0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
102 tayangan100 halaman

Standar Pendidikan Dokter Spesialis Mata

Buku ini berisi standar pendidikan profesi dokter spesialis oftalmologi Indonesia yang meliputi 17 standar antara lain standar kompetensi, isi, proses, rumah sakit pendidikan, sarana dan prasarana, penilaian program pendidikan, dan penelitian. Standar ini diharapkan menjadi acuan bagi peserta didik, dokter spesialis, dan lembaga pendidikan dalam meningkatkan mutu pendidikan spesialis mata.

Diunggah oleh

Meiliaty Angky
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
102 tayangan100 halaman

Standar Pendidikan Dokter Spesialis Mata

Buku ini berisi standar pendidikan profesi dokter spesialis oftalmologi Indonesia yang meliputi 17 standar antara lain standar kompetensi, isi, proses, rumah sakit pendidikan, sarana dan prasarana, penilaian program pendidikan, dan penelitian. Standar ini diharapkan menjadi acuan bagi peserta didik, dokter spesialis, dan lembaga pendidikan dalam meningkatkan mutu pendidikan spesialis mata.

Diunggah oleh

Meiliaty Angky
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

STANDAR PENDIDIKAN

DOKTER SPESIALIS OFTALMOLOGI INDONESIA

KOLEGIUM ILMU KESEHATAN MATA INDONESIA


PERHIMPUNAN DOKTER SPESIALIS MATA INDONESIA
2020

GD. THE BAILE, LT 1 ROOM 101-103, JL. KIMIA NO. 4 MENTENG JAKARTA PUSAT

kikmiperdami@[Link] / koiperdami@[Link]

Telp/Fax : 021-3908661
STANDAR PENDIDIKAN
DOKTER SPESIALIS OFTALMOLOGI INDONESIA

ISBN:

Sampul dan Tata Letak:


Bayu Nugroho
Edi Yuwono

Penerbit:
Perhimpunan Dokter Spesialis Mata Indonesia

Alamat:
[Link] Baile, Lt. 1 Ruang 101 – 103, Jl. Kimia No.4 Menteng, Jakarta Pusat 10320

Cetakan Pertama, Oktober 2020

Hak Cipta dilindungi Undang-Undang


Dilarang mengutip atau memperbanyak sebagian atau seluruh isi buku tanpa
ijin tertulis dari penerbit.

Isi diluar tanggung jawab percetakan


i

STANDAR PENDIDIKAN
DOKTER SPESIALIS OFTALMOLOGI INDONESIA

Tim Penyusun

dr. AAA Sukartini Djelantik, SpM(K) Dr. dr. Irawati Irfani, SpM(K), [Link]
dr. Ahmad Ashraf, MPH., SpM(K), [Link] Dr. dr. Iwan Sovani,SpM(K)., [Link]
dr. Aldiana Halim, SpM(K), MSc. dr. M. Hidayat, SpM(K)
Dr. [Link] Agung Mas Putrawati, SpM(K) dr. Marliyanti N. Akib, SpM(K), [Link]
dr. Andi M. Ichsan, SpM(K), PhD dr. Maula Rifada, SpM(K)
Dr. dr. Andika Prahasta, SpM(K) dr. Muh. Abrar Ismail, SpM(K)
Prof. dr. Arief S Kartasasmita, SpM(K), PhD Dr. dr. Nadia Artha Dewi, SpM(K)
dr. Arief Wildan, SpM(K) Prof. Dr. dr. Ova Emilia, [Link](K)
dr. Ariesanti Tri Handayani, SpM(K) dr. Ovi Sofia, SpM(K)
dr. Aryani A. Amra, SpM(K) Dr. dr. Putu Yuliawati, SpM(K)
dr. Astrianda Suryono, SpM (K) Prof. Dr. dr. Ratna Sitompul, SpM(K)
Dr. dr. Budiman, SpM(K) Dr. dr. Rinaldi Dahlan, SpM(K)
Dr. dr. Debby Shintia Dewi, SpM(K) Prof. dr. Rita Sitorus, SpM(K), PhD
dr. Delfi, SpM(K) dr. Sauli Ari Widjaja, SpM(K)
dr. Elza Iskandar, SpM(K) dr. Setiyo Budi Riyanto, SpM(K)
dr. Eugeni Sumanti, SpM(K) dr. Syntia Nusanti, SpM(K), [Link]
Dr. dr. Feti Karfiati Memed, SpM(K), [Link] dr. Syska Widyawati, SpM(K), [Link]
dr. Gusti G. Suardana, SpM(K) Dr. dr. Tri Rahayu, SpM(K)
Dr. dr. Habibah S. Muhiddin, SpM(K) Dr. dr. Virna Dwi Oktariana, SpM(K)
dr. Haryo Yudono, SpM(K), MSc dr. Wenny Supit, SpM
dr. HE Iskandar, SpM(K), MARS dr. Yeni Dwi Lestari, SpM(K), MSc.
dr. Ine Renata Musa, Sp.M (K) dr. Yunita, SpM(K), [Link]
ii

DAFTAR ISI

Tim Penyusun i
Daftar Isi ii
Kata Pengantar iii
Sambutan Ketua PERDAMI iv
Sambutan Ketua KIKMI v
PERATURAN KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA NOMOR 69 TAHUN 2020 vi
PENDAHULUAN
A LATAR BELAKANG 3
B SEJARAH 4
C VISI, MISI, DAN TUJUAN PENDIDIKAN 4
MANFAAT STANDAR PENDIDIKAN PROFESI DOKTER
D 7
SPESIALIS OFTALMOLOGI

STANDAR PENDIDIKAN PROFESI DOKTER SPESIALIS


BAB II
OFTALMOLOGI
STANDAR KOMPETENSI DOKTER SPESIALIS
A 8
OFTALMOLOGI
B STANDAR ISI 65
STANDAR PROSES PENCAPAIAN KOMPETENSI
C BERDASARKAN TAHAP PENDIDIKAN PROFESI DOKTER 66
SPESIALIS OFTALMOLOGI
D STANDAR RUMAH SAKIT PENDIDIKAN 70
E STANDAR WAHANA PENDIDIKAN 70
F STANDAR DOSEN 71
G STANDAR TENAGA KEPENDIDIKAN 72
H STANDAR PENERIMAAN CALON MAHASISWA 73
I STANDAR SARANA DAN PRASARANA 74
J STANDAR PENGELOLAAN PEMBELAJARAN 76
K STANDAR PEMBIAYAAN 80
STANDAR PENILAIAN PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI
L 81
DOKTER SPESIALIS OFTALMOLOGI
M STANDAR PENELITIAN DOKTER SPESIALIS OFTALMOLOGI 83

N STANDAR NASIONAL PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT 83


STANDAR KONTRAK KERJA SAMA RUMAH SAKIT
PENDIDIKAN DAN/ATAU WAHANA PENDIDIKAN
O 83
KEDOKTERAN DENGAN PERGURUAN TINGGI
PENYELENGGARA PENDIDIKAN KEDOKTERAN
STANDAR PEMANTAUAN DAN PELAPORAN PENCAPAIAN
P PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI DOKTER SPESIALIS 84
OFTALMOLOGI
STANDAR POLA PEMBERIAN INSENTIF UNTUK
Q MAHASISWA PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI DOKTER 85
SPESIALIS OFTALMOLOGI

BAB III PENUTUP 86


iii

KATA PENGANTAR

Peningkatan Kesehatan bagi semua orang merupakan tujuan utama


Pendidikan kedokteran. Akhir – akhir ini banyak keluhan masyarakat terhadap
tenaga dokter dalam memberikan pelayanan Kesehatan. Oleh karena itu untuk
meningkatkan mutu Pendidikan kedokteran perlu ada perubahan dalam
metode pembelajaran. Diantara perubahan tersebut adalah pergeseran dari
Pendidikan berbasis struktur dan proses menjadi berbasis kompetensi atau
kemampuan pada akhir Pendidikan (Competency Based Education).

Selain itu untuk meningkatkan mutu dokter spesialis mata perlu dibuat
standar Pendidikan Dokter Spesialis Mata yang merupakan kriteria minimal
komponen Pendidikan yang harus dipenuhi oleh IPDS dalam penyelenggaraan
Pendidikan dokter spesialis mata.

Standar ini diharapkan dapat menjadi acuan bagi Peserta didik, Dokter
Spesialis Mata dan Intitusi Pendidikan Dokter Spesialis (IPDS) Mata dalam
penyelenggara Program Pendidikan Dokter Spesialis Mata.

Dalam standar Pendidikan Dokter Spesialis Mata terdapat 17 Standar antara


lain : Standar Kompetensi Dokter Spesialis Oftalmologi, Standar Isi, Standar
Proses Pencapaian Kompetensi Berdasarkan Tahap Pendidikan Profesi Dokter
Spesialis Oftalmologi, Standar Rumah Sakit Pendidikan, Standar Wahana
Pendidikan, Standar Dosen, Standar Tenaga Kependidikan, Standar
Penerimaan Calon Mahasiswa, Standar Sarana Dan Prasarana, Standar
Pengelolaan Pembelajaran, Standar Pembiayaan, Standar Penilaian Program
Pendidikan Profesi Dokter Spesialis Oftalmologi, Standar Penelitian Dokter
Spesialis Oftalmologi, Standar Nasional Pengabdian Kepada Masyarakat,
Standar Kontrak Kerja Sama Rumah Sakit Pendidikan Dan/Atau Wahana
Pendidikan Kedokteran Dengan Perguruan Tinggi Penyelenggara Pendidikan
Kedokteran, Standar Pemantauan Dan Pelaporan Pencapaian Program
Pendidikan Profesi Dokter Spesialis Oftalmologi, Standar Pola Pemberian
Insentif Untuk Mahasiswa Program Pendidikan Profesi Dokter Spesialis
Oftalmologi.

Konsil Kedokteran Indonesia (KKI) telah mengesahkan standar Pendidikan


Profesi Dokter Spesialis dengan No. Perkonsil No.69 Tahun 2020 tentang
Standar Pendidikan Profesi Dokter Spesialis Oftalmologi.

Catatan : Standar Pendidikan Profesi Dokter Spesialis dengan No.69 Tahun


2020 bisa download di
[Link]
iv

KATA SAMBUTAN

KETUA PENGURUS PUSAT PERHIMPUNAN DOKTER SPESIALIS


MATA INDONESIA (PERDAMI)

Bismillahirrahmanirrahim
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha
Panyayang, Kami panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang
telah melimpahkan rahmat, hidayah, dan inayah-Nya kepada kami, sehingga
buku Standar Pendidikan Spesialis Mata Indonesia dapat tersusun dengan
baik.
Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Spesialis Mata Indonesia
menyambut baik dan mengapresiasi atas disahkannya buku Standar
Pendidikan Dokter Spesialis Mata Indonesia oleh Konsil Kedokteran Indonesia
(KKI). Keberadaan buku ini diharapkan menjadi acuan untuk Peserta didik,
Dokter Spesialis Mata dan Institusi Pendidikan Dokter Spesialis dalam
meningkatakan kualitas dokter mata di Indonesia.
Atas nama Pengurus Pusat Perdami dan selaku organisasi
perhimpunan profesi dokter spesialis mata di Indonesia, kami memberi
penghargaan dan apresiasi kepada penyusun dan contributor buku ini.
Semoga buku pedoman ini dapat menjadi acuan yang berguna serta
memberikan kemaslahatan bagi kita semua.

Dr. M. Sidik, SpM(K)


v

SAMBUTAN KETUA KOLEGIUM ILMU KESEHATAN MATA


INDONESIA
Bismillahirrahmanirrahim

Assalamu Alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha
Panyayang, Kami panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang
telah melimpahkan rahmat, hidayah, dan inayah-Nya kepada kami,
sehingga buku Standar Pendidikan Spesialis Oftalmologi Indonesia dapat
tersusun dengan baik.

Kolegium Ilmu Kesehatan Mata Indonesia Perhimpunan Dokter


Spesialis Mata Indonesia menyambut baik dan menyampaikan penghargaan
atas terbitnya buku ini. Keberadaan standar Pendidikan ini merupakan hasil
dari kerja keras teman – teman Tim Komisi I KIKMI periode 2016 – 2019 dan
2019-2022. Standar Pendidikan Dokter Spesialis Mata ini di harapkan
menjadi pedoman bagi Peserta Didik, Dokter Spesialis Mata dan Institusi
Pendidikan Dokter Spesialis yang ada di Indonesia dan meningkatkan
kualitas Pendidikan Kesehatan mata di Indonesia.

Atas nama Kolegium Ilmu Kesehatan Mata Indonesia, kami


memberikan apresiasi kepada para penyusun dan kontributor buku standar
Pendidikan ini, mudah – mudahan buku ini menjadi salah satu acuan yang
berguna serta memberikan ke maslahatan bagi kita semua,

Amien.

Wassalamu Alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Dr. dr. Iwan Sovani, SpM(K)., [Link]. MM


vi

SALINAN
PERATURAN KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA
NOMOR 69 TAHUN 2020
TENTANG
STANDAR PENDIDIKAN PROFESI
DOKTER SPESIALIS OFTALMOLOGI

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

KETUA KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA,

Menimbang : a. bahwa untuk menghasilkan dokter spesialis yang


memiliki kemampuan akademik dan profesional dalam
memberikan pelayanan kesehatan mata diperlukan
standar pendidikan profesi bagi dokter spesialis
oftalmologi;
b. bahwa Standar Pendidikan Profesi Dokter Spesialis
Oftalmologi telah disusun oleh Kolegium Oftalmologi
Indonesia berkoordinasi dengan kementerian dan
pemangku kepentingan terkait serta telah diusulkan
kepada Konsil Kedokteran Indonesia untuk disahkan;
c. bahwa sesuai dengan ketentuan Pasal 7 ayat (1) huruf b
dan Pasal 26 ayat (1) Undang-Undang Nomor 29 Tahun
2004 tentang Praktik Kedokteran, Konsil Kedokteran
Indonesia memiliki tugas untuk mengesahkan Standar
vii

Pendidikan Profesi Dokter Spesialis Oftalmologi sebagai


salah satu standar pendidikan di bidang ilmu
kedokteran;
d. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana
dimaksud dalam huruf a, huruf b, dan huruf c, perlu
menetapkan Peraturan Konsil Kedokteran Indonesia
tentang Standar Pendidikan Profesi Dokter Spesialis
Oftalmologi;

Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2004 tentang Praktik


Kedokteran (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun
2004 Nomor 116, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 4431);
2. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2013 tentang
Pendidikan Kedokteran (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2013 Nomor 132, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 5434);
3. Peraturan Pemerintah Nomor 52 Tahun 2017 tentang
Peraturan Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 20 Tahun
2013 tentang Pendidikan Kedokteran (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2017 Nomor 303, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 6171);
4. Peraturan Konsil Kedokteran Indonesia Nomor 1 Tahun
2011 tentang Organisasi dan Tata Kerja Konsil
Kedokteran Indonesia (Berita Negara Republik Indonesia
Tahun 2012 Nomor 351) sebagaimana telah beberapa kali
diubah terakhir dengan Peraturan Konsil Kedokteran
Indonesia Nomor 36 Tahun 2015 tentang Perubahan
Kedua atas Peraturan Konsil Kedokteran Indonesia
Nomor 1 Tahun 2011 tentang Organisasi dan Tata Kerja
Konsil Kedokteran Indonesia (Berita Negara Republik
Indonesia Tahun 2015 Nomor 1681);
5. Peraturan Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan
Tinggi Nomor 18 Tahun 2018 tentang Standar Nasional
Pendidikan Kedokteran (Berita Negara Republik Indonesia
Tahun 2018 Nomor 693);
viii

MEMUTUSKAN:
Menetapkan : PERATURAN KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA TENTANG
STANDAR PENDIDIKAN PROFESI DOKTER SPESIALIS
OFTALMOLOGI.
Pasal 1
Konsil Kedokteran Indonesia mengesahkan Standar
Pendidikan Profesi Dokter Spesialis Oftalmologi.
Pasal 2
(1) Standar Pendidikan Profesi Dokter Spesialis Oftalmologi
disusun berdasarkan Standar Nasional Pendidikan
Kedokteran.
(2) Standar Pendidikan Profesi Dokter Spesialis Oftalmologi
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) memuat:
a. Standar Kompetensi Dokter Spesialis Oftalmologi;
b. Standar Isi;
c. Standar Proses Pencapaian Kompetensi Berdasarkan
Tahap Pendidikan Profesi Dokter Spesialis
Oftalmologi;
d. Standar Rumah Sakit Pendidikan;
e. Standar Wahana Pendidikan Kedokteran;
f. Standar Dosen;
g. Standar Tenaga Kependidikan;
h. Standar Penerimaan Calon Mahasiswa;
i. Standar Sarana dan Prasarana;
j. Standar Pengelolaan;
k. Standar Pembiayaan;
l. Standar Penilaian Program Pendidikan Oftalmologi;
m. Standar Penelitian Dokter Spesialis Oftalmologi;
n. Standar Pengabdian kepada Masyarakat;
o. Standar Kontrak Kerja Sama Rumah Sakit
Pendidikan dan/atau Wahana Pendidikan
Kedokteran dengan Perguruan Tinggi Penyelenggara
Pendidikan Kedokteran;
p. Standar Pemantauan dan Pelaporan Pencapaian
Program Pendidikan Oftalmologi; dan
q. Standar Pola Pemberian Insentif untuk Mahasiswa
Program Pendidikan Oftalmologi.
ix

(3) Standar Pendidikan Profesi Dokter Spesialis Oftalmologi


yang disahkan oleh Konsil Kedokteran Indonesia
tercantum dalam Lampiran yang merupakan bagian tidak
terpisahkan dari Peraturan Konsil Kedokteran Indonesia
ini.

Pasal 3
(1) Perguruan tinggi yang menyelenggarakan pendidikan
profesi dokter spesialis oftalmologi harus menerapkan
Standar Pendidikan Profesi Dokter Spesialis Oftalmologi,
dalam mengembangkan kurikulum pendidikan.
(2) Perguruan tinggi yang akan mengembangkan kurikulum
pendidikan dokter spesialis oftalmologi harus mengacu
pada Standar Pendidikan Profesi Dokter Spesialis
Oftalmologi untuk menjamin mutu program pendidikan
profesi dokter spesialis oftalmologi.

Pasal 4
Perguruan tinggi harus memenuhi Standar Pendidikan Profesi
Dokter Spesialis Oftalmologi sebagai kriteria minimal pada
penyelenggaraan pendidikan dokter spesialis oftalmologi.

Pasal 5
(1) Konsil Kedokteran Indonesia melakukan pemantauan
dan evaluasi terhadap penerapan Standar Pendidikan
Profesi Dokter Spesialis Oftalmologi pada
penyelenggaraan pendidikan dokter spesialis oftalmologi.
(2) Berdasarkan hasil pemantauan dan evaluasi
sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Konsil Kedokteran
Indonesia memberikan rekomendasi kepada perguruan
tinggi untuk mengembangkan sistem penjaminan mutu
internal sebagai proses penjaminan mutu pendidikan
dokter spesialis oftalmologi.
(3) Pemantauan dan evaluasi terhadap penerapan Standar
Pendidikan Profesi Dokter Spesialis Oftalmologi
dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan.
x

Pasal 6
Peraturan Konsil Kedokteran Indonesia ini mulai berlaku pada
tanggal diundangkan.

Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan


pengundangan Peraturan Konsil Kedokteran Indonesia ini
dengan penempatannya dalam Berita Negara Republik
Indonesia.

