992
ULIL ALBAB : Jurnal Ilmiah Multidisiplin
Vol.1, No.5, April 2022
Gambaran Kadar Enzim Aspartat Aminotransferase (Ast) Dan
Enzim Alanin Aminotransferase (Alt) Pada Pasien Penderita Sirosis
Hati Di Rumah Sakit Efarina Etaham Berastagi
Dian Permata Nasution
Universitas Efarina, Pematang Siantar, Indonesia
E-mail: dianpermata@[Link]
Article History: Abstract: Cirrhosis of the liver is a condition in which
Received: 12 Maret 2022 the liver slowly deteriorates which continues over a
Revised: 19 Maret 2022 long period of time (chronic). The cells and liver tissue
Accepted: 20 Maret 2022 that is damaged and then turned into scar tissue so
that the function of the liver will progressively
decrease. This research is an observational
Keywords: AST and ALT descriptive by using medical records of patients with
enzyme levels, liver cirrhosis. liver cirrhosis at the Efarina Etaham Berastagi
Hospital, in January-July 2019. The sample of the
study is 25 samples. The results obtained by patients
with liver cirrhosis highest proportion based on male
sex (80%), based on age, age group 40-50 years
(28%), 51-60 years (64%) Based on AST levels 21
respondents (84% ), Based on ALT levels of 22
respondents (88%). Conclusions from the results of
the study, the examination should be done several
times to get accurate results.
PENDAHULUAN
Hati merupakan organ padat yang terbesar yang letaknya di rongga perut bagian kanan atas. Organ
ini mempunyai peran yang penting karena merupakan regulator dari semua metabolisme karbohidrat,
protein dan lemak. Tempat sintesa dari berbagai komponen protein, pembekuan darah, kolesterol,
ureum dan zat-zat lain yang sangat vatal. Selain itu, juga merupakan tempat pembentukan dan
penyaluran asam empedu serta pusat pendetoksifikasi racun dan penghancuran (degradasi) hormon-
hormon steroid seperti estrogen. Di Indonesia, Sirosis hepatis yang disebabkan oleh infeksi virus
Hepatitis B insidennya sangat tinggi yaitu: 13 juta orang, hal ini disebabkan karena Indonesia
merupakan negara endemisitas tinggi Hepatitis B. Indonesia juga merupakan negara dengan penderita
Hepatitis B tertinggi ketiga setelah China dan India. Diperkirakan di Universitas Sumatera Utara 3 dari
100 orang di Indonesia 10 diantaranya telah terinfeksi virus hepatitis B (Kemenkes, 2014).
Menurut studi Global Burden Disease 2010, sirosis hepatis menyebabkan 31 juta kecacatan
sesuai tahun kehidupan atau Disability Adjusted Life Years (DALYs), atau 1,2% dari DALYs dunia
dan 2% dari seluruh kematian didunia pada tahun 2010 (Mokdad et al., 2014). Sirosis hepatis
termasuk dalam 20 penyebab kematian terbanyak di dunia, mencakup 1,3% dari seluruh kematian
di dunia dan 5 besar penyebab kematian di Indonesia (WHO, 2010). Dua macam enzim
aminotransferase yang sering digunakan dalam diagnosis klinik kerusakan sel hati adalah Aspartat
Aminotransferase (AST) yang disebut SGOT (Serum Glutamic Oxaloasetic Transaminase) dan
Alanin Aminotransferase (ALT) yang juga disebut SGPT (Serum Glutamic Pyruvic Transaminase).
……………………………………………………………………………………………………………………………………..
ISSN : 2810-0581 (online)
993
ULIL ALBAB : Jurnal Ilmiah Multidisiplin
Vol.1, No.5, April 2022
Dari hasil observasi banyaknya penderita sirosis hati di Rumah Sakit Efarina Etaham Berastagi
dalam jangka waktu 1 bulan membuat. Maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian dengan
judul “Gambaran kadar enzim Aspartat Aminotransferase (AST) dan Alanin Aminotransferase
(ALT) pada pasien penderita sirosis hati di Rumah Sakit Efarina Etaham Berastagi”
TINJAUAN PUSTAKA
A. Sirosis Hati
Sirosis hepatis adalah penyakit hati yang kronik dan progresif, ditandai dengan
pembentukan jaringan fibrosis (skar) dan nodul (Black & Hawks, 2009). Sirosis terjadi
akibat nekrosis hepatoselular. Jaringan penunjang retikulin kolaps disertai deposit jaringan
ikat, distorsi jaringan vaskular, dan regenerasi nodularis parenkim hati. Sirosis
menunjukkan tahap akhir dari berbagai penyakit hati seperti hepatitis kronik dan alkoholik.
