0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
28 tayangan125 halaman

Masalah Keperawatan Diabetes di Desa

Studi kasus ini membahas penerapan asuhan keperawatan gerontik pada penderita diabetes melitus dengan pendekatan keluarga binaan di Desa Bluru Kidul Sidoarjo. Tujuannya adalah meningkatkan pengetahuan dan keterampilan keluarga dalam merawat anggota keluarga lanjut usia dengan diabetes melitus.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
28 tayangan125 halaman

Masalah Keperawatan Diabetes di Desa

Studi kasus ini membahas penerapan asuhan keperawatan gerontik pada penderita diabetes melitus dengan pendekatan keluarga binaan di Desa Bluru Kidul Sidoarjo. Tujuannya adalah meningkatkan pengetahuan dan keterampilan keluarga dalam merawat anggota keluarga lanjut usia dengan diabetes melitus.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

KARYA TULIS ILMIAH

STUDI KASUS PENERAPAN ASUHAN KEPERAWATAN


GERONTIK PADA PENDERITA DIABETES MELITUS
DENGAN PENDEKATAN KELUARGA BINAAN
DI DESA BLURU KIDUL SIDOARJO

Oleh :
SARIFATUL ISTIFANIA
NIM. 1901018

PROGRAM DIII KEPERAWATAN


POLITEKNIK KESEHATAN KERTA CENDEKIA
SIDOARJO
2022
KARYA TULIS ILMIAH

STUDI KASUS PENERAPAN ASUHAN KEPERAWATAN


GERONTIK PADA PENDERITA DIABETES MELITUS
DENGAN PENDEKATAN KELUARGA BINAAN
DI DESA BLURU KIDUL SIDOARJO

Sebagai Persyaratan Untuk Memperoleh Gelar


Ahli Madya Keperawatan (Amd. Kep)
Di Politeknik Kesehatan Kerta Cendekia Sidoarjo

Oleh :
SARIFATUL ISTIFANIA
NIM. 1901018

PROGRAM DIII KEPERAWATAN


POLITEKNIK KESEHATAN KERTA CENDEKIA
SIDOARJO
2022

ii
iii
iv
v
MOTTO

Bahwa tiada yang orang dapatkan kecuali yang ia usahakan. Dan bahwa

usahanya akan kelihatan nantinya (Q.S. An Najm ayat 39-40)

“Sukses bukan hanya apa yang terlihat di pelupuk mata, bukan tentang

pencapaian materil seperti bergelimang harta. Cukup menjadi dirimu yang

setiap harinya terus bertumbuh dan bermanfaat bagi sesama, kamu sudah

sukses. Hidup itu berotasi, benar seperti yang disebut roda kehidupan; apa

yang terlihat indah tidak selamanya indah, apa yang saat inii kamu sesali

bisa jadi akan kamu syukuri pada akhirnya. Setiap kita diuji dengan cara

yang berbeda dan dengan batas kesanggupan yang tidak serupa.

Jalani hidupmu tanpa banyak bertanya, tapi carilah jawabannya dengan

usaha yang dibantu doa. Sukses akan menyusulmu dari berbagai arah

perlahan-lahan.”

-Syarifah-

vi
KATA PERSEMBAHAN

Syukur Alhamdulillah kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah

melimpahkan rahmat, taufik serta hidayah-Nya dan atas dukungan dari orang-orang

tercinta, akhirnya Karya Tulis Ilmiah ini dapat diselesaikan dengan baik dan tepat

pada waktunya. Oleh karena itu, dengan rasa bangga dan bahagia saya sampaikan

rasa syukur dan terimakasih saya kepada :

1. Kedua orang tua, untuk ketulusannya dari hati atas doa yang tak pernah

putus, semangat yang tak ternilai, perhatian. Terimakasih karena sudah

mendidik, mendukung saya sampai saat ini.

2. Orang yang paling istimewa dalam hidup saya. Terimakasih atas dukungan,

kebaikan, perhatian, dan kebijaksanaan. Terimakasih karena sudah memberi

tahu saya cara hidup dengan jujur dan bahagia

3. Diri saya sendiri yang mau dan mampu bertahan, berjuang, berusaha sekuat

saya bisa, tidak menyerah, terimakasih karena sudah mau untuk tetap kuat

4. Kepada kedua Dosen pembimbing Ibu Faida Annisa [Link]., MNS dan Ibu

Agus Sulistyowati, [Link]., [Link] terimakasih atas bimbingan dan motivasi

sehingga saya dapat menyelesaikan tugas akhir ini dengan lancar tanpa satu

halangan apapun

5. Orang-orang yang sangat saya sayangi yakni sahabat saya. Saya ingin

mengucapkan terimakasih hanya untuk satu di antaranya: atas kehadiran

kalian dalam hidup saya.

vii
KATA PENGANTAR

Syukur Alhamdulillah kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah


melimpahkan rahmat, taufik serta hidayah-Nya, sehingga dapat menyelesaikan
Karya Tulis Ilmiah dengan judul “Studi Kasus Penerapan Asuhan Keperawatan
Gerontik Pada Penderita Diabetes Melitus Dengan Pendekatan Keluarga
Binaan Di Desa Bluru Kidul Sidoarjo” ini dengan tepat waktu sebagai
persyaratan Akademik dalam menyelesaikan Program D3 Keperawatan di
Politeknik Kesehatan Kerta Cendekia Sidoarjo.
Penulisan Karya Tulis Ilmiah ini tidak terlepas dari bantuan dan bimbingan
berbagai pihak, untuk ini kami mengucapkan banyak terima kasih kepada:

1. Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan rahmat serta ridhonya
sehingga Karya Tulis Ilmiah ini selesai tepat waktu.
2. Ibu Agus Sulistyowati, [Link]., [Link] selaku Direktur dan Dosen
Pembimbing 2 yang penuh kebaikan dan perhatian telah membimbing
dalam menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah.
3. Ibu Faida Annisa, [Link]., MNS selaku pembimbing 1 yang yang telah
meluangkan waktu, pikiran dan perhatian dalam membimbing dalam
menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah ini
4. Orang Tua yang selalu memberikan doa dan dukungan dalam penyelesaian
Karya Tulis Ilmiah ini.
5. Pihak-pihak yang turut berjasa dalam menyusun Karya Tulis Ilmiah ini
yang tidak bisa disebutkan satu persatu.

Penulis sadar bahwa Karya Tulis Ilmiah ini belum mencapai kesempurnaan,
sebagai bekal perbaikan, penulis akan berterima kasih apabila pembaca berkenan
memberikan masukan, baik dalam bentuk kritikan maupun saran demi
kesempurnaan Karya Tulis Ilmiah ini.

Penulis berharap Karya Tulis Ilmiah ini bermanfaat bagi pembaca dan bagi
[Link],

28 Juni 2022
Penulis

viii
DAFTAR ISI

Sampul Depan ................................................................................................. i


Surat Pernyataan............................................................................................ iii
Lembar Persetujuan ....................................................................................... iv
Halaman Pengesahan .................................................................................... v
Motto ............................................................................................................ vi
Kata Persembahan ........................................................................................ vii
Kata Pengantar ........................................................................................... viii
Daftar Isi ....................................................................................................... ix
Daftar Tabel ................................................................................................. xi
Daftar Gambar ............................................................................................. xii
Daftar Lampiran ......................................................................................... xiii
BAB 1 PENDAHULUAN ........................................................................... 1
1.1 Latar Belakang ....................................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah .................................................................................. 3
1.3 Tujuan Penelitian ................................................................................... 3
1.4 Manfaat Peneletian ................................................................................. 4
1.5 Metode Penelitian .................................................................................. 4
1.5.1 Metode .......................................................................................... 4
1.5.2 Teknik Pengumpulan Data ........................................................... 5
1.5.3 Sumber Data ................................................................................. 5
1.5.4 Studi Kepustakaan ........................................................................ 5
1.6 Sistematika Penulisan ............................................................................ 5
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA .................................................................. 7
2.1 Konsep Diabetes Melitus ....................................................................... 7
2.1.1 Definisi .................................................................................. 7
2.1.2 Klasifikasi Diabetes Melitus .................................................. 7
2.1.3 Etiologi .................................................................................. 8
2.1.4 Manifestasi Klinis ................................................................ 10
2.1.5 Patofisiologi ......................................................................... 12
2.1.6 Komplikasi .......................................................................... 14
2.1.7 Pemeriksaan Penunjang ....................................................... 16
2.1.8 Penatalaksanaan ................................................................... 18
2.2 Konsep Lansia ....................................................................................... 21
2.2.1 Definisi ................................................................................. 21
2.2.2 Klasifikasi Lansia ................................................................. 21
2.2.3 Ciri-ciri Lansia ..................................................................... 22
2.2.4 Perubahan pada Lansia ......................................................... 23
2.3 Konsep Masalah Keperawatan ............................................................. 28
2.3.1 Pengertian ............................................................................ 28
2.3.2 Penyebab .............................................................................. 29
2.3.3 Gejala & Tanda Mayor ........................................................ 29
2.3.4 Gejala & Tanda Minor ......................................................... 29
2.4 Konsep Asuhan Keperawatan Pada Pasien Diabetes Melitus .............. 29
2.4.1 Pengkajian ........................................................................... 29

ix
2.4.2 Analisa Data ........................................................................ 35
2.4.3 Diagnosa Keperawatan ........................................................ 36
2.4.4 Intervensi Keperawatan ....................................................... 39
2.4.5 Implementasi Keperawatan .................................................. 47
2.4.6 Evaluasi Keperawatan ......................................................... 47
2.5 Kerangka Masalah Diabetes Melitus ................................................... 48
BAB 3 TINJAUAN KASUS....................................................................... 49
3.1 Pengkajian ............................................................................................. 49
3.1.1 Identitas ..................................................................................... 49
3.1.2 Riwayat Kesehatan .................................................................... 49
3.1.3 Genogram .................................................................................. 52
3.1.4 Riwayat Psikososial .................................................................. 52
3.1.5 Riwayat Nutrisi dan Cairan ....................................................... 53
3.1.6 Identifikasi Kemampuan Dalam Melakukan Aktivitas
Sehari-hari ................................................................................ 54
3.1.7 Modifikasi Barthel Indeks ......................................................... 55
3.1.8 Identifikasi Status Mental dengan Short Portable
Mental Status Quisioner (SPMSQ) ........................................... 57
3.1.9 Pemeriksaan Fisik.......................................................................58
3.2 Analisa Data .......................................................................................... 63
3.3 Daftar Diagnosa keperawatan prioritas ................................................. 65
3.4 Intervensi keperawatan ......................................................................... 66
3.5 Implementasi keperawatan .................................................................... 68
3.6 Catatan Perkembangan .......................................................................... 73
3.7 Evaluasi keperawatan ........................................................................... 75
BAB 4 PEMBAHASAN ............................................................................. 78
4.1 Pengkajian .............................................................................................. 78
4.2 Diagnosa Keperawatan........................................................................... 80
4.3 Intervensi Keperawatan .......................................................................... 81
4.4 Implementasi Keperawatan .................................................................... 81
4.5 Evaluasi Keperawatan ............................................................................ 82
BAB 5 PENUTUP....................................................................................... 84
5.1 Kesimpulan ............................................................................................ 84
5.2 Saran ....................................................................................................... 85
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................ 86
LAMPIRAN ................................................................................................ 88

x
DAFTAR TABEL

No Tabel Judul Tabel Hal

Tabel 2.1 Kadar Glukosa Darah sewaktu dan puasa dengan


metode enzimatik sebagai patokan penyaring ...............................16
Tabel 2.2 Diagnosa Keperawatan Pasien Diabetes Melitus...........................36
Tabel 2.3 Intervensi Keperawatan Pasien Diabetes Melitus ..........................39
Tabel 3.1 Identitas .........................................................................................49
Tabel 3.2 Riwayat Kesehatan .........................................................................49
Tabel 3.3 Riwayat Psikososial .......................................................................52
Tabel 3.4 Riwayat Nutrisi dan Cairan ............................................................53
Tabel 3.5 Indeks KATZ Klien 1 ....................................................................54
Tabel 3.6 Indeks KATZ Klien 2 ....................................................................54
Tabel 3.7 Modifikasi Barthel Indeks Klien 1 .................................................55
Tabel 3.8 Modifikasi Barthel Indeks Klien 2 .................................................56
Tabel 3.9 Pengkajian SPMSQ Klien 1 ...........................................................57
Tabel 3.10 Pengkajian SPMSQ Klien 2 ...........................................................58
Tabel 3.11 Pemeriksaan Fisik .........................................................................58
Tabel 3.12 Analisa Data ...................................................................................63
Tabel 3.13 Diagnosa Sesuai Prioritas ..............................................................65
Tabel 3.14 Intervensi Keperawatan..................................................................66
Tabel 3.15 Implementasi Keperawatan Klien 1 ...............................................68
Tabel 3.16 Implementasi Keperawatan Klien 2 ...............................................70
Tabel 3.17 Catatan Perkembangan Klien 1 .....................................................73
Tabel 3.18 Catatan Perkembangan Klien 2 ......................................................74
Table 3.19 Evaluasi Klien 1 .............................................................................75
Table 3.20 Evaluasi Klien 2 .............................................................................76

xi
DAFTAR GAMBAR

No Tabel Judul Tabel Hal

Gambar 2.1 Pathway Diagnosa Diabetes ......................................... 48


Gambar 3.1 Genogram Keluarga Klien 1 ........................................ 52
Gambar 3.2 Genogram Keluarga Klien 2 ........................................ 52

xii
DAFTAR LAMPIRAN

No Lampiran Judul Lampiran Hal

Lampiran 1 Lembar Informed Consent klien 1 ................................ 88


Lampiran 2 Lembar Informed Consent klien 2 ................................ 89
Lampiran 3 Dokumentasi ................................................................. 90
Lampiran 4 Satuan Acara Penyuluhan Diet Diabetes Melitus ......... 91
Lampiran 5 Leaflet Penyuluhan Diet Diabetes Melitus ................. 100
Lampiran 6 Satuan Acara Penyuluhan Rawat Luka ...................... 102
Lampiran 7 Leaflet Penyuluhan Rawat Luka................................. 108
Lampiran 8 Data Riwayat Hidup ................................................... 110
Lampiran 9 Lembar Konsultasi Proposal Karya Tulis Ilmiah ....... 111
Lampiran 10 Lembar Konsultasi Karya Tulis Ilmiah ...................... 112

xiii
BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Diabetes Melitus merupakan salah satu penyakit tidak menular (PTM) dan

saat ini menjadi ancaman serius bagi kesehatan global (Kemenkes, 2014).

Diabetes Melitus merupakan salah satu kelompok dari penyakit metabolik yang

ditandai dengan adanya hiperglikemia karena gangguan sekresi dan kerja

insulin dimana dapat menimbulkan berbagai komplikasi kronis diantaranya

yakni mikrovaskuler dan makrovasuler (Nurarif et al., 2015). Penyakit ini

termasuk penyakit tidak menular yang mana akan mengalami peningkatan terus

menerus dari tahun ketahun, hal ini dikarenakan oleh pola hidup yang tidak

sehat. Fenomena yang terjadi di Desa Bluru Kidul yaitu penderita Diabetes

Melitus kebanyakan dari mereka masih beranggapan bahwa gula darah yang

sudah dikatakan normal, maka penderita menganggap penyakitnya sudah

sembuh oleh karena itu penderita tidak perlu lagi menjaga perilaku hidup sehat

seperti masih mengkonsumsi makanan dan minuman yang tinggi gula dan

jarang untuk melakukan kegiatan fisik seperti olahraga sehingga banyak

penderita Diabetes Melitus yang keluar masuk rumah sakit (Kader Kesehatan

Bluru Kidul, 2021).

Menurut data Internasional Diabetes Federation (I.D.F., 2017)

menyebutkan jumlah orang diseluruh dunia dengan Diabetes Melitus sebanyak

425 juta jiwa, di Asia tenggara pada tahun 2017 terdapat 82 juta jiwa dan pada

tahun 2017 Indonesia menduduki posisi ke tujuh di dunia yaitu 10,3 juta jiwa

penderita Diabetes Melitus. Laporan Riset Kesehatan Dasar (Riskesda) tahun

1
2

2018 di kota Sidoarjo sebesar 5.518 jiwa yang mengalami Diabetes Melitus dari

98.566 penduduk provinsi Jawa Timur dan 265.015.300 dari penduduk di

Indonesia (Riskesdas, 2018).

Pertumbuhan masyarakat yang semakin tinggi, peningkatan obesitas, faktor

stress, diet yang kurang tepat dan pola makan tidak sehat dan kurangnya

physical activity termasuk penyebab meningkatnya prevalensi penyakit

Diabetes Melitus. Percepatan naiknya prevalensi penderita Diabetes Melitus

dapat dipicu oleh makanan yang tidak sehat, dimana saat ini masyarakat banyak

mengkonsumsi makanan yang mengandung kolesterol, lemak jenuh, natrium

dan sedikit serat, diperparah lagi dengan seringnya mengkonsumsi makanan

dan minuman yang kaya akan gula (Damayanti, 2015). Pola hidup seperti ini

yang menyebabkan jumlah penderita Diabetes Melitus bertambah. Diabetes

Melitus yang tidak ditangani dengan baik akan menyebabkan komplikasi

kronis mikrovaskuler dan makrovaskuler (Nurarif et al., 2015).

Untuk mencegah komplikasi tersebut maka dibutuhkan peran dan fungsi

perawat dalam melakukan asuhan keperawatan yang terdiri dari promotif,

preventif, kuratif, dan rehabilitative. Peran promotif yaitu memberikan

penyuluhan pada keluarga dan klien yang menderita diabetes melitus tentang

arti, penyebab, tanda dan gejala serta pengobatan kondisi ini. Peran preventif

yaitu membiasakan diri untuk hidup sehat dengan melakukan latihan fisik

minimal 15 menit per harinya, mengajarkan diet yang tepat, serta kurangi

makanan yang mengandung gula dan junk food. Peran kuratif yaitu dengan

memberikan obat antidiabetes dan insulin. Peran rehabilitative yaitu dengan

mengevaluasi kondisinya. Salah satu cara untuk mencegah diabetes melitus


3

adalah dengan memeriksakan gula darah secara rutin dan melakukan perubahan

gaya hidup yang lebih sehat jika diperlukan (Sudiharto, 2012).

1.2. Rumusan Masalah

Rumusan masalah yang diangkat adalah “Bagaimana Penerapan Asuhan

Keperawatan Gerontik Pada Penderita Diabetes Melitus Dengan Pendekatan

Keluarga Binaan di Desa Bluru Kidul Sidoarjo?”

1.3. Tujuan Penelitian

1.3.1. Tujuan Umum

Mahasiswa mampu mengidentifikasi Asuhan Keperawatan Gerontik Pada

Penderita Diabetes Melitus Dengan Pendekatan Keluarga Binaan di Desa

Bluru Kidul Sidoarjo

1.3.2. Tujuan Khusus

[Link]. Mengkaji Lansia Ny. P dan Tn. A Dengan Masalah Keperawatan

Gangguan Integritas Jaringan Pada Diagnosa Medis Diabetes Melitus di

Desa Bluru Kidul Sidoarjo

[Link]. Merumuskan Diagnosa Keperawatan pada Lansia Ny. P dan Tn. A Dengan

Masalah Keperawatan Gangguan Integritas Jaringan Pada Diagnosa Medis

Diabetes Melitus di Desa Bluru Kidul Sidoarjo

[Link]. Merencanakan Asuhan Keperawatan pada Lansia Ny. P dan Tn. A Dengan

Masalah Keperawatan Gangguan Integritas Jaringan Pada Diagnosa Medis

Diabetes Melitus di Desa Bluru Kidul Sidoarjo

[Link]. Melaksanakan Asuhan Keperawatan pada Lansia Ny. P dan Tn. A Dengan

Masalah Keperawatan Gangguan Integritas Jaringan Pada Diagnosa Medis

Diabetes Melitus di Desa Bluru Kidul Sidoarjo


4

[Link]. Mengevaluasi Asuhan Keperawatan pada Lansia Ny. P dan Tn. A Dengan

Masalah Keperawatan Gangguan Integritas Jaringan Pada Diagnosa Medis

Diabetes Melitus di Desa Bluru Kidul Sidoarjo

[Link]. Mendokumentasikan Asuhan Keperawatan pada Lansia Ny. P dan Tn. A

Dengan Masalah Keperawatan Gangguan Integritas Jaringan Pada

Diagnosa Medis Diabetes Melitus di Desa Bluru Kidul Sidoarjo

1.4. Manfaat Penelitian

Bagian ini berisi uraian manfaat penelitian Diabetes Melitus, yang sangat

bermanfaaat bagi perkembangan ilmu pengetahuan yang dapat dimanfaatkan

oleh ilmuan lain untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi

terutama di bidang kesehatan,

1.4.1. Bagi institusi pendidikan, sebagai masukan untuk menyusun kebijakan

1.4.2. Bagi responden, misalnya dapat diterapkan dalam keluarga atau sebagai

bahan penyuluhan kesehatan kepada masyarakat

1.4.3. Bagi profesi kesehatan

Sebagai tambahan pengetahuan bagi profesi keperawatan dan untuk

meningkatkan pemahaman tentang asuhan geriatri dalam kasus diagnosa

medis diabetes

1.5. Metode Penelitian

1.5.1. Metode Penelitian

Metode deskriptif adalah metode yang menggambarkan peristiwa dan gejala

yang terjadi pada saat ini, dan mencakup tinjauan pustaka yang

mempelajari, mengumpulkan, dan mendiskusikan data, dan studi tentang


5

pendekatan proses keperawatan yang mengevaluasi diagnosis, perencanaan,

implementasi, dan evaluasi. .

