0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
3K tayangan56 halaman

Asuhan Keperawatan Keluarga Gastritis

Makalah ini membahas asuhan keperawatan pada kasus gastritis di Puskesmas 23 Ilir Palembang. Gastritis adalah peradangan pada lambung yang ditandai dengan nyeri perut, mual, dan nafsu makan berkurang. Tujuan makalah ini adalah melakukan pengkajian, menetapkan diagnosa, dan merencanakan tindakan keperawatan pada pasien gastritis.

Diunggah oleh

Aulia Dwi Ningsih
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
3K tayangan56 halaman

Asuhan Keperawatan Keluarga Gastritis

Makalah ini membahas asuhan keperawatan pada kasus gastritis di Puskesmas 23 Ilir Palembang. Gastritis adalah peradangan pada lambung yang ditandai dengan nyeri perut, mual, dan nafsu makan berkurang. Tujuan makalah ini adalah melakukan pengkajian, menetapkan diagnosa, dan merencanakan tindakan keperawatan pada pasien gastritis.

Diunggah oleh

Aulia Dwi Ningsih
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA

DENGAN KASUS GASTRITIS

PUSKESMAS 23 ILIR PALEMBANG

NAMA KELOMPOK :

1. AULIA DWI NINGSIH (144012027002)


2. FITRI YANTI (144012027007)
3. MERI MUSTIKA (144012027012)
4. PUTRI AISYAH OKTARINA (144012027017)
5. RIRIN ANTIKA (144012027022)
6. YOGI PUTRA NUGRAHA (144012027028)

PROGRAM STUDI [Link] KEPERAWATAN

STIK SITI KHADIJAH PALEMBANG

TAHUN 2023
KATA PENGANTAR

Puji syukur atas kehadirat Tuhan Yang Maha Esa kami ucapkan, karena berkat ridho
dan izin-Nya lah kami dapat menyelesaikan makalah Asuhan Keperawatan Keluarga yang
berjudul "Gastritis" ini tepat pada waktunya.

Dalam proses penyusunan makalah ini, tim penyusun mengalami banyak


permasalahan namun berkat arahan dan dukungan Dari berbagai pihak akhirnya makalah ini
dapat diselesaikan tepat pada waktunya. Pada kesempatan ini, dengan segala kerendahan hati,
kami mengucapkan terima kasih.

Kami menyadari makalah ini masih belum sempurna, baik dari isi maupun sistematika
penulisannya, maka dari itu kami mengharapkaan apabila ada kritik dan saran yang
membangun demi kesempurnaan makalah ini.

Akhir kata, semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi para pembaca.

Palembang, 22 Januari 2023

Tim Penyusun
DAFTAR ISI
BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Gastritis adalah peradangan pada lambung, penyakit ini biasanya ditandai
dengan rasa mual dan muntah, nyeri pada ulu hati, rasa lemas, nafsu makan menurun,
dan sakit kepala . Faktor penyebab terjadinya gastritis seperti beberapa jenis obat,
alkohol, bakteri Helicobacter pylori, virus, jamur, stres akut, radiasi, alergi dari bahan
makanan dan minuman, garam empedu, iskemia, dan trauma langsung. (Octavia,
2020)
Gastritis atau secara umum dikenal dengan istilah sakit “maag” atau ulu hati
ialah peradangan pada dinding lambung terutama pada selaput lendir lambung.
Penyakit ini sering dijumpai timbul secara mendadak biasanya ditandai dengan rasa
mual dan muntah, nyeri,perdarahan, rasa lemah, nafsu makan menurun atau sakit
[Link] klinis gastritis secara garis besar dibagi menjadi dua jenis yaitu
gastritits akut dan gastritis kronik.
Gastritis akut merupakan kelainan klinis akut yang jelas penyebabnya dengan
tanda dan gejala yang khas, biasanya ditemukan inflamasi akut. Gastritis kronis
merupakan gastritis penyebab yang tidak jelas,sering bersifat multifaktor dengan
perjalanan klinik yang bervariasi. Gastristis kronis berkaitan erat dengan infeksi
Helicobacteri pylori (Megawati & Nosi, 2018).

Persentase dari angka kejadian gastritis di Indonesia menurut WHO adalah


40.8%, dan angka kejadian gastritis di beberapa daerah di Indonesia cukup tinggi
dengan prevalensi 274.396 kasus dari 238.452.952 jiwa penduduk dalam penelitian.

Berdasarkan profil kesehatan Indonesia tahun 2011, gastritis merupakan salah


satu penyakit dari 10 penyakit terbanyak pada pasien inap di rumah sakit di Indonesia
dengan jumlah 30.154 kasus (4.9%) Angka kejadian gastritis pada beberapa daerah di
Indonesia cukup tinggi dengan prevalensi 274.396 kasus dari 238.452.952 jiwa
penduduk.(Irianty et al., 2020).

Menurut profil kesehatan Provinsi Sumatera Selatan, jumlah penderita gastritis


tahun 2017 sebanyak 49.115 orang penderita, tahun 2018 sebanyak 54.159 orang
penderita, tahun 2019 sebanyak 728 orang, penderita tahun 2020 sebanyak 732 orang
penderita,penderita tahun 2021 sebanyak 7 orang.

Adapun 10 Data penyakit terbanyak di Puskesmas 23 Ilir Palembang yaitu


pada BP Dewasa Penyakit Ispa pada tahun 2017 sebanyak 1485 jiwa,tahun 2018
sebanyak 1629 jiwa,tahun 2019 sebanyak 2574 jiwa,tahun 2020 sebanyak 2880
jiwa,tahun 2021 sebanyak 686 jiwa. Penyakit CC pada tahun 2017 sebanyak 1175
jiwa, tahun 2018 sebanyak 785 jiwa,tahun 2021 sebanyak 541 jiwa. Penyakit Infeksi
Usus pada tahun 2017 sebanyak 372 jiwa ,tahun 2021 sebanyak 600 jiwa. Penyakit
Diare pada tahun 2017 sebanyak 678 jiwa,tahun 2018 sebanyak 299 jiwa,tahun 2019
sebanyak 591 jiwa,tahun 2020 sebanyak 592 jiwa,tahun 2021 sebanyak 621 jiwa.
Penyakit Kulit Infeksi pada tahun 2017 sebanyak 464 jiwa,tahun 2018 sebanyak 379
jiwa,tahun 2019 sebanyak 443 jiwa,tahun 2020 sebanyak 591 jiwa,tahun 2021
sebanyak 570 jiwa. Penyakit Rheumatik pada tahun 2017 sebanyak 566 jiwa,tahun
2018 sebanyak 662 jiwa,tahun 2019 sebanyak 696 jiwa,tahun 2020 sebanyak 923
jiwa,tahun 2021 sebanyak 494 jiwa. Penyakit Kulit Alergi pada tahun 2017 sebanyak
548 jiwa,tahun 2018 sebanyak 506 jiwa,tahun 2019 sebanyak 805 jiwa,tahun 2020
sebanyak 600 jiwa,tahun 2021 sebanyak 582 jiwa. Penyakit Gastritis pada tahun 2017
sebanyak 466 jiwa,tahun 2018 sebanyak 157 jiwa,tahun 2019 sebanyak 157
jiwa,tahun 2020 sebanyak 2401 jiwa,tahun 2021 sebanyak 593 jiwa. Penyakit
Hipertensi pada tahun 2017 sebanyak 1415 jiwa,tahun 2018 sebanyak 1454 jiwa,tahun
2019 sebanyak 820 jiwa,tahun 2020 sebanyak 2510 jiwa,tahun 2021 sebanyak 486
jiwa. Penyakit Neurosa pada tahun 2017 sebanyak 64 jiwa,tahun 2018 sebanyak 34
jiwa,tahun 2019 sebanyak 2382 jiwa ,tahun 2021 sebanyak 564 jiwa. Penyakit lain
pada tahun 2018 sebanyak 478 jiwa,tahun 2019 sebanyak 495 jiwa,tahun 2020
sebanyak 447 jiwa,tahun 2021 sebanyak 611 jiwa.

Pada Lansia Penyakit Hipertensi pada tahun 2017 sebanyak 304 jiwa, pada
tahun 2018 sebanyak 217 jiwa, pada tahun 2019 sebanyak 268 jiwa, pada tahun 2020
sebanyak 417 jiwa, pada tahun 2021 sebanyak 248 jiwa. Penyakit Ispa pada tahun
2017 sebanyak 165 jiwa, pada tahun 2018 sebanyak 174 jiwa, pada tahun 2019
sebanyak 224 jiwa, pada tahun 2020 sebanyak 337 jiwa, pada tahun 2021 sebanyak
248 jiwa. Penyakit Gastritis pada tahun 2017 sebanyak 141 jiwa, pada tahun 2018
sebanyak 111 jiwa, pada tahun 2019 sebanyak 17 jiwa, pada tahun 2020 sebanyak 203
jiwa. Penyakit rematik pada tahun 2017 sebanyak 287 jiwa, pada tahun 2018
sebanyak 216 jiwa, pada tahun 2019 sebanyak 188 jiwa, pada tahun 2020 sebanyak
195 jiwa, pada tahun 2021 sebanyak 165 jiwa. Penyakit kulit infeksi pada tahun 2017
sebanyak 49 jiwa, pada tahun 2018 sebanyak 52 jiwa, pada tahun 2019 sebanyak 4
jiwa, pada tahun 2020 sebanyak 19 jiwa. Penyakit kulit alergi pada tahun 2017
sebanyak 61 jiwa, pada tahun 2018 sebanyak 53 jiwa, pada tahun 2019 sebanyak 126
jiwa, pada tahun 2020 sebanyak 120 jiwa, pada tahun 2021 sebanyak 158 jiwa.
Penyakit katarak pada tahun 2017 sebanyak 44 jiwa, pada tahun 2018 sebanyak 28
jiwa, pada tahun 2019 sebanyak 46 jiwa, pada tahun 2020 sebanyak 29 jiwa, pada
tahun 2021 sebanyak 29 jiwa. Penyakit asma pada tahun 2019 sebanyak 20 jiwa.
Penyakit neuretik pada tahun 2017 sebanyak 149 jiwa. Penyakit DM pada tahun 2017
sebanyak 63 jiwa, pada tahun 2018 sebanyak 66 jiwa, pada tahun 2019 sebanyak 137
jiwa, pada tahun 2020 sebanyak 161 jiwa, pada tahun 2021 sebanyak 126 jiwa.
Penyakit Cephalgia pada tahun 2017 sebanyak 149 jiwa, pada tahun 2018 sebanyak
155 jiwa, pada tahun 2019 sebanyak 100 jiwa, pada tahun 2020 sebanyak 136 jiwa,
pada tahun 2021 sebanyak 72 jiwa. Penyakit FA pada tahun 2021 sebanyak 20 jiwa.
Penyakit Diare pada tahun 2021 sebanyak 72 jiwa.

