Pengertian dan Tantangan Literasi
Pengertian dan Tantangan Literasi
Disusun oleh:
Aniza Ambarwati ( 22112254003 )
Ana Wahyu Faida ( 22112254019 )
i
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas selesainya
makalah yang berjudul “Pengertian Literasi, Salah Kaprah dalam Literasi, serta Tantangan
Zaman dan Literasi”’’. Atas dukungan moral dan materil yang diberikan dalam penyusunan
makalah ini, maka penulis mengucapkan terima kasih kepada :
1. Dr. Dra. Enny Zubaedah, [Link]., selaku dosen pengampu mata kuliah Literasi dan Sastra
Anak yang telah memberikan bimbingan, saran, ide dan juga kesempatan untuk
menggunakan fasilitas sekolah untuk menunjang pembuatan makalah.
2. Orang tua penulis yang banyak memberikan dukungan baik moril maupun materil.
3. Semua pihak yang tidak dapat penulis rinci satu per satu yang telah membantu dalam proses
penyusunan makalah ini.
Penulis menyadari bahwa makalah ini jauh dari kata sempurna dan masih terdapat
beberapa kekurangan, oleh karena itu penulis sangat mengharapkan saran dan kritik yang
membangun dari pembaca untuk penyempurnaan makalah ini.
Penulis
ii
DAFTAR ISI
Halaman Judul ....................................................................................................................... i
Kata Pengantar....................................................................................................................... ii
Daftar Isi ................................................................................................................................ iii
Bab 1 Pendahuluan ................................................................................................................ 1
A. Latar Belakang........................................................................................................... 1
B. Rumusan Masalah...................................................................................................... 2
C. Tujuan Pembuatan Makalah ...................................................................................... 2
Bab II Pembahasan ................................................................................................................ 3
A. Pengertian Literasi ..................................................................................................... 3
B. Salah Kaprah dalam Literasu..................................................................................... 5
C. Perbedaan Literasi dan Membaca .............................................................................. 6
D. Tantangan zaman dan literasi .................................................................................... 10
E. Keterampilan Literasi yang dibutuhkan diabad 21 .................................................... 16
Bab II Penutup ....................................................................................................................... 18
A. Simpulan ................................................................................................................... 18
B. Saran .......................................................................................................................... 18
Daftar Pustaka........................................................................................................................ 19
iii
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Pendidikan merupakan eskalator untuk membangun sumber daya manusia yang
berkualitas. Suatu bangsa yang dihuni oleh masyarakat terdidik mampu menjadi bangsa besar,
seperti Jepang, Singapura, Korea selatan, Finlandia dan lain-lain. Keberhasilan mereka dalam
dunia pendidikan nyatanya mampu merubah tatanan negara tersebut sehingga menjadi bangsa
yang maju, dan disegani dalam berbagai bidang. Walaupun mereka tidak memiliki sumber
daya alam yang besar seperti Indonesia, pembangunan sumber daya manusia mampu merubah
bangsa tersebut ke arah yang lebih baik. Oleh sebab itu dunia pendidikan harus mendapat
perhatian paling besar oleh semua pihak.
Keberhasilan pendidikan suatu bangsa tidak lepas dari kebiasaan masyarakat dalam
membaca. Kenyataanya minat baca masyarakat Indonesia masih sangat rendah dibandingkan
negara lain, padahal membaca merupakan jalan menuju perubahan sosial. Apabila masalah ini
tidak segera diatasi bagaimana mungkin bangsa Indonesia beranjak dari titik buntu tersebut.
Membangun budaya literasi memang tidak semudah membalikkan telapak tangan dan
membutuhkan kesadaran semua pihak, baik keluarga, sekolah maupun masyarakat.
Sekarang ini Indonesia bukanlah bangsa yang terbelakang karena sebagian besar
penduduknya sudah bisa baca tulis. Namun budaya membaca di Indonesia masih sangat
rendah, hal tersebut disebabkan oleh faktor kultural masyarakat yang lebih suka mendengarkan
dan menonton dari pada membaca.
Berdasarkan studi yang dilakukan oleh Central Connecticut State University pada
bulan Maret 2016 yang lalu tentang “Most Littered Nation in The World”, Indonesia
menduduki peringkat ke-60 dari 61 negara terkait minat membaca. Namun dari segi komponen
infrastruktur, Indonesia menempati peringkat ke-34 (Gewati, 2016). Rendahnya minat baca di
Indonesia juga diperkuat oleh temuan dari IEA (International Association for The Evaluation
of Educational Achievement), Indonesia menduduki peringkat ke 31 dari 32 negara yang
berpartisipasti tentang minat baca (Elley, 1992). Tidak hanya itu, studi yang dilakukan oleh
PISA (Programme For International Student Assesment), menujukkan pada tahun 2009
Indonesia menduduki peringkat ke-57 dari 65 negara peserta (Kemendikbud, 2016).
