MAKALAH
SUBJEK DAN OBJEK HUKUM PIDANA
Disusun Guna Memenuhi Tugas Hukum Pidana
Dosen Pengampu :
Fahmi Ridlol Uyun, M.H.
Disusun Oleh :
1. Angwa Neilsen Agnesi 221102020021
2. Ahmad Tammam Syafiqi 221102020027
3. Lailatul Fitriah 221102020025
PROGRAM STUDI HUKUM EKONOMI SYARIAH
FAKULTAS SYARIAH
UIN KHAS JEMBER
2022/2023
Jalan Mataram Nomor 1 Mangli , Kaliwates , Jember
Email :info@[Link] Website: [Link]
JAWA TIMUR
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena dengan rahmat serta ridho nya
penulis bisa menyelesaikan tugas makalah Hukum Pidana yang berjudul “Subjek Dan Objek
Hukum Pidana” tepat waktu tanpa terkendala apapun. Makalah ini kami susun menggunakan
bahasa yang mudah dipahami oleh pembaca.
Kami dari kelompok 4 yang beranggotakan 3 orang yang terdiri dari :
1. Angwa Neilsen Agnesi (221102020021)
2. Ahmad Tammam Syafiqi (221102020027)
3. Lailatul Fitriah (221102020025)
Mengucapkan banyak terima kasih kepada dosen pengampu mata kuliah Hukum Pidana, Ibu
Fahmi Ridlol Uyun, M.H. yang telah membantu serta memberikan arahan dalam penyusunan
makalah ini, Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada semua pihak terutama pembaca
yang telah meluangkan waktunya untuk membaca makalah yang kami buat.
Penulis memohon maaf apabila ada kesalahan kata atau terdapat kata yang kurang tepat, karena
penulis sendiri menyadari makalah ini jauh dari kata sempurna oleh karena itu kritik serta saran
sangat kami nantikan demi kesempurnaan makalah ini serta mampu membuat makalah yang
lebih baik lagi dikesempatan berikutnya.
Besar harapan kelompok kami semoga makalah yang kami susun ini dapat memberikan banyak
manfaat serta menambah wawasan yang luas bagi pembaca.
Jember, 24 Maret 2023
Penulis
i
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ........................................................................................... i
DAFTAR ISI ........................................................................................................ ii
BAB I PENDAHULUAN ..................................................................................... 1
A. Latar Belakang ............................................................................................... 1
B. Rumusan Masalah .......................................................................................... 1
C. Tujuan ............................................................................................................ 1
BAB II PEMBAHASAN ...................................................................................... 2
1.1 Pengertian Hukum Pidana Menurut Pakar Hukum ........................................ 2
1.2 Subjek Hukum .............................................................................................. 3
1. Individu .......................................................................................................... 3
2. Korporasi (Badan Hukum) .............................................................................. 4
1.3 Jenis Objek Hukum ......................................................................................10
BAB III PENUTUP .............................................................................................12
A. Kesimpulan ...................................................................................................12
DAFTAR PUSTAKA ..........................................................................................13
ii
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Subjek hukum adalah segala sesuatu yang dapat dibebankan hak dan kewajiban atau sesuatu
yang berdasarkan hukum dapat memiliki hak dan [Link] dan kewajiban yang dimaksud
adalah subjek hukum dapat melakukan hubungan hukum atau dapat bertindak melakukan
kewenangan hukumnya berdasarkan ketentuan hukum yang [Link] hukum ada dua subjek
hukum yaitu pertamamanusia (person), di dalam hukum, perkataan seseorang atau orang
(person) berarti pembawa hak dan kewajiban. Berlakunya seseorang sebagai pembawa hak,
mulai dari dia dilahirkan sampai dia meninggal [Link] badan hukum (rechtpersoon), selain
orang (person) badan atau perkumpulan dapat juga memiliki hak dan dapat melakukan perbuatan
hukum seperti halnya [Link] atau perkumpulan itu memiliki harta kekayaan sendiri, ikut
serta dalam persoalan hukum dan dapat juga digugat atau menggugat di pengadilan dengan
perantaraan pengurusnya, badan yang demikian disebut badan hukum (rechtpersoon).
Perkumpulan sebagai badan hukum tentu tidaklah semua jenis perkumpulan, perkumpulan
yang dapat dinamakan badan hukum apabila perkumpulan tersebut diciptakan sesuai ketentuan
yang berlaku (hukum). Objek hukum adalah segala sesuatu yang dapat menjadi objek hubungan
hukum. Secara singkat objek hukum yaitu segala sesuatu yang berguna dan dapat dimanfaatkan
oleh subjek hukum (manusia atau badan hukum). Biasanya objek hukum inilah nantinya menjadi
sumber masalah hukum yang terjadi antar subjek hukum. Secara umum yang dimaksud subjek
hukum adalah barang atau benda. Menurut pasal 499 KUHPerdata “ kebendaan adalah tiap-tiap
barang dan tiap-tiap hal yang dapat dikuasai oleh hak milik.
