0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
101 tayangan34 halaman

Pembuatan Tablet Parasetamol Granulasi Basah

Dokumen tersebut memberikan penjelasan tentang soal esai yang menanyakan perbedaan metode granulasi basah dan kering serta alasan pembuatan granulasi sebelum pembuatan sediaan solid. Dokumen juga menjelaskan regulasi penandaan obat parasetamol dan preformulasi bahan yang digunakan dalam pembuatan tablet parasetamol dengan metode granulasi basah.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
101 tayangan34 halaman

Pembuatan Tablet Parasetamol Granulasi Basah

Dokumen tersebut memberikan penjelasan tentang soal esai yang menanyakan perbedaan metode granulasi basah dan kering serta alasan pembuatan granulasi sebelum pembuatan sediaan solid. Dokumen juga menjelaskan regulasi penandaan obat parasetamol dan preformulasi bahan yang digunakan dalam pembuatan tablet parasetamol dengan metode granulasi basah.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

KUIS P 3

1. Soal esai

Jelaskan Perbedaan Metode Granulai Basah dan Kering ?

Metode granulasi basah untuk zat aktif yang tahan terhadap panas/ lembab sedangkan metode
granulasi kering untuk zat aktif yang tidak tahan terhadap pemanasan/ lembab serta yang
tidak akan berubah bentuk kristalnya

2. Soal esai

Jelaskan Kenapa BAF ada yang harus dibuat granulasi dahulu untuk dibuat sediaan solid ?
tidak langsung di cetak

Source Sans Pro

Pembuatan sediaan solid harus dibuat granulasi terlebih dahulu bertujuan untuk dapat
meningkatkan sifat alir dan atau kemampuan kempa massa cetak tablet
LAPORAN PRAKTIKUM
FORMULASI DAN EVALUASI SEDIAAN SOLID
“PEMBUATAN TABLET PARASETAMOL DENGAN METODE
GRANULASI BASAH”

Disusun Oleh :

Risa Afina Ramadhani 211FF04006


Diki Ardiasyah 211FF04014
Shelfi Renita 211FF04035
Aulia Utami Widiati 211FF04036
Dini Rahmisari Hastian 211FF04043

PROGRAM STUDI S1 FARMASI


FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS BHAKTI KENCANA BANDUNG
2022
1. TUJUAN
1.1 Kompetensi yang dicapai
Mahasiswa dapat mengetahui cara pembuatan tablet parasetamol dengan metode granulasi
basah
1.2 Tujuan Praktikum
1) Mampu menyusun dan mengkaji praformulasi sediaan paracetamol yang digunakan
dalam pembuatan sediaan tablet.
2) Mampu menentukan metode pembuatan dan pemilihan bahan tambahan berdasarkan
kajian preformulasi bahan.
3) Mampu menjelaskan hasil dari tablet yang dibuat serta jumlah bahan yang digunakan
dalam satu batch.
4) Mampu melakukan evaluasi granul, tablet dan menganalisa penyimpangan yang terjadi
selama pembuatan tablet.
2. REGULASI SEDIAAN
2.1 Golongan Obat
Parasetamol merupakan obat bebas yang termasuk dalam golongan analgesik dan
antipiretik yang digunakan untuk meredakan sakit dan demam dan boleh dikonsumsi oleh
orang dewasa maupun anak-anak. Obat ini tersedia dalam bentuk tablet, tablet kunyah, sirup,
dan suntik.
2.2 Aturan Penandaan
Sesuai Permenkes No. 917/MENKES/PER/X/1993 tentang Wajib Daftar Obat Jadi
pada Pasal 1 Bagian 3 bahwa yang dimaksud dengan GOLONGAN OBAT adalah
penggolongan obat yang dimaksudkan untuk peningkatan keamanan dan ketepatan
penggunaan serta pengamanan distribusi yang terdiri dari obat bebas, obat bebas terbatas, obat
wajib apotek, obat keras, psikotropika dan narkotika. Yang termasuk di dalam golongan
tersebut di atas adalah obat yang dibuat dengan bahan-bahan kimia dan/atau dengan bahan-
bahan dari unsur tumbuhan dan hewan yang sudah dikategorikan sebagai bahan obat atau
campuran/paduan keduanya, sehingga berupa obat sintetik dan obat semi-sintetik, secara
berturut-turut. Obat herbal/ tradisional (TR) tidak termasuk dalam kelompok ini.

Penggolongan obat berdasarkan penandaan pada kemasan obat terdiri atas:


1) Obat Bebas
Adalah obat yang dijual bebas di pasaran dan dapat dibeli masyarakat tanpa menggunakan
resep dokter (Depkes RI, 2007).
Gambar 1 Logo Obat Bebas
Tanda khusus pada kemasan dan etiket obat bebas adalah lingkaran berwarna hijau dengan
garis tepi berwarna hitam. Contohnya obat parasetamol dan vitamin.
2) Obat Bebas Terbatas
Adalah obat yang sebenarnya termasuk dalam golongan obat keras tetapi masih dapat dijual
atau dibeli bebas tanpa adanya resep dokter, dan disertai dengan tanda peringatan (Depkes RI,
2007).

