Pelatihan Agile untuk Peningkatan Karyawan
Pelatihan Agile untuk Peningkatan Karyawan
TESIS
Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Psikologi
ADE PURNAMASARI
1706000141
FAKULTAS PSIKOLOGI
PROGRAM STUDI PSIKOLOGI PROFESI
KEKHUSUSAN PSIKOLOGI INDUSTRI DAN ORGANISASI
DEPOK
DESEMBER 2019
Puji syukur saya panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena atas berkat dan rahmat-
Nya, saya dapat menyelesaikan tesis ini. Penulisan tesis ini dilakukan dalam rangka
memenuhi salah satu syarat untuk mencapai gelar Magister Profesi Psikologi peminatan
Psikologi Industri dan Organisasi pada Fakultas Psikologi Universitas Indonesia. Saya
menyadari bahwa, tanpa bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak, dari masa
perkuliahan sampai pada penyusunan tesis ini, sangatlah sulit bagi saya untuk
menyelesaikan tesis ini. Oleh karena itu, saya mengucapkan terima kasih kepada:
(1) Ibu Dr. Wustari L. Mangundjaya, [Link]., Psy., Psikolog selaku dosen pembimbing
yang telah menyediakan waktu, tenaga, dan pikiran untuk mengarahkan saya dalam
penyusunan tesis ini. Terima kasih atas pengalaman dan kesempatan untuk dapat belajar
lebih banyak dari pengalaman yang sudah dijalani;
(2) Bapak Drs. Tulus Budi Sulistyo Radikun, [Link]., Ph.D, Psikolog dan Ibu Martina Dwi
Mustika, [Link]., Ph.D., Psikolog selaku dosen penguji yang telah berdiskusi dan
memberikan saran membangun untuk menjadikan tesis ini lebih baik lagi;
(3) Seluruh dosen Magister Psikologi Profesi Industri dan Organisasi Universitas
Indonesia (Ibu Dra. Rully Yani Darsono, M.A., Psikolog, Ibu Dr. Alice Salendu, MBA,
[Link]., Psikolog, Ibu Dr. Arum Etikariena, Psikolog, Ibu Dr. Wustari L. Mangundjaya,
[Link]., Psy., Psikolog, Ibu Dr. Endang Parahyanti, Psikolog, Ibu Eka Gatari, [Link].,
Psikolog, Ibu Bertina Sjabadhyni, [Link]., Psikolog, Ibu Martina Dwi Mustika,
[Link]., Ph.D., Psikolog, Bapak Drs. Tulus Budi Sulistyo Radikun, [Link]., Ph.D,
Psikolog) yang telah memberikan ilmu, dan pengembangan diri sehingga penulis lebih
banyak mengetahui mengenai dunia PIO;
(4) Bapak Widiyana dan Bapak Ridwan selaku pembimbing selama kegiatan magang di
PT X yang telah meluangkan waktu, tenaga, dan pikirannya untuk membimbing penulis
selama kegiatan magang dan penelitian untuk penulisan tesis ini. Terima kasih atas
kesempatan dan pengalaman yang telah diberikan;
iv
Akhir kata, saya berharap Tuhan Yang Maha Esa berkenan membalas segala kebaikan
semua pihak yang telah membantu. Semoga tesis ini membawa manfaat bagi
pengembangan ilmu.
Penelitian ini terdiri dari 2 studi yaitu studi 1 dengan melakukan penelitian korelasi dan
studi 2 dengan melakukan intervensi. Studi 1 bertujuan untuk mengetahui hubungan rasa
berdaya psikologis dan ketangkasan karyawan pada karyawan PT X yang bergerak di
bidang manufaktur alat berat. Responden penelitian adalah 154 karyawan indirect atau
karyawan non produksi. Pengukuran rasa berdaya psikologis menggunakan alat ukur rasa
berdaya psikologis yang dikembangkan oleh Spreitzer (1995) yang telah diadaptasi oleh
Mangundjaya (2014), sedangkan ketangkasan karyawan diukur dengan menggunakan
alat ukur ketangkasan karyawan dari Sherehiy 2008. Hasil studi 1 menunjukkan bahwa
rasa berdaya psikologis memiliki hubungan positif yang signifikan dengan ketangkasan
karyawan (r = 0.57, p< 0.05). Berdasarkan hasil tersebut, peneliti menentukan intervensi
yang akan diberikan yaitu pelatihan yang diharapkan dapat meningkatkan rasa berdaya
psikologis dalam kegiatan pelatihan Agile Development: Believe in yourself. Responden
intervensi adalah empat belas orang karyawan yang memiliki rasa berdaya psikologis dan
ketangkasan karyawan yang tergolong rendah. Selanjutnya peneliti melakukan
pengukuran sesudah kegiatan pelatihan yang menunjukkan bahwa intervensi yang
dilakukan mampu meningkatkan skor ketangkasan karyawan (Z = -2.493, p<0.05),
namun belum mampu meningkatkan skor rasa berdaya psikologis (Z = -1.822, p>0.05).
This study consisted of 2 studies, study 1 by conducting correlation research and study 2
conducting interventions. Study 1 aims to determine relationship of psychological
empowerment and workforce agility. The study was conducted at PT X, a manufacture
company. The respondents were 154 indirect employees. Measurement of psychological
empowerment is performed using psychological empowerment scale from Mangundjaya
(2014), who adapted from Spreitzer (1995), whereas workforce agility is measured by
using workforce agility scale from Sherehiy (2008). Results of preliminary data suggest
that psychological empowerment positively and significantly correlated with workforce
agility (r = 0.57, p< 0.05). Based on these results, researchers determined that the
intervention to be given is training to improve psychological empowerment with Agile
Development: Believe in yourself training. Respondents of interventions are 14
employees whose psychological empowerment and workforce agility are low.
Furthermore, researchers conducted a post-test measurements which indicate that
interventions can increase workforce agility (Z = -2.493, p<0.05). Yet, it cannot improve
the psychological empowerment (Z = -1.822, p>0.05).
1. PENDAHULUAN………………………………………………………….. 1
1.1 Latar Belakang…………………………………………………………... 1
1.2 Rumusan Masalah……………………………………………………….. 7
1.3 Tujuan Penelitian………………………………………………………... 8
1.4 Manfaat Penelitian………………………………………………………. 8
1.4.1 Manfaat Teoritis…………………………………………………….. 8
1.4.2 Manfaat Praktis……………………………………………………… 8
1.5 Sistematika Penelitian……………………………………………………. 9
2. TINJAUAN PUSTAKA……………………………………………………. 11
2.1 Ketangkasan Karyawan…………………………………………………. 11
2.1.1 Definisi ketangkasan karyawan……………………………………... 11
2.1.2 Dimensi ketangkasan karyawan…………………………………….. 12
2.1.3 Anteseden ketangkasan karyawan…………………………………... 13
2.1.4 Pengukuran Ketangkasan Karyawan………………………………... 14
2.2 Rasa berdaya psikologis (Psychological Empowerment)……………….. 15
2.2.1 Definisi rasa berdaya psikologis…………………………………….. 15
2.2.2 Dimensi rasa berdaya psikologis……………………………………. 16
2.2.3 Anteseden rasa berdaya psikologis………………………………….. 17
2.2.4 Dampak rasa berdaya psikologis……………………………………. 18
2.2.5 Pengukuran rasa berdaya psikologis………………………………… 19
2.3 Intervensi Pengembangan Organisasi…………………………………… 20
2.3.1 Definisi Intervensi Organisasi………………………………………. 20
2.3.2 Jenis Intervensi Organisasi………………………………………….. 21
2.3.3 Intervensi Rasa berdaya psikologis…………………………………. 21
2.4 Dinamika Hubungan Ketangkasan karyawan, Rasa berdaya psikologis
dan Intervensi Rasa berdaya psikologis……………………………………... 24
ix Universitas Indonesia
x Universitas Indonesia
Tabel 3.1. Dimensi dan Pembagian Item Kuesioner Ketangkasan Karyawan ……….. 33
Tabel 3.2. Hasil Uji Validitas Kuesioner Ketangkasan Karyawan ………………….. 33
Tabel 3.3. Dimensi dan Pembagian Item Kuesioner Rasa Berdaya Psikologis ………. 34
Tabel 3.4. Desain program pengembangan rasa berdaya psikologis karyawan PT X… 39
Tabel 4.1. Gambaran Demografis Responden ……………………………………….. 45
Tabel 4.2. Gambaran Ketangkasan Karyawan PT X ………………………………… 47
Tabel 4.3. Gambaran Rasa Berdaya Psikologis Karyawan PT X …………………….. 47
Tabel 4.4. Gambaran Demografis Responden ……………………………………… 49
xi Universitas Indonesia
1. Profil Organisasi……………………………………………………………. 66
2. Struktur Organisasi…………………………………………………………. 70
3. Hasil Diagnosis Awal (Tree Diagram Analysis)……………………………. 72
4. Kuesioner Penelitian………………………………………………………... 73
5. Hasil Uji Reliabilitas dan Validitas Alat Ukur………………………………. 77
6. Gambaran Responden Penelitian…………………………………………… 80
7. Gambaran Variabel Penelitian……………………………………………… 83
8. Hasil Korelasi antara rasa berdaya psikologis dan ketangkasan karyawan….. 84
9. Hasil Uji Beda Skor Sebelum dan Sesudah Evaluasi Pembelajaran………… 85
10. Hasil Uji Beda Skor Sebelum dan Sesudah Variabel rasa berdaya psikologis 86
11. Hasil Uji Beda Skor Sebelum dan Sesudah Variabel ketangkasan karyawan 87
12. Modul Pelatihan…………………………………………………………….. 88
13. Detail Kegiatan Pelatihan…………………………………………………… 94
14. Materi Kegiatan Pelatihan…………………………………………………... 99
15. Lembar Evaluasi Reaksi…………………………………………………….. 101
16. Lembar Soal Evaluasi Pembelajaran………………………………………... 104
17. Dokumentasi Kegiatan Pelatihan…………………………………………… 106
Bab ini akan membahas tentang latar belakang pelaksanaan kegiatan, rumusan
masalah, tujuan dan manfaat kegiatan.
Universitas Indonesia
menerus meningkatkan sistem produksi atau proses kerja dalam internal perusahaan dan
juga berkaitan dengan pemasok, distributor, dan mitra kerja lainnya.
Kegiatan QC dilakukan tidak hanya di PT X yang berada di Indonesia, namun
juga diterapkan oleh keseluruhan Grup PT X di dunia. Hal ini dilakukan untuk
memastikan bahwa karyawan PT X di seluruh dunia memiliki standar sikap, mental dan
perilaku yang tepat untuk terus melakukan peningkatan mutu perusahaan. Penerapan
kegiatan QC pada awalnya hanya dilakukan oleh karyawan yang berada di bagian
produksi, namun semenjak tahun 2016 PT X mulai menerapkannya pada keseluruhan
karyawan di PT X. Pada saat ini, penerapan kegiatan QC yang dilakukan oleh karyawan
non-produksi menjadi fokus bagi pihak manajemen PT X. Keikutsertaan dari karyawan
dalam kegiatan QC menjadi salah satu faktor yang dinilai dalam penilaian kinerja
karyawan. Karyawan wajib untuk mempresentasikan hasil perbaikannya sebanyak dua
kali dalam 1 tahun. Kegiatan QC yang dilakukan oleh karyawan diharapkan dapat
mendorong karyawan agar lebih peka dengan pekerjaannya, mampu memberikan solusi
atas permasalahan yang daitemuinya, dan sigap untuk melakukan pengembangan di
lingkup kerjanya melalui perbaikan yang berkelanjutan, sehingga tercipta cara-cara baru
yang lebih efisien dan efektif.
Penerapan kegiatan QC sebagai bentuk pengembangan ketangkasan karyawan di
PT X pada saat ini masih memperlihatkan adanya kesenjangan antara hal yang diinginkan
oleh perusahaan dengan yang dirasakan oleh karyawan. Kesenjangan tersebut perlu untuk
kemudian diselesaikan agar kegiatan QC ini optimal dalam memberikan manfaat bagi
perusahaan. Berdasarkan hasil wawancara dengan pihak HRD ditemukan bahwa sampai
pada saat ini, PT X masih fokus pada pemenuhan kuantitas dari target QC yang telah
ditetapkan, dalam segi kualitas hal tersebut belum diperhatikan. Hal serupa ditemukan
pada hasil focus group discussion (FGD) yang dilakukan dengan peserta yang merupakan
karyawan perwakilan dari tiap unit kerja di PT X didapatkan data bahwa beberapa
karyawan belum menjalankan QC secara maksimal. Karyawan mengungkapkan bahwa
terdapat beberapa karyawan yang membuat materi QC secara asal-asalan dan berdasarkan
data palsu. Hal tersebut diasumsikan disebabkan tidak adanya tindak lanjut dan kontrol
evaluasi yang dilakukan oleh pihak manajemen terkait hasil QC yang sudah
dipresentasikan oleh karyawan.
