Standar Pendidikan Dokter Spesialis Mata
Standar Pendidikan Dokter Spesialis Mata
GD. THE BAILE, LT 1 ROOM 101-103, JL. KIMIA NO. 4 MENTENG JAKARTA PUSAT
kikmiperdami@[Link] / koiperdami@[Link]
Telp/Fax : 021-3908661
STANDAR PENDIDIKAN
DOKTER SPESIALIS OFTALMOLOGI INDONESIA
ISBN:
Penerbit:
Perhimpunan Dokter Spesialis Mata Indonesia
Alamat:
[Link] Baile, Lt. 1 Ruang 101 – 103, Jl. Kimia No.4 Menteng, Jakarta Pusat 10320
STANDAR PENDIDIKAN
DOKTER SPESIALIS OFTALMOLOGI INDONESIA
Tim Penyusun
dr. AAA Sukartini Djelantik, SpM(K) Dr. dr. Irawati Irfani, SpM(K), [Link]
dr. Ahmad Ashraf, MPH., SpM(K), [Link] Dr. dr. Iwan Sovani,SpM(K)., [Link]
dr. Aldiana Halim, SpM(K), MSc. dr. M. Hidayat, SpM(K)
Dr. [Link] Agung Mas Putrawati, SpM(K) dr. Marliyanti N. Akib, SpM(K), [Link]
dr. Andi M. Ichsan, SpM(K), PhD dr. Maula Rifada, SpM(K)
Dr. dr. Andika Prahasta, SpM(K) dr. Muh. Abrar Ismail, SpM(K)
Prof. dr. Arief S Kartasasmita, SpM(K), PhD Dr. dr. Nadia Artha Dewi, SpM(K)
dr. Arief Wildan, SpM(K) Prof. Dr. dr. Ova Emilia, [Link](K)
dr. Ariesanti Tri Handayani, SpM(K) dr. Ovi Sofia, SpM(K)
dr. Aryani A. Amra, SpM(K) Dr. dr. Putu Yuliawati, SpM(K)
dr. Astrianda Suryono, SpM (K) Prof. Dr. dr. Ratna Sitompul, SpM(K)
Dr. dr. Budiman, SpM(K) Dr. dr. Rinaldi Dahlan, SpM(K)
Dr. dr. Debby Shintia Dewi, SpM(K) Prof. dr. Rita Sitorus, SpM(K), PhD
dr. Delfi, SpM(K) dr. Sauli Ari Widjaja, SpM(K)
dr. Elza Iskandar, SpM(K) dr. Setiyo Budi Riyanto, SpM(K)
dr. Eugeni Sumanti, SpM(K) dr. Syntia Nusanti, SpM(K), [Link]
Dr. dr. Feti Karfiati Memed, SpM(K), [Link] dr. Syska Widyawati, SpM(K), [Link]
dr. Gusti G. Suardana, SpM(K) Dr. dr. Tri Rahayu, SpM(K)
Dr. dr. Habibah S. Muhiddin, SpM(K) Dr. dr. Virna Dwi Oktariana, SpM(K)
dr. Haryo Yudono, SpM(K), MSc dr. Wenny Supit, SpM
dr. HE Iskandar, SpM(K), MARS dr. Yeni Dwi Lestari, SpM(K), MSc.
dr. Ine Renata Musa, Sp.M (K) dr. Yunita, SpM(K), [Link]
ii
DAFTAR ISI
Tim Penyusun i
Daftar Isi ii
Kata Pengantar iii
Sambutan Ketua PERDAMI iv
Sambutan Ketua KIKMI v
PERATURAN KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA NOMOR 69 TAHUN 2020 vi
PENDAHULUAN
A LATAR BELAKANG 3
B SEJARAH 4
C VISI, MISI, DAN TUJUAN PENDIDIKAN 4
MANFAAT STANDAR PENDIDIKAN PROFESI DOKTER
D 7
SPESIALIS OFTALMOLOGI
KATA PENGANTAR
Selain itu untuk meningkatkan mutu dokter spesialis mata perlu dibuat
standar Pendidikan Dokter Spesialis Mata yang merupakan kriteria minimal
komponen Pendidikan yang harus dipenuhi oleh IPDS dalam penyelenggaraan
Pendidikan dokter spesialis mata.
Standar ini diharapkan dapat menjadi acuan bagi Peserta didik, Dokter
Spesialis Mata dan Intitusi Pendidikan Dokter Spesialis (IPDS) Mata dalam
penyelenggara Program Pendidikan Dokter Spesialis Mata.
KATA SAMBUTAN
Bismillahirrahmanirrahim
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha
Panyayang, Kami panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang
telah melimpahkan rahmat, hidayah, dan inayah-Nya kepada kami, sehingga
buku Standar Pendidikan Spesialis Mata Indonesia dapat tersusun dengan
baik.
Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Spesialis Mata Indonesia
menyambut baik dan mengapresiasi atas disahkannya buku Standar
Pendidikan Dokter Spesialis Mata Indonesia oleh Konsil Kedokteran Indonesia
(KKI). Keberadaan buku ini diharapkan menjadi acuan untuk Peserta didik,
Dokter Spesialis Mata dan Institusi Pendidikan Dokter Spesialis dalam
meningkatakan kualitas dokter mata di Indonesia.
Atas nama Pengurus Pusat Perdami dan selaku organisasi
perhimpunan profesi dokter spesialis mata di Indonesia, kami memberi
penghargaan dan apresiasi kepada penyusun dan contributor buku ini.
Semoga buku pedoman ini dapat menjadi acuan yang berguna serta
memberikan kemaslahatan bagi kita semua.
Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha
Panyayang, Kami panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang
telah melimpahkan rahmat, hidayah, dan inayah-Nya kepada kami,
sehingga buku Standar Pendidikan Spesialis Oftalmologi Indonesia dapat
tersusun dengan baik.
