Penanganan Ansietas Pasien Ca. Mamae
Penanganan Ansietas Pasien Ca. Mamae
Tugas Ini Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Keperawatan Jiwa
Dosen Pengampu: [Link] Restiana, [Link].J
Oleh Kelompok 6:
Ditanyakan
Identitas Penanggungjawab
Nama : Tn. L
Umur : 45 Tahun
Jenis Kelamin : Laki Laki
Alamat : Kp Cibokor, Parungponteng
Pendidikan : SMP
Pekerjaan : Buruh
Hubungan dengan Klien: Suami
B. Riwayat Kesehatan
1. Keluhan Utama
Klien mengeluh khawatir karena akan dilakukan operasi
2. Riwayat Kesehatan Sekarang
Pada saat dilakukan pengkajian tanggal 22 Maret 2023 Klien
mengeluh khawatir karena akan dilakukan operasi. Selain itu, klien
tampak gelisah dan tegang. Didapatkan hasil TTV klien: TD 150/90
mmHg, N: 88 x/menit.
3. Riwayat Kesehatan Masa Lalu
C. Pengkajian Fisik
1. Keadaan Umum
Klien tampak tegang dan gelisah
TB: 155, BB: 35
2. Kesadaran: Composmentis GCS 15 E4, V5, M6
3. Tanda-tanda vital
TD: 150/90 mmHg
P: 88x/menit
4. Pemeriksaan fisik
− Kepala: normal, mesochephal, tulang kepala umumnya bulat dengan
tonjolan frontal di bagian anterior dan oksipital dibagian posterior.
− Rambut: tersebar merata, warna, kelembaban
− Mata: tidak ada gangguan bentuk dan fungsi mata. Konjungtiva anemis,
tidak ikterik, tidak ada nyeri tekan.
− Telinga: bentuk normal, posisi imetris, tidak ada sekret tidak ada tanda-
tanda infeksi dan tidak ada gangguan fungsi pendengaran.
− Hidung: bentuk dan fungsi normal, tidak ada infeksi dan nyeri tekan.
− Mulut: mukosa bibir kering, tidak ada gangguan perasa.
− Leher: tidak ada pembesaran kelenjar tyroid, tidak ada kelainan
− Dada: adanya kelainan kulit berupa peau d’orange,ulserasi atau tanda-
tanda radang.
− Hepar: tidak ada pembesaran hepar.
− Ekstremitas: tidak ada gangguan pada ektremitas
E:
- Anjurkan
keluarga untuk - Supaya klien dapat
tetap Bersama tetap nyaman
pasien
ketika didampingi
- Anjurkan keluarga
mengungkapkan
perasaan dan
- Supaya klien dapat
persepsi
mengungkapkan
- Latih kegiatan
perasaannya
pengalihan untuk
mengurangi - Untuk
ketegangan menghilangkan
perasaan tegang
denga napa yang
- Latih teknik aan dihadapi klien
relaksasi
- Untuk
menurunkan
b. Terapi Relaksasi
tingkat kecemasan
(I. 09326)
O:
- Identifikasi teknik
relaksasi yang
pernah efektif
digunakan
- Untuk mengetahui
- Periksa
teknik yang pernah
ketegangan otot,
dilakukan
frekuensi nadi,
tekanan darah,
dan suhu sebelum - Untuk mengetahui
dan sesudah frekuensi nadi,
Latihan tekanan darah dan
suhu sebelum dan
- Monitor respons sesudah dilakukan
terhadap terapi Latihan
relaksasi
- Untuk mengethui
respon klien
terhadap latiha
T:
relaksasi
- Ciptakan
lingkungan
tenang dan tanpa
gangguan dengan - Supaya klien
pencahayaan dan nyaman dan
suhu ruang tenang dengan
nyaman, jika lingkungan
memungkinkan sekitarnya
- Berikan informasi
tertulis tentang
persiapan dan
- Untuk menambah
prosedur teknik
pengetahuan klien
relaksasi
- Gunakan pakaian
longgar
- Gunakan nada
suara lembut - Supaya klien
lambat dan
berirama
- Supaya klien
E: nyaman dengan
- Jelaskan tujuan, nada lembut
manfaat, batasan,
dan jenis relaksasi
yang tersedia
(mis: musik,
meditasi, napas - Supaya klien
dalam, relaksasi mengetahui tujuan
otot progresif) manfaat dan jenis
- Anjurkan relaksasi yang
mengambil posisi diberikan
nyaman
- Anjurkan rileks - Supaya klien
dan merasakan nyaman
sensasi relaksasi
- Supaya klien
berkonsentrasi
- Anjurkan sering
terhadap sensasi
mengulangi atau
