MAKALAH
METODE DALAM PENDAMPINGAN
Untuk memenuhi salah satu tugas Mata Kuliah Teknik Pendampingan PMI
Dosen Pengampu : Dr. Deden Sumpena, [Link].
Disusun Oleh :
Naufal Rifqi Assausan 1204040083
Syarifatul Ilya 1204040112
Yuni Sakila Hamidah 1204040122
PRODI PENGEMBANGAN MASYARAKAT ISLAM
FAKULTAS DAKWAH DAN KOMUNIKASI
UIN SUNAN GUNUNG DJATI BANDUNG
2023
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan nikmat
dan karunia-Nya sehingga saya dapat mengerjakan dan menyelesaikan makalah ini. Shalawat
serta salam semoga terlimpah curah kepada Nabi Muhammad SAW, kepada keluarganya,
sahabatnya, hingga kepada kita selaku umatnya.
Adapun judul dari makalah singkat ini adalah “Metode dalam Pendampingan”.
Makalah ini disusun guna memenuhi tugas Mata Kuliah Teknik Pendampingan PMI yang
diampu oleh Bapak Dr. Deden Sumpena, [Link].
Penulis menyadari bahwa masih banyak kesalahan dalam penyusunan makalah ini,
baik dari segi EBI, kosakata, tata bahasa, etika maupun isi. Maka dari itu penulis sangat
mengharapkan kritik dan saran seluas-luasnya dari pembaca yang kemudian akan penulis
jadikan sebagai evaluasi.
Demikian semoga makalah ini bisa diterima sebagai wawasan atau pengetahuan yang
menambah kekayaan intelektual dalam bidang kajian pendampingan masyarakat. Semoga
makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca dan juga untuk penulis sendiri.
Bandung, Maret 2023
Penulis
i
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR...............................................................................................................i
DAFTAR ISI.............................................................................................................................ii
BAB I.........................................................................................................................................1
PENDAHULUAN.....................................................................................................................1
1.1. Latar Belakang.....................................................................................................................1
1.2. Rumusan Masalah...............................................................................................................2
1.3. Tujuan..................................................................................................................................2
BAB II.......................................................................................................................................3
PEMBAHASAN.......................................................................................................................3
2.1. Pengertian Pendampingan..................................................................................................3
Tahapan Pendampingan Pada Masyarakat..................................................................................5
2.3. Metode dalam Pendampingan............................................................................................7
2.4. Jenis-jenis Kegiatan Pendampingan...................................................................................8
BAB III....................................................................................................................................10
PENUTUP...............................................................................................................................10
3.1. KESIMPULAN..................................................................................................................10
DAFTAR PUSTAKA.............................................................................................................11
ii
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Pemberdayaan masyarakat merupakan salah satu upaya mempersiapkan
masyarakat agar mampu mewujudkan kemajuan, kemandirian dan kesejahteraan
dalam suasana keadilan sosial yang berkelanjutan. Implementasi dari pemberdayaan
itu sendiri sangat bervariasi, tergantung kebutuhan dari waktu ke waktu. Tren
program pemberdayaan masyarakat saat ini adalah memposisikan masyarakat sebagai
pelakuutama, sehingga masyarakat itu sendiri yang menentukan kebutuhan dan
prioritas yang diinginkannya.
Pemberdayaan masyarakat dapat memberikan akses kepada masyarakat,
lembaga dan organisasi masyarakat dengan memperoleh dan memanfaatkan hak
masyarakat bagi peningkatan kualitas kehidupannya, karena penyebab
ketidakberdayaan masyarakat disebabkan oleh keterbatasan akses, kurangnya
pengetahuan dan keterampilan serta adanya kondisi kemiskinan yang dialami oleh
sebagian masyarakat. (Suhartini dkk, 2005) Pola pemberdayaan yang komprehensif
mengharuskan bagi semua komponen yang memiliki kepedulian terhadap masyarakat
miskin untuk melakukan perubahan dalam segala sisi kehidupannya. Pendekatan yang
dilakukan dalam memberdayakan masyarakat miskin melalui pendekatan battom up
dimana pada tataran pelaksanaan di lapangan dilakukan melalui inisiatif dan aspirasi
dari masyarakat. Pemberdayaan masyarakat paradigma pemberdayaan masyarakat
inilah yang mengisyaratkan perlunya memampukan masyarakat menjadi masyarakat
yang mandiri.
