0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
31 tayangan14 halaman

Pembunuhan Penumpang Taksi Online Bogor

Kasus pembunuhan penumpang taksi online di Bogor oleh dua pelaku diduga dilakukan dengan rencana untuk merampas harta korban setelah ancaman dengan samurai gagal, yang mengakibatkan kematian korban dalam mobil di Bogor. Kedua pelaku dijerat pasal pembunuhan berencana dan pencurian berat.

Diunggah oleh

Kiki Kiko
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
31 tayangan14 halaman

Pembunuhan Penumpang Taksi Online Bogor

Kasus pembunuhan penumpang taksi online di Bogor oleh dua pelaku diduga dilakukan dengan rencana untuk merampas harta korban setelah ancaman dengan samurai gagal, yang mengakibatkan kematian korban dalam mobil di Bogor. Kedua pelaku dijerat pasal pembunuhan berencana dan pencurian berat.

Diunggah oleh

Kiki Kiko
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

TUGAS UJIAN TENGAH SEMESTER ASAS-ASAS HUKUM PIDANA

ANALISIS KASUS PEMBUNUHAN PENUMPANG TAKSI ONLINE

DISUSUN OLEH :
KASUS PEMBUNUHAN PENUMPANG TAKSI ONLINE

Sumber :

[Link]
online-di-bogor

BOGOR, [Link] - Aksi pembunuhan yang dilakukan driver taksi online kepada
penumpangnya, Yun Siska Rochani (29), mengejutkan masyarakat. Pasalnya, motif pelaku
membunuh korban karena kalap harus membayar cicilan kredit mobil.

Kapolres Bogor AKBP Andy M Dicky Prastika mengatakan, dari hasil pemeriksaan,
pembunuhan tersebut bermula saat korban memesan taksi online untuk diantar menuju salah
satu hotel di Jakarta pada Minggu 18 Maret, sekitar pukul 02.20 WIB.

Tanpa ada rasa curiga, korban Siska naik ke mobil. Di tengah jalan, tiba-tiba di dalam mobil
sudah ada pelaku lain FD. Kedua pelaku justru tidak mengantarkan korban ke tempat tujuan,
melainkan menuju ruas Tol Jagorawi.

Di dalam mobil, kedua pelaku mengancam korban agar memberikan uang sebesar Rp20 juta.
Korban diancam menggunakan samurai kecil. Sambil membawa korban berputar-putar di
Jalan Tol Jagorawi, pelaku meminta korban untuk menghubungi teman-teman dan kerabatnya
agar mengirimkan uang.

Tak berselang lama, pelaku memberhentikan mobilnya di Rest Area KM 34 Tol Jagorawi
untuk mengecek ATM milik korban, namun uang yang diharapkan kedua pelaku tidak ada.
Lalu, FS dan FD membawa korban menuju Bogor. Pelaku membunuh korban di dalam mobil
saat perjalan di kawasan Sentul, Bogor.

Korban meninggal diduga lantaran kehabisan nafas. Pelaku kemudian mengantarkan jasad
Siska ke alamat yang tertera di indentitasnya. Setiba di komplek ruko perumahan Griya Asri
Cibinong, Bogor, korban dibuang ke area semak-semak di depan perumahan.

Pelaku melarikan diri dan mengaku sempat membuang tas korban ke sungai. Pelaku
mengambil handphone milik korban dan menjualnya ke Plaza Jambu Dua Bogor.
Temuan mayat korban di semak-semak depan perumahan Griya Asri Cibinong, Bogor itu pun
dilaporkan ke polisi. Petugas langsung melakukan olah Tempat Kejadian Perkara (TKP) dan
membawa korban ke RS Polri Kramatjati, Jakarta untuk divisum. Hasil pemeriksaan terdapat
luka memar di dada dan bahu kanan korban.