Ditetapkan di Jakarta
pada tanggal 22 Januari 2020

KETUA KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA,


ttd.

BAMBANG SUPRIYATNO

Diundangkan di Jakarta
pada tanggal 28 Januari 2020

DIREKTUR JENDERAL
PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN
KEMENTERIAN HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA
REPUBLIK INDONESIA,
ttd.
WIDODO EKATJAHJANA

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2020 NOMOR 56

Salinan sesuai dengan aslinya


KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA
Sektretaris Konsil Kedokteran Indonesia

Gema Asiani
NIP. 196209041989102001
-1-

LAMPIRAN
PERATURAN KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA
NOMOR 69 TAHUN 2020
TENTANG
STANDAR PENDIDIKAN PROFESI DOKTER
SPESIALIS OFTALMOLOGI

SISTEMATIKA

BAB I PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
B. SEJARAH
C. VISI, MISI, DAN TUJUAN PENDIDIKAN
D. MANFAAT STANDAR PENDIDIKAN PROFESI DOKTER
SPESIALIS OFTALMOLOGI

BAB II STANDAR PENDIDIKAN PROFESI DOKTER SPESIALIS


OFTALMOLOGI
A. STANDAR KOMPETENSI DOKTER SPESIALIS OFTALMOLOGI
B. STANDAR ISI
C. STANDAR PROSES PENCAPAIAN KOMPETENSI BERDASARKAN
TAHAP PENDIDIKAN PROFESI DOKTER SPESIALIS
OFTALMOLOGI
D. STANDAR RUMAH SAKIT PENDIDIKAN
E. STANDAR WAHANA PENDIDIKAN
F. STANDAR DOSEN
G. STANDAR TENAGA KEPENDIDIKAN
H. STANDAR PENERIMAAN CALON MAHASISWA
I. STANDAR SARANA DAN PRASARANA
J. STANDAR PENGELOLAAN PEMBELAJARAN
K. STANDAR PEMBIAYAAN
L. STANDAR PENILAIAN PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI
DOKTER SPESIALIS OFTALMOLOGI
M. STANDAR PENELITIAN DOKTER SPESIALIS OFTALMOLOGI
N. STANDAR NASIONAL PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT
-2-

O. STANDAR KONTRAK KERJA SAMA RUMAH SAKIT PENDIDIKAN


DAN/ATAU WAHANA PENDIDIKAN KEDOKTERAN DENGAN
PERGURUAN TINGGI PENYELENGGARA PENDIDIKAN
KEDOKTERAN
P. STANDAR PEMANTAUAN DAN PELAPORAN PENCAPAIAN
PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI DOKTER SPESIALIS
OFTALMOLOGI
Q. STANDAR POLA PEMBERIAN INSENTIF UNTUK MAHASISWA
PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI DOKTER SPESIALIS
OFTALMOLOGI

BAB III PENUTUP


-3-

BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Dengan adanya tuntutan pelayanan kesehatan yang lebih profesional
secara global, maka diperlukan adanya perubahan paradigma pendidikan
kedokteran pasca sarjana dari pendidikan berbasis proses menjadi
pendidikan berbasis outcome, yaitu pendidikan berbasis kompetensi.
Pendidikan Dokter Spesialis Mata di Indonesia mengacu pada
Postgraduate Medical Education WFME (World Federation for Medical
Education) Global Standards for Quality Improvement (Denmark; 2003),
Principle and Guidelines of a Curriculum for Education of the Ophthalmic
specialist (ICO; the International Council of Ophthalmology); 2006) dan
Standar Pelayanan Komunitas (VISION 2020).
Standar Pendidikan Dokter Spesialis Mata ini bertujuan agar
didapatkannya suatu pedoman yang terstruktur dan sistematis dalam
upaya penyetaraan program pendidikan spesialis mata seluruh Indonesia
sehingga dihasilkan dokter spesialis mata yang kompeten dan ahli dalam
bidang mata dan mampu bersaing secara nasional dan internasional.
Untuk meningkatkan mutu lulusan dokter spesialis mata yang dapat
bersaing secara global, Kolegium Oftalmologi Indonesia menetapkan 6 area
kompetensi sesuai dengan ACGME (The Accreditation Council for
Graduate Medical Education) sebagai pencetus sistem pendidikan
pasca sarjana berbasis kompetensi di dunia. Hal ini diperkuat, bahwa ICO
(the International Council of Ophthalmology) menerbitkan panduan
kurikulum yang digunakan sebagai salah satu acuan sistem pendidikan
mata di dunia, juga mengambil 6 area kompetensi dari ACGME
sebagai area kompetensinya (ICO; 2006).
Program pendidikan spesialis mata dapat diselenggarakan oleh
fakultas kedokteran yang berakreditasi A dan telah memenuhi standar
pendidikan program studi ilmu kesehatan mata.
-4-

B. SEJARAH
1. Kolegium Oftalmologi Indonesia terbentuk pada tahun 1996 dengan
nama Dewan Kesehatan Mata Nasional (DKMN), sebagai pengagas
adalah Prof. dr. Mardiono Marsetio, SpM(K) sekaligus menjadi Ketua
DKMN periode pertama tahun 1996 – 1999
2. Periode kedua dari tahun 1999 – 2003, Ketua Prof. dr. Mardiono
Marsetio, SpM(K) dari Jakarta
3. Periode ke tiga berubah nama menjadi Kolegium Oftalmologi Indonesia
dari tahun 2003 – 2006, Ketua Prof. dr. Mardiono Marsetio, SpM(K) dari
Jakarta.
4. Periode ke empat dari tahun 2006 – 2010, Ketua Prof. dr. Gantira
Natadisastra, SpM(K) dari Bandung.
5. Periode ke lima dari tahun 2010 – 2013, Ketua dr. Tjahjono D.
Gondhowiardjo, SpM(K), PhD dari Jakarta.
6. Periode ke enam dari tahun 2013 – 2016, Ketua dr. Tjahjono D.
Gondhowiardjo, SpM(K), PhD dari Jakarta

C. VISI, MISI DAN TUJUAN PENDIDIKAN


Pernyataan visi, misi & tujuan pendidikan harus mengacu kepada
tujuan sistem pendidikan nasional dan pembangunan kesehatan nasional,
mencantumkan proses pendidikan spesialis mata yang berbasiskan ilmu
pengetahuan (science), pengetahuan (knowledge), pengetahuan praktis
(know-how), keterampilan (skill), afeksi (affection) dan kompetensi
(competency), menghasilkan dokter spesialis mata yang kompeten,
memasukkan isu umum dan khusus yang relevan dengan kebijakan
nasional serta paradigma keilmuan mata secara global.
Tiap IPDS Mata harus mempunyai dan menetapkan visi, misi &
tujuan pendidikan Dokter Spesialis Mata. Visi, misi dan tujuan
pendidikan harus sejalan dengan fakultas dan perguruan tinggi.

1. VISI PENDIDIKAN
Visi pendidikan dokter spesialis mata harus mengacu pada tujuan
sistem pendidikan nasional dan UU pendidikan Kedokteran.
Sistem pendidikan yang mampu menghasilkan dokter spesialis
mata yang kompeten dalam memberikan pelayanan kesehatan mata
dengan mengutamakan keselamatan pasien, menjadi pakar di bidang
-5-

keilmuannya, mampu membantu pemerintah dalam memecahkan


masalah kesehatan mata nasional dan berdaya saing internasional.
Rumusan visi pendidikan dokter spesialis mata disusun secara
konsisten dengan visi Universitas dan mengacu kepada tujuan sistem
pendidikan nasional dan pembangunan kesehatan nasional.
2. MISI PENDIDIKAN
a. Misi pendidikan dokter spesialis mata harus mencakup:
1) Sistem pendidikan yang mampu menyelenggarakan
pendidikan dokter spesialis mata yang bermutu, berkarakter,
dan berbasis riset/ evidence based dalam rumah sakit yang
sesuai standar akreditasi nasional.
2) Arah sistem pendidikan mata yang dapat menghasilkan pakar
di bidang ilmu kesehatan mata, mampu memberikan pelayanan
kesehatan mata secara profesional, efisien, dan memiliki
landasan moral serta etika yang tinggi serta berperan aktif dalam
menyukseskan program pemerintah baik lokal maupun nasional
dalam upaya menurunkan kebutaan di Indonesia.
b. Misi IPDS Mata disusun dengan mengacu pada tujuan Pendidikan
Nasional secara umum yang sejalan dengan misi pendidikan fakultas
dan perguruan tinggi yang bersangkutan.

3. TUJUAN PENDIDIKAN
Tujuan umum pendidikan dokter spesialis mata Indonesia adalah
menghasilkan Dokter Spesialis Mata yang mempunyai:
a. Kompetensi akademik meliputi sikap, pengetahuan dan
keterampilan yang mampu menyerap, meneliti, mengembangkan dan
mengaplikasikan ilmu kesehatan mata sesuai dengan kemajuan dan
perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi kedokteran
b. Kompetensi profesional yang mampu memberikan pelayanan
kesehatan mata secara paripurna, sesuai dengan kondisi dan
kebutuhan masyarakat, memiliki kompetensi pelayanan mata
individu dan komunitas serta dapat bersaing secara global serta
senantiasa mengutamakan keselamatan pasien.
Tujuan khusus pendidikan dokter spesialis mata menghasilkan
dokter spesialis mata yang:
-6-

a. Menguasai ilmu pengetahuan dan keterampilan serta mengikuti


perkembangan ilmu dan teknologi kedokteran dalam memberikan
pelayanan kesehatan mata
b. Menerapkan prinsip-prinsip dan metode berpikir ilmiah secara
professional dalam memecahkan dan menangani masalah kesehatan
mata serta dapat mengamalkannya kepada masyarakat secara optimal
c. Mampu menangani setiap kasus mata dengan kemampuan
profesional yang tinggi melalui pendekatan kedokteran berbasis
bukti (Evidence-Based Medicine)
d. Mampu melakukan pelayanan kesehatan mata melalui
komunikasi interpersonal dan pendekatan secara holistik (promotif,
preventif, kuratif & rehabilitatif), bekerjasama dengan bidang ilmu
lain, dan bekerjasama dengan pemerintah daerah/pusat untuk
menurunkan angka kebutaan regional/ nasional.
e. Mempunyai rasa tanggung jawab dalam melaksanakan profesi
kedokteran, membina kerjasama dalam suatu sistem pelayanan Mata
berjenjang sesuai dengan sistem kesehatan Nasional dan berpegang
teguh pada Sumpah Dokter dan Kode Etik Kedokteran Indonesia.
f. Diakui kepakarannya di tingkat regional dan mampu bersaing
dalam skala internasional.

4. PERUMUSAN VISI, MISI DAN TUJUAN PENDIDIKAN


Perumusan misi dan tujuan pendidikan dokter spesialis mata
ditetapkan oleh IPDS Mata bersangkutan bersama dengan stakeholders
(pemangku kepentingan) meliputi pimpinan institusi, senat, staf
akademik, mahasiswa, lembaga pemerintah dan non pemerintah,
masyarakat, serta organisasi profesi kedokteran dengan mengacu kepada
potensi yang ada pada masing-masing IPDS. Perumusan tersebut harus
didokumentasi oleh institusi.
Visi dan misi program studi pendidikan spesialis Mata merujuk
berdasarkan visi dan misi Universitas, sehingga visi dan misi program
studi dan lembaga saling terkait. Visi dan misi program studi dijabarkan
dalam tujuan dan sasaran yang ingin dicapai program studi, dan
kemudian dirumuskan sebagai strategi pencapan
-7-

D. MANFAAT STANDAR PENDIDIKAN PROFESI DOKTER SPESIALIS


Manfaat standar pendidikan profesi dokter spesialis adalah sebagai dasar
dalam perencanaan pelaksanaan dan pengawasan dalam rangka
mewujudkan pendidikan spesialis yang bermutu, sehingga capaian
pembelajaran minimal akan dipenuhi oleh semua penyelenggara
pendidikan spesialis dimanapun di Indonesia sehingga menghasilkan
luaran yang dapat dipertanggungjawabkan kemampuannya dalam
menangani pasien, pendidikan, penelitian dan pengabdian pada
masyarakat dan bisa dibandingkan dengan capaian pembelajaran di
negara-negara maju.
-8-

BAB II
STANDAR PENDIDIKAN DOKTER SPESIALIS MATA

A. STANDAR KOMPETENSI DOKTER SPESIALIS MATA


Standar Kompetensi merupakan penjelasan Capaian Pembelajaran
Lulusan tentang kualifikasi kemampuan lulusan yang mencakup sikap,
pengetahuan, dan ketrampilan minimal yang dimiliki dokter spesialis
mata setelah menempuh pendidikan.
Standar Kompetensi Dokter Spesialis Mata tahun 2018 dibuat
dengan mengacu pada standar kompetensi International Council of
Ophthalmology dengan berpedoman pada :
1. Undang-undang Republik Indonesia No 20 Tahun 2013 tentang Pendidikan
Kedokteran
2. Standar Nasional Pendidikan Tinggi, sesuai peraturan Menteri Riset dan
Teknologi nomor 44 tahun 2015 beserta lampirannya
3. Panduan Penyusunan Kurikulum Pendidikan Tinggi
4. Perpres No. 8 tahun 2012 tentang Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia
(KKNI) Standar Kompetensi Dokter Spesialis Mata 2018 mensyaratkan
bahwa setiap lulusan
Program Pendidikan Dokter Spesialis Ilmu Kesehatan Mata memiliki
kompetensi umum sebagai berikut :
1. Rumusan Sikap
Setiap lulusan Program Pendidikan Dokter Spesialis Ilmu Kesehatan
Mata harus memiliki sikap sebagai berikut:
a. Bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan mampu menunjukkan
sikap religius;
b. Menjunjung tinggi nilai kemanusiaan dalam menjalankan
tugas berdasarkan agama, moral, dan etika;
c. Berkontribusi dalam peningkatan mutu kehidupan bermasyarakat,
berbangsa, bernegara, dan kemajuan peradaban berdasarkan
Pancasila;
d. Berperan sebagai warga negara yang bangga dan cinta tanah air,
memiliki nasionalisme serta rasa tanggungjawab pada negara dan
bangsa;
e. Menghargai keanekaragaman budaya, pandangan, agama, dan
kepercayaan, serta pendapat atau temuan orisinal orang lain;
-9-

f. Bekerja sama dan memiliki kepekaan sosial serta kepedulian terhadap


masyarakat dan lingkungan.
g. Taat hukum dan disiplin dalam kehidupan bermasyarakat dan
bernegara
h. Menginternalisasi nilai, norma, dan etika akademik;
i. Menunjukkan sikap bertanggungjawab atas pekerjaan di bidang
keahliannya secara mandiri; dan
j. Menginternalisasi semangat kemandirian, kejuangan, dan
kewirausahaan.

2. Rumusan Ketrampilan Umum


a. Mampu bekerja di bidang keahlian Ilmu Kesehatan Mata untuk jenis
pekerjaan yang spesifik dan kompleks serta memiliki kompetensi kerja
yang minimal setara dengan standar kompetensi profesi yang berlaku
secara nasional/internasional;
b. Mampu membuat keputusan yang independen dalam menjalankan
pekerjaan profesinya berdasarkan pemikiran logis, kritis, sistematis,
kreatif, dan komprehensif
c. Mampu mengomunikasikan hasil kajian, kritik, apresiasi, argumen,
atau karya inovasi yang bermanfaat bagi pengembangan profesi,
kewirausahaan, dan kemaslahatan manusia, yang dapat
dipertanggungjawabkan secara ilmiah dan etika profesi, kepada
masyarakat umum melalui berbagai bentuk media
d. Mampu melakukan evaluasi secara kritis terhadap hasil kerja dan
keputusan yang dibuat dalam melaksanakan pekerjaan profesinya
baik oleh dirinya sendiri, sejawat, atau sistem institusinya;
e. Mampu meningkatkan keahlian keprofesiannya pada bidang yang
khusus melalui pelatihan dan pengalaman kerja dengan
mempertimbangkan kemutakhiran bidang profesinya di tingkat
nasional, regional, dan internasional;
f. Mampu meningkatkan mutu sumber daya untuk pengembangan
strategis program organisasi;
g. Mampu memimpin suatu tim kerja untuk memecahkan masalah baik
pada bidang profesinya, maupun masalah yang lebih luas dari bidang
profesinya;
- 10 -

h. Mampu bekerja sama dengan profesi lain yang sebidang maupun yang
tidak sebidang dalam menyelesaikan masalah pekerjaan yang
kompleks yang terkait dengan bidang profesinya;
i. Mampu mengembangkan dan memelihara jaringan kerja dengan
masyarakat profesi dan kliennya
j. Mampu bertanggungjawab atas pekerjaan di bidang profesinya sesuai
dengan kode etik profesinya;
k. Mampu meningkatkan kapasitas pembelajaran secara mandiri dan
tim yang berada di bawah tanggungjawabnya;
l. Mampu berkontribusi dalam evaluasi atau pengembangan kebijakan
nasional dalam rangka peningkatan mutu pendidikan profesi atau
pengembangan kebijakan nasional pada bidang profesinya; dan
m. Mampu mendokumentasikan, menyimpan, mengaudit,
mengamankan, dan menemukan kembali data informasi untuk
keperluan pengembangan hasil kerja profesinya.

3. Rumusan Ketrampilan Dokter Spesialis Mata (Sp 1)


Standar Ketrampilan Oftalmologi untuk pendidikan spesialis mata (Sp
1) dibagi 2 (dua) yaitu kompetensi utama dan kompetensi tambahan.
Kompetensi utama adalah kompetensi yang diajarkan selama menjalani
pendidikan, sedangkan kompetensi tambahan adalah kompetensi yang
didapatkan di luar masa pendidikannya dan melalui pelatihan yang
tersertifikasi oleh Kolegium.
Kompetensi utama dibagi menjadi 3 (tiga) yaitu :
a. Kompetensi umum
Seorang Dokter Spesialis Mata (SpM) akan bekerja di masyarakat
dengan kompetensi yang didapatkannya selama menjalani
pendidikan. Oleh karena itu dalam penyusunan standar kompetensi
minimal yang berlaku nasional harus senantiasa diperhatikan
kebutuhan masyarakat terkait layanan kesehatan untuk kasus-
kasus penyakit dalam level sekunder. Kajian mengenai kebutuhan
tersebut dirumuskan dalam bentuk Indeks Situasi Klinik/Komunitas
(Index Clinical/Community Situation, ICS).
- 11 -

ICS terdiri dari ketrampilan dan pengetahuan berikut :


1) Ketrampilan intelektual meliputi ketrampilan pemecahan
masalah dengan pendekatan ilmiah (scientific problem solving
approach) dan menetapkan keputusan klinik (clinical decision
making)
2) Ketrampilan interpersonal terdiri atas ketrampilan komunikasi,
ketrampilan wawancara medik, pemeriksaan fisik, melakukan
dan menginterpretasikan hasil pemeriksaan penunjang
(procedures)
3) Pengetahuan teknik meliputi ilmu dasar (biosciences) dan ilmu
klinik (clinical sciences)
4) Pengetahuan terkait (contextual knowledge) meliputi
epidemiologi klinik, organisasi pelayanan (organization
services), aspek perilaku (behavioral aspects)
5) Ketrampilan manajemen kamar operasi, mencakup manajemen
instumen operasi,
6) patient safety, pengendalian infeksi dan konseling.
Semua aspek dalam penyusunan ICS tersebut kemudian
dikembangkan menjadi daftar kompetensi umum spesialis penyakit
mata seperti yang diuraikan pada tabel 3 berikut. Kompetensi
umum ini diajarkan secara terintegrasi selama keseluruhan proses
pendidikan.