Upaya pencegahan kekambuhan yang dapat dilakukan terhadap penyakit


gastritis meliputi memodifikasi diet, hilangkan kebiasaan mengkonsumsi alkohol,
memperbanyak olahraga, manajemen stress (Harefa, 2021). Makan dalam jumlah
kecil tetapi sering serta memperbanyak makan makanan yang mengandung tepung,
seperti nasi, jagung, dan roti akan menormalkan produksi asam lambung, serta
menghindari makanan yang dapat megiritasi terutama makanan yang pedas, asam,
digoreng atau berlemak (Nofriadikal Putra, 2018).

Tingginya mengkonsumsi alkohol dapat megiritasi dan mengikis lapisan


mukosa dalam lambung dan dapat mengakibatkan peradangan dan pendarahan.
Bahaya penyakit gastritis jika dibiarkan terus menerus akan merusak fungsi lambung
dan dapat meningkatkan risiko untuk terkena kanker lambung hingga menyebabkan
kematian (Rondonuwu, 2014).

Dampak dari gastritis biasa mengalami komplikasi seperti perdarahan saluran


cerna bagian atas, hematemesis dan melena (anemia), ulkus peptikum perforasi
(Hernanto, 2018). Upaya pencegahan kekambuhan yang dapat dilakukan terhadap
penyakit gastritis meliputi memodifikasi diet, hilangkan kebiasaan mengkonsumsi
alkohol, memperbanyak olahraga, manajemen stres (Harefa, 2021).

Salah satu cara untuk mecegah terjadinya gastritis yaitu biasakan makan
dengan teratur, kunyah makanan dengan baik, jangan makan terlalu banyak, jangan
berbaring setelah makan, kurangi makan yang pedas dan asam, kurangi menyantap
makanan yang menimbulkan gas, jangan makan makanan yang telalu dingin dan
panas, mengurangi makanan yang digoreng,kurangi konsumsi cokelat. Selain itu
kurangi stres dan hindari makanan yang memicu timbulnya gastritis. Dampak dari
gastritis biasa mengalami komplikasi seperti perdarahan saluran cerna bagian atas,
hematemesis dan melena (anemia), ulkus peptikum perforasi (Pradnyanita, 2019).

B. RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan kasus dan latar belakang diatas maka peneliti mengambil rumusan
masalah tentang Asuhan Keperawatan Keluarga Pada Kasus Gastritis

C. TUJUAN PENULISAN
Tujuan Umum :
Melakukan asuhan keperawatan pada keluarga dengan kasus gastritis di Puskesmas 23
Ilir Palembang Tahun 2023
Tujuan Khusus :
1. Melakukan pengkajian keperawatan pada keluarga dengan diagnose medis
Gastritis di Puskesmas 23 Ilir Palembang
2. Mengakkan diagnosa keperawatan pada keluarga dengan diagnosa medis Gastritis
di Puskesmaas 23 Ilir Palembang
3. Merencanakan tindakan keperawatan pada keluarga dengan diagnose medis
Gastritis di Puskesmas 23 Ilir Palembnag
4. Melakukan tindakan keperawatan pada keluarga dengan diagnosa medis Gastritis
di Puskesmas 23 Ilir Palembang
5. Mengevaluasi tindakan keperawatan yang telah dilakukan pada keluarga dengan
diagnosa medis Gastritis di puskesmas 23 Ilir Palembang.

D. MANFAAT
a. Bagi Puskesmas
Memberikan informasi untuk pengembangan ilmu keperawatan maternitas
dalam pelaksanaan Asuhan Keperawatan, terutama pada ibu hamil dengan masalah
Anemia dipuskesmas 23 Ilir 23 Palembang.

b. Bagi Penulis
Dapat menambah wawasan dan memberikan pengalaman langsung bagi
penulis dalam melaksanakan pembuatan tugas Keperawatan Maternitas dengan
diagnosa Medis Anemia di Puskesmas 23 Ilir Palembang.

E. METODE
a. Observasi
Dilakukan dengan pengamatan dan pengkajian secara langsung serta
berkesinambungan terhadap hal-hal yang berkaitan dengan permasalahan klien.
b. Wawancara
Untuk memperoleh data, penulis melakukan tanya jawab langsung dengan
klien/keluarga klien. Wawancara dilakukan sesuai dengan format pengkajian.

F. SISTEMATIKA PENULISAN LAPORAN


Penyusunan laporan Asuhan Keperawatan Keluarga Dengan Gastritis di
Puskesmas 23 Ilir terbagi menjadi 6 BAB yaitu:
BAB I PENDAHULUAN
BAB II TINJAUAN TEORI
BAB III TINJAUAN LAPANGAN
BAB IV HASIL PENELITIAN BAB V PEMBAHASAN
BAB VI PENUTUP
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 KONSEP TEORI PENYAKIT


a. Definisi Gastritis

Gastritis adalah kondisi peradangan pada lapisan mukosa lambung yang


menimbulkan nyeri perut, gangguan pencernaan, kembung dan mual, bisa bersifat
akut atau kronis.

Gastritis adalah kondisi terjadinya peradangan pada mukosa lambung,


biasanya disebabkan oleh iritasi. Jika peradangan dan iritasi ini berlangsung lama atau
kronis, dapat terjadi kerusakan yang lebih parah berupa adanya perlukaan yang
disebut tukak lambung.

Gastritis merupakan peradangan mukosa lambung yang bersifat akut, kronis,


difus dan lokal. Dua jenis gastritis yang sering terjadi adalah gastritis superfisial akut
dan gastritis atropik kronis (Hardi, & Huda, 2015).

Secara anatomi, Selaput yang melapisi dinding lambung berfungsi


melindunginya dari asam dan mikroorganisme. Terjadinya peradangan pada lapisan
lambung inilah yang disebut sebagai gastritis.

b. Anatomi Fisiologi
1. Anatomi
Gambar l.1 Lambung Sehat dan Maag (sumber: [Link], 2022)

2. Fisiologi

Secara fisiologis, selaput yang melapisi dinding lambung berfungsi


melindunginya dari asam dan mikroorganisme. Terjadinya peradangan pada lapisan
lambung inilah yang disebut sebagai gastritis. Peradangan yang berlangsung lama
dapat menyebabkan kerusakan yang lebih parah berupa tukak lambung. Jika lapisan
lambung tidak lagi memberikan perlindungan yang cukup, dindingnya akan semakin
rusak dan ulkus dapat berkembang dan dapat menyebabkan komplikasi serius seperti
pendarahan.

Gastritis adalah kondisi terjadinya peradangan pada mukosa lambung,


biasanya disebabkan oleh iritasi. Jika peradangan dan iritasi ini berlangsung lama atau
kronis, dapat terjadi kerusakan yang lebih parah berupa adanya perlukaan yang
disebut tukak lambung. Pada kondisi normal, selaput dinding lambung berfungsi
melindungi dinding lambung dari asam dan mikroorganisme. Terdapat dua jenis
gastritis, yaitu akut dan kronik. Ada juga yang membaginya ke dalam gastritis erosif
dan gastritis non erosif.

Gastritis akut timbul mendadak tanpa ada riwayat sebelumnya dengan keluhan
nyeri dan rasa panas pada daerah perut atas, dan biasanya hilang dengan sendirinya dalam
beberapa hari. Sedangkan gastritis kronis biasanya memiliki gejala yang lebih ringan.
Namun hal ini perlu diperhatikan, karena bisa menjadi lebih parah tanpa kita sadari.

c. Etiologi
Penyebab utama gastritis adalah bakteri Helicobacter pylori, virus, atau parasit
lainnya juga dapat menyebakan gastritis. Kontributor gastritis akut adalah meminum
alkohol secara berlebihan, infeksi dari kontaminasi makanan yang dimakan, dan
penggunaan kokain. Kortikosteroid juga dapat menyebabkan gastritis seperti NSAID
aspirin dan ibuprofen (Dewit dkk, 2016). Menurut (Gomez, 2012) penyebab gastritis
adalah sebagai berikut :
1. Infeksi bakteri
2. Sering menggunakan pereda nyeri
3. Stres
4. Autoimun
5.
d. Patofisiologi
Pada gastritis yang disebabkan oleh Bakteri Helicobacter Pylori, penularan
bakteri terjadi melalui rute fekal-oral. Infeksi Helicobacter Pylori memicu IL- 8, yang
menarik neutrofil yang melepaskan oxyradicals yang menyebabkan kerusakan sel dan
menyebabkan terjadinya Infiltrasi limfosit.
Gastritis kronis sebagian besar disebabkan oleh infeksi Helicobacter Pylori
dan muncul sebagai bentuk non-atrofik atau atrofi. Kedua bentuk ini adalah fenotipe
gastritis pada tahap yang berbeda dari penyakit seumur hidup yang sama.
Patogenesis gastritis autoimun berfokus pada dua teori. Menurut teori pertama
ysitu terpicunya respon imun terhadap antigen Helicobacter Pylori kemudian bereaksi
silang dengan antigen dalam protein pompa proton atau faktor intrinsik, menyebabkan
kaskade perubahan seluler dan kerusakan pada sel parietal. Dengan demikian sel-sel
ini secara bertahap menjadi atrofi dan tidak berfungsi.
Teori kedua mengasumsikan bahwa gangguan autoimun yang berkembang
terlepas dari adanya infeksi Helicobacter Pylori, dan mengarahkan dirinya sendiri
terhadap protein pompa proton. Gastritis autoimun adalah hasil dari interaksi yang
kompleks antara kerentanan genetik dan faktor lingkungan yang mengakibatkan
disregulasi imunologi yang melibatkan limfosit T dan autoantibodi yang berdampak
ke sel parietal.