1
Pengertian literasi dalam konteks Gerakan Literasi Sekolah adalah kemampuan
mengakses, memahami, dan menggunakan sesuatu secara cerdas melalui berbagai aktivitas,
antara lain membaca, melihat, menyimak, menulis, dan/atau berbicara (Kemendikbud,
2016:2). Definisi yang serupa juga diberikan oleh National Institute for Literacy, literasi
merupakan kemampuan individu membaca, menulis, berbicara, menghitung dan memecakan
masalah pada tingkat keahlian yang diperlukan dalam pekerjaan, keluarga dan masyarakat.
Definisi tersebut memberikan gambaran yang jelas bahwa literasi bukan hanya tentang
membaca. Membaca merupakan kemampuan dasar dalam berliterasi.
Berdasarkan uraian di atas, melalui makalah ini penulis membahas tentang
pengertian literasi, salah kaprah pemahaman literasi dan membaca, serta tantangan zaman
terhadap literasi, yang penting untuk diketahui.
1.2 Rumusan Masalah
Rumusan masalah dari makalah ini, antara lain:
1.2.1 Apa saja pengertian literasi?
1.2.2 Apa saja salah karpah dalam pemahaman mengenai literasi?
1.2.3 Bagaimana tantangan zaman terhadap literasi?
1.3 Tujuan
Adapun tujuan dari pembuatan makalah ini sebagai berikut.
1.3.1 Menjelaskan pengertian literasi
1.3.2 Menjelaskan salah kaprah terkait literasi dan perbedaannya dengan membaca
1.3.3 Memberi gambaran tentang tantangan zaman terhadap perkembangan literasi
2
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Literasi
Literasi dalam arti mampu membaca dan menulis, kebalikan dari buta huruf.
Penerapan istilah literasi ke bidang lain seperti literasi ekonomi dan literasi computer jauh
lebih baru-baru ini. kamus bahas inggris Oxford memiliki kutipan dari 1943 mengacu pada
literasi ekonomi. Ide literasi dalam sebuah media komunikasi diwakili oleh kutipan dari
para BBC Handbook 1962 yang mengacu pada televisi dan keterampilan dalam memahami
medium dan literasi kita sendiri dalam hal ini.
Literasi dan buta huruf tidak harus dipasangkan bersama. Literasi terkadang kontras
dengan kelisanan atau dengan neologisme lain. Nonliterate dapat diartikan sebagai suara
yang kurang merendahkan alternatif untuk buta huruf atau dua dapat digunakan dengan
berbeda makna, buta huruf tidak mampu membaca dalam suatu budaya yang melek huruf.
Sedangkan nonliterate mencakup orang-orang dalam suatu budaya yang tidak pernah
memiliki literasi. Bahkan berbicara tentang melek huruf budaya adalah perpanjangan dari
kata di luar gagasan literasi menjadi milik individu.
Literasi memiliki konteks sosial (Levine, 1985) dan merupakan dibangun secara
sosial (Cook Gumperz, 1986). Pendekatan literasi sebagai seperangkat praktik yang
terorganisir secara sosial yang memanfaatkan system symbol dan teknologi untuk
memproduksi dan menyebarkannya. Literasi tidak cukup mengetahui cara membaca dan
menulis tertentu script tetapi menerapkan pengetahuan ini untuk tujuan tertentu dalam
konteks penggunaan tertentu (Barton, 2007)
Literasi menurut David Barton dan Mary Hamilton (dalam Muktaf, 2017:2) adalah
cara-cara budaya yang secara general memanfaatkan tulisan dalam bahasa yang kemudian
digunakan oleh masyarakat dalam kehidupannya, atau dalam definisi yang lain bahwa
praktik literasi adalah konsep menghubungkan antara aktifitas tulis dan membaca dan
struktur sosial dimana mereka gunakan sebagai bagian dari bantuan atau cara.
Praktik literasi adalah cara-cara budaya yang secara general memanfaatkan tulisan
dalam bahasa yang kemudian digunakan oleh masyarakat dalam kehidupannya, atau dalam
definisi yang lain bahwa praktik literasi adalah konsep menghubungkan antara aktifitas
tulis dan membaca dan struktur sosial dimana mereka gunakan sebagai bagian dari bantuan
3
atau cara. Barton dan Hamilton (1998) melihat bahwa tulis dan membaca adalah bagian
dari budaya, dimana masyarakatnya mengambilnya sebagai alat untuk mengetahui atau
memahami fenomena. Praktik literasi mengacu pada nilai, sikap, perasaan dan hubungan
sosial (Barton dan Hamilton, 1998: Williams dan Zenger, 2007:4). Pada konteks ini jika
ada praktik literasi maka ada pula peristiwa literasi.
Peristiwa literasi adalah bagian dari praktik literasi. Peristiwa literasi adalah disaat
seseorang atau masyarakat mempraktikkan kegiatan membaca atau menulis dalam konteks
tertentu (Barton dan Hamilton, 1998:Williams dan Zenger, 2007:4). Literasi memang
menitik beratkan pada tulisan dan baca, namun lebih dari itu literasi mengacu pada makna.