Universitas Indonesia
Universitas Indonesia
mengikuti kegiatan QC, atasan memberikan pembimbingan dan juga memberikan waktu
untuk melakukan diskusi membahas ide untuk karyawan di departemennya. Hal ini
membuat karyawan merasa dilibatkan untuk menemukan ide-ide baru yang dapat
mencapai tujuan dan target departemen mereka. Atasan juga tidak hanya mengajak
karyawan untuk mengikuti kegiatan QC namun juga memotivasi dan memberikan
bantuan berupa masukan ide dan saran terhadap perbaikan yang sudah dilakukan oleh
karyawan. Hal ini lah yang diduga menjadikan karyawan menjadi lebih tangkas dan lebih
siap untuk menghadapi perubahan. Sementara itu, karyawan yang merespon kegiatan QC
secara negatif kebanyakan disebabkan oleh minimnya dukungan dari atasan, kurangnya
motivasi dalam diri mereka untuk melakukan perbaikan, beban kerja yang cukup tinggi,
serta jenis pekerjaan yang cenderung monoton.
Berdasarkan hasil FGD dan wawancara, peneliti menduga bahwa ketangkasan
karyawan di PT X dipengaruhi oleh faktor internal dan faktor eksternal. Faktor eksternal
yaitu berupa dukungan atasan, beban kerja, karakteristik pekerjaan. Faktor internal, yaitu
berkaitan dengan keyakinan individu terhadap kemampuan yang dimiliki oleh dirinya dan
persepsi karyawan mengenai kepentingan mengikuti kegiatan QC. Lebih lanjut, faktor-
faktor yang menjadi penghambat karyawan dalam melakukan kegiatan QC adalah (1)
beban kerja yang cukup tinggi, (2) adanya ketakutan untuk menyuarakan ide yang
dimilikinya dalam melakukan perbaikan, (3) kurang percaya diri, (4) kurangnya
dukungan dari atasan, (5) adanya persepsi negatif bahwa ide perbaikan yang dimilikinya
tidak cukup baik untuk dipresentasikan, serta (6) motivasi dalam diri karyawan untuk
memiliki inisiatif membuat pengembangan dalam pekerjaan yang masih cenderung
rendah. Selain itu, faktor-faktor tersebut berhubungan dengan persepsi karyawan dengan
perannya dalam pekerjaan yang merupakan bentuk rasa berdaya psikologis yang
dirasakan individu dalam pekerjaannya.
Terdapat beberapa faktor yang memengaruhi ketangkasan yang dimiliki oleh
karyawan. Alavi, Muhamad, dan Shirani (2014) merekomendasikan bahwa karakteristik
organisasi seperti organizational learning, desentralisasi pengambilan keputusan dan
struktur organisasi dapat memengaruhi ketangkasan karyawan. Otonomi yang dimiliki
oleh karyawan menjadi salah satu faktor yang berperan penting dalam ketangkasan
karyawan (Sherehiy & Karwowski, 2014). Karyawan dapat memiliki kesempatan untuk
Universitas Indonesia
melakukan tindakan dan juga koordinasi dengan lebih cepat dalam pekerjaannya dengan
adanya desentralisasi pembuatan keputusan.
Spreitzer (2008) menyatakan rasa berdaya psikologis merupakan pengalaman
psikologis yang dirasakan karyawan atas pengalaman karyawan yang dirasakan dalam
pekerjaan mengenai kepercayaan pribadi mereka terhadap kaitannya dengan peran yang
dimiliki dalam perusahaan. Rasa berdaya psikologis sebagai motivasi intrinsik dan
keyakinan diri dapat memunculkan perilaku proaktif, adaptif dan resiliensi pada
karyawan yang merupakan atribut ketangkasan pada karyawan (Muduli & Pandya, 2018).
Ketangkasan karyawan dapat dicapai dengan karyawan yang merasa termotivasi secara
internal. Muduli dan Pandya (2018) menyatakan dari 4 faktor yang terdapat pada rasa
berdaya psikologis, terdapat 3 faktor yaitu kebermaknaan, determinasi diri, dan dampak
merupakan faktor yang paling berpengaruh dalam membentuk karyawan yang tangkas.
Karyawan yang merasa pekerjaannya memiliki makna bagi dirinya, akan dapat membuat
keputusan atas pekerjaannya. Hal tersebut dapat memberikan kontribusi terhadap kinerja
yang diberikannya kepada organisasi, sehingga akan berdampak pada organisasi dalam
menghadapi tantangan dan kondisi yang terus berubah. Oleh karena itu, selain meneliti
mengenai ketangkasan pada karyawan di tempat kerja, peneliti juga meneliti mengenai
rasa berdaya psikologis sebagai faktor yang memengaruhi ketangkasan karyawan di
tempat kerja.
Berdasarkan hasil diskusi kelompok dan wawancara yang telah dilakukan, peneliti
juga menemukan indikasi-indikasi yang menunjukkan rendahnya rasa berdaya
psikologis, yaitu meliputi meaning (kebermaknaan), competence (keyakinan diri), self-
determination (determinasi diri), dan impact (dampak) (Spreitzer, 1995). Karyawan
terlihat kurang memiliki kebermaknaan dan kurang merasa memiliki terhadap
pekerjaannya. Karyawan bekerja hanya secukupnya saja, ketertarikan dan motivasi yang
dimiliki karyawan terhadap pekerjaannya juga terlihat rendah. Karyawan juga masih
belum memahami tujuan dari penerapan kegiatan QC, hal ini menyebabkan karyawan
tidak termotivasi untuk menambah pengetahuannya terkait kegiatan QC, sehingga
membuat mereka menjadi tidak yakin dengan kemampuan yang dimilikinya (keyakinan
diri). Hal ini juga menyebabkan karyawan merasa sulit untuk menemukan ide-ide untuk
perbaikan di pekerjaannya. Karyawan merasa takut ditolak saat mempresentasikan ide-
ide nya karena merasa ide yang dimilikinya tidak cukup baik dan berguna bagi pencapaian
Universitas Indonesia
Universitas Indonesia
Universitas Indonesia
Universitas Indonesia
Universitas Indonesia
Bab ini berisi penjelasan mengenai teori-teori yang terkait dengan variabel
penelitian, intervensi organisasi yang dilakukan dan dinamika hubungan antar variabel
dengan intervensi yang dilakukan.
terjadi secara internal dan eksternal dari lingkungan bisnis dan secara proaktif melakukan
perubahan untuk dapat memaksimalkan kesempatan yang ada akibat adanya perubahan.
Universitas Indonesia
dan tidak terprediksi, perbedaan opini dan pendekatan. (c) Toleransi terhadap situasi yang
memiliki tingkat stress tinggi dan juga mampu untuk melakukan coping stress.
Universitas Indonesia
memiliki pengaruh yang signifikan terhadap ketangkasan karyawan. Kathuria dan Partovi
(1999) menemukan bahwa kepemimpinan partisipatif dan pendelegasian wewenang
memiliki peran penting dalam menentukan peran ketangkasan karyawan pada sektor
industri. Lebih lanjut, Sherehiy dkk. (2007) menemukan bahwa strategi ketangkasan yang
ditujukan pada pengembangan produk, kerjasama organisasi dan karyawan dapat
meningkatkan ketangkasan pada karyawan. Selain itu, faktor pekerjaan seperti
permintaan kerja, keberagaman keterampilan, kontrol terhadap pekerjaan, ketidakpastian
dalam pekerjaan dan kerumitan pekerjaan memiliki pengaruh terhadap tingkat
ketangkasan karyawan pada pekerjaannya.
Penelitian yang dilakukan oleh Tsourveloudis dan Valavanis (2002)
mengungkapkan bahwa pembelajaran dalam organisasi (organizational learning)
memiliki peran penting untuk menciptakan karyawan yang tangkas. Hal ini disebabkan
ketangkasan karyawan bergantung pada keterampilan yang didapatkan karyawan melalui
pelatihan dan peningkatan pengetahuan karyawan. Lingkungan yang mendukung
pembelajaran dalam organisasi dapat meningkatkan karyawan untuk lebih terbuka
terhadap hal baru dan lebih inovatif dalam mencari ide-ide baru. Hal ini kemudian akan
menjadikan karyawan lebih proaktif dan dapat mengembangkan solusi yang fleksibel
untuk menangani permasalahan saat ini dan di masa mendatang (Gong, Huang dan Farh,
2009).
Sementara itu, Dyer dan Shafer (2003) melihat ketangkasan karyawan
berdasarkan perspektif perilaku. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa untuk dapat
meningkatkan ketangkasan yang dibutuhkan dalam organisasi karyawan perlu
menampilkan tiga bentuk perilaku, yaitu perilaku proaktif, adaptif, dan generatif. Perilaku
proaktif yang dimiliki oleh karyawan dapat membuat karyawan melakukan inisiatif untuk
secara aktif mencari kesempatan berkontribusi terhadap kesuksesan organisasi.
Universitas Indonesia
perubahan kebutuhan konsumen dan permintaan pasar (Breu dkk., 2002). Penelitian yang
dilakukan oleh Breu pada tahun 2002 melihat karakteristik dari ketangkasan karyawan
melalui perspektif teknologi informasi (IT) yang berfokus pada peran sistem informasi,
teknologi informasi dan komunikasi (ICT), model kerja berbasis ICT dan literatur terkait
IT dalam ketangkasan karyawan. Hasilnya diperoleh bahwa ketangkasan karyawan dapat
diukur dalam lima aspek, yaitu kapasitas intelektual, kompetensi, kolaborasi, budaya dan
sistem informasi. Alat ukur yang dikembangkan oleh Breu dkk. (2002) berisi 7 aitem
yang mengukur ke lima aspek tersebut.
Pengukuran ketangkasan karyawan dalam penelitian ini menggunakan alat ukur
yang dikembangkan oleh Sherehiy pada tahun 2008 yang disusun berdasarkan tiga
dimensi, yaitu proaktif, resiliensi, dan adaptif. Alat ukur ketangkasan karyawan berbentuk
penilaian terhadap diri sendiri dengan aitem sejumlah 39 aitem yang diukur menggunakan
skala Likert dengan enam respon jawaban. Setiap individu perlu merasakan dan
mengalami setiap dimensi dari ketangkasan karyawan untuk mencapai dampak-dampak
yang positif. Jika terdapat satu dimensi yang hilang, maka ketangkasan yang dimiliki oleh
karyawan akan menjadi tidak maksimal (Sherehiy dkk., 2007).
Universitas Indonesia
determinasi diri dan dampak yang membentuk motivasi intrinsik terhadap tugas dan
orientasi kerja secara aktif.
Spreitzer (2008) menjelaskan lebih lanjut bahwa rasa berdaya psikologis
merupakan sekumpulan keadaan psikologis yang dibutuhkan oleh individu untuk merasa
bahwa ia memiliki kendali akan pekerjaan yang dilakukannya. Spreitzer (1995)
memberikan beberapa asumsi berkaitan dengan karakteristik dari rasa berdaya psikologis.
Pertama, rasa berdaya psikologis merupakan sekumpulan kognisi yang dibentuk oleh
lingkungan kerjanya, bukan merupakan sebuah karakter kepribadian. Kedua, rasa berdaya
psikologis merupakan variabel kontinu. Seseorang tidak dapat dikatakan tidak memiliki
atau memiliki rasa berdaya psikologis, tetapi digolongkan menjadi individu dengan level
rasa berdaya psikologis yang lebih rendah atau lebih tinggi. Ketiga, rasa berdaya
psikologis bukanlah konstruk umum yang bisa digeneralisasikan ke seluruh domain
kehidupan, melainkan harus pada domain pekerjaan.
Berdasarkan pemaparan beberapa definisi yang sudah disebutkan sebelumnya,
penelitian ini menggunakan definisi rasa berdaya psikologis dari Spreitzer (1995).
Definisi ini dipilih karena fokus pada motivasi internal yang dimiliki oleh individu yang
berasal dari persepsi dan keyakinan dirinya untuk mengarahkan perilaku kerja yang aktif
dan efektif dalam organisasi.
Universitas Indonesia
dimilikinya dalam pekerjaan dengan perannya dalam pekerjaan dan juga pemenuhan
nilai-nilai yang diyakininya.