B. Rumusan Masalah
1. Apa Subjek Hukum Pidana Indonesia ?
2. Apa Saja Jenis Objek Hukum Pidana Indonesia ?
C. Tujuan
1. Mengetahui Apa Subjek Hukum Pidana Indonesia.
2. Mengetahui Apa Saja Jenis Objek Hukum Indonesia.
1
BAB II
PEMBAHASAN
1.1 Pengertian Hukum Pidana Menurut Pakar Hukum
Moeljatno menyatakan hukum pidana merupakan bagian dari keseluruhan hukum yang berlaku
di suatu negara yang mengadakan dasar-dasar dan aturan untuk :
1. Menentukan perbuatan mana yang tidak boleh dilakukan yang dilarang dengan disertai
ancaman atau sanksi yang berupa pidana tertenru bagi siapa yang melanggarnya
2. Menentukan kapan dan dalam hal apa kepada mereka yang telah melanggar
laranganlarangan itu dapat dikenakan atau diajtuhi sebagaimana yang telah diancamkan
3. Menentukan dengan cara bagaimana pengenaan pidana itu dapat dilaksanakan apabila ada
orang yang telah melanggar tersebut.
W.L.G. Lemaire, hukum pidana itu itu terdiri dari norma-norma yang berisi keharusan
keharusan dan larangan-larangan yang (oleh pembentuk undang-undang) telah dikaitkan dengan
suatu sanksi berupa hukuman, yakni suatu penderitaan yang bersifat khusus. Dengan demikian
dapat juga dikatakan, bahwa hukum pidana itu merupakan suatu sistem norma-norma yang
menentukan terhadap tindakan-tindakan yang mana (hal melakukan sesuatu atau tidak
melakukan sesuatu dimana terdapat suatu keharusan untuk melakukan sesuatu) dan dalam
keadaan-keadaan bagaimana hukum itu dapat dijatuhkan, serta hukuman yang bagaimana yang
dapat dijatuhkan bagi tindakan-tindakan tersebut.
Menurut Sudarto bahwa hukum pidana adalah aturan hukum yang mengikatkan kepada suatu
perbuatan yang memenuhi syarat-syarat tertentu akibat yang berupa pidana. Menurut Simons
hukum pidana itu dapat dibagi menjadi hukum pidana dalam arti objektif atau strafrecht in
objectieve zin dan hukum pidana dalam arti subjektif atau strafrecht in subjectieve zin. Hukum
pidana dalam arti objektif adalah hukum pidana yang berlaku, atau yang juga disebut sebagai
hukum positif atau ius poenale. Simons merumuskan hukum pidana dalam arti objektif sebagai:
1. Keseluruhan larangan dan perintah yang oleh negara diancam dengan nestapa yaitu suatu
pidana apabila tidak ditaati;
2. Keseluruhan peraturan yang menetapkan syarat-syarat untuk penjatuhan pidana, dan
3. Keseluruhan ketentuan yang memberikan dasar untuk penjatuhan dan penerapan pidana. 1
1
Wahyuni Fitri, Buku “ Dasar-dasar Hukum Pidana Indonesia “, Hlm (1).
2
1.2 Subjek Hukum
Apa dan siapa subjek hukum itu? Subjek hukum adalah pendukung hak, yaitu manusia dan atau
badan yang menurut hukum berkuasa (berwenang) menjadi pendukung hak. Suatu objek hukum
mempunyai kekuasaan untuk mendukung hak. Subjek hukum adalah sesuatu yang menurut
hukum dapat memiliki hak dan kewajiban atau sebagai pendukung hak dan kewajiban. Menurut
macamnya ada dua subjek hukum, yaitu manusia (natuurlijke person) dan badan hukum (rechts
person). Khusus mengenai badan hukum, menurut hukum badan hukum dapat dibedakan
menjadi dua, yaitu badan hukum publik (desa, kota/ kabupaten, provinsi dan Negara) dan badan
hukum perdata (PT, Koperasi, dan yayasan).
1. Individu
Dalam kajian ilmu hukum yang menjadi subjek hukum adalah manusia dan badan hukumbegitu
juga dalam hukum perdata maupun hukum pidana sebagai spesialisasi turunan dari kajian
ilmu hukum. Pembahasan kedua subjek hukum tersebut, terdapat penjabaran khusus
sehingga memperjelas kedudukan manusia dan badan hukum sebagai subjek dari kedua
hukum tersebut. Manusia dalam pandangan hukum merupakan subjek hukum dan juga sebagai
pelaku pendukung antara hak dan kewajiban, sehingga manusia memiliki kedudukan yang
setara dalam perjalanan lalu lintas [Link] dasarnya, manusia sebagai subjek hukum telah
memperoleh hak dan kewajiban di mulai sejak ia lahir ke dunia dan berakhir ketika ia
meninggal dunia, walaupun hak dan kewajibannya itu dapat dialihkan kepada ahli
warisnya.
Namun dalam pasal 2 KUHPerdata, terdapat pengecualian terhadap bayi yang masih
dalam kandungan ibunya dinyatakan sebagai subjek hukum, apabila terdapat sebuah
kepentingan yang menghendaki hal itu, khususnya dalam hal penerimaan harta warisan.
