0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
10 tayangan42 halaman

Komunikasi Orang Tua Cegah Dampak Gadget

Dokumen tersebut membahas tentang komunikasi orang tua pekerja dengan anak dalam mencegah dampak negatif gadget pada anak. Dokumen menjelaskan latar belakang masalah seperti pola komunikasi orang tua zaman dulu dan milenial berbeda, serta dampak pengaruh teknologi pada pola asuh anak. Dokumen juga mengidentifikasi masalah seperti kemudahan akses konten pornografi dan ketergantungan anak pada gadget. Tu

Diunggah oleh

Huusni Thhamrin
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
10 tayangan42 halaman

Komunikasi Orang Tua Cegah Dampak Gadget

Dokumen tersebut membahas tentang komunikasi orang tua pekerja dengan anak dalam mencegah dampak negatif gadget pada anak. Dokumen menjelaskan latar belakang masalah seperti pola komunikasi orang tua zaman dulu dan milenial berbeda, serta dampak pengaruh teknologi pada pola asuh anak. Dokumen juga mengidentifikasi masalah seperti kemudahan akses konten pornografi dan ketergantungan anak pada gadget. Tu

Diunggah oleh

Huusni Thhamrin
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

CARA KOMUNIKASI ORANG TUA PEKERJA DENGAN ANAK DALAM

MENCEGAH TERJADINYA DAMPAK NEGATIF GADGET DI ZAMAN MILENIAL

Disusun oleh: Arliyani


NIM :171030702015020

PROGRAM STUDI ILMU KOMUNIKASI


SEKOLAH TINGGI ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK (STISIP)
NURDIN HAMZAH JAMBI
2020
BAB 1
PENDAHULUAN

Bab ini berisi latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian,

manfaat hasil penelitian, dan definisi operasional variabel.

A. Latar Belakang Masalah

Tak jarang saat ini banyakorang tua yang sering geleng-geleng kepala dan

bergumam, “Dasar anak zaman sekarang” saat melihatgenerasi millennial.

(sambung dg pengertian generasi milenial). Karakteristik generasi millennial

cenderung lebihmemilih menatap layar iPhone(smartphone)dari pada hanya

sekedar melihat orang yang duduk di depan meja makan bersamanya.

Satu dari 5 ibu jaman sekarang adalah generasi millennial, dan jumlahnya sekarang

mencapai hampir 90 persen dari 1,5 juta ibu baru. Artinya ada sekitar 9 juta

generasi millennial yang membesarkan anak dan menerapkan pola asuh anak

bergaya millennial.(bersumber dr mana?) Saat ini tidak sedikit ibu dengan kategori

umur milenial memiliki pola asuh yang sangat berbeda dengan pola asuh orang tua

atau ibu-ibu seperti zaman dahulu. Ibu millennial lebih cenderung menerapkan pola

asuh anak yang modern.

Pengaruheraglobalisasidanteknologimemberikan dampak terhadap bagaimana pola

asuh ibu- ibu zaman dahulu dan ibu milenial. Salah satunya dengan keberadaan

smartphoneatau gedget dengan segala [Link] pola asuh antara

ibu-ibu zaman dahulu dan ibu milenialmenghasilkan karakteristik dan perbedaan

terhadap sikap dan tingkahlaku [Link] sikap anak dengan pola asuh ibu

zaman dahulu seperti mendengarkan perkataan orang tua ketika didekatnya,

berinteraksi secara langsung, lebih peka terhadap lingkungan sekitarnya. Hal ini

kontras berbeda dengan anak zaman sekarangyang hobi memainkan gadget

sehingga dia tidak berinteraksi dengan sekitarnya.

Bahaya dari pengaruh teknologi, sudah di prediksi oleh ilmuwan terkenal yang

berkata “I fear the day technology will surpass our human interaction. The world
will have a generation of idiots” - Albert [Link] disimpulkan artinya “Aku

takut suatu hari teknologi akan melampaui interaksi [Link] akan memiliki

generasi idiot”.(sumber)

“Gadget” siapa yang tidak tahu tentang kata tersebut. Meski merupakan

bahasa asing, kata “Gadget” sendiri merupakan kata yang tidak asing ditelinga

kita. Biasanya ketika kita bertanya tentang pengertian gadget itu sendiri, sebagian

besar orang akan mengartikannya sebagai suatu alat yang digunakan untuk

mengakses atau menjalankan suatu program tertentu yang menarik dan bersifat

mengasah kreativitas. Alat yang digunakan untuk menjalankan atau

mengoprasikan aplikasi menarik seperti game, media social, dan beberapa

aplikasi pendukung kreativitas lainnya berupa ponsel, smartphone, PC, laptop

dan beberapa alat lainnya.

Berbicara tentang gadget pada era yang sangat modern dan serba internet

ini, tentunya bukan sesuatu yang aneh. Bahkan, jika kita perhatikan setiap

kalangan masyarakat baik kaya maupun miskin, tua maupun muda, semuanya

rata-rata memiliki gadget, khususnya ponsel dan smartphone yang digunakan

dalam keseharian. Berdasarkan survey yang dilakukan oleh DS annual startup

report pada tahun 2015 mengungkapkan bahwa saat ini terdapat 281,9 juta orang

yang aktif menggunakan ponsel di Indonesia. Jumlah itu menggambarkan bahwa

setiap orang diindonesia menggunakan sekitar 1,13 unit ponsel. Dengan adanya

1
2

ponsel dan smartphone segala aktivitas kita menjadi sangat terbantu. Bayangkan

saja, manusia bisa dengan mudah menemukan alamat yang kita tuju hanya

dengan mengoprasikan aplikasi GPS. Setiap manusia juga bisa menemukan dan

berhubungan dengan orang lain dalam jarak yang sangat jauh, hanya dengan

mengoperasikan aplikasi media social yang diinstal di smartphone yang dimiliki.

Bahkan sekarang, banyak sekali akun-akun media social seperti facebook,

instagram, dan twitter yang dipakai sebagai sarana untuk berbisnis. Melihat

beberapa alasan diatas, bisa dikatakan bahwa tidak ada alasan buat kita untuk

tidak memiliki gadget seperti smarthone, dan lain-lain.

Gadget tentunya sangat berguna bagi kita apabila kita tahu dan bijak

dalam menggunakan gadget untuk meningkatkan produktivitas kita ke arah yang

positif sebagai manusia. Melihat besarnya manfaat yang didapat dari adanya

gadget dalam kehidupan kita, tentunya kita akan sangat terbantu dan merasa

dipermudah untuk meningkatkan produktivitas diri. Namun, gadget juga

meninggalkan beberapa hal negatif seperti maraknya aksi penipuan

menggunakan media social dan internet, adanya kasus penculikan melalui media

social, mudahnya mengakses konten pornogravi dan masih banyak hal lain yang

patut untuk mendapat perhatian. Menyikapi kasus tentang mudahnya mengakses

konten pornogravi melalui gadget, pantaskah kita khawatir dengan anak-anak

yang masih duduk di sekolah dasar yang tidak menutup kemungkinan mereka

sudah memiliki gadget?


