BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pelayanan publik seperti mana yang diketahui sebagai pelayanan utama yang harus
diberikan oleh negara kepada masyarakat dalam memenuhi segala keperluan baik itu
administratif, barang publik, dan jasa. Tujuan pelayanan publik adalah untuk memuaskan
atau sesuai dengan keinginan masyarakat atau pelanggan pada umumnya, untuk mencapai
hal ini diperlukan kualitas pelayanan yang sesuai dengan kebutuhan dan keinginan
masyarakat. Kualitas atau mutu pelayanan adalah kesesuaian antara harapan dan kenyataan
yang mampu merubah kepercayaan. Karena pelayanan publik adalah pemberian pelayanan
kepada masyarakat yang merupakan perwujudan kewajiban negara sebagai abdi masyarakat
dan memberikan pelayanan publik yang dapat memenuhi dan memuaskan kebutuhan serta
berfokus kepada pelanggan atau masyarakat secara baik atau terbaik.
Ketidakpuasan terhadap penyelenggara pelayanan publik bersifat maladministrasi
yang menyebabkan kebutuhan warga negara atas pelayanan publik tidak maksimal.
Maladministrasi merupakan pengabaian kewajiban hukum dan kepatuhan hukum yang
termasuk dalam kategori pelanggaran serta penyimpangan kepada masyarakat sebagai pihak
yang memperoleh hak dalam mengakses pelayanan publik (Ayu, 2018). Sedangkan Sadjijono
mengartikan mal administrasi adalah suatu tindakan atau perilaku administrasi oleh
penyelenggara administrasi negara (pejabat publik) dalam proses pemberian pelayanan umum
yang menyimpang dan bertentangan dengan kaidah atau norma hukum yang berlaku atau
melakukan penyalahgunaan wewenang (detournement de pouvoir) yang atas tindakan
tersebut menimbulkan kerugian dan ketidakadilan bagi masyarakat, dengan kata lain
melakukan kesalahan dalam penyelenggaraan administrasi (Abdul Haliq, 2017).
Kehadiran Ombudsman Republik Indonesia didasari dengan lemahnya pengawasan
dari sejumlah lembaga pengawas terhadap penyelenggara pelayanan publik sehingga tidak
optimal dalam mengurangi penyimpangan yang terjadi dalam penyelenggara pelayanan
publik. Oleh karena itu dibentuk Ombudsman Republik Indonesia berdasarkan UU Nomor 37
Tahun 2008 tentang Ombudsman Republik Indonesia yang mengawasi pelayanan publik dan
menerima pengaduan masyarakat terkait pelayanan publik sehingga dapat mencegah
terjadinya maladministrasi. Ombudsman Republik Indonesia merupakan lembaga independen
yang mengawasi pelayanan publik. Menurut UU 37 Tahun 2008 bahwa Ombudsman
Republik Indonesia yang selanjutnya disebut Ombudsman adalah lembaga negara yang
mempunyai kewenangan mengawasi penyelenggaraan pelayanan publik baik yang
diselenggarakan oleh penyelenggara negara dan pemerintahan termasuk yang
diselenggarakan oleh Badan Usaha Milik Negara, Badan Usaha Milik Daerah, dan Badan
Hukum Milik Negara serta badan swasta atau perseorangan yang diberi tugas
menyelenggarakan pelayanan publik tertentu yang sebagian atau seluruh dananya bersumber
dari anggaran pendapatan dan belanja negara dan/atau anggaran pendapatan dan belanja
daerah (UU RI, 2008).
Oleh karena itu, Ombudsman Republik Indonesia memiliki kepentingan dan
kewenangan untuk memastikan seluruh penyelenggara pelayanan publik mematuhi
kewajibannya dalam menyusun dan menyediakan standar pelayanan, maklumat pelayanan,
sistem informasi pelayanan publik, sarana dan prasaran atau fasilitas pelayanan publik,
pelayanan khusus, pengelolaan pengaduan, serta sistem pelayanan terpadu, sebagaimana
diatur dalam Pasal 15 dan Bab V Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2009 tentang Pelayanan
Publik. Ombudsman Republik Indonesia terdapat perwakilannya di seluruh Indonesia,
termasuk Aceh, bertujuan: Pertama, mewujudkan negara hukum yang demokratis, adil, dan
sejahtera. Kedua, mendorong penyelenggaraan negara dan pemerintahan yang efektif dan
efisien, jujur, terbuka, bersih, serta bebas dari korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN). Ketiga,
meningkatkan mutu pelayanan negara di segala bidang agar setiap warga negara dan
penduduk memperoleh keadilan, rasa aman, dan kesejahteraan yang semakin baik (UU RI,
2008).