Salah satu upaya memberdayakan adalah dengan meningkatkan kemampuan
masyarakat melalui pendampingan. Pendampingan pada dasarnya merupakan upaya
untuk menyertakan masyarakat dalam mengembangkan berbagai potensi yang
dimiliki sehingga mampu mencapai kualitas kehidupan yang lebih baik. Tenaga
pendamping ditempatkan sebagai fasilitator, komunikator, motivator dan dinamisator.
Selain diarahkan untuk memfasilitasi proses pengambilan keputusan yang
terkaitdengan kebutuhan masyarakat, para pendamping diharapkan dapat membangun
kemampuan dalam meningkatkan pendapatan, melaksanakan usaha yang berskala
bisnisserta mengembangkan perencanaan dan pelaksanaan kegiatan secara partisipatif.
1
1.2. Rumusan Masalah
1. Pengertian pendampingan
2. Tahapan pendampingan pada masyarakat
3. Metode dalam pendampingan
4. Jenis-jenis kegiatan pendampingan
1.3. Tujuan
1. Mengetahui pengertian pendampingan
2. Mengetahui tahapan pendampingan pada masyarakat
3. Mengetahui Metode dalam Pendampingan
4. Mengetahui jenis-jenis kegiatan pendampingan
2
BAB II
PEMBAHASAN
[Link] Pendampingan
Pendampingan menurut Direktorat Bantuan Sosial adalah suatu proses
pemberian kemudahan yang diberikan pendamping kepada klien dalam
mengidentifikasi kebutuhan dan memecahkan masalah serta mendorong tumbuhnya
inisiatif dalam proses pengambilan kepuutusan, sehinggan kemandirian dapat
diwujudkan. Pendampingan merupakan strategi yang sangat menentukan keberhasilan
program pemberdayaan masyarakat, sesuai dengan prinsip yakni membantu orang.
Dalam konteks kali ini ditugaskan sebagai pendamping bukan pemecah masalah.
Menurut Sumodiningrat pendampingan merupakan kegiatan yang diyakini mampu
mendorong terjadinya pemberdayaan fakir miskin secara optimal. Perlunya
pendampingan dilatarbelakangi oleh adanya kesenjangan pemahaman diantara pihak
yang memberikan bantuan dengan sasaran penerima bantuan. Pendampingan sebagai
strategi pemberdayaan dapat dilakukan melalui :
a. Peningkatan kesadaran dan pelatihan kemampuan
Peningkatan kesadaran masyarakat dapat dicapai melalui pendidikan dasar,
pemasyarakatan imunisasi dan sanitasi, sedangkan untuk masalah ketrampilan
bisa dikembangkan melalui cara-cara partisipatif. Sementara pengetahuan lokal
yang dimiliki masyarakat melalui pengalaman mereka dapat dikombinasikan
dengan pengetahuan yang dari luar. Hal-hal seperti ini dapat membantu
masyarakat miskin untuk menciptakan sumber penghidupan mereka sendiri dan
membantu meningkatkan ketrampilan dan keahlian mereka sendiri.
b. Mobilisasi Sumber modal
Merupakan sebuah metode untuk menghimpun sumber-sumber individual
melalui tabungan reguler dan sumbangan sukarela dengan tujuan menciptakan
modal sosial. Ide ini didasari pandangan bahwa setiap orang memiliki sumbernya
sendiri yang jika dihimpun dapat meningkatkan kehidupan sosial ekonomi secara
substansial
Mengapa istilah “pendampingan‟ muncul dalam kosakata pengembangan
masyarakat? Barangkali pertanyaan ini perlu kita lontarkan untuk mengingat kembali
bagaimana proses kemunculan istilah ini merupakan kritik terhadap cara kerja para
3
petugas penyuluhan (extension worker) yang semata-mata hanya melakukan kegiatan
penyampaian informasi dan teknologi kepada masyarakat. Dari kritik terhadap
penyuluhan konvensional seperti ini berkembang istilah petugas penyuluh
lapangan/PPL (extension field worker) dengan maksud untuk memberi arti yang lebih
luas dari sekedar penyuluhan, tetapi juga diserta pendampingan sosial (misalnya:
pendampingan dan pembentukan organisasi seperti kelompok tani).