Dimensi keyakinan diri (competence) mengacu pada kepercayaan individu akan
kemampuannya untuk melaksanakan aktivitas dan tugas dengan keterampilan atau
pengetahuan sehingga dapat mencapai kesuksesan. Karyawan yang berdaya akan merasa
mampu untuk memengaruhi pekerjaannya dan organisasi secara berarti. Dimensi ini
dijelaskan oleh Thomas dan Velthouse (1990) sejauh mana individu dapat melakukan
pekerjaannya dengan keterampilan tingkat tinggi. Individu akan terus menerus
menantang dirinya dengan menetapkan target yang lebih tinggi dan merasa tertantang
untuk melakukan tugas yang sulit.
Lebih lanjut, dimensi determinasi diri merepresentasikan persepsi individu atas
keleluasaan dalam memulai dan melanjutkan perilaku maupun proses pekerjaan. Otonomi
dapat dilihat dari cara karyawan membuat keputusan, khususnya yang berkaitan dengan
metode kerja, prosedur, waktu dan usaha. Determinasi diri dapat meningkatkan
fleksibilitas, kreativitas, resiliensi dan regulasi diri pada diri karyawan (Thomas &
Velthouse, 1990).
Dimensi dampak (Impact) merupakan keyakinan individu bahwa pekerjaannya
akan berpengaruh terhadap hasil keluaran strategik pada lingkungan kerjanya. Individu
yang yakin bahwa pekerjaan yang dilakukannya memiliki pengaruh bagi pekerjaan orang
lain ataupun hasil keluaran organisasi akan terlihat lebih efektif dalam bekerja
dibandingkan dengan karyawan lainnya yang tidak mempercayainya.
Universitas Indonesia
Universitas Indonesia
Universitas Indonesia
mengukur empat dimensi yang dimiliki oleh rasa berdaya psikologis, yaitu
kebermaknaan, keyakinan diri, determinasi diri dan dampak. Individu yang memiliki
pengalaman akan rasa berdaya psikologis akan dimanifestasikan dalam keempat dimensi
tersebut. Hal tersebut kemudian yang menjelaskan bahwa jika terdapat satu dimensi yang
hilang, maka pengalaman akan hasil rasa berdaya psikologis yang dirasakan oleh individu
akan terbatas (Spreitzer, 1995).
Menon (2001) melakukan penelitian untuk mengembangkan alat ukur rasa
berdaya psikologis yang berbentuk pengukuran terhadap diri sendiri yang terdiri dari
sembilan aaitem. Alat ukur ini terdiri dari tiga aspek, yaitu perceived control, perceived
competence, dan goal internalization. Hasil dari penelitian yang dilakukan oleh Menon
(2001) menunjukkan koefisien reliabilitas internal pada tiap aspek dari rasa berdaya
psikologis berada di atas 0.77 yang berarti memiliki reliabilitas yang baik. Menon juga
melakukan uji coba untuk melihat keterkaitan antara aspek yang terdapat pada alat ukur
yang dikembangkannya dengan alat ukur rasa berdaya psikologis yang dikembangkan
oleh Spreitzer. Hasil yang didapatkan adalah aspek perceived control memiliki
keterkaitan dengan aspek dampak dan determinasi diri. Lebih lanjut, aspek perceived
competence memiliki keterkaitan dengan aspek kemampuan diri dan aspek goal
internalization memiliki korelasi dengan aspek kebermaknaan.
Pada penelitian ini, peneliti menggunakan alat ukur yang dikembangkan oleh
Spreitzer pada tahun 1995 yang telah diadaptasi dan dimodifikasi oleh Mangundjaya
(2014).
Universitas Indonesia
Universitas Indonesia
tersebut. Seibert dkk. (2011) dalam penelitian yang dilakukannya mengungkapkan bahwa
rasa berdaya psikologis dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu faktor eksternal dan internal
dari diri individu. Faktor internal yang berkaitan dengan rasa berdaya psikologis adalah
cara individu dalam melihat dirinya dan lingkungan kerjanya. Peningkatan rasa berdaya
psikologis dalam hal ini membutuhkan perubahan persepsi dari individu terhadap dirinya
dan lingkungan pekerjaannya dalam melakukan aktivitas kerja.
Intervensi yang dapat dijalankan untuk meningkatkan rasa berdaya psikologis
berkaitan dengan faktor eksternal dari karyawan berhubungan dengan variabel-variabel
pada lingkungan kerjanya. Faktor lingkungan yang dapat berpengaruh pada penilaian
individu mengenai tugas dalam pekerjaan, antara lain adalah peran atasan (mentoring,
delegasi, feedback, coaching), budaya organisasi, serta karakteristik pekerjaan. Drake,
Wong, dan Salter (2007) mengemukakan bahwa pemberian umpan balik atas kinerja
karyawan yang dilakukan oleh atasannya dapat meningkatkan kemandirian karyawan
dalam bekerja. Selain itu upaya untuk meningkatkan rasa berdaya psikologis karyawan
dapat dilakukan dengan melakukan desain ulang pekerjaan (Kuo, Ho, Lin & Lai, 2009)
dan juga konsultasi pekerjaan (Hosseinpour, Moghadasi, & Gilavand, 2015).
Intervensi yang dapat dilakukan berkaitan faktor internal individu dapat menyasar
langsung pada bagaimana karyawan menyikapi keadaan lingkungan kerjanya. Persepsi
atau interpretasi yang dimiliki karyawan terhadap lingkungan kerja ataupun pekerjaanya
dapat diubah dengan membuat karyawan menyadari asumsi-asumsi yang mendasari
pembentukan gaya interpretasi serta konsekuensi dari persepsi yang mereka miliki dan
juga menjadikan mereka lebih menyadari mengenai persepsi yang mereka miliki terkait
dengan lingkungan kerja dan juga pekerjaan mereka. Intervensi yang dapat dilakukan
melalui konseling dan pelatihan (training).
Hosseinpour dkk. (2015), salah satu program intervensi yang dapat dilakukan
untuk meningkatkan rasa berdaya psikologis adalah melalui pelatihan. Pada penelitian
ini, kegiatan pelatihan yang akan dilakukan dirancang menyasar pada faktor individual
yang berpengaruh terhadap peningkatan rasa berdaya psikologis, yaitu merubah persepsi
dari karyawan. Sejalan dengan konsep rasa berdaya psikologis yang diajukan oleh
Spreitzer (2008) bahwa rasa berdaya psikologis merupakan cara individu untuk melihat
diri mereka sendiri berkaitan dengan lingkungan kerja mereka. Berdasarkan pandangan
Universitas Indonesia
Universitas Indonesia
pelatihan. Tahapan selanjutnya adalah (3) Implementasi pelatihan, persiapan yang perlu
dilakukan dalam implementasi program pelatihan antara lain adalah: menyusun urutan
program, memeriksa seluruh materi yang diperlukan, mengatur aktivitas proses belajar,
mempersiapkan media dan alat bantu, mempersiapkan peralatan, tata letak dan hal lainnya
yang bersifat administratif. Tahapan terakhir (4) adalah melakukan evaluasi pelatihan.
Evaluasi pelatihan yang digunakan dalam penelitian ini adalah evaluasi pelatihan yang
dikemukakan oleh Kirkpatrick dan Kirkpatrick (2011) yang terdiri dari empat level, yaitu:
level 1 bertujuan untuk mengukur persepsi (reaksi) dari partisipan mengenai pengalaman
belajar yang didapatkan selama program pelatihan. Level 2 untuk mengukur perubahan
atas tiga hal dari partisipan, yaitu pengetahuan, keahlian dan sikap partisipan. Level 3
bertujuan untuk mengukur perubahan perilaku yang disebabkan oleh program pelatihan.
Level 4 adalah evaluasi terhadap hasil akhir yang diharapkan oleh pihak manajemen atas
pelatihan yang dilakukan.
Universitas Indonesia
Universitas Indonesia
2012). Dengan demikian, rasa berdaya psikologis memiliki hubungan yang positif
terhadap ketangkasan yang dimiliki oleh karyawan di tempat kerjanya.
Muduli dan Pandya (2018) menjelaskan pengaruh masing-masing dimensi dari
rasa berdaya psikologis terhadap ketangkasan karyawan. Karyawan menjadi lebih
tangkas, memiliki komitmen yang tinggi, keterlibatan yang tinggi dalam pekerjaan ketika
pekerjaan yang mereka lakukan memiliki kebermaknaan terhadap nilai dan tujuan yang
dimiliki oleh karyawan tersebut. Selanjutnya, karyawan yang merasa kompeten dalam
melakukan pekerjaan dan percaya diri dalam menyelesaikan isu dalam pekerjaan secara
inovatif dan proaktif meningkatkan kemampuan yang dimilikinya melebihi kemampuan
mendasar yang dibutuhkan dalam pekerjaannya. Lebih lanjut, karyawan yang merasa
determinasi dirinya tinggi dapat memotivasi mereka secara internal, mendorong mereka
untuk berkontribusi kepada organisasi secara proaktif dan fleksibel. Terakhir, karyawan
yang merasa pekerjaannya memiliki pengaruh terhadap kebaikan organisasi cenderung
akan melakukan usaha lebih untuk melakukan inovasi untuk meningkatkan kualitas
pekerjaannya.
Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa rasa berdaya psikologis
yang terdiri dari dimensi meaning (kebermaknaan), competence (keyakinan diri), self-
determintation (determinasi diri) dan impact (dampak) memiliki hubungan yang positif
terhadap tingkat ketangkasan yang dimiliki oleh karyawan di tempat kerja. Oleh karena
itu, peneliti menduga bahwa tingkat ketangkasan karyawan dapat ditingkatkan melalui
usaha peningkatan level rasa berdaya psikologis karyawan. Peningkatan rasa berdaya
psikologis yang dirasakan karyawan dapat dilakukan melalui intervensi pada faktor
lingkungan kerja (eksternal) maupun melalui perubahan pola interpretasi individu
mengenai lingkungan kerjanya tersebut (internal). Penelitian yang dilakukan oleh
Thomas dan Velthouse (1990) menemukan bahwa rasa berdaya psikologis dapat
ditingkatkan dengan mengubah gaya interpretasi individu mengenai lingkungan kerja,
pekerjaannya dan dirinya sendiri. Hal ini sejalan dengan konsep rasa berdaya psikologis
yang diajukan oleh Spreitzer (2008) bahwa rasa berdaya psikologis merupakan cara
individu untuk melihat diri mereka sendiri berkaitan dengan lingkungan kerja mereka.
Rasa berdaya psikologis karyawan dapat ditingkatkan melalui beragam program
intervensi. Salah satu program intervensi rasa berdaya psikologis yang dapat
dilaksanakan adalah pelatihan (Hosseinpour dkk., 2015). Melalui pelatihan diharapkan
Universitas Indonesia
muncul perubahan atas sikap, keyakinan dan pikiran karyawan mengenai pekerjaan dan
lingkungan kerjanya, sehingga dapat meningkatkan rasa berdaya psikologis (Hosseinpour
dkk., 2015). Dengan kata lain, dengan adanya peningkatan pada rasa berdaya psikologis
maka diharapkan ketangkasan karyawan akan meningkat. Hal tersebut menjadi dasar bagi
peneliti untuk dapat melihat mekanisme yang ada pada hubungan antara rasa berdaya
psikologis, ketangkasan karyawan dan intervensi rasa berdaya psikologis di PT X.
Universitas Indonesia
Universitas Indonesia
Universitas Indonesia
penyebab diidentifikasi sebagai pemicu akan suatu kondisi lainnya disebut independent
variable atau variabel prediktor / peramal (IV). Sedangkan variabel yang merupakan efek
atau hasil dari variabel prediktor disebut sebagai dependent variable atau variabel
hasil/outcome (DV).
Universitas Indonesia
Universitas Indonesia
Kuesioner ini menggunakan skala Likert dari 1 (satu) sampai dengan 6 (enam)
yakni “1” (Sangat Tidak Setuju), “2” (Tidak Setuju), “3” (Agak Tidak Setuju), “4” (Agak
Setuju), “5” (Setuju) dan “6” (Sangat Setuju). Skor pada setiap aitem pada kuesioner ini
akan dijumlahkan sehingga menghasilkan skor total ketangkasan karyawan. Semakin
tinggi skor total yang diperoleh, maka semakin tinggi pula ketangkasan karyawan yang
dimiliki responden.
Uji reliabilitas alat ukur ketangkasan karyawan dilakukan kepada 63 responden
yang memiliki karakteristik sama dengan karakteristik responden penelitian. Koefisien
reliabilitas internal yang dimiliki oleh kuesioner ketangkasan karyawan setelah dilakukan
uji coba adalah sebesar 0,89. Kuesioner ketangkasan karyawan dikatakan sudah reliabel
menurut batasan dari Kaplan dan Sacuzzo (2009). Selanjutnya, peneliti juga melihat
kualitas aitem dengan melihat daya beda aitem dengan menggunakan corrected item total
correlation. Pada uji coba alat ukur yang dilakukan menunjukkan bahwa terdapat
beberapa aitem yang memiliki nilai corrected item total correlation lebih kecil dari 0.30.
