0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
36 tayangan32 halaman

Jenis Anyaman dalam Bahan Tekstil

Modul ini membahas tentang bahan tekstil, termasuk pengertian, klasifikasi, konstruksi, karakteristik, dan pemilihan bahan tekstil yang tepat untuk busana berdasarkan fungsi dan kegunaannya. Tujuannya adalah agar mahasiswa dapat mengidentifikasi, menganalisis, dan memilih bahan tekstil sesuai dengan karakteristiknya.

Diunggah oleh

mia
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
36 tayangan32 halaman

Jenis Anyaman dalam Bahan Tekstil

Modul ini membahas tentang bahan tekstil, termasuk pengertian, klasifikasi, konstruksi, karakteristik, dan pemilihan bahan tekstil yang tepat untuk busana berdasarkan fungsi dan kegunaannya. Tujuannya adalah agar mahasiswa dapat mengidentifikasi, menganalisis, dan memilih bahan tekstil sesuai dengan karakteristiknya.

Diunggah oleh

mia
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

No Kode: DAR2/Profesional/698/2/2019

PENDALAMAN MATERI TATA BUSANA

MODUL 2
PENGETAHUAN TEKSTIL

KEGIATAN BELAJAR 3
BAHAN TEKSTIL

Nama Penulis:

Dr. Widihastuti, [Link].

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN


2019
DAFTAR ISI

DAFTAR ISI ........................................................................................................... 1


KEGIATAN BELAJAR 3 ...................................................................................... 2
BAHAN TEKSTIL ................................................................................................. 2
1. Pendahuluan ..................................................................................................... 2
1. Deskripsi Singkat ......................................................................................... 2
2. Relevansi ...................................................................................................... 3
3. Petunjuk Belajar ........................................................................................... 4
B. Inti .................................................................................................................... 5
1. Capaian Pembelajaran Mata Kegiatan ......................................................... 5
2. Pokok-pokok Materi .................................................................................... 6
3. Uraian Materi ............................................................................................... 6
a. Pengertian Bahan Tekstil.......................................................................... 6
b. Klasifikasi Bahan Tekstil ......................................................................... 6
c. Konstruksi Bahan Tekstil (Kain) ............................................................ 11
d. Karakteristik Bahan Tekstil (Kain) ........................................................ 16
e. Pemilihan Bahan Tekstil/ Kain (Main Material) untuk Busana............. 17
f. Pemilihan Bahan Pelapis (Underlying) .................................................. 20
4. Forum Diskusi ............................................................................................ 25
C. Penutup .......................................................................................................... 26
1. Rangkuman ................................................................................................ 26
2. Tes Formatif ............................................................................................... 26
DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................... 31

1
KEGIATAN BELAJAR 3

BAHAN TEKSTIL

1. Pendahuluan

1. Deskripsi Singkat
Perkembangan industri tekstil saat ini berkembang pesat seiring
dengan penggunaan bahan tekstil yang semakin variatif mengikuti
perkembangan trend fashion baik di tingkat lokal, nasional, maupun
global. Apalagi didukung oleh kebijakan pemerintah terkait industri kreatif
yang menempatkan industri fashion masuk dalam peringkat empat. Begitu
luasnya penggunaan bahan tekstil saat ini menjadikan industri tekstil
menjadi salah satu industri non migas penghasil devisa terbesar bagi
semua negara di seluruh dunia. Salah satu sektor yang masuk dalam
industri tekstil dan produk tekstil adalah sektor Industri pertenunan,
perajutan dan non woven untuk memproduksi kain mentah dan industri
pencelupan, pencapan dan penyempurnaan tekstil untuk memproduksi
kain putih, kain berwarna, kain bermotif dan kain-kain yang berkualitas
untuk berbagai kebutuhan penggunaan.
Kegiatan Belajar 1 dan Kegiatan Belajar 2 dalam Modul 2
Pengetahuan Tekstil ini telah membahas tentang serat tekstil dan benang
tekstil. Selanjutnya, Kegiatan Belajar 3 ini akan difokuskan pada
pembahasan mengenai bahan tekstil. Sebab, bahan tekstil atau sering
disebut juga dengan kain merupakan bahan utama (raw material) dalam
pembuatan busana/fahion, sehingga ketepatan pemilihan bahan tekstil
untuk busana perlu diperhatikan baik konstruksinya maupun
karakteristiknya agar sesuai dengan fungsi dan kegunaannya. Seiring
dengan perkembangan industri kreatif bidang fashion yang semakin pesat
maka kebutuhan akan bahan tekstil juga semakin meningkat. Berbagai

2
bahan tekstil ini diolah menjadi produk tekstil seperti busana (pakaian),
interior, komponen industri dan berbagai kerajinan tekstil.
Seperti sudah diuraikan sebelumnya, bahwa antara serat tekstil, benang
tekstil, dan bahan tekstil memiliki keterkaitan yang erat satu sama lain.
Serat tekstil merupakan bahan dasar penyusun benang tekstil dan bahan
tekstil sehingga karakteristiknya akan sangat mempengaruhi karakteristik
benang maupun bahan tekstil (kain) yang dihasilkan. Dengan kata lain,
bagaimana karakteristik benang dan bahan tekstil (kain) yang dihasilkan
sangat tergantung dari karakteristik serat tekstil penyusunnya. Oleh karena
itu sangat penting sekali diperhatikan saat kita melakukan pemilihan dan
perawatan bahan tekstil tersebut kita harus memperhatikan karakteristik
bahan tekstil tersebut. Mempertimbangkan hal ini maka penguasaan
pengetahuan tentang bahan tekstil ini sangat penting bagi mahasiswa PPG
agar dapat mengajarkannya pada peserta didik di SMK Tata Busana
dengan baik.
Setelah mempelajari Modul 2 Pengetahuan Tekstil pada Kegiatan
Belajar 3 ini, mahasiswa PPG Prodi Pendidikan Tata Busana diharapkan
mampu: (1) menjelaskan secara rinci pengertian dan berbagai jenis bahan
tekstil; (2) menganalisis konstruksi bahan tekstil; (3) memahami dan
menganalisis karakteristik berbagai jenis bahan tesktil; dan (4)
mengidentifikasi serta memilih bahan tekstil secara tepat sesuai
kegunaannya. Dengan kemampuan tersebut maka diharapkan mahasiswa
dapat mengidentifikasi, menganalisis dan mengklasifikasi bahan tekstil
serta memilih, menentukan, mengolah dan merawat bahan tekstil secara
tepat untuk bidang fashion berdasarkan karakteristik bahan tekstilnya.