relaksasi
melatih teknik
yang dipilih
- Supaya klien
- Demonstrasikan
terlatih dengan
dan latih Teknik
teknik relaksasi
relaksasi (mis:
napas dalam, - Supaya klien bisa
peregangan, atau melakukan teknik
imajinasi relaksasi mandiri
terbimbing) tanpa dibantu
perawat/keluarga
Implementasi Evaluasi
Rabu 22 Maret 2023 jam 10.00 WIB S: Klien mengatakan perasaan khawatir dan
- Mengidentifikasi saat tingkat ansietas cemasnya menurun
berubah O: Klien tampak sudah tidak gelisah dan tegang
- Mengidentifikasi kemampuan mengambil TD: 130/30 mmHg
keputusan N: 70x/menit
- Memonitor tanda-tanda ansietas A: Masalah Teratasi
- Menciptakan suasana terapeutik untuk P: Hentikan Intervensi Reduksi Ansietas dan Terapi
menumbuhkan kepercayaan Relaksasi
- Memahami situasi yang membuat ansietas
- Mendengarkan dengan penuh perhatian
- Menggunakan pendekatan yang tenang dan
meyakinkan
- Memotivasi mengidentifikasi situasi yang
memicu kecemasan
- Mendiskusikan perencanaan realistis tentang
peristiwa yang akan datang
- Menganjurkan keluarga untuk tetap Bersama
pasien
- Menganjurkan mengungkapkan perasaan dan
persepsi
- Melatih kegiatan pengalihan untuk
mengurangi ketegangan
- Melatih teknik relaksasi
- Mengkolaborasi pemberian obat antiansietas
I (Intervetion) Intervensi mandiri perawat yang dipilih oleh peneliti adalah: PenKes
dan RA. PenKes dengan media leaflet diyakini dapat memudahkan
pasien mengakses informasi sesuai dengan materi yang dibicarakan
secara verbal dan diperkuat dengan materi secara tertulis untuk
meningkatkan pemahaman pasien dan keluarga (Frelita et al. 2011).
Penelitian yang dilakukan oleh Jawaid et al. (2007) 56 % pasien
berpikir bahwa ansietas mereka akan berkurang dengan penjelasan
rinci mengenai operasi dan anestesi.
C (Compare) ⚫ Analisis univariate dalam bentuk frekuensi dan presentase.
Analisis Uji Beda yang digunakan 1). Analisis bivariat dengan
uji Wilcoxon untuk mengetahui perbedaan tingkat ansietas
sebelum dan sesudah diberikan intervensi (Before-after) pada
kedua kelompok intervensi. 2). Uji beda independen non
parametrik uji Mann Whitney untuk menganalisis perbedaan
tingkat ansietas antara kelompok yang diberikan intervensi
PenKes dengan kelompok kontrol, kelompok relaksasi autogenic
dengan kelompok kontrol, kelompok intervensi PenKes dengan
kelompok relaksasi Autogenic dan melihat perbedaan lain (Usia,
Jenis kelamin, Tingkat pendidikan, Klasifikasi operasi) terhadap
tingkat ansietas pasien pre operasi.
⚫ Analisis multivariate yang digunakan adalah uji regresi logistic
ordinal, yang bertujuan mengetahui besarnya pengaruh dari
setiap variable independen terhadap variable dependen sehingga
dapat dilihat variable yang mempunyai pengaruh paling besar
terhadap tingkat ansietas pasien pre operasi, apakah Penkes atau
relaksasi autogenic
O (Outcame) Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh
(Kusmiran, 2014) pada ibu post Sectio Cesarea. Masing-masing
kelompok intervensi berjumlah 21 responden. Dari hasil uji paired t-
test didapatkan rata-rata respons nyeri pada kelompok relaksasi nafas
dalam sebelum intervensi adalah 5,57 dan sesudah 4,43. Terdapat
penurunan respons nyeri sebesar 1,14. Pada kelompok intervensi RA
rata-rata respons nyeri sebelum intervensi 5,57 dan respons nyeri
sesudah intervensi 3,67. Disimpulkan bahwa ada pengaruh RA
terhadap penurunan skala nyeri sebelum dan sesudah di berikan
intervensi dengan p = 0,000 (< 0,05).