Tabel 3. Daftar Kompetensi Umum

1 Evaluasi Pasien dengan Presentasi Klinis Tidak Khas


a Presentasi klinis umum dengan gejala tidak spesifik (misalnya mata
merah, nyeri mata,

2 Layanan Kesehatan Preventif Dasar


a mata kabur)
Menilai keberhasilan terapi dan tindak lanjutnya
b Membuat discharge planning
c Konsultasi perioperatif
3 Interpretasi Uji Diagnostik Dasar dan
a Prinsip dasar probabilitas, karakteristik, akurasi, reliabilitas uji
diagnostik
b Interpretasi hasil pemeriksaan darah
- 12 -

c Interpretasi pencitraan sederhana (radiografi kepala, thoraks, CT Scan)


d Interpretasi hasil pemeriksaan mikrobiologi
4 Prinsip Dasar Farmakologi
a Penggunaan obat-obatan yang sering di bidang Ilmu Kesehatan Mata
misalnya antibiotika, analgetik, kortikosteroid, obat anti inflamasi
non steroid (OAINS), anti gluakoma, obat imunomodulator, interaksi
antar obat, interaksi obat dengan penyakit dan makanan, masalah
polifarmasi.

5 Pengetahuan dan Ketrampilan Terkait dengan


Topik Non- Klinik yang Relevan
a Prinsip keselamatan pasien (patient safety)
b Kedokteran berbasis bukti (evidence based medicine)
c Pertimbangan cost effectiveness dan
budaya dalam memutuskan tindakan
d Interpretasi literatur
diagnostik dan terapidan penerapan informatika kedokteran
tertentu
6 Pengetahuan dan Ketrampilan Terkait Pelayanan Pasien
a Mengumpulkan data melalui anamnesis terhadap pasien, keluarga,
pelaku rawat, pengumpulan data melalui rekam medik pasien
sebelumnya dan pemeriksaan yang telah dilakukan pasien sebelumnya

b Melakukan pemeriksaan fisik yang komprehensif


c Sintesis masalah
d Merencanakan diagnosis dan terapi yang sesuai, menentukan tujuan
perawatan serta prognosis
e Melakukan pengaturan kamar operasi sesuai standar yang berlaku,
termasuk aspek sterilisai dan pencegahan infeksi, manajemen
instrumen/ mesin dan penguasaan mikroskop operasi

7 Ketrampilan Komunikasi dan Hubungan Interpersonal


a. Membangun hubungan komunikasi dokter-pasien yang efektif

b Negosiasi dan manajemen konflik


c Ketrampilan komunikasi interprofesional (sejawat dari disiplin ilmu lain,
perawat, tenaga kesehatan lain)
d Komunikasi dan kerja sama tim
e Kemampuan menilai dan refleksi diri
f Kemampuan mendidik
- 13 -

b. Kompetensi Bidang
Kompetensi bidang terbagi atas kompetensi penyakit dan
kompetensi ketrampilan klinis

Gambar. 1 Konsep Piramida Miller’s untuk menilai kompetensi klinis

Kompetensi bidang terdiri dari 4 tingkat kompetensi yang


disusun berdasarkan modifikasi piramida Miller (knows, knows how,
shows, does). Pada gambar di atas disajikan tahapan pencapaian
kompetensi sekaligus cara evaluasinya.
1) Kompetensi ketrampilan klinis
Ketrampilan adalah kegiatan mental dan/atau fisik yang
terorganisasi serta memiliki bagian-bagian kegiatan yang saling
bergantung dari awal hingga akhir. Dalam melaksanakan
praktik pelayanan dibidang kesehatan mata, terdapat tindakan-
tindakan baik diagnostik maupun terapeutik yang memerlukan
beberapa tingkat penguasaan ketrampilan, mulai dari
ketrampilan yang dimiliki oleh Dokter Spesialis Mata Umum,
Dokter Spesialis Mata Umum yang mendapatkan tambahan
pelatihan tambahan kompetensi tertentu, sampai pada Dokter
Spesialis Mata Konsultan. Pada daftar Tindakan dan Prosedur
ini ditampilkan tindakan dan prosedur yang dilakukan dalam
pelayanan kesehatan mata, baik diagnostik maupun terapeutik.
Daftar Tindakan dan Prosedur ini dikelompokkan menurut sub
bagian. Pada tiap tindakan atau prosedur ditentukan kategori
atau level yang ketrampilan yang mempunyai privilege untuk
melakukannya.
- 14 -

Tabel 1. Pembagian dan definisi tingkat kompetensi ketrampilan kinis


Kompetensi Ketrampilan Klinis

Tingkat Kompetensi Definis


Tingkat i
Lulusan dokter spesialis mata mampu menguasai
kemampuan 1 pengetahuan teoritis termasuk aspek biomedik
(Knows) : dan psikososial ketrampilan tersebut sehingga
Mengetahui dan dapat menjelaskan kepada pasien/klien dan
menjelaskan keluarganya, teman sejawat, serta profesi lainnya
tentang prinsip, indikasi, dan komplikasi yang
mungkin timbul.
Keterampilan ini dapat dicapai melalui
perkuliahan, diskusi, penugasan, dan belajar
mandiri, sedangkan penilaiannya dapat
menggunakan ujian tulis.
Tingkat Lulusan dokter sepsialis mata menguasai
kemampuan 2 pengetahuan teoritis dari ketrampilan ini dengan
(Knows How): penekanan pada clinical reasoning dan problem
solving serta berkesempatan untuk melihat dan
Pernah melihat mengamati ketrampilan tersebut dalam bentuk
atau demonstrasi atau pelaksanaan langsung pada
didemonstrasikan pasien/masyarakat. Pengujian ketrampilan
tingkat kemampuan 2 dengan menggunakan ujian
tulis pilihan berganda atau penyelesaian kasus
secara tertulis dan/atau lisan (oral test).
- 15 -

Tingkat Lulusan dokter spesialis mata menguasai


kemampuan 3 pengetahuan teori ketrampilan ini termasuk latar
(Shows): belakang biomedik dan dampak psikososial
Pernah melakukan ketrampilan tersebut, berkesempatan untuk
atau pernah melihat dan mengamati ketrampilan tersebut dalam
menerapkan di bentuk demonstrasi atau pelaksanaan langsung
bawah supervisi pada pasien/masyarakat, serta berlatih
ketrampilan tersebut pada alat peraga dan/atau
standardized patient.
Pengujian ketrampilan tingkat kemampuan 3
dengan menggunakan Objective Structured Clinical
Examination (OSCE) atau Objective Structured
Assessment of Technical Skills (OSATS).

Tingkat Lulusan dokter spesialis mata dapat


kemampuan 4 memperlihatkan ketrampilannya tersebut dengan
(Does): menguasai seluruh teori, prinsip, indikasi,
Mampu langkah -langkah cara melakukan, komplikasi, dan
melakukan secara pengendalian komplikasi. Selain pernah
mandiri melakukannya di bawah supervisi, pengujian
ketrampilan tingkat kemampuan 4 dengan
menggunakan Workbased Assessment misalnya
mini-CEX, portfolio, logbook, dsb.

Pada uraian berikut akan diuraikan kompetensi keterampilan klinis


berdasarkan bidang-bidang yang ada di Ilmu Kesehatan Mata.
(a). Bidang Refraksi dan Optimasi Visual
Tabel 4. Daftar Kompetensi Bidang Refraksi dan
Optimasi Visual
Keterampilan Klinis
No Keterampilan Klinis Level
Kompetensi
REFRAKSI
1. Melakukan refraksi subjektif untuk gangguan refraksi 4
spheris kompleks, termasuk astigmatisma dan gangguan
refraktif pascaoperasi.
- 16 -

2. Melakukan refraksi subjektif sikloplegik untuk 4


gangguan ref raksi spheris kompleks, termasuk
astigmatisma dan gangguan refraktif pascaoperasi.

3. Pemeriksaan streak retinoskopy 4


4. Mengerjakan & menginterpretasikan hasil keratometri 4
5. Pemeriksaan lensometri 4
6. Menginterpretasikan hasil topografi kornea 3
7. Melakukan pemeriksaan astigmatisme dengan teknik 4
8. Astigmatic Dial
Melakukan pemeriksaan astigmatisme dengan teknik 4
Jackson Cross
9. Melakukan
Cylinder pemeriksaan astigmatisme dengan teknik 4
10. Staenopic
Melakukan Slit
pemeriksaan binocular balance 4
11. Melakukan pemeriksaan duochrome 4
12. Membuat resep kacamata single vision 4
13. Membuat resep kacamata bifokal 4
14. Membuat resep kacamata intermediet 4
15. Membuat resep kacamata trifokal / multifokal /progresif 4
16. Membuat resep kacamata prisma 3
17. Membuat resep kacamata iseikonic 2
18. Pemeriksaan biometri 4
19. Interpretasi Pemeriksaan pachymetry 2
20. Interpretasi Pemeriksaan Specular Microscope 2
21. Interpretasi Pemeriksaan OCT anterior 2
22. Pemeriksaan Worth Four Dot Test 4
23. Pemeriksaan Stereoacuity test dekat 4
24. Pemeriksaan Pupil Distance 4
25. Melakukan pengukuran akomodasi dengan berbagai 3
teknik (teknik sferis, RAF (Royal Air Forse) Rules)
26. Menentukan power addisi pada Presbiopia 4
OPTIMASI VISUAL
1. Melakukan pemeriksaan tajam penglihatan pada 4
pasien low vision, termasuk dengan kartu baca Log
2. Melakukan
Mar pemeriksaan sensitivitas kontras pada 4
pasien low vision
3. Melakukan pemeriksaan Amsler grid pada pasien low vision 4
- 17 -

4. Melakukan pemeriksaan perimetri konfrontasi pada 4


pasien low vision
5. Melakukan pemeriksaan persepsi warna pada pasien low 4
6. vision
Mendemonstrasikan pemakaian alat-alat low vision 3
7. Mengedukasi cara penggunaan alat bantu optik low vision 3
8. Mengedukasi cara penggunaan alat bantu non optik low 4
9. vision
Menentukan magnifikasi untuk penglihatan dekat 3
(Kestenbaum
10. Mengedukasi
Rule) pasien mengenai berbagai metode
3
rehabilitasi low vision
11. Fitting lensa kontak lunak untuk kasus sederhana 4
12. Fitting lensa kontak RGP sferis untuk kasus sederhana 4
13. Edukasi pasien mengenai tata cara pemakaian &
4
pemeliharaan lensa kontak
14. Edukasi pasien mengenai komplikasi & problem lain
4
terkait lensa kontak
15. Fitting lensa kontak lunak torik 2
16. Fitting lensa kontak keratokonus dan kelainan kornea 2
lainnyalensa kontak pada bayi
17. Fitting 2
18. Fitting lensa kontak skleral 2
19. Fitting Lensa kontak orthokeratologi 2
20. Melakukan over refraksi pada lensa kontak 4
21. Melakukan pemasangan bandage contact lens 4
22. Melakukan pemasangan lensa kontak prostetik 4
- 18 -

(b). Bidang Katarak dan Bedah Refraktif


Tabel 5. Daftar Kompetensi Bidang Katarak dan Bedah Refraktif
Keterampilan Klinis
No Keterampilan Klinis Level
Kompetens
i
KATARAK DAN BEDAH REFRAKTIF
1. Seleksi pasien katarak untuk operasi
•Pemeriksaan tajam penglihatan dengan koreksi
terbaik
•Pemeriksaan potensi penglihatan pasca operasi
•Edukasi manfaat dan risiko operasi
 Pemeriksaan pendahuluan (biometri, kondisi
4
kesehatan umum)
• Menentukan pasien untuk operasi
k a t a r a k dengan risiko rendah

2. Melakukan injeksi local anestesia blok (peri bulbar,


retro bulbar, para bulbar) 4
3. Mengerjakan prosedur persiapan dasar untuk bedah
katarak
• Informed consent
• Identifikasi instrumen dan sterilisasi
• Teknik sterilisasi lapangan operasi
• Pemakaian sarung tangan dan jubah operasi 4

• Preparasi dan pemasangan duk


• Pemberian obat pre operasi
4. Interpretasi klinis hasil biometri 4
5. Menggunakan mikroskop operasi untuk bedah katarak 4
dasar.
- 19 -

6. Melakukan bedah manual ekstrakapsular dalam setting 4


praktek, termasuk penguasaan prosedur berikut:
• Konstruksi luka.
• Kapsulotomi anterior/kapsulorhexis.
• Instilasi dan pembersihan viskoelastika.
• Teknik ekstrakapsular manual (lens delivery)
• Irigasi dan aspirasi korteks
• Implantasi lensa intraokuler standar
•Penggunaan obat intrakameral terkait operasi katarak

7. Mengerjakan parasentesis bilik mata depan. 4


8. Melakukan evaluasi pascaoperasi pasien katarak tanpa 4
komplikasi

9. Melakukan evaluasi pasca operasi katarak dengan 3


komplikasi
10 Melakukan fakoemulsifikasi pada katarak tanpa 4
. komplikasi dalam setting praktek, termasuk
penguasaan prosedur berikut:
• Konstruksi luka.
• Kapsulorhexis.
• Ocular viscoelastic device
• Teknik fakoemulsifikasi (sculpting, cracking, chopping,
segment and epinucleus removal).
• Teknik irigasi dan aspirasi dengan mesin
•Implantasi lensa intraokular standar (rigid/foldable)

11 Implantasi sekunder lensa intraokular 2


.12 Reposisi lensa intraokular 2
.13 Reformasi bilik mata depan 4
.
14 Reposisi iris 4
.
15 Pengelolaan kejadian intra- dan pasca-operatif yang mungkin terjadi
selama atau sebagai akibat dari bedah katarak, termasuk:
a. Kebocoran vitreous. 4
b. Ruptur kapsul. 4
- 20 -

c. Pendarahan segmen anterior atau posterior. 3


d. Tekanan posterior positif. 3
e. Ablasi khoroid. 3
f. Pendarahan ekspulsif. 3
g. Hilangnya anestesia. 4
h. Kenaikan tekanan intraokuler 4
i. Penggunaan obat-obatan topikal dan sistemik. 4

j. Astigmatisma. 3
k. Refraksi pascaoperasi (sederhana & kompleks). 4

l. Edema kornea. 3
m. Dehisensi luka. 4
n. Hifema. 4
o. Korteks residual. 3
p. Nukleus jatuh. 3
q. Uveitis. 4
r. Edema makula kistoid. 3
s. Kenaikan tekanan intraokuler dan glaukoma. 4
t. Infeksi intraokular pascaoperasi segera dan lanjut. 3

16 Mengerjakan perbaikan laserasi kornea (repair corneal 4


rupture)

17 Melakukan dan membaca pakimetri, mikroskopi 3


endotel, topografi kornea terkomputasi
18 Melakukan bedah kornea yang lebih kompleks 2
(keratoplasti tembus dan lamelar, prosedur kerato-
refraktif, keratektomi fototerapetik).
19 Transplantasi kornea 2

20 Keratoplasti lamelar 2
- 21 -

21. Transplantasi kornea lainnya (Deep Anterior Lamellar 1


Keratoplasty (DALK), Descement’s Stripping Automated
Endothelial Keratoplasty (DSAEK), Descement’c
Membrane Endothelial Keratoplasty (DMEK)

22. Keratomileusis 1
23. Keratoprostesis 1
24. Termokeratoplasti 1
25. Keratotomi radial 1
26. Epikeratofakia 1
27. Tatto kornea 2
28. Cornea crosslinking 1
29. Operasi lainnya pada iris 1
30. Pengangkatan benda asing dari lensa menggunakan 1
magnet
31. Pengangkatan benda asing dari lensa tanpa 1
menggunakan magnet
32. Ekstraksi lensa intrakapsular 2
33. Ekstraksi lensa ekstrakapsular dengan teknik 4
aspirasi/irigasi sederhana
Aspirasi katarak traumatik
34. Kapsulotomi bedah [after cataract] 2
35. Pengangkatan lensa yang telah tertanam 2
Pengangkatan pseudofakos (explantasi lensa
intraokular)
36. Implantasi Phakic IOL 2
37. Refractive Lens Exchange 2
38. Implantasi Multifocal IOL 2
39. Implantasi Toric IOL 2
40. Implantasi Accomodating IOL 1
41. Bioptics 1
42. IOL power calculation after refractive surgery 2
43. Eksisi pterygium dengan graft 4
44. Ocular surface surgery (amnion membrane 2
transplantation, anterior stromal puncture, dll)
- 22 -

45. LASIK 2

(c). Bidang Glaukoma


Tabel 6. Daftar Kompetensi Bidang Glaukoma
Keterampilan Klinis

No Keterampilan Klinis Level


Kompetensi
1. Melakukan tonometri 4
2. Melakukan gonioskopi 4
3. Mengerjakan pemeriksaan stereo saraf optik, 4
menggunakan lensa 90 (60/78) dioptri
4. Intepretasi pemeriksaan lapang pandang 4
5. Interpretasi pemeriksaan pachymetry 4
6. Interpretasi pemeriksaan Neuroretinal Rim, 4
Retinal Nerve
Fiber Layer dan Retinal Ganglion Cell

7. Melakukan surgical iridektomi pada sudut 4


tertutup primer
8. Melakukan iridektomi surgical pada glaukoma 2
sekunder
9. Mengerjakan iridotomi perifer laser argon atau 4
YAG untuk glaukoma sudut tertutup rutin.
10. Mengerjakan trabekuloplasti laser argon. 2
11. Mengerjakan siklofotokoagulasi. 4
12. Melakukan trabekulektomi pertama rutin dengan 4
atau tanpa antimetabolit.
13. Mengelola bilik mata depan dangkal pasca 3
trabekulektomi
14. Mengerjakan perbaikan rutin bleb filtrasi. 2
15. Melakukan prosedur Nd YAG atau argon laser 4
pada pasien glaukoma (misal pasien monokular,
laser ulangan, lisis vitreous, lisis jahitan)
- 23 -

16. Mengerjakan iridotomi perifer laser untuk 2


glaukoma yang lebih lanjut (misalnya pasien
monokular, penutupan sudut akut, kornea
keruh)
17. Melakukan penanganan laser (misal 2
trabekuloplasti, iridoplasti) untuk kasus-kasus
glaukoma yang lebih lanjut (penanganan
ulangan, pasien monokular)
18. Mengerjakan siklofotokoagulasi untuk kasus- 4
kasus yang lebih lanjut (misal riwayat bedah
sebelumnya, monokular)
19. Mengerjakan trabekulektomi ulangan dengan 2
atau tanpa antimetabolit.
20. Menjelaskan, mengelola, dan menangani secara 2
bedah jika perlu, bilik mata depan yang
dangkal.

