LAPORAN PRAKTIKUM
ANALISIS SEDIAAN LIQUID, SEMISOLID DAN SOLID
Identifikasi Parasetamol dalam Larutan Oral
Disusun Oleh
Kelompok 1
Novia Fransiska Farida Ladapase 211FF04010
Ditia Ayu A 211FF04015
Afifah Aulia Rahmawati 211FF04018
Malak Maidah 211FF04020
Nabila Putri 211FF04031
Aulia Utami Widiati 211FF04036
Dede Chika Naibaho 211FF04037
Missye Dayana S 211FF04039
Muhammad Irfan Syaefulloh 211FF04040
FAKULTAS FARMASI
PROGRAM STUDI S1 MATRIKULASI
UNIVERSITAS BHAKTI KENCANA
BANDUNG
2022
I. DASAR TEORI (Nabila Putri-211FF04031 dan Ditia Ayu A-
211FF04015)
a. Parasetamol
Parasetamol merupakan zat aktif pada obat yang banyak digunakan dan
dimanfaatkan sebagai analgesik dan antipiretik. Parasetamol adalah obat untuk
meredakan demam dan nyeri, termasuk nyeri haid atau sakit gigi. Parasetamol
dimetabolisir oleh hati dan dikeluarkan melalui ginjal. Parasetamol adalah obat
analgesik dan antipiretik yang populer di masyarakat luas, bahkan mungkin dapat
dikategorikan sangat terkenal. Parasetamol sangat mudah didapatkan secara bebas
di warung-warung, apotek, rumah sakit dan semua sarana pelayanan kesehatan
lainnya. Parasetamol atau acetaminophen tersedia dalam bentuk tablet, sirop, tetes,
suppositoria, dan infus (Limbird, 2003).
Senyawa ini dikenal dengan nama lain asetaminofen, merupakan senyawa
metabolit aktif fenasetin, namun tidak memiliki sifat karsinogenik (menyebabkan
kanker) seperti halnya fanesatin. Senyawa ini bila dikombinasikan dengan obat anti
inflamasi non steroid (NSAID) atau obat pereda nyeri opioid, dapat digunakan
untuk mengobati nyeri yang lebih parah (Ansel, 1989). Hal ini disebabkan
Parasetamol bekerja pada tempat yang tidak terdapat peroksid sedangkan pada
tempat inflamasi terdapat lekosit yang melepaskan peroksid sehingga efek anti
inflamasinya tidak bermakna (Katzung, 2010).
Parasetamol merupakan obat antiinflamasi non steroid yang memiliki efek
antipiretik dan analgetik. Efek analgetik parasetamol karena perannya dalam
menghambat enzim siklooksigenase baik disentral maupun perifer. Obat ini
merupakan penghambat prostaglandin yang lemah pada jaringan perifer dan tidak
memiliki efek antiinflamasi yang bermakna (Katzung, 210). Dosis terapi yang
digunakan biasanya 500mg. Parasetamol merupakan analgesik yang telah terbukti
efek analgesik dan antipiretiknya, demikian pula dengan keamanannya. Pada
Cochrane DatabaseSyst Rev (2008) serta Cochrane Database Syst Rev (2007), telah
berhasil dibuktikan secara sistematis dan terstruktur bahwa parasetamol mampu
menekan rasa nyeri pasca operasi dengan baik dengan efek samping yang jauh lebih
rendah dibandingkan Nonsteroidal anti-inflammatory drugs (NSAID) (Zulizar,
2013).
Pada dosis yang direkomendasikan, parasetamol tidak mengiritasi lambung,
mempengaruhi koagulasi darah, atau memengaruhi fungsi ginjal. Namun dari
semua kelebihan parasetamol obat ini juga memiliki beberapa kekurangan dan efek
samping. Pada dosis yang besar (lebih dari 2000 mg per hari) dapat meningkatkan
risiko gangguan pencernaan bagian atas. Selain itu, penggunaan parasetamol diatas
rentang dosis terapi dapat menyebabkan gangguan hati (Zulizar, 2013).