Tak butuh lama, polisi berhasil mengungkap kasus pembunuhan ini. Kedua pelaku FS dan
FD ditangkap di rumahnya Tajurhalang, Bogor sekitar pukul 04.30 WIB pada Selasa 20
Maret. Polisi juga mengamankan sejumlah barang bukti, seperti mobil pelaku, samurai kecil,
dompet, surat-surat kendaraan, dan handphone milik korban. Niat pelaku membunuh
penumpangnya lantaran terdesak bayar cicilan mobil yang digunakan untuk taksi online.
ANALISIS

Kasus di atas apabila dikenakan ketentuan pidana sesuai dengan Buku II KUHP
tentang kejahatan, makakedua pelaku dijerat Pasal 365 ayat 4 KUHP, Pasal 338 KUHP dan
Pasal 340 KUHP tentang pencurian dengan kekerasan yang mengakibatkan matinya
seseorang dan atau pembunuhan berencana dengan ancaman hukuman penjara paling lama 20
tahun.

Pasal 340 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana

Barangsiapa dengan sengaja dan dengan recana terlebih dahulu merampas nyawa
orang lain, diancam pidana karena pembunuhan dengan rencana, dengan pidana mati atau
pidana penjara seumur hidup atau selama waktu tertentu, paling lama dua puluh tahun.1

Berdasarkan pasal di atas, terdapat unsur-unsur delik yang harus dibuktikan oleh jaksa
dalam melakukan penuntutan terhadap para pelaku pidana tersebut, antara lain :

 Unsur Barangsiapa;
 Unsur dengan sengaja
 Unsur dengan rencana terlebih dahulu;
 Unsur merampas nyawa orang lain

` Unsur-unsur yang disebutkan di atas tersebut dibedakan menjadi unsur-unsur


subjektif yaitu dilakukan dengan sengaja dan direncanakan terlebih dahulu, juga unsur
obyektif yaitu menghilangkan nyawa orang lain.2

 Unsur Barangsiapa
Unsur Barangsiapa menunjuk kepada pelaku yang merupakan subjek hukum, yaitu
manusia/orang yang telah melakukan suatu tindakan melanggar hukum dan oleh
Undang-Undang telah dinyatakan sebagai tindakan yang dapat dihukum sehingga
subjek hukum (pelaku) dapat dimintai pertanggungjawaban atas perbuatannnya.
Berdasarkan kasus ini, unsur Barangsiapa ditujukan kepada FS dan FD sebagai subjek
hukum yang telah melakukan suatu tindakan melanggar hukum dan oleh Undang-
Undang telah dinyatakan sebagai tindakan yang dapat dihukum, karena dalam
keterangan kedua pelaku dinyatakan sadar saat melakukan perbuatannya tersebut dan

1
Indonesia, Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP), Pasal 340
2
MARPAUNG, Leden. 1991. Unsur-unsur perbuatan yang dapat dihukum (delik). Edisi, Cet.1 ; Penerbitan,
Jakarta Sinar Grafika.
tidak memiliki penyakit cacat mental sehingga perbuatannya itu dapat dimintai
pertanggungjawaban. Dengan demikian, unsur Barangsiapa ini terbukti.
 Unsur Dengan Sengaja
Unsur dengan sengaja berdasarkan Memori Van Toelichting (MvT) adalah willens en
wetensyaitu pelaku menghendaki tujuan yang diinginkan dan mengetahui bahwa
perbuatan yang dilakukan dapat menyebabkan atau mencapai tujuan utamanya.
Terdapat tiga bentuk-bentuk kesengajaan, yaitu :
1. Kesengajaan sebagai tujuan (opzet als oogmerk)  kesengajaan yang dilakukan
oleh kedua pelaku untuk mencapai tujuan utamanya dan dengan kata lain bahwa
kedua pelaku sudah menghendaki akibat tersebut serta akibat tersebut merupakan
tujuan atau maksudnya.
2. Kesengajaan dengan keinsyafan kepastian (opzet bij zekerheids bewutzijn) 
kesengajaan yang dilakukan oleh kedua pelaku dengan sudah menyadari atau
membayangkan bahwa dalam rangka mencapai tujuannnya ada perbuatan lain
atau ada akibat lain yang akan atau harus terjadi, maka akibat lain yang muncul
tersebut bukanlah menjadi penghalang bagi para pelaku untuk mencapai tujuan
utama.
3. Kesengajaan dengan keinsyafan kemungkinan (opzet bij mogelijkkheids
bewutzijn)  kesengajaan yang dilakukan oleh kedua pelaku untuk mencapai
tujuan utamanya dimana para pelaku menyadari atau membayangkan akan ada
akibat lain yang belum pasti terjadi atau belum dapat secara spesifik
dibayangkan.3

