0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
158 tayangan26 halaman

Hasil Pengamatan 1. Kasus Obesitas: (Iter)

Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
158 tayangan26 halaman

Hasil Pengamatan 1. Kasus Obesitas: (Iter)

Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

HASIL PENGAMATAN

1. Kasus Obesitas

dr. Harwin Prestasia Putra, [Link] Jl. Adi Flora, Cempaka Raya No. 1
Telp. 022-09668
SIP. 0004/IPM-DUM/VII/2020/DPMPTSP

Bandung, ................22

R/ Atorvastatin No. X
Stdd

R/ Metformin 500 mg Tab No. X (Iter)


Stdd

R/ Ranitidine No. XX
Sbdd

Pro: Ny. Nengsih Umur:


Alamat: -

Resep tidak boleh diganti tanpa seizin dokter


Pengkajian Resep di Apotek (PMK 73 Tahun 2016)
Pengkajian Administratif
Aspek Ada Tidak Ada Interpretasi
Nama Pasien  [Link]
Umur  Tidak ada, harus
ditanyakan kepada
pasien, konfirmasi umur
55 tahun
Jenis Kelamin  Ny: Perempuan
Berat Badan  Tidak ada, harus
ditanyakan kepada
pasien
Nama Dokter  dr. Harwin Prestasia
Putra, [Link]
Nomor SIP  SIP
0004/[Link]/VII/20
20/DPMPTSP
Alamat  Jln. Adi Flora, Cempaka
Raya No.1
Nomor Telepon  02209668
Paraf Dokter  Tidak ada, harus di
konfirmasi kepada
dokter yang menulis
resep
Tanggal Resep  Tidak ada, harus di
konfirmasi kepada
tempat pasien berobat
Pengkajian Farmasetik

Nama Obat Atorvastatin Metformin Ranitidin Keterangan

Kandungan Zat Aktif Azithromycin Amoxicillin Omeprazole -

Bentuk Sediaan Tablet Tablet Tablet -

Kekuatan Sediaan 10-40 mg/hari 2 x 500 mg/hari 150 mg/hari Menurut ISO Vol 50 2016

Kompatibilitas - - - -

Stabilitas Baik Baik Baik Baik

Pengkajian Klinis

Ketepatan indikasi dan Tidak tepat dosis atorvastatin yang diberikan tidak tepat dengan dosis
dosis sehari 3 kali. Atorvastatin atau golongan statin biasanya
diberikan dengan dosis satu kali sehari pada malam hari.
Maka harus dilakukan konfirmasi pada dokter mengenai
aturan pakai obat atorvastatin.
Penggunaan selektif terapi misalnya antasida dapat
dipertimbangkan Pasien disarankan untuk segera
melaporkan tanda dan gejala seperti mual, muntah,
gangguan penglihatan, sulit tidur, ruam pada kulit dan
kepala pusing

Aturan dan cara Ada Sudah sesuai


penggunaan obat
Duplikasi dan/atau Tidak ada Tidak terdapat duplikasi/Polifarmasi
polifarmasi
ROTD (Alergi, ESO) Tidak ada Tidak ada
Kontra indikasi Tidak ada Tidak ada
Interaksi Tidak ada Tidak ada
ETIKET

Penandaan obat dalam penyerahan menggunakan etiket berwarna putih karena seluruh obat dalam
resep digunakan secara oral

APOTEK BK FARMA
Jl. Soekarno Hatta No. 754 Telp. 022-7830768
APA : apt. Bhakti Kencana, [Link]
SIPA : 503/0081-SIPA/DPMPTSP/IV/2021
SIA : 503/0020-PPK-IA/DPMPTSP/IV/2021
No. 1 A Tgl. 5 April 2022
Nama : Ny. Nengsih

Nama obat : Atorvastatin


APOTEK BK FARMA
Sehari
Jl. 3 x 1Hatta
Soekarno Tab/Kapsul/Bungkus
No. 754 Telp. 022-7830768
Khasiat : APA : apt. Bhakti Kencana, [Link]
Antikolesterol
SIPA : 503/0081-SIPA/DPMPTSP/IV/2021
DIHABISKAN/JIKA
SIA PERLU
: 503/0020-PPK-IA/DPMPTSP/IV/2021
Pagi:107.00
No. B Siang: 14.00 Malam:
Tgl. 5 April 2022 22.00
Nama : Ny. Nengsih
(... menit/jam) Sesudah/Saat/Sebelum Makan
Jumlah
Nama obat: 10: Kapsul
Metformin BUD/ED: 9/25
Jauhkan Obat dari Jangkauan Anak-anak
SEMOGA LEKAS SEMBUH
Sehari 3 x 1 Tab/Kapsul/Bungkus
Khasiat : Antidiabetes
DIHABISKAN/JIKA PERLU
Pagi: 07.00 Siang: 14.00 Malam: 22.00

(... menit/jam) Sesudah/Saat/Sebelum Makan


Jumlah : 10 Kapsul BUD/ED: 4/25
Jauhkan Obat dari Jangkauan Anak-anak
SEMOGA LEKAS SEMBUH

APOTEK BK FARMA
Jl. Soekarno Hatta No. 754 Telp. 022-7830768
APA : apt. Bhakti Kencana, [Link]
SIPA : 503/0081-SIPA/DPMPTSP/IV/2021
SIA : 503/0020-PPK-IA/DPMPTSP/IV/2021
No. 1 C Tgl. 5 April 2022
Nama : Ny. Nengsih

Nama obat : Ranitidin

Sehari 2 x 1 Tab/Kapsul/Bungkus
Khasiat :
DIHABISKAN/JIKA PERLU
Pagi: 07.00 Siang: 14.00 Malam: 22.00

(... menit/jam) Sesudah/Saat/Sebelum Makan


Jumlah : 20 Kapsul BUD/ED: 10/25
Jauhkan Obat dari Jangkauan Anak-anak
SEMOGA LEKAS SEMBUH
Salinan resep