Hasil koefisien reliabilitas internal setelah pengurangan sejumlah 18 aitem adalah sebesar
0.88. Berikut adalah penjelasan mengenai aitem yang dipertahankan.
Universitas Indonesia
meminta izin kepada peneliti sebelumnya untuk menggunakan kuesioner ini. Kuesioner
ini mengukur empat dimensi, yaitu kebermaknaan, keyakinan diri, determinasi diri dan
dampak. Masing-masing dimensi diukur dengan 4 aitem sehingga terdapat 16 aitem
dalam kuesioner ini. Penyebaran aitem dan dimensi yang diukur pada kuesioner rasa
berdaya psikologis dapat dilihat pada tabel di bawah ini.
Tabel 3.3 Dimensi dan pembagian aitem kuesioner rasa berdaya psikologis
Dimensi Nomor Aitem
Keyakinan diri 1,2,3,4
Kebermaknaan 5,6,7,8
Determinasi diri 9,10,11,12
Dampak 13,14,15,16
Kuesioner ini menggunakan skala Likert dari 1 (satu) sampai dengan 6 (enam)
yakni “1” (Sangat Tidak Setuju), “2” (Tidak Setuju), “3” (Agak Tidak Setuju), “4” (Agak
Setuju), “5” (Setuju) dan “6” (Sangat Setuju). Skor pada setiap aitem pada kuesioner ini
akan dijumlahkan sehingga menghasilkan skor total rasa berdaya psikologis. Semakin
tinggi skor total yang diperoleh, maka semakin tinggi pula rasa berdaya psikologis yang
dirasakan responden.
Berdasarkan hasil uji coba alat ukur yang dilakukan, koefisien reliabilitas internal
dari kuesioner rasa berdaya psikologis adalah sebesar 0,91. Kuesioner rasa berdaya
psikologis memiliki reliabilitas yang baik menurut batasan dari Kaplan dan Sacuzzo
(2009). Peneliti juga melakukan uji untuk melihat kualitas aitem dengan corrected item
total correlation. Pada uji coba alat ukur yang dilakukan menunjukkan bahwa 16 aitem
yang ada memiliki nilai corrected item total correlation lebih besar dari 0.30.
Universitas Indonesia
1. Statistik Deskriptif
Teknik analisis ini digunakan untuk mengetahui mean, skor minimum, skor
maksimum, standar deviasi dan frekuensi. Analisis statistik deskriptif digunakan
untuk melihat gambaran variabel-variabel yang diukur dalam penelitian serta
memperoleh gambaran mengenai data demografi responden dan gambaran responden
secara umum terhadap aspek-aspek yang diukur.
2. Uji Korelasi Pearson
Teknik analisis ini digunakan untuk melihat hubungan antar variabel penelitian, yaitu
hubungan antara rasa berdaya psikologis dan ketangkasan karyawan. Metode korelasi
yang digunakan adalah korelasi parametrik dengan teknik Pearson Product Moment
karena jumlah sampel di atas 30 dan data terdistribusi normal.
Universitas Indonesia
Universitas Indonesia
rasa berdaya psikologis dan ketangkasan karyawan saat sebelum dan setelah
dilaksanakannya intervensi.
Universitas Indonesia
Universitas Indonesia
dari penghitungan tersebut, diketahui bahwa terdapat hubungan antara rasa berdaya
psikologis dengan ketangkasan karyawan.
Universitas Indonesia
Target Topik
No. Bentuk Kegiatan Tujuan Kegiatan
Partisipan Pembahasan
akan dampak
dari pekerjaan
yang telah
dilakukan
Penerapan
kebermakanaan
dalam bekerja.
Penerapan
Peserta dapat
keyakinan
Pelatihan Rasa menerapakan rasa
terhadap
2. Berdaya Psikologis berdaya psikologis Karyawan
kemampuan
ver.2 dalam pekerjaan
diri dalam
sehari – hari.
bekerja.
Penerapan
determinasi diri
dalam bekerja.
Pengertian dan
manfaat
coaching
Peran atasan
Peserta dapat
sebagai coach.
memperoleh
Keterampilan
pengetahuan,
Atasan dari yang
3. Pelatihan Coaching pemahaman dan
Karyawan dibutuhkan
keterampilan dasar
untuk menjadi
dalam menerapkan
coach.
kegiatan coaching.
Aplikasi
metode
pemberian
coaching.
Pentingnya
pelaksanaan
program bagi
capaian unit
Peserta mengetahui kerja.
pentingnya Kriteria
pelaksanaan program Karyawan penilaian target
4. Sosialisasi
pengembangan, waktu dan Atasan pencapaian
pelaksanaan dan karyawan.
kriteria penilaian. Kriteria
penilaian hasil
pembimbingan
yang diberikan
oleh atasan.
Universitas Indonesia
Target Topik
No. Bentuk Kegiatan Tujuan Kegiatan
Partisipan Pembahasan
Periode waktu
pelaksanaan
program.
Bimbingan
terkait
pemberian
tugas/project.
Peserta mendapatkan Bimbingan
bimbingan terkait pembuatan
Program coaching Atasan dari
5. pelaksanaan program presentasi QC.
berkala Karyawan
pengembangan yang Bimbingan
dilakukan. terkait
pencapaian
target
perubahan
perilaku.
Tugas individu
terkait target
Peserta dapat
perilaku yang
mengimplementasikan
ingin dicapai.
materi dan
Pemberian Pemberian
6. pembelajaran yang Karyawan
tugas/project project yang
telah didapatkan
melibatkan
dalam praktek di
bagian lain.
pekerjaan sehari-hari.
Materi
presentasi QC.
Presentasi
Peserta mendapatkan
mengenai
kesempatan untuk
pelaksanaan
dapat menjelaskan
Presentasi Hasil program
7. hasil pencapaiannya Karyawan
Akhir Project pengembangan
dalam pelaksanaan
yang telah
program
dilakukan oleh
pengembangan.
karyawan.
Universitas Indonesia
individu untuk dapat memiliki persepsi yang lebih positif terhadap dirinya sendiri dan
juga pekerjaannya, sehingga diharapkan akan memunculkan keterlibatannya untuk
menjadi lebih tangkas dalam pekerjaan. Hal ini juga sejalan dengan temuan yang
didapatkan di perusahaan, bahwa karyawan PT X masih belum merasa kegiatan QC yang
ditugaskan oleh perusahaan masih belum bermakna bagi dirinya ataupun pekerjaannya,
sehingga karyawan belum memberikan usaha maksimal dalam melakukan kegiatan QC.
Dalam pekerjaan, karyawan juga masih merasa kesulitan untuk mengemukakan idenya,
karena adanya ketakutan bahwa ide yang dimilikinya tidak cukup baik dan berguna bagi
pencapaian target di tim kerjanya.
Pihak perusahaan menyetujui adanya pelatihan tersebut, kegiatan tersebut
diharapkan dapat meningkatkan ketangkasan karyawan. Pada tanggal 12 Agustus – 16
September 2019 peneliti membuat kegiatan pelatihan dengan tema Agile Development:
Believe in Yourself. Peneliti mendapatkan waktu 6 jam yang dilaksanakan pada satu hari
kerja. Berdasarkan waktu yang telah diberikan, peneliti merancang pelatihan rasa berdaya
psikologis yang terdiri dari: (1) Sesi satu, memahami pentingnya peran karyawan yang
tangkas dalam pekerjaan melalui aktivitas permainan “Torpedo”, (2) Sesi dua,
Meaningfulness at Work berisi tiga sub sesi, yaitu menonton video, analisis diri sendiri
dan ceramah singkat mengenai konsep kebermaknaan dalam pekerjaan, (3) Sesi tiga, Self-
Determination yang terdiri dari dua sub sesi yaitu diskusi kelompok dan presentasi hasil
diskusi dan kemudian fasilitator memberikan ceramah yang berisi tentang pengertian dari
dimensi determinasi diri, kaitannya dengan pekerjaan dan juga dampak penerapan
dimensi tersebut dalam pekerjaan, (4) Sesi empat, I Can Do It yang terdiri dari tiga sub
sesi yaitu penayangan video, diskusi kelompok dan ceramah mengenai pengertian dari
dimensi keyakinan diri (competence), dampaknya terhadap pekerjaan, (5) Sesi lima, My
Impact yang bertujuan agar karyawan memahami makna dari setiap pekerjaan yang biasa
dilakukannya setiap hari melalui aktivitas permainan “Misi Kursi”. Peneliti membuat
modul pelatihan dan rancangan kegiatan pelatihan yang dilakukan dalam satu hari. Target
peserta pelatihan adalah karyawan dengan tingkat rasa berdaya psikologis, perilaku
proaktif dan ketangkasan karyawan yang tergolong rendah.
Pelatihan bertema Agile Development: Believe in Yourself dilakukan pada 24
September 2019 dimulai pada pukul 09.00 hingga pukul 16.00 WIB. Pada mulanya
peserta yang menjadi target pelatihan adalah karyawan yang tergolong rendah pada
Universitas Indonesia
Universitas Indonesia
mengisi kuesioner ini setelah kegiatan pelatihan selesai dilakukan. Berdasarkan jawaban
yang diberikan oleh peserta, kemudian peneliti melakukan pengolahan data untuk dapat
memperoleh nilai rata-rata untuk tiap aitem yang ada di tiap aspek yang dievaluasi. Pada
evaluasi level 1 ini, peneliti menetapkan nilai rata-rata 4 dari batas maksimal 6 sebagai
batas terendah keberhasilan evaluasi terhadap pelaksanaan kegiatan pelatihan.
B. Evaluasi Pelatihan Level 2 (Pembelajaran)
Peneliti kemudian melakukan pengukuran evaluasi level 2 (pembelajaran) dengan
memberikan kuesioner yang berisi 10 pertanyaan mengenai materi pelatihan yang
diberikan selama kegiatan pelatihan. Kuesioner evaluasi diberikan sebelum (pre-test) dan
sesudah (post-test) kegiatan pelatihan selesai dilakukan. Penilaian tersebut dilakukan
dengan memberikan nilai satu (1) untuk setiap pertanyaan yang dijawab benar dan nilai
nol (0) untuk setiap pertanyaan yang dijawab salah. Rentang skor yang dapat diperoleh
adalah dari nol hingga sepuluh. Berdasarkan jawaban yang diberikan oleh peserta,
kemudian peneliti melakukan pengolahan data untuk dapat memperoleh perbedaan nilai
rata-rata evaluasi pembelajaran sebelum dan sesudah peserta mengikuti kegiatan
pelatihan. Peneliti melakukan uji Wilcoxon signed-rank test untuk dapat membandingkan
skor sesudah dan sebelum kegiatan pelatihan dari peserta pelatihan.
Universitas Indonesia
Bab ini berisi gambaran umum partisipan penelitian, hasil analisis, dan
kesimpulan hasil dari perhitungan awal penelitian, serta program intervensi yang
diberikan dalam penelitian.
45 Universitas Indonesia
Universitas Indonesia
Universitas Indonesia
Dapat dilihat dari tabel di atas, jumlah responden yang memiliki skor rasa berdaya
psikologis tergolong tinggi dan rendah hampir seimbang. Responden yang memiliki rasa
berdaya psikologis tergolong rendah sebanyak 75 responden (48.7%), sedangkan 79
responden (51.3%) tergolong tinggi.
Universitas Indonesia
Universitas Indonesia
Keseluruhan
Fasilitator
Materi Pelatihan
Pelaksanaan Pelatihan
Grafik 4.1 Hasil Evaluasi Level 1 (Reaksi) Peserta Pelatihan Agile Development:
Believe in Yourself
Universitas Indonesia
Grafik 4.2 Perbedaan Nilai Rata-rata Peserta Pelatihan “Agile Development: Believe in
Yourself”
Universitas Indonesia
[Link] Perbedaan skor ketangkasan karyawan pada saat sebelum dan sesudah
pelaksanaan intervensi
Setelah diadakannya intervensi, peneliti kembali mengukur ketangkasan
karyawan dan rasa berdaya psikologis dari peserta kegiatan pelatihan. Hasil yang
didapatkan menjelaskan bahwa terdapat peningkatan antara skor sebelum dan skor
sesudah kegiatan pelatihan pada variabel ketangkasan karyawan. Kenaikan skor tersebut
dapat dilihat dari meningkatknya nilai maksimal (sebelum = 79, sesudah = 86) dan nilai
rata-rata sebelum kegiatan pelatihan (X = 72.7) dibandingkan dengan nilai rata-rata
sesudah kegiatan pelatihan (X = 76.5). Selisih antara nilai rata-rata sesudah dan sebelum
kegiatan pelatihan adalah sebesar 3.7 poin.