21. Melakukan teknik-teknik lebih lanjut untuk 2


memperbaiki bleb rembes (misal bleb gagal, bleb
bocor)
22. Mengenali dan menangani komplikasi bleb bedah 2
glaukoma.
23. Melakukan operasi kombinasi glaukoma dengan 2
katarak
24. Melakukan operasi glaukoma implan 2
25. Melakukan trabekulotomi 2
26. Melakukan kombinasi trabekulotomi- 2
trabekulektomi
27. Melakukan goniotomi 2
28. Melakukan sklerostomi 2
29. Melakukan vitrektomi anterior pada glaukoma 2
sekunder
30. Melakukan operasi katarak pada glaukoma 4
pada glaukoma primer yang terkontrol
31. Melakukan aspirasi irigasi pada hifema 4
32. Melakukan penatalaksanaan hipotoni okular 2
pascaoperasi
- 24 -

(d). Bidang Vitreo Retina


Tabel 7. Daftar Kompetensi Bidang Vitreo Retina
Keterampilan Klinis

No Keterampilan Klinis Level


Kompetensi
1. Pemeriksaan Oftalmoskopi direk 4
2. Pemeriksaan Oftalmoskopi indirek dengan 4
atau tanpa indentasi sklera
3. Pemeriksaan slit lamp biomicroscopy dengan 4
condensing lens
(lensa +78D, +90D dll)
4. Pemeriksaan dengan slit lamp biomicroscopy 4
dengan contact lens (3-mirror, wide field dll)
5. Pemeriksaan dan interpretasi Ultrasonography 4
(USG)
6. Pemeriksaan dan interpretasi Optical Coherence 4
Tomography (OCT)
7. Interpretasikan hasil pemeriksaan Fundus 4
Florescein Angiography (FFA)
8. Pemeriksaan dan interpretasi Indocyanine Green 2
(ICG)
9. Pemeriksaan dan interpretasi Electroretinogram 2
(ERG)/Electrooculography (EOG)
10. Laser indirect ophthalmoscope 2
11. Laser fotokoagulasi pada diabetic focal/grid 2
macular.
12. Laser peripheral scatter photocoagulation 4
(panretinal).
13. Laser retinopexy (demarcation) pada kasus 3
isolated retinal breaks.
14. Fundus drawing retina 4
15. Cryotherapy pada retinal break 2
16. Scleral buckling. 3
17. Vitrektomi sederhana termasuk Pars plana 2
vitrektomi
- 25 -

18. Injeksi intra-vitreal; injeksi anti Vascular 4


Endothelial Growth Factor (VEGF) pada pasien
dewasa
19. Injeksi vitreous substitute 2
20. Pengambilan benda asing dari segmen posterior 2
mata dengan magnet
21. Pneumatik retinopeksi 3
22. Parasintesis humor aqueous pada kasus CRAO 4
23. Aspirasi vitreus untuk diagnostik 4

(e). Bidang Infeksi dan Imunologi


Tabel 8. Daftar Kompetensi Bidang Infeksi dan Imunologi
Keterampilan Klinis
No Keterampilan Klinis Level
Kompetensi
KELOPAK MATA DAN SISTEM LAKRIMAL
1. Pemeriksaan silia 4
2. Insisi dan kuretase hordeolum 4
3. Tarsorafi 4
4. Oklusi punctum 3
KONJUNGTIVA DAN SKLERA

1. Pemeriksaan dry eye (TBUT, fluoresin, Schirmer, 4


Ferning)
2. Tes epinefrin 4
3. Ekstraksi corpus alienum konjungtiva 4
4. Hapusan konjungtiva untuk pemeriksaan 4
mikrobiologis
5. Melepaskan pseudomembran/ membran 4
konjungtiva

6. Ekstirpasi pterygium + graft konjungtiva limbal 4


7. Ekstirpasi pterygium + graft amnion 4
8. Reseksi konjungtiva 4
9. Flap konjungtiva 4
10. Injeksi avastin subkonjungtiva 4
- 26 -

11. Injeksi triamsinolon subtenon posterior 3


12. Scleral patch graft 2
KORNEA

1. Ekstraksi corpus alienum kornea 4


2. Tes sensibilitas kornea 4
3. Tes fluoresin 4
4. Hapusan dan kerokan kornea untuk pemeriksaan 4
mikrobiologis
5. Pemasangan bandage contact lens 4
6. Epithelial debridement 4
7. Corneal glueing 3
8. Injeksi intrastromal kornea 3
9. Transplantasi membran amnion 3
10. Keratoplasti tektonik dan terapeutik 2
INTRAOKULE
1. Pemeriksaan dan grading R
flare dan cells pada bilik 4
mata depan

2. Pemeriksaan dan grading vitreous cells 4


3. Tes Seidel 4
4. Irigasi aspirasi hipopion 3
5. Aqueous tap/paracentesis 4
6. Vitreous tap using needle 4
7. Injeksi antibiotika intravitreal 4
8. Injeksi antibiotika intrakameral 4
ORBIT
1. Enukleasi 4
2. Eviserasi 4
TATALAKSANA UVEITIS

1. Penggunaan steroid sistemik dalam 4


penatalaksanaan uveitis
2. Penggunaan obat-obatan imunomodulator dalam 3
penatalaksanaan uveitis
- 27 -

PEMERIKSAAN PENUNJANG

1. Interpretasi hasil USG mata 4


Interpretasi hasil OCT makula untuk
2. mengevaluasi cystoid macular edema 4
Interpretasi hasil FFA untuk menentukan aktivitas
3. lesi di segmen posterior 4

(f). Bidang Neuro Oftalmologi


Tabel 9. Daftar Kompetensi Bidang Neuro Oftalmologi
Keterampilan Klinis
No Keterampilan Klinis Level
Kompetensi

1 Melakukan pemeriksaan dasar gerak bola mata:


a. Menilai kesejajaran bola mata dengan teknik
sederhana (misalnya. Hirschberg test, Krimsky
method).
b. Melakukan pemeriksaan dasar cover/uncover tes
untuk tropia.
c. Melakukan alternate cover testing untuk phoria.
d. Melakukan sekaligus prisma dan cover tes
e. Melakukan three steps test 4
f. Melakukan pengukuran deviasi
dengan prisma
g. Menggunakan Fresnel dan prisma
grind-in
h. Melakukan forced duction dan forced generation
testing.
i. Melakukan penilaian akurasi sakadik dan
pursuit dan t e s optokinetik
j. Melakukan pe m eriksaan fungsi pelpebra
(misalnya fungsi levator, posisi palpebra).
k. Melakukan pemeriksaan Hess Screen dan WFDT
(Worth Four Dot Test)
- 28 -

2 Melakukan dan menginterpretasikan pemeriksaan


perimetri:
1. Melakukan uji lapang pandang konfrontasi (statik
dan kinetik, central dan peripheral, target merah 4
dan putih).
2. Melakukan dan menginterpretasikan amsler grid
3. Menjelaskan indikasi dan melakukan perimetri
Goldmann dan menginterpretasikan hasilnya
4. Menjelaskan indikasi dan melakukan
pemeriksaan perimetri otomatis dan
menginterpretasikan hasilnya
3 Melakukan dasar direk, indirek, dan pemeriksaan 4
magnified ophthalmoscopik pada diskus optik
(misalnya, mengenali optic disc swelling, optic atrophy,
neuroretinitis).
4 Melakukan evaluasi mendetail nervus kranialis 4
(misalnya, tes fungsi nervus oculomotor, trochlear,
trigeminal, abdusens dan facialis)
5 Melakukan pemeriksan pupil 4
a. Refleks pupil langsung dan tidak langsung
b. RAPD (relative afferent Pupillary defect)
c. Pupillary near response

6 Melakukan pemeriksaan warna 4


a. Ishihara
b. Fansworth Munsell atau HRR

7 Melakukan pemeriksaan sensitifitas kontras 4


8 Melakukan Pemeriksaan Hertel 4
9 Melakukan interpretasi pemeriksaan elektrofisiologi 3
ERG (electroretinogram) dan VEP (Visual Evoked
Potential)

10 Melakukan i n t e r p r e t a s i OCT (Optical Coherence 4


Tomography) papil pada kasus neurooftalmologi
- 29 -

11 Menentukan pemeriksaan dan menginterpretasikan


foto neuro- radiologi dalam neurooftalmologi
(misalnya., interpretasi foto orbita pada tumor orbita
pseudotumor, thyroid eye disease, intracranial
imaging modalities danstrategies for tumors, 3
aneurysms, infection, inflammation, and ischemia
thyroid eye disease, pituitary adenoma, optic nerve
glioma, optic nerve sheath meningioma), dan berdiskusi
dengan neuro-radiologist untuk mendapatkan hasil
terbaik.

12 Melakukan dan menginterpretasikan hasil intravenous 2


edrophonium (Tensilon) dan uji prostigmine untuk
myasthenia gravis, mengenali dan mengatasi
komplikasi dari prosedur tersebut
13 Melakukan dan menginterpretasikan hasil untuk 4
myasthenia gravis, seperti ice pack test, sleep test
14 Menentukan dan melakukan interpretasi pemeriksaan 4
laboratorium yang berhubungan dengan kelainan
neurooftalmologi
15 Mengenali pasien dengan kehilangan penglihatan 2
fungsional (non- organik) dan memberikan konseling
yang benar dan follow up

16 Melakukan injeksi botox pada spasme hemifacial 3


dan blefarospasme esensial
17 Melakukan injeksi Methylprednisolon Intravena pada 4
kasus-kasus neurooftalmologi
18 Melakukan kantotomi lateral pada kasus retrobulbar 4
hemorrhage
- 30 -

(g). Bidang Pediatrik Oftalmologi dan Stabismus


Tabel 10. Daftar Kompetensi Bidang Pediatrik Oftalmologi dan
Stabismus
Keterampilan Klinis

No Keterampilan Klinis Level


Kompetensi
PEMERIKSAAN PADA ANAK
1 Pemeriksaan visus pada anak
a. Pre verbal
a. Infan dan toddler 4
b. CSM (Central, Steady, Maintain) 4
c. Preferential looking test 4
b. Verbal
a. Matching card (Lea symbol, HOTV, dsb) 4
b. Snellen chart, LogMar 4
2 Tes Bruckner 4
3 Streak retinoskopi 4
4 Uji lapang pandang (konfrontasi) 4
5 Pemeriksaan pupil 4
6 Pemeriksaan segmen anterior (slit lamp atau
4
portable slit lamp, loupe)
7 Pemeriksaan tekanan bola mata (iCare, Non-Contact
4
Tonometry, tonopen dan perkins)
8 Pemeriksaan refraksi sikloplegik (siklopentolate 1%
dikombinasi dengan epinefrin, atau homatropin dan 4
skopolamid)

9 Pemeriksaan funduskopi (direk dan indirek) 4


10 Pemeriksaan pada anak tidak koperatif (EUA) 4
PEMERIKSAAN STRABISMUS
Penilaian kesejajaran bola mata
1 1. Posisi bola mata 4
2. Cover test 4
3. Corneal light reflex test 4
- 31 -

4. Tes subjektif (maddox rod, hess screen,


4
lanchester red green test)

Penilaian pergerakan bola mata


a. Pemeriksaan rotasi
a. Doll's head maneuver 4
2. b. Nine position of gaze
b. Konvergensi (Near Point Convergence, Near 4
Point 4
c. Fusional vergence amplitude
Accomodation) 4
3 Uji khusus
a. Motor test
a. Forced duction test
4
b. Active Forced generation test
c. Saccadic velocity measurement

b. Three step test 4


c. Tes adaptasi prisma 4
4 Uji sensorik

1. Red-Glass test
2. Bagolini glasses
3. Prism base-out prism test
4. After image test 4
5. Ambyoscope test
6. Worth 4-dot test
7. Uji stereoskopik

KETERAMPILAN OPERASI PEDIATRIK OFTALMOLOGI


1 Obstruksi duktus
1. Pijatan di area sakus lakrimalis
2. Probing and syringing 2
3. Dakriosistorinostomi

2 Glaukoma Pediatrik
1. Trabekulotomi
2. Trabekulektomi 2

3. Siklodestuksi
- 32 -

3 Katarak Pediatrik
1. Lens aspiration + PPC (Primary Posterior
Capsulotomy)
+ AV (Anterior Vistrectomy) 2
2. Lens aspiration + implantasi IOL
3. Lens aspiration + PPC + AV + IOL

4 Trauma
Identifikasi luka, Irigasi, foreign body removal dan 4
suturing
5 Ptosis Kongenital
Koreksi ptosis kongenital 2
6 Retinopaty of Prematurity
1. Laser indirect Ophthalmoscopy (LIO) 2
2. Injeksi Anti-VEGF
3. Vitrektomi

7 Retinoblastoma
1. Enukleasi (Extended Enucleation) 2
2. Laser Fotokoagulasi (TTT)
3. Cryotherapy
4. Semi-eksenterasi , Eksenterasi

8 Kista Konjungtiva (Kista dermoid, dermolipoma)


Ekstirpasi 4
KETERAMPILAN OPERASI STRABISMUS
1. Weakening procedure 2
2. Strengthening procedure 2
3. Simple Strabismus Surgery 2
4. Complex Strabismus Surgery 2
5. Nystagmus Evaluation and Management 2
1. 6. Vertical and Incomitant Strabismus 2
7. Ophthalmoplegic Syndromes 2
8. Management of Post-operative Complication 2
(Endophthalmitis, Globe Perforation, Slipped
Muscle, Overcorrection)

9. Complex Strabismus Surgery 2


- 33 -

(h). Bidang Rekonstruksi, Okuloplasti dan Onkologi


Tabel 11. Daftar Kompetensi Bidang Rekonstruksi, Okuloplasti dan
Onkologi
Keterampilan Klinis

No Keterampilan Klinis Level


Kompetensi

PEMERIKSAAN KELOPAK MATA


1. Eversi kelopak mata 4
2. Margin reflek distance 1,2 4
3. Margin limbal distance 4
4. Lipatan kelopak mata 4
5. Fungsi levator 4
6. Malposisi kelopak/alis mata 4
7. Fisura palpebra horisontalis 4
8. Fisura palpebra vertikalis 4
9. Lid lag / lagoftalmos 4
10. Entropion 4
11. Ektropion 4
12. Bell phenomenon 4
13. Distraction test 4
14. Snap back test 4
15. Mendeteksi overriding otot orbicularis 4
16. Simblefaron 4
17. Dermatokalasis/blefarokalasis 4
18. Jarak nasal bridge 4
19. Defek kelopak mata 4
20. Benjolan kelopak mata 4
21. Skleral ekspose/retraksi 4
PEMERIKSAAN
1 Mikroftalmia SOKET 4
2 Anoftalmia 4
3 Ptisis bulbi tenang/iritatif 4
4 Stafiloma kornea/sklera 4
- 34 -

5 Volume dan permukaan soket 4


6 Jenis implan 4
7 Jenis dan fitting protesa 4
8 Forniks 4
PEMERIKSAAN
LAKRIMAL
1. Keadaan kelenjar lakrimal 4
2. Keadaan sistem ekskresi lakrimal 4
3. Tes anel / Jones I dan II 4
4. Probing/Intubasi 4
PEMERIKSAAN
ORBITA
1. Inspeksi umum bilateralitas 4
2. Arah proptosis 4
3. Pergerakan bola mata 4
4. Penglihatan ganda 4
5. Palpasi dan auskultasi masa tumor 4
6. Eksoftalmometri 4
7. Force duction test 4
8. Pembesaran kelenjar getah bening 4

PENATALAKSANAAN KELAINAN KELOPAK MATA


No Pemeriksaan Prosedur Level kompetensi

1. Entropion Koreksi Entropion 4


2. Ektropion Koreksi Ektropion 4
3. Epiblefaron dengan atau Koreksi Epiblefaron
tanpa trikhiasis dengan atau tanpa 4
trikhiasis
4. Blefaroptosis Koreksi Blefaroptosis 2
5. Baggy eyelid/ Blefaroplasti superior
dermatokalasis/ dan inferior 3
Oriental lidcrease
6. Aging face Facial rejuvanation
(Surgery, laser, filler, 2
Botolinum toxin)
7. Browptosis Koreksi brow ptosis 2
- 35 -

8. Retraksi Palpebra Levator reses 2


9. Lagoftalmos Koreksi Lagoftalmos 2
10. Simblefaron Simblefarektomi 4
11. Sindrom blefarofimosis Koreksi 2
Sindroma
12. Laserasi linier, margo Rekonstruksi
blefarofimosis 4
dan tanpa kehilangan
jaringan

13. Laserasi dengan Rekonstruksi dengan 2


kehilangan jaringan kantotomi/lisis atau
dengan flap/graft

14. Trauma sistem lakrimal Rekonstruksi sistim 4


15. Obstruksi duktus lakrimal
Dacryositektomi, 2
nasolakrimal/ Dacryorinostomi,
dakriosistitis CDCR, DCR,
Turbinate Infrakture

16. Selulitis Insisi drainase 4


preseptal/orbita atau
abses
17. Ankylobleparon Koreksi ankylobleparon 4

PENATALAKSANAAN KELAINAN ORBITA DAN ONKOLOGI


No Pemeriksaan Prosedur Level kompetensi

1. Fraktur orbita Rekonstruksi dinding 2


2. Tumor kelopak mata orbita atau ekstirpasi/
Eksisi 4
dan adneksa orbitotomi anterior
3. Tumor ganas kelopak Wide eksisi dan 2
mata dan adneksa rekonstruksi/
eksenterasi + VC

4. Trauma perforan, Eviscerasi/ Enukleasi 4


ruptur spontan, bulbi dengan dan
destroyed eye tanpa graf (Implant)
- 36 -

5. Tumor retroorbital Orbitotomi 2


lateral/medial/
Inferior/Superior
6. Aging face Orbital decompresi 2
7. Tumor Intraokular Enukleasi bulbi 4
8. Tumor Orbital Exenterasi orbita 4
dengan dan tanpa

9. Lagoftalmos pengambilan 2
jaringan
10. Anoftalmia soket Rekonstruksi
sekitarnya soket 2
PEMERIKSAAN PENUNJANG
No Pemeriksaan Prosedur Level kompetensi

Pemeriksaan Penunjang Foto pra dan pasca 4


kelopak mata, orbita & terapi/tindakan
tumor Laboratorium 4
Konsultasi antar sub 4
bagian dan bagian lain
Radiologi (CT-Scan/MRI 4
1.
dan USG)
Interpretasi hasil 4
radiologi
Patologi anatomi 2
Penandaan spesimen 4
masa Tumor

Biopsi Biopsi insisi. 4


2.

2) Kompetensi Penyakit
Daftar penyakit merupakan penyakit-penyakit yang dipilih
menurut beban penyakit yang timbul berdasarkan perkiraan
data kesakitan, dan data penyebab kebutaan di Indonesia pada
tingkat pelayanan kesahatan mata bagi dokter spesialis mata
umum. Lulusan dokter spesialis mata umum harus mempunyai
tingkat kemampuan yang memadai agar mampu membuat
- 37 -

diagnosis yang tepat, memberi penanganan awal, merujuk atau


memberi penanganan tuntas. Oleh karena itu, pada setiap
penyakit yang dipilih, ditetapkan tingkat kemampuan yang
diharapkan akan dicapai di akhir pendidikan dokter spesilis
mata umum berdasarkan perkiraan kewenangan yang akan
diberikan ketika bekerja ditingkat pelayanan kesehatan mata
sekunder, sesuai dengan kondisi rata-rata di Indonesia. Apabila
setelah lulus, dokter spesialis mata akan bekerja di daerah yang
terpencil dengan kondisi pelayanan kesehatan yang minimal
atau di daerah khusus sehingga membutuhkan kemampuan
yang lebih, diharapkan pihak yang berwenang dapat
memberikan pembekalan sebelum penempatan dokter. Daftar
penyakit dikelompokkan menurut sistem, organ dan tahapan
usia.