R/ Atorvastatin No. X
S. tdd
Det

R/ Metformin 500 mg Tab No. X


S. tdd (ITER)

Det orig
R/ Ranitidin No. X
S. bdd
APOTEK BK FARMA
Nedet Jl. Soekarno Hatta No. 754
Telp. 022-7830768
SIA : 503/0020-PPK-IA/DPMPTSP/IV/2021
Apoteker : apt. Bhakti Kencana, [Link]
SIPA : 503/0081-SIPA/DPMPTSP/IV/2021
SALINAN RESEP
Resep dari dokter: harwin prestasi P Sp.PD_Tgl 5 april
2022_
Tgl Pembuatan 5 April 2022 No.: 1A
Pro. NyNengsih Umur 55 thn
AlamatJLmaleer indah No. 16
2. Kasus Diare

PC
C

Pengkajian Resep di Apotek (PMK 73 Tahun 2016)


Pengkajian Administratif
Aspek Ada Tidak Ada Interpretasi
Nama Pasien √ An. Kenzo
Umur √ Tidak mencantumkan umur
Jenis Kelamin √ Tidak tertulis dalam resep, tetapi dari
nama dapat dikatakan bahwa laki-laki
Berat Badan √ 20 kg
Nama Dokter √ dr. Harwin Prestasia Putra, Sp. A
Nomor SIP √ SIP.
0004/IPM-DUM/VII/2020/DPMPTSP
Alamat Pasien √ Tidak tercanum dalam resep,
merupakan bagian penting untuk
mengetahui alamat jika terjadi sesuatu
yang tidak diinginkan
Nomor Telepon √ Tidak tercantum dalam resep, tidak ada
no yang dapat dihubungi dalam
mengonfirmasi mengenai pengobatan
Paraf Dokter √ Tidak tercantum dalam resep,
merupakan keabsahan suatu resep
bahwa resep tersebut asli
Tanggal resep √ Tidak tercantum dalam resep sehingga
tidak bisa mengarsipkan resep sesuai
tanggal
Umur √ Tidak tercantum dalam resep sehingga
dapat menyebabkan kendala pada
perhitungan dosis obat
Alamat Praktek √ Jl. Adi Flora Cempaka Raya No. 1
Pengkajian Farmasetik
Nama Obat Ada Azitromisin Zinc Proris Forte
Kandungan Zat Aktif Ada Azitromisin Zinc Ibu profen
Bentuk Sediaan Ada Sirup kering Sirup Suspensi
Kekuatan Sediaan Ada 200 mg / 5 ml 20 mg / 5 ml 200 mg / 5 ml
Kompatibilitas Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada
Stabilitas Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada
Pengkajian Klinis
Ketepatan indikasi dan dosis Sudah tepat
Aturan dan cara penggunaan obat Sudah sesuai
Duplikasi dan/atau polifarmasi Tidak ada
ROTD (Alergi, ESO) Tidak ada
Kontraindikasi Tidak ada
Interaksi Tidak ada

Etiket
APOTEK BK FARMA
Jl. Soekarno Hatta No. 754
Telp. 022-7830768
APA : apt. Bhakti Kencana, M. Farm
SIPA : 503/0081-SIPA/DPMPTSP/IV/2021
SIA : 503/0020-PPK-IA/DPMPTSP/IV/2021
No. 01 Tgl. 11/04/2022
Nama : An. Kenzo Tgl Lahir: -

Nama obat : Azitromisin Sirup Kering

Sehari 2 X 1 sendok takar (5 ml) sesudah makan

Khasiat : Antibiotik
DIHABISKAN

Pagi: 07.00 WIB Siang: - Malam: 19.00 WIB

Jumlah : 1 BUD/ED: 7-14 hari setelah kemasan dibuka

Jauhkan Obat dari Jangkauan Anak-anak


SEMOGA LEKAS SEMBUH

APOTEK BK FARMA
Jl. Soekarno Hatta No. 754
Telp. 022-7830768
APA : apt. Bhakti Kencana, M. Farm
SIPA : 503/0081-SIPA/DPMPTSP/IV/2021
SIA : 503/0020-PPK-IA/DPMPTSP/IV/2021
No. 01 Tgl. 11/04/2022
Nama : An. Kenzo Tgl Lahir: -

Nama obat : Zink 20 mg

Sehari 1 X 1 sendok takar (5 ml) sesudah makan

Khasiat : Terapi pelengkap diare (Suplemen)

DIMINUM SELAMA 10 HARI

Pagi: 08.00 WIB Siang: - Malam: -

Jumlah : 1 BUD/ED: -

Jauhkan Obat dari Jangkauan Anak-anak


SEMOGA LEKAS SEMBUH

Salinan Resep

APOTEK BK FARMA
Jl. Soekarno Hatta No. 754
Telp. 022-7830768
SIA : 503/0020-PPK-IA/DPMPTSP/IV/2021
Apoteker : apt. Bhakti Kencana, [Link]
SIPA : 503/0081-SIPA/DPMPTSP/IV/2021
SALINAN RESEP

Resep dari dokter : dr. Harwin Prestasia Putra, Sp. A


Tgl : 11/04/2022
Tgl Pembuatan : 11/04/2022
No : 01
Pro. Tn/Ny/Nn : An. Kenzo
Umur :-
Alamat :-

R/ Azitromisin No. 1
S bdd 1 cth------------------------------------------ det
R/ Proris Forte Syr No. 1
Stdd 1 cth s.o.s ------------------------------------- nedet
R/ Zink 20 mg No. 1
S sdd 1 cth ------------------------------------------ det

P.C.C

3. Kasus Peptik Ulser

dr. Harwin Prestasia Putra, [Link] Jl. Adi Flora, Cempaka


Raya No. 1 Telp. 022-09668

Bandung, 5 April 2022

R/ Azitromisin 250 mg CapsNo. XX


Sbdd

Amoxicillin No. XX
Sbdd

R/ Omeprazole 20 mg Caps
No. XX (Iter 2x)
Sbdd

R/ Ibuprofen Tab No. XV


Stdd s.o.s

Pro: Tn. Edi


Umur: 40 Tahun
Alamat: -
Pengkajian Administratif
Aspek Ada Tidak ada Interpretasi
Nama Pasien √ Tn. Edi
Umur √ 40 Tahun
Jenis Kelamin √ Ada terulis Tn (tuan) berarti laki-laki
Berat Badan √ Tidak tertulis di Resep, sebaiknya ditanyakan kepada pasien
bersangkutan.
Konfirmasi didapat: 55kg
Nama Dokter √ dr. Harwin Prestasia Putra, [Link]
Nomor SIP √ Tidak tertulis diresep. Dilakukan konfirmasi pada dokter
yang bersangkutan. Nomor SIP dokter merupakan aspek
penting legalitas atau sah nya suatu resep. Jika tidak ada No.
SIP dokter maka resep tidak dapat dilayani terlebih lagi bila
resep yang mengandung antibiotic/ obat keras, narkotika, dan
psikotropika.
Alamat √ Jln. Adi Flora, Cempaka Raya No.1
Nomor √ 022096668
Telepon
Paraf Dokter √ Tidak ada, lakukan konfirmasi pada dokter penulis resep
Tanggal Resep √ 05/04/22