2. Relevansi
Terkait uraian di atas, maka dapat dijelaskan bahwa bahan tekstil
merupakan materi pembelajaran yang sangat penting dipelajari oleh
mahasiswa PPG Prodi Pendidikan Tata Busana. Tujuannya adalah agar
dapat membekali mahasiswa dalam menentukan berbagai jenis/klasifikasi

3
bahan tekstil (kain), karakteristik kain, menentukan kegunaan dan
fungsinya, serta menentukan teknik perawatannya sebagai dasar bagi
mahasiswa saat mempelajari materi lain terkait pengetahuan tekstil.
Dengan demikian maka materi pengetahuan tekstil ini harus dikuasai
dengan baik oleh mahasiswa agar capaian pembelajaran bidang busana
dapat tercapai dengan baik.
Adapun relevansi materi Kegiatan Belajar 3 tentang bahan tekstil
ini denga materi yang lain dalam pengetahuan tekstil secara jelas
digambarkan dalam bentuk bagan seperti pada Gambar 1.

Gambar 21. Hirarki Proses Pembuatan Bahan Tekstil

3. Petunjuk Belajar
Sebelum mempelajari modul ini maka perhatikan dan ikuti
petunjuk serta cara belajar menggunakan modul ini. Modul ini dapat
digunakan oleh Instruktur/Dosen maupun mahasiswa PPG dalam jabatan
Pendidikan Tata Busana dalam proses pembelajaran.
a. Petunjuk bagi Dosen dalam pembelajaran menggunakan modul ini:
1) Dosen dalam hal ini berperan sebagai fasilitator dan instruktur
2) Sebagai fasilitator, dosen memiliki tugas memfasilitasi,
mendampingi dan mengarahkan mahasiswa dalam belajar
sehingga tujuan pembelajaran tercapai

4
3) Dosen mereview proses dan hasil belajar mahasiswa serta
memberi penjelasan jika ada mahasiswa yang mengalami
kesulitan dalam mempelajari modul ini
b. Petunjuk Belajar bagi Mahasiswa PPG Prodi Pendidikan Tata Busana:
1) Pahami semua capaian pembelajaran, sub capaian pembelajaran,
uraian materi, rangkuman, tugas, dan tes formatif dalam setiap
mata kegiatan modul ini.
2) Jika ada penjelasan dalam materi yang kurang jelas atau
mengalami kesulitan dalam mempelajarinya, sebaiknya
berkonsultasi dengan Dosen pengampu materi ini
3) Keberhasilan proses pembelajaran Anda dalam mempelajari
materi ini tergantung pada kesungguhan Anda mengerjakan
semua tugas dan tes formatif yang terdapat pada akhir kegiatan
belajar. Untuk itu kerjakanlah dengan baik semua tugas dan tes
yang diberikan dalam Modul ini.
4) Hasil tes formatif yang Anda kerjakan dapat dikonfirmasi
kebenarannya melalui kunci jawaban yang telah disediakan.
5) Apabila Anda sudah menguasai materi sesuai standar yang telah
ditentukan, lanjutkan pada kegiatan belajar berikutnya.
6) Selamat belajar, semoga sukses. Aamiin

B. Inti

1. Capaian Pembelajaran Mata Kegiatan


Setelah mengikuti Kegiatan Belajar 3 ini, maka mahasiswa diharapkan
mampu:
1. Menjelaskan secara detail pengertian bahan tekstil
2. Menjelaskan secara rinci klasifikasi berbagai jenis bahan tekstil
3. Menganalisis konstruksi bahan tekstil
4. Memahami dan menganalisis karakteristik berbagai jenis bahan tekstil
5. Memilih bahan tekstil

5
2. Pokok-pokok Materi
a. Pengertian BahanTekstil
b. Klasifikasi Bahan Tekstil
c. Konstruksi Bahan Tekstil
d. Karakteristik Bahan Tekstil
e. Pemilihan Bahan Tekstil

3. Uraian Materi

a. Pengertian Bahan Tekstil


Tekstil berasal dari bahasa latin, yaitu textiles yang berarti
menenun atau tenunan. Namun secara umum tekstil diartikan sebagai
sebuah barang/benda yang bahan bakunya berasal dari serat
(umumnya adalah kapas, poliester, rayon) yang dipintal (spinning)
menjadi benang dan kemudian dianyam/ditenun (weaving) atau
dirajut (knitting) menjadi kain yang setelah dilakukan penyempurnaan
(finishing) digunakan untuk bahan baku produk tekstil. Dengan
demikian dapat dikatakan bahwa bahan tekstil atau sering disebut kain
merupakan bahan baku (raw material) pembuatan busana/fashion.

b. Klasifikasi Bahan Tekstil


Seorang desainer harus memiliki pengetahuan dan
pemahaman tentang klasifikasi bahan baku untuk produk busana, agar
dapat memilih bahan baku tersebut secara tepat. Oleh karena itu,
dalam bab ini akan dibahas tentang klasifikasi bahan baku tekstil yang
dapat digunakan dalam produksi busana.
Bahan tekstil / kain (fabric) yang diperdagangkan beraneka
ragam jenis dan kualitasnya, dimensinya, dan ketebalannya. Bahan
tekstil ini dapat berupa kain tenun, kain rajut maupun kain non
woven. Ada berbagai penamaan jenis kain yang ada di pasaran yang