Amien.
SALINAN
PERATURAN KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA
NOMOR 69 TAHUN 2020
TENTANG
STANDAR PENDIDIKAN PROFESI
DOKTER SPESIALIS OFTALMOLOGI
MEMUTUSKAN:
Menetapkan : PERATURAN KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA TENTANG
STANDAR PENDIDIKAN PROFESI DOKTER SPESIALIS
OFTALMOLOGI.
Pasal 1
Konsil Kedokteran Indonesia mengesahkan Standar
Pendidikan Profesi Dokter Spesialis Oftalmologi.
Pasal 2
(1) Standar Pendidikan Profesi Dokter Spesialis Oftalmologi
disusun berdasarkan Standar Nasional Pendidikan
Kedokteran.
(2) Standar Pendidikan Profesi Dokter Spesialis Oftalmologi
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) memuat:
a. Standar Kompetensi Dokter Spesialis Oftalmologi;
b. Standar Isi;
c. Standar Proses Pencapaian Kompetensi Berdasarkan
Tahap Pendidikan Profesi Dokter Spesialis
Oftalmologi;
d. Standar Rumah Sakit Pendidikan;
e. Standar Wahana Pendidikan Kedokteran;
f. Standar Dosen;
g. Standar Tenaga Kependidikan;
h. Standar Penerimaan Calon Mahasiswa;
i. Standar Sarana dan Prasarana;
j. Standar Pengelolaan;
k. Standar Pembiayaan;
l. Standar Penilaian Program Pendidikan Oftalmologi;
m. Standar Penelitian Dokter Spesialis Oftalmologi;
n. Standar Pengabdian kepada Masyarakat;
o. Standar Kontrak Kerja Sama Rumah Sakit
Pendidikan dan/atau Wahana Pendidikan
Kedokteran dengan Perguruan Tinggi Penyelenggara
Pendidikan Kedokteran;
p. Standar Pemantauan dan Pelaporan Pencapaian
Program Pendidikan Oftalmologi; dan
q. Standar Pola Pemberian Insentif untuk Mahasiswa
Program Pendidikan Oftalmologi.
ix
Pasal 3
(1) Perguruan tinggi yang menyelenggarakan pendidikan
profesi dokter spesialis oftalmologi harus menerapkan
Standar Pendidikan Profesi Dokter Spesialis Oftalmologi,
dalam mengembangkan kurikulum pendidikan.
(2) Perguruan tinggi yang akan mengembangkan kurikulum
pendidikan dokter spesialis oftalmologi harus mengacu
pada Standar Pendidikan Profesi Dokter Spesialis
Oftalmologi untuk menjamin mutu program pendidikan
profesi dokter spesialis oftalmologi.
Pasal 4
Perguruan tinggi harus memenuhi Standar Pendidikan Profesi
Dokter Spesialis Oftalmologi sebagai kriteria minimal pada
penyelenggaraan pendidikan dokter spesialis oftalmologi.
Pasal 5
(1) Konsil Kedokteran Indonesia melakukan pemantauan
dan evaluasi terhadap penerapan Standar Pendidikan
Profesi Dokter Spesialis Oftalmologi pada
penyelenggaraan pendidikan dokter spesialis oftalmologi.
(2) Berdasarkan hasil pemantauan dan evaluasi
sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Konsil Kedokteran
Indonesia memberikan rekomendasi kepada perguruan
tinggi untuk mengembangkan sistem penjaminan mutu
internal sebagai proses penjaminan mutu pendidikan
dokter spesialis oftalmologi.
(3) Pemantauan dan evaluasi terhadap penerapan Standar
Pendidikan Profesi Dokter Spesialis Oftalmologi
dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan.
x
Pasal 6
Peraturan Konsil Kedokteran Indonesia ini mulai berlaku pada
tanggal diundangkan.
Ditetapkan di Jakarta
pada tanggal 22 Januari 2020
BAMBANG SUPRIYATNO
Diundangkan di Jakarta
pada tanggal 28 Januari 2020
DIREKTUR JENDERAL
PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN
KEMENTERIAN HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA
REPUBLIK INDONESIA,
ttd.
WIDODO EKATJAHJANA
Gema Asiani
NIP. 196209041989102001
-1-
LAMPIRAN
PERATURAN KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA
NOMOR 69 TAHUN 2020
TENTANG
STANDAR PENDIDIKAN PROFESI DOKTER
SPESIALIS OFTALMOLOGI
SISTEMATIKA
BAB I PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
B. SEJARAH
C. VISI, MISI, DAN TUJUAN PENDIDIKAN
D. MANFAAT STANDAR PENDIDIKAN PROFESI DOKTER
SPESIALIS OFTALMOLOGI
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Dengan adanya tuntutan pelayanan kesehatan yang lebih profesional
secara global, maka diperlukan adanya perubahan paradigma pendidikan
kedokteran pasca sarjana dari pendidikan berbasis proses menjadi
pendidikan berbasis outcome, yaitu pendidikan berbasis kompetensi.
Pendidikan Dokter Spesialis Mata di Indonesia mengacu pada
Postgraduate Medical Education WFME (World Federation for Medical
Education) Global Standards for Quality Improvement (Denmark; 2003),
Principle and Guidelines of a Curriculum for Education of the Ophthalmic
specialist (ICO; the International Council of Ophthalmology); 2006) dan
Standar Pelayanan Komunitas (VISION 2020).
Standar Pendidikan Dokter Spesialis Mata ini bertujuan agar
didapatkannya suatu pedoman yang terstruktur dan sistematis dalam
upaya penyetaraan program pendidikan spesialis mata seluruh Indonesia
sehingga dihasilkan dokter spesialis mata yang kompeten dan ahli dalam
bidang mata dan mampu bersaing secara nasional dan internasional.
