Pembuatan Tablet Parasetamol Granulasi Basah
Pembuatan Tablet Parasetamol Granulasi Basah
1. Soal esai
Metode granulasi basah untuk zat aktif yang tahan terhadap panas/ lembab sedangkan metode
granulasi kering untuk zat aktif yang tidak tahan terhadap pemanasan/ lembab serta yang
tidak akan berubah bentuk kristalnya
2. Soal esai
Jelaskan Kenapa BAF ada yang harus dibuat granulasi dahulu untuk dibuat sediaan solid ?
tidak langsung di cetak
Pembuatan sediaan solid harus dibuat granulasi terlebih dahulu bertujuan untuk dapat
meningkatkan sifat alir dan atau kemampuan kempa massa cetak tablet
LAPORAN PRAKTIKUM
FORMULASI DAN EVALUASI SEDIAAN SOLID
“PEMBUATAN TABLET PARASETAMOL DENGAN METODE
GRANULASI BASAH”
Disusun Oleh :
Struktur kimia
Struktur kimia
4) Pengisi (Laktosa)
Struktur molekul
5. FARMAKOKINETIK PARASETAMOL
Absorbsi parasetamol cepat dan sempurna melalui saluran cerna. Konsentrasi tertinggi
dalam plasma dicapai dalam waktu 0.5 jam dan t ½ plasma antara 1-3 jam. Sebesar 25%
parasetamol terikat protein plasma, dan diekskresikan melalui ginjal (Katzung, 2011).
Adanya makanan dalam lambung dapat memperlambat penyerapan sediaan parasetamol
sehingga absorbsi menjadi lambat (Aberg et al, 2009).
6. FARMAKODINAMIK
Paracetamol merupakan derivat anilen yang memiliki efek analgesic dan antiperitik,
terapi tidak memiliki efek anti inflamasi. Paracetamol adalah suatu senyawa rasemik yang
memiliki dua enantiomer, yang bekerja sinergestik untuk memberikan efek analgesic. Dari
kedua enantiomer, (+) memiliki aktivitas lebih tinggi untuk reseptor opiod M dan juga
merupakan inhibitor kuat dari pengambilan kembali 5-HT (serotonin). Enantiomer (-)
merupakan inhibitor kuat pengambilan kembali noradeline dan meningkatkan pelepasan
neurotransmitter ini dengan cara aktivitas reseptor.
7. Spesialit Obat
7.1 Paten
8. Formulasi Umum
Sedian Tablet
Zat Aktif : Paracetamol
Zat Tambahan
Pengisi : Laktosa
Pengikat : pvp
Penghancur : Amprotab
9. Formulasi Khusus
Zat Aktif : Paracetamol
Zat Tambahan
Pengisi : Laktosa
Pengikat : pvp
Penghancur : Amprotab
Pewarna ; warna hijau
Pemilihan zat aktif (parasetamol) sebagai model bentuk sediaan padat karena obat ini
banyak diminati oleh masyarakat, selain harganya murah, paracetamol juga mampu
mengurangi atau menghilangkan demam tanpa mempengaruhi SSP (Susunan Saraf Pusat) atau
menurunkan kesadaran dan juga tidak menimbulkan ketagihan.
Zat aktif yang digunakan untuk diformulasikan sebagai bentuk sediaan tablet adalah
paracetamol. Parasetamol adalah salah satu obat golongan analgetik dan antipiretik. Pemilihan
zat aktif (parasetamol) sebagai model bentuk sediaan padat karena obat ini banyak diminati
oleh masyarakat, selain harganya murah, paracetamol juga mampu mengurangi atau
menghilangkan demam tanpa mempengaruhi SSP (Susunan Saraf Pusat) atau menurunkan
kesadaran dan juga tidak menimbulkan ketagihan. Parasetamol dipilih sebagai model karena
parasetamol adalah salah satu obat analgetik-antipiretik yang luas digunakan dan parasetamol
merupakan bahan yang agak sukar larut dalam air, yaitu larut dalam 70 bagian air.