Parasetamol merupakan penyebab utama dari penyakit gagal hati akut di
Amerika Serikat, dan hampir setengah dari kasus tersebut disebabkan oleh
overdosis yang tidak sengaja. Obat ini umumnya dianggap aman, tetapi dosis tinggi
dapat mematikan. Maka dari itu dengan banyaknya konsumen yang menganggap
aman dalam menggunakan obat parasetamol ini, pengawasan mutu yang
menyangkut kandungan parasetamol pada produk ini juga harus ditingkatkan.
b. Kromatografi Lapis Tipis
Kromatografi merupakan suatu proses pemisahan yang mana analit-analit
dalam sampel terdistribusi antara dua fase yaitu fase diam dan gerak. Fase diam
dapat berupa bahan padat dalam bentuk molekul kecil atau dalam bentuk cairan
yang dilapiskan pada pendukung padat atau dilapiskan pada dinding kolom.
Sedangkan fase gerak dapat berupa gas atau cairan. Jika gas digunakan sebagai fase
gerak maka prosesnya dikenal sebagai kromatografi gas. Dalam kromatografi cair
dan juga kromatografi lapis tipis, fase gerak yang digunakan berbentuk cair
(Rohman, 2009).
Kromatografi Lapis Tipis (KLT) merupakan bentuk kromatografi planar,
selain kromatografi kertas dan kromatografi elektroforesis. Berbeda dengan
kromatografi kolom yang mana fase diamnya diisikan atau dikemas didalamnya,
pada KLT fase diamnya berupa lapisan yang seragam (uniform) pada permukaan
bidang datar yang didukung oleh lempeng kaca, lempeng alumunium atau lempeng
plastik. Meskipun demikian, kromatografi planar ini dapat dikatakan sebagai
bentuk terbuka dari kromatografi kolom (Gandjar & Rohman, 2012).
Keuntungan dari penggunaan KLT adalah memerlukan waktu analisis yang
cepat, penggunaan alat–alatnya sedikit, sederhana, harga murah, serta memiliki
daya analisa yang baik (Wardhani & Nanik, 2012). Secara luas KLT banyak
digunakan untuk berbagai analisis tumbuhan obat. Kromatogram yang dihasilkan
merupakan pola yang menggambarkan senyawa dalam setiap tumbuhan obat
sehingga bermanfaat dalam kendali mutu tumbuhan obat baik untuk pencirian
bahan mentah maupun produk akhir.
Penggunaan KLT secara umum adalah untuk tujuan:
1. Kualitatif yaitu berdasarkan harga Rf yang didefinisikan sebagai
pembanding jarak rambat yang dicapai oleh senyawa dengan fasa gerak.
Harga Rf tidak selalu pasti sama, oleh karena itu harga Rf digunakan
sebagai: a). Petunjuk jarak migrasi relatif b). Orientasi pemilihan fasa gerak
untuk kromatografi kolom c). Monitoring hasil pemisahan kromatografi
kolom
2. Kuantitatif yaitu penetapan visual dari ukuran bercak dibanding senyawa
pembanding atau dengan metode spektrofotometer atau dilakukan dengan
pengerokan, pengelusian dan metode spektroskopi. Pemakaian kuantitatif
untuk menunjukkan banyaknya masing-masing komponen campuran relatif
terhadap 24 komponen lain atau mutlak jika digunakan baku pembanding
atau kalibrasi yang sesuai.
3. Preparatif/Analitik yaitu untuk memperoleh komponen campuran dalam
jumlah yang memadai dalam keadaan murni untuk kebutuhan lain.