Istilah petugas penyuluh lapangan/PPL saat ini digunakan pemerintah untuk
petugas yang bekerja sebagai penyuluhan pertanian. Pada prakteknya, PPL
pemerintah ini hanya melakukan kegiatan penyuluhan saja. Sementara, di kalangan
LSM lebih berkembang penggunaan istilah petugas lapangan/PL (field worker) yang
tugasnya jauh lebih luas dari hanya sekedar melakukan penyuluhan teknis saja.
Sejalan dengan perkembangan wacana mengenai metodologi pendekatan program,
istilah petugas lapangan (PL) juga menjadi lebih bervariasi. PL seringkali disebut
sebagai pendamping masyarakat atau petugas yang menjalankan sejumlah pekerjaan
pengembangan masyarakat. PL juga seringkali disebut fasilitator masyarakat
(community facilitator/CF) karena tugasnya lebih sebagai pendorong, penggerak,
katalisator, motivator masyarakat, sementara pelaku dan pengelola kegiatan adalah
masyarakat sendiri.
Istilah pendampingan berasal dari kata kerja “mendampingi” yaitu suatu
kegiatan menolong yang karena sesuatu sebab butuh didampingi. Sebelum itu istilah
yang banyak dipakai adalah “Pembinaan”. Ketika istilah pembinaan ini dipakai
terkesan ada tingkatan yaitu ada pembina dan ada yang dibina, pembinaan adalah
orang atau lembaga yang melakukan pembinaan. Kesan lain yang muncul adalah
pembina adalah pihak yang aktif sedangkan yang dibina pasif atau pembina adalah
sebagai subyek dan yang dibina adalah obyek. Oleh karena itu ketika istilah
pendampingan dimunculkan, langsung mendapat sambutan positif dikalangan praktisi
pengembangan masyarakat. Karena kata pendampingan menunjukkan kesejajaran
(tidak ada yang satu lebih dari yang lain), yang aktif justru yang didampingi sekaligus
sebagai subyek utama, pendampingan lebih bersifat membantu saja. Pendampingan
merupakan aktivitas yang selalu dilakukan oleh kelompok-kelompok sosial seperti
pengajaran, pengarahan atau pembinaan dalam kelompok dan bisa menguasai,
mengendalikan serta mengontrol orang-orang yang mereka dampingi. Karena dalam
4
pendampingan lebih pada pendekatan kebersamaan, kesejajaran, atau kesederajatan
kedudukan. (BPKB. Pendampingan masyarakat. Jawa Timur. 2001; 5).
Menurut Deptan (2004) dalam skripsi Astuti Reni (2012:13), pendampingan
adalah kegiatan dalam pemberdayaan masyarakat dengan menempatkan tenaga
pendamping yang berperan sebagai fasilitator, komunikator, dan dinamisator.
Pendampingan pada umumnya merupakan upaya untuk mengembangkan masyarakat
di berbagai potensi yang dimiliki oleh masing-masing masyarakat untuk menujuk
kehidupan yang lebih baik dan layak. Selain itu pendampingan berarti bantuan dari
pihak lain yang sukarela mendampingi seseorang atau pun dalam kelompok untuk
memenuhi kebutuhan dan pemecahan masalah dari masing-masing individu maupun
kelompok.
Pendampingan pada intinya didasari oleh prinsip pemihakan kepada kelompok-
kelompok masyarakat yang marginal, tertindas dan dibawah untuk menjadikan
mereka mempunyai posisi tawar sehingga mampu memecahkan masalah dan
mengubah posisinya. Pendampingan dengan konsep mencakup upaya perbaikan
kualitas hidup rakyat yang diukur dari peningkatan kesejahteraan ekonomi,
partisipasi.
