Masalah Keperawatan Diabetes di Desa
Masalah Keperawatan Diabetes di Desa
Oleh :
SARIFATUL ISTIFANIA
NIM. 1901018
Oleh :
SARIFATUL ISTIFANIA
NIM. 1901018
ii
iii
iv
v
MOTTO
Bahwa tiada yang orang dapatkan kecuali yang ia usahakan. Dan bahwa
“Sukses bukan hanya apa yang terlihat di pelupuk mata, bukan tentang
setiap harinya terus bertumbuh dan bermanfaat bagi sesama, kamu sudah
sukses. Hidup itu berotasi, benar seperti yang disebut roda kehidupan; apa
yang terlihat indah tidak selamanya indah, apa yang saat inii kamu sesali
bisa jadi akan kamu syukuri pada akhirnya. Setiap kita diuji dengan cara
usaha yang dibantu doa. Sukses akan menyusulmu dari berbagai arah
perlahan-lahan.”
-Syarifah-
vi
KATA PERSEMBAHAN
melimpahkan rahmat, taufik serta hidayah-Nya dan atas dukungan dari orang-orang
tercinta, akhirnya Karya Tulis Ilmiah ini dapat diselesaikan dengan baik dan tepat
pada waktunya. Oleh karena itu, dengan rasa bangga dan bahagia saya sampaikan
1. Kedua orang tua, untuk ketulusannya dari hati atas doa yang tak pernah
2. Orang yang paling istimewa dalam hidup saya. Terimakasih atas dukungan,
3. Diri saya sendiri yang mau dan mampu bertahan, berjuang, berusaha sekuat
saya bisa, tidak menyerah, terimakasih karena sudah mau untuk tetap kuat
4. Kepada kedua Dosen pembimbing Ibu Faida Annisa [Link]., MNS dan Ibu
sehingga saya dapat menyelesaikan tugas akhir ini dengan lancar tanpa satu
halangan apapun
5. Orang-orang yang sangat saya sayangi yakni sahabat saya. Saya ingin
vii
KATA PENGANTAR
1. Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan rahmat serta ridhonya
sehingga Karya Tulis Ilmiah ini selesai tepat waktu.
2. Ibu Agus Sulistyowati, [Link]., [Link] selaku Direktur dan Dosen
Pembimbing 2 yang penuh kebaikan dan perhatian telah membimbing
dalam menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah.
3. Ibu Faida Annisa, [Link]., MNS selaku pembimbing 1 yang yang telah
meluangkan waktu, pikiran dan perhatian dalam membimbing dalam
menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah ini
4. Orang Tua yang selalu memberikan doa dan dukungan dalam penyelesaian
Karya Tulis Ilmiah ini.
5. Pihak-pihak yang turut berjasa dalam menyusun Karya Tulis Ilmiah ini
yang tidak bisa disebutkan satu persatu.
Penulis sadar bahwa Karya Tulis Ilmiah ini belum mencapai kesempurnaan,
sebagai bekal perbaikan, penulis akan berterima kasih apabila pembaca berkenan
memberikan masukan, baik dalam bentuk kritikan maupun saran demi
kesempurnaan Karya Tulis Ilmiah ini.
Penulis berharap Karya Tulis Ilmiah ini bermanfaat bagi pembaca dan bagi
[Link],
28 Juni 2022
Penulis
viii
DAFTAR ISI
ix
2.4.2 Analisa Data ........................................................................ 35
2.4.3 Diagnosa Keperawatan ........................................................ 36
2.4.4 Intervensi Keperawatan ....................................................... 39
2.4.5 Implementasi Keperawatan .................................................. 47
2.4.6 Evaluasi Keperawatan ......................................................... 47
2.5 Kerangka Masalah Diabetes Melitus ................................................... 48
BAB 3 TINJAUAN KASUS....................................................................... 49
3.1 Pengkajian ............................................................................................. 49
3.1.1 Identitas ..................................................................................... 49
3.1.2 Riwayat Kesehatan .................................................................... 49
3.1.3 Genogram .................................................................................. 52
3.1.4 Riwayat Psikososial .................................................................. 52
3.1.5 Riwayat Nutrisi dan Cairan ....................................................... 53
3.1.6 Identifikasi Kemampuan Dalam Melakukan Aktivitas
Sehari-hari ................................................................................ 54
3.1.7 Modifikasi Barthel Indeks ......................................................... 55
3.1.8 Identifikasi Status Mental dengan Short Portable
Mental Status Quisioner (SPMSQ) ........................................... 57
3.1.9 Pemeriksaan Fisik.......................................................................58
3.2 Analisa Data .......................................................................................... 63
3.3 Daftar Diagnosa keperawatan prioritas ................................................. 65
3.4 Intervensi keperawatan ......................................................................... 66
3.5 Implementasi keperawatan .................................................................... 68
3.6 Catatan Perkembangan .......................................................................... 73
3.7 Evaluasi keperawatan ........................................................................... 75
BAB 4 PEMBAHASAN ............................................................................. 78
4.1 Pengkajian .............................................................................................. 78
4.2 Diagnosa Keperawatan........................................................................... 80
4.3 Intervensi Keperawatan .......................................................................... 81
4.4 Implementasi Keperawatan .................................................................... 81
4.5 Evaluasi Keperawatan ............................................................................ 82
BAB 5 PENUTUP....................................................................................... 84
5.1 Kesimpulan ............................................................................................ 84
5.2 Saran ....................................................................................................... 85
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................ 86
LAMPIRAN ................................................................................................ 88
x
DAFTAR TABEL
xi
DAFTAR GAMBAR
xii
DAFTAR LAMPIRAN
xiii
BAB I
PENDAHULUAN
Diabetes Melitus merupakan salah satu penyakit tidak menular (PTM) dan
saat ini menjadi ancaman serius bagi kesehatan global (Kemenkes, 2014).
Diabetes Melitus merupakan salah satu kelompok dari penyakit metabolik yang
termasuk penyakit tidak menular yang mana akan mengalami peningkatan terus
menerus dari tahun ketahun, hal ini dikarenakan oleh pola hidup yang tidak
sehat. Fenomena yang terjadi di Desa Bluru Kidul yaitu penderita Diabetes
Melitus kebanyakan dari mereka masih beranggapan bahwa gula darah yang
sembuh oleh karena itu penderita tidak perlu lagi menjaga perilaku hidup sehat
seperti masih mengkonsumsi makanan dan minuman yang tinggi gula dan
penderita Diabetes Melitus yang keluar masuk rumah sakit (Kader Kesehatan
425 juta jiwa, di Asia tenggara pada tahun 2017 terdapat 82 juta jiwa dan pada
tahun 2017 Indonesia menduduki posisi ke tujuh di dunia yaitu 10,3 juta jiwa
1
2
2018 di kota Sidoarjo sebesar 5.518 jiwa yang mengalami Diabetes Melitus dari
stress, diet yang kurang tepat dan pola makan tidak sehat dan kurangnya
dapat dipicu oleh makanan yang tidak sehat, dimana saat ini masyarakat banyak
dan minuman yang kaya akan gula (Damayanti, 2015). Pola hidup seperti ini
penyuluhan pada keluarga dan klien yang menderita diabetes melitus tentang
arti, penyebab, tanda dan gejala serta pengobatan kondisi ini. Peran preventif
yaitu membiasakan diri untuk hidup sehat dengan melakukan latihan fisik
minimal 15 menit per harinya, mengajarkan diet yang tepat, serta kurangi
makanan yang mengandung gula dan junk food. Peran kuratif yaitu dengan
adalah dengan memeriksakan gula darah secara rutin dan melakukan perubahan
[Link]. Merumuskan Diagnosa Keperawatan pada Lansia Ny. P dan Tn. A Dengan
[Link]. Merencanakan Asuhan Keperawatan pada Lansia Ny. P dan Tn. A Dengan
[Link]. Melaksanakan Asuhan Keperawatan pada Lansia Ny. P dan Tn. A Dengan
[Link]. Mengevaluasi Asuhan Keperawatan pada Lansia Ny. P dan Tn. A Dengan
Bagian ini berisi uraian manfaat penelitian Diabetes Melitus, yang sangat
1.4.2. Bagi responden, misalnya dapat diterapkan dalam keluarga atau sebagai
medis diabetes
yang terjadi pada saat ini, dan mencakup tinjauan pustaka yang
[Link]. Wawancara
Data diambil atau diperoleh percakapan baik dengan klien maupun tim
kesehatan lain
[Link]. Observasi
[Link]. Pemeriksaan
Data sekunder adalah data yang diperoleh dari keluarga pelanggan atau
rekan dekat, rekam medis dari perawat, hasil laboratorium, dan tim medis
lainnya.