Pengkajian Farmasetik
Nama Obat Azithromycin Amoxicillin Omeprazole Ibuprofen

Kandungan Zat Aktif Azithromycin Amoxicillin Omeprazole Ibuprofen

Bentuk Sediaan Kapsul Tablet Kapsul Tablet


Kekuatan Sediaan 250 mg 1000 mg 20 mg 200 mg

Kompatibilitas Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada

Stabilitas Baik Baik Baik Baik


Pengkajian Klinis
Ketepatan indikasi dan Tidak tepat Tidak tepat karena antibiotik yang digunakan
dosis kombinasi yang tidak tepat untuk pengobatan peptic
ulcer. Pada azithromycin disarankan diganti, seperti
metronidazole, clarithromycin, dan tetracyclin, untuk
membunuh bakteri Helicobacter pylori yang terdapat
pada saluran pencernaan. Maka sebaiknya
menggunakan amoxicillin 1000mg 2x sehari dan
clarithromycin 500 mg 2–3 kali sehari.
Aturan dan cara Ada Sudah sesuai
penggunaan obat
Duplikasi dan/atau Tidak ada Tidak terdapat duplikasi/Polifarmasi
polifarmasi
ROTD (Alergi, ESO) Tidak ada Tidak ada
Kontra indikasi Tidak ada Tidak ada
Interaksi Tidak ada Tidak ada

Etiket dan Salinan resep

APOTEK BK FARMA
Jl. Soekarno Hatta No. 754 Telp. 022-7830768
APA : apt. Bhakti Kencana, [Link]
SIPA : 503/0081-SIPA/DPMPTSP/IV/2021
SIA : 503/0020-PPK-IA/DPMPTSP/IV/2021
No. 7 A Tgl. 5 April 2022
Nama : Tn. Edi Tgl Lahir:07/07/1982

Nama obat : Azitromisin 250 mg

Sehari 2 X 1 Tab/Kapsul/Bungkus
Khasiat : antibiotic
DIHABISKAN/JIKA PERLU
Pagi: 07.00 (1 kapsul) Siang:- Malam: 19.00 (1kapsul)

(... menit/jam) Sesudah/Saat/Sebelum Makan


Jumlah : 20 Kapsul BUD/ED: 7/24
Jauhkan Obat dari Jangkauan Anak-anak
SEMOGA LEKAS SEMBUH

APOTEK BK FARMA
Jl. Soekarno Hatta No. 754 Telp. 022-7830768
APA : apt. Bhakti Kencana, [Link]
SIPA : 503/0081-SIPA/DPMPTSP/IV/2021
SIA : 503/0020-PPK-IA/DPMPTSP/IV/2021
No. 7 B Tgl. 5 April 2022
Nama : Tn. Edi Tgl Lahir:07/07/1982

Nama obat : Amoxicillin 1000 mg

Sehari 2 X 1 Tab/Kapsul/Bungkus
Khasiat : antibiotic
DIHABISKAN/JIKA PERLU
Pagi: 07.00 (1 kapsul) Siang:- Malam: 19.00 (1kapsul)

(... menit/jam) Sesudah/Saat/Sebelum Makan


Jumlah : 20 Tablet BUD/ED: 7/24
Jauhkan Obat dari Jangkauan Anak-anak
SEMOGA LEKAS SEMBUH

APOTEK BK FARMA
Jl. Soekarno Hatta No. 754 Telp. 022-7830768
APA : apt. Bhakti Kencana, [Link]
SIPA : 503/0081-SIPA/DPMPTSP/IV/2021
SIA : 503/0020-PPK-IA/DPMPTSP/IV/2021
No. 7 C Tgl. 5 April 2022
Nama : Tn. Edi Tgl Lahir:07/07/1982

Nama obat : Omeprazole 20 mg

Sehari 2 X 1 Tab/Kapsul/Bungkus
Khasiat : Lambung
DIHABISKAN/JIKA PERLU
Pagi: 06.30 (1 kapsul) Siang:- Malam: 18.30 (1kapsul)

(30 menit/jam) Sesudah/Saat/Sebelum makan


Jumlah : 20 Kapsul BUD/ED: 7/24
Jauhkan Obat dari Jangkauan Anak-anak
SEMOGA LEKAS SEMBUH

APOTEK BK FARMA
Jl. Soekarno Hatta No. 754 Telp. 022-7830768
APA : apt. Bhakti Kencana, [Link]
SIPA : 503/0081-SIPA/DPMPTSP/IV/2021
SIA : 503/0020-PPK-IA/DPMPTSP/IV/2021
No. 7 D Tgl. 5 April 2022
Nama : Tn. Edi Tgl Lahir:07/07/1982

Nama obat : Ibuprofen Tablet

Sehari 3 X 1 Tab/Kapsul/Bungkus Khasiat


: Nyeri/Demam
DIHABISKAN/JIKA PERLU
Pagi: 07.00 (1 tablet) Siang:15.00 (1 tablet) Malam:
23.00 (1 tablet)

(... menit/jam) Sesudah/Saat/Sebelum Makan


Jumlah : 15 Tablet BUD/ED: 11/24
Jauhkan Obat dari Jangkauan Anak-anak
SEMOGA LEKAS SEMBUH