Selanjutnya, peneliti melakukan penghitungan statistik untuk mengetahui apakah
terdapat perbedaan yang signifikan antara nilai rata-rata sesudah dan sebelum kegiatan
pelatihan. Peneliti melakukan uji beda tersebut menggunakan teknik statistik non-
parametrik dengan metode Wilcoxon Rank Test. Hasil yang diperoleh menunjukkan
bahwa terdapat peningkatan skor ketangkasan karyawan yang signifikan pada karyawan
setelah dilaksanakannya intervensi (Z= -2.493, p<0.05, signifikan). Hasil pengujian
tersebut menunjukkan bahwa H4 diterima, yaitu “Terdapat peningkatan skor ketangkasan
karyawan yang signifikan pada karyawan di PT X setelah dilaksanakannya intervensi”.
[Link] Perbedaan skor rasa berdaya psikologis pada saat sebelum dan sesudah
pelaksanaan intervensi
Peneliti kembali mengukur rasa berdaya psikologis dari peserta kegiatan pelatihan
setelah diadakannya intervensi. Hasil yang didapat menunjukkan bahwa terdapat
peningkatan nilai maksimal yang diperoleh peserta pelatihan (sebelum = 71, sesudah =
79). Nilai rata-rata yang diperoleh oleh peserta pelatihan juga meningkat, nilai rata-rata
sebelum kegiatan pelatihan adalah sebesar 61.43 dan nilai rata-rata sesudah kegiatan
pelatihan adalah sebesar 67.36. Selisih antara nilai rata-rata sesudah dan sebelum kegiatan
pelatihan adalah sebesar 5.9 poin.
Selanjutnya, peneliti melakukan penghitungan statistik untuk mengetahui apakah
terdapat perbedaan yang signifikan antara antara nilai rata-rata sesudah dan sebelum
kegiatan pelatihan pada variabel rasa berdaya psikologis. Peneliti melakukan uji beda
tersebut menggunakan teknik statistik non-parametrik dengan metode Wilcoxon Rank
Universitas Indonesia
Test. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa terdapat peningkatan skor yang tidak
signfiikan pada karyawan setelah dilaksanakannya kegiatan pelatihan (Z= -1.822, p>0.05,
tidak signifikan). Hal ini menunjukkan bahwa H3 ditolak, yaitu “Tidak terdapat
peningkatan skor rasa berdaya psikologis yang signifikan pada karyawan di PT X setelah
diberikan intervensi.
Universitas Indonesia
Universitas Indonesia
5.1 Kesimpulan
Berdasarkan analisis hasil yang telah dilakukan sebelumnya, maka didapatkan
kesimpulan sebagai berikut:
a. Rasa berdaya psikologis memiliki hubungan positif yang signifikan terhadap
ketangkasan pada karyawan di PT X.
b. Tidak terdapat peningkatan skor rasa berdaya psikologis yang signifikan pada
karyawan di PT X setelah diberikan intervensi.
c. Terdapat peningkatan skor ketangkasan karyawan yang signifikan pada karyawan
di PT X setelah dilaksanakannya intervensi.
5.2 Diskusi
Terdapat tiga permasalahan utama dalam penelitian ini, yaitu mengenai hubungan
rasa berdaya psikologis dan ketangkasan karyawan, perbedaan skor rasa berdaya
psikologis saat sebelum dan sesudah dilakukannya intervensi, serta perbedaan skor
ketangkasan karyawan saat sebelum dan sesudah dilakukannya intervensi.
Studi 1 dalam penelitian ini berkaitan dengan hubungan rasa berdaya psikologis
dan ketangkasan karyawan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rasa berdaya psikologis
memiliki hubungan dengan ketangkasan karyawan. Hal ini sejalan dengan penelitian
yang dilakukan oleh Muduli dan Pandya (2018) yang menyatakan bahwa rasa berdaya
psikologis memiliki hubungan yang positif yang signifikan terhadap ketangkasan
karyawan. Dimensi dari rasa berdaya psikologis juga memiliki pengaruh yang signifikan
terhadap peningkatan ketangkasan karyawan. Sejalan dengan penelitian yang dilakukan
oleh Thomas dan Velthouse pada tahun 1990 yang menemukan bahwa karyawan yang
merasa berdaya dapat lebih menunjukkan fleksibilitas, resiliensi dan persisten terhadap
apa yang dilakukannya. Hal tersebut memiliki dampak membuat karyawan menjadi lebih
termotivasi dan puas dengan pekerjaan yang dilakukannya. Saat karyawan merasa
pekerjaan yang dilakukannya bermakna bagi dirinya, ia akan lebih mampu untuk
55 Universitas Indonesia
berkontribusi dan terlibat aktif dalam pembuatan keputusan dan mengemukakan ide yang
dapat meningkatkan hasil kerjanya (Muduli & Pandya, 2018). Hal ini dapat membantunya
dalam menghadapi tantangan dan kondisi yang berubah dalam organisasi.
Shah, MajidianFard, Lataifian, Farahani, dan Sahebi (2017) menemukan bahwa
rasa berdaya psikologis memiliki hubungan positif yang signifikan dengan ketangkasan
organisasi berdasarkan perspektif dari karyawan. Rasa berdaya psikologis yang dimiliki
karyawan merupakan salah satu faktor kunci untuk dapat menciptakan organisasi yang
lebih tangkas dalam lingkungan bisnis yang kompetitif dan berubah dengan cepat. Saat
karyawan merasa memiliki tujuan yang penting dan bernilai dalam bekerja, maka mereka
akan merasa waktu dan tenaga yang diberikan dalam bekerja menjadi lebih bermakna.
Karyawan yang merasa memiliki efek terhadap pencapaian strategi dan tujuan
operasional organisasi juga merasa bahwa pekerjaan yang telah mereka lakukan efektif.
Saat karyawan memiliki level rasa berdaya psikologis yang tinggi maka mereka lebih
baik dalam merespon kebutuhan dari konsumen dan juga fleksibel dalam memberikan
jasa atau layanan kepada komunitas dan mampu beradaptasi dengan baik dengan
lingkungan bisnis yang berubah dan kompleks. Penelitian lainnya yang juga melihat
hubungan antara rasa berdaya psikologis dengan ketangkasan organisasi dilihat dari
perspektif karyawan yaitu penelitian oleh Azazi Asl pada tahun 2004 (dalam Shah, dkk.,
2017). Penelitian lainnya yang dilakukan oleh Fanodi, Okati dan Keikha (2014)
menemukan bahwa rasa berdaya psikologis dan ketangkasan karyawan memiliki
hubungan positif yang kuat dan organisasi perlu untuk melakukan program
pengembangan terkait rasa berdaya psikologis yang dimiliki oleh karyawannya.
Hasil dari studi 1 penelitian yang telah dilakukan peneliti, kemudian dijadikan
dasar untuk pelaksanaan intervensi di PT X. Selanjutnya, untuk menjawab pertanyaan
penelitian mengenai peningkatan rasa berdaya psikologis dan ketangkasan karyawan.
Intervensi yang dilakukan untuk meningkatkan rasa berdaya psikologis yang kemudian
diharapkan akan meningkatkan ketangkasan karyawan dilakukan dengan memberikan
kegiatan pelatihan yang berfokus pada rasa berdaya psikologis. Kegiatan pelatihan yang
dilakukan berfokus pada gaya interpretasi yang dimiliki oleh karyawan, yaitu merubah
persepsi yang dimiliki karyawan menjadi lebih positif terhadap dirinya dan juga
pekerjaannya. Pemberian intervensi terhadap rasa berdaya psikologis untuk diharapkan
dapat meningkatkan ketangkasan karyawan sejalan dengan penelitian dari Shah, dkk.
Universitas Indonesia
(2017) yang menyatakan bahwa organisasi perlu mengembangan rasa berdaya psikologis
dari karyawannya untuk dapat mengembangankan ketangkasan yang dimiliki oleh
mereka. Penelitian lainnya yang mengungkapkan hal yang serupa adalah penelitian yang
dilakukan oleh Fanodi, dkk. (2014) yang menyatakan bahwa dengan meningkatkan rasa
berdaya psikologis karyawan, hal tersebut dapat meningkatkan ketangkasan karyawan di
organisasi.
Hasil evaluasi reaksi terhadap kegiatan pelatihan yang dilakukan didapatkan
gambaran bahwa karyawan yang berpartisipasi menjadi peserta pelatihan cukup puas
dengan kegiatan pelatihan yang dilakukan. Hal tersebut dilihat dari penilaian yang
diberikan memiliki nilai rata-rata lebih dari 4 dari nilai maksimal 6 poin. Selanjutnya
terkait dengan evaluasi pembelajaran yang didapatkan dari kegiatan pelatihan yang telah
dilakukan oleh peserta pelatihan, didapatkan hasil bahwa karyawan yang menjadi peserta
pelatihan menampilkan peningkatan pemahaman dan pengetahuan berkaitan dengan
materi yang disampaikan dalam kegiatan pelatihan saat diukur kembali setelah kegiatan
pelatihan selesai dilakukan.
Peneliti selanjutnya melakukan pengukuran kembali terkait perubahan skor rasa
berdaya psikologis dan ketangkasan karyawan sesudah kegiatan pelatihan dilakukan.
Pengukuran kembali dilakukan berjeda 1,5 bulan dari pemberian kegiatan pelatihan
dengan harapan karyawan telah dapat mengaplikasikan pembelajaran yang didapatkan
dalam kegiatan pelatihan dalam pekerjaannya. Hasil menunjukkan bahwa tidak terdapat
peningkatan skor yang signfikan pada rasa berdaya psikologis karyawan. Hal ini berbeda
dengan temuan terkait perbedaan skor pada ketangkasan karyawan, yaitu terdapat
peningkatan skor yang signifikan pada ketangkasan karyawan yang telah mengikuti
kegiatan pelatihan.
Peningkatan skor yang tidak signifikan salah satunya dapat disebabkan karena
kegiatan pelatihan sebagai bentuk intervensi yang diberikan masih hanya sampai pada
tahapan merubah persepsi dari karyawan bahwa rasa berdaya psikologis penting untuk
dimilikinya dalam bekerja, belum sampai penerapan rasa berdaya psikologis dalam
konteks pekerjaannya. Lebih lanjut, belum adanya peran dari perusahaan atau atasan
dalam memberikan kesempatan bagi karyawan untuk merasa bahwa dirinya memiliki
keleluasaan dalam bekerja. Hal ini sejalan dengan penelitian dari Estanesti (2015) yang
menyebutkan bahwa dukungan dari atasan dan juga jajaran eksekutif memiliki peranan
Universitas Indonesia
yang penting bagi pengembangan rasa berdaya psikologis karyawan. Saat jajaran
eksekutif memberikan perhatian khusus pada pengembangan rasa berdaya psikologis
karyawan, hal ini kemudian dapat meningkatkan ketangkasan yang dimiliki oleh
organisasi. Berkaitan dengan kegiatan QC, perusahaan juga belum melakukan
internalisasi nilai mengenai pentingnya pelaksanaan kegiatan QC bagi pekerjaan
karyawan. Saat karyawan sudah memahami pentingnya melakukan kegiatan QC dan
dampak yang dirasakannya dalam menjalankan pekerjaannya menjadi lebih baik,
diharapkan maka karyawan dapat lebih memaknai dan turut terlibat aktif dalam kegiatan
QC.
Hal ini sejalan dengan penelitian yang telah dilakukan oleh Muduli (2016) yang
juga mengungkapkan bahwa peran atasan untuk dapat mengimplementasikan
organizational practices (kerjasama tim, sistem imbalan, keterlibatan karyawan,
pelatihan, dan sistem informasi) secara efektif dan efisien dapat membuat karyawan
menjadi lebih proaktif dalam menghadapi lingkungan bisnis yang tidak menentu, ambigu
dan kompleks. Saat organizational practices telah diimplementasikan dengan baik, maka
diharapkan rasa berdaya psikologis dari karyawan juga dapat meningkat yang kemudian
diharapkan dapat meningkatkan ketangkasan karyawan. Mangundjaya (2019)
mengemukakan bahwa atasan memiliki peranan yang penting dalam membangun rasa
berdaya psikologis bagi karyawannya. Penelitian tersebut merekomendasikan bagi para
atasan untuk mengembangkan kegiatan seperti pelatihan, coaching, mentoring dan juga
konseling untuk dapat membangun rasa berdaya psikologis pada karyawannya. Atasan
juga memiliki peranan untuk dapat menciptakan kondisi dimana dapat membuat
karyawannya percaya dan dapat memiliki kesempatan untuk mengembangkan dirinya.