Seperti yang dikemukakan oleh Kress (2005:23), gambaran tentang literasi bisa dilihat saat
kita membuat pesan menggunakan huruf sebagai maksud merekam pesan. Namun saat kita
berkomunikasi melalui angka, kita menggunakan tanda yang kita sebut numerik, dan tentu
saja kita akan melihat bahwa makna dengan menggunakan angka akan sangat berbeda
dengan menggunakan huruf, namun kita mampu membedakannya, walaupun dalam teknik
tulisnya sama. Kress memahami dasar literasi dari kata-kata, seperti kata-kata sebagai
sumber representasi, kata-kata sebagai produksi pesan, dan kata-kata sebagai sumber
penyebarluasan makna pesan. Kress kemudian melihat bahwa kata-kata akan eksis jika ada
bahasa (Bahasa Inggris, Sunda, Jawa dan sebagainya), begitu juga bahasa akan eksis jika
ada kata-kata. Dengan menggunakan kata-kata bahasa, maka kita bisa menyebutkan
banyak hal (Kress, 2005:25) (Muktaf, 2017). Pendekatan kultural sangat penting dalam
praktik literasi.
Ketujuh prinsip tersebut adalah sebagai berikut:
1. Literasi adalah kecakapan hidup (life skills) yang memungkinkan manusia berfungsi
maksimal sebagai anggota masyarakat;
2. Literasi mencakup kemampuan reseptif dan produktif dalam upaya berwacana secara
tertulis maupun secara lisan;
3. Literasi adalah kemampuan memecahkan masalah;
4. Literasi adalah refleksi penguasaan dan apresiasi budaya;
5. Literasi adalah kegiatan refleksi (diri);
6. Literasi adalah hasil kolaborasi;
7. Literasi adalah kegiatan melakukan interprestasi. (Hendriani, 2018)
4
2.2 Salah kaprah dalam pemahaman mengenai literasi
Ada tujuan tertentu yang ingin atau harus dicapai dengan membaca. Sebagaimana
ada pula yang ingin dicapai dengan mendengarkan. Salah kaprah tentang peningkatan
literasi dimulai dengan "membudayakan membaca" tanpa ada tujuan akhir dari membaca
itu.
Maka seharusnya peningkatan literasi yang digemakan sekaligus digembar-
gemborkan itu bentuknya mesti peningkatan kualitas bacaan serta kualitas proses
membaca. Bukan kuantitas membaca dengan berlomba-lomba menamatkan satu buku per
hari. Apalagi, tentang kebut-kebutan membaca, alias melatih kecepatan baca.
Orang yang bisa membaca cepat kemudian bisa menyelesaikan tiga atau empat
buku lebih cepat dari orang lain, tentu akan tampak mengagumkan bukan? Tapi
masalahnya, seberapa tingkat pemahamannya terhadap bacaannya?
Literasi berarti juga pemahaman. Rendahnya literasi, bukan berarti rendahnya
minat baca, atau malah minat menulis. Rendahnya literasi berarti rendahnya tingkat
pemahaman terhadap bacaan. Kalau bicara tentang membaca, toh semua orang membaca
dalam satu harinya. Entah itu status media sosial, entah itu tulisan di atas bak sampah atau
tulisan di pesan yang masuk ke smartphone-nya. Bisa jadi ada status yang banyak muatan
ilmu pengetahuannya, bisa jadi juga ilmu pengetahuan itu datang lewat pesan WA.
Maka literasi berarti pemahaman dan pemahaman yang dimaksudkan adalah
seberapa mampu seseorang menggali informasi, menganalisis, menafsir dan sebagainya
sebuah teks atau bacaan. Berarti, ada kegiatan diskusi, tanya jawab dan sebagainya setelah
menyelesaikan satu bacaan. Itu tepat untuk peningkatan literasi.
Bahkan di bacaan yang sangat ringan sekalipun, sebenarnya ada pengetahuan di
dalamnya. Itu akan didapatkan ketika pemahaman seseorang sudah cukup baik untuk
mengarahkan semua potensi, skill, kemampuan berpikir kognitif, analisis dan sebagainya
dalam hal yang membaca.
5
2.2.1 Perbedaan Literasi dengan Membaca dan Literasi Kritis
1. Pengertian Membaca
Membaca adalah proses mengenal kata dan memadukan arti kata
dalam kalimat yang terstruktur sehingga hasil akhir dari membaca seseorang
mampu membuat intisari dari bacaan. (Juel dalam Sadjaja: 2005 45).
Membaca merupakan suatu proses yang kompleks dan rumit.