6
didasarkan asal seratnya, jenis anyamannya/kontruksinya ataupun
hanya sekedar nama dagang dari perusahaan pembuatnya.
Bahan tekstil / kain (fabric) ini selain dapat dibuat dari satu
jenis serat (fiber) saja misalnya dibuat dari kapas (cotton), rayon,
polyester, nylon, acrylic, wool, dan lain-lain, dapat juga dibuat dari
campuran dua jenis serat (fibers) atau lebih, misalnya T/C (campuran
polyester cotton), T/R (campuran polyester rayon), cotton-lycra, dan
lain-lain.
Proses pembuatan kain ini dapat dilakukan dari sekumpulan
serat yang diberi pilinan atau antihan menjadi benang yang dalam
kuantitas tertentu dapat ditenun atau dirajut menjadi kain. Apabila
serat berbentuk filamen dapat langsung berfungsi sebagai benang,
tetapi jika berbentuk stapel harus diproses terlebih dahulu untuk
menjadi benang yang dapat dilakukan dengan cara pemintalan baik
secara tradisional, konvensional maupun secara modern (Noor
Fitrihana & Widihastuti, 2011). Secara historis pembuatan kain telah
dikenal sejak dahulu dan teknologinya berkembang terus, mulai dari
kain yang dibuat dari kulit kayu atau kulit binatang sampai kemudian
kain dibuat dengan cara pertenunan, perajutan atau dikempa.
Karakteristik dan sifat serat juga sangat menentukan proses
pengolahannya baik dari sisi pemilihan peralatan, prosedur
pengerjaan maupun jenis zat-zat kimia yang digunakan. Selama
proses pengolahan tekstil sifat-sifat dasar serat tidak akan hilang.
Proses pengolahan tekstil hanya ditujukan untuk memperbaiki,
meningkatkan, menambah dan mengoptimalkan sifat dasar serat
tersebut sehingga menjadi bahan tekstil berkualitas sesuai tujuan
pemakaiannya.
Kain tekstil dapat digolongkan dalam dua golongan besar,
yaitu: kain yang dibuat dari benang kemudian ditenun atau dirajut
menjadi kain dan kain yang dibuat langsung dari serat dengan sistem
kempa/presing yang disebut kain non woven. Alur (flow) proses

7
pembuatan kain baik yang terbuat dari satu jenis serat maupun
campuran serat sampai menjadi produk akhir yang siap untuk dibuat
busana, pada dasarnya adalah sebagai berikut:

Gambar 22. Alur produksi serat menjadi produk busana


Sumber: Sunaryo, dkk (2008: 14)

Berdasarkan alur di atas, maka dapat disimpulkan bahwa yang


disebut dengan kain adalah lembaran tekstil yang merupakan bahan
utama untuk pembuatan busana yang dapat diperoleh dengan cara
menenun (weaving), merajut (knitting), dan non woven.
Terkait hal di atas, maka berikut akan dipaparkan berbagai
jenis kain berdasarkan klasifikasi jenis serat penyusun, pemakaian,
anyaman, berat kain, proses pembuatan, dan pewarnaan.
1) Jenis kain berdasarkan jenis serat, yaitu meliputi:
a) Kain Cotton, yaitu kain yang terbuat dari serat kapas
b) Kain Rayon, yaitu kain yang terbuat dari serat rayon
c) Kain TR, yaitu kain yang komposisinya terdiri dari tetoron dan
rayon
d) Kain TC, yaitu kain yang komposisinya terdiri dari tetoron dan
katun
e) Kain Wool, yaitu kain yang terbuat dari serat wool
f) Kain Sutera, yaitu kain yang terbuat dari serat sutera

8
2) Jenis kain berdasarkan pemakaian, yaitu terdiri dari:
a) Kain untuk pakaian/clothing
b) Kain untuk industri/industry
c) Kain untuk rumah tangga/house hold
d) Kain untuk keperluan militer/military
e) Kain untuk pekerjaan sipil (geotextile)
3) Jenis kain berdasarkan anyaman, yaitu meliputi:
a) Anyaman dasar: Kain polos, Kain twill/keper, Kain sateen
b) Anyaman turunan
c) Anyaman motif/hias/fancy: Kain dobby, Kain leno, Kain jacquard,
Kain pile
4) Jenis kain berdasarkan berat, yaitu terdiri dari:
a) Kain berat (heavy)
b) Kain sedang (medium)
c) Kain ringan (light)
5) Jenis kain berdasarkan pembuatan, yaitu terdiri dari:
a) Kain tenun (woven fabric)
b) Kain rajut (knitted fabric)
c) Kain bukan tenun (non woven )
d) Kain kempa (felted Fabric)
6) Jenis kain berdasarkan pewarnaan, meliputi:
a) Kain celup (dyeing)
b) Kain cap (printing)
7) Jenis kain berdasarkan finishing penggunaan, meliputi:
a) Kain tahan air (water proof)
b) Kain tahan api (Fire Proof)
c) Kain anti jamur
d) Kain anti kusut (anti crease)
e) Kain anti bau, dll
Selanjutnya, berikut akan diuraikan tentang berbagai jenis kain yang
dapat digunakan untuk berbagai keperluan.

9
 Kain Tenun:
Kain tenun ini diperoleh dengan cara menenun/menyilangkan (weaving)
benang lusi (warp) yaitu benang yang sejajar dengan pinggir kain dan
benang pakan (weft, filling) yaitu benang yang tegak lurus terhadap pinggir
kain.
 Kain Rajut (Knitted fabric):
Kain rajut adalah kain yang dibuat dengan cara membentuk jeratan dengan
alat yang terdiri dari jarum-jarum rajut (mesin rajut), atau jenis kain yang
diperoleh dengan cara merajut (knitting) sehelai benang atau lebih
sehingga terbentuk jeratan (loops).
 Kain Tule:
Kain tule dibuat dari sutera asli, sutera tiruan, wol atau nilon, dan pada
umumnya bukan dari bahan kapas. Produk tule seperti ini disebut sebagai
klambutule. Dalam pemeriksaan kain tule perlu diperhatikan pertama jenis
serat, kemudian jenis jeratan, dan motif tambahan kain.
 Kain Jala:
Kain jala yaitu kain yang dibuat dengan cara mengikatkan benang satu
sama lainnya.
 Kain berlapis:
Kain berlapis adalah kain yang diperoleh dengan menyatukan dua lembar
atau lebih dengan perekat atau pelapisan foam plastik atau sheet.
 Kain tidak ditenun (non woven fabric):
Kain tidak ditenun adalah kain yang dibuat dengan cara pengepresan serat-
serat ke dalam bentuk lembaran dengan bantuan perekat atau plastik, atau
dapat juga dibuat dengan mengempa langsung seratnya, contohnya kain
kempa. Kain kempa adalah kain yang dibuat dari serat yang dikempa
dengan bahan tambahan perekat. Kain kempa pada umumnya sedikit tebal.
Terdapat juga yang dibuat dengan penambahan kain lapis atau penyatuan
seratnya menggunakan perekat, salah satu produknya disebut sebagai kain
khusus dengan penggunaan terbatas, seperti: (1) tas dan karpet; (2)