3

Berdasarkan pengamatan dari penulis, baik itu pada saat melakukan

kegiatan PPL di salah satu SD di Kabupaten Tanjung Jabung Timur Jambi,

maupun saat memperhatikan kebiasaan-kebiasaan anak usia sekolah dasar yang

tinggal di sekitar lingkungan rumah penulis, penulis menyimpulkan bahwa anak-

anak usia sekolah dasar saat ini sudah sangat familiar dengan gadget. Sebagai

buktinya, penulis pernah mendapati beberapa anak yang setiap hari hanya

melakukan aktivitas didepan gadget yang iya miliki maupun gadged yang dimilik

oleh orang tuanya. Mereka rata-rata sudah sangat pandai dalam mengoprasikan

beberapa aplikasi smartphone seperti game bahkan mereka juga sudah

mempunyai akun media social seperti facebook, instagram, BBM, twitter,

youtube dan sebagainya. Jika kita melihat kenyataan seperti itu, di gadget dengan

tidak menutup kemungkinan bahwa anak sekolah dasar yang mampu

mengoperasikan beberapa aplikasi lancar, bisa dengan gampang menemukan dan

mengakses aplikasi atau situs-situs pornografi yang sangat banyak jumlahnya di

internet dan terkoneksi dengan gadget.

Berbicara tentang penggunaan Gadget oleh anak, tentunya hal ini tidak

lepas dari peran serta orang tua didalamnya. Peran serta orang tua dalam hal ini

yaitu misalnya penyediaan gadget oleh orang tua terhadap anaknya. Hal ini juga

terlihat oleh penulis di lingkungan sekitar tempat tinggal penulis. Orang tua

terlihat lebih memilih memberikan gadget kepada anaknya untuk sarana bermain.

Hal ini menyebabkan anak bisa dengan mudah menggunakan gadget untuk

kepentingannya. Peran serta orang tua dalam hal penggunaaan gadget pada anak
4

juga ditunjukkan dengan memberikan pemahaman kepada anak tentang cara

memanfaatkan gadget secara bijaksana. Pemberian pemahaman kepada anak

tentang cara memanfaatkan gadget dengan bijaksana, bisa dan akan mudah

dilakukan apabila orang tua mengetahui serta menerapkan pola komunikasi yang

tepat tentang pemanfaatan gadget yang bijaksana oleh anak.

Melihat beberapa kenyataan di atas, maka penulis sangat tertarik

mengangkat judul “Komunikasi Orang Tua Kepada Anak dalam Mencegah

Terjadinya Dampak Negatif Gadget” dalam penelitian ini.

B. Identifikasi Masalah

Berangkat dari latar belakang masalah di atas, terkait dengan Pola

Komunikasi Orang Tua terhadap Anak untuk Mencegah Terjadinya

Dampak Negatif Gadget diidentifikasikan masalah berikut:

1. Adanya kesempatan untuk mengakses konten-konten pornografi melalui

internet yang terkoneksi dengan gadget yang digunakan oleh anak.

2. Adanya kemungkinan anak menjadi tergantung terhadap penggunaan gadget.

3. Banyak waktu yang sia-sia dihabiskan oleh anak ketika hanya sibuk dengan

gadget yang dimiliki.

4. Pola komunikasi dari orang tua yang tidak efektif dalam memberikan

pemahaman tentang cara pemanfaatan gadget yang bijaksana..

5. Kurangnya pengetahuan orang tua tentang cara pemanfaatan gadget yang

bijaksana, yang bisa meningkatkan kualitas pribadi anak kearah yang lebih

positif.
5

C. Pembatas Masalah

Dalam penelitian ini, fokus kajian diarahkan pada menjawab masalah-

masalah yang termuat pada butir nomer 1, 2, 4, dan 5 yang teridentifikasi di

atas khususnya masalah mengenai pola komunikasi orang tua yang tidak

efektif dalam memberikan pemahaman tentang pemanfaatan gadget secara

bijaksana.

D. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang tersebut, maka peneliti menyimpulkan

perumusan masalah sebagai berikut:

1. Bagaimana pemahaman orang tua terhadap pemanfaatan gadget yang tepat

pada anak?

2. Bagaimana cara orang tua dalam berkomunikasi, memberikan pemahaman

tentang penggunaan gadget yang tepat pada anak?

3. Hambatan apa saya yang dialami oleh orang tua dalam berkomunikasi pada

anak terkait upaya mencegah dampak negatif gadget?

4. Usaha apa yang dilakukan oleh orang tua untuk mencegah dampak negatif

gadget terhadap anak?

E. Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini yaitu:

1. Untuk mengetahui sejauh mana pemahaman orang tua terhadap pemanfaatan

gadget yang tepat pada anak


6

2. Untuk mengetahui cara orang tua memberikan pemahaman kepada anak

tentang penggunaan gadget yang tepat dan bijaksana.

3. Mengetahui hambatan yang dialami oleh orang tua dalam memberikan

penjelasan pada anak tentang pemanfaatan gadget sehingga anak terhindar

dari dampak negative gadget tersebut..

4. Mengetahui usaha-usaha yang yang dilakukan orang tua untuk mencegah

dampak negatif gadget kearah yang salah oleh anak.

F. Manfaat Hasil Penelitian

Dengan adanya penelitian ini, peneliti berharap muncul beberapa manfaat

sebagai berikut:

1. Manfaat Teoritis

Penelitian ini diharapkan mampu memberikan sumbangan pengetahuan

tentang pola komunikasi orang tua terhadap anak dalam hal penggunaan dan

pemanfaatan gadget. Dengan adanya penelian ini kiranya pembaca bisa

mendapatkan gambaran tentang pola komunikasi yang umumnya dilakukan

oleh orang tua khususnya pada anak anak dalam hal pengguaan dan

pemanfaatan gadget.

2. Manfaat Praktis

a. Bagi Orang Tua

Penelitian ini diharapkan menjadi gambaran tantang bagaimana orang

tua menyikapi tentang pemanfaatan gadget pada anak. Penelitian ini

juga memberikan gambaran tentang bagaimana pola komunikasi yang


7

umumnya dilakukan oleh orang tua terkait pemanfaatan dan penggunaan

gadget oleh anakanak khususnya anak. Dengan adanya pengetahuan

tentang pola komunikasi yang umumnya dilakukan oleh orang tua

tersebut, pembaca khususnya orang tua bisa memilah-milah dan lebih

selektif dalam menerapkan cara berkomunikasi dengan anak dalam hal

pemanfaatan gadget yang lebih efektif dan bisa meningkatkan

produktivitas anak sebagai individu ke arah yang positif.

b. Bagi Anak

Dengan adanya penelitian ini, diharapkan bahwa anak mampu

mengetahui dan memahami tentang peran komunikasi yang dilakukan

oleh orang tua dalam hal penggunaan gadget.

c. Bagi Peneliti

Peneliti bisa mengetahui tentang pola komunikasi orang tua terhadap

anak dalam hal penggunaan gadget yang umumnya terjadi di

masyarakat.