Studi kepustakaan adalah mempelajari judul studi kasus dan buku sumber
Supaya lebih jelas dan lebih muda dalam mempelajari dan memahami studi
Terdiri dari 5 bab yang masing-masing bab terdiri dari sub-sub berikut ini :
[Link]. Bab 2 : Tujuan pustaka berisi tentang konsep penyakit dari suatu medis
[Link]. Bab 3 : Tujuan kasus berisi tentang deskripsi data hasil pengkajian
TINJAUAN PUSTAKA
2.1.1. Definisi
beberapa organ tubuh terutama mata, ginjal, saraf dan pembuluh darah
kelainan sekresi insulin, kerja insulin, atau kedua duanya (Association &
Care, 2020).
Mellitus, IDDM).
[Link]. Tipe 2 : Diabetes Melitus tidak tergantung insulin (Non Insulin Dependen
7
8
[Link]. Diabetes Melitus Gastasional : Diabetes tipe ini disebut juga dengan
[Link]. Diabetes Melitus tipe lain, seperti diabetes neonatal, adanya penyakit
2.1.3. Etiologi
1) Faktor Genetik
2) Faktor Imunologi
Pada Diabetes Melitus tipe 1, ada bukti reaksi autoimun. Ini adalah
3) Faktor Lingkungan
1) Faktor Keturunan
Resiko terkena Diabetes Melitus tipe 2 lebih tinggi jika orang tua
penyakit ini.
Kadar kolesterol dalam darah yang tinggi akan menyerap insulin yang
4) Obesitas
lemak yang tidak positif bagi tubuh. Sama hal nya dengan kolesterol,
sebagai energi
digolongkan menjadi 2 :
minum.
Ketika kadar gula darah melebihi nilai normal, gula dalam darah
pengobatan, gejala seperti minum berlebihan dan buang air kecil, nafsu
1) Kesemutan
4) Mudah gantuk
5) Penglihatan kabur
8) Dan para ibu hamil sering mengalami keguguran atau kematian janin
dalam kandungan atau dengan bayi berat lahir lebih dari 4kg.
12
2.1.5. Patofisiologi
diet terjadi karena produksi glukosa dihati tidak terukur. Selain itu, glukosa
glukosa dalam darah cukup tinggi, ginjal tidak dapat menyerap kembali
amino dan zat lain). Namun, pada pasien dengan defisiensi insulin, proses
terjadi kehilangan lemak dan produksi badan keton, produk sampingan dari
hiperventilasi, bau aseton pada napas, dan jika tidak ditangani dapat
ketoasidosis. Diet dan olahraga, serta sering memantau kadar gula darah,
dengan gangguan toleransi glukosa, kondisi ini terjadi karena sekresi insulin
yang berlebihan, dan gula darah tetap pada tingkat normal atau sedikit
insulin, ketoasidosis diabetic tidak terjadi pada diabetes tipe 2 karena kadar
polidipsi, luka kulit yang lambat sembuh, radang daerah vagina, atau
2.1.6. Komplikasi
glukosa darah
terkontrol
(Tarwonto, 2012)
hiperinsulinemia, dahiperaliniamea.
15
virus
(2) Nefropati
(Subekti, 2014).
(Tarwonto, 2012)
Tabel 2.1 Kadar Glukosa Darah sewaktu dan puasa dengan metode
enzimatik sebagai patokan penyaring (Nurarif et al., 2015)
[Link]. Kriteria diagnose WHO untuk Diabetes Melitus pada sedikitnya 2 kali
pemeriksaan :
2) GD 2 PP : Plasma Vena
1) Mikroalbuminouria : urin
(NANDA, 2015).
2.1.8. Penatalaksanaan
[Link]. Diet
1) Tepat Jadwal
Diet harus sesuai dengan interval waktu yang dibagi menjadi enam kali
makan, yaitu tiga kali makan utama dan tiga kali makan sampingan.
2) Tepat Jumlah
3) Tepat Waktu
madu, sirup, roti, dll. Makanan dengan indeks glikemik rendah adalah
(Perkerni, 2015).
[Link]. Olahraga
dan durasi pendek. Yang termasuk insulin ini adalah Cristal Zink
Jenis awal kerjanya 1,5 – 2,5 jam, puncak 4-15 jam dan efeknya
3) Insulin eksogen campur antara kerja cepat dan kerja sedang (insulin
premix)
(Putra, 2019).
1) Golongan Sulphonylureas
2) Golongan Biguanides
makan.
4) Thiazolidinedione
5) Alpha-Glucosidae Inhibitor
(Putra, 2019).
[Link]. Pemantauan
yang mendapat suntikan insulin cek gula darah 3-4x dalam sehari atau
2.2.1. Definisi
dan tahapan akhir dari fase kehidupannya dan akan terjadi proses penuaan
(Nugroho, 2019).
[Link]. Usia pertengahan (middle age), ialah kelompok usia 45 sampai 59 tahun
terhadap orang yang lebih tua dan diperparah dengan pendapat yang
Peran ini berubah ketika orang dewasa yang lebih tua mulai
lingkungan. Misalnya, orang yang lebih tua memiliki status sosial sebagai
Akibat perlakuan yang buruk ini, adaptasi pada lansia juga buruk.
1) Sistem Indra
atas 60 tahun.
2) Sistem Integumen
Pada lansia kulit mengalami atropi, kendur, tidak elastis, kering dan
3) Sistem Muskuluskeletal
patah tulang.
(4) Sendi : pada lansia, jaringan ikat sekitar sendi seperti tendon,
4) Sistem Kardiovaskuler
jaringan ikat.
5) Sistem Respirasi
7) Perkemihan
8) Sistem Saraf
9) Sistem Reproduksi
ovarium dan rahim. Terjadi atrofi payudara. Pada pria, testis masih bisa
[Link]. Kognitif
1) Daya ingat
2) IQ (Intellegent Quotient)
7) Kebijaksanaan (Wisdom)
8) Kinerja (Performance)
9) Motivasi
26
2) Kesehatan umum
3) Tingkat pendidikan
4) Keturunan
5) Lingkungan
dan keluarga
yang lebih tua menjadi lebih dewasa dalam kehidupan beragama, dan
1) Kesepian
ketika orang tua cacat atau dalam kondisi kesehatan yang buruk.
gangguan pendengaran.
3) Depresi
4) Gangguan Cemas
penyakit sekunder, depresi, efek samping obat, atau gejala putus obat
yang tiba-tiba.
5) Parafrenia
dewasa yang lebih tua yang menarik diri dari kegiatan sosial.
6) Syndrome Diogenes
orang tua bermain dengan kotoran dan air kencingnya, mereka selalu
28
2.3.1. Pengertian
tulang, tulang rawan, kapsul sendi dan/atau ligamen). (Tim Pokja SDKI,
2017).
kerusakan sebagian (partial thickness) atau total (full thickness) pada area
kulit yang meluas ke jaringan subkutan, tendon, otot, tulang, atau persendian
yang terjadi pada penderita diabetes. Kondisi ini muncul sebagai akibat dari
kadar gula darah yang tinggi. Jika ulkus kaki berlangsung lama dan tidak
diobati dan tidak sembuh, luka akan terinfeksi. Ulkus kaki, infeksi,
neuropati, dan penyakit arteri perifer adalah penyebab gangren dan amputasi
1) Derajat 0 : kulit kering dan terdapat callous yaitu daerah yang kulitnya
5) Derajat 4 : gangrene jari kaki atau bagian distal kaki dengan atau tanpa
selulitis
2.3.2. Penyebab
[Link]. Subjektif
[Link]. Objektif
[Link]. Subjektif
[Link]. Objektif
1) Nyeri
2) Perdarahan
3) Kemerahan
4) Hematoma
2.4.1. Pengkajian
[Link]. Identitas
30
1) Usia (diabetes tipe 1 < 30 tahun, diabetes tipe 2 umur lebih 30 tahun,
(Anisa, 2017).
kesemutan pada ekstermitas, luka yang sukar sembuh dan nyeri pada luka
adalah pekerjaan yang hanya duduk dibelakang meja saja dan kurang
yang tidak tepat, atau mendapat shift malam karena shift malam dapat
fisik dan emosional (yang dapat meningkatkan kadar hormon stres seperti
[Link]. Nutrisi
badannya turun karena glukosa tidak bisa masuk ke dalam sel (Tarwonto,
2012)
1) Umum
2) Breathing (B1)
32
(2) Palpasi : vocal fremitus antara kanan kiri sama, susunan ruas tulang
belakang normal.