e. Manifestasi Klinis
1. Gambaran klinis gastritis akut meliputi:
a) Dapat terjadi ulserasi superfisial dan dapat menimbulkan hemoragi.
b) Rasa tidak nyaman pada abdomen dengan sakit kepala, kelesuan, mual, dan
anoreksia. Disertai muntah dan cegukan.
c) Beberapa pasien menunjukkan asimptomatik.
d) Dapat terjadi kolik dan diare jika makanan yang mengiritasi tidak dimuntahkan,
tetapi malah mencapai usus.
e) Pasien biasanya pulih kembali sekitar sehari, meskipun nafsu mungkin akan
hilang selama 2 sampai 3 hari (Smeltzer & Bare, 2002).
2. Gambaran klinis gastritis kronis meliputi :
Pasien dengan Gastritis tipe A secara khusus asimtomatik kecuali untuk gejala
defisiensi vitamin B12. Pada gastritis tipe B, pasien mengeluh anoreksia (nafsu
makan menurun), nyeri ulu hati setelah makan, kembung, rasa asam di mulut, atau
mual dan muntah (Smeltzer & Bare, 2002).

f. Komplikasi
Menurut (Hardi & Huda, 2015) , komplikasi gastritis yaitu :
1) Gastritis akut
Komplikasi yang dapat di timbulkan oleh gastritis akut adalah perdahan saluran
cerna bagian atas (SCBA) berupa haematomesis dan melena, dapat berakhir
dengan shock hemoragik. Khusus untuk perdarahan SCBA perlu di bedakan
dengan tukak peptik. Gambaran klinis yang di perlihatkan hampir sama. Namun
pada tukak peptik penyebab utamanya adalah Helicobacter Pylory, sebesar 100 %
pada tukak duodenum dan 60-90 % pada tukak lambung. Diagnosis pasti dapat di
tegakkan dengan endoskopi.
2) Gastritis kronis
Perdarahan saluran cerna bagian atas, ulkus, ferporasi dan anemia karena
gangguan absorpi vitamin B12.

g. Pemeriksaan Penunjang
Menurut (Suratun, 2010) pemeriksaan penunjang pada pasien dengan gastritis
meliputi:
1) Darah lengkap, bertujuan untuk mengetahui adanya anemia.
2) Pemeriksaan serum vitamain B12, bertujuan untuk mengetahui adanya defisiensi
B12.
3) Analisa feses, bertujuan untuk mengetahui adanya darah dalam feses.

3. Penatalaksanaan
Gastritis akut diatasi dengan menginstruksikan pasien untuk menghindari
alkohol dan makanan sampai gejala berkurang. Bila pasien mampu makan melalui
mulut, anjurkan diet mengandung gizi. Bila gejala menetap, cairan perlu diberikan
secara parenteral. Bila perdarahan terjadi, maka penatalaksanaan adalah serupa
dengan prosedur yang dilakukan untuk hemoragik saluran gastrointestinal atas.
Bila gastritis diakibatkan oleh mencerna makanan yang sangat asam atau alkali.
Pengobatan terdiri dari pengenceran dan penetralisasian agen penyebab (Hardi &
Huda, 2015).

1) Pengobatan pada gastritis meliputi:


a) Antikoagulan: bila ada pendarahan pada lambung
b) Antasida pada gastritis yang parah, cairan dan elektrolit diberikan
intravena untuk mempertahankan keseimbangan cairan sampai gejala-
gejala mereda, untuk gastritis yang tidak parah diobati dengan antasida dan
istirahat.
c) Histonin: dapat diberikan untuk menghambat pembentukan asam lambung
dan kemudian menurunkan iritasi lambung.
d) Sulcralfate: diberikan untuk melindungi mukosa lambung dengan cara
menyelaputinya, untuk mencegah difusi kembali asam dan pepsin yang
menyebabkan iritasi (IAI, 2010).
2) Memberikan edukasi tetentang life style tujuan pengobatan adalah
mengendalikan nyeri.
3) Ajarkan teknik rileksasi nafas dalam untuk mengurangi rasa nyeri.

2.2 KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN GASTRITIS

1. Pengkajian Riwayat Kesehatan


a. Riwayat penyakit saat ini
Meliputi perjalanan penyakit pasien, awal dari gejala yang dirasakan klien
Keluhan timbul dirasakan secara mendadak atau bertahap, faktor pencetus,
untuk mengatasi masalah tersebut.
b. Riwayat penyakit dahulu
Meliputi penyakit yang berhubungan dengan penyakit sekarang, riwayat
dirumah saki dan riwayat pemakaian obat
c. Riwayat penyakit keluarga
Terdapat keluarga menderita penyakit yang berhubungan dengan penyakit
yang diderita penyakit yang diderita oleh pasien.
d. pemenuhan kebutuhan sehari-hari (ADL)
1) Aktivitas / Istirahat Biasanya klien mengalami kelelahan kelemahan, dan
hiperventilasi
2) Sirkulasi biasanya klien mengalami kelemahan berkeringat, warna kulit
pucat, nadi perifer lemah, pengisian kapiler lambat, warna kulit pucat dan
kelemahan pada kulit.
3) Integritas ego Apakah ada faktor stressakut atau kronis (kehilangan,
hubungan kerja) dan perasaan tak berdaya.
4) Eliminasi danya riwayat perawatan rumah sakit sebelumnya karena
perdarahan atau masalah yang berhubungan dengan gastritis.
5) Makanan atau cairan
anoreksia, mual, muntah muntah yangmemenjang diduga obstruksi pilorik
bagian luar sehubungan dengan luka duodenal)
6) Neurosensori rasa berdenyut, pusing/ sakit kepala karena sinar, kelemahan
e. Pemeriksaan Review Of System (ROS)
1) Sistem pernafasan
Dapat ditemukan peningkatan frekuensi nafas atau masih dalam batas
normal.
2) Sistem sirkulasi
Kaji adanya penyakit jantung, frekuensi nadi apical, sirkulasi perifer,
warna dan kehangatan.
3) Sistem Kardiovaskuler
Fenomena Raynaud dari tangan (misalnya pucat litermiten, sianosis
kemudian kemerahan pada jari sebelum warna kembali normal.
4) Sistem persarafan
Kaji adanya hilangnya gerakan/sensasi, spasme otot, terlihat
kelemahan/hilang fungsi. Pergerakan mata/kejelasan melihat, dilatasi pupi,
agitasi (mungkin berhubungan dengan nyeri/ansietas).
5) Sistem perkemihan
Perubahan pola berkemih, seperti inkontinensia urin, disuria, distesi
kandung kemih, warna dan bau urin, dan kebersihannya.
6) Sistem pencernaan
Konstipasi, konsisten feses, frekuensi eliminasi, auskultasi bising usus,
anoreksia, adanya distensi abdomen, adnya nyeri tekan abdomen.
7) Sistem musculoskeletal
Kaji adanya nyeri berat tiba-tiba atau mungkin terlokalisasi pada area
jaringan, dapat berkurang pada imobilisasi, kekuatan otot, kontraktur,
atrofi otot, laserasi kulit dan perubahan warna.

2. Dianosa Keperawatan
a. Nyeri akut berhubungan dengan agen pencedera fisik ditandai dengan :
1) Tampak meringis
2) Bersikap protektif (mis. Waspada, posisi menghindari nyeri)
3) Gelisah
4) Frekuensi nadi meningkat
5) Sulit tidur
b. Defisit Pengetahuan berhubungan dengan kurang terpapar informasi ditandai
dengan :
1) Menunjukan perilaku tidak sesuai anjuran
2) Menunjikan presepsi yang keliru terhadap masalah
c. Manajemen Kesehatan Tidak Efektif berhubungan dengan Ketidakefektifan
pola perawatn kesehatan keluarga ditandai dengan :
1) Gagal melakuakan tindakan untuk mengurangi faktor resiko.
2) Gagal menerapkan program perawatan/pengobatan.
3) Aktivitas hidup sehari hari tidak efektif untuk memenuhi tujuan kesehatan.
3. Rencana Asuhan keperawatan

Adapun perencanaan keperawatan yang dapat disusun pada klien dengan


Risiko Infeksi menurut SDKI, SLKI, SIKI ialah :

No SDKI SLKI SIKI


1 Nyeri Akut b/d Agen Setelah dilakukan tindakan Manajemen Nyeri
Pencendera fisiologis keperawatan 3x2jam,
Observasi
(D.0077) maka tingkat Nyeri
Menurun
-Identifikasi lokasi,
Dengan kriteria hasil :
karakteristik, durasi,
-kemampuan menuntaskan
frekuensi, kualitas,
aktivitas meningkat
Intensitas nyeri
-keluhan nyeri menurun
-sikap protektif menurun -Monitor keberhasilan
-Gelisah menurun terapi komplementer yang
-kesulitan tidur menurun sudah diberikan
-Menarik diri menurun
-Identifikasi faktor yang
- berfokus pada diri sendiri
memperberat dan
menurun
memperingan nyeri
-Diaforesis menurun
- perasaan depresi tertekan
-Identifikasi pengetahuan
menurun
dan keyaninan tentang
- perasaan takut
nyeri
mengalami cedera
berulang menurun -Identifikasi pengaruh
-anoreksia menurun budaya terhadap respon
- perineum terasa tertekan nyeri
menurun
-uterus teraba membulat -Monitor efek samping

menurun penggunaan analgetik

- ketegangan otot menurun


-Identifikasi pengaruh
- pupil dilatasi menurun
nyeri pada kualitas hidup
- muntah menurun
-mual menurun -Identifikasi skala nyeri
-frekuensi nadi membaik
-Pola nafas membaik -Identifikasi respons nyeri

- tekanan darah membaik non verbal

-proses berpikir membaik


Terapeutik
-fokus membaik
-fungsi berkemih membaik
-Kontrol lingkungan yang
-perilaku membaik
memperberat rasa nyeri
-nafsu makan membaik
(mis. Suhu ruangan,
-pola tidur membaik
pencahayaan, kebisingan)

-Berikan teknik
nonfarmakologis untuk
mengurangi rasa nyeri
(mis. TENS, hipnosis,
akupresur, terapi musik,
biofeedback, terapi pijat,
aromaterapi, teknik
imajinasi terbimbing.
Kompres hangat/dingin,
terapi bermain)

-Fasilitasi istirahat dan


tidur

-Pertimbangkan jenis dan


sumber nyeri dalam
pemilihan strategi
meredakan nyeri.