Peranan Ombudsman Republik Indonesia ini diarahkan agar kinerja administrasi
pemerintahan di level pusat maupun daerah dapat diperbaiki dan ditingkatkan, tindakan-
tindakan pemerintah dapat lebih terbuka dan pemerintah dengan birokrasinya bisa lebih
akuntabel terhadap masyarakat luas. Selain itu, Ombudsman mempunyai kewenangan untuk
melakukan penyelidikan secara obyektif atas keluhan masyarakat umum mengenai pelayanan
umum dan administrasi pemerintahan, dan dapat juga atas inisiatif sendiri melakukan
penyelidikan, sekaligus mendaftarkan keluhan tersebut (Prasetyo, 2003). Dengan begitu
Ombudsman Republik Indonesia serta perwakilannya harus terus memberikan warna baru
untuk demokrasi di negara ini, apalagi perwakilan di ujung Sumatera yang beberapa tahun
silam terjadi dua peristiwa besar sehingga seluruh proses harus dimulai dari nol untuk
mencapai cita-cita negara sesuai amat undang-undang.
Dalam hal ini pemerintah bertanggung jawab dalam memberikan pelayanan publik
yang sesuai dan memiliki standar pelayanan sebagaimana yang diatur didalam uu no. 25
tahun 2009 tentang pelayanan publik pasal 1 angka (7) bahwa “Standar pelayanan publik
adalah tolak ukur yang dipergunakan sebagai pedoman penyelenggaraan pelayanan publik
dan acuan penilaian kualitas pelayanan publik sebagai kewajiban dan janji penyelenggara
kepada masyarakat dalam rangka pelayanan publik yang berkualitas, cepat, mudah,
terjangkau, dan terukur”.
Untuk penyelenggaraan pemerintahan yang baik dan upaya meningkatkan pelayanan
publik dan penegakan hukum diperlukan keberadaan lembaga pengawas eksternal yang
secara efektif mampu mengontrol tugas penyelenggara negara dan pemerintahan. Oleh karena
itu dibentuk ombudsman Republik Indonesia berdasarkan UU Nomor 37 Tahun 2008 tentang
ombudsman Republik Indonesia yang mengawasi pelayanan publik dan menerima pengaduan
masyarakat terkait pelayanan publik sehingga dapat mencegah terjadinya maladministrasi.
Didalam Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2008 Tentang Ombudsman Republik Indonesia
sebagaimana yang terdapat didalam Pasal 7 huruf g menjelaskan salah satu tugas ombudsman
adalah melakukan upaya pencegahan maladministrasi dalam penyelenggaraan pelayanan
publik.
Universitas Muhammadiyah Mataram sebagai salah satu perguruan tinggi yang setiap
hari berinovasi untuk meningkatkan kredibilitas baik dari segi mahasiswa maupun sistem
belajar menemukan kesenjangan antara teori yang dipelajari selama masa perkuliahan dengan
dunia kerja yang senyatanya. Biasanya ketika seorang mahasiswa sebagai kaum intelektual,
dalam bahasa kiasan “petapa di puncak gunung yang harus turun gunung” maka dia akan
kesulitan ketika harus benar-benar menerapkan ilmunya di masyarakat.
Berdasarkan alasan diatas, Jurusan Ilmu Pemerintahan Universitas Muhammadiyah
Mataram memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk melaksanakan kegiatan magang.
Kegiatan magang ini merupakan wadah mahasiswa untuk mengaplikasikan teori yang telah
didapatkan dibangku kuliah selama proses belajar-mengajar berlangsung. Kegiatan magang
ini didesain sebagai latihan kerja mahasiswa yang terencana dan terstruktur oleh Jurusan Ilmu
Pemerintahan Universitas Muhammadiyah Mataram yang bersifat intrakulikuler dan wajib
diikuti oleh setiap mahasiswa yang telah memenuhi syarat tertentu yang dapat dilakukan di
Instansi Pemerintah atau Negara, Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Badan Usaha Milik
Daerah (BUMD) yang memiliki kualifikasi tertentu. Kegiatan magang dilaksanakan di kantor
Ombudsman yang berfokus pada pelayanan publik. Adapun kompetensi yang diharapkan
untuk tercapai, antara lain :
1. Mampu menganalisis setiap permasalahan administrasi dalam pelayanan publik.
2. Mampu melaksanakan tugas dan fungsi diseluruh bidang kegiatan administrasi
dalam pelayanan publik.
3. Mampu melakukan pencegahan maladministrasi dalam pelayanan publik
4. Mampu mengatasi danmencari solusi permasalahan maladministrasi dalam
pelayanan publik.
Masa pelaksanaan magang yang berlangsung selama..... memberikan pengalaman
yang sangat berharga bagi mereka yang benar-benar serius dalam menjalani kesempatan
tersebut. Terlepas itu semua, kegiatan magang yang dilaksanakan oleh mahasiswa Jurusan
Ilmu Pemerintahan Universitas Muhammadiyah Mataram diagendakan selama..... Setiap
mahasiswa ditempatkan di instansi pilahannya masing-masing dengan didampingi dosen
pembimbing magang yang telah ditentukan oleh pihak jurusan.