Etiket Kombinasi yang disarankan Amoxicillin 1000 mg dan Klaritromisin 500 mg

APOTEK BK FARMA APOTEK BK FARMA


Jl. Soekarno Hatta No. 754 Telp. 022-7830768 Jl. Soekarno Hatta No. 754 Telp. 022-7830768
APA : apt. Bhakti Kencana, [Link] APA : apt. Bhakti Kencana, [Link]
SIPA : 503/0081-SIPA/DPMPTSP/IV/2021 SIPA : 503/0081-SIPA/DPMPTSP/IV/2021
SIA : 503/0020-PPK-IA/DPMPTSP/IV/2021 SIA : 503/0020-PPK-IA/DPMPTSP/IV/2021
No. 7 B Tgl. 5 April 2022 No. 7 A Tgl. 5 April 2022
Nama : Tn. Edi Tgl Lahir:07/07/1982 Nama : Tn. Edi Tgl Lahir:07/07/1982

Nama obat : Amoxicillin 1000 mg Nama obat : Klaritromisin 500 mg

Sehari 2 X 1 Tab/Kapsul/Bungkus Sehari 2 X 1 Tab/Kapsul/Bungkus


Khasiat : antibiotic Khasiat : antibiotic
DIHABISKAN/JIKA PERLU DIHABISKAN/JIKA PERLU
Pagi: 07.00 (1 kapsul) Siang:- Malam: 19.00 (1kapsul) Pagi: 07.00 (1 kapsul) Siang:- Malam: 19.00 (1kapsul)

(... menit/jam) Sesudah/Saat/Sebelum Makan (... menit/jam) Sesudah/Saat/Sebelum Makan


Jumlah : 20 Tablet BUD/ED: 7/24 Jumlah : 20 Kapsul BUD/ED: 7/24
Jauhkan Obat dari Jangkauan Anak-anak Jauhkan Obat dari Jangkauan Anak-anak
SEMOGA LEKAS SEMBUH SEMOGA LEKAS SEMBUH
APOTEK BK FARMA
Jl. Soekarno Hatta No. 754
Telp. 022-7830768
: 503/0020-PPK-IA/DPMPTSP/IV/2021
: apt. Bhakti Kencana, [Link]
SIA : 503/0081-SIPA/DPMPTSP/IV/2021
Apoteker SALINAN RESEP
SIPA
: 503/0081-SIPA/DPMPTSP/IV/2021

Resep dari dokter dr. Harwin Prestasia Putra, [Link] Tgl . 12 April 2022
Tgl Pembuatan10 maret 2022 No7
Pro. Tn/Ny/Nn Tn. EdiUmur 40 thn
Alamat Jln. Soekarno Hatta No. 370_

R/
R/ Azithromycin 250 mg Caps No. XX
S. bdd
Det
R/ Amoxicillin No. XX
[Link]
nedet
R/ Omeprazole No. XX
S. bdd
nedet – iter 2x
R/ Ibuprofen Tab No. XV
[Link] s.o.s
Det

PCC
PEMBAHASAN

Compounding and Dispensing

Pada kasus pertama CnD mengenai Obesitas yang biasa di sebut kegemukan
didefinisikan sebagai kelebihan lemak berat rata-rata untuk usia, jenis kelamin dan tinggi badan.
Obesitas adalah suatu keadaan dimanaterdapatnya penimbunan lemak berlebihan yang
diperlukan untuk fungsi tubuh manusia. Obesitas ini merupakan faktor resiko untuk terjadinya
berbagai penyakit degenerative,misalnya DM, hipertensi, penyakit jantung koroner dan beragai
jenis penyakit kanker. Pada kasus ini dokter memberikan resep yang berisi Atorvastatin tablet,
Metformin tablet 500 mg, dan Ranitidine tablet.

Dokter memberikan resep yang berisi Atorvastatin tablet, Metformin tablet 500 mg, dan
Ranitidine tablet. Dilakukan skrining resep, meliputi kajian administratif, farmasetik dan klinis
(Permenkes, 2016). Pertama, kajian administratif meliputi nama pasien, umur, jenis kelamin,
berat badan, nama dokter, nomor SIP, alamat, nomor telepon, paraf dokter, dan tanggal resep.
Dari hasil skrining administratif ditemukan ada beberapa kajian yang tidak ada data nya, seperti
umur pasien, berat badan pasien, paraf dokter serta tanggal resep. Maka dapat dilakukan
konfirmasi dahulu kepada pasiennya serta lakukan konfirmasi juga kepada dokter terkait paraf
dan tanggal resep tersebut dibuat kepada tempat pasien berobat sebelumnya. Kedua, kajian
farmasetiknya meliputi nama obat, kandungan zat aktif, bentuk sediaan, kekuatan sediaan,
kompatibilitas, dan stabilitas.

Atorvastatin adalah obat untuk menurunkan kolesterol jahat dan trigliserida, serta
meningkatkan kadar kolesterol baik di dalam darah. Metformin adalah obat medis yang memiliki
fungsi utama untuk menurunkan atau mengontrol kadar gula darah yang relatif tinggi pada
tubuh. Pada umumnya, obat ini dikonsumsi oleh pengidap diabetes tipe 2. Ranitidine adalah obat
untuk mengurangi jumlah asam lambung dalam perut.

Obat ini berfungsi untuk mengatasi dan mencegah rasa panas pada perut , maag, dan sakit
perut yang disebabkan oleh tukak lambung. Semua nya sudah sesuai kecuali bagian kekuatan
sediaan dimana untuk Atorvastatin tablet dipasaran itu tersedia dalam 3 dosis yaitu, 10 mg, 20
mg, dan 30 mg maka perlu dilakukan konfirmasi pada dokter untuk memastikan dosis nya. Pada
bagian ketepatan dosis untuk obat Atorvastatin terdapat ketidaktepatan dosis yaitu pada resep
dibuat 3 kali sehari sedangkan untuk golongan statin biasanya diberikan dengan dosis 1 kali
sehari pada malam hari, maka perlu dilakukan konfirmasi pada dokternya. Hal ini membuat
tubuh tidak dapat berfungsi dengan baik dan dapatmembahayakan jiwa, khususnya pada anak
dan orang tua.

Pada kasus kedua ini dokter memberikan resep yang berisi Azitromisin sirup, Proris forte
sirup, dan Zinc sirup 20 mg. Pertama kajian administratif sudah sesuai kecuali umur pasien,
nomor telepon, paraf dokter, dan tanggal resep maka harus dilakukan konfirmasi terkait pada
pasien dan dokter yang membuat resep tersebut. Perlu diketahui, obat ini tidak bisa digunakan
untuk mengobati infeksi virus. Syrup adalah obat yang digunakan untuk meredakan demam,
sakit kepala, sakit gigi, sakit pada telinga, nyeri haid, dan nyeri ringan lainnya.