Gambar 2 Logo Obat Bebas Terbatas


Tanda khusus pada kemasan dan etiket obat bebas terbatas adalah lingkaran berwarna biru
dengan garis tepi berwarna hitam. Contohnya antimo dan CTM. Selain tanda khusus obat bebas
terbatas, terdapat pula tanda peringatan. Tanda peringatan ini diberikan karena hanya dengan
takaran dan kemasan tertentu obat ini aman dipakai untuk pengobatan sendiri (swamedikasi),
terdiri dari enam macam, yaitu (Depkes RI, 2007):
a. P. No. 1: Awas! Obat Keras. Bacalah aturan memakainya
b. P. No. 2: Awas! Obat keras. Hanya untuk kumur, jangan ditelan
c. P. No. 3: Awas! Obat keras. Hanya untuk bagian luar badan
d. P. No. 4: Awas! Obat keras. Hanya untuk luka bakar
e. P. No. 5: Awas! Obat keras. Tidak boleh ditelan
f. P. No. 6: Awas! Obat keras. Obat wasir jangan ditelan
3. PREFORMULASI BAHAN
3.1 Zat Aktif
1) Parasetamol

Struktur kimia

Rumus molekul C8H9NO2


Nama Paracetamol
Nama lain Acetaminophen
Nama kimia n-acetyl-4-aminophenol
Berat molekul 151,16
Pemerian Serbuk hablur, putih, tidak berbau, rasa pahit (FI III, hal 32)
Suhu lebur 1690C-1720C
pH Antara 5,3 dan 6,5 (codex hal 988)
Kelarutan Larut dalam 70 bagian air, 7 bagian etanol, 13 bagian aseton, 40 bagian
gliserol, 9 bagian propilen glikol, larut dalam larutan alkali hidroksida
Stabilitas − Terhidrolisis pada ph minimal 5-7
− Stabil pada temperatur 450C (dalam bentuk serbuk)
− Dapat terdegradasi oleh quinominim dan terbentuk warna
pink,coklat dan hitam
− Relatif stabil terhadap oksidasi
− Menyerap uap air dalam jumlah tidak signifikan pada suhu 25 0C
dan kelembaban 90%
− Tablet yang dibuat granulasi basah menggunakan pasta gelatin
tidak dipengaruhi oleh kelembaban tinggi dibandingkan
menggunakan povidon
(codec hal 988)
Inkompatibilitas Inkompatibilitas terhadap permukaan nilon dan rayon (codec hal 988)
Penyimpanan Dalam wadah tertutup rapat, tidak tembus cahaya (FI IV, hal 650)
Daftar pustaka FI III, hal 32
FI IV, hal 650
codec hal 988-989

3.2 Zat Tambahan


1) PVP
Nama kimia Polivinilpirolidon
Rumus Molekul C6H9NO
Pemerian serbuk putih atau putih kekuningan, berbau lemah atau tidak
berbau, dan higroskopis
Kelarutan larut dalam air, etanol 95% P, kloroform P, keton dan metanol. Praktis
tidak larut dalam eter, hidrokarbon dan mineral oil
Titik Lebur 1500C
pH larutan 3-7
Stabilitas Dapat bercampur dengan air, tahan terhadap panas pada suhu 11 0C – 1300C,
mudah terurai pada udara
Kegunaan meningkatkan kelarutan bahan obat dalam air dan dalam larutan
dapat sekaligus meningkatkan kekompakan tablet, PVP juga dapat
digunakan sebagai agen pensuspensi meningkatkan disolusi,
meningkatkan kelarutan, dan menambah viskositas baik sediaan
oral maupun topikal. PVP sebagai bahan tambahan tidak bersifat
toksis, tidak menginfeksi kulit dan tidak ada kasus sensitif
Konsentrasi 0,5% - 3%
Inkompatibilitas Ketidakcampuran dalam garam organic, resin sintetik dan alami serta
senyawanya akan membentuk senyawa sulfadiazin, sodium salisilat dan
fenobarbital.
Daftar pustaka Rowe et al, 2006
2) Amprotab atau Amylum Manihot

Struktur kimia

Rumus molekul [C16H10O5]n. dimana n= 300 – 1000


Nama kimia Starch [9005 – 25 -8]
Berat molekul 300 – 1000 tergantung jenis amilum
Pemerian Amylum tidak berbau tidak berasa ,warna putih sampai putih tua,
serbuk halus
Kelarutan Praktis tidak larut dalam etanol 96%dan dalam air [Link]
mengembang seketika dalam air sekitar 5 – 10 % pada 370C .pati
menjadi larut dalam air panas pada suhu diatas suhu gelatinisasi.
Stabilitas Pati kering stabil jika dilindungi dari kelembaban [Link] dianggap
sebagai bahan kimia dan mikrobiologi pada kondisi penyimpanan
dibawah normal .larutan amilum atau atau pasta amylum tidak stabil
dan mudah dimetabolisme oleh mikroorganisme, karena itu untuk
granulasi basah harus selalu dibuat [Link] harus disimpan dalam
wadah kedap udara di tempat sejuk dan kering
Inkompatibilitas Pati tidak kompatibel dengan zat pengoksidasi kuat. Berwarna
senyawa inklusi terbentuk dengan yodium
Penyimpanan Dalam tempat sejuk dan kering
Kegunaan Desintegran 3 – 25 %
Daftar pustaka HOPE 6th edisi 2009 hal 686 – 691
3) Pewarna (Hijau)

Nama kimia Fast Green FCF


Kegunaan Fast green FCF merupakan pewarna sintetis hijau yang sering
digunakan pada minuman, serbuk instan, permen, puding, es krim
dan produk-produk susu
Efek Samping Penggunaan pewarna ini jika berlebihan dapat menyebabkan reaksi
alergi
Kode Dalam label kemasan makanan pewarna ini berkode C.I. 42053,
E143 atau FD & C Green No. 3.