Pada hakekatnya pendampingan merupakan kegiatan membantu,
mengarahkan,mendukung terhadap individu/kelompok masyarakat miskin dalam
merumuskan masalah,merencanakan, melaksanakan dan melestarikan program
pendampingan diperlukan agar potensi yang terdapat dalam masyarakat dapat
dikembangkan secara optimal. (Gunawan Sumodiningrat, 1999)
Tahapan Pendampingan Pada Masyarakat
Keberhasilan membangun kepercayaan, tidak terlepas dari pengetahuan dan
keterampilan yang dimiliki oleh pekerja sosial dan pendamping. Keteraturan dan
kesinambungan urutan tahapan dalam proses pendampingan menjadi kunci sukses
pendampingan. Tahapan yang diutarakan di atas antara beberapa LSM satu dengan
lainnya agak mirip, menurut Adi (2003,h.250-258) ”secara umum dari beberapa
tahapan yang dilakukan oleh LSM, pada dasarnya tahapan yang dilakukan mencakup
beberapa tahapan, sebagai berikut:
1. Tahapan Persiapan
Tahap ini mencakup tahap penyiapan petugas (yang dimaksudkan untuk
menyamakan persepsi antar anggota tim agen perubah mengenai pendekatan apa
5
yang akan dipilih dan penyiapan lapangan, yang bertugas melakukan studi
kelayakan terhadap daerah yang akan dijadikan sasaran, baik dilakukan secara
informal maupun formal.
2. Tahap Assesment
Mencakup proses pengidentifikasian masalah (kebutuhan yang dirasakan/felt
needs) dan juga sumber daya yang di miliki klien.
3. Perencanaan Altenatif Program atau kegiatan
Tahap ini agen perubah secara partisipatif mencoba melibatkan warga untuk
berpikir tentang masalah yang mereka hadapi dan bagaimana cara
mengatasinya.
4. Tahap Pemformulasian Rencana Aksi
Pada tahap ini agen perubah (community worker) membantu masing-masing
kelompok untuk merumuskan dan menentukan program dan kegiatan apa yang
akan mereka lakukan untuk mengatasi permasalahan yang ada.
5. Tahap Pelaksanaan (implementasi) Program, atau Kegiatan
Merupakan tahap pelaksanaan perencanaan yang telah dibuat dalam bentuk
program dan kegiatan secara bersama-sama oleh masyarakat/kelompok
dampingan.
6. Tahap Evaluasi
Merupakan proses pengawasan dari warga dan petugas terhadap program yang
sedang berjalan pada pengembangan masyarakat dan sebaiknya dilakukan dengan
melibatkan warga.
7. Tahap Terminasi
Merupakan tahap ‘pemutusan’ hubungan secara formal dengan komunitas sasaran.
Menurut zastrow (1982,h.484-486) mendampingi klien secara individu oleh
pendamping sangat dipengaruhi oleh tahapan yang dilakukan konselor dan dikenal
sebagai metode casework, yang terdiri 8 (delapan) tahapan yaitu:
1. Penyadaran akan adanya masalah (Problem awareness)
Klien harus dapat merasakan adanya masalah yang dialami dan belum mampu
mengatasinya.
2. Penjalinan relasi lebih mendalam dengan konselor (Relationship to conselor)
Klien diharapkan tumbuh kepercayaan kepada konselor yang akan membantunya.
3. Motivasi (Motivation)
6
Klien harus didukung dan dibangkitkan motivasinya untuk mengubah
kenyakinannya yang salah selama ini.
4. Pengkonseptualisasian Masalah (Conseptualizing the problem)
Klien harus menyadari bahwa setiap masalah akan dapat diselesaikan dengan
bantuan orang lain. Oleh karena itu konselor harus melakukan wawancara
mendalam dan menganalisis permasalahan yang dihadapi klien.
