0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
18 tayangan122 halaman

Pengaruh CTL Terhadap Minat Belajar Matematika

Skripsi ini membahas pengaruh strategi pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL) terhadap minat belajar matematika siswa di kelas X MAS Proyek UNIVA Medan tahun pelajaran 2018/2019. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah penerapan strategi CTL berpengaruh terhadap peningkatan minat belajar matematika siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan antara penerapan strategi C

Diunggah oleh

AKR. Chdri
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
18 tayangan122 halaman

Pengaruh CTL Terhadap Minat Belajar Matematika

Skripsi ini membahas pengaruh strategi pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL) terhadap minat belajar matematika siswa di kelas X MAS Proyek UNIVA Medan tahun pelajaran 2018/2019. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah penerapan strategi CTL berpengaruh terhadap peningkatan minat belajar matematika siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan antara penerapan strategi C

Diunggah oleh

AKR. Chdri
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

PENGARUH STRATEGI PEMBELAJARAN

CONTEXTUAL TEACHING LEARNING


(CTL) TERHADAP MINAT BELAJAR
MATEMATIKA SISWA DI
KELAS X MAS PROYEK
UNIVA MEDAN
T.P 2018/2019

SKRIPSI
Diajukan untuk Melengkapi Tugas-tugas dan Memenuhi Syarat-syarat
Untuk Mencapai Gelar Sarjana Pendidikan ([Link])
Dalam Ilmu Tarbiyah dan Keguruan

Oleh:

MIFTAHUR ROHMAH
NIM. [Link]

JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA

FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUMATERA

UTARA MEDAN

2018
KEMENTERIAN AGAMA
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUMATERA UTARA
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
Jl. Williem Iskandar Pasar V telp. 6615683- 662292, Fax. 6615683 Medan
Estate 20731

SURAT PENGESAHAN
Skripsi ini yang berjudul “PENGARUH STRATEGI PEMBELAJARAN
CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING (CTL) TERHADAP
MINAT BELAJAR MATEMATIKA SISWA DI KELAS X MIPA MAS
PROYEK UNIVA MEDAN TAHUN PELAJARAN 2018-2019” yang disusun
oleh MIFTAHUR ROHMAH telah dimunaqasyahkan dalam Sidang
Munaqasyah Sarjana Strata Satu (S-1) Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan
UIN-SU Medan pada tanggal:
28 September 2018 M
17 Muharram 1440 H
Dan telah diterima sebagai persyaratan untuk memperoleh gelar Sarjana Pendidikan
([Link]) dalam Ilmu Tarbiyah dan Keguruan pada Jurusan Pendidikan Matematika Fakultas
Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Sumatera Utara Medan.

Panitia Sidang Munaqasyah Skripsi


Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN-SU Medan

Ketua Sekretaris

Dr. Mara Samin Lubis, [Link] Siti Maysarah, M. Pd


NIP. 19730501 200312 1 004 NIP. BLU1100000076

Anggota Penguji

1. Ella Andhany, [Link] 2. Fibri Rakhmawati, [Link], [Link]


NIP. BLU1100000123 NIP. 19800211 200312 2 014

3. Dr. Mara Samin Lubis, [Link] 4. Dr. H. Salim, [Link]


NIP. 19730501 200312 1 004 NIP. 19600515 198803 1 004

Mengetahui
Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan

Dr. H. Amiruddin Siahaan, [Link]


NIP. 19601006 199403 1 002
PENGARUH STRATEGI PEMBELAJARAN
CONTEXTUAL TEACHING LEARNING
(CTL) TERHADAP MINAT BELAJAR
MATEMATIKA SISWA DI KELAS
X MAS PROYEK UNIVA
MEDAN T.P
2018/2019

SKRIPSI
Diajukan untuk Melengkapi Tugas-tugas dan Memenuhi Syarat-syarat
Untuk Mencapai Gelar Sarjana Pendidikan ([Link])
Dalam Ilmu Tarbiyah dan Keguruan

Oleh:
MIFTAHUR ROHMAH
NIM. [Link]
Pembimbing I Pembimbing II

Fibri Rakhmawati, [Link], [Link] Ella Andhany, [Link]


NIP. 19651207 200604 1 007 NIP. BLU1100000123

JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA

FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUMATERA

UTARA MEDAN

2018
ABSTRAK
Nama : Miftahur Rohmah
NIM : [Link]
Fak/Jur : Ilmu Tarbiyah dan Keguruan /
Pendidikan Matematika
Pembimbing : Fibri Rakhmawati, [Link], [Link]
Judul Skripsi : Pengaruh Strategi Pembelajaran
Contextual Teaching and Learning
(CTL) Terhadap Minat Belajar
Siswa di Kelas X MAS Proyek
UNIVA Medan T.P 2018/2019

Kata-kata Kunci : Minat Belajar, Strategi Pembelajaran Contextual Teaaching


and Learning (CTL)

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh strategi pembelajaran


Contextual Teaching and Learning (CTL) terhadap minat belajar matematika siswa di
kelas X MAS Proyek UNIVA Medan tahun pelajaran 2018/2019.

Penelitian ini adalah penelitian kuantatif dengan jenis penelitian quasi


eksperimen research dengan one-shot case study. Populasinya adalah seluruh siswa kelas
X MAS Proyek UNIVA Medan tahun pelajaran 2018/2019 yang berjumlah 61 siswa dan
pengambilan sampel menggunakn Simple Random Sampling. Instrument angket yang
digunakan untuk mengetahui minat belajar matematika siswa adalah dengan
menggunakan butir pernyataan angket. Hasil analisis data dapat dilihat dari persentase
indikator minat belajar matematika siswa yaitu perhatian siswa pada pelajaran
matematika sebanyak 56%, perasaan senang siswa pada pelajaran matematika sebanyak
76%, ketertarikan siswa pada pelajaran matematika 84%, dan keterlibatan siswa pada
pelajaran 60%. Hal ini menunjukkan bahwa strategi pembelajaran CTL memberikan
pengaruh dalam meningkatkan minat belajar matematika siswa. Berdasarkan uji-t yang
dilakukan diperoleh – ttabel < thitung > + ttabel yaitu 2,042 < 33 > 2,042 yang berarti terdapat
pengaruh yang signifikan strategi pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL)
terhadap minat belajar matematika siswa.

Dari hasil temuan peneliti tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa terdapat
pengaruh strategi pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL) terhadap minat
belajar matematika siswa di kelas X MAS Proyek UNIVA Medan tahun pelajaran
2018/2019.

Pembimbing I

FIBRI RAKHMAWATI, [Link], [Link]


NIP. 19800011 200312 2 014
SURAT PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI

Saya yang bertanda tangan di bawah ini

Nama : Miftahur Rohmah

NIM : [Link]

Jur/Program Studi : Pendidikan Matematika/S1

Judul Skripsi : Pengaruh Strategi Pembelajaran Contextual Teaching


and Learning (CTL) Terhadap Minat Belajar
Matematika Siswa di Kelas X MAS Proyek UNIVA
Medan T.P 2017/218.

Menyatakan dengan sebenarnya bahwa skripsi yang saya serahkan ini

benar-benar merupakan hasil karya sendiri, kecuali kutipan-kutipan dari

ringkasan-ringkasan yang semuanya telah saya jelaskan sumbernya. Apabila

dikemudian hari saya terbukti atau dapat dibuktikan skripsi ini hasil jiplakan,

maka ngelar dan ijazah yang diberikan oleh Universitas dibatalkan.

Medan, September 2018


Yang membuat pernyataan

Miftahur Rohmah
NIM: [Link]
DAFTAR RIWAYAT HIDUP

A. Identitas Diri
Nama : Miftahur Rohmah
Tempat, Tanggal Lahir : Bandar Pamah, 08 Januari 1997
Jenis Kelamin : Perempuan
Agama : Islam
Alamat : Dusun II
Desa Pertambatan
Kec. Dolok Masihul
Kab. Serdang Bedagai
Prov. Sumatera Utara
No. Hp : 082274429243
Email : miftahur195@[Link]
Nama Ayah : Fauzan
Pekerjaan : Pensiunan
Nama Ibu : Nurhasanah
Pekerjaan : Guru

B. Pendidikan Formal
1. Tahun 2002-2008 : SDN 106865 Bandar Pamah (Berizajah)
2. Tahun 2008-2011 : MTs. Al-ittihadiyah Bandar Pamah
(Berizajah)
3. Tahun 2011-2014 : MAS. Al-ittihadiyah Bandar Pamah
(Berizajah)
4. Tahun 2014-2018 : Mahasiswa Pendidikan Matematika
Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan
Universitas Islam Negeri Sumatera Utara
Medan.
C. Pengalaman Mengajar
1. Pada masa KKN dan PPL : SMKN 1 Tebing Tinggi
2. Pada masa Penelitian : MAS Proyek UNIVA Medan
KATA PENGANTAR

Subhanaallah wal hamdulillah segala puji serta syukur penulis sampaikan


Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan hidayah-Nya kepada penulis
untuk dapat menyelesaikan penyusunan proposal ini yang berjudul “Pengaruh
Strategi Pembelajaran Contextual Teaching Learning (CTL) Terhadap Minat
Belajar Matematika Siswa di Kelas X MAS Proyek UNIVA Medan” dapat
diselesaikan dengan baik. Shalawat dan salam disampaikan pula kepada Nabi
Muhammad SAW sebagai Nabi dan Rasul yang diutus Allah SWT untuk
membawa agama Islam serta ajarannya yang sempurna dalam menuntun
keselamatan baik di dunia maupun akhirat.
Proposal ini disusun dalam rangka memenuhi persyaratan dalam
memperoleh gelar Sarjana Pendidikan pada Program Studi Pendidikan
Matematika di Universitas Islam Negeri Sumatera Utara.
Penulis telah berupaya semaksimal mungkin dalam menyelesaikan
proposal ini. Namun penulis menyadari bahwa masih banyak terdapat kekurangan
baik dari segi tata bahasa, penulisan, maupun lainnya, untuk itu penulis sangat
berterima kasih apabila ada masukan yang berupa kritik dan saran yang
membangun demi kesempurnaan proposal ini bermanfaat untuk dunia pendidikan
ke depan, untuk pendidikan yang lebih baik ke depan.

Medan, September 2018


Peneliti

Miftahur Rohmah
NIM: [Link]
DAFTAR ISI

Halaman

ABSTRAK ...................................................................................................... i

DAFTAR RIWAYAT HIDUP ...................................................................... ii

KATA PENGANTAR ................................................................................... iii

DAFTAR ISI ................................................................................................... iv

DAFTAR GAMBAR ...................................................................................... v

DAFTAR TABEL........................................................................................... vi

DAFTAR LAMPIRAN .................................................................................. vii

BAB I PENDAHULUAN ............................................................................... 1

A. Latar Belakang Penelitian.............................................................................. 1

B. Identifikasi Masalah ...................................................................................... 6

C. Batasan Masalah ............................................................................................ 6

D. Rumusan Masalah ......................................................................................... 6

E. Tujuan Penelitian........................................................................................... 7

F. Manfaat Penelitian ........................................................................................ 7

BAB II LANDASAN TEORITIS ............................................................................ 9

A. Kerangka Teori ............................................................................................. 9

1. Minat Belajar .......................................................................................... 9

2. Hakikat Matematika................................................................................ 21

3. Strategi Pembelajaran Contextual Teaching Learning (CTL) ................. 28

B. Penelitian Yang Relevan ............................................................................... 38

C. Kerangka Berpikir ......................................................................................... 41

D. Pengajuan Hipotesis ...................................................................................... 44


BAB III METODE PENELITIAN.......................................................................... 46

A. Jenis Penelitian .............................................................................................. 46

B. Tempat dan Waktu Penelitian........................................................................ 46

C. Populasi dan Sampel ..................................................................................... 47

D. Defenisi Operasional Variabel....................................................................... 48

E. Instrumen Penelitian ...................................................................................... 49

F. Tehnik Pengumpulan Data ............................................................................ 50

G. Uji Coba Instrumen Penelitian ...................................................................... 51

H. Teknik Analisis Data ..................................................................................... 53

BAB IV HASIL PENELITIAN

A. Temuan Umum Penelitian ............................................................................. 57

B. Temuan Khusus Penelitian ............................................................................ 63

C. Pembahasan Hasil Penelitian ......................................................................... 79

BAB V PENUTUP

A. Kesimpulan ................................................................................................... 82

B. Implikasi ...................................................................................................... 83

C. Saran ............................................................................................................. 84

DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................... 86


DAFTAR TABEL

Halaman

Tabel 3.1 Devinisi Operasional Variabel Minat Belajar .................................... 50

Tabel 3.2 Kisi-kisi Angket Aktivitas Belajar Siswa menggunakan

Strategi Pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL) .... 52

Tabel 3.3 Penilaian Skala Likert ....................................................................... 53

Tabel 3.4 Kisi-Kisi Angket Tentang Minat Belajar .................................................. 53

Tabel 3.5 Interpretasi Nilai r ............................................................................ 56

Tabel 4.1 Distribusi Frekuensi Aktivitas Strategi Pembelajaran

Contextual Teaching and Learning (CTL) (X) ...............................

......................................................................................................... 63

Tabel 4.2 Distribusi Frekuensi Minat Belajar Matematika Siswa (Y) ............. 65

Table 4.3 Jabaran Hasil Validitas Aktivitas Strategi Pembelajaran CTL ........ 66

Table 4.4 Jabaran Hasil Validitas Minat Belajar Matematika Siswa ............... 67

Table 4.4 Uji Normalitas Aktivitas Strategi Pembelajaran CTL (X) .............. 69

Table 4.5 Uji Normalitas Minat Belajar Matematika Siswa (Y) ..................... 69

Tabel 4.6 Jabaran Hasil Uji Regresi Dan Linier ..............................................


DAFTAR GAMBAR

Halaman

Gambar 2.1 Model Pembelajaran CTL (Contextual Teaching

Learning) berpengaruh terhadap minat belajar matematika

siswa ............................................................................................. 40

Gambar 4.1 Histogram Hasil Aktivitas Strategi Pembealajaran Contextual

Teaching and Learning (CTL) ...................................................... 64

Gambar 4.2 Histogram Hasil Angket Minat Belajar Matematika Siswa ......... 65
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Pendidikan merupakan dasar yang penting bagi kemajuan sebuah bangsa,

karena dengan pendidikan sebuah bangsa akan mencapai kemajuan, baik dalam

pengembangan sumber daya manusia maupun pada pengelolaan sumber daya

alam. Pendidikan merupakan suatu sistem yang terdiri dari beberapa komponen

diantaranya komponen yang pertama yaitu input, yang terdiri dari peserta didik

dan guru sebagai pendidik, komponen yang kedua adalah proses yang dipengaruhi

oleh lingkungan dan instrumen pengajaran, komponen yang ketiga hasil, yaitu

dampak dari interaksi antara pendidik dan peserta didik dan di dukung oleh

proses.

Undang–Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan

Nasional menyebutkan, bahwa:

Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana


belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif
mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual
keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia,
serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan
negara.1

Pendidikan memang merupakan bidang yang sangat mendasar dan strategi

dalam upaya memajukan suatu bangsa. Dalam pembangunan sektor pendidikan,

guru merupakan pemegang peran yang amat sentral. Guru merupakan pihak

pemegang kunci baik atau tidaknya suatu proses pembelajaran, karena itu seorang

guru tidak hanya dituntut untuk mampu menghidupkan suasana kelas tetapi juga

1
Undang-Undang RI Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sisdiknas & Peraturan-
Pemerintah RI Tahun 2015 Tentang Standar Nasional Pendidikan Serta Wajib Belajar,
Bandung: Citra Umbara, hal. 2
mampu menjadikan pembelajaran yang terjadi menjadi suatu proses peningkatan

kepribadian peserta didik.2

Pendidikan dan proses belajar memiliki hubungan yang erat. Proses belajar

merupakan bagian dari segi pendidikan itu sendiri. Dalam kehidupan sehari-hari

manusia tidak terlepas dari proses belajar. Setiap kegiatan aktivitas manusia

merupakan suatu proses pembelajaran. Dalam pembelajaran terdapat

pengembangan daya nalar, keterampilan, sikap dan nilai. Belajar merupakan

tindakan dan perilaku siswa yang kompleks. Sebagai tindakan, maka belajar

hanya dialami oleh siswa itu sendiri.

Keberhasilan proses belajar mengajar pada pembelajaran dapat diukur dari

keberhasilan siswa untuk dapat memahami dan menguasai materi pelajaran yang

diberikan, sehingga dalam menyelesaikan tugas atau tes yang diberikan guru

dalam pembelajaran di sekolah, siswa dapat menyelesaikan dengan baik.

Salah satu mata pelajaran yang sangat berpengaruh bagi perkembangan

manusia itu sendiri dan menciptakan manusia yang berkualitas adalah

matematika. Matematika mempunyai peranan yang cukup besar dalam

memberikan berbagai kemampuan berpikir dan kemampuan memecahkan

masalah dalam kehidupan sehari-hari. Matematika merupakan ide-ide abstrak

yang berisi simbol-simbol, maka konsep-konsep matematika harus dipelajari

terlebih dahulu sebelum memanipulasi simbol-simbol tersebut. Pembelajaran

matematika bukan hanya sebatas berhitung, namun membentuk logika berfikir.

Namun matematika sering menjadi mata pelajaran yang menakutkan bagi

siswa karena pelajaran matematika dianggap siswa sebagai pelajaran yang sulit

2
Syahrizal Dan Tsalim HM. Yasin, (2005), Pengantar Psikologi Pendidikan,
Banda Aceh: Yayasan Pena Banda Aceh, Divisi Penerbitan, hal. 33.
karena matematika terlalu banyak rumus. Menurut Abdurrahman penyebab utama

kesulitan belajar (learning disabilities) adalah faktor internal, yaitu kemungkinan

adanya disfungsi neurologis, sedangkan penyebab utama problema belajar

(learning problems) adalah faktor eksternal, yaitu antara lain berupa startegi

pembelajaran yang keliru, pengelolaan kegiatan belajar yang tidak membangitkan

motivasi belajar anak, dan pemberian ulangan penguatan (reinforcement) yang

tidak tepat.3

Dari pernyataan diatas dapat disimpulkan bahwa salah satu faktor

kesulitan belajar siswa adalah pemilihan strategi pembelajaran yang kurang tepat.

Sehingga tenaga-tenaga pendidik terutama guru perlu menerapkan strategi

pembelajaran. Gerlach dan Ely menjelaskan bahwa strategi pembelajaran

merupakan cara-cara yang dipilih untuk menyampaikan materi pembelajaran

dalam lingkungan pembelajaran tertentu.4

Menurut Rogers, ia menyayangkan pendidikan di sekolah tahun 1960-an.

Menurut pendapatnya, praktek pendidikan menitikberatkan pada segi pengajaran,

bukan pada siswa yang belajar. Praktek tersebut ditandai oleh peran guru yang

dominan dan siswa hanya menghafalkan pelajaran.5 Dari pendapat Rogers di atas

bahwa pembelajaran yang seharusnya dilakukan oleh guru adalah pembelajaran

yang berorientasi pada siswa atau dengan kata lain siswa yang terlibat aktif dalam

pembelajaran sedangkan guru hanya bertindak sebagai fasilitator.

Dari hasil penelitian awal yang telah peneliti lakukan terhadap salah

seorang guru di MAS Proyek UNIVA Medan mengatakan bahwa kebanyakan


3
Mulyono Abdurrahman. 2009. Pendidikan Bagi Anak Berkesulitan Belajar.
Jakarta: PT. Rineke Cipta. h.13
4
Ngalim, (2017), Strategi Pembelajaran, jogjakarta: Dua Staria Offet, hal.1
5
Dimyati dan Mudjiono.2009. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta.
h.16
siswa masih mengalami kesulitan dalam pembelajaran matematika. Hal ini

dipengaruhi oleh faktor-faktor internal dari siswa seperti kurangnya minat belajar

matematika siswa yang menyebabkan nilai matematika siswa rendah.

Dari uraian diatas, minat itu sangat berpengaruh sekali dalam diri seorang

siswa untuk mecapai sesuatu yang diinginkan oleh siswa itu sendiri. Dengan

adanya minat yang kuat seseorang atau siswa akan mempunyai semangat yang

kuat pula agar segala yang diinginkannya dapat terwujud. Oleh karena itu penulis

dapat menyimpulkan bahwa minat itu adalah suatu sikap atau perasaan senang

terhadap sesuatu yang diinginkannya. Jika seseorang atau siswa mempunyai

perasaan senang terhadap sesuatu dan seseorang atau siswa tersebut akan berusaha

secara terus untuk mendapatkannya dan tidak akan menyerah sebelum siswa itu

memperoleh apa yang diinginkannya.

Minat bisa timbul, karena adanya dorongan yang kuat dari diri sendiri.

Selain itu, minat timbul bukan hanya dari diri sendiri tetapi harus ada dukungan

atau dorongan yang kuat pula dari keluarga dan lingkungan sosial atau

masyarakat. Agar orang tersebut akan mempunyai semangat untuk meraih sesuatu

yang diinginkannya dengan usaha yang semangat pula.

Untuk mencapai tujuan dari pembelajaran tersebut diperlukan peran

seorang guru sebagai fasilitator yaitu sebagai pembimbing dan pemberi fasilitas

untuk menuju keberhasilan dalam pembelajaran terutama minat belajar

matematika siswa. Untuk dapat meningkatkan minat belajar matematika siswa

perlu dilakukan suatu usaha, yaitu sebuah kreatifitas dari seorang guru dituntut

untuk dapat merancang desain pembelajaran sedemikian rupa agar nantinya tujuan

dari pembelajaran yang ingin disampaikan dapat tersampaikan. Salah satu cara
yang dapat dilakukan untuk mengatasi masalah tersebut adalah dengan

menggunakan strategi pembelajaran.

Menurut Kemp strategi pembelajaran adalah suatu kegiatan pembelajaran

yang harus dikerjakan guru dan peserta didik agar tujuan pembelajaran dapat

dicapai secara efektif dan efisien. Sedangkan menurut Kozma secara umum

menjelaskan bahwa strategi pembelajaran adalah dapat diartikan sebagai setiap

kegitan yang dipilih, yaitu yang dapat memberikan fasilitas atau bantuan kepada

peserta didik menuju tercapainya tujuan pembelajaran tertentu.6

Dalam mengajarkan suatu pokok bahasan (materi) tertentu hendaknya

dipilih strategi pembelajran yang paling sesuai dengan tujuan yang akan dicapai.

Oleh karena itu, dalam memilih suatu strategi pembelajaran harus memiliki

pertimbangan-pertimbangan, sehingga tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan

dapat tercapai. Salah satu strategi pembelajaran yang dapat digunakan dan

diperkirakan sesuai untuk pembelajaran di kelas dan dapat meningkatkan minat

belajar matematika siswa adalah strategi pembelajaran Contextual Teaching and

Learning (CTL). Strategi pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL)

merupakan pembelajaran yang dilakukan secara berkelompok.

Menurut Elaine B. Johnson strategi pembelajaran Contextual Teaching

and Learning (CTL) merupakan strategi pembelajaran yang menekankan pada

proses keterlibatan peserta didik secara penuh untuk dapat menemukan hubungan

antara materi yang dipelajari dengan realitas kehidupan nyata, sehingga

mendorong pseserta didik untuk menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.7

6
[Link]. hal. 1
7
Jamil Suprihatiningrum, (2013), Strategi Pembelajaran Teori dan Aplikasi,
Jogjakarta: Ar-ruzz Media, hal. 177.
Pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL) bernaung dalam teori

kontekstual. Pembelajaran ini muncul dari konsep bahwa siswa akan lebih mudah

menemukan dan memahami konsep yang sulit jika mereka saling berdiskusi

dengan temannya.

Berdasarkan berbagai pemikiran yang telah disampaikan di atas, maka

peneliti tertarik untuk mengadakan penelitian pada kleas X MAS Proyek UNIVA

Medan dengan judul “Penagruh Strategi Pembelajaran Contextual Teaching and

Learning (CTL) Terhadap Minat Belajar Matematika Siswa di Kelas X MAS

Proyek UNIVA Medan”.

B. Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dikemukakan tersebut

maka masalah yang peneliti dapatkan adalah sebagai berikut:

1. Kurangnya minat belajar siswa dalam mata pelajaran matematika

2. Siswa merasa malas mengikuti pelajaran matematika yang terkenal sulit

3. Siswa ada yang ribut dan mengganggu teman lainnya.

C. Batasan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah dan identifikasi masalah di atas, maka

perlu adanya pembatasan masalah agar penelitian ini lebih terfokus pada

permasalahan yang akan diteliti. Peneliti hanya meneliti siswa yang diberi

pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL) untuk melihat pengaruh

strategi pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL) terhadap minat

belajar matematika siswa.


D. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah, identifikasi masalah, dan

pembatasan masalah dalam penelitian ini, maka permasalahan yang diteliti dapat

dirumuskan sebagai berikut:

1. Bagaimana minat belajar matematika siswa yang diajarkan dengan strategi

pembelajaran Contextual Teaching and Learning di MAS Proyek UNIVA

Medan T.P 2018/2019 ?

2. Apakah terdapat pengaruh yang signifikan antara strategi pembelajaran

Contextual Teaching and Learning (CTL) terhadap minat belajar

matematika siswa di MAS Proyek UNIVA Medan T.P 2018/2019 ?

E. Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan dari penelitian ini adalah:

1. Untuk mengetahui bagaimana minat belajar matematika siswa yang

diajarkan dengan strategi pembelajaran Contextual Teaching and

Learning (CTL)?

2. Untuk mengetahui apakah terdapat penagruh strategi pembelajaran

Contextual Teaching and Learning (CTL) terhadap minat belajar

matematika siswa.

F. Manfaat Penelitian

Sehubungan dengan tujuan penelitian yang dikemukakan di atas, maka

penelitian ini berguna sebagai berikut:

1. Bagi Peneliti, mendapatkan pengalaman langsung dan tambahan

pengetahuan sebagai calon guru dengan menerapkan strategi pembelajaran

Contextual Teaching and Learning (CTL).


2. Bagi Guru, memberi masukan dan variasi model pembelajaran matematika

agar dapat dikembangkan dan menjadi lebih baik sehingga proses

pembelajaran menjadi berkualitas.

3. Bagi Kepala Sekolah, sebagai bahan masukan untuk meningkatkan

efektifitas dan efisiensi pengelolaan pendidikan disekolahnya dalam

mengambil kebijakan inovansi pembelajaran matematika.

4. Bagi siswa dapat lebih meningkatkan minat belajarnya terutama

pembelajarn matematika. Maka, melalui faktor-faktor minat belajar siswa

akan mudah memahami materi meningkatkan keaktifan siswa, dan

memberikan dorongan belajar siswa dalam pelajaran matematika.

5. Bagi Pembaca, sebagai bahan informasi dan referensi bagi pembaca atau

peneliti lain yang ingin melakukan penelitian sejenis.


BAB II

LANDASAN TEORITIS

A. Kerangka Teori

1. Minat Belajar

a. Pengertian Minat Belajar

Untuk dapat melihat keberhasilan proses kegiatan belajar mengajar,

seluruh faktor-faktor yang berhubungan dengan guru dan murid harus dapat

diperhatikan. Mulai dari perilaku guru dalam mengajar sampai dengan tingkah

laku siswa sebagai timbal balik dari hasil sebuah pengajaran. Tingkah laku siswa

ketika mengikuti proses belajar mengajar dapat mengindikasikan akan

ketertarikan siswa tersebut terhadap pelajaran itu atau sebaliknya, ia tidak merasa

tertarik dengan mata pelajaran tersebut. Ketertarikan siswa inilah yang merupakan

salah satu tanda-tanda minat.

Menurut bahasa minat berarti perasaan yang menyatakan bahwa suatu

aktivitas pelajaran aatau objek itu berharga atau berarti bagi individu. Sedangkan

menurut istilah di bawah ini peneliti mengemukakan beberapa pendapat ahli

psikologi mengenai pengertian minat di atas.

Secara umum minat dapat diartikan sebagai kecendrungan yang

menyebabkan seseorang berusaha untuk mencari atau pun mencoba aktivitas-

aktivitas dalam bidang tertentu. Minat juga diartikan sebagai sikap positif anak

teradap aspek-aspek lingkungannya. Ada juga yang mengatakan minat sebagai

kecenderungan yang tetap untuk memperhatikan dan menikmati suatu aktivitas


disertai dengan rasa menguasai individu secara mendalam untuk tekun melakukan

suatu aktivitas.8

Lebih lanjut terdapat beberapa pengertian minat menurut ahli diantaranya

adalah:

1. Menurut Hilgar mengatakan bahwa minat adalah suatu proses yang tetap

untuk memperhatikan dan menfokuskan diri pada sesuatu yang

diminatinya dengan perasaan senang dan rasa puas.

2. Menurut Djamarah minat berarti kecenderungan yang menetap dan

mengenang beberapa aktivitas.

3. Menurut Sudjono minat sebagai sesuatu pemusatan perhatian yang tidak

sengaja yang terlahir dengan penuh kemauannya dan tergantung dari

bakat dan lingkungannya.

4. Witherington yang dikutip oleh Dalyono, juga berpendapat bahwa minat

merupakan kesadaran seseorang terhadap suatu obyek, seseorang, soal

atau situasi yang bersangkutan dengan dirinya. 9

Berdasarkan pendapat dari beberapa ahli diatas maka dapat disimpulkan

minat adalah kecendrungan dan keinginan yang tinggi terhadap sesuatu, sehingga

minat sangat menentukan sikap yang menyebabkan seseorang aktif dari suatu

kegiatan.

b. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Minat Belajar

Salah satu pendorong dalam keberhasilan belajar adalah terutama minat

yang tinggi. Minat itu tidak muncul dengan sendirinya akan tetapi banyak faktor

8
Jon E. Roeckelein,(2013), Kamus Psikologi Teori, Hukum dan Konsep, Jakarta:
Kencana, hal. 405.
9
Suhaebah Nur, (2014), Pengaruh Pengelolaan Kelas Terhadap Minat Belajar
Pkn Pada Peserta Didik di SMA I Polewali, Polewali: Jurnal UNASMAN, hal. 71-72
yang dapat mempengaruhi munculnya minat. Ada beberapa faktor yang dapat

mempengaruhi minat belajar siswa antara lain:

1. Motivasi

Minat seseorang akan semakin tinggi bila disertai motivasi, baik yang

bersifat internal ataupun eksternal. Menurut D.P. Tampubolon minat merupakan

perpaduan antara keinginan dan kemampuan yang dapat berkembang jika ada

motivasi. Seorang siswa yang ingin memperdalam ilmu pengetahuan tentang

matematika misalnya, tentu akan terarah minatnya untuk membaca buku-buku

tentang matematika, mendiskusikannya, dan sebagainya. 10

2. Belajar

Minat dapat diperoleh melalui belajar, karena dengan belajar siswa yang

semula tidak menyenangi suatu pelajaran tertentu, maka dengan bertambahnya

pengetahuan mengenai pelajaran tersebut, minat pun tumbuh sehingga siswa akan

lebih giat mempelajari pelajaran tersebut.

3. Bahan pelajaran dan sikap guru

Faktor yang dapat membangkitkan dan merangsang minat adalah

faktor bahan pelajaran yang akan diajarkan kepada siswa. Bahan pelajaran

yang menarik minat siswa, akan sering dipelajari oleh siswa yang bersangkutan.

Sebaliknya bahan pelajaran yang tidak menarik minat siswa tentu akan

dikesampingkan oleh siswa sebagaimana hal ini telah disinyalir oleh Slameto

bahwa minat mempunyai pengaruh yang sangat besar terhadap belajar, karena bila

10
Sardiman, (2009), Interaksi Dan Motivasi Belajar Mengajar, Jakarta: Rajawali
Pers, hal. 73.
bahan pelajaran yang dipelajari tidak sesuai dengan minat siswa, maka siswa tidak

akan belajar dengan sebaik-baiknya, karena tidak ada daya tarik baginya.11

4. Keluarga

Orang tua adalah orang yang terdekat dalam keluarga, oleh karenanya

keluarga sangat berpengaruh dalam menentukan minat seorang siswa terhadap

pelajaran. Apa yang diberikan oleh keluarga sangat berpengaruhnya bagi

perkembangan jiwa anak. Dalam proses perkembangan minat diperlukan

dukungan perhatian dan bimbingan dari keluarga khususnya orang tua. 12

5. Teman Pergaulan

Melalui pergaulan seseorang akan dapat terpengaruh arah minatnya oleh

teman-temannya, khususnya teman akrabnya. Khusus bagi remaja,

pengaruh teman ini sangat besar karena dalam pergaulan itulah mereka memupuk

pribadi dan melakukan aktifitas bersama-sama untuk mengurangi ketegangan dan

kegoncangan yang mereka alami.

6. Lingkungan

Melalui pergaulan seseorang akan terpengaruh minatnya. Hal ini

ditegaskan oleh pendapat yang dikemukakan oleh Crow bahwa ìminat dapat

diperoleh dari kemudian sebagai dari pengalaman mereka dari lingkungan di

mana mereka tinggal.

7. Cita-cita

Setiap manusia memiliki cita-cita di dalam hidupnya, termasuk para siswa.

Cita-cita juga mempengaruhi minat belajar siswa, bahkan cita-cita juga dapat

11
Slameto, (2003), Belajar dan Factor-Faktor Yang Mempengaruhinya, Jakarta:
PT Rineka Cipta, hal. 180
12
Eko A. Meinarno, (2010), Psikologi Keluarga, Jakarta: PT. RajaGrafindo
Persada, hal. 6
dikatakan sebagai perwujudan dari minat seseorang dalam prospek kehidupan

di masa yang akan datang. Cita- cita ini senantiasa dikejar dan diperjuangkan,

bahkan tidak jarang meskipun mendapat rintangan, seseorang tetap

beruaha untuk mencapainya.

8. Bakat

Melalui bakat seseorang akan memiliki minat. Ini dapat

dibuktikan dengan contoh: bila seseorang sejak kecil memiliki bakat menyanyi,

secara tidak langsung ia akan memiliki minat dalam hal menyanyi. Jika ia

dipaksakan untuk menyukai sesuatu yang lain, kemungkinan ia akan

membencinya atau merupakan suatu beban bagi dirinya. Oleh karena itu, dalam

memberikan pilihan baik sekolah maupun aktivitas lainnya sebaiknya disesuaikan

dengan bakat dimiliki.

9. Hobi

Bagi setiap orang hobi merupakan salah satu hal yang

menyebabkan timbulnya minat. Sebagai contoh, seseorang yang memiliki

hobi terhadap matematika maka secara tidak langsung dalam dirinya timbul minat

untuk menekuni ilmu matematika, begitupun dengan hobi yang lainnya. Dengan

demikian, faktor hobi tidak bisa dipisahkan dari faktor minat.

10. Media Massa

Apa yang ditampilkan di media massa, baik media cetak atau pun media

elektronik, dapat menarik dan merangsang khalayak untuk memperhatikan dan

menirunya. Pengaruh tersebut menyangkut istilah, gaya hidup, nilai-nilai, dan

juga perilaku sehari-hari. Minat khalayak dapat terarah pada apa yang dilihat,

didengar, atau diperoleh dari media massa.


11. Fasilitas

Berbagai fasilitas berupa sarana dan prasarana, baik yang berada di rumah,

di sekolah, dan di masyarakat memberikan pengaruh yang positif dan negatif.

Sebagai contoh, bila fasilitas yang mendukung upaya pendidikan lengkap

tersedia, maka timbul minat anak untuk menambah wawasannya. Tetapi apabila

fasilitas yang ada justru mengikis minat pendidikannya, seperti merebaknya

tempat-tempat hiburan yang ada di kota-kota besar, tentu hal ini berdampak

negatif bagi pertumbuhan minat tersebut.13

Dari faktor-faktor yang mempengaruhi minat belajar siswa, maka penulis

dapat menyimpulkan bahwa dalam minat belajar semua faktor dalam minat

belajar sangatlah penting. Apabila dalam kegiatan belajar mengajar guru dan

siswa tidak memiliki minat belajar yang tinggi. Maka, kegiatan belajar mengajar

tidak berjalan dengan baik.

c. Macam-macam Minat Belajar

Minat dapat digolongkan menjadi beberapa macam, antara lain:

a. Berdasarkan timbulnya minat dan berdasarkan arah minatnya.

1) Minat primitif adalah minat yang timbul karena kebutuhan

biologis atau jaringan-jaringan tubuh, misalnya kebutuhan

makanan, perasaan enak atau nyaman, kebebasan beraktivitas dan

lain-lainnya.

2) Minat sosial adalah minat yang timbulnya karena proses belajar,

minat ini tidak secara langsung berhubungan dengan diri kita.

Misalnya, minat belajar individu punya pengalaman bahwa

13
Muhammad Irham dan Novan Ardy Wiyani, (2014), Psikologi Pendidikan
Teori Dan Aplikasi Dalam Proses Pembelajaran, Jogjakarta: Ar-ruzz Media, hal. 129.
masyarakat dan lingkungan akan lebih menghargai orang-orang

terpelajar dan pendidikan tinggi, sehingga hal ini dapat

menimbulkan minat individu untuk belajar dan berprestasi agar

mendapat penghargaan dari lingkungan, hal ini mempunyai arti

yang sangat penting bagi harga dirinya.

b. Berdasarkan arahnya, minat dapat dibedakan menjadi dua macam,

yaitu:

1) Minat intrinsik adalah minat yang berlangsung dengan aktivitas

sendiri, ini merupakan minat yang lebih mendasar. Misalnya,

sesseorang melakukan kegiatan belajar, karena memang pada

ilmu pengetahuan atau karena memang senang membaca, bukan

karena ingin mendapatkan pujian atau penghargaan.

2) Minat ekstrinsik adalah minat yang berhubungan dengan tujuan

akhir dari kegiatan tersebut, apabila tujuan sudah tercapai ada

kemungkinan minat tersebut hilang. Misalnya, seorang yang

belajar dengan tujuan agar menjadi juara kelas.14

Dari macam-macam minat belajar siswa, maka penulis dapat

menyimpulkan bahwa macam-macam minat dalam belajar terbagi dua yaitu

berdasarkan timbulnya minat yaitu minat primitif dan minat sosial, dan

berdasarkan arahnya yaitu minat intrinsik dan minat ekstrinsik.

d. Fungsi Minat Dalam Belajar

Kegiatan yang diminati seseorang, diperhatikan terus menerus yang

disertai rasa senang akan menumbuhkan minatnya. Untuk itu, minat besar sekali

14
Alex Sobur, (2013), Psikologi Umum Dalam Lintasan Sejarah, Jawa Barat: CV
Pustaka Setia, hal. 248
pengaruhnya terhadap belajar, karena bila bahan pelajaran yang dipelajari tidak

sesuai dengan minat siswa, maka akan dipastikan siswa tidak akan belajar dengan

sebaik-baiknya.

M. Ngalim Purwanto mengatakan bahwa “fungsi minat adalah untuk

menggerakkan atau mengubah seseorang agar timbul keinginan untuk melakukan

sesuatu sehingga dapat memperoleh hasil atau mencapai tujuan tertentu.

Sedangkan menurut M. Dalyono mengatakan bahwa “kuat lemahnya minat belajar

seseorang turut mempengaruhi keberhasilannya. Karena itu minat belajar perli

diuasahakan terutama yang berasal dari dalam diri dengan senantiasa memikirkan

masa depan yang penuh tantangan dan harus dihadapi untuk mencapai cita-cita”.

Selanjutnya Mulyasa mengatakan bahwa “fungsi minat adalah faktor yang dapat

meningkatkan kualitas pembelajaran, karena peserta didik akan belajar dengan

sungguh-sungguh apabila memiliki motivasi yang tinggi. Oleh karena itu untuk

meningkatkan kualitas pembelajaran guru harus mampu membangkitkan motivasi

peserta didik sehingga dapat mencapai tujuan pembelajaran.15

Berdasarkan pendapat para ahli diatas, maka penulis dapat menyimpulkan

fungsi minat adalah untuk mengubah minat belajar seseorang agar timbul

keinginan untuk melakukan sesuatu sehingga mempengaruhi keberhasilan dan

peningkatan kualitas belajar seseorang.

Minat dapat mendorong semua anak untuk melakukan semua pekerjaan.

Minat akan mengarahkan dalam memilih macam pekerjaan. Minat juga akan

mengarahkan seseorang terhadap apa ynag disenangi dan dikerjakannya. Dengan

demikian, kewajiban sekolah dan para guru untuk menyediakan lingkungan yang

15
Istirani dan Intan Pulungan, (2017), Ensiklopedi Pendidikan, Medan: Media
Persada, hal. 51
dapat merangsang minat siswa terhadap proses belajar mengajar. Guru harus

pintar-pintar menarik minat siswa agar kegiatan belajar mengajar memuaskan.

Dengan adanya minat proses belajar mengajar akan berjalan lancar dan

tujuan penddikan akan tercapai sesuia dengan yang diharapkan. Karena minat

sangat penting perannya dalam pendidikan, maka yang harus mempunyai minat

bukan hanya siswa, melainkan guru yang harus mempunyai minta untuk

mengajar. Karena, kesiapan keduanya merupakan penunjang keberhasilan

kegiatan belajar mengajar.

e. Pengukuran Minat

Ada beberapa alasan bagi seorang guru perlu mengadakan pengukuran

minat anak-anak. Antara lain sebagai berikut:

a. Untuk meningkatkan minat anak-anak. Setiap guru mempunyai

kewajiban untuk meningkatkan minat anak-anak. Minat merupakan

komponen yang penting dalam kehidupan pada umumnya dalam

pendidikan dan dalam pengajaran khususnya. Guru yang mengabaikan

hal ini tidak akan berhasil di dalam kegiatan belajar mengajar.

b. Memelihara minat yang baru timbul. Apabila anak-anak menunjukkan

minat yang kecil, maka merupakan tugas bagi guru untuk memelihara

minat tersebut. Anak yang baru masuk ke suatu sekolah mungkin

belum begitu banyak menaruh minat terhadap aktivitas-aktivitas

tertentu. Dalam hal ini, guru wajib memperkenalkan kepada anak-

anak aktivitas tersebut.

c. Mencegah timbulnya minat terhadap hal-hal yang tidak baik. Oleh

karena itu, sekolah adalah suatu lembaga yang menyiapkan anak-anak


untuk hidup di dalam masyarakat. Maka, sekolah harus

mengembangkan aspek-aspek ideal agar anak-anak menjadi anggota

masyarakat yang baik.

d. Sebagai persiapan untuk memberikan bimbingan kepada anak tentang

lanjutan studi atau pekerjaan yang cocok baginya. Walaupun minat

bukan merupakan indikasi yang pasti, tentang sukses atau tidaknya

pendidikan yang akan datang atau dalam jabatan.16

f. Indikator Minat Belajar

Menurut Djamarah dalam buku Muhibbin Syah “indikator minat belajar

yaitu rasa suka/senang, pernyataan lebih menyukai, adanya rasa ketertarikan

adanya kesadaran untuk belajar tanpa di suruh, berpartisipasi dalam aktivitas

belajar, memberikan perhatian”.17

Menurut Slameto beberapa indikator minat belajar yaitu: perasaan senang,

perhatian siswa, ketertarikan pada pelajaran, dan keterlibatan siswa.18 Dari

beberapa definisi yang dikemukakan mengenai indikator minat belajar tersebut

diatas, dalam penelitian ini menggunakan indikator minat yaitu:

1. Perasaan Senang

Yang dimaksud dengan perasaan adalah perasaan momentan dan

intensional, Kurjono mengemukakan “Momentan adalah perasaan yang muncul

pada saat-saat tertentu. Intensional adalah reaksi dari perasaan yang diberikan

terhadap sesuatu dan hal-hal tertentu. Perasaan disini terbagi menjadi dua, yaitu

16
Suharsini Arikunto, (2012), Evaluasi Pendidikan, Jakarta: Bumi Aksara, hal. 272.
17
Muhibbin Syah, (2012), Psikologi Belajar, Jakarta: Rajawali Pers, hal. 148-154.
18
Slameto, [Link], hal. 185
perasaan senang dan perasaan tidak senang. Sehingga dari perasaan itu akan

timbul sebuah sikap”.

Seorang siswa yang memiliki perasaan senang atau suka terhadap mata

pelajaran matematika, maka ia akan menerima pelajaran tersebut dengan senang,

terus menerus mempelajarinya, tidak merasa terpaksa dalam belajar dan tidak

merasakan bosan akan pelajaran matematika itu sendiri. Dalam penelitian ini

instrument yang menunjukkan indikator perasaan senang adalah menerima

pelajaran matematika dengan senang, teurs menerus belajar dan tidak merasa

bosan dalam mempelajari pelajaran matematika.

2. Perhatian Siswa

Minat dan perhatian merupakan dua hal yang dianggap sama dalam

penggunaan sehari-hari, perhatian siswa merupakan konsentrasi siswa terhadap

pengamatan dan pengertian, dengan mengesampingkan yang lain. Siswa memiliki

minat pada obyek tertentu maka dengan sendirinya akan memperhatikan obyek

tersebut. Contoh: mendengarkan penjelasan guru dan mencatat materi.

3. Ketertarikan Pada Pelajaran

Menurut WS Winkle dalam buku Slameto “Ketertarikan itu muncul

mungkin karena sifat objek yang membuat menarik atau karena ada perasaan

senang terhadap objek atau pelajaran tersebut”. Siswa yang memiliki ketertarikan

pada materi pelajaran matematika, ia akan berusaha untuk mencari tantangan pada

isi pelajaran yang dikaji khususnya mata pelajaran matematika, mencari contoh

sesuai dengan keadaan sekarang yang berkaitan dengan mata pelajaran

matematika dan secara terus menerus akan membahas materi pelajaran itu.
4. Keterlibatan Siswa

Keterlibatan siswa diartikan sebagai siswa berperan aktif sebagai

partisipan dalam proses belajar mengajar. Menurut Dimjati dan Mudjiono dalam

buku Slameto, “keaktifan siswa dapat didorong oleh peran guru. Guru berupaya

untuk memberikan kesempatan siswa untuk aktif, baik aktif mencari, memproses

dan mengelola perolehan belajarnya”.

2. Hakikat Matematika

a. Pengertian Matematika

Matematika tidak dapat disamakan dengan berhitung atau aritmatika.

Aritmatika atau berhitung adalah pengetahuan tentang bilangan dan merupakan

bagian dari matematika. Perumusan pengajaran matematika SD sering hanya pada

keterampilan berhitung (penjumlahan, pengurangan, pekalian, pembagian

bilanagan bulat, pecahan dan desimal) dan beranggapan bahwa jika anak telah

menguasai keterampilan berhitung ia telah menguasai semua kompetensi

matematika. Dengan mengemukakan beberapa pengertian matematika akan jelas

bahwa matematika bukan hanya menekankan berhitung. Hal ini karena cabang-

cabang matematika semakin bertambah dan semakin berbaur satu dengan yang

lainnya.

Namun demikian, matematka secara umum didefinisikan sebagai bidang

ilmu yang mempelajari pola dari struktur, perubahan dan ruang. Maka secara

informal, dapat pula disebut sebagai ilmu tentang bilangan dan angka. Dalam
pandangan formalis, matematika adalah penelaahan struktur abstrak yang

didefinisikan secara aksioma dengan menggunakan logika simbolik dan notasi. 19

Menurut Johnson & Rising mengatakan sebagai berikut:

a. Matematika adalah pengetahuan tersetruktur, dimana sifat dan teori


dibuat secara deduktif berdasarkan unsur-unsur yang didefinisikan atau
tidak didefinisikan dan berdasarkan aksioma, sifat, atau teori, yaang
telah dibuktikaan kebenarannya.
b. Matematika ialah bahasa simbol tentang gagasan dengan menggunakan
istilah-istilah yang didefinisikan secara cermat, jelas dan akurat.
c. Matematika adalah seni, dimana keindahannya terdapat dalam
keterurutan dan keharmonisan.

