0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
27 tayangan8 halaman

Efisiensi Persediaan Kantong Semen

1. Artikel ini membahas tentang efisiensi persediaan kantong semen di PT AKA dengan membandingkan tiga metode yaitu Min-Max, EOQ, dan Two-Bin. 2. Saat ini PT AKA mengalami masalah kelebihan persediaan kantong semen yang menyebabkan biaya persediaan meningkat. 3. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi kebijakan persediaan perusahaan untuk menentukan metode yang paling efisien.

Diunggah oleh

rico triyanto
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
27 tayangan8 halaman

Efisiensi Persediaan Kantong Semen

1. Artikel ini membahas tentang efisiensi persediaan kantong semen di PT AKA dengan membandingkan tiga metode yaitu Min-Max, EOQ, dan Two-Bin. 2. Saat ini PT AKA mengalami masalah kelebihan persediaan kantong semen yang menyebabkan biaya persediaan meningkat. 3. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi kebijakan persediaan perusahaan untuk menentukan metode yang paling efisien.

Diunggah oleh

rico triyanto
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

Sigma Teknika, Vol. 5, No.

2 : 259-266
November 2022
E-ISSN 2599-0616
P ISSN 2614-5979

EFISIENSI PERSEDIAAN KANTONG SEMEN BERBASIS METODE


MIN-MAX, EOQ, DAN TWO-BIN DI PACKING PLANT PT AKA

Muhammad Ryfqie Alamanda Rozaq1), Nina Aini Mahbubah2)


1,2)
Program Studi Teknik Industri, Fakultas Teknik,Universitas Muhammadiyah Gresik
E-mail: mrifqialamanda01@gmail.com1), [Link]@[Link].id2)

ABSTRAK

PT AKA merupakan perusahaan yang bergerak dibidang industri semen. Salah satu bahan baku dalam
produksi semen ialah kontong semen. Kebutuhan perusahan terhadap kantong semen, berbanding lurus
dengan permintaan semen. Divisi produksi mengalami permasalahan ketidakefisienan penentuan
persediaan kantong semen. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kebijakan perusahaan dalam
mengendalikan persediaan bahan baku kantong semen dengan membandingkan 3 metode Min-Max,
EOQ, dan Two-Bin. Penelitian ini menggunakan data kuantitatif yaitu permintaan kantong semen, biaya
penyimpanan dan pemesanan. Perhitungan peramalan data dilakukan dengan menggunakan perangkat
lunak MiniTab. Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode Min-Max menghasilkan efisiensi terbaik
dengan total biaya persediaan yaitu Rp. 119.107.700 untuk kantong semen 40 kg, dan Rp. 35.528.720
untuk kantong semen 50 kg.

Kata kunci: Persediaan, Min-Max, EOQ, Two-Bin

ABSTRACT

PT AKA is a multinational enterprise engaged in the cement industry. One of the supporting raw
materials in cement production is cement bags. Demand for cement bags is directly proportional to the
demand for cement. The production division has been experiencing the problem of inefficiency in
determining the supply of cement bags. This study aims to evaluate the company's policy in controlling
the supply of raw materials for cement bags by comparing the 3 Min-Max, EOQ, and Two-Bin methods.
Quantitative data were used: demand for cement bags, storage, and ordering costs. Forecasting data
calculations were performed using Minitab software. The results showed that the Min-Max method
produced the optimal efficiency with a total inventory cost of Rp. 119,107,700 for 40 kg cement bags,
and Rp. 35,528,720 for 50 kg cement bag.