Untuk meningkatkan mutu lulusan dokter spesialis mata yang dapat
bersaing secara global, Kolegium Oftalmologi Indonesia menetapkan 6 area
kompetensi sesuai dengan ACGME (The Accreditation Council for
Graduate Medical Education) sebagai pencetus sistem pendidikan
pasca sarjana berbasis kompetensi di dunia. Hal ini diperkuat, bahwa ICO
(the International Council of Ophthalmology) menerbitkan panduan
kurikulum yang digunakan sebagai salah satu acuan sistem pendidikan
mata di dunia, juga mengambil 6 area kompetensi dari ACGME
sebagai area kompetensinya (ICO; 2006).
Program pendidikan spesialis mata dapat diselenggarakan oleh
fakultas kedokteran yang berakreditasi A dan telah memenuhi standar
pendidikan program studi ilmu kesehatan mata.
-4-
B. SEJARAH
1. Kolegium Oftalmologi Indonesia terbentuk pada tahun 1996 dengan
nama Dewan Kesehatan Mata Nasional (DKMN), sebagai pengagas
adalah Prof. dr. Mardiono Marsetio, SpM(K) sekaligus menjadi Ketua
DKMN periode pertama tahun 1996 – 1999
2. Periode kedua dari tahun 1999 – 2003, Ketua Prof. dr. Mardiono
Marsetio, SpM(K) dari Jakarta
3. Periode ke tiga berubah nama menjadi Kolegium Oftalmologi Indonesia
dari tahun 2003 – 2006, Ketua Prof. dr. Mardiono Marsetio, SpM(K) dari
Jakarta.
4. Periode ke empat dari tahun 2006 – 2010, Ketua Prof. dr. Gantira
Natadisastra, SpM(K) dari Bandung.
5. Periode ke lima dari tahun 2010 – 2013, Ketua dr. Tjahjono D.
Gondhowiardjo, SpM(K), PhD dari Jakarta.
6. Periode ke enam dari tahun 2013 – 2016, Ketua dr. Tjahjono D.
Gondhowiardjo, SpM(K), PhD dari Jakarta
1. VISI PENDIDIKAN
Visi pendidikan dokter spesialis mata harus mengacu pada tujuan
sistem pendidikan nasional dan UU pendidikan Kedokteran.
Sistem pendidikan yang mampu menghasilkan dokter spesialis
mata yang kompeten dalam memberikan pelayanan kesehatan mata
dengan mengutamakan keselamatan pasien, menjadi pakar di bidang
-5-
3. TUJUAN PENDIDIKAN
Tujuan umum pendidikan dokter spesialis mata Indonesia adalah
menghasilkan Dokter Spesialis Mata yang mempunyai:
a. Kompetensi akademik meliputi sikap, pengetahuan dan
keterampilan yang mampu menyerap, meneliti, mengembangkan dan
mengaplikasikan ilmu kesehatan mata sesuai dengan kemajuan dan
perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi kedokteran
b. Kompetensi profesional yang mampu memberikan pelayanan
kesehatan mata secara paripurna, sesuai dengan kondisi dan
kebutuhan masyarakat, memiliki kompetensi pelayanan mata
individu dan komunitas serta dapat bersaing secara global serta
senantiasa mengutamakan keselamatan pasien.
Tujuan khusus pendidikan dokter spesialis mata menghasilkan
dokter spesialis mata yang:
-6-
BAB II
STANDAR PENDIDIKAN DOKTER SPESIALIS MATA
h. Mampu bekerja sama dengan profesi lain yang sebidang maupun yang
tidak sebidang dalam menyelesaikan masalah pekerjaan yang
kompleks yang terkait dengan bidang profesinya;
i. Mampu mengembangkan dan memelihara jaringan kerja dengan
masyarakat profesi dan kliennya
j. Mampu bertanggungjawab atas pekerjaan di bidang profesinya sesuai
dengan kode etik profesinya;
k. Mampu meningkatkan kapasitas pembelajaran secara mandiri dan
tim yang berada di bawah tanggungjawabnya;
l. Mampu berkontribusi dalam evaluasi atau pengembangan kebijakan
nasional dalam rangka peningkatan mutu pendidikan profesi atau
pengembangan kebijakan nasional pada bidang profesinya; dan
m. Mampu mendokumentasikan, menyimpan, mengaudit,
mengamankan, dan menemukan kembali data informasi untuk
keperluan pengembangan hasil kerja profesinya.