1.5.2. Teknik Pengumpulan Data

[Link]. Wawancara

Data diambil atau diperoleh percakapan baik dengan klien maupun tim

kesehatan lain

[Link]. Observasi

Data yang diambil melalui pengamatan kepada klien

[Link]. Pemeriksaan

Meliputi pemeriksaan fisik dan laboratorium yang dapat menunjang

menegakkan diagnose dan penanganan selanjutnya

1.5.3. Sumber Data

[Link]. Data Primer

Data primer adalah data yang diperoleh dari klien.

[Link]. Data Sekunder

Data sekunder adalah data yang diperoleh dari keluarga pelanggan atau

rekan dekat, rekam medis dari perawat, hasil laboratorium, dan tim medis

lainnya.

1.5.4. Studi Kepustakaan

Studi kepustakaan adalah mempelajari judul studi kasus dan buku sumber

yang berkaitan dengan masalah yang dibahas.

1.6. Sistematika Penulisan

Supaya lebih jelas dan lebih muda dalam mempelajari dan memahami studi

kasus ini, secara keseluruhan dibagi menjadi tiga bagian :


6

1.6.1. Bagian Awal

Memuat halaman, judul, persetujuan pembimbing, pengesahan, motto dan

persembahan, kata pengantar dan daftar isi.

1.6.2. Bagian Inti

Terdiri dari 5 bab yang masing-masing bab terdiri dari sub-sub berikut ini :

[Link]. Bab 1 : Pendahuluan berisi latar belakang masalah, rumusan masalah,

tujuan, manfaat peneliti, sistematika penulis studi kasus.

[Link]. Bab 2 : Tujuan pustaka berisi tentang konsep penyakit dari suatu medis

dan tindakan keperawatan pada lansia yang mengalami Diabetes Melitus

[Link]. Bab 3 : Tujuan kasus berisi tentang deskripsi data hasil pengkajian

diagnosa, perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi

[Link]. Bab 4 : Pembahasan berisi tentang perbandingan antar teori dengan

kenyataan yang ada dilapangan

[Link]. Bab 5: Penutup, berisi tentang kesimpulan dan saran

1.6.3. Bagian Akhir terdiri dari daftar pustaka dan lampiran


BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Bab 2 secara teoritis dijelaskan melalui konsep penyakit dan perawatan.

Istilah penyakit menggambarkan definisi, etiologi, dan metode pengobatan.

Keperawatan mengatasi masalah yang dihadapi pada diabetes mellitus dengan

memberikan asuhan keperawatan yang terdiri dari evaluasi, diagnosis, intervensi,

implementasi dan evaluasi.

2.1. Konsep Diabetes Melitus

2.1.1. Definisi

Diabetes Melitus merupakan sekumpulan gangguan metabolic yang

ditandai dengan peningkatan kadar glukosa darah (hiperglikemia) akibat

kerusakan pada sekresi insulin, kerja insulin atau keduanya. Hiperglikemia

kronik tersebut berhubungan dengan kerusakan jangka panjang, disfungsi

beberapa organ tubuh terutama mata, ginjal, saraf dan pembuluh darah

(Smeltzer & Bare, 2015). Diabetes Melitus merupakan suatu penyakit

gangguan metabolic dengan karakteristik hipeglikemia yang terjadi karena

kelainan sekresi insulin, kerja insulin, atau kedua duanya (Association &

Care, 2020).

2.1.2. Klasifikasi Diabetes Melitus

[Link]. Tipe 1 : Diabetes Melitus tergantung insulin (Insulin Dependent Diabetes

Mellitus, IDDM).

[Link]. Tipe 2 : Diabetes Melitus tidak tergantung insulin (Non Insulin Dependen

Diabetes Melitus, NIDDM).

7
8

[Link]. Diabetes Melitus Gastasional : Diabetes tipe ini disebut juga dengan

Gastotional Diabetes Melitus (GDM) terjadi karena intoleransi glukosa

yang diketahui selama kehamilan pertama

[Link]. Diabetes Melitus tipe lain, seperti diabetes neonatal, adanya penyakit

cystic fibrosis dan pengaruh obat atau pasca transplantasi

(Association & Care, 2020).

2.1.3. Etiologi

[Link]. Diabetes Melitus Tergantung Insulin (DM tipe 1)

1) Faktor Genetik

Diabetes tipe I tidak diturunkan, tetapi ada kecenderungan genetic

atau kecenderungan terjadinya diabetes tipe I pada mereka yang

mengembangkannya. Susunan genetik seseorang yang memiliki

antigen HLA (Human Leucocyte Antigen) ditentukan oleh jenias

antigen HLA yang dimilikinya. HLA (Human Leucocyte Antigen)

adalah sekelompok gen. proses kekebalan bertanggung jawab untuk

implantasi antigen yang berarti bahwa mereka membantu memasukkan

zat asing ke dalam tubuh.

2) Faktor Imunologi

Pada Diabetes Melitus tipe 1, ada bukti reaksi autoimun. Ini adalah

reaksi abnormal dimana antibodi menargetkan jaringan tubuh normal

dan berinteraksi dengan mereka seolah-olah mereka asing.

3) Faktor Lingkungan

Beberapa racun dapat menimbulkan proses autoimun yang

menyebabkan kerusakan selbeta.


9

([Link] Rendy Margaret, 2019)

[Link]. Diabetes Melitus Tidak Tergantung Insulin (DM tipe 2)

Penyebab pasti dari Diabetes Melitus tipe 2 ini masih belum

diketahui, akan tetapi faktor genetic diyakini berperan penting dalam

proses resistensi insulin. Resistensi ini dapat meningkat jika penderita

mengalami kegemukan, kurang beraktivitas, penyakit, obat-obatan dan

bertambahnya usia. Pada obesitas, kemampuan insulin untuk

mempengaruhi pengambilan glukosa dan metabolisme oleh hati, otot

rangka, dang jaringan adipose berkurang. Diabetes Melitus tipe 2 yang

baru didiagnosis sudah mengalami komplikasi (Putra, 2019)

Faktor-faktor yang berhubungan dengan proses terjadinya Diabetes

Melitus antara lain (Putra, 2019):

1) Faktor Keturunan

Resiko terkena Diabetes Melitus tipe 2 lebih tinggi jika orang tua

atau saudara sekandung menderita penyakit Diabetes Melitus

2) Pola makan dan gaya hidup

Life style yang tidak sehat menjadi faktor utama ketidakmampuan

pancreas untuk memproduksi insulin secara optimal. Alasan utamanya

adalah sering konsumsi makanan cepat saji atau junkfood yang

menyediakan makanan berlemak dan tidak sehat. Istirahat dan

olahraga yang tidak teratur juga berpengaruh terhadap munculnya

penyakit ini.

3) Kadar Kolesterol Tinggi


10

Kadar kolesterol dalam darah yang tinggi akan menyerap insulin yang

diproduksi oleh pancreas. Pada akhirnya tubuh tidak bisa menyerap

insulin untuk merubah menjadi energi.

4) Obesitas

Obesitas atau kelebihan berat badan di sebabkan oleh kelebihan

lemak yang tidak positif bagi tubuh. Sama hal nya dengan kolesterol,

lemak akan menyerap insulin yang diproduksi oleh pancreas secara

habis-habisan sehingga tubuh tidak kebagian insulin untuk di produksi

sebagai energi

[Link]. Diabetes Gastasional

Diabetes Gestasional terjadi karena intoleransi glukosa yang

diketahui selama kehamilan pertama. Wanita dengan Diabetes gastasional

berada pada peningkatan risiko terkena diabetes 5 sampai 10 tahun setelah

kehamilan (Damayanti, 2015)

[Link]. Diabetes Tipe Lain

Disebabkan oleh kerusakan pancreas akibat kurang gizi, obat,

hormon atau hanya timbul pada saat hamil (Fauzi, 2014).

2.1.4. Manifestasi Klinis

Menurut (Perkerni, 2015) tanda dan gejala Diabetes Melitus dapat

digolongkan menjadi 2 :

[Link]. Gejala Akut

Gejala penyakit Diabetes Melitus bervariasi pada setiap orang,

bahkan mungkin tidak menunjukkan gejala apapun sampai saat tertentu.

Permulaan gejala yang ditujukkan meliputi :


11

1) Makan yang berlebihan (poliphagi) pada Diabetes, karena insulin

bermasalah pemasukan gula kedalam sel-sel tubuh menjadi kurang.

2) Sering merasa haus (polidipsi)

Dengan terlalu banyak urin yang keluar, tubuh akan mengalami

dehidrasi. Untuk mengatasinya, timbul rasa haus sehingga orang ingin

minum.

3) Sering BAK (poliuri)

Ketika kadar gula darah melebihi nilai normal, gula dalam darah

dikeluarkan bersama urin, dan urin yang mengandung banyak gula

tidak dapat disimpan dalam konsentrasi tinggi. sering. Tanpa

pengobatan, gejala seperti minum berlebihan dan buang air kecil, nafsu

makan berkurang, dan penurunan berat badan berkembang dengan

cepat, cepat lelah, dan, jika tidak segera diobati, mual.

[Link]. Gejala Kronis

1) Kesemutan

2) Kulit seperti tertusuk-tusuk jarum

3) Rasa tebal dikulit

4) Mudah gantuk

5) Penglihatan kabur

6) Gatar disekitar vagina terutama pada perempuan

7) Gigi mudah goyah dan lepas

8) Dan para ibu hamil sering mengalami keguguran atau kematian janin

dalam kandungan atau dengan bayi berat lahir lebih dari 4kg.
12

2.1.5. Patofisiologi

Pada diabetes tipe 1, selbeta pancreas telah dihancurkan oleh proses

autoimun dan karena itu tidak dapat memproduksi insulin. Hiperglikemia

diet terjadi karena produksi glukosa dihati tidak terukur. Selain itu, glukosa

makanan tidak disimpan di hati dan tetap berada di dalam darah,

menyebabkan kemungkinan hiperglikemia prospandial. Jika konsentrasi

glukosa dalam darah cukup tinggi, ginjal tidak dapat menyerap kembali

glukosa yang disaring, sehingga glukosa muncul dalam urin (Poliuria).

Kekurangan insulin juga mengganggu metabolisme protein dan

lemak, yang menyebabkan penurunan berat badan. Pasien mungkin

mengalami peningkatan nafsu makan (polifagia), karena simpanan kalori

berkurang. Gejala lainnya termasuk kelelahan dan kelemahan. Dalam

kondisi normal, insulin mengontrol glikogenolisis (pemecahan glukosa

yang disimpan) dan glukoneogenesis (pembentukan glukosa baru dari asam

amino dan zat lain). Namun, pada pasien dengan defisiensi insulin, proses

ini tidak terhambat dan bahkan menyebabkan hiperglikemia. Selain itu,

terjadi kehilangan lemak dan produksi badan keton, produk sampingan dari

kehilangan lemak meningkat. Badan keton adalah asam yang secara

berlebihan mengganggu keseimbangan air tubuh. Ketoasidosis dapat

menyebabkan tanda dan gejala seperti sakit perut, mual, muntah,

hiperventilasi, bau aseton pada napas, dan jika tidak ditangani dapat

menyebabkan pingsan, koma, bahkan kematian. Pemberian insulin bersama

dengan cairan dan elektrolit sesuai kebutuhan dengan cepat membalikkan

gangguan metabolism ini dan mengobati gejala hiperglikemia dan


13

ketoasidosis. Diet dan olahraga, serta sering memantau kadar gula darah,

merupakan bagian penting dari pengobatan.

DM tipe 2 salah sat dari gangguan metabolisme yang merupakan ciri

utama hiperglikemia kronis. Meskipun faktor keturunan tidak jelas,

dikatakan bahwa faktor keturunan memainkan peran yang sangat penting

dalam perkembangan diabetes tipe 2. Ini berinteraksi dengan faktor lingkan

seperti tingkat gaya hidup.

Pathogenesis diabetes tipe 2 umumnya karena resistensi dan sekresi

insulin. Insulin biasanya mengikat reseptor khusus pada permukaan sel.

Pengikatan insulin ke reseptor ini memicu serangkaian reaksi dalam

metabolism glukosa seluler. Diabetes tipe 2 yang resisten terhadap insulin

dikaitkan dengan penurunan respon intraseluler. Akibatnya, insulin menjadi

tidak efektif dalam merangsang jaringan untuk menyerap glukosa. Untuk

mengatasi resistensi insulin dan mencegah pembentukan glukosa dalam

darah, jumlah insulin yang dilepaskan harus ditingkatkan. Pada pasien

dengan gangguan toleransi glukosa, kondisi ini terjadi karena sekresi insulin

yang berlebihan, dan gula darah tetap pada tingkat normal atau sedikit

meningkat. Namun, jika sel tidak dapat memenuhi pengingkatan kebutuhan

insulin, ketoasidosis diabetic tidak terjadi pada diabetes tipe 2 karena kadar

glukosa meningkat dan diabetes tipe 2 berkembang.

Diabetes tipe 2 mungkin tidak terdeteksi sebagai akibat dari

intoleransi glukosa progresif yang lambat (selama bertahun-tahun). Jika

pasien memiliki gejala, seringkali ringan, seperti kelelahan, poliuria,


14

polidipsi, luka kulit yang lambat sembuh, radang daerah vagina, atau

penglihatan kabur (kadar glukosa terlalu tinggi).

(Smeltzer & Bare, 2015).

2.1.6. Komplikasi

Komplikasi yang berkaitan dengan kedua tipe Diabetes Melitus

digolongkan menjadi 2, yaitu:

[Link]. Komplikasi Akut

Komplikasi akut terjadi karena ketidakseimbangan jangka pendek dalam

glukosa darah

1) Koma hiperglikemik karena kadar gula darah tinggi Diabetes biasanya

tidak bergantung pada insulin

2) Ketotoksisitas atau ketosis akibat metabolisme lemak dan protein,

terutama pada diabetes mellitus yang bergantung pada insulin

3) Koma hipoglikemik akibat terapi insulin yang berlebihan dan tidak

terkontrol

(Tarwonto, 2012)

[Link]. Komplikasi Kronik

Komplikasi kronik umumnya terjadi 10 sampai 15 tahun setelah awitan.

1) Komplikasi Makrovaskular (penyakit pembuluh darah besar)

(1) Penyakit Arteri Coroner

Terjadinya penyakit jantung coroner pada penderita diabetes

melitus disebabkan oleh kadar glukosa yang tinggi dalam waktu

yang lama disertai dengan hipertensi, resistensi insulin,

hiperinsulinemia, dahiperaliniamea.
15

(2) Penyakit Serebrivaskulaer

Gejala penyakit ini memiliki kemiripan dengan gejala

hipoglikemia seperti pusing, fertigo, gangguan pengeliatan, bicara

pelo dan kelemahan

(3) Penyakit Vakuler Perifer

Penyakit Diabetes Melitus beresiko tinggi mengalami

penyakit oklusif arteri perifer. Hal ini disebabkan karena penderita

Diabetes Melitus cenderung mengalami perubahan aterosklerotik

dalam pembuluh darah besar pada ekstermitas bawah. Penyakit

arteri oklusif yang parah pada ekstermitas bawah merupakan

penyebab utama terjadi gangrene yang dapat berkaitan amputasi.

2) Komplikasi Mikrovaskuler (penyakit pembuluh darah kecil)

(1) Retinopati Diabetic

Risiko utama retinopati diabetik adalah hiperglikemia yang

berkepanjangan. Retinopati diabetik, yaitu pembentukan

aneurisma mikrovaskuler, peningkatan permeabilitas pembuluh

darah, oklusi pembuluh darah yang menyebabkan iskemia retina,

proliferasi pembuluh darah baru (new blood vessel) dan jaringan

fibrosa retina, penyusutan jaringan fibrous kapiler dan jaringan

virus

(2) Nefropati

Nefropati diabetikum merupakan diagnose klinis

berdasarkan pada albuminuria pada penderita Diabetes Melitus


16

yang ditandai dengan albumin menetap (>300mg/24jam) pada

minimal dua kali pemeriksaan dalam waktu 3 hingga 6 bulan

(Subekti, 2014).

(3) Neuropati Diabetes

Neuropati diabetik adalah gangguan saraf yang disebabkan

oleh kadar gula darah yang tinggi dan dapat menyebabkan

hilangnya atau berkurangnya sensasi nyeri pada kaki.. Angiopati

diabetic adalah penyempitan pembuluh darah pada penderita

diabetes. Sangat mudah bagi penderita diabetes untuk

mempersempit dan menyumbat pembuluh darah, besar atau kecil,

karena pembekuan darah. Penyumbatan pembuluh darah sedang

atau besar di kaki dapat menyebabkan gangrene diabetes.

Gangrene diabetic adalah penyakit kaki berwarna merah gelap

yang berbau busuk. Gangguan pembuluh darah mengganggu suplai

nutrisi, oksigen, dan antibiotic, sehingga kulit sulit sembuh.

Peningkatan kadar gula darah dapat mengeraskan dan bahkan

merusak arteri dan kapiler. Ini mengurangi penyerapan nutrisi dan

oksigen ke jaringan, yang dapat menyebabkan risiko nekrosis

(Tarwonto, 2012)

2.1.7. Pemeriksaan penunjang

[Link]. Kadar Gula Glukosa

Tabel 2.1 Kadar Glukosa Darah sewaktu dan puasa dengan metode
enzimatik sebagai patokan penyaring (Nurarif et al., 2015)

Kadar Glukosa Darah Sewaktu (mg/dl)


Kadar Glukosa Darah Sewaktu DM Belum Pasti DM
17

Plasma Vena >200 100-200


Darah kapiler >200 80-100
Kadar Glukosa Darah Puasa (mg/dl)
Plasma Vena >120 110-120

Darah kapiler >110 90-110

[Link]. Kriteria diagnose WHO untuk Diabetes Melitus pada sedikitnya 2 kali

pemeriksaan :

1) Glukosa plasma sewaktu >200mg/dl (11,1 mmol/L)

2) Glukosa plasma puasa >140 mg/dl (7,8 mmol/L)

3) Glukosa plasma dari sempel yang diambil 2 jam kemudian sesudah

mengonsumsi 75 gr karbohidrat (2jam post prandial (pp) >200 mg/dl).

[Link]. Tes Saring

Tes saring Diabetes Melitus adalah :

1) GDP dan GDS

2) Tes Glukosa Urin :

(1) Tes Konvensional (metode reduksi/benedict)

(2) Tes Carik Celup (metode glucose oxidase/hexokinase)

[Link]. Tes monitoring terapi

1) GDP : Plasma Vena, Darah Kapiler

2) GD 2 PP : Plasma Vena

3) Alc : Darah Vena, Darah Kapiler

[Link]. Tes untuk mendiagnosa komplikasi

1) Mikroalbuminouria : urin

2) Ureum, kratinin, asam urat


18

3) Kolesterol total : plasma vena (puasa)

4) Kolesterol LDL: plasma vena (puasa)

5) Kolesterol HDL : plasma vena (puasa)

6) Trigliserida : plasma vena (puasa)

(NANDA, 2015).

2.1.8. Penatalaksanaan

[Link]. Diet

Syarat diet hendaknya dapat:

1) Meningkatkan kesehatan umum penderita

2) Bertujuan untuk berat badan normal

3) Menekan dan menunda timbulnya penyakit angiopati diabetic

4) Memberikan penyesuaian diet sesuai dengan kondisi penderita

Prinsip diet DM, adalah :

1) Tepat Jadwal

Diet harus sesuai dengan interval waktu yang dibagi menjadi enam kali

makan, yaitu tiga kali makan utama dan tiga kali makan sampingan.

Penderita diabetes sebaiknya mengkonsumsi makanan pada jadwal

yang telah ditentukan agar reaksi insulin selalu konsisten dengan

keberadaan makanan di dalam tubuh.

(1) Sarapan pagi jam 6.00

(2) Kudapan/snack jam 9.00

(3) Makan siang jam 12.00

(4) Kudapan/snack jam 15.00

(5) Makan malam jam 18.00


19

(6) Kudapan/snack jam 21.00

2) Tepat Jumlah

Jumlah makanan (kalori) yang dianjurkan bagi penderita diabetes

adalah makan dalam porsi kecil lebih sering, sedangkan tidak

dianjurkan makan dalam porsi besar sekaligus. Maksud dari asupan

tersebut adalah untuk terus mendistribusikan jumlah kalori secara

merata sepanjang hari, sehingga tidak membebani organ tubuh

terutama pada pankreas.

3) Tepat Waktu

Jenis makanan yang menentukan seberapa cepat kadar gula darah

naik atau turun. Kecepatan makanan dapat meningkatkan kadar gula

darah dalam tubuh disebut indeks glikemik. Hindari makanan dengan

indeks glikemik tinggi, seperti sumber karbohidrat sederhana, gula,

madu, sirup, roti, dll. Makanan dengan indeks glikemik rendah adalah

makanan yang kaya serat, seperti buah-buahan dan sayuran.

(Perkerni, 2015).

[Link]. Olahraga

Pada penderita Diabetes Melitus olahraga adalah salah satu kegiatan

yang penting untuk meningkatkan sirkulasi darah. Olahraga rutin sebanyak

3 kali dalam seminggu selama 30 menir, dapat mengontrol kadar gula

dalam darah dengan mengubah glukosa menjadi energy, dapat

menurunkan berat badan dan dapat merangsang keluarnya insulin,

mengakibatkan insulin semakin meningkat, sehingga dapat memperbaiki

glukosa darah (Suryani & Dkk, 2015).