Sirosis hati adalah suatu kondisi medis yang ditandai dengan terbentuknya jaringan parut
pada hati sebagai akibat dari kerusakan hati yang terus menerus dan
berkepanjangan..Apabila Sirosis hati sudah parah, sebagian besar struktur hati yang normal
mengalami perubahan bentuk atau menjadi hancur. Hal ini dapat menimbulkan masalah
penting misalnya pendarahan usus, pembekuan darah yang tidak normal, penumpukan
cairan dalam perut dan kaki dan kekacauan pikiran karena hati tidak dapat lagi menyaring
zat racun dalam tubuh (Sievert, 2010).
B. Patogenesis
Menurut Setiadi (2007) Berdasarkan etiologisnya Sirosis hati dapat sibagi menjadi
1. Sirosis hati karena infeksi Virus Hepatitis. Hepatitis B ,C, dan D dapat berkembang
menjadi Sirosis hati. Bertahannya virus adalah penyebab utama berkembangnya
Sirosis hati. Untuk berkembang dari Hepatitis menjadi Sirosis hati, mungkin hanya
membutuhkan beberapa bulan hingga 20-30 tahun.
2. Sirosis Alkoholik, pasien terkena Sirosis hati diakibatkan karena mengkonsumsi
minuman beralkohol secara berlebihan dalam jangka waktu yang lama.
3. Sirosis hati akibat Hepatitis autoimun, pada keadaan ini ditandai dengan adanya
antibodi antinukleus (antinuclear antibody) atau antibodi anti-otot polos (anti-
smooth-muscle antibody) pada tubuh pasien. Karena adanya antibodi-antibodi itu
dalam tubuh pasien akan mengakibatkan terjadinya radang hati dan akhirnya dapat
berkembang menjadi Sirosis hati.
4. Sirosis hati karena toksik dan obat. Mengkonsumsi obat-obatan dalam jangka
panjang atau kontak berulang dengan racun kimia seperti fosfor, arsenikum, 12
karbon tetraklorida dan lainnya, dapat menimbulkan peradangan hati karena racun
sehingga akhirnya berkembang menjadi Sirosis hati.
C. Aspartat Aminotransferase (AST)
SGOT (Serum Glutamic Oxaloacetic Transam inase )atau juga dinamakan AST (Aspartat
Aminotransfe rase) merupakan enzim yang dijumpai dalam otot jantung dan hati, sementara
dalam konsentrasi sedang dijumpai pada otot rangka, ginjal dan pankreas. Konsentrasi
rendah dijumpai dalam darah, kecuali jika terjadi cedera seluler, kemudian dalam jumlah
banyak dilepaskan ke dalam sirkulasi. Pada infark jantung, SGOT/AST akan meningkat
setelah 10 jam dan mencapai puncaknya 24-48 jam setelah terjadinya infark.
D. Alanin Aminotransferase (ALT)
SGPT (Serum Glutamic Pyruvic Transaminase) atau juga dinamakan ALT (Alanin
Aminotransferase) merupakan enzim yang banyak ditemukan pada sel hati serta efektif
……………………………………………………………………………………………………………………………………..
ISSN : 2810-0581 (online)
994
ULIL ALBAB : Jurnal Ilmiah Multidisiplin
Vol.1, No.5, April 2022
untuk mendiagnosis destruksi hepatoseluler. Enzim ini dalam jumlah yang kecil dijumpai
pada otot jantung, ginjal dan otot rangka.
Pada umumnya nilai tes SGPT/ALT lebih tinggi dari pada SGOT/AST pada kerusakan
parenkim hati akut, sedangkan pada proses kronis didapat sebaliknya. SGPT/ALT serum
umum nya diperiksa secara semi otomatis dengan Hematologi Mindray. Nilai rujukan
untuk SGPT/ALT adalah:
• Laki-laki :4-46 U/L
• Perempuan : 4-46 U/L.
METODOLOGI PENELITIAN
A. Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang dilakukan adalah penelitian observasional deskriptif
pemeriksaan AST dan ALT pada penderita sirosis hati.
B. Waktu dan Tempat Penelitian
1. Waktu Penelitian
Pengambilan data dalam penelitian ini dilakukan pada bulan juni-juli 2019.