Kompleks berarti dalam proses membaca terlibat berbagai factor internal dan
eksternal pembaca. Factor internal yaitu meliputi intelegensi, minat, sikap,
bakat, motivasi, tujuan membaca dan lain sebagainya. Sedangkan factor
eksternal berupa sarana membaca, latar belakang sosial ekonomi, dan tradisi
membaca. Sedangkan proses rumit artinya faktor internal dan eksternal yang
saling berhubungan membentuk koordinasi yang rumit untuk menunjang
pemahaman. (Nurhadi, 2008:13).
Membaca addalah suatu kegiatan interaktif untuk memetik serta
memahami arti atau makna yang terkandung di dalam bahan tulis. Selain itu
membaca juga merupakan proses yang dilakukan serta digunakan oleh pembaca
untuk memperoleh pesan yang hendak disampaikan penulis melalui kata-kata
atau tulisan (Somadayo, 2011:5)
Dari pengertian membaca menurut para ahli di atas, dapat ditarik
kesimpulan bahwa membaca itu adalah proses yang rumit dimulai dengan
pengenalan huruf, pengenalan suku kata, dan memadukan arti kata dalam
sebuah kalimat demi tercapainya sebuah pemahaman mengenai makna di
dalamnya dan dapat membuat sebuah intisari dari bacaan. Membaca
dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal.
6
menjelajahi luasnya dunia ilmu yang terhampar luas dari berbagai penjuru
dunia dan dari berbagai babakan jaman.
Menurut William D. Baker bahwa 85% kegiatan belajar di perguruan
tinggi meliputi membaca. Dengan perkataan lain, kemahiran baca-tulis
merupakan batu loncatan bagi keberhasilan seorang di sekolah dan dalam
kehidupan selanjutnya di masyarakat. Mengomentari betapa pentingnya kaitan
antara literasi dengan dunia persekolahan tersebut, secara tamsil Andre
Morois, salah seorang sastrawan terkenal asal Perancis mengatakan bahwa
pada hakekatnya salah satu tugas atau misi penting kehadiran dunia
persekolahan dari mulai SD hingga perguruan tinggi yakni mengantarkan para
peserta didiknya agar kelak mereka mampu “membuka pintu perpustakaan”
sendiri alias manusia yang mencetak manusia-manusia yang berkebudayaan
literasi (bacatulis).
Jika dunia sekolah tidak mampu merealisasikan misi tersebut, ujar
Moris, maka proses bersekolah pada dasarnya boleh dianggap sebagai hal yang
mubazir atau sia-sia. Ihwal peran membaca dalam konteks dunia pendidikan
ini marilah kita simak salah satu bagian lain dari pidato pengukuhan guru besar
Prof. Ahmadslamet Harjasujana: “Tujuan Pendidikan Nasional yang telah
ditetapkan oleh MPR dan kemudian dituangkan dalam GBHN kita itu
sesungguhnya hanya akan tercapai jika masyarakat Indonesia telah berliteral.
Sebab hanya masyarakat yang memiliki kebudayaan literatlah atau masyarakat
yang melek wacana, yang akan sanggup menyerap dan menganalisis,
kemudian membuat sintesis dan evaluasi tentang informasi yang tercetak
sebelum dirinya mengambil keputusan menurut kemampuan nalar dan
intuisinya. Hanya masyarakat yang literatlah yang mampu menjadi masyarakat
yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan yang Maha Esa, berbudi perkerti
luhur, berkepribadian, bekerja keras dan berkualitas, tangguh dan
bertanggungjawab, mandiri, cerdas dan terampil serta sehat jasmani dan
rohaninya”.
Literasi kritis terhubung dengan teori kritis, istilah umum untuk lebih
banyak pendekatan umum terhadap sifat pengetahuan yang menekankan
7
bagaimana struktur sosial mempengaruhi individu, dan menggambarkan
ketidaksetaraan dalam akses dan kekuasaan yang membatasi apa yang dapat
dilakukan orang dalam hidup mereka.
Landasan historis pedagogik literasi kritis. Secara historis dan teoritis,
pedagogik literasi kritis diprakarsai oleh pemikiran Paulo Freire. Beliau adalah
tokoh pendidikan yang berasal dari Brazil. Konsep pendidikan literasi kritis
Freire bertujuan untuk membangkitkan kesadaran kritis kaum tertindas akan
realitas penindasan yang telah membelenggu mereka sebagai manusia.
“Pengembangan kesadaran kritis membuat orang-orang mempertanyakan
hakikat dari situasi historis dan sosial mereka, membaca dunia mereka dengan
tujuan bertindak sebagai subjek-subjek otonom yang mampu membawa
perubahan menuju masyarakat yang lebih demokratis dan humanis” (Kesuma
& Ibrahim, 2016).
Oleh karena itu konsep pedagogik literasi kritis ditujukan agar peserta
didik mampu membaca segala bentuk realitas sosial dan budaya yang ada
disekelilingnya. Konsep pendidikan literasi kritis Freire bukan hanya
membaca kata, akan tetapi disertai membaca dunia, mengkaitkan antara teks
dengan konteks kehidupan manusia. Konsep “Read The Word and The World”
dari Paulo Freire merupakan landasan utama dari pembelajaran bahasa
berbasis literasi kritis.
