CARA KOMUNIKASI ORANG TUA PEKERJA DENGAN ANAK DALAM
MENCEGAH TERJADINYA DAMPAK NEGATIF GADGET DI ZAMAN MILENIAL
Disusun oleh: Arliyani
NIM :171030702015020
PROGRAM STUDI ILMU KOMUNIKASI
SEKOLAH TINGGI ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK (STISIP)
NURDIN HAMZAH JAMBI
2020
BAB 1
PENDAHULUAN
Bab ini berisi latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian,
manfaat hasil penelitian, dan definisi operasional variabel.
A. Latar Belakang Masalah
Tak jarang saat ini banyakorang tua yang sering geleng-geleng kepala dan
bergumam, “Dasar anak zaman sekarang” saat melihatgenerasi millennial.
(sambung dg pengertian generasi milenial). Karakteristik generasi millennial
cenderung lebihmemilih menatap layar iPhone(smartphone)dari pada hanya
sekedar melihat orang yang duduk di depan meja makan bersamanya.
Satu dari 5 ibu jaman sekarang adalah generasi millennial, dan jumlahnya sekarang
mencapai hampir 90 persen dari 1,5 juta ibu baru. Artinya ada sekitar 9 juta
generasi millennial yang membesarkan anak dan menerapkan pola asuh anak
bergaya millennial.(bersumber dr mana?) Saat ini tidak sedikit ibu dengan kategori
umur milenial memiliki pola asuh yang sangat berbeda dengan pola asuh orang tua
atau ibu-ibu seperti zaman dahulu. Ibu millennial lebih cenderung menerapkan pola
asuh anak yang modern.
Pengaruheraglobalisasidanteknologimemberikan dampak terhadap bagaimana pola
asuh ibu- ibu zaman dahulu dan ibu milenial. Salah satunya dengan keberadaan
smartphoneatau gedget dengan segala [Link] pola asuh antara
ibu-ibu zaman dahulu dan ibu milenialmenghasilkan karakteristik dan perbedaan
terhadap sikap dan tingkahlaku [Link] sikap anak dengan pola asuh ibu
zaman dahulu seperti mendengarkan perkataan orang tua ketika didekatnya,
berinteraksi secara langsung, lebih peka terhadap lingkungan sekitarnya. Hal ini
kontras berbeda dengan anak zaman sekarangyang hobi memainkan gadget
sehingga dia tidak berinteraksi dengan sekitarnya.
Bahaya dari pengaruh teknologi, sudah di prediksi oleh ilmuwan terkenal yang
berkata “I fear the day technology will surpass our human interaction. The world
will have a generation of idiots” - Albert [Link] disimpulkan artinya “Aku
takut suatu hari teknologi akan melampaui interaksi [Link] akan memiliki
generasi idiot”.(sumber)
“Gadget” siapa yang tidak tahu tentang kata tersebut. Meski merupakan
bahasa asing, kata “Gadget” sendiri merupakan kata yang tidak asing ditelinga
kita. Biasanya ketika kita bertanya tentang pengertian gadget itu sendiri, sebagian
besar orang akan mengartikannya sebagai suatu alat yang digunakan untuk
mengakses atau menjalankan suatu program tertentu yang menarik dan bersifat
mengasah kreativitas. Alat yang digunakan untuk menjalankan atau
mengoprasikan aplikasi menarik seperti game, media social, dan beberapa
aplikasi pendukung kreativitas lainnya berupa ponsel, smartphone, PC, laptop
dan beberapa alat lainnya.
Berbicara tentang gadget pada era yang sangat modern dan serba internet
ini, tentunya bukan sesuatu yang aneh. Bahkan, jika kita perhatikan setiap
kalangan masyarakat baik kaya maupun miskin, tua maupun muda, semuanya
rata-rata memiliki gadget, khususnya ponsel dan smartphone yang digunakan
dalam keseharian. Berdasarkan survey yang dilakukan oleh DS annual startup
report pada tahun 2015 mengungkapkan bahwa saat ini terdapat 281,9 juta orang
yang aktif menggunakan ponsel di Indonesia. Jumlah itu menggambarkan bahwa
setiap orang diindonesia menggunakan sekitar 1,13 unit ponsel. Dengan adanya
1
2
ponsel dan smartphone segala aktivitas kita menjadi sangat terbantu. Bayangkan
saja, manusia bisa dengan mudah menemukan alamat yang kita tuju hanya
dengan mengoprasikan aplikasi GPS. Setiap manusia juga bisa menemukan dan
berhubungan dengan orang lain dalam jarak yang sangat jauh, hanya dengan
mengoperasikan aplikasi media social yang diinstal di smartphone yang dimiliki.
Bahkan sekarang, banyak sekali akun-akun media social seperti facebook,
instagram, dan twitter yang dipakai sebagai sarana untuk berbisnis. Melihat
beberapa alasan diatas, bisa dikatakan bahwa tidak ada alasan buat kita untuk
tidak memiliki gadget seperti smarthone, dan lain-lain.
Gadget tentunya sangat berguna bagi kita apabila kita tahu dan bijak
dalam menggunakan gadget untuk meningkatkan produktivitas kita ke arah yang
positif sebagai manusia. Melihat besarnya manfaat yang didapat dari adanya
gadget dalam kehidupan kita, tentunya kita akan sangat terbantu dan merasa
dipermudah untuk meningkatkan produktivitas diri. Namun, gadget juga
meninggalkan beberapa hal negatif seperti maraknya aksi penipuan
menggunakan media social dan internet, adanya kasus penculikan melalui media
social, mudahnya mengakses konten pornogravi dan masih banyak hal lain yang
patut untuk mendapat perhatian. Menyikapi kasus tentang mudahnya mengakses
konten pornogravi melalui gadget, pantaskah kita khawatir dengan anak-anak
yang masih duduk di sekolah dasar yang tidak menutup kemungkinan mereka
sudah memiliki gadget?
3
Berdasarkan pengamatan dari penulis, baik itu pada saat melakukan
kegiatan PPL di salah satu SD di Kabupaten Tanjung Jabung Timur Jambi,
maupun saat memperhatikan kebiasaan-kebiasaan anak usia sekolah dasar yang
tinggal di sekitar lingkungan rumah penulis, penulis menyimpulkan bahwa anak-
anak usia sekolah dasar saat ini sudah sangat familiar dengan gadget. Sebagai
buktinya, penulis pernah mendapati beberapa anak yang setiap hari hanya
melakukan aktivitas didepan gadget yang iya miliki maupun gadged yang dimilik
oleh orang tuanya. Mereka rata-rata sudah sangat pandai dalam mengoprasikan
beberapa aplikasi smartphone seperti game bahkan mereka juga sudah
mempunyai akun media social seperti facebook, instagram, BBM, twitter,
youtube dan sebagainya. Jika kita melihat kenyataan seperti itu, di gadget dengan
tidak menutup kemungkinan bahwa anak sekolah dasar yang mampu
mengoperasikan beberapa aplikasi lancar, bisa dengan gampang menemukan dan
mengakses aplikasi atau situs-situs pornografi yang sangat banyak jumlahnya di
internet dan terkoneksi dengan gadget.
