Hasil Pengamatan 1. Kasus Obesitas: (Iter)
Hasil Pengamatan 1. Kasus Obesitas: (Iter)
1. Kasus Obesitas
dr. Harwin Prestasia Putra, [Link] Jl. Adi Flora, Cempaka Raya No. 1
Telp. 022-09668
SIP. 0004/IPM-DUM/VII/2020/DPMPTSP
Bandung, ................22
R/ Atorvastatin No. X
Stdd
R/ Ranitidine No. XX
Sbdd
Kekuatan Sediaan 10-40 mg/hari 2 x 500 mg/hari 150 mg/hari Menurut ISO Vol 50 2016
Kompatibilitas - - - -
Pengkajian Klinis
Ketepatan indikasi dan Tidak tepat dosis atorvastatin yang diberikan tidak tepat dengan dosis
dosis sehari 3 kali. Atorvastatin atau golongan statin biasanya
diberikan dengan dosis satu kali sehari pada malam hari.
Maka harus dilakukan konfirmasi pada dokter mengenai
aturan pakai obat atorvastatin.
Penggunaan selektif terapi misalnya antasida dapat
dipertimbangkan Pasien disarankan untuk segera
melaporkan tanda dan gejala seperti mual, muntah,
gangguan penglihatan, sulit tidur, ruam pada kulit dan
kepala pusing
Penandaan obat dalam penyerahan menggunakan etiket berwarna putih karena seluruh obat dalam
resep digunakan secara oral
APOTEK BK FARMA
Jl. Soekarno Hatta No. 754 Telp. 022-7830768
APA : apt. Bhakti Kencana, [Link]
SIPA : 503/0081-SIPA/DPMPTSP/IV/2021
SIA : 503/0020-PPK-IA/DPMPTSP/IV/2021
No. 1 A Tgl. 5 April 2022
Nama : Ny. Nengsih
APOTEK BK FARMA
Jl. Soekarno Hatta No. 754 Telp. 022-7830768
APA : apt. Bhakti Kencana, [Link]
SIPA : 503/0081-SIPA/DPMPTSP/IV/2021
SIA : 503/0020-PPK-IA/DPMPTSP/IV/2021
No. 1 C Tgl. 5 April 2022
Nama : Ny. Nengsih
Sehari 2 x 1 Tab/Kapsul/Bungkus
Khasiat :
DIHABISKAN/JIKA PERLU
Pagi: 07.00 Siang: 14.00 Malam: 22.00
R/ Atorvastatin No. X
S. tdd
Det
Det orig
R/ Ranitidin No. X
S. bdd
APOTEK BK FARMA
Nedet Jl. Soekarno Hatta No. 754
Telp. 022-7830768
SIA : 503/0020-PPK-IA/DPMPTSP/IV/2021
Apoteker : apt. Bhakti Kencana, [Link]
SIPA : 503/0081-SIPA/DPMPTSP/IV/2021
SALINAN RESEP
Resep dari dokter: harwin prestasi P Sp.PD_Tgl 5 april
2022_
Tgl Pembuatan 5 April 2022 No.: 1A
Pro. NyNengsih Umur 55 thn
AlamatJLmaleer indah No. 16
2. Kasus Diare
PC
C
Etiket
APOTEK BK FARMA
Jl. Soekarno Hatta No. 754
Telp. 022-7830768
APA : apt. Bhakti Kencana, M. Farm
SIPA : 503/0081-SIPA/DPMPTSP/IV/2021
SIA : 503/0020-PPK-IA/DPMPTSP/IV/2021
No. 01 Tgl. 11/04/2022
Nama : An. Kenzo Tgl Lahir: -
Khasiat : Antibiotik
DIHABISKAN
APOTEK BK FARMA
Jl. Soekarno Hatta No. 754
Telp. 022-7830768
APA : apt. Bhakti Kencana, M. Farm
SIPA : 503/0081-SIPA/DPMPTSP/IV/2021
SIA : 503/0020-PPK-IA/DPMPTSP/IV/2021
No. 01 Tgl. 11/04/2022
