Asuhan Keperawatan Keluarga Gastritis
Asuhan Keperawatan Keluarga Gastritis
NAMA KELOMPOK :
TAHUN 2023
KATA PENGANTAR
Puji syukur atas kehadirat Tuhan Yang Maha Esa kami ucapkan, karena berkat ridho
dan izin-Nya lah kami dapat menyelesaikan makalah Asuhan Keperawatan Keluarga yang
berjudul "Gastritis" ini tepat pada waktunya.
Kami menyadari makalah ini masih belum sempurna, baik dari isi maupun sistematika
penulisannya, maka dari itu kami mengharapkaan apabila ada kritik dan saran yang
membangun demi kesempurnaan makalah ini.
Akhir kata, semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi para pembaca.
Tim Penyusun
DAFTAR ISI
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Gastritis adalah peradangan pada lambung, penyakit ini biasanya ditandai
dengan rasa mual dan muntah, nyeri pada ulu hati, rasa lemas, nafsu makan menurun,
dan sakit kepala . Faktor penyebab terjadinya gastritis seperti beberapa jenis obat,
alkohol, bakteri Helicobacter pylori, virus, jamur, stres akut, radiasi, alergi dari bahan
makanan dan minuman, garam empedu, iskemia, dan trauma langsung. (Octavia,
2020)
Gastritis atau secara umum dikenal dengan istilah sakit “maag” atau ulu hati
ialah peradangan pada dinding lambung terutama pada selaput lendir lambung.
Penyakit ini sering dijumpai timbul secara mendadak biasanya ditandai dengan rasa
mual dan muntah, nyeri,perdarahan, rasa lemah, nafsu makan menurun atau sakit
[Link] klinis gastritis secara garis besar dibagi menjadi dua jenis yaitu
gastritits akut dan gastritis kronik.
Gastritis akut merupakan kelainan klinis akut yang jelas penyebabnya dengan
tanda dan gejala yang khas, biasanya ditemukan inflamasi akut. Gastritis kronis
merupakan gastritis penyebab yang tidak jelas,sering bersifat multifaktor dengan
perjalanan klinik yang bervariasi. Gastristis kronis berkaitan erat dengan infeksi
Helicobacteri pylori (Megawati & Nosi, 2018).
Pada Lansia Penyakit Hipertensi pada tahun 2017 sebanyak 304 jiwa, pada
tahun 2018 sebanyak 217 jiwa, pada tahun 2019 sebanyak 268 jiwa, pada tahun 2020
sebanyak 417 jiwa, pada tahun 2021 sebanyak 248 jiwa. Penyakit Ispa pada tahun
2017 sebanyak 165 jiwa, pada tahun 2018 sebanyak 174 jiwa, pada tahun 2019
sebanyak 224 jiwa, pada tahun 2020 sebanyak 337 jiwa, pada tahun 2021 sebanyak
248 jiwa. Penyakit Gastritis pada tahun 2017 sebanyak 141 jiwa, pada tahun 2018
sebanyak 111 jiwa, pada tahun 2019 sebanyak 17 jiwa, pada tahun 2020 sebanyak 203
jiwa. Penyakit rematik pada tahun 2017 sebanyak 287 jiwa, pada tahun 2018
sebanyak 216 jiwa, pada tahun 2019 sebanyak 188 jiwa, pada tahun 2020 sebanyak
195 jiwa, pada tahun 2021 sebanyak 165 jiwa. Penyakit kulit infeksi pada tahun 2017
sebanyak 49 jiwa, pada tahun 2018 sebanyak 52 jiwa, pada tahun 2019 sebanyak 4
jiwa, pada tahun 2020 sebanyak 19 jiwa. Penyakit kulit alergi pada tahun 2017
sebanyak 61 jiwa, pada tahun 2018 sebanyak 53 jiwa, pada tahun 2019 sebanyak 126
jiwa, pada tahun 2020 sebanyak 120 jiwa, pada tahun 2021 sebanyak 158 jiwa.