Mengacu pada pendapat Freire, penulis dapat menarik kesimpulan
bahwa pendidikan literasi kritis lebih terorientasi pada program penyadaran
kaum tertindas akan humanitas mereka yang mampu menggenggam dunia.
Proses penyadaran menggunakan pendekatan praxis yaitu melalui refleksi
kritis akan situasi sosial dan historis mereka, membaca” (Hendriani, 2018).
Bertebarannya informasi yang menghiasi selama masa pandemi covid-
19 telah banyak meresahkan masyarakat. Diperlukan sebuah langkah nyata
untuk mengantisipasi semakin masifnya misinformasi di tengah pandemi
covid-19 (Rachmawati et al., 2020). Langkah nyata yang dimaksudkan
terwujud dalam bentuk literasi kritis atau membaca kritis. Keterampilan
membaca kritis sejatinya merupakan sebuah kegiatan membaca yang
8
melibatkan pertimbangan, penilaian, dan kebenaran dari apa yang dibacanya
(Aryanta et al., 2014). Dengan muatan kegiatan yang seperti ini diharapkan
semua infromasi yang bertebaran di tengah pandemi covid-19 dapat diseleksi
dengan baik sebelum sampai pada khalayak umum.
Melalui keterampilan membaca kritis infromasi yang didapatkan tidak
ditelan mentah-mentah dan dijadikan sebagai dasar dalam menyampaikan
informasi. Pembaca dapat melakukan seleksi terlebih dahulu setiap infromasi
yang didapatkan, bahkan bila perlu harus melakukan konfirmasi terlebih
dahulu terhadap infromasi yang didapatkanya (Muttaqiin & Sopandi, 2016).
Langkah ini merupakan langkah preventif yang harus dilakukan oleh semua
individu dalam menerima informasi sekecil apapun di tengah masa pandemi
ini. Dengan langkah terima, saring, cek kebenarannya, dan sampaikan pesan
bila memang benar adalah salah satu langkah nyata yang wajib dilakukan oleh
individu cerdas dalam bermedia sosial. Ketika semua langkah tersebut telah
dilakukan, niscaya misinformasi yang selama ini telah menjadi sebuah sumber
informasi utama tidak lagi menjadi momok yang menakutkan dan landasan
dalam menyampikan informasi. Langkah nyata tersebut menjadi satu
kewajiban yang harus dilakukan oleh setiap individu di tengah masa pandemi,
sehingga tidak akan ada lagi kesalahan persepsi dalam menghadapi pandemi
covid-19. Langkah nyata dalam menghadapi misinformasi di tengah pandemi
covid-19 harus diikuti dengan sikap tegas dalam menyaring infromasi yang
didapatknya. Sikap tegas tersebut mengantarkan individu untuk menjadi
pembaca yang kritis dan aktif dalam mengolah infromasi dan melakukan
tinjauan terhadap pesan di dalamnya. Dengan sikap tegas tersebut setiap
individu akan menjadi pelopor dalam memutus tali misinformasi selama
pandemi covid-19. Oleh karena itu, keterampilan membaca kritis atau literasi
kritis dan aktif menjadi prioritas utama dalam mencegah penyebaran infromasi
yang hoax.
Harapan kita semua, gerakan literasi akan berujung pada sebuah
kebiasaan membaca. Membaca tidak lagi menjadi sebuah paksaan namun
kebutuhan. Setelah membaca menjadi budaya, hendaknya hasil bacaan yang
9
telah kita baca dapat dipahami dengan baik. Bahkan harus kita kritisi isinya.
Artinya, kita harus mulai menanamkan budaya berliterasi secara kritis.
Literasi kritis berkaitan dengan berpikir kritis dan kesadaran kritis. Priyatni
(2014:27) menyampaikan bahwa berpikir kritis adalah budaya berpikir yang
memungkinkan seseorang berpikir divergen, yaitu kemampuan
mengembangkan serta memecahkan masalah dan keterampilan berpikir
melalui pertanyaan terkait dengan: hubungan sebab akibat, perspektif atau
sudut pandang, bukti-bukti, kemungkinan, dan debat. Sedangkan kesadaran
kritis adalah sarana untuk menjadikan seseorang memiliki kesadaran lebih
terhadap sejarah, social, budaya, dan ideologi yang membentuk sesuatu
diterima atau tidak dalam suatu masyarakat tertentu. Literasi kritis yang
berinduk pada teori kritis meyakini bahwa “ada kepentingan tertentu Bahasa
dan Sastra Indonesia dalam Konteks Global.