(3) Perkusi : jika terjadi sesak nafas atau batuk maka akan terdengar
(Kautsar, 2018).
3) Blood (B2)
JVP.
(2) Palpasi : Tidak ada nyeri tekan, ictus cordis tidak teraba, CRT <2
detik (bisa terjadi >3 detik dan sianosis), bisa terjadi takikardia,
(3) Perkusi : Biasanya terdengar suara dullness atau redup atau pekak
(4) Auskultasi : Bunyi jantung normal dan tidak ada suara jantung
(Muttaqin, 2012)
33
4) Brain (B3)
(1) Inspeksi : Kesadaran bisa baik ataupun menurun, klien bisa pusing,
gangguan memori
bertahap dan atrofi serabut saraf lansia. Orang dewasa yang lebih tua
aktivitas sehari-hari
5) Bladder (B4)
6) Bowel (B5)
adanya caries gigi, adanya bau nafas seperti bau buah yang
(Sanjaya, 2016)
7) Bone (B6)
(1) Inpeksi : Biasanya ada luka gangrene pada bagian ektermitas, luka
2016).
(2) Palpasi : Terdapat edema dan terasa nyeri jika ditekan, akral
Melitus akan mengalami nyeri pada luka, akan tetapi dapat juga
8) Pengindraan (B7)
pasien yang kurang tidur karena sering buang air kecil di malam
(2) Palpasi : Pada lansia dengan diabetes melitus bola mata teraba
(Rahmawati, 2017)
9) Endokrin (B8)
asuhan keperawatan klien, buat hubungan sebab akibat antara data dengan
Table 2.2 Diagnosa Keperawatan Pasien dengan Diabetes Melitus (Tim Pokja SDKI,
2017)
1. Bising usus
hiperaktif
2. Otot pengunyah
lemah
3. Otot menelan
lemah
4. Membrane mukosa
pucat, sariawan
5. Serum albumin
turun
6. Rambut rontok
berlebihan
7. Diare
D.0192 Gangguan Integritas Subjektif Subjektif
Kulit berhubungan (Tidak tersedia) (Tidak tersedia)
dengan neuropati Objektif Objektif
perifer Kerusakan jaringan 1. Nyeri
dan/atau lapisan kulit 2. Perdarahan
3. Kemerahan
4. Hematoma
D.0111 Deficit pengetahuan Subjektif Subjektf
berhubungan dengan 1. Menanyakan (tidak tersedia)
kurang terpapar masalah yang Objektif
informasi dihadapi 1. Menjalani
Objektif pemeriksaan yang
1. Menunjukkan tidak tepat
perilaku tidak sesuai 2. Menunjukkan
anjuran perilaku berlebihan
2. Menunjukkan (mis. Apatis,
persepsi yang keliru bermusuhan,
terhadap masalah agitasi, hysteria).
38
Tabel 2.2 Intervensi Keperawatan Menurut (Tim Pokja SLKI, 2018)dan (Tim Pokja SIKI, 2018)
Diagnosa Keperawatan SLKI SIKI
Terapeutik
Luaran Tambahan 1. Atur interval waktu
L.05020 1. Keseimbangan Cairan pemantauan sesuai
L.03021 2. Keseimbangan Elektrolit dengan kondisi klien
2. Dokumentasikan hasil
pemantauan
Edukasi
39
1. Jelaskan tujuan dan
prosedur pemantauan
2. Informasikan
pemantauan, jika perlu
Intervensi Tambahan
I.14527 Pemantauan Elektrolit
40
Kolaborasi
Kolaborasi dengan ahli gizi
untuk menentukan jumlah
kalori dan jenis nutrient yang
dibutuhkan, jika perlu
Edukasi
Luaran Tambahan 1. Jelaskan tanda dan gejala
L.14128 1. Kontrol Resiko infeksi
2. Ajarkan cuci tangan yang
benar
3. Ajarkan cara memeriksa
kondisi luka atau luka
operasi
41
4. Anjurkan meningkatkan
asupan cairan dan nutrisi
Intervensi Tambahan
I.14564 1. Perawatan Luka
D.0129 Gangguan Setelah dilakukan tindakan / kunjungan Intervensi Utama
Integritas selama 3x diharapkan gangguan integritas I.14564 Perawatan luka
Kulit/jaringan kulit dan jaringan terhadap klien meningkat, Observasi
berhubungan dengan kriteria hasil : 1. Monitor karakteristik luka
dengan neuropati Luaran Utama (mis. Drainase, warna,
perifer L. 14125 Integritas Kulit dan Jaringan ukuran, bau)
1. Elastisitas kulit meningkat 2. Monitor tanda-tanda
2. Kerusakan lapisan kulit menurun infeksi
3. Nyeri menurun
4. Kemerahan menurun Terapeutik
5. Nekrosis menurun 1. Lepaskan balutan dan
6. Tekstur kulit membaik plester secara perlahan
2. Bersihkan dengan cairan
Luaran Tambahan NaCi 0,9% atau pembersih
L. 14130 1. Penyembuhan Luka nontoksik, sesuai
kebutuhan
3. Bersihkan jaringan
nekrotik
4. Berikan salep yang sesuai
ke kulit/lesi jika perlu
5. Pasang balutan sesuai jenis
luka
42
6. Pertahankan teknik steril
saat melakukan perawatan
luka
7. Ganti balutan sesuai
jumlah eksudat dan
drainase
Edukasi
1. Jelaskan tanda-tanda
infeksi
2. Ajarkan prosedur
perawatan luka secara
mandiri
3. Anjurkan mengkonsumsi
makanan tinggi kalori dan
protein
Kolaborasi
1. Kolaborasi pemberian
antibiotic, jika perlu
Intervensi Tambahan
I.12426 1. Edukasi Perawatan Kulit
D.0111 Deficit Setelah dilakukan tindakan / kunjungan Intervensi utama
pengetahuan selama 3x diharapkan tingkat pengetahuan I.12383 Edukasi kesehatan
berhubungan klien meningkat, dengan kriteria hasil Observasi
dengan kurang Luaran utama
terpapar informasi L.12111 Tingkat pengetahuan
43
1. Perilaku sesuai anjuran meningkat 1. Identifikasi kesiapan dan
2. Verbalisasi minat dalam belajar kemampuan menerima
meningkat informasi
3. Perilaku sesuai pengetahuan meningkat 2. Identifikasi faktor-faktor
4. Persepsi yang keliru terhadap masalah yang dapat meningkatkan
menurun dan menurunkan motivasi
perilaku hidup bersih dan
Luaran tambahan sehat
L.12110 Tingkat kepatuhan
Terapeutik
1. Sediakan materi dan media
pendidikan kesehatan
2. Jadwalkan pendidikan
kesehatan sesuai
kesepakatan
3. Berikan kesempatan untuk
beratanya
Edukasi
1. Jelaskan faktor resiko yang
dapat mempengaruhi
kesehatan
2. Ajarkan perilaku hidup
bersih dan sehat
3. Ajarkan strategi yang
dapat digunakan untuk
meningkatkan perilaku
hidup bersih dan sehat.