b. Kompetensi Bidang
Kompetensi bidang terbagi atas kompetensi penyakit dan
kompetensi ketrampilan klinis
j. Astigmatisma. 3
k. Refraksi pascaoperasi (sederhana & kompleks). 4
l. Edema kornea. 3
m. Dehisensi luka. 4
n. Hifema. 4
o. Korteks residual. 3
p. Nukleus jatuh. 3
q. Uveitis. 4
r. Edema makula kistoid. 3
s. Kenaikan tekanan intraokuler dan glaukoma. 4
t. Infeksi intraokular pascaoperasi segera dan lanjut. 3
20 Keratoplasti lamelar 2
- 21 -
22. Keratomileusis 1
23. Keratoprostesis 1
24. Termokeratoplasti 1
25. Keratotomi radial 1
26. Epikeratofakia 1
27. Tatto kornea 2
28. Cornea crosslinking 1
29. Operasi lainnya pada iris 1
30. Pengangkatan benda asing dari lensa menggunakan 1
magnet
31. Pengangkatan benda asing dari lensa tanpa 1
menggunakan magnet
32. Ekstraksi lensa intrakapsular 2
33. Ekstraksi lensa ekstrakapsular dengan teknik 4
aspirasi/irigasi sederhana
Aspirasi katarak traumatik
34. Kapsulotomi bedah [after cataract] 2
35. Pengangkatan lensa yang telah tertanam 2
Pengangkatan pseudofakos (explantasi lensa
intraokular)
36. Implantasi Phakic IOL 2
37. Refractive Lens Exchange 2
38. Implantasi Multifocal IOL 2
39. Implantasi Toric IOL 2
40. Implantasi Accomodating IOL 1
41. Bioptics 1
42. IOL power calculation after refractive surgery 2
43. Eksisi pterygium dengan graft 4
44. Ocular surface surgery (amnion membrane 2
transplantation, anterior stromal puncture, dll)
- 22 -
45. LASIK 2
PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. Red-Glass test
2. Bagolini glasses
3. Prism base-out prism test
4. After image test 4
5. Ambyoscope test
6. Worth 4-dot test
7. Uji stereoskopik
2 Glaukoma Pediatrik
1. Trabekulotomi
2. Trabekulektomi 2
3. Siklodestuksi
- 32 -
3 Katarak Pediatrik
1. Lens aspiration + PPC (Primary Posterior
Capsulotomy)
+ AV (Anterior Vistrectomy) 2
2. Lens aspiration + implantasi IOL
3. Lens aspiration + PPC + AV + IOL
4 Trauma
Identifikasi luka, Irigasi, foreign body removal dan 4
suturing
5 Ptosis Kongenital
Koreksi ptosis kongenital 2
6 Retinopaty of Prematurity
1. Laser indirect Ophthalmoscopy (LIO) 2
2. Injeksi Anti-VEGF
3. Vitrektomi
7 Retinoblastoma
1. Enukleasi (Extended Enucleation) 2
2. Laser Fotokoagulasi (TTT)
3. Cryotherapy
4. Semi-eksenterasi , Eksenterasi
9. Lagoftalmos pengambilan 2
jaringan
10. Anoftalmia soket Rekonstruksi
sekitarnya soket 2
PEMERIKSAAN PENUNJANG
No Pemeriksaan Prosedur Level kompetensi
2) Kompetensi Penyakit
Daftar penyakit merupakan penyakit-penyakit yang dipilih
menurut beban penyakit yang timbul berdasarkan perkiraan
data kesakitan, dan data penyebab kebutaan di Indonesia pada
tingkat pelayanan kesahatan mata bagi dokter spesialis mata
umum. Lulusan dokter spesialis mata umum harus mempunyai
tingkat kemampuan yang memadai agar mampu membuat
- 37 -
Tingkat Definisi
Kompetensi
Tingkat Lulusan dokter spesialis mata mampu mengenali
Kemampuan 1: dan menjelaskan gambaran klinik penyakit, dan
Mengenali dan mengetahui cara yang paling tepat untuk
menjelaskan mendapatkan informasi lebih lanjut mengenai
penyakit tersebut, selanjutnya menentukan rujukan
yang paling tepat bagi pasien.
Tingkat Lulusan dokter spesialis mata mampu membuat
Kemampuan 2: diagnosis klinik terhadap penyakit tersebut dan
Mendiagnosis dan menentukan rujukan ke subspesialis terkait, serta
merujuk dapat melakukan perawatan lanjut setelah dirujuk
balik
- 38 -
REFRAKS
1. Miopia I 4
2. Hipermetropia 4
3. Astigmatisme 4
4. Presbiopia 4
5. Anisometropia 4
6. Gangguan Akomodasi 3
7. Keratokonus 3
8. Kelainan refraksi pasca bedah refraktif 3
9. Kelainan refraksi pasca keratoplasti 3
10. Aniseikonia 3
No Diagnosis Level
Kompetensi
1 Katarak senilis 4
2 Katarak Juvenilis 4
3 Katarak traumatika 4
4 Aniridia 3
5 Katarak akibat penyakit mata lain (katarak 3
6 komplikata)
Katarak dengan high myopia 3
7 Katarak dengan high astigmatism 3
8 Katarak pasca keratoplasti 3
9 Katarak pasca bedah vitreoretina 3
- 40 -
15 Sferofakia 2
16 Subluksasi IOL 3
17 Surgical induced astigmatism 3
18 Desentrasi IOL 3
19 Afakia 3
20 Komplikasi bedah katarak (endoftalmitis, kenaikan 3
TIO, edema makula kistoid, kebocoran luka,
perdarahan intra okular, endothel
decompensation).
No Diagnosis Level
Kompetensi
1 Glaukoma primer sudut terbuka 4
.2 Glaukoma normotensi 4
.3 Suspek glaukoma 4
.
4 Hipertensi okular 4
.
5 Glaukoma sekunder sudut terbuka
Pseudoexfoliation Syndrome 4
Pigment Dispersion Syndrome 4
Glaukoma fakolitik 3
Lens Particle Glaucoma 3
Phacoantigenic Glaucoma 3
Tumor intraokular 3
Inflamasi okular dan Glaukoma sekunder 3
Peningkatan tekanan episklera dan Glaukoma 3
Hifema traumatik 4
Hemolytic and Ghost Cell Glaucoma 3
Angle Recession Glaucoma 4
Glaukoma terkait pembedahan 3
Schwartz Syndrome 3
Drugs Induced glaucoma 4
6 Primary Angle Closure Disease
Primary Angle Closure Suspect 4
Primary Angle Closure 3
1. Acute 4
- 42 -
2. Subacute or Intermittent 3
Glaukoma primer sudut tertutup 3
Sindrom Plateau Iris 3
7 Secondary Angle Closure dengan Blok pupil
Glaukoma fakomorfik 3
Ectopia Lentis 3
Glaukoma afakik dan pseudofakik 3
8 Secondary Angle Closure tanpa Blok pupil
Glaukoma neovaskular 3
Iridocorneal Endothelial Syndrome 3
Tumor 3
Inflamasi 3
Glaucoma Malignan 3
Ablasi retina Non-rhegmatogenous dan Uveal 3
Effusion
Eipthelial and Fibrous Ingrowth 3
Retinal Surgery and Retinal Vascular Disease 3
Nanophthalmos 3
Persistent Vetal Fasculature 3
Drugs Induced 4
9 Glaukoma kongenital primer 3
10 Glaukoma juvenil sudut terbuka 3
11 Glaukoma sekunder dengan anomali okular dan sistemik yang
terkait
Axenfeld-Rieger Syndrome 3
Peters Anomaly 3
Aniridia 3
Sturge Weber Syndrome 3
Neurofibromatosis 3
Kelainan lainnya 3
12 Glaukoma afakik pada anak 3
13 Hipotoni post operatif 3
- 43 -
No Diagnosis Level
Kompetensi
KELAINAN MAKULA
Dry Age Macular Degeneration (AMD) 4
Wet Age Macular Degeneration (AMD) 3
Sindrom histoplasmosis okular 1
1.