Keyword: Stock, Min-Max, EOQ, Two-Bin

1. PENDAHULUAN dan memilih produk ke perusahaan kompetitor


[1]. Masalah persediaan akan muncul ketika
Perediaan merupakan salah satu faktor yang perusahaan harus memenuhi permintaan di masa
penting dalam opersional perusahaan, baik dalam yang akan datang yang terkait dengan jumlah dan
skala kecil maupun besar guna menunjang segala waktu yang tepat dalam pemesanan bahan baku.
aktivitas proses produksi. Tanpa adanya Kesalahan dalam menentukan besarnya bahan
persediaan, suatu perusahaan akan dihadapkan Baku yang dipesan dibandingkan dengan
pada risiko yaitu tidak dapat memenuhi kebutuhan kebutuhan peruashaan, akan menambah beban
konsumen hingga mengakibatkan hilangnya bunga, biaya pemeliharaan, biaya penyimpanan
kesempatan untuk mendapatkan keuntungan dan hingga turunnya kualitas bahan baku yang
juga mengakibatkan konsumen dapat berpindah disimpan, sehingga berujung pada kerugian bagi

259
Sigma Teknika, Vol. 5, No.2 : 259-266
November 2022
E-ISSN 2599-0616
P ISSN 2614-5979

perusahaan. Aset paling berharga dalam Ciwandan dalam pengendalian persediaannya


perusahaan yaitu manajemen persediaan, hal ini yaitu terjadinya penunpukan kantong semen pada
dikarenakan peranan manajemen persediaan saat pengemasan dikarenakan stock in yang terlalu
cukup besar dan sangat berpengaruh terhadap besar dan mengakibatkan biaya persediaan
biaya perasi, perencanaan, hingga pengendalian melonjak. gambar 1. Dan 2. Merupakan data
[2]. historis pembelian dan penggunaan kantong
Penelitian yang dilakukan oleh [3] tentang semen.
evaluasi kebijakan persediaan bahan baku kantong
semen untuk mengurangi persediaan berbasis
metode EOQ, POQ, dan Min-Max menunjukkan
bahwa metode EOQ memiliki jumlah pesanan dan
biaya persediaan terkecil diantara metode tersebut.
PT AKA merupakan perusahaan yang
bergerak dibidang industri semen. Produk semen
yang diproduksi terdapat beberapa jenis yaitu
semen OPC (Ordinary Portland Cement) tipe 1
dan semen PPC (Pozzolan Porland Cement).
Semen OPC tiper 1 digunakan untuk konstruksi
umum yang membutuhkan kekuatan dan tekanan
yang tinggi, dapat diaplikasikan untuk Gambar 1. Total pembelian dan total pemakaian
membangun gedung, jembatan, jalan raya, kantong semen 40 kg periode januari-
maret 2022
pemukiman. Keunggulan yang dimiliki pada tipe
ini yaitu lebih cepat kering, tahan retak, dan lebih
mudah digunakan. Sementara itu, Semen PPC
digunakan untuk konstruksi umum dan konstruksi
khusus yang membutuhkan ketahanan terhadap
sulfat sedang dan panas dengan tingkat hidrasi
sedang, dapat diaplikasikan untuk membangun
konstrukssi umum, perumahan, irigasi, bangunan
daerah rawa/gambut, dermaga, dan bendungan.
Keunggulan yang dimiliki pada tipe ini yaitu daya
lebih cepat kering, tahan retak, hasil lebih halus,
menggunakan bahan baku terpilih, produk ramah
Gambar 2. Total pembelian dan total pemakaian
lingkungan, produk nasional dan kualitas kantong semen 50 kg periode januari-
premium. maret 2022
Salah satu bahan baku dalam produksi semen
ialah kontong semen. Kebutuhan perusahan Dari gambar 1 dan 2, diketahui bahwa nilai
terhadap kantong semen, berbanding lurus dengan total pembelian jauh lebih tinggi dibandingkan
permintaan semen di Indonesia. Kantong semen nilai total pemakaian produk kantong semen 40 kg
yang digunakan PT AKA terbuat dari bahan kertas dan 50 kg. Hal itu menunjukkan bahwa
kraft multi layer, diperkuat dengan pp woven perusahaan masih belum efektif dalam
fabric. Kantong semen juga dilengkapi dengan memperkirakan jumlah total pembelian yang
leher valve untuk digunakan dalam Rotary dilakukan dibandingkan dengan total pemakaian
Packing yang digunakan untuk memaksimalkan yang dikeluarkan.
kapasitas pengisian semen. Pada Packing Plant Ditinjau dari data total pembelian dan total
Ciwandan tersebut berfokus pada availabilitas & pemakaian kantong semen 40 kg dan 50 kg pada
Produktivitas, melakukan release semen per hari, periode januari-maret terlihat jelas bahwasannya,
kantong pecah dari semen yang diproduksi, serta perusahaan melakukan pembelian bahan baku
packing kantong semen. Identifikasi awal kantong semen yang jauh lebih besar
ditemukan permasalahan pada packing plant dibandingkan total pemakaiannya sehingga

