secara cepat dan
simtomatik (peringkat bukti 3, derajat rekomendasi C).Hepatotoksisitas akibat asam
valproat biasanya terjadi pada anak berusia kurang dari 3 tahun dan terjadi dalam 6 bulan
pertama pemberian. Namun seringkali anak-anak tersebut tidak hanya mendapat asam
valproat, tetapi mendapat politerapi, serta diduga terdapat kelainan metabolik yang
mendasari, misalnya defek siklus urea, asiduria organik, storage disease, atau kelainan
metabolik bawaan lainnya (peringkat bukti 3, derajat rekomendasi C).
e) Leukopenia dan agranulositosis
Penggunaan karbamazepin berhubungan dengan leukopenia yang terjadi dalam 2-3 bulan
pertama terapi. Anemia dan agranulositosis dilaporkan dapat terjadi namun sangat jarang,
dengan perkiraan insidens 2 dari 575.000 paparan. Pada keadaan leukopenia dan
agranulositosis, jumlah leukosit dan hitung jenis diulang setiap 3-4 minggu mencapai
nilai normal. Jika nilai absolute neutrophil count (ANC) kurang dari 1000, maka
pemberian karbamazepin harus dihentikan (peringkat bukti 3, derajat rekomendasi C).
f) Asidosis metabolik
Topiramat dapat mencetuskan asidosis metabolik kronik ringan sampai sedang pada dua
pertiga anak serta dapat mencetuskan nefrolitiasis. Risiko asidosis metabolik meningkat
bila terdapat kondisi yang merupakan predisposisi asidosis metabolik, misalnya kelainan
ginjal dan penggunaan diet ketogenik. Topiramat dikurangi dosisnya atau dihentikan
pemberiannya bila terjadi asidosis metabolik berat (peringkat bukti 3, derajat
rekomendasi C)
4. Perhitungan Dosis Obat