Angioid Streak 1
Myopia Pathologik 3
Choroidal Neovascularization (CNV) Idiopatik 3
Cystoid Macular Edema (CME) 4
KELAINAN PEMBULUH DARAH RETINA
Retinopati Diabetik Non Proliferatif (Non Proliferative
Diabetic 4
Retinopati Diabetik Proliferatif (Proliferative Diabetic
Retinopathy(NPDR))
Retinopathy(PDR)) 3
Retinopati hipertensi 4
Koroidopati hipertensi 4
Neuropati optik hipertensi 4
Branch Retinal Vein Occlusion (BRVO) 3
Central Retinal Vein Occlusion (CRVO) 3
2. Sindrom iskemik okular 2
Branch Retinal artery Occlusion (BRAO) 3
Central Retinal Artery Occlusion (CRAO) 3
Oklusi aretri Cilioretinal 3
Oklusi Arteri Ophthalmic 3
Makroaneurisma Arterial 3
Retinopati Sickle Cell 3
Vaskulitis 3
Coats Disease 3
Telangiektasis Parafoveal 2
- 44 -
Kompetensi Penyakit
INFEKSI MATA
1. Infeksi ekstra dan intraokuler
Blefaritis a. Blefaritis 4
anterior
Hordeolum 4
Konjungtivitis a. Viral 4
- 47 -
b. Bakterial 4
Keratitis infeksius/ ulkus a. Viral keratitis 4
kornea b. Bakterial 4
Tanpa komplikasi ke keratitis
intraokular c. Fungal 4
keratitis
d. Acanthamoeba 3
keratitis
Endoftalmitis a. Eksogen 3
Membutuhkan vitrektomi b. Endogen 3
Panoftalmitis 3
Selulitis a. Selulitis 4
preseptal
b. Selulitis orbita 3
2. Infeksi sistem lakrimal
Dakriosistitis/ dakrioadenitis 4
INFLAMASI MATA
1. Inflamasi ekstra dan intraokuler
Blefaritis a. Blefaritis 4
posterior
ringan (MGD)
Dry eye syndrome a. Mild 4
b. Moderate 4
c. Severe 3
Defisiensi vitamin A (xerophtalmia) 4
Konjungtivitis (keterlibatan a. Alergi/ vernal/ 4
kornea minimal) atopik
b. Toksik 4
c. Contact-lens 4
induced
d. Ligneous 3
Episkleritis 4
Skleritis a. Skleritis
anterior non 4
nekrotikans
b. Skleritis 3
- 48 -
anterior
nekrotikans
c. Skleritis
3
posterior
Keratitis non-infeksius a. Thygeson 3
superficial
punctate
keratitis
b. Marginal 3
keratitis
2. Immune-related disease
Peripheral ulcerative keratitis 3
Mooren Ulcer 3
Steven-Johnson Syndrome (SJS) dan Toxic Epidermal 4
Necrolysis (TEN) pada keadaan akut
Ocular cicatrical pemphigoid (OCP) 3
Ocular graft-vs-host disease 3
Interstitial keratitis associated with systemic 3
infection disease
UVEITIS
1. Uveitis anterior a. Infeksi
Toksoplasmosis 4
Tuberkulosis 3
Sifilis 3
b. Inflamasi/ immune-related
Vogt-Koyanagi-Harada
3
syndrome
Behcet’s disease 3
Drug-induced uveitis 3
Lens-associated uveitis 3
HLA-B27 associated 3
Fuch’s Uveitis Syndrome 3
Juvenile rheumatoid arthritis 3
Ankylosing spondylitis 3
Reiter’s syndrome 3
- 49 -
Ocular tuberculosis 3
Herpes simplex 3
Ocular syphilis 2
Lepra 2
b. Inflamasi/ immune-related
Ocular Behcet’s 3
Vogt-Koyanagi-Harada
3
Syndrome
Symphatetic ophthalmia 3
Sarcoidosis 3
5. Masquerade syndrome 3
Kompetensi Penyakit
No Diagnosis Level
Kompetensi
NEUROPATI OPTIK
1 Papiledema
a. Papiledema ec space occupying lesion (SOL) 3
b. Idiopathic intracranial hypertension (IIH) 3
c. Hipertensi maligna 3
2 Neuritis optik
a. Tipikal (demyelinating) 4
b. Atypical (lain-lain) 3
c. Neuromyelitis optika 3
3 Neuropati optik iskemik
a. arteritik 3
b. non arteritik 4
4 Diabetic papilopati 3
5 Papilofeblitis 2
6 Sindrom Paraneoplastik 2
- 51 -
30 Pursuit dysfunction 1
31 Convergence insuffiency 2
32 Divergence insuffiency 2
DIPLOPIA
33 Nuclear cause of diplopia 2
34 Internuclear cause of diplopia 2
35 Infranuclear cause of diplopia 2
Parese nervus III (Okulomotor)
a. Melibatkan pupil (pupil involvement) 3
b. Tanpa melibatkan pupil (pupil sparing) 3
36
37 Parese nervus IV (Troklearis) 3
38 Parese nervus VI (abdusens) 3
39 Fistula sinus carotid-cavernous 3
40 Sindrom Tolosa-Hunt 3
41 Myasthenia Gravis okular 3
42 Miositis orbita 3
43 Tyroid Eye Disesase (TED)
a. Mild 4
b. Moderate-severe 3
NYSTAGMUS
44 Nystagmus pada anak 2
45 Gaze evoked nystagmus 2
46 Vestibular nystagmus 2
47 Acquired pendular nystagmus 1
48 See saw nystagmus 1
PUPILLARY ABNORMALITIES
49 Anisokoria equal in dim and bright light 4
50 Anisokoria greater in dim light 3
Sindrom Horner
51 Anisokoria greater in bright light
a. Adies tonic pupil 3
b. Third nerve palsy 3
52 Agryl Robertson pupil 1
