0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
36 tayangan6 halaman

Ketegangan Malam Nakunta dan Jeff

Nakunta merasa tidak nyaman karena diperhatikan oleh Jeff sepanjang makan malam. Mereka berdebat di depan kamar Nakunta mengenai kepulangan Jeff besok tanpa memberitahu lebih awal. Meskipun marah, Nakunta menyadari ia masih merindukan Jeff dan mengetuk pintu kamar Jeff tepat setelah tiga menit bermain game seperti yang diprediksi Jeff. Mereka kemudian melakukan hubungan seks di kamar Jeff.

Diunggah oleh

Fatima Azzahra
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
36 tayangan6 halaman

Ketegangan Malam Nakunta dan Jeff

Nakunta merasa tidak nyaman karena diperhatikan oleh Jeff sepanjang makan malam. Mereka berdebat di depan kamar Nakunta mengenai kepulangan Jeff besok tanpa memberitahu lebih awal. Meskipun marah, Nakunta menyadari ia masih merindukan Jeff dan mengetuk pintu kamar Jeff tepat setelah tiga menit bermain game seperti yang diprediksi Jeff. Mereka kemudian melakukan hubungan seks di kamar Jeff.

Diunggah oleh

Fatima Azzahra
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Pisah Resah – JeffTa

Ada perasaan tidak menyenangkan yang memanjati tiap jengkal kulit Nakunta malam itu.
Sebuah tatapan yang ia rasa sudah membuat lubang di kepalanya terasa begitu jelas dari
belakangnya. Orang itu memasang seringai, Nakunta yakin sekali. Gerak-geriknya terlalu cupu
untuk disembunyikan pada sang pemilik mata jelaga yang sedang memakannya melalui tatapan.
Pergerakan setipis apapun akan menunjukkan secara detil mengenai perasaan Nakunta.
Makan malam mereka dengan anggota tur yang lain tidak berjalan dengan baik. Nakunta kembali
ke kamarnya dengan perasaan jengah. Sesuai dugaannya, ada yang mengikutinya. Dan ia tidak
akan berbaik hati untuk mempersilahkan orang tersebut. Tidak setelah membuatnya jengkel dan
malah pasang senyum seolah ia tidak berdosa.
“Gak usah ngikutin, bisa?” salaknya begitu berdiri di depan pintu kamarnya. Barcode—teman
sekamarnya belum kembali ke kamar dan masih sibuk bermain game dengan kakak-kakaknya
yang lain, karena itu Nakunta tidak berminat berduaan saja dengan presensi di belakangnya lebih
jauh lagi. “Balik ke kamarnya sana!”
“You sure?” ada jeda sesaat, “when this is the last night where you can kiss me all you want?”
Satu hal yang dibenci Nakunta adalah bagaimana ia selalu menyukai suara itu.
Satu hal yang dibenci oleh Nakunta mengenai pemilik suara adalah bagaimana lelaki itu tahu
kelemahan Nakunta lebih baik dari siapapun, dan dengan senang hati menggunakannya untuk
meluluhkan yang lebih muda.
“Kenapa gak bilang kalau bakal pulang besok, Jeff?” tutur Nakunta, suaranya berteriak dalam
bisikan. Kali ini Jeff—lelaki di hadapannya bisa melihat dengan jelas ekspresi lelaki itu. Banyak
emosi yang ditampilkan si ekspresif manis; marah, kecewa, dan sedih. Semuanya menyatu di
balik wajah memerah dan alis menukik itu. Oh, apa gila kalau Jeff katakan dia malah ingin
menciumi wajah Nakunta sekarang juga?
“Tadinya mau ngasih tau duluan, pas yang lain udah pada tidur. Gak tau kalo Apo nyeplas di
dinner begitu,”
Sejatinya, Nakunta itu tidak senang berargumen jangka panjang. Ia malas pusing berlebihan
terlebih untuk sesuatu yang sudah jelas. Namun bukan salahnya kalau ia merasa jengkel dirinya
dijadikan destinasi terakhir untuk informasi sepenting itu.
“Acaranya dadakan banget?”
“Nggak dadakan, Sayang.” Jeff mendekat ke arah Nakunta, dan berhenti saat lelaki itu ikut
mundur, wajahnya yang tadi sudah netral kini ditekuk lagi. Sepertinya Jeff salah bicara. Maka
buru-buru ia menambahkan. “udah lama cuma baru kemarin siang fixnya.”
“Gue masih kangen lo,” kata Nakunta cepat, seakan tidak sudi Jeff mendengarnya dengan jelas.
Sayangnya, lelaki lebih tua darinya itu selalu menajamkan pendengarannya jika berada di dekat
Nakunta, paham tabiat kekasihnya itu. Jadi ia menarik senyum miring, kali ini mundur beberapa
langkah.
“Yaudah kalau kamu masih marah, aku ke kamar dulu, ya. Masih ada yang mau dipacking.”
Kemudian dengan itu, ia memilih pura-pura tuli dan tak dengar ucap Nakunta sebelumnya. Jeff