20

[Link]. Terapi insulin

1) Insulin eksogen kerja cepat

Insulin ini berbentuk cair dan jernih, mempunyai onset cepat

dan durasi pendek. Yang termasuk insulin ini adalah Cristal Zink

Insulin (CZL). Diberikan 30 menit sebelum makan, mencapai puncak

1-3 jam dan efeknya bertahan hingga 8 jam.

2) Insulin eksogen kerja sedang

Insulin ini terlihat keruh karena berbentuk hablur-hablur kecil.

Jenis awal kerjanya 1,5 – 2,5 jam, puncak 4-15 jam dan efeknya

bertahan sampai 24 jam.

3) Insulin eksogen campur antara kerja cepat dan kerja sedang (insulin

premix)

4) Insulin eksogen kerja panjang (>dari 24 jam)

(Putra, 2019).

[Link]. Obat penurun gula darah

1) Golongan Sulphonylureas

Obat golongan ini berfungsi untuk merangsang sel beta pancreas

untuk memproduksi lebih banyak insulin untuk mengangkut glukosa

dalam darah ke sel, sehingga glukosa dalam darah menurun.

2) Golongan Biguanides

Obat golongan ini berfungsi untuk mengurangi penyerapan

glukosa di dalam usus, mengurangi resistensi insulin pada jaringan

perifer dan menghambat glucogenesis hati.

3) Pranidial Glucose Regulator


21

Obat ini berfungsi untuk merangsang insulin tambahan bertepatan

pada proses pencernaan, obat ini biasanya diambil 15 menit sebelum

makan.

4) Thiazolidinedione

Obat ini berfungsi untuk penanganan resistensi insulin,

meningkatkan penyerapan glukosa dijaringan perifer dan menurunkan

produksi glukosa hepatic.

5) Alpha-Glucosidae Inhibitor

Mekanisme kerja obat ini menunda pembentukan monosarida

berasal dari sukrosa dan dapat dicerna dari usus kecil.

(Putra, 2019).

[Link]. Pemantauan

Pemeriksaan gula darah secara mandiri pada penderita Diabetes

Melitus sangat penting untuk mengontrol level gulanya darahnya. Untuk

yang mendapat suntikan insulin cek gula darah 3-4x dalam sehari atau

sebelum makan. Pemantauan yang dapat suntik insulin sebanyak 2-3x

dalam seminggu (Sahar & Dkk, 2019).

2.2. Konsep Lansia

2.2.1. Definisi

Lansia adalah seseorang yang telah memasuki usia 60 tahun keatas

dan tahapan akhir dari fase kehidupannya dan akan terjadi proses penuaan

(Nugroho, 2019).

2.2.2. Klasifikasi Lansia

Klasifikasi menurut (Muhith & Siyoto, 2016) dibagi menjadi:


22

[Link]. Usia pertengahan (middle age), ialah kelompok usia 45 sampai 59 tahun

[Link]. Lanjut usia (elderly), antara 60 sampai 74 tahun

[Link]. Lanjut usia tua (old), antara 60-75 dan 90 tahun

[Link]. Usia sangat tua (very old) diatas 90 tahun

2.2.3. Ciri-ciri lansia

Menurut Kholifah (2016), ciri-ciri lansia sebagai berikut:

[Link]. Lansia Merupakan Periode Kemunduran

Salah satu penyebab menurunnya populasi lansia adalah karena

faktor pendorong. Misalnya, lansia yang lebih termotivasi untuk aktif

memperlambat penurunan fisik. Di sisi lain, lansia dengan motivasi rendah

untuk aktif mempercepat penurunan fisik.

[Link]. Lansia Memiliki Status Kelompok Minoritas

Kondisi tersebut disebabkan oleh sikap sosial yang kurang baik

terhadap orang yang lebih tua dan diperparah dengan pendapat yang

kurang baik. Sikapnya positif.

[Link]. Menua Membutuhkan Sebuah Peran

Peran ini berubah ketika orang dewasa yang lebih tua mulai

mengalami kemunduran di semua lini. Perubahan orang tua harus

didasarkan pada keinginan mereka sendiri, bukan pada tekanan

lingkungan. Misalnya, orang yang lebih tua memiliki status sosial sebagai

ketua RW di komunitasnya, dan masyarakat tidak boleh menolak orang

yang lebih tua sebagai ketua RW karena usianya.

[Link]. Penyesuaian Yang Buruk Pada Lansia


23

Perilaku buruk terhadap orang tua dapat berkontribusi pada perilaku

buruk karena mereka cenderung mengembangkan konsep diri yang buruk.

Akibat perlakuan yang buruk ini, adaptasi pada lansia juga buruk.

2.2.4. Perubahan pada Lansia

Seiring bertambahnya usia manusia, terjadi proses penuaan

degeneratif yang mempengaruhi tidak hanya perubahan fisik, tetapi juga

perubahan kognitif, emosional, sosial, dan seksual. (Azizah, 2011).

[Link]. Perubahan Fisik

1) Sistem Indra

Sistem pendengaran: Prebiacusis (gangguan pendengaran) yang

disebabkan oleh hilangnya pendengaran (kekuatan) di telinga bagian

dalam, terutama suara atau nada keras, bicara cadel, kesulitan

memahami kata-kata, mempengaruhi 50% pada orang yang berusia di

atas 60 tahun.

2) Sistem Integumen

Pada lansia kulit mengalami atropi, kendur, tidak elastis, kering dan

berkerut. Kulit menjadi dehidrasi, tipis dan berbecak.

3) Sistem Muskuluskeletal

Perubahan sistem muskuloskeletal pada lansia: jaringan ikat

(kolagen dan elastin), tulang rawan, tulang, otot dan persendian.

Kolagen mengalami pemanjangan tidak teratur sebagai penopang

kulit, tendon, tulang, tulang rawan, dan jaringan ikat.

(1) Kartilago : jaringan tulang rawan sendi menjadi lunak dan

mengalami granulasi, sehingga permukaan sendi menjadi halus.


24

Kemampuan tulang rawan untuk beregenerasi berkurang dan

degenerasi yang dihasilkan cenderung progresif, sehingga tulang

rawan artikular menjadi rentan terhadap gesekan..

(2) Tulang : Setelah diamati, penurunan kepadatan tulang merupakan

bagian dari penuaan fisiologis, sehingga akan menyebabkan

osteoporosis dan selanjutnya menyebabkan nyeri, deformitas dan

patah tulang.

(3) Otot : Perubahan struktur otot selama penuaan sangat berbeda,

penurunan jumlah dan ukuran serat otot, peningkatan jaringan ikat

dan jaringan adiposa pada otot menyebabkan konsekuensi negatif.

(4) Sendi : pada lansia, jaringan ikat sekitar sendi seperti tendon,

ligament dan fasia mengalami penuaan elastisitas.

4) Sistem Kardiovaskuler

Massa jantung meningkat, ventrikel kiri mengalami hipertrofi,

sehingga curah jantung menurun, kondisi ini terjadi karena perubahan

jaringan ikat.

5) Sistem Respirasi

Selama proses penuaan, jaringan ikat paru-paru berubah sehingga

volume total paru-paru tetap, tetapi volume cadangan paru-paru

meningkat untuk mengimbangi perluasan ruang paru-paru, dan udara

yang masuk ke paru-paru berkurang. Perubahan pada otot, tulang

rawan, dan sendi dada menghambat pernapasan dan mengurangi

kemampuan untuk mengembangkan dada.

6) Pencernaan dan Metabolisme


25

Perubahan yang terjadi pada sistem pencernaan, seperti penurunan

produksi, seperti penurunan fungsi yang ditandai dengan kehilangnya

gigi, penurunan rasa, penurunan rasa lapar, penurunan ukuran hati,

penurunan ruang penyimpanan, dan penurunan aliran darah.

7) Perkemihan

Ada perubahan signifikan dalam sistem kemih. Banyak fungsi yang

berkurang, seperti laju filtrasi, ekskresi dan reabsorpsi ginjal.

8) Sistem Saraf

Kehilangan koordinasi dan kemampuan untuk melakukan aktivitas

sehari-hari pada lansia.

9) Sistem Reproduksi

Perubahan sistem reproduksi lansia ditandai dengan mengecilnya

ovarium dan rahim. Terjadi atrofi payudara. Pada pria, testis masih bisa

menghasilkan sperma, meski produksinya lambat.

[Link]. Kognitif

1) Daya ingat

2) IQ (Intellegent Quotient)

3) Kemampuan dalam belajar (Learning)

4) Kemampuan dalam pemahaman (Comprehension)

5) Dalam pemecahan masalah (problem solving)

6) Dalam pengambilan keputusan (Decision Making)

7) Kebijaksanaan (Wisdom)

8) Kinerja (Performance)

9) Motivasi
26

[Link]. Perubahan Mental

Faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan mental :

1) Pertama-tama perubahan fisik, khususnya organ perasa

2) Kesehatan umum

3) Tingkat pendidikan

4) Keturunan

5) Lingkungan

6) Gangguan saraf panca indera, timbul kebutaan dan ketulian

7) Gangguan konsep diri akibat kehilangan jabatan

8) Rangkaian dari kehilangan, yaitu kehilangan hubungan dengan teman

dan keluarga

9) Hilangnya kekuatan dan daya tahan fisik, perubahan citra diri,

perubahan penentuan nasib sendiri. Perubahan spiritual dalam agama

atau kepercayaan semakin disertakan dalam kehidupan mereka. Orang

yang lebih tua menjadi lebih dewasa dalam kehidupan beragama, dan

ini dalam pemikiran dan tindakan sehari-hari.

[Link]. Perubahan Psikososial

1) Kesepian

Ini terjadi ketika pasangan atau teman dekat meninggal, terutama

ketika orang tua cacat atau dalam kondisi kesehatan yang buruk.

Seperti, gangguan fisik, motorik atau sensorik yang serius, terutama

gangguan pendengaran.

2) Duka cita (Bereavement)


27

Kematian pasangan, teman dekat, atau bahkan hewan peliharaan

dapat merusak pertahanan roh lansia.

3) Depresi

Kesedihan yang terus menerus menyebabkan perasaan hampa,

diikuti oleh keinginan untuk menangis, yang berkembang menjadi

depresi. Depresi juga dapat disebabkan oleh stress lingkungan dan

kemampuan beradaptasi yang buruk.

4) Gangguan Cemas

Gangguan kecemasan dibagi menjadi beberapa kelompok,

termasuk fobia, gangguan panik, gangguan kecemasan umum,

gangguan stres pasca trauma, dan gangguan obsesif-kompulsif.

Gangguan ini menetap pada awal kehidupan dan berhubungan dengan

penyakit sekunder, depresi, efek samping obat, atau gejala putus obat

yang tiba-tiba.

5) Parafrenia

Suatu bentuk skizofrenia pada lansia yang ditandai dengan

delusi (kecurigaan), lansia sering merasa bahwa tetangganya mencuri

hartanya atau berniat membunuhnya. Biasanya terjadi pada orang

dewasa yang lebih tua yang menarik diri dari kegiatan sosial.

6) Syndrome Diogenes

Distorsi yang dialami oleh lansia dengan menampilkan perilaku

yang sangat mengganggu. Ketika rumah atau kamar kotor karena

orang tua bermain dengan kotoran dan air kencingnya, mereka selalu
28

menumpuk hal-hal yang tidak teratur. Meski sudah dibersihkan atau

ditata, situasi ini bisa terjadi lagi.

2.3. Konsep Masalah Keperawatan Gangguan Integritas Kulit/Jaringan

2.3.1. Pengertian

Kerusakan integritas kulit/jaringan adalah kerusakan pada kulit (dermis

dan/atau epidermis) atau jaringan (mukosa, kornea, fasia, otot, tendon,

tulang, tulang rawan, kapsul sendi dan/atau ligamen). (Tim Pokja SDKI,

2017).

Salah satu gangguan integritas kulit/jaringan yang terjadi pada pasien

diabetes adalah ulkus diabetikum dan gangren. Ulkus diabetik adalah

kerusakan sebagian (partial thickness) atau total (full thickness) pada area

kulit yang meluas ke jaringan subkutan, tendon, otot, tulang, atau persendian

yang terjadi pada penderita diabetes. Kondisi ini muncul sebagai akibat dari

kadar gula darah yang tinggi. Jika ulkus kaki berlangsung lama dan tidak

diobati dan tidak sembuh, luka akan terinfeksi. Ulkus kaki, infeksi,

neuropati, dan penyakit arteri perifer adalah penyebab gangren dan amputasi

ekstremitas bawah. (Tarwonto, 2012). Klasifikasi menurut Wagner (2014) :

1) Derajat 0 : kulit kering dan terdapat callous yaitu daerah yang kulitnya

menjadi hipertropik dan anatesi, terjadi deformitas berupa claw toes

2) Derajat 1 : ulkus dengan infeksi yang superfisial terbatas pada kulit

3) Derajat 2 : ulkus yang lebih dalam sampai menembus tendon dan

tulang tetapi tidak terdapat infeksi yang minimal

4) Derajat 3 : abses yang dalam, dengan atau tanpa terbentukya drainase

dan terdapat osteomyelitis


29

5) Derajat 4 : gangrene jari kaki atau bagian distal kaki dengan atau tanpa

selulitis

6) Derajat 5 : gangrene seluruh kaki dan bagian tungkai

2.3.2. Penyebab

Dalam buku standar diagnosis keperawatan Indonesia (Tim Pokja SDKI,

2017) Penyebab gangguan integritas kulit/jaringan adalah neuropati perifer.

Neuropati perifer dapat menyebabkan hilangnya atau berkurangnya sensasi

nyeri pada kaki, sehingga terkena trauma imperceptible yang mengarah

pada gangren pada kaki.

2.3.3. Gejala & Tanda Mayor

[Link]. Subjektif

[Link]. Objektif

1) Kerusakan jaringan dan/atau lapisan kulit

2.3.4. Gejala & Tanda Minor

[Link]. Subjektif

[Link]. Objektif

1) Nyeri

2) Perdarahan

3) Kemerahan

4) Hematoma

2.4. Konsep Asuhan Keperawatan pada Lansia dengan Diabetes Melitus

2.4.1. Pengkajian

[Link]. Identitas
30

1) Usia (diabetes tipe 1 < 30 tahun, diabetes tipe 2 umur lebih 30 tahun,

akan meningkat pada umur 65 tahun atau lebih).

2) Jenis kelamin sebagian besar dijumpai pada perempuan dibanding

laki-laki. Menurut Damayanti (2015) Wanita berisiko lebih besar

terkena diabetes karena mereka secara fisik lebih mungkin mengalami

peningkatan BMI. PMS, setelah menopause, meningkatkan distribusi

lemak tubuh melalui proses hormonal, membuat wanita rentan

terhadap diabetes tipe 2.

(Anisa, 2017).

[Link]. Riwayat Kesehatan Saat Ini

Penglihatan kabur, lemas, takikardi, banyak kencing, susah konsentrasi,

kesemutan pada ekstermitas, luka yang sukar sembuh dan nyeri pada luka

gangrene (Putra, 2019).

[Link]. Riwayat Kesehatan Dahulu

Ada riwayat diabetes atau penyakit lain yang berhubungan dengan

defisiensi insulin, seperti penyakit pankreas. Ada riwayat penyakit

jantung, obesitas, aterosklerosis, prosedur medis yang didapat serta obat-

obatan yang biasa digunakan pasien (Putra, 2019).

[Link]. Riwayat Kesehatan Keluarga

Dari gambaran etnik keluarga, biasanya ada satu anggota keluarga

yang juga menderita diabetes atau penyakit genetik yang dapat

menyebabkan defisiensi insulin, seperti tekanan darah tinggi dan penyakit

jantung (Putra, 2019).

[Link]. Riwayat Pekerjaan


31

Pekerjaan yang dapat mempengarahi penyakit Diabetes Melitus

adalah pekerjaan yang hanya duduk dibelakang meja saja dan kurang

banyak melakukan aktivitas (Manurung & Dll, 2014). Pekerjaan yang

lebih beresiko terkena diabetes melitus adalah pekerjaan dengan waktu

yang tidak tepat, atau mendapat shift malam karena shift malam dapat

menganggu rutinitas sosial dan biologis, termasuk tidur. Ini juga

meningkatkan resiko gangguan metabolism (Anisa, 2017).

[Link]. Riwayat Psikososial

Diabetes dapat terjadi ketika klien mengalami atau mengalami stres

fisik dan emosional (yang dapat meningkatkan kadar hormon stres seperti

kortisol, epinefrin, dan glukagon), gula darah dapat menyebabkan

peningkatan nilai. (Susilowati, 2014).

[Link]. Nutrisi

Pola nutrisi berisi kebiasaan klien dalam memenuhi kebutuhan

nutrisi, riwayat peningkatan atau penurunan berat badan dan pantangan

makan. Penderita diabetes selalu mengeluh ingin makan tapi berat

badannya turun karena glukosa tidak bisa masuk ke dalam sel (Tarwonto,

2012)

[Link]. Tinjauan Sistem

1) Umum

Klien tampak kelelahan, adanya perubahan berat badan dan mengalami

hipertermi karena terjadi infeksi (Susilowati, 2014).

2) Breathing (B1)
32

(1) Inpeksi : bentuk dada simetris, pada lansia dengan Diabetes

Melitus biasanya tidak terjadi gangguan pernafasan, akan tetapi

pada penderita Diabetes Melitus juga mudah terjadi infeksi pada

sistem pernafasan, jika terjadi infeksi maka akan mengakibatkan

sesak nafas dan batuk, nafas bau aseton

(2) Palpasi : vocal fremitus antara kanan kiri sama, susunan ruas tulang

belakang normal.

(3) Perkusi : jika terjadi sesak nafas atau batuk maka akan terdengar

pekak karena terdapat lender

(4) Auskultasi : terdapat suara tambahan seperti ronchi jika terjadi

sesak pada lansia dengan Diabetes Melitus

(Kautsar, 2018).

3) Blood (B2)

(1) Inpeksi : Penyembuhan luka yang lama, mungkin terjadi

hipertensi, tidak ada clubbing finger dan tidak ada pembesaran

JVP.

(2) Palpasi : Tidak ada nyeri tekan, ictus cordis tidak teraba, CRT <2

detik (bisa terjadi >3 detik dan sianosis), bisa terjadi takikardia,

pulsasi kuat lokasi radialis.

(3) Perkusi : Biasanya terdengar suara dullness atau redup atau pekak

pada ICS 3 hingga ICS 5

(4) Auskultasi : Bunyi jantung normal dan tidak ada suara jantung

tambahan seperti gallop dan rhytme

(Muttaqin, 2012)
33

Secara umum perubahan sistem kardiovaskuler pada lansia yang

terjadi karena proses penuaan adalah katup jantung menebal dan

menjadi kaku sehingga menyebabkan bising jantung (murmur), jantung

serta arteri kehilangan elastisitasnya (Muhith & Siyoto, 2016).

4) Brain (B3)

(1) Inspeksi : Kesadaran bisa baik ataupun menurun, klien bisa pusing,

merasa kesemutan, mungkin tidak disorientasi, terkadang ada

gangguan memori

(2) Palpasi : Tidak ada parese

Secara umum, perubahan susunan saraf pusat pada lansia yang

terjadi akibat proses penuaan mengalami perubahan anatomis secara

bertahap dan atrofi serabut saraf lansia. Orang dewasa yang lebih tua

mengalami penurunan koordinasi dan kemampuan untuk melakukan

aktivitas sehari-hari

5) Bladder (B4)

(1) Inspeksi : Frekuensi berkemih meningkat dan saat berkemih akan

terasa panas dan sakit, berwarna kuning, berbau khas, terdapat

merah disekitar genetalia yang dapat menyebabkan gatal dan

mengalami penurunan fungsi seksual

(2) Palpasi : Tidak ada nyeri tekan pada simfisis pubis

(Muhith & Siyoto, 2016)

6) Bowel (B5)

(1) Inspeksi : Pada lansia dengan diabetes melitus terjadinya

peradangan pada mulut (mukosa mulut, gusi, uvulas dan tonsil),


34

adanya caries gigi, adanya bau nafas seperti bau buah yang

menunjukkan terjadinya kateosidosis diabetic, biasanya terjadi

mual muntah karena kadar kalium yang menurun

(2) Palpasi : Tidak ada nyeri tekan

(3) Perkusi : Terdengar suara tympani

(4) Auskultasi : Peristaltic usus normal 5-35x/menit

(Sanjaya, 2016)

7) Bone (B6)

(1) Inpeksi : Biasanya ada luka gangrene pada bagian ektermitas, luka

tampak warna kemerahan atau kehitaman (Muhith & Siyoto,

2016).

(2) Palpasi : Terdapat edema dan terasa nyeri jika ditekan, akral

hangat, kekuatan otot menurun, pergerakan sendi dan tungkai bisa

mengalami gangguan dan terbatas. Pada lansia dengan Diabetes

Melitus akan mengalami nyeri pada luka, akan tetapi dapat juga

mengalami mati rasa dikarenakan saat aliran darah kurang lancar

dan saraf-saraf kurang sensitive terhadap rangsangan dan

akibatnya penderita diabetes kerap tidak menyadari adanya luka.

Tekstur kulit pada penderita yang mengalami diuresis, osmois dan

dehidrasi akan kering, turgor kulit akan menurun pada saat

dehidrasi (Susilowati, 2014).

8) Pengindraan (B7)

(1) Inspeksi : Penderita diabetes menderita katarak karena peningkatan

kadar gula dalam cairan di lensa mata. Konjungtiva anemis pada


35

pasien yang kurang tidur karena sering buang air kecil di malam

hari. Kabur, penglihatan ganda, lensa buram, simetri bola mata,

gangguan pada indera penciuman karena gangguan pada saraf

olfaktorius, gangguan pendengaran akan terjadi karena penderita

diabetes dapat merusak saraf vestibular.