5. Eksplorasi strategi mengatasi masalah (Explorating of resolution strategies)
Konselor dan klien mencoba mengeksplorasikan berbagai macam cara untuk
mungkin digunakan untuk mengatasi masalah yang ia hadapi.
6. Penseleksian strategi mengatasi masalah (Selection of s strategy)
Konselor dan klien mendiskusikan dari berbagai cara yang ada untuk mengatasi
masalah yang ia hadapi, manakah cara yang akan di ambil.
7. Implementasi Masalah (Implementation of the strategies)
Klien menjalankan cara yang diambil, jika klien mau menjalankan serta
berkembang komitmennya mengatasi masalah, maka konseling dikatakan
berhasil.
8. Evaluasi (Evaluation)
Konselor harus dapat mengevaluasi setiap perubahan yang terjadi, dan
menyakinkan klien bahwa perubahan yang dialami adalah perubahan yang
bermakna dan diharapkan tetap melanjutkannya. Adapun tahapan tersebut terdapat
pada tabel sebagai berikut :
Tabel 2.1 Tahapan Pendampigan
Tahapan Pendampingan Menurut Adi Tahapan Pendampingan Menurut
(2003:250-258) Zastrow (1982:484-486)
1. Persiapan a) Problem Awareness
2. Asessment b) Relationship to counselor
3. Perencanaan Alternatif Program/ c) Motivation
Kegiatan d) Conceptualization the problem
4. Permformulasian Rencana Aksi e) Explorating of resoluiton strategies
5. Implementasi f) Selection of a strategies
6. Evaluasi g) Implementation of the strategy
7. Terminasi h) Evaluation
7
2.3. Metode dalam Pendampingan
Di dalam proses pelaksanaan pendampingan harus memiliki metode
Pendampingan yang harus disesuaikan dengan keadaan masyarakat yang harus
didampinngi. Metode pendampingan ini merupakan proses kegiatan agar terjadinya
pendampingan, metode pendampingan yang biasa digunakan dalam kegitan
pendampingan yaitu:
a) Konsultasi
Konsultasi adalah upaya pembantuan yang diberikan pendamping terhadap masyarakat
dengan cara memberikan jawaban, solusi dan pemecahan masalah yang dibutuhkan oleh
masyarakat.
b) Pembelajaran
Pembelajaran adalah alih pengetahuan dan sistem nilai yang dimiliki oleh pendamping
kepada masyarakat dalam proses yang disengaja.
c) Konseling
Konseling adalah membantu menggali semua masalah dan potensi yang dimiliki dan
membuka alternatif-alternatif solusi untuk mendorong masyarakat mengambil keputusan
berdasarkan pertimbangan yang ada dan harus berani bertanggung jawab bagi kehidupan
masyarakat. (Bintan, 2010)
Ada beberapa metode pendampingan yang disesuaikan dengan keadaan masyarakatnya :
2.4. Gaya Mengarahkan
Digunakan jika kondisi masyarakat tidak mau dan tidak mampumelakukan
2.5. Gaya partisipatif
Digunakan jika kondisi masyarakat tidak mau tetapi mampu melakukan
2.6. Gaya Konsultatif
Digunakan jika kondisi masyarakat mau melakukan tetapi tidak mampu
2.7. Gaya Delegatif
Digunakan jika kondisi masyarakat mau dan mampu melakukan
2.4. Jenis-jenis Kegiatan Pendampingan
Pendampingan yang dilaksanakan oleh PL/CF meliputi banyak jenis kegiatan.