4) Pengisi (Laktosa)

Struktur molekul

Rumus molekul C12H22O11


Nama kimia O-β-D-galactopyranosyl-(1 🡪 4)-β-D-glucopyranose
Berat molekul 342,30
Pemerian Laktosa anhidrat adalah serbuk atau partikel kristal berwarna putih,
rasa manis, tidak berbau.
Suhu Lebur 2320C
Kelarutan Larut dalam air, sedikit larut dalam etanol 95% dan eter.
Density 1,589 g/cm3
Stabilitas Laktosa dapat berubah warna menjadi kecoklatan dalam
penyimpanan. Hal tersebut dapat disebabkan oleh panas, kondisi
lembab yang kelembabannya hingga 80%.
Inkompatibilitas Laktosa anhidrat inkompatibel dengan oksidator kuat. Dapat
mengalami reaksi maillard dengan amina primer dan sekunder bila
disimpan dalam kondisi kelembaban tinggi pada waktu tertentu.
Penyimpanan Dalam wadah tertutup di tempat sejuk dan kering.
Kegunaan Tablet filler atau diluent atau pengisi.
Pustaka Handbook of Pharmaceutical Excipient Halaman 359 – 361

4. TINJAUAN FARMAKOLOGI PARASETAMOL


4.1 Indikasi Obat
1. Analgesik
Obat analgesik merupakan zat-zat yang digunakan sebagai penghalau atau penghilang
nyeri tanpa menghilangkan kesadaran (Tjay, 2007). Menurut Siswandono (2008), analgesik
merupakan senyawa yang dapat menekan fungsi Sistem Saraf Pusat (SSP) secara tidak
selektif dan digunakan untuk mengurangi rasa sakit tanpa mempengaruhi kesadaran dengan
bekerja menurunkan nilai ambang persepsi rasa sakit.
Obat nyeri yang dapat digunakan dalam swamedikasi merupakan obat-obat golongan
AINS (Anti Inflammatory Non Steroid) atau NSAID. Contohnya seperti parasetamol (Depkes
RI, 2007). Menurut Tjay dan Rahardja (2010), berdasarkan cara kerja farmakologisnya,
analgesik dibagi dua kelompok besar, yaitu:
a. Analgesik Perifer atau NSAID (non Narkotik), terdiri dari obat-obat yang tidak bersifat
narkotik dan tidak bekerja sentral. Contohnya adalah analgesik pada parasetamol.
b. Analgesik Narkotik Khusus, digunakan untuk menghalau rasa nyeri hebat. Contohnya
seperti morfin.
2. Antipiretik
Menurut Farmakoterapi (2009), Obat Analgesik antipiretik serta obat antiinflamasi non
steroid (AINS) atau NSAID merupakan salah satu kelompok obat yang paling banyak
digunakan tanpa resep dokter. Obat dalam golongan ini merupakan kelompok obat heterogen
dan kimiawi. Bekerja pada cox-3 dengan menghambat produksi prostaglandin di hipotalamus
anterior (yang mengalami peningkatan karena adanya pirogen endogen).
4.2 Mekanisme Kerja
Parasetamol bekerja secara non selektif dengan menghambat enzim siklooksigenase
(cox-1 dan cox-2). Pada cox-1 memiliki efek cytoprotektif yaitu melindungi mukosa
lambung, apabila dihambat akan terjadi efek samping pada gastrointestinal. Sedangkan ketika
cox-2 dihambat akan menyebabkan menurunnya produksi prostaglandin. Prostaglandin
merupakan mediator nyeri, demam dan anti inflamasi. Sehingga apabila parasetamol
menghambat prostaglandin menyebabkan menurunnya rasa nyeri. Sebagai Antipiretik,
parasetamol bekerja dengan menghambat cox-3 pada hipotalamus. Parasetamol memiliki
sifat yang lipofil sehingga mampu menembus Blood Brain Barrier, sehingga menjadi first line
pada antipiretik. Pada obat golongan ini tidak menimbulkan ketergantungan dan tidak
menimbulkan efek samping sentral yang merugikan. Oleh karena itu parasetamol aman
diminum 30 menit – 1 jam setelah makan atau dalam keadaan perut kosong untuk mengatasi
efek samping tersebut. Setiap obat yang menghambat siklooksigenase memiliki kekuatan dan
selektivitas yang berbeda (Goodman and Gilman, 2012). Berikut gambar mekanisme kerja
obat analgesik golongan NSAID (Katzung, 2011):

4.3 Efek Samping


NSAID memiliki efek samping serupa karena didasari oleh hambatan pada system
biosintesis prostaglandin. Secara umum NSAID dapat menyebabkan efek samping pada tiga
sistem organ, yaitu saluran cerna, ginjal dan hati (Katzung, 2011).
Terdapat dua mekanisme iritasi lambung, iritasi yang bersifat lokal menimbulkan difusi
asam lambung ke mukosa dan menyebabkan kerusakan jaringan dan iritasi secara sistemik
akan melepaskan PGE2 dan PGI2 yang akan menghambat sekresi asam lambung dan
merangsang sekresi mukus usus halus. Pada beberapa orang dapat terjadi hipersensitivitas.
Namun dalam obat parasetamol, efek sampingnya tidak begitu berbahaya, tetapi apabila
digunakan dalam jangka waktu yang lama dapat menyebabkan kerusakan hati (Goodman and
Gilman, 2012).
4.4 Dosis
Parasetamol dalam bentuk sediaan tunggal atau berisi Parasetamol murni, berbentuk
dalam sediaan tablet atau kaplet 500 mg. Dosis lazim Parasetamol untuk dewasa adalah 300
mg - 1g setiap kali minum, dengan dosis maksimal 4 gram per hari. Dalam sehari, untuk dosis
dewasa diberikan maksimal sebanyak 6 kali sehari (Freddy & Sulistia, 2011).

