0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
144 tayangan119 halaman

SPO Terapi Nebulizer untuk Asma

Karya tulis ilmiah ini membahas pengembangan standar prosedur operasional (SPO) terapi inhalasi nebulizer untuk menurunkan sesak napas pada pasien asma. Metode yang digunakan adalah literature review dari lima jurnal terkait. Hasilnya, penulis berhasil mengembangkan SPO terapi nebulizer dengan 28 langkah. SPO ini diharapkan dapat membantu perawat dalam melakukan terapi nebulizer secara standar dan menurunkan sesak nap

Diunggah oleh

KLINIK JUANSON
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
144 tayangan119 halaman

SPO Terapi Nebulizer untuk Asma

Karya tulis ilmiah ini membahas pengembangan standar prosedur operasional (SPO) terapi inhalasi nebulizer untuk menurunkan sesak napas pada pasien asma. Metode yang digunakan adalah literature review dari lima jurnal terkait. Hasilnya, penulis berhasil mengembangkan SPO terapi nebulizer dengan 28 langkah. SPO ini diharapkan dapat membantu perawat dalam melakukan terapi nebulizer secara standar dan menurunkan sesak nap

Diunggah oleh

KLINIK JUANSON
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

PENGEMBANGAN STANDAR PROSEDUR OPERASIONAL (SPO)

TERAPI INHALASI NEBULIZER TERHADAP PENURUNAN


SESAK NAPAS PADA PASIEN ASMA

KARYA TULIS ILMIAH

ESTI QOMARIAH

NIRM. 18067

AKADEMI KEPERAWATAN PELNI JAKARTA

2021
PENGEMBANGAN STANDAR PROSEDUR OPERASIONAL (SPO)
TERAPI INHALASI NEBULIZER TERHADAP PENURUNAN
SESAK NAPAS PADA PASIEN ASMA

KARYA TULIS ILMIAH

Karya Tulis Ilmiah ini disusun untuk memenuhi salah satu syarat

untuk memperoleh gelar Ahli Madya Keperawatan

Program Diploma Tiga Keperawatan

Diajukan Oleh:
ESTI QOMARIAH
NIRM: 18067

PROGRAM DIPLOMA TIGA KEPERAWATAN

AKADEMI KEPERAWATAN PELNI JAKARTA

2021
SURAT PERNYATAAN PLAGIARISME

i
LEMBAR PERSETUJUAN

ii
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kepada kehadirat Allah SWT yang telah

melimpahkan karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan Karya Tulis

Ilmiah ini dengan judul “Pengembangan Standar Prosedur Operasional (SPO)

Terapi Inhalasi Nebulizer Terhadap Penurunan Sesak Napas pada Pasien Asma”.

Rangkaian penyusunan laporan Karya Tulis Ilmiah ini merupakan salah satu

syarat yang harus dipenuhi untuk mencapai gelar Ahli Madya Keperawatan di

Akademi Keperawatan PELNI Jakarta.

Pada kesempatan ini penulis ingin menyampaikan ucapan terima kasih

kepada berbagai pihak yang telah membantu proses penyusunan Karya Tulis

Ilmiah ini. Ucapan terima kasih penulis sampaikan kepada Bapak/Ibu/Saudara

yang penulis hormati yaitu:

1. Ahmad Samdani, SKM., [Link]., Ketua Yayasan Samudra APTA

2. Buntar Handayani, [Link].,[Link].,MM., Direktur Akademi Keperawatan

PELNI Jakarta

3. Sri Atun Wahyuningsih, Ns., [Link].,[Link].J., Ketua Program Studi

Diploma Tiga Akademi Keperawatan PELNI Jakarta.

4. Isnayati, Ns., [Link] Sebagai Dosen Pembimbing Utama Karya Tulis Ilmiah

Akademi Keperawatan PELNI Jakarta.

5. Suhatridjas, Dra., [Link].,MKM Sebagai Wadir III dan Ketua Dewan Penguji

Karya Tulis Ilmiah.

6. Tini Wartini, [Link]., [Link]., MKM Sebagai Dosen dan Pembimbing

Pendamping Karya Tulis Ilmiah.

iii
iv
Akademi Keperawatan PELNI Jakarta

Hasil Pengembangan, 13 Agustus 2021

Esti Qomariah, 18067

“Pengembangan Standar Prosedur Operasional (SPO) Terapi Inhalasi


Nebulizer Terhadap Penurunan Sesak Napas pada Pasien Asma”

ABSTRAK

Latar Belakang: Asma merupakan gangguan saluran pernapasan pada bronkus


yang ditandai adanya bronkospasme periodik yang reversibel (kontraksi
berkepanjangan saluran napas bronkus), yang menyebabkan penyempitan jalan
napas karena edema. Pasien akan mengalami gejala pernapasan seperti adanya
peningkatan produksi sputum, suara napas weezing, sesak napas, dada terasa berat
yang menyebabkan terjadinya keterbatasan aliran udara ekspirasi sehingga
terjadinya sianosis, wajah pucat dan lemas. Penanganan pasien asma yang dapat
dilakukan yaitu salah satunya, pemberian terapi inhalasi menggunakan nebulizer.
Tujuan: Tersusunya Pengembangan SPO terapi inhalasi nebulizer terhadap
penurunan sesak napas pada pasien asma. Metode: literature review dengan cara
mengumpulkan jurnal-jurnal terkait SPO, mengidentifikasi jurnal-jurnal SPO,
menganalisis SPO, dan menentukan rencana pengembangan SPO terapi inhalasi
nebulizer terhadap penurunan sesak napas pada pasien asma. Hasil: studi
literature ini menunjukkan bahwa tersusunya pengembangan SPO terapi inhalasi
nebulizer terhadap penurunan sesak napas pada pasien asma. Kesimpulan:
berdasarkan literature review yang dilakukan dari lima jurnal tersebut, maka
penulis dapat mengembangkan SPO terapi inhalasi nebulizer dengan jumlah 28
langkah SPO.

Kata kunci: Asma, Literature Review, Sesak Napas, SPO, Terapi Inhalasi
Nebulizer

v
PELNI Jakarta Nursing Academy Research

Results, 13 August 2021

Esti Qomariah, 18067

“Operational Procedur Standar Development (SPO) of Therapy Nebulizer


Inhalation Of Decreasing Breath In The Asma Patient”

ABSTRACT

Background: Asthma is a respiratory tract disorder in the bronchi marked by


reversible periodic bronchospasm (prolonged contraction of the bronchi airways),
which causes narrowing of the airway due to edema, one day making breathing
difficult. Patients will experience respiratory symptoms such as an increased
sputum production, wheezing , shortness of breath, chest feeling heavy which
causes limited air flow expiratory so that cyanosis, restless feelings, pale face and
weakness. Handling asthma patients that can be done is one of them, giving
inhalation therapy using a nebulizer. Objective: Sustained development of SPO
nebulizer inhalation therapy to reduce shortness of breath in asthma patients.
Method: Literature review by collecting journals, related to SPO, Identifying
SPO journals, analyzing SPOs, and determining SPO development plans for
nebulizer inhalation therapy to reduce shortness of breath in asthma patients
Results: this literature study shows that performing nebulizer inhalation therapy
can be inhaled by shortness of breath in asthma patients. Conclusion: based on
the literature review conducted from the five journals, the authors were able to
developing the SPO for nebulizer inhalation therapy with a total of 28 steps of
SPO.

Keywords: Asthma, Literature Review, Nebulizer Inhalation Therapy


Shortness of Breath, SPO.

vi
DAFTAR ISI

SURAT PERNYATAAN PLAGIARISME ......................................................... i


LEMBAR PERSETUJUAN ................................................................................. ii
KATA PENGANTAR .......................................................................................... iii
ABSTRAK ............................................................................................................. v
ABSTRACT .......................................................................................................... vi
DAFTAR ISI ........................................................................................................ vii
DAFTAR TABEL ................................................................................................ ix
DAFTAR GAMBAR ............................................................................................. x
DAFTAR LAMPIRAN ........................................................................................ xi
DAFTAR SINGKATAN ..................................................................................... xii
BAB I PENDAHULUAN ...................................................................................... 1
A. Latar Belakang ........................................................................................ 1
B. Rumusan Masalah ................................................................................... 6
C. Tujuan Penulisan ..................................................................................... 7
D. Manfaat Penulisan ................................................................................... 7
BAB II TINJAUAN TEORI ............................................................................... 10
A. Tinjauan Pustaka ................................................................................... 10
1. Konsep Keperawatan Medikal Bedah .............................................. 10
2. Konsep Asma .................................................................................... 13
3. Konsep Sesak Napas ......................................................................... 29
4. Konsep Nebulizer ............................................................................. 32
B. Kerangka Konsep .................................................................................. 42
BAB III METODOLOGI PENULISAN ........................................................... 43
A. Metodologi ............................................................................................ 43
B. Plan, Do, Study, Act (PDSA) ................................................................. 44
1. Plan ................................................................................................... 44
2. Do ..................................................................................................... 45
3. Study ................................................................................................. 45
4. Act ..................................................................................................... 46

vii
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ............................................................ 47
A. Hasil ...................................................................................................... 47
B. Pembahasan ........................................................................................... 61
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN .............................................................. 70
A. Kesimpulan ........................................................................................... 70
B. Saran ...................................................................................................... 70
DAFTAR PUSTAKA .......................................................................................... 72
LAMPIRAN ......................................................................................................... 80

viii
DAFTAR TABEL
Hal.
Tabel 2.1 Faktor Resiko Asma...……………………………………………....17
Tabel 2.2 Klasifikasi Derajat Asma…………………………………………...22
Tabel 2.3 Manajemen Asma Berdasarkan Nilai Peak Expiratory Flow………25
Tabel 2.4 Frekuensi Napas Berdasarkan Umur……………………………….29
Tabel 4.1 Hasil Penelusuran Literature Review………………………………47
Tabel 4.2 Pengembangan Standar Prosedur Operasional (SPO)……………...57

ix
DAFTAR GAMBAR
Hal.
Gambar 2.1 Metered-dose Inhaler (MDI)……………………………………..37
Gambar 2.2 Dry Powder Inhaler………………………………………………38
Gambar 2.3 Jet Nebulizer……………………………………………………...38
Gambar 2.4 Bagan Kerangka Konseptual……………………………………. 42

x
DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Jadwal Rencana Kegiatan


Lampiran 2 Hasil Uji Plagiarisme
Lampiran 3 Lembar Observasi
Lampiran 4 Informed Consent
Lampiran 5 Lembar Hadir Opponent
Lampiran 6 Standar Prosedur Operasional (SPO)
Lampiran 7 Standar Operasional Prosedur Terapi Inhalasi Nebulizer
Lampiran 8 Standar Operasional Prosedur Terapi Inhalasi Nebulizer
Lampiran 9 Daftar Tilik Standar Operasional Prosedur Inhalasi Nebulizer
Lampiran 10 Standar Prosedur Operasional (SPO) Terapi Inhalasi Nebulizer
Terhadap Penurunan Sesak Napas pada Pasien Asma
Lampiran 11 Bagan Standar Prosedur Operasional (SPO) Terapi Inhalasi
Nebulizer
Lampiran 12 Daftar Riwayat Hidup
Lampiran 13 Catatan dan Masukan
Lampiran 14 Lembar Konsul

xi
DAFTAR SINGKATAN

WHO = World Health Organization

SPO = Standar Prosedur Operasional

DALY = Diability Adjusted Life Years

GERD = Gastroesophageal Reflux Disease

KEMENKES = Kementrian Kesehatan

IMT = Indeks Massa Tubuh

NSAID = Nonsteroidal anti-inflammatory drugs

LABA = Long-acting inhaled β2-agonists

GINA = Global Initiative For Asthma

PPOK = Penyakit Paru Obstruksi Kronik

ISPA = Infeksi Saluran Pernapasa Atas

CAD = Coronary Artery Disease

PDSA = Plan, Do, Study, Art

xii
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Asma merupakan gangguan saluran pernapasan pada bronkus yang

ditandai adanya bronkospasme periodik yang reversibel (kontraksi

berkepanjangan saluran napas bronkus), yang menyebabkan penyempitan

jalan napas karena edema, sehingga membuat pernapasan menjadi sulit.

Penderita akan mengalami gejala pernapasan seperti adanya infeksi yang

menyebabkan peningkatan produksi sputum. Adanya produksi sputum

disebabkan oleh bakteri, virus, dan jamur di saluran bronkus menyebabkan

refleks batuk yang bervariasi dari waktu kewaktu. Penderita tidak hanya

mengalami peningkatan sputum saja, tetapi akan mengalami gejala

pernapasan lainya seperti mengi atau weezing, sesak napas, dada terasa berat

yang menyebabkan terjadinya keterbatasan aliran udara ekspirasi sehingga

terjadinya sianosis, perasaan gelisah, wajah pucat dan lemas (The Global

Asthma Report, 2018; Kuswardani, dkk, 2017)

Menurut World Health Organization (WHO) (2017), asma merupakan

salah satu penyakit kronis yang tidak menular namun serangan asma terjadi

secara berulang. Sekitar empat puluh juta kematian atau sebanyak 70% dari

semua kematian di seluruh dunia, disebabkan oleh penyakit tidak menular

dengan 80% kematian terjadi di negara berkembang. Sedangkan menurut The

Global Asma Report, (2018), Penyakit pernapasan kronis, termasuk asma

menyebabkan 15% kematian didunia. Angka kejadian asma sebanyak 339

1
2

juta orang di seluruh dunia yang mengalami asma dari berbagai negara yaitu

berkisar 1-18%. Prevelensi asma terus meningkat di negara Afrika, Amerika

latin, Eropa Timur dan Asia. Asma penyebab beban penyakit yang

substansial, termasuk kematian dini dan penurunan kualitas hidup, pada

semua kelompok umur diseluruh dunia. Asma berada di peringkat ke-16

dunia diantara penyebab utama tahun hidup dengan disabilitas dan peringkat

ke-28 di antara penyebab utama beban penyakit, yang diukur dengan

Diability Adjusted Life Years (DALY).

Secara nasional prevalensi asma pada penduduk di Indonesia dengan

umur berdasarkan diagnosis dokter yaitu terbesar dengan presentase tertinggi

pada usia 75 tahun (Kemenkes RI, 2018). Prevelensi asma di provinsi pada

penduduk semua umur berdasarkan diagnosis dokter, kasus tertinggi terjadi

di Daerah Istimewa Yogyakarta dengan presentase (4,5%), di daerah DKI

Jakarta prevalensi Asma berdasarkan diagnosis dokter pada penduduk semua

umur menurut provinsi tercatat sebesar 40.210 orang atau (2,6%). Namun

proporsi kekambuhan asma dalam 12 bulan terakhir pada penduduk semua

umur di provinsi DKI Jakarta tercatat sebesar 1.001 orang atau (52,7%)

penduduk yang mengalami kekambuhan (Kemenkes RI, 2018). Menurut

Widiastutik., Ningsih., & Najib 2017), kekambuhan terjadi karena perubahan

suhu dingin, alergen paparan debu, hewan peliharaan, makanan, dan asap

rokok.
3

Faktor resiko asma dibagi menjadi 3 yaitu alergi idiopatik, nonalergik,

dan campuran. Alergen yang paling umum adalah alergen yang penyebaranya

melalui udara (air bone), dan yang muncul secara musiman (Seasonal)

(Yudha, 2018). Berdasarkan penelitian (Wibowo, 2017) menyebutkan bahwa

faktor resiko yang paling banyak terpajan adalah debu, dimana adanya debu

yang menempel pada kipas angin, langit-langit rumah, jendela kamar tidur

yang selalu tertutup, dan membersihkan debu tidak dengan lap basah. Faktor

kedua terpajan oleh olahan tanaman seperti padi, kopi, coklat, dan lada, dan

ketiga terpajan oleh asap rokok. Menurut penelitian (Demur, 2017)

menyebutkan bahwa faktor resiko ekstrinsik yang sangat mempengaruhi

derajat asma adalah debu, asap rokok, dan perubahan cuaca.

Menurut World Health Organisation (2017), penyakit asma tidak bisa

disembuhkan, akan tetapi dengan penanganan yang tepat asma dapat

terkontrol sehingga kualitas hidup penderita dapat terjaga. Gejala yang sering

terjadi pada pasien asma adalah adanya keluhan batuk di siang hari dan

malam hari, terdengarnya suara mengi (Wheezing) seperti siulan saat

bernapas dan biasanya lebih banyak terdengar saat menghembuskan napas,

dan mengalami masalah pernapasan seperti kehabisan napas, terengah-engah,

dan terjadinya sesak napas (John’s Creek, 2020).

Sesak napas adalah kesulitan atau ketidaknyamanan saat bernapas

(Ambarwati, 2017). Sesak napas merupakan keadaan seseorang kekurangan

udara sehingga frekuensi napasnya menjadi cepat, sehingga muncul rasa

sesak di dada (Dwicahyo, 2017). Namun jika terjadi dalam waktu yang cukup
4

lama akan mengakibatkan apnea (henti napas) dan kematian. Pada penderita

asma penanganan yang dapat dilakukan jika terjadi sesak napas yaitu

pemberian terapi inhalasi menggunakan nebulizer (Ridwan, 2017).

Inhalasi adalah tindakan pemberian obat berbentuk uap yang dihirup

pasien dengan tujuan tertentu. (Tim Dosen Departemen KMB, 2019) pada

pasien asma, inhalasi adalah terapi yang tepat untuk mengatasi gejala sesak

napas. Untuk mengurangi gejala sesak napas, terapi inhalasi diberikan

menggunakan nebulizer.

Inhalasi yang paling tepat digunakan pada penderita asma adalah

menggunakan nebulizer, nebulizer merupakan pilihan terbaik pada kasus-

kasus yang berhubungan dengan inflamasi tertutama pada penderita asma

(Lestari, 2018). Pemberian inhalasi menggunakan nebulizer adalah terapi

pemberian obat dengan cara menghirup larutan obat yang sudah diubah

menjadi gas yang berbentuk seperti kabut dengan bantuan alat yang disebut

nebulizer. Pada saat terapi ini diberikan, klien dapat bernafas seperti biasa.

Umumnya prosedur ini tidak lama, hanya berkisar sekitar 5-10 menit

(Anggraini dkk, 2019).

Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Kuswardani.,

Purnomo, & Amanati (2017) berjudul pengaruh terapi inhalasi nebulizer,

infra red dan chest Therapy terhadap asma bronkiale, setelah tindakan

nebulizer didapatkan hasil adanya penurunan sesak napas pada pasien asma

dengan hasil Respiratory Rate (RR) yang semula 28x/menit menjadi

23x/menit dan tidak ada ronchi. Adapun penelitian menurut Daniel, Pizzuli &
5

Wagner (2017) dengan judul keefektifitasan dan kemanjuran terapi inhalasi

nebulizer terhadap saluran pernapasan bawah pada pasien asma, dalam

penelitianya menyebutkan adanya keefektifan penggunaan terapi nebulizer

pada pasien asma yaitu dapat meredakan gejala yang diderita pasien asma

dan menunjukan adanya penurunan frekuensi nafas semula 30x/menit

menjadi 25x/menit. Adapun penelitian menurut Kurniawati & Tafdhila,

(2019) dengan judul pengaruh intervensi nebulizer terhadap penurunan

frekuensi pernapasan pada asma, menyebutkan bahwa setelah diberikan

nebulizer dan latihan batuk efektif hasil yang di dapatkan yaitu adanya

penurunan sesak nafas pada pasien asma dengan RR sebelum dilakukan yaitu

34x/menit dan setelah dilakukan tindakan yaitu 31x/menit. Adapun penelitian

Syutrika, Onibala, & Nurmansyah, (2020) dalam penelitianya berjudul

pengaruh pemberian nebulisasi terhadap frekuensi pernapasan pada pasien

gangguan saluran pernapasan, dalam penelitianya menyebutkan bahwa

penelitian dilakukan kepada pasien dengan asma dan Ispa. Pemberian obat

melalui nebulisasi sangat cepat dan berpengaruh terhadap frekuensi

pernapasan dengan menunjukkan adanya penurunan sesak napas dengan RR

26x/menit menjadi 18 x/menit dan pasien terlihat nyaman setelah diberikan

terapi inhalasi nebulizer. Penelitian menurut Amanati, najizah, & Istifada,

(2020) dengan judul pengaruh terapi nebulizer pada pasien asma, hasil yang

didapatkan setelah terapi inhalasi nebulizer selama 4 kali intervensi, hasilnya

adalah sesak napas mengalami penurunan dari 30x/menit menjadi 25x/menit,

terjadinya peningkatan ekspansi thorax, dan peningkatan index fungsional.