Azithromycin termasuk kelompok obat antibiotik makrolida. Proris Forte Syrup adalah
obat yang digunakan untuk meredakan demam, sakit kepala, sakit gigi, sakit pada telinga, nyeri
haid, dan nyeri ringan lainnya. Zinc sulphate adalah suplemen untuk mencegah atau mengatasi
kekurangan zinc atau seng. Terdapat tidak tepatan dosis pada obat Azitromisin dimana dosis
yang diberikan pada pasien itu 20 mg/kg/hari sedangkan dosis lazim dari Azitromisin adalah 10
mg/kg/hari. Untuk Azitromisin merupakan obat antibiotik yang diberikan hanya sekali sehari ,
maka harus dilakukan konfirmasi pada dokter agar tidak terjadi medication error. Untuk
pemberian etiketnya, Azitromisin sirup diminum 2 kali sehari 1 sendok teh sesudah makan dan
Zinc sirup diminum 1 kali sehari 1 sendok teh sesudah makan.

Pada resep dengan kasus peptic ulser, dilakukan proses compounding dan dispensing.
Pada pengkajian administratif terdapat 10 komponen yang harus dicek, dari 10 komponen
tersebut 7 komponen yaitu nama pasien, umur pasien, jenis kelamin, nama dokter dan paraf
dokter, tanggal resep, dan nomor telepon dipastikan tercantum pada resep. Sedangkan 3
komponen lagi yaitu jenis berat badan, No SIP dan paraf dokter tidak tercantum dalam resep,
apabila ada beberapa komponen yang tidak lengkap maka wajib bagi tenaga kefarmasian untuk
mengkonfirmasi kembali kepada dokter yang menuliskan resep sehingga komponen tersebut
dapat terlengkapi.

Berat badan pasien penting apabila dalam resep terdapat obat yang dosisnya disesuaikan
dari berat badan pasien Paraf dokter sendiri adalah salah satu komponen yang berfungsi untuk
memastikan keaslian resep, apakah benar resep tersebut dibuat oleh dokter yang bersangkutan.
Sedangkan, nomor SIP berfungsi untuk memastikan bahwa apotek tempat resep ditebus terjamin
kualitasnya di lihat dari apoteker yang sudah memiliki SIP.

Setelah pengkajian administrative lalu selanjutnya adalah pengkajian secara farmasetik


pengkajian farmasetik ini terdiri atas nama obat, bentuk sediaan, kekuatan obat, jumlah obat,
signa/ aturan pakai, dan aturan atau cara dispensing obat. Dari semua obat yang ada maka
masing-masing obat diperiksa kelengkapan farmasetiknya. Dari 6 komponen farmasetik yang
harus terpenuhi 4 diantaranya yaitu nama obat, kandungan zat aktif obat, bentuk sediaan dan
kekuatan sediaan sudah tertera dalam resep. Sedangkan untuk kompatibilitas dan stabilitas tidak
tercantum pada resep.

Selain pengkajian administrative dan farmasetik terdapat pula pengkajian dari aspek
klinis, di mana pada tahap ini diperiksa ketepatan indikasi dan dosis, aturan dan cara penggunaan
obat, polifarmasi, ROTD, kontraindikasi dan interaksi. pada pengkajian indikasi dan dosis
terdapat terapi yang kurang tepat, di mana kombinasi antibiotic yang biasa diberikan pada pasien
peptic ulser adalah Amoksisilin 1000 mg 2 kali sehari dan Klaritromisin 500 mg 2 kali sehari.
Selain itu sudah tidak ada ketidak sesuaian dari segi pengkajian klinis.
Setelah obat disiapkan maka dibuat pula etiket obat. Etiket obat yang digunakan adalah
etiket putih karena obat yang diresepkan merupakan obat dalam yang cara penggunaannya secara
oral. Selain itu, Resep dibuat Salinan resep karena pada apotek tempat akan menebus obat
terdapat beberapa obat yang tidak ada dan terdapat tanda “iter” yang artinya di ulang pada obat
omeprazole. Pada Salinan resep, obat ditulis seluruhnya termasuk obat yang sudah diberikan.
Pada obat yang sudah diberikan maka diberi tanda tulisan “det” sedangkan pada obat yang belum
diberikan diberi tanda berupa tulisan “nedet”.

Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (KIE)


Pada praktikum kali ini dilakukan pula proses Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (KIE)
obat pada 3 kasus yang tersedia. KIE adalah suatu proses penyampaian informasi antara apoteker
dengan pasien atau keluarga pasien yang dilakukan secara sistematis untuk memberikan
kesempatan kepada pasien atau keluarga pasien dan membantu meningkatkan pengetahuan,
pemahaman sehingga pasien atau keluarga pasien memperoleh keyakinan akan kemampuan
dalam penggunaan obat yang benar.
Pada kasus 1 KIE pasien di diagnosa acute gastroenteritis Gastroenteritis akut adalah
suatu keadaan dimana seseorang buang air besar dengan konsisteni lembek atau cair bahkan
dapat berupa air saja dan frekuensinya lebih sering (biasanya tiga kali atau lebih ) dalam satu hari
. Gejala yang dialami yaitu diare yang sudah lebih dari 25 kali, temperature 39,5° C dan muntah.
Pasien diberikan penatalaksanaan
Ceftriaxone 2 x 300 mg iv
Ibuprofen 3 – 4 x 100 mg prn
Lacto b 2 x 1 sachet
Zinc 20 mg 1 x 1 RL infus.