5. FARMAKOKINETIK PARASETAMOL
Absorbsi parasetamol cepat dan sempurna melalui saluran cerna. Konsentrasi tertinggi
dalam plasma dicapai dalam waktu 0.5 jam dan t ½ plasma antara 1-3 jam. Sebesar 25%
parasetamol terikat protein plasma, dan diekskresikan melalui ginjal (Katzung, 2011).
Adanya makanan dalam lambung dapat memperlambat penyerapan sediaan parasetamol
sehingga absorbsi menjadi lambat (Aberg et al, 2009).

6. FARMAKODINAMIK
Paracetamol merupakan derivat anilen yang memiliki efek analgesic dan antiperitik,
terapi tidak memiliki efek anti inflamasi. Paracetamol adalah suatu senyawa rasemik yang
memiliki dua enantiomer, yang bekerja sinergestik untuk memberikan efek analgesic. Dari
kedua enantiomer, (+) memiliki aktivitas lebih tinggi untuk reseptor opiod M dan juga
merupakan inhibitor kuat dari pengambilan kembali 5-HT (serotonin). Enantiomer (-)
merupakan inhibitor kuat pengambilan kembali noradeline dan meningkatkan pelepasan
neurotransmitter ini dengan cara aktivitas reseptor.

7. Spesialit Obat

7.1 Paten

No Bentuk Sediaan Nama Paten komposisi


1 Tablet Sanmol Tiap tablet mengandung 500mg paracetamol
2 tablet Novagesik Tiap tablet mengandung 500mg paracetamol
3 Kaplet Nutradon Tiap tablet mengandung 500mg paracetamol
7.2 Generik

No Bentuk Sediaan Nama Generik Komposisi


1 Tablet Paracetamol Tiap tablet mengandung 500mg paracetamol

8. Formulasi Umum

Sedian Tablet
Zat Aktif : Paracetamol
Zat Tambahan
Pengisi : Laktosa
Pengikat : pvp
Penghancur : Amprotab

9. Formulasi Khusus
Zat Aktif : Paracetamol
Zat Tambahan
Pengisi : Laktosa
Pengikat : pvp
Penghancur : Amprotab
Pewarna ; warna hijau

10. Alasan Formulasi Khusus

Pemilihan zat aktif (parasetamol) sebagai model bentuk sediaan padat karena obat ini
banyak diminati oleh masyarakat, selain harganya murah, paracetamol juga mampu
mengurangi atau menghilangkan demam tanpa mempengaruhi SSP (Susunan Saraf Pusat) atau
menurunkan kesadaran dan juga tidak menimbulkan ketagihan.

Zat aktif yang digunakan untuk diformulasikan sebagai bentuk sediaan tablet adalah
paracetamol. Parasetamol adalah salah satu obat golongan analgetik dan antipiretik. Pemilihan
zat aktif (parasetamol) sebagai model bentuk sediaan padat karena obat ini banyak diminati
oleh masyarakat, selain harganya murah, paracetamol juga mampu mengurangi atau
menghilangkan demam tanpa mempengaruhi SSP (Susunan Saraf Pusat) atau menurunkan
kesadaran dan juga tidak menimbulkan ketagihan. Parasetamol dipilih sebagai model karena
parasetamol adalah salah satu obat analgetik-antipiretik yang luas digunakan dan parasetamol
merupakan bahan yang agak sukar larut dalam air, yaitu larut dalam 70 bagian air.

Teknologi pembuatan tablet diperlukan bahan tambahan yaitu bahan penghancur


(disintegrant), pengisi (diluents), pengikat (binder) dan lubrikan. diantara bahan-bahan tersebut
bahan penghancur merupakan salah satu bahan yang dibutuhkan dalam proses pembuatan
tablet yang berfungsi untuk memudahkan pecahnya atau hancurnya tablet ketika masuk
medium berair atau ketika kontak dengan cairan saluran pencernaan dan diharapkan tablet
segera melepaskan kandungan zat aktif, oleh sebab itu zat penghancur merupakan salah satu
bahan tambahan yang menentukan efektifitasnya suatu sediaan tablet.

11. PENIMBANGAN BAHAN

Nama Bahan Penimbangan


Fase Dalam
1. Paracetamol = 500 × 500 𝑡𝑎𝑏 = 250.000 𝑚𝑔
2. PVP 10% 10
= × 750 𝑚𝑔 × 500 𝑡𝑎𝑏 = 37,5 𝑔𝑟
100
3. Amprotab 10% 10
= × 750 𝑚𝑔 × 500 𝑡𝑎𝑏 = 37,5 𝑔𝑟
100
4. Pewarna 0,2% 0,2
= × 750 𝑚𝑔 × 500 𝑡𝑎𝑏 = 0,75 𝑔𝑟
100
5. Lactosa q.s = 345 − (250 𝑔𝑟 + 37,5 𝑔𝑟 + 37,5 𝑔𝑟 + 0,75 𝑔𝑟)
= 19,25 𝑔𝑟
Fase Luar
1. Amprotab 10
= × 326,1 = 35,44 𝑔𝑟𝑎𝑚
92
2. Mg. Stearat 1
= × 326,1 = 3,544 𝑔𝑟𝑎𝑚
92
3. Talk 2
= × 326,1 = 7,089 𝑔𝑟𝑎𝑚
92

12. ALAT DAN BAHAN


Alat Bahan
− Timbangan − Paracetamol
− Spatel − PVP
− Kaca arloji − Amprotab
− Nampan − Lactosa
− Sendok tanduk − Alcohol
− Kertas coklat − Mg. Stearat
− Plastik klip − Talk

13. PROSEDUR PEMBUATAN


13.1 FASE DALAM

Siapkan alat dan bahan yang dibutuhkan

Timbang semua fase dalam:


1. paracetamol = 250 gr
2. PVP = 37,5 gr
3. amprotaab = 37,5 gr
4. pewarna = 0,75 gr
5. pengisi = 19,25 gr

campur semua bahan sampai homogen

semprot dengan larutan pengikat sedikit demi sedikit sampai


diperoleh massalembab/basah

Massa basah diayak pada mesh 18

Granul basah dikeringkan dengan oven 40oC

Periksa kadar air galam granul. apabila sudahmemenuhi


persyaratan ayak dengan mesh 18 dan ditimbang
13.1.2 FASE LUAR

Siapkan alat dan bahan

Timbang fase luar:


1. Amprotab = 35,44 gr
2. Mg. Stearat = 3,544 gr
3. Talk = 70,89 gr

Campurkan fase dalam dan fase luar sampai homogen

Lakukan pencetakan tablet sampai semua granul habis dan lakukan uji
kekerasan tablet untuk memperoleh massa yang sesuai

14. PROSEDUR EVALUASI

A. Kadar Air
● Alat : Moisture Analyzer
● Cara :
a. Timbang sebanyak 2gr granul
b. Masukkan dalam lemari pengering selama 1 menit
● Persyaratan : 2-4 %
● Perhitungan

𝑊𝑜 − 𝑊1
= × 100%
𝑊𝑜
Keterangan:
Wo = Bobot granul awal
W1 = Bobot setelah pengeringan

B. Sudut Istirahat
● Alat : Corong alat uji waktu alir

● Caranya :

a. Timbang seksama 100 gr granul

b. Masukkan kedalam corong

c. Buka penutupnya biarkan granul mengalir

d. Ukur diameter dan tinggi puncak dari tumpukan granul menggunakan jangka sorong

● Perhitungan :

𝛼=
𝑟
Keterangan

h = Tinggi

r = Jari-jari
● Persyaratan : nilai α = arc tag h/r, dimana:

α 25-35o = sangat mudah mengalir

α 30-38o = mudah mengalir

α >38o = kurang mengalir

C. Laju Alir
● Alat : corong alat uji waktu alir

● Caranya :
a. Timbang seksama 50 gr granul tempatkan pada corong alat
b. Uji waktu alir dalam keadaan tertutup
c. Buka penutupnya biarkan granul mengalir
d. Catat waktu (gunakan stopwatch)

● Persyaratan : 100 gram granul waktu alirnya tidak lebih dari 10 detik (>10 g/detik).

D. Kompresibilitas

● Alat : Jolting Volumeter

● Caranya :

a. Timbang 100 gr granul masukkan ke dalam gelas ukur dan dicatat volumenya,

b. kemudian granul dimampatkan sebanyak 500 kali ketukan dengan alat uji, catat
volume uji sebelum dimampatkan (Vo).
c. volume setelah dimampatkan dengan pengetukan 500 kali (V).
● Perhitungan :
𝑉𝑜 − 𝑉500
𝐼= × 100%
𝑉𝑜
Keterangan :
I = Indeks kompresibilitas (%)
Vo = Volume granul sebelum dimampatkan (mL);
V500 = Volume granul setelah dimampatkan sebanyak 500 kali ketuk (mL).

● Persyaratan : tidak lebih dari 20%.

15. HASIL EVALUASI GRANUL

1. Kadar Air

No. Bobot Sampel (g) Suhu Waktu (menit) Alat Hasil Syarat

1. 2,010 gram 104ºC 1,06 menit LOD 1,253% 2-4%

2. Uji Kompresibilitas
Alat: Tapped Density

Vo V250 Bobot Kerapatan Kerapatan Hausner Indeks


(g) Ruahan Mampat Ratio Kompresibilitas
𝑊 𝑊 𝑉0−𝑉250
( ) ( ) ( × 100%)
𝑉0 𝑉250 𝑉0

100 94 32,9 32,9 32,9 0,35 100𝑚𝑚 − 94 𝑚𝑚


= 0,33 = 0,35
mL mL gram 100 94 0,33 100 𝑚𝑚
= 1,06 × 100%
= 6%
3. Sudut Istirahat

Bobot Sampel Tinggi (h) Jari-jari (r) ℎ


Sudut Istirahat (Tan∝= )
𝑟

100 gram 3,03 cm 2,595 cm ℎ


Tan∝=
𝑟
3,03
Tan∝= = 49,40 º
2,595

4. Laju Alir

Bobot Sampel Waktu Alir Syarat

50 gram 11,15 detik ≤ 10 detik

16. HASIL EVALUASI TABLET


1. Uji Kekerasan Tablet

Replikasi Hasil Syarat

1 7 6-10
2 5

3 7

Rata-rata 6,3 Memenuhi Syarat

2. RANCANGAN REGISTRASI
a. Regulasi Sediaan
Parasetamol termasuk ke dalam golongan Obat Bebas
b. Aturan Penandaan
Aturan penandaan yaitu Logo berbentuk lingkaran berwarna hijau dengan tepi berwarna
hitam
c. Nomor Registrasi
GBL0112309910A1