Berdasarkan penjelasan teori mengenai unsur dengan sengaja di atas, maka apabila
jika tidak memenuhi salah satu syarat mengetahui atau menghendaki maka tidak dapat
membuktikan unsur dengan sengaja tersebut. Apabila dikaitkan dengan kasus pembunuhan
Yun Siska Rochani, kedua pelaku FS dan FD dengan jelas dalam kasus, mengetahui dan
menghendaki kematian dari Yun Siska Rochani yang ditunjukkan dengan kedua pelaku tidak
mengantarkan Yun Siska Rochanike tempat tujuan, kedua pelaku mengancam korban (Yun
Siska Rochani) agar memberikan uang sebesar Rp20juta, korban Yun Siska Rochani)
diancam menggunakan samurai kecil, dan para pelaku meminta Yun Siska Rochani untuk
menghubungi teman-teman dan sahabatnya agar mengirimkan uang.

3
Dr. J.E. Sahetapy, S.H., M.A. 1995. Hukum Pidana.,Yogyakarta, Penerbit Liberty.
Penjelasan lebih lanjut dari unsur dengan sengaja adalah jenis kesengajaan yang
terdapat dalam kasus ini. Bentuk kesengajaan yang terdapat dalam kasus Kematian Yun Siska
Rochani adalah Kesengajaan sebagai tujuan (opzet als oogmerk) : kesengajaan yang
dilakukan oleh para pelaku untuk mencapai tujuan utamanya dan dengan kata lain bahwa
para pelaku sudah menghendaki akibat tersebut serta akibat tersebut merupakan tujuan atau
maksudnya

“Aksi pembunuhan yang dilakukan driver taksi online kepada penumpangnya, Yun
Siska Rochani (29), mengejutkan masyarakat. Pasalnya, motif pelaku membunuh
korban karena kalap harus membayar cicilan kredit mobil.”

“Tak berselang lama, pelaku memberhentikan mobilnya di Rest Area KM 34 Tol


Jagorawi untuk mengecek ATM milik korban, namun uang yang diharapkan kedua
pelaku tidak ada. Lalu, FS dan FD membawa korban menuju Bogor. Pelaku
membunuh korban di dalam mobil saat perjalan di kawasan Sentul, Bogor.”

“Pelaku melarikan diri dan mengaku sempat membuang tas korban ke sungai. Pelaku
mengambil handphone milik korban dan menjualnya ke Plaza Jambu Dua Bogor.”

Berdasarkan kasus ini, kedua pelaku FS dan FD dengan sengaja membunuh korban
(Yun Siska Rochani) karena uang yang diharapkan kedua pelaku tidak ada di dalam ATM
milik korban. Kedua pelaku FS dan FD secara sadar dan mengehendaki akibat yang terjadi
pada Yun Siska Rochani yaitu membunuh Yun Siska Rochani. Dimana akibat tersebut
merupakan tujuan para pelaku yaitu untuk mengambil handphone milik korban dan kemudian
menjualnya.

 Unsur dengan rencana


Unsur dengan rencana terlebih dahulu menurut R. Soesilo adalah adanya tempo bagi
si pelaku untuk memikirkan dengan tentang apa akan dilakukannya, tempo ini tidak
boleh terlalu lama dan juga tidak boleh terlalu cepat.
Penjelasan atas unsur dengan rencana menurut MvT adalah apabila dalam melakukan
perbuatam, si pelaku perlu memikirkan terlebih dahulu dengan tenang, dalam hal ini
sebelum melakukan kejahatan sehingga ia menyadari apa yang dilakukannya/
Jika kaitkan dengan kasus pembunuhan Yun Siska Rochani ini, maka ditemukan
bahwa kedua pelaku FS dan FD membawa korban (Yun Siska Rochani) berputar-
putar di Jalan Tol Jagorawi dan mengancam korban dengan samurai kecil, kemudian
memberhentikan mobilnya di Rest Area KM 34 Tol Jagorawi untuk mengecek ATM
milik korban, namunn karena uang yang diharapkan kedua pelaku tidak ada, maka FS
dan FD membawa korban menuju Bogor, lalu membunuh korban di dalam mobil saat
perjalanan di kawasan Sentul Bogor. Dengan demikian, seluruh rangkaian ini sudah
pasti telah dipikirkan dahulu karena terdapat selang waktu saat para pelaku membawa
korban menuju Bogor, kemudian membunuhnya, sehingga unsur dengan rencana
terlebih dahulu terpenuhi.