260
Sigma Teknika, Vol. 5, No.2 : 259-266
November 2022
E-ISSN 2599-0616
P ISSN 2614-5979

terdapat inefisiensi yang dilakuakan. Tujuan A Maks : Pemakaian Maksimum


penelitian ini mengevaluasi kebijakan persediaan A̅ : Pemakaian rata-rata
perusahaan terkait safety stock, serta biaya LT : Lead Time
persediaan yang harus dikkeluarkan. Dalam
proses pengambilan keputusan, penelitian ini ii.) Persediaan Minimum
menggunakan perbandingan tiga metode Minimum stock adalah jumlah
kebijakan persediaan yaitu Min-Max, EOQ, dan pemakaian selama waktu pesanan pembelian
Two-Bin. yang dihitung dari perkalian antara waktu
pesanan (dalam bulan) dan pemakaian rata –
2. TINJAUAN PUSTAKA rata dalam satu bulan ditambah dengan
persediaan pengaman. Pada sistem Min – Max
2.1 Metode Min-Max Inventory Management, minimum stock
adalah batas dimana perusahaan harus
Metode min-max stock adalah metode melakukan pembelian bahan baku kembali
pengendalian bahan baku yang didasarkan atas (reorder point). Adapun persamaan yang
asumsi bahwa persediaan bahan baku berada pada digunakan untuk menghitung minimum stock
dua tingkat, yaitu tingkat maksimum dan tingkat adalah sebagai berikut [5]:
minimum. Jika tingkat maksimum dan tingkat
minimum sudah ditetapkan, maka pada saat 𝑃 𝑀𝑖𝑛 = (𝐴 × 𝐿𝑇) + 𝑆𝑆 (2)
persediaan sampai ke tingkat minimum
pemesanan bahan baku harus dilakukan untuk Keterangan
menempatkan persediaan pada tingkat P Min : Persediaan Minimum
maksimum. Hal ini untuk menghindari jumlah
persediaan yang terlalu besar atau terlalu kecil. iii.) Persediaan Maksimum
Kelebihan menggunakan metode ini bisa Maximum stock adalah jumlah
mengetahui persediaan minimum dan persediaan maksimum yang diperbolehkan disimpan
maksimum yang ada di gudang dengan mengatur dalam persediaan, yaitu jumlah pemakaian
rencana pemesanan persediaan (plant order) agar selama 2 x waktu pesanan, yang dihitung dari
tidak terjadi kekurangan (stockout) atau kelebihan perkalian antara 2 x waktu pesanan dan
persediaan (overstock) [4]. Dalam inventory pemakaian rata – rata selama satu bulan [5]:
control khususnya pada pengendalian persediaan
bahan baku yang menggunakan metode Min-Max 𝑃 𝑀𝑎𝑥 = 2 × (𝐴 × 𝐿𝑇) + 𝑆𝑆 (3)
stock terdapat beberapa tahapan dengan
menggunakan beberapa formula yaitu: Keterangan
i.) Safety Stock P Max : Persediaan Maksimum
Persediaan pengaman (safety stock)
adalah persediaan tambahan yang diadakan iv.) Tingkat Pemesanan Kembali
untuk melindungi atau menjaga kemungkinan Ukuran pemesanan (order quantity)
terjadinya kekurangan bahan (out stock). adalah jumlah yang perlu dipesan untuk
Service level yang digunakan bisa 95% pengisian persediaan kembali. Setiap kali
maupun 90%. Apabila service level = 95% persediaan mencapai titik atau persediaan
artinya adalah permintaan konsumen dapat minimum maka harus dilakukan pemesanan
terpenuhi dengan probabilitas 95% dan kembali yang jumlahnya sebesar ukuran
probabilitas produk tidak dapat ditemui adalah pemesanan [5]:
sebesar 5% [5].
𝑄 = 𝑃 𝑀𝑎𝑥 − 𝑃 𝑀𝑖𝑛 (4)
𝑆𝑆 = (𝐴 𝑀𝑎𝑘𝑠 − 𝐴) × 𝐿𝑇 (1)
Keterangan
Keterangan Q = Tingkat Pemesanan Kembali
SS : Safety Stock