17. Pembahasan

Percobaan evaluasi granul ini dilakukan untuk mengetahui bagaimana pengaruh dari
ukuran partikel terhadap fluiditas granul. Evaluasi granul ini sangat penting dilakukan sebagai
parameter preformulasi pada sediaan padat agar sediaan yang dihasilkan dari granul tersebut
stabil. Granul yang digunakan pada percobaan evaluasi ini adalah granul yang telah dibuat
sebelumnya dengan metode granulasi basah dan zat aktif yang digunakan adalah parasetamol
dan dikeringkan selama 1 hari. Sebanyak 326,1 gram granul ini dibuat dengan formulasi untuk
pembuatan tablet parasetamol menghasilkan 334 tablet. Evaluasi granul yang dilakukan pada
percobaan ini yaitu uji sifat alir granul dengan pengamatan sudut diam atau sudut istirahat serta
kecepatan alir granul dan uji pengepakan yaitu untuk mengetahui volume bulk. Evaluasi granul
yang pertama dilakukan adalah uji pengetapan yaitu uji yang dilakukan untuk melihat
bagaimana granul mengisi rongga atau ruang kosong saat dilakukan pencetakan tablet. Granul
yang sudah ada ditimbang dengan hasil timbangan sebanyak gram dan dimasukan kedalam
gelas ukur, kemudian ukur berapa ml granul yang didapat. Pada percobaan ini didapat ukuran
granul sebanyak 94 ml setelah dilakukan pengetapan.

Gelas ukur yang berisi granul diletakkan pada alat volumenometer untuk dilakukan uji
pengetapan, waktu untuk uji pengetapan ini yaitu 5 menit, 10 menit dan 15 menit, pada setiap
waktu tersebut catatan perubahan ukuran ml granul kemudian hitung Tap T% atau volume
bulknya. Hasil yang didapat dari uji pengetapan yang dilakukan ini didapat hasil 22,61%, 25%
dan 26,19%. Hasil percobaan ini semakin lama waktu semakin tinggi pula T% yang dihasilkan,
menurut literature semakin besar harga T% maka sifat alir granul tersebut semakin jelek.
Berarti berdasarkan hasil uji pengetapan yang dilakukan ini granul yang dibuat memiliki sifat
alir yang jelek, selain itu menurut Farmakope IV persyaratan % pengetapan tidak lebih dari
20%. Hasil uji ini tidak sesuai literature karena adanya faktor yang mempengaruhi yaitu Pada
uji pengetapan umumnya jumlah ketukan yang digunakan adalah sebanyak 500-1000 ketukan,
sedangkan pada percobaan yang dilakukan menggunakan lebih dari 1000 ketukan,
keseragaman bentuk dan ukuran granul juga mempengaruhi bisa atau tidaknya granul mengisi
rongga-rongga yang ada. Evaluasi granul yang kedua adalah pengujian sifat alir dengan
pengamatan sudut diam dan kecepatan alir granul. pengujian sifat alir ini bertujuan agar
mendapatkan granul yang baik sehingga tidak terjadi perlengketan pada mesin pencetak saat
dilakukan pencetakan tablet. Evaluasi ini dilakukan dengan cara granul dimasukan kedalam
corong kemudian yang ditutup lubang bagian bawahnya, kemudian corong diangkat setinggi
kilan orang dewasa diatas bidang datar dan dibuka tutup lubang bagian bawah corong agar
granul mengalir keluar dan membentuk kerucut. Waktu yang digunakan granul untuk mengalir
sampai habis dicatat dan dihitung, selain itu sudut kerucut juga dihitung.

Sudut yang dihasilkan dalam percobaan ini yaitu 49,40O dari hasil pengamatan jika >
38O yang artinya kurang mengalir, sedangkan waktu yang dibutuhkan granul untuk mengalir
habis keluar yaitu 11 detik. Setelah dilakukan perhitungan kecepatan alir granulnya yaitu 11,15
detik. Hasil percobaan pada sudut diam percobaan ini sesuai dengan literatur yaitu nilai sudut
diam 25º-45º menunjukan karakteristik sifat alir yang baik, tetapi untuk kecepatan alir granul
juga sesuai dengan literatur. Menurut literatur kecepatan alir granul yang baik umumnya ≤ 10
g/detik dan kecepatan alir granul yang dihasilkan dari granul 11,15 dari 10 g/detik. Hal ini
berarti granul yang dihasilkan memiliki sifat alir yang baik jika ditinjau dari pengamatan sudut
istirahatnya. Tetapi hasil yang didapat dari uji sifat alir ini tidak dapat dijadikan suatu acuan
karena prosedur percobaan yang dilakukan tidak sesuai dengan teori. Saat dilakukannya uji ini
granul tidak dapat mengalir keluar dari corong sehingga memerlukan bantuan dengan ketukan
agar granul yang ada di corong dapat mengalir keluar, hal ini sangat mempengaruhi hasil
karena seharusnya pada uji ini tidak boleh ada getaran saat pengujian. Selain itu kelembaban
granul juga menjadi faktor yang dapat mempengaruhi, karena granul yang lembab
menyebabkan granul lengket satu sama lain sehingga susah untuk mengalir keluar. Kedua
evaluasi granul yang dilakukan pada percobaan ini memiliki hasil yang berbeda. Hasil evaluasi
granul untuk uji pengetapan menghasilkan karakteristik granul yang jelek, sedangkan untuk uji
sifat alir dengan pengamatan sudut diam dan kecepatan alir granul menghasilkan sifat alir yang
bagus.

Pada uji kadar air yang dilakukan didapatkan hasil 1,253% hasil ini kurang dari
persyaratan yang menjadi standar kadar air suatu granul yaitu 2-4%. Menunjukkan bahwa hasil
granul terlalu kering hal ini disebabkan karena proses pemanasan berulang karena adanya
proses penyimpanan granul sebelumnya lalu di over kembali sehingga granul lebih kering.

Hasil percobaaan yang berbeda ini dapat terjadi karena adanya faktor yang
mempengaruhi, selain faktor dari masing-masing evaluasi faktor yang paling berpengaruh pada
percobaan evaluasi granul ini yaitu kurangnya jumlah granul yang digunakan pada percobaan
dan prosedur yang dilakukan saat percobaan.