6

Berdasarkan pengalaman yang penulis peroleh selama praktik di

Rumah Sakit, penulis menemukan kasus pasien dengan penyakit asma di-

mana pasien mengalami sesak napas. Penulis memberikan terapi inhalasi

menggunakan nebulizer kemudian hasil yang didapatkan setelah dilakukan

perhitungan pernapasan terjadi penurunan sesak napas. Setelah mengum-

pulkan dan membaca jurnal, melakukan Standar Prosedur operasional (SPO)

nebulizer di rumah sakit di temukan bahwa Standar Prosedur Operasional

(SPO) yang dilakukan berbeda-beda namun hasil yang didapatkan tetap sama

yaitu menurunkan sesak napas. Dari berbagai macam langkah-langkah yang

berbeda di setiap jurnal, maka penulis tertarik mengembangkan Standar

Prosedur Operasional (SPO).

B. Rumusan Masalah

Dari latar belakang yang telah di jelaskan sekitar empat puluh juta

kematian atau sebanyak 70% dari semua kematian di seluruh dunia,

disebabkan oleh penyakit tidak menular dengan 80% kematian terjadi di

negara berkembang. Asma adalah penyakit kronis yang diperkirakan

mempengaruhi sebanyak 339 juta orang di seluruh dunia. Dengan gejala

seperti batuk, adanya suara mengi, terdapat produksi sputum dan terjadinya

sesak napas dan dari beberapa jurnal dengan SPO berbeda dilakukan terapi

inhalasi dengan nebulizer ternyata terjadi penurunan sesak napas pada pasien

asma. Sehingga penulis tertarik untuk mengembangan “Standar Prosedur

Operasional (SPO) Pemberian Terapi Inhalasi Nebulizer Terhadap Penurunan

Sesak Nafas pada Pasien Asma”


7

C. Tujuan Penulisan

1. Tujuan Umum

Tersusunya pengembangan Standar Prosedur Operasional (SPO)

Terapi Inhalasi Nebulizer Terhadap Penurunan Sesak Napas pada Pasien

Asma.

2. Tujuan Khusus

a. Mengidentifikasi jurnal-jurnal terkait Pengembangan Standar

Prosedur Operasional (SPO) Terapi Inhalasi Nebulizer Terhadap

Penurunan Sesak Napas pada Pasien Asma.

b. Menganalisis Standar Prosedur Operasional (SPO) Pemberian Terapi

Inhalasi Nebulizer Terhadap Penurunan Sesak Napas pada Pasien

Asma.

c. Mengetahui gambaran Standar Prosedur Operasional (SPO) terapi

nebulizer secara benar dan tepat yang dapat diterapkan pada pasien

asma dengan sesak napas.

D. Manfaat Penulisan

Penulisan Karya Tulis Ilmiah ini diharapkan dapat memberikan manfaat

baik secara ilmu, aplikatif, pasien, penulis, dan pengetahuan.

1. Manfaat Teoritis Untuk Masyarakat

Diharapkan dari penulisan karya tulis ilmiah ini masyarakat seperti

keluarga pasien, tentangga dapat mengetahui dan mengaplikasikan

panduan Standar Prosedur Operasional (SPO) terapi inhalasi nebulizer

terhadap penurunan sesak napas pada pasien asma.


8

2. Manfaat Aplikatif Untuk Pelayanan Keperawatan

Penulisan ini bisa berguna untuk meningkatkan peran serta perawat

dalam pemberian asuhan keperawatan atau bahan masukan intervensi

yang bisa diterapkan dirumah sakit, puskesmas maupun pelayanan

keperawatan lainnya. Manfaatnya untuk meningkatkan pengetahuan

dalam mengurangi sesak napas pada pasien asma.

3. Manfaat Bagi Pasien

Diharapkan dari penulisan karya tulis ilmiah ini pasien dapat

mengetahui dan mengaplikasikan panduan Standar Prosedur Operasional

(SPO) terapi inhalasi nebulizer terhadap penurunan sesak napas pada

pasien asma.

4. Manfaat Bagi Penulis

a. Hasil Pengembangan Standar Prosedur Operasional (SPO) ini dapat

menambah wawasan dan kemampuan berpikir mengenai penerapan

terapi inhalasi nebulizer terhadap penurunan sesak napas pada pasien

asma.

b. Memberikan pengalaman bagi penulis dalam melakukan study

literature mengenai penerapan terapi inhalasi nebulizer terhadap

penurunan sesak napas pada pasien asma.

5. Manfaat Untuk Pengembangan Pengetahuan

Manfaat untuk pengembangan pengetahuan dari penulisan ini ialah

sebagai penelitian lebih lanjut serta menambah pengetahuan, tingkat

wawasan dan keterampilan dibidang kesehatan yang berkaitan dengan


9

Standar Prosedur Operasional (SPO) Pemberian Terapi Inhalasi Nebulizer

Terhadap Penurunan Sesak Napas pada Pasien Asma. Penelitian ini juga

bisa digunakan bagi tenaga kesehatan maupun masyarakat lainnya karena

mudah dilakukan sehingga dapat memperkaya ilmu pengetahuan.


BAB II

TINJAUAN TEORI

A. Tinjauan Pustaka

1. Konsep Keperawatan Medikal Bedah

a. Pengertian

Keperawatan medikal bedah merupakan pelayanan professional

yang didasarkan ilmu dan teknik keperawatan medikal bedah

berbentuk pelayanan bio-psiko-sosio-spiritual yang komprehensif

ditujukan pada orang dewasa dengan atau yang cenderung mengalami

gangguan fisiologi dengan atau tanpa gangguan struktur akibat trauma

(Kardiyudiani, & Susanti, 2019).

b. Peran Perawat Medikal Bedah

Peran merupakan perilaku yang diharapkan muncul dari diri

seseorang yang sesuai dengan kedudukan dirinya dalam suatu sistem.

Peran tersebut dapat dipengaruhi oleh keadaan sosial (dari profesi/luar

profesi). Seorang perawat akan memiliki peran yang sama dengan

aktor pelayanan kesehatan lainnya, meskipun tetap memiliki

kesamaan. peran perawat medikal bedah yaitu:

1) Peran sebagai Pemberi Asuhan Keperawatan (Care Giver)

Peran perawat sebagai pemberi asuhan keperawatan

dilaksanakan dengan memperhatikan kebutuhan dasar manusia

yang dibutuhkan oleh pasien melalui pelayanan keperawatan

dengan tepat. Selanjutnya, pelayanan tersebut dapat dievaluasi

10
11

sejauh mana tingkat perkembangannya. Peran perawat sebagai

pemberi asuhan keperawatan ialah:

a) Membantu pasien secara fisik dan psikologik dengan tetap

menjaga martabat pasien.

b) Tindakan keperawatan dapat melibatkan asuhan secara penuh,

sebagian, atau suportif-edukatif.

c) Bertujuan menandirikan pasien seoptimal mungkin.

Mencakup aspek fisik, psikologik, sosial-kultural dan spiritual

(Kardiyudiani, & Susanti, 2019).

2) Peran sebagai Advokat (Client Advocate)

Perawat berperan melindungi hak klien sebagai manusia dan

hak hukum, seperti hak atas pelayanan sebaik-baiknya, hak atas

informasi tentang penyakitnya dan lain-lain. Perawat juga

berperan dalam berbagai informasi dari pemberi pelayanan atau

informasi ain terutama dalam pengambilan keputusan (Khairani,

& Suharto, 2018).

3) Peran sebagai Edukator

Peran ini dapat dilakukan kepada klien, keluarga, tim

kesehatan lain, baik secara spontan (saat interaksi) maupun formal

(disiapkan). Tugas perawat adalah membantu klien mempertinggi

pengetahuan dalam upaya meningkatkan kesehatan, gejala

penyakit sesuai kondisi dan tindakan yang spesifik (Insana, dkk,

2020).
12

4) Peran sebagai Kolaborator

Peran perawat ini dilakukan karena perawat bekerja melalui

tim kesehatan yang terdiri dari dokter, fisioterapis, ahli gizi, dan

lain-lain dengan berupaya mengidentifikasi pelayanan keperawa-

tan yang diperlukan dengan berdiskusi atau bertukar pendapat

dalam penentuan bentuk pelayanan keperawatan selanjutnya (Is-

kandar, 2018).

5) Peran sebagai peneliti

Keperawatan sebagai sebuah profesi dan cabang ilmu

pengetahuan selalu dituntut untuk mengembangkan diri dalam

rangka menjawab berbagai tantangan dan persoalan. Riset

keperawatan akan mengubah dasar pengetahuan ilmiah

keperawatan dan meningkatkan praktik keperawatan bagi pasien

(Kardiyudiani & Susanti, 2019).

6) Peran Coordinator

Peran perawat sebagai coordinator, perawat mengkoordinasi

aktivitas anggota tim kesehatan lain, misalnya ahli gizi dan ahli

terapi fisik, ketika mengatur kelompok yang memberikan

perawatan pada klien. Selain itu perawat juga mengatur waktu

kerja dan sumber yang tersedia di tempat kerjanya. Koordinator

dalam pelayanan keperawatan, adalah semua tim kesehatan

(Sulistiyarani & Bagus, 2018).


13

7) Change Anget (Pembawa perubahan)

Sebagai pembaru, perawat mengadakan inovasi dalam cara

berfikir, bersikap, bertingkah laku, dan meningkatkan

keterampilan klien/ keluarga agar menjadi sehat. Elemen ini

mencakup perencanaan kerjasama, perubahan yang sistematis

dalam berhubungan dengan klien dan cara memberikan perawatan

kepada klien (Iskandar, 2018).

2. Konsep Asma

a. Definisi Asma

Asma adalah gangguan pada saluran bronkial dengan ciri

bronkospasme periodik (kontraksi spasme pada saluran napas).

Bronkus mengalami inflamasi atau peradangan dan hiperresponsif

sehingga saluran napas menyempit dan menimbulkan kesulitan dalam

bernapas (Yudha, 2018).

Asma adalah penyakit obstruksi jalan napas yang ditandai oleh

penyempitan jalan napas. Penyempitan jalan napas akan mengakibat-

kan klien mengalami dyspnea, batuk, mengi. Eksaserbasi akut terjadi

dari beberapa menit sampai jam, bergantian dengan periode bebas

gejala (Puspasari, 2019).

Asma adalah peradangan kronis dan kepekaan saluran napas

yang meningkat sehingga terjadi kontraksi otot saluran nafas yang

menyebabkan penyempitan saluran napas yang bersifat reversible

baik dengan atau tanpa pengobatan (Jainurakhma, 2018)


14

Jadi Asma adalah gangguan saluran pernapasan yang bersifat

kronik ditandai dengan penyempitan jalan napas, dimana penderita

mengalami produksi sputum yang berlebihan sehingga merangsang

terjadinya reflek batuk pada siang hari dan malam hari, terdengar

suara mengi atau weezing, dan terjadinya sesak napas yang dapat

mengakibatkan penderita mengalami sianosis, lemas, dan wajah

pucat.

b. Etiologi Asma

Secara umum, para penderita asma mengalami penyempitan

bronkus yang disebabkan oleh hiperaktivitas bronkus. Bronkus

penderita asma biasanya sangat sensitif terhadap ransangan imunologi

maupun non imunologi. Penyebab asma bronkial terbagi menjadi 3

yaitu alergik (ekstrinsik), idiopatik (nonalergik asthma/intrinsik) dan

campuran (mixed):

1) Asma Alergik (Ekstrinsik)

Asma alergik (ekstrinsik) merupakan asma yang disebabkan

oleh alergen seperti bulu binatang, debu, tepung sari, dan

makanan. Alergen yang paling umum adalah alergen yang

penyebaranya melalui udara (air bone) dan alergen yang muncul

secara musiman (seasonal) (Yudha, 2018). Menurut Puspasari,

SF (2019), alergen yang menyebabkan asma misalnya tungau,

debu rumah di tempat tidur, karpet dan perabotan, boneka, polusi

udara dan bulu binatang peliharaan.


15

2) Idiopatik (Nonalergik asthma/intrinsik)

Idiopatik merupakan jenis asma yang tidak berhubungan

secara langsung dengan alergen spesifik. Faktor-faktor seperti

common cold (batuk dan flu), infeksi saluran nafas atas, aktivitas,

dan emosi dapat menimbulkan serangan asma. Serangan asma

idiopatik (nonalergik/instrinsik) biasanya terjadi pada saat dewasa

pada umur > 35 tahun. Serangan ini dapat menjadi berat dan

sering kali dengan berjalanya waktu dapat berkembang menjadi

bronkhitis dan emfisema (Yudha, 2018).

3) Asma campuran (Mixed Asthma)

Asma campuran merupakan bentuk asma yang paling sering

ditemukan. Dikarateristikan dengan bentuk kedua jenis asma

alergi dan idiopatik atau nonalergi (Yudha, 2018).

c. Faktor Resiko Asma

Secara umum, faktor resiko asma terdiri dari faktor genetik/

keturunan, lingkungan, obesitas, dan jenis kelamin.

1) Faktor Genetik/keturunan

Adanya riwayat asma atau alergi dalam keluarga, mengis-

yaratkan adanya kecenderungan genetik/keturunan (Wardhani, B,

2017). Faktor genetik/keturunan adalah riwayat penyakit keluarga

pasien yang pernah menderita asma, dan merupakan salah satu

penyebab yang paling dominan (Syafriati & Setiawan, 2020)


16

2) Faktor Lingkungan

Faktor lingkungan adalah faktor yang disebabkan oleh al-

lergen, sensitisasi lingkungan kerja, asap rokok, polusi udara,

infeksi pada pernapasan, diet, status sosial ekonomi yang me-

nyebabkan terjadinya gejala-gejala asma. Selain itu faktor lain

yang dapat meningkatkan keparahan asma, beberapa diantaranya

adalah rhinitis yang tidak diobati atau sinusitis, gangguan refluks

gastroesofagal, sensitivitas terhadap aspirin, pemaparan terhadap

senyawa sulfit atau obat golongan beta bloker, dan influenza,

faktor mekanik, dan fakor psikis (misalnya stress) (Ikawati, 2016;

Hengky, Andi, & Usman. 2019)

3) Obesitas

Obesitas merupakan faktor resiko terjadinya asma pada indi-

vidu, dimana kelebihan berat badan dan obesitas meningkatkan

resiko kejadian asma sampai 50%, baik pada laki-laki maupun

perempuan. Obesitas adalah suatu kondisi dimana IMT> 30 kg/m2

dan merupakan faktor predisposisi terjadinya berbagai keluhan

sistemik seperti gangguan kardiovaskular. Selain itu obesitas juga

dapat menimbulkan gangguan pernapasan, gangguan metabolik,

dan gangguan sistem pencernaan. Hubungan obesitas terhadap

peningkatan kejadian asma pada individu karena berat badan yang

berlebih (Ningrum & Berawi, 2017; Ikawati, 2016)


17

4) Jenis kelamin

Jenis kelamin merupakan faktor resiko berikutnya, dimana

jenis kelamin laki-laki merupakan faktor resiko asma terutama

pada anak-anak. Pada anak-anak di bawah umur 14 tahun,

prevelensi asma pada anak laki-laki hampir 2 kali lipat dari pada

anak perempuan. Namun demikian pada usia dewasa, kejadian

asma lebih banyak pada perempuan dari pada laki-laki (Ikawati,

2016). Menurut Wahyuni (2017) dalam penelitianya didapatkan

hasil bahwa faktor-faktor yang berhubungan dengan terjadinya

asma bronkial tertinggi terjadi pada jenis kelamin laki-laki.

Table 2.1 Faktor Resiko Asma

Faktor Genetik Faktor Lingkungan

Hiperaktivitas Alergen di dalam ruangan (tungau debu rumah,


kucing, alternaria/jamur, dll)

Atopi/alergi bronkus Alergen di luar ruangan (alternaria, tepung sari)


Faktor yang memodifikasi Makanan (bahan penyedap, pengawet, pewarna
penyakit genetik makanan, kacang, makanan laut, susu, sapi, telur)
Jenis Kelamin Obat-obatan tertentu (misalnya, golongan aspirin,
NSAID, β-bloker, dll)
Ras/etnik Bahan yang mengiritasi (misalnya, parfum,
household spray, dll)

(Sumber: Puspasari, 2019)


18

d. Patofisiologi Asma

Asma melibatkan proses peradangan kronis yang menyebabkan

edema mukosa, sekresi mucus, dan peradangan pada saluran

pernapasan. Ketika orang dengan asma terpapar oleh alergen

ekstrinsik dan iritan (misalnya; debu, serbuk sari, asap, tungau, obat-

obatan, makanan, infeksi saluran napas) maka saluran napasnya akan

meradang ysng menyebabkan kesulitan bernapas, dada terasa sesak,

dan terdengar suara mengi atau siulan. Manifestasi klinis awal,

disebut dengan reaksi fase cepat (early-phase), berkembang dengan

cepat dan bertahan sekitar satu jam.

Asma akibat alergi bergantung kepada respons IgE yang

dikendalikan oleh limfosit T dan B. Asma diaktifkan oleh interaksi

antara antigen dengan molekul IgE yang berkaitan dengan sel mast.

Alergen masuk kedalam tubuh, kemudian alergen ini akan

merangsang sel B untuk menghasilkan sat anti. Karena terjadi

penyimpanan dalam sistem pertahanan tubuh maka terbentuklah

immunoglobulin E (IgE). pada penderita asma alergi sangat mudah

memproduksi Ig E dan beredar di dalam darah juga akan menempel

pada permukaan basophil dan mastosit. Mastosit ini amat penting

dalam peranannya dalam reaksi alergi terutama terhadap jaringan

saluran nafas, saluran cerna dan kulit.

Bila suatu saat penderita berhubungan dengan alergen lagi,

maka allergen akan berkaitan dengan IgE yang menempel pada


19

mastosit, dan selanjutnya sel ini mengeluarkan sat kimia yang disebut

mediator ke jaringan sekitarnya. Mediator yang dilepas di sekitar

rongga hidung akan menyebabkan bersin-bersin dan pilek. Sedangkan

mediator yang dilepaskan pada saluran nafas akan menyebabkan

saluran nafas mengkerut, produksi lendir meningkat, selaput lendir

saluran nafas membengkak dan sel-sel peradangan berkumpul di

sekitar saluran nafas. Adanya produksi lendir yang berlebihan

sehingga mengganggu bersihan jalan napas. Komponen-komponen

tersebut akan menyebabkan penyempitan saluran nafas. Reseptor alfa-

adrenergik dan beta-adrenergik dari sistem saraf simpatis dapat

ditemukan pada bronkus. Ransangan terhadap resprot alfa-adrenergik

menyebabkan kontriksi bronkus, sebaliknya ransangan beta-

adrenergik akan menyebabkan dilatasi bronkus (Black & Hawks,

2014; Jainurakhma, 2018; Yudha, 2018; Puspasari, 2019).

Menurut (Wardhani, B, 2017) Gejala klinis yang terjadi pada

penderita penyakit asma yaitu: Dispnea (sesak napas) yang bermakna,

mengalami batuk terutama pada malam hari, pernapasan yang dangkal

dan cepat, adanya bunyi (Mengi) yang terjadi pada auskultasi paru,

biasanya terjadi pada saat ekspirasi, kecuali pada kondisi yang telah

parah, peningkatan usaha pernapasan ditandai dengan retraksi dinding

dada disertai adanya pernapasan cuping hidung, Kecemasan yang

berhubungan dengan keidakmampuan mendapat udara yang cukup.