Penyakit katarak pada tahun 2017 sebanyak 44 jiwa, pada tahun 2018 sebanyak 28
jiwa, pada tahun 2019 sebanyak 46 jiwa, pada tahun 2020 sebanyak 29 jiwa, pada
tahun 2021 sebanyak 29 jiwa. Penyakit asma pada tahun 2019 sebanyak 20 jiwa.
Penyakit neuretik pada tahun 2017 sebanyak 149 jiwa. Penyakit DM pada tahun 2017
sebanyak 63 jiwa, pada tahun 2018 sebanyak 66 jiwa, pada tahun 2019 sebanyak 137
jiwa, pada tahun 2020 sebanyak 161 jiwa, pada tahun 2021 sebanyak 126 jiwa.
Penyakit Cephalgia pada tahun 2017 sebanyak 149 jiwa, pada tahun 2018 sebanyak
155 jiwa, pada tahun 2019 sebanyak 100 jiwa, pada tahun 2020 sebanyak 136 jiwa,
pada tahun 2021 sebanyak 72 jiwa. Penyakit FA pada tahun 2021 sebanyak 20 jiwa.
Penyakit Diare pada tahun 2021 sebanyak 72 jiwa.
Salah satu cara untuk mecegah terjadinya gastritis yaitu biasakan makan
dengan teratur, kunyah makanan dengan baik, jangan makan terlalu banyak, jangan
berbaring setelah makan, kurangi makan yang pedas dan asam, kurangi menyantap
makanan yang menimbulkan gas, jangan makan makanan yang telalu dingin dan
panas, mengurangi makanan yang digoreng,kurangi konsumsi cokelat. Selain itu
kurangi stres dan hindari makanan yang memicu timbulnya gastritis. Dampak dari
gastritis biasa mengalami komplikasi seperti perdarahan saluran cerna bagian atas,
hematemesis dan melena (anemia), ulkus peptikum perforasi (Pradnyanita, 2019).
B. RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan kasus dan latar belakang diatas maka peneliti mengambil rumusan
masalah tentang Asuhan Keperawatan Keluarga Pada Kasus Gastritis
C. TUJUAN PENULISAN
Tujuan Umum :
Melakukan asuhan keperawatan pada keluarga dengan kasus gastritis di Puskesmas 23
Ilir Palembang Tahun 2023
Tujuan Khusus :
1. Melakukan pengkajian keperawatan pada keluarga dengan diagnose medis
Gastritis di Puskesmas 23 Ilir Palembang
2. Mengakkan diagnosa keperawatan pada keluarga dengan diagnosa medis Gastritis
di Puskesmaas 23 Ilir Palembang
3. Merencanakan tindakan keperawatan pada keluarga dengan diagnose medis
Gastritis di Puskesmas 23 Ilir Palembnag
4. Melakukan tindakan keperawatan pada keluarga dengan diagnosa medis Gastritis
di Puskesmas 23 Ilir Palembang
5. Mengevaluasi tindakan keperawatan yang telah dilakukan pada keluarga dengan
diagnosa medis Gastritis di puskesmas 23 Ilir Palembang.
D. MANFAAT
a. Bagi Puskesmas
Memberikan informasi untuk pengembangan ilmu keperawatan maternitas
dalam pelaksanaan Asuhan Keperawatan, terutama pada ibu hamil dengan masalah
Anemia dipuskesmas 23 Ilir 23 Palembang.
b. Bagi Penulis
Dapat menambah wawasan dan memberikan pengalaman langsung bagi
penulis dalam melaksanakan pembuatan tugas Keperawatan Maternitas dengan
diagnosa Medis Anemia di Puskesmas 23 Ilir Palembang.
E. METODE
a. Observasi
Dilakukan dengan pengamatan dan pengkajian secara langsung serta
berkesinambungan terhadap hal-hal yang berkaitan dengan permasalahan klien.
b. Wawancara
Untuk memperoleh data, penulis melakukan tanya jawab langsung dengan
klien/keluarga klien. Wawancara dilakukan sesuai dengan format pengkajian.
TINJAUAN PUSTAKA
b. Anatomi Fisiologi
1. Anatomi
Gambar l.1 Lambung Sehat dan Maag (sumber: [Link], 2022)
2. Fisiologi
Gastritis akut timbul mendadak tanpa ada riwayat sebelumnya dengan keluhan
nyeri dan rasa panas pada daerah perut atas, dan biasanya hilang dengan sendirinya dalam
beberapa hari. Sedangkan gastritis kronis biasanya memiliki gejala yang lebih ringan.