Edukasi

-Jelaskan penyebab,
perlode, dan pemicu nyeri

-Ajarkan teknik
nonfarmakologis untuk
mengurangi rasa nyeri

-Anjurkan menggunakan
analgetik secara tepat

-Anjurkan memonitor
nyeri secara mandiri

-Jelaskan strategi
meredakan nyeri

Kolaborasi

-Kolaborasi pemberian
analgetik, jika perlu
2 Defisit Pengetahuan Setelah dilakukan tindakan Edukasi Kesehatan
berhubungan dengan keperawatan 3x24jam,
Observasi
kurang terpapar informasi maka tingkat pengetahuan
meningkat Dengan kriteria
(Identifikasi kesiapan dan
hasil :
kemampuan menerima
informasi
-Perilaku sesuai anjuran
meningkat
-Identifikasi faktor-faktor
yang dapat meningkatkan
-Verbalisasi minat dalam
dan menurunkan motivasi
belajar
perilaku hidup bersih dan
-Kemampuan menjelaskan sehat
pengetahuan tentang suatu
Terapeutik
topik

-Sediakan materi dan


-Kemampuan
media Pendidikan
menggambarkan
Kesehatan
pengalaman sebelumnya
yang sesuai dengan topik
-Jadwalkan Pendidikan
Kesehatan sesuai
-Perilaku sesuai dengan
kesepakatan
pengetahuan
-Pertanyaan yang sesuai -Berikan kesempatan
dengan masalah yang untuk bertanya
dihadapi menurun
Edukasi
-Persepsi yang keliru
-Jelaskan faktor risiko
tentang masalah menurun
yang dapat mempengaruhi
-Menjalani pemeriksaan Kesehatan
yang tidak tepat menurun
-Ajarkan perilaku hidup
-Perilaku menurun bersih dan sehat

-Ajarkan strategi yang


dapat digunakan untuk
meningkatkan perilaku
hidup bersih dan sehat

3 Manajemen Kesehatan Setelah dilakukan tindakan Dukungan Koping


Tidak Efektif berhubungan keperawatan dalam Keluarga
dengan Ketidakefektifan 3x2jam diharapkan
Observasi
pola perawatn kesehatan manajemen Kesehatan
keluarga keluarga meningkat
-Identifikasi respon
dengan kriteria hasil:
emosional terhadap
kondisi saat ini Identifikasi
-Kemampuan menjelaskan
beban prognosis secara
masalah kesehatan yang
psikologis
dialami meningkat

-Identifikasi pemahaman
-Aktivitas keluarga
tentang keputusan
mengatasi masalah
perawatan setelah pulang
kesehatan tepat meningkat

Terapeutik:
-Tindakan untuk
mengurangi faktor risiko
-Dengarkan masalah,
meningkat perasaan dan pertanyaan
keluarga
-Verbalisasi kesulitan
menurun -Terima nilai-nilai
keluarga dengan cara yang
-menjalankan perawatan
tidak menghakimi
yang ditetapkan menurun
-Diskusikan rencana medis
-Gejala penyakit anggota
dan perawatan
keluarga menurun
-Fasilitasi memperoleh
pengetahuan,keterampilan
dan peralatan yang
diperlukan untuk
mempertahankan
keputusan perawatan
pasien

-Hargai dan dukukng


mekanisme koping adaptif
yang digunakan

Edukasi

-Informasikan kemajuan
pasien secara berkala

-Informasikan fasilitas
perawatan kesehatan yang
tersedia

Kolaborasi

-Rujuk untuk terapi


keluarga, jika perlu
BAB III

GAMBARAN UMUM TEMPAT PENELITIAN


1. VISI DAN MISI PUSKESMAS DUA PULUH TIGA ILIR
VISI
Tercapainya derajat kesehatan masyarakat yang optimal di wilayah kerja
Puskesmas Dua Puluh Tiga Ilir Ilir Palembang
MISI
a. Meningkatkan kemitraan pada semua pihak
b. Meningkatkan profesionalisme seluruh petugas Puskesmas
c. Pengadaan sarana dan prasarana kesehatan yang bermutu prima
d. Memasyarakatkan Paradigma Sehat dan memberdayakan
Masyarakat/Keluarga dalam mengatasi masalah kesehatan yang ada

2. LETAK PUSKESMAS DAN WILAYAH KERJA


Wilayah Puskesmas Dua Puluh Tiga Ilir Ilir merupakan salah satu Puskesmas
yang terletak di Kecamatan Bukit Kecil yang terletak di Jalan Datuk M. Akib No.
100. Didirikan pada tahun 1984 (Proyek Inpres) dan sudah di renovasi pada tahun
2006 dan Pada tahun 2017 Puskesmas Dua Puluh Tiga Ilir Ilir Palembang
mengalami renovasi kembali. Secara Geografis Puskesmas Dua Puluh Tiga Ilir
memiliki luas wilayah 6043 KM dengan Batasan Wilayah Yaitu :
 Utara : Kelurahan 20 Ilir
 Selatan : Kelurahan 22 Ilir
 Timur : Kelurahan 18 Ilir
 Barat : Kelurahan 26 Ilir
Saat ini Puskesmas Dua Puluh Tiga ilir mempunyai 2 (dua) wilayah kerja yang
terdiri dari Kelurahan 23 Ilir dan Kelurahan 24 Ilir. Sebagian besar penduduk
bermukim di Rumah susun yaitu 8 Blok wilayah 23 Ilir dan 44 Blok wilayah 24
Ilir.
Jumlah Penduduk di Wilayah Kerja Puskesmas Dua Puluh Tiga Ilir Palembang
berdasarkan data BPS Kota Palembang adalah 16.720 jiwa terdiri dari penduduk
laki-laki 8.327 jiwa dan penduduk perempuan 8.393 Jiwa. Berdasarkan Wilayah
kerja Puskesmas Dua puluh Tiga Ilir penduduk yang berada di kelurahan 23 ilir
dan 24 ilir adalah Sebagai berikut :

Kelurahan 23 Ilir Kelurahan 24 Ilir


Laki-laki : 1.401 Jiwa Laki-laki : 6.926 Jiwa
Perempuan : 1.449 Jiwa Perempuan : 6.944 Jiwa
Total : 2.850 Jiwa Total : 13.870 Jiwa

3. Data Demografi

KELURAHAN
NO DEMOGRAFI TOTAL
23 ILIR 24 ILIR
1 Jumlah Penduduk 2850 13870 16720
2 Jumlah Kepala Keluarga ( KK )
3 Masyarakat Miskin
Dua Puluh
4 Jumlah Ibu Hamil 42 190
Tiga Ilir
5 Jumlah Ibu bersalin 39 177 216
6 Jumlah Ibu Nifas 39 177 216
7 Jumlah Wanita Usia Subur (WUS) 713 3169 3882
8 Jumlah bayi 70 313 383
9 Jumlah Batita (13-24bln) 208 925 1133
10 Jumlah Anak Balita (1-4 th) 261 1165 1426
11 Jumlah Balita (0-4 th) 301 1340 1641
12 Jumlah APRAS (5-6 th) 111 497 608
13 Jumlah Remaja 1213 5386 6599
14 Jumlah PUS 313 1384 1697
15 Jumlah Usila 108 484 592
16 Jumlah Posyandu Lansia 1 3 4
17 Jumlah posyandu 3 11 14
18 Jumlah Taman Kanak-Kanak 3 3
19 Jumlah SD/ Madrasah Ibtidaiyah
a. Negeri 2 5 7
b. Swasta - - -
20 Jumlah SMP/ Madrasah Tsanawiyah
a. Negeri - 1 1
b. Swasta - 1 1

21 Jumlah SMU Madrasah Aliyah


a. Negeri - - -
b. Swasta - - -
22 Jumlah Akademi
a. Negeri - - -
b. Swasta - - -
Dua
Puluh
Jumlah Perguruan Tinggi
Tiga
Ilir
a. Negeri - - -
b. Swasta - - -
24 Jumlah Kantor 1 8 9
25 Jumlah Hotel - 8 8
26 Jumlah toko - - -
24 Jumlah Pasar - 2 2
25 Jumlah Restoran 1 29 30
26 Jumlah Salon Kecantikan 5 8 13
27 Jumlah Masjid 1 6 7
28 Jumlah Pesantren - - -
29 Jumlah Langgar/Musholla 9 16 25
30 Jumlah Gereja - - -
31 Jumlah Pura - - -
32 Jumlah Kelenteng - - -
33 Jumlah Rumah 708 3051 3759
34 Jumlah Rumah Sehat 654 1898 2552

35 Jumlah jamban sehat 544 2781 3325

36 Sumber Air Bersih (PDAM) 708 3051 3759

a. SAB Sumur Gali - - -

b. SAB Air Hujan - - -

c. SAB air Sungai - - -

37 Peserta Asuransi Kesehatan (Askes)


38 Asuransi Jamsostek
39 Asuransi Kesehatan Lainnya/ ASKIN
40 Jumlah Panti Jompoi - - -

4. 10 Data penyakit terbanyak di Puskesmas 23 Ilir Palembang


Distribusi Penyakit Terbanyak di BP Dewasa 2017-2021

Tahun
Jenis Penyakit
2017 2018 2019 2020 2021
Penyakit Sal. Pernafasan atas 1485 1629 2574 2880 686
CC 1175 785 - - 541
Peny. Infeksi Usus 372 - - - 600
Diare 678 299 591 592 621
Peny. Kulit Infeksi 464 379 443 591 570
9Dua
Rheumatik 566 662 696 puluh 494
tiga
Peny. Kulit Alergi 548 506 805 600 582
Gastritis 466 157 157 2401 593
Hipertensi 1415 1454 820 2510 486
Dua
Neurosa 64 34 puluh - 564
tiga82
Penyakit lain - 478 495 447 611

Distribusi penyakit terbanyak pada Lansia 2017-2021

JENIS TAHUN
PENYAKIT 2017 2018 2019 2020 2021
Hipertensi 304 217 268 417 248
ISPA 165 174 224 337 205
Gastritis 141 111 17 203 -
Rematik 287 216 188 195 165
Penyakit kulit
49 52 4 19 -
Infeksi
Penyakit Kulit
61 53 126 120 158
Alergi
Katarak 44 28 46 29 29
Asma - - 20 - -
Neurotik 149 - - - -
DM 63 66 137 161 126
Cephalgia 149 155 100 136 72
FA - - - - 20
Diare - - - - 72

5. Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat


Kecamatan Bukit Kecil pada Tahun 2016 memiliki realisasi Pemasukan Pajak
Bumi dan Bangunan sebesar 89,09 persen. Jika dibandingkan antar kecamatan,
pencapaian realisasi pajak tertinggi terdapat di kelurahan 26 ilir dengan angka
pencapaian 110,32 persen.
Kegiatan perekonomian di wilayah Kecamatan Bukit Kecil secara keseluruhan
ditopang oleh 3 pasar permanen, 19 supermarket/swalayan, 49 restoran/rumah
makan, dan 221 toko/warung kelontong. Pasar permanen Bukit Kecil terdapat di
Kelurahan 24 ilir yang terdiri dari 609 petak kios, 230 los, dan 493 pedagang.
6. Program Perkesmas