Lakukan pencetakan tablet sampai semua granul habis dan lakukan uji
kekerasan tablet untuk memperoleh massa yang sesuai
A. Kadar Air
● Alat : Moisture Analyzer
● Cara :
a. Timbang sebanyak 2gr granul
b. Masukkan dalam lemari pengering selama 1 menit
● Persyaratan : 2-4 %
● Perhitungan
𝑊𝑜 − 𝑊1
= × 100%
𝑊𝑜
Keterangan:
Wo = Bobot granul awal
W1 = Bobot setelah pengeringan
B. Sudut Istirahat
● Alat : Corong alat uji waktu alir
● Caranya :
d. Ukur diameter dan tinggi puncak dari tumpukan granul menggunakan jangka sorong
● Perhitungan :
ℎ
𝛼=
𝑟
Keterangan
h = Tinggi
r = Jari-jari
● Persyaratan : nilai α = arc tag h/r, dimana:
C. Laju Alir
● Alat : corong alat uji waktu alir
● Caranya :
a. Timbang seksama 50 gr granul tempatkan pada corong alat
b. Uji waktu alir dalam keadaan tertutup
c. Buka penutupnya biarkan granul mengalir
d. Catat waktu (gunakan stopwatch)
● Persyaratan : 100 gram granul waktu alirnya tidak lebih dari 10 detik (>10 g/detik).
D. Kompresibilitas
● Caranya :
a. Timbang 100 gr granul masukkan ke dalam gelas ukur dan dicatat volumenya,
b. kemudian granul dimampatkan sebanyak 500 kali ketukan dengan alat uji, catat
volume uji sebelum dimampatkan (Vo).
c. volume setelah dimampatkan dengan pengetukan 500 kali (V).
● Perhitungan :
𝑉𝑜 − 𝑉500
𝐼= × 100%
𝑉𝑜
Keterangan :
I = Indeks kompresibilitas (%)
Vo = Volume granul sebelum dimampatkan (mL);
V500 = Volume granul setelah dimampatkan sebanyak 500 kali ketuk (mL).
1. Kadar Air
No. Bobot Sampel (g) Suhu Waktu (menit) Alat Hasil Syarat
2. Uji Kompresibilitas
Alat: Tapped Density
4. Laju Alir
1 7 6-10
2 5
3 7
2. RANCANGAN REGISTRASI
a. Regulasi Sediaan
Parasetamol termasuk ke dalam golongan Obat Bebas
b. Aturan Penandaan
Aturan penandaan yaitu Logo berbentuk lingkaran berwarna hijau dengan tepi berwarna
hitam
c. Nomor Registrasi
GBL0112309910A1
17. Pembahasan
Percobaan evaluasi granul ini dilakukan untuk mengetahui bagaimana pengaruh dari
ukuran partikel terhadap fluiditas granul. Evaluasi granul ini sangat penting dilakukan sebagai
parameter preformulasi pada sediaan padat agar sediaan yang dihasilkan dari granul tersebut
stabil. Granul yang digunakan pada percobaan evaluasi ini adalah granul yang telah dibuat
sebelumnya dengan metode granulasi basah dan zat aktif yang digunakan adalah parasetamol
dan dikeringkan selama 1 hari. Sebanyak 326,1 gram granul ini dibuat dengan formulasi untuk
pembuatan tablet parasetamol menghasilkan 334 tablet. Evaluasi granul yang dilakukan pada
percobaan ini yaitu uji sifat alir granul dengan pengamatan sudut diam atau sudut istirahat serta
kecepatan alir granul dan uji pengepakan yaitu untuk mengetahui volume bulk. Evaluasi granul
yang pertama dilakukan adalah uji pengetapan yaitu uji yang dilakukan untuk melihat
bagaimana granul mengisi rongga atau ruang kosong saat dilakukan pencetakan tablet. Granul
yang sudah ada ditimbang dengan hasil timbangan sebanyak gram dan dimasukan kedalam
gelas ukur, kemudian ukur berapa ml granul yang didapat. Pada percobaan ini didapat ukuran
granul sebanyak 94 ml setelah dilakukan pengetapan.