10
upholstry atau lenan rumah tangga; (3) tapestry atau bahan pelengkap
rumah tangga seperti keset dan lap pel.
Secara spesifik dapat dijelaskan bahwa proses pembuatan kain
bukan tenun (non woven fabric) yang berupa lembaran, bukan melalui
proses pertenunan atau perajutan tetapi melalui proses pembentukan web
dan pengikatan strukturnya. Web adalah lembaran lapisan serat yaitu suatu
bahan berupa lembaran yang terdiri dari sekelompok serat yang diperoleh
melalui proses carding, melt spinning, dan proses yang mirip dengan
teknologi pembuatan kertas. Pembuatan kain non woven ini juga bisa
dengan cara fusing (pelelehan sifat thermoplastic serat) dan bonding
(pengikatan serat).

c. Konstruksi Bahan Tekstil (Kain)


1) Konstruksi Kain Tenun:
Kain tenun ini diperoleh dengan cara menenun/menyilangkan
(weaving) benang lusi (warp) yaitu benang yang sejajar dengan pinggir
kain dan benang pakan (weft, filling) yaitu benang yang tegak lurus
terhadap pinggir kain. Berdasarkan konstruksi silang dasar
tenun/anyaman yang menyusun kain tenun tersebut, maka ada 3 macam
jenis silang dasar tenunan, yaitu: (1) anyaman/silang polos (plain
weave); (2) Anyaman/silang kepar /keper (twill weave); dan (3)
Anyaman/silang satin (sateen weave).
a) Anyaman/silang polos (plain weave):
Merupakan silang yang paling sederhana dan paling banyak
dipakai orang. Penyilangan antara benang lusi dan pakan
bergantian. Anyaman ini paling banyak silangannya dibandingkan
dengan anyaman-anyaman lainnya. Oleh karena itu relatif paling
kokoh diantara silang lainnya. Hanya saja, pada kain kemungkinan
jumlah benang setiap incinya relatif lebih sedikit daripada anyaman
lain. Terlalu banyak benang akan menghasilkan kain yang kaku.

11
Plain Weave

(Pola Anyaman Polos/plain weave) (Kain tenun dengan anyaman polos)


Gambar 23. Konstruksi Kain Tenun dengan Silang Polos

Contoh kain-kain yang dibuat dengan struktur silang polos (plain) antara lain:
- Kain mori (cambric), ada tiga macam yaitu: cambric biru, cambric prima,
dan cambric primisima.
- Kain voile, ada tiga macam yaitu: voile asli (full voile), voile (half voile),
dan voile tiruan (imitation voile). Voile asli (full voile) yang berasal dari
Zwitserland, Amerika, dan lain-lain negara. Voile asli ialah baik benang
lusi maupun pakan dibuat dari benang yang disering atau 2 benang yang
dipintal. Voile (half voile =setengah voile) hanya pakan atau lusi
(lungsin)nya yang disering. Voile tiruan (imitation voile), hanya rupanya
saja sebagai voile tapi benang pakan dan lusinya tidak disering sama
sekali, hanya terdiri dari satu benang yang dipintal kuat. Contohnya:
Shirting/sheeting, Poplin dan sebagainya.
b) Anyaman/silang kepar /keper (twill weave):
Anyaman/silang kepar adalah anyaman yang diperoleh dengan melakukan
silangan tiap lusi terhadap pakan, bisa dua atas satu bawah , , , dan

sebagainya, dan silangan-silangan pada lusi berikutnya meloncat 1, 2, atau

12
3 helai pakan, sehingga dengan cara begitu dihasilkan kain yang berefek
lusi atau pakan berupa garis diagonal. Atau bisa dikatakan, dalam proses
penyilangannya, apabila pada baris pertama penyilangan biasa maka pada
baris kedua benang pakannya loncat tiga benang dari baris awal pada
penyilangan pertama. Karena perbedan loncatan dengan baris sebelumnya,
maka akan nampak seperti garis yang menyilang ke kiri atau ke kanan
menyerupai garis diagonal. Anyaman ini relatif lebih rapat dari pada
anyaman polos, sehingga banyak dipakai untuk konstruksi kain yang lebih
tebal dan dengan jumlah benang yang lebih banyak sehingga kain yang
dihasilkan akan lebih kuat. Contoh kain dari jenis silang kepar (Twill) ini
adalah: jean, denim, gabardine, dan lain-lain.

Gambar 24. Konstruksi Kain Tenun dengan Silang Kepar

c) Anyaman/silang satin (sateen weave):


Anyaman ini mempunyai silangan-silangan yang paling sedikit dan
cucukan merata, sehingga anyaman ini menghasilkan kain yang
permukaannya rata dan berkilau. Ditinjau dari sudut jumlah silangannya,
maka anyaman satin tidak begitu kokoh. Contoh produk tekstil dari jenis
silang satin antara lain: satin, damast, dan lain-lain.

13
Gambar 25. Konstruksi Kain Tenun dengan Silang Satin
Jenis jenis kain tenun diantaranya adalah:
- Kain untuk bahan pakaian, yaitu kain yang pada pembuatannya
dipentingkan kenampakan dan kenyamanannya.
- Pita, yaitu kain tenun yang lebarnya kecil dibuat pada mesin tenun khusus.
- Kain mekanis, yaitu kain dengan anyaman sederhana dimana yang
diperlukan adalah kekuatan dan sifat-sifat mekaniknya, sedangkan
kenampakan (appearance) adalah nomor dua.
- Kain permadani, yaitu kain yang dibuat pada mesin tenun permadani.
- Kain rangkap, yaitu kain yang ditenun dengan menggunakan dua seri lusi
(atas bawah) dan satu seri pakan atau satu seri lusi dan dua seri pakan (atas
dan bawah) atau dua seri lusi dan dua seri pakan yang hasil kainnya tebal
dan berat. Kain rangkap ini dapat membentuk kain yang berupa pipa,
kantong, dan sebagainya. Diantaranya ada yang menggunakan benang-
benang pengisi supaya tebal, berat, dan kuat, misalnya untuk tali ransel,
ikat pinggang, dan sebagainya.

2) Konstruksi Kain Rajut (Knitted fabric):


Kain rajut adalah kain yang dibuat dengan cara membentuk jeratan dengan
alat yang terdiri dari jarum-jarum rajut (mesin rajut), atau jenis kain yang
diperoleh dengan cara merajut (knitting) sehelai benang atau lebih
sehingga terbentuk jeratan (loops). Dengan demikian, prinsip pembuatan

14
kain rajut adalah pembentukan jeratan benang secara berulang-ulang
dengan bantuan jarum rajut. Perajutan pada awalnya dikerjakan dengan
batang pengait benang dari kayu yang dikenal dengan cara pembuatan
brein, kemudian menggunakan batang besi berkait disebut hakpen yang
dikenal dengan cara merenda. Ada tiga macam kain rajut, yaitu: (1) Kain
rajut pakan; (2) Kain rajut lusi; dan (3) Kain rajut pakan atau lusi
(1) Kain rajut pakan, yaitu kain yang dibentuk dengan jeratan-jeratan dari
helai benang yang horizontal arahnya, dengan menggunakan mesin
rajut pakan (weft knit).