Beth & Piaget mengatakan bhawa yang dimaksud dengan matematika

adalah pengetahuan yang berkaitan dengan berbagai struktur abstrak dan

hubungan antar struktur tersebut sehingga terorganisasi dengan baik. Sementara

Kline mengatakan bahwa matematika adalah pengetaahuan yang tidak berdiri

sendiri, tetapi dapat membantu manusiaa untuk memahami dan memecahkan

permasalahan sosial, ekonomi dan alam.20

Berdasarkan penjelasan tentang pengertian matematika diatas, maka

penulis dapat menyimpulkan bahwa matematika adalah suatu pengetahuan yang

terstruktur dan berkaitan dengan aksioma, simbol, sifat, sehingga terorganisasi

dengan baik daan dapat dibuktikan kebenarannya.

Didalam Islam juga diperintahkan untuk belajar matematika, Allah swt

berfirman dalam Q.S. Yunus Ayat 5:

ۡ َ ۡ‫ُُ َْٱلَّ ِري َج َع َل ٱل َّشو‬


‫يي‬ ِ ٌَ‫ضيَآء َّٱلقَ َو َسًُْزا َّقَ َّد َز ۥٍُ َه‬
َ ٌِ‫اش َل لِتَ ۡعلَ ُوْا َع َد َدٱل ِّس‬ ِ ‫س‬
٥ ‫ْى‬ َ ‫ت لِقَ ْۡم يَ ۡعلَ ُو‬ ٓ ۡ ‫ق يُفَصِّ ُل‬
ِ َ‫ٱۡل َٰي‬ َ ِ‫ٱَّللُ َٰ َذل‬
ِّ َۚ ‫ك إِ ََّّل بِ ۡٱل َح‬ َّ ‫ق‬ َ َۚ ‫َّ ۡٱل ِح َس‬
َ َ‫اب َها َخل‬

19
Hariwijaya, (2009), Meningkatkan Kecerdasan Matematika, Jakarta: Tugu
Publisher, hal. 29
20
J. Tombokan Runtukahu dan Selpius Kondou, (2014), Pembelajaran
Matematika Dasar Bagi Anak Berkesulitan Belajar, Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, hal. 28
Artinya:

“Dia-lah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan


ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu,
supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak
menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak. Dia menjelaskan tanda-
tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahui”.21

Dari ayat diatas dapat disimpulkan bahwa Allah mengajarkan kita tentang

peredaran bulan dan matahari dapat digunakan untuk menetapkan bilangan tahun

dan perhitungan waktu lainnya. Untuk memperoleh pengetahuan tentang

perhitungan waktu tersebut digunakanlah ilmu matematika. Jadi secara tidak

langsung Allah menyuruh hamba-hambanya untuk belajar matematika agar kita

mengetahui kebesaran-kebesaran-Nya.

Selanjutnya Rasulullah bersabda mengenai keuntungan orang-orang yang

menuntut ilmu :

: ‫ سسْلاللَصلﻰاللَعليَْسلن‬: ‫عياﺒﻲُسيسﺓسضﻰاللَعيقل‬
)‫ويسلكﻄسيقايلتوسﻰفيَعلواسِلاللَلَﻄسيقاإلﻰالﺠٌﺔ (سْاٍوسلن‬
“Dari Abu Hurairah r.a. bahwasanya Rasulullah s.a.w bersabda: Barang
siapa yang menempuh perjalanan dalam rangka menuntut ilmu, maka Allah akan
memudahkan jalannya menuju surga”. (H.R. Muslim)

Dari hadis diatas dijelaskan bahwa para pelaksana pendidikan baik yang

didik maupun yang terdidik tergolong dalam kelompok orang disediakan Allah

jalan menuju surga. Begitu pentingnya ilmu bagi manusia sehingga Allah telah

memudahkan jalan menuju surga.

Dari penjelasan di atas sangat jelas bahwa setiap orang sangat

membutuhkan ilmu dalam menjalani kegiatannya karena aplikasi ilmu sangat

dekat dengan kehidupan sehari-hari terutama ilmu matematika. Matematika

Departemen Agama RI. Al-Qur’an Dan Terjemahannya. Bandung: CV.


21

Jumanatul „Ali Art. hal. 209


adalah pengetahuan yang terstruktur dan dapat mengembangkan kemampuan

berpikir, logika, penalaran dan analisis yang baik bagi seseorang yang

memahaminya. Namun belajar matematika ibarat menaiki anak tangga, harus

dimulai dari anak tangga yang paling bawah agar dapat mencapai tangga yang

paling tinggi. Jika melompat dari anak tangga bawah ke anak tangga yang jauh di

atasnya resikonya adalah terjatuh. Begitu juga belajar matematika harus ditekuni

dan bertahap mulai dari matematika dasar sampai matematika tingkat perguruan

tinggi. Ilmunya saling berkaitan dan bertingkat antara materi yang satu dengan

yang lainnya.

Dalam proses pembelajaran matematika, baik guru maupun siswa

bersama-sama menjadi pelaku terlaksananya tujuan pembelajaran. Tujuan

pembelajaran ini akan mencapai hasil yang maksimal apabila pembelajaran

berjalan secara efektif.

b. Fungsi Matematika

a. Matematika sebagai simbol

` Matematika adalah bahasa simbol tentang berbagai gagasan. Simbol-

simbol matematika mempunyai fungsi-fungsi tertentu, dapat dibedakan satu

dengan lainnya. Skemp mengemukakan beberapa fungsi simbol matematika:

komunikasi, merekam pengetahuan, komunikasi konse-konsep baru, membuat

klasifikasi ganda, menjelaskan, membuat kegiatan reflektif, membantu

menunjukkan struktur, membuat manipulasi rutin secara otomatis, mengingat

kembali informasi dan pengertian dan membuat mental lebih aktif.

a. Berkomunikasi. Fungsi komunikasi ialah menyampaikan arti

secara lisan, tulisan, atau isyarat.


b. Merekam pengetahuan. Apabila manusia mati penetahuannya juga

akan turut mati jika tidak dikomunikasikan pada orang lain atau

direkam. Merekam adalah suatu kegiatan komunikasi khusus dan

biasanya mempunyai tujuan. Tujuan membuat rekaman ialah untuk

dilihat atau dibaca orang lain dalam waktu dekat atau dalam waktu

yang cukup panjang.

c. Membuak klasifikasi ganda secara langsung. Sebuah objek tunggal

dapat diwakili oleh bermacam-macam nama, misalnya ibu Yulia

juga disebut “Ibu”, “Nyonya Yulia”, “Kakak Yulia” demikian juga

dengan matematika. Perhatikan contoh berikut yang menunjukkan

banyak simbol untuk bilangan 100. Klasifikasi simbol yang

terdapat pada kedua contoh tersebut dapat membantu anak dalam

menyelesaikan soal matematika.

d. Fungsi menjelaskan merupakan bentuk komunikasi matematika

dengan maksud membantu anak agar lebih mengerti apa yang

sebelumnya belum dimengerti.

e. Fungsi membuat kegiatan reflektif adalah kegiatan menyadari

konsep sendiri, keterkaitan antar konsep, dan memanipulasi konsep

dengan berbagai cara. Mengetahui suatu gagasan yang

berhubungan erat dengan simbol.

f. Menunjukkan struktur, fungsi in berhubungan erat dengan kegiatan

reflektif yang telah dibicarakan diatas, yaitu menydari gagasan

anak sendiri dan mengintegrasikannya dengan gagasan lain.


g. Fungsi manipulasi proses matematika secara [Link]

mametika.22

Berdasarkan fungsi matematika diatas, maka penulis dapat

menyimpulakna bahwa fungsi matematika merupakan simbol yang berfungsi

sebagai media atau sarana siswa dalam mencapai penguasaan materi.

c. Manfaat Matematika

1. Matematika sebagai pelayan ilmu yang lain. Banyak ilmu-ilmu yang

penemuan dan pengembangannya bergantung dari matematika.

Contoh :

a. Penemuan dan pengembangan Teori Mendel dalam Biologi melalui

konsep Probabilitas.

b. Perhitungan dengan bilangan imajiner digunakan untuk

memecahkan masalah tentang kelistrikan.

c. Dengan matematika, Einstein membuat rumus yang dapat

digunakan untuk menaksir jumlah energi yang dapat diperoleh dari

ledakan atom.

d. Dalam ilmu pendidikan dan psikologi, khususnya dalam teori

belajar, selain digunakan statistik juga digunakan persamaan

matematis untuk menyajikan teori atau model dari penelitian.

e. Dalam ilmu kependudukan, matematika digunakan untuk

memprediksi jumlah penduduk dll.

f. Dalam seni grafis, konsep transformasi geometric digunakan untuk

melukis mosaik.

22
J. Tombokan Runtukahu dan Selpius Kondou, [Link]., hal. 32
g. Dalam seni musik, barisan bilangan digunakan untuk merancang

alat musik.

h. Banyak teori-teori dari Fisika dan Kimia (modern) yang ditemukan

dan dikembangkan melalui konsep Kalkulus.

i. Teori Ekonomi mengenai Permintaan dan Penawaran

dikembangkan melalui konsep Fungsi Kalkulus tentang Diferensial

dan Integral.

2. Matematika digunakan manusia untuk memecahkan masalahnya dalam

kehidupan sehari-hari.

Contoh :

a. Memecahkan persoalan dunia nyata.

b. Mengadakan transaksi jual beli, maka manusia memerlukan proses

perhitungan matematika yang berkaitan dengan bilangan dan operasi

hitungnya.

c. Menghitung luas daerah.

d. Menghitung jarak yang ditempuh dari suatu tempat ke tempat yang

lain.

e. Menghitung laju kecepatan kendaraan.

f. Membentuk pola pikir menjadi pola pikir matematis, orang yang

mempelajarinya kritis, sistimatis dan logis.

g. Menggunakan perhitungan matematika baik dalam pertanian,

perikanan, perdagangan, dan perindustrian.23

23
Hasratuddin, (2014), “Hakikat Matematika Dan Pembelajaran Matematika”,
Jurnal Pendidikan Matematika, Medan: UNIMED .
Manfaat matematika memang sangat banyak berpengaruh dalam

pendidikan, karena matematika merupakan cabang ilmu, maksudnya matematika

itu adalah suatu pelajaran pokok tentang ilmu berhitung sehingga ketika belajar

ekonomi, akuntansi, kimia, fisika, dan lainnya sudah lebih faham dan tidak terlalu

mengalami kesulitan. Jika tidak bisa pokoknya saja maka akan kesulitan dalam

pelajaran hitungan lainnya.

3. Strategi Pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL)

a. Pengertian Strategi Contextual Teaching and Learning (CTL)

Pembelajaran kontekstual (Contextual Teaching and Learning) atau biasa

disingkat CTL adalah konsep belajar yang membantu gutu mengaitkan antara

materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa

membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya

dalam kehidupan mereka sehari hari.24

CTL adalah pembelajaran yang memungkinkan terjadinya proses belajar

di mana siswa menggunakan pemahaman dan kemampuan akademiknya dalam

berbagai konteks dalam dan alur sekolah untuk memecahkan masalah yang

bersifat simulatif ataupun nyata, baik sendiri-sendiri maupun bersama-sama.25

Dalam pembelajaran kontekstual, tugas guru adalah memberikan

kemudahan belajar kepada peserta didik, dengan menyediakan berbagai sarana

dan sumber belajar yang memadai. Guru bukan hanya menyampaikan materi

pelajaran yang berupa hafalan, tetapi mengatur lingkungan dan strategi

pembelajaran yang memungkinkan peserta didik belajar.

24
H. Asas Saefuddin, (2014), Pembelajaran Efektif, Bandung: PT Remaja
Rosdakarya, hal. 20
25
Jamil Suprihatiningrum, [Link], hal. 176.
Zahorik mengemukakan lima elemen yang harus diperhatikan dalam

pembelajaran kontekstual, yaitu sebagai berikut:

a. Pembelajaran harus memerhatikan pengetahuan yang sudah dimiliki


oleh peserta didik.
b. Pembelajaran dimulai dengan keseluruhan (global) menuju bagian-
bagiannya secara khusus (dari umum ke khusus).
c. Pembelajaran harus ditekankan pada pemahaman, dengan cara: (a)
menyusun konsep sementara; (b) melakukan sharing untuk
memperoleh masukan dan tanggapan dari orang lain; dan (c)
merivisi dan mengembangkan konsep.
d. Pembelajaran ditekankan pada upaya mempraktikan secara langsung
apa-apa yang dipelajari.
e. Adanya refleksi terhadap strategi pembelajaran dan pengembangan
pengetahuan yang dipelajari.26

Menurut Elaine B. Johnson strategi pembelajaran Contextual Teaching

Learning (CTL) merupakan strategi pembelajaran yang menekankan pada proses

keterlibatan peserta didik secara penuh untuk dapat menemukan hubungan antara

materi yang dipelajari dengan realitas kehidupan nyata, sehingga mendorong

pseserta didik untuk menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.27

Menurut Nurhadi dan Sugiyanto Contextual Teaching Learning (CTL)

adalah proses belajar yang mendorong guru untuk menghubungkan antara materi

yang diajarkan dan situasi dunia nyata siswa.28

Berdasarkan pendapat para ahli di atas, maka dapat disimpulkan bahwa

Contextual Teaching Learning (CTL) adalah konsep belajar yang membantu guru

mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa dan

mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya

dengan penerapan dalam kehidupan sehari-hari.

26
Syafaruddin, dkk, (2016), Praktikum Pengalaman Lapangan, Medan: FITK
UINSU, hal. 58-59
27
Ibid, hal. 177
28
Suyadi, (2013), Strategi Pembelajaran Pendidikan Karakter, Bandung: PT
Raja Rosdakarya, hal. 81.
b. Karakteristik Pembelajaran Contextual Teaching and Learning

(CTL)

Terdapat beberapa karakteristik strategi Contextual Teaching and

Learning (CTL) di antaranya:

1. Kerja sama antar peserta didik dan guru

2. Saling menunjang antara peserta didik dan guru

3. Belajar dengan semangat dan menyenagkan

4. Pembelajaran terintegrasi secara kontekstual

5. Menggunakan berbagai sumber belajar

6. Peserta didik dapat berbagi dengan teman

7. Pesertabdidik belajar dengan aktif (student active laerining)

8. Peserta didik kritis, guru kraetif

9. Dinding dan lorong-lorong penuh dengan hasil karya siswa, peta-

peta, gambar, artikel, rumus-rumus dan lain-lain.

10. Laporan kepada orang tua bukan hanya rapor, tetapi hasil karya

peserta didik, laporan hasil praktikum, karangan peserta didik, dan

lain-lain.29

c. Komponen Strategi Pembelajaran Contextual Teaching and Learning

(CTL)

Ada tujuh komponen utama pembelajaran yang mendasari pembelajaran

Contextual Teaching and Learning (CTL) di kelas.30 Penerapan tujuh komponen

tersebut adalah sebagai berikut:

29
H. Asas Saefuddin. [Link], hal 21
30
Wina sanjaya, (2013), Strategi Pembelajaran, Jakarta: Kencana, hal, 253
1. Konstruktivisme (contstruktivisme)

Constructivism (konstruktivisme, membangun, membentuk) yaitu kegiatan

yang mengembangkan pemikiran bahwa pembelajaran akan lebih bermakna

apabila siswa bekerja sendiri, menemukan, dan membangun sendiri pengetahuan

dan keterampilan barunya. Di sini siswa dapat mengembangkan pengalaman atau

membangun pengetahuan barunya berdasarkan pengalaman yang diperolehnya.

Pengetahuan-pengetahuan yang diperoleh tersebut dikonstruksi oleh siswa itu

sendiri sehingga proses pembelajaran siswa akan lebih bermakna.

2. Menemukan (Inquiry)

Inquiry pada dasarnya adalah menyadari apa yang dialami. Metode inquiry

memberi peluang kepada peserta didik untuk terlibat aktif dalam proses

pembelajaran. Pada dasarnya siswa di tantang untuk mencari, melakukan, dan

menemukan sendiri.

Dalam menerpakan pembelajaran kontekstual tugas guru adalah

menciptakan suasana pembelajaran yang efektif. Seorang guru mampu

membelajarkan siswa secara aktif jika: a). Mampu menciptakan kondisi yang

benar, berarti: bangun dan ciptakan; b). Suasana yang positif antara guru dan

murid; c). Tentukan hasil sasaran, anggaplah kesalahan umpan balik; d). Ciptakan

lingkungan belajar yang menarik dan menyenangkan bagi anak; e). Presentasi

singkat dan benar; f). Berfikir kreatif; g). Eksperimenkan; h). Praktikkan; i).

Lakukan evaluasi secara berkelanjutan.

3. Bertanya (Questioning)

Bertanya (Questioning) adalah induk dari strategi pembelajaran

kontekstual, awal dari pengetahuan, jantung dari pengetahuan, dan aspek penting
dari pembelajaran. Pengetahuan yang dimiliki seseorang, selalu dimulai dari

„pertanyaan‟. Bertanya dalam pembelajaran dipandang sebagai kegiatan guru

untuk mendorong, membimbing, dan menilai kemampuan berfikir siswa. Dalam

sebuah pembelajaran yang produktif, kegiatan bertanya berguna untuk: a).

Menggali infrmasi; b). Mengecek pemahaman siswa; c). Memecahkan persoalan

yang dihadapi; d). Membangkitkan respon kepada siswa; e). Mengetahui sejauh

mana keingintahuan siswa; f). Mengetahui hal-hal yang sudah diketahui siswa; g).

Memfokuskan perhatian siswa pada sesuatu yang dikehendaki guru.

4. Masyarakat Belajar (Learning Community)

Dalam masyarakat belajar, hasil pembelajaran dapat diperoleh dari

kerjasama dengan orang lain. Hasil belajar diperoleh dari sharing antar teman,

antar kelomok, dan antar mereka yang tahu kepada mereka yang belum tahu.

5. Pemodelan (Modeling)

Pemodelan pada dasarnya adalah membahaskan gagasan yang dipikirkan,

mendemonstrasikan bagaimana guru inginkan agar siswanya melakukan.

Pemodelan dapat berbentuk demonstrasi, pemberian contoh tentang konsep atau

aktivitas belajar.

6. Refleksi (Reflection)

Refleksi merupakan cara berfikir tentang sesuatu yang baru dipelajari atau

berfikir kebelakang tentang apa-apa yang sudah kita lakukan dimasa lalu. Refleksi

juga merupakan respon terhadap kejadian, aktivitas atau pengetahuan yang baru

diterima. Refleksinya berupa; a). Pertanyaan langsung tentang apa-apa yang

diperolehnya hari itu; b). Catatan atau jurnal buku siswa; c). Kesan dan saran

siswa mengenai pelajaran hari itu; d). Diskusi; e). Hasil karya; f). Cara-cara lain
yang ditempuh guru untuk mengarahkan siswa kepada pemahaman tentang materi

yang dipelajari.

7. Penilaian yang sebenarnya (Authentic Assessment)

Penialaian autentik adalah prosedur penilaian pada pembelajaran

kontekstual. Prinsip yang dipakai dalam penilaian serta ciri-ciri penilaian autentik

adalah sebagai berikut: a). Harus mengukur semua aspek pembelajaran: proses,

kinerja, dan produk; b). Dilaksanakan selama dan sesudah proses pembelajaran

berlangsung; c). Menggunakan berbagai cara dan berbagai sumber; d). Tes hanya

salah satu alat pengumpul data penilaian; e). Tugas-tugas yang diberikan kepada

siswa harus mencerminkan bagian-bagian kehidupan siswa yang nyata setiap hari,

mereka harus dapat menceritakan pengalaman atau kegiatan yang mereka lakukan

setiap hari; f). Penilaian harus menekankan kedalaman pengetahuan dan keahlian

siswa.

Dari beberapa komponen-komponen strategi pembelajaran CTL diatas,

maka penulis dapat menyimpulkan bahwa ada tujuh komponen-komponen yang

telah dipaparkan diatas yaitu, konstruktivisme (contstruktivisme), Menemukan

(Inquiry), Bertanya (Questioning), Masyarakat Belajar (Learning Community),

Pemodelan (Modeling), Refleksi (Reflection), dan Penilaian yang sebenarnya

(Authentic Assessment).

d. Pola Strategi Pembelajaran Contextual Teaching and Learning

(CTL)

Adapun pola pembelajaran kontekstual Contextual Teaching and Learning

(CTL) yang harus dilakukan oleh seorang guru adalah sebagai berikut:
1. Pendahuluan

a) Guru menjelaskan kompetensi yang harus dicapai serta manfaat

dari proses pembelajaran dan pentingnya materi pelajaran yang

akan dipelajari.

b) Guru menjalankan prosedur Pembelajaran Kontekstual:

1) Siswa dibagi kedalam beberapa kelompok sesuai dengan jumlah

siswa.

2) Setiap kelompok ditugaskan untuk melakukan observasi;

misalnya kelompok 1 dan 2 melakukan observasi ke

perpustakaan, dan kelompok 3 dan 4 melakukan observasi ke

laboratorium komputer.

3) Melalui observasi siswa ditugaskan untuk mencatat berbagai

bangun datar sederhana yang ditemukan diruangan tersebut.

4) Guru melakukan tanya jawab sekitar tugas yang harus

dikerjakan oleh setiap siswa.

2. Inti

a. Di lapangan

1. Siswa melakukan observasi ke ruangan sesuai dengan

pembagian tugas kelompok.

2. Siswa mencatat hal-hal yang mereka temukan di ruangan sesuai

dengan alat observasi yang telah mereka tentukan sebelumnya.

b. Di dalam kelas

1. Siswa mendiskusikan hasil temuan mereka sesuai dengan

kelompoknya masing-masing.
2. Siswa melaporkan hasil diskusi.

3. Setiap kelompok menjawab setiap pertanyaan yang diajukan

oleh kelompok lain.

c. Penutup

a. Dengan bantuan guru siswa menyimpulkan hasil observasi sekitar

masalah bangun datar sederhana sesuai dengan indikator hasil

belajar yang harus dicapai.

b. Guru menugaskan siswa untuk membuat gambar tentang

pengamatan mereka dengan tema “Segitiga”.31

e. Prinsip-prinsip Strategi Pembelajaran Contextual Teaching Learning

(CTL)

1. Saling Bergantung

Prinsip ini membuat hubungan yang makna (making meaningful

connections) antara proses pembelajaran dan konteks kehidupan nyata sehingga

peserta didik berkeyakinan bahwa belajar merupakan aspek yang esensial bagi

kehidupan di masa datang. Prinsip ini mengajak para pendidik mengenali

keterkaitan mereka dengan pendidik lainnya, peserta didik dan lingkungannya.

2. Perbedaan

Prinsip diferensiasi (perbedaan) adalah mendorong peserta didik

menghasilkan keberagaman, perbedaan dan keunikan. Terciptanya kemandirian

dalam belajar yang dapat mengonstruksi minat peserta didik untuk belajar mandiri

dalam konteks tim dengan mengkorelasikan bahan ajar dengan kehidupan nyata,

dalam rangka mencapai tujuan secara penuh.

31
Ibid, hal. 255
3. Penguatan Diri

Prinsip penguatan diri menyatakan bahwa proses pembelajaran diatur,

dipertahankan, dan disadari oleh peserta didik sendiri, dalam rangka

merealisasikan seluru potensinya. Peserta didik secara sadar harus menerima

tanggung jawab atas keputusan dan perilaku sendiri, menilai alternatif, membuat

pilihan, mengembangkan rencana, menganalisis informasi, menciptakan solusi

dan dengan kritis menilai bukti.

4. Penilaian Diri

Penggunaan penilaian diri yaitu menantang peserta didik agar dapat

mengaplikasikan berbagai informasi akademis baru dan keterampilannya ke

dalam situasi kontekstual secara signifikan.32

f. Kelebihan dan Kelemahan Strategi Pembelajaran Contextual

Teaching and Learning (CTL)

1. Kelebihan

a. Pembelajaran kontekstual dapat mendorong peserta didik

menenukan hubungan antara materi yang dipelajari dengan situasi

kehidupan nyata. Artinya, peserta didik secara tidak lansung

dituntut untuk menangkap hubungan antara pengalaman belajar di

sekolah dengan kehidupan nyata di lingkungan masyarakat,

sehingga mampu menggali, berdiskusi, berpikir kritis, dan

memecahkan masalah nyata yang dihadapinya dengan cara

bersama-sama.