”Sambil membawa korban berputar-putar di Jalan Tol Jagorawi, pelaku meminta


korban untuk menghubungi teman-teman dan kerabatnya agar mengirimkan uang.

Tak berselang lama, pelaku memberhentikan mobilnya di Rest Area KM 34 Tol


Jagorawi untuk mengecek ATM milik korban, namun uang yang diharapkan kedua
pelaku tidak ada. Lalu, FS dan FD membawa korban menuju Bogor. Pelaku
membunuh korban di dalam mobil saat perjalan di kawasan Sentul, Bogor.”

 Unsur merampas nyawa orang lain


Merampas nyawa orang lain dapat diartikan membuat hilang atau “menghilangkan”,
dimana unsur ini sangat berkaitan dengan kesengajaan dimana para pelaku harus
menghendaki, dengan sengaja melakukan tindakan menghilangkan korban tersebut,
dan para pelaku harus mengetahui bahwa tindakannya itu bertujuan untuk
menghilangkan nyawa orang lain. Dalam kasus ini jelas, melalui uraian di atas pula
telah dibuktikan bahwa FS dan FD dengan sengaja menghilangkan nyawa Yun Siska
Rochani di dalam mobil saat perjalanan di kawasan Sentul, Bogor.

Hal hal lain yang perlu dijelaskan untuk melengkapi uraian dari unsur-unsur delik atas
kasus Yun Siska Rochani adalah;

Unsur melawan hukum

Unsur melawan hukum memiliki dua teori, yaitu :

1. Melawan hukum secara formil melawan hukum yang dilanggar adalah peraturan
perundang-undangan
2. Melawan hukum secara materiil melawan hukum yang dilanggar adalah nilai-
nilai dalam masyarakat. Namun, melawan hukum secara materiil dibagi menjadi 2:
a. Melawan hukum materiil arti positif : ada perbuatan tapi tidak melanggar
perundang-undangan, namun tidak sesuai dengan nilai dalam masyarakat.
b. Melawan hukum materiil arti negatif : ada perbuatan yang tidak dianggap menurut
peraturan perundang-undangan, namun dalam masyarakat memperbolehkan.4

Sifat melawan hukum dalam penjelasan untuk delik pencurian dengan kekerasan yang
mengakibatkan matinya Yun Siska Rochani dan atau pembunuhan berencanaYun Siska
Rochani adalah bentuk melawan hukum materiil, karena melanggar ketentuan yang terdapat
dalam norma-norma masyarakat, dan juga melawan hukum secara formil, karena perbuatan
ini diatur sebagai kejahatan dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana. Sehingga dengan
demikian unsur melawan hukum dalam kasus ini terpenuhi. Walaupun unsur melawan hukum
tidak dicantumkan dalam pasal 340 KUHP, karena perbuatan membunuh pastilah memiliki
unsur melawan hukum, unsur ini tetap harus dijelaskan.

Adapun perbuatan pembunuhan berencana Yun Siska Rochani yang dapat dikenakan
Pasal 340 KUHP tersebut, jika dimasukkan kedalam jenis-jenis delik termasuk kedalam jeni-
jenis delik, yaitu :

a. Delik Kejahatan
b. Delik Materiil
c. Delik Komisi
d. Delik Dolus
e. Delik Biasa
f. Delik Berdiri Sendiri
g. Delik Langsung Selesai
h. Delik Tunggal
i. Delik Komuna
j. Delik Kualifisir

yang akan dijelaskan satu persatu;

Pasal 340 masuk ke dalam jenis Delik Kejahatan karena aturan mengenai hal ini terdapat
dalam buku ke II KUHP mengenai Kejahatan.