Tabel 2. Pembagian dan definisi tingkat kompetensi penyakit


Kompetensi Penyakit

Tingkat Definisi
Kompetensi
Tingkat Lulusan dokter spesialis mata mampu mengenali
Kemampuan 1: dan menjelaskan gambaran klinik penyakit, dan
Mengenali dan mengetahui cara yang paling tepat untuk
menjelaskan mendapatkan informasi lebih lanjut mengenai
penyakit tersebut, selanjutnya menentukan rujukan
yang paling tepat bagi pasien.
Tingkat Lulusan dokter spesialis mata mampu membuat
Kemampuan 2: diagnosis klinik terhadap penyakit tersebut dan
Mendiagnosis dan menentukan rujukan ke subspesialis terkait, serta
merujuk dapat melakukan perawatan lanjut setelah dirujuk
balik
- 38 -

Tingkat Kemampuan 3. Bukan gawat darurat


3:Mendiagnosis, Lulusan dokter spesialis mata mampu membuat
melakukan diagnosis klinik dan memberikan terapi pendahuluan
penatalaksanaan pada keadaan yang bukan gawat darurat.
awal, dan merujuk • Lulusan dokter spesialis mata mampu
menentukan rujukan yang paling tepat bagi
penanganan pasien selanjutnya.
• Lulusan dokter spesialis mata juga mampu
menindaklanjuti sesudah kembali dari rujukan.
3. Gawat darurat
• Lulusan dokter spesialis mata mampu membuat
diagnosis klinik dan memberikan terapi pendahuluan
pada keadaan gawat darurat demi menyelamatkan
nyawa atau mencegah keparahan dan/atau kecacatan
pada pasien.
• Lulusan dokter spesialis mata mampu
menentukan rujukan yang paling tepat bagi
penanganan pasien selanjutnya.
• Lulusan dokter spesialis mata juga mampu
menindaklanjuti sesudah kembali dari rujukan.

Tingkat Kemampuan Lulusan dokter spesialis mata mampu membuat


4:Mendiagnosis, diagnosis klinik dan melakukan penatalaksanaan
melakukan penyakit tersebut secara mandiri dan tuntas.
penatalaksanaan
secara mandiri dan
tuntas
- 39 -

Pada uraian berikut akan diuraikan kompetensi penyakit berdasarkan


bidang-bidang yang ada di Ilmu Kesehatan Mata.
(a). Bidang Refraksi dan Optimasi Visual
Tabel 12. Daftar Kompetensi Bidang Refraksi dan Optimasi Visual
Kompetensi Penyakit
No Diagnosis Level
Kompetensi

REFRAKS
1. Miopia I 4
2. Hipermetropia 4
3. Astigmatisme 4
4. Presbiopia 4
5. Anisometropia 4
6. Gangguan Akomodasi 3
7. Keratokonus 3
8. Kelainan refraksi pasca bedah refraktif 3
9. Kelainan refraksi pasca keratoplasti 3
10. Aniseikonia 3

(b). Bidang Katarak dan Bedah Refraktif


Tabel 13. Daftar Kompetensi Bidang Katarak dan Bedah Refraksi Refraktif
Kompetensi Penyakit

No Diagnosis Level
Kompetensi
1 Katarak senilis 4
2 Katarak Juvenilis 4
3 Katarak traumatika 4
4 Aniridia 3
5 Katarak akibat penyakit mata lain (katarak 3
6 komplikata)
Katarak dengan high myopia 3
7 Katarak dengan high astigmatism 3
8 Katarak pasca keratoplasti 3
9 Katarak pasca bedah vitreoretina 3
- 40 -

10 Katarak dengan kekeruhan kornea 2


11 Katarak tanpa penyulit terkait penyakit 4
metabolik, sistemik dan obat
12 Katarak pada Pseudoexfoliation syndrome 3
13 Subluksasi lensa 3
14 Dislokasi lensa : 3
- Ke anterior
- Ke posterior

15 Sferofakia 2
16 Subluksasi IOL 3
17 Surgical induced astigmatism 3
18 Desentrasi IOL 3
19 Afakia 3
20 Komplikasi bedah katarak (endoftalmitis, kenaikan 3
TIO, edema makula kistoid, kebocoran luka,
perdarahan intra okular, endothel
decompensation).

21 Toxic anterior segment syndrome 3


22 Katarak dengan penyulit (extreme short or long 2
axiallength, short ACD, poorly dilated pupil)
23 Pterigium 4
24 Pinguekula 4
25 Degenerasi kornea 3
26 Corneal ectatic disorder 3
27 Distrofi kornea 3
28 Sikatriks kornea 3
29 Keratopati bullosa 3
30 Kelainan refraksi terkait pilihan tindakan bedah 2
refraktif
31 Katarak sekunder (PCO) 4
32 Band keratophaty 3
33 Trauma tembus kornea 4
34 Trauma non perforasi pada kornea 4
35 Trauma kimia fase akut 4
- 41 -

36 Masalah ocular surface akibat trauma kimia 3


37 Neoplastic disorder of the cornea 2
38 Neoplastic disorder of the conjungtiva 2
39 Kelainan kornea akibat masalah sistemik 1

(c). Bidang Glaukoma


Tabel 14. Daftar Kompetensi Bidang Glaukoma
Kompetensi Penyakit

No Diagnosis Level
Kompetensi
1 Glaukoma primer sudut terbuka 4
.2 Glaukoma normotensi 4
.3 Suspek glaukoma 4
.
4 Hipertensi okular 4
.
5 Glaukoma sekunder sudut terbuka
Pseudoexfoliation Syndrome 4
Pigment Dispersion Syndrome 4
Glaukoma fakolitik 3
Lens Particle Glaucoma 3
Phacoantigenic Glaucoma 3
Tumor intraokular 3
Inflamasi okular dan Glaukoma sekunder 3
Peningkatan tekanan episklera dan Glaukoma 3
Hifema traumatik 4
Hemolytic and Ghost Cell Glaucoma 3
Angle Recession Glaucoma 4
Glaukoma terkait pembedahan 3
Schwartz Syndrome 3
Drugs Induced glaucoma 4
6 Primary Angle Closure Disease
Primary Angle Closure Suspect 4
Primary Angle Closure 3
1. Acute 4
- 42 -

2. Subacute or Intermittent 3
Glaukoma primer sudut tertutup 3
Sindrom Plateau Iris 3
7 Secondary Angle Closure dengan Blok pupil
Glaukoma fakomorfik 3
Ectopia Lentis 3
Glaukoma afakik dan pseudofakik 3
8 Secondary Angle Closure tanpa Blok pupil
Glaukoma neovaskular 3
Iridocorneal Endothelial Syndrome 3
Tumor 3
Inflamasi 3
Glaucoma Malignan 3
Ablasi retina Non-rhegmatogenous dan Uveal 3
Effusion
Eipthelial and Fibrous Ingrowth 3
Retinal Surgery and Retinal Vascular Disease 3
Nanophthalmos 3
Persistent Vetal Fasculature 3
Drugs Induced 4
9 Glaukoma kongenital primer 3
10 Glaukoma juvenil sudut terbuka 3
11 Glaukoma sekunder dengan anomali okular dan sistemik yang
terkait
Axenfeld-Rieger Syndrome 3
Peters Anomaly 3
Aniridia 3
Sturge Weber Syndrome 3
Neurofibromatosis 3
Kelainan lainnya 3
12 Glaukoma afakik pada anak 3
13 Hipotoni post operatif 3
- 43 -

(d). Bidang Vitreo Retina


Tabel 15. Daftar Kompetensi Penyakit Bidang Vitreo retina
Kompetensi Penyakit

No Diagnosis Level
Kompetensi
KELAINAN MAKULA
Dry Age Macular Degeneration (AMD) 4
Wet Age Macular Degeneration (AMD) 3
Sindrom histoplasmosis okular 1
1.
Angioid Streak 1
Myopia Pathologik 3
Choroidal Neovascularization (CNV) Idiopatik 3
Cystoid Macular Edema (CME) 4
KELAINAN PEMBULUH DARAH RETINA
Retinopati Diabetik Non Proliferatif (Non Proliferative
Diabetic 4
Retinopati Diabetik Proliferatif (Proliferative Diabetic
Retinopathy(NPDR))
Retinopathy(PDR)) 3
Retinopati hipertensi 4
Koroidopati hipertensi 4
Neuropati optik hipertensi 4
Branch Retinal Vein Occlusion (BRVO) 3
Central Retinal Vein Occlusion (CRVO) 3
2. Sindrom iskemik okular 2
Branch Retinal artery Occlusion (BRAO) 3
Central Retinal Artery Occlusion (CRAO) 3
Oklusi aretri Cilioretinal 3
Oklusi Arteri Ophthalmic 3
Makroaneurisma Arterial 3
Retinopati Sickle Cell 3
Vaskulitis 3
Coats Disease 3
Telangiektasis Parafoveal 2
- 44 -

Penyakit Von Hippel-Lindau 1


Sindrom Wyburn -Mason 1
Retinal Cavernous Hemangioma 1
Retinopati akibat Radiasi 3
Retinopati Valsalva 3
Purtscher-and Purtscherlike Retinopathy 3
Sindrom Terson 3
Retinopathy of Prematurity (ROP) (bagi sesuai tipe) 2
KELAINAN KOROID
Central Sereus Choroidopathy (CSC) 3
Choroidal Perfusion Abnormalities 1
3.
Hemangioma koroid 2
Uveal Effsion Syndrome 1
Bilateral Diffuse Uveal Melanocytic Proliferation 1
INFLAMASI KOROID DAN RETINA
White Dot Syndromes 2
Choroidal Autoimmune Conditions 1
Sympathetic Ophthalmia 3
LimIntraocular Lymphoma 2
Retinitis Cytomeglovirus (CMV) 3
Non-CMV Nectotizing Herpetic Retinitis 3
Endoftalmitis Bakterial Endogen 3
4.
Endophthalmitis jamur 3
Tuberkulosis okular 3
Korioretinits sifilis 3
Cat-scratch Disease 1
Retino-koroiditis Toxoplasma 4
Toxocariasis 2
Lyme Disease 1
Diffuse Unilateral Subacute Neuroretinitis 1
CONGENITAL AND STATIONARY RETINAL DISEASE
5. Color Vision (cone system) abnormalities 2
Night Vision (rod system) abnormalities 2
- 45 -

HEREDITARY RETINAL AND CHOROIDAL DYSTROPHIES


Retinitis Pigmentosa 3
Leber Congenital Amaurosis 3
Cone Dystrophies 2
Stargardt Disease 2
6. Vitelliform Degenerations 2
Pattern Dystrophies 1
Sorsby Macular Distrophy 1
Choroidal Dystrophies 1
X-Linked Retinochisis 1
Enhanced S-cone Syndrome 1
DEGENERASI RETINA
Bardet-Biedl Syndrome 1
7.
Usher Syndrome 2
Retinal Albinism 1
SYSTEMIC-DRUG-INDUCED RETINAL TOXICITY
Drug causing RPE+Photoreceptor abnormalities 2
Drug causing Occlusive Retinopathy 2
Drug causing Ganglion cells + Optic nerve 2
8.
abnormalities
Drug causing Macular Edema 2
Drug causing Crystalline Retinopathy 2
Drug causing Color vision and ERG abnormalities 2
ABLASI RETINA (Retinal detachment)
Retinal Breaks 3
Posterior Vitreous Detachment (PVD) 4
Lattice Degeneration 3
Vitreoretinal Tufts 3
9. Meridional Folds 3
Paving-stone Degeneration 4
Hiperplasia Retinal Pigment Epithelium (RPE) 4
Hipertrofi Retinal Pigment Epithelium (RPE) 4
Ablasi retina 3
Optic Pit Maculopathy 1
- 46 -

DISEASES OF THE VITREOUS AND VITREORETINAL


INTERFACE
Epiretinal membranes 2
Vitreomacular Traction Diseases 2
10. Idiopathic Macular Hole 2
Wagner and Stickler Syndromes 1
Familial Exudative Vitreoretinopathy 1
Asteroid Hyalosis 4
11. Manifestasi Trauma pada segmen Posterior
Perdarahan Vitreus 3
Kommosio Retina 4
Ruptur koroid 3
Macular Hole pasca trauma 3
Ruptur sklera 4
Trauma Laserasi dan Penetrasi 4
Trauma Perforasi 4
Benda asing intraokular 3
Endoftalmitis pasca trauma 3
Ophthalmia simpatika 4
Solar Retinopathy 4

(e). Bidang Infeksi dan Imunologi

Tabel 16. Daftar Kompetensi Penyakit Infeksi dan Imunologi

Kompetensi Penyakit

No Diagnosis Level Kompetensi

INFEKSI MATA
1. Infeksi ekstra dan intraokuler
Blefaritis a. Blefaritis 4
anterior
Hordeolum 4
Konjungtivitis a. Viral 4
- 47 -

b. Bakterial 4
Keratitis infeksius/ ulkus a. Viral keratitis 4
kornea b. Bakterial 4
Tanpa komplikasi ke keratitis
intraokular c. Fungal 4
keratitis
d. Acanthamoeba 3
keratitis
Endoftalmitis a. Eksogen 3
Membutuhkan vitrektomi b. Endogen 3
Panoftalmitis 3
Selulitis a. Selulitis 4
preseptal
b. Selulitis orbita 3
2. Infeksi sistem lakrimal
Dakriosistitis/ dakrioadenitis 4
INFLAMASI MATA
1. Inflamasi ekstra dan intraokuler
Blefaritis a. Blefaritis 4
posterior
ringan (MGD)
Dry eye syndrome a. Mild 4
b. Moderate 4
c. Severe 3
Defisiensi vitamin A (xerophtalmia) 4
Konjungtivitis (keterlibatan a. Alergi/ vernal/ 4
kornea minimal) atopik
b. Toksik 4
c. Contact-lens 4
induced
d. Ligneous 3
Episkleritis 4
Skleritis a. Skleritis
anterior non 4
nekrotikans
b. Skleritis 3
- 48 -

anterior
nekrotikans
c. Skleritis
3
posterior
Keratitis non-infeksius a. Thygeson 3
superficial
punctate
keratitis
b. Marginal 3
keratitis
2. Immune-related disease
Peripheral ulcerative keratitis 3
Mooren Ulcer 3
Steven-Johnson Syndrome (SJS) dan Toxic Epidermal 4
Necrolysis (TEN) pada keadaan akut
Ocular cicatrical pemphigoid (OCP) 3
Ocular graft-vs-host disease 3
Interstitial keratitis associated with systemic 3
infection disease
UVEITIS
1. Uveitis anterior a. Infeksi
 Toksoplasmosis 4
 Tuberkulosis 3
 Sifilis 3
b. Inflamasi/ immune-related
 Vogt-Koyanagi-Harada
3
syndrome
 Behcet’s disease 3
 Drug-induced uveitis 3
 Lens-associated uveitis 3
 HLA-B27 associated 3
 Fuch’s Uveitis Syndrome 3
 Juvenile rheumatoid arthritis 3
 Ankylosing spondylitis 3
 Reiter’s syndrome 3
- 49 -

 Inflammatory bowel disease 3


 Psoriatic arthritis 3
 Sarcoidosis 3
c. Idiopatik 3
2. Uveitis a. Infeksi
intermediet  Lyme disease 3
b. Inflamasi/ immune-related
 Pars planitis 3
 Sarcoidosis 3
 Inflammatory bowel disease 3
 Multiple sclerosis 3
c. Idiopatik 3
3. Uveitis posterior a. Infeksi
 Ocular toxoplasmosis 4
 CMV retinitis 3
 Tuberkulosis 4
 Sifilis 3
 Herpes simplex 3
 Onchocerciasis 2
 Cysticercosis 2
 Meningokokus 2
 Toxocariasis 2
 Nocardiosis 2
 Cat-scratch disease 2
b. Inflamasi/ immune-related
 Sarcoidosis 3
 Vogt-Koyanagi-Harada
3
syndrome
 Symphatetic ophthalmia 3
 Systemic lupus erythematosus
3
(SLE)
 Polyarteritis nodosa (PAN) 3
 Birdshot uveitis 2
c. Idiopatik 2
4. Panuveitis a. Infeksi
- 50 -

 Ocular tuberculosis 3
 Herpes simplex 3
 Ocular syphilis 2
 Lepra 2
b. Inflamasi/ immune-related
 Ocular Behcet’s 3
 Vogt-Koyanagi-Harada
3
Syndrome
 Symphatetic ophthalmia 3
 Sarcoidosis 3
5. Masquerade syndrome 3

(f). Bidang Neuro Oftalmologi

Tabel 17. Daftar Kompetensi Penyakit Neuro Oftalmologi

Kompetensi Penyakit

No Diagnosis Level
Kompetensi
NEUROPATI OPTIK
1 Papiledema
a. Papiledema ec space occupying lesion (SOL) 3
b. Idiopathic intracranial hypertension (IIH) 3
c. Hipertensi maligna 3
2 Neuritis optik
a. Tipikal (demyelinating) 4
b. Atypical (lain-lain) 3
c. Neuromyelitis optika 3
3 Neuropati optik iskemik
a. arteritik 3
b. non arteritik 4
4 Diabetic papilopati 3
5 Papilofeblitis 2
6 Sindrom Paraneoplastik 2
- 51 -

7 Neuropati optik Infiltratif dan Kompresif 4


8 a. optic nerve
Perdarahan sheath meningioma
Retrobulbar 4
7
9 Optic disc drusen 2
2
10 b. opticoptik
Neuropati glioma
herediter
a. Leber’s heredity optic neuropthy 2
b. Autosomal Dominant Optic atrophy 1
c. Optic nerve hypoplasia 2
d. Congenital optic disc anomalies 2
10
11 Neuropati optik toksik atau nutrisional
a. Neuropati optik toksik Methanol 3
b. Neuropati optik toksik Ethambutol 3
c. Neuropati optik toksik karena obat lain 3
d. Neuropati optik nutrisional 2
11
12 Neuropati optik traumatik (direct and indirect) 3
13 Neuropati optik iskemik posterior 2
14 Atrofi nervus optik 3
15 Foster kennedy syndrome 3
16 Lesi khiasma 3
17 Lesi Retrokhiasma 3
18 Lesi traktus optik 3
19 Lesi Lateral geniculate body 3
20 Lesi lobus temporal 3
21 Lesi lobus parietal 3
22 Lesi lobus oksipital 3
TRANSIENT VISUAL LOSS
23 Monocular visual loss 2
24 Binocular visual loss 2
SUPRANUCLEAR DISORDER OF OCULAR MOTILITY
25 Ocular stability dysfunction 1
26 Vestibular dysfunction 1
27 Optokinetic nystagmus dysfunction 1
28 Saccadic dysfunction 1
29 Ocular motor apraxia 1
- 52 -

30 Pursuit dysfunction 1
31 Convergence insuffiency 2
32 Divergence insuffiency 2
DIPLOPIA
33 Nuclear cause of diplopia 2
34 Internuclear cause of diplopia 2
35 Infranuclear cause of diplopia 2
Parese nervus III (Okulomotor)
a. Melibatkan pupil (pupil involvement) 3
b. Tanpa melibatkan pupil (pupil sparing) 3
36
37 Parese nervus IV (Troklearis) 3
38 Parese nervus VI (abdusens) 3
39 Fistula sinus carotid-cavernous 3
40 Sindrom Tolosa-Hunt 3
41 Myasthenia Gravis okular 3
42 Miositis orbita 3
43 Tyroid Eye Disesase (TED)
a. Mild 4
b. Moderate-severe 3
NYSTAGMUS
44 Nystagmus pada anak 2
45 Gaze evoked nystagmus 2
46 Vestibular nystagmus 2
47 Acquired pendular nystagmus 1
48 See saw nystagmus 1
PUPILLARY ABNORMALITIES
49 Anisokoria equal in dim and bright light 4
50 Anisokoria greater in dim light 3
Sindrom Horner
51 Anisokoria greater in bright light
a. Adies tonic pupil 3
b. Third nerve palsy 3
52 Agryl Robertson pupil 1
53 Aberrant regeneration 1
- 53 -