44
I.12360 Intervensi pendukung
Bimbingan sistem kesehatan
D.0144 Ketidakpatuhan Setelah dilakukan tindakan / kunjungan Intervensi utama
berhubungan selama 3x diharapkan tingkat kepatuhan I.12361 Dukungan kepatuhan
dengan klien meningkat, dengan kriteria hasil program pengobatan
ketidakadekuatan Luaran utama Observasi
pemahaman L.12110 Tingkat kepatuhan 1. Identifikasi kepatuhan
(sekunder akibat 1. Merbalisasi kemauan memenuhi menjalani program
deficit kognitif, program perawatan atau pengobatan pengobatan
kecemasan, meningkat
gangguan 2. Verbalisasi mengikuti anjuram Terapeutik
pengelihatn/pende meningkat 1. Buat komitmen
ngaran, kelelahan, 3. Risiko komplikasi penyakit/masalah menjalani program
kurang motivasi) kesehatan menurun pengobatan dengan baik
4. Perilaku menjalankan anjuran membaik 2. Libatkan keluarga untuk
mendukung program
Luaran tambahan pengobatan yang dijalani
L.12111 Tingkat pengetahuan
Edukasi
1. Informasikan program
pengobatan yang harus
dijalani
2. Informasikan manfaat
yang akan diperoleh jika
teratur menjalani
program pengobatan
45
3. Anjurkan pasien dan
keluarga melakukan
konsultasi ke pelayanan
kesehatan terdekat, jika
perlu
Intervensi pendukung
I.14525 Pelibatan keluarga
46
47
tujuan dan kriteria hasil yang ditetapkan selama fase perencanaan. Menurut
SOAP :
keperawatan
Gambar 2.1 Kerangka Masalah Diabetes sumber (Nurarif et al., 2015) penulisan menurut (Tim Pokja SDKI, 2017)
48
BAB III
TINJAUAN KASUS
3.1. Pengkajian
3.1.1. Identitas
49
50
3.1.3. Genogram
DM DM DM DM
DM
52
Keterangan :
Perempuan
Laki – laki
Meninggal
DM Klien
Skore Kriteria
E Mandiri, kecuali mandi berpakaian, ke toilet dan satu fungsi yang lain
E Mandiri, kecuali mandi berpakaian, ke toilet dan satu fungsi yang lain
1 Makan 5 10 10
2 Minum 5 10 10
6 Mandi 5 15 15
9 Mengenakan pakaian 5 10 10
Jumlah 130
Interpretasi Hasil :
A. 130 : Mandiri
B. 65 – 125 : Ketergantungan Sebagian
C. 60 : Ketergantungan Total
56
1 Makan 5 10 10
2 Minum 5 10 10
6 Mandi 5 15 15
9 Mengenakan pakaian 5 10 10
Jumlah 130
Interpretasi Hasil :
A. 130 : Mandiri
C. 60 : Ketergantungan Total
57
3.1.8. Identifikasi Status Mental dengan Short Portable Mental Status Quisioner
(SPMSQ)
JUMLAH 10
Interpretasi Hasil
JUMLAH 10
Interpretasi Hasil
Masalah Keperawatan :
Tidak ada masalah
Sistem Klien tidak mengalami Klien tidak mengalami fraktur.
Muskuloskeletal fraktur. Akral lembab, Akral lembab, turgor elastis CRT
61
dan Integumen turgor elastis CRT kurang 3 kurang 3 detik, tidak ada oedema,
(B6) detik, tidak ada oedema, kulit bersih. Kemampuan gerakan
kulit bersih. Kemampuan sendi dan tungkai (ROM) bebas.
gerakan sendi dan tungkai Kekuatan otot klien 5-5-5-5
(ROM) bebas. Kekuatan kemampuan melakukan ADL
otot klien 5-5-5-5 mandiri, terdapat 2 luka gangrene :
kemampuan melakukan
1. pada telapak kaki kiri bagian
ADL mandiri, terdapat luka
gangrene pada jempol kaki lateral dengan drajat luka 2
kiri, luka pada drajat 2 yakni ulkus dengan kedalaman
yakni ulkus dalam mencapai tulang, warna merah
mencapai tendon, warna pada dasar luka, cairan jernih,
dasar luka merah muda, tidak terdapat nanah dan tak
tidak terdapat pus, cairan berbau, luas luka 6-7cm dan
jernih dan tidak berbau, kedalaman 3-4 cm.
luas luka 1-2 cm dan 2. luka pada kaki kanan bagian
kedalaman 1-2 cm. talus dengan klasifikasi ulkus
drajat 2 yakni ulkus dalam
Masalah Keperawatan : mencapai tendon namun tidak
Gangguan integritas sampai tulang, warna dasar luka
jaringan merah terdapat cairan jernih,
tidak terdapat pus dan tidak
berbau, luas luka 2-3 cm dan
kedalaman 1-2 cm.
Masalah Keperawatan :
Gangguan integritas jaringan
DS : DS :
a. klien mengatakan ada luka a. klien mengatakan ada 2 luka
gangrene pada jempol kaki kiri ganggren yang sama-sama tidak
dan tidak terasa nyeri terasa nyeri:
DO : b. Luka pada telapak kaki kiri yang
sudah lama
a. Luka pada jempol kaki kiri c. Luka pada bagian talus kaki
dengan karakteristik luka pada kanan yang baru timbul
drajat 2 yakni ulkus dalam DO :
mencapai tendon, warna dasar
luka merah muda, tidak terdapat d. Luka pada telapak kaki kiri Neuropati perifer Gangguan
pus, cairan jernih dan tidak bagian lateral dengan drajat luka integritas jaringan
berbau, luas luka 1-2 cm dan 2 yakni ulkus dengan kedalaman
kedalaman 1-2 cm mencapai tulang, warna merah (D.0129)
pada dasar luka, cairan jernih,
tidak terdapat pus dan tidak
berbau, luas luka 6-7 cm dan
kedalaman 3-4 cm
e. luka pada bagian talus kaki
kanan dengan klasifikasi ulkus
drajat 2 yakni ulkus dalam
63
mencapai tendon namun tidak
sampai tulang, warna dasar luka
merah terdapat cairan jernih,
tidak terdapat pus dan tidak
berbau, luas luka 2-3 cm dan
kedalaman 1-2 cm.
DS : DS :
a. Klien juga belum mengerti klien mengatakan masih belum
tentang diet diabetes melitus yang faham tentang diet diabetes melitus
diketahui mengurangi makan dan yang diketahui mengurangi manis-
minum manis-manis manis seperti gula, sirup
b. klien juga mengatakan masih
belum bisa rawat luka secara DO : Kurang terpapar Defisit
mandiri karna klien takut infeksi. informasi pengetahuan
a. Saat ditanya tentang diet
DO :
diabetes melitus klien tampak
a. Saat ditanya tentang diet diabetes bingung
melitus klien tampak bingung
b. Saat ditanya tentang rawat luka
klien tampak bingung
c. GDP : 380 mg/dl
DS :
a. Klien mengatakan masih belum Ketidakedekuatan Ketidakpatuhan
bisa mengurangi makan dan pemahaman (sekunder
minum yang manis akibat defisit kognitif)
b. Klien mengatakan keluarganya
sering buat makanan dan
64
minuman yang manis jadi klien
tidak tahan untuk mencobanya
DO :
a. GDP : 325mg/dl
65
3.4. Rencana Keperawatan
Gangguan Gangguan Setelah dilakukan Setelah dilakukan Intervensi Utama Intervensi Utama
integritas integritas intervensi intervensi Perawatan luka Perawatan luka
jaringan jaringan keperawatan keperawatan (I.14564) (I.14564)
berhubungan berhubungan sebanyak 3x sebanyak 2x Observasi Observasi
dengan dengan kunjungan, kunjungan, 1. Monitor 1. Monitor
neuropati neuropati diharapkan diharapkan karakteristik luka karakteristik luka
perifer perifer integritas kulit integritas kulit (mis. Drainase, (mis. Drainase,
dibuktikan dibuktikan dan jaringan dan jaringan warna, ukuran, bau) warna, ukuran, bau)
dengan adanya dengan adanya dapat meningkat dapat meningkat 2. Monitor tanda-tanda 2. Monitor tanda-tanda
luka gangrene 2 luka dengan kriteria dengan kriteria infeksi infeksi
pada jempol gangrene pada hasil (L.14125) hasil (L.14125)
kaki kiri yang kaki kanan dan 1. Kerusakan 1. Kerusakan Terapeutik Terapeutik
tidak terasa kiri dan tidak jaringan jaringan 3. Lepaskan balutan 3. Lepaskan balutan
nyeri (D.0129) terasa nyeri menurun menurun dan plester secara dan plester secara