Gambar 26. Konstruksi Weft Knit


(2) Kain rajut lusi, yaitu kain yang dibentuk dengan jeratan-jeratan dari
helai benang yang vertikal, dengan menggunakan mesin rajut lusi
(warp knit)

Gambar 27. Konstruksi Warp-knitga


(3) Kain rajut lusi atau pakan, yaitu kain yang dibentuk dengan jeratan-
jeratan dari benang yang vertikal, tetapi dimasukkan juga benang-
benang arah horizontal

15
d. Karakteristik Bahan Tekstil (Kain)
Sebelum membahas lebih jauh tentang karakteristik kain, berikut pada
Tabel 11 disajikan jenis dan komposisi berbagai macam jenis kain (bahan
tekstil) untuk busana industri maupun custome-made:
Tabel 11. Jenis dan Komposisi Kain untuk Busana

Karakteristik bahan baku yang akan digunakan untuk busana baik


busana industri maupun busana custome-made perlu dipahami oleh
seorang desainer. Hal ini bertujuan agar mampu memilih dan menentukan
bahan yang tepat sesuai dengan standar kualitas dan spesifikasi yang
diminta buyer ataupun pelanggan. Adapun karakteristik kain tenun
dibandingkan dengan jenis kain yang lain adalah: (1) densitinya dari yang

16
light (ringan, tidak padat) sampai kepada yang heavy (berat, padat); (2)
kestabilan dimensinya lebih baik dan kurang elastis; 3) mulurnya kurang;
dan (4) digunakan pada garmen untuk outware (casual maupu formal).
Karakteristik kain rajut (knitted fabric) dibandingkan dengan jenis
kain yang lain antara lain adalah: (1) densitinya dari yang light (single
knit) sampai yang heavy (double knit); (2) elastisitasnya tinggi; (3) mulur
tinggi; dan (4) digunakan pada garmen untuk sportware, underware juga
outware.
Adapun karakteristik dari beberapa kain yang biasa digunakan
sebagai bahan baku busana antara lain misalnya:
1) Trimfit, tidak mudah kusut, memiliki stabilitas bentuk yang baik, tidak
perlu disetrika, lebih cepat kering dibanding bahan yang terbuat dari
100% cotton
2) Quick Dry, menyerap keringat dengan cepat dari permukaan kulit dan
kemudian difusikan keluar melalui serat kapas dan keluar melalui
serat kain
3) Spandex, daya elastisitas kain bisa mencapai 4-7 kali dari panjang
normalnya dan kembali ke ukuran normal jika tarikan dihilangkan
4) Thermotron, fungsi kain yang mampu mengubah sinar UV dari
matahari menjadi panas, mengumpulkan dan mengatur panas dari
tubuh sehingga akan tetap terasa hangat dan bahan ini cocok untuk
jaket.

e. Pemilihan Bahan Tekstil/ Kain (Main Material) untuk Busana


1) Pemilihan Bahan Baku/Utama Tekstil
Seorang desainer perlu memiliki kemampuan dalam memilih
bahan baku untuk busana. Hal ini bertujuan agar mereka tidak
mengalami kesulitan saat harus menentukan bahan baku tekstil untuk
produk busana mereka.
Di pasaran, nama-nama kain tersebut tidak selalu berdasarkan
asal jenis seratnya saja, namun ada juga yang berdasarkan proses

17
pembuatannya, berdasarkan bentuknya, berdasarkan kegunaannya,
berdasarkan anyamannya dan berdasarkan merk dagang oleh
pabriknya.

Tabel 12 Jenis Kain dan Penggunaannya

Jenis Kain/Nama Penggunaan

Asetat Untuk pakaian seharihari, seragam, lingerie, bahan pelapis


Akrilik Untuk pakaian formal
Brocade Untuk kebaya, busana pengantin
Chiffon Untuk gaun malam, blouse dan scarf
Crepe Untuk semua jenis pakaian
Umumnya untuk celana dan jacket namun dewasa ini
Denim
banyak juga untuk kemeja
Drill Cocok untuk celana, seragam dan pakaian kerja
Untuk blazer, gaun, rok, jas dan mantel, jaket, dan
Flannel
kemeja.
Untuk jas laki laki dan perempuan, mantel, seragam, dan
Gabardine
kemeja pria.
Georgette Untuk pakaian pengantin, gaun ,sebagai bahan pelapis
Nylon Untuk pakaian dalam, kaos kaki , sweater
Organdy Untuk blus, pakaian resmi.
Organza Untuk gaun malam, underlining
Oxford Untuk kemeja pria. jaket, kemeja, rok, gaun, dan olahraga
Polyester Untuk semua jenis busana tergantung serat campurannya
Pongee Untuk gaun, blouse dan ajket
Rayon Untuk semua jenis pakaian
Satin Untuk gaun malam, jaket , bahan pelapis
Spandex Untuk pakaian olahraga, pakaian dalam
Taffeta Untuk gaun malam
Tulle Untuk gaun, kebaya, pakaian pengantin
Velvet Untuk gaun malam, pakaian dirumah, pakian pengantin
Voile Untuk gaun, blouse
Wool Untuk semua jenis pakaian
(Sumber: Noor Fitrihana & Widihastuti, 2011)