Sehingga bayi tersebut dianggap telah lahir. Adapun apabila dalam perjalanannya bayi
tersebut lahir dalam keadaan meninggal dunia, maka gugur hak bayi tersebut sebagai
subjek hukum (khusus dalam penerimaan harta warisan maupun hibah) dan ia dinyatakan
sebagai sesuatu yang dianggap tidak pernah ada.
Sekarang boleh dikatakan tiap manusia baik warganegara ataupun orang asing dengan tak
memandang agama atau kebudayaannya adalah subjek hukum. Sebagai subjek hukum, sebagai
pembawa hak, manusia mempunyai hak-hak dan kewajiban-kewajiban untuk melakukan sesuatu
tindakan hukum ia dapat mengadakan persetujuan- persetujuan menikah, membuat wasiat dan
sebagainya. Berlakunya manusia itu sebagai pembawa hak, mulai dari saat dia dilahirkan dan
berakhir pada saat ia meninggal dunia. Walaupun menurut hukum setiap orang tiada terkecuali
dapat memiliki hak-hak akan tetapi di dalam hukum tidaklah semua orang dapat diperbolehkan
bertindak sendiri di dalam melaksanakan hak-haknya itu. 2
2
Syamsuddin Rahman, Buku” Pengantar Hukum Indonesia “ Hlm. (17)
3
Ada beberapa golongan orang yang oleh hukum tekah dinyatakan “tidak cakap” atau “kurang
cakap” untuk bertindak sendiri dalam melakukan perbuatan-perbuatan hukum (mereka disebut
handelingsonbekwaam), tetapi mereka itu harus diwakili atau dibantu orang lain. Mereka yang
oleh hukum telah dinyatakan tidak cakap untuk melakukan sendiri perbuatan hukum ialah:
a. Orang yang masih dibawah umur (belum mencapai usia 21 tahun atau belum dewasa).
b. Orang yang tidak sehat pikirannya (gila), pemabuk dan pemboros.
c. Orang perempuan dalam pernikahan (wanita kawin).
d. Serta orang dewasa yang hak dan kewajibannya dicabut sementara oleh hakim pengadilan,
akibat melakukan tindakan kejahatan seperti pencabutan hak memegang jabatan kekuasaan,
hak memilih dan dipilih, hak memasuki suatu pekerjaan dan sebagainya.
Sedangkan manusia yang cakap hukum selain sudah dewasa dan juga sudah menikah atau
belum dewasa tapi sudah menikah berbeda ketentuan antara satu peraturan perundang-undangan
satu dengan yang lainnya, antara lain:
Dalam hukum pidana, pasal 45 dan 46 KUHP menyatakan bahwa secara eksplisit, sejatinya
seorang dapat dikatakan sebagai subjek hukum dan dapat dieksekusi perbuatan hukumnya dalam
hukum pidana ketika sudah memenuhi syarat berusia 16 tahun. Namun seorang hakim dapat
memutuskan perkara terkait kasus anak yang melakukan delik atau tindakan pidana dibawah usia
16 tahun yaitu, melakukan pembinaan dengan mengembalikannya kepada kedua orang tua atau
ditempatkan di perumahan pemeliharaan anak Negara dan menjatuhkan pidana dengan syarat
mengurangi sepertiga dari ancaman pidana serta dimasukkan ke dalam penjara khusus anak.
2. Korporasi (Badan Hukum)
Permasalahan pertanggungjawaban korporasi sebagai pelaku tindak pidana adalah suatu hal
yang tidak sederhana mengingat korporasi adalah badan hukum. Permasalahan ini berpangkal
pada asas tiada pidana tanpa kesalahan. Mens rea atau kesalahan adalah sikap kalbu, yang secara
alamiah hanya ada pada orang alamiah saja dan oleh sebab itu, maka dipandang hanya manusia
alamiah yang bisa dimintakan pertanggung-jawaban pidana.
Khazanah hukum Romawi kesatuan korporasi disebut universitas, yang di dalamnya termasuk
negara, kotamadya dan asosiasi atau perkumpulan swasta. Asas societas delinquere non potest
dikenal saat itu dimana universitas tidak sama dengan manusia yang memiliki kemauan dan jiwa,
universitas merupakan fiksi yang tidak memiliki badan dan jiwa dan karenanya tidak dapat
dipidana. Asas societas delinquere non potest inilah yang menjawab mengapa dalam KUHP
tidak ditemukan tempat bagi korporasi sebagai subjek hukum. Subjek hukum adalah segala
sesuatu yang dapat mempunyai hak dan kewajiban. Hak adalah kekuasaan, kewenangan yang
diberikan oleh hukum kepada subjek hukum sedangkan kewajiban adalah beban yang diberiakan
oleh hukum kepada subjek hukum3
3
Witro Doli, Jurnal “ Subjek Dan Objek Hukum “, Vol. 6, Hlm. (54-56)
4
Pada awalnya, yang dapat dipandang sebagai subjek hukum pidana oleh pembuat
UndangUndang adalah bahwa hanya manusia (orang-perorangan atau individu). Subjek hukum
pidana yang dikenal dalam Kitap Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) yaitu
orangperseorangan. Pemikiran korporasi belum dipandang sebagai subjek hukum pidana, namun
dalam perkembangannya, korporasi sudah dianggap sebagai subjek hukum pidana Dimana pada
kenyataannya bahwa manusia terkadang melakukan tindak pidana melalui organisasi sehigga
pembuat Undang-Undang dalam merumuskan delik turut memperhitungkan kenyataan ini.