a. Delik Materiil delik yang perumusannya melarang timbulnya akibat. Delik ini
selesai ketika akibat timbul, dengan kata lain delik materiil adala delik yang
menitikberatkan pada akibat. Dalam kasus ini adalah kematian Yun Siska Rochani
sebagai akibatnya yang dilihat bukan pada perbuatannya yang dilarang
4
Agustina, Rosa. 2003. Perbuatan  Melawan Hukum. cet.1. Jakarta: Program Pascasarjana
Fakultas Hukum Universitas Indonesia.
b. Delik Komisi delik yang dilanggar karena berbuat aktif. Pasal 340 membutuhkan
tindakan aktif dari pelakunya, dalam kasus Yun Siska Rochani para pelaku tidak
membawa Yun Siska Rochani ke tempat tujuan dan saat dalam perjalanan
mengancam korban dengan samurai kecil, lalu meminta korban untuk menghubungi
teman-teman dan sahabatnya untuk mengirimkan uang, sehingga hal tersebut
merupakan tindakan aktif para pelaku
c. Delik Dolus delik yang dilakukan dengan kesengajaan bukan kelalaian. Unsur
kesengajaan telah terbukti dalam pembuktian unsur sebelumnya dimana para pelaku
menginsyafi akibat dari perbuatannya dan akibat tersebut merupakan tujuan dari para
pelaku yaitu menghilangkan nyawa Yun Siska Rochani
d. Delik Biasa/Laporan dalam Pasal 340 KUHP tidak diperlukan aduan dalam
menjalankan proses penuntutan ataupun pemeriksaan
e. Delik Berdiri Sendiri karena delik ini tidak membutuhkan tindakan yang berlanjut
dan berulang-ulang. Dengan kata lain, delik yang dikenakan tersendiri, timbulnya dari
berbeda niat. Yun Siska Rochani meninggal karena serangkaian tindakan, namun
tindakan-tindakan itu dilakukan dalam kurun waktu yang dekat dan para tersangka
tidak mencicil perbuatan menewaskan nyawa Yun Siska Rochani
f. Delik Selesai delik yang dilakukan dan langsung menimbulkan akibat atau
langsung selesai, Yun Siska Rochani langsung meninggal.
g. Delik Tunggal delik pembunuhan berencana sebagaimana yang diatur dalam Pasal
340 KUHP inni merupakan tindakan yang tidak dilakukan secara berulang-ulang, para
pelaku pembunuhan baru sekali ini melakukan tindak pembunuhan, mereka tidak
menjadikan perbuatan membunuh ini sebagai mata pencaharian atau sesuatu yang
merupakan kebiasaan. Dalam kasus tersebut, motif para pelaku membunuh Yun Siska
Rochani karena kalap harus membayar cicilan mobil
h. Delik Komuna karena dalam Pasal 340 KUHP, kualifikasi para pelaku hanya
sebatas “Barangsiapa” yang berarti bahwa pelakunya dapat dilakukan oleh siapa saja,
tidak terbatas pada jabatan atau oleh orang-orang tertentu.
i. Delik Kualifisir karena Pasal 340 KUHP memiliki unsur yang memperberat
hukuman disamping unsur-unsur lain, dimana dapat dijelaskan sebenarnya pasal 340
KUHP merupakan perberatan dari pasal 338 KUHP karena ditambahkan unsur
dengan rencana.

KAUSALITAS
Kasus di atas apabila ingin dikaitkan dengan kausalitas (sebab-akibat) yang menyebabkan
timbulnya tindak pidana diatasnya, maka harus dibuat runtutan kejadiannya secara singkat
terlebih dahulu.5

Urutan kejadian;

1. Ada dua orang pelaku sebagai supir taksi online yang membutuhkan uang untuk
membayar cicilan mobil
2. Yun Siska Rochani (korban) memesan taksi online
3. Korban naik ke mobil
4. Di dalam mobil sudah ada dua pelaku, yaitu FD dan FS
5. Kedua pelaku tidak mengantarkan korban ke tempat tujuan
6. Korban diancam menggunakan samurai kecil
7. Korban dibawa berputar-putar di dalam mobil
8. Para pelaku meminta korban untuk menghubungi teman-teman dan kerabatnya agar
mengirimkan uang.
9. Para pelaku memberhentikan mobilnya di Rest Area untuk mengecek ATM milik
korban
10. Uang yang diharapkan para pelaku tidak ada
11. Para pelaku membawa korban menuju Bogor
12. Para pelaku membunuh korban di dalam mobil saat perjalanan di Kawasan Sentul,
Bogor
13. Para pelaku mengantarkan jasad Yun Siska Rochani ke alamat yang tertera di
identitasnya
14. Para pelaku melarikan diri dan membuang tas korban ke sungai
15. Pelaku mengambil handphone milik korban dan menjualnya