32
H. Asis Saefuddin, [Link], hal. 22
b. Pembelajaran kontekstual mampu mendorong peserta didik untuk

menerapkan hasil belajarnya dalam kehidupan nyata. Artinya,

peserta didik tidak hanya diharapkan dapat memahami materi yang

dipelajarinya, tetapi bagaimana materi pelajaran itu dapat mewarnai

perilaku/tingkah laku (karakter/akhlak) dalam kehidupan sehari-

hari.

c. Pembelajaran kontekstual menekankan pada proses keterlibatan

peserta didik untuk menemukan materi. Artinya, proses belajar

diorientasikan pada proses pengalaman secara langsung. Proses

belajar dalam konteks CTL tidak mengharapkan peserta didik

hanya menerima materi pelajaran, melainkan dengan cara proses

mencari dan menemukan sendiri materi pelajaran.

2. Kelemahan

a. CTL membutuhkan waktu yang lama bagi peserta didik untuk bisa

memahami semua materi.

b. Guru lebih intensif dalam membimbing, karena dalam metode CTL

guru tidak lagi berperan sebagai pusat informasi.

c. Upaya menghubungkan antara materi di kelas dengan realitas di

dalam kehidupan sehari-hari peserta didik rentan kesulitan, atas

dasar ini, agar menemukan hubungan yang tepat, sering kali peserta

didik harus mengalami kegagalan berulang kali.33

33
Isriani Hardini dan Dewi Puspita, (2012), Strategi Pembelajaran Terpadu,
Yogyakarta: Familia, hal.106-107.
B. Penelitian yang Relevan:

1. Ngatmi Alfiyanti (2013) meneliti tentang “Peningkatan Minat Belajar

Matematika Melalui Strategi Ctl Dengan Media Benda Konkrit” penelitian

ini bertujuan untuk mengetahui untuk meningkatkan minat belajar

matematika melalui Metode CTL dan media benda Konkrit pada siswa

kelas III SD Negeri 1 Simo Kecamatan Simo Kabupaten Boyolali Tahun

Pelajaran 2009/2010. (2) Mendiskripsikan kendala-kendala yang dihadapi

dalam penerapan Pendekatan Metode CTL dan media benda Konkrit (3)

Memaparkan bagaimana cara mengatasi kendala penerapan Metode CTL

dan media benda Konkrit untuk meningkatkan minatbelajar matematika

SD Negeri I Simo. Bentuk penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas

terdiri dari dua siklus, tiap siklus terdiri dari empat tahapan yaitu

perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi. Sebagai subjek

penelitian adalah siswa kelas III SD Negeri I Simo. Tehnik pengumpulan

data menggunakan, observasi, dan tes. Tehnik analisis data menggunakan

tehnik deskriptif interaktif yang terdiri dari tiga komponen analisis yaitu

reduksi data, sajian data, dan penarikan simpulan atau verifikasi.

Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan: (1) penerapan pendekatan

kontekstual dapat meningkatkan minat belajar matematika kelas III SD

Negeri I Simo, yaitu ditandai dengan: Siswa kelas III sebanyak 42 anak

mengalami peningkatan hasil belajar yaitu sebelum tindakan hanya 20 %

siswa yang minatnya diatas 60% setelah tindakan menjadi 100%. (2)

Terdapat beberapa kendala yang dihadapi dalam penerapan Pendekatan

Kontekstual untuk meningkatkan hasil belajar matematika antara lain guru


kurang dapat menciptakan suasana belajar yang menyenangkan, aktivitas

siswa kurang, dan masih kurangnya minat belajar siswa kelas III SDN I

Simo. Cara mengatasi kendala penerapan Pendekatan Kontekstual untuk

meningkatkan hasil belajar matematika pada siswa kelas III SD Negeri 1

Simo Tahun Pelajaran 2012/2013 adalah guru harus terampil dalam

menerapkan pendekatan kontekstual diantaranya : (1) mengkaji konsep

dan kompetensi dasar yang akan dipelajari oleh siswa, (2) memahami latar

belakang.

2. Harti (2015) meneliti tentang “Penerapan Metode Ctl Untuk Meningkatkan

Minat Belajar Ipa Tentang Gaya” penelitian ini bertujuan untuk

meningkatkan minat belajar IPA tentang Gaya dengan penerapan metode

Contextual Teaching Learning. Jenis penelitian ini adalah penelitian

tindakan kelas. Subyek penelitian ini adalah guru dan siswa kelas V SDN

Mintomulyo Kecamatan Juwana Kabupaten Pati yang berjumlah 32 siswa.

Metode pengumpulan data dilakukan melalui observasi, dokumentasi,

wawancara dan tes. Teknik analisis data yang digunakan dilakukan dengan

cara reduksi, penyajian kemudian dilanjutkan dengan mengambil

kesimpulan lalu verifikasi. Validitas data menggunakan teknik triangulasi,

yaitu triangulasi sumber data dan triangulasi metode pengumpulan data.

Hasil penelitian menunjukan adanya peningkatan minat belajar IPA

tentang gaya. Penemuan dari penelitian menunjukan : 1) Perhatian saat

proses belajar sebelum tindakan 20%, pada siklus I meningkat menjadi

57,5% dan pada siklus II menjadi 81,3%. 2). Perasaan Senang sebelum

tindakan 25% pada siklus I meningkat menjadi 65% dan pada siklus II
menjadi 81,8%. 3). Rajin dan Tekun belajar sebelum tindakan 20%, pada

siklus I meningkat menjadi 56,8% dan pada siklus II menjadi 84,3% . 4).

Aktif dalam pembelajaran sebelum tindakan 20%, pada siklus I meningkat

menjadi 51,2% dan pada siklus II menjadi 81,2%.Peningkatan minat

belajar IPA diperkuat dengan dengan hasil belajar yaitu sebelum tindakan

ratarata nilai kelas sebesar 25%, yang mencapai KKM pada pra siklus

kemudian meningkat menjadi 53,3% pada siklus I dan pada siklus II

meningkat menjadi 90,6% yang mencapai KKM. Kesimpulan penelitian

ini adalah penerapan metode Contextual Teaching Learning dapat

meningkatkan minat belajar IPA tentang gaya pada siswa kelas V SDN

Mintomulyo Kecamatan Juwana Kabupaten Pati Tahun 2014/ 2015.

C. Kerangka Berpikir

Belajar merupakan kunci yang paling vital dalam setiap usaha usaha

pendidikan, sehingga tanpa belajar sesungguhnya tak pernah ada pendidikan.

Sebagai suatu proses, belajar hampir selalu mendapat tempat yang luas dalam

berbagai disiplin ilmu yang berkaitan dengan upaya pendidikan. Belajar juga

sebagai bentuk dari perubahan yang dimana didalam prosesnya mampu merubah

setiap insan manusia menjadi seseorang yang tadinya belum mengetahui menjadi

mengetahui, dari yang belum bisa menjadi bisa, dan dari yang tidak mengerti

menjadi lebih mengerti. Hal ini membuktikan proses belajar dapat mendidik

manusia ke arah yang lebih baik.

Perubahan dan kemampuan untuk berubah merupakan batasan dan makna

yang terkandung dalam belajar. Belajar sebagai proses peserta didik dalam

menggali sebuah informasi, dalam proses tersebut akan menghasilkan suatu


prestasi yang akan dicapai sesuai dengan tujuan tertentu. Untuk mencapai

keberhasilan sebuah prestasi belajar perlu adanya ha-hal yang mendukungya

sebagai bentuk dari motivasi.

Bentuk motivasi kegiatan belajar mengajar dipengaruhi oleh beberapa

faktor, diantaranya faktor strategi pembelajaran atau tehnik mengajar guru. Guru

dapat menggunakan strategi pembelajaran yang bervariasi sehingga siswa tidak

jenuh dalam pembelajaran. Guru dapat mengaitkan materi yang terdapat dalam

kurikulum dengan kondisi lingkungan atau sesuai dengan dunia nyata sehungga

siswa merasa pembelajaran menjadi lebih bermakna atau memiliki manfaat dalam

kehidupan sehari-hari.

Proses pembelajaran dengan mengaitkan materi dengan kehidupan nyata

dapat mengajarkan peserta didik untuk mengerti akan makna belajar, manfaat

belajar, dan bagaimana mereka mencapainya. Dengan demikian mereka sadar

bahwa apa yang telah dipelajari sangat berguna bagi kehidupan mereka.

Pembelajaran yang berkenaan langsung dengan mata pelajaran matematika

harus selalu diseimbangkan antara materi ajar dengan strategi pembelajaran yang

akan digunakan, kedua hal tersebut harus saling disesuaikan agar mencapai tujuan

pembelajaran.

Maka untuk mencapai tujuan pembelajaran yang diinginkan diperlukan

strategi yang paling tepat sebagai penunjang keberhasilan tujuan pembelajaran

yakni dengan menggunakan strategi pembelajaran CTL yang dimana dalam

proses pembelajarannya seorang guru mampu menghubungkan bahan ajar yang

akan disampaikan dengan kenyataan atau kehidupan sehari-hari, hal ini akan

menimbulkan antusias siswa untuk aktif dan semangat dalam belajar.


Di samping itu sebagai sumber penataan moral dan dasar tuntunan

kehidupan yang akan dijalani. Maka strategi pembelajaran contextual teaching

and learning merupakan strategi pembelajaran yang tepat dan baik yang dapat

berpengaruh dalam pelajaran matematika di kelas. Dan berikut penulis akan

menjelaskan alur dan arah pengaruh penerapan strategi pembelajaran Contextual

Teaching and Learning (CTL) terhadap minat belajar matematika yang secara

sistematis kerangka pemikiran penulis paparkan sebagai berikut:

Proses Strategi Minat belajar


Pembelajaran Pembelajaran
CTL

Gambar 2.1

Strategi Pembelajaran CTL (Contextual Teaching Learning) berpengaruh

terhadap minat belajar matematika siswa

Selanjutnya untuk mengetahui pengaruh antara variabel X (variabel bebas)

terhadap variabel Y (variabel terikat), maka dapat diartikan variabel bebas adalah

variabel penyebab atau independent variables. Pengertian variabel bebas yaitu

variabel yang mempengaruhi atau yang menyebabkan terjadinya perubahan.

Dengan bahasa lain yang lebih mudah, variabel bebas yaitu faktor-faktor yang

nantinya akan diukur, dipilih, dan dimanipulasi oleh peneliti untuk melihat

hubungan di antara fenomena atau peristiwa yang diteliti atau diamati . Dan

variabel terikat adalah variabel tergantung atau dependent variables. Variabel

terikat merupakan faktor-faktor yang diamati dan diukur oleh peneliti dalam

sebuah penelitian, untuk menentukan ada tidaknya pengaruh dari variabel bebas.
Dalam sebuah desain penelitian, seorang peneliti harus mengetahui secara pasti,

apakah ada faktor yang muncul, ataukah tidak muncul, atau berubah seperti yang

diperkirakan oleh peneliti, dengan menggambarkan bagan sebagai berikut:34

X Y
Gambar 2.2

Bagan strategi Pembelajaran CTL (Contextual Teaching Learning) berpengaruh

terhadap minat belajar matematika siswa

Keterangan :

Variabel Bebas : Penerapan strategi Pembelajaran CTL

Variabel Terikat : Minat Belajar Siswa

Strategi pembelajaran Contextual Teaching Learning (CTL) dimaksudkan

suatu kemampuan guru dalam melaksanakaan proses pembelajaran yang lebih

mengedepankan idealitas pendidikan sehingga benar-benar akan menghasilkan

kualitas pembelajaran yang efektif dan efisien. Idealitas yang dimaksudkan

melaksanakan proses pembelajaran yang lebih menitikberatkan pada upaya

pemberdayaan siswa bukan penindasan terhadap siswa baik secara intelektual,

sosial maupun budaya.35

D. Hipotesis Penelitian

Hipotesis merupakan jawaban sementara dalam suatu penelitian, seperti

yang dikemukakan Sugiyono, hipotesis merupakan jawaban sementara terhadap

rumusan masalah penelitian, dimana rumusan masalah penelitian telah ditemukan

34
A. Muri Yusuf, (2017), Metode Penelitian Kualitatif, Kuantitatif, dan
Penelitian Gabungan, Jakarta: Kencana, hal. 134
35
Suyadi, [Link], hal. 83
dalam bentuk pertanyaan. Dikatakan sementara karena jawaban yang diberikan

baru didasarkan pada teori yang relevan, belum didasarkan pada fakta-fakta

empiris yang diperoleh melalui pengumpulan data.

Menurut Arikunto ada dua jenis hipotesis yang digunakan dalam

penelitian, yaitu hipotesis nol dan hipotesis alternatif. Hipotesis nol disingkat

dengan H0, hipotesis ini adalah hipotesis yang menyatakan tidak ada hubungan

atau tidak ada pengaruh antara suatu variabel dengan variabel lainnya. Hipotesis

alternatif disingkat dengan Ha, hipotesis ini menyatakan adanya hubungan antara

variabel X dan variabel Y, atau adanya perbedaan antara dua kelompok.36

Untuk mengetahui pengaruh strategi pembelajaran CTL terhadap minat

belajar siswa pada mata pelajaran Matematika, maka hipotesis yang digunakan

dalam penelitian ini adalah:

Berdasarkan landasan teori yang telah di paparkan diatas, maka hipotesis

penelitian ini adalah:

Ho : Tidak ada pengaruh strategi pembelajaran Contextual Teaching And

Learning (CTL) terhadap minat beljar matematika siswa di kelas X

MAS Proyek UNIVA Medan T.P 2018/2019.

Ha : Ada pengaruh strategi pembelajaran Contextual Teaching And

Learning (CTL) terhadap minat beljar matematika siswa di kelas X

MAS Proyek UNIVA Medan T.P 2018/2019.

36
Ibid, hal. 130-131
BAB III

METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh strategi pembelajaran

Contextual Teaching and Learning (CTL) terhadap minat belajar matematika

siswa di kelas X MAS Proyek UNIVA Medan T.P. 2017/2018. Oleh karena itu,

penelitian ini merupakan penelitian Eksperimen. Di dalam penelitian eksperimen

terdapat beberapa bentuk desain eksperimen yang dapat digunakan. Di dalam

penelitian ini peneliti menggunakan eksperimen semu (pra eksperimen design)

atau tidak ada design dengan one-shot case study, yaitu hanya satu kelas yang

diberi perlakuan (treatment) selanjutnya diobservasi hasilnya.

B. Tempat dan Waktu Pelaksanaan

1. Tempat Penelitian

Penelitian ini dilakukan di MAS Proyek UNIVA Medan yang

beralamat di Jalan Sisingamangaraja KM 5,5 Desa Harjosari Kec. Medan

Amplas Kabupaten Deli Serdang Provinsi Sumatera Utara.

2. Waktu Penelitian

Penelitian ini dimulai dari observasi awal pada semester I (ganjil)

tahun pelajaran 2017/2018 yang dilaksanakan pada tanggal 22 Februari s/d 01

Maret 2018, dan dilanjutkan dengan penelitian pada tanggal 01 Agustus s/d

10 Agustus 2018.
C. Populasi dan Sampel

1. Populasi

Populasi ialah semua nilai dari hasil perhitungan maupun pengukuran,

baik kuantitatif maupun kualitatif, dari pada karakteristik tertentu mengenai

sekelompok objek yang lengkap dan jelas.37 Sedangkan sampel adalah bagian

dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut.38

Berdasarkan uraian tersebut maka yang menjadi populasi dalam penelitian ini

adalah siswa kelas X MAS Proyek UNIVA Medan.

2. Sampel

Berdasarkan populasi penelitian diatas maka peneliti mengambil

semua sampel untuk mewakili populasi yang ada untuk mempermudah dalam

memperoleh data yang konkrit dan relevan dari sampel yang ada. Melalui

Simple Random Sampling, sampel yang terpilih 1 kelas yaitu kelas X MIPA 1

dengan jumlah 30 siswa.

D. Definisi Operasional Variabel

1. Strategi Pembelajaran CTL (variabel X )

Contextual Teaching Learning (CTL) adalah konsep belajar yang

membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia

nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan

yang dimilikinya dengan penerapan dalam kehidupan sehari-hari.

37
Husaini Usman dan Purnomo Setiadi Akbar, (2010), Pengantar Statistika,
Jakarta: Bumi Aksara, h. 181
38
Ibid. h.118
2. Minat Belajar Matematika Siswa (variabel Y)

Minat adalah kecendrungan dan keinginan yang tinggi terhadap

sesuatu, sehingga minat sangat menentukan sikap yang menyebabkan

seseorang aktif dari suatu kegiatan. Minat timbul karena ada perasaan senang

siswa selama mengikuti pelajaran, perhatian guru terhadap siswa, ketertarikan

siswa pada mata pelajaran, dan keterlibatan siswa selama mengikuti pelajaran.

Tabel 3.1 Devinisi Operasional Variabel Minat Belajar


Variabel Indikator Sub Indikator Skala
Pengukuran
Minat Perasaan a. Berhubungan dengan perasaan Likert lima
Belajar Senang senang siswa terhadap metode Poin:
yang digunakan guru dalam  Sangat
belajar matematika Setuju = 5
b. Berhubungan dengan siswa
bersemangat selama mengikuti  Setuju = 4
pelajaran matematika
Perhatian a. Berhubungan dengan fokus  Netral = 3
siswa selama mengikuti
pelajaran matematika  Tidak setuju
b. Berhubungan dengan siswa =2
mengikuti dengan seksama
petunjuk guru  Sangat tidak
Ketertarikan a. Berhubungan dengan rasa setuju = 1
ingin tahu siswa saat
mengikuti pembelajaran
matematika
b. Berhbungan dengan
penerimaan siswa saat diberi
tugas/PR oleh guru.
Keterlibatan a. Berhubungan dengan kesadaran
siswa tentang belajar di rurmah
b. Berhubungan dengan kegiatan
siswa setelah dan sebelum
masuk sekolah

E. Instrumen Penelitian

Menurut Sugiyono, angket atau kuesioner merupakan teknik pengumpulan

data yang dilakukan dengan cara memberikan seperagkat pertanyaan atau


pernyataan tertulis kepada responden untuk dijawabnya. Angket terdiri atas 20

butir pernyataan yang dikembangkan berdasarkan indikator-indikator untuk

mengetahui minat belajar siswa yaitu perhatian, perasaan senang, ketertarikan

pada pelajaran dan keterlibatan siswa. Angket yang digunakan berbentuk ceklist

dengan Skala Likert lima poin. Menurut Sugiyono, Skala Likert digunakan untuk

mengukur sikap, pendapat, dan persepsi seseorang atau sekelompok orang tentang

fenomena sosial yang disebut sebagai variabel penelitian.39

Tabel 3.3 Penilaian Skala Likert


No Pernyataan Skor
1. Sangat Setuju 5
2. Setuju 4
3. Netral 3
4. Tidak Setuju 2
5. Sangat Tidak Setuju 1

Tabel 3.4 Kisi-Kisi Angket Tentang Minat Belajar


No Kondisi Pernyataan Jumlah
Positif Negatif
1. Perhatian Siswa 1,6,16,18 7,20 6
2. Perasaan Senang 2,3,9,17 11 5
3. Ketertarikan Pada Pelajaran 4,5,13 10,14 5
4. Keterlibatan Siswa 8,12,15 19 4
Jumlah 20

F. Teknik Pengumpulan Data

1. Studi pustaka
Studi pustaka merupakan kegiatan yang diwajibkan dalam penelitian,

khususnya penelitian akademik yang tujuan utamanya adalah

mengembangkan aspek teoritis maupun aspek manfaat praktis. Studi

kepustakaan dilakukan oleh peneliti dengan tujuan yang utama yaitu mencari

39
Sugiyono, (2013), Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D, Bandung:
Alfabeta, hal. 119
dasar pijakan atau pondasi untuk memperoleh dan membangun landasan teori,

kerangka berpikir, dan menentukan dugaan sementara atau disebut hipotesis

penelitian, sehingga para peneliti dapat mengerti, melokasikan,

mengorganisasikan, dan kemudian menggunakan variabel pustaka dalam

bidangnya.40

2. Observasi

Menurut Mardianto, observasi adalah “metode yang dilakukan dengan

jalan mengadakan pengamatan terhadap tingkah laku peserta didik dalam

situasi yang wajar, dilaksanakan dengan berencana, kontiniu dan sistematik

serta diikuti dengan upaya mencatat atau merekam secara lengkap.”41

3. Dokumentasi

Bogdan & Bikle (dalam Rulam), mengungkapkan bahwa

“dokumentasi adalah mengacu pada material (bahan) seperti fotografi, video,

film, memo, surat, diari, rekaman kasus klinis, dan sejenisnya yang dapat

digunakan sebagai informasi suplemen sebagai bagian dari kajian kasus

sumber data utamanya adalah observasi partisipan ataupun wawancara.”42

Pada penelitian ini dokumen yang digunakan berupa rekaman audio

wawancara, dan foto-foto selama penelitian berlangsung. Metode ini

digunakan untuk memperoleh deskripsi tentang minta siswa belajar

matematika.

40
Sukardi, (2005),Metodologi Penelitian Pendidikan, Jakarta: PT. Bumi Aksara,
hlm. 33-34.
41
Mardianto, (2012), Psikologi Pendidikan, Medan: Perdana Publishing, hal. 6
42
Rulam Ahmadi, (2014), Metodologi Penelitian Kualitatif, Yogyakarta: Ar-
Ruzz Media, hal. 86
4. Angket

Angket adalah salah satu teknik pengumpulan data yang berbentuk

kumpulan pernyataan. Penyebaran angket yang peneliti lakukan adalah kepada

siswa kelas X MIPA 1 MAS Proyek UNIVA Medan yang peneliti jadikan

sampel dalam penelitian ini dan sampel diambil dari banyaknya siswa, yaitu

30 orang.

Untuk mengetahui tingkat angket minat belajar pada tiap butir

pernyataan ditentukan dengan cara:

a. Menjumlahkan semua skor dari tiap-tiap responden

b. Perolehan data dari angket dipersentasikan dengan rumus sebagai berikut:

P= x 100% 43

Keterangan:

P = Persentase siswa yang menjawab butir pernyataan angk et

F = Frekuensi siswa yang menjawab butir pernyataan angket

N = Banyaknya siswa

G. Uji Coba Instrumen Penelitian

1. Uji Validitas

Uji validitas adalah pengujian suatu indeks yang menunjukkan alat

ukur tersebut benar-benar mengukur apa yang diukur. Maksudnya adalah

untuk mengetahui apakah kuisioner yang disusun itu sudah valid/shahih,

maka perlu diuji dengan uji korelitas antar skor (nilai) tiap butir pertanyaan

dengan skor total kuisioner tersebut. Adapun pengujian validitas ini dilakukan

secara two tailed dikarenakan nilai hasil tidak memiliki acuan arah.

43
Ibid. hal. 90
Rumus yang digunakan dalam uji validitas ini adalah:

∑ (∑ )(∑ )
44
√* ∑ +* ∑ (∑ ) +

dengan penjelasan:

X = Skor yang diperoleh subjek dari seluruh item

Y = Skor total yang diperoleh dari seluruh item

∑X = Jumlah skor dalam distribusi X

∑Y = Jumlah skor dalam distribusi Y

∑X2 = Jumlah kuadrat dalam skor distribusi X

∑Y2 = Jumlah kuadrat dalam skor distribusi Y

N = Banyaknya responden

Untuk melihat validitas angket, maka perlu membandingkan r xy hasil

perhitungan dengan tabel harga kritik r product moment, dikatakan valid jika

rhitung > rtabel dengan α = 5%.