melangkah menjauh dari kamar Nakunta dengan senyum manis yang berganti cengiran jahil,
tinggalkan Nakunta yang melongo di depan kamarnya.
Dia yakin sekali Jeff mendengar ucapannya, tapi dia memilih mundur.
Apa barusan Nakunta ditolak mentah-mentah?
Nakunta berdecak jengkel sebelum membuka pintu kamarnya dan membanting daun pintu tak
bersalah itu. Jeff yang belum terlalu jauh terkekeh saat mendengarnya, kemudian memilih masuk
ke kamar sendiri.
“Liat aja gak bakal gue ngomong sama dia sampai dia ngemis!” omel Nakunta, duduk di atas
ranjangnya sebelum ia buka kemeja yang membuatnya gerah. Diambilnya posisi berbaring.
Membuka ponsel kemudian menekan ikon game di sana. Nakunta bermain beberapa menit
sebelum akhirnya melempar ponselnya ke sudut ranjang yang lain. Kesal lantaran ia kalah tiga
kali berturut-turut.
Sekarang apa?
Di sisi lain, Jeff yang baru saja mengecek jam di ponselnya tersenyum simpul. Berkali-kali ia
berterima kasih dalam hati karena manajer mereka yang memberikannya kamar sendiri. Karena
itu tak perlu Jeff repot-repot memesan kamar lain malam ini. Lagipula, ia terlalu malas untuk
keluar dari kamarnya lagi.
“Tiga,” gumamnya melihat jam di layar ponselnya. Kemudian ponselnya dimatikan, diletakkan
di atas nakas samping ranjang. Jeff bersandar pada kepala ranjang, setengah berbaring sambil
melihat ke arah pintu.
“Satu… dua… tiga…” Jeff mengerutkan alisnya. Kalau menghitung dari waktu main Nakunta
yang biasanya, lelaki itu sudah menyelesaikan babak tiga kali. Dan karena suasana hati yang
lebih muda sedang jelek, maka permainan tiga kalinya selesai lebih cepat. Tiga—adalah limit
Nakunta sebelum ia bosan dan mencari hal lain, penyebab kekesalannya. Maka menurut
perkiraan Jeff, pada detik ke tiga, semestinya Nakunta sudah memencet belnya.
“Satu… dua… tiga… em—,” terdengar suara bel, Jeff segera berdiri dari tempatnya, membuka
pintu dan seringai lebarnya terpampang saat menyaksikan Nakunta dengan wajah cemberutnya
sudah berdiri di sana, “—pat.”
“Jeff—”
“Kamu telat tiga detik, Nakunta.”
Belum sempat Nakunta bereaksi atau bahkan bingung, ia sudah ditarik oleh Jeff, pintu ditutup
dengan kilat, dan tahu-tahu saja tubuhnya sudah dihempas pada pintu tertutup yang dingin di
belakangnya. Kemudian pandangannya ditutupi seluruhnya oleh Jeff yang sudah menciumnya di
detik yang sama.
Mungkin ia terkesan tak sabaran, namun setelah bibirnya mendarat pada ranum Nakunta, Jeff
segera mencumbu bibir itu dengan perlahan, salurkan kasih sayangnya di sana. Jemarinya
menggapai rahang Nakunta, mencengkram pelan di sana agar aksesnya bisa lebih leluasa lagi.
Sebagai gantinya, Nakunta yang baru bsia proses semuanya mencari-cari pegangan, ia
meletakkan tangannya pada kerah kemeja Jeff, niatnya memegang sesuatu agar dirinya tak
keburu lemas karena perlakuan Jeff, namun ia malah menarik ciuman mereka semakin dalam,
dan pening Nakunta rasakan begitu ia sadar Jeff menarik senyum di sela-sela ciuman mereka.
“Jeff,” desah Nakunta kala Jeff tak lagi mengerjai bibirnya yang kini memerah dan basah. Yang
dipanggilnya sudah turun, menjelajahi lehernya dengan telaten, sambil berusaha tarik iblis dari
dalam dirinya yang berteriak agar ia tinggalkan jejak di sana—yang dengan senang hati akan Jeff
lakukan jika tak mengingat kekasihnya itu terlalu gemar memakai pakaian terbukanya di depan
publik. “Jeff, Jeff—geli…”
Racau Nakunta bagai lampu hijau bagi Jeff, bukannya berhenti ia malah semakin gencar
mengecupi tiap jengkal leher Nakunta, sesekali menyesap dan mainkan lidahnya di sana meski
tak terlalu lama.
“Oh the things I would do to this neck of yours, Nakunta.” Ucapnya, melepas nafas panasnya di
sana dan Nakunta tanpa sadar semakin mencengkram baju Jeff.
“Jangan ngaco,” cibir Nakunta, menangkup pipi Jeff agar menatapnya, “how about you do those
things to my lips?”
Jeff tak perlu balasan verbal, dan ia tahu Nakunta juga begitu. Maka diraupnya kembali bibir
Nakunta, kali ini lenyap semua kehati-hatiannya sejak awal. Berkali-kali ia menggigit bibir