Gelas ukur yang berisi granul diletakkan pada alat volumenometer untuk dilakukan uji
pengetapan, waktu untuk uji pengetapan ini yaitu 5 menit, 10 menit dan 15 menit, pada setiap
waktu tersebut catatan perubahan ukuran ml granul kemudian hitung Tap T% atau volume
bulknya. Hasil yang didapat dari uji pengetapan yang dilakukan ini didapat hasil 22,61%, 25%
dan 26,19%. Hasil percobaan ini semakin lama waktu semakin tinggi pula T% yang dihasilkan,
menurut literature semakin besar harga T% maka sifat alir granul tersebut semakin jelek.
Berarti berdasarkan hasil uji pengetapan yang dilakukan ini granul yang dibuat memiliki sifat
alir yang jelek, selain itu menurut Farmakope IV persyaratan % pengetapan tidak lebih dari
20%. Hasil uji ini tidak sesuai literature karena adanya faktor yang mempengaruhi yaitu Pada
uji pengetapan umumnya jumlah ketukan yang digunakan adalah sebanyak 500-1000 ketukan,
sedangkan pada percobaan yang dilakukan menggunakan lebih dari 1000 ketukan,
keseragaman bentuk dan ukuran granul juga mempengaruhi bisa atau tidaknya granul mengisi
rongga-rongga yang ada. Evaluasi granul yang kedua adalah pengujian sifat alir dengan
pengamatan sudut diam dan kecepatan alir granul. pengujian sifat alir ini bertujuan agar
mendapatkan granul yang baik sehingga tidak terjadi perlengketan pada mesin pencetak saat
dilakukan pencetakan tablet. Evaluasi ini dilakukan dengan cara granul dimasukan kedalam
corong kemudian yang ditutup lubang bagian bawahnya, kemudian corong diangkat setinggi
kilan orang dewasa diatas bidang datar dan dibuka tutup lubang bagian bawah corong agar
granul mengalir keluar dan membentuk kerucut. Waktu yang digunakan granul untuk mengalir
sampai habis dicatat dan dihitung, selain itu sudut kerucut juga dihitung.
Sudut yang dihasilkan dalam percobaan ini yaitu 49,40O dari hasil pengamatan jika >
38O yang artinya kurang mengalir, sedangkan waktu yang dibutuhkan granul untuk mengalir
habis keluar yaitu 11 detik. Setelah dilakukan perhitungan kecepatan alir granulnya yaitu 11,15
detik. Hasil percobaan pada sudut diam percobaan ini sesuai dengan literatur yaitu nilai sudut
diam 25º-45º menunjukan karakteristik sifat alir yang baik, tetapi untuk kecepatan alir granul
juga sesuai dengan literatur. Menurut literatur kecepatan alir granul yang baik umumnya ≤ 10
g/detik dan kecepatan alir granul yang dihasilkan dari granul 11,15 dari 10 g/detik. Hal ini
berarti granul yang dihasilkan memiliki sifat alir yang baik jika ditinjau dari pengamatan sudut
istirahatnya. Tetapi hasil yang didapat dari uji sifat alir ini tidak dapat dijadikan suatu acuan
karena prosedur percobaan yang dilakukan tidak sesuai dengan teori. Saat dilakukannya uji ini
granul tidak dapat mengalir keluar dari corong sehingga memerlukan bantuan dengan ketukan
agar granul yang ada di corong dapat mengalir keluar, hal ini sangat mempengaruhi hasil
karena seharusnya pada uji ini tidak boleh ada getaran saat pengujian. Selain itu kelembaban
granul juga menjadi faktor yang dapat mempengaruhi, karena granul yang lembab
menyebabkan granul lengket satu sama lain sehingga susah untuk mengalir keluar. Kedua
evaluasi granul yang dilakukan pada percobaan ini memiliki hasil yang berbeda. Hasil evaluasi
granul untuk uji pengetapan menghasilkan karakteristik granul yang jelek, sedangkan untuk uji
sifat alir dengan pengamatan sudut diam dan kecepatan alir granul menghasilkan sifat alir yang
bagus.