Namun hal ini perlu diperhatikan, karena bisa menjadi lebih parah tanpa kita sadari.
c. Etiologi
Penyebab utama gastritis adalah bakteri Helicobacter pylori, virus, atau parasit
lainnya juga dapat menyebakan gastritis. Kontributor gastritis akut adalah meminum
alkohol secara berlebihan, infeksi dari kontaminasi makanan yang dimakan, dan
penggunaan kokain. Kortikosteroid juga dapat menyebabkan gastritis seperti NSAID
aspirin dan ibuprofen (Dewit dkk, 2016). Menurut (Gomez, 2012) penyebab gastritis
adalah sebagai berikut :
1. Infeksi bakteri
2. Sering menggunakan pereda nyeri
3. Stres
4. Autoimun
5.
d. Patofisiologi
Pada gastritis yang disebabkan oleh Bakteri Helicobacter Pylori, penularan
bakteri terjadi melalui rute fekal-oral. Infeksi Helicobacter Pylori memicu IL- 8, yang
menarik neutrofil yang melepaskan oxyradicals yang menyebabkan kerusakan sel dan
menyebabkan terjadinya Infiltrasi limfosit.
Gastritis kronis sebagian besar disebabkan oleh infeksi Helicobacter Pylori
dan muncul sebagai bentuk non-atrofik atau atrofi. Kedua bentuk ini adalah fenotipe
gastritis pada tahap yang berbeda dari penyakit seumur hidup yang sama.
Patogenesis gastritis autoimun berfokus pada dua teori. Menurut teori pertama
ysitu terpicunya respon imun terhadap antigen Helicobacter Pylori kemudian bereaksi
silang dengan antigen dalam protein pompa proton atau faktor intrinsik, menyebabkan
kaskade perubahan seluler dan kerusakan pada sel parietal. Dengan demikian sel-sel
ini secara bertahap menjadi atrofi dan tidak berfungsi.
Teori kedua mengasumsikan bahwa gangguan autoimun yang berkembang
terlepas dari adanya infeksi Helicobacter Pylori, dan mengarahkan dirinya sendiri
terhadap protein pompa proton. Gastritis autoimun adalah hasil dari interaksi yang
kompleks antara kerentanan genetik dan faktor lingkungan yang mengakibatkan
disregulasi imunologi yang melibatkan limfosit T dan autoantibodi yang berdampak
ke sel parietal.
e. Manifestasi Klinis
1. Gambaran klinis gastritis akut meliputi:
a) Dapat terjadi ulserasi superfisial dan dapat menimbulkan hemoragi.
b) Rasa tidak nyaman pada abdomen dengan sakit kepala, kelesuan, mual, dan
anoreksia. Disertai muntah dan cegukan.
c) Beberapa pasien menunjukkan asimptomatik.
d) Dapat terjadi kolik dan diare jika makanan yang mengiritasi tidak dimuntahkan,
tetapi malah mencapai usus.
e) Pasien biasanya pulih kembali sekitar sehari, meskipun nafsu mungkin akan
hilang selama 2 sampai 3 hari (Smeltzer & Bare, 2002).
2. Gambaran klinis gastritis kronis meliputi :
Pasien dengan Gastritis tipe A secara khusus asimtomatik kecuali untuk gejala
defisiensi vitamin B12. Pada gastritis tipe B, pasien mengeluh anoreksia (nafsu
makan menurun), nyeri ulu hati setelah makan, kembung, rasa asam di mulut, atau
mual dan muntah (Smeltzer & Bare, 2002).
f. Komplikasi
Menurut (Hardi & Huda, 2015) , komplikasi gastritis yaitu :
1) Gastritis akut
Komplikasi yang dapat di timbulkan oleh gastritis akut adalah perdahan saluran
cerna bagian atas (SCBA) berupa haematomesis dan melena, dapat berakhir
dengan shock hemoragik. Khusus untuk perdarahan SCBA perlu di bedakan
dengan tukak peptik. Gambaran klinis yang di perlihatkan hampir sama. Namun
pada tukak peptik penyebab utamanya adalah Helicobacter Pylory, sebesar 100 %
pada tukak duodenum dan 60-90 % pada tukak lambung. Diagnosis pasti dapat di
tegakkan dengan endoskopi.