Berbicara tentang penggunaan Gadget oleh anak, tentunya hal ini tidak
lepas dari peran serta orang tua didalamnya. Peran serta orang tua dalam hal ini
yaitu misalnya penyediaan gadget oleh orang tua terhadap anaknya. Hal ini juga
terlihat oleh penulis di lingkungan sekitar tempat tinggal penulis. Orang tua
terlihat lebih memilih memberikan gadget kepada anaknya untuk sarana bermain.
Hal ini menyebabkan anak bisa dengan mudah menggunakan gadget untuk
kepentingannya. Peran serta orang tua dalam hal penggunaaan gadget pada anak
4
juga ditunjukkan dengan memberikan pemahaman kepada anak tentang cara
memanfaatkan gadget secara bijaksana. Pemberian pemahaman kepada anak
tentang cara memanfaatkan gadget dengan bijaksana, bisa dan akan mudah
dilakukan apabila orang tua mengetahui serta menerapkan pola komunikasi yang
tepat tentang pemanfaatan gadget yang bijaksana oleh anak.
Melihat beberapa kenyataan di atas, maka penulis sangat tertarik
mengangkat judul “Komunikasi Orang Tua Kepada Anak dalam Mencegah
Terjadinya Dampak Negatif Gadget” dalam penelitian ini.
B. Identifikasi Masalah
Berangkat dari latar belakang masalah di atas, terkait dengan Pola
Komunikasi Orang Tua terhadap Anak untuk Mencegah Terjadinya
Dampak Negatif Gadget diidentifikasikan masalah berikut:
1. Adanya kesempatan untuk mengakses konten-konten pornografi melalui
internet yang terkoneksi dengan gadget yang digunakan oleh anak.
2. Adanya kemungkinan anak menjadi tergantung terhadap penggunaan gadget.
3. Banyak waktu yang sia-sia dihabiskan oleh anak ketika hanya sibuk dengan
gadget yang dimiliki.
4. Pola komunikasi dari orang tua yang tidak efektif dalam memberikan
pemahaman tentang cara pemanfaatan gadget yang bijaksana..
5. Kurangnya pengetahuan orang tua tentang cara pemanfaatan gadget yang
bijaksana, yang bisa meningkatkan kualitas pribadi anak kearah yang lebih
positif.
5
C. Pembatas Masalah
Dalam penelitian ini, fokus kajian diarahkan pada menjawab masalah-
masalah yang termuat pada butir nomer 1, 2, 4, dan 5 yang teridentifikasi di
atas khususnya masalah mengenai pola komunikasi orang tua yang tidak
efektif dalam memberikan pemahaman tentang pemanfaatan gadget secara
bijaksana.
D. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang tersebut, maka peneliti menyimpulkan
perumusan masalah sebagai berikut:
1. Bagaimana pemahaman orang tua terhadap pemanfaatan gadget yang tepat
pada anak?
2. Bagaimana cara orang tua dalam berkomunikasi, memberikan pemahaman
tentang penggunaan gadget yang tepat pada anak?
3. Hambatan apa saya yang dialami oleh orang tua dalam berkomunikasi pada
anak terkait upaya mencegah dampak negatif gadget?
4. Usaha apa yang dilakukan oleh orang tua untuk mencegah dampak negatif
gadget terhadap anak?
E. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini yaitu:
1. Untuk mengetahui sejauh mana pemahaman orang tua terhadap pemanfaatan
gadget yang tepat pada anak
6
2. Untuk mengetahui cara orang tua memberikan pemahaman kepada anak
tentang penggunaan gadget yang tepat dan bijaksana.
3. Mengetahui hambatan yang dialami oleh orang tua dalam memberikan
penjelasan pada anak tentang pemanfaatan gadget sehingga anak terhindar
dari dampak negative gadget tersebut..
4. Mengetahui usaha-usaha yang yang dilakukan orang tua untuk mencegah
dampak negatif gadget kearah yang salah oleh anak.
F. Manfaat Hasil Penelitian
Dengan adanya penelitian ini, peneliti berharap muncul beberapa manfaat
sebagai berikut:
1. Manfaat Teoritis
Penelitian ini diharapkan mampu memberikan sumbangan pengetahuan
tentang pola komunikasi orang tua terhadap anak dalam hal penggunaan dan
pemanfaatan gadget. Dengan adanya penelian ini kiranya pembaca bisa
mendapatkan gambaran tentang pola komunikasi yang umumnya dilakukan
oleh orang tua khususnya pada anak anak dalam hal pengguaan dan
pemanfaatan gadget.
2. Manfaat Praktis
a. Bagi Orang Tua
Penelitian ini diharapkan menjadi gambaran tantang bagaimana orang
tua menyikapi tentang pemanfaatan gadget pada anak. Penelitian ini
juga memberikan gambaran tentang bagaimana pola komunikasi yang
7
umumnya dilakukan oleh orang tua terkait pemanfaatan dan penggunaan
gadget oleh anakanak khususnya anak. Dengan adanya pengetahuan
tentang pola komunikasi yang umumnya dilakukan oleh orang tua
tersebut, pembaca khususnya orang tua bisa memilah-milah dan lebih
selektif dalam menerapkan cara berkomunikasi dengan anak dalam hal
pemanfaatan gadget yang lebih efektif dan bisa meningkatkan
produktivitas anak sebagai individu ke arah yang positif.
b. Bagi Anak
Dengan adanya penelitian ini, diharapkan bahwa anak mampu
mengetahui dan memahami tentang peran komunikasi yang dilakukan
oleh orang tua dalam hal penggunaan gadget.
c. Bagi Peneliti
Peneliti bisa mengetahui tentang pola komunikasi orang tua terhadap
anak dalam hal penggunaan gadget yang umumnya terjadi di
masyarakat.
G. Defenisi Istilah
Adapun definisi operasional variabel dalam penelitian ini yaitu:
1. Orang tua adalah orang yang dituakan, atau orang yang berperan dalam
melahirkan anak yang dalam hal ini yaitu ayah dan ibu. Orang tua juga
merupakan orang yang membesarkan anak, dan mengajarkan kepada anak
tentang hal-hal baik dan positif.
8
2. Anak secara umum bisa dikatakan sebagai seseorang yang dilahirkan sebagai
hasil perkawinan antara seorang ayah dan ibu.