1. Pelayanan Kesehatan Ibu dan Anak (KIA/KB)

 Ibu hamil (Bumil), Ibu Bersalin (Bulin), Ibu nifas (Bufas), Ibu
menyusui Busui)
 KB melayani IUD, Implant, Pil, Suntikan dan Kondom.
2. Pelayanan Pengobatan

 Pengobatan umun

 Pengobatan gigi

 Rujukan
3. Penyuluhan Kesehatan

 Penyuluhan di Puskesmas

 Penyuluhan di Posyandu

 Penyuluhan di SD / SLTP

 Penyuluhan di Kelurahan
4. Pelayanan Laboratorium

 Pemeriksaan HB

 Pemeriksaan Trombosit

 Tes kehamilan

 Pemeriksaan Protein urine


 Pemeriksaan Golongan darah
Klinik Sehat Gilingan Mas
 a.
Pemeriksaan
Pelayanan Dahak
Gizi BTA
5. Gilingan Emas

a. Gizi

 Pemberian Vit. A dan garam beryodium

 Uji klinik garam beryodium

 Konsultasi balita BGM dan Obesitas


b. Pelayanan Imunisasi (Setiap hari kamis)

 BCG

 Polio

 DPT,HB,HIB ( Pentavalent)

 Hepatitis B

 Campak

 TT calon pengantin & TT Bumil

 Anti Tetanus Serum


c. Pelayanan Sanitasi

 Memberikan konsultasi / penyuluhan penyakit akibat faktor lingkungan

 Memberikan konsultasi tentang rumah sehat, jamban, sarana air bersih,


pemberantasan sarang nyamuk (PSN).
6. Klinik IMS

Klinik ini dimulai pada Tahun 2009 bekerjasama dengan Global Fun (GF)
Puskesmas Dua Puluh Tiga Ilir Ilir ini mempunyai wilayah kerja yang
merupakan daerah rawan untuk kasus IMS . Wilayah kerja Puskesmas Dua
Puluh Tiga Ilir Ilir penduduknya sangat dinamis dan merupakan daerah
transit (Khusus Rusun).
Program IMS melayani:

 Kegiatan Kespro

 P2 Kelamin

 Penyuluhan
 Sero Survei (kerjasama dengan Dinas Kesehatan Kota)

7. Lain-lain

a. Pelayanan pengobatan TBC dengan paket DOTS ( FDC )

b. Pelayanan pengobatan Kusta

c. Pelayanan kesehatan lansia 1 bulan sekali

d. Usaha kesehatan sekolah screening murid kelas 1 SD, SMP

e. Pelaksanaan BIAS dilakukan 1 tahun sekali pada murid kelas 1, 2 dan kelas

3 SD.
BAB IV

TINJAUAN KASUS

LAPORAN ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA

I. Pengkajian
Tanggal : 21 Januari 2023, Jam 14.50
Data Umum
1. Kepala Keluarga (KK) : Tn.s
2. Umur : 67 tahun
3. Agama : Islam
4. Alamat : [Link]
5. Pekerjaan KK : Buruh Harian
6. Pendidikan KK : Smp
7. Suku//Bangsa : Palembang/ Indonesia

Komposisi Keluarga :

No Nama Jenis Hub Umu Pen Pek Stat Status Imunisasi KET
Kelam r didik erja us
in an an Kes.
BC Polio DPT Hepatitis Campak
G

1 2 3 4 1 2 3 1 2 3

1. Ny.S Pr Istri 65th Smp Irt Gast ✓ ✓ ✓ ✓ ✓ (+)


ritis
Genogram :

X X X X

Keterangan:

Laki-Laki

Perempuan

Klien/Pasien

Serumah

X Meninggal

8. Tipe Keluarga :Tipe Keluarga Ny.S merupakan tipe keluarga


Elderly couple terdiri atas sepasang suami istri
9. Suku Bangsa : Indonesia
10. Agama : Islam
11. Status Sosial Ekonomi : Ny.S mengatakan penghasilan Tn.S sudah
Keluarga cukup memenuhi kebutuhan.
12. Aktivitas Rekreasi : Keluarga Tn.S banyak menghabiskan waktu
Keluarga luang dirumah dengan menonton tv.

II. Riwayat dan Tahap Perkembangan Keluarga


1. Tahap perkembangan keluarga saat ini
Tahap perkembangan keluarga saat ini adalah keluarga dengan lansia
2. Tugas perkembangan keluarga yang belum terpenuhi
Tahap perkembangan keluarga sudah terpenuhi
3. Riwayat kesehatan keluarga inti
Tn.S dalam kondisi sehat dan Ny.S mengatakan nyeri ulu hati saat telat makan
terutama pada siang hari.
4. Riwayat kesehatan keluarga sebelumnya
Ny.S mengatakan tidak memiliki Riwayat penyakit turunan yang terdiri dari
DM(-) TBC (-) Jantung (-) Asma (-) Hipertensi(-)
III. Data Lingkungan
1. Karakteristik rumah
Rumah yang ditempati keluarga Tn.S cukup luas dengan ukuran 7x10 m.
Denah Rumah

Dapur
WC

Ruang
Keluarga

Kamar

2. Sumber air bersih


Sumber air PDAM
3. Tempat pembuangan tinja
Tempat Pembuangan air limbah dan sampah ditempat pembuangan air
4. Tempat pembuangan air limbah dan sampah
Tempat pembuangan air limbah dan sampah keluarga Tn.S di tempat
pembuangan akhir
5. Karakteristik tetangga dan komunitasnya
Interaksi keluarga Ny.S dan tetangganya tidak ada masalah dan sikap
kekeluargaan masih baik
6. Mobilitas geografis keluarga
Anggota keluarga Ny.S kadang-kadang mengunjungi
7. Perkumpulan keluarga dan interaksi dengan masyarakat
Keluarga Ny.S aktif dalam mengikuti kegiatan-kegiatan yang ada di
lingkungannya, hubungan diantara tetangga sangat baik

8. Sistem pendukung keluarga


Tn.S dan Ny.S mengandalkan biaya kehidupannya sehari-hari dari gaji yang
dihasilkan

IV. Struktur Keluarga


1. Struktur peran
Tn.S melakukan peran keluarga dengan sangat baik,sebagai kepala keluarga
beliau selalu membantu dan mendukung istrinya
2. Nilai dan norma keluarga
Nilai yang dianut keluarga Tn.S saling menghormati dan saling menyayangi
3. Pola komunikasi keluarga
Pola komunikasi di keluarga Tn.S adalah musyawarah, dimana jika ada
masalah siapapun bebas dalam berpendapat
4. Struktur kekuatan keluarga
Keluarga Tn.S jika ada masalah saling menguatkan satu sama lain
V. Fungsi Keluarga
1. Fungsi ekonomi
Cukup baik, pendapatan keluarga yang didapatkan dari hasil buruh suami,
dicukupkan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hai
2. Fungsi mendapatkan status sosial
Keluarga Tn.S sudah mendapat status sosial di masyarakat tetangga dengan
berbaur sesama tetangga
3. Fungsi pendidikan
Keluarga Tn.S sudah melakukan fungsi pendidikan dengan baik yaitu dengan
telah selesai menyekolahkan anak-anaknya
4. Fungsi sosialisasi
Interaksi keluarga Tn.S terjalin sangat baik, dan dalam mengambil keputusan
Tn.S selalu adil
5. Fungsi pemenuhan (perawatan/pemeliharaan kesehatan)
a. Mengenal masalah kesehatan
Keluarga Tn.S mengatakan tidak tahu banyak tentang penyakit yang
diderita Ny.S

b. Mengambil keputusan mengenai tindakan kesehatan


Keluarga mampu mengambil keputusan yang tepat jika ada anggota
keluarga yang sakit, maka langsung dibawa ke puskesmas atau rumah sakit
c. Kemampuan merawat anggota keluarga yang sakit
Keluarga dapat merawat anggota keluarga yang sakit
d. Kemampuan keluarga memelihara/memodifikasi lingkungan rumah yang
sehat
Keluarga belum mampu memodifikasi lingkungan yang tepat untuk
menunjang kesehatan keluarga
e. Kemampuan menggunakan fasilitas pelayanan kesehatan
Keluarga mampu memanfaatkan layanan kesehatan dengan tepat
6. Fungsi religius
Keluarga Tn.S selalu melaksanakan sholat 5 waktu tetapi jarang belajar agama
7. Fungsi rekreasi
Keluarga Tn.S meghibur diri dengan menonton tv dirumah
8. Fungsi reproduksi
Keluarga Tn.S tidak merencanakan jumlah anak
9. Fungsi afeksi
Anggota keluarga Tn.S saling menyayangi dan menghormati

VI. Stres dan Koping Keluarga


1. Stressor jangka pendek dan Panjang
Stressor jangka pendek : keluarga merasa khawatir thd penyakit Ny.S
Stressor jangka Panjang : Tidak memiliki stressor jangka panjang
2. Kemampuan keluarga berespon terhadap stressor
Jika ada masalah dalam keluarga selalu didiskusikan bersama keluarga,
mencoba mandiri dalam memecahkan masalah
3. Strategi koping yang digunakan
Ny.S selalu mendiskusikan setiap ada masalah kepada Tn.S sehingga
masukan/solusi yang diberikan dapat membantu menyelesaikan masalah
4. Strategi adaptasi disfungsional
Dari hasil pengkajian tidak adanya cara-cara keluarga mengatasi masalah
secara maladaptif

VII. Pemeriksaan Kesehatan Tiap Individu Anggota Keluarga

Anggota Keluarga
Pemeriksaan fisik
Tn.S Ny.S
Keadaan umum Sedang Lemah
Tekanan Darah 110/70 mmHg 130/90 mmHg
Nadi 85 x/menit 90 x/menit
Respirasi Rate 22 x/menit 23 x/menit
Berat Badan 60 Kg 51 Kg
Kepala :
a. Bentuk Simetris Simetris
b. Keadaan Umum Bersih, tidak ada Bersih, tidak ada
c. Warna benjolan dan lesi benjolan dan lesi
d. Rambut Rambut sedikit beruban Rambut sedikit beruban
Mata :
a. Simetris/asimetris Simetris Simetris
b. Konjungtiva Konjungtiva Konjungtiva
anemis/tidak ananemis ananemis
Anemis
c. Sklera Ikterik/
tidak Ikterik Sklera anikterik Sklera anikterik