20

Menurut (Yudha, 2018) menyebutkan bahwa tanda dan gejala

asma yang sering muncul yaitu hipoventilasi, dyspnea/sesak napas,

wheezing, pusing, perasaan yang merangsang, sakit kepala, nausea,

peningkatan nafas pendek, kecemasan, diaphoresis dan kelelahan,

Hiperventilasi merupakan salah satu gejala awal dari asma. Kemudian

sesak nafas parah dengan ekspirasi memanjang disertai wheezing (di

apeks dan hilus). Gejala utama yang sering muncul adalah dyspnea,

batuk dan mengi. Pada pasien asma jika sudah parah maka akan

terjadinya komplikasi.

Komplikasi yang terjadi pada pasien asma bronkial menurut

Puspasari, (2019) Asma yang tidak ditangani dengan baik dapat

memiliki efek buruk pada kualitas hidup seseorang. Kondisi tersebut

bisa mengakibatkan kelelahan, kinerja menurun, masalah psikologis

termasuk stress, kecemasan, dan depresi. Dalam kasus yang jarang

terjadi, asma dapat menyebabkan sejumlah komplikasi pernapasan

serius, termasuk: Pneumonia (Infeksi Paru-paru), atelektasis, adalah

pengerutan atau seluruh paru-paru akibat penyumbatan udara atau

akibat dari pernapasan yang sangat dangkal, bronkhitis, radang paru-

paru adalah kondisi dimana lapisan saluran pernapasan yang kecil

(bronkhiolis) mengalami bengkak, gagal jantung, kerusakan sebagian

atau seluruh paru-paru, gagal napas, dimana kadar oksigen dalam

darah menjadi sangat rendah atau kadar karbon dioksida menjadi


21

sangat tinggi, Status asthmatikus (serangan asma berat yang tidak

merespon pengobatan).

e. Klasifikasi

Klasifikasi asma menurut Ikawati, (2016) di bagi menjadi 3

yaitu asma ringan, asma sedang, dan asma berat.

1) Asma Ringan

Asma ringan adalah asma yang terkontrol dengan

pengobatan tahap 1 atau tahap 2, yaitu dengan terapi pelega bila

perlu saja, atau dengan obat pengontrol dengan intensitas rendah

seperti steroid inhalasi dosis rendah atau antagonis leukotrien,

atau kromon.

2) Asma Sedang

Asma sedang adalah asma yang terkontrol dengan

pengobatan tahap 3 yaitu, terapi dengan obat pengontrol

kombinasi steroid dosis rendah plus long acting beta agonist

(LABA)

3) Asma Berat

Asma berat adalah asma yang membutuhkan terapi tahap 4

atau 5 yaitu terapi dengan obat pengontrol kombinasi steroid dosis

tinggi plus long acting beta agonist (LABA) untuk menjadi

terkontrol, atau asma yang tidak terkontrol meskipun telah

mendapat terapi.
22

Menurut Klasifikasi derajat asma berdasarkan gambaran klinis

secara umum pada orang dewasa diklasifikasikan ke dalam empat

tingkat, yaitu intermiten, persisten ringan, persisten sedang dan

persisten berat.

Tabel 2.2 Klasifikasi Derajat Asma

Derajat Gejala Faal paru


Gejala
Asma Malam
Intermiten 1. Bulanan 2 kali 1. APE
2. Gejala <1x per minggu. sebulan 2. VEP1, nilai prediksi APE
3. Tanpa gejala di luar nilai terbaik.
serangan. 3. Variabilitas APE<20%
4. Serangan singkat

Persisten 1. Mingguan. >2 kali 1. APE


Ringan 2. Gejala >1x per minggu tetapi sebulan 2. VEP1, nilai prediksi APE
<1x per hari nilai terbaik.
3. Serangan dapat mengganggu 3. Variabilitas APE 20-30%
aktivitas dan tidur.

Persisten 1. Harian >2 kali 1. APE 60-80%


Sedang 2. Gejala Setiap hari. sebulan 2. VEP1, 60-80% nilai
3. Serangan menggangu prediksi APE 60-80%
aktivitas dan tidur nilai terbaik
4. Membutuhkan bronkodilator 3. Variabilitas APE>30%
setiap hari
Persisten 1. Kontinu Sering 1. APE 60%
Berat 2. Gejala terus menerus 2. VEP1, nilai prediksi APE
3. Sering kambuh 60 % nilai terbaik
4. Aktifitas fisik terbatas 3. Variabilitas APE >30%

(Sumber: Puspasari, 2019)


23

f. Pemeriksaan Penunjang

Menurut Jainurakhma (2018) pemeriksaan penunjang yang

dilakukan untuk asma yaitu:

1) Tes fungsi paru (Spirometri)

Tes fungsi paru (spirometri) merupakan pemeriksaan untuk

mengetahui volume paru, kapasitas paru, dan kecepatan aliran

udara dalam paru apakah dalam keadaan normal atau tidak (Batu-

bara, & Prihantini, 2019).

2) Foto Thorak

Foto Thorax pemeriksaan yang dilakukan untuk mengetahui

penyebab lain obstruksi saluran napas dan adanya kecurigaan ter-

hadap proses patologis di paru atau komplikasi asma seperti

pneumotoraks, atelektasis dll (Annisa & Soewarno, 2016)

3) Pemeriksaan darah (DL, BGA)

Pemeriksaan darah bertujuan selain untuk melihat adanya

infeksi atau anemi, pemeriksaan ini juga melihat adanya tanda-

tanda penyakit alergi yang berhubungan dengan asma seperti

pemeriksaan jumlah eosinophil (jenis sel darah putih tertentu),

kadar anti IgE dan Kader IgE spesifik yang tidak normal (Ekarini,

2018)

4) Test Kulit (Skin Prick Test)

Test Kulit (Skin Prick Test) merupakan test yang digunakan

untuk mendeteksi adanya antibody IgE Spesifik terhadap alergen


24

yang masuk ke dalam tubuh (Rengganis, Hartana, & Kurnia,

2019)

5) Test provokasi bronkhial

Pemeriksaan Provokasi bronchial dilakukan untuk menunjuk-

kan adanya hipereaktivitas bronkus, uji ini menggunakan his-

tamin, metakolin, larutan garam hipertonik, dan aqua destilata

(Pratiwi, & Rahmah, 2020).

6) Peak Flow meter

Peak Flow Meter digunakan untuk mengukur jumlah aliran

peak expiratory flow rate (PEFR). peak expiratory flow rate

(PEFR) adalah kecepatan maksimum aliran udara yang terjadi

pada saat seseorang melakukan ekpirasi secara paksa dan cepat

yang dimulai dari posisi inspirasi maksimal (Anam, Sudarmawan,

& Arkhaesy, 2019)

Menurut Arif Muttaqien, (2017), nilai yang diperoleh

(kecepatan aliran ekspirasi puncak-KAEP) sebagian pada

diameter jalan napas. PEF adalah Pengukuran aliran udara yang

melalui bronki dan menunjukkan derajat obstruksi pada saluran

napas. Nilai normal untuk laki-laki dewasa muda dengan berat

badan 60 kg dan tinggi 165 cm adalah ± 600 liter/menit dan untuk

wanita ± 400 liter/menit. Nilai-nilai ini tergantung dari umur, jenis

kelamin, dan tinggi badan sehingga harus disesuaikan dengan


25

tabel nilai normal. Berikut tabel manajemen nilai normal Peak

Flow meter:

Tabel 2.3 Manajemen Asma Berdasarkan Nilai Peak Expiratory Flow

Zona Interpretasi Deskripsi


71%-100% dari
Hijau interpretasi peak Interpretasi pada zona hijau
mengidentifikasikan bahwa asma
flow biasa atau
terkontrol dengan baik
normal
50%-70% dari Mengindikasikan perlu perhatian.
Kuning interpretasi peak Jalan napas menyempit dan
flow biasa atau pengobatan tambahan mungkin
normal diperlukan.
<50% dari Mengindikasikan emergensi medis
Merah interpretasi peak penyempitan jalan napas yang parah
flow biasa atau mungkin muncul dan perlu diberikan
normal tindakan dengan segera.
(Sumber: Kurniati., Trisyani., & Theresia, 2018)

g. Penatalaksanaan Medis

Penatalaksanaan asma dibagi menjadi 2 yaitu terapi Non-

Farmakologi dan Terapi Farmakologi:

1) Terapi Non-Farmakologi

Terapi non farmakologi meliputi, yaitu edukasi pada pasien

atau yang merawat mengenai beberapa hal tentang asma, dan

control terhadap faktor-faktor pemicu serangan. Berbagai pemicu

serangan antara lain adalah debu, polusi, merokok, olahraga,

perubahan temperature secara ekstrim, dll. Termasuk penyakit-

penyakit yang sering mempengaruhi kejadian asma, seperti

rhinitis, sinusitis, gastro esophageal refluks disease (GERD), dan

infeksi virus (Ikawati, 2016).


26

Tindakan non farmakologi yang dapat dilakukan oleh pasien

asma yaitu berhenti merokok, diet sehat, menghindari alergen,

mengurangi aktivitas berat, menurunkan berat badan, menghindari

polusi, serta menjaga kebugaran seperti physical activity dan

breathing exercise (GINA, 2017)

2) Terapi Farmakologi

Terapi farmakologi menurut Jainurakhma, J, (2018); Yudha

(2018) terapi farmakologi berupa:

a) Oksigen 4-6 liter/menit

b) Agonis B2 (Salbutamol 5 mg atau fenetrol 2,5 mg atau

terbulatin 10 mg) inhalasi nebulisasi dan pemberiannya dapat

diulang setiap 20 menit sampai 1 jam. Pemberian agonis B2

dapat secara subcutan atau intravena dengan dosis salbutamol

0,25 mg atau terbulatin 0,25 mg dalam larutan dextrose 5%

dan diberikan perlahan.

c) Aminofilin bolus intravena 5-6 mg/kg BB, jika sudah

menggunakan obat ini dalam 12 jam sebelumnya maka cukup

diberikan setengah dosis.

d) Kortikosteroid hidrokortison 100-200 mg melalui intravena

jika tidak ada respon segera atau pasien sedang menggunakan

steroid oral atau dalam serangan sangat berat.

Adapun Terapi fakmakologi untuk pasien asma yaitu jangka

panjang dan jangka pendek:


27

a) Terapi Jangka panjang

(1) Inhalasi Kortikosteroid

Inhalasi kortikosteroid merupakan terapi dasar dalam

mengontrol asma persisten untuk mengurangi gejala dan

memperbaiki faal paru (Yanti, SN., Musawaris, RF.,

Natakusumawati, G, 2017). Obat antiinflamasi ini meliputi

fluticasone (Flonase, Flovent HFA), budesonide

(Pulmicort Flexhaler, Rhino Cort), Flunisolide (Aerosopan

HFA), ciclesonide (Alvesco, omnaris, zetonna),

blektometason (Qnasl, Qvar), mometasone (Asmanex) dan

fluticasone furoate (Arnuity Ellipta) obat ini memiliki efek

samping yang relative rendah sehingga aman untuk

digunakan dalam jangka waktu panjang (Puspasari, 2019).

(2) Inhaler kombinasi

Obat-obatan ini mengandung agonis beta long acting

bersamaan dengan kortikosteroid. Yang termasuk jenis ini

antara lain fluticasone-salmeterol (Advair Diskus),

budesonide-formoterol (Symbicort), dan formoterol-mo-

metasone (Dulera) (Puspasari, 2019).

(3) Teofilin

Teofilin (Theo-24, Elixophyllin) adalah terapi oral

rutin yang membantu dilatasi bronkus (bronkodilator)


28

dengan merelaksasi otot-otot di sekitar saluran udara

(Puspasari, SF, 2019).

(4) Beta agonist (beta adrenergic agent) (Yudha, 2018).

b) Terapi jangka Pendek

(1) Bronkodilator

Bronkodilator merupakan pemberian obat secara lang-

sung kedalam saluran pernapasan melalui penghisapan.

Obat yang termasuk golongan ini antara lain albuterol

(ProAir HFA, Ventolin HFA, lain-lainya) dan levalbuterol

(Xopenex). Obat ini digunakan dengan inhaler genggam

untuk nebulizer portable (Rihiantoro, 2017; Puspasari,

2019).

(2) Ipratropium (Atrovent)

Ipratropium (Atrovent). Seperti bronkodilator lainnya,

ipratropium bekerja cepat untuk segera merelaksasikan

saluran napas. ipratropium banyak digunakan untuk em-

fisema dan bronchitis kronis, tapi kadang digunakan untuk

mengobati serangan asma (Puspasari, 2019).

(3) Kortikosteroid oral dan intravena

Obat-obatan ini meredakan peradangan saluran napas

yang disebabkan oleh asma berat, yang termasuk dalam

obat ini antara lain prednisone dan methylprednisolone.


29

Dengan adanya terapi jangka pendek seperti bronkodilator,

ipratropium, dan kortikosteroid oral dan intravena yang berfungsi

untuk melegakan dan meredakan saluran pernapasan. Dengan adanya

obat tersebut, maka obat ini sangat efektif untuk menurunkan sesak

napas.

3. Konsep Sesak Napas

a. Definisi Sesak Nafas

Sesak napas didefinisikan sebagai suatu keadaan seseorang

kekurangan udara dimana terjadi suatu rasa tidak nyaman pada saat

bernapas yang terdiri dari kualitas sensasi yang berbeda-beda dengan

intensitas yang bervariasi sehingga menyebabkan frekuensi napas

menjadi cepat, dan munculnya rasa sesak di dada (Menaldi rasmi

[Link], 2017).

Tabel 2.4 Frekuensi napas berdasarkan usia

Usia Frekuensi
Bayi baru lahir 35-40 kali per menit
Anak-anak 20-30 kali per menit
Remaja 16-19 kali per menit
Dewasa 12-20 kali per menit
(Sumber: Siregar, 2020)

Kondisi pernapasan pasien jika pasien bernapas <12 selama 1

menit maka termasuk dalam golongan Bradipnea (Pernapasan

lambat), jika pasien selama 1 menit bernapas > 24 kali maka termasuk

golongan Takipnea (Pernapasan Cepat), dan untuk kategori


30

pernapasan Eupnea (Normal) yaitu 14-20 napas per menit (npm),

Hipernea yaitu napas sulit, dalam, lebih dari 20 kali per menit. Secara

normal terjadi setelah olahraga, dan apnea yaitu napas berhenti untuk

beberapa detik (Bestari, Wisana, & Hamzah, 2016; Siregar 2020).

b. Etiologi Sesak Nafas

Menurut (Menaldi rasmi [Link], 2017) Penyebab sesak napas

dibagi menjadi 2 yaitu sesak napas akut dan sesak napas kronis.

1) Sesak napas akut

Penyebab sesak napas akut tersering adalah episodik gagal

jantung kiri akut, tromboemboli, pneumonia, dan pneumotoraks

spontan. Sementara yang lebih jarang terjadi adalah kolaps massif

dari satu paru karena ketidakmampuan saluran napas mem-

bersihkan secret yang kental seperti pada brontikit kronis atau

asma, atau serangan asma pertama kali.

Penyebab sesak napas akut:

a) Pneumotorak: Onset mendadak nyeri dada kuat, takipnea,

suara napas hilang, perkusi hipersonar setelah jejas atau terjadi

spontan (terutama pasien kurus/tinggi dan pasien PPOK)

b) Emboli paru: Onset mendadak nyeri dada kuat, takipnea dan

takikardi. Sering terdapat faktor resiko emboli paru (mis,

kanker, imobilisasi, DVT, Hamil dll)

c) Asma, bronkospasme atau penyakit saluran napas (SN):

Adanya Wheezing dan pertukaran udara jelek yang timbul


31

spontan atau setelah terpajan stimulus tertentu (allergen, ISPA,

flu)

d) Inhalasi benda asing: Batuk atau stridor onset mendadak (khas

pada bayi dan anak-anak) tanpa Infeksi Saluran Pernapasan

atau gejala sesuai.

e) Jantung iskemia/infark miokard akut: Nyeri atau tertekan

daerah substernal dengan atau tanpa penyebaran ke tangan

atau rahang, terutama pasien dengan risiko CAD

f) Gagal jantung: Ronki, sesak ketika berbaring (ortopnea) atau

sesak mendadak malam hari (paroxysmal nocturnal dyspnea)

2) Sesak napas kronis

Sesak napas kronis sering terjadi pada pasien PPOK atau

gagal jantung kongestif kronis. Asma merupakan salah satu

penyebab tersering sesak napas yang umumnya disertai batuk dan

mengi.

Penyebab sesak napas kronis:

a) Penyakit paru obstruktif: Riwayat merokok berat, dada seperti

tong, pertukaran udara jelek.

b) Penyakit paru restriktif: Sesak progresif pada pasien terpajan

polusi di tempat kerja atau kondisi neurologik.

c) Penyakit paru intertisial: Ronki halus, sering disertai dengan

batuk kering.
32

d) Efusi pleura: Nyeri dada pleuritik, perkusi redup dan suara

napas menghilang, adanya riwayat kanker, gagal jantung,

SLE, Pneumonia akut.

e) Gagal jantung: Ronki, S, gallop, tanda volume overload

sentral perifer.

Cara mengatasi sesak napas yaitu menggunakan terapi non-

farmakologi seperti edukasi, olahraga, menghindari faktor

pencetus. Serta dengan terapi farmakologi yaitu menggunakan

obat-obatan serta inhalasi menggunakan nebulizer (Satria, M &

Sahrudi, 2020)

4. Konsep Nebulizer

a. Definisi nebulizer

Nebulizer adalah pemberian obat secara langsung dengan

menghirup uap yang mengandung obat seperti bronkodilator melalui

saluran pernapasan bagian atas ke paru-paru. (Departemen

Keperawatan Medikal Bedah, 2019). Nebulisasi adalah pemberian

inhalasi uap dengan obat/tanpa obat menggunakan nebulator

(Kemenkes, 2017).

b. Tujuan nebulizer

Tujuan nebulizer menurut (Departemen keperawatan Medikal

Bedah, 2019) yaitu:

1) Mengeluarkan dahak/sesak napas pada klien.

2) Memberikan kenyamanan pada klien.


33

3) Melonggarkan jalan napas.

c. Keuntungan dari pemberikan nebulizer

1) Mampu mengaerosolisasi/ menguapkan berbagai macam larutan

obat.

2) Mampu menguapkan campuran obat lebih dari satu obat.

3) Sangat berguna pada pasien anak-anak, lansia, dan pasien yang

memiliki kondisi yang lemah.

4) Dosis obat dapat dimodifikasi. (Hartawan, I Gusti, 2017)

d. Prinsip pemberian medikasi

Perawat bertanggung jawab dalam pemberian obat-obatan yang

aman. Perawat juga harus mengetahui semua komponen dari perintah

pemberian obat dan mempertanyakan perintah tersebut jika tidak

lengkap atau jelas dosis yang akan diberikan di luar batas yang

direkomendasikan. Ada 6 syarat sebelum pemberian obat yaitu

dengan prinsip 6 benar:

1) Benar pasien

Obat yang akan diberikan hendaknya benar pada pasien yang

diprogramkan dengan cara mengidentifikasi kebenaran obat

dengan mencocokkan nama, nomor register, dan program

pengobatan pasien. Sebelum obat diberikan, perawat harus

menanyakan identitas pasien seperti nama, tanggal lahir yang

dicocokkan dengan gelang (Heni & Hijriani, 2018).


34

2) Benar obat

Sebelum memberi obat kepada pasien, label pada botol atau

kemasanya harus diperiksa tiga kali. Pertama saat membaca

permintaan obat dan botolnya diambil dari rak obat, kedua label

botol dibandingkan dengan obat yang diminta, ketiga saat

dikembalikan ke rak obat. Jika labelnya tidak terbaca, isinya tidak

boleh dipakai dan harus dikembalikan ke bagian farmasi (Heni &

Hijriani, 2018).