3. Komunikasi berasal dari bahasa inggris yang memiliki asal usul kata dari
bahasa latin yaitu communis artinya milik bersama atau membagi yang
merupakan sebuah proses untuk membangun kebersamaan dan pengertian.
Kemudian secara terminologi, komunikasi adalah proses penyampaian suatu
pernyataan oleh satu pihak kepada pihak yang lainnya atau banyak pihak
supaya bisa terhubung dengan lingkungan yang ada disekitarnya.
4. Gadget sebagai suatu alat yang digunakan untuk mengakses atau
menjalankan suatu program tertentu yang menarik dan bersifat mengasah
kreativitas. Alat yang digunakan untuk menjalankan atau mengoprasikan
aplikasi menarik seperti game, media social, dan beberapa aplikasi
pendukung kreativitas lainnya berupa ponsel, smartphone, PC, laptop dan
beberapa alat lainnya.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
Pada bab ini dipaparkan mengenai hakekat komunikasi, pengertian keluarga,
komunikasi orang tua dan anak, pengertian gadget, manfaat dan kerugian dari gadget
serta cara mengatasi dampak negatif gadget pada anak.
A. Komunikasi
1. Sejarah
Hutagalung (2015:1), Pada awal kemunculannya ilmu komunikasi
adalah multidisipliner karena dipengaruhi oleh disiplin ilmu lain. Di bidang
kajian psikososial, topic-topik riset popular menyertakan kajian
komunikasi terhadap perilaku individu seperti persuasi, dinamika
kelompok, maupun propaganda.
Schramm (Hutagalung, 2015:2), membuat analogi yang menarik
mengenai pengaruh disiplin lain pada ilmu komunikasi. Ia menganalogikan
ilmu komunikasi seperti sebuah „oase’. Berbagai disiplin ilmu mendatangi
ilmu komunikasi karena ilmu komunikasi dipandang menarik. Dengan
adanya hubungan indisipliner tersebut,ilmu komunikasi berkembang dan
memiliki spesialisasi khusus, seperti komunikasi antarpribadi yang
memiliki hubungan erat dengan ilmu psikoligi sosial.
2. Pengertian Komunikasi
Menurut DeVito (2011) komunikasi mengacu pada tindakan oleh
satu orang atau lebih, yang mengirim dan menerima pesan yang terdistorsi
9
10
gangguan (noise), terjadi dalan suatu konteks tertentu, mempunyai
pengaruh tertentu, dan ada kesempatan untuk melakukan umpan balik.
Wollf (Priyanto, 2009 :7) berpendapat bahwa komunikasi merupakan
proses timbal balik suatu pengalaman dimana pengirim dan penerima pesan
berpartisipasi secara simultan.
Berdasarkan pendapat para ahli tersebut, maka dapat disimpulkan
bahwa komunikasi merupakan suatu proses penyampaian informasi antara
individu atau kelompok, baik secara verbal maupun nonverbal yang dapat
menimbulkan respons timbal balik antara pengirim dan penerima informasi
(Priyanto, 2009: 8)
3. Tujuan Komunikasi
Menurut DeVito (2011) ada empat tujuan komunikasi. Tujuan
komunikasi tersebut, antara lain:
a. Menemukan
Salah satu tujuan utama komunikasi menyangkut penemuan diri
(personal discovery.) Berkomunikasi dengan orang lain, berarti belajar
tentang diri sendiri dan orang lain. Dengan berbicara kepada orang lain,
kita memperoleh umpan balik yang berharga mengenai perasaan,
pemikiran, dan perilaku kita.
11
b. Untuk berhubungan
Perasaan ingin dicintai dan menyukai orang lain, membuat manusia
termotivasi untuk membina dan memelihara hubungan baik dengan
orang lain.
c. Untuk meyakinkan
Komunikasi dalam hal ini yaitu bertujuan untuk mengubah sikap dan
perilaku manusia.
d. Untuk bermain
Manusia menggunakan komunikasi untuk bermain dan menghibur
[Link] contoh, kita mendengarkan pelawak, pembicara, music dan
film melakukan komunikasi untuk menghibur.
4. Unsur-unsur komunikasi
Menurut Priyanto (2009), komunikasi memiliki unsur tertentu agar
maksud yang disampaikan tercapai dengan baik. Unsur-unsur tersebut yaitu
a. Sumber (source)
Sumber merupakan dasar yang digunakan dalam penyampaian pesan
dan fungsi sebagai rangka yang memperkuat pesan itu sendiri,
sehingga pesan yang diterima mempunyai tingkat validitas tinggi.
Sumber dapat berupa lembaga atau instansi, orang, buku, dokumen,
dan lain-lain.
12
b. Pesan
Pesan adalah serangkaian informasi yang ingin disampaikan oleh
komunikator. Pesan yang disampaikan mempunyai isi yaitu inti pesan
untuk mempengaruhi perilaku komunikan sesuai dengan tujuan yang
diharapkan komunikator. Keakuratan pesan ditentukan oleh faktor-
faktor sebagai berikut:
1) Penyampaian pesan
2) Bentuk pesan
c. Perumusan pesan
Pesan yang akan disampaikan harus tersusun baik, tepat, dan jelas
sehingga sesuatu yang diharapkan dapat tercapai.
d. Komunikator
Komunikator adalah seseorang ataupun kelompok yang
menyampaikan pesan kepada komunikan. Seorang komunikator dapat
menjadi komunikan dan sebaliknya komunikan dapat berperan sebagai
komunikator. Keberhasilan komunikator dipengaruhi oleh penampilan,
penguasaan pesan atau informasi, dan penguasaan bahasa pesan.
e. Media
Media adalah sarana dalam penyampaian pesan. Media dapat
berbentuk buku, brosur, pamflet, radio, televisi, laptop dan lain-lain.
13
f. Hasil
tor dapat dimengerti atau diterima oleh komunikan dan sesuai dengan
harapan komunikator.
5. Hambatan dalam Komunikasi
Segala sesuatu yang menghalangi kelancaran komunikasi disebut
sebagai gangguan (noise). Marhaeni Fajar (Nurdianti, 2014:4) ada
beberapa hambatan dalam komunikasi, yaitu:
a. Hambatan dari proses komunikasi
Hambatan dari proses komunikasi dibedakan lagi menjadi beberapa
bagian, antara lain:
1) Hambatan dari pengirim pesan.
2) Hambatan dalam pengandaian/symbol
3) Hambatan media. Hambatan yang terjadi dalam penggunaan
media komunikasi.