Pada uji kadar air yang dilakukan didapatkan hasil 1,253% hasil ini kurang dari
persyaratan yang menjadi standar kadar air suatu granul yaitu 2-4%. Menunjukkan bahwa hasil
granul terlalu kering hal ini disebabkan karena proses pemanasan berulang karena adanya
proses penyimpanan granul sebelumnya lalu di over kembali sehingga granul lebih kering.
Hasil percobaaan yang berbeda ini dapat terjadi karena adanya faktor yang
mempengaruhi, selain faktor dari masing-masing evaluasi faktor yang paling berpengaruh pada
percobaan evaluasi granul ini yaitu kurangnya jumlah granul yang digunakan pada percobaan
dan prosedur yang dilakukan saat percobaan.
18. Kesimpulan
a. Evaluasi sifat alir granul yang dilakukan pada percobaan ini menggunakan dua metode
yaitu uji sifat alir dan uji pengetapan. Hasil yang didapat pada uji pengetapan dengan
sudut 49,40O , hasil ini menunjukan sifat alir yang jelek.
b. Untuk hasil kecepatan alir granul yaitu 11,15 detik, hasil ini menunjukan karakteristik
sifat alir yang buruk.
c. Kadar air yang diperoleh yakni 1,253%
d. Bobot granul total 326,1 gram
e. Kompresibilitas = 1,06 dan % kompresibilitas = 6,060%, baik memenuhi syarat
f. Jumlah tablet yang dicetak adalah 334 tablet.
g. Uji kekerasan adalah 6,3.
h. Kedua evaluasi granul yang dilakukan pada percobaan ini memiliki hasil yang berbeda
karena banyaknya faktor yang mempengaruhi terutama kurangnya bobot granul yang
digunakan untuk evaluasi.
Aberg, J,A., et al, 2009, Drug Information Handbook17th Edition, Lexi-Comp for the American
pharmacist Association.
Allen, L. V., 2009, Handbook of Pharmaceutical Excipients, Sixth Edition, Rowe R. C.,
Sheskey, P. J., Queen, M. E., (Editor), London, Pharmaceutical Press and American
Pharmacists Association.
Departemen Kesehatan RI, 1979, Farmakope Indonesia Edisi III, Jakarta.
Freddy P. Wilmana & Sulistia Gan. (2011). Analgesik-Antipiretik Analgesik Anti- Inflamasi
Nonsteroid dan Obat Gangguan Sendi Lainnya. Dalam D. F.-U. Indonesia, S. G. Gunawan,
R. Setiabudy, Nafrialdi, & Elysabeth (Penyunt.), Farmakologi dan Terapi (hal. 230-246).
Jakarta: Badan Penerbit FKUI.
Gennaro AR. Remington: The Science and Practice of Pharmacy 20 th Ed. Philadelphia :
University of The Science in Philadelphia, 1990.
Goodman & Gilman, 2012, Dasar Farmakologi Terapi, Edisi 10, Editor Joel. G. Hardman &
Lee E. Limbird, Konsultan Editor Alfred Goodman Gilman, Diterjemahkan oleh Tim Alih
Bahasa Sekolah Farmasi ITB, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta.
Katzung, B.G. 2011. Farmakologi Dasar dan Klinik Edisi 10. Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Jakarta.
Lachman L, Lieberman HA,Kanig, JL. Teori dan Praktek Farmasi Industri. Terjemahan Siti
Suyatmi. Ed III. Jakarta : Universitas Indonesia Press, 1994.
Tjay, T.H., dan Rahardja, K.. (2010). Obat-Obat Penting, Elex Media Komputindo, Jakarta.