T (Time) Penelitian ini dilakukan pada tahun 2019
Sumber:
[Link]
an+kesehatan+pre+operasi+dan+relaksasi&oq=pengaruh+pendidikan+kesehatan+
pre+operasi+dan+relaks#d=gs_qabs&t=1679653959944&u=%23p%3DRNnB0T
QFRnwJ
➢ Artikel 2
Penulis Muhammad Idham Lubis, Anna Millizia, Adi Rizka
Tahun Terbit September 2022
Judul Hubungan Tingkat Kecemasan Preoperative dengan Tingkat
Nyeri Pasca Operasi pada Pasien Pembedahan Tumor
Payudara di Rumah Sakit Umum Cut Meutia Aceh Utara
Lembaga Penerbit - Program Studi Kedokteran, Fakultas Kesokteran, Universitas
Malikussaleh, Lhokseumawe
- Bagian Ilmu Anestesi, Fakultas Kedokteran, Universitas
Malikussaleh, Lhokseumawe
- Bagian Ilmu Bedah, Fakultas Kedokteran, Universitas
Malikussaleh, Lhokseumawe
Volume, Nomor VOL.5 NO.3
P (Problem) Penelitian ini dilakukan dikarenakan kanker payudara menjadi kanker
yang terbanyak terjadi di dunia. Peneliti berkeinginan untuk menilai
mengetahui hubungan tingkat kecemasan preoperative dengan
tingkat nyeri paska operasi pada pasien pembedahan tumor payudara
di Rumah
Sakit Umum Cut Meutia Aceh Utara.
Hasil data penelitian yang telah dilakukan pada pasien
pembedahan tumor payudara di Rumah Sakit Umum Cut Meutia
Aceh Utara dengan sampel penelitian berjumlah 30 orang. Distribusi
responden berdasarkan usia ditemukan mayoritas responden usia
berkisar 40-49 tahun yaitu sebanyak 12 (40,0%). Diagnosis pasien
ditemukan mayoritas tumor mammae jinak yaitu sebanyak 21
responden (70,0%). Status fisik ASA mayoritas responden adalah
ASA 1 yaitu sebanyak 16 responden (53,3 %) dan jenis operasi
mayoritas adalah operasi sedang dengan jumlah 25 responden
(83,3 %) (Tabel 1) .
I (Intervetion) Berdasarkan hasil penelitian di atas, maka diharapkan peneliti lain
agar dapat menggunakan penelitian ini sebagai tambahan informasi
dan
evaluasi dan juga untuk menemukan terkait faktor-faktor lain yang
dapat mempengaruhi nyeri postoperatif pada pasien pembedahan
tumor
payudara. Bagi tenaga kesehatan dapat melakukan atau memberikan
pelayanan manejemen stress yang lebih maksimal kepada pasien dan
pemberian obat obatan anti nyeri yang sesuai untuk meminimalkan
rasa nyeri terhadap pasien walaupun tingkat stress pasien tinggi.
C (Compare) Dalam jurnal ini tidak ada perbandingan antara jurnal satu dengan
jurnal yang lain hanya ada satu jurnal saja.
O (Outcame) Dilihat dari hasil penelitian dapat ditarik kesimpulan bahwa
responden mayoritas berusia 40-49 tahun, didiagnosis mengalami
tumor mammae
jinak, memiliki status fisik ASA 1,dan melakukan operasi sedang .
Sebagian besar pasien mengalami tingkat kecemasan preoperatif
dengan kategori kecemasan sedang dan pasien mengalami tingkat
nyeri postoperatif kategori nyeri sedang. Didapat Hubungan tingkat
kecemasan preoperatif dengan tingkat nyeri postoperative dengan
hasil nilai p value 0,016 (p < 0,05).
T (Time) Penelitian ini dilakukan pada bulan September 2022
Sumber: [Link]
➢ Artikel 3
Penulis - Ns. Ni Ketut Guru Prapti, [Link]., MNS
- Ni Ketut Kusmarjathi, [Link],. [Link]
Tahun Terbit 2013
Judul HUBUNGAN DUKUNGAN KELUARGA DENGAN TINGKAT
KECEMASAN PADA PASIEN KANKER PAYUDARA (CA
MAMMAE) DI RUANG ANGSOKA III RSUP SANGLAH
DENPASAR.