4) Hambatan dari penerima pesan.
b. Hambatan psikologis
Hambatan psikologis terdiri dari:
1) Hambatan Sosio-antro-psikologis
Proses komunikasi berlangsung dalam konteks
[Link] komunikator harus memperhatikan situasi
ketika komunikasi dilangsungkan, terutama situasi yang
14
berhubungan dengan factor-faktor sosiologis-antropologis-
psikologis.
2) Hambatan semantic
Hambatan semantic terdapat pada diri komunikator, menyangkut
bahasa yang digunakan oleh kominukator.
3) Hambatan mekanis
Hambatan mekanis dijumpai pada media yang dipergunakan
dalam melancarkan komunikasi.
4) Hambatan ekologis
Disebabkan oleh gangguan lingkungan terhadap proses
berlangsungnya komunikasi. Contohnya yaitu suara siuh orang-
orang di keramaian.
B. Komunikasi Antarpribadi (interpersonal)
1. Pengertian Komunikasi Antarpribadi (interpersonal)
Langkah awal memahami karakteristik unik dari komunikasi
interpersonal adalah dengan melacak makna dari kara interpersonal. Kata
interpersonal adalah turunana dari kata inter, yang berarti “antara”, dan
kata person yang berarrti “orang”. Dengan kata lain, komunikasi
interpersonal secara umum terjadi antara dua orang. Seluruh proses
komunikasi terjadi diantara beberapa orang, namun seluruh interaksi tidak
melibatkan seluruh orang di dalamnya secara akrab. Buber
15
(Wood, 2013:22) mengatakan interaksi sosial dibedakan dalam tiga
tingkatan yaitu:
a. Komunikasi I-it
Dalam komunikasi I-it, interaksi kita dengan orang lain sangat
tidak personal, bisa dikatakan orang lain hanya sebagai objek.
b. Komunikasi I-you
Jenis komunikasi I-you, yaitu jenis yang paling banyak digunakan
dalam interaksi sehari-hari. Kita memperlakukan orang lain lebih
dari sekedar objek, tetapi kita tidak sepenuhnya menganggap
mereka sebagai manusia yang unik. Komunikasi I-you dapat
terjadi secara lebih personal. Interaksi tersebut serupa dengan
komunikasi di dunia maya dan forum internet, ketika orang-orang
bertemu karena memiliki kesamaan hobi dan gagasan.
c. Komunikasi I-Thou
Ketika berinteraksi ditingkatan I-Thou, kita melihat orang lain
dengan segala keutuhan dan kepribadiannya. Melihat seseorang
harus dari norma sosial tertentu, tetapi orang lain adalah manusia
yang unik dan kita menerima mereka secara utuh. Dalam
komunikasi I-Thou, kita terbuka sepenuhnya pada orang lain,
memercayai orang lain untuk menerima diri kita apa adanya
dalam segala kelebihan dan kekurangan.
16
2. Ciri-ciri Komunikasi Antarpribadi (Interpersonal)
Menurut Wood (2013), ciri-ciri komunikasi interpersonal yaitu
a. Selektif
Manusi tidak mungkin berkomunikasi secara akrab dengan semua
orang yang dijumpai dalam kehidupan sehari-hari.
b. Sistemis
Komunikasi interpersonal dicirikan dengan sifat sistemis karena
ia terjadi dalam sistem yang bervarisi. Terdapat banyak sistem
yang melekat pada proses komunikasi interpersonal. Setiap sistem
mempengaruhi apa yang kita harapkan dari orang lain. Cara
manusia nerkomunikasi sangat beragam berdasarkan kebudayaan
masing-masing.
Komunikasi interpersonal dipengaruhi oleh sistem, situasi, waktu,
masyarakat, budaya, latar belakang personal, dan sebagainya.
Dengan menggabungkan semua sistem tersebut untuk memahami
dinamika komunikasi interpersonal. Namun yang harus dipahami
bahwa seluruh sistem tersebut saling berkaitan, setiap bagian
mempengaruhi bagian lainnya.
c. Unik
Pada tingkatan yang paling dalam, komunikasi interpersonal
sangat unik. Pada interaksi yang melampaui peran sosial, setiap
orang menjadi unik dan oleh karena itu menjadi tidak tergantikan.
17
d. Processual
Komunikasi interpersonal adalah proses yang berkelanjutan. Hal
tersebut berarti komunikasi senantiasa berkembang dan menjadi lebih
personal dari masa ke masa. Proses yang berkelanjutan tidak
memiliki awal dan akhir yang pasti.
e. Transaksional
Komunikasi interpersonal adalah proses transaksi antara beberapa
orang. Sifat transaksional yang secara alami terjadi dalam
komunikasi interpersonal berdampak pada tanggung jawab
komunikator untuk menyampaikan secara jelas.
f. Individual
Bagian terdalam dari komunikasi interpersonal melibatkan
manusia sebagai individu yang unik dan berbeda dari orang lain.
g. Pengetahuan personal
Komunikasi interpersonal membantu perkembangan pengetahuan
personal dan wawasan kita terhadap interaksi manusia. agar dapat
memahami keunikan individu, kita harus memahami pikiran dan
perasaan orang lain secara personal. Komunikasi juga membuka
pemahaman terhadap kepribadian orang lain. Ketika hubungan
yang dijalin semakin dalam, kita membangun kepercayaan dan
belajar untuk berkomunikasi dengan cara yang nyaman.
18
h. Menciptakan makna
Inti dari komunikasi interpersonal adalah berbagi makna dan
informasi antara dua belah pihak. Tidak hanya bertukar kalimat,
tetapi saling berkomunikasi. Menciptakan makna seperti
memahami tujuan setiap kata dan perilaku yang ditampilkan oleh
orang lain.
3. Prinsip-prinsip dalam komunikasi interpersonal
Menurut Wood (2013), ada delapan prinsip dalam komunikasi
interpersonal yaitu
a. Tidak mungkin hidup tanpa berkomunikasi
b. Komunikasi interpersonal adalah hal yang tidak dapat diubah
c. Komunikasi interpersonal melibatkan masalah etika
d. Manusia menciptakan makna dalam komunikasi interpersonal
e. Metakomunikasi mempengaruhi pemaknaan
f. Komunikasi interpersonal menciptakan hubungan yang
berkelanjutan
g. Komunikasi tidak dapat menyelesaikan semua hal
h. Efektivitas komunikasi interpersonal adalah sesuatu yang dapat
dipelajari.