Pada prinsipnya KLT dilakukan berdasarkan pada penggunaan fasa diam
untuk menghasilkan pemisahan yang lebih baik. Fasa diam yang biasa digunakan
dalam KLT adalah serbuk silika gel, alumina, tanah diatomedan selulosa. Menurut
Anwar (1994), adapun cara kerja dari KLT yakni larutan cuplikan sekitar 1%
diteteskan dengan pipet mikro pada jarak 1-2 cm dari batas plat. Setelah eluen atau
pelarut dari noda cuplikan menguap, plat siap untuk dikembangkan dengan fasa
gerak (eluen) yang sesuai hingga jarak eluen dari batas plat mencapai 10-15 cm.
Mengeringkan sisa eluen dalam plat dengan didiamkan pada suhu kamar. Noda
pada plat dapat diamati langsung dengan menggunakan lampu UV atau dengan
menggunakan pereaksi semprot penampak warna. Setelah noda dikembangkan dan
divisualisasikan, identitas noda dinyatakan dengan harga Rf (retardation factor)
(Harborne (1987).
Faktor retardasi (Retardation Factor = Rf) adalah parameter yang digunakan
untuk menggambarkan migrasi senyawa dalam KLT. Nilai Rf merupakan
parameter yang menyatakan posisi noda pada fase diam setelah dielusi. Penentuan
harga Rf analit, yaitu membandingkan jarak migrasi noda analit dengan jarak
migrasi fase gerak/eluen. Nilai Rf berkisar antara 0 dan 1 dan nilai Rf terbaik antara
0,2- 0,8 untuk deteksi UV dan 0,2-0,9 untuk deteksi visibel serta 20-80 untuk Rf
relatif pada deteksi UV. Pada Rf kurang 0,2 belum terjadi kesetimbangan antara
komponen senyawa dengan fase diam dan fase gerak sehingga bentuk noda
biasanya kurang simetris. Sedangkan pada Rf diatas 0,8 noda analit akan diganggu
oleh absorbansi pengotor lempeng fase diam yang teramati pada visualisasi dengan
lampu UV. Sedangkan pada deteksi visibel Rf dapat lebih tinggi dari deteksi UV,
hal ini disebabkan pengotor fase diam tidak bereaksi dengan penampak noda
sehingga noda yang berada pada Rf 0,2-0,9 masih dapat diamati dengan baik.
Dengan mengontrol kondisi pengembangan seperti kejenuhan chamber, komposisi
campuran pelarut yang konstan, temperatur konstan dan lain-lain akan didapat nilai
Rf yang reprodusibel (Wulandari, 2011).
II. TUJUAN (Novia Fransiska Farida Ladapase - 211FF04010)
a. Kompetensi yang di capai:
Melakukan identifikasi menggunakan metode Kromatografi Lapis Tipis
b. Tujuan Praktikum:
Memastikan identitas parasetamol dalam sediaan oral dengan metode
Kromatografi Lapis Tipis.
III. PRINSIP
Kromatografi merupakan suatu metode yang digunakan untuk memisahkan
campuran komponen. Pemisahan komponen-komponen tersebut didasarkan pada
distribusi komponen pada fase gerak dan fase diamnya. Kromatografi lapis tipis
biasanya digunakan untuk tujuan analisis kualitatif dan analisis reparative. Suatu
system KLT terdiri dari fase diam dan fase gerak (Jayanti dkk, 2015).
Prinsip KLT adalah distribusi senyawa antara fase diam berupa padatan
diletakan pada plat kaca atau plastic dan fase gerak berupa cairan, yang bergerak
diatas fase diam. sejumlah kecil dari senyawa ( analit ) ditotolkan pada titik awal
tepat diatas bagian bawah plat KLT. Plat tersebut kemudian dikembangkan dalam
chamber ( ruang pengembang ) yang memiliki kolam dangkal, pelarut diletakan
tepat dibawah dimana sample ditotolkan. Pelarut bergerak melalui partikel senyawa
pada plat dengan gaya kapiler, dan selama pelarut bergerak campuran masing-
masing senyawa akan tetap dengan fase diam atau larut dalam pelarut dan bergerak
ke atas plat. Senyawa bergerak naik ke atas plat atau tetap pada fase diam
tergantung dari sifat fisik masing masing senyawa dan dengan demikian tergantung
pada struktur molekul, terutama gugus fungsi. Kelarutan senyawa mengikuti aturan
like dissolves like. Senyawa yang sifat fisiknya semakin sama dengan fase gerak
akan semakin lama larut dalam fase gerak (Kumar et al, 2013).