261
Sigma Teknika, Vol. 5, No.2 : 259-266
November 2022
E-ISSN 2599-0616
P ISSN 2614-5979

v.) Biaya Persediaan


Biaya Persediaan merupakan biaya 2 𝑋 𝐷 𝑋 𝑂𝐶
total yang dikeluarkan oleh perusahaan dalam 𝑄=√ (6)
𝐶𝐶
rangka pengadaan persediaan bahan baku atau
komponen selama kurun waktu satu tahun.
ii.) Jumlah Persediaan
𝐷 𝑄
𝑇𝐶 = ( 𝑋 𝑂𝑐) + ( 𝑋 𝐶𝑐) (5) Untuk dapat menghitung frekuensi
𝑄 2
perusahaan dalam melakukan pembelian
setahun, diperlukan adanya perhitungan
Keterangan
frekuensi pesanan. Berikut merupakan
TC = Total Cost
perhitungan frekuensi pesanan [8]
D = Permintaan
Oc = Biaya Pemesanan 𝐷
Cc = Biaya Simpan 𝐹𝑝 = (7)
𝑄

iii.) Biaya Persediaan


Berikut merupakan perhitungan biaya
2.2 Pendekatan Economic Order Quantity persediaan perusahaan dalam setahun
Economical Order Quantity (EOQ)
merupakan besarnya pesanan yang dibutuhkan 𝐷 𝑄
𝑇𝐶 = ( 𝑋 𝑂𝑐) + ( 𝑋 𝐶𝑐) (8)
dengan jumlah ordering cost dan carrying cost per 𝑄 2
tahun yang paling minimal [6].Tujuan utama pada
metode EOQ ini yaitu menentukan jumlah dan 2.3 Metode Two-Bin
frekuensi pembelian yang optimal guna Analisis Persediaan Two-Bin atau yang
mendapatkan pengendalian persediaan yang seringkali disebut Kanban, merupakan suatu
optimal pula. model atau sistem yang digunakan dalam
Dalam penentuan jumlah pesanan yang menentukan kapan sumber daya atau input harus
ekonomis menggunakan metode EOQ, dapat diisi ulang. Item pada bin kedua berfungsi untuk
dilakukan beberapa cara yaitu Tabular Approach, melanjutkan produksi di saat sumber saya pada
Graphical Approach, dan Formula Approach. bin pertama telah habis atau dengan kata lain, bin
Tabular Approach merupakan pendekatan dengan pertama bertindak sebagai tempat kerja dan bin
cara menyusun suatu daftar jumlah pesanan dan kedua sebagai cadangan. Pada metode Kanban ini,
jumlah biaya yang dikeluarkan per tahun. Dari menuntut adanya ketepatan waktu dan jumlah
data daftar tersebut, jumlah pesanan yang persediaan yang optimal guna menghindari
menghassilkan jumlah biaya terkecil merupakan terjadinya stockout maupun persediaan yang
jumlah pesanan ekonomis. Untuk pendekatan menumpuk. Berikut merupakan tahapan dalam
Graphical Approach, penentuan jumlah pesanan menentukan persediaan menggunakan metode two
ekonomis dilakukan dengan cara menggambarkan bin atau Kanban.
grafik-grafik carrying cost, dan ordering cost i.) Jumlah Kanban
dalama satu gambar dengan sumbu horizontalnya
𝑑 𝑋 (𝑐+𝑊𝑝+𝛼
yaitu jumlah pesanan (order) per tahun dan sumbu 𝑁= (9)
𝐾
vertikalnya yaitu besar biaya dari ordering cot,
carrying cost dan total cost. Sementara itu, Keterangan
Formula Approach merupakan pendekatan N = Jumlah Kanban
dengan menggunakan penurunan rumus dengan d = Kebutuhan Harian
memperhatikan bahwa jumlah pesanan yang c = Siklus Pessanan
dilakukan ekonomis. Berikut merupakan rumus Wp = Waktu Pemesanan
perhitungan dengan pendekatan formula K = Kapasitas Palet
approach. α = Koef Pengaman
i.) Economic Order Quantity (EOQ)
Perhitungan EOQ dapat [7]:

262
Sigma Teknika, Vol. 5, No.2 : 259-266
November 2022
E-ISSN 2599-0616
P ISSN 2614-5979

ii.) Frekuensi Pengiriman .


3. METODE PENELITIAN
∑ 𝑓𝑏 Lokasi penelitian dilakukan di PT AKA pada
𝑓𝑝 = (10)
𝐾 departemen SCM Infrastructure Maint Plant
khususnya pada packing plant Ciwandan.
Keterangan
Pengamatan dilakukan dengan cara observasi
∑fb = Jumlah pemesanan dalam 1
langsung ke PT AKA dan wawancara. Data
periode
kuantitatif yaitu persediaan bahan baku, biaya
K = Kapasitas palet
pemesanan, biaya penyimpanan, dan biaya
permintaan didapatkan dari record data historis
iii.) Siklus Pesan
perusahaan. Data persediaan bahan baku
𝐴 merupakan data barang-barang yang masih
𝑐= (11) terdapat di dalam gudang penyimpanan untuk
1
menunggu di proses. Biaya yang dikeluarkan
Keterangan perusahaan saat melakukan pembelian bahan baku
A = Jumlah hari satu kai pesan – waktu kepada supplier. Biaya yang dikeluarkan
kirim perusahaan yang berkaitan dengan biaya
penyimpanan barang meliputi biaya penyusutan,
iv.) Waktu Pemesanan biaya kerusakan, biaya listrik. Data Permintaan
terdiri dari data barang yang keluar (stockout) dan
𝑊𝑝 = 𝑐 𝑋 𝐶 (12) data barang yang masuk (stockin).
Data yang telah terkumpul, kemudian diolah
menggunakan tiga metode yaitu metode Min-
Keterangan Max, EOQ, dan Two Bin. Data yang telah diolah
c = Siklus pesan akan dilakukan analisa perbandingan guna
C = Waktu pemuatan barang ke palet memberikan saran rekomendasi penggunaan
metode yang tepat dengan mempertimbangkan
v.) Total Inventory Cost total biaya inventory control.

𝐷𝑋𝑆 4. HASIL DAN PEMBAHASAN


𝑇𝐼𝐶 = (𝐷 𝑋 𝑃) + ( ) (13)
𝑄

Gambar 3 Berikut merupakan data historis


Keterangan pemakaian bahan baku kantong semen 40 kg dan
TIC = Total Inventory Cost 50 kg untuk periode januari-maret. Data historis
D = Permintaan ini diperoleh langsung melalui data SAP
P = Harga pembelian pemakaian kantong semen perusahaan.
Q = kuantitas pemesanan
S = Biaya sekali pesan

Penggunaan metode EOQ dan Min-Max


telah diimplementasikan pada penelitian [3]
sementara untuk metode Two-bin atau kanban
telah diimplementasikan pada obyek perusahaan
skala besar. Penggunaan ketiga metode ini, masih
sangat relevan untuk dilakukan penelitain
dikarenakan objek yang dilakukan penelitian
merupakan persediaan bahan baku dalam hal ini
kantong semen, dimana terdapat ketidakpastian
dalam menentukan jumlah pembelian yang Gambar 3. Pemakain kantong semen Januari – Maret
optimal dan ataupun tidak mengalami kelebihan
stock yang dialami.