G. Defenisi Istilah

Adapun definisi operasional variabel dalam penelitian ini yaitu:

1. Orang tua adalah orang yang dituakan, atau orang yang berperan dalam

melahirkan anak yang dalam hal ini yaitu ayah dan ibu. Orang tua juga

merupakan orang yang membesarkan anak, dan mengajarkan kepada anak

tentang hal-hal baik dan positif.


8

2. Anak secara umum bisa dikatakan sebagai seseorang yang dilahirkan sebagai

hasil perkawinan antara seorang ayah dan ibu.

3. Komunikasi berasal dari bahasa inggris yang memiliki asal usul kata dari

bahasa latin yaitu communis artinya milik bersama atau membagi yang

merupakan sebuah proses untuk membangun kebersamaan dan pengertian.

Kemudian secara terminologi, komunikasi adalah proses penyampaian suatu

pernyataan oleh satu pihak kepada pihak yang lainnya atau banyak pihak

supaya bisa terhubung dengan lingkungan yang ada disekitarnya.

4. Gadget sebagai suatu alat yang digunakan untuk mengakses atau

menjalankan suatu program tertentu yang menarik dan bersifat mengasah

kreativitas. Alat yang digunakan untuk menjalankan atau mengoprasikan

aplikasi menarik seperti game, media social, dan beberapa aplikasi

pendukung kreativitas lainnya berupa ponsel, smartphone, PC, laptop dan

beberapa alat lainnya.


BAB II
KAJIAN PUSTAKA

Pada bab ini dipaparkan mengenai hakekat komunikasi, pengertian keluarga,

komunikasi orang tua dan anak, pengertian gadget, manfaat dan kerugian dari gadget

serta cara mengatasi dampak negatif gadget pada anak.

A. Komunikasi

1. Sejarah

Hutagalung (2015:1), Pada awal kemunculannya ilmu komunikasi

adalah multidisipliner karena dipengaruhi oleh disiplin ilmu lain. Di bidang

kajian psikososial, topic-topik riset popular menyertakan kajian

komunikasi terhadap perilaku individu seperti persuasi, dinamika

kelompok, maupun propaganda.

Schramm (Hutagalung, 2015:2), membuat analogi yang menarik

mengenai pengaruh disiplin lain pada ilmu komunikasi. Ia menganalogikan

ilmu komunikasi seperti sebuah „oase’. Berbagai disiplin ilmu mendatangi

ilmu komunikasi karena ilmu komunikasi dipandang menarik. Dengan

adanya hubungan indisipliner tersebut,ilmu komunikasi berkembang dan

memiliki spesialisasi khusus, seperti komunikasi antarpribadi yang

memiliki hubungan erat dengan ilmu psikoligi sosial.

2. Pengertian Komunikasi

Menurut DeVito (2011) komunikasi mengacu pada tindakan oleh

satu orang atau lebih, yang mengirim dan menerima pesan yang terdistorsi

9
10

gangguan (noise), terjadi dalan suatu konteks tertentu, mempunyai

pengaruh tertentu, dan ada kesempatan untuk melakukan umpan balik.

Wollf (Priyanto, 2009 :7) berpendapat bahwa komunikasi merupakan

proses timbal balik suatu pengalaman dimana pengirim dan penerima pesan

berpartisipasi secara simultan.

Berdasarkan pendapat para ahli tersebut, maka dapat disimpulkan

bahwa komunikasi merupakan suatu proses penyampaian informasi antara

individu atau kelompok, baik secara verbal maupun nonverbal yang dapat

menimbulkan respons timbal balik antara pengirim dan penerima informasi

(Priyanto, 2009: 8)

3. Tujuan Komunikasi

Menurut DeVito (2011) ada empat tujuan komunikasi. Tujuan

komunikasi tersebut, antara lain:

a. Menemukan

Salah satu tujuan utama komunikasi menyangkut penemuan diri

(personal discovery.) Berkomunikasi dengan orang lain, berarti belajar

tentang diri sendiri dan orang lain. Dengan berbicara kepada orang lain,

kita memperoleh umpan balik yang berharga mengenai perasaan,

pemikiran, dan perilaku kita.


11

b. Untuk berhubungan

Perasaan ingin dicintai dan menyukai orang lain, membuat manusia

termotivasi untuk membina dan memelihara hubungan baik dengan

orang lain.

c. Untuk meyakinkan

Komunikasi dalam hal ini yaitu bertujuan untuk mengubah sikap dan

perilaku manusia.

d. Untuk bermain

Manusia menggunakan komunikasi untuk bermain dan menghibur

[Link] contoh, kita mendengarkan pelawak, pembicara, music dan

film melakukan komunikasi untuk menghibur.

4. Unsur-unsur komunikasi

Menurut Priyanto (2009), komunikasi memiliki unsur tertentu agar

maksud yang disampaikan tercapai dengan baik. Unsur-unsur tersebut yaitu

a. Sumber (source)

Sumber merupakan dasar yang digunakan dalam penyampaian pesan

dan fungsi sebagai rangka yang memperkuat pesan itu sendiri,

sehingga pesan yang diterima mempunyai tingkat validitas tinggi.

Sumber dapat berupa lembaga atau instansi, orang, buku, dokumen,

dan lain-lain.
12

b. Pesan

Pesan adalah serangkaian informasi yang ingin disampaikan oleh

komunikator. Pesan yang disampaikan mempunyai isi yaitu inti pesan

untuk mempengaruhi perilaku komunikan sesuai dengan tujuan yang

diharapkan komunikator. Keakuratan pesan ditentukan oleh faktor-

faktor sebagai berikut:

1) Penyampaian pesan

2) Bentuk pesan

c. Perumusan pesan

Pesan yang akan disampaikan harus tersusun baik, tepat, dan jelas

sehingga sesuatu yang diharapkan dapat tercapai.

d. Komunikator

Komunikator adalah seseorang ataupun kelompok yang

menyampaikan pesan kepada komunikan. Seorang komunikator dapat

menjadi komunikan dan sebaliknya komunikan dapat berperan sebagai

komunikator. Keberhasilan komunikator dipengaruhi oleh penampilan,

penguasaan pesan atau informasi, dan penguasaan bahasa pesan.

e. Media

Media adalah sarana dalam penyampaian pesan. Media dapat

berbentuk buku, brosur, pamflet, radio, televisi, laptop dan lain-lain.


13

f. Hasil

tor dapat dimengerti atau diterima oleh komunikan dan sesuai dengan

harapan komunikator.