Nama : An. Kenzo Tgl Lahir: -
Jumlah : 1 BUD/ED: -
Salinan Resep
APOTEK BK FARMA
Jl. Soekarno Hatta No. 754
Telp. 022-7830768
SIA : 503/0020-PPK-IA/DPMPTSP/IV/2021
Apoteker : apt. Bhakti Kencana, [Link]
SIPA : 503/0081-SIPA/DPMPTSP/IV/2021
SALINAN RESEP
R/ Azitromisin No. 1
S bdd 1 cth------------------------------------------ det
R/ Proris Forte Syr No. 1
Stdd 1 cth s.o.s ------------------------------------- nedet
R/ Zink 20 mg No. 1
S sdd 1 cth ------------------------------------------ det
P.C.C
Amoxicillin No. XX
Sbdd
R/ Omeprazole 20 mg Caps
No. XX (Iter 2x)
Sbdd
Pengkajian Farmasetik
Nama Obat Azithromycin Amoxicillin Omeprazole Ibuprofen
APOTEK BK FARMA
Jl. Soekarno Hatta No. 754 Telp. 022-7830768
APA : apt. Bhakti Kencana, [Link]
SIPA : 503/0081-SIPA/DPMPTSP/IV/2021
SIA : 503/0020-PPK-IA/DPMPTSP/IV/2021
No. 7 A Tgl. 5 April 2022
Nama : Tn. Edi Tgl Lahir:07/07/1982
Sehari 2 X 1 Tab/Kapsul/Bungkus
Khasiat : antibiotic
DIHABISKAN/JIKA PERLU
Pagi: 07.00 (1 kapsul) Siang:- Malam: 19.00 (1kapsul)
APOTEK BK FARMA
Jl. Soekarno Hatta No. 754 Telp. 022-7830768
APA : apt. Bhakti Kencana, [Link]
SIPA : 503/0081-SIPA/DPMPTSP/IV/2021
SIA : 503/0020-PPK-IA/DPMPTSP/IV/2021
No. 7 B Tgl. 5 April 2022
Nama : Tn. Edi Tgl Lahir:07/07/1982
Sehari 2 X 1 Tab/Kapsul/Bungkus
Khasiat : antibiotic
DIHABISKAN/JIKA PERLU
Pagi: 07.00 (1 kapsul) Siang:- Malam: 19.00 (1kapsul)
APOTEK BK FARMA
Jl. Soekarno Hatta No. 754 Telp. 022-7830768
APA : apt. Bhakti Kencana, [Link]
SIPA : 503/0081-SIPA/DPMPTSP/IV/2021
SIA : 503/0020-PPK-IA/DPMPTSP/IV/2021
No. 7 C Tgl. 5 April 2022
Nama : Tn. Edi Tgl Lahir:07/07/1982
Sehari 2 X 1 Tab/Kapsul/Bungkus
Khasiat : Lambung
DIHABISKAN/JIKA PERLU
Pagi: 06.30 (1 kapsul) Siang:- Malam: 18.30 (1kapsul)
APOTEK BK FARMA
Jl. Soekarno Hatta No. 754 Telp. 022-7830768
APA : apt. Bhakti Kencana, [Link]
SIPA : 503/0081-SIPA/DPMPTSP/IV/2021
SIA : 503/0020-PPK-IA/DPMPTSP/IV/2021
No. 7 D Tgl. 5 April 2022
Nama : Tn. Edi Tgl Lahir:07/07/1982
Resep dari dokter dr. Harwin Prestasia Putra, [Link] Tgl . 12 April 2022
Tgl Pembuatan10 maret 2022 No7
Pro. Tn/Ny/Nn Tn. EdiUmur 40 thn
Alamat Jln. Soekarno Hatta No. 370_
R/
R/ Azithromycin 250 mg Caps No. XX
S. bdd
Det
R/ Amoxicillin No. XX
[Link]
nedet
R/ Omeprazole No. XX
S. bdd
nedet – iter 2x
R/ Ibuprofen Tab No. XV
[Link] s.o.s
Det
PCC
PEMBAHASAN
Pada kasus pertama CnD mengenai Obesitas yang biasa di sebut kegemukan
didefinisikan sebagai kelebihan lemak berat rata-rata untuk usia, jenis kelamin dan tinggi badan.