Penggunaan literasi kritis dalam pembelajaran Bahasa Indonesia
tentunya diharapkan mampu menjadi jembatan untuk membentuk karakter
siswa. Teks sastra dan faktual yang digunakan dalam pembelajaran dapat
disesuaikan oleh guru untuk mencapai tujuan pendidikan karakter tertentu.
Terkait dengan hal ini, peran guru sangat diperlukan karena guru harus
memiliki wawasan tentang bacaan yang lebih. Hal ini selaras dengan
pembelajaran kurikulum 2013 yang menempatkan siswa sebagai subjek
pembelajaran dan guru sebagai fasilitator. Kegiatan literasi yang
dicanangkan tidak hanya terfokus pada siswa semata. Sebagai fasilitator,
guru hendaknya juga memperluas informasi. Kemajuan zaman
memungkinkan siswa lebih tahu daripada guru. Oleh sebab itu, kegiatan
siswa dalam berliterasi seharusnya tidak lepas dari peran guru dalam
mengarahkan. Guru harus menjadi fasilitator yang berkualitas. Memilih
teks bacaan yang sesuai bagi siswa (Ariyati, 2010).
10
menggunakan segenap kemampuan untuk memecahkan masalah dalam hidupnya. Namun,
kemampuan dasar untuk membangun literasi yang harus dimiliki adalah kemampuan
membaca. Tingkat pemahaman membaca yang baik akan mempengaruhi kemampuan
menulis, menyimak, dan berbicara sehingga dapat mempengaruhi pola pikir.
11
kerja global berbasis pengetahuan; dan untuk berpartisipasi dalam demokrasi menghadapi
masalah yang kompleks.
12
Salah satu input terpenting untuk pemahaman membaca yang sukses adalah
pengetahuan, beberapa di antaranya diperoleh tanpa membaca sama sekali. Satu perbedaan
utama antara anak-anak yang cenderung menjadi pembaca yang baik dan mereka yang
cenderung kesulitan adalah pengetahuan kosa kata. Sejak usia tiga tahun, anak-anak kelas
menengah dan anak yang kurang beruntung menunjukkan perbedaan yang sangat besar
dalam ukuran kosakata mereka, karena mereka memiliki pengalaman yang berbeda dengan
percakapan yang darinya mereka dapat mempelajari hal -hal baru.
13
(Sumber: [Link])
d. Faktor Selain Sekolah
Kesenjangan literasi tersaji ketika anak-anak mulai sekolah, factor-faktor diluar
sekolah seperti keluarga dan komunitas mengambil peran dalam mengakuisisi
kemampuan literasi dan kemungkinan terus memberikan pengaruh seiring
bertambahnya usia anak. Jane Waldfogel, dari Universitas Columbia, menggunakan
perbedaan antara subkelompok (berdasarkan ras, status sosial ekonomi, dan status
imigran) untuk mencari tahu apa pengaruh ini. Dia mencatat bahwa orang tua sangat
penting untuk melek huruf awal anak-anak. Orang tua yang lebih diuntungkan lebih
responsif terhadap anak-anak mereka, berinteraksi dengan mereka lebih sering, dan
menyediakan lingkungan belajar yang lebih kaya melalui kegiatan membaca dan
merangsang kognitif lainnya, seperti penggunaan komputer atau kunjungan ke
perpustakaan. Faktor lain yang berperan dalam perolehan keterampilan keaksaraan
awal yang bervariasi dengan ras atau status sosial ekonomi termasuk kesehatan dan
perilaku yang berhubungan dengan kesehatan dan partisipasi di prasekolah.
14
Lingkungan keluarga menjadi dasar pembelajaran anak terutama keterlibatan
orang tua dalam mendukung dan mendampingi anak untuk berliterasi. Anak yang
mendapat dukungan dari orang tuanya akan cenderung mudah dalam belajar nya dan
dapat mencapai kemajuan yang lebih baik dalam hal literasi dibandingkan dengan anak
yang tidak diberikan dukungan secara penuh oleh orang tuanya (Inten, 2017). Disisi
lain, orang tua dan guru sudah menyadari bahwa pemberian stimulasi literasi sangat
penting bagi kebutuhan perkembangan anak (usia dini) agar anak dapat memiliki
kemampuan serta keterampilan untuk menguasai perkembangan tahap lanjut, namun
terdapat persepsi yang kurang tepat pada tujuan pemberian stimulasi literasi bagi anak
usia dini yaitu adanya harapan agar anak dapat segera bisa membaca, sehingga dalam
menjalankan perannya masih terdapat orang tua dan guru yang memberikan stimulasi
yang kurang sesuai dan bersifat drill (Solichah, 2022).
e. Meningkatkan literasi anak tertinggal
Membaca adalah proses dinamis dan multifaset yang membutuhkan
pengembangan berkelanjutan jika siswa ingin mengimbangi tuntutan yang meningkat
dari teks dan tugas sekolah. Ketika membaca secara efektif, pembaca tidak hanya
menguraikan kata-kata pada halaman tetapi juga menggunakan pengetahuan mereka
yang terakumulasi untuk menilai, mengevaluasi, dan mensintesis informasi yang
disajikan. Istilah "kompetensi berbasis keterampilan" untuk menggambarkan
keterampilan yang dibutuhkan anak-anak untuk mengucapkan dan mengenali kata-
kata. Dia membandingkan konsep ini dengan kompetensi berbasis pengetahuan yang
mencakup pengetahuan konseptual dan kosa kata yang diperlukan untuk memahami
makna teks.