korporasi memiliki peran yang sangat besar dalam perekonomian negara sejalan dengan
perkembangan dan pertumbuhan ekonomi dalam menghadapi era industrialisasi yang tengah
dikembangkan oleh pemerintah. Dalam hubungannya dengan pembaharuan hukum pidana di
Indonesia, seiring dengan perkembangan hukum sebagai sarana pembaharuan masyarakat,
hukum sendiri memerlukan pembaharuan dan pembinaan. Pembaharuan hukum pidana itu
sendiri pada hakikaktnya berhubungan erat dengan latar belakang dan urgensi dilakukan
pembaharuan tersebut.
Kaitannya dengan Rancangan Konsep KUHP Nasional, maka nilainilai Pancasila harus
meresap kedalam pasal-pasal konsep KUHP Nasional. Oleh karena itu, korporasi di dalam RUU
KUHP diterima sebagai subjek hukum pidana,mengingat kemajuan dibidang keuangan, ekonomi
dan perdagangan serta berkembangnya tindak pidana terorganisasi baik bersifat domestik
maupun internasional. Saat ini subjek hukum pidana tidak dibatasi tehadap orang-perorangan
(natural person) saja melainkan mencakup pula korporasi. Istilah korporasi dalam hukum
Indonesia atau biasa disebut Perseroan Perdata hanya dikenal dalam Hukum Perdata, dan telah
didudukan sebagai subjek hukum. Dalam Pasal 1654 Kitap Undang-Undang Hukum Perdata,
disebutkan bahwa korporasi dapat didefinisikan sebagai :
“perseroan perdata adalah suatu persetujuan antara dua orang atau lebih, yang berjanji untuk
memasukan sesuatu ke dalam perseroan itu dengan maksud supaya keuntungan yang diperoleh
dari perseroan itu dibagi di antara mereka”.
Menurut E. Utrecht, korporasi ditempatkan sebagai subjek hukum pidana yang diakui di dalam
UndangUndang pidana khusus (di luar KUHP), sedangkan dalam KUHP korporasi tidak diakaui
sebagai subjek hukum. Menurutnya kandungan ancaman hukuman terhadap korporasi suatu
badan hukum (rechtperson) karena disangka (diduga) telah melakukan suatu delik (tindak
pidana), pada Pasal 59 KUHP hanya diberlakukan dalam hal perlanggaran. Lebih lanjut
diterangkankan E. Utrecht yang dihukum menurut pasal ini ialah anggota pengurus atau
komisaris suatu korporasi, bukan tanggungjawab kolektif (collektieve aansprakelikheid) anggota
dan komisaris suatu korporasi berbadan hukum.
4
Kansil, Buku “ Pengantar Ilmu Hukum” Hlm. (117)
5
Sekalipun bukan manusia (person), badan hukum (rechtperson) merupakan subjek hukum yang
memiliki hak-hak dan kewajiban sendiri, dalam hal ini berbentuk sebagai badan hukum atau
organisasi yang terdiri dari sekumpulan orang yang bergabung untuk suatu tujuan tertentu serta
memiliki kekayaan tertentu. Maka dari itu dalam lalu lintas hukum maka badan hukum tersebut
diwakili oleh pengurus yang bertindak untuk dan atas nama serta demi kepentingan badan
hukum tersebut (mewakilinya) Terkait dengan korporasi sebagai subjek hukum, korporasi yang
memiliki hak-hak dan kewajiban mampu melakukan tindak pidana yang dapat dimintai
pertanggungjawabanya. Atas dasar itu Muladi mengemukakan bahwa ada beberapa alasan yang
membenarkan mengapa korporasi diakui sebagai pelaku tindak pidana, yakni:
1. Berdasar dari falsafah integralistik, dimana segala sesuatu hendaknya diukur atas dasar
keseimbangan, keselarasan dan keserasian antara kepentingan individu dan kepentingan
social;
2. Berdasar dari asas kekeluargaan dalam pasal 33 UUD 1945;
3. Untuk memberantas anomie of success (suskses tanpa aturan);
4. Untuk perlindungan konsumen; dan Untuk kemajuan teknologi.
Telaah ilmiah mengenai pertanggungjawaban korporasi selaku badan hukum dalam melakukan
tindak pidana tidak hanya menjadi isu nasional, melainkan telah menjadi isu global, sehingga
pengaturan serta penempatan korporasi sebagai subjek hukum pidana tidak dapat dipungkiri lagi.