Hidung :
a. Kebersihan Bersih tidak ada Bersih tidak ada
b. Simetris/Asi secret secret
metris Simetris / Penciuman Simetris / Penciuman
c. Sekret ada/ Tidak baik baik
ada Tidak ada secret Tidak ada secret
d. pernafasan cuping Tidak ada pernafasan Tidak ada pernafasan
hidung cuping cuping
Telinga :
a. Kebersihan Bersih Bersih
b. Simetris/Asi Simetris Simetris
metris
c. Seruman ada/ Tidak ada serumen Tidak ada serumen
Tidak ada
d. Fungsi Pendengara n baik Pendengara n baik

pendengaran
Mulut :
a. Kebersihan Mulut bersih Mulut bersih
b. Mukosa bibir Mukosa bibir lembab Mukosa bibir lembab
c. Lidah Lidah baik Lidah baik
d. Gigi Gigi bagus Gigi bagus
Leher Tidak ada pembesaran Tidak ada pembesaran
kelenjar limfe dan tiroid kelenjar limfe dan tiroid

Dada :
a. Simetris/Asi Dada simetris Dada simetris
metris Tidak ada Tidak ada
b. Otot Bantu
Pernafasan Bunyi jantung Bunyi jantung

c. Bunyi Paru normal normal

Abdomen :
a. Bentuk Cembung Cembung
b. Simetris/Asi Simetris Simetris
metris Tidak ada nyeri tekan Pada bagian ulu hati
c. Nyeri Tekan mengalami nyeri dengan
skala nyeri 5 yang
biasanya timbul pada saat
telat makan terutama pada
siang hari .
Genitalia Tidak ada gangguan pada Tidak ada gangguan pada
bagian genetalia bagian genetalia

Ekstremitas
a. Atas Pergerakan normal ,tidak Pergerakan normal ,tidak
ada gangguan dan tidak ada gangguan dan tidak
ada luka ada luka

b. Bawah Pergerakan normal,dan Pergerakan normal,dan


tidak ada gangguan tidak ada gangguan

VIII. Harapan Keluarga


Keluarga Tn.S berharap selalu sehat dan petugas kesehatan dapat memberikan
pelayanan kesehatan yang baik dan tepat.

A. Diagnosis Keperawatan Komunitas


I. Analisis dan Sintesa Data

No Data (S) Masalah (P) Penyebab (E)


1. S: Gastritis nyeri akut
-Ny.S mengatakan ↓ berhubungan dengan
nyeri ulu hati Nyeri berlangsung ketidakmampuan
-Ny.S mengatakan ± 2 bulan keluarga dalam
nyeri timbul saat telat ↓ merawat anggota
makan. Ketidakmampuan keluarga yang sakit
-Ny.S menunjukan keluarga dalam
posisi nyeri ( ulu merawat anggota
hati). keluarga yang sakit

O: Nyeri Akut
-Klien tampak
meringis
- Ttv :
TD: 140/90 mmHg
N: 97x/menit
RR: 22x/menit
Tingkat Nyeri:
P : nyeri akut
Q : Tertusuk-tusuk
R : di ulu hati
S : Skala nyeri 5
T : Pada saat telat
makan (siang hati).
2. S: Gastritis Defisit pengetahuan
-Ny.S mengatakan ↓ berhubungan dengan
tidak tahu banyak Keluarga Ny.S ketidaktahuan
tentang penyakit kurang tahu bnayak keluarga dalam
gastritis tentang penyakit mengenal masalah
-Ny.S mengatakan gastritis penyakit
tidak tahu cara ↓
menangani penyakit Ketidak mampuan
gastritis. keluarga dalam
O: mengenal masalah
-Ny.S tampak Kesehatan
binggung saat ↓
ditanya-tanya Defisit pengetahuan

3. Subjektif : Ny. S Gastritis manajemen


mengatakan kurang ↓ kesehatan keluarga
mengetahui tentang Keluarga kurang tidak efektif
penyakit gastritis memahani dan berhubungan dengan
-Ny. S mengatakan mengenal masalah ketidakmampuan
kurang mengetahui Kesehatan Ny.S keluarga dalam
cara pencegahan dari ↓ mengenal masalah
penyakitnya Aktivitas keluarga kesehatan
-Ny. S mengatakan untuk mengatasi
kurang diperhatikan kesehatan tidak
keluarganya
-Ny. S mengatakan tepat
jarang kontrol ↓
Manajemen
Objektif : -Ny. S dan kesehatan keluarga
keluarga tampak tidak efektif
binggung dan belum
bisa menjawab saat
ditanya
-Klien tampak
sepeleh penyakitnya
-Keluarga tampak
kurang
memperhatikan
kondisi Ny. S

II. Perumusan Diagnosis Keperawatan

No Diagnosis Keperawatan (PES)


1. Nyeri akut berhubungan dengan ketidakmampuan keluarga dalam
merawat anggota keluarga yang sakit
2. Defisit pengetahuan berhubungan dengan ketidaktahuan keluarga
dalam mengenal masalah penyakit
3. Manajemen kesehatan keluarga tidak efektif berhubungan dengan
ketidakmampuan keluarga dalam mengenal masalah kesehatan

III. Penilaian (Skoring) Diagnosis Keperawatan

[Link] Kriteria Skor Pembenaran


Kep
1. a. Sifat masalah : 3/3x1=1 Pasien mengeluh
1. Aktual (3) nyeri ulu hati ketika
2. Potensial (2) telat makan
3. Resiko (1)
b. Kemungkinan 2/2x2=1 Ny. S mengatakan
masalah dapat diubah : dengan cara minum
1. Mudah (2) obat sudah cukup
2. Cukup (1) untuk mengurangi
3. Tidak dapat (0) rasa nyeri

c. Potensial masalah 2 / 3 x 1 = 0,6 Ny.S jika rasa nyeri


untuk dicegah : muncul langsung
1. Tinggi (3) minum obat
2. Cukup (2)
3. Rendah (1)

2/ 2 x 1 = 1
d. Menonjolnya masalah Keluarga Ny.S

1. Segera diatasi (2) mengatakan jika ada

2. tidak segera diatasi masalah kesehatan

(1) lebih baik ke rumah

3. tidak dirasakan ada sakit

masalah (0)
Total Skor 4,6
2. a. Sifat masalah : 3/3x1=1 Pasien dan keluarga
1. Aktual (3) mengatakan tidak
2. Potensial (2) tahu banyaj tentang
3. Resiko (1) penyakit gastritis

b. Kemungkinan 2/2x2=2 Keluarga dapat


masalah dapat diubah menerima informasi
1. Mudah (2) dengan baik ada
2. Cukup (1) minat di keluarga
3. Tidak dapat (0) untuk mengetahui ttg
gastritis

3/3x1=1
c. Potensial masalah Keluarga megatakan
untuk dicegah tidak begitu paham
1. Tinggi (3) ttg gastritis jika Ny.S
2. Cukup (2) nyerinya kambuh
3. Rendah (1) maka langsung
dikasi obat
2/2x1=1
d. Menonjolnya masalah Keluarga
1. Segera diatasi (2) mengatakan jika ada
2. Tidak segera diatasi gejala maka minum
(1) obat/segera ke
3. Tidak ada dirasakan rumah sakit
masalah (0)
Total Skor 5
3. a. Sifat masalah : 3/3x1=1 Ny.S mengatakan
1. Aktual (3) kurang paham
2. Potensial (2) mengenai
3. Resiko (1) penyakitnya dan
merasa kurang
diperhatikan
keluarga

b. Kemungkinan 2/2x2=2
Kemungkinan
masalah dapat diubah masalah yang dapat
1. Mudah (2) diubah yaitu apabila
2. Cukup (1) keluarga Ny.S sudah
3. Tidak dapat (0) mendapatkan
penjelasan
3/3x1=1
c. Potensial masalah
Potensial masalah
untuk dicegah
untuk dicegah tinggi,
1. Tinggi (3)
apabila keluarga
2. Cukup (2)
Ny.S sudah diberi
3. Rendah (1)
penjelasan atau
edukasi tentang
pentingnya
keterlibatan keluarga
dalam proses
2 / 2 x 1 = 0,5 perawatan
d. Menonjolnya masalah
1. Segera diatasi (2) Ny.S mengatakan
2. Tidak segera diatasi masalah ia tau akan
(1) penyakitnya namun
3. Tidak ada dirasakan keluarga Ny.S
masalah (0) merasa bahwa
penyakitnya tidak
perlu segera
ditangani
Skor 4,5

IV. Prioritas Diagnosis Keperawatan

Prioritas Diagnosis Keperawatan Skor


1. Nyeri akut berhubungan dengan 5
ketidakmampuan keluarga dalam
merawat anggota keluarga yang sakit
2. Defisit pengetahuan berhubungan 4,6
dengan ketidaktahuan keluarga dalam
mengenal masalah penyakit
3. Manajemen kesehatan keluarga tidak 4,5
efektif berhubungan dengan
ketidakmampuan keluarga dalam
mengenal masalah kesehatan

B. Rencana Asuhan Keperawatan Keluarga

Tujuan Kriteria Hasil Intervensi

1. Setelah dilakukan Pasien mampu melakukan Manajemen Nyeri


kunjungan 1 x 30 relaksasi napas dalam Observasi
menit diharapkan rasa untuk mengurangi rasa - Kaji TTV
nyeri pada klien nyeri - Monitor dan lakukan
berkurang pengkajian nyeri :
Identifikasi lokasi,
Keluarga dan Ny.S mampu karakteristik, durasi,
mengenal masalah frekuensi, kualitas, intensitas
kesehatan yang dialami dan skala nyeri
Terapeutik :
- Fasilitasi istirahat dan tidur
Edukasi :
- Jelaskan penyebab, periode
dan pemicu nyeri
- Ajarkan teknik non
farmakologis untuk
mengurangi nyeri dengan
teknik rileksasi nafas dalam
2. Setelah dilakukan Keluarga dan Ny.S mampu Edukasi Kesehatan
kunjungan 1 x 30 menyebutkan pengertian Observasi
menit diharapkan gastritis, cara -Identifikasi kesiapan dan
pengetahuan keluarga pencegahannya dan tanda kemampuan menerima
meningkat tentang gejala informasi
penyakit gastritis -Identifikasi faktor-faktor
yang dapat meningkatkan
dan menurunkan motivasi
perilaku hidup bersih dan
sehat
Terapeutik
-Sediakan materi dan media
Pendidikan Kesehatan
-Jadwalkan Pendidikan
Kesehatan sesuai
kesepakatan
-Berikan kesempatan untuk
bertanya
Edukasi
-Jelaskan faktor risiko yang
dapat mempengaruhi
Kesehatan
-Ajarkan perilaku hidup
bersih dan sehat
-Ajarkan strategi yang dapat
digunakan untuk
meningkatkan perilaku
hidup bersih dan sehat