Obesitas adalah suatu keadaan dimanaterdapatnya penimbunan lemak berlebihan yang
diperlukan untuk fungsi tubuh manusia. Obesitas ini merupakan faktor resiko untuk terjadinya
berbagai penyakit degenerative,misalnya DM, hipertensi, penyakit jantung koroner dan beragai
jenis penyakit kanker. Pada kasus ini dokter memberikan resep yang berisi Atorvastatin tablet,
Metformin tablet 500 mg, dan Ranitidine tablet.
Dokter memberikan resep yang berisi Atorvastatin tablet, Metformin tablet 500 mg, dan
Ranitidine tablet. Dilakukan skrining resep, meliputi kajian administratif, farmasetik dan klinis
(Permenkes, 2016). Pertama, kajian administratif meliputi nama pasien, umur, jenis kelamin,
berat badan, nama dokter, nomor SIP, alamat, nomor telepon, paraf dokter, dan tanggal resep.
Dari hasil skrining administratif ditemukan ada beberapa kajian yang tidak ada data nya, seperti
umur pasien, berat badan pasien, paraf dokter serta tanggal resep. Maka dapat dilakukan
konfirmasi dahulu kepada pasiennya serta lakukan konfirmasi juga kepada dokter terkait paraf
dan tanggal resep tersebut dibuat kepada tempat pasien berobat sebelumnya. Kedua, kajian
farmasetiknya meliputi nama obat, kandungan zat aktif, bentuk sediaan, kekuatan sediaan,
kompatibilitas, dan stabilitas.
Atorvastatin adalah obat untuk menurunkan kolesterol jahat dan trigliserida, serta
meningkatkan kadar kolesterol baik di dalam darah. Metformin adalah obat medis yang memiliki
fungsi utama untuk menurunkan atau mengontrol kadar gula darah yang relatif tinggi pada
tubuh. Pada umumnya, obat ini dikonsumsi oleh pengidap diabetes tipe 2. Ranitidine adalah obat
untuk mengurangi jumlah asam lambung dalam perut.
Obat ini berfungsi untuk mengatasi dan mencegah rasa panas pada perut , maag, dan sakit
perut yang disebabkan oleh tukak lambung. Semua nya sudah sesuai kecuali bagian kekuatan
sediaan dimana untuk Atorvastatin tablet dipasaran itu tersedia dalam 3 dosis yaitu, 10 mg, 20
mg, dan 30 mg maka perlu dilakukan konfirmasi pada dokter untuk memastikan dosis nya. Pada
bagian ketepatan dosis untuk obat Atorvastatin terdapat ketidaktepatan dosis yaitu pada resep
dibuat 3 kali sehari sedangkan untuk golongan statin biasanya diberikan dengan dosis 1 kali
sehari pada malam hari, maka perlu dilakukan konfirmasi pada dokternya. Hal ini membuat
tubuh tidak dapat berfungsi dengan baik dan dapatmembahayakan jiwa, khususnya pada anak
dan orang tua.
Pada kasus kedua ini dokter memberikan resep yang berisi Azitromisin sirup, Proris forte
sirup, dan Zinc sirup 20 mg. Pertama kajian administratif sudah sesuai kecuali umur pasien,
nomor telepon, paraf dokter, dan tanggal resep maka harus dilakukan konfirmasi terkait pada
pasien dan dokter yang membuat resep tersebut. Perlu diketahui, obat ini tidak bisa digunakan
untuk mengobati infeksi virus. Syrup adalah obat yang digunakan untuk meredakan demam,
sakit kepala, sakit gigi, sakit pada telinga, nyeri haid, dan nyeri ringan lainnya.
Azithromycin termasuk kelompok obat antibiotik makrolida. Proris Forte Syrup adalah
obat yang digunakan untuk meredakan demam, sakit kepala, sakit gigi, sakit pada telinga, nyeri
haid, dan nyeri ringan lainnya. Zinc sulphate adalah suplemen untuk mencegah atau mengatasi
kekurangan zinc atau seng. Terdapat tidak tepatan dosis pada obat Azitromisin dimana dosis
yang diberikan pada pasien itu 20 mg/kg/hari sedangkan dosis lazim dari Azitromisin adalah 10
mg/kg/hari. Untuk Azitromisin merupakan obat antibiotik yang diberikan hanya sekali sehari ,
maka harus dilakukan konfirmasi pada dokter agar tidak terjadi medication error. Untuk
pemberian etiketnya, Azitromisin sirup diminum 2 kali sehari 1 sendok teh sesudah makan dan
Zinc sirup diminum 1 kali sehari 1 sendok teh sesudah makan.