Amerika Serikat telah membuat kemajuan yang jauh lebih sedikit dalam
mengajarkan kompetensi berbasis pengetahuan yang dibutuhkan siswa untuk
mendukung pemahaman bacaan di kelas selanjutnya. Kompetensi ini adalah sumber
utama perbedaan individu yang bertahan lama dalam hasil membaca, terutama di antara
anak-anak yang tumbuh di rumah tangga berpenghasilan rendah dan tidak berbahasa
Inggris. Memperkuat lingkungan bahasa yang merupakan bagian dari pengalaman
sekolah sehari-hari siswa dari rumah tangga yang tidak berbahasa Inggris atau
berpenghasilan rendah, atau keduanya, pendidik dapat mendukung anak-anak saat
15
mereka mengembangkan kompetensi berbasis pengetahuan yang dibutuhkan untuk
mengakses sekolah. kurikulum.
2.3.1 Keterampilan Literasi yang dibutuhkan di abad 21
Menurut UNESCO, pemahaman seseorang mengenai literasi ini akan dipengaruhi
oleh kompetensi bidang akademik, konteks nasional, institusi, nila-nilai budaya serta
pengalaman. Terdapat 6 keterampilan literasi dasar yang harus dikuasai oleh siswa untuk
menghadapi tantangan kehidupan di era disrupsi teknologi (Kemendikbud, 2021).
a. Literasi Baca Tulis adalah kecakapan untuk memahami isi teks tertulis, baik yang
tersirat maupun tersurat, untuk mengembangkan pengetahuan dan potensi diri.
b. Literasi numerasi adalah kecakapan untuk menggunakan berbagai macam angka dan
symbol yang terkait dengan matematika dasar untuk memecahkan masalah praktis
dalam berbagai macam konteks kehidupan sehari-hari.
c. Literasi Sains adalah kecakapan untuk memahami fenomena alam dan social di sekitar
kita serta mengambil keputusan yang tepat secara ilmiah.
d. Literasi digital adalah kecakapan menggunakan media digital dengan beretika dan
bertanggung jawab untuk memperoleh informasi dan berkomunikasi.
e. Literasi finansial adalah kecakapan untuk mengaplikasikan pemahaman tentang
konsep, risiko, keterampilan, dan motivasi dalam konteks finansial.
f. Literasi Budaya dan Kewargaan adalah kecakapan dalam memahami dan bersikap
terhadap kebudayaan Indonesia sebagai identitas bangsa serta memahami hak dan
kewajiban sebagai warga negara.
2.3.2 Literasi Digital
Sebagaimana telah dibahas sebelumnya bahwa terdapat 6 dimensi literasi,
diantaranya literasi baca tulis, literasi numerasi, literasi sains, literasi digital, literasi
finansial, literasi budaya dan kewargaan. Diantara dimensi-dimensi literasi tersebut,
literasi digital menjadi bagian sangat penting yang saat ini harus digalakkan, ditengah
gempuran cepatnya arus informasi melalui teknologi digital. Literasi digital menjadi
tantangan tersendiri bagi kehdupan manusia di masa kini dan mendatang.
Literasi digital (Atmadzaki, 2017: 6) merupakan pengetahuan dan kecakapan
untuk menggunakan media digital, alat-alat komunikasi, atau jaringan dalam menemukan,
mengevaluasi, menggunakan, membuat informasi, dan memanfaatkannya secara sehat,
16
bijak, cerdas, cermat, tepat, dan patuh hukum dalam rangka membina komunikasi dan
interaksi dalam kehidupan sehari-hari.
Dilansir oleh Mitchell Kapoor, sebuah riset menunjukkan bahwa generasi muda
yang mampu mengakses media digital, saat ini belum mengimbangi penggunaan media
digital untuk mengembangkan diri dan kemampuan menyerap informasi (Hagel dalam
Nasrullah, 2017). Selain itu, hasil penelitian Kuniawan (2018) menujukkan bahwa 62%
dari 99% responden siswa SD sudah mempunyai smartphone sendiri sebelum usia 9
tahun, serta 2 aktivitas yang paling sering dilakukan siswa sekolah dasar dengan gawai
adalah bermain game dan menonton video di Youtube. Siswa sekolah dasar sekarang ini
yang merupakan generasi Alpha (A).
Permasalahan-permasalahan di atas patut menjadi perhatian dalam mengenalkan
literasi digital kepada anak-anak. Sebab jika penggunaan media digital tidak terkontrol,
maka imbasnya justru buruk terhadap perkembangan mental dan belajar anak.