Selian merupakan isu global, korporasi dijadikan sebagai sujek hukum pidana dilatarbelakangi
oleh sejarah dan pengalaman yang berbeda di tiap negara, termasuk yang terjadi di Indonesia.
Perkembangan industrialisasi dan kemajuan yang terjadi dalam bidang ekonomi dan
perdagangan telah mendorong pemikiran global bahwa subjek hukum pidana tidak lagi hanya
dibatasi pada manusia alamiah, tetapi meliputi pula korporasi, karena untuk tindak pidana
tertentu dapat pula dilakukan oleh korporasi.
Dengan berpangkal pada teori identifikasi maka kesulitan yang mungkin timbul dalam
menentukan ada atau tidaknya pertanggungjawaban pidana korporasi akan bisa lebih
disederhanakan. Dengan adanya identification theory maka kesalahan yang dilakukan oleh
anggota direksi atau pejabat korporasi lainnya, hanya dapat dibebankan pada korporasi. Dalam
meminta pertanggungjawaban dari korporasi, dari apa yang telah dilakukan pengurus atau
pegawainya, maka harus dipenuhi beberapa ketentuan, yaitu :
a. Tindakan tersebut dilakukan oleh orang-orang yang mempunyai kewengan untuk itu atau
harus di dalam lingkup kekuasaanya ;
b. Tindakan yang dilakukan oleh orang tersebut tidak melampaui kewengannya ;
c. Tindakannya itu dilakukan dalam rangka memenuhi maksud dan tujuan korporasinya, dan
tidak melampaui kewenangan bertindak dari korporasinya tersebut ; dan
d. Tindakannya itu untuk kepentingan atau keuntungan korporasinya.
6
Dengan ini, bisa dikatakan bahwa suatu korporasi telah melakukan tindak pidana adalah apabila
tindak pidana itu dilakukan oleh pengurus atau pegawai korporasi yang masih dalam ruang
lingkup kewenangannya dan intra vires dalam artian masih dalam bagian maksud dan tujuan
korporasi itu serta perbuatan itu dilakukannya untuk kepentingan korporasinya. Jika tidak, maka
itu bukan tindak pidana korporasi.
Perkembangan Pengaturan Korporasi Sebagai Subjek Hukum Pidana Di Indonesia
Perkembangan di dalam ilmu hukum pidana telah diterima dengan baik di kalangan akademisi
ataupun kalangan praktisi mengenai suatu kejahatan khusus yang melibatkan suatu perusahaan
yang disebut corporate crime (kejahatan korporat). Terkadang untuk kejahatan korporasi ini juga
disebut kejahatan korporasi atau kejahatan organisasi (organizational crime). Di dalam sistem
hukum perdata belanda yang sampai saat ini masih dianut oleh sistem hukum di Indonesia,
dikenal adanya subjek hukum yang terbagi atas dua yakni manusia (person) dan badan hukum
(rechtperson). Terhadap pembagian subjek hukum tersebut, apabila korporasi merupakan suatu
subjek hukum yang dapat melakukan hubungan hukum, maka korporasi merupakan kualifikasi
dari badan hukum (rechtperson).
penyebutan korporasi terus berkembang dan banyak ditemui diberbagai buku karangan. Bahkan
di Indonesia, dalam berbagai ketentuan aturan hukum yang dikeluarkan oleh pemerintah juga
mencantumkan katakata korporasi misalnya, dalam Undang-Undang No. 31 Tahun 1999 tentang
Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana yang telah diubah menjadi Undang-Undang
No. 20 Tahun 2001 (UU Tipikor), Undang-Undang No. 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan
Dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (UU Lingkungan Hidup), Undang-Undang No. 31 Tahun
2004 tentang Perikanan (UU Perikanan) dan peraturan perundang-undangan lainya.
Diberbagai perundang-undangan yang mengatur korporasi tersebut memiliki berbagai
perbedaan dalam hal memberikan definisi, ruang lingkup, hukum acara, jenis sanksi dan bentuk
pertanggungjawaban pidana. Sebagai contoh dalam UU Tipikor, merumuskan korporasi adalah
sekumpulan orang dan atau kekayaan yang terorganisasi baik merupakan yang berbadan hukum
maupun bukan berbadan hukum. Secara umum korporasi merupakan perikatan sekumpulan
orang yang terorganisasi dan/atau kekayaan dengan tujuan mencari keuntungan baik yang
berbadan hukum (legal person) maupun yang tidak berbadan hukum.
Dengan demikian korporasi sebagai subjek tindak pidana yang berbadan hukum ataupun non-
badan hukum dianggap mampu melakukan tindak pidana (corporate crime) yang mampu
memberikan dampak kerugian dan dapat dimintakan pertanggungjawabannya dalam hukum
pidana. Dibidang ekonomi korporasi dalam melakukan kegiatannya sudah tentu berorientasi
untuk mendapatkan keuntungan sebanyak mungkin. Oleh karena itu kemungkinan korporasi
melakukan juga perbuatan yang dapat merugikan orang lain dalam mencapai tujuannya.