5. Hambatan dalam Komunikasi

Segala sesuatu yang menghalangi kelancaran komunikasi disebut

sebagai gangguan (noise). Marhaeni Fajar (Nurdianti, 2014:4) ada

beberapa hambatan dalam komunikasi, yaitu:

a. Hambatan dari proses komunikasi

Hambatan dari proses komunikasi dibedakan lagi menjadi beberapa

bagian, antara lain:

1) Hambatan dari pengirim pesan.

2) Hambatan dalam pengandaian/symbol

3) Hambatan media. Hambatan yang terjadi dalam penggunaan

media komunikasi.

4) Hambatan dari penerima pesan.

b. Hambatan psikologis

Hambatan psikologis terdiri dari:

1) Hambatan Sosio-antro-psikologis

Proses komunikasi berlangsung dalam konteks

[Link] komunikator harus memperhatikan situasi

ketika komunikasi dilangsungkan, terutama situasi yang


14

berhubungan dengan factor-faktor sosiologis-antropologis-

psikologis.

2) Hambatan semantic

Hambatan semantic terdapat pada diri komunikator, menyangkut

bahasa yang digunakan oleh kominukator.

3) Hambatan mekanis

Hambatan mekanis dijumpai pada media yang dipergunakan

dalam melancarkan komunikasi.

4) Hambatan ekologis

Disebabkan oleh gangguan lingkungan terhadap proses

berlangsungnya komunikasi. Contohnya yaitu suara siuh orang-

orang di keramaian.

B. Komunikasi Antarpribadi (interpersonal)

1. Pengertian Komunikasi Antarpribadi (interpersonal)

Langkah awal memahami karakteristik unik dari komunikasi

interpersonal adalah dengan melacak makna dari kara interpersonal. Kata

interpersonal adalah turunana dari kata inter, yang berarti “antara”, dan

kata person yang berarrti “orang”. Dengan kata lain, komunikasi

interpersonal secara umum terjadi antara dua orang. Seluruh proses

komunikasi terjadi diantara beberapa orang, namun seluruh interaksi tidak

melibatkan seluruh orang di dalamnya secara akrab. Buber


15

(Wood, 2013:22) mengatakan interaksi sosial dibedakan dalam tiga

tingkatan yaitu:

a. Komunikasi I-it

Dalam komunikasi I-it, interaksi kita dengan orang lain sangat

tidak personal, bisa dikatakan orang lain hanya sebagai objek.

b. Komunikasi I-you

Jenis komunikasi I-you, yaitu jenis yang paling banyak digunakan

dalam interaksi sehari-hari. Kita memperlakukan orang lain lebih

dari sekedar objek, tetapi kita tidak sepenuhnya menganggap

mereka sebagai manusia yang unik. Komunikasi I-you dapat

terjadi secara lebih personal. Interaksi tersebut serupa dengan

komunikasi di dunia maya dan forum internet, ketika orang-orang

bertemu karena memiliki kesamaan hobi dan gagasan.

c. Komunikasi I-Thou

Ketika berinteraksi ditingkatan I-Thou, kita melihat orang lain

dengan segala keutuhan dan kepribadiannya. Melihat seseorang

harus dari norma sosial tertentu, tetapi orang lain adalah manusia

yang unik dan kita menerima mereka secara utuh. Dalam

komunikasi I-Thou, kita terbuka sepenuhnya pada orang lain,

memercayai orang lain untuk menerima diri kita apa adanya

dalam segala kelebihan dan kekurangan.


16

2. Ciri-ciri Komunikasi Antarpribadi (Interpersonal)

Menurut Wood (2013), ciri-ciri komunikasi interpersonal yaitu

a. Selektif

Manusi tidak mungkin berkomunikasi secara akrab dengan semua

orang yang dijumpai dalam kehidupan sehari-hari.

b. Sistemis

Komunikasi interpersonal dicirikan dengan sifat sistemis karena

ia terjadi dalam sistem yang bervarisi. Terdapat banyak sistem

yang melekat pada proses komunikasi interpersonal. Setiap sistem

mempengaruhi apa yang kita harapkan dari orang lain. Cara

manusia nerkomunikasi sangat beragam berdasarkan kebudayaan

masing-masing.

Komunikasi interpersonal dipengaruhi oleh sistem, situasi, waktu,

masyarakat, budaya, latar belakang personal, dan sebagainya.

Dengan menggabungkan semua sistem tersebut untuk memahami

dinamika komunikasi interpersonal. Namun yang harus dipahami

bahwa seluruh sistem tersebut saling berkaitan, setiap bagian

mempengaruhi bagian lainnya.

c. Unik

Pada tingkatan yang paling dalam, komunikasi interpersonal

sangat unik. Pada interaksi yang melampaui peran sosial, setiap

orang menjadi unik dan oleh karena itu menjadi tidak tergantikan.
17

d. Processual

Komunikasi interpersonal adalah proses yang berkelanjutan. Hal

tersebut berarti komunikasi senantiasa berkembang dan menjadi lebih

personal dari masa ke masa. Proses yang berkelanjutan tidak

memiliki awal dan akhir yang pasti.

e. Transaksional

Komunikasi interpersonal adalah proses transaksi antara beberapa

orang. Sifat transaksional yang secara alami terjadi dalam

komunikasi interpersonal berdampak pada tanggung jawab

komunikator untuk menyampaikan secara jelas.

f. Individual

Bagian terdalam dari komunikasi interpersonal melibatkan

manusia sebagai individu yang unik dan berbeda dari orang lain.

g. Pengetahuan personal

Komunikasi interpersonal membantu perkembangan pengetahuan

personal dan wawasan kita terhadap interaksi manusia. agar dapat

memahami keunikan individu, kita harus memahami pikiran dan

perasaan orang lain secara personal. Komunikasi juga membuka

pemahaman terhadap kepribadian orang lain. Ketika hubungan

yang dijalin semakin dalam, kita membangun kepercayaan dan

belajar untuk berkomunikasi dengan cara yang nyaman.


18

h. Menciptakan makna

Inti dari komunikasi interpersonal adalah berbagi makna dan

informasi antara dua belah pihak. Tidak hanya bertukar kalimat,

tetapi saling berkomunikasi. Menciptakan makna seperti

memahami tujuan setiap kata dan perilaku yang ditampilkan oleh

orang lain.