2) Gastritis kronis
Perdarahan saluran cerna bagian atas, ulkus, ferporasi dan anemia karena
gangguan absorpi vitamin B12.
g. Pemeriksaan Penunjang
Menurut (Suratun, 2010) pemeriksaan penunjang pada pasien dengan gastritis
meliputi:
1) Darah lengkap, bertujuan untuk mengetahui adanya anemia.
2) Pemeriksaan serum vitamain B12, bertujuan untuk mengetahui adanya defisiensi
B12.
3) Analisa feses, bertujuan untuk mengetahui adanya darah dalam feses.
3. Penatalaksanaan
Gastritis akut diatasi dengan menginstruksikan pasien untuk menghindari
alkohol dan makanan sampai gejala berkurang. Bila pasien mampu makan melalui
mulut, anjurkan diet mengandung gizi. Bila gejala menetap, cairan perlu diberikan
secara parenteral. Bila perdarahan terjadi, maka penatalaksanaan adalah serupa
dengan prosedur yang dilakukan untuk hemoragik saluran gastrointestinal atas.
Bila gastritis diakibatkan oleh mencerna makanan yang sangat asam atau alkali.
Pengobatan terdiri dari pengenceran dan penetralisasian agen penyebab (Hardi &
Huda, 2015).
2. Dianosa Keperawatan
a. Nyeri akut berhubungan dengan agen pencedera fisik ditandai dengan :
1) Tampak meringis
2) Bersikap protektif (mis. Waspada, posisi menghindari nyeri)
3) Gelisah
4) Frekuensi nadi meningkat
5) Sulit tidur
b. Defisit Pengetahuan berhubungan dengan kurang terpapar informasi ditandai
dengan :
1) Menunjukan perilaku tidak sesuai anjuran
2) Menunjikan presepsi yang keliru terhadap masalah
c. Manajemen Kesehatan Tidak Efektif berhubungan dengan Ketidakefektifan
pola perawatn kesehatan keluarga ditandai dengan :
1) Gagal melakuakan tindakan untuk mengurangi faktor resiko.
2) Gagal menerapkan program perawatan/pengobatan.
3) Aktivitas hidup sehari hari tidak efektif untuk memenuhi tujuan kesehatan.
3. Rencana Asuhan keperawatan
-Berikan teknik
nonfarmakologis untuk
mengurangi rasa nyeri
(mis. TENS, hipnosis,
akupresur, terapi musik,
biofeedback, terapi pijat,
aromaterapi, teknik
imajinasi terbimbing.
Kompres hangat/dingin,
terapi bermain)
Edukasi
-Jelaskan penyebab,
perlode, dan pemicu nyeri
-Ajarkan teknik
nonfarmakologis untuk
mengurangi rasa nyeri
-Anjurkan menggunakan
analgetik secara tepat
-Anjurkan memonitor
nyeri secara mandiri
-Jelaskan strategi
meredakan nyeri
Kolaborasi
-Kolaborasi pemberian
analgetik, jika perlu
2 Defisit Pengetahuan Setelah dilakukan tindakan Edukasi Kesehatan
berhubungan dengan keperawatan 3x24jam,
Observasi
kurang terpapar informasi maka tingkat pengetahuan
meningkat Dengan kriteria
(Identifikasi kesiapan dan
hasil :
kemampuan menerima
informasi
-Perilaku sesuai anjuran
meningkat
-Identifikasi faktor-faktor
yang dapat meningkatkan
-Verbalisasi minat dalam
dan menurunkan motivasi
belajar
perilaku hidup bersih dan
-Kemampuan menjelaskan sehat
pengetahuan tentang suatu
Terapeutik
topik
-Identifikasi pemahaman
-Aktivitas keluarga
tentang keputusan
mengatasi masalah
perawatan setelah pulang
kesehatan tepat meningkat
Terapeutik:
-Tindakan untuk
mengurangi faktor risiko
-Dengarkan masalah,
meningkat perasaan dan pertanyaan
keluarga
-Verbalisasi kesulitan
menurun -Terima nilai-nilai
keluarga dengan cara yang
-menjalankan perawatan
tidak menghakimi
yang ditetapkan menurun
-Diskusikan rencana medis
-Gejala penyakit anggota
dan perawatan
keluarga menurun
-Fasilitasi memperoleh
pengetahuan,keterampilan
dan peralatan yang
diperlukan untuk
mempertahankan
keputusan perawatan
pasien
Edukasi
-Informasikan kemajuan
pasien secara berkala
-Informasikan fasilitas
perawatan kesehatan yang
tersedia
Kolaborasi
3. Data Demografi
KELURAHAN
NO DEMOGRAFI TOTAL
23 ILIR 24 ILIR
1 Jumlah Penduduk 2850 13870 16720
2 Jumlah Kepala Keluarga ( KK )
3 Masyarakat Miskin
Dua Puluh
4 Jumlah Ibu Hamil 42 190
Tiga Ilir
5 Jumlah Ibu bersalin 39 177 216
6 Jumlah Ibu Nifas 39 177 216
7 Jumlah Wanita Usia Subur (WUS) 713 3169 3882
8 Jumlah bayi 70 313 383
9 Jumlah Batita (13-24bln) 208 925 1133
10 Jumlah Anak Balita (1-4 th) 261 1165 1426
11 Jumlah Balita (0-4 th) 301 1340 1641
12 Jumlah APRAS (5-6 th) 111 497 608
13 Jumlah Remaja 1213 5386 6599
14 Jumlah PUS 313 1384 1697
15 Jumlah Usila 108 484 592
16 Jumlah Posyandu Lansia 1 3 4
17 Jumlah posyandu 3 11 14
18 Jumlah Taman Kanak-Kanak 3 3
19 Jumlah SD/ Madrasah Ibtidaiyah
a. Negeri 2 5 7
b. Swasta - - -
20 Jumlah SMP/ Madrasah Tsanawiyah
a. Negeri - 1 1
b. Swasta - 1 1
Tahun
Jenis Penyakit
2017 2018 2019 2020 2021
Penyakit Sal. Pernafasan atas 1485 1629 2574 2880 686
CC 1175 785 - - 541
Peny. Infeksi Usus 372 - - - 600
Diare 678 299 591 592 621
Peny. Kulit Infeksi 464 379 443 591 570
9Dua
Rheumatik 566 662 696 puluh 494
tiga
Peny. Kulit Alergi 548 506 805 600 582
Gastritis 466 157 157 2401 593
Hipertensi 1415 1454 820 2510 486
Dua
Neurosa 64 34 puluh - 564
tiga82
Penyakit lain - 478 495 447 611
JENIS TAHUN
PENYAKIT 2017 2018 2019 2020 2021
Hipertensi 304 217 268 417 248
ISPA 165 174 224 337 205
Gastritis 141 111 17 203 -
Rematik 287 216 188 195 165
Penyakit kulit
49 52 4 19 -
Infeksi
Penyakit Kulit
61 53 126 120 158
Alergi
Katarak 44 28 46 29 29
Asma - - 20 - -
Neurotik 149 - - - -
DM 63 66 137 161 126
Cephalgia 149 155 100 136 72
FA - - - - 20
Diare - - - - 72
Ibu hamil (Bumil), Ibu Bersalin (Bulin), Ibu nifas (Bufas), Ibu
menyusui Busui)
KB melayani IUD, Implant, Pil, Suntikan dan Kondom.
2. Pelayanan Pengobatan
Pengobatan umun
Pengobatan gigi
Rujukan
3. Penyuluhan Kesehatan
Penyuluhan di Puskesmas
Penyuluhan di Posyandu
Penyuluhan di SD / SLTP
Penyuluhan di Kelurahan
4. Pelayanan Laboratorium
Pemeriksaan HB
Pemeriksaan Trombosit
Tes kehamilan
a. Gizi
BCG
Polio
DPT,HB,HIB ( Pentavalent)
Hepatitis B
Campak
Klinik ini dimulai pada Tahun 2009 bekerjasama dengan Global Fun (GF)
Puskesmas Dua Puluh Tiga Ilir Ilir ini mempunyai wilayah kerja yang
merupakan daerah rawan untuk kasus IMS . Wilayah kerja Puskesmas Dua
Puluh Tiga Ilir Ilir penduduknya sangat dinamis dan merupakan daerah
transit (Khusus Rusun).