Pada resep dengan kasus peptic ulser, dilakukan proses compounding dan dispensing.
Pada pengkajian administratif terdapat 10 komponen yang harus dicek, dari 10 komponen
tersebut 7 komponen yaitu nama pasien, umur pasien, jenis kelamin, nama dokter dan paraf
dokter, tanggal resep, dan nomor telepon dipastikan tercantum pada resep. Sedangkan 3
komponen lagi yaitu jenis berat badan, No SIP dan paraf dokter tidak tercantum dalam resep,
apabila ada beberapa komponen yang tidak lengkap maka wajib bagi tenaga kefarmasian untuk
mengkonfirmasi kembali kepada dokter yang menuliskan resep sehingga komponen tersebut
dapat terlengkapi.
Berat badan pasien penting apabila dalam resep terdapat obat yang dosisnya disesuaikan
dari berat badan pasien Paraf dokter sendiri adalah salah satu komponen yang berfungsi untuk
memastikan keaslian resep, apakah benar resep tersebut dibuat oleh dokter yang bersangkutan.
Sedangkan, nomor SIP berfungsi untuk memastikan bahwa apotek tempat resep ditebus terjamin
kualitasnya di lihat dari apoteker yang sudah memiliki SIP.
Selain pengkajian administrative dan farmasetik terdapat pula pengkajian dari aspek
klinis, di mana pada tahap ini diperiksa ketepatan indikasi dan dosis, aturan dan cara penggunaan
obat, polifarmasi, ROTD, kontraindikasi dan interaksi. pada pengkajian indikasi dan dosis
terdapat terapi yang kurang tepat, di mana kombinasi antibiotic yang biasa diberikan pada pasien
peptic ulser adalah Amoksisilin 1000 mg 2 kali sehari dan Klaritromisin 500 mg 2 kali sehari.
Selain itu sudah tidak ada ketidak sesuaian dari segi pengkajian klinis.
Setelah obat disiapkan maka dibuat pula etiket obat. Etiket obat yang digunakan adalah
etiket putih karena obat yang diresepkan merupakan obat dalam yang cara penggunaannya secara
oral. Selain itu, Resep dibuat Salinan resep karena pada apotek tempat akan menebus obat
terdapat beberapa obat yang tidak ada dan terdapat tanda “iter” yang artinya di ulang pada obat
omeprazole. Pada Salinan resep, obat ditulis seluruhnya termasuk obat yang sudah diberikan.
Pada obat yang sudah diberikan maka diberi tanda tulisan “det” sedangkan pada obat yang belum
diberikan diberi tanda berupa tulisan “nedet”.
1. Skrinning pengobatan
Dari gejala yang dialami oleh pasien tersebut didapatkan hasil skrining bahwa:
Ceftriaxone diberikan kepada pasien karena telah mengalami diare lebih dari 25 kali,
hal ini diduga karena terjadi infeksi bakteri atau virus. Diperkuat dengan adanya
demam. Pemberian antibiotik pada pasien dengan gastroenteritis akut seharusnya
dilakukan dengan terlebih dahulu melakukan tes laboratorium pada feses atau darah.
Ibuprofen diberikan untuk mengurangi rasa demam hal ini dapat dilihat dari gejala
yang dialami pasien yaitu adanya demam dengan temperature tubuh mencapai 39,5oC.
Lacto-B diberikan sebagai terapi tambahan pada gastroenteritis, dimana Lacto B
mengandung probiotik dan prebiotic untuk memperbaiki pencernaan pasien.
Zinc 20 mg merupakan terapi untuk diare dimana zinc merupakan mikronutrien yang
diperlukan untuk mengurangi frekuensi diare serta mencegah terjadinya diare kembali.
RL Infus diberikan sebagai terapi untuk mengobati dehidrasi.