263
Sigma Teknika, Vol. 5, No.2 : 259-266
November 2022
E-ISSN 2599-0616
P ISSN 2614-5979

Gambar 3. menunjukkan bahwa pola data sebesar 99.985 lembar, reorder point 493.782
historis adalah pola data konstan atau stationary, lembar, dengan frekuensi pemesanan sebesar 12
trend, dan sesekali seasonalit. Oleh karena itu, kali per tahun dan untuk bahan baku kantong
penggunaan metode peramalan yang dapat semen 50 kg memiliki nilai persediaan minimum
digunakan yaitu metode linear regression. Berikut 170.347, persediaan maksimum 315.883, safety
merupakan hassil data peramalan dengan stock yaitu 24.811 lembar, tingkat pemesanan
menggunakan software Minitab. Data yang kembali sebesar 145.536 lembar dengan frekuensi
diperoleh pada proses pengamatan ialah data pada pemesanan sebesar 12 kali dalam setahun. Table
bulan januari-maret, sementara itu, untuk 2. Merupakan hasil kalkulasi metode EOQ.
menambah jumlah data sebagai bahan valdasi,
diperlukan data forecasting atau data peramalan Tabel 2. Hasil Perhitungan Metode EOQ
yang mengacu pada data historis bulan januari-
Ket. 40 kg 50 kg
maret. Berikut merupakan hasil data forecasting
total pemakaian kantong semen 40 kg dan 50 kg Q 172125 93447
F 86 75
SS 107570 27028
ROP 43031 23362

Pada Tabel 2. menunjukkan bahwa


dengan menggunakan metode EOQ, diperoleh
nilai Q untuk kantong semen 40 kg yaitu 172.125
lembar, Safety stock sebesar 107.570 lembar,
reorder point 43.031 lembar, dengan frekuensi
pemesanan sebesar 86 kali per tahun dan untuk
bahan baku kantong semen 50 kg memiliki nilai Q
93.447, safety stock yaitu 27.028 lembar, tingkat
pemesanan kembali sebesar 23.362 lembar dengan
Gambar 4. Data Peramalan Pemakaian kantong frekuensi pemesanan sebesar 75 kali dalam
semen periode Januari-Maret [Link] perhitungan metode Kanban
disajikan di Tabel 3.
Hasil peramalan Gambar 4. dengan
metode linear regression akan digunakan sebagai
acuan dalam menghitung persediaan dengan Ket. 40 kg 50 kg
menggunakan metode Min-Max, EOQ, dan Two- Jumlah Kanban 12 12
Bin. Dengan menggunakan rumus 1-13. Hasil F 3654 3654
perhitungan Min-Max dapat dilihat pada tabel 1. SS 38645 9398
ROP 39455 9636
Tabel 1. Hasil Perhitungan Metode Min-Max

Ket. 40 kg 50 kg
Persediaan Min 593767 170347 Tabel 3. Hasil Perhitungan Metode Two-Bin (Kanban)
Persediaan Maks 1087549 315883
F 12 12 Pada Tabel 3. menunjukkan bahwa dengan
SS 99985 24811 menggunakan metode Two-Bin (Kanban),
ROP 493782 145536 diperoleh jumlah kartu kanban untuk kantong
semen 40 kg yaitu 12 kartu, Safety stock sebesar
Pada Tabel 1. menunjukkan bahwa 38.645 lembar, reorder point 39.455 lembar,
dengan menggunakan metode Min-Max, dengan frekuensi pemesanan sebesar 3654 kali per
diperoleh nilai persediaan minimum dan tahun dan untuk bahan baku kantong semen 50 kg
maksimum untuk kantong semen 40 kg yaitu memiliki jumlah kartu kanban yaitu 12 kartu,
593.767 lembar dan 1.087.549, Safety stock safety stock 9398 lembar, tingkat pemesanan