(D.0129) 2. Kerusakan 2. Kerusakan perlahan perlahan
lapisan kulit lapisan kulit 4. Bersihkan dengan 4. Bersihkan dengan
menurun menurun cairan NaCi 0,9% cairan NaCi 0,9%
3. Kemerahan 3. Kemerahan atau pembersih atau pembersih
menuruN menurun nontoksik, sesuai nontoksik, sesuai
4. Nekrosis 4. Nekrosis kebutuhan kebutuhan
menurun menurun
66
5. Bersihkan jaringan 5. Bersihkan jaringan
nekrotik nekrotik
6. Berikan salep yang 6. Berikan salep yang
sesuai ke kulit/lesi sesuai ke kulit/lesi
jika perlu jika perlu
7. Pasang balutan 7. Pasang balutan
sesuai jenis luka sesuai jenis luka
8. Pertahankan teknik 8. Pertahankan teknik
steril saat melakukan steril saat melakukan
perawatan luka perawatan luka
9. Ganti balutan sesuai 9. Ganti balutan sesuai
jumlah eksudat dan jumlah eksudat dan
drainase drainase
Edukasi Edukasi
10. Jelaskan tanda-tanda 10. Jelaskan tanda-tanda
infeksi infeksi
11. Ajarkan prosedur 11. Ajarkan prosedur
perawatan luka perawatan luka
secara mandiri secara mandiri
12. Anjurkan 12. Anjurkan
mengkonsumsi mengkonsumsi
makanan tinggi makanan tinggi
kalori dan protein kalori dan protein
Kolaborasi Kolaborasi
67
13. Kolaborasi rutin 13. Kolaborasi rutin
kontrol ke Rumah kontrol ke Rumah
Sakit Sakit
D.0129 Gangguan integritas jaringan Senin, 06 1. Membina hubungan saling percaya pada klien
berhubungan dengan Juni 2022 Respon : Klien bersikap kooperatif, dan memberikan
neuropati perifer dibuktikan respon yang terbuka pada perawat
dengan adanya luka gangrene 07.00 2. Menjelaskan kontrak waktu dan tujuan pertemuan
pada jempol kaki kiri yang Respon : Klien merima dan setuju dengan kesepakatan
tidak terasa nyeri (D.0129) kontraknya
3. Mengobservasi gula darah
Respon : GDP 394mg/dl
07.30 4. Monitor karakteristik luka (mis. Drainase, warna, ukuran,
bau)
Respon : luka pada derajat 2 yakni ulkus dalam mencapai
tendon, warna dasar luka merah muda, tidak terdapat pus,
cairan jernih dan tidak berbau, luas luka 1-2 cm dan
kedalaman 1-2 cm
5. Monitor tanda-tanda infeksi
68
Respon : klien mengatakan lukanya tidak terasa nyeri,
panas. Luka tidak bengkak dan tidak ada warna kemerahan
disekitar luka
6. Melakukan terapeutik rawat luka
Respon : klien mengamati cara rawat luka
7. Menjelaskan tanda-tanda infeksi
Respon : klien menganguk tanda mengerti
8. Mengajarkan klien cara rawat luka secara mandiri
Respon : klien mampu memahami cara rawat luka
09.00 9. Menjelaskan tentang diet diabetes melitus dan
menghitung kalori
Respon : klien mampu memahami tentang diet diabetes
melitus dan cara menghitung kalori
69
Respon : klien dapat mempraktikkan rawat luka secara
mandiri sesuai yang telah dijelaskan
1 Gangguan integritas jaringan Selasa 1. Membina hubungan saling percaya pada klien
berhubungan dengan Respon : Klien bersikap kooperatif, dan memberikan
neuropati perifer dibuktikan 07 Juni 2022 respon yang terbuka pada perawat
70
dengan adanya 2 luka 07.00 2. Menjelaskan kontrak waktu dan tujuan pertemuan
gangrene pada kaki kanan Respon :Klien menerima dan setuju dengan kesepakatan
dan kiri dan tidak terasa nyeri kontraknya
(D.0129) 3. Mengobservasi gula darah
Respon : GDP 303
07.30 4. Melakukan pengkajian karakteristik luka (mis. Drainase,
warna, ukuran, bau)
Respon :
didapatkan 2 luka yakni
a. pada telapak kaki kiri bagian lateral dengan drajat luka
2 yakni ulkus dengan kedalaman mencapai tulang,
warna dasar luka merah muda, cairan jernih, tidak
terdapat pus dan tidak berbau, luas luka 6-7 cm dan
kedalaman 3-4 cm.
b. luka pada bagian talus kaki kanan dengan klasifikasi
ulkus drajat 2 yakni ulkus dalam mencapai tendon
namun tidak sampai tulang, warna dasar luka merah
muda terdapat cairan jernih, tidak terdapat pus dan
tidak berbau, luas luka 2-3 cm dan kedalaman 1-2 cm.
5. Monitor tanda-tanda infeksi
Respon : klien mengatakan lukanya tidak terasa nyeri,
panas. Luka tidak bengkak dan tidak ada warna kemerahan
disekitar luka
6. Mengoservasi keluarga klien dalam melakukan rawat luka
Respon : istri klien mampu melakukan rawat luka sesuai
prosedur
7. Jelaskan tanda-tanda infeksi
71
Respon : klien dan istri mampu memahami tentang tanda-
tanda infeksi dan dapat mengulanginya
08.15 8. Menjelaskan tentang diet diabetes melitus
Respon : klien mampu memahami tentang diet diabetes
melitus
9. Mengajarkan cara menghitung kalori
Respon : klien dan keluarga mampu cara menghitung
kalori
72
3.6. Catatan perkembangan
P:
73
Intervensi dilanjutkan
- Monitor karakteristik luka (mis. Drainase, warna, ukuran, bau)
- Mengobservasi tanda-tanda infeksi
- Mengamati klien cara rawat luka secara mandiri
74
jernih, tidak terdapat pus dan tidak berbau, luas luka 2-3 cm
dan kedalaman 1-2 cm.
- Istri klien dapat melakukan cara rawat luka sesuai prosedur
dengan benar dan tepat
- Klien tampak sudah tidak bingung tentang diet dan menghitung
kalori
- GDP 280 mg/dl
A:
Masalah teratasi sebagian
P:
Intervensi dilanjutkan klien secara mandiri rutin kontrol di rumah
sakit
75
pada jempol kaki kiri - Klien mengatakan sudah melaksanakan diet diabetes melitus
yang tidak terasa nyeri O:
(D.0129)
- Terdapat luka pada jempol kaki kiri luka pada drajat 2 yakni ulkus
dalam mencapai tendon, warna dasar luka merah muda, tidak terdapat
pus, cairan jernih dan tidak berbau, luas luka 1-2 cm dan kedalaman
1-2 cm
- Luka tidak bengkak dan kemerahan pada sekitar luka
- Klien sudah dapat mempraktikkan cara rawat luka sesuai prosedur
yang sudah dijelaskan
- klien mampu memahami cara merencanakan makanan yang sesuai
dengan diet diabetes melitus dan mampu memahami cara menghitung
kalori
- GDP 377mg/dl
A:
Masalah teratasi sebagian
P:
Intervensi dilanjutkan klien secara mandiri rutin kontrol di rumah sakit
76
dengan neuropati perifer 11 Juni 2022 - Klien mengatakan ada 2 luka gangrene yakni di telapak kaki kiri dan
dibuktikan dengan kaki kanan bagian talus
adanya 2 luka gangrene 10.00 - Klien mengatakan lukanya tidak terasa nyeri dan panas
pada kaki kanan dan kiri - Klien mengatakan faham tentang diet diabetes melitus
dan tidak terasa nyeri - Klien mengatakan faham cara menghitung kalori
(D.0129) - Klien mengatakan sudah makan sesuai diet diabetes melitus
O:
- didapatkan 2 luka yakni
a. pada telapak kaki kiri bagian lateral dengan drajat luka 2 yakni
ulkus dengan kedalaman mencapai tulang, warna dasar luka merah
muda, cairan jernih, tidak terdapat pus dan tidak berbau, luas luka
6-7 cm dan kedalaman 3-4 cm.
b. luka pada bagian talus kaki kanan dengan klasifikasi ulkus drajat 2
yakni ulkus dalam mencapai tendon namun tidak sampai tulang,
warna dasar luka merah muda terdapat cairan jernih, tidak terdapat
pus dan tidak berbau, luas luka 2-3 cm dan kedalaman 1-2 cm.