Hal tersebut menjadikan atasan membutuhkan pengembangan terkait kemampuan
interpersonalnya untuk dapat mempersuasi, meraih dan mempertahankan iklim
psikologis yang sesuai bagi lingkungan kerjanya.
Penelitian yang dilakukan Estanesti (2015) mengungkapkan bahwa karakteristik
organisasi dan juga karyawannya memiliki peranan penting dalam menerapkan
pengembangan rasa berdaya psikologis. Sehingga perusahaan diharapkan dapat
menciptakan situasi yang dapat mendukung terciptanya rasa berdaya psikologis pada
karyawan. Hal ini juga yang mungkin menjadi salah satu faktor yang menjadikan rasa
berdaya psikologis pada karyawan belum meningkat secara signifikan. Pada saat ini peran
Universitas Indonesia
5.3 Saran
5.3.1 Saran Metodologis
Berdasarkan hasil penelitian, terdapat beberapa saran metodologis yang dapat
peneliti ajukan sebagai bahan penelitian selanjutnya, antara lain:
a. Penelitian ini melihat hubungan rasa berdaya psikologis dan perilaku proaktif
(individual) dalam meningkatkan ketangkasan karyawan. Penelitian selanjutnya
dapat melihat hubungan antara peran atasan (pemberian umpan balik,
pembimbingan dalam melakukan pekerjaan) dengan ketangkasan karyawan,
sehingga dapat dilihat pengaruh dari berbagai perspektif.
b. Melakukan penilaian evaluasi yang jelas dan konkret terhadap hasil pengerjaan
lembar kerja. Hasil dari lembar kerja dapat dijadikan masukan bagi atasan untuk
dapat melakukan pengembangan sesuai dengan kebutuhan karyawan.
5.3.2 Saran Praktis
a. Program intervensi lanjutan yang dapat dilakukan oleh perusahaan untuk dapat
meningkatkan rasa berdaya psikologis karyawan antara lain dengan cara
memberikan coaching dan feedback dari atasan kepada bawahannya. Hal ini dapat
membantu karyawan untuk memiliki persepsi yang baik terhadap pekerjaan dan
lingkungan tempatnya bekerja.
b. Kegiatan pelatihan terkait coaching bagi atasan dapat diberikan untuk dapat
memberikan pemahaman bagi atasan mengenai pentingnya membina bawahannya
yang diharapkan dapat meningkatkan rasa berdaya psikologis karyawan dan juga
keterlibatan karyawan secara aktif terhadap pencapaian target di tim kerjanya.
c. Pelaksanaan evaluasi pelatihan dilakukan dalam periode waktu berkala, misalnya
30 hari, 60 hari, 90 hari dan atau 6 bulan sejak pelaksanaan pelatihan untuk
melihat adanya perubahan skor dari variabel yang diteliti. Hal ini dilakukan
sejalan dengan memberikan evaluasi terkait action plan yang akan dilakukan oleh
karyawan dan dibarengi dengan kegiatan coaching dari atasan.
Universitas Indonesia
Universitas Indonesia
DAFTAR PUSTAKA
[Link]
1.733-unit
Alavi, S., Abd. Wahab, D., Muhamad, N., & Arbab Shirani, B. (2014). Organic structure
and organisational learning as the main antecedents of workforce agility.
International Journal of Production Research, 52(21), 6273-6295.
Asari, M., Sohrabi, R., & Reshadi, M. (2014). A Theoretical Model of Workforce Agility
Based on the Theory of Planned Behavior. In The 3th International Conference on
Behavioral Science (pp. 72-78).
Breu, K., Hemingway, C. J., Strathern, M., & Bridger, D. (2002). Workforce agility: the
new employee strategy for the knowledge economy. Journal of Information
technology, 17(1), 21-31.
Cummings, T. G., & Worley, C. G. (2015). Organization Development & Change (10th
edition). Stanford: Cengage Learning.
Drake, A. R., Wong, J., & Salter, S. B. (2007). Empowerment, motivation, and
performance: Examining the impact of feedback and incentives on non-management
employees. Behavioral research in accounting, 19(1), 71-89.
Dyer, L., & Shafer, R. A. (2003). Dynamic organizations: Achieving marketplace and
organizational agility with people. CAHRS Working Paper Series, 27.
Ertürk, A. (2012). Linking psychological empowerment to innovation capability:
Investigating the moderating effect of supervisory trust. International Journal of
Business and Social Science, 3(14).
Estanesti, S. (2015). The Survey of the Relationship between Employee's Empowerment
with Organizations Agility. International Journal of Academic Research in Business
and Social Sciences, 5(8), 79-89.
Fanodi, M., Okati, H., & Keikha, A. (2014). The Role of Psychological Empowerment
on Organizational Agility at Zabol University of Medical Sciences. World Journal
of Environmental Biosciences, 6, 60-65.
Gong, Y., Huang, J. C., & Farh, J. L. (2009). Employee learning orientation,
transformational leadership, and employee creativity: The mediating role of
employee creative self-efficacy. Academy of management Journal, 52(4), 765-778.
Gravetter, F. J., & Forzano, L. A. B. (2012). Research Methods for the Behavioral
Sciences (4th edition). belmont: Wadsworth Cengage Learning.
Gravetter, F. J., & Wallnau, L. B. (2007). Statistics for the Behavioral Sciences. Belmont,
CA: Thomson Learning.
Hopp, W. J., & Van Oyen, M. P. (2004). Agile workforce evaluation: a framework for
cross-training and coordination. Iie Transactions, 36(10), 919-940.
Hosseinpour, M., Moghadasi, M., & Gilavand, A. (2015). The Effect of Psychological
Empowerment Training on Work Adjustment and Vitality of Nurses in Apadana
Hospital in Ahvaz. Journal of Academic and Applied Studies, 5(7), 25-38.
Kaplan, R. M., & Saccuzzo, D. P. (2009). Psychological testing: Principles, Applications,
and Issues (7th edition). USA: Wadsworth.
Kathuria, R., & Partovi, F. Y. (1999). Work force management practices for
manufacturing flexibility. Journal of Operations Management, 18(1), 21-39.
Universitas Indonesia
LAMPIRAN
Universitas Indonesia
(Lanjutan)
Namun, pada tahun 2006, X Ltd. Jepang mengeluarkan kebijakan bahwa PT X
diharuskan menjadi perusahaan private. Hal tersebut diiringi dengan konsolidasi
kepemilikan saham pada perusahaan-perusahaan yang berada dalam X grup. Kemudian,
PT X ditunjuk sebagai penanggung jawab atas tata kelola grup tersebut. Dalam rangka
memperkuat kapasitas produksi, PT X membangun pabrik fabrikasi untuk unit berukuran
besar di daerah Cibitung yang bertujuan untuk memproduksi komponen ekskavator besar
dengan seri PC3000-PC4000 serta memperluas pabrik untuk produksi HD465, HD785,
PC1250 dan PC2000.
Tahun berlalu sampai pada 2014 dimana komoditas tambang dunia menurun.
Namun, PT X tetap bergerak maju dengan memberikan perhatian pada pelanggan di
sektor infrastruktur, pertanian, dan kehutanan. Semenjak tahun fiskal 2014, PT X juga
telah menerapkan aktifitas TQM (Total Quality Management) secara menyeluruh dalam
setiap kegiatan kerja sehari-harinya. Pada tanggal 2 Oktober 2018, PT X diumumkan
berhasil melaksanakan program TQM dan menjadi perusahaan pertama di Indonesia yang
mendapatkan penghargaan tertinggi yaitu Deming Prize. Penghargaan ini diberikan
kepada PT X secara resmi pada tanggal 14 November 2018 di Keidanren Kaikan, Tokyo,
Jepang. Penghargaan Deming Prize diberikan kepada perusahaan yang dalam penyusunan
tujuan dan strategi bisnisnya selalu berorientasi pada pelanggan dan menerapkan TQM
untuk mencapainya.
Hal yang diunggulkan dari PT X sebagai penerima penghargaan Deming dari
JUSE adalah pengembangan bisnis aftermarket pada parts dan komponen
remanufacturing. Selain itu, PT X juga telah melakukan perubahan bisnis dengan
membuat sistem produksinya lebih fleksibel, sehingga mampu membangun struktur
operasional yang mampu memenuhi perubahan permintaan tanpa menambah inventory.
Sebagai hasilnya, PT X telah memenuhi target market share, mengurangi inventory,
mengurangi angka claim hingga 50% dan berhasil meningkatkan kapabilitas para
karyawannya, sehingga mampu menunjukkan kemampuan perusahaan untuk bisa
mengerti kebutuhan pelanggan dan mengatasi perubahan.
Pencapaian ini memperkuat komitmen PT X dan X Group, beserta PT U sebagai
distributor, juga para pemasok sebagai mitra bisnis, yang selalu mengedepankan
kepuasan pelanggan dan mengokohkan posisi PT X sebagai market leader alat berat di
(Lanjutan)
Indonesia. Kini, PT X menjadi mitra terpercaya untuk setiap pengembangan di bidang
pertambangan, kehutanan, perkebunan dan kontruksi bangunan di Indonesia.
3.2 Visi, Misi dan Value Perusahaan
3.2.1 Visi Perusahaan
“To become indispensable construction equipment and machinery company
which is valuable for the nation and its stakeholder”.
3.2.2 Misi Perusahaan
a. Create best value together which customer.
b. Contribute to the nation development.
c. Created highly motivated and capable employee.
3.2.3 Nilai-nilai Perusahaan
Nilai yang dianut oleh PT X termaksud dalam X-Way, dimana cara berfikir,
tanggung jawab, nilai serta budaya para pendahulu harus diteruskan secara
berkesinambungan pada semua karyawan PT X. X-Way ini terdiri dari tiga pilar, yaitu:
a. Memperkuat Tata Kelola Perusahaan (Good Corporate Governance)
Inti dari organisasi adalah para petinggi, oleh karena itu manajemen puncak
merupakan pilar yang sangat penting dalam hal memperbaiki mutu dan
kehandalan dari manajemen. Para manajemen puncak dari setiap perusahaan dan
departemen, diharapkan memahami secara utuh, menjalankan isi dari bagian X-
Way dan menjadi role model bagi setiap karyawan.
b. Memperkuat Daya Saing Monozokuri
Monozukuri secara harfiah artinya adalah proses produksi. Monozukuri bukan
hanya berfokus pada kegiatan yang ada di pabrik namun juga aktivitas kerja
kelompok yang dilakukan berdasarkan sistem nilai berantai yang tidak hanya
terdiri dari divisi internal tetapi juga distributor dan mitra bisnis lainnya. Terdapat
tujuh langkah yang dilakukan oleh PT X dalam aktivitas tersebut, yaitu:
i. Komitmen pada mutu dan kehandalan
ii. Orientasi pada pelanggan
iii. Mendefinisikan akar permasalahan
iv. Falsafah tempat kerja (Genba)
v. Penerapan kebijakan (Hoshintenkai)
(Lanjutan)
vi. Bekerja sama dengan mitra bisnis
vii. Pengembangan sumber daya manusia
c. Brand Management
Pada nilai ini, PT X berfokus pada kepuasan pelanggan. Untuk mendukung PT X
mencapai brand management yang baik, maka PT X memperhatikan tiga aspek,
yaitu:
i. Perspektif pelanggan
ii. Memahami pelanggan
iii. Membantu pelanggan dengan seluruh kemampuan
(Lanjutan)
Dengan hormat,
Perkenalkan saya adalah mahasiswa Magister Profesi Psikologi Industri dan
Organisasi Universitas Indonesia yang sedang melakukan penelitian di PT X. Tujuan
penelitian ini adalah untuk memberikan gambaran tentang hal-hal apa saja yang perlu
dipertahankan dan yang masih perlu ditingkatkan di perusahaan Bapak/Ibu. Untuk itu,
saya membutuhkan sejumlah informasi mengenai pandangan atau pendapat dari
Bapak/Ibu sekalian terhadap perusahaan.
Pada kesempatan ini saya mohon kesediaan Bapak/Ibu meluangkan waktu untuk
mengisi kuesioner berikut ini. Pengisian kuesioner ini akan membutuhkan waktu sekitar
7 menit. Perlu saya sampaikan, bahwa semua data yang diperoleh akan saya jaga
kerahasiannya dan tidak akan mempengaruhi pekerjaan Bapak/Ibu. Kuesioner ini
bukanlah tes, tidak ada jawaban yang benar dan salah. Saya mengharapkan jawaban
yang sejujurnya dari Bapak/Ibu mengenai perusahaan saat ini.
Kuesioner ini terdiri dari tiga bagian. Pada setiap bagian akan memiliki petunjuk
cara pengerjaan masing-masing. Sebelum memberikan jawaban, saya mohon Bapak/Ibu
membaca dengan teliti setiap petunjuk yang diberikan. Agar jawaban Bapak/Ibu dapat
diolah, hendaknya Bapak/Ibu menjawab setiap pertanyaan dan pernyataan yang ada.