Pada kasus 2 KIE pasien didiagnosa penyakit ulkus peptikum yang diinduksi oleh bakteri
Helicobacter Pylori. Obat yang diresepkan kepada pasien diantaranya:
- Azitromisin 250 mg – 2 x sehari selama 10 hari
- Amoxicillin 1000 mg – 2 x sehari selama 10 hari
- Omeprazole 20 mg – 2 x sehari selama 10 hari diikuti tambahan 18 hari
Dari resep tersebut regimen obat yang diberikan dinyatakan kurang tepat pada pemberian
kombinasi antibiotic yang diresepkan, selain itu waktu lama nya konsumsi obat dinyatakan
kurang tepat. Karena regimen obat yang diresepkan kurang sesuai maka perlu dilakukan
beberapa perubahan obat, berikut obat yang direkomendasikan serta lama waktu konsumsi obat
yang dianjurkan:
- Omeprazole 20 mg – 2 x sehari selama 7 hari
- Klaritromisin 500 mg – 2 x sehari selama 7 hari
- Amoksisilin 1000 mg – 2 x sehari selama 7 hari
Apabila pengobatan telah diberikan, maka perlu dilakukan monitoring dan konseling
untuk mengetahui sejauh mana pengetahuan dan kemampuan pasien dalam menjalani
pengobatan serta untuk memantau terapi yang telah dijalani oleh pasien.
Konseling yang dilakukan antara lain:
1) Pemberian informasi obat terkait aturan pakai obat
Omeprazole 20 mg – 2 x sehari selama 7 hari
Omeprazole dikonsumsi sehari 2 kali setiap 12 jam yaitu pada (jam 7.00 pagi untuk dosis
pertama dan jam 19.00 malam untuk dosis kedua) 30-60 menit sebelum makan
Klaritromisin 500 mg – 2 x sehari selama 7 hari
Klaritromisin dikonsumsi sehari 2 kali setiap 12 jam yaitu pada (jam 7.00 pagi untuk
dosis pertama dan jam 19.00 malam untuk dosis kedua) 30-60 menit setelah makan,
selama 7 hari obat harus dihabiskan
Amoksisilin 1000 mg – 2 x sehari selama 7 hari
Amoksisilin dikonsumsi sehari 2 kali setiap 12 jam yaitu pada (jam 7.00 pagi untuk dosis
pertama dan jam 19.00 malam untuk dosis kedua) 30-60 menit setelah makan, selama 7
hari obat harus dihabiskan
2) Pemberian informasi obat terkait efek samping obat
Omeprazole: Mual, muntah, diare, sembelit, perut kembung, sakit perut, lemas, urtikaria,
sakit kepala dan insomnia
Klaritromisin: Sakit perut, diare, mual, muntah, dysgeusia, dyspepsia, insomnia dan sakit
kepala
Amoksisilin: Sakit kepala, pusing, agitasi, Ruam, urtikaria, pruritus
3) Pemberian informasi terkait terapi non-farmakologi
- Mengurangi konsumsi makanan pedas, asam, kopi, teh dan alcohol
- Tidak atau mengurangi merokok
- Makan dalam porsi yang sedikit tapi sering
- Menjaga pola hidup sehat
- Menjaga kebersihan
Pada kasus 3 KIE pasien didiagnosa mengalami obesitas. Pasien, berusia 20 tahun, sejak
kecil sudah berbadan gemuk. Saat ini dia mempunyai berat badan 75 kg dengan tinggi badan 157
cm. Lingkar pinggang/perutnya: 95 cm. Beberapa hari yang lalu dia melakukan medical check-
up, dan mendapatkan hasil sebagai berikut :
Ayahnya sudah meninggal karena PJK saat usia 58 tahun, ibunya penderita DM semenjak 5
tahun yang lalu. Dokter memberikan statin dan metformin.
Farmakologi :
Berikut adalah beberapa obat yang digunakan untuk pasien penderita obesitas, yaitu:
1. Orlistat menginduksi penurunan berat badan dengan cara menurunkan absopsi lemak dan
mengembangkan profil lipid, control glukosa dan metabolit yang lain. Nyeri perut atau
colic, flatulence, fecal urgency, banyak terjadi pada 80% individu dari ringan sampai
berat. Dan berkembang setelah 1-2 tahun terapi. Orlistat berinteraksi dengan absorpsi
vitamin larut lemak dan siklosporine.