KELAINAN PADA KELOPAK MATA DAN WAJAH


54 Ptosis (kecuali myasthenia gravis okular, parese 2
nervus III dan
55 Kelainan nervus VII (fasialis)
Sindrom Horner) 2
56 Blefarospasme esensial 3
57 Spasme Hemifacial 3
HEAD AND OCULAR FACIAL PAIN
58 Migrain 2
59 Tension headache 2
60 Trigeminal neuralgia 2
61 Occipital neuralgia 2
62 Herpes Zoster Ophthalmia (HZO) facial pain 2
KONDISI SISTEMIK DISERTAI KELAINAN NEURO-OPHTHALMIK
63 Imunologic disorder ( di luar Ocular Myastenia
Gravis, Multiple 2
64 Terkait kehamilanEye Disease,Giant Cell Arteritis)
Sclerosis,Thyroid 1
65 Kelainan Cerebrovaskular (selain fistula Carotid- 2
Cavernous)

66 Penyakit infeksi 3
67 Terapi radiasi 2
KELAINAN PENGLIHATAN WARNA
68 Herediter 4
69 Dapatan 3
70 The patient with non organic ophthalmic disorder 1

(g). Bidang Pediatrik Oftalmologi dan Stabismus

Tabel 18. Daftar Kompetensi Penyakit Pediatrik Oftalmologi dan


Strabismus

Kompetensi Penyakit
No Diagnosis Level Kompetensi

PEDIATRIK
1 Delayed visual OFTALMOLOGI
maturation dan cortical visual 2
impairment
- 54 -

2 Kelainan palpebra
a. Kelainan palpebra kongenital 2
b. Infeksi dan inflamasi palpebra 4
c. Neoplasma dan non infeksi 3
d. Kelainan palpebra didapat 3
3 Kelainan orbita
a. Malformasi kraniofasial 2
b. Infeksi dan inflamasi (Selulitis preseptal,
selulitis orbita dan inflamasi orbita pada anak)
1. Selulitis preseptal 4
2. Selulitis orbita 3
3. Inflamasi orbita pada anak 3
4 Neoplasma
a. Tumor jinak 3
b. Neoplasma malignant primer 2
c. Neoplasma malignant sekunder 2
d. Neoplasma yang berasal dari hematopoietic,
lympho- proliferative dan histiositik 2

5 Abnormalitas sistem lakrimalis


a. Anomali kongenital dan developmental 2
b. Obstruksi duktus nasolakrimal 3
6 Penyakit pada kornea, segmen anterior dan iris
a. Anomali kongenital dan developmental pada 3
kornea kongenital dan developmental pada
b. Anomali 3
bola mata
c. Anomali kongenital dan developmental
pada iris dan pupil 3
d. Kelainan kornea didapat (keratitis) 4
e. Kelainan kornea dan iris yang
berhubungan dengan kelainan sistemik 3
f. Tumor pada kornea, iris dan segmen anterior 3
7 External eye diseases of the eye

a. Konjungtivitis infeksi
1. Oftalmia neonatorum 4
2. Konjungtivitis bakteri 4
- 55 -

3. Konjungtivitis virus 4
b. Kelainan inflamasi
1. Blefaritis 4
2. Alergi mata 4
3. Konjungtivitis ligneous 4
c. Kelainan konjungtiva lainnya
Papilloma, kista epithelial konjungtiva, nevus 3
konjungtiva, Steven Johnson Syndrome
8 Glaukoma pediatrik

a. Glaukoma pediatrik primer 3


b. Glaukoma pediatrik sekunder 3
9 Katarak dan kelainan lensa lainnya pada anak
a. Katarak pediatrik 3
b. Abnormalitas lensa 3
c. Dislokasi lensa 3
10 Uveitis pediatrik
a. Uveitis anterior 4
b. Uveitis intermediate 3
c. Uveitis posterior 3
d. Panuveitis 3
e. Masquerade syndrome 3
11 Kelainan retina dan vitreus
a. Abnormalitas kongenital dan developmental
1. PFV (Persistent Fetal Vasculature) 2
2. ROP (Retinopathy of Prematurity)
a. Type 1 2
b. Type 2 3
3. Kelainan herediter retina 2
4. Distrofi makula herediter 2
b. Infeksi retina dan vitreus
1. HIV (Human Immunodeficiency Virus), HSV
(Herpes Simplex Virus ) dan CMV 3
2. Tumor
(Cytomegalovisrus) 3
3. Retinoblastoma 3
- 56 -

c. Kelainan didapat
3
Coats disease
d. Manifestasi retina yang berhubungan dengan
kelainan sistemik (Albinism, Diabetes Melitus) 3
e. Abnormalitas pada diskus optikus
1. Anomali developmental dan atrofi optik 2
2. Neuritis optik 3
3. Edema papil 3
12 Trauma okuler pada anak
a. Trauma kecelakaan
1. Trauma superfisial, penetrasi dan tumpul 4
2. Orbital fracture dan traumatic optic neuropathy 3
3. Trauma tumpul 4
b. Trauma non kecelakaan 3
Abuse head/ocular trauma

13 Manifestasi okuler pada kelainan sistemik


a. Kelainan genetik (Kromosom) 2
b. Infeksi intrauterin/perinatal 3
c. Keganasan 3
PENYAKIT
1 Terminologi strabismusSTRABISMUS 4
2 Anatomi dan fisiologi otot penggerak bola mata 4
3 Fisiologi motorik 4
4 Fisiologi dan patologi sensori 4
5 Amblyopia
a. Deprivasi 3
b. Refraktif 4
c. Strabismik 3
6 Esodeviasi
a. Esotropia kongenital 2
b. Esotropia akomodatif 2
c. Acquired non accommodative esotropia 2
d. Nistagmus dan esotropia 2
e. Incommitant esotropia 2
- 57 -

7 Exodeviasi
a. Pseudoexotorpia, exophoria dan intermittent 2
exotropia
b. Convergence weakness exotropia 2
c. Exotropia konstan 2
d. Exotorpia bentuk lainnya 2
8 Pattern strabismus
A/V Pattern 2
9 Deviasi vertikal
Incommitant, commitant dan DVD (Dissociated
Vertical Deviation) 2

10 Special form of strabismus


a. Congenital cranial disinnervasi 2
b. Bentuk lain strabismus 2
11 Nistagmus pediatrik 2

(h). Bidang Rekonstruksi, Okuloplasti dan Onkologi

Tabel 19. Daftar Kompetensi Penyakit Rekonstruksi, Okuloplastik dan


Onkologi

Kompetensi Penyakit

No Diagnosis Level
Kompetensi
KELOPAK
1 Kelainan kongenital MATA

BPES (Blefaropimosis, Ptosis, Epicantus syndome) 2


Ektropion 4
Euribleparon 2
Ankylobleparon 4
Epikantus 2
Enteropion 4
Distrikiasis 4
Koloboma 2
- 58 -

Cryptotalmos 2
Mikropthalmos 2
Oriental lid crease 4
2. Kelainan yang didapat
Kalazion 4
Hordeolum 4
Edema kelopak mata 4
Sindrom Floppy Eyelid 2
Tricotilomania 2
Simblefaron, trichiasis 4
Enteropion, ekteropion 4
Retraksi kelopak mata, Paralisis wajah, distonia 2
wajah
Hemangioma infantil 4
Papiloma 4
Keratosis seboroik 4
Pseudo epiteliomatous hiperplasia 4
Verucca vulgaris 4
Cutaneus horn 4
3. Kelainan pada kelenjar minyak dan kelenjar keringat
Kista meibomian 4
Ecrine hidrosistoma 4
Syringoma 4
Plemorfic adenoma 3

Milia (Apocrine hidrocystoma) 4


Cylindroma 3
4. Kelainan folikel bulu mata
Tricoepitelioma 3
Tricifollikuloma 3
Trichylemmoma 3
Pilomatricoma 3
5. Kelainan melanositik jinak
Nevus 4
Frecke 2
- 59 -

Lentigo simplek 2
Solar lentigo 4
Blue Nevi 2
Dermal melanocynosis 2
6. Lesi epidermal premalignant
Actinic keratosis 2
7. Lesi in situ epitelial
Keratoacantoma 2
Squamous cell ca insitu 2
Lentigo maligna 2
8. Tumor ganas kelopak
basal cell carcinoma 2
Squamous cell Carcinoma 2
Sebaceous adeno cell ca 2
Melanoma 2
Sarkoma Kaposi 2
Merkel cell carcinoma 2
TRAUMA KELOPAK MATA
1. Trauma tumpul 4
Trauma Tembus 4
Lacerasi tanpa keterlibatan margo kelopak mata 4
Lacerasi dengan keterlibatan margo kelopak mata 4
Trauma kantus kelopak mata 4
Reparasi sekunder 2
Gigitan manusia dan binatang 3
Trauma luka bakar 3
Laserasi dengan kehilangan jaringan 4
skin loss <30% 4
skin loss 30-50% 3
skin loss > 50% 3
Trauma kanalikuli, sakus, duktus nasolakrimal 4

KELAINAN DEGENERATIF
- 60 -

Dermatokalasis 4
Blefarokalasis 4
1. Ptosis 2
Brow ptosis 2
Aging face 2
SISTEM LAKRIMAL
1. Duplikasi 2
Aplasia dan hipoplasia punctum 2
Obtruksi ductus nasolakrimal kongenital dan 3
didapat dan disgenesis puctum dan canalikuli
Agenesis 2
Dacryosistocele 2
Kelainan punctum (eversipunctum) 2
Kelainan kanalikuli 2
Obtruksi ductus nasolakrima didapat 2
(involusional stenosisdacryolith)
Dakrioadenitis
kanalikulitis 4
Dakriosistitis 4
Tumor sakus lakrimal primer, sekunder dan 2
metastatik
KELAINAN ORBITA
1. SIndrom anomali kraniofacial kongenital (Goldenhar 2
syndrome, Treacher collin syn, dsb)
Congenital orbital tumor 2
Hamartoma dan choristomas 2
Kista dermoid 2
Dermolipoma 2
Teratoma 2
INFLAMASI ORBITA
1. Selulitis (preseptal, pretarsal dan orbital) 4
Necrotizing fascitis 3
Orbital tuberkulosis 2
Zygomikosis 2
Aspergilosis 2
- 61 -

Parasitic desease 2

INFLAMASI NON INFEKSI


1. Tiroid Eye desease 3
IgG4 related desease 2
Vaskulitis 3
Giant cel arteritis 2
Polyarteritis nodusa 2
Sarcoidosis 2
Inflamasi orbital non spesifik (Non Specific 3
Orbital Inflammation (NSOI)) (Miositis,
orbital pseudotumor, dacryoadenitis)
KELAINAN DAN NEOPLASMA ORBITA
1 Kelainan Vaskular
Infantile (capilary) hemangioma 4
Cavernose hemangioma 3
Hemangiopericitoma 2
Limfatic malformasi ( limfangioma) 2
Orbital varices 2
Arterios Venous Malformation (AVM) 2
Arterios Venous Fistula (AVF) 2
Orbital hemorages 3
2. Kelainan neural
Glioma saraf optik 2
Neurofibroma 2
Neurofibromatosis 1 2
Meningioma 2
Shwanoma 2
3. Tumor mesenkim
Rhabdomyosarcoma 2
Fibrous histocitoma 2
Soliter fibrous tumor 2
Fibrous displasia 2

4. Kelainan limfoproliferatif
- 62 -

Limfoid hiperplasia 2
Limfoma 2
Plasma cel tumor 2
5. Tumor kelenjar lakrimal
Plemorfik adenoma 2
Adnoid cystik carcinoma 2
Malignant mix tumor 2
6. Tumor metastasis
Neuroblastoma 2
Metastatis dari karsinoma mamma, ca broncogenic, 2
ca prostate

TRAUMA
1. Midfacial (Lefort fracture)ORBITA 2
Fraktur Zigoma 2
Fraktur Apex orbita 2
Fraktur dinding aobita (medial, dasar, lateral, atap) 2
Benda asing orbita 2
Perdarahan orbita 3
Penurunan tajam penglihatan dengan media jernih 2
(Traumatic Optic Neuropathy (TON))
TUMOR

1 Melanoma INTRAOKULAR 2
. Retinoblastoma 2
Angiomatous tumor 2
Sistemik malignan yang mengenai intraocular 2
SOKET ANOFTALMIA
1. Kontraktur soket 2
- 63 -

c. Keterampilan khusus

Bidang Oftalmologi Komunitas

Tabel 20. Daftar Kompetensi Bidang Oftalmologi Komunitas

Level
No Topik Obyektif Pembelajaran
Kompetensi
Definisi prevalensi, insidensi, risiko serta
4
odds

Jenis desain penelitian 4

Penentuan Studi desain 4


Epidemiologi
dan Biostatistik Variabel penelitian 4

Jenis dan jumlah Sampling 4

Penentuan Uji Statistik 3


1
Analisis hasil Uji statistik 3

Edukasi dan komunikasi massal 4


Promosi
Strategi Identifikasi masalah kesehatan
Kesehatan 3
mata

Prinsip ekonomi kesehatan mata 2

Ekonomi Konsep permintaan (demand) dan pasokan


2
Kesehatan (supply)

Qaly dan Daly penyakit mata 2

Skrining Kebutaan dan Gangguan


4
Penglihatan
Prevalensi Katarak global, nasional dan
4
Pencegahan lokal
Kebutaan dan Cataract Surgical Rate (CSR) 4
2
gangguan
Cataract Surgical Coverage (CSC) 4
penglihatan
Skrining katarak yang efektif di
4
komunitas

Penyusunan Tim Penanggulangan 3


- 64 -

kebutaan katarak

Prevalensi kelainan refraksi global,


4
nasional dan lokal

Skrining kelainan refraksi di komunitas 4

Penyusunan Tim Penanggulangan


3
kebutaan akibat kelainan refraksi
Prevalensi retinopati diabetik global,
4
nasional dan lokal
Skrining retinopati diabetik efektif di
4
komunitas
Penyusunan Tim Penanggulangan
3
kebutaan akibat Retinopati Diabetik
Prevalensi penyakit glaukoma global,
4
nasional dan lokal
Program berbasis komunitas untuk
3
penyakit glaukoma
Prevalensi kebutaan pada anak global,
4
nasional dan lokal
Program berbasis komunitas untuk
3
penyakit kebutaan pada anak

World Report on Vision 3

Program Global Prinsip dasar VISION 2020 4

WHO Komponen strategi VISION 2020 4

Implementasi program VISION 2020 3

Prinsip Operasi Katarak Massal di


4
komunitas
Program operasi katarak massal
Keterampilan 3
multisektoral
Klinis
Operasi katarak massal yang cost-effective 3
3
Monitoring dan evaluasi hasil (outcome)
4
operasi katarak

Program Advokasi kesehatan mata 3

Perencanaan Penyusunan program perencanaan 3


- 65 -

kesehatan mata yang komprehensif

B. STANDAR ISI
1. Program Pendidikan
Program pendidikan dokter spesialis mata harus mencantumkan
secara jelas tujuan, outcome, struktur, komposisi dan lama pendidikan,
termasuk penjelasan tentang hubungan dengan pendidikan kedokteran
dasar dan pelayanan kesehatan, serta komponen kompetensi yang
bersifat wajib (compulsory) maupun pilihan (optional).
Struktur, komposisi, serta lama pendidikan ditetapkan secara
umum oleh KOI dan diuraikan secara rinci dalam Buku Panduan
Pendidikan yang dikeluarkan oleh IPDS Mata dengan mengacu pada
daftar kompetensi pendidikan yang ditetapkan secara nasional oleh
KOI dan kompetensi tambahan/khusus (muatan lokal) yang
ditetapkan oleh IPDS Mata.
Tingkat kedalaman dan keluasan materi pembelajaran bersifat
kumulatif dan integratif, serta dituangkan pada bahan kajian yang
terstruktur dalam bentuk modul. Pendidikan diselenggarakan dalam 3
tahapan pencapaian kompetensi terdiri dari tahap pengayaan, tahap
magang (wajib) yang dapat terdiri dari tahap I dan tahap II, serta
tahap mandiri.
a. Tahap Pengayaan.
Adalah tahap peserta didik mampu menjelaskan dan
menguraikan ilmu-ilmu dasar yang terdiri dari:
1) Anatomi dan Fisologi mata Biologi
2) Molekuler dan Imunologi
3) Mikrobiologi dan farmakologi klinik
4) Dasar-dasar metodologi penelitian dan statistik
5) Dasar penanganan kegawatdaruratan
6) Etika Kedokteran
7) Pemeriksaan mata dasar
- 66 -

b. Tahap Magang terdiri dari:


Pada tahap ini peserta didik mampu mendiagnosis dan
mengelola pasien secara medik dan bedah termasuk kasus
kegawatdaruratan di bawah supervisi. Terdiri dari:
1) Infeksi dan imunologi
2) Refraksi dan Optimasi Visual
3) Katarak dan bedah refraksi
4) Glaukoma
5) Vitreoretina
6) Rekonstruksi, Okuloplasti dan Onkologi
7) Pediatrik Oftalmologi dan Strabismus
8) Neurooftalmologi
9) Oftalmologi komunitas
Pada tahap ini juga peserta didik harus mampu
melakukan penelusuran dan penelaahan karya ilmiah seperti
bacaan kepustakaan, sari pustaka, critical appraisal (bedah
makalah)dan mampu melakukan tinjauan pustaka, presentasi
kasus, penelitian observasional serta melakukan pendekatan
pelayanan kesehatan mata dalam komunitas.
c. Tahap mandiri.
Pada tahap ini peserta didik mampu mendiagnosis dan
mengelola pasien secara medik dan bedah termasuk kasus
kegawatdaruratan secara mandiri, terdiri dari kegiatan-kegiatan:
1) Poliklinik dan tugas luar rumah sakit
2) Bedah mandiri
3) Penulisan karya ilmiah akhir atau Tesis

C. STANDAR PROSES PENCAPAIAN KOMPETENSI BERDASARKAN TAHAP


PENDIDIKAN PROFESI DOKTER SPESIALIS MATA
1. Proses Manajemen
a. Proses Perencanaan
Proses perencanaan diawali dengan rapat kerja bersama
Departemen untuk mengevaluasi kinerja dan membuat target-target
baru. Rapat kerja ini juga menilai apakah sasaran yang telah
ditetapkan tercapai atau belum tercapai. Penilaian ini berdasarkan
keluaran Ujian Nasional Kolegium Oftalmologi Indonesia (KOI),
lama studi dan pencapaian kompetensi sesuai KOI, survei Kepuasan
- 67 -