- Istri klien dapat melakukan cara rawat luka sesuai prosedur dengan
benar dan tepat
- Klien tampak sudah tidak bingung tentang diet dan menghitung
kalori
- GDP 280 mg/dl
A:
Masalah teratasi sebagian
P:
Intervensi dilanjutkan klien secara mandiri rutin kontrol di rumah sakit
77
BAB 4
PEMBAHASAN
terjadi antara tinjauan pustaka dan tinjauan kasus dalam Asuhan Keperawatan Pada
Jaringan pada Diagnosa Medis Diabetes Melitus di Desa Bluru Kidul Sidoarjo yang
4.1. Pengkajian
pengkajian pada klien 1 dan klien 2, dengan metode wawancara, observasi serta
pengkajian pada tanggal 23 Mei 2022 pada pukul 10.00 klien 1 berjenis
perempuan mengatakan terdapat luka gangrene pada jempol kaki kirinya dan
tidak terasa nyeri, klien mengatakan sudah menderita diabetes melitus kurang
lebih 10 tahun dan munculnya luka gangrene kurang lebih 3 bulan yang lalu.
Pada saat dilakukan pemeriksaan didapatkan nilai GDP 380 mg/dl dan luka
pada jempol kaki kiri dengan karakteristik luka pada drajat 2 yakni ulkus dalam
mencapai tendon, warna dasar luka merah muda, tidak terdapat pus, cairan
jernih dan tidak berbau, luas luka 1-2 cm dan kedalaman 1-2 cm. Sedangkan
pengkajian yang dilakukan pada klien 2 tanggal 23 Mei 2022 pada pukul 15.30,
pada telapak kaki kiri dan kaki kanan bagian talus. Klien mengatakan sudah
operasi 4x yakni operasi pertama tahun 2017 pada kaki kanan karna luka
78
79
gangrene, operasi kedua tahun 2017 pada kaki jari kaki kanan karna luka
gangrene , operasi ketiga tahun 2018 operasi amputasi pada jari tengah kaki
kanan karna luka gangrene. Operasi terakhir dilakukan 5 bulan yang lalu pada
telapak kaki kiri karna luka gangrene. Pada saat dilakukan pemeriksaan klien
didapat nilai GDP 325 mg/dl dan terdapat luka pada telapak kaki kiri bagian
lateral drajat 2 yakni ulkus dengan kedalaman mencapai tulang, warna merah
pada dasar luka, cairan jernih, tidak terdapat nanah dan tak berbau, luas 6-7
cm dan kedalaman 3-4 cm, luka kedua pada bagian talus kaki kanan dengan
klasifikasi ulkus derajat 2 yakni ulkus dalam mencapai tendon namun tidak
sampai tulang, warna dasar luka merah terdapat cairan jernih, tidak terdapat
pus dan tidak berbau, luas luka 2-3 cm dan kedalaman 1-2 cm.
Ulkus diabetik adalah kerusakan sebagian atau seluruh area kulit yang
meluas ke jaringan subkutan, tendon, otot, dan tulang yang terjadi pada
penderita diabetes dan akibat dari gula darah tinggi. Jika ulkus kaki
berlangsung lama dan tidak segera diobati, luka akan terinfeksi. Ulkus kaki,
infeksi, neuropati dan penyakit arteri perifer adalah penyebab gangren dan
Menurut penulis antara keluhan utama pada klien 1 dan klien 2 sama
yakni adanya luka pada kaki akan tetapi pada klien 1 dan 2 terdapat perbedaan
jumlah luka, riwayat penyakit diabetes melitus dan jenis kelamin. Perbedaan
tersebut dikarena pada klien 1 sudah menderita diabetes melitus kurang lebih
10 tahun dan kurang lebih 3 bulan yang lalu baru muncul luka gangrene pada
Sedangkan pada klien 2, klien sudah menderita diabetes melitus kurang lebih
8 tahun yang lalu dan sudah ada 4x riwayat operasi salah satu dari operasi
tersebut ada operasi amputasi pada jari tengah kaki kanan. Saat pengkaijan
didapatkan 2 luka gangrene yakni pada telapak kaki kiri yang sudah lama dan
sempat dioperasi, dan pada kaki kanan bagian talus yang baru timbul. Klien
makanan dan minuman yang manis meski klien mengetahui dengan kondisi
luka gangrene nya. Semakin lama seseorang menderita diabetes, semakin besar
pula risiko komplikasi akibat diabetes yang juga akan meningkat akibat
gangguan bertahap neuron akibat gula darah yang terus menerus tinggi.
kurangnya aktivitas fisik dan obesitas. Sedangkan perbedaan dari jenis kelamin
fisik wanita memiliki peluang peningkatan indeks masa tubuh yang lebih besar,
ulkus diabetic secara umum yaitu neuropati dan angiopati diabetic. Neuropati
81
diabetik adalah gangguan saraf yang disebabkan oleh tingginya kadar gula
di kaki dapat menyebabkan gangren diabetes, borok kaki yang berbau busuk
dan berwarna kemerahan. Dengan kata lain, peningkatan kadar gula darah
dapat menyebabkan pengerasan dan kerusakan pada arteri dan kapiler. Ini
klien karena ditemukan data mayor yang mendukung seperti adanya luka
keperawatan yang dirumuskan sesuai menurut (Tim Pokja SLKI, 2018) & (Tim
rencana yang telah dibuat, oleh karena itu berdasarkan perencanaan yang ada
82
baik dan saling pengertian antara penulis dan klien. Implementasi pada klien 1
percaya pada klien, respon kedua klien bersikap kooperatif dan memberikan
terapeutik perawatan luka dan menjelaskan tahapan rawat luka karena klien 1
masih belum bisa cara rawat luka secara mandiri sedangkan pada klien 2
penulis hanya mengamati apakah keluarga sudah benar dan tepat cara rawat
luka karena pada klien 2 sudah bisa melakukan cara rawat luka. Tujuan utama
yang cepat. Mengatasi ulkus diabetik dan mengurangi kejadian yang berulang
luka secara mandiri oleh kedua klien sebab hanya klien yang dapat memantau
kondisi luka dan membantu proses penyembuhan luka karena Jika ulkus kaki
berlangsung lama dan tidak diobati dan tidak sembuh, luka akan terinfeksi dan
Klien 1 saat dilakukan evaluasi dihari ketiga didapatkan luka pada jempol
kaki kiri luka pada derajat 2 yakni ulkus dalam mencapai tendon, warna dasar
luka merah muda, tidak terdapat pus, cairan jernih dan tidak berbau, luas 1
83
sampai 2 cm dan dalam 1-2 cm, tidak bengkak dan kemerahan pada sekitar
luka. Klien sudah bisa melakukan rawat luka secara mandiri. Klien juga sudah
melaksanakan diet diabetes mellitus. hasil GDP 377 mg/dl. Pada Klien 2 juga
hampir sama dengan klien 1 yaitu dihari kedua didapatkan 2 luka yakni luka 1
pada telapak kaki kiri bagian lateral dengan derajat luka 2 yakni ulkus dengan
kedalaman mencapai tulang, warna dasar luka merah muda, cairan jernih, tidak
terdapat pus dan tidak berbau, luas luka 6-7 cm dan kedalaman 3-4 cm. dan
luka 2 pada bagian talus kaki kanan dengan klasifikasi ulkus drajat 2 yakni
ulkus dalam mencapai tendon namun tidak sampai tulang, warna dasar luka
merah muda terdapat cairan jernih, tidak terdapat pus dan tidak berbau, luas
luka 2-3 cm dan kedalaman 1-2 cm, Luka tidak bengkak dan tidak terjadi
kemerahan pada sekitar luka. Keluarga Klien sudah bisa melakukan rawat luka
secara mandiri. Klien juga sudah melakukan diet diabetes melitus. hasil GDP
280 mg/dl. Pada tahap evaluasi pada kedua klien belum mencapai kriteria hasil
sepenuhnya karna luka yang terdapat pada kedua klien termasuk luka kronik
PENUTUP
secara langsung pada lansia Ny. P dan Tn. A dengan masalah keperawatan
gangguan integritas jaringan pada diagnosa medis Diabetes Melitus di Desa Bluru
Kidul Sidoarjo. Maka penulis menarik kesimpulan sekaligus saran yang dapat
melitus.
5.1. Kesimpulan
Dari hasil yang telah dilakukan studi kasus penerapan asuhan keperawatan
5.1.1. Pengkajian pada tinjauan kasus didapatkan keluhan utama pada ke-2 klien
sama yakni adanya luka pada kaki dan terdapat perbedaan jumlah luka dan
5.1.2. Diagnosa prioritas pada ke-2 klien sama yaitu gangguan integritas jaringan
5.1.3. Intervensi diagnosa keperawatan pada kedua klien memiliki tujuan dan
intervensi sama.