3) Benar dosis

Sebelum memberikan obat kepada pasien, perawat harus

memeriksa dosis obat sesuai dengan kondisi klien, dosis yang

diberikan dalam batas yang direkomendasikan untuk obat yang

bersangkutan, perawat harus teliti dalam menghitung secara akurat

jumlah dosis yang akan diberikan, dengan cara mempertimbangkan

hal-hal sebagai berikut: tersedianya obat dan dosis obat yang

diresepkan atau diminta, pertimbangan berat badan klien

(mg/KgBB/hari), jika ragu-ragu dosis obat harus dihitung kembali

dan diperiksa oleh perawat (Suryani & Permana, 2020).

4) Benar waktu pemberian

Pemberian obat harus sesuai dengan waktu yang telah

ditetapkan. Waktu yang benar adalah saat dimana obat yang

diresepkan harus diberikan. Dosis obat harian diberikan pada

waktu tertentu dalam sehari, seperti b.i.d (dua kali sehari), t.i.d
35

(tiga kali sehari), q.i.d (empat kali sehari), atau q6h (setiap 6 jam),

sehingga kadar obat dalam plasma dapat dipertahankan. Pemberian

obat harus sesuai dengan waktu paruh obat (t1/2). Pemberian obat

harus diperhatikan pemberian sebelum dan sesudah makan

(Suryani & Permana, 2020).

5) Benar cara pemberian

Perawat melihat kembali cara pemberian obat yang ada di

status pasien dengan alat yang akan disiapkan untuk pemberian

obat untuk pasien, pemberian obat biasanya melalui parenteral dan

oral. Obat yang diberikan melalui parenteral atau selang infuse

pasien hendaknya dilakukan di tempat penyuntikan yang benar dan

menggunakan selang infuse yang benar. Memperhatikan proses

obsorbs obat dalam tubuh harus tepat dan memadai dan

memberikan obat pada tempat yang sesuai dan tepat bersama

dengan klien sampai obat oral telah ditelan (Feriani, 2020).

6) Benar pendokumentasian

Pendokumentasian dalam keperawatan mencakup informasi

lengkap tentang status kesehatan pasien, kebutuhan pasien,

kegiatan asuhan keperawatan yang di terima oleh pasien. Informasi

yang dicatat oleh perawat dapat menjadi dasar untuk melindungi

pengguat dalam melawan pemberian pelayanan kesehatan

(Mahfudhah & Mayasari, 2018).


36

e. Indikasi nebulizer

Efektif dapat dilakukan pada pasien dengan:

1) Bronkospasme akut.

2) Produksi secret yang berlebih.

3) Batuk dan sesak nafas.

4) Radang pada epiglottis. (Anggraini, yanti, dkk, 2019)

f. Kontraindikasi nebulizer

1) Pasien yang tidak sadar atau confusion umumnya tidak kooperatif

dengan prosedur ini, sehingga membutuhkan pemakaian

mask/sungkup, tetapi efektifitasnya akan berkurang secara

signifikan.

2) Takikardia

3) Trakeostomi

4) Fraktur di daerah hidung, maxilla, palatum oris

5) Kontraindikasi dari obat yang digunakan untuk nebulisasi

(Djaharuddin, Tabri, Iskandar, & Santoso, A, 2017)

g. Hal-hal yang harus diperhatikan

1) Pada saat awal tindakan, klien perlu didampingi sampai klien

terlihat tenang.

2) Nebulizer dapat menyebabkan beberapa komplikasi (umumnya

karena efek samping obat), berupa: nausea, muntah, tremoe.

Bronkospasme (misalnya dikarenakan alergi terhadap obat

inhalasi yang diberikan) dan takikardia.


37

3) Gunakan tubing, nebulizer uap, mouthpiece/maker untuk masing-

masing klien (single use).

4) Lindungi mata klien dari uap yang keluar dari alat nebulizer.

5) Berikan obat yang sesuai dengan kolaborasi dokter.

6) Jika memungkinkan, minta klien mengatur nafas dengan menarik

nafas dalam melalui hidung dan tiup melalui mulut selama

pemberian terapi.

7) Perhatikan perubahan yang terjadi, seperti kebiruan (sianosis),

batuk berkepanjangan, gemetar (tremor), berdebar-debar, mual,

muntah, dll.

8) Lakukan penekanan dada atau punggung (fisioterapi dada) pada

saat setelah selesai terapi inhalasi (Anggraini, dkk, 2019)

h. Macam-macam alat nebulizer

1) Metered-dose inhaler (MDI)

Gambar 2.1 Metered-dose inhaler (MDI)

(Sumber: Suryadinata, & Lorensia, 2018)


38

2) Dry-powder inhaler (DPI)

Gambar 2.2 Dry Powder Inhaler

(Sumber: Suryadinata, & Lorensia, 2018)

3) Jet Nebulizer

Gambar 2.3 Jet Nebulizer

(Sumber: Suryadinata, & Lorensia, 2018)

i. Cara melakukan nebulizer dengan penggunaan Standar Prosedur

Operasional (SPO)

Cara melakukan nebulizer dengan penggunaan Standar

operasional Prosedur (SOP) untuk mencegah agar tidak terjadi

kesalahan menggunakan nebulizer sesuai dengan standar operasional

prosedur. Menurut Anggraini (2019) cara atau standar operasional

prosedur (SOP) nebulizer dengan cara:


39

1) Pengkajian

a) Baca status klien.

b) Mengukur frekuensi pernapasan klien.

c) Auskultasi suara nafas klien.

d) Identifikasi kebutuhan/indikasi pasien.

e) Diagnosa keperawatan yang sesuai: Bersihan jalan nafas tidak

efektif berhubungan dengan obstruksi mucus dalam jumlah

berlebih.

2) Fase pre interaksi

a) Mempersiapkan Alat

1. Mesin Nebulizer.

2. Cairan steril.

3. Obat sesuai program dokter.

4. Bengkok.

5. Mencuci Tangan

3) Fase orientasi

a) Memberi salam dan memperkenalkan diri.

b) Melakukan identifikasi pasien dengan menanyakan (nama,

tanggal lahir, dan mencocokkan dengan identitas pasien).

c) Melakukan kontrak waktu.

d) Menjelaskan tujuan dan prosedur pelaksanaan.

e) Menanyakan perasaan klien untuk dilakukan tindakan.

f) Mendekatkan alat-alat.
40

4) Fase kerja

a) Mencuci tangan.

b) Menggunakan handscoon.

c) Mengatur posisi klien.

d) Menghubungkan kabel power nebulizer ke terminal listrik,

pastikan mesin nebulizer menyala.

e) Memasukkan obat sesuai dosis yang dibutuhkan ke dalam face

mask nebulizer lalu tutup kembali dengan cara diputar.

f) Memonitor uap atau obat (dengan cara hidupkan mesin

nebulizer lihat apakah sudah ada uap yang keluar dari face

mask nebulizer)

g) Mengenakan facemask nebulizer dengan benar kepada klien.

h) Mengobservasi keadaan klien selama terapi dilakukan.

i) Menanyakan kepada klien apakah sesaknya mulai berkurang.

j) Bila sudah selesai, alat dirapikan.

5) Fase Terminasi

a) Mengevaluasi respon klien (menanyakan kepada klien

bagaimana pak/bu setelah dipasang alat nebulizer apakah

sesak berkurang)

b) Memberi reinforcement positif.

c) Membuat kontrak pertemuan selanjutnya.

d) Mengakhiri pertemuan dengan baik

e) Merapikan alat.
41

f) Mencuci tangan.

6) Evaluasi

a) Evaluasi adanya tanda-tanda sesak napas.

b) Evaluasi respon klien

7) Dokumentasi

a) Catat waktu pelaksanaan.

b) Catat obat yang digunakan pada klien.


42

B. Kerangka Konsep

Kerangka Konseptual adalah berisikan konsep-konsep yang berkaitan

dengan penelitian untuk dapat digunakan sebagai pendekatan dalam

memecahkan masalah (Almaida, Z, 2019).


Faktor risiko
Alat ukur untuk Asma terjadi asma:
mengetahui asma:
1. Genetik
Spirometri /Keturunan
2. Lingkungan
Sesak Napas 3. Obesitas
Alat ukur untuk
mengetahui derajat 4. Jenis Kelamin
sesak napas:
Flowmeter Penatalaksanaan Asma:
1. Edukasi
2. Olahraga
3. Menghindari faktor pencetus asma.
4. Pemberian obat Inhaler menggunakan
nebulizer

Studi literature terkait SPO terapi inhalasi


nebulizer terhadap penurunan sesak napas
pada pasien asma.

Pengembangan Standar Prosedur Operasional


(SPO) Terapi Inhalasi Nebulizer Terhadap
Penurunan Sesak Napas pada Pasien asma

Gambar 2.4 Bagan Kerangka Konseptual


(Sumber: Wardani, (2017); Syafriati & Setiawan, (2020); Dwicahyo (2017))
BAB III

METODOLOGI PENULISAN

A. Metodologi

Metodologi merupakan cara mengetahui sesuatu untuk menemukan,

mengembangkan atau menguji kebenaran secara sistemik, logis dan empiris

menggunakan metode ilmiah (Surahman, Rachmat, M., & Supardi, S., 2016).

Metodologi yang akan digunakan dalam pengembangan standar

prosedur operasional (SPO) terapi inhalasi nebulizer terhadap penurunan

sesak napas pada pasien asma ini adalah literature review. Literatur review

pada penulisan ini digunakan untuk mengidentifikasi langkah-langkah yang

tepat dalam menangani masalah sesak napas pada pasien asma bronkial

dengan terapi inhalasi nebulizer.

Literature review adalah sebuah metodologi penelitian yang bertujuan

untuk mengumpulkan dan mengambil intisari dari penelitian sebelumnya

serta menganalisis beberapa overview para ahli yang tertulis dalam teks.

Snyder (2019) menyimpulkan bahwa literature review memiliki peran

sebagai landasan bagi berbagai jenis penelitian karena hasil literature review

memberikan pemahaman tentang perkembangan pengetahuan, sumber

stimulus pembuatan kebijakan, memantik penciptaan ide baru dan berguna

sebagai panduan untuk penelitian. (Snyder H, 2019).

43
44

B. Plan, Do, Study, Act (PDSA)

Metode PDSA adalah suatu pendekatan ilmiah untuk menguji

perubahan dan melakukan perbaikan dengan menerapkan 4 (empat) langkah

yaitu plan-do-study-action. Metode ini merupakan satu cara untuk menguji

perubahan yang diimplementasikan melalui 4 (empat) langkah (Maryati yati

dan siswati, 2017).

1. Plan

Plan adalah tahap untuk menetapkan target atau sasaran yang ingin

dicapai dalam peningkatan proses ataupun permasalahan yang ingin

dipecahkan, kemudian menentukan metode yang akan digunakan untuk

mencapai target atau sasaran yang telah ditetapkan tersebut (Yunitasari,

E, 2019). Dengan tahapan:

a. Mengumpulkan jurnal-jurnal terkait pengembangan SPO terapi

inhalasi nebulizer terhadap penurunan sesak napas pada pasien asma.

b. Mengidentifikasi jurnal-jurnal terkait Pengembangan Standar

Prosedur Operasional (SPO) Terapi Inhalasi Nebulizer Terhadap

Penurunan Sesak Napas pada Pasien Asma.

c. Menganalisis Standar Prosedur Operasional (SPO) Pemberian Terapi

Inhalasi Nebulizer Terhadap Penurunan Sesak Napas pada Pasien

Asma.

d. Menentukan rencana pengembangan SPO pada pasien asma yaitu

dengan menggunakan intervensi terapi inhalasi nebulizer.


45

2. Do

Do adalah tahap penerapan atau melaksanakan semua yang telah

direncanakan di tahal plan termasuk menjalankan prosesnya,

memproduksi serta melakukan pengumpulan data (data collection) yang

kemudian digunakan untuk tahap study dan Act. (Yunitasari Elly, 2019).

Penulis mengembangkan SPO terapi inhalasi nebulizer terhadap

penurunan sesak napas pada pasien asma.

3. Study

Study adalah analisis yang mempelajari dan mengevaluasi data

sebelum dan setelah perubahan serta merefleksikan apa yang terjadi

(Maryati, Y & Siswati, 2017).

a. Penulis melakukan study literatur sebanyak lima jurnal terkait terapi

inhalasi nebulizer pada pasien asma.

b. Penulis mencari jurnal atau teori pendukung sebagai bentuk

rasionalisasi asuhan keperawatan dalam setiap proses atau langkah

pada SPO yang penulis kembangkan.

c. Penulis menganalisis hasil pencarian literature review terkait terapi

inhalasi nebulizer pada Pasien asma.

d. Penulis menetapkan langkah-langkah yang tepat saat melakukan

terapi inhalasi nebulizer sehingga menjadi SPO


46

4. Act

Act adalah tahap untuk mengambil tindakan yang seperlunya

terhadap hasil-hasil dari tahap study (Yunitasari Elly, 2019)

Pengembangan SPO ini akan menghasilkan SPO inhalasi nebulizer

yang baru untuk dipakai, dievaluasi kembali terhadap penurunan sesak

napas agar hasil yang didapatkan menjadi lebih tepat.


BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil

1. Hasil Penelusuran Literature Review


Tabel 4.1 Hasil penelusuran Literature Review dengan cara
mengumpulkan jurnal-jurnal terkait SPO, mengidentifikasi jurnal-jurnal
SPO, menganalisis SPO, dan menentukan rencana pengembangan SPO
Terapi Inhalasi Nebulizer Terhadap Penurunan Sesak Napas pada Pasien
Asma.
No Judul Peneliti Metode Intervensi Terapi Hasil
Penelitian Penelitian Inhalasi Nebulizer
1. Terapi Alvi Penelitian 1. Mengidentifikasi Berdasarkan
Nebulizer Ratna dilakukan di identitas pasien hasil
Menguran Yuliana IGD RSUD sebelum penelitian
gi Sesak & S.I [Link] melakukan selama 3
Napas Agustin Hadi kudus. tindakan. hari pada
Pada a, 2017 Dilakukan 2. Mengidentifikasi pasien,
Serangan pada 1 terapi obat dengan
Asma di responden sesuai dengan memberikan
Ruang selama 3 hari program dokter. terapi
IGD pada tanggal 3. Mencuci tangan. inhalasi
RSUD dr. 26 Maret-28 4. Mengukur nebulizer
Loekmono Maret 2017 Frekuensi napas bisolvon,
Hadi untuk sebelum combivent
Kudus mengurangi tindakan dan ventolin
sesak napas, 5. Mencatat didapatkan
metode frekuensi napas adanya
pengambilan pasien di lembar penurunan
data dengan observasi sesak napas
wawancara 6. Memberikan dengan RR
dan posisi semi semula
observasi, fowler sebelum 30x/menit
sedangkan tindakan menjadi
penyajian nebulizer. 24x/menit.
data dengan 7. Menghubungka Pasien
analisis n alat nebulizer terlihat lebih
secara dengan listrik. nyaman,
deskriptif. 8. Memasukkan tidak
obat kedalam terdengar
Face mask. ronchi di
9. Memasang kedua
Lapang
masker dan
paru.
tunggu selama
10 menit.

47
48

No Judul Peneliti Metode Intervensi Terapi Hasil


Penelitian Penelitian Inhalasi Nebulizer
10. Mengobservasi
keadaan klien
selama Terapi.
11. Masker dilepas.
12. Membersihkan
alat-alat
13. Mengevaluasi
keadaan klien.
2. Keefektifan Siti Desain 1. Menyampaikan Berdasarkan
Pemberian Lestari, penelitian maksud serta hasil
Nebulizer Siti yang tujuan penelitian
Terapi Handay digunakan penelitian. didapatkan
Combivent ani, & yaitu Quase 2. Mengidentifikasi ada
dan Herman experimental kesediaan hubungan
Bisolvon Bakri, two groups responden yang
Terhadap 2018 pretest dan dengan signifikan
Patensi posttest memberikan antara skor
Jalan Napas design. informed frekuensi
Pada Pasien Populasi consent. napas
Asma dalam 3. Melakukan prestest dan
bronkial Di penelitian ini persiapan skor
Ruang IGD adalah pasien pasien. frekuensi
BBKPM asma 4. Tempatkan napas
Makassar. bronkial yang pasien pada posttest
ditangani posisi tegak/ 40- pada
diruang IGD 90 derajat yang kelompok
BBKPM memungkinkan perlakuan
Makasar ventilasi dan nebulizer
Provinsi pergerakan dengan
Sulawesi diafragma menggunaka
Selatan. maksimal. n combivent
Pengambilan 5. Kaji suara napas, dan
sampel pulse rate, status bisolvon.
terhadap 40 respirasi dan Frekuensi
responden saturasi oksigen napas
dilakukan sebelum prestest
dengan medikasi 28x/menit
teknik diberikan. dan posttest
purposive 6. Kaji Heart rate 22x/menit
sampling. selama
pengobatan, jika
heart rate
meningkat
20x/menit,
hentikan terapi
nebulizer.
7. Instruksikan
pasien untuk
49

No Judul Peneliti Metode Intervensi Terapi Hasil


Penelitian Penelitian Inhalasi Nebulizer
mengikuti
prosedur dengan
benar, lakukan
perlahan, napas
dalam dan tahan
napas saat
inspirasi puncak
beberapa saat.
8. Melakukan
prosedur terapi
nebulizer dengan
cara:
a. Menyiapkan
alat.
b. Melihat data
atau status
klien.
c. Mengkaji
kesiapan
klien untuk
dilakukan
terapi
nebulizer
d. Menjaga
privasi.
e. Mencuci
tangan.
f. Memakai
sarung
tangan.
g. Pasang selang
nebulizer dan
tube
kemudian
masukkan
obat ke dalam
nebulizer
sesuai
program.
h. Ditambahkan
/ dicampur
dengan saline
steril/aquades
sebanyak 1-2
ml ke
nebulizer
sesuai
program.
50

No Judul Peneliti Metode Intervensi Terapi Hasil


Penelitian Penelitian Inhalasi Nebulizer
i. Hubungkan
nebulizer ke
listrik dan
hidupkan alat
nebulizer
tunggu
sampai kabut
yang keluar
sedikit tipis.
j. Pasang face
mask kepada
klien.
k. Pandu klien
untuk
mengikuti
teknik
bernapas
yang benar.
l. Lanjutkan
pengobatan
sampai kabut
tidak lagi
diproduksi/
selama 20
menit.
m. Evaluasi
dengan
mengkaji
ulang suara
napas, pulse
rate, saturasi
oksigen dan
respiratory
rate
3. Evaluasi Agus Penelitian ini 1. Mempersiapkan Berdasarkan
Pengguna Santoso dilakukan di Alat: hasil
an & RSUD dr. R. a. Set Nebulizer penelitian di
Oksigen Endiyon Goeteng b. Obat didapatkan
Sebagai o, 2017 Taroenadibra bronkodilator adanya
Penghasil ta c. Bengkok. penurunan
Uap Purbalingga. d. Spuit 5 cc frekuensi
Terapi Dilakukan e. Aquades napas
Nebulizer pada 30 f. Tissue setelah
Pada responden 2. Melakukan diberikan
Pasien asma yang tahap pra terapi
Asma mendapatkan interaksi: nebulizer,
terapi a. Melakukan RR pasien
nebulizer. verifikasi rata-rata
51

No Judul Peneliti Metode Intervensi Terapi Hasil


Penelitian Penelitian Inhalasi Nebulizer
data dan sebesar 30-
program 34x/menit
pengobatan namun
pasien. setelah
b. Mencuci dilakukan
tangan. nebulizer
c. Mempersiapk RR pasien
an dan asma
menempatkan menurun
alat di dekat menjadi 23-
pasien. 24x/menit.
3. Melakukan Hasil
Tahap Orientasi: analisis
a. Memberikan menunjukka
salam sebagai n terapi
pendekatan nebulizer
terapeutik. efektif untuk
b. Menjelaskan menurunkan
tujuan dan frekuensi
prosedur pernapasan
tindakan pada pada pasien
keluarga/ asma.
pasien
c. Menanyakan
Kesiapan
pasien
sebelum
kegiatan
dilakukan.
4. Melakukan
Tahap Kerja:
a. Mengatur
posisi dalam
posisi semi
fowler.
b. Menempatka
n meja/troly
didepan
pasien yang
berisi set
nebulizer.
c. Menyambung
kan nebulizer
pada selang
dan sungkup
masker.
d. Mengisi
nebulizer
52