18
Pemilihan bahan tekstil yang tepat sangat mempengaruhi mutu dan
kualitas busana yang akan dihasilkan. Agar dapat memilih bahan yang tepat
perlu memperhatikan faktor-faktor berikut:
(1) unsur-unsur desain pada bahan tekstil;
(2) pemilihan bahan tekstil (kegunaan, kesempatan, karakteristik penanganan,
model dan lebar kain);
(3) kriteria pemilihan bahan tekstil dengan memperhatikan faktor – faktor
mendesain busana.
Oleh karena itu, saat memilih bahan baku untuk produk busana kita harus
memperhatikan jenis kain dan penggunaannya.
Selain yang sudah dijelaskan di atas, seorang desainer juga harus
mengetahui dan memahami bahwa dengan semakin tingginya tuntutan dari
para buyer yaitu dengan lead time (batas waktu) yang semakin pendek
misalnya 45 hari bahkan 32 hari dari penerimaan order hingga waktu shipment
(pengiriman), maka proses pemilihan dan pengadaan kain (bahan baku tekstil)
menjadi perhatian utama banyak pihak baik buyer maupun pengusaha garmen
sendiri.
Tingginya tuntutan pasar saat ini juga membuat para buyer harus lebih
mencermati strategi untuk dapat mengisi outlet-outletnya dengan produk-
produk mereka yang terkini dan mengikuti trend yang bergerak semakin cepat.
Walaupun sampai saat ini masih banyak industri garmen yang memiliki lead
time lebih panjang misal 90 atau malah 120 hari, namun apabila industri
garmen bisa mengendalikan lead time proses produksi dengan baik, maka
akan meninggikan daya saing yang dimiliki industri garmen tersebut.
Selanjutnya saat terjadi proses order dari buyer ke industri, maka
setelah buyer memilih kain (fabric) sesuai style-nya maka proses pertama
adalah mengirimkan contoh-contoh kain yang paling dekat spesifikasinya
(spec) dengan permintaan mereka. Proses ini akan menjadi lebih mudah
apabila mereka memiliki spec yang jelas dari kain tersebut, misalnya
konstruksi, lebar kain, finishing, dan keterangan lainnya. Oleh karena itu,

19
seorang desainer harus mengetahui dan memahami spec tersebut, seperti
contoh di bawah ini:
Contoh 1:
Buyer meminta kain dengan konstruksi:
Woven Twill 2/1 CD16xCD12/108x56, 58” peach finish
Artinya bahwa: Buyer meminta jenis kain tenun (woven) twill 2/1 dengan
nomor benang lusi 16 dan benang pakan 12, baik benang lusi maupun pakan
adalah benang jenis carded. Kain ini memiliki 108 jumlah benang lusi per inci
dan 56 jumlah benang pakan per inci. Finish yang diminta adalah peach yaitu
permukaan kain agak berbulu dan pegangannya halus. Lebar kain adalah 58
inci.
Contoh 2:
Buyer meminta kain dengan konstruksi:
Knit mesh, PES 150D/144 F, 110 gr/m2, 60”
Artinya bahwa: Buyer meminta jenis anyaman yang dihasilkan oleh mesin
rajut lusi (warp knit). Konstruksi yang diinginkan terdiri dari benang dengan
nomor 150 denier, dimana setiap benang terdiri dari 144 filamen. Berat kain
adalah 110 gr/m2 dengan lebar kain adalah 60 inchi.
Dengan demikian dapat dikatakan bahwa seorang desainer saat
memilih atau menentukan jenis kain yang akan digunakan untuk busana baik
busana industri maupun custome-made harus betul-betul memperhatikan
spesifikasi yang diminta buyer. Hal ini untuk mencapai kesepakatan
(approval) lebih cepat antara buyer dan produsen (industri garmen maupun
custome-made)

f. Pemilihan Bahan Pelapis (Underlying)


Bahan pelapis (underlying) adalah bahan yang ditambahkan pada
pembuatan busana berupa kain yang terletak dibawah atau dibelakang bahan
utama. Bahan pelapis berfungsi untuk membentuk, menopang kain, menjaga
tetap kuat dari gesekan, lipatan, tekanan dan tahan rendaman. Bahan pelapis
juga dapat digunakan untuk mempercantik penampilan bahan utama dan

20
menutupi bagian bagian tubuh tertentu yang tidak ingin nampak dari laur
jika bahan utama terlalu tipis dan trasparan. Juga untuk memberi rasa
nyaman saat pemakaian seperti memberi rasa sejuk, hangat dan menghindari
rasa gatal. Bahan pelapis dapat berupa kain tenun maupun kain non woven,
Bahan pelapis ini juga ada yang menggunakan perekat maupun tanpa
perekat sesuai fungsi dan penggunaannya. Perekatan umumnya
menggunakan proses panas dengan setrika atau alat press/fusing.
Dalam pembuatan busana bahan pelapis digolongkan menjadi 4 jenis
yaitu lapisan bawah (Underlining), lapisan dalam (Interfacing), lapisan
antara (Interlining) dan bahan pelapis (lining) yang biasa disebut furing
(Lining). Masing-masing mempunyai fungsi yang khusus mempengaruhi
penampilan sebuah pakaian/busana.

Jenis-jenis Bahan Pelapis:


a) Lapisan Bawah (Underlining), yaitu bahan pelapis yang terletak di bagian
bawah (bagian buruk) bahan utama pakaian (Garment fabric) biasa disebut
lapisan bawah atau lapisan pertama. Pada umumnya lapisan bawah ini
dimaksudkan untuk:
- Memperkuat bahan utama busana secara keseluruhan
- Memperkuat kelim & bagian-bagian busana
- Mencegah bahan tipis agar tidak tembus pandang
- Menjadikan sambungan bagian bagian busana atau kampuh tidak
kelihatan dari luar
b) Lapisan Dalam (Interfacing), yaitu bahan pelapis yang lebih kokoh dari
lapisan bawah yang dipergunakan untuk menguatkan dan memelihara
bentuk pakaian. Bahan lapisan ini dapat dipergunakan pada seluruh bagian
dari pakaian, tetapi pada umumnya hanya dipergunakan pada bagian-
bagian tertentu saja seperti pada kerah, manset, saku dan lainnya. Fungsi
bahan interfacing:
- Memperbaiki bentuk pada busana seperti kerah, saku, garis leher
- Membuat kaku, licin, dan rata pada bagian-bagian busana