1. Skrinning pengobatan
Dari gejala yang dialami oleh pasien tersebut didapatkan hasil skrining bahwa:
 Ceftriaxone diberikan kepada pasien karena telah mengalami diare lebih dari 25 kali,
hal ini diduga karena terjadi infeksi bakteri atau virus. Diperkuat dengan adanya
demam. Pemberian antibiotik pada pasien dengan gastroenteritis akut seharusnya
dilakukan dengan terlebih dahulu melakukan tes laboratorium pada feses atau darah.
 Ibuprofen diberikan untuk mengurangi rasa demam hal ini dapat dilihat dari gejala
yang dialami pasien yaitu adanya demam dengan temperature tubuh mencapai 39,5oC.
 Lacto-B diberikan sebagai terapi tambahan pada gastroenteritis, dimana Lacto B
mengandung probiotik dan prebiotic untuk memperbaiki pencernaan pasien.
 Zinc 20 mg merupakan terapi untuk diare dimana zinc merupakan mikronutrien yang
diperlukan untuk mengurangi frekuensi diare serta mencegah terjadinya diare kembali.
 RL Infus diberikan sebagai terapi untuk mengobati dehidrasi.

2. Apakah terdapat DPRs?


Dari kasus yang diatas terdapat DRPs pada pemberian jenis antibiotik. Biasanya pada
kasus gastroenteritis akut dengan diare, jenis antibiotik yang diberikan biasanya adalah
metronidazole atau kombinasi sulfametoxazol dan trimetoprim. Antibiotik pun diberikan
jika pasien mengalami BAB berdarah.
3. Bila terdapat DPRs apa rekomendasinya?
Rekomendasi yang dilakukan yaitu pemeriksaan laboratorium pada sampel feses atau
darah pasien untuk menentukan jenis bakteri apa yang menyebabkan penyakit. Setelah
itu, barulah dilakukan terapi antibiotik yang sesuai. Selanjutnya kita perlu melakukan
rencana monitoring kefarmasiann pada kasus ini, monitoring yang akan dilakukan
diantaranya yaitu derajat dehidrasi.
4. Bagaimana cara monitoring kefarmasiannya?
Menurut WHO, derajat dehidrasi dapat dibagi menjadi dehidrasi ringan/ tanpa dehidrasi,
sedang, dan berat Monitoring frekuensi diare serta konsistensi feses, Monitoring suhu
tubuh pasien, dimana jika suhu tubuh telah turun dan normal maka ibuprofen boleh
dihentikan.
5. Berapa ml RL yang diperlukan?
Dosis RL pada kasus dehidrasi sedang-berat yang memerlukan rehidrasi secara intravena
maka dosis yang dianjurkan adalah 100 mL/KgBB yang dibagi menjadi Pemberian
pertama 30 mL/kg BB selama 30 menit. Pemberian selanjutnya 70 mL/kg BB selama 2 ½
[Link] diketahui BB pasien adalah 10 kg maka kebutuhan RL = 100 mL/kg BB x
10 kg = 1000 mL dengan cara pemberian = 300 mL selama 30 menit setelah itu
dilanjutkan 700 mL selama 2,5 jam.

Pada kasus 2 KIE pasien didiagnosa penyakit ulkus peptikum yang diinduksi oleh bakteri
Helicobacter Pylori. Obat yang diresepkan kepada pasien diantaranya:
- Azitromisin 250 mg – 2 x sehari selama 10 hari
- Amoxicillin 1000 mg – 2 x sehari selama 10 hari
- Omeprazole 20 mg – 2 x sehari selama 10 hari diikuti tambahan 18 hari
Dari resep tersebut regimen obat yang diberikan dinyatakan kurang tepat pada pemberian
kombinasi antibiotic yang diresepkan, selain itu waktu lama nya konsumsi obat dinyatakan
kurang tepat. Karena regimen obat yang diresepkan kurang sesuai maka perlu dilakukan
beberapa perubahan obat, berikut obat yang direkomendasikan serta lama waktu konsumsi obat
yang dianjurkan:
- Omeprazole 20 mg – 2 x sehari selama 7 hari
- Klaritromisin 500 mg – 2 x sehari selama 7 hari
- Amoksisilin 1000 mg – 2 x sehari selama 7 hari
Apabila pengobatan telah diberikan, maka perlu dilakukan monitoring dan konseling
untuk mengetahui sejauh mana pengetahuan dan kemampuan pasien dalam menjalani
pengobatan serta untuk memantau terapi yang telah dijalani oleh pasien.
Konseling yang dilakukan antara lain:
1) Pemberian informasi obat terkait aturan pakai obat
Omeprazole 20 mg – 2 x sehari selama 7 hari
Omeprazole dikonsumsi sehari 2 kali setiap 12 jam yaitu pada (jam 7.00 pagi untuk dosis
pertama dan jam 19.00 malam untuk dosis kedua) 30-60 menit sebelum makan
Klaritromisin 500 mg – 2 x sehari selama 7 hari
Klaritromisin dikonsumsi sehari 2 kali setiap 12 jam yaitu pada (jam 7.00 pagi untuk
dosis pertama dan jam 19.00 malam untuk dosis kedua) 30-60 menit setelah makan,
selama 7 hari obat harus dihabiskan
Amoksisilin 1000 mg – 2 x sehari selama 7 hari
Amoksisilin dikonsumsi sehari 2 kali setiap 12 jam yaitu pada (jam 7.00 pagi untuk dosis
pertama dan jam 19.00 malam untuk dosis kedua) 30-60 menit setelah makan, selama 7
hari obat harus dihabiskan
2) Pemberian informasi obat terkait efek samping obat
Omeprazole: Mual, muntah, diare, sembelit, perut kembung, sakit perut, lemas, urtikaria,
sakit kepala dan insomnia
Klaritromisin: Sakit perut, diare, mual, muntah, dysgeusia, dyspepsia, insomnia dan sakit
kepala
Amoksisilin: Sakit kepala, pusing, agitasi, Ruam, urtikaria, pruritus
3) Pemberian informasi terkait terapi non-farmakologi
- Mengurangi konsumsi makanan pedas, asam, kopi, teh dan alcohol
- Tidak atau mengurangi merokok
- Makan dalam porsi yang sedikit tapi sering
- Menjaga pola hidup sehat
- Menjaga kebersihan

Monitoring yang dilakukan:


- Monitoring efek samping obat
- Monitoring penggunaan antibiotic
- Diagnosis terjadinya eradikasi h. pylori dilakukan dengan C-Urea Breath Test Kits Test
melibatkan pengumpulan sampel napas sebelum dan sesudah konsumsi larutan oral C-
urea; Sampel dikirim untuk dianalisis oleh laboratorium yang sesuai.
- Apabila terapi gagal maka dapat direkomendasikan 2 minggu pengobatan menggunakan
PPI + tripotassium dicitratobismuthate + tetracycline atau pasien dapat dirujuk untuk
endoskopi dan pengobatan berdasarkan hasil pengujian kultur dan sensitivitas (BNF, 78)