Sifat setiap senyawa dalam KLT ditandai suatu kuantitas yang dikenal
dengan Rf dan dinyatakan sebagai pecahan decimal. Sifat adsorben yang berbeda
akan memberikan nilai Rf yang berbeda untuk pelarut yang sama. Factor-faktor
yang mempengaruhi gerakan noda dalam kromatografi lapisan tipis yang juga
mempengaruhi harga Rf adalah system pelarut adsorben, ketebalan adsorben,
jumlah material. Semakin besar sebuah Rf dari suatu senyawa, semakin besar jarak
perjalanan senyawa pada plat KLT (Kumarr et al, 2013).
Reprodusibilitas dari nilai Rf tergantung oleh banyak factor sepetri kualitas
sorben, kelembaban, lapisan ketebalan lapisan, jarak pengembangan dan suhu
lingkungan. Overload sampel biasanya menghasilkan sedikit peningkatan pada
nilai Rf. Kelebihan dalam penotolan sampel biasanya menghasilkan sedikit
peningkatan pada nilai Rf. Kesalahan pembuatan system akan mempengaruhi nilai
kualitatif dari KLT ketika perhitungan pelarut tidak tepat. Dalam al ini nilai Rf
secara sistematis menjadi terlalu besar. Hilangnya fase gerak atau bertumpuknya
komponen-komponen fase gerak menghasilkan nilai Rf yang kecil (Srivastava,
2011).
IV. ALAT DAN BAHAN ( Muhammad Irfan Syaefulloh – 211FF04040)
a. Alat
1. Gelas Beaker 250 ml
2. Gelas Ukur 10 ml
3. Pipet Tetes
4. Pipet kapiler
5. Lampu UV
6. Alat tulis: Pensil, Penggaris, Gunting
7. Spatula
8. Cawan Porselen 1
9. Clingwrap
b. Bahan
1. Plat KLT Silika Gel GF 254
2. Solven Pro Analysis: Kloroform, Etanol, Aseton, Metanol
3. Sirup Parasetamol (Tempra Syr)
V. PROSEDUR KERJA
Timbang sebanyak 0,005 g pada masing - masing
sampel dan larutkan dengan kloroform
Siapkan Chamber KLT, masukkan eluen kedalam
Chamber (a. Etil Asetat (6ml) , b. Etil Asetat :
Metanol : Amoniak 10,6 : 0,6 : 0,25)
Tutup Chamber untuk proses penjenuhan dengan
clingwrap
Siapkan Plat KLT berukuran 2 x 7 cm sebanyak 2
buah
Tandai dengan pensil 1 cm tepi bawah dan 1 cm
tepi atas pada Plat KLT
Totalkan ekstrak sampel pada tepi bawah plat,
ulangi 2-3 kali pen totol an, biarkan mengering
Masukkan Plat KLT kedalam masing - masing
Chamber yang telah terisi eluen dan biarkan
terjadi elusi sampai batas tepi atas.
Angkat plat dari Chamber setelah elusi selesai
Setelah plat dari mengering, amati di bawah
lampu UV. Tandai bercak menggunakan pensil.