21
- Menstabilkan dan memberi bentuk tertentu pada bagian tertentu seperti
ujung dan detail pada busana
- Memperkuat dan mencegah bahan renggang
c) Lapisan Antara (Interlining), yaitu bahan pelapis lembut dan ringan yang
diletakkan diantara interfacing dan lining pada suatu pakaian untuk
memberikan rasa hangat selama dikenakan. Biasanya untuk lengan baju
dan bagian badan dari jaket atau mantel.
d) Bahan Pelapis (Lining) atau biasa disebut furing, yaitu bahan pelapis yang
memberikan penyelesaian yang rapi, rasa nyaman, kehangatan, kehalusan
terhadap kulit, biasanya disebut bahan pelapis terakhir (furing) karena
merupakan penyelesaian terakhir pada pembuatan busana untuk menutupi
bagian dalamnya. Fungsi lining adalah:
- Menutup bagian dalam konstruksi bagian dalam busana agar tampak
rapi
- Menahan bentuk dan jatuhnya busana
- Pengganti petty coat (rok dalam)
- Melapisi agar bahan tipis tidak tembus pandang
- Sebagai pelapis berbulu atau kasar seperti wol
- Memberikan rasa nyaman (sejuk, hangat) pada saat dikenakan
- Memudahkan pakaian untuk dipakai atau dilepas
Selain hal di atas, untuk suatu desain tertentu maka semakin
berstruktur dan berdetail maka semakin besar pula kebutuhan akan lapisan
bawah dan lapisan di dalamnya. Bobot bahan pakaian merupakan faktor
lain yang harus diperhatikan, semakin ringan bobot atau kelembutan dari
suatu bahan utama pakaian, semakin lebih membutuhkan bahan
penyokong.
Tidak semua busana menggunakan keempat jenis bahan pelapis
secara bersama-sama contoh pada pembuatan kebaya cukup diperlukan
bahan interfacing untuk memberi bentuk dan lining untuk memberi rasa
nyaman saat dikenakan namun ada kalanya keempat jenis bahan pelapis
digunakan secara bersama-sama.

22
Sebagai bahan ilustrasi berikut pada Gambar 16 dan 17 disajikan
contoh gambar pemakaian bahan pelapis pada sebuah busana agar lebih
memudahkan dalam memahami fungsi dan kegunaan berbagai jenis bahan
pelapis dalam pembuatan sebuah busana.

Gambar 28. Bahan Interlining Untuk Kerah

Gambar 29. Peletakan Bahan Pelapis dalam Kontruksi Busana

23
e) Pemilihan Bahan Pelapis
Penentuan Jenis Kain FINISH GARMENT
(Material, ( Proses garment )
kkkkiii
construction dan BAHAN PELAPIS
finishing dari kain) Apa yang menjadi
permintaan dari Jenis kain ( Woven
penampilan garment fabric, knitted fabric,
secara standard Non woven fabric )
Penentuan Jenis Performance dari Daya Rekat
Garment Jadi ( Formal konsumen :Nyaman berdasarkan Jenis dan
Casual, Sport, dress digunakan dan bentuk perekat
shirt, blouse. Dll ) mudah penanganan
Performance :
Fungsi dan bentuk, kekuatan daya rekat,
Tentukan komponen Kelenturan dan Daya tahan, daya jahit
yang akan di fuse ( penanganan dan bentuk akhir
front, collar, cuff ) setelah di fuse

PEMILIHAN JENIS
BAHAN PELAPIS

FUSING TEST

Penentuan mesin fuse yang akan


digunakan, kondisi fusing, Bond
Strength, Perubahan : warna,
bentuk, ukuran dan hand feel

FINISHING TEST/PRESS
ANALISA
Mengetahui perbedaan
penampilan, dan hand feel Menganalisa dan
mengukur penyebab
kemungkinan masalah
DURABILITY

Setelah Pencucian atau dry


clean . cek perubahan warna,
dimensi, dan daya rekat

Gambar 18. Alur pemilihan


Mendapatkan kondisi mesin yang pasti untuk
Bahan Pelapis (Aas, 2008)
jenis kain yang telah dipilih

24
Dimensi, warna dan bahan dari suatu bahan pelengkap juga harus
sesuai dengan bahan utama/kain yang digunakan untuk pembuatan busana.
Bahan pelengkap juga harus tidak menyulitkan dalam pemakaian dan
perawatan busana itu sendiri.
Terutama untuk pemilihan bahan pelapis jenis interlining, banyak hal
yang harus kita perhatikan, antara lain adalah jenis serat dan konstruksi kain
utamanya (bahan baku garmen). Interlining ini pada umumnya dipasang pada
seluruh jenis garment, misalnya: kemeja, blouses, rok, celana dan dress. Oleh
karena itu, pengetahuan dasar tentang jenis serat dan konstruksi kain utama
sangat menentukan dalam pemilihan jenis interlining yang akan digunakan.
Alasannya adalah bahwa jumlah dan konstruksi kain dari benang akan
mempengaruhi ketebalan dan kehalusan dari suatu jenis kain, dimana
pembagian jenis kain ini akan mempengaruhi pemilihan interlining yang tepat
dalam suatu produk garmen.
Interlining untuk kemeja pada dasarnya merupakan tenunan polos dan
hampir seluruhnya terdiri dari konstruksi cotton atau cotton/polyseter. Jenis
interlining untuk kemeja formal adalah woven interlining fuse, sedangkan
untuk kemeja non formal adalah soft interlining.

4. Forum Diskusi
Berdasarkan materi bahan tekstil yang telah Anda pelajari pada kegiatan
belajar 3, maka tugas Anda selanjutnya adalah menjelaskan:
1. Mengapa kita perlu mengidentifikasi bahan tekstil yang dapat digunakan
untuk pembuatan busana?
2. Contoh bahan tekstil yang dapat digunakan untuk busana kerja seorang
teller bank.
3. Konstruksi anyaman/silang dari bahan tekstil yang telah Anda identifikasi
di atas berdasarkan analisis Anda.
4. Mengapa kita perlu memahami klasifikasi jenis bahan tekstil, konstruksi
bahan tekstil dan karakteristik bahan tekstil relevansinya dengan
pemilihan bahan tekstil sesuai dengan fungsi dan kegunaannya.

25
C. Penutup

1. Rangkuman
Selamat, Anda telah menyelesaikan kegiatan belajar 3 yaitu tentang bahan
tekstil. Bahan tekstil ini sangat penting Anda pelajari karena akan sangat
membantu Anda dalam memilih/menentukan bahan tekstil sesuai dengan
busana yang akan dibuat.
1. Bahan tesktil adalah barang/benda yang bahan bakunya berasal dari
serat tekstil yang dipintal menjadi benang dan kemudian
dianyam/ditenun atau dirajut menjadi kain yang setelah dilakukan
penyempurnaan digunakan untuk bahan baku produk tekstil (busana
dan lain-lain).
2. Secara garis besar bahan tekstil dibagi menjadi dua yaitu kain tenun
(woven) dan kain bukan tenun (non woven).
3. Konstruksi anyaman dasar kain tenun terdiri dari: (a) anyaman polos;
(b) anyaman kepar; dan (c) anyaman satin.
4. Pemilihan bahan tekstil disesuaikan dengan keperluannya, baik dalam
memilih bahan baku/utama, bahan tambahan, maupun bahan bantu.
Pemilihan bahan tekstil yang tepat akan mempengaruhi kualitas
produk busana yang dihasilkan.