3. Prinsip-prinsip dalam komunikasi interpersonal

Menurut Wood (2013), ada delapan prinsip dalam komunikasi

interpersonal yaitu

a. Tidak mungkin hidup tanpa berkomunikasi

b. Komunikasi interpersonal adalah hal yang tidak dapat diubah

c. Komunikasi interpersonal melibatkan masalah etika

d. Manusia menciptakan makna dalam komunikasi interpersonal

e. Metakomunikasi mempengaruhi pemaknaan

f. Komunikasi interpersonal menciptakan hubungan yang

berkelanjutan

g. Komunikasi tidak dapat menyelesaikan semua hal

h. Efektivitas komunikasi interpersonal adalah sesuatu yang dapat

dipelajari.
19
C. Komunikasi dalam Keluarga

1. Pengertian keluarga

Murdock (Lestari, 2012:3) mengatakan bahwa keluarga merupakan

kelompok social yang memiliki karakteristik tinggal bersama, terdapat kerja

sama ekonomi, dan terjadi proses reproduksi. Koerner dan Fizpatrick

(Lestari, 2012:4) mengatakan bahwa defenisi keluarga setidaknya dapat

ditinjau berdasarkan tiga sudut pandang, yaitu:

a. Defenisi structural

Keluarga didefenisikan berdaskan kehadiran atau ketidakhadiran anggota

keluarga, seperti orang tua, anak, dan kerabat lainnya.

b. Defenisi fungsional

Keluarga didefenisikan dengan penekanan pada terpenuhinya tugas-tugas

dan fungsi-fungsi psikososial. Fungsi-funsi tersebut mencakup

perawatan, sosialisasi pada anak,dukungan emosi dan materi, dan

pemenuhan peran-peran tertentu.

c. Defenisi transaksional

Keluarga didefenisikan sebagai kelompok yang mengembangkan

keintiman melalui perilaku-perilaku yang memunculkan rasa identitas

sebagai keluarga (family identity), berupa ikatan emosi, pengalaman

historis, maupun cita-cita masa depan.

Berdasarkan pengertian keluarga menurut para ahli di atas, maka dapat

disimpulkan bahwa keluarga merupakan suatu kelompok social yang tinggal


20

ersama, memiliki hubungan yang kuat baik secara emosi maupun meteri

antara setiap indivudu. Dengan kata lain setiap orang dalam kelompok

memiliki keterikatan dan terhubung baik secara emosi maupun materi.

2. Komunikasi Orang Tua Dengan Anak

Shek (Lestari, 2012:61), hasil-hasil penelitian mengatakan bahwa

komunikasi orang tua-anak dapat mempengaruhi fungsi keluarga secara

keseluruhan dan kesejahteraan psikososial pada diri anak. Clark dan Shileds

(Lestari, 2012:61) menemukan bukti bahwa komunikasi yang baik antara

orang tua-anak berkolerasi dengan rendahnya keterlibatan anak dalan

perilaku delinkuen.

Ginott (Mufidah, 2008:28), cara baru berkomunikasi dengan anak

harus berdasarkan sikap menghormati dan keterampilan. Hal ini menjelaskan

bahwa tindakan menghormati dan keterampilan tersebut berupa kegiatan

tegur-sapa yang tidak boleh melukai harga diri anak, begitupun sebaliknya.

Orang tua dalam hal ini bertindak sebagai pendidik yang pertama harus

memberikan contoh dan sikap pengertian kepada anak, baru kemudian

member nasehat.

Komunikasi orang tua-anak sangat penting bagi orang tua dalam

upaya melakukan kontrol, pemantauan, dan dukungan pada anak. Tindakan

orang tua untuk mengontrol, memantau dan memberikan dukungan dapat

dipersepsi positif atau negatif oleh anak, diantaranya dipengaruhi oleh cara

orang tua berkomunikasi.


21

3. Panduan untuk Komunikasi Efektif dalam Keluarga

Menurut Wood (2013), ada empat panduan untuk komunikasi yang

efektif dalam keluarga yaitu:

a. Mengelola keseimbangan peran dalam hubungan keluarga

Salah satu panduan terpenting dalam keberlangsungan kehidupan

keluarga yang sehat adalah menciptakan keadilan peran keluarga.

Tanggung jawab ini di emban oleh seluruh angota keluarga, bukan

tanggung jawab ayak atau ibu saja. Penghargaan adalah element yang

diinginkan dalam sebuah hubungan. Misalnya afeksi dan dukungan

sosial yang timbul dalam keluarga.

b. Membuat pilihan sehari-hari untuk menguatkan keintiman

Panduan terpenting kedua untuk menguatkan komunikasi dalam

keluarga adalah kepekaan melihat kondisi keluarga sebagai refleksi

pilihan yang diambil oleh anggotanya. Secara spesifik keluarga

cenderung fokus pada hal-hal besar, seperti ketika sedang menangani

konflik serius. Padahal ha-hal kecil seringkali dapat mempererat

hubungan dalam keluarga Carter (Wood, 2013). Dampak dari hal-hal

kecil bila sering dilakukan dapat menciptakan pilihan yang bisa

meningkatkan kualitas hubungan dalam keluarga.


22

c. Menunjukan rasa menghargai dan perhatian

Agar tercipta keluarga yang saling cinta dan memuaskan, anggota

keluarga harus menunjukan bahwa mereka secara konsisten

menghormati dan memerhatikan anggota lain.

d. Jangan terluka hanya karena hal kecil

Kita semua pasti memiliki kebiasaan pribadi yang mungkin tidak

disukai oleh orang lain. Mungkin kita tidak tau bahwa ada anggota lain

yang terganggu dengan aktivitas kita. Kadang kita jarang

mempertimbangkan perasaan anggota lain. Namun kita dapat membantu

pasangan untuk mengurangi kelemahan yang ia miliki. Perspektif yang

diambil ikut mempengaruhi persepsi dan perasaan yang dialami.

D. Tugas Perkembangan Keluarga dengan Anak Usia Sekolah

1. Tugas Perkembangan Anak Usia Sekolah

Menurut Setiono (2011), tugas perkembangan anak usia sekolah yaitu:

a. Belajar keterampilan dasar yang diperlukan untuk anak sekolah.

b. Menguasai keterampilan fisik yang sesuai dengan tahapan

perkembangannya.

c. Mengembangkan pemahaman praktis tentang penggunaan uang.

d. Menjadi anggota keluarga yang aktif dan kooperatif.

e. Memperluas kemampuan berhubungan dengan orang lain, baik teman

sebaya maupun orang dewasa.

f. Senantiasa belajar mengendalikan perasaan dan impulsnya.


23

g. Menyadari peran jenis kelaminnya baik saat ini maupun yang akan

dating.

h. Senantiasa menemukan dirinya sebagai orang yang berguna.

i. Mengembangkan hati nurani dengan control moral dari dalam diri.

2. Tugas Perkembangan Orang Tua Anak Usia Sekolah

a. Memenuhi perkembangan anak untuk perkembangannya.

b. Menikmati hidup bersama anak.

c. Mendorong perkembangan anak.

3. Tugas Perkembangan Keluarga pada Tahap Anak Usia Sekolah

a. Memberikan keperluan anak untuk melakukan aktivitas dan privasi

orang tua.

b. Tetap mengusahakan kebutuhan financial terpenuhi.

c. Melakukan sosialisasi lanjut kepada anggota keluarga.

d. Membina hubungan diluar keluarga.

e. Mengembangkan moral keluarga.