2. Uji Reliabilitas

Menurut Noor, uji reliabilitas ialah pengujian terhadap indeks yang

menunjukkan sejauh mana suatu alat ukur dapat dipercaya dan diandalkan. 45

Hal ini berarti menunjukkan sejauh mana alat pengukur dikatakan konsisten

jika dilakukan pengukuran dua kali atau lebih terhadap gejala yang sama,

rumus yang digunakan yaitu rumus alfa cronbach. Rumusnya adalah sebagai

berikut:


[ ][ ] 46

44
Sugiyono [Link], hal. 121.
45
Syaukani, (2015) Metodologi Penelitian, Medan: Perdana Publishing, hal. 101.
46
Ibid, hal. 102.
Di mana rumus σ2 adalah sebagai berikut:


∑ ( )
47

Dengan:

= reliabilitas instrumen

= banyaknya butir pertanyaan

∑ = jumlah butir pertanyaan

= varians total

Besarnya yang diperoleh tersebut dikonsultasikan dengan Indeks

Korelasi yang dikemukakan oleh Arikunto sebagai berikut:

Tabel 3.5 Interpretasi Nilai r


No. IndeksReliabilitas Klasifikasi
1. Sangat rendah
2. Rendah
3. Sedang
4. Tinggi
5. Sangat tinggi

H. Teknik Analisis Data

1. Analisis statistik Deskriptif

Analisis dekriptif adalah jenis analisis yang dimaksudkan untuk

mengungkapkan keadaan atau karakteristik data sampel untuk masing-masing

variabel penelitian secara tunggal. 48 Untuk mengetahui pengaruh strategi

pembelajaran CTL terhadap minat belajar matematika siswa digunakan

analisis deksriptif. Analisis ini dilakukan dengan menggunakan teknik-teknik

47
Ibid, hal.103.
48
Sukardi, [Link], hlm. 69.
statistik deksriptif yang meliputi tabel frekuensi, grafik, ukuran pemusatan

(gejala pusat) dan ukuran penyebaran.

2. Analisis Statistik Inferensial

Setelah data diperoleh kemudian diolah dengan teknik analisis data

sebagai berikut:49

1. Menghitung rata-rata skor dengan rumus:

X
X
N
2. Menghitung standar deviasi

Standar deviasi dapat dicari dengan rumus:

 X   X 
2

SD   
N
 N 
Dimana:

SD = standar deviasi
X
2

 tiap skor dikuadratkan lalu dijumlahkan kemudian dibagi N.


N
2
X 
  = semua skor dijumlahkan, dibagi N kemudian dikuadratkan.
 N 
3. Uji Normalitas

Untuk menguji apakah sampel berdistribusi normal atau tidak

digunakan uji normalitas liliefors. Langkah-langkahnya sebagai berikut:

a. Mencari bilangan baku

Untuk mencari bilangan baku, digunakan rumus:

X X
Z 1
 1

S 50

49
Indra Jaya dan Artdat, (2013), Penerapan Statistik Untuk Pendidikan,
Bandung: Perdana Mulya Sarana, hal. 83
Dimana:
X  rata-rata sampel

S = simpangan baku (standar deviasi)

b. Menghitung Peluang
S z  1

c. Menghitung Selisih F z   S Z  , kemudian harga mutlaknya


1 1

d. Mengambil L , yaitu harga paling besar diantara harga mutlak.


0

H L L
Dengan criteria 0 ditolak jika 0

4. Uji Homogenitas

Pengujian homogenitas varians dengan melakukan perbandingan

varians terbesar dengan varians terkecil dilakukan dengan cara

membandingkan dua buah varians dari varians penelitian. Rumus

homogenitas perbandingan varians adalah sebagai berikut:

Fhitung = 51

Nilai Fhitung tersebut selanjutnya dibandingkan dengan nilai Ftabel

yang diambil dari distribusi F dengan dk penyebut = n-1 dan dk pembilang

= n-1. Dimana n pada dk penyebut berasal dari jumlah sampel varians

terbesar, sedangkan n pada dk pembilang besar dari jumlah sampel varians

terkecil. Aturan pengambilan keputusan adalah dengan membandingkan

Fhitung dengan nilai Ftabel. Kriterianya adalah jika Fhitung < Ftabel maka Ho

diterima dan Ha ditolak berarti varians homogen.

50
Ibid, hal. 252
51
Indra Jaya dan Ardat, [Link], hal.261
5. Uji Hipotesis

Untuk mengetahui pengaruh strategi pembelajaran Contextual

Teachingn and Learning (CTL) terhadap minat belajar matematika siswa

dilakukan dengan uji hipotesis. Hipotesis yang diuji dalam penelitian ini

adalah sebagai berikut:

Ho : 1= 2

Ha : 1 2

Ho : Tidak ada pengaruh strategi pembelajaran Contextual Teaching And

Learning (CTL) terhadap minat beljar matematika siswa di kelas X

MAS Proyek UNIVA Medan T.P 2018/2019.

Ha : Ada pengaruh strategi pembelajaran Contextual Teaching And

Learning (CTL) terhadap minat beljar matematika siswa di kelas X

MAS Proyek UNIVA Medan T.P 2018/2019.

Uji hipotesis dengan menggunakan uji test “t” dengan rumus


̅ 52
t=

keterangan:

t = nilai t yang dihitung

̅ = nilai rata-rata X (mean)

= nilai yang dihipotesiskan

= simpangan baku sampel

= jumlah anggota populasi

Ketentuan penelitian hipotesis yang diajaukan adalah Ha diterima,

jika thitung ttabel pada taraf signifikan 95% atau = 0,05.

52
Indra Jaya dan Ardat, [Link], hal 117
BAB IV

HASIL PENELITIAN

A. Temuan Umum Penelitian

1. Identitas Sekolah

Nama Madrasah : MAS PROYEK UNIVA MEDAN

NPSN : 60728319

NSS : 131212710018

Propinsi : Sumatera Utara

Kecamatan : Medan Amplas

Desa/Kelurahan : Harjosari

Jalan dan Nomor : SM. RAJA KM. 5,5

Kode pos : 20147

Telepon : 061-7878606

Daerah : Perkotaan

Status Madrasah : Swasta

Akreditas : B

Penerbit SK : Kanwil Depag SU

Tahun Berdiri : 1971

Tahun Perubahan : 1982

Kegiatan Belajar Mengajar : Pagi

Bangunan Madrasah : Milik Sendiri

2. Sejarah dan Perkembangan MAS Proyek UNIVA Medan

Madrasah Aliyah Proyek UNIVA Medan adalah salah satu Madrasah

unggulan di lingkungan Universitas Al Washliyah (UNIVA) Medan yang berdiri


sejak tahun 1971. Awalnya Madrasah ini dikenal dengan Sekolah Pendidikan

Guru Agama (PGA) Al Washliyah yang menjadi tempat menempa para calon

guru gama Islam yang professional di bidangnya. Seiring perubahan zaman dan

tuntutan pengembangan pendidikan Islam maka di tahun 1982 Sekolah ini

mengakomodir kebutuhan masyarakat dengan melebur diri menjadi Madrasah

Aliyah Proyek UNIVA Medan (sering disebut aliyah Ex PGA) yang memiliki

tidak hanya jurusan Ilmu-ilmu Agama, tetapi juga jurusan umum yaitu Jurusan

Biologi dan Jurusan Sosial. Kemudian di tahun 1997 hingga sekarang, sesuan

SKB Tiga Menteri, memiliki Jurusan IPA (Ilmu Pengetahuan Alam), Jurusan IPS

(Ilmu Pengetahuan Sosial) dan Jurusan IPB (Ilmu Pengetahuan Bahasa) berstatus

diakui. Madrasah terus memacu prestasi siswa dalam belajar dan berkreativitas

dengan memberikan penambahan-penambahan jam belajar untuk mata pelajaran

tertentu sebagai kurikulum lokal ditambah kegiatan-kegiatan ekstra kurikuler yang

merangsang semangat berprestasi dan memacu kreativitas siswa.

Madrasah mengambil kebijakan membuat jam khusus belajar percakapan

bahasa Inggris dan bahasa Arab di luar jam belajar formal untuk mempercepat

penguasaan komunikasi siswa berbahasa asing tanpa dipungut biaya tambahan.

Madrasah juga telah menambahkan mata pelajaran Teknologi Informasi dan

Komunikasi tiga tahun sebelum program KBK (Kurikulum Berbasis Kompetensi)

diberlakukan. Dan saat ini Madrasah telah memiliki satu laboratorium komputer

dengan fasilitas komputer terbaru (Pentium IV) berikut printer, meja,

jaringan/LAN dan tidak ketinggalan fasilitas jaringan Internet sekolah full time

serta didukung dengan ruangan full AC yang diperoleh dari Diknas Pusat sebagai

sumbangan atas prestasi Madrasah dalam merintis pendidikan berbasis Teknologi


Informasi dan Komunikasi di lingkungannya. Laboratorium lain yang tidak kalah

pentingnya adalah laboratorium sains yang meliputi Fisika, Kimia dan Biologi

dengan beragam kelengkapan praktek dan uji coba. Siswa juga diberi fasilitas

Perpustakaan dengan jumlah buku hampir 5.000 eksemplar dari sekitar 600 judul

yang meliputi ilmu murni dan terapan seperti ensiklopedi, bahasa, kamus,

pendidikan, agama, pengetahuan umum, teknologi, dan keterampilan yang

pengadaannya. Bahkan siswa difasilitasi sarana olah raga yang memadai untuk

membina kesehatan sekaligus memupuk bakat siswa dalam bidang olah raga bela

diri, bola volly, footsal dan tenis.

VISI DAN MISI MAS Proyek UNIVA Medan

VISI : Berprestasi dalam ilmu dan keterampilan, berakhlak mulia serta mampu

MISI : Memberdayakan tenaga guru, tenaga kependidikan, penggunaan sarana

dan partisipasi warga sekolah secara optimal untuk membentuk siswa

yang terdidik, trampil, berkualitas dan sesuai dengan kebutuhan zaman.

3. Kurikulum

Kegiatan belajar mengajar (KBM) disekolah harus mempunyai pedoman

dan pegangan di dalam belajar, khususnya seorang pendidik atau guru.

Sehubungan dengan hal tersebut dan berdasarkan pendidikan nasional yang

diberlakukan sekarang ini, garis-garis besar pedoman mengajar dan pedoman

pelaksanaan berada di dalam kurikulum. Oleh karena itu kurikulum di MAS

Proyek UNIVA Medan yaitu menggunakan kurikulum 2013 (k 13) yang telah

disempurnakan.
4. Keadaan Tenaga Pengajar, Staf TU dan Penjaga Sekolah

Tenaga pengajar di MAS Proyek UNIVA Medan berjumlah 33 seorang

pendidik, yang terdiri dari 20 pendidik laki-laki dan 13 pendidik perempuan.

Untuk staf TU berjumlah 2 tenaga, dan penjaga sekolah berjumlah 3 tenaga.

a. Tenaga Pengajar

Tabel 4.1
Keadaan Tenaga Pengajar MAS Proyek UNIVA Medan
No Nama Jenis Pendidikan [Link]
kelamin
1. Rodiah, ST, [Link] P S1 Fisika
2. Tukini, [Link] P S1 Matematika
3. Daud Alasta Selian, [Link] L S1 Penjas
3. Sjaratno, SE, [Link] L S1 [Link]
4. Rendi Saputra, ST, [Link] L S1 TIK
5. Mukhlisin, [Link] L S2 PKN
6. Sriyani, [Link] P S1 Sosiologi
7. M. Taslim, [Link] L S1 Geografi
8. M. Rahim, [Link].I L S1 Qiraat
9. Khairani, [Link].I P S1 [Link]/Qiraat
10. Abdi Prayoga, SS L S1 [Link]
11. Riswan, [Link] L S1 [Link]
12. Yayuk Syafriani, SE, [Link] P S1 Ekonomi
13. Maysarani Harahap, [Link] P S1 Kimia
14. Siti Nurbaiti, [Link] P S1 TIK
15. Nazli Ramadhani, [Link].I P S1 [Link]
16. Hafni Andriani Harahap, [Link] P S1 Biologi
17. Nurhamidah, [Link].I P S1 Akhlak
18. Abdussalam, [Link].I L S1 SKI
19. Muhyuddin NST, [Link].I L S1 HIH
20. Novantri Herdi, SH.I P S1 Fiqih
21. Wahyu Saputra, [Link].I L S1 MM
22. Lastari, [Link].I P S1 TIT
23. M. Ridwan, [Link] L S1 Geografi
24. Nurhajijah, [Link] P S1 [Link]
25. Drs. Amir Hamzah Ritonga L S1 [Link]
26. Ir. Sukamto, MM, MP L S3 MM
27. Dra. Khadijah Pasaribu, [Link] P S1 [Link]
28. Ir. Awaluddin S, SS, [Link], [Link] L S3 SNSU
29. Dra. Hj. Raisun Lubis P S1 Fiqih
30. Drs. H. Kamal M Harahap L S1 Convers
31. Sabturia, [Link] P S1 KE AW
32. Drs. H. Ahmad Yani L S1 [Link]
Tabel 4.2
Keadaan Staf TU MAS Proyek UNIVA Medan
No Tenaga Tata Usaha Jumlah Staf TU
1. Tata Usaha Tetap 3 orang
Jumlah 3 orang

Tabel 4.3
Keadaan Penjaga Sekolah MAS Proyek UNIVA Medan
No Tenaga Penjaga Jumlah Staf TU
1. Satpam 3 orang
Jumlah 3 orang

b. Siswa

Jumlah siswa MAS Proyek UNIVA Medan adalah sebanyak siswa. Yang

terdiri dari kelas X sebanyak siswa 119, kelas XI sebanyak 50 siswa, dan kelas

XII sebanyak 65 siswa. Untuk memperjelas pernyataan diatas, maka dapat dilihat

pada tabel berikut:

Tabel 4.4
Keadaan siswa MAS Proyek UNIVA Medan berdasarkan jenis kekamin
No Kelas Jenis Kelamin Jumlah
L P
1. Kelas X 46 73 119
2. Kelas XI 21 29 50
3. Kelas XII 30 35 65
Jumlah 234
5. Sarana dan Prasarana

Bangunan atau keadaan sarana dan prasarana MAS Proyek UNIVA

Medan.

Tabel 4.5
Sarana dan prasarana MAS Proyek UNIVA Medan menurut kondisinya
No Jenis Fasilitas Jumlah Kondisi

A. Administrasi
1. Ruang Kepala Sekolah 1 ruang Baik
2. Ruang Guru 1 ruang Baik
3. Ruang Pelayanan Administrasi 1 ruang Baik
B. Kegiatan Belajar
1. Ruang Kelas 8 ruang Baik
2. Ruang LAB Fisikia/Kimia/Biologi 1 ruang Baik
3. Ruang LAB Bahasa 1 ruang Baik
4. Ruang Praktek Komputer 1 ruang Baik
C. Penunjang Pendidika
1. Ruang Perpustakaan 1 ruang Baik
2. Ruang Ibadah 1 ruang Baik
D. Penunjang Lainnya
1. Ruang Toilet 4 ruang Baik
2. Ruang Gudang 1 ruang Baik

B. Temuan Khusus Penelitian

1. Deskripsi Hasil Penelitian

Deskripsi Minat Belajar Matematika Siswa.

Tabel 4.6
Statistik CTL
N 30
∑ 2074
∑ 4301476
Sd 21,5
Varian 4,63
Mean 69
Keterangan: Siswa yang diajarkan dengan menggunakan strategi pembelajaran

CTL terhadap minat belajar matematika siswa di MAS Proyek UNIVA Medan.

Minat siswa diukur oleh empat indikator yaitu: 1). Perhatian siswa ketika

guru menjelaskan, 2). Perasaan senang siswa ketika memgikuti pembelajaran, 3).

Ketertaiikan pada pelajaran matematika, 4). Keterlibatan siswa dalam mengikuti

pembelajaran matematika. Indikator minat dijabarkan dalam butir-butir

pernyataan, rekapitulasi hasil angket dapat dilihat pada lampiran . Butir-butir

pernyataan angket mempunyai indikator sebagai berikut:

Tabel 4.7
Tabel Indikator Minat
Variabel Indikator Sub Indikator Skala
Pengukuran
Minat Perasaan c. Berhubungan dengan perasaan Likert lima
Belajar Senang senang siswa terhadap metode Poin:
yang digunakan guru dalam  Sangat Baik
belajar matematika =5
d. Berhubungan dengan siswa
bersemangat selama mengikuti  Baik = 4
pelajaran matematika
Perhatian c. Berhubungan dengan fokus  Kurang Baik
siswa selama mengikuti =3
pelajaran matematika
d. Berhubungan dengan siswa  Tidak Baik =
mengikuti dengan seksama 2
petunjuk guru
Ketertarikan c. Berhubungan dengan rasa  Sangat tidak
ingin tahu siswa saat Baik = 1
mengikuti pembelajaran
matematika
d. Berhbungan dengan
penerimaan siswa saat diberi
tugas/PR oleh guru.
Keterlibatan c. Berhubungan dengan kesadaran
siswa tentang belajar di rurmah
d. Berhubungan dengan kegiatan
siswa setelah dan sebelum
masuk sekolah
Setelah diperoleh data dari hasil angket, kemudian data tersebut diolah

dalam bentuk tabel deskriptif persentase dengan menggunakan rumus:

P= x 100%

Keterangan:

P = Persentase siswa yang menjawab butir pernyataan angket

F = Frekuensi siswa yang menjawab butir pernyataan angket

N = Banyaknya siswa

Adapun sejumlah pernyataan yang penulis berikan kepada responden

dapat dilihat pada tabel-tabel dibawah ini:

a. Siswa Aktif dan Tidak Malu Bertanya

Tabel 4.8
Frekuensi Pernyataan Siswa dalam Menjawab Item Pernyataan No.1
Alternatif Jawaban Frekuensi Persen (%)
Sangat Baik 18 60%
Baik 8 26%
Kurang Baik 3 10%
Tidak Baik 0 0%
Sangat Tidak Baik 1 3%

Berdasarkan tabel diatas, menunjukkan bahwa setiap siswa yang aktif dan

tidak malu bertanya saat mengikuti pelajaran matematika dengan strategi

pembelajaran CTL diperoleh bahwa siswa yang menjawab sangat baik sebanyak

18 orang atau 60%, yang menjawab baik sebanyak 8 orang atau 26%, yang

menjawab kurang baik sebanyak 2 orang atau 10%, yang menjawab tidak baik

sebanyak 0 orang atau 0%, dan yang menjawab sangat tidak baik sebanyak 0

oarang atau 0%. Hai ini berarti secara keseluruhan 60% siswa saat mengikuti

pelajaran matematika semua aktif dan terlibat dalam proses pembelajaran.


b. Siswa Belajar Matematika Dengan Semangat

Tabel 4.9
Frekuensi Pernyataan Siswa dalam Menjawab Item Pernyataan No.2
Alternatif Jawaban Frekuensi Persen (%)
Sangat Baik 10 30%
Baik 18 60%
Kurang Baik 2 10%
Tidak Baik 0 0%
Sangat Tidak Baik 0 0%

Dari Tabel di atas siswa belajar matematika dengan semangat diperoleh

bahwa: jumlah siswa yang menjawab sangat baik sebanyak 10 orang atau sebesar

30%, yang menjawab baik sebanyak 18 orang atau 60%, yang menjawab kurang

baik sebanyak 2 orang atau 10%, yang menjawab tidak baik dan sangat tidak

baik sebanyak 0 orang atau 0%. Hal ini berarti secara keseluruhan 60 % siswa

bersemangat saat mengikuti pelajaran.

c. Siswa Mengikuti Pembelajaran Matematika Dengan Perasaan Senang

Tabel 4.10
Frekuensi Pernyataan Siswa dalam Menjawab Item Pernyataan No.3
Alternatif Jawaban Frekuensi Persen (%)
Sangat Baik 6 20%
Baik 17 57%
Kurang Baik 7 23%
Tidak Baik 0 0%
Sangat Tidak Baik 0 0%

Pada tabel di atas menunjukkan siswa yang mengikuti pembelajaran

matematika dengan sangat senang diperoleh: siswa yang menjawab sangat baik

sebanyak 6 orang atau sebesar 20%, siswa yang menjawab baik sebanyak 17

orang atau 57%, siswa yang menjawab kurang baik sebanyak 7 orang atau 23%,

siswa yang menjawab tidak baik dan sangat tidak baik sebanyak 0 orang atau
0%. Hal ini berarti secara keseluruhan 57% siswa memiliki perasaan senang saat

mengikuti pelajaran.

d. Siswa Bersemangat Belajar Matematika Karena Guru Menggunakan

Cara Yang Menyenangkan

Tabel 4.11
Frekuensi Pernyataan Siswa dalam Menjawab Item Pernyataan No.4
Alternatif Jawaban Frekuensi Persen (%)
Sangat Baik 8 27%
Baik 19 63%
Kurang Baik 2 7%
Tidak Baik 1 3%
Sangat Tidak Baik 0 0%

Berdasarkan tabel diatas, menunjukkan siswa yang bersemangat belajar

matematika karena guru menggunakan cara yang menyenangkan diperoleh: siswa

yang menjawab sangat baik sebanyak 8 orang atau 27%, siswa yang menjawab

baik sebanyak 19 oarang atau 63%, siswa yang menjawab kurang baik sebanyak

2 orang atau 10%, yang menjawab tidak baik sebanyak 1 orang atau 3%, dan

yang menjawab sangat tidak baik sebanyak 0 orang atau 0%. Hai ini berarti

secara keseluruhan 63% siswa saat mengikuti pelajaran matematika semua

bersemangat karena guru menggunakan cara yang menyenangkan.

e. Siswa Mencatat Materi Yang Disampaikan Guru

Tabel 4.12
Frekuensi Pernyataan Siswa dalam Menjawab Item Pernyataan No.5
Alternatif Jawaban Frekuensi Persen (%)
Sangat Baik 4 13%
Baik 0 0%
Kurang Baik 6 20%
Tidak Baik 14 47%
Sangat Tidak Baik 6 20%

Pada tabel di atas menunjukkan siswa yang mencatat materi yang

disampaikan guru diperoleh: siswa yang menjawab sangat baik sebanyak 4 orang
atau sebesar 13%, siswa yang menjawab baik sebanyak 0 orang atau 0%, siswa

yang menjawab kurang baik sebanyak 6 orang atau 20%, siswa yang menjawab

tidak baik sebanyak 14 orang atau 47%, dan sangat tidak baik sebanyak 6 orang

atau 20%. Hal ini berarti 14% siswa tidak mencatat materi yang disampaikan

guru.

f. Saya Memperhatikan Guru Saat Menjelaskan Materi

Tabel 4.13
Frekuensi Pernyataan Siswa dalam Menjawab Item Pernyataan No.6
Alternatif Jawaban Frekuensi Persen (%)
Sangat Baik 14 47%
Baik 12 40%
Kurang Baik 4 13%
Tidak Baik 0 0%
Sangat Tidak Baik 0 0%

Berdasarkan tabel diatas, menunjukkan siswa yang memperhatikan guru

saat menjelaskan materi diperoleh: siswa yang menjawab sangat baik sebanyak

14 orang atau 47%, siswa yang menjawab baik sebanyak 12 oarang atau 40%,

siswa yang menjawab kurang baik sebanyak 4 orang atau 13%, siswa yang

menjawab tidak baik dan sangat tidak baik sebanyak 0 orang atau 0%. Hai ini

berarti secara keseluruhan 47% siswa saat mengikuti pelajaran matematika semua

memperhatikan guru saat menjelaskan materi.

g. Siswa Kurang Aktif Ketika Mengikuti Kegiatan Belajar Kelompok

Tabel 4.14
Frekuensi Pernyataan Siswa dalam Menjawab Item Pernyataan No.7
Alternatif Jawaban Frekuensi Persen (%)
Sangat Baik 2 7%
Baik 8 27%
Kurang Baik 8 27%
Tidak Baik 8 27%
Sangat Tidak Baik 4 13%
Berdasarkan tabel diatas, menunjukkan siswa yang kurang aktif ketika

mengikuti kegiatan belajar kelompok diperoleh: siswa yang menjawab sangat

baik sebanyak 14 orang atau 47%, siswa yang menjawab baik sebanyak 12

oarang atau 40%, siswa yang menjawab kurang baik sebanyak 4 orang atau 13%,

siswa yang menjawab tidak baik dan sangat tidak baik sebanyak 0 orang atau

0%. Hai ini berarti secara keseluruhan 47% siswa saat mengikuti pelajaran

matematika semua memperhatikan guru saat menjelaskan materi.

h. Siswa Berdiskusi Kelompok Tentang Materi Yang Dipelajari

Tabel 4.15
Frekuensi Pernyataan Siswa dalam Menjawab Item Pernyataan No.8
Alternatif Jawaban Frekuensi Persen (%)
Sangat Baik 8 27%
Baik 13 43%
Kurang Baik 5 17%
Tidak Baik 2 7%
Sangat Tidak Baik 1 3%