19
C. Komunikasi dalam Keluarga
1. Pengertian keluarga
Murdock (Lestari, 2012:3) mengatakan bahwa keluarga merupakan
kelompok social yang memiliki karakteristik tinggal bersama, terdapat kerja
sama ekonomi, dan terjadi proses reproduksi. Koerner dan Fizpatrick
(Lestari, 2012:4) mengatakan bahwa defenisi keluarga setidaknya dapat
ditinjau berdasarkan tiga sudut pandang, yaitu:
a. Defenisi structural
Keluarga didefenisikan berdaskan kehadiran atau ketidakhadiran anggota
keluarga, seperti orang tua, anak, dan kerabat lainnya.
b. Defenisi fungsional
Keluarga didefenisikan dengan penekanan pada terpenuhinya tugas-tugas
dan fungsi-fungsi psikososial. Fungsi-funsi tersebut mencakup
perawatan, sosialisasi pada anak,dukungan emosi dan materi, dan
pemenuhan peran-peran tertentu.
c. Defenisi transaksional
Keluarga didefenisikan sebagai kelompok yang mengembangkan
keintiman melalui perilaku-perilaku yang memunculkan rasa identitas
sebagai keluarga (family identity), berupa ikatan emosi, pengalaman
historis, maupun cita-cita masa depan.
Berdasarkan pengertian keluarga menurut para ahli di atas, maka dapat
disimpulkan bahwa keluarga merupakan suatu kelompok social yang tinggal
20
ersama, memiliki hubungan yang kuat baik secara emosi maupun meteri
antara setiap indivudu. Dengan kata lain setiap orang dalam kelompok
memiliki keterikatan dan terhubung baik secara emosi maupun materi.
2. Komunikasi Orang Tua Dengan Anak
Shek (Lestari, 2012:61), hasil-hasil penelitian mengatakan bahwa
komunikasi orang tua-anak dapat mempengaruhi fungsi keluarga secara
keseluruhan dan kesejahteraan psikososial pada diri anak. Clark dan Shileds
(Lestari, 2012:61) menemukan bukti bahwa komunikasi yang baik antara
orang tua-anak berkolerasi dengan rendahnya keterlibatan anak dalan
perilaku delinkuen.
Ginott (Mufidah, 2008:28), cara baru berkomunikasi dengan anak
harus berdasarkan sikap menghormati dan keterampilan. Hal ini menjelaskan
bahwa tindakan menghormati dan keterampilan tersebut berupa kegiatan
tegur-sapa yang tidak boleh melukai harga diri anak, begitupun sebaliknya.
Orang tua dalam hal ini bertindak sebagai pendidik yang pertama harus
memberikan contoh dan sikap pengertian kepada anak, baru kemudian
member nasehat.
Komunikasi orang tua-anak sangat penting bagi orang tua dalam
upaya melakukan kontrol, pemantauan, dan dukungan pada anak. Tindakan
orang tua untuk mengontrol, memantau dan memberikan dukungan dapat
dipersepsi positif atau negatif oleh anak, diantaranya dipengaruhi oleh cara
orang tua berkomunikasi.
21
3. Panduan untuk Komunikasi Efektif dalam Keluarga
Menurut Wood (2013), ada empat panduan untuk komunikasi yang
efektif dalam keluarga yaitu:
a. Mengelola keseimbangan peran dalam hubungan keluarga
Salah satu panduan terpenting dalam keberlangsungan kehidupan
keluarga yang sehat adalah menciptakan keadilan peran keluarga.
Tanggung jawab ini di emban oleh seluruh angota keluarga, bukan
tanggung jawab ayak atau ibu saja. Penghargaan adalah element yang
diinginkan dalam sebuah hubungan. Misalnya afeksi dan dukungan
sosial yang timbul dalam keluarga.
b. Membuat pilihan sehari-hari untuk menguatkan keintiman
Panduan terpenting kedua untuk menguatkan komunikasi dalam
keluarga adalah kepekaan melihat kondisi keluarga sebagai refleksi
pilihan yang diambil oleh anggotanya. Secara spesifik keluarga
cenderung fokus pada hal-hal besar, seperti ketika sedang menangani
konflik serius. Padahal ha-hal kecil seringkali dapat mempererat
hubungan dalam keluarga Carter (Wood, 2013). Dampak dari hal-hal
kecil bila sering dilakukan dapat menciptakan pilihan yang bisa
meningkatkan kualitas hubungan dalam keluarga.
22
c. Menunjukan rasa menghargai dan perhatian
Agar tercipta keluarga yang saling cinta dan memuaskan, anggota
keluarga harus menunjukan bahwa mereka secara konsisten
menghormati dan memerhatikan anggota lain.
d. Jangan terluka hanya karena hal kecil
Kita semua pasti memiliki kebiasaan pribadi yang mungkin tidak
disukai oleh orang lain. Mungkin kita tidak tau bahwa ada anggota lain
yang terganggu dengan aktivitas kita. Kadang kita jarang
mempertimbangkan perasaan anggota lain. Namun kita dapat membantu
pasangan untuk mengurangi kelemahan yang ia miliki. Perspektif yang
diambil ikut mempengaruhi persepsi dan perasaan yang dialami.
D. Tugas Perkembangan Keluarga dengan Anak Usia Sekolah
1. Tugas Perkembangan Anak Usia Sekolah
Menurut Setiono (2011), tugas perkembangan anak usia sekolah yaitu:
a. Belajar keterampilan dasar yang diperlukan untuk anak sekolah.
b. Menguasai keterampilan fisik yang sesuai dengan tahapan
perkembangannya.
c. Mengembangkan pemahaman praktis tentang penggunaan uang.
d. Menjadi anggota keluarga yang aktif dan kooperatif.
e. Memperluas kemampuan berhubungan dengan orang lain, baik teman
sebaya maupun orang dewasa.
f. Senantiasa belajar mengendalikan perasaan dan impulsnya.
23
g. Menyadari peran jenis kelaminnya baik saat ini maupun yang akan
dating.
h. Senantiasa menemukan dirinya sebagai orang yang berguna.
i. Mengembangkan hati nurani dengan control moral dari dalam diri.
2. Tugas Perkembangan Orang Tua Anak Usia Sekolah
a. Memenuhi perkembangan anak untuk perkembangannya.
b. Menikmati hidup bersama anak.
c. Mendorong perkembangan anak.
3. Tugas Perkembangan Keluarga pada Tahap Anak Usia Sekolah
a. Memberikan keperluan anak untuk melakukan aktivitas dan privasi
orang tua.
b. Tetap mengusahakan kebutuhan financial terpenuhi.
c. Melakukan sosialisasi lanjut kepada anggota keluarga.
d. Membina hubungan diluar keluarga.
e. Mengembangkan moral keluarga.
E. Hakekat Gadget Beserta Dampaknya
1. Pengertian gadget
Osland (Irawan dan Leni Armayati, 2013), mengatakan bahwa
gadget adalah sebuah istilah dalam bahasa Inggris yang mengartikan sebuah
alat elektronik kecil dengan berbagai macam fungsi khusus. Swarnadwitya
(Irawan dan Leni Armayati, 2013), mengatakan yang membedakan antara
gadget dengan perangkat lainnya yaitu unsur “kebaruan”. Yang artinya dari
24
hari ke hari gadget selalu muncul menyajikan teknologi baru yang membuat
hidup manusia menjadi praktis. Adapun beberapa contoh gadget yang
biasanya digunakan di masyarakat luas seperti handphone, netbook, ipad.