53 Aberrant regeneration 1
- 53 -
66 Penyakit infeksi 3
67 Terapi radiasi 2
KELAINAN PENGLIHATAN WARNA
68 Herediter 4
69 Dapatan 3
70 The patient with non organic ophthalmic disorder 1
Kompetensi Penyakit
No Diagnosis Level Kompetensi
PEDIATRIK
1 Delayed visual OFTALMOLOGI
maturation dan cortical visual 2
impairment
- 54 -
2 Kelainan palpebra
a. Kelainan palpebra kongenital 2
b. Infeksi dan inflamasi palpebra 4
c. Neoplasma dan non infeksi 3
d. Kelainan palpebra didapat 3
3 Kelainan orbita
a. Malformasi kraniofasial 2
b. Infeksi dan inflamasi (Selulitis preseptal,
selulitis orbita dan inflamasi orbita pada anak)
1. Selulitis preseptal 4
2. Selulitis orbita 3
3. Inflamasi orbita pada anak 3
4 Neoplasma
a. Tumor jinak 3
b. Neoplasma malignant primer 2
c. Neoplasma malignant sekunder 2
d. Neoplasma yang berasal dari hematopoietic,
lympho- proliferative dan histiositik 2
a. Konjungtivitis infeksi
1. Oftalmia neonatorum 4
2. Konjungtivitis bakteri 4
- 55 -
3. Konjungtivitis virus 4
b. Kelainan inflamasi
1. Blefaritis 4
2. Alergi mata 4
3. Konjungtivitis ligneous 4
c. Kelainan konjungtiva lainnya
Papilloma, kista epithelial konjungtiva, nevus 3
konjungtiva, Steven Johnson Syndrome
8 Glaukoma pediatrik
c. Kelainan didapat
3
Coats disease
d. Manifestasi retina yang berhubungan dengan
kelainan sistemik (Albinism, Diabetes Melitus) 3
e. Abnormalitas pada diskus optikus
1. Anomali developmental dan atrofi optik 2
2. Neuritis optik 3
3. Edema papil 3
12 Trauma okuler pada anak
a. Trauma kecelakaan
1. Trauma superfisial, penetrasi dan tumpul 4
2. Orbital fracture dan traumatic optic neuropathy 3
3. Trauma tumpul 4
b. Trauma non kecelakaan 3
Abuse head/ocular trauma
7 Exodeviasi
a. Pseudoexotorpia, exophoria dan intermittent 2
exotropia
b. Convergence weakness exotropia 2
c. Exotropia konstan 2
d. Exotorpia bentuk lainnya 2
8 Pattern strabismus
A/V Pattern 2
9 Deviasi vertikal
Incommitant, commitant dan DVD (Dissociated
Vertical Deviation) 2
Kompetensi Penyakit
No Diagnosis Level
Kompetensi
KELOPAK
1 Kelainan kongenital MATA
Cryptotalmos 2
Mikropthalmos 2
Oriental lid crease 4
2. Kelainan yang didapat
Kalazion 4
Hordeolum 4
Edema kelopak mata 4
Sindrom Floppy Eyelid 2
Tricotilomania 2
Simblefaron, trichiasis 4
Enteropion, ekteropion 4
Retraksi kelopak mata, Paralisis wajah, distonia 2
wajah
Hemangioma infantil 4
Papiloma 4
Keratosis seboroik 4
Pseudo epiteliomatous hiperplasia 4
Verucca vulgaris 4
Cutaneus horn 4
3. Kelainan pada kelenjar minyak dan kelenjar keringat
Kista meibomian 4
Ecrine hidrosistoma 4
Syringoma 4
Plemorfic adenoma 3
Lentigo simplek 2
Solar lentigo 4
Blue Nevi 2
Dermal melanocynosis 2
6. Lesi epidermal premalignant
Actinic keratosis 2
7. Lesi in situ epitelial
Keratoacantoma 2
Squamous cell ca insitu 2
Lentigo maligna 2
8. Tumor ganas kelopak
basal cell carcinoma 2
Squamous cell Carcinoma 2
Sebaceous adeno cell ca 2
Melanoma 2
Sarkoma Kaposi 2
Merkel cell carcinoma 2
TRAUMA KELOPAK MATA
1. Trauma tumpul 4
Trauma Tembus 4
Lacerasi tanpa keterlibatan margo kelopak mata 4
Lacerasi dengan keterlibatan margo kelopak mata 4
Trauma kantus kelopak mata 4
Reparasi sekunder 2
Gigitan manusia dan binatang 3
Trauma luka bakar 3
Laserasi dengan kehilangan jaringan 4
skin loss <30% 4
skin loss 30-50% 3
skin loss > 50% 3
Trauma kanalikuli, sakus, duktus nasolakrimal 4
KELAINAN DEGENERATIF
- 60 -
Dermatokalasis 4
Blefarokalasis 4
1. Ptosis 2
Brow ptosis 2
Aging face 2
SISTEM LAKRIMAL
1. Duplikasi 2
Aplasia dan hipoplasia punctum 2
Obtruksi ductus nasolakrimal kongenital dan 3
didapat dan disgenesis puctum dan canalikuli
Agenesis 2
Dacryosistocele 2
Kelainan punctum (eversipunctum) 2
Kelainan kanalikuli 2
Obtruksi ductus nasolakrima didapat 2
(involusional stenosisdacryolith)
Dakrioadenitis
kanalikulitis 4
Dakriosistitis 4
Tumor sakus lakrimal primer, sekunder dan 2
metastatik
KELAINAN ORBITA
1. SIndrom anomali kraniofacial kongenital (Goldenhar 2
syndrome, Treacher collin syn, dsb)
Congenital orbital tumor 2
Hamartoma dan choristomas 2
Kista dermoid 2