Peserta Didik RS, dan umpan balik dari alumni. Pembuatan rencana
mengacu pada standar Pendidikan dan Standar Kompetensi yang
dibuat oleh Kolegium Oftalmologi Indonesia,, dan Standar Pelayanan
Minimal (SPM) organisasi profesi (Persatuan Dokter Spesialis Mata
Indonesia)
b. Proses pengorganisasian
Proses pengorganisasian dikelola oleh Pimpinan Prodi, yaitu
Ketua Program Studi (KPS), yang dalam tugasnya dibantu oleh
Sekretaris Program Studi, tenaga fungsional dosen yang diberi tugas
tambahan (Penanggung Jawab Modul dan pengurus ad hoc), dan
tenaga tambahan lain dengan tugas-tugas spesifik. Tugas utama
KPS dalam proses ini adalah mengorganisasi agar rencana-rencana
yang ada dapat diterjemahkan ke dalam bentuk kongkret.
c. Proses pengarahan
Kepala Program Studi berfungsi mengarahkan secara spesifik hal-
hal apa yang perlu dilakukan untuk mencapai tujuan secara efektif
dan efisien. Tanggung jawab penerapan sistem manajemen mutu
terletak pada KPS. Semua pengajar dan staf secara garis kebijakan
dalam aspek pendidikan bertanggung jawab kepada KPS.
Berkaitan dengan proses ini, KPS juga memiliki tugas untuk
mengobservasi adanya ketidaktepatan/kekeliruan dalam
perencanaan, pengorganisasian, dan staffing. Untuk menjamin
akuntabilitas pelaksanaan tugas masing-masing perangkat, Ketua
Program Studi melakukan monitoring dan evaluasi kegiatan
pendidikan secara berkala bersama sekretaris program studi.
d. Proses evaluasi
Evaluasi kinerja Program antara lain dengan menilai
keluaran melalui Ujian Nasional Kolegium Oftalmologi Indonesia
(KOI), akreditasi internal dan eksternal.
Proses belajar mengajar dilakukan dalam bentuk perkuliahan,
diskusi, dan presentasi ilmiah yang dilakukan di dalam kelas.
Selanjutnya di klinik proses belajar mengajar dapat dilakukan
menggunakan teknik bimbingan klinik dan bimbingan tindakan.
Evaluasi proses dapat dinilai melalui logbook residen, kesesuaian
jadwal presentasi ilmiah, rapat evaluasi bulanan koordinator
pendidikan, absensi peserta, nilai modul dan surat tugas staf
pengajar, kuesioner kepuasan peserta didik, dan sumber data
- 68 -

nilai. Semua data ini digunakan sebagai perbaikan proses belajar


mengajar di semester berikutnya.
Pengelolaan mutu internal program studi dilakukan melalui
review bersinambungan berdasarkan prosedur tetap, sasaran mutu,
kegiatan monitoring dan evaluasi yang kontinu, penetapan standar-
standar mutu terhadap proses belajar mengajar dan pengelolaan
administrasi akademik Ketua Program Studi.
Lama pendidikan PPDS Mata diselenggarakan minimal 8
semester atau minimal 36 SKS.
IPDS Mata dalam melaksanakan program pendidikan dokter
spesialis mata, harus menyusun kurikulum dan buku panduan
untuk peserta PPDS dan staf pengajar. Buku Panduan tersebut harus
dapat menggambarkan struktur Pendidikan dengan menetapkan
tahapan-tahapan pendidikan yang akan dijalani, rincian rotasi,
outcome yang harus dicapai dan semua kegiatan yang akan dijalani
peserta didik selama menjalani program pendidikan dan panduan
bagi staf pengajar serta sistem evaluasi yang diterapkan.
2. Metode pembelajaran
Proses pembelajaran diharapkan memberi kemampuan penguasaan
metode ilmiah, berupa kemampuan pemecahan masalah dan
pengambilan keputusan klinik berbasis bukti (evidence based medicine),
mencakup integrasi antara teori dan praktik.
a. Proses pembelajaran diselenggarakan secara interaktif dengan
proses belajar aktif (active learning).
b. Pendidikan yang dilakukan harus berbasis praktik yang melibatkan
partisipasi peserta didik pada kegiatan pelayanan kesehatan
dibawah pengawasan dan ikut bertanggung jawab terhadap aktifitas
pelayanan medik dalam institusi tersebut.
c. Dalam proses pembelajaran, staf pendidik berperan sebagai
pembimbing, pendidik dan penilai.
d. Terdapat mekanisme untuk peserta didik melakukan konseling
pendidikan kepadaKPS atau staf yang ditunjuk.
e. Proses pembelajaran harus memperhatikan keselamatan pasien dan
peserta didik.
- 69 -

3. Kriteria Penghentian studi


Peserta didik PPDS Ilmu Kesehatan Mata dinyatakan putus
studi/tidak dapat melanjutkan kegiatan akademik/profesi bila tidak
dapat memenuhi persyaratan administrasi, evaluasi akademik atau hal-
hal lain yang ditetapkan oleh IPDS.
4. Bimbingan Dan Konseling
Penyelenggara pendidikan harus memiliki sistem bimbingan dan
konseling peserta didik yang mampu membantu memecahkan masalah
yang dihadapi baik yang bersifat akademik maupun non akademik.
5. Kondisi Kerja
a. Peserta didik harus memperoleh pendidikan di Rumah Sakit
Pendidikan serta jejaringnya yang mempunyai pelayanan
komprehensif dan memberi peluang untukterlaksananya pelatihan
keprofesian dan sekaligus pendidikan akademik dalam kurun waktu
yang sesuai dengan ketetapan sebagaimana tercantum dalam
kurikulum.
b. Beban tugas peserta didik harus tercantum secara terstruktur
dengan jelas dalamBuku Panduan Pendidikan yang dibuat oleh
IPDS mata. Dalam buku panduan harus tercakup pula penjabaran
secara rinci tentang hak, kewajiban dan tanggung jawab peserta
didik.
6. Sistem Perwakilan Peserta Didik
a. Terdapat sistem yang memungkinkan peserta didik jika diperlukan
dapat membentuk organisasi yang dapat membantu memperlancar
proses pendidikan.
b. Perwakilan organisasi peserta didik dapat memberikan umpan balik
secara layak dalam hal perancangan, pengelolaan dan evaluasi
kurikulum atau hal lain yang relevan dengan kepentingan
pendidikan.
c. Penyelenggara pendidikan membantu dan memfasilitasi aktivitas
dan organisasi peserta didik.
- 70 -

D. STANDAR RUMAH SAKIT PENDIDIKAN


1. Rumah sakit pendidikan merupakan rumah sakit yang mempunyai
fungsi sebagai tempat pendidikan, penelitian, dan pelayanan
kesehatan secara terpadu dalam bidang Pendidikan Kedokteran,
pendidikan berkelanjutan, dan pendidikan kesehatan lainnya secara
multiprofesi.
2. Rumah sakit yang memenuhi standar sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan dapat ditetapkan sebagai rumah
sakit pendidikan.
3. Rumah sakit pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
melakukan koordinasi, kerja sama, dan pembinaan terhadap wahana
pendidikan kedokteran sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan.
4. Standar rumah sakit Pendidikan dijelaskan pada butir 2.9
(standar sarana dan prasarana)

E. STANDAR WAHANA PENDIDIKAN


Untuk meningkatkan kebutuhan peserta didik akan jumlah dan
variasi kasus, maka dilakukan kemitraan dengan berbagai pusat layanan
kesehatan sebagai wahana pendidikan. Bentuk kerjasama ini meliputi
kegiatan dalam bidang pendidikan, pengabdian masyarakat, dan
penelitian. Kerjasama ini dijalin dalam bentuk tertulis (MOU).
Wahana pendidikan kedokteran bagi PPDS mata merupakan fasilitas
pelayanan kesehatan selain rumah sakit Pendidikan (pusat kesehatan
masyarakat, laboratorium, klinik, dan fasilitas pelayanan kesehatan
lainnya) yang digunakan sebagai tempat penyelenggaraan Pendidikan
Kedokteran yang memenuhi persyaratan proses Pendidikan dan
memenuhi standar sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-
undangan.
Pendidikan kedokteran tersebut untuk menjamin tercapainya
kompetensi sesuai dengan standar kompetensi dokter spesialis mata.
Standar Wahana Pendidikan kedokteran untuk program dokter
spesialis mata diuraikan pada butir 2.9.1 tentang Standar Prasarana
Akademik
- 71 -

F. STANDAR DOSEN
1. Staf Pengajar
a. Staf Pengajar adalah mereka yang karena keahliannya diberi
wewenang untuk menilai, mendidik dan membimbing serta
mengevaluasi pada Program Pendidikan Dokter Spesialis Mata.
b. Kriteria staf pengajar adalah staf yang memiliki kualifikasi
Doktor atau konsultan, dan telah bekerja di bidang keahliannya
minimal 2 tahun.
c. Dalam melaksanakan proses pembelajaran, staf pengajar
mempunyai tugas melaksanakan proses pembelajaran,
pengawasan dan bimbingan dalam peningkatan pengetahuan,
keterampilan dan perilaku Peserta PPDS Mata, termasuk
bimbingan karya ilmiah dan diberi wewenang untuk menilai
hasil belajar Peserta PPDS Mata termasuk menilai karya ilmiah
Peserta PPDS.
d. Institusi pendidikan bertanggung jawab untuk melengkapi staf
pengajar dengan kemampuan-kemampuan tersebut di atas.
2. Jumlah Staf
a. Jumlah staf pengajar ditentukan minimal satu staf pengajar
untuk setiap divisi.
b. Jumlah staf pengajar merupakan salah satu faktor yang
menentukan jumlah peserta PPDS Mata dengan memperhatikan
efektivitas proses pembelajaran dan kualitas hasil lulusan. Rasio
jumlah staf pengajar sekurang-kurangnya 1:3 terhadap jumlah
peserta didik.
c. Setidaknya memiliki minimal 6 dosen tetap yang memiliki
keahlian di bidang ilmu yang sesuai dengan disiplin ilmu pada
program studi
3. Sistem Penerimaan Dan Penempatan Staf
a. Institusi penyelenggara pendidikan memiliki sistem dan
kebijakan yang jelas dan transparan dalam melakukan
penerimaan staf.
b. Sistem seleksi sumber daya manusia berdasarkan hasil
evaluasi dari laporan tahunan kegiatan pelayanan Program
Studi. Program Studi menyusun rencana pengembangan
pelayanan serta rencana dan perhitungan kebutuhan tenaga
yang dibutuhkan.
- 72 -

c. Penetapan formasi staf medis ditentukan berdasarkan rencana


kebutuhan dan kemampuan pembiayaan, baik dari aspek
pelayanan, fasilitas dan peserta didik.
d. Penerimaan staf melaui standar dan persyaratan yang
ditetapkan oleh program studi.
e. Dalam pemberian tugas pendidikan dipertimbangkan pula
keseimbangan antara staf pendidik dan peserta didik sehingga
proses pembelajaran dapat berlangsung efektif.
4. Pengembangan Staf
a. Universitas, Rumah Sakit Pendidikan dan IPDS Mata memiliki
kebijakan dalam sistem penempatan dan promosi staf
berdasarkan kemampuan mengajar/menjadi fasilitator,
meneliti dan menjalankan tugas pelayanan, serta prestasi
akademik.
b. IPDS Mata mempunyai program pengembangan terhadap staf
akademik maupun staf yang lain.
c. IPDS Mata menentukan hak dan tanggung jawab bagi dosen
home staff rumah sakit pendidikan atau di sarana jejaring
pelayanan kesehatan lainnya yang dipergunakan untuk
pelaksanaan pendidikan spesialis Mata.
d. Pengembangan SDM dosen dipenuhi dengan cara
meningkatkan jenjang pendidikan sesuai bidang ilmu. Tenaga
dosen yang masih berijazah spesialis diarahkan untuk
melanjutkan pendidikan subspesialis. Pengajar yang berijazah
S2 diarahkan untuk lanjut ke pendidikan S3 yang sesuai
Program Studi.
e. Pengembangan SDM dosen termasuk keaktifan dalam
seminar baik sebagai pembicara maupun moderator baik
dalam skala nasional ataupun internasional. Selain itu
pengembangan SDM dosen dilakukan dengan cara
meningkatkan keahlian dan kemampuan dosen melalui
pelatihan/workshop/lokakarya.

G. STANDAR TENAGA KEPENDIDIKAN


a. Tenaga administrasi penyelenggara program pendidikan
harus mempunyai kualifikasi yang sesuai untuk mendukung dan
manajemen yang baik atas semua sumber daya.
- 73 -

b. Tenaga kependidikan memiliki kualifikasi akademik paling


rendah lulusan program diploma 3 yang dinyatakan dengan ijazah
sesuai dengan kualifikasi tugas pokok dan fungsinya.
c. Tenaga kependidikan dikecualikan bagi tenaga administrasi.
Tenaga administrasi memiliki kualifikasi akademik paling rendah
SMA atau sederajat.
d. Tenaga kependidikan yang memerlukan keahlian khusus wajib
memiliki sertifikat kompetensi sesuai dengan bidang tugas dan
keahliannya.

H. STANDAR PENERIMAAN CALON MAHASISWA (PPDS Mata)


1. Seleksi dan Penerimaan Peserta Didik
a. IPDS Mata harus memiliki kebijakan seleksi penerimaan yang
diterapkan secara jelas, transparan dan obyektif menurut
suatu metode yang baku sehingga penerimaan calon peserta
didik berlangsung secara adil.
b. Kebijakan seleksi penerimaan mempertimbangkan potensi
dan kemampuan spesifik yang dimiliki calon peserta didik
agar dapat melaksanakan tugasnya sebagai dokter spesialis
mata sesuai dengan prasyarat umum yang ditetapkan
olehKolegium Oftalmologi [Link] penerimaan peserta
didik sedikitnya mencakup seleksi administrasi dan seleksi
kemampuan akademik calon peserta didik. Alur penerimaan
peserta PPDS diatur oleh sistem/peraturan yang berlaku di
program studi/fakultas/Universitas.
2. Rasio dan Proyeksi Jumlah Peserta Didik
a. Setiap IPDS Mata menerima peserta didik yang sesuai dengan
daya tampung yang dimiliki Rumah Sakit Pendidikan, jumlah
pendidik dan sarana/prasarana lainnya sehingga akan terjamin
berlangsungnya pendidikan yang berkualitas.
b. Untuk mencapai optimalisasi proses pendidikan, maka
perbandingan antara tenaga pengajar dengan peserta didik
diharapkan memiliki rasio yang memadai yaitu 1 pengajar
untuk 3 peserta didik.
- 74 -

I. STANDAR SARANA DAN PRASARANA


1. Prasarana Akademik
a. Rumah Sakit yang dipergunakan untuk pendidikan dokter
spesialis mata harus sudah terakreditasi oleh lembaga yang
berwenang. Akreditasi merupakan upaya untuk
mempertahankan dan meningkatkan mutu pendidikan.
b. Fasilitas pendidikan dapat pula berupa jejaring Rumah Sakit
lain yang telah terakreditasi atau lahan praktik kerja lapangan
sehingga mampu memenuhi kebutuhan pelatihan keprofesian
peserta didik.
c. Fasilitas Fisik yang digunakan oleh IPDS Mata harus
memenuhi syarat akreditasi dan dapat memenuhi kebutuhan
pendidikan akademik.
d. Fasilitas fisik tersebut harus dievaluasi secara berkala dan
selalu dikembangkan sesuai dengan kebutuhan dan
perkembangan pendidikan disiplin Ilmu Kesehatan Mata.
2. Sarana Pencapaian Kompetensi
a. IPDS wajib menyediakan sarana dalam memenuhi kebutuhan
peserta didik memenuhi kompetensi yang diharapkan
b. Fasilitas minimal yang harus disediakan oleh rumah sakit
pendidikan mencakup sarana dan prasarana pendidikan serta
jumlah minimal kasus dan variasi penyakit. Persyaratan ini
disesuaikan dengan daftar kompetensi yang dikeluarkan KOI
serta modul pembelajaran yang dihasilkan oleh tim PPDS
berdasarkan modul-modul pendidikan secara umum yang
ditetapkan KOI.
c. Fasilitas rumah sakit yang memadai termasuk ruangan
poliklinik, ruangan pemeriksaan diagnostik, ruangan tindakan
(bedah minor), ruangan operasi mata, dan ruang rawat inap.
d. Ruang poliklinik dilengkapi dengan ruang tindakan minor
memiliki minimal 2 set alat bedah minor.
e. Fasilitas rumah sakit yang memiliki sarana Ruang operasi
mata dilengkapi dengan mikroskop (minimal 2 buah), set alat
mikrosurgery (minimal 3 set katarak dan masing-masing 1 set
alat tumor-rekonstruksi, strabismus, glaukoma) dan mesin
fekoemulsifikasi (minimal 1 buah).
- 75 -

f. Ruang rawat inap sebaiknya dilengkapi dengan slit lamp


biomikroskop.
g. Fasilitas peralatan untuk pemeriksaan diagnostik minimal
sesuai dengan kompetensi yang ditetapkan oleh KOI.
h. Setiap IPDS memiliki sarana pemeriksaan diagnostik dan jumlah
minimal :
1) Snellen chart dan trial lenses (2 set)
2) Slit Lamp Biomikroskop (6 buah)
3) Tonometer (non contact, aplanasi) (2 buah)
4) Funduskopi Direk dan Indirek (masing-masing 2 buah)
5) Perimetri (Goldman, Humprey) (1 buah)
6) Refrakto/Keratometri (1 buah)
7) Biometri (1 buah)
8) Laser Fotokoagulasi (1 buah)
9) Ultrasonografi (USG B Scan) (1 Buah)
10) Retinoskopi (2 buah)
11) OCT (Optical Coherence Tomography) (1 buah)
12) Slit lamp portabel (1 buah)
13) Peralatan uji binokular (1 set)
i. Fasilitas pencapaian kompetensi lain termasuk ruang wet lab
(skill lab), dan laboratorium sederhana.
j. Sarana dan prasarana tersebut harus dikelola secara maksimal,
baik dari segi pemanfaatan dan perawatannya. Prioritas utama
pemanfaatan sarana dan prasarana adalah untuk kepentingan
peserta didik PS dan staf.
k. IPDS Mata harus menyediakan fasilitas penelitian yang
memadai serta membentuk kerjasama kegiatan penelitian
antar-institusi, sehingga aktivitas penelitian dapat terlaksana
dengan baik.
3. Sarana Penunjang akademik dan Perpustakaan
a. Fasilitas Fisik yang digunakan oleh IPDS Mata harus
memenuhi syarat akreditasi dan dapat memenuhi kebutuhan
pendidikan akademik termasuk dalam hal ini ialah
perpustakaan, laboratorium, ruang diskusi dan ruang kuliah.
b. Perpustakaan menyediakan berbagai buku teks dan jurnal
yang dibutuhkan oleh peserta didik, dan juga hasil karya tesis
peserta didik sebelumnya.
- 76 -

c. Selain tersedia buku teks dan jurnal terdapat pula sistem


pencarian jurnal via online yang dapat diakses dengan
menggunakan fasilitas pencarian di perpustakaan fakultas dan
universitas.
4. Teknologi Informasi
a. IPDS Mata harus memiliki dan mengembangkan fasilitas
teknologi informasi yang memadai bagi staf dan peserta didik.
Tujuan dari pengembangan sistem informasi on line ini
diharapkan mampu mengolah data dengan lebih cepat, tepat
dan konsisten, serta keamanan data yang lebih terjamin.
b. Semua pihak yang terlibat dalam proses pendidikan dapat
memanfaatkan fasilitas teknologi informasi yang ada untuk
menunjang pelaksanaan program pendidikan.
5. Bahan Pelajaran
a. IPDS mata harus menyediakan bahan pembelajaran yang
memadai dan dapat diakses dan digunakan oleh seluruh
peserta didik dan staf.
b. Bahan pembelajaran berupa buku teks, Jurnal nasional
maupun Internasional yang terstandarisasi, gambar, video, e-
book, dan sumber multimedia lainnya
c. Sarana pembelajaran merupakan edisi terbaru dan terus
diperbarui (update).
d. Sarana tersebut harus dikelola secara maksimal dan
dilakukan pemantauan berkala.