Selain contoh yang disebut, masih banyak contoh gadget lainnya. Hal ini
disebabkan oleh cakupan gadget yang sangat luas, sehingga hampir setiap
perangkat elektronik kecil dengan kemampuan khusus dan menyajikan
teknologi baru bisa disebut gadget.
2. Manfaat dan Kerugian Gadget.
a. Dampak positif
1) Menambah pengetahuan dan kreativitas
Muduli (2014:8) mengatakan bahwa “Tech-devices and
gaming may have positive effects on investigating skills, strategic
thinking and creativity potential of the individuals” dengan kata lain,
bahwa perangkat teknologi dan gaming dapat meningkatkan
kemampuan investigasi individu, meningkatkan kemampuan berpikir
dalam hal menentukan strategi dan kreativitas individu. Ia juga
mengatakan bahwa “These tech devices and services are better
sources for learning for the youth and these are the sources of fun
and entertainment which help them distract from daily stresses of
life” (Muduli (2014:8), dengan kata lain perangkat teknologi
merupakan media yang baik untuk pembelajaran anak, serta
25
merupakan media yang menyenangkan untuk anak dalam
menghindari stress karena rutinitas harian anak.
2) Mempermudah anak dalam belajar
Samson (Muduli, 2014:9) mengatakan bahwa “When students
use laptops and other tech-devices by the instructor’s advice they are
connected to course learning objectives. The classroom learning and
engagement of the young students can be impacted positively by the
use of these digital devices” dengan kata lain penggunaan perangkat
teknologi seperti laptop dapat meningkatkan keterlibatan siswa dalam
pembelajaran.
3) Memperluas jaringan persahabatan
Tsitsika dan Jandikian (Muduli, 2014:8) mengatakan bahwa
“about 32.7% of the world’s population has access to the social
networking sites like Face book, Twitter, Linked-In, YouTube,
Flicker, blogs, wikis, and many more which let people of all ages
rapidly share their interests of the moment with others everywhere”.
Berdasarkan pernyataan pernyataan tersebut diketahui bahwa sekitar
32,7% populasi dunia menggunakan social media seperti facebook,
Twitter, youtube, blog dan berbagai social media lain untuk
membagikan momen menarik mereka dengan orang lain. Oleh karena
itu ia mengatakan “So the interconnectedness throughout the world is
growing rapidly due to internet use” (Tsitsika dan Jandikian (Muduli,
26
2014:8). Hal ini menjelaskan bahwa orang-orang dihubungkan oleh
social media melalui internet, yang mana internet sendiri merupakan
bagian dari teknologi dan gadget.
b. Dampak Negatif
1) Membuat anak menjadi lemah dalam hal practical skill
Muduli (2014:9) mengatakan bahwa “The digital activities
make the youth strong in technical skills but make them weak in real
life practical skills” hal ini menjelaskan bahwa dengan adanya
aktivitas digital yang dilakukan oleh anak, membuat mereka bagus
dalam hal teknik dibandingkan dengan kemampuan prakateknya.
Muduli (2014:9) juga menambahkan “It takes the young mass away
from the reality helping them to live in their imaginary world. Due to
the time spent on the devices the youth are refrained from some
outdoor activities with friends and family” hal ini menyebabkan anak
untuk menjadi apatis dan lebih memilih tinggal dalam dunia
imajinasinya dibandingkan dengan aktivitas dengan teman dan
keluarga di dunia nyata.
2) Rawan terhadap tindakan kekerasan
Pada kenyataannya gadget seperti smartphone biasanya
memfasilitasi penggunanya untuk bermain game. Muduli (2014:9)
mengatakan bahwa “The indulgence in violent games may create
more violence in their mind” jelas dikatakan bahwa kesukaan anak
27
dalam bermain game yang berbau kekerasan, dapat mempengaruhi
pikiran anak dan membuat anak menanamkan tentang perilaku
kekerasan dalam pikirannya.
3) Membuat anak malas belajar
Muduli (2014:9) mengatakan “The more they use the gadgets,
the more they are crazy about it which may distract them from study”
dengan kata lain bahwa semakin sering anak menggunakan gadget,
anak semakin asik dengan aktivitasnya tersebut sehingga anak bisa
melupakan tugas pokoknya yaitu belajar.
4) Mempengaruhi kesehatan
Muduli (2014:9) mengatakan bahwa “During the time of
playing games when they can’t achieve the set target, it may raise
their anxious level higher. After all addiction to the devices may
develop unhealthy lifestyle, poor time management and poor eating
habits among the youth” dikatakan bahwa ketika anak tidak dapat
mencapai target tertentu dalam suatu game kecemasan yang dialami
anak anak meningkat. Ketika anak menjadi kecanduan terhadap
game, hal ini akan mengakibatkan kebiasaan hidup yang tidak sehat,
buruk dalam manajemen waktu, dan pola makan yang buruk.
Young (Muduli, 2014:10) juga mengatakan bahwa “The
addictive internet use has negative impacts on mental health. There is
a positive relationship between Internet addiction and psychiatric
28
disorders like depression, bipolar disorder, obsessive-compulsive
disorder, attention deficit disorder, etc” menjelaskan tentang dampak
negatif internet yang terhubung dengan gadget bagi kesehatan.
Beberapa penyakit yang bisa terjadi ketika kecanduan internet yaitu
gangguan psikis seperti depresi, bipolar disorder, obsessive
compulsive disorder, dan sebagainya.