E. Hakekat Gadget Beserta Dampaknya

1. Pengertian gadget

Osland (Irawan dan Leni Armayati, 2013), mengatakan bahwa

gadget adalah sebuah istilah dalam bahasa Inggris yang mengartikan sebuah

alat elektronik kecil dengan berbagai macam fungsi khusus. Swarnadwitya

(Irawan dan Leni Armayati, 2013), mengatakan yang membedakan antara

gadget dengan perangkat lainnya yaitu unsur “kebaruan”. Yang artinya dari
24

hari ke hari gadget selalu muncul menyajikan teknologi baru yang membuat

hidup manusia menjadi praktis. Adapun beberapa contoh gadget yang

biasanya digunakan di masyarakat luas seperti handphone, netbook, ipad.

Selain contoh yang disebut, masih banyak contoh gadget lainnya. Hal ini

disebabkan oleh cakupan gadget yang sangat luas, sehingga hampir setiap

perangkat elektronik kecil dengan kemampuan khusus dan menyajikan

teknologi baru bisa disebut gadget.

2. Manfaat dan Kerugian Gadget.

a. Dampak positif

1) Menambah pengetahuan dan kreativitas

Muduli (2014:8) mengatakan bahwa “Tech-devices and

gaming may have positive effects on investigating skills, strategic

thinking and creativity potential of the individuals” dengan kata lain,

bahwa perangkat teknologi dan gaming dapat meningkatkan

kemampuan investigasi individu, meningkatkan kemampuan berpikir

dalam hal menentukan strategi dan kreativitas individu. Ia juga

mengatakan bahwa “These tech devices and services are better

sources for learning for the youth and these are the sources of fun

and entertainment which help them distract from daily stresses of

life” (Muduli (2014:8), dengan kata lain perangkat teknologi

merupakan media yang baik untuk pembelajaran anak, serta


25

merupakan media yang menyenangkan untuk anak dalam

menghindari stress karena rutinitas harian anak.

2) Mempermudah anak dalam belajar

Samson (Muduli, 2014:9) mengatakan bahwa “When students

use laptops and other tech-devices by the instructor’s advice they are

connected to course learning objectives. The classroom learning and

engagement of the young students can be impacted positively by the

use of these digital devices” dengan kata lain penggunaan perangkat

teknologi seperti laptop dapat meningkatkan keterlibatan siswa dalam

pembelajaran.

3) Memperluas jaringan persahabatan

Tsitsika dan Jandikian (Muduli, 2014:8) mengatakan bahwa

“about 32.7% of the world’s population has access to the social

networking sites like Face book, Twitter, Linked-In, YouTube,

Flicker, blogs, wikis, and many more which let people of all ages

rapidly share their interests of the moment with others everywhere”.

Berdasarkan pernyataan pernyataan tersebut diketahui bahwa sekitar

32,7% populasi dunia menggunakan social media seperti facebook,

Twitter, youtube, blog dan berbagai social media lain untuk

membagikan momen menarik mereka dengan orang lain. Oleh karena

itu ia mengatakan “So the interconnectedness throughout the world is

growing rapidly due to internet use” (Tsitsika dan Jandikian (Muduli,


26
2014:8). Hal ini menjelaskan bahwa orang-orang dihubungkan oleh

social media melalui internet, yang mana internet sendiri merupakan

bagian dari teknologi dan gadget.

b. Dampak Negatif

1) Membuat anak menjadi lemah dalam hal practical skill

Muduli (2014:9) mengatakan bahwa “The digital activities

make the youth strong in technical skills but make them weak in real

life practical skills” hal ini menjelaskan bahwa dengan adanya

aktivitas digital yang dilakukan oleh anak, membuat mereka bagus

dalam hal teknik dibandingkan dengan kemampuan prakateknya.

Muduli (2014:9) juga menambahkan “It takes the young mass away

from the reality helping them to live in their imaginary world. Due to

the time spent on the devices the youth are refrained from some

outdoor activities with friends and family” hal ini menyebabkan anak

untuk menjadi apatis dan lebih memilih tinggal dalam dunia

imajinasinya dibandingkan dengan aktivitas dengan teman dan

keluarga di dunia nyata.

2) Rawan terhadap tindakan kekerasan

Pada kenyataannya gadget seperti smartphone biasanya

memfasilitasi penggunanya untuk bermain game. Muduli (2014:9)

mengatakan bahwa “The indulgence in violent games may create

more violence in their mind” jelas dikatakan bahwa kesukaan anak


27
dalam bermain game yang berbau kekerasan, dapat mempengaruhi

pikiran anak dan membuat anak menanamkan tentang perilaku

kekerasan dalam pikirannya.

3) Membuat anak malas belajar

Muduli (2014:9) mengatakan “The more they use the gadgets,

the more they are crazy about it which may distract them from study”

dengan kata lain bahwa semakin sering anak menggunakan gadget,

anak semakin asik dengan aktivitasnya tersebut sehingga anak bisa

melupakan tugas pokoknya yaitu belajar.

4) Mempengaruhi kesehatan

Muduli (2014:9) mengatakan bahwa “During the time of

playing games when they can’t achieve the set target, it may raise

their anxious level higher. After all addiction to the devices may

develop unhealthy lifestyle, poor time management and poor eating

habits among the youth” dikatakan bahwa ketika anak tidak dapat

mencapai target tertentu dalam suatu game kecemasan yang dialami

anak anak meningkat. Ketika anak menjadi kecanduan terhadap

game, hal ini akan mengakibatkan kebiasaan hidup yang tidak sehat,

buruk dalam manajemen waktu, dan pola makan yang buruk.

Young (Muduli, 2014:10) juga mengatakan bahwa “The

addictive internet use has negative impacts on mental health. There is

a positive relationship between Internet addiction and psychiatric


28

disorders like depression, bipolar disorder, obsessive-compulsive

disorder, attention deficit disorder, etc” menjelaskan tentang dampak

negatif internet yang terhubung dengan gadget bagi kesehatan.

Beberapa penyakit yang bisa terjadi ketika kecanduan internet yaitu

gangguan psikis seperti depresi, bipolar disorder, obsessive

compulsive disorder, dan sebagainya.