Pada kasus 3 KIE pasien didiagnosa mengalami obesitas. Pasien, berusia 20 tahun, sejak
kecil sudah berbadan gemuk. Saat ini dia mempunyai berat badan 75 kg dengan tinggi badan 157
cm. Lingkar pinggang/perutnya: 95 cm. Beberapa hari yang lalu dia melakukan medical check-
up, dan mendapatkan hasil sebagai berikut :

Kolesterol total : 275 mg/dL

Kolesterol LDL : 180 mg/dL


Kolesterol HDL : 40 mg/dL

Trigliserida : 250 mg/dL

Glukosa puasa : 125 mg/dL

Ayahnya sudah meninggal karena PJK saat usia 58 tahun, ibunya penderita DM semenjak 5
tahun yang lalu. Dokter memberikan statin dan metformin.

Bagaimana penatalaksaan obesitas baik secara farmakologik maupun non farmakologik?

Farmakologi :

Berikut adalah beberapa obat yang digunakan untuk pasien penderita obesitas, yaitu:

1. Orlistat menginduksi penurunan berat badan dengan cara menurunkan absopsi lemak dan
mengembangkan profil lipid, control glukosa dan metabolit yang lain. Nyeri perut atau
colic, flatulence, fecal urgency, banyak terjadi pada 80% individu dari ringan sampai
berat. Dan berkembang setelah 1-2 tahun terapi. Orlistat berinteraksi dengan absorpsi
vitamin larut lemak dan siklosporine.
2. Sibutramine lebih efektif dari pada placebo tetapi pasien akan berkurang berat  badannya
setelah 6 bulan terapi. Mulut kering, anorexia, insomnia, konstipasi, pening, mual timbul
3 kali lebih sering dari pada placebo. Sibutramine tidak digunakan pada  pasien dengan
stroke, penyakit arteri koroner, CHF, aritmia, dan yang menggunakan MAOi.
3. Pentermine (30 mg pada pagi hari atau 8 mg sebelum makan ) adalah stimulant yang
agak kuat dan potensial penyalahgunaan yang lebih rendah daripada amphetamine dan
lebih efektif daripada placebo-control studies. Efek samping ( peningkatan tekanan darah,
palpitasi, aritmia, midriasis, peningkatan kerja insulin hingga terjadi hipoglikemi) dan
ineteraksi dengan MAOI yang memiliki implikasi pada beberapa  pasien.
4. Dietilpropion ( 25 mg sebelum makan atau 75 mg pada sediaan lepas lambat setiap  pagi)
lebih efktif dari pada placebo dapat mengurangi berat badan dengan cepat. Adalah salah
satu supresan noradrenergic yang aman dan dapt digunakan pada pasien dengan
hipertensi ringan sampai sedang atau angina tapi tidak dapat digunakan pada  pasien
dengan hipertensi berat atau penyakit kardiovaskuler yang signifikan.
5. Amfetamin secara umum dihindari karena kekuatan stimulan dan potensial adiksi nya.
6. Efedrin (20 mg dengan atau tanpa caffeine 200 mg, sampai 3 kali sehari) memiliki
aktifitas supresif dan termogenik yang lebih baik daripada placebo dalam percobaan
hingga 6 bulan. Efek samping yang umum terjadi adalah tremor, agitasi, panic, keringat
berlebih dan insomnia, palpitasi dan takikardi juga pernah dilaporkan.
7. Agen serotonergik memiliki stimulant pusat yang dihubungkan dengan potesi  penyalah
gunaan dengan komponen noradrenergic tapi agen serotonergik dapat mengubah pola
tidur dan mengubah kebiasaan.
8. Pasien yang menerima fluoksetin 65 mg sehari memiliki penurunan berat badan 2-4 kg
dari pada percobaan control-plasebo. Tapi tidak berbeda diantara masing-masing grup
dalam periode hingga 1 tahun. Penemuan sejenis juga ditemukan pada penggunaan
sertralin 200mg per hari.
9. Peptida- peptida (seperti leptin, neuropeptida Y, galanin) yang sedang diselidiki karena
manipulasi eksogenus mungkin menyediakan pendekatan terapetik kedepan untuk
manajemen obesitas (dipiro, 2005).

Karena pasien tergolong obesitas (BMI: 30.0-34.9 kg/m2 ) sangat dianjurkan untuk
diberikan Apisate® 1/3 tablet perhari (dosis kecil ini bertujuan untuk mengurangi efek samping
obat). Dari hasil uji laboratorium pasien didapatkan data bahwa total kolesterol adalah 275;
kadar LDL adalah 180; kadar HDL adalah 40, Trigliserida 250; Glukosa puasa 125. Hal tersebut
sangat berbahaya karena tidak sesuai dengan batas kadar normal. Terapi farmakologi dilakukan
dengan penggunaan obat – obatan antikolesterol. Pasien sebaiknya diberikan obat penurun
kolesterol (Lipitor). Kadar gula darah pasien yaitu 125 mg/dl sehingga pasien harus diberikan
obat antidiabetes seperti metformin dan untuk dislipidemia, diberikan obat golongan statin agar
komplikasi tidak berlanjut.

Non Farmakologi :

- Olahraga yang teratur misalnya jalan cepat, seminggu 3-4 kali selama 20 menit, dan
meningkatkan aktivitas fisik yang lain.
- Mengurangi makanan berlemak seperti daging, jeroan, dan seafood.
- Menghindari makanan olahan atau siap saji
- Mengurangi konsumsi makanan manis seperti cokelat, permen.
- Perbanyak makanan berserat seperti sayur dan buah

Bagaimana mekanisme kerja, efek sammpung dan kontra indikasi obat antilipid?