18. Kesimpulan

a. Evaluasi sifat alir granul yang dilakukan pada percobaan ini menggunakan dua metode
yaitu uji sifat alir dan uji pengetapan. Hasil yang didapat pada uji pengetapan dengan
sudut 49,40O , hasil ini menunjukan sifat alir yang jelek.
b. Untuk hasil kecepatan alir granul yaitu 11,15 detik, hasil ini menunjukan karakteristik
sifat alir yang buruk.
c. Kadar air yang diperoleh yakni 1,253%
d. Bobot granul total 326,1 gram
e. Kompresibilitas = 1,06 dan % kompresibilitas = 6,060%, baik memenuhi syarat
f. Jumlah tablet yang dicetak adalah 334 tablet.
g. Uji kekerasan adalah 6,3.
h. Kedua evaluasi granul yang dilakukan pada percobaan ini memiliki hasil yang berbeda
karena banyaknya faktor yang mempengaruhi terutama kurangnya bobot granul yang
digunakan untuk evaluasi.

19. Daftar Pustaka

Aberg, J,A., et al, 2009, Drug Information Handbook17th Edition, Lexi-Comp for the American
pharmacist Association.

Allen, L. V., 2009, Handbook of Pharmaceutical Excipients, Sixth Edition, Rowe R. C.,
Sheskey, P. J., Queen, M. E., (Editor), London, Pharmaceutical Press and American
Pharmacists Association.
Departemen Kesehatan RI, 1979, Farmakope Indonesia Edisi III, Jakarta.

Departemen Kesehatan RI, 1995, Farmakope Indonesia Edisi IV, Jakarta.

Departemen Kesehatan RI. Permenkes RI No. 917/Menkes Per/x/1993 Tentang Penggolongan


Obat. Jakarta: Departemen Kesehatan RI; 1993.

Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 2009, Undang – Undang Republik Indonesia


No.36 tentang Kesehatan, Jakarta.

Freddy P. Wilmana & Sulistia Gan. (2011). Analgesik-Antipiretik Analgesik Anti- Inflamasi
Nonsteroid dan Obat Gangguan Sendi Lainnya. Dalam D. F.-U. Indonesia, S. G. Gunawan,
R. Setiabudy, Nafrialdi, & Elysabeth (Penyunt.), Farmakologi dan Terapi (hal. 230-246).
Jakarta: Badan Penerbit FKUI.

Gennaro AR. Remington: The Science and Practice of Pharmacy 20 th Ed. Philadelphia :
University of The Science in Philadelphia, 1990.

Goodman & Gilman, 2012, Dasar Farmakologi Terapi, Edisi 10, Editor Joel. G. Hardman &
Lee E. Limbird, Konsultan Editor Alfred Goodman Gilman, Diterjemahkan oleh Tim Alih
Bahasa Sekolah Farmasi ITB, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta.

Katzung, B.G. 2011. Farmakologi Dasar dan Klinik Edisi 10. Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Jakarta.

Lachman L, Lieberman HA,Kanig, JL. Teori dan Praktek Farmasi Industri. Terjemahan Siti
Suyatmi. Ed III. Jakarta : Universitas Indonesia Press, 1994.

Siswandono. 2008. Kimia Medisinal Edisi 2. Surabaya: Airlangga University Press.

Tjay, T.H., dan Rahardja, K.. (2010). Obat-Obat Penting, Elex Media Komputindo, Jakarta.
PRAKTIKUM FORMULASI DAN EVALUASI SEDIAAN SEMI SOLID

“EVALUASI GRANULASI BASAH”

Disusun:

Risa Afina Ramadhani 211FF04006

Yusriani Fathona Dewi 211FF04012

Irvianla Prita Buana 211FF04013

Diki Ardiansyah 211FF04014

Aidil Mubarrok 211FF04023

Shelfi Renita 211FF04035

Aulia Utami Widiati 211FF04036

Missye Dayana Sabilla 211FF04039

Dini Rahmisari Hastian 211FF04043

Jenita Kambu 211FF04044

FAKULTAS FARMASI S1 MATRIKULASI

UNIVERSITAS BHAKTI KENCANA BANDUNG

2022
I. Pengertian
Granulasi adalah pembentukan partikel-partikel besar dengan mekanisme pengikatan
tertentu. Granul dapat diproses lebih lanjut menjadi bentuk sediaan granul terbagi, kapsul,
maupun tablet. Berbagai proses granulasi telah dikembangkan, dari metode konvensional
seperti slugging dan granulasi dengan bahan pengikat musilago amili hingga pembentukan
granul dengan peralatan terkini seperti spray dry dan freeze dry. Granulasi peleburan atau hot
melt granulation merupakan metode pembentukan dispersi padat berbentuk granulat dengan
bahan pengikat yang melebur di atas suhu kamar. Granulasi peleburan ini dapat digunakan
untuk membentuk granul dengan bahan pengikat hidrofob seperti lemak dan wax dengan
tujuan penyalutan dan/ atau Pembentukan matriks sediaan pelepasan dimodifikasi (modified
release drug). Keunggulan dari granulasi peleburan ini adalah : tidak membutuhkan bahan
pelarut, tidak memerlukan proses pengeringan, dan prosesnya berlangsung cepat serta bersih.
Tablet adalah sediaan padat kompak, dibuat secara kempa cetak, dalam bentuk tabung
pipih atau sirkuler, kedua permukaannya rata atau cembung, mengandung satu jenis obatatau
lebih dengan atau tanpa zat tambahan. Zat tambahan yang digunakan dapat berfungsi sebagai
zat pengisi, zat pengembang, zat pengikat, zat pelicin, zat pembasah atau zat lain yang cocok
(FI III,1979).
Tablet adalah bentuk sediaan yang paling banyak beredar karena secara fisik stabil, mudah
dibuat, lebih menjamin kestabilan bahan aktif dibandingkan bentuk cair, mudah dikemas,
praktis, mudah digunakan, homogen, dan reprodusibel. Massa tablet harus mengalir dengan
lancar agar dapat menjamin homogenitas dan reprodusibilitas Sediaan dan harus dapat
terkompresi dengan baik agar diperoleh tablet yang kuat, kompak, dan stabil selama
penyimpanan dan distribusi. Metode granulasi banyak dipilih dengan tujuan memperbaiki sifat
alir dan kompresibilitas massa tablet. Komponen tablet terdiri atas zat aktif dan bahan
tambahan yang dibutuhkan tablet.