(2) Palpasi : Pada lansia dengan diabetes melitus bola mata teraba

kenyal, dan tidak teraba nyeri tekan.

(Rahmawati, 2017)

9) Endokrin (B8)

Pada penderita Diabetes Melitus biasanya mengalami polifagia

(merasa lapar), polidipsi (merasa haus) dan poliuria (banyak BAK)

(Smeltzer & Bare, 2015).

2.4.2. Analisa Data

Analisa data merupakan kemampuan kognitif perawat dalam daya

berfikir dan penalaran yang dipengaruhi latar belakang ilmu dan

pengetahuan, pengalaman, dan pengertian subtansi ilmu perawat dan proses

penyakit. Dalam melakukan analisa data, perawat harus memperhatikan

langkah-langkah seperti memvalidasi data kembali, teliti kembali data yang

terkumpul, mengidentifikasi kesenjangan data, susunan kategori data secara

sistemik dan logis, identifikasi kemampuan dan keadaan yang menunjang

asuhan keperawatan klien, buat hubungan sebab akibat antara data dengan

masalah yang timbul serta penyebabnya, buat kesimpulan tentang

kesenjangan yang ditemukan (Young, 2014).


36

2.4.3. Diagnosa Keperawatan

Table 2.2 Diagnosa Keperawatan Pasien dengan Diabetes Melitus (Tim Pokja SDKI,
2017)

No. Diagnosa Gejala dan Tanda Gejala dan Tanda


Keperawatan Mayor Minor
D.0023 Hipovolemia Subjektif Subjektif
berhubungan dengan (Tidak tersedia) 1. Merasa lemah
kegagalan Objektif 2. Mengeluh haus
mekanisme regulasi 1. Frekuensi nadi Objektif
meningkat 1. Pengisisan vena
2. Nadi teraba lemah menurun
3. Tekanan darah 2. Status mental
menurun berubah
4. Tekanan nadi 3. Suhu tubuh
menyempit meningkat
5. Turgor kulit 4. Konsentrasi urin
menurun meningkat
6. Membrane mukosa 5. Berat badan turun
kering tiba-tiba
7. Volume urin
menurun
8. Hematokrit
meningkat
D.0019 Defisit nutrisi Subjektif Subjektif
berhubungan dengan (Tidak tersedia) 1. Cepat kenyang
ketidakmampuan Objektif setelah makan
mengabsorbsi nutrien 1. Berat badan 2. Kram/nyeri
menurun minimal abdomen
10% di bawah 3. Nafsu makan
rantang ideal menurun
Objektif
37

1. Bising usus
hiperaktif
2. Otot pengunyah
lemah
3. Otot menelan
lemah
4. Membrane mukosa
pucat, sariawan
5. Serum albumin
turun
6. Rambut rontok
berlebihan
7. Diare
D.0192 Gangguan Integritas Subjektif Subjektif
Kulit berhubungan (Tidak tersedia) (Tidak tersedia)
dengan neuropati Objektif Objektif
perifer Kerusakan jaringan 1. Nyeri
dan/atau lapisan kulit 2. Perdarahan
3. Kemerahan
4. Hematoma
D.0111 Deficit pengetahuan Subjektif Subjektf
berhubungan dengan 1. Menanyakan (tidak tersedia)
kurang terpapar masalah yang Objektif
informasi dihadapi 1. Menjalani
Objektif pemeriksaan yang
1. Menunjukkan tidak tepat
perilaku tidak sesuai 2. Menunjukkan
anjuran perilaku berlebihan
2. Menunjukkan (mis. Apatis,
persepsi yang keliru bermusuhan,
terhadap masalah agitasi, hysteria).
38

D.0144 Ketidakpatuhan Subjektif Subjektif


berhubungan dengan 1. Menolak menjalani (tidak tersedia)
ketidakadekuatan perawatan/pengobat Objektif
pemahaman an 1. Tampak
(sekunder akibat 2. Menolak mengikuti tanda/gejala
defisit kognitif, anjuran paenyakit/masalah
kecemasan. Objektif masih ada atau
Gangguan 1. Perilaku tidak meningkat
pengelihatan/penden mengikuti program 2. Tampak komplikasi
garan, kelelahan, 2. Perilaku tidak penyakit/masalah
kurang motivasi. menjalankan anjuran kesehatan menetap
atau meningkat.
D.0142 Resiko infeksi Factor Resiko
dibuktikan dengan 1. Penyakit kronis (mis. Diabetes melitus
penyakit kronis 2. Efek prosedur invasive
3. Malnutrisi
4. Peningkatan papasaran organisme pathogen
lingkungan
5. Ketidakadekuatan pertahanan tubuh primer
1) Gangguan peristaltic
2) Kerusakan integritas kulit
3) Perubahan sekresi pH
4) Penurunan kerja siliaris
5) Ketuban pecah lama
6) Ketuban pecah sebelum waktunya
7) Merokok
8) Statis cairan tubuh
6. Ketidakadekuatan pertahanan tubuh sekunder:
1) Penurunan hemoglobin
2) Imununosepresi, lesukopenia
3) Supresi respon inflamasi
4) Vaksinasi tidak adekuat
2.4.4. Intervensi Keperawatan

Tabel 2.2 Intervensi Keperawatan Menurut (Tim Pokja SLKI, 2018)dan (Tim Pokja SIKI, 2018)
Diagnosa Keperawatan SLKI SIKI

Kode Diagnosis Kode Luaran Kode Intervensi

D.0023 Hipovolemia Setelah dilakukan tindakan / kunjungan Intervensi Utama


berhubungan selama 3x diharapkan kebutuhan cairan atau I.03121 Pemantauan Cairan
dengan kegagalan dehidrasi klien membaik, dengan kriteria Observasi
mekanisme hasil : 1. Monitor frekuensi dan
regulasi Luaran Utama kekuatan nadi
L.03028 Status Cairan 2. Monitor tekanan darah
1. Kekuatan nadi meningkat 3. Monitor berat badan
2. Turgor kulit meningkat 4. Monitor elatisitas dan
3. Perasaan lemah menurun turgor kulit
4. Keluhan haus menurun 5. Monitor jumlah, warna
5. Konsentrasi urin menurun dan berat jenis urine
6. Membrane mukosa membaik 6. Monitor intake dan
7. Tekanan darah membaik output cairan

Terapeutik
Luaran Tambahan 1. Atur interval waktu
L.05020 1. Keseimbangan Cairan pemantauan sesuai
L.03021 2. Keseimbangan Elektrolit dengan kondisi klien
2. Dokumentasikan hasil
pemantauan

Edukasi

39
1. Jelaskan tujuan dan
prosedur pemantauan
2. Informasikan
pemantauan, jika perlu

Intervensi Tambahan
I.14527 Pemantauan Elektrolit

D.0019 Defisit nutrisi Setelah dilakukan tindakan / kunjungan Intervensi Utama


berhubungan selama 3x diharapkan status nutrisi klien I.03119 Manajemen Nutrisi
dengan membaik, dengan kriteria hasil : Observasi
ketidakmampuan Luaran Utama 1. Identifikasi status nutrisi
mengabsobsi L.03030 Status Nutrisi 2. Identifikasi alergi dan
nutrien 1. Kekuatan otot mengunyah meningkat intoleransi makanan
2. Kekuatan otot menelan meningkat 3. Monitor asupan makanan
3. Pengetahuan tentang pilihan makanan 4. Monitor berat badan
dan minuman yang tepat dan sehat
meningkat Terapeutik
4. Sikap terhadap makanan/minuman 1. Lakukan oral hygine
sesuai dengan tujuan kesehatan sebelum makan, jika
meningkat perlu
5. Nyeri abdomen menurun 2. Fasilitasi menetukan
6. Berat Badan membaik pedoman diet (mis,
7. Nafsu makan membaik piramida makanan)
8. Membrane mukosa membaik
Edukasi
Ajarkan diet yang
L.12110 Luaran Tambahan diprogramkan
1. Tingkat Kepatuhan

40
Kolaborasi
Kolaborasi dengan ahli gizi
untuk menentukan jumlah
kalori dan jenis nutrient yang
dibutuhkan, jika perlu

I.12369 Intervensi Tambahan


1. Edukasi Diet
D.0142 Resiko infeksi Setelah dilakukan tindakan / kunjungan Intervensi Utama
berhubungan selama 3x diharapkan resiko infeksi I.14539 Pencegahan Infeksi
dengan penyakit terhadap klien menurun, dengan kriteria Observasi
kronis hasil : Monitor tanda dan gejala
Luaran Utama infeksi local dan sistemik
L.14137 Tingkat Infeksi
1. Kebersihan tangan meningkat Terapeutik
2. Kebersihan badan meningkat 1. Berikan perawatn kulit
3. Kemerahan pada kulit menurun pada edema
4. Nyeri menurun 2. Cuci tangan sebelum dan
5. Bengkak menurun sesudah kontak dengan
6. Cairan berbau busuk menurun pasien

Edukasi
Luaran Tambahan 1. Jelaskan tanda dan gejala
L.14128 1. Kontrol Resiko infeksi
2. Ajarkan cuci tangan yang
benar
3. Ajarkan cara memeriksa
kondisi luka atau luka
operasi

41
4. Anjurkan meningkatkan
asupan cairan dan nutrisi

Intervensi Tambahan
I.14564 1. Perawatan Luka
D.0129 Gangguan Setelah dilakukan tindakan / kunjungan Intervensi Utama
Integritas selama 3x diharapkan gangguan integritas I.14564 Perawatan luka
Kulit/jaringan kulit dan jaringan terhadap klien meningkat, Observasi
berhubungan dengan kriteria hasil : 1. Monitor karakteristik luka
dengan neuropati Luaran Utama (mis. Drainase, warna,
perifer L. 14125 Integritas Kulit dan Jaringan ukuran, bau)
1. Elastisitas kulit meningkat 2. Monitor tanda-tanda
2. Kerusakan lapisan kulit menurun infeksi
3. Nyeri menurun
4. Kemerahan menurun Terapeutik
5. Nekrosis menurun 1. Lepaskan balutan dan
6. Tekstur kulit membaik plester secara perlahan
2. Bersihkan dengan cairan
Luaran Tambahan NaCi 0,9% atau pembersih
L. 14130 1. Penyembuhan Luka nontoksik, sesuai
kebutuhan
3. Bersihkan jaringan
nekrotik
4. Berikan salep yang sesuai
ke kulit/lesi jika perlu
5. Pasang balutan sesuai jenis
luka

42
6. Pertahankan teknik steril
saat melakukan perawatan
luka
7. Ganti balutan sesuai
jumlah eksudat dan
drainase

Edukasi
1. Jelaskan tanda-tanda
infeksi
2. Ajarkan prosedur
perawatan luka secara
mandiri
3. Anjurkan mengkonsumsi
makanan tinggi kalori dan
protein

Kolaborasi
1. Kolaborasi pemberian
antibiotic, jika perlu

Intervensi Tambahan
I.12426 1. Edukasi Perawatan Kulit
D.0111 Deficit Setelah dilakukan tindakan / kunjungan Intervensi utama
pengetahuan selama 3x diharapkan tingkat pengetahuan I.12383 Edukasi kesehatan
berhubungan klien meningkat, dengan kriteria hasil Observasi
dengan kurang Luaran utama
terpapar informasi L.12111 Tingkat pengetahuan

43
1. Perilaku sesuai anjuran meningkat 1. Identifikasi kesiapan dan
2. Verbalisasi minat dalam belajar kemampuan menerima
meningkat informasi
3. Perilaku sesuai pengetahuan meningkat 2. Identifikasi faktor-faktor
4. Persepsi yang keliru terhadap masalah yang dapat meningkatkan
menurun dan menurunkan motivasi
perilaku hidup bersih dan
Luaran tambahan sehat
L.12110 Tingkat kepatuhan
Terapeutik
1. Sediakan materi dan media
pendidikan kesehatan
2. Jadwalkan pendidikan
kesehatan sesuai
kesepakatan
3. Berikan kesempatan untuk
beratanya

Edukasi
1. Jelaskan faktor resiko yang
dapat mempengaruhi
kesehatan
2. Ajarkan perilaku hidup
bersih dan sehat
3. Ajarkan strategi yang
dapat digunakan untuk
meningkatkan perilaku
hidup bersih dan sehat.

44
I.12360 Intervensi pendukung
Bimbingan sistem kesehatan
D.0144 Ketidakpatuhan Setelah dilakukan tindakan / kunjungan Intervensi utama
berhubungan selama 3x diharapkan tingkat kepatuhan I.12361 Dukungan kepatuhan
dengan klien meningkat, dengan kriteria hasil program pengobatan
ketidakadekuatan Luaran utama Observasi
pemahaman L.12110 Tingkat kepatuhan 1. Identifikasi kepatuhan
(sekunder akibat 1. Merbalisasi kemauan memenuhi menjalani program
deficit kognitif, program perawatan atau pengobatan pengobatan
kecemasan, meningkat
gangguan 2. Verbalisasi mengikuti anjuram Terapeutik
pengelihatn/pende meningkat 1. Buat komitmen
ngaran, kelelahan, 3. Risiko komplikasi penyakit/masalah menjalani program
kurang motivasi) kesehatan menurun pengobatan dengan baik
4. Perilaku menjalankan anjuran membaik 2. Libatkan keluarga untuk
mendukung program
Luaran tambahan pengobatan yang dijalani
L.12111 Tingkat pengetahuan
Edukasi
1. Informasikan program
pengobatan yang harus
dijalani
2. Informasikan manfaat
yang akan diperoleh jika
teratur menjalani
program pengobatan

45
3. Anjurkan pasien dan
keluarga melakukan
konsultasi ke pelayanan
kesehatan terdekat, jika
perlu

Intervensi pendukung
I.14525 Pelibatan keluarga

46
47

2.4.5. Implementasi Keperawatan

Implementasi keperawatan adalah serangkaian tindakan yang

dilakukan oleh perawat dan profesional perawatan kesehatan lainnya untuk

mendukung proses penyembuhan dan pengobatan pasien, menangani

masalah kesehatan pasien yang sebelumnya didokumentasikan dalam

rencana perawatan. (Nursalam, 2011).

2.4.6. Evaluasi Keperawatan

Penilaian akhir adalah penilaian yang dilakukan dengan

membandingkan perubahan kondisi pasien (hasil yang diamati) dengan

tujuan dan kriteria hasil yang ditetapkan selama fase perencanaan. Menurut

(Nursalam, 2011), evaluasi keperawatan terdiri dari dua jenis yaitu :

[Link]. Evaluasi formatif

Hasil observasi perawat dan menganalisis reaksi klien segera setelah

memberikan intervensi keperawatan

[Link]. Evaluasi somatif

Ringkasan dan kesimpulan dari pengamatan dan analisis status kesehatan

berdasarkan waktu dan tujuan. Dengan metode evaluasi ini menggunakan

SOAP :

S (Subyektif) : keluhan klien setelah tindakan

O (Obyektif) : data hasil pengukuran/observasi pada klien setelah tindakan

keperawatan

A (Assessment) : interpretasi dari DS dan DO

P (Planning) : perencanaan keperawatan yang dilanjutkan, dihentikan,

dimodifikasi atau tambahan dari intervensi sebelumnya.


2.5. Pathway Diabetes Melitus

[Link] genetic, infeksi


virus dan pengerusakan Kerusakan sel Ketidak seimbangan Gula tidak dapat Anabolisme protein
4.
imunologik beta produksi insulin masuk ke sel
5.
Kerusakan antibodi
Batas melebihi
Poliura →retensi Deurisi osmotik Glukoseria
ambang ginjal hiperglikemia Kekebalan tubuh ↓

Kehilangan Kehilangan kalori


Informasi Perubahan situasi
elektrolit dalam sel Resiko Neuropati
minim
infeksi sensori perifer
Sel berkurang bahan
Dehidrasi untuk metabolisme Defisit Metode koping
Klien tidak merasa sakit
pengetahuan tidak efektif
Hipovolemia Merangsang hipotalamus
Nekrosis luka
ketidakpatuhan
lapar & haus
Gangrene

Polidipsi Defisit Nutrisi


Gangguan integritas
polifagia
kulit/jaringan

Gambar 2.1 Kerangka Masalah Diabetes sumber (Nurarif et al., 2015) penulisan menurut (Tim Pokja SDKI, 2017)

48
BAB III

TINJAUAN KASUS

Bab ini menyajikan luaran pelaksanaan pelayanan keperawatan, dimulai

dengan tahapan pengkajian, diagnosis, perencanaan, implementasi, dan

pengambilan kasus kapan dan dimana.

3.1. Pengkajian

3.1.1. Identitas

Tabel 3.1 Identitas


Klien 1 Klien 2

Ny. P (61 tahun), sudah menikah, Tn . A (58 tahun), sudah menikah,


agama islam, pendidikan terakhir beragama islam, pendidikan terakhir
SD, sebagai IRT, alamat Desa Bluru SLTA/sederajat, Bekerja sebagai
Kidul Rt 03 Rw 06 Sidoarjo. penjual, alamat Desa Bluru Kidul Rt
Tanggal pengkajian 23 Mei 2022. 02 Rw 06 Sidoarjo. Tanggal
pengkajian 23 Mei 2022.

3.1.2. Riwayat Kesehatan

Tabel 3.2 Riwayat Kesehatan


Riwayat Klien 1 Klien 2
kesehatan

Keluhan utama Klien mengatakan terdapat Klien mengatakan terdapat


luka gangrene pada jempol 2 luka gangrene di telapak
kaki kiri kaki kiri dan di bagian
talus kaki kanan

Riwayat Klien mengatakan kurang Klien mengatakan sudah


kesehatan saat ini lebih 3 bulan yang lalu lama terdapat luka
jempol kaki kiri terkena gangrene dan pernah 4x
kursi dan lama kelamaan operasi dan amputasi pada
timbul luka disertai jari tengah kaki kanan. Saat
bengkak dan rasa nyeri lalu pengkajian tanggal 23 Mei
klien dibawah ke RS. Saat 2022 didapatkan 2 luka
pengkajian tanggal 23 Mei yakni 1) pada telapak kaki
2022 didapatkan luka kiri bagian lateral dengan
ganggreen pada jempol kaki drajat luka 2 yakni ulkus
kiri yang tertutup kassa. dengan kedalaman

49
50

Saat luka dibuka luka pada mencapai tulang, warna


drajat 2 yakni ulkus dalam merah pada dasar luka,
mencapai tendon, warna cairan jernih, tidak terdapat
dasar luka merah muda, nanah dan tak berbau, luas
tidak terdapat pus, cairan luka 6-7cm dan kedalaman
jernih dan tidak berbau, luas 3-4 cm. 2) luka pada bagian
luka 1-2 cm dan kedalaman talus kaki kanan dengan
1-2 cm. Nilai GDP 380 klasifikasi ulkus drajat 2
mg/dl yakni ulkus dalam
mencapai tendon namun
tidak sampai tulang, warna
dasar luka merah terdapat
cairan jernih, tidak terdapat
pus dan tidak berbau, luas
luka 2-3 cm dan kedalaman
1-2 cm. Luka kedua duanya
tidak terdapat rasa nyeri.
Nilai GDP 325 mg/dl

Riwayat penyakit Klien mengatakan sudah Klien mengatakan sudah


sebelumnya menderita diabetes melitus menderita diabetes melitus
kurang lebih 10 tahun. Klien kurang lebih 8 Tahun.
tidak memiliki riwayat Klien tidak memiliki alergi
alergi pada obat maupun pada obat, makanan
makanan dan minuman. maupun minuman. Klien
Klien juga tidak memilik memiliki riwayat operasi
riwayat operasi 4x yakni operasi pertama
tahun 2015 pada kaki
kanan karna luka gangrene,
operasi kedua tahun 2017
pada kaki jari kaki kanan
karna luka gangrene ,
operasi ketiga tahun 2017
operasi amputasi pada jari
tengah kaki kanan karna
luka gangrene. Operasi
terakhir dilakukan 5 bulan
yang lalu pada telapak kaki
kiri karna luka gangrene.

Riwayat Klien mengatakan jika Klien mengatakan jika


kesehatan ibunya juga pernah ibunya juga pernah
keluarga menderita penyakit diabetes menderita penyakit
melitus. diabetes melitus.

Perilaku yang Klien mengatakan jika Klien mengatakan jika ia


mempengaruhi diabetes melitus ini masih belum bisa
kesehatan dikarenakan sebelum menghindari makanan dan
timbulnya luka gangrne minuman manis, oleh
51

klien sering mengkonsumsi sebab itu klien


makanan dan minuman menyimpulkan salah satu
yang manis, tetapi setelah pemicu luka gangrene yang
timbulnya gangrene pada sukar sembuh karna masih
jempol kaki kiri klien sudah mengkonsumsi makanan
mengurangi makanan dan dan minuman manis. Klien
minuman manis dengan juga mengatakan
takaran gula 1 sendol teh. keluarganya masih sering
buat makanan dan
minuman yang manis
sehingga klien tidak tahan
untuk mencobanya. Untuk
takaran gula 1 setengah
sendok teh.

Pengetahuan Klien mengatakan jika ia Klien mengatakan jika ia


klien tentang mengerti apa itu penyakit memahami apa itu
penyakitnya Diabetes Melitus mulai dari Diabetes Melitus secara
pengertiannya, definisi, faktor penyebab
penyebabnya, sampai dan komplikasinya tetapi
komplikasinya. Akan tetapi klien masih belum faham
klien masih belum sepenuhnya tentang diet
mengetahui tentang diet diabetes melitus.
diabetes melitus yang
diketahui hanya
mengurangi konsumsi yang
manis-manis.