Hitung Rf masing - masing sampel
VI. HASIL PENGAMATAN DAN PERHITUNGAN (Dede Chika
Naibaho-211FF04037 & Misye Dayana-211FF04039)
1. Preparasi Sampel
Nama Sampel X : Tempra Syrup
Kekuatan Sediaan (N1) : 160 mg/ 5 mL
Volume Labu Ukur : 25 mL
Apabila sampel dipipet sebanyak 5 mL lalu dilarutkan dalam 25 mL
methanol maka konsentrasi yang didapat adalah 160 mg/ 25 mL atau 6,4
mg/mL. Larutan tersebut kemudian diencerkan hingga didapat konsentrasi
1 mg/mL sebanyak 25 mL.
V1 x N1 = V2 x N2
V1 x 6,4 mg/mL = 25 mL x 1 mg/mL
25 𝑚𝐿 𝑥 1 𝑚𝑔/𝑚𝐿
V1 = 6,4 𝑚𝑔/𝑚𝐿
V1 = 3,9 mL
∴ Jadi, dipipet 3,9 mL larutan sampel X dengan konsentrasi 6,4 mg/mL dan
dilarutkan dengan methanol di dalam labu ukur 25 mL untuk mendapatkan
larutan sampel dengan kadar 1 mg/mL.
2. Hasil KLT
Fase Gerak yang digunakan = Methanol: Air (10: 4 v/v)
Fase Diam yang digunakan = Silika Gel GF254
Penampak Bercak = Lampu UV 25
Gambar 1 Plat KLT hasil pengujian
Dari data tersebut dapat dihitung nilai Rf dengan menggunakan rumus :
𝐽𝑎𝑟𝑎𝑘 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑑𝑖𝑡𝑒𝑚𝑝𝑢ℎ 𝑠𝑒𝑛𝑦𝑎𝑤𝑎
Rf = 𝐽𝑎𝑟𝑎𝑘 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑑𝑖𝑡𝑒𝑚𝑝𝑢ℎ 𝑝𝑒𝑙𝑎𝑟𝑢𝑡
Diketahui:
a. Jarak yang ditempuh pelarut = 8 cm
b. Jarak yang ditempuh larutan baku pct = 4,5 cm
c. Jarak yang ditempuh larutan sampel (didapat 2 bercak) = B (4,5 cm)
dan C (2,3 cm)
Perhitungan Rf:
a. Rf Larutan Baku PCT
4,5 𝑐𝑚
Rf baku pct = 8 𝑐𝑚
Rf baku pct = 0,5625
b. Rf senyawa B dalam sampel
4,5 𝑐𝑚
Rf titik B = 8 𝑐𝑚
Rf titik B = 0,5625
c. Rf senyawa C dalam sampel
2,3 𝑐𝑚
Rf titik C = 8 𝑐𝑚
Rf titik C = 0,2875
VII. PEMBAHASAN (Afifah Aulia-211FF0418 & Malak Maidah-
211FF04020)
Pada praktikum ini dilakukan identifikasi parasetamol dalam larutan oral
dengan menggunakan metode Kromatografi Lapis Tipis (KLT). Kromatografi
Lapis Tipis (KLT) merupakan satu dari banyak teknik kromatografi yang sering
digunakan untuk menganalisis suatu senyawa. Metode KLT ini pun dipilih karena
merupakan metode mudah dilakukan, memerlukan alat dan bahan yang sederhana,
serta memberikan waktu analisis yang relatif cepat. Metode KLT biasanya
dilakukan untuk menganalisa suatu sampel secara kualitatif, artinya dengan metode
ini kita dapat mengetahui ada atau tidaknya suatu senyawa didalam sampel yang
dianalisis. Parameter yang diukur dalam analisis menggunakan metode KLT adalah
nilai Rf atau nilai Retardation Factor. Nilai Rf adalah nilai perbandingan antara
jarak yang ditempuh senyawa dengan jarak yang ditempuh pelarut. Nilai Rf inilah
yang kemudian hasilnya dibandingkan antara baku dengan sampel. Nilai Rf yang
sama akan menunjukan senyawa yang sama, dan nilai Rf yang berbeda akan
menunjukan jenis senyawa yang berbeda pula.