17
BAB III
PENUTUP
3.1 Simpulan
Literasi dan membaca merupakan dua hal yang berbeda. Literasi bukan hanya tentang
membaca. Literasi merupakan kemampuan untuk mengelola informasi guna menyelesaikan
masalah. Sementara membaca adalah proses mengenal kata dan memadukan arti kata dalam
kalimat yang terstruktur sehingga hasil akhir dari membaca seseorang mampu membuat intisari
dari bacaan. Jadi, membaca adalah basic skill dalam berliterasi karena bisa membaca saja tidak
cukup bagi anak, kemampuan memproses informasi lebih penting untuk menyesuaikan diri
dalam menghadapi tantangan zaman.
3.2 Saran
Kemampuan literasi harus terus dikembangkan untuk menjawab kebutuhan dan
tantangan zaman. Sebagai role model, guru juga harus memiliki kemampuan literasi yang baik
supaya bisa mengembangkan kemampuan literasi siswa dengan baik.
18
DAFTAR PUSTAKA
Ariyati, D. (2010). Pendidikan karakter melalui pembelajaran berbasis literasi kritis. Seminar
Nasional, PS PBSI FKIP Universitas Jember, 655–662.
Atmadzaki, Ali N. B. V., Muldian W., Miftahssuri, Hanifah N., Nento M. N., & Akbari Q. S.
(2017). Panduan gerakan literasi nasional. Jakarta: Kementerian Pendidikan dan
Kebudayaan.
Barton, David. 2007. Literacy (Literacy): An Introduction to the ecology of literacy. English:
Blackwell Publishing.
Elley, Warwick B. 1992. How in the world do student read? IEA study of reading literacy.
United State: US Departmet of Education.
Kemendikbud. (2021). Yuk mengenal 6 literasi dasar yang harus kita ketahui dan miliki.
Diunduh dari [Link]
dasar-yang-harus-kita-ketahui-dan-miliki (Diakses pada 5 Oktober 2022)
Murnane, R., Sawhill I., and Show, C. (2013). The challenge of literacy for the twenty-first
century: introducing the issue. http:/[Link]. DOI:
10.2307/23317408.
OECD. (2018). Programme for international student assessment (PISA) result from PISA
2018. Diakses dari
[Link]
Ramadhan, A. (2022). Siswa di Indonesia belum kuasai kompetensi minimum literasi dan
numerasi. Diunduh dari [Link]
indonesia-belum-mencapai-kompetensi-minimum-literasi-dan-numerasi, diaskes
pada 4 Oktober 2022.
Gewati, M. (2016). Minat baca Indonesia ada di urutan ke-60 dunia. Diunduh dari
[Link]
.[Link]?page=2 (diakses pada 4 Oktober 2022).
Hendriani, A. (2018). Pedagogik literasi kritis; Sejarah, filsafat dan perkembangannya di
dunia pendidikan. Pedagogia, 16(1), 44.
[Link]
Inten, D. N. (2017). Peran keluarga dalam menanamkan literasi dini pada anak. Golden
Age: Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, 1. [Link]
Kress, Gunther (2005), Literacy in the New Media Age, Routledge, New York Metz.
Kurniawan, M. R., & Pambudi, I. D. (2018). Literasi digital dalam pembelajaran sekolah
dasar. Procceding Seminar Nasional Pendidikan Dasar. Diambil dari
[Link]
19
Muhsyanur, [Link]. 2014. Membaca (Suatu Keterampilan Bahasa Reseptif). Yogyakarta:
Buginese Art.
Mumame, R. J., Snow, C. E., Sawhill, I. (2012). Literacy challenge for the twenty-first
century: Introducing the issue. The Future of Children Journal. DOI:
10.2307/23317408 · Source: PubMed
Nasrullah, R., Aditya, W., Satya, T. I., Nento, M. N., Hanifah, N., Miftahussuri, & Akbari,
Q. S. (2017). Materi pendukung literasi digital. Diambil dari
[Link]
[Link] (dikases pada 4 Oktober 2022)
Muktaf, Z. M. (2017). Studi literasi bencana dalam perspektif ilmu komunikasi. Apik Ptm, 1–
12. [Link] Literasi
Bencana dalam Perspektif Komunikasi [Link]?sequence=1&isAllowed=y.
Yus, F. (2006). Lietracy in the new media age (reaview). In Language, Vol 18 (4).
[Link]
Solichah, N., Sholehah, H. Y., Hikam, R. (2022). Persepsi serta peran orang tua dan guru
terhadap pentingnya stimululasi literasi pada anak usia dini. Jurnal Obsesi: Jurnal
Pendidikan Anak Usia Dini. Volume 6, (5). DOI: 10.31004/obsesi.v6i5.2453
Sukirno. 2014. Terampil membaca nyaring. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
20