Berdasarkan tabel diatas, menunjukkan siswa yang berdiskusi kelompok

tentang materi diperoleh: siswa yang menjawab sangat baik sebanyak 8 orang

atau 27%, siswa yang menjawab baik sebanyak 13 orang atau 43%, siswa yang

menjawab kurang baik sebanyak 5 orang atau 17%, siswa yang menjawab tidak

s baik sebanyak 2 orang atau 7% dan sangat tidak baik sebanyak 1 orang atau

3%. Secara keseluruhan 43% siswa mejawab setuju, hal ini berarti siswa aktif

berdiskusi kelompok tentang materi yang dipelajari.

i. Siswa Tidak Ribut Ketika Guru Menjelaskan Materi


Tabel 4.16
Frekuensi Pernyataan Siswa dalam Menjawab Item Pernyataan No.9
Alternatif Jawaban Frekuensi Persen (%)
Sangat Baik 9 30%
Baik 5 17%
Kurang Baik 11 37%
Tidak Baik 3 10%
Sangat Tidak Baik 1 3%
Berdasarkan tabel diatas, menunjukkan siswa tidak ribut ketika guru

menjelaskan materi diperoleh: siswa yang menjawab sangat baik sebanyak 8

orang atau 27%, siswa yang menjawab baik sebanyak 13 orang atau 43%, siswa

yang menjawab kurang baik sebanyak 5 orang atau 17%, siswa yang menjawab

tidak baik sebanyak 2 orang atau 7% dan sangat tidak baik sebanyak 1 orang

atau 3%. Secara keseluruhan 43% siswa mejawab setuju, hal ini berarti siswa

kadang-kadang ribut ketika guru menjelaskan materi yang dipelajari.

j. Siswa Membicarakan Materi Pelajaran Lain Ketika Sedang Berdiskusi

Kelompok

Tabel 4.17
Frekuensi Pernyataan Siswa dalam Menjawab Item Pernyataan No.10
Alternatif Jawaban Frekuensi Persen (%)
Sangat Baik 1 3%
Baik 4 13%
Kurang Baik 13 43%
Tidak Baik 9 30%
Sangat Tidak Baik 3 10%

Berdasarkan tabel diatas, menunjukkan siswa ketika berdiskusi kelompok

berbicara dengan teman diluar pelajaran diperoleh: siswa yang menjawab sangat

baik sebanyak 1 orang atau 3%, siswa yang menjawab baik sebanyak 4 orang

atau 13%, siswa yang menjawab kurang baik sebanyak 13 orang atau 43%, siswa

yang menjawab tidak baik sebanyak 9 orang atau 30% dan sangat tidak baik

sebanyak 3 orang atau 30%. Secara keseluruhan 13% siswa menjawab netral, hal

ini berarti siswa ketika berdiskusi kelompok kadang-kadang berbicara dengan

teman diluar mata pelajaran.

k. Siswa Berani Mengutarakan Pendapatnya Ketika Berdiskusi Kelompok


Tabel 4.18
Frekuensi Pernyataan Siswa dalam Menjawab Item Pernyataan No.11
Alternatif Jawaban Frekuensi Persen (%)
Sangat Baik 5 17%
Baik 16 53%
Kurang Baik 5 17%
Tidak Baik 2 7%
Sangat Tidak Baik 2 7%

Berdasarkan tabel diatas, menunjukkan siswa berani mengutarakan

pendapat ketika berdiskusi kelompok diperoleh: siswa yang menjawab sangat

baik sebanyak 5 orang atau 17%, siswa yang menjawab baik sebanyak 16 orang

atau 53%, siswa yang menjawab kurang baik sebanyak 5 orang atau 17%, siswa

yang menjawab tidak baik sebanyak 2 orang atau 7% dan sangat tidak baik

sebanyak 2 orang atau 7%. Secara keseluruhan 16% siswa menjawab setuju, hal

ini berarti siswa berani mengutarakan pendapat ketika berdiskusi kelompok.

l. Siswa Tertarik Mengerjakan Tugas yang Diberikan Guru

Tabel 4.19
Frekuensi Pernyataan Siswa dalam Menjawab Item Pernyataan No.12
Alternatif Jawaban Frekuensi Persen (%)
Sangat Baik 1 3%
Baik 16 53%
Kurang Baik 12 40%
Tidak Baik 1 3%
Sangat Tidak Baik 0 0%

Berdasarkan tabel diatas, menunjukkan siswa tertarik mengerjakan tugas

yang diberikan guru diperoleh: siswa yang menjawab sangat baik sebanyak 1

orang atau 3%, siswa yang menjawab baik sebanyak 16 orang atau 53%, siswa

yang menjawab kurang baik sebanyak 12 orang atau 40%, siswa yang menjawab

tidak baik sebanyak 1 orang atau 3% dan sangat tidak baik sebanyak 0 orang

atau 0%. Secara keseluruhan 16% siswa menjawab setuju, hal ini berarti siswa

tertarik saat guru memberikan tugas kepada siswa.


m. Siswa Ketika Mengerjakan Soal Mencontek Dengan Temannya

Tabel 4.20
Frekuensi Pernyataan Siswa dalam Menjawab Item Pernyataan No.13
Alternatif Jawaban Frekuensi Persen (%)
Sangat Baik 0 0%
Baik 2 7%
Kurang Baik 10 33%
Tidak Baik 16 53%
Sangat Tidak Baik 2 7%

Berdasarkan tabel diatas, menunjukkan siswa ketika mengerjakan soal

mencotek dengan temannya diperoleh: siswa yang menjawab sangat baik

sebanyak 0 orang atau 0%, siswa yang menjawab baik sebanyak 2 orang atau 2%,

siswa yang menjawab kurang baik sebanyak 10 orang atau 33%, siswa yang

menjawab tidak baik sebanyak 16 orang atau 53% dan sangat tidak baik

sebanyak 2 orang atau 7%. Secara keseluruhan 16% siswa menjawab tidak setuju,

hal ini berarti siswa ketika mengerjakan soal tidak mencontek dengan temannya.

n. Apabila Siswa Mengalami Kesulitan Dalam Memahami Materi Siswa

Bertanya

Tabel 4.21
Frekuensi Pernyataan Siswa dalam Menjawab Item Pernyataan No.14
Alternatif Jawaban Frekuensi Persen (%)
Sangat Baik 7 23%
Baik 9 30%
Kurang Baik 12 40%
Tidak Baik 2 3%
Sangat Tidak Baik 0 0%

Berdasarkan tabel diatas, menunjukkan apabila siswa mengalami kesulitan

dalam memahami materi siswa bertanya, diperoleh: siswa yang menjawab sangat

baik sebanyak 7 orang atau 23%, siswa yang menjawab baik sebanyak 9 orang

atau 30%, siswa yang menjawab kurang baik sebanyak 12 orang atau 40%, siswa

yang menjawab tidak baik sebanyak 2 orang atau 3% dan sangat tidak baik
sebanyak 0 orang atau 0%. Secara keseluruhan 40% siswa menjawab netral, hal

ini berarti kadang-kadang siswa bertanya ketika mengalami kesulitan dalam

memahami materi.

o. Siswa Mengikuti Arahan Guru Agar Siswa Mengerti

Tabel 4.22
Frekuensi Pernyataan Siswa dalam Menjawab Item Pernyataan No.15
Alternatif Jawaban Frekuensi Persen (%)
Sangat Baik 15 50%
Baik 10 33%
Kurang Baik 5 17%
Tidak Baik 0 0%
Sangat Tidak Baik 0 0%

Berdasarkan tabel diatas, menunjukkan siswa mengikuti arahan guru agar

siswa mengerti diperoleh: siswa yang menjawab sangat baik sebanyak 15 orang

atau 50%, siswa yang menjawab baik sebanyak 10 orang atau 33%, siswa yang

menjawab kurang baik sebanyak 5 orang atau 17%, siswa yang menjawab tidak

baik dan sangat tidak baik sebanyak 0 orang atau 0%. Secara keseluruhan 50%

siswa menjawab sangat setuju, hal ini berarti semua siswa mengikuti arahan yang

diberikan guru agar siswa mengerti materi pelajaran.

p. Siswa Menyukai Ketika Guru Membuka Tanya Jawab

Tabel 4.23
Frekuensi Pernyataan Siswa dalam Menjawab Item Pernyataan No.16
Alternatif Jawaban Frekuensi Persen (%)
Sangat Baik 12 40%
Baik 10 33%
Kurang Baik 8 27%
Tidak Baik 0 0%
Sangat Tidak Baik 0 0%

Berdasarkan tabel diatas, menunjukkan siswa menyukai ketika guru

membuka tanya jawab, diperoleh: siswa yang menjawab sangat baik sebanyak 12

orang atau 40%, siswa yang menjawab baik sebanyak 10 orang atau 33%, siswa
yang menjawab kurang baik sebanyak 8 orang atau 27%, siswa yang menjawab

tidak baik dan sangat tidak baik sebanyak 0 orang atau 0%. Secara keseluruhan

40% siswa menjawab sangat setuju, hal ini berarti siswa menyukai ketika guru

membuka tanya jawab.

q. Siswa Selalu Menyimak Dengan Baik

Tabel 4.24
Frekuensi Pernyataan Siswa dalam Menjawab Item Pernyataan No.17
Alternatif Jawaban Frekuensi Persen (%)
Sangat Baik 13 43%
Baik 9 30%
Kurang Baik 6 20%
Tidak Baik 2 7%
Sangat Tidak Baik 0 0%

Berdasarkan tabel diatas, menunjukkan siswa selalu menyimak dengan

baik, diperoleh: siswa yang menjawab sangat baik sebanyak 13 orang atau 43%,

siswa yang menjawab baik sebanyak 9 orang atau 30%, siswa yang menjawab

kurang baik sebanyak 6 orang atau 20%, siswa yang menjawab tidak baik

sebanyak 2 atau 7% dan sangat tidak baik sebanyak 0 orang atau 0%. Secara

keseluruhan 43% siswa menjawab sangat setuju, hal ini berarti siswa selalu

menyimak dengan baik.

r. Siswa Bermain Hp Ketika Berdiskusi Kelompok

Tabel 4.25
Frekuensi Pernyataan Siswa dalam Menjawab Item Pernyataan No.18
Alternatif Jawaban Frekuensi Persen (%)
Sangat Baik 0 0%
Baik 0 0%
Kurang Baik 5 17%
Tidak Baik 10 33%
Sangat Tidak Baik 15 50%

Berdasarkan tabel diatas, menunjukkan siswa bermain hp ketika berdiskusi

kelompok, diperoleh: siswa yang menjawab sangat baik sebanyak 0 orang atau
0%, siswa yang menjawab baik sebanyak 0 orang atau 0%, siswa yang menjawab

kurang baik sebanyak 5 orang atau 17%, siswa yang menjawab tidak baik

sebanyak 10 atau 33% dan sangat tidak baik sebanyak 15 orang atau 50%.

Secara keseluruhan 50% siswa menjawab sangat tidak setuju, hal ini berarti siswa

tidak bermain hp ketika berdiskusi kelompok.

s. Siswa Merasa Bosan Ketika Teman Mempersentasikan Hasil Temuan

Kelompok Dengan Menggunakan Strategi Pembelajaran CTL

Tabel 4.26
Frekuensi Pernyataan Siswa dalam Menjawab Item Pernyataan No.19
Alternatif Jawaban Frekuensi Persen (%)
Sangat Baik 0 0%
Baik 0 0%
Kurang Baik 4 13%
Tidak Baik 10 33%
Sangat Tidak Baik 16 53%

Berdasarkan tabel diatas, menunjukkan siswa merasa bosan ketika teman

mempresentasikan hasil temuan kelompok dengan menggunakan strategi

pembelajaran CTL, diperoleh: siswa yang menjawab sangat baik sebanyak 0

orang atau 0%, siswa yang menjawab baik sebanyak 0 orang atau 0%, siswa yang

menjawab kurang baik sebanyak 4 orang atau 13%, siswa yang menjawab tidak

baik sebanyak 10 atau 33% dan sangat tidak baik sebanyak 16 orang atau 53%.

Secara keseluruhan 53% siswa menjawab sangat tidak setuju, hal ini berarti siswa

tidak bosan ketika teman mempresentasikan hasil temuan kelompok dengan

menggunakan strategi pembelajaran CTL.


t. Siswa Tidak Mengeluarkan Ide Pemikiran Bila Tidak Diminta Guru

Tabel 4.27
Frekuensi Pernyataan Siswa dalam Menjawab Item Pernyataan No.20
Alternatif Jawaban Frekuensi Persen (%)
Sangat Baik 17 57%
Baik 9 30%
Kurang Baik 8 27%
Tidak Baik 0 0%
Sangat Tidak Baik 0 0%

Berdasarkan tabel diatas, menunjukkan siswa tidak mengeluarkan ide

pemikiran bila tidak diminta guru, diperoleh: siswa yang menjawab sangat baik

sebanyak 17 orang atau 57%, siswa yang menjawab baik sebanyak 9 orang atau

30%, siswa yang menjawab kurang baik sebanyak 8 orang atau 27%, siswa yang

menjawab tidak baik sebanyak 0 atau 0% dan sangat tidak baik sebanyak 0

orang atau 0%. Secara keseluruhan 57% siswa menjawab sangat setuju, hal ini

berarti siswa mengeluarkan ide pemikiran jika diminta guru.

Tabel 4.28
Persentasi Jawaban Responden Berdasarkan Indikator Minat Belar
Indikator Persentasi
Perhatian Siswa 56%
Perasaan Senang 76%
Ketertaikan Siswa Pada Pelajaran 84%
Keterlibatan Siswa 42%
2. Pengujian Persyaratan Analisis

Dalam proses analisis tingkat lanjut untuk menguji hipotesis, perlu

dilakukan uji persyaratan data meliputi: Pertama, bahwa data bersumber dari

sampel yang dipilih secara acak (diundi). Kedua, sampel berasal dari populasi

yang berdistribusi normal. Ketiga, kelompok data mempunyai variansi yang

homogen. Data berasal dari pengambilan secara acak telah diketahui

berdasarkan teknik sampling pada pemaparan metodologi di Bab III


sebelumnya. Sedangkan pada bab ini dilakukan persyaratan analisis

normalitas dan homogenitas dari distribusi data yang diperoleh.

a. Uji Normalitas Data

Uji normalitas digunakan teknik analisis Lilliefors, yaitu suatu teknik

analisis uji persyaratan secara parametrik. Berdasarkan sampel acak maka

diuji hipotesis nol bahwa sampel berasal dari populasi berdistribusi normal

dan hipotesis tandingan bahwa populasi berdistribusi tidak normal. Dengan

ketentuan Jika L-hitung< L-tabel maka sebaran data memiliki distribusi normal.

Tetapi jika L-hitung> L-tabel maka sebaran data tidak berdistribusi normal.

Berdasarkan hasil perhitungan uji normalitas minat belajar

matematika siswa diperoleh nilai L-hitung = 0,137 dengan nilai L-tabel = 0,161.

Karena L-hitung< L-tabel yakni 0,137 < 0,161 maka dapat disimpulkan hipotesis

nol diterima. Sehingga dapat dikatakan bahwa: minat belajar matematika

siswa yang diajar dengan strategi pembelajaran CTL berdistribusi normal.

b. Uji Homogenitas Data

Pengujian homogenitas dilakukan untuk mengetahui apakah data

berasal dari populasi yang memiliki varians yang sama. Pengujian

homogenitas dilakukan dengan rumus perbandingan varians dapat dilihat

pada lampiarn 3. Dari hasil perhitungan Fhitung diperoleh nilai lebih kecil

dibandingkan harga pada Ftabel. Hipotesis statistik yang diuji dinyatakan

sebagai berikut:

Ho : Tidak ada pengaruh strategi pembelajaran CTL minat belajar

matematika siswa
Ha : Ada pengaruh strategi pembelajaran CTL minat belajar belajar

matematika siswa

Data berasal dari varians populasi homogen jika Fhitung< Ftabel.

Maka hasil perhitungan menunjukkan nilai Fhitung = 1,37 dan nilai Ftabel

= 1,875. Berdasarkan kedua data tersebut diketahui bahwa Fhitung < Ftabel yaitu

1,37 < 1,875. Maka dapat disimpulkan bahwa varians data adalah homogen.

c. Uji Hipotesis

Pada pengujian hipotesis dalam penelitian ini tujuannya adalah untuk

menghasilkan suatu keputusan, yaitu keputusan dalam menerima atau

menolak hipotesis yang diajukan. Untuk pengujian hipotesis ini peneliti

menggunakan uji-t pada taraf signifkan = 0,05.

Hipotesis yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

hasil perhitungan menunjukkan nilai thitung = 33 dan nilai ttabel = 2,042.

Berdasarkan kriteria pengujian dua pihak jika – ttabel < thitung > + ttabel maka Ho

diterima dan Ha ditolak, dengan membandingkan antara thitung dengan ttabel

yaitu -2,042 < 33 > 2,042, maka Ho ditolak dan Ha diterima. Dengan

demikian dapat disimpulkan bahwa penggunaan strategi pembelajaran CTL

dapat mempengaruhi minat belajar matematika siswa.

C. Pembahasan Hasil Penelitian

Penelitian ini menjelaskan pengaruh strategi pembelajaran Contextual

Teaching and Learning (CTL) terhadap minat belajar matematika siswa dikelas X

MIPA 1 MAS Proyek Univa Medan T.P 2018/2019. Variabel ini yaitu minat

belajar matemtika siswa sebagai variabel terikat atau yang dipengarhuni dan

strategi pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL) sebagai variabel


bebas atau yang mempengaruhi. Oleh karena itu, data yang dihasilkan dalam

penelitian ini berupa nilai minat belajar matematika siswa yang diperoleh melalui

tes angket minat belajar, dalam penelitian ini menggunakan 20 butir pernyataan.

Sebelum angket minat belajar diujicobakan kepada siswa terlebih dahulu angket

minat belajar divalidasi untuk mengetahui apakah anket minat belajar layak atau

tidak digunakan. Uji coba tersebut dilaksanakan pada siswa kelas X MIPA 1 MAS

Proyek Univa Medan T.P 2018/2019.

Variabel bebas dalam penelitian ini adalah strategi pembelajaran

Contextual Teaching and Learning (CTL). Stretegi pembelajaran Contextual

Teaching and Learning (CTL) merupakan strategi pembelajaran yang

menekankan pada interaksi siswa dan mengaitkan materi dengan situasi dunia

nyata siswa serta mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang

dimilikinya dengan penerapan dalam kehidupan sehari-hari. Pada awal

pembelajaran guru terlebih dahulu membentuk kelompok yang beranggotakan 5-6

siswa, kemudian siswa membuka buku paket dan guru menjelaskan materi yang

akan dibahas, bagi siswa yang memiliki kurang pemahaman terhadap materi maka

dipersilahkan untuk bertanya kepada guru. Seluruh siswa pun berdiskusi tentang

materi dengan teman satu kelompok. Dengan keberagaman kemampuan siswa,

siswa yang kemampuan matematikanya kurang bisa mendapat bantuan penjelasan

dari anggota kelompok yang mempunyai kemampuan lebih tinggi. Hal ini

menunjukkan bahwa penggunaan strategi pembelajaran Contextual Teaching and

Learning (CTL) dapat menumbuhkan minat belajar matematika siswa.

Sesuai dengan data yang diperoleh, hasilnya menunjukkan adanya

pengaruh antara thitung dan ttabel, yang diperoleh dari perhitungan dengan pengujian
dua pihak jika –ttabel < thitung > + ttabel yaitu -2,042 < 33 > 2,042 sehingga dapat

disimpulkan bahwa terdapat pengaruh strategi pembelajaran Contextual Teaching

and Learning (CTL) terhadap minat belajar matematika siswa kelas X MIPA 1

MAS Proyek UNIVA Medan.

Besarnya pengaruh minat belajar siswa dapat dilihat dari indikator minat,

yaitu perasaan senang siswa, perhatian siswa, ketertarikan siswa pada pelajaran

dan keterlibatan siswa, sebagai berikut:

1. Perhatian siswa

Terdapat beberapa item positif dan negatif tentang perhatian siswa yaitu

item pernyataan positif terdapat pada nomor 1,6,16,18 dan item pernyataan

negatif terdapat pada nomor 7 dan 20. Berdasarkan item pernyataan positif nomor

1 sebanyak 60% siswa atai 18 siswa yang aktif dan tidak malu bertanya pada saat

pelajaran. Pada item nomor 6 sebanyak 47% siswa atau 14 siswa yang

memperhatikan guru saat menjelaskan materi. Kemudian pada item nomor 16

sebanyak 50% siswa atau 15 siswa yang mengikuti arahan guru agar siswa

mengerti tentang materi yang diajarkan, dan pada item no 18 sebanyak 43% siswa

atau 13 siswa yang selalu menyimak materi pelajaran dengan baik. Kemudian

pada item pernyataan negatif terdapat pada nomor 7 sebanyak 80% siswa atau 24

siswa yang menjawab tidak setuju, hal ini berarti siswa selalu aktif mengikuti

kegiatan belajar kelompok. Dan pada item nomor 20 sebanyak 53% siswa atau 16

siswayang menjawab sangat tidak baik, hal ini berarti siswa tidak merasa bosan

ketika teman mempersentasikan hasil temuan kelompok. Maka dapat disimpulkan

siswa memiliki perhatian yang baik pada pelajaran matematika.


2. Perhatian senang siswa

Terdapat beberapa item positif dan negatif tentang perhatian siswa yaitu

item pernyataan positif terdapat pada nomor 2,3,9,17 dan item pernyataan negatif

terdapat pada nomor 11. Berdasarkan item pernyataan positif nomor 2 sebanyak

60% siswa atai 18 siswa yang belajar matematika dengan semangat. Pada item

nomor 3 sebanyak 57% siswa atau 17 siswa yang mengikuti pembelajaran

matematika dengan perasaan senang. Kemudian pada item nomor 19 sebanyak

37% siswa atau 11 siswa yang tidak ribut ketika guru menjelaskan materi, dan

pada item no 17 sebanyak 40% siswa atau 12 siswa yang menyukai ketika guru

membuka tanya jawab. Kemudian pada item pernyataan negatif terdapat pada

nomor 11 sebanyak 43% siswa atau 13 siswa yang menjawa kurang baik, hal ini

berarti siswa terkadang berbicara dengan teman diluar materi ketika guru sedang

menjelaskan materi. Maka dapat disimulkan siswa memiliki perasaan senang saat

mengikuti pelajaran matematika.

3. Ketertarikan siswa pada pelajaran

Terdapat beberapa item positif dan negatif tentang perhatian siswa yaitu

item pernyataan positif terdapat pada nomor 4,5,13 dan item pernyataan negatif

terdapat pada nomor 10 dan 14. Berdasarkan item pernyataan positif nomor 4

sebanyak 63% siswa atai 19 siswa yang bersemanagat belajar matematika. Pada

item nomor 5 sebanyak 47% siswa atau 14 siswa yang mencatat materi yang

disampaikan guru. Kemudian pada item nomor 13 sebanyak 53% siswa atau 16

siswa yang tertarik mengerjakan tugas yang diberikan guru. Kemudian pada item

pernyataan negatif terdapat pada nomor 10 sebanyak 43% siswa atau 13 siswa

yang menjawab sanat tidak baik, hal ini berarti siswa selalu aktif mengikuti
kegiatan belajar kelompok. Dan pada item nomor 20 sebanyak 53% siswa atau 16

siswayang menjawab sangat tidak baik, hal ini berarti siswa tidak mencontek

ketika mengerjakan soal latihan. Maka dapat disimpulkan siswa tertarik pada

pelajaran matematika.

4. Keterlibatan siswa

Terdapat beberapa item positif dan negatif tentang perhatian siswa yaitu

item pernyataan positif terdapat pada nomor 8,12,15 dan item pernyataan negatif

terdapat pada nomor 19. Berdasarkan item pernyataan positif nomor 8 sebanyak

43% siswa atai 13 siswa yang berdiskusi kelompok tentang materi yang dipelajari.

Pada item nomor 12 sebanyak 53% siswa atau 16 siswa yang berani

mengutarakan pendapat ketika berdiskusi kelompok. Kemudian pada item nomor

15 sebanyak 40% siswa atau 12 siswa yang mengalami kesulitan dalam

memahami materi maka siswa akan bertanya. Dan pada item nomor 19 sebanyak

50% siswa atau 15 siswa yang menjawab sangat tidak baik, hal ini berarti siswa

tidak bermain hp ketika berdiskusi kelompok. Maka dapat disimpulkan siswa

terilbat pada pelajaran matematika.