Dalam melakukan analisis atau identifikasi senyawa menggunakan metode
KLT, ada beberapa persiapan yang perlu dipenuhi meliputi preparasi sampel,
penanganan lempeng KLT, penanganan eluen, penanganan chamber, aplikasi
sampel, proses pengembangan sampel, hingga evaluasi sampel. Pada tahap
preparasi, sampel yang disiapkan harus diencerkan terlebih dahulu menggunakan
pelarut yang sesuai yang dapat melarutkan senyawa yang akan diidentifikasi tanpa
melarutkan matriksnya atau sedikit melarutkan matriks. Pelarut yang digunakan
biasanya merupakan pelarut yang bersifat mudah menguap atau volatile yang akan
memudahkan dalam proses penotolan sampel. Hal tersebut juga sejalan dengan sifat
fisika dari parasetamol yang dituliskan pada Farmakope Indonesia dimana
parasetamol memiliki kelarutan sebagai berikut : 1 g dapat larut dalam kira-kira 70
ml air pada suhu 250°C, 1 g larut dalam 20 ml air mendidih, dalam 7 ml alkohol,
dalam 13 ml aseton, dalam 50 ml kloroform, dalam 40 ml gliserin, dalam 9 ml
propilenglikol, dan larut dalam larutan alkali hidroksida. Tidak larut dalam benzene
dan eter.
Proses selanjutnya yang perlu diperhatikan adalah proses penanganan
lempeng KLT, eluen, dan chamber. Lempeng KLT dapat disebut juga sebagai Fase
Diam dan pada pengujian ini digunakan fase diam berupa silika Gel GF254. Silika
gel GF254 yang memiliki karakteristik dapaT berflourosensi dibawah sinar UV
dengan panjang gelombang 254 nm. Pemilihan jenis silika ini didasarkan pada sifat
parasetamol yang tidak berwarna, sehingga diperlukan suatu penampak bercak
universal yang dapat memudahkan pengamatan hasil. Sebagaimana kita ketahui
bahwa pada struktur parasetamol terdapat gugus kromofor dan ausokrom yang
memungkinkan senyawa ini untuk terlihat pada sinar UV. Selain Fase Diam, dalam
metode KLT juga diperlukan adanya Fase Gerak yang bertujuan untuk memisahkan
sampel yang dianalisis. Fase gerak atau yang biasa disebut dengan eluen ini akan
ditempatkan pada suatu chamber yang digunakan sebagai tempat elusi. Pada
praktikum ini digunakan fase gerak berupa campuran methanol dengan air dengan
perbandingan 10 : 4. Jika kita hitung indeks polaritas dari eluen yang digunakan
didapatkan perhitungan sebagai berikut :
Indeks polaritas methanol adalah 5,1 dan indeks polaritas air adalah 10,2, maka
indeks polaritas campurannya adalah (10/14 x 5,1) + (4/14 x 10,2) menghasilkan
angka indeks polaritas sebesar 6,55 yang berarti campuran eluen ini bersifat semi
polar. Dari data tersebut, dapat kita ketahui bahwa Fase Diam yang diguanakan
pada praktikum ini bersifat polar dan eluennya bersifat semi polar.
Setelah proses penanganan fase gerak atau lempeng KLT, chamber, dan
eluen telah selesai. Proses selanjutnya yang harus diperhatikan adalah saat
pengembangan sampel atau proses elusi dan evaluasi sampel. Pengembangan
sampel harus dilakukan pada chamber yang telah jenuh dan selama elusi
berlangsung chamber harus tertutup. Hal tersebut dilakukan supaya tekanan udara
pada chamber tetap stabil, chamber tetap jenuh, dan proses pemisahan dapat
berjalan dengan baik.