J. STANDAR PENGELOLAAN PEMBELAJARAN


1. Manajemen Proses Pendidikan
Proses pendidikan dikelola bersama oleh Fakultas kedokteran
yang berakreditasi A, program studi dokter spesialis Mata dan RS-
Pendidikan sesuai dengan kewenangan masing-masing sesuai
standar Pendidikan dan standar kompetensi yang dibuat oleh
Kolegium Oftalmologi Indonesia. Terdapat suatu kerjasama formal
antara IPDS Mata dan Rumah Sakit Pendidikan yang menjamin
terselenggaranya proses pendidikan spesialis mata yang bermutu.
IPDS Mata bersama-sama Rumah Sakit Pendidikan harus
menyediakan fasilitas pendidikan yang dapat menjamin tercapainya
kompetensi pendidikan dokter spesialis mata.
- 77 -

IPDS Mata diakreditasi secara periodik oleh LAM PTKes.


Apabila IPDS Mata bersangkutan gagal memenuhi persyaratan
akreditasi, perlu dilakukan pembinaan dibawah pengawasan KOI.
Pendirian IPDS Mata baru diakreditasi oleh MKKI setelah
dinyatakan layak oleh KOI. Dalam menjalankan proses manajemen
pendidikan, IPDS mata melibatkan stake holder dalam penentuan
kebijakan secara umum.
Terdapat sistem penjaminan mutu (quality assurance) dalam
proses manajemen pendidikan secara umum di tingkat program
studi.
a. Ketua Program Studi
Pelaksanaan pengelolaan suatu Institusi Pendidikan
Dokter Spesialis (IPDS), perlu diselenggarakan dengan tata
pamong yang baik (good governance) yang tercermin melalui
kredibilitas, transparansi, akuntabilitas, tanggungjawab serta
keadilan dalam berbagai aspek pengelolaan program studi, baik
system penyelenggaraan maupun pemilihan pemimpin. Proses tata
pamong yang baik dimulai dengan memilih individu
pemimpin yang mempunyai kredibilitas dan dengan proses yang
kredibel pula. Pada proses pemilihan Ketua Program Studi (KPS),
institusi senantiasa melakukan seleksi yang ketat berdasarkan
kriteria yang sesuai dengan status Universitas bersangkutan.
Program studi perlu mencantumkan tata cara seleksi dan pemilihan
KPS.
b. Pola Kepemimpinan Organisasi
Ketua Program studi (KPS) adalah seorang staf pengajar
departemen yang diusulkan oleh Ketua Departemen ke Dekan
Fakultas. Selanjutnya ketua program studi akan menetapkan
struktur organisasi yang berada di bawahnya dengan sepengetahuan
Ketua Departemen. Proses pembelajaran peserta didik umumnya
akan dilakukan di RS pendidikan, sehingga Ketua Program Studi
harus melakukan koordinasi dengan Koordinator Pelayanan dan
juga jajaran RS terkait. Selain itu, oleh karena salah satu
kewajiban akademik peserta didik adalah kewajiban untuk
melakukan kegiatan penelitian, Ketua Program Studi juga harus
berkoordinasi dengan Koordinator Penelitian dan Pengembangan
Departemen. Pola kepemimpinan organisasi ini diwujudkan dengan
- 78 -

adanya rapat internal yang melibatkan seluruh staf di program studi


baik yang ada di RS pendidikan utama maupun satelit. Selain itu
KPS juga turut berperan aktif dalam rapat koordinasi tingkat
departemen, rapat koordinasi tingkat fakultas dan di tingkat RS
pendidikan.
Ketua Program Studi dapat didampingi oleh Sekretaris Program
Studi (SPS) dalam menjalankan tugasnya.
KPS membuat unit-unit pelaksana tugas untuk memastikan
proses pelaksanaan pendidikan, unit-unit tersebut berada dibawah
koordinasi KPS dan SPS, selain itu, KPS berkoordinasi dengan Ketua
Departemen membuat struktur gugus penjaminan mutu, untuk
mengontrol kualitas proses pendidikan yang dijalankan. Tim gugus
penjaminan mutu ini juga bekerja dan berkoordinasi pada tingkat
fakultas.
Untuk menjalankan program pendidikan dokter spesialis mata,
dibentuk divisi divisi pendidikan yang berfungsi sebagai pengembang
ilmu yang dijalankan untuk meningkatkan mutu pelayanan pada
pasien, yaitu :
1) Divisi Katarak dan Bedah Refraktif
2) Divisi Vitreo retina
3) Divisi Refraksi dan Optimasi Visual
4) Divisi Rekonstruksi, Okuloplasti dan Onkologi
5) Divisi Glaukoma
6) Divisi Infeksi dan Imunologi
7) Divisi Pediatrik Oftalmologi dan Strabismus
8) Divisi Neuro Otalmologi
9) Divisi Oftalmologi Komunitas
Tim administrasi dibentuk untuk membantu kegiatan
pencatatan dan administrasi Program studi
Untuk penyelenggaraan Program Studi baru, diperlukan
standar minimal subjek yang harus dimiliki yakni:
1) Katarak dan Bedah Refraktif
2) Vitreo retina
3) Glaukoma
4) Refraksi dan Optimasi Visual
5) Infeksi dan Imunologi
- 79 -

6) Pediatrik Oftalmologi dan Strabismus


7) Rekonstruksi Okuloplasti dan Onkologi
8) Neuro Oftalmologi
Proses kepemimpinan KPS mengikuti kaidah transparansi,
semua informasi dapat di akses sesuai keperluan, dan seluruh
kegiatan sistem tata pamong diketahui oleh Dekan karena semua
pengelola program studi bekerja sesuai dengan tanggung jawab
dan wewenang masing-masing. Semua proses sistem manajemen
layanan pendidikan mengacu pada Standar Prosedur Operasional
(SPO) masing-masing fakultas yang bersangkutan.
Proses pendidikan, termasuk penilaian dan seleksi tata
pamong harus dapat dipertanggungjawabkan kepada semua pihak,
dalam pemahaman bahwa seluruh proses pendidikan dan
keluarannya disosialisasikan dan diputuskan bersama dengan
seluruh Staf Pengajar Departemen.
2. Administrasi dan Penyelenggara Program Pendidikan
a. Managemen Penyelenggaraan Program
1) Program Pendidikan Dokter Spesialis Mata harus dilaksanakan
sesuai peraturan yang diterbitkan oleh Kolegium Oftalmologi
Indonesia tentang struktur, isi, proses dan outcome.
2) Pada akhir pendidikan dokter spesialis mata, peserta didik
mendapatkan tanda kelulusan berupa ijazah dari Institusi
Pendidikan dan sertifikat kompetensi dari Kolegium Oftalmologi
Indonesia sebagai pengakuan resmi atas kompetensinya dalam
bidang Ilmu Kesehatan Mata. Program pendidikan dokter
spesialis mata, institusi pendidikan dan staf pengajar harus
dinilai secara berkala dan berkesinambungan oleh Kolegium
Oftalmologi Indonesia.
3) Penyusunan program pendidikan dokter spesialis mata dan
penjaminan mutu pendidikan menjadi tanggung jawab Kolegium
Oftalmologi Indonesia.
b. Struktur Organisasi dan Tata Kelola
1) KPS bertanggung jawab terhadap terlaksananya program
pendidikan.
2) Kepemimpinan KPS dievaluasi secara berkesinambungan.
3) Ketua Program Studi didampingi oleh Sekretaris Program Studi
(SPS) dalam menjalankan tugasnya.
- 80 -

4) Selain memilih SPS, KPS membuat unit unit pelaksana tugas


untuk memastikan proses pelaksanaan program.
5) Tim administrasi dibentuk untuk membantu kegiatan
pencatatan dan administrasi departemen.

K. STANDAR PEMBIAYAAN
Pendanaan dan Alokasi Sumber Daya
1. Perguruan tinggi wajib menyusun kebijakan, mekanisme, dan
prosedur dalam menggalang sumber dana lain secara akuntabel
dan transparan dalam rangka peningkatan kualitas pendidikan.
2. Sumber pendanaan pendidikan ditentukan berdasarkan prinsip
keadilan, kecukupan dan keberlanjutan.
3. Pendanaan dapat berasal dari pemerintah pusat, pemerintah
daerah, masyarakat dan sumber lain.
4. Anggaran pendidikan untuk mendukung tercapainya misi dan
tujuan program pendidikan dikelola secara transparan dan
akuntabel.
5. Pelaporan pemakaian dana dalam hal operasional, investasi,
penelitian, dan pengabdian masyarakat dilaporkan secara periodik
per tahun dan kebijakannya diatur oleh IPDS dan
fakultas/Universitas.

L. STANDAR PENILAIAN
1. Metode Evaluasi Hasil Pembelajaran
a. Setiap IPDS Mata harus mempunyai metoda penilaian dan
kriteria kelulusan yang terukur.
b. Metode penilaian tersebut harus andal dan sahih, dan dapat
dievaluasi secara berkala.
c. Penilaian hasil pendidikan harus memenuhi asas validitas,
reliabilitas, kelayakan dan mendorong proses [Link]
kegiatan pendidikan dicatat dalam log-book dan dinilai
secara berkesinambungan.
d. Selama proses pendidikan, penilaian dilakukan secara
terstruktur pada tiap tahap pendidikan yang dilaksanakan oleh
IPDS mata dengan memperhatikan pencapaian kompetensi
sesuai dengan tahapan pendidikan.
e. Penilaian dilakukan berdasarkan area kompetensi
- 81 -

f. Evaluasi Hasil Pendidikan (EHP) dilakukan dengan:


1) Penilaian
kognitif
a) Ujian Tulis (UT)
b) Ujian Lisan (UL)
c) Ujian diagnostik pasien (long Case)
d) Karya Tulis
e) SOA (Short Oral Assessment)
f) Karya Tulis
2) Penilaian Keterampilan/Skill
a) Ujian wetlab
b) Ujian diagnostik pasien (long Case)
c) OSCE (Objective Structure Competency Examination)
d) Mini CEX (Mini clinical Examination)
3) Ujian skill bedah :
a) Penilaian log book/portofolio
b) Penilaian video session
4) Penilaian Atitude/Performance/Perilaku
a) Penilaian log book/portofolio
b) Pengamatan Berkesinambungan
c) Evaluasi 360°
2. Evaluasi Hasil Pendidikan Tahapan (EHP)
Evaluasi hasil pendidikan tahapan (EHP) dilakukan pada tiap
akhir tahapan pendidikan dengan tujuan :
a. Mengukur kemampuan yang dicapai sesuai dengan outcome
dan kompetensi yang diharapkan sesuai dengan metode yang
diterapkan.
b. Menentukan peserta didik apakah dapat melanjutkan ke
tahap berikutnya atau mengulang. Evaluasi berkala dilakukan
sesuai dengan tahapan pendidikan, bila tidak mencapai
kompetensi yang diharapkan, maka IPDS harus memiliki
sistem untuk memperbaiki kemampuan peserta didik tersebut.
3. Evaluasi Hasil Pendidikan Akhir
a. IPDS mata harus memiliki sistem Evaluasi Hasil Pendidikan
Akhir untuk menilai pencapaian kompetensi peserta didik
secara komprehensif sebagai Dokter Spesialis Mata.
- 82 -

b. Evaluasi Hasil Pendidikan Akhir juga dipergunakan untuk


menentukan predikat kelulusan berdasarkan Indeks Prestasi
Kumulatif (IPK).
4. Uji Kompetensi Nasional (UKN)
a. Uji Kompetensi Nasional merupakan upaya pembakuan
kemampuan profesional hasil akhir dari Pendidikan Dokter
Spesialis Mata Indonesia yang berlaku sebagai pemacu,
pemantau dan pengayom dari sistem penyelenggaraan PPDS.
Dengan UKN diharapkan dapat mengurangi kesenjangan
kemampuan hasil pendidikan.
b. UKN adalah EHP Nasional yang merupakan suatu uji
kompetensi yang dilakukan oleh Kolegium Oftalmologi
Indonesia dengan mengikutsertakan penguji luar.
c. UKN diselenggarakan sebagai dasar penerbitan sertifikat
kompetensi oleh KOI.
d. Tata cara penyelenggaraan Uji Kompetensi KOI disusun oleh
Komisi Ujian Kompetensi Nasional (KUN) KOI dalam bentuk
Pedoman Ujian Kompetensi Nasional.

M. STANDAR PENELITIAN
Institusi Pendidikan Dokter Spesialis Mata atau Fakultas Kedokteran
melaksanakan penelitian dalam ruang lingkup ilmu kedokteran yang
disesuaikan dengan perkembangan ilmu kedokteran sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang undangan.
Penelitian yang dilakukan, khususnya yang menggunakan manusia
atau hewan coba sebagai subyek penelitian harus melalui persetujuan kaji
etik dari Komite Etik Penelitian bidang kedokteran sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang- undangan.
Fakultas Kedokteran harus memiliki kebijakan yang mendukung
keterkaitan antara penelitian, pendidikan dan pengabdian kepada
masyarakat serta menetapkan prioritas penelitian beserta sumber daya
penunjangnya.
PPDS diharapkan mampu melakukan penelitian secara mandiri
maupun berkelompok dalam upaya pengembangan ilmu kedokteran
dengan pendekatan berbasis bukti
- 83 -

N. STANDAR PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT


1. Standar pengabdian kepada masyarakat pendidikan dokter spesialis
mata merupakan kriteria minimal tentang penerapan, pengamalan
dan pembudayaan ilmu pengetahuan dan teknologi.
2. Pelaksanaan pengabdian kepada masyarakat yang berbentuk
pelayanan kesehatan kepada masyarakat mengutamakan
keselamatan pasien dan masyarakat.
3. Pengabdian masyarakan salah satunya dilaksanakan dengan
penyelenggaraan bakti sosial operasi mata yang sekaligus dapat
membantu peserta didik memperdalam kemampuan dan
keterampilan operasi mata.

O. STANDAR KONTRAK KERJASAMA RUMAH SAKIT PENDIDIKAN


DAN/ATAU WAHANA PENDIDIKAN KEDOKTERAN DENGAN
PERGURUAN TINGGI PENYELENGGARA PENDIDIKAN KEDOKTERAN
1. Kontrak kerjasama dilakukan oleh Fakultas Kedokteran yang
menyelenggarakan pendidikan profesi ats nama perguruan tinggi
dengan RS pendidikan dan/atau wahana pendidikan kedokteran
sesuai dnegan ketentuan peraturan perundang- undangan.
2. Kontrak kerjasama tersebut paling sedikit memuat:
a. Jaminan ketersediaan sumber daya yang mendukung
terlaksananya proses pendidikan, penelitian dan pengabdian
masyarakat
b. Penyelenggaraan proses pendidikan, penelitian dan pengabdian
masyarakat
c. Pelaksanaan penjaminan mutu pendidikan, penelitian dan
pengabdian masyarakat;
d. Penciptaan suasana akademik yang kondusif; dan
e. Medikolegal, manajemen pendidikan, dan daya tamping peserta
didik.
- 84 -

P. STANDAR PEMANTAUAN DAN PELAPORAN PENCAPAIAN PROGRAM


STUDI
1. Mekanisme Evaluasi
a. Harus terdapat mekanisme evaluasi program pendidikan
(quality assurance) yang diciptakan IPDS Mata bersama dengan
Kolegium Oftalmologi Indonesia, tercakup dalam hal ini yaitu
monitoring proses pendidikan, menilai kemajuan proses
pendidikan dan kelengkapan fasilitas pendidikan.
b. Evaluasi pelaksanaan pendidikan dokter spesialis mata
dilakukan secara berkala termasuk evaluasi seleksi masuk,
proses dan lulusan pendidikan.
c. Evaluasi hasil seleksi masuk dikaitkan dengan proses
pendidikan peserta didik yang bersangkutan.
d. Evaluasi program dilaksanakan dengan sistem evaluasi yang
sahih dan dapat diandalkan sedapat mungkin melibatkan pakar
pendidikan kedokteran.
e. Dalam evaluasi harus dapat diidentifikasi masalah yang dapat
menghambat kelangsungan proses pendidikan.
f. Evaluasi yang dilakukan mencakup organisasi pendidikan,
sarana/prasarana dan lingkungan pendidikan.
g. Penilaian dan informasi tentang kompetensi lulusan digunakan
sebagai umpan balik pengembangan proses pembelajaran.
2. Umpan Balik pendidik dan peserta didik
a. Setiap IPDS Mata harus mengembangkan sistem yang
menjamin terjadinya mekanisme umpan balik.
b. Umpan balik kualitas program pendidikan yang berasal dari
pendidik dan peserta didik hendaknya dianalisis dan
dimanfaatkan secara maksimal.
c. Pendidik dan peserta didik secara aktif diikutsertakan dalam
perencanaan pengembangan program pendidikan.
d. Terdapat sistem evaluasi Kinerja dan kompetensi peserta didik
dalam kaitannya dengan pencapaian misi dan tujuan program
pendidikan.
e. Penilaian dan analisis kinerja peserta didik juga dikaitkan
dengan proses penerimaan peserta didik untuk mendapatkan
umpan balik dalam pelaksanaan tata cara penerimaan peserta
didik.
- 85 -

f. Penilaian kinerja mencakup pula lamanya pendidikan, nilai


evaluasi selama proses pendidikan serta hasil-hasil dalam
menjalani modul-modul pendidikan.
3. Continous Quality Improvement
a. IPDS Mata mendapat kewenangan melaksanakan program
pendidikan dari Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi,
berdasarkan rekomendasi KKI, kecuali IPDS Mata di bawah
Universitas yang tergolong PTN BH.
b. IPDS Mata secara berkala akan dipantau dan dievaluasi oleh
lembaga yang berwenang melalui sistem yang ditetapkan.
c. IPDS Mata diakreditasi oleh LAM PTKes dengan melibatkan
Kolegium Oftalmologi Indonesia.
d. Evaluasi program pendidikan dokter spesialis mata harus
melibatkan penyelenggara program dan staf administrasi
pendidikan, staf akademik, mahasiswa, otoritas pelayanan
kesehatan, wakil/tokoh masyarakat serta Persatuan Dokter
Spesialis Mata (PERDAMI).
e. Pendidikan dokter spesialis bersifat dinamis, dengan demikian
program pendidikan harus dievaluasi secara prospektif, berkala
dan berkesinambungan. Komponen program yang dievaluasi
meliputi struktur, fungsi/proses, kinerja dan mutu program.
f. Perbaikan program pendidikan hendaknya berdasarkan analisis
hasil evaluasi yang dilakukan terhadap program sehingga
perbaikan yang dilakukan selalu mempertimbangkan
pengalaman terdahulu, aktivitas saat ini dan perspektif di masa
datang.

Q. STANDAR POLA PEMBERIAN INSENTIF UNTUK MAHASISWA


PROGRAM STUDI
Setiap program studi dapat menyelenggarakan pemberian insentif
terhadap PPDS. Hal ini diatur dan ditentukan oleh masing-masing
program studi.
- 86 -

BAB III
PENUTUP

Standar Pendidikan Profesi Dokter Spesialis Oftalmologi ini menjadi


acuan bagi institusi Pendidikan Dokter Spesialis dalam menyelenggarakan
Pendidikan Profesi Dokter Spesialis Oftalmologi. Standar ini juga menjadi
acuan dalam perumuan indikator evaluasi internal dan evaluasi eksternal
penyelenggaraan Pendidikan Profesi Dokter Spesialis Oftalmologi.
Standar ini bersifat dinamis, tidak statis, dan akan ditingkatkan secara
berkelanjutan dari waktu ke waktu dalam rangka peningkatan dan
pemerataan mutu pendidikan profesi dokter spesialis oftalmologi di seluruh
Indonesia.

KETUA KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA,

ttd.

BAMBANG SUPRIYATNO

Anda mungkin juga menyukai