Berdasarkan temuan dan kesimpulan yang dipaparkan sebelumnya, betapa

pentingnya memilih strategi pembelajaran yang dikuasai secara baik oleh calon

guru. Hal ini dikarenakan, pemilihan strategi pembelajaran yang tepat merupakan

kunci keberhasilan suatu pembelajaran. Oleh karenanya peneliti sangat yakin,

temuan dari penelitian ini memberikan kesimpulan bahwa terdapat pengaruh

strategi pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL) terhadap minat

belajar matematika siswa di kelas X MAS Proyek Univa Medan T.P 2018/2019.
BAB V

KESIMPULAN

A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan pada siswa kelas X

MAS Proyek UNIVA Medan, dapat disimpulkan beberapa kesimpulan

sebagai berikut:

1. Minat adalah kecendrungan dan keinginan yang tinggi terhadap

sesuatu, sehingga minat sangat menentukan sikap yang menyebabkan

siswa aktif dari kegitan. Minat timbul karena ada indikator minat

belajar yaitu perhatian siswa pada pelajaran 56%, perasaan senang

siswa pada pelajaran sebanyak 76%, ketertarikan siswa pada pelajaran

sebanyak 84%, dan keterilbatan siswa pada pelajaran sebanyak 60%.

2. Terdapat pengaruh strategi pembelajaran Contextual Teaching and

Learning (CTL) terhadap minat belajar matematika siswa di kelas X

MAS Proyek Univa Medan T.P 2018/2019 dengan hasil pengujian

menggunakan uji dua pihak –ttabel < thitung > + ttabel yaitu -2,042 < 33 >

2,042 maka Ho ditolak dan Ha diterima.

B. Implikasi

Berdasarkan temuan dan kesimpulan sebelumnya, maka implikasi dalam

penelitian ini sebagai berikut:

Pemilihan sebuah strategi pembelajaran dalam proses belajar mengajar

merupakan suatu hal yang sangat penting. Untuk menerapkan suatu strategi

pembelajaran yang dapat digunakan untuk meningkatkan minat belajar

matematika siswa adalah strategi pembelajaran Contextuan Teaching and


Learning (CTL). Dalam proses pembelajaran menggunakan strategi pembelajaran

Contextuan Teaching and Learning (CTL) selain mencakup beragam tujuan

sosial, memperbaiki prestasi siswa atau tugas-tugas akademik lainnya. Adapun

langkah-langkah yang digunakan dalam strategi pembelajaran Contextuan

Teaching and Learning (CTL) adalah sebagai berikut:

1. Pada tahap pertama guru membagi siswa menjadi 6 kelompok yaitu

beranggotakn 5 orang. Setiap kelompok dibagi materi yang akan

mereka bahas didalam kelompoknya.

2. Dengan berpedoman pada RPP bahwa pertemuan satu, kedua, dan

ketiga memiliki sub materi yang berbeda. Setelah diberi perlakuan

selama tiga kali pertemuan.

3. Selanjutnya dilakukan tes angket minat belajar. Pertama berilah arahan

kepada siswa untuk mengerjakan tes angket minat belajar yang

diberikan, kemudian bagikan tes angket minat belajar kepada masing-

masing siswa. Setelah seluruh siswa mendapatkan seluruh lemabar

angket minat belajar maka instruksikanlah siswa untuk mulai

mengerjakan dengan mengikuti instruksi yang ada di lembar angket

minat belajar. Selama siswa mengerjakan tes angket minat belajar,

awasi siswa agar tidak bekerja sama dalam menjawab tes angket

minat.

4. Setelah siswa melakukan tes angket minat belajar, lalu peneliti

memeriksa hasilnya dengan begitu didapatlah hasil dimana strategi

pembelajaran Contextuan Teaching and Learning (CTL)

berpengaruh terhadap minat belajar matematika siswa.


Selain hal tersebut, peneliti melihat bahwa Contextuan Teaching and

Learning (CTL) masih cukup asing bagi guru maupun siswa, karena masih

dianggap sulit untuk diterapkan. Seharusnya bagi seorang guru harus mampu

membawa pembelajaran dengan inovatif agar pembelajaran matemtika tidak lagi

meninggalkan kesan yang membosankan dan sulit bagi siswa. dari strategi

pembelajaran Contextuan Teaching and Learning (CTL) siswa menjadi lebih aktif

dan memahami lebih dalam materi yang diajarkan.

C. Saran

Berdasarkan kesimpulan yang tealh dijelaskan maka penulis ingin

memberikan beberapa saran yang kiranys dapat bermanfaat dalam rangka

peningkatan mutu pendidikan IPA (matematika) khususnya di MAS Proyek

UNIVA Medan dan diharapkan dapat menjadi bahan masukan bagi semua guru

IPA. Adapun saran-saran tersebut adalah sebagai berikut:

1. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di MAS Proyek UNIVA

Medan, bagi guru di sekolah diharapkan dapat menerapkan strategi

pembelajaran CTL baik dalam pelaksanaan kegiatan belajar mengajar

yang dapat meningkatkan minat belajar siswa semakin tinggi.

Hendaknya pembelajaran dirancang sedemikian rupa dan memperkaya

variasi mengajar, hal ini mengantisipasi kejenuhan yang dialami siswa.

2. Dalam upaya meningkatkan minat belajar siswa, diharapkan kepada

guru untuk memberikan dorongan motivasi dan semangat agar siswa

mampu berperan aktif dalam kegiatan belajar mengajar dan juga

diharapkan guru lebih bisa memilik metode yang sesuai dengan

karakter siswa dan jenis materi yang diajarkan.


3. Kepada siswa diharapkan untuk lebih sering belajar dalam

berkelompok agar timbul minat siswa untuk belajar.

4. Disarankan kepada pihak lain untuk melakukan penelitian yang sama

pada materi yang lain sebagai bahan perbandingan dengan hasil

penelitian.
DAFTAR PUSTAKA

Abdurrahman, Mulyono. 2009. Pendidikan Bagi Anak Berkesulitan Belajar.


Jakarta: PT. Rineke Cipta.

Ahmadi, Rulam. 2014. Metodologi Penelitian Kualitatif. Yogyakarta: Ar-Ruzz


Media.
Arikunto, Suharsini. 2012. Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.
Departemen Agama RI. Al-Qur’an Dan Terjemahannya. Bandung: CV.
Jumanatul „Ali Art.
Dimyati dan Mudjiono. 2009. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta.
Hardini, Isriani, dan Puspita, Dewi. 2012. Strategi Pembelajaran Terpadu,
Yogyakarta: Familia.
Hariwijaya. 2009. Meningkatkan Kecerdasan Matematika. Jakarta: Tugu
Publisher.

Hsratuddin. 2014. “Hakikat Matematika Dan Pembelajaran Matematika”. Jurnal


Pendidikan Matematika, Medan: UNIMED.
Irham, Muhammad dan Wiyani, Novan Ardy. 2014. Psikologi Pendidikan Teori
Dan Aplikasi Dalam Proses Pembelajaran. Jogjakarta: Ar-ruzz Media.
Istirani dan Pulungan, Intan. 2017. Ensiklopedi Pendidikan. Medan: Media
Persada.
Jaya, Indra dan Ardat. 2013. Penerapan Statistik Untuk Pendidikan. Bandung:
Ciptapustaka Media Perintis.
Mardianto. 2012. Psikologi Pendidikan. Medan: Perdana Publishing.
Meinarno, Eko A. 2010. Psikologi Keluarga. Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada.

Ngalim. 2017. Strategi Pembelajaran. jogjakarta: Dua Staria Offet.

Nur, Suhaebah. 2014. Pengaruh Pengelolaan Kelas Terhadap Minat Belajar Pkn
Pada Peserta Didik di SMA I Polewali, Polewali: Jurnal UNASMAN

Roeckelein, Jon E. 2013. Kamus Psikologi Teori, Hukum dan Konsep. Jakarta:
Kencana.

Runtukahu, J. Tombokan, dan Kondou, Selpius. 2014. Pembelajaran Matematika


Dasar Bagi Anak Berkesulitan Belajar. Jogjakarta: Ar-Ruzz Media.
Saefuddin, H. Asas. 2014. Pembelajaran Efektif. Bandung: PT Remaja
Rosdakarya.
Sanjaya, Wina. 2013. Strategi Pembelajaran. Jakarta: Kencana.
Sardiman. 2009. Interaksi Dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: Rajawali
Pers

Slameto. 2003. Belajar dan Factor-Faktor Yang Mempengaruhinya. Jakarta: PT


Rineka Cipta

Sobur, Alex. 2013. Psikologi Umum Dalam Lintasan Sejarah. Jawa Barat: CV
Pustaka Setia.
Sugiyono. 2013. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung:
Alfabeta.
Sukardi. 2005. Metodologi Penelitian Pendidikan. Jakarta: PT. Bumi Aksara.
Suprihatiningrum, Jamil. 2013. Strategi Pembelajaran Teori dan Aplikasi
Jogjakarta: Ar-ruzz Media.

Suyadi. 2013. Strategi Pembelajaran Pendidikan Karakter. Bandung: PT Raja


Rosdakarya.
Syafaruddin, dkk. 2016. Praktikum Pengalaman Lapangan. Medan: FITK
UINSU.
Syah, Muhibbin. 2012. Psikologi Belajar. Jakarta: Rajawali Pers.
Syahrizal dan Yasin H.M Tsalim. 2005. Pengantar Psikologi Pendidikan. Banda
Aceh: Yayasan Pena Banda Aceh. Divisi Penerbitan.
Syaukani. 2015. Metodologi Penelitian. Medan: Perdana Publishing.
Usman, Husaini dan Setiadi, Akbar, Purnomo. 2010. Pengantar Statistika.
Jakarta: Bumi Aksara.
Yusuf, A. Muri. 2017. Metode Penelitian Kualitatif, Kuantitatif, dan Penelitian
Gabungan. Jakarta: Kencana.
Lampiran 1
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP)

A. Identitas Sekolah
Nama Sekolah : MAS Proyek UNIVA Medan
Mata Pelajaran : Matematika
Kelas/Semester : X/1(satu)
Materi Pokok : Sistem Persamaan Linier Dua Variabel
Alokasi Waktu : 6 x 45 (tiga kali pertemuan)

B. Kompetensi Inti
K1: Menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang dianutnya.
K2: Menghayati dan mengamalkan perilaku jujur, disiplin, tanggung jawab,
peduli (gotong royong, kerjasama, toleran, damai), santun, responsif dan
pro-aktif dan menunjukkan sikap sebagai bagian dari solusi atas berbagai
permasalahan dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial
dan alam serta dalam menempatkan diri sebagai cerminan bangsa dalam
pergaulan dunia.
K3: Memahami, menerapkan, menganalisis pengetahuan faktual, konseptual,
prosedural berdasarkan rasa ingin tahunya tentang ilmu pengetahuan,
teknologi, seni, budaya, dan humaniora dengan wawasan kemanusiaan,
kebangsaan, kenegaraan, dan peradaban terkait penyebab fenomena dan
kejadian, serta menerapkan pengetahuan prosedural pada bidang kajian
yang spesifik sesuai dengan bakat dan minatnya untuk memecahkan
masalah.
K4: Mengolah, menalar, dan menyaji dalam ranah konkret dan ranah abstrak
terkait dengan pengembangan dari yang dipelajarinya di sekolah secara
mandiri, dan mampu menggunakan metoda sesuai kaidah keilmuan.

C. Kompetensi Dasar dan Indikator Pencapaian


No Kompetensi Daasar Indikator
1. 1.1 Menghargai dan menghayati 1.1.1. Menerapkan tindakan disiplin
ajaran agama yang dianutnya. dari pengalaman belajar dan
bekerja dengan matematika
dalalm menjalankan ajaran
agama.
1.1.2. Menerapkan tindakan toleransi
dari pengalaman belajar dan
bekerja dengan matematika
dalam menjalankan ajaran
agama.
2. [Link] sikap peduli 2.1.1. Menunjukkan perilaku cermat
lingkungan melalui kegiatan melalui memeriksa kebenaran,
kemanusiaan dan bisnis dalam tahapan, dan prosedur dalam
rangka optimalisasi sumber bekerja.
daya alam yang berhubungan 2.1.2. Menunjukkan perilaku sikap
dengan konsep dan penerapan bertanya atau mempertanyakan.
sistem persamaan linear dua 2.1.3. Menunjukkan perilaku suka
variabel (SPLDV) dan sistem mencoba atau menyelesaiakan
persamaan linear tiga variabel pekerjaan yang menantang.
(SPLTV).
3. 3.1 Memahami konsep Sistem 3.1.1. Menemukan konsep SPLDV
Persamaan Linier Dua dan [Link] penyelesaian
Tiga Variabel, dan mampu SPLDV dan grafiknya dengan
menerapkan berbagai strategi situasi kehidupan sehari-hari.
yang efektif dalam menentukan
himpunan penyelesaiannya
serta memeriksa kebenaran
jawabannya
4. 4.1 Menggunakan SPLDV untuk 4.1Menentukan himpunan penyelesaian
menyajikan masalah SPLDV dengan grafik, dan
kontekstual dan menjelaskan mengaitkan materi dengan
makna tiap besaran secara lisan kehidupan sehari-hari siswa.
maupun tulisan.
4.2 Membuat model matematika 4.2.1 Menentukan himpunan
berupa SPLDV dari situasi penyelesaian SPLDV dengan
nyata dan matematika, serta metode substitusi, dan
menentukan jawab dan mengaitkannya dengan
menganalisis model sekaligus kehidupan sehari-hari.
jawabannya. 4.2.2. Menentukan himpunan SPLDV
dengan metode eliminasi, dan
mengaitkannya dengan kehidupan
sehari-hari.

D. Tujuan Pembelajaran
Melalui pengamatan, tanya jawab, penugasan individu, diskusi
kelompok siswa dapat mengembangkan rasa ingin tahu dan tanggung
jawab dalam :

Pertemuan ke-1
1. Menunjukkan ingin tahu selama mengikuti proses pembelajaran.
2. Bertanggung jawab pada kelompoknya dalam menyelesaikan
tugasnya.
3. Menjelaskan tujuan pembelajaran SPLDV.
4. Menemukan konsep SPLDV.
5. Menentukan penyelesaian SPLDV dan grafiknya.
6. Menentukan himpunan penyelesaian SPLDV dengan grafik.
7. Menentukan himpunan penyelesaian SPLDV dengan metode
substitusi.
8. Menentukan himpunan SPLDV dengan metode eliminasi.
Pertemuan ke-2

1. Menunjukkan ingin tahu selama mengikuti proses pembelajaran.


2. Bertanggung jawab pada kelompoknya dalam menyelesaikan
tugasnya.
3. Menemukan model matematika untuk menentukan hasil persamaan
linier.
4. Menentukan persamaan linier dua variabel dengan menggunakan
metode substitusi, eliminasi, dan grafik.
Pertemuan ke-3

1. Menunjukkan ingin tahu selama mengikuti proses pembelajaran.


2. Bertanggung jawab pada kelompoknya dalam menyelesaikan
tugasnya.
3. Menentukan konsep SPLDV.
4. Menentukan penyelesaian SPLDV dan grafiknya.
5. Menyelesaikan permasalahan SPLDV
E. Materi Pembelajaran
Sistem Persamaan Linier Dua Variabel (SPLDV)
Pertemuan ke-1 : Konsep Sistem Persamaan Linier Dua Variabel

Pertemuan ke-2 : Himpunan Penyelesaian SPLDV dengan Metode


Substitusi dan Eliminasi

Pertemuan ke-3 : Himpunan Penyelesaian SPLDV dengan Metode


Grafik dan menyebarkan angket.

F. Pelaksanaan Pembelajaran
Pendekatan Pembelajaran, Strategi Pembelajaran dan Metode
Pembelajaran:
1. Pendekatan Saintifik.
2. Strategi Pembelajaran Contextual Teaching Learning (CTL).
3. Metode Pembelajaran Diskusi Kelompok.
G. Sumber Belajar
Buku Teks Pelajaran Matematika kelas X. Buku referensi dan artikel,
Internet serta Buku pengayaan yang berkaitan dengan SPLDV.

H. Materi Ajar
1. Persamaan Linier Dua Variabel (PLDV)
a. Pengertian PLDV
Tentunya anda masih ingat tentang persamaan linear satu variable (
PLSV ), yaitu persamaan yang memuat satu variabel, dan pangkat dari
variabelnya adalah satu.
Nah, sekarang perhatikan persamaan x + 4y = 8, memiliki dua variabel
yaitu x dan y, serta masing- masing variabel berpangkat satu. x + 4y = 8
merupakan PLDV
Kesimpulan :
Persamaan linier dua variabel ( PLDV ) adalah suatu persaman
yang mempunyai variabel, dan masing- masing variabel berpangkat.
Bentuk umum dari PLDV adalah ax + by + c = 0 atau ax + by =c.
b. Menentukan Penyelesaian PLDV dan Grafiknya
Mari kita ingat kembali pengertian penyelesaian persamaan, yaitu
pengganti dari variabel sehingga kalimat terbuka menjadi kalimat yang
bernilai benar.
Contoh 1
Tentukan himpunan penyelesaian, dan gambar grafik dari
persamaan 2x + 3y = 6, dengan x { 0, 1, 2, 3 } dan y {bilangan bulat }
Untuk x = 0, maka : Untuk x = 2, maka :
2.0 + 3y = 6 2.2 + 3y = 6
3y = 6 4 + 3y =6
y =2 3y = 6 - 4
y=
y = 1,5
2. Sistem Persaman Dua Variabel
a. Pengertian SPLDV
Sistem Persamaan Linear Dua Variabel (SPLDV) terdiri atas dua
persamaan linear dua variable, yang keduanya tidak berdiri sendiri,
sehingga kedua persamaan hanya memiliki satu penyelesaian.
Berikut ini adalah beberapa contoh SPLDV :
1. x + y = 3 dan 2x – 3y = 1
2. 2. 5x + 2y = 5 dan x = 4y – 21
3. x = 3 dan x + 2y – 15 = 0
4. x = y + 6 dan 2x – 7y = -8
5. 5x + 4y + 7 = 0 dan -3x – 2y = 4
b. Menentukan Himpunan Penyelesaian SPLDV dengan
Grafik, Substitusí, dan Eleminasi
Penyelesaian PLDV yang sudah kita bahas hanya terdiri satu
persamaan saja. Perhatikan dua persamaan linier berikut : x + y = 3 dan 2x
– 3y = 1. Dari kedua persamaan ini , kita harus menentukan pasangan
pengganti x dan y , sehingga mengubah kedua persamaan menjadi kalimat
yang benar. Berarti pengganti x dan y untuk persamaan x + y = 3, juga
harus memenuhi persamaan 2x – 3y = 1.
Sehingga hanya ada satu penyelesaian dari kedua persamaan
tersebut yang merupakan pasangan x dan y yang biasa ditulis dalam
pasangan berurutan (x,y).
Contoh :
Mari kita coba menentukan penyelesaian dari sistem persamaan x +
y= 3 dan 2x– 3y =1
Jawab :
♦ Untuk x = 1 dan y = 2 atau ditulis (1,2) , maka: x + y =3 dan
2 x –3 y =1

1 + 2 = 3 (Memenuhi) 2.1 – 3.2 = -4 (Tidak memenuhi)

Karena untuk x = 1 dan y = 2 atau (1,2) tidak memenuhi persamaan


2x – 3y = 1 , maka (1,2) bukan penyelesaian sistem persamaan x + y = 3
dan 2x -3y = 1
♦ Untuk x = 2 dan y = 1 atau (2,1) , maka :
x+y=3 2x–3y=1
2 + 1 = 3 (Memenuhi) 2.2 – 3.1 = 1 (Memenuhi)

5x + 4y + 7 = 0 dan -3x – 2y = 4
Karena untuk x = 2 dan y = 1 atau (2,1) memenuhi kedua persamaan ,
maka (2,1) merupakan penyelesaian sistem persamaan x + y = 3 dan 2x -
3y = 1
Himpunan penyelesaian SPLDV dapat diselesaikan dengan 3 cara, yaitu:
1. Cara grafik
2. Cara substituís
3. Cara eleminasi
Sebelum kita menentukan himpunan penyelesaian SPLDV dengan
ketiga cara di atas, marilah kita mencoba menyelesaikan
permasalahan seharí-hari yang berkaitan dengan SPLDV dengan
memakai gambar.
c. Menentukan himpunan penyelesaian SPLDV dengan cara
Grafik.
Untuk menentukan himpunan penyelesaian SPLDV dengan cara
grafik langkahnya adalah sebagai berikut :
Menggambar garis dari kedua persamaan pada bidang cartesius.
Koordinat titik potong dari kedua garis merupakan himpunan
penyelesaian Catatan : Jika kedua garis tidak berpotongan (sejajar) ,
maka SPLDV tidak mempunyai penyelesaian.
Contoh :
Tentukan HP dari sistem persamaan : 2x + 3y = 12 dan 4x – 3y – 6 = 0
Jawab :
2x + 3y = 12 4x – 3y – 6 = 0 ⇔ 4x – 3y = 6
Titik potong dengan sumbu x,y =0, Titik potong dengan sumbu x,y =0
2x + 3.0 = 12 4x – 3y = 6
2x = 12 4x – 3.0 = 6
x =6 4x – 0 =6
x =
x = 1,5
diperoleh titik (6,0) diperoleh titik (0, 1,5)
Titik potong dengan sumbu y, x = 0 Titik potong dengan
sumbu y, x = 0 2.0 + 3y = 12 4.0 – 3y = 6
3y = 12 – 3y = 6
y =4 y = -2
diperoleh titik (0,4) diperoleh titik (0,-2)
y
7

6
4.
53
. (3,2)
2
1
. . X
- 7 -6 - 5 -4 - 3
-
.
2 - 10 1
-1
-2 2 3
456
7

-3

-4
-7
-5
Jadi himpunan-6penyelesaiannya adalah { (3,2) }
d. Menentukan himpunan penyelesaian SPLDV dengan
cara Substitusí
Substitusi artinya mengganti. Langkah-langkahnya adalah sebagai
berikut :
1. Menyatakan variable dalam variable lain, misal menyatakan x
dalam y atau sebaliknya.
2. Mensubstitusikan persamaan yang sudah kita rubah pada
persamaan yang lain.
3. Mensubstitusikan nilai yang sudah ditemukan dari variabel x
atau y ke salah satu persamaan.
Contoh :
1. Tentukan HP dari sistem persamaan x + 2y = 4 dan 3x + 2y = 12
Jawab :
x + 2y = 4, kita nyatakan x dalam y, diperoleh : x = 4 – 2y
Substitusikan x = 4 – 2y ke persamaan 3x + 2y = 12
3(4 – 2y) + 2y = 12
12 – 6y + 2y = 12
-4y =0
y =0
Substitusikan y = 0 ke persamaan x = 4 – 2y
x = 4 – 2.0
x=4
Jadi HP nya adalah {(4,0)}
2. Tentukan HP dari sistem persamaan : 2x + 3y = 12 dan 4x – 3y – 6 =
0
Jawab :
2x + 3y = 12 kita nyatakan y dalam x, diperoleh 3y = 12- 2x
Substitusikan y = (4 - x) ke persamaan 4x – 3y -6 =0
4x – 3 (4 - x) – 6 =0
4x – 12 + 2x – 6 = 0
6x – 18 = 0
x =
x =3
substitusi x = 3, ke y = 4 - x
y=4- .3
y = 4 -2
y=2
jadi HP nya adalah {3,2}
e. Membuat model metematika dari masalah sehari – hari yang
melibatkan SPLDV
Contoh 1
Mari kita simak masalah harga pensil dan buku, yaitu Yanita
membeli dua pensil dan dua buku dengan harga Rp. 14.000,00,
sedangkan Reza membeli satu pensil dan tiga buku dengan harga Rp
17.000,00
Jawab :

Kita misalkan : Harga sebuah pensil = p rupiah


Harga sebuah buku = b rupiah Diperoleh model matematika :
2p + 2b = 14.000,00 p + 3b = 17.000,00
Kita selesaikan sistem persamaan diatas dengan eliminasi
2p + 2b = 14.000,00 x1 2p + 2b = 14.000,00
p + 3b = 17.000,00 x2 2p + 6b = 34.000,00 -
-4 b = - 20.000,00
b = 5.000,00

Jadi, harga sebuah pensil adalah Rp. 2.000,00 dan harga sebuah buku adalah
Rp. 5.000,00
Perhatikan tahapan- tahapan pengerjaan soal cerita :
i. Menentukan pemisalan dengan variabel yang sesuai, misal x dan y,
atau yang lain.
ii. Membuat model matematika ( di sini berupa SPLDV )
iii. Menyelesaikan model matematika ( SPLDV)
iv. Menyimpulkan himpunan penyelesaian yang diperoleh

3. Langkah-Langkah Pembelajaran
Pertemuan ke 1
Kegiatan Deskripsi Kegiatan Waktu
1. Guru memberi salam dan mengajak siswa
berdoa;
2. Guru menanyakan kabar dan mengecek
kehadiran siswa serta berdoa;
Pendahuluan 3. Siswa mendengarkan dan menanggapi
cerita guru tentang manfaat belajar SPLDV
dalam kehidupan sehai-hari. 10 menit
4. Guru mengkomunikasikan tujuan belajar
dan hasil belajar yang diharapkan akan
dicapai siswa;

Mengamati
1. Mencermati konsep SPLDV.
2. Mencermati himpunan penyelesaian
SPLDV dengan metode substitusi.
3. Mencermati himpunan penyelesaian
SPLDV dengan metode eliminasi.
4. Mencermati himpunan penyelesaian
SPLDV dengan metode grafik.
Menanya
1. Menanya konsep SPLDV.
2. Menanya himpunan penyelesaian
SPLDV dengan metode substitusi..
Inti 3. Menanya himpunan penyelesaian 70 menit
SPLDV dengan metode eliminasi.
4. Menanya himpunan penyelesaian
SPLDV dengan metode grafik.
Mengumpulkan informasi
1. Menggali konsep SPLDV.
2. Menggali himpunan penyelesaian
SPLDV dengan metode substitusi.
3. Menggali himpunan penyelesaian
SPLDV dengan metode eliminasi.
4. Menggali himpunan penyelesaian
SPLDV dengan metode grafik.
Menalar
1. Menganalisis konsep SPLDV
2. Menganalisis himpunan penyelesaian
SPLDV dengan metode substitusi.
3. Menganalisis himpunan penyelesaian
SPLDV dengan metode eliminasi.
4. Menganalisis himpunan penyelesaian
SPLDV dengan metode grafik.
Mengkomunikasikan
1. Menyajikan secara tertulis atau lisan
hasil pembelajaran, apa yang telah
dipelajari, keterampilan atau materi yang
masih perlu ditingkatkan, atau strategi
atau konsep baru yang ditemukan
berdasarkan apa yang dipelajari
mengenai SPLDV.
2. Memberikan tanggapan hasil presentasi
meliputi tanya jawab untuk
mengkonfirmasi, sanggahan dan alasan,
memberikan tambahan informasi, atau
melengkapi informasi ataupun tanggapan
lainnya.
3. Membuat rangkuman materi dari
kegiatan pembelajaran yang telah
dilakukan
1. Siswa diminta untuk menyimpulkan
materi yang dipelajari
Penutup 2. Siswa melakukan refleksi dipandu oleh
Guru 10 menit
3. Guru memberi pekerjaan rumah
4. Guru menginformasikan garis besar isi
kegiatan pada pertemuan berikutnya.