Sebelum mengembalikan kuesioner ini, mohon diperiksa kembali agar jangan ada
bagian yang terlewati.
Atas bantuan dan kerja sama Bapak/Ibu, saya ucapkan terimakasih
Ade Purnamasari
(Lanjutan)
Lembar Persetujuan
Saya telah membaca bagian pengantar dan secara sadar menyetujui untuk
berpartisipasi dalam penelitian ini. Saya juga telah mengetahui bahwa keterlibatan dalam
penelitian ini tanpa paksaan. Saya dapat sewaktu-waktu mengundurkan diri. Semua data
yang saya berikan pada kuesioner ini adalah benar dan dapat dipertanggungjawabkan.
___________ , 2019
( )
(Lanjutan)
PETUNJUK PENGISIAN
Kuesioner ini terdiri dari 3 (tiga) bagian. Setiap bagiannya Anda akan dihadapi dengan
sejumlah pernyataan terkait apa yang Anda rasakan mengenai pekerjaan Anda sehari-
hari. Bacalah setiap pernyataan dengan teliti. Pada bagian A dan B, Anda diminta untuk
memberikan tanda silang (X) pada salah satu pilihan jawaban yang paling
menggambarkan kondisi Anda dengan ketentuan sebagai berikut:
Jika Anda setuju dengan pernyataan di bawah ini maka beri tanda silang (X) pada kolom
“Setuju” seperti contoh di bawah ini:
Artinya, Anda setuju bahwa Perubahan yang terjadi membuat saya menjadi terus ingin
belajar.
Jika Anda ingin mengganti jawaban Anda, coret jawaban yang Anda anggap salah (X)
kemudian berikan tanda silang (X) pada jawaban yang sesuai.
Contoh:
No Pernyataan STS TS ATS AS S SS
1 Perubahan yang terjadi membuat
X X
saya menjaditerus ingin belajar
Artinya, Anda sangat setuju bahwa Perubahan yang terjadi membuat saya menjadi terus
ingin belajar.
(Lanjutan)
BAGIAN A
BAGIAN B
Item-Total Statistics
Scale Corrected Cronbach's
Scale Mean if
Variance if Item-Total Alpha if Item
Item Deleted
Item Deleted Correlation Deleted
WA1 173.02 262.27 0.44 0.889
WA2 173.28 253.951 0.631 0.886
WA3 173.05 260.077 0.378 0.889
WA4 172.95 258.141 0.421 0.889
WA5 173.13 260.365 0.325 0.89
WA6 172.53 263.078 0.368 0.89
WA7 173.58 252.978 0.422 0.889
WA8 173.84 263.309 0.145 0.895
WA9 173.67 267.716 0.063 0.895
WA10 173.64 258.742 0.366 0.889
WA11 173.34 259.88 0.329 0.89
WA12 172.86 263.678 0.278 0.891
WA13 173.34 258.769 0.374 0.889
WA14 172.94 260.726 0.419 0.889
WA15 173.14 254.726 0.462 0.888
WA16 173.08 259.787 0.454 0.888
WA17 173.38 252.778 0.546 0.886
WA18 173.36 254.647 0.59 0.886
WA19 173.17 254.145 0.607 0.886
WA20 173.27 254.674 0.46 0.888
WA21 173.23 257.579 0.448 0.888
WA22 173.83 251.002 0.564 0.886
WA23 173.42 255.486 0.463 0.888
WA24 173.02 258.174 0.49 0.888
(Lanjutan)
WA25 173.59 254.689 0.51 0.887
WA26 173.7 253.958 0.57 0.886
WA27 173.42 253.803 0.491 0.887
WA28 173.55 258.601 0.374 0.889
WA29 173.44 251.107 0.533 0.887
WA30 173.88 256.079 0.484 0.888
WA31 174.78 270.936 -0.035 0.896
WA32 174.11 265.21 0.107 0.895
WA33 173.98 258.492 0.294 0.891
WA34 173.33 251.399 0.531 0.887
WA35 173.44 250.504 0.68 0.885
WA36 173.56 252.885 0.594 0.886
WA37 174.34 258.674 0.27 0.892
WA38 172.97 259.999 0.551 0.888
WA39 173.84 263.086 0.148 0.895
Reliability Statistics
Cronbach's
Alpha N of Items
.883 18
Item-Total Statistics
Scale Corrected Cronbach's
Scale Mean if
Variance if Item-Total Alpha if Item
Item Deleted
Item Deleted Correlation Deleted
WA1 78.97 82.824 .435 .880
WA2 79.23 78.024 .636 .873
WA3 79.00 80.921 .413 .880
WA4 78.91 80.689 .396 .881
WA6 78.48 82.508 .432 .880
WA7 79.53 78.063 .380 .884
WA17 79.33 77.811 .515 .877
WA18 79.31 78.853 .560 .875
WA19 79.13 77.857 .629 .873
WA22 79.78 76.269 .566 .875
WA25 79.55 78.188 .522 .876
(Lanjutan)
WA26 79.66 78.070 .567 .875
WA29 79.39 76.623 .516 .877
WA30 79.83 79.256 .478 .878
WA34 79.28 76.396 .536 .876
WA35 79.39 76.178 .678 .871
WA36 79.52 78.063 .552 .875
WA38 78.92 81.629 .539 .877
2. Hasil Uji Reliabilitas dan Validitas Alat Ukur Rasa Berdaya Psikologis
Item-Total Statistics
Scale Corrected Cronbach's
Scale Mean if
Variance if Item-Total Alpha if Item
Item Deleted
Item Deleted Correlation Deleted
PE1 70.88 88.556 0.535 0.913
PE2 70.83 89.256 0.436 0.915
PE3 71.23 87.166 0.451 0.914
PE4 71.19 88.917 0.394 0.916
PE5 71.16 83.277 0.6 0.91
PE6 71.05 83.156 0.689 0.908
PE7 71.25 82.952 0.649 0.909
PE8 70.92 87.311 0.567 0.912
PE9 71.59 80.118 0.649 0.909
PE10 71.41 83.102 0.538 0.913
PE11 71.41 82.086 0.547 0.913
PE12 71.16 85.182 0.684 0.909
PE13 71.36 79.059 0.797 0.904
PE14 71.66 77.404 0.793 0.904
PE15 72.03 74.348 0.745 0.907
PE16 71.59 78.531 0.749 0.905
2. Berdasarkan Usia
Valid Cumulative
Keterangan Frequency Percent
Percent Percent
Valid 16-24 tahun 14 9.09 9.09 9.09
25-44 tahun 89 57.79 57.79 66.88
45-65 tahun 51 33.11 33.11 100
Catatan N = 154
(Lanjutan)
4. Berdasarkan Jabatan
Valid Cumulative
Keterangan Frequency Percent
Percent Percent
Valid Junior staff 15 9.7 9.7 9.7
Staff 91 59.1 59.1 68.8
Foreman 26 16.9 16.9 85.7
Supervisor/Coordinator 19 12.3 12.3 98
Manager 3 1.9 1.9 100
Catatan N = 154
Studi 2: Intervensi
2. Berdasarkan Usia
Valid Cumulative
Keterangan Frequency Percent
Percent Percent
Valid 16-24 tahun 2 14.3 14.3 14.3
25-44 tahun 8 57.1 57.1 71.4
45-65 tahun 4 28.6 28.6 100
Catatan N = 14
(Lanjutan)
3. Berdasarkan Tingkat Pendidikan
Valid Cumulative
Keterangan Frequency Percent
Percent Percent
Valid SMA/Sederajat 5 35.7 35.7 35.7
D3 4 28.6 28.6 64.3
S1 5 35.7 35.7 100
Catatan N = 14
4. Berdasarkan Jabatan
Valid Cumulative
Keterangan Frequency Percent
Percent Percent
Valid Junior staff 4 28.6 28.6 28.6
Staff 5 35.7 35.7 64.3
Foreman 4 28.6 28.6 92.9
Supervisor/Coordinator 1 7.1 7.1 100
Catatan N = 14
Descriptive Statistics
Std.
N Minimum Maximum Mean Deviation
TotalWA 154 59 108 81.08 8.562
TotalPE 154 42 96 72.02 9.309
Valid N (listwise) 154
Studi 2: Intervensi
Descriptive Statistics
Std.
N Minimum Maximum Mean Deviation
TotalWA 14 65 79 72.79 4.154
TotalPE 14 47 71 61.43 8.698
Valid N (listwise) 14
Descriptive Statistics
Std.
N Minimum Maximum Mean Deviation
TotalWA 14 65 86 76.50 5.259
TotalPE 14 46 79 67.36 9.128
Valid N (listwise) 14
Correlations
TotalWA TotalPE
TotalWA Pearson Correlation 1 .574**
Sig. (2-tailed) .000
N 154 154
TotalPE Pearson Correlation .574** 1
Sig. (2-tailed) .000
N 154 154
**. Correlation is significant at the 0.05 level (2-tailed).
Lampiran 9 Hasil Uji Beda Skor Sebelum dan Sesudah Evaluasi Pembelajaran
Ranks
Mean Sum of
N Rank Ranks
Post – Pre Negative 0a .00 .00
Level 2 Ranks
Positive Ranks 12b 6.50 78.00
Ties 2c
Total 14
a. Post < Pre
b. Post > Pre
c. Post = Pre
Test Statisticsa
Post – Pre Level 2
Z -3.078b
Asymp. Sig. (2-tailed) .002
a. Wilcoxon Signed Ranks Test
b. Based on negative ranks.
Descriptive Statistics
Std.
N Mean Deviation Minimum Maximum
Pre_PE 14 61.43 8.698 47 71
Post_PE 14 66.71 9.244 46 79
Ranks
Mean Sum of
N Rank Ranks
Post_PE - Negative 3a 7.83 23.50
Pre_PE Ranks
Positive Ranks 11b 7.41 81.50
Ties 0c
Total 14
a. Post_PE < Pre_PE
b. Post_PE > Pre_PE
c. Post_PE = Pre_PE
Test Statisticsa
Post_PE - Pre_PE
Z -1.822b
Asymp. Sig. (2-tailed) .068
a. Wilcoxon Signed Ranks Test
b. Based on negative ranks.
Descriptive Statistics
Std.
N Mean Deviation Minimum Maximum
Pre_WA 14 72.79 4.154 65 79
Post_WA 14 75.71 5.511 65 86
Ranks
Mean Sum of
N Rank Ranks
Post_WA - Negative 2a 5.00 10.00
Pre_WA Ranks
Positive Ranks 11b 7.36 81.00
Ties 1c
Total 14
a. Post_WA < Pre_WA
b. Post_WA > Pre_WA
c. Post_WA = Pre_WA
Test Statisticsa
Post_WA - Pre_WA
Z -2.493b
Asymp. Sig. (2-tailed) .013
a. Wilcoxon Signed Ranks Test
Pendahuluan
Latar Belakang
Perusahaan pada saat ini dihadapkan pada kesiapannya untuk dapat bertahan dan
berkembang dalam lingkungan yang kompetitif, perubahan yang terus menerus dan tidak
dapat diprediksi dengan beraksi secara cepat dan efektif mengikuti tuntutan pasar dan
konsumen. Dalam menghadapi tantangan tersebut perusahaan membutuhkan karyawan
yang dapat tangkas dengan kondisi-kondisi tersebut. Karyawan yang tangkas dipercaya
dapat memberikan beragam manfaat seperti peningkatan kualitas produksi, pelayanan
konsumen yang lebih baik, peningkatan keinginan untuk belajar dari karyawan, dan
peningkatan produktivitas (Sherehiy et al., 2007).
Salah satu hal yang dapat mendukung peningkatan ketangkasan pada karyawan
adalah rasa berdaya psikologis sebagai motivasi intrinsik dan self-efficacy pada karyawan
yang dapat dapat memunculkan perilaku proaktif, adaptif dan resiliensi yang merupakan
atribut ketangkasan pada karyawan. Spreitzer (1995) menyebutkan rasa berdaya
psikologis terdiri dari empat faktor, yaitu rasa kebermaknaan karyawan terhadap
pekerjaannya (meaning), rasa keyakinan diri karyawan terhadap kemampuannya dalam
bekerja (competence), persepsi karyawan atas keleluasaan dalam memulai dan
melanjutkan proses pekerjaan (self-determination) dan keyakinan karyawan bahwa
pekerjaannya akan berpengaruh terhadap pencapaian tujuan
bagian/departemen/perusahaan secara keseluruhan.