Program IMS melayani:
Kegiatan Kespro
P2 Kelamin
Penyuluhan
Sero Survei (kerjasama dengan Dinas Kesehatan Kota)
7. Lain-lain
e. Pelaksanaan BIAS dilakukan 1 tahun sekali pada murid kelas 1, 2 dan kelas
3 SD.
BAB IV
TINJAUAN KASUS
I. Pengkajian
Tanggal : 21 Januari 2023, Jam 14.50
Data Umum
1. Kepala Keluarga (KK) : Tn.s
2. Umur : 67 tahun
3. Agama : Islam
4. Alamat : [Link]
5. Pekerjaan KK : Buruh Harian
6. Pendidikan KK : Smp
7. Suku//Bangsa : Palembang/ Indonesia
Komposisi Keluarga :
No Nama Jenis Hub Umu Pen Pek Stat Status Imunisasi KET
Kelam r didik erja us
in an an Kes.
BC Polio DPT Hepatitis Campak
G
1 2 3 4 1 2 3 1 2 3
X X X X
Keterangan:
Laki-Laki
Perempuan
Klien/Pasien
Serumah
X Meninggal
Dapur
WC
Ruang
Keluarga
Kamar
Anggota Keluarga
Pemeriksaan fisik
Tn.S Ny.S
Keadaan umum Sedang Lemah
Tekanan Darah 110/70 mmHg 130/90 mmHg
Nadi 85 x/menit 90 x/menit
Respirasi Rate 22 x/menit 23 x/menit
Berat Badan 60 Kg 51 Kg
Kepala :
a. Bentuk Simetris Simetris
b. Keadaan Umum Bersih, tidak ada Bersih, tidak ada
c. Warna benjolan dan lesi benjolan dan lesi
d. Rambut Rambut sedikit beruban Rambut sedikit beruban
Mata :
a. Simetris/asimetris Simetris Simetris
b. Konjungtiva Konjungtiva Konjungtiva
anemis/tidak ananemis ananemis
Anemis
c. Sklera Ikterik/
tidak Ikterik Sklera anikterik Sklera anikterik
Hidung :
a. Kebersihan Bersih tidak ada Bersih tidak ada
b. Simetris/Asi secret secret
metris Simetris / Penciuman Simetris / Penciuman
c. Sekret ada/ Tidak baik baik
ada Tidak ada secret Tidak ada secret
d. pernafasan cuping Tidak ada pernafasan Tidak ada pernafasan
hidung cuping cuping
Telinga :
a. Kebersihan Bersih Bersih
b. Simetris/Asi Simetris Simetris
metris
c. Seruman ada/ Tidak ada serumen Tidak ada serumen
Tidak ada
d. Fungsi Pendengara n baik Pendengara n baik
pendengaran
Mulut :
a. Kebersihan Mulut bersih Mulut bersih
b. Mukosa bibir Mukosa bibir lembab Mukosa bibir lembab
c. Lidah Lidah baik Lidah baik
d. Gigi Gigi bagus Gigi bagus
Leher Tidak ada pembesaran Tidak ada pembesaran
kelenjar limfe dan tiroid kelenjar limfe dan tiroid
Dada :
a. Simetris/Asi Dada simetris Dada simetris
metris Tidak ada Tidak ada
b. Otot Bantu
Pernafasan Bunyi jantung Bunyi jantung
Abdomen :
a. Bentuk Cembung Cembung
b. Simetris/Asi Simetris Simetris
metris Tidak ada nyeri tekan Pada bagian ulu hati
c. Nyeri Tekan mengalami nyeri dengan
skala nyeri 5 yang
biasanya timbul pada saat
telat makan terutama pada
siang hari .