Lembaga Penerbit Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Kedokteran Universitas
Udayana
Volume, Nomor Dalam jurnal ini tidak dituliskan volume dan nomor
P (Problem) Kanker payudara menempati urutan pertama pada pasien rawat inap
di seluruh RS di Indonesia yaitu sebanyak 16,85%. Tingginya kasus
kanker payudara di Indonesia, WHO bahkan memperkirakan kasus
kanker payudara pada wanita akan terus meningkat tiap tahunnya
(Rasjidi, 2010). Berdasarkan studi pendahuluan yang dilakukan
peneliti tanggal 9 oktober 2013 di Ruang Angsoka III RSUP Sanglah,
kanker payudara sering menduduki peringkat pertama pada kasus
yang terjadi tiap bulannya. Pada tahun 2013 jumlah kasus kanker
payudara yang terjadi di Ruang Angsoka 3 sebanyak 512 orang
dengan rata-rata 42 orang perbulannya. Sejumlah 23 pasien yang
ditemui peneliti, pasien dengan kanker payudara datang
kerumah sakit dengan perasaan yang cemas dengan kondisinya.
I (Intervetion) Dukungan keluarga dalam hal memotivasi dan meminimalkan rasa
cemas akibat hospitalisai adalah hal yang sangat penting dalam
menunjang untuk memenuhi kebutuhan fisik dan emosional pada saat
pasien dirawat inap. Dukungan keluarga yang baik maka kecemasan
akibat dari perpisahan dapat teratasi sehingga pasien
akan merasa nyaman saat menjalani perawatan. Pasien yang merasa
nyaman saat perawatan mencegah terjadinya penurunan sistem imun
sehingga berpengaruh pada proses kesembuhannya. Dukungan
keluarga yang adekuat diharapkan menurunkan kecemasan pasien,
sehingga pasien bisa fokus pada pengobatan dan kesembuhannya.
Berdasarkan latar belakang tersebut diatas, peneliti meneliti tentang
hubungan dukungan keluarga dengan tingkat kecemasan pada pasien
kanker payudara (Ca mammae) mengingat dampaknya sangat
berpengaruh terhadap kondisi pasien dengan Ca mammae, sehingga
dapat menjadi masukan dalam perencanaan pemberian asuhan
keperawatan kepada pasien dengan Ca mammae.
C (Compare) Responden dengan dukungan keluarga kurang, sebagian besar
mengalami kecemasan berat yaitu 9 responden (15%). Responden
dengan dukungan keluarga cukup sebagian besar mengalami
kecemasan berat yaitu 8 responden (13,3%). Responden dengan
dukungan keluarga baik sebagian besar mengalami kecemasan ringan
yaitu 4 responden (6,7%). Responden dengan dukungan keluarga
sangat baik sebagian besar tidak mengalami kecemasan yaitu 6
responden (10%).
O (Outcame) Berdasarkan uji korelasi Rank Spearman,didapatkan nilai r - 0,493
dengan tingkat signifikansi 0,000 ( < 0,05). Parameter negatif ( - )
menunjukkan arah hubungan yang terbalik dengan kekuatan korelasi
sedang. Sehingga Ho ditolak dan Ha diterima. Jadi ada hubungan
antara dukungan keluarga dengan tingkat kecemasan pada pasien
kanker payudara. Dalam penelitian ini berarti peningkatan dukungan
keluarga diikuti oleh penurunan tingkat kecemasan, hal ini
menunjukkan semakin baik dukungan keluarga semakin berkurang
tingkat kecemasan pasien kanker payudara (Ca mammae).