3. Setelah dilakukan Keluarga dan Ny.S mampu Dukungan Koping


kunjungan 1 x 30 mengenal masalah Keluarga
menit diharapkan kesehatan yang dialami Observasi
keluarga Ny.S -Identifikasi respon
memahami masalah emosional terhadap kondisi
kesehatan yang saat ini Identifikasi beban
dihadapi Ny.S prognosis secara psikologis
-Identifikasi pemahaman
tentang keputusan perawatan
setelah pulang
Terapeutik:
-Dengarkan masalah,
perasaan dan pertanyaan
keluarga
-Terima nilai-nilai keluarga
dengan cara yang tidak
menghakimi
-Diskusikan rencana medis
dan perawatan
-Fasilitasi memperoleh
pengetahuan,keterampilan
dan peralatan yang
diperlukan untuk
mempertahankan keputusan
perawatan pasien
-Hargai dan dukukng
mekanisme koping adaptif
yang digunakan
Edukasi

-Informasikan kemajuan
pasien secara berkala
-Informasikan fasilitas
perawatan kesehatan yang
tersedia
Kolaborasi
-Rujuk untuk terapi
keluarga, jika perlu
C. Implementasi

No. Tanggal Diagnosis Implementasi Hasil


dan Waktu Keperawatan
21/01/2023 Nyeri akut b.d 1. Mengkaji TTV 1. TTV : TD:
15.30 WIB ketidakmampuan 2. Memonitori dan 129/90 mmHg
keluarga dalam melakukan N: 82×/menit
merawat anggota pengkajian nyeri T: 36,3 celcius
keluarga yang sakit identifikasi lokasi, RR: 20×/menit
karakteristi, durasi, 2. Tingkat nyeri:
frekuensi, kualitas, P: Nyeri lutut
intensitas dan skala Q: Nyeri tertusuk-
nyeri tusuk
3. Menjelaskan R: Dilutut kiri
penyebab, periode S: Skala nyeri B
dan pemicu nyeri T: Pada saat cuaca
[Link] dingin dan setelah
teknik non beraktivitas
farmakologi untuk 3. Klien cukup
mengurangi nyeri paham dan
dengan melakukan mengetahui
kompres hangat tentang terjadinya
[Link] nyeri
Cara melakukan 4. Klien paham
kompres hangat cara untuk
mengurangi rasa
nyeri dengan
kompres hangat
5. Klien mampu
melakukan dan
mempraktikkan
cara kompres
hangat

21/01/2023 Defisit pengetahuan 1. Menggali 1. Ny.S tidak


15.45 WIB b.d ketidaktahuan pengetahuan mengetahui
keluarga dalam keluarga tentang banyak tentang
mengenal masalah gastritis gastritis
penyakit 2. Menjelaskan 2. Ny.S dan
penyebab dan tanda keluarga sudah
gejala gastritis memahami
penyebab dan
tanda gejala
gastritis
21/01/2023 Manajemen kesehatan 1. Mengidentfikasi 1. Keluarga klien
15.00 WIB keluarga tidak efektif kesiapan keluarga mengatakan siap
b.d ketidakmampuan untuk terlibat dalam untuk terlibat
keluarga dalam perawatan dalam perawatan
mengenal masalah kesehatan Ny.S
kesehatan 2. Memotivasi 2. Keluarga akan
keluarga selalu ada dan
mengembangkan lebih
aspek positif memperhatikan
rencana perawatan kondisi Ny.S

D. Evaluasi

Tgl dan Waktu No. Diagnosis Evaluasi


Keperawatan
21/01/2023 Nyeri akut berhubungan S:
dengan ketidakmampuan -Ny. S mengatakan paham dan
dalam mengenal masalah mengetahui tentang terjadinya
nyeri
-Ny. S mengatakan paham tentang
penyakitnya
-Ny. S mengatakan bahwa cara
untuk menghilangkan nyeri bisa
dengan tarik nafas dalam
-Ny.S mengatakan nyeri cukup
berkurang setelah dilakukan tarik
nafas dalam
O : -TTV : TD : 120/90 mmHg
N: 82×/menit
T: 36,3◦C
RR: 20×/menit
A : Nyeri akut
P : Intervensi dilanjutkan
-Monitori tingkat nyeri
-Mengingatkan kembali kepada
klien cara untuk mengurangi nyeri
dengan tarik nafas dalam
-Berikan penyuluhan kesehan
tentang cara mengurangi nyeri
-Demostrasikan cara tarik nafas
dalam
21/01/2023 Defisit pengetahuan b.d S:
ketidaktahuan keluarga -Ny.S dan keluarga mengatakan
dalam mengenal masalah sudah memahami tentang penyakit
penyakit Asma Bronkhial
-Ny.S dan keluarga mamou
menyebutkan pengertian gasritis
dan cara pencegahannnya
O:
-Ny.S dan keluarga tampak
kooperatif
A : Masalah teratasi
P : Intervensi dilanjutkan
- Identifikasi faktor-faktor yang
dapat meningkatkan dan
menurunkan motivasi perilaku
hidup bersih dan sehat
21/01/2023 Manajemen kesehatan S:
keluarga tidak efektif b.d -Keluarga Ny.S mengatakan siap
ketidakmampuan keluarga untuk terlibat dalam perawatan
dalam mengenal masalah perawatan Kesehatan Ny.S
kesehatan ;Keluarga mengatakan Ny.S akan
lebih diperhatikan kondisinya agar
sakitnya tidak bertambah parah.
-Keluarga Ny.S mengatakan akan
selalu ada untuk Ny.S
-Keluarga Ny.S mengatakan akan
membawa Ny.S kefasilitas
Kesehatan saat Ny.S mengeluh
tentang penyakitnya.
O:
-Ny.S dan keluarga antusias dalam
perawatan Kesehatan
-Ny.S dan keluarga tampak
koopratif dan bekerja sama
-Ny.S dan keluarga tampak paham
dengan penjelasan penkes
osteoarthritis.
A:
Manajemen Kesehatan tidak
efektif (masalah teratasi)
P:
Intervensi di hentikan .
22/01/2023 Nyeri akut b.d S:
ketidakmampuan keluarga -Ny.S mengatakan jika nyeri nya
dalam merawat anggota timbul maka akan melakukan tarik
keluarga yang sakit nafas dalam
-Ny.S mengatakan sudah
mengingat cara melakukan Teknik
rileksasi nafas dalam.
-Ny.S mengatakan nyeri lebih
berkurang dan lebih rileks setelah
dilakukan tarik nafas dalam.
-Ny.S mengatakan merasa nyaman
setelah melakukan tatik nafas
dalam
O:
TD: 128/80mmHg
N: 75x/menit
RR;22x/menit
S: skala nyeri 2
Ny.S tampak senang dan rileks dan
mengatakan perut (ulu hatinya)
tidak sakit lagi
-Ny.S dapat mengulangi cara
pelaksanaan Teknik rileks sasi
nafaas dalam.
A:
Nyeri Akut (masalah teratasi)
P:
Intervensi dihentikan dan
dilanjutkan secara mandiri.

BAB V

PEMBAHASAN

5.1 Uraian Pembahasan

Setelah dilakukan implementasi keperawatan keluarga Ny.S yang


mengalami masalah sebagai pasien dimulai dari tanggal 19 Januari 2023 sampai
dengan 21 Januari 2023 yang dilakukan dirumah keluarga Ny.S, maka bab ini
penulis mengemukakan pembahasan hasil penelitian yang dilakukan dengan
teoritis dan penelitian yang telah dilakukan sebelumnya.

5.2 Pengkajian

Faktor pola makan meliputi jenis makanan, frekuensi makan dan porsi
makan merupakan faktor pencetus utama bagi penderita gastritis. Selain itu ada
juga beberapa faktor yang memperberat gastritis yaitu stress, konsumsi kopi,
kebiasaan merokok, jenis kelamin dan usia menyebabkan terjadinya
gastritis .Adapun tanda gejala Gastritis mencakup nyeri abdomen. Hal ini dapat
disebabkan karena adanya peradangan yang terjadi akibat adanya iritasi pada
mukosa lambung. Namun, gejala yang menyertai tidak hanya ditandai dengan
rasa nyeri tetapi rasa tidak nyaman pada lambung seperti mual atau kembung
juga merupakan gejala sakit Gastritis.

Berdasarkan pengkajian yang telah dilakukan pada klien sudah memasuki usia
lanjut dan berjenis kelamin perempuan. Klien berusia 65 tahun. Klien mengatakan
nyeri akan muncul apabila pasien telat makan,terutama telat makan siang. Klien
mengalami nyeri dengan intensitas sedang, yakni menunjukkan tingkat skala 5.
Sehingga tidak ada kesenjangan antara teori dan hasil yang ditemukan dilapangan. (dr.
Laniyati Hamijoyo et al., 2020; Helmi, 2016; Saifah, 2018)

5.3 Diagnosa Keperawatan

Diagnosa keperawatan keluarga yang mungkin muncul pada keluarga


yang menderita Gastritis yaitu nyeri akut berhubungan dengan ketidakmampuan
keluarga dalam merawat anggota keluarga yang sakit, defisit pengetahuan
keluarga berhubungan dengan ketidaktahuan keluarga dalam mengenal masalah
penyakit pasien dan manajemen kesehatan tidak efektif berhubungan dengan
ketidakefektifan pola perawatan kesehatan keluarga (Tim Pokja DPP PPNI,
2017).

Penulis menegakkan diagnosa nyeri akut berhubungan dengan


ketidakmampuan keluarga dalam merawat anggota keluarga yang sakit karena
didapatkan hasil pengkajian jika klien sudah menderita gastritis lebih dari 2
bulan. Diagnosa kedua defisit pengetahuan berhubungan dengan ketidaktahuan
keluarga dalam mengenal masalah penyakit pasien karena dari keluarga klien
kurang terpapar informasi tentang penyakit gastritis. Diagnosa ketiga
manajemen kesehatan keluarga tidak efektif berhubungan dengan
ketidakmampuan keluarga dalam mengenal masalah kesehatan, penulis
mengangkat diagnosa tersebut karena saat pengkajian didapatkan kurangnya
keterlibatan keluarga dalam hal perawatan selama klien mengalami sakit.
Berdasarkan Buku Standar Diagonis Keperawatan Indonesia (SDKI) diagnosa
yang muncul dilapangan sudah sesuai dengan teori (Tim Pokja DPP PPNI,
2017).