Genitalia Tidak ada gangguan pada Tidak ada gangguan pada
bagian genetalia bagian genetalia
Ekstremitas
a. Atas Pergerakan normal ,tidak Pergerakan normal ,tidak
ada gangguan dan tidak ada gangguan dan tidak
ada luka ada luka
2/ 2 x 1 = 1
d. Menonjolnya masalah Keluarga Ny.S
masalah (0)
Total Skor 4,6
2. a. Sifat masalah : 3/3x1=1 Pasien dan keluarga
1. Aktual (3) mengatakan tidak
2. Potensial (2) tahu banyaj tentang
3. Resiko (1) penyakit gastritis
3/3x1=1
c. Potensial masalah Keluarga megatakan
untuk dicegah tidak begitu paham
1. Tinggi (3) ttg gastritis jika Ny.S
2. Cukup (2) nyerinya kambuh
3. Rendah (1) maka langsung
dikasi obat
2/2x1=1
d. Menonjolnya masalah Keluarga
1. Segera diatasi (2) mengatakan jika ada
2. Tidak segera diatasi gejala maka minum
(1) obat/segera ke
3. Tidak ada dirasakan rumah sakit
masalah (0)
Total Skor 5
3. a. Sifat masalah : 3/3x1=1 Ny.S mengatakan
1. Aktual (3) kurang paham
2. Potensial (2) mengenai
3. Resiko (1) penyakitnya dan
merasa kurang
diperhatikan
keluarga
b. Kemungkinan 2/2x2=2
Kemungkinan
masalah dapat diubah masalah yang dapat
1. Mudah (2) diubah yaitu apabila
2. Cukup (1) keluarga Ny.S sudah
3. Tidak dapat (0) mendapatkan
penjelasan
3/3x1=1
c. Potensial masalah
Potensial masalah
untuk dicegah
untuk dicegah tinggi,
1. Tinggi (3)
apabila keluarga
2. Cukup (2)
Ny.S sudah diberi
3. Rendah (1)
penjelasan atau
edukasi tentang
pentingnya
keterlibatan keluarga
dalam proses
2 / 2 x 1 = 0,5 perawatan
d. Menonjolnya masalah
1. Segera diatasi (2) Ny.S mengatakan
2. Tidak segera diatasi masalah ia tau akan
(1) penyakitnya namun
3. Tidak ada dirasakan keluarga Ny.S
masalah (0) merasa bahwa
penyakitnya tidak
perlu segera
ditangani
Skor 4,5
-Informasikan kemajuan
pasien secara berkala
-Informasikan fasilitas
perawatan kesehatan yang
tersedia
Kolaborasi
-Rujuk untuk terapi
keluarga, jika perlu
C. Implementasi
D. Evaluasi
BAB V
PEMBAHASAN
5.2 Pengkajian
Faktor pola makan meliputi jenis makanan, frekuensi makan dan porsi
makan merupakan faktor pencetus utama bagi penderita gastritis. Selain itu ada
juga beberapa faktor yang memperberat gastritis yaitu stress, konsumsi kopi,
kebiasaan merokok, jenis kelamin dan usia menyebabkan terjadinya
gastritis .Adapun tanda gejala Gastritis mencakup nyeri abdomen. Hal ini dapat
disebabkan karena adanya peradangan yang terjadi akibat adanya iritasi pada
mukosa lambung. Namun, gejala yang menyertai tidak hanya ditandai dengan
rasa nyeri tetapi rasa tidak nyaman pada lambung seperti mual atau kembung
juga merupakan gejala sakit Gastritis.
Berdasarkan pengkajian yang telah dilakukan pada klien sudah memasuki usia
lanjut dan berjenis kelamin perempuan. Klien berusia 65 tahun. Klien mengatakan
nyeri akan muncul apabila pasien telat makan,terutama telat makan siang. Klien
mengalami nyeri dengan intensitas sedang, yakni menunjukkan tingkat skala 5.
Sehingga tidak ada kesenjangan antara teori dan hasil yang ditemukan dilapangan. (dr.