3.1.3. Genogram

[Link]. Genogram klien 1

DM DM DM DM

Gambar 3.1 Genogram Keluarga Klien 1

[Link]. Genogram klien 2


DM

DM
52

Gambar 3.2 Genogram Keluarga Klien 2

Keterangan :
Perempuan

Laki – laki

Meninggal

DM Klien

3.1.4. Riwayat Psikososial

Tabel 3.3 Riwayat Psikososial


Riwayat Klien 1 Klien 2
Psikososial

Kondisi tempat Klien memiliki jenis Klien memiliki jenis


tinggal klien bangunan permanen dengan bangunan permanen dengan
luas rumah 6x7m2. Rumah luas rumah 8x10m2. Rumah
terletak didalam gang yang beralas keramik, rapi dan
penuh dengan rumah bersih, rumah terdapat toko.
penduduk. Rumah tampak
rapi dan bersih.

Hubungan / Klien mengatakan jika Klien mengatakan jika


dukungan keluarga sedikit khawatir akan keluarga sedikit khawatir
keluarga kondisi klien yang terdapat dengan kondisi luka gangrene
luka gangrene, namun klien yang timbul lagi, namun
keluarga selalu mendukung keluarga selalu mendukung
kesembuhan klien dengan kesembuhan klen dengan
memperhatikan dan memperhatikan dan
membantu klien beraktivitas membantu klien dalam
sehari harinya saat memang merawat luka gangrene dan
membutuhkan bantuan dan mengkonsultasikan ke RS
mengantar klien untuk
konsultasi ke RS.

Kemampuan Klien mengatakan masih Klien mengatakan masih


klien dalam mampu melaksanakan mampu dalam melaksanakan
melaksanakan perannya sebagai ibu rumah perannya sebagai ayah
perannya tangga. meskipun sudah pensiun dari
pekerjaan klien memiliki
53

pekerjaan sampingan yakni


menjual almari kayu jati

Harapan klien Klien berharap semoga Klien berharap semoga gula


terhadap diabetesnya ini tidak sampe darah klien dalam nilai normal
penyakitnya terkena komplikasi yang lebih dan luka gangrene nya tidak
parah dan gula darahnya timbul lagi dan tidak sampai
dalam nilai normal. operasi lagi.

Hubungan Klien mengatakan memiliki Klien mengatakan menjalin


klien dengan hubungan baik dengan hubungan baik dengan
masyarakat di lingkungan sekitarnya. tetangga rumah.
sekitarnya

3.1.5. Riwayat Nutrisi dan Cairan

Tabel 3.4 Riwayat Nutrisi dan Cairan


Riwayat Klien 1 Klien 2
Nutrisi dan
Cairan

Nafsu makan Klien mengatakan nafsu Klien mengatakan nafsu


makan baik. makan baik.

Frekuensi Klien mengatakan makan Klien mengatakan makan


makan 3x/hari 1 porsi habis. 3x/hari 1 porsi habis.

Menu makan Klien mengatakan sering Klien mengatakan sering


konsumsi nasi, beberapa konsumsi nasi, beberapa lauk
lauk pauk dan sayuran. pauk dan sayuran.

Pantangan Klien mengatakan memiliki Klien mengatakan memiliki


makan pantangan makan makanan pantangan makan makanan
yang mengandung gula yang mengandung gula

Jenis konsumsi Klien lebih menyukai air Klien mengkonsumsi air


cairan perhari putih, sehari biasa putih, sehari sekitar 2000ml.
mengkonsumsi sekitar ± 7-8
gelas / hari (1.500ml)

Jenis minuman Air putih Air putih


54

3.1.6. Identifikasi Kemampuan Dalam Melakukan Aktivitas Sehari-hari

[Link]. Indeks KATZ Klien 1

Tabel 3.5 Indeks KATZ Klien 1

Skore Kriteria

A Mandiri dalam makan, kontinensia (BAK/BAB), menggunakan


pakaian, pergi ke toilet, berpindah dan mandi

B Mandiri, semuanya kecuali salah satu saja dari fungsi di atas

C Mandiri, kecuali mandi dan satu lagi fungsi yang lain

D Mandiri, kecuali mandi berpakaian dan satu fungsi yang lain

E Mandiri, kecuali mandi berpakaian, ke toilet dan satu fungsi yang lain

F Mandiri, kecuali mandi, berpakaian, ke toilet, berpindah dan satu


fungsi yang lain

G Ketergantungan untuk semua fungsi

H Lain-lain : tergantung pada sedikitnya dua fungsi tetapi tidak


diklarifikasikan sebagai C, D, A atau F

[Link]. Indeks KATZ Klien 2

Tabel 3.6 Indeks KATZ Klien 2


Skore Kriteria

A Mandiri dalam makan, kontinensia (BAK/BAB), menggunakan


pakaian, pergi ke toilet, berpindah dan mandi

B Mandiri, semuanya kecuali salah satu saja dari fungsi di atas

C Mandiri, kecuali mandi dan satu lagi fungsi yang lain

D Mandiri, kecuali mandi berpakaian dan satu fungsi yang lain

E Mandiri, kecuali mandi berpakaian, ke toilet dan satu fungsi yang lain

F Mandiri, kecuali mandi, berpakaian, ke toilet, berpindah dan satu


fungsi yang lain

G Ketergantungan untuk semua fungsi


55

H Lain-lain : tergantung pada sedikitnya dua fungsi tetapi tidak


diklarifikasikan sebagai C, D, A atau F

3.1.7. Modifikasi Barthel Indeks

[Link]. Modifikasi Barthel Indeks Klien 1

Tabel 3.7 Modifikasi Barthel Indeks Klien 1


Dengan
No Kriteria Mandiri Skor
Bantuan

1 Makan 5 10 10

2 Minum 5 10 10

Berpindah dari kursi roda ke


3 5 - 10 15 15
tempat tidur, sebaliknya

Personal toilet (cuci muka,


4 0 5 5
menyisir rambut, gosok gigi)

Keluar masuk toilet (mencuci


5 pakaian. Menyeka tubuh, 5 10 10
menyiram)

6 Mandi 5 15 15

7 Jalan di permukaan datar 0 5 5

8 Naiki turun tangga 5 10 5

9 Mengenakan pakaian 5 10 10

10 Kontrol Bowel (BAB) 5 10 10

11 Kontrol Bladder (BAK) 5 10 10

12 Olahraga atau Latihan 5 10 10

13 Rekreasi atau pemantapan waktu 5 10 10


luang

Jumlah 130

Interpretasi Hasil :

A. 130 : Mandiri
B. 65 – 125 : Ketergantungan Sebagian
C. 60 : Ketergantungan Total
56

[Link]. Modifikasi Barthel Indeks Klien 2

Tabel 3.8 Modifikasi Barthel Indeks Klien 2


Dengan
No Kriteria Mandiri Skor
Bantuan

1 Makan 5 10 10

2 Minum 5 10 10

Berpindah dari kursi roda ke


3 5 - 10 15 15
tempat tidur, sebaliknya

Personal toilet (cuci muka,


4 0 5 5
menyisir rambut, gosok gigi)

Keluar masuk toilet (mencuci


5 pakaian. Menyeka tubuh, 5 10 10
menyiram)

6 Mandi 5 15 15

7 Jalan di permukaan datar 0 5 5

8 Naiki turun tangga 5 10 10

9 Mengenakan pakaian 5 10 10

10 Kontrol Bowel (BAB) 5 10 10

11 Kontrol Bladder (BAK) 5 10 10

12 Olahraga atau Latihan 5 10 10

13 Rekreasi atau pemantapan waktu 5 10 10


luang

Jumlah 130

Interpretasi Hasil :

A. 130 : Mandiri

B. 65 – 125 : Ketergantungan Sebagian

C. 60 : Ketergantungan Total
57

3.1.8. Identifikasi Status Mental dengan Short Portable Mental Status Quisioner

(SPMSQ)

[Link]. Pengkajian SPMSQ Klien 1

Tabel 3.9 Pengkajian SPMSQ Klien 1


Benar Salah No Pertanyaan

√ 01 Tanggal berapa hari ini ?

√ 02 Hari apa sekarang ?

√ 03 Apa nama tempat ini ?

√ 04 Di mana alamat anda ?

√ 05 Berapa umur anda ?

√ 06 Kapan anda lahir ? ( minimal tahun lahir )

√ 07 Siapa presiden Indonesia sekarang ?

√ 08 Siapa presiden Indonesia sebelumnya ?

√ 09 Siapa nama ibu anda ?

√ 10 Kurangi 3 dari 20 dan tetap pengurangan 3


dari setiap angka baru, semua secara
menurun.

JUMLAH 10

Interpretasi Hasil

A. Salah 0 -3 : Fungsi Intelektual Utuh

B. Salah 4 – 5 : Kerusakan Intelektuan Ringan

C. Salah 6 – 5 : Kerusakan Intelektual Sedang

D. Salah 9 -10 : Kerusakan Intelektual Berat


58

[Link]. Pengkajian SPMSQ Klien 2

Tabel 3.10 Pengkajian SPMSQ Klien 2


Benar Salah No Pertanyaan

√ 01 Tanggal berapa hari ini ?

√ 02 Hari apa sekarang ?

√ 03 Apa nama tempat ini ?

√ 04 Di mana alamat anda ?

√ 05 Berapa umur anda ?

√ 06 Kapan anda lahir ? ( minimal tahun lahir )

√ 07 Siapa presiden Indonesia sekarang ?

√ 08 Siapa presiden Indonesia sebelumnya ?

√ 09 Siapa nama ibu anda ?

√ 10 Kurangi 3 dari 20 dan tetap pengurangan 3


dari setiap angka baru, semua secara
menurun.

JUMLAH 10

Interpretasi Hasil

A. Salah 0 -3 : Fungsi Intelektual Utuh

B. Salah 4 – 5 : Kerusakan Intelektuan Ringan

C. Salah 6 – 5 : Kerusakan Intelektual Sedang

D. Salah 9 -10 : Kerusakan Intelektual Berat


3.1.9. Pemeriksaan Fisik

Tabel 3.11 Pemeriksaan Pada Klien dengan Diabetes Melitus


Tinjauan Klien 1 Klien 2
Persistem

Keadaan umum Baik Baik

Tanda vital Klien sering mengalami Klien sering mengalami kelelahan


kelelahan jika melakukan jika melakukan aktivitas yang
aktivitas yang berat tetapi berat tetapi tidak menimbulkan
tidak menimbulkan perubahan TTV. Tensi masih
59

perubahan TTV. Tensi normal sekitar 125/100mmHg,


masih normal sekitar nadi 91x/menit, suhu 36°C,
110/100mmHg, nadi respirasi 20x/menit.
89x/menit, suhu 36°C,
respirasi 20x/menit. Masalah keperawatan : tidak
ada masalah
Masalah keperawatan :
Tidak ada masalah

Sistem a. Inspeksi : Bentuk dada a. Inspeksi : Bentuk dada simetris


Respirasi (B1) simetris kanan kiri, kanan kiri, tulang belakang
tulang belakang normal normal kanan kiri, irama nafas
kanan kiri, irama nafas teratur, tidak adanya retraksi
teratur, tidak adanya otot bantu nafas dan alat bantu
retraksi otot bantu nafas nafas, tidak ada nyeri dada saat
dan alat bantu nafas, bernafas, tidak batuk
tidak ada nyeri dada saat b. Perkusi : Sonor
bernafas, tidak batuk c. Palpasi : vocal fremitus sama
b. Perkusi : terdengar getaran kanan kiri
suara sonor d. Auskultasi : suara nafas
c. Palpasi : vocal fremitus vesikuler
sama getaran kanan kiri
d. Auskultasi : vesikuler
Masalah Keperawatan : Masalah Keperawatan : Tidak
Tidak ada masalah ada masalah

Sistem a. Inspeksi : tidak ada a. Inspeksi : tidak ada sianosis,


Kardiovaskuler sianosis, clubbing finger clubbing finger dan
(B2) dan pembesaran vena pembesaran vena jugularis
jugularis b. Palpasi : ictus cordis tidak
b. Palpasi : ictus cordis tampak
tidak tampak c. Perkusi : perkusi batas jantung
c. Perkusi : perkusi batas atas berada di ICS II mid
jantung atas berada di sternalis, batas bawah ICS V,
ICS II mid sternalis, batas kiri ICS V midclavikula
batas bawah ICS V, kiri dan batas kanan pada ICS
batas kiri ICS V IV midsternalis kanan, suara
midclavikula kiri dan redup
batas kanan pada ICS IV d. Auskultasi : saat auskultasi
midsternalis kanan bunyi jantung normal
ditemukan suara redup Masalah Keperawatan : Tidak
d. Auskultasi : bunyi ada masalah
jantung normal
Masalah Keperawatan
: Tidak ada masalah
Sistem Kesadaran klien Kesadaran klien composmentis,
Persyarafan composmentis, komunikasi komunikasi baik. Tidak ada
(B3) baik. Tidak ada kejang, kejang, kaku kuduk dan
kaku kuduk dan brudzinsky. Tidak pusing, klien
60

brudzinsky. Tidak pusing, tidur sekitar 7-8 jam/hari. Pupil


klien tidur sekitar 7-8 isokor dan terdapat reflek cahaya.
jam/hari. Pupil isokor dan Tidak ada kelainan pada saraf
terdapat reflek cahaya, kranial
tidak ada masalah pada
saraf kranial Masalah Keperawatan : Tidak
ada masalah
Masalah Keperawatan :
Tidak ada masalah

Sistem Klien mengatakan bentuk Klien mengatakan bentuk alat


Genetourinaria alat kelamin normal dan kelamin normal dan bersih.
(B4) bersih. Frekuensi berkemih Frekuensi berkemih teratur sehari
teratur sehari bisa 5-6x/hari bisa 6-7x/hari dengan bau khas
dengan bau khas amonia amonia warna kuning jernih. Klien
warna kuning jernih. Klien tidak menggunakan alat bantu,
tidak menggunakan alat tempat yang digunakan di kamar
bantu, tempat yang mandi
digunakan di kamar mandi
Masalah Keperawatan : Tidak
Masalah Keperawatan : ada masalah
Tidak ada masalah
Sistem Bibir lembab, bentuk bibir Bibir lembab, bentuk bibir normal,
Pencernaan normal, gigi bersih, gosok gigi bersih, gosok gigi 2x/hari.
(B5) gigi 2x/hari. Klien tidak Klien tidak mengalami kesulitan
mengalami kesulitan menelan, tidak ada kemerahan atau
menelan, tidak ada pembesaran amandel. Tidak ada
kemerahan atau nyeri tekan, tegang, asites, maupun
pembesaran amandel. kembung pada perut. Kebiasaan
Tidak ada nyeri tekan, Buang air besar 3 kali hari, fases
tegang, asites, maupun encer, warna kuning, bau khas,
kembung pada perut. tempat yang digunakan wc. Tidak
Kebiasaan Buang air besar mengalami eliminasi alvi,
3 kali hari, fases encer, peristaltic usus 15x/menit. Tidak
warna kuning, bau khas, melakukan tindakan seperti
tempat yang digunakan wc. pemakaian obat pencahar,
Tidak mengalami eliminasi lavement, NGT dan kumbah
alvi, peristaltic usus lambung
18x/menit. Tidak
melakukan tindakan seperti Masalah Keperawatan :
pemakaian obat pencahar, Tidak ada masalah
lavement, NGT dan
kumbah lambung

Masalah Keperawatan :
Tidak ada masalah
Sistem Klien tidak mengalami Klien tidak mengalami fraktur.
Muskuloskeletal fraktur. Akral lembab, Akral lembab, turgor elastis CRT
61

dan Integumen turgor elastis CRT kurang 3 kurang 3 detik, tidak ada oedema,
(B6) detik, tidak ada oedema, kulit bersih. Kemampuan gerakan
kulit bersih. Kemampuan sendi dan tungkai (ROM) bebas.
gerakan sendi dan tungkai Kekuatan otot klien 5-5-5-5
(ROM) bebas. Kekuatan kemampuan melakukan ADL
otot klien 5-5-5-5 mandiri, terdapat 2 luka gangrene :
kemampuan melakukan
1. pada telapak kaki kiri bagian
ADL mandiri, terdapat luka
gangrene pada jempol kaki lateral dengan drajat luka 2
kiri, luka pada drajat 2 yakni ulkus dengan kedalaman
yakni ulkus dalam mencapai tulang, warna merah
mencapai tendon, warna pada dasar luka, cairan jernih,
dasar luka merah muda, tidak terdapat nanah dan tak
tidak terdapat pus, cairan berbau, luas luka 6-7cm dan
jernih dan tidak berbau, kedalaman 3-4 cm.
luas luka 1-2 cm dan 2. luka pada kaki kanan bagian
kedalaman 1-2 cm. talus dengan klasifikasi ulkus
drajat 2 yakni ulkus dalam
Masalah Keperawatan : mencapai tendon namun tidak
Gangguan integritas sampai tulang, warna dasar luka
jaringan merah terdapat cairan jernih,
tidak terdapat pus dan tidak
berbau, luas luka 2-3 cm dan
kedalaman 1-2 cm.
Masalah Keperawatan :
Gangguan integritas jaringan

Sistem 1. Mata : mata normal, 1. Mata : mata normal, sclera


Penginderaan sclera putih, putih, konjungtiva tidak
(B7) konjungtiva tidak anemis, terjadi perubahan
anemis, terjadi pengelihatan klien tidak bisa
perubahan pengelihatan melihat jarak jauh dan biasanya
klien tidak bisa melihat tampak kabur, klien tidak
jarak jauh dan biasanya menggunakan kaca mata, tidak
tampak kabur, klien terjadi air mata berlebihan,
tidak menggunakan tidak terjadi gatal diarea mata,
kaca mata, tidak terjadi tidak terjadi bengkak sekitar
air mata berlebihan, mata
tidak terjadi gatal diarea 2. Tidak mengalami masalah pada
mata, tidak terjadi indera peraba dan perasanya.
bengkak sekitar mata Masalah Keperawatan : Tidak
2. Tidak mengalami ada masalah
masalah pada indera
peraba dan perasanya
Masalah Keperawatan :
Tidak ada masalah

Sistem Pada pemeriksaan endokrin Pada pemeriksaan endokrin tidak


Endokrin dan tidak mengalami mengalami pembesaran kelenjar
62

Kelenjar Limfe pembesaran kelenjar thyroid, limfe dan kelenjar parotis.