No Judul Peneliti Metode Intervensi Terapi Hasil


Penelitian Penelitian Inhalasi Nebulizer
dengan
aquades
memakai
spuit 5cc
sesuai
takaran.
e. Memastikan
alat dapat
berfungsi
dengan baik.
f. Memasukkan
obat sesuai
dosis.
g. Menghidupka
n nebulizer
dan tunggu
sampai kabut
sedikit
keluar.
h. Memasangka
n masker
pada pasien.
i. Meminta
pasien nafas
dalam sampai
obat habis/
waktu selama
15-20 menit.
j. Observasi
pasien selama
diberikan
tindakan
terapi.
k. Memberikan
minum air
hangat
setelah
tindakan
nebulizer
l. Bersihkan
mulut dan
hidung
dengan
tissue.
53

No Judul Peneliti Metode Intervensi Terapi Hasil


Penelitian Penelitian Inhalasi Nebulizer
5. Melakukan
Tahap
Terminasi:
a. Membereska
n alat-alat
b. Berpamitan
dengan
pasien.
c. Mencuci
tangan
d. Dokumentasi
Keperawatan.
4. Pengaruh Didik Penelitian ini 1. Tahap pra Berdasarkan
Nebulizer, Purnom dilakukan di Interaksi: hasil
Infrared o, RSUD a. Mengecek penelitian
dan Terapi Zainal KRMT program yang telah
Latihan Abidin, Wongsonego terapi. dilakukan
pada & Rio ro dengan b. Mencuci didapatkan
Penyakit Ardiant mengambil tangan. hasil setelah
Paru o, 2019 sampel c. Menyiapkan diberikan
Obstruktif sebanyak 8 alat. intervensi
Kronik orang 2. Tahap Orientasi: berupa
(PPOK) partisipan a. Memberi nebulizer
Et Causa dengan salam kepada dengan
Asma menggunaka pasien combivent,
Bronkial. n metode dengan sapa lalu
quasi nama pasien. dilakukan
eksperimen b. Menjelaskan infrared dan
jenis pretest- tujuan dan terapi
posttest. prosedur latihan
Intervensi pelaksanaan terbukti
yang 3. Tahap kerja: adanya
diberikan a. Menjaga penurunan
berupa privasi frekuensi
nebulizer, pasien. pernapasan
infrared, dan b. Mengatur pretest
terapi latihan. pasien dalam 28x/menit
posisi duduk. postest
c. Menempatka 23x/menit
n meja/troly dan
didepan mengurangi
pasien yang sesak napas
berisi set pada pasien
nebulizer. ppok et
d. Mengisi causa asma
nebulizer bronkial.
dengan
aquades
54

No Judul Peneliti Metode Intervensi Terapi Hasil


Penelitian Penelitian Inhalasi Nebulizer
sesuai
takaran.
e. Memastikan
alat dapat
berfungsi
dengan baik.
f. Memasukkan
obat sesuai
dosis.
g. Memasang
masker pada
pasien.
h. Menghidupka
n nebulizer
dan meminta
pasien nafas
dalam sampai
obat habis.
i. Bersihkan
mulut dan
hidung
dengan
tissue.
4. Tahap terminasi.
a. Melakukan
evaluasi
tindakan.
b. Berpamitan
dengan
pasien/keluar
ga.
c. Membereska
n alat.
d. Mencuci
tangan.
e. Mencatat
kegiatan
dalam lembar
catatan
keperawatan.
5. Status Agus Penelitian 1. Melakukan test Berdasarkan
Respirasi Santosa, dilakuakn di frekuensi hasil
Pasien & RSUD dr. R. pernapasan penelitian.
Asma Endiyon Goeteng sebelum terapi Didapatkan
Yang o, 2018 taroenadibrat inhalasi hasil bahwa
Mendapat a nebulizer terapi
kan Terapi purbalingga. 2. Memberikan nebulisasi
Nebulisasi Dilakukan terapi nebulisasi menggunaka
55

No Judul Peneliti Metode Intervensi Terapi Hasil


Penelitian Penelitian Inhalasi Nebulizer
Mengguna pada 60 dengan jet n jet
kan Jet responden. nebulizer dengan nebulizer
Nebulizer Intrument cara: memberikan
Dibanding yang a. Mempersiapk hasil lebih
kan dilakukan an alat. baik dalam
Dengan adalah jet b. Membaca perubahan
Nebulizer nebulizer status pasien frekuensi
Mengguna dan program napas dari
kan pengobatan 30x/menit
Oksigen pasien. menjadi
c. Menyiapkan 25x/menit
ruangan yang dan suara
tenang dan napas ronchi
nyaman. tidak
d. Mencuci terdengar
tangan lagi, dapat
e. Memakai meningkatk
sarung an Spo2
tangan. dalam darah
f. Mempersiapk dan lebih
an dan memberi
mendekatkan dampak
alat di dekat signifikan
pasien. terhadap
g. Menjelaskan frekuensi
tujuan dan napas,
prosedur perubahan
tindakan pada pola napas
keluarga dan dari
pasien. ronchi/whee
h. Menanyakan zing
kesiapan menjadi
pasien vesikuler
sebelum serta adanya
dilakukan pengingkata
tindakan. n APE.
i. Mengatur
posisi pasien
duduk.
j. Menempatka
n meja/troly
di depan
pasien yang
berisi set
nebulizer.
k. Mengisi
nebulizer
dengan
56

No Judul Peneliti Metode Intervensi Terapi Hasil


Penelitian Penelitian Inhalasi Nebulizer
aquades
sesuai
takaran.
l. Memastikan
alat dapat
berfungsi
dengan baik.
m. Memasukkan
obat ke dalam
sungkup
nebulizer
sesuai dosis.
n. Memasang
masker pada
pasien.
o. Menghidupka
n nebulizer
dan meminta
pasien nafas
dalam sampai
obat habis.
p. Bersihkan
mulut dan
hidung
dengan
tissue.
q. Membereska
n alat-alat.
r. Berpamitan
dengan
pasien.
s. Mencuci
tangan.
3. Melakukan post
test frekuensi
pernapan setelah
dilakukan
nebulizer.
4. Mencatat hasil
setelah
dilakukan post
test frekuensi
napas.
57

2. Pengembangan Standar Prosedur Operasional (SPO) Terapi Inhalasi

Nebulizer Terhadap Penurunan Sesak Napas pada Pasien Asma

Tabel 4.2 Pengembangan Standar Prosedur Operasional (SPO) Terapi


Inhalasi Nebulizer.

No SPO Rasionalisasi

Perilaku caring perawat dapat meningkatkan


perubahan positif dalam aspek fisik,
psikologis, spiritual, dan sosial. Meningkatkan
interaksi sosial dengan cara meningkatkan
sikap penerimaan satu sama lain untuk
mengatasi kecemasan dan pemecahan masalah
Memberi salam dan kesehatan. Komunikasi yang baik dapat
1
memperkenalkan diri. meningkatkan kepatuhan pasien dalam hal
pengobatan dan perawatan penyakitnya, serta
mempunyai peranan yang cukup besar bagi
kepuasan pasien yang berobat dan dirawat
(Kusomo, 2017; Purnamasari, 2020; Lasmiah,
2020).

Memastikan benar klien, yang mendapatkan


terapi. Identifikasi identitas pada pasien dapat
Mengidentifikasi membedakan antara pasien satu dengan yang
2 identitas pasien sebelum lainnya guna ketepatan pemberian pelayanan,
melakukan tindakan pengobatan dan tindakan atau prosedur kepada
pasien. (Noviestari & Supartini, 2015; Arini,
Yuliastuti, & ito, 2019).

Membantu meminimalisir kecemasan selama


Menjelaskan prosedur prosedur tindakan dilakukan serta
3 dan tujuan kegiatan meningkatkan kepercayaan atau pemahaman
kepada pasien dengan klien (Noviestari & Supartini, 2015;
Khairani, 2019).

Memastikan persetujuan antara perawat dan


Melakukan kontrak pasien mengenai waktu selama tindakan
4 dilakukan (Kusumawardhani, 2019; Khairani,
waktu
2019)

Memastikan pasien mendapatkan informasi


yang diperlukan dan benar-benar paham
dengan informasi yang diberikan, serta
Menanyakan persetujuan menyaksikan pasien menandatangani formulir
5 dan kesiapan pasien (In- persetujuan tindakan guna mencegah terjadinya
formed Consent) kecelakaan dan melindungi pasien dari
kemungkinan efek yang tidak diinginkan dari
suatu tindakan diagnostik maupun pengobatan.
Informed Consent memberikan keterangan
58

No SPO Rasionalisasi

penjelasan tentang diagnosis, indikasi prosedur


dan persetujuan/izin dari pasien yang diberikan
dengan bebas, rasional, tanpa voluntary tentang
tindakan kedokteran yang akan dilakukan
(Sulistiyowati, 2016; Mathar, 2018; Murdiman,
2019).

Istirahat fisik dan psikologis dengan ruangan


yang tenang, nyaman, bersih akan membantu
Menyiapkan ruangan mengurangi stress saat akan dilakukan
6
yang tenang dan nyaman tindakan (Noviestari & Supartini, 2015;
Doenges, 2019).

Memberikan akses yang mudah terhadap


peralatan untuk mencegah prosedur menjadi
7 Menyiapkan Alat-alat lambat. Alat memiliki peranan penting dalam
membantu meningkatkan asuhan keperawatan
(Noviestari & Supartini, 2015; Syajaah, 2018)

Posisi semi fowler membantu memaksimalkan


ekspansi paru dan mengurangi upaya
pernapasan. Ventilasi maksimal dapat mem-
buka area atelectasis dan meningkatkan
Memberikan posisi semi pergerakan sekresi ke jalan napas yang lebih
8
fowler besar untuk dikeluarkan. Posisi semi fowler
membuat klien lebih rileks dan melancarkan
jalan napas (Doenges, 2019; Rohmah & walid,
2019; Zahroh & Istiroh, 2019).

Mengangkat bakteri dari permukaan kulit dan


mengurangi penyebaran infeksi. Tangan
merupakan media yang sangat ampuh untuk
Mencuci tangan 6 berpindahnya penyakit pelaksanaan 5 momen
9
langkah dan 6 langkah cuci tangan dapat mencegah
terjadinya infeksi nosokomial. (Noviestari &
Supartini, 2015; Dewi & Ratna, 2017).

Mencegah terjadinya kontaminasi virus dan


bakteri antara perawat dan pasien, penggunaan
handscoon bertujuan untuk melindungi tangan,
10 Memakai Handscoon mencegah penularan flora kulit, mencegah
kontak dengan semua jenis cairan tubuh dan
bahan kimia yang berbahaya (Suprapto, 2020;
Budiana, 2019)

Mengukur frekuensi Takipnea biasanya terjadi hingga beberapa


nafas sebelum tindakan derajat dan mungkin terdengar jelas.
11
menggunakan flowmeter Pernapasan dangkal dan cepat dengan ekspirasi
memanjang jika dibandingkan inspirasi serta
59

No SPO Rasionalisasi

bermanfaat dalam mengevaluasi derajat gawat


napas dan kronisitas proses penyakit.
Pengukuran ini untuk mendapatkan nilai yang
akurat frekuensi napas dan memantau pola
pernapasan (Doenges, 2019; Khairani 2019).
Mencatat hasil pre test Mengetahui perkembangan status frekuensi
12 frekuensi nafas di lembar pernapasan sebelum dilakukan tindakan
observasi (Sholichah, 2018).

Memberikan akses yang mudah terhadap


Mendekatkan alat-alat peralatan untuk mencegah prosedur menjadi
13
kepasien lambat (Noviestari & Supartini, 2015).

Sambungkan nebulizer Untuk menyalakan mesin nebulizer (Budi,


14 2017)
pada listrik.
Menyambungkan Memudahkan obat mengalir dengan lancar saat
nebulizer pada selangnya, dilakukan terapi inhalasi nebulizer (Wintarti,
15
lalu selang nebulizer 2019)
pada masker sungkup.
Memastikan pemberian obat sesuai dengan
program terapi dan memastikan obat bekerja
dengan baik. Pemberian ini bertujuan untuk
Memasukkan obat ke menurunkan kekentalan secret, relaksasi pada
16 dalam sungkup sesuai spasme otot pernapasan, membuat sputum atau
dosis. secret menjadi encer, membebaskan jalan
napas dan membuat jalan napas menjadi
lembab (Wardani, 2018; Azizah, 2020)

Mengencerkan obat bronkodilator dengan


Mengisi sungkup diperolehnya kelembapan saluran pernapasan
nebulizer dengan aquades yang lebih baik sehingga berdampak terhadap
17 NaCL 0,9 % sebanyak 2 pengenceran, peningkatan fungsi (VEP1) dan
cc menggunakan spuit pengeluaran secret (Rihiantoro, 2017;
3cc Khairani, 2019)

Memastikan alat nebulizer hidup dan


Menghidupkan nebulizer mengeluarkan uap/kabut sebelum diberikan
dan menunggu sampai kepada pasien dan memastikan masker
18 kabut sedikit keluar dan sungkup menutupi hidung dan mulut, agar
berikan masker sungkup pemberian nebulisasi berjalan dengan baik
ke pasien (Gustiawan, 2017; Wintarti, 2019)

Terjadinya pelebaran pada saluran pernapasan


yang menyempit akibat adanya secret dan
Menganjurkan pasien
berkurangnya sesak napas yang dirasakan
19 menghirup obat dalam
pasien, sehingga dapat memaksimalkan
nebulizer.
bernapas, menurunkan kerja napas,
memberikan kelembapan pada membrane
60

No SPO Rasionalisasi

mukosa, dan membantu pengenceran secret


(Yosmar, 2016; Wardani, 2018)

Mengobservasi keadaan Memastikan kepatenan aliran uap yang dihirup


20 pasien selama terapi lancar selama terapi inhalasi nebulizer
dilakukan 5-10 menit. dilakukan (Noviestari & Supartini, 2015)

Informasi tindakan kepada pasien untuk


Memberitahukan kepada mengetahui pengobatan sudah selesai
21 pasien bahwa tindakan dilakukan dan mengevaluasi terapi yang
sudah selesai. dilakukan memberikan/mengurangi keluhan
(Djaharuddin, dkk, 2017)

Memberikan kumur-kumur minum air putih


hangat dapat mengurangi rasa pahit dimulut
setelah dilakukan nebulizer. Pemberian minum
air putih hangat memberikan efek hidrostatik
Memberikan kumur- dan hidrodinamik, hangatnya membuat
kumur dan minum air sirkulasi peredaran darah khususnya pada
22
putih hangat setelah daerah paru-paru menjadi lancar, pemberian air
tindakan nebulizer. minum putih hangat dapat memperlancar
pernapasan, meningkatkan kelancaran jalan
napas untuk memperbaiki pola napas
(Adiputra, 2017; Gurusinga, 2021)

Takipnea biasanya terjadi hingga beberapa


Mengukur frekuensi derajat dan mungkin terdengar jelas.
nafas menggunakan Pernapasan dangkal dan cepat dengan ekspirasi
23 flowmeter 15 menit memanjang jika dibandingkan inspirasi serta
setelah dilakukan bermanfaat dalam mengevaluasi derajat gawat
tindakan napas dan kronisitas proses penyakit
(Doenges, 2019)

Untuk mencegah infeksi silang dan


24 Merapikan alat-alat. memelihara peralatan dalam kondisi baik
(Khairani, 2019)

Tidak membawa virus dan bakteri ke pasien


lain dan mencegah terjadinya perpindahan
Melepaskan sarung kuman,dan mengurangi transmisi mikroor-
25
tangan. ganisme (Perry & Potter, 2015; Kemenkes RI,
2017)

Mengangkat bakteri dari permukaan kulit dan


mengurangi penyebaran infeksi. Tangan
merupakan media yang sangat ampuh untuk
26 Mencuci tangan kembali.
berpindahnya penyakit oleh karena itu perawat
wajib melakukan pelaksanaan 5 momen dan 6
langkah cuci tangan untuk mencegah
61

No SPO Rasionalisasi

terjadinya infeksi nosokomial (Noviestari &


Supartini, 2015; Dewi & Ratna, 2017).

Kontrak ini penting dibuat agar kesepakatan


antara perawat dan pasien untuk pertemuan
berikutnya. Kontrak yang dibuat meliputi
tempat, waktu, dan tujuan interaksi.
Komunikasi terapeutik yang diaplikasikan
Melakukan kontrak untuk secara baik akan memberikan kenyamanan
27
kunjungan selanjutnya tersendiri kepada pasien sehingga membuat
pasien merasa puas atas pelayanan yang
diberikan terutama dalam hal komunikasi
terapeutik (Anjaswarni, 2016; Pieter, 2017;
Kusumo 2017).

Berguna dalam mendefinisikan tingkat masalah


dan pilihan intervensi yang akan dilakukan
selanjutnya dengan tepat. Bukti pencatatan dan
pelaporan yang dimiliki perawat dalam
Dokumentasi hasil melakukan catatan keperawatan yang berguna
28 untuk kepentingan klien, perawat, dan tim
evaluasi.
kesehatan dalam memberikan pelayanan
kesehatan serta mendukung kualitas pelayanan
yang diberikan (Pancaningrum, 2015;
Doenges, 2019).

B. Pembahasan

Hasil Penelusuran literature Review SPO Terapi Inhalasi Nebulizer

Terhadap Penurunan Sesak Napas pada Pasien Asma yang telah didukung

oleh beberapa jurnal terkait didapatkan hasil bahwa SPO setiap jurnal yang

dilakukan berbeda-beda namun hasil yang didapatkan tetap sama yaitu untuk

menurunkan sesak napas, maka dilakukanlah pengembangan SPO oleh

penulis, SPO yang akan dikembangkan oleh penulis yaitu pada tahap

memberikan salam dan memperkenalkan diri karena pada setiap tindakan

SPO tidak semua peneliti melakukan komunikasi, komunikasi yang baik

dapat meningkatkan kepatuhan pasien dalam hal pengobatan dan perawatan


62

penyakitnya, (Lasmiah, 2020). Selanjutnya mengukur frekuensi napas pasien

sebelum dan sesudah melakukan tindakan karena menurut penulis tahap ini

penting untuk mendapatkan nilai yang akurat frekuensi napas dan memantau

pola pernapasan sebelum diberikan tindakan (Doenges, 2019; Khairani

2019). Selain itu, mencuci tangan 6 langkah setiap pelaksanaan 5 moment

tindakan ini di ambil dari semua 5 jurnal terkait dimana ini adalah hal yang

sangat penting dilakukan sebelum tindakan karena dapat mencegah terjadinya

infeksi nosokomial (Dewi & Ratna, 2017) serta yang paling terpenting adalah

memakai handscoon/ sarung tangan saat melakukan tindakan. Selanjutnya

tahap yang akan dikembangkan yaitu pemberian campuran aquades/saline

sebanyak 2 cc menggunakan spuit 3 cc dimana tidak semua peneliti

melakukan campuran ini, dan menurut saya dengan adanya campuran maka

tindakan akan lebih efektif karena berfungsi untuk kelembapan saluran

pernapasan yang lebih baik sehingga berdampak terhadap pengenceran,

peningkatan fungsi (VEP1) dan pengeluaran secret (Rihiantoro, 2017). Selain

itu tahap yang paling terpenting penulis kembangkan yaitu memberikan

kumur-kumur air putih hangat dan memberikan minum setelah tindakan

karena dengan memberikan kumur-kumur minum air putih hangat dapat

mengurangi rasa pahit dimulut setelah dilakukan nebulizer (Adiputra, 2017)

Berdasarkan jurnal penelitian Alvi Ratna Yuliana & S.I Agustina,

(2017) mempunyai 15 tindakan SPO saya mengambil 6 SPO berupa

Identifikasi identitas pasien, mengukur frekuensi napas pasien sebelum

tindakan, memberikan posisi semi fowler sebelum tindakan nebulizer,


63

mencuci tangan, mengobservasi keadaan klien selama terapi, mencatat

frekuensi napas pasien di lembar observasi. Saya mengambil 6 tindakan SPO

ini karena setelah menganalisis setiap SPO, bahwa 9 SPO Alvi dan Agustina

sama dengan SPO peneliti lainnya antara lain melakukan wawancara dan

observasi, mengidentifikasi terapi obat sesuai program dokter,

menghubungkan alat nebulizer dengan listrik, memasukkan obat ke dalam

facemask, memasang masker dan tunggu selama 10-20 menit, masker

dilepas, membersihkan alat-alat, dan mengevaluasi keadaan pasien. Dalam

SPO Alvi dan Agustina yang saya ambil berbeda dengan peneliti lain, mereka

melakukan Identifikasi identitas pasien dimana tidak semua peneliti

melakukan identifikasi identitas, untuk mencuci tangan hampir semua SPO

melakukan cuci tangan untuk mengangkat bakteri dari permukaan kulit dan

mengurangi penyebaran infeksi, lalu melakukan pengukuran frekuensi napas

sebelum dan sesudah tindakan untuk mengetahui berapakah frekuensi napas

pasien sebelum dan sesudah dilakukan tindakan, setelah dilakukan

pengukuran, mereka melakukan pencatatan di dalam lembar observasi

dimana mereka akan mengetahui perkembangan status frekuensi pernapasan

pada pasien dalam hal ini Alvi dan Agustina juga mengobservasi keadaan

pasien selama terapi dilakukan.