2. Tempat Penelitian
Penelitian dilakukan di Rumah Sakit Efarina Etaham Berastagi
C. Populasi Dan Sampel Penelitian
1 Populasi Penelitian
Populasi dalam penelitian ini adalah semua pasien sirosis hati di Rumah Sakit
Efarina Etaham Berastagi.
2 Sampel Penelitian
Sampel pada penelitian ini diambil dengan mengunakan teknik total sampling, yaitu
pada seluruh penderita sirosis hati dilakukan pemeriksaan AST dan ALT.
D. Teknik Pengumpulan Data
Jenis data yang dikumpulkan dalam penelitian ini adalah data sekunder yang
diperoleh dengan cara mengumpulkan rekam medis pasien.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Penelitian ini dilakukan di Rumah Sakit Efarina Etaham Berastagi Pada bulan Januari-Juli
2019, dengan jumlah sampel sebanyak 25 orang. Pemeriksaan kadar enzim AST dan ALT dengan
mengunakan alat mindray BA 88A. Pemeriksaan kadar enzim AST dan ALT dilakukan dengan
tujuan untuk melihat adanya kerusakan pada hati. Pasien Penderita Sirosis hati yang melakukan
Pemeriksaan di Rumah Sakit Efarina Etahan Berastagi dapat dibedakan berdasarkan beberapa
karakteristik, diantaranya
1. Karakteristik Berdasarkan Jenis kelamin
2. Karakteristik Berdasarkan Usia
3. Karakteristik Berdasarkan Kadar AST
4. Karakteristik Berdasarkan Kadar ALT
1. Karakteristik Berdasarkan Jenis Kelamin
Tabel 1. Karakteristik berdasarkan Jenis Kelamin
Jenis Kelamin Frekuensi Persentase Rata-Rata Kadar Rata-Rata Kadar
AST (U/L) ALT (U/L)
Laki-laki 20 Orang 80 % 50 (U/L) 59 (U/L)
……………………………………………………………………………………………………………………………………..
ISSN : 2810-0581 (online)
995
ULIL ALBAB : Jurnal Ilmiah Multidisiplin
Vol.1, No.5, April 2022
Perempuan 5 Orang 20 % 47 (U/L) 58 (U/L)
Jumlah 25 orang 100 %
Dari hasil tabel penelitian didapatkan bahwa dari 25 responden yang dijadikan sebagai
sampel terdapat 20 orang laki-laki dengan rata-rata kadar AST nya adalah 50 U/L dan rata-rata
kadar ALTnya adalah 59 U/L. Selanjutnya terdapat 5 orang perempuan dengan rata-rata kadar
AST nya 47 U/L dan rata-rata kadar ALT nya adalah 58 U/L Jumlah kadar normal ALT adalah
4-46 U/L. Hasil penelitian menunjukan bahwa terdapat beberapa pasien yang dinyatakan positif
pengidap sirosis hati.
2. Karakteristik Berdasarkan Usia
Tabel 2. Karakteristik berdasarkan usia
Usia Frekuensi Persentase Rata –Rata Rata-Rata
Kadar AST (U/L) Kadar ALT (U/L)
40-50 7 28 % 49 (U/L) 55 (U/L)
51-60 16 64 % 49 (U/L) 61 (U/L)
> 61 2 8% 52 (U/L) 59 (U/L)
25 100 %
Berdasarkan hasil penelitian didapatkan bahwa pasien berdasarkan karakteristik usia
memiliki kadar AST dan ALT yang berbeda-beda, dimana 7 orang responden berusia 40-50
tahun memiliki rata-rata kadar AST 49 (U/L) dan ALT 55(U/L) 16 orang responden berusia
51-60 tahun memiliki rata-rata kadar AST 49 (U/L) dan ALT 61 (U/L) dan 2 orang responden
berusia > 61 tahun memiliki rata-rata kadar AST 52 U/L dan ALT 59 U/L. Hal ini menunjukan
bahwa sebagian respoden mengidap penyakit sirosis hati dimana kadar normal AST adalah 4-
40 U/L dan ALT 4-46 U/L.
3. Karakteristik Berdasarkan Kadar AST
Tabel. 3 Distribusi Frekuensi berdasarkan kadar AST
Kriteria Frekuensi Persentase Rata-Rata
Kadar AST (U/L)
Normal 4 16 % 40 U/L
(4-40 U/L)
Tinggi 21 84% 52 U/L
> 4-40 U/L
Jumlah 25 100%
Sumber: Laboratorium RS Efarina Etaham Berastagi
Dari Tabel 3 didapat bahwa dari 25 responden terdapat 4 orang responden dengan kadar
AST yang normal yaitu 40 U/L dan 21 orang responden dengan kadar AST 52 U/L. Dimana
kadar normal AST adalah 4-40 U/L. Yang mempengaruhi tinggi nya kadar AST terhadap
penyakit sirosis hati adalah Hal ini disebabkan karena terganggunya permeabilitas membran
sel, nekrosis sel hepatosit serta peningkatan kerusakan mitokondria akibat alcohol.