264
Sigma Teknika, Vol. 5, No.2 : 259-266
November 2022
E-ISSN 2599-0616
P ISSN 2614-5979

kembali sebesar 9636 lembar dengan frekuensi penelitian sebelumnya karena pada penelitian ini
pemesanan sebesar 3654 kali dalam setahun. ditambahkan metode Two-Bin atau Kanban
Tabel 4 menunjukkan ringkasan perbandingan dimana dari hasil yang telah didapat bahwa
hasil perhitunga tiga metode tersebut. metode tersebut memiliki biaya persediaan
tertinggi diantara dua metode lainnya. Hal tersebut
Tabel 4. Hasil Perbandingan Biaya Persediaan menunjukkan bahwa metode Kanban kurang
efektif bila diterapkan pada bahan baku kantong
Ket. Min-Max EOQ Two-Bin
semen, akan tetapi, sangat cocok bila diterapkan
40 kg 119,108 125,393 126,017 pada industri yang sering terjadi kehabisan jumlah
50 kg 35,529 38,667 43,991 persediaan yang mendekati stockout, seperti pada
industri mobil
Dari Proses perhitungan persediaan
menggunakan metode Min-Max, EOQ, dan Two- 5. KESIMPULAN DAN SARAN
Bin yang telah tertera pada tabel 1-3. Pada tabel 4 Simpulan penelitian dijabarkan dalam empat
meruapakn hasil perhitungan biaya persediaan point berikut. Simpulan pertama yaitu frekuensi
pada 3 metode tersebut. Berdasarkan hasil pembelian bahan baku apabila menggunakan
perhitungan tersebut, maka dapat dinyatakan metode Min-Max adalah 12 kali untuk kantong
bahwa metode Min-Max merupakan metode yang semen 40 kg, dan 50 kg. Apabila menggunakan
paling baik digunakan dibandingkan metode EOQ metode EOQ, frekuensi pemesanan sebesar 86
dan Two-Bin. Hal tersebut dapat dilihat pada total kali (40 kg), dan 75 kali (50 kg). Sedangkan untuk
biaya persediaan produk kantong semen 40 kg dan penggunaan metode Two-Bin, frekuensi
50 kg, dengan total biaya persediaan minimum pemesanan sebesar 3654 kali untuk kantong
Rp. 119, 107 Juta untuk produk kantong semen 40 semen 40 kg dan 50 kg. Temuan kedua yaitu
kg, dan Rp. 35,529 Juta untuk produk kantong persediaan pengaman apabila menggunkan
semen 50 kg. metode Min-Max sebesar 99.985 (40 kg) dan
Berdasarkan hasil penelitian 24.811 (50 kg).
menunjukkan bahwa dengan menggunakan Apabila menggunkaan metode EOQ,
metode Min-Max, dapat mengefisienkan biaya- perediaan pengaman sebesar 107.570 (40 kg) dan
biaya persediaan kantong semen, sehingga dapat 27.028 (50 kg). Sedangkan metode Two Bin
memaksimalkan keuntungan yang didapat. Akan menghailkan persediaan pengaman sebesar
tetapi, terdapat beberapa hal yang perlu 38.645 (40 kg) dan 9.398 (50 kg). Hasil
diperhatikan oleh perusahaan sebelum kesimpulan ketiga adalah tingkat pemesanan
menentukan besarnya kuantitas setiap kali kembali apabila menggunkan metode Min-Max
pemesanan yaitu selama periode tersebut, tingkat sebesar 493.782 (40kg) dan 145.536 (50 kg).
harga konstan baik harga beli bahan maupun harga apabila menggunakan metode EOQ sebesar
biaya pemesanan dan penyimpanan, selau tersedia 106.526 untuk kantong semen 40 kg dan 50 kg,
dana ketika ingin melakukan pembelian, fasilitas serta apabila menggunakan metode Two-Bin,
penyimpanan dapat menampung pembelian yang tingkat pemesanan kembali sebesar 39.455 (40 kg)
dilakukan serta bahan kantong semen yang dibeli dan 9636 (50 kg).
tidak mudah rusak dalam proses penyimpanan Terakhir disimpulkan bahwa metode Min-
gudang. Max memberikan kuantitas pemeanan yang paling
Hasil penelitian ini memiliki perbedaan optimal dengan mengeluarkan biaya sebesar Rp.
dengan hasil penelitian di perusahaan sejenis, 119,107 Juta (40kg) dan Rp. 35,529 Juta,
bahwa metode EOQ memiliki jumlah pemesanan dibandingkan dengan metode EOQ dan Two-Bin.
dan biaya terkecil diantara metode POQ dan Min- Hasil pemilihan metode terbaik dalam
Max. Perbedaan hasil tersebut dapat pengendalian persediaan dapat dijadikan bahan
memungkinkan terjadi karena beberapa hal salah pertimbangan perusahaan dalam mengambil
satunya ialah jumlah data yang dikumpulkan keputusan pengendalian persediaan untuk produk
berbeda sehingga tingkat akurasi dan validasi data kantong semen 40 kg dan 50 kg. Perusahaan
dapat mempengaruhi peramalan data yang sebaiknya meninjau kembali terkait kuantitas
dilakukan. Penelitian ini memiliki perbedaan dari