3. Cara Mengatasi Dampak Negatif Gadged pada Anak
Sosok yang paling berpengaruh dalam mencegah maupun mengatasi
dampak negatif dari gadget adalah orang tua. Maka orang tua memiliki peran
besar dalam membimbing dan mencegah agar teknologi gadget tidak
berdampak negatif bagi anak. Lee (2015, Positive and Negative Impact of
Electronic Devices on Children,
[Link]
Children, diakses tanggal 8 juni 2017) berpendapat bahwa “It,s impossible to
completely eliminate electronic devices from a child,s life, but there are ways
to decrease their negative impact” dengan kata lain, walaupun tidak mungkin
untuk untuk menghindarkan perangkat elektronik seperti gadget dari
kehidupan anak, orang tua masih bisa untuk mengurangi dampak negatif dari
perangkat elektronik itu sendiri, yang dalam hai ini adalah gadget. Adapun
cara-cara untuk mengatasi atau mengurangi dampak negatif gadget pada anak
yaitu:
29
a. “Know the rating of the game and television programs you child wants to
use or watch”. Ketahui rating dari game dan program televisi yang anak
ingin nonton atau konsumsi. Rating dalam hal ini maksudnya yaitu
tentang jenis permainan dan acara TV yang akan dikonsumsi anak
meupakan game atau avara tv khusus buat anak-anak atau bukan.
b. “Do not set up electronic in a child badroom” Jangan memasang
perangkat elektronik di dalam kamar anak.
c. “Make media rules. For example, place a time limit of how often or long
a child is allowed to use an electronic device, including games and
television”. Membuat aturan yang disepakati dengan anak, misalnya
dengan meberlakukan batas waktu penggunaan gadget terhadap anak.
d. “Monitor your child’s media consumtion, including video games,
television, movies, and internet”. Orang tua mengawasi media yang
dikonsumsi oleh anak, misalnya terkait game, acara televise, film, dan
internet.
e. “Communicated with your child about what they observe in video games,
television program or [Link] them how they feel about the media
they have acces to and discuss it with them”. Diskusikan dengan anak
tentang apa yang mereka lihat dan dapat dari game atau acara tv yang
mereka nonton. Tanyakan kepada anak tentang apa yang mereka rasakan
setelah bermain game atau menonton acara tv yang mereka sukai.
BAB III
METODE PENELITIAN
Bab ini memaparkan jenis penelitian, tempat dan waktu penelitian, subyek dan
obyek penelitian, teknik dan instrument pengumpulan data, keabsahan data, dan
teknik analisis data. Keenam sub judul tersebut merupakan bagian-bagian dari metode
penelitian yang harus ada dalam sebuah penelitian. Masing-masing sub bagian akan
dijabarkan secara singkat, padat, dan jelas. Berikut merupakan penjabaran dari
masing-masing sub bagian
A. Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan metode studi
kasus. Penelitian kualitatif adalah metode penelitian yang digunakan untuk
meneliti kondisi obyek yang alamiah, dimana peneliti adalah sebagai instrument
kunci.
Metode kualitatif digunakan untuk mendapatkan data yang mendalam, suatu data
yang mengandung makna. Makna adalah data sebenarnya, data yang pasti yang
merupakan suatu nialai di balik data yang tampak (Sugiyono, 2012:15). Metode
studi kasus adalah pengujian intensif menggunakan berbagai sumber bukti
terhadap suatu entitas tunggal yang dibatasi oleh ruang dan waktu (Tohirin,
2011:19)
B. Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian dilakukan di Kelurahan Talang Babat kecamatan Muara Sabak
Barat kabupaten Tanjung Jabung Timur Jambi. Waktu penelitian dilakukan
selama dua satu minggu. Selama peneliti melakukan penelitian, peneliti tidak
selalu datang ke
30
31
tempat penelitian, melainkan melalui wawancara. Berikut jadwal yang di
tentukan peneliti selama melakukan penelitian.
Tabel 3.1 Jadwal Penelitian
No Tanggal Keterangan Tempat
1 25 Juni Konfirmasi kepada subjek
2019 wawancara
2 26 Juni Persiapan wawancara Rumah Penulis
2019
3 27 Juni observasi Rumah subyek
2019
4 28 Juni Wawancara pertama Rumah subyek
2019
5 1 Juli 2019 Wawancara ke dua Ibu Rumah subyek
6 2 Juli 2019 Observasi anak Rumah subyek
7 2 Juli 2019 Wawancara ke tiga Ibu dan
Rumah subyek
wawancara ke dua dengan ayah.
8 3 Juli 2019 Wawancara ke dua anak Rumah subyek
9 4 Juli 2019 Wawancara ke tiga anak Rumah subyek
10 4 Juli 2019 Wawancara ke tiga ayah Rumah subyek.
11 9 Juli – 18 Juli Menganalisis hasil wawancara dan Rumah Penulis
2019 observasi, serta membuat verbatim
hasil wawancara. Hasil wawancara
kemudian dibuat dalam bentuk
kode-kode.
32
C. Subyek Penelitian
Subyek dalam penelitian adalah Salah satu keluarga di Kelurahan Talang
Babat kecamatan Muara Sabak Barat kabupaten Tanjung Jabung Timur Jambi.
Keluarga tersebut terdiri dari Seorang Ayah, Ibu, dan dua orang anak. Berikut
adalah daftar jumlah subyek peneliti yang akan menjadi sumber informasi.
Tabel 3.2 Daftar Subyek Penelitian
NO Subjek Jumlah
1 Ayah 1
2 Ibu 1
3 Anak 1
D. Teknik instrument Pengumpulan
Data Wawancara
Wawancara merupakan pertemuan dua orang untuk bertukar informaasi
dan ide melalui Tanya jawab, sehingga dapat di konstruksikan makna dalam
suatu topic tertentu, Estberg (dalam Sugiyono, 2012 : 317). Jenis pertanyaan
yang di gunakan oleh peneliti dalam proses wawancara adalah pertanyaan
struktur. Wawancara ditujukan kepada kepala sekolah, guru BK, dan Guru mata
pelajaran. Berikut adalah panduan wawancara terstruktur yang di aplikasikan
pada subyek.
33
Tabel 3.3 Panduan wawancara
NO ASPEK PERTANYAAN
1. Ayah 1. Pengertian dan pemahaman gadget dan pemanfaatan
gadget yang tepat pada anak.
a. Apa yang dimaksud dengan gadget?
b. Apa manfaat dari gadget yang dirasakan oleh
Bapak dalam kehidupan sehari-hari?
c. Apa manfaat dari gadget yang dirasakan oleh
Bapak khususnya terhadap perkembangan anak?
d. Apa saja dampak negatif dari gadget terhadap
anak?
2. Cara berkomunikasi, memberikan pemahaman
tentang penggunaan gadget yang tepat oleh orang
tua pada anak.
a. Apa yang dimaksud dengan komunikasi dalam
keluarga?
b. Seberapa penting komunikasi dilakukan dalam
keluarga?
c. Bagaimana cara berkomunikasi yang baik dalam
sebuah keluarga, khususnya antara suami dengan
istri?
d. Bagaimana cara komunikasi yang baik antara
orang tua kepada anak-anak dalam keluarga?
e. Sebagai seorang ayah dan kepala keluarga,
bagaimana peran bapak dalam berkomunikasi
dengan
34
anggota keluarga, yang terdiri dari ibu dan anak-
anak?
f. Bagaimana cara Bapak berkomunikasi,
memberikan pemahaman kepada anak tentang
cara menggunakan gadget yang tepat?