Kegiatan teknis program (misalnya pertanian) seringkali menjadi kegiatan utama
seorang PPL, disertai dengan kegiatan-kegiatan lainnya (seperti pengelolaan program
mulai dari perencanaan sampai monev, pengembangan organisasi masyarakat baik
berupa kelompok tani, KSM/UB, sampai ke pengembangan jaringan seperti forum
petani atau jaringan pemasaran, yang disertai juga dengan pelatihan kepemimpinan
lokal agar mereka bisa mengelola organisasi-organisasi tersebut dengan baik). Dengan
8
semakin luasnya pekerjaan seorang pendamping atau PL/CF, muncul pertanyaan:
Apakah sebenarnya tugas utama seorang PL/CF? Apakah sebagai pelaksana transfer
informasi dan teknologi (penyuluh) atau sekaligus sebagai ahli (expert) dalam
penguasaan teknologi tertentu? Apakah hanya sebagai fasilitator masyarakat untuk
bisa mengakses sumber-sumber informasi dan teknologi yang tersedia, karena tugas
PL lebih sebagai pembuka katup-katup hubungan antara kelompok-kelompok
masyarakat dan antara masyarakat dengan berbagai institusi sosial-politik? Apakah
tugas PL untuk memberikan penyuluhan dan pelatihan teknis, ataukah fasilitator
pengembangan pembelajaran bersama yang lebih bersifat umum? Pertanyaan-
pertanyaan ini sebaiknya satu per satu dijawab untuk merumuskan apa tugas
pendamping/PL/CF dan akhirnya akan diuraikan menjadi jenis-jenis
kegiatanpendampingan yang akan dijalankannya.
9
BAB III
PENUTUP
3.1. KESIMPULAN
Pendampingan merupakan upaya untuk menyertai masyarakat
dalammengembangkan berbagai potensi yang dimiliki sehingga mampu mencapai
kualitaskehidupan yang lebih baik. Kegiatan pendampingan merupakan upaya
berkelanjutanyang dilakukan dalam rangka pemberdayaan masyarakat. Pendamping
merupakan salahsatu motivator bagi pengembangan masyarakat.
Didalam proses pelaksanaan pendampingan harus memiliki metode
Pendampingan yang harus disesuaikan dengan keadaan masyarakat yang harus
didampinngi. Metode pendampingan ini merupakan proses kegiatan agar terjadinya
pendampingan, metode pendampingan yang biasa digunakan dalam kegitan
pendampingan.
Keberhasilan membangun kepercayaan, tidak terlepas dari pengetahuan dan
keterampilan yang dimiliki oleh pekerja sosial dan pendamping. Keteraturan dan
kesinambungan urutan tahapan dalam proses pendampingan menjadi kunci sukses
pendampingan. Tahapan yang diutarakan di atas antara beberapa LSM satu dengan
lainnya agak mirip, menurut Adi (2003,h.250-258) persiapan, asessment, perencanaan
alternatif program/ kegiatan , permformulasian rencana aksi, implementasi, evaluasi,
terminasi.
10
DAFTAR PUSTAKA
Adi, (2003). Pemberdayaan, Pengembangan Masyarakat, dan Intervensi Komunitas:
Pengantar Pada Pemikiran dan Pendekatan Praktis. Jakarta: Lembaga Penerbit
Fakultas Ekonomi UI.
Direktorat Bantuan Sosial. 2007. Pedoman Pendamping Pada Rumah Perlindungan dan
Trauma Center. Jakarta: Departemen Sosial RI.
Gunawan Sumodiningrat. 1999. Pemberdayaan Masyarakat dan Jaringan Pengaman Sosial.
PT Gramedia Pustaka Utama; Jakarta
Reni, Astuti. 2012. Pola Pendampingan Lembaga swadaya Masyarakat (LSM) rumpun Tjoet
Njak Dien Yogyakarta Bagi Pekerja Rumah Tangga Berbasis Hak Asasi. Skripsi S1
Program Studi Pendidikan Sekolah Jurusan Pendidikan Luar Sekolah Universitas
Negeri Yogyakarta, dalam [Link] pada 15 Maret 2023
pukul 20.55 WIB
Hartini, R., Halim, A., Khambali, I., & Basyid, A. (2005). Model-model Pemberdayaan
Masyarakat. Yogyakarta: Pustaka Pesantren.
Zastrow, Charles. 1999. Introduction to Social Welfare Institutions (Social Problems,
Services, and Current Issues). Fourth Edition. Homewood, Illinois: The Dorsey Press.
Sumber Internet :
Bintan-s. Berbagai Metode Pendampingan. [Link]
[Link]. Diakses pada 15 Maret 2023 Pukul 22.15 WIB
11