Obat-obat yang dapat digunakan pada hiperlipidemia (Lipid) meliputi:


1. Niasin atau Asam Nikotinat (vitamin B7)
Obat ini mempunyai kemampuan menurunkan lipid yang luas, tetapi penggunaan dalam
klinik terbatas karena efek samping yang tidak menyanangkan.
- Mekanisme kerja
Menghambat lipolisis trigiliserida menjadi asam lemak bebas. Di hati, asam lemak bebas
digunakan sebagai bahan sintesis trigliserida yang selanjutnya senyawa ini diperlukan
untuk sintesis VLDL.
- Efek smaping
kemerahan pada kulit (disertai perasaan panas) dan pruritus (rasa gatal pada kulit), pada
sebagian pasien mengalami mual dan sakit pada abdomen, meningkatkan kadar asam urat
(hiperurikemia) dengan menghambat sekresi tubular asam urat, toleransi glukosa dan
hepatotoksik.
- Kontra indikasi
Riwayat alergi atau hipersensitivitas terhadap komponen obat ini.

2. Derivat Asam Fibrat


Termasuk golongan ini adalah Fibrat-Klofibrat-Bezafibrat dan Gemfibrozil yang
menurunkan kadar trigliserida darah. Obat ini sedikit menurunkan kadar kolesterol.
Digunakan terutama untuk menurunkan VLDL pada hiperlipidemia tipe IIb, III dan V.

- Mekanisme Kerja
Memacu aktivitas lipase lipoprotein, sehingga menghidrolisis trigliserida pada
kilomikron dan VLDL.

- Efek Samping
1. Efek gastrointestinal: gangguan pencernaan ringan
2. Litiasis : pembentukan batu empedu
3. Keganasan : terutama Klofibrat yang dapat menyebabkan keganasan terkait dengan
kematian
4. Otot : Miositis (peradangan otot polos)

- Kontra indikasi
Pasien dengan kelainan fungsi hati, ginjal atau pasien dengan penyakit kandung empedu.
3. Resin Pengikat Asam Empedu
Termasuk golongan ini adalah Kolesteramin dan Kolestipol.

- Mekanisme kerja
obat ini merupakan resin (damar) penukar ion yang bersifat basa, yang mempunyai
afinitas tinggi terhadap asam empedu. Asam empedu akan diikat oleh resin ini,
membentuk senyawa yang tidak larut dan tak dapat direabsorbsi untuk selanjutnya
diekskresi melalui feses.
- Efek Samping
1. Efek gastrointestinal: konstipasi, mual dan kembung (flatulen)
2. Gangguan absorbsi: mengganggu absorbsi vitamin larut lemak (A,D,E,K) pada resin
dosis tinggi.
- Kontra Indikasi
Pasien dengan Riwayat Alergi terhadap obat ini, anak anak dan lansia

4. Probukol
Obat ini menurunkan kadar HDL dan LDL, maka obat ini tidak disukai. Namun sifat
antioksidannya penting dalam menghambat aterosklerosis.
- Mekanisme Kerja
Menghambat oksidasi kolesterol, sehingga terjadi penguraian LDL-kolesterol yang
teroksidasi oleh makrofag.
- Efek Samping
Gangguan pencernaan ringan.
- Kontra Indikasi
Ibu hamil dan menyusui, anak-anak dan remaja.

5. Inhibitor HMG-CoA (Hidroksimetilglutaril koenzim A) Reduktase


Termasuk golongan ini adalah Lovastatin, Pravastatin, Simvastatin dan Fluvastatin.
- Mekanisme Kerja
Menghambat enzim HMG Co A reduktase dalam sintesis kolesterol, dengan demikian
akan meningkatkan penguraian kolesterol intrasel sehingga mengurangi simpanan
kolesterol intrasel.
- Efek Samping
kelainan biokimiawi fungsi hati dan gangguan oto (miopati)
- Kontra indikasi
ibu hamil dan menyusui, anak-anak dan remaja.

Bagaimana konseling yang direncanakan untuk Bunga?

Melakukan Modifikasi gaya hidup

Perubahan perilaku pasien sangat diperlukan untuk mendapatkan efek maksimal dari terapi yang
diberikan. Modifikasi perilaku dilakukan melalui langkah-langkah  berikut:

- Tentukan kesiapan pasien untuk menurunkan berat badan dan kemauan untuk
menerapkan rencana penurunan berat badan.
- Membangun dan memelihara kemitraan pasien-pengelola.
- Menata kembali kemampuan kognitif.
- Menetapkan tujuan yang ingin dicapai.
- Sering menghubungi pasien.
- Anjurkan pasien tentang pentingnya teknik monitoring sendiri.
- Pengendalian rangsangan yang negatif yang dapat mempengaruhi penurunan  berat
badan atau berat pemeliharaan.
- Berikan hadiah kepada pasien untuk setiap penurunan berat badan
DAFTAR PUSTAKA

BNF. 2019. British National Formulary. Edisi 78. British Medical Association and Royal
Pharmaceutical Society of Great Britain. London.

Dipiro et al, 2005, Pharmacotherapy A Pathophyisiologic Approach, McGraw-Hill Companies,


USA

ISO Indonesia. Volume XXXV. 2001. Ikatan Sarjana Farmasi Indonesia. Jakarta: PT. AKA

Katzung, G. Bertram. 1998. Farmakologi Dasar dan Klinik; Edisi keenam; Jakarta: EGC

Kee, Joyce L dan Hayes, Evelyn R. 1996. Farmakologi, Pendekatan Proses Keperawatan. EGC:
Jakarta

MIMS Online. Amoxicillin. Diakses 12 April 2022.


[Link]

MIMS Online. Clarithromycin. Diakses 12 April 2022.


[Link]

MIMS Online. Omeprazole. Diakses 12 April 2022.


[Link]

Mycek, J. Mary, Harvey, A. Richard dan Champe, C. Pamela. 2001. Farmakologi, Ulasan
Bergambar; Edisi kedua. Jakarta: Widya Medika

RISKESDAS, 2013. Riset Kesehatan Dasar. Badan Penelitian Dan Pengembangan Kesehatan
Kementerian Kesehatan RI, Jakarta.
Tan, Hoan, Tjay dan Rahardja, Kirana: 1991. Obat-obat Penting; Edisi Keempat

Waspadji, Sarwono, et all, 2003, Pengkajian Status Gizi, Cetakan Pertama, Balai Penerbit:
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia

Woodley, Michele dan Whelan, Alison. 1995. Pedoman Pengobatan; Edisi Pertama. Yogyakarta:
Yayasan Essentia Medica dan Andi Offset

Anda mungkin juga menyukai