bawah Nakunta, menjilatnya kemudian lesakkan lidah dalam mulut kekasihnya. Ia nyaris tertawa
saat mendengar suara tertahan dari Nakunta yang terlalu terkejut karena tindakan Jeff, namun ia
lebih memilih untuk mulai membuka kancing baju Nakunta satu per satu.
“Hands up,” perintahnya saat ciuman mereka terlepas. Jeff tak peduli pada tatapan tak senang
yang dilemparkan oleh Nakunta lantaran ia melepas ciuman mereka secara sepihak. Sebaliknya,
Jeff menelan liur susah payah saat menyaksikan di depannya, Nakunta, mengangkat tangannya
sambil menatapnya lurus, dengan bibir basah dan benang saliva mereka menggantung di dagu
lelaki itu.
“Nakunta,” panggil Jeff, nadanya tidak seperti yang biasa ia gunakan saat bergurau dengan
kawannya, bukan pula saat lelaki itu sedang dalam mode lembut dengannya. Maka dari itu
Nakunta merubah ekspresinya, sebelum menatap kembali Jeff. Namun baru pandangan mereka
bertemu, ia sudah tersentak lantaran mulutnya tiba-tiba saja dipenuhi Jeff dengan dua jemarinya,
“suck it, pretty.”
Ragu sejenak, Nakunta jelas tak ingin mengecewakan Jeff. Ia membuka mulutnya semakin lebar,
sebelum mengatupkannya lagi, menyesap jemari Jeff yang penuhi mulutnya. Bahkan meski saat
matanya sudah digenangi air mata lantaran jemari Jeff sentuh titik yang cukup dalam, Nakunta
tetap maju mundurkan kepalanya. memejam sesekali, alirkan lelehan bening ke pipinya, lalu
menatap Jeff di tiap matanya membuka.
Nakunta jelas tahu apa yang sedang ia lakukan.
Namun Jeff selangkah lebih jauh darinya.
Ia tidak tinggal diam, jemarinya menjamah perlahan dari perut kemudian putting mencuat
Nakunta. Tangannya kini singgah di sana, memberi pijatan-pijatan kecil yang membuat Nakunta
tidak bisa melanjutkan kegiatannya pada jemari Jeff. Ia melepaskan dua jari itu, tak peduli
basahnya mengalir pada dagu hingga leher, yang segera Jeff sambut dengan kecupan panas di
sana.
Lagi-lagi Nakunta kepayahan, pusing bukan main ia saat terima stimulasi ganda dari Jeff di leher
dan putingnya yang berkali-kali dipilin. Belum lagi jemari basah Jeff yang tadi ia hisap kini
mendarat di bagian dalam celananya, meremas-remas tubuh bagian belakangnya. Ia bisa rasakan
friksi panas dan basah yang diberikan Jeff di bawah sana—dan itu makin buatnya pening.
“Jeff—bed… p-please,” bisiknya hampir tanpa suara, tangannya meremat erat bahu Jeff, mencari
tumpuan di sana agar ia tidak jatuh meskipun ia yakin Jeff tidak akan membiarkannya lemas ke
lantai, “aku, aku gak bisa berdiri gi-gini,”
“Easy there,” kekeh Jeff saat menarik diri, ia menahan tangan Nakunta di bahunya, “nice and
slow, baby. I got you.”
Sudah siap Nakunta keluarkan rengekan, tubuhnya sudah diambil alih lagi. Ia tidak merasakan
jalan sama sekali, tubuhnya sedikit diangkat, kemudian ditarik ke arah ranjang Jeff. Tubuhnya
sedikit di banting saat ia mengerjap, dan hal pertama yang ia tangkap begitu membuka mata
adalah Jeff di atasnya, sedang melepaskan atasannya, sebelum merangkak naik ke atas ranjang.
Nakunta hampir lupa menutup mulutnya begitu saksikan kekasihnya naik ke atas tubuhnya.
Barulah ia sadar saat mendengar tawa renyah menyebalkan dari Jeff.
“Suka?”
Nakunta langsung membuang muka. Namun wajahnya yang memerah hingga telinga justru
membuat Jeff makin tertawa. Padahal baginya, penampilan di depan mata juga memakan atensi
serta nafsunya banyak-banyak; Nakunta yang berbaring di bawahnya, berantakan, basah dan
memerah.
Jeff suka tiap detik yang ia habiskan saat ini.
Dingin di tengah panas Nakunta rasakan saat pahanya dibuka lebar kemudian celananya dibuka
dengan cekatan oleh Jeff. Begitu ia telanjang sepenuhnya, Nakunta hampir rapatkan pahanya
karena malu, namun gesitnya kalah oleh Jeff yang sudah meraih paha dalamnya, meraba di
dalam membuat Nakunta mengeluarkan suara-suara yang menyenangkan di telinga Jeff.
Saat jamah itu terhenti, Nakunta siap lempar protes, namun Jeff sudah tahu lebih dahulu maunya,
Nakunta dengar suara lelaki itu meludah, membuat Nakunta meremas sprei lantaran tersentak,
lubangnya dibasahi liur dan Nakunta yakin hal itu bukan karena Jeff tidak punya pelumas sama
sekali.