3. Cara Mengatasi Dampak Negatif Gadged pada Anak

Sosok yang paling berpengaruh dalam mencegah maupun mengatasi

dampak negatif dari gadget adalah orang tua. Maka orang tua memiliki peran

besar dalam membimbing dan mencegah agar teknologi gadget tidak

berdampak negatif bagi anak. Lee (2015, Positive and Negative Impact of

Electronic Devices on Children,

[Link]

Children, diakses tanggal 8 juni 2017) berpendapat bahwa “It,s impossible to

completely eliminate electronic devices from a child,s life, but there are ways

to decrease their negative impact” dengan kata lain, walaupun tidak mungkin

untuk untuk menghindarkan perangkat elektronik seperti gadget dari

kehidupan anak, orang tua masih bisa untuk mengurangi dampak negatif dari

perangkat elektronik itu sendiri, yang dalam hai ini adalah gadget. Adapun

cara-cara untuk mengatasi atau mengurangi dampak negatif gadget pada anak

yaitu:
29

a. “Know the rating of the game and television programs you child wants to

use or watch”. Ketahui rating dari game dan program televisi yang anak

ingin nonton atau konsumsi. Rating dalam hal ini maksudnya yaitu

tentang jenis permainan dan acara TV yang akan dikonsumsi anak

meupakan game atau avara tv khusus buat anak-anak atau bukan.

b. “Do not set up electronic in a child badroom” Jangan memasang

perangkat elektronik di dalam kamar anak.

c. “Make media rules. For example, place a time limit of how often or long

a child is allowed to use an electronic device, including games and

television”. Membuat aturan yang disepakati dengan anak, misalnya

dengan meberlakukan batas waktu penggunaan gadget terhadap anak.

d. “Monitor your child’s media consumtion, including video games,

television, movies, and internet”. Orang tua mengawasi media yang

dikonsumsi oleh anak, misalnya terkait game, acara televise, film, dan

internet.

e. “Communicated with your child about what they observe in video games,

television program or [Link] them how they feel about the media

they have acces to and discuss it with them”. Diskusikan dengan anak

tentang apa yang mereka lihat dan dapat dari game atau acara tv yang

mereka nonton. Tanyakan kepada anak tentang apa yang mereka rasakan

setelah bermain game atau menonton acara tv yang mereka sukai.


BAB III
METODE PENELITIAN

Bab ini memaparkan jenis penelitian, tempat dan waktu penelitian, subyek dan

obyek penelitian, teknik dan instrument pengumpulan data, keabsahan data, dan

teknik analisis data. Keenam sub judul tersebut merupakan bagian-bagian dari metode

penelitian yang harus ada dalam sebuah penelitian. Masing-masing sub bagian akan

dijabarkan secara singkat, padat, dan jelas. Berikut merupakan penjabaran dari

masing-masing sub bagian

A. Jenis Penelitian

Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan metode studi

kasus. Penelitian kualitatif adalah metode penelitian yang digunakan untuk

meneliti kondisi obyek yang alamiah, dimana peneliti adalah sebagai instrument

kunci.

Metode kualitatif digunakan untuk mendapatkan data yang mendalam, suatu data

yang mengandung makna. Makna adalah data sebenarnya, data yang pasti yang

merupakan suatu nialai di balik data yang tampak (Sugiyono, 2012:15). Metode

studi kasus adalah pengujian intensif menggunakan berbagai sumber bukti

terhadap suatu entitas tunggal yang dibatasi oleh ruang dan waktu (Tohirin,

2011:19)

B. Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian dilakukan di Kelurahan Talang Babat kecamatan Muara Sabak

Barat kabupaten Tanjung Jabung Timur Jambi. Waktu penelitian dilakukan

selama dua satu minggu. Selama peneliti melakukan penelitian, peneliti tidak

selalu datang ke

30
31

tempat penelitian, melainkan melalui wawancara. Berikut jadwal yang di

tentukan peneliti selama melakukan penelitian.

Tabel 3.1 Jadwal Penelitian

No Tanggal Keterangan Tempat


1 25 Juni Konfirmasi kepada subjek
2019 wawancara
2 26 Juni Persiapan wawancara Rumah Penulis
2019
3 27 Juni observasi Rumah subyek
2019
4 28 Juni Wawancara pertama Rumah subyek
2019
5 1 Juli 2019 Wawancara ke dua Ibu Rumah subyek
6 2 Juli 2019 Observasi anak Rumah subyek
7 2 Juli 2019 Wawancara ke tiga Ibu dan
Rumah subyek
wawancara ke dua dengan ayah.
8 3 Juli 2019 Wawancara ke dua anak Rumah subyek
9 4 Juli 2019 Wawancara ke tiga anak Rumah subyek
10 4 Juli 2019 Wawancara ke tiga ayah Rumah subyek.
11 9 Juli – 18 Juli Menganalisis hasil wawancara dan Rumah Penulis
2019 observasi, serta membuat verbatim
hasil wawancara. Hasil wawancara
kemudian dibuat dalam bentuk
kode-kode.
32

C. Subyek Penelitian

Subyek dalam penelitian adalah Salah satu keluarga di Kelurahan Talang

Babat kecamatan Muara Sabak Barat kabupaten Tanjung Jabung Timur Jambi.

Keluarga tersebut terdiri dari Seorang Ayah, Ibu, dan dua orang anak. Berikut

adalah daftar jumlah subyek peneliti yang akan menjadi sumber informasi.

Tabel 3.2 Daftar Subyek Penelitian

NO Subjek Jumlah

1 Ayah 1

2 Ibu 1

3 Anak 1

D. Teknik instrument Pengumpulan

Data Wawancara

Wawancara merupakan pertemuan dua orang untuk bertukar informaasi

dan ide melalui Tanya jawab, sehingga dapat di konstruksikan makna dalam

suatu topic tertentu, Estberg (dalam Sugiyono, 2012 : 317). Jenis pertanyaan

yang di gunakan oleh peneliti dalam proses wawancara adalah pertanyaan

struktur. Wawancara ditujukan kepada kepala sekolah, guru BK, dan Guru mata

pelajaran. Berikut adalah panduan wawancara terstruktur yang di aplikasikan

pada subyek.
33

Tabel 3.3 Panduan wawancara

NO ASPEK PERTANYAAN

1. Ayah 1. Pengertian dan pemahaman gadget dan pemanfaatan

gadget yang tepat pada anak.

a. Apa yang dimaksud dengan gadget?

b. Apa manfaat dari gadget yang dirasakan oleh

Bapak dalam kehidupan sehari-hari?

c. Apa manfaat dari gadget yang dirasakan oleh

Bapak khususnya terhadap perkembangan anak?

d. Apa saja dampak negatif dari gadget terhadap


anak?

2. Cara berkomunikasi, memberikan pemahaman

tentang penggunaan gadget yang tepat oleh orang

tua pada anak.

a. Apa yang dimaksud dengan komunikasi dalam

keluarga?

b. Seberapa penting komunikasi dilakukan dalam

keluarga?

c. Bagaimana cara berkomunikasi yang baik dalam

sebuah keluarga, khususnya antara suami dengan

istri?

d. Bagaimana cara komunikasi yang baik antara

orang tua kepada anak-anak dalam keluarga?

e. Sebagai seorang ayah dan kepala keluarga,

bagaimana peran bapak dalam berkomunikasi


dengan
34

anggota keluarga, yang terdiri dari ibu dan anak-

anak?

f. Bagaimana cara Bapak berkomunikasi,

memberikan pemahaman kepada anak tentang

cara menggunakan gadget yang tepat?