Berdasarkan dari hasil penelitian yang telah dilakukan oleh peneliti bahwa rasa
berdaya psikologis yang dimiliki oleh karyawan di PT X memiliki pengaruh yang cukup
besar dalam meningkatkan ketangkasan yang dimiliki oleh karyawan. Berdasarkan hal
tersebut, untuk dapat membantu perusahaan dalam menciptakan persepsi karyawan
terhadap dirinya dan lingkungan pekerjaannya dalam melakukan aktivitas kerja, maka
peneliti mencoba untuk membuat suatu kegiatan rancangan pengembangan. Adapun
kegiatan pengembangan yang dipilih oleh peneliti adalah pemberian pelatihan mengenai
persepsi positif karyawan terhadap dirinya sendiri yang dapat mempengaruhi penilaian
dan sikap yang positif terhadap tugas yang dikerjakan. Dengan mengikuti pelatihan ini,
(Lanjutan)
peserta diharapkan dapat meningkatkan rasa berdaya psikologis yang dimilikinya yang
dapat berpengaruh terhadap peningkatan ketangkasan pada diri karyawan.
Tujuan Pelatihan
Tujuan Umum
Tujuan Khusus
Metode Pembelajaran
(Lanjutan)
Metode Penyampaian Materi Kegiatan
Kegiatan pelatihan ini dilaksanakan dengan menggunakan metode, yaitu:
Ceramah
Permainan
Audio-visual
Diskusi
Self-analysis
2. Proyektor 1 buah
3. LCD 1 buah
4. Microphone 3 buah
(Lanjutan)
Layout Pelaksanaan
Adapun layout pelaksanaan kegiatan yang diajukan peneliti dengan menyesuaikan
kondisi ruangan yang disediakan adalah sebagai berikut:
Papan Tulis
Pintu
Meja
Fasilitator
Fasilitator Flipchart
Co-fasilitator
Meja
Co-fasilitator
(Lanjutan)
Tolak Ukur Keberhasilan
Pelatihan ini dibagi ke dalam lima sesi, setiap sesi memiliki tujuan, aktivitas,
waktu dan materi berbeda yang akan disampaikan. Berikut ini penjelasan secara rinci
mengenai sesi dalam pelatihan:
SESI 1 – What is Agility
Tujuan : Peserta pelatihan memahami pentingnya peran karyawan yang tangkas
dalam pekerjaan.
Durasi : 45 menit.
Metode : Metode yang akan digunakan pada sesi ini adalah permainan dan
ceramah.
Peralatan : Laptop, proyektor, LCD, papan tulis/flipchart, mic, sound system
Prosedur :
Langkah I – Permainan “Torpedo”
1. Fasilitator membagi peserta menjadi tiga kelompok.
2. Setelah dibagi menjadi tiga kelompok, tiap kelompok diberi instruksi untuk memiliki
satu orang yang berperan sebagai ketua. Ketua bertugas untuk mengarahkan barisan
kelompoknya untuk menyerang barisan kelompok lainnya.
3. Fasilitator kemudian memberikan instruksi kepada tiap kelompok untuk membuat
barisan dengan posisi ketua berada paling belakang di ujung barisan. Tiap anggota
kelompok kemudian diinstruksikan untuk memegang pundak rekan di depannya dan
menutup mata, kecuali anggota kelompok yang berada paling depan di ujung barisan.
4. Fasilitator memberikan larangan bagi kelompok untuk berkomunikasi lisan, bentuk
komunikasi yang diperbolehkan hanya melalui tepukan di pundak anggota
kelompok.
(Lanjutan)
Satu tepukan di pundak kanan, berarti anggota paling depan bergerak ke arah
kanan.
Satu tepukan di pundak kiri, berarti anggota paling depan bergerak ke arah
kiri.
Satu tepukan di kedua pundak, berarti anggota paling depan meluncurkan
serangan ke kelompok lainnya.
5. Tiap kelompok lain terkena serangan, maka anggota kelompoknya akan dikurangi.
Jika leader yang terkena serangan, maka secara otomatis kelompok secara
keseluruhan akan kalah.
6. Kelompok pemenang adalah yang berhasil bertahan dari serangan hingga paling
akhir dengan jumlah anggota yang paling banyak.
7. Aktivitas selesai dan dilanjutkan pada aktivitas reflective observation. Pada aktivitas
reflective observation contoh pertanyaan yang ditanyakan adalah:
a. Coba ceritakan apa yang baru saja Anda lakukan?
b. Apa yang Anda rasakan selama pengerjaan tugas yang diberikan?
c. Faktor apa yang dapat membantu dan menghambat tercapainya tujuan
kelompok?
d. Hal apa yang dapat dipelajari dari kegiatan yang baru dilakukan?
Langkah II – Ceramah
Langkah berikutnya yang akan dilakukan adalah fasilitator memberikan pemahaman
terkait ketangkasan karyawan. Selain itu pemateri juga memberikan gambaran terkait
karakteristik karyawan yang tangkas dan juga peran penting dari karyawan yang tangkas
dalam mencapai tujuan departemen/perusahaan.
(Lanjutan)
SESI 1
10.25 – 10.55 30’ Games “Torpedo” Audio system
Peserta diminta membahas insight yang Laptop
10.55 – 11.00 5’ Peserta memahami konsep
diperoleh dari permainan. Proyektor
workforce agility dan
Fasilitator menyimpulkan dengan mengetahui peran penting dari Materi
“What is Agility”
menayangkan materi presentasi karyawan yang agile terhadap Spidol
11.00 – 11.10 10’ mengenai pengenalan workforce agility pencapaian tujuan perusahaan. Papan flipchart
dan penting peran karyawan agile dalam Kertas flipchart
mencapai tujuan perusahaan.
SESI 2
Peserta diminta untuk mengisi Audio system
worksheet yang diberikan. Laptop
11.10 – 11.25 15’ Fasilitator mengajak peserta Peserta memahami dimensi Proyektor
berdiskusi mengenai hasil pengisian meaning dan perannya dalam Video
worksheet. mencapai agility pada Materi
“Meaningfulness
at Work”
Fasilitator menyampaikan materi karyawan. Spidol
11.25 – 11.30 5’ mengenai dimensi meaning. Peserta memahami makna dari Papan flipchart
setiap pekerjaan yang biasa Kertas flipchart
Penayangan video terkait dilakukannya setiap hari. Lembar kerja “Refleksi
11.30 – 11.40 10’ “Meaningfulness at Work” dan Diri”
pembahasan singkat oleh fasilitator
(Lanjutan)
SESI 3
Peserta diminta berdiskusi untuk Audio system
11.40 – 11.55 15’ menjawab pertanyaan yang diajukan Peserta memahami dimensi Laptop
self-determination dan
terkait determinasi diri. Proyektor
perannya dalam mencapai
Fasilitator menyampaikan materi Materi
“Self- agility pada karyawan.
mengenai dimensi self-determination. Spidol
Determination” Peserta memahami peran
Papan flipchart
11.55 – 12.00 5’ determinasi diri dalam bekerja
Kertas flipchart
secara mandiri dan bebas dalam
menyelesaikan tugas.
(Lanjutan)
SESI 5
13.35 – 14.05 30’ Games “Chair” Peserta memahami dimensi Audio system
Peserta diminta membahas insight yang impact dan perannya dalam Laptop
14.05 – 14.15 10’
diperoleh dari permainan. mencapai agility pada Proyektor
Fasilitator menyampaikan materi karyawan. Materi
“My Impact” mengenai dimensi impact. Peserta memahami peran Spidol
14.15 – 14.20 5’
penting dari persepsi peserta Papan flipchart
terhadap pekerjaannya dalam Kertas flipchart
membuat peserta semakin agile
dalam pekerjaannya.
Fasilitator memberikan kesempatan Merangkum hasil pelatihan dari Audio system
kepada peserta untuk menyampaikan sesi awal hingga sesi akhir. Laptop
hal-hal yang telah dipelajari selama Proyektor
14.20 – 14.30 10’ Wrap up kegiatan pelatihan. Spidol
Peserta memberikan kesimpulan Papan flipchart
terkait kegiatan pelatihan dan materi Kertas flipchart
yang telah dilakukan.
Kuesioner: Mengetahui pengetahuan yang Lembar post test
Peserta mengisi lembar post-test. dimiliki peserta setelah Form evaluasi
Peserta mengisi lembar evaluasi mengikuti kegiatan pelatihan.
Post-test dan
14.30 – 14.50 20’ pelatihan. Mengetahui kesan dan pesan
evaluasi pelatihan
peserta mengenai keseluruhan
pelatihan.
(Lanjutan)
(Lanjutan)
Silakan Anda berikan pendapat secara terbuka mengenai pelaksanaan pelatihan yang
telah berlangsung hari ini. Hal ini sangat membantu kami dalam melakukan evaluasi
kegiatan ini untuk melakukan perbaikan pada kesempatan pelatihan berikutnya. Mohon
Anda berikan tanda silang (X) pada salah satu kolom yang sesuai dengan penilaian Anda,
dengan kriteria sebagai berikut:
(Lanjutan)
4. Materi yang diberikan merupakan hal
yang baru bagi saya.
5. Handout yang diberikan membantu saya
memahami isi materi.
6. Terdapat keseimbangan antara presentasi
materi dengan kegiatan simulasi
(permainan, diskusi kelompok, self-
analysis).
Bagian 3: Fasilitator
(Lanjutan)
Kritik dan Saran
______________________________________________________________________
______________________________________________________________________
______________________________________________________________________
______________________________________________________________________
____________________
LEMBAR SOAL
Nama :
NRP :
Tentukanlah jawaban yang benar dari persoalan di bawah ini dengan melingkari pilihan
jawaban yang Anda anggap benar.
No. Pernyataan
1. Rasa berdaya psikologis/psychological empowerment merupakan bentuk dari
______ yang dimiliki karyawan.
a. Motivasi intrinsik
b. Pemberdayaan dari atasan
c. Kepuasan karyawan
d. Komitmen organisasi
2. Di bawah ini merupakan aspek dari psychological empowerment, kecuali:
a. Competence
b. Self-confidence
c. Self-determination
d. Meaning
3. Berikut ini merupakan karakteristik dari karyawan yang agile dengan
pekerjaannya, kecuali:
a. Memiliki sikap positif dalam menghadapi perubahan, ide-ide baru dan
teknologi baru.
b. Memiliki inisiatif untuk melakukan kegiatan yang bertujuan untuk
menyelesaikan permasalahan.
c. Mau memahami rekan kerja dan memberikan bantuan saat rekannya
membutuhkannya tanpa diminta.
d. Mampu bekerja dengan dengan orang lain dengan latar belakang dan
pengalaman yang berbeda.
4. Rasa berdaya psikologis sebagai motivasi intrinsik dan self-efficacy dapat
memunculkan perilaku sebagai berikut, kecuali….
a. proaktif, adaptif dan resiliensi
b. proaktif, adaptif dan bermakna
c. bermakna, percaya diri, dan determinasi diri
d. resiliensi, percaya diri, dan bermakna
5. Keadaan dimana karyawan menilai bahwa tugas yang ia lakukan membawa
perubahan yang berarti adalah contoh dari…..
a. level determinasi yang baik
b. level impact yang baik
c. level kebermaknaan yang baik
d. level kepercayaan diri yang baik
(Lanjutan)
6. Keadaan dimana karyawan menilai bahwa tugas yang ia lakukan adalah hal yang
berarti bagi dirinya adalah contoh dari…..
a. level determinasi yang baik
b. level impact yang baik
c. level kebermaknaan yang baik
d. level kepercayaan diri yang baik
7. Faktor yang dapat mempengaruhi karyawan untuk merasa memiliki makna
dalam pekerjaannya adalah…
a. Reward finansial
b. Punishment
c. Nilai individu
d. Kebebasan dalam bekerja
8. Budi merasa yakin dengan kemampuannya dalam mengerjakan pekerjaannya,
hal ini dikarenakan ia memiliki pengetahuan yang cukup terkait pekerjaan yang
dilakukan. Hal tersebut mrncerminkan aspek dalam psychological empowerment
yaitu….
a. Harga diri
b. Keyakinan diri
c. Kepercayaan diri
d. Determinasi diri
9. Akibat yang muncul ketika individu merasa pekerjaan yang dilakukannya tidak
memiliki dampak pada pencapaian target tim kerja atau departemennya yang
dapat terjadi adalah….
a. Merasa demotivasi
b. Merasa tidak dianggap
c. Merasa tidak berharga
d. Semua benar
10. Adrian merasa bahwa dalam bekerja ia memiliki keleluasaan untuk menentukan
tugas mana yang dapat dikerjakannya terlebih dahulu sesuai dengan tenggat
waktu yang diberikan oleh atasannya. Hal tersebut mrncerminkan aspek dalam
psychological empowerment yaitu….
e. Harga diri
f. Keyakinan diri
g. Kepercayaan diri
h. Determinasi diri