Adapun teori-teori yang digunakan dalam menentukan sebab dari terjadinya kasus di atas
menurut para ahli dibedakan menjadi tiga, yaitu :6

1. Teori Von Buri yang dikenal dengan Conditio Sine Qua Non/Ekuivalensi dalam
suatu rangkaian peristiwa pasti diikuti oleh peristiwa lain dan didahului peristiwa lain.
Semua rangkaian yang mendahului peristiwa tidak bisa dipisahkan karena memiliki
peran dan kedudukan yang sama terhadap timbulnya akibat, maka semua dimintai

5
Achmad Sofian, 2018, Ajaran Kausalitas Hukum Pidana, Prenadamedia Group. (Divisi Kencana), Jakarta.
6
Chazawi, Adami. 2002. Pelajaran Hukum Pidana 2: Penafsiran Hukum Pidana, Dasar Pemidanaan &
Peringanan Pidana, Kejahatan Aduan, Perbarengan & Ajaran Kausalitas. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
pertanggunngjawaban. Dengan demikian, setiap runtutan kejadian yang terdapat
sebelum tewasnya Yun Siska Rochani termasuk ke dalam penyebab terjadinya
kematian Yun Siska Rochani
2. Teori Von Kries yang dikenal dengan teori Adequaat / teori keseimbangan
menyatakan bahwa dari semuasyarat-syarat yang ada tersebut dicari yang sepadan dan
selayaknya (adequaat). Selain itu, Von Kries menambahkan bahwa hal yang dapat
timbul dari peristiwa pidana tadi sudahdapat diperkirakan atau diketahui sebelumnya
oleh si pelaku (subjective prognose). Dengan kata lain, ketika mencari akibat mana
sebab uatamanya dari kasus pembunuhan Yun Siska Rochani (lebih tajam lagi), pada
umumnya penyebab mana yang paling logis adalah yang paling kuat. Yang menjadi
penyebab dari kematian Yun Siska Rochani adalah karena adanya runtutan kejadian
dimana Yun Siska Rochani memesan taksi online dan masuk ke dalam mobil yang
berisikan pelaku yang akan menghilangkan nyawa Yun Siska Rochani
3. Teori Rumelin menyatakan dengan teori keseimbangan obyektif, dimana
menurutnya bahwa yang dimaksud dengan perhitungan yang layak, bukan hanya apa
yang diketahuipelaku, tetapi juga apa yang diketahui oleh hakim, walaupun hal
tersebut tidak diketahuipelaku sebelumnya. Dengan kata lain, faktor yang ditinjau dari
sudut objektif, harus ada terjadinya akibat, ihwal probabilitas tidak berdasarkan pada
apa yang diketahui atau mungkin diketahui pada waktu melakukan tindakannya,
melainkan pada fakta yang objektif. Berdasarkan pada Teori Rumelin, maka apabila
dikaitkan dengan kasus kematian Yun Siska Rochani yang menjadi faktor penyebab
kematian Yun Siska Rochani adalah sejak para pelaku FS dan FD berniat
menghilangkan nyawa Yun Siska Rochani dengan mengancam menggunakan samurai
kecil dan membawa Yun Siska Rochani berputar-putar di jalan.

PERCOBAAN TINDAK PIDANA / POGING

Meski delik tidak selesai tetap harus dimintai pertanggungjawaban pidana. Maksudnya
tidak selesai yang harus dimintai pertanggungjawaban pidana adalah ada dua aliran besar
yang mengeluarkan.7

1. Aliran subjektifdimintai pertanggungjawabaan pidana meski tidak selesai dilihat


dari orangnya. Maka, orang yang sudah punya niat jahat saja sudah harus dimintai
pertanggungjawaban pidana. Aliran ini memandang sifat jahat sebagai alasan utama.
Misalnya melontarkan perkataan jahat, maka sudah ada ungkapan dan wujud
7
Adami Chazawi. 2003. Percobaan dan Penyertaan. Grafindo, edisi Jakarta.
perbuatannya yang mampu menggambarkan tindakannya. Akibat atau perbuatan yang
merugikan orang lain muncul karena adanya niat jahat. Jika akibatnya timbul maka
deliknya sempurna.
2. Aliran objektif melihat pada objeknya, yaitu pada perbuatan orang itu. Jadi,
berdasarkan perbuatan yang sudah dilakukan oleh pelaku. Jadi, harus dilihat akibat
apa yang akan timbul jika sudah perbuatan dilakukan.