Penelitian SPO menurut Siti lestari., Siti Handayani., & Herman Bakri,

(2018), mempunyai tindakan 20 SPO, saya mengambil 4 SPO yang

diterapkan. 4 SPO tersebut berupa mengidentifikasi kesediaan responden

dengan memberikan Informed Consent (Surat persetujuan) sebelum


64

dilakukan tindakan, saya mengambil informed consent karena dalam hal ini

sangat penting memberikan informasi atau keterangan penjelasan tentang

diagnosis, indikasi prosedur dan persetujuan/ izin dari pasien yang diberikan

dengan bebas, rasional, tanpa voluntary tentang tindakan kedokteran yang

akan dilakukan (Mathar, 2018; Murdiman, 2019). Dalam hal ini tindakan

Informed Consent saya dapatkan hanya dalam penelitian ini yang

menerapkan, selanjutnya kaji suara napas, pulse rate, status respirasi dan

saturasi oksigen sebelum medikasi diberikan karena hal ini sangat bermanfaat

untuk mengetahui status perkembangan pasien sebelum dan sesudah

dilakukan tindakan, menyiapkan alat dalam hal ini persiapan alat penting

sebelum tindakan karena memberikan akses yang mudah terhadap peralatan

untuk mencegah prosedur menjadi lambat (Noviestari & Supartini, 2015;

Syajaah, 2018) dan tahap yang selanjutnya yaitu memakai sarung tangan/

Handscoon mengapa saya mengambil tindakan ini, karena menurut saya

tindakan ini sangat penting dalam setiap tindakan apapun karena dapat

mencegah terjadinya kontaminasi virus dan bakteri antara perawat dan

pasien, penggunaan handscoon bertujuan untuk melindungi tangan,

mencegah penularan flora kulit, mencegah kontak dengan semua jenis cairan

tubuh dan bahan kimia yang berbahaya (Suprapto, 2020; Budiana, 2019).

Dalam 16 tindakan SPO menurut penelitian Siti lestari., Siti

Handayani., & Herman Bakri, (2018) yang tidak saya ambil karena beberapa

tindakan ini sama dengan 4 peneliti lainya yang menurut saya memang

tindakan inti yang dilakukan oleh setiap SPO yang diterapkan oleh karena itu
65

saya tidak mengambil tindakan SPO tersebut. Adapun tindakanya antara lain

menyampaikan maksud dan tujuan penelitian, melakukan persiapan pasien,

tempatkan pasien dalam posisi tegak 40-90 derajat, kaji heart rate selama

pengobatan jika heart rate meningkat 20x/menit, hentikan nebulizer,

instruksikan pasien mengikuti prosedur, melihat data/status klien, mengkaji

kesiapan klien, menjaga privasi, mencuci tangan, pasang selang nebulizer

dengan tube kemudian masukkan obat ke dalam nebulizer sesuai program,

hubungkan nebulizer ke listrik, pasang facemask, pandu klien untuk teknik

bernapas yang benar, lanjutkan peengobatan sampai tida ada kabut, dan

evaluasi dengan mengkaji ulang suara napas, pulse rate, saturasi oksigen dan

respirasi.

Penelitian menurut Agus Santoso & Endiyono, (2017) mempunyai 23

SPO yang diterapkan, saya mengambil 8 tindakan SPO berupa memberikan

salam sebagai pendekatan terapeutik, mengapa mengambil SPO ini karena

tidak semua penelitian melakukan SPO ini. Adanya SPO memberikan salam

sebagai pendekatan terapeutik karena komunikasi yang baik dapat

meningkatkan kepatuhan pasien dalam hal pengobatan dan perawatan

penyakitnya, serta mempunyai peranan yang cukup besar bagi kepuasan

pasien yang berobat dan dirawat (Lasmiah, 2020). Selanjutnya menjelaskan

tujuan dan prosedur tindakan pada keluarga/pasien, menyambungkan

nebulizer pada selang dan sungkup, memasukkan obat sesuai dosis, mengisi

nebulizer dengan aquades memakai spuit 5 cc sesuai takaran, menghidupkan

nebulizer dan tunggu sampai kabut sedikit keluar, SPO ini di dalam beberapa
66

jurnal yang lain juga dilakukan namun saya lebih mengambil tindakan dari

jurnal ini, karena menurut saya tindakan di terapkan oleh peneliti ini lebih

terarah dan sangat mendukung dengan hasil yang dihasilkan. Namun ada

yang berbeda dalam SPO Agus Santoso & Endiyono yaitu memberikan

minum air hangat setelah tindakan nebulizer pada penelitian lain tidak

melakukan. Pemberian minum air hangat memberikan efek hidrostatik dan

hidrodinamik, hangatnya membuat sirkulasi peredaran darah khususnya pada

daerah paru-paru menjadi lancar, pemberian air minum putih hangat dapat

memperlancar pernapasan, meningkatkan kelancaran jalan napas untuk

memperbaiki pola napas (Adiputra, 2017; Gurusinga, 2021). Selanjutnya

terakhir saya mengambil SPO dokumentasi keperawatan karena Bukti

pencatatan dan pelaporan yang dimiliki perawat dalam melakukan catatan

keperawatan yang berguna untuk kepentingan klien, perawat, dan tim

kesehatan dalam memberikan pelayanan kesehatan serta mendukung kualitas

pelayanan yang diberikan (Pancaningrum, 2015; Doenges, 2019).

Penelitian Didik Purnomo., Zainal Abidin & Rio Ardianto, (2019)

mempunyai 20 tindakan SPO dalam hal ini saya mengambil 2 tindakan SPO

yaitu tindakan meminta pasien napas dalam sampai obat habis karena

peranan obat bronkodilator yaitu terjadinya pelebaran pada saluran pernapa-

san yang menyempit akibat adanya secret dan berkurangnya sesak napas

yang dirasakan pasien, sehingga dapat memaksimalkan bernapas,

menurunkan kerja napas, memberikan kelembapan pada membrane mukosa,

dan membantu pengenceran secret (Yosmar, 2016; Wardani, 2018).


67

Selanjutnya tindakan membereskan alat-alat. Selanjutnya penelitian Agus

Santoso & Endiyono, (2018) memiliki 23 tindakan SPO saya mengambil 3

tindakan SPO yang diterapkan dan 20 tindakan lainya sudah terdapat di

dalam jurnal lainya. 3 tindakan SPO yang saya ambil yaitu menyiapkan

ruangan yang tenang dan nyaman karena Istirahat fisik dan psikologis dengan

ruangan yang tenang, nyaman, bersih akan membantu mengurangi stress saat

akan dilakukan tindakan (Noviestari & Supartini, 2015; Doenges, 2019).

Selanjutnya mempersiapkan dan mendekatkan alat di dekat pasien tindakan

ini agar memudahkan dalam melakukan tindakan, dan mencatat hasil

frekuensi napas setelah dilakukan nebulizer.

Setelah melakukan analisa terhadap 5 jurnal SPO tersebut di dapatkan

hasil bahwa tindakan SPO yang dilakukan berbeda-beda. Namun hal yang

menarik setelah penulis menganalisa SPO ini, pemberian obat dalam setiap

jurnal tersebut berbeda-beda ada yang memberikan Combivent yang

berfungsi untuk melonggarkan saluran napas, bisolvon untuk mengencerkan

dahak, Nacl untuk mengencerkan dahak, atrovent dan ventolin untuk

melonggarkan saluran napas, Ipratropium dan fenetrol berfungsi untuk

meredakan gejala sesak napas (Didik Purnomo., Zainal Abidin & Rio

Ardianto, 2019). Dapat disimpulkan bahwa pemberian obat yang berbeda-

beda tetap efektif karena memiliki fungsi yang sama untuk melonggarkan

jalan napas dan mengencerkan dahak selain itu pemberian obat berbeda juga

di dukung oleh beberapa penelitian.


68

Menurut penelitian yang dilakukan oleh Lumbantobing, V, (2017)

dengan judul “Efektivitas Terapi Nebulizer Dengan Ipratropium Dan Fenetrol

Terhadap Sesak Napas dan Saturasi Oksigen pada pasien Asma Bronkial di

Ruang Rawat Inap RSUD X Jawa Timur” menyebutkan bahwa Setelah

diberikan terapi nebulizer pada pasien penderita asma, pemberian ipratropium

dan fenetrol efektif dengan hasil adanya penurunan frekuensi pernapasan,

peningkatan SPO2 dan sesak napas berkurang.

Pemberian terapi inhalasi nebulizer juga terbukti efektif dilakukan

pada pasien dengan masalah Bronkopneumonia dengan didukung oleh

penelitian menurut Astuti, Marhamah, & Diniyah, (2019) menyebutkan

bahwa sebelum dilakukan terapi inhalasi nebulizer dengan Nacl 1cc +

ventolin 1cc + Bisolvon 10 tetes selama 3x24 jam, frekuensi pernapasan

28x/menit. Adapun hasil yang didapatkan setelah dilakukan tindakan inhalasi

nebulizer pasien mengatakan merasa lebih nyaman, sesak napas berkurang,

batuk berkurang dan saat dilakukan pemeriksaan suara napas ronkhi

berkurang. Dari hasil penelitian ini mengatakan bahwa pemberian terapi

inhalasi nebulizer terbukti efektif untuk mengatasi masalah.

Penelitian yang dilakukan oleh Shokry, Saeed, & Rabea, (2020)

dengan judul “Efektivitas Nebulizer Dan Kemanjuran Pemberian

Bronkodilator Terhadap Penurunan Sesak Napas Dan Peningkatan Volume

Ekspansi Paru Pada Pasien Asma” menyebutkan bahwa hasil dari penelitian

ini bahwa terapi inhalasi yang diberikan efektif untuk mengurangi sesak

napas, dan peningkatan volume paru pada pasien asma. Nebulisasi sangat
69

efektif dan berpengaruh dalam pengobatan asma, karena nebulizer memiliki

manfaat memberikan relaksasi pada spasme otot pernapasan, membuat

sputum atau secret menjadi encer, membebaskan jalan napas dan membuat

jalan napas menjadi lembab (Azizah, Sasono, & Fikriana, 2020).

Berdasarkan hasil penelusuran SPO yang dilakukan mengenai Terapi

Inhalasi Nebulizer Terhadap Penurunan Sesak Napas pada Pasien Asma,

didukung oleh jurnal-jurnal terkait dan hasil yang didapatkan, maka penulis

mengembangkan SPO terapi inhalasi nebulizer dengan jumlah 28 langkah

SPO.
BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Kesimpulan dari hasil pengembangan Standar Prosedur Operasional

(SPO) terapi inhalasi nebulizer terhadap penurunan sesak napas pada pasien

asma antara lain:

1. Teridentifikasinya jurnal-jurnal terkait Pengembangan Standar Prosedur

Operasional (SPO) Terapi Inhalasi Nebulizer Terhadap Penurunan Sesak

Napas pada Pasien Asma.

2. Teranalisisnya Standar Prosedur Operasional (SPO) Pemberian Terapi

Inhalasi Nebulizer Terhadap Penurunan Sesak Napas pada Pasien Asma.

3. Dapat mengembangkan pengembangan Standar Prosedur Operasional

(SPO) tentang pemberian terapi nebulizer secara benar dan tepat yang

dapat diterapkan pada pasien asma dengan sesak napas.

B. Saran

1. Bagi Pelayanan Kesehatan

Hasil pengembangan Standar Prosedur Operasional (SPO) ini dapat

digunakan sebagai sumber informasi salah satu intervensi keperawatan

melakukan terapi inhalasi nebulizer terhadap penurunan sesak napas pada

pasien asma.

2. Bagi Penulis

Hasil pengembangan Standar Prosedur Operasional (SPO) ini dapat

menambah wawasan dan kemampuan berpikir mengenai penerapan

70
71

pengaruh terapi inhalasi nebulizer terhadap penurunan sesak napas pada

pasien asma.

3. Bagi Pasien

Hasil pengembangan Standar Prosedur Operasional (SPO) ini dapat

dijadikan sebagai panduan untuk melakukan tindakan terapi inhalasi

nebulizer dengan baik dan benar.

4. Bagi Institusi Pendidikan

Agar dapat digunakan sebagai tambahan referensi kepustakaan

terutama dalam menilai penurunan sesak napas pada pasien asma setelah

diberikan terapi inhalasi nebulizer dan dapat digunakan dengan baik

untuk pembacanya.
DAFTAR PUSTAKA

Adiputra, IM., Rahayu, K. (2017). Mengkonsumsi air hangat sebelum tindakan


nebulizer meningkatkan kelancaran jalan napas pada pasien asma. Jurnal
Ilmu Kesehatan, 3(2), 38-49.

Agustina, S I., & Yuliana, AR. (2017). Terapi nebulizer mengurangi sesak nafas
pada serangan asma bronkiale di ruang IGD RSUD [Link] Hadi
Kudus. Jurnal Profesi Keperawatan (JPK), 4 (1), 1-9.

Amanati, S., Najizah, F., & Istifada, J. (2020). Pengaruh nebulizer, infrared, dan
chest physiotherapy pada asma bronkial. Jurnal Fisioterapi Dan
Rehabilitasi (JFR), 4 (2), 99-105.

Ambarwati, R. (2017). Konsep Kebutuhan Dasar Manusia. Yogyakarta: Dua


Satria Offset.

Anam, MS., Sudarmawan, DA., & Arkhaesy, N. (2019). Perbedaan hasil fungsi
paru pada remaja dengan osa (obstructive sleep apneu) dan tanpa osa.
Jurnal Kedokteran Diponegoro, 8 (2), 681-692.

Anggraini, Y., Mertajaya, IM., Batu, AM., & Leniwita, H. (2019). Petunjuk
Praktikum Keperawatan Dasar . Universitas Kristen Indonesia, Jakarta.

Anjaswarni, T. (2016). Modul Bahan Ajar Cetak Keperawatan: Komunikasi


dalam Keperawatan. Jakarta: Pusdik Sdm Kesehatan.

Annisa, Y & Soewarno, SA. (2016). Kesesuaian pemeriksaan spirometri dan foto
thorax posteroanterior pada pasien penyakit paru obstruksi kronis
berdasarkan analisis kesepakatan kappa cohen di Rsud Prof. DR. Margono
Soekarjo. Sainteks, 13 (1), 32-41.

Arini, D., Yuliastuti, C., & Ito, JLR. (2019). Hubungan tingkat pengetahuan
perawat tentang identifikasi dalam pasien safety dengan pelaksanaanya di
ruang rawat inap RSUD SK. Lerik Kupang. Jurnal Ilmiah Keperawatan
Stikes Hangtuah Surabaya, 14(2), 87-99.

Astuti, WT., Marhamah, E., & Diniyah, N. (2019). Penerapan terapi inhalasi
nebulizer untuk mengatasi bersihan jalan napas pada pasien
bronkopneumonia. Jurnal Keperawatan, 5(2), 7-13.

Azizah, S., Sasono, TR., & Fikriana, R. (2020). Studi Literature pengaruh terapi
nebulizer pada pasien asma. Jurnal Kesehatan, Kebidanan, dan
Keperawatan Viva Medika, 3(1), 18-25.

Batubara, F & Prihantini, NN. (2019). Faktor-faktor yang mempengaruhi fungsi


paru pada mahasiswa fk uki melalui pemeriksaan spirometri. Jurnal Ilmiah
Widya, 6(1), 1-6.

72
73

Bestari, FD., Wisana, IGD., & Hamzah, T. (2016). Monitoring heart rate,
respiration ratedilengkapi dengan sensor suhu ke personal computer
melaluiBluetooth (parameter respiration rate). Jurnal Politeknik Kesehatan
Surabaya, 1-7.

Black, J & Hawks, J. (2014). Keperawatan Medikal Bedah: Manajemen Klinis


Untuk Hasil yang Diharapkan edisi 8 buku 3. Singapura: Elsevier

Budi, Y. (2017). Analisa tindakan pemberian nebulizer. Jakarta: Media pustaka

Budiana, I., Nggarang, KF. (2019). Penerapan teknik aseptic pada asuhan
keperawatan di ruang bedah RSUD Kabupaten Ende. Jurnal Keperawatan
Terpadu, 1(2), 56-64.

Daniel, P., Pizzuli, A & Wagner, P. (2017). Keefektifan kegunaan nebulizer untuk
meredakan saluran pernapasan atas dan bawah. Italian Journal Of
Pediatrik, 43(1), 1-8 doi:10.1186/s13052-017-0400-x

Demur, DRDN. (2017). Hubungan faktor resiko ekstrinsik dengan derajat asma
berulang pada pasien asma bronkial di poliklinik penyakit dalam. Jurnal
Kesehatan Perintis (perintis’s Health Journal) 4 (2), 80-84.

Departemen, KMB. (2019). Standar Prosedur Operasional Penggunaan


Nebulizer. Journal Fakultas Ilmu Kedokteran, No. 02, Hal 1/3.

Dewi, R., & Purwaningsih, E. (2017). Pelaksanaan cuci tangan oleh perawat
sebelum dan sesudah melakukan tindakan keperawatan. Jurnal Ilmiah
Keperawatan Sai Betik 9(1), 103-108

Djaharuddin, I., Tabri, NA; Iskandar, H., & Santoso, A.(2017). Keterampilan
Klinis Terapi Inhalasi Nebulisasi. Universitas Hasanudin.

Doenges, ME., Moorhouse, MF., & Murr, AC. (2019). Rencana Asuhan
Keperawatan Pedoman Asuhan Klien Anak-Dewasa. Jakarta: EGC

Dwicahyo, HB. (2017). Analisis kadar NH3 karakteristik individu dan keluhan
pernapasan pemulung di TPA sampah benowo dan bukan pemulung di
sekitar TPA sampah benowo Surabaya. Jurnal kesehatan lingkungan, 9(2):
135-144.

Ekarini, NLP. (2018). Analisis Gaktor-Faktor Pemicu Dominan Terjadinya


Serangan Asma Pada Pasien Asma (Tesis). Universitas Indonesia, Depok.

Feriani, P. (2020). Ketepatan pemberian obat oleh perawat dipengaruhi budaya


organisasi di ruangrawat inap RSUD Kanujoso Balikpapan. Borneo
Nursing Journal (BNJ), 2(1), 39-46.
74

GINA. (2017). Global strategy for asthma management and prevention.