2. Sibutramine lebih efektif dari pada placebo tetapi pasien akan berkurang berat badannya
setelah 6 bulan terapi. Mulut kering, anorexia, insomnia, konstipasi, pening, mual timbul
3 kali lebih sering dari pada placebo. Sibutramine tidak digunakan pada pasien dengan
stroke, penyakit arteri koroner, CHF, aritmia, dan yang menggunakan MAOi.
3. Pentermine (30 mg pada pagi hari atau 8 mg sebelum makan ) adalah stimulant yang
agak kuat dan potensial penyalahgunaan yang lebih rendah daripada amphetamine dan
lebih efektif daripada placebo-control studies. Efek samping ( peningkatan tekanan darah,
palpitasi, aritmia, midriasis, peningkatan kerja insulin hingga terjadi hipoglikemi) dan
ineteraksi dengan MAOI yang memiliki implikasi pada beberapa pasien.
4. Dietilpropion ( 25 mg sebelum makan atau 75 mg pada sediaan lepas lambat setiap pagi)
lebih efktif dari pada placebo dapat mengurangi berat badan dengan cepat. Adalah salah
satu supresan noradrenergic yang aman dan dapt digunakan pada pasien dengan
hipertensi ringan sampai sedang atau angina tapi tidak dapat digunakan pada pasien
dengan hipertensi berat atau penyakit kardiovaskuler yang signifikan.
5. Amfetamin secara umum dihindari karena kekuatan stimulan dan potensial adiksi nya.
6. Efedrin (20 mg dengan atau tanpa caffeine 200 mg, sampai 3 kali sehari) memiliki
aktifitas supresif dan termogenik yang lebih baik daripada placebo dalam percobaan
hingga 6 bulan. Efek samping yang umum terjadi adalah tremor, agitasi, panic, keringat
berlebih dan insomnia, palpitasi dan takikardi juga pernah dilaporkan.
7. Agen serotonergik memiliki stimulant pusat yang dihubungkan dengan potesi penyalah
gunaan dengan komponen noradrenergic tapi agen serotonergik dapat mengubah pola
tidur dan mengubah kebiasaan.
8. Pasien yang menerima fluoksetin 65 mg sehari memiliki penurunan berat badan 2-4 kg
dari pada percobaan control-plasebo. Tapi tidak berbeda diantara masing-masing grup
dalam periode hingga 1 tahun. Penemuan sejenis juga ditemukan pada penggunaan
sertralin 200mg per hari.
9. Peptida- peptida (seperti leptin, neuropeptida Y, galanin) yang sedang diselidiki karena
manipulasi eksogenus mungkin menyediakan pendekatan terapetik kedepan untuk
manajemen obesitas (dipiro, 2005).
Karena pasien tergolong obesitas (BMI: 30.0-34.9 kg/m2 ) sangat dianjurkan untuk
diberikan Apisate® 1/3 tablet perhari (dosis kecil ini bertujuan untuk mengurangi efek samping
obat). Dari hasil uji laboratorium pasien didapatkan data bahwa total kolesterol adalah 275;
kadar LDL adalah 180; kadar HDL adalah 40, Trigliserida 250; Glukosa puasa 125. Hal tersebut
sangat berbahaya karena tidak sesuai dengan batas kadar normal. Terapi farmakologi dilakukan
dengan penggunaan obat – obatan antikolesterol. Pasien sebaiknya diberikan obat penurun
kolesterol (Lipitor). Kadar gula darah pasien yaitu 125 mg/dl sehingga pasien harus diberikan
obat antidiabetes seperti metformin dan untuk dislipidemia, diberikan obat golongan statin agar
komplikasi tidak berlanjut.
Non Farmakologi :
- Olahraga yang teratur misalnya jalan cepat, seminggu 3-4 kali selama 20 menit, dan
meningkatkan aktivitas fisik yang lain.
- Mengurangi makanan berlemak seperti daging, jeroan, dan seafood.
- Menghindari makanan olahan atau siap saji
- Mengurangi konsumsi makanan manis seperti cokelat, permen.
- Perbanyak makanan berserat seperti sayur dan buah
Bagaimana mekanisme kerja, efek sammpung dan kontra indikasi obat antilipid?