3. Hambatan yang dirasakan dalam upaya mencegah

dampak negatif gadget.

a. Apa saja hambatan yang membuat komunikasi

dalam keluarga menjadi kurang efektif?

b. Dalam berkomunikasi dengan anak-anak, apa

saja hal yang paling mengganngu dan

mengakibatkan komunikasi menjadi tidak

efektif?

c. Terkait dengan mengatasi dampak negatif

gadget, apa saja hal yang membuat komunikasi

antara bapak dengan anak menjadi terganggu.

4. Usaha yang dilakukan untuk mencegah dampak

negatif gadget.

a. Bagaimana cara bapak dalam menjaga keintiman

dalam hal berkomunikasi dalam keluarga?

b. Usaha apa saja yang sudah Bapak lakukan untuk

mencegah penggunaan gadget yang berlebihan

oleh

anak?
2. Ibu 1. Pengertian dan pemahaman gadget serta
pemanfaatan
35

gadget yang tepat pada anak.

e. Apa yang dimaksud dengan gadget?

f. Apa manfaat dari gadget yang dirasakan oleh Ibu

dalam kehidupan sehari-hari?

g. Apa manfaat dari gadget yang dirasakan oleh Ibu

khususnya terhadap perkembangan anak?

h. Apa saja dampak negatif dari gadget terhadap


anak?

2 Cara berkomunikasi, memberikan pemahaman tentang

penggunaan gadget yang tepat oleh orang tua pada

anak.

a. Seberapa penting komunikasi dilakukan dalam

keluarga?

b. Bagaimana cara berkomunikasi yang baik dalam

sebuah keluarga, khususnya antara suami dengan

istri?

c. Bagaimana cara komunikasi yang baik antara

orang tua kepada anak-anak dalam keluarga?

d. Sebagai seorang Ibu, bagaimana peran ibu dalam

berkomunikasi dengan anggota keluarga?

e. Bagaimana cara Ibu berkomunikasi, memberikan

pemahaman kepada anak tentang cara

menggunakan gadget yang tepat?

3. Hambatan yang dilakukan untuk mencegah dampak

negatif gadget.
36

a. Apa saja hambatan yang membuat komunikasi

dalam keluarga menjadi kurang efektif?

b. Dalam berkomunikasi dengan anak-anak, apa

saja hal yang paling mengganngu dan

mengakibatkan komunikasi menjadi tidak

efektif?

c. Terkait dengan mengatasi dampak negatif

gadget, apa saja hal yang membuat komunikasi

antara ibu dengan anak menjadi terganggu.

4. Usaha yang dilakukan untuk mencegah dampak

negatif gadget.

a. Bagaimana cara Ibu dalam menjaga keintiman

dalam hal berkomunikasi dalam keluarga?

b. Usaha apa saja yang sudah Bapak lakukan


untuk

mencegah penggunaan gadget yang berlebihan

oleh anak?
3. Anak 1. Pengertian dan pemahaman gadget serta

pemanfaatan gadget yang tepat.

a. Menurut adik, apa yang dimaksud dengan


gadget?

b. Apa manfaat dari gadget yang dirasakan dalam

kehidupan sehari-hari?

c. Apa manfaat dari gadget yang dirasakan adik

dalam hal belajar?

d. Apa saja dampak negatif dari gadget?


37

2. Cara berkomunikasi, memberikan pemahaman

tentang penggunaan gadget yang tepat oleh orang

tua pada anak.

a. Bagaimana cara ayah dan ibu memberikan

contoh tentang komunikasi dalam keluarga?

b. Bagaimana cara komunikasi yang baik antara

orang tua kepada anak-anak dalam keluarga?

c. Bagaimana peran ibu dan ayah dalam

berkomunikasi dengan anggota keluarga?

d. Bagaimana cara Ibu berkomunikasi,

memberikan pemahaman kepada adik tentang

cara menggunakan gadget yang tepat?

3. Hambatan yang dirasakan dalam upaya mencegah

dampak negatif gadget.

a. Apa saja hambatan yang membuat komunikasi

dalam keluarga menjadi kurang efektif?

b. Apa saja hal yang paling mengganngu dan

mengakibatkan komunikasi antara adik dengan

orang tua menjadi tidak efektif?

c. Terkait dengan mengatasi dampak negatif

gadget, apa saja yang membuat komunikasi

antara orang tua dengan anak menjadi

terganggu?

4. Usaha yang dilakukan untuk mencegah dampak


negatif
gadget.
38

a. Bagaimana cara orang tua dalam menjaga

keintiman dalam hal berkomunikasi dalam

keluarga?

b. Usaha apa saja yang sudah dilakukan orang tua

supaya adik tidak menggunakan gadget secara

berlebihan?

E. Keabsahaan Keterpercayaan Data

Penelitian ini menggunakan teknik triangulasi untuk melihat validitas

data. Sugiyono (2012 : 330) mengatakan bahwa ada dua jenis triangulasi yaitu

triangulasi teknik dan triangulasi sumber. Penelitian ini menggunakan satu jenis

triangulasi, yaitu triangulasi sumber. Dalam triangulasi sumber peneliti

menggunakan perbandingan tiga sumber yang berbeda yaitu Ayah, Ibu dan

Anak.

F. Teknik Analisis Data

Penelitian melakukan analisis data melalui analisis domain. Analisis domain

dilakukan untuk memperoleh gambaran yang umum dan menyeluruh dari

obyek/penelitian atau situasi sosial. Ditemukan berbagai domain atau kategori. Diperoleh

dengan pertanyaan grand dan minitour. Peneliti menetapkan domain tertentu sebgai

pijakkan untuk penelitian selanjutnya. Makin banyak domain yang dipilih, maka akan

semakin banyak waktu yang diperlukan untuk penelitian (Sugiyono, 2012: 348).
39

Berikut merupakan langkah-langkah yang diambil peneliti dalam menganalis

data.

a. Verbatim

Peneliti membuat verbatim setelah melakukan wawancara. Didalam

verbatim tersebut dipilih data yang dibutuhkan dalam penelitian.

b. Coding

Setelah membuat verbatim yang dibutuhkan dalam penelitian, selanjutnya

peneliti membuat coding yaitu mengkode inti sari/ mencari kata-kata utama

dalam verbatim tersebut.

c. Reduksi data

Mereduksi data berarti merangkum, memilih hal-hal yang pokok,

memfokuskan pada hal-hal yang penting, dicari tema dan polanya dan

membuang yang tidak perlu (Sugiyono, 2012).

d. Interpretasi

Setelah direduksi maka peneliti menginterpretasi pernyataan-pernyataan

yang sudah ada dalam reduksi. Interpretasi ini merupakan gabungan

reduksi dari kepala sekolag, guru BK dan guru mata pelajran setelah itu

peneliti membuat kesimpulan.

Anda mungkin juga menyukai