Diperoleh dari https;//[Link]/

Gurusinga, R., Tarigan, FK., Sitanggang, RM. (2021). Pengaruh mengkonsumsi


air hangat sebelum pemberian nebulizer terhadap peningkatan kelancaran
jalan jalan napas pada pasien asma bronkial. Jurnal Kebidanan Kestra,
3(2), 110-115.

Gustiawan, SP., Satriani, NLA., & Agustini, IB. (2017). Hubungan masker
sungkup selama nebulizer terhadap saturasi perifer oksigen pada pasien
ppok. JRKN, 1(1), 51-57.

Hartawan, IGA & Rasmawati, NLM. (2017). Terapi Inhalasi (Skripsi).


Universitas Udayana, Bali.

Hengky, HK., Andi, K., & Usman. (2019). Hubungan karateristik penderita
dengan derajat asma bronkial di Rumah Sakit Umum Daerah Andi Makasar
Kota Parepare. Jurnal Ilmiah Manusia dan Kesehatan, 2 (2).

Heni., & Hijriani, H. (2018). Keperawatan Dasar II. Cirebon: LovRinz


Publishing.

Ikawati, Z. (2016). Penatalaksanaan Terapi Penyakit Sistem Pernapasan.


Yogyakarta: Bursa Ilmu.

Indriati, G., Fadzila W., & Bayhakki. (2018). Hubungan keteraturan penggunaan
inhaler terhadap hasil asthma control test (ACT) pada penderita asma. JOM
FKp, 5(2) (Juli-Desember)

Insana M, dkk. (2020). Caring Dan Comfort Perawat Dalam Kegawatdaruratan.


Yogyakarta: Cv Budi Utama

Iskandar. (2018). Keperawatan Profesional. Bogor: In Media

Jainurakhma, J. (2018). Asuhan Keperawatan Sistem Respiratory Dengan


Pendekatan Klinis. Yogyakarta: Depublish

John’s, C. (2020). Signs Of An Asthma Attack. Publication info: Smart Engage.


United States, John’s Creek.

Kardiyudiani NK., & Suryani, E. (2016). Efektivitas Pemberian Teknik Relaksasi


Nafas Dalam Terhadap Arus Puncak Respirasi (APE) pada Pasien
Tuberculosis Paru. Doctoral Dissertation Universitas Muhammadiyah
Purwokerto.

Kardiyudiani, NK., & Susanti BAD. (2019). Keperawatan Medikal Bedah 1.


Yogyakarta: PT. Pustaka Baru
75

Kementrian Kesehatan RI. (2017). Permenkes RI nomor 27 tahun 2017 tentang


pedoman pencegahan dan pengendalian infeksi di fasilitas pelayanan
kesehatan. Jakarta, Indonesia: Kementrian Kesehatan RI

Kementrian Kesehatan RI. (2018). Lembaga Penerbit Badan Penelitian dan


Pengembangan Kesehatan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
Jakarta, Indonesia: Kementrian Kesehatan RI

Khairani, AI & Suharto. (2018). Keperawatan professional. Yogyakarta: samudra


biru (Anggota IKAPI)

Kurniati, A., Trisyani, Y., & Theresia, SIM. (2018). Keperawatan Gawat Darurat
dan Bencana Sheehy. Singapore: Elvesier.

Kurniawati, A & Tafdhila. (2019). Pengaruh latihan batuk efektif pada intervensi
nebulizer terhadap penurunan frekuensi pernapasan pada asma di instalasi
gawat darurat. Jurnal Ilmiah Multi Science Kesehatan, Vol. 11, pp. 117-
127.

Kusnanto., Sajidin, M., Amin, M., & Nur, A. (2019). Gambaran arus puncak
ekspirasi (APE) dan control asma pada pasien asma. Jurnal Penelitian
Kesehatan Suara Forikes. 10 (3), 193-198.

Kusumawardhani, OB. (2019). Analisis pengaruh komunikasi terapeutik perawat


terhadap kepuasan pasien di rawat jalan RSUD Karanganyar. Jurnal
Keperawatan Indonesia, 1(2), 199-213.

Kusumo, MP. (2017). Pengaruh komunikasi terapeutik perawat terhadap kepuasan


pasien di rawat jalan RSUD Jogja. Jurnal Medicoeticolegal dan
Manajemen Rumah Sakit, 6(1), 72-81.

Kuswardani, Didik, P., & Amanati, S. (2017). Pengaruh nebulizer, infra red dan
chest therapy terhadap asma bronkhiale. Jurnal Fisioterapi dan
Rehabilitasi (JFR), 1 (1), 49-56.

Lasmiah., Azis., & Mira, (2020). Hubungan karakteristik perawat dengan praktik
komunikasi terapeutik perawat-klien di puskesmas malili Kab. Luwu
Timur. Jurnal Lontara Kesehatan, 1(1), 67-76.

Lumbantobing, VBM. (2017). Efektivitas terapi nebulizer dengan ipratropium dan


fenetrol terhadap saturasi oksigen. Jurnal Keperawatan BSI, 5(1), 59-64.

Mahfudhah, AN., & Mayasari, P. (2018). Pemberian obat oleh perawat diruang
rawat inap rumah sakit umum kota banda aceh. JIM FKep, 3(4), 1-9.

Makhfudli, Udayani, M., & Amin, M. (2020). Pengaruh kombinasi teknik


pernapasan buteyko dan latihan berjalan terhadap control asma pada pasien
76

asma dewasa. Jurnal Ilmiah Keperawatan, (scientific Journal of Nursing, 6


(1), 6-13.

Maryati, Y., & Siswati. (2017). Bahan Ajar Rekam Medis Dan Informasi
Kesehatan (RMIK) Manajemen Mutu Informasi Kesehatan II: Akreditasi
Dan Manajemen Resiko.

Mathar, I. (2018). Manajemen Informasi Kesehatan (Pengelolaan Dokumen


Rekam Medis). Yogyakarta: Deepublish

Menaldi, R. (2017). Buku Ajar Pulmonology Dan Kedokteran Respirasi. Jakarta:


Universitas Indonesia (UI-Press)

Murdiman, N., Harun, AA., Djuhira., & Solo TP. (2019). Hubungan pemberian
informed consent dengan kecemasan pada pasien pre operasi apendisitis di
ruang bedah BLUD rumah sakit Konawe. Jurnal Keperawatan, 2(3), 1-8.

Muttaqien, A. (2017). Buku Ajar Asuhan Keperawatan Dengan Gangguan Sistem


Pernapasan. Jakarta: Salemba.

Ningrum, AF., Berawi, KN. (2017). Faktor Risiko Obesitas dan Kejadian Asma.
Jurnal Majority, 6 (2), 6-11.

Noviestari, E., & Supartini, Y. (2015). Keperawatan dasar: Manual Keterampilan


Klinis 1. Singapore: Elsevier Australia.

Pancaningrum, D. (2015). Sistem pendokumentasian asuhan keperawatan di


Rumah Sakit. Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia.

Perry, Potter. (2015). Fundamental Keperawatan Buku 2 Edisi 7. Jakarta:


Salemba Medika

Pieter, H. Z. (2017). Dasar-Dasar Komunikasi Bagi Perawat. Jakarta: Kencana

Pratiwi, JN., & Rahmah, AZ. (2020). Potensi tanaman cermai dalam mengatasi
asma. Jurnal Penelitian Perawat Profesional, 2 (2), 147-154.

Purnamasari, N., Istichomah., & Utami, DP. (2020). Hubungan komunikasi


terapeutik perawat dengan kepuasan pasien di ruang rawat inap kelas II dan
III RSUD Wonosari Yogyakarta. Jurnal ilmiah keperawatan 1(2), 1-17.

Purnomo, D., Abidin, Z., & Ardianto, R. (2019). Pengaruh nebulizer, infrared dan
terapi latihan pada penyakit paru obstruktif kronik (PPOK) Et causa asma
bronkial. Jurnal Fisioterapi Widya Husada Semarang, 1(2), 60-69.

Purpasari, SFA. (2019). Asuhan Keperawatan pada pasien dengan gangguan


sistem pernapasan. Yogyakarta. Pustaka Baru Press
77

Rengganis, I., Hartana, A., & Kurnia, FN. (2019). Faktor pencetus kejadian alergi
pernapasan pada pasien dewasa di RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo.
Jurnal Sumberdaya Hayati, 5 (2), 72-80.

Ridwan M. (2017). Mengenal dan Menjaga kesehatan Pernapasan. Jakarta:


Lontar Mediatama.

Rihiantoro. (2017). Pengaruh pemberian bronkodilator inhalasi dengan


pengenceran dan tanpa pengenceran NaCL 0,9% terhadap fungsi paru pada
pasien asma. Junal Keperawatan, X (1).

Rohmah, N., & Walid, S. (2019). Proses Keperawatan Berbasis Kkni. Semarang:
AR-Ruzz Media

Santosa, A., & Endiyono (2017). Evaluasi Penggunaan Oksigen Sebagai


Penghasil Uap Terapi Nebulizer Pada Pasien Asma. Jurnal Publikasi
Kebidanan Akbid YLPP Purwokerto. pp. 1-7.

Santoso, A., & Endiyono. (2018). Status respirasi pasien asma yang mendapatkan
nebulisasi menggunakan jet nebulizer dibandingkan dengan nebulizer
menggunakan oksigen. Jurnal Publikasi Kebidanan Akbid Ylpp
Purwokerto, 38(4), 187-191.

Satria, M & Sahrudi. (2020). Posisi semi fowler menurunkan frekuensi Napas
pasien asma ronkial. Journal Antara Keperawatan, 3 (2), 60-65.

Shokry, Aa., Saeed,H., Rabea, H. (2020). Efektivitas Nebulizer Dan Kemanjuran


Pemberian Bronkodilator Terhadap Penurunan Sesak Napas Dan
Peningkatan Volume Ekspansi Paru Pada Pasien Asma. Journal Of Drug
Delivery Science And Technology, 2(6), 1-4.

Sholichah, ADU. (2018). Perbedaan frekuensi nadi terhadap waktu intubasi


setelah pemberian fentanyl pada pasien general anestesi. Jurnal kesehatan
politeknik, 3(1), 80-89.

Siregar, I HY. (2020). Penanganan Gawat Darurat Bagi Perawat Gigi. Bogor:
Lindan Bestari.

Siti L., Handayani, S., & Bakri,H. (2018). Keefektifan pemberian nebulizer terapi
combivent dan terapi bisolvon terhadap petensi jalan napas pada pasien
asma bronkial di ruang IGD BBKPM Makassar. Jurnal Keperawatan
Global, 3 (2), 86-97.

Snyder, H. (2019). Literature Review as a Research Methodology: An Overview


and Guidelines. Journal Of Business Research, 104, 33-339.
78

Sulistiyowati, MAE. (2016). Pelaksanaan advokasi perawat dalam informed


consent di rumah sakit islam sultan agung semarang. Jurnal Ilmiah
Keperawatan, 3(2) 188-194.

Suprapto. (2020). Kepatuhan perawat dalam menggunakan alat pelindung diri


dasar APD (handscoon dan masker) di ruangan UGD RSUD Pangkep.
Jurnal Keperawatan Sandi karsa Makassar, 6(3), 1-8.

Surahman, Rachmat, M., & Supardi, S. (2016). Modul Bahan Ajar Cetak Farmasi
Metodologi Penelitian. Jakarta: Pusdik SDM Kesehatan.

Suryadinata, RV & Lorensia, A. (2018). Panduan Lengkap Penggunaan Macam-


macam Alat Inhaler pada Gangguan Pernapasan. Surabaya: M-Brothers
Indonesia.

Suryani, L., & Permana, L. (2020). Peningkatan perilaku perawat melalui


pengetahuan dalam menjalankan prinsip pemberian obat dua belas benar.
Journal Of Health Science, 5(2), 79-85.

Syafriati, A., & Setiawan, WR. (2020). Faktor-faktor penyebab terjadinya asma
yang berulang. Jurnal Ilmiah Multi Science Kesehatan, 12 (2).

Syajaah, J. (2018). Penggunaan alat peraga sederhana untuk meningkatkan


pemahaman siswa tentan konsep energy panas pada pembelajaran IPA.
Jurnal Elementaria Edukasia, 1(1), 30-37.

Syutrika AS., Onibala, F., & Nurmansyah, M. (2020). Pengaruh pemberian


nebulisasi terhadap frekuensi pernapasan pada pasien gangguan saluran
pernafasan. Jurnal Keperawatan (JKP), 8 (1).

The Global Asthma Report 2018. Auckland, New Zealand: Global Asthma
Network, 2018

Wahyuni, S . (2017). Faktor-faktor yang berhubungan dengan asma broncial pada


anak di Ruang Sakura Rumah Sakit PTPN II Bangkatan Binjai. Jurnal Riset
Hesti Medan, 2 (1).

Wardani, B. (2017). Sistem Pernapasan pada Tubuh Manusia. Yogyakarta: Inti


Media

Wardani, WI., Setyorini, Y., & Rifai, A. (2018). Gangguan pola napas tidak
efektif pada pasien congestive heart failure (CHF). Jurnal Poltekkes
Kemenkes Surakarta, 2(3), 99-113.

Wibowo, A. (2017). Hubungan antara faktor resiko pajanan lingkungan dengan


kasus eksaserbasi asma bronkial di Pringsewu, Lampung. Jurnal
Keperawata Unila, 1 (3).
79

Widiastutik, DU., Ningsih, TW., & Najib, M. (2017). Eksaserbasi asma pada
pasien asma di wilayah kerja puskesmas pacar keeling [Link]
Keperawatan, Vol. x, No. 3, pp.140-146.

World Health Organization WHO. (2017). Chronic respiratory diseases.


Diperoleh dari [Link]

Yanti, SN., Musawaris, RF., & Natakusumawati, G.(2017). Kepatuhan Terapi


Kortikosteroid Inhalasi Pasien Asma Bronkial Persisten Dampaknya
Terhadap Derajat Obstruksi Saluran Napas Di RSUD Dokter Soedarso
Pontianak. Naskah Publikasi, Universitas TanjungPura, Pontianak.

Yudha, AU. (2018). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Sistem Respirasi.
Yogyakarta: Deepublish.

Yunitasari,EW. (2019). Perbaikan sistem belajar mahasiswa pada mata kuliah


statistic industry dengan metode plan, do, check, action (PDCA). Industrial
Engineering Journal Of The University of Sarjanawiyata Tamansiswa 2019
3 (2), 66-67.

Zahroh, R., & Istiroha. (2019). Asuhan Keperawatan pada Kasus Hematologi.
Surabaya: CV. Jakad Publishing.
LAMPIRAN

80
Lampiran 1 Jadwal Rencana Kegiatan
JADWAL RENCANA KEGIATAN
DESEMBER JANUARI FEBRUARI MARET APRIL MEI JUNI JULI AGUSTUS
NO KEGIATAN
2021 2021 2021 2021 2021 2021 2021 2021 2021
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
Pengajuan
1
Judul
Penyusunan
2
Proposal
Pengumpulan
3
Proposal
4 Ujian Proposal
Revisi
5
Proposal
Literature
6
Review
Penyusunan
7
SPO
Pengumpulan
8
SPO
Ujian Hasil
9 Pengembangan
SPO
Revisi
10 Pengembangan
SPO
Lampiran 2 Surat Pernyataan Plagiarisme

SURAT PERNYATAAN PLAGIARISME


Lampiran 3 Lembar Observasi

LEMBAR OBSERVASI

PENGEMBANGAN STANDAR PROSEDUR OPERASIONAL TERAPI


INHALASI NEBULIZER TERHADAP PENURUNAN SESAK
NAPAS PADA PASIEN ASMA

Pasien
Hari Ke
RR Pre Test RR Post test

1.

2.

3.

4.

5.
Lampiran 4 Informed Consent

INFORMED CONSENT
(Persetujuan menjadi partisipasi)

Saya yang bertandatangan di bawah ini menyatakan bahwa saya telah

mendapat penjelasan secara rinci dan telah mengerti mengenai penelitian yang

akan dilakukan oleh Esti Qomariah dengan judul “Pengembangan Standar

Prosedur Operasional (SPO) Terapi Inhalasi Nebulizer Terhadap Penurunan

Sesak Napas pasda Pasien Asma”.

Saya memutuskan setuju untuk ikut berpartisipasi pada penelitian ini secara

suka rela tanpa paksaan. Bila selama penelitian ini saya menginginkan

mengundurkan diri, maka saya dapat mengundurkan sewaktu-waktu tanpa

sanksi apapun.

Jakarta,……………2021

Saksi Yang memberikan persetujuan

(………………..) (………………)

Peneliti

Esti Qomariah

NIRM 18067
Lampiran 5 Lembar Hadir Opponent
LEMBAR HADIR OPPONENT
Nama: Esti Qomariah

NIRM: 18067
Lampiran 6 Standar Prosedur Operasional (SPO)

STANDAR PROSEDUR OPERASIONAL (SPO)

No Aspek Yang Dinilai Gambar ilustrasi

1 A. Fase Pra Interaksi


1. Mempersiapkan alat
a. Mesin nebulizer
b. Cairan Steril.
c. Obat sesuai program dokter
d. Bengkok
e. Mencuci tangan.
2 B. Fase Orientasi
1. Memberikan salam dan memperkenalkan
diri.
2. Melakukan identifikasi pasien dengan
menanyakan (nama, tanggal lahir, dan
mencocokkan dengan identitas pasien).
3. Melakukan kontrak waktu.
4. Menjelaskan tujuan dan prosedur
pelaksanaan.
5. Menanyakan perasaan klien untuk
dilakukan tindakan.
6. Mendekatkan alat-alat.
3 C. Fase Kerja
1. Mencuci tangan.
2. Menggunakan handscoon.
3. Mengatur posisi klien.
4. Menghubungkan kabel power nebulizer ke
terminal listrik, pastikan mesin nebulizer
menyala.
5. Memasukkan obat sesuai dosis yang
dibutuhkan ke dalam face mask nebulizer
lalu tutup kembali dengan cara diputar.
6. Memonitor uap atau obat (dengan cara
menghidupkan mesin nebulizer lihat
apakah sudah ada uap yang keluar dari face
mask nebulizer)
7. Mengenakan facemask nebulizer dengan
benar kepada klien.
8. Mengobservasi keadaan klien selama terapi
dilakukan.
9. Menanyakan kepada klien apakah sesaknya
mulai berkurang.
10. Bila sudah selesai, alat dirapikan.
4 D. Fase Terminasi
1. Mengevaluasi respon klien (menanyakan
kepada klien bagaimana pak/bu setelah
dipasang alat nebulizer apakah sesak
berkurang).
2. Memberikan reinforcement positif
3. Membuat kontrak pertemuan dengan baik
4. Merapikan alat
5. Mencuci tangan.
5 E. Evaluasi
1. Evaluasi adanya tanda-tanda sesak napas.
2. Evaluasi respon klien.
6 F. Dokumentasi
1. Catat waktu pelaksanaan.
2. Catat obat yang digunakan.
(Sumber: Anggraini, 2019)
Lampiran 7 Standar Operasional Prosedur (SOP)

STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR TERAPI INHLASI


NEBULIZER

NO STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR


1 Melakukan wawancara dan observasi.
2 Mengukur frekuensi napas pasien sebelum tindakan
3 Mencatat frekuensi napas pasien di lembar observasi
4 Melakukan terapi Inhalasi nebulizer dengan cara:
a. Mengidentifikasi identitas pasien sebelum melakukan tindakan.
b. Mengidentifikasi terapi obat sesuai dengan program dokter.
c. Mencuci tangan.
d. Memberikan posisi semi fowler sebelum tindakan nebulizer.
e. Menghubungkan alat nebulizer dengan listrik.
f. Memasukkan obat kedalam face mask.
g. Memasang masker dan tunggu selama 10 menit.
h. Mengobservasi keadaan klien selama terapi.
i. Masker dilepas.
j. Membersihkan Alat-alat.
k. Mengevaluasi keadaan pasien.
(Sumber: Alvi, RY & S.I, Agustina, 2017)
Lampiran 8 Standar Operasional Prosedur (SOP)

STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR TERAPI INHALASI


NEBULIZER

NO STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR


1 Menyampaikan maksud dan tujuan penelitian
Mengidentifikasi kesediaan responden dengan memberikan Informed
2 Consent

3 Melakukan persiapan pasien


Tempatkan pasien pada posisi tegak/ 40-90 derajat yang memungkinkan
4 ventilasi dan pergerakan diafragma maksimal.
Kaji suara napas, pulse rate, status respirasi dan saturasi oksigen sebelum
5 medikasi diberikan.
Kaji Heart rate selama pengobatan, jika heart rate meningkat 20x/menit,
6 hentikan terapi nebulizer.
Instruksikan pasien untuk mengikuti prosedur dengan benar, lakukan
7 perlahan, napas dalam dan tahan napas saat inspirasi puncak beberapa
saat.
8 Melakukan prosedur terapi nebulizer dengan cara:
a Menyiapkan alat.
b Melihat data atau status klien.
c Mengkaji kesiapan klien untuk dilakukan terapi nebulizer
d Menjaga privasi.
e Mencuci tangan.
f Memakai sarung tangan.
Pasang selang nebulizer dan tube kemudian masukkan obat ke dalam
g nebulizer sesuai program.
Ditambahkan/ dicampur dengan saline steril/aquades sebanyak 1-2 ml
h ke nebulizer sesuai program
Hubungkan nebulizer ke listrik dan hidupkan alat nebulizer tunggu
i sampai kabut yang keluar sedikit tipis
j Pasang face mask kepada klien.
k Pandu klien untuk mengikuti teknik bernapas yang benar.
Lanjutkan pengobatan sampai kabut tidak lagi diproduksi/selama 20
l
menit
Evaluasi dengan mengkaji ulang suara napas, pulse rate, saturasi
m oksigen dan respiratory rate
(Sumber: Siti, L., Handayani., & Herman, B, 2018)
Lampiran 9 Daftar Tilik Standar Operasional Prosedur (SOP)

DAFTAR TILIK STÁNDAR OPERASIONAL PROSEDUR


INHALASI NEBULIZER
NILAI
No. ASPEK YANG DINILAI BOBOT
0 1 2

A ALAT
1. Set nebulizer
2. Obat bronkodilator 5
3. Bengkok
4. Spuit 5 cc
5. Aquades
6. Tissue
B Tahap Pra Interaksi
1. Melakukan verifikasi data dan program pengobatan
pasien 1
2. Mencuci tangan 1
3. Mempersiapkan dan menempatkan alat di dekat 1
pasien
C Tahap Orientasi
1. Memberikan salam sebagai pendekatan terapeutik
2. Menjelaskan tujuan dan prosedur tindakan pada 1
keluarga/pasien 2
3. Menanyakan kesiapan pasien sebelum kegiatan 1
dilakukan
D Tahap Kerja
1. Mengatur pasien dalam posisi duduk 4
2. Menempatkan meja/troly di depan pasien yang 3
berisi set nebulizer
3. Mengisi nebulizer dengan aquades sesuai takaran 5
4. Memastikan alat dapat berfungsi dengan baik 3
5. Memasukkan obat sesuai dosis 5
6. Memasang masker pada pasien 4
7. Menghidupkan nebulizer dan meminta pasien nafas 6
dalam sampai obat habis
8. Memasangkan masker pada pasien 1
9. Meminta pasien nafas dalam sampai obat 3
habis/ waktu selama 15-20 menit.
10. Observasi pasien selama diberikan tindakan 4
terapi
11. Memberikan minum air hangat setelah 4
tindakan nebulizer
12. Bersihkan mulut dan hidung dengan tissue 4
E Tahap Terminasi
1. Membereskan alat-alat 1
2. Berpamitan dengan pasien 1
3. Mencuci tangan 1
4. Dokumentasi keperawatan 1
Total 62

(Sumber: Santosa, A., & Endiyono, 2017 & 2018)


Lampiran 10 Standar Prosedur Operasional (SPO)

STANDAR PROSEDUR OPERASIONAL (SPO)


TERAPI INHALASI NEBULIZER TERHADAP PENURUNAN
SESAK NAPAS PADA PASIEN ASMA
NO STANDAR PROSEDUR OPERASIONAL (SPO)
1 Memberi salam dan memperkenalkan diri.
2 Mengidentifikasi identitas pasien sebelum melakukan tindakan.
3 Menjelaskan prosedur dan tujuan kegiatan kepada pasien.
4 Melakukan kontrak waktu.
5 Menanyakan persetujuan dan kesiapan pasien (Informed Consent).
6 Menyiapkan ruangan yang tenang dan nyaman.
7 Menyiapkan Alat-alat.
8 Memberikan posisi semi fowler.
9 Mencuci tangan 6 langkah.
10 Memakai Handscoon.
11 Mengukur frekuensi nafas sebelum tindakan menggunakan flowmeter.
12 Mencatat hasil frekuensi nafas di lembar observasi.
13 Mendekatkan alat-alat kepasien.
14 Sambungkan nebulizer pada listrik.
Menyambungkan nebulizer pada selangnya, lalu selang nebulizer pada masker
15
sungkup.
16 Memasukkan obat ke dalam sungkup sesuai dosis.
Mengisi sungkup nebulizer dengan aquades NaCL 0,9 % sebanyak 2 cc
17
menggunakan spuit 3cc
Menghidupkan nebulizer dan menunggu sampai kabut sedikit keluar dan berikan
18
masker sungkup ke pasien
19 Menganjurkan pasien menghirup obat dalam nebulizer.
20 Mengobservasi keadaan pasien selama terapi dilakukan 5-10 menit.
21 Memberitahukan kepada pasien bahwa tindakan sudah selesai.
Memberikan kumur-kumur dan minum air putih hangat setelah tindakan
22 nebulizer.
Mengukur frekuensi nafas menggunakan flowmeter 15 menit setelah dilakukan
23 tindakan
24 Merapikan alat-alat.
25 Melepaskan sarung tangan.
26 Mencuci tangan kembali.
27 Melakukan kontrak untuk kunjungan selanjutnya
28 Dokumentasi hasil evaluasi.
(Esti Qomariah, 2021)
Lampiran 11 Bagan Standar Prosedur Operasional (SPO)

“Bagan Standar Prosedur Operasional (SPO)


Terapi Inhalasi Nebulizer Terhadap Penurunan
Sesak Napas pada Pasien Asma”

Menjelaskan prosedur Menanyakan Menyiapkan Memberikan


Melakukan Menyiapkan
dan tujuan kegiatan persetujuan dan ruangan yang posisi semi
kontrak waktu Alat-alat
kepada pasien kesiapan pasien tenang dan fowler
(Informed nyaman
Consent)
Mencatat hasil Mengukur frekuensi Memakai Mencuci tangan 6
Mengidentifikasi frekuensi nafas nafas sebelum Handscoon langkah
identitas pasien di lembar tindakan
sebelum melakukan observasi menggunakan Menyambungkan Memasukkan
tindakan flowmeter
Standar nebulizer pada obat ke
selangnya, lalu dalam
Prosedur selang nebulizer
Mendekatkan Sambungkan sungkup
Memberi salam dan Operasional alat-alat ke pasien nebulizer pada pada masker sesuai dosis.
memperkenalkan diri. (SPO) listrik. sungkup.

Merapikan alat- Memberitahukan Mengobservasi Mengisi sungkup


Melepaskan alat. kepada pasien keadaan pasien nebulizer dengan
sarung tangan. bahwa tindakan selama terapi aquades NaCL 0,9
sudah selesai. dilakukan 5-10 % sebanyak 2 cc
Dokumentasi menit. menggunakan spuit
Melakukan Mencuci tangan Mengukur
hasil evaluasi. 3cc
kontrak kembali. frekuensi nafas
untuk menggunakan
Memberikan
kunjungan flowmeter 15
kumur-kumur dan Menganjurkan
selanjutnya menit setelah Menghidupkan nebulizer
minum air putih pasien
dilakukan dan menunggu sampai
hangat setelah menghirup obat
tindakan kabut sedikit keluar dan
tindakan nebulizer. dalam
nebulizer. berikan masker sungkup
ke pasien
Lampiran 12 Daftar Riwayat hidup

Daftar Riwayat Hidup

A. Identitas

Nama : Esti Qomariah

NPM : 18067

Jenis Kelamin : Perempuan

Tempat/Tanggal Lahir : Bukittinggi, 12 April 2000

Agama : Islam

E-mail : estiqomariah1718@[Link]

B. Riwayat Pendidikan

Tahun 2005-2006 : TK Pertiwi

Tahun 2006-2012 : SDN Palmerah 13 Pagi

Tahun 2012-2015 : SMP Negeri 101 Jakarta

Tahun 2015-2018 : SMK Negeri 17 Jakarta

Tahun 2018-2021 : Akademi Keperawatan Pelni Jakarta


Lampiran 13 Catatan dan Masukan
Seminar Proposal
No Pertanyaan Catatan & masukan

Kenapa Memilih judul pengembangan Standar Kenapa ambil judul ini? harus
1 Prosedur Operasional (SPO Terapi Inhalasi ada alasanya
Nebulizer Terhadap Penurunan Sesak Napas Tambahkan jurnal penelitian di
pada Pasien Asma? bab 1.
Tujuan yang hakiki dalam
pelaksanaan ini apa? Tujuan
2 Apa tujuan khusus dalam pelaksanaan SPO?
ada 4 lalu 1-3 tujuan oke tetapi
yang no 4 harus di hapus.
Dalam penulisan judul dosen
Peran Esti sebagai perawat apa dalam kondisi pembimbing di lembar
3
ini? persetujuan sinkronkan dengan
kata pengantar.
Perbaiki urutan konsepnya,
pengertian, etiologi, faktor
4 Peran Esti sebagai koordinator, educator apa?
resiko, (patofisiologi,
manifestasi klinis, komplikasi)
Hilangkan SOP fase terminasi
Di ruangan yang berperan sebagai coordinator
5 bismillah di ganti karena tidak
siapa?
semua pasien muslim.
Daftar pustaka diganti spasinya
6 Ceritakan tentang patofisiologi asma? 1 jarak antar buku yang 1 ke
buku yang satu lagi 2
Masukkan jurnal penelitian di
7 Pemeriksaan penunjangnya apa? urutkan dari tahun terkecil
sampai terbesar.
Tidak boleh memakai sumber
8 Pernah melihat pemeriksaan spirometri?
2013, diganti yang terbaru.
Masukkan penelitian tentang
9 Daftar pustaka spasi berapa?
apa dan hasilnya seperti apa.
Singkatan di perbaiki kalau
Jelaskan hasil jurnal penelitian yang
10 ISPA tulisanya huruf awalnya
menyatakan judul ini efektif?
besar.
Point E di hapus karena sama
11 Apa sih tujuan umum esti?
dengan tujuan umum.
Manfaat pada masyarakat itu
12 Apa sih tujuan khusus esti? SPOnya bisa digunakan oleh
masyarakat.
13 Point E apakah sama dengan tujuan umum? Pelajari sistem penulisan.
Tambahkan rentang frekuensi
14 Manfaat untuk masyarakat apa?
sesak napas
Ganti SPO dibab 2 yang ada
tentang mangkok, menyetel
15 Manfaat metodologi itu apa ya?
tombol pencampuran.
Perbaiki panah di kerangka
Dalam konsep sesak napas apakah ada rentang
16 konsep dari alat ukur ke arah
sesak napas?
asma
Masing-masing SPO di analisa
17 Spo memakai metode alat yang mana? mana yang ada mana yang tidak
ada (melengkapi)
18 Panah asma menimbulkan alat ukur?
Ceritakan metode yang kamu lakukan dalam
19
penulisan ini?

Catatan dan Masukan


Seminar Hasil Karya Tulis Ilmiah
No. Pertanyaan Catatan & Masukan
Kata menghisap di ganti
dengan menghirup karena
1 Apa pengertian nebulizer? kalau menghisap itu dari
mulut, nah kalau menghirup
itu dari hidung.
Jadi nebulizer adalah uap obat
yang diberikan pada pasien
2 Tujuan dari nebulizer apa?
pasien yang mengalami
sumbatan jalan napas.
Tambahkan dalam tinjauan
Kenapa pada pasien asma sering dilakukan
3 teoritis syarat-syarat
terapi nebulizer?
pemberian 6 benar obat.
Dalam pengembangan SPO
tuliskan saja cairan steril yang
Apa sih ciri-ciri adanya peningkatan sputum
4 digunakan, agar orang yang
saat dilakukan auskultasi?
membaca tau cairan apa yang
di pakai.
Dilihat kembali berapa
Jika dilakukan pemeriksaan AGD apanya yang maksimal sumber yang
5
meningkat dalam darah? dimasukkan dalam kerangka
konsep.
Dalam tinjauan teori
masukkan skala derajat sesak
napas yang ada di flowmeter.
6 Apa saja syarat-syarat pemberian obat? Sebaiknya sebelum dilakukan
nebulizer, lakukan pengukuran
derajat sesak napas terlebih
dahulu.
Tambahkan dalam konsep
nebulizer nilai skala normal
7 Cairan steril yang biasa di pakai apa?
batasan kekuatan pernapaan
menggunakan flowmeter.
Kesimpulan untuk point ke 3
Apa saja yang ditanyakan saat melakukan
8 itu diganti menjadi tersusunya
identifikasi pada pasien?
pengembangan SPO
pemberian terapi inhalasi
nebulizer
Posisi seperti apa yang diharapkan pada pasien Untuk lembar konsul, Tanda
9
yang dilakukan terapi nebulizer? tanganya harus TTD asli.
Dalam kerangka konsep apakah semua sumber Tambahkan SPO punya esti di
10 harus dimasukkan? Berapa maksimal yang dalam lampiran cantumkannya
harus di masukan? tidak perlu pakai rasional.
Perbaiki tanggal yang tertera
Apakah derajat sesak napas ditentukan dari
11 dalam surat persetujuan dewan
flowmeter?
penguji.
Untuk pengetikan nama dosen
12 Apa yang dimaksud dengan PDSA? ke NIDN itu jaraknya pakai 1
spasi.
Untuk abstrak, tujuan: di ganti
menjadi tersusunya
pengembangan SPO, Metode:
literature review jabarkan isi
plan disingkat namun
Bagaimana kita memberitahukan kepada
dicantumkan semuanya, Hasil:
13 pasien untuk menghirup uap yang diberikan?
menyebutkan bahwa
Karena biasanya pasien orang awam.
tersusunya Pengembangan
SPO terapi Inhalasi Nebulizer
pada pasien asma.
Diperbaiki abstrak Indonesia
dan inggrisnya.
Masukkan plan yang di bab 3
ke dalam judul sebelum tabel
pengembangan (namun di
14 Menghirup uap itu melalui apa? singkat) jaraknya hanya 1
spasi. Jadi adakan dahulu
penjelasan baru masuk dalam
tabel.
Diubah ukuran tulisan dan
tabel harus sesuai dengan
margin 4433, ukuran tulisan
15 Set nebulizer apa saja?
jadi 11, diatur kembali
penulisanya

Dalam tabel penelitian untuk


intervensi langsung
Ada berapa langkah-langkah SPO yang esti
cantumkan saja intervensi
16 kembangkan? Coba ceritakan 28 langkah itu
nebulizer bukan langkah-
dari mana?
langkah melakukan
penelitiannya.
Dalam rencana kegiatan di
lampiran untuk ujian hasilnya
di cantumkan saja karena ini
17 Apa saja sih isi dari abstrak?
kan rencana, jadi harus
dimasukkan.
Dalam lampiran setiap sop
judul kan berbeda, maka buat
18 Apa yang dikerjakan dalam Bab 4? satu persatu dalam
lampirannya jangan di
satukan.
19 SPO 5 jurnal ini di peroleh dengan cara apa?
Dari 5 jurnal ini SPO siapa yang kamu
20
kembangkan?
Dalam rencana kegiatan sekarang kamu lagi
21
apa?
Standar prosedur operasional itu dilampiran
22
yang mana ya?

Common questions

Didukung oleh AI

Komponen utama yang harus diperiksa sebelum memulai terapi inhalasi nebulizer menurut SPO meliputi mengidentifikasi identitas pasien, mencuci tangan untuk memastikan kebersihan, dan menilai kesiapan pasien. Selain itu, verifikasi terapi obat yang akan diberikan dan persiapan alat yang benar merupakan langkah penting sebelum memulai terapi .

Metode PDSA digunakan dalam pengembangan SPO terapi inhalasi nebulizer melalui empat tahapan: Plan - menetapkan target dan sasaran yang ingin dicapai, mengumpulkan jurnal terkait pengembangan SPO; Do - menerapkan intervensi yang direncanakan; Study - mempelajari hasil dan proses dari implementasi; dan Act - menindaklanjuti hasil studi untuk perbaikan lebih lanjut. Proses ini memastikan penerapan SPO yang lebih efektif .

Manfaat utama pengembangan Standar Prosedur Operasional (SPO) dalam terapi inhalasi nebulizer bagi pasien asma adalah memberikan panduan yang tepat dan efektif untuk menurunkan sesak napas. SPO ini diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilan bagi tenaga kesehatan dan masyarakat, memudahkan implementasi terapi ini secara benar, dan memberikan informasi yang berguna bagi pasien untuk mengurangi sesak napas .

Tahapan evaluasi setelah terapi inhalasi nebulizer meliputi mengevaluasi tanda-tanda sesak napas dan menilai respons pasien terhadap terapi. Dokumentasi juga dilakukan dengan mencatat waktu pelaksanaan dan obat yang digunakan untuk analisis lebih lanjut mengenai efektivitas intervensi yang telah dilakukan .

Informed consent penting dalam pelaksanaan terapi inhalasi nebulizer karena memberikan informasi yang dibutuhkan kepada pasien mengenai proses dan tujuan tindakan medis. Hal ini memastikan pasien memahami dan setuju secara sukarela terhadap tindakan yang akan dilakukan, sehingga meningkatkan kepercayaan dan meminimalkan kecemasan pasien selama prosedur berlangsung .

Perilaku caring perawat memiliki dampak terapeutik yang signifikan selama terapi inhalasi nebulizer. Pendekatan ini dapat meningkatkan interaksi sosial dan penerimaan pasien, mengurangi kecemasan, serta meningkatkan kepatuhan pasien terhadap pengobatan. Perilaku caring juga berkontribusi terhadap kepuasan pasien dalam proses perawatan .

Penggunaan jet nebulizer lebih unggul dibandingkan nebulizer yang menggunakan oksigen karena jet nebulizer menunjukkan hasil yang lebih baik dalam menurunkan frekuensi napas dari 30x/menit menjadi 25x/menit. Selain itu, jet nebulizer juga dapat meningkatkan kadar SpO2 dalam darah dan secara signifikan memperbaiki pola pernapasan dari suara ronchi menjadi vesikuler .

Implikasi klinis dari penelitian terhadap penatalaksanaan terapi inhalasi nebulizer mencakup peningkatan kompetensi tenaga kesehatan dalam pemberian asuhan keperawatan yang lebih efektif untuk pasien asma. Terapi ini diharapkan dapat diterapkan secara lebih luas sebagai intervensi standarisasi yang terbukti secara ilmiah efektif untuk menurunkan sesak napas, sehingga memperbaiki kualitas hidup pasien .

Faktor risiko yang dapat memengaruhi timbulnya asma meliputi faktor genetik atau keturunan, lingkungan, obesitas, dan jenis kelamin. Identifikasi faktor ini penting dalam kerangka konseptual pengembangan SPO terapi inhalasi nebulizer, karena pengendalian faktor risiko dapat membantu mencegah eksaserbasi asma .

Literatur review dalam pengembangan Standar Prosedur Operasional (SPO) untuk terapi inhalasi nebulizer digunakan untuk mengumpulkan dan mensintesis data dari penelitian sebelumnya. Proses ini bertujuan untuk memperoleh intisari terkait langkah-langkah yang paling tepat dan efektif dalam pengelolaan sesak napas pada pasien asma, memberikan pemahaman yang lebih baik tentang prosedur, dan merumuskan panduan yang akurat berdasarkan temuan terkini .

Anda mungkin juga menyukai