B. Maksud dan Tujuan
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan diatas, maka maksud dari
pelaksanaan magang adalah sebagai berikut:
1. Memenuhi kegiatan magang sebagai salah satu persyaratan kelulusan bagi
mahasiswa Program Studi Ilmu Pemerintahan Universitas Muhammadiyah Mataram
2. Mengimplementasikan pengetahuan ilmu pemerintahan yang telah diperoleh
selama masa perkuliahan secara nyata pada dunia kerja.
3. Mengembangkan pengetahuan (softskill) dan keterampilan (hardskill) agar tercipta
rasa profesionalitas dalam bekerja.
Sedangkan tujuan yang diharapkan dapat tercapai dari pelaksanaan magang ini antara
lain:
1. Meningkatkan wawasan pengetahuan, pengalaman, kemampuan, dan keterampilan
Praktikan dalam bekerja.
2. Mengarahkan Praktikan untuk menemukan permasalahan maupun data yang
berguna dalam penulisan laporan magang.
3. Menjalin kerja sama antara pihak universitas dengan instansi pemerintah tempat
Praktikan melaksanakan program magang.
4. Memberikan gambaran dunia kerja bagi Praktikan
5. Memperluas relasi sehingga dapat mempermudah Praktikan dalam mendapatkan
informasi pekerjaan ketika lulus nanti.
C. Manfaat
Program magang yang telah terlaksana diharapkan mampu memberikan manfaat yang
berguna bagi pihak–pihak terkait seperti bagi Praktikan, bagi universitas, dan bagi instansi
pemerintah tempat Praktikan melaksanakan program magang. Berikut merupakan rincian
manfaat yang dapat diperoleh oleh masing-masing pihak:
1. Bagi Praktikan
a. Pengenalan dinamika dan kondisi nyata dunia kerja.
b. Mengembangkan sikap dan mental profesional Praktikan untuk menghadapi
tantangan dalam dunia kerja.
c. Meningkatkan relasi, kemampuan, keterampilan, pengalaman, serta ilmu dan
pengetahuan seputar bidang kerja.
d. Meningkatkan wawasan baik dalam bidang pengetahuan ilmu pemerintahan atau di
luar ilmu pemerintahan yang belum diperoleh selama masa perkuliahan.
2. Bagi Jurusan Ilmu Pemerintahan Universitas Muhammadiyah Mataram
a. Menjalin hubungan kerja sama dengan Ombudsman RI sebagai tempat Praktikan
melaksanakan program magang.
b. Sebagai wadah tolak ukur evaluasi akademik Program Studi Ilmu Pemerintahan
Universitas Muhammadiyah Mataram secara praktis yang sesuai dengan kebutuhan
instansi pemerintah pada umumnya.
c. Mencetak lulusan yang berkualitas, kompeten, dan mampu bersaing dalam dunia
kerja.
3. Bagi Ombudsman RI
a. Realisasi atas tanggung jawab sosial kelembagaan.
b. Menciptakan hubungan kerja sama yang baik dengan Universitas Muhammadiyah
Mataram, khususnya Jurusan Ilmu Pemerintahan.
c. Membantu dan mempercepat proses pekerjaan karena bertambahnya tenaga kerja.
d. Menumbuhkan kerja sama yang saling menguntungkan dan bermanfaat antara
Praktikan dengan pihak-pihak terlibat.
e. Melihat dan menilai potensi yang dimiliki Praktikan dalam upaya pengembangan
sumber daya manusia yang berkualitas.
DAFTAR PUSTAKA
A.A Ayu Inten Pratiwi, Bentuk-Bentuk Maladministrasi Pendidikan Pada Penerimaan Peserta
Didik Baru Tahun 2018 Di Kota Denpasar. Vol. 7 No. 2, Tahun 2019, hal. 3.
Abdul Haliq, Analisis Kasus Mal Administrasi Di Ombudsman Ri Perwakilan Kalimantan
Selatan Tahun 2013-2015. As Siyasah, Vol. 2, No. 1, Mei 2017.
Undang-undang Republik IndonesiaNomor 37 Tahun 2008 Tentang Ombudsman Republik
Indonesia.(Jakarta 2008).
Undang-undang Republik Indonesia Nomor 37 Tahun 2008 Tentang Ombudsman Republik
Indonesia.(Jakarta 2008).
Prasetyo, Eko dkk. Ombudsman Daerah: Mendorong Terwujudnya Pemerintahan yang
Bersih,(Yogyakarta: PUSHAM UII, 2003), hlm. 186.