(B8) thyroid, limfe dan kelenjar Tidak mengalami banyak keringat,
parotis. Tidak mengalami polidipsi, polifagi, poliuri. Gula
banyak keringat, polidipsi, darah 325 mg/dl, kondisi kaki
polifagi, poliuri. Gula darah terdapat 2 luka gangrene :
380 mg/dl, kondisi kaki
terdapat luka gangrene 1. pada telapak kaki kiri bagian
pada jempol kaki kiri, luka lateral dengan drajat luka 2
pada drajat 2 yakni ulkus yakni ulkus dengan kedalaman
dalam mencapai tendon, mencapai tulang, warna meraha
warna dasar luka merah pada dasar luka, cairan jernih,
muda, tidak terdapat pus, tidak terdapat pus dan tidak
cairan jernih dan tidak berbau, luas luka 6-7 cm dan
berbau, luas luka 1-2 cm kedalaman 3-4 cm.
dan kedalaman 1-2 cm 2. luka pada bagian talus kaki
kanan dengan klasifikasi ulkus
drajat 2 yakni ulkus dalam
mencapai tendon namun tidak
Masalah Keperawatan : sampai tulang, warna dasar luka
Gangguan integritas merah terdapat cairan jernih,
jaringan tidak terdapat pus dan tidak
berbau luas luka 2-3 cm dan
kedalaman 1-2 cm.
terdapat riwayat luka sebelumnya
dan ada riwayat amputasi pada jari
tengah kaki kanan.
Masalah Keperawatan :
Gangguan integritas jaringan
3.2. Analisa Data

Tabel 3.12 Analisa Data


ANALISA DATA ETIOLOGI MASALAH

KLIEN 1 KLIEN 2 KEPERAWATAN

DS : DS :
a. klien mengatakan ada luka a. klien mengatakan ada 2 luka
gangrene pada jempol kaki kiri ganggren yang sama-sama tidak
dan tidak terasa nyeri terasa nyeri:
DO : b. Luka pada telapak kaki kiri yang
sudah lama
a. Luka pada jempol kaki kiri c. Luka pada bagian talus kaki
dengan karakteristik luka pada kanan yang baru timbul
drajat 2 yakni ulkus dalam DO :
mencapai tendon, warna dasar
luka merah muda, tidak terdapat d. Luka pada telapak kaki kiri Neuropati perifer Gangguan
pus, cairan jernih dan tidak bagian lateral dengan drajat luka integritas jaringan
berbau, luas luka 1-2 cm dan 2 yakni ulkus dengan kedalaman
kedalaman 1-2 cm mencapai tulang, warna merah (D.0129)
pada dasar luka, cairan jernih,
tidak terdapat pus dan tidak
berbau, luas luka 6-7 cm dan
kedalaman 3-4 cm
e. luka pada bagian talus kaki
kanan dengan klasifikasi ulkus
drajat 2 yakni ulkus dalam

63
mencapai tendon namun tidak
sampai tulang, warna dasar luka
merah terdapat cairan jernih,
tidak terdapat pus dan tidak
berbau, luas luka 2-3 cm dan
kedalaman 1-2 cm.
DS : DS :
a. Klien juga belum mengerti klien mengatakan masih belum
tentang diet diabetes melitus yang faham tentang diet diabetes melitus
diketahui mengurangi makan dan yang diketahui mengurangi manis-
minum manis-manis manis seperti gula, sirup
b. klien juga mengatakan masih
belum bisa rawat luka secara DO : Kurang terpapar Defisit
mandiri karna klien takut infeksi. informasi pengetahuan
a. Saat ditanya tentang diet
DO :
diabetes melitus klien tampak
a. Saat ditanya tentang diet diabetes bingung
melitus klien tampak bingung
b. Saat ditanya tentang rawat luka
klien tampak bingung
c. GDP : 380 mg/dl
DS :
a. Klien mengatakan masih belum Ketidakedekuatan Ketidakpatuhan
bisa mengurangi makan dan pemahaman (sekunder
minum yang manis akibat defisit kognitif)
b. Klien mengatakan keluarganya
sering buat makanan dan

64
minuman yang manis jadi klien
tidak tahan untuk mencobanya
DO :
a. GDP : 325mg/dl

3.3. Daftar Diagnosa Keperawatan sesuai dengan Prioritas Masalah

Tabel 3.13 Daftar Diagnosa Keperawatan sesuai dengan Prioritas

No Diagnosa Keperawatan Tanda


Urut
Hari / Klien 1 Hari / Klien 2 Tangan
Tanggal Tanggal
ditemukan ditemukan

1 Senin Gangguan integritas jaringan Senin Gangguan integritas jaringan


berhubungan dengan neuropati berhubungan dengan neuropati perifer
23 Mei 2022 perifer dibuktikan dengan adanya 23 Mei 2022 dibuktikan dengan adanya 2 luka
luka gangrene pada jempol kaki kiri gangrene pada kaki kanan dan kiri dan
yang tidak terasa nyeri (D.0129) tidak terasa nyeri (D.0129)

65
3.4. Rencana Keperawatan

Tabel 3.14 Intervensi Keperawatan

Diagnosa Keperawatan SLKI SIKI Tanda

Klien 1 Klien 2 Klien 1 Klien 2 Klien 1 Klien 2 Tangan

Gangguan Gangguan Setelah dilakukan Setelah dilakukan Intervensi Utama Intervensi Utama
integritas integritas intervensi intervensi Perawatan luka Perawatan luka
jaringan jaringan keperawatan keperawatan (I.14564) (I.14564)
berhubungan berhubungan sebanyak 3x sebanyak 2x Observasi Observasi
dengan dengan kunjungan, kunjungan, 1. Monitor 1. Monitor
neuropati neuropati diharapkan diharapkan karakteristik luka karakteristik luka
perifer perifer integritas kulit integritas kulit (mis. Drainase, (mis. Drainase,
dibuktikan dibuktikan dan jaringan dan jaringan warna, ukuran, bau) warna, ukuran, bau)
dengan adanya dengan adanya dapat meningkat dapat meningkat 2. Monitor tanda-tanda 2. Monitor tanda-tanda
luka gangrene 2 luka dengan kriteria dengan kriteria infeksi infeksi
pada jempol gangrene pada hasil (L.14125) hasil (L.14125)
kaki kiri yang kaki kanan dan 1. Kerusakan 1. Kerusakan Terapeutik Terapeutik
tidak terasa kiri dan tidak jaringan jaringan 3. Lepaskan balutan 3. Lepaskan balutan
nyeri (D.0129) terasa nyeri menurun menurun dan plester secara dan plester secara
(D.0129) 2. Kerusakan 2. Kerusakan perlahan perlahan
lapisan kulit lapisan kulit 4. Bersihkan dengan 4. Bersihkan dengan
menurun menurun cairan NaCi 0,9% cairan NaCi 0,9%
3. Kemerahan 3. Kemerahan atau pembersih atau pembersih
menuruN menurun nontoksik, sesuai nontoksik, sesuai
4. Nekrosis 4. Nekrosis kebutuhan kebutuhan
menurun menurun

66
5. Bersihkan jaringan 5. Bersihkan jaringan
nekrotik nekrotik
6. Berikan salep yang 6. Berikan salep yang
sesuai ke kulit/lesi sesuai ke kulit/lesi
jika perlu jika perlu
7. Pasang balutan 7. Pasang balutan
sesuai jenis luka sesuai jenis luka
8. Pertahankan teknik 8. Pertahankan teknik
steril saat melakukan steril saat melakukan
perawatan luka perawatan luka
9. Ganti balutan sesuai 9. Ganti balutan sesuai
jumlah eksudat dan jumlah eksudat dan
drainase drainase

Edukasi Edukasi
10. Jelaskan tanda-tanda 10. Jelaskan tanda-tanda
infeksi infeksi
11. Ajarkan prosedur 11. Ajarkan prosedur
perawatan luka perawatan luka
secara mandiri secara mandiri
12. Anjurkan 12. Anjurkan
mengkonsumsi mengkonsumsi
makanan tinggi makanan tinggi
kalori dan protein kalori dan protein

Kolaborasi Kolaborasi

67
13. Kolaborasi rutin 13. Kolaborasi rutin
kontrol ke Rumah kontrol ke Rumah
Sakit Sakit

3.5. Implementasi keperawatan

Tabel 3.15 Implementasi Keperawatan klien 1

No. Dx Diagnosa Keperawatan Waktu Implementasi Tanda


Pelaksanaan Tangan

D.0129 Gangguan integritas jaringan Senin, 06 1. Membina hubungan saling percaya pada klien
berhubungan dengan Juni 2022 Respon : Klien bersikap kooperatif, dan memberikan
neuropati perifer dibuktikan respon yang terbuka pada perawat
dengan adanya luka gangrene 07.00 2. Menjelaskan kontrak waktu dan tujuan pertemuan
pada jempol kaki kiri yang Respon : Klien merima dan setuju dengan kesepakatan
tidak terasa nyeri (D.0129) kontraknya
3. Mengobservasi gula darah
Respon : GDP 394mg/dl
07.30 4. Monitor karakteristik luka (mis. Drainase, warna, ukuran,
bau)
Respon : luka pada derajat 2 yakni ulkus dalam mencapai
tendon, warna dasar luka merah muda, tidak terdapat pus,
cairan jernih dan tidak berbau, luas luka 1-2 cm dan
kedalaman 1-2 cm
5. Monitor tanda-tanda infeksi

68
Respon : klien mengatakan lukanya tidak terasa nyeri,
panas. Luka tidak bengkak dan tidak ada warna kemerahan
disekitar luka
6. Melakukan terapeutik rawat luka
Respon : klien mengamati cara rawat luka
7. Menjelaskan tanda-tanda infeksi
Respon : klien menganguk tanda mengerti
8. Mengajarkan klien cara rawat luka secara mandiri
Respon : klien mampu memahami cara rawat luka
09.00 9. Menjelaskan tentang diet diabetes melitus dan
menghitung kalori
Respon : klien mampu memahami tentang diet diabetes
melitus dan cara menghitung kalori

1 Gangguan integritas jaringan Kamis 1. Mengobservasi Gula Darah klien


berhubungan dengan Respon : GDP 380 mg/dl
neuropati perifer dibuktikan 09 Juni 2022 2. Melakukan pengkajian karakteristik luka (mis. Drainase,
dengan adanya luka gangrene warna, ukuran, bau)
08.00
pada jempol kaki kiri yang Respon : luka pada drajat 2 yakni ulkus dalam mencapai
tidak terasa nyeri (D.0129) tendon, warna dasar luka merah muda, tidak terdapat pus,
cairan jernih dan tidak berbau, luas luka 1-2 cm dan
kedalaman 1-2 cm
3. Monitor tanda-tanda infeksi
Respon : klien mengatakan lukanya tidak terasa nyeri,
panas. Luka tidak bengkak dan tidak ada warna kemerahan
disekitar luka
08.15 4. Mengamati klien cara rawat luka secara mandiri

69
Respon : klien dapat mempraktikkan rawat luka secara
mandiri sesuai yang telah dijelaskan

1 Gangguan integritas jaringan Senin 1. Mengobservasi Gula Darah klien


berhubungan dengan Respon : GDP 377 mg/dl
neuropati perifer dibuktikan 13 Juni 2022 2. Monitor karakteristik luka (mis. Drainase, warna, ukuran,
dengan adanya luka gangrene bau)
08.30
pada jempol kaki kiri yang Respon : luka pada drajat 2 yakni ulkus dalam mencapai
tidak terasa nyeri (D.0129) tendon, warna dasar luka merah muda, tidak terdapat pus,
cairan jernih dan tidak berbau, luas luka 1-2 cm dan
kedalaman 1-2 cm
3. Monitor tanda-tanda infeksi
Respon : klien mengatakan lukanya tidak terasa nyeri,
panas. Luka tidak bengkak dan tidak ada warna kemerahan
disekitar luka
08.50 4. Mengamati klien saat rawat luka secara mandiri
Respon : klien dapat mempraktikkan rawat luka secara
mandiri sesuai yang telah dijelaskan

Tabel 3.16 Implementasi Keperawatan klien 2

No. Dx Diagnosa Keperawatan Waktu Implementasi Tanda


Pelaksanaan Tangan

1 Gangguan integritas jaringan Selasa 1. Membina hubungan saling percaya pada klien
berhubungan dengan Respon : Klien bersikap kooperatif, dan memberikan
neuropati perifer dibuktikan 07 Juni 2022 respon yang terbuka pada perawat

70
dengan adanya 2 luka 07.00 2. Menjelaskan kontrak waktu dan tujuan pertemuan
gangrene pada kaki kanan Respon :Klien menerima dan setuju dengan kesepakatan
dan kiri dan tidak terasa nyeri kontraknya
(D.0129) 3. Mengobservasi gula darah
Respon : GDP 303
07.30 4. Melakukan pengkajian karakteristik luka (mis. Drainase,
warna, ukuran, bau)
Respon :
didapatkan 2 luka yakni
a. pada telapak kaki kiri bagian lateral dengan drajat luka
2 yakni ulkus dengan kedalaman mencapai tulang,
warna dasar luka merah muda, cairan jernih, tidak
terdapat pus dan tidak berbau, luas luka 6-7 cm dan
kedalaman 3-4 cm.
b. luka pada bagian talus kaki kanan dengan klasifikasi
ulkus drajat 2 yakni ulkus dalam mencapai tendon
namun tidak sampai tulang, warna dasar luka merah
muda terdapat cairan jernih, tidak terdapat pus dan
tidak berbau, luas luka 2-3 cm dan kedalaman 1-2 cm.
5. Monitor tanda-tanda infeksi
Respon : klien mengatakan lukanya tidak terasa nyeri,
panas. Luka tidak bengkak dan tidak ada warna kemerahan
disekitar luka
6. Mengoservasi keluarga klien dalam melakukan rawat luka
Respon : istri klien mampu melakukan rawat luka sesuai
prosedur
7. Jelaskan tanda-tanda infeksi

71
Respon : klien dan istri mampu memahami tentang tanda-
tanda infeksi dan dapat mengulanginya
08.15 8. Menjelaskan tentang diet diabetes melitus
Respon : klien mampu memahami tentang diet diabetes
melitus
9. Mengajarkan cara menghitung kalori
Respon : klien dan keluarga mampu cara menghitung
kalori

1 Gangguan integritas jaringan Sabtu 1. Mengobservasi gula darah


berhubungan dengan Respon : GDP 280mg/dl
neuropati perifer dibuktikan 11 Juni 2022 2. Melakukan pengkajian karakteristik luka (mis. Drainase,
dengan adanya 2 luka warna, ukuran, bau)
07.00
gangrene pada kaki kanan Respon : didapatkan 2 luka yakni
dan kiri dan tidak terasa nyeri 07.30 a. pada telapak kaki kiri bagian lateral dengan drajat luka
(D.0129) 2 yakni ulkus dengan kedalaman mencapai tulang,
warna dasar luka merah muda, cairan jernih, tidak
terdapat pus dan tidak berbau, luas luka 6-7 cm dan
kedalaman 3-4 cm.
b. luka pada bagian talus kaki kanan dengan klasifikasi
ulkus drajat 2 yakni ulkus dalam mencapai tendon
namun tidak sampai tulang, warna dasar luka merah
muda terdapat cairan jernih, tidak terdapat pus dan
tidak berbau, luas luka 2-3 cm dan kedalaman 1-2 cm.
3. Monitor tanda-tanda infeksi
Respon : klien mengatakan lukanya tidak terasa nyeri,
panas. Luka tidak bengkak dan tidak ada warna kemerahan
disekitar luka

72
3.6. Catatan perkembangan

Tabel 3.17 Catatan perkembangan klien 1


No. Diagnosa Keperawatan Waktu Catatan Perkembangan Tanda
Dx Pelaksanaan Tangan

1 Gangguan integritas Kamis S:


jaringan berhubungan
dengan neuropati perifer 09 Juni 2022 - Klien mengatakan ada luka gangrene pada jempol kaki kiri
dibuktikan dengan - Klien mengatakan lukanya tidak terasa nyeri dan panas
08.00 - Klien mengatakan faham tentang tanda-tanda dari infeksi
adanya luka gangrene
pada jempol kaki kiri - Klien mengatakan faham dan sudah bisa cara rawat luka
yang tidak terasa nyeri - Klien mengatakan sudah melakukan diet diabetes mellitus
(D.0129) - Klien mengatakan faham cara menghitung kalori
O:
- Terdapat luka pada jempol kaki kiri luka pada drajat 2 yakni
ulkus dalam mencapai tendon, warna dasar luka merah muda,
tidak terdapat pus, cairan jernih dan tidak berbau, luas luka 1-2
cm dan kedalaman 1-2 cm
- Luka tidak bengkak dan kemerahan pada sekitar luka
- Klien sudah tidak bingung tentang diet diabetes dan cara
menghitung kalori
- Gula darah 380mg/dl
A:
Masalah teratasi sebagian

P:

73
Intervensi dilanjutkan
- Monitor karakteristik luka (mis. Drainase, warna, ukuran, bau)
- Mengobservasi tanda-tanda infeksi
- Mengamati klien cara rawat luka secara mandiri

Tabel 3.18 Catatan perkembangan klien 2


No. Diagnosa Keperawatan Waktu Catatan Perkembangan Tanda
Dx Pelaksanaan Tangan

1 Gangguan integritas Sabtu S:


jaringan berhubungan
dengan neuropati perifer 11 Juni - Klien mengatakan ada 2 luka gangrene yakni di telapak kaki kiri
dibuktikan dengan 2022 dan kaki kanan bagian talus
adanya 2 luka gangrene - Klien mengatakan lukanya tidak terasa nyeri dan panas
07.00 - Klien mengatakan faham tentang diet diabetes melitus
pada kaki kanan dan kiri
dan tidak terasa nyeri - Klien mengatakan faham cara menghitung kalori
(D.0129) - Klien mengatakan sudah melakukan diet diabetes mellitus
O:
- didapatkan 2 luka yakni
a. pada telapak kaki kiri bagian lateral dengan drajat luka 2 yakni
ulkus dengan kedalaman mencapai tulang, warna dasar luka
merah muda, cairan jernih, tidak terdapat pus dan tidak
berbau, luas luka 6-7 cm dan kedalaman 3-4 cm.
b. luka pada bagian talus kaki kanan dengan klasifikasi ulkus
drajat 2 yakni ulkus dalam mencapai tendon namun tidak
sampai tulang, warna dasar luka merah muda terdapat cairan

74
jernih, tidak terdapat pus dan tidak berbau, luas luka 2-3 cm
dan kedalaman 1-2 cm.
- Istri klien dapat melakukan cara rawat luka sesuai prosedur
dengan benar dan tepat
- Klien tampak sudah tidak bingung tentang diet dan menghitung
kalori
- GDP 280 mg/dl
A:
Masalah teratasi sebagian

P:
Intervensi dilanjutkan klien secara mandiri rutin kontrol di rumah
sakit

3.7. Evaluasi Keperawatan

Tabel 3.19 Evaluasi klien 1


No. Diagnosa Keperawatan Waktu Evaluasi Tanda
Dx Pelaksanaan Tangan

1 Gangguan integritas Senin S:


jaringan berhubungan
dengan neuropati perifer 13 Juni 2022 - Klien mengatakan ada luka gangrene pada jempol kaki kiri
dibuktikan dengan - Klien mengatakan 1 hari 2 kali rawat luka dan ganti perban secara
08.00 mandiri
adanya luka gangrene
- Klien mengatakan lukanya tidak terasa nyeri dan panas

75
pada jempol kaki kiri - Klien mengatakan sudah melaksanakan diet diabetes melitus
yang tidak terasa nyeri O:
(D.0129)
- Terdapat luka pada jempol kaki kiri luka pada drajat 2 yakni ulkus
dalam mencapai tendon, warna dasar luka merah muda, tidak terdapat
pus, cairan jernih dan tidak berbau, luas luka 1-2 cm dan kedalaman
1-2 cm
- Luka tidak bengkak dan kemerahan pada sekitar luka
- Klien sudah dapat mempraktikkan cara rawat luka sesuai prosedur
yang sudah dijelaskan
- klien mampu memahami cara merencanakan makanan yang sesuai
dengan diet diabetes melitus dan mampu memahami cara menghitung
kalori
- GDP 377mg/dl
A:
Masalah teratasi sebagian

P:
Intervensi dilanjutkan klien secara mandiri rutin kontrol di rumah sakit

Tabel 3.20 Evaluasi klien 2


No. Diagnosa Keperawatan Waktu Evaluasi Tanda
Dx Pelaksanaan Tangan

1 Gangguan integritas Sabtu S:


jaringan berhubungan

76
dengan neuropati perifer 11 Juni 2022 - Klien mengatakan ada 2 luka gangrene yakni di telapak kaki kiri dan
dibuktikan dengan kaki kanan bagian talus
adanya 2 luka gangrene 10.00 - Klien mengatakan lukanya tidak terasa nyeri dan panas
pada kaki kanan dan kiri - Klien mengatakan faham tentang diet diabetes melitus
dan tidak terasa nyeri - Klien mengatakan faham cara menghitung kalori
(D.0129) - Klien mengatakan sudah makan sesuai diet diabetes melitus
O:
- didapatkan 2 luka yakni
a. pada telapak kaki kiri bagian lateral dengan drajat luka 2 yakni
ulkus dengan kedalaman mencapai tulang, warna dasar luka merah
muda, cairan jernih, tidak terdapat pus dan tidak berbau, luas luka
6-7 cm dan kedalaman 3-4 cm.
b. luka pada bagian talus kaki kanan dengan klasifikasi ulkus drajat 2
yakni ulkus dalam mencapai tendon namun tidak sampai tulang,
warna dasar luka merah muda terdapat cairan jernih, tidak terdapat
pus dan tidak berbau, luas luka 2-3 cm dan kedalaman 1-2 cm.
- Istri klien dapat melakukan cara rawat luka sesuai prosedur dengan
benar dan tepat
- Klien tampak sudah tidak bingung tentang diet dan menghitung
kalori
- GDP 280 mg/dl
A:
Masalah teratasi sebagian

P:
Intervensi dilanjutkan klien secara mandiri rutin kontrol di rumah sakit

77
BAB 4

PEMBAHASAN

Dalam pembahasan ini penulis akan menguraikan tentang kesenjangan yang

terjadi antara tinjauan pustaka dan tinjauan kasus dalam Asuhan Keperawatan Pada

Lansia Ny. P dan Tn. A Dengan Masalah Keperawatan Gangguan Integritas

Jaringan pada Diagnosa Medis Diabetes Melitus di Desa Bluru Kidul Sidoarjo yang

meliputi pengkajian, diagnosa keperawatan, intervensi, implementasi, dan evaluasi

4.1. Pengkajian

Sesuai dengan teori yang dijabarkan diatas penulis melakukan

pengkajian pada klien 1 dan klien 2, dengan metode wawancara, observasi serta

pemeriksaan fisik untuk menambah data yang diperlukan. Saat dilakukan

pengkajian pada tanggal 23 Mei 2022 pada pukul 10.00 klien 1 berjenis

perempuan mengatakan terdapat luka gangrene pada jempol kaki kirinya dan

tidak terasa nyeri, klien mengatakan sudah menderita diabetes melitus kurang

lebih 10 tahun dan munculnya luka gangrene kurang lebih 3 bulan yang lalu.

Pada saat dilakukan pemeriksaan didapatkan nilai GDP 380 mg/dl dan luka

pada jempol kaki kiri dengan karakteristik luka pada drajat 2 yakni ulkus dalam

mencapai tendon, warna dasar luka merah muda, tidak terdapat pus, cairan

jernih dan tidak berbau, luas luka 1-2 cm dan kedalaman 1-2 cm. Sedangkan

pengkajian yang dilakukan pada klien 2 tanggal 23 Mei 2022 pada pukul 15.30,

klien 2 dengan berjenis kelamin laki-laki mengatakan terdapat 2 luka gangrene

pada telapak kaki kiri dan kaki kanan bagian talus. Klien mengatakan sudah

menderita diabetes melitus kurang lebih 8 Tahun. Klien memiliki riwayat

operasi 4x yakni operasi pertama tahun 2017 pada kaki kanan karna luka

78
79

gangrene, operasi kedua tahun 2017 pada kaki jari kaki kanan karna luka

gangrene , operasi ketiga tahun 2018 operasi amputasi pada jari tengah kaki

kanan karna luka gangrene. Operasi terakhir dilakukan 5 bulan yang lalu pada

telapak kaki kiri karna luka gangrene. Pada saat dilakukan pemeriksaan klien

didapat nilai GDP 325 mg/dl dan terdapat luka pada telapak kaki kiri bagian

lateral drajat 2 yakni ulkus dengan kedalaman mencapai tulang, warna merah

pada dasar luka, cairan jernih, tidak terdapat nanah dan tak berbau, luas 6-7

cm dan kedalaman 3-4 cm, luka kedua pada bagian talus kaki kanan dengan

klasifikasi ulkus derajat 2 yakni ulkus dalam mencapai tendon namun tidak

sampai tulang, warna dasar luka merah terdapat cairan jernih, tidak terdapat

pus dan tidak berbau, luas luka 2-3 cm dan kedalaman 1-2 cm.