“Jeff—ahh,” Nakunta memejam erat-erat. Kakinya menekuk dan jemari kakinya menekan
ranjang saat ia rasakan jemari Jeff yang seingatnya dihisap oleh bibirnya tadi kini menyambangi
lubangnya, melesak masuk dengan seenaknya, dan bukan salah Nakunta saat ia tiba-tiba
mengetatkan dinding analnya.

“Alright, baby,” kekeh Jeff sekali lagi setelah mencuri ciuman dari Nakunta yang tak berhenti
mengerang di bawahnya, “c’mon, raise your hips.”

“No, ‘m can’t,” desah Nakunta, ia bersusah payah menaikkan pinggulnya, namun kakinya terasa
terlalu lemas. Belum lagi sebelah tangan Jeff yang mulai bermain di kemaluannya, mengusap
ujungnya yang sudah basah bukan main. “More, Jeff… please,”

Nafas Nakunta tak beraturan saat akhirnya Jeff menekan titik sensitifnya. Ia memejam erat-erat,
tangannya cengkram sprei hingga tak terbentuk dan kakinya menekuk. Namun belum sempat ia
capai putih, jemari-jemari itu sudah mengosongkan lubangnya.

“Hahh,” Nakunta membuka matanya, ia sibuk mengatur nafas namun lemparan pelototan yang ia
berikan pada Jeff semestinya sudah cukup untuk membuat lelaki itu paham apa yang sedang ia
perbuat. Ia mengecam, “fuck you, Jeff,”

“Ah!”