5.1.4. Implementasi rencana tindakan pada kedua klien yang telah disusun oleh
84
85
keluarga dan klien secara aktif karena banyak tindakan keperawatan yang
5.1.5. Pada tahap evaluasi semua tujuan masih belum tercapai karena adanya luka
ke-2 klien belum teratasi sehingga dilanjutkan oleh klien secara mandiri
5.2. Saran
Dalam mengatasi luka gangrene di kaki pada kedua klien, dianjurkan untuk
rutin melakukan perawatan luka secara mandiri dan rutin kontrol di rumah
sakit agar luka cepat sembuh dan tidak terjadi penambahan luka dan infeksi.
integritas jaringan pada kedua klien dengan memberi harapan untuk sembuh
Hasil studi kasus ini dapat digunakan sebagai dasar untuk penelitian
selanjutnya dan sebagai acuan untuk melakukan studi kasus lebih lanjut
Anisa. (2017). Asuhan Keperawatan Pada Ny.M Dengan Diagnosa Medis Dmnd
+ Dm Gangren Pedis Sinistra + Vertigo Di Ruang Tulip Lantai 2 RSUD
Sidoarjo. Karya Tulis Ilmiah Akademi Keperawatan Kerta Cendekia
Sidoarjo.
Association, A. D., & Care, D. (2020). No Title (Vol. 43, Issue Supplement 1,
pp. 14– 31).
Azizah, L. M. (2011). Keperawatan Lanjut Usia. Graha Ilmu.
Damayanti, S. (2015). Diabetes Mellitus & Penatalaksanaan Keperawatan.
Nuha Medika.
Fauzi, I. (2014). Buku Pintar Deteksi Dini Gejala Dan Pengobatan Asam Urat,
Diabetes Melitus Dan Hipertensi. Araska.
I.D.F. (2017). International Diabetes Federation (IDF.
Kautsar, N. (2018). Penyebab Sesak Nafas Pada Penderita Diabetes Melitus.
Diakses Https://[Link]/Peneyebab-Sesak-Nafas-Pada-
Penderita-Diabetes Pada Tanggal 12 Desember 2021 Pada Pukul
17.03 WIB.
Kemenkes. (2014). Situasi Dan Analisis Diabetes Pusat Data Dan Informasi.
Kementerian Kesehatan RI.
Kholifah, Sn. (2016). Keperawatan Gerontik. Pusdik 5m Kesehatan.
[Link] Rendy Margaret. (2019). Asuhan Keperawatan Medikal Bedah Dan
Penyakit Dalam. Nuha Medika.
Manurung, H., & Dll. (2014). Gambaran Sosial Budaya Terhadap Diabetes
Mellitus Pada Masyarakat. Diakses [Link] Pada
Tanggal 12 Desember 2021.
Muhith, A., & Siyoto, S. (2016). Pendidikan Keperawatan Gerontik. ANDI.
Muttaqin, A. (2012). Buku Ajar Asuhan Keperawatan Klien Dengan Gangguan
Sistem Endokrin. Salemba Medika.
Nugroho. (2019). Keperawatan Gerontik & Geriatrik. And.
Nurarif, A., H, K., & H. (2015). North American Nursing Diagnosis Association
Nic-Noc. Jilid, 1,2,3.
Nursalam. (2011). Konsep Dan Penerapan Metodelogi Penelitian Ilmu
Keperawatan. Salemba Medika.
Perkerni. (2015). Konsekuensi Pengelolahan Dan Pencegahan Diabetes Melitus
Tipe Di Indonesia. Perkeni.
86
87
88
89
DOKUMENTASI
Klien 1
Klien 2
91
C. Tujuan Khusus
Setelah dilakukan pendidikan kesehatan selama 15 menit diharapkan keluarga
dapat mengetahui :
1. Diet pada Diabetes Melitus
2. Manfaat dari diet pada Diabetes Melitus
3. Diet yang tepat dengan pedoman 3J
4. Mengetahui perhitungan kalori
5. Mengetahui anjuran yang baik bagi penderita Diabetes Melitus
D. Metode
1. Ceramah
2. Tanya jawab/diskusi
E. Media
1. Leaflet
F. Kegiatan pembelajaran
Kegiatan Kegiatan Kegiatan sasaran Metode Ceramah
pengajaran
Pembukaan 1. Memberi salam 1. Menjawab Ceramah 2 menit
dan salam
memperkenalkan 2. Mendengarkan
diri dan
2. Menjelaskan memperhatikan
tujuan
penyuluhan
Penyajian 1. Berdiskusi Memperhatikan dan 1. Ceramah 10 menit
materi dengan peserta mengajukan 2. Tanya
dan menjelaskan pertanyaan jawab
tentang
pentingnya diet
yang tepat pada
penderita
Diabetes Melitus
93
2. Mendorong dan
meemberi
kesempatan
untuk bertanya
Penutup 1. Evaluasi secara 1. Menjawab Tanya 3 menit
lisan pertanyaan jawab
2. Memberikan 2. Memperhatikan
kesimpulan dan menjawab
3. Menutup salam
pertemuan dan
mengucap salam
G. Materi
(terlampir)
H. Evaluasi
1. Evaluasi struktur
a. Kesiapan media dan tempat
b. Pengorganisasian dilakukan 1 hari sebelumnya
2. Evaluasi proses
a. Kegiatan dilaksanakan sesuai dengan waktunya
b. Peserta diupayakan agar mendapatkan penjelasan tentang pentingnya
diet pada penderita Diabetes Melitus
c. Peserta diupayakan tidak boleh meninggalkan sebelum kegiatan
penyuluhan selesai
3. Evaluasi hasil
Untuk mendapatkan hasil yang positif mudah dimengerti dan dipahami :
a. Mengetahui diet tentang Diabetes Melitus
b. Mengetahui manfaat dari diet Diabetes Melitus
c. Mengetahui diet yang tepat dengan pedoman 3J
d. Mengetahui perhitungan kalori
e. Mengetuhai anjuran yang baik bagi penderita Diabetes Melitus
94
Materi Pembahasan
1. Pengertian dan tujuan diet diabetes melitus
Diet diabetes melitus adalah diet yang diberikan pada penyandang
diabetes melitus dengan tujuan mempertahankan atau mencapai berat badan
ideal, mempertahankan kadar glukosa darah mendekati normal, mencegah
komplikasi akut kronik serta meningkatkan kualitas hidup.
2. Prinsip 3J pada diabetes melitus
a. Tempat Jumlah
Menurut Perkeni, 2011 pengelolahan diet dan pencegahan diabetes melitus
adalah memperhatikan jumlah makan yang dikonsumsi. Jumlah makan
(kalori) yang dianjurkan untuk penderita diabetes melitus adalah makan
yang lebih sering dengan porsi kecil sedangkan yang tidak dianjurkan
adalah makanan porsi banyak atau besar sekaligus. Tujuan makan seperti ini
adalah agar jumlah kalori terus merata sepanjang hari, sehingga beban kerja
organ-organ tubuh tidak berat, terutama pada organ pancreas. Adapun
pembagian kalori untuk setiap kali makan dengan pola menu enam kali
adalah sebagai berikut :
(1) Makan pagi atau sarapan jumlah kalori yang dibutuhkan adalah 20%
dari total kebutuhan setiap hari
(2) Snack pertama jumlah kalori yang dibutuhkan adalah 10% dari total
kebutuhan kalori sehari.
(3) Makan siang jumlah kalori yang dibutuhkan adalah 25% dari total
kebutuhan kalori sehari
(4) Snack kedua jumlah kalori yang dibutuhkan adalah 10% daro total
kebutuhan kalori sehari
(5) Makan malam jumlah kalori yang dibutuhkan adalah 25% dari total
kebutuhan kalori sehari
Cara menghitung kalori :
(1) Menentukan berat badan ideal (BBI)
95
Sayuran tipe B digunakan agak bebas tanpa diperhitungkan beratnya, asal dalam
jumlah yang wajar
Sayuran B
Rebung Mentimun
Jamur sedar Sawi
Seladri Labu air
Tomat Papaya muda
Cabai hijau besar Kol/kubis
Terong Kangkung
c. Tepat Jadwal
Makanan porsi kecil dalam waktu tertentu akan membantu mengontrol kadar
gula darah. Makanan porsi besar menyebabkan peningkatan kadar gula darah
mendadak dan bila berulang-ulang dalam jangka panjang, keadaan ini dapat
menimbulkan komplikasi Diabetes Melitus. Oleh karena itu makanlah sebelum
lapar karena makan disaat lapar sering tidak terkendali dan berlebihan. Agar
kadar gula darah lebih stabil, perlu pengaturan jadwal makan yang teratur.