Ulkus diabetik adalah kerusakan sebagian atau seluruh area kulit yang

meluas ke jaringan subkutan, tendon, otot, dan tulang yang terjadi pada

penderita diabetes dan akibat dari gula darah tinggi. Jika ulkus kaki

berlangsung lama dan tidak segera diobati, luka akan terinfeksi. Ulkus kaki,

infeksi, neuropati dan penyakit arteri perifer adalah penyebab gangren dan

amputasi ekstremitas bawah. (Tarwonto, 2012).

Menurut penulis antara keluhan utama pada klien 1 dan klien 2 sama

yakni adanya luka pada kaki akan tetapi pada klien 1 dan 2 terdapat perbedaan

jumlah luka, riwayat penyakit diabetes melitus dan jenis kelamin. Perbedaan

tersebut dikarena pada klien 1 sudah menderita diabetes melitus kurang lebih

10 tahun dan kurang lebih 3 bulan yang lalu baru muncul luka gangrene pada

jempol kaki kiri, sebelum munculnya luka gangrene klien masih

mengkonsumsi makanan dan minuman manis tetapi setelah munculnya luka


80

klien sudah mengurangi mengkonsumsi makanan dan minuman manis.

Sedangkan pada klien 2, klien sudah menderita diabetes melitus kurang lebih

8 tahun yang lalu dan sudah ada 4x riwayat operasi salah satu dari operasi

tersebut ada operasi amputasi pada jari tengah kaki kanan. Saat pengkaijan

didapatkan 2 luka gangrene yakni pada telapak kaki kiri yang sudah lama dan

sempat dioperasi, dan pada kaki kanan bagian talus yang baru timbul. Klien

juga mengatakan masih belum bisa menghindari untuk mengkonsumsi

makanan dan minuman yang manis meski klien mengetahui dengan kondisi

luka gangrene nya. Semakin lama seseorang menderita diabetes, semakin besar

pula risiko komplikasi akibat diabetes yang juga akan meningkat akibat

gangguan bertahap neuron akibat gula darah yang terus menerus tinggi.

Hiperglikemia timbul dikarenakan sesorang yang belum bisa menjaga pola

hidup sehat seperti masih mengkonsumsi makanan dan minuman manis,

kurangnya aktivitas fisik dan obesitas. Sedangkan perbedaan dari jenis kelamin

menurut Damayanti (2015) wanita berisiko mengidap diabetes melitus karena

fisik wanita memiliki peluang peningkatan indeks masa tubuh yang lebih besar,

sindroma siklus bulanan, pasza monopouse yang membuat distribusi lemak

tubuh menjadi mudah terakumulasi akibat proses hormonal tersebut.

4.2. Diagnosa Keperawatan

Berdasarkan dari hasil pengkajian didapatkan pada klien 1 dan 2

diagnosa keperawatan prioritas yaitu gangguan integritas jaringan

berhubungan dengan neuropati perifer dibuktikan dengan adanya luka

gangrene pada kaki. Berdasarkan teori di tinjauan pustaka terdapat 2 penyebab

ulkus diabetic secara umum yaitu neuropati dan angiopati diabetic. Neuropati
81

diabetik adalah gangguan saraf yang disebabkan oleh tingginya kadar gula

darah yang dapat menyebabkan hilangnya atau berkurangnya sensasi nyeri

pada kaki.. Angiopati adalah penyempitan pembuluh darah yang ditemukan

pada pasien diabetes. Sangat mudah bagi penderita diabetes untuk

mempersempit dan menyumbat pembuluh darah, besar atau kecil, karena

pembekuan darah. Penyumbatan pembuluh darah berukuran sedang atau besar

di kaki dapat menyebabkan gangren diabetes, borok kaki yang berbau busuk

dan berwarna kemerahan. Dengan kata lain, peningkatan kadar gula darah

dapat menyebabkan pengerasan dan kerusakan pada arteri dan kapiler. Ini

mengurangi penyerapan nutrisi dan oksigen ke jaringan dan meningkatkan

risiko nekrosis. (Tarwonto, 2012). Penulis mengambil diagnosa keperawatan

gangguan integritas jaringan berhubungan dengan neuropati perifer pada kedua

klien karena ditemukan data mayor yang mendukung seperti adanya luka

gangrene pada kaki.

4.3. Intervensi Keperawatan

Berdasarkan diagnosa keperawatan tersebut, maka penulis mengambil

satu diagnosa keperawatan yang prioritas untuk disusun intervensi

keperawatan yang dirumuskan sesuai menurut (Tim Pokja SLKI, 2018) & (Tim

Pokja SIKI, 2018) yaitu Gangguan integritas jaringan berhubungan dengan

neuropati perifer. Dari hasil pengkajian dilaksanakan pada ke-2 klien

didapatkan sama, yakni terdapat luka gangrene pada kaki.

4.4. Implementasi Keperawatan

Dalam tahap pelaksanaan tindakan keperawatan dilakukan sesuai dengan

rencana yang telah dibuat, oleh karena itu berdasarkan perencanaan yang ada
82

dalam pelaksanaan tidak mengalami kesulitan serta adanya kerjasama yang

baik dan saling pengertian antara penulis dan klien. Implementasi pada klien 1

dan 2 dilakukan pada 06 – 07 Juni 2022 yaitu membina hubungan saling

percaya pada klien, respon kedua klien bersikap kooperatif dan memberikan

respon yang terbuka pada perawat. Menjelaskan kontrak waktu pertemuan,

respon kedua klien menerima dan setuju dengan kesepakatan kontraknya.

pada saat penulis melakukan implementasi pada tahap terapeutik pada

kedua klien didapatkan perbedaan yakni pada klien 1 dilakukan tindakan

terapeutik perawatan luka dan menjelaskan tahapan rawat luka karena klien 1

masih belum bisa cara rawat luka secara mandiri sedangkan pada klien 2

penulis hanya mengamati apakah keluarga sudah benar dan tepat cara rawat

luka karena pada klien 2 sudah bisa melakukan cara rawat luka. Tujuan utama

dari manajemen ulkus diabetikum adalah untuk mencapai penyembuhan luka

yang cepat. Mengatasi ulkus diabetik dan mengurangi kejadian yang berulang

dapat mengurangi kemungkinan amputasi ekstremitas bawah bagi penderita

diabetes (Tarwonto, 2012) (Tarwonto, 2012). Penulis menganjurkan perawatan

luka secara mandiri oleh kedua klien sebab hanya klien yang dapat memantau

kondisi luka dan membantu proses penyembuhan luka karena Jika ulkus kaki

berlangsung lama dan tidak diobati dan tidak sembuh, luka akan terinfeksi dan

dapat terjadi amputasi.

4.5. Evaluasi Keperawatan

Klien 1 saat dilakukan evaluasi dihari ketiga didapatkan luka pada jempol

kaki kiri luka pada derajat 2 yakni ulkus dalam mencapai tendon, warna dasar

luka merah muda, tidak terdapat pus, cairan jernih dan tidak berbau, luas 1
83

sampai 2 cm dan dalam 1-2 cm, tidak bengkak dan kemerahan pada sekitar

luka. Klien sudah bisa melakukan rawat luka secara mandiri. Klien juga sudah

melaksanakan diet diabetes mellitus. hasil GDP 377 mg/dl. Pada Klien 2 juga

hampir sama dengan klien 1 yaitu dihari kedua didapatkan 2 luka yakni luka 1

pada telapak kaki kiri bagian lateral dengan derajat luka 2 yakni ulkus dengan

kedalaman mencapai tulang, warna dasar luka merah muda, cairan jernih, tidak

terdapat pus dan tidak berbau, luas luka 6-7 cm dan kedalaman 3-4 cm. dan

luka 2 pada bagian talus kaki kanan dengan klasifikasi ulkus drajat 2 yakni

ulkus dalam mencapai tendon namun tidak sampai tulang, warna dasar luka

merah muda terdapat cairan jernih, tidak terdapat pus dan tidak berbau, luas

luka 2-3 cm dan kedalaman 1-2 cm, Luka tidak bengkak dan tidak terjadi

kemerahan pada sekitar luka. Keluarga Klien sudah bisa melakukan rawat luka

secara mandiri. Klien juga sudah melakukan diet diabetes melitus. hasil GDP

280 mg/dl. Pada tahap evaluasi pada kedua klien belum mencapai kriteria hasil

sepenuhnya karna luka yang terdapat pada kedua klien termasuk luka kronik

yang mana membutuhkan proses penyembuhan yang lama sehingga penulis

menganjurkan klien untuk rutin control di rumah sakit.


BAB V

PENUTUP

Setelah penulis melakukan pengamatan dan melaksanakan asuhan keperawatan

secara langsung pada lansia Ny. P dan Tn. A dengan masalah keperawatan

gangguan integritas jaringan pada diagnosa medis Diabetes Melitus di Desa Bluru

Kidul Sidoarjo. Maka penulis menarik kesimpulan sekaligus saran yang dapat

bermanfaat dan meningkatkan mutu asuhan keperawatan pada lansia diabetes

melitus.

5.1. Kesimpulan

Dari hasil yang telah dilakukan studi kasus penerapan asuhan keperawatan

gerontik dengan diagnosa medis Diabetes Melitus di Desa Bluru Kidul

sidoarjo, maka penulis menyimpulkan:

5.1.1. Pengkajian pada tinjauan kasus didapatkan keluhan utama pada ke-2 klien

sama yakni adanya luka pada kaki dan terdapat perbedaan jumlah luka dan

riwayat penyakit diabetes melitus.

5.1.2. Diagnosa prioritas pada ke-2 klien sama yaitu gangguan integritas jaringan

berhubungan dengan neuropati perifer karena ditemukan adanya data mayor

yakni pada kaki terdapat luka gangrene.

5.1.3. Intervensi diagnosa keperawatan pada kedua klien memiliki tujuan dan

intervensi sama.

5.1.4. Implementasi rencana tindakan pada kedua klien yang telah disusun oleh

penulis semuanya bisa dilaksanakan tanpa menemui kendala. Pelaksanaan

intervensi keperawatan yang dilakukan kepada kedua klien melibatkan

84
85

keluarga dan klien secara aktif karena banyak tindakan keperawatan yang

memerlukan kerjasama antar penulis, keluarga klien dan klien.

5.1.5. Pada tahap evaluasi semua tujuan masih belum tercapai karena adanya luka

yang membutuhkan waktu lama dalam penyembuhannya. Hasil evaluasi pada

ke-2 klien belum teratasi sehingga dilanjutkan oleh klien secara mandiri

dengan rutin control di rumah sakit.

5.2. Saran

Bertolak dari kesimpulan diatas, penulis memberikan saran sebagai berikut :

5.2.1. Bagi Klien

Dalam mengatasi luka gangrene di kaki pada kedua klien, dianjurkan untuk

rutin melakukan perawatan luka secara mandiri dan rutin kontrol di rumah

sakit agar luka cepat sembuh dan tidak terjadi penambahan luka dan infeksi.

5.2.2. Bagi Pelayanan Kesehatan

Disarankan pada perawat untuk mengatasi masalah keperawatan : Gangguan

integritas jaringan pada kedua klien dengan memberi harapan untuk sembuh

dan mengajarkan cara perawatan luka secara mandiri.

5.2.3. Bagi Peneliti Selanjutnya

Hasil studi kasus ini dapat digunakan sebagai dasar untuk penelitian

selanjutnya dan sebagai acuan untuk melakukan studi kasus lebih lanjut

dalam asuhan pasien diabetes melitus.


DAFTAR PUSTAKA

Anisa. (2017). Asuhan Keperawatan Pada Ny.M Dengan Diagnosa Medis Dmnd
+ Dm Gangren Pedis Sinistra + Vertigo Di Ruang Tulip Lantai 2 RSUD
Sidoarjo. Karya Tulis Ilmiah Akademi Keperawatan Kerta Cendekia
Sidoarjo.
Association, A. D., & Care, D. (2020). No Title (Vol. 43, Issue Supplement 1,
pp. 14– 31).
Azizah, L. M. (2011). Keperawatan Lanjut Usia. Graha Ilmu.
Damayanti, S. (2015). Diabetes Mellitus & Penatalaksanaan Keperawatan.
Nuha Medika.
Fauzi, I. (2014). Buku Pintar Deteksi Dini Gejala Dan Pengobatan Asam Urat,
Diabetes Melitus Dan Hipertensi. Araska.
I.D.F. (2017). International Diabetes Federation (IDF.
Kautsar, N. (2018). Penyebab Sesak Nafas Pada Penderita Diabetes Melitus.
Diakses Https://[Link]/Peneyebab-Sesak-Nafas-Pada-
Penderita-Diabetes Pada Tanggal 12 Desember 2021 Pada Pukul
17.03 WIB.
Kemenkes. (2014). Situasi Dan Analisis Diabetes Pusat Data Dan Informasi.
Kementerian Kesehatan RI.
Kholifah, Sn. (2016). Keperawatan Gerontik. Pusdik 5m Kesehatan.
[Link] Rendy Margaret. (2019). Asuhan Keperawatan Medikal Bedah Dan
Penyakit Dalam. Nuha Medika.
Manurung, H., & Dll. (2014). Gambaran Sosial Budaya Terhadap Diabetes
Mellitus Pada Masyarakat. Diakses [Link] Pada
Tanggal 12 Desember 2021.
Muhith, A., & Siyoto, S. (2016). Pendidikan Keperawatan Gerontik. ANDI.
Muttaqin, A. (2012). Buku Ajar Asuhan Keperawatan Klien Dengan Gangguan
Sistem Endokrin. Salemba Medika.
Nugroho. (2019). Keperawatan Gerontik & Geriatrik. And.
Nurarif, A., H, K., & H. (2015). North American Nursing Diagnosis Association
Nic-Noc. Jilid, 1,2,3.
Nursalam. (2011). Konsep Dan Penerapan Metodelogi Penelitian Ilmu
Keperawatan. Salemba Medika.
Perkerni. (2015). Konsekuensi Pengelolahan Dan Pencegahan Diabetes Melitus
Tipe Di Indonesia. Perkeni.

86
87

Putra, K. W. R. (2019). Handout Askep Diabetes Mellitus.


[Link] Askep Diabetes
[Link].
Rahmawati. (2017). Glycohemoglobin, Hipertensi, Imt Terhadap Gangguan
Pengelihatan Penderita Diabetes Melitus (Vol. 13, Issue 1). Jurnal
Mkmi.
Riset Kesehatan Dasar (2018). Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan
Kementrian RI Tahun 2018.
Sahar, J., & Dkk. (2019). Keperawatan Kesehatan Komunitas Dan Keluarga,
Edisi Indonesia Pertama. Elsever.
Sanjaya, A. (2016). Gigi Lansia. Denpasar: Jurnal Skala Husada (Vol. 13, Issue
1, pp. 72–80).
Smeltzer, S. C. D. B., & Bare, G. (2015). Buku Ajar Keperawatan Medikal
Bedah (B. A. K. M. B. Brunner & Suddarth (eds.)). Egc.
Subekti. (2014). Komplikasi Diabetes Melitus Mikrovaskuler. Diakses
Http://[Link] Pada Tanggal 10 Desember
2021 Pada Pukul 22.00 Wib.
Sudiharto. (2012). Asuhan Keperawatan Keluarga Dengan Pendekatan
Keperawatan Transkultural. Egc.
Suryani, N., & Dkk. (2015). Diet Dan Olahraga Sebagai Upaya Pengendalian
Kadar Gula Darah Pada Pasien Diabetes Melitus Tipe 2. Jurkessia.
Susilowati. (2014). Hubungan Jenis Kelamin Dan Umur Penderita Diabetes
Melitus Dengan Penurunan Fungsi Kognitif Diwilayah Kerja
Puskesmas. Pingapus.
Tarwonto, D. (2012). Keperawatan Medikal Bedah Gangguan Sistem Endokrin.
Trans Info Medikal.
Tim Pokja SDKI. (2017). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia Definisi
dan Indikator Diagnostik. Dewan Pengurus PPNI.
Tim Pokja SIKI. (2018). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia Definisi
dan Tindakan Keperawatan. Dewan Pengurus PPNI.
Tim Pokja SLKI. (2018). Standar Luaran Keperawatan Indonesia Definisi dan
Kriteria Hasil Keperawatan. Dewan Pengurus PPNI.
Young, J. (2014). Anatomi Fisiologi Otot.
Http://[Link]/2014/09/Anatomi-Fisiologi-
[Link]. Diakses Pada Tanggal 12 Desember 2021 Pada Pukul 17.54
Wib.
INFORMED CONSENT KLIEN 2

88
89

INFORMED CONSENT KLIEN 2


90

DOKUMENTASI
Klien 1

Klien 2
91

YAYASAN PENDIDIKAN KERTA CENDEKIA


POLITEKNIK KESEHATAN KERTA CENDEKIA
Jalan Lingkar Timur, Rangkah Kidul, Sidoarjo 61232
Telp. 031 8961496; Email : [Link]@[Link]

SATUAN ACARA PENYULUHAN

PENDIDIKAN KESEHATAN MASYARAKAT

Pokok Bahasan : Diet Pada Diabetes Melitus


Hari/Tanggal : Senin, 06 Juni 2022 (klien I)
: Selasa, 07 Juni 2022 (Klien II)
Waktu : 11.30 – Selesai WIB (klien I)
: 09.30 – selesai WIB (Klien II)
Tempat : Bluru Kidul - Sidoarjo (Rumah Klien )
Sasaran : Klien dan Keluarga
A. Anaslisa Situasi
1. Peserta penyuluhan
1.1 Anggota keluarga dan klien Diabetes Melitus
1.2 Minat, perhatian, dan antusias dalam menerima materi penyuluhan
cukup baik
1.3 Interaksi antara penyuluh dengan audience cukup baik dan interaktif
2. Penyuluh
2.1 Mahasiswa Tingkat V prodi D3 Keperawatan Poltekkes Kerta Cendekia
Sidoarjo
2.2 Mampu mengomunikasikan kegiatan penyuluhan tentang pentingnya
diet pada Diabetes Melitus dengan baik dan mudah dipahami oleh
audience.
3. Ruangan
3.1 Bertempat di rumah klien
3.2 Penerangan, ventilasi, cukup kondusif untuk kelangsungan kegiatan
penyuluhan
B. Tujuan Umum
Setelah dilakukan pendidikan kesehatan selama 15 menit diharapkan keluarga
dapat memahami dan mengerti tentang pentingnya diet pada Diabetes Melitus.
92

C. Tujuan Khusus
Setelah dilakukan pendidikan kesehatan selama 15 menit diharapkan keluarga
dapat mengetahui :
1. Diet pada Diabetes Melitus
2. Manfaat dari diet pada Diabetes Melitus
3. Diet yang tepat dengan pedoman 3J
4. Mengetahui perhitungan kalori
5. Mengetahui anjuran yang baik bagi penderita Diabetes Melitus
D. Metode
1. Ceramah
2. Tanya jawab/diskusi
E. Media
1. Leaflet
F. Kegiatan pembelajaran
Kegiatan Kegiatan Kegiatan sasaran Metode Ceramah
pengajaran
Pembukaan 1. Memberi salam 1. Menjawab Ceramah 2 menit
dan salam
memperkenalkan 2. Mendengarkan
diri dan
2. Menjelaskan memperhatikan
tujuan
penyuluhan
Penyajian 1. Berdiskusi Memperhatikan dan 1. Ceramah 10 menit
materi dengan peserta mengajukan 2. Tanya
dan menjelaskan pertanyaan jawab
tentang
pentingnya diet
yang tepat pada
penderita
Diabetes Melitus
93

2. Mendorong dan
meemberi
kesempatan
untuk bertanya
Penutup 1. Evaluasi secara 1. Menjawab Tanya 3 menit
lisan pertanyaan jawab
2. Memberikan 2. Memperhatikan
kesimpulan dan menjawab
3. Menutup salam
pertemuan dan
mengucap salam

G. Materi
(terlampir)
H. Evaluasi
1. Evaluasi struktur
a. Kesiapan media dan tempat
b. Pengorganisasian dilakukan 1 hari sebelumnya
2. Evaluasi proses
a. Kegiatan dilaksanakan sesuai dengan waktunya
b. Peserta diupayakan agar mendapatkan penjelasan tentang pentingnya
diet pada penderita Diabetes Melitus
c. Peserta diupayakan tidak boleh meninggalkan sebelum kegiatan
penyuluhan selesai
3. Evaluasi hasil
Untuk mendapatkan hasil yang positif mudah dimengerti dan dipahami :
a. Mengetahui diet tentang Diabetes Melitus
b. Mengetahui manfaat dari diet Diabetes Melitus
c. Mengetahui diet yang tepat dengan pedoman 3J
d. Mengetahui perhitungan kalori
e. Mengetuhai anjuran yang baik bagi penderita Diabetes Melitus
94

YAYASAN PENDIDIKAN KERTA CENDEKIA


POLITEKNIK KESEHATAN KERTA CENDEKIA
Jalan Lingkar Timur, Rangkah Kidul, Sidoarjo 61232
Telp. 031 8961496; Email : [Link]@[Link]