7
Indonesia memiliki aturan mengenai delik ekonomi yang meniru Pasal 15 ayat (1) W.E.D (Wet
ob te Economische Delicten) 1950 Belanda, dimana dilakukan tuntutan pidana dan putusan
pidana terhadap korporasi. Dapat dipidananya pengurus tetap berlaku disamping atau lepas dari
tuntutan terhadap korporasi. Di Belanda, sejak tahun 1976 melalui Undang-Undang tanggal 23
Juni 1976 (Sbt. 377, mulai berlaku 1 September 1976) yang menganggap badan hukum atau
korporasi dapat melakukan tindak pidana dan dapat mempertanggung jawabkannya terhadapap
semua sistem hukum serta menempatkan dalam Bagian Umum (Buku I) KUHP, sekaligus juga
menyatakan bahwa ketetuan di luar KUHP yang memuat pertanggungjawaban pidana terhadap
korporasi dihapuskan.
KUHP Indonesia yang merupakan warisan pemerintahan belanda, sampai sekarang ini masih
digunakan, namun RUU KUHP yang baru telah meletakan pengertian tentang korporasi dalam
Pasal 45 sampai dengan Pasal 50 yang mana korporasi dapat dijadikan sebagai pelaku kejahatan
dan dapat dibebani pertanggungjawaban. Keberadaan korporasi dapat dijadikan pelaku tindak
pidana dapat disimpulkan dari beberapa pasal di dalam RUU KUHP, yakni:
a. Secara prinsip dalam RUU KUHP, konsep korporasi telah diterima sebagai badan hukum
yang dapat dijadikan subjek hukum pidana.
b. Dengan demikian korporasi sebagai badan hukum dapat dituntut dan dijatuhi hukuman
pidana.
c. Tindak pidana yang bisa dipertanggungjawabkan kepada korporasi adalah semua perbuatan
yang termasuk tindak pidana yang dilakukan oleh orang-orang yang mempunyai kedudukan
fungsional (functioneel daders) dalam korporasi yang melakukan perbuatan itu dalam
lingkungan usaha dari korporasi sesuai dengan anggaran dasarnya.
d. Hanya sebagaian peraturan perundang-undangan dapat diterapkan atas korporasi, misalnya
tidak mungkin menerapkan sanksi pidana penjara atau pidana mati atas korporasi.
Perluasan subjek hukum pidana sehingga meliputi korporasi, mulai diperkenalkan dalam
Undang-Undanh Penimbunan Barang Tahun 1951 yang kemudian secara umum diperkenalkan
dalam Undang-Undang Tindak Pidana Ekonomi Tahun 1955. Sekarang banyak sekali undang-
undang yang termasuk bidang ekonomi yang menentukan korporasi.
Perkembangan produk perundangundangan dewasa ini menggambarkan fenomena persoalan
mengenai yang melakukan tindak pidana dan yang dapat dipertanggungjawabkan dalam hukum
pidana. Terdapat tiga model pengaturan terhadap hal diatas yaitu, pertama model yang
melakukan orang dan yang mepertanggungjawabkannya dalam hukum pidana juga orang (Pasal
59 KUHP), kedua model yang melakukan adalah orang dan/atau korporasi dan yang
mempertanggungjawabkan dalam hukum pidana juga hanya orang (UU No. 10 tahun 1998
Tentang Perbankan) dan model ketiga, yang melakukan orang dan/atau korporasi dan yang dapat
mempertanggungjawabkan juga orang dan/atau korporasi (UU No. 7 drt tahun 1955 Tentang
Pengusutan, Penuntutan Dan Peradilan Tindak Pidana Ekonomi).
8
Di Indonesia, perkembangan peraturan perundang-undangan yang mengatur tindak pidana yang
dilakukan oleh orang dan/atau korporasi dan yang mepertanggujawabkan hanya orang di
antaranya:
a. UU No. 1 Tahun 1951 tentang Tenaga Kerja.
b. UU No. 2 Tahun 1951 tentang Kecelakaan.
c. UU No. 3 Tahun 1951 tentang Pengawasan Perburuhan.
d. UU No. 3 Tahun 1982 tentang Wajib Daftar Perusahaan.
e. UU No. 7 Tahun 1992 jo UU No. 10 tahun 1998 tentang Perbankan.
Kemudian perkembangan pengaturan peraturan perundangundangan yang mengatur mengenai
yang melakukan tindak pidana orang dan/atau korporasi dan yang mempertanggungjawabkannya
dalam hukum pidana juga orang dan/atau korporasi di antaranya :
a. UU No. 7 Drt. 1955 tentang Tindak Pidana Ekonomi.
b. UU No. 5 Tahun 1984 tentang Perindustrian.
c. UU No. 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.
d. UU No. 25 Tahun 2003 tentang Tindak Pidana Pencucian Uang.