Dermolipoma 2
Teratoma 2
INFLAMASI ORBITA
1. Selulitis (preseptal, pretarsal dan orbital) 4
Necrotizing fascitis 3
Orbital tuberkulosis 2
Zygomikosis 2
Aspergilosis 2
- 61 -
Parasitic desease 2
4. Kelainan limfoproliferatif
- 62 -
Limfoid hiperplasia 2
Limfoma 2
Plasma cel tumor 2
5. Tumor kelenjar lakrimal
Plemorfik adenoma 2
Adnoid cystik carcinoma 2
Malignant mix tumor 2
6. Tumor metastasis
Neuroblastoma 2
Metastatis dari karsinoma mamma, ca broncogenic, 2
ca prostate
TRAUMA
1. Midfacial (Lefort fracture)ORBITA 2
Fraktur Zigoma 2
Fraktur Apex orbita 2
Fraktur dinding aobita (medial, dasar, lateral, atap) 2
Benda asing orbita 2
Perdarahan orbita 3
Penurunan tajam penglihatan dengan media jernih 2
(Traumatic Optic Neuropathy (TON))
TUMOR
1 Melanoma INTRAOKULAR 2
. Retinoblastoma 2
Angiomatous tumor 2
Sistemik malignan yang mengenai intraocular 2
SOKET ANOFTALMIA
1. Kontraktur soket 2
- 63 -
c. Keterampilan khusus
Level
No Topik Obyektif Pembelajaran
Kompetensi
Definisi prevalensi, insidensi, risiko serta
4
odds
kebutaan katarak
B. STANDAR ISI
1. Program Pendidikan
Program pendidikan dokter spesialis mata harus mencantumkan
secara jelas tujuan, outcome, struktur, komposisi dan lama pendidikan,
termasuk penjelasan tentang hubungan dengan pendidikan kedokteran
dasar dan pelayanan kesehatan, serta komponen kompetensi yang
bersifat wajib (compulsory) maupun pilihan (optional).
Struktur, komposisi, serta lama pendidikan ditetapkan secara
umum oleh KOI dan diuraikan secara rinci dalam Buku Panduan
Pendidikan yang dikeluarkan oleh IPDS Mata dengan mengacu pada
daftar kompetensi pendidikan yang ditetapkan secara nasional oleh
KOI dan kompetensi tambahan/khusus (muatan lokal) yang
ditetapkan oleh IPDS Mata.
Tingkat kedalaman dan keluasan materi pembelajaran bersifat
kumulatif dan integratif, serta dituangkan pada bahan kajian yang
terstruktur dalam bentuk modul. Pendidikan diselenggarakan dalam 3
tahapan pencapaian kompetensi terdiri dari tahap pengayaan, tahap
magang (wajib) yang dapat terdiri dari tahap I dan tahap II, serta
tahap mandiri.
a. Tahap Pengayaan.
Adalah tahap peserta didik mampu menjelaskan dan
menguraikan ilmu-ilmu dasar yang terdiri dari:
1) Anatomi dan Fisologi mata Biologi
2) Molekuler dan Imunologi
3) Mikrobiologi dan farmakologi klinik
4) Dasar-dasar metodologi penelitian dan statistik
5) Dasar penanganan kegawatdaruratan
6) Etika Kedokteran
7) Pemeriksaan mata dasar
- 66 -
Peserta Didik RS, dan umpan balik dari alumni. Pembuatan rencana
mengacu pada standar Pendidikan dan Standar Kompetensi yang
dibuat oleh Kolegium Oftalmologi Indonesia,, dan Standar Pelayanan
Minimal (SPM) organisasi profesi (Persatuan Dokter Spesialis Mata
Indonesia)
b. Proses pengorganisasian
Proses pengorganisasian dikelola oleh Pimpinan Prodi, yaitu
Ketua Program Studi (KPS), yang dalam tugasnya dibantu oleh
Sekretaris Program Studi, tenaga fungsional dosen yang diberi tugas
tambahan (Penanggung Jawab Modul dan pengurus ad hoc), dan
tenaga tambahan lain dengan tugas-tugas spesifik. Tugas utama
KPS dalam proses ini adalah mengorganisasi agar rencana-rencana
yang ada dapat diterjemahkan ke dalam bentuk kongkret.
c. Proses pengarahan
Kepala Program Studi berfungsi mengarahkan secara spesifik hal-
hal apa yang perlu dilakukan untuk mencapai tujuan secara efektif
dan efisien. Tanggung jawab penerapan sistem manajemen mutu
terletak pada KPS. Semua pengajar dan staf secara garis kebijakan
dalam aspek pendidikan bertanggung jawab kepada KPS.
Berkaitan dengan proses ini, KPS juga memiliki tugas untuk
mengobservasi adanya ketidaktepatan/kekeliruan dalam
perencanaan, pengorganisasian, dan staffing. Untuk menjamin
akuntabilitas pelaksanaan tugas masing-masing perangkat, Ketua
Program Studi melakukan monitoring dan evaluasi kegiatan
pendidikan secara berkala bersama sekretaris program studi.
d. Proses evaluasi
Evaluasi kinerja Program antara lain dengan menilai
keluaran melalui Ujian Nasional Kolegium Oftalmologi Indonesia
(KOI), akreditasi internal dan eksternal.