II. Evaluasi Granul


A. Kadar Air
• Alat : Heating Drying Oven
• Caranya :
a. Timbang seksama 5,0 gram granul
b. Panaskan dalam lemari pengering sampai bobot konstan (1050 C) selama 2 jam
• Perhitungan
𝑊𝑜 − 𝑊1
= 𝑥 100 %
𝑊𝑜
W0 = Bobot granul awal
W1 = Bobot setelah pengeringan
• Persyaratan : 2-4 %

B. Uji Sifat Alir (Aulton, 1988;Liebermann & Lachman, 1986)


Uji sifat alir terdapat dua metode untuk mengujinya yang perrtama dengan metode corong
dan yang kedua yaitu metode sudut istirahat. Prinsip dari metode sudut istirahat ini yaitu
pengukuran sudut yang terbentuk dari lereng tumbuhan granul yang mengalir bebas dari corong
terhadap suau bidang datar.
• Alat : corong alat uji waktu alir
• Caranya :
a. timbang seksama 25 gram granul tempatkan pada corong alat
b. uji waktu alir dalam keadaan tertutup
c. buka penutupnya biarkan granul mengalir
d. catat waktu (gunakan stopwatch)
e. lakukan sebanyak 3 kali
f. kemudian untuk mengukur sudut isirahat dengan menghitung jari-jari dan tinggi dari
tumpukan granul setelah metode corong.
g. Kemudian masukan dalam rumus, dan didapat α yang menentukan kecepatan alir dari
suatu granul tersebut
• Persyaratan : 100 gram granul waktu alirnya tidak lebih dari 10 detik (> 10 g/detik).
Metode sudut istrahat ini mempunyai nilai α = arc tag h/r, dimana :
α 25-35o = sangat mudah mengalir
α 30-38o = mudah mengalir
α >38o = kurang mengalir

C. Uji Kompresibilitas (Aulton, 1988,FI IV 1995)


• Alat : Jolting Volumeter
• Caranya :
a. Timbang 100 g granul masukkan ke dalam gelas ukur dan dicatat volumenya,
b. kemudian granul dimampatkan sebanyak 500 kali ketukan dengan alat uji, catat volume
uji sebelum dimampatkan (Vo)
c. volume setelah dimampatkan dengan pengetukan 500 kali (V).
• Perhitungan :
V0#V$00
I= x 100%
V0

Keterangan :
I = indeks kompresibilitas (%);
Vo = volume granul sebelum dimampatkan (mL);
V500 = volume granul setelah dimampatkan sebanyak 500 kali ketuk (mL).
Syarat : tidak lebih dari 20%.
D. Distribusi Ukuran Partikel
• Alat : Sieve Shaker
• Caranya :
a. Masukan sejumlah 100 gram granul diletakan di atas ayakan yang telah tersusun dan
ditara
b. Mulai dari ayakan mesh 20 smapai dengan ayakan mesh 100 pada alat sieve shaker
c. Setelah pengujian selesai, masing-masing ayakan ditimbang kembali dan dihitung
distribusi granul pada tiap-tiap ayakan (%)

E. Bobot Jenis
Evaluasi granul dengan bobot jenis ini yaitu dengan mengetahui bobot jenis pada granul
tersebut, mulai dari bobot nyata, bobit mampat dan bobot sejati. Evaluasi bobot jenis sejati ini
dilakukan menggunakan alat piknometer.
✓ Bobot jenis nyata
𝑤
𝜌=
𝑣
Dimana :
W = bobot granul
V =volume granul tanpa pemampatan
✓ Bobot jenis mampat
𝑤
𝜌𝑛 =
𝑉𝑛

✓ Bobot jenis sejati


(𝑏 − 𝑎)𝑥𝐵𝑗 𝑐𝑎𝑖𝑟𝑎𝑛 𝑝𝑒𝑛𝑑𝑖𝑠𝑝𝑒𝑟𝑠𝑖
=
(𝑏 + 𝑑) − (𝑎 + 𝑐)
Dimana :
a = bobot piknometer kosong
b = bobot piknometer + 1 gram granul
c = bobot piknometer + 1 gram granul + cairan pendispersi
d = bobot piknometer + cairan pendispersi
DAFTAR PUSTAKA

Ansel C Howard, 2008, “Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi”, UI Press, Jakarta

Ditjen POM, (1979), “Farmakope Indonesia” Edisi III, Departemen Kesehatan Republik
Indonesia, Jakarta

Ditjen POM, (1995), “Farmakope Indonesia” Edisi IV, Departemen Kesehatan Republik
Indonesia, Jakarta

Lachman L H A Lieberman dan J L Kanig, 2008, “Teori dan Praktek Farmasi Industri”Edisi
Ketiga, Jakarta: UI Press

[Link] diakses pada 13/03/2015 10.45


pm

Anda mungkin juga menyukai