Kaitannya dengan banyaknya pengaturan khusus mengenai korporasi yang melakukan tindak
pidana maka pengaturan tersebut memuat sanksi pidana bagi korporasi. Karena korporasi itu
tidak mempunyai wujud badan secara lahiriah, maka sanksi pidana yang bisa diberikan
kepadanya bukanlah sanksi pidana klasik, kecuali sanksi yang berkaitan dengan denda atau
pinalti. Pada umumnya pengenaan denda kepada korporasi ini akan optimal mengingat
pengeksekusiannya cukup mudah, apalagi bila sebelumnya telah diadakan penyitaan terhadap
harta korporasi yang dianggap cukup ereat bersinggungan dengan tindak pidana yang terbukti
telah dilakukannya.
Selain pengenaan hukuman pokok berupa denda, maka bisa sja kepada korporasi itu diberikan
hukuman tambahan dalam berbagai bentuknya, seperti pencabutan izin sementara waktu, atau
pelarangan melakukan usaha tertentu dalam waktu tertentu, ataupun pembubaran korporasi
bersangkutan.4
5
Sutra Hari, Jurnal “Perkembangan Pengaturan korporasi Sebagai Subjek Hukum”, Vol. 3, Hlm.(121)
9
Mengutip dari buku Dasar-dasar Hukum Pidana karya Mahrus Ali di Indonesia pengaturan
korporasi sebagai subjek hukum pidana ditemukan dalam berbagai perundang-undangan diluar
KUHP, yang secara khusus mencantum kan korporasi sebagai subjek hukum pidana. Peraturan
perundang-undangan yang pertama kali menempatkan korporasi sebagai subjek hukum pidana
dan secara langsung dapat dipertanggungjawabkan secara pidana adalah undang-undang nomor 7
Drt Tahun 1955 tentang pengusutan, penuntutan dan peradilan tindak pidana ekonomi, yang
lebih dikenal dengan undang-undang tindak pidana ekonomi. Pasal 15 ayat (1) menyatakan:
“ jika suatu tindak pidana ekonomi dilakukan oleh atau atas nama suatu badan hukum, suatu
perseroan, suatu perserikatan orang atau yayasan, maka tuntutan pidana dilakukan dan hukuman
pidana serta tindakan tata tertib dijatuhkan, baik terhadap mereka yang memberi perintah
melakukan tindak pidana ekonomi itu atau yang bertindak sebagai pemimpin dalam perbuatan
atau kelalaian itu maupun terhadap kedua-duanya.”
Perumusan diatas menyatakan bahwa yang dapat melakukan maupun yang dapat
dipertanggungjawabkan adalah orang dan atau perserikatan itu sendiri, sehingga dengan
demikian, di Indonesia korporasi diakui sebagai subjek hukum pidana yang terbatas hanya pada
peraturan perundang-undangan di luar KUHP.
Dalam konsep KUHP subjek perbuatan pidana tidak hanya manusia sebagaimana dalam
KUHP, tetapi juga korporasi. Pasal konsep KUHP 47 menyebutkan bahwa korporasi merupakan
subjek tindak pidana. Dalam pasal 48 dan pasal 49 disebutkan bahwa tindak pidana dilakukan
oleh korporasi apabila dilakukan oleh orang-orang yang bertindak untuk dan atas nama korporasi
atau demi kepentingan korporasi, berdasarkan hubungan kerja atau berdasarkan hubungan lain,
dalam lingkup usaha korporasi tersebut, baik sendiri atau bersama-sama. Jika tindak pidana
dilakukan oleh korporasi, pertanggungjawaban pidana dikenakan terhadap korporasi dan atau
pengurusnya. Bedanya badan hukum dan manusia terletak pada bahwa badan hukum itu tidak
dapat melakukan perkawinan, tidak dapat dihukum atau dipenjara (kecuali hukuman denda).
1.3 Jenis Objek Hukum
Objek ialah segala sesuatu yang berguna bagi subjek hukum dan dapat menjadi pokok suatu
hubungan hukum yang dilakukan oleh para subjek hukum. Dalam bahasa hukum, objek hukum
dapat juga disebut hak atau benda yang dapat dikuasai atau dimiliki oleh subjek hukum. Hak
sering kali diidentikkan dengan izin atau kewenangan atau kekuasaan. Pemahaman mengenai
hak sebagai objek hukum dapat merujuk pada pembahasan hak.
10
Adapun mengenai benda, pada dasarnya sudah diatur pada buku II kitab undang-undang hukum
perdata , akan tetapi teori umum mengenai klasifikasi benda adalah teori yang
mengklasifikasikan benda bergerak dan benda tidak bergerak (pasal 504 KUHPerdata) dan teori
yang meng klasifikasikan benda yang berwujud (contoh tanah) dan benda yang tidak berwujud
(contoh segala hak) (pasal 503 KUHPerdata). Suatu benda bergerak atau benda tak bergerak
dapat dilihat dari:
a. Sifatnya : menurut sifatnya benda bergerak adalah benda yang dapat dipindah- pindahkan
dari satu tempat ke tempat yang lainnya. Misalnya : kursi, meja, pulpen dan lain
sebagainya. Adapun benda tak bergerak, menurut sifatnya adalah benda yang tidak dapat
dipindahkan. Misalnya : tanah, pohon, kebun, sawah, dan lain-lain.
b. Tujuannya : benda tak bergerak menurut tujuannya ialah segala benda atau barang yang
pada sifatnya adalah termasuk kedalam pengertian benda bergerak, namun senantiasa
digunakan oleh pemiliknya dan menjadi alat tetap pada benda yang tidak bergerak.