Proses belajar mengajar dilakukan dalam bentuk perkuliahan,
diskusi, dan presentasi ilmiah yang dilakukan di dalam kelas.
Selanjutnya di klinik proses belajar mengajar dapat dilakukan
menggunakan teknik bimbingan klinik dan bimbingan tindakan.
Evaluasi proses dapat dinilai melalui logbook residen, kesesuaian
jadwal presentasi ilmiah, rapat evaluasi bulanan koordinator
pendidikan, absensi peserta, nilai modul dan surat tugas staf
pengajar, kuesioner kepuasan peserta didik, dan sumber data
- 68 -
F. STANDAR DOSEN
1. Staf Pengajar
a. Staf Pengajar adalah mereka yang karena keahliannya diberi
wewenang untuk menilai, mendidik dan membimbing serta
mengevaluasi pada Program Pendidikan Dokter Spesialis Mata.
b. Kriteria staf pengajar adalah staf yang memiliki kualifikasi
Doktor atau konsultan, dan telah bekerja di bidang keahliannya
minimal 2 tahun.
c. Dalam melaksanakan proses pembelajaran, staf pengajar
mempunyai tugas melaksanakan proses pembelajaran,
pengawasan dan bimbingan dalam peningkatan pengetahuan,
keterampilan dan perilaku Peserta PPDS Mata, termasuk
bimbingan karya ilmiah dan diberi wewenang untuk menilai
hasil belajar Peserta PPDS Mata termasuk menilai karya ilmiah
Peserta PPDS.
d. Institusi pendidikan bertanggung jawab untuk melengkapi staf
pengajar dengan kemampuan-kemampuan tersebut di atas.
2. Jumlah Staf
a. Jumlah staf pengajar ditentukan minimal satu staf pengajar
untuk setiap divisi.
b. Jumlah staf pengajar merupakan salah satu faktor yang
menentukan jumlah peserta PPDS Mata dengan memperhatikan
efektivitas proses pembelajaran dan kualitas hasil lulusan. Rasio
jumlah staf pengajar sekurang-kurangnya 1:3 terhadap jumlah
peserta didik.
c. Setidaknya memiliki minimal 6 dosen tetap yang memiliki
keahlian di bidang ilmu yang sesuai dengan disiplin ilmu pada
program studi
3. Sistem Penerimaan Dan Penempatan Staf
a. Institusi penyelenggara pendidikan memiliki sistem dan
kebijakan yang jelas dan transparan dalam melakukan
penerimaan staf.
b. Sistem seleksi sumber daya manusia berdasarkan hasil
evaluasi dari laporan tahunan kegiatan pelayanan Program
Studi. Program Studi menyusun rencana pengembangan
pelayanan serta rencana dan perhitungan kebutuhan tenaga
yang dibutuhkan.
- 72 -
K. STANDAR PEMBIAYAAN
Pendanaan dan Alokasi Sumber Daya
1. Perguruan tinggi wajib menyusun kebijakan, mekanisme, dan
prosedur dalam menggalang sumber dana lain secara akuntabel
dan transparan dalam rangka peningkatan kualitas pendidikan.
2. Sumber pendanaan pendidikan ditentukan berdasarkan prinsip
keadilan, kecukupan dan keberlanjutan.
3. Pendanaan dapat berasal dari pemerintah pusat, pemerintah
daerah, masyarakat dan sumber lain.
4. Anggaran pendidikan untuk mendukung tercapainya misi dan
tujuan program pendidikan dikelola secara transparan dan
akuntabel.
5. Pelaporan pemakaian dana dalam hal operasional, investasi,
penelitian, dan pengabdian masyarakat dilaporkan secara periodik
per tahun dan kebijakannya diatur oleh IPDS dan
fakultas/Universitas.
L. STANDAR PENILAIAN
1. Metode Evaluasi Hasil Pembelajaran
a. Setiap IPDS Mata harus mempunyai metoda penilaian dan
kriteria kelulusan yang terukur.
b. Metode penilaian tersebut harus andal dan sahih, dan dapat
dievaluasi secara berkala.
c. Penilaian hasil pendidikan harus memenuhi asas validitas,
reliabilitas, kelayakan dan mendorong proses [Link]
kegiatan pendidikan dicatat dalam log-book dan dinilai
secara berkesinambungan.
d. Selama proses pendidikan, penilaian dilakukan secara
terstruktur pada tiap tahap pendidikan yang dilaksanakan oleh
IPDS mata dengan memperhatikan pencapaian kompetensi
sesuai dengan tahapan pendidikan.
e. Penilaian dilakukan berdasarkan area kompetensi
- 81 -
M. STANDAR PENELITIAN
Institusi Pendidikan Dokter Spesialis Mata atau Fakultas Kedokteran
melaksanakan penelitian dalam ruang lingkup ilmu kedokteran yang
disesuaikan dengan perkembangan ilmu kedokteran sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang undangan.
Penelitian yang dilakukan, khususnya yang menggunakan manusia
atau hewan coba sebagai subyek penelitian harus melalui persetujuan kaji
etik dari Komite Etik Penelitian bidang kedokteran sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang- undangan.
Fakultas Kedokteran harus memiliki kebijakan yang mendukung
keterkaitan antara penelitian, pendidikan dan pengabdian kepada
masyarakat serta menetapkan prioritas penelitian beserta sumber daya
penunjangnya.
PPDS diharapkan mampu melakukan penelitian secara mandiri
maupun berkelompok dalam upaya pengembangan ilmu kedokteran
dengan pendekatan berbasis bukti
- 83 -
BAB III
PENUTUP
ttd.
BAMBANG SUPRIYATNO