Evaluasi sampel kemudian dilakukan setelah tahap pengembangan sampel
selesai. Evaluasi sampel yang dianalisis menggunakan metode KLT adalah dengan
cara menandai bercak yang terlihat setelah plat ditempatkan di penampak bercak
UV lalu dihitung nilai Rf berdasarkan perbandingan antara jarak tempuh bercak
dengan jarak tempuh pelarut. Berdasarkan hasil pengujian, didapatkan beberapa
bercak yang terlihat di atas plat KLT yang terdiri dari bercak larutan baku dan
larutan sampel. Bercak yang ditunjukan larutan baku parasetamol berjumlah 1
bercak dengan tinggi bercak 4,5 cm dan nilai Rf 0,5625. Sedangkan pada larutan
sampel didapatkan 2 bercak yaitu bercak B dan C (seperti terlihat pada data
pengamatan) dengan tinggi bercak B adalah 4,5 cm dan tinggi bercak C adalah 2,3
cm dan nilai Rf berturut-turut adalah 0,5625 dan 0,2875. Jika dilihat dari posisi
bercak dan nilai Rf yang dihasilkan, dapat diketahui bahwa Sampel Syrup X yang
dianalisis mengandung Parasetamol ditandai dengan perbandingan nilai Rf larutan
baku parasetamol dengan nilai Rf bercak B adalah sama. Selain itu, persamaan nilai
Rf ini menandakan bahwa senyawa yang terdapat pada Sampel Syrup X memiliki
karakteristik yang mirip dengan larutan baku (Parasetamol).
Walaupun dari hasil identifikasi sudah diketahui bahwa sampel syrup X
positif mengandung Parasetamol, namun evaluasi sampel harus tetap dilakukan
pada bercak lain yang terbaca dibawah bercak B. Sebagaimana kita ketahui bahwa
metode KLT ini memiliki prinsip pemisahan berdasarkan kepolaran senyawa.
Dimana afinitas analit terhadap Fase Diam dan Fase Gerak tergantung kedekatan
polaritas analit terhadap fase diam dan fase gerak yang digunakan (atau disebut juga
Like Dissolve Like). Karena pada sampel syrup X didapatkan bercak dengan nilai
Rf yang berbeda maka dapat kita ketahui bahwa ada dua senyawa dengan polaritas
yang berbeda yang terdeteksi oleh KLT.
Dari perbandingan sebelumnya (antara larutan baku dengan larutan sampel),
sudah diketahui bahwa bercak B adalah bercak yang memiliki nilai Rf yang sama
dengan Parasetamol. Bercak ini berada diatas bercak lain (bercak C) yang
menandakan bahwa Parasetamol memiliki polaritas yang lebih kecil dibandingkan
dengan senyawa yang ada pada bercak C atau dapat diartikan bahwa senyawa pada
bercak C lebih polar dari senyawa pada bercak B. Bercak C dikatakan lebih polar
dibanding bercak parasetamol karena posisi bercak dan nilai Rf nya lebih kecil yang
menandakan bahwa senyawa tersebut memiliki daya tarik menarik yang kuat
dengan fase diam yang bersifat polar juga. Sedangkan parasetamol memiliki
polaritas yang lebih kecil (lebih non polar) dari pada senyawa pada bercak C yang
ditandai dengan lemahnya daya tarik menarik dengan fase diam yang menyebabkan
senyawa parasetamol terbawa ke atas oleh fase gerak dan menghasilkan posisi
bercak lebih tinggi dan nilai Rf yang lebih tinggi pula. Hal tersebut juga dapat
dibuktikan dengan melihat struktur dari Parasetamol diamana pada struktur
Parasetamol didapatkan adanya gugus non polar yang mengakibatkan bercak
parasetamol lebih tinggi. Berikut adalah struktur Parasetamol:
Gambar 1. Struktur Kimia Parasetamol
Nama Kimia : N-acetyl-p-aminophenol atau p-asetamedofenol atau
4’hidroksiasetanilida
Rumus Empiris : C8H9NO2
Berat Molekul : 151,16
Dari evaluasi tersebut, dapat disimpulkan bahwa dalam sediaan sampel
syrup X positif mengandung Parasetamol yang berarti keterangan pada etiket dan
label obat telah sesuai dengan hasil identifikasi. Sedangkan senyawa lain yang ikut
terdekteksi pada plat KLT diduga adalah senyawa pengotor yang mungkin
didapatkan dari hasil preparasi sampel yang kurang baik, atau adanya matriks atau
zat tambahan pada sampel yang ikut terlarut dan terelusi.