Misalnya dipabrik terdapat benda bergerak menurut sifatnya tetapi menjadi benda tak
bergerak yaitu penggilingan, tong dan lain-lain.
c. Undang-undang : benda tak bergerak menurut undang-undang adalah segala hak atas
benda tak bergerak, misalnya hak pakai hasil atas benda yang tak bergerak. Benda
bergerak karena ketentuan undang-undang adalah segala hak atas benda bergerak.
Misalnya sero, hak pakai atas benda bergerak.
Mengutip dari buku pengantar ilmu hukum Karya C.S.T Kansil yang di maksud objek hukum
ialah segala sesuatu yang berguna bagi subjek hukum dan dapat menjadi objek dalam sesuatu
perhubungan hukum. Biasanya objek hukum itu disebut benda, menurut hukum perdata, benda
ialah segala barang-barang dan hak-hak yang dapat dimiliki orang (pasal 499 kitab undang-
undang hukum sipil atau KUHS). Dan menurut pasal 503 KUHS, benda itu dapat dibagi dalam :
1. Benda yang berwujud yaitu segala sesuatu yang dapat diraba oleh pancaindra, seperti :
rumah, buku dan lain-lain.
2. Benda yang tak berwujud (benda immaterial) yaitu segala macam hak seperti : hak cipta,
hak merek perdagangan dan lain-lain.
Selanjutnya menurut pasal 504 KUHS benda dapat juga dibagi atas :
a. Benda yang tak bergerak (benda tetap), yaitu benda yang tak dapat dipindahkan, seperti
tanah, dan segala yang ditanam atau yang dibangunkan diatasnya, misalnya : pohon-
pohon, gedung, mesin-mesin dalam pabrik, hak guna usaha dan lain-lain.
b. Benda yang bergerak (benda tak tetap) yaitu benda-benda yang dapat dipindahkan,
seperti sepeda, meja, dan lain-lain. 5
6
Ali Mahrus, Buku “Dasar-dasar Hukum Pidana”, Hlm.(111-114)
7
Syamsuddin Rahman, Buku” Pengantar Hukum Indonesia “ Hlm. (17)
11
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
jadi dapat disimpulan bahwa subjek hukum terdiri dari yaitu pertama manusia (person), di
dalam hukum, perkataan seseorang atau orang (person) berarti pembawa hak dan kewajiban.
Berlakunya seseorang sebagai pembawa hak, mulai dari dia dilahirkan sampai dia meninggal
[Link] badan hukum (rechtpersoon), selain orang (person) badan atau perkumpulan dapat
juga memiliki hak dan dapat melakukan perbuatan hukum seperti halnya manusia. badan hukum
(recht persoon). korporasi adalah perikatan oleh beberapa orang yang bersepakat dengan tujuan
mencari keuntungan dan diakui keberadaannya secara hukum (berbadan hukum).
Korporasi sebagai subjek hukum pidana dapat dipersamakan dengan manusia. Karena di
dalamnya terdapat hak dan kewajiban yang diberikan oleh hukum, dan karenanya kecakapan
korporasi juga dipersamakan dengan kecakapan manusia yang terlihat didalamnya. Korporasi
telah ditentukan sebagai subjek hukum tindak pidana oleh RUU KUHP, yang mana nantinya
akan berlaku keseluruh sistem hukum pidana. Diakibatkan hal itu setiap perundangundangan
diluar KUHP tidak perlu lagi mengatur secara khusus, kecuali perundang-undangan diluar
KUHP itu ingin menentukan lain atau menyimpang. Kemudian Objek hukum adalah segala
sesuatu yang dapat menjadi objek hubungan hukum. Secara singkat objek hukum yaitu segala
sesuatu yang berguna dan dapat dimanfaatkan oleh subjek hukum (manusia atau badan hukum).
12
DAFTAR PUSTAKA
Disemadi, H. S. (2019). PERKEMBANGAN PENGATURAN KORPORASI.
Jurnal Hukum Media Bhakti, 121.
Dr. Diajeng Wulan Christianti, S. L. (2021). Hukum Pidana Internasional. Jakarta
Timur: Sinar Grafika.
Dr. Rahman Syamsuddin, S. (2019). Pengantar Hukum Indonesia. Jakarta:
PRENADAMEDIA Group.
[Link] Wahyuni., S. (2017). Dasar-dasar Hukum Pidana di Indonesia. Tangerang
Selatan: PT Nusantara Persada Utama.
Drs. C.S.T Kansil, S. (1986). Pengantar Ilmu Hukum dan Tata Hukum di
Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
Mahrus Ali, S. M. (2012). Dasar- dasar Hukum Pidana. Jakarta : Sinar Grafika.
Witro, D. (2021). Subjek Hukum dan Objek Hukum Pidana. Ilmu Syari'ah, 54-56.
13