2. Tes Formatif
Kerjakan soal-soal tes dibawah ini dengan baik dengan cara memilih
satu jawaban yang paling benar!
1. Ketepatan pemilihan bahan pelapis pada busana pesta yang terbuat
dari bahan transparan penting diperhatikan agar dapat memberikan
efek mewah. Terkait hal ini, maka bahan tambahan yang tepat
digunakan adalah.…
A. interfacing
B. lining
C. interlining

26
D. underlining
E. underlying
2. Kerah kemeja harus tegak dan kaku. Oleh karena itu, untuk
menopang bentuk tersebut maka perlu diberi pelapis atau bahan
tambahan yang tepat pada pembuatan maupun pemasangan bagian
kelepak kerah dan board. Bahan pelapis tersebut adalah .…
A. trubenais
B. bulu kuda
C. pelapis gula
D. lining
E. interlining
3. Bahan tekstil organdi memiliki karakteristik antara lain: (1)
permukaannya sama antara bagian baik dan bagian buruk; (2)
konstruksi anyamannya terdiri dari 2 helai benang lusi dan 2 helai
benang pakan dalam satu rapotan; serta (3) memiliki jumlah titik
silang pada kain yang paling banyak. Berdasarkan ciri-ciri
konstruksinya ini, maka dapat disimpulkan bahwa bahan tekstil
tersebut memiliki anyaman ....
A. polos
B. kepar
C. satin
D. turunan
E. dasar
4. Suatu busana yang baik ditentukan oleh pemilihan dan pemakaian
bahan tekstil yang tepat. Apabila bahan busana yang digunakan
terasa tebal namun jatuhnya melangsai, lembut, elastis, berasal dari
serat protein, daya pegasnya besar sehingga tidak mudah kusut, maka
pernyataan berikut yang tepat menggambarkan bahan tekstil di atas
adalah ....
A. gabardine, tepat digunakan untuk pembuatan busana kerja model
lipit-lipit

27
B. wol, tepat digunakan untuk pembuatan busana mantel pak,
pantalon dan blazer
C. denim, tepat digunakan untuk pembuatan busana kerja pria dan
casual wear
D. drill, tepat digunakan untuk pembuatan busana kerja pria dengan
model safari
E. sutera, tepat digunakan untuk pembuatan busana pesta maupun
kerja wanita
5. Erna akan menggunakan bahan tambahan untuk pembuatan busana
pesta dari bahan tipis, agar tidak tembus pandang dan dapat
menahan bentuk agar jatuhnya busana bagus. Bahan tambahan dan
jenis bahan yang dipilih adalah....
A. underlining, dari bahan dormmeuil, warna gelap, tidak luntur,
mudah susut
B. lining, dari bahan satin, sesuai warna bahan, tidak mudah susut,
dan luntur
C. interfacing, dari bahan katun, sesuai dengan warna bahan, tidak
mudah susut
D. interlining, dari bahan abutai, sesuai dengan warna bahan, tidak
mudah susut
E. facing, dari bahan katun, warna sesuai dengan warna bahan, tidak
mudah susut
6. Pemilihan bahan tekstil untuk pembuatan busana hendaknya
memperhatikan asal serat pembuatannya agar sesuai dengan
karakterik desain yang akan dibuat dan nyaman jika dipakai. Jika
bahan tekstil yang digunakan untuk pembuatan busana memiliki sifat
menyekat panas namun berpori-pori dan memiliki daya lentur besar,
maka dapat disimpulkan bahwa bahan tersebut terbuat dari serat....
A. kapas
B. wol
C. sutera

28
D. linen
E. protein
7. Bahan tekstil drill memiliki karakteristik konstruksi dengan
permukaan alur yang menyerong. Ciri-ciri konstruksi bahan tekstil
tersebut terbuat dari anyaman ....
A. polos
B. kepar
C. satin
D. turunan
E. dasar
8. Aramid termasuk jenis serat nylon seperti Nomex, Keviar, dan
Tawron yang memiliki sifat sangat tahan api, tahan suhu tinggi, dan
terbakar pada suhu 538ºC. Oleh karena itu, jenis baju yang paling
cocok dibuat dari bahan aramid ini adalah baju untuk keperluan….
A. militer
B. medis
C. kebakaran
D. pembalap
E. penyelam
9. Acrylic dikenal dengan nama dagang Acrilan, Cashmillon, Orlon,
Vonnel, dan Wolacryl. Acrylic ini memiliki sifat mirip dengan wol,
mempunyai pegangan yang lembut, ringan, dan dapat menahan
panas. Oleh karena itu, bahan acrylic ini cocok digunakan untuk
membuat produk di bawah ini, kecuali….
A. selimut
B. switer
C. kaos kaki
D. handuk
E. baju renang
10. Bahan tambahan pada busana yang sesuai untuk tujuan memperkuat
bahan utama busana secara keseluruhan, memperkuat kelim &

29
bagian-bagian busana, mencegah bahan tipis agar tidak tembus
pandang, dan menjadikan sambungan bagian-bagian busana atau
kampuh tidak kelihatan dari luar adalah ….
A. underlining
B. interfacing
C. lining
D. interlining
E. facing

30
DAFTAR PUSTAKA

Abdul Latif Sulam. (2008). Teknik Pembuatan Benang dan Pembuatan Kain
untuk SMK. Jilid 1 . versi elektronik –BSE. Jakarta: Direktorat Pembinaan
Sekolah Menengah Kejuruan Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan
Dasar dan Menengah Departemen Pendidikan Nasional
Abdul Latif Sulam. (2008). Teknik Pembuatan Benang dan Pembuatan Kain
untuk SMK. Jilid 2 . versi elektronik –BSE. Jakarta: Direktorat Pembinaan
Sekolah Menengah Kejuruan Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan
Dasar dan Menengah Departemen Pendidikan Nasional
Ass Asmawati. (2008). Panduan Pembuatan Kemeja pada Industri Garmen
Modern. Materi Pelatihan Garmen.
Noerati, dkk. (2013). Teknologi Tekstil. Bahan Ajar Pendidikan dan Latihan Guru
(PLPG). Bandung: Sekolah Tinggi Teknologi Tekstil
Noor Fitrihana & Widihastuti (2014). Pengendalian Kualitas fashion. Yogyakarta:
Bahan Ajar PTBB FT UNY

31

Anda mungkin juga menyukai