PRAKTIKUM FORMULASI DAN EVALUASI SEDIAAN SEMI SOLID
Disusun:
2022
I. Pengertian
Granulasi adalah pembentukan partikel-partikel besar dengan mekanisme pengikatan
tertentu. Granul dapat diproses lebih lanjut menjadi bentuk sediaan granul terbagi, kapsul,
maupun tablet. Berbagai proses granulasi telah dikembangkan, dari metode konvensional
seperti slugging dan granulasi dengan bahan pengikat musilago amili hingga pembentukan
granul dengan peralatan terkini seperti spray dry dan freeze dry. Granulasi peleburan atau hot
melt granulation merupakan metode pembentukan dispersi padat berbentuk granulat dengan
bahan pengikat yang melebur di atas suhu kamar. Granulasi peleburan ini dapat digunakan
untuk membentuk granul dengan bahan pengikat hidrofob seperti lemak dan wax dengan
tujuan penyalutan dan/ atau Pembentukan matriks sediaan pelepasan dimodifikasi (modified
release drug). Keunggulan dari granulasi peleburan ini adalah : tidak membutuhkan bahan
pelarut, tidak memerlukan proses pengeringan, dan prosesnya berlangsung cepat serta bersih.
Tablet adalah sediaan padat kompak, dibuat secara kempa cetak, dalam bentuk tabung
pipih atau sirkuler, kedua permukaannya rata atau cembung, mengandung satu jenis obatatau
lebih dengan atau tanpa zat tambahan. Zat tambahan yang digunakan dapat berfungsi sebagai
zat pengisi, zat pengembang, zat pengikat, zat pelicin, zat pembasah atau zat lain yang cocok
(FI III,1979).
Tablet adalah bentuk sediaan yang paling banyak beredar karena secara fisik stabil, mudah
dibuat, lebih menjamin kestabilan bahan aktif dibandingkan bentuk cair, mudah dikemas,
praktis, mudah digunakan, homogen, dan reprodusibel. Massa tablet harus mengalir dengan
lancar agar dapat menjamin homogenitas dan reprodusibilitas Sediaan dan harus dapat
terkompresi dengan baik agar diperoleh tablet yang kuat, kompak, dan stabil selama
penyimpanan dan distribusi. Metode granulasi banyak dipilih dengan tujuan memperbaiki sifat
alir dan kompresibilitas massa tablet. Komponen tablet terdiri atas zat aktif dan bahan
tambahan yang dibutuhkan tablet.
Keterangan :
I = indeks kompresibilitas (%);
Vo = volume granul sebelum dimampatkan (mL);
V500 = volume granul setelah dimampatkan sebanyak 500 kali ketuk (mL).
Syarat : tidak lebih dari 20%.
D. Distribusi Ukuran Partikel
• Alat : Sieve Shaker
• Caranya :
a. Masukan sejumlah 100 gram granul diletakan di atas ayakan yang telah tersusun dan
ditara
b. Mulai dari ayakan mesh 20 smapai dengan ayakan mesh 100 pada alat sieve shaker
c. Setelah pengujian selesai, masing-masing ayakan ditimbang kembali dan dihitung
distribusi granul pada tiap-tiap ayakan (%)
E. Bobot Jenis
Evaluasi granul dengan bobot jenis ini yaitu dengan mengetahui bobot jenis pada granul
tersebut, mulai dari bobot nyata, bobit mampat dan bobot sejati. Evaluasi bobot jenis sejati ini
dilakukan menggunakan alat piknometer.
✓ Bobot jenis nyata
𝑤
𝜌=
𝑣
Dimana :
W = bobot granul
V =volume granul tanpa pemampatan
✓ Bobot jenis mampat
𝑤
𝜌𝑛 =
𝑉𝑛
Ditjen POM, (1979), “Farmakope Indonesia” Edisi III, Departemen Kesehatan Republik
Indonesia, Jakarta
Ditjen POM, (1995), “Farmakope Indonesia” Edisi IV, Departemen Kesehatan Republik
Indonesia, Jakarta
Lachman L H A Lieberman dan J L Kanig, 2008, “Teori dan Praktek Farmasi Industri”Edisi
Ketiga, Jakarta: UI Press