265
Sigma Teknika, Vol. 5, No.2 : 259-266
November 2022
E-ISSN 2599-0616
P ISSN 2614-5979

pemesanan dan frekuensi pembelian, agar tidak Pengendalian Barang Dagang (Inventory)
terjadi kelebihan stock dan dapat meminimalisir dengan Menggunakan Metode Economic
biaya pemesanan yang dilakukan. Order Quantity (EOQ) Pada Rabbani
Asysa,” J. Ris. Akunt. dan Bisnis, vol. 8,
no. September, pp. 22–47, 2008.
DAFTAR PUSTAKA
[8] I. A. Alam and W. Tandra, “Analisis
[1] V. Brama Kumbara, “Determinasi Nilai Pengendalian Persediaan Bahan Baku
Pelanggan Dan Keputusan Pembelian: Upaya Meminimalkan Biaya Persediaan
Analisis Kualitas Produk, Desain Produk Pada Perusahaan Elang Sederhana Di Kota
Dan Endorse,” J. Ilmu Manaj. Terap., vol. Palembang.,” 2021, [Online]. Available:
2, no. 5, pp. 604–630, 2021, doi: tp://[Link]/10.31219/[Link]/tkfua
10.31933/jimt.v2i5.568.

[2] A. H. J. Bella Felicita Rambitan, Jacky


S.B. Sumarauw, “Analisis Penerapan
Manajemen PersediaCVan Pada Cv.
Indospice Manado,” J. EMBA J. Ris. Ekon.
Manajemen, Bisnis dan Akunt., vol. 6, no.
3, pp. 1448–1457, 2018.

[3] Z. Z. Y. Arif and I. Sukarno, “Evaluasi


Kebijakan Persediaan Bahan Baku
Kantong Semen Untuk Mengurangi Biaya
Persediaan (Studi Kasus: PT. Solusi
Bangun Indonesia TBK).,” J. Manaj. Ind.
dan Logistik, vol. 4, no. 2, pp. 138–145,
2021, doi: 10.30988/jmil.v4i2.510.

[4] N. L. Rachmawati and M. Lentari,


“Penerapan Metode Min-Max untuk
Stockout dan Overstock Persediaan Bahan
Baku,” vol. 8, no. 2, pp. 143–148, 2022.

[5] R. G. Prayoga, I. B. Purwanggono, and M.


Eng, “Pengendalian Inventory Pada
Kebutuhan Sodium Chloride & Tubing
Crude Oil Di PT . Pertamina EP Field
Sukowati Asset 4 , Menggunakan Metode
Minimum - Maximum Stock”.

[6] C. Yuliana, T. Topowijono, and N.


Sudjana, “Penerapan Model EOQ
(Economic Order Quantity) Dalam Rangka
Meminimumkan Biaya Persediaan Bahan
Baku (Studi Pada UD. Sumber Rejo
Kandangan-Kediri),” J. Adm. Bisnis, vol.
36, no. 1, pp. 1–9, 2016.

[7] B. Harto and Dinda, “Analisis

266

Anda mungkin juga menyukai