5.4 Intervensi Keperawatan

Intervensi utama yang dilakukan pada klien untuk mengatasi masalah nyeri yaitu
melakukan edukasi kesehatan, mengajarkan teknik relaksasi napas dalam untuk
mengurangi rasa nyeri. Intervensi manajemen nyeri meliputi observasi kaji tanda-tanda
vital, monitor dan lakukan pengkajian nyeri : identifikasi lokasi, karakteristik, durasi,
frekuensi, kualitas, intensitas, dan skala nyeri. Terapeutik fasilitasi istirahat tidur.
Edukasi meliputi jelaskan penyebab, periode dan pemicu nyeri, ajarkan teknik non
farmakologis untuk mengurangi nyeri dengan melakukan teknik relaksasi napas dalam,
beri kesempatan klien dan keluarga untuk bertanya, beri kesempatan klien untuk
mendemonstrasikan cara melakukan teknik relaksasi napas dalam, beri reinforcement
positif untuk jawaban dan tindakan klien dan keluarga.

5.5 Implementasi Keperawatan

Implementasi Teknik Relaksasi Napas Dalam

Implementasi Teknik Relaksasi Napas Dalam Penulis telah melakukan


implementasi keperawatan pada klien Gastritis dengan masalah nyeri selama 1
minggu, seminggu 2x. Kasus yang ditemukan pada klien menunjukkan bahwa
klien mengalami nyeri abdomen. Faktor yang menyebabkan terjadinya
kekambuhan yaitu ketika malam/ pagi hari dan saat banyak melakukan aktivitas.
Sebelum melakukan implementasi klien akan diukur terlebih dahulu intensitas
skala nyeri menggunakan Numeric Rating scale (NRS) didapatkan hasil
pengkajian pada klien yaitu pada skala nyeri 5. Setelah diberikan implementasi
teknik relaksasi napas dalam terjadi penurunan intensitas skala nyeri pada
minggu pertama turun menjadi skala nyeri 4.
Implementasi Pendidikan Kesehatan

Pada tanggal 20 Januari 2023 penulis juga melakukan tindakan


keperawatan pada klien dan keluarga dengan pemberian edukasi mengenai
keterlibatan keluarga dalam perawatan kesehatan dalam hal ini diharapkan dapat
menambah pengawasan keluarga terhadap klien. Pada implementasi edukasi
keterlibatan keluarga dalam perawatan kesehatan di kedua keluarga yaitu kedua
keluarga memberikan respon positif dan kooperatif. Kedua keluarga klien
antusias dalam perawatan kesehatan, keluarga mampu melakukan cara
perawatan kekambuhan pada Gastritis yaitu dengan cara mengkonsumsi obat
dan melakukan teknik relaksasi napas dalam. Keluarga klien mendiskusikan
tentang perawatan lebih lanjut apabila klien mengalami kekambuhan parah.
Keluarga klien juga akan meningkatkan pengawasan pada klien.

Peran keluarga dalam asuhan adalah memberikan dukungan yang sangat


berpengaruh dalam perawatan kesehatan pada lansia yang menderitas Gastritis.
Latihan fisik, edukasi serta dukungan keluarga merupakan terapi non
farmakologis yang sangat dapat berdampak pada lansia untuk meningkatkan
kesehatannya secara fisik maupun psikologi, sehingga lansia dapat menjaga
serta meningkatkan kesehatannya dan lebih mandiri. Manfaat dari self care
management pada lansia dengan Gastritis selain dapat meningkatkan kesehatan
pada lansia, self care management juga dapat meningkatkan faktor psikososial
seperti, depresi, efikasi diri, serta tekanan psikologis yang terjadi pada lansia
(Fatmala, 2021).

Dari hasil penelitian ini baik secara langsung maupun teori yang ada,
tidak memiliki kesenjangan atau perbedaan tindakan yang dilakukan dalam
pemberian pendidikan kesehatan tentang penyakit kepada klien dan keluarga.

5.5 Evaluasi Keperawatan

Evaluasi keperawatan merupakan suatu langkah dalam menilai hasil


asuhan yang dilakukan dengan membandingkan hasil yang dicapai berupa
respons keluarga terhadap tindakan yang dilakukan dengan indikator yang sudah
ditetapkan. Untuk menilai keberhasilan suatu tindakan dibutuhkan penilaian
akan tindakan tersebut. Penilaian yang digunakan pada tahap evaluasi ini ialah
menggunakan pendekatan SOAP (Subjektif, Objektif, Analisis, dan Planning)
(Nadirawati, 2018).

Pada evaluasi hari pertama pada klien didapatkan data subjektif klien
mengatakan keluhan nyeri dibagian abdomen, klien mengatakan paham tentang
gastritis dan cara melakukan teknik relaksasi napas dalam, klien mengatakan
keluarganya kooperatif dan antusias dalam keterlibatan perawatan kesehatan.
Evaluasi objektif nyeri yang diderita klien masih dirasakan tetapi sudah
mengalami penurunan yakni di skala 4. Klien mampu menjelaskan kembali
tentang penyakit gastritis, keluarga klien tampak kooperatif dan antusias dalam
keterlibatan perawatan kesehatan. Untuk diagnosa 1 masalah belum teratasi dan
intervensi dilanjutkan. Untuk diagnosa ke 2 dan 3 masalah sudah teratasi dan
intervensi dihentikan.

Pada evaluasi hari kedua pada klien didapatkan hasil evaluasi subjektif
mengatakan nyerinya masih sering kambuh tetapi intensitas nyerinya berkurang.
Klien mengatakan sudah paham bagaimana cara mengatasi nyeri jika terjadi
kekambuhan yaitu dengan melakukan teknik relaksasi napas dalam secara
mandiri. Klien mengatakan merasa rileks dan nyaman setelah dilakukan teknik
relaksasi napas dalam. Evaluasi objektif didapatkan intensitas nyeri turun ke
skala 4. Klien tampak rileks dan nyaman setelah diberikan tindakan. Masalah
belum teratasi dan intervensi dilanjutkan.

Pada evaluasi hari ketiga pada klien didapatkan hasil evaluasi subjektif
bahwa klien mengatakan sudah mengingat cara untuk melakukan teknik
relaksasi napas dalam, klien mengatakan nyerinya masih terasa tetapi sudah
berkurang. Evaluasi data objektif didapatkan data bahwa terjadi penurunan
intensitas nyeri yakni pada skala 3. Klien tampak rileks setelah diberikan
tindakan. Masalah teratasi sebagian dan intervensi dilanjutkan secara mandiri.

BAB VI

PENUTUP

6.1 Kesimpulan
Berdasarkan pengkajian yang telah dilakukan pada klien sudah memasuki usia
lanjut dan berjenis kelamin perempuan. Klien berusia 65 tahun. Klien mengatakan
nyeri akan muncul apabila setelah banyak melakukan aktivitas, pada saat cuaca dingin
(pagi/malam hari), kekakuan otot dan gangguan mobilitas fisik. Klien mengalami nyeri
dengan intensitas sedang, yakni menunjukkan tingkat skala 5.

Menegakkan diagnosa nyeri akut berhubungan dengan ketidakmampuan


keluarga dalam merawat anggota keluarga yang sakit karena didapatkan hasil
pengkajian jika klien sudah menderita gastritis lebih dari 2 bulan. Diagnosa
kedua defisit pengetahuan berhubungan dengan ketidaktahuan keluarga dalam
mengenal masalah penyakit pasien karena dari keluarga klien kurang terpapar
informasi tentang penyakit gastritis.

Untuk mengatasi masalah nyeri yaitu melakukan edukasi kesehatan,


mengajarkan teknik relaksasi napas dalam untuk mengurangi rasa nyeri. Intervensi
manajemen nyeri meliputi observasi kaji tanda-tanda vital, monitor dan lakukan
pengkajian nyeri : identifikasi lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas,
intensitas, dan skala nyeri. Terapeutik fasilitasi istirahat tidur.

Melakukan tindakan keperawatan pada klien dan keluarga dengan


pemberian edukasi mengenai keterlibatan keluarga dalam perawatan kesehatan
keluarga mampu melakukan cara perawatan kekambuhan pada Gastritis yaitu
dengan cara mengkonsumsi obat dan melakukan teknik relaksasi napas dalam.
Keluarga klien mendiskusikan tentang perawatan Peran keluarga dalam asuhan
adalah memberikan dukungan yang sangat berpengaruh dalam perawatan
kesehatan pada lansia yang menderitas Gastritis. Latihan fisik, edukasi serta
dukungan keluarga merupakan terapi non farmakologis yang sangat dapat
berdampak pada lansia untuk meningkatkan kesehatannya secara fisik maupun
psikologi, sehingga lansia dapat menjaga serta meningkatkan kesehatannya dan
lebih mandiri. Klien mampu menjelaskan kembali tentang penyakit gastritis,
keluarga klien tampak kooperatif dan antusias dalam keterlibatan perawatan
kesehatan. Untuk diagnosa 1 masalah belum teratasi dan intervensi dilanjutkan.
Untuk diagnosa ke 2 dan 3 masalah sudah teratasi dan intervensi dihentikan.
Klien mengatakan sudah paham bagaimana cara mengatasi nyeri jika terjadi
kekambuhan yaitu dengan melakukan teknik relaksasi napas dalam secara
mandiri. Klien mengatakan merasa rileks dan nyaman setelah dilakukan teknik
relaksasi napas dalam pada klien didapatkan hasil evaluasi subjektif bahwa klien
mengatakan sudah mengingat cara untuk melakukan teknik relaksasi napas
dalam, klien mengatakan nyerinya masih terasa tetapi sudah berkurang

6.2 Saran
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan dapat disampaikan saran
bahwa petugas kesehatan agar lebih meningkatkan pelayanan kesehatan kepada
pasien khususnya pada penderita gastritis yaitu dengan memberikan informasi
tentang menjaga pola makan, baik frekuensi makan maupun porsi makan dan
mengurangi konsumsi jenis makanan mengiritasi lambung serta bagaimana
menghindari stress.

Anda mungkin juga menyukai