- Mekanisme Kerja
Memacu aktivitas lipase lipoprotein, sehingga menghidrolisis trigliserida pada
kilomikron dan VLDL.
- Efek Samping
1. Efek gastrointestinal: gangguan pencernaan ringan
2. Litiasis : pembentukan batu empedu
3. Keganasan : terutama Klofibrat yang dapat menyebabkan keganasan terkait dengan
kematian
4. Otot : Miositis (peradangan otot polos)
- Kontra indikasi
Pasien dengan kelainan fungsi hati, ginjal atau pasien dengan penyakit kandung empedu.
3. Resin Pengikat Asam Empedu
Termasuk golongan ini adalah Kolesteramin dan Kolestipol.
- Mekanisme kerja
obat ini merupakan resin (damar) penukar ion yang bersifat basa, yang mempunyai
afinitas tinggi terhadap asam empedu. Asam empedu akan diikat oleh resin ini,
membentuk senyawa yang tidak larut dan tak dapat direabsorbsi untuk selanjutnya
diekskresi melalui feses.
- Efek Samping
1. Efek gastrointestinal: konstipasi, mual dan kembung (flatulen)
2. Gangguan absorbsi: mengganggu absorbsi vitamin larut lemak (A,D,E,K) pada resin
dosis tinggi.
- Kontra Indikasi
Pasien dengan Riwayat Alergi terhadap obat ini, anak anak dan lansia
4. Probukol
Obat ini menurunkan kadar HDL dan LDL, maka obat ini tidak disukai. Namun sifat
antioksidannya penting dalam menghambat aterosklerosis.
- Mekanisme Kerja
Menghambat oksidasi kolesterol, sehingga terjadi penguraian LDL-kolesterol yang
teroksidasi oleh makrofag.
- Efek Samping
Gangguan pencernaan ringan.
- Kontra Indikasi
Ibu hamil dan menyusui, anak-anak dan remaja.
Perubahan perilaku pasien sangat diperlukan untuk mendapatkan efek maksimal dari terapi yang
diberikan. Modifikasi perilaku dilakukan melalui langkah-langkah berikut:
- Tentukan kesiapan pasien untuk menurunkan berat badan dan kemauan untuk
menerapkan rencana penurunan berat badan.
- Membangun dan memelihara kemitraan pasien-pengelola.
- Menata kembali kemampuan kognitif.
- Menetapkan tujuan yang ingin dicapai.
- Sering menghubungi pasien.
- Anjurkan pasien tentang pentingnya teknik monitoring sendiri.
- Pengendalian rangsangan yang negatif yang dapat mempengaruhi penurunan berat
badan atau berat pemeliharaan.
- Berikan hadiah kepada pasien untuk setiap penurunan berat badan
DAFTAR PUSTAKA
BNF. 2019. British National Formulary. Edisi 78. British Medical Association and Royal
Pharmaceutical Society of Great Britain. London.
ISO Indonesia. Volume XXXV. 2001. Ikatan Sarjana Farmasi Indonesia. Jakarta: PT. AKA
Katzung, G. Bertram. 1998. Farmakologi Dasar dan Klinik; Edisi keenam; Jakarta: EGC
Kee, Joyce L dan Hayes, Evelyn R. 1996. Farmakologi, Pendekatan Proses Keperawatan. EGC:
Jakarta
Mycek, J. Mary, Harvey, A. Richard dan Champe, C. Pamela. 2001. Farmakologi, Ulasan
Bergambar; Edisi kedua. Jakarta: Widya Medika
RISKESDAS, 2013. Riset Kesehatan Dasar. Badan Penelitian Dan Pengembangan Kesehatan
Kementerian Kesehatan RI, Jakarta.
Tan, Hoan, Tjay dan Rahardja, Kirana: 1991. Obat-obat Penting; Edisi Keempat
Waspadji, Sarwono, et all, 2003, Pengkajian Status Gizi, Cetakan Pertama, Balai Penerbit:
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia
Woodley, Michele dan Whelan, Alison. 1995. Pedoman Pengobatan; Edisi Pertama. Yogyakarta:
Yayasan Essentia Medica dan Andi Offset