3. Hambatan yang dirasakan dalam upaya mencegah
dampak negatif gadget.
a. Apa saja hambatan yang membuat komunikasi
dalam keluarga menjadi kurang efektif?
b. Dalam berkomunikasi dengan anak-anak, apa
saja hal yang paling mengganngu dan
mengakibatkan komunikasi menjadi tidak
efektif?
c. Terkait dengan mengatasi dampak negatif
gadget, apa saja hal yang membuat komunikasi
antara bapak dengan anak menjadi terganggu.
4. Usaha yang dilakukan untuk mencegah dampak
negatif gadget.
a. Bagaimana cara bapak dalam menjaga keintiman
dalam hal berkomunikasi dalam keluarga?
b. Usaha apa saja yang sudah Bapak lakukan untuk
mencegah penggunaan gadget yang berlebihan
oleh
anak?
2. Ibu 1. Pengertian dan pemahaman gadget serta
pemanfaatan
35
gadget yang tepat pada anak.
e. Apa yang dimaksud dengan gadget?
f. Apa manfaat dari gadget yang dirasakan oleh Ibu
dalam kehidupan sehari-hari?
g. Apa manfaat dari gadget yang dirasakan oleh Ibu
khususnya terhadap perkembangan anak?
h. Apa saja dampak negatif dari gadget terhadap
anak?
2 Cara berkomunikasi, memberikan pemahaman tentang
penggunaan gadget yang tepat oleh orang tua pada
anak.
a. Seberapa penting komunikasi dilakukan dalam
keluarga?
b. Bagaimana cara berkomunikasi yang baik dalam
sebuah keluarga, khususnya antara suami dengan
istri?
c. Bagaimana cara komunikasi yang baik antara
orang tua kepada anak-anak dalam keluarga?
d. Sebagai seorang Ibu, bagaimana peran ibu dalam
berkomunikasi dengan anggota keluarga?
e. Bagaimana cara Ibu berkomunikasi, memberikan
pemahaman kepada anak tentang cara
menggunakan gadget yang tepat?
3. Hambatan yang dilakukan untuk mencegah dampak
negatif gadget.
36
a. Apa saja hambatan yang membuat komunikasi
dalam keluarga menjadi kurang efektif?
b. Dalam berkomunikasi dengan anak-anak, apa
saja hal yang paling mengganngu dan
mengakibatkan komunikasi menjadi tidak
efektif?
c. Terkait dengan mengatasi dampak negatif
gadget, apa saja hal yang membuat komunikasi
antara ibu dengan anak menjadi terganggu.
4. Usaha yang dilakukan untuk mencegah dampak
negatif gadget.
a. Bagaimana cara Ibu dalam menjaga keintiman
dalam hal berkomunikasi dalam keluarga?
b. Usaha apa saja yang sudah Bapak lakukan
untuk
mencegah penggunaan gadget yang berlebihan
oleh anak?
3. Anak 1. Pengertian dan pemahaman gadget serta
pemanfaatan gadget yang tepat.
a. Menurut adik, apa yang dimaksud dengan
gadget?
b. Apa manfaat dari gadget yang dirasakan dalam
kehidupan sehari-hari?
c. Apa manfaat dari gadget yang dirasakan adik
dalam hal belajar?
d. Apa saja dampak negatif dari gadget?
37
2. Cara berkomunikasi, memberikan pemahaman
tentang penggunaan gadget yang tepat oleh orang
tua pada anak.
a. Bagaimana cara ayah dan ibu memberikan
contoh tentang komunikasi dalam keluarga?
b. Bagaimana cara komunikasi yang baik antara
orang tua kepada anak-anak dalam keluarga?
c. Bagaimana peran ibu dan ayah dalam
berkomunikasi dengan anggota keluarga?
d. Bagaimana cara Ibu berkomunikasi,
memberikan pemahaman kepada adik tentang
cara menggunakan gadget yang tepat?
3. Hambatan yang dirasakan dalam upaya mencegah
dampak negatif gadget.
a. Apa saja hambatan yang membuat komunikasi
dalam keluarga menjadi kurang efektif?
b. Apa saja hal yang paling mengganngu dan
mengakibatkan komunikasi antara adik dengan
orang tua menjadi tidak efektif?
c. Terkait dengan mengatasi dampak negatif
gadget, apa saja yang membuat komunikasi
antara orang tua dengan anak menjadi
terganggu?
4. Usaha yang dilakukan untuk mencegah dampak
negatif
gadget.
38
a. Bagaimana cara orang tua dalam menjaga
keintiman dalam hal berkomunikasi dalam
keluarga?
b. Usaha apa saja yang sudah dilakukan orang tua
supaya adik tidak menggunakan gadget secara
berlebihan?
E. Keabsahaan Keterpercayaan Data
Penelitian ini menggunakan teknik triangulasi untuk melihat validitas
data. Sugiyono (2012 : 330) mengatakan bahwa ada dua jenis triangulasi yaitu
triangulasi teknik dan triangulasi sumber. Penelitian ini menggunakan satu jenis
triangulasi, yaitu triangulasi sumber. Dalam triangulasi sumber peneliti
menggunakan perbandingan tiga sumber yang berbeda yaitu Ayah, Ibu dan
Anak.
F. Teknik Analisis Data
Penelitian melakukan analisis data melalui analisis domain. Analisis domain
dilakukan untuk memperoleh gambaran yang umum dan menyeluruh dari
obyek/penelitian atau situasi sosial. Ditemukan berbagai domain atau kategori. Diperoleh
dengan pertanyaan grand dan minitour. Peneliti menetapkan domain tertentu sebgai
pijakkan untuk penelitian selanjutnya. Makin banyak domain yang dipilih, maka akan
semakin banyak waktu yang diperlukan untuk penelitian (Sugiyono, 2012: 348).
39
Berikut merupakan langkah-langkah yang diambil peneliti dalam menganalis
data.
a. Verbatim
Peneliti membuat verbatim setelah melakukan wawancara. Didalam
verbatim tersebut dipilih data yang dibutuhkan dalam penelitian.
b. Coding
Setelah membuat verbatim yang dibutuhkan dalam penelitian, selanjutnya
peneliti membuat coding yaitu mengkode inti sari/ mencari kata-kata utama
dalam verbatim tersebut.
c. Reduksi data
Mereduksi data berarti merangkum, memilih hal-hal yang pokok,
memfokuskan pada hal-hal yang penting, dicari tema dan polanya dan
membuang yang tidak perlu (Sugiyono, 2012).
d. Interpretasi
Setelah direduksi maka peneliti menginterpretasi pernyataan-pernyataan
yang sudah ada dalam reduksi. Interpretasi ini merupakan gabungan
reduksi dari kepala sekolag, guru BK dan guru mata pelajran setelah itu
peneliti membuat kesimpulan.