T (Time) Penelitian ini dilakukan pada tahun 2013
Sumber: [Link]
➢ Artikel 4
Penulis Fitria Annisa Rizki, Mugi Hartoyo , Sudiarto
Tahun Terbit June 2019
Judul HEALTH EDUCATION USING THE LEAFLET MEDIA
REDUCE ANXIETY LEVELS IN PRE OPERATION PATIENTS
Lembaga Penerbit - Student of the Applied S1 Study Program at the Ministry of Health
Polytechnic in Semarang
- Lecturer in Nursing Department of Health Polytechnic Ministry of
Health Semarang
Volume, Nomor Volume 3, Number 1
P (Problem) Wijayanto dan Sari (2018) tentang pendidikan kesehatan terhadap
tingkat kecemasan pada pasien pre operasi kanker payudara
menunjukkan bahwa responden yang mengalami kecemasan ringan
28,1%, yang mengalami kecemasan sedang 59,4%, dan mengalami
kecemasan berat 12,5%. Hal tersebut menunjukan bahwa sebagian
besar pasien pre operasi mengalami kecemasan.
I (Intervetion) Salah satu untuk menurunkan kecemasan pada pasien pre operasi
yaitu dengan pendidikan kesehatan (Potter & Perry, 2006).
Penyampaian pendidikan kesehatan hanya dengan lisan sering kali
sulit diingat dan dipahami sehingga perlu adanya media untuk
membantu mempermudah penerimaan dalam pemberian pesan.
Media yang digunakan untuk pendidikan kesehatan terdiri atas media
elektronik dan media cetak. Media cetak terdiri dari leaflet, booklet,
flyer, flip chart, dan rubric (Notoatmodjo, 2007). Leaflet
adalah selembar kertas yang mengandung isi tertentu berisikan
tulisan dan gambar untuk menyampaikan sebuah pesan dan mudah
dibawa (Putu & Dewa, 2012).
C (Compare) Hasil uji Wilcoxon diperoleh nilai p-value kelompok intervensi yaitu
0,001. Pada pre test dan post test kelompok kontrol didapatkan p-
value sebesar 0,001. Karena pada kelompok intervensi dan kelompok
kontrol didapatkan hasil nilai p-value <0,05 maka ada pengaruh
pemberian pendidikan kesehatan menggunakan media leaflet
terhadap tingkat kecemasan pasien pre operasi. Pada kelompok
intervensi didapatkan nilai rata- rata post test sebesar 9,13. Sedangkan
pada kelompok kontrol didapatkan rata-rata post
test sebesar 15,27. Sehingga pada kelompok intervensi lebih
berpengaruh dalam menurunkan tingkat kecemasan dibandingkan
kelompok kontrol.
O (Outcame) Hasil penelitian ini sejalan juga dengan hasil penelitian Jlala, French,
Foxal, Hardman, dan Bedfort (2010) yang menyatakan bahwa ada
penurunan kecemasan pada kelompok intervensi dan kelompok
kontrol dalam pemberian pendidikan kesehatan pre operasi. Pada
kelompok intervensi didapatkan hasil kurang cemas dibandingkan
dengan kelompok kontrol p-value 0,005 (p<0,05).
Hasil penelitian ini diperkuat dengan hasil penelitian Virda dan Parka
(2014) yang menyatakan bahwa ada pengaruh penyuluhan kesehatan
dengan metode leaflet terhadap tingkat kecemasan pasien pre operasi
dengan p-value 0,000 (p<0,05). Penggunaan
leaflet dalam penyampaian informasi akan menimbulkan perhatian
terhadap masalah yang dijelaskan dan untuk mengingatkan suatu
pesan atau informasi yang telah didapat.
Informasi yang didapat lebih jelas dan tidak menimbulkan salah
persepsi serta mudah dimengerti sehingga menambah pengetahuan
pasien tentang prosedur operasi dan dapat menurunkan tingkat
kecemasan (Suliha, 2002).
T (Time) Penelitian ini dilakukan pada bulan June 2019
Sumber:
[Link]
➢ Artikel 5
Penulis Susanto, Setiyo Adi Nugroho, Yudho Tri Handoko
Tahun Terbit Mei 2022
Judul PENGETAHUAN IBU TENTANG PENYAKIT KANKER
PAYUDARA BERHUBUNGAN DENGAN TINGKAT
KECEMASAN PADA PASIEN PRE OPERASI KANKER
PAYUDARA
Lembaga Penerbit - Universitas Nurul Jadid, Jl. PP Nurul Jadid, Dusun Tj. Lor,
Karanganyar, Kec. Paiton, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur
67291, Indonesia
- Universitas Airlangga, Jl. Airlangga No.4 - 6, Airlangga, Kec.
Gubeng, Kota SBY, Jawa Timur 60115, Indonesia
- Universitas Esa Unggul, Jl. Arjuna Utara No.9, Kb. Jeruk, Kec. Kb.