4. Karakteristik Berdasarkan Kadar ALT
Tabel 4. Distribusi Frekuensi berdasarkan kadar ALT
Kriteria Frekuensi Persentase Rata-Rata
Kadar ALT (U/L)
Normal 3 12 % 46 U/L
(4-46 U/L)
……………………………………………………………………………………………………………………………………..
ISSN : 2810-0581 (online)
996
ULIL ALBAB : Jurnal Ilmiah Multidisiplin
Vol.1, No.5, April 2022
Tinggi 22 88 % 61 U/L
> 4-46 U/L
Jumlah 25 100 %
Sumber: Laboratorium RS Efarina Etaham Berastagi
Dari Tabel 4 didapatkan bahwa dari 25 responden terdapat 3 orang responden dengan
kadar ALT yang normal yaitu 46 U/L dan 22 orang responden dengan kadar ALT 61 U/L Dimana
kadar normal ALT adalah 4-46 U/L. Yang mempengaruhi tingginya kadar ALT terhadap penyakit
sirosis hati adalah Hemolisis pada sampel, karena adanya masalah pada organ hati, empedu,
jantung.
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa:
1. Hasil nilai kadar AST dan ALT pada penderita sirosis hati di Rumah Sakit Efarina Etaham
Berastagi dengan 25 orang responden, menunjukan hasil bahwa sebanyak 7 orang pasien
dengan kadar AST dan ALT yang normal, 21 pasien mengalami peningkatan kadar AST,
22 pasien mengalami peningkatan kadar ALT.
2. Ketidaknormalan AST dan ALT dapat disebabkan oleh beberapa penyakit seperti hepatitis
fulminan, nekrosis hati berat, MCI (Miocard Infark),miokarditis, kardiomiopati, penyakit
berat termasuk septikemia, malaria, sirosis hati, metastasis neoplasma ke hati, penyakit
otot, setelah trauma otot, pankreatitis akut, hepatitis karena obat, hepatitis karena virus,
nekrosis sel hati karena keracunan, sirosis, sumbatan saluran empedu, kongesti liver karena
cardiac failure ataupun kerusakan otot rangka.
DAFTAR PUSTAKA
Black, M .J. & Hawks, H .J., 2009. Medical surgical nursing : clinical management for Continuity
of care, 8 th ed. Philadephia : W.B. Saunders Company.
Cahyono JBSB. 2009. Hepatits A. Yogyakarta : Kanisius Yogyakarta
Karina, 2007. Faktor Resiko Kematian Penderita Sirosis Hati Di Rsup Dr. Kariadi
Semarang Tahun 2002-2006.
Kemenkes. 2014 Pusat data informasi kesehatan Republik Indonesia. Situasi dan analisis hepatis.
Jakarta
Kosasih, E.N dan A.S Kosasih. 2008. Tafsiran Hasil Pemeriksaan Laboratorium Klinik edisi kedua.
Karisma Publishing Group:Tangerang
Nurdjanah, S. 2014 Sirosis hepatis, Dalam: Sudoyo AW, Setiyohadi B, Alvi Simadibra MK, Setiati
S, editor. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Edisi ke 6 Jakarta: Departemen Ilmu penyakit
Dalam Fakultas Kedokteran Indonesia
Riswanto. 2009 SGPT Dan SGOT (Serum Glutamic Pyruvic Transminase dan Serum Glutamic
Oxaloacetic Transminase), Kedokteran Indonesia.
Setiati, 2007. Anatomi Dan fisiologi Tubuh Manusia. Yogyakarta : Graha Ilmu
Sievert, wiliam; Korman, M.G. ; Bolin, Terry, 2010. Segala Sesuatu Tentang Hepatitis, Jakarta :
Arcan.
WHO, 2010. The global burden of diases 2010. [Link] – diakses Agustus 2016
……………………………………………………………………………………………………………………………………..
ISSN : 2810-0581 (online)