“Mmm, baby, you’re already doing that,” sambar Jeff, terang sekali pada suaranya terdengar
nada geli seakan ia siap tertawa. Bagaimana tidak, suara tercekat Nakunta barusan berasal dari
tindakan Jeff yang langsung memasukkan miliknya tanpa aba-aba, hanya selang beberapa detik
dari jemarinya yang ditarik keluar.

Nakunta bahkan tidak bisa berpikir sejak kapan Jeff membuka kancing celananya. Sekarang
pikiran dan bibirnya hanya dipenuhi oleh Jeff, Jeff, dan Jeff saja. Ia dihentak berkali-kali,
kepalanya mendongak dengan mulut terbuka untuk keluarkan suaranya yang sulit ia tahan,
terlebih saat Jeff mengecup dadanya, kemudian kembali mainkan lidahnya dengan lihai di
putingnya, membuat pola melingkar di sana, menyesap, lalu menjilatinya lagi.

“Harder,” titah Nakunta dengan helaan nafas berat. Kepalanya ditekan semakin ke belakang, dan
tubuh mengilap karena keringatnya ikut bergerak, memaksa Jeff untuk keluarkan tenaganya lebih
banyak lagi. “Harder, Jeff.”

“That’s fine by me,” bisik Jeff rendah tepat di dada Nakunta, membuat lelaki di bawahnya itu
keluarkan suara yang hampir mirip isakan. “But are you sure you want the entire floor to hear
you?”

“G-gak bakal,”
“Oh they will, baby, they will,” ejek Jeff sembari menarik tubuhnya, kini mencengkram pinggang
Nakunta yang keduanya yakini besok akan meninggalkan memar. Kembali Jeff menggenjot
dalam-dalam, dan kali ini lebih tergesa dari sebelumnya. Ia nikmati reaksi Nakunta di setiap
pergerakannya; lelaki itu bahkan tidak mampu memejam, matanya terbuka dan pupilnya
membulat, kemudian suaranya keluar, kali ini lebih keras dari sebelumnya. Jeff pasang senyum
miring, menunduk untuk beri gigitan pada bibir Nakunta yang masih terbuka. “You’re a
screamer, pretty one. Bahkan kalau kamar ini soundproof teriakanmu itu pasti didengar dari
luar.”

Jeff yakin Nakunta sudah kehilangan kesadarannya untuk sekedar menjawab, lelaki itu terlalu
sibuk dibuai semua hujaman dan kecupan panas dari Jeff. Ia tidak mampu menjawab, mulutnya
hanya keluarkan rintihan dan erangan yang tak susah payah diredam oleh keduanya.

Lalu begitu ia menggerakkan pinggulnya lebih cepat lagi, sentuh seluruh sensitif Nakunta lebih
dalam dan intim, ia bisa dengar isak panjang yang disertai oleh Nakunta yang sibuk mencari-cari
bibir Jeff untuk dijadikan pelampiasan. Dikecup lama bibir kekasihnya, sembari mencapai putih.

Tentu dengan senang hati Jeff berikan sebanyak yang Nakunta mau. Karena tidak ada yang lebih
menyenangkan bagi Jeff selain dari Nakunta yang hilang kendali atas dirinya sendiri seperti ini;
hanya mampu memberikan racauan tak koheren di balik nafasnya yang memburu; ia terbaring
dan terlena oleh tubuhnya, oleh jemarinya, dan oleh bibirnya, belum lagi peluh yang membuat
kulitnya terlihat mengilap, cantik.

Jeff suka itu.

Butuh Nakunta merengek karena tenaganya nyaris habis untuk Jeff menghentikan kegiatannya
itu. Ia tertawa tanpa suara saat Nakunta mengomel tentang bagaimana bisa Jeff punya tenaga
yang lebih kuat darinya padahal Jeff itu tua. Namun alih-alih memberikan jawaban, Jeff malah
mendekati telinga Nakunta, menggigitnya sebelum dilepaskan karena Nakunta sudah mulai
mengamuk dalam rangkulannya.

“Okay, okay, berhenti, ih,” katanya, meniup telinga Nakunta sebelum benar-benar melepaskjan
teff

Anda mungkin juga menyukai