Pertemuan 2

Kegiatan Deskripsi Kegiatan Waktu


1. Guru memberi salam dan mengajak
siswa berdoa;
2. Guru menanyakan kabar dan mengecek
Pendahuluan kehadiran siswa serta berdoa;
3. Siswa mendengarkan dan menanggapi
cerita guru tentang manfaat belajar 10 menit
SPLDV dalam kehidupan sehari-hari;
4. Guru mengkomunikasikan tujuan
belajar dan hasil belajar yang
diharapkan akan dicapai siswa;
Mengamati
1. Menemukan rumus untuk menentukan
hasil persamaan linier dua variabel.
2. Menemukan model matematika untuk
menentukan hasil persamaan linier.
3. Menentukan persamaan linier dua
variabel dengan menggunakan metode
substitusi, eliminasi, dan grafik.
Menanya
1. Menanya rumus untuk menentukan
hasil persamaan linier dua variabel.
2. Menanya model matematika untuk
menentukan hasil persamaan linier.
3. Menanya persamaan linier dua variabel
dengan menggunakan metode 70 menit
substitusi, eliminasi, dan grafik.
Inti Mengumpulkan informasi
1. Menggali rumus untuk menentukan
hasil persamaan linier.
2. Menggali rumus untuk menentukan
model matematika untuk menentukan
hasil persamaan linier.
3. Menggali persamaan linier dua variabel
dengan menggunakan metode
substitusi, eliminasi dan grafi.
Menalar
1. Menganalisis rumus untuk menentukan
hasil hasil persamaan linier.
2. Menganalisis rumus untuk menentukan
model matematika untuk menentukan
hasil persamaan linier.
3. Menganalisis persamaan linier dua
variabel dengan menggunakan metode
substitusi, eliminasi, dan grafik.
Mengkomunikasikan
1. Menyajikan secara tertulis atau lisan hasil
pembelajaran, apa yang telah dipelajari,
keterampilan atau materi yang masih
perlu ditingkatkan, atau strategi atau
konsep baru yang ditemukan berdasarkan
apa yang dipelajari mengenai persamaan
linier.
2. Memberikan tanggapan hasil presentasi
meliputi tanya jawab untuk
mengkonfirmasi, sanggahan dan alasan,
memberikan tambahan informasi, atau
melengkapi informasi ataupun tanggapan
lainnya
3. Membuat rangkuman materi dari kegiatan
pembelajaran yang telah dilakukan
1. Siswa diminta untuk menyimpulkan
materi yang dipelajari
Penutup 2. Siswa melakukan refleksi dipandu oleh
Guru 10 menit
3. Guru memberi pekerjaan rumah
4. Guru menginformasikan garis besar isi
kegiatan pada pertemuan berikutnya

Pertemuan 3

Kegiatan Deskripsi Kegiatan Waktu


1. Guru memberi salam dan mengajak
siswa berdoa;
2. Guru menanyakan kabar dan mengecek
kehadiran siswa serta berdoa;
Pendahuluan 3. Siswa mendengarkan dan menanggapi 10 menit
cerita guru tentang manfaat belajar
persamaan kuadrat dalam kehidupan
sehari-hari;
4. Guru mengkomunikasikan tujuan
belajar dan hasil belajar yang
diharapkan akan dicapai siswa;
Mengamati
1. Menentukan konsep SPLDV.
2. Menentukan grafik persmaan linier.
3. Menyelesaikan permasalahan SPLDV.
Menanya
1. Menanya konsep SPLDV.
2. Menanya grafik persamaan linier.
3. Menanya permasalahan SPLDV.
Mengumpulkan informasi
1. Menggali konsep SPLDV.
2. Menggali grafik persamaan linier.
Inti 3. Menggali permasalahan SPLDV. 70 menit
Menalar
1. Menganalisis konsep SPDV.
2. Menganalisis grafik persamaan linier.
4. Menganalisis permasalahan SPLDV
Mengkomunikasikan
1. Menyajikan secara tertulis atau lisan
hasil pembelajaran, apa yang telah
dipelajari, keterampilan atau materi
yang masih perlu ditingkatkan, atau
strategi atau konsep baru yang
ditemukan berdasarkan apa yang
dipelajari mengenai grafik fungsi
kuadrat.
2. Memberikan tanggapan hasil presentasi
meliputi tanya jawab untuk
mengkonfirmasi, sanggahan dan alasan,
memberikan tambahan informasi, atau
melengkapi informasi ataupun
tanggapan lainnya
3. Membuat rangkuman materi dari
kegiatan pembelajaran yang telah
dilakukan
1. Siswa diminta untuk menyimpulkan
materi yang dipelajari
2. Siswa melakukan refleksi dipandu oleh
Penutup Guru 10 menit
3. Guru memberi pekerjaan rumah
4. Guru menginformasikan garis besar isi
kegiatan pada pertemuan berikutnya

4. Penilaian
a. Sikap spiritual
1. Teknik penilaian : Observasi
2. Bentuk instrumen : Lembar observasi
3. Kisi-kisi :

No Sikap/nilai Butir Instrumen


1. Menerapkan tindakan disiplin dari pengalaman belajar dan 1-2
bekerja dengan matematika dalam menjalankan ajaran
agama
2. Menerapkan tindakan toleransi dari pengalaman belajar 3-4
dan bekerja dengan matematika dalam menjalankan ajaran
agama.

b. Sikap sosial
1. Teknik penilaian :
2. Bentuk instrumen : angket
3. Kisi-kisi :
No Kondisi Pernyataan Jumlah
1. Perhatian Siswa 1,5,13,18 4
2. Perasaan Senang 3,7,10,12,15,20 6
3. Ketertarikan Pada Pelajaran 2,4,9,14,16,17 6
4. Keterlibatan Siswa 6,8,11,19 4
Jumlah 20
c. Keterampilan
1. Teknik penilaian : observasi
2. Bentuk Instrumen : Lembar Observasi
3. Kisi-kisi :

No Indikator Butir
Instrumen
1 Menggambar grafik persamaan linier 1
2 Menggunakan strategi yang sesuai dan beragam 2
3 Menunjukan kemampuan mempertahankan pendapat 3
LEMBAR OBSERVASI AKTIVITAS SISWA

Hari/ Tanggal:................ Waktu:................

No Aktivitas siswa Skor Nilai


1 2 3 4 5
1. Siswa mempersiapkan buku pelajaran dan
buku catatan.
2. Siswa dibagi menjadi beberapa kelompok.
3. Siswa menyimak materi pelajaran yang
disampaikan guru.
4. Siswa bersikap kritis dalam menyimak dan
menjawab pertanyaan yang diajukan guru.
5. Siswa melakukan diskusi aktif dengan
kelompoknya
6. Siswa mengemukakan pendapat tentang materi
pelajaran dan mencatat segala sesuatu dalam
diskusi.
7. Siswa membagi tugas dan tanggung jawab
yang sama diantara anggota kelompoknya.
8. Siswa saling bekerja sama dengan
kelompoknya.
9. Siswa mencatat segala hal yang disampaikan
guru mengenai materi pelajaran.
10. Siswa mempertanggung jawabkan secara
bersama tentang materi yang diberikan guru.
11. Siswa melakukan evaluasi dan diberi hadiah
untuk semua anggota kelompok jika jawaban
benar.
Jumlah
Rata-rata
Keterangan :
0 – 1 = sangat tidak baik (STB)
1,1 – 2 = tidak baik (TB)
2,1 – 3 = kurang baik (KB)
3,1 – 4 = baik (B)
4,1 – 5 = sangat baik (SB)
Medan,....................... 2018
Obsever

DEA MUTIA
LEMBAR OBSERVASI AKTIVITAS GURU

Hari/Tanggal:...................... Waktu:.................

No Kegiatan Item Indikator


Ya Tidak
A. Kegiatan Awal
1. Melakukan kegiatan 1 Mengucapkan salam/doa √
pembukaan 2 Memeriksa kehadiran √
siswa
3 Memeriksa kebersihan √
kelas
4 Menyampaikan tujuan √
pembelajaran
2. Menyampaikan 5 Menyampaikan √
apersepsi apersepsi berupa judul
materi
6 Menyampaikan √
apersepsi berupa materi
pokok
7 Menyampaikan √
apersepsi dengan cara
mengaitkan materi
sebelumnya dengan
materi yang dibahas

3. Memotivasi siswa 8 Memotivasi dengan √


meminta siswa terlibat
Memotivasi siswa
dengan cara
menyampaikan
9 keterkaitan materi √
dengan kehidupan
10 Memotivasi siswa √
dengan cara
menyampaikan manfaat
materi
4. Menyampaikan 11 Menyampaikan √
informasi/tujuan informasi dengan
pembelajaran menyebut KD
Menyampaikan √
informasi dengan
menyebut indikator
Menyampaikan √
informasi dengan
menyebut tujuan
B. Kegiatan Inti
5. Menerapkan metode 14 Guru membentuk √
pembelajaran kelompok kepada siswa
Mengorganisir tiap √
kelompok untuk
menempatkan diri

6. Menggunakan alat bantu 16 Memberikan modul √


pembelajaran kepada siswa
Menjelaskan fungsi dan √
manfaat modul yang
diberikan

7. Menyampaikan materi 18 Diawali dengan masalah √


pembelajaran kontekstual
19 Materi disampaikan √
secara urut
20 Memberikan contoh soal √
21 Menggunakan waktu √
secara efisien dan efektif

22 Menguasai materi √
pembelajaran

23 Memberikan masalah √
untuk didiskusikan tiap
kelompok
8. Mengorganisasikan 24 Mengorganisasikan √
siswa siswa secara efektif
9. Memberikan 25 Memberi kesempatan √
kesempatan siswa untuk kepada siswa untuk
terlibat secara aktif bertanya dan
memberikan tanggapan.
10. Menunjukkan sikap 26 Menunjukkan sikap √
terbuka terhadap terbuka terhadap
pendapat siswa pendapat siswa
11. Mengembangkan 27 Mengembangkan √
hubungan antar pribadi hubungan antar pribadi
yang sehat dan serasi
(sopan, tertib, adil)
12. Menggunakan bahasa 28 Menggunakan bahasa √
yang baik, benar dan yang baik (komunikatif),
efektif benar (sesuai kaiah), dan
efektif (tepat guna)
13. Melaksanakan penilaian 29 Melaksanakan penilaian √
selama proses selama proses
pembelajaran pembelajaran
berlangsung berlangsung
Melaksanakan penilaian √
setelah proses
pembelajaran berakhir

C. Kegiatan Penutup
14. Menyampaikan materi 31 Memfasilitasi √
pembelajaran pembuatan
simpulan/rangkuman.
15. Melaksanakan / 32 Melaksanakan / √
menyampaikan refleksi menyampaikan
dan evaluasi 1. Refleksi

33 2. Kelompok √
terbaik
34 3. Rencana √
pertemuan
berikutnya

16. Memberikan / 35 Memberikan / √


merencanakan tindak merencanakan tindak
lanjut lanjut berupa
1. Penugasan
terstruktur

36 2. Kegiatan mandiri √
tidak terstruktur
37 3. Remidi √
38 4. Pengayaan √

Medan, .......................... 2018


Observer

DEA MUTIA
Instrumen Sikap Spiritual

Menerapkan Menerapkan Total


tindakan tindakan Bertoleransi, Skor
disiplin dari Menyadari toleransi dari dengan
pengalaman adanya pengalaman adanya
belajar dan kegunaan belajar dan pengalaman
bekerja belajar bekerja dengan belajar dan
Nama dengan matematika
No matematika bekerja
matematika dalam dalam dengan
peserta didik dalam menjalankan
menjalankan matematika
menjalankan ajaran agama ajaran agama. dalam
ajaran agama. beribadah

4 3 2 1 4 3 2 1 4 3 2 1 4 3 2 1

Keterangan Nilai
Selalu =4
Sering =3
Jarang =2
Tidak Pernah = 1
Kriteria
A = Total Skor 12-16
B = Total Skor 8-12
C = Total Skor 4-8
D = Total Skor 4
Penilaian Keterampilan

No Nama Menggambar Menggunakan Menunjukkan Total


grafik persamaan strategi yang kemampuan Skor
linier sesuai dan mempertahankan
beragam pendapat

4 3 2 1 4 3 2 1 4 3 2 1
1
2
4
5
6
7
8

Keterangan Skor
Sangat baik =4
Baik =3
Cukup =2
Kurang =1

Kriteri
A = Total Skor 12-16
B = Total Skor 8-12
C = Total Skor 4-8
D = Total Skor 4
Lampiran 2
Petunjuk Pengisian Angket:

1. Bacalah dengan teliti dan seksama!


2. Tulislah nama lengkap, kelas, nomor absen kalian pada lembar jawab!
3. Kerjakan semua soal pada lembar jawab yang telah disediakan dengan
memberikan tanda (√) sesuai dengan pendapat kalian!
4. Jangan memberikan coretan pada soal!
5. Untuk menjawab soal pada pernyataan pilihlah lima alternatif di bawah ini
dengan menggunakan tanda ceklist (√).
SB = Sangat Baik
B = Baik
KB = Kurang Baik
TB = Tidak Baik
STB = Sangat Tidak Baik
6. Untuk menjawab soal pada pernyataan pilihlah empat alternatif di bawah
ini dengan menggunakan tanda ceklist (√).
ANGKET MINAT BELAJAR SISWA

No Pernyataan Pilihan Jawaban

SB B KB TB STB

1. Guru membuka peluang untuk saya agar aktif dan


tidak malu bertanya
2. Saya belajar matematika dengan semangat karena
mengetahui kegunaannya dalam kehidupan sehari-hari
3. Saya mengikuti pembelajaran matematika dengan
perasaan senang
4. Saya bersemangat belajar matematika karena guru
mengunakan cara yang menyenangkan
5. Ketika guru sedang menjelaskan materi saya mencatat

6. Saya memperhatikan guru saat sedang menjelaskan


materi
7. Saya kurang aktif ketika diskusi kelompok

8. Saya berdiskusi dengan teman sekelompok terkait


materi
9. Saya tidak ribut ketika guru mengajar

10. Ketika berdiskusi kelompok saya berbicara dengan


teman diluar materi pelajaran.
11. Saya berbicara dengan teman ketika guru menjelaskan
materi
12. Saya berani mengutarakan pendapat ketika berdiskusi
kelompok
13. Saya tertarik mengerjakan tugas yang diberikan guru

14. Saya ketika mengerjakan soal mencontek dengan


teman
15. Apabila saya kesulitan memahami materi saya
bertanya
16. Saya mengikuti arahan guru agar saya mengerti

17. Saya suka ketika guru membuka tanya jawab

18. Saya selalu menyimak materi dengan baik

19. Saya bermain hp ketika berdiskusi kelompok

20. Saya merasa bosan ketika mempersentasikan hasil


temuan kelompok.
Lampiran 3
2. Deskripsi Hasil Penelitian
a. Pengolahan data minat belajar
Daftar Distribusi Frekuensi Minat Belajar Siswa

Nilai Angket Fi Simpangan | x = X - ̅ | (x = X - ̅ )2


60 1 9 81
61 1 8 64
62 1 7 49
64 1 5 25
65 2 4 26
67 3 2 4
68 7 1 1
69 2 0 0
70 4 1 1
71 2 2 4
73 1 4 16
75 2 6 36
76 1 7 49
79 1 10 100
82 1 13 169
Jumlah 30 79 625

 Nilai rata-rata (Mean)



̅=
̅=
̅ = 69
 Varians
∑( – ̅ )
S2 =
S2 =
= 21,5
S = 4,63

b. Uji normalitas
Daftar Distribusi Frekuensi Normalitas

No Xi F Zi Fzi Szi Fzi-Szi


1 60 1 -1,493 0,068 0,032 0,036
2 61 1 -1,342 0,090 0,065 0,025
3 62 1 -1,342 0,090 0,097 0,007
4 64 1 -0,892 0,186 0,129 0,057
5 65 2 -0,742 0,229 0,194 0,036
6 67 3 -0,441 0,330 0,290 0,039
7 68 7 -0,291 0,386 0,516 0,131
8 69 2 -0,141 0,444 0,581 0,137
9 70 4 0,009 0,504 0,710 0,106
10 71 2 0,160 0,563 0,774 0,111
11 73 1 0,460 0,677 0,806 0,129
12 75 2 0,760 0,776 0,871 0,094
13 76 1 0,911 0,819 0,903 0,084
14 77 1 1,061 0,856 0,935 0,080
15 79 1 1,361 0,913 0,967 0,111
16 82 1 1,811 0,965 1 0,035

Dari hasil perhitungan didapat Lhitung = 0,137 dan Ltabel = 0,161 ternyata
nilai Lhitung < Ltabel maka Ho diterima berarti sebaran data minat belajr matematika
siswa membentuk distribusi normal.

c. Uji Homogenitas
F=
F=
= 1,37

Hasil perhitungan menunjukkan nilai Fhitung = 1,37 dan nilai Ftabel = 1,875.
Berdasarkan kedua data tersebut diketahui bahwa Fhitung < Ftabel yaitu 1,37 < 1,875.
Maka dapat disimpulkan bahwa varians kedua data adalah homogen atau kedua
data mempunyai varians yang sama.

d. Tinjauan terhadap uji hipotesis


Untuk menguji hipotesis penelitian ini diperlukan data-data sebelumnya yaitu
sebagai berikut:

̅ = 69 S2 = 21,5 S = 4,63

Sebelum melakukan perumusan hipotesis mka terlebih dahulu dihitung nilai rata-
rata yang akan dihipotesiskan ( )

Jumlah nilai ideal = jumlah butir angket x jumlah pilihan x jumlah sampel

= 20 x 5 x 30

= 3000

Rata-rata ideal =

=
= 100

Jadi 50% dari rat-rata skor ideal adalah = 50% 100

= 0,5 100

= 50 atau ( ) 50

Menghitung nilai thitung :


( )
t=

=

= 33

Pada pengujian hipotesis dalam penelitian ini tujuannya adalah untuk


menghasilkan suatu keputusan, yaitu keputusan dalam menerima atau menolak
hipotesis yang diajukan. Untuk pengujian hipotesis ini peneliti menggunakan uji-t
pada taraf signifkan = 0,05

Hipotesis yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:


Hasil perhitungan menunjukkan nilai thitung = 33 dan nilai ttabel = 2,042.
Berdasarkan kriteria pengujian dua pihak jika – ttabel < thitung > + ttabel maka Ho
ditolak dan Ha diterima, dengan membandingkan antara thitung dengan ttabel yaitu -
2,042 < 33 > 2,042, maka Ho ditolak dan Ha diterima. Dengan demikian dapat
disimpulkan bahwa penggunaan strategi pembelajaran CTL dapat mempengaruhi
minat belajar matematika siswa.
Lampiran 4

Rekapitulasi Skor Angket Minat Belajar Siswa

Jawaban
NO Responden Skor
1 2 3 4 5
1. Ahmad Albaraday 1 3 10 5 1 20
2. Ahmad Faruq 0 5 3 9 3 20
3. Ahmad Fauzi Putra Ananda 1 1 8 7 3 20
4. Aliya Harum Syahdu 2 0 6 5 7 20
5. Abdurrahmah Hafiz 0 2 11 6 1 20
6. Almupidatul Husna 3 1 6 5 5 20
7. Astri Amanda Putri 2 3 5 5 5 20
8. Billah Afrianti 0 3 7 7 3 20
9. Dita Khairita Rachma 0 6 5 8 1 20
10. Ega Azwa Audiya 2 3 4 6 5 20
11. Eka Handayani 0 4 3 9 4 20
12. Elsa Aprilla 1 2 5 5 7 20
13. Fahmi Arrahman 2 2 1 8 7 20
14. Faizah Emriyani 2 3 3 6 6 20
15. Hairinsyah 1 2 6 6 5 20
16. Indah Lestari Lubis 2 3 4 5 6 20
17. Miftah Huljannah 1 2 9 7 5 20
18. M. Ilham Febriansyah D. 0 0 5 9 5 20
19. M. Rivaldy Harahap 0 3 7 7 3 20
20. M. Syafii Musthafa 0 0 12 5 3 20
21. Mutiara Hati 1 1 2 7 9 20
22. Nabila Latifah 3 5 2 4 6 20
23. Nidi Syahputri 0 3 10 4 3 20
24. Syahputri 1 4 2 11 2 20
25. Santha Aprilia R.T 2 3 5 8 2 20
26. Siti Fatimah 0 5 9 3 3 20
27. Teja Kurniawan 3 2 8 4 2 20
28. Triski Alfino 2 1 3 10 2 20
29. Ulfa Fadhillah Thohir 0 5 5 7 3 20
30. Yusuf Matunry 0 4 6 9 1 20
Lampiran 5

Peneliti menjelaskan materi

Peneliti menjelaskan prosedur pengisian angket

Peneliti membagikan angket

Anda mungkin juga menyukai