Jeruk, Kota Jakarta Barat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 11510,
Indonesia
Volume, Nomor VOLUME: 4 NO: 2
P (Problem) Lebih dari 185.000 wanita didiagnosis menderita kanker payudara
setiap tahun. Insiden penyakit ini meningkat dinegara maju. Menurut
Observatorium Kanker Global 2018 dari Organisasi Kesehatan Dunia
(WHO) Kasus kanker terbanyak di Indonesia adalah kanker payudara
sebesar 58.256 kasus atau 16,7% dari total 348.809 kasus kanker.
Kanker serviks adalah Jenis kanker terbanyak ke2 di Indonesia
dengan 32.469 kasus atau 9,3% jumlah kasus. Prevalensi
tumor/kanker adalah Indonesia naik dari 1,4 per seribu di tahun 2013
1,79 per 1.000 orang pada tahun 2018 di jawa timur. Pada tahun 2018,
angka prevalensi kanker adalah 2,2 per 1.000 orang. jika diubah
menjadi bilangan Penduduk Jawa Timur dengan 86.000 penderita
kanker.
I (Intervetion) Alternatif tindakan buat mengurangi taraf kecemasan ialah
mempersiapkan mental asal klien. Persiapan mental tadi salah
satunya bisa dilakukan melalui pendidikan kesehatan (Health
education). Kemampuan perawatan untuk mendengarkan secara
aktif, pesan baik lisan dan non lisan sangat krusial buat menciptakan
hubungan saling percaya menggunakan pasien serta keluarga.
Pendidikan kesehatan pre operasi bisa menbantu klien serta keluarga
mengidentifikasi kekhawatiran yang dirasakan. Perawat lalu bisa
merencanakan hegemoni keperawatan dan perawatan suportif untuk
mengurangi tingkat kecemasan klien. Pendidikan kesehatan pada
hakikatnya artinya suatu kegiatan buat memberikan pesan kesehatan
pada masyarakat, grup atau individu buat memperoleh pengetahuan
ilmu kesehatan yang baik sehingga, pengetahuan tersebut diharapkan
dapat berpengaruh terhadap perubahan perilaku kearah yang lebih
baik (Notoadmojo, 2018).
C (Compare) Hasil tabulasi silang 80 responden diperoleh 16 orang (20%) yang
berpengetahuan baik dan mengalami kecemasan ringan. Hal ini
terjadi karena responden tersebut dimungkinkan mendapat informasi
tentang kanker payudara sehingga dapat disimpulkan bahwa
penerimaan informasi akan menambah wawasan dan pemahaman
yang lebih tinggi terutama dalam penghayatan terhadap obyek atau
materi yang disampaikan dan sebaliknya (Notoadmojo, 2018).
Responden yang pengetahuannya kurang dan mengalami kecemasan
berat sebanyak 2 orang (2,5%). Hal ini disebabkan kurangnya
informasi mengenai kanker payudara sehingga pasien dengan kanker
payudara tidak mengetahui tentang konsep kanker payudara terutama
tentangprosedur operasi, prognosis dan dampak dari tindakan
mastektomi. Hal ini juga sesuai dengan jurnal dari Yale School Of
Nursing USA, bahwa rata – rata penderita kanker payudara yang
berusia 52,3 tahun ( kisaran 27 72%) memiliki pengetahuan yang
kurang tentang kanker payudara yang dideritanya karena kurangnya
informasi, dari kesimpulan dalam penelitian tersebut didapatkan
rekomendasi, agar dokter meninjau kembali percakapan dengan
pasien tentang kanker dan perawatannya untuk memastikan
pemahaman pasien dan mendukung manajeman dirinya (Jenna
Hinchey, 2016).
O (Outcame) Tingkat pengetahuan ibu tentang kanker payudara mayoritas cukup
dan tingkat Kecemasan responden mayoritas mengalami kecemasan
ringan. Ada hubungan yang kuat antara tingkat pengetahuan ibu
tentang penyakit kanker payudara dengan tingkat kecemasan pada
pasien preoperasi Kanker Payudara di Bondowoso yaitu dengan nilai
kemaknaan p value 0.000 dan nilai r 0,506.
T (Time) Penelitian ini dilakukan pada tahun 2022
Sumber:
[Link]