Laniyati Hamijoyo et al., 2020; Helmi, 2016; Saifah, 2018)
Intervensi utama yang dilakukan pada klien untuk mengatasi masalah nyeri yaitu
melakukan edukasi kesehatan, mengajarkan teknik relaksasi napas dalam untuk
mengurangi rasa nyeri. Intervensi manajemen nyeri meliputi observasi kaji tanda-tanda
vital, monitor dan lakukan pengkajian nyeri : identifikasi lokasi, karakteristik, durasi,
frekuensi, kualitas, intensitas, dan skala nyeri. Terapeutik fasilitasi istirahat tidur.
Edukasi meliputi jelaskan penyebab, periode dan pemicu nyeri, ajarkan teknik non
farmakologis untuk mengurangi nyeri dengan melakukan teknik relaksasi napas dalam,
beri kesempatan klien dan keluarga untuk bertanya, beri kesempatan klien untuk
mendemonstrasikan cara melakukan teknik relaksasi napas dalam, beri reinforcement
positif untuk jawaban dan tindakan klien dan keluarga.
Dari hasil penelitian ini baik secara langsung maupun teori yang ada,
tidak memiliki kesenjangan atau perbedaan tindakan yang dilakukan dalam
pemberian pendidikan kesehatan tentang penyakit kepada klien dan keluarga.
Pada evaluasi hari pertama pada klien didapatkan data subjektif klien
mengatakan keluhan nyeri dibagian abdomen, klien mengatakan paham tentang
gastritis dan cara melakukan teknik relaksasi napas dalam, klien mengatakan
keluarganya kooperatif dan antusias dalam keterlibatan perawatan kesehatan.
Evaluasi objektif nyeri yang diderita klien masih dirasakan tetapi sudah
mengalami penurunan yakni di skala 4. Klien mampu menjelaskan kembali
tentang penyakit gastritis, keluarga klien tampak kooperatif dan antusias dalam
keterlibatan perawatan kesehatan. Untuk diagnosa 1 masalah belum teratasi dan
intervensi dilanjutkan. Untuk diagnosa ke 2 dan 3 masalah sudah teratasi dan
intervensi dihentikan.
Pada evaluasi hari kedua pada klien didapatkan hasil evaluasi subjektif
mengatakan nyerinya masih sering kambuh tetapi intensitas nyerinya berkurang.
Klien mengatakan sudah paham bagaimana cara mengatasi nyeri jika terjadi
kekambuhan yaitu dengan melakukan teknik relaksasi napas dalam secara
mandiri. Klien mengatakan merasa rileks dan nyaman setelah dilakukan teknik
relaksasi napas dalam. Evaluasi objektif didapatkan intensitas nyeri turun ke
skala 4. Klien tampak rileks dan nyaman setelah diberikan tindakan. Masalah
belum teratasi dan intervensi dilanjutkan.
Pada evaluasi hari ketiga pada klien didapatkan hasil evaluasi subjektif
bahwa klien mengatakan sudah mengingat cara untuk melakukan teknik
relaksasi napas dalam, klien mengatakan nyerinya masih terasa tetapi sudah
berkurang. Evaluasi data objektif didapatkan data bahwa terjadi penurunan
intensitas nyeri yakni pada skala 3. Klien tampak rileks setelah diberikan
tindakan. Masalah teratasi sebagian dan intervensi dilanjutkan secara mandiri.
BAB VI
PENUTUP
6.1 Kesimpulan
Berdasarkan pengkajian yang telah dilakukan pada klien sudah memasuki usia
lanjut dan berjenis kelamin perempuan. Klien berusia 65 tahun. Klien mengatakan
nyeri akan muncul apabila setelah banyak melakukan aktivitas, pada saat cuaca dingin
(pagi/malam hari), kekakuan otot dan gangguan mobilitas fisik. Klien mengalami nyeri
dengan intensitas sedang, yakni menunjukkan tingkat skala 5.
6.2 Saran
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan dapat disampaikan saran
bahwa petugas kesehatan agar lebih meningkatkan pelayanan kesehatan kepada
pasien khususnya pada penderita gastritis yaitu dengan memberikan informasi
tentang menjaga pola makan, baik frekuensi makan maupun porsi makan dan
mengurangi konsumsi jenis makanan mengiritasi lambung serta bagaimana
menghindari stress.