VIII. KESIMPULAN (Aulia Utami W – 211FF04036)
Dari praktikum yang dilakukan didapatkan beberapa kesimpulan sebagai berikut:
a. Nilai Rf dari senyawa Parasetamol adalah 0,5625.
b. Sampel X terbukti mengandung parasetamol ditandai dengan bercak KLT yang
memiliki nilai Rf yang sama dengan baku parasetamol yaitu 0,5625.
c. Sampel X memenuhi persyaratan sebagaimana tercantum pada etiket dan label
sediaan yaitu megandung Parasetamol.
d. Didalam sampel X ditemukan 2 senyawa yang ditandai dengan jumlah bercak
yang terlihat di atas plat sebanyak 2 bercak. Bercak lain yang memiliki tingkat
kepolaran lebih tinggi dari parasetamol (ditunjukan dengan posisi bercak yang
berada di bawah) dengan nilai Rf 0,2875.
e. Senyawa lain yang teridentifikasi diduga sebagai pengotor atau zat tambahan
pada sediaan yang ikut terlarut dan terelusi.
DAFTAR PUSTAKA
1. Ansel, H.C., 1989, Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi, diterjemahkan oleh
Farida Ibrahim, Asmanizar, Iis Aisyah, Edisi keempat, 255-271, 607-608,
700, Jakarta, UI Press.
2. Anwar, dkk. (1994). Pengantar Praktikum Kimia Organik. Jakarta:
Depdikbud.
3. Bedah Info. Parasetamol mampukah mengatasi nyeri pasca operasi.
[Link]
pascaoperasi/ (accessed 20 januari 2013).
4. Bertram [Link]. Farmakologi dasar dan klinik. 10th ed. Jakarta. EGC;
2010.p479 – 489
5. Gandjar, I.G., dan Rohman, A., 2012. Analisis Obat Secara
Spektrofotometri dan Kromatografi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
6. Harborne, J.B., (1987), Metode Fitokimia, Edisi ke dua, ITB, Bandung.
7. Louis [Link], Alfred Gilman. Autakoid; Terapi obat untuk inflamasi.
In: Joel [Link], Lee [Link] (eds.)Dasar Farmakologi terapi. 10th
ed. Jakarta: EGC; 2003. p666 – 711
8. Rohman, Abdul. 2009. Kromatografi Untuk Analisis Obat. Ed I, Graha
Ilmu, Yogyakarta.
9. Setyawati, Lanny. 2007. Analisis Campuran Parasetamol, Salisilamida, dan
Kafein dalam Tablet secara Kromatografi cair Kinerja Tinggi (KCKT).
Yogyakarta: Universitas Sanata Dharma
10. Wardhani, L.K. Dan Nanik, S. 2012. Uji Aktivitas Antibakteri Ekstrak Etil
Asetat Daun Binahong (Anredera scandens (L.) Moq.) terhadap Shigella
flexneri Beserta Profil Kromatografi Lapis Tipis. Jurnal Ilmiah
Kefarmasian. Vol 2(1). Hal: 1-16.
11. Wulandari, Lestyo. 2011. Kromatografi Lapis Tipis. Jember : PT. Taman
Kampus Persindo
12. Zulizar, A. L. Pengaruh Parasetamol Dosis Analgesik terhadap Kadar
Serum Glutamat Oksaloasetat Transaminase Tikus Wistar jantan.
Semarang. Undip. 2013.