1) Sarapan (06.00-07.00)
a. Makanan pokok : 1,5 porsi setara dengan nasi 150gram (1 sendok
makan nasi putih setara dengan 10 gram) atau roti tawar dua slice
b. Lauk hewani : satu porsi setara dengan daging sapi (50 gram) atau satu
telur ayam negri
c. Lauk nabati : setengah porsi setara dengan satu potong kecil tahu
d. Sayur : Satu porsi atau setara dengan 100 gram sayuran
98
Sumber bahan
Fauzi, I. (2014). Buku Pintar Deteksi Dini Gejala dan Pengobatan Asam Urat,
Diabetes Melitus dan Hipertensi. Jakarta : Araska
Prinsip 3J sebagai pengelolahan makanan pada adalah agar jumlah kalori terus merata
diabetes melitus
sepanjang hari
Sarifatul Istifania Sarapan pagi jam 6.00 Jenis makanan yang dibatasi yang dapat menaikan
100
101
Jenis makanan yang dianjurkan untuk pnderita Menentukan angka kecukupan energy individu Anjuran bagi penderita Diabetes Melitus :
diabetes melitus adalah makanan yang kaya 1. Melakukan prinsip diet yang tepat dengan 3J
Umur 20-29
seraty seperti sayuran dan buah buahan seperti : Laki-laki : (15,3 BBI + 679) (FKI) 2. Melakukan olahraga secara rutin sebanyak 3
brokoli, timun, kubis, papaya, jambu, strawberry, Perempuan : (14,7 BBI + 496) (FKI) kali dalam seminggu selama 15 menit
pir, pisang, tomat Umur 30-59
Laki-laki : (11,6 BBI + 879) (FKI) 3. Melakukan pemantauan gula darah secara rutin
Prempuan : (8,7 BBI + 829) (FKI) 4. terapi pengobatan
Umur >60
Laki-laki : (13,5 BBI + 487) (FKI) 5. Laksanakan diet secara disiplin
Perempuan : (10,5 BBI + 596 ) (FKI)
CARA MENGHITUNG KALORI Contoh perhitungan :
Berapa kalori ibu S yang berusia 61 tahun dengan
1. Menentukan berat badan ideal (BBI) aktivitas sedang, tinggi badan 149 cm, dan berat
BBI : (TB-100)-(10% x (TB-100)) badan 63 Kg ?
2. Faktor kelipatan individu (FKI) Jawab :
BBI = (TB-100)-(10%x(TB-100)
Tingkat Laki-laki Perempuan
= (149-100)-(10%x(149-100)
Kegiatan = 44 kg
Ringan 1,55 1,56 Jadi Kalori
= (10,5 BBI + 596) (FKI)
Sedang 1,78 1,64
= (10,5 x 44 + 596) x 1,64
Berat 2,10 2,00 = 1.735, dibulatkan 1.700 kalori
YAYASAN PENDIDIKAN KERTA CENDEKIA
POLITEKNIK KESEHATAN KERTA CENDEKIA
Jalan Lingkar Timur, Rangkah Kidul, Sidoarjo 61232
Telp. 031 8961496; Email : [Link]@[Link]
102
103
6. Menutup
pertemuan dan
mengucap salam
O. Materi
(terlampir)
P. Evaluasi
4. Evaluasi struktur
c. Kesiapan media dan tempat
d. Pengorganisasian dilakukan 1 hari sebelumnya
5. Evaluasi proses
d. Kegiatan dilaksanakan sesuai dengan waktunya
e. Peserta diupayakan agar mendapatkan penjelasan tentang perawatan
luka Diabetes Melitus
f. Peserta diupayakan tidak boleh meninggalkan sebelum kegiatan
penyuluhan selesai
6. Evaluasi hasil
Untuk mendapatkan hasil yang positif mudah dimengerti dan dipahami :
a. Mengetahui dan memahami tentang cara perawatan luka dan tanda
gejala infeksi
b. Dapat mengaplikasikan cara perawatan luka di rumah
105
Materi Pembahasan
3. Pengertian
Perawatan luka adalah suatu teknik dalam membersihkan luka yang
diakibatkan oleh penyakit diabetes melitus dengan tujuan untuk mencegah
infeksi luka, melancarkan darah sekitar dan mempercepat proses
penyembuhan luka.
4. Manfaat perawatan luka
a. Mencegah terjadinya infeksi pada luka
b. Mempercepat penyembuhan luka
c. Memberikan rasa nyaman pada klien
5. Tanda dan gejala infeksi
a. Lubor (kemerahan)
b. Color (panas)
c. Tumor (bengkak)
d. Dolor (nanah)
e. Fungsi lassea (kehilangan fungsi jaringan)
6. Penyebab terjadinya infeksi
a. Adanya benda asing atau jaringan yang udah mati didalam luka
b. Luka terbuka dan kotor
c. Gizi buruk
d. Daya tahan tubh yang lemah
e. Mobilisasi terbatas atau kurang
7. Teknik perawatan dirumah
1) Persiapkan alat
a. Gunting lurus 1
b. Gunting chirugis 1
c. Pinset anatomis 2, pinset chirugis 2
d. Korentang dan tempatnya
e. Kassa steril
106
f. Verband
g. Plester
h. Handscone bersih dan steril
i. Cairan NaCi 0,9%
j. Timba berisi air matang
k. Sabun
l. perlak
2) Langkah –langkah
a. Mencuci tangan
b. Memakai handscone bersih
c. Memasang perlak dibawah luka
d. Menyiram balutan verband dengan air matang
e. Membuka balutan luka menggunakan pinset dan buang ke tempat
sampah medis yang telah disiapkan
f. Melepaskan handscone bersih dang anti ke handscone sterill
g. Meletakkan kaki diatas timba kemudian membersihkan luka dengan
menggunakan sabun dan mencuci kaki pasien dengan menggunakan
air matang
h. Mengangkat jaringan nekrotik sampai terlihat adanya jaringan yang
masih hidup
i. Irigasi dengan NS 0,9% secukupnya
j. Menutup luka dengan menggunakan kassa dan verband
k. Merapikan peralatan, melepas handscone dan cuci tangan
107
Sumber bahan
Fauzi, I. (2014). Buku Pintar Deteksi Dini Gejala dan Pengobatan Asam Urat,
Diabetes Melitus dan Hipertensi. Jakarta : Araska
Smeltzer, S.C Dan B,G Bare. 2015. Baru Ajar Keperawatan Medikal Bedah
Brunner & Suddarth. Jakarta : Egc
Apa Perawatan luka??? TANDA DAN
PERAWATAN LUKA
Perawatan luka adalah suatu tindakan untuk GEJALA INFEKSI
ULKUS DIABETIKUM mempercepat proses penyembuhan luka dan
mencegah terjadi infeksi pada luka 1. Terjadi bengkak di sekitar luka
Sarifatul Istifania mati di dalam luka 6. Cairan berupa nanah pada luka
(1901018) 3. Daya tahan tubuh menurun
7. Luka berbau yang tidak sedap.
4. Gizi buruk
POLITEKNIK KESEHATAN
KERTA CENDEKIA SIDOARJO 5. Mobilisasi terbatas atau kurang gerak
2022
108
109
a. Gunting lurus 1 4. Menyiram balutan verband dengan air matang menggunakan air matang
b. Gunting chirugis 1 5. Membuka balutan luka menggunakan pinset 8. Mengangkat jaringan nekrotik
c. Pinset anatomis 2, pinset chirugis 2 dan buang ke tempat sampah medis yang telah sampai terlihat adanya jaringan
e. Kassa steril 6. Melepaskan handscone bersih dang anti ke 9. Irigasi dengan NS 0,9%
k. Sabun
l. perlak
DAFTAR RIWAYAT HIDUP
A. Data Diri
Agama : Islam
B. Riwayat Pendidikan
110
111
112