Memberi ukuran atau batasan kejahatan yang tidak selesai yang mana dapat dimintai
pertanggungjawaban pidana. Dengan kata lain, hanya yang memenuhi syarat percobaan
tindak pidana yang dapat dimintai pertanggungjawaban pidana. Maka lahirlah pasal 53
KUHP tentang percobaan tindak pidana.8

Pasal 53 KUHP ayat (1)  syarat percobaan :

1. Niat “dengan sengaja”, willes dan weten, ada 3 bentuk kesengajaan. Dalam pasal
ini niat hanya berupa kesengajaan sebagai tujuan
2. Permulaan pelaksanaan niat harus terwujud dalam suatu permulaan pelaksanaan
yang terdiri atas 2 (dua) bagian, yaitu :
a. Perbuatan persiapan : jika hanya pada tahap ini maka belum bisa dimintai
pertanggungjawaban pidana (belum sempurna). Perbuatan yang dilakukan dalam
rangka menyelesaikan permulaan pelaksanaan (dalam rangka mencapai tujuannya,
yaitu delik). Misalnya meracik racun, hal ini sudah menunjukkan pelaku sudah
membeli alat dan bahan untuk membuat racun, maka dapat dikatakan bahwa
pelaku sudah melakukan perbuatan persiapan. Namun, dalam perbuatan persiapan
belum ada perbuatan melawan hukum / belum selesai. Kaitkan dengan delik
materil dan delik formil. Kesimpulannya adalah pelaku sudah menyelesaikan
semua yang ingin dilakukan
b. Permulaan pelaksanaan itu sendiri : sudah bisa dimintai pertanggungjawaban
tindak pidana (sempurna). Sudah ada perbuatan yang dilakukan, sehingga tinggal
menunggu akibat perbuatannya. Jika perbuatannya sudah selesai, maka delik
sudah sempurna. Pada delik formal, perbuatan yang dilarang itu tidak boleh
sampai selesai, sedangkan delik formil yaitu suatu perbuatan harus sudah ada
akibat (delik materil)

8
Indonesia, Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP), Pasal 53
Delik formil lain  pasal 328 KUHP “...dengan maksud untuk melawan hak
akan...”  delik formil.9
3. Tidak selesai bukan karena kehendak pelaku, bukan semata-mata disebabkan
karena kehendaknya sendiri contoh : tertangkap tangan, korban memberian
perlawanan, korban tidak meninggal karena bantuan medis.
Membatalkan niatnya secara sukarela/kehendak sendiri – vrijwillige terugterd

Berdasarkan kasus kematian Yun Siska Rochani, maka tindak pidana dinyatakan
selesai. Hal ini berarti perbuatan tindak pidana tersebut tidak bisa dimasukkan ke dalam
percobaan tindak pidana.

9
Indonesia, Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP), Pasal 328
DAFTAR PUSTAKA

Internet :

[Link]
online-di-bogor

Buku :

Achmad Sofian, 2018, Ajaran Kausalitas Hukum Pidana, Prenadamedia Group. (Divisi


Kencana), Jakarta.

Adami Chazawi. 2003. Percobaan dan Penyertaan. Grafindo, edisi Jakarta.

Agustina, Rosa. 2003. Perbuatan  Melawan Hukum. cet.1. Jakarta: Program Pascasarjana
Fakultas Hukum Universitas Indonesia.

Chazawi, Adami. 2002. Pelajaran Hukum Pidana 2: Penafsiran Hukum Pidana, Dasar
Pemidanaan & Peringanan Pidana, Kejahatan Aduan, Perbarengan & Ajaran Kausalitas.
Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

Dr. J.E. Sahetapy, S.H., M.A. 1995. Hukum Pidana.,Yogyakarta, Penerbit Liberty.

MARPAUNG, Leden. 1991. Unsur-unsur perbuatan yang dapat dihukum (delik). Edisi,


Cet.1 ; Penerbitan, Jakarta Sinar Grafika.

Peraturan Perundang-Undangan :

Indonesia, Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP)

Anda mungkin juga menyukai