Materi Pembahasan
1. Pengertian dan tujuan diet diabetes melitus
Diet diabetes melitus adalah diet yang diberikan pada penyandang
diabetes melitus dengan tujuan mempertahankan atau mencapai berat badan
ideal, mempertahankan kadar glukosa darah mendekati normal, mencegah
komplikasi akut kronik serta meningkatkan kualitas hidup.
2. Prinsip 3J pada diabetes melitus
a. Tempat Jumlah
Menurut Perkeni, 2011 pengelolahan diet dan pencegahan diabetes melitus
adalah memperhatikan jumlah makan yang dikonsumsi. Jumlah makan
(kalori) yang dianjurkan untuk penderita diabetes melitus adalah makan
yang lebih sering dengan porsi kecil sedangkan yang tidak dianjurkan
adalah makanan porsi banyak atau besar sekaligus. Tujuan makan seperti ini
adalah agar jumlah kalori terus merata sepanjang hari, sehingga beban kerja
organ-organ tubuh tidak berat, terutama pada organ pancreas. Adapun
pembagian kalori untuk setiap kali makan dengan pola menu enam kali
adalah sebagai berikut :
(1) Makan pagi atau sarapan jumlah kalori yang dibutuhkan adalah 20%
dari total kebutuhan setiap hari
(2) Snack pertama jumlah kalori yang dibutuhkan adalah 10% dari total
kebutuhan kalori sehari.
(3) Makan siang jumlah kalori yang dibutuhkan adalah 25% dari total
kebutuhan kalori sehari
(4) Snack kedua jumlah kalori yang dibutuhkan adalah 10% daro total
kebutuhan kalori sehari
(5) Makan malam jumlah kalori yang dibutuhkan adalah 25% dari total
kebutuhan kalori sehari
Cara menghitung kalori :
(1) Menentukan berat badan ideal (BBI)
95

BBI : (TB-100) – (10% x (TB-100)


(2) Faktor kelipatan individu (FKI) menurut tingkat kegiatan
Tingkat Kegiatan Laki-laki Perempuan
Ringan 1,55 1,56
Sedang 1,78 1,64
Berat 2,10 2,00

(3) Menentukan angka kecukupan energy individu


 Umur 20-29
Laki-laki : (15,3 BBI + 679) (FKI)
Perempuan : (14,7 BBI + 496) (FKI)
 Umur 30-59
Laki-laki : (11,6 BBI + 879) (FKI)
Prempuan : (8,7 BBI + 829) (FKI)
 Umur >60
Laki-laki : (13,5 BBI + 487) (FKI)
Perempuan : (10,5 BBI + 596 ) (FKI)
Contoh perhitungan : Berapa kalori ibu S yang berusia 61 tahun
dengan aktivitas sedang, tinggi badan 149 cm, dan berat badan 63
Kg ?
Jawab :
BBI = (TB-100)-(10%x(TB-100)
= (149-100)-(10%x(149-100)
= 44 kg
Jadi Kalori = (10,5 BBI + 596) (FKI)
= (10,5 x 44 + 596) x 1,64
= 1.735, dibulatkan 1.700 kalori
Jumlah kalori 1.700 , Dengan pembagian makan yaitu :
1. Pagi 20 % = 300 kalori
2. Selingan pagi 10 % = 200 kalori
3. Siang 25% = 400 kalori
4. Selingan siang 10% = 200 kalori
96

5. Malam 25% = 400 kalori


6. Selingan malam 10% = 200 kalori
 Makan pagi
Karbohidrat 68% = 200 kalori
Protein 12% = 40 kalori
Lemak 20% = 60 kalori
 Siang
Karbohidrat 68% = 300 kalori
Protein 12% = 50 kalori
Lemak 20% = 50 kalori
 Sore
Karbohidrat 68% = 300 kalori
Protein 12% = 50 kalori
Lemak 20% = 50 kalori
b. Tepat jenis
Menurut fauzi (2014) jenis makanan yang menentukan kecepatan
naik atau turunya kadar gula darah. Hindari makanan yang berindeks
glikemik tinggi seperti sumber karbohidrat sederhana, gula, madu, sirup,
roti, mie dan lainnya. Dan makanan yang berindeks glikemik rendah adalah
makanan yang kaya dengan serat seperti sayuran dan buah-buahan.
Karbohidrat 200 kalori Karbohidrat 300 kalori
No Bahan Makanan Berat (g) No Bahan Makanan Berat (g)
1. Nasi putih 120 1. Nasi putih 175
2. Bubur beras 450 2. Bubur beras 650
3. Nasi jagung 120 3. Nasi jagung 175
4. Singkong 120 4. Singkong 175
5. Kentang 250 5. Kentang 350
6. Roti putih 100 6. Roti putih 150

Protein 40 kalori Proten 50 kalori


No Bahan Makanan Berat (g) No Bahan Makanan Berat (g)
1. Daging 20 1. Daging 30
2. Daging ayam 20 2. Daging ayam 30
3. Ikan segar 20 3. Ikan segar 30
4. Tempe 25 4. Tempe 30
5. Tahu 50 5. Tahu 50
6. Telur ayam kampong 30 6. Telur ayam kampong 50
97

7. Telur ayam negri 30 7. Telur ayam negri 30

Lemak 60 kalori Lemak 50 kalori


No Bahan Makanan Berat (g) No Bahan Makanan Berat (g)
1. Minyak goreng 10 1. Minyak goring 10
2. Margarin 10 2. Margarin 10
3. Mentega 10 3. Mentega 10
4. Kelapa santan 75 4. Kelapa santan 50

Buah (selingan) 200 kalori


No Buah Berat (g)
1. Jambu air 750
2. Papaya 750
3. Salak 375
4. Apel 375
5. Semangka 750
6. Belimbing 625
7. Bengkuang 325
8. Pisang 250

Sayuran tipe B digunakan agak bebas tanpa diperhitungkan beratnya, asal dalam
jumlah yang wajar
Sayuran B
Rebung Mentimun
Jamur sedar Sawi
Seladri Labu air
Tomat Papaya muda
Cabai hijau besar Kol/kubis
Terong Kangkung
c. Tepat Jadwal
Makanan porsi kecil dalam waktu tertentu akan membantu mengontrol kadar
gula darah. Makanan porsi besar menyebabkan peningkatan kadar gula darah
mendadak dan bila berulang-ulang dalam jangka panjang, keadaan ini dapat
menimbulkan komplikasi Diabetes Melitus. Oleh karena itu makanlah sebelum
lapar karena makan disaat lapar sering tidak terkendali dan berlebihan. Agar
kadar gula darah lebih stabil, perlu pengaturan jadwal makan yang teratur.
1) Sarapan (06.00-07.00)
a. Makanan pokok : 1,5 porsi setara dengan nasi 150gram (1 sendok
makan nasi putih setara dengan 10 gram) atau roti tawar dua slice
b. Lauk hewani : satu porsi setara dengan daging sapi (50 gram) atau satu
telur ayam negri
c. Lauk nabati : setengah porsi setara dengan satu potong kecil tahu
d. Sayur : Satu porsi atau setara dengan 100 gram sayuran
98

2) Makan siang (12.00-13.00)


a. Makanan pokok : nasi 200 gram atau 20 sendok makan
b. Lauk hewani : satu porsi setara dengan daging sapi (50 gram) atau satu
telur ayam negri
c. Lauk nabati : satu porsi setara dengan satu potong tahu atau satu potong
tempe
d. Sayur : satu porsi atau setara dengan 100 gram sayuran.
3) Makan malam (18.00-19.00)
a. Makanan pokok : dua porsi setara dengan nasi 200 gram atau bihun 100
gram
b. Lauk hewani : satu porsi setara dengan daging sapi (50 gram) atau satu
telur ayam negri
c. Lauk nabati : satu porsi setara dengan satu potong tahu atau satu potong
tempe
d. Sayur : satu porsi atau setara dengan 100 gram sayuran
4) Camilan (10.00, 16.00, 19.00)
Makanlah camilan pada jam 10 pagi, 4 sore, dan pada malam hari. Pilihlah
camilan yang berat seperti buah-buahan, anda bisa mengkonsumsi buah
sebanyak 50 gram, contohnya 1 buah pisang.
d. Anjuran bagi penderita diabetes melitus
(1) Melakukan prinsip diet yang tepat dengan 3J
(2) Melakukan olahraga secara rutin sebanyak 30 kali dalam seminggu selama
30 menit
(3) Melakukan pemantauan gula darah secara rutin
(4) Laksanakan diet secara disiplin
99

Sumber bahan
Fauzi, I. (2014). Buku Pintar Deteksi Dini Gejala dan Pengobatan Asam Urat,
Diabetes Melitus dan Hipertensi. Jakarta : Araska

Perkerni. (2015). Konsekuensi Pengelolaan dan Pencegahan Diabetes Mellitus


Tipe di Indonesia. Jakarta: PERKENI
Apa Diet Diabetes Melitus??? 2. Tepat jumlah

Jumlah makan (kalori) yang dianjurkan untuk


DIET DIABETES MELITUS Diet diabetes melitus adalah diet yang diberikan
kepada penyandang diabetes melitus dengan tujuan penderita Diabetes Melitus adalah makan yang
mempertahankan atau mencapai berat badan ideal,
lebih sering dengan porsi kecil sedangkan
mempertahankan kadar glukosa darah mendekati
normal, mencegah komplikasi akut dan kronik serta yang tidak dianjurkan adalah makanan porsi

meningkatkan kualitas hidup. banyak sekaligus. Tujuan makan seperti ini

Prinsip 3J sebagai pengelolahan makanan pada adalah agar jumlah kalori terus merata
diabetes melitus
sepanjang hari

Disusun oleh : 1. Tepat jadwal 3. Tepat jenis

Sarifatul Istifania  Sarapan pagi jam 6.00 Jenis makanan yang dibatasi yang dapat menaikan

(1901018)  Kudapan/snack jam 9.00


kadar gula yaitu dengan mengandung karbohidrat
 Makan siang jam 12.00
POLITEKNIK KESEHATAN tinggi seperti gula, madu kemasan, sirup, roti, mie
 Kudapan/snack jam 15.00
KERTA CENDEKIA SIDOARJO
 Makan malam jam 18.00 instan
2022
 Kudapan/snack jam 21.00

100
101

Jenis makanan yang dianjurkan untuk pnderita Menentukan angka kecukupan energy individu Anjuran bagi penderita Diabetes Melitus :
diabetes melitus adalah makanan yang kaya 1. Melakukan prinsip diet yang tepat dengan 3J
 Umur 20-29
seraty seperti sayuran dan buah buahan seperti : Laki-laki : (15,3 BBI + 679) (FKI) 2. Melakukan olahraga secara rutin sebanyak 3
brokoli, timun, kubis, papaya, jambu, strawberry, Perempuan : (14,7 BBI + 496) (FKI) kali dalam seminggu selama 15 menit
pir, pisang, tomat  Umur 30-59
 Laki-laki : (11,6 BBI + 879) (FKI) 3. Melakukan pemantauan gula darah secara rutin
 Prempuan : (8,7 BBI + 829) (FKI) 4. terapi pengobatan
 Umur >60
 Laki-laki : (13,5 BBI + 487) (FKI) 5. Laksanakan diet secara disiplin
 Perempuan : (10,5 BBI + 596 ) (FKI)
CARA MENGHITUNG KALORI Contoh perhitungan :
Berapa kalori ibu S yang berusia 61 tahun dengan
1. Menentukan berat badan ideal (BBI) aktivitas sedang, tinggi badan 149 cm, dan berat
BBI : (TB-100)-(10% x (TB-100)) badan 63 Kg ?
2. Faktor kelipatan individu (FKI) Jawab :
BBI = (TB-100)-(10%x(TB-100)
Tingkat Laki-laki Perempuan
= (149-100)-(10%x(149-100)
Kegiatan = 44 kg
Ringan 1,55 1,56 Jadi Kalori
= (10,5 BBI + 596) (FKI)
Sedang 1,78 1,64
= (10,5 x 44 + 596) x 1,64
Berat 2,10 2,00 = 1.735, dibulatkan 1.700 kalori
YAYASAN PENDIDIKAN KERTA CENDEKIA
POLITEKNIK KESEHATAN KERTA CENDEKIA
Jalan Lingkar Timur, Rangkah Kidul, Sidoarjo 61232
Telp. 031 8961496; Email : [Link]@[Link]

SATUAN ACARA PENYULUHAN

PENDIDIKAN KESEHATAN MASYARAKAT

Pokok Bahasan : Perawatan Luka Diabetes Melitus


Hari/Tanggal : Senin, 06 Juni 2022
Waktu : 11.00 – Selesai WIB
Tempat : Bluru Kidul - Sidoarjo (Rumah Klien 1)
Sasaran : Klien dan Keluarga
I. Anaslisa Situasi
4. Peserta penyuluhan
1.4 Anggota keluarga dan klien Diabetes Melitus
1.5 Minat, perhatian, dan antusias dalam menerima materi penyuluhan
cukup baik
1.6 Interaksi antara penyuluh dengan audience cukup baik dan interaktif
5. Penyuluh
2.3 Mahasiswa Tingkat V prodi D3 Keperawatan Poltekkes Kerta Cendekia
Sidoarjo
2.4 Mampu mengomunikasikan kegiatan penyuluhan tentang Perawatan
Luka Diabetes Melitus dengan baik dan mudah dipahami oleh audience.
6. Ruangan
3.3 Bertempat di rumah klien
3.4 Penerangan, ventilasi, cukup kondusif untuk kelangsungan kegiatan
penyuluhan
J. Tujuan Umum
Setelah dilakukan pendidikan kesehatan selama 30 menit diharapkan klien dan
keluarga dapat memahami dan mengerti tentang pentingnya diet pada Diabetes
Melitus.
K. Tujuan Khusus

102
103

Setelah dilakukan pendidikan kesehatan selama 30 menit diharapkan klien dan


keluarga dapat mengetahui :
1. Mengetahui dan memahami tentang cara perawatan luka
2. Dapat mengaplikasikan cara perawatan luka di rumah
L. Metode
3. Ceramah
4. Tanya jawab/diskusi
M. Media
2. Leaflet
N. Kegiatan pembelajaran
Kegiatan Kegiatan Kegiatan sasaran Metode Ceramah
pengajaran
Pembukaan 3. Memberi salam 3. Menjawab Ceramah 2 menit
dan salam
memperkenalkan 4. Mendengarkan
diri dan
4. Menjelaskan memperhatikan
tujuan
penyuluhan
Penyajian 3. Berdiskusi 3. Memperhatikan Ceramah 25 menit
materi dengan peserta dan mengajukan Tanya
dan menjelaskan pertanyaan jawab
pengertian rawat 4. Mempraktikkan
Praktik
luka dengan sesakma
4. Menjelaskan
cara perawatan
luka dirumah
Penutup 4. Evaluasi secara 3. Menjawab Tanya 3 menit
lisan pertanyaan jawab
5. Memberikan 4. Memperhatikan
kesimpulan dan menjawab
salam
104

6. Menutup
pertemuan dan
mengucap salam

O. Materi
(terlampir)
P. Evaluasi
4. Evaluasi struktur
c. Kesiapan media dan tempat
d. Pengorganisasian dilakukan 1 hari sebelumnya
5. Evaluasi proses
d. Kegiatan dilaksanakan sesuai dengan waktunya
e. Peserta diupayakan agar mendapatkan penjelasan tentang perawatan
luka Diabetes Melitus
f. Peserta diupayakan tidak boleh meninggalkan sebelum kegiatan
penyuluhan selesai
6. Evaluasi hasil
Untuk mendapatkan hasil yang positif mudah dimengerti dan dipahami :
a. Mengetahui dan memahami tentang cara perawatan luka dan tanda
gejala infeksi
b. Dapat mengaplikasikan cara perawatan luka di rumah
105

YAYASAN PENDIDIKAN KERTA CENDEKIA


POLITEKNIK KESEHATAN KERTA CENDEKIA
Jalan Lingkar Timur, Rangkah Kidul, Sidoarjo 61232
Telp. 031 8961496; Email : [Link]@[Link]

Materi Pembahasan
3. Pengertian
Perawatan luka adalah suatu teknik dalam membersihkan luka yang
diakibatkan oleh penyakit diabetes melitus dengan tujuan untuk mencegah
infeksi luka, melancarkan darah sekitar dan mempercepat proses
penyembuhan luka.
4. Manfaat perawatan luka
a. Mencegah terjadinya infeksi pada luka
b. Mempercepat penyembuhan luka
c. Memberikan rasa nyaman pada klien
5. Tanda dan gejala infeksi
a. Lubor (kemerahan)
b. Color (panas)
c. Tumor (bengkak)
d. Dolor (nanah)
e. Fungsi lassea (kehilangan fungsi jaringan)
6. Penyebab terjadinya infeksi
a. Adanya benda asing atau jaringan yang udah mati didalam luka
b. Luka terbuka dan kotor
c. Gizi buruk
d. Daya tahan tubh yang lemah
e. Mobilisasi terbatas atau kurang
7. Teknik perawatan dirumah
1) Persiapkan alat
a. Gunting lurus 1
b. Gunting chirugis 1
c. Pinset anatomis 2, pinset chirugis 2
d. Korentang dan tempatnya
e. Kassa steril
106

f. Verband
g. Plester
h. Handscone bersih dan steril
i. Cairan NaCi 0,9%
j. Timba berisi air matang
k. Sabun
l. perlak
2) Langkah –langkah
a. Mencuci tangan
b. Memakai handscone bersih
c. Memasang perlak dibawah luka
d. Menyiram balutan verband dengan air matang
e. Membuka balutan luka menggunakan pinset dan buang ke tempat
sampah medis yang telah disiapkan
f. Melepaskan handscone bersih dang anti ke handscone sterill
g. Meletakkan kaki diatas timba kemudian membersihkan luka dengan
menggunakan sabun dan mencuci kaki pasien dengan menggunakan
air matang
h. Mengangkat jaringan nekrotik sampai terlihat adanya jaringan yang
masih hidup
i. Irigasi dengan NS 0,9% secukupnya
j. Menutup luka dengan menggunakan kassa dan verband
k. Merapikan peralatan, melepas handscone dan cuci tangan
107

Sumber bahan
Fauzi, I. (2014). Buku Pintar Deteksi Dini Gejala dan Pengobatan Asam Urat,
Diabetes Melitus dan Hipertensi. Jakarta : Araska

Smeltzer, S.C Dan B,G Bare. 2015. Baru Ajar Keperawatan Medikal Bedah
Brunner & Suddarth. Jakarta : Egc
Apa Perawatan luka??? TANDA DAN
PERAWATAN LUKA
Perawatan luka adalah suatu tindakan untuk GEJALA INFEKSI
ULKUS DIABETIKUM mempercepat proses penyembuhan luka dan
mencegah terjadi infeksi pada luka 1. Terjadi bengkak di sekitar luka

2. Panas badan yang meningkat

3. Kemerahan disekitar luka


APA PENYEBAB INFEKSI???
4. Nyeri
1. Luka terbuka dan kotor
Disusun oleh : 2. Adanya benda asing atau jaringan yang sudag 5. Perubahan fungsi organ

Sarifatul Istifania mati di dalam luka 6. Cairan berupa nanah pada luka
(1901018) 3. Daya tahan tubuh menurun
7. Luka berbau yang tidak sedap.
4. Gizi buruk
POLITEKNIK KESEHATAN
KERTA CENDEKIA SIDOARJO 5. Mobilisasi terbatas atau kurang gerak
2022

108
109

CARA PERAWATAN LANGKAH LANGKAH 7. Meletakkan kaki diatas timba


1. Mencuci tangan kemudian membersihkan luka
LUKA DI RUMAH
2. Memakai handscone bersih dengan menggunakan sabun dan
PERSIAPAN ALAT 3. Memasang perlak dibawah luka mencuci kaki pasien dengan

a. Gunting lurus 1 4. Menyiram balutan verband dengan air matang menggunakan air matang

b. Gunting chirugis 1 5. Membuka balutan luka menggunakan pinset 8. Mengangkat jaringan nekrotik

c. Pinset anatomis 2, pinset chirugis 2 dan buang ke tempat sampah medis yang telah sampai terlihat adanya jaringan

d. Korentang dan tempatnya disiapkan yang masih hidup

e. Kassa steril 6. Melepaskan handscone bersih dang anti ke 9. Irigasi dengan NS 0,9%

f. Verband handscone sterill secukupnya

g. Plester [Link] luka dengan

h. Handscone bersih dan steril menggunakan kassa dan verband

i. Cairan NaCi 0,9% [Link] peralatan, melepas

j. Timba berisi air matang handscone dan cuci tangan

k. Sabun
l. perlak
DAFTAR RIWAYAT HIDUP

A. Data Diri

Nama : Sarifatul Istifania

Tempat/Tanggal Lahir : Sidoarjo, 16 April 2000

Jenis Kelamin : Perempuan

Agama : Islam

Alamat : Bluru Kidul Rt 02 Rw 06 Sidoarjo

B. Riwayat Pendidikan

1. Tahun 2005 – 2006 : Taman Pendidikan Dharma Wanita Sidoarjo

2. Tahun 2007 – 2013 : SDN Bluru Kidul II Sidoarjo

3. Tahun 2013 – 2015 : MTS Islamiyah Tanggulangin

4. Tahun 2016 – 2018 : MA Islamiyah Sumorame Sidoarjo

5. Tahun 2019 – 2022 : Mahasiswa Prodi D-III Keperawatan


Poltekkes Kerta Cendekia Sidoarjo

110
111
112

Anda mungkin juga menyukai